Serial Pendekar Bloon Eps 13 : Jodoh Di Gunung Kendeng

 
Eps 13 : Jodoh Di Gunung Kendeng


Lembah Tegal Wilis memang selalu sunyi. Tidak ada hembusan angin, tidak ada kicauan burung, seakan tidak ada penghidupan di situ. Pohon-pohon meranggas gersang, tanah berbatu cadas kemerahmerahan. Namun pagi itu kesunyian seakan disentakkan oleh suara nyanyian yang tidak karu-karuan juntrungnya. Irama lagu yang terdengar pun terkesan asal-asalan. Terkadang keras, atau pelan mendayu-dayu atau berubah seperti teriakan monyet di hutan.

Tidak berselang lama muncul seorang pemuda berbaju biru, memakai ikat kepala warna biru belangbelang kuning. Sesekali ia menggaruk rambutnya yang hitam kemerah-merahan. Bibirnya menyunggingkan senyum ketolol-tololan walau patut diakui wajahnya memang tampan. Di atas lampingan batu yang membukit, pemuda berdiri tegak, memandang ke depannya sambil golang-golengkan kepala. Kemudian terdengarlah suaranya yang seperti orang bersair....

Serngenge, lintang karo mbulan isek iku-iku woe Wujudte ndunyo isek panggah aket mbiyen mulo Menungso podo rupane, podo rambute lanang

atawa wadon.

Atine menungso seng gonta ganti

Kang Gusti Allah ndadeke menungso lan Jin Sak tenane kudu bekti karo Zat seng ndadeake

Lamun menungso sering lali lan silo karo isine ndunyo

Ojo ngono, mengko siro ngerti pasti Tekane dino pembalesan

Mengko siro gelo

Sopo seng mujo dunyo,

Sak tenane dunyo lan isine iki ngapusi awakmu

Artinya: ja kala Matahari, bintang dan rembulan tetap itu-itu sa-

Wujud (keadaan) bumi masih tetap seperti dulu Manusia sama rupanya, sama rambutnya lakilaki atau perempuan.

Hati manusia yang berubah-ubah

Gusti Allah menjadikan manusia dan Jin Sebenarnya semata-mata hanya untuk me-

nyembah pada Zat yang telah menjadikannya

Tapi manusia sering lupa dan silau dengan isinya dunia

Jangan begitu, nanti kau tahu pasti Akan datangnya hari Pembalasan Nanti kau sangat menyesal

Siapa yang memuja dunia

Sesungguhnya dunia dan seisinya ini telah menipu dirimu....

Dari berdiri Suro Blondo si Bocah Ajaib duduk. Mulutnya termonyong-monyong sambil berdecap-decap.

Ha ha ha !

Si tolol, si bodoh, si geblek, adalah diriku ini ....

Aku merasa senang diriku merasa bodoh,

Jika aku pandai tentu membuat aku sombong dan merasa cukup

Aku adalah orang yang bersalah

Dengan mengingat salahku, aku menjadi hatihati bertindak ceroboh

Aku bukan orang yang paling benar, menganggap benar hanya membuat diri banyak melakukan kesalahan.

Aku adalah orang yang paling lemah

Mengingat kelemahanku, aku merasa pasti ada zat yang Maha perkasa di atasku

Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung, karena aku punya tangan, punya kaki, punya mata punya telinga, punya hidung, punya mulut...

Kelahiranku di dunia ini adalah tempat ujianku Bermula dari tiada, ada dan kembali ke tiada. Dua berbanding satu

Aku yakin yang dua itu adalah kekal... Lalu aku ini siapa?

Ha ha ha...!

Pendekar Blo'on garuk-garuk kepala. Ia terbodoh oleh ucapannya sendiri. Si Bocah Ajaib kemudian berdiri. Tengkuknya tiba-tiba saja meremang berdiri.

"Hh, tidak dapat kubayangkan betapa sunyinya di alam kubur. Dalam kegelapan berteman perbuatan baik atau buruk. Seandainya saja setiap orang mengingat datangnya mati yang pasti itu. Masihkah mereka dapat tertawa dan menumpuk-numpuk dosa? Aku yakin mereka pastilah banyak menangisinya!" pikir Suro.

Belum lagi Suro berandai-andai lebih lanjut. Tiba-tiba dari arah belakangnya muncul seorang gadis berwajah cantik luar biasa. Matanya bening dan bulat. Wajahnya kemerah-merahan, sinar matanya memancarkan daya pesona bagai mukjijat yang tentu saja membuat hati laki-laki tergetar atau tidak akan tahan menatap berlama-lama. Memang itulah yang kini sedang terjadi pada Pendekar Blo'on ini.

Ia hanya mampu memandang wajah dan mata yang benar-benar memancarkan seribu satu pesona itu sekejap saja. Tiba-tiba ia tertunduk, hatinya berdebar. Belum pernah Suro merasakan perasaan yang seperti ini.

"Lembah Tegal Wilis daerah tidak bertuan!" berkata si gadis. Dan lagi-lagi Suro tercekat, suara gadis berbaju hijau ini benar-benar merdu, lagi-lagi Suro merasa belum pernah mendengar suara gadis yang semerdu ini. "Kulihat sedari tadi kau berdiri mematung di sini seperti orang bego. Setelah kudekati kau ternyata memang bego. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Siapa pun namamu aku tidak perduli, apa pun gelarmu aku tidak mau tahu. Keadaan benar-benar gawat saat ini." serunya seakan memperingatkan.

Untuk pertama kalinya Suro angkat wajahnya, lalu terlihat senyum tipis di bibirnya. Karena merasa serba salah tidak tahu harus bicara darimana, maka pemuda ini pun garuk-garuk rambutnya.

"Eeh, seperti dugaanku kau memang pemuda konyol yang tidak tahu bahaya. Ketahuilah, di depanmu itu ada jalan, jalan tersebut akan dilalui oleh para rombongan yang akan meminang puteri Reza Baiduri."

"Jika orang hendak lewat, mengapa aku harus menyingkir?" sahut Suro seenaknya. "Aku di sini, bukan di tengah jalan. Aku tidak perduli dengan urusan pinang meminang. Hatiku sedang risau memikirkan umat manusia. Eeh... ngomong-ngomong puteri siapakah yang mau dipinang? Apakah Reza Baiduri anak pembesar, hartawan, puteri Jin atau puteri jurangan tahu?"

"Pemuda ceriwis! Jangan kau berani bersikap konyol di depanku. Para utusan itu adalah tokohtokoh sakti. Mereka tidak suka di sepanjang jalan yang mereka lalui ada orang lain yang melihatnya. Bisa-bisa kau dibunuhnya!" tegas gadis baju hijau.

"Cantik! Aku ini bukan orang yang suka usilan. Kau ini siapakah? Apakah kau centeng, orang bayaran atau anak pembantu? Sayang sekali jika gadis secantikmu sudi menjadi pembantu orang lain. Pantasnya kau adalah puteri yang akan dilamar."

"Banyak mulut. Kau tidak berhak tahu siapa diriku pemuda bertampang konyol! Cepat pergi! Kalau telingamu tidak congekan tentu sekarang kau telah mendengar suara langkah kuda ke mari!" bentak si gadis.

"Aku tidak mau pergi!" tegas Suro. "Aku yakin setiap ada sesuatu yang dirahasiakan. Pasti ada ketidak beresan di dalamnya."

"Pemuda sinting. Anak bukan saudara bukan, terserahmulah. Kalau ada apa-apanya tanggungkan sendiri!" Dan kemudian gadis baju hijau itu berkelebat lenyap di balik batu-batu besar.

"Kelihatannya dia sangat ketakutan sekali. Ada apa rupanya?" pikir Suro.

Pendekar Blo'on kerat-kerutkan keningnya. Tidak lama kemudian terlihatlah serombongan orangorang berkuda. Di belakang rombongan berkuda itu tampak sebuah kereta yang ditarik dua kuda berbadan tegap dan kuat sekali. Tentu orang di dalam kereta itu bukan sembarangan orang, paling tidak berasal dari keluarga terpandang. Terbukti keretanya saja cukup bagus dan dihias dengan hiasan dari perak. Di atas kereta kuda terdapat sebuah simbol berbentuk kepala harimau. Simbol itu terbuat dari emas seluruhnya.

