Serial Pendekar Bloon Eps 19 : Nagari Batas Ajal

 
Eps 19 : Nagari Batas Ajal


Jembatan putih yang berasal dari Angkin Pelebur Petaka ini disentakkan oleh Datuk Nan Gadang Paluih. Setelah berada di tangannya angkin sakti berubah memendek dan kembali ke bentuk asalnya. Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya temaram Datuk Nan Gadang Paluih coba mencari Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora. Namun laki-laki berambut putih berumur sekitar lima puluh lima tahun ini tidak melihat orang-orang yang dicarinya.

"Ini pasti alam yang tercipta berkat Batu Lahat Bakutuk yang ada di tangan Ratu Leak! Kemana perginya para bagundal berkepandaian seketek tadi? Apa mungkin mereka telah tertangkap? Tugasku jadi terbagi-bagi karena ulah mereka?" pikir Datuk Nan Gadang Paluih. Laki-laki itu kemudian berjalan menelusuri ruangan lebar tanpa batas. Kemudian ia mendengar suara-suara tangis, jerit kesakitan dan bau busuk yang menusuknusuk penciuman. Seakan-akan suara itu datang dari dasar neraka. "Anak ketek, orang-orang ketek. Ratu Leak benar-benar iblis!" maki Datuk Nan Gadang Paluih.

Baru saja ia selesai  menyumpah,  tiba-tiba di depannya muncul tiga orang gadis bertampang bengis.

Orang-orang ini seperti telah sama kita ketahui dikenal dengan nama 'Sang Juru Siksa', untuk lebih jelasnya dalam Episode (Batu Lahat Bakutuk).

"Ini salah satu tamu kita! Menurut Ratu kita harus menyambutnya dengan baik!" ujar salah seorang dari gadis tersebut.

"Anak-anak kanciang! Aku tahu siapa kalian! Cepat menyingkir, aku ingin bertemu dengan Ratu kalian yang telah mencuri Batu Lahat Milikku di Ngarai Sianok!" teriak Datuk Nan Gadang Paluih.

"Hik hik hik...!" Ketiga gadis itu tertawa serentak. "Ini adalah tempat tinggal kami! Bagaimana kami bisa menyingkir? Kau adalah tamu orang rambut putih. Apa pun pangkat dan jabatanmu di dunia bebas sana. Namun di sini kau tidak lebih adalah seorang pesakitan dan calon bangkai yang hidupmu tergantung pada kemurahan Ratu kami!" "Anak kanciang! Ratumu bukanlah apa-apa

jika berhadapan dengan aku! Cepat panggil dia ke sini!" perintah Datuk Nan Gadang Paluih.

Tiga gadis Juru Siksa langsung mengitari Datuk Nan Gadang Paluih. Sebentar saja mereka telah mengurung laki-laki itu dari tiga arah. Sedikitpun sang Datuk tidak bergeming dari tempatnya berdiri bahkan melirik pun ia tidak. Untuk diketahui Datuk Nan Gadang Paluih adalah saudara tua Ratu Penyair Tujuh Bayangan (Episode Undangan Maut). Ia memiliki kesaktian di atas adiknya, selain itu Datuk Nan Gadang Paluih juga adalah salah satu tokoh dari Andalas, selain Datuk Alang Sitepu, Datuk Panglima Kumbang dan Dewa Kubu. (Mengenai Dewa Kubu baca Episode Pendekar Kucar Kacir). Sekarang menghadapi tiga gadis yang dikenal sebagai Juru Siksa ini Datuk Nan Gadang Paluih masih dapat bersikap tenang. Jauh di dalam hatinya orang ini juga sebenarnya merasa ragu. Seandainya ia berhasil membunuh Sang Juru Siksa, bukan mustahil melalui Batu Lahat Bakutuk, Ratu Leak menciptakan pengawal-pengawal dan tukang kepruk yang lebih tangguh lagi. Satusatunya cara adalah dengan merampas Batu Lahat Bakutuk dari tangan Ratu Leak. Rasanya pekerjaan ini pun tidak mudah, Batu Lahat  Bakutuk akan menjadi sangat berbahaya di tangan orang se sesat Ratu Leak. Jadi ia harus mengatur siasat sebelum dirinya masuk dalam perangkap Ratu Leak.

"Orang rambut putih, kuperintahkan padamu untuk menyerah pada kami secara baik-baik. Atau kau akan merasakan bagaimana pedihnya siksaan kami!" ancam Sang Jum Siksa. Suaranya ketus tanpa mengenal tata krama sama sekali. Datuk Nan Gadang Paluih tertawa membahak. Ketiga gadis berwajah angker tampak bersurut langkah mendengar suara tawa Datuk Nan Gadang Paluih yang terasa menusuk hingga ke otak.

"Aku Datuk Nan Gadang Paluih, tua umur dan tua kejemur alamat badan binasa. Tua karena ilmu alamat terbawa ke liang kubur. Aku tahu asal usulmu. aku tahu asal usul manusia. Aku adalah air, udara, tanah dan api? Dari sini asal-usulku. Aku menjadi tidak berarti tanpa roh. Untuk itu Tuhan meniupkan roh ke dalam jasad ini. Wahai tiga gadis Sang Juru Siksa, aku hanya melihat kalian berasal dari api dan udara, apa yang menggerakkan kalian bukan Roh?! Tetapi nyawa setan!" dengus laki-laki itu sambil berkacak pinggang.

"Ringkus!" teriak ketiga gadis tersebut. Wuuut! Wuut! Wuut!

Tiga buah tali bersimpul pada bagian ujungnya meluncur deras ke arah kepala, kaki dan tangan Datuk Nan Gadang Paluih. Dengan cepat datuk ini melompat ke atas. Sedangkan tali yang datang dari atas disampoknya.

Plash! Wiing!

Tali tersebut membalik dan nyaris menghantam pemiliknya dengan kecepatan berlipat ganda. Gadis bertubuh semampai sempat memekik kaget, dengan menggeser langkahnya ke samping. Dia dapat menyelamatkan diri. Pada saat itu juga cahaya lain mengancam sang Datuk, dua tali yang diluncurkan oleh kedua gadis di samping kanan dan kiri menjerat pinggang, sedangkan yang satunya lagi mengancam bagian kepala. Tiba-tiba mulut Datuk Nan Gadang Paluih menggembung lalu ia pun meniup.

"Puaaah...!" Wuus!

Segulung angin menderu, angin yang keluar dari mulut Sang Datuk disertai lesatan sinar merah yang akhirnya membesar setelah bergesekan di udara menyambar simpul tali tersebut. Yang meluncur ke bagian pinggang langsung di tepis oleh laki-laki ini.

Tess!

Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget sekejap bila merasakan jari tangan kesemutan. Ini merupakan suatu tanda bahwa gadis-gadis itu memiliki tenaga dalam yang tidak ringan. Sementara itu gadis kedua terpaksa berguling-guling menghindari sambaran api yang merambat melalui ujung talinya. Akhirnya sambil memaki ia terpaksa mencampakkan tali penjerat, diambilnya tali lain.

Tiga-tiganya melompat mundur sambil membisikkan kata-kata dengan sesamanya. Katakata rahasia yang Datuk Nan Gadang Paluih sendiri tidak tahu artinya.

"Jerat   Laba   Laba...!"   teriak   salah   seorang dari tiga Sang Juru Siksa. Lalu ketiga gadis yang semula berpencar itu saling mendekat. Gadis pertama condongkan tubuhnya, kaki agak ditekuk, lalu gadis kedua melompat dan duduk di atas gadis pertama, demikian juga yang dilakukan oleh gadis ketiga. Sekali ini mereka tidak lagi mempergunakan tali untuk menyergap lawannya. Orang-orang ini langsung kembangkan lima jari tangan. Dua orang kawannya juga melakukan hal yang sama. Dari lima jari tangan yang terkembang itu kemudian meluncur lima buah benang halus yang saling memilin membentuk jaring di udara tidak ubahnya dengan laba-laba yang sedang membuat sarang. Datuk Nan Gadang Paluih cukup kaget juga dibuatnya. Bagaimana ketiga gadis bengis ini bisa memiliki ilmu Laba-Laba? Sedangkan seingatnya ilmu tersebut hanya dimiliki oleh Manusia Laba-Laba yang tinggal di Teluk Hantu.

Walau pun begitu sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Sang Datuk untuk memecahkan teka-teki ini. Ia terpaksa mengerahkan ‘Tubrukan Meteor’. Sekonyong-konyong Datuk Nan Gadang Paluih kibaskan tangannya ke arah lima belas benda halus berwarna putih yang siap menyergapnya. Dari setiap jemari-jemari tangannya tampak berkiblat cahaya putih seperti pedang. Lalu....

Tesss!

Lima jaring yang telah terjalin rapi itu putus berantakan terkena hantaman sinar putih dari tangannya.

"Kalian bukan murid Manusia Laba-Laba, berarti kalian telah mencuri ilmu manusia LabaLaba atau Ratu kalian memang seorang pencuri sejati!" geram Sang Datuk sengit.

Sang Juru Siksa melompat mundur, namun dua sosok tubuh di atas gadis pertama tidak juga segera turun, hal ini diketahui oleh Datuk Nan Gadang. Tidak ayal lagi ia kibaskan kedua tangannya yang tiada putus-putus memancarkan sinar.

"Suing !"

Lima larik sinar putih laksana pedang menderu. Dua orang gadis yang duduk di atas gadis pertama terpaksa bersalto.

Cas! Cas!

"Hmm..." Datuk Nan Gadang Paluih mengguman tidak jelas. Kali ini lawan sudah siap pada posisi seperti tadi. Datuk Nan Gadang Paluih tidak membiarkan hal itu lebih lama. Tubuhnya sekonyong-konyong melesat, tangannya menggapai. Di lain kejab di tangan tokoh dari Andalas ini sudah tergenggam seikat sapu yang bagian lidi-lidinya berasal dari kawat bara yang merah membara. Ketiga gadis ini hendak selamatkan diri, namun posisi mereka benar-benar dalam keadaan yang sulit. Gadis yang berada paling bawah hendak melompat mundur, sayang himpitan dua gadis yang berada di atasnya merupakan hambatan tersendiri baginya sehingga gerakannya terhalang dan tidak leluasa.

Wuuusss! Praaaas! "Wuaaakh...!"

Dua gadis Juru Siksa menjerit keras, duaduanya terpental akibat hantaman-hantaman sapu api gaib di tangan Datuk Nan Gadang Paluih. Begitu dua sosok tubuh gadis itu menyentuh tanah, maka terjadilah keanehan. Ujud mereka tampak mengecil, kemudian raib disertai melesatnya gumpalan kabut berwarna merah di udara. Tinggallah gadis pertama yang kelihatan marah besar pada Datuk Nan Gadang Paluih.

"Aku ingin mengadu jiwa denganmu anak manusia rambut putih! Heaaa...!" Gadis ini kelihatannya memang tidak memberi kesempatan lagi pada lawan. Tiba-tiba saja ia menerjang ke arah Datuk Nan Gadang, dua jari tangannya yang memancarkan sinar itu membabat ke arah tenggorokan sedangkan jari-jari yang lainnya menusuk ke arah mata.

Cepat sekali penghuni lembah Ngarai Sianok ini menghindar, sambaran angin menghantam di sampingnya. Serangan gadis baju hitam luput, namun ia segera susul dengan serangan berikutnya yang lebih berbahaya lagi. Melihat lawan memang menghendaki jiwanya, Datuk Nan Gadang terpaksa bersalto, sayang tindakan yang dilakukannya kurang menguntungkan. Kaki lawan sempat menghantam punggungnya.

Laki-laki baju putih selempang putih keluarkan keluhan tertahan. Tubuhnya berguling-guling di atas lantai yang becek dan berbau busuk itu. Ternyata lawan terus memburunya. Datuk Nan Gadang Paluih menggembor marah, seketika itu juga ia kibaskan sapu gaib di tangannya. Mendapat serangan balasan yang tidak terduga-duga ini Sang Juru Siksa pertama ini sudah tidak sempat lagi menghindar, walau pun ia sudah berusaha melakukannya. Tidak ampun lagi senjata di tangan Datuk Nan Gadang Paluih menghantam perutnya.

Praaasss! "Hakgh...!"

Gadis baju hitam ini menjerit keras, isi perutnya berbusaian. Untuk kedua kalinya sosok gadis baju hitam ini pun langsung lenyap menjadi gumpalan asap merah.

"Tahulah aku sekarang, gadis-gadis itu tadi tercipta berkat kekuatan sakti Batu Lahat Bakutuk yang dicuri oleh Ratu Leak!" guman Datuk Nan Gadang Paluih sambil menarik nafas dalam-dalam. "Melawan mereka hanya sia-sia saja. Ratu Leak dapat menciptakan pengawal-pengawal bahkan mungkin yang lebih tangguh dari sebelumnya selama Batu Lahat Bakutuk masih berada di tangannya! Jalan satu-satunya adalah dengan mencari perempuan itu! Tapi di mana? Ruangan perlindungan penyiksaan ini cukup luas! Dia tentu sudah memasang perangkap buat siapa saja yang masuk ke sini?!"

Datuk Nan Gadang Paluih sempat tertegun sejenak, namun bila teringat pada Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora, maka laki-laki berambut putih ini segera melangkah pergi untuk melakukan penyelidikan.

***

Gadis berpakaian putih dan berkerudung putih ini terus melangkah semakin jauh ke tengah-tengah ruangan bersekat dan mirip perangkap tikus tersebut. Tidak jauh di belakangnya mengikuti seorang kakek tua bermata buta. Kedua orang ini terus mencari-cari. sayang hingga sejauh itu mereka tidak melihat di mana gerangan Pendekar Blo'on disekap.

"Rasanya sudah tipis harapan, Pendekar tolol mungkin sudah mati dan sekarang rohnya sedang menjalani siksaan di neraka ciptaan Ratu Leak! Apa jawab dan pendapatmu Dewi?" bertanya si kakek buta yang tidak lain adalah Si Buta Mata Kejora. Yang ditanya semakin cemberut, matanya yang indah berputar-putar seakan ingin menembus dinding-dinding yang jadi penghalang penglihatannya.

"Kakek buta, jika bukan karena  ulahmu yang menghalang-halangi aku dan mengajak bertarung segala, tentu paling tidak kita masih bisa menolong Suro!" sahut Dewi Kerudung Putih ketus.

"Ha ha  ha!  Mengapa  aku  yang  kau  salah-

kan? Sange negeri yang dikutuk. Pada siapa aku harus percaya tanpa ada rasa curiga? Jika kita percaya pada Dewata tentu pemuda itu masih selamat."

"Aku tidak tahu dengan apa yang kau sebut Dewata, aku percaya dengan kekuatan Tuhan? Yang membuatku heran apakah manusia seperti Ratu Leak sanggup menciptakan neraka?" tanya Dewi Kerudung Putih dengan sikap acuh tak acuh. "Manusia hidup karenaNya, nanti akan kembali kepadaNya. Yang paling penting sekarang ini adalah menemukan tempat persembunyian Ra-

tu Leak, "ujar Si Buta Mata Kejora.

Dewi Kerudung Putih tidak menanggapi. Sekonyong-konyong lantai yang mereka pijak bergetar. Dewi memandang lurus pada Si kakek buta, orang tua ini kerutkan keningnya.

"Aku merasakan seperti ada orang yang datang ke sini!" gumannya seakan ditujukan pada diri sendiri.

"Hmm...,!" Dewi Kerudung Putih mengguman. Entah mengapa ia merasa tengkuknya meremang berdiri. Refleks gadis cantik ini pun berpaling ke belakangnya.

"Eh...!" kejut di hati Dewi Kerudung Putih bukan alang kepalang. Ia melihat sosok tubuh hitam legam dengan tinggi hampir dua tombak. Wajah sosok hitam ini hampir mirip dengan wajah monyet besar, hanya lidahnya agak terjulur. Taring-taringnya yang besar terlihat dan meneteskan darah. Di atas kepala makhluk hitam ini terdapat sebuah tanduk berwarna merah menyala. Tanduk itu kelihatan seperti menyatu dengan batok kepalanya. Rasanya seumur hidup Dewi Kerudung Putih yang sering menjelajah pantai laut selatan ini belum pernah melihat sosok mengerikan seperti ini. Menggigil tubuhnya, ciut juga nyali si gadis.

"Apa yang kau lihat?" tanya Si Buta Mata Kejora, rupanya si kakek buta ini rasakan adanya bahaya di sekelilingnya.

"Ehk... manusia seperti monyet. Kepalanya bertanduk dan berwarna merah!" jelas si gadis menerangkan ciri-ciri makhluk yang dilihatnya.

"Celaka...!!" desis si kakek sambil melompat mundur. "Kita tengah berhadapan dengan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Kita tidak mungkin dapat loloskan diri dari tangannya!"

"Kau manusia lemah yang suka berkeluh kesah dan gampang menyerah! Belum apa-apa engkau sudah tunjukkan kerapuhanmu! Aku heran mengapa Tuhan memberi umur panjang jika mengatasi sedikit persoalan saja kau sudah menyerah begini?" dengus Dewi Kerudung Putih mencemo'oh.

"Gadis tolol, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya adalah makhluk dari dalam perut bumi. Siapa dan bagaimana membuat makhluk di depanmu itu dapat muncul ke sini bukan menjadi soal. Yang kurisaukan dia dapat merampas seluruh kesaktianmu tanpa kau sempat merasakannya! Hati-hatilah, dia sangat berbahaya!" pesan Si Buta Mata Kejora. Jika semula Dewi Kerudung Putih menganggap enteng sosok angker di depannya maka sekarang ia harus memutar otak seribu kali untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

"Kau...!" seru Dewi ditujukan pada sosok hitam berwajah seperti monyet besar. Suaranya lantang namun agak serak. "Menyingkirlah, aku dan kakek ini hendak mencari kawan kami. Atau kau mengetahui dimana kawan kami itu, cepat katakan padaku!" tegas si gadis.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya menggeram lirih, matanya yang merah seperti bara memandang pada si gadis dan si kakek silih berganti.

"Cepat katakan! Aku yakin kau tahu di mana pemuda baju biru kawan kami ditahan!" seru si gadis. Mata merah di depannya membulat lebar. Mulutnya menyeringai sehingga semakin bertambah mengerikan dalam pandangan Dewi Kerudung Putih.

DUA

Dalam pada itu sayup-sayup Dewi Kerudung Putih mendengar Si Buta Mata Kejora mengisiki. "Percuma kau bicara, tidak perlu berteriak atau membentak. Dia tidak akan mau bicara dengan orang yang tidak dikenalnya sama sekali!"

"Lalu bagaimana?" tanya Dewi Kerudung Putih melalui ilmu mengirimkan suara pula. "Jika   masih   ada   kesempatan,   mengapa   tidak kita cari selamat saja?" usul Si Buta Mata Kejora. Saran kakek itu memang dapat diterima oleh Dewi Kerudung Putih, lagi pula di tempat itu hanya mereka berdua dan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Jika mereka melarikan diri cari selamat, tentu hal ini tidak begitu memalukan. Karena memang tidak ada orang lain yang melihatnya.

Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, baik Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Kerudung Putih langsung ambil langkah ke arah timur ruangan. Namun betapa kagetnya gadis ini karena di depannya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah menghadang mereka.

"Sia-sia saja kita menghindarinya, kakek buta! Dia bagaimana secepat itu melompati kita? Padahal aku tidak merasakan ada gerakan di atas atau di samping kita! Aku hampir tidak percaya?" seru gadis yang selalu memakai  kerudung putih ini sehingga ia dijuluki Dewi Kerudung Putih.

"Tidak ada jalan lain, kita tempur setan bumi ini sampai titik darah yang terakhir!" tegas Si Buta Mata Kejora.

"Ggggraaak! Kroookkkh...!"

Makhluk hitam di depan mereka julurkan kedua tangannya dengan gerakan meringkus. Dewi langsung bersalto, sedangkan Si Buta Mata Kejora berguling-guling ke samping sambil lepaskan pukulan 'Angin Biru'. Salah satu pukulan yang paling diandalkan oleh kepala adat Sange ini.

Deru angin kencang melabrak Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Pusaran angin sempat memporak porandakan dinding berwarna putih di samping kanan makhluk ini. Detik itu juga dari bagian tanduk sang makhluk yang semakin bertambah memerah, meluncur sinar merah darah. Hingga terjadilah benturan keras bukan main. Si Buta Mata Kejora tertegak dengan sekujur tubuh bergetar. Pukulan 'Angin Biru' seolah-olah lenyap tersedot sinar merah yang terus melesat ke arah si kakek. Orang tua buta menyadari adanya bahaya yang mengancamnya. Sehingga sedapat mungkin ia coba selamatkan diri, sayang sinar itu mengandung daya sedot yang sungguh luar biasa. Sehingga kedudukan Si Buta Mata Kejora pada saat itu benar-benar terancam bahaya.

Kira-kira setengah batang tombak lagi sinar merah menggulung habis sosok si kakek. Dari samping kiri menderu sinar hijau dan terjadilah ledakan keras untuk kedua kalinya.

Buuuum!

Dari sebelah kiri si kakek terdengar suara jeritan seseorang. Ternyata yang menjerit adalah Dewi Kerudung Putih yang berusaha menyelamatkan kakek buta tersebut dari kebinasaan. Akibatnya harus dirasakan oleh gadis itu sendiri. Sudut-sudut bibir si gadis meneteskan darah segar, ia mencoba bangkit berdiri. Terasakan olehnya pada bagian dada mendenyut sakit. Adalah sungguh mengherankan jika gadis seperti Dewi Kerudung Putih yang memiliki tenaga dalam tinggi dan juga berbagai jurus silat ini telah dibuat babak belur hanya dalam gebrakan pertama. Walaupun begitu Dewi Kerudung Putih sudah melompat berdiri. Sekonyong-konyong tubuhnya melesat ke arah Pelucut Segala Ilmu Segala Daya, atau lebih dikenal dengan julukan Penghela Neraka. Dalam keadaan meluncur seperti itu ia cabut pedang tipis yang melingkar di pinggangnya. Manakala tangan dikibaskan maka seleret sinar putih bergulung menyambar ke bagian tengkuk dan dada Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Sosok berwajah monyet besar ini menggeram. Tangannya menyambar, tapi dengan cepat Dewi sudah menarik balik senjata dan ini tusukan terarah ke bagian perut.

Dheellll!

Dewi Kerudung Putih melengak kaget, lawan sama sekali tidak mempan dengan tusukan senjata. Malah kini Penghela Neraka telah lepaskan tendangan menggeledek ke arah Dewi.

Wuuut!

Tendangan secepat cahaya ini tidak dapat dihindari oleh si gadis. Tubuhnya terjengkang. Ia sempat menggeliat, di saat itu Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sudah mengejarnya dengan maksud merengkuh gadis itu guna melucuti secara gaib semua kesaktian yang dimiliki oleh si gadis.

"Celaka...!!" seru Si Buta Mata Kejora. Seraya tidak membuang-buang waktu lagi langsung melompat ke depan. Tidak ayal Si Buta Mata Kejora lepaskan pukulan 'Tinju Maut' ke punggung sosok menyerupai kera besar ini. Dengan telak....

