--> -->

Serial Pendekar Bloon Eps 10 : Sang Maha Sesat

 
Eps 10 : Sang Maha Sesat


Pemuda baju biru berambut hitam kemerah-merahan terus mengejar Rana Unggul yang berlari kencang di depannya. Hingga secara tidak terduga-duga sosok hitam berpakaian ala Ninja di depannya tiba-tiba saja menghilang dari pandangan matanya.

"Apa-apaan nih, Rana Unggul? Mau main kucing-kucingan dengan aku?" Suro Blondo si konyol Pendekar Blo'on hentikan langkahnya. Toleh sana toleh sini, pandang sana pandang situ yang terlihatnya puing reruntuhan bangunan bekas sebuah kuil tua. "Rana Unggul bukan setan, bukan hantu. Pemuda berbadan ramping seperti wanita itu mana mungkin bisa hilang seperti siluman. Walah... malam sebentar lagi sudah tiba. Aku harus periksa sisa kuil ini, siapa tahu Rana Unggul bersembunyi di situ. Huh... hujan lagi...! " gerutu Si Bocah Ajaib Pendekar Mandau Jantan. Tergesa-gesa ia masuk ke dalam bangunan yang atapnya hanya tinggal beberapa lembar saja. Lantai bangunan kotor berselimut debu. Suro garukgaruk rambutnya. Lalu ia memasuki ruangan sebelah. Hanya kamar yang terakhir ini saja yang kelihatannya dapat dijadikan tempat berteduh, sementara di luar hujan semakin menggila.

Di dalam ruangan ini ada anak tangga menuju ke ruangan bawah tanah. Si konyol rupanya penasaran. Ia menuruni tujuh undakan anak tangga. Ternyata di lantai bawah itu terdapat sebuah anak sungai di bawah tanah.

"Weh, kebetulan sekali. Aku mau mandi, badan ini rasanya sudah bau domba!" pikir si konyol. Tanpa merasa curiga Suro langsung mencopot semua pakaiannya. Sambil cengar-cengir menertawakan keadaannya sendiri Suro langsung menceburkan diri ke dalam air yang jernih itu. Ternyata air di situ dinginnya seperti es. Pemuda ini seperti anak kecil berenang kian kemari. Di luar sepengetahuan si konyol. Kiranya ada sepasang mata yang terus memperhatikan tingkahnya. Wajah orang ini terkadang berubah memerah. Ketika Suro naik kembali, maka pemilik sepasang mata itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Orang geblek ini benar-benar tidak punya rasa malu!" gerutu si pengintai. Ia sendiri sebenarnya memang ingin mandi sejak tadi, gara-gara si konyol muncul ia urungkan niatnya. Suro akhirnya selesai juga berpakaian. Setelah selesai barulah terlintas dalam otaknya. Di kanan kiri anak tangga ada obor menyala sejak kedatangannya tadi.

"Kenapa goblok, ya? Kuil ini sudah ditinggal minggat oleh para pendeta. Mustahil obor ini menyala sepanjang tahun? Lalu siapa yang lebih dulu masuk kesini?" pikirnya. Wajah si konyol berubah memerah. "Pasti ada orang yang telah mendahuluiku kesini. Sial betul...!" Suro raba bawah pusernya. "Tongkat ini pasti sudah dilihat orang." Pemuda berambut hitam kemerahmerahan mencari-cari, namun ia tidak melihat siapa-siapa. Terlintas dalam pikirannya tentang Rana Unggul. Rasanya mustahil Rana Unggul mengintipnya. Mana mungkin ia mengintip? Sebab Rana juga punya tongkat.

Suro seka keningnya, lalu golanggolengkan kepala. Terlintas satu akal di benaknya. Ia tersenyum, lalu dengan cepat dia berlari menaiki undakan anak tangga paling atas. Sampai di atas ia turun lagi seperti orang gila. Gerakannya pelan dan Suro langsung menyelinap di tempat yang gelap. Orang yang mengintainya itu kemudian memperlihatkan diri.

"Pemuda geblek itu mana boleh tahu siapa aku yang sebenarnya!" dengus sosok berpakaian seperti Ninja. "Badanku sudah lengket karena pakaian sialan ini. Mumpung si konyol tidak melihat, aku harus mandi juga!" Tanpa merasa curiga menanggalkan pakaiannya. Astaga! Tubuh Rana Unggul ternyata putih mulus. Ada stagen mengikat dadanya dengan kencang. Ternyata setelah stagen dibuka. Dada Rana Unggul yang sangat putih itu bergelombang. Dia punya bisul kembar yang bagus bentuknya. Rana Unggul ternyata punya rambut panjang sepinggang. Wajah dibalik asesoris Ninja itu cantik bukan main.

"Di... dia gadis cantik seperti dugaanku! Duh mengapa lututku gemetar? Jantungku nyutnyutan, ini pemandangan bagus yang belum pernah kulihat sebelumnya. Eeh... dia buka celana...!" guman Suro. Pemuda konyol ini menutup wajahnya dengan jari tangan. Karena jari-jarinya renggang, tentu saja ia dapat melihat tubuh telanjang Rana Unggul yang indah bukan main. Rana Unggul lalu masuk ke dalam air, Suro garukgaruk kepala. Kemudian ia menepuk keningnya.

"Rana Unggul punya dua mulut, dia tidak punya tongkat. Aku melihatnya pasti dosa...! Aku harus pergi, malu kalau sampai ketahuan. Nanti aku harus menyelidik siapa dia yang sebenarnya!" batin Suro.

Si Pemuda Ajaib Suro Blondo kemudian menyelinap pergi tanpa sepengetahuan Rana Unggul. Sampai diundakan tangga teratas ia langsung membersihkan lantai untuk melewatkan malam ini.

Sebentar saja ia membaringkan diri di lantai itu hanya dengan berlapiskan daun-daun yang telah mengering. Sementara itu di luar sana hujan sudah mereda. Suara gemuruh hujan digantikan dengan suara kodok yang saling bersahutsahutan.

Suro memejamkan matanya. Dia pun kemudian sudah tertidur. Suara tarikan nafasnya teratur. Dari ruangan bawah muncul Rana Unggul yang sudah berpakaian rapi seperti Ninja.

"Hem, dia sudah tidur rupanya." pikir Rana Unggul. Ia duduk tidak jauh dari Suro. Dipandanginya si lugu, wajahnya yang tampan, rambutnya yang hitam kemerah-merahan merupakan daya tarik tersendiri. Hati Rana Unggul pun bergetar. "Aneh memang. Aku belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Aku selalu ingat pada si tolol ini bila berjauhan. Ilmunya tinggi, jurus-jurusnya kacau tapi hebat. Pemuda seperti dia siapa sangka punya kepandaian. Tampangnya saja bego? Mengapa justru sekarang aku ingin selalu dekat padanya?" batin Rana Unggul.

"Wuaaakh...!"

Suro tiba-tiba menggeliat. Mulutnya termonyong-monyong, lalu dia diam lagi. Rana Unggul tersenyum.

Suro sendiri sebenarnya tidak tidur. Tadi ia sempat mengintip Rana dengan sudut matanya.

"Dia pakai baju Ninja lagi. Padahal aku sudah melihat dia punya. Aneh... perempuan ingin jadi laki-laki. Laki-laki ingin jadi perempuan, gelo betul..."

Rana Unggul kemudian merebahkan tubuhnya tidak jauh dari samping Suro. Ia memandang ke langit-langit ruangan yang kusam. Tanpa diduga-duga Si Bocah Ajaib sudah bergeser ke arahnya. Rana Unggul menggeser badannya agak menjauh. Eeh... si konyol mendekat lagi.

Plak!

Rana menampar pipi Suro. Pemuda itu kaget dan langsung buka matanya.

"Kau berani-beraninya menampar aku?" tegur Suro.

Plak!

Suro membalas tamparan itu. Rana Unggul melotot. "Kau mau tidur apa mau berdekatan dengan orang lain?".

"Lho, memang kenapa? Kalau kau merasa laki-laki mengapa curiga? Mustahil kalau kau punya pedang aku punya pedang lalu kita bertarung. Lagi pula pedang itu khusus buat perempuan...!" kata si konyol.

"Hati-hati kau bicara. Aku tidak suka mendengar kata-kata seperti itu. Aku bisa membunuhmu!" gertak Rana Unggul.

"Ha ha ha...! Di bunuh oleh laki-laki bersuara merdu seperti perempuan mengapa aku takut? Aku yakin kau wanita sejati, mengapa kau harus merahasiakan diri? Kalau tempat-tempat rahasia baru boleh disembunyikan. Sekarang lebih baik kita berbuka-bukaan... eeh, maaf maksudku saling terbuka saja...!" kata si pemuda sambil garuk-garuk rambutnya.

"Rupanya kau sudah mengintip ku, ya?" tebak Rana Unggul.

"Siapa mengintip siapa? Biasanya maling yang teriak maling!"

"Kurang ajar! Jadi kau... menuduhku...?!" "Menuduh itu dosa." sahut si pemuda

sambil cengengesan.

Kemudian suasana berubah sunyi. Namun kesunyian tidak berlangsung lama. Rana Unggul sudah menoleh dan memandang pada Suro agak lama.

"Kau ini sebenarnya siapa? Ilmu kepandaianmu tinggi, tampangmu konyol mendekati tolol!" muda. "Kau sudah tahu namaku...!" kata si pe-

"Apakah kau punya gelar?" tanya Rana. "Kalau itu yang kau tanyakan, mungkin Pendekar Blo'on itulah gelarku...!" jawab Suro seenaknya.

Diam-diam Rana Unggul terkejut juga. Ia pernah mendengar tentang seorang pendekar muda berjuluk Pendekar Blo'on ketika masih berada di Arung Jeram. Tidak disangka rupanya selama beberapa hari ini ia bersama-sama dengan pemuda ganteng ketolol-tololan yang tidak lain adalah Pendekar Blo'on. (Untuk lebih jelasnya dalam Episode Anak Langit & Pendekar Lugu). Namun gadis ini bersikap seperti biasa kembali.

"Pantesan! Tampang geblek sepertimu memang langka di dunia. Kau bagusnya diawetkan dan dijadikan pajangan di ruangan tamu." ejek Rana Unggul. "Eeh... kudengar kau anak ajaib. Benarkah begitu?"

"Kau sudah berani menghina apakah masih layak bertanya?"

"Jangan marah dulu. Kalau mau tahu siapa aku, tentu kau harus jawab pertanyaanku!" Wajah di balik topeng tersenyum.

Suro nyengir, sebelum pada akhirnya ia berkata, "Ki Begawan Sudra yang bicara bahwa aku anak ajaib. (Dalam Episode Neraka Gunung Bromo). Bagaimana tentang keajaiban ku itu. Mungkin karena aku punya sesuatu yang berlebih di bawah puser!" "Konyol, jangan kau bicara ngaco lagi. Nanti kutampar kau punya mulut...!" dengus Rana Unggul kesal.

"Jangan kau tanya yang ajaib-ajaib. Bisa jadi karena rambutku. Boleh jadi karena plek hitam di punggungku. Ah, sudahlah, aku bosan bicara asal usul. Sekarang kau ceritakan padaku benarkan dugaanku kau seorang gadis cantik yang menyamar seperti Ninja laki-laki?"

Si Rana tersipu. "Hi hi hi...! Walau pun bego kau pandai menebak...!" sahut Rana Unggul.

"Tebakanku karena sudah melihat bisulmu, tolol!" dengus Suro dalam hati.

"Aku memang seorang gadis, tapi wajahku jelek." ujar Rana berbohong. "Itu sebabnya aku harus memakai topeng. Aku tidak punya bapak tidak punya ibu. Aku melarikan diri dari Arung Jeram karena aku tidak mau dijodohkan pada seseorang oleh guruku...!" Rana Unggul tiba-tiba saja terisak-isak. Hingga membuat suaranya tersendat-sendat.

"Apa yang membuatmu bersedih. Bukankah dijodohkan itu enak, tidak usah cari-cari lain dan tahu beres saja!" ujar si pemuda tanpa maksud menggurui.

"Aku bukan kambing. Aku punya hati, perasaan, jiwa, pikiran dan tentu saja dapat menentukan pilihan untuk hidupku nanti!" tegas Rana Unggul.

"Wah itu pikiran yang tepat. Eeh... siapa sih namamu yang sebenarnya?" tanya Suro sambil nyengir namun juga prihatin mendengar ucapan si gadis.

"Namaku Puspita Sari...!"

"Nama yang bagus, pasti orangnya secantik wajahnya." puji Suro.

"Tidak! Aku jelek kok, bahkan orang yang paling jelek di dunia ini!" sahut Puspita.

"Kau bohong. Hmm, sekarang aku baru ingat, bukankah kau yang mengobrak-abrik tempat pelacuran itu. Kemudian kau pergi dan kembali dengan berpakaian seperti Ninja!" tebak Suro.

"Memang betul. Semua usaha haram milik hartawan Abdi Banda memang harus kumusnahkan. Kalau perlu bahkan orangnya sekalian kubunuh!" geram Puspita alias Rana Unggul.

Suro sampai terlonjak kaget, tanpa sadar ia sekarang sudah duduk bersila. Tampangnya semakin bertambah bego dan mulutnya melongo.

"Kau seperti punya dendam selangit pada hartawan itu?" tanya Suro.

"Memang, karena dia masih merupakan adik guruku dan guruku mau menjodohkan tua bangka itu padaku!"

"Weleh... ini cerita yang lucu. Bagaimana sih asal mulanya?"

Mata Rana Unggul alias Puspita Sari menerawang. Sepasang mata yang indah itu menjadi basah. Kemudian ia bertutur....

"Lima belas tahun yang lalu, ayah ibuku tewas di tangan prajurit kerajaan Ujung Dunia. Persoalan yang sesungguhnya mengapa sampai ibuku dan juga ayahku dibunuh aku tidak tahu. Kemudian aku dipungut oleh Datuk Alam Salindra. Ia mengajari ku berbagai macam ilmu olah kanuragan. Ia membesarkan aku, namun selama aku hidup bersamanya hatiku selalu tertekan...!"

"Lho kok begitu?"

"Masalahnya guruku punya kebiasaan yang sangat aneh. Beliau manusia tidak bermalu bahkan boleh dikata setengah binatang. Ia sering mempertontonkan auratnya di depanku. Ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun, sering dia mengajakku berbuat mesum bahkan nyaris memperkosaku. Aku bersyukur Tuhan masih melindungiku. Suatu sore datang Hartawan Abdi Banda yang ternyata masih adik kandung guruku, Datuk Alam Salindra. Ia melihatku kemudian mereka kasak-kusuk. Ternyata hartawan simbol kesengsaraan itu ingin menjadikan aku sebagai istrinya. Selidik punya selidik, guruku telah menjual aku dengan satu kereta emas. Satu gerobak emas permata itu sudah diserahkan. Lalu, guruku memaksa aku agar mau menjadi istri adiknya. Karena aku menolak, maka ia memasung ku. Suatu malam datang kakek tua berwajah dingin, berpakaian serba merah dan berambut merah. Beliau membebaskan aku. Kedatangannya seperti Malaikat, ia pergi secepat angin!" ujar Puspita Sari.

Ciri-ciri yang disebut oleh Puspita membuat Suro tercengang. Orang tua berwajah dingin berambut kemerahan itu tidak lain adalah kakek, sekaligus guru Suro Blondo. Yaitu Malaikat Berambut Api yang tinggal di Pulau Seribu Satu Malam di daerah pantai Selatan.

"Lalu kakek aneh itu berpesan apa padamu?" tanya Suro.

"Dia hanya mengatakan bahwa di akhir jaman ini. Tingkah laku manusia banyak yang mengikuti langkah dan cara-cara setan. Manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya. Ada guru sudah tidak dapat menjadi panutan, pejabat tinggi kerajaan banyak yang korup dan membusungkan perut sendiri. Orang sengsara, orang melarat, orang kere hina papa nasibnya seperti laler ijo. Orang sekarang moral dan imannya yang semakin menipis itu katanya mengantongi bahkan memasukkan iman dan moral ke tong-tong sampah. Hidup dalam kebobrokan moral, tapi aneh masih bisa tertawa, mentertawakan diri orang lain dan diri sendiri." jelas Puspita.

"Oh, dia bicara begitu?"

"Ya, dan ia menyuruhku agar meninggalkan Arung Jeram."

Suro usap-usap keningnya yang berkeringat. "Nasibmu sengsara amat. Mungkin gurumu mengganggap engkau seperti sapi. Guru seperti itu pantasnya dikemplang sampai mampus!" geram Suro dengan mulut termonyong-monyong

"Tidak semudah itu. Guruku itu punya kepandaian selangit. Kawan-kawannya dari golongan sesat banyak. Ia juga punya hubungan baik dengan raja Lalim Durjana di kerajaan Ujung Dunia."

"Memang persoalanmu tidak mudah. Jika

kita bunuh hartawan Abdi Banda persoalan semakin meluas, Datuk Alam Salindra tidak tinggal diam. Lalu jika ia minta bantuan kerajaan Ujung Dunia. Nasib kita seperti telur ayam di atas piring. Tapi kau tidak usah khawatir. Pendekar Lugu punya tugas seperti kita. Anak Langit pasti tidak tinggal diam. Mungkin juga si tua Konyol tidak tinggal diam!" guman Suro.

"Siapa si tua konyol?" tanya Puspita.

"Oh itu guruku, Penghulu Siluman Kera Putih, Barata Surya...!" jawab Si Bocah Ajaib sambil cengar-cengir.

"Sudahlah, sekarang semakin larut. Sebaiknya kita istirahat dulu." usul Puspita Sari.

Gadis yang tetap berpakaian Ninja ini lalu membaringkan tubuhnya di samping Pendekar Blo'on.

"Tidur jangan dekat-dekat!"

"Memang kenapa?" Wajah di balik topeng tersipu-sipu.

"Kau kan perempuan. Nanti kalau ketahuan calon suamimu aku bisa babak belur!"

"Huh, kau jangan kurang ajar. Aku benci pada guruku sendiri dan manusia macam gentong bernama Abdi Banda itu, kau dengar!" geram Puspita.

"Tentu saja dengar, aku belum budek kok!" sahut si pemuda cengengesan.

"Bagaimana kalau ketahuan pacarmu yang lain?" pancing si usil.

"Heh, kok usil amat sih? Aku belum punya pacar, tahu?" sahut Puspita ketus suaranya.

Suro nyengir lagi. "Sama aku juga belum punya kok."

"Manusia sepertimu tidak punya pacar. Kalau kau tidak berbohong, pasti sedang ngibul."

"Memang ngibul dengan bohong bersaudara sejak dulu-dulu!" Seenaknya Pendekar Blo'on menimpali.

Grek!

Tiba-tiba saja bangunan tua yang mereka jadikan sebagai tempat melewatkan malam bergetar dengan keras. Suro tersentak kaget, sama halnya dengan Puspita Sari.

"Aku merasa seperti ada gempa terjadi di sekitar bangunan ini." kata Puspita pelan.

Hidung Si Bocah Ajaib kembang kempis. Ia mengendus-endus, lalu tercium bau sesuatu yang sangat khas. Bunga Mayat! Itulah yang sedang dirasakan oleh Si Bocah Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro ini. Ini salah satu kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa.

"Apa yang kau baui?" tanya Puspita alias Rana Unggul terheran-heran.

"Aku mencium bau bunga Mayat. Bau Setan yang paling jahat di kolong langit ini!" kata si pemuda serius.

"Yang betul kau bicara?" "Tidak percaya terserah." Blaang! Tiba-tiba terdengar suara aneh, suara seperti jeritan dan lolongan tangis dari neraka. Kemudian terdengar pula suara tawa dan nyanyian panjang. Tembang lagu kematian. Suara-suara aneh menyeramkan itu akhirnya menghilang. Suro termangu, wajahnya berubah pucat. Sedangkan sikap Puspita biasa-biasa saja.