Setelah sampai di depan Pendekar Mandau Jantan. Maka rombongan yang berada paling depan langsung menarik kendali kuda, hingga membuat binatang tunggangan itu langsung berhenti. Penunggangnya berkumis tebal, memelihara jenggot seperti kambing bandot, wajahnya bopeng-bopeng tidak rata, tatapan matanya sinis. Sedangkan mulutnya, nah mulutnya itu yang paling jelek. Bibir bawahnya memble seperti disengat sepuluh ekor lebah berbisa. Orang ini tidak memakai baju. Yang aneh, sekujur tubuhnya penuh tatto bergambar harimau dalam berbagai ukuran.

"Kau yang berani tunjukkan tampang sebutkan nama?"

Suro nyengir. "Aku?"

"Ya, kau monyet! Kau kira aku sedang berbicara dengan siapa?" bentak si laki-laki bengis.

"Aku sendiri bingung siapa aku. Yang jelas bukan si bibir dower yang sekujur tubuhnya di tatto macam orang gila!" jawab Pendekar Blo'on tenang-tenang saja.

Di balik batu si gadis mengomel. "Wong edan tidak tahu gelagat! Dia bicara seenak perutnya pada Macan Terbang ketua dan sesepuh Perguruan Lembah Kebinasaan?!"

Pipi laki-laki berumur enam puluh tahun itu menggembung. Matanya berkilat-kilat.

"Kau sungguh tidak mengenal peradatan sekali, pemuda geblek! Tidak tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?" dengus Macan Terbang.

"Ha ha ha...! Bagaimana aku tahu sedang berhadapan dengan setan jelek dari mana. Kisanak sendiri tidak perkenalkan diri dan tidak mau sebutkan asalusul! Memang aku pikirin?" sahut Pendekar Blo'on disertai tawa. "Eh... kalau tidak salah kalian hendak melamar, ya? Aku jadi ingin tahu seperti apa sih tampangnya calon mempelai laki-laki? Apakah lebih dower dan lebih jelek darimu atau sekujur tubuhnya di tatto juga dengan gambar perempuan telanjang?"

"Tetua, bicara kunyuk jelek ini sudah sangat keterlaluan! Biar kami yang menutup mulutnya dengan golok ini!" kata salah seorang laki-laki yang berada di samping Macan Terbang. Tapi laki-laki tua itu memberi isyarat untuk diam. Suro nyeletuk...

"Walah baru jadi anjing piaraan saja kau sudah jual lagak padaku kuping sebelah, atau kau mau konyol? Ke sini biar kubuat babak belur!" dengus Suro sambil pencongkan mulut, mencibir.

"Pemuda kurang ajar! Kami orang-orang dari Lembah Kebinasaan tentu tidak segan memberikan sebuah pelajaran kepadamu! Huh...!" Kuping tunggal membarengi ucapannya dengan lemparan dua buah golok berukuran kecil. Kedua senjata tajam tersebut bergerak cepat membeset udara. Kecepatannya memang sungguh di luar dugaan Pendekar Blo'on. Apa yang sedang terjadi tidak lepas dari perhatian gadis baju hijau.

"Nah kau rasakan! Jika tidak dapat menghindar, sebentar lagi tentu tubuhmu tertembus senjata milik Kuping Tunggal."

Di luar dugaan para rombongan itu tiba-tiba saja Si Bocah Ajaib lakukan gerakan menghindar seperti langkah-langkah seekor monyet. Mula-mula ia berjingkrak. Lalu melompat ke udara dengan gerakan yang sangat lucu namun membuat orang yang melihatnya berdecak kagum.

Sebuah golok luput dan terus meluncur menghantam batu di belakangnya. Sedangkan golok lain meluncur ke arah tenggorokan Suro. Pemuda berambut hitam kemerahan ini tidak membiarkan lehernya putus. Tangannya dengan cepat bergerak.

Set! Tep!

"Nih kukembalikan golok jelekmu!" dengus Pendekar Mandau Jantan. Dengan gerakan asal-asalan dilakukannya. Senjata itu meluncur kembali dengan kecepatan berlipat ganda. Kuping tunggal kelabakan. Ia menggebrak kuda tunggangannya. Sehingga luputlah serangan itu. Nasib sial menimpa kawan yang berada di belakangnya. Tubuhnya langsung tertembus senjata milik kawan sendiri. Ia menjerit keras, tubuhnya tersungkur. Kagetlah Macan Terbang sesepuh Lembah Kebinasaan melihat anak buahnya mati secara mengenaskan itu. Memandang ke arah Suro dengan penuh keheranan sekaligus marah hanya membuat laki-laki tua ini menjadi bertambah gondok.

"Anak setan itu malah gorak-garuk kepala kayak monyet. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia punya kepandaian sehebat itu. Kehebatannya tersembunyi di balik tampangnya yang konyol tidak meyakinkan. Bangsat betul!" maki Macan Terbang dalam hati.

"A... ha ha ha...! Jika kalian ingin melamar, mengapa tidak cepat teruskan perjalanan?" kata Suro sambil cengar-cengir. "Apa nanti kata calon besan jika kalian datang membawa mayat sendiri. Kalau untuk keperluan sayur atau gulai. Bukankah kambing atau lembu masih banyak. Apa kalian sudah pada gila? Masa' daging sesamanya mau kalian jadikan sate?"

"Pemuda keparat!" Membentak Macan Terbang. "Kau siapa sebenarnya? Rambutmu, wajah tololmu, gerakan silatmu, rasa-rasanya tidak asing lagi bagiku!" Orang bertatto tersebut tiba-tiba ketuk keningnya. "Hmm, aku rasanya pernah mendengar saat hari kelahiranmu. Kau...!"

Macan Terbang tiba-tiba saja belalakan mata, mulutnya terbuka lebar tanda kaget. "Menurut Ki Begawan Sudra bukankah kau si Bocah Ajaib itu!" desis si kakek.

"Entahlah, peramal dari Pantai Selatan itu mungkin sudah gila. Ramalannya hanya membuat aku jadi yatim piatu. Hayo, aku masih memberi kalian kesempatan untuk meneruskan perjalanan. Jika kalian tetap membantah, jangan salahkan aku andai cuma arwah gentayangan kalian saja yang sampai di tempat tujuan!" gertak Pendekar Blo'on.

"Ayah, lebih baik perjalanan diteruskan. Biarkan saja pemuda gila itu hidup. Kelak jika kita bertemu lagi dengannya, kita dapat meminta nyawanya!" kata sebuah suara dari dalam kereta kuda. Mungkin inilah calon mempelai laki-laki. Suro tentu tidak dapat melihat orangnya, kereta kuda itu tertutup rapat.

"Ya... lebih baik kalian cepat minggat. Aku yakin anakmu takut mati. Jika anakmu mati, tentu calon pengantin perempuan tidak mau kawin dengan bangkai! Ha ha ha...!"

Walau Macan Terbang sebenarnya tidak tahan mendengar kata-kata Pendekar Blo'on. Di sisi lain ia sangat sayang pada anaknya. Pemuda tampan bertampang tolol ini tidak dapat dijajaki sampai di mana kehebatannya. Bagaimana jika mereka kalah?

"Jalan...!" perintah Macan Terbang.

"Tapi, tetua...!" Kuping Tunggal tampak tidak

puas.

"Jalan kataku, goblok!" bentak Macan Terbang. Bukan main kecewanya Kuping tunggal, seba-

gai seorang murid. Tentu ia tidak dapat membantah. Maka mereka pun bergerak lagi tanpa pernah menoleh ke belakang.

*** 2

"Cantik! Keluarlah, orang-orang jelek itu sudah berlalu. Dia tidak akan mengganggumu lagi!" seru Suro. Belum sempat Pendekar Blo'on menoleh, tahu-tahu gadis cantik baju hijau sudah berdiri di belakangnya.

