Serial Pendekar Hina Kelana Eps 06 : Pusaka Penebus Dendam

 
Eps 06 : Pusaka Penebus Dendam


Tubuh tumpang tindih berlumuran darah, kaki, tangan, kepala terputus dari badannya. Usus terburai, tua muda, laki-laki perempuan bahkan sampai pada anak-anak yang tiada memiliki dosa apa-apa, semuanya tewas terbantai. Mayat-mayat bergeletakan di mana-mana, bau kotoran dan amis darah, semuanya berbaur menjadi satu. Pemandangan di daerah itu benar-benar sangat mengerikan sekali bahkan terlalu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Hujan yang turun begitu lebatnya sejak awal terjadinya peristiwa pembantaian itu bahkan hingga peristiwa pambantaian itu berakhir, masih belum juga reda. Akan tetapi guyuran hujan yang begitu lebatnya tak mampu memadamkan kobaran api yang membakar seluruh rumah yang ada di desa itu. Bau daging terbakar ke mana-mana. Sesungguhnya memang begitu! Di antara korban-korban itu memang ada yang tidak sempat keluar dari rumahnya. Mereka ini langsung dibunuh di tempat oleh serombongan orang-orang berkuda yang jumlahnya tidak lebih dari empat puluh orang!

Tidak begitu jauh dari tempat malapetaka itu terjadi, tampak seorang pemuda berlari cepat menuju daerah yang kini sedang dilanda lautan api. Gerakannya sangat ringan, tubuhnya berkelebat di sela-sela pohon rumbia. Dalam waktu sekejap sampailah dia ditempat kejadian! Wajah pemuda ini mendadak berubah pucat, jantung berdetak cepat! Apa yang dia lihat hanyalah tumpukan mayat di sana sini. Mayat dari orang-orang yang sangat dikenalnya bahkan mungkin orang-orang yang sangat dicintainya. Pemuda ini kemudian melangkah cepat pada bekas sebuah rumah yang selama ini dia tinggalkan, bahkan hampir empat tahun lebih. Begitu sampai di depan rumah yang kini hanya tinggal puing dan bara menyala, sepasang matanya yang selalu menatap hampa itu nampak liar memandang ke sekelilingnya. Di halaman samping, dia melihat sosok tubuh bermandikan darah nampak tergeletak tanpa daya. Dengan sekali lompat, sampailah pemuda ini pada mayat seorang perempuan tua yang tak lain merupakan ibu kandungnya sendiri. Pemuda itu segera membalikkan tubuh yang sudah dingin dan kaku ini. Begitu tubuh itu terlentang dia berseru tanda kaget luar biasa. Selain isi perutnya yang terburai, wanita malang itu juga mengalami luka pada bagian dada, dan juga pangkal tenggorokan yang hampir terputus. Lebih dari itu, pada bagian kepala nampak cengkah bekas di pukul benda tumpul sehingga otaknya yang berwarna putih kecoklat-coklatan itu berhamburan ke mana-mana. Pemuda ini meraung setinggi langit! Suaranya menyayat memilukan hati! Sambil menangis itu dipelukinya tubuh ibunya yang malang. Pemuda itu terus menangis dan tiada henti-hentinya dia meratap, bahkan menyesali dirinya sendiri. Tangis yangberkepanjangan dan tiada henti, dalam waktu sekejap saja telah membuat kedua mata pemuda itu menjadi merah dan membengkak. Akhirnya dia pun sadar, meskipun tetesan air mata darah sekalipun yang ke luar, hal itu tak kan mungkin menghidupkan orang yang sudah mati. Tiba-tiba dia seka kedua kelopak matanya yang agak le-bar itu, kedua bola matanya menatap hampa pada orang yang paling sangat dikasihaninya. Seorang ibu yang selama hampir sembilan belas tahun telah mengasuhnya dengan pengorbanan yang tiada sedikit.

Lebih dari itu, siapakah yang telah begitu tega membunuh ibunya yang dikenal orang sebagai orang yang sangat baik dan penyantun pada sesama mahluk hidup. Sepanjang yang dia ingat, ibunya yang bernama Pujita Sari itu tidak mempunyai seorang musuh pun. Terlepas dari semua itu, dia merupakan seorang tokoh silat yang memiliki kepandaian sangat tinggi. Kalau hanya mendapat keroyokan tiga sampai sepuluh orang belum tentu dia akan kalah, lebih dari itu mengapa sampai desa itu dibakar bahkan tak seorangpun dari penduduknya yang dibiarkan hidup? Perbuatan biadap siasehingga berani turun tangan sampai sekeji itu? Memandangi mayat ibunya! Lama-lama pemuda itu berkata seorang diri.

"Aduh emak! Kalau aku tau akan begini jadinya, tidak aku turuti perintahmu untuk berguru pada eyang Siku Panulu! Empat tahun adalah waktu yang sangat lama! Engkau kutinggalkan seorang disini, semua itu hanya karena aku ingin disebut sebagai seorang anak yang berbakti! Akan tetapi...!" Belum lagi pemuda bertangan buntung itu sempat melanjutkan kata-katanya, mendadak tiga butir air matanya menggelinding jatuh, dia teramat sedih, hatinya benar-benar sangat terpukul. Dengan masih tersendat dia menyambung kembali," Emak! Belum lagi aku dapat membalas semua kebaikanmu, tiba-tiba engkau pergi dengan keadaan yang sangat menyedihkan sekali! Oh! Pada siapa kuharus bertanya tentang semua ini...!" ujar si pemuda dengan wajah semakin kuyu.

Lagi-lagi dia memandang pada sekelilingnya, mayat-mayat bergelimpangan, darah berceceran! Secara tiba-tiba pemandangan seperti itu membangkitkan amarahnya. Kedua matanya mendadak bernbah liar dan beringas, tubuh menegang, sementara kedua bibirnya terkatup rapat-rapat.

"Mayat-mayat tak berdosa! Pembunuh-pembunuh bangsat...! Iblisiblis berhati laknat...! Tak kan kubiarkan semua ini berlalu begitu saja. Kalian telah membunuh penduduk desa yang tiada berdosa. Kalian telah membunuh emaaaakkuuuu...!" Bagai orang yang sedang kerasukan setan pemuda ini berteriak-teriak memecah keheningan. Si pemuda yang sedang mengalami guncangan batin yang sangat hebat ini tiba-tiba berubah bagai orang linglung, sebentar dia menangis bagai anak kecil di lain saat dia tertawa tergelak-gelak sambil mengumbar pukulan-pukulan yang sangat dahsyat, di sekitar tempat itu menjadi porak peranda. Tubuh-tubuh yang sudah tiada bernyawa itu berpelantingan tak tentu ujudnya. Agaknya dia sudah berubah menjadi edan, karena tidak mampu menahan guncangan batin yang maha hebat. Sambil memanggul tubuh ibunya yang sudah kaku dia berjingkrakjingkrak kesana ke mari.

Pada saat yang bersamaan tibatiba terdengar gelak tawa yang sangat memekakkan gendang-gendang telinga. Begitu suara tawa menggelegar itu terhenti, mendadak terdengar pula ucapan mengejek dan mencaci maki:

"Budak tolol yang bernama Awang Taruna! Kunyuk hina yang mengaku sebagai anak cecurut golongan berhati lurus! Bagimu kematian mungkin sesuatu yang sangat mengerikan! He.., he... he...!" kata suara itu sambil terkekeh kembali. Akan tetapi sesungguhnya kematian itu walau bagaimana ujudnya merupakan sesuatu yang pasti dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Mengapa harus menyesal, mengapa engkau harus marah? Semua penduduk di desa ini memang sudah selayaknya mampus. Pula kematian ibumu yang berkedok sebagai kaum yang lurus! Membabat rumput memang harus tuntas sampai ke akar-akarnya agar kelak tak menjadi biang penyakit. Karena mereka memang masih kurang begitu becus membongkar akar! Maka kami akan melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai...!" kata suara itu dengan nada penuh ancaman.

Awang Taruna yang mulai detik itu fikirannya memang sudah tak dapat berjalan normal, malah nampak tertawa panjang-panjang. Meskipun begitu, keberingasan tetap terpancar dari tatapan matanya yang memerah.

"Kematian... menyesal... marah...! Agaknya engkau setan neraka yang telah membunuhi mereka...!" bentak Awang Taruna yang memang sudah berubah setengah gila.

"Kalau memang benar engkau setan neraka! Tunjukanlah mukamu...!" kata Awang Taruna menyambung. Terdengar kembali gelak tawa dari rerumpunan pohon rumbia.

"Rupanya kematian ibumu benarbenar telah membuatmu menjadi setengah gila Bagus... membunuh orang gila memang sama mudahnya dengan membunuh seekor anjing kesurupan...!" Bersamaan dengan ucapannya itu, tahu-tahu di depan Awang Taruna telah berdiri dua orang kakek bungkuk berkepala botak berjanggut putih. Tubuh mereka setengah telanjang dengan bercawatkan kulit kambing. Mulut kedua orang ini tak henti-hentinya berkomat-kamit. Sedangkan hampir keseluruhan badan mereka dipenuhi dengan gambar tatto perempuan telanjang dengan berbagai posisi. Orang-orang persilatan mengenal mereka sebagai Dua Bangkotan Pelalap Daun Muda berasal dari Pulau Putri. Selama malang melintang dalam rimba persilatan mereka ini terkenal dengan segala kejahatannya dalam menculik dan melarikan anak bini orang. Ilmu kepandaian mereka, golongan manapun belum ada yang mampu menandinginya, telengas dan merupakan dua orang pembunuh berdarah dingin. Di kolong langit ini hanya ada seorang tokoh yang membuat mereka jeri. Yaitu dedengkot persilatan golohgan putih yang telah hampir dua puluh tahun mengasingkan diri di dasar air terjun Sampuran Harimau. Siapa lagi kalau bukan Eyang Wiku Panulu yang juga masih merupakan guru Awang Taruna yang sudah berubah setengah gila.

Kini ketiga orang itu sudah saling berhadap-hadapan, kedua kakek botak yang memiliki nama asal Datuk Kwalat dan Datuk Kwali ini memandang sinis pada Awang Taruna setengah gila. Sesungging senyum sinis membangkitkan dendam masa lalu mereka pada Pujita Sari, yaitu ibu kandung Awang Taruna. Tiba-tiba Datuk Kwalat menghardik: "Hemmm! Engkau titisannya Bayu Siliwara yang telah merampas Pujita Sari dari genggaman kami! Wajahmu benar-benar sangat mirip dengan Bayu Siliwara yang telah mampus delapan belas tahun yang lalu di tangan kami. Meskipun si Bangsat itu telah mampus, akan tetapi dendam kami tetap setinggi langit! Pujita Sari yang kami cinta telah berangkat pula ke akherat oleh tangan-tangan si Kumbang Kencana. Kami tak hendak bermusuhan mereka, karena sesungguhnya Kumbang Kencana juga terlibat hubungan cinta dengan emakmu yang dulu sangat cantik menggiurkan setiap laki-laki...!"

"Kupu-kupu malang itu kini telah mampus! Sebagai keturunannya engkau pun harus mampus pula...!" sambung Datuk Kwali.

Sementara itu, Awang Taruna yang kesadarannya sudah mulai hilang timbul nampak terlongong-longong. Meskipun begitu dia mempunyai anggapan bahwa pastilah orang yang sedang berhadapan dengan dirinya itu merupakan orang yang menyebab malapetaka di desanya.

"Bangsat betul! Emakku yang sudah tua engkau bilang kupu-kupu! Jadi kalianlah monyetnya yang telah membunuh orang-orang di sini...!" bentak Awang Taruna tertawa sambil marah. Baik Datuk Kwalat maupun Datuk Kwali, nampak saling pandang sesamanya, mereka geleng-gelengkan kepala. Karena pada kenyataannya si pemuda keturunan Bayu Siliwara itu benar-benar sudah setengah gila.

"Bocah edan! Bukan kami yang bunuh emakmu... tapi komplotan Kumbang Kencanalah yang telah melakukannya! Biarpun begitu, karena engkau monyet keturunannya Bayu Siliwara, maka kami pun akan membunuhmu...!" bentak Datuk Kwali sangat marah. Awang Taruna tergelak-gelak, digoyang-goyangkan mayat ibunya yang menggelantung di bahu kirinya. Sisa-sisa darah nampak menetes lalu membasahi bajunya yang berwarna kuning gading.

"Bagus... bagus...! Kalian memang benar-behar seorang ksatria... sudah membunuh orang banyak mau pula mengakui perbuatannya. Cepat-cepatlah kalian membunuh diri di depan mataku, biar tak usah bersusah payah aku mengotori tanganku dengan darah...!"

Demi mendengar jawaban si pemuda, mendadak wajah Dua Bangkotan Pelalap Daun Muda berubah menjadi kelam membesi. Mereka memaki panjang pendek! Cara berfikirnya Awang Taruna yang sudah salah kaprah itu membuat kedua orang ini menjadi sangat kesal setengah mati.

"Kunyuk sinting! Kiranya kematian emakmu, benar-benar telah membuatmu jadi gila...!" bentak Datuk Kwalat sangat murka sekali.

"Kalau begitu cepat kita gebuk saja bocah gendeng ini kakang...!" Datuk Kwali sudah tak sabaran lagi. Dalam pada itu tanpa menghiraukan ucapan kedua Bangkotan Pelalap Daun Muda, Awang Taruna malah balas membentak:

"Tua bangka muka tuyul...! Sedari tadi kalian cuma ngoceh tak karuan! Katanya mau bunuh diri, mana...! Cepat lakukan...!"

"Kakang, bocah gemblung ini mulutnya semakin kurang ajar saja...!" ujar Datuk Kwali sambil perotkan mulutnya.

"Engkaupun tolol! Sudah ketahuan orang gila, masih juga kau ajak ngomong! Tunggu apa lagi! Mari kita gebuk beramai-ramai...!" Tanpa berkata-kata lagi, kedua Datuk dari Pulau Putri inipun langsung menyerang Awang Taruna. Biarpun sudah setengah gila, agaknya naluri kependekarannya masih menyadari adanya bahaya yang sedang mengancamnya, dengan sangat mudah dia berkelit kemudian mundur sepuluh langkah.

* * *

2

Dengan masih memanggul mayat ibunya, pemuda linglung inipun membentak marah pada kedua datuk ini: "Kurang ajar! Kalian telah mengingkari janji kalian sendiri! Kalian benar-benar setan berkedok tuyul...! Setan tuyul harus mampus!

"Malang sekali nasibmu bocah! Sudah gila harus mampus pula...!" berkata begitu Datuk Kwalat langsung menerjang dengan serangan-serangan ganas, Datuk Kwalipun tidak tinggal diam, dengan jurus Menyibak Kuntum Menghisap Madu, laki-laki berkepala botak ini kirimkan pukulan-pukulan yang sama hebatnya pada Awang Taruna. Tangan dan kaki mereka berkelebat sangat cepat, mencecar bagian tubuh Awang Taruna yang nampak lemah dan rawan. Inilah sifat dari jurus Dewa Timbulkan Bencana yang pernah diturunkan oleh gurunya Eyang Wiku Panulu. Memancing lawan untuk memukul atau lancarkan serangan pada bagian yang sengaja dibiarkan terbuka setelah lawan terpancing dan lancarkan serangan maka dengan cepat kirimkan pukulan yang mematikan.

Ternyata pancingan yang dilancarkan oleh Awang Taruna yang setengah edan itu nampaknya mendatangkan hasil. Karena begitu melihat pertahanan lawan nampak terbuka di beberapa bagian, bagai anjing yang hendak berebut tulang. Kedua datuk bersaudara inipun langsung kirimkan satu pukulan yang ganas mengarah pada bagian perut, dada serta leher lawannya. Pukulan ganas itupun menderu dan timbulkan suara menggemuruh bagaikan hujan lebat. Hanya tinggal berjarak satu inci saja pukulan itu mencapai sasarannya. Dalam hati merekapun berharap, dengan satu kali pukulan yang berisi tenaga dalam itu segera meremukkan dada dan perut lawannya. Akan tetapi sungguh di luar dugaan kedua orang ini, secepat kilat tubuh Awang Taruna melesat cepat ke udara sambil hadiahkan dua pukulan hebat yang oleh Eyang Wiku Panulu diberi nama Menembus Kabut Memukul Hantu pada kedua orang datuk ini. Baik Datuk Kwalat maupun Datuk Kwali yang tiada menyangka bahwa pukulan mereka dapat dielakkan oleh lawannya yang sudah setengah gila, nampak menjerit keras. Kepala mereka yang botak pelontos nampak memar membiru, terasa sangat panas dan pusing luar biasa. Lebih dari itu di samping pihak lawan yang dapat mengkelit pukulan mereka, bahkan hadiahkan dua pukulan sekaligus. Celakanya pukulan mereka malah saling bertubrukan sesamanya. Kedua tangan yang saling berbenturan sesamanya ini nampak membengkak dan berubah kehitam-hitaman, berdenyut sakit luar biasa. Kedua datuk ini nampak menyurut beberapa langkah, wajah mereka pucat pasi. Nafas ngosngosan bagai habis diburu setan kubur. Cepat-cepat mereka telan dua butir pil penawar racun milik pukulan mereka sendiri. Beberapa saat kemudian, tangan yang menghitam itu sudah berubah menjadi sediakala. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi kejut di hati mereka begitu kedua Datuk ini saling memandang sesamanya. Datuk Kwalat dapat melihat betapa akibat pukulan yang dilepaskan oleh si pemuda setengah gila telah membuat kepala kembratnya nampak benjol sebesar telur angsa, begitupun kala dia meraba kepalanya sendiri, keadaannya tidak lebih baik dari kembratnya. Bukan alang kepalang datuk ini malu bercampur murka. Sepanjang sejarahnya selama malang melintang dalam rimba persilatan, belum pernah mereka dipermalukan seperti ini! Kalaupun mereka mendapat lawan tangguh ataupun setingkat biasanya hanya dengan waktu lima belas jurus saja mereka sudah dapat merobohkannya atau bahkan membunuhnya sekaligus. Tetapi kini seorang pemuda yang masih ingusan bahkan terganggu pula jiwanya, mampu mengelakkan pukulan-pukulan mereka yang diberi nama Menyibak Pelangi Merampas Bidadari, lebih dari itu pemuda kurang waras inipun sempat menghadiahkan dua pukulan yang mampu membuat kepala mereka mendapat benjol sebesar telur angsa. Hal ini sungguh keterlaluan dan bahkan sangat memalukan. Benar-benar gila!

Kedua datuk itu kemudian saling pandang sesamanya, tak lama kemudian dengan diawali jerit tinggi melengking. Kedua orang ini langsung saja kirimkan pukulan-pukulan jarak jauh yang lebih hebat dari sebelumnya. Awang Taruna nampaknya malah lebih gila lagi dalam bergebrak, dengan mengandalkan pukulan Membalik Air Terjun Menendang Bayang-Bayang, dengan sangat cepat dia memapaki pukulanpukulan yang dilancarkan oleh lawanlawannya. Pemuda gila ini mana perduli lagi dengan keselamatan diri sendiri. Masih merupakan keuntungan bagi dirinya meskipun kesadarannya selalu hilang timbul, akan tetapi gerakangerakan silatnya yang sudah sangat terlatih membuat tangan dan kaki selalu melakukan gerakan-gerakan reflek yang tiada dapat diduga-duga, oleh lawannya. Satu saat datuk-datuk dari pulau Putri ini lakukan pukulan yang diberi nama Kumbang Jantan Menendang Kuncup. Pukulan yang terkenal ganas ini merupakan puncak dari ilmu sesat yang mereka miliki. Tangan-tangan mereka nampak terpentang ke atas, beberapa saat kemudian tubuh datuk-datuk ini tergetar dan tampak menegang untuk beberapa saat lamanya. Sampai kemudian dengan diawali jerit melengking secara ber-samaan mereka pukulkan kedua tangannya mengarah pada si pemuda. Gelombang pukulan berwarana merah menyala menderu dan timbulkan suara bercuitan. Awang Taruna nampak berjingkrak kaget begitu merasakan hawa pukulan yang dilepaskan oleh kedua orang Datuk dari Pulau Putri ini. Secara refleks dia cabut pedang yang terselip di bagian pinggangnya. Cepat-cepat dia putar pedang untuk melindungi diri. Tanpa ampun gelombang pukulan yang dilancarkan oleh kedua datuk inipun melabrak benteng pertahanan Awang Taruna yang berupa gulungan sinar pedang pemberian Eyang Wiku Panulu itu. Dan pada saat itu juga.

"Trang! Trang!"

Benturan yang sangat keras itupun terjadi! Yang anehnya begitu pukulan yang dilancarkan oleh Datuk Kwalat maupun Datuk Kwali membentur gulungan sinar pedang milik Awang Taruna, nampak membalik dan menyerang tuannya sendiri. Kalau saja kedua datuk dari Pulau Putri ini tidak cepat-cepat mengelak maka alamat binasalah kedua orang ini. Dengan sangat cepatnya pukulan Kumbang Jantan Menendang Kuncup ini melesat dan melabrak sebatang pohon di belakang mereka. Pohon itu ambruk dan timbulkan suara bergemuruh.

