-->

Serial Pendekar Bloon Eps 21 : Tokoh-Tokoh Kembar

 
Eps 21 : Tokoh-Tokoh Kembar


Pelarian yang ia lakukan dari musuhnya bukanlah lari karena ia merasa kalah. Apa yang dilakukannya semata-mata karena hendak mengatur siasat terbaik untuk menghancurkan lawan-lawannya yang terdiri dari tokoh-tokoh berkepandaian tinggi itu. Walau pun mereka bukan semuanya terdiri dari tokoh-tokoh kelas satu. Seperti Datuk Nan Gadang Lapuih itu, ia mempunyai kuda gaib yang dapat mengalahkan pembantu-pembantunya dari alam kubur itu. Tokoh dari Ngarai Sianok memang harus dilenyapkannya. Tetapi yang menjadi tujuan utama bagaimana caranya membunuh kedua manusia yang sangat dibencinya. Barata Surya dan Dewana adalah orang-orang yang harus mendapat ganjaran setimpal. Selain mereka masih ada lagi Manusia Topeng, Mata Iblis, Wayan Tandira dan termasuk Dewi Kerudung Putih. Dua orang yang terakhir ini baginya tidak begitu merisaukan hati.

Perempuan berpakaian hijau itu memang dibuat pusing juga. Kini sama sekali ia sudah tidak punya pembantu yang dapat diandalkan. Pendekar Blo'on yang semula dapat diharapkan untuk mewujudkan cita-citanya sekarang mungkin sudah dapat dibuat sadar oleh gurunya, Mustika Jajar murid keponakannya tidak munculmuncul juga. Tetapi ia masih punya sesuatu yang dapat diandalkannya. Itulah dia Batu Lahat Bakutuk. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat besar dengan batu itu.

"Hik hik hik! Datuk Nan Gadang, Malaikat Berambut Api, Barata Surya! Rencana yang kujalankan kali ini pasti akan membuat kalian semua celaka! Kalian akan menghadapi tokoh-tokoh yang mempunyai kesaktian tidak lebih rendah dari kalian!" dengus Ratu Leak sinis. Seraya kemudian masuk ke sebuah celah batu sempit. Melewati celah batu itu terdapat tanah yang luas yang seluruh permukaannya berlapis batu hitam. Ratu Leak melangkahkan kakinya ke tengah-tengah batu datar yang luas itu. Namun alangkah terkejutnya orang ini saat melihat seorang kakek tua berwajah tengkorak bermata merah seperti api. Yang mengerikan dari orang ini wajahnya sama sekali tidak terbalut kulit dan daging. Sementara di depannya tampak tergeletak seorang gadis berpakaian tipis tembus pandang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Gadis itu kelihatannya baru saja mendapat pengobatan dari si kakek angker. Setelah mengenali siapa kakek berwajah angker ini, Ratu Leak langsung melangkah mendekati sambil berseru: "Adik seperguruanku, Tua Tengkorak Mata Api?! Syukur kau mau datang ke tanah kutukan ini!"

Yang ditanya tidak menjawab, sikapnya acuh tak acuh. Hanya matanya saja yang hampir memberojol keluar itu memandang sinis pada Ratu Leak.

"Adik seperguruan. Mengapa kau pandangi aku seperti itu. Apakah ada langkahku yang kau anggap salah?!" tanya Ratu Leak.

"Langkahmu tidak ada yang salah kakang mbok. Yang membuatku tidak senang kau membiarkan muridku hampir membeku karena terluka dalam di Sange ini! Jika aku tidak datang mungkin Mustika Jajar sudah mampus!" sahut Tua Tengkorak Mata Api. Agar lebih jelas siapa adanya kakek tua berwajah tengkorak ini (dalam episode Pemikat Iblis). "Padahal ia membantu, namun rasa sayang terhadap murid keponakan kulihat tidak ada sama sekali!"

"Adik seperguruan. Kau jangan salah sangka, aku belum sempat mencarinya. Sebab rencanaku yang pertama ternyata tidak membawa hasil. Kau jangan marah!" sergah Ratu Leak. Perempuan ini kemudian meraba urat nadi di bagian leher Iblis Betina Dari Neraka. Melihat hal itu Tua Tengkorak Mata Api langsung menggumam.

"Keadaannya sudah semakin baik. Mungkin tidak lama lagi ia sadar. Kuharap jangan ganggu dia dulu. Biarkan ia istirahat!" tegas si kakek yang cuma punya sebelah mata tersebut tegas.

"Aku mengerti!" Ratu Leak tersenyum. "Bagaimana dengan musuh-musuhmu?"

Kakek mata merah mengalihkan perhatian.

Ratu Leak gelengkan kepala. "Tidak semudah yang kubayangkan. Jumlah mereka kelewat banyak di luar perhitunganku!"

"Mengapa menjadi lemah dalam mewujudkan sebuah cita-cita? Malaikat Berambut Api punya hutang besar padaku! Aku sanggup menghadapinya!" dengus Tua Tengkorak Mata Api. "Eeh... apakah Batu Lahat Bakutuk masih berada di tanganmu?"

"Masih."

"Ha ha ha! Aku punya satu rencana besar dengan batu itu. Jika rencana ini terwujud. Maka kita tidak perlu bercapai-capai badan menghadapi mereka. Kita dapat uncang-uncang kaki sambil menyaksikan musuh-musuh kita bergelimpangan tanpa nyawa!"

Mendengar ucapan Tua Tengkorak Mata Api, Ratu Leak jadi tertarik. "Apa rencanamu itu adik seperguruanku?"

Tua Tengkorak Mata Api membisikkan rencananya di telinga Ratu Leak. Wajah perempuan cantik itu berubah berseri-seri.

"Rencana yang bagus! Aku juga semula punya niat untuk melakukan hal itu. Tapi aku merasa kekuatan sihirku semakin melemah saja akhir-akhir ini! Kurasa jika kita bekerja sama kita dapat mewujudkan impian yang mengejutkan dan tidak pernah terduga-duga oleh musuh kita!"

"Nanti tengah malam kita dapat melakukan segala sesuatunya. Karena dulu kau telah menyelamatkan muridku dengan menyambung tangan serta menyembuhkan luka di perut. Maka tidak ada salahnya jika sebagai saudara seperguruan kita saling membantu!" kata Tua Tengkorak Mata Api. Ratu Leak merasa senang sekali mendapat bantuan dari adik seperguruannya. Ia tahu sampai di mana kehebatan Tua Tengkorak Mata Api. Laki-laki itu bahkan mempunyai ilmu ajian 'Benteng Roh'. Sebuah ilmu sesat yang dapat menghidupkan benda-benda mati atas bantuan iblis. Tanpa itu pun rasanya Batu Lahat Bakutuk dapat mereka manfaatkan untuk mewujudkan impian mereka.

***

Di pagi hari udara di Lembah Nirwana terasa dingin sekali. Di sisi lain aroma bunga-bunga yang tumbuh beraneka ragam menjanjikan suasana lain yang sangat romantis. Murid-murid lembah yang terdiri dari gadis-gadis cantik di pagi itu tampak lebih sibuk dari hari-hari biasanya. Seorang gadis berkulit putih bermata sipit sejak semalaman memang diperintahkan oleh gurunya untuk menyediakan semua keperluan yang dibutuhkan Pendekar Blo'on. Suro sesungguhnya merasa beruntung berada di lembah itu. Betapa tidak, Lembah Nirwana adalah sebuah tempat yang indah dan sulit dicari tandingannya di dunia ini apalagi yang melayaninya seorang gadis yang terkadang secara diam-diam mencuri pandang padanya. Kebahagiaan apalagi yang bisa menandingi semua ini?

Sungguhpun begitu jauh di sudut hatinya, ia menjadi bimbang juga memikirkan nasib Dewi Kerudung Putih. Entah bagaimana keadaan gadis itu di tangan Ratu Leak. Boleh jadi Ratu Leak telah membunuhnya. Padahal Dewi Kerudung Putih dulu pernah menolongnya (dalam episode Bayang Bayang Kematian). Jika Dewi Kerudung Putih sampai tewas di tangan Ratu Leak. Suro Blondo bersumpah akan melakukan pembalasan berlipat ganda. Kini ia mondar mandir di dalam kamar yang dijadikannya tempat tidur semalam.

"Runyam benar-benar runyam. Semuanya serba memalukan! Dalam keadaan tidak sadar aku pasti telah bertarung dengan guruku. Mau disimpan di mana mukaku ini? Tapi mengapa kakek Dewana tidak mau menemuiku di sini? Di mana dia gerangan? Wah kejadian ini benarbenar memalukan!" pikir Suro, lalu garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seraya berjalan mondar-mandir lagi, tapi tiba-tiba hentikan langkahnya ketika mendengar suara daun pintu berderit terbuka. Yang datang ternyata gadis cantik bermata sipit.

"Selamat pagi!" sapa Bunga Seloka ramah. "Selamat siang dikit! Ee... kita belum kena-

lan, ya? Namaku Suro, kau siapa?" tanya Pendekar Blo'on ramah. Yang ditanya tersenyum malumalu, wajahnya bersemu merah sedikit.

"Aku Bunga Seloka! Mengenai siapa dirimu aku sudah mendengarnya dari guru! Aku datang ke sini bukan bercanda!"

"Lalu??"

"Guru memerintahkanmu untuk menjumpainya di taman belakang!" jelas Bunga Seloka. "Taman belakang dimana?"

"Aku akan tunjukkan arahnya padamu! Mari ikuti aku!" Tanpa menunggu Bunga Seloka segera berbalik langkah. Sambil menggerutu Suro mengikuti Bunga Seloka. Yang dimaksud dengan taman belakang ternyata jaraknya cukup jauh juga. Di ujung tanaman bunga terdapat pohonpohon besar seperti di rimba raya. Disini Bunga Seloka hentikan langkah dan membalik menghadap Suro Blondo.

"Peraturan mengatakan aku hanya dibenarkan mengantar kamu sampai di sini saja. Teruskanlah berjalan ke sana, nanti kau akan mendapat petunjuk guruku!" tegas Bunga Seloka seraya menunjuk arah yang dimaksudkannya. Pemuda berpakaian biru memandang ke arah itu.

"Kau menyuruhku masuk ke dalam hutan?" kata Suro. Ucapannya tidak mendapat tanggapan apa-apa, merasa heran ia menoleh. Ternyata Bunga Seloka telah menghilang dari pandangan matanya. Ia geleng-geleng kepala. "Orang-orang di sini rasanya memiliki keanehan, atau apa aku sendiri yang memang aneh?" pikir Suro. Seraya kemudian sambil bersiul-siul melangkah mendekati pohon kelapa dan pohon durian yang sedang berbuah lebat.

"Asyiik betul durian ini buahnya besarbesar! Ada kelapanya lagi, kurasa sehabis makan durian aku bisa menikmati air kelapa! Eeh... kebetulan sekali ada yang di bawah!" batin Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini lalu mendekati sebuah durian yang paling besar. "Wiiih, sudah kuning. Pastilah isinya enak...!"

Tanpa pikir panjang lagi, Suro segera membuka ujung buah durian tersebut dengan kedua tangannya. Ternyata pekerjaan itu tidak mudah, karena kulit buah itu alot bukan main. Suro putar-putar buah durian besar itu. Pada saat yang sama tidak jauh di sebelah kirinya Pendekar Mandau Jantan mendengar suara seseorang yang sedang mengomel, entah ditujukan pada siapa? Ketika Suro memperhatikan laki-laki yang usianya sebaya dengannya. Ternyata pemuda itu pun sedang memegang buah durian, hanya ukurannya agak lebih kecil.

"Ingin makan saja harus bersusah payah! Kedua tangan tidak dapat dipergunakan. Sedangkan manusia punya akal, mengapa durian ini tidak di pukulkan di kepalaku saja!" Bicara begitu sekonyong pemuda asing itu angkat durian dari atas tanah lalu membenturkannya ke bagian kepala.

Suro picingkan matanya melihat kejadian itu. Ia berfikir orang yang berani melakukan pekerjaan gila-gilaan itu kalau bukan orang gila pastilah punya sesuatu yang diandalkan.

Prook!

Si konyol benar-benar dibuat kaget. Bukan hanya durian masak itu saja yang pecah, tapi kepala yang dijadikan tatakan oleh pemuda tidak dikenal ikut pecah. Buah durian yang pecah berhamburan bercampur dengan otak dan darah. Anehnya pemuda itu sedikit pun tidak merasa kesakitan. Ia malah menyeringai menjilati buah durian bercampur cairan otaknya sambil cengengesan. Suro merasa perutnya menjadi mual, kepala pusing dan mau muntah. Pemuda aneh yang kepalanya pecah dihantam durian sedikitpun tidak bicara. Suro yang menutupi wajahnya dengan kelima jari direnggangkan mengintip dari sela-sela jari. Sementara buah durian tadi sudah habis dimakan oleh pemuda ini.

"Kepalaku pecah, kepala yang pecah harus dibenerin dulu!" Orang ini bicara lagi. Kemudian kedua tangannya diletakkannya antara kuping kanan dengan kuping kiri. Setelah itu tangan menghantam kepala bertubi-tubi dengan tenaga penuh.

Plok! Plak! Plok!

"Orang ini benar-benar tidak waras. Katanya mau membetulkan kepalanya yang pecah. Tapi kok malah dipukul seperti orang menghantam batu kali!" pikir Suro terlolong-lolong saking bingungnya. Ia lebih kaget lagi ketika melihat bagaimana kepala yang hampir berantakan itu menjadi utuh kembali. Pemuda tidak dikenal kali ini sunggingkan senyum aneh ditujukan pada Pendekar Blo'on. Pemuda konyol ini malah mengkeret ngeri. Kemudian tanpa bicara apa-apa ia langsung meninggalkan Suro begitu saja. Sejarak tujuh batang tombak pemuda aneh itu langkahkan kaki, tubuhnya mendadak saja raib dari pandangan Suro. Pendekar Blo'on  kedip-kedipkan  matanya berulang-ulang. Apa yang dilihatnya tadi benar-benar seperti kejadian dalam mimpi. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba muncul pula seorang pemuda lain berusia sebaya dengan pemuda aneh yang datang pertama tadi. Pemuda ini bukan menghampiri pohon durian dimana buahnya yang masak bergeletakan di atas tanah. Orang ini menghampiri pohon kelapa yang berbuah lebat. Mendongak ke atas seakan sedang menentukan mana buahnya yang masih muda.

"Jika inginkan buahnya yang sedap, mengapa harus bersusah payah dengan memanjatnya? Cukup kulihat dari sini dan dia turun sendiri!" kata si pemuda seakan ditujukan pada diri sendiri. Pemuda asing itu lalu kedipkan matanya yang sebelah kiri persis orang kelilipan.

"Heh...!" Lagi-lagi Pendekar Mandau Jantan dibuat tercengang ketika melihat betapa buah kepala yang dikedipi pemuda itu meluncur ke bawah. Kelapa muda ini tidak langsung jatuh. Melainkan tergantung-gantung di udara. Pemuda bertelanjang dada gerakkan jari telunjuknya ke atas dengan gerakan melubangi, seraya berkata.

"Kalau haus mengapa tidak minum?" Dan sekonyong-konyong dari buah kelapa yang berlubang dan tergantung di udara mengucur air kelapa. Si pemuda buka mulutnya. Suro memperhatikan kejadian ini dengan mulut melongo saking takjubnya.

"Wah, kelapa muda kok ada ikannya!" kata si pemuda. Seraya katubkan kedua bibirnya. Tangan melambai dan kelapa muda itu meluncur deras menghantam kepalanya. Nampaknya ia sengaja mengadu kepala dengan kelapa muda yang dipetiknya secara aneh.

Prak!

Kelapa itu pecah berderak dan menggelinding persis di depan Suro Blondo. Bagian yang pecah terkuak.

Lagi-lagi si konyol dihadapkan pada suatu pemandangan menakjubkan dan sulit dipercaya. Di dalam batok kelapa muda terlihat dua ekor ikan kecil sebesar jari telunjuk berwarna kuning seperti anak ikan mas.

"Orang ini punya kesaktian luar biasa. Kalau bukan orang sinting, ia pasti sengaja pamer kekuatan di depanku!" pikir Pendekar Blo'on. "Permainan seperti itu memang menarik, hanya lama kelamaan terasa membosankan. Lagipula aku datang ke sini bukan untuk menonton segala pertunjukan konyol. Si Bayang-Bayang memanggilku. Mengapa yang datang pemuda-pemuda aneh yang pamer kebolehan?" Suro akhirnya menjadi bosan, tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan durian besar yang belum sempat dibelahnya ia berjalan ke lain arah namun masih di wilayah lembah Nirwana. Baru beberapa tindak ia melangkah, di belakangnya terdengar seruan seseorang.

"Hei pemuda baju hijau. Kalau kau ingin makan durian mengapa kau tahan seleramu. Kalau kau tidak becus membelahnya, jika tidak sanggup aku bisa membantumu dan kau tinggal makan saja!"

Bila Suro memandang ke belakang, tahulah ia pemuda aneh itu yang baru saja bicara. Melihat sikap orang itu yang terlalu meremehkannya. Maka Pendekar Blo'on sambil mendengus terus berlalu.

Ternyata pemuda tidak dikenal itu tidak membiarkan si konyol pergi begitu saja. Ia menendang buah durian besar yang ditinggalkan oleh Suro. Buah durian berwarna kuning itu melayang nyaris menghantam belakang batok kepala Pendekar Blo'on. Untung saja ia cepat menghindar, jika tidak dirinya pasti sudah terjengkang. Ternyata buah durian yang tidak berhasil menghantam kepalanya itu berbalik dan menyambar kembali dengan gerakan berputar menghantam wajah Suro. Pemuda ini memaki, lalu dorongkan kedua tangannya ke arah sasaran.

Wuuut! Wuuut! Ser!

Seakan memiliki mata saja, buah durian itu membumbung ke atas dan bergerak turun kembali serendah mungkin. Sekarang kaki Pendekar Blo'on yang jadi sasaran. Dengan geram Suro melompat sekaligus diiringi gerakan salto yang sungguh sedap dipandang mata.

Kini buah durian mengambang diam di udara. Suro memandang dengan mata mendelik kepada pemuda yang tidak dikenalnya.

"Mengapa kau menyerangku?!" bentak Suro dengan suara keras. Pemuda di depannya hanya senyum-senyum.

DUA

Kemudian ia pandangi Pendekar Blo'on, tatapan matanya seolah-olah ingin menembus lubuk hati pemuda itu.

"Bukankah kau menginginkan buah itu. Kutawarkan padamu satu kebaikan, sayang kau malah menolaknya!" kata si pemuda seperti kecewa.

"Kau bukan memberi kebaikan, kulihat kau sengaja mencari gara-gara!" dengus Pendekar Blo'on tidak senang.

"Kau menuduh! Fitnah busuk membuat aku jadi marah! Sekarang rasakanlah durian itu akan mengemplang kepalamu!" Usai bicara pemuda tidak dikenal gelengkan kepala. Tiba-tiba saja durian yang terkatung-katung di udara melayang lagi dan menyerang Suro dengan kecepatan berganda. Melihat ini Suro yang telah pulih kembali dari kehilangan tenaga sakti ini (untuk lebih jelasnya dalam episode Perintah Dari Alam Gaib) segera lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'. Selarik sinar putih menderu, akan tetapi durian yang mengemplang ke arah kepala itu kini bergerak merendah lalu meluncur lagi menghantam bagian selangkangan pemuda itu.

Dengan gerakan bagai seekor monyet yang berjingkrak pemuda ini mengelak. Pukulan yang dilepaskannya menghantam sebatang pohon yang berada di belakangnya. Pohon berderak hancur disertai kobaran api menyala. Pemuda rambut kemerahan mendelik melihat pukulannya tidak mengenai sasaran. Sementara pemuda yang tidak dikenalnya itu sambil tersenyum-senyum menggerakkan tangannya hingga durian yang berada di bawah pengaruh tenaga dalamnya ini kembali meluncur ke arah Suro.

"Hati-hatilah kau Pendekar berjurus kunyuk. Salah-salah durian itu dapat mengelilipi matamu!"

Suro pencongkan mulutnya. "Sialan, kau kira hanya kau sendiri yang dapat berbuat seperti itu?" dengusnya sinis. Tidak membuang-buang waktu, Suro angkat tangannya sejajar dengan telinga. Lalu....

"Huup !"

Krrtkh!

Dua-duanya sekarang sama-sama mengerahkan tenaga dalam, sehingga terjadilah saling dorong. Pemuda tidak dikenal masih bisa tersenyum-senyum. Melihat hal itu Suro jadi sewot. Diam-diam ia melipat gandakan tenaga dalamnya. Lawan tampak terkesiap. Kedua kakinya mulai bergeser setindak demi setindak. Ketika ia mengalirkan tenaga dalam kebagian tangannya. Duaduanya tampak bergetar hebat. Buah durian sesekali terdorong ke kanan dan dilain waktu terdorong ke kiri. "Kau akan mendapat oleh-oleh Pendekar Bodoh! Hiya...!" Pemuda tidak dikenal tiba-tiba mendorongkan kedua tangan dengan keras sekali.

Pruuk!

Dan durian itupun terbelah. Apa yang keluar dari buah durian tersebut bukanlah buahnya yang berwarna kuning. Melainkan binatang sebesar jari kelingking berwarna hijau.

"Burung hijau?" seru Suro. Ia berjalan lebih mendekat ke arah serpihan kulit durian tersebut. "Ternyata bukan burung, tetapi belalang! Belalang congcorang!" kata pemuda itu sambil gelengkan kepala seakan tidak percaya. "Bagaimana mungkin durian bisa berbuah belalang? Ini hal yang mustahil!" Dalam keheranannya itu Suro segera menoleh ke arah pemuda tidak dikenal. Tetapi alangkah kagetnya pemuda ini karena pemuda yang menyerangnya tadi sekarang sudah tidak berada di tempat. "Aneh, kemana perginya orang itu. Mustahil secepat itu ia dapat menghilang? Hantukah orang tadi?" Mendadak Suro merasa tengkuknya menjadi dingin. Selagi ia terlolong menyaksikan segala keganjilan yang terjadi. Pada waktu itu pula puluhan ekor belalang congcorang berterbangan dan menyerang pemuda ini tanpa ampun.

Suro mula-mula menganggap serangan itu adalah suatu hal yang lumrah. Sehingga dengan seenaknya ia menepis belalang-belalang itu. Akan tetapi alangkah kagetnya pemuda ini karena belalang itu menghindar. Terbang berputar-putar, lalu kedua tangannya yang panjang menyentik.

Stak!

"Aih...! Keparat betul...!" maki Suro saat salah satu belalang itu menjentik bagian telinganya. Tampak jelas bagian jentikkan berubah merah. Sementara serangan belalang semakin menghebat. Suro mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengusir belalang-belalang tersebut. Sekali-kali tangannya menyambar. Terkadang kakinya menendang, aneh sungguh aneh. Belalang itu dapat menghindarinya.

Sebaliknya serangan-serangan balik yang dilakukan para congcorang itu hampir sulit dihindari oleh Suro. Padahal pemuda itu telah mempergunakan jurus Kacau Balau, satusatunya jurus menghindar pada tingkatan yang paling tinggi.

Selagi Suro dibuat kalang kabut oleh serangan congcorang yang cukup banyak itu. Maka tanpa diduga-duga dari arah semak-semak muncul seekor ular berwarna hijau sebesar lengan orang dewasa dengan panjang hampir satu tombak. Ular itu mendesis keras ketika melihat Pendekar Blo'on. Secepat terbang ia meluncur dengan mulut terbuka siap mematuk kaki Pendekar ini. Lagi-lagi terjadi keanehan. Saat melihat kehadiran ular hijau tersebut puluhan congcorang berbalik arah dan kini menyerbu ular tersebut.

Maka terjadilah pertempuran sengit antar binatang. Suro terkesima melihat kejadian ini. Mendapat keroyokan sedemikian rupa, kiranya ular hijau tidak tinggal diam. Ia mematuk kian kemari, kepalanya meluncur dengan ganas dan cepat menyerang belalang-belalang yang berada di depannya. Hebatnya tidak satu pun serangan ular itu yang mencapai sasaran. Congcorang menghindar dengan gerakan yang gesit atau membalas serangan dengan tidak diduga-duga.