Buuuuuk! "Wuakh...!"

Si Buta Mata Kejora malah terbanting. Sosok yang terkena jotosannya jangankan bergetar, bergeming pun tidak. Si Buta Mata Kejora gelengkan kepalanya yang terasa pusing mendenyut. Sedangkan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya meneruskan rencananya untuk memupus habis segala kesaktian yang dimiliki oleh Dewi Kerudung Putih.

Sekali saja tangan hitam berbulu kasar ini terjulur, Dewi yang tampak berusaha menghindar ini sudah kena dicengkeramnya.

Crep!

Dewi Kerudung Putih kena direngkuh oleh makhluk ini. Si gadis meronta sambil lepaskan pukulan bertubi-tubi. Sayang pukulan Dewi tidak membawa pengaruh sama sekali. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya menggeram. Tanduk yang melekat di atas batok kepalanya berpedar-pedar, Dewi akhirnya menjerit. Manakala segala daya dan kekuatannya terbetot keluar dari tubuhnya secara paksa. Maka dari setiap pembuluh pori-pori, telinga dan hidungnya meneteskan darah. Si Buta Mata Kejora yang merasakan bahaya mengancam Dewi Kerudung Putih segera menggempur Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya dalam jarak yang sangat dekat sekali.

Makhluk mengerikan ini sama sekali tidak terpengaruh, tiba-tiba sambil mengempit Dewi yang sudah tidak sadarkan diri. Tangannya yang lain dan panjang itu menyambar dengan ganasnya. Tap!

Sekejap Si Buta Mata Kejora sudah kena dicekalnya. Dalam keadaan begitu Si Buta Mata Kejora tidak menjadi panik. Tangan yang masih bebas dipergunakannya untuk menusuk kedua mata Penghela Neraka, sayang apa yang dilakukan oleh si kakek tidak menghasilkan apa-apa.

Hanya dalam waktu sekejap, nasibnya sama saja dengan apa yang dialami oleh Dewi Kerudung Putih. Kedua orang ini tidak sadarkan diri.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya menggeram keras, seakan meneriakkan satu kemenangan. Suara teriakan itu disambut oleh suara tawa lainnya.

"Kau telah melakukan tugasmu dengan baik, Penghela Neraka! Kedua anak manusia ini nasibnya tentu akan lebih buruk lagi dari Pendekar tolol, Pendekar edan, gendeng dan Blo'on! Hik hik hik...!" kata suara tadi dengan penuh kebanggaan. "Tetaplah kau di sini, menunggu tamu-tamu lain yang tidak kita undang. Sewaktu-waktu jika aku membutuhkan tenagamu tentu aku akan memanggilmu!" Baru saja suara tanpa ujud tadi lenyap. Maka di udara terlihat kabut berwarna biru bergumpal-gumpal. Kabut ini merendah, dua sosok tubuh yang sudah tidak sadarkan diri ini mulai terangkat perlahan, mengambang di udara tanpa terlihat ada tangan atau pun  benda  lain yang mengangkatnya.

Si Buta Mata Kejora maupun Dewi Kerudung Putih ini kemudian melayang dalam keadaan terlentang menuju bagian lain. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya memperhatikan bekas lawanlawannya ini sambil angguk-anggukkan kepala.

***

Laki-laki yang sekujur tubuhnya terbungkus akar-akar berwarna hitam ini sebentar memandang ke langit, di lain waktu ia melihat ke dalam lubang seukuran babi hutan. Suasana di dalam lubang yang tidak terukur kedalamannya ini gelap gulita. Rasanya walau pun mata melotot bila telah berada di dalam lubang tersebut jemari tangan sendiri pun tidak akan terlihat.

Si laki-laki membungkuk lagi, bibirnya mendecap-decap, sedangkan rambutnya yang panjang riap-riapan dibiarkannya menutupi sebagian wajah.

"Dari sini! Aku menjadi ragu jalan ini tidak menembus ke bekas tambang emas dulu. Aku tidak ingin terjebak, urusanku menyangkut kepentingan jiwa orang banyak!" pikir si lelaki yang kita kenal sebagai kepala Negeri Sange. Dialah Wayan Tandira yang pernah dihukum benam dalam tanah selama tiga puluh tahun. Agar lebih jelas (dalam Episode Batu Lahat Bakutuk).

"Hhh, rasanya sulit memang sulit. Aku tidak tahu di mana ketua adat dan pemuda tampan berwajah tolol itu. Aku harus berjuang sendiri, apa dayaku? Semua ini gara-gara Ratu Leak jahanam!" dengus Wayan Tandira seakan menyesali.

Si laki-laki kembali membungkukkan badannya untuk mengeluarkan sisa-sisa tanah yang menghalangi besar lubang tadi. Tiba-tiba saja entah dari mana datangnya Wayan Tandira merasakan adanya hembusan angin. Hembusan yang begitu lembut mirip dengan desiran. Tengkuk si rambut gondrong ini meremang, sekujur tubuhnya yang terbalut akar-akaran hingga sebatas leher terasa dingin. Wayan Tandira cepat menoleh, memandang ke sekelilingnya yang terlihat hanyalah pohon-pohon membatu, bukit-bukit gersang membisu.

Cukup lama Wayan Tandira si Manusia Akar tertegun. Ia celingak-celinguk bagaikan seorang pencuri yang takut tertangkap basah, atau karena kecurigaan lebih banyak menguasai dirinya. Yang jelas pada siapa pun ia mudah curiga.

"Huuuung!"

Wayan lagi-lagi terkesiap ketika ia mendengar suara berdengung-dengung seperti pusaran angin di sekelilingnya. Laki-laki kepala negeri Sange ini sempat terhuyung-huyung meskipun tidak sampai terjatuh.

"Hih siapakah yang mencoba mengangguku? Pekerjaan ini harus tuntas! Atau mungkin Ratu Leak punya anak buah?" batin Wayan Tandira. Belum hilang rasa heran dalam dirinya, tiba-tiba terdengar suara tangis seseorang. Wayan mendengarkan semuanya dengan seksama. Ternyata bukan tangis anak kecil, tapi suara tawa.

"Edan! Apakah Ratu Leak hendak memperdayaiku lagi?" pikir si laki-laki agak bimbang. Tidak lama desiran angin semakin bertambah kuat. Lalu suara tawa pun semakin terdengar dengan jelas. Ketika tawa terhenti, maka ada seseorang berkata seperti bersair....

Duuuuh, panasnya dunia? Wiih, dunia bukan neraka Neraka bukan dunia

Tetapi aku melihat neraka di dunia Aku likat manusia akar

Aku pandang keraguannya Aku tahu setan menggodanya

Ragu-ragu dan curiga sama bersahabat Dua-duanya kawan-kawan setan!

Duh...

Neraka di dalam bumi

Aku tahu bumi bukanlah neraka!

Aku bingung melihat si gondrong bingung Namun aku lebih bingung lagi melihat orang

gila bingung!

Ha ha hi hi !

Baru saja suara-suara tadi lenyap. Di depan Wayan Tandira sejauh tiga batang tombak tepatnya di atas batu terlihat seorang laki-laki berbadan pendek memakai topeng bocah duduk uncanguncang kaki. Orang ini sama sekali tidak memakai baju, celananya hitam komprang. Di dadanya yang telanjang tergantung rompeng anak kecil dan juga Ketapel butut berwarna hitam. Orang memakai topeng-topengan ini tertawa ha ha hi hi. Wajahnya tentu saja tidak terlihat karena tertutup topeng. Wayan Tandira memperhatikan orang itu dengan seksama. "Datang dari mana, apa tujuan kemari? Cepat jelaskan padaku!" bentak pimpinan masyarakat Sange tegas. Yang ditanya bersikap acuh saja, kakinya diguncangkan semakin keras. Sikap lakilaki pendek memakai topeng bocah ini sungguh membuat Wayan menjadi jengkel.

"Kau tetap membisu atau memang sengaja ingin mencari mati?" teriak Wayan Tandira. Dalam hati ia sudah mulai curiga kalau orang yang memakai topeng ini mungkin saja anggota Ratu Leak dan boleh jadi pula merupakan anggota perempuan jalang itu. Dari duduk, laki-laki pendek itu duduk mencangkung. Dagunya di tompangkan di atas kedua tangannya. ini.

apa? Kau ingin tahu siapa aku?

Uuuuuh... aku sendiri tidak tahu siapa diriku

Aku sudah berjalan ke mana arah Hampir dua ratus tahun sudah

Waktu di alam rahim janjiku pada Tuhan Aku tidak akan pernah berpaling

Setelah berada  di  dunia  aku  menyembah

Wahai anak, jangan tanya siapa aku Diri ini sama bodohnya

Manusia lebih senang memakai topeng Topeng adalah aku

Aku adalah topeng Aku manusia topeng

Wayan Tandira sama sekali memang belum pernah mengenal laki-laki pendek yang memakai topeng bocah ini. Tapi melihat cara kehadirannya tadi rasanya ia bukan laki-laki sembarangan. Apalagi orang di balik topeng sempat mengatakan bahwa dirinya telah hidup hampir dua ratus tahun.

"Entahlah siapa kau aku tidak akan perduli. Tetapi terus terang jika kau punya ikatan atau hubungan tertentu dengan Ratu Leak, sebaiknya menyerah padaku...!" seru Wayan Tandira.

Ha ha ha hi hi hi

Anak kecil bodoh, lama-lama menjadi pintar Orang bodoh berlagak pintar

Namanya si biang tolol Orang tua goblok

Jika terus di pelihara menjadi pikun Aku tidak kenal Ratu Leak.

Aku hanya mengenal kejahatannya! Kutukannya membuat manusia menjadi batu Aku sedih, huk huk huk!

Manusia akar tertegun. Diperhatikannya laki-laki pendek yang terus mencangkung di depannya. Ia menjadi heran mengapa orang tua ini suka memakai topeng. Siapa sosok dibalik topeng itu? Ini sungguh mencurigakan. Terdorong oleh rasa ingin tahu, sekonyong-konyong Wayan Tandira melompat ke depan dan sambar topeng yang menutupi wajah orang itu.

Wuuut!

Si gondrong jadi kaget, karena ternyata ia hanya menggapai angin. Manusia Topeng telah berpindah tempat dalam keadaan mencangkung pula.

"Kecurigaan yang berlebihan hanya membuat manusia celaka dan termakan hati sendiri. Tanggalkanlah topengmu, mari kita saling berbuka kartu berbuka hati. Mengapa harus saling bersitegang? Bukankah yang rugi diri sendiri?" tanya Manusia Topeng.

"Aku bukan bermaksud mencurigaimu, apa yang kau katakan memang benar. Aku benarbenar sedang mengalami kesulitan untuk menghancurkan Ratu Leak! Jika kau bukan kawannya, kurasa kau bersedia menolong kesulitanku dan membantu membebaskan masyarakat Sange ini dari kutukan Ratu Leak!" sahut Wayan Tandira tanpa malu-malu.

"Bukan Ratu Leak itu yang patut diwaspadai. Batu Lahat Bakutuk menurutku lebih berbahaya dari sepuluh Pendekar Sakti! Itu sebabnya alangkah lebih baik jika kita cari Batu itu, batu bakutuk segala bencana!"

"Apakah kita harus memasuki Liang Lahat Bakutuk? Karena hanya dari sana satu-satunya jalan yang dapat dilalui!" ujar Wayan Tandira,

Manusia Topeng tersenyum, kemudian terdengar suara tawanya. "Liang Lahat adalah tempat istirahat yang terakhir buat orang-orang yang sudah bosan makan, bosan bernafas dan bosan dari segala yang membosankan. Asal usul manusia tempat keluarnya dari dalam lubang, maka kita bisa masuk ke dalam lubang ini untuk akhirnya keluar dengan selamat! Mari tunggu apa lagi?!" dengus Manusia Topeng. Kedua orang ini memasuki lubang yang hanya pas dimasuki oleh laki-laki dewasa saja.

TIGA

Suro Blondo diletakkan di atas meja batu marmar putih. Di sekeliling meja marmar itu terdapat semacam kolam yang selalu mengepulkan uap panas. Warna air kolam merah darah, namun baunya seperti aroma stanggi. Air kolam yang mengelilingi meja senantiasa menggelegak, suaranya yang bergemuruh membuat merinding bagi yang mendengarnya. Sementara itu murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api tergeletak tidak berdaya. Tangan dan kakinya dalam keadaan terikat langsung ke bagian bawah meja marmar, sehingga mustahil bagi pemuda berpakaian biru ini dapat meloloskan diri.

"Uakh...! Ekh...!" Si pemuda tiba-tiba saja menggeliat. Gerakannya lemah karena sesungguhnya ia telah kehilangan seluruh tenaga dalam dan inti hawa murni. Kalau pun ia masih setengah ingat dari semua jurus-jurus serta pukulan yang dimilikinya. Namun rasanya sudah hampir tidak ada gunanya. Penghela Neraka telah melucuti segala ilmu dan segala kekuatan yang dia miliki sehingga sekarang ia hanya mempunyai tenaga kasar saja. "Dimana sekarang aku ini? Pandanganku kabur, ingatanku hilang-hilang timbul. Apakah aku sudah mati? Rugi betul aku jadi manusia? Merasakan nikmatnya kawin saja belum, kaya juga tidak. Masa' aku sekarang sudah berada di alam baka??" Suro mengguman pelan. Kini hidupnya benar-benar tanpa kemauan sama sekali. Semangat hilang, tiada gairah selain kelesuan yang berkepanjangan tiada putus-putusnya. "Benarbenar celaka hidup seperti ini! Kepalaku terus menerus mendenyut, dadaku sesak. Dan... akh...!" Suro menjerit tertahan, tangannya seperti ditusuktusuk benda tajam. Keadaannya saat itu benarbenar seperti antara hidup dan mati.

"Hi hi hi...! Bagaimana keadaanmu saat ini, bocah cakep? Sebelum kau sampai di Negeri Batas Ajal, alangkah lebih baik jika aku perlihatkan padamu beberapa orang yang sudah kau kenal dan sekarang sama dalam keadaan seperti dirimu!" berkata sebuah suara.

"Bangsat! Siapa kau? Apakah perempuan jalang Iblis Betina Dari Neraka? Atau Kala Demit si jahanam yang telah membunuh kedua orang tuaku!" maki Suro Blondo. Saking gusarnya ia ingin menggaruk rambutnya, tapi apa daya tangan dan kakinya dalam keadaan terikat.

"Percuma kau memaki, tidak sampai sehari lagi kau segera menjadi budak terpilih Ratu Leak! Kau akan patuh tanpa pembangkangan sedikit pun!" sahut suara tadi.

Suro meludah, karena ludahnya ke atas maka yang basah wajahnya sendiri. Geram bukan main pemuda ini, dalam keadaan seperti itu apa yang dapat diperbuatnya? "Ratu Leak! Kurasa kau wanita cantik! Sayang baumu busuk seperti comberan. Tubuhmu berbau mesum, isi kepalamu penuh dendam dan amarah. Aku jadi ingin tahu apakah di balik kebusukan mu kau masih perawan? Aku tahu kau tidak berani tunjukkan diri karena wajahmu jelek. Suara tawamu seperti ringkik kuda. Kurasa pantatmu kalah bagus dengan pantat kuda! Ha ha ha...!" Suro tertawa bergelak.

Namun hanya beberapa detik kemudian tawa pemuda berambut merah ini melenyap. Sepasang matanya melotot, apa yang dilihatnya adalah sosok seorang gadis berpakaian putih dan berkerudung putih. Gadis itu sama sekali tidak bergerak, entah masih hidup atau sudah mati. Anehnya gadis ini bergerak dalam keadaan telentang dan mengambang, seakan ada tangan-tangan gaib yang mengangkatnya.

"Gadis misterius Dewi Kerudung Putih?" Suro berseru, namun suara yang terdengar hanya berupa erangan saja. Nafas pemuda ini tersengal. Kemudian ia berteriak dengan sekuat tenaga. "Ratu Leak! Jika kau usik satu lembar rambutnya, apalagi sampai kau mencelakainya, aku bersumpah kelak akan memenggal kepalamu!" ancam Pendekar Blo'on.

"Hik hik hik!" Suara tanpa rupa tertawa bergelak. "Apa yang dapat kau lakukan Pendekar tolol, tubuhmu tanpa daya dan kekuatan! Menyelamatkan dirimu sendiri saja kau tidak mampu, jangankan lagi memikirkan keselamatan orang lain!!" Pendekar Mandau Jantan katupkan bibirnya rapat-rapat, rahangnya menggembung pertanda ia hampir tidak mampu menguasai kemarahan. Dengan cepat ia kerahkan tenaga dalam untuk memutuskan simpul-simpul tali yang membelenggu tangan dan kakinya.

"Gila, kekuatanku benar-benar hilang! Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya! Dia benar-benar telah merampas segala-galanya dariku!" keluh Suro.

"Kau telah membuktikan bahwa dirimu bukanlah apa-apa, bocah ajaib. Kau  lihatlah,  aku akan mencambuki gadis ini. Wajahnya memang cantik, agaknya dia kekasihmu atau dia mencintaimu. Terbukti ia telah menyusulmu ke sini!" kata Ratu Leak dalam gaibnya.

Kemudian samar-samar Suro melihat sebuah cambuk api menggelantung di udara. Tidak terlihat siapa yang memegang cambuk tersebut. Manakala cambuk melecut di udara. Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan terapung di udara tampak terpelanting.

Tarrr!

Cambuk api kembali menghantam tubuh Dewi, gadis yang tidak sadarkan diri itu terpelanting. Pakaiannya robek, meskipun terpelanting ia tidak juga jatuh ke lantai atau ke dalam kolam mendidih.

Melihat pemandangan ini Suro merasa iba dan prihatin. Sementara bagian-bagian tubuh Dewi yang terkena cambuk tampak melepuh dan hangus. Padahal cambuk yang melecut-lecut dengan sendirinya itu terus mendera Dewi Kerudung Putih tiada putus-putusnya.

"Hentikan! Jangan kau siksa dia, Ratu Leak keparat!" teriak Suro Blondo.

"Hik hik hik...! Sekarang  apa  yang  dapat kau lakukan? Apakah kau tidak suka menikmati pemandangan ini? Padahal aku belum memperlihatkan padamu seorang pesakitan lain yang juga menunggu giliran!"

"Setan alas! Apa keinginanmu yang sebenarnya? Jika kau menghendaki nyawaku, mengapa orang lain ikut pula kau sakiti?" seru Suro.

"Dirimu memang kuinginkan, tetapi nanti. Kau akan kuberi tugas yang tidak kalah pentingnya. Sekarang ingin kutanyakan padamu, apakah kau  ingat  dengan  Mustika  Jajar?"  tanya  Ratu  Leak yang tidak pernah menunjukkan diri itu lantang.

"Perempuan jahanam itu! Jika ada makhluk yang berjalan di punggung bumi yang paling kubenci. Iblis Betina Dari Neraka itulah yang aku benci. Huh...!" Suro mendengus sinis. "Rupanya sekarang wanita jalang itu telah menjadi pengikutmu? Kurasa Kala Demit juga telah berkomplot denganmu, setan kurapan! Tidak tenang diriku, kalau pun aku mati, orang yang pertama harus kucari engkaulah bangsatnya! Nanti arwahku bergentayangan, bawa golok yang paling gede, pertama kaki dan tanganmu akan kutebas hingga buntung, kemudian bibirmu kuambil yang di sebelah atas, biar konyol, setelah bibir, dada harus diambil sebelah. Setelah itu kulitmu kubeset sedikit demi sedikit, daging yang sudah tidak berkulit disiram air jeruk baru dikasih kecap sedikit. Oh... aku hampir lupa apakah saat ini sudah ada warung yang jual kecap?" kata Suro ngawur. "Setelah matamu menyaksikan semua ini baru kukorek, biji mata harus kujadikan campuran cendol. Kata iblis cendol dari biji mata enak. Lidahmu pasti meraung-raung. Aku sangat senang mendengar suaramu nanti. Kalau aku bosan mendengarnya, baru lidahmu kupotong. Kau akan menjadi manusia gagu! Kau akan menjalani penderitaan hidup yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya!" Katakata Suro Blondo terputus menjadi jeritan ketika cambuk yang dapat bergerak secara gaib itu menderu tubuhnya berulang-ulang.

"Bicaralah kau sesuka perutmu, sekarang rasakanlah azabku yang sangat pedih!!" geram Ratu Leak.

Ctar! Tar! Tar!

"Augkh...! Cilaka betul, kau ratu bangsat! Bangsatnya ratu-ratu." maki si konyol. Pakaian pemuda ini sudah tidak karuan bentuknya, tubuh Suro yang sudah tidak terlindungi tenaga dalam babak belur.

Ctar!

Cambuk api terus menghantam tubuh si pemuda, kini dirinya antara sadar dan tidak. Dalam keadaan hampir kelenger begitu rupa, sayupsayup ia masih sempat melihat sosok tubuh lainnya dalam keadaan terkapar. Sosoknya jelas seorang kakek berpakaian kumal. Siapa lagi kalau bukan Si Buta Mata Kejora.

"Uukh...! Orang  tua yang tidak bisa melek itu mengapa ikut-ikutan ke sini? Kalau mau mampus wajar saja, dia sudah tua! Benar-benar tolol semuanya. Kurasa dia menyusulku kedalam Liang Lahat Bakutuk." Begitu bingungnya Suro hingga ia ingin menggaruk kepala, namun hal itu tidak kuasa dilakukannya.

"Bukankah si tua ketua adat ini sahabatmu juga, Pendekar Tolol? Sama seperti dirimu dan gadis yang mencintaimu itu, dia juga sudah berada dalam genggamanku. Aku juga akan menyiksanya jika hukuman yang kuberikan padanya tidak membuat Buta Mata Kejora menjadi kapok!" dengus suara tanpa rupa sengit. Kemudian ia berseru pada cambuk gaib yang menari-nari di udara. "Cambuk Api yang hanya bekerja sesuai dengan perintah pemilik Batu Lahat Bakutuk. Hajar orang tua yang ada di depanmu!"

Baru saja gema suara Ratu Leak lenyap, maka cambuk pun meluncur deras ke arah Si Buta Mata Kejora. Lalu terdengarlah suara gemuruh lecutan cambuk yang terasa menyakitkan gendang-gendang telinga. Setiap cambuk api mendera tubuh si kakek, maka terlihat kepulan asap dari bekas cambukan itu.

Dalam keadaan seperti ini anehnya tubuh si kakek yang juga dalam keadaan terikat tampak mengambang.

"Ratu Leak! Mengapa kau menyiksanya, tidak cukupkah hukuman belenggu rantai yang kau jatuhkan padanya selama hampir tiga puluh tahun?"