"Tobat!" rutuk Datuk Kwali panjang pendek.

"Bocah gila itu kiranya punya senjata dan pukulan yang membuat dunia persilatan mentertawai kita...!" umpat si Datuk Kwalat sambil terus berkomat kamit. Mendadak Datuk Kwali yang sejak tadi memperhatikan senjata yang tergenggam di tangan lawannya, berseru tertahan! Kedua matanya nampak melotot bagai hendak meloncat ke luar.

"Kakang! Lihatlah bocah edan itu menggenggam pedang milik Bangkotan Wiku Panulu! Kita tak bakalan unggul menghadapi bangsat ini kakang...!" seru Datuk Kwali ciut nyalinya. Pada saat itu Datuk Kwalat pun tak kalah terperanjatnya. Mendadak wajahnya berubah memucat. Kemudian dengan terheran-heran dia bertanya pada kambratnya.

"Dari mana dia peroleh pedang yang hampir membuat kita celaka beberapa tahun yang lalu itu ya adik...?"

"Mungkin dia merupakan murid dari si tua bangsat itu kakang...! Lihatlah tadi juga dia memainkan jurus-jurus yang pernah dimiliki oleh Wiku celaka itu...!" ujar Datuk Kwali mereka-reka. "Hhh! Benar juga katamu! Lalu bagai-mana ini...?!" tanya Datuk

Kwalat bagai orang linglung.

"Tunggu apa lagi! Kalau kita tak ingin mampus lebih baik kabur saja...!"

"Kalau begitu kita hubungi kawankawan kita!" Tanpa berfikir panjang kedua orang inipun sebentar saja telah berkelebat pergi dari tempat itu.

"Tuyul-tuyul bangsat! Mau kabur ke mana... tinggalkan dulu kedua gundulmu!" Celakanya begitu hendak kiblatkan kedua tangannya, mendadak sakit gilanya kumat. Beberapa saat kemudian Awang Taruna nampak kebingungan. Dasar orang gila! Musuh minggat ke Barat, eeh! Dia malah merat ke Timur!

* * *

Langit hitam, cakrawala hitam! Senja terus bergulir tiada henti. Sekejap pemuda berkuncir dengan sebuah periuk besar yang tiada pernah bergoyang walau dibawa berlari-lari secepat apapun memandang ke angkasa kelam! Dalam hati dia menggerutu sendirian! Hujan. Panas. Semuanya datang silih berganti. Tiada henti tiada pula berkesudahan. Sebentar lagi hujan lebat sudah akan mengguyur alam sekitarnya. Kalau dugaannya ternyata benar, sudah dapat dipastikan pula tubuhnya menjadi basah kuyup. Lebih celaka lagi kalau di kota yang dia tuju itu tak terdapat sebuah penginapan! Pendekar Hina Kelana belum lagi usai dengan kata-katanya ketika secara tiba-tiba hujan deras turun bagai tercurah dari atas langit sana. Dengan mempergunakan ajian Sapu Angin begitu cepat tubuh pemuda itu berkelebat. Dalam waktu sekejap saja dia sudah sampai di jalan besar yang menghubungkan tempat keramaian di kota itu! Pemuda itu nampak celingukkan begitu menginjakkan kakinya di tengahtengah kota itu. Begitu dia melihat adanya sebuah warung yang merangkap sebagai tempat penginapan langsung saja dia mengayunkan langkahnya ke sana! Tubuhnya yang kekar berotot nampak menggigil kedinginan begitu dia sampai di depan warung itu. Seorang pelayan laki-laki dengan tergopohgopoh tampak menghampiri si pemuda.

"Kisanak mencari siapa...?" tanya pelayan tadi berlagak pilon. Ditanya seperti itu, sudah barang tentu pemuda ini nampak keheran-heranan.

"Bapak! Bukankah tempat ini merupakan sebuah warung penjual makanan?" tanyanya dengan pandangan menyelidik. Laki-laki pelayan itu kelihatan tergagap dan menoleh kenan kiri bagai orang yang ketakutan. "Tu... tuan! Tempat ini memang sebuah warung. Akan tetapi dalam keadaan hujan begini kami tidak terima tamu! Dan lagi makanan memang sudah habis sejak sore tadi...!"

Buang Sengketa tersenyum getir begitu mendengar jawaban laki-laki itu. Pelayan ini benar-benar mau mengelabuhinya. Padahal tadi dia sempat melihat makanan yang dipajang di atas almari kaca. Kemudian dia teringat pada dirinya sendiri yang berpenampilan mirip seorang gembel!

"Bapak! Apakah engkau takut kalau aku tak mampu membayar makanan?" tanya si pemuda agak tersinggung. Sekejap dia merogoh sakunya, lalu keluarkan beberapa keping uang perak. Nampaknya pelayan ini semakin ketakutan saja.

"Bukan... bukan begitu maksudku Tuan! Makanan yang ada sudah di borong semua oleh orang...!"

Biarpun Buang Sengketa sudah mendongkol dalam hati, tapi dicobanya juga untuk bersabar.

"Kalau engkau tak dapat menyediakan makanan untukku! Apakah engkau bersedia menunjukkan kamar sebagai tempat aku menginap malam ini...!" tanya pendekar Hina Kelana sambil melirik pada laki-laki itu. Paras pelayan itu semakin bertambah memucat.

"Maaf Tuan! Di sini tidak ada penginapan, silakan Tuan cari di tempat lain saja...!" jawab laki-laki itu pula. Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara teguran dari dalam Kedai:

"Pelayan! Pekerjaanmu saja masih belum beres, mengapa kau layani segala macam kucing kurap? Cepat engkau usir dia sebelum selera makanku benar-benar terganggu”

Buang Sengketa meskipun sudah sangat kesal, tadi dia sudah berniat meninggalkan tempat itu untuk segera mencari penginapan yang lainnya. Akan tetapi mendengar sindiran dan bentakan seperti itu, tentu saja dia tak mau terima dan balik langkah kembali.

"Setan alas! Kiranya engkau telah membohongiku pelayan! Kucing kurap tidak engkau layani! Tapi Anjing buduk malah engkau biarkan melahap seisi warungmu...!" Buang Sengketa balas menyindir. Sesungguhnya dia ingin lihat macam apa tampangnya monyet yang tak memiliki peradatan itu. Laki-laki pelayan ini begitu mengetahui gelagat yang tak baik, segera melangkah ke dalam. Sesampainya di dalam dia lebih terperanjat lagi, karena dilihatnya laki-laki yang telah memberi perintah itu sudah sangat marah. Sekali cengkeram tubuh yang kurus itupun sudah terangkat tinggi-tinggi. Pelayan ini menggigil ketakutan.

"Maa... maafkan saya Tuan! Orang itu benar-benar tidak mau tahu! Pula aku sudah mencoba menasehatinya...!"

"Pelayan dungu! Pelayan goblok tiada guna. Pergi sana...!" Laki-laki berbadan ge-muk tinggi itu sekali saja mengayunkan tangannya, tubuh pelayan krempeng itu langsung melayang dan menabrak dinding warung hingga bobol berantakan.

* * *

3

Tubuh pelayan itu tersungkur ke luar dinding tembok dengan tulang kepala remuk dan nyawa melayang seketika itu juga. Mendidihlah darah Pendekar Hina Kelana demi menyaksikan kekejaman terjadi di depan matanya. Begitu laki-laki berbadan tinggi ini nampakkan wajah, pemuda ini untuk sesaat lamanya dia mengawasi laki-laki berkulit hitam macam arang ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Laki-laki berkumis melintang ini nampak mengenakan pakaian hitam pula, dengan simbol berbentuk seekor Kumbang Kencana berwarna putih dan terletak di bagian dada sebelah kiri. Di pinggangnya yang gembrot kedodoran tergantung pula sebuah golok besar yang hampir-hampir terjuntai sampai ke lantai. Di belakang laki-laki itu berdiri pula beberapa orang berpakaian sama. Menilik wajah mereka yang nampak kemerah-merahan, Buang Sengketa dapat menduga bahwa orang-orang itu sedang dalam ke adaan mabuk.

"Iblis Hitam! Kejam sekali pebuatanmu, benar-benar manusia dajal...!" Mengetahui keadaan si pemuda laki-laki kumis melintang ini nampak mencemooh. Dengan suaranya yang berat dan parau dia balas menghardik.

"Gembel hina! Lancang sekali mulutmu, tidakkah engkau tahu dengan siapa kau berhadapan...!" geram lalilaki itu melotot. "Huh! Yang kutahu aku sedang berhadapan dengan manusia iblis pantat kuali...!" Di ejek seperti itu, gusarnya bukan main wakil ketua Kumbang Kencana ini dibuatnya.

"Jahanam! Kau benar-benar ingin cari perkara dengan kami...!" kata laki-laki wakil ketua Kumbang Merah dengan kemarahan yang alang kepalang. Wajahnya yang hitam macam pantat periuk itu nampak menegang, sebentar kemudian telah berubah kelam membesi.

"Ha... ha... ha...! Sifatmu yang serakah dan telengas saja sudah terlalu sulit bagiku untuk mengampunimu! Engkau jangan pura-pura tak punya dosa...!" kata Buang Sengketa sambil tertawa mengekeh.

"Cuih! Bangsat... gembel! Besar juga nyalimu, berani turut campur segala urusan Kumbang Kencana. Sebut dulu namamu agar kami tak susah menulis namamu di atas kuburanmu nanti...!"

"Hak... hak... hak...! Sekali engkau jual lagak di depan hidungku! Tidak nantinya aku mengampuni jiwa anjingmu...!"

"Kakang Projo! Lancang sekali mulut bocah ini, sebainya kita gebuk saja beramai-ramai...!" kata laki-laki yang berdiri di samping si kumis melintang nampak tak sabaran lagi.

"Benar sekali ucapanmu itu Pariluwing! Kucing kurapan ini memang pantas mendapat hukuman yang setimpal...!"

"Tunggu apa lagi...! Anak-anak sikat dia...!" perintah laki-laki muka pantat kuali memberi komando. Buang Sengketa tergelak-gelak kembali.

"Mengapa harus kepalang tanggung, maju saja kalian semua...!"

"Sombong sekali mulutmu bocah! Menghadapi anak buahku saja belum tentu umurmu dapat bertahan sampai lima jurus di depan...!" ucap lakilaki kumis melintang memandang rendah pada Pendekar Hina Kelana. Serentak dengan usainya ucapan Projo sepuluh orang anak buah sudah bergerak dan mengepung Pendekar Hina Kelana. Pemuda ini tersenyum getir. Dengan ucapan seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri dia berkata:

"Beratus-ratus orang telah mampus karena kejahatannya! Mungkin kalian juga orang berikutnya yang mempunyai nasib tak lebih dari sekawanan domba liar yang selalu diburu untuk kemudian tersungkur dalam kematian yang menyakitkan...!" tukas Pendekar Hina Kelana dengan pandangan berapi-api. Tanpa menghiraukan ucapan pemuda ini, orang-orang bertampang beringas inipun menyambut.

"Heaaa... Shaaat...!" Langsung kesepuluh orang ini dengan berbagai senjata terhunus menyerang dahsyat pada Buang Sengketa. Dalam waktu sekejap saja di dalam kedai itu terjadilah pertarungan yang sangat seru. Pedang dan golok di tangan lawan-lawannya berkelebat ganas. Membabat, menusuk dan bahkan bagai sebuah rangkaian gelombang datang bertubi-tubi tiada henti. Dengan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra pendekar ini nampak bergerak cepat, tubuhnya dengan gerakan sangat ringan berkelebat-kelebat sehingga hanya merupakan bayang-bayang saja. Sewaktuwaktu tubuh pemuda ini bergerak merapat bahkan hanya berjarai satu jengkal saja dengan senjata lawanlawannya. Gerakan ini sesungguhnya hanya merupakan sebuah tipuan belaka. Sebab tak lama kemudian begitu, pengeroyoknya menyerang dirinya dengan diiringi teriakan-teriakkan membahana, secepat kilat dia berkelit.

"Hiaaat... Mampuslah...!" teriak beberapa orang lawannya.

"Wuut!" Buang Sengketa berkelit lagi, lalu bermunculanlah kesempatan yang benar-benar sangat dia nantikan. Kaki kirinya menendang ke arah selangkangan orang yang paling dekat dengan dirinya.

"Jrot!" Laki-laki gendut yang menyerangnya dengan sebilah pedang pendek itupun melolong kesakitan bagai kerbau disembelih, karena pusaka keramatnya tertabrak kaki lawannya. Tubuhnya langsung menggelupur dan berguling-guling mirip bayi kehilangan tetek ibunya. Tanpa menghiraukan lakilaki gendut itu Buang Sengketa terus bertindak.

"Tuk! Tuk! Tuk!" Tiga buah jemarinya dengan gesit telah menotok urat gerak ketiga orang lawannnya sehingga tubuh mereka menjadi kaku dan sangat sulit untuk digerakkan. Tak lama setelah itu dengan gerakan lebih cepat lagi, pemuda ini nampak berjumplitan. Kemudian begitu tubuhnya menukik, satu pukulan Empat Anasir Kehidupan yang terkenal sangat dahsyat itu melesat cepat dari kedua telapak tangannya. Selarik sinar yang hampir tak terlihat oleh kasat mata itupun menderu. Udara di sekitarnya menjadi sangat panas luar biasa. Tak ampun lagi pukulan yang terkena dahsyat itupun melabrak enam orang lainnya. Tubuh mereka berpelantingan beberapa tombak. Ada yang menabrak dinding hingga bobol, ada yang menabrak tempat penyimpanan barang pecah belah dan bahkan ada pula yang menabrak ketuanya sendiri yang bernama Pronjo itu. Tubuh-tubuh yang tersambar pukulan maut itu nampak tewas seketika itu juga. Sekujur badan mereka menjadi gosong dan sudah sangat sulit untuk dikenaIi lagi. Mengetahui anak buahnya berantakan hanya dalam waktu yang sangat singkat, bahkan beberapa orang di antaranya tewas pula dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pronjo wakil ketua Kumbang Kencana ini nampak sangat marah sekali. Di hatinya sesungguhnya dia keder juga. Sepuluh orang bawahannya itu bukanlah sembarangan orang, Mereka merupakan orang-orang pilihan yang sudah diuji dan tak perlu diragukan akan kemampuan mereka. Bahkan selama ini setiap ada kejadian apapun, wakil ketua Kumbang Kencana ini cukup mempercayakan pada kesepuluh orang bawahannya ini saja.

Akan tetapi kini menghadapi pemuda gembel yang menurut dugaannya semula tidak memiliki kepandaian apaapa, ternyata hampir kojor semuanya. Dengan kemarahan yang meluap-luap, orang inipun membentak: "Kunyuk Hina! Kiranya engkau memiliki kebisaan juga. Pantas saja engkau berani bertingkah di depan wakil ketua Kumbang Kencana...!"

"Jangankan hanya terhadap wakil ketua Kumbang Kencana bego! Terhadap segala wakil setan belang sekalipun kalau jumpa pasti kugebuk...!" kata Pendekar Hina Kelana dengan tawa mengekeh.

"Wah! Keparat betul! Nih makanlah...!" Tanpa basa basi lagi Pronjo hantamkan tangan kanannya mengarah pada bagian kepaIa lawannya. Selarik sinar hitam datang begitu cepat, bergulung-gulung bagai awan di langit lepas. Terhadap manusia telengas seperti manusia muka pantat kuali ini, mana mau Buang Sengketa bertidak ayal-ayalan. Langsung saja dia menyambuti dengan pukulan "Empat Anasir Kehidupan." Selarik sinar ultar violet yang hampir-hampir tak terlihat oleh mata yang kasat, menderu dan timbulkan suara bak auman ratusan ekor serigala lapar.

"Blam!" Tubuh si kumis melintang terjengkang sepuluh langkah dengan menabrak beberapa meja yang berada di belakangnya. Meja-meja itu hancur berantakan. Dengan kepala benjol di sana sini. Laki-laki bongsor muka pantat kuali itupun kembali bangkit. Akan tetapi betapa kagetnya hati Pronjo begitu melihat pemuda tampan berpakaian gembel ini masih tetap berdiri pada tempatnya tanpa kekurangan sesuatu apapun. Tiga kali dia meludah ke lantai. Kemudian dia berseru lantang.

"Bangsat tengik! Aku ingin mengadu jiwa denganmu...!" tukasnya marah bercampur malu. Berulang kali si kumis melintang ini gelengkan kepalanya yang masih terasa berdenyutdenyut. Lagi-lagi Pendekar Hina Kelana tergelak-gelak.

"He... he... he...! Mengapa? kepalamu puyeng ya...!" ucapnya mencibir. "Orang muda! Jangan sombong dulu!

Itu masih permulaan...!"

"Pada akhirnya kepalamu pasti menggeIinding di lantai ini monyet hitam...!" Tanpa menghiraukan ucapan Buang Sengketa, diawali dengan satu bentak nyaring dia langsung menyerbu ke muka. Tubuhnya dalam waktu sekejap hanya tinggal merupakan bayang-bayang! Dua larik sinar Ultra Violet melanda si kumis melintang. Masing-masing pukulan Empat Anasir Kehidupan tingkat empat dan tiga. Dua pukulan yang dilepas oleh pemuda ini menderu dan timbulkan nawa panas yang teramat sangat. Semua orang yang masih berada di tempat itu merasakan bagaimana panasnya udara di sekitar itu. Seketika lamanya laki-laki muka pantat kuali terkesima, akan tetapi begitu menyadari posisinya, diapun langsung tertawa ganda.

Dua tangan terpentang ke depan, dua larik sinar hitam laksana kilat datang menggebu. Saat dua pukulan dahsyat itu saling bertubrukan di udara, Pendekar Hina Kelana meraung, tubuhnya terpelanting dua tombak, menabrak dinding dapur dan langsung bobol. Dengan cepat dia segera bangkit, dari sela-sela bibirnya menetes darah, dada tersa sesak bagai ditimpa palu godam, dengan segera dia himpun hawa murninya. Sekejap kemudian keadaannya sudah pulih seperti sediakala. Mengetahui keadaan lawannya, si kumis melintang muka pantat kuali tertawa tergelak-gelak.

"Ha... ha... ha...! Ha... hi...

hi...? Hu... hu... hu...!"

"Pukulan berikutnya engkau segera tersungkur ke liang kubur! Budak Hina...!" kata Pronjo penuh kemenangan. Buang Sengketa mendengus, matanya nampak memerah dan berubah beringas. Kedua bibirnya kini sudah keluarkan bunyi mendesis laksana seekor ular Piton yang sedang marah. Ketika muka pantat kuali datang lagi dengan pukulan-pukulan menggeledek dengan disertai pekik tawa kemenangan. Pendekar dari Negeri Bunian yang sudah dirasuki kemarahan segera menyambutnya dengan pukulan Si Hina Kelana Merana, kedua tangannya nampak berkelebat lebih cepat lagi. Laksana kilat dia hantamkan kedua tangannya ke muka, satu gelombang sinar merah menyala, bergulung-gulung. Laksana Badai topan langsung memapaki gelombang hitam yang bersumber dari pukulan manusia muka pantat kuali. Sinar merah menyala yang di lepaskan oleh si pemuda langsung menyerang si kumis melintang. Andai saja dia tidak cepat-cepat menghihdar dan kirimkan satu pukulan lagi, sudah dapat dipastikan nyawanya berangkat ke neraka.

"Blaarr!" Terdengar satu letupan yang sangat luar biasa dahsyatnya, bumi tempat berpijak seakan runtuh. Manusia muka pantat kuali terkejut alang kepalang! Dada terasa menyesak, sedang semua persendiannya bagai mau copot. Dia lebih terkejut lagi begitu memandang ke depannya. Di tangan pemuda itu kini telah tergenggam sebilah senjata yang berupa sebuah golok buntung, yang lebih membuat matanya terbelalak tak percaya adalah kharisma golok buntung di tangan lawan memancarkan sinar merah menyala ke segala penjuru. Udara di sekitarnya sontak berubah dingin, sampai-sam-pai ketiga orang anak buah Pronjo yang masih dalam keadaan tertotok nampak menggigil kedinginan.

Di lain pihak dia hampir-hampir tak percaya dengan apa yang terjadi. Pukulan Kumbang Kencana menyengat yang dia lepaskan tadi sesungguhnya merupakan puncak dari segala pukulan yang dimilikinya.

* * *

4

Selama lima belas tahun malang melintang dalam dunia persilatan, tak satu lawan gagahpun yang sanggup menghadapinya. Akan tetapi kini seorang lawan berusia masih sangat muda sekali dengan senjata Golok Buntung berhasil mengatasi pukulannya bahkan hampir pula membuatnya celaka. Sementara itu Pendekar Hina Kelana sudah bersiap-siap dengan golok di tangannya, sesungging seringai maut membias di bibirnya. Kedua bola matanya yang memerah saga, memandang liar pada muka pantat kuali. Menggidikkan!