"Mereka ini seperti memamerkan jurusjurus baru padaku. Ular ini memiliki gerakan yang sangat cepat dan berbahaya. Tetapi para congcorang kelihatannya lebih cerdik dan cepat berkelit. Ini adalah sebuah pemandangan sekaligus pelajaran sangat berguna! Eeh, lihat! Kaki depan congcorang yang panjang lakukan gerakan menggait dan menampar ke bagian mata. Yang diincarnya adalah bagian-bagian terlemah ular ini. Aih... hiya... bagus! Kena, ya... pukul begitu. Walah mata ular mulai berdarah." seru Suro sambil jejingkrakan. "Wah... sekarang mereka menyerang bagian ekor. Ular mulai menari-nari kesakitan. Dan yang satu itu...??" Suro mendelik sambil menahan nafas. Dilihatnya seekor congcorang nekad memasuki mulut ular itu. Jika ular katupkan mulutnya pastilah tamat sang congcorang yang malang. Namun ternyata hanya sepersekian detik saja congcorang itu berada dalam mulut ular hijau. Sebelum binatang yang sangat berbisa itu mengatupkan mulutnya, congcorang telah keluar kembali. Ular hijau mendesis panjang, lidahnya terjulur dan tampak tercabik-cabik disana sini. Darah menetes-netes, ternyata congcorang telah melukai bagian dalam ular berbisa tersebut. Marah bercampur sakit berbaur menjadi satu. Ular tersebut menggelepar sambil meliukkan kepalanya.

Dari bagian lain congcorang terus melakukan penyerangan secara beruntun. Tampak jelas binatang itu mulai terdesak. Sementara congcorang yang lain mulai memusatkan penyerangan ke bagian mata. Mendapat serangan bertubi-tubi seperti itu, tampaknya ular hijau menjadi panik. Apalagi saat itu salah satu mata ular tersebut sudah mulai berdarah. Suro memperhatikan semua yang terjadi dengan penuh rasa takjub. Sementara ular hijau itu akhirnya melarikan diri ke semak-semak yang berada tidak begitu jauh dari situ. Belalang congcorang yang jumlahnya cukup banyak tersebut terbang melambung tinggi ke angkasa. Semakin lama semakin meninggi, hingga akhirnya hilang dari pandangan mata.

Suro gelengkan kepala beberapa kali. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Tetapi Si Bayang-Bayang tidak muncul juga.

"Orang itu aneh, dia yang memintaku ke sini, tapi malah dia yang tidak mau menemuiku!" pikir Suro dalam hati.

"Kau datang, ha ha ha...! Terimalah penyambutanku!" sebuah suara disertai tawa tibatiba saja mengiang di telinga Pendekar Blo'on. Orang ini langsung menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata tidak ada orang lain, kini yang terlihat adalah sebuah pemandangan lain yang mengancam jiwa Suro. Ketika itu terlihat batu sebesar-besar kerbau meluncur deras ke arahnya. "Muslihat edan apalagi ini namanya!

Hiih...!" Secepat kilat Pendekar Mandau Jantan melompat ke udara, selagi tubuhnya masih mengambang di udara ia lepaskan pukulan berisi tenaga dalam tinggi ke arah batu-batu tersebut.

Wuuuk! Wuut! Wuuut! Byar! Byar!

Batu-batu itu berantakan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tetapi yang datang kemudian lebih dari tiga buah. Suro leletkan lidah seraya lalu lepaskan pukulan beruntun ke arah batu-batu tersebut. Dua diantaranya dapat dihancurkan. Tapi yang dua lagi meskipun terkena pukulan tidak juga hancur. Malah sekarang batu terangkat seakan ada kekuatan yang mengangkatnya. Batu bergerak melayang menghantam kepala Pendekar konyol. Pemuda ini dengan cepat berkelit ke samping, kemudian gerakkan tangannya siap lepaskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar'

Wuuesss!

Sinar biru redup bersemu merah langsung melabrak batu tersebut. Hanya sedikit lagi batu tersentuh pukulan Suro. Secara aneh batu itu terangkat lebih ke atas. Pukulan Suro menghantam pohon besar di belakangnya. Pohon itu hancur terbakar. Tanpa perduli lagi ia melepaskan pukulan susulan.

Wuuuk! Buuum! Pyaar!

Batu-batu besar itupun hancur secara beruntun. Suro cepat tarik kedua tangannya sambil menghela nafas.

"Pukulan yang kau miliki boleh juga. Tetapi itu belum cukup untuk menghadapi muslihat kejahatan dunia yang luas ini!" Lagi-lagi terdengar sebuah suara mengiang di telinganya.

"Kakek Bayang Bayang? Apakah kau akan terus berbicara seperti setan gentayangan. Engkau menahanku dengan suatu maksud yang tidak kumengerti, engkau menyuruhku agar menjumpaimu dengan muslihat. Kau katakan hendak menyampaikan sebuah rahasia besar! Pabila aku datang memenuhi panggilanmu, kau hadapkan aku dengan teka tekimu yang sulit kumengerti! Aku heran dengan semua yang kau perlihatkan padaku, atau apakah karena memang diriku ini yang bodoh?" kata Suro sambil terbengongbengong.

"Suro, kau memang bodoh. Jika tidak mana mungkin Ratu Leak berhasil memperdayaimu. Selain itu sifatmu juga agak mata keranjang, itu sifat buruk seorang laki-laki! Yang lebih penting dari semua itu telah kuperlihatkan padamu sifatsifat umum manusia?" kata Si Bayang Bayang. Tidak lama kemudian tanpa disadari oleh Pendekar Blo'on di belakangnya muncul seorang kakek tua berpakaian hitam. Tubuh kurus kering, tulang belulangnya bertonjolan. Sedangkan tatapan matanya tajam menusuk. Adalah sebuah kejutan jika orang seperti Pendekar Blo'on yang memiliki kesaktian dan indera pendengaran tajam tidak dapat mengetahui kehadiran orang ini.

"Berbaliklah kau! Tidak sepantasnya memunggungi orang tua bangka sepertiku!"

"Eeh...!" Cepat sekali Suro membalikkan badannya. Ternyata di belakangnya tampak seorang kakek tua renta bertubuh kurus kering bagaikan hanya tinggal kulit pembalut tulang saja. Tatapan mata kakek ini tampak mencorong tajam. "Aku kembali ingin bertanya, sifat-sifat manusia mana yang telah kau perlihatkan padaku wahai kakek kurus?" tanya Pendekar Blo'on setelah merasa yakin betul bahwa yang datang adalah Si Bayang-Bayang alias Tangan Biru.

"Bicara dengan kedua gurumu kau boleh mencla-mencle (bercanda). Tetapi dengan aku kau jangan sekali-kali bercanda. Salah-salah aku bisa membunuhmu!" dengus laki-laki renta di depan Suro.

"Apakah aku harus menghormat padamu, kakek kurus! Lalu bicara sambil tundukkan kepala?" sahut Suro sambil garuk-garuk kepala. Bibirnya tampak menyunggingkan senyum. Rupanya Si Tangan Biru memang tidak mau diajak bercanda. Tiba-tiba ia tunjukkan salah satu kehebatan yang dimilikinya. Si kakek gerakkan kepalanya perlahan saja. Mendadak Suro merasa ada sebuah kekuatan yang tidak terlihat telah membetot bibir dan kedua matanya. Pemuda ini tersungkur ke depan.

Bruuk! "Waduh...!"

Sambil mengerang kesakitan Pendekar Blo'on segera bangkit. Baru saja berdiri sebuah tendangan keras menghantam dadanya. Untung pemuda itu cepat menghindar.

Wuuut!

Semula Suro merasa dapat menghindari tendangan Si Tangan Biru. Tetapi pada kenyataannya pinggang pemuda itu masih kena dihantam kaki lawan. Untuk kedua kalinya Pendekar Blo'on jatuh tersungkur. Dalam hati ia bertanyatanya. Sungguh kakek tua yang ujudnya hanya bagai bayang-bayang ini mempunyai berbagai keanehan. Ia tidak tahu seberapa tinggi kesaktian yang dimilikinya. Satu hal yang mengherankannya, mengapa ia masih kena dihajar lawan. Padahal pemuda itu telah berusaha mengelakkannya sedapat yang ia mampu.

"Suro Blondo!" Tangan Biru tiba-tiba saja menghentikan gerakan tubuhnya sekaligus berseru. "Sekarang kau harus menyerangku dengan mempergunakan seluruh jurus-jurus silat yang kau miliki!" perintah si kakek.

"Mengapa harus menyerangmu? Sedangkan engkau adalah orang yang telah menolongku. Mana aku berani, sedangkan di antara kita tidak ada persoalan apa-apa!" jawab si pemuda.

"Kau berani membantah perintahku? Padahal gurumu sudah menyetujui hal ini?" Suro melengak kaget. Jelas ia tidak percaya bahwa gurunya membenarkan penyerangan terhadap orang yang telah memberikan pertolongan padanya. Kalau bukan gurunya yang gila, tentu kakek yang berada di depannya inilah yang telah sinting.

"Bagaimana aku dapat melakukannya? Dunia akan mentertawaiku bila aku sampai menyerangmu. Aku bisa dianggap sebagai orang gila yang tidak tahu budi!" bantah Pendekar Blo'on sambil bersungut-sungut.

"Biarkan mereka menganggapmu sebagai orang gila yang tidak tahu membalas guna. Perintahku padamu adalah untuk menyerangku secepatnya jika kau benar-benar manusia yang tahu berterima kasih!" dengus Si Bayang-Bayang.

Penegasan si kakek itu jelas-jelas membuat Suro Blondo tercengang-cengang. Bagaimana sebuah penyerangan dianggap sebagai rasa terima kasih! Suro mulai berpikir mungkin saja kakek renta itu memang orang sinting yang lebih gila dari gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.

"Rasanya daripada dia murka padaku. Kurasa tidak ada salahnya jika aku layani permintaannya. Tetapi...!" Suro ragu-ragu sejenak. Melihat tubuh kurus kering kerontang itu ia jadi tidak tega. "Aku takut pukulanku membuat tulang belulangnya remuk. Mana kecil-kecil begitu?" batin Suro.

Kakek renta yang berdiri di depannya tersenyum penuh kearifan. Seakan ia mengetahui apa yang ada di dalam benak pemuda itu. "Sesuatu yang kelihatannya lemah, jangan

kau pandang rendah, Pendekar Bodoh! Pandangan matamu terkadang menipu, cepat kau lakukan?" desak Si Bayang-Bayang membuat Pendekar Blo'on semakin tidak mengerti.

"Orang tua, kau terlalu memaksaku! Jika terjadi apa-apa denganmu janganlah kau salahkan aku!" kata Suro, suaranya pelan namun jelas. "Ha ha ha...! Perlu kau ingat adalah dua pemuda yang menjumpaimu pertama tadi. Aku telah memberikan dua perlambang kepadamu. Yang pertama keangkuhan dan kebijaksanaan. Dan kau juga harus ingat tentang ular dan con-

gcorang!"

Pendekar Blo'on merasa semakin tidak mengerti saja dengan maksud kata-kata Si Tangan Biru. Walau pun begitu ia tetap anggukkan kepala.

"Hati-hati orang tua?" kata pemuda itu seakan seperti ucapan seorang guru kepada muridnya. Yang diajak bicara hanya tersenyum. Suro mulai mengambil ancang-ancang untuk melakukan penyerangan. Tetapi kelihatannya ia begitu sungkan untuk menghadapi kakek tua renta ini. Sehingga untuk yang kesekian kalinya Si Tangan Biru memperingatkan.

"Serang aku dengan segenap kemampuan yang kau miliki!"

"Baik! Hia...!"

Pendekar Blo'on tiba-tiba membentak garang, sedangkan tubuhnya langsung melesat ke arah kakek renta tersebut. Melihat serangan yang cepat itu Si Bayang Bayang geser kakinya, kemudian kaki kanan diangkatnya tinggi-tinggi. Dilihat sepintas lalu kakek tua itu seperti sedang melakukan gerakan yang sangat mirip dengan congcorang.

TIGA

Masing-masing jemari tangannya tersusun lancip. Lalu dengan cepat tangan-tangannya menggait ke depan. Suro terperangah, jika Si Tangan biru ini mau mencelakainya, tentu sejak tadi ia sudah terpelanting.

"Huh, seranganmu lembek seperti serangan banci! Hayo kerahkan jurus-jurusmu yang paling hebat!" perintah Si Tangan Biru masih tetap tidak bergeming dari tempatnya.

"Serangan yang kulakukan tadi mengapa tidak bisa menyentuh tubuhnya? Aku sendiri hampir dibuat konyol jika ia mau! Huh... aku tidak boleh main-main. Mulai sekarang harus kukerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'" batin Suro di hati. Berpikir sampai ke situ sekejap kemudian pemuda ini mulai membangun serangan kembali.

Zeeb! Jeb! Jeb! Wuuk! Wuuk! "Hiyaaa...!"

Sekonyong-konyong Suro melangkah dengan gerakan seperti tersaruk-saruk. Sedangkan tangannya tidak henti menggaruk sana sini sambil menjambret ke kanan atau ke kiri. Tidak jarang tangan itu menghantam ke depan. Serangan yang dilakukan Suro sangat cepat luar biasa. Namun hingga sejauh itu Si Tangan Biru dengan mudah selalu dapat menghindar, Pendekar Blo'on benar-benar dibuat penasaran berat. Ia terus merubah taktik serangan dari jurus yang satu ke jurus yang lainnya. Sampai pada akhirnya Suro Blondo mengerahkan jurus terdahsyat 'Neraka Pembasmi Iblis'.

Kali ini Si Bayang Bayang agak terkesiap. Lalu terdengar seruannya. "Pendekar Bodoh! Serangan yang ini kulihat baru ada bobotnya. Hayo, serang, pukul! Dan begini caranya...!" Si Tangan Biru lalu sentakkan tangan ke depan dengan jari masih merapat satu sama lain.

Melihat serangan balik yang tidak disangka-sangka ini, Pendekar Blo'on segera bersalto ke belakang. Walau pun pemuda ini sudah melakukan gerakan yang dianggapnya sangat cepat sekali. Akan tetapi ia masih merasa ada angin dingin mendesir menghantam bagian perutnya.

Cuus! Jluugkh...!

Walaupun dapat menjejakkan kedua kakinya, namun tubuhnya agak goyah. Pemuda itu terkesiap, ia terperangah ketika melihat ke bagian perutnya. Ternyata bajunya ada yang bolong di dua tempat. Lubang itu seakan-akan terkena api. Padahal jika lebih diteliti, sebenarnya lubanglubang itu tercipta akibat hantaman lima jari Si Tangan Biru yang disatukan.

"Dia menyerangku dengan jurus Congcorang! Jika kakek kurus kering ini mau tentu isi perut dan isi dadaku sudah berbusaian! Hiih... mengerikan sekali!" pikir Pendekar Blo'on. Tanpa sadar tiba-tiba saja pemuda ini melompat mundur.

"Sudah kau lihat, Suro! Tidak satupun seranganmu yang ganas itu dapat menyentuhku! Kenyataan pahit yang kau hadapi ini bukan berarti gurumu salah menurunkan jurus-jurus andalan! Apa yang kau perlihatkan padaku, semuanya sudah sangat bagus, namun semua itu tidak cukup untuk menghadapi Ratu Leak dan salah satu sahabat lamaku Iblis Terlaknat Hantu Malam!" ujar Si Tangan Biru ketus.

"Ia mengatakan Iblis Terlaknat sahabatnya, tetapi mengapa tampaknya dia seperti menyimpan permusuhan?" kata Suro dalam hati. "Yang terpenting bagaimana caranya menghadapi Ratu Leak. Manusia jahanam yang satu itu nyaris membuat aku celaka dan pula berniat membunuh guruku!"

"Ada yang kau pikirkan, Suro?" tanya Si Tangan Biru. Seraya duduk di atas sehelai rumput hijau. Lagi-lagi Suro dibuat tercengang. Karena rumput yang diduduki si kakek sama sekali tidak patah apalagi tumbang. Seakan tubuh Tangan Biru tidak mempunyai bobot sama sekali. "Beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu orang tua mulia?!" ujar Suro, seraya menggaruk-garuk kepalanya. "Ratu Leak telah membuat kesusahan bagi berbagai pihak. Kutuknya terhadap penduduk negeri Sange hingga saat ini belum berakhir. Menurutmu apakah aku tidak sanggup menghadapi perempuan itu?"

Si Tangan biru manusia yang ujudnya hanya seperti bayang-bayang ini tersenyum.

"Ratu Leak mustahil dapat dihadapi oleh tokoh sakti manapun. Gurumu Penghulu Siluman Kera Putih aku jamin tidak dapat mengalahkannya jika hanya mengandalkan segala kesaktian yang dimilikinya. Entah jika kakekmu Malaikat Berambut Api. Ratu Leak sebenarnya bukan manusia super tanpa kelemahan. Semua kesaktian yang dimiliki manusia mempunyai titik kelemahannya. Tetapi untuk menjatuhkan Ratu Leak agar tidak menimbulkan banyak korban. Kita harus mengetahui di mana titik kelemahannya. Apalagi mengingat Batu Lahat Bakutuk hingga saat ini masih berada di tangannya. Dia bisa berbuat apa saja berkat bantuan benda terlaknat itu!"

"Batu Lahat Bakutuk kudengar milik Datuk Nan Gadang Paluih, apakah benar begitu keadaan yang sebenarnya?" tanya Suro serius.

"Ya... Di tanah Jawa ini tidak ada batu seperti itu. Batu Lahat Bakutuk memang milik Datuk Nan Gadang Paluih. Saat ini pun firasatku mengatakan batu tersebut telah menunjukkan kharismanya." jelas Si Tangan Biru. Leak?" "Lalu siapa yang dapat menghentikan Ratu

"Yang dapat menghentikannya tentu kau. Tetapi kau harus menguasai jurus-jurus Congcorang terlebih dahulu!"

"Hal itu akan memakan waktu yang lama?!" tegas Pendekar Blo'on seakan tidak sabar lagi.

Si Bayang-Bayang gelengkan kepalanya tegas. "Tidak, jika kau berlatih serius mungkin hanya beberapa pekan saja kau sudah dapat menguasainya!" jelas Si Tangan Biru.

"Lalu jika aku telah dapat menguasai jurus-jurus itu. Apakah berarti aku juga harus menghadapi Iblis Terlaknat Hantu Malam?"

"Ha ha ha...!" Si Tangan Biru tertawa membahak, namun kemudian katubkan bibirnya yang tertutup kumis tipis berwarna putih. "Tampangmu bodoh, ternyata otakmu cukup cerdik juga. Memang di suatu saat kelak kau mau tidak mau, suka tidak suka akan bertemu dengan Iblis Terlaknat Hantu Malam."

"Apakah dia musuhmu?" tanya Suro dengan tatapan penuh selidik.

"Iblis Terlaknat Hantu Malam dulunya adalah sahabatku! Tetapi beberapa tahun belakangan ini ia bersekutu dengan Manusia Laba-Laba!" Si Tangan Biru hentikan ucapannya sejenak. Wajahnya mendadak berubah murung dan sungguh tidak sedap dipandang. "Yang memutuskan persahabatan kami bukan saja karena ia pengen sekutu dengan Manusia Laba-Laba, lebih kurang ajar lagi ia bermaksud mengambil muridku Bunga Bidadari menjadi isterinya!"

"Kalau kakek tidak suka Iblis Terlaknat menjadi menantu berarti Iblis Terlaknat bukan manusia baik-baik!"

"Kau betul. Selain itu ia juga sudah tua, umurnya bahkan lebih tua dariku!" jelas Si Tangan biru. Kening Suro berkerut dalam, usia kakek di depannya konon hampir tiga ratus lima puluh tahun. Berarti umur Iblis Terlaknat mungkin mencapai empat ratus tahun.

"Mengapa kakek tidak mau menghadapinya langsung? Bukankah kakek paling tidak sudah mengetahui sampai dimana kehebatan orang itu?" desak Suro ingin tahu.

"Pendekar Bodoh, aku suka lagak bicaramu yang ceplas ceplos. Apa yang kau katakan itu memang benar. Tetapi ada satu rahasia lagi yang belum bisa kukatakan padamu hingga saat ini. Yang harus kau ingat, mulai besok kau harus mempelajari jurus-jurus Congcorang sebagai persiapan guna menghadapi Ratu Leak!" tegas Si Tangan Biru.

"Huh, siapa sudi menjadi muridmu! Jika aku ingin tambah ilmu tambah pengalaman, tentu aku harus minta pendapat kakekku Malaikat Berambut Api!" dengus si pemuda.

"Bocah goblok! Apa kau anggap kakekmu yang banyak pacar dimasa mudanya itu adalah satu-satunya manusia yang paling sakti di dunia ini?" cibir Si Bayang Bayang. Jika bukan tua renta ini yang bicara begitu, seandainya saja Suro belum tahu kehebatan yang dimiliki oleh Si Tangan Biru. Tentu kakek tua ini sudah di dampratnya.

"Sekali lagi kakek bicara begitu aku akan minggat dari sini!" ancam Suro Blondo.

"Hemm, ancaman bagiku tidak berguna. Kau mau belajar denganku, bukan berarti kau harus mengangkatku jadi gurumu! Aku bukan gurumu, aku hanya orang yang mau mendidikmu menjadi manusia lebih berguna dan punya kepandaian lebih berbobot! Ackh... sudahlah! Nanti sore kau harus mempelajari jurus-jurus Congcorang yang telah kau ketahui kehebatannya! Sekarang kembalilah ke pondok! Jika kau membutuhkan sesuatu, muridku Bunga Seloka pasti mau menyediakannya!"

Suro garuk-garuk kepala sambil nyengir ketika diingatkan tentang Bunga Seloka. Si cantik berkulit putih bermata sipit.

"Kurasa aku memang betah tinggal di sini, apalagi mengingat murid-muridmu cantik-cantik, kek?! Ha ha ha! Kurasa muridmu yang bernama Bunga Bidadari memiliki wajah secantik bidadari!"

"Jangan kau berani kurang ajar pada mereka jika tidak ingin kubuat mampus!" ancam Si Tangan Biru. Suro menanggapi ucapan Si Bayang Bayang dengan tawa terkekeh-kekeh.

"Jangan khawatir, kek. Aku mana berani bertindak kurang ajar, apalagi berbuat macammacam. Sedangkan satu macam saja aku tidak berani, terkecuali mereka sendiri yang mau, tentu saja aku tidak punya kuasa menolak rejeki bukan?!" sahut Pendekar Blo'on. Seraya tanpa menghiraukan Si Tangan Biru yang melotot padanya segera berlalu meninggalkan tempat pertemuan.

***

Manusia Topeng dan Mata Iblis duduk mencangkung menunggu kedatangan Penghulu Siluman Kera Putih yang telah sama kita ketahui pergi ke Lembah Nirwana (dalam episode Perintah Dari Alam Gaib). Setelah di tunggu-tunggu sekitar lama, ternyata Barata Surya tidak muncul juga. Dalam pada itu tiba-tiba saja Manusia Topeng melihat sebuah anak panah meluncur deras ke bagian punggung Mata Iblis yang duduk di depannya. Laksana kilat Manusia Topeng mendorong Mata Iblis, hingga membuat kakek bodoh itu terguling-guling sambil memaki. Manusia Topeng tidak perduli. Tangan kanan digerakkan ke atas dan....

"Haaap!" Teeep!

Anak panah tersebut kena disambar oleh Manusia Topeng. Mata Iblis yang hampir memaki lagi terpaksa katupkan bibirnya ketika melihat anak panah berada di tangan Manusia Topeng.

"Pembokong tengik! Siapa setannya yang berani macam-macam pada kita?" dengus Mata Iblis. Seraya langsung memandang ke arah datangnya anak panah tadi. Di saat itu ia melihat semak belukar di belakang mereka bergerakgerak. Tanpa menunggu lagi, Mata Iblis langsung kedipkan matanya. Dua larik sinar merah langsung meluncur menghantam semak-semak yang bergoyang.

Buum! Buum!

Tidak ada reaksi apa-apa. Sepi, Mata Iblis ternyata tidak puas. Sekali ia berkelebat, di lain waktu ia telah berada di semak-semak yang berantakan terhantam sinar matanya. Mata Iblis langsung melakukan penelitian, setelah berputarputar di tempat itu sejauh lima batang tombak. Ternyata ia tidak melihat siapapun di sana.

"Sial! Pengecut itu melarikan diri!" gerutu si kakek buta. Namun tiba-tiba saja ia kerutkan keningnya. Jika seseorang yang membokongnya dapat pergi secepat itu. Tentu ia bukan manusia sembarangan? Karena tidak menemukan apa yang dicarinya. Sambil bersungut-sungut ia kembali menemui Manusia Topeng. Ternyata kakek itu sambil uncang-uncang kaki sudah membolakbalik pesan yang terselip di bagian ujung anak panah.

"Apa yang kau baca, sahabatku?" tanya Mata Iblis seakan matanya yang buta itu awas seperti mata manusia normal.

