--> -->

Serial Pendekar Hina Kelana Eps 07 : Majikan Gagak Hitam

 
Eps 07 : Majikan Gagak Hitam


Laki-laki itu masih belum menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi di tempat itu, ketika jaring laba-laba yang terbuat dari sulur jabijabi itu secara tiba-tiba menggulung dirinya. Cepat-cepat dia mencabut pedang yang terselip di pinggang. Dia membabat kian ke mari. Ya, ampun jala yang terbuat dari sulur jabi-jabi itu alotnya bukan main. Dalam hati lakilaki itu mengeluh, secara tiba-tiba dia terkenang nasib para pendahulunya. Mengerikan!

Dengan dibarengi suara cekikikan membahana, ujung-ujung tali jala itu semakin lama semakin menyusut, hingga akhirnya membuat tubuh laki-laki ini terdiam tiada daya.

Hanya beberapa saat setelah kejadian itu bermunculan pula beberapa sosok tubuh dan berbagai penjuru. Laki-laki itu sempat menghitung, jumlah mereka tak kurang dari enam orang. Ironisnya lagi mereka itu, keseluruhannya terdiri dari kaum perempuan yang berusia masih sangat muda belia.

Tanpa banyak bicara, mereka langsung menggotong tubuh laki-laki itu. Layaknya bagai membawa hasil buruan saja. Diperlakukan sedemikian rupa, orang itu mencaci habis-habisan. Tiada sepatah kata pun jawaban yang dia terima, dalam keadaan seperti itu mendadak dia memperhatikan orang-orang yang telah meringkusnya. Orang ini pun terpana, kedua bola matanya terbelalak memandang tiada berkedip. Dia benarbenar merasa sangat keheranan. Bayangkan! Enam orang perempuan yang telah menyergapnya. Rata-rata memiliki wajah yang sangat cantik, berkulit halus mulus dan yang lebih celaka lagi pakaian yang membalut tubuh perempuanperempuan ini hampir keseluruhannya sangat minim. Dalam hati laki-laki ini berkata: "Kalau keadaan yang sesungguhnya saja sudah begini rupa. Pantas saja kalau para pendahulunya sering terjebak, terkecoh bahkan akhirnya tak pernah ada yang kembali."

Tiba-tiba saja dia teringat pada dirinya sendiri, mampukah dia menghadapi situasi seperti itu. "Oh!" Lakilaki itu mengeluh baginya berhadapan dengan lawan tangguh masih jauh lebih beruntung daripada harus berhadapan dengan perempuan-perempuan secantik mereka-mereka itu. Ini adalah salah satu sisi dari kelemahan yang tak pernah terkikis habis dari dalam jiwanya. Sebagai seorang utusan, dia tak ingin tugas yang telah dipercayakan padanya sampai mengalami kegagalan. Terlebihlebih tugas itu telah diberikan oleh orang yang paling sangat dihormatinya. Yaitu gurunya sendiri Mambang Pitutur, bahkan dia merasa lebih baik mati saja daripada harus gagal dalam usahanya mencari Ratih Purwaningsih murid kedua dari perguruan Pulau Bayangan yang telah melarikan Kitab Pusaka Jurus Bayangan yang baru saja diciptakan oleh Mambang Pitutur.

Ratih Purwaningsih murid palsu yang ternyata anak musuh gurunya itu harus diseret dari tempat kediaman orang tuanya, yang merupakan Majikan Gagak Hitam. Dia harus diadili sesuai dengan kesalahannya. Itulah tekad dan pesan gurunya. Sebagai murid tertua dia telah berjanji untuk memenuhi amanat gurunya tersebut. Akan tetapi dia tidak pernah menyangka kalau yang bakal dihadapinya adalah para kaum wanita. Sebagai laki-laki berhadapan dengan kaum yang satu ini dia selalu lemah dan kalah! Dan inilah penyakit yang paling buruk dalam hidupnya. Dia menyesali keadaan ini, begitu pun dia tetap bertekad untuk memenuhi pesanpesan gurunya.

Sementara itu, melalui jalan setapak perempuan-perempuan cantik itu terus menggotong tubuhnya yang terbungkus jala tadi. Sesungguhnya jalan itu nampak sangat licin sekali, karena selain berlumut tanah di sekitarnya, baru saja terguyur hujan lebat. Jangankan dengan membawa beban, berjalan tanpa beban pun rasanya sangat sukar untuk dilakukan oleh orang kebanyakan. Tapi karena perempuan-perempuan ini memang sudah terlatih dengan keadaan seperti itu, bahkan memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi. Maka keadaan seperti itu bukanlah merupakan rintangan yang berarti bagi merekamereka ini. Dengan sangat mudah mereka lalui jalan licin yang penuh dengan segala macam jebakan itu. Tubuh lakilaki yang bernama Eka Dawana nampak bergoyang-goyang, ketika beberapa saat kemudian perempuan-perempuan cantik itu mulai berlari-lari kecil di atas tanjakan-tanjakan yang sangat terjal dan licin. Mau tak mau Eka Dawana memejamkan mata, begitu dalam pandangannya terlihat jurang menganga di kanan kiri jalan yang di lalui oleh perempuan-perempuan itu. Dia sadar meskipun dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tapi dalam keadaan terbungkus seperti itu, mana mungkin dia bisa berbuat banyak andai orang-orang yang membawanya ini sampai terjatuh atau secara sengaja melemparkan tubuhnya ke dalam jurang itu.

Demikianlah seiring dengan bergulirnya sang waktu, setengah jam kemudian sampailah mereka ini di sebuah rumah yang demikian besar. Rumah itu berhalaman luas dan nampak sangat terjaga akan kebersihannya. Ada beberapa hal pada bagian sudut-sudut rumah itu terasa menimbulkan kesan aneh bahkan boleh dibilang sangat menyeramkan.

Tidak seperti lazimnya rumah tinggal biasa! Rumah itu beratap bulu burung gagak sedangkan di depan pintu utama terdapat untaian kepala burung gagak hitam yang dipajang sedemikian rupa, demikian juga ruang dalam, samping kanan kiri, juga belakang. Dapat dibayangkan berapa ratus burung gagak menjadi tumbal pada saat mendirikan rumah itu.

Perempuan-perempuan cantik itu meletakkan tubuh Eka Dawana yang tiada berdaya di halaman depan. Kemudian beberapa orang di antara mereka nampak meninggalkan halaman luas itu. Sesaat kemudian orang-orang ini pun lenyap di balik sebuah pintu besar yang berwarna hitam legam. Laki-laki dari Sala Nama itu agaknya sudah tak sabar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu dia mengitarkan pandangan matanya pada keadaan di sekelilingnya. Letak rumah itu diapit oleh dua bukit terjal berbatu gamping. Di sisi kanan mengalir anak sungai yang sangat jernih airnya. Pada bagian depan dan belakang tampak berdiri tegak kedua bukit tadi. Sedangkan pada sisi kiri rumah itu merupakan jalan satu-satunya menuju rimba belantara dan dunia luar. Jalan inilah yang dilewati oleh orang-orang yang meringkus Eka Dawana. Laki-laki itu mulai berfikir, andai pun Ratih Purwaningsih berada di rumah itu. Misalnya saja kitab pusaka Jurus Bayangan dapat dia rebut kembali! Laki-laki itu pun masih merasa ragu, apakah dia dapat keluar dari tempat itu dengan selamat. Sungguh begitu cerdiknya Majikan Gagak Hitam dalam memilih tempat tinggal sekaligus merupakan benteng pertahanan buat menjebak setiap musuhmusuhnya. Pada saat dia sedang berfikir-fikir tentang segala kemungkinan yang terjadi. Tiba-tiba terdengar suara riuh di angkasa lepas.

"Kaakk!   Kreak....   Kreak....

Kakkk...!" Eka Dawana yang masih dalam keadaan terbelenggu itu menengadahkan wajahnya ke atas. Terkejut laki-laki itu bukan alang kepalang. Apa yang dilihatnya tak lain adalah kawanan burung gagak yang jumlahnya mencapai ratusan ekor. Nampak terbang begitu indahnya. Burung-burung itu menyambarnyambar ke arah Eka Dawana, seolah sedang bersuka ria meluapkan kegembiraannya.

Belum lagi hilang perasaan kaget di hati laki-laki ini, kembali dia dibuat terbelalak tak percaya. Secara tiba-tiba berhembuslah angin kencang yang sangat dahsyatnya. Dari kejauhan terdengar lamat-lamat suara ini.

"Cring! Cring! Dur... dur. !"

Semakin lama suara riuh rebana itu semakin bertambah jelas dan dekat. Orang-orang di dalam rumah, yang hampir keseluruhannya terdiri dari kaum wanita pada berhamburan ke luar. Sesampainya di halaman perempuanperempuan yang masih belia ini pun menghaturkan sembah ke arah datangnya suara-suara itu. Tak lama kemudian dari arah bukit bagian belakang, nampak melesat beberapa sosok bayangan dengan sangat ringannya. Hanya sekejapan mata orang-orang itu pun telah berdiri di hadapan para pengikutnya.

Yang membuat Eka Dawana tak habis mengerti adalah tentang Majikan Gagak Hitam yang masih begitu muda, sangat cantik menggiurkan. Bahkan tak kalah cantiknya. Bila dibandingkan dengan para pengiring yang selalu menyertainya ke mana pun dia pergi. Sementara itu, burung-burung yang berjumlah ratusan ekor, kini nampak bertengger di atas dahan-dahan pohon. Agaknya mereka begitu sangat mengenali orang yang kini nampak sedang memperhatikan Eka Dawana yang meringkuk tak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Lalu sesungging senyum penuh misteri membias di kedua bibirnya yang tipis. Perempuan itu kemudian berpaling pada gadis-gadis berpakaian transparan, yang kini nampak duduk bersimpuh menghaturkan sembah kepadanya. Tak lama kemudian Majikan Gagak Hitam yang mempunyai gelar Dwi Keadilan itu pun menyela.

"Hari ini kiranya kalian mendapat buruan yang baru! Hik... hik... sungguh tak sia-sia usahaku selama ini dalam menggembleng kalian semua...!" ucap Dwi Keadilan dengan wajah berseri-seri.

"Yang mulia...!" menyela gadis yang berjubah merah setelah terlebih dahulu menjura hormat. Kemudian lanjutnya. "Agaknya kali ini, kelinci yang kami bawa itu merupakan seekor kelinci yang benar-benar dapat memuaskan keinginan guru. Tapi mungkin kelinci ini membawa sebuah pesan dan dendam. Kami sarankan agar guru bertindak lebih hati-hati terhadapnya…!"

"Hi... hi... hi...!" Lagi-lagi Dwi Keadilan mengekeh, pandangan matanya menyapu Eka Dawana. Kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala dan kembali memandang ada beberapa orang muridnya.

"Anak-anak coba kalian bebaskan dia! Dan tanya apa yang diinginkannya sehingga berani betul dia menyatroni daerah kekuasaanku...!" perintah Dwi Keadilan berwibawa.

"Tapi yang mulia... orang itu berbahaya sekali...!" kata Jubah Merah merasa was-was. Dwi Keadilan demi mendengar ucapan muridnya si Jubah Merah, kelihatan sangat marah sekali. "Sialan betul, berani sekali engkau membantah perintahku! Apakah engkau ingin agar aku memenjarakanmu di Neraka Buih...?" bentaknya kesal.

Begitu Dwi Keadilan menyebutnyebut Neraka Buih, gadis Jubah Merah pucat parasnya, dia kelihatan sangat ketakutan sekali kemudian dengan terbata-bata dia berucap

"Ampun, guru... maafkanlah murid yang bodoh ini! Sungguh aku tak punya maksud untuk membangkang...!"

"Kalau begitu cepat kerjakan perintah ku...!" kata Majikan Gagak Hitam dengan hati mendongkol.

"Ba... baik guru...!"

Kemudian dengan dibantu oleh, Jubah Biru dan Jubah Kuning, si Jubah Merah segera menghampiri Eka Dawana yang masih terbungkus jala dan terkunci pula jalan suaranya. Sangat cepat sekali mereka ini dalam melaksanakan tugasnya, sehingga sebentar kemudian tubuh Eka Dawana sudah terbebas dari jaring jala yang telah membelenggunya. Laki-laki setengah baya ini nampak sangat marah sekali, tetapi gadis si Jubah Merah seakan tiada memperdulikannya. Cepat-cepat dia buka jalan suara yang tertotok. Begitu dia dapat bicara kembali langsung saja dia nyerocos

"Setan-setan betina berhati pengecut. Kiranya nama besar Majikan Gagak Hitam hanyalah sebuah keagungan palsu, penimbun hasrat selera rendah! Puiih...." Marah Eka Dawana dibakar amarah.

"Hi... hi... hi...! Kelinci bagus, siapakah engkau ini! Lancang sekali mulutmu telah berani memaki Majikan Gagak Hitam...?"

"Hei, sial betul engkau ini. Dosa anakmu sudah melebihi takaran, sebagai moyangnya engkau harus bertanggung jawab!" bentak Eka Dawana. Bagi Dwi Keadilan seandainya dicaci maki sedemikian rupa oleh laki-laki calon korbannya dia masih dapat menahan kemarahannya. Tapi kalau kini Eka Dawana sampai menyebut-nyebut adanya seorang anak dan dimintai pertanggung jawaban, bukan main terkejutnya Majikan Gagak Hitam ini. Hal yang sama juga nampak terlihat pada murid-murid asuhannya. Sebab seperti mereka ketahui selama ini, hal yang sesungguhnya adalah bahwa Majikan Gagak Hitam memang tak mempunyai seorang anak pun. Tapi lakilaki ini begitu terbebas dari totokannya telah berkoar tidak menentu. Tibatiba saja Dwi Keadilan menyela

"Kelinci gila dari manakah engkau ini, begitu datang langsung menyebut-nyebut seorang anak. Sedangkan engkau belum memberi anak padaku?" bentak Dwi Keadilan. 2

Wajah Eka Dawana nampak memerah seketika itu juga. Dalam hati timbul pula dugaan. Bahwa siapa pun adanya Majikan Gagak Hitam ini, tak lebih baik dari seorang perempuan jalang. Tak kalah gusarnya Laki-laki itu kemudian mencemooh.

"Engkau jangan mungkir, Ratih Purwaningsih anakmu telah menjadi seorang murid murtad. Bertahun-tahun dia dalam asuhan guruku, tak dinyana setelah memperoleh segala-galanya. Kini dia malah membawa kabur kitab pusaka Jurus Bayangan...!" sela Eka Dawana seolah menuduh.

"La... dalah...! Aku ini belum pernah melahirkan anak yang bernama Purwaningsih. Melihat tampangmu saja baru kali ini, bagaimana mungkin engkau bisa berkata Ratih Purwaningsih anakku...." kata Dwi Keadilan nampak mulai tersinggung.

Walaupun dia merasa hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Majikan Gagak Hitam. Tetapi melihat cara perempuan itu bicara nampak sangat bersungguh-sungguh, mau tak mau Eka Dawana mulai merasa ragu.

"Majikan Gagak celaka. Purwaningsih sendiri yang mengatakan bahwa engkau merupakan ibu kandungnya...!"

"Apakah dia mengatakannya padamu secara langsung,..?" tanya Dwi Keadilan dengan sesungging senyum mencibir. "Pada surat yang ditinggalkan-

nya, dia mengatakan begitu...." ujar Eka Dawana teringat pada sebuah pernyataan yang ditulis di atas kulit kijang.

Orang-orang yang hadir di situ mulai berbisik-bisik. Agaknya mereka mulai menyadari bahwa guru mereka sedang mendapat fitnahan dari orangorang yang merasa kurang senang dengan segala sepak terjangnya.

Beberapa saat lamanya daerah itu menjadi hening, semua mata tertuju pada Eka Dawana. Namun hal itu tidak berlangsung lama, sebentar kemudian Dwi Keadilan menyela:

"Kelinci jantan yang bagus. Sudah puluhan tahun aku mendambakan kehadiran seorang anak. Tapi kelincikelinci yang terdahulu tak pernah becus memenuhi keinginanku. Kalau aku punya keturunan seperti yang engkau sebut-sebut. Sudah barang pasti aku bertanggung jawab atas segala tindakannya. Aku merasa yakin semua itu hanyalah merupakan sebuah fitnahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang padaku...!"

"Siapa mau percaya dengan segala omongan perempuan binal sepertimu...?" tukas laki-laki itu meleceh.

"Itu terserah padamu. Kami tak pernah memaksamu untuk percaya pada ucapanku. Tapi andai engkau kurang puas. Kuberi waktu untuk memeriksa tempat tinggalku, tapi asal tahu saja bahwa setelah itu...." Dwi Keadilan urungkan ucapannya, sebaliknya dia malah terkekeh-kekeh.

Agaknya Eka Dawana sudah dapat meraba ke mana maksud tujuan kata-kata Dwi Keadilan. Murid pertama dari Pulau Bayangan ini pun membentak: "Majikan sial! Bangsat cabul. Kiranya aku tak ingin berlama-lama di sini! Ratih Purwaningrum secepatnya harus dapat kutemukan...!" kata Eka Dawana, lalu berniat melangkah pergi. Tapi secara serentak murid-murid Majikan Gagak Hitam telah mengurungnya. Eka Dawana tertawa mengekeh, tapi hatinya mencaci maki.

"Tidak semudah yang engkau bayangkan! Untuk dapat meninggalkan kediaman Gagak Hitam. Terkecuali bila engkau telah memenuhi apa yang kami inginkan...!" kata Dwi Keadilan ketus.

Bukan main terkejutnya laki-laki ini demi mendengar kata-kata Majikan Gagak Hitam.

"Keparat! Aku terpaksa membuka jalan darah...!"

"Hi... hi... hi...! Aku jadi ingin tahu sampai di mana kehebatan murid pertama Mambang Pintutur...!"

Belum lagi Dwi Keadilan usai dengan ucapannya, tiba-tiba Eka Dawana telah membuka serangan. Gerakan tubuhnya sangat cepat sekali! Hingga dalam waktu sekejap saja, pedang di tangannya telah berkelebat-kelebat mencecar lawan-lawannya yang berjarak tidak begitu jauh dari posisinya yang pertama. Murid-murid Majikan Gagak Hitam, walaupun secara keseluruhannya terdiri dari kaum wanita. Tapi mereka juga tidak berkepandaian rendah. Rata-rata dari mereka telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna, selain itu berkepandaian mempergunakan jurus-jurus pedang yang sangat baik pula. Maka pertarungan yang tidak seimbang itu pun semakin lama nampak semakin seru. Apalagi kini di tangan masing-masing lawan telah tergenggam

sebilah pedang pula.

Dalam waktu sekejap saja, pertarungan telah mencapai puluhan jurus. Sejauh itu, Eka Dawana dengan mempergunakan jurus Mengusir Bayangan Menyongsong Matahari, kelihatan masih belum juga mampu mendesak lawanlawannya.

Satu ketika, Eka Dawana keluarkan jerit melengking. Bersamaan dengan itu, tubuhnya melesat dan berkelebat dengan sangat cepat. Sementara pedang di tangannya menyambar ke segala arah. Pedang itu menderu dan keluarkan bunyi bercuitan. Sangat cepat, ganas dan mengancam. Murid-murid Majikan Gagak Hitam, nampak menyurut sepuluh langkah. Gadis Jubah Merah yang memimpin langsung pertarungan itu nampak memberi isyarat pada kawan-kawannya. Dalam pada itu, tiba-tiba Eka Dawana membentak keras:

"Bangsat murid-murid Gagak Hitam! Sengaja kugelar jurus Mengusir Bayangan Menyongsong Matahari, bukan untuk kalian tonton. Nah, mampuslah...!"

Sambil membabatkan pedangnya mengarah pada si Jubah Merah, dia pukulkan tangan kirinya ke segala penjuru. Serangan sinar berwarna keunguunguan melesat sedemikian cepatnya ke segala arah. Masing-masing lawan cepat-cepat sabetkan pedangnya ke segala arah dengan maksud membentengi diri dari pukulan yang dilepaskan oleh Eka Dawana.

Sementara itu Dwi Keadilan yang sedari tadi mengawasi jalannya pertarungan kini nampak tersenyum-senyum saja. Dia tahu, sungguhpun pukulan yang dilepaskan oleh Eka Dawana boleh dikata merupakan sebuah kekuatan yang tidak boleh dianggap sembarangan. Akan tetapi dia merasa sangat yakin bahwa murid-muridnya pasti mampu mengatasinya.

Pada saat itu, gadis Jubah Merah nampak kirimkan satu babatan untuk mengatasi tusukan pedang lawannya. Eka Dawana nampak terkejut. Tiada menyangka kalau gadis Jubah Merah masih bisa menangkis tusukan pedangnya yang begitu cepat.

