Serial Pendekar Hina Kelana Eps 10 : Neraka Gunung Dieng

 
Eps 10 : Neraka Gunung Dieng


Sungguhpun telah berulangkali bocah-bocah itu telah melakukan kesalahan. Namun tiada bosan dan tanpa henti-hentinya Aki Kilik Rogo mengulang setiap kesalahan yang dibuat oleh murid-muridnya, sehingga mereka benar-benar mampu menguasai setiap pelajaran dasar ilmu silat yang diberikannya. Meskipun demikian dari seluruh jumlah muridnya yang tak kurang dari dua puluh orang itu, hanya beberapa orang saja yang dapat menguasai dengan benar apa yang telah diberikan oleh guru mereka. Sedangkan sebagian terbesar murid-murid itu, semuanya menguasai jurus-jurus silat yang kacau. Bahkan sebagian di antaranya permainan silat yang sering mereka pergunakan dalam latihan, sangat jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Aki Kilik Rogo pada para murid-muridnya. Sudah barang tentu, keanehan demi keanehan yang terjadi hampir setiap hari itu membuat guru dari Pegunungan Kendeng ini menjadi sangat heran sekali.

Dua puluh tahun dia telah mendirikan Perguruan Silat Tapak Suci, namun selama itu, murid-murid hasil didikannya tidak dapat diandalkan untuk mengikuti pertandingan silat apapun. Sering Aki Kilik Rogo merasa sangat kecewa sekali melihat kenyataan demi kenyataan ini. Bagaimana tidak. Dua puluh tahun bukanlah satu masa yang singkat, setidak-tidaknya seandainya dia memungut seorang orok. Sudah barang tentu orok tersebut kini sudah dewasa, sudah mampu melakukan sesuatu yang terbaik. Tetapi bagaimana dengan murid-muridnya, mendapat didikan selama dua puluh tahun, mereka itu tak jauh bedanya dengan baru belajar dua bulan, masih sangat tolol dan belum becus apa-apa. Hanya rambut-rambut di kepala mereka saja yang nampak berguguran hari demi hari, seolah mereka ini tak ubahnya sebagai ahli fikir kelas berat yang sedang mencari kesimpulan tentang keberadaan telur dan ayam. Dan yang membuat Aki Kilik Rogo menjadi terheran-heran tak karuan adalah kepala murid-muridnya kini telah menjadi botak secara keseluruhannya.

Dia tak tahu karma apa sesungguhnya yang sedang terjadi, mungkinkah ini suatu kutuk yang telah dijatuhkan oleh Empu Wesi Laya dari Pegunungan Dieng itu? Hal itu rasanya tak mungkin terjadi, sebab sungguhpun dia pribadi tak berhasil mencari Betari Murti yaitu kakak seperguruan Aki Kilik Rogo yang telah berhasil mengelabuhi Empu Wesi Laya dengan membawa lari kitab Bendil Dieng. Namun dia cukup yakin bahwa Empu Wesi Laya tak mungkin menjatuhkan kutuk terhadap dirinya. Dia cukup bijaksana untuk hal-hal seperti itu. Sungguhpun Aki Kilik Rogo dapat lega atas kesimpulannya itu, namun sepanjang hari dia selalu dirundung kesedihan. Dalam hatinya selalu bertanya-tanya, akan bagaimanakah nasib dan masa depan murid-muridnya itu. Haruskah dia bubarkan perguruan Tapak Suci, kemudian bergabung kembali dengan gurunya Empu Wesi Laya di Pegunungan Dieng? Tetapi kalau hal itu dia lakukan, sudah barang tentu hal ini merupakan satu tindakan yang sangat tidak bijaksana. Sebab seperti yang diketahui oleh Aki Kilik Rogo. Semua murid-muridnya itu merupakan anak yatim piatu yang dulunya dia pungut dari jalanan di mana saja dia temui. Yang pasti mereka itu dari berbagai kalangan. Mungkin juga ada yang berasal dari masyarakat desa biasa, mungkin juga ada yang berasal dari perempuan pengelana, bayi pelacur atau bahkan lebih dari sekedar itu.

Sementara itu, murid-murid Aki Kilik Rogo yang sedang berlatih silat dan belajar menghimpun hawa murni masih tetap nampak patuh dengan kewajibannya. Di atas batu-batu besar mengkilat dan berlumut hijau, mereka saling berloncatan. Bagai tak kenal lelah, bahkan tanpa rasa putus asa. Sungguhpun hari demi hari pelajaran ilmu silat mereka hanya berkisar dari itu ke itu juga. Dari tahun ke tahun. Sampai Aki Kilik Rogo merasa, apakah dirinya yang memang tolol ataukah memang murid-muridnya yang goblok. Demikianlah dua puluh orang murid itu terus berloncat-loncatan bagai seekor monyet kudisan, terkadang-kadang tubuh mereka yang gemuk-gemuk itu terbanting di atas batu nan licin, tak jarang muridmurid itu saling terjatuh, karena bertabrakan sesamanya. Lebih cepat lagi mereka bangkit lalu tertawa beramai-ramai. Hal seperti itulah yang selalu terjadi hampir setiap harinya. Pusing kepala Aki Kilik Rogo memikirkan keanehan tingkah murid-muridnya itu. Herannya dalam jurus-jurus tertentu yang tidak dimengerti oleh Aki Kilik Rogo, mereka itu begitu mahir memainkannya. Bahkan boleh dibilang teramat lihai. Ah, jurus-jurus silat setan kesasar dari manakah yang telah merasuki jiwa para murid-muridnya itu? Haruskah dia tetap pada pendiriannya untuk mengajari orang-orang yang dalam pandangannya seperti kurang sehat akal, ataukah dia sendiri harus minggat dari Perguruan Tapak Suci? Aki Kilik Rogo merasa serba salah. Dalam pada itu tiba-tiba Aki Kilik Rogo memberi tanda pada semua muridnya.

Begitu mengetahui sang guru memanggil mereka. Maka kedua puluh orang murid itu secara serentak menghampiri gurunya. Mereka menjura tiga kali, kemudian memandang pada gurunya dengan sikap tiada mengerti. Saat itulah Aki Kilik Rogo mengawali ucapannya.

"Kalian para muridku!" kata Aki Kilik Rogo berwibawa. "Sudah hampir dua puluh tahun kalian tinggal dan kujadikan murid di Pegunungan Kendeng ini. Selama ini apa yang ku punyai, rasa-rasanya telah aku berikan pada kalian semua. Dua puluh tahun bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Selama ini aku tak pernah mengikut sertakan kalian dalam pertandingan silat. Karena mengingat kalian memang belum memenuhi syarat untuk ikut dalam hal-hal seperti itu. Sungguhpun begitu saat sekarang aku ingin mengetahui seberapa sesungguhnya yang kalian ketahui dari semua yang kuajarkan. Empat atau enam orang maju ke depan, cari pasangan masing-masing untuk bertarung...!" perintah Aki Kilik Rogo pada murid-muridnya. Sesudah berkata begitu, enam orang muridnya serentak maju ke depan. Kemudian masing-masing pa-

sangan saling berhadapan.

"Nah, tunggu apa lagi! Coba kalian tunjukkan padaku apakah kalian telah benar-benar dapat menguasai apa yang telah kuajarkan pada kalian?"

"Baik, Guru...!" Hampir bersamaan mereka menjawab, kemudian tak lama setelahnya maka murid-murid Tapak Suci ini pun mulai memperagakan ilmu silatnya.

Saat itu dua orang di antaranya nampak memasang kuda-kuda, dengan kaki agak ditekuk, tangan kanan menyilang ke depan dada, sedangkan tangan kiri nampak terkepal kemudian didorong ke muka. Lawan mengimbanginya dengan satu kelitan, tubuh memutar setengah badan, kemudian kaki kiri kirimkan satu tendangan. Aki Kilik Rogo tahu bahwa mereka itu mempergunakan Kawah Beracun Penyebar Maut, yang pernah diwariskan oleh Empu Wesi Laya pada dirinya. Mulanya, laki-laki kurus berbadan pendek dengan kumis putih yang hampir menutupi kedua bibirnya, nampak tersenyum lebar manakala murid-muridnya itu mempergunakan jurus maut tersebut pada tingkat kesepuluhnya. Gerakan mereka begitu lincah, ringan bahkan sekejap saja mereka sudah kelihatan mulai saling serang dengan sengitnya. Karena kedua orang itu sama-sama berkepala botak dan sama-sama berpakaian putih pula. Maka dalam gerakan-gerakan silat mereka yang begitu cepat. Tubuh mereka nampak berkelebat-kelebat sehingga nampak bagai bayang-bayang saja.

Menyaksikan adu tanding itu, Aki Kilik Rogo semakin lebar tawanya. Akan tetapi manakala jurus permainan silat keenam murid itu berobah secara total. Aki Kilik Rogo nampak tertegun untuk sekejapan. Alis matanya yang sudah putih mengkerut. Sama sekali dia tak mengerti dan tak pernah mengajarkan jurusjurus yang saat itu sedang dipermainkan oleh muridmuridnya. Jurus-jurus itu nampak lebih ganas dan lebih berbahaya daripada jurus silat Kawah Beracun Penyebar Maut.

Pula setelah mempergunakan jurus-jurus tersebut, murid-muridnya nampak berubah menjadi liar dan brutal. Pusing kepala Aki Kilik Rogo demi menyaksikan kejadian itu. Tiba-tiba dia membentak:

"Hei... jurus apa yang kalian pergunakan itu? Berhenti...!" Aki Kilik Rogo berteriak-teriak memberi perintah. Namun keenam muridnya bagai tak mendengar saja layaknya. Bukan lagi adu latihan yang mereka lakukan, tetapi lebih pantas kalau disebut sebagai pertempuran yang menentukan hidup matinya seseorang. Sudah barang tentu Aki Kilik Rogo berang bukan main, apalagi perintahnya sudah tak didengar lagi oleh murid-muridnya.

"Berhentilah murid-muridku, berhenti...!" perintahnya setengah memohon. Saat itu keempat belas murid yang lain. Yang tak ikut ambil bagian dalam pertempuran hanya memandangi kawan-kawannya yang sedang bertarung itu sambil tergelak-gelak tak karuan. Sudah barang tentu Aki Kilik Rogo yang baru saja menoleh dan ingin minta bantuan mereka melerai kawankawannya yang sedang bertempur, menjadi lebih terkejut lagi. Kejadian ganjil ini benar-benar di luar kebiasaan perguruan manapun di kolong langit ini. Habis kesabaran Aki Kilik Rogo melihat kejadian demi kejadian yang berlangsung. Sementara di luar sepengetahuan kakek pendek, tidak jauh dari tempat itu nampak seorang wanita berjubah hitam, dengan rambutnya yang sudah memutih. Sedang duduk bersila! Kedua bibirnya nampak berkemak kemik, seolah-olah sedang membacakan mantra. Sedangkan tangannya yang menggenggam untai tasbih hitam terus menghitung. Seolah ingin memastikan sudah berapa banyak mantra yang telah dibacanya.

Hong Wiluheng, si Jaheng jadi Koneng. Raja serigala di atas penguasa. Hasutlah hati murid-murid Aki Kilik Rogo itu, kuasai jiwanya. Kemudian persatukan dengan roh jahatmu. Hei raja di raja Gunung Dieng, semburkan keangkaramurkaan dimana-mana....

Demikianlah perempuan berjubah hitam itu terus mengulang-ulang mantranya. Hingga apa yang di inginkannya nampak mulai terwujud. Murid-murid Aki Kilik Rogo nampak semakin brutal dan beringas, mata mereka memerah saga. Layaknya bagai serigala hutan saja mereka saling terjang sesamanya. Menyaksikan keadaan itu puas hati si Jubah Hitam. Tak lama kemudian setelah mengemasi semua peralatannya, orang ini pun melangkah pergi. Dan di luar sepengetahuan si Jubah Hitam, kiranya ada sepasang mata yang sejak tadi mengintai apa yang dikerjakan oleh si Jubah Hitam juga ikut menyelinap pergi beberapa saat setelahnya.

Kembali pada Aki Kilik Rogo yang masih terlihat kerepotan melerai murid-muridnya. Sampai pada saatsaat selanjutnya, kesabaran yang dia miliki habislah sudah. Dia melirik pada sisa-sisa murid lainnya yang saat itu tetap saja masih tertawa-tawa melihat tingkah beberapa orang kawannya.

"Murid-murid tolol. Mengapa kalian malah pada tertawa-tawa, cepat bantu. Lerai mereka jangan bertarung lagi...!"

Tiada sahutan atau gerakan mengikuti perintah, mereka tetap saja tergelak-gelak seperti sediakala.

"Oh, murid-muridku. Setan manakah yang telah merasuki jiwa kalian?" Aki Kilik Rogo itu pun akhirnya mengeluh sambil tepuk-tepuk keningnya yang sudah keriputan. Dalam keadaan kebingungan seperti itu, tiba-tiba terdengar jeritan seseorang.

"Heiiiikh!"

Jeritan tinggi melengking itu sesungguhnya sangat pelan saja. Akan tetapi karena diiringi dengan tenaga dalam yang kuat maka akibatnya. Murid-murid Aki Kilik Rogo yang sedang bertarung itu, nampak tergetar tubuhnya, kaki menyurut satu tindak. Mereka benar-benar terkesima dan saling pandang sesamanya. Heran bercampur haru berbaur menjadi satu, Aki Kilik Rogo menyadari betapa tololnya dirinya sendiri. Jeritan suara tadi sudah jelas membebaskan bisikan jahat yang mempengaruhi jiwa murid-muridnya. Mengapa dia tak menyelidiki keanehan ini jauh-jauh sebelumnya? Mengingat akan kebodohannya, tiba-tiba timbul rasa terima kasihnya pada orang yang telah membebaskan murid-muridnya dari pengaruh Ilmu Sirep Jiwo yang telah dilancarkan si Jubah Hitam. Kemudian sepasang mata tuanya yang jeli itu pun menyapu pandangan pada keadaan di sekeliling tempat tinggalnya, lalu di antara pohon liar yang tumbuh rapat di sekitar tempat itu. Dia melihat seseorang nampak sedang berdiri di atas ranting pohon bercabang. Kedua tangan nampak dilipat di depan dada, sementara sebuah golok yang hanya terlihat gagangnya saja nampak terselip di pinggangnya. Di bagian pinggang yang membatasi antara jubah merahnya dengan celana yang dikenakannya itu, nampak melilit sebuah cambuk butut yang sangat menghebohkan itu. Masih berkisar di bagian pinggang, terlihat pula sebuah periuk besar penuh jelaga yang tak pernah lekang. Walau ke mana pun dia pergi. Tentang kehadiran pemuda ini, sudah tak asing lagi bagi kita. Dialah si Hina Kelana Pendekar Golok Buntung yang telah membuat heboh di mana-mana.

Aki Kilik Rogo kerjabkan matanya begitu melihat sosok samar yang berdiri di atas cabang pohon yang hanya sebesar ibu jari tangan itu. Si pendek kurus nampak terkagum-kagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh si pemuda berpakaian gembel itu. Menurutnya, cabang pohon yang menjadi tumpuan si pemuda sesungguhnya merupakan ranting yang paling rapuh di antara sekian banyak pohon yang terdapat di sekitar tempat itu.

*** 2

Menurutnya jangankan dibebani dengan berat badan manusia, sedangkan andai seekor kucingpun bertengger di atas dahan tersebut. Sudah dapat dipastikan bahwa dahan itu akan berderak patah. Tetapi kini pemuda yang berada di atasnya, juga tidak bisa dianggap tak memiliki bobot. Pendekar Hina Kelana atau dengan nama aslinya Buang Sengketa. Setidaktidaknya memiliki berat badan lebih dari lima puluh kati. Tetapi dahan yang dipergunakannya sebagai tempat berpijak tidak juga patah. Maka sadarlah Aki Kilik Rogo, bahwa sesungguhnya pemuda yang tadi baru saja membebaskan murid-muridnya merupakan orang yang berkepandaian tinggi. Diam-diam dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang pemuda itu. Setelah menjura hormat, maka Aki Kilik Rogo berseru.

"Orang muda yang berada di atas pohon. Aku mohon kesediaanmu untuk datang ke gubukku...!" kata Aki Kilik Rogo setengah meminta. Dari ketinggian lebih dari dua puluh meter, tubuh Buang Sengketa nampak melayang turun. Kaki si pemuda mendarat di atas tanah persis tiga meter di hadapan Aki Kilik Rogo. Pemuda itu membungkuk hormat pada Aki Kilik Rogo, si tua pendek yang sangat krempeng.

"Orang tua, maafkan aku karena telah merusak suasana di tempatmu ini." kata pemuda ini sambil mengamati dengan seksama si kakek pendek berkumis sangat tebal itu.

"Ah, jangan berpura-pura hai orang muda! Dari nampak ku engkau berkepandaian sangat tinggi. Namaku Aki Kilik Rogo, orang yang mendiami kaki Gunung Kendeng ini! Dan engkau siapakah orang muda?" Buang Sengketa nampak tersenyum begitu ditanya tentang dirinya.

"Aku hanya seorang pengelana yang datang dari sebuah tempat yang jauh di sebelah Barat sana, namaku Buang Sengketa...!" jawabnya polos.

"Buang Sengketa? Hemmm. Sebuah nama yang sangat aneh dan tidak pernah kudengar sebelumnya." gumam si kakek lalu memilin-milin kumisnya yang sudah memutih. "Dan engkau hendak ke mana?"

Si pemuda kerjabkan matanya, lalu garukgaruk dadanya yang tak gatal.

"Aku mencari ayahku...!" tukasnya merasa kurang enak dengan apa yang ditanyakan oleh Aki Kilik Rogo.

"Ayahmu? Siapakah ayahmu...?!" tanya lakilaki tua itu lagi. Hal ini membuat wajah si pemuda memerah merasa kurang senang disinggung-singgung tentang tujuannya.

"Maaf kakek Kilik Rogo! Aku tak dapat mengatakannya padamu!"

"Eee.... baiklah, apa yang engkau ketahui tentang rumah dan sekitar tempat ini Sengketa...?!" Pertanyaan yang begitu tiba-tiba dan tiada pernah diduga oleh si pemuda telah membuatnya jadi kelabakan.

"Apa yang kau maksudkan kek...?!"

"Engkau pasti mengetahui tentang sesuatu yang tidak kuketahui di tempat ini?!" kata Aki Kilik Rogo setengah menuduh.

"Aku baru saja sampai di sekitar tempat tinggalmu ini, Aki Bagaimana mungkin aku bisa menga-

takan sesuatu yang tak pernah kuketahui!" ujar Pendekar Hina Kelana mengeluh.

Aki Kilik Rogo mengitarkan pandangannya pada murid-murid yang berada di sekelilingnya, tak lama kemudian dia sudah kembali pada pemuda itu. "Engkau lihatlah orang muda! Muridku pada

botak sedemikian rupa, tanpa sekalipun aku tahu penyebabnya. Dua puluh tahun mereka itu belajar ilmu silat dan kanuragan denganku, tidak kau lihatkah mereka tak ubahnya bagai murid yang baru dua bulan belajar padaku. Aku tak pernah mendidiknya dengan segala macam ilmu silat yang tak pernah ku mengerti, akan tetapi mereka malah lebih mengetahui apa yang tak pernah aku ajarkan kepadanya!" ucap Aki Kilik Rogo dengan wajah tertunduk sedih. Apa yang dikatakan oleh kakek pendek itu, kiranya membuat Buang Sengketa menjadi tidak sampai hati melihat nasib yang dialami oleh murid-murid dari Gunung Kendeng tersebut. Dia tak dapat membayangkan betapa kecewanya seorang guru, andai sampai mengalami kejadian yang sedemikian buruknya. Mengajar murid sama saja artinya dengan membuat murid yang tak mengerti menjadi pintar. Tetapi kalau selama dua puluh tahun seperti yang dialami oleh Aki Kilik Rogo bagaimana jadinya.

"Aki Kilik Rogo!" ucap si pemuda setelah sebelumnya menarik napas pendek. "Ketika aku sampai di sekitar tempat tinggalmu ini, aku melihat beberapa orang yang tak kukenal berada tidak jauh dari tempat ini. Kalau tak salah dugaanku mereka semuanya ada tiga orang. Nampaknya mereka terdiri dari golongan yang berbeda-beda...!"

"Tunggu...!" memotong Aki Kilik Rogo, sejurus lamanya laki-laki tua berbadan pendek itu nampak memandang pada si pemuda tanpa berkedip sedikit pun.

"Engkau bilang di sekitar tempat tinggalku ini telah berkeliaran beberapa orang aneh, rasa-rasanya tak seorang pun pernah masuk ke dalam tempat tinggalku. Atau mungkin engkau dapat terangkan bagaimana ciri-ciri orang yang kau lihat itu...?"

Pemuda berwajah sangat tampan itu membuang pandangannya jauh-jauh, sekelumit dia melihat berkelebatnya sosok bayangan putih di antara deretan pohon-pohon yang berada tak jauh di samping kiri mereka. Dia bermaksud untuk mengejar bayangan tersebut. Tetapi niatnya dia tangguhkan.

"Aki Kilik Rogo!" ucapnya memecah keheningan. "Ketika aku sampai di Gunung Kendeng ini, aku melihat seseorang berjubah hitam, dia seorang perempuan tua. Di tangannya memegang tasbih besar berwarna hitam, sedang di tangan yang lainnya tergenggam sebuah tongkat berkepala serigala. Masih di lingkungan ini di tempat yang berbeda aku melihat seorang laki-laki pesolek, juga sedang mengawasi tempat latihan para murid-muridmu!"

"Laki-laki pesolek, ah rasanya tak salah lagi. Dialah si Waria dari Gunung Pati. Tetapi ada keperluan apa orang itu sampai berkeliaran di tempat seperti ini. Tetapi seorang yang berjubah hitam itu aku tak pernah mengenalnya sama sekali. Coba katakan sekali lagi yang engkau lihat di luar sepengetahuanku!" pinta Aki Kilik Rogo penuh perhatian.

"Seorang lainnya adalah seorang laki-laki gemuk. Di kepalanya mengenakan topi yang dihiasi dengan tanduk kerbau. Orang itu sangat jelek sekali. Kedua bibirnya tidak jauh berbeda dengan bibir monyet, dia suka menyeringai dan tersenyum-senyum...!" jelasnya. Aki Kilik Rogo nampak kerutkan keningnya begitu mendengar ciri-ciri yang disebutkan oleh Pendekar Hina Kelana. Rasa-rasanya dia lupa-lupa ingat dengan orang yang memiliki tanda-tanda seperti itu. Tiba-tiba dia hampir terlonjak-lonjak begitu mengingat siapa adanya orang yang baru saja disebut-sebut oleh pemuda itu.