"Kau dengarlah pesan gila ini?!" ujar Manusia Topeng. Dengan teliti kakek yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini mulai membaca dengan suara cukup keras.

Para tua bangka gila!

Kalian berdua adalah manusia-manusia busuk yang selalu berkedok dengan topeng kebaikan. Tidak dinyana ternyata kalian adalah kaki tangan Ratu Leak! Kalian manusia rendah, aku menantang kalian untuk bertarung sampai di antara kita ada yang mampus! Atau kalian adalah manusia pengecut yang tidak punya nyali?

Tertanda Malaikat Berambut Api

Manusia Topeng terdiam untuk sesaat lamanya. Wajah di balik topeng itu tampak menegang, kedua bibirnya mengatup rapat. Mata Iblis yang berdiri di depannya dapat merasakan hawa amarah dalam diri sahabat barunya itu.

"Apa bunyi pesan itu, sahabatku??" tanya Mata Iblis tidak sabar.

"Malaikat Berambut Api!" Manusia Topeng mendesis. Kata-katanya seakan ditujukan pada dirinya sendiri. "Malaikat Pencatat ada menyebut tentang orang yang satu ini. Dia tidak lain adalah gurunya Pendekar Blo'on. Mengapa ia begitu berani melempar fitnah keji pada kita? Padahal diantara kita dan dia tidak pernah terjadi silang sengketa apapun?!"

"Sahabat, kau belum mengatakan pesan apa yang diberikannya pada kita!"

"Dia menuduh kita telah bersekutu dengan Ratu Leak. Dia juga menantang kita bertarung secara jantan. Huh... apa pendapatmu?" tanya Manusia Topeng. Mata Iblis rasanya memang pernah mendengar nama besar tokoh yang tinggal di Pulau Seribu Satu Malam itu. Konon selain sakti ia terkenal arif, tetapi mengapa sekarang malah berani melakukan tuduhan membabi buta? Mustahil tokoh yang memiliki pengalaman luas mau bertindak segegabah itu.

"Kita harus menyelidik dulu. Janganjangan bukan dia yang membuat pesan itu?" ujar Mata Iblis.

"Weh apalagi yang harus diragukan? Bisa jadi ia telah termakan hasutan dari orang lain. Bukankah muridnya hampir celaka di tangan perempuan bangsat itu?"

"Sahabatku Manusia Topeng! Aku merasa sekarang sedang terjadi adu domba di dunia persilatan. Jangan-jangan Ratu Leak sedang mengatur siasat untuk memecah belah golongan putih agar dengan mudah ia dapat berbuat apa saja terhadap orang orang yang tidak disenangi. Huk huk huk...! Malangnya nasibku jika tidak sempat membalas dendam lama. Untuk lebih jelasnya masalah apa yang terjadi antara Mata Iblis dengan Ratu Leak (dalam episode Perintah Dari Alam Gaib).

Manusia Topeng anggukkan kepala. "Ucapanmu ada benarnya juga. Baiklah, sekarang kita harus menyelidik. Jika betul ucapanmu maka Ratu Leak tetap menjadi incaran pertama kita. Tapi jika ternyata Malaikat Berambut Api yang menantang dan memfitnahku, aku akan menempurnya sampai salah seorang diantara kita ada yang mati!" dengus Manusia Topeng.

"Baiknya sekarang kita berangkat, kurasa ia menunggu kita tidak jauh dari sini!" ajak Mata Iblis sudah tidak sabar.

Manusia Topeng langsung menyetujui, akan tetapi ia hentikan langkah lagi ketika teringat Penghulu Siluman Kera Putih yang pergi ke Lembah Nirwana belum kembali.

"Tunggu!!" sera Manusia Topeng.

"Ada apa lagi?" tanya Mata Iblis, seraya langsung menghentikan langkahnya.

"Barata Surya belum lagi muncul, mengapa kita meninggalkannya?"

"Huh, Barata Surya juga gurunya Pendekar Blo'on. Jika kita tunjukkan surat ini padanya dan mengatakan niat kita, bukan mustahil dia memihak pada Malaikat Berambut Api. Aku tidak suka hal ini terjadi, lebih baik secepatnya kita berangkat. Jangan ditunda-tunda lagi!"

"Baiklah, jika kau sudah berkata begitu, aku setuju saja, ha ha ha...!" sambut Manusia Topeng sambil tertawa-tawa. EMPAT

Belum lama Manusia Topeng dan Mata Iblis meninggalkan tepian Lembah Nirwana itu. Muncul seorang kakek tua berpakaian merah berambut merah. Di sebelahnya tampak seorang gadis cantik luar biasa berpakaian putih berambut di sanggul. Mereka berhenti tepat di mana Manusia Topeng dan Mata Iblis melepas lelah.

"Bunga Bidadari, sekarang sudah sampai di Lembah Nirwana. Aku cuma bisa mengantarmu di sini saja. Sampaikan pesan salamku pada gurumu!" kata kakek rambut merah yang tiada lain adalah Malaikat Berambut Api.

Si cantik angkat wajahnya, matanya yang indah berbulu lentik pandangi kakek rambut merah tersebut "Mengapa? Sebaiknya kakek pulang bersamaku untuk menjumpai guru Si Tangan Biru. Ia pasti merasa senang bertemu denganmu. Lagipula muridmu berada di sana, apakah kakek tidak ingin melihatnya?" ujar si gadis.

"Jika keadaan tidak mendesak sekali, sebenarnya aku ingin melihat bagaimana perkembangan dan keadaan murid cucuku. Tetapi aku harus mencari titik terang siapa sebenarnya Ratu Leak sehingga mati-matian berusaha mencelakai kami melalui tangan cucuku Suro Blondo!"

"Kalau pun begitu bukankah lebih baik kakek tunggu dulu kawan kakek yang satunya lagi. Kukira ia masih berada di lembah!" "Kawan yang mana? Orang tua penuh bulu yang seperti siluman monyet itukah yang kau maksudkan?" tanya Dewana.

"Ya... orang itu!"

"Ha ha ha...! Tingkahnya membuat aku terkadang muak padanya. Ah, sudahlah aku tidak bisa menunggu lagi karena waktuku sangat sempit. Aku titip senjata milik cucuku ini. Jika kau sampai di Lembah itu, sampaikan senjata ini pada Suro!" pesan kakek tua tersebut. Seraya menyerahkan Mandau berikut rangkanya pada Bunga Bidadari. Gadis itu menerimanya dan langsung menyelipkan senjata itu di belakang pinggangnya. "Baiklah, sekarang aku pergi dulu!" kata Malaikat Berambut Api. Belum lagi Bunga Bidadari sempat menanggapi. Tiba-tiba saja si kakek memungut sesuatu tidak jauh dari tempat ia ber-

diri.

Orang tua ini tanpa menghiraukan Bunga langsung membaca lipatan kulit yang ternyata berisi pesan tersebut. Wajah Malaikat Berambut Api mendadak saja berubah tegang.

"Celaka! Ini benar-benar fitnah yang keji! Hoh... mereka harus diberi penjelasan jika tidak ingin terjadi bencana besar!" desisnya. Seraya kemudian meninggalkan Bunga Bidadari yang terbengong-bengong tidak mengerti.

"Apa yang telah terjadi?" batin Bunga. "Aku tidak sempat bertanya apa isi pesan yang ditemukannya secara tidak sengaja itu!"

Selagi Bunga Bidadari sedang dilanda kebimbangan itu. Tiba-tiba pula muncul seorang kakek tua berpakaian putih berambut serta bercambang dan jenggot berwarna putih.

"Sudah kucari kemana-mana, aku tidak menemukan mereka-mereka itu! Tadinya Manusia Topeng menunggu di sini, kok sekarang pergi entah kemana!" Barata Surya mengomel sendiri. Tetapi kemudian wajahnya tampak menjadi cerah ketika dilihatnya ada seorang gadis yang tidak ia kenal memperhatikan dirinya. Barata Surya datang menghampiri.

"Bocah ayu, apakah kau melihat ada seorang kakek berambut merah disini?" tanya Barata Surya.

"Kakek siapa?"

"Aku Penghulu Siluman, anu... gurunya Pendekar Blo'on...!" jelas si kakek sambil tersenyum-senyum.

"Oh begitu. Memang aku tadi bersama kakek Dewana, tetapi sekarang ia telah pergi. Tampaknya ia sangat tergesa-gesa setelah menemukan sebuah pesan yang aku tidak tahu apa bunyinya!" kata Bunga Bidadari.

"Hmm begitu, ya...?" Barata Surya tampak berpikir-pikir. "Kurasa ada sesuatu yang sangat penting. Aku pun tidak mungkin berdiam diri. Bocah ayu terima kasih atas keteranganmu, setelah mendengar penjelasanmu aku jadi mengerti bahwa kau pasti muridnya Si Tangan Biru! Jika kau kembali ke Lembah sampaikan salamku pada gurumu dan tolong kau awasi muridku yang rada-rada miring itu!" Setelah berkata begitu Barata Surya langsung berkelebat pergi meninggalkan Bunga Bidadari. Rupanya Barata Surya merasakan adanya suatu firasat yang tidak baik. Sehingga ia cepat menyusul kakek Dewana.

***

Gadis berkerudung putih itu tokh akhirnya merasa kelelahan setelah mencari kian kemari. Kini ia duduk di atas pohon batu berdaun rindang. Untuk diketahui sampai saat itu seluruh daerah Sange masih belum terbebas dari pengaruh kutukan Ratu Leak.

Sudah sekian lama ia mencari-cari Pendekar Blo'on, tetapi hingga sekarang ia tidak tahu bagaimana dan di mana pemuda itu berada. Apakah Suro masih ditawan oleh Ratu Leak? Celakanya Ratu Leak sendiri sangat sulit ditemukannya.

"Rasanya daripada Suro yang celaka, masih lebih baik aku saja. Ini semua gara-gara aku!" batin Dewi Kerudung Putih seakan menyesali diri. Lalu ia termenung-menung seakan sedang berusaha memecahkan masalah yang tengah dihadapinya. Rasanya memang sulit untuk melacak di mana Suro atau Ratu Leak berada. Tiba-tiba saja....

Krosak!

"Eeh...!" Dewi Kerudung Putih tersentak kaget. Reflek ia memandang ke arah suara mencurigakan tadi. Dari tempat ia duduk memang agak leluasa untuk memantau keadaan di bawahnya. Ternyata yang datang di tempat itu tidak lain adalah seorang kakek tua berambut merah. Ia sendiri memang belum pernah melihat atau bertemu dengan orang ini. Tetapi melihat caranya berlari tadi, pastilah ia memiliki kepandaian tinggi.

Belum begitu lama kakek rambut merah berada di situ. Tiba-tiba saja dari arah yang sama muncul dua orang laki-laki, yang satu bertubuh pendek memakai topeng. Dewi mengenal kakek ini, sedangkan yang satunya lagi yang berbadan tegap tinggi berkulit hitam dan buta, si gadis sama sekali tidak mengenalnya. Begitu mereka saling berhadapan, kakek yang dikenalnya sebagai Manusia Topeng langsung mendamprat. Namun belum sempat ia bicara, Mata Iblis sudah mendahului.

"Kau tinggalkan pesan pada kami! Aku tidak mengerti mengapa manusia sepertimu begitu tega menuduh kami telah bersekutu dengan Ratu Leak?" dengus si kakek tampak tidak senang.

"Hei, kau orang tua buta. Apa maksud bicaramu?" tanya kakek rambut merah sinis.

Manusia Topeng maju selangkah. Ia memperhatikan kakek di depannya seakan ingin memastikan agar tidak salah bicara. Ternyata ciriciri kakek ini sama seperti yang dikatakan Malaikat Pencatat.

"Bukankah kau orangnya yang bernama Dewana?" tanya Manusia Topeng menyebut langsung nama Malaikat Berambut Api. Dari tempat persembunyiannya, Dewi melihat betapa kakek rambut merah seakan kurang menanggapi, seakan orang merasa asing dengan nama itu.

"Aku Malaikat Berambut Api!" sahut kakek rambut merah.

"Rambut Api atau Dewana bagi kami sama saja. Kau mengatakan kami bersekutu dengan Ratu Leak, padahal kau mungkin mengetahui bahwa kami ini adalah orang-orang dari golongan lurus!" Mata Iblis ikut bicara.

"Kenyataannya mengatakan begitu, kalian adalah para sekutu Ratu Leak!" sahut Malaikat Berambut Api sambil tersenyum mengejek.

Manusia Topeng kerutkan keningnya. Dulu ia mendengar Dewana adalah manusia sakti dan termasuk salah satu tokoh yang disegani dan selalu menjaga ucapannya dari kata-kata yang tidak berguna. Kenyataannya sekarang mengapa ia bersikap jor-joran seperti itu?

"Bicaramu sangat keterlaluan sekali, sobat! Aku Manusia Topeng, umurku barangkali hampir tiga kali lipat usiamu! Kalaulah benar tuduhanmu itu, tolong kau tunjukkan pada kami bukti-bukti sebagai tanda kebenaran dari semua tuduhanmu!!" kata Manusia Topeng.

"Untuk menunjukkan bukti sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Tetapi apa gunanya. Bagiku dari pada bersusah payah mengumpulkan bukti, lebih baik menempur kalian sampai mati!" dengus kakek yang mengaku sebagai Malaikat Berambut Api tersebut.

Jawabannya ini tentu membuat Mata Iblis menjadi marah besar. Ia hampir saja menerjang Malaikat Berambut Api jika tidak cepat-cepat di cegah oleh Manusia Topeng.

"Jangan halang-halangi aku!" dengus Mata

Iblis.

"Jangan gegabah! Kau lihatlah!" kata Ma-

nusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara. "Kau lihatlah matanya, sama sekali mata itu tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang berbudi! Caranya memperhatikan kita hampir sama dengan cara-cara iblis! Aku curiga janganjangan ada apa-apanya di balik semua ini!"

"Entahlah, mataku buta. Mana mungkin aku bisa meneliti hingga sejauh itu!" teriak Si Mata Iblis. Tiba-tiba saja ia bicara dengan suara lantang. "Kau boleh bicara apa saja. Tapi ketahuilah, aku dan sahabat Manusia Topeng sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Ratu Leak! Sebagai kebenaran atas ucapanku ini aku rela bertarung sampai mati denganmu jika kau menganggap dirimu orang yang benar!" teriak Mata Iblis.

"Hhh, bicaramu lancang sekali. Majulah kalian berdua!" tantang laki-laki berbaju merah yang mengaku dirinya sebagai Malaikat Berambut Api.

"Sahabat Manusia Topeng tidak usah turun tangan, biarkan aku yang akan memberi pelajaran pada kurcaci tengik ini!" sergah Mata Iblis. Dan baru saja ia berhenti bicara, tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api telah melepaskan pukulan dahsyat ke arah Mata Iblis dan Manusia Topeng. Cepat sekali Manusia Topeng gerakkan ketapel Sakti di dadanya.

Wuuut! Buuum!

Terdengar suara ledakan menggelegar. Malaikat Berambut Api tampak terkesiap. Ia terdorong mundur, tapi kemudian gelengkan kepala dan kini menerjang ke depan sambil melancarkan jurus-jurus andalannya. Maka terjadilah pertempuran sengit. Masing-masing lawan kelihatannya memang ingin menjatuhkan musuhnya dalam waktu yang singkat.

"Shaaa...!"

Tinju Malaikat Berambut Api menderu. Serangan itu jelas mengandung tenaga dalam tinggi dan terarah tepat di bagian tenggorokan. Mata iblis walau pun tidak melihat tetapi dapat merasakan serangan itu. Ia cepat merundukkan kepalanya. Sedangkan tangan kanan cepat menangkis. Malaikat Berambut Api tidak ingin melihat serangannya sia-sia. Ia menarik serangan pertama, sebagai gantinya ia lepaskan serangan ke bagian dada.

Mata Iblis berputar, sikunya menghadang. Gerakan cepat ini tidak dapat dihindari, sehingga terjadilah benturan keras.

Duuk! "Wuagkh...!"

Demikian kerasnya benturan yang terjadi, hingga membuat Mata Iblis terpelanting. Sambil menggeram marah, orang ini bangkit lagi. Rupanya Mata Iblis gampang panasan. Sehingga begitu berdiri ia langsung kerahkan tenaga sakti ke bagian matanya. Pabila matanya yang buta itu berkedip, mata dua larik sinar putih menghantam Malaikat Berambut Api.

"Hum, bukan main...!" gerung lawannya. Saat ia merasakan adanya sambaran hawa panas memanggang tubuhnya. Malaikat Berambut Api jatuhkan tubuhnya hingga rata dengan tanah.

Buuum! "Heh...!"

Bukan hanya Malaikat Berambut Api saja yang dibuat kaget. Tetapi Manusia Topeng dan Dewi Kerudung Putih yang mengintai di atas pohon dibuat terperanjat. Pohon yang terkena sinar mata kakek buta ini bukan terbakar atau layu daun-daunnya. Melainkan roboh seperti daun talas yang terkena api.

"Aku harus melakukan sesuatu sebelum orang-orang ini tahu siapa aku yang sebenarnya!" pikir Malaikat Berambut Api. Tiba-tiba saja ia melesat ke depan, sekarang ia lepaskan pukulan bertubi-tubi ke beberapa jalan darah utama di tubuh Mata Iblis. Kakek buta ini tentu saja tidak mau dirinya menjadi sasaran serangan lawan yang ganas dan mengandung hawa racun itu. Sehingga sambil melompat mundur ia lepaskan tendangan ke bagian selangkangan lawan.

Wuut! "Hait!"

Malaikat Berambut Api miringkan tubuhnya. Tinjunya menderu dan tidak dapat dihindari lagi Mata Iblis tersentak ke belakang ketika tinju lawan menggedor dadanya.

Mata Iblis terdorong mundur, walaupun ia masih tetap berdiri tegak. Namun dari sudutsudut bibirnya meneteskan darah segar. Dilihat dari kekuatan tenaga dalam, nampaknya memang Malaikat Berambut Api memiliki tenaga dalam beberapa tingkat lebih tinggi. Satu hal yang dianggap istimewa. Kakek berpakaian hitam ini mempunyai kekuatan mata yang dapat mengirimkan hawa panas atau serangan berhawa dingin. Selain itu masih ada satu lagi kelebihan lain yang tentu saja puncak dari segala kedahsyatan yang ia miliki.

"Sekejap lagi kau akan segera mati di tanganku, orang buta!" teriak Malaikat Berambut Api.

"Kau ingin membunuhku! Ha ha ha...!" ejek Mata Iblis disertai tawa bernada meremehkan. "Jika kau benar-benar laki-laki sejati, kau pandanglah mataku yang buta ini!" serunya.

Bagi Malaikat Berambut Api tentu bukan masalah jika hanya memandang mata orang buta. Tokh menurut pikirannya mata itu selain dapat melepaskan sinar maut tidak mempunyai keistimewaan apa-apa lagi. Tanpa ragu-ragu iapun memandang ke mata lawan dengan seksama. Apa yang didapatinya benar-benar membuatnya tercengang.

Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasakan seperti ada puluhan batang jarum menusuknusuk ke dua bola matanya. Mata itu menjadi sakit dan pedih. Ia mulai merasa pula kepalanya seakan-akan membesar dan hendak meledak. Rambut rambut di kepala seperti tercabut dengan paksa. Siksaan yang sangat luar biasa ini semakin menghebat. Urat-urat darah di wajah dan seluruh kepalanya tiba-tiba menyembul dan merasa retak di sana sini. Malaikat Berambut Api terhuyung-huyung. Peredaran darahnya menjadi kacau, ini rupanya yang membuat laki-laki ini menjadi panik.

"Akh... akkh...!"

Kakek yang mengaku sebagai Malaikat Berambut Api ini menjerit-jerit kesakitan. Seraya memegangi kepala untuk beberapa waktu lamanya. Sementara wajah orang ini mulai berubah tidak karu-karuan. Untung dalam waktu yang kritis itu terlintas dalam pikirannya terlintas dalam pikirannya untuk membebaskan diri dari pengaruh tatapan mata lawannya. Dengan kacau dan kurang kosentrasi ia kerahkan tenaga dalamnya. Lalu....

"Haaap!"

Satu sentakan keras membuatnya terbebas dari pengaruh tatapan lawan. Orang ini jatuh terduduk, mulutnya menyembur darah kental. Kepalanya langsung pusing dan seperti sudah tidak utuh lagi. Ia mengambil sesuatu dari balik sakunya lalu menelan benda berwarna merah itu.

Hanya beberapa detik kemudian ia sudah bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan luka-luka yang dideritanya. Malaikat Berambut Api lepaskan pukulan secara membabi buta. Manusia Topeng yang menyaksikan pertarungan itu pun tidak luput menjadi sasaran. Tentu saja mudah bagi Manusia Topeng menghindari pukulanpukulan yang ngawur ini. Mata Iblis pun bahkan sambil menghindar lepaskan serangan dengan sinar matanya.

Sementara itu di atas pohon, Dewi Kerudung Putih mulai berfikir. Ia pernah mendengar guru dari pemuda yang ia sukai salah seorang diantaranya adalah Malaikat Berambut Api. Sejauh ini kakek yang menyebut dirinya Malaikat Berambut Api sama sekali tidak pernah mempergunakan jurus maupun pukulan yang pernah dipergunakan oleh Suro. Dewi curiga, jangan-jangan kakek rambut merah itu adalah Malaikat Berambut Api gadungan?

LIMA

Berangkat dari keyakinan inilah maka Dewi Kerudung Putih kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. Seraya berlari mendekati Manusia Topeng yang memang pernah dikenalnya. "Orang tua, siapapun adanya engkau ini. Kuperingatkan padamu bahwa lawan kakek mata aneh itu bukanlah Malaikat Berambut Api yang sebenarnya!" tegas si gadis dengan suara perlahan. Sementara itu pertempuran terus berlanjut.

"Eeh, bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Manusia Topeng heran.

"Muridnya adalah kawanku, aku kenal dengan beberapa jurus yang diwariskan Malaikat Berambut Api. Sedangkan jurus yang dipergunakan oleh kakek rambut merah itu sama sekali tidak punya kemiripan, jurus-jurusnya ngawur!"

"Aku ingin mencegah, tapi jika Mata Iblis memang suka bertarung. Lebih baik kita biarkan saja dulu!" sahut Manusia Topeng.

Dewi Kerudung Putih memang tidak dapat memaksa, sebab ia belum tahu kakek rambut merah ini berdiri di pihak mana. Satu hal yang membuatnya heran, mengapa bisa muncul tokoh kembar? Sementara itu di tengah-tengah pertempuran, Mata Iblis sudah mulai jatuh bangun terkena hantaman lawannya. Walau pun begitu di pihak lawannya juga mengalami akibat yang sama. Tetapi sosok yang mengaku sebagai Malaikat Berambut Api ini nampaknya mempunyai daya tahan yang sangat tinggi. Terbukti walau pun ia menyemburkan darah dari mulutnya terhantam pukulan Mata Iblis, tetapi ia sudah bangun kembali. Sementara Mata Iblis sudah mulai kewalahan. Manusia Topeng setelah dapat menjajaki kemampuan kawan maupun lawannya segera memberi isyarat pada Mata Iblis agar mundur. Isyarat itu tentu tidak dapat dilihat oleh Mata Iblis karena matanya memang buta.

"Mata Iblis, menyingkirlah! Kulihat kau sudah mpis-mpisan! Biarlah aku yang menghadapinya!!" seru Manusia Topeng.

Demi menghormati Manusia Topeng dan mengingat keadaan dirinya sendiri, Mata Iblis segera melompat mundur. Melihat hal ini Malaikat Berambut Api tersenyum mengejek.

"Mengapa tidak kalian bertiga maju bersama-sama agar aku dengan mudah dapat mengirim kalian ke neraka!" dengus Malaikat Berambut Api.

"Huh... aku tidak akan heran mengapa perempuan punya bisul! Semua itu memang sudah dari sananya sebelum nenekku terlahir ke dunia ini. Yang memalukan mengapa wajahmu mirip sekali dengan Malaikat Berambut Api? Sehingga kau dan dia seperti dua orang bersaudara kembar. Sekarang setelah melihatmu tidak mempergunakan jurus seperti yang dimiliki oleh Pendekar Bodoh, rasanya aku yakin engkaulah kembaran yang palsu! Setelah kuteliti-teliti, setelah kuamatamati dan aku pelototi, hatiku mengatakan kau pastilah kaki tangan Ratu Leak! Kau fitnah kami untuk menutupi keadaanmu yang sebenarnya! Bangsat betul...!" maki Manusia Topeng.

"Kau tahu apa? Akulah Malaikat Berambut Api?" dengus si kakek berambut merah ngotot.