"Trang!"

Bunga api memercik ke segala arah begitu dua mata pedang itu saling bentrok. Baik Eka Dawana maupun si Jubah Merah. Masing-masing nampak terhuyung dua tindak ke belakang. Tangan bergetar dan dada masing-masing pihak terasa sesak dan nyeri. Sadarlah mereka ini bahwa dalam adu tenaga dalam, kiranya mereka memiliki kemampuan yang seimbang.

Pada saat yang sama, pukulan Gendewa Bayangan yang dilancarkan oleh laki-laki ini telah melabrak lawanlawannya. Tetapi tepat seperti apa yang menjadi dugaan Dwi Keadilan, begitu pukulan Gendewa Bayangan yang dikirimkan oleh Eka Dawana hampir mencapai sasarannya. Gadis Jubah Biru, Kuning, Hitam, Ungu dan Hijau dengan gerakan yang sangat sulit untuk dilihat oleh kasat mata nampak dapat memapakinya dengan sangat baik sekali.

Bukan main gusar Eka Dawana demi menyadari, hampir semua seranganserangannya dapat dipatahkan oleh lawan-lawannya. Malah kini secara serentak mereka lancarkan serangan-serangan balasan pula.

Sekejap saja serangan yang datangnya bagai rangkaian gelombang yang membadai itu telah mengurung tubuh Eka Dawana dengan sangat ketat sekali. Laki-laki murid pertama dari Pulau Bayangan itu pun dengan diawali jerit melengking tinggi nampak bergerak lebih cepat lagi. Senjata di tangan kini hanya merupakan kelebatan bayangbayang saja.

Dwi Keadilan demi melihat muridmuridnya masih belum mampu meringkus Eka Dawana. Padahal pertarungan sudah berlangsung lebih dari tiga puluh jurus, kelihatan sudah sangat marah sekali. Tiba-tiba dia membentak:

"Murid-murid tolol! Kalau dalam dua jurus di depan kalian masih belum becus meringkus kelinci liar itu dengan baik. Maka kalian lebih baik mampus saja...!" kata Dwi Keadilan gusar. Pucatlah wajah murid-murid Gagak Hitam ini demi mendengar ucapan. gurunya. Seperti mereka ketahui selama ini. Dwi Keadilan tidak pernah mainmain dengan ucapannya. Hitam kata dia, maka hitamlah yang terjadi. Menyadari bagaimana akibat dari kata-kata yang diucapkan oleh gurunya. Mau tak mau mereka harus berjuang mati-matian untuk meringkus Eka Dawana hidup-hidup. Inilah pekerjaan yang sama sulitnya dengan akibat yang mungkin ditimbulkan. Sebab lawan yang mereka hadapi bukanlah lawan yang dapat dianggap sepele. Eka Dawana, sebagai murid tertua. Sudah barang tentu memiliki kepandaian tidak lebih rendah dari Gadis Jubah Merah yang juga merupakan murid tertua pula. Tadi saja sewaktu pedang mereka saling bentrok semuanya dapat mengetahui bahwa kekuatan Eka Dawana dan kemampuan si Jubah Merah nampak sangat seimbang. Dua jurus yang diberikan oleh Dwi Keadilan adalah sebuah kesempatan yang teramat singkat untuk dapat merobohkan lawannya tanpa cacat. Tiada pilihan lain, terkecuali mengeroyoknya beramai-ramai.

"Kawan-kawan! Mari kita ringkus kelinci liar ini beramai-ramai...!" perintah si Jubah Merah pada kawankawannya. Dalam waktu singkat, perempuan-perempuan cantik berpakaian transparan itu kembali mengurung Eka Dawana dari berbagai penjuru. Lakilaki itu untuk sesaat lamanya memandang sinis pada para pengeroyoknya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena serangan yang datangnya bertubi-tubi itu telah mencecarnya ke segala arah.

"Betina-betina jalang berhati pengecut. Sampai kapan pun tak mungkin bisa meringkusku...!" berteriak Eka Dawana dalam kemarahan yang meluapluap.

"Hait...!" si Jubah Biru kirimkan satu tusukan tipuan. "Ciaat...!"

Si Jubah Ungu, juga kirimkan satu tusukan ke bagian lambung kiri. Begitu juga yang lainnya. Tempat-tempat yang mematikan menjadi incaran mereka ini. Eka Dawana bukan main terperanjatnya. Sama sekali dia tidak pernah menyangka bahwa pihak lawan secara serentak dapat melancarkan serangan beruntun mengarah pada bagian yang paling mematikan. Cepat-cepat dia putar pedangnya ke arah bagian depan dan samping kiri.

"Trak! Trang! Trahg!"

Benturan pedang di tangan masing-masing lawan yang begitu kuatnya, membuat telinga terasa sakit bagai ditusuk-tusuk jarum. Sementara pedang di tangan si Jubah Biru nampak patah menjadi dua. Pedang di tangan si Jubah Ungu mental dan melesat entah ke mana. Demi melihat kenyataan itu, si Jubah Biru dan Ungu, pula yang lainlainnya nampak terkesima. Mereka tiada menyangka, bahwa pedang mereka bisa patah sedemikian rupa. Bahkan tangan mereka sampai-sampai kesemutan. Maklumlah murid-murid Gagak Hitam ini, bahwa laki-laki itu bukanlah lawan si Jubah Biru dan Ungu. Eka Dawana baru saja hendak buka bicara, ketika gadis Jubah Merah, yang sedari tadi sudah mempersiapkan jebakan ini, tanpa diketahui oleh Eka Dawana nampak berkelebat sangat cepat sekali. "Tes! Tes!" "Bruuuggkk...!"

Totokan yang dilakukan oleh si Jubah Merah pada bagian tubuh Eka Dawana membuat laki-laki dari Pulau Bayangan itu ambruk tanpa daya.

"Bangsat pengecut!" maki Eka Dawana tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun karena urat suaranya juga dalam keadaan tertotok.

"Untuk sementara kurung dia...!" perintah Majikan Gagak Hitam pada murid-muridnya. Tanpa basa-basi lagi murid-murid Gagak Hitam ini pun mengerjakan perintah gurunya.

Dwi Keadilan segera memasuki rumah perguruan yang juga merupakan rumah tinggalnya sementara.

3

Dengan gerakan-gerakan yang lincah dan gesit, gadis berambut ikal mayang itu terus mencecer si pemuda tanpa kenal ampun. Namun agaknya pemuda berkuncir merasa enggan untuk melayani si gadis. Bahkan setiap senjata di tangan gadis berkelebat menyambar ke arah bagian-bagian yang rawan. Pemuda berpakaian lusuh dan kumal itu hanya mengelak dan berjumpalitan. Hal ini sudah barang tentu membuat dia semakin menjadi marah.

Kini dengan mempergunakan jurus Bayang-bayang Menerjang, gadis berkulit hitam manis itu semakin memperhebat serangan-serangannya. Bagai seekor burung walet menyambar capung. Tubuh gadis itu berkelebat sedemikian cepatnya, sementara senjatanya yang berupa Seruling Sakti menderu ke segala arah. Terdengar bunyi menggaung bagai suara ribuan lalat pengerumunan bangkai.

Betapa terkejutnya kumuh, yang bagi kita tak asing lagi. Yaitu si Pendekar Hina Kelana. Begitu merasakan angin sambaran senjata Seruling Sakti di tangan gadis ini. Pakaiannya berkibar-kibar, pengaruh udara dingin yang ditimbulkan sebagai akibat kedahsyatan senjata itu membuat tubuh pemuda itu menggigil, geraham bergemeletukan. Tetapi walaupun dia sudah mengalami keadaan yang sudah sedemikian rupa. Tetap saja dia tidak mau mengambil tindakan apa pun, kecuali mengelak dan menangkis.

Dengan mempergunakan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra yang sudah tidak asing lagi. Pemuda dari negeri Bunian ini tampak memutar kedua tangannya yang sudah dialiri tenaga dalam itu ke segala arah begitu sebat dan sedemikian tangguhnya. Hanya dalam waktu sekejap saja, tubuh pemuda ini hanya tinggal merupakan bayang-bayang saja. Masih dalam seranganserangannya, gadis itu nampak sangat terkejut sekali. Sebelumnya dia tiada menyangka kalau pemuda tampan yang diserangnya itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi. Dan dia sudah berfikir dengan mempergunakan senjata andalan pemberian gurunya Mambang Pitutur, dia berharap dua gebrakan di depan sudah barang tentu pemuda tampan berpakaian gembel itu sudah dapat dibekuknya. Tetapi kenyataannya setelah lima belas jurus di muka, pemuda ini masih kelihatan tenang-tenang saja. Bahkan kalau pemuda ini mau atau bermaksud tak baik barangkali sudah sejak tadi dia sudah roboh. Berfikir sampai di situ tiba-tiba gadis berambut mayang itu bersurut lima langkah, kemudian tanpa berkedip sedikit pun dia memandangi pendekar Hina Kelana dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Dalam pada itu, pendekar ini terus menyela:

"Mengapa engkau berhenti menyerang! Bukankah tadi engkau mau meringkusku hidup atau mati...?" tanya si pemuda, dengan sesungging senyum getir.

Sebaliknya tanpa menghiraukan pertanyaan pendekar Hina Kelana, gadis berkulit hitam manis itu malah balik bertanya dengan suara membentak.

"Sialan betul! Gembel dari manakah engkau ini...!"

Ditanya seperti itu pendekar Hina Kelana yang mempunyai nama kecil Buang Sengketa nampak tertawa mengekeh, sambil garuk-garuk rambutnya yang tak gatal.

Gadis itu semakin bertambah merah parasnya!

"Kunyuk Hina... aku tak butuh tawamu yang jelek itu! Cepat jawab pertanyaanku atau engkau ingin agar aku membuatnya seperti monyet gila...?" maki gadis itu berang sekali.

"Hak... ha... ha...! Tadi engkau mau meringkusku hidup atau mati, sekarang engkau malah berniat membuatku seperti seekor kunyuk gila. Yang mana satu yang ingin kau lakukan...?" ucap pendekar Hina Kelana mencemooh.

Diejek sedemikian rupa agaknya gadis berambut ikal mayang ini menjadi semakin kesal hatinya. Lalu tanpa menjawab pertanyaan si pemuda, gadis itu pun segera meniup Seruling Saktinya.

"Tiitttt! Tut... tut.., tuliiiit! Tut... tut.., tulit, kepentut... pentut...!"

"Kunyuk gembel! Menari-narilah engkau seperti orang gila...!" bentaknya, sambil meneruskan tiupannya.

Anehnya suara bentakan yang begitu keras itu, seolah mengandung magis. Pendekar Hina Kelana nampak tergetar beberapa saat lamanya, kemudian bagai orang yang sedang tertidur, kesadarannya pun hilang. Kini refleklah yang berbicara. Akhirnya dia pun menari-nari mengikuti irama seruling. Makin lama suara seruling yang terdengar semakin keras tak menentu, seiring dengan suara yang tidak menentu itu, maka gerakan-gerakan tubuh Buang Sengketa semakin kacau tiada berketentuan. Sambil terus meniup-niup serulingnya, gadis itu nampak tertawa-tawa penuh suka cita. Kasihan sekali keadaan pendekar kita ini, peluh sudah membasahi tubuhnya, satu saat kaki kirinya tersandung batu, sehingga hampir saja membuat tubuhnya terpelanting jatuh. Pada saat itulah, bagai orang yang tersentak dari tidurnya. Pendekar Hina Kelana kembali kepada kesadarannya. Lalu teringatlah dia betapa gadis itu telah mempermainkan dirinya. Tak ayal dia kerahkan seperempat tenaganya, kemudian tanpa disangka-sangka, tubuhnya mencelat ke atas sambil mengeluarkan jeritan tinggi melengking.

"Heiiigggkkh...!"

Tak ayal, tubuh si gadis tersurut tiga langkah ke belakang. Dadanya terasa bergetar dan sangat sesak luar biasa. Sementara telinganya menjadi sakit sekali. Gadis ini menjadi pucat parasnya, dia nampak menjadi jerih. Pendekar Hina Kelana kini bergantian memandang pada gadis itu dengan sesungging senyum rawan. Sesungguhnya, kalau dia berniat mencelakai gadis yang berada di depannya itu, sudah pasti saat ini gadis bengal itu sudah terkapar dengan nyawa melayang. Sebab, tadi dia sudah mengerahkan ilmu Lengkingan Pemenggal Roh yang terkenal sangat dahsyat. Sungguhpun tadi dia hanya mengerahkan seperempat tenaganya. Tak urung tanah tempat mereka berpijak terasa bergetar hebat, daundaun yang hijau pun berguguran. Hal, ini saja merupakan satu bukti bagi si gadis bahwa pemuda yang dihadapinya bukanlah lawan tandingannya. Lalu tanpa berfikir panjang, di luar dugaan si pemuda. Gadis itu melesat pergi. Walaupun pendekar Hina Kelana tidak mempunyai persoalan apa pun dengan si gadis, tetapi karena gadis itu sudah terlanjut mempermalukannya. Maka dia pun tidak membiarkan bocah bengal itu lari begitu saja

"Eiit... enak saja! Engkau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu…!"

Usai berkata begitu, pendekar ini pun mengejar gadis itu. Maka kejar-kejaran pun terjadilah.

Tetapi begitu sampai di kerimbunan pohon, gadis itu pun lenyap dari pandangan matanya. Pemuda ini hentikan langkah, matanya celingak-celinguk memperhatikan daerah di sekitarnya.

"Sialan bocah ireng itu lenyap begitu rupa! Jangan-jangan dia anaknya setan." Gerutu pendekar Hina Kelana.

"Hak.,. hak... hak...! Baiknya kurobohkan semua pohon-pohon di sekitar sini. Kalau sudah roboh, jangankan anak setan. Bapak moyangnya iblis sekalipun tak mungkin lolos dari penglihatanku...!" Bersamaan dengan ucapannya, pendekar ini sudah bersiap-siap dengan pukulannya, Si Hina Kelana Merana. Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara teguran serak namun berwibawa.

"Hanya orang tolol saja yang mau melakukan pekerjaan sia-sia...!" kata suara itu penuh teguran. Buang Sengketa urungkan niatnya. Lalu pemuda itu membentak marah:

"Monyet tua di atas pohon... turunlah...!"

Orang yang duduk di atas pohon itu keluarkan suara bergelak.

"Pemuda gembel! Sungguh engkau tak tahu adat, terhadap orang setua aku ini engkau masih memperlakukan aku seperti bocah bengal itu...?"

Pendekar Hina Kelana demi menyadari kekeliruannya, nampak segera berobah sikap lalu cepat-cepat dia menjura hormat.

"Ah! Orang tua, siapa pun adanya engkau ini, aku yang tolol mohon maaf! Kelakuan bocah itu benar-benar telah membuatku jadi sinting sebentar...!" Tanpa komentar laki-laki berpakai serba putih yang tadinya duduk ongkang-ongkang di atas pohon. Kini nampak melesat turun. Dari gerakannya yang begitu ringan, sadarlah pendekar ini bahwa sesungguhnya orang tua itu memiliki kepandaian tinggi.

Begitu berada di hadapan pendekar Hina Kelana. Laki-laki tua berambut putih dan berjanggut putih pula, tampak meneliti si pemuda.

Priuk besar itu, rambutnya yang dikuncir, serta pakaiannya yang lusuh bagai sepuluh tahun tak pernah dicuci. Telah mengingatkannya pada seorang tokoh sakti yang pernah dia dengar dari bagian Barat. Lalu alisnya yang juga sudah memutih itu pun mengkerut. Lakilaki tua itu nampak terdiam untuk beberapa saat lamanya. Setelah itu dia tergelak-gelak.

Pendekar Hina Kelana jadi salah tingkah!

"Orang tua... tawamu sedemikian rupa! Apakah engkau sudah gila...!" sentak pendekar ini, memperhatikan rasa ketidak senangannya.

"Weh... weh...! Tak dinyana, hari ini aku bisa bertemu dengan pendekar muda yang tersohor itu. Sungguh merupakan satu keberuntungan...!" kata laki-laki tua itu sambil anggukanggukkan kepalanya. Pendekar Hina Kelana tersentak kaget begitu mendengar  ucapan laki-laki ini. Dia merasa heran, bagaimana mungkin orang yang tengah berdiri di hadapannya itu bisa mengenali dirinya. Sedangkan bertemu pun rasanya baru kali ini. Diam-diam dia menjadi segan sendiri!

"Orang tua! Siapakah engkau ini...." tanya Buang Sengketa makfum.

"Bukankah engkau pendekar Hina Kelana...?" ujar laki-laki itu tanpa memperdulikan pertanyaan si pemuda.

"Engkau keliru orang tua. Dan agaknya engkau salah alamat...!" jawab pendekar ini mencoba berkelit.

"He... he... he...! Engkau mau menutup-nutupi kesohoran namamu...?"

Buang Sengketa terdiam sesaat lamanya.

"Jangan mungkir, orang muda! Engkaulah ksatria dari bagian Barat yang menggemparkan itu...!" kata lakilaki tua itu setengah menuduh.

Kedua orang ini kemudian saling pandang, lalu pendekar Hina Kelana tersenyum ramah. Selanjutnya dia berkata:

"Tidak keliru... tidak keliru orang tua! Hina Kelana memang aku orangnya. Tetapi gelar pendekar itu bukan milikku! Aku hanya seorang pengembara...!"

"He... he... he... kiranya selain memiliki kesaktian yang tiada tanding, kiranya engkau seorang manusia yang rendah hati."

"Lagi-lagi engkau terlalu berlebihan orang tua!" sela Buang Sengketa dengan wajah bersemu merah. Kemudian lanjutnya "Engkau ini siapakah, orang tua...?"

"Tunggu dulu!" Laki-laki berpakaian serba putih itu menoleh pada salah satu pohon berdaun lebat, lalu dia berseru:

"Luluh, engkau turunlah...?" perintah laki-laki itu. Tak lama setelah ucapannya maka dari atas sebatang pohon melesat sosok tubuh wanita yang sudah dikenal oleh pendekar ini. Gadis itu kemudian menjajakkan kakinya di samping laki-laki itu.

"Luluh! Sikapmu yang kurang baik membuat aku kehilangan muka di depan pendekar ini. Untuk itu engkau harus minta maaf padanya...!" perintah lakilaki berambut putih ini.

Gadis itu nampak tersipu malu, begitu mendengar perintah gurunya, tetapi sebagai seorang murid yang berbakti dan penurut, akhirnya dia mematuhi apa yang diperintahkan gurunya.

"Baik guru!" ucapnya sungkan. Selanjutnya dia menoleh pada si pemuda, lalu dia menjura hormat sambil berkata: "Pendekar! Maafkan segala ketololanku...!" katanya sambil menunduk malu. Buang Sengketa nampak menganggukkan kepala. Dalam hati dia tertawa  mencemooh! Dasar konyol.

"Orang tua, sesungguhnya aku paling tak suka dengan segala peradaban! Kalau anda tetap tidak mau menjawab pertanyaanku tadi. Baiknya aku segera berlalu dari hadapanmu...!" tukas pendekar itu secara tiba-tiba.

"Sabar, orang muda! Sebagai orang yang mengetahui tata krama dan peradatan. Ada baiknya kalau engkau singgah dulu ke gubugku...!"

"Aku tak punya banyak waktu, orang tua?"

"Jangan begitu. Kami merasa mendapat kehormatan bila engkau sudi memberikan pertolongan pada kami...!" ujar laki-laki itu setengah memohon.

4

Sesaat lamanya pendekar Hina Kelana nampak terdiam, pandangan matanya tertuju pada guru dan murid yang berdiri tak begitu jauh di depannya. Tetapi kemudian dia memutuskan!

"Agaknya untuk saat ini, aku tak bisa memenuhi keinginanmu! Tetapi bila engkau memerlukan tenagaku. Sudah barang tentu dengan senang hati aku lakukan!"

Nampaknya laki-laki itu agak kecewa dengan keputusan Buang Sengketa. Walaupun begitu, dia tetap berusaha tersenyum.

"Baiklah! Aku tak bisa memaksakan kehendakku. Oh ya, aku yang sudah lapuk ini bernama Mambang Pitutur. Dan Luluh muridku...!" ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu muridnya. Yang ditepuk menjadi merah parasnya.

"Kami berasal dari Pulau Bayangan nun jauh di tengah laut sana. Sedangkan daerah ini masih merupakan tanah milik leluhurku..."

"Pulau Bayangan...!" Pemuda ini menyela. Seingatnya pulau yang muncul ke permukaan laut sekali dalam empat tahun itu kini telah lenyap begitu saja. Tetapi kini dia mendengar Mambang Pitutur malah berasal dari pulau musiman itu. Sudah barang tentu, pengakuan ini membuat hati si pemuda menjadi penasaran.

