Serial Pendekar Bloon Eps 17 : Persekutuan Orang-orang Sakti

 
Eps 17 : Persekutuan Orang-orang Sakti


Sudah sejak ratusan tahun yang silam bangunan itu berdiri. Dibangun di atas sebuah bukit. Di sekeliling bukit itu gersang, tidak satu pun pepohonan tumbuh di sana. Entah siapa yang mendirikan bangunan tersebut tidak seorang pun yang tahu. Ada yang mengatakan konon bangunan megah dengan empat sisi yang menjulang ke langit itu dibangun oleh seorang tokoh sakti bergelar Ratu Keindahan hanya dalam tempo setengah malam. Jika ini merupakan kenyataan. Tidak terbayangkan betapa tingginya kesaktian yang dimiliki oleh wanita sakti tersebut. Betapa tidak? Salah satu tiang penyangga bagi berdirinya bangunan itu saja besarnya sepelukan laki-laki dewasa. Sedangkan jumlah tiang yang ada seluruhnya dua puluh buah. Sepuluh berwarna putih dan sepuluh berwarna hitam. Setiap tiang berseling antara putih dan hitam. Apa tujuan didirikannya bangunan itu oleh wanita sakti tersebut tidak ada yang tahu. Bangunan megah terletak di bukit gersang tersebut memang penuh teka-teki bagi orang yang punya pikiran luas. Selain itu, tidak jauh dari bukit gersang ini. Terdapat bangunan lain yang lebih besar, walaupun letaknya di bukit yang lebih tinggi, namun bentuknya unik. Bagian depan bangunan condong ke kiri, seakan ingin menjangkau bangunan megah yang berada di bukit gersang di sebelahnya. Jumlah tiang-tiangnya juga dua puluh. Hanya sisinya berjumlah lima. Bangunan tersebut mengalami keretakan di sana sini. Konon yang menciptakan bangunan ini adalah seorang tokoh sakti pula. Bukan wanita, melainkan seorang laki-laki yang gagah perkasa.

Apa maksud yang tersembunyi dibalik berdirinya kedua bangunan tersebut tidak seorang pun yang tahu. Demikianlah bangunan itu berdiri selama ratusan tahun tanpa ada yang mengusiknya. Sampai pada suatu masa muncul seorang gadis gagu di daerah Imogiri. Gadis itu cantik sekali kulitnya kuning langsat berpakaian hijau seperti zambrut. Kemunculan gadis ini tidak akan mengundang perhatian orang, jika ia tidak menulis syair di sembarang tempat yang dilewatinya. Terkadang ia menulis syair-syairnya di atas daun yang menghijau, atau di kulit-kulit kayu dan tidak jarang di pintu-pintu warung.

Sayang gadis gagu dan penyair ini seperti manusia misterius. Ia muncul di sembarang tempat. Di pasar-pasar, warung, keramaian atau tempat yang sunyi. Ia pergi tanpa meninggalkan bekas. Namun apa yang ditulisnya satu purnama kemudian menimbulkan kegemparan dan mengundang rasa ingin tahu berbagai kalangan. Bahkan lama-kelamaan bermunculanlah tokoh-tokoh sakti dari berbagai daerah di tanah Jawa.

Mereka berusaha memecahkan teka-teki yang terdapat dalam syair si gadis gagu. Namun tidak satu pun di antara mereka yang dapat memahami arti dari setiap baris kalimat yang mereka jumpai dalam syair-syair itu. Kenyataan ini menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Menjadi bahan diskusi baik pagi maupun petang.

Siang itu seorang laki-laki tua tampak memasuki kota Imogiri. Tubuhnya besar luar biasa. Berpakaian putih dan bercelana putih kedodoran. Sehingga sesekali ia terpaksa menarik celananya agar tidak sampai melorot ke bawah. Telanjang. Orang ini memikul buntalan besar, seperti orang yang mengungsi karena diusir mertuanya. Buntalan putih, kumal, dekil sebagaimana penampilan kakek berjenggot putih itu sendiri. Melewati sebuah warung, ia melihat ada sekelompok orang sedang berkerumun. Rasa penasaran membuatnya datang menghampiri. Matanya berkedip-kedip ketika dilihatnya orang-orang ternyata hanya memperhatikan dan membaca syair-syair yang tertulis di kulit pohon Trembesi (Ambon).

"Jidad orang-orang ini berkerat-kerut seperti sedang memecahkan kode buntut saja. Hanya sepuluh baris kalimat yang dibuat orang gila," gumamnya dalam hati. "Eeeh... cara menggurat kulit kayu itu boleh juga. Dia pasti punya tenaga dalam yang cukup lumayan!" Si kakek berambut putih ini memperhatikan tulisan itu dengan seksama. Lalu membacanya.

Aku sering bertanya, siapa aku, buat apa aku dilahirkan

mengapa aku hidup di dunia? Aku sudah lupa janjiku ketika berada di alam Rahim

Aku bertanya pada matahari, bintang dan

bulan

Pada pohon, pada angin, pada air, dan pa-

da seluruh makhluk yang punya nyawa dan jiwa Mereka diam membisu, tanya ku berlalu....

Seperti diriku yang gagu

Lalu kudengar bisikan kalbu, datanglah ke bukit Keangkuhan!

Kening si kakek mengerenyit. Celananya yang kedodoran melorot dan ia terpaksa tarik celananya hingga lewat di atas pusernya.

"Yang membuat syair ini rupanya orang gagu. Mengapa harus datang ke bukit Keangkuhan? Ada apa rupanya di sana!" pikir si kakek. Si kakek lalu menggamit salah seorang laki-laki yang berada di sebelahnya.

"Saudara, bukit Keangkuhan itu di mana?" tanya kakek berpenampilan seperti orang sinting ini. Orang itu memperhatikan si rambut putih, ada perasaan ngeri membayang di matanya.

"Sebaiknya Kisanak jangan ke sana. Bukit Keangkuhan adalah Bukit Keramat. Sudah beratus-ratus tahun tidak seorang pun berani datang ke sana. Tempat itu mengandung kutuk. Siapa datang tidak akan pernah kembali ke dunia fana ini!" jelasnya penuh ketakutan. Si kakek tarik celananya yang melorot. Sesungguhnya setiap tarikan napasnya selalu membuat celananya turun melulu. Tampaknya ia sangat penasaran sekali. "Memangnya di sana ada jin tukang makan

manusia. Wah lucu juga ini, coba saudara perhatikan. Bukankah syair-syair itu menarik. Orang bertanya asal-usul, untuk apa ia terlahir ke dunia. Wah, saudara. Hal ini bukan main-main. Aku harus kasih keterangan pada orang gagu itu agar dia tahu dan tidak membawa pertanyaannya di liang kubur!" kata si kakek.

"Kisanak, sebaiknya ja...!" Orang ini terpaksa telan ucapannya karena orang yang diajaknya bicara sudah minggat dari hadapannya. Lakilaki itu gelengkan kepala sekaligus takjub.

"Gila! Sekarang sudah mulai bermunculan orang-orang sakti!" gumamnya dalam hati.

* * *

Bukit Keangkuhan jaraknya sekitar setengah hari lagi dari tempat kedua orang ini berada. Tampaknya kedua laki-laki berpakaian hitam dengan kancing terbuka ini datang dari sebuah tempat yang cukup jauh. Yang terasa aneh dari keduanya adalah di sekeliling pinggang mereka terdapat buli-buli arak yang jumlahnya tidak kurang dari tiga puluh buah. Arak yang mereka bawa adalah arak yang paling keras. Seandainya saja arak itu dituangkan ke atas rumput-rumput menghijau, dapat dipastikan rumput jadi kering dan terbakar. Laki-laki jangkung dan laki-laki pendek itu di rimba persilatan dikenal dengan julukan Iblis Pemabukan dan Setan Arak. Tidak seorang pun yang tahu siapa nama asli mereka.

Sekarang mereka duduk di bawah pohon yang sangat rindang. Sambil duduk mereka meneguk arak yang diambil dari pinggang masingmasing. Mata orang-orang ini senantiasa merah seperti mata orang yang tidak pernah tidur.

"Apa jadinya dengan rimba persilatan jika iblis dan setan seperti kita muncul? Kita telah tertipu hanya karena syair butut si gagu! Gluk! Gluk! Gluk! Hmm... sedap betul rasanya arak ini!" kata Iblis Pemabukan meracau tidak karuan.

"Siapa tahu di bukit Keangkuhan kita dapat peruntungan disana, Kakang. Kalau di dalam bangunan itu terdapat kitab, kitab kita ambil, jika harta, harta pula kita ambil. Jika perempuan cantik...!" Setan Arak si gendut pendek terdiam sejenak seakan berpikir. Lalu ia bicara seperti ditujukan pada diri sendiri.

"Aku lebih suka dalam dua bangunan itu terdapat arak. Arak lezat yang tersimpan ratusan tahun. Perempuan bagiku bukan kenikmatan. Araklah yang nikmat!"

"Aku juga begitu, tapi jangan kita merendahkan perempuan. Walaupun ia kelihatannya lemah, tapi mulutnya mampu menelan laki-laki sebesar apapun...!" sahut Iblis Pemabukan. Kemudian mereka berdua tertawa terkekeh-kekeh. Mereka meneguk araknya lagi, sehingga terdengar suara sendawa saling bersahut-sahutan.

"Lihat, Kakang, gunung sudah mulai miring, nah pohon-pohon mulai berlarian saling kejar. Eh, kita juga berputar-putar, Kakang!" kata Setan Arak sambil tersenyum-senyum.

"Edan kau! Itu tandanya kau sudah mulai mabuk lagi, sinikan buli-bulimu...!" kata Iblis Pemabukan. Tanpa kata-kata ia langsung meneguk arak yang direbutnya, lalu....

Gluk! Gluk! Gluk!

"Hmmm, sedap betul!" desah Iblis Pemabukan, seraya tepuk-tepuk perutnya yang gembung.

Lama mereka dalam keadaan seperti itu, sampai kemudian muncul sesosok tubuh berpakaian hitam di hadapan kedua orang ini.

"Weh, ada orang, Setan Arak! Siapa dia, coba kau tanya? Jika ia menginginkan arak kita sebaiknya kau usir cepat sebelum kesabaranku habis!" dengus Iblis Pemabukan.

"Hmm, aku mencium bau busuk. Aku sendiri tidak suka bau-bauan seperti ini. Biar aku berdiri dulu!" kata Setan Arak, seraya meneguk araknya. Kemudian ia menghampiri laki-laki berpakaian hitam itu.

Langkahnya terhuyung-huyung seperti orang mau jatuh.

"Kau siapa?" tanya Setan Arak.

Laki-laki bermuka bopeng-bopeng dan bertampang angker ini memandang penuh sinis.

"Aku si Perusak Raga. Ingin bertanya apakah kalian yang menulis syair-syair di atas daun, di kulit kayu, di atas batu dan di sembarang tempat!" tanya laki-laki muka bopeng tersebut dingin. "Ha ha ha...! Kau Perusak Raga, pantasan mukamu bopeng seperti jeruk purut. Ketahuilah, kami bukan orang yang menulis syair-syair itu. Sekarang kami malah ingin datang ke bukit Keangkuhan." sahut Setan Arak.

"Kau dan kawanmu hendak pergi ke sana? Huh sedangkan jalanmu saja tidak lempang. Hanya aku yang boleh ke sana!" kata Si Perusak Raga. las. "Jadi...?" gumam Iblis Pemabukan tidak je-

"Jadi kalian berdua harus kubunuh!" dengus Si Perusak Raga.

Mendengar ucapan laki-laki berpakaian hitam tersebut, kedua laki-laki pemabukan ini tergelak-gelak.

"Kau ini sedang bicara atau melawak. Kepandaian apa yang kau miliki sehingga berani menantang kami?" ejek Setan Arak.

"Inilah kepandaian yang ingin kalian lihat!" teriak Si Perusak Raga.

Tiba-tiba saja ia jentikan tangannya ke arah Setan Arak dan Iblis Pemabukan. Dari tempat duduknya ia melompat dengan langkah terhuyung-huyung. Terlihat sinar hitam berkelebat, hawa panas menebar seperti memanggang kulit mereka. Iblis Pemabukan tertawa bekakakan, bibirnya mengatup rapat, mulut mengembung. Kemudian ia menyemburkan cairan arak dari mulutnya ke arah sinar yang hampir menghantam tubuhnya. Cuh! Cuh! Zzzzzst...! Buumm! "Heh...!"

Dua-duanya terdorong mundur. Tampak asap putih mengepul di udara. Si Perusak Raga agak terkesiap juga melihat kenyataan ini. Lalu secara tidak terduga tubuhnya melesat ke depan. Kaki kanannya yang setengah ditekuk itu menghantam perut Iblis Pemabukan. Sebelum tendangan itu mengena pada sasaran dari samping Setan Arak menyerang dengan tendangan kaki pula.

Bletok!

Si Perusak Raga menjerit kesakitan, Setan Arak berteriak keras. Ia berjingkrak-jingkrak karena menahan sakit yang luar biasa sekali. Betapa pun ia tadi mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya. Hingga beradunya tulang kering masing-masing lawan sakitnya sampai ke ubun-ubun. Si Perusak Raga menggeram penuh ama-

rah, jemari tangannya bersilangan. Lalu laksana terbang ia menerjang kembali dengan serangkaian serangan beruntun yang tidak ada putusputusnya. Angin menderu, debu beterbangan. Baik Iblis Pemabukan maupun Setan Arak dengan terhuyung-huyung menghindari sergapan lawannya. Sekarang mereka benar-benar mengerahkan jurus-jurus mabuknya. Gerakan menghindar maupun serangan balasan yang dilakukan dua bersaudara pemabukan ini sudah tidak teratur, namun Si Perusak Raga berulang kali hampir terkecoh.

Laki-laki bermuka bopeng ini tiba-tiba melompat mundur ia kerahkan tenaga dalamnya ke bagian tangan, sehingga tangan itu dalam waktu yang sangat singkat telah berubah hitam legam.

"Pukulan Inti Raga!" desis Iblis Pemabukan dengan mata menyipit. "Setan Arak, hati-hati. Orang gila mulai mengeluarkan pukulan saktinya!" kata laki-laki jangkung ini memperingatkan.

"Ha ha ha...! Kau lihat, Kakang. Pohonpohon masih berputar, mereka seperti orang bingung. Kenapa kita tidak layani dia dengan ini saja!" teriak Setan Arak membalas peringatan saudaranya. Tiba-tiba saja Setan Arak acungkan tinjunya di udara. Tinju itu digerak-gerakkan ke udara. Apa yang dilakukan Setan Arak diikuti oleh saudaranya. Begitu tinju itu diayunkan ke depan. Maka selarik sinar putih menghampar, menimbulkan suara deru dan bergulung-gulung. Suasana di sekelilingnya sontak menjadi panas. Sedangkan pada waktu itu pula Si Perusak Raga telah lebih dahulu melepaskan pukulan Inti Raga. Terdengar pula gaung suara seperti badai. Tidak heran, karena masing-masing lawan adalah tokoh-tokoh sakti dan termasuk sudah memiliki kepandaian rata-rata di atas sempurna. Maka di tengah-tengah suara ribut yang saling tindih menindih dan menyakitkan telinga itu terjadi ledakan keras menggeledek. Terlihat ada bunga api berpijar seperti lintasan kilat. Tiga sosok tubuh terlempar dan tampak terguling-guling. Perusak Raga memuntahkan darah segar. Setan Arak dan Iblis Pemabukan pegangi mulutnya yang mengucurkan darah. Walaupun mereka sama-sama menderita luka dalam yang cukup parah. Dua saudara pemabukan ini berdiri dan langsung tertawa-tawa seperti orang gila.

Gluk! Gluk! Gluk!

Lagi-lagi Setan Arak dan Iblis Pemabukan meneguk araknya. Arak membasahi tenggorokan dan membuat tubuh mereka terasa hangat. Perusak Raga bangkit berdiri dengan wajah berubah kelam membesi.

"Aku tidak akan pernah puas sebelum memukul remuk batok kepala mereka!" kata Perusak Raga dalam hati. Kemudian ia mengeluarkan senjata andalannya berupa bola rantai baja berduri. Keunikan senjata ini antara lain pada setiap bagian sisi bola tersebut bila ditekan dapat mengeluarkan kabut beracun. Racun ganas yang sangat mematikan sekali.

2

Melihat apa yang hendak dilakukan oleh lawannya Setan Arak langsung berseru ditujukan pada saudaranya Iblis Pemabukan.

"Apa jawabmu apabila dia bermaksud mengadu jiwa dengan kita?"

"Adalah bodoh jika sesama golongan sendiri saling membunuh. Bukankah lebih baik jika kita bekerja sama Perusak Raga? Kami adalah orang yang penasaran dan ingin tahu ada rahasia apa yang terkandung dalam bangunan-bangunan di bukit Keangkuhan! Apakah kau masih ingin saling ngotot dan unjuk gigi pada kami?" tanya Iblis Pemabukan ketus.

Laki-laki berbaju hitam itu terdiam. Memang kalau dipikir kedua lawannya itu mempunyai kepandaian seimbang dengannya. Konon semburan araknya saja dapat melubangi lempengan baja setebal apapun. Dan sejak mereka terlibat pertempuran sengit tadi, tampaknya lawan belum mempergunakan senjata maut dari minuman keras tersebut. Walaupun ia sendiri merasa yakin dengan kehebatan senjata yang dimilikinya. Kalau dipikir bukankah lebih baik mereka bekerja sama? Nanti jika keadaan di sana menguntungkan bukankah mereka dapat dibunuh secara licik. Berpikir sampai ke sini, Perusak Raga langsung menyimpan senjatanya kembali.

"Bagus, kiranya kau dapat menerima apa yang kami tawarkan!" ujar Setan Arak, seraya menarik napas lega.

"Apakah kau mau minum arak kami, sobat? Hitung-hitung sebagai tanda persahabatan kita." Iblis Pemabukan menawarkan sambil menyodorkan buli-buli tuaknya pada Si Perusak Raga. Tapi tokoh aneh yang satu ini menolaknya.

"Jelaskan padaku apa yang kalian ketahui tentang Penyair Gagu?" tanya Si Perusak Raga. Iblis Pemabukan dan Setan Arak berpandangan. Setan Arak melangkah maju.

"Oh mengenai Penyair itu kami pun sama butanya dengan engkau. Tapi menurutku ia pasti tahu banyak tentang bukit Keangkuhan. Terbukti ia menulis syair-syair itu dan apa yang dikatakannya berada tidak jauh lagi dari sini. Cuma kami tidak tahu arti sepuluh mengalahkan sepuluh. Satu mengalahkan sembilan!" ujar Iblis Pemabuk. Bibir Perusak Raga menggerimit, keningnya yang menghitam tampak berkerenyit dalam.

"Itu sebuah misteri. Kurasa ada sesuatu yang berguna di dalam bangunan itu. Ada hal yang kurasakan agak janggal dalam syair-syair itu?" gumam Perusak Raga.

"Apa?" tanya Setan Arak dan Iblis Pemabukan hampir bersamaan.

"Apa hubungannya wanita penyair gagu itu dengan dua bangunan yang berada di atas bukit Keangkuhan?"

"Hal ini baru dapat kita cari jawabannya bila kita sudah sampai ke sana!" sahut Setan Arak.

"Nah sekarang setelah kita berserikat tunggu apa lagi!" ujar Perusak Raga seakan tidak sabar.

"Betul, kita adalah orang-orang bersekutu. Mari segera berangkat!" timpal Iblis Pemabukan. Maka berangkatlah ketiga tokoh-tokoh sakti itu menuju bukit Keangkuhan yang jaraknya tidak jauh lagi dari tempat mereka berada. * * *

Pemuda bertampang tolol kekanakkanakan itu baru saja mengenakan bajunya. Ia mengangkat beberapa ekor ikan jurung besar yang baru didapatnya ketika mandi tadi. Ikan itu megap-megap karena tidak bisa bernapas. Si pemuda baju biru ini garuk-garuk kepala sambil memperhatikannya.