"Manusia muka pantat kuali!" ucap pendekar Hina kelana. "Kudengar engkau dan tiga puluh kawanmu yang lain telah membunuh dan membantai habis penduduk desa yang tiada berdosa! Karena dosadosamu sudah sangt menumpuk, maka hari ini aku Si Hina Kelana, menagih hutang nyawa mewakili mereka yang sudah mati! Untuk itu kuberi kesempatan padamu untuk membela diri. Akan tetapi cuma satu jurus saja! Kalau kesempatan yang kuberikan tidak engkau pergunakan dengan baik! Lebih baik engkau minggat saja ke neraka...!" kata Pendekar Hina Kelana masih dengan seringai mautnya.

Akan halnya Pronjo. Begitu dia mendengar pemuda ini menyebut-nyebut dirinya sebagai si Hina Kelana, maka semakin menciutlah nyalinya. Selama ini dia hanya mendengar cerita tentang kehadiran seorang tokoh yang masih sangat muda yang memiliki kepandaian sangat tinggi dengan tanda-tanda tertentu, rambut dikuncir berpakaian merah dengan senjata yang cukup membuat gempar berbagai golongan kaum persilatan. Sebuah Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto. Tidak dinyana hari ini malah dia langsung berhadapan dengan pendekar yang sangat menggemparkan itu. Dalam hati Pronjo mengeluh!

"Hemm! Kiranya engkaulah orangnya yang berjuluk Pendekar Hina Kelana yang bikin lari tikus-tikus persilatan itu...!?" Muka pantat kuali membentak dan berusaha menutupi kekalutan hatinya. Buang Sengketa tersenyum getir:

"Kalau engkau sudah tahu siapa adanya manusia yang berdiri di depanmu ini! Tunggu apa lagi. Cepat merangkak dan menyalaklah sepuluh kali! Mudahmudahan aku hanya membuntungi kaki dan tanganmu  saja...!"  Seketika itu, berubahlah  paras Pronjo, wajahnya semakin hitam kelam, dia langsung kertakkan rahang dan balik menghardik! "Budak jadah manusia sombong!

Jangan mengigau di siang bolong! Hari ini gelar Pendekar Golok Buntung akan aku hapus dari dunia persilatan!" Bagai macan tua terluka, muka pantat kuali langsung menyerobot ke muka dan lancarkan serangan-serangan yang sangat mematikan. Buang Sengketa menyurut beberapa langkah, dengan suara menggeram dia berteriak:

"Manusia sia! Kuberi kelonggaran padamu! Tak dinyana engkau malah menghendaki kematian yang menyakitkan! Jangan salahkan aku...!" Pendekar Hina Kelana tidak tinggal diam, begitu pusaka Golok Buntung berkiblat dan bergerak sebat, dalam waktu sekejap saja sudah mengurung lawannya. Sedangkan dari mulutnya keluar bunyi mendesis bagaikan seekor Piton yang sedang marah. Dalam keadaan terdesak seperti itu, Pronjo masih sempat keluarkan ucapan.

"Meskipun engkau penggal kepalaku sekalipun! Tidak nantinya aku bertekuk lutut di depan kakimu!?"

"Wow! Tobat pun sudah tidak kuterima...!" Pendekar Hina Kelana menyela. Golok di tangannya kembali berkelebat begitu cepatnya.

"Ngung!" Pronjo berkelit ke samping dan cepat-cepat banting tubuhnya terus berguling-gulingan. Tetapi Buang Sengketa tidak membiarkan musuhnya lepas begitu saja, pemuda ini langsung memburu, dan babatkan senjata di tangannya. Manusia muka pantat kuali terkejut bukan main begitu merasakan angin sambaran golok masih menderu ke arah lehernya. Dengan lebih cepat lagi dia kembali berkelit mengindar.

"Bet!" Serangan golok di tangan pemuda kembali luput. Mendidih darah Pendekar Hina Kelana dibuatnya. Seumur-umur belum pernah ada lawan yang dapat mengkelit serangan goloknya.

"Kali ini nyawamu yang benarbenar alot itu tak mungkin lepas lagi! Bangsaaaat!" Tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat lebih cepat lagi, sambaran goloknya kembali menderu, hingga membuat muka pantat kuali menjadi kelabakan.

"Craaas!" Hampir putus senjata di tangan Pendekar Hina Kelana membabat pinggang Pronjo. Usus terburai berserakan keluar, darah memancar menganak sungai. Manusia muka pantat kuali itu melolong setinggi langit. Dengan pandangan mata melotot lakilaki itu langsung tersungkur ke lantai tanpa berkutik lagi.

"Manusia semacammu memang sudah sepantasnya mampus...!" Setelah itu, kini Pendekar Hina Kelana segera menghampiri empat orang sisa anak buah Pronjo. Tubuh mereka nampak menggigil ketakutan demi menyaksikan wakil ketua mereka.

"Tentu kalian juga ingin menyusul kawanmu yang konyol itu bukan...!" kata Buang Sengketa dengan tatapan mata dingin. Pucatlah wajah mereka ini demi mendengar kata-kata si pemuda. Kemudian dengan terbata-bata salah seorang di antara mereka menyela.

"Tuan janganlah tuan bunuh kami! Istri saya bunting tua tuan! Kasihani kami tuan...!"

"Saya juga tuan! Kami orang miskin, anak kami juga banyak! Kalau saya tuan bunuh mereka bisa mati kelaparan...!" menyela yang lainnya.

"Puih! Kiranya kalian sebangsa anjing penjilat yang takut mampus! Tapi baiklah kalian akan kubebaskan, dengan syarat kalian harus meninggalkan pekerjaan sesat setelah sebelumnya memberi tahu bekas ketua kalian mengenai kejadian ini...!" Bukan main gembira orang-orang itu, setelah menyembah sepuluh kali, dengan mengangkati mayat kawan-kawannya. Orang-orang inipun segera bergegas pergi. Setelah membayar segala kerusakan yang di timbulkan, malam itu pendekar Hina Kelana, atas kebaikan pemilik warung dan penginapan bermalam di rumah itu.

* * *

Kalau dilihat sepintas lalu, sungguh kasihan sekali keadaan pemuda yang sedang terganggu jiwanya ini. Keadaan tubuhnya sudah nampak tak karuan lagi. Sementara di pundaknya menggelantung mayat ibunya yang sudah tiga hari tak pernah dia turunkan dari tempatnya. Bau bangkai menyebar ke manapun dia pergi. Sementara lalatlalat hijau yang jumlahnya mencapai ribuan ekor itu tiada henti-hentinya terbang dan hinggap di tubuh wanita malang ini. Tubuh mayat itu, kian detik kian membusuk. Ulat-ulat kecil terkadang berjatuhan dari bagian dalam tubuh Nyi Pujita Sari. Akan tetapi Awang Taruna yang ingatannya saja hilang timbul, mana mau mengerti tentang keadaan ini.

Sambil terus berlari-lari, terdengar isakan tangisnya yang menyayat hati, di lain saat terdengar pula suara tawanya yang seram menggidikkan. Apa yang masih melekat di hatinya hanyalah rasa dendam bercampur amarah. Celakalah bagi siapa saja yang secara kebetulan berpapasan dengan pemuda ini. Sebab tak segansegan dan tanpa mengingat lagi dia langsung membabatkan pedangnya hingga orang-orang malang itu menemui ajal secara mengerikan. Demikianlah Awang Taruna terus berlari-lari tanpa mengenal lelah (namanya juga orang gila). Hingga sampailah dia di pinggiran jalan besar. Awang Taruna hentikan langkah, tak lama kemudian dia sudah duduk ngejeplok di atas rerumputan ilalang. Orang-orang yang lewat di tempat itu sudah barang tentu merasa sangat keheranan begitu melihat kehadiran seorang pemuda yang bertampang awut-awutan yang kini sedang duduk ngejeplok, sementara sosok mayat yang sudah membusuk tampak menggelantung di pundak kanan kirinya. Mungkin banyak di antara orang yang lalu lalang itu bisa memaklumi kalau pemuda ini merupakan orang yang sedang terganggu jiwanya. Akan tetapi dari mana pula pemuda gila ini memperoleh dan bahkan membawa-bawa mayat itu ke mana-mana? Meskipun pada akhirnya mereka terus berlalu sambil tutup hidung rapat-rapat. Akan tetapi meskipun mereka ini merupakan penduduk desa biasa. Mau tak mau berbagai pertanyaan timbul dalam benak mereka! Dasar orang gemblung! Begitulah pada akhirnya mereka berkesimpulan.

Tak lama setelah itu dari kejauhan nampak pula beberapa orang penunggang kuda. Mereka ini terdiri dari seorang wanita setengah baya, yang dalam dunia persilatan golongan hitam dan dikenal sebagai Bidadari Tangan Maut, bersifat telenggas dan pemburu laki-laki. Biarpun usianya sudah lebih dari setengah abad akan tetapi masih kelihatan sangat cantik dan muda. Konon semua itu berkat hasil dari pekerjaan terkutuknya. Dalam menyetubuhi setiap pemuda yang menjadi korban rayuan mautnya. Wanita ini selain memiliki berbagai senjata rahasia, dia juga punya kepandaian silat dan ilmu pukulan-pukulan dahsyat yang membuat iri setiap lawan-lawannya. Dua orang laki-laki berkuda yang berada di sebelah perempuan itu merupakan dua orang datuk sesat yang memiliki nama julukan Dua Datuk Merah Dari Lembah Dosa berilmu silat sangat tinggi dan mempunyai jurus-jurus permainan pedang ganda. Dua orang datuk berjenggot kambing ini sesungguhnya merupakan gendak-gendak dari Bidadari Tangan Maut.

Kalau hari ini mereka turun ke dunia ramai, hal ini mereka lakukan semata-mata hanyalah karena sekedar memenuhi undangan Giri Sora, yaitu ketua Perkumpulan Kumbang Kencana. Seperti diketahui, Giri Sora beserta anak buahnya telah berhasil membumi hanguskan desa tempat tinggal Pujita Sari, yang dulunya merupakan gadis tercantik yang pernah membuat Giri Sora tergila-gila padanya. Akan tetapi kiranya perjalanan nasib berkata lain. Pujita Sari, gadis ayu rupawan itu oleh gurunya, yaitu Eyang Wiku Panulu telah dijodohkan dengan Bayu Siliwangi yang sesungguhnya masih merupakan anak kandung gurunya sendiri. Merasa kecewa karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, Giri Sora pada satu saat berusaha menculik Pujita Sari. Akan tetapi kiranya gadis yang memiliki kecantikan yang sangat luar biasa itu memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi daripadanya. Pergilah Giri Sora dengan membawa luka di hati. Bertahuntahun dia mengasingkan diri di sebuah tempat yang bernama Lembah Sakti Hati. Di tempat itulah selama bertahun-tahun dia dengan sangat tekun mempelajari berbagai ilmu sesat tingkat tinggi. Di situ bertemu pula dengan Datuk Merah Dari Lembah Dosa. Setahun setelah kejadian itu bergabung pula Bidadari Tangan Maut. Secara sepakat dia mengikat tali persaudaraan dengan ketiga orang ini.

Hampir lima belas tahun Giri Sora mengasingkan diri di tempat yang sangat terpencil itu. Setelah segalanya dia rasa cukup, dua tahun kemudian dia sudah membentuk sebuah perkumpulan yang beranggotakan lebih kurang empat puluh orang. Kiranya Giri Sora kembali teringat pada penghinaan yang pernah dilakukan oleh Pujita Sari. Teringat pada perempuan yang kini sudah hidup menjanda dan mempunyai seorang anak yang sudah dewasa! Teringat pula akan sebuah Pedang Pusaka Penebus Dendam di tangan Eyang Wiku Panulu yang terkenal akan keampuhannya. Dendamnya pada keluarga ini kembali berkobar. Sehingga seminggu kemudian seperti telah diketahui terjadilah pertumpahan darah yang sangat mengerikan. Sesungguhnya tujuan semula dia hanya bermaksud membujuk Pujita Sari yang sudah berumur empat puluh delapan tahun itu mau menjadi istrinya dan sekaligus meminta pada perempuan itu untuk menyerahkan Pedang Penebus Dendam. Tak dinyana kiranya selain menolak lamaran Giri Sora, kiranya perempuan itu juga menolak untuk memberi tahu di mana sesungguhnya pedang pusaka yang sangat menghebohkan itu di sembunyikan. Dendam lama campur aduk dengan luka baru, tak terelakkan lagi Giri Sora langsung memerintahkan orang-orangnya untuk membantai dan membakar rumahrumah penduduk di sekitarnya. Sedangkan dia sendiri langsung menyerang Pujita Sari.

Dengan kemenangan itu akhirnya Giri Sora berencana untuk mengadakan pesta besar-besaran. Di balik pesta yang akan berlangsung dengan meriah, sesungguhnya manusia yang sangat licik ini sedang dalam usaha mencari bantuan dari para kembrat-kembratnya untuk mencari tempat tinggal Eyang Wiku Panulu, dengan maksud merampas pedang pusaka dari tangan si Bangkotan Sakti itu. Andai saja rencana itu sudah terlaksana, tak ada salahnya kalau dia menyingkirkan para kembrat-kembratnya ini. Dengan begitu sudah jelas dia akan menjadi raja dalam dunia persilatan.

* * * 5

Kita kembali pada ketiga orang yang sedang melakukan perjalanan ini. Ketika jarak mereka lebih kurang tiga puluh tombak dengan tempat di mana Awang Taruna berada. Tiba-tiba mereka ini hentikan kudanya, mata mereka memancang liar pada keadaan di sekelilingnya. Penciuman mereka mengendus bau sesuatu yang tak sedap. Lalu orang-orang ini saling berpandangan sesamanya. Dengan hati penuh tanda tanya. Lain lagi halnya dengan Datuk Merah berjenggot kambing yang satunya lagi. Indra penciumannya yang tumpul dan selalu suka ngawur itu, sedang membaui masakan yang sangat sedap. Buru-buru dia berkata pada kedua orang lainnya.

"Hmm! Panas-panas begini! Mana bau masakan yang sedap! Bikin perutku berkruyukan saja...!" Kedua orang lainnya ini pun buru-buru menoleh dan memandang heran pada kembratnya. Dengan tersenyum geli Bidadari Tangan Maut inipun mencela. "Hi... hi... hi...! Kakang Senu salah duga... ini bukan bau wangi masakan! Akan tetapi bau busuk bangkai...!"

"Yang ada dalam fikiran kakang Senu memang cuma makanan melulu! Masak bau bangkai dia bilang bau lezatnya makanan..!" Datuk berjenggot yang bernama Dugal itu pun ikut menimpali.

"Apa kalian kata! Benar-benar guoblok, hidung budek... bau makanan yang enak begini kok masih kalian bilang bau bangkai...!" kata Datuk Dugal membantah. Semakin bertambah geli saja mereka ini, demi mengetahui penciuman kembratnya semakin bertambah rusak saja.

"Engkau salah kakang! Di sekitar tempat ini seperti bau bangkai manusia!" kata Datuk Senu tetawa mengekeh.

"Kuya! Bukan bau bangkai, tapi bau gulai kambing...!" sela Datuk Senu tak mau kalah.

"Bangkai, kakang...!" Bidadari Tangan Maut ikut menimpali. Datuk Senu pelototkan matanya, dia nampak sangat tersinggung.

"Ku bilang bau makanan kesukaanku...!" Datuk Senu membentak. "Bau bangkai! Kakang...!" Datuk Dugalpun tak mau mengalah.

"Bangsat! Kalian kiranya benarbenar telah menghinaku...!"

"Menghina bagaimana, sudah jelasjelas bau bangkai...!" bentak Datuk Dugal tak kalah serunya.

"Kalau begitu engkau benar-benar ingin kugebuk adik Dugal...!" tukas Datuk Senu kertakkan geraham. Wajahnya nampak merah padam dan beberapa saat kemudian telah bersiap-siap lancarkan satu pukulan pada kembratnya sendiri. Dalam pada itu, tiba-tiba saja Bidadari Tangan Maut berseru membentak.

"Kakang-kakang semuanya! Kalau kalian tetap melanjutkan pertengkaran, aku akan tinggalkan kalian di sini! Biar seorang diri aku berangkat ke tempat kediaman Giri Sora...!" kata Bidadari Tangan Maut mengancam. Meskipun kedua datuk sesat ini memiliki peradatan yang keras, akan tetapi begitu mendapat ancaman dari orang yang sangat mereka cintai, mau tak mau mereka hentikan pertengkaran. Kemudian bagai kerbau di cucuk hidung, kedua Datuk Merah ini langsung memacu kuda-kuda mereka, menyusul Bidadari Tangan Maut yang sudah terlebih dahulu menggebrak kudanya. Kurang lebih sepeminum teh, sampailah orang-orang ini di depan Awang Taruna yang sedang duduk terlongong-longong. Alangkah terperanjatnya ketiga orang dari lembah Dosa ini, begitu di pinggir jalan tempat yang akan mereka lalui seorang pemuda berpenampilan nampak duduk sorang diri dengan sesosok mayat yang sudah membusuk menggelantung berjuntai di kedua pundaknya. Bau bangkai yang sangat menyengat segera memenuhi pori-pori paru mereka, langsung saja perut orang-orang ini bagai diaduk-aduk dan terasa mual ingin muntah.

Seketika itu juga, Bidadari Tangan Maut menoleh pada Datuk Senu, yang tadi sempat bersitegang dengan Datuk Dugal gara-gara bau yang tak sedap ini.

"Kakang lihatlah! Bau busuk inikah yang tadi sempat engkau sangka sebagai bau makanan yang enak itu...!" kata perempuan itu tersenyum dongkol. Yang ditanya jadi gelagapan bercampur malu.

"Huh! Aku memang salah! Kirain bau makanan yang enak, nggak taunya bau bangkai yang dibawa oleh si gembel ini. Cuh. Benar-benar hidung celaka tak tahu adat!" sela Datuk Senu, seraya menampari hidungnya sendiri hingga mengeluarkan darah. Dengan buru-buru Datuk Dugal mencegah:

"Kakang hidungmu jangan kau tampari begitu rupa. Kalau engkau tak punya hidung malah lebih celaka lagi...!" Agaknya Datuk Senu sadar dengan perbuatannya.

"Ehh! Benar juga, kalau tak punya hidung tambah celaka. He... he... he...!" katanya meniru ucapan si Datuk Dugal.

"Bangsat penyebar bau busuk! Mau engkau buat apakah bangkai yang sudah busuk itu kau bawa-bawa...?" bentak Datuk Dugal nampak kurang senang. Yang ditanya nampak diam seribu basa.

"Agaknya orang ini tak mendengar apa yang engkau tanyakan, kakang... kuatkan sedikit ngomongnya...!" Bidadari Tangan Maut menimpali.

"Huh! Pakai tanya-tanya segala, tendang saja!" kata Datuk Senu.

"Sabar dulu. Mungkin saja dia perlu bantuan kita untuk mengubur mayat itu bersama gembel ini...!" Tak lama kemudian Bidadari Tangan Maut ikut membentak pula: "Kunyuk. Tulikah kupingmu...!" Awang Taruna masih tetap diam tiada bergeming. Hanya pandangan matanya saja yang menatap hampa pada orang-orang ini. Saking kesalnya ketiga orang inipun saling bentakbentakkan. Mungkin Awang Taruna yang sakit ingatan ini entah terkejut atau bagaimana. Tiba-tiba tubuhnya terlonjak. Kemudian kedua matanya yang selalu menatap hampa itupun mendadak berobah beringas.

"Eeh! Kalian tadi nomong apa?!" ucapnya pelan.

"Sialan! Ditanya malah balik bertanya.!" bentak Datuk Senu, langsung melompat turun dari atas kudanya. Sejenak Awang Taruna memandang berkeliling, dia nampak kebingungan. Pada saat itu kiranya kesadarannya timbul kembali. Diapun memandang heran pada keadaannya sendiri. Mendadak dia merasa telah mencium bau yang hampir saja membuatnya mau muntah. Tiba-tiba saja dia meraba ke arah pundaknya.

Dia semakin jadi tak mengerti begitu dia merasakan ada sesuatu yang membebani pundaknya. Begitu dia turunkan beban itu, maka terbelalaklah kedua matanya memandang tak percaya.

"Emak... emakku telah mati! Mereka membunuhmu, sedang aku tak sempat menguburmu. Keadaanmu sudah begini rupa! Emakkuuuuuu...!" Tanpa kuasa membendung air matanya, pemuda inipun menangis melolong-lolong. Dipelukinya mayat ibunya yang sudah tak karuan itu. Namun tiba-tiba saja tangisnya terhenti, cepat-cepat membalikkan badan dan meraba pada bagian pinggangnya. Tatapan matanya seketika itu juga menjadi beringas dengan kobaran dendam yang meluapluap. Akhirnya diapun langsung menghardik ketiga orang yang sedang berada di depannya.