"Seribu kali kau mengatakan dirimu Malaikat Berambut Api, kau tidak dapat menipuku! Hu hu hu...!"

Malaikat Berambut Api merasa kedoknya terbongkar. Ia tidak punya pilihan lain terkecuali membunuh semua orang yang ada di sini.

"Ha ha ha...! Walau pun kau memakai topeng ternyata matamu memang awas! Kau mengerti keadaan yang sebenarnya! Tetapi itu percuma, karena sekejap kau dan dua kawanmu itu akan mati di tanganku!"

Baru saja kakek rambut merah ini selesai bicara, tiba-tiba saja ia angkat tangannya tinggitinggi.

Tar! Tar!

Terdengar suara ledakan menggelegar di angkasa. Tangan kakek berambut merah itu berubah merah kehitam-hitaman. Semakin lama tangan itu semakin membesar. Sementara kukunya memanjang dan berwarna hitam pula. Tangan tersebut selain bertambah panjang juga terus membesar, sehingga seukuran dua kali lebih besar dari tubuh kakek itu sendiri.

Dewi Kerudung Putih dan Manusia Topeng tercengang. Sedangkan Mata Iblis yang tidak dapat melihat berseru....

"Aku mencium bau iblis! Sahabat Manusia Topeng, dia mempergunakan Ilmu Kaki Roh Tangan Maut!"

"Ha ha ha...! Aku pun baru saja hendak mengatakan begitu, tapi ternyata kau yang buta sudah melihatnya lebih dulu dariku!" sahut lakilaki pendek yang tidak pernah menanggalkan topengnya sambil tertawa-tawa.

Selagi Manusia Topeng tertawa-tawa, dua tangan yang seukuran dua kali tubuh pemiliknya ini meluncur dengan gerakan menangkap. Manusia Topeng merasakan ada sesuatu yang menyambar badannya. Ia menunggu, ketika merasakan tangan-tangan yang membesar itu hendak mencengkeramnya. Dengan cerdiknya Manusia Topeng melompat sekaligus acungkan Ketapel Sakti di dadanya. Dua leret sinar menyambar ke arah dua tangan tersebut. Malaikat Berambut Api hanya sempat menarik salah satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain hanya dalam waktu sekejap sudah kena dihantam serangan lawan.

Tuuum! "Hraaakh...!"

Malaikat Berambut Api menjerit kesakitan sambil kibas-kibaskan tangannya yang melepuh. Kenyataan yang dialaminya benar-benar membuatnya murka. Tiba-tiba saja ia julurkan tangannya lagi.

Wuut!

Dengan ganas tangan itu menyambar, Manusia Topeng berkelit kemudian hantamkan kedua sikunya ke bagian telapak tangan Malaikat Berambut Api.

Des!

Hantaman itu hanya membuat tangan yang telah membesar itu bergetar saja. Kalang kabut Manusia Topeng berguling-guling menghindari cengkeram tangan lawannya. Selagi kakek pendek ini dibuat sibuk tiba-tiba saja ada ledakanledakan keras di bagian punggung Malaikat Berambut Api. Kakek ini pun menjerit sambil menggeliat. Matanya melotot seperti melihat setan, dari mulutnya menyembur darah. Orang ini tiba-tiba limbung dan jatuh terhempas nyaris menimpa Manusia Topeng. Sesungguhnya apa yang terjadi? Ketika terjadi pertempuran sengit tadi, ti-

ba-tiba saja muncul seekor kuda berbulu putih. Di atas punggung kuda duduk seorang laki-laki berpakaian putih berambut putih, di belakang laki-laki itu membonceng seorang pemuda berambut gondrong yang di sekujur tubuhnya terbungkus akar-akaran. Orang berbaju putih itulah yang tadi melemparkan pisau berbendul peledak. Ketika pisau menancap di punggung kakek rambut merah, maka bandulannya yang berwarna hitam langsung meledak. Mulai dari bagian wajah, dada dan perut kakek rambut merah memang utuh, tetapi bagian punggungnya berantakan.

Manusia Topeng cepat menoleh ke arah para penunggang kuda. Ternyata mereka tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira.

"Aku terpaksa membunuhnya, orang tua! Dia memang bukan Malaikat Berambut Api yang sebenarnya!" kata Datuk Nan Gadang Paluih.

"Kau bagaimana bisa mengetahuinya?" tanya Manusia Topeng.

"Lihatlah...!" Sang Datuk tiba-tiba saja melompat dari atas punggung kudanya. Dengan tenang ia menghampiri sosok yang mengaku dirinya sebagai Malaikat Berambut Api. Lalu ia mengitari mayat yang terbujur di depannya sebanyak tiga kali, sedangkan tangannya dikibas-kibaskan sedemikian rupa.

Sebuah keanehan terjadi, mayat si rambut merah yang telah membeku itu tiba-tiba saja mencair bagaikan lilin yang terkena api. Selain itu tercium pula bau busuk yang sedemikian menusuk. Daun-daun di sekitar mayat tampak hangus terbakar. Manusia Topeng dan Dewi Kerudung Putih terkejut. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira saling pandang.

"Katakan padaku apa yang terjadi, sahabatku?" tanya Mata Iblis, caping hidungnya kembang kempis. Rupanya ia mengendus bau bangkai juga.

"Orang yang kita lawan tadi ternyata Malaikat Berambut Api palsu! Seseorang jelas sedang menjalankan muslihatnya untuk mengacau atau membunuh orang-orang jelek seperti kita!" kata Manusia Topeng memberi komentar.

"Naluriku mengatakan ada penghianat diantara kita?" celetuk Datuk Nan Gadang Paluih.

"Sahabatku, siapa manusianya yang berani menuduh sembarangan ini? Aku tidak mengenalnya. Tuduhan itu bisa membuatku jadi nekad dan mengajaknya bertarung hingga mampus. Aku tidak perduli andaipun ia memiliki kesaktian sebanyak buih di lautan, aku tidak perduli!" teriak Mata Iblis merasa tersinggung.

Manusia Topeng yang kocak berusaha menyabarkan Mata Iblis. Seraya menepuk bahu Mata Iblis disertai ucapan.

"Keadaan sekarang benar-benar genting. Munculnya Malaikat Berambut Api palsu sudah merupakan suatu pertanda ada kekuatan yang mampu menciptakan orang yang sama diantara kita. Bukan mustahil, aku, engkau atau Datuk Nan Gadang Paluih serta Dewi Kerudung Putih sekarang sudah ada kembarannya!"

"Artinya jika manusia seperti aku ada dua, berarti kembar! Yang satu asli dan satu lagi palsu!" ujar Mata Iblis. "Seseorang melakukan ini pasti dengan maksud membikin kacau persatuan diantara golongan lurus!"

"Satu yang mengherankan dan kuanggap paling memalukan, begini banyak orang berkepandaian tinggi. Hanya menghadapi Ratu Leak saja kita sudah hampir tidak berdaya dan terasa bertele-tele." kata Dewi Kerudung Putih setengah mencemo'oh.

"Hik hik hik! Memang sangat memalukan, keterlaluan bahkan." celetuk Manusia Topeng. "Firasatku mengatakan semua ini hasil perbuatan Ratu Leak. Aku menyarankan sebaiknya mulai sekarang diantara kita jangan ada perpisahan sampai kita menemukan Ratu Leak!"

Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan kepala setuju. "Ide yang bagus! Dengan begitu jika sampai muncul kembaran yang palsu kita tidak akan terkecoh lagi dan gampang menyelesaikan persoalan agar tidak salah turun tangan!" kata kakek rambut putih berpakaian putih selempang putih penuh dukungan.

"Kemudian apa yang harus kita lakukan?" tanya Wayan Tandira.

"Mulai saat ini kita yang sudah berkumpul disini pusatkan perhatian untuk mencari dimana Ratu Leak bersembunyi!" tegas Manusia Topeng. Sekali lagi Datuk Nan Gadang Paluih anggukkan kepala.

"Aku setuju! Sekarang kita tetap berkumpul. Hari sudah senja, tapi masih ada waktu bagi kita untuk melanjutkan perjalanan. Kulihat tadi tidak jauh dari sini ada sungai. Kita bisa berkemah disana dan bergantian jaga!" usul Datuk Nan Gadang.

"Apakah yang lain-lainnya ada usul?!" tanya Mata Iblis. Karena tidak seorang pun ada yang menanggapi, maka diambil kesimpulan bahwa mereka semua telah setuju. Tidak lama setelah itu berangkatlah rombongan ini menuju ke arah utara. Di luar sepengetahuan mereka, kiranya ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak gerik mereka dengan tatapan curiga.

"Sekarang aku telah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Bukan mustahil dalam rombongan itu ada pula yang palsu! Kembaran tokoh-tokoh yang tidak kukehendaki! Aku harus terus memantau gerak-gerik mereka agar tidak ada lagi nyawa yang terbuang percuma! dengus bayangan di balik semak-semak itu. Kemudian secara diam-diam ia terus mengikuti rombongan Manusia Topeng dari jarak yang aman.

***

Lembah Nirwana yang dingin namun selalu menebarkan bau wangi semerbak berbagai jenis bunga-bungaan di pagi itu tidak sunyi sebagaimana hari-hari yang lalu. Di belakang perguruan yang dipenuhi dengan berbagai peralatan latihan, seorang pemuda bertelanjang dada sudah dalam keadaan basah bersimbah keringat. Hampir sepanjang malam tadi ia tidak beristirahat, mengingat waktu latihan yang ditentukan baginya begitu sempit.

Pemuda berambut kemerahan ini memang tampak lelah. Tetapi kemampuan tenaga dalam yang dimilikinya serta kehebatan sepuluh jari yang ia satukan sudah memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Kini ia melatih pernafasannya agar lebih baik lagi. Sekejap ia memandang ke arah batu cadas yang terdapat di sampingnya. Batu itu berlubang besar sungguh pun di sana sini terdapat percikan darah. Pemuda kocak yang tiada lain adalah Suro Blondo memperhatikan jari-jari tangannya yang bengkak dan pecah-pecah di beberapa bagian. Bibirnya termonyong-monyong.

"Hmm, kakek Tangan Biru tidak mau mengangkatku sebagai muridnya. Aku disuruhnya latihan siang malam. Kalau begitu terus menerus naga-naganya tanganku bisa hancur! Sekarang saja...!" Suro perhatikan jari-jarinya lagi. "Rasanya aku bisa konyol atau jadi Pendekar tanpa jari kalau begini terus-terusan. Huh... seumur hidup aku belum pernah mendapat latihan seperti ini! Satu hal yang segera dapat kurasakan, tubuhku menjadi semakin ringan!" Suro lalu tersenyum. "Jika aku terus menerus berada di lembah ini, bukan mustahil lama kelamaan aku bisa terbang. Ha ha ha...!" Pendekar Blo'on tepik keningnya. Seraya lalu naik di atas batu. Kedua kakinya dilipat, Suro pejamkan matanya rapat-rapat. Jemari tangan satu dengan yang lain dirapatkan. Sayup-sayup mengiang petuah Si Tangan Biru.

"Jurus-jurus Congcorang inti utamanya adalah Hentakan Kaki Congcorang jarak jauh. Jika serangan itu sudah mampu melubangi batu di depanmu itu. Berarti kau hampir menguasai jurus-jurus Congcorang Sepenuhnya!"

Maka Pendekar Blo'on kini kerahkan tenaga dalamnya ke bagian jari-jari tangannya. Jarijari yang bengkak itu menggeletar.

"Huuup! Shhaaa...!"

Tiba-tiba Suro menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Wuut!

Tampak lesatan sinar hijau selebar benar meluncur deras ke arah batu. Lalu terdengar suara

Creep! Clep! Wuuur!

Batu cadas berlubang sebesar jari telunjuk. Serpihan batu cadas meluncur turun. Pendekar Blo'on membuka matanya dan memandang ke arah batu yang telah menjadi sasaran serangan. Wajah si konyol berseri-seri.

"Tidak percuma, walau tanganku babak belur ternyata membuahkan hasil yang lumayan. Cukup lumayan, he he he...!" kata Suro sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala. Melihat hasil pesat yang didapatnya, Suro Blondo seakan tidak mengenal lelah terus saja berlatih.

"Berhentilah latihan, kebanyakan kau menguras tenaga bisa mati berdiri!" sebuah suara yang sangat merdu dan enak didengar memecah keheningan suasana. Si konyol cepat memutar tubuhnya ke belakang.

"Astaga...! Rasanya aku tadi malam tidak bermimpi kejatuhan bintang kejatuhan bulan dan kejatuhan durian. Ada makhluk secantik ini?" desis Pendekar kocak ini. Seraya mengusap-usap matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis yang berdiri tiga tombak di depannya itu bukan Bunga Seloka. Bunga Seloka sendiri sebenarnya sudah sangat cantik dengan kulitnya yang putih dan matanya yang sipit. Tapi gadis baju putih yang satu ini kelewat cantik. Kecantikannya sulit dilukiskan dengan kata-kata, bahkan kecantikannya mungkin setara dengan bidadari. Aih, jantung Suro langsung deg-degkan. Rasanya gimana gitu. "Kau melihatku seperti memandang hantu, apakah tampangku begitu mengerikan bagimu?" kata si cantik bersuara merdu.

Suro walau pun sering berhadapan dengan perempuan, namun kali ini jadi kelabakan. Katakata yang telah disusunnya dengan rapi untuk diucapkan malah jadi berantakan.

"Aku... ngg... anu... aku... anu... ku...!" Gadis yang tiada lain adalah Bunga Bida-

dari tertawa geli. Sederet giginya yang putih bagai mutiara tampak begitu indahnya.

"Memang anumu kenapa? Di gigit semut atau sudah terbang?" celetuk Bunga Bidadari tersipu malu.

"He he he! Anuku tidak apa-apa kok! Aku... rasanya belum pernah melihatmu selama berada disini. Apakah kau juga termasuk salah satu murid Tangan Biru?" tanya Suro.

"Aku memang muridnya! Murid tertua, dan kalau tidak salah kau orangnya yang bernama Suro Blondo?" tebak si gadis.

"Lho kok tahu?" sahut Suro agak kaget. "Mengapa tidak tahu, selama dua hari aku

bersama kakekmu mencari bunga untuk menyembuhkan penyakit ayanmu!"

Si konyol semakin bertambah kaget saja. "Malaikat Berambut Api? Lho dia kok tidak ikut kesini?"

Si gadis tidak langsung menjawab. Ia menghampiri sebongkah batu putih lalu duduk di atasnya dengan tenang. ENAM

Setelah duduk tenang-tenang di atas batu barulah Bunga Bidadari memandang ke arah Suro penuh perhatian. Pikirnya pemuda di depannya cukup ganteng juga, tetapi kesan tololnya itu yang membikin geregetan orang yang memandangnya.

"Kakekmu mana mungkin mau melihatmu. Kau murid gila yang hampir saja membuat celaka mereka!" dengus si gadis. Caranya bicara yang ceplas-ceplos membuat Suro merasa cepat akrab. Tidak seperti Bunga Seloka, yang terkesan malu dalam bertutur kata.

"Kejadian itu sama sekali tidak kuingat. Jika aku sadar, orang gila sekali pun mustahil tega membunuh gurunya sendiri! Kurasa guruku marah, hingga ia tidak mau lagi menemuiku. Tapi...!" Suro terdiam, berjalan mondar-mandir di depan si gadis seperti orang bingung sambil garuk-garuk kepala. "Aku punya rencana untuk minta maaf bila bertemu dengan mereka."

"Maaf saja tidak cukup!" dengus Bunga Bidadari.

"Lalu bagaimana, ah... sudahlah aku bunging, eeh bingung!" Ucapan Suro seperti orang yang menyesali diri. Ia duduk termenung dengan dua tangan menopang dagunya. Sementara itu Bunga Bidadari segera mengeluarkan Mandau dari balik punggungnya. Ia menimang-nimang senjata pusaka itu di depan Suro.

"Eeh... itu punyaku! Kau telah mencurinya

ya?"

Bunga Bidadari angkat wajahnya. Sepa-

sang matanya yang indah langsung melotot. "Jangan kau menuduhku sembarangan! Walaupun aku tidak mewarisi jurus Congcorang yang hebat itu aku tidak membutuhkan segala macam senjata!"

"Maaf kalau begitu! Tetapi mengapa gurumu tidak mewariskan jurus itu padamu? Apakah gurumu manusia pelit?!"

"Kau terlalu cerewet seperti nenek-nenek tua yang pikun. Jika saja aku lelaki sepertimu. Tentu guru bersedia menurunkan jurus-jurus maut itu padaku! Jurus itu hanya boleh dimiliki oleh laki-laki!"

"Mengapa?"

"Entahlah, aku tidak tahu!" sahut Bunga Seloka.

"Ini tidak adil namanya. Masa aku orang luar di beri pelajaran jurus-jurus maut. Sedangkan kau sebagai muridnya diajari jurus lain. Kau tidak usah berkecil hati. Nanti jika aku bertemu dengan kakek kurus itu aku akan menanyakan hal ini!"

Bunga Bidadari tertawa dalam hati. Pemuda ini benar-benar seperti orang sinting. Bicaranya blak-blakan, polos terkesan apa adanya. Hal ini yang disukai oleh si gadis. Tetapi ia tidak mungkin berlama-lama di tempat latihan itu. Jika gurunya sampai tahu, ia bisa kena marah besar. "Suro, aku datang ke sini semata-mata ka-

rena ingin menyampaikan pesan gurumu untuk memberikan Mandau ini padamu!"

"Dia menitipkan senjata itu padamu?"

"Iya, terimalah!" Bunga Bidadari menyodorkan senjata di tangannya. Tiba-tiba Pendekar Blo'on merasa waktu sedemikian sempitnya.

"Apakah engkau hendak buru-buru pergi?" "Tentu! Berlama-lama disini bisa membuat

guru jadi marah!" jelas Bunga Bidadari.

Dengan perasaan tidak enak Suro terpaksa menerima senjata itu. Tidak lama ia menyelipkan Mandau Jantan di balik pinggangnya.

"Pendekar konyol...!" kata Bunga Bidadari sesaat sebelum pergi. "Guruku mengatakan padaku tidak lama lagi ia berkenan menemuimu. Kurasa ada masalah penting yang akan disampaikannya padamu!"

Sehabis bicara begitu Bunga Bidadari langsung meninggalkan Pendekar Blo'on. Baik Suro maupun gadis cantik itu sama-sama tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan pertemuan mereka dengan tatapan mata cemburu.

Sepeninggalnya Bunga Bidadari, Pendekar Mandau Jantan cuma dapat garuk-garuk kepala melulu. Entah mengapa ia merasa jadi betah berada di Lembah Nirwana. Mungkin karena muridmurid Si Bayang-Bayang tidak ada yang jelek, entahlah. Namun Suro menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya belum selesai. Bila ia teringat dengan hal yang satu ini rasanya Pendekar Blo'on ingin cepat-cepat meninggalkan lembah Nirwana tersebut.

Selagi Suro Blondo terombang ambing perasaan yang tidak menentu. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki namun lebih halus kedengarannya Pemuda itu cepat menoleh dan memandang ke arah datangnya suara barusan. Ternyata yang datang adalah Si Tangan Biru.

Pendekar Blo'on cepat-cepat membungkukkan badannya. Manusia setengah gaib itu seakan tidak menghiraukan Suro langsung saja duduk.

"Waktumu sangat sempit, Suro. Jurus Congcorang sudah pun kau kuasai. Hanya tinggal pemantapannya saja. Mengenai masalah pemantapan dapat kau lakukan nanti setelah urusanmu dengan Ratu Leak dapat kau selesaikan. Sekarang kau duduklah mendekat kemari!" perintah Si Bayang-Bayang. Maka Pendekar Blo'on pun menghampiri.

"Kau harus tahu, Ratu Leak itu kebal senjata, bukan hanya kebal senjata saja. Tetapi ia juga kebal pukulan, kau sudah tahu jurus Congcorang berintikan pemusnahan titik kelemahan manusia-manusia kebal. Kau ingat dari yang tiga itu?" tanya si kakek kurus kering.

"Ingat kek!" "Apa saja?"

"Tiga titik kelemahan manusia kebal, pertama adalah pada bagian yang berlubang atau berongga, sedangkan yang kedua adalah tempattempat yang lunak. Dan sedangkan yang ketiga adalah tempat-tempat yang keras!"

"Itulah tiga rangkaian sekaligus inti jurusjurus Congcorang. Serangan pada sasaran yang tepat tidak akan membuang-buang tenaga. Ingat jurus-jurus maut itu hanya dapat kau pergunakan untuk waktu-waktu yang sangat mendesak dan kelewat memaksa. Kuturunkan ilmu langka ini padamu, pertama-tama adalah demi kepentinganmu untuk menghadapi Ratu Leak dan Batu Lahat Bakutuk. Sedangkan yang kedua adalah untuk kepentinganku!"

"Apa yang dimaksud dengan kepentinganmu kek?"

"Aku pernah mengatakan padamu tentang Iblis Terlaknat Hantu Malam, bukan?" tanya Si Tangan Biru.

"Betul itu kek!"

"Dia sahabatku! Sahabat yang menjadi musuh! Suatu saat kau harus mencarinya. Jika kau manusia yang tahu membalas budi orang, tentu kau tidak keberatan menjalankan perintahku ini bukan?"

"Bukan... eeh, maksudku tidak, kek! Tapi bolehkah aku tahu bagaimana duduk persoalan yang sebenarnya, kek. Sehingga sahabat bisa menjadi musuh?" tanya Pendekar Blo'on. Sedapatnya ia berusaha agar tidak sampai tertawa karena geli teringat kata-katanya yang salah. "Di dunia ini sahabat menjadi musuh bukan sesuatu yang aneh. Kau telah mengetahui sebagian kejadian itu. Di suatu saat kelak, bila aku mengutus murid tertuaku untuk menjumpaimu. Maka di sana kau akan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kau dapat menghadapi Ratu Leak!"

"Bagaimana caranya, kek?"

"Tentu saja menempurnya hingga mampus! Yang terpenting jangan sampai ia mempergunakan kekuatan Batu Lahat Bakutuk. Sebab hal itu dapat membahayakan keselamatan jiwa orang banyak!"

"Jadi hanya itu saja, kek?" tanya Suro Blondo. Si Bayang Bayang anggukkan kepalanya. Ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi terbungkus kain warna hitam. Benda persegi itu sebesar atau lebar dua jari. Pada bagian sisisisinya terdapat tali yang berwarna hitam pula.

"Ulurkan tanganmu!" perintah Si Tangan Biru. Suro walau pun bingung angsurkan kedua tangannya juga. "Satu saja tolol!"

Pendekar Blo'on angsurkan tangannya yang kiri. Tetapi Si Tangan biru memberi isyarat agar Suro memberikan tangannya yang kanan. Sehingga sambil julurkan tangan kanannya ia nyeletuk.

"Ini semacam jimat ya, kek? Aku pernah dengar jimat pantang di bawa buang hajat. Katanya kesaktian yang terkandung dalam jimat itu bisa hilang!"

"Jangan banyak tanya, benda ini jangan kau buang! Jika kau sewaktu-waktu dalam keadaan terdesak benar kau cukup mengusapnya. Mudah-mudahan Tuhan memberikan pertolongannya padamu!" jelas Si Bayang Bayang sambil mengikat benda hitam itu di lengan Suro.

"Bolehkah aku tahu isi bungkusan ini,

kek?"

"Tidak boleh. Dia tidak bisa kau buka, da-

lam bungkusan gepeng ini tersimpan rahasia besar tentang Lembah Nirwana, penghuninya juga tentang sebuah kebesaran di masa silam. Jagalah dia jangan sampai hilang, lindungi dia sebagaimana kau melindungi seorang kekasih yang sangat kau cintai. Berangkat dari sini merupakan awal kemujuran dan kesialanmu! Kutegaskan sekali lagi, benda yang melingkar di tangan kananmu itu merupakan amanah! Seseorang yang menyia-nyiakan amanah sama dengan penghianat! Suatu saat bila terjadi suatu peristiwa besar di Teluk Hantu. Di saat itulah kau akan tahu betapa pentingnya jurus Congcorang dan juga apa yang kupasang di lengan kananmu!"

"Jadi sekarang bagaimana? Apakah aku boleh meninggalkan tempat ini, kek? Rasanya aku sudah tidak betah berlama-lama disini. Mengulurulur waktu hanya membuat Ratu Leak panjang umur saja!"