"Huh, kau tau apa? Apa yang kau saksikan di luaran sana hanya berupa permulaan dari sebuah perjalanan panjang! Perjalanan ini terjadi akibat ulah gurumu! Sebagai muridnya, kaulah yang akan mengukir sebuah sejarah perjalanan baru. Sejarah di mana gurumu akan teringat dengan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu!" ucap Ratu Leak. Lalu terdengar suara nyanyiannya yang tidak jelas. Nyanyian terhenti, ada suara tepukan tangan. Sebuah pintu yang terletak di sudut kanan Suro Blondo membuka secara gaib. Dari dalamnya memancar cahaya merah berkilau-kilauan. Suro kerutkan keningnya. Dari sinilah tadi Suro mendengar suara-suara Ratu Leak, si pemuda berpikir mungkin di situlah Ratu Leak berdiam.

Kembali memandang ke arah pintu yang terbuka, dimana sinar merah memancar dari baliknya. Kini kelihatan sesosok tubuh berdiri tegak. Sosok ramping berpakaian tipis merangsang. Sinar merah yang menerangi di belakang yang menembus liku-liku tubuh si gadis yang padat menggairahkan. Gadis berambut panjang lambat-lambat menghampiri. Ternyata gadis itu tidak lain adalah Mustika Jajar, musuh bebuyutan Pendekar Blo'on.

Sampai di tepi kolam mendidih menebar bau stanggi yang mengelilingi meja panjang batu marmar Iblis Betina Dari Neraka hentikan langkah. Bibirnya sunggingkan seulas senyum mengejek.

"Pemuda bangsat rambut merah! Kau akan melihat betapa gadis yang mencintaimu itu akan mengalami penderitaan menyakitkan!" dengus Mustika Jajar. "Betina Dari Neraka?! Kau sakiti dia, berarti hanya mengurangi umurmu saja! Aku bersumpah, aku bersumpah!" teriak si konyol dengan bibir peletat-peletot.

"Huh...!!" Mustika Jajar mendengus sinis. Seraya lalu mengambil kendi yang digenggamnya sejak dari tadi. Perlu diketahui saat itu masih ada sebuah kendi lain berwarna merah darah tergantung di pinggang Iblis Betina Dari Neraka.

Isi kendi dituangkan ke dalam sebuah cangkir merah yang kelihatannya terbuat dari tanah liat. Mustika melambaikan tangannya ke arah Dewi Kerudung Putih yang tengah mengambang di udara. Sekonyong-konyong, sosok Dewi melayang mendekatinya. Mustika langsung membuka mulut Dewi, begitu bibir Dewi Kerudung Putih yang tidak sadarkan diri itu terbuka, maka cairan merah yang terdapat di dalam cangkir di tuangkan.

Glek!

Seluruh isi cangkir tertuang ke mulut Dewi Kerudung Putih. Sekejap setelah itu si gadis berbaju putih menggeliat, lalu terdengar suara erangannya yang tidak begitu jelas.

"Dewi??" seru Suro. Si gadis menoleh ke arah Suro. Matanya membulat lebar ketika mengenali pemuda yang selalu membayangi hidupnya selama ini.

"Kau, adakah kau dalam keadaan baik-baik saja?!" tanya Dewi. Ada kelegaan terpancar lewat tatapan mata si gadis. Justru hal ini tidak dikehendaki oleh Suro. Sebab bagaimana pun sikap Dewi yang demikian mesra dapat dimanfaatkan oleh Ratu Leak maupun Mustika Jajar untuk memperalat mereka.

"Aku dalam keadaan setengah baik dan setengah mati, Dewi. Mataku bebas, mulutku bebas bicara. Yang terikat kaki dan tanganku! Ha  ha ha...!" kata Suro Blondo masih sempatnya tertawa.

"Suro, adakah kau sanggup membebaskan diri dari tali-tali yang mengikatmu itu?" tanya lagi Dewi Kerudung Putih. Sikap Dewi yang tampak mesra ini membuat Mustika Jajar menjadi semakin bertambah geram.

"Tid... tidak, Dewi Misterius. Kesaktianku dan tenaga dalamku sudah diperas sampai ke ampas-ampasnya oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Aku sekarang ini tidak ubahnya seperti barang rongsokan yang hampir tidak berguna. Mungkin hanya pentunganku saja yang berguna bagi gadis bengis yang baru habis memberi racun tadi! Akh... kulihat wajahmu berubah biru, apakah kau merasakan sesuatu?"

Kening gadis berkerudung itu berkerut tajam. Saat itu ia merasa sekujur tubuhnya seperti ditusuk-tusuk ribuan batang pedang. Dewi Kerudung Putih kemudian menggelepar.

"Su-ro... akh... huakh...! Perempuan jahanam itu telah memberiku kesadaran sekaligus racun berkala yang membuatku mati perlahanlahan!" teriak Dewi Kerudung Putih dengan suara terbata-bata.

Pendekar Mandau Jantan mendelik, ia marah bukan main melihat kekejian yang dilakukan oleh Iblis Betina Dari Neraka. "Perempuan terlaknat! Berikan obat pemunahnya! Cepaaat...!" geram Pendekar konyol sengit. "Hik hi hi! Apa yang terjadi atas perintah

Ratu Leak. Gadis ini dan si tua mata  buta  itu hanya dapat selamat jika kau mau menuruti perintah Ratu!" sahut Mustika Jajar.

"Kupertaruhkan nyawaku demi kebebasannya!" ujar si pemuda yang merasa tidak berdaya.

"Bagus! Itu namanya sayang kekasih. Agaknya kau cinta berat padanya! Hi hi...!"

Suro tidak menyahut, antara dia dengan Dewi sesungguhnya tidak ada perasaan cinta. Suro hanya merasa senang dan sayang pada gadis itu. Namun biar bagaimana pun ia harus menolong Dewi Kerudung Putih, karena gadis itu juga dulu pernah menyelamatkan jiwanya (dalam Episode Bayang-Bayang Kematian).

"Cepat beri dia obat pemunah racun itu!" desak si pemuda begitu melihat kujur tubuh Dewi semakin membiru.

"Boleh! Tapi kau harus meminum ini dulu!" sahut Iblis Betina Dari Neraka. Seraya kemudian mengambil tengkorak manusia yang sudah berlumut dan berwarna hitam-hitaman. Mustika mengambil kendi merah yang tergantung di pinggangnya. Isi kendi dituangkan ke dalam tengkorak kepala persis di bagian tempurung otak.

Dengan jelas Suro melihat tempurung kepala itu mengepulkan uap berbau menyengat. Suro tidak tahu apa cairan tersebut, entah racun entah pula cairan lain yang mematikan.

Mustika Jajar menjejak lantai tiga kali. Tiba-tiba meja marmar bergerak, meninggalkan kolam dalam keadaan mengapung mendekati si gadis.

"Cepat kau minum!" perintah Iblis Betina Dari Neraka.

"Apakah ini obat kuat untuk membangkitkan semangatku? Percayalah si Buyung tidak mau bangkit apalagi melek jika hanya melihat anumu yang bulukan! Ha ha...!"

Plak!

Meskipun sakit akibat tamparan Mustika Jajar, Suro Blondo tidak mengeluh apalagi menjerit. Ia malah tertawa dengan bibir terpencong.

"Jika saja tidak mengingat pesan Ratu Leak, mulutmu yang kurang ajar itu sudah kulumat habis!" geram si gadis.

"Dengan apa kau hendak melumat? Kalau dengan bibirmu juga, mana tahan!" ejek Suro.

"Rupanya kau ingin melihat gadis kerudung putih itu mampus percuma?" sengit suara Mustika Jajar.

Suro pun menoleh, kini sekujur tubuh Dewi Kerudung Putih telah berubah menghitam seperti terbakar. Dalam kesempatan itu terdengar suara Dewi.

"Apa pun yang terjadi padaku, jangan kau mau meminum racun dalam tengkorak itu?" pesan Dewi Kerudung Putih.

"Kau dengar ucapannya. Jika kau menuruti apa yang disarankannya, berarti kau sengaja membiarkan jiwa dan raganya tersiksa! Hik hik hik...!" "Perempuan jahanam, Ratu Leak juga manusia jahanam. Sudah kukatakan lepaskan  dia! Kau sekarang berada dalam posisi yang menang, ingat! Aku tidak akan melupakan kejadian ini!" desis si konyol.

Iblis Betina Dari Neraka hanya diam saja. Ia mendekatkan tengkorak berisi cairan ke mulut Suro. Si pemuda katupkan bibirnya rapat-rapat.

"Kau menolak, berarti dua orang yang berada di depanmu mati dengan percuma!" ancam Mustika Jajar.

Mendapat tekanan sedemikian rupa, Pendekar Mandau  merasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia terpaksa membuka sedikit mulutnya. Cairan dalam mangkuk tengkorak segera dituangkan ke mulutnya oleh Iblis Betina Dari Neraka.

EMPAT

Gluk! Gluuk!

Begitu cairan yang dituangkan oleh Mustika mengalir dalam tenggorokan pemuda baju biru. Maka meraunglah Pendekar Blo'on. Mata pemuda ini mendelik seperti melihat setan telanjang. Tubuhnya menggelepar, seluruh badan Pendekar Blo'on menjadi dingin. Dewi Kerudung Putih yang dalam keadaan setengah sadar jelas tidak dapat menolong si pemuda. Keadaan Pendekar Blo'on benar-benar seperti orang yang telah berada di ambang ajal.

"Su-ro, ma-sih-kah ka-u men-de-ngar suara-ku...!" bertanya Dewi Kerudung Putih, suaranya seperti orang yang mengigau. Tidak terdengar suara jawaban apa-apa. Dewi Kerudung Putih menjadi cemas. Sementara itu Suro Blondo sudah terkulai. Nadinya tidak berdenyut, dan jantungnya seakan tidak berdetak lagi. Dalam suasana sedemikian rupa, terdengar suara Mustika Jajar.

"Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa! Hi hi hi.... Kau sekarang telah berjalan mendekati Negeri Batas Ajal Pendekar Blo'on! Di mana seorang manusia yang sudah tua bangka dan sakit-sakitan pun tidak berani ke sana. Seandainya manusia itu adalah orang paling kaya raya, ia akan memilih menukar hartanya daripada harus dirinya yang datang ke sana! Selamat datang ke negeri Batas Ajal, hi hi hi! Semoga para setan gentayangan menyambutmu dengan baik!" dengus Iblis Betina Dari Neraka.

Gadis berpakaian tipis ini memperhatikan tiga sosok tubuh yang sama-sama terkapar. Dua diantaranya dalam keadaan pingsan berat, namun entah bagaimana yang terjadi dengan Pendekar Mandau Jantan.

Sementara itu Ratu Leak yang tidak pernah menampakkan diri itu mulai mempergunakan kesempatan ini untuk membersihkan segala ingatan Suro dari masa lalu dan menanamkan sebuah ingatan baru tentang segala sesuatu yang telah direncanakan oleh Ratu Leak. 

Sekarang kita ikuti bagaimana keadaan Suro yang berada dalam pengaruh Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa itu. Keadaan Suro saat itu memang antara hidup dan mati. Jiwanya mengembara melayang tidak tentu arah. Ia merasa sedang berada di tengah-tengah alam antara ada dan tiada. Ia seperti bercampak di tengahtengah padang yang luas namun mengerikan.

"Dimanakah aku?" batin Suro. Ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Merasa sepi, seakan di tempat itu hanya si konyol saja yang hidup, tidak ada orang lain atau makhluk bernyawa yang lain. Dalam kesunyian yang mencekam itu Suro celingak-celinguk. Tiba-tiba saja ia mendengar suara seseorang memanggil. Suara itu mirip suaranya sendiri.

"Suro... ke sini...!"

Refleks, Pendekar Blo'on menoleh ke arah kiri. Pemuda ini terperangah melihat ada seorang pemuda lain yang sangat mirip dengan dirinya. Hanya pemuda yang hampir sama dengan Suro ini berwajah bengis, kulit hitam. Tatapan matanya sinis penuh angkara murka.

"Kkk... kau siapa?" tanya Suro dengan suara bergetar. Sosok yang berdiri di samping kirinya tersenyum, sungguh senyumannya menggiriskan hati.

"Aku adalah saudaramu sendiri, aku adalah dirimu!" sahut sosok Suro namun berwajah jelek menyeramkan. Suro memperhatikan cukup lama juga. Baru kemudian mengguman dalam hati.

"Dia mengaku-ngaku sebagai saudaraku, padahal sejak lahir aku merasa tidak punya saudara, apalagi saudara sejelek ini?"

"Kau meragukannya?  Tidakkah  kau  lihat aku sangat mirip dengan dirimu?" bertanya sosok yang mirip dengan si pemuda.

"Entahlah, aku sekarang sedang bingung! Aku tidak tahu sekarang berada di mana.  Kalau aku punya saudara mengapa tidak ada yang bilang-bilang sejak dari dulu, apalagi kau mengakungaku sebagai saudaraku, sudah serem item lagi!" celetuk Suro sambil garuk-garuk kepala.

"Ha ha ha...! Kau tidak percaya pada sesuatu yang bakal terjadi?! Ketahuilah bahwa sekarang ini kau sedang berada di Negeri Ambang ajal. Ikutlah bersamaku wahai saudaraku! Akan kutunjukkan padamu sesuatu yang belum pernah kau lihat selama ini! Mari...!"

Suro menjadi ragu, sosok yang mirip dirinya baru saja mengatakan ia berada di Negeri Batas Ajal. Artinya Pendekar Blo'on sudah berada di ambang kematian! Betapa mengerikan sekali yang namanya kematian, apakah semua orang pernah membayangkannya. Mati, tinggal di dalam kubur sendiri. Tanpa sanak saudara atau teman-teman yang dicintai. Betapa gelapnya alam kubur itu, benarkah setelah mati selesai semua urusan manusia? Padahal kubur adalah alam baru, tempat manusia ditanya dan disiksa sampai tibanya hari berbangkit.

"Ayolah...!" sosok mirip Pendekar Blo'on kembali mendesak.

"Tidak! Kau bukan diriku, tapi hantu yang meniru-niru aku!" sahut Suro sambil melangkah mundur. Sosok setinggi si konyol dan mirip dengan pemuda itu menggeram marah. "Akan kuperlihatkan padamu tempatku! Mari...!" dengus sosok Suro Blondo. Lalu tiba-tiba saja orang itu menyambar tangan Pendekar Blo'on. Pemuda berambut kemerahan ini merasa seperti berada di sebuah tempat tanpa beban. Ia merasa dirinya menjadi ringan, bahkan lebih ringan dari kapas yang diterbangkan angin.

***

Dulu aku tidak pernah melihat ada loronglorong indah seperti ini, Manusia Topeng? Sebuah tempat yang indah, namun aku merasakan ketidak nyamanan di dalam sini!" kata Wayan Tandira.

"Apa yang kau lihat adalah perubahan alam, ini yang namanya stalamit dan stalagnit! Naluriku mengatakan jika kita dapat menjebol dinding batu di sebelah sana. Kita segera menemukan tiga sosok tubuh yang kau kenal!" sahut laki-laki pendek bertopeng anak-anak.

"Maksudmu?" tanya Wayan Tandira dengan kening berkerut.

"Di sebelah dinding sana kulihat merupakan bagian Lahat Bakutuk. Tiga kawanmu terperangkap disana!" jelas Manusia Topeng. Wayan anggukkan kepala, ia melangkah lebih ke depan lagi. Tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar seperti kilat dari langit-langit lorong. Sinar tersebut menghantam sekujur badan Wayan yang terbalut akar hitam.

Byar! Byaar!

Laki-laki ini menjerit saat merasakan sekujur tubuhnya dijalari hawa panas bukan alang kepalang. Sinar itu berpedar seperti kunang-kunang ke seluruh pembuluh akar-akaran yang melibat tubuhnya. Manusia Topeng memperhatikan semua ini dengan penuh rasa takjub. Sekonyong-konyong ia memandang ke langit lorong. Benda yang sama seperti yang melibat tubuh Wayan Tandira juga banyak bergelantungan di sana.

"Betapa beruntungnya orang ini, Akar Bumi yang melibat tubuhnya juga ada di sini. Berarti kesaktian yang dimilikinya bertambah dengan munculnya sinar tadi. Banyak sekali keanehan di sini, penderitaan yang dialaminya selama ini adalah peruntungan baginya juga!" desis Manusia Topeng.

"Orang tua, kau lihatkah sinar tadi? Aku merasa seperti ada sesuatu menghantam diriku! Tubuhku sekarang semakin ringan, apakah yang telah terjadi?" tanya Wayan Tandira begitu dirinya bangkit berdiri.

"Itulah keberuntunganmu, kau pantas mengucapkan puji sukur pada Tuhan yang telah memberi kelimpahan dan tambahan kesaktian tanpa terduga-duga!" ujar Manusia Topeng.

Wayan Tandira kerutkan keningnya. Aku tidak tahu apa maksudmu?"

"Akar-akar yang membalut tubuhmu itu." kata Manusia Topeng dan wajah di balik topeng tersenyum. "Apa kau pikir emakmu yang menempelkannya, atau kau pikir hasil kerja ayahmu, nenekmu, pacarmu atau gendakmu! Semua itu adalah karunia Tuhan. Penderitaanmu selama tiga puluh tahun dibenam oleh Ratu Leak, tanpa terdugaduga berbalas dengan karunia Tuhan. Akar Bumi, manusia mana di rimba persilatan ini yang pernah memiliki? Sedangkan namanya saja mungkin jarang sekali orang yang mendengarnya!"

"Aku melihat kesamaan antara akar-akar yang membalut tubuhku dengan yang berada di atas itu!"

"Ya... barusan tadi secara aneh kau telah mendapatkan tambahan tenaga sakti. Apakah itu namanya bukan suatu peruntungan?"

"Sekarang apa yang harus kulakukan, wahai Manusia Topeng?" tanya Wayan Tandira.

"Coba kau tabrak dinding batu itu! Kita harus sampai ke ruangan sebelah secepatnya!!" perintah Manusia Topeng terkesan seenaknya.

Mata Wayan Tandira membelalak lebar. Laki-laki pendek bertopeng yang selalu membawa kompeng dan ketapel ini terkadang tingkahnya seperti anak kecil berumur tujuh tahun. Jika ia harus menabrak dinding batu itu apakah mungkin ia tidak akan babak belur?

"Ayo tunggu apa lagi?" desak Manusia Topeng kurang senang melihat keragu-raguan si gondrong.

"Bagaimana jika akibatnya fatal bagiku?" "Kutanggung kesembuhanmu, tetapi jika

Malaikat sudah menghendaki nyawamu siapa yang berani tanggung! Apalagi yang kau tunggu? Manusia mati hanya sekali, tidak lebih dan tidak kurang!"

"Orang berkedok ini apa bisa dipercaya? Hmm... aku ingin membuktikan ucapannya, benarkah di balik batu ini terletak bagian liang lahat seperti yang dikatakannya??" batin Wayan Tandira.

"Baik! Akibat buruk dan baiknya kau yang

tanggung, biarkan aku jadi pelaksananya!" dengus Wayan Tandira. Seraya kemudian melompat mundur mengambil ancang-ancang. Setelah itu dengan disertai teriakan keras mengguntur tubuh Wayan Tandira melesat ke depan. Dan....

Diegkh !

Greeeekhh!

Dinding batu tampak retak disana sini. Kepala Wayan sempat benjut-benjut. Namun sungguh aneh ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Sementara bagian tubuh yang lainnya tidak cedera sedikit pun. Terhuyung-huyung Wayan bangkit berdiri. Ia gelengkan kepala, lalu memandang ke arah Manusia Topeng seakan minta pendapat.

"Apa yang terjadi sudah kau lihat! Kau hanya tinggal menabraknya sekali lagi. Ayolah, tunggu apa lagi? Menunggu lebih lama yang ada di dalam sana keburu mampus!" teriak Setan Topeng. Sungguh pun Wayan Tandira tidak paham betul semua ucapan laki-laki pendek bertelanjang dada ini. Ia cepat mengambil ancang-ancang lagi.

"Hiyaa,..!"

Sosok gondrong terbungkus akar itupun melesat laksana kilat. Sedangkan dua tangan dan kaki menghantam.

Buum! Buuumm!

Terjadi ledakan keras menggelegar. Langitlangit lorong runtuh, dinding batu runtuh. Terlihatlah sebuah lubang besar. Benar seperti apa yang dikatakan oleh Manusia Topeng, ternyata di balik dinding batu itu terdapat ruangan luas yang masih merupakan bagian dari Liang Lahat Bakutuk.

"Itukah yang kau maksudkan, Manusia Topeng?!" tanya Wayan Tandira.

Manusia Topeng tiba-tiba mendongak ke langit sambil tertawa-tawa, begitu suara tawanya lenyap, maka ia bicara seperti orang yang bersair.

Batu telah terkuak

Sebagian neraka ciptaan manusia terkutuk telah tersingkap

Apa lagi yang dicari manusia dalam hidup ini?

busuk Uuuh...!

Angkara murka berada di ambang mata Cepatlah ke sana!

Sebelum jasad yang mengambang menjadi Jangan salahkan aku Manusia Topeng

Wayan sempat tertegun sekejap disaat melihat ruangan luas yang membentang di balik rongga dinding batu itu. Tidak ada kenyamanan atau keindahan di sekitar ruangan yang seakan tidak berpembatas ini terkecuali keangkeran yang nyata.

"Masuk kataku!" perintah Manusia Topeng, Keraguan di hati Wayan Tandira sirna su-

dah. Ia pun melangkah masuk melalui dinding batu yang hancur. Sampai di sana mereka tidak melihat sesuatu apapun terkecuali ceceran darah membusuk dan suara jeritan-jeritan di sana sini. "Mereka tidak ada di sini!" seru Wayan. "Memang! Tapi aku merasa pasti mereka ti-

dak jauh dari sini!" sahut Manusia Topeng.

"Di mana kita harus mencari, ruangan ini sangat luas sekali." kata Wayan Tandira bingung."Mari ikuti aku!" seru Manusia Topeng. Sekejap kedua orang ini sudah berjalan ke bagian timur ruangan tersebut.

***

Sementara itu Pendekar Blo'on sudah sampai di sebuah tempat yang sungguh mengerikan. Tempat itu tidak ubahnya seperti sebuah neraka penyiksaan yang sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Berbagai bentuk penyiksaan ada di sana. Tempat itu kebanyakan dihuni oleh kaum perempuan.

Berbagai-bagai penderitaan terdapat disana. "Apakah yang terjadi dengan mereka?"

tanya Suro ditujukan pada sosok yang menyerupai dirinya.

"Apa yang terjadi atas diri manusia di sini sesuai dengan ulah dan perbuatan manusia itu sendiri ketika di dunia! Di dunia manusia bisa saja luput dari tuntutan hukum karena punya kuasa dan harta, tapi di sini manusia tidak lebih hanyalah seonggok sampah yang tidak dapat menghindari ketentuan! Ha ha ha! Tunggu apa lagi, ayolah tunggu apa lagi! Kau ikut aku...?"

"Ikut kemana?" tanya Suro. "Ikut terjun ke dalam gejolak api yang menyala-nyala itu aku tidak sudi!" bantah Suro.

"Di sini kau tidak bisa membantah, ayo!!" Sosok yang mirip dengan Suro namun berwajah seram itu menyambar tangan si pemuda. Sekali saja ia bergerak. Maka tangan pendekar Blo'on sudah berada dalam cekalan sosok Suro yang angker tersebut. Pemuda ini berusaha membebaskan diri dengan cara meronta, namun apa yang dilakukannya tidak membawa hasil sedikit pun. Sosok yang menyerupai dirinya itu terus menyeretnya untuk sama-sama masuk ke dalam gejolak api.