"Dulimang. Hah tak salah lagi, dialah orangnya!" kata Aki Kilik Rogo heran bercampur kaget.

"Engkau mengenalnya, Ki...?"

"Ya.... dia merupakan tokoh sesat dari Lereng Bromo yang berjuluk Kebo Selaksa Wisa. Tetapi ada keperluan apakah orang itu sampai kelayapan sejauh ini?" gumam Aki Kilik Rogo nampak tertegun.

Sampai sejauh itu, tahulah Buang Sengketa kini. Mengapa murid-murid Aki Kilik Rogo mengalami kelainan seperti itu. Hanya dua kemungkinan yang dapat disimpulkan oleh pendekar dari Negeri Bunian itu. Kesimpulan pertama, boleh jadi sudah sejak awal murid-murid Aki Kilik Rogo memang sudah terkena pengaruh kekuatan sihir yang dijalankan oleh si Jubah Hitam. Sehingga dia dengan sangat leluasa dapat menguasai atau bahkan mempergunakan tenaga orangorang itu, untuk tujuan dan maksud-maksud yang belum jelas. Sedangkan yang kedua, mungkin saja ada orang lain yang menaruh dendam pada Aki Kilik Rogo yang sesungguhnya merupakan seorang tokoh sakti yang memiliki banyak musuh.

"Aki, tahukah aki bahwa murid-muridmu itu telah berlaku tak wajar...?"

"Maksudmu?" tanya Aki Kilik Rogo benar-benar tak mengerti.

Buang Sengketa terdiam untuk sesaat lamanya, kemudian dia meneliti wajah laki-laki pendek itu.

"Aku yakin ada pihak-pihak tertentu yang telah dengan sengaja mengacaukan, atau bahkan ingin memusnahkan segala impian mu itu, Ki... Atau bahkan ada sesuatu yang kini sedang merasuki jiwa mereka...!" Aki Kilik Rogo terdiam sesaat, dia coba mengerti apa yang dikatakan oleh Buang Sengketa. Agaknya apa yang dikatakan oleh si pemuda bagi Aki Kilik Rogo adalah merupakan sesuatu yang bersikap wajar, namun masih penuh dengan keragu-raguan.

"Bagaimana engkau bisa mengambil kesimpulan seperti itu, Buang Sengketa?" tanya Aki Kilik Rogo pada akhirnya.

Yang ditanya menyapu pandang pada muridmurid di sekitarnya.

"Aku melihat si Jubah Hitam nampak merapalkan sesuatu, ketika aki memberi perintah pada muridmurid aki. Sehingga akhirnya murid-murid aki malah melakukan gerakan-gerakan silat yang sesungguhnya tak pernah aki ketahui."

Aki Kilik Rogo angguk-anggukkan kepalanya. "Benar juga kata-katamu, Sengketa! Tetapi

apakah yang mereka harapkan atas segala yang mereka lakukan? Aku tak memiliki sesuatu yang pantas diperebutkan."

"Itulah yang harus kita selidiki, Ki...!"

"Hemm.... Berarti murid-muridku itu jiwanya sudah teracuni. Tiada guna aku mendidik mereka lagi. Aku akan meninggalkan mereka dan menyelidiki orang-orang yang mencurigakan itu!" putusnya bagai orang yang pupus harapan. Kejut hati Pendekar Hina Kelana demi mendengar keputusan Aki Kilik Rogo, baginya hal itu merupakan satu keputusan yang dia pikir tak pernah terjadi sebelumnya.

"Jangan engkau lakukan itu, Ki. Kasihan mereka, murid-muridmu itu membutuhkan perhatianmu!"

"Ah, percuma saja orang muda. Dua puluh tahun mereka dalam bimbingan ku. Tetapi hasilnya siasia, mereka benar-benar sangat mengecewakanku " tukas Aki Kilik Rogo kesal sekali.

"Itu bukan kesalahan mereka, Ki...!"

Sepasang mata Aki Kilik Rogo nampak melebar begitu mendengar kata-kata Pendekar Hina Kelana. Dia merasa bahwa si pemuda nampaknya berada di pihak murid-muridnya.

"Kalau bukan kesalahan mereka, jadi kesalahanku?!"

"Tidak juga...!" Buang Sengketa gelengkan kepalanya. "Menurutku si Jubah Hitam itulah yang bersalah, dialah yang telah menyesatkan murid-muridmu itu, melalui satu kekuatan yang tak pernah terlihat dan di luar sepengetahuan kita!"

"Engkau begitu yakin bahwa si Jubah Hitamlah yang telah membuat murid-muridku menjadi tolol semua?" tukas Aki Kilik Rogo sudah semakin tak sabar saja nampaknya. Buang Sengketa anggukkan kepalanya. Wajah Aki Kilik Rogo nampak semakin bertambah memerah karena menahan amarah. Dalam hati dia memaki diri sendiri, mengapa dirinya begitu tolol dan tiada pernah mengetahui apa yang terjadi dengan murid-muridnya. Pantas saja semuanya menjadi siasia!

"Kini aku mulai mengerti akan maksud ucapanmu itu. Lalu apakah yang harus aku lakukan...?" tanya Aki Kilik Rogo bingung sendiri.

"Engkau tetaplah tinggal di sini, coba lakukan penyelidikan di sekitar rumah tinggalmu. Biarkan aku yang akan menyelidiki siapa sesungguhnya yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada murid-muridmu itu!" kata Buang Sengketa memberi keputusan.

Bukan main gembiranya Aki Kilik Rogo mendengar keputusan yang diambil oleh Pendekar Hina Kelana. Kemudian Aki Kilik Rogo yang berbadan pendek itu tanpa terduga-duga, segera menghambur pada si pemuda. Lalu bagai seorang bocah kecil dia memeluk Buang Sengketa.

"Aku si orang tua tiada guna mengucapkan banyak terima kasih padamu!" ucapnya dengan mata merembab merah.

"Sudahlah, Ki! Aku belum melakukan apa-apa, kita lihat saja bagaimana nanti hasilnya!" sela si pemuda merasa serba tak enak.

"Hmm. Aku mempercayakan semua ini padamu, semoga apa yang menjadi kecuri-gaanmu semuanya benar adanya!"

"Terima kasih, Ki.... Aku pamit dulu...!" "Pergilah semoga Sang Hyang Widi memberkati

mu...!"

Setelah menjura hormat pada Aki Kilik Rogo,

maka dengan sekali menggenjotkan kakinya tubuhnya pun lenyap dari pandangan Aki Kilik Rogo. Takjub bercampur kagum Aki Kilik Rogo demi melihat betapa hebatnya Pendekar Hina Kelana dengan ilmu lari cepatnya. Diam-diam dia merasa begitu yakin, kalau apa yang akan dilakukan oleh si pemuda akan mencapai hasil seperti yang diharapkan.

***

3

Matahari telah condong di ufuk Barat, ketika Buang Sengketa tiba di pinggiran Hutan Kemusu. Sesaat dia menghela nafasnya dalam-dalam, namun kemudian dia tertegun begitu melihat sosok bayangan hitam berkelebat di antara sela-sela pohon yang tumbuh rapat, nun jauh di bawah lereng bukit. Sepasang mata pendekar ini nampak menyipit begitu matanya yang tajam itu mengenali siapa adanya orang tersebut. Tak salah lagi itulah dia si Jubah Hitam, yang pernah dia lihat di Gunung Kendeng tempat kediaman Aki Kilik Rogo. Mengapa pula manusia bertongkat serigala itu berada di tempat yang sunyi seperti daerah Kemusu. Diam-diam, Pendekar Hina Kelana semakin bertambah curiga dengan kehadiran orang tersebut. Lalu timbul pula keinginannya untuk menguntit si Jubah Hitam sampai pada tujuan akhir perjalanannya.

Kemudian dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya, yaitu Ajian Sapu Angin. Maka sebentar saja tubuhnya sudah melesat sedemikian cepatnya, bagai anak panah-yang terlepas dari busurnya. Lalu hanya dengan sekejapan mata saja, ratusan tombak telah terlampaui. Si pemuda mengurangi kecepatan larinya, sambil celingak celinguk memperhatikan keadaan di sekitarnya. Tak terlihat adanya si Jubah Hitam, padahal menurut taksirannya. Sungguhpun si Jubah Hitam memiliki ilmu lari cepat yang luar biasa. Akan tetapi Ajian Sapu Angin bukanlah ilmu lari cepat biasa. Ilmu ini sangat langka, dan di dalam dunia persilatan hanya si Bangkotan Koreng Seribu seoranglah yang memiliki ilmu lari, tersebut yang kini telah diwarisi oleh muridnya, yaitu Pendekar Hina Kelana. Sialan betul, ke mana minggatnya orang itu! Rutuk si pemuda merasa kehilangan jejak. Ketika Buang Sengketa bermaksud meninggalkan tempat itu, tiba-tiba dia mendengar suara beradunya senjata tajam tidak begitu jauh di sebelah Utara tempat dia berdiri. Ah, siapa lagi? Batin si pemuda dalam hati, tiada menyia-nyiakan kesempatan. Pemuda ini pun langsung mengempos tubuhnya. Sehingga nampak begitu ringan, badan yang kekar itu pun melentik ke udara. Lalu dengan mulus sepasang kakinya mendarat di atas dahan yang sangat tinggi. Dari tempat itu dia dapat dengan leluasa mengawasi keadaan sekitar seratus tombak di depannya, terlihatlah dua orang berpakaian biru sedang mengeroyok seorang gadis berbaju putih. Sekilas Buang Sengketa teringat pada bayangan yang berkelebat di tempat kediaman Aki Kilik Rogo beberapa hari yang lalu. Mungkin gadis inilah orangnya. Diam-diam dia mulai mengerahkan ilmu mendengar jarak jauhnya. Dari percakapan dan perdebatan yang dia dengar, maka tahulah dia bahwa sesungguhnya dua orang berpakaian biru bermaksud untuk meringkus si gadis.

Karena gadis itu dalam keadaan terdesak hebat, maka Buang Sengketa tidak mau menunggu lagi. Sekali lagi dia mengenjot tubuhnya, maka lebih cepat lagi dia melayang bagai terbang di atas pucuk-pucuk pohon. Dalam sekedipan mata dia sudah hampir sampai di tempat pertempuran. Saat itu, dengan salah seorang yang berpakaian biru nampak berusaha melancarkan totokan pada bagian-bagian yang mematikan, sementara yang lainnya dengan senjata yang berupa sebuah tongkat biru yang pada bagian pangkalnya terdapat ukiran kepala seekor ular Welang. Nampak dengan sebat sekali mencecar lawannya dari arah yang berlawanan. Tongkat berkepala ular Welang itu berkelebat-kelebat menyambar ke segala arah, angin menderu mengeluarkan suara bercuitan. Bau amis menjijikkan mulai menebar ke mana-mana. Nampaklah sudah, bahwa dalam jurus-jurus selanjutnya. Si gadis berpakaian putih sudah tak mampu lagi mengembangkan jurus-jurus selanjutnya. Si gadis berpakaian putih sudah tak mampu lagi mengembangkan jurus-jurus pedangnya. Bahkan sesaat setelah itu, ketika tongkat di tangan si Jubah Biru hampir saja mematuk dadanya, si gadis sudah tak punya pilihan lagi untuk menghindari berbenturnya senjata yang sangat berbisa itu. Tak pelak lagi, dengan nekad dia memapaki terjangan tongkat yang terus meluncur ke dada itu dengan kibasan pedang di tangannya.

"Traaak!"

Bunga api berpijar begitu senjata itu saling beradu, tubuh si gadis nampak tergetar dengan tangan sakit luar biasa bagai kesemutan. Gadis berbaju putih nampak pucat wajahnya, dan lebih terkejut lagi ketika menyadari bahwa senjata di tangannya nampak gempal besar di beberapa bagian. Dua laki-laki berbaju biru itu nampak mengekeh begitu melihat keberhasilan mereka. Dan si gadis masih belum hilang rasa kejutnya, ketika tubuh si Jubah Biru menubruk gadis baju putih dan langsung menotok urat gerak tubuh si gadis. Gadis itu mengeluh tanpa mampu menggerakkan tubuhnya yang mendadak menjadi kaku.

"Sekarang engkau bisa apakah Sri Pamuja. Dengan kepandaian setahi kuku, engkau ingin cobacoba menghalangi rencana Sepasang Ular Welang? Ha... ha... ha. Jangankan engkau, andai gurumu masih hidup sekalipun belum tentu dia sanggup menghadapi permainan tongkat kami." berkata salah seorang si Jubah Biru dengan sesungging senyum menjijikkan. "Kepalang tanggung Adik Sadaka, telanjangi sa-

ja sekalian, biar aku dapat melihat kebagusan tubuhnya yang putih mulus itu!" kata Sadaki dengan pandangan matanya yang blingsatan.

"Hem. Betul juga, sekalian kita kerjai saja..!" sahut Sadaka, lalu tangan kanannya yang berkuku panjang-panjang itu pun menjulur bagai kepala ular.

"Breet!" "Auwwww...!"

Sepasang Ular Welang tertawa mengekeh! Apalagi setelah beberapa saat kemudian mereka melihat kebagusan tubuh Sri Pamuja. Sadaka yang sudah nampak blingsatan itu agaknya tidak ingin berhenti sampai di situ saja, tangannya kembali bergerak. Namun pada saat itulah meluncur satu benda hitam sedemikian cepatnya, sampai-sampai kedua bersaudara yang sudah hampir lupa daratan itu pun tak sempat melihatnya.

"Tuk!"

Sadaka melolong panjang begitu benda yang berupa batu itu menghajar tangannya. Bersamaan dengan jeritan Sadaka maka tubuh Buang Sengketa telah melayang turun dan kini telah berdiri tepat di hadapannya.

Bukan main terkejutnya kedua orang itu begitu melihat kehadiran seorang pemuda berpakaian gembel yang belum pernah mereka lihat pada waktu-waktu sebelumnya. Begitu pun Sadaki tetap membentak.

"Bocah gembel, berani sekali engkau mencampuri urusan Sepasang Ular Welang?" tukas Sadaki dengan mata melotot. Merah paras Pendekar Hina Kelana begitu mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan itu. Begitu pun Buang Sengketa tetap menyunggingkan senyum.

"Segala macam ular bulukan! Sudah barang tentu akan kugebuk andai berani berbuat onar di depanku...!" kata Buang Sengketa mencemooh.

"Bangsat, engkau benar-benar tak memandang muka pada kami...?" tukas Sadaki sambil mengusapusap tangannya yang memar biru dan sakit luar biasa. "Ha... ha... ha...! Bertahun-tahun aku mengem-

bara, selama itu aku paling benci pada setiap kebiadaban yang terjadi di kolong langit ini!"

"Bah, agaknya engkau benar-benar manusia yang sudah bosan hidup...?"

"Mengapa harus basa basi, Kakang Sadaki, cincang saja gembel bau ini...!" kata Sadaka nampak sudah tidak sabar lagi.

"Sabar dulu, Adik.... Kita tanya dulu namanya. Siapa tahu setelah dia mati nanti bapak emaknya mencari-cari kuburnya, akhirnya kita-kita juga yang bakal kerepotan!"

"Pertanyaan yang tiada guna, hanya akan menambah umurnya sedetik lebih lama lagi...!" Tanpa menghiraukan ucapan adik-nya, Sadaki membentak:

"Bocah, sebutkanlah namamu. Kami tiada pernah membunuh tanpa terlebih dahulu mengetahui namanya...!" seru laki-laki berewokan berkepala besar tersebut.

"Puh. Sombong sekali bicaramu, ular berewok, sepertinya di kolong langit ini hanya kalian berdualah yang paling hebat! Ha... ha... ha...! Namaku Buang Sengketa. Manusia yang terbuang dan ketika masa kecilnya diramalkan oleh para peramal gila sebagai biang malapetaka di kemudian hari (Untuk lebih jelasnya baca Utusan Orang-orang Sesat). Tetapi dunia persilatan lebih mengenalku sebagai si Hina Kelana...!" jelas si pemuda tanpa maksud membanggakan diri. Tak dapat dibayangkan betapa terkejutnya, Sepasang Ular Welang ini. Sedikit pun mereka tiada pernah menyangka bahwa pendekar yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia persilatan sesungguhnya hanyalah seorang pemuda gembel berperiuk di pinggangnya, muka tampan namun nampak kotor bagai setahun tak pernah mandi. Si gadis berbaju putih itu pun tak kalah terkejutnya, dia tiada menyangka bahwa pemuda yang telah menyelamatkan kehormatannya itu, tak lain Pendekar Golok Buntung yang kehadirannya membuat gempar di mana-mana. Tetapi diam-diam dia merasa bersyukur, sebab walau bagaimanapun juga dia punya kesempatan untuk melihat bagaimana sepak terjang pendekar yang sangat tampan itu nantinya.

Kembali pada Sepasang Ular Welang yang nampak sekali berusaha menutup-nutupi rasa gentar yang mulai menyelimuti hati mereka. Salah seorang yang bernama Sadaka menghardik:

"Akh, kiranya pendekar yang sangat kesohor itu tak lebih hanyalah seorang gelandangan yang patut dikasihani!"

"Aku jadi ingin melihat sendiri bagaimana hebatnya! Pusaka Golok Buntung yang membuat heboh itu...!" timpal Sadaki mencemooh. Geram bercampur marah pendekar ini dibuatnya.

"Hemm!" Pendekar Hina Kelana menggeram, otot-otot tubuhnya mulai nampak menegang dan bersembulan. "Orang-orang malang! Seandainya golok maut milikku itu sampai keluar dari sarangnya. Aku khawatir kalian tak pernah sempat melihatnya!" tukasnya dengan gigi bergemeletukkan menahan amarah.

"Ah, mulutmu keliwat takabur, pendekar gembel...!" makinya.

"Hueesss!"

Sadaki memukulkan tongkatnya yang berkepala ular Welang itu. Sontak berhamburlah jarum-jarum beracun dari kepala ular tersebut. Manakala Sadaki menekan salah satu alat yang berada dalam genggamannya. Karena Buang Sengketa menyadari betapa berbahayanya senjata rahasia yang terlontar dari mulut kepala ular tersebut, maka dia tak mau ambil resiko. Dengan sedikit menggeser tubuhnya dan mengerahkan tenaga dalam melalui tangan kanannya, sesaat kemudian tangan itu pun melambai. Sedikit pun Sadaki tiada mengira bahwa lambaian tangan kanan si pemuda timbulkan gelombang angin yang membadai. Pukulan tangan kanan tersebut langsung memapaki datangnya senjata rahasia yang begitu cepat.

"Weeerrr!"

Jarum-jarum beracun tersebut berpentalan ke segala arah, lalu runtuh berkeping-keping. Baik Sadaka maupun Sadaki nampak sangat terkejut sekali, selama malang melintang dalam dunia persilatan baru kali inilah ada orang yang mampu luput dari serangan senjata rahasia yang mereka miliki, hal ini saja telah membuka mata mereka, betapa pemuda berkuncir tersebut memiliki kepandaian yang tidak rendah.

Namun dasar orang tak tahu diri, mengetahui serangannya luput, mereka bukannya mau mengalah. Sebaliknya secara serentak kedua orang ini segera melakukan serangan-serangan secara gencar. Buang Sengketa yang sedikit banyaknya telah melihat bagaimana permainan silat kedua lawan ketika bertarung melawan Sri Pamuja. Maka tanpa memberi kesempatan lagi nampak cepat-cepat putar langkah. Kemudian dengan mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, sesaat berikutnya telah memutar tangannya membentuk perisai pelindung untuk mematahkan serangan-serangan tongkat berkepala ular Welang yang sangat berbahaya itu. Dalam waktu sekejap saja pertarungan nampak seru, dan telah berlangsung belasan jurus. Satu ketika, Sadaka dan Sadaki nampak menyurut dua tindak, satu tangan menyilang ke depan dada, sedangkan tangan yang memegang tongkat tampak terjulur ke depan. Dalam pada itu, mulut keduanya telah berkomat kamit. Hingga sekejap kemudian asap tipis berwarna kebiru-biruan nampak mulai menebar dari kepala tongkat yang berbentuk kepala ular Welang tersebut. Tubuh keduanya sudah bermandikan peluh, tanda bahwa Sepasang Ular Welang sedang bersiap-siap mengeluarkan pukulan maut yang diberi nama Ular Welang Mencatok Kodok. Orang-orang persilatan yang pernah mengetahui betapa hebat pukulan beracun tersebut tak berani membayangkan bagaimana akibatnya seandainya sampai pukulan bersarang di tubuh seseorang. Belum pernah seorang pun yang bisa luput dari pukulan maut yang mengandung racun yang sangat ganas tersebut.

Sedangkan Buang Sengketa sendiri begitu mengendus ban amis yang tak sedap itu hanya mengekeh saja, sebab seperti diketahui bahwa pendekar ini sesungguhnya sangat kebal dengan segala macam racun. Namun karena demi mengimbangi pukulan tenaga sakti yang tentu saja dapat membuat tubuhnya menjadi berantakan, maka dia pun tak ingin ayalayalan. Sesaat setelahnya Sepasang Ular Welang dengan diiringi satu jeritan melengking, cepat-cepat pukulkan tongkatnya ke depan. Maka secara bersamaan dua larik sinar berwarna biru langsung melesat melalui mulut tongkat kepala ular tersebut. Buang Sengketa tidak tinggal diam, sekali dia mengempos tubuhnya. Maka dengan sangat ringan sekali badan yang kekar dan berotot itu pun sudah melentik ke udara. Anehnya, seperti bermata saja layaknya, pukulan yang dilepas oleh Sepasang Ular Welang itu bagai bermata saja mengejar ke mana pun pemuda ini mengelak. Sadarlah pemuda itu, bahwa selain pukulan maut itu mengandung racun yang jahat, tetapi juga berbau sihir. 4

Pendekar Hina Kelana kertakkan rahang. Selamanya dia paling benci dengan permainan apapun yang berbau sihir. Maka tak pelak lagi, dia pun mulai menyalurkan seperempat tenaga dalamnya ke arah bagian tangannya. Begitu segalanya dia rasakan cukup, maka tak pelak lagi pukulan Empat Anasir Kehidupan yang sudah tak asing lagi. Dia pergunakan untuk memapaki datangnya gelombang pukulan yang terus mengejarnya itu. Karena pukulan beracun tersebut sifatnya mengejar, maka tanpa menoleh lagi dia pun kiblatkan tangannya ke belakang.

