Serial Pendekar Hina Kelana Eps 03 : Air Mata Di Sindang Darah

 
Eps 03 : Air Mata Di Sindang Darah


Suasana dingin mencekam mewarnai Dusun Bajul yang akhir-akhir ini dilanda keresahan. Sejak sore, pintu-pintu rumah sudah terkunci rapat. Apalagi malam ini hujan gerimis mengguyur daerah sekitarnya tiada henti, keadaan ini tentu semakin membuat hati mereka semakin was-was. Siapa tahu malam ini segerombolan manusia bertopeng datang lagi. Kemudia merampok harta benda penduduk, lebih dari itu korban pun berjatuhan kembali. Kini mereka menanti dengan harap-harap cemas,bagai anak ayam kehilangan induknya mereka kelabakan, bingung tak tau apa yang harus mereka perbuat.

Wirakarta, Kepala Dusun yang bijaksana dengan beberapa orang bawahannya sudah hampir dua hari tidak pulang ke Dusun itu. Padahal seperti pesan Wirakarta sendiri, ketika mereka hendak berangkat mencari sarang manusia bertopeng. Berhasil atau tidak mereka akan kembali pada hari itu juga.

Wirakarta yang telah kehilangan istrinya itu memang patut berjuang mati-matian, guna mencari tahu apakah istri tercinta yang telah disandera oleh kawanan orang-orang bertopeng, masih hidup atau tidak. Begitu pun seluruh penduduk desa hanya mampu berdoa, semoga istri pamong desa mereka masih dapat diselamatkan. Mereka tak dapat membayangkan bagaimana jadinya dengan nasib Wanti Sarati, anak tunggal Kepala Desa yang masih berumur sembilan tahun itu nantinya.

Sementara tidak begitu jauh di pinggiran dusun, dalam sebuah gubuk tua terlihat sebuah pelita minyak dengan enggan menerangi seisi ruangan yang sangat bersahaja. Di tengah-tengah ruangan gubuk itu, di atas sebuah balai seorang nenek peot sedang kerepotan membujuk seorang gadis kecil yang masih saja merengek dan menangis. Siapa lagi anak itu kalau bukan Wanti Sarati, putri tunggal kepala desa.

Seperti diketahui, sejak umur lima tahun Wanti Sarati oleh Wirakarta memang sengaja dimomongkan oleh nenek peot yang penyabar dan sekaligus merupakan guru silat bocah itu. Meskipun nenek ini sudah keiihatan sangat tua bangka, tapi dia masih kelihatan segar bugar. Semua penduduk desa Bajul tahu kalau nenek yang di usia senja itu masih tetap perawan, dalunya adalah merupakan seorang tokoh persilatan dari Kurung Lawer yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Lalu mengapa malam itu Wanti Sarati yang sudah biasa tinggal bersama si nenek peot nampak menangis tidak henti?

Tak lain hanyalah karena sudah hampir tiga hari kedua orang tuanya belum datang-datang menjenguknya. Hal itulah yang membuat Wanti Sarati uring-uringan dan sulit dibujuk. Si nenek peot yang memang sudah kehabisan akal, lama-kelamaan menjadi jengkel, marah dan bahkan senewen. Wanti Sarati mana mau tahu dengan keadaan si nenek, gadis cilik itu terus menangis dan menangis. Akhirnya kesabaran si nenek peot habislah sudah, meskipun nada ucapannya tidak membentak, akan tetapi dari getaran ucapannya sudah dapat diketahui kalau nenek peot berusaha meredam kemarahannya.

"Nduk... diamlah! Kalau tidak mau diam, nanti kau dipelototi setan!"

Mendengar si nenek peot menyebut-nyebut setan, gadis itu hentikan tangisnya sejenak. Lalu kucek-kucek matanya.

"Setan...? Rupanya setan suka melototi orang yang lagi nangis...?"

Nenek peot angguk-anggukkan janggutnya yang lonjong.

"Nenek pernah lihat setan?" Wanti Sarati bertanya lugu.

"Sudah!" sahut nenek peot. "Setan itu jelek, wajahnya seram menakutkan! Kalau kau tidak mau diam nanti setan-setan berdatangan kemari. "

Begitu mendengar kata-kata si nenek peot, mendadak tangis Wanti Sarati bertambah keras. Nenek peot bengong melompong. "Lho kok bertambah keras!" Nenek peot membanting-bantingkan kakinya yang keriput dan segemuk kaki meja.

"Nenek... aku mau lihat setan! Biar aku nangis kuat-kuat!" Tangis Wanti Sarati semakin menjadi-jadi. Nenek peot jadi kalang kabut. Tapi begitu dia mendapat akal, nenek peot tersenyum membujuk.

"Nduk. Kalau mau lihat setan nggak boleh nangis keras-keras. Setan malah jadi takut...." kata nenek peot menyela. Lagi-lagi gadis cilik itu hentikan tangisnya sambil menatap heran pada si nenek.

"Habisnya bagaimana nek. Bapak nggak datang, ibu pun enggak ke mari dan setan-setan pun tak mau datang, habisnya aku mau main dengan siapa...!" ujar Wanti Sarati berkata lugu.

Nenek peot segera duduk di sisi Wanti Sarati, kemudian tangan-tangannya yang keriputan itu membelai-belai rambut si bocah. Dengan penuh kasih sayang ia berkata: "Wanti... nenek kan selalu ada di dekatmu. Kita boleh bermain apa saja!" Wanti Sarati geleng-gelengkan kepala, lain tersenyum mencemooh.

"Main sama nenek membosankan, tidak enak! Paling bisanya cuma, silat... haiit... huiit... gabruk!"

"Bagaimana kalau kita nyanyi saja...!" Nenek peot coba mengalihkan perhatian. Wanti Sarati menoleh dan memandang nenek peot beberapa saat lamanya.

"Nyanyi...!" ulangnya menirukan ucapan si nenek.

Nenek peot anggukkan kepalanya.

Wajah gadis cilik itu berubah cerah, "Kalau nyanyi aku mau. Sedari tadi

aku juga pengin nyanyi...!"

Berkata begitu Wanti Sarati segera turun dan bermaksud melangkah ke pintu bela-kang. Hal ini tentu saja membuat heran si nenek peot. Dengan segera ia memanggil Wanti Sarati.

"Eeh mau kemana...?"

Wanti Sarati yang saat itu sudah membuka grendel pintu menoleh.

"Katanya.Wanti disuruh nyanyi! Sudah pengen nyanyi nenek malah larang!" "Nyanyi sih boleh Nduk, tapi jangan jauh-jauh! Kalau mau nyanyi di telinga nenek saja...!" kata si nenek peot. Seraya merebahkan badannya di atas balai-balai. Sambil melangkah kembali ke

arah si nenek. Wanti Sarati menyela: "Nanti kalau aku nyanyi di telinga

nenek, aku takut nenek malah marah...!" ujar gadis cilik itu was-was.

Nenek peot tertawa panjang. "Jangan takut. Nenek tidak akan

marah."

Dengan enggan Wanti Sarati segera naik ke atas balai-balai, si nenek yang sudah pejamkan mata, mana tahu kalau gadis itu telah mengangkangi kepalanya. Barulah ketika ia merasakan ada sesuatu yang telah menyiram kuping dan kepalanya, cepat-cepat dia tersentak dan bangun. Begitu melihat ke arah Wanti Sarati alangkah terperanjatnya nenek peot ini, karena ternyata Wanti Sarati telah ke-cing di atas kepalanya.

"Wee... bocah nakal, kau telah kencing di atas kepalaku...?" nenek peot menjadi geram. Sebaliknya Wanti Sarati maiah tertawa gelak-gelak.

"Nenek ini lucu! Tadi nenek bilang aku disuruh nyanyi di telingamu, ee sekarang kok malah marah-marah...!"

Katanya mau nyanyi, bukah mau kencing...?" Nenek peot semakin sewot. Masih dengan sesungging senyum di bibirnya Wanti Sarati meleceh: "Ibu bilang kalau mau kencing itu, katanya menyanyi! Nenek saja yang sudah pikun...!"

Nenek peot manggut-manggut membenarkan, kemudian sambil menyeka sisa-sisa air yang membasahi wajahnya. Nenek per-wan yang berusia sangat lanjut itu menyela.

"Ya, sudah, memang dasar aku yang tolol! Sekarang kau tidur...!" Si nenek peot memerintah.

Dengan sikap enggan Wanti Sarati menurut, akan tetapi sebelum gadis itu memejamkan matanya, dia menyela:

"Nenek... mengapa nenek selalu menyelipkan tusuk konde jelek ini di atas rambutku...!" sela Wanti Sarati sambil meraba kepalanya.

"Biar jelek tapi kau tak boleh membuangnya atau menggantikannya dengan yang lainnya...!" Nenek peot menyergah. "Untuk apa, bukankah yang lebih bagus dari ini sangat banyak dijual di

pasar sana?"

Nenek peot geleng-gelengkan kepalanya.

"Nenek pesan sampai kapan pun tusuk konde itu jangan kau buang, dia bisa menjaga keselamatanmu ke mana pun kau pergi. Lebih dari itu tusuk konde itu merupakan sebuah kunci rahasia pada suatu tempat!" ujar nenek peot berkata lirih.

Gadis cilik itu nampak tercenung, meskipun usianya masih sembilan tahun akan tetapi dia seorang anak yang cukup cerdik.

"Kalau begitu aku harus menjaganya, ya Nek...!" sela Wanti Sarati polos.

"Hendaknya memang begitu."

Gadis cilik itu tiba-tiba menyela lagi: "Tapi mengapa harus aku yang menjaganya, bukan nenek saja...!"

Mendengar pertanyaan Wanti Sarati, nenek keriputan itu tersenyum penuh arti.

"Nduk... engkau masih terlalu polos untuk mengetahui lebih banyak tentang seisi dunia ini. Kelak pada saatnya kau akan mengetahuinya juga, betapa dunia ini penuh dengan segala macam kejahatan. Sampai saat ini yang perlu kau perhatikan adalah menjaga Tusuk Konde itu agar jangan sampai terjatuh pada orang Iain yang berniat tak baik!" jelas si nenek peot.

Mata Wanti Sarati nampak berkedipkedip begitu mendengar kata kata si nenek. Dalam. hatinya yang lugu telah timbul berbagai pertanyaan, namun dia merasa enggan untuk menanyakannya.

Dalam pada itu, terdengar gemerisik langkah kaki tidak begitu jauh dari gubuk tua tempat tinggal nenek peot. Wanti Sarati begitu mengetahui isyarat si nenek langsung terdiam seribu bahasa.

Nenek peot yang sudab. menaruh curiga. segera jejakkan kakinya lalu berjalan berjingkat-jingkat menghampiri. dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Melalui dinding tepas yang banyak berlubang di sana sini, nenek peot dapat melihat adanya dua bayangan orang-orang bertopeng. Meskipun suasana malam dalam keadaan gelap gulita, si nenek peot dapat merasakan bahwa kehadiran orang-orang itu adalah dengan membawa maksud-maksud tak baik. Dengan agak terburu-buru si nenek peot cepat-cepat kembali menghampiri Wanti Sarati, kemudian membisikkan sesuatu di telinga gadis cilik itu. Wanti Sarati menganggukangguk pelan, agaknya dia menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang mengancam keselamatan mereka.

Baru saja nenek peot hendak melangkahkan kaki, menghampiri pintu depan, tiba-tiba saja terdengar teguran, pelan namun mengancam .

"Tikus betina yang ada di dalam rumah! Serahkanlah pusaka rahasia pembuka Sindang Darah! Kalau tidak kami akan membakarmu hidup-hidup bersama gubuk buruk ini!"

Nenek peot terdiam seribu bahasa, dia mencoba mengingat suara parau namun berat, rasa-rasanya si nenek peot pernah mendengar suara seperti itu. Akan tetapi entah di mana.

Dari luar kembali terdengar perkataan yang lebih keras.

"Tikus peot, mengapa mematung seperti orang suiting begitu. Cepat keluar!" bentak si Drang bertopeng tak sabaran. "Apakah kau ingin kami menyeretmu ke luar...!"

"Kita gebuk saja, baru suruh dia merangkak minta ampun!" tukas yang satunya lalu memukulkan tangannya ke arah gubuk reot. Angin pukulan menderu melabrak dinding bnmbu. Dinding itu bobol, serangan yang dilancarkan si orang bertopeng terus meluncur mongarah pada si nenek peot. Nenek berambut keperak-perakan ini langsung berkelit ke samping sambil mengeluarkan seruan tertahan, Begitu mengetahui serangan yang dilancarkan oleh orang bertopeng tahulah dia siapa adanya orang-orang ini. Si nenek peot melesat ke luar melalui dinding yang jebol itu. Dengan tanpa menimbulkan suara, kedua kakinya mendarat persis di depan orang itu. Nenek peot langsung saja tunjuk hidung.

"Kalau tak salah penglihatanku! Tentu kalian berdua adalah kunyuk-kunyuk dari Gunung Kadas! Mau apa kalian?" tanya si nenek sambil bertolak pinggang.

Kedua orang bertopeng itu langsung terkekeh: "Rupanya mata tuamu masih awas juga, bagus! Kalau kau memang masih mengenali kami! Cepat serahkan kunci rahasia Sindang Darah!" perintahnya.

"Hihihi... kalian sudah menjadi pecundangku. Apakah aku tidak salah dengar?"

Mendengar jawaban si nenek yang mencemooh, marahlah si orang bertopeng dari Gunung Kadas ini.

"Tua bangka keparat... sepuluh tahun yang lalu kau boleh jual lagak di depan kami."

* * * 2

Lagi-lagi nenek peot terkekeh, sampai-sampai giginya yang tinggal tiga ikut bergoyang-goyang. Hal ini tentu saja membuat si orang bertopeng semakin bertambah marah.

"Tikus peot, hanya dua pilihan ada padamu, kau serahkan kunci rahasia Sindang Darah atau kukirim kau ke liang kubur...!" ancam dua bangsat dari Gunung Kadas.

Nenek peot hentikan tawa, lalu gertakkan mining yang sudah tak bergigi lagi.

"Setan-setan tak berguna, dulu nyawa busuk kalian telah kuampuni! Kini kalian hendak meminta kunci rahasia!" bentak nenek peot geram. "Kalau kalian mau, nih kunci kakus...!"

Bersamaan dengan ucapannya, nenek perlihatkan dua lempengan batu cadas tepat kearah ke perut si orang bertopeng. Kedua bangsat itu tergelak-gelak.

"Segala tua bangka bau tanah mau bertingkah didepan topeng hitam...!"

Orang-orang bertopeng serentak tadahkan tangan.

"Grep... Grep...!

Sambitan lempengan batu cadas yang telah dialiri tenaga dalam itu dapat ditangkap dengan baik oleh si manusia bertopeng. Lain dengan kekuatan yang berlipat ganda, orang bertopeng itu mengembalikan serangan.

"Weer... weer...!"

Laksana kilat batu lempengan itu melesat tanpa ampun.

Begitu diiihatnya batu itu mengarah pada dua jalan kematian, sambil berseru kaget nenek peot berjumpalitan. Batu-batu itu terus mendera, kemudian menghantam sebatang pohon. Pohon itu pun roboh menimbulkan suara berisik, sedangkan yang satu lagi melesat entah ke mana. Demi melihat kemajuan yang dimiliki Topeng Hitam, terkesiaplah darah si nenek peot. Dia benar-benar tiada menyangka kalau dalam waktu hanya sepuluh tahun si Topeng Hitam telah memiliki kemajuan yang demikian pesatnya. Si orang bertopeng demi melihat si nenek peot berdiri tegak laksana patung, keduanya lalu tergelak-gelak.

"Nenek pikun! Kau tentu heran melihat kehebatan yang telah kami miliki, ketahuilah dunia yang gersang ini penuh dengan kemungkinan!" ujar Topeng Hitam. "Tunggu apa lagi, kalau kau sayang pada jiwamu yang tiada harga! Cepat serahkan Kunci Rahasia dan merangkaklah seperti seekor monyet, mudah-mudahan kami berkenan mengampunimu...!" "Puih, manusia-manusia anjing! Mampus lebih terhormat bagiku daripada harus menyembah pada budak iblis...!"

Nenek peot nampak marah sekali. Si Topeng Hitam kembali tergelak-gelak.

"Hemm... rupanya kau jenis manusia kepala batu, mampuslah...!"

Berkata begitu dua orang bertopeng ini kirimkan serangan dahsyat sekaligus. Andai saja nenek peot tidak bersikap waspada sejak semula, tentu dengan sekali bantam remuklah dadanya yang kurus kerempeng itu, akan tetapi bukan si nenek peot kalau dalam segebrakan saja dia kena dipukul roboh. Seperti diketahui, dulunya nenek ini adalah seorang tokoh persilatan dari bagian Tenggara yang dijuluki oleh banyak orang "PERAWAN KELABANG UNGU." Selama malang melintang di rimba persilatan, dia sangat disegani oleh kawan maupun lawan, apalagi dengan senjata andalan berupa "Kelabaag Ungu" yang sangat tidak diragukan kemampuannya. Dengan senjatanya yang sangat beracun itu dalam tempo sekejap mata saja dia mampu merobohkan sepuluh bahkan lebih secara bersamaan. Demikianlah dengan sedikit berkelit kesamping kiri serangan yang dilancarkan oleh si Topeng Hitam pertama dapat dielakkan, sedangkan serangan si Topeng Hitam kedua karena datangnya hampir bersamaan sangat sulit baginya untuk melakukan hal yang sama. Tak pelak lagi tangannya berkelebat menangkis.

"Plak... plak...!"

Dua tangan yang sudah dialiri tenaga dalam itu bertemu, si Topeng Hitam kedua terjengkang mencium tanah, sedangkan si nenek peot bersurut dua langkah ke belakang. Belum lagi si nenek siap pada posisinya, si Topeng Hitam pertama sudah kembali menyerangnya dengan gencar. Nampaknya si Topeng Hitam ini ingin segera menghabisi riwayat si nenek peot. Kini dengan Ajian Bolo Sewu, yang baru saja dipelajarinya, kemampuan si Topeng Hitam ini, baik dalam hal tenaga, kekuatan maupun kesempurnaan kemampuan batinnya nampak lebih mantap dan patut dia banggakan. Si nenek peot terus berkelit menghindar, angin pukulan menyambar-nyambar. Bahkan rambut dan pakaian si nenek yang berwarna putih itu sampai berkibar.

Nenek peot dibuat kalang kabut, apalagi si Topeng Hitam kedua kini sudah bangkit dan langsung ikut menyerang si nenek peot tanpa ampun, dari dua arah si nenek mendapat perlawanan yang cukup sengit. Pertarungan berlangsung dua puluh jurus, sejauh itu dia hanya mampu membendung dan menangkis serangan serangan yang dilancarkan lawan. Agaknya faktor usia yang sudah sangat jauh berbeda ditambah lagi dengan kemajuan yang dimiliki oleh si Topeng Hitam. Beberapa saat kemudian dia segera jatuh di bawah angin, si nenek semakin terdesak hebat, hingga pada satu saat yang tepat si Topeng Hitam pertama berhasil menyarangkan sebuah pukulan yang diberi nama "Gajah Menendang Semut." Tanpa ampun tubuh nenek peot terpelanting roboh dan muntah darah. Si Topeng Hitam terus memburu dan melancarkan pukulan-pukulan andalan. Tubuh si nenek yang sudah terluka itu berguling-guling. Topeng Hitam kedua agaknya sudah tidak sabar lagi untuk segera mengakhiri riwayat si nenek, Dengan jarak yang sangat dekat dia terus mencecar nenek peot. Perawan bangkotan ini semakin tunggang langgang. Merasa benar-benar sangat keteter, nenek peot merogoh jubahnya, sekah tangannya bergerak, seekor kelabang warna ungu melesat ke arah tangan si Topeng Hitam kedua. Orang ini sudah tidak sempat menarik tangannya yang sudah sempat terjulur. Tak ayal Kelabang Ungu yang disambitkan nenek peot menekat erat dan melukai tangan si Topeng Hitam. Si Topeng Hitam menjerit setinggi langit sambil inemegangi tangannya yang mulai berubah warna ungu. Demi menyaksikan adiknya kena dicederai oleh senjata si nenek, Si Topeng Hitam pertama semakin bertambah gusar. Sambil mengeluarkan jurus-jurus yang paling diandalkan, Topeng Hitam pertama membentak: "Peot, sialan bau cacing tanah, kau pasti akan menyesali perbuatanmu itu sampai keliang kubur! Sekarang terimalah kematian...!"