DUA

Kakek tua berambut serba putih itu duduk ngejelepok di atas batu sebesar gajah yang lagi tidur. Tatapan matanya memandang lurus ke depan. Ia sama sekali tidak pernah menunjukkan kegembiraan, kerut merut di wajahnya menyimpan penderitaan yang teramat dalam.

Lalu kemuraman di wajahnya semakin bertambah nyata. Bibirnya yang ditutupi kumis berwarna putih menggerimit.

"Hari ini tanggal sembilan hari sembilan. Akan terjadi peristiwa besar di Magetan. Ada rahasia besar yang harus diungkap, rahasia itu tidak boleh jatuh ke tangan siapapun. Hanya aku yang dapat wangsit, urusanku bukan sekedar harta. Ada yang lebih penting dari semua itu agar jalan hidup manusia tidak salah kaprah. Dia hanya berupa surat, surat wasiat yang tentu saja sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan kehidupan manusia. Dua persoalan besar harus bisa diselesaikan dengan satu cara. Tapi satu rahasia besar hanya aku saja yang boleh tahu. Oh oh.... Malaikat Penderitaan. Begini rumitkah persoalan hidup manusia?" kata kakek berambut serba putih ini yang lebih dikenal dengan julukan Malaikat Penderitaan. Untuk lebih jelasnya (dalam Episode Anak Langit & Pendekar Lugu).

Sekali lagi si kakek menadahkan wajahnya ke langit. Telinganya yang tajam tiba-tiba saja mendengar gemuruh suara langkah kaki kedua di kejauhan. Semakin lama derap suara kuda semakin bertambah dekat. Sampai akhirnya terlihatlah serombongan orang-orang berkuda mendekati Malaikat Penderitaan. Kuda-kuda itu kemudian berhenti, para penunggangnya rata-rata berpakaian serba mewah.

"Bertanya dengan curiga, perkenalkan nama dan mengapa berada di wilayah Magetan ini?" tegur salah seorang diantaranya dengan angkuh. Malaikat Penderitaan tersenyum dalam rasa keperihatinannya. Lalu tanpa menoleh ia menjawab.

"Bertanya pada batu apa dia punya bisa? Batu lebih punya harga daripada beberapa ekor anjing penjilat. Kulihat cara hidup manusia, hatiku selalu menderita. Dari tetes-tetes air hina manusia berasal. Mengapa dia menjadi sombong, mengapa kerjanya hanya menebar angkara murka di bumi dan membuat orang lain menderita. Jika manusia menderita maka aku lebih menderita lagi! Akulah Malaikat Penderitaan, Malaikat yang bisa ditanya betapa pedihnya azab menjelang sakratul maut! Adakah manusia pernah berpikir tentang hari kematiannya, pernahkah manusia ingat betapa siksa kubur itu teramat dasyatnya? Manusia cuma bisa berkeluh kesah bila dirinya sengsara. Lalu ia akan menjadi lupa segala bila hidupnya bergelimang kemewahan. Tahukah manusia bahwa semua itu hanya cobaan?"

"Manusia busuk. Kami tidak membutuhkan kotbahmu!" bentak yang jadi pimpinan. Dia tidak lain adalah Kala Menak. Seperti sudah sama kita ketahui tangan kanan Abdi Banda ini pernah dibuat tidak berdaya oleh Pendekar Lugu alias Wahyu Sakaning Gusti. Ia juga berjanji untuk bertaubat. Untuk itu ia masih diberi kesempatan hidup lebih lama lagi.

"Mungkin kata-kataku tidak berguna. Ucapanku lebih busuk dari bangkai. Namun tahukah kalian bahwa dunia dan seisinya ini lebih busuk dari segala kebusukan! Pulanglah nak ke pangkuan ibumu! Terlambat sedikit keburu menjadi bangkai!" tegas Malaikat Penderitaan.

"Ha ha ha...! Bicaramu kelewat lancang sekali. Kami adalah pasukan pembersihan. Julukanmu Malaikat Penderitaan, sungguh pas sekali! Sebentar lagi kau benar-benar akan kami buat menderita!" teriak Kala Menak.

Laki-laki sadis dan merupakan pembunuh berdarah dingin ini langsung memberi isyarat pada anak buahnya yang berjumlah lima belas orang lebih. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kelima belas anggota Kala Menak ini langsung menyerang Malaikat Penderitaan. Kala Menak rupanya tidak tahu, siapa kakek tua ini.

Sebaliknya si kakek masih tampak tenangtenang saja. Ia berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Lima belas buah senjata yang terdiri dari berbagai jenis langsung menghantam sekujur tubuh Malaikat Penderitaan. Tapi sungguh aneh, tidak satu pun dari senjata-senjata itu yang menyentuh tubuh si kakek.

"Gila... setan atau manusiakah orang yang satu ini?" pikir Kala Menak terheran-heran.

Sementara itu semua anak buah Kala Menak terus berusaha membacok, menusuk atau mengibaskan senjata di tangan mereka. Celaka! Tidak satu pun dari senjata-senjata itu yang mampu menembus pertahanan lawannya. Padahal Malaikat Penderitaan sedikit pun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Seakan tubuh si kakek terlindung sebuah kekuatan berupa tabir gaib yang sangat kuat.

"Aku menderita melihat usaha kalian tidak menghasilkan apa-apa. Begitulah kehidupan di dunia ini. Angan-angan tidak selalu sesuai dengan kenyataan...!" kata Malaikat Penderitaan.

Kakek berambut putih ini lalu menggerakkan tangannya sedikit saja. Tidak disangkasangka, lima belas laki-laki itu berpelantingan ke segala penjuru arah. Mereka mencoba bangkit, namun seakan ada kekuatan yang tidak terlihat telah menindih dada mereka.

Mata orang-orang ini pun melotot seperti melihat setan. Nafasnya megap-megap. Mata mereka kemudian membeliak, seakan ada sesuatu yang sangat menyiksa diri mereka.

"Orang banyak dosa mati ada yang melotot, ada yang menangis ada yang berteriak-teriak ketakutan. Sesungguhnya pada waktu menjelang nyawa terpisah dari raga, sebagian ada diperlihatkan amal kebaikan dan amal yang merusak. Bila ajal sudah ditenggorokan, maka tertutuplah pintu tobat! Nah apakah kalian memilih kembali ke jalan yang baik atau pilih mampus?"

"Akh... ekkh... aduh emaaak, duh bapak... kami memilih kembali ke jalan yang baik....!" sahut anak buah Kala Menak serentak.

Pernyataan mereka ini tentu membuat Kala Menak menjadi murka. Ia hunus senjatanya. Secepat kilat melompat dari punggung kuda, lalu dengan sadisnya ia menebaskan pedang di tangan ke arah anak buahnya sendiri. Semua yang terjadi berlangsung sangat singkat dan di luar dugaan. Hanya sebentar saja tujuh orang anak buah Kala Menak sudah terkapar dengan tubuh bersimbah darah.

Jerit kematian terdengar saling susul menyusul. Malaikat Penderitaan gerakkan jari telunjuknya ke belakang. Kala Menak tersentak dan tahu-tahu ia sudah tercampak. Laki-laki sadis ini secepatnya bangkit berdiri. Mata melotot memandang Malaikat Penderitaan.

"Kau manusia bangsat! Sekarang tiba giliranmu sengsara di tanganku!" geram Kala Menak. "Manusia tidak punya hak mencabut nyawa orang lain. Kau membunuh sambil tertawa. Kelak kau masuk neraka sambil menangis!? Dapatkah kau menjawab pengadilan hari Kiamat nanti tentang orang yang kau bunuh, sedangkan mereka sudah mengucapkan kalimat taubat?"

"Samber geledek!" maki Kala Menak semakin pitam.

Pedang besar di tangan manusia sadis itu berkelebat. Sedemikian besarnya pedang dan tenaga dalam yang dimiliki oleh Kala Menak. Sehingga ketika senjata melayang terasa adanya sambaran angin yang sangat kuat. Kenyataan ini tidak membuat Malaikat Penderitaan tergontaigontai apalagi sampai jatuh tunggang langgang.

Ia malah tersenyum, senyum dalam penderitaan yang tidak terlukiskan dengan kata-kata. Malaikat Penderitaan menggelengkan kepalanya. Hanya dengan gerakan kecil saja lagi-lagi Kala Menak terdorong mundur.

Tidak dapat dibayangkan betapa tingginya kesaktian yang dimiliki oleh Malaikat Penderitaan ini. Kala Menak yang juga memiliki kepandaian tidak ringan dibuat mati kutu.

"Langkah hidupmu terlanjur berliku-liku. Hatimu berserabut seperti biji kedondong. Hingga menjelang akhir hayatmu kau tidak mengenal kata taubat! Ketahuilah, kau tidak mungkin dapat mengalahkan aku! Aku bukan manusia seperti dirimu!" tegas Malaikat Penderitaan.

"Ha ha ha...! Manusia pembual bermulut besar! Heaa...!" teriak Kala Menak kalap. Tiba-tiba saja lepaskan pukulan dahsyat ke arah Malaikat Penderitaan. Seleret gelombang sinar biru, hitam, kuning menderu dahsyat melabrak si kakek. Namun sebelum pukulan dahsyat itu menghantam tubuhnya maka Malaikat Penderitaan tepukkan tangannya.

Plok! Plok!

Tepuk tangan itu cuma pelan saja, lalu dari sela-sela jemari tangan kakek berambut putih ini meluncur deras sinar putih dan menghantam habis pukulan milik Kala Menak.

Glaar!

Terlihat bunga api berpijar di udara. Sebagian pukulan Malaikat Penderitaan terus meluncur untuk kemudian melabrak tubuh Kala Menak. Laki-laki sadis ini masih sempat berusaha melindungi diri. Namun pedang besar di tangannya meleleh terhantam sinar putih berhawa panas bukan main.

Buum!

Kala Menak menjerit keras. Pakaiannya hangus, kulit tubuhnya melepuh. Ia menggelepar, dengan terhuyung-huyung ia mencoba bangkit berdiri. Tiba-tiba saja ia menerkam ke depan, rupanya ia nekad untuk mati bersama Malaikat Penderitaan.

Dalam keadaan mengapung di udara itulah dari setiap ujung jemari tangannya meluncur sinar dingin mematikan. Malaikat Penderitaan tokoh yang tidak jelas asal usulnya ini langsung dorongkan tangannya ke arah lawan. Angin pun menderu dahsyat, lesatan sinar dari jemari tangan Kala Menak membalik lalu menghantam diri pemiliknya sendiri. Tidak dapat dibayangkan betapa celakanya laki-laki sadis itu. Ia langsung terpelanting dengan jeritan tersendatsendat. Kala Menak tewas dengan tubuh membeku termakan ulahnya sendiri.

"Manusia kebanyakan mati karena ulah sendiri. Kebanyakan manusia memilih jalan pintas yang mudah. Padahal jalan yang sulit lagi mendaki itu merupakan langkah yang tepat bagi orang yang berfikir!" kata Malaikat Penderitaan.

Laki-laki itu memandangi sisa-sisa anak buah Kala Menak yang masih hidup.

"Kembalilah kalian ke jalan yang betul!" "Ba... baik, tuan...!" sahut para laki-laki

berpakaian mewah hampir serentak. Mereka tanpa menunggu lebih lama lagi segera meninggalkan tempat itu.

"Hhh, perjalanan ku masih jauh lagi. Magetan masih belum terlihat. Hal ini hanya membuat aku menderita!" gerutu Malaikat Penderitaan.

***

Sepuluh kereta kuda telah dipersiapkan. Masing-masing kereta berisi penuh emas permata harta kekayaan Abdi Banda. Tidak semua harta benda hartawan itu terangkut. Masih ada satu gudang emas di tempat rahasia bawah tanah yang tidak dapat dibawa serta. Abdi Banda memang memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang aman. Segudang emas untuk sementara di jaga oleh beberapa orang pengawal berkepandaian tinggi.

Pagi itu hartawan berbadan gemuk berperut besar dan memakai baju tidak pernah dikancing duduk di atas kursi kesayangannya.

Hadir di dalam ruangan itu adalah ahli nujum Zulgafarah dan juga Nukman Jaya.

"Kita semua sudah siap berangkat meninggalkan Magetan ini. Hanya satu gedung emas yang dapat kita angkut, sedangkan sisanya yang satu gudang untuk sementara kita tinggalkan. Lain waktu kita bisa mengambilnya ke sini. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, bagaimana jika kita minta perlindungan tentara kerajaan Ujung Dunia?" tanya hartawan Abdi Banda serius.

"Anak buah kita sudah banyak, tuan!" Ahli Nuzum Zuhgafarah menimpali. "Saya tahu raja Lalim Durjana adalah sahabat baik tuan. Namun untuk sementara saya kira kita tidak membutuhkan bantuan tentara kerajaan." Jelas laki-laki berpakaian mencolok itu penuh keyakinan.

"Kuat dengkulmu? Kalian tahu aku takut mati, jika aku mati harta benda ini bisa tidak bertuan. Aku punya pasukan Ninja, mereka semuanya tewas di rumah madat, lalu lima mata picak pasukan terkuat dan terpercaya. Mereka semua menjadi bangkai di rumah pelacuran, ladang emasku! Bahkan ladang emas itu sekarang terbakar, kalian hitunglah berapa banyak kerugianku!" dengus Abdi Banda sengit.

"Itu salah satu suratan nasib, tuan!" Ahli Nujum Nukman Jaya menimpali.

"Sekali lagi kau bicara suratan nasib, kupenggal kau punya kepala!" teriak Abdi Banda dengan mata melotot.

"Lalu apa yang harus kami lakukan sebelum perjalanan panjang ini?" tanya Nukman Jaya. "Kalian kan ahli Nujum, sekarang mengapa

bego semua. Tentu saja mengumpulkan tokohtokoh berkepandaian tinggi untuk mengawal harta bendaku selama berada dalam perjalanan!"

Ahli Nujum Zulgafarah dan Nukman Jaya saling berpandangan. Mereka sadar betul bahwa majikan mereka sedang tidak senang hati.

TIGA

"Saya kira hal itu dapat kita lakukan nanti dalam perjalanan. Yang terpenting kita harus segera berangkat," ujar Zulgafarah.

"Aku tidak mau sepotong hartaku tercecer. Aku juga tidak ingin melihat manusia yang berjuluk Pendekar Blo'on dan Pendekar Lugu itu. Siapa saja yang dapat membawa kepalanya ke hadapanku. Maka aku akan memberi hadiah besar." tegas hartawan Abdi Banda. Laki-laki berperut macam periuk tengkurap ini kemudian tampak begitu resah. "Ada satu hal yang membuat aku pusing. Yaitu sebuah kitab yang menjadi rahasia dunia. Tidak... tidak mungkin aku membawanya. Kitab ini telah kusimpan di sebuah tempat yang aman." kata hartawan itu seperti orang yang mengigau.

"Kitab apa, tuan?"

"Diam, kalian tidak pantas mengetahuinya!" bentak si gendut bermuka bundar.

"Ha ha ha...! Mau pindah kau tidak pernah kasih tahu diriku. Apakah kau sudah melupakan saudara sendiri adikku?" kata sebuah suara disertai tawa bergelak.

Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah datangnya suara. Tidak lama kemudian muncul seorang laki-laki berwajah buruk. Keningnya menonjol seperti bisul besar, kepala setengah botak dan tubuhnya kurus kering. Sikap dan tindak tanduknya benar-benar tidak mengenal peradatan sekali.

"Datuk Alam Salindra! Kebetulan sekali kau datang kemari. Aku membutuhkan perlindunganmu!" kata hartawan Abdi Banda tampak gembira sekali.

"Hu hu hu...! Aku senang jika kau telah melupakan perjodohan dengan muridku yang tidak berbakti itu. Sebenarnya aku malu datang kemari. Tapi perjalananku ini juga semata-mata ingin mencari murid murtad itu!" kata si ceking basa-basi.

"Waduh, kakang. Hal ini tidak usah terlalu kau risaukan. Aku memang tidak dapat melupakan muridmu yang cantik itu. Tapi untuk sekarang ini ada yang lebih penting dari hanya sekedar jodoh. Kami mau pindah karena disini sudah tidak aman lagi!" jelas Abdi Banda.

Kening si ceking berkerut dalam. Ia sadar betul bahwa adiknya itu adalah orang yang paling takut mati. Tapi gerangan apa yang membuatnya begitu ketakutan?

"Mengapa harus pindah, bukankah kau telah membangun sorga di sini?" tanya Sang Datuk akhirnya.

"Kakang tidak mengerti, sekarang ini aku selalu dikejar-kejar bayangan menakutkan." jawab Abdi Banda. Kemudian secara singkat menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya.

Selesai mendengar penjelasan adiknya, maka Datuk alam Salindra pun tergelak-gelak.

"Mengapa kakang tertawa, apakah ada yang lucu?"

Datuk Alam Salindra hentikan tawanya. Ia seka matanya yang sempat berair.

"Mimpi tidak perlu dipercaya. Pendekar Lugu dan Pendekar Blo'on yang kau maksudkan tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti, kalau benar mereka ada. Lagipula kau punya orangorang yang cukup kuat. Tenaga mereka pasti bisa kau pergunakan untuk menghancurkan perusuhperusuh itu...!"

"Sebagian orang-orangku sudah tewas kakang. Bahkan rumah pelacuran tempat perjudian dan juga rumah madat sudah mereka bakar. Aku memutuskan untuk dapat mengungsi kakang, demi keselamatan harta benda, juga istriku yang dua puluh orang itu." kata Abdi Banda.

"Istrimu banyak amat. Mengapa kau tidak pernah menghadiahkannya padaku barang satu dua orang! Ha ha ha...!"

"Itu gampang diatur. Nanti kakang dalam perjalanan tinggal pilih yang kakang suka. Yang terpenting kakang harus melindungiku dalam perjalanan menuju Anyer!"

"Walah, perjalananmu jauh sekali. Satu pekan kita baru bisa sampai di sana. Padahal ini tidak perlu kau lakukan. Jika kau cuma butuh perlindungan, maka aku dapat melindungimu, jika masih kurang juga kau bisa meminta bantuan raja Lalim Durjana!" saran Datuk Alam Salindra.

"Tidak!" tegas Abdi Banda. "Untuk sementara ini aku hanya membutuhkan bantuan orangorang yang dekat denganku! Tapi...!" Abdi Banda tampak ragu-ragu.

"Tapi kenapa? Aku melihat sesuatu yang merisaukan hatimu?" tanya Datuk Alam Salindra. "Aku tidak mungkin membawanya. Walau

pun ia menjadi barang kesayanganku...!" "Berterus teranglah."

"Sebuah kitab tipis. Namun mempunyai seribu arti bagi manusia!"

"Kitab apa? Sangat pentingkah bagimu?" "Maha penting sekali. Aku tidak dapat

mengatakannya padamu, kakang. Biarlah dia tetap tersimpan di tempat yang aman!" "Padaku kau masih berahasia. Tidak mengapa, sekarang apa yang ingin kau lakukan?"

"Berangkat meninggalkan Magetan ini secepatnya!" tegas hartawan Abdi Banda.

"Mari aku akan mengantarmu kemana pun kau akan pergi!" kata Datuk Alam Salindra.

Tidak lama kemudian mereka telah berada di atas kereta kuda. Di dalam kereta kuda yang paling depan penuh dengan isteri-istri hartawan Abdi Banda. Yang di tengah-tengah iringan kereta kuda itu adalah ahli Nujum Nukman Jaya dan Zulgafarah. Lalu hartawan Abdi Banda dan juga Datuk Alam Salindra.

Sedangkan yang di belakang mereka adalah kereta berisi emas dan permata. Yang terakhir sekali para pengawal bersenjata lengkap. Iringiringan itu terus bergerak meninggalkan kota Magetan.

***

Ujud yang sesungguhnya berbentuk seperti kabut, terkadang berpedar seperti api berwarna merah suram. Ia dapat merubah ujudnya menjadi manusia, gadis cantik atau bahkan menjadi binatang atau pohon.

Ciri-ciri khasnya di mana pun ia hadir selalu menebarkan bau bunga Mayat. Bau bunga dan simbol yang paling menyeramkan dalam kehidupan manusia.