"Sebenarnya aku sudah kelaparan nih. Tapi setelah melihat mata ikan ini kok jadi tidak tega! Baiknya aku lepaskan saja." pikir si konyol. Ternyata ia ragu-ragu. "Lepas jangan ya? Jangan apa dilepas?"

Krukuk!

"Heh, cacing dalam perutku mengatakan supaya jangan dilepas." kata Suro. "Tapi bagaimana jika bapak emak ikan ini mencari anaknya? Bapak ikan pasti sedih! Weleh masa bodo! Mau makan saja pakai ragu-ragu segala!"

Plok! Plok!

Dan tiga ekor ikan jurung itu dihempaskannya di atas batu. Ikan menggelepar dan mati. Suro segera membuat api dari rantingranting kering yang dikumpulkannya. Tidak lama kemudian terciumlah bau harum daging panggang yang lezat.

Suro Blondo murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini mulailah sibuk menggerogoti ikan panggang tersebut. Sedang asyik-asyiknya ia menikmati santapannya. Tibatiba telinganya yang sudah sangat terlatih itu menangkap ada suara langkah-langkah kaki mendekati ke arahnya. Tanpa membuang waktu lagi Suro melompat ke atas dahan pohon. Sayang ia hanya dapat menyambar salah satu ikan panggang, sedangkan sisanya tertinggal di pinggir perapian.

"Wiih, ikan ini padahal gurih. Sayang aku cuma sempat membawanya satu. Kalau sedang makan enak begini rasanya mertua lewat pun tidak kelihatan. Goblok, siapa mertuaku? Satusatunya gadis yang aku suka hanya Putri Kilat Bayangan. Entah di mana dia!" ujar si konyol seperti orang berbisik-bisik seperti orang kurang waras.

"Rasanya lebih baik aku turun mengambil ikan itu!" katanya memutuskan. Namun belum sempat ia melakukan sesuatu, tiba-tiba ia melihat seorang gadis berkulit kuning langsat berwajah ayu berpakaian hijau. Suro berdecak kagum melihat kecantikan gadis itu. "Untung dia datang bukan pada waktu aku lagi mandi. Kalau sampai ketahuan, weleh-weleh, aku bisa sial empat puluh hari!" desah Suro.

Lalu Suro memperhatikan gadis itu agak lama. Ternyata gadis baju hijau tertarik melihat ikan bakar yang terletak di pinggir perapian tersebut. Setelah celingak-celinguk memperhatikan sekelilingnya. Ikan bakar milik Pendekar Blo'on dimakannya tanpa rasa curiga, sikapnya santai. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang tipis kemerahan.

"Enak saja ikanku diambil. Mana boleh begitu?" gumam Suro dalam hati. Ia garuk kepala lagi. Tiba-tiba saja melompat turun.

"Hei... ikanku...!" tegas Suro cemberut.

Sepontan gadis baju hijau melengak dan langsung melompat mundur ketika melihat kehadiran pemuda berambut hitam kemerahan ini. Sejenak lamanya ia memperhatikan Pendekar Blo'on. Lalu sisa ikan di tangannya ia buang.

"Eii, jangan dibuang mubazir!" kata Suro. Pemuda itu memungut sisa ikan yang dibuang gadis baju hijau. Ketika Suro bangkit berdiri ia melongo. Gadis berbaju hijau sudah menghilang dari hadapannya.

Namun ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Ia melihat bendera terbuat dari kain putih. Bendera tersebut diikatkan pada ranting kayu, pangkal ranting menancap di tanah.

"Bendera putih? He he he...! Seperti orang kalah perang aja!" ujar Suro sambil menghampiri. Merasa penasaran ia langsung mencabut ranting kayu tersebut.

"Ugkh...!"

Dan pemuda ini terbelalak kaget. Ranting kayu itu tidak dapat dicabut dengan tenaga kasar. Keningnya mengerenyit. Jika gadis baju hijau itu dapat melakukan hal seperti ini pasti ia memiliki tenaga dalam yang sudah sempurna sekali.

"Trondolo! Ini sih bukan main-main!" gumam si pemuda. Seraya garuk-garuk kepala. Sekarang ia mengerahkan tenaga dalamnya. "Huup!"

Broll! "Wadoow...!"

Begitu kerasnya ia mencabut sampai membuatnya jatuh terduduk, sialnya lagi pantatnya terhempas di atas batu runcing. Pemuda berbaju biru ini meringis kesakitan. Ia usap-usap pantatnya.

"Untung bukan pedangku yang kena. Kalau sampai itu yang tertusuk batu, jika anu yang tertusuk. Bisa-bisa masa depanku jadi suram!" gerutunya sambil nyengir. Bendera putih yang tergulung dibukanya. Mata pemuda konyol ini membulat lebar. Di bolak-baliknya bendera tersebut, mulutnya termonyong-monyong. Tulisan itu cukup indah, tapi Suro yang sudah diajar tulis baca dan berhitung oleh kedua gurunya dulu masih sulit membaca tulisan tersebut. Kening Suro berkeratkerut lagi, eeh, kemudian monyong lagi.

"Sialan, ini tulisannya kok susah amat dibacanya!" desahnya. Ia garuk-garuk kepala. Sesungguhnya bahasa pada tulisan itu sebagaimana bahasa umum, namun rupanya gadis tadi adalah seorang ahli hias tulisan, sehingga arti huruf yang samar-samar membuat kepala Suro puyeng. Setelah memperhatikannya agak lama dan lebih teliti barulah Suro menyeringai kegirangan.

"Ini syair yang bagus! Isinya kok aneh, ya...?" batin Suro dalam hati. Sebentar saja pemuda ini sudah menelitinya baris demi baris kalimat yang tertulis pada bendera putih itu.

Manusia dilahirkan berjodoh Laki-laki dengan perempuan

Bumi berdampingan dengan langit, Namun tidak pernah menyatu Siapa yang menjunjung langit?

Siapa yang memegang bumi?

Manusia banyak belajar agar jangan bodoh Ternyata semakin belajar semakin bodoh Tambah ilmu tambah bodoh

Tambah pintar tambah goblok Sesungguhnya manusia itu teramat bodoh-

nya sangat tololnya, semakin gobloknya!

Sedikit kepandaian manusia mengatakan dirinya sakti

Kemudian terlahir keangkuhan, satu ingin memiliki, satunya lagi ketakutan, akan ditempatkan dimana bila ia mati

Luh Jingga ingin jodoh

Ia menciptakan kemegahan dalam waktu semalam

Tapi kemegahan itu miring, karena hatinya condong pada wanita

Rata Keindahan, Dara Nirmala Ia tidak ingin jodoh

Hatinya eondong pada maut Orang-orang sakti

Orang-orang sakti

Kemegahanmu berdiam di bukit Keangku-

han! Suro seka keringatnya, ia leletkan lidah. Hanya sedikit saja makna dari baris-baris kata yang tertulis di atas kain putih itu. Kemudian ia ingat ketika lewat di daerah Imogiri beberapa hari yang lalu. Ia juga banyak melihat syair-syair yang selalu dikerumuni orang. Syair yang konon ditulis oleh seorang penyair wanita. Penyair Gagu! Suro sekarang tepuk-tepuk keningnya.

"Kurasa gadis itu tadi penyair gagu yang dimaksud oleh orang-orang di Imogiri. Tololnya aku mengapa tidak kukejar? Padahal aku bisa bertanya padanya apa yang terjadi di bukit Keangkuhan? Aneh, dia sendiri punya hubungan apa dengan Ratu Keindahan?" Pendekar Blo'on golang-golengkan kepala pertanda bingung.

"Apapun yang terjadi di sana bukankah lebih baik jika aku mengetahuinya!" pikir Pendekar Mandau Jantan. Pemuda berambut kemerahan ini selanjutnya berlari meninggalkan tepian sungai. Dikejauhan terdengar suara sayup-sayup, seperti memaki dirinya sendiri.

Tololnya aku, begonya Suro! Punya ilmu lari Kilat Bayangan, kok malah berlari seperti monyet-monyet terbirit-birit!"

Wueees! Brebet!

Setelah mengarahkan ilmu lari Kilat Bayangan, tubuh si pemuda berkelebat-kelebat di antara pohon-pohon yang dilaluinya. Jika saja ada orang yang mengetahui perjalanan pendekar konyol itu, pastilah mereka terkagum-kagum.

* * *

Aripati Ujudana termasuk salah seorang tokoh kondang, sakti, serakah di daerah gunung Ceremai. Ia bergelar Si Muka Setan. Bukan karena wajahnya yang buruk. Wajah laki-laki itu cukup tampan, sisa-sisa ketampanannya itu masih ada walaupun kini umurnya sudah mencapai hampir 60 tahun. Ia menjadi manusia yang paling ditakuti di daerah gunung Ceremai, karena selain kesaktiannya yang tidak terukur, ia memiliki senjata ampuh yang terkenal dengan nama Petala Langit. Senjata itu berupa roda-roda terbang yang apabila melayang di udara dapat berubah jadi banyak bagaikan bintang bertaburan.

Munculnya Penyair Gagu telah menimbulkan heboh dan kegemparan di mana-mana. Sampai-sampai kabar itu tersebar di daerah Ceremai. Aripati Ujudana sebagai pentolan gunung Ceremai dan telah pula mengasingkan diri, terdorong oleh rasa keingintahuan akhirnya meninggalkan pengasingan. Pagi itu ketika kabut menyelimuti bukit Keangkuhan ia sudah sampai di sana. Ia tercengang melihat kedua bangunan megah yang letaknya berdampingan tersebut. Antara kedua bangunan itu ia melihat batu besar di atas tanah. Batu tersebut berbentuk aurat laki-laki lengkap dengan buah jambunya. Ujung batu yang berbentuk aurat itu menghadap ke arah bangunan indah yang memiliki empat sisi pada bagian atapnya. Aripati Ujudana atau Si Muka Setan adalah orang yang paling jarang tertawa dalam hidupnya. Namun kali ini tawanya meledak, ia tertawa seperti orang kurang waras. Perutnya terguncang air matanya bercucuran akibat tawanya yang tiada henti.

Ternyata batu berbentuk aurat itu mempunyai suatu kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi jiwa orang yang melihatnya. Seperti Aripati Ujudana ini. Si Muka Setan sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah terpengaruh kekuatan gaib dari apa yang dilihatnya. Sementara dari bangunan di sebelah barat, yaitu bangunan yang condong dimana setiap tiang penyangganya retak di sana sini seperti mau ambruk. Ada satu kekuatan yang kemudian menggerakkan Si Muka Setan. Laki-laki berambut panjang ini sambil tertawa-tawa memasuki bangunan yang condong tersebut. Pintunya yang tertutup langsung membuka secara aneh, Si Muka Setan masuk melalui pintu itu. Setelah ia berada di ruangan dalam, pintu menutup kembali. Aripati Ujudana tercengang-cengang melihat keindahan yang terdapat di bagian dalam bangunan tersebut. Pada setiap dindingnya terdapat gambar seorang perempuan cantik luar biasa. Lukisannya memang sungguh indah. Rasanya tidak seorang pelukis pun di dunia ini yang mampu melukis wanita sesempurna itu. 3

Aripati Ujudana tidak berhenti sampai di situ saja. Tubuh serta langkah kakinya seperti tertarik untuk memeriksa ruangan demi ruangan bangunan yang luas dan memanjang ke belakang tersebut. Sementara itu suara tawa terus terdengar, tidak pernah berhenti hingga membuat suaranya serak sekali. Sampai di sebuah ruangan lain ia tertegun. Di sana ia melihat sebuah lukisan lain yang langsung menempel pada dinding. Lukisan seorang gadis yang sama dalam bentuk samar sementara ada seorang laki-laki yang sedang melambaikan tangannya seakan ingin menggapai gadis itu. Di belakang si laki-laki yang tidak jelas wajahnya itu terlihat seorang gadis pula memakai baju putih. Wajahnya hampir sama dengan wajah gadis yang satunya lagi. Cuma yang di belakang laki-laki itu tampak cemberut. Berbeda dengan perempuan yang satunya lagi yang seakan berlari menjauhi si laki-laki. Sedangkan yang di belakang laki-laki seakan mengejarnya.

Aripati Ujudana semakin keras tawanya melihat lukisan tersebut. Padahal tidak ada sesuatu yang lucu. Demikianlah sambil tertawa-tawa seperti orang gila itu terus bergerak ke arah ruangan lainnya. Hingga ia melihat tumpukan batubatu jambrut serta mutiara yang bertebaran di atas lantai. Si Muka Setan bermaksud mengambil barang-barang berharga itu. Ia berpikir jika ia dapat membawa barang-barang itu keluar, ia pasti akan menjadi orang paling kaya. Namun baru saja jemari tangannya hendak menyentuh salah satu dari mutiara dan batu jambrut tersebut ada sinar putih menyambar tangannya.

Sinar itu membuat tangannya melepuh, Aripati Ujudana menjerit keras. Ia memandang ke arah datangnya sinar tadi. Ternyata tidak ada siapapun di belakangnya. Aripati memaki, tawanya terhenti. Lalu terdengar suara seseorang yang seakan datang dari ruangan lainnya.

"Jangan kau sentuh barang yang bukan milikmu! Kau telah memasuki bangunan tandingan yang kuciptakan dalam waktu semalam. Berarti kau tidak dapat keluar dari tempat ini selamanya. Kau harus bersekutu denganku!" kata sebuah suara.

"Mana bisa, aku Si Muka Setan tidak dapat bekerja sama dan bersekutu dengan siapapun!" bantah Aripati.

"Setiap pintu terkunci, tidak pernah terbuka tanpa seizinku. Kau tidak mungkin dapat menembusnya tanpa bantuanku. Walau kau mempunyai kesaktian setinggi gunung!"

"Siapa kau? Tunjukkanlah wajahmu dan datang kepadaku!"

"Datanglah kau kemari! Kau segera melihat siapa aku yang sebenarnya!" sahut suara itu. Seumur hidupnya Aripati tidak pernah diperintah orang lain. Biasanya dialah yang memberi perintah. Itu sebabnya ia tetap bertahan pada tempatnya.

Namun tanpa disangka-sangka seakan ada

kekuatan gaib yang menyeretnya. Aripati bergerak diluar kehendak hatinya. Ia tetap berusaha bertahan, tapi malah ia tersungkur bahkan seperti ada suatu kekuatan yang menyeretnya. Jika saja tokoh berkepandaian tinggi seperti Aripati ini tidak berdaya melawan kekuatan gaib tersebut, dapat dibayangkan betapa kesaktian orang yang bicara tadi.

Gluduk!

Aripati terguling-guling di sebuah ruangan yang sangat luas. Pada setiap bagian dinding terdapat gambar-gambar laki-laki yang sedang menangis. Gambar laki-laki itu sama persis dengan lukisan yang di depan tadi. Aripati bangkit berdiri dengan perasaan terheran-heran. Ketika ia layangkan pandangan matanya. Di tengah-tengah ruangan, tepatnya di atas batu pualam putih berbentuk empat persegi duduk seorang laki-laki. Pakaiannya hancur lapuk dimakan waktu, Aripati tidak dapat melihat wajah orang ini karena posisinya memunggungi. Laki-laki itu mengelilingi batu tersebut, bergerak ke depan untuk melihat wajah orang yang rambutnya menjuntai ke lantai.

Dan Si Muka Setan pun terkesiap, dari kedua mata orang ini ternyata mengucur air mata yang tidak kunjung henti. Sungguh pun kedua kelopak matanya dalam keadaan terpejam, namun air mata yang keluar tidak pernah berkurang. Apa yang membuat laki-laki ini menangis sepanjang masa, itulah yang membuat Aripati terheran-heran.

"Ternyata aku hanya melihat seorang lakilaki cengeng. Huh... aku harus keluar dari tempat ini untuk memeriksa bangunan yang di sebelah timur!" dengus Si Muka Setan. Mendengar katakata Aripati. Sosok yang duduk di atas batu tampak bergetar. Matanya membuka seketika. Memandang pada Aripati dengan sorot tajam mengerikan.

"Kau anak manusia, kutahu namamu, gelarmu, bapak moyangmu, umurmu dan sampai dimana kesaktianmu! Kau telah memasuki bangunan megah yang kuciptakan semalam. Berada di sini berarti kau tidak akan keluar, kau harus bersekutu denganku. Manusia sakti yang tidak ada duanya. Kau tidak boleh pergi ke bangunan yang terletak di sebelah timur itu. Karena di sana tinggal manusia suci, wanita yang dulu sangat aku cintai. Namun ternyata ia lebih cinta pada kematiannya! Laki-laki sepertiku punya banyak kekurangan dan kelebihan. Manusia diberi sepuluh akal, sembilan untuk laki-laki, satu untuk perempuan. Manusia diberi sepuluh nafsu, satu untuk laki-laki, sembilan untuk perempuan. Tapi sembilan nafsu yang dimiliki wanita tertutup oleh rasa malu. Tahukah kau bahwa aku terjebak dalam cinta! Ini yang mengalahkan sembilan akal yang kumiliki. Aku runtuh oleh satu nafsu yang ada padaku. Aku teramat sangat mencintainya, tapi ia tidak mencintaiku. Ia teramat sibuk memikirkan kematiannya, karena sesungguhnya ia cinta pada mati. Sementara itu ada perempuan lain yang mencintaiku, tapi aku tidak suka padanya. Nah perempuan itulah yang menjadi musuhku dan musuhnya!" kata si kakek tua. Kemudian ia mengulang-ulangi ucapannya.

"Ia perempuan suci, jangan kau pergi ke sana! Aku tidak suka melanggar janji! Aku tidak suka!" kata orang ini.

"Siapa kau? Mengapa begitu lemahnya kau menjadi manusia?" sentak Si Muka Setan. Kakek tua itu mengangkat wajahnya dan memandang ke langit. Air mata semakin deras menetes membasahi pipi. Walaupun memang tangisnya tidak pernah terdengar.

"Aku Lu Jingga, bergelar Datuk Tinggi Raja Di Angin. Kau mungkin pernah mendengar namaku, atau mungkin tidak bukanlah soalan...!"

Aripati langsung memotong. "Aku pernah mendengar kakekku dulu bercerita ada seorang tokoh sakti yang memiliki umur ratusan tahun. Orang itu bisa menciptakan gedung-gedung megah hanya dalam waktu semalaman. Konon ia dibantu oleh masyarakat Jin untuk mewujudkan sesuatu. Jika benar kau Datuk Tinggi Raja Di Angin. Aku ingin tahu berapa umurku sekarang dan dapatkah kau menciptakan apa yang kau bangun ini dalam bentuk yang sangat kecil sebagai tiruannya?"

Datuk Tinggi Raja Di Angin memperhatikan Si Muka Setan. Kemudian terdengar suaranya seakan berseru dan ditujukan pada makhlukmakhluk yang tidak terlihat.

"Ada anak manusia yang memintaku agar membuat duplikat bangunan ini. Wahai anak buahku yang berada di alam gaib. Adakan segera dalam waktu sekedipan mata!" kata Lu Jingga. Aripati melotot memperhatikan kemungkinan yang terjadi. Namun ia tidak kuat menentang mata hingga membuat matanya berkedip. Tahu-tahu di depan kakek rambut putih bersenjata roda bergerigi ini telah tercipta sebuah bangunan yang sama persis dengan bangunan besar tersebut.

"Ternyata kau benar! Kau Datuk Tinggi Raja Di Angin. Tapi mengapa kau mengurung diri seperti ini dan dalam keadaan selalu menangis pula?" bertanya Si Muka Setan. Lu Jingga seka air matanya, seraya menarik nafas dalam-dalam. Ekspresi wajahnya sulit dibaca. Setelah itu ia bicara dengan perasaan segan.

"Panjang ceritanya! Ini sebenarnya adalah suatu rahasia yang memalukan. Tapi jika kau ingin tahu, sebagai orang yang pertama datang ke sini. Aku ingin kau mendengarnya baik-baik." kata Datuk Tinggi Raja Di Angin. Kemudian ia segera menuturkan segala sesuatunya secara jelas.