"Bet! Blaaaar!"

Kilatan sinar ultra violet yang datangnya lebih cepat itu, membuat dua kekuatan tenaga sakti saling bertabrakan tanpa dapat dielakkan lagi. Dan setahu bagaimana, baik tubuh Sadaki dan Sadaka nampak sama-sama terpental lima tombak, orang itu tergulingguling menabrak kotoran kerbau yang berada di sekitar tempat itu. Sementara Buang Sengketa sendiri hanya merasakan dadanya sedikit nyeri. Tetapi setelah mengatur jalan napas, maka rasa sakit itu pun lenyap begitu saja. Pemuda keturunan seekor raja ular di Negeri Bunian yang berjuluk si Raja Piton Utara itu pun nampak tergelak-gelak begitu melihat lawan-lawannya, belepotan dengan kotoran kerbau.

"Ah, kalian jorok sekali! Kotoran kerbau kalian buat mandi!" ejek Pendekar Hina Kelana tanpa kehilangan tawanya. Gusar bercampur malu, Sepasang Ular Welang itu dibuatnya. Terlebih-lebih begitu melihat kenyataan bahwa pukulan maut Ular Welang Mencatok Kodok, dapat dikandaskan oleh lawan yang masih begini muda, bahkan sampai-sampai mereka sendiri terjengkang beberapa tombak.

"Budak gembel! Engkau benar-benar akan menyesal telah begitu berani memper-mainkan kami...!" tukas Sadaki dengan tongkat melintang di depan dada. "Huh! Kutu busuk berewokan, mulutmu saja

yang besar. Tetapi sesungguhnya kalian merupakan orang yang paling tolol di kolong langit ini, maka bersiap-siaplah untuk mampus...!" teriak Buang Sengketa, lalu tangannya meluncur deras ke arah dada Sadaki dan Sadaka. Pukulan kedua tangan yang mengandung tenaga dalam tersebut mendatangkan angin bersiuran. Sadaka tampak terkejut ketika merasakan adanya sambaran angin pukulan tersebut. Tetapi dengan menggeser kaki kanan dan sedikit miringkan tubuh, maka sodokan kedua tangan si pemuda menjadi luput dari sasarannya. Namun di luar dugaan kedua orang ini, tiba-tiba kaki kiri Buang Sengketa membentuk satu guntingan ke arah kaki lawan-lawannya. Sesaat lamanya, Sadaka dan Sadaki nampak terperangah, namun menyadari akan datangnya bahaya yang mengancam bagian kakinya. Maka cepat-cepat keduanya terlonjak dan langsung melompat menghindari sapuan kaki lawannya.

"Wuuut!"

Sambaran kaki Buang Sengketa juga luput, di luar kesadarannya, Sadaki yang masih berada di udara tatakkan tongkatnya.

"Seeer!" Senjata rahasia yang berupa jarumjarum beracun itu pun kembali meluruk ke arah Buang Sengketa, dan pada saat itu pun Sadaka menekan salah satu sisi bagian tongkatnya. Maka senjata yang sama pun berlompatan dari mulut kepala ular yang berada dalam genggamannya. "Sialan...!" Buang Sengketa mengutuk. Tubuhnya melonjak kemudian secepatnya melesat ke udara. Begitu dia menukik kembali, tanpa sungkan-sungkan dia pergunakan si Hina Kelana Merana yang maha dahsyat itu.

"Haiitt!" Satu raungan keras dan desis bagai amarah se ekor ular piton, cukup sebagai tanda bahwa Buang Sengketa benar-benar dalam keadaan marah besar.

Dalam pada itu serangkum gelombang cahaya merah membara yang dilepas sebagai pukulan ampuh sang pemuda. Nampak berkelebat laksana meteor, begitu cepat pukulan si Hina Kelana Merana itu berkelebat, hingga timbulkan suara menggemuruh menyakitkan gendang-gendang telinga. Cahaya merah membara itu bukan saja meruntuhkan jarum-jarum beracun milik lawannya, namun lebih dari sekedar itu terus saja meluncur deras tiada terbendung ke arah Sadaka yang berada tepat di bawahnya. Tidak terbayangkan, baru terkena sambaran anginnya saja Sadaka merasakan badannya bagai terpanggang di atas bara api dan hal itu sudah membuat wajahnya pucat bukan main. Dia menyadari akan bahaya itu, namun begitu dia berusaha menghindar. Dia merasakan adanya ribuan kati tenaga raksasa yang membuatnya tak mampu bergeser dari belenggu maut.

"Wussss! Blaaarrrr!" Pukulan maut yang datangnya dari atas tersebut membuat tubuh Sadaka melesak ke dalam tanah. Tubuh tersebut nampak berantakan hancur berkeping-keping. Sehingga membuat Sadaki yang sejak tadi terperangah kini menjadi semakin ciut nyalinya. Sungguhpun dia sangat marah bukan main, tetapi dia menyadari menghadapi Pendekar Hina Kelana seorang diri hanyalah merupakan perjuangan yang sia-sia. Terkecuali bergabung dengan kawan-kawan satu golongan, dia tak ingin mengambil resiko yang sangat membahayakan keselamatannya. Semasih Buang Sengketa dalam keadaan lengah, maka Sadaki langsung melarikan diri. Saat itu Sri Pamuja yang tubuhnya masih dalam keadaan tertotok, berteriak.

"Pendekar! Orang itu melarikan diri...!"

Buang Sengketa balikkan wajahnya, benar seperti apa yang dikatakan oleh Sri Pamuja, Sadaki si Sepasang Ular Welang itu sudah tak ada lagi di tempat itu.

"Suatu saat kelak aku pasti menemukannya...!" berkata begitu Buang Sengketa melangkah mendekati Sri Pamuja, namun dia undur dan palingkan muka begitu melihat pakaian si gadis yang terobek di bagian dadanya. Sehingga menampakkan kulitnya yang putih mulus.

"Bagaimana ini, Pendekar Kelana. Tolong bebaskan aku...!" kata Sri Pamuja memohon.

"Akh, bagaimana aku bisa membebaskan mu, benahi dulu pakaianmu!" tukas si pemuda.

"Bagaimana caranya, aku tak dapat menggerakkan tanganku!" rengek Sri Pamuja. Pendekar Hina Kelana mengeluh, lalu garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"Kalau begitu aku mau pergi saja...!"

"Pendekar, kalau engkau pergi bagaimana kalau bangsat itu datang ke mari. Apakah engkau tidak kasihan padaku...?" rintih gadis itu setengah memelas. Si pemuda tercenung, agaknya apa yang dikatakan oleh Sri Pamuja mengena di hatinya. Lalu dengan menutup matanya dengan tangan kiri, selangkah demi selangkah dia mendekati si gadis. Merasa begitu dekat, maka dia pun bermaksud memulihkan jalan darah yang telah membuat si gadis tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Tetapi karena kedua matanya tertutup, maka dia jadi salah pegang.

"Auuuwww...!" Sri Pamuja menjerit begitu tangan Buang Sengketa secara tak sengaja nyasar ke bagian dadanya. Seketika wajah Buang Sengketa berubah merah. Cepat-cepat dia menggeser jemarinya, kemudian dengan cepat pula dia sudah membebaskan si gadis dari pengaruh belenggu totokan. Setelah terbebas dari totokan Sadaki, maka Sri Pamuja segera memperbaiki pakaiannya.

"Aku merasa sangat berterima kasih padamu, Pendekar...!" ucapnya setelah beberapa saat lamanya hanya terdiam.

"Nona tak perlu berterima kasih padaku, semua yang terjadi itu sesungguhnya hanyalah merupakan pertolongan Sang Hyang Widi...!"

"Eh, namaku Sri Pamuka dari Gunung Wilis...!" "Dan aku si anak terbuang si Hina Kelana...!"

kata pemuda itu menyambung.

Buang Sengketa kerutkan alisnya begitu teringat sesuatu, lalu langsung bertanya; "Sepertinya aku pernah melihatmu di Gunung Kendeng, tempat tinggal Aki Kilik Rogo, apa yang engkau kerjakan di sana...?" tanya Buang Sengketa menyelidik. Sesungguhnya Sri Pamuja agak begitu terkejut begitu mengetahui ada orang lain melihat kehadirannya di Gunung Kendeng. Namun karena dia menyimpan maksud-maksud yang baik, maka dia hanya tersenyum saja demi mendengar teguran si pemuda.

"Rupanya anda pernah melihatku di sana?" "Ya, secara kebetulan beberapa hari yang lalu."

Sejurus lamanya gadis itu nampak memperhatikan si pemuda yang saat itu hanya beberapa meter saja jaraknya dari tempat dia berdiri. Sesaat mata mereka nampak saling beradu pandang, lalu cepat-cepat Sri Pamuja membuang pandangannya jauh-jauh. Lalu kemudian dia pun mengakui.

"Kuakui, aku memang pernah berada di sana! Tetapi aku tak mempunyai maksud-maksud yang tak baik. Aku hanya ingin menguntit apa yang dikerjakan oleh si Jubah Hitam dan si Tanduk Kerbau di tempat tinggal Aki Kilik Rogo."

"Dan engkau telah mengetahui apa yang dikerjakan oleh mereka di tempat itu...?" tanya Buang Sengketa menyelidik.

Sri Pamuja anggukkan kepalanya.

"Ya, tetapi tidak semuanya...." jawab si gadis tanpa merasa ragu-ragu lagi.

"Lalu apa yang engkau ketahui itu...?" "Mungkin banyak, tentang murid-murid Aki Ki-

lik Rogo, yang tolol dan suatu saat menjadi buas bila sudah sampai masanya. Tentang bencana yang akan dilakukan oleh si Jubah Hitam, atau si Topi Kerbau...!" Dalam pada itu, tiba-tiba Buang Sengketa men-

jadi curiga dan ragu-ragu pada si gadis. Dan keadaan seperti itu agaknya sempat diketahui oleh gadis itu. Maka tanpa sungkan-sungkan dia pun menegur.

"Anda tak perlu curiga padaku. Lama sekali aku telah mencium segala rencana orang-orang itu. Tetapi aku selalu tak memiliki keberanian untuk menghalangi usaha mereka. Orang-orang itu berilmu sangat tinggi, sedangkan aku bukanlah apa-apanya...!" desah si gadis setengah mengeluh.

"Apakah orang itu bekerja sama, satu golongan atau memiliki tujuan masing-masing?"

Nampak sekali perubahan air muka Sri Pamuja begitu Buang Sengketa mengemukakan pertanyaan seperti itu. Hal ini sudah barang tentu membuat si pemuda menjadi bertambah heran.

"Mereka itu sesungguhnya dari golongan yang berbeda, tetapi mempunyai tujuan yang hampir sama...!"

"Maksudmu!" desaknya tak sabar lagi.

"Dari Aki Kilik Rogo, ada sesuatu yang mereka inginkan...!"

Nampaknya Pendekar Hina Kelana merasa kurang puas dan mengerti akan makna ucapan Sri Pamuja.

"Pamuja! Janganlah bicara muter-muter aku tak bisa mengerti apa yang kau katakan itu!"

"Hm, baiklah, aku akan ceritakan padamu tentang Aki Kilik Rogo terlebih dahulu." ujar Sri Pamuja.

"Katakanlah...!" Buang Sengketa berkata serius. Sesaat   lamanya Sri   Pamuja menarik   napas pendek, agaknya dia sedang berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu. Lalu setelah helaan-helaan nafasnya

mulai teratur kembali, maka dia pun memulai.

"Tujuh puluh tahun yang lalu, di Gunung Dieng hidup seorang tokoh yang sangat sakti. Orang itu mempunyai nama Empu Wesi Laya, tokoh sakti itu hidup dengan dua orang muridnya. Murid perempuannya Betari Murti dan seorang lainnya bernama Kilik Rogo. Konon setelah dewasa Betari Murti yang punya sifat serakah dan ingin menguasai ilmu pukulan beracun telah melarikan diri dengan membawa Kitab Bendil Dieng "

"Kitab? Kitab apa...?" tanya pendekar keturunan raja ular tersebut merasa tertarik.

"Bendil Dieng sesungguhnya sebuah kitab yang isinya sangat erat hubungannya dengan alam di sekitar tempat itu. Sekali saja kitab itu tak pernah kembali pada tempatnya, maka bencana itu pun akan terjadi di tempat tersebut. Itulah sebabnya demi menghindari kutuk yang telah ditetapkan oleh Empu Wesi Laya, maka Aki Kilik Rogo memohon pada gurunya sendiri untuk mencari dan membawa kembali Kitab Bendil Dieng. Sayangnya, Aki Kilik Rogo tak pernah berhasil membawa kembali kitab yang sangat disucikan itu. Sebab ternyata ilmu kepandaian yang dimiliki oleh Batari Murti jauh berada di atas kepandaian yang dimiliki oleh Aki Kilik Rogo."

"Ehhh   Tetapi mengapa Aki Kilik Rogo, seperti

yang sama-sama kita ketahui, malah menetap di Gunung Kendeng...?" tanya Buang Sengketa tak habis mengerti.

Sri Pamuja terdiam untuk beberapa saat lamanya. Tetapi sesaat kemudian dia telah menyambung kembali

"Semua itu dia lakukan karena dia merasa malu untuk kembali ke Gunung Dieng menemui gurunya. Di sana dia mendirikan perguruan, tetapi seperti yang anda lihat selama dua puluh tahun dia mengajar muridnya dengan berbagai ilmu kanuragan, namun murid-muridnya malah memiliki kelainan yang sesungguhnya berasal dari manusia yang menghendaki kunci Mustika Pembuka Pintu Goa Dieng !"

"Apakah mereka yakin bahwa kunci itu berada di tangan Aki Kilik Rogo?"

"Kemungkinannya begitu !" jawab Sri Pamuja.

"Sesungguhnya apa sih yang terdapat di dalam goa tersebut, sehingga orang-orang itu bermaksud untuk memasukinya?" tanya si pemuda.

*** 5

"Agaknya setelah membawa lari Kitab Bendil Dieng, Batari Murti mulai merasakan kesulitan untuk memecahkan rahasia besar yang terkandung dalam kitab tersebut. Dan lebih celakanya, bahwa kitab rahasia untuk mengetahui isi buku yang dia curi tersebut tidak sempat dia bawa lari. Sudah barang tentu untuk kembali ke Gunung Dieng dia tidak berani, sebelum dia berhasil menguasai isi buku hasil ciptaan Empu Wesi Laya yang sakti mandraguna. Satu-satunya cara adalah dengan memanfaatkan tangan Aki Kilik Rogo dan murid-muridnya." kata Sri Pamuja panjang lebar.

"Biadab! Kalau begitu orang yang mengenakan Jubah Hitam itulah yang telah menyesatkan muridmurid Aki Kilik Rogo, sehingga mereka menjadi tolol semuanya?" tanya Buang Sengketa berang sekali.

"Tidak, orang-orang itu sesungguhnya tidak tolol! Mereka adalah murid-murid yang telah dipengaruhi oleh aliran yang lain. Sewaktu-waktu mereka dapat berubah menjadi binatang pembunuh yang sangat mengerikan...!"

"Tetapi mereka mengapa seperti orang yang kurang waras saja layaknya...?"

Mendapat pertanyaan seperti itu, Sri Pamuja tertawa getir.

"Si Jubah Hitam memang dengan sengaja membuat murid-murid Aki Kilik Rogo menjadi tolol sedemikian rupa dengan maksud, untuk memaksa Aki Kilik Rogo menjumpai Empu Wesi Laya di Gunung Dieng. Dan sudah barang tentu orang tua sakti tersebut mampu mengobati penyakit yang diderita oleh muridmurid Aki Kilik Rogo!" "Apa hubungannya antara murid-murid itu dengan kitab rahasia yang tersimpan di dalam gua?" tanyanya semakin tak mengerti.

"Masa anda tidak tahu juga, Pendekar! Hubungannya jelas saja ada, bukankah sudah saya katakan tadi bahwa sewaktu-waktu murid-murid Aki Kilik Rogo itu, dapat menjadi binatang pembunuh yang sangat mengerikan. Hal ini sudah barang tentu dalam perhitungan si Jubah Hitam. Jika sewaktu-waktu Aki Kilik Rogo membawa murid-muridnya ke Gunung Dieng untuk menemui gurunya, pada saat itulah si Jubah Hitam akan memanfaatkan tenaga murid-murid Aki Kilik Rogo yang sudah berada dalam pengaruhnya. Tujuannya sudah jelas, yaitu untuk mendapatkan kitab rahasia yang merupakan kunci dari buku pusaka yang kini dalam kekuasaannya...!"

Buang Sengketa nampak terperangah, dia benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau apa yang dikatakan oleh Sri Pamuja pada akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.

"Kasihan sekali Aki Kilik Rogo itu sesungguhnya. Tetapi bagaimana dengan laki-laki pesolek dari Gunung Pati itu...?"

Disebut-sebutnya laki-laki pesolek, membuat Sri Pamuja bagai disengat kalajengking. Dia tiada menyangka kalau Pendekar Hina Kelana telah mengetahui sedemikian banyak.

"Jadi anda telah melihat laki-laki pesolek dari Gunung Pati itu...?"

"Benar!"

"Heh, laki-laki itu juga termasuk kambratnya si Gemuk Bertopi Tanduk Kerbau. Mereka ini juga memiliki tujuan yang sama dengan si Jubah Hitam. Dengan Racun Linglung Raga, dia telah membuat botak kepala murid-murid Aki Kilik Rogo!"

"Apa! Jadi orang-orang yang tiada berdosa itu kini dalam cengkeraman dua kekuatan yang sangat keji...!"

"Agaknya begitulah!"

"Hal ini malah akan membahayakan keselamatan Aki Kilik Rogo?" tukas Buang Sengketa. Mengkhawatirkan keselamatan orang tua berbadan pendek tersebut.

Sri Pamuja nampak gelengkan kepalanya. "Tidak, mereka merencanakan sesuatu untuk

dipakai dalam jangka waktu tertentu, hal itu tidak perlu dirisaukan. Yang terpenting, kalau anda memang benar-benar bermaksud menolong Aki Kilik Rogo dari malapetaka yang tak pernah diduganya. Anda harus mengejar Sadaki, sebab andai tidak maka anda akan kerepotan dalam menghadapi lawan yang sedemikian banyak dan tangguh pula!"

"Maksudmu orang yang sempat bentrok denganmu tadi...?" tanya Buang Sengketa agak bimbang.

"Betul, sebab dia juga merupakan kambratkambrat yang paling setia dari Kebo Selaksa Wisa atau yang bernama Dulimang itu...!"

"Ah, aku tak tahu pula di mana arahnya Gunung Bromo itu...!" menyela Buang Sengketa berterus terang.

"Kalau anda mau, saya bersedia menjadi penunjuk jalan anda...!" kata Pamuja menawarkan diri. Sudah barang tentu tawaran itu tak mungkin ditolak oleh si pemuda. Berjalan dengan seorang gadis cantik, sudah barang tentu akan sangat menyenangkan ketimbang berjalan seorang diri. Itu makanya setelah pikir-pikir sebentar dan garuk-garuk kepalanya, maka dia pun mengangguk setuju. Lalu tanpa membuangbuang waktu lagi, kedua orang itu pun segera meninggalkan tempat itu.

* * *

Pagi nan cerah, namun tiada makhlukmakhluk yang terbang di sekitar Pegunungan Dieng. Suasana sepi nampak menyelimuti daerah sekitarnya, tak seorang pun terlihat di sana. Sementara kabut putih yang menyelimuti sekitar daerah itu semakin siang hari nampak semakin hilang sama sekali. Hanya kegersangan saja yang ada di sana, pohon-pohon hutan di sana sini nampak kering dan mati, sepintas suasana benar-benar berkesan sangat angker. Tetapi jauh di lereng gunung tersebut, nampak sosok bayangan berlari-lari begitu cepatnya menuju arah Utara. Tubuh orang itu dengan gesit sekali berkelebatan di antara pohon-pohon kering yang terdapat di sepanjang semak yang dia lalui. Hanya dalam waktu sepemakan sirih, orang itu pun telah sampai di suatu bangunan yang sudah sangat tua. Bangunan yang terbuat dari batubatu kali itu sudah nampak rusak di sana sini. Untuk mencapai sebuah pintu utama yang berukuran sangat besar dan sudah rusak, terdapat sebuah tangga bertingkat yang jumlah keseluruhannya hampir mencapai dua puluh anak tangga. Sama seperti tiang-tiang yang berdiri megah dan sudah sangat tua itu. Maka anak tangga tersebut, juga terbuat dari susunan batu kali yang diatur sedemikian rupa. Perempuan berjubah hitam itu untuk sesaat lamanya nampak tercenung di depan anak tangga pertama.

Memperhatikan anak tangga dan bangunan tua yang hampir menyerupai sebuah kuil tersebut. Lamakelamaan dia teringat masa-masa tiga puluh tahun yang lalu, di mana pada saat itu dia pernah tinggal di tempat itu selama hampir empat puluh tahun. Teringat pula olehnya, tentang adik seperguruannya yang sangat baik hati dan selalu bersikap mengalah. Lalu gurunya yang sudah sangat tua renta yang dikenal sebagai Empu Wesi Laya yang sangat memanjakan dirinya. Saat itu Empu Wesi Laya begitu sangat memanjakan dirinya, bahkan boleh dikata apapun yang dia minta selalu saja dituruti. Sampai-sampai dalam hal menurunkan ilmu sakti saja, dia selalu diberi perhatian yang lebih. Begitu pun sifatnya yang selalu tamak dan tak pernah kenal rasa puas itu pada akhirnya meminta sesuatu yang lebih yaitu ingin memiliki kitab pusaka Bendil Dieng. Salah satu kitab yang pada akhirnya dapat menimbulkan malapetaka di permukaan bumi. Sampai pada batas itu, sang guru nampaknya benarbenar sangat murka, lalu mengusir dirinya bagai seorang yang telah melakukan kesalahan terberat. Dia yang sering hidup dalam kemanjaan, pengusiran sang guru kiranya telah menimbulkan dendam kesumat. Pergilah sang murid atau yang lebih dikenal sebagai Batari Murti dengan membawa dendam yang membara. Tetapi beberapa purnama kemudian dia kembali lagi dengan tujuan untuk mencuri Kitab Bendil Dieng. Perempuan itu ternyata memang berhasil dan melarikan kitab tersebut untuk dipelajari dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menuntut balas atas kematian orang tuanya juga atas pengusiran dirinya. Tetapi di luar dugaannya, ternyata kitab tersebut sangat sulit untuk dimengerti isinya. Melawan guru dengan kepandaian yang berasal dari satu sumber, hal itu hanya berarti sebuah kesia-siaan belaka. Cara satu-satunya adalah dengan jalan memanfaatkan tenaga adik seperguruannya. Aki Kilik Rogo, hal itu pun tidak mudah, mengingat dia juga pernah terlibat pertarungan sengit dengan adik seperguruannya tersebut. Ketika laki-laki berbadan pendek itu mencoba meminta kembali Kitab Bendil Dieng yang sudah berada di tangannya. Sebagai murid tersayang, sudah barang tentu Aki Kilik Rogo bukanlah lawan Batari Murti yang sakti mandraguna itu.