Bersamaan dengan ucapannya, si Topeng Hitam pertama lancarkan pukulan yang cukup telak. Nenek peot meskipun berusaha menghindar, namun jemari tangan si Topeng Hitam bagai bermata terus saja mengejar ke mana pun nenek peot berkelit. Akibatnya:

"Buuuuk...!"

Untuk yang kedua kalinya nenek peot terlempar beberapa tombak dengan menderita luka dalam yang teramat parah. Darah kental membasahi pakaian yang dikenakannya. Nenek peot menggeliat beberapa kali. Agaknya si Topeng Hitam masih kurang puas dengan keadaan yang terjadi. Lalu rangkapkan kedua tangannya, sekali saja tangan itu berkelebat, meluncurlah puluhan benda hitam runcing menderu. Tanpa ampun puluhan benda itu menembusi tubuh yang sudah tiada berdaya. Tubuh nenek peot menggeliat sesaat dan kemudian diam untuk selama-lamanya. Topeng Hitam tersenyum tipis, sepasang matanya yang tipis menyiratkan rasa puas. Sambil melangkah mendekati mayat nenek peot, Si Topeng Hitam bergumam:

"Dasar nenek sial! Diberi jalan ke surga, ee... malah memilih jalan ke neraka!" Topeng Hitam berjongkok dekat tubuh si nenek peot yang mulai membeku, kemudian dia langsung menggeledah pakaian yang dikenakan si nenek peot. Begitu dia mendapatkan sesuatu yang terselip di pinggang si nenek. Si Topeng Hitam tertawa tergelak-gelak. Akan tetapi begitu dia menoleh ke belakang betapa terkejutnya orang dan Gunung Kadas ini begitu melihat kawannya tergeletak pingsan.

Dengan cepat dia membara, si Topeng Hitam segera memeriksa keadaan kawannya yang satu ini. Begitu mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi, pucatlah si Topeng Hitam ini. Kiranya bisa Kelabang Ungu yang sempat melukai tangan Topeng Hitam kedua mulai menjalar ke mana-mana. Topeng Hitam pertama segera menotok jalan darah utama untuk mencegah jangan sampai bisa yang sangat ganas ini menjalar ke jantung. Tubuh kawannya ini segera pula diumtnya pada bagian-bagian tertentu. Beberapa saat kemudian tubuh Topeng Hitam kedua menggeliat lemah, dengan mengeluarkan erangan dia mencoba bangkit untuk duduk, si Topeng Hitam pertama segera membantu.

"Saudaraku... kau tadi sempat kelenger! Bisa Kelabang milik tua bangka keparat itu bisa merenggut nyawamu! Bagaimana ini...?" Hela si Topeng Hitam pertama kebingungan. "Bagaimana...! Apakah kau sudah mendapatkan kunci rahasia Sindang Darah dari si terkutuk itu...?"

Yang ditanya hanya mengangguk. "Kalau begitu potong saja tangan

yang sudah tak berguna ini...!" tukas si Topeng Hitam kedua pasrah. Sebaiknya kawannya menjadi tampak ragu. Hal ini membuat jengkel Topeng Hitam yang terluka.

"Tunggu apa lagi, apakah kau mau menungguku sampai mampus baru kemudian memotong mayatku...!"

"Tapi Saudaraku...!"

"Tak ada tapi-tapi! Cepat kerjakan...!" bentak Topeng Hitam kedua tak sabar. Lalu tanpa menunggu diperintah dua kali orang ini pun segera mencabut belati yang sangat tajam mengkilap. Sekali saja belati yang sangat tajam itu berkelebat.

"Craas...!"

Darah memancar deras dari lengan tangan yang sudah terkutung. Dengan cepat si Topeng Hitam pertama menotok pembuluh nadi besar demi mencegah mengalirnya darah lebih banyak lagi. Meskipun si Topeng Hitam kedua telah merelakan tangannya untuk dibuntungi tak urung orang ini menjerit-jerit kesakitan. Tanpa buang-buang waktu lagi, si Topeng Hitam pertama segera menyambar tubuh kawannya. Akhirnya dengan memanggul tubuh si Topeng Hitam kedua, orang ini pun berkelebat pergi. Beberapa saat kemudian mereka lenyap ditelan kegelapan malam.

Sementara itu Wanti Sarati yang sejak awal ikut menyaksikan pertarungan melalui lubang dinding dapur, kini mengetahui nenek peot terkapar kojor segera memburu ke luar.

Begitu sampai di sisi tubuh si nenek peot, demi mengetahui keadaannya yang sangat menyedihkan. Menjeritlah gadis cilik ini. Dipelukinya tubuh yang kaku membeku itu. Diiringi tangis yang tiada henti.

"Nenek peot... huhuhu... apa dosamu nek! Jangan tinggalkan aku...." Wanti Sarati terus menangis, hingga tak berapa lama kemudian tetangga di kanan kiri pun berdatangan. Dusun Karta kembali gempar, berita tentang kematian si nenek peot cepat tersebar dari mulut ke mulut.

Dalam pada itu Wanti Sarati yang telah kehilangan kedua orang tua dan kini harus kehilangan nenek peot satu-satunya orang yang paling dekat dalam hidupnya. Mendadak hentikan tangis. Tangannya yang kecil mungil terkepal, mulut terkatup rapat. Gadis cilik yang cerdik ini nampak marah sekali.

"Manusia     Topeng     busuk...!

Nantikanlah pembalasanku!"

Berkata begitu Wanti Sarati di luar sepengetahuan orang-orang dusun segera bergegas pergi. * * *

Langit terang, resik tiada bergumpal awan. Matahari di pagi itupun bersinar sangat cerah. Kehidupan mahluk di pagi hari berjaian seperti hari-hari sebelumnya. Di sebuah jalan setapak seorang pemuda berwajah sangat tampan, nampak berjalan melenggang menuruni kaki bukit. Sinar matahari pagi yang berwarna kemilau kekuning-kuningan mengiringi langkahnya yang ringan. Dengan pakaian warna merah darah, sebuah periuk besar yang selalu dia bawa ke mana-mana. Siapa lagi gerangan pemuda ini kalau bukan Buang Sengketa, si Hina Kelana dari negeri Bunian.

Sejak Buang hentikan langkah, tak begitu jauh di depannya dia melihat seorang bocah kecil melangkah terseok-seok menjauh darinya.

"Hemm, Siapa bocah itu, sepagi ini telah berada di bukit tandus seorang diri!" gumam Buang Sengketa dalam hati. Begitu pemuda tampan ini kembali memandang ke depan bocah cilik yang tadi dilihatnya kini sudah tak tampak lagi. Dengan mempergunakan ajian Sapu Angin sebentar saja tubuh pemuda itu melesat laksana terbang. Hanya dalam tempo yang singkat dia sudah sampai didekat si bocah cilik yang tak Iain merupakan seorang perempuan. Semenjak Buang Sengketa memperhatikan gadis yang tengah njelepok di atas batu pinggiran jalan. Sepasang matanya yang sayu, nampak tak perduii pada kehadirannya. Sebaliknya malah menatap kosong pada tumpukan batu-batu yang berserakan.

* * *

3

Tentu saja tingkah si bocah menarik perhatian Buang Sengketa. Dengan hati-hati Pendekar Hina Kelana bermaksud menghampiri bocah itu. Namun baru saja dia melangkah beberapa tindak, gadis cilik itu dengan garang membentak.

"Jangan dekati aku! Sekali lagi kau melangkah, aku akan terjun ke dalam jurang sana. "

Gadis cilik itu mengancam membuat Buang Sengketa membatalkan niatnya. Buang Sengketa sendiri merasa heran mengapa bocah ini bertingkah sangat aneh. Mungkinkah telah terjadi sesuatu dengannya, sehingga dia menaruh curiga pada setiap orang.

"Nduk. Jangan nekad, aku bukan orang jahat. !"

Pendekar Hina Kelana coba membujuk. Gadis cilik itu mencibir sambil memandang penuh kebencian.

"Jangan bohong... semua orang jahat!" tukasnya. "Mereka menculik Ibu, membunuh Ayah! Nenek peot juga mereka bunuh. Masih kau mungkir bahwa kau juga bukan orang jahat...?"

Tudingnya seolah menuduh.

Mengertilah pemuda ini apa sesungguhnya yang sedang terjadi pada gadis itu. Buang Sengketa nampak berpikir sejenak, kemudian ucapnya dengan suara pelan.

"Percayalah Nduk, Ibuku juga mati dibunuh orang! Kau tidak sendirian, aku juga mengalami nasib seperti engkau."

Si gadis cilik yang tak lain Wanti Sarati adanya, walau masih berumur sembilan tahun sebagai bocah yang berpikiran cerdas tentu dapat memahami apa yang diucapkan Buang Sengketa. Mendadak dia menoleh.

"Jadi Ibumu juga sudah mati...?" selanya tak percaya.

"Benar! Ibuku telah tiada bahkan ketika aku masih berumur satu hari...!" Mendengar pengakuan Buang Sengketa, serta merta gadis itu langsung bangkit

dari duduknya.

"Paman!" Ujar si gadis berubah sopan. "Aku ingin membalas dendam... mereka harus mati paman...!"

Tanpa ragu lagi Buang Sengketa menghampirinya. Gadis itu berlari dan memeluk si Hina Kelana. Dalam pelukan Buang Sengketa dia menangis sejadi-jadinya. Untuk beberapa saat dia membiarkan hal itu berlalu. Akan tetapi tak lama kemudian dia membujuk.

"Nduk, siapakah namamu?"

Wanti Sarati hentikan tangisnya, kemudian memandang agak lama pada Buang Sengketa. Lalu tanpa ragu lagi dia berucap.

"Namaku Wanti Sarati, paman...!" "Wanti Sarati! Asalmu dari

mana...?" tanya si Hina Kelana lebih lanjut.

"Dusun Karta...! Paman sendiri siapa...?"

Wanti Sarati balik bertanya. Buang Sengketa tersenyum ramah, kemudian mengajak Wanti Sarati berteduh di bawah sebatang pohon. Pendekar dari negeri Bunian itu segera mengeluarkan dendeng ikan lumba-lumba dari dalam periuknya. Pemuda itu memberikan beberapa potong dendeng pada Wanti Sarati.

"Makanlah... dendeng ini enak sekali...!" ujar Buang Sengketa sambil menikmati bekal yang selalu dia bawa,

"Paman tadi belum menjawab pertanyaanku...!" kata Wanti Sarati menuntut.

Lagi-lagi Buang Sengketa tersenyum. "Namaku Buang Sengketa...!"

"Buang Sengketa! Namamu aneh sekali paman...?" ujar Wanti Sarati heran.

"Buang... adalah karena memang sejak bayi aku sudah dibuang! Sedangkan Sengketa karena memang kelahiranku dipersoalkan oleh banyak orang...!" kata Buang Sengketa seadanya. Wanti Sarati masih mengangguk heran.

"Paman aneh sekali... lalu paman berasal dari mana...?"

Pendekar Hina Kelana tergelak gelak be gitu dia melihat bahwa sesungguhnya Wanti Sarati meskipun merupakan bocah yang sangat cerdik tetapi juga lugu. Sambil mengusap-usap rambut Wanti Sarati, pemuda itu melanjutkan.

"Aku datang dari negeri yang jauh.

Wanti..!"

"Maksud Paman?"

"Aku perpaduan antara alam gaib dan nyata! Tapi kurasa akalmu belum sampai untuk menerima apa yang kukatakan ini. Dan kurasa itu tak begitu penting bagimu. Sekarang katakanlah kau hendak ke mana. Kalau mungkin Paman akan membantumu...!" kata Buang Sengketa tegas.

Wanti Sarati begitu mendengar keputusan Buang Sengketa kelihatan sangat bergembira sekali.

"Benarkah itu Paman...!" sela Wanti Sarati tak begitu yakin.

Pendekar dari negeri Bunian ini hanya mengangguk pasti.

"Katakan dulu kau mau ke mana!" Dengan mantap pula dia menjawab. "Aku mau mencari si Topeng Hitam

yang telah membunuh bapak dan nenek peot!" Mendengar penjelasan Wanti Sarati, Pendekar Hina Kelana ini gelengkan kepala dan garuk-garuk rambutnya yang tak gatal.

"Wanti... dendam mendendam itu tidak baik! Lagipula apa yang akan kau lakukan seandainya bertemu dengan orang-orang itu?"

Wanti Sarati katupkan gerahamnya rapat-rapat, kemudian dengan bibir bergetar: "Aku akan membunuh mereka dengan tusuk konde ini...!" Wanti Sarati mencabut tusuk konde yang berada di atas rambutnya. Kemudian segera memperlihatkannya pada Buang Sengketa. Pemuda itu segera mengamati tusuk konde yang diberikan Wanti Sarati padanya. Buang Sengketa mendadak tersentak kaget. Meskipun tusuk konde itu sudah sangat butut, akan tetapi dengan pasti dia dapat memastikan bahwa tusuk konde itu sesungguhnya merupakan sebuah pusaka yang sangat ampuh. Kemudian apabila ia memperhatikan lebih jauh lagi maka pemuda ini semakin bertambah terkejut, sebab pada sisi yang lainnya terdapat sebuah lekukan-lekukan kecil yang sangat mirip dengan sebuah anak kunci.

"Jangan-jangan tusuk konde ini merupakan sebuah kunci rahasia yang kini sedang dicari-cari oleh berbagai golongan persilatan. Kalau memang benar apa yang dia duga, tentu Wanti Sarati dalam bahaya." Dengan cepat Buang Sengketa segera bertanya:

"Wanti... dari mana kau peroleh tusuk konde ini...!" tanya Buang Sengketa tiada berkedip.

"Mengapa Paman! Mengapa Paman terkejut seperti itu...!" tanya Wanti Sarati keheranan.

"Wanti. Itu tidak penting, yang ingin Paman ketahui dari mana kau dapatkan tusuk konde ini...?"

Mendadak Wanti Sarati tertawa. "Hihihi... paman lucu, tusuk konde

itu pemberian nenek peot. Katanya dia dapat menjaga keselamatanku. Lagi pula pesan nenek tusuk konde ini tidak boleh sampai hilang atau terjatuh ke tangan orang lain...!"

Kini semakin yakinlah Buang Sengketa bahwa tusuk konde yang ada pada gadis cilik itu merupakan sebuah kunci pusaka pembuka pintu rahasia Sindang Darah. Demi menjaga keselamatan Wanti Sarati dia pun lalu berucap pada gadis cilik itu: "Wanti. Bagaimana kalau engkau ikut Paman saja...!"

Wanti Sarati gelengkan kepala. "Tidak Paman! Aku mau mencari si

Topeng Hitam yang membuat hidupku sengsara...!" jawab gadis itu tegas.

"Jadi kau benar-benar tak mau ikut dengan Paman...!"

"Tidak...!" tegas-tegas Wanti Sarati menjawab. "Bagaimana kalau Paman juga berniat mencari si Topeng Hitam,..?" pancing pendekar Hina Kelana menunggu beberapa saat lamanya.

"Kalau begitu aku mau...!" kata Wanti Sarati tersenyum cerah.

"Kalau begitu, marilah kita berangkat!" kata Buang Sengketa.

Kemudian dengan menggandeng tangan Wanti Sarati keduanya melesat dan terbang laksana angin.

* * *

Dengan rambutnya yang setengah botak dan berwarna keabu-abuan, dia terus melangkah, seolah dia begitu mengenali jalan yang sedang dilaluinya. Padahal kedua matanya buta sama sekali. Siapa lagi si rambut setengah botak dan berpakaian putih ini? Dia tak lain adalah si Padri Mata Elang adanya.

Hampir seluruh kaum rimba persilatan mengenali dia. Kemampuan silat yang tiada memiliki tanding, jurus-jurus elang mautnya yang dahsyat serta tindakannya yang sewenang-wenang. Membuat semua orang merasa jerih terhadap Padri Buta dari lembah hantu ini. Konon sudah sangat lama Padri Buta ini sudah sangat jarang sekali menampakkan diri di dunia ramai, selama bertahun-tahun terakhir dia mengasingkan diri dan menyepi di lembah hantu. Dari kabar yang dapat dipercaya kebenarannya. Sejak Padri Mata Elang berhasil dikalahkan oleh saudara seperguruannya, yaitu Padri Agung Sindang Darah, belakangan dia memperdalam dan menciptakan ilmu sakti yang sangat langka. Tujuannya jelas ingin membalas dendam atas kekalahannya pada Padri Agung Sindang Darah.

Lain lagi halnya dengan Padri Agung Sindang Darah, semenjak terjadinya keributan yang memakan banyak korban itu kini dia mengasingkan diri di tengah-tengah pulau yang terletak di Sindang Darah. Dia benar-benar telah insyaf dan menyesali perbuatannya yang dengan tega membunuh gurunya sendiri, yaitu Padri Suci Pengayom Jagat. Semua itu sampai terjadi adalah karena akibat ulah Padri Mata Elang yang telah menghasutnya untuk bersekutu demi merebut sebuah kitab pusaka "Pembelah Jagat." Tak urung setelah semuanya kesampaian tahulah Padri Sindang Darah bahwa dirinya telah diperalat oleh saudara seperguruannya. Untuk itu dia menuntut agar kitab pusaka Pembelah Jagat dikembaiikan ke tempat asalnya. Akan tetapi mana mau Padri Mata Elang melakukan permintaan Padri Agung Sindang Darah, sebaliknya Padri Mata Elang malah mengerahkan murid-muridnya untuk mengeroyok Padri Agung Sindang Darah. Pertarungan itu berakhir dengan kemenangan di pihak Padri Agung Sindang Darah. Dendam kesumat pun terbawa pergi. Kebencian terhadap almarhum gurunya yang selalu pilih kasih terhadap murid-muridnya, ditambah lagi kekalahan yang dia terima dari Padri Agung Sindang Darah semua berbaur menjadi satu, dan membulatkan satu tekad untuk mempelajari kitab pusaka Pembelah Jagad dalam waktu sesingkat mungkin.

Sementara Padri Agung Sindang Darah sejak peristiwa itu segera menyerahkan sebuah kunci rahasia yang berupa tusuk konde pada salah seorang murid wanitanya. Dan Padri pun menyuruh sang murid untuk mengunci pintu rahasia dari luar.

Kalau siang itu Padri Mata Elang keluar dari sarangnya Lembah Hantu sudah barang tentu ada sesuatu yang sangat penting yang sempat sampai ke telinganya. Seperti yang dilaporkan oleh salah seorang muridnya bahwa kunci Rahasia Sindang Darah kiranya kini menjadi rebutan berbagai golongan yang punya ambisi untuk mengangkangi pusaka-pusaka yang berada di sebuah daratan yang masih dalam wilayah yang dijadikan tempat nyepi oleh Padri Agung Sindang Darah.