Sekitar dua ratus tahun yang lalu, ada seorang pemuda memiliki kepandaian sangat tinggi. Ia mempelajari ilmu silat dan berbagai kesaktian dari satu negeri ke negeri lainnya. Sampai kemudian kesaktiannya setara dengan para dewa. Namun ia tetap berpetualang, hingga sampailah ia di Lembah Silau Dunia. Di lembah itu tinggal dua orang kakak beradik, dua-duanya berwajah cantik bagai bidadari. Yang paling tua bernama Dara Nirmala sedangkan adiknya bernama Dara Alindi. Pemuda itu jatuh cinta pada Dara Nirmala dalam pandangan pertama. Cinta sejati, sebaliknya adik gadis itu yang bernama Dara Alindi jatuh cinta pada pemuda itu. Tentu saja dia tidak menanggapi, karena cintanya hanya untuk Dara Nirmala. Gadis suci yang selama hidupnya memikirkan hari kematiannya. Dara Nirmala selalu bertanyatanya bila ia mati nanti masuk surga atau neraka? Sehingga ia tidak pernah menghiraukan cinta pemuda itu. Walaupun pemuda itu telah duduk bersimpuh di dekat pemujaan sang gadis selama bertahun-tahun.

Sebaliknya gadis yang bernama Dara Alindi selalu datang menggoda dan merayunya. Gadis ini juga punya kesaktian yang tidak terukur. Pemuda itu ternyata tetap teguh pada pendiriannya. Ia menunggu Dara Nirmala, hingga pakaiannya lapuk dimakan panas dan hujan. Dara Nirmala tersentuh juga hatinya, ia menjumpai pemuda itu sehingga terjadilah pembicaraan yang cukup panjang.

"Wahai pemuda gagah, apa perlumu menungguku? Padahal kau telah mengetahui pendirianku. Keputusanku tidak berubah! Kau manusia sakti, aku juga wanita sakti. Apa yang kau bayangkan tentang diriku, sama artinya kau melakukan sesuatu sebagaimana yang ada dalam hatimu. Perkataan hatimu ataupun perkataan mulutmu selalu didengar oleh Gusti Allah. Manusia sakti seperti kita kata-katanya manjur, ucapan hatinya terkabul. Tidakkah kau berpikir bahwa itu akan membahayakan dirimu dan diriku. Kalau kau suka mengapa kau tidak mau berdampingan dengan adikku, ia mencintaimu!" kata Dara Nirmala dengan kata-kata yang sangat halus dan merdu.

"Cinta tidak dapat dibantah, kata hati jeritan jiwa tidak dapat kudustai. Cintaku hanya untukmu!"

"Kau tetap ngotot. Bicaramu dan apa yang kuucapkan terkabul. Tidakkah kau takut?"

"Cinta sejati tidak mengenal rasa takut!" sahut si pemuda.

"Baiklah! Aku akan mempertimbangkan pertanyaanmu! Sebagai orang yang tidak berdusta. Aku akan mengajukan dua pertanyaan padamu, jika kau dapat menjawabnya. Aku bersedia menjadi isterimu! Jika kau tidak mampu menjawabnya, maka sebaiknya kau pergi dari sini!"

"Syaratmu aku penuhi, sekarang tanyalah apa yang ingin kau tanyakan!"

"Karena aku kurang suka tinggal di dunia ini. Pertanyaanku pertama bila aku mati dan dikubur. Apakah di alam kubur aku mendapat siksa atau tidak?"

"Itu persoalan gaib, hanya Gusti Allah yang dapat menjawabnya!" jawab si pemuda dengan jujur. "Apa pertanyaan yang kedua?" "Pertanyaanku yang terakhir. Setelah aku mati apakah aku masuk surga atau neraka?"

"Itu juga urusan Tuhan, aku tidak bisa menjawabnya!" kata si pemuda.

"Kalau begitu pergilah cepat! Jangan kau duduk di depan pintu tempat aku memuja kebesaran-Nya!"

"Berilah aku tangguh hingga besok. Pagipagi sekali aku pasti meninggalkan tempat ini!"

Dara Nirmala sama sekali tidak menyahut, ia menutup pintu rapat-rapat, sedangkan pemuda sakti itu tetap duduk di situ menunggu datangnya pagi.

Malamnya baik Dara Nirmala maupun si pemuda sama-sama bermimpi melakukan hubungan suami isteri. Dara Nirmala merasa seakan-akan dirinya menjadi hamil akibat mimpi itu. Sebagai orang suci yang sakti, mimpi bukan hanya sekedar mimpi karena bisa berubah menjadi sebuah kenyataan.

Terdorong oleh perasaan bingung dan rasa bersalah yang sangat mendalam. Malam itu juga Dara Nirmala yang merasa dirinya telah ternoda meninggalkan tempat pemujaannya. Kejadian ini diketahui oleh si pemuda. Ia pun menyusul, kejar-kejaran pun terjadi di sepanjang pulau Jawa. Hingga dua-duanya merasa letih dan Dara Nirmala tersusul setelah berada di puncak bukit yang terletak di sebelah barat daya Imogiri.

Di sini perdebatan sengit terjadi.

"Kau terlalu keras kepala! Kau pasti membayangkan sedang melakukan hubungan cinta denganku!" tuduh Dara Nirmala sambil menangis. "Bayangan itu hanya terlintas sepintas sa-

ja!" Si pemuda mengakui.

"Tidakkah kau ingat bahwa apa yang kau bayangkan sering menjadi kenyataan? Aku benci pada manusia lemah sepertimu! Kau punya sembilan akal, namun kesembilan akalmu tidak mampu mengendalikan nafsumu yang cuma satu. Aku punya sembilan nafsu, tapi sembilan nafsuku dapat dikendalikan oleh akalku yang cuma satu! Akibat mimpi itu telah membuatku ternoda. Kini aku hamil, memalukan sungguh memalukan!" teriak Dara Nirmala.

"Tapi bukankah kau dan aku hanya bermimpi saja?!"

"Kau manusia bodoh, orang sakti tolol. Mimpi adalah lebih berbahaya dari kenyataan. Bertaubatlah kau, jangan ganggu aku! Kelak anak ini akan terlahir. Malam nanti akan kuciptakan sebuah gedung tempat tinggalku dan mengurung diri!" tegas Dara Nirmala.

"Aku bersedia bertanggungjawab atas semua yang terjadi!" kata si pemuda yang tidak lain adalah Lu Jingga.

"Tidak! Sebaiknya bertaubatlah kau mulai hari ini. Dan ciptakan sebuah gedung untuk pengasinganmu jika kau punya kemampuan!" tantang si gadis.

"Aku dapat melakukannya. Bukit ini kunamakan bukit Keangkuhan. Sebagai rasa penyesalanku aku akan menangisi segala apa yang terjadi pada dirimu!"

"Itu lebih baik, dan jangan kau ganggu aku lagi. Seandainya hal itu kau lakukan, jalan terakhir aku terpaksa membunuhmu!" ancam Dara Nirmala.

Benar saja malamnya dengan kesaktian yang dimiliki masing-masing mereka membangun sebuah gedung. Hanya para Jin yang membantu Dara Nirmala lebih banyak dan lebih cepat. Sedangkan Jin yang berada di bawah pimpinan Lu Jingga jumlahnya terbatas. Hingga kokok ayam terdengar dua bangunan telah berdiri. Bangunan milik si pemuda tidak sempurna betul, bahkan miring ke arah bangunan Dara Nirmala. Beberapa tiangnya retak-retak. Konon ada salah satu Jin yang iseng dan meletakkan batu berbentuk aurat laki-laki. Dan mengandung kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi orang lain. Siangnya bangunan itu jadi sunyi, Dara Nirmala maupun Lu Jingga sudah tidak terlihat lagi.

Di luar kesadaran mereka, rupanya Dara Alindi yang tertinggal di Lembah Silau Dunia menjadi marah dan menyimpan dendam terlebihlebih pada Lu Jingga alias Datuk Raja Di Angin, ia telah bertekad untuk melakukan pembalasan terhadap saudara dan pemuda yang telah membuatnya sakit hati tersebut.

"Tidak disangka, Kak Nirmala minggat bersama Lu Jingga! Katanya tidak suka, tapi kulihat dalam mimpiku Dara Nirmala bunting malah! Orang munafik! Kalian berdua nanti akan merasakan pembalasan yang setimpal!" geramnya penuh rasa dendam yang menyala-nyala. Untuk diketahui, mereka ini punya ajian yang membuat diri mereka tetap awet muda walaupun usia sudah melewati ratusan tahun. Terlebih-lebih Dara Nirmala dan Dara Alindi ini. Sejak saat itu Dara Alindi yang merasa dikhianati kakaknya mulai melakukan persiapan-persiapan yang cukup matang. Ia bahkan terus memperdalam kesaktian yang dimilikinya. Beberapa tahun kemudian ia mulai bergentayangan mencari kakaknya juga pemuda yang telah membuatnya kecewa.

"Aku sudah bercerita banyak, apakah kau sudah memahaminya?" tanya Datuk Raja Di Angin kemudian. Si Muka Setan anggukkan kepala dengan perasaan takjub.

"Kesaktian yang dimiliki oleh orang dulu sangat luar biasa sekali. Bagaimana dengan anakmu dari hasil hubungan dalam mimpi itu?" tanya Aripati ingin tahu.

"Kurasa sekarang ia sudah dewasa. Aku tidak pernah keluar meninggalkan gedung ini. Itu sudah menjadi kesepakatan. Anakku mungkin diasuh oleh para Jin. Untuk itu kuminta padamu! Jangan kau pergi ke bangunan di sebelah timur itu setelah datang ke gedung ini, apa yang kau lakukan dapat menimbulkan fitnah. Sebab aku merasa yakin cepat atau lambat Dara Alindi pasti datang ke sini untuk menghancurkan aku atau kakaknya sebagai pelampiasan rasa sakit hati yang dialaminya!"

"Baiklah, aku turuti permintaanmu, mulai saat ini aku bersedia bersekutu denganmu!" tegas Aripati Ujudana.

4

Si tua berpakaian putih dan membawabawa buntalan seperti orang yang mau pindah terus mendekam di semak-semak kering yang terletak tidak jauh dari bukit Keangkuhan. Ia sudah melihat paling tidak tiga orang laki-laki dan kemarinnya lagi seorang laki-laki bersenjata roda bergerigi.

"Sudah dua hari aku mendekam di tempat ini. Tapi tidak satu pun di antara mereka yang berangkat ke sana kembali. Seingatku kalau tidak salah orang bersenjata roda masuk ke dalam gedung condong yang terletak di sebelah barat itu. Kemudian orang itu tertawa seperti orang gila! Sebenarnya apa yang membuatnya tertawa? Dan tiga laki-laki lainnya menuju gedung yang megah tersebut. Dua di antara mereka jalannya seperti mau jatuh! Itu pasti Iblis Pemabukan dan Setan Arak, yang satunya aku tidak kenal. Setelah masuk, mereka pun kulihat tidak pernah keluar. Eeh... apa mereka menemukan harta karun, ya? Atau mungkin di dalam gedung mewah itu berdiam gadis-gadis cantik! Aku sih tidak ngiler, aku cuma ingin tahu rahasia di balik syair-syair si gagu. Gadis misterius itu sebenarnya siapa?" kata si kakek. Ia bangkit berdiri, kemudian tarik celananya yang selalu melorot ke bawah bila ia menarik nafas.

Kakek rambut putih ini kemudian menyandarkan punggungnya di bawah sebatang pohon kering. Melihat ke atas pohon yang gersang ia jadi bosan sendiri.

"Aneh, pohon di sini tidak ada yang tumbuh. Benar kata orang-orang di Imogiri bahwa daerah ini merupakan daerah keramat dan angker!" Si kakek mengomel lagi. Orang ini julurkan kepala lagi, memandang ke arah kedua bangunan tersebut terasa sepi-sepi saja. Selagi ia sibuk memperhatikan gedung-gedung itu. Tanpa disadarinya seseorang telah berdiri di situ. Jika seorang tokoh seperti Dewa Sinting yang punya segudang ilmu saja tidak dapat mengetahui kehadiran orang itu, dapat dibayangkan betapa tingginya tingkat kepandaian pendatang yang tidak diundang ini.

"Apa kerjamu di sini! Apakah kau tamu salah satu dari pemilik gedung mewah itu? Mengapa tidak cepat masuk?" tegur orang itu, suaranya dingin menusuk.

"Edan, ada orang datang aku sampai tidak tahu! Jika ia membawa maksud tidak baik tentu sejak tadi aku sudah mampus!" maki Dewa Sinting ditujukan pada dirinya sendiri. Cepat ia menoleh, terlihat olehnya seorang laki-laki setinggi satu setengah batang tombak. Orang ini memiliki empat wajah. Masing-masing wajah mempunyai empat mulut. Matanya berjumlah delapan, hidungnya sumplung.

Kepala cuma satu, tapi besarnya bukan main. Hampir tujuh kali kepala orang biasa. Hanya badannya yang tinggi itu kurus kering, bila mulutnya yang satu   membuka, maka mulut yang lainnya ikut membuka pula.

"Aku bukan tamu dari pemilik gedung itu. Di sini aku cuma melihat-lihat saja. Aku tertarik dengan kata-kata yang terdapat dalam syair si wanita gagu! Engkau sendiri siapa orang aneh, apa maksud tujuanmu datang ke tempat ini?" tanya Dewa Sinting.

"Apa perlumu bertanya apa tujuanku. Yang boleh kau ketahui, aku si Empat Wajah, namaku Trigada." jelas laki-laki berkepala besar berwajah empat tersebut disusul dengan tawa tergelakgelak.

"Heh...!" Dewa Sinting melengak kaget. "Bukankah kau makhluk tanpa pendirian?" sahut Dewa Sinting sambil melangkah mundur. Terus terang ia sendiri memang baru sekali ini bertemu dengan Trigada, namun dari apa yang didengarnya selama puluhan tahun lalu. Laki-laki di depannya adalah makhluk yang tidak punya pendirian dan terkadang dapat melakukan pembunuhan tanpa diduga-duga.

"Kau kelihatannya kaget! Adakah sesuatu yang kau ketahui tentang diriku ini?" tanya Si Empat Wajah delapan biji matanya tampak melotot. Dewa Sinting gelengkan kepala.

"Hmm, ketahuilah di dalam gedung itu ada kekasihku. Mungkin saat ini ia sudah berada di sana. Aku ini makhluk paling cepat cemburu! Aku tidak ingin melihat ia berdua-duaan dengan orang lain!" tegas Trigada.

"Apakah kekasihmu itu seperti dirimu?" Si Empat Wajah menggeleng.

"Tidak! Dia manusia seperti golonganmu, wajahnya cantik. Aku bersedia membantunya mengatasi persoalan yang membuatnya susah. Untuk itulah ia bersedia menjadi kekasihku! Apakah kau melihatnya lewat di sekitar sini?"

"Sama sekali aku tidak melihat siapa-siapa. Kurasa di dalam bangunan itu ada setannya, sehingga ketika aku berdiri di sini, tengkukku merinding!" kata Dewa Sinting setengah bergurau.

"Akulah setan! Kau jangan bicara sembarangan. Bagaimanapun aku harus segera ke sana. Untuk keterangan yang kau berikan, inilah oleholeh untukmu...!" kata Trigada. Kemudian sambil melangkah lebar-lebar ia kibaskan tangannya. Dari jemari tangan tersebut menderu gelombang hawa panas luar biasa. Dewa Sinting jungkir balik selamatkan diri. Tidak urung serangan mendadak itu membuat hangus buntalan di punggungnya.

Dewa Sinting memaki-maki sambil padamkan api. Ia memandang ke arah perginya Si Empat Wajah. Namun orang itu sudah tidak kelihatan lagi.

"Duh sialan! Keparat tidak tahu rasa terima kasih. Seharusnya aku kejar dia dan buat perhitungan! Tapi...!" Dewa Sinting meragu dan tarik celananya yang melorot.

"Aku belum pernah bentrok dengan makhluk bermulut empat itu. Kudengar dulu ia memiliki kesaktian luar biasa. Sebaiknya aku tunggu lagi di sini. Suasana pasti bakal ramai. Tapi aku haus, tidak ada air terkecuali kali yang di belakang sana." pikir Dewa Sinting. Baru saja ia hendak melakukan sesuatu, terdengar suara di belakangnya.

Gluk! Gluk! Gluk!

Cepat sekali Dewa Sinting menoleh. Ternyata tidak jauh di belakangnya tampak seorang pemuda berpakaian biru berambut hitam kemerahan sedang meneguk air dari dalam kendi. Terbit selera dahaga Dewa Sinting, jakunnya turun naik. Si pemuda bersikap acuh tak acuh. Ia malah memamerkan kendinya dan menuangkan isi kendi sambil garuk-garuk kepala.

"Hmm, enak betul. Tidak ada yang lebih berharga di tempat segersang ini terkecuali air. Apalagi yang kubawa mengandung rasa madu, gula, berbau sedikit arak dan bermacam-macam lagi rasa yang tidak ada duanya!" kata si pemuda yang tidak lain adalah Suro Blondo.

"Betulkah apa yang kau katakan?" sahut Dewa Sinting, seraya menelan ludah sambil tarik celananya yang melorot.

"Hmm, luar biasa enaknya!" Suro meneguk air dalam kendinya. "Heh, apakah kau tidak mendengar katakataku?" bentak Dewa Sinting. Kakek tua ini melompat ke depan sambil berusaha merampas kendi di tangan Suro. Si konyol bersikap acuh tak acuh, ketika tangan Dewa Sinting hampir berhasil menjangkau kendi di tangan Suro. Pemuda ini meliukkan tubuhnya dengan gerakan seperti seekor monyet menari.

Wuees! "Heh...!"

Terperanjatlah Dewa Sinting. Sama sekali ia tidak menyangka pemuda ini dapat menghindari serangannya. Penasaran ia melompat lagi, kali ini tangannya menampar wajah Suro sedangkan kaki menendang ke bagian pantat pemuda itu. Serangan itu memang cukup berbahaya, selain sangat cepat sekali. Suro berjingkrak mundur. Ketika tangan dan kaki Dewa Sinting hampir menjangkau sasaran. Suro melompat sambil jungkir balik seperti monyet yang sedang main sirkus.

"Sialan! Berikan kendi itu padaku!! Apa kau memilih mampus!" bentak Dewa, Sinting sewot.

Suro termonyong-monyong. "Kau hendak merampok atau minta, kakek gendut! Kalau minta silakan ambil sendiri, jika mau merampok sampai botak ubanan kau tidak bakalan mendapatkan kendi ini! Ha ha ha...!"

"Kurang ajar! Kau hendak mempermainkan aku!" teriak Dewa Sinting marah. Dewa Sinting mulai mengerahkan jurusjurus mautnya. Sesuai dengan julukannya yang sinting. Ketika ia hendak melancarkan serangannya, si kakek menari-nari sambil berputar-putar. Setelah itu sambil tarik celananya ia berteriak keras. Tubuhnya yang besar itu tiba-tiba saja melesat ke arah Suro. Si konyol kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'. Bertarunglah kedua orang ini seperti orang gila tidak karuan juntrungnya. Yang satu berusaha selamatkan kendi sambil berjingkrak, berjongkok atau berguling-guling. Sedangkan yang satunya lagi melakukan serangan sambil menari-nari. Tarian Dewa Sinting berubah menjadi serangan-serangan yang sangat dahsyat.

Suro kalang kabut. Namun tidak berlangsung lama, segera pemuda ini lipat gandakan tenaga dalamnya. Sekarang ia sudah mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.

Bet!

Deb! Bet!

Tanpa berubah dari gerakan dan langkah monyet. Tiba-tiba saja Suro Blondo tampak berkelebat lenyap dari pandangan Dewa Sinting. Tubuh pemuda ini seakan menjadi banyak dan bergerak cepat mengelilingi Dewa Sinting. Berulang kali Sure menerobos pertahanan lawan sambil lakukan serangan bertubi-tubi.

