Serial Pendekar Hina Kelana Eps 01 : Utusan Orang-Orang Sesat

 
Eps 01 : Utusan Orang-Orang Sesat


Hari masih begitu pagi ketika sesosok tubuh yang bertelanjang dada itu nampak berloncatan di atas karang-karang tajam. Dengan gerakan yang sangat ringan seolah tubuh yang sangat kekar itu tiada memiliki bobot. Dia berpindah dari sebuah karang yang satu hingga ke karang tajam berikutnya. Sementara pada saat dia melakukan gerakan-gerakan yang begitu manisnya, gelombang laut masih terus menggila. Menghempas, memukul, seolah ingin meruntuhkan batu-batu karang tempat di mana pemuda itu berpijak. Begitulah yang terjadi setiap harinya di tempat yang sepi itu. Berlatih dan melatih diri.

Kini pemuda yang memiliki wajah sangat tampan itu kembali melakukan gerakan-gerakan yang sangat mendebarkan, beberapa kali ia berjumpalitan dan tiba-tiba saja tubuhnya yang kekar itu lenyap dalam sapuan gelombang yang terkenal ganas. Tubuhnya tergulung terseret arus yang dahsyat, air laut terus menggulungnya tanpa ampun dan seandainya saja saat itu ada orang lain yang turut menyaksikan adegan itu tentu saja mereka tidak berani membayangkan akibatnya. Pemuda itu terus tergulung-gulung, terseret, dan terus terseret. Namun begitu gelombang besar itu hampir menghempaskan tubuhnya pada batu karang yang sangat tajam, tiba-tiba bagai cengkraman sebuah tangan raksasa, pemuda itu dengan begitu mudahnya dapat membebaskan diri dari perangkap gelombang. Kemudian beberapa kali ia berjumpalitan ke udara, lalu dengan manis pula ia mendarat ke puncak karang yang lebih tinggi.

Sementara itu tidak begitu jauh dari tempat pemuda itu melatih diri seorang kakek tua renta dengan warna rambutnya yang tampak memutih, dengan sikap acuh tak acuh terus mengawasi si pemuda. Kakek berwajah murung ini dulunya adalah merupakan seorang tokoh kosen yang memiliki kepandaian silat tiada tanding. Dia pernah malang melintang merajai empat penjuru angin dunia persilatan. Namun meskipun begitu, kakek angin-anginan ini dalam sejarahnya belum pernah dan berpantang melakukan kejahatan. Bahkan dalam dunia persilatan golongan hitam akan merasa ngeri bahkan lari terbirit-birit bila melihat kehadirannya. Sebab siapapun tahu bahwa kakek ini tidak pernah bertindak tanggung-tanggung dalam menghadapi segala bentuk kejahatan, bunuh dan sikat sampai ke akar-akarnya. Kebrutalannya dalam menghadapi kejahatan inilah yang menyebabkan orang menjulukinya sebagai pendekar "SUPER SADIS". Konon semua itu adalah demi menebus dosa-dosa gurunya yang selama hidupnya penuh kesesatan. Tak urung kakek tua ini sebagai pewaris ilmu dahsyat harus pula memikul dosa-dosa gurunya. Sebagai murid yang berbakti ia harus merelakan dirinya ditumbuhi beribu koreng yang sangat menjijikan dan tak pernah kunjung sembuh. Karena koreng-koreng ini pula dirinya di juluki "SI BANGKOTAN KORENG SERIBU".

Kini kembali pada si Bangkotan Koreng Seribu yang terus mengawasi jalannya latihan pemuda itu. Kakek berwajah muram itu masih terihat duduk ongkang-ongkang di atas sebuah pohon Kejabu. Sesekali giginya yang sudah ompong menggerogoti buah kejabu yang sudah masak. Di lain saat ia menyambit pemuda yang sedang berloncatan di atas karang itu dengan ratusan buah kejabu yang masih hijau.

Mendapat serangan beruntun pemuda itu menyadari kalau gurunya sedang menguji kelincahannya. Dan tentu pula dia pun menyadari kalau dalam setiap bertindak gurunya tak pernah berlaku setengah-setengah. Untuk tidak mati konyol ditangan guru sendiri dia membentengi diri dengan jurus "si HINA MENGUSIR LALAT". Tubuh pemuda itu terus berkelebat bagai sebuah balingbaling kedua tangannya di putar membentuk perisai yang sangat sulit untuk dicari titik kelemahannya. Secara praktis semua serangan yang dilakukan gurunya berpentalan kian kemari, bahkan beberapa buah Kejabu yang di sambitkan oleh si Kakek Renta kembali berbalik dan menyerang si Kakek itu sendiri.

Dengan gerakan yang sangat ringan Tua Renta Berkoreng melompat. Buah Kejabu yang disambitkan oleh si pemuda terus melesat kemudian melabrak sebuah dahan yang berbuah lebat. Dahan itu berderak patah, lalu ambruk ke Bumi. Sumpah serapah berhamburan dari mulut si Kakek tua ini. Dengan tersenyum masam ia berjumpalitan dan tanpa di sadari oleh si pemuda, tahu-tahu kakek berwajah murung itu langsung menyerang si pemuda. Serangan-serangan yang sangat dasyatpun segera ia lancarkan, setiap jurus pasti mengisyaratkan janji maut bahkan lengah sedikit saja tak seorangpun yang mampu menjadi juru selamat. Pemuda itu kelihatan menjadi kalang kabut. Mengetahui muridnya bertindak setengah-setengah si Kakek Renta nampak murka.

"Bung....apakah kau ingin mati konyol!?" Bentakan yang tak lebih merupakan kemarahan dari si guru, malah membuat pemuda ini terkekeh. "Bagaimana aku bisa sungguh-sungguh, sedangkan pukulan yang guru lancarkan saja semakin lamban !"

"Jangan menganggap remeh bocah tolol !"

Suara kakek berkoreng itu sesungguhnya sangat lirih saja, namun karena di sertai dengan tenaga dalam yang sangat sempurna, mengakibatkan pemuda itu hampir saja terpeleset dari tempatnya berpijak.

"Bocah goblok... kubilang apa padamu!" Berkata begitu Kakek ini langsung mengirimkan serangan-serangan yang mematikan.

"Selalu bersikap waspada terhadap siapapun hei, murid...!" Jawabnya sambil mengimbangi serangan-serangan yang di lancarkan oleh si Kakek berkoreng. Kakek berwajah muram hanya terdiam. Sebaliknya dia meningkatkan serangannya dengan jurus "SI GILA MENGAMUK". Pukulan-pukulan si Kakek nampak mengarah pada bagian-bagian yang mematikan, sangat cepat, lincah dan sangat sulit untuk di duga-duga. Menghadapi serangan seperti ini si pemuda segera mengimbanginya dengan jurus "MEMBENDUNG        GELOMBANG        MENIMBA 

SAMUDRA". Maka segera saja terjadi pertandingan yang sangat seru. Jurus yang di pergunakan si Pemuda walau secara lahiriah kelihatannya      sangat      sederhana       sekali, sesungguhnya merupakan intisari dari sembilan puluh sembilan jurus dari golongan hitam dan putih. Itu makanya siapapun yang mempergunakan jurus itu dalam tahap sempurna, keadaan yang dialaminya akan selalu bertolak belakang dengan keinginan hati nurani. Seperti yang sedang terjadi dengan pemuda itu, dia berkeinginan untuk menendang pantat gurunya yang jaraknya hanya beberapa centi dari depan hidungnya, tapi keadaan yang terjadi di luar kesadarannya. Tangan kanan malah terulur bergerak menghantam batok kepala Kakek berkoreng.

Tentu saja kakek berwajah muram ini tidak tinggal diam, mengetahui serangan-serangannya dapat di patahkan oleh muridnya. Kakek tua renta itu segera merubah jurus-jurus silatnya. Kali ini kedua tangannya terentang tinggi-tinggi di atas kepalanya, secara cepat sebelah tangannya meluncur ke-bawah, lalu berputar-putar, lalu tangannya yang lain memukul diri sendiri. Dilain saat bagai orang frustasi ia menerjang ke arah muridnya. Walaupun serangan-serangannya terlihat ngawur namun setiap gerak selalu di penuhi dengan berbagai tipuan yang sangat sulit untuk diduga-duga. Si Kakek Tua Renta memberi nama jurus ini dengan "SI JADAH TERBUANG" Sementara itu si pemuda yang mengetahui dirinya di uji dengan jurus yang paling berbahaya dari seluruh jurus yang ada, maka dengan sikap lebih waspada ia menyambut dengan sebuah jurus yang tak kalah hebatnya dari jurus yang sedang dimainkan oleh gurunya. "SI HINA MENGUSIR LALAT” jurus inilah yang kini di pergunakan oleh si pemuda untuk mengimbangi gurunya. Tak dapat dibayangkan betapa serunya adu kepandaian antara guru dan murid di atas karang-karang itu. Sementara pasang laut nampak membumbung tinggi. Adu kepandaian berlangsung makin seru dan sudah berlangsung puluhan jurus. Bagai kesetanan si Kakek Berkoreng terus mencecar si pemuda. Di lain saat si pemuda bagai di keroyok ribuan lalat yang menjijikan nampak berjingkrakan kian kemari. Hingga pada satu kesempatan yang cukup pasti si Kakek berhasil menyarangkan pukulan yang Cukup telak di dada pemuda itu.

"Blaaaak !"

"Byuuur....!" Tubuh si pemuda terhempas, terjengkang ke dalam laut. Sekali saja gelombang laut yang sedang membesar itu menyapu tubuh si pemuda, maka lenyaplah tubuhnya tiada berbekas. Si Tua Renta Berkoreng tertawa tergelak-gelak. Wajahnya kelihatan semakin murung tetapi puas. Kini sepasang matanya yang lamur itu memandang hampa ke laut lepas. Ada sebersit kesal dan sesal di wajahnya. Tiba-tiba saja si kakek aneh itu kembali tergelak.

"Buang Sengketa....apa yang ada padaku sudah kuberikan semua untukmu, tapi kepekaanmu terhadap musuh, inilah yang sangat kuragukan....!" Sedangkan ia berbicara seorang diri seperti itulah tahu-tahu orang yang baru saja di sebut-sebutnya itu nyeletuk.

"Guru. Pukulanmu itu semakin lembek, lihatlah aku masih hidup, hehehe....!" Si Kakek Renta terdiam tiada bergeming, namun tak lama kemudian dia membentak

"Kalau hidup tiada guna untuk apa? Lebih baik cepat-cepat masuk lang kubur. Supaya dunia tidak di kotori oleh banyak sampah !"

"Guru, kita kan cuma dalam latihan   aku

tak sampai hati untuk adu tenaga dengan Guru !"

"Bocah gendeng apa bedanya latihan dengan

sungguhan....?!" Bentak si Kakek tua itu penuh amarah. Kemudian tanpa terduga-duga, si Kakek kembali menyerang si pemuda.

"Kalau kau belum becus juga! Lebih baik

mampus....!" Makinya di sertai pukulan-pukulan menggelegar. Si pemuda cukup tahu sebentar lagi gurunya tentu mempergunakan pukulan-pukulan yang maha dasyat. Untuk itu sejak awal dia telah mempersiapkan diri untuk memberi perlawanan yang lebih baik demi tidak mengecewakan gurunya.

Apa yang sedang di fikirkan oleh Buang Sengketa memang benar adanya, sebab beberapa saat kemudaian si Kakek Renta Berkoreng sudah mulai bersiap-siap dengan pukulan-pukulan yang sangat di andalkan.

"Buang... kalau kau benar-benar seorang murid yang ingin berbakti pada gurumu dan juga orang tuamu, kau tahanlah pukulan ini. Jika tidak lebih baik kau kukirim ke liang kubur saja !"

Suara lengkingan yang di sertai dengan ilmu "PEMENGGAL RUH" itu, bukanlah sebuah pukulan yang bisa di anggap enteng. Kalau hanya manusia biasa yang tiada memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna yang kebetulan mendengar suara lengkingan itu tentu segera menjelang ajal, begitaupun burung-burung yang beterbangan diangkasa itu akan luruh ke bumi. Begitulah yang terjadi di pantai karang saat itu. Beberapa ekor camar laut menggelepar mati demi mendengar lengkingan si Kakek Renta. Bahkan bukit karang tempat di mana Buang Sengketa berpijak secara pelan namun cukup pasti segera nampak mulai runtuh. Buang Sengketa menutup jalan inderanya. Dengan berjumpalitan, selarik sinar dengan kekuatan lebih besar kembali menderu dan menyambarnya. Bagai seekor walet, Buang mengelak dan berkelit. Namun kelihatannya si Kakek tiada memberinya kesempatan.

Dia terus mengumbar pukulannya. Buang semakin terdesak dan keteter, pada saat demikian teringatlah dia pada pukulan pemunah "HAMPA UDARA". Sekali saja ia mengerahkan tenaga dalam nya maka dada si Kakek mendadak terasa sesak dan sulit bernafas. Segera saja si Kakek mengerahkan segenap kemampuannya, selarik sinar pelangi yang lebih besar dan terang, kembali meluruh tubuh si pemuda. Tiada pilihan lain, meng-hindar berarti gurunya akan menjadi murka. Maka ia pun menadahkan tangannya. Akibatnya sungguh fatal sekali.

"Blaaar!" Tubuh keduanya terpental beberapa tombak, kemudian lenyap di telan gelombang besar. Sungguh sangat menakjubkan karena tak begitu lama kemudian secara bersamaan tubuh keduanya kembali muncul kepermukaan, untuk kemudian keduanya melesat ke udara. Dengan jarak dekat mereka saling berhadapan kembali.

"Buang. Bersiap-siaplah....!" Hardik si Kakek Renta.

"Istirahatlah dulu, Guru. Lihat nafas Guru senin kamis....!" Ujar pemuda itu prihatin. Di tegur muridnya sedemikian rupa si kakek menjadi berang. "Bocah, kepandaian yang kau miliki tak ada setahi kukuku. Apakah kau mau berlagak di depan Si Renta Koreng Seribu ?"

"Tapi. Guru    !"

* * * * * DUA

Tua Renta Berkoreng sudah tak menggubris lagi protes Buang Sengketa. Dia menerjang maju: "Mampus saja, caaat...!" Si kakek lagi-lagi menyerang. Kali ini tangan di silangkan di depan dada. Maka terkesiaplah darah pemuda keturunan manusia Bunian ini.

Dengan suara tergetar: "Pukulan EMPAT ANASIR KEHIDUPAN.... Guru! Apakah kau bermaksud membunuhku ?"

"Bukankah tadi kau juga mempergunakan salah satu dari padanya?" Bentak si Kakek dingin. "Aku hanya membela diri,  Guru !"

Terlambat, seberkas sinar Ultra Violet meluncur

pesat dari kedua telapak tangan si Kakek. Tiada lagi kesempatan untuk berfikir, walau hanya beberapa saat saja. Maka: "Heiit....!" Buang Sengketa bersalto ke udara. Si kakek tidak tinggal diam sampai di situ saja. Selarik sinar kembali mengejar si pemuda, pemuda itu menjadi kalang kabut. Lagi-lagi Buang di hadapkan pada satu pilihan yang paling menyakitkan. Baginya kalau tidak ingin celaka hanya ada satu cara untuk memapaki serangan yang di lancarkan oleh gurunya yang setengah edan itu. SI HINA DINA MERANA,   hanya   jurus   inilah   yang   mampu mengatasinya. Akan tetapi tegakah dia? Mengingat gurunya sudah sangat tua sekali.

"Bocah   menyebalkan....   matilah   kau   !"

Lagi-lagi selarik sinar Ultra Violet dengan cepat meluncur, Buang Sengketa berkelit kesamping. Namun hasilnya tetap saja ujung bajunya terbakar akibat sambaran sinar tadi. Buang menjadi kalang kabut dan berusaha mematikan api yang hampir saja membakar sekujur tubuhnya.

Sementara itu si kakek terus mengumbar pukulan-pukulan mautnya. Dia sudah tak member! kesempatan lagi pada Buang.

"Bocah, kalau kau tetap saja mengelak seperti seekor monyet begitu, jangan kau salahkan aku bila kau menyesal sampai ke liang kubur....!" Sebuah pukulan yang lebih dahsyat kembali meluruk kearah Buang. Maka dengan nekad Buang memapakinya.

"Blaaam....!" Dua kekuatan raksasa bertemu. Berpuluh-puluh tombak Buang terpental, Sebaliknya Tua Renta Berkoreng menerima akibat lebih parah lagi. Tubuh laki-laki yang selalu berperangai aneh itu terhempas dan membentur dinding karang. Dari celah-celah bibirnya meleleh darah segar. Buang yang masih dalam keadaan sempoyongan. Mengetahui gurunya terkapar tanpa daya segera memburunya. "Sudah kubilang kita tak usah sungguhan.Tapi Guru tetap ngotot, Tapi kau kan tidak mati Guru....!"Tanya Buang pilon. Beberapa kali laki-laki tua itu terbatuk, darah segar berwarna kehitam-hitaman kembali menyembur. Hal ini membuat pemuda itu semakin bertambah bingung.

Dalam keadaan seperti itu mendadak laki-laki renta itu tertawa bergelak wajahnya yang selalu di liputi oleh mendung itu membersitkan rasa puas.

"Hehehe....hoahahaha.....prus!" Si Tua Koreng Seribu segera bangkit, seanjutnya menghimpun hawa murni. Sementara Buang yang ingin membantu di bentaknya. Mau tak mau Buang Sengketa bersurut langkah. Tak kurang dari sepemakan sirih, wajah Si Tua Renta yang pucat itu secara perlahan berubah ke merahmerahan. Kemudian ia berpaling pada muridnya.

"Bocah. Apa-apaan kau melotot begitu   ?”

”Mari kita pulang!"

”Apakah   kau   perlu   kugendong,   Gu    !"

Belum lagi selesai Buang Sengketa dengan katakatanya di luar sepengetahuannya, laki-laki renta itu telah lenyap dari hadapannya.

"Sialan, kiranya dia masih alot juga tenaganya....!" Kemudian tanpa membuang waktu pemuda itu melesat mengikuti gurunya. * * * * *

Puncak Sorik Merpati yang menjulang tinggi masih kelihatan berselimut kabut di Hiang itu. Burung-burung berterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya. Nun jauh di lereng pegunungan, penduduk desa sedang mengerjakan sawah dan ladangnya. Suasana di lingkungan pegunungan itu seolah memang tak pernah terusik, nampak damai dan selalu menjanjikan kebahagiaan. Begitulah kesan yang dapat dilihat sepintas lalu.

Namun sesungguhnya apa yang terjadi di

daerah itu sangat menyedihkan, hati setiap penduduk hampir setiap harinya selalu di liputi keresahan. Dengan harap-harap cemas mereka senantiasa berdoa agar manusia-manusia durjana yang setiap kedatangannya selalu mengambil secara paksa, anak-anak gadis desa itu tidak terulang kembali. Begitulah yang selalu mereka harapkan, terlebih-lebih bagi orang tua yang memiliki anak gadis berparas cantik.

Kini mereka bisa sedikit berlapang dada,karena sudah hampir dua purnama desa mereka tidak lagi kedatangan manusia-manusia iblis itu. Melihat keadaan seperti ini, penduduk desa dapat menyimpulkan bahwa mungkin seratus perawan seperti yang dibutuhkan oleh utusan manusia iblis itu sudah terpenuhi. Begitupun kesedihan panjang masih menyelimuti hati para orang tua yang kehilangan anak gadisnya. Siang itu Ni Sukmini yang baru saja menjadi pengantin baru, kelihatan sedang mencuci pakaian di sebuah sungai yang bening tidak begitu jauh di belakang rumahnya. Hanya beberapa tombak dari temapt Ni Sukmini mencuci, terbentanglah jalan setapak yang menghubungkan antara desa dan hutan rumba Sorik Merapi. Jalan berbatu itu sengaja di buat oleh penduduk desa untuk mempermudah bagi mereka yang ingin mencari kayu bakar,maupun mengambil hasil hutan lainnya.