Padri Mata Elang begitu mendengar berita itu, mana mau hanya berpangku tangan begitu saja. Apalagi sejak dulu semasih gurunya hidup dia memang puny a ambisi besar untuk menguasai segala peninggalan almarhum gurunya.

Kini ada orang lain pula yang ingin mengangkangi kitab-kitab pusaka yang sangat berharga itu. "Huh. Hal ini tidak boleh terjadi, dia harus menjagal orang-orang yang berniat serakah itu!" Tanpa menghiraukan situasi di sekelilingnya Padri Buta itu terus melangkahkan kakinya. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi sesekali mengibarkan jubah panjang yang dipakainya.

Meskipun Padri Mata Elang selama melangkah tiada pernah menoleh ke belakang akan tetapi dia tahu kalau sejak tadi ada beberapa orang yang sedang menguntit perjalanannya. Hingga tak begitu lama kemudian sampailah dia di sebuah tikungan jalan yang sangat sempit. Padri Mata Elang hentikan langkah, kemudian tanpa menoleh ke belakang dia gerakkan tangannya.

"Weer... weeer...!"

Senjata rahasia yang berupa Ular Hijau itu melesat bagaikan anak panah. Si penguntit yang tiada menduga akan gerakan Padri Mata Elang yang begitu tiba-tiba, beberapa orang di antara mereka sudah tidak dapat mengelak lagi. Ular-ular melekat erat pada bagian dada, tangan bahkan mata para korbannya.

Saat itu juga pekik kematian menggema di tempat itu. Anehnya begitu ular-ular hijau itu telah membunuh mangsanya mereka bagai mengerti saja segera kembali pada tuannya.

* * *

4

Tanpa diperintah ular-ular itu berebut memasuki kantong jubah Padri Mata Elang. Terkesiaplah hati para penguntit Padri Mata Elang, namun karena mereka disertai oleh pemimpinnya, maka sedikit banyaknya rasa gentar itu perlahan-lahan mulai pupus. Apalagi mereka cukup tahu bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa.

Ketika mereka saling berpandangan sesamanya, saat itu pula Padri Mata Elang membentak:

"Penguntit sialan... mengapa hanya saling pandang seperti itu, Cepat menyingkir... atau aku harus mengirim kalian ke liang kubur?"

Meskipun mereka tahu bahwa Padri Mata Elang yang mereka hadapi ini masih sangat awas perasaannya agaknya orang-orang ini merasa takut. Bahkan dua orang di antara mereka melompat dan langsung berhadapan dengan si Padri Buta. "Padri mata picak... lancang sekali perbuatanmu telah berani membunuh kawan-kawan kami...!" bentak pimpinan mereka yang berbadan kurus macam Jerangkong. Sesuai dengan keadaan tubuhnya, dunia persilatan mengenalnya sebagai Si Jerangkong Hidup. Usianya juga tidak jauh beda dengan si Padri Mata Elang. Sama halnya dengan si Padri Mata Elang beberapa tahun terakhir, Si Jerangkong Hidup sudah sangat jarang sekali berkeliaran di dunia ramai. Agaknya dia juga punya tujuan yang sama dengan si Padri Mata Elang, yaitu sama-sama ingin memperebutkan berbagai kitab pusaka yang tiada ternilai harganya.

"Segala tikus-tikus tiada guna, bapak moyangnya sekalipun berani bertingkah di hadapanku tak kan kuberi kesempatan hidup...!" Padri Mata Elang balik membentak. Tiba-tiba Si Jerangkong Hidup tertawa tergelak-gelak.

"Hak... hak... hak...! Padri terkutuk, raja dari segala malapetaka. Kau sudah menjadi pecundang saudara seperguruanmu! Masihkah engkau mau unjuk gigi di depanku...!" ejek Si Jerangkong Hidup diiringi derai para kembrat-kembratnya. Padri Mata Elang terdiam sesaat, dia mencoba mengingat-ingat siapa gerangan adanya. Tapi begitu dia ingat suara tawanya, Padri Mata Elang malah tertawa ganda. Suara tawanya sambung menyambung tiada henti, hingga mereka yang berada di sekitarnya merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa. Mengetahui kawan-kawannya kena dipengaruhi oleh si Padri Buta, marahlah Si Jerangkong Hidup bukan alang kepalang.

"Padri gila! Kau mau pamer suara tawa si Gelitik Setan! Huh... cuma mainan bocah saja kau pamerkan di depanku...!" Si Jerangkong Hidup mendengus.

Mendadak Padri Mata Elang hentikan tawanya, sebagian alisnya yang sudah memutih nampak bergerak-gerak.

"Jerangkong Hidup... mau sebut nama saja mengapa kau sungkan-sungkan...!"

"Bagus kalau kau sudah mengenaliku! Aku jadi tidak usah repot-repot menagih hutang darah yang telah kau lakukan pada adik seperguruanku...!" kata Si Jerangkong Hidup sambil menyiapkan senjatanya yang berupa sebuah Gunting Raksasa. Agaknya Padri Mata Elang juga mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Si Jerangkong Hidup. Lalu dia berkata mengejek:

"Jerangkong tukang potong rumput. Mengapa tidak dulu-dulu kau melakukannya, atau bukan karena tergiur pada kitab Pusaka milik perguruan kami maka engkau mencariku...!" Padri Mata Elang tersenyum sinis.

Si Jerangkong Hidup semakin bertambah geram. "Hak... hak... hak! Setelah kau membunuh guru sendiri, masihkah kau hendak mengaku bahwa Padri Agung Pengayom Jagat itu gurumu...!" sindir Si Jerangkong Hidup.

Marahlah Padri Mata Elang mendapat penghinaan seperti itu.

"Jahanam! Kau terlalu mencampuri urusanku. Mampuslah...!"

Bersamaan dengan kata-katanya Padri Mata Elang angkat tangan ke atas, kemudian sekali saja tangan itu berkelebat, tapi Si Jerangkong Hidup sebagai orang yang seangkatan dengan Padri Mata Elang tidaklah berkepandaian rendah. Dengan segala kemampuan, dia pun malah menerang ke depan. Sebentar saja perlarungan menjadi seru. Agaknya yang ada di dalam otak pikiran Si Jerangkong Hidup adalah bagaimana agar secepatnya dapat merobohkan si Padri Mata Elang yang telah membunuh saudara seperguruannya. Si Jerangkong Hidup dengan mengandalkan ilmu totokan yang dimilikinya terus mencecar lawan, kedua tangannya yang bagaikan bermata itu berkiblat ke segala arah. Sementara itu Padri Mata Elang dengan mempergunakan jurus-jurus andalan yang diberi nama "Elang Maut Kepakkan Sayap" juga tidak kalah hebatnya. Sambil kirimkan satu pukulan mengarah ke dada, kakinya juga menendang ke arah selangkangan Si Jerangkong Hidup. Lawannya begitu mengetahui gerakan yang sangat berbahaya ini segera menarik balik totokannya, akan tetapi tanpa terduga tubuhnya melesat ke atas. Meskipun matanya buta kiranya Padri Mata Elang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawannya, dia pun segera bertindak cepat. Begitu tubuh Si Jerangkong Hidup menukik ke bawah dan langsung kirimkan satu pukulan, tak ayal lagi Padri Mata Elang yang sempat merasakan adanya angin menyambar ke arah kepalanya dengan cepat dia memapasi. Tak dapat dihindari lagi:

"Braaasss...!."

"Wer... wer...!"

Tubuh Padri Mata Elang tergetar untuk beberapa saat lamanya, sementara itu Si Jerangkong Hidup begitu kakinya menginjak ke tanah hanya terpeleset sedikit saja.

"Hak... hak... hak...!" Si Jerangkong Hidup tertawa ngakak. "Sebentar lagi kau kubikin mampus mata picak...." geram Si Jerangkong Hidup.

Kemudian tanpa ampun dia menerjang lagi. Sebentar saja pertarungan sudah berlangsung puluhan jurus. Sementara kembrat-kembrat Si Jerangkong Hidup nampak menanti dengan sikap tak sabar. Dalam pada itu tiba-tiba saja, Padri Mata Elang melompat beberapa langkah kebelakang ketika pada saat yang tepat Si Jerangkong Hidup berhasil menotok bagian dada Padri Mata Elang. Agaknya Padri Mata Elang sangat kebal terhadap segala macain ilmu totokan. Terbukti ilmu totokan Si Jerangkong Hidup yang dikenal tiada duanya tidak berpengaruh apa-apa terhadap Padri Mata Elang. Hal ini tentu sangat mengejutkan hati Si Jerangkong Hidup, sebab sepanjang yang dia ketahui Padri Mata Elang ini sesungguhnya bukanlah manusia yang kebal terhadap berbagai senjata tajam apalagi dengan ilmu totokan si Jari Sakti yang dia miliki. Dalam keragu-raguan seperti itu mendadak Padri Mata Elang tertawa tergelak-gelak.

"Tengkorak Hidup, ketahuilah bahwa Padri Mata Elang yang kini sedang kau hadapi bukanlah Padri Mata Elang yang kau jumpai beberapa tahun yang lalu. Dengan ilmu Pusaka Pembelah Jagat yang telah kukuasai, jangankan kau yang tiada harga. Guruku sekalipun andai masih hidup tak akan mampu menghadapiku!" tukas Padri Mata Elang mengejek.

"Manusia sombong sialan! Nanti setelah menjelang ajal baru kau tahu siapa di antara kita yang paling pantas hidup di kolong langit ini...!" Si Jerangkong Hidup segera cabut senjatanya yang berupa sebuah Tasbih Raksasa. Bersamaan dengan itu pula kawan-kawannya yang lain serentak ikut maju, lalu beramai-ramai mengeroyok Padri Mata Elang. Orang buta dari Lembah Hantu itu pun tertawa ganda: "Bagus...! Majulah kalian semuanya! Aku pun tak ingin buang-buang waktu melayani tikus-tikus tiada berguna...!" Disertai dengan sebuah bentakan Padri Mata Elang menerjang maju. Dalam waktu sekejap saja dia sudah terkurung

dari segala penjuru.

Akan tetapi walaupun begitu dengan sikap tenang Padri Mata Elang melayani mereka. Bahkan bagai orang yang sedang kesetanan, dengan gencar dia mencecar lawan-lawannya. Dalam pada itu si Padri Mata Elang mendapat perlawanan yang sangat sengit dari Jerangkong Hidup. Dan sesungguhnya dari sekitar sembilan orang pengeroyoknya hanya serangan Si Jerangkong Hiduplah yang paling sangat berbahaya. Dengan senjata tasbih di tangan Si Jerangkong Hidup mengumbar segenap kemampuannya, hingga pada satu kesempatan:

"Craaak...!"

Tubuh Padri Mata Elang terhuyung, meski dalam keadaan begitu tangannya masih sempat menyambar dua pergelangan tangan lawan sekaligus. Dengan mempergunakan tubuh lawan dia berusaha melindungi diri dari serangan-serangan tasbih Si Jerangkong Hidup. Sudah barang tentu Si Jerangkong Hidup menarik balik serangannya. Kali ini Si Jerangkong Hidup dengan dibantu oleh beberapa orang kawannya terus mencecar mengarah ke bagian kaki. Padri Mata Elang bergerak cepat dan terus memutar tubuh lawan yang ia pergunakan sebagai perisai itu, bagaikan sebuah baling-baling. Praktis kedua lawan yang dia pergunakan sebagai tameng pelindung menjerit-jerit ketakutan. Lama kelamaan agaknya Si Jerangkong Hidup sudah hilang kesabarannya, hingga dia sudah tidak perduli lagi dengan keselamatan kawannya. Keadaan ini tentu sangat menguntungkan bagi Si Padri Mata Elang. Hingga beberapa saat kemudian senjata di tangan Si Jerangkong Hidup menderu ke arah bagian kepalanya, dengan sangat mudah sekali Padri Mata Elang berkelit. Dengan sedikit mengangkat tubuh lawannya ke atas. Jerangkong Hidup sudah tak sempat menarik serangannya yang terus meluncur tanpa kompromi. Maka:

"Proook... prook!"

Jeritan kematian menyertai berkelojotannya tubuh kawannya sendiri masih di tangan Padri Mata Elang. Terkejutlah kawan-kawan Si Jerangkong Hidup begitu melihat nasib maiang yang dialami oleh kawan-kawannya.

Padri Mata Elang dengan tersenyum mengejek berkata: "Hmm... nih, kawanmu yang sudah tiada guna kukembalikan." Bersamaan dengan ucapannya,tubuh lawannya yang sudah menjadi mayat itu dia lemparkan meng-arah pada Si Jerangkong Hidup. Terdengar suara bergedebukan begitu tubuh-tubuh itu nyungsep ke bumi. Semakin marahlah Si Jerangkong Hidup melihat ulah Padri Mata Elang yang menyebalkan itu.

"Mata picak terkutuk... kekejamanmu sudah melampaui batas! Kau harus mati secara mengerikan di tanganku...!" bentak Si Jerangkong Hidup dengan pandangan yang berapi-api.

"Nyalimu saja yang besar! Mulutmu berkoar bagai perempuan yang kebingungan bahkan kini kawanmu sendiri kau bunuh. Apakah bukan pertanda bahwa kau memang sudah edan?" ejek Padri Mata Elang.

"Keparat. Anjing licik...!"

Si Jerangkong Hidup menoleh pada kawan-kawannya yang tinggal tiga orang lagi, lalu dia membentak gusar: "Minggir kalian, biar aku sendiri yang menghadapi si picak iblis ini...!"

Lagi-lagi Padri Mata Elang tersenyum penuh kemenangan.

"Kau pikir aku akan membiarkan kawan-kawanmu yang tiada guna itu! Sebelum aku membinasakan biangnya, nih kalian makan...!"

"Weer... werr!"

Senjata rahasia yang berupa ular hijau itu melesat begitu cepat, sampai-sampai tiga orang kawan Si Jerangkong Hidup tidak sempat mengelak lagi.

"Grep... crep... crep...!" Disertai jerit lolong yang panjang tiga orang kawan Si Jerangkong Hidup ambuk ke bumi dengan nyawa melayang.

Semakin bertambah besar kemaraban Si Jerangkong Hidup demi menyaksikan nasib yang dialami oleh kawan-kawannya. "Keparat terkutuk...!" Lagi-lagi Si Jerangkong Hidup melabrak. Kali ini serangannya    semakin   bertubi-tubi. Agaknya Padri Mata Elang pun sudah tak sabar  untuk   segera    menyudahi pertarungan.  Mendadak    dia  merobah jurus-jurus silatnya. Suatu ketika tubuhnya  berkelebat  lenyap   bagai bayang-bayang, dan di lain waktu dengan pukulan-pukulan tangan    kosong  dia memapaki   serangan-serangan   tasbih lawannya. Dan apabila kedua tangannya sudah dirakapkan  ke   depan   dada, sementara    mulutnya  berkomat-kamit. Dalam keadaan seperti itulah pukulan Pembelah Jagat telah menguasai dirinya. Tasbih di tangan Si Jerangkong Hidup terus berkelebat dan menghantam tubuh Padri Mata Elang bertubi-tubi. Namun sedikit pun Padri Mata Elang yang sudah menjadi kebal karena mantra ajian Pembelah Jagat tidak bergeming. Hingga beberapa saat kemudian begitu tasbih di tangan Si Jerangkong Hidup dan kembali menderu mengarah pada bagian kepala. Tangan Padri Mata Elang pun bergerak cepat.

"Creep...!" Bahkan langsung. "Prook...!" Tanpa sempat menjerit Si Jerangkong Hidup roboh ke tanah dengan kepala remuk dan nyawa terputus. Padri Mata Elang tergelak-gelak tanda puas, kemudian tanpa menolah lagi tubuhnya melesat pergi bagai angin.

* * *

5

Desa Sindang Sari adalah sebuah desa yang merupakan perbatasan antara Sindang Darah di sebelah Selatan dan desa Sindang Warakan di sebelah Utara.

Pagi itu seorang pemuda tampan berpakaian merah darah dengan sebuah priuk besar yang selalu dia bawa ke mana-mana. Nampak sedang memasuki desa Sindang Sari yang berpenduduk sangat padat namun penuh dengan keramah tamahan. Dengan langkahnya yang melenggak lenggok sementara seorang bocah perempuan duduk ongkang-ongkang di atas pundaknya. Sepintas orang tentu mengira bahwa pemuda dan bocah yang duduk di atas pundaknya itu tak lain adalah seorang gelandangan yang kebetulan kesasar di desa mereka.

Apapun tanggapan mereka sesungguhnya pemuda yang selalu nampak kumuh dan kotor ini tak lain adalah Pendekar si Hina Kelana adanya. Seperti diketahui pemuda keturunan manusia alam gaib itu sedang berusaha untuk mengejar orang bertopeng yang telah membunuh orang tua Wanti Sarati. Hari itu merupakan hari yang kesepuluh daiam perjalanannya mencari jejak si manusia bertopeng. Namun sejauh itu masih belum ada tanda-tanda bahwa manusia bertopeng akan segera ditemukan. Kalau tujuan si manusia bertopeng itu hanyalah ke Sindang Darah, mengapa dia tak tanyakan saja di mana letak Sindang Darah yang sesungguhnya? Berpikir sampai di situ, Buang Sengketa segera belokkan langkah menghampiri sebuah warung yang terletak di sisi jalan itu. Suasana pagi yang segar serta bau aroma makanan yang lezat membuat perut si pemuda berkerukukan minta diisi.

Begitu dia sampai di dalam warung yang saat itu memang sarat dengan pengunjung, Buang Sengketa langsung memesan makanan pada pemiliknya.

"Sediakan kami dua mangkuk nasi berikut lauk-pauknya, dan juga dua bumbung tuak...!"kata pemuda itu ramah. "Baik Kisanak... tapi tunggulah di meja yang kosong itu!" kata pemilik warung lalu menunjuk tempat yang

dimaksudkan.

Buang Sengketa setelah menurunkan Wanti Sarati dari pundaknya segera melangkah ke arah meja yang terletak di sudut ruangan. "Paman. Sampai di manakah kita ini...?" tanya Wanti Sarati sambil memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.

"Paman juga tidak tahu. Tapi nanti bisa kita tanyakan pada pemilik warung." "Tempat ini ramai sekali, Paman...!"

Buang Sengketa tersenyum sambil memandangi wajah Wanti Sarati yang polos dan cantik.

"Hemmm... kau suka tempat seperti ini...?"

"Suka, tapi aku kurang suka pada orang-orang yang galak seperti mereka itu!" Ujar Wanti Sarati.

"Hus. Tak boleh bicara seperti itu, nanti mereka marah...!"

Buang Sengketa menegur dengan suara lunak.

Wanti Sarati tiba-tiba menjadi cemberut.

"Mengapa Paman melarangku! Bukankah aku bicara yang sebenarnya...?" protes Wanti Sarati mengajuk.

Buang Sengketa kembali kembangkan senyum.

"Wanti, memang tidak salah, tapi orang bisa tersinggung dengan ucapanmu itu." Ujar pemuda itu menasehati. Wanti Sarati manggut-manggut.

"Tapi aku suka pada Paman! Paman selalu baik dan sayang sama Wanti...!" Mendengar pujian yang lugu, Buang Sengketa terenyuh. Kemudian dengan perasaan sayang dibelainya rambut Wanti Sarati yang panjang sebatas pinggang.

"Lupakanlah itu Wanti! Lihat pesanan kita sudah datang."

Begitu Wanti Sarati menoleh, tahu-tahu pemilik warung sudah berada di depan meja mereka. Dengan cepat pemilik warung itu segera menghidangkan makanan di atas meja. Begitu selesai dengan pekerjaannya. Laki-laki yang masih sangat muda itu bermaksud meninggalkan mereka berdua. Buang Sengketa segera menggamit tangannya. Laki-laki itu menoleh.