"Sekarang kau belum boleh meninggalkan Lembah ini. Tetapi nanti setelah lewat tengah malam kau sudah dapat pergi!" tegas Si Tangan Biru. Kakek itu kemudian bangkit berdiri. Seraya melangkah mundur sejauh tiga tindak, dan secara aneh tiba-tiba saja sosoknya yang bagaikan bayang bayang itu raib dari pandangan Pendekar Blo'on. Pemuda itu tercengang, walau sudah beberapa kali Suro melihat kejadian yang aneh ini. Namun kali ini Si Bayang-Bayang raib lebih cepat dari biasanya.

"Aku kurang yakin kakek itu manusia sungguhan. Jangan-jangan yang kulihat hanya rohnya saja!" pikir Suro. Ia pun mengangkat bahu, seraya mengayunkan langkah menuju kamarnya.

***

Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar merasa kehilangan jejak Malaikat Berambut Api. Menurut Bunga Bidadari orang tua aneh yang sangat diseganinya itu baru saja meninggalkan tepi Lembah Nirwana. Tetapi mengapa setelah ia melakukan pengejaran cukup lama ia tidak berhasil menyusulnya juga. Barata Surya menjadi bimbang jangan-jangan ia salah arah. Kakek tua ini berdiri di balik pohon cukup lama. Tiba-tiba saja di luar dugaan ia melihat sebuah bayangan berkelebat lewat di sampingnya. Barata Surya jadi kaget karena orang yang dilihatnya sangat mirip dengannya.

"Berhenti!" teriaknya sambil menghadang langkah orang itu. Serentak sosok berpakaian putih ini hentikan langkah. Tampak jelas orang ini pun tidak mampu menutupi keheranannya.

"Kau...!"

Barata Surya terdiam, tatapan matanya memandang lurus pada laki-laki seusia dengannya.

"Wajahmu, janggut, jambang kumis dan pakaianmu mirip benar denganku! Padahal di dunia ini aku tidak mempunyai saudara kembar. Kau meniru-niru diriku. Sehingga diantara kita persis satu sama lain. Mungkin Suro pun akan salah memilih mana gurunya jika kita berjalan bersama-sama. Keadaan kita persis seperti pinang di belah pakai martir! Siapa kau?" tanya Barata Surya curiga.

"Seharusnya aku yang bertanya siapa kau ini? Mukamu dan mukaku seperti orang kembar saja!" jawab orang tua itu tidak kalah garangnya.

"Kurang ajar betul! Seseorang pasti sengaja meriasmu begini rupa untuk membuat keonaran dan kekacauan. Atau kau manusia ciptaan Batu Lahat Bakutuk heh...!"

"Kau mungkin manusianya suruhan Ratu Leak! Untuk manusia yang suka menipu dan menyaru-nyaru seperti orang lain, aku harus membunuhmu! Aku tidak ingin sampai terjadi engkau yang jadi maling aku yang dikejar-kejar orang banyak!" sergah sosok yang mirip dengan Barata Surya tidak kalah sengitnya.

Penghulu Siluman Kera Putih tiba-tiba saja jadi kehilangan kata-kata. Ia memperhatikan lakilaki di depannya dengan perasaan jengkel bercampur geli. Jengkel karena ada orang yang menyamar persis seperti dirinya. Geli, karena orang jelek seperti dia masih ada yang meniru. Dilihat sepintas lalu mereka tidak ubahnya seperti saudara kembar yang sedang bertengkar.

"Kau bukan diriku dan aku pasti bukan dirimu. Untuk membuktikan siapa Penghulu Siluman yang sebenarnya kita harus bertarung sampai salah seorang diantara kita mampus! Bagaimana pendapatmu?" tanya Barata Surya sewot.

Kembaran Barata Surya tertawa tergelakgelak. Ia tepuk-tepuk dadanya seperti seekor gorilla yang kembali membawa kemenangan dari perang.

"Keinginanku memang sesuai dengan apa yang kau ucapkan itu. Kuharap takdir kematian sesuai dengan perintah yang aku terima. Dengan begitu aku dapat kembali untuk mengabarkan berita kemenangan!"

"Kata sepakat sudah kita dapat, tunggu apa lagi jika ingin cepat sekarat?!" teriak Barata Surya. Sebagai penghulunya para siluman diamdiam ia mulai mengerahkan tenaga gaibnya ke bagian mata. Kini setelah berkedip beberapa kali ia dapat melihat kegelapan alam gaib. Sebuah alam lelembut yang tidak dapat ditembus penglihatan biasa.

Ketika Barata Surya memandang ke arah Barata Surya kembar yang berdiri tegak di depannya. Maka terlihatlah olehnya sosok makhluk dengan wajah lebih dari setan. Jelas orang itu bukan siluman, ia mengenal bagaimana rupa dan ujud Siluman. Itulah sebabnya dia tersenyum.

"Mengapa kau hanya menunggu, bukankah kau menghendaki nyawaku!" cibir si kakek sambil usap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. "Aku yakin kau ingin meniru jurus-jurus simpananku, sehingga orang akan menyangka kau adalah aku. Agaknya kau memang kebagian sialnya, kau terlanjur bertemu dengan aku!"

"Hem, mulutmu terlalu takabur!" dengus kembaran Barata Surya. Tiba-tiba saja orang ini melompat ke depan. Kakinya menyambar punggung Penghulu Siluman Kera Putih. Gerakan lawan ini sempat terbaca oleh si kakek, tanpa sungkan-sungkan lagi tinjunya menderu.

Plak!

Kembaran Barata Surya sempat terhuyung. Namun sama sekali ia tidak mengeluh terkecuali menyeringai. Kemudian ia berteriak keras sambil menyerang Penghulu Siluman dengan jurus aneh tetapi sangat berbahaya. Barata Surya tertawa terkekeh-kekeh.

"Sekarang sudah mulai terbukti, Barata Surya yang asli mempunyai jurus-jurus monyet. Sedangkan kau mempergunakan jurus anjing gila kelaparan! Ha ha ha...!"

"Jahanam!" geram kembaran Barata Surya. Tangannya melesat melakukan tamparan ke wajah dan kepala lawan. Kakek ini tundukkan kepala, dengan mempergunakan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor', Penghulu Siluman berkelit ke samping. Ia keluarkan lolongan tiada henti, sementara lawan telah menghujani pukulan bertubi-tubi. Salah satu pukulan mendarat tepat di dada Barata Surya, kakek lucu ini mengeluh tertahan. Lawan terus memburunya saat melihat si kakek seakan-akan melakukan gerakan melarikan diri. Tiba-tiba saja Barata Surya berputar kakinya menendang ke belakang.

Duuk! "Ngekh!"

Kembaran Barata Surya jatuh terpelanting. Meskipun akibat tendangan tadi membuatnya terluka. Namun ia masih sempat lepaskan pukulan maut ke arah Penghulu Siluman Kera Putih yang sekarang berbalik menyerangnya. Sinar merah bergulung-gulung bagaikan gumpalan bara melabrak kakek tua tersebut. Secepatnya dan agak gugup ia kibaskan tangannya. Sinar putih melesat dari sela-sela jari tangan si kakek.

Buum! Gubrak!

"Oh lala... aduh biyung...!" jerit Penghulu Siluman. Ia usap-usap wajahnya yang panas bagaikan terbakar. Tanpa membuang-buang waktu ia lipat gandakan tenaga dalamnya dan segera disalurkan ke bagian tangan. Sementara itu dengan nekad lawannya telah menghujaninya dengan pukulan-pukulan maut bertubi-tubi.

"Haiiit!" Tubuh kembaran Barata Surya tiba-tiba melambung tinggi. Ia berputar-putar di udara sedangkan kakinya menyapu ke empat penjuru arah. Serangan ini pertama-tama tampak seperti biasa. Tetapi ketika serangan kaki itu semakin merendah sesuai dengan gerakan menghindar si kakek. Barata Surya dibuat pontang-panting. Ia melempar tubuhnya sehingga rata dengan tanah. Tetapi kaki lawan lebih cepat lagi menghajar punggungnya.

Duuk! "Ekh...!"

Bukan main kerasnya hantaman itu hingga membuat Barata Surya menggeliat kesakitan. Ketika ia berusaha bangun lagi, sebuah tendangan menghantam dadanya. Sebelum tendangan itu mendarat tepat pada sasaran. Maka si kakek kerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.

Wuut! Wuut!

"He he he! Tidak kena...!" ejek Barata Surya. Tanpa terduga tangannya meluncur kebagian dagu lawan.

Des!.

Kepala kembaran Barata Surya sempat terdongak, tubuhnya terjajar dan laki-laki itu jatuh terduduk dengan kepala pusing bukan main. TUJUH

Sekejap kepalanya nampak oleng ke kanan ke kiri. Ia menggerung, justru dari mulutnya menyembur darah kental kehitaman. Dengan langkah terhuyung-huyung orang ini bangkit berdiri. Tangan kanan dikepalnya sedangkan tangan kiri terpentang lebar. Dua tangan diadu satu sama lain.

Traat!

Tiba-tiba saja menyembur api dari benturan itu. Serangan jarak jauh ini bukanlah serangan biasa. Namun Barata Surya malah tertawa membahak.

"Jangan coba-coba bermain api, salahsalah tubuhmu terbakar sendiri!" teriaknya. Kakek rambut putih ini tiba-tiba saja angkat tangannya siap melepaskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar' Sesaat setelah pengerahan tenaga dalam tinggi, Barata Surya tampak menggeletar hebat. Selanjutnya ia melompat tinggi ke udara sambil dorongkan kedua tangannya. Sinar biru bersemu merah meluncur deras menerjang sinar merah yang bergulung-gulung menerpa dirinya.

Wuuut!

Tiba-tiba saja lidah api lawan membubung tinggi seolah-olah menghindari bentrokan dengan pukulan Barata Surya. Praktis serangan kakek baju putih mengenai tempat kosong. Sedangkan serangan yang dilakukan lawannya terus mengejar kemana pun kakek Penghulu ini menghindar.

"Celaka, mengapa bisa jadi begini?" desisnya dalam hati. Laksana kilat ia menjejakkan kakinya di atas tanah. Lalu dorongkan kedua tangannya lagi.

Wuus!

Serangan tangkisan kedua ini kelihatannya lebih kuat dari serangan yang pertama. Sehingga terjadilah benturan keras bukan main. Ketika terjadi ledakan besar. Maka terlihat dua sosok tubuh sama terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang.

"Huuukh...!"

Suara mereka tertahan-tahan. Penghulu Siluman Kera Putih pegangi dadanya yang mendenyut sakit. Kembaran Barata Surya seka darah yang mengalir dari mulut dan hidungnya. Mata orang ini nampak lebih merah seakan dibasahi darah. Ia mencoba merangkak dan berdiri. Tetapi sekujur tubuhnya yang sempat hangus termakan pukulannya sendiri rasanya sakit semuanya. Sedangkan pada waktu itu Penghulu Siluman Kera Putih sudah kembali menyerang dengan satu tendangan menggeledek yang sangat berbahaya sekali. Mana mau kembaran Barata Surya ini mati konyol. Ketika merasakan deru angin tendangan yang begitu dingin, maka ia angkat sikunya.

Penghulu Siluman sama sekali tidak menyangka adanya perlawanan ini. Ia terpaksa tarik tendangan untuk menghindari benturan hebat. Sebagai gantinya tinju menghantam wajah lawan. "Aih...!"

Kembaran Barata Surya jadi gugup. Ia tidak sempat lagi mengelakkan serangan ini. Akibatnya....

Prok!

"Akh!" Kembaran Barata Surya tutupi wajahnya yang hancur. Sungguh mengagumkan daya tahan orang yang satu ini, sebab sungguhpun wajahnya remuk terhantam tinju lawannya namun ia masih dapat bertahan. Kini malah sambil menggerung marah ia melompat dengan gerakan bagaikan tupai berpindah dari satu ranting ke ranting lainnya. Delapan jari bermaksud mencoblos perut Penghulu Siluman Kera Putih.

Kakek Barata Surya tidak tinggal diam, ia pun angsurkan kedua tangannya sekaligus dengan gerakan mendorong.

Wuuk!

Ada hawa panas dingin menyambar. Lagilagi terjadi benturan hebat dan kembaran Barata Surya jatuh terguling-guling. Penghulu Siluman lakukan satu lompatan ke depan, lalu jatuhkan diri dengan lutut menghantam telak punggung lawannya.

Deekh! "Kraaak !"

"Arrkh !"

Kembaran Barata Surya menjerit keras. Hentakan keras itu membuat tulang punggung lawannya patah. Si kakek tidak berhenti hingga di situ saja, kini sikunya menghantam batok kepala orang itu.

Praak!

Untuk kedua kalinya terdengar suara lolongan panjang. Sosok kembaran Barata Surya menggelepar. Dari sekujur tubuhnya keluar asap berwarna kehitaman. Asap yang menebar bau busuk luar biasa. Benar seperti dugaannya, sosok yang mengembari dirinya ternyata memang manusia jejadian.

Tidak berselang lama ujud kembaran Barata Surya pun sirna. Penghulu Siluman Kera Putih sempat terkesima. Sekarang ia mulai menerkanerka siapa gerangan orang yang telah menciptakan kembaran yang sangat mirip dengan dirinya itu.

"Di dunia ini tidak ada satu makhluk pun yang mampu menciptakan makhluk lainnya. Kalau pun itu terjadi, pasti ini semua hasil perbuatan Ratu Leak dengan bantuan benda yang disebut-sebut sebagai Batu Lahat Bakutuk. Hmm, begitu penasarannya dia. Aku jadi ingin tahu siapa sesungguhnya perempuan yang bergelar Ratu Leak tersebut!" desis Penghulu Siluman tidak habis pikir.

Penghuni lereng gunung Mahameru ini selanjutnya meneruskan perjalanannya kembali untuk mencari Malaikat Berambut Api.

*** Malam itu di tepi muara sungai udara memang terasa dingin menggigit. Sebuah tenda berdiri kokoh di depan onggokan api unggun yang menyala-nyala. Manusia Topeng berada di dalam tenda itu. Sedangkan Mata Iblis duduk diam di bawah sebatang pohon mengkudu. Matanya yang buta dalam keadaan terpejam. Orang tua ini entah tertidur entah terjaga. Jauh ke samping, tepatnya di depan api unggun Dewi Kerudung Putih tampak masih menghangatkan diri. Udara yang dingin memang terasa sangat menyiksa. Bukan hanya itu saja, sejak sore tadi hati gadis ini memang tidak enak. Ada keresahan yang mengusiknya. Kegelisahan yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Gadis ini sebenarnya ingin tidur, di samping badannya terasa penat ia juga sudah mengantuk. Namun bila melirik ke arah kuda, ia menjadi was-was. Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira masih belum muncul juga dari sungai. Padahal mereka pamitan dengan Dewi hanya sebentar saja. Mungkinkah orang mandi bisa selama itu?

Dewi Kerudung Putih melirik ke arah kegelapan sungai. Ia tidak mendengar suara kecipak air terkecuali desiran angin dan suara serangga. Hanya sesekali terdengar suara burung hantu di kejauhan.

"Malam ini suasananya terasa lain sekali!" kata Dewi dalam hati. "Perasaanku mengatakan sesuatu bakal terjadi di sini!" pikirnya lagi. Kemudian si gadis merebahkan tubuhnya. Memandang ke langit terlihat olehnya gugusan bintang gemintang. Semuanya ini mengingatkan dirinya akan Pendekar Blo'on, ia hanya dapat berdoa semoga pemuda yang disenanginya itu dalam keadaan baik-baik saja.

"Auh... aku mengantuk..." Dewi mengatupkan mulutnya. Ia sudah tidak ingin lagi memikirkan kemana perginya Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira. Lama kelamaan matanya pun terpejam.

Di luar sepengetahuan Dewi kiranya ada dua pasang mata yang terus mengawasi. Dua pasang mata itu memandang ke tenda atau ke arah Mata Iblis yang duduk diam di bawah pohon.

"Tugas kita ini tidak boleh gagal! Kita telah membunuh Malaikat Berambut Api palsu demi kelancaran tugas dan jangan sampai terbongkar siapa kita yang sebenarnya!" bisik orang itu pada orang disebelahnya

"Tetapi mereka tidur dengan tempat terpisah-pisah. Ini akan menyulitkan tugas kita!" Yang diajak bicara seakan-akan mengeluh. "Ahk, kau ini mengapa begini bodoh? Membunuh Manusia Topeng sudah menjadi tugasmu. Dua yang di luar itu termasuk pekerjaan sulit, namun aku pasti mampu melakukannya!" kata orang pertama penuh keyakinan.

"Sekaranglah saatnya kita bergerak. Aku harus membunuh Dewi terlebih dahulu! Ayolah...!"

Setelah mendapat aba-aba dari kawannya, tanpa menunggu lebih lama lagi kedua orang ini ke luar dari kegelapan. Yang memakai pakaian putih berjalan mengendap-endap mendekati Dewi. Sedangkan yang satunya lagi menyelinap ke belakang tenda.

Sementara itu orang yang mendekati Dewi Kerudung Putih kini sudah menghunus sebilah pedang pendek berwarna putih mengkilap. Di luar sepengetahuannya ada sepasang mata lain yang terus mengawasi gerak-gerik mereka sejak tadi. Laki-laki berpakaian putih yang menghunus pedang itu sekarang dengan sinis angkat senjatanya tinggi-tinggi. Dewi yang tengah tertidur pulas kelihatannya memang tidak menyadari bahaya besar yang mengancamnya. Tiba-tiba saja

Wuus!

Senjata pun terayun terarah lurus ke bagian jantung Dewi. Pada waktu yang sangat kritis itu. Tiba-tiba tiga buah benda berwarna hitam sebesar kelingking melesat ke arah tangan dan senjata persis sejengkal lagi ujung senjata mencapai sasaran.

Tring! Triing! Tuuk! "Heh...!"

Laki-laki berpakaian putih tampak kaget. Senjata di tangan terpental dan jatuh di kegelapan. Selain itu tangannya pun sakit bukan main seperti di tusuk-tusuk duri. Belum lagi ia sempat menoleh ke arah orang yang menyelamatkan Dewi, sebuah tendangan mendarat telak di punggungnya. Orang ini tersungkur dengan wajah mencium tanah. Suara ribut-ribut ini membuat Dewi Kerudung Putih terjaga dari tidurnya. Ia kelihatan kaget sekali ketika melihat seorang lakilaki berpakaian serba merah telah berdiri tidak jauh darinya.

"Bangunkan semua orang! Ada tokoh-tokoh palsu di sini!" teriak kakek berambut merah. Di dalam tenda keributan lain terjadi. Manusia Topeng seperti sedang memaki-maki setelah terdengar suara bak bik buk beberapa kali. Lalu terlihat sosok tubuh terpental ke luar diiringi melesatnya sosok bayangan lain mengikuti orang yang terpelanting itu.

"Siapa kau?" tanya Dewi terheran-heran. Lebih heran lagi ketika melihat laki-laki berpakaian putih yang dikenalnya tersungkur.

"Aku Malaikat Rambut Api, nyawamu hampir saja melayang di tangan orang itu andai aku terlambat saja sedikit!" jelas si kakek. Dewi Kerudung Putih terkesima. Bagaimana mungkin Datuk Nan Gadang Paluih hendak mencelakakannya? Sedangkan diantara mereka sudah saling kenal.

"Bohong!" Datuk Nan Gadang Paluih bangkit membela diri. "Dialah yang hampir mencelakanmu!"

Dewi Kerudung Putih tentu saja semakin bertambah bingung. Ia memandang ke arah sosok yang baru terjatuh tadi. Ternyata Wayan Tandira alias Si Manusia Akar.

"Manusia Topeng! apa sesungguhnya yang tengah terjadi?" tanya Dewi bingung. Manusia Topeng tidak segera menjawab. Ia memperhatikan Malaikat Berambut Api seakan ingin meyakinkan diri.

"Entah ya,..! Bocah yang bernama Wayan Tandira ini hendak lepaskan pukulan yang mematikan selagi aku tertidur. Menurutmu apakah dia bermaksud mengurutku, sedangkan aku tidak pernah memintanya!"

"Ketahuilah oleh kalian. Aku telah mengikuti kalian sejak setan yang mengaku-ngaku sebagai Datuk Nan Gadang Paluih ini membunuh orang yang mirip denganku. Apa yang dilakukannya itu hanyalah siasat untuk menutupi rahasia siapa mereka yang sebenarnya!" tegas Malaikat Berambut Api.

"Heh, ada apa ini ribut-ribut?!" tanya Mata Iblis pula yang baru saja terjaga dari tidurnya.

"Orang rambut merah ini mengatakan Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira, palsu! Bocah ini mau membunuh aku, sedangkan Datuk Nan Gadang hendak membunuh Dewi. Bagaimana menurutmu?" tanya Manusia Topeng.

"Kalian salah sangka, kurasa kakek baju merah inilah yang palsu dan hendak menipu kalian!" sergah Wayan Tandira membela diri.

"Ha ha ha! Orang yang seperti aku satu telah terbunuh! Rasanya tidak mungkin Ratu Leak menciptakan orang baru lagi dengan Batu Lahat Bakutuknya! Kalian mau percaya silahkan, tidak juga tidak apa-apa!" tegas kakek Dewana berang. Lain lagi dengan Manusia Topeng. Orang ini seperti mendapat akal. Ia angguk-anggukkan kepala sambil menghampiri Datuk Nan Gadang Paluih.

"Datuk Nan Gadang, aku percaya dengan keteranganmu! Beberapa waktu yang lalu kulihat kudamu yang bernama Putih Kaki Langit dapat berubah tinggi seperti hendak menggapai angkasa. Untuk membuktikan bahwa orang tua berambut merah itu mengada-ada, coba sekarang tolong tunjukkan pada kami bagaimana caranya kau dapat memerintah kuda alam gaib ini sehingga tubuhnya menjadi besar dan tinggi!" pinta Manusia Topeng. Wayan Tandira sepontan memandang tajam pada Datuk Nan Gadang Paluih. Sang Datuk kedipkan matanya, sehingga posisi mereka sekarang saling memunggungi.

"Ternyata Datuk Nan Gadang Paluih tidak dapat berbuat apa-apa dengan kudanya. Kini jelaslah bagi kita siapa dia yang sebenarnya?" ujar Dewi Kerudung Putih.

"Hem, hajat belum terkabul tapi siapa diri sudah ketahuan! Wayan Tandira sesamaku, mari kita membuka jalan darah!" teriak Datuk Nan Gadang Paluih palsu ditujukan pada Wayan Tandira palsu pula.

"Mari, Datuk!" sahut kembaran Wayan Tandira. Tanpa banyak bicara lagi tiruan pemuda yang sekujur tubuhnya terbalut akar-akaran ini langsung melabrak Manusia Topeng yang berdiri di depannya. Sedangkan Datuk Nan Gadang Paluih palsu segera berhadapan dengan Malaikat Berambut Api. Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih segera menyingkir ke tempat yang aman.

"Kalian berdua benar-benar orang yang tidak berguna di depan kami. Terlebih-lebih kau rambut merah? Ketua kami punya dendam setinggi langit padamu!" dengus kembaran Datuk Nan Gadang.

"Siapa ketuamu? Tentu Ratu Leak, bukan?" celetuk Manusia Topeng yang ketika itu sedang bertarung dengan Kembaran Wayan Tandira pemimpin negeri Sange.

"Kalian tahu apa?" Wayan Tandira yang menyahuti. Tiba-tiba saja pemuda berambut gondrong itu melesat ke depan sambil kirimkan jotosan-jotosan ke beberapa bagian tubuh lawannya. Untuk diketahui, Wayan Tandira yang sesungguhnya walau pun sekujur tubuhnya hingga sebatas leher dibalut akar sakti. Tetapi kesaktiannya jauh di bawah Manusia Topeng. Dalam keadaan seperti sekarang ini pun walau Wayan gadungan berusaha mendesak lawan. Tetap saja Manusia Topeng bersikap santai-santai saja. Kelihatannya Wayan terpaksa harus menguras tenaga. Sekarang ia terus mendesak lawan sambil lepaskan tendangan atau pun pukulan bertubitubi.

"Haiiit...!"

Ketika melihat serangan lawan menderu. Manusia Topeng melompat mundur sekaligus berkelit menghindar. Kemudian tubuhnya melesat ke udara, selagi ia meluncur dengan kepala menghadap bawah, tangan Manusia Topeng menghantam bahu kanan dan bahu kiri lawannya secara bersamaan.

Bres! "Auukh...!"