"Ini alam yang membingungkan, mengapa diriku hendak dijerumuskan dalam kebinasaan oleh hantu jelek yang menyaru-nyaru seperti aku? Apakah aku sudah gila atau mati sungguhan?" batin Suro bingung.

Walau pun demikian ia tetap bertahan, tetapi ia terus terseret mendekati gejolak api yang menyala-nyala. Suro memang sedang terancam bahaya besar, Akan tetapi pada saat-saat yang menegangkan itu, tiba-tiba terlihat bayangan putih menyambar tangannya yang lain. Suro sempat meneliti siapa yang hendak menolongnya. Dan pemuda jadi kaget....

"Apa-apaan ini? Mengapa ada lagi orang yang menyerupai diriku? Siapakah dia? Mana mungkin Suro bisa mengembar tiga? Mana yang asli?!" desisnya.

Suro menjerit-jerit, dua tangannya dibetot kanan kiri, rasanya mau tanggal dan Pendekar Blo'on untuk pertama kali mengalami penderitaan yang bukan main-main. "Dia belum saatnya mati, mengapa kau hendak menyeretnya ke neraka?" dengus sosok Suro yang baru saja datang. Ujud orang ini lebih tampan, lebih bersih dan wajahnya berseri-seri.

Lalu menyahuti sosok Suro yang bengis. "Aku akan membawanya ke neraka. Dia sudah sampai di Negeri Batas Ajal!"

"Kau busuk, kau ngawur. Dia harus dikembalikan ke jasadnya yang sudah mulai membeku. Aku melihat langit, aku melihat cacatan riwayatnya. Sekarang belum saatnya bagi saudara kita ini meninggalkan dunia fana! Dia harus kembali ke jasad kasarnya." tegas sosok Suro berwajah bersih. "Kau tahu apa?" bentak sosok Suro yang

buruk.

"Aku tahu, saudara kita ini kencingnya saja belum lempang, masih bengkok sedikit dan kadang muncrat ke mana-mana. Di kepalanya banyak kutu, mungkin ketombe. Buktinya dia gorak garuk kepala terus. Kau lihatlah si buruk rupa, saudara kita ini mukanya saja belum betul, masih goblok! Ayo kita kembalikan dia! Lagipula musuh besar orang tuanya belum becus dia membunuhnya!" Suro Blondo ingin rasanya memaki atau tertawa, tapi bagaimana ia bisa tertawa? Lengah saja dia sedikit ia bisa terseret dalam gejolak api yang menyala-nyala.

Sementara tarik menarik pun terus terjadi. Hingga beberapa saat setelahnya sosok Suro berwajah bersih sedikit bercahaya pukulkan tangannya ke arah sosok Suro berwajah jelek. Pegangan sosok bengis itu terlepas, Suro Blondo merasa dirinya seakan dibawa terbang. Melewati tempattempat yang sangat mengerikan itu. Hingga akhirnya tibalah mereka di sebuah tempat yang gelap gulita. Pendekar Mandau Jantan megap-megap.

LIMA

"Di mana kita sekarang?" tanya Pendekar Blo'on. Yang ditanya hanya diam sejenak. Kemudian memperhatikan kegelapan di depannya dengan perasaan cemas. "Kau sekarang berada  di Alam Ambang Ajal dan alam dunia. Aku adalah sisi baik dalam dirimu, sedangkan orang yang hendak menyeretmu ke dalam api tadi adalah sisi buruk dirimu pula. apa yang terjadi pada dirimu adalah akibat ulah Ratu Leak. Kau harus kembali ke dalam jasad kasarmu, karena sekarang belum lagi saatnya bagimu meninggalkan dunia fana. Aku hanya dapat mengantarkan sampai ke sini, untuk mencari selamat. Untuk sementara sebaiknya kau ikuti saja perintah Ratu Leak!"

"Apa, aku harus mengikuti perintah manusia terkutuk itu? Tidakkah kau tahu dia manusia sesat?" tanya Suro pada sosok yang menyerupai dirinya.

"Tidak selamanya, nanti jika Batu Lahat Bakutuk sudah tidak berada di tangannya lagi, mudah-mudahan kau menemukan jalan keluar. Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu adalah kemudahan. Begitu pula setiap persoalan pasti ke jalan keluarnya." "Aku telah kehilangan ilmu kehilangan daya. Aku tidak dapat melakukan sesuatu apapun. Dalam keadaan seperti itu aku tidak dapat melindungi diriku!" ujar Pendekar Blo'on.

"Tuhan adalah tempat yang baik untuk mencari perlindungan. Kukatakan sekali lagi aku hanya dapat mengantarmu di sini! Cepatlah kau kembali ke jasad kasarmu!" perintah sosok Suro.

Si konyol diam membisu. Kemudian ia meninggalkan alam batas ajal tanpa menoleh-noleh lagi.

Sementara itu pada waktu yang sama di depan tubuh Pendekar Blo'on kelihatan sosok tubuh berupa kabut biru tengah menggerak-gerakan tangannya di atas kepala murid Penghulu Siluman Kera Putih. Setiap tangan itu bergerak maka melesat sinar warna warni ke bagian ubun-ubun si pemuda. Itulah inti kekuatan baru yang dimasukkan oleh Ratu Leak ke dalam tubuh Pendekar Blo'on. Kejadian seperti ini berlangsung cukup lama juga. Sampai kemudian terdengar suara sosok cantik berujud kabut tersebut.

"Hi hi hi! Kau sudah sempat melanglang buana rupanya! Selamat kembali ke  rumahmu. Kau telah mendapatkan kekuatan yang baru, kekuatan lain yang datang berkat Batu Lahat Bakutuk. Mulai saat ini kau menjadi budakku!"

Pendekar Blo'on mengerang, secara perlahan ia sadarkan diri. Namun sekarang ia merasa asing pada dirinya sendiri. Pemuda ini gerakkan tangan dan kakinya. Celaka, kaki dan tangannya tidak bertenaga sama sekali. Sekujur tubuhnya terasa lumpuh.

"Apakah yang kurasakan ini akibat pengaruh Cangkir Tengkorak Pelumpuh Akal Pelemah Jiwa?"  batin  si  pemuda.  Suro  ingin  mengucapkan sesuatu pada sosok cantik yang tidak ubahnya seperti bayangan tersebut. Tetapi sekarang untuk menggerakkan mulutnya saja ia sudah tidak sanggup. Lebih aneh lagi secara perlahan akal dan fikirannya melemah. Seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Pendekar Blo'on. Sosok Ratu Leak berucap.

"Esok atau lusa kau tidak akan lagi sanggup mengingat masa lalu. Bahkan mengingat siapa dirimu saja kau tidak sanggup. Hi hi hi!" Sosok Ratu Leak tertawa terkekeh-kekeh.

"Bangsat betul, perempuan ini benar-benar keparat luar dalam!" maki Pendekar Blo'on. Sepanjang itu ia memang hanya dapat memaki meskipun hanya di dalam hati. Ratu Leak terus berputar-putar. Tampaknya ia hendak mengatakan sesuatu. Namun pada waktu yang bersamaan terdengar suara seseorang.

"Manusia Topeng! Lihatlah! Ketua adat, gadis baju putih dan Pendekar bodoh mengapung di udara...! Eeh... apa itu?" teriak Wayan Tandira.

Laki-laki pendek bercelana hitam yang selalu membawa kompeng dan ketapel sakti itu melompat ke hadapan Wayan Tandira.

"Jangan  dekati,  sosok  kabut  yang  mengelilingi pemuda baju biru itu adalah  manusianya yang telah mengutuk seluruh penduduk Sange!" kata Manusia Topeng mengisiki. Wayan Tandira tampak berusaha menahan kemarahannya. Namun keadaan Ketua adat dan pendekar Blo'on terlalu meresahkan hatinya.

"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya si gondrong.

"Yang tua buta dan gadis yang memakai kerudung itu dalam keadaan kelenger berat. Sedangkan pemuda baju biru yang bego tampangnya kelihatannya sudah hampir mati, tapi sekarang sadar lagi. Sayang ia sudah berada dalam pengaruh Ratu Leak. Kita datang terlambat, eeh... menurut pendapatku sebaiknya kita selamatkan pemuda baju biru itu. Sebab dialah yang paling diinginkan oleh Ratu Leak untuk melaksanakan ambisinya."

"Aku ingin merampas Batu Lahat Bakutuk yang jadi sumber malapetaka itu!" dengus Wayan Tandira.

"Hi hi hik...! Selamat datang, sekarang kalian menjadi tamuku. Setiap tamu harus disambut dengan baik! Nah... karena cuma pemuda ini yang kuanggap punya guna. Maka sekarang aku harus membawanya pergi ke tempat yang aman dari jangkauan tangan-tangan usil!"

"Cegah!" teriak Wayan. Tanpa menunggu lebih lama laki-laki gondrong ini melompat. Pada saat itulah sebuah pintu membuka, dari balik pintu muncul sosok bayangan serba hijau. Sambil menyambar Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung Putih, Ratu Leak yang sesungguhnya menjentikkan jari tangannya.

Wuuut!

Selarik sinar biru menyambar Wayan Tandira. Manusia akar mencoba lepaskan pukulan untuk menghalau sinar panas berbau busuk tersebut. Tapi gerakannya kalah cepat. Tahu-tahu sinar biru tersebut sudah menghantam tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini terjadi keanehan. Dari akar-akar yang membalut tubuh si laki-laki memancar dengan sendirinya sinar hitam. Sinar aneh yang keluar dari akar-akar sakti itulah yang akhirnya menahan sinar biru yang melesat dari tangan lawannya.

Terjadi benturan keras, Wayan Tandira sempat terlempar. Ketika Manusia Topeng hendak turun membantu. Ternyata Ratu Leak telah membawa lari Pendekar Blo'on dan Dewi Kerudung Putih.

"Hik hik hik! Hadapilah bayanganku dan pembantu-pembantuku yang masih berada di dalam Liang Lahat Bakutuk ini! Selamat tinggal...!!" terdengar suara Ratu Leak di kejauhan disertai tawa panjang menggema.

Wayan Tandira cepat bangkit berdiri, lalu terdengar suara makian menggeledek. "Bajingan betul, dendam dan rasa sakit hati yang lama saja belum terbalaskan. Kini ia melarikan diri secara pengecut!" maki Wayan Tandira dengan perasaan kesal. Terlintas dalam ingatannya tentang siksaan yang dialaminya selama hampir tiga puluh tahun. Ia pun sekarang menjadi geram, kini sosok bayangan Ratu Leak yang terbentuk dari kabut itulah yang menjadi sasaran.

"Kau manusia pengecut jahanam, meskipun hanya tinggal bayangannya saja aku harus memusnahkanmu biar puas hatiku!" teriak Wayan. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke arah bayangan Ratu Leak. Lalu tinjunya kanan kiri menghantam ke depan. Rupanya Wayan sudah melepaskan pukulan 'Belenggu'. Detik itu juga terlihat sinar putih melesat menghantam sosok Ratu Leak. Ketika pukulan itu menghantam lawannya. Ternyata sinar putih terus menembus tubuh lawan dan kemudian menghantam dinding di belakangnya.

Buuum!

Ledakan keras sempat membuat lantai yang mereka pijak bergetar. Manusia Topeng kerutkan wajah di balik topengnya. Sedangkan sosok Ratu Leak tertawa terbahak-bahak. Wayan Tandira katupkan bibirnya, untuk kedua kalinya ia menerjang. Kali ini kakinya menyapu, lalu tangan lakukan gerakan seperti memeluk. Tampak jelas terjadi keanehan. Dari akar-akaran yang membalut tubuh si gondrong memijar sinar hitam. Sinar-sinar itu melesat ke segala arah. Sosok bayangan keluarkan jeritan kaget lalu menghindar. Akan tetapi sinar yang tampak terpisah-pisah itu sekarang malah saling menyatu di udara. Lalu dengan hebatnya memburu bayangan Ratu Leak seakan ada kekuatan gaib yang menggerakkannya.

"Hiiiikk...!" Wuut!

Wuuesss!

"Sialan! Perempuan keparat! Dia telah menipu kita mentah-mentah, Manusia Topeng!" teriak Wayan Tandira. Karena Manusia Topeng hanya diam saja. Maka melanjutkan. "Yang aku herankan, kau cuma jadi penonton! Manusia macam apa kau...??" dengus si gondrong lagi.

Manusia Topeng gelengkan kepala. Kemudian ia bicara seperti orang yang sedang bersair.

Pikir dalam diam itu adalah seribu kali lebih baik daripada harus bicara sia-sia tidak berguna

Apa guna melayani bayangan? Sedang jasad kasarnya telah pergi.

Banyak orang menjadi marah bila dikatakan dirinya bodoh

Tapi kulihat kau melakukan sesuatu dalam kebodohanmu!

Jika bayangan Ratu Leak lenyap, mengapa kau merisaukannya

Kelicikan hanya bisa dilawan dengan akal sehat dan kepala dingin

Seribu akal hanya dapat dikalahkan dengan seribu cara

Diamku karena memikirkan asal muasal kejadian ini

Mengapa manusia dengan manusia jadi marah? Mengapa umat dengan umat menjadi benci? Bukankah semua ini menarik?

Wayan Tandira langsung terdiam mendengar ucapan Manusia Topeng. Ia berusaha memahami kata-kata yang diucapkan oleh laki-laki bertopeng bocah itu. Tiba-tiba ia merasa seperti ada makna yang tersembunyi dalam setiap ucapan si pendek. "Orang tua, engkau berbahasa tinggi denganku. Aku tidak tahu bagaimana rupamu, sekarang aku hanya berpegang pada petunjukmu untuk menyelamatkan semuanya. Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya si gondrong sedemikian seriusnya.

"Berpegang pada kata-kata manusia bisa celaka! Orang berisi adalah orang yang berbudi. Mengapa harus tergesa-gesa, sementara naluriku mengatakan ada dua maut sedang mengintai!" jawab Manusia Topeng.

Wayan Tandira cepat menoleh dan memperhatikan sekelilingnya dengan cermat. Namun sejauh itu tidak mendengar suara atau gerakan mencurigakan. Dalam pada itulah Manusia Topeng berseru.

"Tinggal lama di dalam Liang Lahat Bakutuk hanya menghabiskan sisa umur dengan percuma. Ratumu sudah melangkah menuju ke alam kebebasan, mengapa kalian masih tetap bertahan disini??"

"Hik hik hik...!" terdengar suara tawa sayupsayup di kejauhan. "Orang tua bertopeng memakai kompeng, kuakui matamu awas sekali. Apa perlumu masuk ke sini, apakah ingin mencari mampus seperti para pendahulumu?!"

"Siapa?" tanya Wayan melalui ilmu mengirimkan suara.

"Menurut pengalamanku dan pengakuan batinku orang tadi masih punya hubungan dekat dengan Ratu Leak. Kurasa ia tidak akan betah ngumpet dan berlama-lama dalam persembunyiannya! Tunggu saja!" jawab Manusia Topeng melalui ilmu mengirimkan suara pula.

Sejenak lamanya kedua laki-laki ini saling berpandangan. Tidak lama menunggu, Wayan melihat sebuah bayangan merah berkelebat. Tahutahu di depan mereka sekarang telah berdiri seorang gadis berpakaian tipis merangsang. Wajah gadis itu cantik menggiurkan. Senyumannya membuat setiap laki-laki yang memandangnya langsung kelepek-kelepek (karena sedemikian cantiknya dan menawan sekali). Gadis itu memperhatikan Manusia Topeng dan Wayan Tandira dengan tatapan memikat tapi meremehkan.

"Atas perintah siapa kalian berani masuk ke sini?" tanya si gadis yang tidak lain adalah Mustika Jajar.

Wayan tidak menyahut, sebaliknya malah berpaling ke arah Manusia Topeng. Seakan ia berharap manusia aneh dan yang tahu berbagai hal agar bicara.

"Wayan Tandira manusia akar! Makhluk cantik yang berdiri di hadapan kita ini bukan lawanku. Kurasa ia sepadan berhadapan denganmu." ujar Manusia Topeng.

"Mengapa harus aku, orang tua?"

"Ya, orang muda berhadapan dengan orang muda. Sedangkan aku sebentar lagi tentu ada tugas baru yang harus kukerjakan!" jawab Manusia Topeng disertai tawa mengikik.

"Mengapa harus satu menghadapi aku. Padahal aku punya keinginan untuk mengirim kalian ke neraka! Hik hik hik...!" dengus si gadis. Jika Wayan Tandira menjadi gusar mendengar ucapan Iblis Betina Dari Neraka, sebaliknya Manusia Topeng tertawa tergelak-gelak. "Kau terlalu serakah, gadis cantik. Wajahmu memang lumayan bagus, kurasa bagian-bagian lain sama bagusnya. Sangat disayangkan, jalan pikiranmu sejahat iblis dan hati nuranimu seburuk wajah setan. Jangan kau terlalu serakah dalam menghadapi musuh! Aku yang hidup dua abad ingin melihat bagaimana kehebatan Manusia Akar setelah mendapat tambahan kesaktian baru!" kata Manusia Topeng, lalu ia menoleh dan berkata ditujukan pada Wayan Tandira. "Hayo tunggu apa lagi anak negeri! Silakan kalian saling berbetot-betotan! Ha ha ha...!"

"Tua bangka keparat!" maki Mustika Jajar sengit. Seraya dengan cepat sekali lepaskan pukulan 'Tusukan Jari Penghantar Maut'.

Wuut!

Sekali gadis itu kibaskan jari tangannya ke arah Manusia Topeng. Sinar hitam membakar melesat ke depan. Manusia Topeng tertawa ganda. Sekejap saja tubuhnya lenyap dari pandangan mata. Maka serangan yang dilancarkan oleh Iblis Betina Dari Neraka tidak mengenai sasarannya. Si gadis terkesiap, ketika memandang ke samping maka terlihatlah olehnya Manusia Topeng telah berdiri bertolak pinggang.

"Jahanam...!"  maki  Mustika.  Ia  hendak  melepaskan pukulan lagi. Namun niatnya itu urung karena dari arah samping melesat sinar hitam. Ternyata Wayan Tandira melepaskan pukulan Belenggu ke arahnya. Jika saja Iblis Betina Dari Neraka tidak cepat melompat mundur sambil berjumplitan, niscaya tubuhnya sudah hangus terhantam pukulan yang dilepaskan oleh lawannya.

"Sudah kukatakan yang muda harus berhadapan dengan yang muda! Mengapa masih serakah juga?" celetuk Manusia Topeng.

"Benar seperti apa yang dikatakan oleh orang tua bertopeng bocah itu. Jika kau memang masih punya hubungan tertentu dengan Ratu Leak. Maka kau termasuk pantas jika mati duluan menggantikannya!"

"Huuup!"

Tanpa menimbulkan suara sedikit pun Mustika Jajar tiba-tiba saja melakukan gerakan berputar.

Tubuhnya melesat ke udara, lalu meluncur ke bawah dengan tinju terkepal menghantam kepala dan dada Wayan Tandira. Terdengar suara angin bersiut disertai menebarnya hawa panas menyengat.

Wayan mengguman tidak jelas dan cepat lindungi kepalanya. Sementara bagian tubuh lainnya dibiarkan terbuka. Dengan demikian tentu saja benturan pun tidak dapat dihindari lagi. Wayan sempat terhuyung-huyung, saat itu juga tanpa pernah diduga-duga oleh lawannya dari akarakaran yang membalut tubuh Wayan begitu terbentur tangan Mustika langsung memancarkan sinar hitam dengan sendirinya.

Chaar...!

"Aih...!" Iblis  Betina Dari  Neraka  langsung memekik ketika melihat sambaran sinar secepat kilat. Beruntung ia masih sempat membanting tubuhnya dengan gerakan yang sulit diikuti kasat mata. Walau pun begitu bagian bahunya masih sempat tersambar sinar berhawa panas itu sehingga selain bajunya robek, kulitnya yang mulus pun melepuh.

"Puih, bangsaaat!!" maki si gadis sambil meludah. Manusia Topeng bertepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak. Wayan Tandira sudah tidak lagi menghiraukan tingkah aneh laki-laki berumur dua ratus tahun ini. Kakinya bergeser, tangan kanan diangkat ke udara, sedangkan tangan kiri berputar dua kali. Sadar akar-akar itu menjadi pelindung sekaligus kesaktian bagi dirinya, maka selain melakukan serangan baru sekarang Wayan khusus melindungi bagian leher sampai kepala yang tidak terlindung akar-akar sakti itu.

Sayang serangan kedua yang hendak dilakukan oleh kepala negeri Sange ini juga didahului oleh Mustika Jajar. Gadis itu lepaskan pukulan 'Neraka Perut Bumi'. Suasana di dalam ruangan luas terasa panas luar biasa. Wayan tidak tinggal diam. Tetapi dengan tenaga sakti yang tersimpan dalam akar-akar yang menyelimuti dirinya itu begitu terasa adanya perubahan udara di sekelilingnya langsung memijarkan cahaya. Bukan hanya pada bagian-bagian tertentu di tubuh Wayan Tandira. Melainkan di seluruh tubuh si gondrong yang terbalut akar-akaran memancarkan cahaya hitam. Hingga sosok Wayan tidak terlihat lagi terselubung sinar hitam tersebut. Tum! Tuum! Tuuum!

Terdengar suara ledakan di sana sini. Duaduanya sama menjerit ketika kedua serangan yang mereka lancarkan bertubrukan di udara. Wayan sempat terjajar, sedangkan Iblis Betina Dari Neraka terguling-guling dengan mulut menyemburkan darah.

"Hmm...!" Manusia Topeng mengguman sambil gelengkan kepala. "Hebat sungguh hebat. 'Neraka Perut Bumi' pastilah pukulan warisan Ratu Leak, tapi akar-akar sakti itu juga sebuah pelindung yang cukup baik! Lho... siapa itu yang datang??" seru si pendek bersenjata Ketapel Sakti dan tidak pernah meninggalkan kompengnya ini sambil pentang mata lebar-lebar. Kedua orang yang sedang terlibat pertempuran ini sama sekali tidak menghiraukannya. Malah kini mereka sudah berdiri kembali dengan posisi siap bertempur matimatian.

ENAM

Kita tinggalkan dulu mereka yang terlibat pertempuran sengit itu. Sementara di depan Manusia Topeng sekarang telah berdiri sesosok tubuh berkulit hitam legam berwajah seperti monyet besar. Di atas kepala makhluk mengerikan ini tumbuh sebuah tanduk dengan panjang kurang lebih dua jengkal dan berwarna merah menyala.

"Ggrrrkh...!"

"Sang Pelucut  Segala  Ilmu  Segala  Daya?!" desis Manusia Topeng. "Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu memusnahkannya! Kalau pun aku mengerahkan segala kesaktian yang aku miliki, tanpa pernah kuketahui di mana titik kelemahannya rasanya apa yang kulakukan hanya sia-sia saja. Satu-satunya cara hanyalah dengan menemui Malaikat Pencatat Asal Usul. Artinya aku dan pemuda itu harus meninggalkan Liang Lahat Bakutuk ini secepatnya!"