"Ada apa Ki sanak?" tanya si pemilik warung sekilas mengamati Buang Sengketa dengan perasaan ragu.

"Dapatkah kau katakan padaku, desa ini desa apa namanya...?"

"Agaknya Kisanak datang dari daerah yang lain?"

"Benar...!" Jawab pemuda itu jujur. "Desa ini bernama desa Sindang

Sari. "

Mendengar jawaban si pemilik warung, pemuda itu nampak menganggukanggukkan kepala. "Kalau begitu tentu sebuah tempat yang bernama Sindang Darah itu letaknya sudah tidak begitu jauh lagi dari tempat ini." Batin Pendekar Hina Kelana.

"Saudara... masih jauhkah letak Sindang Darah dari desa ini. ?" tanya si

pemuda kemudian. Si pemilik warung nampak terkejut begitu mendapat pertanyaan seperti itu. Kemudian tanpa sadar dipahdanginya Buang Sengketa dari ujung ram but hingga ke ujung kaki. Melihat penampilan Buang Sengketa yang agak ganjil dari kebanyakan orang umum, mengertilah pemilik warung yang masih sangat muda ini bahwa sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan orang kalangan persilatan. Kemudian setelah melirik kanan dan kiri laki-laki itu dengan gemetar menjawab pelan:

"Apakah Ki sanak bermaksud datang ke tempat yang menakutkan itu...?"

Tanpa menjawab Pendekar Hina Kelana mengangguk. Tapi curiga. "Kisanak! Akhir-akhir ini Sindang Darah banyak dibicarakan orang...!"

"Maksudmu...?!"

Sejenak pemilik warung itu menarik nafas pendek.

"Dari  berbagai penjuru mereka datang untuk memperebutkan kitab-kitab pusaka peninggalan Padri Agung Pengayom Jagat. Bahkan mereka saling bertarung mati-matian sesamanya. Tetapi sejauh itu mereka masih belum mampu membuka pintu rahasia yang merupakan  jalan satu-satunya menuju tempat penyimpanan kitab-kitab peninggalan Padri Agung Pengayom Jagat...!" Ujar pemilik warung. Mendengar   penjelasan pemilik warung, Buang Sengketa semakin bertambah tertarik. Tanpa sadar pemuda itu melirik Wanti Sarati yang sedang sibuk melahap makanan. Kini dia kembali menoleh pada laki-laki itu.

"Saudara. Tadi saudara belum jeiaskan padaku di nama letak Sindang Darah. Dan mungkin juga kau dapat jeiaskan padaku, mengapa tempat itu bernama Sindang Darah...?"

Lagi-lagi pemilik warung itu menoleh ke sekelilingnya. Kemudian masih dengan suara yang serupa dia berkata lagi:

"Sesungguhnya Ki sanak, aku sangat takut untuk menjelaskan persoalan ini pada Kisanak!" Jawabnya sambil celingukan.

"Katakan saja mengapa mesti takut! Aku yang akan bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu di tempat ini...!" Jawab si pemuda pasti.

"Baiklah kalau sudah begitu keinginan Ki sanak."

Pemilik warung tersenyum lega. Kemudian setelah berpikir-pikir sejenak:

"Sindang Darah letaknya di sebelah Tenggara desa ini, untuk sampai ke sana hanya memakan waktu dua hari perjalanan kaki. Dulunya tempat itu merupakan sebuah tempat suci sekaligus rumah tinggal Padri Agung Pengayom Jagat bersama para muridnya. Akan tetapi sejak terbunuhnya Padri Agung Pengayom Jagat oleh muridnya sendiri, tiba-tiba saja tempat itu telah berubah menjadi sebuah tempat yang sangat menyeramkan bahkan sampai kini. "

"Maksudmu...?" Potong pendekar Hina Kelana.

Pemilik warung itu tampak terdiam beberapa saat lamanya. Tapi kemudian dia menyambung lagi:

"Padri Agung Pengayom Jagat menjelang kematiannya sempat mengutuk tempat itu. Bahkan tidak tahu dari mana datangnya, air di dalam Sindang yang hampir seluas danau kini telah dipenuhi oleh buaya kuning. Dalam waktu-waktu tertentu air di dalam Sindang bisa berubah warna menjadi merah darah. Itulah makanya Sindang Darah yang dulunya bernama Sindang Pengayom jadi berubah nama!" Jelas si pemilikwarung sambil memijit-mijit keningnya.

Lagi-lagi Buang Sengketa angguk-anggukkan kepalanya macam buruk pelatuk.

"Benarkah seperti kata orang, bahwa di tengah-tengah sindang itu terdapat sebuah daratan yang luas?" Sela pendekar Hina Kelana tiba-tiba.

"Sesungguhnya yang paling tepat adalah sebuah pulau. Pulau Cadas yang dipenuhi dengan gua-gua buatan!" Ujar laki-laki itu, kemudian menyela kembali: "Apakah Ki sanak bermaksud untuk datang ke sana?" Perasaan was-was membayang jelas di wajah laki-laki pemilik warung.

Buang Sengketa anggukkan kepala. "Kalau bisa jangan Kisanak...!"

Kata pemilik warung bermaksud mencegah. Melihat kekhawatiran laki-laki itu, Buang Sengketa tergelak-gelak. Kemudian dia hentikan tawanya lalu memandang pada

pemilik warung sejurus.

"Mengapa kau melarangku...?" Pemuda itu menegur dengan sikap tak senang.

"Eee.. anu, Kisanak tempat itu benar-benar sangat berbahaya!" Jawabnya terbata-bata.

Begitu mendengar ucapan laki-laki itu Pendekar Hina Kelana tersenyum kecut, lalu selanya:

"Mengapa takut! Jalan yang kutempuh memang selalu penuh dengan kekerasan. Kalau memang Sang Hyang Widi memang sudah menentukan bahwa aku harus mati, aku pun harus rela menerimanya. Tapi kalau belum pada saatnya siapa yang bisa melakukannya..,?"

"Kalau memang sudah begitu keinginan Kisanak, tentu saya tak mungkin mencegah, saya hanya memberitahu saja."

"Hemm... terima kasih atas peringatanmu."

Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala untuk kemudian melangkah pergi melayani tamu-tamu yang lain. Baru saja Pendekar Hina Kelana menyuap   makanannya  beberapa  kali, mendadak orang-orang yang berada didalam warung itu berlarian ke luar. Tak seorang pun di antara mereka yang tersisa. Tinggallah laki-laki pemilik warung yang nampak menggigil ketakutan sambil memandang ke arah pintu. Begitu Buang Sengketa menoleh ke tempat yang sama. Dia melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan tua dengan rambut yang sudah memutih sedang berdiri di ambang pintu. Yang mengherankan hati pendekar Hina Kelana, adalah penampilan Kakek dan Nenek ini yang sangat menyolok mata. Si Kakek  berpakaian   putih  perak berkilat-kilat dengan dandanan yang sangat rapih. Sementara si  Nenek mengenakan jubah warna biru langit. Meskipun sudah tua bangka bau tanah agaknya kedua orang aneh ini termasuk pesolek berat. Dan sesungguhnya kaum persilatan mengenalnya sebagai "Sepasang Sejoli Dari Timur". Di bagian Timur mereka inilah yang merupakan rajanya kaum persilatan dari semua golongan. Memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi dan selama malang melintang dalam rimba

persilatan belum pernah terkalahkan.

Kini mata mereka menyapu kesegenap penjuru ruangan, mereka hanya melihat seorang pemuda dan seorang bocah perempuan sedang duduk ongkang-ongkang menikmati hidangan yang mereka pesan. Tanpa ragu kedua orang ini segera melangkah ketengah-tengah ruangan, kemudian duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah meja besar yang berukir indah.

"Pelayan! Cepat sediakan makanan kesukaan kami...!" Perintah si nenek.

"Baik, junjungan."

Dengan langkah terburu-buru pemilik warung segera bergegas ke belakang. Dengan cepat dia telah kembali pula membawakan makanan yang dipesan oleh kedua orang aneh ini. Ketika pemilik warung itu sedang sibuk menghidangkan makanan di depan mereka tiba-tiba saja si Kakek berjubah putih dengan suaranya yang kecil mirip suara perempuan, menegur:

"Pelayan goblok! Padamu kami pernah berpesan apa...?" bentaknya marah.

Pemilik warung nampak menjadi gugup. Kemudian dengan suara tersendat dia menjawab: "Jun... junjungan bilang tak seorang pun berada di warung ini pada saat junjungan datang...!" Ujarnya sambil melirik ke arah Buang Sengketa yang masih enak-enakan menikmati hidangan.

* * * 6

Bagus sekali kalau kau masih ingat. Itu menandakan bahwa kau masih menghormati kami." Sela Kakek tua berpakaian putih mulai geram. Sebaliknya laki-laki pemilik warung yang tak menyadari bahwa Sepasang Sejoli dari Timur ini sedang marah, malah menyahuti: "Pesan junjungan saya memang selalu mengingatnya." jawabnya sedikit bangga. Mendengar jawaban laki-laki  itu memuncaklah amarah si Kakek. Lalu tanpa terduga dia langsung mengebrak meja. Meja berikut makanan yang baru mereka pesan berantakan dan bertaburan ke mana-mana. Pucatlah wajah pemilik warung itu. Dengan mata melotot si Nenek ikut

membentak:

"Kalau kau masih ingat pesanku, mengapa masih kau biarkan dua ekor lalat menjijikkan itu berada di dalam warungmu...!"

Menggigillah tubuh laki-laki itu ketakutan. Dia tak mampu menjawab hanya pandangan matanya silih berganti melirik pada Buang Sengketa dan Sejoli Dari Timur. Buang Sengketa meskipun menyadari bahwa yang dimaksud si Nenek pesolek itu sesungguhnya adalah mereka berdua. Akan tetapi tetap saja dia acuh.

"Pelayan! Kalau kau tidak segera mengusir lalat-lalat gembel itu dari warungmu, maka aku akan segera menyeretnya ke luar." Sela si Nenek pesolek semakin gusar. Buang Sengketa segera menyudahi makannya. Sementara Wanti Sarati nampak tenang-tenang saja. Pemilik warung kini nampak kebingungan, dalam pada itu Buang

Sengketa maju beberapa tindak.

"Orang tua, lagumu setinggi langit. Sepertinya hanya kalian sendiri yang berhak hidup di Kolong Jagat ini! Toh warung ini bukan milik bapak moyangmu, semua orang punya hak untuk berada di sini!" sela Buang Sengketa pelan namun menyakitkan.

"Bocah keparat! Lancang sekali mulutmu...!" Ben tak Nenek berpakaian biru langit marah sekali. Selama malang melintang dalam rimba persilatan baru kali ini ada seorang bocah yang masih hijau dan tak dikenal asal usulnya berani membentak sedemikian rupa. Dan ini sangat keterlaluan sekali.

"Kau telah berani menghina Sepasang Sejoli dari Timur, itu berarti tiada pilihan lain bagimu kecuali mati...!" Kakek berambut putih ikut menyela. Mendadak Buang Sengketa tertawa panjang-panjang.

"Hemm... monyet tua bangka! Kematian bagimu, kau sendiri tak tahu kapan datangnya. Bagaimana kau bisa menentukan kematian orang lain...?"

Sepasang Sejoli dari Timur kertakkan rahang, kemudian dengan satu hentakan dahsyat secara bersamaan Kakek Nenek rambut putih itu kirimkan pukulan jarak jauh dan pada saat itu juga gelombang angin pukulan berhawa panas menderu mengarah pada Buang Sengketa dan Wanti Sarati. Secepat kilat pendekar dari negeri Bunian sambar tubuh Wanti Sarati, lalu tanpa banyak bicara segera dia memasukkan tubuh Wanti Sarati ke dalam periuk besar yang disandangnya. Diperlakukan begitu Wanti Sarati yang mengetahui gelagat tak baik hanya menurut.

Demikianlah ketika pukulan maut yang dilepaskan oleh Sepasang Sejoli dari Timur itu hampir saja melabrak tubuh Buang Sengketa, dengan gerakan yang sangat indah sekali dia berkelit untuk kemudian kirimkan satu pukulan pula. Begitu tangan kanannya dia dorongkan ke depan, tak ayal selarik sinar Ultra Violet yang menimbulkan suara bergemuruh bagai air bah melesat ke arah Sepasang Sejoli dari Timur. Mereka yang tidak menyangka bahwa si pemuda berpakaian gembel itu sangat terkejut begitu Buang Sengketa lepaskan pukulan. Serta merta secara berbareng Sepasang Sejoli dari Timur memapaki.

"Blaar...!"

Kakek dan Nenek pesolek ini terhuyung beberapa tindak, meja dan kursi di kanan kiri mereka jadi berantakan tersambar dua pukulan sakti. Memucatlah wajah kedua orang ini begitu mengetahui kehebatan lawannya. Sesaat sesudahnya Kakek dan Nenek rambut putih itu saling pan dang sesamanya. Bocah ini masih sangat muda, usianya pun paling baru berkisar dua puluhan, akan tetapi sudah memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna. Bahkan dapat digolongkan dan setaraf dengan tokoh-tokoh sakti angkatan tua. Begitulah yang ada di benak mereka. Akan tetapi meskipun mereka sudah mengetahui kehebatan si pemuda mana mau Sepasang Sejoli dari Timur ini mengakuinya. Mereka yang selalu bersifat tinggi hati belum pernah dalam hidupnya mengaku kehebatan orang lain, meskipun pada akhirnya mereka akan jadi pecundang. Kini setelah agak lama memandangi Buang Sengketa kemudian mereka membentak:

"Rupanya kau cukup berisi juga. Tapi jangan kau kira kau bisa bertingkah di depan Sepasang Sejoli dari Timur." Tukasnya. "Sebutkanlah namamu bocah hina, agar kami dapat menuliskannya di nisanmu nanti...!"

Pendekar Hina Kelana tertawa ganda. "Kunyuk bau tanah. Galilah kuburmu dulu nanti kalau sudah di liang kubur

kalian berbulan madu kembali."

Merahlah paras kedua orang ini mendapat ejekan sedemikian rupa. "Jahanam terkutuk... jangan salahkan kami kalau kau tetap tak ingin sebutkan nama...!"

"Huahahaha...! Apa artinya sebuah nama bagimu, kalau hidup yang hanya sekejap hanya bikin onar di mana-mana. Meskipun hari ini kau ingin bertobat semuanya sudah terlambat Sejoli gila...!"

"Keparat...!"

Disertai dengan lengkingan dahsyat kedua Sejoli irii serentak menerjang. Buang Sengketa segera bertindak cepat, bagai bayang-bayang tubuhnya berkelebat mengarah ke halaman warung.

"Bocah sialan mau lari ke mana kau...!" bentak si Kakek tua suara perempuan.

"Kita main-main di sini Sejoli gila! Aku tak ingin warung itu kotor dengan darah anjingmu...!" ejek si Hina Kelana. Tanpa berkata Sepasang Sejoli dari Timur ini kembali menerjang dan kirimkan jurus-jurus yang paling diandalkan. Buang Sengketa pun tak mau memberi hati lagi pada Si Pesolek Dari Timur ini. Dengan jurus si Hina Mengusir Lalat, tubuhnyaa berkelebat kian ke mari. Sekali waktu dia lancarkan pukulan Empat Anasir Kehidupan. Pukulan yang datangnya bagai gelombang dan bertubi-tubi ini membuat Sepasang Sejoli dari Timur ini kerepotan, bahkan terkadang mereka harus menarik balik serangannya dan berganti merubah jurus-jurus silatnya untuk melindungi diri. Pada saat itulah Buang Sengketa menyadari bahwa gempurangempurannya tak akan banyak berarti bila salah seorang dari mereka tidak dibunuh terlebih dulu.

Otaknya bekerja cepat untuk melihat situasi yang sangat memungkinkan, pada saat-saat seperti itulah tiba-tiba dari dua arah Kakek dan Nenek rambut putih kirimkan pukulan yang sangat mereka andalkan. Sebuah pukulan yang sangat sulit untuk dicari duanya. "Sepasang Sejoli Bermesraan." Dua pukulan bertenaga sakti itu terus menderu dan mengeluarkan suara bergemuruh bagai angin top an, mengarah pada bagian yang sangat berbahaya. Waktu yang hanya beberapa detik itu tiada mungkin bagi Buang Sengketa untuk mengelakkannya. Tiada pilihan lain baginya, maka dengan nekad ia memapaki.

"Creep... creep...!"

Satu kesalahan telah dilakukan oleh si pemuda. Salah satu sifat ilmu Sepasang Sejoli Bermesraan adalah menyedot habis tenaga lawannya. Dan hal itu tanpa dapat dihindari telah dilakukan oleh Buang Sengketa. Tak ayal kedua tangannya kini melekat erat dengan tangan-tangan musuhnya.

Baik Kakek maupun si Nenek rambut putih kedua-duanya nampak tersenyum puas. Mereka dapat memastikan bahwa sebentar lagi tentu pemuda berkuncir ini akan mati lemas kehabisan tenaga. Buang Sengketa sejak bertemunya kedua tangannya dengan tangan-tangan lawannya bukan tak menyadari bahwa ada sesuatu di dalam tubuhnya mengalir ke luar lewat telapak tangannya. Akan tetapi dia berusaha sekuat tenaga agar sesuatu yang meledak-ledak mengalir deras ke arah kedua tangannya itu mampu dicegahnya.

Keringat dingin mulai berlelehan membasahi pakaian Buang Sengketa. Begitu juga halnya dengan Sepasang Sejoli dari Timur, akan tetapi mereka masih tetap tersenyum mengejek.

Sementara itu tubuh Pendekar Hina Kelana mulai goyah dan nampak gemetaran. Perasaan lemas terasa mulai menjalar ke mana-mana. Dalam keadaan terancam maut seperti itu tiba-tiba dia teringat pesan gurunya. Maka dengan cepat dia mengerahkan unsur api mengaliri tangannya. Karena sifat ilmu Sepasang Sejoli Bermesraan adalah menyedot. Tak ayal lagi hawa panas yang sangat luar biasa dari tangan Buang Sengketa pun ikut terse dot pula. Sejoli Dari Timur itu tersentak kaget begitu hawa yang sangat panas itu mengalir deras dari tangan yang menyatu, akan tetapi mereka masih belum melepaskan tangannya dari tangan Pendekar Hina Kelana. Buang Sengketa kembali meningkatkan kemampuannya. Hawa panas yang lebih hebat lagi kembali mengalir lewat tangannya, Sejoli Dari Timur kembali terbelalak begitu mereka merasakan panas yang sangat luar biasa. Namun sejauh itu masih belum ada tanda-tanda bahwa Sepasang Sejoli dari Timur berniat melepaskan tangan-tangan mereka yang melekat erat pada tangan Pendekar Hina Kelana. Mengetahui bahwa Sepasang Sejoli dari Timur ini memang menghendaki nyawanya. Marahlah pemuda ini, secepatnya dia keluarkan suara lengkingan dari ilmu Pemenggal Roh.

"Haiiiiiiik...!"

Bergemuruhlah suara jeritan yang sambung menyambung tiada henti-hentinya. Daun dan ranting kering luruh berjatuhan kebumi, jerit pekik ketakutan serta tunggang langgang dari mereka yang ingin menyelamatkan diri berbaur menjadi satu. Bahkan pemilik warung yang sejak tadi menyaksikan pertarungan itu dengan wajah tegang. Kini nampak terkapar dengan hidung dan kuping mengalirkan darah. Masih untung Wanti Sarati berada dalam priuk yang kedap suara. Andaikata tidak, sudah barang tentu gadis cilik itu mengalami nasib tak jauh beda dengan orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu.