"Apakah yang anda maksudkan, Pulau Bayangan yang timbul ke permukaan laut sekali dalam empat tahun itu, orang tua...?"

"Tidak salah...!" jawab Mambang Pitutur sambil menganggukkan kepala.

Hina Kelana terkejut bukan alang kepalang!

"Orang tua! Bukankah menurut kabarnya, Pulau Bayangan telah lama lenyap. Dalam arti tidak pernah muncul ke permukaan kembali...?" tanya pemuda penasaran dibuatnya. Yang ditanya gelengkan kepala berulang-ulang. "Pulau Bayangan tidak pernah lenyap. Tetapi sejak hampir sepuluh tahun terakhir pulau itu selalu berselimut kabut sepanjang hari, itu memang benar adanya...!" jawab Mambang Pitutur.

Kagum bercampur heran, membuat si pemuda memandang pada laki-laki itu tiada berkesip.

"Hemm... sungguh mataku yang masih sangat hijau ini telah lamur. Betapa aku sedang berhadapan dengan sesepuh pulau yang penuh misteri itu. Terimalah hormatku, orang tua...!" berkata begitu, pendekar Hina Kelana menjura tiga kali.

"Hehehe...! Engkau terlalu berlebihan, pendekar. Manusia koropok macamku ini mana ada apa-apanya bila dibandingkan dengan gurumu, si Bangkotan Koreng Seribu yang kesohor selama ratusan tahun itu...!" sela Mambang Pitutur merendah.

Sebaliknya Buang Sengketa, bagai mendengar petir di siang bolong. Begitu Mambang Pitutur menyebut-nyebut nama gurunya. Di samping terkejut, pendekar ini pun semakin bertambah takjub. Dalam pada itu, tiba-tiba saja gadis yang berada di samping Mambang Pitutur menyela:

"Jadi orang ini muridnya pendekar kesohor yang namanya   melegenda itu guru...!" tanya si gadis, sambil memandangi pendekar Hina Kelana dengan penuh takjub.

Mambang Pitutur anggukkan kepa-

la!

"Itu makanya, engkau jangan jual

lagak dengan kepandaianmu yang hanya setahi kuku itu...!"

Diingatkan begitu rupa, gadis yang bernama Luluh itu menjadi merah parasnya.

Pemuda itu menjadi semakin tak enak hatinya. Dengan terburu-buru dia menyela:

"Ah. Sudahlah, orang tua, semua itu bukan kesalahannya! Dia menyerangku karena pada dasarnya memang belum saling kenal! Tidakkah begitu, nona...?" ujar si pemuda tersenyum ramah. Gadis itu semakin tertunduk malu. "Sekarang katakanlah   apa   yang perlu aku bantu...!" kata si pemuda

tanpa maksud memerintah.

Sesaat lamanya Mambang Pitutur menarik napasnya dalam-dalam. Lalu dengan suara tawar dia menceritakan tentang hilangnya kitab pusaka hasil ciptaannya selama hampir lima belas tahun. Secara singkat dan jelas.

Agaknya pemuda dari negeri Bunian itu merasa tertarik dengan apa yang telah terjadi di Pulau Bayangan.

"Orang tua! Tak dinyana ada seorang murid begitu berani menjadi maling kitab pusaka milik perguruan. " "Tidak setiap orang mempunyai hati yang lurus, orang muda. Mungkin di jaman ini hal itu merupakan hal yang wajar. Siapa tahu di jaman yang akan datang malah banyak murid yang kencing di atas kepala gurunya...!" seru Mambang Pitutur.

Buang Sengketa meskipun hatinya geli bukan main. Tetapi akhirnya dia berucap

"Siapa pun adanya Purwaningsih, aku merasa sangat yakin! Pasti ada sesuatu di balik kejadian ini. Tapi bagaimana dengan Eka Dawana murid pertamamu itu, orang tua...?"

Yang ditanya lagi-lagi gelengkan kepala

"Sudah satu purnama dia tak kembali. Begitu juga halnya dengan para pendahulunya. Aku menjadi ragu kalaukalau telah terjadi sesuatu dengannya!"

"Tapi bagaimana engkau bisa tahu kalau kitab hasil ciptaanmu itu jatuh ke tangan Purwaningsih, bukankah menurutmu dia merupakan murid yang bisa dipercaya...?" tanya pendekar ini setengah pilon.

Kembali Mambang Pitutur tersenyum rawan.

"Heh! Beberapa murid yang lain sempat melihat bocah itu memasuki ruang rahasia di waktu itu. Hal ini tak pernah dia lakukan sebelumnya. Dan yang paling kutakuti andai kitab itu sampai terjatuh ke tangan golongan sesat. Rimba persilatan bisa dilanda malapetaka besar. Sebab kitab itu sesungguhnya merupakan intisari dari semua jurus milik berbagai golongan yang isinya sudah sangat sempurna." jelas Mambang Pitutur panjang lebar.

Buang Sengketa nampak tertegun, kemudian garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Sejauh ini, bukankah orang belum tahu tentang hilangnya kitab pusaka milikmu itu, orang tua...?" tanya pemuda itu harap-harap cemas. Dalam hati dia berkata, andai lenyapnya kitab itu sudah diketahui oleh banyak orang, sudah barang pasti dia akan berhadapan dengan banyak perintang. Apa pun dasarnya dia berkeinginan mengambil resiko sedikit mungkin.

"Sejauh ini memang belum. Hanya murid-murid perguruan saja yang tahu... tetapi entah kalau esok atau lusa...!" ujar Mambang Pitutur resah.

"Baiklah! Aku berjanji untuk mencari kitab milikmu dan juga mencari tahu tentang murid-muridmu yang belum kembali itu. Tetapi aku tak berani menjanjikan keberhasilannya...!" kata pendekar Hina Kelana menyanggupi.

Mendengar kesanggupan si pemuda, bukan main gembiranya Mambang Pitutur. Cepat-cepat dia berkata: "Keberhasilan itu ada di tangan Sang Hyang Widi. Yang penting kita sudah berusaha dengan segenap kemampuan. Kini legalah hatiku, sebab aku yang sudah lapuk ini tak perlu lagi campur tangan ke dunia ramai. Engkau telah mewakilinya...!" ucapnya dengan wajah berseri-seri.

"Baiklah, orang tua! Kalau begitu aku mohon diri...!" Pendekar Hina Kelana sudah hendak melangkah pergi, ketika Mamba Pitutur memanggilnya.

"Tunggu...!"

Si pemuda balikkan langkah, kemudian bertanya pelan: "Ada apa, orang tua...?"

"Ehh! Bukankah engkau belum tahu jalan menuju ke tempat kediaman Gagak Hitam...?"

Buang Sengketa gelengkan kepala, tapi "Mungkin aku bisa bertanya pada orang-orang yang lewat."

Mambang Pitutur tersenyum maklum dia mengerti kiranya pendekar Hina Kelana belum mengerti kalau daerah yang akan dilaluinya tak pernah ada orang yang melintas di tempat itu.

"Engkau tidak akan pernah bertemu dengan siapa pun di sana, terkecuali murid-murid Gagak Hitam. Sepanjang yang kuketahui belum pernah ada orang luar yang selamat setelah melintasi daerah itu...!"

Si   pemuda   tercenung!   Alis matanya mengkerut.

"Aku percaya padamu sepenuhnya! Kebetulan Luluh muridku ini meskipun belum sempat ke sana, tetapi mengerti arah jalan. Muridku ini boleh menyertaimu, tapi ingat. Jangan sekali-kali berbuat yang tidak-tidak, sebab aku akan mencarimu walaupun sampai ke neraka...!" kata Mambang Pitutur wibawa. Meskipun pemuda ini bisa memak-

lumi apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, sebagai seorang pemuda yang tak pernah mengganggu anak bini orang, sudah barang tentu merasa sangat tersinggung. Tetapi dia berusaha meredam kejengkelannya.

"Kalau engkau tak percaya padaku, untuk apa engkau menyuruh muridmu menemaniku. Tokh aku dapat sampai ke tempat itu seorang diri...!" tukasnya dengan wajah memerah.

Mambang Pitutur tertawa mengekeh, badannya yang kurus itu pun tergoyang-goyang dilanda tawanya sendiri. "Sabar pendekar! Engkau jangan salah sangka, padamu aku tak pernah berperasangka seburuk itu. Percaya-

lah!"

Lalu laki-laki berpakaian serba putih berpaling pada muridnya, selanjutnya berucap:

"Nah muridku, pergilah dengan pendekar ini. Bantulah setiap kesulitan yang terjadi... ingat jangan kau menyusahkan dia...!" pesan Mambang Pitutur.

"Terima kasih guru...!" jawab Luluh sambil menjura tiga kali.

Kemudian tanpa berbasa-basi lagi, kedua orang itu pun segera melangkah pergi

* * *

Murid terkasih Dwi Keadilan nampaknya tiada mengenal putus asa, setelah gagal dalam menghimpun tenaga dalam pertama, kedua dan tiga. Kini

dia mencoba lagi. Disatukannya segenap perhatian, ditariknya nafas dalamdalam! Kedua matanya yang sudah membuka, secara perlahan nampak menutup kembali. Keringat mulai berlelehan ke segenap tubuhnya. Sosok wajah yang cantik itu, sebentar memerah di lain saat nampak memucat.

Sementara itu tiga meter di depan gadis, nampak duduk mengawasi Dwi Keadilan dengan hati diliputi harapharap cemas. Kitab hasil ciptaan Mambang Pitutur yang berhasil dicuri oleh muridnya yang paling sangat dimanjakannya, ternyata mengandung kekuatan yang sangat luar biasa. Selain kitab tersebut merangkum semua intisari permainan silat dari berbagai golongan, siapa pun yang mempelajarinya harus memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna. Sebab andai saja kitab tersebut sampai jatuh ke tangan orang yang belum matang dalam mempergunakan tenaga dalam. Sudah barang tentu berakibat sangat fatal sekali. Dan murid terkasih Dwi Keadilan yang kesempurnaan tenaga dalamnya hanya satu tingkat di bawah gurunya. Sampai saat ini masih merasa sulit untuk mempelajari kitab Jurus Bayangan yang kini telah berada di tangan mereka. Lalu siapakah sebenarnya murid terkasih Dwi Keadilan ini? Dan bagaimanakah caranya hingga kitab itu bisa sampai ke tangan Dwi Keadilan? Singkatnya begini.

Dwi Keadilan, dulunya merupakan saudara seperguruan Mambang Pitutur yang juga sama-sama tinggal di Pulau Bayangan.

Karena Dwi Keadilan mempunyai perangai dan tabiat yang sangat buruk, maka saudara seperguruan yang sudah setahun di tinggal mati oleh gurunya Mambang Pitutur itu sering sekali terlibat pertengkaran. Satu saat, Dwi Keadilan yang sedikit mengalami kelainan jiwa itu ketahuan sedang bermain cinta dengan istri Mambang Pitutur. Dua insan sejenis ini nampak sedang bergumul dengan istri Mambang Pitutur dalam keadaan telanjang bulat. Saat itu Mambang Pitutur yang baru pulang dari perjalanan jauh. Nampak sangat murka sekali, tanpa ampun langsung membunuh istrinya saat itu juga. Sebagai murid tertua dan sekaligus merupakan pengganti gurunya yang tidak mempunyai keturunan. Sudah barang tentu semua ketentuan mutlak berada di tangannya. Pada waktu itu dia menyangka, bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab segalanya kejadian yang sangat memalukan itu. Maka wajar saja kalau dia mengampuni saudara seperguruannya itu. Bebaslah Dwi Keadilan yang mempunyai kelainan birahi berbuat semau-maunya, terhadap murid-murid yang lain. Tentu saja semua itu di luar sepengetahuan Mambang Pitutur.

Dasar nasib lagi apes. Begitu menurut istilah perempuan pemburu kepuasan itu. Lagi-lagi perbuatan buruknya diketahui oleh Mambang Pitutur, sampai sejauh itu dia masih bisa berdalih dengan alasan bahwa dirinya hendak diperkosa oleh murid laki-lakinya. Tetapi   selicin-licinnya   belut, tidak nantinya dia dapat melarikan diri di atas kumpulan debu. Lama kelamaan Mambang Pitutur menjadi curiga. Selidik punya selidik, di dalam kamar Dwi Keadilan, laki-laki ketua perguruan Pulau Bayangan itu mendapati sebuah kitab beraliran sesat yang masih sangat begitu asing bagi laki-laki

ini. 5

Sepenuhnya, laki-laki itu membaca kitab asing yang dimiliki oleh adik seperguruannya itu. Setelah membaca semua isi kitab tersebut, betapa terperanjatnya Mambang Pitutur. Wajahnya merah menahan marah dan malu. Tak dinyana, kiranya adik seperguruannya telah mempelajari kitab yang benar-benar sangat menyesatkan. Dia tak tahu sudah berapa banyak, murid laki-laki perguruan itu yang telah menjadi korban nafsunya hanya demi kesempurnaan ilmu sesat yang dia pelajari. Lebih sekedar itu, terjawablah sudah, mengapa Dwi Keadilan yang sudah berumur hampir setengah abad itu kelihatan masih seperti gadis remaja dan cantik.

Dengan kemarahan yang meluapluap, Mambang Pitutur menjumpai adik seperguruannya. Pertengkaran pun sudah tak dapat dihindari lagi. Sebagai akibatnya, pertarungan sengit pun terjadi. Tetapi walau bagaimana pun hebatnya kepandaian yang dimiliki oleh Dwi Keadilan, tak urung dia harus mengakui kelebihan yang dimiliki oleh Mambang Pitutur, sebagai saudara seperguruan yang paling tua. Dia kalah! Tetapi sebelum perempuan siluman itu merat dari Pulau Bayangan, dia sempat mengancam untuk mengobrak-abrik perguruan Pulau Bayangan, di suatu saat kelak. Sejak saat itu, di sebuah daerah yang banyak dihuni oleh burung Gagak Hitam. Dwi Keadilan mulai membangun sebuah perguruan baru, hampir seluruh muridnya terdiri dari kaum perempuan, semua itu sesuai dengan keinginannya, yaitu membangun kekuatan sebanyakbanyaknya, mengobral nafsu hewani dan juga mengejar kesenangan dunia. Perempuan-perempuan itulah yang setiap saat melayani segala kemauannya secara bergilir bahkan tiada berkesudahan. Walau memang benar, di luar tugas utama, sesungguhnya mereka-mereka ini merupakan murid-murid yang benar-benar terlatih. Lebih dari itu setiap sebulan sekali, murid-murid itu diwajibkan mencari seorang laki-laki di dunia luar. Dengan maksud untuk kesempurnaan ilmunya. Hari berganti minggu, minggu berganti purnama. Selama itu dendam Dwi Keadilan pada Mambang Pitutur tidak pernah sirna. Suatu ketika dia mendengar kabar bahwa sesepuh Pulau Bayangan itu sedang membuat sebuah kitab pusaka Jurus Bayangan yang sudah barang tentu dia akui akan kedahsya-

tannya.

Cukuplah sudah alasan bagi Dewi Keadilan untuk mengutus murid tertuanya, yaitu Ratih Purwaningsih, menyelundup dengan dalih ingin berguru pada Mambang Pitutur. Tepat seperti dugaannya, ketua perguruan Pulau Bayangan yang tidak pernah menaruh sakwasangka buruk pada setiap manusia itu, menerima Purwaningsih sebagai muridnya. Setelah belajar selama kurang dari empat tahun, dan setelah Purwaningsih hapal betul dengan keadaan di pulau tersebut, pada akhirnya penyamaran itu membawa hasil. Kitab ciptaan Mambang Pitutur yang sangat berharga itu jatuh ke tangan Purwaningsih.

Kini kembali pada guru dan murid yang sedang mempelajari isi kitab di sebuah daerah sunyi yang bernama Bukit Gagu.

Daerah ini terletak tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya Dwi Keadilan.

Pada saat itu, sang murid terkasih sudah kelihatan merentangkan kedua tangannya. Sementara Majikan Gagak Hitam, sekali waktu melihat pada buku yang berada di atas pangkuannya, dan di saat yang lain tampak memperhatikan gerakan-gerakan Purwaningsih dalam latihan gerakan-gerakan silat Bayangan. Satu saat Majikan Gagak Hitam menegur muridnya.

"Ah, itu salah...! Yang betul begini...!" ujarnya sambil menggerakkan kedua tangannya ke depan, lalu ke samping kiri, kemudian secara cepat memukul ke bawah. Dengan seksama Purwaningsih memperhatikan gerakangerakan yang dibuat oleh gurunya. Begitu Dwi Keadilan usai memperagakan gerakan tangannya. Purwaningsih menyela:

"Jadi begini, guru...!" Sambil berkata murid terkasih itu langsung melakukan gerakan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh gurunya.

"Ya... ya... itu betul! Terus, terus... ah itu salah...!" kata Dwi Keadilan begitu sabarnya.

"Harusnya begini...!" Bersamaan dengan kata-katanya, Majikan Gagak Hitam itu segera melakukan gerakangerakan sesuai dengan isi kitab. Kemudian dia hentikan gerakan-gerakannya, selanjutnya perintahnya:

"Sekarang ulangi lagi...!" "Baik guru. "

Purwaningsih kembali meniru apa yang telah dilakukan oleh gurunya.

"Ya, bagus... bagus... lagi..; lagi... ah itu, salah. Gerakangerakanmu semakin kacau. Bagaimana bisa begitu...!" menyela perempuan berusia tiga seperempat abad itu namun kelihatan masih seperti gadis belia

"Aku sudah sangat capai sekali, guru. Tulang-tulang serasa mau copot...!" kata si murid mengeluh.

Majikan Gagak Hitam pelototkan matanya. "Bagaimana mungkin. Engkau baru latihan lima jurus. !"

"Tetapi aku merasa habis bertarung seratus jurus, guru. !" Wajah Dwi Keadilan nampak mengkerut, dia berfikir kitab itu baru dapat dikuasai oleh muridnya sekitar lima belas tahun lagi. Kalau dugaannya benar, hal ini benar-benar sangat membosankan sekali. Waktunya akan banyak tersita, kalau sudah begitu, dia tak mungkin memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan hasil buruannya. Beberapa saat kemudian perempuan itu menyela.

"Purwaningsih, apakah engkau masih berkeinginan mempelajari jurusjurus yang ada di dalam kitab itu...?" tanya gurunya setengah enggan.

"Sudah barang tentu guru! Bertahun-tahun aku rela mengikuti perintahmu hanya demi sebuah kitab yang sangat luar biasa ini...!"

Majikan Gagak Hitam anggukanggukkan kepalanya, lalu dia segera berucap:

"Tetapi itu akan memakan waktu yang sangat lama. Bahkan lama sekali...!"

"Aku tak perduli...!" kata Purwaningsih merajuk.

Dwi Keadilan memandang pada murid terkasihnya tanpa berkedip sedikitpun juga.

"Apakah semua ilmu yang telah kuturunkan padamu masih belum juga cukup?" tanyanya.

"Sudah! Tapi aku ingin lebih dari itu. Tapi ini pun kalau guru masih merasa sayang padaku...!" kata Purwaningsih sambil melirik manja. Hanya Dwi Keadilan yang tahu apa makna lirikan itu. Sebuah isyarat dan gejolak selera rendah.

"Aku memang sayang padamu. Dan aku telah berjanji untuk memberimu petunjuk tentang kitab itu. Tapi malam ini kita tidak bisa bersama-sama, kelinci jantan sudah ditangkap dan kesempurnaan ilmuku harus tetap kujaga...!"

"Jadi guru...!" Purwaningsih tak dapat melanjutkan kata-katanya. Parasnya nampak memerah dibakar cemburu.

"Engkau harus ingat muridku. Wajahku masih begini rupa semua ini karena kelinci-kelinci itu...!" kata Dwi Keadilan pelan, tetapi menegur.

"Baiklah guru! Tokh kali ini engkau tak perlu kujaga, lagi pula malam masih lama lagi...!"

"Bagiku itu lebih baik! Tetaplah engkau di sini, karena kali ini kelinci yang tertangkap itu sedang mencaricarimu...!"

Purwaningsih terkejut bukan alang kepalang, dia tahu siapa adanya laki-laki yang menjadi utusan Mambang Pitutur. Tak salah lagi pasti Eka Dawana adanya.

"Apakah orang itu bernama Eka Dawana, guru...!" tanya Purwaningsih diliputi keraguan.

"Benar...!" jawab Majikan Gagak

Hitam

"Engkau harus berhati-hati,

guru, orang itu berilmu tinggi sekali...!"