"Grook! Grooouukh!"

Makhluk hitam bertaring ini kembali mengeluarkan suara aneh menyeramkan. Dalam pada itulah di tengah-tengah pertempuran yang sengit terdengar suara teriakan Mustika Jajar ditujukan pada   Pelucut   Segala   Ilmu   Segala   Daya.   "Jangan kau biarkan Manusia Topeng itu meloloskan diri begitu saja. Dia musuh Ratu Leak, oleh karenanya kau dan aku punya kewajiban untuk membunuhnya! Kau dengar... membunuhnya...!"

'Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya' yang bang-kit dari perut bumi akibat pengaruh kekuatan Batu Lahat Bakutuk menggeram panjang. Tiba-tiba saja ia menerkam Manusia Topeng. Lakilaki itu sama sekali tidak mencoba menangkis melainkan menghindar dengan salto panjang ke belakang. Serangan makhluk hitam tinggi ini luput. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya semakin bertambah murka. Dalam kemarahannya itu terlihat dengan jelas tanduk yang tumbuh di atas kepalanya semakin bertambah merah membara dan memancarkan cahaya berpedar-pedar.

"Hraa...!" Makhluk hitam itu menerjang kembali. Tangannya menghantam ke bagian pinggang. Manusia Topeng dengan cepat sekali berkelit menghindar. Seraya kemudian lepaskan pukulan menggeledek ke arah lawan. Karena serangan ini sangat cepat maka makhluk hitam tersebut tidak sempat lagi menghindar. Terjadi dentuman keras, sosok mengerikan itu pun jatuh terpelanting. Ia menggeram, secepat kilat bangkit lagi tanpa mengalami cedera apa-apa Manusia Topeng kerutkan keningnya. Lalu ia lepaskan pukulan 'Bintang Terbelah' untuk mengakhiri perlawanan Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Namun pada kesempatan itu pula sebuah keanehan terjadi. Dari tanduk di atas kepala makhluk itu menderu sinar merah yang langsung melesat ke arah Manusia Topeng. Sinar itulah yang kemudian melabrak musnah pukulan 'Bintang Terbelah' yang dilepaskan oleh Manusia Topeng bahkan kelihatannya sinar merah terus menderu menerjang lawan dengan kekuatan berlipat-lipat. Sadarlah orang tua sakti ini bahwa makhluk hitam tersebut bermaksud merampas jiwanya. Orang ini memekik panjang, tubuhnya melesat ke langit-langit ruangan.

"Ketapel Sakti Pembelah Bumi!" desis Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia merenggut lepas ketapel yang bergelantungan di dadanya. Ketapel itu dikibaskan ke belakang sekali, ke samping kanan dan kiri sekali baru kemudian dihantamkannya ke depan dengan tenaga dalam penuh.

Untuk pertama kalinya Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya dibuat kaget bukan kepalang disaat dari dua cabang ketapel tersebut memancar sinar putih laksana mutiara bertaburan. Dua sinar itu menghantam sinar merah yang keluar tiada putus-putusnya dari tanduk makhluk ini.

Buuuuummm!

"Selamatkan dirimu, Wayan Tandira!" teriak Manusia Topeng ketika melihat dari bagian tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sinar merah terus menghantam secara ngawur apa saja yang terdapat di sekelilingnya. Langit-langit ruangan runtuh. Liang Lahat Bakutuk amblas sejauh dan seluas seratus tombak ke kiri, ke samping kanan dan seratus tombak ke bagian-bagian lainnya.

Wayan dan Manusia Topeng tanpa menghiraukan lawan-lawannya terus menerobos longsoran tanah yang menimbun mereka. Apa yang dilakukan oleh Wayan Tandira tidak mungkin mendatangkan hasil karena tanah yang menimbun mereka berlapis-lapis. Jika tidak Manusia Topeng pergunakan Ketapel Sakti Pembelah Bumi untuk menerobos gumpalan-gumpalan tanah yang menghimpit mereka. Dalam pada itu Manusia Topeng tetap mencekal tangan kiri Wayan, sedangkan tangan kanan memegang erat Ketapel itu sambil berputar-putar. Terbentuklah sebuah lubang sebesar badan orang dewasa akibat hantaman teratur ketapel di tangan Manusia Topeng. Begitu mereka sampai di atas Liang Lahat Bakutuk yang runtuh itu, kira-kira sejauh seratus tombak tampak pemandangan lain yang sangat mengagumkan. Wayan Tandira terperangah, sedangkan wajah di balik topeng melongo. Mereka melihat seekor kuda berbulu putih, kuda raksasa yang tingginya menjulang ke langit. Di atas kuda raksasa itu duduk sosok tubuh yang kelihatan sangat kecil. Perbandingan kuda dengan penunggangnya tidak beda dengan seekor lalat yang menempel di atas punggung kerbau. Rasanya seumur hidup Manusia Topeng takkan pernah dan belum pernah melihat kuda sebesar dan setinggi itu.

"Aku Datuk Nan Gadang Paluih! Kalian berdua cepatlah kemari! Putih Kaki Langit kuda gaibku ini siap membawa kalian menjauhi Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya! Kita harus mengejar Ratu Leak!" Ternyata yang duduk di atas  kuda yang dapat berubah meninggi sesuai dengan namanya itu tidak lain adalah Datuk Nan Gadang Paluih.

"Mereka tertimbun longsoran tanah! Mustahil dapat keluar!" sahut Wayan Tandira penuh rasa percaya diri.

Manusia Topeng yang berada di sebelahnya bicara  lugas.  "Jangan  bodoh!  Gadis  yang  menyerangmu itu bisa saja mampus, tetapi Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya mana mungkin binasa, ia bangkit dari dalam perut bumi, tentu membebaskan diri dari timbunan tanah merupakan pekerjaan yang sangat mudah sekali!"

Wayan kelihatan ragu-ragu, dalam pada itu pula terdengar suara menggemuruh tidak jauh di belakang mereka. Serentak mereka menoleh.

"Heh... benar kataku! Lihat dia keluar dari tanah dengan membawa gadis mesum itu! Lari... lari kataku...!!" teriak Manusia Topeng. Jika lakilaki pendek berumur dua abad dan punya berbagai macam kesaktian dan punya penglihatan batin yang tajam ini saja tidak mau menghadapi sosok hitam itu, apalagi dirinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Wayan ikut berlari mendapatkan kuda yang menunggu mereka di tepi Liang Lahat Bakutuk yang telah runtuh.

"Kita kejar mereka, sahabatku!" teriak Mustika Jajar ketika melihat kedua lawannya berusaha melarikan diri. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya dengan langkah lebar-lebar ikut melakukan pengejaran. Jarak mereka tidak bertaut jauh. Datuk Nan Gadang Paluih segera mengibaskan Angkin Pelebur Petaka. Angkin berubah memanjang.

"Naik kalian melalui angkin ini!" teriak lakilaki berpakaian putih selempang putih ini. Tidak lama setelah Wayan dan Manusia Topeng bergelantungan di atas angkin, Datuk Nan Gadang Paluih segera menyentakkan angkin tersebut ke atas. Dua sosok tubuh tampak melayang di udara, dari arah bawah terdengar suara menggeram disertai meluncurnya dua larik sinar merah ke arah Wayan dan Manusia Topeng. Kuda Putih Kaki Langit meringkik keras sambil melompat menghindar. Sekali kuda gaib ini mengayunkan langkahnya, maka ratusan batang tombak jarak terlewati.

Dengan demikian praktis serangan yang dilakukan oleh Sang Pelucut Segala  Ilmu  Segala Daya tidak mengenai sasaran. Datuk Nan Gadang Paluih mengarahkan kudanya ke arah selatan. Lalu bagaimana tokoh dari Andalas ini tiba-tiba saja sudah berada di atas kuda tunggangannya kembali? Untuk diketahui, ketika berada di dalam Liang Lahat Bakutuk, Datuk Nan Gadang Paluih tidak berhasil menemukan Suro maupun Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora. Ia malah tersesat ke tempat-tempat penyiksaan. Setelah cukup lama melewati ruangan-ruangan yang tidak ubahnya seperti neraka buatan itu.  Tiba-tiba  Datuk Nan Gadang Paluih mendengar suara Putih Kaki Langit sebagai isyarat bahwa binatang tunggangan yang berasal dari alam gaib itu melihat sesuatu. Maka laki-laki berambut putih ini pun keluar kembali dari Liang Lahat Bakutuk. Saat itu ia melihat sosok bayangan berlari kencang dengan memanggul seorang pemuda berbaju  biru.  Datuk Nan Gadang Paluih memerintahkan kudanya untuk memperbesar ujudnya agar mudah melakukan pengejaran. Datuk ini rupanya menduga orang yang melarikan diri itu tidak lain adalah  Ratu Leak. Sayang sebelum ia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba saja ia mendengar suara bergemuruh disertai dentuman-dentuman. Tanah di sekitar mulut Liang Lahat tiba-tiba runtuh. Sadarlah orang ini kemungkinan apa yang terjadi di bawah sana. Sehingga ia pun menunggu untuk memastikan apa yang terjadi di bawah sana. Sehingga ia pun menunggu untuk memastikan apa yang terjadi. Ternyata yang muncul pertama adalah Manusia Topeng dan Wayan Tandira.

Pada waktu itu kuda terus berlari menjauhi Liang Lahat Bakutuk yang sudah porak peranda. Wayan Tandira yang takut pada ketinggian tidak pernah melepaskan pegangannya dari bulu-bulu kuda yang dicengkeramnya. Dalam kesempatan itu pula Manusia Topeng yang duduk di samping Datuk Nan Gadang Paluih bertanya.

"Tinggi kudamu menjulang ke langit. Bagaimana kau bisa memiliki kuda seaneh ini?"

Datuk Nan Gadang Paluih memandang ke depan dengan tatapan mata liar mencari-cari. "Bertanya tentang asal usul kuda tidaklah penting untuk saat ini. Yang merisaukan aku Ratu Leak pergi meninggalkan Liang Lahat Bakutuk dengan membawa Batu sakti dan juga Pendekar dari tanah Jawa. Aku juga melihat ia membawa Dewi Kerudung Putih. Aku risau, dengan batu di tangannya, ia akan berbuat sesuatu yang sangat keji pada Pendekar Bodoh dan gadis itu!"

"Oh, celaka! Kalau begitu ketua adat, Si Buta Mata Kejora yang tidak sadarkan diri itu sekarang tertimbun tanah Liang Lahat Bakutuk yang runtuh. Mengapa aku sampai tidak ingat dengan nasibnya?" keluh Wayan Tandira seakan menyesalkan.

"Kau sendiri hampir mampus! Bagaimana aku bisa menolong dua orang sekaligus??" gerutu Manusia Topeng.

"Hmm, sekarang yang menjadi persoalan bukan hanya nasib Pendekar Bodoh dan gadis berkerudung itu. Ratu Leak kurasa memiliki ambisi tertentu, selain itu mengingat Batu Lahat Bakutuk masih berada di tangannya. Kita tidak mungkin mampu mengusiknya. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya juga merupakan ancaman tersendiri bagi kita. Semua kesaktian yang kita miliki bisa terkuras habis bila ia sudah turun tangan. Kita harus tahu bagaimana caranya memusnahkan makhluk hitam itu!" Datuk Nan Gadang Paluih menimpali.

Manusia Topeng tengadahkan wajahnya ke langit. Lalu terdengar suara tawa cekikikan di balik topengnya. Begitu suara tawa lenyap. Ia bicara dalam kalimat-kalimat panjang seperti orang yang melantunkan tembang di padang duka yang sunyi.

Waktu terus bergulir

Ada muara pasti karena malu Adakah kehidupan pernah terputus??

Aku adalah aku, bukan kau, kamu atau nenekku Sekarang ada simpang dua jalan Aku bingung tentukan arah Duhai sahabat....

Masihkah jantungmu berdenyut?

Masihkah dadamu menyegarkan durahmu? Malaikat Pencatat yang berada di antara angin-angin

Dalam lubang angin, dalam botol, dalam perut dalam nafas dan dalam segala yang hidup dan mati

Datanglah, jangan kau tahan-tahan daripada panas dingin

Nanti jika kau tidak suka akan kupulangin! Malaikat Pencatat,....

Segala sejarah masa lalu Aku memerlukanmu! Datang...!

Datang bersama angin!

Aku Manusia Topeng memanggilmu!

Wayan Tandira memandang Manusia Topeng dengan perasaan tidak mengerti dan benak dipenuhi tanda tanya.

"Orang gila ini sesungguhnya bicara dengan siapa?" batinnya. Sebaliknya Datuk Nan Gadang Paluih merasakan adanya sesuatu yang aneh, sehingga secara tiba-tiba ia menarik kekang kendali kuda. Gerakan mendadak ini membuat Wayan dan Manusia Topeng hampir terpelanting.

"Ha ha ha! Kuda gaib ini tingginya seperti hendak menggapai langit. Jika kita sampai jatuh, paling tidak mampus dan jadi arwah gentayangan sungguh.,.!" celetuknya.

Wayan tidak lagi sempat menanggapi, karena detik itu juga terdengar suara angin menderuderu. Pohon-pohon batu di sekeliling mereka bertumbangan bahkan ada yang tercabut sampai ke akar-akarnya.

"Ada apakah ini?" tanya Wayan Tandira sambil berpegangan erat pada bagian bulu Si Putih Kaki Langit. Sementara deru angin semakin lama semakin bertambah keras.

"Kau lihatlah ke arah depan sana!" seru Datuk Nan Gadang Paluih sambil menunjuk ke arah depan dengan tatapan terkagum-kagum. Saat Wayan Tandira melihat ke arah yang dimaksud, ia menyaksikan bayangan kuning berputar-putar seperti gasing. Bayangan itu datang bersama pusaran angin yang memporak perondakan apa saja yang dilaluinya.

"Dia datang...! Ha ha-ha! Ternyata ia masih ada, padahal sudah hampir tujuh puluh  tahun kami tidak bertemu!" desis Manusia Topeng. Selanjutnya ia berteriak dengan suara keras ditujukan pada sosok serba kuning yang datang bersama pusaran angin tersebut.. "Selamat datang sahabat lama! Tapi hentikanlah kegilaanmu itu! Lama kita tidak berjumpa, ternyata kau semakin bertambah gila! Ha ha ha...!"

Pusaran angin yang menderu-deru bahkan sempat membuat goyah Si Putih Kaki Langit mulai mereda berangsur-angsur. Bukan hanya Wayan Tandira saja yang kagum melihat kehebatan yang dimiliki oleh Manusia Topeng. Tetapi tokoh Andalas yang juga pernah mendengar tentang siapa adanya Malaikat Pencatat sampai terperangah. Dulu sekali ia memang pernah mendengar adanya seorang tokoh aneh yang hidup di antara angin yang punya kebiasaan mencatat segala sesuatu yang terjadi di rimba persilatan. Ia terkadang muncul tanpa sepengetahuan orang lain di tengahtengah badai yang menggila atau pun diantara topan yang sedang mengamuk melanda suatu daerah. Ia dapat datang dan pergi tanpa disangkasangka gerakannya secepat angin. Itu sebabnya ia dijuluki Malaikat Pencatat oleh kalangan persilatan dimasa itu. Meskipun ilmunya tinggi sulit dijajaki, konon tokoh yang satu ini tidak pernah berkelahi. Kemana pun ia pergi selalu membawa kulit untuk mencatat. Kabarnya pula sepuluh orang kuat sekalipun tidak mungkin sanggup memikul kitab-kitab catatannya yang ia buat selama adanya rimba persilatan.

Kini angin benar-benar mereda, di depan ketiga orang yang berada di atas punggung Si Putih Kaki Langit telah berdiri seorang laki-laki berpakaian kuning keemasan dan gemerlap. Melihat raut wajahnya paling ia baru berumur sekitar tiga puluh tahunan. Padahal umur yang sebenarnya tidak kurang dari tiga ratus lima puluh tahun atau bahkan lebih.

"Sahabatku kecil! Kau memanggilku? Adakah sesuatu yang merisaukan hatimu?" tanya lakilaki berpakaian kuning gemerlap ini tanpa senyum "Bingung... aku bingung, orang-orang bin-

gung. Tidakkah kau lihat apa yang ada di dalam hati dari kepalaku?" tanya Manusia Topeng. Lakilaki ini lalu menjura hormat. Wayan dan  Datuk Nan Gadang Paluih mengikuti. Malaikat Pencatat anggukkan kepala atas penghormatan mereka.

"Kalian duduk di atas punggung binatang kehormatan alam gaib. Yang aku tahu wahai sahabat kecil! Dalam kepalamu terdapat akal, di dalam hatimu terdapat nafsu dan nurani yang suci. Lalu catatan yang mana yang ingin kau lihat dan tanyakan wahai sahabat kecil?" tanya Malaikat Pencatat.

"Aku sudah tua, pikiranku mulai luntur mendekati pikun. Gigiku berpamitan  satu-satu, apa yang aku miliki mulai permisi, penglihatan berkurang, mata lamur. Tidak ada yang bertambah terkecuali uban di kepala, orang tua sepertiku rata-rata besar merajuknya (ambeknya). Malaikat Pencatat, kurasa dalam catatannya ada tertulis tentang Sange tanah kutukan. Sudah tiga puluh tahun yang lalu. Apakah kau tahu sebab apa manusia seperti Ratu Leak menjadi marah dan mengumbar angkara murka membabi buta?" tanya Manusia Topeng.

Malaikat Pencatat terdiam. Ia turunkan buntalan besar yang selalu dibawanya dimana pun dia pergi. Buntalan itu berukuran sangat besar, tiga kali lebih besar dari ukuran dan besar badan pemiliknya.

"Sebelum aku bicara dan membacakan apa yang ada dalam catatanku, aku meminta pada orang yang bergelar Datuk Nan Gadang Paluih sudi kiranya membuat Putih Kaki Langit sebesar dan setinggi kuda biasa!!" ujar Malaikat Pencatat setengah memerintah.

Datuk Nan Gadang Paluih sempat kaget juga karena tidak menyangka bahwa Malaikat Pencatat mengetahui siapa dirinya dan tahu pula siapa Si Putih Kaki Langit.

Kalau pun begitu ia cepat mengusap tengkuk dan telinga Putih Kaki Langit, sehingga hanya dalam waktu sekedipan mata saja kuda alam gaib itu berubah memendek dan mengecil sehingga besarnya seukuran kuda biasa pada umumnya.

TUJUH Manusia Topeng melompat turun dari atas punggung kuda. Ia memandang ke arah Malaikat Pencatat dengan perasaan tidak sabar.

"Sebelum aku mengatakan apa yang aku tulis dalam kitab kulit ini. Harap kalian semua pusatkan perhatian dan pasang telinga baik-baik!" pinta laki-laki berpakaian kuning keemasan itu tanpa senyum. Ketiga laki-laki di sekelilingnya anggukan kepala tanpa kata. Malaikat Pencatat kemudian membolak balik halaman kulit yang sangat tebal dan tentu saja sangat berat tersebut. Laki-laki itu kemudian memulai. "Menurut catatanku, yang namanya Ratu Leak itu adalah gelar setelah dua puluh tahun belakangan. Aku akan membuka catatan lain setelah halaman ini!" ujar Malaikat Pencatat. Kitab catatan pertama ditutupnya. Kemudian ia mengambil sebuah kitab lain yang sudah butut dan sedikit ada jamurnya. "Ratu Leak menurut catatan yang benar mempunyai sepuluh nama dan julukan samaran. Ia terlahir dengan nama Pamungkur Walikandi sekitar enam puluh tahun yang silam. Ayahnya bernama Menggolo Tirto Joyo Negoro Caplok Nogo Ora Opo! Hilang dalam badai laut Utara. Ibunya Srikanti Waratiri, meninggal terserang penyakit kotor. Ia adalah murid seorang tokoh sesat di daerah Muara Randu Condong. Ilmu serta jurus-jurus silatnya cukup hebat. Sayang hatinya culas dan sangat kejam. Di waktu muda ia pernah jatuh cinta dengan seorang laki-laki dari gunung Mahameru bernama Barata Surya. Ia begitu tergila-gila sampai-sampai ia bersedia meninggalkan kesesatan dan berani durhaka pada gurunya sendiri. Persoalannya kemudian menjadi tidak jelas. Ketika Pamungkur Walikan ini siap menjadi isteri tokoh dari gunung Mahameru itu. Pihak laki-laki yaitu Barata Surya membatalkan perkawinan, hingga terjadilah pertempuran sengit. Dalam pertempuran itu ternyata Pamungkur Walikandi kalah. Ia melarikan diri dengan membawa rasa putus asa dan malu yang mendalam. Dalam keputusasaannya itu ia tidak berani kembali pada gurunya. Pamungkur Walikandi bertemu dengan seorang pemuda lain bernama Dewana. Pemuda baik hati ini menasehatinya agar jangan mengambil jalan pintas. Nasehat-nasehat yang diberikan oleh Dewana diartikan oleh Pamungkur Walikandi sebagai isyarat bahwa pemuda itu menyukainya. Lebih kurang enam purnama tinggal berdampingan dengan Dewana, suatu hari Pamungkur Walikandi berterus terang pada Dewana bahwa dirinya jatuh cinta pada pemuda itu. Malangnya ternyata secara halus Dewana menolak pernyataan Pamungkur Walikandi. Gadis ini semakin bertambah sakit hati? Ingin melawan atau mengajak Dewana bertarung, jelas kepandaiannya kalah jauh. Ia kembali melarikan diri ke tanah Andalas setelah gagal meracuni Dewana. Ia melanglang buana di tanah Andalas mencari ilmu kesaktian untuk membalas dendam. Sampai  kemudian ia mendengarkan tentang sebuah batu mukjizat yang diberi nama Batu Lahat Bakutuk. Ia mencaricari ke sana ke mari siapa gerangan pemilik batu sakti tersebut. Hingga kemudian ia merasa pasti pemilik batu itu tinggal di Ngarai Sianok. Pada suatu kesempatan ketika pemiliknya lengah ia pun mencurinya. Dari sana ia melarikan diri ke Sange ini, hingga terjadilah apa yang telah kalian saksikan!" jelas Malaikat Pencatat.

Datuk Nan Gadang Paluih maju selangkah. "Akulah pemilik Batu Lahat Bakutuk, batu tersebut warisan dari kakekku Engku Raja Alam Nan Bana.!" kata laki-laki berbaju putih selempang putih mengakui.

"Jika  pernyataanmu  benar,  berarti  kedatanganmu ke sini adalah untuk mengambil kembali Batu Lahat Bakutuk itu." Malaikat Pencatat menanggapi. "Sayang menurut catatanku persoalannya tidak semudah itu. Batu Lahat Bakutuk  bukan saja hanya sekedar batu sakti yang mengandung berbagai kegaiban. Ia juga hanya dengan ucapan-ucapan tertentu dapat membangkitkan beberapa benda hidup dan membuat benda-benda yang hidup menjadi patung. Jadi kekuatan yang membuat penduduk Sange ini menjadi patung batu bukan semata-mata karena Ratu Leak, melainkan Batu Lahat Bakutuk ikut berperan"

"Sahabatku! Kukira catatanmu tidak meleset, satu hal yang perlu aku ketahui. Apakah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tidak dapat dibunuh? Kalau pun dapat di manakah terletak titik kelemahannya?" tanya Manusia Topeng.