Kembaran Wayan Tandira menjerit histeris dalam kesakitan yang teramat sangat. Bahu sebelah kiri tampak miring, akar-akar yang membalut tubuhnya berpatahan di sana-sini. Melihat kenyataan ini Manusia Topeng berkomentar:

"Jika kau Wayan Tandira yang asli, tentu keadaanmu tidak babak belur seperti sekarang ini. Paling tidak akar sakti dapat memancarkan sinar yang dapat membuat lawanmu mati konyol!" "Manusia bertopeng, kau boleh saja bicara

tidak karuan juntrungnya. Tetapi sebelum itu terimalah pukulanku!" teriak kembaran Wayan. Seraya tiba-tiba berjumplitan sebanyak tiga kali, ketika ia berdiri tegak tidak jauh dari Manusia Topeng dengan tidak terduga-duga Wayan hantamkan pukulannya. Terlihat jelas sinar hitam menghampar, Manusia Topeng segera dapat merasakan betapa perutnya terasa panas. Kemudian terasa ada gelombang angin dahsyat saling tindih menindih. Manusia Topeng mencoba bertahan dengan posisi berdiri, namun ke dua tangan mendorong ke depan.

"Huuuuap!" "Haaaa...!"

Kembaran Wayan Tandira akhirnya terpelanting juga. Laki-laki gondrong ini kelihatannya menderita luka dalam yang tidak ringan. Sungguh pun demikian ia mencoba bangkit kembali.

DELAPAN

Manusia Topeng yang sudah mengetahui siapa adanya Wayan Tandira. Yang tidak lain adalah kembaran yang diciptakan melalui Batu Lahat Bakutuk oleh Ratu Leak, tidak memberi kesempatan lebih banyak lagi. Ia melompat ke depan, disertai teriakan melengking tinggi ia pukulkan kedua tangannya ke dada kembaran Wayan. Si gondrong mencoba berguling, tetapi gerakannya itu hanya dapat bergeser sejengkal saja.

Praak!

Tangan kanan Manusia Topeng menghantam telak dada lawannya. Sehingga Wayan menjerit histeris. Lima buah tulang iganya remuk, darah menyembur dari mulut kembaran Wayan Tandiria. Laki-laki itu menggelepar, matanya melotot. Dalam keadaan melotot seperti itulah jiwanya melayang.

Perlahan-lahan. Akar-akar yang membelit Wayan Tandira palsu sirna begitu saja. Sosoknya mengecil, semakin bertambah kecil disertai mengepulnya asap tipis berbau busuk luar biasa. Kemudian tinggallah warna hitam sepanjang hampir satu depa. Sedangkan mayat kembaran Wayan hilang begitu saja.

"Sudah kukatakan semua ini adalah tipuan. Mengapa jadi manusia kena di bodohi?" Yang bicara adalah Malaikat Berambut Api yang saat itu sedang berusaha mendesak Datuk Nan Gadang Paluih gadungan. Manusia Topeng mendengar kata-kata kakek Dewana ikut nyeletuk.

"Datuk Nan Gadang dapat memerintah kuda putihnya untuk menyerangmu! Maka berhatihatilah orang rambut merah!"

Malaikat Berambut Api yang tidak punya tabiat konyol apalagi suka bercanda ini hanya mendengus. Waktu itu lawan telah melepaskan pukulan dahsyat dalam jarak yang sangat dekat sekali.

Wut!

Malaikat Berambut Api spontan segera merasakan adanya angin dingin laksana mata tombak menusuk-nusuk sekujur tubuhnya. Diamdiam ia kerahkan tenaga dalam untuk lindungi diri. Sedangkan bagian tenaga lainnya segera ia pindahkan ke tangan kanan.

"Heeph...!"

Tangan Malaikat Berambut Api tampak menggeletar. Kiranya ia telah siap memapaki serangan lawan dengan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'. Segera saja kedua tangannya berubah memutih laksana salju. Ketika kakek penghuni Pulau Seribu Satu Malam ini hentakkan tangannya ke depan. Maka melesatlah sinar putih bergulung-gulung bagaikan serangkaian pelangi.

Sinar merah hitam seakan-akan melabrak sebuah dinding baja yang sangat tebal. Datuk Nan Gadang palsu terpaksa melipat gandakan tenaga dalamnya untuk meneruskan serangannya yang tertahan sinar putih. Pipinya tampak menggembung, wajah berubah merah sedang mata melotot karena begitu gigihnya ia ingin menghancurkan lawannya.

"Hemm, boleh juga!" gumam kakek Dewana. Seraya tiba-tiba saja berteriak keras. Untuk kedua kalinya tangan lebih didorongkan ke depan. Tiba-tiba Datuk Nan Gadang merasa seperti ada kekuatan yang Maha dahsyat memupus habis serangan yang dilancarkannya bertubi-tubi. Tidak dapat dipertahankan lagi oleh Sang Datuk.

Duuum!

Bersamaan dengan terdengarnya suara benturan keras tadi, maka orang ini pun terpental jauh. Terlihat begitu banyak darah yang keluar dari mulutnya. Sambil memegangi dadanya Datuk Nan Gadang Paluih bangkit berdiri. Lalu tangan kanan menunjuk lurus-lurus ke arah lawannya.

Detik itu juga dari ujung jari Datuk Nan Gadang melesat selarik sinar hitam berbau sengit, pertanda ada racun jahat yang ikut melesat bersamaan dengan serangan tersebut.

Malaikat Berambut Api tidak tinggal diam. Ia segera memutar tangannya membentuk perisai diri untuk menghalau serangan lawan yang sudah ia ketahui betapa berbahayanya. Angin pun menderu-deru menyertai gerakan tangan si kakek. Untuk yang kedua kalinya sang Datuk merasa serangannya terhalang pusaran angin lawan yang tercipta lewat tangan yang berputar itu.

Tetapi setelah menggandakan tenaga dalamnya, maka sedikit demi sedikit serangan tersebut mampu juga menerobos pertahanan lawannya. Malaikat Berambut Api segera membuang tubuhnya ke samping. Ia bergerak cepat ke depan dengan berguling-guling. Setelah lawan berada dalam jangkauannya, kakinya melibas.

Dees! "Ukh...!"

Tidak ampun lagi tendangan itu membuat kembaran Datuk Nan Gadang Paluih terpelanting roboh. Begitu terjatuh Malaikat Berambut Api langsung menerkam lawannya. Mereka pun berguling-guling, ternyata Datuk Nan Gadang pun tidak mau menyerah begitu saja. Sayang Malaikat Berambut Api terlalu kuat baginya. Terbukti sekejap kemudian kakek berambut merah itu telah berhasil memitingnya, sedangkan tangan yang lain mencengkeram kepala sang Datuk.

"Siapa yang menyuruhmu?!" geram Malaikat Berambut Api dengan perasaan kesal.

"Akh... aku tidak akan mengatakannya pada siapapun!" sahut Datuk Nan Gadang. Kakek Dewana menyentakkan kepala lawan lebih ke atas, sehingga membuat orang ini menjadi semakin tersiksa saja.

"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu?" "Jahanam, aku tidak akan bicara apapun!" Makian ini hanya membuat Malaikat Berambut Api semakin bertambah marah. Tidak terelakkan lagi, Malaikat Berambut Api akhirnya memelintir kepala lawannya sehingga ...

Traak! Klekh!

Kembaran Datuk Nan Gadang Paluih ini sudah tidak kuasa lagi berteriak atau menjerit. Lehernya patah, dan ia tewas seketika itu juga. Sama halnya seperti Wayan Tandira palsu tadi, kini sosok sang Datuk setelah binasa juga raib begitu saja. Bahkan kuda putih yang menjadi tunggangan kembaran Datuk Nan Gadang juga raib.

"Terlalu banyak Ratu Leak meniru tokohtokoh lurus. Jangan-jangan aku pun sudah ditirunya habis-habisan! Saudara Dewana, sungguhpun aku tidak meragukan kemampuan masingmasing, namun alangkah baiknya jika mulai sekarang kita saling bahu membahu untuk mengenyahkan manusia terlaknat Ratu Leak!" ujar Manusia Topeng.

"Hmm, orang yang bicara di balik kedoknya. Aku tidak keberatan menerima usulmu itu. Hanya aku tidak mau berleha-leha seperti kalian dengan mendirikan tenda segala seperti orang yang bersenang-senang. Malam ini juga kita harus melanjutkan perjalanan!" kata Malaikat Berambut Api tegas.

"Baik, baiklah aku setuju-setuju saja. Kalau aku sudah setuju, kurasa Dewi dan Mata Iblis mau saja ikut bersama kita!" "Ya, aku setuju!" kata Mata Iblis dan Dewi Kerudung putih hampir bersamaan.

***

Ratu Leak tokh pada akhirnya harus mengakui, bahwa tokoh-tokoh kembar yang diciptakannya tidak memperlihatkan hasil menggembirakan dalam setiap pertempuran. Kenyataan ini benar-benar membuatnya menjadi marah. Sore itu di tempat tinggalnya yang baru ia memanggil Tua Tengkorak Mata Api, yaitu laki-laki muka tengkorak yang cuma mempunyai sebelah mata. Orang ini masih terhitung adik seperguruannya sendiri.

"Kenyataan mengatakan usahamu kali ini pun tidak mendatangkan hasil, kakang mbok!" kata Tua Tengkorak Mata Api seakan sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Ratu Leak.

"Menurut pendapatmu bagaimana? Aku sudah terlanjur melangkah jauh, mustahil rasanya bagiku untuk mundur!" kata perempuan cantik tersebut. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apa-apa.

"Ha ha ha! Kulihat tanda-tanda menciutnya nyalimu kakang, mbok! Aku Tua Tengkorak Mata Api jika jadi kau tidak akan mundur. Musuh utamamu Malaikat Berambut Api adalah musuhku juga, sedangkan terhadap Penghulu Siluman Kera Putih aku kurang mengenalnya. Akan tetapi apa salahnya jika kita saling bahu membahu untuk menghancurkan kedua orang itu? Muridku Mustika Jajar pun dapat membantu kita!" jelas kakek berwajah tanpa daging dan punya sebuah mata merah yang seperti hendak memberojol keluar tersebut.

"Kurasa bukan hanya Dewana dan Barata Surya saja kendala yang akan menghalangi kita. Masih ada Manusia Topeng, Datuk Nan Gadang Paluih. Orang seberang yang Batu-nya telah ku curi, selain itu masih ada pula Wayan Tandira yang seluruh rakyatnya kukutuk!"

"Hmm, kuakui keberanianmu. Yang kuherankan kemana pun engkau pergi kau selalu membuat orang memusuhimu! Keadaannya sekarang sudah sangat lain. Kita tidak dalam posisi di atas juga tidak dalam posisi terjepit. Untuk membantumu rasanya bukan sesuatu yang sulit. Tetapi aku harus minta pendapat muridku!" ujar Tua Tengkorak Mata Api. Seraya kemudian memandang ke arah gadis cantik yang ketika itu hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan dua tokoh ini.

"Uwa guru! Mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Seperti Datuk Nan Gadang Paluih itu aku sudah merasai seberapa dahsyat kesaktiannya! Salah satu sikap uwa guru yang kurang aku suka, uwa cuma mementingkan diri sendiri!" mendengar ucapan Mustika Jajar, wajah Ratu Leak sempat memerah juga. Tetapi gadis mesum yang pernah di gembleng di lembah Ciruyung itu cepat menambahkan. "Walaupun begitu, demi memandang muka pada guruku sendiri, aku bersedia membantumu!" tegas Mustika Jajar.

"Dengarlah, muridku sendiri pandai menilai bagaimana pendirianmu kakang mbok! Kau tidak usah berkecil hati. Sekarang juga aku dan muridku akan menghadang musuh-musuh kita!"

"Mengapa kau tidak mau bersama-samaku disini?" tanya Ratu Leak.

"Tidak! Menghadapi orang-orang seperti mereka mengapa harus main keroyok. Aku sendiri berjanji akan membawakan kepala orang-orang yang kau benci ke hadapanmu!" janji Tua Tengkorak Mata Api.

"Bagus! Atas dukunganmu itu aku mengucapkan terima kasih!" ujar Ratu Leak penuh rasa bangga dalam hati. Tua Tengkorak Mata Api rasanya memang sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia bersama Mustika Jajar alias Iblis Betina Dari Neraka segera meninggalkan Ratu Leak.

***

Duuk! Duuuk! "Hea...!"

"Kuat-kuatlah kau berpegangan!" teriak kakek berpakaian putih berselempang putih pada laki-laki gondrong di belakangnya. Orang yang membonceng di punggung belakang kuda tunggangannya mempererat pelukan pada pelana kuda. Saat itu kuda putih yang di kenal dengan nama Si Putih Kaki Langit terus melesat dengan kecepatan laksana kilat.

"Menurutmu masih luaskah daerahmu

ini?"

"Sange cukup luas, Datuk! Kita hanya ting-

gal menelusuri daerah-daerah pinggiran pantai. Aku yakin Ratu Leak masih mendekam di negeri kami ini!"

"Bagaimana kau bisa merasa yakin, anak ketek! Apa kau punya semacam penciuman yang dapat mengetahui dimana Ratu Leak bersembunyi!"

"Aku bukan anjing pelacak, Datuk! Kesimpulanku ini berdasarkan kenyataan bahwa hingga saat ini penduduk negeri masih juga belum terbebas dari pengaruh sihir perempuan itu!"

"Baiklah, mudah-mudahan kita segera menemukan apa yang kita cari!" ujar laki-laki berpakaian putih selempang putih yang tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Paluih yang sesungguhnya.

Mereka ini terus menjelajah daerah-daerah yang mereka curigai sebagai tempat persembunyian Ratu Leak.

Sementara itu pada saat yang sama di lain tempat namun masih di daerah Sange juga, Manusia Topeng, Mata Iblis, Dewi Kerudung Putih dan Malaikat Berambut Api sudah sampai di daerah berbukit-bukit di bagian timur negeri itu. Lalu mereka melewati dataran rendah yang kering kerontang. Saat rombongan ini mendaki ke arah bukit. Tiba-tiba saja Malaikat Berambut Api berteriak memberi peringatan.

"Aku mendengar suara nafas beberapa orang di atas sana! Aku juga mendengar suara benda-benda berat bergeser! Hendaknya berhatihatilah, kurasa maut telah menghadang kita...!" Belum lagi ucapan kakek Dewana ini terhenti, dari atas bukit yang baru hendak mereka daki meluncur beberapa buah batu besar menerjang mereka.

"Gila jahanam, pekerjaan siapa ini!?" dengus Mata Iblis. Kakek bermata buta ini bukannya malah lari menyelamatkan diri atau turun kembali ke lembah melainkan terus berlari ke atas bukit seakan seperti orang gila yang menyongsong maut.

"Ini pekerjaan orang-orang iseng yang hendak merampas nyawa kita!" Manusia Topeng menimpali. Ia dengan ilmu meringankan tubuhnya melompat ke sana ke mari dengan indahnya. Sedangkan Mata Iblis gerakkan tangannya yang memakai sarung Sutra Kencana itu ke samping kanan dan kiri dengan posisi menyibak. Sehingga batu-batu besar yang seharusnya menghantam dirinya meleset dari sasaran.

Apa yang dilakukan oleh Mata Iblis adalah sesuatu yang sangat mengagumkan karena tidak sembarangan orang dengan mudah dapat menyingkirkan batu yang tengah meluncur itu hanya dengan sebelah tangan. Mata Iblis terus berlari ke atas, hingga tidak lama sampailah ia di atas bukit tersebut. Sungguh pun ia tidak dapat melihat tetapi Mata Iblis dapat merasakan di atas bukit paling tidak berdiri dua orang yang tidak dikenalnya sama sekali.

"Cepatlah ke sini semuanya?" teriak Mata Iblis dengan suara keras menggelegar. Orangorang yang berada di bawah segera naik. Malaikat Berambut Api, Manusia Topeng dan Dewi Kerudung hanya dalam waktu sebentar saja sudah berada di atas bukit itu. Mereka segera mengetahui ternyata disana telah menunggu seorang kakek tua berwajah tanpa terbalut daging, matanya cuma sebelah dari berwarna merah menyala. Tidak jauh dari samping kakek itu tampak seorang gadis cantik berpakaian hijau. Dari cara gadis itu memandang kelihatan jelas bahwa ia sangat memandang remeh tokoh-tokoh dari golongan lurus ini.

Satu hal yang membuat Malaikat Berambut Api terheran-heran, ia melihat kakek berwajah tanpa daging ini begitu memandangnya langsung tidak pernah mengalihkan perhatian dari dirinya.

"Malaikat Berambut Api manusia jahanam! Masih ingatkah kau kepadaku atau kau malah tidak mengingatku sama sekali?" teriak Tua Tengkorak Mata Api Demikian marahnya ia sampaisampai tidak menghiraukan orang-orang yang menyertai kakek ini.

Dewana alias Malaikat Berambut Api terdiam cukup lama dengan alis berkerut. Ia seperti lupa-lupa ingat dengan orang beralis agak berdiri dan berumbai-umbai ini. Atau mungkin ia pernah bertemu pada suatu waktu dimasa silamnya yang kurang begitu menggembirakan?

"Dewana? Kurasa otakmu belum tumpul. Saat itu empat puluh tahun yang lalu. Kita bertarung di Sungai Kuning. Aku hampir membunuhmu dengan pukulan 'Pelebur Raga'. Tetapi celaka, kau mempergunakan tipu muslihatmu dengan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis' serta pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Kekalahan itu bukan sesuatu yang aneh, Dewana. Yang membuatku merasa terhina, kau hancurkan wajahku, kau cungkil pula mataku yang kiri di saat aku dalam keadaan antara hidup dan mati. Kau manusia pengecut Dewana? Ini adalah hari yang menentukan bagimu. Kutidak pernah khawatir sungguh pun kau membawa seribu kawan!" teriak Tua Tengkorak Mata Api penuh rasa permusuhan.

Sekarang mengertilah Malaikat Berambut Api duduk persoalan yang sebenarnya. Orang ini tidak lain adalah Darpakala atau Si Racun Kuning. Manusia sesat dari Sungai Kuning yang dulu pernah membunuh kekasih Dewana yang pertama. Sumtirah saudara seguru Dewana, ia cantik, manja, sayangnya suka bersahabat dengan orangorang golongan putih dan hitam. Sumtirah alias Satriavi adalah kekasih Dewana di masa mereka masih sama-sama muda. Mereka sama-sama mencinta, sehingga suatu saat kelak mereka akan mengukuhkan hubungan cinta mereka ke jenjang perkawinan. Tetapi apa yang kemudian terjadi. Satriavi hamil, kehamilan itu terjadi akibat sahabat Satriavi, yaitu Darpakala telah membiusnya. Pemuda aliran sesat ini menodai Satriavi berulang kali dalam keadaan gadis itu tidak sadarkan diri. Sadar akan aib yang menimpa dirinya. Maka setelah meninggalkan pesan Satriavi membunuh diri. Dewana tentu menjadi marah pada Darpakala. Ia mencari manusia sesat itu ke Sungai Kuning, hingga terjadilah pertarungan antara hidup dan mati. Perlu diketahui waktu itu Darpakala dibantu oleh buaya-buaya kuning yang sangat ganas. Sehingga jika bukan karena ketinggian ilmu yang dimiliki Dewana, niscaya ia tewas di tangan Darpakala.

SEMBILAN

Teringat akan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu. Malaikat Berambut Api tiba-tiba merasa hatinya seperti di iris-iris sembilu. Perlahan ia memandang tajam ke arah kakek bermuka tanpa berbalut daging dengan tatapan dingin menusuk.

Manusia topeng, Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih yang tidak tahu duduk persoalan diantara mereka berdua hanya diam saja.

"Darpakala, Racun Kuning atau siapa saja julukanmu. Aku tidak perduli, aku merasa kau dulu telah menghina diriku. Apa yang menimpa dirimu kuanggap sebagai suatu pelajaran pahit sekaligus berharga bagi dirimu, tidak tahunya hatimu malah menjadi penasaran. Kau bukan menyadari apa yang telah kau lakukan, tidak tahunya malah semakin bertambah sesat!" dengus Malaikat Berambut Api.

"Saudara!" seru Manusia Topeng. "Mengapa mengulur-ulur waktu? Sebaiknya serahkan masalah ini padaku, biar aku yang tua bangka ini ingin merasakan betapa banyak kesaktian yang dimilikinya sehingga ia bermulut besar seperti ini!"

"Tidak! Aku merasa berterima kasih atas perhatian kalian. Persoalanku dengan Tua Tengkorak Mata Api adalah persoalan yang sangat pribadi sekali. Untuk itu kuminta pada kalian agar jangan turut campur. Menurutku sebaiknya saudara semua tidak usah menunggu lebih lama. Mencari Ratu Leak dan mengambil Batu Lahat Bakutuk lebih cepat adalah lebih baik!" kata Malaikat Berambut Api.

"Tidak bisa, bangsat cebol yang memakai topeng itu adalah bagianku!" Mustika Jajar tibatiba saja melangkah maju.

Setelah memperhatikan sekejap, Manusia Topeng segera mengenali. "Ha ha ha! Perempuan cantik, tapi berhati busuk. Jika kau mau berpikir dua kali tentu kau tidak akan gegabah ingin menjajalku? Menurut hematku lebih baik kau membantu gurumu dari segala kemungkinan yang dapat membuat matanya yang cuma satu-satunya itu mbrojol keluar. Kau pasti bukan lawanku! Tetapi jika kau tetap memaksaku, biarkan kawankawan kami Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih melanjutkan perjalanan!" Manusia Topeng ajukan isyarat. Mustika Jajar tampak keberatan. Namun Tua Tengkorak Mata Api memberi isyarat agar Mustika membiarkan kedua orang itu lewat.

Maka dibiarkan saja Dewi Kerudung Putih dan Mata Iblis berlalu. Setelah kedua orang ini lewat. Maka Tua Tengkorak Mata Api yang sudah merasa yakin benar Ratu Leak pasti akan membunuh Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih ia kembali berbalik ke arah musuh yang sangat di bencinya.

"Dewana, untuk kau ketahui agar tidak mampus penasaran. Beberapa tahun yang lewat muridmu yang Bodoh itu hampir membuat celaka muridku. Untuk itu biarlah hari ini aku menagih hutang-hutang itu berikut bunga-bunganya!"

"Setan mata sebelah, bagaimana dengan aku?" celetuk Manusia Topeng. "Apa aku harus jadi penonton bersama muridmu?"

"Mustika, bunuh tua setan yang memakai topeng itu?!" perintah Tua Tengkorak Mata Api. Untuk melakukan perintah gurunya bukanlah sesuatu yang mudah. Rasanya Manusia Topeng mempunyai tingkat kepandaian lebih tinggi dibandingkan dengan Datuk Nan Gadang Paluih. Jelas dalam hal ini ia tidak boleh hanya mengandalkan jurus-jurus serta pukulan yang diwariskan oleh uwa gurunya saja. Bagaimana pun ia harus mempergunakan jurus serta pukulan warisan gurunya sendiri. "Guru aku berjanji bukan hanya akan membunuhnya saja. Tetapi aku juga akan membeset-beset yang menutupi wajahnya. Agar kita semuanya tahu siapa dia yang sebenarnya!" sahut Iblis Betina Dari Neraka. Tiba-tiba gadis cantik yang sudah bukan perawan lagi ini melesat ke depan. Tangan kanan menghantam ke bagian dada, sedangkan kaki meluncur deras ke bagian perut lawannya. Serangan yang dilancarkan oleh gadis itu bukan serangan biasa. Karena ia telah melepaskan pukulan 'Segala Racun Segala Bisa'.

Tampak jelas kaki dan tangan Mustika Jajar telah berubah menghitam. Dan deru angin yang ditimbulkannya pun jelas menebar hawa busuk yang dingin bukan main.

Wuuut!

Sebagai tokoh yang berpengalaman Manusia Topeng sadar betul dengan bahaya ini. Sehingga ia berkelit, serangan Mustika baik tendangan kaki maupun tendangan tangan dua-duanya luput. Dalam hati ia sempat tercekat juga. Selagi serangannya nyeplos begitu saja, Manusia Topeng cepat melompat mundur ke belakang. Kemudian punggung tangannya melibas.

Buuuk! Braak!

Terhantam pukulan Manusia Topeng, Mustika nyaris terpelanting. Syukur ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Sehingga dengan cepat ia dapat memperbaiki posisi dan siap menyerang kembali.

"Hmm, kali ini aku tidak akan membiarkan mu lolos begitu saja!" geram Mustika Jajar marah. Manusia Topeng hanya tersenyum.

Sekarang ia tidak menunggu lagi lawan membangun serangan, tiba-tiba saja laki-laki pendek ini melompat ke udara. Kakinya menyapu ke bagian kepala lawan.

Set! Set! "Heh...!"