Malam itu sejak hartawan Abdi Banda meninggalkan Magetan. Suasana kota memang agak sunyi. Tidak terlihat para begundal hartawan itu berkeliaran. Mereka tahu pasti sebagian anak buah hartawan itu sudah mengikuti tuannya. Sebagian lagi menghilang entah kemana? Ini yang membuat heran penduduk setempat.

Di sebuah warung yang menjual minuman keras, tampak beberapa orang laki-laki sedang minum. Diantara mereka ada yang sedang membicarakan masalah hartawan itu. Sementara itu malam semakin bertambah larut.

"Aku merasa bersyukur hartawan itu minggat dari sini!" kata salah seorang diantara mereka.

"Kenapa rupanya?" Yang bertubuh pendek menimpali. Matanya sudah merah pertanda dia sudah mulai mabuk.

"Dulu keluarga kami punya utang padanya. Utang tidak seberapa bunganya beranak pinak. Terlambat sedikit membayar, anak buah hartawan itu main pukul!"

"Itu belum seberapa. Terkadang ada orang punya hutang, karena tidak bisa membayar maka anak gadisnya yang dijadikan korban!" kata kawannya menimpali.

"Mudah-mudahan saja hartawan itu mampus tertimbun hartanya sendiri!" ujar laki-laki pertama.

"Hust, hati-hati kau bicara. Jika orangorangnya hartawan itu muncul kita semua bisa celaka!" kata kawannya.

Selagi mereka terlibat pembicaraan seperti itu, tiba-tiba saja terdengar suara langkahlangkah kaki yang begitu berat hingga mengguncangkan warung dan seisinya.

"Aku mencium bau sesuatu!" kata seorang pemuda yang duduk disudut warung. Pemuda ini tampaknya tidak minum arak seperti kawankawannya.

"Bau apa? Bidadari? Atau bau gadis telanjang?" cibir kawannya yang sudah mabuk dengan sinis.

Pemuda itu bersikap lebih serius. "Kalian tidak mendengar suara-suara aneh itu?"

"Ha ha ha...! Ngaco... kami yang mabuk kok malah kau yang bicara kacau. Mana ada suara langkah kaki. Yang ada hanya suara tawa gadis tetangga yang sedang pacaran dengan kawankawan kita!"

Maka suasana warung itu berubah menjadi hiruk pikuk para pemabuk yang mentertawakan kawannya sendiri.

"Bau bunga mayat!" desis pemuda berbaju putih. Ia menjadi tidak enak hati. Lalu ia teringat pada kawan-kawannya yang sedang memadu kasih di tempat-tempat yang gelap. Ia beranjak pergi meninggalkan warung tersebut. Beberapa orang kawannya mencegah dan ada pula yang mengejek, namun pemuda tidak menghiraukannya.

Sampai di sebuah tempat yang gelap, pemuda itu hentikan langkahnya. Ia tahu persis kebiasaan gadis dan perjaka sekarang. Memadu kasih di tempat yang gelap hanya untuk mencari kesempatan tangan berbuat usil dan kelayapan kemana-mana. Tidak heran jika kemudian banyak gadis yang menjadi korban dan masuk angin. Banyak anak-anak yang akhirnya tidak tahu kemana ia harus memanggil bapak?

"Sirun! Masihkah kau disitu?" suara si pemuda memecah keheningan malam. Tidak terdengar jawaban apa-apa, sementara bau bunga mayat semakin jelas terasa.

"Sindar, Saali, dimanakah kalian?"

Sepi menghentak. Pemuda baju putih merasakan ada bau kematian di situ. Lalu ia mencari-cari, tidak lama kemudian ia menemukan dua sosok tubuh tergeletak tumpang tindih di bawah pohon. Pabila pemuda baju putih bernama Kuswara ini menyalakan pelita kecil. Maka terlihatlah Mayat Sirun yang sedang menyatu dengan kekasihnya. Mayat-mayat itu dalam keadaan telanjang, tubuh mereka pucat, kering seakan darahnya tersedot habis. Tetapi di tubuh mereka tidak ada luka sedikit pun.

Kuswara tercekat, ia bergerak mundur. Tapi langkahnya terhenti ketika ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia lebih kaget lagi, ternyata yang terinjak olehnya kaki Sindar. Sindar dan kekasihnya tewas dengan tangan kiri masih menempel di celah-celah dada kekasihnya. Menggigil sekujur tubuh Kuswara. Ia kembali bergegas menuju warung untuk memberitahukan hal ini pada kawan-kawannya. Baru beberapa langkah ia menemukan mayat Saali dengan pacarnya. Saat mereka tewas rupanya sedang berciuman.

Sama seperti yang lainnya. Maka mayatmayat ini juga tidak mengalami luka sedikit pun. Kuswara semakin kecut, lalu ia berlari-lari dan masuk ke dalam warung.

Baru sampai di depan pintu matanya sudah melotot seperti melihat perempuan jelek telanjang.

"Hah... apa yang terjadi... apa...?!" jerit Kuswara panik.

Menggigil tubuh pemuda itu, bibirnya bergetar. Kawan-kawannya yang sedang mabuk di warung semuanya tewas dengan tubuh kering seperti kehabisan darah. Anehnya lagi, Kuswara tidak mendengar suara jeritan mereka.

Kuswara berlari-lari dalam kegelapan malam, begitu panik dan bingungnya dia sampaisampai dia tidak tahu kemana harus pergi dan melaporkan kejadian itu.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi tidak seorang pun tahu. Penduduk kota Magetan semuanya sedang dibuai mimpi. Sampai keesokan paginya penduduk setempat menemukan mayatmayat bergelimpangan yang tewas secara aneh dan kehilangan darah. Tidak heran jika pagi itu kota yang baru saja ditinggalkan oleh hartawan kikir menjadi gempar. Orang pun saling bertanya, siapa yang telah melakukan pembunuhan biadab seperti itu.

Kita tinggalkan dulu penduduk kota yang sedang tertimpa musibah. Tidak jauh dari kota Magetan. Tampak seorang pemuda dan seorang gadis berpakaian Ninja sedang berlari-lari memasuki gerbang kota.

Pemuda baju biru yang berada di belakang gadis berpakaian serba hitam tidak hentihentinya menggerutu.

"Kau rupanya lupa, banyak jejak kaki kuda di jalan ini. Kurasa kita sudah terlambat dan hartawan itu sudah pergi pula."

"Sontoloyo, mana kau tahu hartawan itu pergi atau tidak. Siapa tahu ini hanya siasatnya saja. Semakin dekat aku dengan tempat tinggalnya, semakin besar semangatku untuk membunuhnya!"

"Puspita...! Kau begini bersemangat, semula aku menyangka kau rindu padanya. Tidak tahunya kau masih terus ngotot mau membunuhnya. Bagaimana kalau misalnya gurumu ada disana?"

"Huh, kalau pun guruku ada disana, maka aku juga akan membunuhnya sekalian!" sahut Puspita Sari.

"Aku setuju. Bagusnya guru seperti itu memang dibunuh saja. Kalau tidak kau sebagai muridnya kelak tentu akan rugi sendiri." Kata Suro menimpali dengan seenaknya.

Mereka terus terlibat pembicaraan, sampai memasuki kota kedua muda mudi ini hentikan langkahnya dan memandang heran pada kerumunan orang yang berada tidak jauh di depan mereka. "Mengapa mereka tutup hidung, mengapa mereka menangis, Puspita?" tanya si konyol dengan mulut melongo.

"Manalah aku tahu!" sahut Puspita.

Dengan tergesa-gesa gadis ini menghampiri kerumunan orang-orang itu. Tiba-tiba ia melangkah mundur, wajah di balik kain itu memerah. Ternyata orang-orang itu sedang memisahkan dua mayat antara pemuda dan pemudi yang tewas dalam keadaan menyatu auratnya.

Suro sendiri sempat melihat semua apa yang terjadi. Mereka segera berlalu meninggalkan pemandangan memalukan itu.

"Apa yang terjadi disini?"

"Itulah yang aku tidak tahu. Mereka mampus dalam keadaan gandeng begitu. Tubuh mereka kering tidak berdarah. Apa ya enak, tewas dalam keadaan tongkat digigit mulut!"

"Jangan bicara macam-macam, konyol!! Bersihkan hati dan pikiranmu dari sesuatu yang berbau maksiat!" ketus suara Rana Unggul alias Puspita Sari.

"Aku cuma bicara satu macam saja. Lagi pula ini sebuah kenyataan." sahut Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Bukan kematian itu yang kita persoalkan. Apa yang menyebabkan mereka tewas begitu rupa?"

"Kurasa telah terjadi sesuatu yang mengerikan disini!"

"Sebaiknya kita cari keterangan Suro!" usul Puspita.

Si Bocah Ajaib mengangguk setuju. Mereka kemudian menelusuri kota kecil itu. Tidak lama mereka melihat seorang pemuda berpakaian putih berlari-lari seperti orang panik.

"Aku mendengar suara langkahlangkahnya. Lalu bumi seperti di guncang. Aku katakan ini pada mereka, tapi tidak satu pun yang percaya. Hu hu hu...! Aku mencium bau bunga mayat, kukatakan ini pada mereka, juga mereka tidak percaya. Lalu ku dapati tubuh mereka telah kering menjadi mayat... hu hu hu...!"

Pemuda baju putih itu tampaknya memang sangat histeris sekali. Suro dan Puspita datang menghampiri.

"Saudara apa yang kau lihat dan apa pula yang membuatmu begini?" tanya Pendekar Blo'on. Tadi ia sempat terkejut juga ketika pemuda baju putih yang tidak lain adalah Kuswara itu menyebut-nyebut 'bunga Mayat'.

EMPAT

Kuswara hentikan tangisnya. Matanya menerawang kosong, jelas sudah kalau diri pemuda itu sudah terganggu ingatannya.

"Kalian siapa? Apakah juga mendengar ada langkah-langkah kaki yang suaranya seperti gempa?"

Suro dan Puspita serentak menggeleng. "Kami tidak mendengar suara apa-apa, itu sebabnya kami bertanya kepadamu!" jawab Puspita.

"Ka... kalian orang asing di Magetan ini. Sebaiknya menjauhlah dariku. Aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian, karena aku belum sempat melihat pembunuh itu. Aku hanya mencium bau bunga mayat...! Hu hu hu...!"

Kuswara kembali terisak-isak, ia bahkan menutupi wajahnya. Puspita memberi isyarat pada Suro untuk segera meninggalkan pemuda itu. Mereka kembali meneruskan perjalanannya menuju tempat tinggal hartawan Abdi Banda yang sudah tidak seberapa jauh lagi dari tempat mereka berada.

"Begitu banyak keanehan yang terjadi disini. Kalau tidak melihat sendiri mana aku percaya."

"Mungkinkah ini pekerjaannya hartawan itu?" tanya Suro sambil seka keningnya yang berkeringat

"Rasanya mustahil. Menurut hematku mungkin ada orang lain yang mengincar harta atau bahkan nyawa hartawan itu." jawab Puspita. Suro terdiam, mereka kemudian melihat sebuah bangunan mirip sebuah istana. Bangunan mewah yang dinding dan lantainya berasal dari batu pualam putih itu dalam keadaan sunyi. Setelah mereka sampai di bagian teras depan orangorang ini pun jadi terkejut. Bangunan tersebut tampak hangus disana-sini seperti terbakar. Langit-langit ruangannya juga dalam keadaan terbakar.

"Apa hartawan itu sudah gila. Rumah me-

wah seperti ini kok dibakar!" seru Pendekar Blo'on.

"Hartawan itu telah minggat. Kurasa ada orang lain yang telah sampai kesini. Lihatlah semua perabotan acak-acakan." timpal Puspita.

Dengan mulut termonyong-monyong Suro memperhatikan keadaan di setiap ruangan yang ada.

Ucapan Puspita memang benar, semua barang-barang yang ditinggalkan oleh hartawan Abdi Banda dalam keadaan berantakan seperti habis diacak-acakan.

"Mungkin orang itu tidak mendapatkan apa yang dicarinya, sehingga ia marah dan membakar tempat ini. Namun tidak mempan, batu pualam tidak bisa termakan api begitu saja!"

"Sebaiknya kita cari tahu, mungkin ada sesuatu yang dapat kita jadikan petunjuk." usul Puspita Sari.

Suro golang-golengkan kepala, namun akhirnya mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Mereka lalu memeriksa setiap ruangan demi ruangan. Kamar yang tersedia seluruhnya berjumlah hampir seratus kamar. Sebuah jumlah yang sangat besar juga. Letih memeriksa kamarkamar yang ada, maka akhirnya kedua muda mudi ini memeriksa kamar yang terakhir. Kamar boleh dikata seperti gudang kecil. Kamar ini ternyata dalam keadaan rapat terkunci. Sebagian dindingnya terbakar berbentuk telapak tangan seseorang.

"Lihat! Kamar kecil di samping kamar ini sangat lain dari yang lainnya. Bentuknya seperti penjara kecil sementara. Aku yakin ada apaapanya dibalik pintu ini!" kata Puspita. Seraya lalu mengetuk-ngetuk dindingnya. Tidak disangkasangka terdengar suara erangan seseorang.

"Ada orang dibalik pintu ini!" seru Suro sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.

"Sebaiknya kita bongkar saja kamar ini!" usul Puspita.

Maka tanpa menunggu lebih lama lagi Suro dan Puspita segera berusaha mendobrak pintu dari jati tersebut. Karena usaha itu tidak mendatangkan hasil. Maka pemuda itu sambil bersungut-sungut mencabut Mandau jantan yang terselip di balik pakaiannya.

"Mundur, Pita!" perintah Si Bocah Ajaib. Puspita Sari melangkah mundur. Suro ke-

mudian mengibaskan senjata berwarna hitam itu. Empat lubang miring yang terdapat di tengahtengah mandau memperdengarkan suara rintihan tangis.

Tring! Clang!

Kunci pintu hancur berantakan. Maka sekejap kemudian pintu dapat dibuka. Puspita Sari dengan sangat berhati-hati sekali langsung melangkah masuk.

"Suro, kemarilah...!" seru si gadis. Si Bocah Ajaib langsung menyerbu ke dalam. Astaga! Suro terkejut. Di dalam ruangan sempit itu ternyata terdapat seorang gadis cantik dalam keadaan terikat rantai kaki dan tangannya. Tampaknya ia tidak makan selama berhari-hari. Pakaian gadis itu berselimut debu. Ada sebuah luka seperti terbakar di lehernya. Gadis ini dalam keadaan telentang. Sehingga bagian-bagian yang menonjol terlihat nyata. Puspita segera memeriksa denyut nadi di leher.

"Dia keracunan. Mampukah kau menyembuhkannya?" tanya Puspita.

"Apa ini bukan jebakan?" Suro ragu-ragu. "Tol... tolonglah, tuan... kalau tuan meno-

long aku, maka aku bersedia melakukan apa saja untuk kepentingan tuan!" kata si gadis tersendatsendat. Puspita memberi isyarat dengan anggukan kepala.

Maka tanpa menunggu lagi, Suro segera melepaskan rantai baja yang membelengguh tangan dan kaki si gadis. Tidak lama Suro telah memondong gadis malang tersebut menuju ke sebuah ruangan yang luas. Tubuh gadis itu panas bukan main. Pendekar Blo'on meletakkannya di atas tempat tidur. Setelah diperiksa sana sini, setelah pegang sana sini pula. Maka wajah pemuda itu berubah memucat.

"Racun 'Bunga Asmara'...! Bagaimana ini? Warangka mandau ku tentu tidak dapat menghilangkan pengaruh racun itu. Terkecuali...!" Suro nyengir sambil garuk-garuk kepala. rius, "Terkecuali apa, Suro?" tanya Puspita se-

"Walah, kau seperti tidak pernah terkena panah asmara saja. Aku harus mengerahkan tenaga dalamku untuk mendesak keluar racun yang mengendap di tubuhnya. Aku sesungguhnya heran sekali, bagaimana racun itu bisa mendekam di tubuhnya? Racun Bunga Asmara sangat langka. Sedangkan orang yang terkena racun itu harus diobati dengan cara membuka sekujur tubuhnya. Dalam arti dia telanjang bulat-bulat...!"

Plaak!

Satu tamparan mendarat di wajah Suro.

Pemuda itu kontan jatuh terduduk. Suro bangkit berdiri sambil usap-usap pipinya yang merah. Lalu....

Plook!

Suro membalas tamparan Puspita. "Apa salahku, aku bicara sebenarnya bukan bermaksud cabul, porno jorok dan kotor...!" kata si pemuda serius.

"Ucapanmu jorok melulu!" desis Puspita seperti seorang gadis yang sedang cemburu pada kekasihnya.

"Aku serius. Orang yang terkena racun itu harus disembuhkan oleh lawan jenisnya. Kalau orang sejenis juga yang menyembuhkannya maka salah-salah orang itu pun akan keracunan juga!"

"Aku tidak percaya!" Puspita Sari tetap ngotot. Rupanya ia tidak ingin melihat pemuda yang mulai disenanginya itu menyentuh gadis itu. "Kalau tidak percaya silahkan obati sendiri dan resiko tanggung sendiri!" kata Pendekar Mandau Jantan serius.

Dasar Puspita gadis yang kelewat besar rasa cemburunya. Sehingga ia pun menjadi nekad.

"Kau keluar dulu Suro. Badan gadis ini panas sekali. Sebagaimana katamu, aku harus membuka seluruh pakaiannya."

"Baik, sekalian aku berjaga-jaga di luar." kata si pemuda.

Pendekar Blo'on kemudian keluar. Puspita mulai membuka pakaian si gadis. Begitu pakaian dibuka ternyata gadis malang itu tidak memakai kutang dan celana dalam. Bukan kenyataan ini yang membuat Puspita terkejut. Melainkan ukirukiran di sekujur tubuh si gadis. Tampaknya seseorang sengaja mentatto tubuh gadis itu untuk menyembunyikan sesuatu. Sementara gadis malang itu terus mengerang-erang.

Puspita mengerahkan tenaga dalamnya persis di atas dada si gadis. Belum sampai sepemakan sirih, gadis berpakaian ala Ninja ini terlempar. Wajahnya pucat, sudut-sudut bibirnya menyemburkan darah. Ternyata apa yang dikatakan oleh si konyol memang betul. Tenaga dalam Puspita membalik, bahkan sebagian racun Bunga Asmara menyerang gadis itu.

"Sur... Suro...!" panggil Puspita dengan napas terengah-engah.

Suro Blondo yang mendengar suara gadis itu langsung menghampiri. Ia menjadi kaget, bukan saja karena melihat tubuh mulus yang dalam keadaan telanjang itu, namun juga karena melihat Puspita menderita luka dalam.

"Tuh kan, apa kubilang tadi!" tegur Pendekar Blo'on. Ia segera menghampiri Puspita. Setelah memegang lengan gadis itu, wajah konyolnya berubah pucat. "Kau keracunan 'Bunga Asmara'. Sebaiknya jangan banyak bergerak! Mungkin untuk sementara aku hanya dapat menghambat racun itu agar jangan sampai menjalar ke jantung."

Suro menotok kedua pangkal lengan Puspita. Gadis itu merintih dan menunjuk-nunjuk ke arah gadis malang.

"Tampaknya dia ingin bicara sesuatu?" desis Puspita.

"Bagaimana aku bisa mendekatinya, dia dalam keadaan polos begitu?" tanya Suro bingung.

"Mari kita dekati, kurasa tatto berbentuk peta itu mempunyai arti penting!" kata Puspita Sari.

Mereka segera menghampiri tubuh telanjang yang dalam keadaan menelentang tersebut. Suro sendiri sebenarnya malu juga melihat aurat perempuan yang terpentang di depannya. Namun gadis malang ini tampaknya memang tiada harapan hidup lebih lama lagi.