Untuk pertama kalinya Malaikat Pencatat tersenyum. Senyum samar jika mata yang tidak awas bisa menafsirkan bahwa laki-laki berpakaian serba kuning ini sedang menderita sakit mejan. "Sahabat kecil! Kau memiliki ilmu serta kesaktian segudang, terkadang aku sesalkan jalan pikiranmu terlalu tumpul mendekati bodoh. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tidak mungkin dapat dibunuh oleh siapapun. Makhluk itu berasal dari dalam perut bumi. Kebangkitannya karena Batu Lahat Bakutuk itu juga...!" jelas Malaikat Pencatat. Sayang Manusia Topeng merasa kurang puas mendengar penjelasan sahabatnya.

"Kurasa apa yang kau katakan barusan terlalu ngawur dan melenceng dari catatanmu. Menurutku sesakti apa pun manusia di jagat ini pasti punya kelemahan. Adalah sesuatu yang mustahil jika Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sang makhluk jelek itu tidak punya kelemahan. Hayo buka lagi catatanmu atau kau hanya mencatat asal usul makhluk itu tanpa mengetahui kesaktian dan kelemahannya!" ejek Manusia Topeng seperti anak kecil yang sedang meledek temannya. Malaikat Pencatat sama sekali tidak menanggapi, ia membolak balik halaman kulit setebal dua jengkal di tangannya.

"Hmm, disini, sesuai dengan catatanku. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya selalu memusnahkan kesaktian dan tenaga  dalam  orang lain itu punya titik kelemahan pada tanduk di kepalanya. Tanduk yang memancarkan sinar merah itulah yang merupakan kehidupan baginya dan tanduk itu pula yang menjadi kehancuran orang lain!" jelas Malaikat Pencatat.

Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira tercengang mendengar penjelasan laki-laki berpakaian kuning keemasan tersebut. Sebaliknya Manusia Topeng tertawa terpingkal-pingkal sambil pegangi perutnya.

"Sahabat kecil, adakah yang kau anggap lucu dengan apa yang aku baca ini?" Pertanyaan Malaikat Pencatat membuat Manusia Topeng hentikan tawa dan tutup mulut topengnya.

"Aku tertawa karena gembira, aku seperti baru habis mimpi kejatuhan bintang kejatuhan bulan, kemudian kejatuhan durian!"

"Dan engkau langsung mampus, Manusia Topeng!" celetuk laki-laki berpakaian serba kuning. "Bukan itu maksudku! Aku senang karena

biar bagaimana pun sebelum main-main dengan Ratu Leak, Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya harus kumati'in dulu! Aku benci melihat makhluk itu. Tatapan matanya sama sekali tidak bersahabat!" dengus Manusia Topeng.

"Satu hal jangan kau lupa, jika kau patahkan tanduk di kepala makhluk itu jangan kau buang, karena sahabatmu seperti Pendekar Blo'on, Dewi Kerudung Putih dan Si Buta Mata Kejora jika masih hidup memerlukan benda itu!"

"Apakah Pendekar Bodoh itu ingin punya tanduk juga? Ha ha ha...! Padahal tanduknya yang di bawah pun belum pernah digunakan!" sahut Manusia Topeng seenaknya. Wayan dan  Datuk Nan Gadang Paluih terpaksa menahan senyum.

"Bukan itu maksudku, nanti kalian semua yang berada di sini akan tahu juga. Sekarang tidak usah membuang-buang waktu! Jika boleh aku memberi saran, Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira cepat kejar Ratu Leak! Sedangkan Manusia Topeng tunggulah di sini, kurasa tidak lama lagi Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya sudah menyusul...!"

"Engkau sendiri hendak ke mana? Bukankah lebih baik bersama-sama denganku  disini? Kau bisa melihat tontonan gratis, lagipula rasa rinduku padamu belum hilang!" berkata Manusia Topeng disertai tawa.

Malaikat Pencatat gelengkan kepala.

"Tidak! Aku harus pergi, tugasku di dunia ini masih sangat banyak sekali! Selamat tinggal." jawab laki-laki berpakaian serba kuning itu. Seraya tengadahkan wajahnya ke langit, bibir orang ini berkemik-kemik. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan, angin seketika itu juga menderu-deru. Malaikat Pencatat hanya dalam waktu sekejap saja telah lenyap dari pandangan mereka yang berada di tempat itu.

"Sekarang segalanya sudah menjadi jelas. Kepada saudara Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira, sebaiknya lakukanlah apa yang disarankan oleh Malaikat Pencatat." ujar Manusia Topeng lirih.

"Ratu Leak menjadi urusanku, aku merasa pasti Batu Lahat Bakutuk segera kembali ke tangan pemiliknya!" dengus Datuk Nan Gadang Paluih. "Wayan Tandira kalau kau mau ikut denganku, sebaiknya naik ke punggung Si Putih Kaki Langit! Kita harus melakukan pengejaran sebelum Ratu Leak jauh dari sini!"

"Merupakan suatu  kehormatan  jika  Datuk memperkenankan aku ikut serta. Terima  kasih atas segala perhatianmu!" kata Wayan Tandira. Kepala negeri Sange itu selanjutnya membonceng di belakang Datuk Nan Gadang Paluih. Sekejap terdengar suara ringkik Putih Kaki Langit yang begitu panjang. Selanjutnya kuda itu berlari kencang meninggalkan Manusia Topeng.

"Kuda bagus! Ada-ada saja keanehan di dunia ini!" celetuk Manusia Topeng sambil tertawa tergelak-gelak.

***

Ratu Leak saat itu sudah sampai di ujung Sange. Ia tidak langsung memasuki Pura di depannya, melainkan jalan berkeliling di sekitar tempat itu. Sementara dua sosok tubuh yang dipanggul di atas bahunya masih juga belum diturunkan. "Disinilah sejarah akan dimulai. Aku pernah mendengar kelahiran bocah ajaib ini. Siapa yang tidak senang jika ternyata gurunya adalah para musuh besarku! Sekarang akan kulihat apa yang dapat dilakukan oleh Barata Surya dan Dewana jika harus berhadapan dengan murid sendiri." Ratu Leak menoleh ke arah Dewi Kerudung Putih yang di pondong di bahu kiri. "Sedangkan gadis cantik ini! Rasanya sangat mubazir jika aku tidak me-

manfaatkannya!"

Perempuan cantik berpakaian serba hijau ini kemudian memasuki Pura. Ternyata di dalam Pura tersebut jauh sebelumnya Ratu Leak sudah mempersiapkan sebuah altar besar. Di sanalah dua sosok tubuh yang dalam keadaan pingsan dibaringkan. Ratu Leak berputar-putar mengelilingi pemuda baju biru. Tiba-tiba saja ia memijit beberapa bagian di tubuh Pendekar Blo'on. Pemuda berambut kemerahan mengeluh. Matanya yang mulai terbuka berkedap-kedip. Tatapan mata itu begitu hampanya seakan tidak memiliki semangat dan gairah hidup sama sekali.

"Wahai bodoh! Dapatkah kau ingat siapa dirimu?" tanya Ratu Leak ditujukan pada pemuda yang tengah terbaring di atas batu putih di depannya. Pendekar Blo'on menggeleng.

"Tahukah kau siapa namamu?" Suro kembali gelengkan kepala.

"Lalu apakah kau tahu siapa aku?" tanya Ratu Leak. Dalam kesempatan itu pula pada bagian tompel yang terdapat di punggung Pendekar Mandau Jantan ini terasa panas. Seakan ada sebuah kekuatan gaib yang tengah berusaha memberi kesadaran pada si pemuda. Namun pada bagian lain tubuh pemuda ini seperti ada kekuatan yang menekannya.

"Kau adalah orang dimana aku harus bersikap patuh!" jawab Suro.

"Hik hik hik! Bagus sekali. Dirimu  telah kuisi dengan kekuatan baru dariku. Bahkan batu ini ikut memberi kesaktian padamu. Senjatamu sengaja tidak kuambil, karena aku berharap dengan senjata itu pula kau membunuh kedua gurumu! Apakah kau sudah mengerti?"

"Aku sudah mengerti!"

"Tahukah kau siapa Barata Surya dan Dewana itu?" tanya Ratu Leak seakan ingin memastikan.

"Aku tidak tahu!" sahut Pendekar Blo'on. Bibir perempuan berumur enam puluhan namun tetap awet muda itu tersenyum.

"Merekalah musuh besarku! Kau harus membunuhnya, kau harus mem-bu-nuh-nya! Sudahkah kau tahu apa yang menjadi tugasmu sekarang?"

"Aku sudah tahu!" jawab Suro Blondo lagi. "Sekarang berdirilah, kau harus melaksa-

nakan tugasmu!" perintah Ratu Leak. Setiap kata yang diucapkannya mengandung pengaruh gaib hingga membuat Suro Blondo berubah seperti orang linglung berat. Ratu Leak kemudian mengeluarkan sebuah kantung berwarna hitam, perempuan itu mengusap-usap kantung tersebut  tiga kali. Dari dalam kantung memancar sinar putih yang langsung memancar ke bagian kening Suro. Si pemuda kedip-kedipkan matanya. Ratu Leak melanjutkan. "Nah sekarang kesaktian yang kau miliki semakin bertambah-tambah! Kewajibanmu adalah membunuh Barata Surya dan Dewana! Bunuh mereka, bunuh, bunuh...!"

Lagi-lagi Suro anggukkan kepala. Dengan gerakan yang kaku ia memutar langkah. Sampai di pintu Pura, tanpa menoleh-noleh lagi Pendekar Blo'on berlari kencang meninggalkan Sange.

Sepeninggal Suro, Ratu Leak tersenyum puas melihat apa yang telah dicapainya. Ia merasa yakin kedua musuh besar yang sangat dibencinya itu tidak mungkin dapat meloloskan diri dari kematian. Sementara menunggu kabar kembalinya Suro, Pendekar yang telah berhasil diperalatnya. Ia berpikir mengapa tidak memanfaatkan waktu luang untuk bersenang-senang? Maka tanpa menunggu lebih lama lagi ia memanggul Dewi Kerudung Putih. Sebentar saja ia sudah memasuki bangunan lain di bagian dalam Pura. Tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh Ratu Leak terhadap gadis yang selalu hilir mudik di pantai Laut Selatan tersebut.

***

Gunung Mahameru selayang pandang terasa sunyi seakan tidak berpenghuni. Padahal bagian puncak bukit itu di sebelah selatan tinggal seorang tokoh sakti mempunyai watak anginanginan dan konyol sekali. Di situ pula kera-kera siluman berdiam selama berpuluh-puluh tahun tanpa ada tangan usil yang mengusiknya. Di sana pada bagian puncak yang datar terdapat sebuah bangunan kecil mungil yang bagian dindingnya terbuat dari kayu jati tua. Dalam keadaankeadaan tertentu bangunan ini sama sekali tidak. dapat dilihat oleh orang lain. Pada salah satu kamar dalam bangunan tersebut. Terlihat sosok tubuh dalam keadaan duduk bersila. Ia tidak ubahnya seperti patung, berpakaian serba putih, berambut, bercambang serta berjenggot putih. Entah berapa lama ia dalam keadaan bersemedi seperti itu, tidak seorang pun yang tahu. Di pagi yang sunyi itu angin dingin bercampur kabut menderuderu. Si kakek sama sekali tidak terusik oleh pengaruh udara di sekitarnya.

Namun entah mengapa tiba-tiba sosok tua itu tersentak. Matanya terbuka lebar, wajahnya pucat seakan melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Bibir yang tertutup kumis itu mengguman berulang-ulang. Sayang kata-katanya tidak begitu jelas. Tiba-tiba kakek tua yang selalu  tersenyum ini kehilangan senyumnya. Sekujur tubuh dibasahi keringat dingin sebesar-besar kacang ijo.

"Aku tidak bermimpi, tidak mengigau tidak pula berkhayal. Aku melihatnya, aku melihat bocah edan itu. Tetapi...!" Si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih Barata Surya kerut-kerutkan keningnya. "Mengapa dia berubah seperti gembel goblok, mengapa ia sedungu domba tua yang pikun?" desis Barata Surya.

Kakek ini mondar-mandir di dalam ruangan yang tidak seberapa luas itu. Lalu ia duduk di atas dipan kayu dengan sandaran berbentuk monyet putih.

"Dia benar-benar seperti orang linglung, aku melihatnya di sebuah tempat berbatu, jauh  dan ada air luas yang memisahkannya. Bocah geblek itu sekarang sedang susah, siapa yang membuatnya susah. Jalannya loyo, tatapan matanya beringas seganas setan! Oh apa yang harus aku lakukan?" Barata Surya sang guru yang mempunyai watak angin-anginan tepuk-tepuk keningnya. Tingkahnya hampir tidak berbeda dengan muridnya yang gendeng.

Penghulu Siluman  Kera  Putih  melangkah keluar meninggalkan ruangan semedi yang selalu dipergunakannya selama ini. Pintu depan dibuka, udara dingin menerpa wajahnya. Namun Barata Surya yang sedang gundah gulana ini sama sekali tidak menghiraukannya. Di depan pintu ia melihat puluhan ekor kera putih berjalan mondar-mandir seperti orang yang sedang mengucapkan selamat pagi pada tuannya.

"Nguk! Nyiet, nyiet...!"

Monyet-monyet siluman itu menjadi ribut begitu melihat majikannya. Barata Surya menjadi sewot.

"Kunyuk-kunyuk yang nakal dan sialan! Minggat kalian dari hadapanku! Apakah kalian tidak tahu hati dan pikiranku sedang bingung??" hardik Barata Surya sambil menutupkan pintu kembali. Pintu baru tertutup, tapi mendadak saja terbuka kembali seakan ada orang yang mendorongnya. "Kunyuk yang nakal, tidak bosannya kalian menggangguku! Atau kalian ingin aku memasukkan kalian ke dalam kawah Mahameru biar pada mampus semua!" teriak si kakek, seraya tibatiba saja memutar langkah. Tapi alangkah terkejutnya kakek konyol ini begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

DELAPAN Untuk sekian saat lamanya Penghulu Siluman Kera Putih tertegak di tempatnya dengan bibir terkatup rapat tanpa mampu bicara apa-apa. Orang di depan pintu maju selangkah, sungguh tatapan mata kakek berpakaian serba merah berambut merah itu kurang sedap dipandang mata.

"Barata Surya, ada tamu datang mengapa tidak kau suruh masuk. Tuan rumah macam apa kau ini?" Kakek berambut merah berwajah angker membentak marah. Yang dibentak malah menghaturkan hormat. Seakan orang tua yang berdiri di hadapannya itu adalah orang yang paling diseganinya.

"Malaikat Berambut Api, maafkan aku yang salah kata dan salah memaki tadi. Silahkan masuk... silahkan...! Selamat datang di rumahku yang jelek dan butut." Kata Barata Surya. Malaikat Berambut Api tidak menyahut, namun ia mengikuti kakek di depannya.

"Duduklah...!" ujar Malaikat Berambut Api mempersilahkan tuan rumah. Dengan patuh Barata Surya mengikuti apa yang diperintahkan padanya.

"Angin apa yang membuat sampean (anda) datang ke sini, saudara Dewana?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih.

Malaikat Berambut Api terdiam sejenak lamanya. Orang yang satu ini memang sangat jarang sekali bicara, tetapi kali ini tampaknya ia membawa persoalan yang sangat serius.

"Anginnya puting beliung atau mungkin lebih parah dari apa yang kau sebutkan itu, malah. Barata Surya, sudahkah kau lihat bagaimana buruknya nasib dan keadaan murid kita?" ucap Malaikat Berambut Api dengan suara serak dan berat. Diam-diam Penghulu Siluman Kera Putih terkejut juga karena tidak menyangka bahwa kakek berambut merah tersebut telah mendapat fira-

sat pula tentang si konyol Suro Blondo?

"Aku sudah mengetahuinya. Kurasa murid kita sekarang sedang dalam keadaan susah. Atau lebih parah dari itu. Aku melihat dia bukan dirinya. Kurasa ada yang berkepandaian tinggi telah berhasil memperdayanya. Ia seperti orang linglung...!"

"Jangan    bicara    sembarangan.    Bagaimana pun kita harus menolong bocah gendeng itu. Dia dalam kesulitan besar, keadaannya sekarang bukan saja membahayakan dirinya sendiri. Tapi orang lain juga dapat terancam bahaya!" tegas Dewana.

"Apa sebaiknya yang akan kita lakukan?!" "Keadaan pemuda itu yang sesungguhnya

aku belum tahu pasti, tetapi sesuai dengan gambaran yang kudapat dalam semediku,  kira-kira aku sudah mengetahui dimana letak daerahnya! Sebaiknya persiapkan segala sesuatunya dengan baik. Aku rasanya belum pernah melihat lawan yang sehebat ini!" desis Dewana tegas.

"Itu adalah persoalan yang mudah. Yang membuat aku bingung bagaimana caranya agar kita bisa sampai ke tempat berbatu itu secepatnya?"

"Barata Surya, tidak kusangka di usiamu yang semakin senja ini apa yang bertambah dalam dirimu, tidak lain hanya kepikunanmu saja. Bukankah kau memiliki ilmu 'Pedut Lakon'. Kau bisa mempergunakannya, sedangkan aku tentu punya cara tersendiri untuk dapat mengikutimu terus!"

Penghulu Siluman Kera Putih hampir tidak dapat menahan tawa. Apa yang baru dikatakan oleh Malaikat Berambut Api memang benar. Ia memiliki ilmu 'Pedut Lakon' di mana ia dapat berjalan seperti kabut yang mengambang di udara sedangkan kecepatannya melebihi angin ribut.

"Sekarangkah kita memulai perjalanan?" tanya Barata Surya.

"Tidak, besok atau tahun depan. Sehingga muridmu dan cucuku keburu mampus! Kau ini guru tolol, bego dan menyebalkan. Mengapa harus membuang-buang waktu sekarang juga kita harus berangkat!" Malaikat Berambut Api memutuskan.

Barata Surya terdiam sejenak sambil anggukkan kepala. Tidak lama setelah itu bibirnya tampak berkemak-kemik, rupanya ia sedang membaca mantra-mantra dari ilmu perjalanan cepat 'Pedut Lakon'. Tiba-tiba saja tubuh Barata Surya seakan lenyap ditelan cahaya putih kemilau. Sosoknya mengambang di udara. Malaikat Berambut Api pejamkan matanya. Ia gelengkan kepala ke kanan ke kiri sebanyak tiga kali. Lalu....

Wuut!

Tokoh dari pulau Seribu Satu Malam di pantai selatan ini tiba-tiba lenyap pula dari pandangan mata (dalam Episode Neraka Gunung Bromo). Bagian atap bangunan kecil terbuka. Dari dalamnya melesat dua sinar, yang satu berwarna putih kemilau sedangkan yang satunya lagi berwarna gelap kemerahan. Kepergian dua tokoh sakti ini diiringi suara ribut kera-kera siluman. Kemudian adalah kesunyian yang mencekam, tidak ada lagi suara kera-kera putih siluman. Kesunyian abadi yang cukup panjang.

***

Dua bayangan berkelebat menuju ke arah hilangnya Datuk Nan Gadang Paluih dan Wayan Tandira. Kedua bayangan itu yang satu dan berada paling depan bertubuh ramping berpakaian tipis merangsang. Sedangkan yang satunya lagi sosok hitam tinggi besar bertelanjang dada dan bercelana hitam gombrong. Di bagian kepala sosok tinggi besar itu terdapat sebuah tanduk yang memancarkan cahaya merah berpedar-pedar. Mereka berlari seperti dikejar-kejar setan, tidak pernah menoleh ke kanan maupun kiri.

Sedang mereka dalam keadaan berlari kencang itulah, tiba-tiba dari balik bukit melesat cahaya biru memotong langkah kaki mereka. Jika gadis baju hijau di depannya tidak melompat tinggi sambil memaki. Tentu cahaya panas itu memanggang tubuhnya. Malang bagi sosok hitam di belakangnya. Ia tidak sempat lagi menghindar. Praktis dari dua leret sinar itu salah satu diantaranya menghantam bagian iga dengan telak.

Duuuummm! Gusraaak!

Sosok hitam berwajah seperti monyet besar menggereng marah. Ternyata pukulan gelap tadi sama sekali tidak berhasil melukai tubuh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Sebaliknya gadis berpakaian tipis merangsang memperlihatkan sebagian aurat ini sudah berdiri berkacak pinggang.

"Pembokong gelap, mengapa bertindak pengecut seperti banci. Tunjukkan diri jika ingin jual lagak. Aku Iblis Betina Dari Neraka tidak segan-segan turunkan tangan kejam!" teriak gadis berwajah cantik bertubuh menggiurkan sengit. Suara si gadis berlalu begitu saja. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya yang berpantang bicara dengan lawan buka suara.

"Tidak ada hantu disini. Kalau pun ada pasti kumakan, segala macam hantu takut padaku! Biar aku periksa siapa kunyuknya!" Makhluk bertubuh tinggi putar langkah. Langkahnya yang hampir terayun terhenti seketika. Ia memandang ke atas bukit kecil di mana seorang laki-laki memakai topeng bocah berdiri. Dengan sikap  acuh tak acuh ia bicara.

Segala rahasia manusia ada di tangan Gusti Allah peng

nat Manusia dengan manusia suka memakai toDalam laut dapat di ukur

Dalam hati mana bisa diatur Rahasiamu sudah pun kudapat

Catatan Malaikat bukan sesuatu yang dilakApa jawabmu jika topeng-topeng kutanggalkan? Jangan coba mencari dalih Selagi hidup bersilat lidah

Jika sudah terbujur jasad hancur terkubur Aku Manusia Topeng

Topeng-topeng adalah manusia Hidup manusia selalu ada dua

Manusia punya  guna  dan  manusia  tidak berguna

Jika dia tertidur manusia tiada berguna Bila terjaga pasti ada gunanya

Lalu...!!

Pada kalian berdua

Apa guna kalian terlahir ke dunia?

Hanya untuk membuat onar angkara murka? Setiap perbuatan pasti akan ditanya

Setiap hidup pasti ada matinya

Untuk apa manusia menjadi sombong dan besar kepala?

Dalam hening tanya nurani, dalam diam hati punya jawab sendiri!

Mustika Jajar menjadi sangat geram sekali mendengar kata-kata Manusia Topeng yang seperti menyindir dirinya. Tanpa diduga-duga ia melompat ke depan.

"Manusia keparat! Aku ingin tahu apakah kau benar-benar manusia suci seperti Malaikat yang tidak bernoda. Aku juga akan mencabikcabik topeng yang menutupi wajahmu!" teriak si gadis. Ia kemudian menoleh pada Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. "Sahabat, kau lihatlah! Aku akan mencabik topengnya sekaligus mencabut nyawa busuknya!"