Meskipun Sepasang Sejoli dari Timur ini berkepandaian sangat tinggi dan bahkan sempat menutup jalan indra pendengaran mereka, akan tetapi suara lengkingan yang sambung menyambung tiada putus-putusnya ini membuat pertahanan mereka hancur juga. Darah mulai menetes dari hidung dan kuping Sepasang Sejoli dari Timur ini. Bagi mereka kalau ingin nyawa selamat, maka tiada pilihan lain kecuali menarik tangan yang melekat pada tangan musuhnya. Bersamaan dengan itu Kakek dan Nenek rambut putih secara serentak menarik balik tangannya.

"Wut!"

"Wut!"

Sepasang Sejoli Dari Timur terguling-guling beberapa tombak!

Buang Sengketa terhuyung beberapa tindak ke belakang. Dengan cepat dia menghimpun hawa murni, akan tetapi meskipun begitu dia masih merasakan lemas yang teramat. Pemuda dari negeri Bunian itu tersenyum getir begitu melihat Sepasang Sejoli dari Timur yang nampak saling berpandangan sesamanya.

"Tua bangka. Mengapa kalian bertatapan mata seperti itu...!" Buang Sengketa mencemooh.

Kakek dan Nenek rambut putih itu segera berdiri sambil menyeka darah yang meleleh di bibir dan telinga mereka.

"Budak hina... kau pikir kami takut dengan ilmu gila yang kau miliki itu?" bentak Nenek rambut putih lalu meludah. "Kalau kalian tidak merasa jeri dan takut mati. Mengapa kalian hanya berhenti sampai di situ...!" cibir Buang Sengketa.

"Kami masih punya urusan di Sindang Darah, lain waktu kami pasti akan membunuhmu. "

Kakek rambut putih suara perempuan ikut menyela.

Tahulah Pendekar Hina Kelana bahwa Sepasang Sejoli dari Timur ini telah ciut nyalinya.

* * *

7

"Hemm Apakah kalian mengira bahwa aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja! Enak sekali...!" sela Buang Sengketa diiringi sesungging senyum rawan.

Memerahlah wajah Sepasang Sejoli Dari Timur seketika itu juga. Untuk kabur bagi mereka bukanlah jalan yang sulit. Akan tetapi bagaimana tanggapan kaum persilatan nantinya, tentu mereka akan menertawakan tindakan yang pengecut itu. Terlebih-lebih lawan yang mereka hadapi hanyalan bocah yang masih bau ingus. Memalukan!

"Gembel sombong! Jangan kira kau sudah mehang, kami akan mengadu jiwa denganmu." Nenek rambut putih mendengus. Bagus... biar aku tak usah sungkan-sungkan membasmi bibit penyakit dari permukaan bumi ini...!"

Belum lagi Buang selesai dengan kata-katanya Sepasang Sejoli Dari Timur sudah lancarkan satu rangkaian serangan yang bertubi-tubi. Kakek rambut putih mencecar tubuh lawannya pada bagian bawab, sedangkan si Nenek pesolek menyerang pada bagian atasnya. Dengan mempergunakan jurus si Hina Mengusir Lalat tangan Buang Sengketa berputar bagai sebuah baling-baling. Pada satu kesempatan Nenek rambut putih kirimkan satu sodokan mengarah ke ulu hati sedangkan kaki kanan mengirimkan satu sapuan yang mengarah ke bagian perut. Begitu pun Kakek rambut putih tak kalah hebatnya, dengan sebelah kaki kiri agak ditekuk, kemudian tangan kanan kirimkan satu jotosan yang mengarah ke bagian vital. Secara bersamaan mereka lancarkan serangan. Buang Sengketa secara tiba-tiba pula rubah jurus-jurus silatnya, si Gila Mengamuk.

Sebentar saja keadaan menjadi kacau balau, tubuh pemuda itu meliuk-liuk bagaikan seekor ular Piton yang sedang marah. Sementara gerakan-gerakan silatnya menjadi berubah tak beraturan, kadang kaki kiri menendang, tangan kanan memukul atau bahkan tubuhnya melompatlompat bagai seekor monyet yang terkena penyakit gatal. Meskipun gerakangerakan silat Pendekar Hina Kelana tak ubahnya bagai orang sinting yang lagi mabuk. Akan tetapi sejauh itu seranganserangan lawannya selalu dapat dia kandaskan, bahkan sekali waktu dia dapat mengirimkan sebuah pukulan yang sangat telak.  Mengetahui lawannya dapat mengelakkan bahkan mematahkan setiap serangan yang mereka lancarkan. Sepasang Sejoli Dari Timur nampak sangat marah sekali. Kembali mereka menggempur Buang Sengketa dari berbagai penjuru. Bahkan mereka sudah sampai pada tingkat jurus silat yang paling tinggi yang mereka miliki. Sebegitu jauh semakin hebat Sepasang Sejoli Dari Timur berusaha menekan kawannya, maka semakin menggila pula gerakan-gerakan silat  yang dimainkan oleh si pemuda. Sementara itu pertarungan sudah memakan puluhan jurus. Deru angin pukulan saling menyambar bercuitan debu dan pasir berterbangan kemana-mana. Tapi masih belum ada tanda-tanda siapa yang bakal keluar hidup-hidup dalam pertarungan maut itu. Kini Pendekar Hina Kelana merubah jurus-jurus silatnya. Gerakan silat yang tadinya kacau balau tak beraturan kini telah berubah seperti biasa, akan tetapi dia lebih hebat dan tak kalah hebatnya dengan gerakan-gerakan terdahulu. Jurus apalagi kalau bukan jurus si Jadah

Terbuang. Dalam waktu sekejap saja Pendekar Hina Kelana sudah berada di atas angin. Sepasang Sejoli Dari Timur semakin terdesak hebat. Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk berpikir lagi. Hingga pada satu kesempatan yang sangat tepat. Buang Sengketa berhasil mendaratkan pukulannya pada batok kepala si Kakek rambut putih.

"Prook...!"

Si Kakek rambut putih melolong setinggi langit, tubuhnya terpelanting beberapa tombak dengan kepala remuk dan otak berhamburan ke mana-mana. Tubuh Kakek rambut putih diam tiada berkutik lagi. Nenek pesolek begitu mengetahui suaminya roboh dengan nyawa terputus nampak meraung sejadi-jadinya. Setelah puas menangisi jenazah suaminya, kini dia menoleh dan memandang pada Buang Sengketa dengan penuh kebencian.

"Manusia sombong! Kau harus membayar mahal nyawa suamiku dengan nyawa Anjingmu...!" bentak Nenek rambut putih sinis.

Buang Sengketa tergelak-gelak. "Hemm... bagus kalau begitu. Biar

hari ini aku si Hina Kelana akan menggusur nama besar kalian dari kolong langit ini...!"

Mendengar Buang Sengketa menyebut nama julukannya, terkejutlah si Nenek pesolek ini. Belakangan ini dia memang telah mendengar adanya tokoh muda yang berjuluk si Hina Kelana. Bahkan kesadisannya dalam membasmi lawanlawannya yang tiada mengenal ampun telah membuat gempar dunia persilatan. Siapa sangka hari ini dia berhadapan langsung dengan tokoh muda yang ditakuti lawan-lawannya. Pula telah membunuh suaminya sendiri. Meskipun Nenek rambut putih ini tidak yakin dapat mengalahkan pemuda tampan yang membuat heboh itu. Akan tetapi sedikit pun dia tiada gentar. Mati bersama suami tercinta baginya lebih baik daripada harus hidup seorang diri.

"Oh... jadi kaulah kunyuknya yang berjuluk Pendekar Hina Kelana dari negeri Bunian itu." sela si Nenek rambut putih sambil gertakkan rahang. "Ahik... ahik... ahik...! Aku jadi ingin tahu bagaimana hebatnya Pusaka Golok Buntung sekaligus cambuk Gelap Sayuto yang menghebohkan itu...!"

"Sayangnya sebelum kau sempat menyaksikan semua yang ingin kau lihat, nyawamu keburu melayang!" kata Buang Sengketa lirih.

"Puih, kau pikir hanya kau seorang yang paling hebat di kolong langit ini...?" Nenek rambut putih mencemooh. "Aku tak pernah berkata begitu Nenek

bau tanah...!"

Tanpa menyahut, Nenek rambut putih segera keluarkan senjatanya yang berupa sebuah Badik Pendek. Dengan senjata di tangannya Nenek rambut putih dengan ganas menerjang Buang Sengketa. Berulang kali senjata yang tajam mengkilat itu nyaris merobek lambung, leher bahkan kepala Buang Sengketa. Kini pemuda itu harus mengakui bahwa senjata yang berkiblat-kiblat itu benar-benar merupakan senjata yang sangat berbahaya. Pendekar Hina Kelana akhirnya tidak mau terlalu ambil resiko. Sekali tubuhnya berkelebat dan hiking lenyap, Nenek rambut putih nampak kebingungan. Dalam pada itu terdengarlah suara mendesis bagai bunyi seekor ular Piton yang sedang marah. Tubuh Buang Sengketa nampak berkelebat. Diiringi dengan sebuah bentakan menggelegar sinar merah yang berkilauan menyambar ke arah bagian perut Nenek rambut putih. Nenek pesolek ini berseru kaget lalu kiblatkan Badik pendeknya.

"Traaang...!"

Senjata di tangan si Nenek hancur berantakan dilanda golok buntung yang berada di tangan Buang Sengketa. Tidak berhenti sampai di situ saja, golok itu bagai bermata terus menyambar-nyambar, Nenek rambut putih yang tiada memiliki senjata itu pun menjadi gugup. Tak terelakkan lagi:

"Craaas... craaas...!"

Nenek rambut putih sudah tidak sempat melolong atau pun menjerit, dengan leher hampir terputus tubuhnya terpelanting, lalu roboh bagaikan batang pisang ditebang. T-matlah nama besar Sepasang Sejoli Dari Timur pada saat itu juga. Buang Sengketa segera buka tutup periuknya. Kepala Wanti Sarati segera tersembul kemudian melompat keluar.

"Paman, orang yang hebat! Aku ingin jadi seperti Paman...!" kata Wanti Sarati penuh kagum. Tanpa menanggapi ocehan Wanti Sarati dia segera sambar tubuh gadis cilik itu, setelah mendukung di pundaknya tubuh Pendekar Hina Kelana berkelebat pergi seperti angin.

* * *

Riuh rendah suara lebih dari tiga puluh orang manusia bergemuruh di pinggir Sindang Darah yang tenang menyimpan seribu satu macam misteri. Agaknya rombongan dari bagian Barat yang sampai ke tempat itu paling awal sudah merasa yakin bahwa merekalah yang akan berhasil memiliki kitab-kitab peninggalan Padri Agung Pengayom Jagat. Kini partai persilatan Hantu Berkabung yang dipimpin langsung oleh Baja Wungu itu sudah keiihatan mulai mendirikan beberapa tenda darurat.

Menjelang tengah hari datang pula rombongan manusia bertopeng yang jumlahnya tak kurang dari empat puluh orang. Mereka ini juga dipimpin langsung oleh ketuanya yaitu dua bersaudara manusia bertopeng. Berbeda dengan rombongan Hantu Bergabung yang berusaha memiliki kitab-kitab pusaka itu masih bersifat untung-untungan. Sedang rombongan manusia bertopeng sudah merasa sangat yakin bahwa merekalah yang paling berhak untuk memiliki seluruh kitab-kitab pusaka peninggalan Padri Agung Pengayom Jagad. Sebab seperti diketahui bahwa ketua mereka telah mendapatkan kunci rahasia yang menghubungkan tempat penyimpanan kitab dengan ruang-ruang yang sangat banyak jumlahnya.

Sebagiamana yang dilakukan oleh rombongan Hantu Berkabung, rombongan orang-orang bertopeng ini pun segera mendirikan tenda-tenda darurat. Nampaknya di antara mereka ada saling tenggang rasa. Terbukti meskipun mereka telah di tempat itu dengan tujuan yang sama. Tapi nampaknya di antara dua rombongan itu tidak ada tanda-tanda saling mencurigai. Mereka saling acuh dan bahkan tidak ambil perduli dengan kegiatan rombongan yang lain.

Ketika semuanya dirasa beres, hari sudah menjelang malam. Di belahan Timur bulan sabit yang hanya merupakan bayang-bayang merah nampak mengintip di celah-celah dedaunan. Suara sepi mencekam mewarnai alam sekitarnya. Tak ada suara tawa dan canda. Masing-masing orang tenggelam dalam lamunan yang tiada berkesudahan. Di luar tenda perkemahan dari dua rombongan yang cukup besar jumlahnya, nampak beberapa orang pengawal sedang berjaga-jaga. Udara dingin yang terasa menggigil membuat beberapa orang di antara mereka bergerombol mengelilingi api unggun.

Sementara itu di dalam tenda rombongan Topeng Hitam nampak para ketua mereka sedang berbicara serius tentang rencana mereka untuk menyeberangi Sindang Darah dalam waktu secepatnya. Malam itu juga dicapai kata sepakat bahwa kira-kira menjelang pertengahan malam mereka harus mendahului menyeberangi Sindang Darah yang sesungguhnya sangat luas.

Apa pun yang akan mereka kerjakan semua itu di luar sepengetahuan rombongan Hantu Berkabung.

Demikianlah waktu terus berjaian tanpa terasa, hingga saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Lebih dari separoh rombongan Topeng Hitam berikut ketua mereka kini sudah berkumpul di tepi Sindang. Air Sindang yang begitu luas sedikit pun tiada menimbulkan rasa curiga. Ketua perkumpulan si Topeng Hitam tidak begitu lama mulai memberi aba-aba pada orang-orangnya.

"Aku berharap kalian bisa sampai ke sana dengan masing-masing kelompok sebanyak tiga orang. Usahakan jangan sampai menimbulkan suara berisik hingga memancing perhatian orang lain. Bila kalian bisa sampai dengan selamat dan kembali ke sini dalam keadaan yang sama pula, maka sebagai ketua, aku sudah memutuskan untuk memberi hadiah pada kalian...!" ujar ketua Topeng Hitam pada tiga anggota yang akan diberangkatkan lebih awal.

"Terima kasih ketua...!" jawab ketiga orang bawahannya sambil mengangguk hormat.

"Sekarang kalian boleh mulai...!" Ketua Topeng Hitam mulai memberi aba-aba.

"Byuuur...!"

Air di dalam Sindang nampak bergelombang menerima berat tubuh mereka bertiga.

* * *

8

Selanjutnya tanpa ragu-ragu lagi, mereka mulai berenang menuju ke pulau karang yang terletak di tengah-tengah Sindang. Namun di luar sepengetahuan mereka, puluhan ekor mahluk-mahluk ampibi yang berwarna kuning keemasan nampak bergerak cepat mengarah pada ketiga orang penyebrang itu. Agaknya mahluk-mahluk melata itu saling berlomba untuk memperebutkan mangsa yang sudah berada di depan mata. Begitu cepat sekali gerak mahluk-mahluk reptil ini, dalam waktu sebentar saja mahluk-mahluk ini sudah begitu dekat dengan mereka. Begitu buaya-buaya ini sudah hampir di sekeliling penyeberang, dengan ganas dan mulut ternganga lebar mereka langsung menyerang mangsanya tanpa ampun. Air di dalam Sindang langsung bergolak. Beberapa saat mereka terlibat pergumulan, ingin berteriak minta pertolongan mereka tidak berani, hanya bungkam seribu bahasa. Mereka yang sudah sampai di tengah-tengah Sindang kiranya tidak terawasi dengan baik oleh ketua Topeng Hitam. Sungguh malang nasib mereka manusia bertopeng ini.

Dalam waktu sekejap saja tubuh mereka sudah tercabik-cabik oleh gigi-gigi yang tajam. Air Sindang masih terus bergolak, warna air di sekitarnya berubah menjadi merah. Hanya dalam waktu yang singkat, tubuh mereka mulai tenggelam diseret mahluk-mahluk melata itu. Suasana di. tengah Sindang kembali tenang seperti sediakala. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu di dalamnya. Nampak tenang mengerikan.

Sementara itu di tepian Sindang Darah, tiga orang penyebrang telah bersiap-siap menyusul para pendahulunya.

Ketua Topeng Hitam memberi aba-aba kembali. "Byuur...!"

Sama seperti pendahulunya, mereka ini juga tidak menyadari bahwa bahaya sedang menanti mereka di depan sana. Agaknya mahluk-mahluk reptil yang lainnya mengetahui bahwa ada mangsa yang secara rela menyerahkan diri. Sebab begitu mahluk-mahluk ini mencium bau darah, mereka yang tadinya berada di tepian pulau karang nampak saling berlomba bergerak ke tengah-tengah Sindang.

Kini jumlah mereka semakin bertambah banyak saja. Semuanya nampak tenang menantikan datangnya sang mangsa. Orang-orang malang itu tak menyadari bahwa ajal mereka semakin di ambang pintu.

Bagitu mahluk melata itu meluncur ke arah mereka. Ketiga penyebrang ini terbelalak tak percaya. Namun hanya sesaat keadaan itu berlalu karena pada saat-saat berikutnya mereka sudah harus berjuang mati-matian melawan maut. Lebih lima ekor setiap orangnya melayani mahluk air yang sangat ganas itu. Betapapun tingginya ilmu silat mereka, namun berada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan ditambah lagi jumlah mahluk-mahluk ini yang tidak kepalang tanggung, lama kelamaan tenaga mereka terkuras habis. Darah kembali mewarnai air Sindang. Tubuh mereka tercabik-cabik tak karuan ujudnya. Dalam waktu hanya beberapa saat saja tubuh mereka telah lenyap dari permukaan air.

Kini mahluk-mahluk reptil itu bergerak lebih berani lagi. Tanpa mengenal rasa takut mereka mulai berenang agak ke tepi. Agaknya mereka juga tahu dari mana sebenarnya sumber makanan itu datang.

Pada saat yang sama Ketua Topeng Hitam sudah nampak menyiapkan para perenangnya yang handal. Baru saja ketua Topeng Hitam ini bermaksud memberi aba-aba pada ahli-ahli renangnya, mendadak wakil ketua Topeng Hitam menunjuk ke tengah-tengah Sindang.

Walaupun cahaya bulan sudah tak keiihatan lagi, tetapi mereka dapat melihat sesuatu di dalam Sindang yang bergerak-gerak. Lama kelamaan semakin jelas ujudnya. Apa-lagi mata mahluk melata itu menyiratkan cahaya berwarna kemerah-merahan. Tak pelak lagi ketua Topeng Hitam berseru kaget:

"Hah... buaya?" ucapnya tertahan. "Dari mana datangnya mahluk-mahluk keparat itu...?"

"Celaka kakang! Orang-orang kita pasti tak akan pernah sampai di pulau Karang...!" sela wakil ketua Topeng Hitam cemas.

"Kalau begitu kita harus singkirkan mahluk-mahluk sialan itu...!" ketua Topeng Hitam kertakkan rahang geram. "Tidak usah... kita tak mungkin melakukannya...!" bantah yang menjadi wakilnya. Tentu saja ketua Topeng Hitam menjadi heran. Korban sudah berjatuhan tapi mengapa kawannya yang bertangan buntung ini maiah melarangnya untuk bertindak. Lama sekali ketua Topeng Hitam berpikir, sejauh itu dia tak tahu mengapa saudaranya maiah mencegah niatnya.

"Tidak tahukah engkau, sudah berapa banyak korban di pihak kita?" tanya ketua Topeng Hitam penasaran.