"Heh...! Gerakanmu seperti bayangan saja, aku ingin bertanya apakah orang-orang tadi telah menyusahkanmu?"

"Kau orang goblok! Dengar pemuda sinting. Aku adalah salah satu anggota tuan rumah. Kanjeng Sunan Bandi Suliwa pamanku. Mereka adalah para tetamu Kanjeng Sunan. Kau telah membuat aku kehilangan muka di depan pamanku. Apa jawabku nanti jika beliau bertanya tentang tanggung jawabku tentang keamanan rombongan yang ingin melamar puteri Reza Baiduri?" tanya si cantik baju hijau cemberut.

"Oh, maafkan aku. Sama sekali aku tidak tahu bahwa kau sedang bertugas mengawasi para tamu pamanmu yang hendak melamar keponakanmu! Maafkan... sekali maafkan...!"

"Percuma saja. Berdoalah agar Macan Terbang tidak melaporkan kejadian ini pada Kanjeng Sunan. Jika hal itu sampai terjadi, paman ku bisa memenjarakan aku!" Gadis baju hijau mengeluh. Terlihat jelas ia berusaha menyimpan ketakutannya.

Pendekar Blo'on tersentak kaget, "Seorang paman tega menghukum keponakan sendiri? Baru sekali ini aku mendengar. ada orang berbuat sekeji itu!"

Gadis baju hijau tidak segera menjawab. Persoalan yang sedang dihadapinya memang tidak mudah. Malah begitu rumit berbelit-belit. Tidak ada seorang pun yang dapat membantunya. Jika ia bersikap kasar pada pemuda ini atau menangkapnya. Mungkin hal itu dapat dilakukannya, mengingat ia dapat bergerak cepat seperti kilat. Inilah sebabnya ia dikenal dengan julukan Puteri Kilat Bayangan. Mungkin pemuda ini dapat membantunya dalam menyelesaikan masalah puteri Reza Baiduri yang sesungguhnya sudah punya seorang kekasih yaitu Ambar Alam.

"Mengapa kau diam Cantik? Apa kau mau menghukumku? Untuk menebus kesalahanku, aku rela kau hadapkan pada Sunan Bandi Suliwa. Dengan begitu tentu kau terbebas dari hukuman pamanmu?" kata si konyol, tiba-tiba saja ia merasa iba.

"Kau memanggilku, Cantik? Berani benar kau bicara begitu?" desis gadis baju hijau

Matanya membulat lebar mempesona, sehingga membuat Pendekar Blo'on semakin salah tingkah dan dag dig dug.

"Kau memang cantik, kecantikanmu setara dengan bidadari. Karena kau tidak mau beritahu nama. Maka aku terpaksa memanggilmu begitu!" jawab Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepala. Ketika gadis baju hijau terus memandangnya. Suro tundukkan wajahnya, ia tidak kuat menatap mata yang indah itu berlama-lama.

"Panggil saja aku Puteri Kilat Bayangan." jelas gadis baju hijau.

"Eeh... ha ha ha...! Julukanmu seperti ilmu lari cepatku! Ahk... bagaimana ini." Suro seka keningnya.

"Jangan menghina. Ingat! Aku tidak mau bertindak kasar padamu karena semata-mata aku membutuhkan bantuanmu! Persoalan ini harus dapat diselesaikan demi kemerdekaan sebuah hati yang tidak berdaya terhempas belenggu adat!"

"Apa maksudmu!" tanya Suro. Tiba-tiba ia duduk bersila, tangannya menopang dagu tidak bedanya dengan seorang pendengar yang sangat baik. Gadis secantik bidadari itu membuang pandangan matanya jauh-jauh. Keningnya berkerut, wajahnya tampak resah, namun keresahannya itu membuatnya semakin menggemaskan.

"Jelaskan dulu siapa dirimu?" desah Puteri Kilat Bayangan.

"Aku...?!" Suro nyengir lalu garuk-garuk kepala. "Namaku Suro Blondo. Anak yatim piatu, tidak punya bapak tidak punya ibu, tidak juga babi atau babu...!"

Plak!

"Astaga! Kau berani menamparku?" desis Pendekar Blo'on. Ia mengusap-usap wajahnya yang berubah merah. Jika saja bukan gadis ini yang menamparnya. Tentu si konyol sudah membalas.

"Bicaramu kacau seperti orang setengah gila!" dengus gadis baju hijau cemberut. "Bagaimana aku bisa mengharap bantuanmu, jika sikapmu tidak pernah serius?"

"Eemm, katakanlah. Dalam beberapa hal aku juga masih bisa diajak serius." jawab Si Bocah Ajaib sambil sesekali mencuri pandang.

Berhadapan dengan seorang gadis jelita yang punya tatapan mata menggetarkan itu. Entah mengapa Suro tiba-tiba menjadi seperti seorang gadis yang sangat pemalu.

"Begini, Sunan Bandi Suliwa adalah pewaris Kasunanan Parit Wolu. Beliau punya seorang puteri cantik Reza Baiduri. Tidak sebagaimana biasanya. Setiap puteri kasunanan selalu dijodohkan dengan pangeran. Pamanku ingin menghapus tradisi lama. Karena sejak muda beliau adalah orang yang banyak bergaul dengan kalangan rimba persilatan. Yang aku sayangkan, Sunan punya tiga pilihan untuk puterinya. Pertama, cenderung memilih calon dari bekas sahabatnya dulu. Diantaranya adalah putera Macan Terbang tadi. Tapi kurasa masih akan datang lagi sahabat-sahabat yang lainnya. Jika hal itu terjadi, maka keadaan sangat kisruh, di samping itu perlu kujelaskan padamu bahwa puteri Reza Baiduri tidak mau dijodohkan...!"

"Mengapa begitu?" tanya Suro. "Apakah keponakanmu itu sudah punya kekasih?"

"Tepat. Dia sudah punya kekasih, bahkan mereka sudah saling mencinta sejak mereka berumur lima belas tahun. Cuma Ambar Alam sekarang entah di mana. Konon sejak Sunan Bandi Suliwa mengetahui hubungan anaknya dengan pemuda itu. Sunan secara diam-diam menangkap pemuda itu dan menghukumnya di sebuah tempat rahasia. Puteri tidak tahu bahwa kekasihnya itu menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh ayahnya." jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Lalu apakah Reza Baiduri masih mencintainya setelah terpisah sekian lama?"

"Cintanya sedalam laut seluas jagad, tidak terpisahkan walau nyawa jadi taruhannya."

"Cek cek cek! Hebat betul. Kekasih yang setia seperti itu jangan dikuburi kalau belum mati." celetuk Suro sambil nyengir. "Lalu apa yang harus kulakukan Cantik, eeh Putri?"

"Aku minta kau mau mencari Ambar Alam dan membawa pemuda itu secepatnya ke Parit Wolu. Aku jadi khawatir jika pemuda itu tidak cepat-cepat datang puteri Reza terlanjur terikat tali perkawinan secara paksa."

"Di mana aku mencarinya? Apakah kau bisa menjamin pemuda itu masih hidup hingga saat ini?"

"Hi hi hi...! Kau pergilah ke daerah Tujuh Goa Larangan. Ambar Alam menjalani hukuman di salah satu gua itu. Antara hidup dan mati kemungkinannya setengah berbanding setengah. Kalau pun dia sudah tiada. Paling tidak kau dapat membawa kerangka mayatnya untuk ditunjukkan pada Puteri Reza." "Engkau sendiri bagaimana?"

"Aku harus kembali ke Kasunanan Parit Wolu. Sedapatnya aku harus mencegah perkawinan secara paksa itu." jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Tapi... eeh...!" Suro Blondo jadi terkejut sekali ketika melihat gadis secantik Bidadari tersebut telah lenyap dari hadapannya. "Secepat itu dia pergi. Pantas ia dijuluki Puteri Kilat Bayangan." Si Konyol gelenggelengkan kepala.