Tiba-tiba Majikan Gagak Hitam tertawa mengekeh.

"Dengan serbuk pembiusku apa yang dapat dilakukannya...?!" ucapnya mantap. "Sudahlah! Yang terpenting engkaulah yang harus berhati-hati...!" Bersamaan dengan ucapannya, tu-

buh Majikan Gagak Hitam berkelebat lenyap dari pandangan Purwaningsih.

* * *

Sementara itu pada saat yang sama, pendekar Hina Kelana dan Luluh, nampak sedang berlari di antara pohonpohon besar yang terdapat di sekitarnya. Sekali waktu si pemuda menoleh ke belakang. Wajah gadis berkulit hitam manis itu tampak sangat cerah sekali. Secerah matahari jam satu siang bolong.

Satu ketika, gadis bengal yang bernama Luluh itu hentikan langkahnya, lalu dia memanggil si pemuda.

"Kelana...!" serunya manja.

Pendekar dari Negeri Bunian ini sambil menoleh segera memperlambat larinya. "Ada apa...?"

"Apakah engkau tak ada niat untuk istirahat?!"

Si pemuda meskipun hatinya sangat kesal, tak urung dia hentikan langkah. Dia merasa sangat kesal melihat ulah si gadis yang hampir sepanjang perjalanan terus rewel.

"Mengapa harus berhenti! Bukankah menurut katamu perjalanan masih jauh lagi?" sela pemuda itu sambil menghampiri Luluh, yang kini sudah duduk di atas rumput-rumput kering. Pemuda itu kemudian duduk tak jauh dari sisi si gadis.

"Engkau ini galak sekali. Perjalanan masih dua hari lagi, sedang kita sudah menempuh lebih dari tiga hari..."

Tanpa memperdulikan ucapan si gadis, pemuda ini menukas:

"Kalau engkau takut lapar. Mengapa ikut, bukankah lebih enak bersama gurumu?"

Ditegur seperti ini, tiba-tiba gadis bengal itu menjadi marah, lalu berdiri berkacak pinggang.

"Kalau engkau tak mau kuikuti. Aku bisa pergi sendiri, dimarahi terus seperti anak kecil, siapa sudi...?" seru si gadis.

Lalu tanpa banyak cakap lagi, si gadis bermaksud melangkah pergi. Tetapi cepat-cepat pendekar ini menangkap tangannya. Luluh memberontak! "Lepaskan... lepaskan...!" te-

riak gadis itu sambil meronta-ronta. "He... bukankah engkau sudah

berjanji dengan gurumu, untuk tidak rewel di perjalanan?"

"Apa perdulimu...!" bentak Luluh sinis.

"Sial betul aku hari ini! Gadis ini benar-benar membuatku repot. Masih enak lagi andai aku pergi sendirian." maki si pemuda! "Tapi gadis itu walaupun kulitnya hitam manis, tapi cantik, ah, mengapa aku sampai berpikir sejauh itu." batinnya pula.

"Sudahlah... aku mengaku bersalah. Tapi engkau jangan pergi...!" ujar Buang Sengketa mengalah. Si gadis berhenti memberontak, pendekar Hina Kelana melepaskan cekalannya.

"Kalau aku pergi memang mengapa...?"

Pendekar Hina Kelana tertawa mengekeh, begitu mendengar ucapan si gadis yang bernada mencemooh itu. Dan begitu tawanya terhenti dia lantas menyela:

"Kalau engkau pergi, maka aku berniat membatalkan janjiku dengan gurumu...." kata si Hina Kelana berpurapura.

Luluh wajahnya nampak merengut, tetapi pemuda itu tidak menghiraukannya. Dengan enak sekali dia kembali ngedogrok di atas rumput-rumput kering. Setelah itu dia mengambil beberapa potong dendeng lumba-lumba dari dalam periuk yang tak pernah tertinggal ke mana pun dia pergi.

Rupanya semua itu tak terlepas dari perhatian si gadis. Lalu begitu dia melihat Buang mulai mengunyah dendeng ikan itu tiba-tiba dia menyela:

"Itu yang engkau makan itu apa?" tanyanya sembari mendekat.

"Inilah dendeng bajul! Katanya engkau lapar, aku masih punya banyak persediaan"

Dengan malu-malu, Luluh menerima tawaran si pemuda. Setelah itu mulai memakannya sedikit demi sedikit. Sambil menikmati dendeng ikan lumbalumba, sesekali Luluh nampak melirik pada si pemuda. Merasa diperhatikan terus menerus, tiba-tiba pendekar Hina Kelana menyela:

"Bagaimana enak kan...?!" tanyanya sambil membuang pandangan matanya jauh-jauh. Yang ditanya hanya mengganggu saja.

Dalam pada itu, tiba-tiba si pemuda nampak menelengkan kepalanya. Dia merasakan seperti ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka sejak beberapa saat tadi. Diam-diam hatinya panas bukan main. Dia tahu siapa pun adanya orang-orang yang bersembunyi di balik semak-semak itu, yang pasti mempunyai tujuan-tujuan yang tidak baik terhadap mereka.

"Orang-orang itu harus diberi pelajaran yang setimpal!" kata Buang Sengketa tanpa sadar.

"Engkau bilang apa, pendekar...?!" tanya Luluh tak mengerti.

Kemudian tanpa menghiraukan pertanyaan si gadis, sambil berteriak membentak. Pemuda itu pukulkan tangannya mengarah ke empat penjuru mata angin.

6

Beberapa larik sinar melesat dan menderu sedemikian cepatnya mengarah ke empat penjuru mata angin. Hawa panas yang luar biasa itu tanpa ampun menerjang sasarannya.

"Prass! Blarr!"

Terdengar jerit tinggi melengking disertai suara berdebumnya tubuh manusia yang ambruk ke bumi. Buang Sengketa leletkan lidah, kembali ia membentak:

"Kunyuk hutan! Tukang intip keparat... cepat tunjukkan muka kalau kalian masih ingin hidup...!" bentak pendekar Hina Kelana marah.

Tetapi tidak ada reaksi apa pun. "Benar-benar monyet tuli... Ma-

kanlah nih pukulan...!" Bersamaan dengan ucapannya. Pemuda itu menggerakkan tangannya ke atas pohon yang berada di sekelilingnya.

"Werrtt...! Blam,... Blamm...!"

Serangan yang dilepas oleh si pemuda kembali mencapai sasaran. Tetapi bersamaan dengan itu terdengar gelak tawa mengekeh, lalu diiringi dengan berkelebatnya beberapa sosok tubuh yang meloncat turun dari atas pohon itu.

Dalam waktu sekejapan mata mereka ini telah berdiri di hadapan si pemuda dan Luluh. Jumlah mereka sesungguhnya tidak banyak, hanya tinggal enam orang saja. Tampang orang-orang ini galak dan kasar, rambut dibiarkan tergerai sebahu, sementara kumis dan cambang berserabutan ke segala arah.

Di bagian pinggang lima orang di antara mereka tergantung beberapa buah senjata dari berbagai jenis. Sedang salah seorang lainnya, yang mungkin juga merupakan pemimpin dari kawanan orang-orang liar itu nampak menggenggam sebuah lonceng warna kuning keemasan. Secara sepintas penampilan orang ini, sesungguhnya sangat lucu. Bayangkan saja, orang yang menggenggam sebuah lonceng besar itu sesungguhnya bila dibandingkan antara barang bawaannya dengan keadaan badannya yang tinggi kurus seperti cacing, sesungguhnya sangat tidak sesuai sekali. Lonceng tembaga itu tingginya hampir sama dengan tinggi badannya, sedangkan besarnya hampir tiga kali lebih besar tubuhnya sendiri. Tetapi sungguhpun lonceng tembaga itu mempunyai berat hampir satu kuintal, nampaknya lakilaki kurus macam cacing itu begitu mudahnya membawa senjata yang berupa lonceng itu ke mana saja dia suka.

Dalam pada itu, kembrat-kembrat si cacing kurus itu nampak sangat bersuka cita sekali begitu melihat Luluh, gadis dari Pulau Bayangan ini. Bagai orang yang sedang mendapat makanan yang sangat lezat dan sudah siap untuk disantap. Jakun mereka bergerak turun naik.

"Kakang Suro! Lihatlah cah lanang ini membawakan oleh buat kita. Bocah ayu, cantik... gadis ini tentu sangat menyenangkan sekali, kakang...!" ucap salah seorang di antara mereka tiba-tiba.

Yang lainnya menyeringai kegirangan!

Buang Sengketa panas hatinya, tetapi sejauh itu masih berusaha ditahan-tahan.

"Hok... hok... hok...! Sudah lima tahun wilayah kekuasaan kita tidak pernah dijarah oleh gadis itu, aku sendiri sudah lupa betapa hangatnya tidur bersama seorang perempuan! Hok! Kalau sekarang ada seorang pemuda gembel yang dengan sukarela mengantarkan seorang gadis untuk kita, sangat wajar bila kita harus berterima kasih padanya...!" menyela si tinggi kurus, sambil gerakkan loncengnya hingga timbulkan suara berkelenengan memekakkan gendang telinga.

"Kakang, lebih dari itu. Mungkin priuk yang menggelantung di pundak si gembel itu di dalamnya terdapat barang-barang berharga, kakang!" kata si gemuk rambut riap-riapan.

Sampai di situ, pendekar Hina Kelana sudah sangat panas hatinya, dan tahulah dia bahwa sesungguhnya orangorang itu hanyalah merupakan perampok hutan. Tak ada sangkut pautnya dengan Majikan Gagak Hitam. Seketika itu juga dia langsung membentak:

"Kunyuk kurus, setan ireng! Tak dinyana kiranya kalian hanyalah perampok murahan. Alangkah celakanya nasib kalian hari ini, sebab aku tak akan pernah mengampuni kunyuk-kunyuk seperti kalian...!"

"Sialan, gembel ini malah menggertak kita, kakang...?" Menggerutu si rambut riap-riapan.

Cacing kurus kertakkan rahang, dia sangat marah sekali. Sementara Luluh yang sedari tadi hanya diam saja, kini mulai menyela:

"Kelana! Mengapa harus berbantahan dengan orang-orang gila penunggu hutan. Lebih baik kita kepruk saja...!"

"Nona galak! Di tempat tidur engkau pasti sangat menyenangkan sekali...!" tukas si gemuk riap-riapan dengan maksud kurang ajar.

Pendekar Hina Kelana bukan main geram, tanpa komentar lagi, dengan diawali satu jeritan tinggi melengking. Dia langsung kibaskan tangan kanannya pada si gemuk riap-riapan.

Selarik gelombang Ultra Violet yang hampir-hampir tak terlihat kasat mata menderu hebat. Dan langsung meluruk ke arah si gemuk, bagaikan lintasan kilat gelombang berhawa panas luar biasa itu menerjang si gemuk riapriapan.

Serangan cepat yang tiada disangka-sangka itu membuat si gemuk jadi gelagapan secepatnya dia berusaha berkelit dan menghindar, tetapi nampaknya segalanya sudah sangat terlambat.

"Blaar!"

Tubuh si gemuk terpelanting roboh, dilanda gelombang pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilepas oleh pendekar Hina Kelana. Tubuh si setan alas nampak berkelojotan untuk beberapa saat lamanya. Darah mengalir dari celah hidung dan kuping. Sementara dari mulutnya menggelogok darah kental kehitam-hitaman. Seketika itu juga si gemuk meregang ajal untuk kemudian tiada bergeming untuk selama-lamanya.

Mendapat kenyataan seperti itu bukan main marahnya si cacing kurus, begitu juga dengan empat orang lainnya. Setindak dua tindak si cacing kurus melangkah, sorot matanya memerah saga dan memandang tiada berkedip pada si pemuda yang nampak tenang-tenang saja. Lalu dia pun menghardik.

"Gembel keparat! Engkau harus membayar mahal atas kematian kawan kami!"

Yang dibentak malah tersenyum mencibir!

Si cacing kurus kemudian berpaling pada kawan-kawannya. Lalu dengan teriakan tinggi melengking dia memerintah.

"Anak-anak, kalian urus gadis itu! Aku akan menggebuk budak gembel ini...!"

Usai dengan ucapannya, si tinggi kurus kumis ikan lele. Segera gerakkan senjatanya yang berupa lonceng tembaga. Sementara itu kawan-kawan yang lain sudah mulai mengeroyok Luluh.

Buang Sengketa nampak berkelit ketika lonceng berukuran besar itu hampir menerpa bagian kepalanya. Otomatis serangan lawan membentur ke tempat yang kosong. Tetapi begitu serangan pertama yang dilancarkannya luput, dia kembali lancarkan serangan berikutnya, bertubi-tubi bahkan tiada berkeputusan. Si pemuda melompat-lompat bagai seekor monyet mabuk terasi. Lonceng di tangan si cacing kurus kembali menderu dan timbulkan suara bercuitan. "Ngung...! Klonteng...! Klon-

teng...!"

Lonceng itu nyaris melabrak bagian bahu si pemuda, dia kembali berkelit sambil lontarkan caci maki.

Tanpa menghiraukan sumpah serapah, si tinggi kurus nampak semakin bertambah beringas dan gesit. Kembali dia ayunkan loncengnya. Dan agaknya Buang Sengketa yang sudah dilanda dongkol ini sudah hilang kesabarannya. Tak ayal lagi, pemuda itu langsung memapaki datangnya serangan.

"Klonteng!" "Breng!"

Bertemunya tenaga dalam yang dikerahkan oleh si pemuda dalam menyambut datangnya lonceng maut. Membuat tubuh pemuda itu terhuyung beberapa tindak, sedangkan tangannya yang dipergunakan untuk memapaki datangnya senjata tersebut, terasa nyeri dan sakit. Sementara tubuh si cacing kurus. Nampak terjengkang dua tombak. Bahkan nyaris senjata itu menimpa dirinya sendiri. Cacing kurus secepatnya sudah bangkit kembali, kelihatannya dia masih sangat tegar, walau harus dia akui bahwa senjatanya mendapat penyok di beberapa bagian. Sadarlah pendekar ini bahwa dalam adu tenaga dalam tadi, ternyata tenaga dalam lawannya hanya berselisih beberapa tingkat saja di bawahnya. Tadinya dia hanya beranggapan bahwa, laki-laki berbadan kurus luar biasa itu hanyalah sebangsa perampok yang bernyali tinggi tetapi memiliki kepandaian rendah. Tak dinyana si Cacing kurus ini termasuk bangsanya perampok hutan dalam kelompok datuk persilatan. Tanpa sadar akhirnya dia berseru memuji:

"Kiranya engkau memiliki kepandaian yang lumayan, cacing kurus...?"

Dipuji sedemikian rupa, rupanya laki-laki kurus itu salah terima. Kemudian dengan sangat marah dia membentak:

"Jangan sombong dulu, bocah gembel! Aku belum kalah.... Lonceng Neraka tak akan menyerah walau sampai mati...!"

Mendengar gelar si cacing kurus meledaklah tawa si Hina Kelana, kemudian begitu tawanya mereda, dia berkata mencemooh.

"Bagus! Kiranya engkau memang pantas menjadi penjaga lonceng di neraka sana. Dan aku akan mengirimmu secepatnya...!"

"Sial betul engkau ini! Seharusnya engkaulah yang akan berangkat lebih cepat lagi...!" geram si cacing kurus, lalu mengayunkan Lonceng mautnya ke segala penjuru.

Sembari mengelak pendekar itu tertawa mengekeh.

"Kalau memang betul ucapanmu cepatlah buktikan...!" berkata begitu pendekar Hina Kelana segera bertindak lebih cepat. Tubuhnya berkelebat lenyap, sehingga kini tinggal merupakan bayang-bayang saja. Tak ayal dia langsung pergunakan jurus si Jadah Terbuang, yang sangat terkenal akan kecepatannya. Dalam waktu sekejap, pertarungan seru pun terjadi. Masing-masing pihak sama-sama punya ambisi untuk merobohkan lawan dalam waktu secepatcepatnya.

Di lain pihak, pertarungan antara Luluh melawan kembrat-kembratnya si cacing kurus berlangsung sangat seru dan lucu. Gadis ugal-ugalan ini sambil memainkan jurus-jurus silatnya, tak ayal di lain kesempatan meniup-niup Seruling Saktinya. Sungguh hebat pengaruh suling yang mengandung hawa sakti yang bernama Penggetar Roh itu. Sebab dengan tiupan seruling itu, lawanlawannya selalu kehilangan akal untuk menguasai pertarungan. Bagaimana tidak, suara seruling yang terkadang mendayu-dayu, namun di lain saat memekakkan gendang telinga dan membuat lawan menari-nari mengikuti irama seruling. Hal ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menghancurkan kekuatan lawan-lawannya.

Satu demi satu, lawannya yang sedang menari-nari bagai setan gila itu berhasil dia kepruk hingga berkelojotan dengan kepala remuk.

Semua itu tak lepas dari perhatian cacing kurus Lonceng Neraka. Dan bukan main murkanya orang ini demi melihat anak buahnya terbantai habis dengan cara yang amat mudah dan licik menurut penilaiannya. Akan tetapi sejauh itu dia tak dapat berbuat banyak karena kini dia sedang mendapat gempuran dahsyat dari seorang lawan yang cukup tangguh. Apa yang dapat diperbuatnya, terkecuali mencaci maki sebagai pelampiasannya pada si gadis.

Sambil memapaki seranganserangan gencar yang dilakukan oleh pendekar Hina Kelana dia berteriak nyaring.

"Bangsat setan betina. Pertarungan dengan orang-orangku tidak adil dan curang! Dewata pasti mengutukmu...!"

"Hi... hi... hi...! Kaulah yang terkutuk dan segera mampus...!" ejek Luluh sambil tertawa lebar.

"Kura...!"

Belum lagi sempat si cacing kurus mengucapkan sesuatu, mendadak tinju kanan si pemuda sudah mendarat di mulutnya. Tanpa sempat mengelak! "Prok! Proll!"

Bibir si cacing kurus pecah dilanda kepalan tangan si pemuda. Darah muncrat dari bibir yang pecah. Sementara delapan butir giginya berantakan, bahkan sampai ada yang tertelan!

"Pruuhh!"

Si cacing kurus meludah, beberapa buah giginya yang tanggal itu ikut berhamburan ke luar. Semakin bertambah gusarlah si Lonceng Neraka ini. Pendekar Hina Kelana malah tertawa mengejek.

7

"Cacing kurus! Biarkan saja persoalan mereka, engkau malah serakah. Akibatnya, dengan sangat terpaksa aku menggusur gigimu." tukas si pemuda masih dengan tawa mengekeh.

"Bangsat! Engkau tak perlu hidup lebih lama lagi...!" maki si tinggi kurus menjadi semakin beringas.

"Bagus! Buktikanlah...!" Pada saat berikutnya, si Lonceng Neraka kembali mengayunkan Lonceng mautnya. Bersamaan dengan itu, pendekar Hina Kelana yang sudah berkelebat lebih dulu lalu dengan diawali dengan satu jeritan menggelegar, tiba-tiba tubuhnya lenyap ditelan bayang-bayang sendiri.

Kemudian tanpa dapat dihindari lagi, tangan pendekar Hina Kelana bergerak cepat memapaki Lonceng Maut yang menderu ke arahnya.

"Cras! Breeng!"

Lonceng Maut di tangan si tinggi kurus hancur berantakan menjadi kepingan-kepingan kecil. Tubuh laki-laki itu terjengkang lima tombak. Sementara itu tubuh pendekar Hina Kelana nampak tergetar hebat. Dadanya terasa sesak luar biasa, lalu cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya. Tak lama kemudian parasnya yang pucat pasi itu kembali berubah kemerah-merahan kembali.

Pada saat itu si cacing kurus sudah bangkit kembali, tanpa senjata, dengan tubuh gemetaran. Lebih dari itu, nampaknya si cacing kurus sangat terperanjat sekali begitu melihat di tangan si pemuda kini telah tergenggam sebuah golok buntung yang memancarkan cahaya kemerah-merahan menyilaukan mata. Tetapi yang lebih mengejutkannya lagi adalah karena di samping sinar merah menyala, laki-laki kurus itu merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi dingin luar biasa.

Di lain pihak, pendekar Hina Kelana yang kini nampak tengah berdiri mematung, tampak memandang sinis pada lawannya, sementara dari celah-celah kedua bibirnya keluar bunyi mendesis bagai Ular Piton yang sedang marah. Kemudian pemuda itu menggeram bagai harimau terluka. Selanjutnya dengan disertai jeritan tinggi melengking, tubuh si pemuda sudah berkelebat kembali. Bahkan begitu cepatnya, sehingga si tinggi kurus yang masih dalam keadaan terperanjat sudah tak mampu mengelak atau berkelit. Tak ampun!

"Cras! Cras!"