Dewa Sinting bersurut mundur. Dalam hati diam-diam memaki di samping ia sendiri merasa takjub. Jurus-jurus monyet Suro adalah jurus langka yang seingatnya hanya dimiliki oleh Penghulu Siluman Kera Putih. Ada hubungan apa pemuda bertampang ketololan ini dengan Penghulu Siluman itu? Dan Dewa Sinting sudah tidak berpikir lebih jauh. Posisinya kini bukan menyerang, malah dia didesak mati-matian. Si kakek tidak tinggal diam, ia tarik celananya lagi yang melorot sambil mempergunakan jurus lebih ampuh. Jurus itu dikenal dengan nama 'Menggapai Langit Dilamun Rindu'.

"Hea...!"

Tiba-tiba saja si kakek melesat ke udara. Di udara ia melakukan tarian kilat. Lalu tubuhnya meliuk-liuk dan meluncur cepat ke bawah. Tangan menghantam bahu lawan. Sedangkan kaki menendang pinggang Suro. Pendekar Mandau Jantan berkelit. Sayang gerakannya kalah cepat. Bahu kirinya kena dihantam Dewa Sinting, meskipun merasa sakit bukan main. Ia berbalik hindari tendangan kaki. Tangan kanannya menyambar asal-asalan.

Srosot! Plak! "Keekh...!"

Tidak pelak lagi pemuda ini jatuh terduduk pegangi kendi. Bibirnya mengucur darah. Walaupun ia merasa seperti hendak mampus dan bahunya seakan remuk. Namun akhirnya tertawatawa melihat Dewa Sinting seperti orang kebakaran jenggot dan memaki-maki.

"Bangsat! Berani-beraninya kau mempermalukan aku! Anak setan! Pasti gurumu lebih setan lagi!" teriak Dewa Sinting. Ia tarik celananya yang sempat melorot sebatas lutut. Suro tertawatawa seperti orang kurang waras. Ia memukulmukulkan tangannya ke tanah. Kakinya bergerakgerak seperti anak kecil. Ia lupa dengan rasa sakit yang dideritanya.

"Ki, rupanya Tuhan adil! Kalau rambut yang di atas putih yang di bawah ikut memutih juga. Kau sudah tua bangka, Ki. Sudah mendekati mampus mungkin, tapi kau memakai celana saja tidak becus!"

"Bangsat! Hii...!"

Disertai kemarahan yang meluap-luap, Dewa Sinting menerkam leher si konyol sambil berusaha merampas kendi di tangannya. Suro menggeser pantatnya. Sayang gerakan pemuda ini kalah cepat. Hingga lehernya kena dicekik lawan dan kendi sekarang jadi rebutan. Suro mendelik, lehernya seperti dijerat kawat baja. Namun ia masih dapat memaki.

"Kau benar-benar sudah gila, Ki! Kau hendak memperkosaku, padahal kau tahu kita punya sama. Apakah kau menantangku bermain tongkat?!"

"Anak setan! Aku akan mengirimmu ke neraka!" teriak Dewa Sinting tidak ubahnya seperti orang yang sedang bertarung dengan musuh bebuyutannya saja.

Buk! "Hukh...!"

Dewa Sinting meninju perut Suro, pemuda itu menjerit. Andai saja si konyol tidak lindungi perutnya dengan tenaga dalam. Isi perutnya pasti cerai berai. Sementara kendi hampir saja dapat dirampas. Akal cerdik Suro dalam keadaan terdesak seperti itu timbul. Ia menggeser kakinya, dengan mempergunakan lutut ditendangnya selangkangan Dewa Sinting.

Brot! "Huagkh...!"

Dewa Sinting terhempas ke belakang, jeritannya seakan merobek langit. Perutnya mulas bukan main. Ia pegangi anunya sambil bergulingguling akibat menahan sakit yang sangat luar biasa.

Suro usap-usap lehernya yang masih memerah, kemudian terdengar suara tawanya terkekeh-kekeh.

"Ha ha ha...! Apes betul nasibmu hari ini, Ki. Mimpi apa kau semalam? Pernahkah kau bermimpi kejatuhan bintang, kejatuhan bulan, kemudian kejatuhan durian? Katanya pertanda baik, Ki."

Dewa Sinting sama sekali tidak menyahut. Ia duduk mendekam seperti ayam mau nelor. Dia urut-urut bagian itu. Tiba-tiba tangannya menyelinap di balik celana. Setelah ia raba-raba ternyata yang bulat-bulatnya masih ada dan potongan tebu yang cuma sejengkal pun masih ada, walaupun agak bengkak. Sebenarnya jika ia mau membalas ulah pemuda berambut kemerahan itu, Dewa Sinting mampu. Rasanya ia tidak bakalan kalah, namun bila mengingat jurus-jurus yang dipergunakan Suro. Ia khawatir pemuda itu masih punya hubungan tertentu dengan Penghulu Siluman Kera Putih. Di samping pemuda ini juga tampaknya dari kalangan baik-baik. Hanya wataknya saja yang konyol terkesan seperti orang kurang waras.

Si kakek tarik celananya setelah berdiri. Memperhatikan Suro sejenak lamanya, kemudian terdengar suaranya agak sinis.

"Punya hubungan apa kau dengan Penghulu Siluman Kera Putih?"

Pendekar Mandau Jantan melengak kaget. Matanya berkedap-kedip, seraya seka keringat yang menetes di keningnya.

"Engkau hendak minum, Ki. Mintalah baikbaik! Air dalam kendi ini masih setengah dan akan kuberikan padamu!" kata Suro seakan tidak menghiraukan pertanyaan Dewa Sinting.

"Jawab pertanyaanku atau kau meminta aku mengirimmu ke liang lahat?" bentak si kakek. Pendekar Blo'on menggumam. Namun kemudian bicara secara tegas.

"Penghulu Siluman Kera Putih yang setengah edan itu guruku, Ki. Aku heran bagaimana kau bisa mengetahui aku muridnya?" tanya Suro.

"Ha ha ha....! Melihat jurus-jurusmu, dan setelah melihat keedananmu. Tentu saja dugaanku tidak melesat, ketahuilah aku Dewa Sinting! Datang ke sini berhubungan dengan syairsyair yang menarik itu! Lalu kau bocah goblok untuk urusan apa kau datang ke bukit Keangkuhan ini?" bertanya Dewa Sinting sambil senyum.

"Salaman dulu, Ki. Kita punya tujuan yang sama!" jawab Suro, ia datang menghampiri dengan tangan terulur bermaksud salaman. Tapi Dewa Sinting menepis tangannya. Tangan lain menyambar dan kendi berisi air telah berpindah ke tangan Dewa Sinting.

Gluk! Gluk! Gluk!

Dengan nikmat Dewa Sinting meneguknya hingga tuntas.

"Jangan kau habiskan!" teriak Suro mencegah. Percuma saja ia berteriak. Kendi telah kosong. Kesudahannya si kakek memukulkan kendi tersebut ke kepalanya hingga hancur berantakan. Tidak lama terdengar suara tawa puas si kakek.

5

"Kalau sudah begini kau bisa apa. Untung tidak kupecahkan kepalamu sebagai balasan atas sikapmu yang kurang ajar karena telah membuat bengkak adikku!" hardik Dewa Sinting.

Suro terkekeh, "Apakah sudah kau periksa, Ki. Barangkali adikmu terbang meninggalkanmu? Bukankah tempat persembunyiannya yang menyeramkan itu telah kuketahui!" Seenaknya saja Pendekar Blo'on menyahuti

"Pemuda gila? Aku pernah mendengar sikapmu yang konyol, keedananmu dan juga ketidak warasan otakmu. Kuharap hari ini kau tidak bicara seenak perutmu. Kau lihatlah kedua bangunan itu!" Dewa Sinting menunjuk ke arah bangunan. Suro memperhatikan dengan mulut termonyong-monyong saking seriusnya.

"Memang ada apa dalam bangunan itu orang tua sinting?" bertanya Suro tanpa mengalihkan perhatiannya dari kedua bangunan tersebut.

"Sudah dua hari aku mendekam di sini! Aku sudah melihat ada empat orang yang masuk ke dalam bangunan yang terletak di sebelah timur itu dan satunya lagi masuk ke dalam bangunan yang berada di sebelah barat! Sampai sekarang tidak seorang pun di antara mereka ada yang keluar!"

"Siapa sebenarnya penghuni gedung itu?" tanya Suro ingin tahu.

"Aku kurang tahu. Kurasa satu-satunya orang yang bisa memberi jawaban adalah Penyair Gagu itu!"

"Hmm, aku pernah melihatnya, sekarang pun aku sampai ke sini karena mengejarnya. Sayang aku kehilangan jejak."

"Apakah kau sempat bicara dengannya?" tanya Dewa Sinting.

"Aku belum sempat. Lagipula bagaimana aku bisa bicara dengan orang gagu. Kau sendiri apakah pernah bertemu dengan gadis baju hijau itu?" Dewa Sinting menggeleng. "Ada yang kurasakan menarik di sini. Kau lihatlah tidak satu pun pohon dapat tumbuh di sini."

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Menunggu sampai ubanan atau sampai mampus? Kalau menurutku sebaiknya kita melakukan penyelidikan di sana. Apakah kau setuju, kakek sinting?" tanya Suro merasa lebih cepat akrab dengan kakek tua yang celananya yang selalu melorot terus itu.

"Banyak kejadian aneh di sana, janganjangan kita terjebak. Aku melihat seorang lakilaki yang berada di gedung sebelah barat tertawatawa seperti orang gila. Kurasa ia melihat sesuatu yang lucu, tapi yang kuherankan tawanya seperti tidak wajar."

"Apakah tidak sebaiknya kita cari dulu gadis baju hijau yang pernah ku lihat beberapa hari yang lalu?!" Suro mengajukan usul.

"Kau yakin dia berlari ke arah sini?" "Yakin sekali!" jawab Suro mantap.

"Tapi aku tidak melihatnya selain orang yang kusebutkan tadi!"

"Mungkin ada jalan rahasia lain yang aman untuk mencapai gedung itu, Kek. Bagaimana jika kita mulai mencarinya?"

Dewa Sinting terdiam dan tampak sedang mempertimbangkan usul Pendekar Blo'on.

"Dua hari di sini selain cuma mendekam aku memang tidak pernah pergi ke mana-mana. Kalau aku menuruti keinginanmu berarti aku setuju. Tapi aku kurang yakin apakah ada jalan lain di sekitar sini."

"Jangan pakai dipikir dan dikira-kira. Kalau kau tidak mau biarkan aku jalan sendiri!" kata Suro sewot.

"Ayolah, aku setuju-setuju saja!" sahut Dewa Sinting. Ia mengambil buntalan besar berikut kayu yang menyanggahnya. Tidak lama ia sudah mengikuti Pendekar Blo'on yang berjalan tidak jauh di depannya.

Gedung megah yang mempunyai tiang penyanggah sebanyak dua puluh buah itu bagian dalamnya memang indah. Pada bagian dindingnya berhiaskan intan permata gemerlapan. Si Perusak Raga yang lebih dikenal dengan julukan Sang Maut bersama Setan Arak dan Iblis Pemabukan begitu sampai di dalam langsung tercengang.

Iblis Pemabukan dan Setan Arak memunguti mutiara-mutiara yang melekat di dinding itu. Namun barang-barang berharga tersebut tidak lama dicampakkan oleh mereka kembali ketika hidung mereka mengendus bau yang sangat khas, bau arak wangi.

"Itu kesukaan kita, apakah kau mencium baunya, Kakang?" bertanya Setan Arak dengan mata belingsatan.

"Betul. Baunya dari ruangan ini! Mari kita cari!" sahut Iblis Pemabukan.

Tanpa menghiraukan Si Perusak Raga yang sibuk melakukan pemeriksaan. Setan Arak dan Iblis Pemabukan menuju ke kamar sebelah. Dengan sekali dorong pintunya langsung terbuka. Melihat kendi-kendi arak yang jumlahnya mencapai puluhan, terbelalaklah mata kedua orang ini.

"Kita panen, kita panen! Sungguh beruntung sekali kita. Pemilik gedung ini ternyata suka menyimpan minuman!" kata Setan Arak. Ia mengambil salah satu kendi, dengan serakah ia meneguknya.

Gluk! Gluk!

"Ha ha ha...! Enak! Ini arak paten yang belum pernah kita jumpai seumur hidup!" Karena penasaran Iblis Pemabukan. juga ikut-ikutan meneguk arak tersebut. Rasanya memang lain dari pada yang lain, harumnya beda dari yang ada. Jago-jago mabuk ini lama kelamaan mulai merasakan kepalanya sakit mendenyut. Padahal yang mereka minum baru satu kendi besar dan itu pun berdua. Tidak terbayangkan betapa sangat kerasnya arak itu. Dengan langkah terhuyung-huyung kedua laki-laki bersaudara keluar dari kamar dengan membawa masing-masing satu kendi arak.

Maksudnya mereka hendak menawarkannya pada Si Perusak Raga. Namun sekutu mereka tidak ada di tempat itu. Akhirnya sambil duduk ngjelepok di lantai marmar mereka menikmati arak keras itu berdua saja. Sementara itu Si Perusak Raga telah sampai di sebuah ruangan lain. Ruangan indah penuh kejutan. Di tengah ruangan tersebut terdapat sebuah ranjang tertutup kelambu. Di atas ranjang terbaring seorang perempuan cantik berpakaian warna putih tipis merangsang.

Perempuan ini kelihatannya seperti sedang tidur, bibirnya menyunggingkan seulas senyum yang menawan menggairahkan. Si Perusak Raga menelan ludah. Tubuh padat wanita itu membayang di balik pakaiannya yang tipis tembus pandang. Sepasang pahanya yang menjuntai, buah dadanya yang menonjol bergerak-gerak mendebarkan sesuai dengan tarikan nafasnya.

"Siapa dia? Sudah berapa lama berada di sini! Andai saja aku memilikinya? Aku akan patuh dengan setiap perintahnya!" kata Si Perusak Raga dalam hati. Cukup mengejutkan memang, karena begitu laki-laki berpakaian hitam ini selesai bicara dalam hati. Tiba-tiba wanita itu menggeliat dan matanya langsung terbuka. Sepasang matanya yang indah itu memandang tajam pada Si Perusak Raga. Orang gemetaran, bukan karena dilanda ketakutan. Melainkan karena dilanda gairah yang berkobar-kobar dan nyaris tidak terbendung.

"Betul apa yang kau katakan tadi?" bertanya si wanita seakan menuntut.

Si Perusak Raga kaget. Ia merasa tidak dan belum bicara apa-apa terkecuali apa yang baru saja diucapkannya dalam hati.

"Aku tidak tahu apa maksudmu!" katanya dengan suara bergetar.

Orang ini tersenyum, ia menyilangkan kakinya yang mulus seenaknya. Sehingga dua pangkal pahanya terlihat dengan jelas.

"Bukankah kau mengatakan dalam hatimu bahwa kau ingin memiliki aku dan setelah itu kau bersedia menuruti perintahku! Hi hi hi...!" Lakilaki itu telan ludah. Ia tidak mampu bicara, tapi kepalanya mengangguk.

"Hmm, masih ada waktu!" gumamnya entah ditujukan pada siapa. "Kau boleh memiliki tubuhku sesuka hatimu. Setelah itu, kau harus patuh pada perintahku sebagaimana Si Empat Wajah!" ujarnya.

"Siapa Si Empat Wajah?" tanya Si Perusak

Raga.

"Dia pembantuku, kekasihku!" sahut si ga-

dis tanpa merasa bersalah. "Lalu siapa kau ini?"

"Hi hi hi...! Aku pencipta gedung ini. Nah sekarang kemarilah, kau harus mendekat padaku jika ingin tahu betapa hangatnya pelukanku!" katanya. Kelambu disingkapkan oleh tangan-tangan mungil si gadis. Senyumnya merekah mendebarkan. Si Perusak Raga tanpa ragu-ragu segera mendatangi. Sampai di depan si gadis. Seperti seekor singa jantan yang kelaparan ia langsung memeluk dan menjatuhkan ciuman bertubi-tubi. Gadis itu menyambutnya dengan hangat.

"Cuma sebatas inikah? Bukankah kau menginginkan diriku seutuhnya! Nah tidak inginkah kau melepaskan pakaianku ini?" desah si gadis sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Si Perusak Raga ragu-ragu, lalu ia berbisik. "Di luar kamar ini ada sekutuku. Bagaimana jika mereka mengetahui perbuatan kita?" katanya berbisik. Gadis itu tersenyum, senyum yang membuat Si Perusak Raga menggelegak darahnya terbakar birahi.

"Mengapa takut! Menurutku sekarang mereka sudah mabuk di ruangan depan. Mengangkat kepala pun mereka sudah tidak mampu. Bila nanti mereka sadar, kawan-kawanmu itu sudah patuh pada perintahku! Ayo...!" kata wanita misterius itu sambil mengedipkan matanya. Jemari tangan yang gemetaran itu pun melepaskan pakaian tipis si gadis. Di balik pakaian itu ternyata ia tidak mengenakan apa-apa lagi. Betapa ini merupakan sebuah pemandangan yang indah. Gadis itu benar-benar menggairahkan dan penuh semangat berkobar-kobar.

Maka terjadilah hubungan terkutuk. Si gadis melayaninya dengan penuh semangat. Si Perusak Raga mengerang-ngerang dalam kenikmatan yang belum pernah didapatkannya dari gadis mana pun yang pernah diajaknya tidur bersama. Sehingga di ujung pendakian itu Si Perusak Raga merasakan ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia terkapar, tubuhnya lemah lunglai seakan tidak bertenaga. Gadis itu tersenyum, ia bangkit berdiri dan sekarang mengenakan pakaian ringkas warna hitam.

"Kenakanlah pakaianmu! Sekarang sudah waktunya bagiku untuk membicarakan urusan yang sebenarnya!" ujar gadis misterius bersemangat. Laki-laki itu tanpa membantah segera menuruti apa yang diperintahkan padanya. Ia mengikuti wanita yang telah memberinya kepuasan menuju ke ruangan di mana Setan Arak dan Iblis Pemabukan terkapar dalam keadaan mabuk.

"Inikah kawan-kawanmu?" "Ya...!"

Gadis itu menuangkan cairan berwarna putih dari dalam kendi ke wajah Setan Arak dan Iblis Pemabukan. Keduanya tampak gelagapan ketika mencium sesuatu yang keras menyengat.

"Eeh... eeh, apa ini! Lho kita berada di mana adik Setan Arak?" tanya Iblis Pemabukan terkesan bingung. Ketika itu ia sudah duduk dan memandang pada si gadis dengan penuh rasa takjub sekaligus terheran-heran.

"Kurasa kita berada di sorga. Lihat ada bidadari cantik! He he he...! Kita sudah sampai di sorga!" Setan Arak menjawab dengan ngawur.

"Kalian bukan di sorga, tapi dalam gedung tempat kediamanku! Aku yang berkuasa di sini!"

"Kkk... kau siapa gadis cantik?" tanya Setan Arak sambil menelan ludah.

"Siapa aku tidak perlu kalian tahu. Satu hal yang harus kalian lakukan sesuai dengan perintahku. Kalian harus mencari perempuan yang bernama Dara Nirmala! Perempuan itu harus kalian bunuh! Selain itu kalian juga harus menghancurkan gedung yang di sebelah barat itu. Temukan laki-laki yang bergelar Datuk Tinggi Raja Di Angin. Orang itu harus kalian bunuh. Jika kalian berhasil melakukannya. Maka kalian semua di samping Si Empat Wajah berhak menjadi suamiku. Ketahuilah aku tidak pernah mengalami ketuaan. Aku tetap awet muda selama ratusan tahun. Nah kalian akan beruntung bila mendapatkan aku. Siapa yang ingin minum arak, arak telah kusediakan. Jadi kurang apa lagi?" Setan Arak dan Iblis Pemabukan saling berpandangan. Sebenarnya hati kecil mereka tidak setuju tapi entah mengapa jalan pikiran mereka seperti sudah tidak dapat mengendalikan mulut.