"Deng... dengarkanlah baik-baik...!" kata si gadis malang terputus-putus. Nafasnya satu-satu. "Aku... adalah isteri simpanan hartawan Abdi Banda. Tato di tubuhku ini ia yang membuatnya. Katanya sebuah tempat penyimpanan sebuah kitab Maha penting. Tatto ini merupakan sebuah tempat yang dijaga siang dan malam. Bentukbentuk tubuhku ini adalah letak penyimpanan kitab itu...! Ak... aku... ekh...!" Suara si gadis malang terputus. Kepalanya terkulai, ia tewas seketika itu juga.

"Dia mati...!" desis si pemuda.

"Ya... kita harus mempelajari peta ini secepatnya. Setelah itu kita kuburkan dia secara layak. Aku yakin kitab yang dimaksudkannya adalah kitab yang sangat penting." kata Puspita sambil menyeringai menahan rasa sakit yang dideritanya.

Suro dan Puspita sama-sama memperhatikan tatto yang terdapat di tubuh si gadis malang. Setelah memperhatikan cukup lama hanya membuat mata Suro menjadi sepet, jantung pemuda itu bergemuruh. Ia berpikir keras hingga membuat keningnya berkerut dalam.

"Kau bisa memahaminya?" tanya Suro. Puspita menggeleng-gelengkan kepala.

"Hm sulit juga." Pendekar Blo'on mengguman pelan, lalu garuk-garuk kepala. "Sekarang aku mengerti. Hartawan terkutuk itu sungguh pandai dan licik sekali. Payudara gadis ini tentu diumpamakan sebagai bukit. Karena dua, pasti letak penyimpanan kitab itu di dekat bukit kembar." kata Suro termonyong-monyong, sementara tangannya menunjuk-nunjuk dada mayat di depannya. "Kemudian ada jalan menghubungkan ke puser. Nah... ini agak membingungkan. Puser... akh, mungkin pusat. Lalu ada garis lurus yang menghubungkan antara pusat dan bawah puser. Gelo, porno betul...! Hartawan gila itu benarbenar penuh keedanan."

"Dekat aurat yang di bawah ini diberi tanda silang. Nah... apa maksudnya...?" tanya Puspita tersipu-sipu. Bagaimana pun apa yang dilihat oleh Suro adalah bagian-bagian yang sangat vital. Walau pun mungkin otak Suro tidak ngeres. Hanya Puspita malu hati sendiri melihat Suro cengar-cengir melulu.

"Nah... kurasa dekat pusat ini ada bukit lagi. Mungkin saja bukit itu ditumbuhi pohonpohon lebat seperti bukit ini...!" Suro menunjuknunjuk. Namun tangannya segera ditepiskan oleh Puspita.

"Kenapa sih? Aku kan tidak menyentuhnya?" Si Bocah Ajaib nyengir lagi.

"Karena ada aku, kalau tidak mungkin sudah lecek mayat gadis ini!" dengus Puspita.

Suro garuk-garuk rambutnya. "Sudahlah, sekarang aku paham. Sebaiknya kita kuburkan dulu mayatnya!" usul si pemuda berambut hitam kemerahan.

Tentu saja Puspita tidak dapat membantu, karena dia sendiri menderita keracunan. Akhirnya Pendekar Blo'on yang dibuat sibuk. Setelah merapikan kembali pakaian si gadis mereka keluar meninggalkan singgasana kebesaran milik hartawan Abdi Banda. Mereka tidak mau repot, sebuah kubur mereka buat di samping rumah hartawan yang telah ditinggalkan pemiliknya. Setelah mereka selesai menguburkan mayat gadis itu, Suro memberikan penghormatan yang terakhir.

"Nisanak, aku belum mengetahui siapa kau punya nama. Kudoakan agar kau masuk sorga, dapat jodoh pangeran tampan. Maaf lho aku terpaksa melihat peta di tubuhmu. Hartawan sinting itu nanti akan mendapat bagian setimpal dariku. Nanti tubuhnya akan ku ukir gambar tongkat yang paling besar di dunia Selamat jalan, kalau

dikubur ada kabar baik dan banyak bidadari cantik kasih tau aku ya. !"

"Geblek! Ngomong apa kau?" dengus Puspita. Gadis itu meringis kesakitan.

Suro tepuk keningnya. "Astaga...! Aku lupa kau tidak boleh banyak bergerak. Sebaiknya kita cari dulu tempat yang aman untuk menyembuhkan mu!"

"Tapi !"

"Sudah jangan rewel! Biar ku gendong!" tegas si konyol.

Merasa tidak punya pilihan lain, maka Puspita Sari terpaksa mau saja ketika Suro Blondo menggendongnya. Dengan mengerahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan. Maka hanya dalam waktu singkat tubuh si pemuda melesat laksana terbang.

Sambil lari si konyol senyum-senyum sendiri. Betapa tidak, dada si gadis menekan punggungnya. Dada yang liat itu benar-benar membuat Suro jadi gelisah.

"Nafasmu seperti nafas kuda, ada apa sih?" tanya Puspita.

"Heh, anu... tadi mulutku kemasukan nyamuk. Rupanya nyamuknya nyasar di tenggorokan!" sahut si pemuda terbata-bata.

"Kurasa disini adalah tempat yang aman! Cepat Suro aku sudah tidak kuat lagi...!" rintih Puspita.

Si Bocah Ajaib menghentikan larinya. Setelah melihat kanan kiri kelihatannya memang cukup aman. Saat itu hari sudah menjelang senja. Suro menyelinap di balik semak-semak belukar.

"Ini termasuk sulit. Pilihannya tergantung kau sendiri!" ujar Pendekar Blo'on sambil menurunkan Puspita dari dukungannya.

"Maksudmu aku sudah mengerti. Asal di dalam kepalamu tidak berpikir yang bukanbukan. Maka demi kesembuhan ku aku harus mengesampingkan rasa malu." kata Puspita serius.

Satu hal yang membesarkan hatinya, waktu itu suasana sudah mulai gelap. Sehingga kalau pun ia membuka sebagian pakaiannya tentu Suro tidak begitu melihatnya.

Dengan tangan gemetaran, akhirnya Puspita melepaskan seluruh pakaian yang di bagian atas. Sehingga tubuh mulusnya terlihat nyata. Si konyol bersikap lebih serius. Setelah mengosongkan pikirannya. Suro mulai menghimpun tenaga dalamnya ke bagian dada dan sekujur tangannya. Mereka saling berhadap-hadapan. Suro kemudian memeluk tubuh polos Puspita yang terasa panas bukan main. Satu sengatan hawa panas dirasakan oleh Suro dan ia semakin memperhebat tenaga dalamnya.

Puspita mulai merintih, akibat racun yang mengendap di tubuhnya itu telah membangkitkan gairahnya. Suro sadar betul akan hal itu. Namun mereka tetap saling berpelukan. Bahkan Puspita semakin mempererat pelukannya. Matanya setengah terpejam, sedangkan bibirnya merah merekah.

"Suro... oh, kau... akh...!" Puspita merintihrintih. Tampaknya ia semakin terhanyut terbakar Birahi.

Si konyol sudah mandi keringat. Ia terus melipat gandakan tenaga dalamnya. Sampai akhirnya racun yang mengendap di tubuh Puspita terdesak keluar. Suro melepaskan pelukannya. Ia kemudian bersemedi untuk mengembalikan tenaga dalamnya yang sempat terkuras.

Perlahan Puspita seperti tersadar dari apa yang dialaminya. Ia merapikan pakaiannya. Dilihatnya pemuda yang telah meluluhkan hatinya masih tetap memejamkan matanya. Lalu timbul rasa was-was dalam jiwanya.

"Dia telah menolongku dengan cara memeluk tubuhku. Bagaimana jika aku sampai hamil?" pikirnya.

Si konyol membuka matanya. "Bagaimana keadaanmu?"

"Baik-baik saja. Tapi kurasa luka dalamku belum sembuh betul!" si gadis melirik dengan kerlingan penuh arti.

"Entah siapa yang memiliki racun maut itu. Kita juga harus menyelidikinya. Eeh... kau kelihatan gelisah sekali...!" Suro terkejut.

"Ak... aku... aku takut hamil...!" sahut Puspita lugu.

Mendengar ucapan si gadis, Si Bocah Ajaib langsung tergelak-gelak.

"Kok tertawa?" Puspita salah tingkah.

"Ha ha ha...! Kau lucu, aku kan cuma menyembuhkan mu, cuma memeluk saja. Himal... eeh, hamil itu baru akan terjadi kalau yang dibawah saling bertabrakan... selama belum pernah terjadi pertarungan sengit mana mungkin seorang gadis hamil...!" kata Suro terkekeh-kekeh.

"Eh, kau bicara apa?"

"Tentu saja bicara masalah orang bunting. Ah sudahlah, urusan kita masih banyak. Kita harus cari kitab itu, dan kita juga harus cari tahu kunyuk mana yang telah membunuh gadis itu?"

"Lalu bagaimana urusan dengan hartawan

itu?"

"Perjalanan masih panjang, kita belum ber-

temu lagi dengan Pendekar Lugu. Nanti jika persoalan di sini beres, kita temui Pendekar Lugu untuk bersama-sama mencari Hartawan Abdi Banda...!"

"Sebaiknya kita teruskan perjalanan ini!" usul Puspita.

Maka akhirnya malam itu juga Suro Blondo dan Puspita Sari mencari tempat sebagaimana yang tertera dalam peta.

LIMA

Jauh di sudut kota Magetan, di sana terdapat sebuah daerah yang lebih dikenal dengan nama Hutan Larangan. Jarang sekali ada orang yang berani berkeliaran di daerah itu. Penduduk setempat percaya betul di daerah ini di huni oleh mambang dan peri-peri jahat.

Namun hal-hal yang bersifat tahyul tampaknya tidak berlaku pada nenek dekil berwajah jelek ini. Ia keluar masuk daerah itu sambil mencari-cari sesuatu.

"Bwe... tidak ada harta benda yang tertinggal di rumah hartawan itu. Satu-satunya tempat dan gudang harta milik Abdi Banda hanyalah di hutan larangan Candi Mungkur ini. Dulu sekali aku pernah melihat orang-orang hartawan itu membuat gudang di sini. Tapi... mengapa sekarang hutan seperti berubah?" kata si nenek dekil yang tidak lain adalah Gempita Loka atau lebih dikenal dengan julukan Ratu Alam Kubur. Untuk lebih jelasnya (dalam Episode Anak Langit & Pendekar Lugu). Sebagaimana di ketahui nenek jelek ini sangat rakus sekali akan harta benda. Ia tinggal di Tegal Waru daerah Kali Urang. "Mungkin lebih baik aku mencari di sekitar sana!" ujar Ratu Alam Kubur disertai sesungging senyum di bibirnya. Karena nenek-nenek tentu senyumannya sama sekali tidak menarik hati.

Gempita Loka kemudian bergerak ke arah lain. Ia melewati dua buah bukit. Tidak jauh dari bukit-bukit itu terdapat sebuah lubang besar mirip sumur tidak terpakai. Ia melewati sumur itu, namun baru beberapa langkah dari arah depannya muncul belasan laki-laki bersenjata lengkap. Orang-orang ini langsung mengurung si nenek. Tampang-tampang mereka benar-benar tidak ramah sekali.

"Siapa kau, katakan apa tujuanmu kemari?" tanya salah seorang di antaranya sinis.

"Hik hik hik...! Para kurcaci tengik, aku tahu kalian pasti pengawal gudang harta Abdi Banda. Rupanya tuan kalian tidak sempat mengangkut semua hartanya. Aku Ratu Alam Kubur datang kemari untuk mengambil harta yang tertinggal. Jangan halangi jika tidak pengin mampus!" tegas Gempita Loka tanpa malu-malu.

"Hmm, tua bangka rongsokan. Bicaralah kau sesuka hatimu pada setan-setan penghuni neraka!" teriak kepala pengawal gudang harta sengit.

Sepuluh orang langsung maju ke depan. Senjata mereka menderu menghantam tubuh kurus kering di depan mereka. Tapi sebelum senjata itu menyentuh tubuh lawan. Ratu Alam Kubur sudah menyambitkan senjata rahasia paku emas beracun ke arah lawan-lawannya. "Haarkh...!"

Delapan orang langsung terkapar dan tewas dengan tubuh berubah kuning. Paku emas beracun menancap di kening mereka, dua orang lainnya sempat selamatkan diri dengan cara berguling-guling.

Pimpinan penjaga gudang harta jadi kaget, ia sama sekali tidak menyangka kalau perempuan renta itu memiliki kepandaian tinggi. Sambil bersikap waspada ia memberi isyarat lagi pada anak buahnya.

"Cincang! Bunuh...!" teriak Pimpinan pengawal memberi semangat.

Maka menderulah berbagai jenis senjata menghujani Ratu Alam Kubur. Nenek renta itu dengan gesitnya menghindar, terkadang ia melompat ke udara. Ketika tubuhnya melayang turun ke tanah, maka ia melakukan tendangan beruntun secara menyilang.

Duuk! "Hekh...!"

Dua orang pengawal terjengkang, giginya rontok, yang satunya lagi jatuh terduduk. Tulang iganya patah. Namun serangan bukan semakin mengendur. Yang terjadi malah sebaliknya. Si nenek melayani serangan itu sambil terkikik-kikik.

"Heaa...!"

Di iringi dengan bentakan keras ia melompat mundur ke belakang. Ia merogoh kantung hitamnya. Kemudian secepat kilat ia mengibaskan tangannya ke arah pengawal-pengawal itu. "Awas...!!" Kepala pengawal berteriak mem-

beri peringatan.

Sayang peringatan itu terlambat. Pakupaku emas beracun telah menghujam tubuh lima orang pengawal. Mereka tergelimpang roboh, mengge-lepar sekejap, lalu kejang kaku dan jiwanya pun melayang.

"Hik hik hik...! Majulah kalian semua, biar aku tidak membuang-buang waktu percuma...!" dengus Ratu Alam Kubur sengit.

Tantangan itu tentu membuat para pengawal harta tersebut semakin bertambah mar ah. Apalagi mengingat kawan-kawan mereka sudah banyak yang tewas menjadi korban si nenek.

Set! Set!

Sepuluh senjata mengurung Ratu Alam Kubur dari delapan penjuru arah. Salah seorang diantara mereka bahkan bertindak nekad dan menyerang mendahului kawan-kawannya. Golok di tangannya menyabet pinggang lawan dengan cepat sekali. Namun Gempita Loka sudah menghindar kesamping, serangan pengawal luput, malah sekarang tangan si nenek meluncur cepat mengancam kepalanya.

Prook...!

Kepala pengawal itu pecah, otaknya berhamburan. Tubuh tersungkur dan tidak mampu bangkit lagi. Sebelum nenek renta itu beranjak dari tempatnya. Maka sebuah mata tombak menusuk ke bagian perutnya. Bret!

"Hekh... kurang ajar...!" maki Ratu  Alam Kubur.

Pakaiannya sobek, pantatnya yang hitam mengucurkan darah. Dan Ratu Alam Kubur menjadi sangat murka. Ia berbalik secepatnya Sekali bergerak tombak lawan telah berpindah tangan. Lalu tombak itu diputarnya, laksana kilat dilemparkannya ke arah pengawal tadi

Shhet! Jebb...! "Hegh...!"

Pengawal sial itu melotot, perutnya tertusuk tombak hingga tembus ke punggung. Tewaslah pengawal ini dengan penasaran.

"Kunyuk betina! Kau telah melakukan pembunuhan seenak perutmu! Heaaa...!" Belasan pengawal harta hartawan Abdi Banda menggerung keras. Karena di landa kemarahan, maka serangan-serangan yang mereka lakukan sudah tidak teratur lagi. Tentu saja hal ini sangai menguntungkan Ratu Alam Kubur. Sekali nenek renta menerjang ke depan, lalu ia melepaskan serangkaian tendangan beruntun....

Des! Des! Des!

Celakalah bagi pengawal-pengawal yang berada begitu dekat dengan dirinya. Kepala mereka retak, ada pula yang terhantam dadanya bahkan ada yang tulang bahunya putus.

Selagi yang terkena tendangan sekarat, maka Ratu Alam Kubur melepaskan paku-paku beracunnya ke arah kepala pengawal yang sekarang juga sudah turun tangan.

Laki-laki itu tampaknya lebih berpengalaman dibandingkan dengan anak buahnya. Terbukti begitu serangan datang, maka ia memutar golok besar di tangan untuk lindungi diri.

Tring! Triing!

Paku-paku beracun berpentalan, namun ada juga yang langsung rontok. Kini giliran kepala pengawal yang merangsak maju. Golok itu meluncur deras menembus perut si nenek. Namun Ratu Alam Kubur sudah menggeser langkahnya. Serangan meluncur terus dan mengenai tempat kosong. Gempita Loka tidak tinggal diam. Ia memukul pergelangan tangan kepala pengawal. Lakilaki berwajah angker mencoba menarik tangannya, namun gerakannya kalah cepat.

Dhaak! Trang! "Auh...!"

Laki-laki itu mengeluh, pergelangan tangannya patah, golok jatuh terpental menghempas batu hingga menimbulkan suara berkrontangan. Tidak memberi kesempatan lagi, Ratu Alam Kubur mengambil golok lawan. Kemudian dengan sadisnya langsung mengibaskan golok itu ke bagian kepala lawan.

Praak! "Aaaaa.,.!"

Kepala pengawal menjerit keras. Tubuhnya langsung terbanting, Ratu Alam Kubur tertawa terkekeh-kekeh. Ia membuang golok itu, sisa-sisa pengawal yang selamat langsung melarikan diri.

Perempuan renta ini tampaknya sudah tidak perduli lagi. Ia terus berjalan ke arah munculnya pengawal-pengawal gudang harta tadi. Setelah meneliti sana sini, akhirnya ia melihat sebuah pintu batu yang bentuknya sangat menggelikan sekali. Ternyata pintu batu itu setelah didorong beratnya minta ampun. Ratu Alam Kubur terpaksa melepaskan pukulan 'Telaga Sukma'. Salah satu pukulan dahsyat yang dimilikinya.

Wuuut! Blaaar...!

Pintu batu itu hancur berkeping-keping. Di dalam ruangan terpancar cahaya warna warni yang menyilaukan mata. Sebagai orang yang sangat cerdik ia tidak langsung masuk. Namun diambilnya sebuah batu, batu dilemparkannya ke dalam ruangan.

Wing! Set! Buum!

Rupanya dibalik pintu batu itu sengaja dipasang berbagai jenis senjata rahasia. Salah satu diantaranya adalah panah-panah beracun yang tadi sempat menghunjam ke berbagai arah.

"Hik hik hik...! Manusia seperti aku mana kena ditipu. Segala jebakan picisan begitu mana ada artinya bagiku!" dengus Ratu Alam Kubur.

Tidak berselang lama, maka nenek renta itu masuk ke dalam gudang penyimpanan harta tersebut. Perempuan itu bukan main senangnya begitu melihat emas dan permata bertumpuktumpuk.

"Aku akan menjadi orang yang paling kaya di dunia ini! Hi hi hi...!" Ratu Alam Kubur mengumpulkan harta-harta yang terdiri dari emas dan permata itu. Kantong demi kantong diisinya. Sampai seluruh kantong yang tersedia penuh. Walaupun semua kantong telah terisi harta, namun sebagian terbesar harta itu tetap teronggok di tempatnya.

Sementara itu Pendekar Blo'on dan Puspita Sari telah sampai di daerah Hutan Larangan. Mereka kelihatan terkejut saat melihat belasan orang laki-laki dalam keadaan tewas.

"Kita sudah keduluan orang, Pita!" celetuk si pemuda.

"Ya, orang itu mungkin juga sudah mengetahui tentang peta penyimpanan harta milik hartawan Abdi Banda."

"Lihat... itu ada dua bukit. Berarti kita telah mendekati tempat yang kita tuju. Itulah bukit kembar, bukit itu benar-benar gundul, licin dan putingnya lancip seperti payudara. Tempat ini lebih pantas di sebut alam porno." kata Suro lalu tertawa sambil garuk-garuk kepala.

"Ini ada sebuah sumur. Mungkin sumur inilah yang dimaksud dengan pusat...!"