Pusaka yang sangat menggemparkan itu tanpa mengalami banyak hambatan langsung menebas leher lawannya. Darah memancar dari bagian perut dan leher yang hampir terputus. Tubuh si tinggi kurus hampir setengah tertekuk, nampak limbung kemudian ambruk ke bumi dengan nyawa melayang.

Pendekar Hina Kelana nampak menarik nafas pendek. Kemudian ketika ia berpaling, dilihatnya Luluh sudah berada di sampingnya, dengan pandangan mata penuh kagum.

"Engkau benar-benar hebat, Kelana...!" pujinya tanpa sadar.

"Simpanlah pujianmu itu untuk menghadapi Majikan Gagak Hitam...!" katanya sambil melangkah

* * *

Ketika Eka Dawana terjaga dari tidurnya di pagi itu, dia mendapati ruangan yang mirip sebuah kerangkeng itu masih terkunci rapat. Sementara badannya terasa sangat letih luar biasa, tulang-tulang bagai terlepas dari persediannya. Ngilu bagai tercabikcabik. Laki-laki murid tertua dari Pulau Bayangan itu kemudian mengerjapngerjapkan matanya.

Tetapi betapa terkejutnya Eka Dawani begitu menyadari tubuhnya tak terbungkus selembar kain penutup pun. Lalu teringatlah dia akan kedatangan seorang perempuan yang sangat cantik jelita. Dewi Keadilan! Perempuan itulah yang tadi malam hadir di alam sadar dan tiada, seingatnya tubuhnya yang dalam keadaan tertotok itu nampak terdiam tiada daya begitu wanita itu meminumkan sesuatu yang akhirnya membuat kepalanya menjadi berkunangkunang, darah mendidih seperti ada sesuatu yang terus menggelitik dan menggetarkan seluruh pembuluh darahnya. Dalam keremangan malam, dia masih dapat mengingat walau secara samar. Bagaimana perempuan iblis itu berdiri di hadapannya, telanjang begitu saja tanpa selembar benang pun. Kemudian perempuan itu menghampirinya, mengelus wajahnya dan seterusnya bagai di ambang sadar dan tiada. Kejadian itu bagai sebuah mimpi, begitu cepat. Bahkan kini dia hampir lupa dengan tugas utamanya, mendapatkan kitab itu, jurusjurus Bayangan hasil ciptaan gurunya. Mambang Pitutur! Mengapa nama itu kini mulai terasa begitu asing dalam pendengarannya. Asing bahkan tanpa disadari oleh laki-laki itu, kini dia mulai menaruh rasa benci. Bahkan benci sekali! Kini yang ada dalam ingatannya adalah Majikan Gagak Hitam yang cantik, para muridnya yang setiap waktu minta dilayani. Hanya itu.

Eka Dawana menjadi lupa segala, sejak perempuan sesat itu memberinya ramuan bubuk Panglin Asal, dua malam yang lalu.

Dalam hatinya hanya tinggal bayangan yang samar, antara Mambang Pitutur dan Dwi Keadilan. Bahkan akibat pengaruh bubuk yang memabukkan itu, fikirannya telah lebih cenderung pada Majikan Dwi Keadilan.

Begitu tragis nasib yang dialami oleh Eka Dawana, bahkan kini dia sudah hampir tak ingat lagi siapa sesungguhnya dirinya. Satu jam kemudian, setelah mengenakan pakaiannya kembali. Eka Dawana segera melangkahkan kakinya menghampiri jeruji pintu kerangkeng yang terbuat dari batang kayu liar.

Di luar sana matahari bersinar cerah, seperti hari kemarin. Deretan kerangkeng yang memanjang di tengahtengah tebing yang curam itu sudah nampak terbuka. Lebih dari tiga puluh orang laki-laki tua sudah nampak berjemur di bawah sengatan sang surya. Sama seperti yang lainnya, laki-laki itu nampak saling berpandangan sesamanya. Tatapan mata mereka hampa, seolah telah kehilangan gairah hidup. Meskipun ingatannya sudah mulai kacau karena telah meminum ramuan yang diberi oleh Dwi Keadilan, tetapi setidaktidaknya dia masih bertanya-tanya dalam hati. Mengapa orang-orang renta itu dipenjarakan oleh Majikan Gagak Hitam di tempat seperti itu. Eka Dawana sesungguhnya tidak tahu bahwa sesungguhnya laki-laki renta itu masih berumur sekitar tiga puluh atau empat puluh tahun. Mereka-mereka ini sesungguhnya merupakan korban dari ilmu sesat yang dimiliki oleh Dwi Keadilan. Sifat ilmu sesat yang dimiliki oleh Majikan Gagak Hitam adalah menyedot sari umur lawan jenisnya lewat persetubuhan. Bahkan laki-laki murid Pulau Bayangan itu juga tidak menyadari perobahan yang kini mulai terjadi pada dirinya. Wajahnya yang tampan, dadanya yang bidang dan berbulu lebat kini sudah mulai kelihatan layu. Dwi Keadilan telah mendapatkan sari umur mereka, demi kecantikan dan ilmu sesat yang dia yakini.

Tatkala hari mulai menjelang siang seperti biasanya, murid-murid Majikan Gagak Hitam mulai berdatangan untuk membagikan jatah makanan dan sudah barang tentu di dalam makanan itu tetap diberi bubuk Pangling Asal, yang membuat seseorang lupa pada asal usulnya. Pada saat seperti biasa, Majikan Gagak Hitam sedang berada di Bukit Gagu, sebuah tempat tinggal yang sekaligus merupakan tempat latihan murid terkasihnya Purwaningsih.

Kesempatan seperti itulah yang sering dipergunakan oleh para murid wanita Majikan Gagak Hitam yang sama bejatnya untuk bercumbu rayu dengan Eka Dawana. Secara bergilir, silih berganti. Bahkan kadang tak segansegan mereka ini secara beramai-ramai minta dilayani oleh Eka Dewana. Dasar perkumpulan orang-orang sesat.

Sementara itu di Bukit Gagu, Dwi Keadilan nampak sedang melatih Purwaningsih dengan mempergunakan   Jurus Bayangan yang ada dalam kitab hasil ciptaan Mambang Pitutur yang berhasil mereka curi.

Memang kemajuan pesat pada akhirnya dapat dicapai oleh Purwaningsih. Walau memang pada permulaannya banyak kesulitan-kesulitan yang dialami. Tetapi dengan banyak belajar dan tanpa kenal putus asa, kini Purwaningsih murid terkasih dari Majikan Gagak Hitam itu sudah mencapai tingkat kelima belas.

Saat itu Purwaningsih sedang memperagakan jurus keenam belas dari kitab Jurus Bayangan. Sebagaimana yang tertulis di dalam kitab itu, Purwaningsih nampak sedang berlatih tanding dengan Dwi Keadilan. Meskipun dalam keadaan latihan dua orang guru dan murid itu kelihatannya sangat bersungguh-sungguh. Saling serang sesamanya, di lain kesempatan mereka nampak melancarkan pukulanpukulan gencar. Satu saat Dwi Keadilan melompat beberapa tombak ke belakang, kemudian dia berseru:

"Muridku! Coba engkau pergunakan jurus-jurus Bayangan untuk melawan jurus-urus Gagak Hitam hasil ciptaanku...!" perintahnya sambil bersiapsiap dengan serangan baru.

"Tetapi guru... jurus silat Bayangan belum kukuasai seluruhnya. Bagaimana mungkin aku bisa mengimbangi jurus-jurus Gagak Hitam yang sudah sangat sempurna itu...?" menyela muridnya dengan hati diliputi kebimbangan.

"Hi... hi...hi...! Jangan bodoh. Tidakkah engkau lihat pada tingkat kesepuluh saja, Jurus hasil ciptaan Mambang Pitutur itu sudah dapat disejajarkan dengan jurus keempat puluh hasil ciptaanku...!" bentak Dwi Keadilan nampak mulai marah. Tetapi agaknya Purwaningsih murid terkasih itu tidak perduli dengan amarah gurunya. Dia masih tetap membantah.

"Tidak guru! Aku tidak berani, jurus bayangan belum dapat kukuasai betul. Apakah guru tak tahu hal itu...?!" protesnya. "Hi... hi... hi...! Jangan engkau salahkan aku andai aku sampai kesalahan tangan memukulmu...!" bentak Majikan Gagak Hitam tanpa maksud mengancam.

"Guru... aku tak berani melakukannya...!" tukas si murid dengan wajah pucat.

"Tolol sekali engkau ini. Kalau selamanya engkau tiada punya keberanian, sampai kapan engkau dapat mengetahui kemajuan jurus Bayangan yang engkau pelajari...?" ujarnya sangat kesal sekali.

"Ta... tapi engkau kan tidak bersungguh-sungguh, guru...?!"

"Puih! Walaupun engkau muridku yang paling kusayang... tetapi jika nyalimu masih sepengecut itu. Maka andai pun engkau mati sekalipun di tanganku, aku tak akan pernah menyesal...!"

"Baiklah guru! Kalau hal itu memang sudah menjadi keputusanmu, murid rela berkorban...!" ujar Purwaningsih sambil bersiap-siap menyambut serangan gurunya.

Tetapi Dwi Keadilan masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dipandanginya murid yang satu ini dengan mata melotot.

"Murid gooblok! Aku tak menghendakimu pasrah begitu, tetapi yang aku mau agar kau melakukan perlawanan, ngerti...!"

"Mengerti guru, tetapi ngeri membayangkan akibatnya...!" jawab Purwaningsih polos.

"Sialan betul. Tolol sekali engkau ini... orang tolol harusnya memang cepat-cepat mampus...!"

Bersamaan dengan ucapan itu, Dwi Keadilan langsung kirimkan satu serangan dahsyat. Mau tak mau Purwaningsih harus mengikuti apa yang diinginkan oleh gurunya. Tiba-tiba murid terkasih Dwi Keadilan itu berteriak lantang, sambil berkelebat dia lancarkan sebuah jurus ketiga dari jurus ciptaan Mambang Pitutur. Sementara itu tangan Dwi Keadilan yang terpentang bagai cakar burung Garuda, nampak meluncur deras mengarah pada bagian dada dan perut Purwaningsih. Karena sesungguhnya dia sendiri sudah hapal benar dengan jurus-jurus yang dipergunakan oleh Majikan Gagak Hitam ini, maka untuk mengetahui kehebatan jurus yang baru saja dipelajarinya. Dengan nekad dia memapaki serangan yang dilancarkan oleh gurunya.

"Plak! Dess!" "Uh...!"

Majikan Gagak Hitam berseru tertahan, tubuhnya nampak tergetar untuk sesaat lamanya. Dia menyadari sesungguhnya jurus Bayangan hasil ciptaan Mambang Pitutur, yang menjadi sumber kekuatannya terletak pada penggunaan tenaga dalamnya. Hal inilah yang sangat penting. Tetapi meskipun Purwaningsih belum secara sepenuhnya dapat menguasai jurus-jurus yang dahsyat itu, namun akibatnya dia sudah dapat merasakan sendiri. Tadi dalam menyerang dia sudah mempergunakan jurus keenam, sedangkan muridnya baru mempergunakan jurus ketiga, satu kelipatan yang sangat menyolok. Diam-diam dia memuji bagaimana hebatnya Mambang Pitutur dalam menciptakan jurus-jurus andalan itu.

Kemudian tanpa sadar, dia pun berseru memuji:

"Bagus...! Cuma gerakan tubuhmu harus lebih cepat lagi...!"

"Haiiit...! Ciaaat...!"

Lagi-lagi Majikan Gagak Hitam itu kirimkan satu pukulan ganas pada muridnya.

8

Kembali Purwaningsih putar tubuhnya setengah lingkaran. Tangan kiri terentang ke atas, sedangkan tangan kanan dia kiblatkan ke depan.

"Wuk!"

"Wess!"

Akibat benturan dua tenaga dalam yang kuat dari dua aliran yang berbeda. Dua orang guru dan murid ini nampak terhuyung-huyung. Tubuh mereka nampak gemetaran tetapi sekejap kemudian, Majikan Gagak Hitam telah siap kembali dengan pukulan yang lebih hebat lagi.

Dengan diawali satu bentakan keras, kali ini dia kirimkan satu pukulan jarak jauh yang diberi nama, si Gagak Hitam Menyambar Bangkai. Bukan main hebatnya pukulan yang dilancarkan oleh si guru ini. Karena begitu kedua tangannya berkiblat secepat itu dua larik sinar berwarna hitam pekat melesat. Udara di sekitar mendadak berubah tak sedap. Pukulan itu bergulunggulung dengan disertai kabut tipis berwarna hitam pula. Sudah barang tentu Purwaningsih cukup tahu apa artinya pukulan Gagak Hitam Menyambar Bangkai ini, baginya hanya ada satu pilihan saja. Andai ingin selamat dia harus mencoba memapakinya dengan jurus Bayangan tingkat sepuluh

Kemudian dia putar tubuhnya kembali sehingga membentuk setengah lingkaran. Setelah itu, cepat-cepat dia dorongkan kedua tangan untuk memapaki datangnya satu sapuan gelombang sinar yang berbau sangat menjijikkan.

"Hais!"

"Bumm!"

Tubuh kedua orang itu terjengkang tiga tombak. Bumi terasa bergetar hebat. Dada masing-masing terasa sesak dan sakit. Sementara dari bibir mereka melelehkan darah merah kehitamhitaman.

Cepat-cepat guru dan murid itu ambil dua butir pel berwarna merah tua dan segera pula menghimpun tenaga dalam. Tak lama setelah nafas mereka teratur, maka wajah guru dan murid itu berubah menjadi kemerah-merahan kembali.

Majikan Gagak Hitam tersenyum puas, kedua bola matanya yang binal dan terkutuk itu nampak memandang pada Purwaningsih penuh arti. Purwaningsih hanya tersenyum-senyum saja.

"Hi... hi... hi...! Cah ayu muridku, cah ayu kekasihku. Tidak

sia-sia aku mendidikmu. Setahun mendatang kita pasti sudah dapat membalaskan sakit hati ini. Engkau bersama aku, sudah mampu membuat Mambang Pitutur dan orang-orangnya bertekuk lutut di bawah kaki kita. !"

"Jadi engkau benar-benar mempunyai maksud untuk membalas dendam, guru...?" tanya Purwaningsih.

"Sudah barang tentu! Untuk apa kita bersusah payah mempelajari jurus ciptaan Mambang Pitutur, kalau bukan untuk semua itu. ?"

"Murid hanya mampu menurut, guru...!" ucap Purwaningsih kemudian.

"Hi... hi... hi... engkau benarbenar murid yang berbakti...!" desah Dwi Keadilan. Hal yang selanjutnya, adalah saling lirik, saling senyum penuh arti. Akhirnya antara guru dan murid itu saling mendekat dan bertambah dekat, dan manusia-manusia sesat itu pun akhirnya kembali menimbun dosa. Dalam gelimang kenikmatan yang palsu

* * *

Kedua orang itu nampak berjalan beriringan, sesekali tawa mereka berderai. Ada saja ucapan si gadis yang terkadang terasa begitu menggelitik hati pemuda yang berada di sisinya. Hal-hal semacam inilah yang akhirnya membawa mereka sampai di perbatasan daerah Majikan Gagak Hitam.

"Kak! Kak! Kreak!"

Baik si pemuda maupun gadis itu sama-sama menghentikan langkahnya begitu mereka mendengar suara-suara itu. Mereka nampak saling pandang untuk sesaat lamanya. Tetapi kemudian pendekar Hina Kelana bergumam.

"Luluh! Agaknya kita telah sampai di perbatasan wilayah Gagak Hitam?" ucapnya setengah bertanya. Gadis murid Pulau Bayangan itu anggukkan kepala. Kedua matanya memandang berkeliling.

"Tak salah... kita memang sudah mulai memasuki daerah Majikan Gagak Hitam!" jawab si gadis, pelan.

Alis pendekar ini mengernyit, mendadak dia teringat pada murid-murid Mambang Pitutur yang tiada pernah kembali. Lalu timbullah dugaannya bahwa mungkin saja daerah ini penuh dengan jebakan.

"Agaknya daerah ini dipasang beberapa perangkat! Kita harus berhatihati siapa tahu di depan sana telah menunggu pula perangkap yang mematikan...!" desah Buang Sengketa mendugaduga.

Mendengar ucapan si pemuda, tiba-tiba Luluh tertawa lebar. Menampakkan sederetan giginya yang putih bersih dan menawan.

"Kok malah tertawa?" kata pendekar Hina Kelana salah tingkah.

"Engkau lucu sih. Tak kusangka pendekar besar seperti engkau ini ternyata bernyali ciut. Mengapa harus takut, tokh kalau sampai kita tertangkap, aku malah senang! Aku tidak sendiri, ada engkau yang menemaniku...!" ucap Luluh begitu polos.

"Sialan! Agaknya engkau mulai jatuh cinta padaku...!" sindir si pemuda. Ucapan pemuda yang sesungguhnya merupakan basa-basi itu, kiranya cukup mengena di hati si gadis. Seketika itu juga, wajahnya berubah kemerahmerahan. Begitupun dia masih dapat berkilah. "Ih! Pada gembel sepertimu siapa sudi...!" katanya sambil melirik manja.

Serta merta Buang Sengketa memeluk gadis, kemudian menjatuhkan ciuman bertubi-tubi. Gadis itu meronta-ronta, padahal hatinya senang bukan main.

Nafas memburu dan terasa menyesak, tidak lagi berontak. Kali ini murid dari Pulau Bayangan itu membalas ciuman dan pagutan si pemuda, begitu mesra. Bahkan hangat! Setelah beberapa saat, kedua orang muda itu saling melepaskan rangkulannya. Wajah Luluh menunduk dan semakin merona merah. Sementara itu pendekar Hina Kelana memang baru kali ini mendapat pengalaman seperti itu, menjadi resah dan salah tingkah.

"Engkau kiranya hidung belang! Engkau malah melanggar pesan guruku!" protes gadis merengut.

Buang Sengketa sebaliknya malah tersenyum dikulum!

"Ee... jangan salah paham! Tokh aku malah melindungimu!"

"Eng... engkau... pasti telah melakukannya dengan banyak gadis-gadis cantik! Mengaku sajalah...!" tuduh si gadis cemburu.

"Siapa bilang! Aku baru melakukannya hanya padamu," ucap si pemuda pasti. Si gadis tetap ngotot!

"Bohong...!" lana. "Tidak...!"

"Tidak bohong...!"

"Ya...!" jawab pendekar Hina Ke-

"Dasar gembel tukang gombal...!" tukas Luluh semakin cemberut.

Buang Sengketa tertawa mengekeh, tetapi dalam hatinya menggerutu.

"Aku ini memang gembel, tapi bukan tukang tipu...!" kata pemuda ini kesal. Sedang mereka saling berbantahan seperti itu, tiba-tiba terdengar suara tawa riuh sekali. Bersamaan dengan terhentinya suara tawa itu, tibatiba terdengar pula ucapan menegur namun mengejek.

"Mengapa harus berbantahan. Lebih baik teruskan saja berciuman.. Bercinta di tengah hutan memang nikmat, apalagi kalau sekalian ditelanjangi saja tubuh gadis cantik itu. Dia pasti tak akan banyak rewel...!" ucap si suara dari kerimbunan pohon.

Kedua orang ini nampak sangat marah bercampur malu, sesaat lamanya kedua orang ini saling berpandangan. Dalam pada itu menyela pula suara yang lainnya.

"Mengapa cuma berpandangan saja, cepat telanjangi tubuhnya yang aduhai itu. Dia pasti tak akan menolak!"

Diejek sedemikian rupa, mendidihlah darah pendekar Hina Kelana, dia pun sambil menoleh langsung membentak: "Setan alas! Cepat-cepatlah tunjukkan diri. Kalau tidak aku akan hancurkan tempat persembunyian kalian"

Lagi-lagi terdengar suara tawa berderai. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan yang membuat kuping pendekar itu semakin bertambah merah.

"Pemuda tampan! Majikan kami tentu sangat bersenang hati dengan kehadiranmu bahkan sekejap pun dia tak akan pernah meninggalkanmu untuk menikmati sorga, lebih dari itu kami pun dengan sukarela akan melayanimu. Tetapi dengan syarat, gadis yang bersamamu itu harus di bunuh...!" tukas si suara dengan tawa mengekeh.

Semakin meledak-ledaklah amarah kedua orang ini. Mendadak Luluh menyela. "Perempuan bangsat! Turunlah dari pohon itu, aku akan bertarung dengan kalian sampai seribu jurus...!"

"Hi... hi... hi...! Jangankan engkau yang hanya bocah kemarin sore, murid-murid Mambang Pitutur saja yang berkepandaian tinggi tak berkutik berhadapan dengan kami," ejek orang yang berada di atas kerimbunan pohon.