"Ha ha ha...! Bicaramu kelewat lantang, bocah. Kau terlalu kurang ajar dan kehilangan budi pekertimu. Buktikanlah mulut besarmu itu, atau kau hanya sebangsa geledek yang tidak pernah membawa hujan!" sahut Manusia Topeng disertai tawa ha ha hi hi. Semakin panas Iblis Betina Dari Neraka mendengar ucapan Manusia Topeng. Sekonyong-konyong ia melompat ke depan. Sekali terkam tamatlah riwayat laki-laki pendek ini. Karena ketika itu ia mengerahkan jurus 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'.

Mulai dari jari tangan Mustika sampai ke bagian tangan telah berubah hitam pekat. Iblis Betina merasa yakin dengan kecepatan gerakannya itu. Kira-kira sepersekian jengkal lagi kepala dan dada telanjang Manusia Topeng alias Setan Topeng kena dihantam. Orang ini liukkan tubuhnya dan....

"Hap!" Craak!

Serangan luput, kedua tangan Mustika Jajar tidak dapat ditahan-tahan lagi langsung amblas ke dalam batu. Terlihat sebuah lubang besar dan warna hitam mengepulkan asap busuk. Itu merupakan pertanda betapa serangan gadis jelita itu mengandung racun yang jahat.

Dengan cepat ia berbalik, sekejap Mustika angkat kedua tangannya di atas kepala. Setelah itu ia hantamkan ke depan. Sekali ini Iblis Betina Dari Neraka lepaskan pukulan "Neraka Perut Bumi". Sinar hitam, merah, biru melesat laksana kilat dari telapak tangan gadis itu. Di rimba persilatan jarang sekali ada tokoh yang dapat melepaskan pukulan dengan tiga warna sekaligus, terkecuali seorang tokoh yang telah memiliki tenaga dalam mencapai taraf di atas sempurna.

Tetapi orang yang dihadapi oleh Mustika kali ini adalah tokoh kawakan yang kemunculannya di rimba bisa dihitung dengan jari. Bahkan seandainya ada tokoh-tokoh seperti Datuk Sage Mayasal Hiduik (dalam episode Iblis Betina Dari Neraka) sekali pun tidak pernah tahu seberapa tinggi kesaktian yang dimiliki Manusia Topeng. Jadi bukanlah sesuatu yang mudah untuk menekan tokoh yang tidak pernah menanggalkan topeng ini. Malah Manusia Topeng sekarang membalas serangan si gadis dengan pukulan 'Bintang Terbelah'.

Wut! Wuuuut!

Suasana semakin bertambah panas. Nampak sinar kuning kemilau meluncur deras dari tangan Manusia Topeng. Sinar itu langsung memotong pukulan Mustika di tengah jalan. Maka terjadilah ledakan beruntun yang mengguncang tempat sekitarnya.

Mustika menjerit keras, tubuhnya melayang dan terbanting keras di atas batu sebesar kambing. Batu hancur, dari sudut bibir gadis itu meleleh darah kental berwarna hitam. Wajah gadis ini pucat pasi. Sedangkan Manusia Topeng masih sempat bersalto dan jatuh dengan kedua kakinya. Ia merasa dadanya mendenyut sakit.

"Jika  tidak  memiliki  kepandaian  tinggi,  gadis ini pasti sudah menjadi bangkai!" rutuk Manusia Topeng dalam hati, tapi pada sisi lain ia merasa kagum dengan daya tahan yang dimiliki oleh Mustika Jajar. Di sudut lain Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya tampak baru saja berdiri. Rupanya pengaruh ledakan tadi membuat ia jatuh tunggang langgang juga. Walau pun begitu ia tidak mengalami luka barang sedikit pun.

"Bangsat kapiran! Tidak puas hatiku jika belum membunuhmu, memakan dagangmu dan meminum darahmu!" geram si gadis yang baru saja mampu bangkit kembali. Wajah di balik topeng tersenyum. Laki-laki aneh ini menyanyi-nyanyi seperti orang yang kurang waras. Selesai menyanyi ia bersiul-siul, suara siulannya melengking tinggi tidak beraturan. Semakin lama semakin bertambah tinggi, hingga membuat sakit telinga yang mendengarnya. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya terpaksa tutupi telinganya yang lebar. Mustika membentak keras untuk menghilangkan pengaruh siulan lawannya. Wajahnya sempat menegang, akan tetapi kelihatannya ia tidak perduli. Sekarang ia menyerang lagi dengan melancarkan tendangantendangan menggeledek. Manusia Topeng sejenak dibuat sibuk. Ia menghindar kian kemari disertai liukan indah.

"Hiaa...!"

"Hap...! "

Angin menderu-deru disertai teriakan meledak-ledak. Sejauh itu serangan yang  dilakukan oleh Iblis Betina Dari Neraka tidak mendatangkan hasil. Diserang dengan tendangan tidak mendatangkan hasil. Kini Mustika Jajar kembangkan jemari tangannya. Ia menyerang lagi dengan jurus pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'.

Wut! Wuuuuut! "Aih...!"

Batok kepala Manusia Topeng nyaris rengat terhantam pukulan lawannya. Selagi menghindar ia membalas pula dengan mendorongkan sikunya ke bagian dada Mustika. Gadis ini bersalto sehingga luput pulalah serangan Setan Topeng. Akan tetapi Manusia Topeng tidak membiarkan lawan lolos begitu saja. Kaki kanannya tiba-tiba melayang. Mustika menjerit kesakitan di saat bagian punggungnya kena hantam lawan. Tubuhnya sempat terangkat ke udara. Lalu meluncur ke bawah dengan berputar-putar dan....

Bruuk!

Si gadis merasa sebagian tubuhnya lumpuh dan kaku. Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya melihat kejadian ini langsung hendak membantu. Tapi Mustika menggelengkan kepala keras.

"Tidak usah ikut campur! Rasanya aku masih bisa menanggalkan kepala bangsat bertopeng ini! Heaa...!" teriak Iblis Betina Dari Neraka. Dengan kaki setengah berjongkok. Ia menghantam ke atas, ke bawah, ke kiri selanjutnya ke depan.

Bet!

Zeb! Zeeb!

Menggeletar tubuh gadis ini, keringat mengucur deras di wajahnya. Sekarang dari bagian kepalanya tampak mengepulkan asap tipis berwarna putih biru. Nyatalah sudah bagi Manusia Topeng yang sudah kenyang makan asam garam rimba persilatan ini bahwa lawan tengah mengerahkan seluruh kesaktian dan tenaga dalam yang dimilikinya.

Sekejap kemudian Mustika Jajar kembangkan kedua tangannya. Bagian wajah terangkat tegak. Sesuatu yang mengerikan terlihat sudah. Bukan hanya kedua belah tangan gadis itu saja yang berubah hitam, akan tetapi wajahnya juga telah menjadi hitam pekat.

"Manusia Topeng! Aku berniat mengadu jiwa denganmu!" dengus Iblis Betina Dari Neraka geram.

"Ha ha ha...! Bagus, aku mengenali pukulan 'Liang Hantu Penebus Kutuk'! Itu adalah salah satu pukulan yang dimiliki oleh Ratu Leak. Jelas kini bagiku kau jika bukan muridnya tentu antekanteknya! Jika bukan aku yang berangkat ke sorga duluan, tentu kaulah orangnya yang akan berangkat ke neraka!" sahut Manusia Topeng tenang, namun bersikap waspada.

Wuuk! Wuuk! "Hhhh...!"

Manusia Topeng hembuskan nafasnya dalam-dalam. Orang ini diam-diam mempersiapkan pukulan 'Prabawa Geni'. Ini juga adalah sebuah pukulan yang langka dan jarang dimiliki oleh tokoh-tokoh rimba persilatan dimasa itu.

"Hiaa...!"

"Huuuuuh...!"

Dua-duanya kini sama hantamkan kedua tangannya ke arah sasaran masing-masing. Sinar hitam menggebu dan meluncur deras dari ujungujung jemari tangan Mustika Jajar. Dari telapak tangan Manusia Topeng melesat pula dua leret sinar putih biru dan merah. Mustika Jajar merasa yakin betul dengan kehebatan yang dimilikinya juga merasa percaya bahwa pukulan yang diwariskan Ratu Leak kepadanya mempunyai kehebatan tersendiri yang tiada duanya. Untuk itu ia tidak surut lagi dan terus melabrak ke depan. Udara panas saling tindih menindih, himpit menghimpit. Hingga....

Buuuumm! "Waarrrkh!" Bruk!

Mustika terdorong ke belakang sambil menjerit keras seperti orang yang putus nyawanya. Ia terpelanting dan jatuh tidak berkutik. Dari telinga, hidung dan mulut gadis ini meneteskan darah hitam. Keadaannya saat itu entah binasa atau cuma pingsan berat. Sebaliknya Manusia Topeng yang sempat terhuyung dan sesak bagian perut dan dada segera atur nafas dan kerahkan tenaga dalam. Sebentar saja peredaran darahnya yang sempat kacau sudah normal kembali.

SEMBILAN

Cepat Setan Topeng menoleh ke belakang. Ia sempat tercekat juga melihat Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah bergerak mendekatinya dengan langkah lambat-lambat. Mulut sosok berwajah seperti monyet besar ini menyeringai sehingga dua pasang taringnya yang panjang dan selalu meneteskan darah mencuat keluar. Betapa angkernya makhluk ini bila dalam keadaan marah. Ia menjadi marah karena melihat Mustika Jajar dapat dijatuhkan oleh Manusia Topeng. Lebih mengkhawatirkan lagi karena ia tidak tahu gadis itu masih hidup atau sudah mati.

"Makhluk jelek muka monyet. Kini disini cuma tinggal kita berdua saja. Ratu Leak sudah lari terbirit-birit meninggalkanmu! Sekarang kau tidak punya majikan sebagai tempat untuk mengabdi. Aku memberimu tawaran yang cukup bagus!" ujar Manusia Topeng dan wajah di balik topeng tersenyum-senyum. "Bagaimana jika mulai saat sekarang ini kau kuangkat menjadi kacungku?!"

"Haaang!"

"Kau bicara hang? Apakah kau masih punya saudara bernama Hang! Aih... lucunya kau ini...!" ledek si pendek bersenjata Ketapel Sakti Pembelah Bumi itu lalu tertawa panjang.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya kedip-kedipkan matanya. Ia menoleh ke arah Mustika Jajar yang dalam keadaan tergeletak.

"Jangan  kau  pikirkan  dia.  Kalau  kau  mau kawin aku bisa menjodohkanmu dengan gadis cantik. Kalau dia menjanjikan kawin denganmu jangan mau. Gadis itu biarpun cantik tapi sisanya orang. Anunya sudah karatan dan sedikit ada jamur dan berlumut!"

"Hraa...!"

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya meraung keras. Tangannya melambai ke depan seperti gerakan menggapai. Meskipun hanya menggapai, akan tetapi hembusan angin dingin yang ditimbulkannya membuat Manusia Topeng menggigil kedinginan. Orang ini berguling ke samping. Sama sekali ia tidak membalas, karena Manusia Topeng sadar betul serangan yang dilakukannya hanya akan sia-sia selama tanduk merah itu masih bercokol di kepala makhluk hitam ini.

Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya segera melakukan pengejaran. Diinjak-injaknya tubuh Manusia Topeng dengan hentakan cepat dan keras bukan main. Dengan gesit orang ini berguling kian kemari. Lalu kaki kanannya menghantam ke bagian selangkangan lawan.

Proooot!

"Haiih, apa ini lembek-lembek tidak ada tulangnya? Gede amaat...!" kata Manusia Topeng sambil tertawa ha ha hi hi. Makhluk hitam menjerit keras, ia pegangi tongkat dan buah jambu miliknya. Jalan terpincang-pincang, matanya yang berwarna merah kekuning-kuningan melotot menahan sakit bercampur geram. Apa yang dialaminya membuat kemarahan Manusia setengah makhluk aneh ini semakin meluap. Ia pun umbar pukulan-pukulan dahsyat ke arah lawannya. Sekarang Manusia Topeng dibuat  pontang-panting. Ia menghindar bagaikan belatung yang didera panas matahari. Dentuman-dentuman keras terdengar di sana-sini. Hingga batu-batu maupun bukit yang ada di sekeliling tempat itu berhamburan porak poranda.

"Kau benar-benar ngamuk rupanya. Aduh... semakin jeleknya kau jika sedang marah!" ledek si pendek. Makhluk hitam di depan Manusia Topeng lagi-lagi menggeram sambil memperlihatkan seringai menggidikkan. Tiba-tiba saja ia melompat lakukan gerakan merengkuh. Lawan tentu saja menyadari betapa berbahayanya jika ia sampai berhasil dipeluk oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Dirinya bisa menjadi lumpuh kehilangan kekuatan sakti dan tenaga dalamnya. Ia betot Ketapel Sakti Membelah Bumi, kemudian mengarahkannya langsung ke bagian mata lawannya. Dua Leret Sinar merah meluncur deras menghantam mata Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Makhluk hitam ini terpaksa urungkan niatnya, cepat lindungi mata dan....

Tas! Tas!

Serangan maut itu seakan melabrak dinding hampa dan hilang tidak berarti. Manusia Topeng jadi penasaran. Ia acungkan Ketapelnya lagi. Kembali sinar merah dengan kekuatan berganda melabrak lawannya. Kali ini dari bagian tanduk Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya membersit keluar sinar yang sama akan tetapi disertai suara bergemuruh bagaikan angin ribut. Sinar itu berputar melingkar dari atas tanah hingga setinggi dua tombak. Sinar sakti yang keluar dari senjata Manusia Topeng terbuntal lenyap dan tergulung sinar berhawa panas lawannya. Lalu kekuatan dahsyat itu tidak berhenti sampai di situ saja, ia terus bergelung-gelung bagaikan naga siap menghantam lawan. Untuk pertama kalinya laki-laki pendek yang tidak pernah menanggalkan topengnya ini terkesiap. Tapi ia tidak berdiam diri menunggu sinar merah itu menghantam mampus dirinya. Secepat kilat tubuhnya yang lentur melentik di udara. Dengan kecepatan dua kali gerakan pertama masih mengambang di udara ia mengerahkan tenaga dalam lagi sehingga sekarang ia meluncur deras ke arah bagian kepala Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Hampir seluruh tenaga dalam dikerahkan ke tangan kanan. Secepat kilat ia menyambar dan membetot.

Wuut! Kraaak!

Hentakan keras itu menimbulkan suara berderak. Tanduk di kepala lawan nyaris tanggal. Dan sekarang darah membanjir membasahi rambut dan wajah sosok hitam tersebut. Tidak didugaduga lawan juga menghantam dada Manusia Topeng dalam waktu hampir bersamaan. Akibatnya cukup patal sekali. Laki-laki itu terpental sampai sejauh lima batang tombak. Lebih celaka lagi tubuhnya terhempas menghantam batu di belakangnya. Manusia Topeng muntahkan darah segar, ia bangkit berdiri walau pun kepalanya mendenyut sakit. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung begitu rupa lawan yang sudah hampir kehilangan tanduknya mengumbar kemarahan dan kesakitan dengan pukulan-pukulan saktinya. Dengan mempergunakan sisa-sisa tenaga yang ada, orang ini melompat kembali. Tubuhnya berkelebat di atas kepala lawannya. Berulangkali Manusia Topeng nyaris terkena pukulan ngawur Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya. Hujan serangan yang mematikan itu lama sekali tidak dihiraukan oleh Setan Topeng. Tiba-tiba ia menukik dengan kepala di bawah dan tangan menyambar....

Wuuut! Srrooot! "Huaaarrrkh !"

Menjeritlah Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya begitu tanduk di atas kepalanya tanggal di betot Manusia Topeng. Sosok hitam ini berputarputar jatuh bangun. Darah menyambar-nyambar bercampur otak. Sungguh daya tahannya sangat luar biasa, terbukti ia tidak langsung ambruk. Melainkan terus terhuyung-huyung sambil melepaskan pukulan, ngawur. Dalam pada itu pula begitu tanduk di atas kepala lawan telah berada di tangan Manusia Topeng. Seraya merasakan ada sesuatu yang terasa aneh namun menyakitkan. Tanduk berwarna merah itu menyengat kulit telapak tangan Manusia Topeng. Melihat ke bagian tangannya ternyata telah melepuh terbakar. Manusia Topeng pindahkan tanduk ke tangan kiri. Malah akibatnya sama saja meskipun Manusia Topeng sudah kerahkan tenaga dalam ke bagian tangan tersebut.

Sementara itu terdengar suara berdebum di belakangnya. Ternyata Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya telah roboh tidak berkutik. Ia tewas karena kehabisan darah. Kini Manusia Topeng yang kebingungan, kulit dan dagingnya sudah terbakar. Sebentar lagi tanduk sakti itu pasti membuat hangus tulang jarinya. Jika ia buang tanduk sakti itu. Lalu bagaimana nasib Pendekar Blo'on dan lain-lainnya. Bukankah seluruh kesaktian pemuda itu telah berpindah ke tanduk Sakti. Bagaimana pun ia harus membawa tanduk itu untuk mengembalikan kesaktian Pendekar Bodoh yang telah dilucuti oleh Sang Pelucut Segala Ilmu Segala Daya? Kesaktian itu sekarang tersimpan di tanduk. Celakanya tanduk Sakti tersebut naganaganya mau memakan dirinya hidup-hidup.

Semakin Manusia Topeng mempertahankan tanduk, ia merasa seperti menggenggam cairan besi panas membara. Ia terpaksa menjatuhkan tanduk di bawah kakinya sambil mencari akal bagaimana caranya membawa tanduk biar selamat. Selagi Manusia Topeng mengibas-ngibaskan tangannya yang sempat hangus disertai sumpah serapah. Ia mondar-mandir mengelilingi tanduk, mata di balik topeng melotot seakan hendak menelan tanduk mentah-mentah. Tapi ia kemudian merengut sendiri, jika dipegang saja tangan bisa hangus apalagi ditelan, tentu ia mampus sungguhan. Akhirnya ia duduk mencangkung tidak jauh dari tanduk.

Pada saat ia dalam keadaan demikian itulah ia merasa ada angin menyambar disertai berkelebatnya bayangan merah ke arah tanduk sakti itu. Manusia Topeng bermaksud mencegah, sayang gerakan bayangan itu lebih cepat dari apa yang dilakukannya. Dapat dibayangkan jika orang seperti Manusia Topeng yang memiliki gerakan cepat luar biasa masih dapat didahului oleh orang lain. Tentu kesaktian bayangan merah tadi sulit dijajaki.

"Hei... berhenti...!" teriak Manusia Topeng. Bayangan yang dibentak langsung berhenti sejarak sepuluh langkah dari depan Manusia Topeng. Sementara tanduk sakti di timang-timangnya. Di bolang-baling seenak perut baju merah.

"Aku dapat, benda yang kucari selama puluhan tahun ini baru kudapat! Ha ha ha...! Aku adalah orang yang paling bahagia di dunia. Tanduk... tanduk sakti dari manusia bertanduk. Manusianya sudah mampus, tanduknya tergeletak!" kata orang itu dengan sikap acuh tak acuh.

"Bangsat kapiran! Jangan kau berani mainmain dengan tanduk itu. Itu tandukku! Kembalikan...!" bentak Manusia Topeng marah. Yang dibentak malah tertawa terbahak-bahak sambil membolang-baling tanduk di tangannya.

"Kau ribut-ribut soal tanduk. Bukankah tandukmu masih ada di balik kolormu itu...??" sahut baju merah tanpa pernah menoleh. Merah wajah di balik topeng tersebut. Ia seperti kena batunya atau bertemu dengan manusia gila.

"Kukira semula kau orang waras, tidak tahunya lebih gila dariku. Tetapi apapun alasanmu kau harus serahkan tanduk Sakti itu padaku. Dia bukan milikmu juga bukan milikku. Ayo kembalikan...!" perintah Manusia Topeng. Laki-laki berpakaian merah masih tetap tidak menoleh. Ia bolang balingkan tanduk di tangan entah untuk yang keberapa kalinya. Manusia Topeng terbelalak. Satu hal yang mengherankan orang ini adalah laki-laki baju merah itu sama sekali tidak terpengaruh, meskipun tanduk sakti di tangan tetap digenggamnya. Wajah di balik topeng itu pun berkerut dalam.

"Hmm, tahulah aku sekarang. Tangannya tidak melepuh, tidak gosong dan tidak hangus karena ia memakai sarung tangan. Rasanya di dunia ini hanya 'Sarung Sutra Kencana' saja yang mampu menahan segala sesuatu yang bersumber dari api! Aih... mengapa baru sekarang aku ingat. Di dunia ini orang yang memiliki Sarung Sutra Kencana hanya kunyuk jelek yang bergelar 'Mata Iblis'." batin Manusia Topeng. Tiba-tiba saja ia tertawa tergelak-gelak. Laki-laki berpakaian merah tentu jadi kaget. Ia menoleh, Manusia Topeng walau pun sempat kaget melihat mata si Mata Iblis yang memutih bagaikan orang buta tetapi semakin memperhebat tawanya.

"Mata Iblis, jangan kau coba mencari dalih. Orang lain boleh takut mendengar nama besarmu. Kunyuk-kunyuk lain boleh jadi terkencing-kencing melihat kekuatan gaib sinar matamu? Tapi aku yang pantas menjadi kakekmu! Jangan kau bersikap kurang ajar apalagi coba-coba menjadi maling tengik! Cepat kau serahkan kembali Tanduk Sakti itu atau aku akan menggebukmu hingga babak belur?!" teriak Manusia Topeng gusar.

Mata Iblis tersenyum mengejek. Rupanya tokoh yang tidak pernah berpihak pada golongan putih dan golongan hitam ini cukup mengenal Manusia Topeng. Sehingga dengan seenaknya ia bicara. "Kau meminta barang yang telah kau buang. Apakah ini barangmu. Kalau beginilah bentuk barangmu, kujamin tidak ada perempuan yang mau kawin denganmu! Tapi ingat jika kau tidak mengambilnya, maka Tanduk Sakti itu kuanggap barang yang tidak bertuan. Aku pantas menjadi pemiliknya!" kata Mata Iblis. Ia lemparkan tanduk di tangannya. Manusia Topeng ragu untuk mengambilnya, mengingat ketika pertama tadi saja tangannya sudah hangus.

"Ayo, tunggu apa lagi?" desak Mata Iblis. Manusia Topeng tampak meragu. Ia berpikir jika tanduk tidak cepat diambilnya, tentu kunyuk jelek yang berdiri di depannya akan mengambil tanduk itu. Sudah menjadi watak Mata Iblis barang siapa pun pantang tergeletak. Pasti diembatnya, tidak perduli barang itu milik perempuan atau milik laki-laki. Yang putih atau yang hitam, yang burik atau yang keriput baginya semua sama saja.

Berpikir sampai disitu tanpa menunggu lebih lama lagi Manusia Topeng langsung sambar lagi tanduk sakti yang tergeletak di depannya. Baru saja tanduk di tangan ia sudah menjerit lagi. Praktis tanduk tercampak kembali. Wajah di balik topeng meringis. Dalam hati ia memaki.