Sekarang Manusia Topeng yang di buat kaget bukan alang kepalang. Ia tadi merasa yakin serangannya mencapai sasaran. Tetapi dengan gerakan yang aneh lawan telah dapat menghindarinya. Manusia Topeng memperhatikan gerakan Mustika. Lalu terdengar seruan kaget.

"Langkah Langkah Sesat??" desisnya.

"Hi hi hi...! Bagus sekali ternyata kau telah mengetahui jurus-jurus mautku bangsat bertopeng. Sekarang rasakanlah ini! Heaa...!" Suara si gadis melengking tinggi. Secepat kilat tubuhnya mengambang di udara, lalu ia meliuk-liuk disertai putaran aneh di udara. Setiap jari-jari tangan Mustika bergerak, maka lima jalan darah lawan dalam keadaan terancam. Manusia Topeng merasa ada tekanan yang menghebat dan mengurung setiap gerakannya.

"Hia...! Cha,cha...!"

Tiba-tiba Manusia Topeng jungkir balik, kaki menghadap ke atas kepala menghadap ke bawah. Ia bertumpu dengan kedua tangannya. Kemudian ketika serangan lawan terus menderanya secara bertubi-tubi. Maka Manusia Topeng gerakkan kakinya dalam posisi menggunting.

Clak! "Aih...!"

Gadis itu sempat keluarkan seruan tertahan ketika kaki lawan hampir saja memotong putus kedua tangannya sekaligus. Tiba-tiba saja ia berguling-guling. Lalu kakinya menendang dengan cepat dan telak sekali.

Duuuk!

"Wuakh...!" Manusia Topeng menjerit keras. Tubuhnya sempat terlempar dan nyangsang di atas dahan yang rimbun. Selagi Manusia Topeng dalam keadaan seperti itu Mustika Jajar lepaskan pukulan ke arahnya. Untung Manusia Topeng cepat menyingkir. Jika tidak tubuhnya pasti hangus terhantam serangan lawan yang mengandung hawa panas bukan main tersebut.

Untuk sementara waktu kita tinggalkan dulu Manusia Topeng dan Mustika yang masih terus terlihat pertempuran sengit. Pada waktu bersamaan pula Malaikat Berambut Api juga sedang terlibat pertempuran sengit dengan musuh bebuyutannya, yaitu Tua Tengkorak Mata Api. Dua tokoh aliran hitam dan putih yang sudah lama menyimpan dendam berkarat ini tampaknya sudah mulai mengumbar jurus-jurus ataupun pukulan mautnya.

"Hiaaa...!"

Tua Tengkorak Mata Api tiba-tiba saja melompat mundur. Kedua tangannya segera digosokgosokkan satu dengan yang lainnya. Sebentar saja kedua tangan kakek berwajah macam tengkorak ini telah berwarna menghitam keseluruhannya.

"Dewana...! Hari ini kau tidak akan lolos dari kematianmu!" dengus Tua Tengkorak Mata Api dengan marahnya.

"Pukulan Segala Racun Segala Bisa sejak dulu kau memang sudah memilikinya. Tetapi sangat disayangkan kulihat tidak ada perkembangan yang berarti. Ternyata kau hanya seorang pembual bermulut besar!" sahut Malaikat Berambut Api tidak kalah sinisnya.

Mendengar ucapan lawan yang sangat meremehkan dirinya, jelas saja Tua Tengkorak Mata Api jadi bertambah berang. Tanpa bicara apa-apa lagi ia lepaskan pukulan maut yang memang telah dipersiapkannya.

Penghuni pulau Seribu Satu Malam ini segera dapat merasakan adanya hawa dingin menusuk menerpa dirinya. Dadanya langsung sesak, tenggorokan seperti di tusuk-tusuk jarum panas.

"Heep!"

Malaikat Rambut Api diam-diam kerahkan tenaga sakti untuk mengusir pengaruh serangan lawan ini.

"Heh...!"

Kakek ini tersentak kaget, wajahnya sedikit memucat. Ternyata walau pun ia telah mengerahkan hawa sakti untuk mengusir serangan lawan ini. Ia masih merasakan gelombang serangan berupa hawa panas yang mendera tiada putusputusnya.

"Kunyuk keparat ini ternyata banyak mempunyai kemajuan! Aku tidak mungkin menghindar terus!" pikir si kakek rambut merah. Lalu ia kepalkan kedua tangannya hingga membentuk tinju.

Krrtttkkh!

Ada suara berkeretekan ketika masingmasing jari tangan si kakek menangkup bersatu padu antara satu dengan yang lainnya.

"Hiiih...!"

Sambil melompat ke depan, laksana kilat tangannya meluncur. Tua Tengkorak Mata Api sama sekali tidak menduga adanya serangan mendadak ini. Ia angkat kakinya sedangkan kepala dan badan ditarik ke belakang.

Des! Des!

Baik kakek Dewana maupun Tua Tengkorak sama-sama terkena pukulan. Dua-duanya terhuyung beberapa tindak ke belakang. Tetapi laksana kilat kakek Dewana sambil mempergunakan jurus 'Kacau Balau', sudah membangun serangan lagi. Tentu saja serangan-serangan yang dilancarkan oleh Malaikat Berambut Api merupakan serangan yang sangat berbahaya di samping mengandung tenaga dalam tinggi. Sebaliknya Darpakala yang memang dilamun dendam tidak terlihat keder mendapat hujan serangan bertubitubi.

Bagaikan singa gurun, Darpakala alias Racun Kuning dan lebih di kenal dengan julukan Tua Tengkorak Mata Api dapat menghindari hujan serangan lawannya. Sebaliknya serangan balasan yang dilakukan oleh Darpakala juga dapat dihindari oleh Malaikat Berambut Api.

Kenyataan yang dihadapinya ini benarbenar membuatnya menjadi marah. Tiba-tiba saja ia jatuhkan diri ke tanah dengan posisi menelungkup. Kedua tangannya mengembang dan langsung dipukulkan ke bumi.

Hanya beberapa saat saja setelah tangan Tua Tengkorak Mata Api menjejak ke tanah. Maka kedua tangan itu tiba-tiba saja memancarkan cahaya berwarna pelangi.

"Pukulan Pelebur Raga?? Hmm rupanya bajingan ini telah berhasil mengamalkan pukulan sesat yang dulu pernah menghebohkan!" desis Malaikat Berambut Api. Walaupun ia sempat terkesiap, tetapi dengan cepat ia usap dadanya. Setelah itu bersiap-siap pula dengan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.

"Dewana, jika hari ini kau tidak mampus dengan pukulan Pelebur Raga. Biarlah untuk masa selanjutnya aku mengasingkan diri di Lembah Wadal (tumbal). Ini adalah satu-satunya pukulan maut yang kurancang khusus untuk membunuhmu di samping ada satu pukulan lagi yang kuberi nama Tiga Gerhana Penghantar Maut!

Malaikat Berambut Api sama sekali tidak menyahut. Mata kakek ini setengah terpejam. Otot-otot tubuhnya yang kekar bersembulan. Keringat sebesar-besar kacang kedelai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Pabila Tua Tengkorak Mata Api memandang ke arah lawannya untuk yang terakhir kali. Maka ia sempat tercekat juga. Seluruh rambut di kepala si kakek yang berwarna merah tampak seakan-akan menyala. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Tetapi apalah artinya bagi Tua Tengkorak Mata Api yang sudah dilamun marah.

"Hiaaa...!"

Diawali dengan teriakan melengking tinggi. Tua Tengkorak melesat ke depan sedangkan tangannya di dorong dengan kecepatan penuh. Terdengar suara bergemuruh bagaikan deru angin yang tidak ada putus-putusnya. Lalu sinar pelangi itu sontak memanjang menjadi sesuatu yang menggiriskan. Lesatan sinar pelangi itu ke arah lawan saja sudah membuat si kakek Dewana yang mempunyai tenaga dalam tinggi sudah mulai terseret-seret. Pohon-pohon tercabut sampai ke akar-akarnya. Manusia Topeng yang hampir berhasil mengalahkan lawannya sempat tergontaigontai, ia keluarkan suara pekikan berulangkali. Malaikat Berambut Api sadar betul ini merupakan ujian yang paling berat bagi dirinya.

Bet!

Zeeb! Zeeb!

Malaikat Berambut Api sekonyong-konyong dorongkan kedua tangannya ke depan. Apa yang dilakukan oleh si kakek bukanlah sesuatu yang mudah. Karena serangan yang dilakukannya seakan terhalang sebuah tembok baja berlapis-lapis. Malah sekarang tubuhnya terus terdorong sedikit demi sedikit.

Deg! Deg!

Malaikat Berambut Api lipat gandakan tenaga dalamnya. Setelah itu ia hantamkan kedua tangannya ke arah serangan lawan tersebut. Apa yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dari telapak tangan kakek Dewana tiba-tiba saja menderu segulung sinar putih laksana salju. Terjadilah saling dorong untuk beberapa saat lamanya. Dua-duanya saling ngotot. Lalu....

Buum!

Akhirnya terjadilah ledakan dahsyat. Dua sosok tubuh sama-sama terpelanting sedangkan di bagian lain. Terlihat Mustika Jajar jatuh terduduk dengan mata melotot. Manusia Topeng lagilagi nyangkut di atas pohon tinggi.

Wajah Malaikat Berambut Api tampak pucat laksana kain kapan. Ia mencoba menarik nafas, tetapi dadanya malah sakit bukan main. Bila memandang ke arah Tua Tengkorak Mata Api. Kakek yang wajahnya tidak terbalut daging ini mandi darah. Ternyata ia mengalami goncangan bagian dalam yang sangat hebat. Keadaannya saat itu antara sadar dan tiada. Mustika Jajar tentu sangat mengkhawatirkan keselamatan gurunya. Mengingat lawan ketika itu sudah bangkit berdiri dan kini telah siap melepaskan pukulan Neraka Hari Terakhir. "Celaka guruku!!" desisnya. Mustika ingin menolong gurunya. Tetapi hal itu sangat sulit dilakukannya. Benturan tenaga sakti tadi telah mempengaruhinya. Padahal ia mempunyai tingkat tenaga dalam yang tidak bisa dianggap remeh. Mungkin jika orang biasa yang terkena pengaruh pukulan tadi, orang itu tewas seketika.

"Tua Tengkorak Mata Api! Aku menjunjung tinggi tata krama pertarungan rimba persilatan. Tetapi khusus buatmu merupakan pengecualian. Kau tidak ubahnya seperti seekor ular berbisa yang mencari pemukul. Jika hari ini aku tidak dapat melenyapkanmu, biarlah aku mati dengan kaki menjunjung langit dan kepala menjunjung bumi! Heaaa...!" Malaikat Berambut Api. Memutar-mutar kedua tangan di atas kepala. Kini ia telah siap dengan pukulan 'Kidung Maut' salah satu ilmu ciptaannya yang baru dan belum pernah diturunkan pada cucu sekaligus muridnya Suro Blondo.

"Heaaa...!" Wuung!

Terdengar suara gaung yang seakan datang dari perut bumi. Lalu terlihat sinar merah hitam melesat ke arah Tua Tengkorak. Kakek berwajah tanpa daging ini mustahil dapat menghindar dari lawannya, karena ia tidak kuasa menyelamatkan diri. Bahkan menggeser punggungnya saja ia tidak mampu.

Tidak pelak lagi serangan lawan pun menghantam dirinya. Tua Tengkorak Mata Api mencelat, tubuhnya kemudian terkapar. Orang tua yang mempunyai ilmu Iblis Pembangkit Roh ini tewas seketika dengan keadaan hangus. Mustika Jajar tentu saja menjerit histeris melihat gurunya kena di bantai lawan. Ia tiba-tiba saja berlari sambil melepaskan pukulan ke arah Malaikat Berambut Api. Melihat betapa berbahaya serangan lawan, maka si kakek segera membuang dirinya ke tempat yang aman. Sehingga pukulan yang dilakukan lawan mengenai tempat kosong.

Akan tetapi betapa kagetnya kakek Dewana ketika ia bangkit berdiri, gadis yang menyerangnya tadi serta mayat Darpakala sudah tidak ada lagi di situ. Bila memandang ke atas pohon, Manusia Topeng masih tetap menyerang sang di sana.

"Lebih baik kubiarkan dia dalam keadaan seperti itu! Aku harus mencari tahu siapa Ratu Leak dan di mana dia bersembunyi!" batin Malaikat Berambut Api. Jliiigkh! SEPULUH Pemuda berbaju biru tiba-tiba melompat turun dari atas pohon. Ia gelengkan kepala dan usap-usap matanya seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Aku tidak tidur makanya tidak bermimpi, tidak juga mabuk tapi mengapa penglihatanku jadi begini. Orang ini jelas-jelas mirip dengan aku, bajunya, rambut juga wajahnya. Cuma lebih tolol sedikit! Rasanya aku tidak punya saudara kembar. Tetapi dia mengapa mirip benar dengan diriku?" batin pemuda baju biru alias Suro Blondo.

Pendekar Blo'on lalu melangkah lebih mendekat lagi. Lalu pemuda baju biru yang entah datang dari mana itu melangkah pula ke arahnya. Mereka saling pandang-pandangan. Bila Suro tersenyum, maka pemuda di depannya juga ikut tersenyum. Pendekar Mandau Jantan garuk-garuk kepala, eeh pemuda yang sungguh mirip dengan dirinya itu juga ikut garuk-garuk kepala.

Sedemikian penasarannya pemuda ini, hingga jari telunjuknya mendorong jidat orang itu. Ternyata pemuda berbaju biru yang segalagalanya mirip dengan dirinya ikut mendorong pula.

"Ha ha ha...! Tidak mabuk mengapa penglihatanku jadi lucu?" seru Suro semakin bertambah besar saja rasa heran dihatinya. Pemuda tampan bertampang tolol itu juga ikut tertawa.

"Kalau tidak mabuk, berarti kita memang sudah jadi gila!" celetuk pemuda itu pula.

"Kau siapa? Mengapa wajahmu mirip benar dengan aku?" tanya si konyol, sekarang ekspresi wajahnya benar-benar serius.

"Kau yang siapa?"

"Kunyuk betul, kau yang meniru aku! Padahal aku tidak punya saudara kembar di dunia ini. Apakah kau setan?" tanya Suro lagi. "Kaulah yang setan!" maki pemuda di depannya sinis.

Suro garuk-garuk kepala. Bingung, penasaran bercampur kesal sedikit. "Kau hendak kemana?" tanya Pendekar Blo'on.

"Mencarimu!" sahut pemuda itu singkat.

Sepasang mata Suro yang jenaka berputar liar "Mencariku? Apakah ada seseorang yang menyuruhmu?"

"Benar."

"Untuk apa?" desak Pendekar Mandau Jantan semakin tidak sabar.

"Membunuhmu, ya... kurasa aku datang untuk membunuhmu. Karena memang itulah tugas yang diberikan padaku!"

Suro Blondo tiba-tiba saja tertawa tergelakgelak. Melihat Suro tertawa, maka orang di depannya ikut tertawa bekakakan.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Kurasa itu tidak penting kau ketahui, Pendekar Blo'on!" sinis suara pemuda itu.

"Apakah kau Pendekar Blo'on juga?" pancing Suro

Lawan anggukkan kepala. Saking kagetnya Suro sampai melangkah mundur. Keningnya berkerut dalam, rasanya apa yang ia lihat memang tidak masuk akal. Ada orang segala-galanya mirip benar. dengan dirinya. Kalau pun ia sedang menyamar, mengapa bisa persis betul? Kenyataan ini hampir tidak dapat diterima akal sehatnya, begitu ia tidak percayanya sampai-sampai ia mencubit lengannya sendiri. Ternyata memang terasa sakit, berarti Suro tidak sedang mimpi.

"Entah aku yang tolol atau engkau yang sudah gila! Kalau kau benar-benar sebagai Pendekar Blo'on apakah senjata andalanmu yang akan kau pergunakan untuk membunuhku??"

Tanpa bicara pemuda yang mirip Suro keluarkan senjata. Suro langsung cengengesan ketika pemuda itu keluarkan sebuah clurit berwarna hitam.

"Hmm, ternyata perabotan yang kau bawa bengkok. Sedangkan Pendekar Blo'on sejati punya senjata lurus, ada lubang spesialnya. Senjata bengkok begitu bisa salah tusuk salah sasaran!" ejek Pendekar ini ketus. "Apakah kau punya senjata yang lain?"

Yang ditanya langsung buka celana dan tunjukkan apa yang dia miliki. Tawa Suro Blondo semakin menjadi-jadi.

"Wah lebat betul. Rupanya kau punya tidak pernah di cukur, lagipula mengapa hitam keriput dan bulukan begitu?"

"Ha ha ha...! Jadi apa yang kau maksud dengan senjataku yang lain?" tanya pemuda itu sama tololnya.

Di samping geli, Suro lama-kelamaan jadi sewot juga. Tiba-tiba ia meninju wajah lawannya.

Plaak!

Pemuda itu terdorong mundur, lalu usap keningnya yang benjol sebesar telur puyu. Tidak disangka-sangka pemuda itu lakukan serangan kilat. Tinjunya yang meluncur tidak sempat dielakkan lagi oleh Suro yang lengah.

Took!

Pendekar Blo'on meringis. Bila ia mengusap keningnya, maka terdapat benjolan sebesar telur angsa.

"Sontoloyo, manusia sompret! Berani betul kau berbuat kurang ajar padaku!"

"Itu belum seberapa sebab sebentar lagi aku akan membunuhmu!" sahut lawannya sinis.

"Gila betul. Jangan kau cuma pentang bacot lekas buktikan jika kau ingin membunuhku!" tantang Pendekar Mandau Jantan tanpa sungkan-sungkan lagi.

"Ha ha ha! Aku gembira sekali, ternyata kau memang menghendaki mati. Maka kau lihatlah serangan!" teriak pemuda tersebut.

Dengan kecepatan sulit di duga-duga, tibatiba saja lawan sudah mengayunkan celuritnya ke wajah Suro. Pemuda ini langsung berkelit dengan jurus 'Kacau Balau'. Ternyata serangan pertama hanya tipuan saja, karena ketika Suro mengelak celurit tiba-tiba menyimpang dan berbelok menerabas perut. Pendekar Blo'on terpaksa berjumplitan sambil memaki.

"Rupanya kau punya keedanan dan tipu menipu pula. Heaaa...!" Pemuda ini membentak garang. Ia tetap mempergunakan jurus menghindar 'Kacau Balau'. Namun di samping itu ia juga mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Lawannya yaitu pemuda bertampang dan berpakaian seperti dirinya tidak tinggal diam. Ia juga membalas serangan Suro dengan tidak kalah dahsyatnya, tetapi bukan menggunakan jurus-jurus seperti yang dimainkan oleh pemuda itu.

Sungguh pun demikian serangan-serangan yang dilancarkannya tetap berbahaya dan mengandung tipu-tipu. Tiba-tiba saja Pendekar Blo'on melancarkan tendangan berputar. Lawan segera dapat merasakan adanya desiran angin kencang menerpa ke bagian pinggang. Pemuda baju biru langsung melompat ke udara. Dalam keadaan melesat ia lepaskan tendangan beruntun. Suro jadi kaget, ia hanya mampu menghindari beberapa tendangan, tetapi ketika kaki lawan terus berputar-putar di atas kepalanya, Suro sudah tidak kuasa lagi selamatkan diri.

Des! "Ukh...!"

Pendekar Blo'on tekad kepalanya yang seperti hendak pecah. Bumi dirasakannya berputar lebih cepat. Selagi ia belum sempat berdiri karena menikmati sakit yang bukan kepalang. Lawan telah nekad menyerangnya dengan pukulan jarak jauh.

"Oh... aku bisa mati konyol kalau begini?!" desis Pendekar Blo'on. Belum lagi ia sempat berdiri. Tiba-tiba ia kerahkan tenaga dalamnya ke bagian kedua tangannya. Samar-samar Suro melihat cahaya merah kehitam-hitaman melesat ke arahnya. Tanpa membuang-buang waktu pemuda ini langsung lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'.

Wuut! Wuuut! Seer!

Seketika terasa adanya sambaran hawa dingin mencucuk hidung dari telapak tangan Suro yang terkembang. Lalu di tengah jalan terjadilah benturan keras bukan main. Baik Suro maupun pemuda yang sungguh mirip dengan dirinya itu sama-sama terpelanting roboh. Selagi Pendekar Blo'on masih berusaha melancarkan jalan darah yang tersendat, lawan telah menerjang lagi sambil mengayunkan celurit di tangannya.

Wuut! "Aiiih...!"

Dengan terpaksa pemuda ini bergulingguling. Tetapi lawan setelah melihat serangannya tidak mencapai sasaran langsung berbalik, dan kini menyerang lagi dengan bacokan maupun tusukan yang semakin berbahaya.

"Hiyaa...!"

Celurit tiba-tiba melesat di bagian bahu Suro. Pemuda ini kerahkan jurus 'Kacau Balau', satu-satunya jurus khusus menghindar yang ia miliki.

Wuuus!

Liukan-liukan serampangan yang dilakukan Pendekar Blo'on benar-benar membuatnya dapat membebaskan diri dari maut selama beberapa kali. Lawan ternyata tidak putus asa. Kakinya mendadak saja meluncur dan... Buuk! "Huuk!"

Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Dalam keadaan sedemikian itu ia masih sempat lepaskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar' ke arah lawan.

Zzzzttss!

Tidak terelakkan lagi lawannya yang begitu bernafsu memburu Suro tidak sempat menghindar lagi. Di saat ledakan keras terjadi, maka lawan Suro terpelanting roboh. Tetapi anehnya serangan maut itu tidak membawa akibat apa-apa. Malah seperti orang linglung lawan bangkit lagi. Ia garuk-garuk kepala sebagaimana tingkah Pendekar Blo'on juga.

"Kau lihatlah aku ndak apa-apa!" ejek pemuda itu. Sekarang Pendekar Blo'on yang dibuat bingung. Melihat lawan bertolak pinggang lagi, maka si konyol langsung lepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'. Sekonyongkonyong ia melompat ke udara lalu hentakkan kedua tangannya ke arah lawan. Angin kencang di sertai badai salju menderu dahsyat ke arah lawan. Dan kelihatannya pemuda itu sama sekali tidak berminat menghindari pukulan ganas tersebut.

Buuum!

Dengan telak pukulan tersebut menghantam lawan. Untuk yang kedua kalinya lawan terjajar. Namun sebagaimana tadi ia tidak menderita apalagi sampai terluka terkena pukulan Suro. Si konyol gelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus mencoba sampai dimana kehebatan jurus Congcorang warisan kakek Bayang Bayang!" batin Pendekar Blo'on.

"Kau bingung? Ha ha ha...! Orang yang sudah hendak mati memang suka bingung. Tetapi percayalah, kematian dengan di penggal leher tidak begitu sakit. Menurut yang kudengar rasanya seperti di gigit semut dan ada gatal-gatalnya sedikit!" ejek lawannya. Lalu seraya membolang baling celurit hitam di tangan.

"Hmm, kau boleh jadi kebal. Kekebalan ada tiga, yang lunak yang keras dan berlubang salah satu diantaranya merupakan titik kelemahan yang tidak dapat ditawar-tawar!" teriak Pendekar Blo'on, suaranya melengking tinggi.

"Heaa...!"

Pemuda itu tiba-tiba saja angkat kaki kanannya, jari-jari tangan kanan kiri kemudian saling merapat. Seterusnya bergerak mengait ke depan atau mencatuk bagaikan tangan-tangan cengcorang yang hendak menggapai daun. Suro pun berjingkrak kian kemari.

"Uuuuuu...!"

Bibir pemuda itu termonyong-monyong. Tap! Tap!

Zuup! Zuup! Wuuk!

Senjata lawan membabat, Suro berjingkrak. Lalu tangannya yang saling merapat meluncur ke arah tenggorokan. Lawan terpaksa lindungi tenggorokannya. Angin mendesir. Sekedipan mata tangan Suro telah beralih ke sasaran lain.

Crok! Corok! "Heekh...!"

Hantaman itu membuat lawannya terhuyung ke belakang. Suro melompat maju dan kembali tangannya mendera berulang-ulang.

Cos! Cos! Craak! "Akkkh...!"

Tiba-tiba saja terdengar jeritan lawannya saat kedua matanya terkena hantaman Suro. Dalam keadaan utuh kedua mata lawan keluar. Rupanya di situlah titik kelemahan lawannya.

Suro terus mencecar bagian lainnya. Kini yang menjadi sasaran jemari tangannya adalah bagian dada dan perutnya. Karena menderita luka yang sedemikian mengerikan, maka lawan sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi. Untuk yang kesekian kalinya dadanya di buat berlubang, bahkan bukan itu saja. Sambil meliuk-liuk ia hantam perut lawannya.

Jros! Jros!