Mengertilah si pemuda dan gadis itu bahwa sesungguhnya perempuanperempuan yang di atas pohon itu merupakan murid-murid Majikan Gagak Hitam. Lebih dari itu gadis murid dari Pulau Bayangan itu sempat dibuat terperangah begitu mengetahui bahwa saudara seperguruannya yang paling tua dapat ditawan oleh orang-orang Gagak Hitam. Dia berfikir:

"Kalau Eka Dawana, saudara seperguruannya yang paling tua dan berilmu sangat tinggi itu dapat ditawan oleh Majikan Gagak Hitam. Itu berarti hanya ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama adalah bahwa Majikan Gagak Hitam memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Sedangkan kemungkinan kedua saudara seperguruannya, kena perangkap atau terpedaya." Tiba-tiba gadis itu membentak.

"Huh! Kiranya, Majikan Gagak Hitam dan orang-orangnya hanyalah merupakan sekelompok anjing-anjing pengecut. Tak salah kalau kalian merupakan manusia-manusia sesat nomor satu di atas dunia ini" ejek si gadis, sekilas memandang pada pendekar Hina Kelana yang secara diam-diam telah mengerahkan ajian Pemenggal Roh dan juga pukulan Empat Anasir Kehidupan yang terkenal sangat dahsyat luar biasa. Wajah pemuda itu, secara perlahan nampak berubah menggidikkan. Geraham berkerotokan, sementara tubuhnya berubah kelam membesi, kedua tangan semakin menegang.

Satu saat telah terlewati, lalu dengan diawali dengan satu teriakan menggelegar yang berkepanjangan, pendekar Hina Kelana kiblatkan kedua tangannya ke arah pohon tempat di mana murid-murid Majikan Gagak Hitam bersembunyi. Beberapa larik sinar warna Ultra Violet melesat sedemikian cepatnya ke arah pohon di sekelilingnya.

"Blarr! Blaar!" "Krosak...!"

Pohon-pohon yang merupakan tempat bersembunyi murid-murid Majikan Gagak Hitam hancur berkeping-keping dilanda pukulan dahsyat Empat Anasir Kehidupan. Pohon itu bertumbangan dan timbulkan suara riuh. Beberapa sosok tubuh nampak melesat dari kerimbunan pohon yang bertumbangan. Tubuh mereka nampak terhuyung-huyung begitu menginjakkan kakinya di atas tanah. Agaknya pengaruh dari ilmu sakti Pemenggal Roh, begitu dahsyat menggetarkan jantung dan gendang-gendang telinga mereka ini. Wajah-wajah perempuan yang masih merupakan gadis belia itu nampak pucat pasi. Sama sekali mereka tiada menyangka kalau hari ini mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang sangat memikat hati, namun memiliki ilmu kesaktian yang sangat mematikan. Masih untung mereka ini memiliki kepandaian dan tenaga dalam yang sangat tinggi, andai tidak, tentu sudah sejak tadi tubuh mereka terkapar tanpa nyawa.

Di lain pihak, nampaknya pendekar Hina Kelana dibuat terbelalak tak percaya begitu melihat kehadiran enam orang gadis yang kesemuanya memakai pakaian yang sangat menggetarkan pembuluh darahnya. Dia memang harus mengakui bahwa murid-murid Majikan Gagak Hitam cantik-cantik luar biasa, bahkan boleh dikata sangat menarik hati setiap lawan jenis yang melihatnya. Akan tetapi tiba-tiba pendekar itu teringat sesuatu. Kemudian dia menghubung-hubungkan kecantikan gadisgadis yang berdiri tidak begitu jauh di depannya itu dengan hilangnya beberapa orang murid dari Pulau Bayangan. Dia menduga, kecantikan mereka ini tentu punya arti tersendiri untuk melumpuhkan atau sekaligus menghancurkan lawan-lawannya. Kalau saja! Tiba-tiba dia mendapat satu akal muslihat dan dia sudah bertekad untuk mencobanya. Beberapa saat kemudian pendekar Hina Kelana mulai menyela:

"Hemm! Setan-setan cantik, senang sekali aku bertemu dengan kalian, tak dinyana dalam hutan selebat ini banyak terdapat bidadari cantik. Tetapi jangan harap aku akan berbuat setolol orang-orang itu, hari ini juga aku akan gusur perguruan Majikan Gagak Hitam ke neraka...!" hardik si pemuda nampak marah sekali. 9

Mendengar ucapan pemuda yang berwajah tampan dan berpakaian gembel itu si Jubah Merah yang menjadi pimpinan yang lain-lainnya nampak tertawa genit. Bahkan secara sengaja dia nampak menggaruk-garuk bagian belahan dadanya yang hanya tertutup dengan selembar kain yang sangat tipis. Sementara Buang Sengketa bukanlah tipe seorang pendekar bermata keranjang dan mudah tergiur dengan kemolekan tubuh wanita cantik. Begitu si Jubah Merah mulai bertingkah, dengan melakukan gerakan-gerakan yang membuat darah muda berdesir. Pemuda itu nampak kertakan rahangnya bibir segera terkatup rapat beberapa saat kemudian dia membentak gusar

"Iblis betina penghuni neraka! Sekalipun engkau bertelanjang dada di depanku, aku telah bersumpah untuk mencabik-cabik tubuhmu dengan kedua tanganku ini...!"

Tanpa menyahut, sebaliknya si Jubali Merah tertawa mengekeh!

"Mengapa mengulur-ulur waktu, Kelana...! Hal itu malah membuat umur betina iblis itu bertambah beberapa detik saja..." tukas Luluh sudah tak sabar lagi.

"Sial betul engkau ini...! Aku tak butuh bicara denganmu. Engkau diam saja di situ... hih...!" Bersamaan dengan ucapannya itu si Jubah Merah lambaikan tangannya. Lalu serangkum benda berwarna putih bahkan hampir tak terlihat sama sekali meluruk ke arah gadis yang berada di samping pendekar Hina Kelana. Tetapi sebelum benda itu menotok pada bagian-bagian tubuh murid Mambang Pitutur, Buang Sengketa telah bertindak.

"Wuuut!"

"Teees!"

Benda-benda putih yang sesungguhnya berupa serpihan batu pasir yang dipergunakan si Jubah Merah untuk menotok Luluh. Nampak berpentalan ke segala arah. Kejut di hati si Jubah Merah beserta kawan-kawannya bukan alang kepalang. Tadinya dia sudah dapat menduga, hanya dengan sekali sambit saja, tubuh Luluh sudah kena ditotok. Dengan begitu mereka sudah merencanakan untuk menebar jaring. Meringkus si pemuda. Tapi tak dinyana, lagi-lagi si pemuda kembali menunjukkan kebolehannya. Sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan pemuda yang sangat tangguh, maka si Jubah Merah segera memberi isyarat pada kawan-kawannya yang lain. Tetapi agaknya pendekar Hina Ke-

lana dapat mengetahui apa makna dari isyarat tersebut. Maka tertawalah pemuda dari negeri Bunian ini panjangpanjang. "Tikus-tikus betina sialan. Main pandang, main lirik! Huh, jangan kira aku tak tahu makna semua itu! Sampai mampus pun kalian tak mungkin bisa menjebak kami...!" kata si pemuda mencemooh.

"Jangan sombong dulu pemuda tampan. Meskipun ilmumu setinggi gunung, walaupun kepandaianmu seluas lautan, tidak nantinya engkau bisa lolos dari tangan Majikan Gagak Hitam!"

"Sial betul, sedari tadi cuma berbantahan melulu! Mampuslah kalian betina jalang."

Luluh yang sudah hilang kesabarannya itu, tanpa basa-basi lagi langsung menerjang lawan-lawannya. Dalam waktu sekejap, tubuhnya sudah berkelebat-kelebat, serangan-serangan gencar dia kirimkan secara bertubi-tubi. Mengetahui Luluh telah bergebrak mendahului, maka akhirnya pendekar Hina Kelana pun tak tinggal diam. Tubuhnya nampak melesat, mencoba untuk membantu Luluh. Tetapi, dari samping kiri si Jubah Merah dan Jubah Biru telah menghadangnya.

"Engkau harus berhadapan dengan kami, sayang!" tukas gadis Jubah Merah begitu genitnya.

Sialan...!" maki Hina Kelana sambil kirimkan satu pukulan gencar, kedua murid Majikan Gagak Hitam itu segera memapaki. "Plak! Duk! Duk!"

Beradunya tiga kekuatan tenaga sakti, membuat gadis Jubah Merah dan gadis Jubah Biru tergetar tubuhnya. Sedangkan Hina Kelana merasakan dadanya sesak, dan kedua tangan kesemutan.

Sebentar kemudian pendekar Hina Kelana sudah menggelar jurus-jurus andalan, yaitu berupa jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra dan jurus Si Gila Mengamuk. Sementara lawanlawannya lebih awal lagi sudah memainkan variasi jurus-jurus Gagak Hitam Menebar Maut.

Maka sebentar saja pertarungan menjadi semakin seru, bahkan kini sudah berlangsung lebih dari lima belas jurus

Beberapa saat kemudian secara serentak, gadis Jubah Merah dan gadis Jubah Biru nampak menyerang si pemuda secara berbarengan. Dengan kedua tangan terpentang menyerupai cakar-cakar maut, sementara kaki kanan membentuk satu sapuan mengarah pada bagian kaki lawannya. Orang ini melengking dahsyat. Lalu secara beruntun dan tiada berkesudahan, memukul lawannya dari dua arah.

Pendekar Hina Kelana menyadari, bahwa pihak lawan telah mengerahkan tiga seperempat tenaga dalamnya. Seandainya dia memapaki, selain belum dapat memastikan kekuatan pihak lawan secara pasti, setidak-tidaknya dia akan kehilangan tenaga lebih hesar, tak ada pilihan lain. Begitu serangan beruntun itu datang membadai, dia berkelit ke samping. Tetapi gerakannya masih kurang cepat. Akibatnya cakaran tangan lawannya masih menyerempet.

"Breet! Breeet!"

Tubuh Hina Kelana terjengkang. Darah meleleh dari kedua bibirnya. Sementara bagian depan dan belakang bajunya nampak robek selebar dua jengkal. Jubah Merah dan Jubah Biru tertawa mengekeh. Kemudian ucapnya dengan penuh kemenangan.

"Sudah kubilang sebaiknya engkau manut saja, pemuda tampan! Kami pasti dapat membuatmu bahagia...!" ejek si Jubah Biru.

"Jahanam racun dunia! Aku belum kalah!" geram pendekar Hina Kelana sambil berusaha bangkit kembali.

"Ah! Brengsek betul engkau ini... kami bukan racun dunia, melainkan sorga dunia, tolol...!"

Bukan main gusarnya pendekar ini, tak pelak lagi. Setelah dia kembali dengan posisinya dia sudah nampak bersiap-siap dengan pukulan andalannya, Empat Anasir Kehidupan. Sesungguhnya andai saat itu dia berkehendak, detik itu juga dia sudah mencabut pusaka Golok Buntung ataupun Cambuk Gelap Sayuto. Yaitu senjata pamungkas yang paling sangat dia andalkan dan sudah sangat kesohor akan kehebatannya. Tetapi andai senjata itu dia pergunakan untuk menumpas lawan-lawannya, sudah barang tentu dia sendiri akan mengalami banyak kesulitan untuk melacak sarang persembunyian Majikan Gagak Hitam. Lebih dari itu, tugasnya malah akan bertambah sulit dalam usaha mengambil kitab pusaka Jurus Bayangan milik Mambang Pitutur. Dan kesulitan lainnya adalah, apakah murid-murid Pulau Bayangan seperti yang dikatakan oleh si Jubah Merah. Memang benarbenar berada dalam cengkraman mereka atau tidak. Itulah sebabnya walaupun dia menjadi pecundang untuk sementara waktu. Tidak menjadi soal, asalkan semua tugas-tugasnya dapat dia selesaikan dengan baik.

Semua kejadian yang menimpa si pemuda kiranya tak terlepas dari perhatian Luluh. Yang memang benar-benar jatuh cinta pada si pemuda dan nampak mengkhawatirkan keselamatannya selalu. Sesungguhnya ilmu silat dan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh gadis, murid dari Pulau Bayangan itu, beberapa tingkat di atas lawan-lawannya. Tetapi karena perhatiannya terbagi-bagi antara pertarungan dan kekhawatirannya terhadap keselamatan pemuda yang sangat dikasihinya. Mau tak mau beberapa kali, nyaris dapat dipecundangi oleh lawan-lawannya.

Satu kesempatan, gadis Jubah Kuning, Hitam, Ungu dan Hijau. Secara bersama-sama membuka jurus, Gagak Hitam Menyambar Bangkai. Jurus ini merupakan tingkatan ketujuh hasil ciptaan Majikan Gagak Hitam. Mempergunakan jurus ini tujuan utamanya adalah menipu dan menyerang lawan secepat-cepatnya.

Demikianlah begitu orang-orang ini keluarkan jeritan tinggi melengking tahu-tahu tubuh mereka berkelebat lenyap hingga tinggal merupakan bayangan-bayang saja. Sungguhpun jurusjurus hasil ciptaan Majikan Gagak Hitam ini di dalamnya mengandung unsur yang keji. Tetapi yang membuat Luluh merasa heran dan hampir tak percaya adalah karena jurus yang dimainkan oleh lawan-lawannya hampir-hampir mirip dengan jurus Bayangan Bidadari yang pernah diciptakan oleh gurunya Mambang Pitutur. Timbul pula pertanyaan dalam hatinya. Mungkinkah Majikan Gagak Hitam masih mempunyai hubungan yang sangat erat dengan gurunya? Kalau dugaannya ini benar itu berarti Majikan Gagak Hitam sesungguhnya masih merupakan adik seperguruan Mambang Pitutur. Dwi Keadilan! Yang terusir dari Pulau Bayangan karena perbuatan sesatnya. Sampai pada kesimpulan itu, tak salah kalau pada akhirnya Dwi Keadilan mengutus muridnya untuk mencuri kitab pusaka hasil ciptaan Mambang Pitutur. Dalam hati, tiba-tiba mengeluh. Tak dinyana kiranya lawan yang bakal dihadapinya tak lain merupakan bibi gurunya sendiri

Mengingat sampai di situ, tibatiba dia malah berubah geram. Secepatnya dia putar Seruling Sakti pemberian gurunya ke segala arah. Seruling itu memperdengarkan bunyi mendengungdengung. Laksana badai topan di samudra yang luas. Satu saat berikutnya, pukulan yang dilancarkan oleh lawanlawannya menderu dan menyambar ke arah tubuhnya dengan ganas. Laksana kilat serulingnya berkiblat ke segala arah. Tak pelak lagi:

"Tak! Plak! Bumm!"

Tubuh Luluh terbuntang lalu bergulingan dengan seruling masih tergenggam di tangannya. Sementara lawanlawannya ada yang terjengkang, terguling-guling, bahkan beberapa orang lainnya meskipun tubuh mereka dapat tegak berdiri, tetapi nampak tergetar. Tangan-tangan mereka yang sempat berbenturan dengan seruling di tangan murid dari Pulau Bayangan itu terasa bagai remuk dan nyeri luar biasa.

Luluh cepat-cepat bangkit, begitu juga halnya dengan lawan-lawannya. Wajah perempuan-perempuan itu nampak pucat, tetapi tak mengurangi semangat mereka dalam melanjutkan pertarungan. Serta merta gadis Jubah Hitam, menerjang kembali mendahului kawan-kawannya yang lainnya.

Luluh tertawa mengekeh, lalu putar serulingnya memapaki datangnya serangan si Jubah Hitam yang gencar dan ganas. Begitu serangan yang dilancarkan si Jubah Hitam satu jengkal lagi menerpa wajah dan perutnya, gadis dari Pulau Bayangan itu memutar tubuh dan berkelit. Serangan ganas yang dilancarkan oleh si gadis menerpa tempat yang kosong, Luluh bertindak tidak tanggung-tanggung. Dia langsung kibaskan Seruling Sakti di tangannya.

"Ngung!"

"Prokk!"

Laksana setan gila, gadis Jubah Hitam meraung setinggi langit, kepalanya nampak rengkah dilanda senjata di tangan lawannya, darah memuncrat ke mana-mana. Tubuh gadis cantik itu nampak terhuyung-huyung bagai orang bingung. Tak berapa lama kemudian ambruk bermandikan darah. Hanya beberapa saat saja, tubuh wanita malang itu berkelojotan, untuk kemudian terdiam untuk selama-lamanya.

Kembrat-kembratnya di samping terkejut luar biasa, tetapi dilanda kemarahan yang meluap-luap. Sedikit pun mereka tiada pernah mengira, kalau lawannya sampai turun tangan sekejam itu.

"Perempuan sial! Kami tak akan

puas sebelum menyeretmu ke depan guruku. Betapa engkau akan menerima hukuman yang teramat pedih karena perbuatanmu itu...!" kertak si Jubah Kuning nampak gusar sekali. Kemudian dia berteriak memberi komando pada kawankawannya.

"Kawan-kawan, ringkus betina ini! Kalau perlu lemparkan asap pembius...!" perintahnya. Geram.

Tanpa banyak cakap lagi, tiga orang murid-murid Majikan Gagak Hitam langsung mengepung gadis murid Mambang Pitutur. Sekejap kemudian!

"Bum! Bum! Bum!"

Asap pembius yang dilemparkan oleh lawan-lawannya segera bereaksi, akibatnya sungguh hebat. Suasana di sekitarnya menjadi gelap berselimut asap tebal, ketika Luluh berusaha keluar dari kepungan asap. Sayangnya dia sempat menghirup asap pembius tersebut. Dia nampak terbatuk-batuk dan tubuhnya pun menjadi limbung kemudian ambruk ke bumi.

Bukan main terkejutnya pendekar Hina Kelana, begitu melihat keadaan Luluh yang begitu mudahnya dapat diringkus oleh lawan-lawannya. Tetapi timbul pula fikirannya, semoga si Jubah Merah dan si Jubah Biru mempergunakan asap pembius pula. Sementara pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dilepas oleh pendekar ini telah membuat lawan-lawannya terjungkal tunggang langgang.

Agaknya apa yang telah diduga oleh pendekar Hina Kelana pada akhirnya menjadi kenyataan juga. Gadis Jubah Merah dan Jubah Biru nampak bersurut empat langkah. Mereka nampak saling lirik memberi isyarat. Tak lama kemudian segera merogoh sesuatu dari dalam baju mereka yang tipis

10

Mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawan-lawannya, pendekar Hina Kelana tergelak-gelak. Lalu dia menyela:

"Ha... ha... ha! Engkau mau merobohkan aku dengan asap pembius itu. Huh! Lakukanlah kalau kalian mampu. Tapi menurutku, asap pembiusmu itu masih kalah hebat dengan kentut gajah. Nah, kalau kalian bisa kentut seperti gajah. Ada kemungkinan aku akan takluk di tangan kalian...!" kata Buang Sengketa mencemooh.

Malu bercampur marah, gadis Jubah Merah dan Jubah Biru mendapat ejekan dari si pemuda. Gadis Jubah Biru membentak.

"Jangan sombong dulu kunyuk tampan! Kita lihat saja siapa yang lebih unggul!"

Bersamaan dengan itu, baik Jubah Merah maupun Jubah Biru secara serentak kembali melakukan seranganserangan lebih dahsyat lagi. Karena memang pada dasarnya pemuda itu memang menghendaki dirinya diringkus. Sebagai taktik akalnya belaka. Maka mendapat serangan sedemikian rupa, dia berpurapura tunggang langgang sambil mengelak sekenanya. Akibatnya begitu serangan yang dilancarkan oleh lawan-lawan menderu ke arah tubuhnya, dia hanya mengerahkan seperempat tenaganya untuk melindungi tubuhnya dari benturan yang bisa berakibat sangat fatal.

"Wut! Buk! Buk!" "Gusraaak!"

Tubuh pemuda itu terjungkal menubruk kotoran babi hutan. Baunya yang minta ampun mengakibatkan pendekar ini mencaci maki habis-habisan.

"Bangsat betul monyet betina ini! Mampuslah...!"

"Hi... hi... hi...! Mengapa? Menubruk kue serabi ya...,?!" ejek gadis Jubah Biru. Si Jubah Merah menyambung. "Bau yang lumayan itu hanya sekejap, karena tak lama lagi engkau se-

gera tertidur, monyet tampan. "

Begitu selesai dengan ucapannya, kedua orang itu langsung melemparkan asap pembius. "Bum! Bum!"

Buang Sengketa pura-pura terbatuk. Asap tebal nampak menyelimuti alam sekitarnya. Walaupun pemuda ini tidak mempan dengan segala yang bersifat racun, akan tetapi tak urung dia menjadi gelagapan juga.