Suasana memang nampak lengang, akan tetapi dari kejauhan sana di pinggiran hutan, kelihatan tiga buah titik hitam yang sedang bergerak. Semakin lama semakin cepat. Setelah jarak semakin dekat maka terlihatlah mereka ini tiga orang penunggang kuda dengan seragam pakaian yang sama, yaitu warna hitam dengan tunggangan hitam pula. Yang membedakan mereka hanyalah wajahnya. Yang seorang berbadan tinggi besar berwajah tengkorak, yang seorang lagi gemuk cebolan di seluruh permukaan kulit wajahnya belangbelang tidak ubahnya dengan kulit macan. Si orang terakhir wajahnya begitu tebal seperti kulit badak, sedangkansepasang matanya selalu nampak mengantuk.

Siapa yang tak kenal mereka! Kalangan persilatan baik golongan putih maupun golongan hitam tentu sangat mengenal tiga manusia iblis yang selalu membuat keonaran di mana-mana ini. Kepandaian silat mereka sangat tinggi. Disamping memiliki kesaktian yang belum ada tandingannya. Mereka ini juga sewaktu-w aktu dapat berubah menjadi beberapa ekor siluman. Siapapun orangnya akan merasa ngeri berurusan dengan mereka. Bahkan kalau pun mereka mempunyai persoalan yang sangat besar sekalipun dengan keliga manusia iblis ini mereka lebih baik Mengalah daripada harus berurusan kemudian pulang dengan tubuh tanpa nyawa dan tercabikcabik.

Kalaupun di siang itu mereka turun gunung dan dalam keadaan tergesa-gesa. Sudah barang tentu kehadirannya di dunia ramai mempunyai maksud-maksud tertentu. Sebab seperti di ketahui beberapa tahun terakhir ketiga tokoh kosen tingkat tinggi ini, sudah mulai kelihatan jarang malang melintang di rimba persilatan. Kalaupun mereka punya urusan dengan dunia luar, paling mereka hanya mengutus murid-murid terpercaya untuk mengerjakan apa yang mereka maui .Seperti merampas dan menculik gadisgadis desa yang jumlahnya mencapai ratusan saja, mereka cukup mengutus beberapa orang bawahan terpercaya. Lalu, Apa yang dikehendaki oleh ketiga dedengkot hantu persilatan itu sehingga mereka keluar dari sarangnya?

Sesuai dengan wangsit yang mereka terima, hari itu mereka harus mengambil dengan paksa seorang pengantin baru yang bernama Ni Sukmini pada tetua mereka yaitu sepasang siluman naga putih di sebuah telaga kawah yang terletak tidak begitu jauh dari tempat pertapaan mereka. Kalaupun sekarang ini mereka turun gunung secara langsung adalah dengan maksud orang yang diinginkan tidak salah ambil.

Demikianlah tidak begitu lama kemudian sampailah mereka di perbatasan desa. Beberapa orang penduduk yang secara kebetulan mengetahui kehadiran mereka langsung saja lari terkencing-kencing. Sedangkan yang tidak sempat bersembunyi, mereka inilah yang memperoleh nasib celaka. Pertanyaaanpertanyaan langsung saja memberondong mereka yang nampak menggigil ketakutan.

"Hei.....kau.....Apakah di desa ini ada orang yang bernama Ni Sukmini...!" Seru Si Tinggi Besar Muka Tengkorak. Atau yang sangat di kenal dengan julukan Iblis Muka Tengkorak. Empat orang penduduk desa yang di tanya seperti itu tentu saja semakin menggigil ketakutan.

"Ayo jawab.. ..!" Bentak Si Muka Tengkorak marah sekali.

“Ka...kami !"

"Potes saja kepalanya kakang. Biar ku minum darahnya....!" Tukas Si Cebol Muka Harimau tak sabaran.

"Benar adi Cebol.... tentu otaknya pun enak untuk ku kremus...!" Mendengar ucapan Si Tinggi Kurus, pucatlah wajah keempat orang ini

"Kalian dengar apa yang baru saja dikatakan oleh saudaraku....?" Tanya Si Tinggi Besar dingin. Dengan langkah gemetar salah seorang dari mereka melangkah maju. Dengan suara bergetar ia berkata: "Orang yang seperti tuan maksudkan memang ada di desa ini, dan baru saja tadi

malam melangsungkan pesta perkawinan,     !"

Mendengar penjelasan salah seorang dari keempat orang itu,ketiga manusia iblis ini pun saling berpandangan. Lalu bergemuruhlah suara tawa mereka di sertai dengan tenaga dalam yang sudah cukup sempurna, maka akibatnya bagi keempat penduduk desa yang tak memiiki kepandaian apapun sudah barang tentu sangat menyiksa pendengaran mereka. Bahkan di antara mereka ada yang sampai menutupi kedua telinganya. Begitupun suara tawa ketiga manusia iblis itu tetap mengetarkan gendang-gendang teling mereka. Akibatnya sungguh luar biasa, keempat warga desa itu langsung roboh dan mengerang-erang kesakitan. Melihat nasib yang menimpa mereka, ketiga manusia iblis itu nampak tersenyum puas. Lagi-lagi mereka saling berpandangan.

"Bagaimana kita tinggalkan ..?'" Tanya Si Tinggi Besar. Kedua saudaranya yang di tanya basahi bibir dan leletkan lidah. Tentu saja Si Muka Tengkorak cukup tahu apa yang diinginkan oleh kedua saudaranya itu.

"Kalian boleh meminum dan menyantap darah dan otak ke tiga orang itu,tapi yang satunya jangan! Dia telah beri keterangan pada kita...!"Tuding Si Muka Tengkorak pada tiga orang desa yang sedang menggelupur dan mengerangngerang di atas tanah berdebu.

Bagai memperebutkan harta paling berharga Iblis Cebol Muka Harimau dan Si Tinggi Kurus Muka Badak melompat dari punggung kudanya masing-masing. Mereka berlomba saling mendahului. Lalu dengan sekali tubruk saja. Masing-masing dari mereka telah mendapatkan mangsanya. Di tempat yang sepi itu tak lama kemudian terdengar jerit lolong yang menyayat, dan juga berderaknya tulang yang remuk dan patah. Begitu rakusnya Si Cebol Muka Harimau menghirup darah yang memancar dari tubuh yang sudah tiada berkepala itu. Setelah kehabisan darah, tubuh yang sudah tiada berkepala itu berkelojotan untuk kemudian diam membisu. Tanpa menghiraukan bekas mangsanya, Si Cebol segera berpindah ke mangsa lainnya. Hal yang sama pun terjadi pada mangsa berikutnya. Si Cebol kelihatan semakin sibuk, begitupun dengan Si Kurus Muka Badak. Ia menjilat dan mengunyah otak dari dalam batok kepala yang sudah remuk. Begitulah mereka saling berlomba seolah-olah sedang adu kecepatan. Hingga hanya beberapa saat saja ketiga orang desa yang bernasib malang itu nampak terbujur pucat dan tanpa kepala.

Sementara itu salah seorang dari keempat

orang yang di biarkan hidup sudah tak sadarkan diri. Rupanya dia tak kuat menyaksikan kejadian yang berlangsung di depan matanya.

"Ayo tunggu apa lagi. Mari kita cari gadis itu...!" Perintah Si Tinggi Besar yang sejak tadi hanya duduk di punggung kuda sambil menyaksikan apa yang sedang di kerjakan dua saudaranya.

* * * * * TIGA

Si Cebol Muka Harimau dan Si Tinggi Kurus Muka Badak yang saat itu sedang menjilat kedua tangannya yang berlumuran darah, nampak saling berpandangan untuk kemudian menyeringai.

"Apa lagi.... Mari kita pergi dan cari gadis itu,....!" Bentak Si Tinggi Besar Muka Tengkorak mulai menarik tali kekang kudanya.

"Tanggung   Kakang....!"   Jawab   keduanya

hampir bersamaan. Si Tinggi Besar mengurungkan niatnya di pandanginya wajah kedua saudaranya dengan pandangan melotot.

"Sudah kubilang, bahwa yang satu itu harus

kita bebaskan, ayo cepat...! Manusia Muka Tengkorak makin tak sabaran.

"Tapi....kakang....!'’ Protes Si Kurus Muka Badak.

"Tak ada tapi....tapi....apakah kalian lebih suka memangsa darah dan otak manusia-manusia tak berguna itu dari pada kesaktian yang akan bertambah!" Bentak Si Tinggi Besar Muka Harimau marah sekali.

"Tapi darah mereka enak sekali kakang     !"

Ujar Si Cebol. "Otaknya juga manis....!" Dukung Si Tinggi Kurus Muka Badak.

"Diam kalian semua!" Si Tinggi Besar membentak.

"Kalian tak perlu membujuk dan merengek seperti bayi ingusan. Kalian ingatkah bahwa kita sedang mengemban tugas dari tetua "SILUMAN NAGA PUTIH"? Kalau sampai tugas ini gagal. Itu berarti kita kehilangan kesempatan untuk merajai dunia persilatan. Apakah kalian mengerti?!" Bentak si Tinggi Besar murka sekali.

"Dan ini berarti kita juga kehilangan kesempatan untuk menghancurkan markas golongan putih pada pertemuan kaum mereka tiga purnama mendatangya...kakang....!" Sahut si Cebol Muka Harimau lalu menepuk-nepuk jidadnya.

"Aku juga tak ingin kehilangan Dewi Bantaran yang ayu itu....! Celetuk si Tinggi Kurus Muka Badak. Dia segera melompat ke atas punggung kudanya di ikuti si Cebol Muka Harimau. Derap langkah kuda kembali terdengar bagai tanpa pernah ada kejadian, mereka meninggalkan mayat-mayat tanpa kepala itu begitu saja.

Sementara itu Ni Sukmini yang tak mengetahui bahaya sedang mengancam dirinya, nampak asyik mencuci dengan ditemani oleh suaminya. Kedua pengantin baru itu saling bercanda dan bercengkerama. Sesekali derai tawa mereka terdengar meningkahi gemuruhnya air sungai yang deras. Namun kata-kata mereka pada akhirnya bagai tersekat di tenggorokan begitu mereka mendengar derap langkah kuda, yang semakin lama semakin terdengar jelas. Ketika Bayu Anaksa, yaitu suami Ni Sukmini mendongakkan kepalanya kearah jalan berbatu yang jaraknya hanya beberapa tombak dari tempat mereka semuanya sudah terlambat. Si Tiga manusia iblis itu sudah sempat melihatnya. Bayu Anaksa sudah tidak sempat lagi menyuruh istrinya bersembunyi.

Begitu tiga   manusia   iblis   itu sampai di

jalanan di tebing sungai, segera saja mereka menghentikan kudanya. Untuk beberapa saat mereka memperhatikan Ni Sukmini dan Bayu Anaksa silih berganti. Kemudian mereka saling berbisik sesamanya. Lalu tersenyum menggidikkan.

"Hei....bocah, kemari kau....!" Perintah Si Cebol Muka Harimau di sertai seringai menjijikan. Bayu Anaksa yang merasa di panggil, bukannya tak tahu siapa adanya orang-orang ini. Akan tetapi pemuda itu, yang juga memiliki kepandaian silat cukup tinggi dan di kenal sebagai seorang pemberani, sebaliknya dengan sikap acuh malah menyahut:

"Siapa perlu siapa? Kalau merasa memiliki keperluan turunlah dari kuda kalian!" Ucapan Bayu Anaksa barusan tentu saja membuat murka ketiga manusia iblis ini. Sebab, selama malang melintang di dunia persilatan belum pernah ada yang berani membantah perintah manusiamanusia dajal ini. Dan kini ada bocah belasan tahun yang masih bau kencur berani membangkang. Sungguh sangat keterluan, begitulah fikir mereka. Lalu si Tinggi Besar tertawa sinis. Sepasang matanya yang cekung menyiratkan nafsu membunuh yang meledakledak.

"Bocah....mulutmu sungguh lancang berani membantah perintah. Kau tak tahu betapa tingginya langit dan dalamnya lautan! Apakah kau tak merasa sayang dengan orang yang berada di sampingmu itu....?" Hardik si Tinggi Besar Muka Tengkorak. Bayu Anaksa yang kini mulai menyadari gelagat tak baik segera memberi isyarat pada Ni Sukmini. Ni Sukmini yang mengetahui makna isyarat itu bermaksud akan meninggakan tempat itu. Akan tetapi baru saja Ni Sukmini melangkah beberapa tindak, sekali si Cebol Muka Harimau gerakkan jemarinya selarik benda berwarna kehitaman tampak melesat ke arah Ni Sukmini begitu cepatnya. Ni Sukmini hanya sesaat saja bisa merasakan ada sesuatu yang terasa begitu lembut menotok jalan darahnya. Saat berikutnya ia merasakan ada sesuatu yang menjalar dan membelai-belai tubuhnya yang secara perlahan pula membangkitkan nafsu birahinya. Wajah Ni Sukmini kelihatan memerah karena menahan sesuatu yang terasa meledak-ledak di dalam dirinya. Namun begitu gejolak itu mencapai puncaknya. Ni Sukmini tiba-tiba saja merasakan tubuhnya terasa kaku dan sangat sulit untuk di gerakkan. Si Cebol Muka Harimau tersenyum puas. Apa yang baru ia lakukan tadi adalah cara menotok jarak jauh yang sangat ampuh, yaitu ilmu menotok "MENGUSIR MENDUNG MENGELUS BIDADARI"

yang tiada tandingnya pada kaum golongan hitam.

Mengetahui keadaan istrinya, beberapa saat lamanya Bayu Anaksa nampak terperangah, tiada kata yang terucap. Dan begitu ia menyadari apa yang tengah terjadi dengan istrinya, maka meledaklah kemarahannya. Dengan sekali genjot tubuh pemuda itu melayang ke udara, kemudian dengan manis ia menjejakan kakinya persis di hadapan tiga manusia iblis itu. Dengan geram dan penuh kebencian ia pun membentak: "Manusiamanusia muka dajal! Kalian sungguh-sungguh tak tahu malu memperlakukan istri orang sedemikian rupa! kurang ajar, hadapilah aku...." Serentak dengan ucapan itu, Bayu Anaksa menerjang dengan sengit ke arah Si Tinggi Besar Muka Tengkorak. Namun begitu jarak di antara mereka sudah saling mendekat, Si Tinggi Besar Muka Tengkorak hanya dengan mengebutkan tubuhnya saja, sebuah gelombang hitam yang sangat panas menerpa tubuh Bayu Anaksa. Tubuh pemuda itu terlempar beberapa tombak, sebahagian tubuhnya berobah kehitam-hitaman. Bayu Anaksa merasakan rongga dadanya remuk dan sesak. Begitupun ia berusaha bangkit dan meng-adakan perlawanan, demi melihat kenekatan pemuda ini, ketiga manusia iblis tergelak-gelak.

"Hahaha....ja.lel....lel! Bocah! Nyawamu sudah berada di tenggorokan masihkah kau ingin jual lagak di depan kami?" Kata si Tinggi Besar.

"Manusia-manusia jahanam! Mau kalian apakan istriku!" Bentak Bayu Anaksa lalu bersiapsiap membangun serangan. Melihat gelagat ini Si Tinggi Besar Muka Tengkorak menghardik : "Bocah....beberapa tindak kau melangkah! Nyawamu akan segera putus !"

"Untuk itu sebelum ajal menjemputmu, Jadilah pendekar yang baik. Dan supaya kau tidak mati penasaran ketahuilah bahwa kami akan mengambil alih untuk mengurus istrimu yang cantik itu. kau masih belum becus apa-apa, kau tak usah khawatir, karena kami akan membahagiakannya. Dan tentu pula kami akan membuatkan surga untuknya, he-hehe....!" Si Cebol Muka Harimau menimpali. Demi mendengar penjelasan manusia-manusia iblis ini, mendidihlah darah Bayu Anaksa. Dia menerjang kembali. Akan tetapi mendadak langkahnya tersendat, matanya melotot. Sedangkan ke dua tangan menekap tenggorokan. Tak lama kemudian pemuda ini pun ambruk ke bumi.

"Padamu aku bilang apa bocah tolol, kau toh mati juga, hehehe !"

"Otaknya pasti masih enak kakang....!" Ujar si Tinggi Kurus.

"Persetan. Cepat kita kembali dan urus perempuan itu!" Bentak si Tinggi Besar. Tanpa berani membantah Si Tinggi Kurus Muka Badak loloskan sebuah selendang warna hitam yang berbau sangat anyir, dengan sekali kebut, bagai memungut sesuatu yang tak berguna, tubuh Ni Sukmini melayang ke udara lalu jatuh di atas pangkuan Si Tinggi Kurus.

Iblis Muka Badak ini pun tertawa tergelak-

gelak, begitu tangannya yang tinggal kulit pembalut tulang itu tersentuh benda lunak yang terdapat pada tubuh Ni Sukmini. "Otakmu Adi Kurus. Jangan macam-macam! Ingat perempuan itu untuk persembahan tetua kita. Jangan kau kotori....!" Ujar Si Tinggi Besar Muka Tengkorak mengingatkan. Si Tinggi Kurus Muka Badak terkekeh.

"Jangan takut, aku pun tak ingin bertindak ceroboh!"

"Kalau begitu mari kita tinggalkan tempat ini!" Kata Si Cebol Muka Harimau. Baru saja mereka menghentak kekang kuda, tiba-tiba saja terdengar bentakan seorang laki-laki tua yang tak lain merupakan orang tua si gadis. Tiga manusia iblis urungkan niat, tanpa menoleh si Cebol Muka Harimau menghardik: "Hemm....kiranya masih ada tikus tua yang ingin di kirim ke neraka!" Muka Badak kirimkan satu pukulan kilat.

"Wuut....!" Seberkas sinar maut berw arna ke biru-biruan itu telah melabrak tubuhnya. Lolong kematian pun menggema di udara. Jerit suara tangis dari keluarga yang di tinggalkan terdengar pilu menyayat. Ketiga manusia iblis itu saling berpandangan:     "Tunggu     apa     lagi,     ayo,

...membuang-buang waktu saja....!" Tukas si Tinggi Besar Muka Tengkorak, lalu menyentakkan kekang kudanya. Gemuruh derap suara langkah kuda akhirnya terdengar kembali. Semakin lama semakin menjauh, begitu manusia-manusia iblis itu lenyap. Bermunculanlah penduduk desa yang sedari tadi hanya bersembunyi. Mereka beramairamai memberikan pertolongan pada keluarga yang baru saja di timpa malapetaka. EMPAT

Di sebuah pesisir yang menjorok ke laut, dengan hutan Bakau dan kayu api yang menjulang tinggi. Hari itu angin laut berhembus sepoi-sepoi basah. Dengan hamparan pasir yang tampak memutih dan tiada pula bertepi, di situlah yang bernama Tanjung Api berada. Sebuah tempat di mana seorang guru dan muridnya bermukim selama ini. Di sana pula si Tua Renta Koreng Seribu dengan tekun dan tiada mengenal bosan mnggembleng seorang murid yang bernama Buang Sengketa dengan berbagai ilmu kanuragan.