Suro terdiam, ia mencari-cari. "Lalu bukit yang ada hutannya mana?" tanya si pemuda disertai senyum simpul. "Itu yang disebelah sana itu!" Puspita tibatiba menunjuk ke arah dataran tinggi.

"Ha ha ha...! Hartawan gemblung itu memang sangat pandai bercanda. Ia menyimpan harta kekayaannya di tempat yang mirip dengan aurat perempuan. Bukit itu memang ada hutannya. Pertama bukit kembar yang gundul lalu, puser, kemudian bukit tunggal yang ditumbuhi semak belukar! Gelo betul...!"

"Pendekar geblek, jangan kau bercanda terus. Sebaiknya kita periksa gudang itu...!" kata Puspita.

Cuping hidung Suro kembang kempis. Puspita hampir tertawa melihat ulah pemuda yang diam-diam dicintainya itu. "Aku mengendus ada kunyuk bau pesing di dalam gudang itu. Sebaiknya kau berlindung di belakangku! Luka dalammu belum sembuh benar!" Suro Blondo mengingatkan.

Sikap si konyol yang begitu serius membuat Puspita sadar bahwa pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu tidak main-main. Dengan berhati-hati sekali mereka mulai mendekati pintu gudang yang bagian atasnya ditimbuni tanah.

"Ha ha ha...!" Pendekar Blo'on tertawa sambil garuk-garuk kepalanya.

"Mengapa tertawa? Bukankah tawamu hanya membuat orang yang berada dalam gudang mengetahui kehadiran kita?" tegur Puspita.

"Lihat, mulut gudang ini bentuknya seperti... ha ha ha...! Dasar hartawan bangsat. Seleranya pada perempuan begitu rendah. Sampaisampai mulut pun ia buat disini. Ha ha ha...!" kata Suro terpingkal-pingkal.

"Dasar Pendekar Goblok! Nenekmu, ibumu juga punya. Berarti kau mentertawakan mereka juga!"

"Bukan, aku mentertawakan manusia edan itu." kata Suro dengan muka berubah merah.

Mereka akhirnya saling terdiam lagi. Puspita bersungut-sungut, namun tetap mengikuti Suro tidak jauh di belakangnya. Belum sampai di depan pintu gerbang mereka melihat sebuah bayangan berkelebat dari bagian dalamnya.

"Awas Suro...!" Puspita berteriak keras memberi peringatan pada Pendekar Blo'on.

Terlihat jelas sedikitnya tujuh buah benda berwarna kuning melesat ke arah mereka. Suro menyambar Puspita dan membawanya serta berguling-guling. Mereka tumpang tindih, namun luput dari serangan paku-paku beracun yang dilemparkan oleh Ratu Alam Kubur.

Suro bangkit berdiri, di depannya berdiri seorang nenek jelek berpakaian kumuh. Suro nyengir lagi. Si nenek terkejut karena tidak menyangka bahwa orang yang baru dibokongnya tadi adalah seorang pemuda tampan bertampang ketolol-tololan.

"Kau manusia konyol darimana?" tanya Ratu Alam Kubur.

"Pita, nenek jelek bau tengik ini bertanya kita darimana? Kita kan baru berbulan madu, ya... sayang...!" kata si pemuda seenaknya.

"Pendekar geblek ini masih juga mainmain." gerutu Puspita. Lalu ia menyahuti. "Benar kita baru jalan-jalan dan nyasar kemari!" sahut gadis berpakaian Ninja.

"Rupanya pengantin baru. Tapi mengapa isterimu memakai penutup kepala segala, manusia gendeng?" bentak si nenek.

"Oh itu? Isteriku sakit mata, wajahnya jelek, dibandingkan wajahmu tentu jelek lagi wajah isteriku. Betul kan isteriku?"

"Palamu peang...!" dengus Puspita tidak dapat menahan kejengkelannya.

"Nah dia marah. Kalau sudah marah begitu biasanya wajahnya berubah semakin jelek. Jadi sebaiknya kau menyingkir nenek-nenek. Kami akan melewatkan malam di gudang...!"

"Bangsat gelo dari manakah kalian. Jangan coba-coba masuk ke dalam gudang itu kalau tidak ingin mampus!" ancam Ratu Alam Kubur.

Diam-diam ia menjadi curiga. Janganjangan pemuda bertampang ketolol-tololan itu punya maksud yang sama seperti dirinya.

"Aih... kau melarangku. Apakah kau juga sedang berbulan madu, nek? Kalau orang tua yang berbulan madu sebaiknya di kuburan saja, biar gampang mengurusnya jika kehabisan nafas!" kata Suro.

"Pemuda edan! Jika kau tetap ngotot, aku akan mengirim kalian berdua ke neraka...!" dengus Ratu Alam Kubur.

Pendekar Blo'on bukannya takut tapi malah tertawa-tawa. Setelah tawanya lenyap, maka sikapnya kemudian berubah serius.

"Aku tahu kau ingin mengambil harta hartawan Abdi Banda. Yang ku herankan manusia bau tanah sepertimu kok masih kemaruk harta. Untuk apa? Atau untuk menyuap Malaikat di alam kubur nanti?"

Gempita Loka kaget bukan main. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda setengah edan itu mengetahui apa yang sedang dikerjakannya di tempat itu.

"Kau sudah tahu, sebaiknya menyingkir. Harta itu tidak boleh jatuh ke tangan orang lain!" perintah Ratu Alam Kubur.

"Walah, bukan harta itu yang penting bagiku. Kami hanya ingin mengambil sesuatu yang lebih penting dari harta-harta itu!"

"Tidak bisa!"

"Harus bisa!" bantah Suro ngotot. "Tidak!"

"Bisa...!"

"Keparat kowe! Heaaa...!" Ratu Alam Kubur berteriak marah. Ia langsung menyerang Suro Blondo dengan serangkaian tendangan menggeledek.

"Menyingkir Pita!" kata Suro memberi abaaba. Puspita pun dengan cepat segera menyingkir. Pendekar Blo'on sendiri dengan mulut termonyong-monyong langsung menghindari serangan lawannya dengan gerakan yang lucu sekali.

"Aih... pakaianmu benar-benar bau tengik, sudah berapa tahun sih tidak mandi...?" ejek Suro

"Bangsat, heaaat...!"

Dengan marahnya Gempika Loka hantamkan tinjunya ke wajah Suro. Pemuda ini cepat merunduk. Serangan lewat di atas kepala. Serangan luput Gempika Loka lepaskan tendangan. Suro lompat ke samping, lalu berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Lalu dia bergulingan, selanjutnya melompat ke udara sambil menggaruk-garuk sekujur tubuhnya.

"Ciaa...!"

"Nguk! Nguk...!" Gerakan dan tingkah si konyol yang seakan mengejek lawannya ini membuat Ratu Alam Kubur menjadi semakin marah. Tapi diam-diam hatinya kaget juga. Pemuda konyol berambut kemerah-merahan ini mempunyai jurus-jurus kacau seperti jurus monyet. Hal ini mengingatkan dirinya pada seorang tokoh sakti yang tinggal di gunung Mahameru. Dia tidak lain adalah Penghuni Siluman Kera Putih yang dikenal dengan nama Barata Surya.

Namun seingatnya kakek berilmu tinggi itu tidak punya seorang murid pun. Lalu pemuda tampan bertampang ketolol-tololan ini murid siapa? Sadar pemuda itu tidak dapat dipandang enteng, maka Ratu Alam Kubur segera mengeluarkan jurus-jurus simpanannya. ENAM

"Jurus-jurusmu seperti pernah kukenal. Katakan kau murid siapa?" dengus Ratus Alam Kubur kertakkan rahangnya.

"Entahlah, mungkin murid monyet, mungkin murid Hantu, perlu apa kau tahu?" sahut Suro.

"Anak Setan...!" maki si nenek. Mendidihlah amarahnya. Ia tiba-tiba menyentakkan kakinya ke belakang. Lalu kaki itu mengais di atas tanah. Selanjutnya ia melompat, tangannya mencengkeram wajah Pendekar Blo'on.

Si Bocah Ajaib selamatkan wajahnya dari cakaran. Lalu ia keluarkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'. Disertai dengan bentakan keras yang disusul oleh suara lolongan membuyarkan kosentrasi lawannya. Suro Blondo berkelebat lenyap. Gerakan-gerakan kaki dan tangannya semula memang mirip dengan gerakan kera. Main lompat sana lompat sini, garuk sana garuk sini, lalu tangannya secepat kilat menyambret. Ratu Alam Kubur menghindar ke samping, tangannya menepis. Tapi Suro mengangkat tangannya lebih ke atas lalu meluncur ke atas dada.

Dell...!

"Pemuda kurang ajar!" geram Gempita Loka. Wajahnya yang hitam penuh keriputan semakin bertambah hitam. "Tidak usah marah-marah nek. Kau punya memang sudah kempes!" ejek Suro lalu tertawa.

"Tertawalah kau sepuasmu, sebentar lagi tampang konyol mu akan kubuat babak belur!" teriak Ratu Alam Kubur.

Tiba-tiba saja nenek renta membuka serangannya sambil melepaskan paku-paku beracunnya. Beberapa buah benda berwarna kuning berkeredepan menyerang Pendekar Blo'on. Pemuda ini bersungut-sungut. Lalu melenting ke udara. Paku-paku beracun lewat di bawah kaki Pendekar Blo'on. Selagi pemuda itu meluncur turun. Gempita Loka memburunya, lalu telapak tangan perempuan itu menghantam punggung si konyol.

Sulit bagi Suro menghindari pukulan selagi tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dengan telak pukulan itu menghantam tubuhnya. Suro terguling-guling. Punggungnya seperti remuk. Seperti orang sakit encok dia bangkit lagi. Tapi si konyol masih sempat tersenyum.

"Heea...!"

Nenek renta yang sudah kalap ini tidak membiarkan lawannya yang sudah terluka punya kesempatan membela diri. Kini kakinya meluncur ke depan. Suro terkesiap. Ia pergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Namun walau pun sekarang tubuhnya telah berubah menjadi banyak. Kiranya Ratu Alam Kubur juga sudah mengerahkan jurus andalan 'Menggulung Langkah Menempuh Jarak'.

Pemuda berambut hitam kemerahan jadi kaget. Kemana pun ia bergerak lawan terus mengikutinya. Bahkan serangan lawan semakin bertambah mengkhawatirkan keselamatannya. Lima buah jari meluncur deras ke perutnya. Suro menangkis dengan mempergunakan sikunya.

Buuk! Reet!

"Aih...!" Suro terhuyung, mulutnya peletatpletot seperti orang yang sedang berusaha menahan marah. Kulit sikunya mengucurkan darah. Selagi ia belum sempat mengembalikan keseimbangannya, Ratu Alam Kubur sudah melepaskan tendangan ke dadanya.

Diegkh.!

"Hekh, mati aku...!" keluh Pendekar Blo'on. Ia terguling-guling hingga membuat pakaian birunya menjadi kotor. Satu kebiasaan jelek Pendekar Blo'on ia selalu terlambat berpikir untuk mengambil tindakan terbaik. Sehingga apa yang terjadi pada dirinya membuat Puspita menjadi khawatir. Ia ingin turun tangan menggantikan pemuda itu, namun ia ragu karena luka akibat Racun Bunga Asmara belumlah sembuh benar.

"Kerahkan semua yang kau miliki, Suro! Cepatlah sebelum kau kojor di tangannya...!" teriak Puspita.

"Perempuan keparat! Nanti giliranmu akan tiba!" maki Gempita Loka.

Sebaliknya Pendekar Mandau Jantan ini seperti orang yang baru tersadar dari mimpi jelek yang dialaminya. Ia tepuk keningnya berulangulang.

"Otak geblek, cerdik tapi telat mikir! Aku

digebuki terus, masa' tidak becus membalas!" gerutu Pendekar Blo'on.

Seraya melompat dan langsung berdiri. Gempita Loka yang merasa berada di atas angin tersenyum mengejek.

"Keluarkan semua yang kau punya! Kau tidak bakal selamat melawan Ratu Alam Kubur!" dengus si nenek jumawa.

"Ha ha ha...! Aku punya mana boleh ditunjukkan pada nenek jelek sepertimu. Tapi kau harus ingat, kalau kau kalah kau harus mencium pantatku. Apakah kau mau?"

"Bocah sinting!" maki si nenek.

Perempuan itu tiba-tiba kembangkan tangannya seperti orang yang hendak memeluk kekasihnya. Di luar sepengetahuan Pendekar Blo'on ternyata ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian tangan itu. Sebentar saja kedua tangannya telah menjadi hitam macam arang hingga sampai ke siku. Dari setiap ujung jari tangan si nenek menebar kabut hitam berbau amis.

Suro melotot dan langsung sadar bahwa lawan bermaksud membunuhnya. Termonyongmonyong Suro mengerahkan tenaga dalamnya pula. Hanya dalam waktu singkat kedua tangan sampai siku berwarna putih seperti salju. Inilah pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma' warisan Malaikat Berambut Api yang tidak lain adalah kakek merangkap gurunya sendiri. "Hiyaa...!"

Ratu Alam Kubur hentakkan tangannya ke arah lawan. Suro pun mengibaskan tangannya ke arah pukulan lawan yang menebar hawa dingin menyesakkan dada ini.

Angin kencang disertai melesatnya sinar putih dan dingin bukan kepalang melabrak sinar hitam. Terjadilah benturan di udara. Ledakan keras itu membuat dua-duanya jatuh tunggang langgang. Puspita sendiri sampai tergontai-gontai. "Si konyol itu benar-benar punya kepan-

daian yang tidak disangka-sangka!" gumam Puspita kagum.

Dua sosok tubuh yang sama merentak bangkit. Ratu Alam Kubur merasa nyawanya seperti mau lepas, sekujur tubuhnya membeku. Setelah mengerahkan sebagian tenaga dalamnya maka hawa dingin itu sedikit berkurang. Ia merangkak bangkit. Suro Blondo walau pun sudutsudut bibirnya mengucurkan darah namun masih mampu tersenyum, meskipun wajahnya yang konyol tampak sepucat kertas.

"He he he...! Kau hampir mampus, aku sendiri setengah mati! Akibatnya sama saja. Masih ada kesempatan bagimu untuk menikmati udara bebas! Tapi kalau mau menyabung nyawa kita boleh mencobanya!"

"Kau... bukankah kau muridnya Barata Surya, Penghulu Siluman Kera Putih...?"

Murid Malaikat Berambut Api dan Penghulu Siluman Kera Putih ini tersenyum. "Tau aja nenek haul"

"Huh, kebetulan sekali! Aku ingin mengadu jiwa denganmu!" dengus Ratu Alam Kubur.

Sret!

Ratu Alam Kubur keluarkan senjata terbuat dari tali berbentuk jeratan. Salah satu keistimewaannya pabila telah mengenai sasarannya tidak mudah terlepas. Bukan itu saja, ia juga mengeluarkan senjata melengkung berbentuk arit.

Si konyol yang garuk-garuk kepala langsung turunkan tangannya sambil terkekeh-kekeh. "Nenek jelek, apakah kau mau mengarit padi?"

"Bocah sinting!" maki Gempita Loka. Set! Sing!

Suro yang sudah mengeluarkan jurus 'Kacau Balau' ini sudah melompat menghindar secara tidak beraturan justeru pada saat senjata lawan meluncur ke arahnya. Gerakan silat si pemuda benar-benar kacau tidak beraturan. Setiap gerakan yang dilakukannya serabutan dan tidak menentu, tapi tidak satu pun serangan lawan mengenai sasaran.

"Hiekh...!"

Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on melompat tinggi ke udara. Justru pada saat itu tali milik lawan menjerat kakinya. Sekali nenek renta ini menyentakkan talinya. Maka terpelantinglah tubuh si pemuda, Ratu Alam Kubur menghantamkan aritnya persis di punggung Suro, hingga membuat Puspita menutupi wajahnya karena ngeri. Namun disaat-saat yang sangat kritis itu Pendekar Blo'on cabut senjata mautnya Mandau Jantan berhulu seorang pertapa. Senjata berwarna hitam itu menderu....

Trraang !

Pyaar! "Heh !?

Pada saat Mandau Jantan di tangan Pendekar Blo'on membentur keras arit di tangan Ratu Alam Kubur. Maka senjata lawannya itu terbabat putus menjadi beberapa bagian. Gempita Loka bersurut mundur, tidak dapat menyimpan rasa kagetnya. Tapi ia tidak dapat berfikir lebih lama pula karena si konyol ketika itu sudah membabatkan mandau di tangannya.

Gempita Loka terpaksa main mundur, senjata yang dapat merintih, meringkik dan meraung sesuai dengan cara menggerakkannya ini meluncur deras ke perut lawan. Nenek renta mengebutkan tali di tangannya.

Wuut! Tess!

Tali tersebut terbabat putus, sementara ujung mandau terus meluncur. Hingga akhirnya tanpa terelakkan lagi menembus jantung Ratu Alam Kubur.

"Akh !"

Nenek renta itu menjerit keras, matanya melotot, dari mulutnya yang terbuka menyembur darah segar. Suro menyentakkan senjata di tangannya. Bruk!

Robohlah Ratu Alam Kubur ini tanpa sempat menikmati harta yang dikumpulkannya.

Suro menggelengkan kepalanya. Senjata dimasukkannya lagi ke dalam warangkanya. Puspita gadis berpakaian ala Ninja menghampirinya.

"Ternyata di balik ketololanmu, kau menyimpan kehebatan yang tidak diperhitungkan oleh siapapun?!" puji si gadis. Matanya pun berbinar indah.

"Kau kelewat memuji, padahal kau hanya mau mengatakan bahwa aku Pendekar geblek, bukan?" sahut Suro sambil nyengir.

"Aku bersungguh-sungguh!"

"Kalau betul ucapanmu. Bagaimana kalau aku minta cium?" tanya si konyol.

"Iih... kamu..,!" Puspita tersipu-sipu, kemudian ia berlari-lari menuju ke dalam gudang harta.

"Eeh, dia mengajakku ke tempat yang gelap. Biar nggak malu sama mayat-mayat itu, terutama mayat nenek jelek ini!"

Lalu Suro pun melangkahkan kakinya memasuki gudang yang penuh dengan harta benda.

"Suro... aku tidak melihat ada kitab berisi surat Maha penting itu di sini." kata Puspita.

"Cari terus, kalau perlu kita obrak-abrik daki dunia ini. Mungkin kitab penting itu tersimpan di bawah tumpukan harta.!" kata Pendekar Blo'on menyahuti. Baru saja mereka hendak mencari ke bagian lain. Tiba-tiba terdengar suara tawa tergelakgelak. Suara tawa itu kemudian lenyap, suasana berubah sunyi sekejab.

"Ada setan lain lagi rupanya di dalam gudang ini. Sebaiknya kau bersikap hati-hati!" Pendekar Blo'on memberi peringatan.

Baru selesai Suro bicara, tiba-tiba tampak sosok tubuh berpakaian serba putih berkelebat ke arah Suro. Pemuda berambut hitam kemerahan ini siap melepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Namun tiba-tiba saja terdengar suara seruan....

"Tahan !"

Niat Suro untuk melepaskan pukulan urung. Ia melihat seorang kakek tua telah berdiri di depannya. Wajah si kakek seperti orang yang menanggung penderitaan.

"Siapakah anda?" tanya Si Bocah Ajaib.

Si kakek tersenyum, senyumnya sedih sekali hingga membuat Suro serasa mau menangis saja.

"Kulihat wajahmu, hanya membuat aku semakin menderita. Waktu hamil ibumu memang kepingin apa, apa kebanyakan bengong, hingga membuat anaknya terlahir seperti orang tolol?"

"Jangan menghina, jangan bawa-bawa aku punya emak. Kau kawan atau musuh, Kisanak? Atau kau kekasihnya nenek jelek yang sudah kojor di depan gudang itu?" tanya Suro serius.

"Kulihat ulah   manusia,   membuat   aku menderita. Keserakahan manusia, kesombongan manusia adalah penderitaanku. Aku adalah Malaikat Penderitaan!" jawab si kakek.