"Tanduk sialan! Kalau bukan di dalamnya tersimpan kesaktian Pendekar Bodoh, ingin rasanya tanduk itu kukencingi, biar adem (dingin) sedikit. Tapi bagaimana jika akibat air kencingku segala kesaktian yang terkandung dalam tanduk ini menguap dengan sendirinya?" Manusia Topeng jadi bingung sendiri. Selagi ia bingung tanduk sakti sudah disambar lagi Mata Iblis. Seraya tanpa menunggu langsung melarikan tanduk itu.

"Bangsat pencuri, rupanya kau benar-benar tidak memandang muka padaku sama sekali. Kau mau cari penyakit!" teriak Manusia Topeng. Sambil mengejar seraya hantamkan tangan lepaskan pukulan ‘Membalik Gunung Menjungkir Bukit’. Tentu serangan ini bukan pukulan sembarangan. Gesekan pukulan dengan udara menimbulkan pijaran bunga api yang panas bukan main.

Sementara sambil berlari Mata Iblis menyahut tanpa menoleh. "Bagaimana aku bisa memandang mukamu, rasanya seumur-umur wajahmu yang burik tertutup topeng. Dan penyakit tentu saja tidak kucari jika kau memukulkan tentu aku membalas!" Dan benar saja Mata  Iblis  dengan acuh tak acuh kibaskan tangannya ke belakang.

Wuuuesss! Buuuumm!

Ledakan keras itu membuat Manusia Topeng terdorong mundur sejauh satu batang tombak. Sedangkan Mata Iblis tersungkur. Cepat sekali ia bangkit berdiri dan kembali berlari secepat setan.

"Ke ujung dunia sekalipun kau melarikan diri aku tetap mengejarmu! Terkecuali kau tinggalkan tanduk itu?" pekik Manusia Topeng. Ia bangkit lagi kemudian segera melakukan pengejaran. Yang dikejar tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mata.

"Huh-hah...   huh-hah...!   Aku akan tetap mengejarmu, aku tahu kira-kira dimana kau akan berhenti! Ha ha ha...! Mana mungkin anak kadal mengakali buaya! Yeaaa...!" cibir Manusia Topeng, seraya semakin mempercepat larinya.

***

Suro Blondo terus melangkahkan kakinya mendekati teluk yang terdapat di depannya. Wajahnya sama sekali tidak membayangkan ekspresi apapun. Bibir pemuda itu terkatup  rapat,  tidak ada senyum dan tidak ada pula kekonyolan. Tatapan si pemuda demikian dingin dan mengandung hawa pembunuhan. Sampai di pinggir teluk ia duduk sebentar seperti orang yang sedang bingung menentukan arah.

Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang mengisiki. "Aku adalah majikanmu. Kau harus patuh pada perintahku. Tidak usah kau pikirkan bagaimana kau harus menyeberang. Tunggu saja disini, orang yang kau tunggu pasti akan melewati tempat ini!"

"A-ku patuh...! Perintahmu kukerjakan segera." kata Suro Blondo seperti orang linglung.

"Bagus! Aku senang kau setia padaku! Tidak ada orang yang harus kau patuhi di dunia ini terkecuali aku! Aku Ratu Leak, ratu dari segala ratu-ratu!" bisik suara itu lembut. Memang sesuatu yang sangat mengagumkan jika Ratu Leak dapat mengirimkan suara dalam jarak yang jauh itu. Di seluruh rimba persilatan pada masa itu sangat jarang sekali tokoh-tokoh kelas satu yang dapat mengirimkan suara dalam jarak beribu-ribu tombak.

"Aku mengerti!" sahut Pendekar Blo'on. "Bagus kalau kau sudah mengerti, tetapi

harus kau ingat. Melalui kekuatan batu Lahat Bakutuk aku tahu musuh besar kita sudah datang. Hadapi mereka dan bunuh!" perintah Ratu Leak melalui suaranya. Suro Blondo Pendekar Mandau Jantang anggukkan kepala kaku.

Sementara itu tidak jauh dari samping kirinya tampak ada cahaya putih berkilau mendekat ke arahnya. Tidak jauh dari cahaya putih tersebut terlihat pula bayangan  serba  merah.  Lalu...  tibatiba saja cahaya putih itu menjelma menjadi sosok seorang laki-laki berpakaian  serba  putih,  berambut dan berjenggot putih. Di belakangnya muncul pula kakek tua berpakaian merah  berambut  merah. Mereka tidak lain adalah  Penghulu  Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api. Ketika melihat Suro Blondo, Malaikat Berambut Api nampak kerutkan keningnya. Sedangkan Barata Surya mesem-mesem (senyum-senyum) seperti orang yang kurang waras.

"Muridku...!" berkata Penghulu Siluman Kera Putih. "Sudah lama kita tidak bertemu, kupikir kau semakin pintar dan tambah pengalaman. Tidak tahunya kau semakin tolol dan gila! Ha ha ha...!"

Yang diajak bicara memandang Barata Surya seperti orang asing yang tidak pernah dikenalnya sama sekali. SEPULUH

Tiada lagi senyum di wajahnya, tatapan matanya pun sinis tidak bersahabat. Dewana Malaikat Berambut Api pandangi murid sekaligus cucunya itu untuk yang kedua kalinya.

"Aku tidak melihat tanda-tanda ia menyadari siapa dirinya. Dia telah dikuasai oleh kekuatan iblis." batinnya merasa sedih. Bagaimana pun Suro selain murid juga cucu satu-satunya. Sekarang ia dipermalukan sedemikian rupa oleh orang lain. Kejadian seperti ini belum pernah ia alami selama hidupnya. Jika dulu dirinya tidak sempat menyelamatkan orang tua Suro yang tewas di tangan Sepasang Iblis Pegat Nyawa dan Kala Demit. Itu sudah merupakan pukulan terberat bagi dirinya. Haruskah dia sekarang berpangku tangan melihat kejadian yang dialami oleh cucunya.

"Siapa pun orangnya aku bersumpah dengan apapun aku akan membunuh orang yang telah mencelakai cucuku!" desis Malaikat Berambut Api.

"Suro Blondo Pendekar Blo'on, tidakkah kau ingat siapa kami?" teriak Barata Surya berapi-api.

"Kalian siapa para orang tua yang hendak mampus!" sahut Pendekar Blo'on. Wajah pemuda itu sama sekali berubah, tidak ada kekonyolan, hilang lucunya bahkan ia sudah lupa dengan kebiasaannya yang suka menggaruk kepala.

"Bocah geblek! Kami adalah gurumu, siapa yang telah membuatmu begini bocah gila?" "Percuma kau bicara Barata Surya!" Dewana memperingatkan. "Bocah ini sudah hampir hilang akal sehatnya, hilang tenaga saktinya. Kulihat ia memang memiliki kekuatan, tetapi kekuatan itu milik orang lain!"

"Kalau begitu ia benar-benar Blo'on sungguhan. Apa rencanamu saudara Malaikat Berambut Api?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih.

"Rencanaku tentu sesuai dengan selera pengacau yang memerintahkan Suro untuk membunuh kita!" jawab Dewana tegas.

"Kalian adalah musuh besar kami!" Pendekar Blo'on buka suara. "Ratu Leak memerintahkan padaku untuk membunuh kalian!"

Barata Surya menoleh pada Dewana. Rupanya ia tidak kenal dengan orang yang disebutkan oleh Pen-dekar Blo'on barusan.

"Siapa Ratu Leak?"

"Aku belum tahu. aku juga baru mendengar namanya! Dia bermaksud membunuh kita. Hal itu tidak mungkin dilakukannya jika kita sudah menotoknya!" jelas Malaikat Berambut Api melalui ilmu mengisikkan suara tingkat tinggi. Ternyata kisikan ini pun didengar oleh Pendekar Blo'on.

"Ha ha ha...! Tua bangka seperti kalian jangan coba-coba menentangku. Kalian semua akan celaka!" dengus si pemuda.

"Suro Blondo, setan Ratu Leak itukah yang membuatmu jadi Pendekar Edan? Eling (ingat) Suro, eling...!"

Melihat Penghulu Siluman Kera Putih yang masih juga bersikap main-main. Malaikat Berambut Api jadi gusar dan langsung membentak. "Barata Surya, aku tahu tabiat dan kebiasaan jelekmu. Tapi kuharap dalam hal yang satu ini kau bersikap serius!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Membunuhnya?"

"Jangan   lagi   kau   sampai   membunuhnya, sedangkan kau lukai pun muridmu yang cucuku itu dalam usaha menyadarkannya. Engkaulah orang pertama yang akan kupenggal kepalanya! Hadapi dia dan jatuhkan dengan totokan!" perintah Malaikat Berambut Api tegas.

"Gila...! Aku pula yang disuruh menghadapi bocah sakit ini. Huh, jika aku tidak segan  padanya, tidak mungkin aku sudi menjalankan perintahnya!" gerutu Barata Surya.

Wuuk!

Belum apa-apa Suro sudah lepaskan pukulan dahsyat ke arah Penghulu Siluman Kera Putih. Jelas pukulan barusan bukan serangan maupun jurus baik yang ia wariskan pada pemuda itu atau pun jurus pukulan yang diwariskan oleh Malaikat Berambut Api.

"Selagi masih orok kau kencingi aku. Sekarang sudah besar malah kau mau bunuh guru sendiri! Hiih...!" Sambil Mengomel Barata Surya melompat tinggi. Serangan itu mengenai tempat kosong dan menimbulkan dentuman yang sangat keras sekali. Pemuda yang telah berubah linglung ini putar langkah. Dari samping menderu angin kencang menghantam tengkuknya. Itulah ilmu totokan tingkat tinggi, Barata Surya menamakannya 'Jari  Sakti  Pembeku  Darah'.  Merasakan  ada  sambaran angin dahsyat, Suro liukkan tubuhnya sekaligus melompat ke samping. Serangan luput. Pendekar Blo'on membalas dengan tendangan menggeledek pula. Karena jarak diantara mereka sedemikian dekat. Barata Surya miringkan badannya, siku menangkis. Sehingga benturan keras tidak dapat dihindari lagi.

Duuuk!

Suro menggeram meskipun sempat jatuh duduk. Barata Surya mengomel, tubuhnya sempat tergontai-gontai. Sekali ia melihat ke arah Dewana yang sedang duduk ongkang-ongkang sambil kerat-kerutkan keningnya. Suro sudah menyerangnya lagi dengan pukulan dan tendangantendangan menggeledek. Setiap gerakan yang dilakukan pemuda itu menimbulkan deru angin disertai melesatnya sinar jingga kehitam-hitaman.

"Bocah ini benar-benar pesong! Dia sama sekali tidak mempergunakan jurus-jurus yang diwariskan guru-gurunya. Tetapi kekuatan apapun yang merasuk dalam dirinya sama berbahayanya!" pikir Penghulu Siluman Kera Putih. Sebagai orang yang telah berpengalaman menghadapi tendangan kaki dan jotosan tangan ia tidak langsung memapakinya. Melainkan bersalto ke samping. Dengan ilmu meringankan tubuhnya ia melesat di udara. Ketika tubuhnya meluncur ke bawah, Barata Surya pergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Ia berkelebat lenyap tapi tangan kanannya menghantam ke atas dan ke bawah.

Des! Deesss! "Ukh...!" Suro mengeluh panjang dan jatuh terguling-guling. Hanya keluhan itu saja, tidak menimbulkan luka apa-apa.

"Barata Surya, jangan kau pukul dia! Atau kau juga sudah ikut-ikutan gila!" Dewana dari jarak yang tidak begitu jauh mengingatkan.

"Itu cuma kebetulan saja. Maksudku tadi hendak menotok, tapi eh... malah kupukul!" sahut Barata Surya.

Kesempatan bicara yang cuma sekejap itu dipergunakan Suro lepaskan pukulan  'Tusukan Jari Penghantar Maut'.

Zzzts!

Serangan Suro luput, karena Barata Surya dengan jurus andalannya ini telah berkelebat kian kemari seperti setan gentayangan sambil melancarkan totokan ke bagian-bagian tubuh muridnya.

"Haiiit...!"

Suro cepat putar langkah, matanya yang angker itu berkedap kedip. Lalu ia membentak keras dan tubuhnya melesat ke depan seperti anak panah. Lima jarinya menusuk perut, mata dan dada Barata Surya dengan sebat sekali. Kakek ini pontang panting selamatkan diri. Lalu jatuhkan punggungnya dan kaki mengungkit.

Duuuk! Deesss! "Ukkkh...!"

Perut muridnya kena dihantam. Pemuda itu jatuh terguling-guling, Penghulu Siluman Kera Putih merasa ada sesuatu yang panas dan menusuknusuk di bagian ulu hatinya. Ketika ia berdiri dan melihat bajunya, Barata Surya belalakkan mata. Ternyata baju putih belong dan mengepulkan asap, melihat ke balik baju lima buah jari membekas disana. Jika bukan Barata Surya yang terkena serangan itu, tentu nyawanya sudah minggat dari raganya tidak pulang-pulang lagi.

"Saudara Dewana, kau yang menyuruhku agar tidak menurunkan tangan jahat. Kini akibatnya kau lihat sendiri!" teriak Barata Surya marah.

"Suro itu murid yang sedang sakit. Apa kau tega menambah penyakitnya! Kalau kau tidak becus menghadapinya, mengapa kau tidak membunuh diri saja?!" sahut Dewana ringan.

"Setan sialan!" Penghulu Siluman Kera Putih mengumpat Bibirnya terpaksa dikutubkan kembali ketika melihat Suro sudah siap melepaskan pukulan 'Pemusnah Raga Penghancur Jiwa'.

"Murid sakit ini benar-benar hendak membuat gurunya mampus!" maki Barata Surya. Tidak ayal lagi ia pun lepaskan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar'.

Wuuus! Wuuuur!

Dua larik sinar hitam menderu, dari arah Penghulu Siluman melesat pula sinar redup biru bersemu merah.

"Hati-hati kau Barata Surya!" Malaikat Berambut Api memperingatkan.

Peringatan yang sudah terlambat. Dentuman keras terdengar susul menyusul. Dua-duanya sama menjerit dan sama-sama terlempar pula.

Si kakek  urut-urut  dadanya  yang  mendenyut. Setelah di urut ternyata ada darah yang menetes keluar dari sudut-sudut bibirnya. Suro Blondo meringkuk tidak jauh dari Barata Surya. Wajah pemuda itu pucat pasi, sedangkan darah keluar dari hidung dan mulutnya. Melihat cucu satu-satunya dalam keadaan begitu rupa kakek Dewana lupa dengan musibah yang menimpa Suro. Cepat ia melesat hendak menolong.

"Suro...!" pekiknya. Baru saja ia hendak mendukung pemuda itu. Satu hantaman keras mendarat di dadanya. Malaikat Berambut Api menjerit, ia terlempar dan menderita luka dalam. Rupanya Suro walau pun terluka bersiasat untuk menjatuhkan lawan dengan berpura-pura pingsan. Muslihatnya berhasil. Dewana kena dihantamnya. Penghulu Siluman Kera Putih tergelak-gelak melihat kejadian itu.

"Sudah tua bangka masih kena dikadali cucu sendiri. Sudah kubilang Suro sedang kesurupan, kini kau rasa sendiri. Ha ha ha...!"  Barata Surya mengejek. Malaikat Berambut Api bangkit berdiri. Di depannya Pendekar Blo'on telah berdiri. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Malaikat Berambut Api terkesiap ketika melihat di tangan pemuda itu telah tergenggam senjata sakti Mandau Jantan.

"Suro ingat! Jangan kau main-main dengan senjata itu!" Dewana berteriak memperingatkan. Dan sebenarnya jika Suro bukan cucu dan murid sendiri. Rasanya menjatuhkan pemuda itu tidak demikian sulit. Walau pun selain mewarisi pukulan-pukulan hebat dari lawan yang telah memperalatnya ia juga memegang senjata Sakti Mandau Jantan. Tetapi orang yang menghendaki nyawanya ini adalah murid sekaligus cucu yang masih punya hubungan darah. Mana mungkin ia tega melukainya apalagi sampai membunuh pemuda itu.

"Aku tidak tahu seberapa besar kehebatan senjata ini. Namun dengan senjata ini pula Ratu Leak memberi tugas padaku untuk memancung leher kalian!" dengus Suro seakan pada musuh bebuyutannya.

"Hieeeh..,! Huuuung! Hahahaha...!"

Mendengung suara ringkik dan tawa serta tangis berkepanjangan dikala Pendekar Blo'on kerahkan segenap kesaktian pinjaman  Ratu  Leak dan mengayunkan senjata itu. Sinar hitam berkelebat ganas menyambar.

"Biar aku yang melumpuhkannya...!" pinta Penghulu Siluman Kera Putih.

"Kau hendak mampus!" hardik Dewana. "Hanya aku yang tahu bagaimana caranya mengatasi kedahsyatan senjata itu...!"

Malaikat Berambut Api lalu pungut sepotong kayu keras sepanjang setengah depa. Barata Surya cemberut. "Dia rupanya hendak menggebuk cucu sendiri. Bagusnya aku nonton pertunjukan gratis ini!" ujar si kakek. Ia melompat di atas sebatang kayu. Kemudian ia berayun-ayun sambil menopangkan kepala di atas kedua tangan. Pertarungan sengit pun tidak dapat dihindari lagi. Dengan mandau di tangan pemuda itu terus memburu Malaikat Berambut Api. Setiap senjata itu melayang selain menimbulkan deru angin panas juga terdengar suara ringkik kuda. Semakin kuat Suro mengayunkan senjata itu, maka lubang miring yang terdapat di tengah-tengah mandau mengeluarkan suara tangis. Suro mengerahkan seluruh tenaga dalam yang ada, rambutnya yang kemerahan berubah merah seperti bara. Dan dari senjatanya terdengar suara tawa berkepanjangan tiada habishabisnya.

Kakek Dewana menggumam tidak jelas. Diam-diam ia pun kerahkan tenaga dalam ke bagian potongan kayu di tangan. Lalu secepat kilat keduanya menerjang. Dua sosok tubuh kini terlihat bagai bayang-bayang saja. Jika bayangan biru terus mengejar dan sabetkan senjatanya berulang-ulang. Maka bayangan merah menghindar sambil sesekali menangkis serangan Suro.

"Hiaaa,..!"

Suro Blondo tiba-tiba saja melesat di udara. Ia lepaskan pukulan sebagai pancingan. Tetapi kakek Dewana menyambutnya dengan kemplangan kayu di tangan.

Buuum!

Suro bangkit kembali, Malaikat Berambut Api yang sempat tergontai-gontai segera sambut hantaman Mandau yang mendengung nyaris membelah kepalanya.

Tring! Triing! Tesss!

Dentingan senjata dengan potongan kayu yang teraliri tenaga dalam menimbulkan pijaran bunga api. Akan tetapi ketika Pendekar Blo'on lipat gandakan tenaga dalam hingga ke puncaknya. Maka kayu yang dipergunakan kakek Dewana terbabat putus. Laki-laki tua ini langsung melompat mundur. Ia kerahkan sepertiga dari seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Perubahan rambut si kakek pun terjadi. Rambut yang berwarna merah itu semakin bertambah merah. Wajahnya tegang, rasanya mustahil ia tega melepaskan pukulan dahsyat terhadap murid sendiri. Sebab ia menyadari sepenuhnya Suro Blondo sedang berada dalam pengaruh kekuatan lain yang tentu saja teramat dahsyatnya. Kini ia melesat ke depan, kayu di tangan yang sudah buntung dihantamkan ke bagian wajah Suro. Apa yang dilakukannya itu hanyalah tipuan saja. Suro cepat menangkis dengan senjatanya.

Triing!

Keduanya tampak tergetar hebat. Tanpa diduga-duga si pemuda yang merasa tertipu mentahmentah, gerakkan senjata agak ke bawah. Mandau meluncur mengancam. Kakek Dewana selamatkan perut dengan menggeser kaki kiri. Justru kaki kanan dalam keadaan condong dan tidak sempat ditarik lagi. Laksana kilat si kakek selamatkan kakinya. Walau pun begitu ujung mandau masih menggores kakinya.

Breet! "Ukh...!"

Malaikat Berambut Api keluarkan keluhan tinggi. Tetapi ia tetap menggerak potongan kayu di tangannya. Suro tarik tangannya yang memegang senjata agar tidak terkena pukulan si kakek. Gerakannya ini tertahan karena kakinya terpeleset lumut licin yang dipijaknya. Tidak terelakkan lagi....

Tak! Ting!

Pemuda itu mengeluh bersamaan waktunya dengan Mandau Sakti jatuh menancap tidak jauh di sampingnya. Selagi Suro dalam keadaan lengah, maka Malaikat Berambut Api bergerak. Jemari tangannya terjulur ke lima bagian di tubuh muridnya. Pendekar Blo'on terkesiap ia berusaha lepaskan pukulan 'Liang Batu Penebus Kutuk'. Malang gerakannya kalah cepat dan....

Tuuuuk! "Aaaah !"

Sekujur tubuh pemuda ini tiba-tiba saja menjadi kaku. Ia melotot menahan kemarahan. Penghulu Siluman Kera Putih segera mengambil senjata yang tergeletak di atas pasir. Ia menimangnimang senjata itu sekejap sambil memperhatikannya.

"Hampir saudara Dewana mati konyol dengan senjata yang dibuat sendiri. Senjata hebat, sebagai salah seorang guru Suro, baru kali ini aku melihat senjata ini!" puji Barata Surya. Orang yang diajaknya bicara sama sekali tidak menanggapi. Ia bahkan malah sibuk mengobati luka di paha yang tergores senjata cucunya. Pada saat seperti itulah kilat menyambar disertai suara guruh di angkasa. Sosok bayangan dalam waktu bersamaan menyambar ke arah Suro.

"Selamatkan murid kita!" teriak kakek Dewana ketika menyadari ada sesuatu bergerak ke arah Suro. Akan tetapi peringatan itu terlambat, Suro telah dilarikan oleh bayangan hitam yang menyambarnya.

"Gila...! Siapa dia??" desis Barata Surya dengan mulut melongo saking kagetnya.

"Celaka! Cepat kejar, jangan-jangan orang itu hendak mencelakainya!" pekik Malaikat Berambut Api.

"Bagaimana dengan kau, saudara Dewana?" Barata Surya ragu-ragu.

"Bodoh! Jangan pikirkan aku. Aku tidak apa-apa, cepat kejar!" teriak si kakek cemas.

Tanpa menunggu dengan masih membawa Mandau Jantan, Penghulu Siluman Kera Putih segera melakukan pengejaran ke arah menghilangnya bayangan hitam yang melarikan Pendekar Blo'on. Lalu, apakah yang akan terjadi dengan Suro, si Pendekar konyol? Bagaimana nasib Dewi Kerudung Putih di tangan Ratu Leak? Lalu bagaimana nasib tanduk Sakti yang direbut oleh Mata Iblis? Padahal kekuatan Pendekar Blo'on tertahan dalam tanduk itu. Dapatkah Dewi Kerudung Putih merampas Batu Lahat Bakutuk itu kembali? Nantikan kelanjutannya!!

TAMAT