"Pengecut kalian semua! Kalian telah membunuh emakku yang tiada berdosaf" kata Awang Taruna sangat marah sekali. Sementara itu tiga orang dari Lembah Dosa ini yang tidak tahu menahu tentang apa yang baru saja dituduhkan oleh pemuda itu, tampak sangat tersinggung. Datuk Senu yang gampang naik darah, nampak maju dua tindak, pada saat yang bersamaan dua orang lainnya sudah meloncat dari punggung kudanya masing-masing. "Bocah sialan! Melihat tampangmu saja baru kali ini. Lancang sekali mulutmu telah menuduh kami yang bukanbukan!?" bentak Datuk Senu dengan wajah merah padam. Awang Taruna tertawa bagai orang menangis.

"Sialan betul! Kalian rupanya tidak mau bertanggungjawab!" Kemudian orang-orang ini saling berpandangan sesamanya, tak lama setelah itu dengan ilmu menyusupkan suara mereka saling berbisik.

"Agaknya tengik konyol ini sedang terganggu jiwanya kakang! Lihatlah bukankah tadi dia tak tau dengan apa yang diperbuat-ya sendiri...!" bisik Bidadari Tangan Maut pada dua orang Datuk Merah dari Lembah Dosa.

"Benar juga." ujar Datuk Senu lalu menganggukkan kepala.

"Kalau begitu baiknya kita pergi saja! Melayani orang gila, bukankah kita lebih gila dari dia sendiri...!" Datuk Dugal ikut menimpali. Kemudian orang ini pun kembali membentak pada Awang Taruna.

"Kunyuk sakit jiwa, karena kami tidak mempunyai persoalan denganmu, maka baiknya kami pergi saja...!" ujar salah seorang di antara mereka. Baru saja mereka hendak melompat ke punggung kuda, tiba-tiba Awang Taruna lambaikan tangannya. Saat itu juga satu gelombang pukulan menyambar ke arah tiga orang ini. Dan kalau saja mereka tidak cepat-cepat mengelak sudah barang tentu tiga orang ini mengalami nasib yang konyol. Serta merta mereka balikkan, badan, dari paras mereka saja sudah dapat dipastikan kalau mereka ini sedang marah besar.

"Kurang asem! Orang gila ini kiranya menantang kita kakang...!"

"Meskipun gila kiranya dia punya kepandaian juga rupanya.:.!" rutuk Bidadari Tangan Maut geram sekali.

Tanpa menghiraukan ocehan orangorang itu, Awang Taruna yang sedang timbul kesadarannya langsung menyela.

"Setelah kalian bantai semua penduduk desa yang tiada berdosa! Setelah kalian bunuh emakku Pujita Sari, begitu mudahkah kalian berlalu begitu saja dari hadapanku?!" teriak Awang Taruna marah luar biasa. Kini barulah mereka mengerti duduk persoalan yang sebenarnya. Kiranya pemuda ini sedang mencari-cari siapa sesungguhnya yang telah membunuh ibu kandungnya. Biarpun dalam keadaan yang sesungguhnya mereka memang mengetahui bahwa Giri Soralah yang telah membantai penduduk desa sekaligus membunuh ibu pemuda yang punya sakit ingatan ini. Sudah barang pasti mereka tak akan memberi tahu pada bocah itu. Giri Sora adalah sahabat baik mereka sejak lama, lebih dari itu mereka masing-masing punya ambisi yang sama, yaitu ingin memiliki Pedang Pusaka Penebus Dendam yang sangat menghebohkan itu. Apalagi kini mereka melihat bahwa pedang sakti yang menjadi incaran banyak tokoh itu nampak berada di tangan pemuda sinting ini, yang menurut taksiran mereka tidak memiliki kepandaian yang cukup berarti.

Dengan lagak berpura-pura, salah seorang di antara mereka membuka suara dengan nada penuh keramahan.

"Pemuda gagah! Maafkan kami yang tak mengetahui betapa tingginya gunung yang berdiri di hadapan kami! Engkau harus percaya pada kami bahwa sesungguhnya bukan kami yang telah melakukan pembunuhan keji itu! Bahkan kami ikut perihatin atas musibah itu. Sekarang kami sedang berusaha mencari tahu siapakah sebenarnya yang telah bertanggung jawab atas semua kejadian itu...!"

"Bukankah engkau yang bernama Awang Taruna? Anak kandung dari almarhumah yang mulia pendekar Pujita Sari...!" Bidadari Tangan Maut dengan merendah menyambung pula.

"Percayalah Awang Taruna. Ayah ibumu merupakan sahabat karib kami, untuk itu kami akan menuntut balas atas kematiannya...!" Datuk Dugal ikut menambahi pula. Demi mendengar ucapan tiga orang ini, tiba-tiba pemuda yang baru saja timbul ingatannya itu tampak menjadi bimbang. Kiranya keadaan itu tidak luput dari perhatian Datuk Senu yang terkenal sangat pintar dalam membaca situasi lawannya. Buru-buru dia menambahi.

"Orang muda! Kalau engkau tak percaya pada kami, engkau boleh turut serta bersama kami dalam usaha mencari pembunuh orang tuamu...!"

"Apalagi dengan pedang sakti di tanganmu, engkau tak perlu ragu! Kita pasti berada di pihak yang menang...!" kata Bidadari Tangan Maut pula. Hampir saja pemuda ini termakan dengan segala macam rayuan tiga orang sesat dari Lembah Dosa andai saja fikirannya yang hilang timbul itu, tidak teringat pada pesan-pesan gurunya, Eyang Wiku Panulu. Seketika itu juga pemuda sakit ingatan ini tergelak-gelak, tubuhnya yang padat berisi nampak terguncangguncang. Tiga orang ini memandang dengan berbagai tanda tanya.

* * *

6

Saat kemudian Awang Taruna mencabut pedangnya, maka bertambah penasaranlah orang dari Lembah Dosa ini dibuatnya. Pedang di tangan Awang Taruna memancarkan sinar berwarna keperak-perakan dan sangat menyilaukan mata. Walaupun sesungguhnya ingin secepatnya mereka ini ingin merampas pedang di tangan pemuda yang sedang terganggu jiwanya ini, akan tetapi sedapatnya mereka berusaha meredam nafsu serakah yang telah menyatu dalam diri mereka. Sesungguhnya mereka ini ingin mengetahui apa yang akan diperbuat oleh pemuda sakit jiwa itu. "Hi... hi... hi...! Ha... ha...

ha...! Hu... hu..< hu...!" tawa Awang bagai orang yang sedang menangis. Tapi matanya memandang buas pada Datuk Merah Dari Lembah Dosa ini.

"Manusia berjenggot kambing...! Kalian kira aku tak tahu kelicikanmu! Tak perlu berpura-pura, sebab hari ini juga sebagai bandot tua kalian akan aku sembelih...!" berkata Awang Taruna. Kejut hati ke tiga orang ini bukan alang kepalang, mereka tak mengira kalau pemuda sakit ingatan ini tahu akal bulus mereka. Belum lagi mereka-mereka ini sempat berkata sesuatu apa, Awang Taruna dengan diawali satu pekikan aneh telah melabrak orang-orang dari Lembah Dosa dengan pedang terhunus.

"Adik Dugal... Adi Putri! Menyingkirlah kalian, aku ingin menjajal sampai di mana sesungguhnya kehebatan kunyuk gemblung ini...!" perintah Datuk Senu. Tubuhnya nampak berkelebat ringan, sehingga dalam waktu sekejap saja telah terjadi pertarungan yang sengit. Pertarungan menjadi semakin seru, ketika Awang Taruna sambil membabatkan pedangnya juga melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh. Datuk Senu sampai detik itu masih belum mempergunakan jurus-jurus pedang kembarnya. Dengan jurus silat tangan kosong dia berusaha mendesak lawannya. Kedua tangan berkelebat sangat cepat. Kemudian lancarkan totokan ke berbagai arah. Sementara Awang Taruna dengan ilmu pedangnya yang terkenal ganas, memutar pedangnya ke berbagai penjuru. Gerakan pedang itu begitu sebat, berkelebat dan pancarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Satu saat Datuk Senu melihat salah satu sisi pertahan lawan yang nampak lemah. Dalam hati dia girangnya bukan main, bahkan dia berharap dengan sekali sentil, tiga buah jarinya sudah dapat merobohkan lawan tanpa melukai. Tak lama kemudian Datuk Senu memutar tubuh empat puluh lima derajat, tangan kanan bergerak cepat mengarah pada bagian punggung. Awang Taruna, meskipun ingatannya hilang timbul tapi naluri kependekarannya masih bekerja dengan sangat baik. Begitu dia merasakan adanya serangan yang sedemikian cepatnya dia mengkelit dan putar tubuhnya setengah lingkaran. Tanpa ampun dia putar pedang dan membabat tangan kiri lawannya yang hampir saja mencapai sasarannya. Datuk Senu tergagap kemudian cepat-cepat menarik balik serangannya. Datuk Senu semakin habis-habisan.

Di lain pihak, Awang Taruna bagai tak mendengar saja malah tertawa tergelak-gelak. Kemudian sudah menerjang si Datuk Senu sembari berkata: "Bandot tua! Mengapa engkau marah-marah, bagusnya engkau menangis seperti aku...!" Berkata begitu mendadak dia menghentikan serangannya setengah jalan. Kemudian mengerang dan menangis menyayat hati. Datuk Senu yang baru saja bermaksud melancarkan pukulan jarak jauhnya, seketika urungkan maksud, beberapa saat Datuk berjanggut kambing ini nampak terlongong-longong memandangi Awang taruna yang secara tiba-tiba kumat penyakit gilanya.   Awang Taruna tanpa memperdulikan lawannya terus menangis, "Emak... huuuuu...! Mengapa engkau mati, emak... hiiiii...!" sedu pemuda malang ini berkelesetan bagai anak kecil.

Dalam pada itu, demi melihat kembratnya malah berdiam diri. Datuk Dugal dan Bidadari Tangan Maut, secara hampir bersamaan mereka menyela. "Kakang, mengapa kakang malah bengong begitu! Penyakit syaraf kunyuk gemblung itu sedang kumat. Cepat kau pukul dia...!"

"Eeh... ehh iya! Penyakit gendengnya lagi kumat. Biar kupukul dia...!" Hanya beberapa saat setelahnya, Datuk Senu telah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Melihat posisi anggota tubuhnya saja sudah dapat ditebak kalau datuk ini akan melepaskan pukulan Banteng Gila Menyeruduk Serigala yang terkenal sangat keji. Sementara itu, Awang Taruna sudah hentikan tangis maupun tawanya, tiba-tiba dia menoleh.

"Puih! Engkau mau apa-apaan jenggot kambing? Mau memukulku ya...?" kata Awang Taruna. Lalu bersamaan dengan kata-katanya itu, dia langsung pukulkan tangannya ke depan. Pada saat itu pukulan yang dilancarkan oleh Datuk Senu sudah sampai setengah jalan. Angin menderu keras bersamaan dengan bergulung-gulung-nya sinar kuning yang melesat sedemikian cepatnya dari tangan Datuk Senu. Pada saat yang sama, pukulan yang dilepaskan oleh Awang Taruna yang diberi nama "Sibakkan Kabut Memukul Hantu" malah meluruk lebih cepat lagi. Tak ampun dua pukulan sakti itu saling bertabrakan di udara.

"Brees!" Tubuh Datuk Senu terpelanting dan langsung muntah darah, wajahnya pucat pasi. Awang Taruna nampak berdiri tegar di tempatnya. Senyum, tawa dan tangisnya datang silih berganti. Akan tetapi tak lama kemudian dia sudah berubah kembali secara total. Agaknya kesadarannya pulih kembali, dendamnya menggelegak, serta merta dia sambitkan pedangnya pada Datuk Senu yang belum siap pada posisinya. Karena pemuda sakit jiwa itu mengerahkan seluruh tenaganya, maka pedang itu melesat sedemikian cepatnya, bahkan hampirhampir tak terlihat kasat mata. Bidadari Tangan Maut demi melihat bahaya mengancam Datuk Senu, yang juga merupakan gendaknya sendiri, nampak berseru memberi peringatan.

"Kakang! Awas...!" Terlambat Nasi sudah menjadi bubur, pedang itu sudah amblas pada bagian punggung Datuk Senu, bahkan sampai menembus ke dada. Salah seorang Datuk Merah Dari Lembah Dosa menjerit bagai setan gila. Tak tahan merasakan sakit yang teramat sangat!      Hanya beberapa    saat setelahnya, laki-laki yang sepanjang hidupnya dilumuri dengan dosa-dosa ambruk ke bumi. Awang Taruna yang sudah dirasuki dendam, hanya dengan beberapa kali lompatan saja telah berada di sisi Datuk Senu yang sudah menjadi mayat. Dia langsung cabut pedang yang menancap di dada lawannya. Di lain pihak, baik Datuk Dugal maupun     Bidadari    Tangan    Maut, mengetahui kembratnya dapat dirobohkan oleh seorang    pemuda    yang  sedang mengalami gangguan jiwa bahkan tewas secara    mengerikan,     nampak   sangat terkejut. Sebab seperti mereka ketahui selama   ini Datuk   Senu merupakan seorang tokoh golongan hitam yang memiliki     kepandaian      yang   sangat tinggi. Selama malang melintang dalam dunia persilatan, belum pernah seorang lawanpun yang berhasil mengatasi ilmu pedang kembarnya. Akan tetapi kini, dia malah tewas di tangan pemuda gemblung yang tidak memiliki nama besar. Lebih dari itu, kembratnya yang satu itu belum sempat mempergunakan permainan pedang kembarnya. Kemarahan kedua  orang   ini  sudah  mencapai puncaknya.     Dua-duanya   langsung mengurung Awang Taruna, pemuda sinting ini geleng-geleng kepala.

"Kiranya kalian juga ingin mampus...!" bentak Awang Taruna tersenyum-senyum. Bidadari Tangan Maut menjadi berang dan langsung membentak garang.

"Monyet gila! Engkau benar-benar menyesal ke liang kubur karena perbuatanmu sendiri...!" Dasar kurang waras, mana dia perduli dengan bentakan-bentakan itu. Sebagai jawaban dia langsung babatkan pedang ke muka. Datuk Dugal berseru kaget, begitu melihat berkelebatnya mata pedang di tangan lawan. Cepat-cepat dia berkelit, akan tetapi serangan pedang berikutnya segera menyusul. Lagi-lagi Datuk Dugal terpekik lalu melompatlompat bagai seekor monyet pesakitan. Bidadari Tangan Maut agaknya mengetahui kalau lawannya sangat sulit untuk dirobohkan begitu saja. Tak ayal diapun langsung menerjang Awang Taruna, sambil berseru lantang.

"Kakang Dugal! Mari kita satai pemuda edan ini beramai-ramai...!" Usai berkata begitu, Bidadari Tangan Maut langsung umbar pukulan-pukulan kejinya. Sementara Datuk Dugal yang sudah mengetahui kehebatan lawan, langsung saja mencabut pedang kembarnya. Melabrak dan kirimkan tusukantusukan mematikan. Dalam waktu yang singkat terjadilah pertarungan yang sangat seru. Debu dan pasir beterbangan dilanda pukulan-pukulan mereka. Hanya dalam waktu sepemakan sirih, pertarungan sudah mencapai puluhan jurus. Datuk Dugal dengan pedang. kembarnya mencecar pertahanan Awang Taruna pada bagian belakang, sementara dengan pukulan mautnya Bidadari Tangan Maut menyerang dari bagian depan. Berulangkali senjata rahasia milik Bidadari Mata Keranjang berupa jarum beracun nyaris membuat celaka lawannya yang sakit ingatan ini. Menghadapi kenyataan seperti itu, tubuh Awang Taruna melesat ke udara. Akan tetapi dia tetap saja tak bisa luput dari desakan-desakan lawannya.

Di lain kesempatan Datuk Dugal mendadak merobah jurus-jurus pedangnya. Dia gerakkan pedang kembar di tangannya dengan kecepatan luar biasa. Pedang kembar itu, kemudian membentuk rangkaian serangan yang tiada putus-putusnya. Sementara itu Bidadari Tangan Maut tak mau ketinggalan dengan apa yang dilakukan oleh kembratnya ini. Dengan mempergunakan pukulan yang diberi nama Badai Menerpa Gurun, dia kirimkan pukulan-pukulan yang lebih dahsyat pada Awang Taruna. Anak muda yang sedang mengalami sakit ingatan itupun dibuat kelabakan, pertarungan sudah mencapai dua puluh jurus. Sungguhpun Awang Taruna memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, dan menggenggam pedang pusaka yang banyak diincar oleh kalangan tokoh-tokoh sesat, akan tetapi Datuk Dugal dan Bidadari Tangan Maut inipun bukanlah orang sembarangan. Lima belas tahun yang lalu Bidadari Tangan Maut sempat merajai rimba persilatan di bagian Selatan. Sedangkan Datuk Dugal dan seorang kembratnya yang telah kojor, sampai saat kini tetap berkuasa di Lembah Dosa. Lebih dari itu, mereka ini adalah dedongkot persilatan golongan hitam yang hingga sampai saat itu tetap disegani oleh pihak kawan maupun lawan.

Kini Awang Taruna sudah semakin terdesak hebat, Datuk Dugal tertawa mengekeh demi melihat Awang Taruna terus kepepet dan bermandi peluh. Pada saat kesempatan yang sangat baik, Datuk Dugal kirimkan satu tusukan mengarah ke lambung kiri lawannya. Sedangkan satu tusukan lagi mengarah pada bagian leher. Begitu cepat datangnya serangan yang dilancarkan oleh Datuk Merah dari Lembah Dosa ini, sampai-sampai tipis sekali harapan Awang Taruna untuk dapat meloloskan diri dari ancaman pedang kembar di tangan lawannya. Pada saat yang sama pula Bidadari Tangan Maut sambil menyambitkan jarum-jarum beracun, kirimkan pukulan Badai Menerpa Gurun yang terkenal sangat ganas itu. Mungkin nasib celaka sudah tak dapat dihindari lagi oleh pemuda sakit ingatan ini, kalau saja sepasang mata yang sedari tadi mengawasi pertarungan ini tidak cepat-cepat bertindak.

Hanya dalam sekedipan mata, pedang lawan hampir pada tubuh Awang Taruna. Pemuda sakit ingatan ini cepat-cepat kiblatkan pedangnya.

"Trang! Trang!" Datuk Dugal berseru kaget demi mengetahui bahwa lawannya masih mampu menangkis serangan pedang kembarnya mentahmentah. Lebih dari itu kedua tangannya terasa sakit dan tergetar. Dalam pada itu, Awang Taruna tidak menyadari kalau pukulan yang dilancarkan oleh Bidadari Tangan Maut telah begitu dekat dengannya, begitu pula sambitan jarum-jarum beracunnya yang datang hampir bersamaan. Dalam saat-saat yang kritris itu, si pengintai ini pun bertindak.

"Blaar!"

Tubuh Bidadari Tangan Maut terguling-guling, dengan darah meleleh dari bibirnya. Perempuan sundel ini terkejut bukan alang kepalang. Meskipun serangan itu dapat dipatahkan oleh pengintainya, tak urung beberapa batang jarum beracun sempat amblas ke tubuh Awang Taruna.

* * *

7

Dasar orang gila! Nampaknya dia tidak menghiraukan keadaan itu. Di samping reaksi jarum beracun itu memang lambat sekali. Bidadari Tangan Maut cepat-cepat bangkit kembali! Kemudian begitu dia menoleh, tahu-tahu tidak jauh dari tempat Awang Taruna berada, di sana telah berdiri pula seorang pemuda berpakaian merah-merah. Pemuda ini sangat tampan sekali, hingga membuat jakun Bidadari Tangan Maut turun naik. Dia begitu terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh pemuda yang di pundaknya menggelantung sebuah periuk berjelaga. Dari kemarahan yang meledak-ledak, kini telah berganti dengan kekaguman dan sesungging senyum manis. Siapakah pemuda ini? Kalau bukan Pendekar Hina Kelana adanya. Sementara itu Datuk Dugal yang merasa serangan dahsyat yang dia lakukan dapat dipatahkan oleh lawannya mentah-mentah tampak sangat marah sekali. Dia sudah bersiap-siap untuk menyerang Awang Taruna dengan segenap kemampuannya, akhirnya mengurungkan niatnya. Kehadiran pemuda berpakaian dekil yang agaknya juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi, telah membuat hatinya menjadi bimbang. Kemudian dia melangkah satu tindakan menghampiri pemuda itu. Pada saat yang sama pula, Awang Taruna dengan meringis-ringis telah terlebih dulu membentak Pendekar Hina Kelana:

"Engkau juga kiranya mau mengeroyokku! Kurang ajar benar engkau ini... bukan membantuku, tapi malah berkomplot dengan pembunuh keji...!" Mendengar ucapan seperti itu, pendekar kita ini yang sesungguhnya belum mengetahui tentang keadaan si Awang Taruna yang sesungguhnya nampak sangat tersinggung sekali.

"Hmm! Sialan tolol, kau tak bisa membedakan mana kawan mana lawan. Dibela malah menuduh yang bukan-bukan. Sungguh nasib ini benar-benar apek...!" Buang Sengketa menggerutu. Sebaliknya Awang Taruna tanpa memperdulikan ucapan Pendekar Hina Kelana, terus nyerocos.