Hari itu genap dua puluh tahun Buang Sengketa berada dalam asuhan si Tua Renta Koreng Seribu. Seperti hari biasanya pagi-pagi sekali tentu Buang Sengketa sudah terjaga dari tidurnya. Dengan sigap dia langsung membuatkan sarapan untuk gurunya, berupa ikan bakar, tak lupa satu kendi nira kelapa yang masih segar. Begitu jugalah yang terjadi di pagi itu. Buang Sengketa selalu dengan telaten melayani segala keperluan Guru, yang juga sekaligus sebagai orang tua angkatnya ini. Dia tak tahu siapakah orang tuanya yang sebenarnya, sebab menurut cerita Kakek Berkoreng sejak bayi merah Buang Sengketa telah di asuh oleh si Tua Renta yang selalu bersikap angin-angin ini.

Kalau pada pagi itu dia melihat si Kakek yang selalu murung ini kelihatan diam seribu bahasa, hal ini membuat Buang Sengketa merasa sangat heran. Sebab tak biasanya dia bertingkah seperti itu. Atau sakitkah dia? Dalam keadaan seperti itu Buang tak berani berkata sepatahpun. Begitulah ketika Buang sedang menyertai gurunya untuk sarapan pagi, Si Tua renta Berkoreng yang sejak tadi hanya diam saja, kini mulai buka mulut.

"Buang.... sudah berapa tahun kau hidup bersamaku?" Tanya si Tua Renta Berkoreng, Seraya memandanggi wajah muridnya tidak berkedip. Buang merasa sedikit heran dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh gurunya ini. Dia tak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya dia harus menjawab pertanyaan seperti itu. Dengan wajah tertunduk Buang berujar: "Mungkin sudah hampir dua puluh tahun Guru!" Si Tua Renta Koreng Seribu nampak manggutmanggut, kemudian seperti berkata pada dirinya sendiri.

"Dua puluh tahun.... berarti usiaku menjelang seratus delapan puluh, hidup ratusan tahun tiada guna. Aku sudah tua bangka. Dan aku sudah bosan dalam pengembaraan ini. Sanak saudara tiada punya. Apa daya! Hidup ini adalah fatamorgana semata, orang-orang saling membunuh demi memperebutkan sesuatu yang tak pasti. Tapi diriku sendiri selalu lupa pada Hyang Pencipta. Kata lalat-lalat itu aku ini dewa pembasmi angkara murka, tapi aku sendiri merasa bagai seorang setan pencabut nyawa. Beribu-ribu jiwa telah di renggutkan oleh kedua tangan celaka ini. Seandainya di sana nanti terbentang pengadilan Yang Maha tinggi, apa yang akan kukatakan. Sengsara....oh…celaka !"

Kata-kata yang meluncur dari mulut si Tua Renta Koreng Seribu, yang isinya membersitkan penyesalan hati, membuat Buang Sengketa semakin tak berani membuka suara. Tua Renta Koreng Seribu agaknya mengetahui apa yang sedang di fikirkan oleh muridnya ini. Lalu dia pun menyela.

"Kau tentu heran mengapa aku berkata begitu! Duduklah mendekat kepadaku. Hari ini aku si Tua Renta yang tiada guna ini ingin bertutur padamu tentang siapa dirimu yang sebenarnya....!" Dengan hati berdebar Buang Sengketa beringsut mendekati gurunya.

"Buang.... sebelum aku mengatakan sesuatu padamu aku ingin bertanya apakah keinginanmu....?" Tanya si kakek permurung ini dengan senyum seperti dipaksakan. Buang merasa bingung dengan pertanyaan gurunya.

"Maksud guru bagaimana?" Si Kakek Koreng Seribu terkekeh, kelihatanlah giginya yang putih bersih tapi hanya tinggal beberapa buah saja.

"Hahaha....huahaha....prush....!" Kemudian masih di sea-sela tawanya: "Bocah, maksudku apakah kau ingin sampai bangkotan tinggal bersamaku di Tanjung Api ini !"

"Maksud Guru apakah aku harus per   !"

"Buang.... aku sudah mau muntah melihat tampangmu! Aku ingin agar kau segera meninggalkan tempat ini..„!" Begitu tegas si Tua Renta Berkoreng member! keputusan, sampaisampai Buang Sengketa di buat terbelalak tak percaya. Sesungguhnya dia bukan tak mengerti akan maksud gurunya. Sebagai orang yang sudah dewasa sudah barang tentu gurunya ingin agar muridnya ini dapat menimba pengalaman di dunia luar. Akan tetapi dia merasa tak tega untuk meninggalkan gurunya seorang diri di tempat itu. Kalau saja nanti sampai gurunya jatuh sakit, siapakah yang akan mengurusnya? Begitulah dia berfikir.

"Mengertikah kau, Buang....?" Ulang si Tua Renta begitu melihat keraguan di wajah Buang Sengketa. "Aku mengerti, Guru....tapi kalau ku tinggalkan! Siapakah yang akan merawat dan mengurus Guru, nantinya....?" Ujar Buang khawatir. Mendengar pengakuan Buang Sengketa, si Tua Renta Berkoreng kembali terkekeh.

"Hua....hahaha....prus....aku sudah tua bangka! Mengapa ambil perduli. Apakah kau juga bermaksud ingin menemaniku sampai ke liang kubur....?" Bentak si Tua Renta Berkoreng tak sabaran.

"Tapi, Guru    !"

"Aku si Tua Bangka tak mau dengar apa yang kau katakan.... tapi kau harus mendengar apa yang kukatakan nanti....!" Si Tua Renta nampak diam sejenak, wajahnya yang sudah keriputan itu kelihatan semakin mengkerut. Sementara Buang Sengketa dengan sangat terpaksa hanya mampu menurut. Ia tak ingin protes, walau sesungguhnya kemauan untuk itu sesungguhnya sangat besar sekali. Lalu tanpa memperhatikan Buang apakah memperhatikan atau tidak, si Tua Renta Berkoreng mulai lagi buka suara: "Sembilan tahun yang lalu. Setiap menjelang tidur kau selalu menanyakan siapa orang tuamu dan di mana tinggalnya. Waktu itu aku hanya memberi penjelasan sekenanya saja, karena ku fikir, saat itu kau belum becus apa-apa. Kini tanpa kau minta aku akan menjelaskan siapa orang tuamu yang sebenarnya, karena setelah itu aku ingin kau melihat-lihat keadaan dunia luar sana !"

Sejenak Tua Renta Berkoreng hentikan katakatanya, alis wajahnya yang sudah kelihatan memutih itu bergerak-gerak. Daya fikirnya yang tumpul itu mencoba mengingat-ingat sebuah masa lalu, saat di mana ia menemukan seorang bayi yang masih merah, terombang ambing di permainkan ombak di tengah lautan tidak begitu jauh dari pertapaannya. Kemudian setelah memungut bayi itu dari dalam sebuat kotak kayu yang berlumuran darah dan telah kering. Di sisi bayi itu terdapat sebuah pesan dun juga sebuah golok Buntung yang setelah di teliti oleh si Kakek Berkoreng adalah sebuah pusaka milik seorang datuk dari Negeri Bunian. Lalu ingatlah pula dia akan sebuah tulisan di dalam surat itu. Mendadak wajah Si Tua Renta Koreng Seribu menunduk. Tapi dasar orang tua aneh, sebentar kemudian dia kelihatan seperti biasa kembali. Dengan mantap dia mulai kembali.

"Buang, menurut sebuah pesan yang menyertaimu sesungguhnya ibumu sudah tiada. Beliau mangkat dalam menyelamatkan mu dari orang-orang yang bermaksud ingin membunuhmu....!" Penjelasan ini sudah barang tentu sangat mengejutkan hati Buang Sengketa. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, waktu itu dia memberanikan diri.

"Mengapa mereka mau membunuhku, Guru? Siapakah mereka itu....?" Tanya pemuda itu penasaran.

"Menurut pesan yang di tulis oleh bundamu sendiri, kehadiranmu di dunia ini diramalkan oleh banyak orang bakal menimbulkan malapetaka. Sebab seperti pengakuan ibu kandungmu sendiri. Ayahmu adalah seekor Piton raksasa yang di kutuk dan terusi dari Negeri Bunian karena telah melangga sumpah, yaitu dengan mengawini ibumu di alam Mayapada ini....!" Mendengar di sebutnya sekor ular, bukan alang kepalang terkejutnya Buang Sengketa.

"Siapakah nama ibu dan ayahku, Guru   !'

"Ibumu bernama Nyai Laesih, dia telah tiada seperti yang kukatakan tadi. Sedang kan ayahmu bernama Raja Piton utara yan kini tinggal di dasar laut Selat Malaka....! Meskipun dalam hati kecilnya Buang merasa tak percaya. Tapi ia merasa penasaran juga.

"Seekor ular raksasa.... tapi mengapa beliau tinggal di dasar laut dan siapa yang telah membunuh bunda ?"

"Mengenai siapa yang membunuh ibumu itu aku kurang mengerti, tetapi mengapa Ayahandamu tinggal di dasar laut, hal itu dia lakukan semata hanyalah untuk menebus kesalahan-kesalahan masa lalu yang telah di buatnya....!" Jelas si Tua Renta Koreng Seribu.

"Aku jadi semakin tak mengerti Guru    !"

ujar Buang Sengketa setengah linglung. Si Tua Renta Berkoreng menarik nafas pendek: "Nanti juga akhirnya kau akan mengerti Buang! Waktu yang akan mengatakannya padamu....!" Usai berkata, Tua Renta Berkoreng masukkan tangannya ke dalam jubah. Dan begitu tangannya terulur sebuah kantong warna merah telah tergenggam di tangannya. Dengan sangat hatihati ia membuka tali pengikat kantong. Si kakek mengambil sesuatu dari dalamnya.

Begitu benda itu telah berada di tangannya, Buang Sengketa tersentak dan terbelalak tak percaya. Bagaimana tidak, benda yang tergenggam di tangan si kakek memang tidak dapat di sangkal hanyalah merupakan sebuah Golok Buntung, tapi yang membuat Buang terheran-heran adalah karena golok di tangan si kakek memancarkan sinar berkilauan dengan warna merah menyilaukan mata. Di samping itu dengan tiba-tiba udarai di ruangan pendopo terasa sangat dingin menggigil, padahal di ruangan itu terdapat sebuah tungku perapian yang masih menyala. Hawa dingin terasa menyerang pemuda itu semakin lama bertambah dasyat. Dalam keadaan seperti itu, Buang Sengketa terpaksa segera membentengi diri dengan tenaga dalam. Tentu saja si kakek berkoreng mengetahui hal itu. Maka si kakek pun terkekeh: "Kalau pusaka ini berada dalam genggamanmu tentu kau tak merasa kedinginan, Buang..."

Pemuda ini melongo. lalu tanyanya "Apakah pusaka itu milik guru ?"

Lagi-lagi si Tua Renta Koreng Seribu terkekeh.

"Huahahaha... ho wah aha... prus     tentu

saja tidak, pusaka ini milikmu, yang di titipkan oleh ibumu padaku. Ini adalah sebuah pusaka yang sangat luar biasa! Aku yakin dikolong jagat ini tiada duanya !" LIMA

Begitulah Tua Renta Berkoreng memuji, akan tetapi walaupun Buang Sengketa sedikit banyaknya sudah mengetahui kehebatan Golok Buntung itu, tapi ia kelihatan tak berminat untuk memilikinya.

"Guru, bukannya aku merehkan kehebatan Golok Buntung itu, akan tetapi karena bentuknya dan sangat pendek sekali, maka aku kurang berhasrat untuk memilikinya....!" Mendengar pengakuan Buang Sengketa, tentu saja Tua Renta Berkoreng di buat terkejut bukan alang kepalang. Di samping juga timbul perasaan marah, akan tetapi begitu ia menyadari dan ingat akan sesuatu, maka dia pun tersenyum.

"Wee...bocah goblok...Golok ini sesungguhnya sangat panjang dan indah bahkan bisa di sambung kembali....!" Ujar si Tua Renta mengingatkan.

"Apa maksudmu Guru   ?"

Kakek Koreng Seribu menyeringai, kemudian lanjutnya :

"Patahan golok ini sesungguhnya masih ada

pada seseorang dan kau berhak untuk memintanya kapan saja kau mau !" Buang Sengketa gosok-gosok wajahnya, "Aku tak mengerti, guru...!'’

"Memang dasar bocah bebal, maksudku bahwa sambungan Golok ini ada pada ayahandamu si Piton Utara! Tentu saja dia cukup mengerti mengapa dia meninggalkan sisa golok ini padamu !"

"Tapi aku tidak mengerti, Guru...!" Si Tua Renta meihat kepolosan muridnya, jadi gelenggeleng kepala.

"Selain   untuk   melindungi   dirimu,   tentu

ayahmu itu berkeyakinan suatu saat kelak seorang anak akan mencari ayahnya! Untuk itu sebagai tanda-tanda tertentu ia memberikan puntungan Golok pusaka ini pada almarhum ibumu, sedangkan bagian yang lain tetap di bawanya. Seandainya suatu saat kau dapat bertemu dengan ayahmu itu, karena kau mempunyai tanda-tanda itu, tentu beliau akan mengakuimu sebagai anak kandungnya! Begitulah sesuai dengan pesan yang di tulis oleh ibumu!"

"Nah. Buang segalanya telah jelas dan kau tak mempunyai hak untuk menolak pusaka pemberian orang tuamu itu. Terimalah....!" Ujar si Tua Renta, menyarungkan pusaka itu lalu menggangsurkannya pada Buang. Buang Sengketa menyembah tiga kali. Dengan agak gemetar ia menerima Golok Pusaka itu, untuk kemudian meletakkannya persis di hadapannya.

"Bocah goblok, pusaka itu harus kau selipkan di tempat yang pantas pada bagian tubuhmu. Bukan untuk di lihat-lihat seperti itu....!" Bentak si Tua Renta berwajah murung kesal.

"Aku    mengerti    Guru,    nanti    juga    ku

lakukan...." Buang tersenyum-senyum. Tanpa menghiraukan tingkah muridnya dengan tegas si Renta Koreng Seribu memutuskan: "Buang Sengketa! Hari ini adalah merupakan saat-saat terakhir kau bersamaku! Pergilah ke dunia ramai! Rimba persilatan kini sedang di landa keresahan. Dan bukan tidak mungkin akhirnya keresahan itu berubah menjadi malapetaka. Aku yang sudah tua tiada guna ini, ingin agar kau ambil bagian dalam membasmi segala kejahatan yang selalu menindas kaum lemah. Aku rasa apa yang aku berikan sudah cukup! Satu saja pesanku, bawalah apa yang kau dapat selama ini dariku ke jalan yang benar. Semoga kau tetap selamat dan cepat bertemu ayahandamu....!" Kiranya mendengar wejangan gurunya tanpa terasa air mata Buang Sengketa menggelinding menuruni kelopak matanya, kemudian turun ke pipi, Buang merasa sangat sedih untuk berpisah dengan gurunya. Tapi yang jelas, tingkah laku Buang membuat si orang tua tidak dapat lagi manahan tawanya. "Hahaha...hoahah.... sudah dua puluh tahun, sejak kau kecil aku tak pernah melihat orang menangis. Tapi kiranya hari ini aku di hadapkan pada seorang bocah yang cengeng. Huh....sungguh memalukan!" Kakek Renta ini mendengus.

Serta merta Buang menghapus air matanya. "Untuk tidak mengecewakan guru, aku tidak

akan bersikap lemah. Guru memutuskan aku untuk turun ke dunia ramai. Aku turun! Akan tetapi bolehkah aku kembali setiap tiga purnama ?"

"Weii...bocah edan! Apa yang kau dapat di luaran sana, kalau cuma tiga purnama kau telah kembali? Tiga purnama adalah sebuah waktu, bila kau berkeinginan untuk muter-muter di sekitar hutan ini belum juga puput....!" Si Kakek Renta menggertakkan rahang. Semakin kesal, bertambah jengkel.

"Lalu bagaimana guru....!" Si Kakek Renta garuk-garuk rambutnya yang sudah putih. Sejenak matanya melotot.

"Sekali kau berniat mencampuri urusan dunia ramai. Seratus tahun lagi kau baru boleh kembali !"

"Seratus tahun....? Bukankah pada saat itu guru sudah mati? Sedangkan umurku sendiri belum tentu bisa bertahan sampai segitu!" Buang Sengketa menyela dan merasa kurang setuju dengan keputusan gurunya.

"Aku tak ingin dengan semua protesmu, aku ingin saat ini juga kau segera minggat dari hadapanku !"

"Oh itu tidak adil guru! Aku baru mau meninggalkan tempat ini menjelang sore nanti!" Si Tua renta Koreng seribu mengangguk. Buang kelihatan gembira bukan alang kepalang. Sesaat si kakek meninggalkan pendopo, tak lama telah kembali lagi dengan membawa sebuah pecut yang sudah butut. Si kakek kembali duduk di tempat semula. Seraya memperlihatkan pecut jelek yang berada di tangannya.

Buang melirik ulah gurunya tanpa berkedip.

Tak kala Buang sudah merasa hampir bosan, barulah si kakek angkat bicara: "Buang Sengketa, aku tak dapat memberi apa-apa kccuali pecut ini. Pada zamanku, cambuk jelek ini pernah menggegerkan dunia persilatan. Ratusan nyawa telah terenggut oleh pecut ini. Cambuk ini ku beri nama, "PECUT GELAP SAYUTO" kehebatannya tak perlu ku ceritakan padamu sebab akhirnya kau akan tahu sendiri. Jika kau dalam keadaan sangat terdesak, pergunakanlah dia  !"

"Guru! Aku sangat berterima kasih dengan semuanya ini! Murid berjanji untuk tidak mengecewakan harapan guru....!" Setelah menerima cambuk pemberian gurunya dan melilit di pinggang, Buang menjura beberapa kali.

Matahari telah condong di ufuk barat ketika Buang Sengketa meninggalkan Tanjung Api. Tak ada yang mengantar kepergiannya. Kakek Tua Renta Koreng Seribu pun hanya mengantar kepergiannya sampai di halam rumah saja. Sekali lagi Buang Sengketa menoleh ke arah sebuah gubuk bertonggak tinggi yang sudah kelihatan sangat jauh. Dia sudah tidak melihat lagi gurunya menatap kepergiannya. Semuanya mulai kelihatan samar-samar dan untuk kemudian berubah menjadi titik kecil dan hitam Buang Sengketa sudah tiada perduli, dia tetap melangkah pergi.

* * * * *

Cuaca buruk dan hujan badai yang kerap terjadi akhir-akhir ini di sebuah daerah yan bernama Guntiam tidak menyebabkan niat dua bersaudara seperguruan itu bersurut langkah dalam upaya mempersatukan kembali kaum persilatan golongan putih yang telah terpecah belah. Pagi itu dalam suasana hujan lebat, Dewi Bantaran dan Aki Sumendep telah sampai di kediaman Resi Pranada. Sebuah pondok kecil yang terletak di pegunungan Gundul itu lengang. Murid-murid Resi Pranada tak seorangpun kelihatan. Hal ini tentu membuat Dewi Bantaran dan Aki Sumendep bertanya-tanya dalam hati. Sebab sepengetahuan mereka berdua dalam situasi bagaimanapun biasanya murid-murid pondok Giunung Gundul yang jumlahnya mencapai puluhan orang akan selalu tampak berjaga-jaga walaupun hanya di depan pintu. Hal ini tentu saja membuat kedua orang kurir penghubung ini semakin bertambah curiga, Maka kedua orang tokoh tingkat tiga dari kaum persilatan golongan putih yang berasal dari bukit Barisan ini dengan tergesa-gesa segera memburu ke arah pondok. Akan tetapi baru saja mereka sampai di depan pintu, alangkah terperanjatnya hati mereka, ketika keduanya melihat mayatmayat bergelimpangan. Untuk beberapa saat lamanya Aki Sumendep memeriksa keadaan mayat-mayat itu. Hampir dari kesemuanya mati dalam keadaan tubuh hangus terbakar, Melihat keadaaan mayat-mayat itu, tentu pelakunya tidak seorang dan vang pasti memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Dewi Bantaran dan Aki Sumendep saling berpandangan. Namun begitu mereka teringat akan Resi Pranada, serta merta keduanya menerjang ke dalam pondok. Suasana telah mengerikan terbentang d hadapan mereka. Bagai sebuah mimpi yang teramat buruk. Saling membisu mereka memeriksa keadaan mayatmayat itu. Dan begitu mereka sampai di sudut ruangan, bukan main terkejutnya mereka, Resi Pranada juga tewas dalam keadaan mengerikan seperti yang lainnya.