"Bruggkh!"

Tubuh pendekar Hina Kelana terhempas ke tanah. Bukan main girangnya si Jubah Merah dan lain-lainnya, begitu melihat pemuda itu ambruk tak sadarkan diri.

"Hi... hi... hi...! Kali ini kita mendapat kelinci yang luar biasa tampannya, kawan-kawan...!" ujar si Jubah Biru tersenyum puas.

"Guru pasti merasa senang dan puas dengan hasil buruan kita...!" si Jubah Merah menimpali.

"Lalu bagaimana ini? Apakah kita harus membawa serta kelinci betina tiada guna itu...?" tanya si Jubah Kuning.

"Oh! Itu harus, bukankah dia telah membunuh saudara kita si Jubah Hitam...?" menyela yang lainnya.

"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang...!" perintah si Jubah Merah. Kemudian tanpa banyak kata lagi, mereka ini dengan sigap segera menggotong lawan-lawannya. Tak ketinggalan, tubuh si Jubah Hitam yang sudah menjadi mayat mereka bawa serta. * * *

Siang tengah hari. Majikan Gagak Hitam baru saja keluar dari dalam kerangkeng tempat memenjarakan Eka Dawana. Wajah perempuan itu kelihatan sangat murung sekali. Apalagi dilihatnya, kini Eka Dawana tak ubahnya bagai seorang pesakitan saja layaknya. Bagai seekor macan tua yang sudah tiada memiliki gairah untuk melahap mangsanya. Nampak enggan bahkan semakin lamban. Sama tak ubahnya seperti orang-orang pikun yang kini nampak berjemur di luar kerangkeng lainnya. Mengingat sampai di situ, tiba-tiba timbul keinginannya untuk segera membunuh mereka semua. Tetapi hatinya menjadi bimbang! Bimbang karena dia maupun para muridmuridnya belum mendapatkan mangsa yang baru. Lalu dengan gontai setelah mengunci kembali pintu kerangkeng Eka Dawana, Dwi Keadilan segera melangkah menuju pintu rumah besar yang berkesan sangat menyeramkan itu. Akan tetapi begitu sampai di depan pintu, mendadak dia mengurungkan niatnya begitu dia mendengar suara riuh di jalan setapak menuju tempat tinggalnya. Begitu dia menoleh, dia melihat para muridmuridnya telah kembali dengan membawa tiga sosok tubuh, yang seorang di antaranya memang dia kenali, tetapi tidak untuk dua orang lainnya.

Dalam pada itu, gadis Jubah Merah nampak berlari-lari kecil menghampirinya. Setelah menjura hormat beberapa kali, gadis yang selalu menjadi andalannya untuk mencari mangsa baru itu pun melapor.

"Guru! Murid kembali dengan membawa kelinci jantan dan kelinci betina yang sangat luar biasa bagusnya...!" kata gadis Jubah Merah takjim.

"Hemm. Untuk apa kelinci betina kalian bawa pulang...?" bentak Dwi Keadilan nampak sangat marah.

"Tetapi dia telah membunuh si Jubah Hitam, guru...!" jawab si Jubah Merah.

"Hoho... membunuh! Kalau begitu dia akan mendapat hukuman yang sangat menyakitkan dariku!" kata Dwi Keadilan geram.

Kemudian Majikan Gagak Hitam memerintah.

"Coba kalian bawa ke mari, kelinci jantan dan kelinci betina yang berhasil kalian jaring itu!"

"Baik, guru...!"

Usai dengan ucapannya. Maka si Jubah Merah segera memberi isyarat pada kawan-kawannya yang lain. Perempuan-perempuan itu pun dengan begitu ringannya menggotong tubuh gadis dari Pulau Bayangan yang benar-benar dalam keadaan tidak sadarkan diri sekaligus menggotong tubuh pendekar Hina Kelana yang cuma berpura-pura klenger. Orangorang itu kemudian meletakkan tubuh si pemuda dan tubuh si gadis persis di depan tempat gurunya berdiri.

Dwi Keadilan berseru kaget bercampur gembira begitu melihat wajah pendekar Hina Kelana yang sangat tampan. Dia nampak benar-benar terpesona. Kemudian setelah puas memandangi wajah si pemuda, kini beralih pula pada si gadis. Tanpa sadar dia bergumam

"Dua-duanya sama bagusnya! Tetapi kelinci betina itu harus mampus besok pagi, sedangkan yang jantan...!"

Walaupun Majikan Gagak Hitam tak melanjutkan kata-katanya, tetapi murid-muridnya tahu ke mana arah pembicaraan gurunya.

"Mereka ini sepasang kekasih, guru!" gadis Jubah Biru tiba-tiba menyela.

Kedua mata Dwi Keadilan agak menyipit begitu mendengar penjelasan salah seorang muridnya. Mendadak dia tertawa mengekeh.

"Hi... hi... hi...! Sepasang kekasih? Bagus, aku paling suka dengan keadaan itu, tapi bukankah kalian telah membiusnya?!" tanya perempuan iblis itu tiba-tiba.

"Benar...!" menjawab gadis Jubah Merah.

"Hmmm... bagus. Itu berarti sehari lagi mereka baru sadar... kalau begitu untuk beberapa hari kurung mereka dalam satu kamar. Tetapi jangan lupa, kunci kerangkengnya kuatkuat...!" perintah Majikan Gagak Hitam berwibawa.

"Tetapi, Guru...!"

Dwi Keadilan membentak.

"Jangan membantah... orang-orang ini di mataku tak ada apa-apanya... bawa saja ke sana lekas...!"

"Ba... baik, guru!" jawab para muridnya serentak.

Para muridnya itu sudah bermaksud melaksanakan perintah Majikan Gagak Hitam, ketika perempuan itu menyela.

"Eee... sebentar lagi hari merembang malam! Masih ada waktu bagi kalian untuk menguburkan mayat Jubah Hitam... kerjakanlah secepatnya!" perintah Dwi Keadilan. Lalu tanpa menjawab lagi, orang-orang ini pun langsung mengerjakan perintahnya. Sementara Majikan Gagak Hitam, kembali memasuki rumahnya.

Ketika pendekar Hina Kelana membuka kedua matanya, suasana di sekitarnya sudah nampak gelap gulita. Tiada apa pun terlihat di sana. Hanya kegelapan dan sunyi. Kemudian dia bangkit berdiri, hanya kedua tangannya yang mencari-cari di mana posisi Luluh. Tak lama kemudian dia sudah menemukan di mana adanya posisi murid Mambang Pitutur berada.

Seketika lamanya dia memeriksa keadaan gadis itu, benar seperti apa yang dikatakan oleh Dwi Keadilan, sampai saat itu si gadis belum juga sadarkan diri. Keadaan sudah sangat mendesak. Tak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan diri secepatnya. Lalu cepat-cepat dia mengurut-urut bagian urat sadar di tubuh si gadis. Hanya cara itulah yang dia kira dapat menyadarkan si cadis secepatnya. Tak begitu lama kemudian gadis itu pun nampak menggeliat dan merintih-rintih. Si gadis tersentak kaget dan hampir saja berteriak andai pendekar Hina Kelana tidak segera menempelkan jari telunjuknya di bibir gadis itu. Kemudian Huang Sengketa berkata lirih:

"Ssst! Jangan berteriak atau pun menimbulkan suara yang mencurigakan. Rencana kita bisa berantakan semuanya!" bisik si pemuda.

"Kita di mana...?" tanya si gadis sambil berusaha duduk.

"Dalam kurungan milik Majikan Gagak Hitam...!"

"Apa yang telah terjadi...?" tanya si gadis setengah mengeluh.

Yang ditanya nampak menarik nafas pendek! Tetapi beberapa saat kemudian dia sudah menyahut.

Agaknya Luluh nampak terkejut sekali, tanpa sadar dia langsung memeluk si pemuda begitu erat sekali.

"Kelana, aku takut sekali! Bagaimana kalau mereka itu malam ini juga datang untuk membunuh kita...?" tanya si gadis dengan suara gemetaran. Dengan halus pendekar Hina Kela-

na berusaha melepaskan rangkulan si gadis.

"Mereka hanya ingin membunuhmu, bukan membunuhku...!" kata si pemuda dengan senyum dikulum. Dan tentu saja dalam suasana gelap itu si gadis tidak dapat melihatnya

"Jadi, jadi, mereka hanya ingin membunuhku...?!" tanya si gadis tersendat.

"Mengapa harus takut? Tokh setiap orang akan mengalami mati. Lebih dari itu waktunya masih lama. Kita masih punya kesempatan dan waktu untuk keluar dan kerangkeng mesum ini...!" jawab si pemuda.

Nampaknya Luluh sangat terperanjat sekali. Cepat-cepat dia menyela:

"Kelana, apa maksudmu...? Adakah juga kakang Eka Dawana juga berada di tempat ini...?" tanya si gadis penasaran sekali.

Orang-orang itu mereka perangkap hanya untuk kepentingan mereka. Mungkin juga orang-orang utusan gurumu itu berada di sekitar kerangkeng ini...!" jelas pendekar Hina Kelana "Kalau begitu kita harus membebaskan mereka...!" menyela gadis itu tiba-tiba.

Pendekar Hina Kelana nampak mendesah.

"Tidak, hal itu dapat kita lakukan kemudian. Untuk sementara ini kita harus membebaskan diri kita. Setelah itu kita hancurkan mereka...!" ujar si pemuda.

"Mengapa? Bukankah kalau kita bebaskan terlebih dahulu kakang Eka Dawana berarti kita akan mendapat tambahan tenaga...?" tanya Luluh tak mengerti.

Pendekar ini nampak mengeluh. Dia tahu kalau sesungguhnya gadis yang polos ini tidak begitu tahu apa sesungguhnya yang sedang terjadi di tempat itu. Beberapa saat kemudian dia berkata.

"Luluh, persoalannya jadi tidak semudah itu. Eka Dawana yang dulu lain dengan Eka Dawana yang sekarang. Kita tak bisa berharap banyak pada orang itu" ucap si pemuda penuh prihatin.

"Apa maksudmu...?"

"Nantinya engkau akan tahu sendiri. Yang penting kita harus terbebas dari tempat ini...!" jawab pendekar Hina Kelana sambil melangkah menghampiri pintu kerangkeng

Tak lama kemudian pemuda dari negeri Bunian ini nampak sedang berusaha membuka pintu kerangkeng. Tetapi tidak semudah seperti apa yang diduga oleh pemuda ini.

11

Pintu kerangkeng itu terikat begitu kuatnya. Pemuda itu nampak mencaci maki dalam hati.

"Bagaimana, Kelana...?" tanya Luluh sesudah berada di samping si pemuda.

"Sial betul. Orang-orang itu kiranya telah membuat segala sesuatunya dengan rencana yang cukup matang...!" keluh pendekar Hina Kelana.

"Apakah engkau benar-benar tak bisa membukanya...?"

"Dengan cara lain mungkin bisa, tetap hal itu malah akan menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang yang berada di dalam rumah itu...!"

"Lalu bagaimana...?" tanya si gadis cemas.

"Menunggu sampai hari esok. Dengan sangat terpaksa kita harus berpura-pura tetap tidak sadarkan diri...!" jawab pendekar Hina Kelana memutuskan.

"Mana mungkin...?"

"Mungkin saja kalau kita mau, tokh sejak siang tadi aku bisa melakukannya dengan sangat baik. "

Kemudian tiada kata-kata lagi, kedua orang itu kembali pada posisinya, malam yang sunyi itu terus berlalu tanpa kejadian apa pun. Ketika keesokan harinya mereka masih tetap pada keadaannya.

Sinar surya nampak bersinar cerah, kesibukan di pagi itu pun berlanjut kembali. Sementara itu dari dalam rumah yang berkesan angker yang menyerupai tempat tinggal Majikan Gagak Hitam, nampak keluar lima orang muridmurid utamanya. Orang-orang ini dengan langkah terburu-buru segera menuju ke arah kerangkeng tempat di mana Luluh dan Buang Sengketa dikurung. Karena sesungguhnya jarak antara kerangkeng dengan rumah huni tidak begitu berjauhan, maka dalam waktu sekejap saja, mereka sudah sampai di tempat itu.

Seketika lamanya, orang-orang itu nampak memeriksa keadaan kerangkeng. Lalu gadis-gadis itu saling berkata sesamanya: "Aku kuatir kalau kelinci-kelinci kita ini malah tak sadarkan diri untuk selama-lamanya...!" berkata si Jubah Merah seperti pada dirinya sendiri.

"Tetapi kita kan hanya mempergunakan asap pembius biasa...?!" menyela si Jubah Kuning.

"Asap pembius biasa apa! Tokh aku malah mempergunakan lebih dari sekedar itu..." ucap si Jubah Biru pula. Begitu mendengar ucapan si Jubah Biru, yang lain-lainnya nampak saling berpandangan sesamanya.

"Mengapa itu kau lakukan...?" bentak si Jubah Merah menegur.

Yang ditegur malah tersenyum si-

nis.

"Aku begitu kesal, karena mereka

telah membunuh Jubah Hitam...!" sahut Jubah Biru seadanya.

"Engkau ini tolol sekali. Kalau kelinci jantan itu sampai mati, guru pasti sangat kecewa. Dan kita semua segera mendapat hukuman yang berat...!" bentak si Jubah Merah mulai hilang kesabarannya.

"Sudahlah, untuk apa kita saling berbantahan! Bukankah lebih baik kalau kita periksa keadaan mereka...?" kata Jubah Ungu menengahi.

Nampak mereka menurut. Kemudian tanpa banyak kata lagi, orang-orang ini segera menghampiri pintu kerangkeng dan berusaha membukanya.

Sementara itu, baik pendekar Hina Kelana maupun Luluh yang nampak meringkuk di dalam kerangkeng itu. Secara diam-diam mulai bersiap-siap untuk melakukan serangan.

Tak ayal lagi, begitu pintu kerangkeng terbuka dan orang-orang itu mulai saling berebutan untuk saling mendahului. Secara tiba-tiba, dengan mempergunakan dua sepertiga dari tenaga dalamnya, pemuda ini nampak membalikkan badannya begitu cepat. Kemudian pukulkan kedua tangannya mengarah pada lawan-lawannya. Empat larik sinar Ultra Violet, laksana kilat nampak melesat sedemikian cepatnya. Pihak lawan yang tiada pernah menyangka akan diserang sedemikian rupa, nampak sangat terkejut dan sangat gugup. Tetapi tiada kesempatan bagi mereka untuk memapaki terkecuali mengelak sebisabisanya. Tak ayal lagi gelombang pukulan yang berkekuatan sangat dahsyat itu menghantam tubuh lawan-lawannya yang tidak sempat mengelakkan diri.

"Blaaar! Blaaar! Blaaar!"

Laksana terguncang gempa bumi yang dahsyat pukulan yang dilepaskan oleh pendekar Hina Kelana menggetarkan daerah di sekitarnya. Beberapa orang di antaranya nampak terpelanting, hingga tubuh mereka menabrak jeruji kerangkeng yang terbuat dari batangan kayu. Kerangkeng kayu itu hancur berkeping-keping. Dua jeritan yang sangat memilukan terdengar. Jubah Ungu dan Jubah Hijau yang paling telak terkena pukulan Empat Anasir Kehidupan, tubuhnya nampak terhempas dalam keadaan hangus dan nyawa melayang. Sementara tiga orang sisanya yang hanya terkena angin sambarannya saja, kini nampak tertatih-tatih dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi. Sedikit pun mereka tiada menyangka kalau tawanan mereka bisa sadar secepat itu. Dan pukulan maut yang dilepaskan oleh pemuda itu sekarang benar-benar membuat nyali ketiga orang itu menjadi semakin ciut. Diikuti oleh Luluh di belakang-

nya, kini pendekar Hina Kelana melangkah ke luar dan kerangkeng melalui dinding-dindingnya yang berantakan. Setelah berada di luar kerangkeng. Langkahnya nampak terhenti. Lalu dipandanginya wajah ketiga gadis itu silih berganti. Kini sepasang matanya nampak memerah saga, rahang bergemeletukkan. Nyatalah kalau pemuda ini sedang berusaha meredam kemarahannya yang meledak-ledak.

Beberapa saat kemudian dengan suara dingin dia membentak:

"Hemm! Sudah kukatakan, hanya kentut gajah saja yang mampu merobohkan aku. Tapi kalian tak pernah percaya. Kini segalanya terlambat sudah, nama Majikan Gagak Hitam berikut kroco-kroconya sudah kuputuskan untuk kugusur ke liang kubur hari ini juga...!" geram si pemuda.

Meskipun nyali ketiga orang itu sudah lumer. Tetapi sebagai muridmurid yang tak kenal menyerah. Salah seorang di antaranya balas membentak.

"Kelinci-kelinci sial. Kalau tahu begini jadinya, tidak tadinya kalian kami biarkan hidup...!"

Pendekar Hina Kelana tertawa mengekeh.

"Ha... ha... ha...! Kalau kalian bakal tahu hari ini kalian mati, sudah barang tentu sejak kemarin kalian telah mempersiapkan kubur kalian...!" menyela pemuda ini

"Kelana! Mengapa harus banyak basa basi, kita gebuk saja mereka ini!" tukas Luluh sudah tak sabar lagi "Hem. Benar sekali ucapanmu, me-

mang sebaiknya kita gebuk saja mereka...!" sahut si pemuda.

Dalam pada itu, gadis Jubah Merah nampak memberi isyarat pada si Jubah Kuning untuk segera memberi kabar pada guru mereka yang kini sedang berada di Bukit Gagu bersama Purwaningsih. Nampaknya si Jubah Kuning mengerti akan makna isyarat tersebut. Lalu tanpa membuang-buang waktu lagi, gadis Jubah Kuning laksana kilat segera melesat pergi. Gadis dari Pulau Bayangan itu pun berseru menegur.

"Mengapa engkau biarkan betina itu pergi?" protesnya nampak tak senang.

Pendekar Hina Kelana tersenyum getir "Biarkan saja, dia sedang memberi kabar tentang berita gembira ini pada gurunya si Majikan keparat...!" ucapnya sinis.

"Kalau begitu dua kunyuk betina ini kita gebuk bersama-sama...!"

Belum lagi gadis itu usai dengan ucapannya, si Jubah Merah dan Jubah Biru telah melabrak mereka dengan kirimkan serangan-serangan gencar.

Tidak sungkan-sungkan lagi. Orang-orang ini pun segera pula melakukan serangan balasan. Dalam waktu sekejap saja pertarungan sudah menjadi seru. Satu lawan satu. Si pemuda berhadapan dengan si Jubah Merah, sementara Luluh berhadapan dengan si Jubah Biru.

Satu ketika, si Jubah Merah kirimkan pukulan Gagak Hitam Menyambar Bangkai. Satu gelombang sinar berwarna hitam pekat melesat cepat ke arah si pemuda. Dan sudah barang tentu dia yang memang sudah mengetahui kekuatan pukulan itu sebelumnya tak ingin membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja. Kemudian lebih cepat lagi dia kiblatkan kedua tangannya untuk memapaki datangnya serangan yang membadai. Dari kedua belah tangannya melesat pula selarik sinar yang hampir tak terlihat kasat mata. Kemudian gelombang sinar yang berwarna panas itu menderu dan timbulkan suara bergemuruh. Tak pelak lagi dua kekuatan sakti itu pun saling bertubrukan.

"Bumm!"

Bumi terasa bagai dilanda selaksa gempa, tubuh pendekar Hina Kelana nampak terhuyung. Sementara gadis Jubah Merah nampak terjengkang lalu muntah darah. Akan tetapi sungguh hebat daya tahan murid Majikan Gagak Hitam ini. Bagai tak mengenal rasa sakit, secepat dia jatuh, secepat itu pula dia bangkit dan kembali membangun serangan-serangan yang lebih gencar.

Lebih dari itu ternyata muridmurid dari Dwi Keadilan ternyata dalam pertarungan sepenuhnya hanya mempergunakan ilmu silat tangan kosong.

Dengan sesungging senyum sinis, Buang Sengketa membentak.

"Jubah Merah. Kalau engkau punya senjata cabutlah... andai tidak, engkau akan menyesal selama-lamanya...!" kata si pemuda memperingati.

Gadis Jubah Merah mendengus! "Dalam pertarungan antara hidup

dan mati! Selamanya kami tidak pernah mempergunakan senjata apa pun. Nih, makanlah pukulanku...!"

"Haes!"

Pendekar Hina Kelana berkelit, dan keluarkan suara tawa.

"Bagus. Kesombonganmu itu memang pantas cepat-cepat kau bawa mati...!" maki pendekar ini.