Setelah kekalahannya itu Aki Kilik Rogo, seperti diketahui lantas memilih tinggal di Gunung Kendeng, dan mengambil orang-orang terlantar sebagai muridnya. Namun kiranya semua itu terus dalam pengawasan Batari Murti, yang pada akhirnya berhasil mengajarkan sebuah ilmu ganas pada murid-murid Aki Kilik Rogo di luar sepengetahuan laki-laki tersebut. Dan kalau hari ini dia sampai di tempat tinggal bekas gurunya tersebut, hal ini dia lakukan adalah dengan maksud untuk mencari tahu, apakah gurunya yang sudah berusia lebih dari seratus sembilan puluh tahun itu masih ada atau tidak. Lebih dari sekedar itu, dia pun punya maksud untuk mencari tahu di manakah sesungguhnya kunci rahasia dari kitab yang dia curi itu disembunyikan oleh gurunya. Kini dengan langkah berhati-hati, si Jubah Hitam mulai menapakkan kakinya menaiki anak tangga demi anak tangga. Hingga akhirnya sampailah si Jubah Hitam atau yang lebih dikenal dengan Batari Murti, pada anak tangga yang kedua puluh. Pintu tampak ternganga lebar, suasana dalam ruangan nampak samar-samar dan tidak terawat. Si Jubah Hitam nampak melangkahkan kakinya lebih ke dalam lagi, tiada apapun di sana. Hanya seekor burung hantu nampak berkelebat ke luar manakala si Jubah Hitam melangkah ke dekatnya. Angin yang berhembus dari luar jendela dan pintu terasa sangat dingin sekali, si Jubah Hitam nampak mengucekngucek matanya. Semakin ke dalam dia melangkah, suasana semakin gelap dan samar-samar. Sungguhpun wanita berusia lebih dari delapan puluh tahun itu dulunya sudah terbiasa berada di tempat itu, akan tetapi berada di tempat itu seorang diri dan dalam keadaan bersalah pula hal ini membuat dirinya menjadi gelisah. Hemm! Ke manakah perginya sang guru, mungkinkah sudah tiada. Kalau memang benar tetapi mengapa tiada bekas-bekas mayatnya, tulangnya, atau apa saja sebagai bekas suatu kematian. Akhirnya dia memberanikan diri untuk memasuki kamar pribadi Empu Wesi Laya. Hampir sampai di ruangan depan kamar pribadi gurunya, dadanya terasa berdetak keras. Sementara sebuah pintu masih tetap utuh. Si Jubah Hitam kemudian menyentakkan gerendel yang terdapat di pintu pribadi tersebut. Begitu terbuka, keadaan di depannya semakin bertambah gelap luar biasa. Si Jubah Hitam terpaksa menghidupkan suluh yang terdapat di ruangan itu. Begitu suluh tersebut menyala, maka terlihatlah suasana di sekitar ruangan. Berpuluh-puluh ekor kelelawar nampak beterbangan ke segala arah. Mungkin karena suasana terang yang tiba-tiba, membuat binatang-binatang malam itu menjadi panik tak karuan. Sementara itu di salah satu sudut nampaklah kerangka mayat Empu Wesi Laya dalam keadaan duduk bersila, melihat keadaan kerangka yang sudah dipenuhi dengan debu, tahulah si Jubah Hitam, bahwa mungkin saja Empu Wesi Laya sudah meninggal selama lebih dari sepuluh tahun. Tiada rasa hormat maupun kesedihan yang membayang di wajah si Jubah Hitam. Malah sebaliknya manusia yang sudah setengah iblis itu nampak tersenyum penuh kemenangan. Lalu dipandanginya kerangka bekas gurunya itu dengan penuh kebencian. Kemudian dia pun bergumam seorang diri.

"Guru, semestinya aku menghormatimu, tetapi engkau terlalu sombong dengan tidak memberikan Kitab Bendil Dieng yang sangat luar biasa itu! Kini engkau mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Mayatmu pun tak ada seorangpun yang mengurusnya, aku tiada peduli. Aku datang ke mari hanya ingin mencari kunci Kitab Bendil Dieng. Di mana guru... di mana...?" gumamnya sembari memandang pada kerangka yang masih tetap dalam keadaannya.

Seusai dengan ucapannya itu, mendadak seisi ruangan bagai dilanda gempa. Tubuh si Jubah Hitam nampak terhuyung-huyung, suasana di sekitarnya timbulkan suara bergemuruh. Namun hal itu hanya sekejap saja, sedetik kemudian nampak pula berkelebatnya cahaya merah kebiru-biruan meninggalkan kerangka Empu Wesi Laya. Seiring dengan melesatnya cahaya tersebut dari kerangka Empu Wesi Laya, maka tulang belulang itu pun ambruk dari posisinya. Debu mengepul memenuhi seluruh ruangan tersebut. Tulang belulang Empu Wesi Laya nampak tumpang tindih, sementara tengkorak kepalanya nampak menggelinding, berputar-putar, seolah protes atas kehadiran murid yang telah dikutuknya. Tengkorak kepala tersebut pada akhirnya berhenti persis di depan si Jubah Hitam. Anehnya tengkorak tersebut bagian mukanya menghadap ke arah si Jubah Hitam. Hal itu sudah barang tentu membuat si Jubah Hitam menjadi berang. Lalu dengan penuh kebencian ditendangnya tengkorak kepala gurunya sendiri. Tengkorak kepala tersebut nampak mencelat, lalu menabrak dinding kamar yang terbuat dari batu pualam putih. Sehingga karena begitu kerasnya tendangan tersebut, maka tengkorak kepala itu pun hancur berantakan. Dan tiba-tiba keajaiban terjadi kembali. Ruangan bergetar hebat, seketika itu juga terdengar suara yang sangat dikenali oleh si Jubah Hitam.

"Batari Murti, murid murtad dan sangat durhaka! Engkau benar-benar telah mengecewakan harapanku. Pengusiran ku dahulu bukannya membuat engkau berpikir untuk memperbaiki kesalahanmu. Tetapi malah membuatmu menjadi manusia setengah iblis! Sampai di alam fana ini, arwahku tak akan pernah tenang, kukutuk engkau dengan kematian yang paling menyakitkan. Batari Murti, engkau akan mati di tangan seorang pemuda pengelana berperiuk, kepalamu akan terlempar ke dalam kawah Dieng, badanmu akan tercampak di laut hitam, sedangkan kaki dan tanganmu akan menggelantung di empat penjuru mata angin. Kematianmu benar-benar sangat mengenaskan sungguhpun engkau manusia tersakti di bumi Jawa Dwipa ini!" kata roh Empu Wesi Laya.

***

6

"Hi... hi... hi...! Bagaimana orang yang sudah mati bisa menjatuhkan kutuk kepadaku?" tukas si Jubah Hitam mencemooh.

"Sang Hyang Pencipta maha tahu. Satu saat engkau pasti akan merasakannya. Engkau tak mungkin menghindar dari kutuk-ku...!"

"Bah. Engkau sudah mati, Empu Wesi Laya, engkau tak mungkin mampu berbuat itu kepadaku, tak mungkin mampu " teriak si Jubah Hitam dengan

suara melengking tinggi.

"Jasad kasar ku memang sudah mati, tetapi rohku tak akan pernah mati. Itulah satu-satunya yang paling kekal...!" kata roh Empu Wesi Laya penuh wibawa. Tak terkirakan betapa geramnya hati si Jubah Hitam demi mendengar suara Empu Wesi Laya. Serta merta dia kebutkan jubahnya mengarah cahaya merah yang kini nampak di sudut ruangan. Selarik sinar hitam menderu dari jubah yang dikebutkan oleh pemiliknya. Kemudian sinar beracun tersebut meluruk sinar merah, dari penjelmaan roh Empu Wesi Laya. Cahaya merah tersebut tidak bergerak dari tempatnya. Namun begitu pukulan yang dilepas oleh si Jubah Hitam bagai meluruk dinding yang tiada pembatas saja menembus cahaya tersebut.

"Plassss!"

Selarik sinar hitam yang dilepas oleh si Jubah Hitam bagai menerpa sasaran yang kosong dan langsung melabrak langit-langit ruangan. Langit-langit ruangan tersebut bobol, sehingga meruntuhkan langitlangit kamar pribadi Empu Wesi Laya. Si Jubah Hitam sudah bermaksud melepaskan pukulan mautnya untuk yang kedua kalinya, namun mendadak terdengar kembali suara Empu Wesi Laya:

"Apa yang akan engkau lakukan hanyalah merupakan pekerjaan yang sia-sia, Batari Murti. Aku dan engkau sudah berada dalam jarak dinding pemisah, tak satu pun pukulan maut yang paling ampuh sekalipun yang mampu menghancurkan dinding tersebut. Dinding alam gaib yang satu saat juga engkau akan berada dan tinggal untuk selama-lamanya di sana. Simpanlah pukulan maut mu itu untuk menghadapi lawan-lawanmu yang kelak akan membinasakan mu...!"

"Plaaasss!"

Usai dengan ucapannya itu, maka cahaya merah tersebut lenyap tiada berbekas, bersamaan dengan itu, maka bau wangi bunga kemboja pun menebar di segenap ruangan itu.

"Sialan!" maki si Jubah Hitam. Cepat-cepat dia meninggalkan ruangan itu, kemudian langkahnya telah terayun menuju ruangan rahasia yang dulu dia ketahui sebagai ruangan tempat menyepi bagi Empu Wesi Laya. Setelah melewati lorong-lorong yang panjang dan pengap, maka sampailah dia pada ruangan yang ditujunya. Ruangan itu nampak lebih lebar dan luas, tetapi yang membuat heran si Jubah Hitam adalah karena semua pelita yang terletak di dinding ruangan yang sesungguhnya merupakan sebuah gua yang sudah dirubah sedemikian rupa nampak tak pernah padam. Sepertinya setiap saat ruangan itu ada yang menjaga dan membersihkannya. Hanya satu saja yang agak berbeda, kalau ruangan itu lantainya dulu berlapiskan batu-batu mutiara. Akan tetapi kini keseluruhannya telah berganti dengan batu pualam biru, sedangkan dari padanya menebarkan bau yang sangat wangi lagi dingin. Sesaat tubuh si Jubah Hitam nampak menggigil, namun setelah mengerahkan sedikit tenaga dalamnya maka, rasa dingin itu pun sirna seketika. Si Jubah Hitam segera melangkah ke tengahtengah ruangan dan menghampiri sebuah meja yang juga terbuat dari batu pualam. Di atas meja yang terbuat dari batu pualam tersebut terdapat sebuah kitab tipis yang terbungkus dengan selembar kain sutera. Merasa penasaran, maka si Jubah Hitam segera menyambarnya. Tetapi betapa terperanjatnya manusia setengah iblis tersebut begitu melihat tulisan yang tertera pada sampul kitab tersebut. Yang bertuliskan sebagai di bawah ini: "Siapa saja yang sampai di ruangan ini paling awal, itulah manusia paling celaka. Seandainya dia lebih berani lagi membuka pintu rahasia yang terdapat di balik dinding ini, maka kutukku akan berlaku pada seluruh keturunannya. Kunci Kitab Bendil Dieng adalah sumber malapetaka. Tiada seorang pun yang dapat menyentuhnya kecuali dirinya benar-benar seorang pendekar sejati.

Tertanda Penguasa Gunung Dieng

Empu Wesi Laya

Bukan malah kecut hati si Jubah Hitam begitu membaca tulisan tersebut, sebaliknya kedua bola matanya nampak berbinar-binar. Baginya kesempatan untuk mendapatkan kunci buku tersebut, kini benarbenar telah berada di ambang mata. Maka tanpa membuang waktu lagi si Jubah Hitam langsung menghampiri sebuah pintu yang terbuat dari pada batu pualam. Tak ada tanda-tanda untuk dapat masuk ke ruangan seperti yang dimaksudkan dalam buku petunjuk tersebut. Namun si Jubah Hitam tiada mengenal putus asa. Dengan sekuat tenaga didorongnya pintu tersebut. Tetapi tetap saja pintu itu tiada bergeming sedikit pun. Didorongnya kembali, berulang dan berulang. Sungguhpun ruangan itu berhawa dingin, namun peluh mulai membasahi sekujur tubuhnya. Sementara nafasnya pun mulai ngos-ngosan. Pintu batu pualam tiada bergeming! Lama-kelamaan si Jubah Hitam jadi kesal sendiri. Hingga pada akhirnya dia terpaksa menggunakan tenaga dalamnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan itu.

Sejurus dia memusatkan segenap perhatiannya, lalu didorongnya pintu batu pualam tersebut keras-keras.

"Kreoott!" Pintu batu pualam membuka, namun begitu pintu itu menganga kira-kira tiga jengkal, mendadak berhamburanlah puluhan anak panah berbisa meluruk si Jubah Hitam. Cepat-cepat perempuan setengah iblis itu pun memutar tongkatnya yang berkepala serigala. Putaran tongkat yang bagai titiran tersebut menimbulkan angin bersiuran. Dan anak-anak panah tersebut berpentalan ke segala arah begitu menerjang tongkat kepala serigala yang dipergunakan sebagai perisai oleh si Jubah Hitam. Perempuan berambut kecoklatan itu nampak memaki panjang pendek. Lalu dengan sangat hati-hati dia mulai melangkah kembali memasuki ruangan maut yang hanya berukuran dua kali delapan meter tersebut. Baru saja lima langkah dia mengayunkan langkahnya, kembali dia dikejutkan oleh bunyi mendesis yang menebarkan bau amis. Lalu bermunculan pula berbagai jenis ular berbisa dari berbagai ukuran.

"Sreeet!" Si Jubah Hitam cabut pedang pendek yang berwarna putih mengkilat. Lalu begitu ular-ular tersebut menyerang ke arahnya, maka tak ampun lagi si Jubah Hitam langsung babatkan pedangnya ke arah ular-ular tersebut. Maka tak ampun lagi ular-ular penjaga tersebut berkutungan karena terbabat pedang tajam milik si Jubah Hitam.

Darah memercik ke mana-mana, bangkai ularular berbisa itu pun berserakan di atas lantai batu pualam. Tak seekor pun dari ular-ular tersebut yang dibiarkan hidup. Si Jubah Hitam tetap menggenggam senjatanya, hal itu dia lakukan demi menjaga kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin saja menghadang di depannya. Namun agaknya apa yang dikhawatirkannya itu sudah berakhir, karena pada langkah-langkah berikutnya dia sudah tidak mendapati hambatan apapun. Si Jubah Hitam nampak menarik napas lega begitu berada di sudut ruangan. Yang merupakan tempat penyimpanan segala jenis kitab-kitab berharga milik almarhum Empu Wesi Laya.

Lalu dengan sangat hati-hati dia pun mulai membuka sebuah kotak besar yang berwarna merah. Mendadak jantungnya terasa berdetak lebih cepat, darah menggemuruh sampai ke ubun-ubun. Lalu dengan tangan bergemetaran dia pun mulai membuka kotak yang berwarna merah tersebut.

Tak terbayangkan betapa terkejutnya si Jubah Hitam, ketika seekor burung berwarna hitam, nampak melompat dari dalam kotak tersebut. Anehnya lagi, sebelum dia sempat berbuat sesuatu, burung tersebut telah menyambar sebuah kitab pada tumpukan paling atas, burung tersebut langsung mengepakkan sayapnya. Hanya dalam sekedipan mata, burung yang tak dikenal itu pun telah lenyap dari pandangan si Jubah Hitam bersama kitab yang ada dalam cengkeraman kakinya.

"Kampret! Kiranya semua ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Empu Wesi Laya...!" Dalam keadaan marah-marah seperti itu si Jubah Hitam mulai memeriksa buku-buku tersebut satu demi satu. Namun apa yang dia cari-cari sudah tak berada di tempatnya.

"Sialan! Burung keparat itu benar-benar telah melarikan kunci Kitab Bendil Dieng. Huh, ke mana lagi aku harus mencarinya!" batinnya pelan. Kemudian setelah mengobrak abrik seisi peti yang berwarna merah itu, maka dengan sangat tergesa-gesa dia keluar dari ruangan itu, langkahnya terus menuju ke arah lorong tempat semula, sementara secara Lamat-lamat dia bagai mendengar apa kutuk yang dijatuhkan oleh Empu Wesi Laya kepadanya. Tetapi dia tiada perduli, yang ada dalam benaknya adalah bagaimana caranya mendapatkan kunci pembuka tabir rahasia yang menjadi penunjuk pada kitab yang kini sudah berada di tangannya.

* * *

Setelah melakukan perjalanan berhari-hari, kini sampailah pemuda dan gadis itu di Gunung Bromo. Matahari sudah berada di kaki bukit ketika mereka sampai di depan rumah panggung milik Dulimang atau yang lebih dikenal sebagai Kebo Selaksa Wisa. Kedua orang ini sejenak memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Suasana hanya sunyi belaka. Sungguhpun begitu, Buang Sengketa merasakan ada beberapa pasang mata nampak memperhatikan kehadiran mereka sejak awal tadi. Akan tetapi dia maupun Sri Pamuja yang menyertainya tak tahu siapa sesungguhnya orang yang berada di atas rumah panggung tersebut.

"Mungkinkah orang-orang yang mengintai itu Kebo Selaksa Wisa dan orang-orangnya?" tanya si pemuda begitu pelannya.

"Kalau keadaannya sunyi seperti ini, biasanya orang itu tak ada di rumah. Paling-paling hanya pembantunya saja, yaitu si raksasa tolol, dan juga si lakilaki pesolek."

"Tetapi menurutmu si laki-laki pesolek itu tidak tinggal di tempat ini?" tanya si pemuda tak habis mengerti. Wajah Sri Pamuja nampak memerah begitu mendapat pertanyaan seperti itu.

"Maksud.... Maksudku.... Laki-laki pesolek itu sesungguhnya merupakan gendaknya si Kebo Selaksa Wisa...!" ucapnya tersipu-sipu. Sementara itu si pemuda nampak terperangah kaget, bagaimana mungkin laki-laki kawin dengan laki-laki. Dan diam-diam dia pun merasa malu sendiri.

"Benar-benar manusia sesat...!" rutuk si pemu-

da.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Sri

Pamuja, lalu mengerling pada pemuda itu dengan pandangan penuh arti.

"Kalau begitu, coba panggil orang-orang yang berada dalam rumah bertonggak itu!" perintah Buang Sengketa. Lalu tanpa menunggu diperintah dua kali, Sri Pamuja mengerjakan apa yang diperintahkan oleh si pemuda.

"Manusia yang menyebut dirinya sebagai Kebo Selaksa Wisa, harap keluar untuk menemui kami...!" kata Sri Pamuja setengah memerintah. Tiada jawaban, namun Buang Sengketa dapat melihat berkelebatnya tubuh seorang laki-laki berbadan gemuk luar biasa mendekati pintu rumah panggung tersebut.

"Hei, orang yang berada di dalam rumah. Kami ingin bertemu dengan saudara Kebo Selaksa Wisa." Namun tetap saja seperti tadi, tak seorang pun ada yang keluar dari dalam pondok itu. Menunggu berlama-lama akhirnya membuat kedua orang itu sudah tak sabaran lagi. Buang Sengketa sudah bermaksud memasuki rumah bertonggak itu secara paksa, ketika tiba-tiba saja pintu rumah panggung itu menguak. Seorang laki-laki berbadan gemuk luar biasa dan seorang lainnya yang berdandan menyerupai perempuan, nampak melongokkan kepalanya. Kemudian terdengar langkah-langkah kakinya yang berat bergedebukkan di atas tanah yang dilalui-nya.

Sesaat Pendekar Hina Kelana nampak meneliti kehadiran dua orang itu. Seorang yang berbadan gemuk luar biasa, di bagian pinggangnya menjuntai pedang panjang bermata ganda. Laki-laki itu tiada mengenakan baju, jadi hanya bercawat saja. Sedangkan rambut-rambut di kepalanya yang jarang-jarang itu sudah mulai nampak memutih. Laki-laki berbadan raksasa itu sesungguhnya sangat tolol, dia jarang bicara. Namun menurut perintah, dia akan mengerjakan apa saja asalkan sebelumnya telah diberi makan sekenyang-kenyangnya. Kaum persilatan mengenalnya sebagai si Raksasa Tolol Bertenaga Besar. Sedangkan seorang laki-laki lainnya adalah merupakan orang yang pernah dilihat oleh Buang Sengketa, di pekarangan rumah Aki Kilik Rogo di Gunung Kendeng. Lakilaki bertampang perempuan itu, nampak lebih galak ketimbang si Raksasa Tolol yang memiliki sepasang mata tak ubahnya bagai orang yang sedang mengantuk berat. Laki-laki itu kini berpakaian kembangkembang. Sedang di punggungnya terdapat selempangan senjata yang berupa kebutan yang terbuat dari ekor buaya. Sekilas apabila di lihat laki-laki pesolek itu nampak seperti sedang menggendong gergaji yang berukuran sangat besar.

Saat itu kedua orang tersebut nampak memperhatikan kehadiran Buang Sengketa dan Sri Pamuja dengan pandangan penuh selidik. Akan tetapi setelah merasa tidak pernah mengenal kedua orang ini, maka laki-laki pesolek atau yang sering dipanggil Anggih cepat membentak.