Kalau melihat keadaannya, tentu malapetaka itu hanya beberapa saat yang lalu terjadi. Tapi siapakah pelakunya? Yang pasti manusia-manusia keji itu memiliki ilmu yang lebih tinggi dari Resi Pranada atau bahkan lebii tinggi dari mereka berdua.  Sebab  seperti  mereka ketahui,  Resi Pranada adalah salah seorang dari lima tokoh kosen golongan putih di negeri Andalas. Siapapun tak meragukan  kemampuannya. Bahkan kedua kurir ini hanya memiliki kepandaian setingkat di bawah Resi yang tewas. Kejadian ini benar-benar sangat membingungkan utusan dari bukit Barisan. "Bagaimana   kakang.... Resi  Pranada  juga kiranya ikut tewas dalam peristiwa ini!" Ujar Dew i Bantaran menyesalkan. Aki Sumendep menarik nafas  pendek,    matanya  yang   lumur   itu memperhatikan   berpuluh-puluh  mayat yang bergelimpangan  di hadapannya. Dengan agak tersendat  dia berkata:   "Kiranya  kita telah terlambat memberi isyarat maut pada mereka! Kini hanya  tinggal  dua  Padepokan   lagi yang tersisa dan sangat perlu kita hubungi, mudah-

mudahan kita masih belum terlambat!" "Kira-kira siapakah yang bertanggung jawab atas kejadian ini kakang...?" Dewi Bantaran menyambung. Aki Semendep tercenung untuk beberapa saat lamanya.

"Kalau kesimpulanmu apa....?" Tanya Dewi Bantaran tak sabar. Lagi-lagi Aki Semendep terdiam. Tapi kemudian dengan sangat berhatihati.

"Mungkin desas-desus yang kita terima selama ini benar adanya! Tiga manusia iblis itu audah mulai membangun kekuatan yang siap untuk menghancurkan kita, kemudian memenuhi ambisi mereka untuk merajai dunia persilatan!”

“Untuk apa mereka menculik gadis-gadis itu?” Dew i Bantaran semakin tak sabar. ENAM

Desakan adik seperguruannya membuat Aki Sumendep teringat akan sesuatu yang pernah di ceritakan oleh almarhum guru mereka. Lalu dia menyambung kembali.

"Tentu saja untuk menyempurnakan ilmu mereka.... atau mungkin pula untuk dipersembahkan pada sesuatu yang sangat mereka yakini !"

"Maksudmu apakah gadis-gadis malang itu

akan mereka persembahkan pada "SEPASANG SILUMAN NAGA PUTIH?"

"Itu mungkin saja terjadi” Ujar Aki Sumendep was-was

"Bukankah Sepasang Siluman itu menurut ceritanya sudah kalah dan sudah pula dilenyapkan oleh seorang pendekar yang berjuluk “SI BANGKOTAN KORENG SERIBU” seratus tahun yang lalu” Bantah Dewi Bantaran tak percaya

"Kita tak tau apa yang sesungguhnya terjadi. Saat itupun kita belum lahir dan mungkin juga pendekar yang telah melegenda itu telah membinasakan sepasang siluman itu. Akan tetapi seperti pernah dituturkan oleh mendiang guru kita bahwa sepasang siluman itu sewaktu-waktu dapat hidup kembali, apabila ada orang yang tahu caracara untuk membangunkannya !"

"Kalau memang benar siluman itu dapat di hidupkan kembali! Ini sudah jelas merupakan malapetaka bagi kita, pertemuan golongan putih satu purnama di depan tentu tidak akan berguna banyak....!" Kenang Dew i Bantaran sedih. Melihat adik seperguruannya patah semangat, Aki Sumendep coba mengingatkan: "Langkah kita belum sampai di tengah jalan adi! Kita tak boleh lemah seperti itu bukankah almarhum guru kita juga pernah berpesan begitu? Kita harus mencegah mereka, walaupun air mata darah taruhannya,...!" Demi mendengar peringatan saudara seperguruan. Dewi Bantaran cepat-cepat hapus air mata yang sempat bergulir menuruni pipinya yang halus mulus.

"Kakang benar. Ayo kita rumat jenazah saudara-saudara kita ini, terlebih lebih jenazah Resi Pranada !"

"Mari,adi...." Demikianlah saat mereka mulai menggali kubur, hujan masih turun walau tidak sederas tadi. Tapi cukup membuat pakaian mereka basah kuyup. Mereka tidak perduli, dan setelah sebuah lubang massal tergali, mereka membuat sebuah kubur lagi untuk Resi Pranada yang mereka hormati, mereka bekerja cepat. Tak begitu lama kemudian merekapun telah selesai menguburkan jenazah-jenazah itu, begitupun dengan jenazah Resi Pranada.

Setelah memberi penghormatan terakhir, mereka sudah berniat untuk meninggalkan Pondok Gunung Gundul ketika Dewi Bantaran sempat melihat seseorang berjalan melenggang. Dengan mengenakan pakaian merah menyala beberapa puluh tombak di depan mereka. Kehadiran orang ini tentu saja membuat ke dua orang ini menaruh curiga.

"Berhenti....!" Bentak Dewi Bantaran. Bagai

orang tuli orang yang berpakaian warna merah menyala ini terus melangkah menjauh. Merasa diremehkan sudah barang tentu Dew i Bantaran menjadi marah. Kemudian dia cabut senjata rahasia dari balik jubahnya. Saat tangannya terayun ke atas, Aki Sumendep datang mencegah,

"Jangan! Kita belum tahu siapa orang ini   !”

"Tapi orang itu bertingkah di hadapan kita kakang. Siapa tahu dia pula yang telah membunuh Resi Pranada...!" Tukas Dew i Bantaran kesal.

"Sabar.... kita tanya dulu....!" Dewi Bantaran

geram. Lalu sekali orang-orang ini berkelebat, langkah orang berpakaian merah menyala inipun terhadang. Dan bukan main terkejutnya Aki Sumendep dibuatnya. Karena nampak biasa-biasa saja. Sesuatu yang membuat geli bagi kedua orang saudara seperguruan itu adalah karena pemuda itu membawa sebuah periuk penuh jelaga, sedangkan rambut di kuncir sebatas bahu. Dan Dew i Bantaran sendiri dalam hati sangat menyayangkan. Karena pemuda yang sangat tampan ini ternyata seorang pemuda yang kurang waras.

Dewi Bantaran jadi tak berminat untuk menanyai pemuda ini. Lain halnya dengan Aki Sumendep, setelah dia memperhatikan pemuda ini, sedikit banyaknya dia tahu, kalau pemuda yang bertabiat aneh ini tentu mempunyai kepandaian. Untuk itu dia menguji.

"Bocah....mampuslah kau....!" Aki Sumendep lancarkan satu serangan. Hal ini tentu saja membuat heran adik seperguruannya. Ketika Dewi Bantaran bermaksud memprotes, sadarlah dia bahwa Aki Sumendep hanya bermaksud menguji pemuda itu.

Sementara itu si pemuda yang di serang sedemikian mendadak, tidak membuatnya menjadi gugup. Dengan mudah dia berkelit, serangan mematikan yang di lancarkan Aki Sumendep menemui tempat kosong. Hal itu sudah cukup bagi Aki Sumendep untuk mengetahui apakah pemuda itu memiliki kepandaian silat atau tidak. Itu makanya dengan sikap sopan ia bertanya: " Orang muda siapakah kau ini sebenarnya dan dari mana   asal usulmu ?"

Dengan sikap acuh pemuda ini yang sesungguhnya Buang Sengketa adanya untuk beberapa saat memandang pada Aki Sumendep dan Dewi Bantaran secara bergantian.

"Hei...malah melotot seperti itu! Jawab pertanyaan kakangku, cepat....!" Bentak Dew i Bantaran merasa jengah terus menerus di perhatikan oleh Buang Sengketa.

"Kau cantik....tapi galak. Aku tak akan menjawab orang yang galak seperti kau!"

"Kurang ajar....!" Dewi Bantaran kirim satu pukulan yang mengarah ke perut Buang Sengketa.

"Jangan adi....!" Cegah Aki Sumendep. Namun terlambat, karena Buang Sengketa juga memapasinya. Dua kekuatan bertemu walau Buang Sengketa hanya mengerahkan seperempat dari tenaganya akan tetapi akibatnya sungguh sangat luar biasa bagi Dewi Bantaran.

"Blaaammm....!" Dewi Bantaran terpental beberapa tombak. Walaupun tidak sampai muntah darah karena Buang memang tidak punya maksud buruk. Hal ini selain membuat dada Dew i Bantaran terasa sesak akan tetapi ia merasa sangat malu. Terlebih-lebih di depan saudara seperguruan dia di perlakukan seperti itu. Dia tidak bisa terima! Dengan cepat dia bangkit dan bersiap-siap dengan sebuah serangan barunya.

"Adi, jangan! Lebih baik kita tanyai pemuda ini, siapa tahu dia mengetahui hal yang telah menimpa Pondok Gunung Gundul!"

"Tidak      bisa       kakang,      dia       telah

mempermalukan aku!”

”Aku tak bermaksud menghiha adikmu yang cantik itu. Sungguh....!" Dengan polos Buang memuji, dan dengan sopan pula ia menjura hormat pada Aki Sumendep.

"Lihatlah Dew i, dia telah minta maaf Sudahlah jangan sakit hati lagi !"

Walaupun    hatinya    masih    kesal,    Dewi

Bantaran memaafkannya: "Baik, aku memaafkanmu! Tukasnya ketus. Kemudian sambungnya lagi: "Kakang cepat korek keterangan dari mulut-nya !"

"Adi kau tidak boleh bersikap kasar separti

itu...!" Lagi-lagi dengan sabar Aki Sumendep mengingatkan adik seperguruannya. Tak lama kemudian dia kembali lagi dengan Buang Sengketa.

"Siapakah namamu dan dari manakah asal usulmu!" Ulangnya.

"Namaku Buang Sengketa... mengenai asal usul, aku tak dapat mengatakannya, ! "Nah, kakang apa kubilang. pemuda ini tak dapat di percaya....!" Protes Dew i Bantaran.

"Tenanglah Dewi   !"

"Untuk apa? Lebih baik kita potes kepalanya lalu kita pergi! Siapa tahu dia sengaja mematai kita !"

"Jangan gegabah! Aku tak tahu apa yang

kalian kerjakan disini   !"

"Dia pura-pura kakang....!" Tukas Dewi Bantaran marah. Aki Sumendep tanpa menghiraukan ocehan adiknya kembai bertanya pada Buang Sengketa: "Orang muda, melihat tampangmu aku percaya padamu. Aku ingin agar kau menjawab beberapa pertanyaan lagi. Setelah itu kami akan pergi! Masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan daripada hanya sekedar bertanya jawab !"

"Silahkan! Kalau aku tahu tentu akan kujawab!" Buang Sengketa berkata tegas.

"Baiklah....tahukah kau siapa yang telah

melakukan pembantaian disini. Tanya Aki Sumendep dengan pandangan penuh selidik.

"Tidak tahu....tadi aku hanya melihat anda berdua mengubur mayat-mayat itu!" Aki Sumendep manggut-manggut. Lain lagi dengan Dewi Bantaran yang merasa kurang puas dengan jawaban si pemuda. "Kakang tidak bisa percaya dengan orang ini begitu saja. Siapa tahu dia berpura-pura  !"

Demi mendengar tuduhan Dewi Bantaran yang tidak beralasan itu, memerahlah wajah pemuda Bunian ini, Dengan dingin dia bergumam: "Aku berada di dunia ramai yang penuh dengan tipu-tipu ini ada satu yang ingin kutawarkan, yaitu sebuah kebenaran. Sungguh keterlaluan kau menuduhku begitu !"

Mendengar ucapan yang terasa pelan, namun menggetarkan pembuluh-pembuluh darah mereka. Maka sadarlah kedua orang ini bahwa laki-laki yang berada di hadapan mereka bukanlah pemuda sembarangan. Belum lagi pertanyaan di hati mereka terjawabkan. Mendadak terdengar derap langkah kuda. Semakin lama semakin dekat. Jumlah orangorang berkuda itu kesemuanya tidak lebih dari sepuluh orang, berpakaian hitam gelap dengan berbagai senjata bergeluyut di punggung mereka. Orang-orang berkuda itu berhenti begitu sampai di depan Buang Sengketa. Agaknya salah seorang dari mereka mengenal Aki Sumendep dan Dewi Bantaran. Karena begitu orang ini melihat mereka langsung saja tertawa. Sebuah tawa yang tinggi melengking sangat mirip dengan suara ringkik kuda. "Hehehehe.... sangat kebetulan sekali kawan-kawan. Kalau hari ini begitu mudahnya dapat menangkap kurir yang ingin mempersatukan golongan putih, yang cuma tinggal tikus-tikus comberan saja....!" Ujar si Gemuk Ringkik Kuda terkekek.

"Tentu guru kita akan merasa bersukur karena hari ini juga kita dapat tikus betina cantik yang selama ini sangat didambakan-nya....!" Si Brewok yang ada di sampingnya menimpali. Diejek seperti itu tentu saja Dew i Bantaran mulai naik pitam, dengan bertolak pinggang dia membentak.

* * * * * TUJUH

Dan kemudian mencaci maki pada orangorang utusan manusia iblis.

"Kalian para murid manusia iblis, jangan kira kami takut menghadapi kalian semuanya. Kalian jangan mimpi untuk dapat menghancurkan golongan kami!" Si Muka Brewok tertawa terkekeh-kekeh.

"Gundukan tanah itu saja sudah membuktikan bahwa golongan kalian sudah tidak ada apa-apanya. Hentikan sajalah usaha kalian. Lebih baik ikut dengan kami! Kalian pasti hidup senang dengan guru kami!"

"Puih... aku tidak akan berhenti sampai disini

saja. Jagalah mulutmu yang busuk itu   !"

"Wee...dia menghinamu kakang Brewok, sikat saja....!" Si Brewok tanpa berkata-kata lagi langsung meloloskan sebuah golok Besar bierwarna kehitaman yang tergantung dipunggungnya.

"Manusia Setan! Kalian berani berlagak di depan kami....!" Maki Dewi Bantaran lalu bersiapsiap membangun serangan.

"Bocah ayu...kami tidak perlu membuat lecet tubuhmu. Tak usah galak-galak, kami hanya ingin membantai kedua ekor tikus yang menyertaimu...!" Ucapan si ringkik kuda ini tentu saja memancing amarah Buang Sengketa yang sejak tadi hanya diam menonton. Kini dia sudah tahu masalah yang sesungguhnya dan siapa yang harus di bela dia sudah tentukan. Untuk itu dia menghardik kearah si Ringkik Kuda.

"Segala kucing belekan mau jual lagak di depanku! Enyahlah kalian...!" Usai berkata begitu Buang dorongkan tangan kirinya ke depan. Dan selarik gelombang dengan warna Ultra Violet menderu dan melesat ke arah orang-orang berkuda itu. Itulah sebuah pukulan yang teramat dasyat yang di beri nama, "EMPAT ANASIR KEHIDUPAN" yang dimiiki oleh Buang. Dan akibatnya sungguh sangat luar biasa. Bagai daundaun kering tubuh dan kuda mereka luruh berpentalan ke bumi. Jerit kematian pun membahana di tempat itu. Dari sekian banyak orang berkuda itu, kini hanya tinggal bersisa empat orang saja. Itupun keadaan mereka sudah terluka dalam cukup parah, enam orang lainnya sudah kojor dalam keadaan tubuh yang mengerikan. Tentu saja kenyataan ini membuat Dewi Bantaran dan Aki Sumendep terbelalak kagum. Dalam usia masih begitu muda orang ini sudah memiliki kesaktian yang sangat luar biasa. Dan mungkin pula melebihi kesaktian dari tiga manusia iblis yang kini sedang bersiap-siap untuk menghancurkan kaum persilatan golongan putih. Tanpa sadar Aki Sumendep berseru memuji.

"Sungguh mataku yang lamur ini tak percaya bahwa hari ini sang Hyang widi telah memperlihatkan sesuatu yang sangat luar biasa. Hebat! Siapakah guru bocah ?"

"Ah.... anda terlalu berlebihan Aki. Segala

pukulan picisan begitu tentu setiap orang bisa melakukannya!" Ujar Buang Sengketa merendah.

"Beginilah orang yang menganut ilmu padi....

semakin berisi semakin merunduk!" Buang hanya tersenyum di kulum. Tanpa menghiraukan Aki Sumendep, Buang Sengketa kembali kepada keempat musuhnya yang mulai melangkah tertatih-tatih.

"Hari ini kuampuni jiwa anjingmu. Katakan pada majikanmu bahwa aku akan datang kesana. Cepat kalian tinggalkan tempat ini sebelum aku berobah pendirian!" Bentak Buang melotot. Lalu tanpa menoleh lagi sisa-sisa utusan datuk sesat ini dengan terhuyung-huyung meninggalkan mereka bertiga. Setelah keempat sisa utusan manusia sesat itu lenyap dari pandangan mereka. Kini Buang Sengketa kembali pada Aki Sumendep dan Dewi Bantaran.

Sebelum berkata apa-apa pendekar Bunian ini merogoh periuk yang tergantung di pundaknya. Dia mengeluarkan beberapa potong dendeng ikan lumba-lumba kemudian menawarkannya pada dua orang seperguruan itu. Tapi dengan halus Aki Sumendep dan Dew i Bantaran menolaknya. Tanpa merasa tersinggung, dengan lahap Buang Sengketa mulai mengunyah tiga potong dendeng yang di keluarkan dari dalam periuk tadi. Kemudian masih dengan mengunyah.

"Aki. Aku sudah tahu siapa kalian! Kita orang segolongan, untuk itu aku sudah memutuskan untuk membantu kalian berdua !"

"Kalau begitu tentu anda tidak keberatan untuk menyertai kami, orang muda?" Ujar Aki Sumendep penuh harap.

"Namaku   Buang   Sengketa...!"   Jelas   si

pendekar Bunian.

"Tentu saudara Buang tidak keberatan mengikuti kami dalam usaha mempersatukan golongan kita!" Kata Dewi Bantaran berubah lunak.

Buang tersenyum lucu.

"Maaf Dewi, untuk mengikuti kalian jelas tidak mungkin sebab aku sendiri masih punya urusan yang sangat penting!" Buang Sengketa menjawab seadanya.

"Oh...!" Aki Sumendep agak kecewa. "Aki tak perlu risau... bila saja nanti urusanku di Sorik Merapi sudah beres, tentu aku akan menyambangi anda berdua...!" Mendengar di sebut-sebutnya Sorik Merapi tentu kedua orang ini merasa kaget.