"Bagaimana?"

"Kami mau menerima asal engkau paling tidak bersedia menyebutkan siapa kau!" tanya Setan Arak.

"Hi hi hi...! Aku adalah Ratu Keindahan!" kata si gadis seenaknya.

"Hmm, kalau begitu kau adalah orang yang disebut-sebut oleh Si Penyair Gagu. Kalau begitu aku bersedia membantu!" kata Iblis Pemabukan.

"Bagus! Hi hi hi...!" Gadis yang mengaku sebagai Ratu Keindahan ini tertawa renyah. Gigigiginya yang putih tampak berkilauan. Namun tawanya terhenti ketika terdengar suara ketukan pada pintu depan. Si Perusak Raga bermaksud membukakan pintu tersebut. Namun gadis itu memberi isyarat agar tetap duduk di tempatnya. Ia sendiri kemudian yang membuka pintu. Saat pintu terbuka tampaklah sosok tubuh kurus tinggi. Tingginya kurang lebih satu setengah tombak. Kepalanya besar dan memiliki empat wajah. Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga tersentak kaget dan sempat timbul perasaan ngeri di hati mereka.

Si Empat Wajah langsung masuk dan memandang penuh rasa cemburu pada ketiga lakilaki itu.

"Siapa mereka?" tanyanya dengan perasaan tidak senang.

"Mereka adalah para sekutu kita yang siap menghancurkan musuh-musuhku! Kau tidak perlu cemburu kekasihku. Jika kalian semua berhasil menghancurkan musuh-musuhku, kalian akan menjadi suamiku!" kata si gadis.

"Apakah kau tidak yakin dengan kesaktianku?" tanya Si Empat Wajah tidak senang.

"Aku tentu saja merasa yakin. Tapi alangkah baiknya jika kita bersatu padu untuk memperoleh suatu kemenangan?!"

"Aku tidak suka diduakan!" protes Trigada. "Jangan takabur dan serakah. Orang yang

kita hadapi bukan manusia-manusia berkepandaian rendah. Mereka telah hidup selama ratusan tahun. Dan kesaktiannya tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata!" tegas si gadis. Si Empat Wajah terdiam. Walaupun begitu ia masih memandang dengan rasa tidak senang pada Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga.

"Duduklah! Sekarang aku ingin menjelaskan rencana yang harus kita lakukan!" ujar Ratu Keindahan. Empat Wajah langsung duduk. "Katakanlah, tanganku sudah gatal ingin menghancurkan manusia-manusia yang telah membuatmu sakit hati!" geram Trigada.

"Kurasa Dara Nirmala tinggal di gedung ini. Cuma aku tidak tahu di ruangan yang mana. Aku sudah lakukan pemeriksaan tapi tidak menemukannya. Jadi mula-mula yang harus kita lakukan adalah menghancurkan gedung miring yang berada di sebelah barat itu. Aku yakin di antara mereka sudah terikat suatu perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Jika gedung hancur pasti manusia yang bernama Lu Jingga bergelar Datuk Tinggi Raja Di Angin keluar dari tempat persembunyiannya!"

"Setelah itu bagaimana?" tanya Si Empat Wajah.

"Setelah itu, tentu Datuk Tinggi akan melabrak ke sini karena mengira Dara Nirmala telah melanggar perjanjian!"

"Bagaimana kau tahu mereka telah saling berjanji membuat peraturan ini?" tanya Si Perusak Raga.

"Aku mendengar dan mengetahui isi hati orang! Hi hi hi...!" ketus suara si gadis. Ia kemudian tertawa tergelak-gelak.

6 "Ratu Keindahan, dapatkah kau ceritakan sedikit mengenai sebab musabab mengapa kau menanam benih permusuhan pada kedua orang itu?" tanya Si Perusak Raga. Wajah cantik menggiurkan itu tampak berubah memerah. Ada amarah yang berusaha dipendamnya.

"Hei kau, mengapa kau tanyakan hal-hal yang membuatnya menjadi berduka? Kekasihku, apakah orang seperti dia pantas menjadi salah seorang dari suamimu?" protes Si Empat Wajah. Ia tampak kurang senang sekali melihat Si Perusak Raga, jika di situ tidak hadir orang yang sangat dicintainya. Tentu Si Perusak Raga sudah dibunuh oleh Trigada.

"Bersabarlah, sebagai orang yang bersekutu kita tidak boleh saling serang sesamanya sendiri. Dia tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya. Kurasa tidak salah jika ia bertanya, tapi untuk kau ketahui wahai Perusak Raga. Saat ini aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu. Nanti saja jika urusan dengan musuh-musuh telah selesai. Aku akan menceritakan mengapa aku menyimpan dendam setinggi langit pada kedua orang itu!" tegas si gadis.

Ia terdiam, pikirannya kini menerawang pada kejadian beberapa pekan yang lalu. Dalam pengembaraannya setelah meninggalkan Lembah Silau Dunia. Bertahun-tahun ia mencari orangorang yang sangat dibencinya. Hingga sampailah ia di daerah yang bernama Seribu Teka Teki. Di sini ia bertemu dengan manusia setengah makhluk mengerikan bertubuh kurus tinggi berkepala besar. Orang itu memiliki empat wajah, empat mulut dan delapan mata. Waktu itu Si Empat Wajah seperti binatang buas yang sedang mencabikcabik mangsanya. Orang yang menjadi santapan sosok mengerikan ini tidak lain adalah anak-anak berumur belasan tahun. Mereka anak-anak gadis remaja yang malang.

Melihat kehadiran gadis cantik berambut panjang ini. Si Empat Wajah langsung terpesona dan jatuh hati. Ia tergila-gila pada pandangan pertama. Namun si gadis mengajukan tiga syarat. Syarat pertama Si Empat Wajah harus menghentikan kebiasaannya dari memakan daging sesamanya. Sedangkan syarat kedua, ia harus dapat mengalahkan gadis cantik itu atau paling tidak seimbang. Sedangkan syarat ketiga ia harus membantunya mencari dan membunuh musuh besarnya.

Si Empat Wajah langsung menyanggupi. Ia bersedia meninggalkan kebiasaan lamanya. Setelah itu ia pun bertarung dengan gadis yang sangat dicintainya. Ternyata setelah terlibat pertempuran tidak kurang dari tiga hari, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Sementara itu kabar mengenai munculnya Penyair Gagu terdengar pula oleh si gadis. Sehingga setelah meninggalkan pesan untuk Si Empat Wajah agar menyusulnya. Gadis itu berangkat ke Imogiri. Ia menjumpai banyak syair di sembarang tempat. Salah satu syair itu dipecahkan rahasianya. Ia pun tahu bahwa apa yang dimaksud dalam syair tersebut tidak lain adalah tentang seseorang yang mempersoalkan hawa nafsu dan akal. Orang yang selalu dilanda kegelisahan akan datangnya kematian. Sehingga ia tidak menghiraukan tentang segala sesuatu yang bersifat keduniawian. Tidak salah lagi inilah orang yang dicarinya selama bertahun-tahun.

"Mereka manusia-manusia munafik! Katanya tidak peduli dengan segala macam cinta, tidak tahunya bunting malah!" geram si gadis. Ia pun pergi ke Bukit Keangkuhan. Bibirnya menyunggingkan senyum di kala melihat dua bangunan megah yang ia tahu bagaimana cara membuatnya. Ia pun masuk ke dalam gedung itu berkat kesaktian yang dimiliki. Lalu beberapa hari kemudian setelah ia mengatur siasat, muncullah Si Perusak Raga, Setan Arak dan Iblis Pemabukan. Apa yang dilakukannya tidak berlangsung mulus. Karena gedung itu dijaga oleh para Jin. Namun berkat kesaktiannya yang sungguh luar biasa, ia mampu melumpuhkan penjaga-penjaga dan membelenggunya dengan rantai Kebinasaan.

"Kalau Ratu Keindahan sudah bicara begitu, aku tidak ingin mendesak!" kata Si Perusak Raga. "Beritahukan apa yang harus kami kerjakan?"

"Nanti selepas senja kalian harus menghancurkan gedung yang di sebelah barat. Temukan manusia yang bernama Lu Jingga dan seret ke sini!" tegas si gadis. "Aku sendiri akan mencari orang yang selama ini telah membuatku menderita lahir batin! Ia pasti masih berada di dalam gedung ini! Ia tidak bisa menghindariku meskipun bersembunyi di lubang semut!"

Empat sekutu gadis berpakaian ringkas itu telah sama setuju. Mereka kini hanya tinggal menunggu datangnya waktu yang telah ditetapkan.

* * *

"Ha ha ha...! Pemuda tolol, aku telah mendapatkannya! Rupanya di sini. Lihatlah...!" teriak Dewa Sinting sambil berjingkrak-jingkrak dan tarik celananya yang selalu melorot kedodoran. Suro terdiam, memandang pada Dewa Sinting dengan kening berkerut-kerut.

"Apa yang telah kau dapatkan, kakek sinting. Kegiranganmu seperti anak kecil. Kau tertawa-tawa seperti orang gila?! Tidak sadarkah kau kita berada di mana?" tegur Suro. Rupanya Pendekar Mandau Jantan ini merasa khawatir kalaukalau suara tawa Dewa Sinting didengar oleh orang lain.

"Lihatlah ke sini!" sahut Dewa Sinting masih dengan suara keras.

"Diamlah, nanti mulutmu ku jahit dengan jarumku yang tumpul!" dengus Suro dengan mulut terpencong.

"Kau hendak menjahit mulutku dengan jarum yang ada lubangnya! Kau benar-benar pemuda edan yang tidak tahu peradatan!" maki Dewa Sinting, suaranya lirih seperti burung emprit kedinginan. Sama sekali murid si ugal-ugalan Penghulu Siluman Kera Putih ini tidak menyahuti. Ia mendekati Dewa Sinting. Setelah melihat ke depan ternyata ada sebuah lubang besar tertutup batu. Di atas batu tersebut bertuliskan beberapa bait kata seperti ini....

Jalan ke liang kubur

Di Alam sunyi tiada berteman Derita sesal tiada berkesudahan Hidup di dunia dalam waktu lama Hanya sia-sia, hanya sia-sia

Penantian yang panjang tiada berkesudahan wa tangis Di atas bumi manusia menghamburkan taDi perut bumi manusia menghamburkan Penyesalan, penyesalan....

Tangisku adalah penyesalan Lalu lidahku kelu dalam tangis Di sini, di liang kubur ini

Air mata kering

Lidahku kaku dalam tangis

Mulutku gagu, hanya hati yang bisa berkata....

Di atas sana ada dua keangkuhan menyalahi kodrat

Hidup beratus-ratus tahun Dan mereka masih manusia juga

Suro golang-golengkan kepala. Dewa Sinting memandang padanya dengan mata berkedapkedip.

"Bagaimana menurutmu syair ini? Apakah ada orang mati di dalam sana?" tanya si kakek.

"Kau ini orang tua, rambutmu sudah ubanan, kulitmu keriput dan tulang belulangmu sudah rapuh. Mana ada orang mati bisa menulis? Aku yakin penyair gagu bersembunyi di dalam, atau mungkin ini memang tempat tinggalnya. Syair ini sedih, mengingatkan aku akan mati. Kurasa dulunya ia bisa bicara, karena banyak menangis ia jadi gagu. Tapi apa yang membuatnya sedih?" kata Pendekar Blo'on.

"Gadis itu cantik sekali, gadis secantik itu rasanya tidak tega aku melihatnya bersedih. Kalau saja ia menjadi seorang isteri siapa pun, jangan dikuburin kalau masih ada nafasnya!"

Plok!

Suro terhuyung-huyung. "Ehh, apa kau sudah gila? Mengapa kau menamparku?!" protes Suro.

"Kau ini semakin gila. Pengemis sekalipun mana tega menguburkan bininya selama masih bernafas. Sudahlah, ayo kita geser batu ini!" perintah Dewa Sinting.

Buuk!

"Kurang ajar!" maki Dewa Sinting sambil berusaha bangun. Rupanya Suro telah menendang pantatnya sebagai balasan tamparan tadi. Ini sudah menjadi kebiasaan pemuda ini. Ia selalu membalas perlakuan orang bila ia merasa tidak bersalah. Tidak peduli siapa orangnya. Si kakek sewot hendak membalas lagi. Tapi Pendekar Blo'on angkat tangannya.

"Eiit... sekarang kedudukan satu-satu. Kalau kau menyerangku, aku bersumpah akan menempurmu sampai salah seorang di antara kita ada yang mampus!" ancam si konyol. Dewa Sinting terdiam, ia tarik celananya. Tanpa bicara ia segera menggeser batu tersebut. Tapi sampai ngeden (setengah mati) ia berusaha menggeser batu tersebut sedikit pun batu tidak bergeming. Setiap Dewa Sinting berusaha menggeser batu disertai pengerahan tenaga dalam, Suro termonyong-monyong meledek.

"Kau ini manusia angkuh. Sampai keluar taik ijo dari punggungmu, batu itu tidak mungkin dapat bergerak. Sini biar kubantu!" kata Suro Blondo merasa tidak tega.

"Pemuda gila, mengapa tidak dari tadi!" maki Dewa Sinting.

Pendekar Mandau Jantan hanya menyeringai. Lalu ia segera membantu si kakek mendorong batu tersebut. Begitu beratnya batu tersebut sampai mata mereka melotot seperti orang yang saling menantang. Barulah setelah Pendekar Blo'on mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya batu tersebut dapat tergeser.

"Ayo masuk, tunggu apa lagi!" "Jangan sembarangan! Biar aku yang di depan!" hardik Dewa Sinting yang menyangka dalam lorong itu terdapat jebakan yang mungkin saja dibuat oleh penghuninya.

Suro mengikuti Dewa Sinting tidak jauh di belakangnya. Lorong ini termasuk panjang juga. Sampai-sampai Dewa Sinting beranggapan pastilah jalan rahasia itu berhubungan dengan gedung megah yang terdapat di atas bukit. Jika benar, berarti hanya orang yang memiliki kesaktian tinggi saja yang dapat membuatnya. Lalu siapa?

"Awas!" Suro berteriak memberi peringatan. Ia menyambar bahu Dewa Sinting hingga duaduanya rebah. Enam buah senjata rahasia berbentuk anak panah mendesing di atas kepala mereka. "Kau di depan, tapi melamun! Untung aku tadi sempat melihat, kalau tidak tubuhmu sudah ditembus anak-anak panah itu!" gerutu Suro lalu bangkit berdiri.

"Tapi ternyata aku tidak mati, bukan?" Dewa Sinting menyeringai, wajahnya sempat pucat juga. pada!" "Biar aku yang di depan! Kau kurang was-

"Bagus! Kalau ada apa-apa kau mampus duluan!" ejek si kakek. Dan Dewa Sinting tidak berusaha menghalanginya di saat Suro lewat di sampingnya.

Tanpa bicara sepatah kata pun mereka melanjutkan langkahnya. Mereka ternyata masih terhalang jebakan-jebakan lain, hingga membuat baik Suro maupun Dewa Sinting harus berhatihati. Ternyata lorong rahasia tersebut berlikuliku. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah pintu. Pada pintu terdapat tulisan berupa syair.

Selamat datang di gerbang nestapa

Di sini kubur abadi dari orang, yang telah membuatku terlahir di dunia pana.

Ia berdiri dalam prinsip abadi. Dalam satu harap, Surga....

Nestapaku, nestapa bumi Hidupku, air, udara, api dan tanah

Sekarang aku berada dalam perutnya Merintih dari hari ke hari

Dari orang yang kurindu namun tidak dapat kusentuh

Kupandangi dia selalu dalam tidur panjang abadi

Aku tinggal sendiri....

Menghirup udara dunia di antara makhluk-makhluk yang angkuh menyombongkan diri.

Aku tidak tahan, hingga kutuliskan kata ha-

ti

Akhirnya orang-orang sakti datang kemari Bersekutu lupa diri....

Suro garuk-garuk rambutnya. Dewa Sint-

ing memperhatikan tulisan-tulisan itu lebih dekat. Kemudian ia mendorong pintu yang terbuat dari lempengan batu. Pintu tidak bergeming. "Kita telah mendatangi kuburan, kakek sinting. Sebaiknya kita kembali saja!" celetuk Pendekar Blo'on dengan perasaan resah.

"Tolol kowe. Coba kau renungi kalimat demi kalimat itu. Di balik pintu ini pasti ada orang hidup yang menunggui orang mati! Ayo bantu aku!" perintah Dewa Sinting. Suro akhirnya terpaksa menurut. Didorongnya pintu lempengan batu itu bersama-sama. Sayang sedikit pun tidak bergerak, padahal baik Suro maupun Dewa Sinting sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

"Kalau begini caranya, sampai mencret pun kita tidak bakal dapat masuk ke dalam." dengus Pendekar Blo'on sinis.

"Sebaiknya aku lepaskan pukulan dulu!" usul Dewa Sinting.

"Hei jangan, apa kau mau kita terkubur hidup-hidup di sini? Sebaiknya aku hantam pintu ini dengan senjataku!" ujar Suro.

Lalu pemuda berambut hitam kemerahan cabut senjatanya. Dewa Sinting terkesiap ketika melihat senjata Suro yang sangat aneh bentuknya dan memancarkan sinar hitam tersebut.

"Mandau?!" desisnya. "Aku jarang sekali melihat senjata aneh seperti yang dimiliki oleh pemuda konyol ini!" Perlahan Suro mengerahkan tenaga dalam ke bagian hulu Mandau yang berbentuk seorang pertapa berkepala gundul ini. Sinar hitam berkelebat, terdengar suara ringkik suara tangis dan suara tawa yang tidak ada putusputusnya dan silih berganti.

Byaar!

Pintu batu hancur berkeping-keping. Dewa Sinting berdecak kagum. Lalu terdengar seruan penuh pujian.

"Senjata aneh, bisa meringkik, bisa menangis bisa tertawa! Sungguh kau pemuda sinting dengan senjata yang penuh kegilaan pula! Coba lihat dulu!" pinta si kakek. Suro menggelengkan kepala.

"Dalam suasana seperti ini   masihkah kau bertingkah seperti anak kecil? Bukankah lebih baik jika kita masuk ke dalam?!" hardik cucu Malaikat Berambut Api.

"Tapi...?"

Si pemuda ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro ini sama sekali tidak menanggapi, untuk lebih jelasnya (Dalam episode Neraka Gunung Bromo), ia segera masuk ke dalam melalui pintu yang berantakan. Sesampainya di dalam Suro tercengang, matanya melotot.

"Dewa Sinting! Lihat kemari?!" panggil si pemuda dengan suara pelan hampir tidak terdengar. Tergesa-gesa Dewa Sinting datang menghampiri.

7 Dewa Sinting memperhatikan dengan seksama. Di tengah-tengah ruangan terdapat sosok tubuh berpakaian putih terbujur di atas batu marmar hitam. Wanita itu berwajah cantik, ada senyum menghias di bibirnya yang mungil. Di atas batu marmar lain berwarna putih, kelihatan seorang gadis cantik berbaju hijau duduk berlutut menghadap ke arah wanita yang terbaring. Yang mengejutkan wajah keduanya, antara wanita yang terbaring dengan gadis baju hijau sangat mirip satu sama lain. Mereka tidak bedanya seperti pinang dibelah dua.

"Siapa orang yang ditunggui oleh gadis itu?" bertanya Suro Blondo dengan suara berbisik.

"Kurasa itu kakaknya atau adiknya?" sahut Dewa Sinting.

"Kita sudah masuk tanpa diundang, kita telah hancurkan pintu. Apakah pantas kita mengusiknya?"