* * *

Selama hampir lima tahun lebih pemuda itu dibenamkan di dalam gua kecil yang cuma seukuran tubuhnya. Tangannya terantai, kaki terbelenggu. Selama itu ia tidak kuasa bergerak sama sekali. Karena permukaan gua itu menghadap ke langit mirip sebuah lubang. Tidak heran bila perubahan cuaca mempengaruhi tubuhnya. Bila panas terik, ia merasa seperti terpanggang di atas api. Bila malam tiba, maka cuaca dingin menggerogotinya, menyusup hingga ke sumsum tulang. Tidak tertahankan betapa beratnya siksa yang ia alami.

Menjalani siksaan di alam terbuka seperti itu, di sebuah daerah sunyi tidak bertuan adalah suatu cobaan yang Maha berat. Sekujur tubuhnya mulai dari bagian dada ke atas tampak hitam. Sedangkan bagian lain yang terbenam di dalam gua putih seperti tidak berdarah. Selama itu ia tidak makan apa-apa. Kalau ia merasa haus, ia harus menunggu malam hari tiba di mana embun akan menetes dari langit. Ia cukup hanya membuka mulutnya. Sepanjang malam paling ia hanya mendapat tiga tetes embun. Pabila ia lapar, maka ia hanya dapat memakan jamur merah yang terdapat di mulut gua. Itu pun hanya didapatnya bila musim hujan tiba.

Jamur-jamur yang tumbuh sebulan sekali itulah yang membuatnya bertahan hidup hingga saat ini. Tapi akibat jamur-jamur itu pula yang merubah jalan hidupnya, jalan pikirannya pun bahkan berubah. Dulu setelah setahun ia menjalani hukuman dibenam di gua sempit tersebut. Ia pernah didatangi oleh sosok tubuh berpakaian serba putih. Orang yang dapat datang dan pergi secepat setan itu menyebut dirinya sebagai Dewa Rindu. Ia pun masih ingat dengan pesan-pesannya, yang penuh kearipan namun menghiba-hiba.

"Anak manusia yang terpasung di kulit bumi! Takdir telah menentukan jalan hidupmu begini. Jangan salahkan dirimu, usah pula kau salahkan ketentuan hukum yang berlaku atas dirimu, hu hu hu...! Cinta adalah awal kebahagiaan dan awal celaka. Penderitaan dan kekecewaan. Tempat menggantung harap dan tempat meminta adalah pada Tuhanmu! Bukan manusia manapun. Sebab bagaimana pun tingginya derajat manusia, ia tidak punya kuasa atas dirinya atau diri orang lain. Nah sekarang apa jawabmu?"

Saat itu Ambar Alam dalam keadaan sadar dan tiada. Suara itu lamat-lamat terdengar oleh pemuda yang didera penderitaan,

"Aku hanya meminta agar Anda mau membuka belengguh keparat dan menarikku dari dalam lubang celaka ini!" jawab Ambar Alam.

Dewa Rindu gelengkan kepala. "Aku tidak dapat melakukannya? Hanya Tuhan yang mampu berbuat sekehendak hatinya. Kau sekarang berada di ruang Pembatas Siksa. Ikatan itu akan lenyap dengan sendirinya bila pakaian di tubuhmu telah lapuk semua. Kau bisa minta seribu pertolongan dariku yang lain. Bukan yang satu ini." kata Dewa Rindu.

"Berarti aku akan mati sengsara di sini? Aku tidak mendapatkan air dan tidak mendapatkan makanan pula."

"Langit selalu mencucurkan air rahmat untuk setiap makhluk. Dengan air itu pula tumbuhtumbuhan dapat hidup. Di permukaan gua ini akan segera tumbuh Jamur Dewa. Jamur berkhasiat...!"

"Selama setahun di sini aku tidak pernah melihat jamur itu. Berilah aku kesaktian, yang dengan kesaktian itu derajatku di atas tokoh-tokoh sakti. Sehingga hidupku menjadi berguna dan tidak terhina?!"

"Selama kau berada di sini, suasana dalam keadaan musim kemarau. Jamur mukjijat itu hanya dapat tumbuh bila udara lembab atau musim hujan. Sedangkan mengenai kesaktian, kau akan mendapatkannya secara alamiah. Kesaktianmu berada di atas tokoh-tokoh manapun. Banyaklah merenung, banyak pula berpikir atas jamur-jamur yang akan kau makan nanti. Kau akan berada di alam pikiran yang sangat lain, kau akan mendapatkan kata-kata yang dapat melindungi dirimu. Setiap kata yang kau ucapkan adalah kehancuran bagi dirimu juga kebaikan pula atas jiwamu. Aku datang sekali dalam hidupmu. Nah... Gusti Allah memberimu jamur Dewa yang sangat berkhasiat. Jamur Dewa, ingat...! Dewa Sabrang... Dewa Sabrang...!"

Suara itu mengiang-ngiang di dalam telinganya, berputar-putar merasuk lembut dalam otaknya, bergerak dalam darah menyatu dalam hati. Hingga Ambar Alam merasa terbebas dari belenggu penderitaan, dari ketidak pastian cinta yang terhalang tembok berduri yang kini malah menjerumuskannya dalam kesengsaraan.

"Dewa Sabrang...!" desis Ambar Alam berusaha mengulang-ulang ucapan Dewa Rindu yang kini telah lenyap dari hadapannya. Demikianlah, hari terus datang silih berganti. Apa yang dikatakan oleh Dewa Rindu memang terbukti, jamur Dewa yang berwarna merah itu tumbuh setiap sebulan sekali. Ambar Alam atau yang selalu mengingat dirinya dengan Dewa Rindu dapat bertahan hidup, dengan memakan jamur tersebut. Tentu saja tidak mempergunakan kaki dan tangannya yang terbelenggu. Melainkan langsung dengan mulutnya. Reaksi dari jamur-jamur itu memang sangat hebat. Hari pertama Ambar Alam memakan jamur tersebut ia langsung tidak sadarkan diri selama sepekan. Akan tetapi setelah sadar, ia segera dapat merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan tanpa bobot. Namun keanehan lainnya pun terjadi. Ia hampir lupa pada dirinya sendiri, hanya guratan-guratan masa lalu saja yang terkadang membayang dalam pikirannya. Terkadang Dewa Sabrang memperhatikan bentuk jamur yang meliukliuk. Bertudung seakan melindungi diri. Jamur itu menyilang antara yang satu dengan yang lainnya. Yang mengejutkan baginya, bila ada serangga yang hinggap di bagian tudung jamur. Maka binatang-binatang itu langsung menggelepar mati.

Sekarang Ambar Alam alias Dewa Sabrang juga suka bicara pada dirinya sendiri. Lidahnya seringan kapas. Dalam berpikir dan dalam perenungan yang panjang. Melahirkan kata-kata yang terkadang mengandung arti kehidupan, walau tidak jarang mengisyaratkan kehampaan-kehampaan hidup yang dilaluinya.

Di sini aku sendiri

Meratapi waktu menghitung hari Dua alam yang telah kulalui

membuatku masih belum mengerti diri...

Alam rahim telah pun berlalu, alam dunia, sedang kujalani Alam kubur sangat mengerikan bagiku Alam akherat sedasyat-dasyatnya penderitaan...

Celakanya manusia mudah berjanji Sengsaranya umat menyanggupi apa yang tidak

mampu, ia mengerjakannya.

Celakanya aku karena berharap dan meminta cinta manusia?

Ya... Gusti Allah...

Aku lupa pada janjiku padamu ketika berada di alam rahim

Aku lupa untuk apa aku dihidupkan di dunia

ini...

Sebaik-baiknya manusia adalah diam membisu,

daripada bicara tidak berguna...

Dan dari setiap kealpaan yang ada,

Baru kusadari bahwa waktu hidupku di dunia ini semakin sempit dan tiada lama lagi...

Pakaian ini telah lapuk, jasad ini kian merenta Aku tidak bisa menghindar dari setiap janji dan

ketentuanMu

Maka terbebaslah aku dari neraka dunia yang menipu dan memperdaya

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun berada di gua sempit itu Dewa Sabrang memandang ke langit. Matanya berkaca-kaca, tiba-tiba saja ia menundukkan wajahnya kembali.