"Sorik Merapi? Ada keperuan apakah?!" "Nantinya juga aki akan tahu, aku tak dapat

berama-lama. Selamat Tinggal!" Berkata begitu, tiba-tiba saja Buang Sengketa telah lenyap dari pandangan mereka.

"Pemuda itu memiliki kesaktian yang sangat luar biasa ya, kakang....!" Kata Dewi Bantaran diiringi sesungging senyum berseri-seri.

"Mudah-mudahan saja dia benar-benar akan membantu kita...!" Ujar Aki Sumendep melangkah pergi diikuti Dewi Bantaran. Dan sebentar saja keduanya semakin menjauh dari Pondok Gunung Gundul.

* * * * *

Puncak Sorik Merapi yang selalu menampilkan kesan angker, masih di selimuti kabut tebal di senja itu. Matahari yang sejak pagi tertutup a wan membuat suasana di sekitar-nya menjadi cepat bertambah gelap. Nun jauh di ujung sebelah barat lereng bukit. Mengangalah sebuah jurang yang tiada terukur dalamnya. Dan di pinggiran tebing itu pula terdapat jalan setapak berbatu lumut dan sangat licin. Andai orang biasa tentu tak sanggup melalui jalan itu, sebab jika kurang berhati-hati dan tergelincir, tentu batubatu cadas yang jauhnya ribuan meter di bawah sana sudah siap menanti. Sorik Merapi memang tidak pernah ramah pada siapapun. Berpuluhpuluh orang, baik itu pemburu, pencari kayu bakar ataupun hasil hutan lainnya telah banyak tersesat dan hilang raib tak tentu rimbanya. Hutan di sekitar Sorik Merapi memang selalu terasa angker, penuh misteri dan penuh dengan segudang tanda tanya. Itulah sebabnya Sorik Merapi merupakan sebuah kawasan pegunungan yang tertutup bagi siapapun.

Kembali pada jalan licin tadi. Meskipun jalan

ini sepertinya tak pernah dilalui jin, setan apalagi manusia. Tetapi sesungguhnya jalan di pinggir tebing yang curam itu, merupakan jalan satusatunya untuk dapat mencapai mulut gua tempat pertapaan tiga manusia iblis yang terletak tidak begitu jauh dari pinggiran tebing. Merekalah yang selama ini mempergunakan jalan itu pada saatsaat mereka ingin bertemu dengan para muridnya yang bermukim di bawah jurang sana jadi tepatnya tiga manusia iblis itu tinggal di atas tempat tinggal para muridnya. Persis seperti raja.

Sore menjelang malam kesibukan di dalam goa kelihatan lain dari biasanya. Tiga manusiamanusia sesat ini nampak berkumpul, tidak diam di pertapaannya masing masing. Mereka sedang sibuk mempersiapkan persembahan untuk disajikan pada sepasang siluman naga putih, yang berdiam di telaga kawah, hanya beberapa meter dari pertapaan mereka. Masing-masing orang mempunyai keperluan dan tugas yang saling tarbeda. Si Cebol Muka Harimau sedang berbenah mendandani sebuah altar persembahan yang terbuat dari batu pualam merah darah. Si Tinggi Kurus Muka Badak nampak sedang mempersiapkan berbagai jenis bunga-bunga di samping memotong kemenyan lonjoran sebesar batang kelapa. Si Tinggi Besar Muka Tengkorak lain lagi. Sedari tadi dedengkot rimba persilatan golongan hitam ini kelihatan sibuk memandikan tubuh Ni Sukmini.

Karena masih dalam keadaan tertotok, tubuh Ni Sukmini yang putih mulus itu dari dalam keadaan setengah telanjang tidak mampu untuk di gerak-gerakan. Bahkan untuk berkata-kata dia pun tidak mampu. Hanya linangan air mata saja yang menggambarkan kepedihan dan rasa takutnya. Meskipun dia tahu bahwa si Tinggi Besar Muka Tengkorak keihatannya tidak memiiki nafsu untuk kaum perempuan dan walaupun dia tahu si Muka Tengkorak bertampang dingin ini tak mempunyai niat kurang ajar padanya Akan tetapi cara ia memandikan Ni Sukmini yang tak ubahnya bagai memandikan bayi merah. Membuat bekas pengantin baru itu meremang sekujur tubuhnya. Apalagi terkadang dengan tangannya yang kokoh si iblii muka Tengkorak menggosok-gosok bagian tertentu yan sangat sensitif. Kalau saja Sukmini bisa membebaskan diri dari totok tentu dia akan mencakar dan mencaci maki wajah yang sangat buruk itu. Atau bahkan memenggal tangannya yang bergentayangan ke mana-mana.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba saja Ni Sukmini teringat pada Bayu Anaksa suaminya dan juga teringat akan nasib ayahnya tewas di tangan iblis-iblis ini secara mengenaskan. Akan tetapi apabila ia terkenang pada nasibnya sendiri, semuanya akan lebih buruk lagi bila di banding dengan nasib yang dialami oleh suami maupun ayahnya. Waktu terus berputar tanpa bosan, malam nanti tentu akan terjadi bulan purnama penuh, satu saat yang telah lama di nantinantikan oleh ketiga manusia iblis ini. Sebab malam nanti adalah merupakan malam puncak kesempurnaan ilmu mereka. Satu lagi ilmu sesat paling tinggi yang akan di turunkan oleh tetua mereka yaitu, "SEPASANG SILUMAN NAGA PUTIH"

Alat-alat persembahan sudah hampir usai di sediakan, Tubuh mulus Ni Sukmini yang setengah telanjang, telah diletakkan di tengah-tengah altar. Di sekeliling tubuh wanita malang itu diletakkan pula berbagai rangkaian bunga aneka warna. Tidak jauh di sudut altar, tumpukan bara merah menyala telah siap untuk membakar berpuluhpuluh batangan kemenyan. Sebuah tempayan yang berukuran sedang telah pula siap menampung darah Segar Ni Sukmini. Kini hanya tinggal menunggu waktu. Saat-saat di mana bulan purnama penuh tiba, Ke tiga manusia iblis itu menanti dengan penuh harap. Lain lagi halnya dengan Ni Sukmini yang sudah nampak pasrah. Menunggu saat-saat paling mengerikan tiba.

Begitulah keadaan mereka masing-masing. Dan apabila malam bertambah larut dan apabila langit gelap sudah tersibak, diangkasa raya sana bulan purnama penuh terlihat terang benderang. Tiada kata yang terucap dari mulut ketiga laki-laki itu. Akan tetapi dengan pasti mereka mulai melangkah men-dekati altar. Beberapa saat kemudian mereka telah tegak berdiri mengelilingi tubuh Ni Sukmini. Mulut si Tinggi Besar Muka Tengkorak nampak berkomat-kamit, sesungging senyum menjijikkan menghias di wajahnya yang mengerikan itu. DELAPAN

Ni Sukmini hanya mampu memandangi manusia iblis ini dengan rasa takut yang tiada terperikan. Selesai si Tinggi Besar membacakan mantera-mantera yang tiada di mengerti akan maksudnya oleh Ni Sukmini. Manusia Muka Tengkorak itu memberi isyarat pada si Cebol Muka Harimau. Si Cebol Muka Harimau segera mendekati dupa yang berisikan bara api yang menyala-menyala, Di pungutnya sepotong kemenyan sebesar batang kelapa. Lalu di angkatnya keatas bara api! Dengan sekali remet kemenyan tadi lebur menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu serpihannya dia taburkan di atas bara api. Bau yang menyengat hidung sebentar saja telah memenuhi ruangan gua.

Mulut si Cebol terus berkomat kamit membacakan mantera, tak lama kemudian terjadilah sesuatu yang sangat luar biasa. Tidak begitu jauh di bawah mereka, terdengar suara bergemuruh yang sangat dahsyat.

Telaga kawah yang tadinya nampak tenang kini mulai menggelegak dan bergejolak. Air di dalam telaga kawah itu mulai mendidih dan semakin lama semakin bergolak naik kepermukaan. Si Cebol Muka Harimau menyeringai puas. Pada saat yang bersamaan di tengah altar, Si Tinggi Besar Muka Tengkorak dan Si Tinggi Kurus Muka Badak segera melaksanakan tugasnya. Keduanya segera mendekati tubuh Ni Sukmini yang setengah telanjang. Lalu Si Tinggi Besar Muka Tengkorak mengangkat tubuh Ni Sukmini tinggi-tinggi, sementara Si Tinggi Kurus Muka Badak menyediakan tempayan kosong untuk menampung darah Ni Sukmini yang saat itu kelihatan menggigil.

"Jangan takut bocah! Arwahmu pasti bisa tenang bersama sepasang siluman junjungan kami....!" Si Tinggi Besar Muka Tengkorak menggerang. Ni Sukmini meskipun dalam keadaan ketakutan yang sangat luar biasa tiada mampu berbuat banyak. Bahkan berteriak pun dia tak kuasa karena urat lehernya masih dalam keadaan tertotok. Begitu Si Tinggi Besar Muka Tengkorak selesai dengan ucapannya, secepat kilat ujung-ujung jemarinya yang berkuku panjang itu berlebat.

"Crasss....!" Sebelum Ni Sukmini dapat menyadari apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengannya, darah telah memancarkan dari lehernya yang terputus. Si Tinggi Kurus Muka Badak segera manampung curahan darah itu dengan tempayan yang telah disediakan. Kemudian tubuh tanpa kepala itu tampak mengejang selanjutnya terkulai di tangan si Tinggi Besar Muka Tengkorak. Lalu manusia iblis itu segera melemparkan tubuh berikut kepala yang terputus ke dalam telaga kawah. Telaga Kawah yang memang sudah mengelegak itu, begitu menerima tubuh Ni Sukmini semakin bergejolak. Tubuh Ni Sukmini sebentar saja telah lenyap di telan air telaga yang baunya sangat menjijikkan. Didih air telaga semakin menjadijadi.

Tatkala Si Tinggi Kurus Muka Badak mulai mencurahkan darah bercampur ramuan berbagai bunga itu ke dalam telaga. Bagai sebuah letusan gunung berapi, suara menggelegar terdengar. Bumi seakan runtuh, bahkan dinding gua tempat pertapaan mereka bergetar hebat. Air telaga segera membubung keatas. Bersamaan dengan itu muncullah sosok siluman naga putih yang sangat mengerikan.

Dari dalam telaga, "SEPASANG SILUMAN

NAGA PUTIH ITU", melesat ke udara dan beberapa saat kemudian ia menjejakkan kakinya di tengah Altar. Si Tiga mausia iblis itu langsung ngdeprok menghaturkan sembah. Sepasang naga putih yang setengah badannya dalam ujud manusia, tertawa tergelak-gelak. Kemudian dengan tatapan bengis dia pun berkata: "Huahaha.... hahaha.... Ngik     Terimakasih.... kalian telah mampu membuat kami terjaga dari tidur kami yang panjang. Kami telah berjanji untuk membuat kalian dapat merajai dunia persilatan. Persembah yang kalian berikan pada kami, telah kami terima dengan senang hati. Untuk itu kam berkenan mengabulkan permohonan kalian.

"Terima kasih, tetua....!" Ketiga manusia iblis itu serentak menghaturkan sembah. Lagi-lagi Sepasang Siluman Naga Putih itu tergelak-gelak.

"Bersiap-siaplah     kalian     bertiga     untuk

menerima ilmu warisan dari kami...!” Usai berkata begitu, tangan sepasang siluman yang bagaikan cakar itu terpentang ke depan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis dan suara raungan dua ekor naga. Tiga manusia iblis sudah nampak bersiap-siap. Begitu suara raungan itu usai. Sepasang siluman itu menggerakkan ke empat tangannya ke depan. Selarik sinar berbau anyir melesat kearah tiga manusia iblis. Sinar warna biru kehitam-hitaman itu kemudian seperti bernyawa bergerak mengurung dan mengitari ketiga manusia iblis. Mereka segera saja merasakan panas yang sangat luar biasa merasuki tubuh mereka. Darah seakan menggelegak, dan begitu sinar sakti itu berputar dan sampai di atas kepala mereka, perlahanlahan sinar itu bagai di sedot merasuki ubun-ubun mereka.

Begitu sinar itu lenyap ketiga orang itu merasakan tubuhnya seperti di rasuki kekuatan aneh yang meledak-ledak. Mengetahui ketiga orang asuhannya nampak kebingungan, sepasang siluman naga putih berseru lantang.

"Tak usah heran dengan keadaan yang tengah terjadi. Kalian ketahuilah bahwa ilmu sakti yang kami turunkan pada kalian ini adalah, "DARAH NAGA BERGELORA". Dengan ilmu yang sangat hebat ini, dalam waktu singkat kalian dapat malang melintang di rimba persilatan tanpa penghalang. Dalam waktu singkat pula kalian sudah dapat menjadi raja dari segala raja kaum persilatan. Tak seorangpun yang mampu menghalangi kalian. Sebab di dunia ini hanya ada satu orang yang dapat menandingi kesaktian, "DARAH NAGA BERGELORA", tapi itu ratusan tahun yang lalu, Yaitu Si Bangkotan Koreng Seribu! Tapi kalian tak perlu takut, sebab manusia jahanam itu kini telah mampus....!" Kata Sepasang Siluman naga putih dengan penuh kebencian.

"Nah...kami tak dapat berlama-lama disini. Kami kira dengan apa yang telah kami berikan pada kalian itu sudah cukup untuk memenuhi ambisi kalian selanjutnya !" "Terima kasih tetua....!" Ucap si tiga manusia iblis serentak. Mereka menghaturkan sembah tiga kali. Namun begitu mereka mengangkat wajahnya Sepasang Siluman Naga Putih telah lenyap dari pandangan mereka. Secara berbareng mereka menoleh ke telaga kawah. Suara bergemuruh kembali terdengar, air telaga nampak menyusut kembali. Beberapa saat kemudian goa itu kembali sepi menyeramkan.

* * * * *

Sudah hampir sepekan saudara seperguruan ini melakukan perjalanan, namun Bukit Penantian yang mereka tuju masih belum juga kelihatan. Menurut perkiraan Aki Sumendep, menjelang tengah hari nanti jika tidak ada halangan tentu mereka sudah sampai di Padepokan Bukit Penantian. Demikianlah, tanpa mengenal lelah kedua orang ini nampak terus berkelebat di antara kayu-kayu hutan yang tinggi menjulang ke angkasa raya. Tepat seperti apa yang di perkirakan oleh Aki Sumendep, menjelang tengah hari puncak bukit penantian telah kelihatan dari kejauhan. Akan tetapi alangkah terkejutnya dua orang saudara seperguruan itu begitu melihat asap dan lidah api nampak membubung tinggi keudara. Aki Sumendep dan Dewi Bantaran saling berpandangan.

"Apa yang sedang terjadi, kakang....!" Tanya Dewi Bantaran curiga. Beberapa saat lamanya Aki Sumendep terdiam, lalu bayangan yang tidaktidak bermuculan di benaknya.

"Api itu kelihatannya berasal dari lereng bukit

penantian....!" Aki Sumendep setengah bergumam.

"Kakang, jangan-jangan padepokan bukit penantian terbakar....!" Jerit Dewi Bantaran Histeri.

"Cepat kita kesana....!" Tanpa membuang waktu, keduanya bagai kesetanan melesat. Hanya dalam waktu sepemakan sirih keduanya telah sampai di depan Padepokan bukit Penantian. Tepat seperti dugaan Dewi Bantaran, Padepokan itu memang sedang terbakar hebat. Api berkobar di mana-mana, Mayat-mayat tampak bergelimpangan. Keadaan mengerikan memang sedang terjadi di sekitar padepokan itu. Segalanya berlalu cepat, ketika Aki Sumendep teringat akan sesuatu, laki-laki setengah tua itu berteriak-teriak.

"Adi Dewi.....   kakang   Narada       kakang

Narada harus kita selamatkan!" Tanpa menunggu jawaban adik seperguruannya Aki Sumendep berari-lari mengitari Padepokan yang di lalap api. Begitu juga Dewi Bantaran tidak tinggal diam. Dia mencari-cari di sekitar padepokan. Begitu mereka berulang kali mengitari tempat itu, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Resi Narada berada di antara mayat-mayat itu.

Sedang mereka dalam keadaan bingung seperti itu, mendadak terdengar suara lolong dan berkelebat nya sesosok tubuh yang terbakar mencelat keluar dari kobaran api yang semakin menggila. Begitu keluar dari kobaran api tersebut, tubuh yang terbakar itu langsung bergulingan di atas tanah berpasir. Aki Sumendep dan Dew i Bantaran segera memburunya, Begitu mereka sampai di depan orang yang terbakar itu. Maka tahulah mereka bahwa orang yang dalam keadaan sekarat itu tak lain dan tak bukan Resi Narada adanya. Dengan sekali kebut padamlah api yang membakar tubuh Resi Narada. Aki Sumendep segera membalikkan tubuh Resi Narada yang sudah setengah matang dan nafasnya hanya tinggal satu-satu. Dengan cepat pula dia bertanya pada Resi Narada.

"Kakang Narada.... siapa yang telah melakukan perbuatan keji ini....?" Tanya Aki Sumendep lirih. Agaknya Aki Narada walau kini sudah tidak dapat lagi melihat karena luka bakar yang dideritanya masih dapat mengenali suara Aki Sumendep. Meskipun dengan sura parau dan hampir tak terdengar, ia bicara patah-patah dan tersendat.

"Manusia.... ma.... nusia....iblis itu. Berhati... hat....i lah kalian....!" Belum lagi Resi Narada selesai berkata-kata, nyawa sudah terputus. Melihat keadaan Resi Narada yang tewas secara menggenaskan, Aki Sumendep nampak mengepal tangannya Dia merasa sangat geram, amarahnya meledak-ledak sampai keubun-ubun.

"Keparat setan-setan itu! Aku. Aki Sumendep tidak akan tinggal diam dan akan kubalas sakit hati ini. Iblis....hati-hatilah kalian....!" Geramnya.

"Kakang semuanya sudah terlambat! Kita selalu dan selalu keduluan....!" Dewi Bantaran raenyesali. Mendengar keluh kesah adik seperguruannya, maka semakin mendidihlah darah Aki Sumendep. Amarah menjadi-jadi. Begitu tangannya bergerak sebuah pohon besar menjadi sasaran kemarahannya. Satu pukulan dasyat yang dimilikinya terlepas tanpa kontrol, akibatnya pohon tadi berderak patah, lalu.

* * * * * SEMBILAN

Tanpa dapat di cegah lagi pohon itu ambruk kebumi. Dewi Bantaran merasa kurang senang dengan tindakan saudara seperguruannya ini. Untuk itu dia coba memprotes: "Kakang! Mengapa kakang bersikap seperti itu! Kalau kakang marah ya, marah....jangan membabi buta seperti anak kecil.....!" Di tegur seperti itu oleh adiknya, Aki Sumendep nampak terdiam, agaknya dia merasa bersalah.

"Sudahlah kakang....masih banyak yang harus kita kerjakan. Mayat-mayat itu sangat membutuhkan kita. Alangkah baiknya kalau kita segera mengubur mereka! Lihatlah sebentar lagi senja telah tiba....!" Ujar Dewi Bantaran. Namun Aki Sumendep bagai tak mendengar kata-kata adiknya, dia masih saja menekuri mayat Resi Narada. Sepasang matanya menatap hampa pada sosok tubuh yang hangus terbakar itu. Agaknya kejadian itu terasa sangat memukul hati Aki Sumendep.