"Walah, gelarmu sengsara amat. Yang aku tahu Malaikat biasanya membagi rezeki, menurunkan hujan, memberi rahmat atau menyiksa dan mencabut nyawa. Tapi kini di hadapanku ada Malaikat yang begitu menderita. Apa saja kerjamu disini Malaikat menderita?" tanya Suro disertai tawa tergelak-gelak.

"Kau Pendekar Konyol Suro Blondo, Bocah Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro di gunung Bromo. Murid Penghulu Siluman Kera Putih dan murid si banyak pacar Malaikat Berambut Api! Sebaiknya kau pergi dan temui Pendekar Lugu yang kini sedang menunggumu! Perjalanan ke Anyer adalah tujuan Hartawan Abdi Banda...!"

Suro kaget bukan kepalang ketika Malaikat Penderitaan menyebut asal usul dan siapa dirinya. Puspita Sari lebih terperangah lagi. Ia tidak menyangka kalau Pendekar Mandau Jantan ini adalah muridnya Malaikat Berambut Api yang pernah menolongnya. Barata Surya juga bukan tokoh sembarangan manusia yang tinggal di gunung Mahameru bersama kera-keranya itu, selain tingkahnya yang konyol angin-anginan juga memiliki kesaktian dahsyat. Ternyata selama ini ia bersama seorang murid dari dua guru yang sukar dicari tandingannya. Sungguh Puspita merasa menjadi gadis yang paling beruntung di dunia. kat...!" Suro garuk-garuk rambutnya. "Hei...

"Kat siapa?" tanya si kakek.

"Lho Malaikat kan harus dipanggil 'Kat?. Kau tidak boleh menyuruhku pergi begitu saja! Aku sekarang sedang mencari kitab Maha penting yang menjadi incaran tokoh-tokoh rimba persilatan di seluruh dunia. Kitab itu harus diselamatkan! Agar jangan sampai terjatuh di tangan orang yang salah!"

"Ha ha ha...! Masalah itu jangan kau khawatirkan. Aku telah menemukannya! Kau tidak perlu tahu dimana kitab berisi surat itu sekarang. Yang perlu kau ketahui, selain Anak Langit, di dunia ini juga sudah turun dari langit makhluk Maha Sesat yang juga mengincar kitab itu. Tujuan yang sebenarnya bukan itu saja, ia ingin menyesatkan manusia, mengadu domba manusia, merusak moral manusia hingga membuat manusia kufur terhadap nikmat yang diberikan Tuhannya. Ia datang ke bumi untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya agar kelak menjadi pengikutnya di Neraka! Sekarang dia bergentayangan kemana saja, merasuk ke dalam darah, bercokol dalam hati dan pembuluh otak manusia. Dia tidak dapat dimusnahkan, tapi dapat diusir dan dijauhkan. Berhati-hatilah, karena dia dapat berujud dirimu sendiri. Sekarang hartawan Abdi Banda, kemungkinan angkara murka peluang terbesarnya terjadi pada hartawan itu."

"Tapi kitab itu kalau boleh tahu apa isinya?" tanya Suro.

"Aku tidak kuasa membukanya terkecuali di depan Anak Langit! Tunggulah satu purnama mendatang di kota kerajaan Ujung Dunia!" kata Malaikat Penderitaan.

Laki-laki tua ini selanjutnya tanpa berkata apa-apa lagi langsung berkelebat pergi.

"He... Kat... tunggu...!" cegah Suro Blondo. Percuma saja ia berteriak. Karena Malaikat

Penderitaan telah lenyap dari pandangan mereka. Di kejauhan terdengar suara sedu sedan Malaikat Penderitaan.

"Sekarang semuanya sudah hampir jelas. Hanya kita tidak tahu mengapa makhlukmakhluk aneh ini muncul. Apakah karena surat dalam kitab itu atau...!" Puspita ragu-ragu.

"Sudahlah! Mari kita pergi, segala sesuatu yang memusingkan kepala akan menjadi jelas jika sudah kita jalani!" kata Suro.

Tanpa menunggu si cantik berhidung bangir ini bicara. Ia menyambar lengan si gadis dan membawanya berlari meninggalkan Hutan Larangan.

TUJUH

Ia berjalan seperti hamparan kabut di daerah pegunungan dan lembah. Atau terkadang lebih cepat lagi dari angin. Ujudnya antara ada dan tidak. Namun sesungguhnya ia memang ada. Ia telah tercipta bahkan jauh sebelum manusia tercipta di bumi ini. Kehadirannya dapat ditandai dengan terciumnya bau aroma bunga mayat, bau cendana atau bau-bauan yang dibakar di atas pendupaan. Dialah 'Sang Maha Sesat'. Yang selalu dekat dengan orang yang berhati hasut, sirik, dengki, marah, sombong dan penuh kebencian.

Kini bersama hembusan angin ia bergerak, meninggalkan Magetan dan menyusul iringiringan rombongan hartawan Abdi Banda yang tengah menuju ke Anyer.

"Surat itu tidak boleh diketahui oleh orangorang berhati lurus. Ia harus senantiasa tersimpan. Surat itu tidak juga boleh dilihat oleh orang yang memuja kesenangan dunia dan seisinya. Agar mereka tetap lalai dan ingkar pada TuhanNya." kata suara tanpa ujud itu seakan ditujukan pada diri sendiri.

Kabut tipis itu terus bergerak, tentu saja gerakannya cepat melebihi kuda mana pun yang paling cepat di dunia.

"Manusia sombong itu adalah pengikutku yang iri, yang dengki, yang kejam, yang tamak, yang gemar membunuh yang suka memfitnah sesamanya, yang meriba, yang durhaka pada orang tuanya, yang durhaka pada suaminya, yang menzinahi darahnya sendiri dan juga yang memuja harta! Mereka adalah pengikut-pengikut setia yang kelak menemaniku di Neraka. Ha ha ha...!" Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. "Ada lagi yang hampir kulupa, mereka yang termasuk jadi pengikutku adalah para pelacur, ibu yang membunuh anaknya, pemabuk, penjudi, penyabung ayam, berhati keras, pembohong, dan juga orang yang marah namun tidak ada reda-redanya...!"

Suasana kemudian berubah sunyi mencekam. Angin terus berhembus, makhluk gaib yang berjuluk Sang Maha Sesat ini terus mengikuti hembusan angin tersebut. Hingga akhirnya kabut tersebut berhenti di tengah-tengah tenda yang terletak di pinggir telaga kecil. 

Ahli Nujum Zuhgafarah dan Nukman Jaya sendiri sebagai orang-orang yang ahli meramal dan permainan sihir tidak mengetahui kehadiran Sang Maha Sesat. Sosok gaib ini kemudian memeriksa setiap tenda yang ada. Sampai kemudian ia berhenti ketika mendengar pembicaraan di salah satu tenda yang paling besar.

"Rasanya kita sudah berada jauh dari jangkauan mereka, kakang!" kata laki-laki muka bulat perut besar seperti kuali raksasa tertelungkup.

"Bahaya itu tetap ada." sahut kakek berwajah buruk berkepala botak penuh keyakinan. "Pemuda konyol yang punya gelar Pendekar Blo'on itu pernah kudengar sepak terjangnya. Menurut telik sandi, pemuda itu bersama seorang gadis berpakaian Ninja. Aku jadi yakin mungkin gadis itu adalah muridku!"

"Lagi-lagi masalah   muridmu   itu   yang mengganjal dalam pikiranmu, kakang. Padahal masih banyak persoalan lain yang lebih penting dari semua itu."

Laki-laki bertubuh kurus ceking itu cemberut. "Jadi kau sudah tidak merindukan muridku lagi?"

"Ha ha ha..,!" Si gendut kikir tergelakgelak. Hingga membuat perutnya yang besar terguncang. "Tentu saja aku selalu merindukan muridmu, aku ingin mendekapnya, merasakan kehangatan di malam pertama. Namun sampai sekarang kan Puspita Sari tidak kita jumpai. Aku malah mengkhawatirkan surat dalam kitab itu!"

"Apa isinya?" tanya Datuk Alam Salindra. "Isinya tidak ada yang boleh tahu. Itu rahasia."

"Kau selalu merahasiakan apa yang membebani pikiranmu, bagaimana aku dapat membantu?" tegur Datuk Alam Salindra.

"Yang satu ini memang harus kurahasiakan walau sampai mati. Kakang tidak perlu marah. Malam ini kakang boleh mengambil dua orang isteriku untuk menemani kakang! Bersenang-senanglah dengan mereka. Aku rasanya ingin bersemedi untuk memulihkan kondisiku!" kata hartawan Abdi Banda.

Berbinar mata tua bangka itu. Ia segera meninggalkan adiknya. Keluar dari tenda suasana dingin menyambutnya. Ia tersenyum, lalu berjalan menghampiri tenda besar di mana beberapa orang pengawal berjaga-jaga disitu. Sang Maha Sesat yang mengawasi gerak-gerik Datuk Alam Salindra tersenyum.

"Bagus, tingkahmu sudah mendekati binatang. Isteri orang lain diperlakukan seperti isteri sendiri. Kelak kau juga akan menjadi pengikutku di neraka!" dengus Sang Maha Sesat. Ia sendiri kemudian menghampiri tenda di mana Abdi Banda sedang bersemedi.

Sementara itu Datuk Alam Salindra sudah mengusir dua orang pengawal. Pintu tenda disibakkan. Para isteri hartawan Abdi Banda ketakutan dan tampak malu-malu kucing melihat kehadiran sang Datuk.

Mata sang Datuk mencari-cari, setelah pilih sana pilih sini akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada dua perempuan muda. Yang satu berkulit hitam manis sedangkan satunya lagi berkulit putih laksana susu. Datuk Alam Salindra leletkan lidah basahi bibir.

"Kalian berdua ikuti aku!" perintah laki-laki tua ini, seraya melambaikan tangannya.

Sampai di luar tenda sang Datuk menggandeng tangan mereka menuju ke tendanya. Di tenda yang ditinggalkan terdengar suara tawa cekikikan berbau mesum.

Sampai di tendanya Datuk Alam menutup pintu tenda rapat-rapat. Ia memperhatikan kedua wanita yang sesungguhnya masih gundik-gundik adiknya sendiri.

"Kau yang hitam manis siapa namamu?" "Saya Indriani, Datuk dan kawan saya ini

Mayang...!" jawab perempuan bertubuh sintal ini disertai sesungging senyum genit.

"Indriani dan Mayang adalah nama-nama bagus! Kalian malam ini harus melayani aku!" kata Datuk Alam Salindra. Tangan kanan kirinya gerayangan dan meremas dada kedua wanita muda itu hingga keduanya memekik.

"Tapi, Datuk. Bagaimana kalau adik Datuk mengetahuinya?" tanya Mayang kelihatan begitu takut.

"Ha ha ha...! Justru adikku akan marah jika kalian tidak bisa membuatku puas!" kata lakilaki berwajah angker ini.

Maka legalah hati para gundik-gundik hartawan Abdi Banda ini. Mereka akhirnya merebahkan diri di atas kasur. Datuk Alam Salindra sudah lupa daratan, jemari tangannya bergerayangan kemana-mana. Sedangkan tangannya yang lain membelai-belai Mayang. Perempuan itu diciuminya dengan nafsu menggebu-gebu. Tampaknya para gundik Abdi Banda ini memang tidak canggung dalam permainan ini, mereka juga tidak malu walau pun di dalam tenda itu terdapat dua perempuan.

Apa yang terjadi selanjutnya hanya mereka yang tahu. Desah-desah nafas, mandi keringat atau erangan-erangan berbau kemaksiatan. Sang Maha Sesat dalam kegelapan pun tertawa. Inilah manusia yang telah dikuasai nafsunya, tidak mempergunakan akal sehat dan mata hati.

Kejadian itu terus berlangsung, kelihatannya Datuk Alam Salindra memang tidak mengenal rasa lelah dan puas. Ia terus menggeluti dari perempuan yang satu lalu berpindah ke perempuan yang lain. Sampai-sampai kedua perempuan itu kewalahan. Mereka menyerah pasrah dalam hempasan badai asmara sang Datuk yang tidak kunjung reda.

Sementara itu Sang Maha Sesat mulai mendekati hartawan Abdi Banda. Makhluk alam gaib yang tercipta dari api ini mengisiki.

"Mengapa kau biarkan Datuk Alam Salindra bersenang-senang dengan kedua isterimu?"

Abdi Banda kaget mendengar bisikan gaib itu. Ia membuka mata, memandang ke sekelilingnya. Tidak terlihat siapa-siapa.

"Siapa kau?" tanya si gendut kikir.

"Aku Sang Maha Sesat. Aku makhluk alam gaib. Tidak cemburukah kau melihat isterimu?" Sang Maha Sesat kembali berbisik, jelas niatnya penuh hasut adu domba.

"Tidak! Aku yang menyuruhnya. Aku tidak akan perduli dia berbuat apa. Yang ku pikirkan sekarang ini adalah tentang kitab, harta bendaku dan tentang diriku yang takut mati!"

"Ha ha ha...! Jika kau mau menjadi pengikutku, maka kau tidak akan mati-mati. Harta bendamu tetap terjamin dan kitab kedamaian itu tetap berada di tempatnya!" kata suara gaib itu berbohong.

Mata sipit si gendut membuka lebar. "Apa betul? Benar kau dapat menjamin agar aku dapat bertahan hidup selamanya?" tanya sang hartawan penuh harap.

"Tentu saja. Asal kau mau jadi pengikutku!"

"Hanya itu saja syaratnya?" tanya si gen-

dut.

"Tidak, masih ada dua syarat lagi. Syarat

pertama adalah berlaku salahlah kau sepanjang hidupmu, ingkari kebenaran dan buat angkara murka di bumi ini. Sedangkan yang kedua, akan datang di tanah Jawa ini Lima Utusan Akherat, mereka datang ingin mencari surat dalam kitab itu. Untuk itu sedapatnya kau harus mencegah mereka, rahasiakan terus kitab itu bagi orangorang yang ingin mencari kedamaian. Kitab itu adalah musuhku, kitab itu mengandung kebenaran yang sangat kubenci. Padahal sebelum dunia ini kiamat aku telah bersumpah untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya!"

"Kalau cuma itu syaratnya tentu tidak memberatkan bagiku. Jika orang-orang golongan putih mencari pasti tidak menemukannya. Hanya aku yang tahu dimana kusimpan kitab yang kudapat lima puluh tahun yang silam tersebut. Kitab itu kurampas dari tangan seorang ahli agama tingkat paling tinggi."

Sang Maha Sesat tertawa rawan. "Hartawan Goblok takut mati. Aku sendiri tidak yakin apakah kitab yang juga menjadi incaranku masih berada di gudang penyimpanan harta atau tidak. Terakhir aku hendak datang kesana tapi aku mencari hiburan dengan membunuhi kawankawan Kuswara yang konyol, itu sedikit kejutan bagi orang-orang yang punya jalan menyimpang." dengus makhluk kegelapan itu sinis.

"Nah, kata sepakat sudah didapat, kau punya umur akan bertambah panjang asalkan kau selalu mengabdi padaku! Harta bendamu ini hanya boleh kau pergunakan untuk kemaksiatan! Ingat untuk kemaksiatan dan angkara murka...!" tegas suara gaib tersebut.

"Jangan khawatir, sejak dulu jalan hidupku memang selalu berliku-liku dan penuh tanjakan. Bolehkah aku tahu Utusan Lima Benua itu datang dari mana?"

"Mereka datang dari tempat yang sangat jauh. Dari dunia dingin, dunia panas dan dunia empat musim. Peradapan mereka ada yang lebih maju dari kalian yang di tanah Jawa ini tapi ada juga yang lebih mundur. Nah sekarang sudah waktunya bagiku untuk pergi!" kata Sang Maha Sesat.

"Baiklah... terima kasih atas petunjukmu!?" ujar hartawan Abdi Banda.

Kemudian keadaan di dalam tenda berubah menjadi sunyi. Hartawan Abdi Banda tersenyum-senyum sendiri. Ia sangat senang karena harta bendanya terjamin, ia senang kitabnya dalam keadaan aman. Dan satu kesenangan yang tiada bandingnya, umurnya menjadi panjang, ia tidak akan pernah mati sebagaimana yang dikatakan oleh Sang Maha Sesat. ***

Pada masa itu kekeringan melanda di mana-mana. Musim paceklik berkepanjangan. Banyak penduduk yang tewas karena kelaparan, diantara mereka ada yang mencoba memakan batang pisang untuk menyambung hidup. Tidak heran bila di kota-kota besar para pengemis bertaburan di mana-mana. Para orang tua, ibu-ibu rumah tangga, bahkan gadis-gadis tidak malumalu mengemis demi menyambung hidup. Mereka rela melakukan apa saja demi mendapat sesuap nasi.

Hari kelima dalam perjalanan hartawan Abdi Banda menuju Anyer iring-iringan kereta kuda hartawan itu dihadang oleh sekelompok kawanan pengemis yang terdiri dari gadis-gadis berumur sekitar tujuh belas tahun. Wajah para gadis itu tampak pucat menderita lapar, tubuh mereka kurus kering, langkah mereka terbungkukbungkuk akibat menahan rasa lapar.

Hartawan Abdi Banda keluar dari kereta kencananya. Ia memandang ke depan.

"Ada apa, pengawal?" tanya si kikir setengah berteriak.

Pengawal yang paling depan menyahuti. "Kita dihadang sekawanan gadis-gadis pengemis!"

"Tanyakan apa keperluan mereka?" "Sudah, mereka minta makanan dari kita!"

jawab Pengawal yang berada di barisan depan Hartawan meludah. "Bueh...! Mereka kira kita membawa harta dan makanan milik nenek moyangnya." dengus sang hartawan. Ia turun dari kereta kudanya. Berjalan ke depan terseok-seok seperti orang bunting. Ternyata para gadis pengemis itu sangat cantik-cantik, pantasnya mereka menjadi anak raja.

"Kalian lapar?" tanya Abdi Banda sambil tersenyum.

"Ya tuan. Kami membutuhkan uluran tangan tuan yang kaya raya." sahut belasan gadisgadis pengemis itu serentak.

Wajah bundar berminyak berubah sinis. "Kalian pikir aku mau membagikan maka-

nan dengan percuma?"

"Apapun kami lakukan demi menyambung nyawa kami!" sahut salah seorang gadis itu mewakili kawan-kawannya.

"Bagus, di akhir jaman ini setiap pemberian harus ada timbal baliknya. Nah jika aku memberi kalian makan, apakah kalian mau menyerahkan kehormatan kalian padaku?"

Maka terkejutlah kawanan gadis pengemis itu. Mereka saling berpandangan sesamanya. Ada keragu-raguan di mata mereka yang cekung. Namun hartawan ini boleh juga, ia memakai perhiasan yang tidak ternilai harganya. Lalu mereka mendengar suara gaib mengisiki.

"Lebih baik turuti saja permintaan hartawan ini. Kehidupan kalian terjamin dan selamanya tidak akan menderita lapar!"

"Kami mau...!" empat belas orang gadis menyanggupi. Namun tidak dengan gadis berpakaian putih berwajah polos. Ia menjauhkan diri dari kelompoknya.

"Beri makan pada mereka semua!" teriak hartawan Abdi Banda.

Seluruh anak buah hartawan itu akhirnya menjadi sibuk memberi makan kawanan gadisgadis pengemis itu. Mereka makan dengan lahap, sampai sebutir nasi pun tidak tersisa.

"Nah sekarang kalian sudah kenyang semua. Aku ingin melihat kebagusan kalian!" kata hartawan itu.

Karena sudah terlanjur janji, maka gadisgadis itu dengan malu-malu membuka pakaiannya. Maka terlihatlah aurat mereka, hartawan Abdi Banda dan abangnya leletkan lidah. Mereka semuanya masih suci, mereka tentu akan bersenang-senang nanti malam. Harta memang selalu kuasa pikir hartawan itu.

"Kenakanlah pakaian kalian kembali!" perintah si hartawan kikir. Gadis-gadis itu dengan patuh mengenakan pakaiannya kembali. Dalam kesempatan itu langit sudah berubah menjadi mendung. Petir menyambar di siang bolong.