"Korban akan lebih banyak lagi, apabila kita membiarkan orang-orang kita menyeberang menantang maut. Kakang harus ingat bukan kita saja yang ingin memiliki kitab yang sangat berharga itu. Tokh kita masih bisa menunggu di sini sambil menunggu kesempatan yang lebih baik lagi...." wakil ketua Topeng Hitam menjelaskan.

"Maksudmu...?"

Wakil ketua Topeng Hitam tersenyum licik.

"Kita biarkan saja mereka menanam apa saja, setelah berbuah baru kita memetik hasilnya!"

"Maksudmu kita harus membiarkan mereka berangkat menuju pulau Karang setelah itu kita merampas kitab-kitab itu dari tangan mereka?"

"Tak salah...!" Meskipun Topeng Hitam merupakan kaum persilatan golongan hitam tapi dia kurang setuju dengan gagasan yang diberikan oleh wakilnya.

"Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku ingin mendapatkannya dengan cara bersih. Lagi pula kunci rahasia itu ada di tangan kita, tak seorang pun yang bisa membuka pintu rahasia di dalam goa tanpa kehadiran kita...!"

Wakil ketua Topeng Hitam tersenyum kecut begitu mendengar ucapan ketuanya yang dia anggap berpandangan picik.

"Kakang percaya bahwa kunci itu merupakan kunci yang sesungguhnya...?" "Mengapa tidak...?" ujar ketua

Topeng Hitam begitu yakin.

Wakil ketua Topeng Hitam nampak geleng-gelengkan kepalanya.

Ketua Topeng Hitam menjadi sangat heran dengan tingkah saudaranya itu. "Apa maksudmu...?"

"Kakang jangan bertindak bodoh! Coba pikir saja, mana mungkin nenek peot mau bertindak gegabah. Begitu sembrono membawa-bawa kunci pusaka yang sangat berharga. Menurut cerita yang aku dengar, kunci rahasia pembuka goa karang adalah sebuah tusuk konde yang sudah butut!" jelas wakil ketua Topeng Hitam. Mendengar kata-kata saudaranya ketua Topeng Hitam nampak merenung

sejenak. "Tapi kita tak menemukannya pada saat tubuh nenek peot kuperiksa!"

"Mungkin saja kakang kurang teliti...!"

"Kurang teliti emakmu! Semuanya sudah kuperiksa bahkan sampai ke pusernya, masihkah kau bilang aku kurang teliti...?" ketua Topeng Hitam nampak tersinggung. Wakil ketua Topeng Hitam tersenyum geli begitu mendengar keterus terangan saudaranya. Dengan menahan tawa wakil ketua Topeng Hitam menyela:

"Mungkin saja nenek peot menyimpannya pada suatu tempat yang sangat dirahasiakan. Atau mungkin juga dia punya seorang murid kemudian menitipkan padanya!" kata wakil ketua Topeng Hitam mereka-reka.

Ketua Topeng Hitam kerutkan kening, pikirannya berputar-putar, dia berkesimpulan bahwa mungkin saja ada seseorang yang sangat dipercaya oleh si nenek. Lalu padanya si nenek peot titipkan barang yang sangat berharga itu.

"Mungkin juga anggapanmu itu benar, Adi...!" Ketua Topeng Hitam mengakui.

"Bagaimana tanggapan kakang tentang gagasanku tadi?"

Ketua Topeng Hitam kembali manggut-manggut.

"Agaknya kita harus berbuat begitu! Tak usah susah payah mengorbankan orang-orang kita. Kita hanya menunggu siapa yang bakal keluar jadi pemenang, setelah itu dengan sangat mudah kita merampasnya!" sela ketua Topeng Hitam dengan sesungging senyum penuh kelicikan.

Tak lama setelah memberi perintah pada anggotanya, mereka segera kembali ke tenda. Sebentar saja suasana menjadi sepi kembali.

* * *

Pagi itu udara nampak cerah, burung-burung berkicauan terbang dari dahan yang satu hinggap di dahan lainnya. Apabila ketua Topeng Hitam maupun ketua Hantu Berkabung menyingkap pintu tendanya, terkejutlah hati mereka. Nun jauh di sana sebelah Barat, Timur, Utara dan Selatan telah bermunculan tenda-tenda baru. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa. Bagai jamur di musim hujan tenda-tenda itu bermunculan. Anehnya mereka sampai tidak tahu kapan tenda-tenda baru itu dipasang.

Kini setelah kehadiran empat rombongan lainnya maka jumlah mereka semakin be-tambah menjadi enam kelompok. Tidak sampai setengah setelahnya suasana di sekeliling Sindang telah ramai dipenuhi oleh pendatang dari berbagai   golongan persilatan. Masing-masing kelompok telah menyiapkan ahli-ahli  penyeberangan.  Nampaknya mereka saling berlomba mendahului. Dari sekian banyak rombongan hanya di kemah Topeng Hitam saja yang nampak lenggang. Agaknya pagi itu mereka hanya akan bertindak sebagai penonton saja. Apabila tontonan yang akan digelar di tengah-tengah Sindang oleh orang-orang goblok itu adalah satu tontonan yang sangat menarik lagi gratis. Air Sindang yang menyimpan seribu satu macam misteri, buaya kuning yang ganas, serta jerit kematian yang menyayat. Semua itu akan terjadi tak begitu lama lagi. Diam-diam ketua Topeng Hitam tersenyum mengejek.

"Orang-orang tolol itu sebentar lagi pada mampus semuanya, ya Adi...!" kata ketua Topeng Hitam menoleh sekilas pada wakilnya yang berdiri mengawasi kesibukan rombongan lainnya.

Wakil ketua Topeng Hitam mengangguk pelan.

"Hemm... biar tahu rasa! Nanti kalau daging mereka sudah berada di perut buaya keparat itu, tentu mereka segera menemukan kitab-kitab itu...!"

"Hei... lihatlah! Agaknya Hantu Berkabung mulai memberi perintah untuk terjun ke dalam Sindang...!" seru ketua Topeng Hitam sambil menunjuk ke sebelah Tenggara.

"Bagus sekali. Rupanya mereka ingin cepat-cepat terkubur di perut mahlukmahluk menjijikkan, yang berada di pinggiran Pulau Karang...!"

Benar saja apa yang mereka duga, orang-orang penyebrang dari kelompok Hantu Berkabung mulai melaksanakan tugasnya. Disusul dengan rombongan lain yang jauh di sebelah Barat. Mereka ini berasal dari perburuan Lumpang, yang dipimpin langsung oleh ketuanya yang bernama Mujiman, beberapa saat berikutnya di sebelah Timur menyusul pula Padepokan Gunung Kuali yang juga dipimpin langsung oleh ketuanya si Cebol Gagu. Tak lama kemudian menyusul pula perguruan Angkara Murka yang juga dipimpin oleh ketua mereka yang bernama Soka Durjana. Kelompok terakhir yang mengutus orang-orangnya melakukan penyebrangan adalah rombongan yang berada di sebelah Selatan.

Mereka ini berasal dari Sungai mati, yang hanya bekerja secara kelompok dan tidak memiliki ketua. Meskipun jumlah mereka hanya berkisar tiga orang. Akan tetapi tiga orang dari Sungai Mati ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Rimba persilatan mengenal mereka sebagai Tiga Kembar Berhati Suci. Dari ikan yang mereka miliki saja sudah jelas bahwa mereka merupakan kaum persilatan golongan lurus.

Demikianlah masing-masing rombongan telah mengirim orang-orang kepercayaan mereka untuk menyebrangi sindang Darah.

Berbeda dengan rombongan lainnya. Tiga Kembar dari Sungai Mati ini bertindak sangat hati-hati. Bahkan sebelum ketiga orang itu secara keseluruhannya terjun ke dalam Sindang salah seorang di antara mereka yang memiliki penciuman pembeda rasa, sejak awal sudah meneliti keadaan air. Begitulah ketika orang yang bernama Kakang Barep itu sedang sibuk dengan tugasnya, adiknya yang paling bungsu datang menegur.

"Bagaimana kakang Barep? Apakah Sindang ini tidak berbahaya bagi kita...?" tanya adiknya yang kerap dipanggil Adi Ragil.

Laki-laki jangkung itu menoleh pada kedua adiknya yang berdiri tegak tidak jauh darinya.

"Lebih baik kita tak usah menyebrang ke sana...!" ujar si Barep memutuskan. Serentak dua orang yang lainnya menoleh. "Mengapa Kakang Barep tiba-tiba saja memutuskan begitu...?" tanya saudara yang nomor dua. Saudarasaudaranya yang lain Bering menyebutnya 

dengan kakang Tengah atau adi Tengah. Laki-laki jangkung kerutkan kening.

Kemudian menarik nafas pendek. "Sindang ini terlalu bahaya buat

kita. Lebih baik kita menonton pertunjukan yang sebentar lagi bakal menarik...!"

"Kami semakin tak mengerti saja dengan maksud kata-katamu kakang Barep...!" sela mereka hampir bersamaah. "Sindang ini dipenuhi buaya-buaya

yang ganas...!" tukasnya pendek.

Terbelalaklah saudaranya yang lain demi mendengar penjelasan si Jangkung. "Benarkah apa yang kau katakan itu Kakang...?!" tanya yang paling bungsu. "Kita li...!" Belum lagi si Barep menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba di tengah-tengah Sindang terdengar jerit pekik para penyeberang dari berbagai rombongan. Serangan Buaya Kuning yang datangnya hampir bersamaan itu membuat suasana menjadi hiruk pikuk. Masing-masing orang berusaha melepaskan diri dari ancaman mahluk melata yang bergigi tajam itu. Bahkan sebisa mungkin mereka , melakukan perlawanan. Melihat bahaya mengancam kawan-kawan mereka, tentu kawan-kawannya yang lain tidak tinggal diam. Dengan senjata terhunus, masing-masing kelompok mengirim bala bantuan. Tanpa berpikir panjang mereka langsung terjun dan memburu ke tengah. Keadaan semakin bertambah gempar.

Satu demi satu korban-korban mulai berjatuhan. Sebentar saja air Sindang sudah berubah warna merah. Darah!

Kiranya buaya-buaya itu bagai mengerti saja, begitu lawan-lawannya berdatangan lebih banyak, maka buaya-buaya yang masih berada di Pulau Karang langsung terjun membantu kawan-kawannya yang lain.. Mereka tidak hanya sekedar memangsa saja, akan tetapi sebagaimana layaknya manusia, mereka langsung menyerang anggota itu secara bertubi-tubi. Meskipun dengan membawa bekal berupa senjata andalan dan juga kepandaian silat yang mereka miliki. Akan tetapi bertarung di dalam air dengan mahluk-mahluk yang sangat ganas itu, sudah barang tentu sangat tidak menguntungkan bagi pihak penyebrang. Sementara dengan ekornya yang tajam dan panjang, buaya-buaya itu dengan begitu mudahnya melibasi tubuh lawan-lawannya. Akan tetapi meskipun korban telah banyak yang berjatuhan, bagai tiada mengenal rasa jeri, kawan-kawan mereka yang masih berada di darat, bagai sudah kemasukan ibhs saling berlomba terjun ke dalam sindang. Air sindang benar-benar telah berubah menjadi danau darah.

Pada saat itu di luar perkemahan Topeng Hitam, gelak tawa yang sambung menyambung tiada henti mewarnai rombongan itu. Seperti apa yang mereka duga, tontonan yang sangat menarik itu kini benar-benar terbentang di depan mata.

"Kek... kek... kek...!" ketua Topeng Hitam tertawa lebar. "Orang-orang tolol itu benar-benar menghendaki kematian adi!"

Wakilnya yang sejak tadi juga ikut tertawa tiada henti menyahut:

"Biar pada mati semua! Tokh mereka bukan orang-orang kita...!"

"Mungkin tak lama lagi ketua mereka pun ikut terjun, kakang...!" selanya.

"Itu bagus, biar kita tahu bagaimana hebatnya kesaktian ketua Hantu Berkabung dan juga empat partai-partai persilatan lainnya. Andai mereka selamat dan keluar sebagai pemenang. Tentu kita segera serang mereka...!" ketua Topeng Hitam menyela. Wakilnya manggut-manggut setuju. Akan tetapi tak lama setelah itu dia bergumam:

"Sayangnya Tiga Kembar dari Sungai Mati tak ikut ambil bagian! Siapa tahu mereka juga mempunyai siasat seperti kita! Kalau dugaanku ini benar, tentunya ketiga orang itu akan merepotkan kita...!"

Ketua Topeng Hitam gelengkan kepalanya.

"Kau tak perlu curiga pada mereka! Aku tahu betul siapa mereka. Tak mungkin mereka mau mencampuri urusan yang beginian...!"

"Kalau Tiga Kembar dari Sungai Mati tidak menghendaki Kitab Pusaka peninggalan Padri Agung Pengayom Jagat, lalu apa mau mereka, sehingga ikut hadir di sini...!" tanya wakil Topeng Hitam penasaran.

Ketua Topeng Hitam nampak tersenyum.

"Adi. Dulu ketika Partai kita belum terbentuk, pernah terjadi perebutan pusaka peninggalan Resi Karma di Gunung Sumbing. Pada saat itu aku juga melihat kehadiran mereka. Seperti engkau mulanya aku juga mencurigai mereka. Akan tetapi setelah peristiwa berdarah itu terjadi ternyata kecurigaanku tidak beralasan. Mereka datang ke sana kiranya hanya menjadi penonton dalam peristiwa itu. Mungkin juga mereka membawa maksud yang sama datang ke tempat ini!"

"Apapun alasan mereka, kita harus tetap berhati-hati kakang...!" wakil ketua perguruan Topeng Hitam mengingatkan.

"Oh, itu sudah barang tentu...!" jawabnya pasti.

Sementara itu sedikit demi sedikit anggota dari empat rombongan itu mulai berkurang. Akan tetapi agaknya ketua Hantu Berkabung maupun ketua partai yang liannya sudah tidak memperdulikan keselamatan anak buahnya lagi. Meskipun baik yang ditolong mau pun yang menolong tidak satu pun yang selamat, mereka masih tetap saja bersikeras. Mengirimkan orang-orangnya untuk membinasakan mahluk-mahluk reptil yang ganas itu. Menyaksikan adegan yang terjadi di ha dapan mereka, Tiga Kembar dari Sungai Mati yang tadinya hanya menjadi penonton akhirnya sudah tidak dapat lagi menahan kesabarannya. Menurut pendapat mereka bertiga, langkah yang telah diambil baik oleh ketua perkumpulan Hantu Berkabung, maupun tiga partai lainnya, sesungguhnya hanya karena mementingkan diri sendiri, mereka begitu tega mengorbankan pengikut-pengikutnya. Hal ini harus dicegah demi menghindari banyak nya korban yang berjatuhan. Untuk itu mereka segera bergerak mendekati tenda-tenda yang terpasang hampir di sekeliling Sindang Darah.

Pada saat Tiga Kembar dari Sungai Mati itu sampai di tenda Hantu Berkabung, mereka melihat hanya tinggal lima orang saja, sisa anggota Hantu Berkabung. Tanpa sungkan-sungkan lagi salah seorang yang berbadan jangkung menegur ketua rombongan Hantu Berkabung:

"Saudara Ketua Baja Wungu. Ah... tak menyangka hari ini kita bertemu kembali...!" ujar si jangkung sambil mengangguk hormat pada ketua Hantu Berkabung. Disapa sedemikian rupa, ketua Hantu Berkabung ini nampak keheranan. Sejenak wajahnya nampak berkerut, dia meneliti si Tiga Kembar dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Rasa-rasanya dia pernah bertemu dengan laki-laki berbadan kurus jangkung ini, tapi entah di mana. "Masa saudara Baja Wungu sudah lupa pada kami yang pernah menjadi penunjuk jalan di Gunung Sumbing tujuh tahun yang lalu...!" si tinggi jangkung mengingatkan. Seketika wajah ketua Hantu Berkabung ini berubah cerah.

Sambil menepuk-nepuk jidatnya yang licin, Baja Wungu menjawab dengan ramah pula: "Aha... tidak dinyana, kiranya aku Baja Wungu yang pernah berhutang budi pada saudara kembar dari Sungai Mati, hari ini bertemu kembali...!" Baja Wungu membalas hormat.

"Saudara ketua Hantu Berkabung, terlalu berlebihan!" Si Ragil menyela. "Kenyataannya memang begitu saudara

kembar...!" jawab Baja Wungu lunak. "Bagaimana keadaan orang-orangmu

saudara ketua...!" tanya si Barep mengalihkan persoalan.

Ditanya seperti itu, wajah ketua Hantu Berkabung nampak resah. Kemudian dipandanginya ketiga wajah sahabat lamanya ini dengan hati bimbang. Lalu ketua Hantu Berkabung itu tanpa sadar bergumam:

"Semuanya terlalu cepat, bagai sebuah mimpi buruk yang sangat menakutkan. Salahku sendiri, mengapa aku harus mengambil keputusan begitu cepat; Mungkin berita tentang kitab pusaka itu hanya merupakan kabar angin belaka. Orang-orangku sudah terlanjur habis jadi korban keganasan buaya-buaya keparat itu!" Baja Wungu menyela menyesali nasib.

"Tapi saudara Baja Wungu, masih punya kesempatan untuk menarik diri. Percayalah, andaipun berita tentang pusaka itu memang benar adanya, akan tetapi sangat tidak mungkin untuk memperolehnya. Mahluk-mahluk mengerikan itu agaknya merupakan penjaga kitab-kitab peninggalan Padri Agung Pengayom Jagat!"

"Pula, andaipun berhasil, musuh-musuh telah menanti di depan mata!" Adi tengah ikut menimpali sambil mengerling pada tenda-tenda yang berada di sekitarnya.

Ketua Hantu Berkabung nampak anggukkan kepala.

"Tapi orang-orangku sudah terlanjur habis...!" kata Baja Wungu meragu.

"Anggaplah itu merupakan suatu kekeliruan yang paling pahit...!" ujar Adi Ragil. Kembali Baja Wungu anggukkan kepala.

"Kalian ada benarnya! Tadi aku sempat berpikir ingin terjun langsung andai orang-orangku habis. Untuk kalian segera datang...!" Dengan jujur ketua Hantu Berkabung mengakui.

"Sekali lagi kalian menghutangkan budi padaku, tentu aku tak dapat membalasnya...!" "Saudara Baja Wungu, sudah sepantasnya kami mengingatkan saudara sebagai sahabat lama...!"

Setelah berkata begitu si Tiga Kembar dari Sungai Mati ini bermaksud meninggalkan tempat bersama ketua Hantu Berkabung serta lima orang sisa anak buahnya. Namun baru saja mereka melangkah beberapa ti-dak, dari tenda si Topeng Hitam terdengar bentakan-bentakan yang menggelegar.

"Tiga Setan Penghasut Dari Sungai Mati... berhenti...!"

Belum lagi hilang rasa terkejut di hati si Tiga Kembar. Tahu-tahu ketua dan wakil ketua Topeng Hitam telah menghadang langkah mereka.

"Saudara Topeng Hitam! Ada keperluan apakah hingga saudara menghadang langkah kami...!" tanya si Janggkung mewakili yang lainnya.

Ditanya seperti itu, marahlah ketua Topeng Hitam, sambil meludah ke tanah dia menyela:

"Manusia kembar tak tahu adat! Masih juga kau berpura-pura...!"

Dimaki sedemikian rupa, sudah barang tentu saudara kembar lainnya tak bisa terima. Adi Tengah mendamprat:

"Monyet    busuk    bertopeng....

katakanlah apa kesalahan kami! Jangan marah-marah begitu. !"