"Kakang apa yang kau renungi lagi, ayolah....!" Ulang Dew i Bantaran. Aki Sumendep tetap terdiam! Dalam keadaan seperti itu, tentu saja Dew i Bantaran tidak berani mengusik. Dia cukup tahu bagaimana adat saudara seperguruannya ini. Untuk itu tanpa berbasa basi lagi Dewi Bantaran segera melaksanakan tugasnya seorang diri.

Kuburan massal kini harus dia buat lagi. Bahkan kini seorang diri! Demi untuk mengejar waktu agar jangan pekerjaan menguburkan mayat-mayat itu sampai kemalaman. Dew i Bantaran segera mengerahkan segenap kemampuan yang ada. Setelah satu lubang massal tergali, Dewi Bantaran dengan cekatan pula mengumpulkan mayat-mayat murid Padepokan Bukit Penantian yang bergeletakan di mana-mana. Sementara Aki Sumendep bagai orang linglung masih kelihatan menekuri mayat Resi Narada, orang yang paling dia hormati selama ini. Tanpa menghiraukan saudara seprguruan yang masih tenggelam dalam kesedihan Dew i Bantaran segera mengubur mayat-mayat yang sudah terkumpul dalam satu lubang yang sangat besar. Sebentar saja pekerjaan itu telah selesai. Nafas gadis berumur dua puluhan itu nampak ngos-ngosan. Tapi dia sudah tidak perduli, dia masih harus menggali satu lubang. Yaitu untuk menguburkan jenazah Resi Narada. Kini dia kembali menggali dari terus menggali, hingga kemudian pekerjaan itu di rasakannya sudah cukup. Gadis itu segera menghampiri Aki Sumendep yang masih tetap dalam keadaan semula. Lalu digamitnya pundak saudara seperguruannya itu, lalu dengan sangat berhati-hati : "Kakang kita

harus segera mengubur jenazah Resi Narada! Sebentar lagi malam tiba, perjalanan kita pun masih panjang! Kalau kakang selemah ini, bagaimana bisa meneruskan pesan guru! Terlebih-lebih untuk menghadapi mereka kakang....!" Dewi Bantaran menjadi sedih. Sementara itu, Aki Sumendep masih tidak bergeming, Dewi Bantaran semakin bertambah sedih.

"Kakang.... kalau kakang tidak mau dengar kata-kataku lagi lebih baik aku pergi saja !"

Bagai arca Aki Sumendep tetap dengan keadaannya. Mengetahui saudara seperguruanya tetap seperti semula, maka tahulah Dew i Bantaran, bahwa Aki Sumendep terpukul semangatnya. Tiada cara lain untuk dapat memulihkan keadaan saudara seperguruannya ini terkecuali dengan sebuah kekuatan pemberian mendiang gurunya, yaitu sebuah ilmu, "PEMBANGKIT SEMANGAT". Dewi Bantaran menarik nafas dalam-dalam, kemudian dengan satu kali lengkingan yang sangat keras dia pun membentak. "Kakaaaaannnngggg.....!" Bukan   main akibat dari ilmu pembangkit semangat itu. Suara Dewi Bantaran yang melengking tinggi itu menggema di seantaro penjuru. Daun-daun yang masih hijau berguguran, bahkan andai suara lengkingan itu di perdengarkan pada Orang yang sedang bunting, pasti melahirkan saat itu juga. Demikianlah demi mendengar suara lengkingan adik seperguruannya. Aki Sumendep tersentak, lalu bagai orang yang baru terjaga dari tidurnya dia menatap heran pada keadaan sekelilingnya.

"Apa yang telah terjadi denganku, adi   !?"

Tanya Aki Sumendep setengah pikun.

"Tak ada apa-apa... kakang cuma tertidur sebentar....!" Dewi Bantaran berkata lunak.

"Eh.... mayat Resi Narada! Mengapa kita belum menguburkannya....?" Tanyanya memprotes.

"Aku baru saja hendak memulainya    !"

Jelas Dewi Bantaran.

"Kalau begitu mari cepat kita kerjakan! Sebentar lagi tentu akan segera malam….!" Katakata Aki Sumendep yang terasa sangat menggelitik hati Dewi Bantaran ini sudah barang tentu membuatnya tak mampu untuk menahan tawa.

"Hihihi....kakang lucu! Itu makanya jangan tidur melulu! Kuburan untuk Resi Narada telah selesai ku gali, yang lainnya pun sudah ku kuburkan. Hanya tinggal Resi Narada saja yang belum !"

"Kalau begitu ini bagianku....!" Berkata begitu Aki Sumendep segera saja membopong tubuh Resi Narada yang sudah setengah matang.

Akhirnya dengan di bantu oleh Dewi Ban-

taran, hanya dalam waktu yang tidak begitu lama Aki Sumendep telah menyelesaikan tugasnya. Kedua orang itu beberapa saat lamanya nampak menekur dekat gundukan tanah merah, mereka tenggelam dalam kekusyukan doa, tatkala segalanya telah selesai. Saat itu malam telah tiba. Aki Sumendep dan Dew i Bantaran tidak dapat meneruskan perjalanannya, di samping mereka memang sangat lelah setelah melakukan perjalanan berhari-hari tiada henti-hentinya. Kiranya mereka memang butuh waktu untuk istirahat. Demikianlah secara bergantian mereka memejamkan mata. Di tempat itu malam yang begitu dingin mereka lewatkan, tiada kata-kata yang terucap, ketika pagi menjelang kedua saudara seperguruan itu kembali meneruskan perjalanan yaitu mengubungi sebuah Padepokan yang cuma tinggal satu-satunya

Pada saat itu di sebuah tempat lain pada saat yang sama nampak seorang pemuda dengan berpakaian warna merah menyala kelihatan sangat tergesa-gesa melompat dan menjejakan kakinya di atas sebuah pohon. Siapakah adanya pemuda yang berpakaian merah menyala dengan sebuah periuk yang selalu tergantung di pundaknya ini? Dia tak lain adalah Buang Sengketa si pendekar negeri bunian. Tapi mengapa pula dia yang semula berniat membuat urusan di puncak Sorik Merapi, kini malah sampai di tempat itu? Singkatnya begini!

Ketika Buang Sengketa mulai melakukan perjalanan untuk mencapai Sorik Merapi, sesungguhnya hatinya diliputi keragu-raguan. Entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa sangat kasihan pada dua orang seperguruan itu. Sebab menurut perhitungannya sesungguhnya Aki Sumendep maupun Dew i Bantaran meskipun dua tokoh persilatan yang tidak perlu diragukan akan kemampuannya tetapi jelas tidak mungkin untuk menghadapi si Tiga Manusia iblis dari puncak Sorik Merapi. Yang menurut desas desus yang dia dengar sepanjang perjalanan yang mereka lalui, kini tiga manusia-manusia iblis itu sudah memiliki kesaktian maupun kepandaian yang sangat sempurna. Yang pasti berada beberapa tingkat di atas kepandaian yang dimiliki oleh dua orang seprguruan itu. Pada saat itu Buang berfikir, walau memang pada dasarnya bahwa dia tidak pernah meragukan kemampuannya sendiri, akan tetapi menurut hematnya alangkah lebih baik lagi jika dia ikut bergabung dengan kedua orang itu dan juga beberapa tokoh dari beberapa padepokan yang ada dengan begitu dia berarti tidak usah susah payah lagi untuk menemukan tempat di mana iblis-iblis itu berada. Begitulah dipertengahan perjalanan pemuda ini memutar langkah. Kemudian tanpa tujuan yang pasti, karena sesungguhnya dia tak tahu ke arah mana Aki Sumendep dan Dew i Bantaran pergi. Pemuda melangkah kearah matahari terbit. Beberapa hari kemudian ketika pemuda itu melintas di sebuah daerah dia melihat api menjulang tinggi. Semula ia hanya menyangka bahwa kobaran api itu hanyalah merupakan kebakaran biasa, akan tetapi begitu dia mengampiri tempat kejadian, tahulah dia bahwa di tempat itu telah terjadi pembantaian yang sangat mengerikan. Mayatmayat bergeleletakan di mana-mana. Buang merasa tak seorangpun di antara mereka yang selamat.

Begitu pemuda itu melihat rombongan kuda berlalu menjauh dari tempat kejadian. Sadarlah pemuda itu bahwa yang bertanggung jawab dalam peristiwa mengerikan itu mungkin saja orang-orang berkuda yang baru saja meninggalkan tempat itu. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi Pemuda ini segera mengerahkan segenap kemampuannya. Ilmu lari cepat yang dia miliki ternyata cukup berarti banyak dalam melakukan usahanya ini. Maka sebentar saja orang-orang berkuda itu talah terlapaui, tak heran karena Si Tua Renta Berkoreng pernah mengajarkan ajian, "SAPU ANGIN" pada pemuda itu.

Pemuda itu kini kelihatan duduk ongkangongkang di atas pohon randu yang sedang berbuah lebat. Dari kejauhan terdengar derap langakah kuda, semakin lama semakin jelas. Hanya beberapa saat kemudian mucullah rombongan berkuda ini. Jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang. Si pemuda demi melihat jumlah mereka nampak tersenyum sinis. Nafsu amarah yang meledak-ledak memenuhi rongga dada Buang Sengketa. Tak lama setelah rombongan berkuda itu mendekat, Buang Sengketa meraih beberapa buah Randu, sekali tangannya yang kokoh itu ber-kelebat, Bagai meteor buah Randu itu melesat. Rombongan berkuda yang tidak mengetahui adanya serangan kilat ini berpelantingan roboh untuk kemudian tidak bangun-bangun lagi. Kejadian yang begitu tiba-tiba ini tentu saja sangat mengejutkan kawan-kawan mereka yang lainnya.

"Hemmm....tikus dari mana yang berani sekali jual lagak di depan utusan tiga datuk iblis....?" Geram salah seorang dari mereka, lalu kiblatkan tangannya ke arah Buang Sengketa. Buang yang menyadari bahwa si Gemuk Pendek berwajah hitam legam yang di sekujur tubuhnya di tumbuhi bulu-bulu mirip seekor Gorilla, menyambitkan senjata rahasia dengan tengan dia memapasi. Lalu hanya dengan sekali tiupan saja menderulah angin kencang dari mulut nya, Senjata rahasia yang dikirimkan oleh si gemuk pendek pun runtuh dan berpentalan ke manamana, bahkan beberapa buah di antaranya berbalik dan menyerang si empunya. Si Gemuk Pendek sambil mencaci maki kembali kiblatan tangannya. Senjata rahasia yang berupa batang hio beracun miliknya itupun runtuh ke bumi.

* * * * * SEPULUH

Buang Sengketa terkekeh begitu melihat si Gemuk Pendek semakin bertambah marah. Kemudian dengan gerakan yang sangat ringan, tubuh Buang Sengketa melayang turun.

"Setan gila pembawa priuk! Apa maksudmu menghadang perjalanan kami...?" Hardik si Gemuk Pendek Muka Gorila.

"Siapa yang menghadang! Siapa pula yang di hadang....?" Buang Sengketa balik bertanya. Hal ini membuat si Tinggi Gemuk yang berada di sebelah si Gemuk Pendek jadi ikut marah, kemudian dengan suara lantang segera membentak: "Bocah sialan, di tanya malah balik bertanya! Kau benar-benar ingin segera di kirim ke liang kubur...!"

"Sebaiknya kita memang harus cepat-cepat mengirimnya ke neraka kakang Begu untuk apa kita membuang-buang waktu! Bukankah satu padepokan lagi yang harus kita selesaikan...?" Si Gemuk Pendek menimpali.

Melihat pembicaraan mereka, maka kini jelaslah sudah bahwa orang-orang ini kiranya yang telah melakukan pembantaian di Bukit Penantian. Wajah Pendekar dari Negeri Bunian ini mendadak berubah menjadi kelam membesi, sepasang matanya menyorot tajam dan memandang penuh kesadisan, kemudian dengan suara keras menggelegar dia menghardik. "Orang-orang sesat! Kaliankah yang telah membunuh dan membakar Padepokan Bukit Penantian..?"

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Buang Sengketa, si Tinggi Gemuk terkekeh. Perutnya yang bundar bagai kuali yang dibalikkan itu ikut bergoyang-goyang.

"Kalau   benar...   kau   mau   apa   bocah?"

Ejeknya.

”Jika memang benar, kalian harus meninggalkan kepala kalian semuanya di sini! Barulah kalian boleh berlalu dari hadapanku..."

"Weee... bocah, nyawa kawanku yang baru kau betot saja belum kau tebus kini kau malah minta kepala kami, apakah kupingku yang tua ini tidak salah dengar...?"

"Hem... nyawa anjing kurap begitu, mana

ada harganya di mataku...!" Buang Sengketa mendengus.

Mendapat penghinaan ini tentu saja orangorang berkuda itu sangat marah. Kemudian dengan gerakan tanpa terduga-duga. Si Tinggi Gemuk segera kirimkan pukulan kilat. Pukulan ini sesungguhnya tidak dapat di anggap enteng, sebab pukulan yang diberi nama dengan, "SERIGALA TERLUKA" ini sesungguhnya merupakan sebuah pukulan yang sangat beracun dan mematikan. Jangankan hanya manusia, seekor gajah sekalipun bila mendapat pukulan seperti ini sudah barang tentu akan segera terkapar mati. Begitulah, walaupun Buang menyadari pukulan ganas itu mengarah ke dadanya, tetapi dengan tenang dia menyambut.

"Plak, Blaaar...!" Buang Sengketa memapakinya dengan jurus "SI HINA MENGUSIR LALAT."

Karuan saja Si Tinggi Gemuk terpental beberapa tombak. Kenyataan ini membuat kawan-kawannya yang lain terbelalak tak percaya. Si Tinggi Gemuk adalah merupakan murid kedua dalam asuhan si Tiga Manusia Iblis yang selama ini mereka ketahui sebagai utusan yang belum pernah ketemu tanding. Kenyataannya kali ini pemuda yang masih sangat hijau dan belum mereka kenal, akan tetapi telah mampu membuat si Tinggi Gemuk utusan Tiga Datuk Iblis itu terjatuh bahkan menyemburkan darah segar. Sungguh tidak masuk di akal.

Si Gemuk Pendek segera melompat dari kudanya. Dengan pandangan penuh selidik dia membentak: "Bocah... siapakah kau? Aku masih dapat memberimu ampun asal saja kau segera menyingkir dari hadapan kami...!" Mendengar kata-kata Si Gemuk Pendek kiranya si Tinggi Gemuk tak mau terima dengan perlakuan yang baru saja dia alami. Dengan tergesa-gesa dia menyela.

"Tidak bisa Adik pendek! Aku akan pergi dari sini setelah memenggal kepala bocah edan ini...!" Tukas Si Tinggi Gemuk sambil menyeka darah yang meleleh dari celah-celah bibirnya. Melihat si Tinggi Gemuk dan Gemuk Pendek, Buang Sengketa tergelak-gelak.

"Hei... manusia-manusia iblis! Mengapa kalian saling cakar bagai anjing kurus berebut tulang?" celetuk Buang. "Aku sendiri! tidak akan mengampuni kalian, jangankan kau harap aku ingin minta ampun pada iblis-iblis seperti kalian...!"

"Jahanam! Anak-anak, cincang bocah itu...!" perintah si Gemuk Pendek. Karuan saja, tanpa menunggu di perintah dua kali anggota utusan datauk-datuk sesat ini yang sejak tadi hanya mampu memendam amarah segera berloncatan dari kuda-kuda mereka.

Pertarungan sengit pun segera terjadi. Pendekar dari negeri Bunian ini di kepung dari berbagai penjuru. Segera saja suasana yang tadinya sepi kini berubah menjadi hiruk pikuk tak karuan. Berbagai jenis senjata nampak mengurung, membabat, menusuk, bahkan memenggal. Dalam keadaan seperti ini Buang Sengeketa tak mau bertindak tanggungtanggung. Sekali tangannya berkiblat, jerit kematian setinggi langit menyayat dari mulut mereka yang menjadi korbannya.

Kini Pendekar dari Negeri Bunian ini kembali bergebrak, kemudian tanpa terduga-duga ia bersalto ke udara, begitu tubuhnya yang kekar itu menukik, dengan di sertai lengkingan yang dahsyat, pendekar ini hantamkan telapak tangan kanannya pada musuh-musuhnya, selarik sinar berwarna merah membara segera saja menderu dari tangan Buang Sengeketa. Begitu sinar tadi mendera tubuh musuh-musuhnya. Tak ampun, kembali jerit kemataian membahana. Lebih dari selusin utusan manusia iblis itu berpelantingan ke berbagai penjuru, untuk kemudian roboh ke bumi dengan tubuh hangus dan nyawa terputus. Demi menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka. si Gemuk Pendek dan Si Gemuk Tinggi nampak semakin keheranan. Sungguh mereka tak pernah menyangka kalau hari ini mereka bakal menghadapi seorang bocah ingusan namun cukup tangguh.

"Gorila jelek... apakah aku harus membantu orang-orangmu ini sampai tiada bersisa baru nantinya kalian berdua....?" Teriak Buang Sengketa tanpa berpaling dari lawan-lawannya. "Hahaha... kau jangan bangga dulu! Corocoro itu memang bukan lawanmu berpalinglah dan hadapi kami...!"

Kepalang basah, para bawah utusan manusia iblis itupun yang hanya tinggal beberapa orang lagi dia sikat habis.Dengan melipat gandakan tenaganya Buang Sengketa kirimkan satu pukulan lagi. Tanpa ampun selarik sinar merah menyala kembali menderu. Satu sapuan dari hawa kesaktian yang dahsyat membuat orang-orang ini berpelantingan meregang ajal. Pendekar Bunian ini tersenyum sinis. kemudian berpaling pada dua orang yang menjadi pimpinan rombongan, yang kini telah bersiap-siap dengan serangannya.

"Apa lagi yang kalian tunggu! Tikus-tikus comberan itu telah kukirim ke neraka! Sebentar lagi tentu kalian pun akan segera menyusul...!"

"Wueeeh... mulutmu terlalu sombong bocah! Kau belum tahu siapa kami, tapi sayang... kesalahan terlalu besar telah kau buat! nanti jika sudah sampai ke liang kubur menyesal pun tiada guna...!"

Usai berkata begitu dua orang utusan manusia iblis itu serentak meyerang ke arah si Pendekar Bunian. Benar saja, kiranya apa yang baru mereka gembar-gemborkan itu kiranya bukanlah omong kosong belaka. Kombinasi jurusjurus silat mereka yang bervariasi di tambah lagi dengan kerja sama di antara mereka yang begitu baik, membuat Buang Sengketa tiada mempunyai kesempatan untuk melakukan serangan-serangan balasan. Beberapa puluh jurus telah berlangsung namun sejauh itu Pendekar Bunian ini masih belum mampu melakukan serangan balik. Dan ketika satu pukulan yang cukup telak yang dilancarakan oleh Si Gemuk Pendek hampir saja menggedor dan meremukkan dadanya. Pada saat itulah Buang Sengketa mulai merubah jurus-jurus silatanya. Dengan mempergunakan jurus "MEMBENDUNG        GELOMBANG        MENIMBA

SAMUDRA" kini perubahan besar segera terjadi. Sepasang tangannya yang kokoh itu membentuk sebuah perisai yang sangat sulit untuk dicari titik kelemahannya. bahkan kini dengan gerakan yang lincah dan sangat sulit untuk di duga-duga, Buang Sengeketa melakukan serangan balik yang sangat mematikan. Dua orang datuk-datuk sesat ini mulai nampak kewalahan dan keteter. Saat-saat berikutnya orang-orang ini mulai terdesak hebat. Menghadapi kenyataan seperti itu, si Gemuk Pendek dan Si Gemuk Tinggi segera mencabut senjatanya yang bentuknya sangat aneh. Senjata si Gemuk Pendek adalah sebuah untaian mata rantai yang sangat besar sedang di ujung mata rantai itu terdapat bola besi berduri. Sedangkan senjata yang dimiliki oleh si Gemuk Tinggi ini lain lagi, Si Tinggi Gemuk ini nampak mempergunakan sebilah pedang bercabang yang sangat putih mengkilat. Dengan senjata berada di tangan, orang-orang ini nampak berbahaya kembali. Dan hanya beberapa saat saja, setelah senjata itu ada di tangan mereka Buang masih dapat mempergunakan jurus, "MEMBENDUNG GELOMBANG MENIMBA SAMUDRA" selanjutnya Buang Sengketa mulai di buat kalang kabut.