Gadis baju putih mendekati hartawan Abdi Banda. Wajahnya yang lugu tampak memelas sekali. Kening Abdi Banda berkerut melihat kehadiran gadis pengemis yang satu ini.

"Bolehkah saya minta sedikit nasi, tuan. Saya lapar, sudah tidak makan lima hari...!" bergetar suara si gadis. Abdi Banda tersenyum mengejek. Kemudian ia tertawa tergelak-gelak.

DELAPAN

"Kau tadi mengapa tidak ikut makan...?" tanya si gendut.

"Saya merasa berat dengan persyaratan itu, tuan! Apakah tidak ada cara lain yang tidak bersyarat?" tanya si gadis.

"Persyaratan berlaku bagi apa saja. Apakah kau mau menyembahku sebagai orang yang akan memberimu makan?"

Si gadis gelengkan kepala. "Hanya Gusti Allah yang patut ku sembah, manusia tidak layak menyembah manusia. Karena dia tidak mampu menegakkan langit dan menghamparkan bumi!" sahut si gadis benar-benar di luar dugaan sang hartawan. Datuk Alam Salindra, berubah kelam wajahnya. Sedangkan Abdi Banda katubkan bibirnya rapat-rapat.

"Bagaimana, kalau kuminta kau menyerahkan kesucianmu?"

"Hal itu hanya boleh terjadi bila tuan telah menikahiku secara sah. Jika tuan mengajakku berzina, maka demi Gusti Allah aku lebih rela mati dalam keadaan kelaparan...!"

Bagaikan terdengar petir di siang hari hartawan Abdi Banda terkesima. Belum pernah ada perempuan di mana pun yang berani bicara begitu di depannya.

"Seret dia dan cambuk tubuhnya yang mulus itu sampai hancur!" perintah hartawan Abdi Banda ditujukan pada anak buahnya.

Dua orang prajurit berbadan tegap langsung menghampiri si gadis berpakaian putih. Namun tiba-tiba saja terdengar suara ledakanledakan dahsyat di sekelilingnya. Dua orang prajurit langsung terkapar dengan wajah hancur seperti terkena ledakan bahan peledak.

Hartawan Abdi Banda, Datuk Alam Salindra dan dua orang ahli nujum lebih kaget lagi ketika melihat gadis di depannya telah berubah menjadi seorang pemuda bertampang lugu berjenggot kambing. Pemuda itu memakai baju putih. Dia tidak lain adalah Pendekar Lugu, sebagaimana telah sama kita ketahui Pendekar Lugu ini dapat merubah dirinya menjadi kakek renta, perempuan cantik ataupun jadi anak kecil (Dalam Episode Anak Langit & Pendekar Lugu). Pemuda inilah yang dulu pernah hadir dalam mimpi hartawan Abdi Banda. Ia memberi peringatan agar hartawan itu meninggalkan kemaksiatan, kikir, tamak, sombong dan memuja harta.

Melihat pemuda itu tentu Abdi Banda menjadi was-was. Ia memberi kisikan pada kedua ahli nujumnya.

"Ini tugas kalian. Usahakan agar dia tidak mengganggu kita. Jika terlalu sulit membuatnya takut. Maka sebaiknya di bunuh saja!"

"Kalian adalah orang-orang yang melampaui batas! Apa katamu nanti jika Tuhan bertanya padamu tentang segala kemewahan yang telah diberikanNya padamu?" tanya Pendekar Lugu, pemuda yang tadi telah membaur dengan gadis-gadis pengemis itu.

"Jangan kau bicara lagi padaku, aku mendapatkan semua ini dengan otak dan jerih payahku sendiri!" sahut Abdi Banda.

"Celakanya manusia karena terlalu sombong dan memuja diri, hai hartawan sadarkah kau dari apa kau diciptakan? Kejadianmu dari setetes air hina, kemudian kau disempurnakan di dalam rahim. Kau manusia yang nyata-nyata telah tersesat jauh. Kelak kau akan menjadi orang yang serugi-ruginya...!" kata Pendekar Lugu.

"Bocah berjanggut kambing!" Ahli Nujum Zulgafarah membentak. "Tuan kami tidak perlu kau ganggu. Jika kau punya keperluan, silakan berurusan dengan kami!"

Wahyu Sakaning Gusti alias Pendekar Lugu tersenyum rawan. "Kalian juga salah satu dari sekian banyak manusia sesat. Kalian pemuja setan, Sang Maha Sesat! Setan jelas-jelas musuh manusia, mengapa manusia mau bersekutu dengannya?"

Di langit terdengar suara ledakan halilintar. Pendekar Lugu menyebut Nama kebesaran Gusti Allah. Tiba-tiba kedua ahli Nujum itu lemparkan dua utas tali ke arah Pendekar Lugu. Begitu tali melayang di udara, maka dua utas tali itu berubah menjadi dua ekor ular raksasa. Ular-ular hitam dengan mata membara dan mulut ternganga lebar itu langsung menyerang Pendekar Lugu. Pemuda ini melompat ke samping.

"Astaga! Ini benar-benar permainan sihir yang nyata!" kata si pemuda. Ia kemudian membaca doa-doa suci, lalu ia melepaskan kain putih tipis yang dijadikan pengikat pinggangnya. Ketika stagen pendek tersebut dilecutkan ke udara. Maka memijarlah bunga api dari bagian ujungnya. Bunga api yang kemudian membesar ini langsung meluncur dan membelah membagi dua. Masingmasing bunga api melesat ke arah kedua ekor ular raksasa tersebut. Sebagai tokoh lurus penyeru umat manusia berbuat kebajikan. Pendekar Lugu sangat berpantang melakukan pembunuhan, terkecuali hanya untuk membela diri. Dan apa yang dilakukannya sekarang ini semata-mata juga untuk membela diri.

Dua bola api tadi langsung menghantam tubuh ular-ular jejadian tersebut. Terdengar suara berdebum. Ular-ular yang terhantam bola api mendesis. Mereka menggelepar ke tanah, namun secara aneh, meliuk dan bergerak kembali. Duaduanya menyerang Pendekar Lugu dari dua sisi sekaligus.

Pemuda itu kibaskan stagen di tangannya ke dua arah. Kembali ujung stagen menghantam tubuh ular tersebut.

Praat! Sssst! Ular hancur berkeping-keping. Ahli sihir Zulgafarah dan Nukman Jaya terdorong mundur dengan muka berubah pucat. Mereka segera mengangkat tongkatnya. Ketika salah satu ujung tongkat ditekan, maka menyemburlah asap tipis dari bagian hulunya yang berbentuk kepala ular Cobra.

Pendekar Lugu mengebutkan stagennya untuk mengusir uap beracun yang terus menyembur ke arah wajahnya. Tetapi sayang gerakannya kalah cepat dibandingkan semburan uap beracun itu sehingga sebagian diantara racun itu sempat terhirup olehnya.

"Hekh...!"

Pemuda baju putih itu tekap lehernya yang seperti tercekik. Dari bagian lubang hidung menetes darah kental, wajah si pemuda pun membiru. Kemudian ia jatuh terhempas tidak sadarkan diri.

Maka meledaklah tawa hartawan Abdi Banda dan Datuk Alam Salindra melihat kedua ahli Nujum itu berhasil merobohkan lawannya. Dari arah kiri telinga Abdi Banda terdengar suara gaib mengisiki

"Buatkan kayu penyangga, pentang tangan dan kaki penyampai kebenaran itu, kemudian kuliti tubuhnya, bila kulitnya sudah mengelupas, maka siram dengan air jeruk! Para pengemis itu suruh mengambil dagingnya sedikit demi sedikit untuk dipanggang! Agar kau tahu dia adalah musuhku yang nyata...!" "Tapi bukankah itu perbuatan yang sangat kejam?" guman sang hartawan.

"Jangan bodoh, kau mau hidup kekal atau tidak! Setiap penyampai kebenaran adalah musuhku dan musuhmu juga!" bisik Sang Maha Sesat. kepala Hartawan Abdi Banda angguk-anggukkan

"Nukman Jaya! Perintahkan pada pengawal itu untuk membuatkan kayu penyanggah, lalu pentang tubuh Pendekar Lugu. Setelah itu kuliti, sebentar lagi pesta besar akan segera dimulai!"

Nukman Jaya laki-laki bermuka seperti seekor babi segera mengerjakan apa yang diperintahkan padanya. Tiga orang pengawal langsung menyeret Pendekar Lugu yang tidak sadarkan diri.

Setelah kaki dan tangan Pendekar Lugu diikat di sebuah tonggak besar. Tiba-tiba di langit terdengar suara gelegar petir. Lalu hujan pun turun dengan lebatnya.

Hartawan Abdi Banda dan Datuk Alam Salindra berteduh ke dalam kereta kuda. Sebelum tubuh Pendekar Lugu tersentuh senjata tajam dan kulitnya dikupas oleh algojo-aljogo tajam itu, maka di kejauhan terdengar suara bentakan yang disertai dengan sumpah serapah. Lalu terdengar pula suara tawa bergelak.

Dalam suasana hujan pertama selama musim kemarau itu, semua orang yang mengelilingi Pendekar Lugu tersentak kaget. Ketika mereka berpaling ke arah datangnya suara, maka di tempat itu telah berdiri dua orang asing. Yang satunya adalah seorang pemuda bertampang ketolol-tololan berambut hitam kemerah-merahan. Sedangkan yang satunya lagi adalah sosok yang sekujur tubuhnya tertutup kain hitam, hanya matanya saja yang kelihatan. Dia tidak lain adalah Rana Unggul alias Puspita Sari, gadis berpakaian Ninja.

"Kaukah yang bicara tadi?" tanya Zulgafarah yang sudah mengetahui siapa adanya pemuda ini. Pendekar Blo'on inilah yang muncul dalam ramalannya. Tapi ia sungguh tidak menyangka bahwa Pendekar yang konon sangat sakti ini kiranya hanya seorang pemuda tampan ketololtololan.

"Aku yang bicara jika telingamu tidak tuli! Kuperintahkan lepaskan pemuda jenggot kambing itu jika kau dan kawanmu tidak ingin kugebuk mampus!" dengus Pendekar Blo'on.

"Ha ha ha...! Kami sudah tahu siapa dirimu dan Pendekar Lugu jauh sebelum kau dan kawanmu sampai kemari. Jika musuh sudah tertangkap. Masa kami akan melepaskannya lagi, bodoh itu namanya!" sahut Zulgafarah.

"Hmm, begitu?!" Suro termonyongmonyong. "Tukang sihir, tukang Nujum sama saja dengan manusia bangsat. Di depan majikan tentu kalian dapat menggonggong dengan lantang! Nah... sekarang tinggal sebutkan, mati bagaimana yang kalian sukai?" tanya Suro disertai senyuman mengejek.

"Tidak tahu penyakit, kawanmu saja dapat kami ringkus apalagi manusia tolol sepertimu!" sahut Nukman Jaya.

"Suro, hati-hatilah! Ujung tongkat itu sangat berbahaya. Kalau bisa tutup jalan nafasmu sepanjang pertempuran...!" Puspita Sari alias Rana Unggul mengisiki.

Sementara itu hujan semakin menggila. Kabut tebal membuat pemandangan orang-orang yang berada di dalam kereta kuda jadi terhalang. Puspita yang telah sembuh dari luka pengaruh Racun Bunga Asmara ketika itu langsung membabat dan menyerang para pengawal harta hartawan Abdi Banda.

"Sobat Zulgafarah, bunuh Pendekar bertampang geblek ini!" teriak Nukman Jaya.

Laki-laki muda babi ini kemudian melompat mundur, sedangkan Zulgafarah begitu mendapat aba-aba langsung melemparkan sesuatu di udara. Tiga kali terdengar suara letupan-letupan kecil. Lalu belasan ekor ular berwarna hitam meluncur cepat ke arah Suro. 

Si konyol menyeringai, kemudian tertawa membahak. Bagaimana pun ia adalah murid Penghulu Siluman Kera Putih. Permainan sihir baginya tidak bedanya dengan permainan sulap. Ia tadi melihat tali dan lidi yang dilemparkan oleh Zulgafarah.

"Ular-ular hitam bunuh Pendekar Konyol itu!" perintah sang ahli sihir. "Hei badut tukang sihir. Kau sedang membanyol atau mimpi! Aku si bocah ajaib, Zulgafarah! Bagaimana pun kau tidak dapat menipuku! Lidi tetap lidi, mana bisa menjadi ular atau menjadi makhluk lain. Terkecuali kau sudah gila...!" teriak Suro.

Tssst...!

Benar saja ular-ular yang meluncur ke arah Suro berubah menjadi lidi kembali. Sang ahli nujum terkejut bukan kepalang.

Bagaimana pemuda bertampang ketololtololan itu hanya dengan bicara asal-asalan seenak perutnya dapat merubah barang sihirnya kembali ke asalnya?

Tidak sempat berfikir lebih lama, maka Zulgafarah pun menggebrak ke depan. Seraya tiba-tiba berseru dengan pengaruh sihirnya yang sedemikian hebat.

"Awas harimau di depanmu!" teriak Zulga-

farah.

"Graauung...!"

Terdengar suara raungan hebat. Seekor ha-

rimau yang sangat besar tiba-tiba muncul di depan Suro dan langsung menerkamnya. Suro tertawa ganda lalu ia membentak dan tubuhnya melompat tinggi ke udara.

"Aku Bocah Ajaib, mataku mata ajaib, penciuman ku penciuman ajaib. Malam satu Asyuro malam yang paling tinggi dari bilangan hari dan bulan, hari penuh keajaiban. Mataku tidak dapat ditipu, hidungku tidak tertipu kuping ku tidak dapat ditipu, sihir tidak mampu mempengaruhi aku! Ha ha ha...!" kata Pendekar Blo'on.

Harimau besar yang menerkamnya tadi langsung tersentak ke belakang dan ujudnya semakin menyusut. Semakin lama semakin bertambah kecil hingga pada akhirnya berubah menjadi hamparan kabut.

Suro termonyong-monyong, Zulgafarah kaget bukan alang kepalang.

"Putar kau punya otak, ahli sihir. Kerahkan kelicikanmu! Jika kau menghadapi aku hanya dengan mengandalkan ilmu sihir mu, sesungguhnya mataku tidak dapat kau tipu!" dengus si konyol serius.

Zulgafarah menggeram hebat, ia mengangkat tongkat berhulu kepala ular cobra. Ia menekan salah satu sisinya, hingga menyemburlah kabut beracun dari mulut kepala ular itu. Suro sejak jauh tadi sudah menutup pernafasannya. Sekali ia memutar-mutar tangannya, maka menderulah angin kencang hingga membuat kabut beracun itu musnah. Suro dengan mengandalkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Pemuda ini tiba-tiba melabrak ke arah Zulgafarah. Namun ahli Nujum ini telah mengerahkan jurus tongkat dahsyat 'Menggulung Mega Di Ujung Maut'. Tongkat di tangan lawannya menghantam lambung menusuk mata, menyodok dada dan berputar-putar mengincar kelemahan lawannya.

Namun tubuh si konyol ini sudah berkelebat, sehingga yang terlihat hanya bayangan biru menyilaukan mata.

"Hiyaa...!"

Zulgafarah membuat gerakan-gerakan yang sangat rumit, tahu-tahu tubuhnya berputar dan hulu tongkatnya menghantam dengan cepat. Suro jungkir balik. Tidak urung bahunya terhantam tongkat lawannya

Buuk! "Akh...!"

Suro menggeliat sambil menyeringai kesakitan. Hujan semakin menggila, darah menetes dari sudut-sudut bibir. Belum lagi Suro bersiap siaga, lawan telah menghantamnya dengan pukulan 'Iblis Selaksa'.

"Bangsat betul! Heaa...!" teriak Suro.

Kakinya di tekuk ke depan. Ketika melihat sinar hitam berhawa dingin bergulung-gulung ke arahnya. Si konyol dorongkan kedua tangannya dengan mulut termonyong-monyong. Terdengar suara jeritan di sekelilingnya, Sinar hitam merah menghampar hawa panas bukan kepalang melesat laksana kilat. Pukulan 'Neraka Hari Terakhir' menghantam pukulan lawan. Serangan Zulgafarah buyar malah serangan Suro terus meluncur sedangkan suara jeritan gaib terus terdengar tiada henti.

Zulgafarah melompat dengan bersalto untuk selamatkan diri. Gerakannya ini kalah cepat dengan sinar merah hitam yang menderu ganas ke arahnya. Akibatnya....

Buum! Zulgafarah menjerit histeris, tubuhnya terguling-guling. Orang ini menghantam batu, tubuhnya hangus. Ia tewas dengan sangat penasaran sekali.

Nukman Jaya yang memiliki tingkatan kepandaian dua tingkat di atas Zulgafarah kaget bukan main-main. Pemuda bertampang ketololtololan ini memang tidak dapat dianggap mainmain. Tingkahnya yang cengengesan mana membuat orang percaya dia memiliki kehebatan jika tidak melihatnya sendiri. Nukman Jaya melompat maju, murid Penghulu Siluman Kera Putih dan murid Malaikat Berambut Api ini garuk-garuk kepala.

"Kau juga ingin melihat neraka yang menyala-nyala? Silakan maju!" dengus Suro, seraya pencongkan bibirnya.

"Bangsat betul kau, Pendekar Geblek! Jika sihir ku tidak mempan, tentu aku punya hadiah yang menarik untuk melenyapkan kekonyolan mu!" sahut Nukman Jaya.

Lalu, laki-laki ini melakukan gerakangerakan yang sangat aneh. Demikian aneh dan cepat, hingga membuat Suro melongo. Kelengahan yang sekejab ini dipergunakan lawan bergerak ke arahnya. Suro terkesiap, ia mengelak. Namun tinju lawan sudah menghantam pelipisnya.

Pendekar Mandau Jantan ini jatuh terduduk. Pelipisnya bengkak memerah. Suro menggerendeng tidak jelas, namun cepat bangkit lagi. SEMBILAN

Sementara itu, Puspita alias Rana Unggul kelihatannya sudah banyak melakukan pembantaian. Ia mempergunakan pedang tipis yang memiliki ketajaman yang sangat luar biasa. Belasan pengawal tersungkur roboh bermandi hujan dan darahnya sendiri.

Puspita tidak berhenti di situ saja. Ia terus merangsak maju, para pengawal itu kelihatannya seperti sudah tidak menghiraukan keselamatannya lagi. Mereka bahu membahu menyerang gadis berpakaian Ninja tersebut. Walau pun senjata mereka dengan gencar menerobos pertahanan lawannya, namun Puspita adalah gadis tangguh yang memiliki jurus-jurus dahsyat. Ia murid tunggal tokoh sesat Datuk Alam Salindra. Tidak heran bila dalam waktu singkat para pengawal itu hanya tinggal beberapa orang saja.

Hujan mulai mereda, hingga membuat Datuk Alam Salindra yang duduk dekat Abdi Banda dapat menyaksikan pertempuran yang sedang berlangsung.

"Eeh... bukankah orang yang memakai pakaian Ninja dan membunuhi pengawal-pengawal itu muridku? Murid murtad itu tidak boleh dibiarkan berbuat sesuka hatinya. Aku harus menangkapnya!" tegas sang Datuk. Ia kemudian melompat dan berlari cepat ke arah Puspita.

"Jangan bunuh calon isteriku, kakang!" Hartawan Abdi Banda berteriak keras.

"Tidak usah khawatir. Aku akan menangkapnya hidup-hidup untukmu!" sahut Datuk Alam Salindra.

Saat itu Puspita kaget sekali melihat kemunculan gurunya. Ia bergerak mundur. Berpaling pada Suro, ternyata pemuda itu sedang sibuk menghadapi serangan-serangan gencar yang dilakukan oleh lawannya. Tidak ada harapan baginya untuk meloloskan diri dari cengkeraman guru sesat ini.

"Kau melarikan diri untuk kujodohkan pada hartawan kaya. Kau rupanya memilih berkasih-kasihan dengan pemuda konyol geblek itu. Sekarang kau berlutut dan segera kembali pada calon suamimu!" perintah Datuk Alam Salindra.