Perut itupun berlubang, ususnya berbuasaian. Lawan menjerit setinggi langit. Dalam keadaan mandi darah tubuhnya terhempas, berkelojotan beberapa saat lamanya. Kemudian sosok itu menghitam disertai menebarnya kabut putih hingga akhirnya lenyap dari pandangan mata. "Ternyata ia manusia jejadian. Siapa yang telah melakukannya? Kurasa Batu Lahat Bakutuk itulah yang menjadi sumbernya!" pikir Suro. "Ratu Leak, tunggulah, kau akan merasakan apa yang dulu pernah kuderita!"

Dan Pendekar Blo'on akhirnya berkelebat pergi meninggalkan daerah yang sepi itu.

SEBELAS

"Aku dapat merasakan di sinilah manusia keparat itu bersembunyi! Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk membuat perhitungan dengannya!" geram pemuda gondrong yang sekujur tubuhnya terbungkus akar-akar berwarna hitam.

Yang diajak bicara adalah laki-laki berpakaian putih selempang putih yang tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Paluih.

"Tenanglah, ini masih merupakan daerah kekuasaanmu! Sebagaimana dugaanmu aku pun merasa ia pasti bersembunyi di celah batu itu! Tunggu apa lagi, panggillah dia keluar untuk menjumpai kita!" kata Datuk Nan Gadang.

Wayan Tandira baru saja hendak berteriak, tiba-tiba di atas batu yang menjulang tinggi terlihat sosok berpakaian hijau berdiri tegak dengan tatapan sinis.

"Kalian muncul lagi? Rupanya kalian tidak jera dan terus mengejarku ke mana saja aku pergi!" kata perempuan itu yang tidak lain adalah Ratu Leak.

"Aku mana mungkin meninggalkan Sange selama Batu Lahat Bakutuk berada di tanganmu!" sahut Datuk Nan Gadang Paluih.

"Dan kau...?" Pertanyaan Ratu Leak ditujukan pada Wayan Tandira.

"Hmm... keparat! Kau berpura-pura tidak tahu. Kesalahanmu segudang, belum lagi masyarakatku yang kau kutuk menjadi patung batu. Tidak ada hukuman yang setimpal dengan kesalahan yang kau perbuat terkecuali membunuhmu secara perlahan-lahan!" sahut Wayan demikian sinisnya.

"Bagus! Simpanlah mimpi-mimpi kalian itu. Aku sendiri sudah punya rencana bagaimana caranya untuk mengakhiri pengejaran kalian. Sayang tokoh-tokoh kembaran yang kuciptakan banyak yang tewas sia-sia. Tetapi kalian lihatlah ini!" seru Ratu Leak. Tiba-tiba ia memutar tengkorak kepala bayi di atas kepalanya.

Glerr!

Dari kepala tengkorak bayi melesat sinar warna warni yang terasa menyilaukan mata.

"Datuk, perempuan jahanam itu mengerahkan kutuk buat kita!" teriak Wayan Tandira. Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak mendengar peringatan Wayan.

Selanjutnya tokoh dari Andalas ini cabut senjata mautnya yang sudah tidak asing lagi. Yaitu Angkin Pelebur Petaka. Senjata di kibaskan ke arah sinar-sinar kutukan yang menerjang ke arahnya tersebut. Terjadilah benturan-benturan dahsyat di udara. Wayan Tandira sendiri terpaksa mengerahkan pukulan Belenggu Neraka di saat dirinya mendapat serangan sinar kutukan itu. Satu hal yang patut diketahui, andai sinar kutukan itu sampai mengenai diri Wayan. Dirinya dapat berubah menjadi patung seketika.

Melihat serangan pertamanya gagal, Ratu Leak menggembor marah. Masih tetap berdiri di atas batu runcing ia lepaskan pukulan 'Neraka Perut Bumi'. Ratu Leak membagi serangannya ke dua arah sekaligus.

Untuk yang kesekian kalinya, lagi-lagi Datuk Nan Gadang kebutkan Angkin Pelebur Petaka. Sedangkan Wayan sekarang tidak memperlihatkan reaksi sama sekali kecuali mengerahkan tenaga dalam ke sekujur tubuhnya. Sehingga ketika serangan lawan menghantam tubuhnya, maka dari akar-akar itu memijar cahaya hitam.

Buuum!

Ledakan yang terjadi akibat bertemunya dua tenaga sakti membuat Wayan jatuh terduduk. Ratu Leak melompat dari atas batu untuk menyelamatkan diri dari pukulannya yang membalik akibat di halau Angkin Pelebur Petaka di tangan Datuk Nan Gadang.

Orang ini memaki, tetapi juga harus berjuang keras menghindari serangan gencar yang dilakukan oleh Datuk Nan Gadang berserta Wayan. Ratu Leak tiba-tiba menerkam ke arah Wayan, sedangkan kaki kiri menerabas ke dada Datuk Nan Gadang.

Melihat serangan ini Wayan segera melambung tinggi ke udara. Sambil berkelit ia menghantam dagu lawannya. Gerakan pemimpin negeri Sange ini rupanya telah dapat dibaca oleh lawannya. Ratu Leak kibaskan tengkorak bayi di tangannya sehingga membentur dada Wayan.

Buuuk! "Haaakh...!" Kraak!

Wayan menjerit tertahan, bukan hanya akar-akar itu saja yang terhantam hancur oleh tengkorak bayi tersebut. Tetapi pukulan telak itu membuat Dada pemuda itu patah. Darah menyembur dari mulut si gondrong, sementara Ratu Leak telah melepaskan tendangan beruntun ke arah bagian yang sama. Datuk Nan Gadang tidak tinggal diam. Ia segera melesat ke depan untuk selamatkan Wayan Tandira. Angkin di tangan langsung dilecutkan.

Seer!

Ratu Leak sambil memaki terpaksa tarik serangan, kini ia melompat ke kiri untuk selamatkan diri dari hantaman angkin maut itu. Ternyata Datuk Nan Gadang tidak tinggal diam hingga di sini saja. Tangan kirinya dengan cepat menghantam pinggang lawan.

"Ait...!"

Dees!

Walaupun Ratu Leak telah berusaha menghindar sedapat mungkin. Tetapi pinggangnya kena di hajar oleh lawannya. Tubuh orang ini sempat berputar karena demikian kerasnya serangan Datuk Nan Gadang itu. Ratu Leak kemudian tergelimpang. Tampak jelas pada sudutsudut bibirnya meneteskan darah. Datuk Nan Gadang terus mengejarnya sambil berkata...

"Cepat kau serahkan Batu Lahat yang telah kau curi itu!"

Ratu Leak tersenyum sinis. Sebagai jawabannya ia lepaskan pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'. Tentu saja sekarang Datuk Nan Gadang yang di buat pontang-panting. Ia terpaksa berguling-guling hingga pukulan itu hanya beberapa jengkal lewat di atas punggungnya.

Wuut!

Belum lagi sempat Datuk berdiri ia lepaskan pukulan pula ke arah Ratu Leak. Perempuan ini tidak sempat menyadari apa yang dilakukan lawan, karena saat itu ia telah melompat ke arah Wayan yang terluka parah dan langsung menghajar pemuda itu dengan tinjunya.

Praak! "Akhh...!"

Serpihan otak bercampur darah berhamburan menyertai terdengarnya jeritan Wayan Tandira. Datuk Nan Gadang terperangah melihat apa yang terjadi. Sangat disesalkan ia terlambat menolong pemuda itu walaupun pukulan yang ia lepaskan pada akhirnya membuat Ratu Leak terpelanting dengan menderita luka dalam yang cukup serius. Datuk Nan Gadang dalam kesempatan itu cepat menghampiri Wayan. Tetapi pemuda itu ternyata telah tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan.

"Datuk keparat! Jangan kau sebut aku Ratu Leak jika hari ini kau tidak binasa di tanganku!" teriak perempuan itu tiba-tiba. Sekejap kemudian Ratu Leak mengeluarkan batu berwarna warni dan berbentuk empat persegi. Datuk Nan Gadang memperhatikan benda tersebut. Tidak asing lagi itulah Batu Lahat Bakutuk yang telah menjadi pangkal bencana selama ini.

"Apa yang hendak dilakukan oleh perempuan jahanam itu?!" pikir Datuk Nan Gadang.

Ternyata Ratu Leak menggosok-gosok ke empat sisi Batu Lahat Bakutuk tersebut. Setelah di gosok-gosokan, maka keluarlah empat larik cahaya yang terasa panas bukan main.

Melihat ke arah Ratu Leak, Datuk Nan Gadang merasa tidak kuasa memandang ke arah itu lebih lama. Matanya terasa sakit mendenyut panas dan mengeluarkan air. Yang lebih mengerikan lagi Datuk Nan Gadang Paluih merasa kepalanya sakit bukan main. Orang ini jatuh terduduk, karena begitu silau matanya sudah tidak dapat melihat apa-apa lagi terkecuali warna-warna putih disana sini.

Bukan main dahsyat kharisma batu tersebut, pohon-pohon di sekitarnya langsung layu. Batu-batu sebesar kerbau langsung menjadi serbuk halus. Kuda Datuk Nan Gadang meringkik keras. Dikala Ratu Leak secara pengecut hendak membokong pemilik batu yang asli. Maka terdengar suara ringkikan panjang. Ada kaki sebesar dua kali pohon kelapa melangkah mendekati Datuk Nan Gadang.

Kemudian terlihat sebuah kepala besar merunduk, mulutnya terbuka. Tahu-tahu Datuk Nan Gadang sudah terangkat tinggi-tinggi, sehingga selamatlah ia dari bencana yang mengancamnya. Ternyata yang menyelamatkan penghuni Ngarai Sianok ini tidak lain dan tidak bukan adalah si Putih Kaki Langit.

Ratu Leak memaki-maki, cahaya di sekelilingnya masih menghampar putih, karena Batuk Lahat Bakutuk masih memancarkan sinar pelangi. Dalam pada itu terlihat ada sebuah bayangan putih berkelebat. Tidak jauh dari hadapan Ratu Leak, berdiri tegak seorang kakek tua berjenggot putih. Cambangnya yang lebat hampir menutupi sebagian wajahnya. Ia memandang Ratu Leak dengan mata disipitkan. Sungguh pun silau cahaya membuat matanya menjadi sakit, akan tetapi paling tidak ia sudah dapat mengenali siapa orang yang memegang Batu maut tersebut.

"Pamungkur Walikandi! Sungguh perbuatanmu teramat sesatnya! Ternyata Ratu Leak tidak lain adalah dirimu sendiri. Apakah katamu jika dunia mengetahui keadaanmu yang sebenarnya?" seru si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih.

Mendengar suara dan melihat siapa yang datang, bukan main marahnya Ratu Leak. Kebenciannya yang selama ini selalu disimpannya dalam hati sekarang berkobar-kobar kembali.

"Barata Surya keparat! Rupanya muridmu tidak berhasil membunuhmu! Kau jangan banyak bicara, kekalahanku yang dulu sekarang tidak mungkin terulang lagi! Aku akan membunuhmu dengan Batu Lahat Bakutuk ini!" teriak Ratu Leak panas bukan main.

"Pamungkur Walikandi! Selama sekian tahun ternyata kau masih belum tobat juga? Aku mana mungkin menikah denganmu, karena aku cap pedang dan kau pun cap pedang juga. Kau laki-laki sakit Ratu Leak? Jiwamu sakit dan pikiranmu juga sakit. Kau hendak menyalahi kodrat Tuhan??" kata Barata Surya yang kiranya mengenali Ratu Leak yang sebenarnya.

"Manusia jahanam! Jangan kau berkotbah di depanku! Seandainya Dewana ada bersamamu, ia pun pantas mati di tanganku!" teriak Ratu Leak semakin bertambah kalap.

"Ho ho ho...! Rupanya Malaikat Berambut Api dulu hampir terpedaya juga olehmu! Malang sungguh, kehadiranmu hanya membuat berbagai kerusakan saja di muka bumi. Kau laki-laki sejati, tetapi mengapa ingin jadi perempuan?!" seru Penghuni Siluman Kera Putih. 

Wajah di balik cahaya Batu Lahat Bakutuk itu tampak menegang. Ia kembali menggosokgosok Batu Lahat di tangannya, sehingga batu tersebut memancarkan cahaya lebih terang lagi. Sinar terang itu membuat Barata Surya merasa tubuhnya seperti di panggang matahari. Ia pun terpaksa lindungi matanya dari pengaruh cahaya yang dapat membutakan mata tersebut.

Wuus!

Ternyata Penghulu Siluman Kera Putih hanya dalam waktu singkat telah terkepung oleh sinar warna warni yang menyilaukan itu. Barata Surya tiba-tiba lepaskan pukulan ke arah sinarsinar yang semakin menyusut dan seakan hendak menjerat dirinya.

Wuuut! Buuum! "Hek...!"

Ternyata pukulan yang dilakukan oleh si kakek tidak mengakibatkan apa-apa. Sinar yang bentuknya seperti lingkaran-lingkaran itu tidak mampu di hancurkan oleh pukulan si kakek. Barata Surya merasa sekujur tubuhnya seperti mendidih. Tiba-tiba si kakek melompat ke udara. Dengan demikian ia terbebas dari lingkaran sinar maut itu. Kini setelah terbebas ia lepaskan pukulan lagi ke arah Ratu Leak. Selarik sinar menggebu-gebu dan meluncur deras ke arah Ratu Leak. Namun sebelum serangan berhasil menyentuh lawan. Lagi-lagi dari Batu Lahat Bakutuk meluncur sinar putih dengan kekuatan empat sampai lima kali lebih besar

Sekarang Barata Surya malah yang menjadi terancam. Kakek ini segera berguling-guling. Sayang sinar yang melesat dari Batu Lahat Bakutuk terus mengikutinya. Sehingga.... Buuuum!

Tidak terelakkan lagi luncuran sinar itu pun menghantam telak Barata Surya. Penghulu Siluman Kera Putih mengeluh tinggi. Ia jatuh terhempas, dadanya seperti hendak meledak. Ia menjadi kaget ketika tidak dapat menggerakkan sekujur tubuhnya. Dalam kesempatan itu pula Ratu Leak pusatkan seluruh cahaya yang memancar dari batu tersebut ke arah Barata Surya. Penghulu Siluman Kera Putih benar-benar terancam keselamatannya saat itu. Pada detik-detik yang kritis itu muncul dua sosok bayangan yang bergerak langsung ke arah Ratu Leak dengan maksud merampas batu. Namun sebelum niat mereka terlaksana, tiba-tiba pijaran Batu Lahat Bakutuk menghantam ke dua-duanya.

Tidak ampun lagi orang-orang yang hendak menyelamatkan Barata Surya terbanting sejauh dua tombak. Yang satu ke kiri dan yang lainnya ke kanan Ternyata mereka tidak lain adalah Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih. Di antara keduanya Dewi Kerudung Putihlah yang menderita luka paling serius. Sebab seperti telah sama kita ketahui, kekuatan gadis ini tersedot ke dalam tanduk Sakti Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya.

"Kalian semua benar-benar menghendaki kematian dariku!" pekik Ratu Leak setelah melihat siapa orang orang yang bermaksud merampas batu di tangannya Mata Iblis tanpa bicara apaapa segera kerahkan kekuatan matanya. Sejurus kesudahannya meluncur dua larik sinar merah ke arah Ratu Leak. Tetapi apa yang kemudian terjadi. Ketika Ratu Leak menggerakkan batu sebagai tameng maka serangan Mata Iblis membalik dengan kecepatan berlipat ganda dan panas berganda pula.

Mata Iblis tidak sempat lagi menghindar karena sedemikian cepat datangnya sinar tersebut. Tidak ampun lagi tubuhnya pun terhantam serangannya sendiri yang berbalik. Kakek ini menggerung keras. Ia jelas menderita luka bakar yang tidak ringan.

"Hik hik hik...! Sudah kukatakan pada kalian. Hari ini terlalu banyak orang-orang dari golongan lurus yang harus mati di Sange ini!" desis Ratu Leak sinis.

Selanjutnya Ratu Leak yang merasa berada di atas puncak kemenangan ini segera angkat Batu Lahat Bakutuk di atas kepalanya. Inilah detikdetik yang paling mendebarkan dari seluruh pertempuran itu. Semua orang menjerit kesakitan manakala api yang bersumber dari Batu Lahat Bakutuk melesat kian kemari menyambar apa saja yang terdapat di sekitarnya.

Datuk Nan Gadang Paluih melihat adanya bahaya itu. Ia dengan masih rebah di atas punggung kudanya segera berteriak memberi aba-aba pada orang-orang dari golongan lurus.

"Menyingkirlah kalian! Tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan diri dari kobaran api kutukan!"

Kecuali Barata Surya yang memang tidak takut mati. Mata Iblis dan Dewi segera menyingkir sedapat yang mereka lakukan. Tampaknya sekejap lagi tubuh Barata Surya benar-benar hangus. Masih beruntung dalam saat-saat yang menegangkan itu tampak berkelebat bayangan biru. Bayangan biru gerakkan tangannya, dari lengan tampak melesat sinar hitam yang terasa dingin bukan main. Sinar itu langsung melabrak kedua tangan Ratu Leak. Dan...

Teees! "Aaaah...!"

Ratu Leak menjerit kesakitan, Batu Lahat Bakutuk di tangannya langsung tercampak ke udara. Melihat hal ini Datuk Nan Gadang tanpa menghiraukan sakit yang dideritanya segera menyambar batu tersebut. Ratu Leak menggerung keras melihat kenyataan Batu Lahat sudah tidak berada di tangannya lagi.

Cepat ia menoleh, ternyata sinar hitam tadi melesat dari tangan Suro yang terdapat sebuah benda hitam kecil. berbentuk empat persegi.

"Pemuda jahanam! Lihatlah apa yang telah kau lakukan ini! Kau harus terima kematianmu!" teriak Ratu Leak setelah mengetahui siapa orangnya yang telah menggagalkan rencananya itu.

"Ratu Leak manusia sundelan! Cukup sudah kau bikin sengsara orang. Hati ini rasanya sudah kau tipu mentah-mentah! Mustahil aku berdiam diri melihat guruku hampir kau buat mati!" seru Suro.

"Tolol bangsat! Rasakanlah...!" teriak Ratu Leak Sekonyong-konyong tangannya terjulur dan menjambak rambut Suro. Sedangkan tangan lain yang memegang tengkorak bayi menghantam ke bagian punggung.

Dua serangan sekaligus yang datang dalam waktu bersamaan membuat Suro jadi kalang kabut. Ia pun demi menyelamatkan diri terpaksa keluarkan jurus 'Kacau Balau'. Gerakan-gerakan yang tidak beraturan segera terlihat. Ratu Leak gagal menjambak rambut Suro, tetapi bagian punggung pemuda itu kena digetok senjata maut lawannya.

"Ukkkh...!"

Saking sakitnya Suro sampai berputarputar. Ratu Leak semakin bersemangat saja untuk menghabisi lawan. Ia tiba-tiba hentakkan kedua tangannya siap lepaskan pukulan 'Liang Hantu Penebus Kutuk'.

Begitu laki-laki yang menyamar sebagai perempuan ini dorong lagi kedua tangannya. Tidak ayal terdengar suara gelegar di sana sini. Suro terpelanting kian kemari. Hantaman yang disertai hawa panas tersebut membuat pakaian Suro tercabik-cabik.

"Bangsat...!" maki Pendekar Blo'on. Lalu ia membalas serangan lawan dengan melepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Ratu Leak segera melompat ke udara. Tetapi kakinya masih kena disambar serangan lawan. Pukulan pamungkas yang dimiliki oleh Suro ini sama sekali tidak dapat membuat lawannya roboh terkecuali hanya terluka sedikit saja.

Sementara itu Datuk Nan Gadang, Barata Surya, Mata Iblis sebenarnya ingin membantu Pendekar Blo'on yang kelihatannya dalam keadaan keteter. Namun mereka tidak berani melakukannya karena takut dianggap pengecut. Dalam kesempatan itu, Suro telah berdiri tegak dengan wajah sedikit pucat dan tubuh dibasahi keringat dingin.

"Seandainya aku pergunakan Mandau, mungkin aku dapat membunuhnya. Tetapi aku lebih tertarik mempergunakan jurus-jurus 'Congcorang'...!" batin Suro.

Dan benar saja, sejurus kemudian pemuda ini sudah melompat ke depan. Jari-jari tangannya menyatu rapat. Bergerak liar menggait, mencucuk ke beberapa bagian di tubuh lawan.

Ratu Leak sempat terkesiap melihat tangan Suro meluncur menyambar tenggorokannya. Ia kibaskan tengkorak bayi di tangan. Serangan ini tidak dihindari Suro melainkan disambutnya.

Clok! Clook!

Tengkorak kepala bayi itupun berlubang di beberapa bagian. Ratu Leak terkejut setengah mati. Ia hampir tidak mempercayai pemandangannya sendiri. Selagi ia dalam keadaan kaget seperti itu, Suro menghantam tengkorak kepala bayi itu lagi.

Prak!

Senjata andalan Ratu Leak hancur. Lakilaki yang suka menyaru seperti perempuan ini menjerit marah. Bersamaan dengan hancurnya perantara kutukan itu. Maka pengaruh kutukan pun hilang raib, sehingga terlihat ada tandatanda kehidupan di sana sini.

Ratu Leak tidak dapat tinggal diam. Ia pun lepaskan pukulan ke arah lawan. Sayang Suro sudah melompat tinggi ke udara. Tiba-tiba tubuhnya meluncur deras ke bawah. Bukan main cepatnya serangan ini, tahu-tahu jemari tangan si konyol sudah menembus ubun-ubun Ratu Leak.

Ratu Leak alias Pamungkur Walikandi menjerit tertahan, matanya melotot. Suro menyentakkan tangannya kembali. Ratu Leak menggelegar di atas tanah dan tidak mampu bangkit lagi.

Di balik batu sepasang mata yang sedari tadi mengawasi jalannya pertempuran tampak lega. Diam-diam ia pergi meninggalkan Suro, murid sekaligus cucu kandungnya. Di bagian lain Manusia Topeng setelah melihat kematian Ratu Leak juga pergi ke jurusan lain.

Kini hanya tinggal Datuk Nan Gadang Paluih, Mata Iblis dan Dewi Kerudung Putih saja yang masih berada di situ.

"Guruku, ke mana guruku...?" tanya Suro ketika tidak melihat Barata Surya berada disitu. Datuk Nan Gadang Paluih yang baru saja melucuti seluruh pakaian Ratu Leak langsung menyahuti.

"Ha ha ha...! Kurasa gurumu merasa malu, sebab ternyata manusia yang berjuluk Ratu Leak itu seorang laki-laki seperti dia!" Suro kaget, dia pun menoleh ke arah mayat Ratu Leak. Maka tawanya pun meledak.

"Pendekar Bodoh, jangan cuma tertawa. Berikan tanduk Sakti yang kau bawa. Bukankah seluruh kekuatan Dewi Kerudung Putih tertahan disitu?"

"Tanduk sakti yang mana, kakek buta? Tanduk yang runcing atau tanduk milik Sang Pelucut Segala Daya?" sahut Suro. Diam-diam ia melirik ke arah Dewi. Gadis itu tersenyum malumalu.

"Pemuda ceriwis, berikan tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu...!" dengus Dewi Kerudung Putih. Diam-diam ia merasa gembira juga melihat Suro dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apapun.

Suro menyerahkan tanduk yang tersimpan di balik punggungnya. Tanduk itu langsung diberikan pada Dewi.

"Hati-hati Dewi, jangan sampai kau salah memasukkan tanduk ini. Salah-salah tenaga saktimu malah nyasar kemana-mana?!" kata Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Anak kanciang! Bicaramu ngaco, tapi aku senang padamu. Lebih girang lagi hatiku karena Batu Lahat Bakutuk telah kembali lagi padaku!" Datuk Nan Gadang putar kudanya. Sebelum pergi ia masih sempat mendengar ejekan Suro.

"Datuk babuntuik, jangan sampai batumu bikin celako lagi. Aku bisa mengutukmu tidak dapat jodoh seumur hiduik...!" "Anak kanciang, lagak bana bicaramu...!" dengus Datuk Nan Gadang Paluih, seraya tanpa menoleh-noleh lagi langsung membedal kudanya meninggalkan Sange yang mulai ramai kembali dengan lenyapnya kutukan Ratu Leak

Suro hanya cengar-cengir. Ketika ia melihat ke arah Dewi dan Mata Iblis, ternyata kedua orang itu juga telah raib dari tempatnya masingmasing.

"Dewi-dewi... ternyata kau lebih tertarik dengan tua bangka mata buta!" gerutu Suro Blondo sambil melangkah pergi.

TAMAT