Dengan bola rantai di tangannya yang terus berputar mencari sasaran di Gemuk Pendek terus mencecar,    suara-suara  berdentum yang  di timbulkan oleh bola rantai itu bagai meruntuhkan gendang-gendang telinga. Sementara si Gemuk Tinggi  dengan pedang bercabangnya   pun tak kalah bahayanya, mendadak   Buang Sengketa melabrak   membabi   buta. Walaupun    jurusjurusnya bagai tak terkendali dan tanpa suatu perhitungan, akan tetapi sesungguhnya setiap langkah dan geraknya bisa berakibat sangat fatal. Demikianlah dalam waktu singkat Pendekar Bunian    ini    sudah dapat  menguasai  keadaan. Walaupun  keadaannya  telah  berubah,    kiranya pendekar tampan  ini  agaknya menginginkan untuk   mengakhiri   pertarungan itu.    Terbukti beberapa    saat    berikutnya  Buang  kembali mencelat ke udara, setelah bersalto beberapa kali kini dia sudah agak menjauh dari arena pertempuran. Dua Utusan Iblis yang menyangka bahwa lawannya segera kabur, dengan cepat segera memburu.

"Mau lari kemana kau bocah edan...!" "Tinggalkan dulu kepalamu baru kau boleh

berlalu dari hadapan kami...!"

Buang nampak diam tiada bergeming, kiranya pada saat itu, Pendekar Bunian ini sedang mempersiapakan sebuah pukulan mematikan yang diberi nama, "SI HINA DINA MERANA." Begitu tangan pemuda itu terpentang ke atas, sadarlah utusan datuk-datuk sesat ini bahwa nyawa mereka dalam keadaan terancam. Buang Sengketa rentangkannya ke depan. Selarik sinar berwarna ungu menderu.

"Awas kakang...!" Si Gemuk Pendek mengingatkan, kiranya peringatan itu tiada memiliki arti apa-apa. Sebab sinar ungu yang menyatu dengan sebuah gelombang yang sangat panas itu ternyata lebih cepat dari sekedar kata-kata Baik si Gemuk Pendek maupun si Gemuk Tinggi sudah tidak dapat lagi menyelamatkan diri. Keduanya tunggang langgang di landa pukulan yang dilancarkan oleh Buang Sengketa. Jerit kematian membahana setinggi langit. beberapa saat tubuh utusan manusia-manusia iblis itu nampak berkelonjotan. Buang dengan cepat menghampiri, si Gemuk Pendek maupun si Gemuk Tinggi nampak melotot seolah tak percaya dengan apa yang sedang terjadi pada diri mereka Pendekar Bunian itu tersenyum dingin, kemudian segera memungut sebilah pedang yang tergeletak tidak begitu jauh dari tempat berdiri. Kemudian katanya: "SESUNGGUHNYA, aku tak sampai hati melihat penderitaan kalian, untuk itu aku akan meringankannya..!" Usai berkata begitu pedang di tangannya berkelebat, maka putuslah kedua leher utusan datuk sesat itu tanpa dapat memprotes. Sesaat kemudian di pandanginya mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Setelah itu tanpa peduli dia segera berlalu dari tempat itu.

* * * * * SEBELAS

Lembah Kaur yang jaraknya lebih kurang setengah hari perjalanan berkuda andai di tempuh dari Padepokan bukit Penantian, hanya kelihatan bagai sebuah guliran yang memanjang di sela-sela bukit terjal yang tiada terhitung jumlahnya. Sore itu Buang Sengeketa telah sampai di bibir lembah yang merupaka sebuah jembatan penghubung untuk sampai di lembah itu. Meskipun dia tidak tahu siapa sesungguhnya yang menghuni lembah yang sangat sunyi itu. Akan tetapi Pendekar Bunian itu tetap mengayunkan langkahnya ke sana. Pemuda itu tanpa mengalami kesulitan yang cukup berarti terus menuruni lereng tebing yang curam. Malam ini dia merasa sangat perlu untuk dapat beristirahat yang cukup. Setelah berahari-hari melakukan perjalanan. Di samping mencari sekedar keterangan, dalam hati kecilnya sesungguhnya dia ingin tahu siapakah penghuni lembah yang berkesan angker itu.

Seolah tak begitu lama Buang mengayunkan langkah, kini sampailah pemuda itu di daerah lembah. Dia terus melangkah menuju sebuah pondok yang sangat sederhana. Akan tetapi begitu dia bermaksud untuk melangkahkan kakinya ke arah halaman yang resik. Nalurinya mengatakan ada beberapa pasang mata yang terus mengawasi gerak geriknya, Karena pada dasarnya ia memang membawa maksud baik, dia tidak perduli dengan orang-orang yang mengintainya tak jauh dari pondok. Begitulah, ketika pemuda itu sudah hampir di depan pintu. Suara bentakan-bentakan pun terdengar. Lalu bermunculan lah beberapa orang berpakaian putih-putih. Pendekar Bunian mengurungkan niatnya, beberapa saat dengan sabar dia menanti. Sebentar saja orang-orang ini sudah mengurungnya.

"Apa saja kerjamu di lembah Kaur ini kisanak...?" tanya salah seorang mereka yang berkumis tebal.

Melihat cara mereka bertata krama, mengertilah Pendekar Bunian ini bahwa orangorang penghuni lembah itu ternyata merupakan orang baik-baik adanya. Maka dengan sopan pula dia menjawab.

"Namaku Buang Sengketa! Sengaja datang dari daerah yang jauh hanya ingin bertemu dengan sesepuh lembah ini...!"

"Kisanak. Guru kami Kyai Prambudi sedang kedatangan tamu yang sangat penting! Rasanya beliau masih belum bisa di ganggu !" Mendengar jawaban laki-laki berkumis tebal ini wajah Pendekar Bunian memerah. Dengan kemarahan yang tertahan pemuda ini bergumam.

"Aku juga seorang tamu! Walau tak diundang tetapi aku membawa sebuah maksud yang baik. Apakah kalian curiga padaku...?!"

"Kisanak.    Kami    tak    berani    melanggar

peraturan yang sudah di tentukan! Kalau kisanak sabar, tunggulah sampai guru kami berkenan menemuimu...!"

Mendengar jawab orang ini yang terdengar

lembut namun menyakitkan, Buang Sengketa menggertakkan geraham. Masih untung dalam keadaan tegang seperti itu, terdengar suara teguran dari dalam pondok.

"Murid Salanaya... ada tamu, perlakukan dengan baik! Suruh dia menemuiku sekarang juga !"

"Maafkan aku guru...!" Setelah menjura ke dalam pondok, laki-laki berkumis tebal yang bernama Salanaya itu kembali menoleh pada Buang Sengketa.

"Kisanak.... guru mengijinkan kisanak untuk menemui beliau...!* ujar Salanaya tersipu.

"Terima kasih atas kemurahan anda semuanya !"

Setelah menjura hormat, Buang Sengketa segera melangkahkan kakinya ke arah pintu yang sudah terbuka. Namun begitu dia sampai di dalam ruangan pondok dia agak kaget. Karena ternyata tamu yang dimaksud oleh orang-orang di luar pondok adalah orang yang pernah dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Aki Sumendep dan Dew i Bantaran. Kedua orang ini langsung mengangguk hormat dan nampak sangat gembira melihat kehadiran penekar Bunian.

"Panjang umurmu saudara Buang! Kami baru saja membicarkan dirimu...!" Buang Sengketa tersenyum di kulum.

"Ada apa denganku...?"

"Duduklah dulu, baru kemudian kita bicara dengan baik...!" ujar Kayi Prambudi ramah.

"Terimakasih...!" Ujar Buang pula, untuk

kemudian duduk saling berhadapan.

Kemudian masih dengan sesungging senyum, Aki Sumendep menyambung lagi: "Dialah pendekar yang saya maksudkan Kakang Prambudi...?" Kyai Prambudi menganggukkan kepala.

"Hem... masih begini muda tetapi telah memiliki kepandaian yang sangat menakjubkan...!" puji Kyai Prambudi.

"Ah. Aki Sumendep terlalu berlebih-lebihan

Kyai! Tentu bila di bandingkan dengan anda semua aku bukanlah apa-apa...!" Kilah Buang Sengketa. "Sifatmu sungguh sangat terpuji Buang! Sudah berilmu sangat tinggi, tapi memiliki keluhan hati yang sangat mulia. Sungguh pada zaman ini sangat langka sekali orang muda yang mempunyai watak seperti engkau...!"

Dewi Bantaran yang sejak tadi hanya diam saja, kini ikut menimpali pula.

"Kakang Prambudi benar, wataknya yang pemalu itu! Siapa kira dia memiliki sesuatu yang sangat luar biasa...!" Ujar Dewi Bantaran lalu melirik penuh arti. Mendapat pujian dari gadis secantik Dewi Bantaran tentu saja membuat wajah Buang Sengeketa memerah bagai kepiting rebus. Untuk itu dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Maaf... mungkin Aki Sumendep telah bercerita banyak tentang kekacauan yang terjadi di mana-mana! Aku yang hanya memiliki kepandaian pasaran dengan sukarela ingin ikut bergabung dengan kalian! Itupun kalau kalian tidak keberatan menerima kehadiranku...!"

Mendengar penjelasan pemuda itu sudah barang tentu Kyai Prambudi menyambut gembira. Apalagi dia telah mendengar dari kedua sahabatnya tentang bagaimana sepak terjang pemuda ini. Kyai Prambudi pun tersenyum.

"Tentu kami sangat menerima dengan tangan terbuka atas keputusan itu orang muda! Akan tetapi sebelum itu maukah kau memberi sedikit penjelasan pada kami tentang asal usulmu...?" Tanya Kyai Prambudi tanpa suatu maksud. Untuk beberapa saat lamanya pendekar Bunian ini terdiam, sepasang alisnya nampak mengkerut. Akan tetapi beberapa saat kemudian wajahnya berubah seperti biasa kembali.

"Apakah hal itu sangat perlu...?" Tanya Buang Sengketa penuh selidik.

Kyai Prambudi tertawa ramah.

"Oh, itu tidak mutlak! kami bertanya itu pun kalau engkau merasa keberatan kami tak memaksa...!"

"Engkau tak perlu curiga Buang...!" sela Dewi Bantaran.

Pendekar Bunian itu kelihatannya menjadi maklum. Kemudian dengan suara merendah dia berucap: "Sesungguhnya aku paling segan untuk bercerita tentang asal usulku, akan tetapi selamanya aku ingin menghargai sebuah kerja sama yang baik. Dan hal itu hanya dapat terbina apabila kita tidak saling curiga mencurigai. Aku sangat yakin kalian tidak mempunayai maksud seperti itu! Untuk itu aku akan mengatakan seputar diriku sendiri!" Beberapa saat lamanya pendekar Bunian ini terdiam, akan tetapi setelah itu dia melanjutkan kembali. "Namaku Buang Sengketa, ayahku seorang raja di Negeri Bunian yang kini tengah menjalani hukuman yang dibuatnya sendiri sebagai penebus kesalahan-kesalahan yang pemah dilakukannya. Sedangkan ibuku sudah tiada! Sejak bayi merah aku telah di asuh oleh seseorang yang sekaligus merupakan guruku... bersamanya aku tinggal di sebuah daerah pantai yang bernama Tanjung Api...!"

Mendengar disebutnya Tanjung Api, Kyai Prambudi menyela: "Tunggu dulu orang muda! Seingatku di daerah yang bernama Tanjung Api itu dulu ada seorang pendekar pembela kebenaran yang sangat arif bijaksana, menyepi di tempat itu. Akan, tetapi itu sudah hampir sembilan puluh tahun yang lalu. Seingatku pendekar itu sudah sangat tua sekali. Dan sepanjang sejarahnya dia tak pernah mengambil seorang murid pun. Menurut kabar burung yang terdengar Pendekar sakti itu bernama "SI BANGKOTAN KORENG SERIBU" dan telah

mangkat lebih kurang tiga puluh tahun yang lalu sebagai orang yang dibesarkan di sana, apakah kau pernah mendengar tentang kehebatan beliau ini atau bahkan sudah melihat kuburnya...?"

Mendengar di sebut-sebut nama gurunya sudah barang tentu Buang Sengketa tertawa geli di dalam hati. Akan tetapi begitu pun dia mencoba menutupinya.

"Tentang pendekar kesohor itu aku memang pernah dengar, tetapi melihat kuburnya itu yang belum sampai saat kini...!"

Mendapat jawaban seperti tiu, tentu saja Kayai Prambdi merasa heran dan mengkerutkan alisnya. Dengan masih penasaran dia bertanya kembali.

"Masa dalam daerahmu sendiri kau yang telah hidup puluhan tahun tak pernah menyambangi kubur orang tua mulia itu? Aku sendiri sejak dulu mengimpikan untuk dapat sampai kesana...!"

"Kadang-kadang   kesibukan   dalam   hidup

menyebabkan kita melupakan orang-orang di sekeliling kita, tak terkecuali orang itu merupakan bekas orang yang paling berjasa sekalipun...!" Kilah Buang Sengketa.

Aki     Sumendep     dan     Dewi     Bantaran

mengangguk setuju, lain lagi dengan Kyai Prambudi yang agaknya banyak tahu tentang pendekar luhur itu. Sepasang matanya yang awas itu kini nampak memperhatikan Buang Sengketa dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Tatkala matanya melihat sesuatu yang melilit di pinggang pendekar Bunian. Perhatiannya terpaku di sana. Wajah Kyai yang telah cukup berumur itu nampak mengkerut beberapa saat lamanya. Dan saja hal ini sangat menarik perhatian yang lainnya. Sedangkan Buang sendiri mendapat perlakuan seperti itu menjadi jengah.

Begitulah, Ketika Kyai teringat senjata andalan yang pernah dia lihat waktu kecil dulu, yaitu berupa sebuah cambuk butut yang sangat menggemparkan milik si Bangkotan Koreng Seribu. Mendadak Kyai Prambudi terperangah dan terbelalak tak percaya.

"Ada apa kakang Prambudi...?" Tanya Aki Sumendep memandang heran pada tingkah Kyai Prambudi yang agak ganjil itu.

Tanpa menjawab, sebaliknya Kyai Prambudi tertawa tergelak-gelak. Tentu saja hal ini semakin membuat heran kedua orang kurir dari Bukit Barisan yang telah mengenal benar bagaimana watak Kyai Prambudi yang sepanjang hidupnya belum pernah mengumbar tawa seperti yang mereka lihat kali ini.

"Huahaha... hahaha... beruntung... sungguh sangat beruntung! Kiranya hari ini menjelang usiaku yang renta ini, Sang Hyang Widi telah mengabulkan doaku selama bertahun-tahun...!" Serta merta Kyai tua ini membungkuk hormat beberapa kali pada Buang Sengketa. 

Perangai Kyai Prambudi yang mendadak saja berubah aneh tentu saja membuat Buang Sengketa maupun Aki Sumendep dan Dew i Bantaran di liputi tanda tanya besar.

"Kyai... mengapa anda bertingkah seperti ini...!" Tegur Buang Sengketa.

Sebaliknya Kyai Prambudi tanpa menghiraukan protes si pendekar Bunian kembali tertawa terbahak-bahak.

"Hah ah a... huahaha...! Buang! Manusia rendah hati seperti gurunya! Hari ini terimalah hormat si tua bangka ini...!" Sambil berkata begitu, kembali Kyai Prambudi membungkuk hormat tiga kali, Buang Sengketa semakin bertambah heran. Dalam hati ia beranggapan bahwa Kyai Prambudi merupakan seorang yang mengidap menyakit jiwa. Namun begitu dia berusaha menyadarkan Kyai Prambudi yang agaknya sedang kambuh penyakitnya.

"Kyai... sadarlah! Aku bocah ingusan, mengapa Kyai membungkuk-bungkuk seperti itu   ?"

Agaknya Kyai Prambudi kembali menya-dari

keadaannya. Sebab tiba-tiba saja dia menghentikan tawanya. Kemudian memandang tajam pada Pendekar Bunian.

"Buang Sengketa... kali ini kau tidak dapat

mungkir, bahwa kau merupakan murid orang sakti itu! Mengakulah ?"

Mendapat pertanyaan seperti itu sudah barang tentu Buang Sengketa menjadi kelabakan. Bagaimana orang ini bisa tahu kalau dia merupakan murid dari "SI BANGKOTAN KORENG SERIBU?" Mungkinkah Kyai Prambudi hanya menduga-duga saja.

* * * * * DUA BELAS

Atau adakah sesuatu yang terdapat pada dirinya tentang gurunya? Begitupun dia masih mencoba berkilah.

"Mungkin anda   hanya   salah duga   saja,

Kyai !"

Mendengar ucapan Buang Sengketa, Kyail Prambudi berkata tegas: "Buang Sengketa! lain mungkin bisa saja untuk tidak dapat mengenali siapa dirimu yang sebenarnya! Akan tetapi tidak untuk diriku...!" Kemudian dia melanjutkan.

“Mungkin kau merasa heran mengapa aku bisa mengatakan bahwa kau merupakan mmurid dari orang yang sakti itu...!" Lagi-lagi Kyai Prambudi tergelak: "Hahahaha pinggangmu,

cambuk butut itu adalah merupakan senjata yang tiada banding yang sangat menggemparkan! Bukankan cambuk itu merupakan cambuk "GELAP SAYUTO" milik pendekar Bangkotan Koreng Seribu !"

Mendengar penuturan Kyai Prambudi tentu saja Aki Sumendep dan Dew i Bantaran menjadi terkejut bukan kepalang.

"Buang Sengketa! Masihkah kau belum mengakuinya...!" Ulang Kyai Prambudi. Tahulah pendekar Bunian ini kiranya cambuk "GELAP SAYUTO" kiranya  sangat  dikenali oleh Kyai Prambudi. Kini baginya tiada lagi alasan untuk mengelak. Maka dengan rendah hati dia  pun berucap: 'Kyai ... maafkan aku! Kiranya apa yang Kyai katakan itu sesungguhnya memang benar adanya. Aku memang murid Kakek Bangkotan Koreng Seribu..." Ujar Buang Sengketa seadanya. Mendengar  pengakuan Buang Sengketa maka semakin terbelalaklah kedua kurir dari bukit

barisan ini.

"Sesungguhnya merupakan satu kehormatan besar! Aku hari ini orang tua yang lamur ini dapat bertemu dengan murid orang tua yang kesohor itu...!" Aki Sumendep kini ikut bicara.

Merasa terus dipuji-puji seperti itu pendekar

yang selalu bersikap sederhana ini segera mengetengahi, "Sudahlah.... janganlah anda semua memujiku setinggi langit. Bukankah masih ada yang lebih penting dan lebih patut lagi kita bicarakan ketimbang hanya membicarakan diriku...?" Tukas Buang Sengketa.