*** 7

"Manusia-manusia tak diundang! Datangdatang berteriak-teriak bagai babi hutan. Ada keperluan apakah kalian mencari Kakang Kebo Selaksa Wisa...?" bentak Anggih sambil pelototkan kedua matanya.

Melihat sikap si laki-laki pesolek yang galak itu, maka Buang Sengketa tertawa ganda. Sambil pencongkan mulut, maka dia pun berkata:

"Aku cuma numpang tanya, adakah Kebo Selaksa Wisa di rumah?"

"Aku tanya apa keperluanmu menanyakan Kakang Kebo Selaksa Wisa?"

Pendekar Hina, Kelana garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal!

"Kalian tidak punya hak untuk tahu apa yang menjadi tujuan kami...!"

"Sinting! Berani sekali engkau membentakbentak kami. Engkau pikir aku akan mengatakannya pada kalian?" tukas Anggih.

Dan agaknya Sri Pamuja mengetahui bahwa Kebo Selaksa Wisa memang tak sedang berada di tempat. Maka dia pun lalu berpura-pura:

"Kalau begitu kita pergi saja dari sini, Kelana!"

Si Anggih tanpa terduga-duga cepat melompat menghadang, begitu melihat si pemuda dan si gadis bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Eit, tunggu! Enak saja kalian datang dan pergi. Kalau kalian tak mau terangkan apa tujuan kalian ingin menjumpai Kakang Kebo Selaksa Wisa, maka kalian harus dengan rela meninggalkan sebelah tangan kalian sebagai kenang-kenangan!" bentak laki-laki pesolek itu. Seraya langsung mencabut senjatanya.

"Tangan kami terlalu mahal untuk sebuah keterangan yang tiada harga, apalagi hanya untuk nyawa seekor anjing Selaksa Wisa!" kata Buang Sengketa acuh.

Sudah barang tentu ucapan si pemuda yang membuat si Anggih dan Manusia Raksasa menjadi murka. Si laki-laki pesolek yang sudah menghunus senjatanya itu segera babatkan pedangnya, dengan maksud membelah kepala si pemuda yang bermulut lancang.

Akan tetapi begitu si pemuda angkat tangannya, si Anggih nampak terkejut luar biasa. Pedang di tangan tak mampu dia gerakan, dia merasakan ada kekuatan besar yang menahan laju pedang yang sudah dialiri tenaga dalam itu. Maka sadarlah si laki-laki pesolek itu, bahwa pemuda yang berpakaian gembel itu sesungguhnya memiliki kepandaian tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari yang dia duga. Dalam pada itu si pemuda telah berkata pula;

"Manusia wajah kuntilanak.... He... he... he...! Mengapa tak kau teruskan pedangmu untuk membacokku.... Lakukanlah...!"

Merah padam wajah si Anggih, dan sungguhpun Manusia Raksasa berambut jarang itu termasuk orang yang memiliki kecerdasan setingkat lebih tinggi daripada seekor keledai. Namun dia menyadari bahwa kawannya sedang dipermainkan oleh lawan. Dia sangat marah sekali, kedua bola matanya yang seperti orang tertidur itu pun nampak terbeliak lebar. Gigigiginya bergemeletukan.

"Eng... engkau... orang kurang ajar, Bocah! Kawanku engkau permainkan, aku mau balas...!" kertaknya ketolol-tololan.

Si pemuda hampir tertawa karena menahan ge-

li!

"Lakukanlah, hendak kulihat engkau mampu

berbuat apa...?"

"Sialan!" makinya, lalu dengan gerakan yang sangat berat si Manusia Raksasa dengan tangan terkepal, kirimkan satu pukulan yang berupa sodokan tinju kanannya.

Sungguhpun pukulan yang dilancarkan oleh si Manusia Raksasa itu hanya mengan-dalkan tenaga besar belaka. Namun datangnya serangan itu sempat menimbulkan suara bersiuran. Si Manusia Raksasa, yang secerdik setingkat di atas keledai ini berharap. Dengan sekali pukul saja, dada si pemuda akan melesak, atau paling tidak dadanya akan remuk karena tulang-tulangnya berpatahan. Namun di luar dugaan si Manusia Raksasa tersebut. Dengan sedikit menggeser kakinya dan miringkan badan sedikit. Buang Sengketa dapat mengkelit pukulan lawan yang memiliki kekuatan ratusan kati tersebut. Praktis, pukulan tersebut mencapai sasaran yang kosong. Sebaliknya si pemuda masih mampu kirimkan satu sentilan pada bagian pangkal lengan si manusia besar itu.

"Arrgggk!"

Manusia berbadan besar itu pun menjerit bagai lenguh seekor lembu jantan yang terluka. Orang itu nampak terhuyung-huyung, tangan kanannya yang dia pergunakan untuk memukul itu pun tiba-tiba terasa kaku dan sangat sulit untuk digerakkan. Si Manusia Raksasa yang tidak pernah kenal kompromi ini nampak sangat marah sekali. Sungguhpun tangan kanannya sudah dalam keadaan kaku karena tertotok, namun dia kembali melakukan serangan. Dalam kesempatan itu, si laki-laki pesolek itu pun sudah mulai bergebrak untuk melakukan pengeroyokan. Dengan pedangnya yang mengkilat-kilat, dia pun melompat dan kirimkan satu tusukan pada bagian punggung si pemuda. Tetapi pada saat itu Sri Pamuja juga tidak tinggal diam. Lebih cepat lagi dia memapaki bokongan yang dilakukan oleh si Anggih.

"Trangg!"

Si laki-laki pesolek nampak terkejut, tiada menyangka kalau si gadis yang tadinya dia anggap lemah, kiranya memiliki kepandaian juga. Bahkan tenaga dalamnya pun tidak bisa dianggap enteng.

"Monyet cantik muka kuntilanak, aku paling benci pada manusia pembokong sepertimu. Marilah kita main-main sebentar...!" bentak Sri Pamuja sambil berdiri bertolak pinggang.

Si laki-laki pesolek nampak sangat geram sekali, apalagi tadi serangannya yang mendadak itu sempat digagalkan oleh gadis itu. Si Anggih meludah ke tanah dengan memandang pada si gadis penuh kebencian.

"Betina sialan! Sesungguhnya aku pun lebih benci lagi bertarung dengan seorang betina macammu. Aku lebih suka berhadapan dengan bocah tampan itu. Tetapi karena kau telah menggagalkan rencanaku, maka aku harus menggusur mu ke liang kubur!"

"Bagus!"

"Haaaiiit.... ciaaat...!" Tanpa menggubris celoteh si gadis, si Anggih langsung bergebrak dan kirimkan serangan-serangan yang cukup mematikan. Maka dalam waktu sekejap saja pertarungan di kaki Gunung Bromo itu pun berlangsung sangat seru dan menegangkan. Nampaknya masing-masing lawan memiliki jurus-jurus pedang yang sangat ampuh. Terbukti setelah pertarungan berlangsung puluhan jurus, tak seorang pun di antara mereka yang berhasil mendesak lawannya.

Sementara itu, di lain pihak, pertarungan antara pendekar dari Negeri Bunian dan Manusia Raksasa nampak lebih seru lagi. Apalagi ketika berulangkali si pemuda selalu gagal memukul roboh orang tersebut, bahkan meskipun dia telah mempergunakan pukulan "Empat Anasir Kehidupan" yang tiada duanya itu. Ah, terbuat dari apakah manusia berotak keledai ini. Batin si pemuda mengeluh! Dia kebal terhadap semua pukulan yang sangat diandalkannya. Selamanya tak seorang pun yang mampu menahan pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dimilikinya, seandainya tidak terpukul mati, tetapi setidak-tidaknya akan terluka dalam yang cukup parah. Tetapi kini manusia sebesar gajah itu hanya tergoyang-goyang saja menerima pukulan yang dilepaskannya.

Hal ini saja sudah membuat si pemuda terkagum-kagum! Sungguhpun begitu dia tak ingin membuang-buang waktu percuma, kalau dengan pukulan si raksasa itu tidak bisa kojor. Sekebal-kebalnya manusia sudah pasti ada titik kelemahannya. Buang Sengketa sudah berpikir-pikir untuk mempergunakan pusaka Golok Buntungnya untuk mengatasi kesulitan yang dia hadapi. Hal ini membuatnya tertegun sesaat lamanya, namun kelengahan yang sekejap itu, bagi si Manusia Raksasa sangat besar artinya. Lalu dengan mengerang bagai seekor singa terluka, dia pun menerkam lawannya. Tiada kesempatan bagi si pemuda untuk menghindari terkaman yang begitu cepat datangnya.

"Kreeep!"

Tahu-tahu tangan-tangan besar dan sangat kokoh itu telah mencekal tubuhnya begitu eratnya. Si pemuda merasakan lehernya bagai hendak putus, nafasnya tersendat-sendat bagai tersumbat. Si pemuda nampak menggeliat-geliat dan berusaha melepaskan jepitan tangan yang semakin kuat itu. Si Manusia Raksasa mengekeh. Agaknya kali ini si pemuda benarbenar segera menyongsong ajal, andai Sri Pamuja tidak melihat kejadian ini. Sambil terus bertahan membendung serangan-serangan yang dilakukan si laki-laki pesolek, Sri Pamuja meraba pinggangnya. Kemudian tiga batang pisau beracun telah tergenggam di tangan kirinya. Secara cepat dia melemparkan pisau beracun tersebut pada bagian punggung lawannya.

"Wuuut!"

Lemparan yang berisi setengah dari tenaga dalam yang dia miliki, membuat pisau-pisau tersebut melesat laksana kilat. Tak ampun, senjata beracun itu pun menghajar punggung lawannya.

"Creeep!"

Salah sebuah pisau yang disambitkan si gadis tepat mengenai sasarannya. Si Manusia Raksasa walau seperti tidak merasakan tertembus pisau-pisau itu, namun membuat dia menoleh. Kesempatan yang hanya sesaat itu dipergunakan oleh si pemuda untuk meronta. Sungguhpun rontaan yang tiba-tiba dilakukan oleh si pemuda. Namun tidak membuat dirinya terbebas secara keseluruhan. Bagian lehernya memang luput dari jepitan yang mematikan tersebut. Namun tangannya yang hampir lolos itu masih dapat dicandak kembali oleh si Manusia Raksasa. Jepitan kembali mengeras, si manusia berotak keledai yang sudah terluka sedikit itu sangat marah besar.

Sesaat kemudian disentakkannya tubuh Pendekar Hina Kelana ke atas, tetapi tangan masih tetap dalam genggamannya. Tubuh si pemuda mencelat laksana terbang, baru saja tubuhnya melambung ke udara, mendadak bagai ditarik setan bumi, tubuh itu pun kembali tersentak ke bawah. Begitu hal itu terjadi berulang-ulang. Hingga pemuda itu merasakan persendian tangannya bagai tercabik-cabik. Dalam detikdetik yang sangat kritis itu, tiba-tiba dia teringat pada lengkingan Ilmu Pemenggal Roh. Sungguhpun dia merasa tubuhnya telah menjadi lunglai tiada daya, tetapi dia merasa untuk menjerit mungkin dia masih mampu. Maka tak berpikir panjang dia pun keluarkan jeritan yang sangat tinggi membahana. Suara jeritan yang berkepanjangan dan bagai hendak meruntuhkan alam sekitarnya itu, membuat telinga orang-orang yang berada di sekitar tempat itu bagai tercabik-cabik. Daundaun yang menghijau nampak berguguran, sementara burung-burung walet yang secara kebetulan beterbangan di tempat itu, nampak runtuh ke bumi, menggelepar-gelepar sekejap lalu berkelojot-an mati. Bukan main akibat yang ditimbulkan akibat lengkingan Ilmu Pemenggal Roh itu. Apalagi pada saat melakukannya Pendekar Hina Kelana dalam keadaan marah besar. Mau tak mau demi merasakan sakit yang luar biasa, Manusia Raksasa itu terpaksa melemparkan tubuh si pemuda. Tubuh yang terasa lemah itu meluncur deras untuk kemudian terhenti setelah menabrak batu sebesar kerbau yang terletak tak begitu jauh dari tempat itu. Batu tersebut hancur berantakan ketika berbenturan dengan tubuh si pemuda. Pendekar dari Negeri Bunian dan merupakan murid tunggal si Bangkotan Koreng Seribu ini nampak menggeliat-geliat. Dia merasakan tulang belulangnya bagai remuk. Dada sesak dan nyeri, sementara kepalanya berdenyut-denyut bagai hendak pecah.

Cepat-cepat si   pemuda   menghimpun   hawa murni, dia terbatuk-batuk, lalu dari sela-sela bibirnya menggelogok darah kental. Tak terbayangkan bagaimana jadinya andai orang biasa yang membentur batu tersebut. Sudah barang tentu tubuhnya akan remuk dan tewas seketika itu juga.

Beberapa saat kemudian setelah menghimpun hawa murni, maka secara perlahan tubuhnya yang pucat pasi itu secara perlahan kembali berangsur seperti sediakala. Namun baru saja dia bermaksud bangkit kembali, si Manusia Raksasa yang hidung dan kupingnya telah mengalirkan darah. Sudah memburunya dalam jarak yang begitu dekat. Tiada pilihan lain bagi pendekar ini terkecuali berguling-guling di atas tanah berbatu demi menghindari terinjaknya kaki-kaki raksasa tersebut. Si raksasa yang sudah terluka dalam akibat lengkingan Ilmu Pemenggal Roh nampak semakin membabi buta begitu serangan-serangan yang dilakukannya luput.

Sementara itu satu pikiran yang sangat baik muncul di benak si pemuda. Kalau memang benar raksasa itu kebal terhadap segala macam senjata, mungkin bagian yang satu ini merupakan titik kelemahannya. Maka tanpa membuang waktu lagi Buang Sengketa menyelinap ke arah bagian selangkangan si raksasa. Cepat-cepat tangannya bergerak mencecar pada bagian pusaka keramat milik si raksasa. Dicecarnya pusaka keramat yang berukuran sangat besar itu dengan jurus-jurus si Gila Mengamuk.

"Jroos! Jroos!"

Manusia Raksasa tersebut menjerit-jerit bagai setan gila, pukulan maupun tendangan-tendangan kakinya yang sangat berbahaya itu menabrak apa saja yang terdapat di dekatnya. Darah terus mengucur membasahi cawatnya yang besar luar biasa, sementara si pemuda masih terus bergerak di sela-sela selangkangan si manusia gajah itu. Hingga kemudian Buang Sengketa pukulkan tangan kirinya ke arah pusaka keramat yang sudah terluka parah tersebut.

"Auuuuoooowwww.,.!"

Si Manusia Raksasa menjerit keluarkan suara laksana merobek langit biru. Kedua tangannya menekap ke bagian yang sudah sangat rawan itu. Kesempatan itu dipergunakan oleh Buang Sengketa untuk melompat berdiri. Begitu dia telah tegak pada posisinya. Tak ayal lagi kini di tangannya telah tergenggam Pusaka Golok Buntung yang sangat menggemparkan itu.

***

8

Begitu pusaka itu berada dalam genggamannya. Terasa ada hawa hangat mengalir dan menjalari tubuhnya. Sesaat dia merasakan tubuhnya semakin membaik, walau tak bisa dibilang telah sembuh betul dari luka dalam yang agak parah. Pendekar Hina Kelana nampak tersenyum kecut. Sesungging seringai maut, membias di bibirnya yang masih meninggalkan sisa-sisa darahnya sendiri. Pada saat itu baik lawanlawannya maupun Sri Pamuja nampak terkesima begitu melihat senjata di tangan si pemuda yang nampak memancarkan sinar terang berwarna merah. Bahkan pertarungan antara Sri Pamuja dan si laki-laki pesolek nampak terhenti untuk seketika lamanya. Situasi itu sudah tidak dihiraukan lagi oleh si pemuda, sepasang matanya yang mencorong merah, dan bunyi mendesis yang keluar dari mulutnya menandakan bahwa pemuda ini benar-benar berada di puncak kemarahannya. Sedetik kemudian setelah keheningan itu, dengan diawali dengan jeritan tinggi laksana merobek gendanggendang telinga. Tubuh pemuda itu pun berkelebat lenyap. Angin bersiuran mengitari tubuh si Manusia Raksasa itu. Tetapi hal itu tak berlangsung lama. Karena begitu Golok Buntung di tangan si pemuda berkelebat, maka sedetik kemudian terdengarlah jerit kematian yang membuat bulu kuduk berdiri menahan ngeri. Kepala manusia gajah tersebut menggelinding dengan mata melotot dan lidah menjulur. Sementara tubuh yang sudah tiada berkepala itu nampak berputar-putar. Lalu ambruk dan timbulkan suara bagai pohon besar yang ditebang. Sesaat tubuh manusia kebal itu berkelojotan untuk kemudian terdiam untuk selama-lamanya. Si laki-laki pesolek yang sudah menghentikan pertarungan sejak beberapa saat yang lalu nampak sangat terkejut sekali. Nyalinya menciut. Bahkan dia tak berani memandang pada si pemuda ketika pendekar ini menatap tajam padanya. Sementara itu Sri Pamuja nampak melangkah mundur ketika pendekar penegak keadilan ini melangkah mendekati si Anggih atau si laki-laki pesolek. Sesaat dengan nada mengan-

cam pemuda ini pun membentak!

"Aku telah banyak membuang waktu untuk melayani badut-badut semacam kalian. Kalau engkau tak inginkan nasib seperti kawanmu itu, cepat katakan padaku di mana Kebo Selaksa Wisa saat ini berada...?" Semakin pucat wajah si Anggih demi menden-

gar pertanyaan seperti itu. Lalu dengan suara gemetaran dia pun menjawab

"Engkau tak bisa mengancam, sungguhpun kau memenggal kepalaku sekalipun!" Tegas-tegas kemudian si laki-laki pesolek berkata. Gusar bukan main pendekar ini demi melihat sikap keras kepala si Anggih.

"Bangsat! Aku tak akan memperlakukan mu seperti itu, agaknya aku perlu membuntungi tangan dan kakimu satu persatu. Ha... ha... ha...! Orang-orang keras kepala! Pedang di tanganmu itu tiada guna, mungkin hanya kebutan ekor naga di punggungmu saja yang mampu menandingi senjata golokku...!"

Belum lagi si Anggih hilang rasa keterkejutannya, tahu-tahu Buang Sengketa sudah kirimkan satu pukulan dahsyat yang bersumber dari pukulan Empat Anasir Kehidupan yang sudah tak asing lagi itu. Detik berikutnya nampaklah serangkum sinar ultraviolet menderu laksana satu sapuan gelombang angin puting beliung yang membawa hawa panas luar biasa. Melesatnya pukulan yang dilepas oleh Buang Sengketa, timbulkan suara menggaung bagaikan suara ribuan lebah yang berusaha pindah dari sarangnya.

Si laki-laki pesolek nampak terkesima, dia menyadari pukulan itu jugalah yang tadi dipergunakan oleh si pemuda untuk menggempur si Manusia Raksasa. Sungguhpun dia bukan termasuk seorang tokoh sakti namun. Dia pun memiliki kekebalan yang tidak jauh dibawah Manusia Raksasa. Walaupun begitu dia tetap berusaha menghindari pukulan tersebut.

"Hiaaatt.... haiiiittt...!" "Blaaam!"

Pukulan yang dilancarkan oleh si pemuda luput, dan menghantam tonggak-tonggak rumah bertonggak yang terbuat dari kayu meranti. Beberapa tonggak yang menjadi penyangga nampak hancur berkeping-keping dilanda pukulan Empat Anasir Kehidupan. Rumah milik Kebo Selaksa Wisa nampak berkerekotan. Kemudian menjadi condong karena keseimbangannya hilang. Dalam kesempatan itu, Buang Sengketa sudah mulai menduga kalau lawan yang kebal terhadap segala macam senjata. Hal ini semakin terbukti lagi ketika jarak yang jauh, melalui ilmu menyusupkan suara Sri Pamuja mengingatkan.

"Kakang.... Sebaiknya untuk tidak membuangbuang waktu. Engkau pergunakan saja senjatamu. Manusia kuntilanak itu kebal terhadap segala pukulan...!"

"Hmm, aku memang telah membuang waktu percuma melayani monyet cantik itu...!" Tiba-tiba!

"Awas, Kakang...!"

Peringatan yang hanya sekejap itu, membuat si pemuda itu melompat ke samping dan langsung berguling-guling ke tanah. Kiranya Buang Sengketa mempergunakan waktunya yang hanya sekedipan mata tadi untuk bercakap-cakap dengan Sri Pamuja. Telah dimanfaatkan oleh si laki-laki pesolek untuk menyerang Buang Sengketa dengan senjata mautnya yang berupa sebuah kebutan yang terbuat dari ekor buaya yang sangat besar dan panjang. Sungguh pun serangan pertamanya luput, namun dengan semangat yang menggebu-gebu dia kirimkan serangan-serangan lebih gencar lagi. Dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya pemuda ini nampak selalu berhasil menghindari hantaman kebutan yang bergerigi tak ubahnya bagai gergaji raksasa. Namun di suatu kesempatan si Anggih nampak mencecar pihak lawan dengan mempergunakan jurus Pesolek Aneh Memukul Monyet Kudisan.

Jurus ini dilihat sepintas lalu sesungguhnya tidak memiliki keistimewaan tertentu. Namun sungguh pun jurus itu terasa begitu amat sederhana. Tetapi dari gerakan-gerakannya yang sebat dan mantap, ditambah lagi dengan kebutan yang terbuat dari ekor buaya itu di tangannya. Hal itu membuat si pemuda jadi kerepotan juga.

Beberapa jurus di depan si Anggih nampak berhasil mendesak lawan. Pendekar Hina Kelana jatuh di bawah angin. Bahkan sesaat kemudian dia kena digebuk oleh lawannya dengan kebutan ekor buaya itu. Sungguhpun pukulan itu tidak telak benar, tetapi ekor buaya yang menyerupai gergaji itu telah membuat bajunya robek besar, sementara kulit punggungnya nampak memar dan lecet.