* * * 9

Wakil ketua Topeng Hitam kertakkan rahang kemudian maju selangkah. Lalu memaki habis-habisan.

"Budak hina... kalian telah menghasut ketua Hantu Berkabung untuk tidak meneruskan usahanya mendapatkan kitab-kitab itu. Padahal keberhasilan sudah di pelupuk mata. Lihatlah gara-gara ulah kalian menghentikan usaha Hantu Berkabung, mereka semua terpengaruh...!"

Mengertilan si Tiga Kembar akan maksud yang tersembunyi di balik ucapan wakil ketua Topeng Hitam. Adi Tengah langsung meloncat ke depan, keduanya kini saling berhadapan. Sejurus dia memandang maka tertawalah dia panjang-panjang.

"Setan licik, Pengecut. Kalau kalian merasa hebat, mengapa tidak sekalian orang-orangmu saja yang dikorbankan pada binatang-binatang itu...?"

"Mungkin dia bermaksud menangguk di air keruh Kakang Tengah...!" si kembar paling bungsu ikut menimpali.

Memerahlah wajah wakil ketua maupun ketua Topeng Hitam.

"Aku yakin monyet bertopeng ini merasa jera! Sebab tadi malam orang-orangnya sempat terkubur di dalam perut buaya-buaya itu...!" Ketua Hantu Berkabung yang memang sudah tak dapat menahan kesabarannya ikut nyeletuk.

Marah bercampur malu berbaur menjadi satu, ketua Topeng Hitam benar-benar tiada menyangka kalau kejadian yang sangat memalukan itu sempat juga diketahui oleh orang lain. Meskipun belangnya sudah ketahuan akan tetapi masih saja orang bertopeng ini membentak:

"Bangsat rendah Iblis Berkabung! Tidak tahu membalas guna. Dibela malah menghina...!"

Si Topeng Hitam menyela geram. Begitu mendengar ucapan si Topeng

Hitam, baik si Tiga Kembar, maupun Ketua Hantu Berkabung serentak tertawa tergelak-gelak.

"Katakan saja bahwa kau ingin mempergunakan kemampuan orang lain untuk memiliki kitab pusaka itu...!" Hantu Berkabung mengejek.

Mendidihlah darah ketua Topeng Hitam sampai ke ubun-ubun.

"Keparat...! Kalian lebih baik mampus...!" Diawali dengan satu teriakan menggelegar ketua dan wakil ketua Topeng Hitam langsung menerjang dan kirimkan pukulan-pukulan  yang mematikan. Mengetahui ketua   mereka   terlibat pertarungan, maka anggota Topeng Hitam yang lainnya pun serentak ikut menyerbu. Dalam waktu sekejap  saja pertarungan sangit pun terjadi di wilayah Sindang Darah. Jerit kematian mulai terdengar di mana-mana. Dalam keadaan seperti itu masing-masing pihak telah mengeluarkan senjata maupun jurus-jurus andalan. Dan dalam waktu singkat pertarungan sudah berlangsung puluhan jurus. Agaknya dalam segi jumlah si Tiga Kembar dan Ketua Hantu Berkabung kalah banyak bila dibandingkan dengan anggota Topeng Hitam. Walaupun begitu si Tiga Kembar dan ketua Hantu Berkabung, adalah orang-orang yang punya segudang pengalaman dalam berbagai pertarungan, dan pula merupakan lawan yang sangat tangguh. Tidak mudah bagi anggota Topeng Hitam untuk dapat mencapai kemenangan. Si Topeng Hitam ketua dan wakilnya mendapat perlawanan sengit dari si Tiga Kembar. Bahkan kerjasama di antara mereka yang terbina dengan baik ditambah banyaknya variasi jurus-jurus yang mereka miliki dalam waktu sekejap saja, ketua dan wakil Topeng Hitam ini sudah terdesak hebat.

Sementara itu dengan bersenjatakan Pedang Mustika dibantu oleh lima orang bawahannya. Ketua Hantu Berkabung dengan sangat mudahnya membabat habis semua kroco-kroco Topeng Hitam.

Ketua Hantu Berkabung yang sudah sangat muak melihat sepak terjang Si Topeng Hitam segera ikut mengeroyok. Melawan si Tiga Kembar saja mereka ini sudah sangat kerepotan dan bahkan sering terdesak, apalagi kini dengan pedang di tangannya Baja Wungu ikut melabrak, kedua si Topeng Hitam semakin tak mampu berbuat banyak. Dari segala penjuru serangan datang bertubi-tubi, si Topeng Hitam nampak kalang kabut, mengelak dan menangkis serangan itulah yang dapat mereka lakukan.

Kini pertarungan maut itu disaksikan oleh partai-partai lainnya. Akan tetapi rupanya dari tiga partai yang tersisa, yang jumlah keseluruhannya tak lebih dari lima belas orang nampaknya cenderung berpihak pada si Topeng Hitam, hingga suara-suara sumbang mulai terdengar.

Saat itu Kakang Barep berhasil menendang jatuh wakil ketua Topeng Hitam, Baja Wungu yang mengetahui kesempatan yang sangat baik segera bertindak cepat dengan pedang terhunus dia memburu wakil Topeng Hitam dan bermaksud memenggal lehernya. Nampaknya wakil ketua Topeng Hitam ini sudah tiada mampu berkelit, dia sudah pasrah menerima nasib. Namun pada saat yang kritis itu tiba-tiba terdengar bentakan melengking dari salah seorang ketua partai yang tidak terlibat pertempuran.

"Berhenti...!"

Bentakan itu benar-benar sangat berpengaruh bagi mereka yang sedang terlibat pertarungan. Secara serentak mereka bagai dihipnotis menghentikan pertarungan. Baja Wungu yang hampir saja berhasil membabatkan pedangnya pada leher lawannya, secara tiba-tiba menghentikan gerakannya. Barulah setelah dia mengerahkan hawa murni, dia dapat menoleh dan memperhatikan orang-orang yang berada di sekelilingnya.

"Tak tahu malu bertarung main keroyokan...!"

Seorang laki-laki dengan kumisnya yang tebal menyela. Begitu Baja Wungu dan si Tiga Kembar menoleh tahulah mereka bahwa orang inilah yang telah melakukan serangan jarak jauh pada mereka.

Baja Wungu yang kiranya telah mengenal orang ini segera menegur:

"Saudara Soka Durjana ketua perguruan Angkara Murka! Maksud apakah mencampuri urusan orang lain...?" tanya Baja Wungu berusaha meredam kemarahannya.

Yang di tanya melengos, sambil meludah. Si Tiga Kembar melihat tingkah si kumis tebal macam ijuk nampak marah sekali. Kalau saja Baja Wungu tidak memberi isyarat pada mereka untuk menahan diri, sudah barang tentu Kakang Barep sudah melabrak Soka

Durjana mati-matian. Meskipun begitu si jangkung ini mencaci maki habis-habisan:

"Durjana keparat! Selamanya kami tidak pernah bermusuhan dengan perguruan Angkara Murka. Tak dinyana, hari ini engkau berani lancang mencampuri urusan kami...!"

Ketua perguruan Angkara Murka men-dengus! Tiba-tiba dia meloncat ke depan, kemudian sambil bertolak pinggang dia mencela:

"Bertarung main kroyok! Begitu mengaku orang gagah! Aku sendiri sebagai dedengkotnya golongan hitam, belum pernah bertindak sepengecut kalian...!" Soka Durjana mencemooh.

"Anjing sinting! Rupanya kalian semua memang sengaja cari persoalan. Hmm... bagus, kami si Tiga Kembar dari Sungai Mati tidak akan sungkan-sungkan membasmi tikus comberan...!" Adi Ragil ikut mencela.

"Seratus Kembar lagi pun datang di hadapanku, akan kupotes kepalanya! Jangankan hanya kalian bertiga!" Soka Durjana memanasi.

Usai dengan ucapannya, Soka Durjana memberi isyarat pada. seluruh sisa partai yang ada. Maka dengan serentak mereka berbareng maju menyerang si Tiga Kembar dan Baja Wungu.

Sambil maju bergerak memapaki serangan lawannya, Baja Wungu berseru marah:

"Anjing-anjing biadab, rupanya kalian sudab. bersekongkol untuk mengeroyok kami...!" Berkata begitu Baja Wungu langsung membabatkan pedangnya. Beberapa orang yang berada paling depan roboh seketika dengan bermandikan darah. Pertarungan dalam sekejap saja telah menjadi seru kembali. Hiruk pikuk dan denting beradunya senjata tajam berbaur menjadi satu. Baik anggota si Cebol Gagu dari Gunung Kuali, maupun anggota dari perguruan Lumpang dan Angkara Murka satu demi satu roboh tak berkutik. Kini tinggallah pentolan dari masing-masing perguruan ditambah dengan ketua dan wakil Topeng Hitam. Jumlah keseluruhannya sebanyak lima orang, meskipun boleh dikata hampir seimbang. Akan tetapi mereka merupakan lawan-lawan yang sangat tangguh. Ilmu dan kepandaian silat mereka sama-sama satu tingkat, dan mungkin ada beberapa orang di atas mereka. Bahkan!

Apalagi si Cebol Gagu, dengan senjatanya berupa sebuah tombak sakti bermata ganda. Berkelebat menderu mencecar pada bagian yang mematikan. Baja Wungu yang berhadapan dengan si Cebol Gagu nampak mulai terdesak. Begitu pula yang terjadi dengan si Tiga Kembar dari Sungai Mati ini. Agaknya keempat orang lawannya sudah mengetahui kelemahan jurus-jurus gabungan yang diberi nama Tiga Tarian Walet Kembar. Terbukti bagai diobrak-abrik mereka mulai kelihatan cerai berai. Beberapa jurus berikutnya mereka sudah kena didesak oleh lawan-lawannya. Pertarungan sudah berlangsung empat puluh jurus. Baik Baja Wungu maupun si Tiga Kembar dari Sungai Mati sudah jatuh di bawah angin. Bahkan tombak Sakti bermata ganda milik si Cebol Gagu, berulang kali nyaris merobek bagian lambung Baja Wungu. Kalau saja dia tidak memiliki ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna, sudah barang tentu sudah sejak tadi nyawanya melayang. Walaupun begitu beberapa saat di depan, laki-laki itu nampak terdesak hebat, hingga akhirnya Baja Wungu benar-benar kepepet, senjata di tangan si Cebol Gagu terus meluncur mengancam bagian perutnya. Bagi Baja Wungu meskipun dirinya benar-benar dalam bahaya, namun otaknya segera berpikir cepat. Hanya ada satu pilihan demi menyelamatkan nyawanya, yang tidak ada dijual di waning mana pun. Secepat kilat dia kiblatkan pedangnya.

"Traaang...!"

Terlihat bunga api berpijar dari kedua senjata yang saling berbenturan. Baja Wungu berseru kaget dan langsung bergulungan di atas tanah. Pedang Mustika milik ketua Hantu Berkabung patah menjadi dua, sementara Tombak Sakti bermata ganda milik si Cebol Gagu, tanpa ampun terus memburunya, ke mana pun dia berusaha menghindar. Sampai pada: "Craas!"

Dan pada saat yang sama. "Tuuuuk!"

Baja Wungu berseru kaget karena tangan kanannya sempat robek tersambar mata Tombak milik si Cebol Gagu.

Sementara Cebol Gagu melenguh pelan tanpa mampu menggerakkan tubuhnya.

Jerit tertahan dari mulut Baja Wungu membuat perhatian si Tiga Kembar jadi terpecah. Kelengahan yang hanya sesaat itu pun dimanfaatkan oleh lawanlawannya. Dengan diiringi bentakan menggelegar keempat orang musuhnya kirimkan pukulan yang sangat telak.

"Bunk!"

"Buuk!"

"Buuk!"

Si Tiga Kembar terpental tujuh tombak lalu memuntahkan darah segar.

Agaknya lawan-lawannya tidak ingin bertindak tanggung-tanggung, mereka sudah bersiap-siap untuk mengakhiri lawan-lawannya dengan pukulan yang paling ampuh. Namun begitu mereka bermaksud menerjang secara bersamaan pula.

"Tees! Tess! Tees! Tees...!"

Tubuh mereka mendadak terus kaku sangat sulit untuk digerakkan. Tentu saja kejadian yang sangat tiba-tiba ini benar-benar mengejutkan hati dan sekaligus melegakan hati Baja Wungu maupun si Tiga Kembar. Dan mereka menyadari jiwa mereka telah di selamatkan oleh seseorang yang tentunya berilmu sangat tinggi. Siapa pun adanya orang itu, mereka patut mengucapkan terima kasih.

* * *

10

Pada saat hati mereka diliputi pertanyaan seperti itulah tiba-tiba di atas air sindang telah berdiri seorang pemuda yang sangat tampan serta seorang gadis cilik duduk di atas pundaknya. Bukan saja lawan-lawan Baja Wungu yang nampak menjadi jerih, melihat kehadiran pemuda berpakaian merah darah. Akan tetapi orang yang di tolong oleh si pemuda penyandang periuk besar itu pun merasakan hal yang sama. Mereka menduga tentu pemuda berkuncir ini merupakan Dewa Penunggu Sindang Darah. Sebab seperti yang mereka lihat pemuda berpakaian merah-merah itu ternyata kedua kakinya bukanlah terapung di atas permukaan air. Tidak sama sekali. Dengan mata melotot mereka dapat melihat bahwa kedua kaki pemuda ini ternyata berpijak di atas punggung buaya-buaya yang ada di tengah Sindang. Bahkan buaya yang jumlahnya mencapai ratusan ekor itu kini nampak sangat patuh. Seolah mereka sedang mengawal sang rajanya. Mengapa hal itu sampai bisa terjadi? Sebenarnya pada malam yang sama, Buang Sengketa juga sudah sampai di Sindang Darah. Pada saat itu dia sudah menemukan rombongan Topeng Hitam, yaitu seorang musuh yang telah membunuh orang tua dan sekaligus nenek peot, orang tua asuh gadis cilik Wanti Sarati yang sampai saat itu turut dalam pengembaraannya. Pada saat itu dia sudah hampir turun tangan untuk membunuh ketua Topeng Hitam, kalau saja di dalam Sindang itu tidak terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan hatinya. Topeng Hitam yang kemaruk kitab pusaka ternyata menurunkan orang-orang kepercayaannya malam itu juga. Seperti yang telah diceritakan di atas, kiranya pemuda ini juga sempat menyaksikan bagaimana buasnya mahluk-mahluk reptil itu dalam membantai mangsanya. Lalu timbullah rasa penasarannya. seperti yang pernah dituturkan oleh gurunya, yaitu Si Bangkotan Koreng Seribu bahwa ayah kandungnya. Yaitu si Piton Utara adalah merupakan raja dari segala raja binatang melata. Mahluk melata apa pun akan selalu tunduk dan patuh kepadanya. Sebagai keturunan langsung dari Raja mahluk melata tentu dia ingin mencoba tentang kebenaran cerita gurunya. Buang Sengketa seketika berubah niat. Tujuannya untuk membunuh si Topeng Hitam dia tangguhkan. Kemudian berkelebat pergi menghampiri sekawanan Buaya Kuning yang sudah siap menunggu mangsanya.

Mulanya dengan hati berdebar Buang Sengketa mempergunakan sebatang ranting untuk mengusik ketenangan buaya-buaya itu, akan tetapi diperlakukan sedemikian rupa, buaya kuning itu tidak bergeming. Kemudian dengan sangat berani Buang Sengketa mempergunakan kaki kirinya, keadaan tetap tak berubah. Apabila pemuda itu mengeluarkan bunyi mendesis mirip dengan seekor ular Piton, tiba-tiba dari berbagai penjuru berdatangan buaya-buaya kuning dari berbagai ukuran. Yang membuat pendekar dari negeri Bunian itu keheranan kedatangan buaya-buaya itu bagai menghaturkan sembah terhadap putra Sang Raja. Tentu saja kejadian ini sangat melegakan hati pendekat Hina Kelana. Dengan penuh suka cita dia melompat ke punggung buaya yang paling besar, dengan tujuan ingin segera melihat pulau yang terletak di tengah-tengah sindang. Dengan diantar dan dikawan oleh puluhan ekor buaya yang berukuran besar, akhirnya sampai juga mereka ini di pulau Karang yang menyeramkan. Tidak begitu sulit bagi mereka untuk menemukan pintu rahasia gua karang, dengan mempergunakan tusuk konde yang berada di atas rambut Wanti Sarati dengan mudah dia dapat membuka pintu utama. Akan tetapi betapa terkejutnya hati pemuda ini begitu pintu terbuka dia melihat sosok tubuh yang sudah sangat berumur nampak sedang semedi. Pemuda itu lalu menegur, akan tetapi setelah tak ada jawaban dia menghampiri orang itu. Tahulah dia kiranya orang tua itu sudah mati dalam keadaan semedi. Ketika pemuda itu memeriksa keadaan sekelilingnya ternyata tidak begitu jauh di hadapan jenazah kakek tua itu terdapat sebuah surat yang ditulis dengan guratan tangan di atas selembar kulit buaya. Pesan surat itu berbunyi:

Siapa yang sampai di Pulau Karang ini dilarang membuka pintu kedua. Tiada Kitab Pusaka, kecuali malapetaka...

Buat pembawa kunci pintu rahasia. Kuhadiahkan sebuah

Buku silat hasil ciptaanku....

Mohon dibuka setelah jauh dari tempat ini.

Dan kunci rahasia lemparkan ke dalam Sindang Darah....

Murid Durhaka...

Paderi Agung Sindang Darah

Setelah membaca pesan di dalam surat itu Pendekar Hina Kelana untuk beberapa saat lamanya nampak merenungi makna kata-kata yang tertulis di atas kulit buaya itu. Hingga Buang Sengketa pun sampai pada kesimpulan bahwa sampai pada akhir hayatnya. Kiranya Paderi Agung Sindang Darah masih menyesali perbuatannya yang telah membunuh Sang Guru.

Sejenak Buang Sengketa memandang iba pada jenazah Paderi Agung Sindang Darah. Kemudian dia membungkuk hormat, lalu ucapnya:

"Maaf orang tua, aku akan menyempurnakan kuburmu...!"

Setelah berkata begitu Buang Sengketa dengan cepat membuatkan sebuah kubur, untuk Paderi Agung Sindang Darah. Tak lama kemudian setelah mengambil sebuah kitab yang terletak di bawah tempat duduk jenazah Paderi Agung Sindang Darah maka seperti pesannya Buang Sengketa segera melemparkan tusuk konde kunci pembuka gua karang ke tengah-tengah Sindang.

Dengan diantar oleh buaya-buaya yang berdiam di dalam Sindang, Buang Sengketa dan Wanti Sarati kembali bergerak ke daratan. Namun begitu dia hampir mencapai tepian sindang, korban telah berjatuhan. Masih untung ketua Hantu Berkabung dan lainnya yang diketahui oleh Pendekar Hina Kelana sebagai kaum yang beraliran lurus masih dapat dia selamatkan dari ancaman si Cebol Gagu dan empat partai lainnya.

Buang Sengketa menatap sinis pada Ketua Topeng Hitam dan juga pada kembrat-kembratnya. Tapi lama kemudian dia membentak:

"Monyet-monyet bertopeng, dosa kalian sudah kelewat batas! Aku tak mungkin memberi ampun pada kalian. Kalaupun ada yang dapat memberimu ampun hanyalah bocah ini...!" sela si pemuda sambil menepuk bahu Wanti Sarati yang kini juga telah berdiri di atas punggung buaya-buaya itu.

"Jawab... kalian toh masih bisa bicara...!"