"Aku hanya seorang hamba, aku tidak pantas memandang ke langit. Aku hanya berhak memandang ke bumi. Manusia tanpa kebaikan adalah makhluk yang paling hina... ukh... ukh...!"

*** 3

Dewa Sabrang menggerakkan tubuhnya. Maka secara tidak terduga-duga pakaiannya yang sudah lapuk itu pun hancur. Lalu kedua tangannya yang terbelenggu rantai dan terjepit di tengah-tengah mulut gua sempit terbuka. Kini dengan leluasa ia dapat bergerak, kedua tangannya ditarik keluar. Setelah tangan dapat digerak-gerakkannya, hanya beberapa saat setelah itu dipukulnya tanah yang melingkar disekeliling pingangnya.

Buummm!

Terjadi ledakan keras. Tanah di depan mulut gua kecil hancur berantakan menjadi kepingan debu. Ini sungguh menakjubkan sekali, sebab tanah tersebut sebelumnya keras melebihi batu karang. Dewa Sabrang menggerakkan tubuhnya.

Tidak lama ia telah melompat keluar. Rantai yang membelenggu kakinya ternyata sudah terlepas. Yang mengherankan dari bagian dada ke bawah kulit Dewa Sabrang tampak putih berkilau-kilauan. Pemuda itu memperhatikan dirinya yang lucu. Tiba-tiba saja ia meraung, satu pukulan dilepaskannya secara berturut-turut. Bukit-bukit yang terdapat di depannya hancur berantakan. Tanah dan debu berterbangan. Dewa Sabrang tertunduk lesu. Kedua tangannya semakin menghitam, sebaliknya bagian pusat ke bawah berwarna putih mengkilat.

Memandang ke langit aku malu

Berpaling ke belakang kulihat puing-puing cinta yang hitam

Kuterjebak derita karena cinta Karena berharap karena pinta nya.... Kini engkau entah berada di mana Entah milik siapa?

Aku ingin pulang

Aku lupa segala di mana rumahku Lalu mana yang harus kupilih?

Mencari cintaNya jauh dari keramaian dunia Menyendiri dalam sunyi kulihat keberadaan-

Lalu tangisku ini adalah kepasrahan diri dalam penghambaanku sampai akhir hidup aku melihat dunia,...

Dewa Sabrang terdiam. Ia tenggelam dalam perenungan. Dia larut dalam pemikiran yang mendalam. Sekejab kemudian daun telinganya bergerak-gerak. Lalu Dewa Sabrang memandang ke satu arah.

"Siapa di situ?" bentaknya. Suaranya pelan saja tapi membuat sakit telinga yang mendengarnya.

"Aku di sini? Situ siapa?" sahut sebuah suara. "Perlihatkan diri, aku tidak suka membunuh

orang tanpa kukenal wajah dan namanya!"

Dari balik bukit kemudian muncul sosok tubuh berpakaian serba biru. Pemuda itu tidak hentinya menggaruk kepala, namun setelah melihat keadaan Dewa Sabrang yang tidak berpakaian sama sekali. Tawa pemuda ini tertawa bergelak.

Datang dari jauh membawa amanat Membawa tugas yang juga berat Sampai di tempat apakah tidak kuwalat Melihat barang keramat tidak disunat Ha ha ha...!

Mendengar ucapan Suro Blondo yang menyindirnya itu, Dewa Sabrang segera menyadari akan keadaan dirinya sendiri. Ia langsung tekap bawah pusarnya. Sekali ia melompat sampailah Dewa Sabrang di depan pemuda rambut hitam kemerahan. Ia mencengkeram leher pemuda itu, dengan demikian maka terbuka auratnya. Suro berkelit menghindar sambil menunjuk-nunjuk.

"Hei... malu-malu... tutupi dulu buah jambu monyet dan batangnya. Setelah itu baru kau boleh bertindak sesuka hati." kata Suro di sertai tawa bekakakan.

Lagi-lagi Dewa Sabrang urungkan niatnya. Lalu tutupi dia punya. Wajah pemuda berambut panjang menjela ini berubah kelam.

"Serahkan celanamu?" pinta Dewa Sabrang penuh ancaman.

"Mana bisa. Celanaku cuma atu-atunya. Kalau kuberikan padamu berarti aku menjadi seperti saudara. Malu... ha ha ha... malu...!"

"Jika demikian kau benar-benar ingin cepat mati!" desis Dewa Sabrang. Ia bermaksud menerjang Pendekar Blo'on, namun pemuda itu dengan cepat mencegahnya.

"Urungkan niatmu Ambar Alam. Aku datang dengan membawa maksud yang sangat baik untukmu!" jelas Pendekar Blo'on.

"Aku sama sekali tidak mengenalmu, berita apa yang kau bawa? Ingat! Aku mulai saat ini telah bersumpah untuk menjauhi keramaian dunia ini yang telah menyeretku dalam belenggu kesengsaraan." tegas Dewa Sabrang.

"Aku Suro Blondo, bukankah saudara yang bernama Ambar Alam?" tanya Si Bocah Ajaib menyelidik.

Dewa Sabrang kerutkan keningnya. Seakan ia sedang berusaha mengingat-ingat siapa dirinya. Tapi justru yang teringat olehnya adalah seseorang yang telah menyakiti dirinya....

"Adakah kau pernah menyadari siapa dirimu? Kau bukan keturunan bangsawan atau Kasunanan. Sedangkan Reza Baiduri adalah anak orang berpangkat. Bangsawan dan terpandang di mata dunia, jangan lagi kau dekati puteriku. Jangan dekati... jangan...

jangan !"

Suara itu mengiang-ngiang di telinganya. Sehingga Dewa Sabrang terpaksa menutupi telinganya.

"Ada apa saudara?" tanya Suro serius.

Dewa Sabrang gelengkan kepala. "Aku bukan Ambar Alam! Aku tidak suka dengan nama lama. Nama itu hanya membawa kesialan dalam hidupku. Kau dengar pemuda bertampang tolol?!"

Si Bocah Ajaib anggukkan kepala. Untuk menunjukkan itikad baik Suro lepaskan bajunya dan menyerahkannya pada Dewa Sabrang.

"Pakailah! Nanti jika kita sudah berada di kota, aku dapat mencarikan pakaian yang pantas untukmu!" "Baju ini tidak mungkin kupakai. Kalau atas tertutup bawah tidak! Sebaiknya begini saja...!" Dewa Sabrang kemudian melilitkan pakaian itu ke bagian

pinggang.

"Waduh, baju dipakai seperti celana. Bagaimana jika tiba-tiba saja ia kencing atau ngompol? Mana mungkin aku melarangnya, aku takut dia salah pengertian." kata Pendekar Mandau Jantan dalam hati. Merasa serba salah, akhirnya ia hanya dapat garukgaruk kepala saja.

"Kulihat kau sangat baik. Semoga kebaikanmu tidak menipu. Nah sekarang coba kau katakan kabar apa yang kau bawa dan siapa yang memberi kabar kepadamu?"

"Menurut Puteri Kilat Bayangan. Apa yang terjadi pada dirimu karena ulah orang tua Reza Baiduri. Dan "

"Tunggu dulu!!" Dewa Sabrang cepat memotong. "Puteri Kilat Bayangan jika tidak salah adalah bibi gadis itu. Selama aku menjalin cinta dengan keponakannya, dia tidak pernah mengganggu kami, bahkan kelihatannya ia mendukung, merestui hubungan kami. Puteri Kilat Bayangan Sakti, ilmu silatnya tinggi. Kabarnya ia belajar itu di Puri Setan. Gurunya seorang perempuan misterius yang cantik pula. Tapi Sunan Bandi Suliwa lebih sakti lagi, beliau punya Seruling Akherat. Salah satu kehebatan Sunan telah ditunjukkan padaku dengan membenamkan aku di gua Batas Penyiksaan. Tempat terlaknat yang membuatku menderita selama hampir lima tahun. Hal ini tidak akan terjadi jika aku tidak nekad berpacaran dengan puteri tunggalnya. Huh... sungguh aku sudah bosan memikirkan dunia. Manusia kebanyakan tidak memandang keluhuran hati dan ketulusan cinta. Orang cuma selalu bertanya apa yang dia punya, apa jabatannya apa kedudukannya."