"Kalau dia memang penyair itu. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk menanyakan segala sesuatu yang tidak kita ketahui!" tegas Dewa Sinting. Suro angguk-anggukan kepala. Ia bergerak mendekati gadis baju hijau. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata dan ketika tangannya hendak menyentuh bahu si gadis. Sinar merah menyambar ke arah lengan Pendekar Blo'on. Begitu cepatnya sinar yang berasal dari wanita terbujur itu menyambar, sehingga Suro tidak sempat selamatkan tangannya. Zzzzts! "Akh...!"

Suro menjerit sambil pegangi lengannya yang melepuh. Jeritannya telah mengejutkan gadis baju hijau, hingga serentak ia menoleh dan memandang dengan penuh rasa kaget pada kedua laki-laki ini. Ia menggerak-gerakkan tangannya. Tapi Suro tidak mengerti apa arti isyarat tangan tersebut. Hanya Dewa Sinting yang memperhatikan gerakan tangan si gadis, ia bicara pada Pendekar Blo'on.

"Katanya, kita tidak boleh mendekat, kita tidak boleh mengganggu!" jelas si kakek. Ia memperhatikan bahasa isyarat si gadis. Lalu Dewa Sinting menterjemahkan isyarat itu. "Yang terbaring itu adalah ibunya. Meninggal dua tahun yang lalu. Ia Ratu Keindahan, orang yang mendirikan gedung megah di atas!" Dewa Sinting memperhatikan gerak tangan si gadis. "Dia mengakui dirinya penyair. Ia tidak bisa bicara! Katanya, kalau kita orang baik-baik, ia minta tolong pada kita untuk mengusir musuh-musuh ibunya dari dalam gedung. Tempat ini suci, ia minta bantuan kita sedapat apa yang kita lakukan!"

"Kakek Sinting, coba tanyakan siapa musuh ibunya?" seru Suro.

Si kakek menggerak-gerakkan tangannya yang dijawab oleh si gadis dengan gerakan tangan pula.

"Musuh ibunya adalah adiknya sendiri, namanya Dara Alindi! Sekarang orang itu sedang mencari-cari ibunya. Katanya bukan hanya Dara Nirmala saja yang ia musuhi, tapi juga termasuk laki-laki yang bernama Lu Jingga. Dia tokoh sakti pendiri gedung miring yang terletak di sebelah barat!" jelas si kakek sesuai isyarat dan gerakan tangan gadis baju hijau.

"Coba tanya apa yang membuat mereka bermusuhan?"

Sesuai dengan keinginan Suro, maka Dewa Sinting menanyakan perihal yang sebenarnya.

"Oh, sudahlah. Masalahnya menyangkut persoalan cinta, cinta yang tidak terbalas. Lu Jingga mencintai ibunya, ibu gadis ini tidak cinta karena selalu bingung memikirkan kematiannya. Lalu adik ibu gadis ini mencintai pemuda itu. Tapi pemuda itu sama sekali tidak menanggapinya. Ia pun mengatakan bahwa usia ibunya sudah ratusan tahun!" jelas si kakek mengartikan gerakan-gerakan tangan gadis baju hijau. Suro golang-golengkan kepala dan nyaris tidak dapat menahan tawa.

"Dewa Sinting aku hampir tidak percaya, jika tidak menyaksikannya sendiri. Wanita yang terbaring di atas marmar hitam itu sangat muda. Bahkan semula aku menyangka ia kembarannya gadis ini. Jika gadis ini mengaku ibunya orang suci, mengapa ia sampai punya anak?" tanya Suro dengan perasaan aneh.

"Suro, dia orang yang sangat sakti. Hidupnya tidak wajar karena kesaktiannya itu. Bahkan gedung di atas sana menurut gadis ini diciptakan dalam waktu satu malam. Yang membangunnya adalah para Jin! Jika orang sudah dapat memerintah Jin, kesaktiannya sudah setara dengan para Dewa. Gadis ini terlahir karena mimpi orang tuanya yang telah melakukan hubungan suami isteri dengan pemuda yang bernama Lu Jingga. Banyak kejadian aneh di dunia ini yang sulit dijangkau akal dan susah diterima pikiran. Tapi ini adalah kenyataan." jelas Dewa Sinting.

Pendekar Blo'on jadi merasa bodoh sambil garuk-garuk kepala dalam kebimbangan. Sementara gadis baju hijau yang bernama Andini mulai bicara lagi dengan isyarat-isyaratnya.

"Katanya ia malu untuk menceritakan semua kejadian di sini. Ia sendiri sejak terlahir tidak pernah disentuh oleh ibunya. Yang mengurusnya adalah para Jin. Ia tidak pernah tersentuh kasih sayang. Ia bertanya apakah dirinya anak jadah?"

"Katakan saja ia gadis baik-baik dan tidak perlu menyesali diri. Semua orang yang terlahir di dunia punya guna, paling tidak untuk dirinya sendiri!" kata Suro Blondo. Dewa Sinting menyampaikan apa yang dikatakan oleh Suro pada Andini.

"Coba tanyakan mengapa dia menulis syair-syair di setiap tempat yang dilaluinya?" Dewa Sinting menggerak-gerakkan jarinya.

"Katanya itu dilakukannya sebagai pelampiasan hatinya yang sepi. Karena ia tidak tahu apa yang harus diperbuat, di samping ia ingin tahu siapa bibinya yang sangat membenci ibunya itu!"

"Kakek sinting sebaiknya kita ajak dia keluar dari sini!" saran si konyol. Rupanya Andini melihat gerak bibir Suro, dan dengan cepat ia menggelengkan kepala.

"Ternyata ia tidak mau. Mungkin karena melihat tampangmu yang bodoh, sehingga ia takut ketularan!" kali ini Dewa Sinting bicara disertai suara tawa bergelak.

"Kurang ajar! Katakan padanya apakah ia akan menunggui mayat ibunya sampai gedung di atas sana dihancurkan oleh musuh-musuh ibunya?" Dewa Sinting yang ternyata sangat memahami bahasa isyarat itu menggerak-gerakkan tangannya. Andini melirik pada Suro, lirikan sekilas tapi cukup membuat jantung pemuda setengah mata keranjang ini berdebar keras.

"Tidak! Ia menjawab tidak, nanti juga ia akan keluar bila ibunya telah memberi izin!" Suro garuk-garuk kepala. Ia mendelik pada Dewa Sinting menyangka kakek itu sengaja mempermainkan dirinya.

"Dewa Sinting, jangan kau kelabui aku karena tidak tahu bahasa isyaratnya. Mana mungkin orang yang sudah mati dapat bicara dan memberi izin. Kalau otakmu sudah tidak betul pasti jalan pikiranmu sesuai dengan julukanmu! Hay bicaralah yang betul. Waktu kita sudah sangat sempit sekali!"

"Aku bicara sesuai apa yang dikatakannya. Kalau kau tidak percaya tanyalah sendiri, hayo tanya?" kata Dewa Sinting sambil bersungutsungut.

"Kau jangan ngeledek. Kau tahu aku tidak bisa memahami bahasanya. Sekarang aku percaya. Kurasa orang sakti mati banyak punya kelebihan. Terbukti tadi aku hampir hangus dihajar sinar yang keluar dari ujung kaki jenazah ibu Andini. Sudahlah, sekarang kita keluar dari sini!"

Pendekar Blo'on berbalik langkah hendak menuju tempat semula. Tapi di belakangnya terdengar suara....

"Bbb... buu... babu... auuu...!" Ternyata yang barusan bicara adalah Andini. Suro terpaksa menahan tawa agar tidak membuat gadis itu jadi tersinggung. Dua-duanya berbalik.

"Kakek sinting dia menyebut-nyebut babu?

Apa maksudnya?"

"Babu mbahmu! Ia mengatakan agar aku tinggal di sini menghadapi segala kemungkinan yang tidak disangka-sangka!" jelas si kakek.

"Ha ha ha...! Ternyata tua bangka sepertimu masih laku juga. Dia tidak sudi pada pemuda sepertiku yang masih perjaka ting-ting dan tongtong! Seleranya selera kelapa, Dewa Sinting. Betapa kau manusia beruntung. Aku khawatir menemani gadis secantik dia celanamu melorot terus. Nah... lihat, celanamu bergerak-gerak, mungkin ularnya sudah bangun kakek sinting!" ejek Suro. Suaranya lirih hingga si gagu tidak dapat mendengarnya. "Bocah edan! Otakmu selalu dipenuhi dengan pikiran-pikiran kotor. Aku tidak segila apa yang kau bayangkan!" maki Dewa Sinting kesal.

"Kalau pun kau menjadi orang gila siapa yang mau peduli! Ha ha ha...!" Suro menimpali disertai tawa tergelak-gelak. Pemuda itu meninggalkan Dewa Sinting. Si kakek tidak hentihentinya menggerutu sambil menaikkan celananya yang selalu melorot turun.

Seperginya Pendekar Blo'on, Andini mengajak Dewa Sinting untuk memasuki lorong lain. Tapi di belakangnya tiba-tiba saja terdengar suara memanggil.

"Tunggu dulu, dengar apa yang ingin kukatakan padamu Dewa Sinting!" Si kakek kaget setengah mati dan keluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Apabila ia melihat ke arah semula ternyata tidak ada siapa-siapa di situ terkecuali mayat ibu si Penyair Gagu. Jadi siapa yang barusan tadi? Ia memandangi Andini, gadis itu memberi isyarat dengan gerakan-gerakan tangannya.

"Hmm, jadi yang bicara barusan adalah roh ibu Andini? Apa yang ingin dikatakannya?" batin Dewa Sinting. Andini mendekati di mana jenazah terbaring. Lalu suara gaib kembali terdengar dengan jelas seakan datang dari setiap penjuru ruangan.

"Dewa Sinting! Andini adalah putriku yang terlahir karena hubungan dengan seorang lakilaki dalam mimpi. Di atas orang-orang sakti di atas bumi ini, kamilah orangnya. Ucapan dan kata hati kami lebih tajam dari seribu mata pedang. Manusia dikarunia akal dan nafsu, sepuluh akal sepuluh nafsu. Itu hampir dapat kukalahkan jika saja Lu Jingga alias Datuk Tinggi Raja Di Angin tidak menggodaku. Aku tidak pernah berbuat nista, karena mimpi itulah Andini terlahir ke dunia ini. Kejadian ini memang sulitnya diterima akal waras manusia. Namun perlu kiranya kau ketahui, alam nyata dan alam gaib bagi kami hampir tidak mempunyai dinding. Apa yang aku miliki di atas manusia umum. Semuanya berlangsung antara nyata dan gaib. Sekarang orang yang sangat membenciku telah berada di gedung ini, dialah Dara Alindi. Ia masih terhitung adik kandungku sendiri. Ia mendendam karena menyangka aku orang yang ingkar dan merebut orang yang dicintainya, yaitu Lu Jingga. Ia sangat sakti, kesaktiannya hampir sama dengan kesaktian yang kumiliki. Artinya anakku yang selama ini berada dalam didikan para Jin yang berada di bawah perintahku tidak mungkin mampu mengatasinya. Kau tidak perlu heran, karena aku akan merasuk dalam jiwa anakku untuk melindunginya sekaligus menghadapi segala kemungkinan yang terjadi!" kata suara gaib tersebut.

"Lalu bagaimana dengan jasadmu?" tanya Dewa Sinting.

"Jasadku tidak membutuhkan perlindungan. Ia tidak akan hancur! Aku telah berada di alam gaib. Iringi anakku, karena aku akan mengiringi kalian. Kau tidak perlu berhadapan dengan Dara Alindi, karena dia bukan tandinganmu. Dia lawanku dan lawan Lu Jingga. Aku tidak ingin ia merusak gedung di sebelah barat itu. Karena aku khawatir Datuk Tinggi Raja Di Angin menyangka aku yang melakukannya. Padahal kami sudah terikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Dia telah bertobat untuk menjauhi segala sesuatu yang bersifat keduniawian!"

"Baiklah, aku sanggupi permintaanmu. Sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya si kakek.

"Berjalanlah kau, naiki anak tangga itu. Karena dengan demikian kalian akan sampai ke ruangan utama gedung ini. Mungkin di sana kau akan bertemu dengan Dara Alindi, umurnya sudah ratusan tahun, namun ia tetap awet muda seperti jenazah yang kau lihat!"

"Baiklah, aku merasa senang karena engkau mengawal kami, Ratu Keindahan!" ujar Dewa Sinting. Si kakek memberi isyarat pada Andini alias Si Penyair Gagu untuk mengikutinya. Si gadis menurut disertai dengan anggukan kepala.

* * *

Apabila hari menjelang senja terbukalah pintu gedung megah yang terdapat di atas bukit sebelah timur itu. Keluar dari dalamnya Si Empat Wajah, Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga. Mereka dengan dipimpin oleh Si Empat Wajah langsung bergerak ke gedung yang terdapat di sebelah barat. Sesampainya di depan gedung Si Empat Wajah langsung berteriak-teriak.

"Datuk Tinggi Raja Di Angin, keluarlah! Apakah kau sekarang ingin menjadi manusia munafik yang sangat pengecut?!"

Tidak terdengar suara sahutan apa-apa, gema suara Si Empat Wajah lenyap ditelan lembah. Menunggu bagi orang ini lama kelamaan hanya menimbulkan kegeraman saja. Sehingga untuk kedua kalinya Si Empat Wajah berteriak lagi.

"Hmm, kiranya kau lebih memilih aku menghancurkan gedung ciptaanmu ini Lu Jingga!" desis sosok berbadan kurus berkepala besar tersebut. "Hancurkan gedung dengan pukulanpukulan sakti!" perintahnya pada Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga. 

Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, orang-orang ini segera melepaskan pukulanpukulan dahsyat ke arah gedung. Terdengar suara gelegar bagai petir di, sana sini. Namun pada waktu itu dari dalam gedung terdengar suara bergemuruh seperti air bah. Dari pintu dan jendela yang tertutup bermunculan para Jin penjaga yang melindungi bangunan. Terkecuali Si Empat Wajah, orang lainnya langsung bersurut mundur dua langkah. Makhluk-makhluk alam gaib tersebut bertubuh tinggi bukan main. Wajah mereka angker, beberapa di antaranya ada yang memakai anting di hidung atau di sebelah telinga. Jemari tangan mereka lebih besar dari pisang ambon. "Siapa kalian? Mengapa bikin keonaran di sini?" bertanya salah satu dari Empat Jin penjaga. Si Empat Wajah melangkah maju tidak diikuti oleh tiga sekutunya.

"Kau bertanya siapa kami! Akulah orangnya yang akan menghancurkan gedung milik tuanmu, dan memenggal kepalanya apabila dia muncul di sini!" sahut Si Empat Wajah.

"Kau   setengah   manusia setengah   iblis!

Dengan apa kau akan menghancurkan kami?" "Ha ha ha...! Mungkin di antara sekian ba-

nyak manusia, hanya aku yang mengetahui kelemahan makhluk seperti kalian! Aku hancurkan para Jin dengan pukulan 'Banas Pati'!" kata Si Empat Wajah. Mendengar ucapan lawannya, Empat Jin itu langsung bersurut mundur dengan wajah pucat seperti kehilangan cahaya.

"Bagaimana kau dapat mengetahui kelemahan kami?!" bertanya Jin yang sosoknya agak lebih pendek.

"Ha ha ha...! Bertanya jawab bukanlah kemauan Si Empat Wajah, sekarang terimalah kebinasaan kalian!" teriak Si Empat Wajah. Lalu seraya putar-putar tangannya di atas kepala. Sehingga angin kencang panas luar biasa menderuderu. Hanya dalam waktu sekejap kedua tangan Si Empat Wajah telah berubah merah laksana bara. Ketiga kawannya tercengang melihat kesaktian yang dimiliki oleh sekutunya. Empat Jin tidak tinggal diam, sebelum lawan benar-benar melepaskan pukulan Banas Pati yang sangat dahsyat itu. Serentak mereka melakukan serangan dari empat penjuru arah sekaligus.

8

Begitu mereka menghembuskan nafas dari mulutnya, maka menghamburlah lidah api dari masing-masing mulut itu. Api yang panas membakar itu menghantam ke arah Si Empat Wajah, namun Trigada juga bertindak cepat, empat mulutnya menyemburkan udara yang kemudian berubah menjadi air yang sangat dingin. Api yang keluar dari mulut empat Jin itu segera padam. Empat Jin penjaga gedung serentak bersurut mundur sambil keluarkan seruan kaget. Lalu Si Empat Wajah hentakkan kedua tangannya ke empat penjuru arah. Empat larik sinar, biru kuning merah dan hitam menggebu-gebu meluruk deras ke arah empat Jin penjaga. Tetapi para Jin tidak bodoh, mereka menciptakan gelombang angin puyuh yang berkekuatan dua kali kekuatan topan yang paling dahsyat.

Si Perusak Raga berseru kaget dan hampir terpelanting. Sedangkan Setan Arak dan Iblis Pemabukan terseret-seret oleh badai angin puyuh tersebut, walaupun mereka telah keluarkan tenaga dalam ke bagian kaki. Kedua orang ini tersandar di batu besar yang terdapat di belakang mereka. Lalu terdengar suara ledakan beruntun yang sangat dahsyat luar biasa. Si Empat Wajah sempat tergetar tubuhnya, dadanya seakan remuk. Empat Jin penjaga gedung terguling-guling, wajah mereka berubah menghitam. Mereka segera bangkit berdiri. Namun sebelum mereka siap pada posisi serangan berikutnya. Si Empat Wajah sudah lepaskan pukulan dahsyat 'Banas Pati' ke arah mereka. Gelombang panas melanda dengan telak dan secepat kilat serangan ini menghantam Jin-Jin itu. Dentuman keras terjadi disertai teriakan melengking direjam sakit yang luar biasa. Keempat Jin hancur lebur menjadi asap. Di kejauhan di angkasa sana terdengar suara jerit berkepanjangan saling bersahut-sahutan.

Melihat ke empat lawannya sudah binasa, Si Empat Wajah memberi isyarat pada sekutusekutunya untuk menghancurkan gedung miring tersebut. Maka orang-orang ini saling bahu membahu melepaskan pukulan-pukulan dahsyat ke arah bangunan tersebut. Kiranya usaha itu tidak mudah, ada beberapa tiang dan dindingnya yang tidak dapat dihancurkan, terlebih-lebih bagian tiang dan dinding yang berwarna putih. Bangunan itu guncang seperti dilanda gempa. Hal ini tentu dapat dirasakan oleh penghuninya. Di salah satu ruangan di mana Aripati Ujudana alias Si Muka Setan dan Datuk Tinggi Raja Di Angin tampak saling berpandangan. Waktu itu seperti harihari yang lalu Datuk Tinggi Raja Di Langit dalam keadaan menangis.

"Aku merasakan terjadi gempa di sini, Datuk?!" berkata Si Muka Setan dengan perasaan cemas. Lu Jingga seka air matanya, mata kakek ini memandang ke langit-langit. Hidungnya yang memerah kembang kempis. Seakan mengendus sesuatu.

"Empat Jin pengawalku telah binasa. Siapa yang melanggar sumpah untuk tidak saling mengganggu? Ini bukan gempa, tapi perbuatan orang-orang yang berusaha merusak gedung megah ini. Gedung pengasingan tempat pelebur dosa." sahut Datuk Tinggi Raja Di Angin. "Muka Setan, sekutuku. Cobalah kau lihat keluar. Hancurkan siapa saja yang telah merusak gedung. Aku akan menyusulmu tidak lama begitu kau berada di luar sana!" kata Datuk Tinggi Raja Di Angin.

"Aku akan menghancurkan siapa saja yang bikin kerusakan di luar sana, sekutuku!" sahut Si Muka Setan. Aripati Ujudana segera memanggul senjata roda bergerigi yang dikenal dengan nama Petala Langit. Dengan langkah tegap ia meninggalkan ruangan itu. Pintu di bagian depan terbuka dan kemudian menutup kembali dengan cepat. Aripati Ujudana terkesiap melihat separoh bangunan hancur dan pada bagian yang lain terbakar dimakan api.