Nampak Pendekar Hina Kelana tak ingin mengambil resiko lebih jauh lagi. Apalagi dia sudah merasakan betapa hebatnya kebutan tersebut mendera punggungnya tadi. Andai saja tidak jauh-jauh sebelumnya dia telah melindungi dirinya dengan Hawa Murni Sejati. Sudah dapat dipastikan tubuhnya akan tercabik-cabik termakan kebutan. Tiada pilihan lagi, Pendekar Hina Kelana nampak menyurut langkah begitu senjata di tangan si laki-laki pesolek itu hampir saja menghantam bagian wajah. Dia mengumpat panjang pendek. Manakala dia meraba pada bagian pinggangnya, lalu dia menggerung. Kemudian sekejap setelahnya, tubuh pemuda itu pun telah berkelebat lenyap. Hanya desiran-desiran angin saja yang menandakan bahwa pendekar ini sedang berusaha menemukan titik lemah pihak lawan. Saat itu pengaruh Pusaka Golok Buntung yang berada di tangan si pemuda, mulai terasa bagi lawannya. Suasana dingin tiba-tiba menyelimuti daerah sekitar situ. Padahal saat itu matahari bersinar terik. Hal ini membuat si laki-laki pesolek meremang takut. Kemudian dengan satu jeritan keras dia pukulkan kebutannya yang tajam bergerigi dan berat.

"Braaaak!" Serangan yang hanya bersifat ayal-ayalan tersebut luput dari sasarannya. Mata si Anggih berputarputar mencoba mencari posisi lawannya. Namun karena tubuh pihak lawan berkelebat laksana setan. Maka terlalu sulit baginya untuk menyerang dengan tepat sekali.

"Sialan! Engkau hanya mengelak saja seperti setan! Apakah hanya itu kebisaan-mu...?"

"Ho... ho... ho...! Jangan khawatir, Sobat, masih banyak lagi. Misalnya seperti ini...!"

Lagi-lagi tubuh si pemuda bergerak cepat. Tetapi golok di tangannya malah bergerak lebih cepat lagi.

"Creees!"

Si laki-laki pesolek meraung keras begitu Pusaka Golok Buntung terasa begitu dingin menembus kulit lehernya. Anggih menekan pangkal tenggorok yang berlubang besar karena dilanda ketajaman senjata lawan. Namun darah tak dapat terbendung. Terus menyembur, membasahi kedua tangannya. Meleleh bahkan mulai turun sampai ke baju. Hanya dalam sekejapan saja, pakaian si Anggih sudah berlumuran darah. Tetapi benar-benar sungguh hebat daya tahan si lakilaki pesolek ini. Sebab sungguhpun dia sudah dalam keadaan sekarat, tetapi masih saja bertahan pada posisinya.

"Kakang! Orang itu takkan pernah mati, tebaslah bagian ketiaknya...!" seru Sri Pamuja. Pendekar ini sekejap tertegun, tetapi begitu dia ingat peringatan tersebut maka dia pun gerakkan Golok Mautnya pada bagian yang dimaksud.

"Jroook!"

Tebasan golok membuat tangan si laki-laki pesolek terkutung. Kutungan tangan tersebut jatuh ke tanah, bergerak-gerak sebentar lalu diam tiada berkutik. Lalu sesaat setelahnya. Nampaklah tubuh si lakilaki pesolek yang sudah tiada berdarah lagi terhuyunghuyung, berputar, kemudian terjengkang dengan wajah tersungkur di atas tanah berbatu.

Mengetahui keberhasilan Buang Sengketa, Sri Pamuja berlari menghambur ke depan pemuda yang sangat dikaguminya itu. Sesaat memandang penuh takjub tetapi Buang Sengketa memperhatikan tingkah si gadis dengan sikap acuh. Sungguhpun hal itu hanya kepura-puraan belaka. Karena hatinya pada saat itu juga sedang berdebar keras tiada menentu. Selama malang melintang di rimba persilatan. Baru sekali ini dia merasakan keanehan seperti itu. Padahal cukup banyak gadis-gadis cantik yang pernah dikenalnya. Tetapi tak pernah dia merasakan kejadian seperti itu.

"Kakang hebat!" puji Sri Pamuja membubarkan lamunan si pemuda.

"Tanpa bantuan dan peringatanmu! Aku bukanlah apa-apa...!" kata Pendekar Hina Kelana sekilas lalu memandang pada mayat si Manusia Raksasa dan si laki-laki pesolek yang sudah membeku.

"Menurutmu, ke manakah perginya Kebo Selaksa Wisa...?" tanya si pemuda setelah teringat akan tugasnya.

"Kemungkinan orang itu kini sedang menuju Gunung Dieng, Kakang Kelana...!"

Wajah Buang Sengketa mengkerut, tiba-tiba teringat pula olehnya tentang Aki Kilik Rogo yang pernah berencana untuk berangkat ke gunung tersebut bersama murid-muridnya. Menurut laki-laki berbadan pendek itu, hanya Empu Wesi Laya seoranglah yang mampu mengobati penyakit yang diderita oleh muridmuridnya. Ah.... Mudah-mudahan Aki Kilik Rogo belum membawa murid-muridnya ke sana. Batinnya berharap-harap cemas.

"Adik Pamuja...!" panggil si pemuda begitu mesra. Dan hal yang sesungguhnya saat itu hati pendekar ini gelisah tak menentu, jantungnya terasa berdetak lebih keras. Setiap menatap wajah si gadis, terasa ada sesuatu yang mengelus dan membuat darahnya berdesir. Atau inikah yang namanya jatuh cinta? Batinnya lalu tersipu malu.

"Kakang bertanya apa?" tanya si gadis dengan sikap tak jauh beda.

"Emmm.... Masih jauhkah Gunung Dieng dari tempat ini?"

"Lumayan jauh, mungkin bisa memakan waktu lima hari perjalanan kaki...!" jawab si gadis. Dan sepasang matanya menatap lekat-lekat pada wajah tampan yang berdiri persis di depannya itu. Pendekar Hina Kelana mengalihkan perhatiannya. Di langit sebelah Barat matahari hanya tinggal berupa semburat merah saja. Suasana di sekitarnya mulai me-rembang petang. Tiada terdengar suara makhluk apapun di sana, tiada kicauan burung dan nyanyian jangkrik menyambut datangnya sang Dewi Malam. Dua orang muda yang sedang dilanda cinta itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Kini yang ada hanyalah desau angin dingin, dan mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Teronggok begitu saja, tiada memiliki arti apa-apa.

Kala malam telah menjelang, saat itu Pendekar Hina Kelana dan Sri Pamuja telah berlalu jauh meninggalkan lereng Gunung Bromo. Santai saja mereka dalam perjalanan menuju Dieng untuk kali ini. Sesekali mereka saling lirik-lirik mesra. Sedangkan tangan yang bergandengan itu tak pernah terlepas satu sama lainnya. Agaknya kedua orang ini benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Malam kian larut, hanya kesunyian yang ada di sekitar tempat itu. Sesekali terdengar pula suara burung hantu yang terasa begitu menyeramkan. Kedua orang ini nampak menghentikan langkahnya. Saling berpandangan.

"Kita tak mungkin meneruskan perjalanan. Sudah beberapa hari kita tak pernah istirahat. Bagaimana kalau kita bermalam di tempat ini...?" tanya si pemuda mengajukan usul.

***

9

"Semua itu terserah pada kakang saja!" jawab Sri Pamuja. Akhirnya tanpa banyak kata lagi Pendekar Hina Kelana segera mengumpulkan ranting dan rumput-rumput kering. Dalam waktu sekejap, alas untuk tempat tidur itu telah tersusun sedemikian rupa. Si pemuda kini telah duduk di atasnya, begitu pula Sri Pamuja. Bulan purnama di langit malam sudah mulai tertutup awan putih, sekejap cahayanya menghilang. Namun sekejap kemudian sudah tampak lagi. Sementara itu dingin malam terasa menusuk sampai ke tulang belulang, embun-embun di dedaunan mulai menetes. Malam terus merangkak kian pasti. Namun saat itu Buang Sengketa masih terduduk pada tempatnya semula, sementara Sri Pamuja sudah nampak tertidur dengan posisi terlentang dan tangan bersidakep ke dada.

Lewat cahaya bulan yang kuning keemasan, si pemuda untuk sesaat lamanya memandang pada gadis jelita yang tertidur di sebelah tempat duduknya. Di matanya gadis itu nampak sangat cantik sekali, kebaikan, tingkah lakunya yang selalu menyenangkan. Cara berpikirnya yang luas dan cerdas, semua itu ada pada gadis itu. Mendadak ada sesuatu yang menyesak di dalam dadanya. Jantungnya berdetak lebih keras. Selama hidup dia belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Rasa-rasanya dia ingin selalu berdekatan dengan gadis itu, tidak terpisah walaupun hanya sekejap. Dia ingin melindungi dan menyayangi gadis itu sepenuh hati, tak rela walau seekor nyamuk pun yang mengganggunya. Tiba-tiba dengan penuh kasih dibelainya rambut si gadis yang panjang tergerai sebatas pinggang.

Sri Pamuja menggeliat, lalu merintih manja. Tangan pemuda itu nampak gemetaran, serta merta dia menarik balik tangannya. Selama ini baru kali inilah dia punya perhatian yang berlebihan terhadap seorang wanita. Hatinya kian resah, jiwanya semakin gelisah. Lagi-lagi dia menarik napas pendek. Namun desahan nafasnya kiranya membuat Sri Pamuja terjaga dari tidurnya. Gadis itu mengucek-ucek matanya, dan sebelum si gadis menatap lekat padanya, dia telah membuang pandangan matanya jauh-jauh. Ke arah lain!

"Engkau belum tidur, Kakang...!" tanyanya dengan pandangan penuh arti. Buang gelengkan kepalanya pelan! Tetapi matanya memandang padanya tiada berkedip sedikitpun juga. Perlahan Sri Pamuja bangkit dari tidurnya. Lalu tanyanya lirih!

"Apa yang kau pikirkan...?"

Yang ditanya menarik napas pendek, sesaat dia diam seribu bahasa.

"Katakanlah, Kakang! Siapa tahu aku dapat membantu meringankan beban batinmu!" desaknya penuh perhatian.

"Derita ku tiada seorang pun yang tahu. Kadang aku berpikir, bahwa sesungguhnya hidup ini singkat namun panjang. Kulihat keserakahan dan angkara murka di mana-mana. Orang-orang ingin berkuasa di atas penderitaan orang lain...!" ucap si pemuda seperti pada dirinya sendiri.

"Apa maksudmu, Kakang.... Aku tak mengerti!" kata Sri Pamuja, seraya memegang bahu si pemuda.

"Pamuja! Jauh sudah langkah yang kutempuh, semua itu hanya dengan tujuan ingin mencari tahu di mana sesungguhnya orang yang telah menyebabkan ku lahir ke dunia ini. Namun sejauh itu aku masih belum berhasil mendapatkannya, dia pergi terlalu jauh. Mengasingkan diri di sebuah tempat yang sangat sulit untuk ku jangkau, padahal aku begitu sangat merindukannya...!" Tersendat suara si pemuda, ada kepedihan yang terasa menusuk-nusuk relung hatinya yang paling dalam. Dan untuk pertama kali di dalam hidupnya. Dia menitikkan air mata di depan seorang gadis.

"Apakah orang yang kau maksud itu merupakan ayah atau ibumu?" tanya si gadis ikut prihatin.

"Ah, dia bukan ibuku...!"

"Ibumu...?"

Lagi-lagi si pemuda menarik napas panjangpanjang.

"Ibuku... oh, aku tak pernah melihatnya. Dia sudah tiada, dia telah tewas di tangan para peramal celaka itu. Dia telah tewas ketika berusaha menyelamatkan jiwaku, orang-orang itulah yang telah membunuhnya. Aku tak mungkin membalas kasih sayangnya yang maha besar itu. Dia telah pergi, dan aku sangat menyesalinya...!" ucap si pemuda dengan suara tersendat-sendat.

"Kakang, mengapa mereka begitu tega membunuh ibumu, katakanlah Kakang...!" desak si gadis semakin iba dan prihatin.

"Semua itu karena akibat ulah para peramal celaka itu. Mereka telah memfitnahku bahwa kelahiranku di atas dunia ini akan menyebabkan malapetaka yang sangat besar. Jauh sebelum kelahiranku bahkan mereka telah memberi isyarat maut itu. Kalau ibuku tidak menghanyutkan aku ke laut, barangkali si Hina Kelana tak pernah ada di kolong langit ini, aku adalah anak yang dibuang demi sebuah keselamatan. Itulah sebabnya ibuku memberi ku nama Buang Sengketa. (Untuk lebih jelasnya baca judul Utusan Orang-orang Sesat jilid terdahulu).

Kedua orang itu nampak saling terdiam untuk beberapa saat lamanya. Namun kesunyian segera terpecah kembali dengan suara si gadis yang penuh dengan keingintahuan.

"Lalu, siapakah orang yang kakang cari-cari

itu...?"

"Dia adalah ayahku yang kini melakukan tapa

di dalam lautan yang sangat dalam lagi luas...!" jawab Buang lirih sekali. Bukan main terkejutnya hati Sri Pamuja demi mendengar kata-kata si pemuda. Dia menjadi bingung sendiri. Mungkinkah orang yang dia kasihi itu memiliki otak yang tidak waras? Mengapa bicaranya terlalu melantur? Mungkinkah seorang manusia melakukan tapa di dalam lautan. Tak seorangpun orang yang maha sakti sekali pun mampu bertahan hidup di dalam air. Mendadak Sri Pamuja menjadi ketakutan sendiri, Dan kiranya itu sempat dilihat oleh Pendekar Hina Kelana. Maka dengan berhati-hati dia pun menjelaskan: "Mungkin engkau merasa heran, atau bahkan telah menganggap bahwa aku telah gila. Tetapi inilah kejadian yang sesungguhnya, sebuah kenyataan yang tak pernah bisa ku pungkiri. Bahkan engkau mungkin tak pernah percaya, bahwa sesungguhnya ayahku adalah seekor ular raksasa. Raja Piton Utara! Seorang raja dari Negeri Bunian, suatu negeri yang tak pernah terlihat oleh kasat mata. Tetapi alam itu ada seperti halnya alam gaib lainnya. Dia sengaja meninggalkan tahta, karena demi cintanya terhadap seorang anak manusia dan kini dia pergi melakukan tapa, semua itu hanya untuk menebus kesalahannya, yang telah mengawini seorang manusia di alam nyata. Dia seekor ular... tetapi dia tetap ayahku...!" tukas Buang Sengketa merasa sangat sedih sekali.

Semakin besar saja simpati si gadis pada pemuda itu. Sedikit pun dia tiada menyangka kalau pemuda yang sangat menarik hatinya itu adalah anak seorang raja ular, tiada juga pernah dia duga, kalau pemuda yang memiliki ilmu sangat tinggi itu hidupnya penuh penderitaan. Sri Pamuja semakin terkagumkagum, bahkan semakin bertambah dalam kasih sayangnya!

"Kakang, janganlah engkau bersedih. Kita memiliki persamaan nasib, bahkan ayahku telah tiada pula. Si Jubah Hitamlah yang telah membunuhnya, jangan bersedih, Kakang! Aku sedih mendengarnya, aku mencintaimu...!" desah si gadis, dan tanpa sadar kata-kata seperti itu pada akhirnya terlepas juga dari mulutnya.

Sungguhpun hatinya sedang diliputi kegalauan, namun demi mendengar ucapan si gadis, dia nampak kaget. Dia tiada menyangka kalau gadis itu juga memendam perasaan yang sama. "Sungguhkah apa yang kau katakan itu...?" tanya Buang Sengketa mencoba mencari-cari jawaban dalam wajah yang tertunduk itu. Si gadis tersipu malu, namun tetap menganggukkan kepalanya. Dengan lembut, jemari tangan si pemuda mencoba menengadahkan wajah si gadis. Begitu wajah Sri Pamuja terangkat ke atas, lewat cahaya bulan si pemuda dapat melihat wajah gadis itu tersipu dan kemerah-merahan. Kini wajah kedua orang itu sudah saling berdekatan, napas keduanya terdengar dan saling mengusap sesamanya.

Kemudian kedua bibir mereka paling mendekat, karena pengalaman itu untuk pertama kalinya maka tubuh mereka saling gemetaran. Dengan lembut dan segenap perasaan kedua bibir itu saling menyatu. Sri Pamuja merengek dan merintih, kedua wajah mereka terus berpagut dan menyatu.

Di angkasa lepas cahaya bulan sudah mulai kehilangan sinarnya. Tubuh mereka kini bergulunggulung di atas ranting dan rumput kering. Rintih manja dari bibir si gadis terdengar pelan, ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam dadanya. Pori-pori kulitnya meremang. Rasanya ada sesuatu yang menuntut dan ingin dipenuhi.

"Kakang...!" rengeknya.

"Hemmm...!"

"Aku mencintaimu, Kakang! Jangan kau tinggalkan aku...!" desah si gadis di sela-sela rintihannya.

"Tidak akan, dan tidak pernah...!" kata si pemuda pasti.

"Lakukanlah sesuatu untukku, Kakang?" rengeknya.

Begitu mendengar bisikan seperti itu, si pemuda langsung melepaskan pelukannya.

"Ada apa, Kakang?" Sri Pamuja tersentak kaget. "Aku tak ingin melakukannya. Sang Hyang Widi pasti akan mengutuk kita, aku sangat menghormatimu, Pamuja, sebagaimana aku menghargai diriku sendiri. Aku tak ingin masa depanmu menjadi hitam dan dipenuhi dosa...!" ujar Buang Sengketa penuh wibawa. Mendengar Ucapan kekasihnya, Pamuja menjadi tersipu malu. Sungguh agung hati pemuda ini! Batin Sri Pamuja.

"Maafkan aku, Kakang...!" desahnya, seraya kembali rebah di sisi Pendekar Hina Kelana.

"Engkau tak bersalah, Pamuja, tak ada yang perlu dimaafkan. Tidurlah, malam sudah sangat larut. Aku akan menjaga mu...!" katanya sambil mengecup kening Pamuja lembut.

"Tapi mengapa kakang menjagaku! Bukankah kakang juga butuh istirahat?"

"Jangan pikirkan aku! Seorang gadis yang baik, adalah gadis yang selalu menurut apa yang dikatakan oleh orang yang paling dekat dengannya. Selama hal itu tidak menyimpang dari keinginan hati nurani...!"

"Malah aku mengkhawatirkan kesehatanmu, Kakang! Besok kita sudah harus meneruskan perjalanan, pula sudah beberapa hari ini kita memang kurang istirahat...!" Sri Pamuja mengingatkan.

"Jadi engkau tak mau menuruti perintahku...?" kata si pemuda menegur.

"Selama kakang sendiri tidak mau menuruti kata-kataku...!"

Buang Sengketa geleng-gelengkan kepalanya. "Engkau benar-benar gadis bandel...!"

"Engkau juga pemuda tampan yang nakal...!" kilah Sri Pamuja, seraya menggenggam erat tangan Pendekar Hina Kelana. Demikianlah, kedua anak manusia itu terus  terlihat perbincangan. Namun katakata mesra yang terdengar, tiada kekerasan, apalagi saling membentak. Namanya juga pendekar yang lagi dimabuk cinta. Siapa sangka dia bisa selembut dewa.

***

10

Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, akhirnya Aki Kilik Rogo dan murid-muridnya di pagi itu telah sampai di perbatasan antara Gunung Dieng dan Gunung Perahu. Embun masih menempel di ranting-ranting, tanah lembab yang mereka lalui menebarkan aroma kegersangan. Di barisan paling depan nampaklah murid-murid Aki Kilik Rogo berjalan dengan langkah ayal-ayalan. Sementara laki-laki pendek yang menjadi guru mereka, nampak berada di bagian paling belakang menunggang seekor kuda putih pula. Sedangkan di kanan kiri mereka, mengapit dua tebing bukit kapur yang menjulang tinggi. Kalau keadaan hujan. Tebing curam yang terdiri dari tanah kapur tersebut selalu mengalami longsor, tetapi kalau hujan mereda kembali. Maka jalan di sela-sela tebing itu akan berubah seperti sediakala. Hal inilah yang merupakan salah satu keanehan yang terjadi di daerah Gunung Perahu.

Tetapi mengapa Aki Kilik Rogo sampai membawa murid-muridnya ke Gunung Dieng? Seperti telah diketahui, murid-murid Aki Kilik Rogo sebagian besar telah terkena pengaruh ilmu hitam milik si Jubah Hitam atau yang dikenal sebagai Batari Murti. Manusia setengah iblis itu dengan sengaja telah mempergunakan Racun Linglung Raga untuk mempergunakan murid-murid Aki Kilik Rogo. Demi tercapainya maksud dan keinginannya dalam menghadapi Empu Wesi Laya. Seperti telah diketahui pula, si Jubah Hitam telah melarikan sebuah Kitab Pusaka Bendil Dieng milik gurunya sendiri. Tetapi karena usaha untuk memecahkan rahasia kitab tersebut selalu mengalami jalan buntu, maka mau tak mau dia harus memperalat muridmurid Aki Kilik Rogo yang juga masih merupakan saudara seperguruannya sendiri. Sebab dia sadar bahwa sesungguhnya Kunci Kitab Bendil Dieng tentunya ada di tangan gurunya. Berhadapan secara langsung dengan ilmu kepandaian yang sama, dia sudah merasa pasti tidak bakalan menang. Tetapi dia berharap dengan bantuan murid-murid Aki Kilik Rogo yang tak mengetahui bahwa murid-muridnya telah berada dalam kekuasaannya. Sudah barang tentu, urusan untuk merampas kunci kitab rahasia itu akan terbuka lebar. Namun seperti diketahui pula kiranya Empu Wesi Laya telah meninggal kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Itu makanya si Jubah Hitam tidak muncul di tempat itu, ketika Aki Kilik Rogo membawa murid-muridnya ke Gunung Dieng dengan maksud meminta kesembuhan dari gurunya yang terkenal sangat sakti itu.

Sungguhpun begitu, bukan berarti Aki Kilik Rogo dan murid-muridnya dapat terlepas dari ancaman bahaya. Masih ada bahaya lain yang mengintai dirinya. Hal itu terbukti dengan adanya dua sosok bayangan yang berkelebat di antara gundukangundukan batu besar. Tak lama setelahnya, begitu dua orang itu telah sampai di atas tebing yang curam itu. Salah seorang di antaranya dengan gerakan yang sangat ringan segera menghela beberapa buah batu sebesar kerbau ke arah jalan yang terapit tebing tersebut. Terdengar bunyi selaksa gempa, begitu batu-batu tersebut menggelinding dan meluncur deras menuruni jalan yang sempit itu. Murid-murid Aki Kilik Rogo begitu mendengar suara gaduh langsung saja melongokkan kepala mereka ke atas tebing. Begitu pun Aki Kilik Rogo. Mereka nampak sangat terkejut sekali.