"Hah... bagus! Kalau engkau benar-benar kawan sejati, tentu kau mau bersamaku membantai iblis-iblis yang telah membunuh emakku dan orangorang yang tiada berdosa itu...?" kata Awang Taruna dengan tatapan mata hampa.

"Wei... mau sekali. Apalagi kudengar datuk dan betina dari lembah sialan ini hendak merampas pedang milikmu! Tentu aku sangat berkeinginan sekali untuk menggulung komplotan manusia cecurut ini...." jawab Pendekar Hina Kelana pasti. Akan tetapi demi mendengar ucapan Buang Sengketa, pemuda sakit ingatan ini tiba-tiba berubah parasnya. Dia nampak marah sekali, agaknya fikiran sehatnya yang selalu timbul tenggelam itu salah tanggap akan apa yang baru saja diucapkan oleh Pendekar Hina Kelana. Dengan pedangnya dia menunjuk tepattepat di dada pendekar ini:

"Bangsat! Bicaramu ngaco belo, tadi kau mau membantuku... tapi kini engkau malah berbalik inginkan pedangku...!" bentak Awang Taruna gusar.

Pendekar Hina Kelana sangat geram sekali, dia benar-benar tidak berdaya memberi penjelasan pada pemuda sakit ingatan ini. Baru saja dia bermaksud untuk melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar tawa, kemudian terdengar pula ucapan mencemooh: "Orang muda. Sampai jagad ini terbalik tujuh, engkau tak mungkin bisa mengajak bicara orang gila ini dengan cara yang waras! Mulanya juga kami bermaksud baik padanya. Akan tetapi di luar dugaan, kunyuk sinting ini malah menuduhku yang bukan-bukan. Bahkan dia telah begitu berani membunuh kawan kami yang tiada memiliki kesalahan apa-apa padanya. Bukankah itu sangat keterlaluan sekali...." kata Bidadari Tangan Maut secara tiba-tiba. Sesaat lamanya pendekar Hina Kelana menatap tajam pada Bidadari Tangan Maut. Meskipun hanya sekilas dia memperhatikan Bidadari genit ini, tapi dia sudah dapat menduga kalau perempuan maupun laki-laki tua berpakaian merah ini merupakan orang yang sangat sulit dipercaya. Sebaliknya apabila dia memperhatikan Awang Taruna, dia malah punya kesan bahwa pemuda sakit ingatan ini tentunya berada di pihak yang benar. Hanya mungkin saja orang ini memiliki kerapuhan jiwa. Sehingga batinnya terlalu mudah tergoncang! Menimbang sampai ke situ mendadak Pendekar Hina Kelana tergelak-gelak.

"Bidadari Tangan Maut! Apa untungmu memberi peringatan padaku...?" tanya Pendekar Hina Kelana dengan sesungging senyum dipaksakan.

"Hi... hi... hi...! Pemuda tampan, sudah barang tentu aku sangat tidak rela kalau wajahmu yang bagus itu rusak di tangan bocah gendeng ini." jawab Bidadari Tangan Maut. Di matanya memancarkan gelora nafsu birahi yang menggebu-gebu. "Kalau aku merelakan mukaku hancur tercabik-cabik mata pedangnya, engkau bisa berbuat apa...?!" pancing pendekar dari Negeri Bunian ini pula.

"Huh! Budak sakit syaraf itu pasti aku cincang....

"Orang muda, kuminta engkau minggirlah! Di antara kita tak ada persoalan. Kami ingin secepatnya mengirim kunyuk gila ini ke liang kubur...." Tiba-tiba saja Datuk Dugal yang sejak dari tadi hanya diam saja ikut-ikutan menyela. Serta merta pendekar Hina Kelana mendengus.

"Huh! Kalau persoalannya semudah itu, sudah barang tentu hal ini merupakan satu keberuntungan bagi kalian berdua. Akan tetapi siapa sudi menuruti perintahmu. "

Baik Bidadari Tangan Maut maupun Datuk Dugal, nampak terkejut begitu mendengar ucapan si pemuda. Sesaat lamanya mereka saling berpandangan sesamanya. Kemudian Bidadari Tangan Maut yang tadinya sudah girang hatinya karena akan mendapat korban baru guna memenuhi hasrat birahinya, langsung saja menyela. "Pemuda tampan. Apakah maksud dari semua ucapanmu itu...?" tanya wanita jalang itu harap-harap cemas.

"Hak... hak... hak...! Engkau jangan pura-pura tak tahu perempuan budak nafsu. Bukankah kalian mengingini pedang pusaka di tangan orang gemblung ini? Mengapa harus sungkan-sungkan menjelaskan maksud kalian yang sesungguhnya...?" bentak Buang Sengketa dengan senyum mencemooh. Dan seketika itu juga wajah ke dua dedengkot dari Lembah Dosa inipun menjadi merah padam. Akan tetapi agaknya Bidadari Tangan Maut punya maksud yang sangat istimewa pada Pendekar Hina Kelana. Terbukti meskipun sudah dihina sedemikian rupa dia masih dapat menahan diri. Lain lagi dengan Datuk Dugal, dia merasa tidak rela gendaknya dihina sedemikian rupa, laki-laki tua jenggot kambing ini sangat tersinggung sekali. Kemudian dia maju satu tindak, matanya nampak memerah dan menyungging senyum ganas.

"Bocah gembel! Mulutmu dangat keterlaluan sekali. Kiranya engkau tidak lebih dari kunyuk berpenyakit jiwa ini...!" "Janggut kambing, mengapa harus heran. Aku bahkan bisa lebih gila dari orang-orang gila...!" kata Pendekar Hina Kelana ketus sekali.

"Orang muda kuminta engkau tak turut campur segala macam urusan kami! Menyingkirlah, aku mau membereskan orang sinting ini...!" pinta Bidadari Tangan Maut masih berusaha menahan kemarahannya.

"Adi putri. Mengapa harus berbasa-basi. Manusia berperiuk ini kiranya bapak moyangnya orang gila...!" Datuk Dugal yang sudah sangat marah itupun menyela dengan perasaan cemburu yang meluap-luap. Sebab walau bagaimanapun si janggut kambing ini tahu, apa artinya lirikan dan senyum yang selalu terlepas dari bibir gendaknya ini. Tidak lain hanyalah sebuah maksud kurang ajar.

"Hak... hak... hak...!" Pendekar Hina Kelana mengekeh! Sesungging seringai maut, mengawali bentakan suaranya yang diiringi jeritan Ilmu Pemenggal Roh.

"Heiiik...! Orang-orang celaka. Agaknya kalian belum tahu bagaimana adat si Hina Kelana...!" Terkesiap darah Majikan Lembah Dosa, begitu juga halnya dengan Awang Taruna yang sedang mengalami gangguan jiwa ini. Mereka yang hadir di situ semuanya menutup telinga dengan tangannya masingmasing. Meskipun begitu, tetap saja pengaruh lengkingan Ilmu Pemenggal Roh, masih terasa berpengaruh dan menggetarkan jantung mereka. Baik Datuk Dugal, Bidadari Tangan Maut, maupun Awang Taruna. Masing-masing dari telinga mereka mengalirkan darah. Daun-daun yang masih hijau berguguran, begitu juga ranting-ranting kering yang berada di sekitarnya nampak luruh terhempas ke bumi.

Sementara itu Awang Taruna yang sedang terganggu jiwanya ini, begitu suara itu menggaung di angkasa. Tanpa menghiraukan mereka yang hadir di situ, langsung saja lari tunggang langgang. Buang Sengketa segera hentikan jeritannya, dia nampak memanggil-manggil Awang Taruna, tetapi pemuda sakit ingatan itu tidak perduli lagi, bahkan terus berlari, hingga akhirnya tak terlihat lagi. Tinggallah orang-orang dari Lembah Dosa ini yang sudah nampak semakin pucat parasnya. Tak lama setelah berlalunya Awang Taruna, pendekar berwajah tampan ini kembali memandangi Bidadari Tangan Maut dan Datuk Dugal silih berganti. Kedua bola mata pemuda itu tampak memerah saga. Dari bibir pemuda itu keluar bunyi mendesis bagai suara raja ular Piton yang sedang mengamuk. Kemudian sambil membentak dia memandangi kedua orang itu silih berganti.

"Kudengar kalian telah membantai penduduk Desa Kajenar... dan membunuh orang itu...?" kata Buang Sengketa dengan pandangan berapi-api. Mendapat tuduhan seperti itu, datuk-datuk dari Lembah Dosa ini, meskipun nyali mereka sudah kedodoran. Nampak kurang senang sekali.

"Bocah! Hati-hati engkau bicara, meskipun ilmu kepandaian setinggi langit siapa takut...!" tukas Datuk Dugal sangat gusar sekali

"Pemuda gagah. Engkau harus percaya padaku, bahwa kami tidak tahu menahu tentang pembantaian itu...!" Bidadari Tangan Maut ikut menyela. Dan agaknya dia pun menyadari sangat kecil sekali harapannya untuk memiliki pemuda yang sangat mendebarkan jantungnya itu. Saat itu Pendekar dari Negeri Bunian itu, demi mendengar ucapan Bidadari Tangan Maut, tampak tersenyum getir. Kemudian dia berkat lagi:

"Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai omongan orang yang sangat licik. Aku dengan pemuda sakit ingatan ini mengatakan bahwa kalianlah yang telah melakukan pembantaian itu. Mana yang benar...?" tanya pendekar Hina Kelana bersungutsungut.

"Sial betul! Kiranya engkau lebih percaya dengan omongan orang gila daripada kata-kata kami." kata Datuk Dugal berangnya bukan main. Pendekar Hina Kelana nampak tersenyum kecut. Dalam dia merasa geli sekali melihat cara orang-orang dari Lembah Dosa ini dalam meyakinkan dirinya.

"Terkadang omongan orang gila lebih bisa dipercaya daripada ucapan orang yang waras...!"

"Kurang ajar, kiranya engkau benar-benar telah menuduh kami." Datuk Dugal kertakkan rahang. Dia benarbenar sangat tersinggung dengan apa yang telah dituduhkan oleh pemuda itu. Dalam pada itu, kiranya Bidadari Tangan Maut menyadari kalau pemuda yang berpenampilan gembel ini sudah sangat sulit untuk diajak kompromi lagi. Maka tiada pilihan kecuali menggempur pemuda tampan ini sampai titik darah yang terakhir. Beberapa saat kemudian, pemuda ini menyela pula.

"Lalu bagaimana pula dengan niat kalian untuk memiliki pedang pusaka milik si gila itu...?" tanyanya mencemooh. Kata-kata pendekar Hina Kelana yang sebelumnya tiada mereka duga ini, benar-benar membuat Bidadari Tanjgan Maut dan Datuk Dugal mati kutu. Merah parasnya karena menahan marah bercampur malu.

"Gembel terkutuk. Kiranya engkau hanya ingin mencampuri segala urusan orang lain. Mampuslah...!" Dengan disertai jerit tinggi melengking, Datuk Dugal yang sudah sangat kalap itu menghunus pedang kembarnya. Saat itu juga dia langsung menyerang pendekar Hina Kelana dengan sangat gencar sekali. Kedua pedang kembarnya berkelebat cepat, sehingga dalam waktu sekejap sudah berubah menjadi gulungan gelombang sinar putih yang menderuderu bagai serbuan angin topan. Mengetahui kembratnya sudah bergerak. Maka Bidadari Tangan Maut tidak tinggal diam! Tubuhnya melesat cepat dan dengan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai tingkat sempurna, tubuhnya berkelebat-kelebat bagai seekor burung walet. Perempuan budak nafsu ini pun langsung lancarkan pukulan-pukulan mautnya. Sekali dua dia sambitkan senjata-senjata rahasianya pula.

Pendekar Hina Kelana yang sedikit banyaknya sempat melihat jurus-jurus silat lawannya, dan sudah mengetahui bahwa sesungguhnya pukulan-pukulan maut Bidadari inilah yang lebih berbahaya ketimbang permainan pedang kembar Datuk Dugal. Cepat-cepat memapaki setiap serangan-serangan perempuan binal ini. Satu saat Datuk Dugal melihat salah satu sisi pertahanan Buang Sengketa nampak terbuka.

* * *

8

Datuk Dugal girangnya bukan alang kepalang, dia langsung kirimkan satu tusukan satu babatan. Pendekar Hina Kelana dengan jurus Membendung Gelombang Menimba Samudra, putar kedua tangannya sehingga membentuk balingbaling. Sekejap saja tubuhnya berkelebat lenyap sehingga merupakan bayang-bayang saja. Sesaat kemudian Bidadari Tangan Maut kirimkan pukulanpukulan gencar. Satu rangkaian gelombang pukulan yang berwarna kening keemasan melesat begitu cepat mengarah pada perta-hanan lawannya. Mengetahui datangnya gelombang pukulan yang saling susul menyusul itu, pendekar Hina Kelana menggerung bagai harimau terluka. Tubuhnya melesat laksana kilat. Tusukkan maupun sabetan yang dilancarkan oleh Datuk Dugal mencapai tempat yang kosong. Datuk Dugal memaki panjang pendek.

Sementara itu, pukulan-pukulan Bidadari Tangan Maut, yang terkenal sangat ganas yang diberi nama Sepuluh Bidadari Menggoda Arjuna terus melesat dan mengejar ke mana pun pendekar ini menghindar. Pemuda dari Negeri Bunian ini menjadi sangat marah. Bibir keluarkan bunyi mendesis, bagai raja Piton yang sedang marah. Tak lama kemudian, dengan diiringi jerit melengking tinggi. Pendekar Hina Kelana sudah nampak bersiap-siap dengan pukulan Empat Anasir Kehidupan yang tak perlu lagi diragukan akan kemampuannya. Lalu! Sekali saja tangannya berkiblat ke depan, selarik gelombang sinar Utra Violet menderu lebih cepat hingga timbulkan suara bercuit-an. Dua kekuatan berisi tenaga sakti itu, tanpa dapat terelakkan lagi saling bertu-brukkan di udara.

"Bum! Bum!"

Tubuh Bidadari Tangan Maut tergetar hebat, dada terasa sesak dan sakit sekali. Bagian kaki amblas sebatas lutut. Sementara itu, pendekar Hina Kelana yang pada saat memapaki serangan lawannya, dalam posisi berada di udara. Sudah barang tentu tubuhnya terpelanting delapan tombak. Darah meleleh dari celah bibir dan hidung. Cepat-cepat dia himpun hawa murni, sebentar kemudian wajahnya yang pucat pasi itu pun berubah seperti sediakala. Kini dia sudah bangkit kembali. Bidadari Tangan Maut dan Datuk Merah Dari Lembah Dosa, merasa diatas angin. Tampak terus terkekehkekeh. Perempuan budak nafsu itu langsung menyela dengan nada mencemeeh. "Bocah! Kuberi engkau jalan ke surga untuk bersenang-senang denganku. Tak dinyana engkau malah memilih jalan ke neraka....” kata Bidadari Tangan Maut tersenyum-senyum penuh percaya diri. Buang Sengketa meludah melampiaskan rasa jijik. Kedua matanya kini nampak kian memerah saga. Dia kertakkan rahang! Kemudian dengan bibir bergetar dia membentak.

"Betina hamba nafsu. Jangan sombong dulu, aku belum kalah...!" kata Pendekar Hina Kelana geram.

"Kalaupun engkau punya lima kaki lima tangan. Engkau tak bakal ungkulan menghadapi kami pendekar gembel." cibir Datuk Dugal.

"Ha... ha... ha...! Kiranya engkau terlalu sombong untuk bisa melihat siapa yang engkau hadapi ini, tua bangka janggut kambing...?!" Datuk Dugal yang gampang naik darah itupun demi mendengar penghinaan sedemikian rupa tampak sangat marah sekali, wajahnya yang sudah keriputan itu berubah kelam membesi. Dia langsung melompat dan saling berhadapan muka dengan Pendekar Hina Kelana.

"Jahanam betul engkau ini! Agaknya engkau ingin, agar aku cepatcepat mengirimmu ke liang kubur...!" Dan baru saja Datuk Dugal bermaksud meliciki pendekar ini dengan pedangnya. Tahu-tahu tangan Buang Sengketa telah bergerak lebih cepat lagi memukul bagian selangkangan lawannya. Tak ampun lagi Datuk jenggot kambing ini menjerit-jerit setinggi langit, sambil berjingkrak-jingkrak memegangi pusaka kramatnya yang kena dipukul oleh Pendekar Hina Kelana. Pemuda ini tersenyum dikulum.

"Enak saja engkau mau main curang! Aku paling benci dengan sikap pengecut seperti engkau. He... he... he...! Sebilah pusaka kramatmu itu tak mungkin dapat engkau gunakan untuk menyerang musuh...!" kata Buang Sengketa konyol. Pada saat itu juga di luar sepengetahuan pendekar Hina Kelana. Bidadari Tangan Maut yang sudah sangat gusar langsung bertindak:

"Ser! Ser!"

Senjata rahasia yang berupa jarum beracun milik Bidadari Tangan Maut meluncur cepat pada bagian punggung si pemuda. Masih untung pendekar ini benar-benar memiliki nalar yang peka. Begitu dia merasakan adanya sambaran angin pukulan, cepat dia mengelak dan kiblatkan tangannya.

"Hwees!"

Jarum-jarum beracun yang disambitkan lawannya, runtuh dan berpentalan ke mana-mana. Bahkan beberapa batang di antaranya sempat membalik dan hampir saja memakan pemiliknya sendiri. Bukan main marahnya pendekar ini mendapat bokongan seperti itu.

"Kunyuk betina sialan! Iblis geblek tak tahu aturan, kiranya kalian adalah   iblis-iblis   berhati pengecut. "

"Untuk mencapai kemenangan dalam satu pertarungan, bagi kami cara apapun dapat kami lakukan...!" Datuk Dugal menyela.

"Wah.., kalau begitu aku harus memberimu pelajaran untuk dapat berkata krama. Nih, makanlah. !"

Pendekar Hina Kelana kirimkan dua pukulan berturut-turut pada Datuk Dugal dan Bidadari Tangan Maut. Secepat kilat, pukulan yang berisi setengah tenaga dalam si pemuda itu menderu. Baik Bidadari Tangan Maut dan Datuk Jenggot Kambing yang tiada menyangka bahwa datangnya pukulan bisa secepat itu. Dengan tergagap segera kiblatkan pedangnya.

"Trang! Brees!"

Pedang kembar di tangan Datuk Dugal terpental dua-duanya, lebih dari itu, gelombang pukulan itu terus melanda tubuhnya hingga berpelantingan beberapa tombak.

"Tobat!" jerit Datuk Dugal, dengan badan hampir hangus dilanda hawa panas yang sangat luar biasa. Tubuh Datuk ini tersuruk di semaksemak belukar, dengan luka sangat parah. Sementara itu, di luar sepengetahuan Buang Sengketa, Bidadari Tangan Maut, begitu dapat menyelamatkan diri dari pukulan pendekar Hina Kelana cepat-cepat ambil langkah seribu. Bukan main kesalnya hati si pemuda demi melihat lawannya telah kabur di luar sepengetahuan matanya.

"Kurang ajar. Tak dinyana, kiranya kalian hanyalah manusia yang berjiwa binatang...!" maki pendekar ini saking kesalnya. Kemudian dengan langkah mantap, dia menghampiri Datuk Dugal yang tergeletak tiada berdaya. Penghuni Lembah Dosa yang sudah sekarat itu nampak ketakutan sekali, begitu melihat Pendekar Hina Kelana berdiri persis di hadapannya.

"Ah, sayang sekali janggut kambingmu habis terbakar. Kini kembratmu sudah kabur meninggalkan dirimu! He... he... he...." Buang Sengketa mengekeh.

"Kiranya dia seorang gundik yang tidak setia, datuk sial...! Persetan, itu bukan urusanku. Sekarang katakan saja, ke mana perginya Bidadari Tangan Maut. Di mana pula tempat tinggalnya Giri Sora, Ketua Kumbang Kencana itu...?" Datuk Dugal yang sudah sekarat itu tersenyum getir. Kemudian gelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Jadi engkau benar-benar tidak mau kasih tau di mana sesungguhnya markas Kumbang Kencana berada...?" tanya pendekar Hina Kelana geram.

"Tuk! Tuk!"

Tiba-tiba pemuda ini menotok urat syaraf tertentu, sehingga membuat Datuk Dugal berteriak-teriak bagai orang yang sedang kesurupan.

"Auuhhh... sakit... sakit sekali...! Bangisat, engkau bunuh saja aku...!" jerit Datuk Dugal menggeliatgeliat bagai cacing kepanasan. "Kematian bagimu tak mudah, kau rasakanlah siksaan itu sampai mampus! Aku hendak mengubur mayat orang itu...!" kata Buang Sengketa. Seraya membalikkan badan dan terus melangkah meninggalkan Datuk Dugal yang masih melolong-lolong bagai seekor anjing pesakitan. Kira-kira sepuluh tindak Pendekar dari Negeri Bunian ini melangkah, Datuk Dugal yang sudah tak dapat menahan rasa sakit yang luar biasa itu berteriak-teriak memanggilnya:

"Bocah gembel. Lepaskan siksaan ini, aku mau mengatakannya padamu...!" sela Datuk Dugal kalang kabut. Mendengar teriakkan Datuk Dugal Merah dari Lembah Dosa itu si pemuda hentikan langkahnya. Tanpa menoleh dia berkata lirih.