"Sebenarnya siapa engkau yang sebenarnya saudaraku?"

"Aku tidak tahu, ayah ibuku sudah lama meninggal. Sunan yang kemudian menolongku dan mengangkat aku menjadi bendara upeti. Salahkah aku jika menaruh cinta pada puterinya? Sementara Reza Baiduri juga menaruh cinta padaku!"

"Tentu saja tidak salah. Yang salah jika lakilaki bercinta dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Lonceng dengan lonceng, gunung dengan gunung. Kalian berjalan di atas kodrat, tapi biasanya manusia ada yang tidak suka dengan kodratnya."

"Betul. Menurut Sunan, perbedaan aku dengan puterinya tidak ubahnya seperti langit dengan bumi. Dia berkuasa atas puterinya. Padahal manusia sesungguhnya tidak punya kuasa apa-apa atas diri orang lain!"

"Aku paham maksud ucapanmu. Sekarang yang ingin kusampaikan padamu. Puteri Kilat Bayangan berharap agar aku menemukanmu, sekarang sudah bertemu. Ketahuilah, sebelum kemari aku melihat ada rombongan yang ingin pergi ke Parit Wolu. Menurut si Cantik, orang itu masih sahabat Sunan Bandi Suliwa. Mereka mau melamar Reza Baiduri, konon masih ada lagi rombongan yang lain. Mereka punya tujuan yang sama. Puteri Kilat Bayangan mengharap agar kau dapat datang ke sana. Reza Baiduri selalu menantikan kehadiranmu." jelas murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api serius.

Ada perubahan pada wajah Dewa Sabrang yang hitam. Tatapan matanya kosong. Lalu dia gelengkan kepala berulang-ulang....

Berpaling pada masa lalu adalah kehinaan Untuk apa aku kembali jika hanya menyakitkan

hati,

Biarlah semuanya berjalan menurut takdir dan

kehendak

Harapku dan pintaku pada manusia telah le-

nyap

Dalam sunyi dan perenungan yang panjang Sesungguhnya aku pernah datang pada jalan

yang salah

Langkah keinginan hati sudah lama kukubur Di dalam gua sempit penyiksa terlaknat...

Mengertikah kau hai pembawa amanat??

Lagi-lagi Suro tertegun. Ia berpikir rupanya pemuda ini pernah mengalami guncangan batin yang sangat berat. Lalu sekarang bagaimana cara ia membujuk Dewa Sabrang agar bersedia ikut bersamanya ke Parit Wolu?

"Sahabat Suro, amanat telah kau sampaikan, sekarang pergilah! Jangan kau hiraukan aku!" tegas Ambar Alam.

"Dewa Sabrang! Seburuk-buruknya manusia adalah orang yang mengabaikan perasaan orang lain. Reza Baiduri siang dan malam selalu mengharapkan kehadiranmu, menanti kedatanganmu dan membawa dia pergi dari penjara tradisi yang selama ini sangat menyiksanya. Percayalah, dia tidak pernah jauh dari hatimu."

"Entahlah, aku tidak bisa memutuskan apa-apa saat ini. Selamat tinggal...!" Sebelum gema suaranya lenyap, Dewa Sabrang telah berkelebat pergi meninggalkan Suro.

"Tunggu...!" cegah si pemuda. Saking bingungnya Pendekar Blo'on cuma dapat garuk-garuk kepalanya. "Apa nanti jawabku jika Puteri Kilat Bayangan bertanya tentang Ambar Alam? Apapun resikonya aku harus segera ke Parit Wolu:" kata si pemuda.

* * *

"Hentikanlah tangismu?!" membentak laki-laki setengah baya berpakaian bangsawan pada gadis cantik bertubuh kurus. Walau pun wajahnya menyimpan duka yang mendalam. Hal ini tidak dapat menghapus kecantikannya yang menawan dan sangat alami itu.

"Sebentar lagi orang-orang yang akan melamarmu datang. Bagaimana kata mereka nanti jika melihatmu bersedih terus?" dengus laki-laki yang tidak lain adalah Sunan Bandi Suliwa marah.

"Saya tidak mau menikah dengan laki-laki mana pun pilihan ayah! Ayah selalu memaksa dan mau menang sendiri, mengapa tidak ayah saja yang kawin dengan mereka?!" sahut Reza Baiduri dengan wajah tertunduk.

Plak! "Aoww...!"

Si gadis menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar dan jatuh terhempas di sudut ranjang. Dari sudut bibirnya meneteskan darah. Tangis puteri Reza Baiduri semakin tersendat-sendat.

"Mengapa tidak ayahanda bunuh saja aku? Ingat ayah, jika ayah terus memaksaku, aku lebih baik memilih mati!"

"Kurang ajar! Anak tidak tahu membalas guna!" teriak Sunan Bandi Suliwa, ia hendak menampar anaknya lagi, namun urung begitu mendengar suara pintu diketuk oleh se-seorang. "Siapa?"

"Hamba Sunan Hamba hendak melapor tentang kedatangan Kala Demit dan muridnya?"

Sunan membuka pintu, wajahnya masih menyiratkan kemarahan. Lalu seraya menoleh pada Puteri Kilat Bayangan.

"Keponakanku, jaga puteri Reza. Jangan sekali pun lengah. Dia menjadi tanggung jawabmu. Jika sampai terjadi apa-apa dengannya aku tidak segan memenggal kepalamu!"

"Baik, paman Sunan!" sahut si jelita,

Bandi Suliwa segera meninggalkan kamar putrinya. Dengan diikuti oleh seorang pengawal ia menuju ke halaman depan. Ternyata di sana telah berdiri seorang laki-laki berpakaian hitam berwajah angker bengis.

Di samping laki-laki itu tampak seorang pemuda gagah angkuh berpakaian sama seperti si kakek. Di punggungnya terdapat, buntalan juga tersembul sebuah kebutan berwarna hitam. "Sahabatku Kala Demit! Aih, tidak kusangka kau memenuhi undanganku. Silakan masuk!" perintah Sunan Bandi Suliwa dengan ramah. Tanpa basa basi lagi, tokoh dari Pasuruan ini langsung mengikuti tuan rumah. Mereka duduk di atas permadani tebal berwarna hitam.

"Sudah lama kita tidak saling bertemu! Apa kabarmu, Kala Demit?"

"Keadaanku masih tetap sama seperti dulu. Ha ha ha...!" Laki-laki itu tertawa membahak.

"Inilah muridmu?" tanya Sunan sambil mengelus-elus janggutnya.

"Ya...!"

"Dulu kau mengatakan punya dua murid. Setelah gagal mendapatkan si bayi Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro. Lalu mana muridmu yang satunya lagi?"

"Muridku yang satunya lagi termasuk murid bengal, meskipun ia seorang gadis. Ia suka berpetualang dan sering berada di pantai Selatan! Susah mengatur murid bengal itu. Sedangkan muridku yang ini adalah anak berbakti, penurut dan seluruh ilmu kepandaianku telah kuturunkan kepadanya. Kekurangannya adalah dia kurang pintar bicara, aku yakin dia pasti sangat cocok berjodoh dengan putrimu. Sekarang aku menyatakan mau melamar putrimu untuk kujodohkan dengan muridku! Bagaimana apakah kau setuju...?"

"Ha ha ha...! Masalah itu sebaiknya kita bicarakan nanti saja. Sebab masih ada lagi seorang pelamar, dia anak Macan Terbang! Mengenai siapa nanti yang dipilih oleh putriku. Kita sebagai orang tua tidak perlu kecewa, bukankah begitu sobat Kala Demit!"

"Tentu saja... ha ha ha...!" sahut si kakek. Dalam hatinya memaki. "Jika tidak kudapatkan putrimu secara baik-baik, tentu aku punya seribu akal untuk menghancurkan saingan muridku!"