Si Muka Setan yang memiliki ajian Sabdaning Geni itu berjalan melalui api yang menyala. Aneh memang karena seujung rambutnya pun tidak ada terbakar, pakaiannya pun tetap utuh. Melihat ada orang keluar dari kobaran api tersebut Si Empat Wajah terkesiap. Setan Arak, Iblis Pemabukan dan Si Perusak Raga sempat melompat mundur.

"Inikah orangnya?!" berseru Si Perusak Raga. Seruannya ditujukan pada Si Empat Wajah.

"Huh, aku sendiri tidak tahu yang bagaimana rupanya kunyuk bergelar Datuk Tinggi Raja Di Angin itu. Siapa pun yang keluar dari bangunan itu harus kita binasakan!"

"Baik, kalau begitu biar kami bertiga yang menyelesaikan orang ini!" kata Setan Arak.

"Tidak! Sebaiknya kita maju satu-satu menjajal kehebatannya!" bantah Si Perusak Raga. Orang ini melompat ke depan.

Memperhatikan Si Muka Setan yang dia sangka sebagai Datuk Tinggi Raja Di Angin. "Kau orangnya yang mendirikan bangunan ini. Huh, kau manusia munafik yang membuat calon isteriku menderita lahir batin!" dengus orang ini sinis.

"Bicaramu ngelantur! Apa yang dapat kau andalkan?" hardik Si Muka Setan.

"Kesaktianku untuk mengantar kematianmu!" teriak Si Perusak Raga. Selesai dengan ucapannya. Si Perusak Raga melesat ke depan kirimkan jotosan berkekuatan lima tenaga kuda. Angin bersiut dan menderu, sambarannya saja membuat kulit terasa seperti dibeset-beset. Si Muka Setan orang yang selalu nekad dan tidak takut mati ini sama sekali tidak menghindar. Pukulan langsung dipapaknya. Sehingga terjadilah benturan keras.

Buungg...! "Akh...!" "Ukh!"

Dua-duanya terdorong mundur. Tangan Si Perusak Raga menggembung merah. Si Muka Setan usap-usap sikunya yang kesemutan, namun sama sekali ia tidak berusaha mundur. Sekarang ia membalas serangan Si Perusak Raga.

Wut! Wut!

Si Perusak Raga berkelit. Secepat kilat berbalik dan terangkat ke atas.

Plak! "Heh...!"

Perusak Raga lagi-lagi terjajar. Dadanya kini mendenyut sakit dan kaki yang berbenturan dengan kaki lawan seakan remuk. Untuk pertama kalinya ia melompat mundur. Tenaga dalam dikerahkannya ke arah dua belah tangan. Orang ini kiranya nekad melepaskan pukulan 'Inti Raga' Tangan yang memerah itu kemudian dikibaskan. Segulung angin panas disertai pijaran bunga api melabrak Si Muka Setan. Laki-laki ini sama sekali tidak menghindar namun lindungi tubuhnya dengan tenaga dalam tinggi. Praktis pukulan tersebut menghantam tubuhnya dengan telak. Terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat hingga membuat sisa bangunan berguncang. Si Muka Setan ternyata hanya terdorong mundur, ia tertawa tergelak-gelak. Setan Arak dan Iblis Pemabukan saling berbisik. Sedangkan Si Empat Wajah kelihatan acuh dan terus menghancurkan sisa bangunan yang ada.

"Rasanya ia kebal terhadap pukulan! Kurasa matanya nanti dapat kita hancurkan dengan arak kita!"

Sementara itu tidak jauh dari pertempuran, di balik batu tampak bersembunyi seseorang. Sekarang ia sudah melihat siapa sebenarnya yang mula-mula membuat keonaran di bangunan tersebut. Ia telah memutuskan untuk membantu Muka Setan bila laki-laki itu terdesak.

"Hanya begitu sajakah hebatnya pukulan yang kau miliki? Kalian telah berkomplot dengan Ratu Keindahan dalam menghancurkan gedung ini. Perjanjian telah dilanggar. Sekutuku mengatakan agar aku menghancurkan kalian!" dengus Si Muka Setan.

"Bah, jadi kau hanya cecunguknya saja. Mana Datuk Tinggi Raja Di Angin? Apakah dia sudah berubah menjadi pengecut tidak berani tunjukkan diri?" ejek Si Perusak Raga yang diamdiam merasa kaget juga melihat kesaktian yang dimiliki oleh lawannya.

"Hiyaa...!"

Perusak Raga sambil berteriak keras cabut kapak besarnya. Kapak bermata satu itu bergerak cepat terarah ke bagian kepala Si Muka Setan. Namun laki-laki berbaju hitam ini tidak tinggal diam. Ia segera lepaskan senjata roda bergerigi Si Petala Langit. Begitu senjata mendesing di udara, ia membelah menjadi tiga bagian. Tiga-tiganya melabrak Si Perusak Raga. Lawan terkesiap menghadapi senjata aneh. Ia terpaksa bersalto ke belakang, sambil kibaskan kampaknya untuk menangkis senjata maut tersebut.

Tring!

Sebuah roda maut berbalik dan hampir melibas pemiliknya. Namun duanya lagi terus mengejar Si Perusak Raga. Mati-matian orang ini jungkir balik sedangkan kampaknya menghantam ke segala penjuru disertai suara mendengungdengung.

Tring!

Satu roda maut mental berbalik menghantam mata kampak Perusak Raga. Tapi yang satunya lagi sudah menerabas pinggangnya.

Treces! "Augkh!"

Perusak Raga menjerit keras. Petala Langit sudah kembali pada Si Muka Setan. Ujudnya menjadi tunggal lagi. Terhuyung-huyung Perusak Raga bangkit berdiri sambil mendekap luka di bagian sisi kiri perutnya. Melihat kawannya dalam keadaan terluka, maka Setan Arak dan Iblis Pemabukan menjadi cemas dan mulai bertindak. Dalam pada itu terdengar seruan keras dari Trigada.

"Manusia tolol, hanya menghadapi kunyuk bersenjata roda saja tidak becus. Keroyok dan bunuh dia!!" perintahnya.

"Bagus! Majulah kalian semua!" tantang Si Muka Setan begitu mendengar ucapan Empat Wajah.

"Mari kita gebuk setan keparat itu sampai menjadi serbuk, kakang!" teriak Setan Arak ditujukan pada Iblis Pemabukan

Tanpa bicara lagi Iblis Pemabukan langsung melancarkan serangan-serangan dahsyat dengan mengerahkan jurus-jurus mabuk yang dimilikinya. Ternyata menghadapi kedua lawan yang baru menerjunkan diri ke medan pertempuran ini jauh lebih sulit dibandingkan ketika menghadapi Si Perusak Raga tadi. Apalagi Si Muka Setan sekarang mendapat tekanan dari tiga arah sekaligus. Muka Setan melompat keluar dari kalangan pertempuran. Dalam pada itu ia sudah melepaskan Petala Langit. Kini roda bergerigi ini membagi pada tiga sasaran. Satu mengarah pada Perusak Raga, satu ke arah Setan Arak dan yang satunya lagi menghantam Iblis Pemabukan.

Serangan roda terbang menjadi tidak banyak berarti bagi kedua pemabuk ini. Karena dengan gerakan-gerakan terhuyung maupun liukan-liukan tubuh mereka roda bergerigi tidak dapat menyentuh lawannya. Terkecuali yang satunya lagi langsung menghantam dada Si Perusak Raga hingga tembus ke jantung. Tewaslah orang ini dihantam Petala Langit. Namun pada kesempatan itu pula bahaya lain mengancam Si Muka Setan. Semburan arak lawan-lawannya yang selalu mengarah ke bagian matanya membuat ia tidak leluasa melakukan serangan balasan. Serangan roda bergerigi menjadi tidak terarah dan berulang kali nyaris menghantam dirinya sendiri.

"Heaaa...!"

Setan Arak menerobos ke depan, lawan berusaha mundur akan tetapi dari arah samping menghantam cairan arak yang disemburkan Iblis Pemabukan ke bagian matanya. Si Muka Setan berjumpalitan. Sebagian arah menghantam tubuhnya, hingga membuat pakaian laki-laki ini hancur.

Kini sudah tampak jelas Si Muka Setan terdesak hebat. Setan Arak tidak menyia-nyiakan kesempatan. Arak kembali berhamburan dari mulutnya dan....

Cuh! "Akkh !"

Tidak terelakkan lagi mata kiri lawan hancur. Muka Setan menjerit-jerit sambil mendekap matanya yang menyemburkan darah.

"Bunuh!" teriak Iblis Pemabukan.

Maka Setan Arak menghantamkan bulibulinya ke kepala lawannya. Kalang kabut Muka Setan lindungi kepala disamping harus lindungi matanya yang hanya tinggal sebelah agar tidak mengalami kebutaan total. Namun pada detikdetik yang sekritis itu, terlihat bayangan biru berkelebat. Kaki orang ini menghantam lengan Setan Arak. Setan Arak menjerit dan jatuh terpelanting, buli-buli di tangan hancur. Sedangkan lengannya sendiri seraya remuk seperti dihantam pentungan besi. Baik Iblis Pemabukan yang sempat mundur, maupun Setan Arak dengan mata melotot dapat melihat seorang pemuda berpakaian biru berambut hitam kemerahan tampak bertolak pinggang tidak jauh di depan mereka dengan mulut termonyong-monyong.

Sedangkan Si Muka Setan begitu melihat ada orang yang telah menolongnya langsung ambil senjata dan melarikan diri dari pertempuran.

"Begitu beraninya kau mencampuri urusan kami! Siapakah kau ini kunyuk tolol?" bentak Iblis Pemabukan. Ia jelas merasa kesal, karena lawan yang sudah berada di ambang maut telah melarikan diri karena campur tangan si pemuda. Suro garuk-garuk kepala. "Sudah kalian tahu aku ini hanya kunyuk tolol. Mengapa kalian masih bertanya-tanya? Apakah kalian bapak para monyet yang merasa kehilangan anaknya? Yang jelas aku bukan anak para monyet mabuk yang bikin keonaran di sini!" ejek Suro seenaknya.

"Sebutkan apa gelarmu, agar malaikat tidak lupa mencacat namamu di akherat nanti!" maki Setan Arak. Seraya langsung berdiri.

"Ha ha ha...! Gelarku monyet brewok tukang mabuk. Malaikat pasti tidak salah catat, karena neraka sudah mengabarkan aku bahwa kalian berdua adalah calon penghuni abadi di sana!" kata Pendekar Blo'on. Melihat lagak si pemuda yang seperti orang sinting, rasanya ia tidak punya kepandaian apa-apa. Tapi mengingat Setan Arak dapat dijatuhkannya. Bukan mustahil ia punya kelebihan dibalik wajahnya yang tolol itu.

"Adik Setan Arak! Mari kita rencah tubuh pemuda edan ini dengan arak kita!" seru Iblis Pemabukan. "Hu hu hu...! Aku paling suka berhadapan dengan manusia gila seperti dia!" sahut Setan Arak.

Dua lawan sama-sama menerjang ke arah Suro. Satu lancarkan jotosan ke arah leher dan mulut, sedangkan yang satunya lagi lepaskan tendangan menggeledek ke arah perut dan sapuan pada bagian kaki.

"Ala emak, para setan mabuk sudah mulai mengamuk!" pekik Suro dan ia langsung jatuhkan diri. Tendangan maupun jotosan tidak mengena pada sasaran yang diinginkan. Tapi kedua lawan pemabuk ini cukup cerdik. Mereka pun bergulingguling, tangan mencakar atau siku menghantam tubuh Suro. Dalam keadaan berguling-guling ini Suro memang mendapat serangan dari dua arah sekaligus. Hal ini membuatnya cukup repot juga. Dengan cepat ia melompat bangkit, sambil berjingkrak-jingkrak ia menginjak-injak tubuh lawannya yang masih belum punya kesempatan berdiri. Tapi injakan selalu meleset, bahkan kakinya secepat kilat dapat dihantam oleh Iblis Pemabukan hingga membuatnya terpelanting roboh. "Wadoooh, orang mabuk ini memang sudah

pada edan semuanya!" maki Pendekar Blo'on. Ia cepat jungkir balik, ketika kedua kakinya membentuk kuda-kuda di atas tanah. Mulailah ia melakukan gerakan-gerakan yang sangat aneh hingga membuat lawan-lawannya terheran-heran. Mulutnya termonyong-monyong, terdengar suara ngak ngik nguk tidak ubahnya seperti suara seekor monyet. Kakinya bergerak dengan gesit seperti kaki monyet yang sedang menari-nari, tangannya menggaruk ke sana sini. Itulah jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' yang dipadukan dengan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.

"Jurus Siluman Kera Putih?!" sentak Setan Arak yang rupanya cepat dapat memahami apa yang dilakukan oleh pemuda rambut kemerahan tersebut.

"Hiaa...!"

Setan Arak yang sedikit banyaknya pernah mendengar kehebatan jurus-jurus ini segera teguk araknya. Tiba-tiba saja ia sudah melompat ke depan, serangan rangkaian bertubi-tubi dilakukannya.

Plak! Plak! Plak!

Hantaman buli-buli arak maupun sodokan lututnya membentur tangan si pemuda. Suro mundur, terdengar suara lolongannya. Suara lolongan yang kemudian disertai gerakan si konyol yang terkesan serampangan dan tidak mengenal aturan silat sama sekali.

Nguk! Nguk! Nguk! "Hia...!"

Tiba-tiba saja Suro jungkir balik, kepala di bawah kaki menendang perut lawan. Gerakan ini terkesan asal-asalan, sebelah tangannya didorong ke arah paha lawan. Melihat angin bergulunggulung, Setan Arak menangkis, tapi tendangan kaki ternyata lebih dulu menghantam perutnya.

"Hegkkkh...!" Setan Arak terjengkang, dari samping menyambar serangan. Dan tahu-tahu Iblis Pemabukan telah mengemplang kepalanya. Suro mengeluh, ia terhuyung-huyung dan miring-miring seperti ayam sakit ayan. Selagi langkahnya goyah dan pandangan matanya berkunang-kunang. Tinju Iblis Pemabukan sudah menghantam dadanya.

Dieegkh...!

"Uhuk! Hoek-hoekh...! Setan betul! Bangsat...!" maki si pemuda sambil pegangi dadanya. Setelah diurut-urut keluar darah dari sudutsudut bibirnya.

Setan Arak yang sudah berdiri bersama Iblis Pemabukan langsung menyerang Pendekar Blo'on dengan semburan araknya. Untunglah Suro bertindak gesit sambil menggelindingkan tubuhnya. Setiap batu yang terkena semburan arak berlubang mengepulkan asap, rumput kena sembur, rumput langsung terbakar. Bukan mainmain memang! Suro sendiri tidak sanggup membayangkan bagaimana batok kepalanya yang terkena semburan arak tersebut. Pasti langsung bolong menembus otaknya.

Pontang-panting pemuda ini selamatkan diri. Tapi lawan-lawannya ini benar-benar para pemabuk yang sudah penuh keedanan. Hingga Pendekar Blo'on bolak-balik hampir mati konyol.

"Setan sompret! Huuh... huuh... huu, heaa...!" Pemuda baju hijau melontarkan katakata yang tidak jelas. Lalu terdengar suara tawanya yang bekakakan. Tubuhnya berkelebat lenyap. Rupanya ia saking gusarnya sudah mengerahkan jurus 'Tawa Kera Siluman'. Kemudian secara cepat ia menyusup ke arah pertahanan lawan. Pukulan beruntun dilakukannya.

Buk! Buk! Pruh!

Meskipun sempat terbanting terkena hajaran Suro yang telak itu, tapi Iblis Pemabukan masih dapat semburkan araknya. Semburan arak ditangkis oleh Suro, sehingga membuat bajunya terbakar sebagian. Kulitnya melepuh dadanya melepuh dan pusernya juga ikut melepuh. Suro hampir-hampir mati konyol. Hilang kesabarannya, maka ia lepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'. Suro angkat tangannya tinggitinggi kedua lengannya hanya dalam waktu sekejap telah berubah memutih laksana salju. Setan Arak dan Iblis Pemabukan sadar betul dengan bahaya yang mengancam jiwa mereka. Sehingga ia pun lepaskan pukulan 'Nyanyian Setan Mabuk Di Tengah Malam'.

Dua-duanya dalam waktu bersamaan hentakkan kedua tangannya ke arah lawan. Tapi Suro sudah mendahuluinya. Detik itu juga meluncur segulung sinar putih disertai angin menderuderu. Sinar kuning meluncur pula memapak serangan Pendekar Blo'on. Terjadi pertemuan dua serangan sakti di udara. Lalu....

Buum! Buum! "Aukh !"

Tiga suara jeritan terdengar berturut-turut. Masing-masing lawan sudah terlempar sejauh tiga tombak. Tampaknya Setan Arak dan Iblis Pemabukan hanya menderita luka ringan. Sedangkan Pendekar Blo'on megap-megap. Kepalanya benjut terhantam akar pohon.

"Sekarang tibalah saatnya bagimu untuk berjalan-jalan ke neraka!" teriak Iblis Pemabukan. Tanpa berpikir lebih lama lagi tubuhnya melesat. Kakinya menginjak kepala Suro. Pemuda ini menyeringai, tapi tangannya mencabut Mandau Jantan dengan cepat.

"Hiiiiik! Huuuuu! Haaaaaa...!"

"Awas, kakang!" teriak Setan Arak ketika melihat lawan mencabut senjata. Peringatan ini sudah terlambat. Senjata yang dapat meringkik, merintih dan tertawa itu berkelebat dan....

Craas!

Tenggorokan Iblis Pemabukan terputus. Ia jatuh tersungkur di samping Suro. Melihat saudaranya roboh, seperti setan gila Setan Arak menerkam Pendekar Blo'on. Namun Mandau di tangan Suro menembus perutnya. Laki-laki ini menjerit, roboh menimpa Pendekar Blo'on. Pendekar Blo'on sentakkan senjatanya.

Sesaat ia mengitarkan pandangan matanya berkeliling. Ketika itu ia melihat bangunan sudah rata menjadi tanah. Dari reruntuhan bangunan muncul seorang laki-laki tua dalam keadaan menangis. Sedangkan tidak jauh darinya Si Empat Wajah sudah menunggunya dengan perasaan gembira. Suro yang dalam keadaan terluka ini kurang menghiraukan perdebatan sengit yang terjadi di antara mereka. Ia pejamkan matanya setelah menelan tiga pil berwarna-warni. Dikerahkannya tenaga dalam untuk menghilangkan luka-luka yang ia derita. Lama sekali murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini memejamkan matanya. Tubuhnya pun mandi keringat. Saat mana ia membuka matanya kembali. Maka kakek yang keluar dari reruntuhan bangunan tadi dengan sosok tinggi kurus berkepala besar dan punya wajah empat sudah saling berhadap-hadapan.

"Dara Nirmala tidak kusangka berani melanggar perjanjian. Kau datang ke sini tentu atas suruhannya, bukan?" tanya si kakek yang tidak lain adalah Lu Jingga atau yang lebih kesohor dengan julukan Datuk Tinggi Raja Di Angin. Si Empat Wajah tertawa membahak. Karena empat mulutnya tertawa semuanya maka terdengarlah suara rentetan yang menggelegar bagai halilintar.

9

Suro sendiri terpaksa lindungi telinga agar tidak terpengaruh tawa Si Empat Wajah. Tawa tiba-tiba terhenti Suro masih duduk bersila di tempatnya sambil bengong.

"Kau salah tua bangka, Lu Jingga! Kurasa kau masih ingat dengan Dara Alindi bukan? Nah gadis itu yang menyuruhku untuk memenggal kepalamu...!" sahut laki-laki bertubuh kurus ceking berkepala besar tersebut sambil gelengkan kepala.

Air mata yang mengalir dari kelopak mata Datuk Tinggi Raja Di Angin mendadak berhenti dengan sendirinya. Ia memang sempat terkejut, hanya rasa kagetnya tidak sempat terlihat oleh lawannya. Ia kemudian bicara dengan suara dingin.