"Walaupun engkau mau mengatakan di mana tempat tinggal si Giri Sora, akan tetapi karena engkau tak punya peradatan dalam memanggilku! Aku jadi batalkan niat untuk membebaskanmu. Lagipula aku tak butuh keterangan...!" ujar Buang Sengketa berpura-pura. Pucatlah wajah Datuk Dugal, apalagi perasaan sakit yang menyiksa, kian lama kian bertambah hebat. Bahkan datuk yang sudah berusia sangat lanjut itu sampai terkencing-kencing di celana. Saking tersiksanya! Bagaimana pula kalau pemuda yang telah membuat dirinya setengah mati itu tak bersedia membebaskan totokannya? Kini dia berteriak lagi.

"Orang muda, harusnya aku memanggil apa padamu...?" tanya Datuk Dugal dengan tubuh menggigil ketakutan. Pendekar Hina Kelana tertawa ganda, lalu buru-buru menyela, "Kalau engkau ingin aku membebaskan totokan itu...!" Sesaat Buang Sengketa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Panggillah aku dengan sebutan Majikan Besar... bagaimana, apakah engkau setuju...?" tanya pendekar Hina Kelana, sambil tertawa-tawa. Datuk Dugal yang sudah tak tahan didera rasa sakit itupun, cepat-cepat menjawab:

“Baiklah... baiklah majikan besar! Sekarang  engkau bebaskanlah totokan ini majikan besar...!" kata Datuk  Dugal penuh permohonan. Si pemuda tersenyum-senyum. Geli sendiri: "Kurang   asem,  berani  sekali

engkau memerintah majikanmu...!" "Harusnya aku ngomong bagaimana...?" tanya Datuk Dugal, menahan rasa dongkol.

"Mana ada seorang majikan diperintah oleh kacungnya. Sekarang engkau ikuti dulu apa yang aku katakan...." ujar pendekar Hina Kelana.

"Busyet ini sudah sangat sakit sekali majikan...!" Tanpa memperdulikan protes datuk dari Lembah Dosa itu, si pemuda segera berucap:

"Ikuti kata-kataku...! "Baiklah... baiklah...." jawab

Datuk Dugal, semakin geram saja hatinya.

"Aku ini si bandot tua...!" Datuk Dugal langsung mengikuti, kata-kata yang di ucapkan oleh si pemuda.

"Aku ini si bandot tua...!" "Pekerjaan hanya menumpuk

dosa...!" ujar pendekar Hina Kelana. "Perempuan mau juga...!"

"Sudah mau masuk liang kubur belum tobat juga...." Datuk Dugal lagi-lagi meniru.

"Sudah mau masuk liang kubur belum tobat juga...!"

"Dasar celaka...!"

"Dasar celaka...!" Lebih baik mampus saja...!" kata Buang Sengketa mengekeh. Sementara

.Datuk Dugal nampak terperangah. "Apakah        engkau        mau

membunuhku...?! Bukankah aku telah mengikuti segala keinginanmu...!" kata Datuk Dugal ketakutan sekali.

"Goblook! Siapa sudi bunuh engkau, dosamu banyak...!"

"Tapi katanya engkau mau membebaskan aku. Tolonglah majikan...!" rintih Datuk Dugal memelas sekali.

"Setelah bebas nanti, apakah engkau mau tobat...?"

"Ya... aku akan tobat...." jawab Datuk Merah Dari Lembah Dosa ini buruburu.

"Baik! Aku percaya padamu. "

Usai berkata begitu pendekar Hina Kelana, melangkah. Kembali menghampiri Datuk Dugal, kemudian dengan sekali sentuh. Datuk dari Lembah Dosa itupun sudah terbebas dari pengaruh totokan. Beberapa saat setelahnya, tanpa menghiraukan Datuk Dugal yang tertatih-tatih meninggalkan tempat itu. Buang Sengketa melangkah menghampiri mayat wanita malang, ibu kandung Awang Taruna. Pemuda ini segera menggalikan kubur untuk mayat yang telah membusuk itu. Sebentar saja dia sudah menyelesaikan pekerjaannya, kemudian setelah menguburkan mayat itu, dengan mempergunakan ilmu ajian Sapu Angin tubuh pendekar Hina Kelana telah melesat pergi. Tapi dia sangat kesal pada diri sendiri, karena sampai Iupa menanyakan tempat tinggalnya Giri Sora. Dasar tolol! Umpatnya dalam hati.

* * *

9

Dengan sebuah tongkat yang terbuat dari ukuran kayu cendana, kakek tua ini terus melangkah dengan pasti. Sesekali tubuhnya berkelebat ringan di atas bebatuan yang sangat licin menelusuri lereng-lereng Gunung Bajul Buntung yang menjulang tinggi ke angkasa. Dari segi usia, sesungguhnya kakek tua ini sudah berumur kurang lebih sembilan puluh lima tahun. Satu masa yang boleh dikatakan sangat lanjut. Walaupun umurnya sudah hampir mencapai satu abad, kakek ini masih kelihatan sangat lincah dan gesit. Sudah hampir empat puluh tahun, kakek tua ini mengasingkan diri dari dunia ramai. Selama ini dia menetap di wilayah air terjun Sampuran Harimau. Kakek ini di kenal sebagai tokoh beraliran putih yang memiliki berbagai kepandaian, yang membuat jerih pihak lawan maupun kawan. Dunia persilatan mengenalnya sebagai Eyang Wiku Panulu. Lalu apa yang menyebabkannya sampai turun gunung di hari itu? Tak lain dan tak bukan karena murid dan juga masih terbilang cucunya, yaitu si Awang Taruna masih juga belum kembali, setelah hampir satu purnama dalam usaha menjemput ibunya.

Seperti apa yang dijanjikan oleh Awang Taruna pada Eyang Wiku Panulu. Pemuda itu atas permintaan kakeknya bermaksud memboyong orang tuanya ke Lembah Sampuran Harimau. Lebih dari itu, pemuda ini kiranya menyangsikan keselamatan ibunya, yang oleh Eyang Wiku Panulu disebut-sebut sebagai seorang bekas tokoh yang mempunyai banyak musuh. Itulah sebabnya, hari itu setelah empat tahun Awang Taruna diangkat menjadi murid oleh kakeknya sendiri. Eyang Wiku Panulu memberi ijin pada cucunya ini untuk membujuk sekaligus memboyong ibunya ke Lembah Sampuran Harimau. Kenyataannya setelah beberapa hari kemudian, tunggu punya tunggu. Awang Taruna masih juga belum kembali ke Lembah Sampuran Harimau. Tentu saja hal ini membuat kecurigaan Eyang Wiku Panulu. Sebab seperti kebiasaannya Awang Taruna selalu tepat janji. Begitupun Eyang Wiku Panulu masih menunggu hingga beberapa hari lagi. Akan tetapi tetap saja Awang Taruna tidak juga muncul hingga akhirnya Eyang Wiku Panulu memutuskan untuk menyusul pemuda itu.

Demikianlah dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna, kakek yang sudah berusia sangat lanjut ini pun nampak berloncatan dari batu yang satu ke batu yang lainnya. Satu saat dia mendadak hentikan larinya, kedua kelopak matanya yang sudah keriputan dan cekung itu tampak semakin menyipit. Di kejauhan sana dia melihat dua titik, sedang berlari sangat cepat menuju ke arah di mana dia sedang berdiri saat itu. Semakin lama semakin terlihat dengan jelas. Kakek tua inipun nampak tersenyum-senyum penuh arti. Agaknya dia mengenali siapa adanya mereka yang sedang berlari-lari ini. Dua orang kakek gundul, berpakaian kulit kambing dan hanya bercawat pula. Siapa lagi kalau bukan Dua Datuk Sesat dari Pulau Putri.

Seperti diketahui, setelah kalah bertarung dengan Awang Taruna. Kedua orang ini langsung melarikan diri dan bermaksud bergabung dengan Giri Sora yaitu Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana. Akan tetapi di tengah jalan maksudnya mendadak berubah. Mereka bermaksud menemui kembrat-kembratnya di Lembah Dosa. Tujuan mereka sudah jelas. Yaitu ingin memberi tahukan adanya pedang pusaka yang saat ini berada di tangan si gila Awang Taruna. Sebab seperti apa yang pernah dikatakan oleh Penghuni Lembah Dosa. Kedua Datuk Jenggot Kambing itu mempunyai hasrat yang sangat besar untuk memiliki Pedang Pusaka Penebus Dendam. Tak pelak lagi sebagai kembrat terdekat bila dibandingkan dengan Giri Sora, yaitu Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana.

Akan tetapi alangkah kecewanya hati datuk-datuk berkepala gundul ini ketika sesampainya di Lembah Dosa, kembrat-kembratnya sudah meninggalkan tempat itu. Dengan membawa kecewa akhirnya mereka ini memutuskan untuk menyusul kembrat-kembratnya yang sedang menghadiri undangan di tempat kediaman Giri Sora. Baik Datuk Kwalat maupun Datuk Kwali dari Pulau Putri ini, tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan gerak mereka. Hingga ketikan jarak di antara mereka benarbenar telah dekat sekali Eyang Wiku Panulu membentak:

"Berhenti...!" Bentakan Wiku Panulu sesungguhnya sangat pelan saja, akan tetapi karena bentakan itu disertai tenaga dalam yang sangat sempurna, akibatnya sungguh sangat terasa sekali bagi Datuk dari Pulau Putri ini. Telinga mereka terasa sakit tubuh tergetar untuk beberapa saat lamanya. Seketika itu juga kedua orang ini hentikan langkah, kemudian memandang ke arah datangnya suara. Belum lagi hilang kejut di hati datukdatuk ini, tiba-tiba saja dari puncak bebatuan tinggi melayang sosok tubuh yang nampak sangat ringan sekali.

Begitu melihat kehadiran kakek tua bertongkat kayu Cendana ini, bukan alang kepalang kejut di hati mereka. Wajah datuk-datuk ini nampak semakin memucat. Bahkan tanpa mereka sadari, Datuk dari Pulau Putri ini undur beberapa langkah. Wiku Panulu yang memang masih mengenali siapa adanya orang-orang berada di depannya itu, untuk sesaat lamanya tampak memandang tiada berkesip. Kemudian dengan suara lirih namun mantap dia berkata:

"Tak salah kiranya pandangan mataku yang sudah lamur ini? Bukankah aku yang lapuk ini sedang berhadapan dengan Datuk Kwalat dan Datuk Kwali dari Pulau Putri...?" Yang ditanya nampak gelagapan.

"Ah! Orang tua yang terhormat. Nama kami hanyalah nama kosong belaka... tiada artinya bila dibandingkan dengan anda...." sela Datuk Kwalat merendah.

"Sudah puluhan tahun anda kami dengar telah mengasingkan diri di air terjun Sampuran Harimau. Akan tetapi hari ini kami melihat anda sedang melakukan perjalanan di dunia ramai. Tentu ada hal-hal yang sangat penting sehingga anda sampai keluar dari pengasingan...!" tanya Datuk Kwali pula. Ditanya seperti itu, untuk beberapa saat lamanya Wiku Panulu terdiam. Hanya kedua alisnya yang sudah nampak memutih itubergerak-gerak turun naik. Tak lama kemudian:

"He... he... he...! Benar sekali dugaan kalian itu, saat di ambang menghadap Sang Hyang Kuasa, semestinya kau harus memusatkan diri dan banyak beramal padanya. Akan tetapi terkadang urusan dunia yang sudah lama kutinggalkan ini, memerlukan campur tanganku untuk menyelesaikannya...!" kata Wiku Panulu seperti pada dirinya sendiri.

"Apakah maksud anda Wiku...!" tanya kedua datuk itu hampir bersamaan. Wiku Panulu tersenyum pias, sesungguhnya dia tahu kalau datukdatuk dari Pulau Putri ini nampak menyembunyikan sesuatu di hati mereka. Untuk itu kemudian dia berkata terus terang.

"Datuk Kwalat dan Datuk Kwali! Aku ingin bertanya tentang sesuatu pada kalian berdua. Karena sesungguhnya aku tau, kalian pasti mengetahui apa yang ingin aku tanyakan ini. Dan kuharap kalian jangan cobacoba untuk berbohong padaku yang sudah gaek ini. Kalau itu tetap kalian langgar, maka sekali ini aku tak akan mengampuni jiwa kalian berdua...!" kata Wiku Panulu mengancam.

"Wiku... mengapa anda bisa berkata begitu...?" tanya Datuk Kwali sudah dapat menduga-duga apa kiranya yang bakal ditanyakan oleh Wiku Panulu.

"Jangan engkau potong kata-kataku Datuk Kwali...!" Sejenak Wiku Panulu menarik nafas pendek, beberapa saat kemudian dia melanjutkan ucapannya.

"Aku yakin kalian pernah keluyuran di desa Tungging! Nah... aku merasa sangat pasti kalau kalian pernah jumpa dengan seorang pemuda yang umurnya sekitar sembilan belas tahun!" Bukan main terperanjatnya kedua datuk ini begitu mendengar ucapan Wiku Panulu yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dua Datuk dari Pulau Putri ini nampak saling pandang sesamanya, sorot mata mereka membersitkan perasaan bimbang. Sebab walau bagaimanapun Wiku Panulu yang juga merupakan seorang yang ahli dalam ilmu batin ini sudah barang tentu tidak bisa dibohongi. Dari nada ucapannya saja sudah dapat ditebak, bahwa sedikit banyaknya Wiku Panulu telah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.

Untuk berkata terus terang pun bagi mereka ini rasanya tidak akan menolong banyak. Secara langsung mereka pernah bentrok dengan Awang Taruna, bahkan pernah berniat membunuhnya. karena semua itu, akhirnya Datuk Kwalat coba berbohong.

"Wiku... anda jangan menuduh yang bukan-bukan! Kami sungguh-sungguh tidak pernah pergi ke sana...." Wiku Panulu nampak menyeringai. Satu mimik yang merupakan ciri khas dari kakek sakti yang meragukan keterangan orang ini.

"Pada orang tua yang sudah mau masuk liang kubur saja kalian masih begitu berani berbohong. Katakan dengan jelas, atau kalian malah mendahuluiku berangkat ke liang kubur...!" kata Wiku Panulu dingin. Terkesiaplah darah kedua datuk itu demi mendengar ancaman Wiku Panulu yang selama ini mereka ketahui sebagai suatu hal yang tak pernah main-main. Lebih dari itu, mereka juga cukup maklum. Jangankan berhadapan dengan kakek yang pernah mempecundangi mereka, sedangkan berhadapan dengan muridnya saja mereka sudah kalah. Meskipun tanpa Pedang Pusaka Penebus Dendam di tangan kakek ini, mereka berdua masih merasa sangsi untuk dapat mengalahkan Wiku Panulu.

"Jadi kalian benar-benar tak mau mengakuinya.... bukankah kalian bahkan sempat bertarung dengan muridku itu...?!" sindir Wiku Panulu. Merasa tak ada pilihan lain, pada akhirnya Datuk Kwalat mengakui:

"Benar.... kami sempat bertarung dengan muridmu itu. "

"Tapi semua itu dengan sangat terpaksa kami lakukan karena dia telah menuduh kami sebagai pembunuh orang tua dan penduduk Desa Tongging. "

Datuk Kwali buru-buru menyela. Wiku Panulu nampak sangat terkejut, hatinya menjadi pedih bercampur gusar. Dia tidak pernah menyangka kalau kejadiannya malah lebih buruk dari semua tafsir-tafsir yang pernah diketahuinya.

"Jadi Pujita Sari, ibu kandung muridku itu telah binasa? Cepat katakan siapa yang telah bertanggung jawab atas kematiannya...!" bentak Wiku Panulu sangat marah sekali. Meskipun dua orang Datuk dari Pulau Putri ini tahu siapa sesungguhnya yang telah melakukan pembantaian itu. Akan tetapi mereka tetap konsekwen dalam men-taati peraturan golongan hitam.

"Kami tak tahu siapa yang telah melakukannya, Wiku...!" Maka semakin bertambah gusarlah Wiku Panulu demi mendengar ucapan Datuk Kwalat yang sesungguhnya hanya merupakan kepurapuraan saja.

"Bagus! Kalau kalian tak tau, maka aku akan menggebukmu...." kata Wiku Panulu dengan kemarahan yang meluap-luap. Bersamaan dengan ucapannya itu, Wiku Panulu pukulkan tangannya ke depan. Meskipun pukulan itu pada dasarnya hanya terlihat bagai lambaian tangan saja, akan tetapi berakibat sangat luar biasa. Satu gelombang angin topan menderu dahsyat mengarah pada kedua Datuk Pelalap Daun Muda ini. Datuk Kwali terpekik kaget serta merta tubuhnya melesat ke atas. Meskipun begitu Datuk Kwali masih merasakan adanya sambaran angin pukulan yang terasa dingin luar biasa. Tak dapat disangkal, karena Wiku Panulu telah mempergunakan pukulan Menyingkap Kabut Menangkap BayangBayang. Sementara itu, Datuk Kwalat yang mencoba memapaki pukulan yang dilancarkan oleh Wiku Panulu padanya. Begitu pukulan yang begitu cepat itu saling berbenturan dengan pukulan lawannya, tubuh Datuk Gundul dari Pulau Putri ini nampak terlempar empat tombak! Dada terasa nyeri luar biasa, parut mual bagai diaduk-aduk. Kemudian dia terbatuk-batuk bagai seekor kucmg kurus terserang penyakit paru-paru. Bersamaan dengan suara batuk itu, darah kental kehitam-hitaman nampak menggelogok ke luar. Cepat-cepat dia menghimpun hawa murninya. Setelah itu dia bangkit kembali dengan membawa luapan kemarahan.

* * *

10

Datuk Kwalat yang sedang dilanda kemarahan itu menjadi gelap mata. Dia sudah tidak lagi memikirkan bahwa Wiku Panulu sesungguhnya bukanlah lawan kedua datuk ini. Secara serentak kedua orang ini mencabut golok tipis yang terselip di pinggang mereka. Datuk Kwalat dan  Datuk  Kwali langsung mengurung Wiku Panulu dengan seranganserangan ganas. Golok tipis di tangan lawan-lawannya   menyambar   cepat berkelebat ke berbagai penjuru. Walaupun sambaran golok itu terlihat beberapa kali mengancam Wiku Panulu, akan tetapi kakek renta ini sebaliknya malah  terkekeh   sambil  memutar tongkatnya dengan sangat cepat sekali. "Trang! Trang!" Percikan bunga

api berpijar ketika senjata-senjata itu saling berbenturan, meskipun tongkat di tangan Wiku Panulu, hanyalah berasal dari oyot kayu cendana. Akan tetapi karena pada saat menangkis dengan tongkatnya, Wiku Panulu mengerahkan sebagian tenaga dalamnya, tak urung golok tipis di tangan masing-masing lawannya menjadi gompal di beberapa bagian. Semakin lumerlah nyali orang orang ini. Satu ketika tubuh Wiku Panulu berkelebat lenyap. Dan dalam pada itu dia berseru lantang.

"Tuyul-tuyul Pelalap Daun Muda! Agak nya engkau lebih suka mati ketimbang beri keterangan padaku! Kalau memang itulah yang kalian ingini maka jangan salahkan aku nantinya...!" Datuk Kwalat dan Datuk Kwali sembari mengirimkan pukulan-pukulan gencar langsung menyela:

"Wiku Panulu! Sekalipun engkau manusia dewa, tidak nantinya kami mau kasih keterangan padamu...!" tukas Datuk Kwali. Mendengar jawaban seperti itu, Wiku panulu menggembor macam banteng terluka, kemudian tubuhnya melesat ke udara dan langsung berputar-putar di atas kepala lawanlawannya. Kedua Datuk dari Pulau Putri ini pun nampak semakin gugup dan kebingungan. Saking geramnya mereka ini karena merasa dipermainkan lawan. Manusia tuyul berjenggot putih ini pun, segera berteriak-te-riak: "Wiku Panulu... manusia pengecut Nampakkanlah dirimu, kami paling benci menghadapi manusia sepengecut engkau!" Masih berkelebat-kelebat, Wiku Panulu tertawa ganda!

"Golok di tanganmu itu hanya lebih pantas untuk menggorok leher kalian sendiri...!" kata Wiku Panulu mencemooh. Kemudian dengan sekali saja dia gerakkan tongkatnya. Datuk Kwali, yaitu orang yang berada paling dekat dengannya. Nampak menjerit-jerit sambil menakap bagian perutnya yang terburai isi dalamnya. Kiranya di luar sepengetahuan lawan-lawannya. Tongkat di tangan Wiku Panulu, pada bagian ujungnya bermata tajam yang sewaktuwaktu dapat ditarik keluar masuk. Tubuh Datuk Kwali nampak bergulingguling di atas rerumputan, berkelejatkelejat untuk kemudian diam untuk selama-lamanya. Menghadapi kenyataan seperti ini, Datuk Kwalat kedernya bukan alang kepalang, wajahnya pucat pasi. Bibir bergerak-gerak, namun tiada satu pun kata yang terucap.