"Hoi.... Ada batu besar.... Ada gempa    Cepat

selamatkan diri...!" teriak mereka sembari menghambur ke segala arah. Dasar murid-murid pesakitan, beberapa orang di antaranya malah berlari-lari menyongsong datangnya batu-batu tersebut. Otomatis empat orang di antara murid-murid itu, menemui ajal secara mengerikan. Tubuh mereka tertimpa batu yang sangat sulit diukur beratnya. Tubuh mereka ringsek, kepala mereka remuk, darah dan cairan otak muncrat ke mana-mana. Bukan main murkanya Aki Kilik Rogo menyaksikan semua kejadian ini. Serta merta dia kembali mendongakkan kepalanya di atas tebing. Baginya sudah sangat jelas bahwa kejadian itu adalah akibat ulah seseorang. Maka sesaat kemudian laki-laki pendek di atas kuda itu sudah membentak

"Manusia iblis yang berada di atas tebing, cepat tunjukkan muka! Atau aku harus menyeret mu dari atas situ  ?"

Belum lagi usai Aki Kilik Rogo dengan ucapannya yang begitu indahnya. Kedua orang itu menjejakkan kakinya dengan mulus, persis di hadapan Aki Kilik Rogo.

Dari cara mereka menjejakkan kaki, dan melihat gerakan mereka yang sangat ringan. Maka sadarlah si laki-laki pendek tersebut. Bahwa kedua orang ini memiliki ilmu yang sangat tinggi. Sementara muridmurid Aki Kilik Rogo nampak melongo memandangi kehadiran kedua orang itu. Begitu dua orang yang tak dikenal itu berada di depan Aki Kilik Rogo, kakek ini pun kembali membentak dalam kemarahan yang meluap-luap:

"Manusia-manusia keparat! Ada maksud apakah sehingga kalian mencari urusan denganku...?"

"He... ho... hi...!" Si laki-laki gemuk yang di kepalanya mengenakan topi tanduk kerbau nampak tertawa lebar. Kemudian tukasnya. "Aki Kilik Rogo manusia dungu. Jangan kira aku tak tahu tujuanmu ke Gunung Dieng itu. Ada baiknya kalau kita bekerja sama, sebab kukira si Jubah Hitam telah menghadangmu di Lereng Dieng...!"

Mendengar ucapan laki-laki gemuk bertopi tanduk kerbau itu, Aki Kilik Rogo kerutkan alisnya, dia seperti mengenal si gemuk suara kerbau itu. Dia terus mengingat dan mengingat, hingga pada akhirnya dia pun berseru lantang;

"Hmmm... bukankah engkau ini yang bernama Dulimang atau Kebo Selaksa Wisa dari Gunung Bromo yang pinter keblinger itu...?"

Kebo Selaksa Wisa mengekeh dan tepuk-tepuk perutnya yang gembul segendut tempayan.

"Hohoho    Kiranya otakmu tidak sinting seper-

ti mereka, Ki...! Bagus. Hal ini akan memudahkan kami untuk mengajak bicara denganmu."

"Engkau telah membunuh muridku, masih jugakah engkau hendak mengajakku bicara. Tidak. aku

tidak akan memberimu maaf...!" tukas Aki Kilik Rogo semakin bertambah berang. Begitu pun Kebo Selaksa Wisa masih berusaha membujuk.

"Semua itu kesalahan murid-muridmu yang sinting itu. Si Jubah Hitamlah yang menyebabkan semua itu, tahukah engkau bahwa sesungguhnya si Jubah Hitam masih merupakan saudara seperguruanmu. Dia sangat berbahaya, Aki. Ada baiknya kalau kita sama-sama membunuhnya...!"

"Apa! Batari Murti yang membuat muridku jadi tolol semua...?!" menukas Aki Kilik Rogo dengan mata melotot bagai hendak melompat ke luar.

"Benar, Ki.... Dan murid-muridmu juga sangat berbahaya. Sewaktu-waktu mereka dapat membunuhmu...!" kata Kebo Selaksa Wisa bersungguhsungguh.

"Kita lebih baik bergabung sajalah, Ki...!" Lakilaki berewokan berbaju biru yang dikenal sebagai salah seorang dari Sepasang Ular Welang ikut menyela. Seperti diketahui Sepasang Ular Welang, salah seorang di antara mereka yang bernama Sadaka telah tewas di tangan Pendekar Hina Kelana. Tetapi salah seorang yang lain sempat menyelamatkan diri dan kini bergabung dengan sahabatnya Kebo Selaksa Wisa. Aki Kilik Rogo angguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya curiga. Lalu laki-laki pendek yang masih tetap nongkrong di atas kudanya itu pun berkata mencibir.

"Kalau Kitab Pusaka Bendil Dieng tidak berada di tanganku, apakah kalian masih juga ingin mengajakku bergabung...?" sindirnya. Memerah wajah kedua orang itu seketika itu juga. Tetapi dasar manusiamanusia sesat. Keadaan seperti itu hanya berlangsung sekejap. Kemudian Kebo Selaksa Wisa sudah menyela kembali:

"Cerdik juga otakmu, Ki.... Syukur sekali kalau engkau sudah mengetahui tujuan kami...!" menyela si Jubah Biru atau Sadaki.

"Puih. Kiranya kalian hanya bangsanya tikus pengecut, tidak sekalipun Kitab Bendil Dieng itu berada di tanganku! Mengapa kalian tidak merampasnya saja dari tangan wanita laknat itu...?" maki Aki Kilik Rogo gusar sekali. Kedua orang itu saling mengekeh begitu mendengar ucapan Aki Kilik Rogo.

"Engkau jangan berpura-pura, Aki...! Kalaupun kitab tersebut memang tak ada di tanganmu, tetapi tentu engkau tahu tempat rahasia penyimpanan Kunci Kitab Bendil Dieng...!"

"Bangsat! Kiranya engkau juga tak jauh berbeda dengan perempuan busuk itu! Sial! Masih untung aku tak pernah mengetahui tempat penyimpanan kunci kitab tersebut. Pula seandainya aku mengetahuinya yang pasti tak akan kukatakan pada pengecutpengecut semacam kalian...!" tukas Aki Kilik Rogo tegas-tegas.

Semakin bertambah memerah wajah Kebo Selaksa Wisa demi mendengar ucapan Aki Kilik Rogo. Dia sangat murka sekali, lalu timbul pula dalam pikirannya untuk memaksa laki-laki pendek ini.

"Aki busuk! Jadi engkau benar-benar tak ingin bekerja sama dengan kami?"

"Tidak!"

"Tidakkah engkau sayangkan nyawa-mu...?" menyela Sadaki.

Sampai di sini Aki Kilik Rogo tertawa mengekeh. Tubuhnya yang pendek dan kecil itu nampak terguncang-guncang di atas punggung kudanya.

"Nyawa... ha... ha...! Masalah nyawa adalah urusan Sang Hyang Widi. Sedikit pun kalian tak punya hak apa-apa terhadap hidup orang lain...!"

"Kentut busuk! Agaknya engkau lebih tolol dari murid-muridmu itu, Aki Kilik Rogo! Sia-sia kau bawa muridmu ke Gunung Dieng, penyakit muridmu tak akan pernah sembuh dengan cara pengobatan apapun, lebih baik engkau hela saja mereka pulang ke neraka.... Haiittttt...!"

"Weeer!" Kebo Selaksa Wisa pukulkan tangannya ke muka, sesaat itu juga satu rangkaian gelombang sinar berwarna hitam pekat, menderu laksana badai topan prahara. Sinar tersebut melesat sedemikian cepatnya mengarah pada Aki Kilik Rogo yang saat itu masih tetap berdiri di atas punggung kudanya. Merasakan hawa pukulannya saja telah membuat Aki Kilik Rogo tersentak kaget. Lalu tanpa buang waktu lagi tubuhnya melesat meninggalkan kuda putihnya. Tak ampun lagi kuda malang tersebut meringkik keras begitu sinar hitam dan berbau amis mendera tubuhnya. Kuda tunggangan milik Aki Kilik Rogo terpental sejauh tiga tombak. Badannya ringsek karena menabrak batu cadas yang berada tak jauh dari tempat itu. Kuda yang berwarna putih itu pun mati seketika. Aki Kilik Rogo, marahnya bukan alang kepalang, dalam pada itu dia pun langsung memerintah murid-muridnya.

"Hei... kalian semua. Mengapa pada bengong seperti itu, cepat kalian keroyok dua ekor bangsat itu...!" perintah Aki Kilik Rogo. Sementara dia sendiri kini sudah menghunus kerisnya. Akan halnya dengan murid-muridnya, nampak tak bereaksi, seolah-olah mereka tak mendengar apa yang dikatakan oleh gurunya. Begitu-lah kehebatan Racun Linglung Raga yang telah meracuni dan telah menyatu dalam diri mereka. Rasa kecewa dan kemarahan berbaur menjadi satu, sementara Kebo Selaksa Wisa dan Sadaki nampak tergelak-gelak melihat Aki Kilik Rogo yang uringuringan.

"Aki... lihatlah betapa tololnya murid-muridmu itu. Dua puluh tahun engkau mendidik mereka, tokh hasilnya tetap mengecewakan mu...!"

"Bangsat kalian...!" kertak Aki Kilik Rogo, dia langsung kirimkan serangan-serangan yang sangat ganas dan mematikan. Senjata itu berkelebat, semakin lama semakin cepat. Sungguhpun diserang dalam keadaan sedemikian rupa, tetapi nampaknya Sadaki maupun Kebo Selaksa Wisa masih nampak tenang-tenang saja. Bahkan Kebo Selaksa Wisa sambil mengelak masih sempat menyela:

"Aki bego.... Kalau aku yang punya murid seperti mereka, lebih baik kubunuhi saja satu persatu. Buat apa murid-murid tolol tiada guna, sekarang coba perintahkan pada mereka, Ki... Suruh menggorok leher masing-masing...!" Kebo Selaksa Wisa atau Dulimang mengejek.

"Bangsat, sialan! Penyakit mereka juga disebabkan ulah manusia-manusia setan macam kalian. Hiaaaa...!"

Dalam makiannya itu, Aki Kilik Rogo juga kirimkan satu tusukan satu babatan, namun sangat cepat sekali tusukan keris berwarna kuning milik Aki Kilik Rogo dapat dikelit oleh Dulimang dengan sangat baik sekali. Hal ini hanya menambah kemarahan si aki semakin berkobar-kobar. Dalam pada itu Dulimang telah memberi isyarat pada Sadaki sahabatnya. Bahkan sekejap kemudian terdengar pula ucapannya:

"Adik Sadaki, engkau bunuhlah murid-murid aki ini yang berkepala tuyul itu. Biar aku layani monyet pendek ini sampai merat ke neraka...!"

Mendapat perintah, dari orang yang sangat dihormatinya, Sadaki tanpa membuang-buang waktu lagi, segera meluruk ke arah murid-murid Aki Kilik Rogo. Yang saat itu nampak sedang memandangi gurunya yang sedang bertempur mati-matian. Dasar muridmurid goblok, maki Sadaki. Lalu setelah jarak antara mereka begitu dekat maka Sadaki segera menyerang mereka dengan serangan-serangan gencar. 11

Pedang di tangan Sadaki bergerak cepat dan sebat sekali. Tak pelak lagi dalam waktu sekejap, jerit dan pekik kepanikan segera terjadi di antara muridmurid itu.

"Murid-murid tolol. Daripada menonton pertarungan guru kalian, lebih baik kita bertarung sampai kalian pada mampus semuanya...!" teriak Sadaki, begitu ucapannya begitu pula pedang di tangannya berkelebat.

"Jrooos!" "Arrrgkhh...!"

Terdengar dua jeritan, dua orang murid Aki Kilik Rogo yang tak pernah bisa menguasai ilmu silat yang diajarkan gurunya itu nampak roboh bermandi darah. Mereka tewas seketika itu juga. Sungguh malang sekali nasib mereka. Racun Linglung Raga yang telah mengendap dalam tubuh mereka benar-benar mereka tak dapat mempergunakan bahkan lupa pada ilmu silat yang mereka miliki. Akibatnya dalam waktu sekejap saja delapan orang murid Aki Kilik Rogo telah terbantai dalam keganasan pedang milik Sadaki.

Mengetahui para murid-muridnya dapat terbantai seperti keledai-keledai dungu. Bukan main murkanya hati sang guru. Sebagai pelampiasan kekesalannya, dia langsung menyerang Dulimang dengan pukulan dan jurus-jurus silat yang paling sangat dia andalkan. Mau tak mau, kalau tak ingin celaka termakan senjata lawan yang mengandung hawa membunuh itu. Dulimang atau Kebo Selaksa Wisa harus berkelebat lebih cepat lagi. Dalam kesempatan itu, sambil kirimkan serangan-serangan yang sangat gencar dan ganas, Aki Kilik Rogo nampak berteriak-teriak bagai orang sinting;

"Murid-muridku, pergunakan senjata kalian! Cincang Sepasang Ular Welang yang cuma tinggal satu itu, cepat.... Siapa cepat dialah yang bakal selamat...!" teriak Aki Kilik Rogo. Dalam kepedihan dan kesedihan. Peringatan itu sesungguhnya tidak sembarang peringatan, karena melalui jeritannya Aki Kilik Rogo telah mengerahkan ilmu pembangkit semangat. Dan agaknya hal itu cukup berpengaruh pada sisa-sisa muridnya yang cuma tinggal tidak lebih dari enam orang itu. Lalu bagai orang yang baru saja terjaga dari tidur yang panjang, secara serentak mereka mencabut senjata masing-masing. Dan pada akhirnya mereka menjadi sangat beringas bagaikan serigala hutan begitu melihat kawan-kawannya pada tewas bermandikan darah. Dari posisi mendesak, kini Sadaki malah balik terdesak. Dia nampak terperangah dan heran mengapa murid-murid linglung Aki Kilik Rogo bisa berubah menjadi galak dan liar seperti itu, bahkan permainan pedangnya juga sangat ganas dan hebat. Tetapi Sadaki dapat melihat, bahwa permainan maupun jurus-jurus pedang yang mereka mainkan bukanlah jurus-jurus pedang milik Aki Kilik Rogo. Jauh berbeda. Bahkan sangat lain sekali. Permainan pedang mereka lebih tepat lagi kalau disebut sebagai permainan Ilmu Pedang Iblis. Gerakangerakan yang tiada terduga itulah yang membuat Sadaki menamakannya demikian. Sesaat dia dapat berpikir begitu, tetapi beberapa jurus berikutnya dia harus berjuang mati-matian demi mempertahankan selembar nyawanya yang tak pernah ada dijual di tukang loak manapun.

Sementara itu, karena membagi perhatian dan membagi tenaga dalam demi menyadarkan muridmuridnya, dengan ilmu pembangkit semangat yang dia miliki, maka mau tak mau perhatian dan tenaganya menjadi berkurang banyak. Serangan-serangan yang dilancarkannya tidak sehebat dan sesebat tadi. Sebaliknya Kebo Selaksa Wisa merasa berada di atas angin, nampak terus mendesak dan mengumbar pukulan mautnya yang diberi nama Kebo Gila Durhaka.

Kasihan sekali keadaan Aki Kilik Rogo demi menyelamatkan sisa-sisa muridnya yang cuma tinggal beberapa gelintir itu, dia pun harus pontang panting menghindari pukulan maut yang datangnya bertubitubi. Sambil terus melancarkan pukulan-pukulan ganas dan dahsyat, Kebo Selaksa Wisa terus saja mengomel tak karuan.

"Uh, kasihan sekali engkau ini! Jadi guru, tapi muridnya pada geblek. Agaknya kau lebih tolol daripada yang diajari...!" gerutu Dulimang, tanpa sedikit pun lengah dari pukulan-pukulan maut yang berhawa dingin luar biasa itu. Tiada sahutan maupun bantahan yang keluar dari mulut Aki Kilik Rogo. Kebo Selaksa Wisa kembali nyeletuk!

"Ah, mengapa engkau tak mau membalas, Monyet pendek. Mana pukulan maut warisan Empu Wesi Laya gurumu...? Ternyata engkau orang tolol. Manusia dungu tiada guna, mampus sajalah...!"

"Wuuuus!"

Satu gelombang berwarna hitam pekat kembali menderu, dan menebarkan hawa dingin dan bau yang sangat menusuk. Celaka-lah bagi Aki Kilik Rogo yang sudah banyak kehilangan tenaga dalam karena telah ter-bagi-bagi buat muridnya. Lebih dari itu dia kurang begitu menyadari akan datangnya sinar maut yang bernama Kebo Gila Durhaka tersebut. Dia tengah berkonsentrasi dalam menggerakkan semangat muridmuridnya yang saat itu sudah mulai berhasil mendesak Sadaki atau yang dikenal dengan Sepasang Ular Welang.

Dan manakalah, dia merasakan adanya satu sambaran angin dingin yang luar biasa, Aki Kilik Rogo nampak tersentak dan terkejut sekali. Tetapi dia sudah tak punya waktu lagi buat mengelak. Maka tanpa ampun lagi, pukulan Kebo Gila Durhaka melabrak tubuhnya!

"Buuum!"

Tubuh Aki Kilik Rogo yang kurus dan pendek itu, nampak mental terbawa pukulan maut yang dilepaskan oleh Kebo Selaksa Wisa. Tubuh Aki Kilik Rogo terguling-guling bagai titiran. Seandainya tiada batu besar yang menghalangi tubuhnya sudah barang pasti tubuh Aki Kilik Rogo sudah tercampak ke dalam jurang yang tak terukur dalamnya.

Aki Kilik Rogo pucat wajahnya tak lama kemudian darah kental berwarna hitam pekat nampak menggelogok dari mulutnya. Begitu pun laki-laki ini segera bangkit. Tubuhnya meliuk-liuk dan limbung. Kaki gemetaran, nyatalah sudah bahwa Aki Kilik Rogo terluka dalam cukup serius.

Dalam pada itu terjadi pula keanehan. Muridmurid Aki Kilik Rogo yang sudah terlepas kontrol karena gurunya terluka. Tiba-tiba saja berubah brutal dan liar, Racun Linglung Raga kini sudah mulai bereaksi sebagaimana yang diharapkan oleh si Jubah Hitam. Namun hanya saja tidak tepat pada tempatnya. Maka celakalah Sadaka dibuatnya, karena dia harus tunggang langgang menghindari terjangan enam senjata maut dari enam sumber kekuatan yang sedang menggila. Sementara itu Kebo Selaksa Wisa demi mengetahui Aki Kilik Rogo sudah terluka dalam cukup parah. Maka dia segera memburu kembali, dan bersiap-siap dengan pukulan mautnya.

"Wuuuussss!"

Kembali pukulan yang dahsyat itu melesat dari jemari tangan Kebo Selaksa Wisa. Aki Kilik Rogo nampak berjumpalitan menghindari terjangan pukulan Kebo Gila Durhaka. Namun celakanya ke manapun dia pergi dan menghindar. Pukulan itu bagai bermata saja layaknya nampak mengejar Aki Kilik Rogo tanpa ampun lagi. Namun pada saat yang sangat mengenaskan itu, mendadak dari atas tebing melesat pula selarik sinar Ultra Violet menyongsong datangnya sinar beracun berwarna hitam pekat tersebut. Sinar yang datang dari atas tebing itu menderu keras bahkan timbulkan suara menggaung bagaikan suara badai puting beliung. Segera saja udara panas menyelimuti suasana sekitarnya. Secara perlahan udara dingin yang menggigit sebagai akibat pukulan Kebo Gila Durhaka. Semakin lama semakin berkurang sampai akhirnya lenyap sama sekali. Saat itu tanpa dapat dicegah lagi, dua pukulan sakti itu pun saling bertemu.

"Buuummm!"

Bumi laksana runtuh, langit bagai tercabikcabik, Aki Kilik Rogo nampak terhindar dari kematian. Tubuh Kebo Selaksa Wisa terjengkang, sementara bagian punggungnya terasa sakit teramat sangat. Darah kental meleleh dari hidung dan bibirnya. Laki-laki berbadan gemuk itu berusaha bangkit dan tertatih-tatih. Wajahnya yang bundar itu nampak pucat dan pias, agaknya dia berusaha menghimpun hawa murninya. Lalu setelah menelan sesuatu, maka kulit mukanya kembali kemerah-merahan.

Baik Aki Kilik Rogo maupun Kebo Selaksa Wisa nampak terperanjat sekali begitu ada seseorang yang berusaha menyelamatkan Aki Kilik Rogo. Sejenak mereka memandang ke arah tebing. Belum lagi mereka kembali kepada keadaannya, maka dari atas bukit itu nampak melayang dua sosok tubuh seorang laki-laki dan seorang wanita. Begitu kedua orang itu telah berada di tengah-tengah mereka. Aki Kilik Rogo nampak tersenyum, setengah mengeluh karena memang dadanya masih terasa sakit. Sebab kiranya orang yang baru saja hadir di antara mereka itu tak lain adalah Buang Sengketa dan Sri Pamuja, seorang gadis berbaju putih yang pernah dikenal oleh Aki Kilik Rogo. Lain lagi halnya dengan Kebo Selaksa Wisa, begitu menyadari pukulan Kebo Gila Durhaka ada yang menggagalkannya maka dia meskipun sudah terluka menjadi marah dan gusar. Dan pada saat itu, Sadaki sudah mulai terluka dihajar senjata murid-murid Aki Kilik Rogo yang sudah setengah gila semuanya. Di saat yang sama Kebo Selaksa Wisa membentak:

"Bocah keparat...! Melihat tampangmu agaknya engkau ini seorang gembel yang sengaja mencari urusan dengan Kebo Selaksa Wisa...!" makinya berang sekali.

"Segala macam kebo dungu sepertimu, masih pantaskah untuk diberi izin tinggal di kolong langit ini lebih lama lagi...?" tukas Pendekar Hina Kelana mencemooh.

"Manusia sial! Engkau benar-benar akan menyesal sampai ke liang kubur. Karena telah begitu lancang mencampuri urusanku...!" bentak Dulimang sambil kertakkan rahang.

"Urusan gila siapa mau campur! Engkau tak perlu berpura-pura, Aki Kilik Rogo itu merupakan sahabatku. Karena engkau bermaksud memaksanya hanya demi kitab terkutuk itu, dan bahkan engkau malah hampir membuatnya celaka. Maka hari ini aku terpaksa menggusur mu ke liang kubur." ancam Pendekar Hina Kelana begitu tegasnya.