Mendengar ancaman si pemuda yang nampak bersungguh-sungguh, ketua dan wakil ketua Topeng Hitam tubuhnya nampak menggigil ketakutan. Dengan gemetar mereka bertanya:

"Apa ya... yang harus kami jawab! Sedangkan kami merasa tidak pernah membunuh seorang nenek apalagi seorang suami istri...!" Ketua Topeng Hitam berusaha berkelit.

"Mulutmu sungguh busuk Topeng Hitam! Bukankah kalian telah membunuh nenek peot beberapa bulan yang lalu? Masihkah kalian ingin mungkir...?"

Agaknya Topeng Hitam sudah tidak dapat menyangkal tuduhan Buang Sengketa. Kini mereka nampak diam seribu bahasa. "Wanti... mereka telah membuat hidupmu sengsara! Menurutmu hukuman apakah yang paling pantas buat mereka...?" tanya Pendekar Hina Kelana pada Wanti Sarati yang berdiri di sebelahnya.

Wanti Sarati yang merupakan seorang bocah cerdik, tanpa berpikir segera menjawab:

"Mereka harus memotong kedua tangannya masing-masing Paman...!" Wanti Sarati berkata tegas.

Saat itu juga ketua dan wakil ketua Topeng Hitam berubah pucat parasnya.

"Ti... tidak! Jangan! Kami membunuh nenek peot karena nenek itu telah berhutang nyawa kepada kami...!" wakil ketua Topeng Hitam beralasan.

Pendekar Hina Kelana berkata ketus: "Hmm... lagi-lagi engkau

berbohong...!"

Kemudian pemuda itu merenung sejenak. Lalu berkata lugas.

"Wanti... apa hukumannya bagi orang pembohong?"

Kembali jawaban Wanti Sarati sangat mengejutkan ketua Topeng Hitam.

"Untuk seorang pembohong mereka harus memotong lidahnya sendiri...!" sela gadis cilik itu polos.

"Hmm... kalian berdua telah mendengar sendiri hukuman apa yang harus kalian jalani, sekarang aku akan membebaskan kalian dari pengaruh totokan!"

Seiring dengan ucapannya Buang Sengketa segera sentilkan jari telunjuknya mengarah pada tubuh si Topeng Hitam dua buah benda sebesar butiran pasir segera meluncur dan membentur bekas totokan secara lunak. Kedua orang ini segera terbebas dari pengaruh totokan.

Buang Sengketa melirik pada Baja Wungu lalu berseru:

"Saudara Baja Wungu! Ambil pedang yang tergeletak di atas tanah itu, kemudian serahkan pada monyet-monyet sialan di depanmu...!"

Tanpa menjawab Baja Wungu melakukan apa yang diperintah oleh orang yang telah menyelamatkan jiwa mereka, untuk kemudian, bermaksud menyerahkannya pada si Topeng Hitam. Akan tetapi di luar dugaan mereka semua setelah pedang itu berada dalam genggamannya. Dengan nekad ketua Topeng Hitam menyerang Baja Wungu yang paling dengat dengan dirinya. Masih untung sejak semula Baja Wungu sudah memperhitungkan adanya kemungkinan ini, kalau tidak tentu dia sudah kojor dengan dada tertembus pedang. Baja Wungu berkelit dan melakukan serangan balasan. Dalam keadaan nekad serangan-serangan vang dilancarkan oleh Topeng Hitam bersaudara nampak ganas sekali.

Pendekar Hina Kelana demi menyaksikan kenekatan Topeng Hitam, nampak sangat marah. Apalagi tadi, nyaris membunuh Baja Wungu. Dengan sekali genjot tubuhnya melentik ke atas, kemudian tanpa menimbulkan suara dia menginjakkan kakinya tepat di sebelah si Tiga Kembar. Tanpa menoleh dia berpesan. "Saudara bertiga harap jaga bocah ini! Aku mau mengkremus batok kepala

mereka...!"

Tanpa menunggu jawaban si Tiga Kembar, Pendekar Hina Kelana langsung meluruk si Topeng Hitam. Kemudian dia berseru pada Baja Wungu:

"Saudara Baja Wungu menyingkirlah...!"

Mendengar aba-aba yang diberikan Buang Sengketa, Baja Wungu segera melompat mundur, kemudian bergabung dengan si Tiga Kembar dan Wanti Sarati.

Kini si Topeng Hitam tersenyum mengejek, lalu mencemooh:

"Budak hina... kau pikir kami akan menuruti keinginanmu yang gila itu?" kata Topeng Hitam mendengus. "Kami lebih baik mati dalam pertarungan daripada harus bertekuk lutut di bawah perintahmu...!"

Buang Sengketa kertakkan rahang. Dia benar-benar merasa sangat jengkel sekali. Kemudian dia berkata lantang.

"Agaknya buaya-buaya di bawah sana lebih pantas menyantap bangkai kalian daripada harus bersusah-susah menggali kubur...!"

Pendekar Hina Kelana lalu menoleh pada tiga partai yang bersekutu dengan Topeng Hitam. Yang keadaannya masih tertotok, sekali saja tangan pemuda itu bergerak orang-orang itu pun terbebas dari pengaruh totokan. Suasana nampak tegang. Tak lama kemudian Buang Sengketa membentak:

"Sekarang tikus-tikus telah kubebaskan semuanya, kalian hanya bisa selamat apabila mampu menghindari setiap seranganku. Andai tidak jangan harap bertemu esok...!"

"Bocah sombong mampuslah...!"

Soka Durjana tanpa banyak cingcong langsung menerjang.

* * *

11

Tak begitu lama diikuti pula oleh kawan-kawan mereka yang lain. Meskipun sesungguhnya hati mereka masih diliputi perasaan jerih. Akan tetapi bagi mereka lebih baik bertarung daripada harus pasrah menerima nasib. Demikianlah hanya dalam beberapa saat saja pertarungan sudah berlangsung puluhan jurus. Masing-masing telah mengeluarkan jurus-jurus yang paling sangat mereka andalkan. Sementara si Cebol Gagu dengan senjatanya tombak sakti terus mencecar lawannya dengan beringas. Apalagi tadi pemuda itu sempat mengerjai dirinya. Peristiwa itu sungguh sangat memalukan dan patut dibalas. Akan tetapi jurus silat yang dimainkan oleh si pemuda sering berubah-rubah. Kadang tubuh lawannya nampak bergerak cepat sambil melancarkan serangan-serangan yang mematikan, di lain saat berkelebat dan hanya merupakan bayang-bayang merah. Hal ini sudah barang tentu sangat membingungkan lawan-lawan Buang Sengketa. Hingga beberapa saat kemudian dia nampak sudah tak sabar.

Kini mulailah dia melancarkan pukulan-pukulan Empat Anasir Kehidupan yang sangat diandalkannya. Agaknya lawan yang berjumlah lima orang ini bagi Buang Sengketa bukan merupakan lawan yang tangguh.

Sekali waktu pemuda itu melepaskan dan kiblatkan tangannya, selarik sinar Ultra Violet menderu mengarah pada ketua dan wakil Topeng Hitam, angin pukulan bercuitan. Pukulan yang datangnya begitu mendadak dan terasa sangat cepat membuat kedua orang itu tak mampu mengelak lagi, sinar yang sangat panas itu tanpa ampun melabrak tubuh mereka.

"Brees...!"

"Arrggghhk...!"

Jerit kematian bergema di penjuru Sindang. Tubuh Topeng Hitam yang hangus itu terlempar beberapa tombak dan langsung tercebur ke dalam Sindang Darah. Sebentar saja tubuh manusia bertopeng yang sudah tidak bernyawa menjadi mangsa yang sangat empuk bagi buaya-buaya yang berada di dalamnya. Sementara itu pada saat yang hampir bersamaan Buang Sengketa yang kini sedang dicecar oleh tiga orang lawan nampaknya tidak ingin membuang banyak waktu. Sekali saja jemari tangannya meraba pinggang kemudian berkelebat memapasi Tombak Sakti milik si Cebol Gagu. Tombak di tangan si Cebol berantakan dilanda Pusaka Golok Buntung di tangan pendekar negeri Bunian. Bahkan tanpa tanggung-tanggung lagi senjata pusaka di tangan Buang Sengketa bertindak lebih lanjut:

"Craas!"

"Crees!"

Darah memancar dari leher si Cebol Gagu yang hampir terputus, sementara nasib Mujiman ketua padepokan Gunung Lumpang pun tidak jauh berbeda, Darah bercucuran dari bagian perut yang robek terbabat Pusaka Golok Buntung di tangan Pendekar Hina Kelana. Hanya beberapa saat tubuhnya limbung untuk kemudian ambruk ke bumi dengan nyawa melayang.

Mengetahui sobat-sobatnya bergelimpangan ke bumi dengan keadaan yang sangat mengerikan Soka Durjana yang tinggal seorang diri menjadi lumer nyalinya. Dengan hati kecut dia memandangi Buang Sengketa tiada berkedip. Agaknya pemuda ini tidak akan memberi kesempatan pada Soka Durjana untuk hidup selanjutnya. "Cecunguk sial! Hanya tinggal kau seorang yang masih hidup, mungkin kau masih punya keinginan mengaju jiwa denganku. Majulah...!" Pendekar Hina Kelana mencemooh.

"Hari ini aku memang kalah! Tetapi tunggulah pembalasaanku nanti...!" Usai berkata Soka Durjana membalikkan tubuh, dan bermaksud ambil langkah seribu. Buang Sengketa segera bertindak cepat. "Tak seorang pun musuh-musuhku pergi dengan seenaknya! Mampuslah...!" Pendekar Hina Kelana pukulkan tangannya ke depan. Tak pelak lagi selarik sinar ultra violet menderu dahsyat ke arah Soka Durjana. Jerit kematian tak terelakkan lagi. Soka Durjana terlempar ke depan dilanda gelombang yang panas membakar. Soka Durjana ketua perguruan angkara murka tewas seketika itu juga dalam

keadaan hangus menyedihkan.

Buang Sengketa sudah bermaksud menghampiri Baja Wungu, si Tiga Kembar juga Wanti Sarati ketika terdengar gelak tawa yang menimbulkan suara bergemuruh tidak begitu jauh dari mereka. Begitu Buang Sengketa menoleh tahu-tahu di tempat itu telah berdiri seorang laki-laki berambut setengah botak dengan matanya yang buta. Baik Baja Wungu maupun si Tiga Kembar yang sudah pernah mengenal itu tanpa sadar berseru: "Padri Mata Elang...!" Tanpa menghiraukan mereka, Padri Mata Elang melirik pada Pendekar Hina Kelana. Rasa-rasanya dia belum pernah melihat pemuda berkuncir ini. Akan tetapi sepak terjangnya. Benar-benar membuat Padri Mata Elang berdecak kagum.

"Hahahaha... rupanya aku sebagai tuan rumah terlambat datang ke tempat suci ini! Sungguh sayang keparat dari mana yang telah mengotori tempat ini dengan bangkai-bangkai yang tiada harga...!"

Padri Mata Elang mencaci maki habis-habisan. Walaupun Padri Mata Elang tidak langsung menunjuk hidung akan tetapi dia menyadari bahwa ucapan padri buta ditunjukkan padanya. Baja Wungu maupun si Tiga Kembar dari Sungai Mati meskipun hatinya tersinggung dengan ucapan Padri Mata Elang tetapi dia hanya mampu menahan perasaan marah di hati. Mereka merasa jerih untuk berurusan dengan orang sadis dari Lembah Hantu ini. Lain lagi dengan Pendekar Hina Kelana. Dimaki sedemikian rupa sudah barang tentu dia menjadi sangat marah. Dia yang sudah merasa yakin bahwa laki-laki buta ini sesungguhnya adalah Padri Mata Elang, tanpa sungkan-sungkan lagi balas membentak:

"Orang tua mata picak ada apakah hingga kau marah-marah seperti setan?" Padri Mata Elang kertakkan rahang. "Bocah edan, siapakah kau! Berani

benar pada Pewaris Sindang Darah...?" Pendekar Hina Kelana tersenyum mencibir. "Pandai sekali si tua buta ini bersilat lidah!" batinnya.

"Tua bangka tidak tahu diri. Siapa kata kau merupakan pewaris Kitab Pusaka peninggalan Paderi Agung Pengayom Jagad? Bukankah kau merupakan murid durhaka yang telah begitu tega membunuh guru sendiri...?" ejek pemuda ini.

Terkesiaplah darah Padri Mata Elang. Wajahnya nampak memerah seketika. Bagaimana mungkin bocah ini bisa mengetahui apa yang pernah dilakukan.

"Lancang sekali mulutmu... katakanlah siapa namamu supaya kau tidak menyesal nantinya."

Buang Sengketa tertawa ganda. Kemudian:

"Aku ini si Hina Kelana yang tiada harga, apa gunanya kau mau tahu namaku?" pemuda itu menyela.

Begitu mendengar julukan si pemuda, Padri Buta ini kerutkan kening. Tak kalah terkejutnya dengan Baja Wungu dan si Tiga Kembar. Mereka benar-benar tak mengira bahwa Pendekar Hina Kelana yang belakangan ini membikin gempar dunia persilatan karena sepak terjangnya, ternyata masih muda belia. Beberapa saat kemudian Padri Mata Elang tergelak-gelak.

"Hahaha... kek... kek... kek! Hemm, kiranya kau budak hina yang akhir-akhir ini bikin heboh berbagai golongan persilatan itu. Bagus! Aku jadi ingin tahu berapa hebatnya sepak terjangmu yang membuat tikus-tikus tiada guna lari terkencing-kencing...!" kata Padri Mata Elang.

"Tua durhaka! Tidak seorang pun manusia di atas dunia ini yang lebih perkasa dari Sang Pencipta. Aku yang hina ini mana mungkin sanggup menandingimu!" Meskipun Pendekar Hina Kelana berkata merendah akan tetapi Padri Mata Elang cukup tahu bahwa pemuda itu

sesungguhnya tengah mengejeknya. "Keparat... bicaramu hanya membikin

perutku mau muntah! Terimalah ini...!" Tangan Padri Mata Elang berkelebat, kemudian meluncurlah benda-benda berwarna kekuning-kuningan. Pendekar Hina Kelana maklum bahwa si Padri Buta telah melemparkan senjata rahasia padanya. Untuk tidak membuat Padri Mata Elang semakin besar kepala, Buang Sengketa segera kirimkan satu pukulan dahsyat dari Empat Anasir Kehidupan. Selarik sinar Ultra Violet yang berhawa sangat panas menderu dan timbulkan suara bereuitan. Senjata rahasia bertemu

dengan sebuah kekuatan yang dahsyat. "Brees.....Blaar...!"

Senjata rahasia milik si Padri Mata Elang yang berupa puluhan Ekor Ular Kuning berpentalan ke segala arah dengan keadaan hangus dan mati. Padri Mata Elang keluarkan seruan tertahan begitu merasakan hawa pukulan yang sangat panas melanda tubuhnya. Kalau tidak cepat-cepat lompat ke samping tentu tubuh Padri Mata Elang menjadi sasaran pukulan yang dilancarkan Buang Sengketa.

Padri Buta Mata Elang seolah bagai tak percaya nampak tertegun untuk beberapa saat lamanya.

"Padri Buta, ajal sudah di depan mata! Bersiap-siaplah untuk mampus...!" "Keparat...!" Padri Buta mendengus.

Lalu secara hampir bersamaan dia menerjang dan langsung kirimkan serangan-serangan yang sangat dahsyat.

Sebentar saja pertarungan sengit pun terjadi, masing-masing lawan segera melancarkan pukulan yang bertubi-tubi. Dan di antara lawan-lawannya terdahulu nampaknya kali ini Buang Sengketa benar-benar berhadapan dengan seorang lawan yang sangat tangguh.

Beberapa saat saja pertarungan sudah mencapai belasan jurus. Buang Sengketa kerahkan segenap kemampuan yang ada. Begitu juga halnya dengan Padri Mata Elang. Dengan Jurus Elang Menyambar Mangsa, tubuhnya berkelebat, mencecar dengan serangan yang bertubi-tubi. Begitu pun dengan lawannya. Dengan jurus si Gila Mengamuk, tubuh si pemuda meliuk-liuk tak beraturan, terkadang kakinya menendang atau di lain saat tangannya mencakar dan bergerak pada bagian-bagian yang mematikan. Sejauh itu dia masih belum mampu mendesak lawannya. Bahkan beberapa saat berikutnya dia malah terdesak hebat. Hingga pada satu kesempatan Padri Mata Elang berhasil mendaratkan satu pukulan telak pada bagian dada pemuda itu:

"Puuk!"

"Bruuk!"

Buang Sengketa terjengkang, tubuhnya terlempar beberapa tombak. Dia merasakan dadanya bagai remuk. Pandangan matanya berkunang-kunang. Perasaan mual berbaur menjadi satu. Dengan cepat Pendekar Hina Kelana gelengkan kepalanya beberapa kali. Begitu rasa sakitnya agak berkurang, sudah tiada kesempatan lagi pemuda itu untuk berdiri. Padri Agung Mata Elang yang terus memburunya segera kirimkan satu pukulan yang sangat diandalkan. Seberkas sinar be-warna kebiru-biruan meluruk dan menderu ke arahnya. Itulah salah satu pukulan sakti yang diberi nama Elang Buta Menubruk Mangsa yang terkenal ganas. Sinar itu terus meluruk. Tentu saja Buang Sengketa tak ingin mati konyol, secepat kilat dia kiblatkan tangannya. Kembali selarik sinar Ultra Violet menderu dan timbulkan suara bergemuruh. Tak terelakkan lagi, dua tenaga sakti bertemu.

"Blaar...!"

Bumi bergetar terasa mau kiamat. Batu-batu bertebangan ke segala arah. Tubuh Buang yang masih dalam posisi terlentang amblas beberapa centi ke dalam tanah. Sementara Padri Mata Elang terlempar jauh, darah berlelehan dari lubang hidung dan bibirnya. Padri Mata Elang segera bangkit kembali, begitu pula dengan Buang Sengketa. Sambil memandang dengan penuh kebencian dia membentak:

"Budak Hina! Aku akan mengadu jiwa denganmu!"

Disertai dengan lengkingan dahsyat Padri Mata Elang langsung menyerang kembali. Namun kiranya Buang Sengketa sudah tak ingin mengulur-ulur waktu.

Sekali kedua tangannya meraba pinggang, maka pusaka Golok Buntung dan Cambuk Gelap Sayuto ikut bicara. Dengan sinarnya yang berwarna kemerahan golok dan cambuk di tangan si pemuda segera berkelebat. Menyambar kian ke mari. Di lain waktu cambuk Gelap Sayuto di tangan kirinya melecut.

"Ctar.... Ctaar.... Ctar...!"

Seketika itu juga langit berubah gelap gulita, petir dan halilintar sambung menyambung. Terkesiaplah mereka yang berada di tempat itu. Terlebih-lebih Padri Mata Elang.

Tanpa membuang waktu ke lengan Padri Mata Elang yang hanya sekejap itupun dimanfaatkan oleh Pendekar Hina Kelana. Pusaka Golok Puntung di tangannya berkiblat:

"Craas...!" Akibatnya sungguh sangat mengerikan sekali. Padri Mata Elang hanya melotot beberapa saat lamanya. Darah memancar dari tenggorokan yang menganga. Tanpa mampu mengeluh tubuhnya langsung ambruk ke bumi untuk selama-lamanya.

Tak lama kemudian suasana berubah sepi, secara perlahan kegelapan alam sekitar mulai pudar. Kemudian menjadi terang kembali. Begitu Baja Wungu maupun si Tiga Kembar menoleh mereka sudah tak melihat Buang Sengketa dan Wanti Sarati. Yang ada hanyalah mayat Padri Mata Elang yang tewas dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

TAMAT