Semua itu kiranya tak terlepas dari perhatian Wiku Panulu. Kakek ini berharap dengan kematian Datuk Kwali semoga Datuk Kwalat mau memberi keterangan padanya tentang Awang Taruna. Mengingat sampai ke situ, Wiku Panulu dari Sampuran Harimau ini pun berkata: "Manusia yang menamakan dirinya Kwalat! Cepat katakan di mana adanya muridku itu...?"

"Aku tak tahu kakek peot." jawab Datuk Kwalat tak kalah sengitnya. ,

"Rupanya engkau ingin nasibmu seperti kembratmu itu, tuyul busuk...?!" bentak Wiku Panulu semakin bertambah gusar saja. Tiba-tiba, dalam ketakutannya itu Datuk Kwalat malah tertawa terbahakbahak. Begitu sinis matanya memandangi Wiku Panulu yang dulunya juga pernah mempecundanginya.

"Wiku Panulu manusia sial! Bagiku lebih baik mati daripada harus berkhianat pada kawan sendiri. Satu saja yang harus kau tahu, bahwa setelah kematian emaknya muridmu yang berilmu sangat tinggi itu kini sudah menjadi tak waras, dia sudah gila. Sayang sekali Wiku... engkau merupakan seorang dedengkot yang sangat sakti, akan tetapi murid edan malah kau urus...!" kata Datuk Kwalat dengan sesungging senyum penuh kemenangan. Wiku Panulu bagai mendengar petir di siang bolong, nampak sangat terkejut sekali. Bahkan dia hampir-hampir tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Datuk dari Pulau Putri ini. Wajahnya yang sudah keriput itu nampak memerah karena menahan amarah bercampur malu. tiba-tiba dia membentak gusar.

"Tuyul bungkuk punggung unta.. jangan kau coba-coba mengelabuhiku. Tak mungkin muridku itu secara tibatiba berubah menjadi gila...." tukas Wiku Panulu dengan hati bagai terhempas.

"Huh! Aku tak perduli engkau mau percaya atau tidak. Bukankah sejak awal tadi telah kukatakan. "

"Kurang ajar! Rupanya engkau benar-benar hendak mempermainkan aku, tuyul bungkuk. ?"

"He... he... he...! Kau boleh tak usah percaya padaku Wiku dungu. Akan tetapi begitulah kenyataan yang kau lihat. Dunia persilatan pasti akan mentertawaimu, seorang tokoh sakti tapi mempunyai murid yang tidak waras.!" Mendengar ucapan Datuk Kwalat yang bernada mencemooh itu nampak terdiam, hatinya sangat sedih. Terpukul bukan karena kabar yang dia terima itu, tapi demi teringat bahwa cucunya itu sejak kecil belum pernah merasakan hidup senang. Sebagai eyangnya sejak Awang Taruna dilahirkan sampai berumur lima belas tahun dia sangat mengacuhkan cucunya ini. Sebab selama itu dia beranggapan bahwa Awang Taruna bukanlah titisan Bayu Siliwangi. Seperti diketahui sebelum menikah dengan putranya. Mantunya yang juga merupakan muridnya yaitu Pujita Sari sempat terlibat percintaan dengan beberapa pemuda. Sungguh pun akhirnya dia menyesali tindakannya yang telah menjodohkan Pujita Sari dengan anaknya boleh dibilang secara paksa. Akan tetapi sejauh itu dia masih belum dapat mengakui kalau Awang Taruna merupakan anak dari hubungan yang syah antara Bayu Siliwangi dan Pujita Sari. Lama setelah mengasingkan diri, barulah Wiku Panulu menyadari kalau semua yang telah dilakukannya kiranya merupakan kepicikan dirinya yang sudah tua bangka. Setelah menyadari akan semua kesalahannya dia langsung mendidik cucunya dengan berbagai ilmu kanuragan. Baru empat tahun dia berusaha menebus segala kesalahannya. Akan tetapi kini...! Awang Taruna sesungguhnya merupakan tanggung jawabnya sejak kematian Bayu Siliwangi. Yaitu ayah kandung pemuda itu, kini ketika kesilapan itu belum tertembus seluruhnya, tiba-tiba malapetaka telah menimpa ibunya. Lebih dari itu, sekarang cucunya malah sakit ingatan. Tanpa sadar, dua butir air mata menggelinding menuruni pipi Wiku Panulu yang sudah keriputan di sana sini. Melihat kenyataan itu, Datuk Kwalat kembali tergelak-gelak. Kemudian dengan nada mengejek dia berkata:

"Puh! Sungguh tak pernah kusangka, kalau seorang tokoh persilatan yang namanya kesohor di mana-mana kiranya hanyalah merupakan seorang yang sangat cengeng dan rapuh. Berita ini akan kusebar di mana-mana, agar semua orang tahu macam apa kiranya tokoh yang namanya pernah menggegerkan dunia persilatan itu...!" Wiku Panulu merah parasnya, panas hatinya. Kedua bibir terkatup rapat, rahang mengeluarkan bunyi bergemeletukan. Sementara kedua matanya menatap tajam pada Datuk Kwalat dari Pulau Putri ini. Kemudian Wiku Panulu tertawa mengekeh. Akah tetapi dari suara tawanya yang terdengar sumbang itu siapapun dapat menduga bahwa kakek keriputan ini sesungguhnya sedang berusaha meredam kepedihan jiwanya. Lalu ketika begitu dia menghentikan tawanya, tiba-tiba saja dia membentak garang.

"Datuk Kwalat! Sebelum kesombonganmu itu melampaui batas, sebelum mulutmu yang kotor itu menyebarkan bau busuk di mana-mana. Semuanya akan kuselesaikan hari ini juga...!"

"He... he... he...! Engkau kira akan semudah itu...?" kata Datuk Kwalat mencibir.

"Hak, Ingin kulihat sampai di mana kesetiaanmu terhadap orang-orang segolonganmu...." menyela Wiku Panulu dengan nada penuh ancaman. Menciut juga nyali Datuk Kwalat mendengar ancaman tokoh dari Lembah Sampuran Harimau itu.

"Jangan coba-coba menggertakku, sobat tua... aku tak akan takut! Karena aku merasa tak punya salah denganmu...!"

"Engkau memang tak punya salah manusia tuyul punggung unta! Akan tetapi gara-gara kembrat-kembratmulah maka cucuku sampai mengalami kejadian seperti itu!

"Kalau begitu aku akan mengadu jiwa denganmu! Hiat...!" Datuk Kwalat memburu dan langsung membabatkan goloknya mengarah pada kepala Wiku Panulu. Kakek peot ini adalah seorang tokoh sakti yang mempunyai banyak pengalaman, meskipun golok di tangan lawannya hampir mencapai batok kepalanya, dia masih kelihatan tenangtenang saja. Kemudian dengan sedikit berkelit, golok di tangan lawan mencapai tempat yang kosong, sebaliknya dia malah memberi satu sodokan pada bagian yang rawan.

"Plok!" Datuk Kwalat berteriak kesakitan, dia berjingkrak-jingkrak bagai seekor anjing yang sedang kencing. Datuk ini merasakan perutnya mules luar biasa, tak heran karena Wiku Panulu telah memukul bagian yang sangat dikeramatkan. Datuk dari Pulau Putri inipun memaki panjang pendek, dia berubah menjadi semakin beringas.

"Kurang ajar! Tua bangka tak tahu adat, engkau benar-benar telah menghinaku." maki Datuk Kwalat dengan mata melotot bagai hendak melompat ke luar. Wiku Panulu tertawa rawan!

"Apanya yang kurang ajar! Bukankah tadi engkau menyerangku... kini engkau malah memakiku kurang ajar...!"

"Kau telah memukul anuku... manusia iblis...!"

"Wah! sial betul. Maling malah berteriak maling...." Belum lagi usai kata-katanya, mendadak Wiku Panulu lambaikan tangannya ke depan. Satu rangkaian gelombang sinar kuning ke biru-biruan meluncur deras ke arah Datuk Kwalat. Tentu saja Datuk Kwalat yang sudah merasakan bagaimana hebatnya pukulan tersebut tidak tinggal diam. Secepat kilat dia mengelak, tubuhnya berjumpalitan ketika angin pukulan yang berhawa sangat dingin itu hampir melanda dirinya.

Akan tetapi, Wiku Panulu tidak berhenti sampai di situ saja! Begitu pukulan pertama yang dilancarkannya luput, menyusul pula pukulan kedua, ketiga dan seterusnya. Tentu saja, walaupun Datuk Kwalat memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna, sangat mustahil mengelak dan berlompatan secara terus-menerus. Begitupun pukulan demi pukulan terus dia elakkan. Hingga tak begitu lama kemudian gerakannya mulai lamban. Akhirnya:

"Blammm!" Tanpa sempat menjerit atau melolong, tubuh Datuk Kwalat terpelanting roboh dan tewas seketika itu juga. Wiku Panulu menarik nafas pendek. Sekejap dia memandangi mayat Datuk Kwali dan Datuk Kwalat silih berganti. Tak lama setelahnya seperti tidak pernah ada kejadian apapun kakek penghuni Lembah Sampuran Harimau itupun segera berlalu dari tempat itu.

***

11

Panas matahari yang terasa begitu teriknya tidak sedikitpun mengurangi semangat Pendekar Hina Kelana untuk melanjutkan niatnya mencari tempat kediaman Giri Sora, yaitu Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana. Peluh sudah mulai bercucuran membasahi sekujur tubuh pemuda itu, rasa penat sudah tidak dia hiraukan lagi. Sementara tubuh Awang Taruna yang baru saja ditolongnya nampak bergelantungan di atas bahu kirinya. Sampai saat itu pemuda yang sedang mengalami gangguan jiwa itu masih belum juga sadarkan diri. Seperti diketahui, Awang Taruna melarikan diri karena rasa takutnya. Ketika mendengar jeritan Ilmu Pemenggal Roh. Buang Sengketa tidak berhasil memanggil pemuda sakit jiwa ini. Akan tetapi setelah dia berhasil membunuh Datuk Dugal dan Datuk Senu dan setelah pula menguburkan mayat Pujita Sari yang sudah membusuk itu Pendekar dari Negeri Bunian ini segera mengejar ke arah larinya Awang Taruna. Dia berpendapat walau bagaimanapun pemuda sakit ingatan itu jelas-jelas memerlukan pertolongannya. Seperti yang dia ketahui, Awang Taruna telah terkena bokongan jarum beracun milik Bidadari Tangan Maut, yang secara cepat atau lambat sudah barang tentu akan mengancam keselamatan jiwanya.

Mengingat sampai ke situ, pendekar penegak keadilan ini pun segera menyusul Awang Taruna yang telah merad terlebih dahulu. Dengan menggunakan ajian Sapu Angin hanya dalam waktu sepeminum teh, pemuda sakit ingatan inipun sudah tersusul. Akan tetapi pemuda edan itu justru malah lari tunggang langgang begitu melihat kehadiran Buang Sengketa. Agaknya pengaruh racun yang sudah menjalar ke mana-mana. Tak lama kemudian pemuda ini pun tersungkur dan tak sadarkan diri. Demi mengetahui keadaan Awang Taruna yang sudah teramat parah, cepat-cepat Pendekar Hina Kelana mengeluarkan jarum beracun yang mengeram di tubuh pemuda itu. Kemudian segera memberikan pertolongan seperlunya. Begitu keadaan gawat itu berlalu, kiranya Awang Taruna masih belum sadar dari pingsannya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari tempat kediaman Giri Sora. Si manusia durjana yang menjadi penyebab malapetaka.

Demikianlah tanpa menghiraukan rasa letih yang luar biasa, Pendekar Hina kelana terus berlari-lari kecil menelusuri rimba yang sepi. Satu saat dia melihat kepulan asap bergulunggulung yang berasal dari dataran rendah yang tidak begitu jauh lagi jaraknya dari tempat dia berdiri. Pemuda ini menghentikan langkah, beberapa saat lamanya dia memandang ke arah kepulan asap tersebut. Lalu dia bergumam seorang diri: "Hemm! Kepulan asap, mungkin daerah inilah yang disebut-sebut sebagai daerah Seribu Bangkai. Kalau begitu kepulan asap itu berasal dari tempat kediaman Giri Sora dan kembrat-kembratnya! Bukan tak mungkin Bidadari Tangan Maut telah sampai di sana pula." Berfikir sampai di situ, Pendekar Hina Kelana sudah bermaksud untuk meneruskan perjalanannya kembali ketika secara tiba-tiba terdengar suara bentakan dia belakangnya:

"Berhenti...!" Mau tak mau Buang Sengketa mengurungkan niatnya, kemudian secara sepontan menoleh ke belakang. Tahu-tahu seorang kakek bertongkat kayu cendana telah berdiri di belakangnya. Maka sadarlah pendekar ini, bahwa siapapun adanya kakek tua yang berdiri di belakangnya. Yang jelas dia merupakan tokoh yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Beberapa saat lamanya Buang Sengketa nampak meneliti si kakek renta ini, begitu juga sebaliknya. Dari cara kakek itu memandang maka tahulah dia bahwa orang tua yang kini telah berdiri di hadapannya, sesungguhnya orang yang berasal dari golongan lurus, untuk itu dia berkata sopan.

"Ada keperluan apakah, hingga anda menghentikan langkahku, orang tua...?"

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu...!" ujar si kakek yang tak lain adalah Wiku Panulu.

"Apa yang ingin kau tanyakan? Katakan saja, waktuku tidak banyak...." kata Buang Sengketa tidak sabar.

"Baiklah... baiklah. Pernahkah engkau pergi ke desa Tongging...?" tanya Wiku Panulu menyelidiki. Pemuda itu gelengkan kepala. Dalam hati dia mulai curiga jangan-jangan kakek tua ini juga ingin memiliki Pedang Pusaka Penebus Dendam.

"Aku tak pernah ke sana. "

jawab Pendekar Hina Kelana mantap. "Cobalah berkata jujur, orang

muda...!" sela Wiku Panulu.

"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya...!" kata pemuda ini agak tersinggung dengan ucapan kakek ini. Wiku Panulu menarik nafas pendek, dari sinar matanya yang meredup, tahulah pendekar ini bahwa sesungguhnya kakek ini sedang dilanda kesedihan.

"Kalau begitu ke manakah perginya cucuku...." ucap Wiku Panulu seperti pada dirinya sendiri.  Sedikit banyaknya Buang Sengketa pada akhirnya merasa lega, karena apa yang dia takutkan sesungguhnya tidak beralasan. "Apakah  cucumu bernama Awang Taruna...?" tanya Pendekar  Hina Kelana, tanpa ragu-ragu lagi. Mata Wiku Panulu yang meredup itu, kini agak membuka sedikit, dia agak terkejut dengan pengakuan pemuda ini. Lantas timbullah kecurigaannya tentang seseorang yang berada di bahu kiri pemuda ini. Meskipun begitu dia tidak ingin bertindak gegabah. Dia menyadari bahwa pemuda yang belum dikenalnya itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

"Engkau kenal dengan cucuku itu...?"

"Aku kenal seseorang yang memiliki nama itu. Akan tetapi orang itu mempunyai sakit ingatan. Aku kurang yakin kalau pemuda sakit jiwa itu cucumu. Apakah cucumu seperti yang kesebutkan tadi...?" Wiku Panulu gelengkan kepala. Dalam hati dia mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh Datuk Sesat dari Pulau Putri. Cucunya sakit ingatan! Teringat sampai di situ, tiba-tiba saja dia berkata lirih,

"Orang muda. Sungguhpun cucuku saat meninggalkanku tidak sakit seperti yang kau katakan tadi, tetapi di dunia ini segalanya serba mungkin terjadi bukan...?" ujar Wiku Panulu bagai minta pendapat. Tanpa menjawab, pemuda ini hanya mengangguk pelan. "Coba engkau katakan padaku, di mana adanya cucuku itu...!" kata Wiku Panulu penuh harap.

"Dia selalu dekat dariku...!" ujar Pendekar Hina Kelana konyol. Wiku Panulu memandang berkeliling, matanya mencari-cari, tak seorang pun berada di sekitar tempat itu.

"Bocah! engkau jangan coba-coba mempermainkan aku... dimana dia...?" tanya Wiku Panulu gusar.

"Dia di sini. Di pundakku ini...!" jawab Pendekar Hina Kelana sembari menunjuk bahu kirinya. Wiku Panulu nampak terperangah, dalam hati dia bertanya-tanya. Apakah gerangan yang telah terjadi, sehingga cucunya sampai dalam keadaan tidak sadar sedemikian rupa?

"Bocah, engkau apakan dia...?" tanya Wiku Panulu. Buang Sengketa, tanpa menghiraukan ucapan Wiku Panulu segera menurunkan tubuh Awang Taruna yang masih belum juga sadarkan diri. Kemudian tanpa diminta dia segera berucap.

"Dia terkena serangan jarum beracun milik Bidadari Tangan Maut, tapi aku sudah mengeluarkannya...!" ujar pemuda itu masih dalam keadaan berjongkok di sisi Awang Taruna. Wiku Panulu langsung menghampiri Awang Taruna yang masih tergeletak tanpa daya. Kemudian dia segera memeriksa di sana sini. Denyut nadinya masih ada. Sebagai orang yang berpengalaman dia tahu, bahwa kiranya pemuda di hadapannya itu telah menyelamatkan jiwa cucunya.

"Dia memerlukan perawatan lebih lanjut kakek...!"

"Namaku Wiku Panulu, manusia tiada guna...!" ujar kakek penghuni Lembah Sampuran Harimau itu merendah.

"Ah! Engkau terlalu merendah Wiku. Berbagai golongan persilatan semuanya mengenalmu...." Tiba-tiba Wiku Panulu menoleh dan langsung memandangi si pemuda. Dia tampak meneliti dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Priuk besar, rambut dikuncir. Tak salah lagi, dia pernah melihat pemuda super sakti ini di dalam ramalannya. Tiba-tiba dia tersentak, terkejut luar biasa.

"Ah... ah...! Sungguh mataku yang sudah lamur ini tak tahu adat. Tidak becus me-mandang betapa tingginya gunung yang tegak di depan mata. Keterlaluan... sungguh sangat keterlaluan...! Bukankah engkau ini Pendekar Hina Kelana, tokoh muda dari Pantai Karang Tanjung Api...!" ujar Wiku Panulu tertegun-tegun. Buang Sengketa tersenyum ramah. Kemudian dia berucap:

"Mungkin Wiku salah lihat." Wiku Panulu mengekeh, kemudian langsung menjawab,

"Tidak! Hanya mataku yang lamur tapi batinku tidak. Engkaulah tokoh muda yang memiliki kesaktian luar biasa! Sungguh aku yang sudah mau masuk liang kubur ini sangat beruntung bahwa hari ini aku bertemu dengan seorang pendekar penegak keadilan...!" "Wah... engkau ngoco! Bertemu pun baru kali ini bagaimana mungkin engkau bisa mengenalku...?"  ujar Buang Sengketa mengelak. Lagi-lagi  Wiku

Panulu mengekeh!

"Engkau tak mungkin berbohong pada ku! Periuk itu, wajahmu, juga pakaianmu yang dekil mirip manusia hina. He... he... he...! Siapa lagi yang punya tampang sepertimu, kalau bukan si Hina Kelana...! Masihkah engkau hendak mungkir...?" Kejut pendekar ini bukan alang kepalang. Kakek tua dengan tongkat kayu cendana, bertemupun baru sekali ini, tetapi mengapa bisa tahu tentang dirinya sampai sejauh itu? Batinnya. Dan agaknya Wiku Panulu mengetahui apa yang sedang difikirkan oleh pemuda ini. Maka diapun langsung menyela: "Pendekar muda.,.."

"Wiku jangan menyebut-nyebutku pendekar! Panggil saja Kelana...!" protes pemuda itu.

"Ah... ah... kiranya selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, kiranya engkau orang yang berkepribadian tinggi pula. Tentu gurumu orang yang sangat bijaksana. Tapi baiklah Kelana... aku akan berterus terang padamu, bahwa sesungguhnya aku punya sedikit kepandaian dalam meramal apa saja. Untuk itu walaupun sesungguhnya engkau belum pernah bertemu denganku akan tetapi jauh sebelumnya aku pernah melihat kehadiranmu." kata Wiku Panulu yang panjang lebar.

"Hmm! Kiranya engkau merupakan seorang tokoh yang punya banyak keahlian!" gumam pendekar ini.

"Ya... tapi kepandaian picisan. Ee... bagaimana engkau bisa bertemu dengan cucuku ini...?" tanya Wiku Panulu mengalihkan pembicaraan.