"Keparat...!" maki Dulimang. Dan kini dia sudah bersiap-siap dengan pukulan yang lebih ampuh lagi, yaitu Kebo Binal Mencari Pasangan. Buang juga sudah siap siaga dengan pukulan mautnya si Hina Kelana Merana. Sungguh begitu dia masih sempat memberi isyarat pada Pamuja dan Aki Kilik Rogo untuk menyudahi sepak terjang Sadaki, yang dulu sempat lolos dari tangannya.

"Adik Pamuja, cepat mampusin si bangsat Sadaki yang dulu terluput itu...!" perintah Pendekar Hina Kelana pada Sri Pamuja. Gadis ini tanpa menjawab segera melesat ke tengah-tengah kalangan, begitu pun Aki Kilik Rogo yang sudah sangat gusar karena banyak murid-muridnya yang terbunuh di tangan Sadaki. Tanpa diperintah dia pun sudah masuk ke kalangan pertempuran. Semakin menjadi kelabakan Sadaki demi menghadapi keroyokan tersebut. Menghadapi keroyokan enam orang murid-murid Aki Kilik Rogo yang sudah berubah liar dan ganas saja dia sudah kalang kabut tunggang langgang. Apalagi kini ditambah lagi dengan kehadiran dua orang ini yang ilmu kepandaiannya saja jelas-jelas berada di atasnya. Baginya untuk bersurut langkah ataupun melarikan diri rasanya sudah sangat terlambat, nasi sudah menjadi ampas, tak ada pilihan lagi kecuali menempur kedelapan orang itu sampai titik darah yang terakhir. Maka bertarunglah dia bagai setan gila. Pedang diputar ke segala penjuru. Sekejap tubuhnya berkelebat lenyap tergulung perisai pedang yang melindungi sekaligus merupakan pertahanan dirinya. Tetapi betapapun hebatnya permainan pedang dan kecepatan gerak yang dia miliki, menghadapi dua orang berilmu tinggi ditambah lagi dengan tenaga enam orang murid Aki Kilik Rogo yang kini sedang di rasuki setan iblis, maka tak dapat dihindari. Dalam beberapa jurus di muka dia sudah nampak terdesak hebat. Aki Kilik Rogo sabetkan kerisnya, sementara pada saat yang sama Sri Pamuja, juga membabatkan pedangnya yang sangat tajam. Dari arah belakangnya menyerang pula keenam murid Aki Kilik Rogo. Maka tak dapat terelakkan lagi.

"Jroook! Croooot! Krook!"

Sadaki yang malang itu melolong setinggi langit, tubuhnya limbung terbabat senjata di tangan lawan-lawannya. Namun murid-murid Aki Kilik Rogo terus membabatkan senjatanya pada tubuh yang sudah tercacah-cacah itu (namanya juga murid-murid kurang waras). Murid-murid berkepala botak itu terus mencincang-cincang tubuh Sadaki sambil terus tertawa-tawa. Bagai mencincang seekor babi saja layaknya. Dan sudah barang tentu kejadian ini membuat Sri Pamuja menjadi kecut hatinya, lalu segera memberi isyarat pada Aki Kilik Rogo, untuk menghentikan pekerjaan yang gila-gilaan

"Murid-muridku berhenti. Orang itu sudah mati, kalian tak perlu menghukumnya sedemikian rupa...!" perintah Aki Kilik Rogo. Memang benar, muridmurid sinting itu mematuhi perintah gurunya, tetapi sebagai akibatnya keenam murid itu nampak berubah memerah matanya. Dipandanginya Aki Kilik Rogo bagai memandangi seorang musuh besar saja layaknya. Lalu tanpa terduga-duga keenam murid itu berbalik dan langsung menyerang Aki Kilik Rogo dan Sri Pamuja. Aki Kilik Rogo yang sebelumnya tiada pernah menyangka kalau murid-murid akan berbuat seperti itu, nampak terkejut dan langsung berteriak.

"Murid-murid guoooblok! Mengapa kalian malah menyerangku? Hentikan, hentikan...!" teriaknya sangat marah sekali.

Namun nampaknya murid-murid Aki Kilik Rogo yang linglung itu sudah tidak memperdulikan bentakan-bentakan guru mereka. Tetap saja murid-murid berkepala botak itu menyerang sang guru dan Sri Pamuja.

"Murid-murid goblok, tolol...! Setan-setan dari manakah yang telah merasuki jiwa kalian...?" maki si Kilik Rogo seraya putar-putar kerisnya untuk melindungi diri.

"Aki.... Tiada guna aki berteriak-teriak    Racun

Linglung Raga yang mengendap dalam tubuh mereka kini telah mulai bekerja. Lebih baik kita bunuh saja mereka, Ki. !" tukas Sri Pamuja sambil melindungi diri

dengan putaran pedang di tangannya.

"Apa aku harus membunuh muridku ?"

"Kalau tidak mereka akan membunuh kita, Ki !" teriak Sri Pamuja mengingatkan.

"Aku tak sampai hati.... Argkh...!" Belum habis ucapannya tahu-tahu Aki Kilik Rogo sudah menjerit. Bagian bahunya kena dibacok oleh muridnya sendiri. Meskipun tidak begitu dalam, tetapi telah cukup untuk menguras banyak darah. Bekas bacokan pedang itu membuat robek besar pakaiannya. Aki Kilik Rogo menggerendeng dia nampak sangat gusar sekali.

"Murid-murid pada gila, si Jubah Hitam keparat... muridku juga keparat.... Kubunuh kalian semua..... Cah ayu, mari kita cincang murid-murid tolol ini beramai-ramai !"

Maka tanpa menunggu perintah dua kali, kedua orang ini bagai kesetanan membabat orangorangnya sendiri.

Sementara itu pertempuran antara Kebo Selaksa Wisa dan Pendekar Hina Kelana sudah mencapai puncak-puncaknya. Tubuh Selaksa Wisa atau yang lebih dikenal sebagai Dulimang sudah nampak kotor tak karuan. Laki-laki gemuk itu benar-benar tak jauh bedanya dengan seekor kerbau. Bagaimana tidak, setelah dia selalu gagal mempergunakan pukulan-pukulan mautnya untuk merobohkan pihak lawan tak pernah membawa hasil. Laki-laki gemuk dengan kumis dan jenggot jarang-jarang itu nampak seperti putus asa. Dia sudah keluarkan semua pukulan andalan, tetapi selalu saja pihak lawan berhasil mematahkan pukulan-pukulan mautnya. Padahal selama hidup dia tak pernah mempergunakan senjata apa pun terkecuali pukulan maut dan serudukan bagai seekor banteng. Pukulan beracun sudah tak banyak berarti bagi lawannya, maka kini tinggal serudukan-serudukan mautnya. Tetapi itu pun berulang kali dia harus rela tersungkur ke tanah karena pihak lawan berhasil mengkelit serudukan yang sangat mirip dengan banteng. Sekali waktu serudukan itu juga tepat mengena pada sasarannya. Sehingga membuat mules perut Buang Sengketa. Tetapi beberapa saat kemudian pemuda itu bersurut tujuh langkah, maka dia pun langsung membentak.

***

12

"Kerbau celaka! Bisa mu cuma serudukseruduk melulu, serudukan mu hanya membuat perutku mules. Aku tak ingin mengulur-ulur waktu. Kalau engkau punya senjata yang kau andalkan, cabutlah..... Sebelum kau benar-benar akan menyesal...!"

Kebo Selaksa Wisa melengos, lalu mencemooh. "Kepalaku cukup bisa menjadi senjata, engkau

tak perlu jual lagak di depanku...!"

"Bagus.... Akan kupenggal kepalamu itu...!" menggerendeng Pendekar Hina Kelana. Kemudian dengan diawali satu jeritan tinggi melengking, tubuh Buang Sengketa sudah berkelebat lenyap. Namun beberapa saat kemudian sudah nampak pula berkelebatnya sinar merah menyala. Udara di sekitar tempat itu mendadak menjadi dingin luar biasa. Namun hanya hal itu pun hanya sekedipan mata saja dapat dirasakan oleh si Dulimang, karena begitu sinar merah itu berkelebat, maka tak ayal lagi.

"Jrooos!"

Sinar merah yang tak lain merupakan Pusaka Golok Buntung itu, membabat leher Kebo Selaksa Wisa. Leher yang kekar itu hampir putus, darah menyembur bagai mata air yang tersendat. Luka yang menganga dan bahkan hampir membuat putus antara kepala dengan badannya itu membuat tubuh Kebo Selaksa Wisa terhuyung-huyung, Kepala miring ke kiri bagai hendak menggelinding ke tanah. Tak lama setelahnya tubuh di Dulimang itu pun tersungkur tanpa dapat bangun-bangun lagi untuk selamanya.

Sementara pada saat itu, terdengar pula jerit melolong. Begitu Buang Sengketa menoleh, tampak olehnya murid Aki Kilik Rogo termakan kerisnya sendiri. Keadaan kembali sepi. Mereka nampak saling berpandangan. Tetapi kemudian suasana itu dipecahkan oleh suara Aki Kilik Rogo yang merasa lega namun menyesal.

"Muridku sudah pada mati semua, ah sia-sia saja dua puluh tahun...!"

"Semua itu bukan salahmu, Aki...!" gumam Sri Pamuja. Tiba-tiba Aki Kilik Rogo seperti tersentak. Lalu diulang-ulangnya apa yang baru saja diucapkan oleh Sri Pamuja.

Seperti orang sinting, bagai orang pikun! "Bukan salahku.... Bukan salahku.... Hhh Ya

bukan salahku....! Tapi salah siapa, Cah ayu ?"

"Si Jubah Hitamlah yang bersalah, Aki    Kita

harus ke sana secepatnya !"

Bagai orang yang sedang senewen Aki Kilik Rogo tersenyum dan tertawa-tawa. Tetapi kemudian dia telah menangis, menggeram!

"Brengsek sialan! Jubah Hitam memang yang telah meracuni murid-muridku. Dia harus bertanggung jawab.... Harus.... Manusia setengah iblis !"

Sambil berteriak-teriak Aki Kilik Rogo berkelebat pergi menuju Gunung Dieng. Cepat sekali gerakan laki-laki pendek itu, hingga dalam waktu sekejap tubuhnya sudah tidak tampak lagi. Baik Buang Sengketa maupun Sri Pamuja merasa sangat kasihan sekali melihat keadaan Aki Kilik Rogo yang agaknya setengah sinting itu. Diam-diam mereka mengkhawatirkan keselamatannya. Maka akhirnya tanpa menyia-nyiakan waktu lagi orang itu pun bergerak menyusul Aki Kilik Rogo yang sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. 

* * *

Ketika Pendekar Hina Kelana dan Sri Pamuja telah sampai di Gunung Dieng tampaklah oleh mereka dua orang yang sedang bertarung, pertempuran itu nampaknya berlangsung dengan sangat tidak seimbang. Laki-laki pendek, si Jubah Hitam.

"Hmmm, siapa lagi kalau bukan Aki Kilik Rogo dengan Batari Murti, dua orang bekas kakak dan adik seperguruan."

Di lain pihak nampaklah pertarungan tingkat tinggi itu berlangsung sedemikian cepat, sehingga debu dan pasir berhamburan. Bahkan angin pukulan sakti yang mereka lepaskan menderu-deru dan menerbangkan debu-debu di sekitarnya hingga sampai membumbung tinggi ke atas. Suasana menjadi terang dan gelap. Satu kesempatan Aki Kilik Rogo berusaha menusukkan kerisnya pada bagian rusuk lawan. Angin keras menderu menyertai sabetan senjata yang sangat berbisa tersebut. Tetapi walau bagaimanapun hebatnya kepandaian yang dimiliki oleh Aki Kilik Rogo. Kepandaiannya yang dia miliki tak ada separohnya bila dibandingkan kepandaian yang dimiliki oleh Si Jubah Hitam bekas murid terkasih. Sekejap kemudian begitu tusukan keris itu hampir mencapai rusuknya. Si Jubah Hitam lambaikan ujung jubahnya. Menderu, segelombang sinar kuning keperakan yang sangat dahsyat. Buang Sengketa yang berdiri tidak begitu jauh dari tempat itu menyadari bahwa maut sedang mengintai Aki Kilik Rogo. Pukulan itu bukan saja dapat dirasakan oleh si pemuda sebagai pukulan yang cepat dan ganas. Namun juga berhawa keji dan mematikan. Dia sangat tidak rela andai Aki Kilik Rogo sampai menemui ajalnya di tangan si Jubah Hitam. Maka tak ayal lagi dia sudah memutuskan untuk memapaki pukulan tersebut dengan pukulan yang tak kalah hebatnya. Si Hina Kelana Merana, nampak melesak serangkaian sinar merah menyala begitu jemari tangan Pendekar Hina Kelana terpentang ke atas. Sinar merah membara itu pun menderu. Laksana sedang terjadi selaksa gempa, suara bergemuruh pun terdengar dan berkepanjangan. Tatkala sesaat kemudian, begitu sinar maut itu saling bertubrukan di udara. Bumi tempat kaki mereka berpijak bagai hendak runtuh, debu mengepul dan membumbung tinggi. Bahkan kawah di dalam kepundan yang berada tidak begitu jauh dari tempat pertarungan itu, nampak muncrat ke udara. Buang Sengketa terlempar sepuluh tombak. Tubuhnya nyaris terperosok ke dalam kawah Dieng yang sedang menggelegak. Sementara darah segera mengalir dari celah hidung dan kupingnya. Dia merasakan dadanya sesak luar biasa. Cepat-cepat dia menghimpun hawa murni. Sementara si Jubah Hitam yang hanya tergetar saja itu kini nampak tertawa tinggi melengking. Pada saat itu Sri Pamuja demi melihat keadaan Buang Sengketa nampak menjerit lalu bermaksud memburu ke arah kekasihnya. Namun baru saja beberapa tindak dia berlari-lari. Si Jubah Hitam melepaskan satu pukulan mengarah gadis itu.

"Wuuut!"

Aki Kilik Rogo yang mengetahui bahaya nampak mengancam si gadis lepaskan satu pukulan selaksa perak, Sinar putih itu berkelebat laksana kilat. Benturan pun tak terhindar lagi.

"Blaaam!"

Aki Kilik Rogo tubuhnya terguling-guling, darah langsung menggelogok dari bibirnya. Dia merasakan sekujur tubuhnya bagai remuk, tiada mampu bangkit. Sungguhpun begitu Sri Pamuja dapat selamat dari ancaman maut. Dan kini dia setelah menolong Buang Sengketa, secara bersama-sama segera melakukan penyerangan. Dengan pedang terhunus Sri Pamuja mencecar lawannya dengan jurus-jurus pedang yang diberi nama Bidadari Menyongsong Rembulan. Gerakannya sebat luar biasa, sejauh itu menghadapi keroyokan dua orang ini, si Jubah Hitam semakin tergelak-gelak. Sambil berkelebat-kelebat menghindari serangan, si Jubah Hitam berucap:

"Bagus, agaknya engkaulah kunyuknya yang sengaja didatangkan oleh Empu Wesi Laya untuk menjatuhkan kutuk padaku! Huh.... Mana bisa, kalian semua harus mati, ya harus mati sebagaimana Empu Wesi Laya yang telah menjatuhkan kutuk padaku.....

Haiiit !"

"Hiaattt!" Dengan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, Pendekar Hina Kelana coba memapaki serangan yang dilancarkan oleh si Jubah Hitam. Namun begitu pukulan itu membentur pertahanannya si pemuda, kembali Buang Sengketa terpental dan kembali pula muntah darah. Keadaan itu sudah barang pasti membuat Sri Pamuja menjadi berang. "Manusia setengah iblis, mampuslah kau !" te-

riak Sri Pamuja seraya langsung menyerang ke arah si Jubah Hitam. Tetapi tiada disangka-sangka.

"Hiaaatt!"

Si Jubah Hitam dorongkan tongkat berkepala serigala ke depan.

"Buukk!" "Wuaarrrghk !"

Tubuh Pamuja yang terpukul tongkat berbisa itu pun terlempar berpelantingan, untuk kemudian terhempas pada sebuah batu cadas yang berukuran sangat besar.

"Pamujaaaaaa...!" jerit Buang Sengketa histeris begitu dilihatnya tubuh kekasihnya tidak bangunbangun lagi. Tanpa perduli dia memburu. Kemudian ditubruknya tubuh gadis yang telah melemah dan tiada berdaya itu. "Pamuja...!" jeritnya pedih. "Jangan tinggalkan aku...!" rintih Pendekar Hina Kelana merasa terpukul. Pada saat itulah mata yang sudah menutup itu membuka sedikit, bibirnya tersenyum pias, tetapi gadis itu terus tersenyum. Dia menggapai-gapai lalu ucapnya lemah sekali.

"Kakang, maafkan aku.,.. Aku tak bisa menemanimu. Hati-hati, Kakang... orang itu sangat berbahaya sekali. Tetapi aku selalu yakin engkau akan mampu mengatasinya. Kakang Kelana, aku cinta padamu " Suara Pamuja akhirnya melemah, hingga tak

terdengar sama sekali, kepalanya terkulai dalam pangkuan si pemuda. Bukan main hancurnya hati si pemuda menerima kenyataan seperti itu. Dia menangis, meraung, meratap dan bahkan menjerit bagai harimau terluka.

"Pamuja... oh, mengapa engkau harus pergi, tidaaaaaak !" teriaknya histeris.

"Bocah, jangan bersedih, engkau pun akan segera menyusulnya...!" Teguran yang bersifat mengejek itu membuat amarah di dalam pemuda itu meluapluap. Mendadak dia tegak berdiri, kedua bola matanya mencorong merah, sementara kedua bibirnya keluarkan bunyi mendesis bagai seekor ular piton yang sedang marah. Lalu dengan gusar dia pun membentak:

"Manusia iblis..... Engkau telah merenggutkan satu-satunya yang kumiliki! Aku tak akan mengampunimu...!" teriak Pendekar Hina Kelana. Dalam pada itu Aki Kilik Rogo sudah bangkit dari pingsannya. Maka dia pun berseru,

"Pendekar.... Ikutilah petunjuk ku...!" kata Aki Kilik Rogo. Anehnya seperti sudah mengerti saja Buang Sengketa mengiyakannya. Dalam kesempatan itu dia sudah berpikir untuk tidak menggunakan Pecut Gelap Sayuto, namun cukuplah mempergunakan Pusaka Golok Buntung. Tanpa membuang waktu lagi maka dia pun berkelebat, dan seiring dengan gerakannya tersebut, menggaunglah suara selaksa ribuan tawon meningkahi berkiblat-kiblat Pusaka Golok Buntung di tangannya.

"Haiiiit!"

Buang Sengketa kiblatkan goloknya, si Jubah Hitam yang terkenal sebagai manusia sakti itu entah mengapa jadi sering-sering tertegun, atau mungkin dia selalu dibayangi kutukan-kutukan yang dijatuhkan oleh Empu Wesi Laya kepadanya. Hal itu sangat mungkin saja. Gerakannya jadi lamban, dan manakala golok di tangan Buang Sengketa hampir mencapai sasarannya, dia gerakan tongkatnya ke atas.

"Crang! Pletak...!"

Terdengar seperti suara sesuatu yang hancur. Kenyataannya memang begitu. Tongkat di tangan si Jubah Hitam menjadi hancur berkeping-keping dilanda Pusaka Golok Buntung milik si pemuda. Tidak sampai di situ saja, dia kiblatkan senjatanya.

"Craaas!"

Kepala si Jubah Hitam menggelinding di tanah, darah menyembur ke mana-mana. Tetapi tubuhnya yang sudah tanpa kepala itu terus berjalan-jalan dan melakukan perlawanan. Aki Kilik Rogo berlari-lari mendekat kemudian memungut kepala si Jubah Hitam itu.

"Untuk apa..:?" tanya Pendekar Hina Kelana di sela-sela kesibukan dan kengeriannya memandangi tubuh tanpa kepala itu yang masih saja melakukan perlawanan sengit.

"Kepala ini harus dibuang ke dalam kawah yang mendidih itu, supaya dia tidak bisa hidup lagi." kata Aki Kilik Rogo, seraya cepat-cepat melemparkan kepala si Jubah Hitam ke dalam kawah Dieng yang sedang menggelegak.

"Dia masih melawan, Aki...!" teriak Buang Sengketa sambil menghindari terjangan-terjangan dari tubuh yang sudah tanpa kepala itu.

"Babat kepala dan kakinya...!" Aki Kilik Rogo memberi perintah. Tanpa buang waktu lagi.

"Cress! Crees! Creees! Creees!"

Berturut-turut golok pusaka itu membabat tangan dan kaki si Jubah Hitam. Berturut-turut pula Aki Kilik Rogo melemparkan anggota tubuh itu ke arah empat penjuru mata angin. Hingga pada akhirnya tinggal badannya saja yang tertinggal di situ. Buang Sengketa merasa ngeri sendiri. Dalam pada itu Aki Kilik Rogo segera menyambar tubuh yang sudah tanpa kepala, kaki dan tangan itu. Tubuhnya melesat pergi sembari berkata:

"Demi baktiku pada seorang guru, supaya manusia setengah iblis ini tidak hidup kembali, maka aku akan membuangnya ke laut. Terima kasih, Pendekar...!"

Aki Kilik Rogo kemudian lenyap dari pandangan Pendekar Hina Kelana. Dengan hati sedih, dia segera menghampiri mayat kekasihnya Sri Pamuja, mayat itu sudah dingin dan beku. Buang Sengketa segera memanggulnya di bahu kanannya. Dan dia pun sudah bersiap-siap meninggalkan tempat itu, ketika dia mendengar suara seseorang:

"Pendekar Hina Kelana! Datang dan pergi itu sudah biasa, engkau sebagai perantara kutuk ku, telah menjalankan tugas dengan baik. Begitu engkau meninggalkan tempat ini, maka Gunung Dieng segera berselimut kabut beracun. Pergilah secepatnya!" Bersamaan dengan itu terdengar pula suara menggemuruh. Dari pori-pori tanah bermunculan uap putih dan tipis. Sadarlah pemuda ini bahwa mungkin uap tersebut yang dimaksud oleh suara tadi. Maka secepatnya dia pun berlalu meninggalkan tempat itu.

TAMAT