***

4

"Untuk menunggu kedatangan tamu kedua sekaligus yang terakhir, alangkah baiknya jika sekarang ini engkau dan muridmu menikmati hidangan yang telah tersedia, Kala Demit!"

Beberapa pelayan yang masih sangat mudamuda langsung menyediakan berbagai jenis makanan di atas permadani.

"Ini hari yang menyenangkan, muridku. Apa pendapatmu jika kau menjadi menantu Sunan Bandi Suliwa kelak?" Kala Demit melirik pada pemuda angkuh yang duduk di sampingnya. Pemuda gagap ini lalu menjawab...

"Ka... ka ka... lau, Su-su-nan, menjadi mertuaku. A-a-a-ku... tentu sangat bahagia sekali...!"

"Tentu kau ingin melihat calon isterimu, bukan? Dapatkah kau katakan padaku bagaimana rasanya kau jatuh cinta?" tanya Kala Demit disertai senyum.

"Ra-ra-rasanya jatuh cin-cin-ta. Aku se-seperti i-i-ingin, be-berak-berak dan ken-kencing melulu!" sahut Sidra Gagap.

Wajah Sunan Bandi Suliwa berubah merah padam. Sebaliknya Kala Demit malah tertawa tergelakgelak.

"Anak setan ini bicaranya saja tidak lempang. Bagaimana mungkin putriku bisa tertarik padanya?" maki Sunan dalam hati. "Kau dengar Sunan. Muridku ternyata sudah tidak sabar. Untuk kesungguhanku ini. Maka aku membawakan mutiara serta emas berharga yang tidak ternilai harganya." Kala Demit mengambil buntalan besar yang berada di pundak Sidra Gagap. Ketika buntalan itu dibuka di depan Sunan Bandi Suliwa, maka yang dikatakan oleh Kala Demit itu memang tidak menyimpang.

"Aku merasa berterima kasih atas penghargaan ini. Walau bagaimana pun kita harus menunggu pelamar kedua!" tegas Sunan Bandi Suliwa. Kala Demit manggut-manggut, walau hatinya merasa tidak senang sekali.

"Kanjeng Sunan, rombongan dari Lembah Kebinasaan datang." lapor seorang pengawal yang datang tiba-tiba. Sunan melirik pada tamunya sekilas.

"Saudara Kala Demit harap tunggu di sini. Sebentar lagi kita bisa berkumpul bersama tetamu yang lainnya."

"Silakan!" jawab si kakek cemberut.

Di halaman depan tampak beberapa orang lakilaki berkuda. Salah seorang di antaranya adalah orang tua bertelanjang dada berbibir dower. Sekujur tubuhnya penuh tatto bergambar harimau. Tatapan matanya sinis, sedangkan di belakangnya tampak sebuah kereta kuda. Ketika pintu kereta terbuka, maka dari dalam kereta itu muncul seorang pemuda berkepala setengah botak, perutnya agak gendut, tidak memakai baju, celana kedodoran dan ia selalu menggaruk-garuk sekujur badannya. Rupanya pemuda itu menderita penyakit kurap yang tidak pernah tersembuhkan.

"Sahabatku Sunan Bandi Suliwa, akhirnya aku dapat juga menginjakkan kaki di kasunanmu. Lihatlah anakku sudah dewasa kini. Dia siap berjodoh dengan putrimu!" "Gila... mengapa begini jadinya? Anak Macan Terbang ini semula kukira tampan sebagaimana kecil dulu. Tidak tahunya kini setelah dewasa malah bertambah jelek penyakitan! Oh... bagaimana pun aku tidak mungkin menarik ucapan kembali. Salah seorang diantara mereka akan menjadi calon pendamping putriku!" pikir Sunan.

"Marilah masuk sahabatku. Aku tentu tidak dapat melupakan jasa baikmu dan Kala Demit yang pernah menolongku ketika dulu Kasunanan ini menjadi rebutan antara aku dan adikku Rara Ayu."

"Sukurlah kalau kau mau mengingat jasa baik orang lain. Ingat aku ada membawa barang-barang berharga untuk meminang putrimu! Tentu saja aku tidak sakit hati andai nanti ternyata putrimu tertarik pada murid Kala Demit."

"Ha ha ha...! Kau orang yang mudah mengalah, Macan Terbang. Belum juga pertemuan dilaksanakan, kau sudah bersikap pasrah!"

"Semua ini kulakukan demi menjaga nama baik persahabatan! Bukankah begitu?" sahut Macan Terbang.

Si bibir dower ini lalu mengikuti tuan rumah menuju ke ruangan tamu. Setelah berada di dalam, ternyata Macan Terbang melihat Kala Demit dan muridnya sudah berada di sana.

Kala Demit yang telah sama kita ketahui (Dalam Episode Neraka Gunung Bromo) ikut membunuh Satria Purba juga isterinya. Yaitu orang tua Pendekar Blo'on, dalam usahanya mendapatkan bayi ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro. Ia hanya tersenyum tipis melihat kehadiran Macan Terbang.

"Ternyata kami datang terlambat, anda telah mendahului kami, sobat Kala Demit!" kata Macan Terbang sekedar basa-basi. "Bagaimana pun Sunan tetap berkenan menunggu kedatanganmu! Nah sekarang tunggu apa lagi. Bukankah Sunan sudah dapat memanggil putri Reza agar dia dapat memilih yang mana diantara dua pemuda yang menjadi pilihannya?" Kala Demit kelihatannya sudah tidak sabar sekali.

"Baiklah! Tunggu di sini, sebentar lagi putriku pasti akan kemari!" Sunan Bandi Suliwa kemudian meninggalkan para tamunya. Tidak lama kemudian muncullah puteri Reza Baiduri diiringi Sunan dan juga Puteri Kilat Bayangan.

Semua hadirin terkesima melihat kecantikan Reza, tapi ternyata gadis baju hijau yang mengiringinya lebih cantik lagi. Matanya indah seperti bintang kejora dan penuh daya pesona yang sangat tinggi. Setiap laki-laki normal pasti cenderung memilih Puteri Kilat Bayangan, walau pun memang patut diakui Puteri Reza juga sangat cantik.

"Sunan, apakah kedua gadis ini putrimu?" tanya Kala Demit sambil berdecak kagum.

"Yang satunya adalah keponakanku!" sahut Sunan Bandi Suliwa. Lalu ia menoleh pada putrinya. "Nah putriku, kau sekarang tinggal memilih yang mana diantara kedua pemuda itu yang kau sukai?"

Puteri Reza yang sangat takut pada ayahnya ini sama sekali tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia memandang pada kedua pemuda itu dengan perasaan jijik. Air matanya bergulir, tanpa sadar kepalanya terangguk-angguk searah pada Sidra Gagap.

Rupanya arti anggukan yang tidak di sengaja ini di artikan lain baik oleh Sunan sendiri maupun Kala Demit dan muridnya.

"Aih... di-di-a mau pada kau. A... aku juga mau. A-a-aku ja-di kawin? Ha ha ha, guru...!" Sidra Gagap berjingkrak-jingkrak. Sebaliknya puteri Reza terkesiap. Ia berlari ke kamarnya. Puteri Kilat Bayangan terkesima namun juga tidak mengejar.

"Ayah...!" Randu Walang protes. "Puteri itu, menjatuhkan pilihan pada pemuda jelek gagap itu?! Bagaimana dengan aku, ayah?" tanya pemuda berkepala botak kurapan itu seperti hendak menangis.

Sidra Gagap tertawa. "Li-lihat-lah... gu-guru. Si botak ke-kecewa. Malang benar nasibnya!"

Macan Terbang tidak kehabisan akal. Walau pun tidak mendapatkan puteri Reza, bukankah gadis baju hijau itu kecantikan menyamai bidadari. Anaknya pasti tidak menolak berjodoh dengan gadis itu. Dia lebih cantik dan bentuk badannya juga lebih bagus dari puteri Reza. Sunan, apakah aku boleh usul?" bertanya Macan Terbang.

"Tentu saja. Silakan."