Kemudian secara singkat Pendekar Hina Kelana menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Sampai kemudian dia bertemu dengan Wiku Panulu. Mendengar penjelasan pendekar Hina Kelana, Wiku Panulu nampak menarik nafas pendek, lalu dia mendesah.

"Lagi-lagi pedang inilah yang menjadi penyebab timbulnya malapetaka, ratusan tahun yang lalu pun satu perguruan saling bunuh hanya karena Pusaka Penebus Dendam ini, dan sekarang malapetaka itu terjadi karena sebab yang sama...!" ujar Wiku Panulu dengan wajah tertunduk sedih.

"Agaknya pedang ini diciptakan hanya untuk membalas dendam, Wiku...!" "Mungkin juga! Tapi sudahlah, aku sudah punya rencana tersendiri untuk memusnahkan pusaka malapetaka ini nantinya. Oh ya... jadi engkau benarbenar hendak melanjutkan niatmu untuk mengobrak-abrik sarangnya Kumbang

Kencana?"

"Ya! Aku harus menggantung Giri Sora, atau bahkan memenggal kepalanya atas kematian sekian banyak orangorang desa Tongging...!" jawab pemuda ini mantap.

"Kalau begitu aku harus ikut. Giri Sora harus bertanggung jawab atas kematian Pujita Sari mantuku...!"

"Kalau engkau sudah berniat begitu, aku tidak bisa mencegah Wiku. Mari kita berangkat." Usai berkata begitu, Pendekar Hina Kelana kembali memanggul tubuh Awang Taruna kemudian dalam waktu sekejap saja kedua orang inipun berkelebat pergi. Karena jarak yang mareka tempuh tidaklah begitu jauh benar, maka dalam waktu sekejap mereka telah sampai di tempat kediaman Giri Sora. Setelah menyembunyikan Awang Taruna di tempat yang aman, maka kedua orang ini langsung mendekati tempat tinggalnya Giri Sora. Dari tempat yang agak terlindung mereka dengan jelas dapat melihat kesibukan yang luar biasa.

"Agaknya Giri Sora sedang mengadakan pesta besar-besaran, Wiku...!" kata pendekar Hina kelana hampir-hampir tak terdengar.

"Satu pesta kematian yang sebentar lagi akan kita mulai...!" jawab Wiku Panulu begitu dingin. "Lihat! Penjaga-penjaga itu, kita harus melumpuhkan mereka terlebih dulu."

"Menurut perkiraanku mereka tidak lebih dari empat puluh orang. Itupun seperti yang aku dengar...!" kata Wiku Panulu menimpali.

"Sepuluh di antaranya sudah pada kojor di tanganku...!" menyela Buang Sengketa tanpa suatu maksud. Wiku Panulu memandang pada pemuda ini untuk beberapa saat lamanya.

"Engkau benar-benar hebat...!" kata Wiku Panulu memuji.

"Jangan menyanjungku setinggi langit. Bisa-bisa aku tersungkur ke dalam parit. "

"Engkau ini memang manusia lucu. Tapi aku senang pada sifat-sifat yang rendah hati...!" Tanpa menghiraukan ucapan Wiku Panulu, Pendekar Hina Kelana berseru,

"Wiku... cepat kita bereskan enam orang penjaga di luar itu. Setelah itu kita langsung menyerbut ke dalam! Aku yakin Bidadari Tangan Maut juga ada di sana. !"

"Membereskan tikus dapur apa sulitnya!" Bersamaan dengan ucapannya itu, Wiku Panulu merogoh kantong jubahnya, kemudian laksana kilat, tangannya berkelebat.

"Wut!"

Enam larik benda berwarna putih bersih meluruk cepat mengarah pada bagian yang sangat mematikan tubuh penjaga itu. Agaknya mereka tidak menyadari adanya bahaya maut yang mengintai keselamatan jiwa mereka. Tanpa satu rintangan apapun, bendabenda ini melabrak tubuh penjagapenjaga itu.

"Jeb!"

Secara bersamaan suara seperti itu terdengar enam kali berturutturut. Tanpa mampu mengeluarkan jeritan apapun, tubuh mereka berjatuhan bagai sebatang pohon yang ditebang secara serampangan. Tubuhtubuh yang malang itu nampak berkelojotan untuk beberapa saat lamanya. Darah meleleh dari bagian leher yang terkena sambitan senjata rahasia yang berupa tulang ular Cobra itu. Tak lama kemudian tubuh penjagapenjaga itupun diam tiada berkutik, nyawa melayang dengan tubuh membiru.

Kiranya semua kejadian itu sempat menimbulkan kecurigaan pada orangorang yang berada di dalam rumah yang mirip sebuah istana itu. Terbukti hanya beberapa saat setelahnya, tampak beberapa orang ke-luar dan sangat terperanjat melihat kenyataan yang terjadi.

* * *

12

Maka gegerlah orang-orang perkumpulan Kumbang Kencana dibuatnya. Kecut bercampur marah, semuanya berbaur menjadi satu. Kemudian salah seorang di antara mereka berteriak lantang.

"Cepat beritahu ketua...!" perintahnya. Tiga orang di antara mereka segera bergegas pergi, tak lama kemudian telah kembali lagi bersama seorang laki-laki berbadan kurus sedangkan di sisi kirinya menyertai seorang perempuan yang sudah sangat dikenal oleh Pendekar Hina Kelana. Siapa lagi kalau bukan Bidadari Tangan Maut. Di tempat persembunyiannya, Buang Sengketa berbisik pada Wiku Panulu.

"Wiku! Perempuan itulah yang telah menciderai cucumu...!" jelasnya. Wiku Panulu manggut-manggut kayak burung platuk.

"Aku pernah mengenalnya, dan kalau engkau ingin tahu bagaimana tampangnya kunyuk Giri Sora, ya itu... yang tinggi kurus itu...!" sela Wiku Panulu.

"Apakah kita perlu turun tangan sekarang juga?" tanya Pendekar Hina Kelana sudah semakin tak sabaran.

"Sabar dulu! Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh si Giri Sora dan betina itu...!" jawab Wiku Panulu, tanpa mengalihkan perhatiannya pada orang-orang Kumbang Kencana yang sedang menggotong mayat-mayat kawannya.

Dalam pada itu, Giri Sora sangat marah sekali demi melihat kematian anak buahnya yang sampai sebanyak itu. Dalam hati, siapapun adanya orang yang telah menyambitkan senjata rahasianya. Sudah dapat diduga setidak-tidaknya orang itu berkepandaian tinggi. Dalam kemarahannya itu dia berteriak lantang:

"Bangsat pengecut! Kalian benarbenar mencari penyakit, bagitu berani menyantroni sarang macan! Keluar dari tempat persembunyian atau aku harus me-maksanya...!" Tiada reaksi. Di tempat persembunyiannya Pendekar Hina Kelana dan Wiku Panulu saling pandang. Kembali terdengar suara bentakan.

"Bangsat rendah. Agaknya kalian sebangsanya tikus pengecut...!" Untuk sesaat lamanya kembali hening. Namun hal itu tidak berlangsung lama, sebab dengan disertai lengkingan Ilmu Pemenggal Roh yang terkenal sangat dahsyat itu pendekar Hina Kelana kini tertawa ganda.

"Huaa... ha... ha...! Giri Sora macan ompong, hari ini engkau kiranya telah membuat pesta kematianmu sendiri. Kematian banyak warga desa, memang sudah selayaknya engkau tebus. Dosa-dosamu sudah kelewat bertimbun...!" Bukan main terperanjatnya Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana ini dibuatnya. Dia melihat beberapa anggotanya roboh seketika itu juga, kuping mereka mengalirkan darah. Bahkan dia sendiri sampai-sampai tergetar hebat, begitupun Bidadari Tangan Maut. Meskipun dua orang ini telah menutup indra pendengaran mereka, akan tetapi suara lengkingan tawa Pendekar Hina Kelana masih berpengaruh banyak, bahkan terasa menggetarkan jantung dan membuat dada terasa sakit.

Dalam pada itu, dua sosok tubuh melesat cepat ke arah Giri Sora dan Bidadari Tangan Maut. Tanpa timbulkan suara, tahu-tahu Pendekar Hina Kelana telah menjejakkan kakinya persis di depan Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana. Giri Sora semakin bertambah terkejut, karena di samping pemuda yang belum dikenalnya itu, hadir pula Wiku Panulu. Yaitu majikan Lembah Sampuran Harimau yang selama ini merupakan orang yang sangat dibencinya. Pucat wajah Bidadari Tangan Maut begitu melihat kehadiran pendekar ini, nyalinya menjadi ciut. Menghadapi Wiku Panulu saja, mereka beramai-ramai belum tentu bisa menang, apalagi dengan hadirnya pendekar Hina Kelana yang sudah dia ketahui akan kehebatannya. Tanpa sadar perempuan budak nafsu inipun mengeluh dalam hati. Sementara itu dengan kemarahan yang meluap-luap Giri Sora berseru lantang.

"Wiku Panulu! Kesalahan lama saja belum engkau tebus, kini engkau membuat kesalahan baru pula. "

"Manusia setan. Jangan berdalih, engkau kira, kau dapat menyelamatkan diri setelah membunuh Pujita Sari dan berusaha merampas Pusaka Penebus Dendam?" sentak Wiku Panulu sangat geramnya. Sebaliknya Giri Sora tergelak-gelak!

"Betina seperti Pujita Sari itu memang sudah selayaknya mampus! Tiada guna, engkau perduli apa. !"

"Wiku! Mengapa harus berbantahan dengan macan ompong ini. Kita babat saja lehernya hingga mampus...!" kata Pendekar Hina Kelana hilang kesabarannya.

"Tidak semudah itu manusia sombong!" Berkata begitu dia menoleh pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka ini jumlahnya hanya tinggal lima belas orang saja. Tak berapa lama kemudian dia menyambung: "Anak-anak, ringkus dua ekor kunyuk ini...!" perintah Giri Sora pada anak buahnya. Mendapat perintah dari atasan-nya, kelima belas orang inipun serentak maju, dan langsung mengurung mereka. Melihat pemandangan seperti itu, Buang Sengketa tersenyum sinis.

"Giri Sora manusia keparat! Mengapa hanya lima belas orang saja, majulah engkau dan betina setan itu! Memerintah orang-orangmu mereka hanya mati sia-sia...!" kata Pendekar Hina Kelana rawan.

"Puih! Manusia sombong. Engkau tak bakalan menang menghadapi mereka!" bentak Giri Sora penuh percaya diri. Tanpa diketahui oleh lawan-lawannya, kiranya Buang Sengketa telah bersiapsiap dengan ilmu Pemenggal Roh tingkat kedua. Agaknya Wiku Panulu sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh kawannya ini, maka cepat-cepat dia tutup indra pendengarannya.

Demikianlah begitu anak buah Giri Sora meluruk dan menyerang mereka dengan senjata terhunus. Maka pada saat itu juga pendekar ini bertindak.

"Heeeiiiik! Ha... ha... ha...!" Bumi bergetar hebat, seakan-akan hendak runtuh, debu dan pasir beterbangan, begitu juga dengan daundaun yang masih hijau. Suara lengking dan tawa itu sambung menyambung tiada henti. Seakan bagai rentetan suara halilintar, bergemuruh dan menghancurkan gendang-gendang telinga. Anak buah Giri Sora berpelantingan roboh, bahkan di antara mereka yang masih bertahan hidup, menjerit-jerit kesakitan. Mereka ini berlari ke segala arah, tak ubahnya mirip orangorang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Sementara itu pendekar Hina Kelana masih belum juga menghentikan tawanya, anak buah Giri Sora yang hanya tinggal beberapa gelintir itupun tak mampu bertahan hidup, tubuh mereka satu demi satu ambruk ke bumi, darah mengalir dari berbagai tempat, pada bagian tubuh mereka. Giri Sora yang nampak berusaha memunahkan pengaruh ilmu yang sangat mengerikan itu, sampai beberapa saat berikutnya masih belum dapat memusatkan fikirannya. Akan tetapi beberapa saat kemudian dengan mempergunakan ajian Iblis Menghalau Setan. Diapun keluarkan jeritan yang sama. Tubuh pendekar Hina Kelana dan Giri Sora saling bergetar hebat. Keringat dalam waktu sekejap saja sudah mulai berlelehan di pipi masing-masing lawannya. Baik Wiku Panulu maupun Bidadari Tangan Maut sama-sama tidak punya keberanian untuk mengakhiri adu tenaga dalam tersebut. Bidadari Tangan Maut hanya mampu memandangi kawannya yang sedang adu jiwa itu dengan harap-harap cemas. Sementara Wiku Panulu yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan nampak tersenyum-senyum. Dia cukup tahu, sesungguhnya dalam adu tenaga dalam ini, Giri Sora jauh beberapa tingkat di bawah pendekar Hina Kelana. Terbukti hanya dalam waktu beberapa saat kemudian kedua kaki Giri Sora mulai nampak amblas ke bumi. Sementara Buang Sengketa masih tetap dalam posisinya.

Agaknya Pendekar Hina Kelana sudah tak sabar lagi dengan keadaan seperti itu. Akhirnya dia memutuskan untuk mempergunakan sepertiga dari sisa tenaganya untuk memukul Giri Sora yang nampak semakin kewalahan saja. Pukulan Empat Anasir Kehidupan, pukulan inilah yang sekarang disiapkan oleh Pendekar Hina Kelana. Dalam pada itu, demi mengetahui kembratnya sudah nampak kewalahan, Bidadari Tangan Maut, dengan jarum-jarum beracunnya bermaksud membokong pendekar ini dari belakang. Masih untung semua itu tidak terle-as dari perhatian Wiku Panulu yang merasa sangat takjub melihat kepandaian yang dimiliki oleh Buang Sengketa. Wiku Panulu secara cepat segera menghadang: "Mau ber-buat apa engkau perempuan Sundal...?" bentak kakek dari Lembah Sampuran Harimau itu sangat marah sekali.

"Hi... Hi... Hi...! Bagus kalau kau sudah mengetahui maksudku, aki dungu...!"

"Engkau memang harus cepat-cepat mampus, betina penumpuk dosa...!" Belum lagi Wiku Panulu selesai dengan kata-katanya, Bidadari Tangan Maut sudah kirimkan pukulan berantai yang diberi nama, Bidadari Menyergap Mangsa. Begitu cepat pukulan yang dilancarkan oleh perempuan itu. Laksana kilat gelombang angin pukulan yang dilepas oleh Bidadri Tangan Maut, menerjang ke arah Wiku Panulu. Kakek tua ini terkekeh-kekeh.

"Pukulan Bidadari Menyergap Tikus” begini rupa, apa hebatnya...!" cibir Wiku Panulu sambil kibaskan tongkatnya. Pukulan tadi selain melenceng sebagian sebaliknya sebagian yang lain malah berbalik menggempur pemiliknya sendiri. Bidadari Tangan Maut mengelak tunggang langgang. Dia memaki panjang pendek, sebaliknya Wiku Panulu malah tergelak-gelak.

Sementara itu Pendekar Hina Kelana yang sudah semakin tak sabaran dalam adu tenaga dalam itu, beberapa saat kemudian kiblatkan tangannya. Selarik sinar yang hampir-hampir tak terlihat oleh kasat mata, nampak melesat begitu cepat. Giri Sora yang masih dalam keadaan tertekan akibat bentrok tenaga dalam dengan lawannya. Tiada pernah menyangka, kalau dalam keadaan seperti itu lawan masih bisa kirimkan serangan lainnya. Ketua perkumpulan Kumbang Kencana ini menjadi gugup dan panik, tanpa kuasa menangkis atau mengelak, satu sapuan gelombang panas yang tiada terperikan langsung menghajar tubuhnya yang terbenam sebatas lutut.

"Braaak! Blaar!"

Tanpa ampun tubuh Giri Sora terpelanting delapan tombak, tangan kanannya patah, sedangkan dari celah bibir dan hidungnya mengalir darah kental kehitam-hitaman. Nyatalah bahwa Giri Sora mengalam luka dalam yang cukup hebat. Beberapa saat lamanya dia mengatur jalan darah, kemudian setelah menelan beberapa butir pil berwarna kekuning-kuningan, wajah Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana itupun kembali berubah kemerah-merahan. Anehnya seperti tidak pernah mengalami kejadian apa-apa orang ini bangkit kembali, kemudian mencabut sebilah keris yang sangat tipis dan pendek. Giri Sora mengeluarkan jerit histeris bagai banteng terluka. Serta merta laki-laki ini menyerang lawannya dengan serangan-serangan ganas.

Pada saat itu, pertarungan antara Wiku Panulu dan Bidadari Tangan Maut sudah mencapai klimaknya. Bidadari Tangan Maut telah keluarkan segala kemampuannya baik dalam ilmu pukulan ataupun sambitan-sambitan jarum beracunnya. Sebaliknya Wiku Panulu yang memang sengaja memberi angin pada Bidadari Tangan Maut, sampai saat itu masih saja terkekeh. Sampai akhirnya dia membentak: "Perempuan sial! Cukup sudah kesempatan yang telah kuberikan untukmu. Sekarang tibalah giliranku."

"Sringr

Wiku Panulu kini telah melolos pedangnya. Pucatlah muka Bidadari Tangan Maut demi melihat pedang yang tergenggam di tangan Wiku Panulu, Pedang Penebus Dendam, yang menggemparkan itu.

"Bidadari Tangan Maut! Engkau merupakan korban terakhir, pedang pembawa celaka ini. Sebab setelah itu, pedang ini segera akan kuhancurkan! Sekarang bersiap-siaplah untuk menerima kematian!" Wiku Panulu berseru lantang.

"Ciaaat!"

Pedang di tangan Wiku Panulu langsung memburu, maka celakalah bagi Bidadari Tangan Maut. Karena Wiku Panulu, dalam bertidak sudah tidak kepalang tanggung. Kakek keriputan ini dalam menyerang langsung mempergunakan jurus pedang yang dahsyat. Dan diberi nama jurus Pedang Menipu Arah! Bidadari Tangan Maut seketika itu juga menjadi kelabakan.

Beberapa saat kemudian tubuh Wiku Panulu berkelebat sedemikian cepatnya, hingga beberapa gebrakan berikutnya, Bidadari Tangan Matu sudah terdesak hebat. Tanpa banyak membuang waktu, pedang di tangan Wiku Panulu berkelebat.

"Cras!"

Terdengar jerit melolong setinggi langit, leher Bidadari Tangan Maut hampir putus terbabat pedang di tangan Wiku Panulu. Darah menyembur ke manamana, tubuh perempuan itu nampak limbung, untuk kemudian ambruk bersimbah darah.

Semua itu sesungguhnya tak luput dari pandangan Giri Sora, yang pada saat yang sama sudah mulai jatuh di bawah angin. Keris pusaka di tangan ketua perkumpulan Kumbang Kencana tidak dapat berbuat banyak, untuk menghadapi sambaran-sambaran Golok Buntung di tangan lawannya. Bahkan tubuhnya kini sudah mulai menggigil akibat pengaruh senjata di tangan lawan. Sementara itu sinar merah yang dipancarkan oleh golok di tangan Buang Sengketa berkelebat-kelebat ke segala penjuru. Lalu saat golok dan keris itu saling berbenturau

"Trang! Trang!"

Giri Sora kagetnya bukan alang kepalang demi mengetahui keris di tangannya menjadi patah beberapa bagian. Belum lagi hilang rasa kejutnya. Golok Buntung di tangan pendekar ini berkelebat mengarah ke bagian leher lawannya.

"Craaat!" Tiada lolong maupun rintih yang terdengar, kepala Giri Sora nyaris copot dari pangkal lehernya. Darah memuncrat bahkan sebagian sempat memercik ke wajah Pendekar Hina Kelana. Lalu tubuh laki-laki itu terhuyung-huyung, hingga pada akhirnya ambruk ke bumi tanpa mampu berkutik lagi. Tewaslah Ketua Perkumpulan Kumbang Kencana saat itu. Tak lama kemudian Pendekar Hina Pelana menoleh, tahu-tahu Wiku Panulu telah berdiri disitu dengan memanggul tubuh Awang Taruna yang masih belum sadar dari pingsannya.

"Beberapa hari lagi dia akan siuman Wiku! Semoga engkau dapat merawatnya dengan baik .!" kata Buang Sengketa menyarankan.

"Sudah tentu, karena dia murid sekaligus cucuku...!"

"Aku yakin dia akan segera sembuh!" ujar pendekar ini penuh keyakinan.

"Tentu saja! Oh ya, terima kasih atas segala bantuanmu orang gagah...!" Buang Scngketa hanya tersenyum saja demi mendengar ucapan Wiku Panulu. "Engkau tak perlu berterima kasih, tolong menolong itu sudah selayaknya sebagai manusia...!"

"Hemm! Engkau pemuda yang berhati luhur! Akan tetapi sebelum berpisah, mau-kah engkau menyebutkan siapa gurumu...?" Tak ada jawaban, begitu kakek renta ini menoleh. Pendekar Hina Kelana sudah tak berada di sisinya. Kakek tua ini hanya geleng-gelengkan kepalanya, hingga akhirnya dia pun berkelebat pergi.

TAMAT