"Jadi di mana perempuan itu sekarang?" "Dia tentu saja mencari saudaranya yang

sangat dibencinya dalam gedung megah itu. Kau mampus di tanganku, sedangkan Dara Alindi akan membunuh orang yang sangat kau gila-gilai itu!" ejek Si Empat Wajah. Suro mendengarkan perdebatan itu sambil garuk-garuk kepala.

"Aku semakin jelas sekarang. Kiranya persoalan yang mereka ributkan cuma persoalan asmara." gerutu Suro merasa tidak betah. Dalam kesempatan itu terdengar suara Datuk Tinggi Raja Di Angin menggerung keras.

"Sembilan akalku dulu memang pernah kalah dan dijadikan pecundang oleh satu nafsuku. Tapi sekarang semuanya sudah tidak bersebab. Aku sudah tidak menghiraukan apa yang terjadi dan yang akan terjadi pada dunia dan isinya. Ketahuilah Dara Alindi itu jika tidak punya ilmu awet muda dia sudah menjadi nenek-nenek renta seperti diriku. Aku sekarang tahu dia tentu menawarkan tubuhnya padamu, bukan?" dengus Lu Jingga. "Lalu kepandaian apa yang kau miliki untuk menghadapi aku? Sedangkan jika Dara Alindi saja yang menghadapi langsung, ia belum tentu dapat mengalahkan aku!" kata si kakek bersungguh-sungguh.

"Hmm, bangsat sombong! Aku Empat Wajah, akan kupatahkan lehermu dengan kedua tanganku ini!" teriak Trigada.

Hanya dalam tempo yang teramat singkat, kedua orang ini sudah saling lancarkan serangan. Gerakan mereka sangat cepat luar biasa, sehingga jika hanya ahli-ahli silat berkepandaian biasabiasa saja tentu akan menjadi pusing melihat pertempuran yang berlangsung sangat cepat ini. Bentakan disertai hantaman keras silih berganti. Inilah pertemuan dua tokoh sakti yang memiliki kepandaian luar biasa. Si Empat Wajah sang Makhluk Tanpa Pendirian mulai melancarkan jurus-jurusnya yang paling hebat. Sehingga setiap gerakan tubuhnya mengeluarkan deru angin dahsyat yang disertai beterbangannya batu dan pasir. Dalam sebuah kesempatan ia menghantam tulang rusuk lawan dengan pukulan 'Perempuk Raga Binasa Jiwa'. Dan tangan yang telah berubah menghitam tersebut meluncur. Datuk Tinggi menepis dengan lima jari tangannya.

Dess! "Hukh...!"

Si Empat Wajah malah terdorong mundur, padahal Datuk Tinggi Raja Di Angin belum mengerahkan tenaga seutuhnya. Dari sini saja sudah jelas kakek ini tampaknya memang bukan lawan Si Empat Wajah. Setelah mengetahui kedudukan yang sebenarnya, maka Suro segera meninggalkan tempat itu untuk mencari Dewa Sinting dan Andini yang telah berada di dalam gedung di sebelah timur. Sementara kedua orang yang ditinggalkan Pendekar Blo'on terus bertarung, bahkan Si Empat Wajah sendiri sudah mulai melepaskan pukulan 'Empat Bintang Saling Bertubrukan'. Spontan kedua tangan Trigada menjadi biru memancarkan sinar kemilau.

Dibarengi dengan lesatan tubuhnya ke depan. Ia dorong kedua tangannya. Sinar biru melesat dari telapak tangan Si Empat Wajah saling susul dan berantai. Manusia sakti setara dengan Dewa ini tekuk kaki kirinya ke depan, lalu ia dorongkan pula kedua tangannya ke depan. Dorongan itu tidak menimbulkan akibat apa-apa. Ini menandakan tenaga sakti si Kakek sudah jatuh berada di atas sempurna. Tahu-tahu terjadi dentuman, tiga sinar lain berbalik dan menghantam Si Empat Wajah. Jika laki-laki berkepala besar tidak cepat membanting tubuhnya ke samping, ia dapat dipastikan hangus dilanda pukulunnya sendiri. Sambil memaki, Empat Wajah masih sempat berpikir bahwa serangannya tadi seakan menghantam dinding gaib yang begitu halus tapi punya daya pantul tiga kali dari kekuatan serangannya.

"Keluarkan seluruh kepandaianmu, manusia Empat Wajah. Tegas kukatakan kalau pun kau belajar seratus tahun lagi, kesaktianmu belum bisa dikatakan seimbang dengan yang kumiliki!" kata Datuk Tinggi.

Merasa diremehkan, Si Empat Wajah menjadi gusar. Empat mulutnya membuka. Empat buah lidah terjulur panjang dikobari api. Lidah itu mengejar Lu Jingga. Justru ini yang ditunggutunggu si kakek. Saat dua lidah membelit tubuhnya. Ia lenyapkan hawa panas itu dengan pengerahan tenaga dalam. Dan jemari tangannya yang berkuku runcing, menerabas.

Tes! Tes!

Dua lidah terpotong. Si Empat Wajah meraung, darah mengucur. Ia berjingkrak-jingkrak kesakitan. Dua lidah lainnya masuk ke dalam mulutnya. Empat Wajah dalam kepanikannya menjadi nekad. Ia menerjang lawan pada jarak yang sangat dekat. Datuk Tinggi Raja Di Angin berkelit, serangan itu lewat di sampingnya. Kaki si kakek terangkat...

Set! Gubrak!

Empat Wajah tersungkur, dengan segera Lu Jingga menghampiri, tidak disangka-sangka lawan berbalik dan menerkamnya. Sehingga terjadilah saling cekik. Datuk Tinggi Raja Di Angin kerahkan seluruh tenaga sakti yang dimilikinya ke dua belah tangannya. Tubuhnya bergetar keras. Empat Wajah mulai merasa kepitan yang membuat tenggorokannya serasa putus. Ia berontak, setelah mengerahkan seluruh kemampuannya ternyata ia tidak mampu melepaskan cekikan si kakek, malah cekikannya pada leher lawan semakin mengendor.

Kreek!

Terdengar suara tulang leher berderak patah. Si Empat Wajah sudah tidak mampu lagi menjerit. Lima kuku Lu Jingga berkelebat, kemudian menancap di tenggorokan lawan. Ketika kakek itu menyentakkan tangannya maka batang tenggorokan lawan itu terbetot keluar. Si Empat Wajah langsung dihempaskannya. Orang ini tidak dapat berkutik lagi. Datuk Tinggi Raja Di Angin menyeka air mata, pandangannya beralih pada gedung di sebelah timur. Ada sesuatu yang menyentak-nyentak hatinya, hingga membuat lakilaki tua ini menjadi sedih.

"Mungkin ini sudah takdir. Apa pun yang terjadi aku harus masuk ke gedung itu. Aku ingin melihat anakku dari hubungan mimpi terkutuk itu. Aku ingin menyampaikan permintaan maaf pada Dara Nirmala!" batin si kakek.

* * *

"Sial, kemana perginya Dara Nirmala! Aku tidak yakin ia meninggalkan gedung ini. Ia adalah orang yang paling tidak suka berkeliaran dan berjumpa dengan orang-orang yang bertebaran di permukaan bumi. Hampir semua kamar telah kuperiksa. Aneh, sama sekali aku tidak menemuinya?" desis gadis berpakaian ringkas yang umur sesungguhnya hampir tiga ratus tahun ini dengan perasaan kesal. Ia berjalan mondarmandir dan melakukan pemeriksaan di sana sini. Tiba-tiba gadis ini hentikan langkah.

"Kurasa ada ruangan rahasia di sini!" pikir si gadis yang tidak lain adalah Dara Alindi. Belum sempat ia menentukan langkah selanjutnya, tibatiba saja pintu di ruangan sebelah berderit terbuka, muncul seorang kakek gendut membawa buntalan di punggungnya disertai seorang gadis cantik yang disangka oleh Dara Alindi adalah Dara Nirmala karena wajahnya yang mirip betul

"Kucari kemana-mana ternyata kau baru keluar dari tempat persembunyianmu, perempuan ingkar!" dengusnya langsung melompat ke depan. Dewa Sinting yang sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya dari roh Ratu Keindahan langsung menjawab.

"Dia bukan perempuan yang kau sangkakan! Saudaramu sudah meninggal, sedangkan ini putrinya!" jelas si kakek.

Meledaklah suara tawa Dara Alindi. "Hi hi hi...! Jadi dia sudah mampus! Anak jadah ini putrinya. Huh, tidak kulihat di mana bapaknya! Bagiku tetap saja. Dia harus kubunuh!"

Andini menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Dewa Sinting. Maka tahulah si gadis bahwa Andini tidak bisa bicara alias gagu. Kenyataan ini menjadi bahan tertawaannya.

"Benar-benar anak yang malang! Sudah terlahir dari hubungan mimpi terkutuk, gagu pula! Hmm, kepalang basah, tidak dapat kubunuh ibunya. Jika aku dapat membunuh anaknya merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku...!" "A... au... aaah...!" Si Penyair Gagu coba bi-

cara, namun hanya Dewa Sinting saja yang dapat mengetahui arti isyaratnya itu. Sehingga ia pun bicara ditujukan pada Dara Alindi.

"Menurutnya dendammu membabi buta. Pikiranmu picik, kau pantas menjadi santapan cacing tanah!"

"Begitu kata gadis gagu itu! Kita buktikan siapa yang tersungkur mampus di sini lebih dulu!" dengus Dara Alindi dengan rahang bergemeletukan. Gadis berumur ratusan tahun ini tiba-tiba hantamkan kedua tangannya ke arah si gadis dan kakek gendut. Serangan ini cepat luar biasa, dan dikenal dengan nama 'Merampas Sukma Campakkan Raga Darah'. Si kakek hendak selamatkan si gadis. Namun serangan lawannya lebih awal menghantam.

Buuk! Buuk!

Andini sempat tersungkur dengan kepala menghantam tembok. Dewa Sinting terjengkang. Ternyata tenaga dalam lawan jauh lebih tinggi dari tenaga dalam yang dimiliki oleh si kakek maupun Andini.

Dewa Sinting lepaskan toya yang selalu dipergunakan untuk membawa buntalan. Sambil menggerung marah ia lancarkan serangan balasan. Toya menderu-deru menimbulkan gelombang angin kencang yang saling tindih menindih. Dari samping kiri Andini sudah bergebrak pula. Menghadapi serangan yang tidak dapat dipandang enteng ini Dara Alindi kelihatan masih tenangtenang saja. Tubuh gadis dari Lembah Silau Dunia ini mencelat ke langit-langit. Serangan toya si kakek nyaris menggebuk kepala Andini. Dewa Sinting membelokkan toyanya, kemudian disodorkannya ke langit-langit. Ternyata lawannya cukup cerdik. Toya disambarnya, melalui toya itu ia meluncur turun, kemudian kakinya menendang.

Dhaak!

Dewa Sinting menjerit dan terguling-guling. Ia dalam keadaan terluka masih sempat lepaskan pukulan. Namun Dara Alindi berkelit dan pukulan Dewa Sinting menghantam tembok. Hancurlah tembok tersebut. Melihat Dewa Sinting dalam keadaan terdesak, Andini tidak tinggal diam.

Tubuhnya tiba-tiba saja melesat. Jemari tangannya mencakar wajah yang cantik itu dan kakinya menendang.

Sambil memaki lawan selamatkan wajahnya, namun kaki Andini menghantamkan tepat di dada kiri lawan. Dara Alindi terhuyung-huyung, hanya sampai sebatas itu tidak sempat terluka. Dengan penuh kegeraman ia lepaskan pukulan 'Seribu Bala Lembah Silau Dunia'. Ini adalah serangan yang paling mematikan yang pengaruh sinarnya saja sudah membuat Dewa Sinting menjerit kesakitan. Si gadis jelas dalam keadaan terancam, pada detik-detik yang sangat kritis itu ada kabut tipis berujud sosok perempuan menyapu ke arah ubun-ubun Andini. Tubuh si gadis sempat tergetar, roh Dara Nirmala kiranya sudah merasuk dalam diri putrinya. Tanpa membuang-buang waktu lagi Andini yang telah dirasuki roh ibunya langsung hantamkan tangannya ke depan. Sehingga terjadilah ledakan yang membuat sebagian bangunan runtuh. Dua tiang hancur, sebagian reruntuhannya menimpa Dewa Sinting. Hingga si kakek teriak tertolong-tolong.

"Kau turunkan pukulan paling keji pada putriku! Aku bisa mengantarmu ke alam barzah!" Arwah Dara Nirmala yang merasuk dalam diri putrinya bicara.

"Hmm, rupanya kau mendampingi anakmu! Kau akan mengalami dua kali kematian berikut anakmu! Kau manusia munafik, munafik...!" teriak Dara Alindi semakin bertambah kalap.

"Tuduhanmu tidak beralasan! Cemburumu membabi buta hingga membuat langkahmu semakin bertambah sesat saja! Hia...!" Sang Roh yang berada dalam diri Andini tiba-tiba melesat ke depan. Kemudian tangan si gadis yang dirasuki arwah ibunya berubah-rubah warnanya dari merah, hitam, kuning dan biru. Dara Alindi tidak berusaha mengelak, malah ia memapak. Hingga kedua tangannya melekat pada telapak tangan Andini.

Dua tenaga sakti saling berusaha menindih, mendorong dan himpit menghimpit. Tampaklah sudah waktunya mereka sama-sama mengadu jiwa. Dewa Sinting tidak berani mengambil keputusan apa-apa. Tubuh Andini yang dirasuki arwah ibunya mulai bergetar dan keluarkan keringat dingin. Demikian pula dengan lawan, sudutsudut bibir Dara Alindi meneteskan darah. Dari hidung Andini mengucur darah pula. Suasana semakin bertambah tegang. Kini telinga Dara Alindi dan juga hidungnya tampak meneteskan darah. Nafasnya mulai tersendat-sendat. Dalam keadaan yang sangat gawat antara hidup dan mati. Sosok bayangan berkelebat, lalu terdengar suara....

Plak! Plak! "Wuaaakh...!"

Baik Dara Alindi maupun Andini yang dikendalikan arwah sang ibu sama-sama terjengkang dengan darah berbusaian dari mulut masing-masing. Sebaliknya bayangan biru setelah terpental menabrak tembok, tampak meringkuk sambil pegangi dadanya.

"Bocah gendeng! Kau benar-benar mencari mampus!" seru Dewa Sinting yang melihat Suro Blondo juga dalam keadaan terluka akibat berusaha memisah orang yang sedang mengaduh kesaktian tadi.

"To-lo-ng dia...!" perintah Suro setengah merintih. Ia terbungkuk-bungkuk, tapi tidak bisa berdiri tegak, ia merasa isi dalamnya mengisut termasuk usus-ususnya.

Dewa Sinting tidak tinggal diam, melihat Dara Alindi dalam keadaan tidak berdaya ia hantamkan toyanya ke bagian kepala. Sejengkal lagi toya sampai pada sasaran. Dara Alindi menghantam ke depan. Tentu saja Dewa Sinting tidak sempat menghindar. Akibatnya....

"Akhckh !"

Kakek itu mengeluh dan roboh tidak sadarkan diri dengan luka berat yang ia derita. Andini bangkit berdiri, detik itu juga ia lepaskan pukulan 'Seribu Bala Lembah Silau Dunia', Dara Alindi coba bangkit, sebelum ia sempat menghindar pukulan lawan telah menghantam tubuhnya. Terjadi suara ledakan tiga kali berturut-turut, terdengar suara jeritan menyayat, Dara Alindi membentur tembok. Kepalanya retak, sebagian tubuhnya hangus. Dalam keadaan begitu pun ia masih hidup. Suro yang berada di sampingnya lepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Sinar hitam merah bergulung-gulung menyapu tubuh lawannya. Lolongan panjang menggidikkan menyertai tercabutnya nyawa Dara Alindi. Suro bangkit berdiri, memandang ke samping kiri Andini tampak tersenyum, senyum manis walaupun wajahnya pucat.

"Kau Andini atau arwah ibunya?" tanya Suro bingung.

"Aku ibunya! Tapi aku segera meninggalkan anakku, terima kasih atas bantuanmu dan bantuan kawanmu! Ada orang datang, aku harus pergi!" kata arwah ibu Andini. Tubuh gadis itu bergetar, dari ubun-ubunnya tampak kabut membentuk sosok tubuh wanita melesat ke udara. Andini tergagap-gagap seakan bingung, ia bicara dengan isyarat tangannya. Namun Suro golang-golengkan kepala.

"Aku nggak ngarti! Akh.... Dewa Sinting pun pakai klenger segala!" gerutu Suro. Ia menghampiri si kakek. Kemudian ditekan-tekannya nadi besar di tubuh si kakek. Karena tidak sadar juga, Suro terpaksa masukkan tangannya di balik baju. Setelah itu tangannya ditempelkan ke hidung Dewa Sinting. Orang tua ini langsung bersin-bersin.

"Tua gila! Kau diketeki dulu baru mau sadar!" kata Suro sambil tertawa. Dewa Sinting merintih-rintih. Lalu memaki....

"Kau dan gurumu sama saja gilanya, tidak mengenal adat dan kurang ajar!" maki si kakek. Ia seka hidupnya yang bau ketiak Suro.

"Dara Alindi?!"

Tiba-tiba terdengar suara seruan. Ketiga orang ini sama menoleh. Yang datang ternyata kakek tua. Orang ini melangkah dengan air mata bercucuran. Suro yang sudah mengenali Datuk Tinggi Raja Di Angin segera berkata.

"Dia bukan Dara Alindi, gadis ini anaknya, Andini namanya. Dia putrimu, orang tua !"

"Anakku!!" seru si kakek, ia memeluk An-

dini.

Ayah dan anak saling bertangisan.

"Datuk Tinggi Raja Di Angin, putrimu tidak

bisa bicara! Sedangkan isterimu sudah meninggal dan ada di ruang bawah!" jelas Dewa Sinting.

"Semua ini salahku, semua ini karena kesaktian, cintaku cinta bisu, asmara gagu. Satu nafsuku telah mengalahkan sembilan akalku. Apa yang kuperbuat telah membuatnya menderita. Dia anak yang terlahir dari hubungan mimpi. Kalian telah membantu kami, jangan usik pertemuan ini. Kami telah menetapkan untuk menghabiskan masa hidup di Lembah Silau Dunia!" kata Datuk Tinggi Raja Di Angin terisak-isak.

"Mari kita pergi kakek sinting! Aku tidak mau ikut terharu dan ikut-ikutan menangis! Mereka orang yang sudah banyak menderita, menderita karena ilmunya!" ujar Pendekar Blo'on.

"Aku juga tidak ingin sedih. Melihat tampangmu saja sudah menyedihkan. Ayolah...!" katanya Dewa Sinting menyahuti. Keduanya lalu keluar meninggalkan bangunan yang hampir runtuh seluruhnya. Suro sempat nyengir melihat Andini Si Penyair Gagu mengedipkan matanya yang indah. Tangannya melambai seakan tidak rela ditinggalkan. Sampai di luar gedung mereka saling berpandangan.

"Orang tua gila, kau hendak kemana?" tanya Suro.

"Pergi kemana? Baru sekarang aku teringat hendak pergi kemana? Kurasa aku pergi kemana saja. Oh ya, kalau ketemu gurumu sampaikan salamku padanya dua ikat." Ternyata Dewa Sinting bicara seorang diri, karena yang diajaknya bicara sudah lenyap dari sampingnya. Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara.

"Orang sinting itu sama dengan gila, miring otaknya. Aku tidak suka berkawan dengan orang gila, apalagi sudah tua dan bau tanah. Mendingan aku sendiri agar tidak ikut menjadi gila! Ha ha ha...!" kata Suro.

"Bocah goblok! Pendekar Bodoh, kapankapan aku akan mencarimu!" gerutu Dewa Sinting sambil melangkah pergi.

TAMAT