Tetapi Kyai Prambudi masih menyela: "Tunggu dulu..!"

"Apa lagi Kyai...?" Tanya Buang Sengketa tak

sabaran.

"Bagaimana keadaan gurumu, benarkah beliau telah mangkat...?" tanya Kyai Prambudi penasaran. Buang Sengketa tersenyum: "Berkat kemurahan Sang Hyang Widi... mudah-mudahan sampai saat ini beliau masih dalam keadaan segar bugar !"

"Oh... sukurlah kalau begitu. Dengan demikian berarti desas desus yang aku dengar selama ini ternyata berita kosong belaka !"

"Dengan adanya murid pendekar sakti itu berati kita tak begitu sulit membasmi manusiainanusia iblis yang gila kekuasaan di puncak Sorik Merapi sana... kakang...!" kata Aki Sumendep nampak bergembira sekali.

"Benar Adi Sumendep! Semula aku meragukan kemampuan kita... akan tetapi kini dengan hadirnya Buang Sengketa di tengahtengah kita! Kuat dugaanku bahwa kita akan berhasil membasmi iblis-iblis itu !"

"Kalau begitu pendekar kita inilah yang telah menumpas habis utusan datuk-datuk sesat tidak jauh dari Bukit Penantian....!" ujar Dew i Bantaran kembali mengerling penuh arti pada pendekar Bunian.

"Benarkah itu Buang...?" Tanya Kyai Prambudi.

Tanpa menjawab Buang Sengketa menganggukkan kepalanya.

"Mungkin kalau tidak kau dahului, mungkin nasib perguruan ini tidak lebih baik dari nasib Padepokan Gunung Gundul atau juga Padepokan Bukit Penantian, Buang..!" Desah Kyai Prambudi lirih.

"Anda terlalu berlebihan Kyai.. hidup dan mati itu sesungguhnya sudah ada yang menentukan. Kalaupun perguruan ini luput itu pun memang sudah ditentukan harus begitu...!"

"Kau memang benar Buang... seperti juga pertemuan ini! siapa sangka hari ini kami dapat bertemu dengan murid pendekar yang namanya telah melegenda itu! Sungguh tak seorang pun dapat menjawab misteri kehidupan ini. Kalau semakin direnungi rasa-rasanya manusia itu hanya sebagian terkecil dari seluruh teka-teki yang ada...!"

Ketiga orang itu nampak mengangguk, membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh Kyai Prambudi.

"Lalu apa rencana kita selanjutnya kakang...!" Tanya Aki Sumendep mengalihkan perhatian pada tujuan semula.

"Rencana sudah jelas! Mulai besok kita mulai susun kekuatan!" Kata Kyai Prambudi, kemudian lanjutnya: "Aku merasa yakin si Tiga Manusia Iblis itu tentu kini sudah menyusun kekuatan untuk menghancurkan kita! Hal ini sudah jelas, sebab mereka memiliki mata-mata di manamana. Pertemuan golongan putih dua pekan didepan tentu juga sudah sampai di telinga mereka...!"

"Apakah kita harus mendahului mereka, kakang...?" Tanya Dew i Bantaran pula.

Kyai Prambudi melirik ke arah Buang Sengketa.

"Bagaimana pendapatmu Buang...?"

Buang Sengketa garuk-garuk kepala.

"Saya menurut saja dengan apa yang Kyai putuskan..!"

"Eeh... tidak boleh begitu! Kita ini sedang

bermusyawarah. Dalam bermusyawarah siapapun orangnya berhak untuk mengeluarkan pendapat! Jadi bukan berarti mentang-mentang merasa dituakan seseorang itu sesuka hati untuk mengambil tindakan. Sekalipun orang itu merupakan keturuan dewa, tetapi tidak semua tindakannya itu mutlak kebenarannya...!"

Mendengar alasan Kyai Prambudi yang sesungguhnya memang benar adanya, Buang Sengketa menjadi maklum.

Kemudian dengan sangat berhati-hati, Buang Sengketa mulai mengutarakan pendapatnya.

"Kalau   menurut   hemat   saya,   alangkah

baiknya kalau kita menyerbu ke sarang mereka. Kita tak perlu bertindak tanggung-tanggung! Membasmi kejahatan harus sampai ke akarakarnya...!" "Aku setuju dengan pendapat Buang, kakang Prambudi... “ Ujar Aki Sumendep.

"Aku juga setuju, kakang...!" Tambah Dewi Bantaran.

Kyai Prambudi menarik nafas lega.

"Baiklah kalian semua sudah setuju, mungkin menjelang akhir pekan kita sudah dapat ke sana!" Kyai Prambudi memberi keputusan.

"Malam sudah larut! Dan tentu pula kalian semua sudah sangat lelah. Di rumah ini masih ada beberapa kamar yang kosong kalian bisa menempatinya! Tapi maaf keadaannya sangat sederhana saja..."

"Tidak apa-apa Kyai...!"

Kemudian setelah berpamitan dengan Kyai Prambudi, berangkatlah mereka menuju kamarnya masing-masing. Suasana sepi sebentar saja menyelimuti pondok dan juga Lembah Kaur tempat di mana mereka berada.

Rimba belantara Sorik Merapi di siang yang

terik itu kelihatan bagai hamparan permadani hijau yang sangat luas. Sementara Gunung sorik Merapi yang menjulang tinggi tidak pernah meninggalkan keangkuhannya. Jauh di tebing jurang yang dalam dengan sebuah lembah yang berdataran rendah bermukim lebih kurang seratus orang para murid asuhan tiga manusia iblis. Mereka    yang    sedang    bersiap-siap    untuk memporak-porandakan pertemuan golongan putih yang hanya tinggal beberapa hari itu, kiranya tidak menyadari adanya bahaya yang sedang mengancam diri mereka. Dalam jarak tidak begitu jauh dari gubuk-gubuk mereka. Beberapa pasang mata dengan cermat kelihatan sedang mempelajari keadaan. Siapakah orang-orang yang sedang mengadakan pengintaian ini? Tak lain dan tak bukan adalah si pendekar Bunian, Aki Sumendep dan juga Dew i Bantaran. Merekamereka inilah yang diutus oleh Kyai Prambudi yang kini dengan pasukannya sedang menunggu di sebuah tempat tidak begitu jauh dari sarang iblis-iblis itu.

Setelah mempelajari situasi di tempat itu dan

merasa apa yang harus mereka kerjakan sudah terselesaikan. Maka tanpa menimbulkan kecurigaan sedikitpun pada pihak lawan. Maka ketiga orang ini pun berkelebat pergi dan kembali menjumpai Kyai Prambudi.

Setelah sampai di tempat para anggotanya yang jumlah keseluruhannya tidak kurang dari enam puluh orang. Ketiga tokoh persilatan golongan putih itu segera menjumpai Kyai Prambudi.

"Bagaimana kekuatan mereka...?" Tanya Kyai berambut putih itu begitu mereka menghadap. "Jumlah mereka tak kurang dari seratus orang kakang...!" Dewi Bantaran menjelaskan.

”Hemmm... suatu jumlah yang cukup besar...!" Gumam Kyai Prambudi.

"Tapi kami tak melihat adanya datuk-datuk sesat itu..." sela Buang Sengketa.

"Kalau iblis-iblis itu tidak ada di tengah-

tengah mereka! Pasti dia berada di dalam goa pertapaan yang terletak di atas perumahan para muridnya!"

"Kalau   begitu   aku   akan   ke   sana   dan

menghancurkan mereka...!"

"Apakah engkau tak memerlukan beberapa orang kawan...!"

"Aku hanya butuh penunjuk jalan Kyai! Satu

orang saja." kata Pendekar Bunian mantap. ”Kalau begitu aku bersedia menyertaimu

Buang...!" Ucap Dewi Bantaran menawarkan diri. "Jangan! Tempat itu terlalu berbahaya untuk

seorang wanita! Ada baiknya kalau Dewi

membantu membereskan orang-orang di bawah lembah itu...!"

"Kurasa apa yang dikatakan oleh Buang Sengketa itu memang benar adi Dewi. Biarlah muridku Salanaya yang menyertai Buang Sengketa untuk sampai di goa itu secepatnya...!" Meskipun Dewi Bantara kecewa dengan keputusan yang diberikan oleh Kyai Prambudi tapi mau tidak mau dia harus terima juga.

Demikianlah dengan di sertai oleh Salanaya Buang Sengketa segera mulai bergerak mendaki tebing.

Kyai   Prambudi   dan   orang-orangnya   pun

segera melakukan hal yang sama, sebent saja mereka telah mengepung dan mulai membakar gubuk-gubuk tempat tingga para murid Si Tiga Manusia Iblis. Pertempuran berdarah pun tak dapat dihindari. Suara denting beradunya senjata tajam membahana memenuhi dasar lembah, jerit kematian terdengar di mana-mana.

Sementara itu Buang sengketa yang kini sudah mulai masuk ke dalam pintu goa dengan sangat hati-hati terus bergerak. Begitu dia sampai di tengah-tengah ruangan goa yang begitu luas dari salah satu sudut ruangan bertiuplah angin kencang yang berhawa aneh meluruk ke arahnya. Buang Sengketa kiblatkan tangan kanannya, lalu dari kedua tangannya menderu pula sebuah gelombang yang lebih besar memapasi angin berhawa aneh yang berasal dari sudut ruangan. Begitu angin kencang yang berasal dari sudut sebelah barat itu sirna, dari sudut sebelah timur dan selatan tiba-tiba pula berhembus angin kencang yang lebih hebat lagi. Dalam keadaan seperti itu Buang Sengketa segera memapasi-nya dengan jurus si "HINA MENGUSIR LALAT" sinar merah segera membungkus tubuh pemuda itu. Bagaikan sebuah perisai yang sangat kuat dan tak tergoyahkan. Namun kejadian itu hanya beberapa saat saja dapat di pertahankan. Begitu gelombang angin yang lebih bersar bertiup, tiba-tiba saja hembusan angin yang berbau menjijikkan itu membuatnya sesak nafas. Tak ada pilihan lain, Buang Sengketa segera mempergunakan jurus si HINA DINA MERANA, sekali tangannya terpentang ke atas ubun-ubun selarik sinar merah segera menderu dan mengarah ke dua arah. Dua kekuatan sakti bertemu, dinding goa seakan runtuh. Bahkan dari ujung timur dan ujung selatan terdengar seruan tertahan. "Hem... bukan main!"

* * * * * TIGA BELAS

Bersamaan dengan suara itu, tahu-tahu di hadapan Buang Sengketa kini telah muncul tiga sosok manusia dengan raut wajah sangat mengerikan. Mereka inilah ketiga manusia iblis itu.

"Bocah! Sungguh berani mati kau telah menyantroni sarang macan Suwarna Angresta Apakah keperluanmu hingga aku sampai kesasar kemari...?" Tanya si Cebol Muka Harimau diiringi seringai menjijikkan.

"Aku tak perlu banyak basa basi! Keperluanku kemari hanya satu, yaitu ingin mengirim kalian ke liang kubur...!"

"Bocah sombong kau tak tahu dengan siapa kau berhadapan...!" Bentak si Tinggi Kurus Muka Badak murka.

Buang Sengketa tersenyum mengejek. "Kepada manusia-manusia iblis siapa

takut..."

"Keparaaaat !"

Sambil berkata begitu Si Cebol Muka Harimau menerjang, lalu kirimkan satu pukulan yang sangat mematikan. Menghadapi orang-orang ini Buang Sengketa segera saja keluarkan jurusjurus yang sangat di andalkan. Demikianlah begitu serangan yang dilancarkan si Cebol hampir mencapai sasarannya dengan sedikit berkelit Buang berhasil menghindari kematian. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi dia melancarkan serangan kilat. Tangannya yang terpentang dan sudah di aliri tenaga dalam itu terus meluncur dan mengarah kebatok kepala si Cebol Muka Harimau, akan tetapi begitu ia berhasil menghindari tangan yang hampri saja merengkahkan batok kepalanya, tanpa pernah di duga oleh si Cebol, kaki kiri Buang menyambut, "Blaak !"

Akibatnya si Cebol terpelanting roboh dan muntah darah segar. akan tetapi sungguh sangat luar biasa daya tahan si Cebol ini, sebab walaupun dia telah muntah darah tapi dia segera bangkit kembali dan bersiap-siap mulai menyerang. Dalam keadaan seperti itu sadarlah si Tinggi Besar Muka Tengkorak begitu juga si Tinggi Kurus Muka Badak bahwa lawan yang mereka hadapi tidak dapat dianggap remeh. Kejadian barusan saja telah membuktikan pada mereka bahwa si Cebol Muka Harimau sesungguhnya seorang dari tiga datuk yang memiliki kepandaian hanya satu tingkat di bawah kedua orang ini. Tapi dalam satu gebrakan saja si Cebol telah mampu di buat jatuh oleh pemuda yang masih hijau. Si Tinggi Besar dan Si Tinggi Kurus kini berbareng maju menyerang. Dikeroyok oleh tiga datuk sesat demikian rupa, tentu Buang Sengketa yang masih hijau dalam pengalaman ini kalah pengalaman. Maka dalam waktu singkat, pendekar Bunian ini menjadi bulan-bulanan ketiga tokoh tingkat tinggi ini. Jangankan untuk menyerang sedangkan untuk bertahan saja dia sudah sangat kewalahan. Begitulah satu serangan dia elakan tetapi serangan yang lain mencecarnya. Hingga pada satu kesempatan si tiga manusia iblis itu secara bersamaan dapat menyarangkan satu pukulan yang mematikan.

"Blak...plak! Plak...!"

Mendapat serangan dahsyat secara berbareng seperti itu, Buang Sengketa terpelanting, tubuhnya langsung membentur dinding goa. Andai manusia biasa mendapat pukulan seperti itu sudah barang tentu tubuhnya menjadi remuk dan mati saat itu juga. Mujurlah pemuda ini, walaupun darah segar sempat belelehan di bibirnya, biarpun perutnya seperti diaduk-aduk. Dan sesungguhnya kepalanya terasa bagai mau meledak namun dengan cepat dia bangkit kembali Dengan cepat pula dia mengatur jalannya nafas, kini hanya ada satu di dalam benaknya yaitu, membunuh atau dibunuh. Pemuda ini meraba pinggangnya. Sungguhpun dia menyadari masih mempunyai banyak pukulan-pukulan ampuh yang pasti dapat menghancurkan mereka tapi kali ini dia tak mau mengulur-ulur waktu. Pendekar Bunian itu ingin agar tugas yang diberikan padanya dapat terselesaikan secepatnya. Dengan suara menggelegar pemuda ini membentak; "manusia iblis! Kalau kalian punya senjata yang diandalkan cabutlah! Aku Buang Sengketa sudah tidak banyak waktu untuk berurusan dengan kalian !"

Si Tiga Manusia Iblis tertawa berbareng. "Tanpa senjata saja nyawamu sudah hampir

tak tertolong... sebaliknya   kalau kau   punya

senjata tak berguna keluarkan semuanya, hahahah !"

Buang Sengketa segera cabut golok buntungnya, sinar merah menyala segera saja memancar dari golok yang digenggamnya, hawa dingin mulai terasa menyebar ke mana-mana.

Dengan satu lengkingan yang dahsyat, pemuda berbaju merah dengan golok yang memancarkan sinar merah pula dia berkelebat. Serangan-serangan dahsyat yang sebelumnya tiada pernah terduga oleh ketiga manusia iblis itu segera mengurung mereka.

Isyarat maut segera bergema dari berkelebatnya golok di tangan Buang Sengketa yang menderu-deru. Demikian ketatnya serangan-serangan itu sampai-sampai tiga datuk sesat yang punya banyak pengalaman dan memiliki berbagai kesaktian itu tak mampu berbuat banyak. Buang Sengketa kini terlihat lebih meningkatkan serangannya, Si Tiga manusia iblis semakin terkurung rapat. Begitu Buang memperoleh satu kesempatan.

"Cras...crat...crat!"

Jerit kematian pun bergema memenuhi ruangan goa. Si Tinggi Kurus Muka Badak terkapar dengan leher terputus. Kejadian ini membuat Si Cebol Muka Harimau dan si Tinggi Besar Muka Tengkorak menjadi murka. Si Tinggi Besar Muka Tengkorak segera silangkan tangan ke depan dada, tak begitu lama kemudian dia pentangkan tangannya membentuk sebuah cakar naga, dengan satu lengkingan yang mirip jeritan seekor naga yang sedang marah dia lancarkan satu pukulan. Inilah sebuah ilmu pemberian SEPASANG SILUMAN NAGA PUTIH yang di beri nama "DARAH NAGA BERGELORA"

Sinar maut berwarna biru kehitam-hitaman meluruk ke arah Buang dan pada saat yang sama pula kiranya si Cebol Muka Harimau pun telah berubah ujudnya menjadi seekor siluman harimau. Menghadapi dua bahaya yang bersamaan datangnya pendekar cepat bertindak. Dengan satu gerakan kilat Buang Sengketa segera kiblatkan tangan kirinya yang telah terisi pukulan "EMPAT ANASIR KEHIDUPAN" sedangkan tangannya yang lain dengan golok terhunus menyambut datangnya terkaman siluman harimau, maka bersamaan dengan itu, beradulah satu kekuatan melawan dua ancaman maut.

"Cras... Blar...!"

Lagi-lagi lolongan maut membahana memenuhi ruangan goa. Siluman Harimau terpental lalu menabrak dinding goa dengan leher hampir putus. Si Tinggi Besar Muka Tengkorak nasibnya tidak lebih baik dari saudaranya yang lain meskipun masih hidup akan tetapi sudah dalam keadaan sekarat. Tidak tanggung-tanggung mengetahui musuhnya masih hidup Buang Sengketa kirimkan satu pukulan jarak jauh. Sinar Ultra Violet kembali menderu dan melabrak tubuh si Tinggi Besar. Tewaslah ketiga gembong datuk sesat itu di sarangnya sendiri. Buang mencabut kakinya yang amblas sebatas lutut, kemudian dengan memegangi dadanya yang terasa agak nyeri dia sudah bermaksud meninggalkan tempat itu. Namun mendadak terdengar suara Kyai Prambudi di tempat itu "Buang membasmi kejahatan harus sampai ke akar-akarnya, Guru Manusia Iblis belum mati...!"

"Di manakah dia....?" Tanya Buang tak sabar. "Di telaga kawah di dalam goa ini...!"

"Hem... kalau begitu mari kita cepat keluar! Aku mau meruntuhkan goa ini...” Usai berkata begitu dengan sangat tergesa-gesa mereka segera keluar dari dalam goa. Sesampainya di luar goa Buang segera kirimkan satu pukulan sakti "EMPAT ANASIR KEHIDUPAN" dengan kekuatan yang berlipat ganda. Begitu sinar dahsyat itu menderu dan melabrak ke arah goa dan seisinya pertapaan tiga manusia iblis itu pun runtuh dan ambruk tanpa dapat dicegah lagi.

Tanpa kata-kata Buang melangkah menuruni tebing Sorik Merapi. Tak kala Pendekar Bunian itu sampai di lereng bukit. Sorak kemenangan pun membahana di mana-mana. Sementara tak jauh dari tempat itu Dewi Bantaran berlari-lari kecil menghampiri Buang Sengket. Gadis cantik yang sudah terlanjur jatuh cinta itu untuk beberapa saat memeluk tubuh sang pemuda dengan penuh kebahagiaan. Hari telah menjadi malam ketika mereka meninggalkan tempat itu.

TAMAT