"Wut!"

Pukulan yang dilancarkan oleh gadis Jubah Merah, kembali menyambar kemudian disusul dengan pukulan berikutnya.

"Desss!" "Wuaah...!" Buang Sengketa menggerung begitu pukulan yang dilepaskan oleh Jubah Merah menyambar pundaknya. Tubuhnya terpelanting dan terguling-guling. Nyeri sekali rasanya bagian yang terkena sambaran pukulan si gadis. Dia bangkit kembali, sekejap dia gerak-gerakkan pundaknya yang terasa kaku. Belum lagi dia dapat berbuat sesuatu. Agaknya gadis Jubah Merah yang sudah sangat kalap itu bermaksud untuk selalu mendahului lawannya dalam melancarkan pukulan. Kini dia berkelebat lagi dan kirimkan satu rangkaian berantai.

Buang Sengketa bergerak lebih cepat lagi, dia yang sudah sangat marah ini segera berkelebat cepat. Dari selah-selah bibirnya keluar bunyi mendesis, mirip suara seekor ular Piton yang sedang marah. Lalu lebih cepat lagi dia keluarkan pusaka Golok Buntung. Pukulan-pukulan maut yang dilancarkan oleh gadis Jubah Merah berulangkali nampak selalu dikandaskan oleh kilatan cahaya merah menyala yang terpancar dari golok yang berada dalam genggaman si pemuda. Dalam pada itu, udara di sekitarnya mendadak berubah dingin. Bahkan Jubah Biru yang sedang bertarung mati-matian melawan Luluh nampak sangat terkejut sekali. Begitu juga halnya dengan murid dari Pulau Bayangan itu.

Tak lama setelahnya, pendekar Hina Kelana berteriak nyaring. Tubuhnya melesat sedemikian cepatnya. Sekejap gadis Jubah Merah sudah sangat terdesak sekali. Dalam keadaan seperti itu, golok di tangan si pemuda nampak berkelebat mengarah pada bagian leher si Jubah Merah.

"Craaas!"

Tiada suatu lolongan yang terdengar karena sesungguhnya kerongkongan gadis malang itu telah terputus menjadi dua. Gadis Jubah Merah melotot matanya. Kedua tangan menekap bagian leher yang memancarkan darah. Sekejap saja tubuh yang sudah nampak pucat dan limbung karena mulai kehabisan darah. Setelah terhuyung-huyung seketika lamanya tubuh gadis itu pun nampak menekuk dan kemudian ambruk tanpa dapat berkutik lagi.

Semua yang terjadi begitu cepatnya itu kiranya tak terlepas dari perhatian Luluh, yang nampak terkagumkagum bercampur ngeri. Dan yang paling kecut akibat dari semua tindakan si pemuda adalah gadis Jubah Biru. Gadis itu nampak sangat ketakutan sekali. Tubuhnya nampak pucat dan keluarkan keringat dingin. Semua itu sudah barang tentu sangat berpengaruh dalam pertarungan. Bahkan kini dia hanya dapat mengelak dan bertahan. Berulang kali seruling di tangan Luluh nyaris menghantam tubuhnya. Untung dia masih dapat mengelak dengan gesit, satu saat dia nampak kirimkan satu serangan kilat. Jemari tangannya melancarkan satu tusukan mengarah pada bagian mata lawan, sedangkan tangan lainnya mengirimkan satu jotosan ke arah bagian dada. Sudah barang tentu permainan silat Jubah Biru yang hampir mirip dengan permainan silat Mambang Pitutur sedikit banyak sudah dapat dibaca oleh si gadis. Begitu sejengkal lagi serangan itu hampir mencapai sasarannya, Luluh menangkis sekaligus menggerakkan Serulingnya.

"Deess! Prook!"

Gadis Jubah Biru mengeluarkan jeritan lirih, kedua kakinya nampak tertekuk. Darah nampak meleleh dan menyembur-nyembur ke luar, hanya beberapa saat saja tubuh gadis itu berkelejat-kelejat. Lalu diam dengan nyawa meninggalkan badan.

Hampir bersamaan dengan tewasnya gadis Jubah Biru. Dari atas Bukti Gamping yang mengapit tempat tinggal Majikan Gagak Hitam dan muridmuridnya, nampak melayang turun tiga sosok bayangan.

Mereka ini tak lain adalah Dwi Keadilan, Purwaningsih dan juga Jubah Kuning. Yang tadinya memberi laporan pada sang guru.

Kedatangan mereka ternyata memang sangat terlambat, karena memang begitu mereka sampai di tempat itu. Empat orang murid-muridnya telah tewas semuanya dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

Tanpa menghiraukan pendekar Hina Kelana dan Luluh, ketiga orang itu langsung memeriksa mayat si Jubah Biru, Jubah Merah, Ungu dan Hijau.

Sedih bercampur amarah orangorang ini segera berbalik dan membentak gusar.

"Ho... ho... ho...! Kelincikelinci keparat, betapa keji perbuatan kalian. Kalian telah membantai muridmuridku sedemikian rupa! Apa salah mereka dan salah kami...?!" maki Dwi Keadilan sambil menangisi kematian murid-muridnya.

Pada saat itu Purwaningsih dan Jubah Kuning telah mengurung mereka berdua.

"Sial betul! Bukankah engkau ini Dwi Keadilan... dan kau...!" bentak Luluh sambil menunjuk pada Purwaningsih. "Bukankah engkau murid bangsat Purwaningsih yang telah membawa lari kitab Jurus Bayangan milik guruku...?" Agaknya Purwaningsih masih mengenali siapa adanya gadis yang memben-

taknya itu, kemudian dia pun menyela: "Kalau benar engkau bisa berbuat

apa, murid bungsu tolol? Apakah engkau hendak mengandalkan budak gembel itu...?" katanya mencemooh. "Keparat...! Kami memang sengaja datang ke mari untuk menghancurkan maling pengecut dan sekalian mencabut nyawa Dwi Keadilan yang brengsek dan cabul...!" kertak Luluh gusar sekali.

"Bocah pentil! Siapakah engkau ini...!" menyela Dwi Keadilan tibatiba.

"Guru... cunguk betina ini merupakan murid dari musuh besarmu si Mambang Pitutur...!" kata Purwaningsih memberi penjelasan. Betapa terkejutnya Majikan Gagak Hitam ini begitu mendengar ucapan Purwaningsih muridnya. Betapa tidak, beberapa orang murid tertua Mambang Pitutur semuanya telah masuk ke dalam perangkapnya tanpa dapat melakukan perlawanan yang berarti bahkan semua itu hanya cukup dikerjakan oleh para murid-muridnya. Tetapi kini kehadiran murid bungsu, yang menurut selayaknya hanya memiliki kepandaian jauh di bawah kepandaian para pendahulunya, kok malah membuat semuanya jadi berantakan.

12

Sudah sewajarnya kalau hatinya diliputi oleh tanda tanya besar. Lalu tanpa sadar tiba-tiba dia berkata:

"Jadi engkau ini muridnya si setan suci itu. Hi... hi... hi... kukira tanpa bantuan pemuda gembel ini. Tentu nasibmu malah lebih buruk dari saudara-saudara seperguruanmu yang sudah tiada guna itu...!"

Sesaat Luluh tersentak, dia sudah dapat menduga-duga apa arti ucapan Dwi Keadilan. Kakak seperguruannya pasti sudah menjadi korban nafsu biadab perempuan jalang ini.

"Hari ini kami akan menghancurkan sebuah kesombongan dan juga menghapuskan sebuah nama besar yang paling kotor di atas dunia ini...!" bentak Luluh sangat marahnya.

Baik Purwaningsih maupun Dwi Keadilan, dua-duanya sama tertawa mengekeh.

"Jangan mimpi, sebaliknya kalian berdua dengan segera akan kami kirim ke akhirat!"

"Luluh! Semuanya sudah jelas. Engkau hadapilah si Jubah Kuning itu. Biar dua orang ini menjadi bagianku...!"

Tidak seperti biasanya, kini pendekar Hina Kelana sudah sejak awal telah melakukan serangan terlebih dulu. Menyadari dua orang lawan sudah dapat dipastikan merupakan lawan yang sangat tangguh. Maka begitu melakukan serangan dia langsung mempergunakan pukulan yang paling ampuh.

Begitu juga halnya dengan Luluh. Gadis ini nampaknya tak ingin bertindak tanggung-tanggung. Saat mana si Jubah Kuning datang menerjang, dia segera pergunakan jurus-jurus Seruling Bayangan tingkat yang paling tinggi. Baik tubuh maupun seruling di tangannya nampak berkelebat sedemikian cepatnya sehingga gerakan-gerakannya yang sedemikian ringan, membuat lawannya harus mengerahkan segenap kemampuannya.

Di lain pihak, saat itu pendekar Hina Kelana meski pun saat itu sudah mempergunakan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Tetapi nampaknya tidak berarti banyak bagi pihak lawan. Seranganserangan itu selalu luput dari sasarannya, hal ini sudah barang tentu membuat si pemuda menjadi uringuringan. Betapa tidak! Pukulan Empat Anasir Kehidupan yang dia pergunakan sudah sampai pada tingkat yang paling tinggi. Selama ini belum ada seorang lawan pun yang mampu bertahan hidup sampai pada tingkat kedua sekalipun. Akan tetapi kini Majikan Gagak Hitam beserta muridnya malah mampu mengelakkan pukulan ampuh itu sampai pada tingkat yang paling tinggi! Hal ini sudah barang tentu di luar perhitungannya. Dalam hati pemuda ini mengeluh. Lalu timbul pula pertanyaan, mungkin kitab Pusaka Jurus Bayangan yang terkenal sangat dahsyat itu telah berhasil dikuasai oleh lawan-lawannya? Kalau dugaannya itu ternyata benar, maka akan terasa sangat sulitlah baginya untuk mencari titik kelemahan para lawannya.

Pada saat itu, Majikan Gagak Hitam dan muridnya nampak mulai mendesak dan melakukan pukulan-pukulan jarak jauh, secara beruntun bahkan berkepanjangan. Sedapat-dapatnya pendekar ini berusaha mengelak. Tubuhnya melompatlompat mirip seekor monyet hutan yang setengah gila. Tetapi walaupun caranya mengelak dan berkelit sudah sedemikian cepat luar biasa. Satu saat dia kecolongan juga.

"Bum! Bum!"

Tubuh pendekar Hina Kelana terpelanting roboh, darah berlelehan dari hidung dan bibir. Dadanya bagai remuk, secepatnya dia berusaha bangkit. Tetapi kedua kakinya goyah dan rasanya tiada bertenaga. Saat itu pihak lawan yang sudah kesetanan ini, nampak terus memburu dan kirimkan satu pukulan Gagak Maut.

Buang menggerutu. Selarik sinar hitam pekat datang membadai dan menderu-deru ke arahnya. Sementara itu dari arah lain Purwaningsih melepaskan pukulan yang sama. Buang Sengketa berusaha mengelak dengan cara berguling, namun hasilnya tetap saja.

"Blam!"

Bukan main parah luka yang diderita oleh pemuda ini, dia terbatukbatuk, lalu darah menggelogok dari mulutnya. Luluh nampak menjerit tertahan begitu menyaksikan keadaan yang diderita oleh pemuda yang telah menjatuhkan hatinya ini. Tetapi untuk memberikan pertolongan tak mungkin, sebab dia sendiri kini sedang berusaha mendesak lawannya untuk segera mengakhiri pertarungan. Gadis itu nampak sangat marah sekali. Sebagai pelampiasannya dia putar serulingnya lebih sebat. Sehingga dalam waktu sekejap membuat lawannya pontang-panting dalam mengelakkan serangan-serangan yang dilancarkannya. Dalam pada itu, Majikan Gagak Hitam dan muridnya nampak tertawa tergelak-gelak. Mereka sudah begitu sangat yakin bahwa kemenangan berada di

pihaknya.

Sambil menyiapkan pukulan Gagak Maut tingkat paling tinggi dia berkata penuh kemenangan:

"Bocah gembel! Mulanya aku bermaksud membuatmu bahagia, tetapi karena engkau begitu kejam telah membunuhi murid-muridku. Sebagai balasannya engkau pun harus menerima kematian dengan cara yang sangat mengerikan dariku...!"

Pendekar Hina Kelana tak menyahut, sebaliknya dia segera mencabut Golok Buntung yang terselip di pinggangnya. Terasa ada aliran hangat yang menjalari pori-pori tubuhnya. Begitu senjata itu berada dalam genggamannya. Rasa sakit di dalam rongga dadanya secara perlahan terasa mulai sirna walau tidak bisa dibilang sembuh secara keseluruhan. Kini secara perlahan kedua mata pemuda itu yang tadinya nampak terkatup rapat sudah mulai nampak membuka. Kedua matanya yang nampak memerah itu nampak menatap tajam pada guru dan murid secara silih berganti. Sesungging seringai maut sekejap kemudian membekas di wajahnya yang mulai kembali seperti sediakala. Tiba-tiba ia membentak!

"Manusia-manusia budak iblis, kalau hari ini aku tak dapat membunuh kalian berdua. Lebih baik kutebus dengan kematianku sendiri...!" mengerang pendekar ini bagai harimau terluka. Dwi Keadilan nampak mencemooh, tetapi begitu dia melihat senjata di tangan lawannya nampak mengeluarkan sinar merah menyala, tak urung hatinya keder juga. Tetapi kemudian dia berseru lantang.

"Budak... nyawamu sudah berada di ambang maut! Tetapi engkau masih juga jual lagak di depan kami...!" bentak Majikan Gagak Hitam.

Kemudian secara bersamaan, Dwi Keadilan dan Purwaningsih melepaskan pukulan mautnya. Dua gelombang sinar hitam berkekuatan sangat besar kembali bergulung-gulung mengarah pada pendekar Hina Kelana. Kini dengan senjata di tangannya pendekar ini tanpa sungkan-sungkan lagi langsung saja memapaki.

"Breess!"

"Breess!"

Dua tenaga besar yang dilepas oleh lawan-lawannya, langsung amblas tersedot senjata pendekar Hina Kelana. Dan bukan main terkejutnya mereka ini, begitu menyadari tubuh mereka terasa terbetot sebuah kekuatan raksasa.

Buang Sengketa tampak diam tidak bergeming, sementara tubuh lawanlawannya terus terseret mendekati senjata di tangan si pemuda. Tetapi sebagai orang yang berpengalaman, Dwi Keadilan tentu tidak bodoh. Dia menyadari selama mereka masih mengerahkan tenaga mereka, maka selama itu pula senjata di tangan lawannya tetap membetot tubuh mereka. Untuk mengatasi keadaan seperti itu satu-satunya cara adalah menarik balik tenaga dalam yang mereka kerahkan. Untuk itu dia berteriak pada muridnya.

"Purwaningsih? Jangan engkau kerahkan tenaga dalammu...!" perintahnya.

Lalu secara bersamaan pula mereka menarik balik tenaganya.

"Hiat! Hiat!"

Tubuh mereka nampak berjumpalitan tetapi sebelum kaki-kaki mereka dapat berpijak di atas tanah, Buang Sengketa sudah lambaikan Pecut Gelap Sayuto.

"Ctar Ctarr...! Ctarrr...!" Bukit yang mengapit tempat ke-

diaman Majikan Gagak Hitam nampak runtuh seketika itu juga, batu-batu di atasnya nampak berjatuhan. Mendadak langit menjadi gelap gulita disertai hujan petir yang sambung menyambung. Terkecuali pendekar ini, semua yang hadir di tempat itu nampak terkesima. Bukan main terkejutnya hati mereka demi melihat kejadian ini. Tetapi tidak begitu halnya dengan pendekar Hina Kelana yang sudah bagai dirasuki setan ini. Tanpa sepatah kata pun tubuhnya berkelebat, pecut di tangan kirinya kembali menyambar-nyambar dan timbulkan suara bergemuruh, suasana di sekitarnya semakin bertambah gelap gulita. Dalam keheran-heranan itu, tiba-tiba Golok Buntung di tangan pemuda ini mendengung dua kali.

"Crat! Craaaas...!"

Baik tubuh Dwi Keadilan maupun tubuh muridnya, nampak berputar-putar begitu senjata di tangan pendekar itu membabat batang leher mereka. Sebelum mereka menyadari apa sesungguhnya yang telah terjadi, nyawa mereka telah keburu melayang. Beberapa saat kemudian tubuh yang terputar-putar dengan darah menyembur itu pun langsung ambruk ke bumi. Berkelojotan, lalu diam untuk selama-lamanya.

Sementara pada saat yang hampir bersamaan Luluh telah pula menyelesaikan tugasnya. Gadis Jubah Kuning, seperti yang lain-lainnya tewas di tangan Luluh dengan luka yang sangat menyedihkan.

Dalam pada itu pendekar Hina Kelana nampak sedang memeriksa tubuh Purwaningsih. Begitu dia tak mendapati kitab pusaka Jurus Bayangan di bagian tubuh gadis sesat ini, maka dia beralih pada Majikan Gagak Hitam yang nampak menggeletak tak jauh dari mayat muridnya. Barulah setelah memeriksa mayat Dwi Keadilan di sana sini, Pendekar ini mendapati sebuah kitab yang sesungguhnya sangat tipis sekali. Sesaat lamanya, dia nampak memperhatikan sampul kitab tersebut. Kemudian dia menoleh, tetapi dia tak melihat adanya Luluh di tempat itu.

Pendekar Hina Kelana mencaricari, lalu tatkala dia mendengar suara isak tangis dari arah sebuah kerangkeng. Maka dengan sangat tergesa-gesa dia mengayunkan langkah ke sana.

Bila pemuda itu telah sampai di tempat itu, dilihatnya Luluh nampak terisak-isak sambil memeluki tubuh seorang laki-laki yang sudah kaku membeku.

"Kakang Eka Dawana... hu... huuu.., huu! Akhirnya engkau pergi juga. Guru pasti akan kehilangan engkau, kakang...!" sesalnya terisak-isak.

Dalam pada itu, meskipun hati si pemuda ikut terharu, tetapi pada akhirnya dia menyela:

"Dari tiada, kemudian ada, lalu kembali ke tiada. Itu adalah hal yang sangat wajar. Kita juga bakal mengalami nasib seperti dia, hanya tinggal tunggu waktu saja. Daripada menangis dan bersedih, lebih baik kita rawat mayat Eka Dawana saudara seperguruanmu itu...!" desah si pendekar tampan ini berusaha menghibur.

Beberapa saat kemudian, Luluh hentikan tangisnya. Serta merta dia beranjak ke luar dari kerangkeng. Meskipun hatinya masih bersedih, namun dipandanginya pemuda ini tanpa berkedip sedikitpun. Sepanjang matanya yang berbinar-binar indah nampak menyiratkan cinta kasihnya yang mendalam. Tiba-tiba dia mendekat dan berkata:

"Engkau benar-benar seorang pendekar sejati, aku kagum dengan kesaktian yang engkau miliki. Lebih dari itu, semua keluarga Pulau Bayangan merasa sangat berhutang budi padamu...!" ucap Luluh sambil tetap memandang penuh arti.

Sebentar Buang Sengketa menundukkan kepalanya, lalu berkata pelan:

"Lupakan semua itu, semua itu sesungguhnya satu kewajiban belaka...! Oh ya, ini kitab milik gurumu, engkau bisa menyerahkan padanya, nanti...!" kata si pemuda sembari menyerahkan kitab tersebut pada Luluh. Gadis itu menerimanya, tetapi ia masih bertanya.

"Apakah engkau tidak mau singgah ke Pulau Bayangan...?" tanya si gadis resah.

Buang Sengketa tersenyum maklum, lalu dipegangnya bahu si gadis, kemudian seketika lamanya mereka saling berpandangan lalu wajah mereka saling mendekat. Sekejap mereka saling berpagutan, hanyut dan mesra. Hanya sebatas itu. Ketika mereka teringat akan mayat Eka Dawana. Maka Luluh pun dengan wajahnya yang kemerahan karena menahan rasa malu menyela.

"Engkau belum menjawab pertanyaanku...! Dan kita belum mengubur mayat Eka Dawana, kakang seperguruanku...!" ucapnya bertubi-tubi.

Pendekar Hina Kelana menganggukan kepala pelan.

"Aku tak mau dengan jawaban seperti itu...!" kata Luluh mengajuk. Rewel amat gadis ini. Batinnya.

"Baiklah aku bersedia mengantarmu ke Pulau Bayangan. Sekalian mengurus mayat Eka Dawana terlebih dahulu!" jawab si pemuda.

Gadis murid Pulau Bayangan itu nampak tersenyum puas begitu mendengar jawaban Pendekar Hina Kelana. Kemudian segera melakukan pekerjaannya tanpa bicara sepatah kata pun.

T A M A T