"Guru bangsat! Aku tahu kebiadabanmu, jangan perintah aku?! Aku merasa lebih baik mati daripada menuruti keinginanmu yang gila!" sahut Puspita ketus.

Datuk Alam Salindra jadi marah. "Ingat! Aku adalah gurumu, kau tidak bakalan unggul menghadapi aku!"

"Apa pun yang terjadi aku layak mempertahankan diri!" tegas Puspita.

"Bangsat! Heaa...!"

Datuk Alam Salindra menerjang muridnya. Tangannya, mencengkeram leher Puspita. Gadis ini kemudian mengibaskan pedang di tangannya. Sang Datuk memaki, lalu menarik balik serangannya. Kini gantian kakinya yang meluncur dan menghantam perut Puspita.

Si gadis terpaksa melompat ke belakang. Bagaimana pun jurus-jurus yang dimiliki oleh Puspita bersumber dari gurunya, sehingga setiap gerakan yang dilakukannya dapat dibaca oleh lawannya.

Menghadapi tekanan-tekanan yang dilakukan oleh gurunya ini, maka ia pun memutar senjatanya untuk melindungi diri.

"Hiaaa...!"

Datuk Alam Salindra melompat ke udara. Gerakan yang dilakukannya ini terkenal dengan nama 'Memupus Mendung Membalik Awan'. Puspita mengangkat pedang ke atas kepala. Lalu memutarnya dengan cepat. Sayang lawan berbalik ke belakang, tangannya meluncur menotok punggung Puspita.

Duuk! "Akh...!"

Gadis itu menjerit tertahan. Tubuhnya menjadi kaku tidak dapat digerakkan lagi. Datuk Alam Salindra menyambar Puspita dan membawanya ke kereta kuda di mana Abdi Banda menunggu.

Melihat kejadian ini Suro yang sudah babak belur menghadapi Nukman Jaya menjadi khawatir sekali. Untuk itu ketika Nukman Jaya menyerangnya dalam jarak yang cukup pendek. Maka Pemuda berbaju biru ini segera kerahkan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan yang dilakukan oleh Pendekar Blo'on menjadi semakin kacau tidak beraturan. Serangan dan pertahanan yang dilakukannya berubah-ubah. Malah kemudian ia dengan terhuyung-huyung seperti orang yang mau jatuh melesat ke depan. Nukman Jaya menggerakkan tongkatnya. Namun Suro sudah merundukkan kepala seperti seekor kodok. Tangannya menghantam telak ke bagian perut dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya.

Kraak!

Nukman Jaya melolong panjang seperti anjing yang kena gebut. Ususnya hancur di dalam, matanya melotot. Darah bergumpal-gumpal menyembur dari mulutnya. Laki-laki itu jatuh terjengkang, menggelepar sekejab lalu terdiam tidak bergerak-gerak lagi.

Suro meraung panjang dan menyerbu ke arah kereta. Sebelum sampai Datuk Alam Salindra telah menghadangnya. Pendekar Blo'on hentikan langkah, memandang pada sang Datuk dengan mata melotot.

"Menyingkir!" bentak Si Bocah Ajaib.

"Kau bocah kemarin sore berani membentak ku?" Datuk Alam Salindra mendengus keras.

"Setan! Kau apakan gadis itu?"

"Ini urusan negeri orang lain, kau tidak pantas bertanya!" sahut laki-laki tersebut. Tangannya menggebrak ke depan. Selarik sinar meluncur deras menghantam Suro.

Pemuda ini cepat bergulingan di tanah becek. Di belakangnya terdengar suara ledakan beruntun. Suro menggeram keras, tampangnya ketolol-tololan tampak semakin kacau. Ia melompat, lalu menuding dengan mulut termonyongmonyong.

"Kau orang jelek yang dikepalanya terdapat benjolan telur ayam. Kau harus bertanggung jawab jika sampai terjadi apa-apa pada Puspita!"

"Ha ha ha...! Jangan banyak mulut, kekasihmu bakal menjadi bangkai!" sahut Datuk Alam Salindra.

Sementara itu hartawan Abdi Banda sudah mulai tampak gelisah. Ia tidak mungkin terus bertahan disitu. Bagaimana nanti jika Datuk Alam Salindra kalah?

Pada saat dirinya sedang bingung itulah terdengar Sang Maha Sesat mengisiki.

"Cepat kau larikan dia, tidak perlu membuang-buang waktu. Kau dapat menikmati kehangatan tubuhnya di tempat lain!"

Tanpa memikirkan harta bendanya lagi, Hartawan Abdi Banda langsung memanggul tubuh Puspita. Gadis ini sama sekali tidak mampu memberontak. Bersuara pun ia tidak mampu karena jalan suaranya juga dalam keadaan tertotok.

Ketika Abdi Banda keluar dari kereta kudanya dengan memanggul Puspita, tentu saja sempat dilihat oleh Suro.

"Hei, keparat! Mau kau bawa kemana dia!" teriak Suro. Dan pemuda ini pun bermaksud mengejar, namun langkahnya tertahan karena dihadang oleh Datuk Alam Salindra. "Biarkan mereka pergi untuk bersenangsenang! Urusanmu denganku saja!" kata laki-laki tua itu sinis.

"Tua bangka setan! Haaa...!"

Pendekar Blo'on jadi marah karena niatnya terhalang. Kini yang menjadi sasaran kemarahannya adalah Datuk Alam Salindra. Itulah jadinya, begitu bergebrak Suro langsung mengeluarkan jurus-jurus silat yang menjadi andalannya.

Tidak kurang ia mengeluarkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor' atau jurus 'Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'. Datuk Alam Salindra kaget bukan main-main. Ia sama sekali tidak menyangka lawan mengerahkan jurus-jurus aneh dan dapat berubah-ubah dengan cepat itu. Gerakannya sulit terbaca, terkadang pemuda itu melompat-lompat seperti seekor monyet sambil menjerit-jerit meniru suara kera. Namun di lain waktu ia sudah meluncur ke depan, sedangkan tangannya membeset perut-perut lawan, sedangkan posisinya dalam keadaan berjongkok.

"Gila...!" Datuk Alam Salindra bersurut mundur sambil kibaskan tangannya. Suro tidak lagi menghindar, seakan nekad. Ia terus menerjang, hingga tangannya menghantam tangan lawannya.

Duuk!

Hanya sedikit saja Suro terhuyung, lawan leletkan lidah dan sempat memucat wajahnya. Tingkah dan cara menyerang Pendekar Blo'on memang penuh kegilaan, sulit diduga dan nekad. Mungkin semua ini karena kemarahannya.

Datuk Alam Salindra menjadi maklum betapa pemuda ini walau pun kelihatan goblok, tapi memiliki jurus-jurus yang dahsyat. Ia pun membentak garang. Sekali ia melesat ke depan, maka Datuk sesat ini pun mengerahkan jurus 'Menebas Kepala Merenggut Nyawa'. Inilah salah satu jurus simpanan yang sangat berbahaya. Terbukti ketika Datuk itu menghantam dengan jemari tangan terkembang. Suro merasakan sambaran angin dingin yang menusuk-nusuk di wajahnya.

Suro miringkan kepalanya ke kiri, sedangkan kakinya terus bergerak lincah atau terkadang menyapu ke punggung lawan. Datuk Alam Salindra mengelak, tapi tangannya terus meluncur. Pendekar Blo'on terkesiap. Lalu tarik tubuhnya, namun sudah terlambat.

Bret! "Ekh...!"

Bahu pemuda itu robek, ada darah yang mengucur dari luka itu. Suro menyeringai, namun geram. Ia menyerang lagi, sementara gerakannya semakin menghebat, tubuhnya berputarputar seperti orang bingung. Lawan merasa punya kesempatan. Secepat terbang ia lepaskan tendangan, namun Suro sudah melompat, sedangkan sejak tadi mulai terdengar suara tawa yang tiada putus-putusnya. Pemuda itu terkadang lenyap sehingga tinggal bayang-bayang saja. Tapi di lain waktu bergerak lambat seperti orang yang sudah lelah bertarung. "Heit...!"

Serangan Datuk Alam Salindra luput, ia bingung dan gelengkan kepala. Rupanya kosentrasi lawan sempat terpecah karena Suro mengeluarkan jurus 'Tawa Kera Siluman' yang memang fungsinya untuk memecah belah perhatian lawannya.

"Kunyuk geblek! Pandai juga kau menghindar rupanya!"

"Bapak moyangnya kunyuk! Sebentar lagi kau akan kubuat mampus!" dengus Suro.

Tiba-tiba saja pemuda itu mencakar wajah Datuk Alam Salindra. Lawan menangkisnya.

Duuk! "Wadow...!"

Suro kesakitan, tangan lawan keras seperti besi. Sehingga ia kibaskan tangannya yang mendenyut. Datuk Alam Salindra membentak keras, tubuhnya melesat kembali ke depan. Ketika itu ia sudah mengeluarkan jurus 'Menari-nari Di Atas Pusara'.

"Iih...!"

Pemuda berambut hitam kemerahan ini langsung jatuhkan tubuhnya, tubuh diputar, kaki membalik dan menendang.

Jendul! "Auu...!"

Menjeritlah sang Datuk ketika kaki lawan tiada disangka-sangka menghantam bola kramatnya. Ia berjingkrak-jingkrak, perutnya terasa mulas.

"Datuk bangsat! Heaa...!"

Suro melompat, namun secara aneh ia ber-

guling-guling kembali. Tubuhnya melabrak kaki lawannya. Datuk Alam Salindra pontang-panting hindari tabrakan itu. Padahal sakit di selangkangannya belum hilang betul.

"Heaa...!"

Karena lawan terus melompat-lompat seperti monyet, maka Suro bangkit dan tinjunya menghantam perut lawannya.

Beek! Ngeek!

Pukulan Pendekar Blo'on cukup keras sehingga membuat lawan terbungkuk-bungkuk. Si Konyol menggerakkan jemarinya memberi isyarat pada lawan untuk menyerang.

Mendapat tantangan seperti itu, maka mendidihlah amarah sang Datuk. Ia mengerahkan tenaga dalamnya, kedua telapak tangan sampai ke siku berubah merah seperti bara. Ketika lakilaki itu menjejakkan kakinya maka tubuh kurus kering itu melayang seperti mengapung di udara.

"Mau apa setan benjol di jidad ini!" pikir

Suro.

Namun akhirnya ia segera memahami apa

yang akan dilakukan oleh Datuk Alam Salindra. Tangan yang telah berubah merah semerah bara ini hendak mencengkeram kepala Suro biar hangus. Pemuda ini mana merelakan kepalanya jadi korban. Ia jatuhkan diri dengan posisi menelentang.

Selanjutnya ia dorong kedua tangan ke

arah tangan lawannya. Tidak dapat dihindarkan lagi, kedua tangan itu pun saling bertemu.

Trep!

Mula-mula Pendekar Blo'on merasakan adanya satu hawa panas menyengat tangannya. Sehingga seolah-olah tangannya hangus terbakar. Namun ketika ia melipat gandakan tenaga dalamnya, maka hawa panas yang menyengat itu pun menghilang. Kini Suro malah nyengir. 

"Orang gelo, posisi seperti ini kan seperti suami isteri yang mau bikin anak!" katanya. Baru saja selesai bicara ia langsung menendang perut lawannya.

Diekh...! "Akkh...!"

Datuk Alam Salindra terjengkang lagi, kini gilirannya yang berguling-guling. Waktu itu si konyol baru saja bangkit berdiri. Punggungnya kena gedor kaki lawannya.

Gdbuk! "Akh...!"

Giliran si konyol yang tunggang langgang. Keadaan pemuda ini benar-benar sudah seperti monyet yang baru tercebur kubangan lumpur. Ia kemudian berbalik, nafasnya megap-megap, tapi tangannya telah berubah menjadi merah kehitamhitaman.

Wuuk! Wuuk!

Dengan mulut peletat-pletot ia mendorong kedua tangannya, tubuhnya pun ikut melesat. Sinar merah hitam menggebu, Datuk Alam Salindra tidak tinggal diam. Ia mengeluarkan senjata berbentuk aneh berwarna kuning.

Tas! Tas! Ting!

Welwh pukulan 'Neraka Hari Terakhir' yang dilepaskan Suro membalik dan menghantam dirinya sendiri. Untung sebagian kecil saja yang mengenainya. Kalau tidak tentu tubuhnya hangus dan nyawanya berangkat ke neraka. Datuk Alam Salindra tertawa membahak.

"Sebentar lagi kau mampus di ujung senjata Aji Bulanku ini! Dasar goblok, mau bunuh diri saja pakai pukulan sendiri!" teriak sang Datuk.

"Tertawalah engkau Datuk Jahanam! Di neraka nanti kau akan menangis menghiba-hiba!" kata Pendekar Blo'on.

Sret!

Suro mencabut Mandau Jantan berwarna hitam dengan empat lubang miring ditengahtengahnya. Ketika senjata maut itu diputar, maka terdengar suara ringkik kuda, suara tangis dan suara tawa yang tidak ada habis-habisnya. Suarasuara aneh yang terdengar itu tentu bersumber dari lubang pipih di tengah-tengah mandau. Datuk Alam Salindra sampai kaget dibuatnya.

SEPULUH Namun ia dengan berani terlebih dulu merangsak ke depan. Senjata aneh yang banyak lengkungannya itu menyambar perut Suro. Si konyol menangkis dengan senjatanya.

Traang! "Heh...!"

Dua-duanya bersurut mundur, sang Datuk gelengkan kepala, sedangkan Si Bocah Ajaib melongo. Tangannya sebentar tadi sempat tergetar, walau pun ia melihat salah satu sisi senjata lawan rompal.

"Tua bangsat! Senjatamu boleh juga, mari kita adu lagi!" tantang Suro sambil cengar-cengir.

"Pendekar Blo'on, gelarmu memang tidak percuma, aku tidak penasaran jika kalah! Heaaa...!"

Kembali senjata aneh berbentuk setengah lingkaran namun punya ketajaman pada setiap sisinya ini diputar. Angin pun menderu-deru, senjata berwarna kuning itu menyambar. Pontangpanting Suro menghindar, tidak urung salah satu sisi senjata menyambar dadanya.

Set!

"Busrut! Keparat juga, tuh setan...!" maki Suro sambil mendekap dadanya. Ia kemudian menyongsong serangan lawannya, mandau menderu. Benturan kembali terjadi. Setelah terjadi benturan Suro tidak mundur, tapi terus maju. Ujung mandau menikam, dan Datuk Alam Salindra tidak sempat menangkis. Akibatnya luncuran senjata lawan tidak dapat ditahan-tahan lagi. Blees!

Datuk Alam Salindra menjerit kesakitan. Tubuhnya yang tertembus Mandau terus didorong oleh Suro sementara senjata masih menancap di dada lawannya. Tindakan si pemuda memang penuh kegilaan, mungkin karena marahnya tadi.

Bruuk!

Datuk Alam Salindra terhempas, Suro juga ikut-ikutan jatuh dan menubruk sang Datuk yang sedang meregang ajal. Mandau dicabut, lawan melotot. Tapi sudah tidak berkutik lagi.

"Seharusnya aku mengejar Hartawan itu. Tapi...!" Suro sambil memasukkan senjatanya menoleh ke arah Pendekar Lugu yang masih belum sadarkan diri. "Kalau dia kutinggalkan aku takut nanti tubuhnya di sate para pengemis itu"

Merasa tidak punya pilihan lain, maka Pendekar Blo'on menghampiri Pendekar Lugu yang dalam keadaan terikat. Ia membebaskan ikatan itu, nah... di saat itu pula terdengar suara gemuruh air bah. Rupanya banjir besar sedang terjadi.

"Gila betul, air datang sehebat ini...!" desis Suro kaget. Sambil memanggul Pendekar Lugu langsung berlari-lari menyelamatkan diri. Dalam waktu singkat terdengar jeritan para isteri sang hartawan dan juga gadis-gadis pengemis. Mereka panik dan mencoba menyelamatkan diri. Tapi terjangan air bah itu seakan tidak mengenal kompromi. Akhirnya tenggelamlah harta benda dan juga segala macam kesenangan milik sang hartawan.

Sementara Suro ketika itu telah sampai di

sebuah bukit paling tinggi. Kejadian yang berlangsung singkat itu membuatnya ngeri. Ia kemudian menggerakkan kepala ke arah Pendekar Lugu, karena masih belum sadarkan diri juga, maka ia mengambil sejenis daun yang menebarkan bau busuk seperti kentut. Daun itu diremasnya hingga hancur, setelah itu didekatkan ke hidung Pendekar Lugu.

Si pemuda bersin-bersin, lalu segera bangkit seperti orang yang terkejut. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya yang sudah berubah. Air meluap kemana-mana. Ia lebih kaget lagi ketika melihat Pendekar Blo'on di sampingnya.

"Eeh, apa yang sudah terjadi? Ya Tuhan... aku ingat, para nujum itu menyerangku. Kemudian aku...!"

"Kelenger!" sambung Suro termonyongmonyong. "Mereka hampir membunuhmu Pendekar Lugu. Aku heran mengapa Anak Langit tidak menolongmu! Padahal kalau aku terlambat sedikit saja, pasti kau sudah disiangi dan dijadikan sate, sungguh malang sekali nasibmu!" 

"Tuhan masih melindungiku. Banjir itu suatu pertanda amarahnya. Malang benar nasib manusia yang tidak berfikir!"

"Yang malang nasib kawanku, Jelita. Hartawan gemblung itu telah melarikannya. Aku harus mencari sebelum terjadi aib besar pada diri Puspita!" kata Suro. "Para ahli Nujum itu bagaimana?"

Suro menggaruk rambutnya. "Mereka sekarang sudah berangkat ke neraka! Tidak usah dipikirkan!"

"Kalau begitu aku mau ikut bersamamu." "Boleh, tapi jangan bikin aku repot, jangan

ngompol dan jangan minta gendong pula!" tegas Suro bersungut-sungut.

***

Sementara itu di selatan pantai Jawa terlihat ada lima buah perahu yang merapat dengan jarak tidak berjauhan. Jumlah mereka cukup besar. Tampaknya mereka orang-orang asing yang datang dari sebuah negeri yang jauh. Lima buah kapal besar itu sarat penumpang.

Kelihatannya orang-orang asing ini punya kepentingan yang begitu mendesak. Dan mungkin pula terdiri dari pejabat dan orang-orang penting beberapa kerajaan. Dari masing-masing kapal itu kemudian turun para penumpangnya. Mereka segera mendirikan tenda-tenda darurat tidak jauh dari pantai itu. Sama sekali para pendatang asing ini tidak mengetahui, bahwa ketika itu prajuritprajurit kerajaan Ujung Dunia yang berpatroli di sekitar situ tampak terus mengawasi gerak-gerik orang asing yang sangat mencurigakan.

Beberapa orang dari perajurit-perajurit itu segera bergerak meninggalkan kawan-kawannya yang terus mengintai. Mereka tampak memacu kuda tunggangan menuju kota raja Ujung Dunia.

Sementara itu di lain tempat, namun masih di sekitar pantai selatan muncul pula seorang laki-laki bengis memakai topi terbuat dari daun rumbia. Di punggungnya terdapat sebuah pedang panjang. Tatapan matanya sinis, dan ia melangkah dengan angkuhnya.

Laki-laki memakai pakaian warna jingga ini dirimba persilatan dikenal dengan julukan Si Raja Tega. Ia membunuh orang-orang tidak disukainya terlepas dari rasa salah atau tidak.

Ia adalah pembunuh bayaran dan merupakan tokoh peralihan yang paling tega di dunia. Itulah sebabnya ia dijuluki Si Raja Tega.

Mengapa tokoh dari daerah Andalas ini sampai berkeliaran meninggalkan Asahan? Lalu bagaimana nasib si Jelita Puspita di tangan hartawan sinting itu. Dan siapa orang-orang di dalam lima kapal asing itu? Bagaimana dengan kitab Kedamaian Dunia? Ikuti petualang si konyol selanjutnya.

TAMAT