"Murid Kala Demit sudah berjodoh dengan puterimu, sedangkan anakku belum berjodoh. Bagaimana jika keponakanmu itu kupilih menjadi pendamping Randu Walang?" Pertanyaan itu kelihatannya biasabiasa saja, namun sangat mengejutkan bagi Puteri Kilat Bayangan.

"Dikiranya aku ini kambing, main jodohjodohkan saja. Manusia kurapan begitu siapa sudi. Nenek-nenek keriput pun pasti tidak sudi berjodoh dengan si botak!" maki gadis baju hijau dalam hati.

Sunan Bandi Suliwa terdiam untuk beberapa saat lamanya. Ia mengelus-elus jenggotnya yang cuma beberapa gelintir itu.

"Keponakanku, apakah kau menerima tawaran itu? Ketahuilah, mereka ini adalah sahabat-sahabatku. Kau tidak boleh mengecewakan mereka!"

"Paman, sudah kukatakan aku tidak akan mengambil laki-laki manapun sebelum aku dapat menemukan siapa yang telah membunuh kedua orang tuaku. Sedikit pun tidak terlintas dalam pikiranku untuk menikah. Harap paman tidak kecewa!" tegas Puteri Kilat Bayangan.

Maka memerahlah wajah Sunan mendengar ucapan keponakannya. Apalagi ketika itu mereka berada di tengah-tengah orang lain.

"Putri, kau bicara apa? Sadarkah kau sedang berhadapan dengan siapa?" bentak Sunan marah.

"Maafkan aku, paman...!" kata Puteri Kilat Bayangan. Lalu tanpa bicara apa-apa lagi, dengan wajah tertunduk gadis baju hijau meninggalkan ruangan pertemuan itu.

"Ah... maafkan sahabatku!" kata Macan Terbang. "Seharusnya aku tidak salah bicara."

"Jangan tersinggung, Macan Terbang. Lamaranmu pada keponakanku tetap kuterima. Dia masih bisa dibujuk. Apa yang terjadi barusan tadi karena ia tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya. Yang terpenting sekarang ini kita harus mempersiapkan segala perhelatan besar untuk menyambut datangnya hari perkawinan kedua pasangan mempelai ini!" Sunan Bandi Suliwa memutuskan.

Bukan main gembiranya masing-masing pihak, baik dari Kala Demit maupun Macan Terbang mendengar ketegasan Gusti Sunan. Mereka mengelu-elukan keputusan Sunan Parit Wolu yang mereka anggap cukup bijaksana ini.

* * *

Langkahnya lambat-lambat menghampiri Reza Baiduri yang terus menangis memeluk guling di kamarnya. Gadis berbaju hijau berwajah jelita tersebut menyentuh bahu sang puteri. Melihat siapa yang datang, maka puteri Reza Baiduri langsung memeluk saudara misannya.

"Kakak, mengapa begini buruknya nasib hidupku! Aku tidak rela disentuh oleh laki-laki yang tidak kusukai. Aku harus mati... mati... kakak! Kurasa itulah jalan yang paling baik bagiku!" tegas puteri Reza berputus asa.

"Jangan mudah berputus asa. Jika kita tetap bertahan di sini, nasibku pun tidak berbeda dengan nasibmu, adikku! Kita harus mencari kesempatan untuk meloloskan diri sebelum pesta perkawinan itu berlangsung. Aku yakin pemuda Blo'on itu dapat menemukan kekasihmu!" jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Apa, pemuda tolol? Bagaimana pemuda tolol dapat melakukan sesuatu? Rupanya dimana kakang Ambar Alam sekarang berada? Kakak tahu tapi mengapa tidak mau cerita padaku?" tanya puteri Reza Baiduri.

"Tidak cukup waktu untuk menjelaskannya padamu! Sekarang sebaiknya kau bersiap-siap. Nanti bila malam tiba kita akan meloloskan diri dari tempat ini. Bersediakah kau?" Mata puteri Reza yang semula meredup, sekarang tampak berbinar-binar.

"Benarkah? Dapatkah kakak mempertemukan aku dengan kakang Ambar yang telah pergi selama lima tahun itu?"

"Tenang, jangan banyak bertanya. Bersikaplah seakan menurut di depan orang tuamu!" Puteri Kilat Bayangan menasehati. Reza Baiduri anggukkan kepala.

Malam itu rencana tentang sebuah pesta besar disusun, Kala Demit, Macan Terbang dan Sunan Bandi Suliwa kelihatan tampak serius membicarakan masalah ini. Sunan Suliwa merasa yakin betul, dalam seharian ini baik putri maupun keponakannya telah berubah menjadi baik dan penurut. Sebagai orang tua tentu saja ia sangat puas. Kini terlaksanalah semua citacita untuk menjodohkan anaknya dengan murid anak sahabat-sahabat yang dulu pernah membantu usahanya tetap mempertahankan Kasunanan Parit Wolu.

Sementara itu Puteri Kilat Bayangan di dalam kamar adik misannya sedang sibuk mengatur rencana pelarian mereka. Wajah kedua gadis itu tampak tegang. Di luar sepengetahuan mereka, di dalam kegelapan tampak berkelebat sesosok bayangan. Bayangan itu selanjutnya mengendap-endap mendekati kamar di mana Puteri Reza berada. Ternyata di bagian luar kamar dijaga ketat oleh beberapa orang pengawal.

"Gila! Orang-orang ini jika tidak kulumpuhkan urusan bisa jadi kapiran." gerutu si pemuda sambil garuk-garuk kepala. Tidak lama sosok bayangan biru ini langsung bergerak mendekati para pengawal bersenjata tombak yang jumlahnya tidak lebih dari tiga orang.

"Hei... siapa di situ...?!" bentak salah seorang pengawal yang kebetulan mengetahui kehadiran sosok berpakaian serba biru tersebut.

Jplok! "Uph...!"

Pengawal apes ini langsung terdiam, sekujur tubuhnya kaku tertotok. Sedangkan urat bicaranya pun tidak mampu mengeluarkan suara. Melihat keadaan kawannya, dua orang lainnya langsung menyerbu. Namun sungguh hebat. Pemuda baju biru ini dengan gesit telah bergerak menyambar-nyambar bagaikan seekor monyet terbang. Hanya dalam waktu singkat kedua pengawal apes ini mengalami nasib yang sama. Tubuh mereka kaku, jangankan bergerak sedangkan bicara saja tidak mampu.

"He he he! Jadilah kalian patung tolol sampai besok pagi!" desis si pemuda. Keadaan ketiga pengawal ini memang tampak sangat lucu. Mereka menjadi kaku dalam keadaan bermain silat.

Sambil geleng-gelengkan kepala pemuda baju biru menghampiri jendela. Jendela sisir diketuknya.

"Siapa?" terdengar suara merdu dari dalam ka-

mar.

"Si-anu... aku, Suro...!" sahut pemuda baju biru

yang tidak lain adalah Pendekar Blo’on.

"Kau sudah sampai? Malam ini juga kalau bisa kau menolong kami meninggalkan tempat ini!" kata sebuah suara lainnya.

Suro sudah dapat memastikan bahwa gadis yang baru bicara itu tidak lain adalah Puteri Kilat Bayangan.

“Bukalah jendela ini sebelum pengawalpengawal lain melihatku!” pinta Pendekar Blo’on dengan suara berbisik.

Tak lama jendela pun terbuka, Si Bocah Ajaib melihat ada dua orang gadis di dalam kamar tersebut. Yang satunya sudah dikenal oleh pemuda itu sedangkan yang lainnya adalah seorang gadis bertubuh kurus, wajahnya bulat lonjong dan cantik meskipun agak pucat.

“Apa yang terjadi?”

“Tidak cukup waktu untuk menjelaskannya padamu, Suro.” Puteri Kilat Bayangan menyahuti. Seraya mendekati jeruji besi, kemudian gadis ini mematahkan besi-besi pengaman jendela tersebut.

Pendekar Blo’on dibuat melongo dengan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh si gadis. Belum hilang kaget di hatinya, Puteri Kilat Bayangan dan puteri Reza telah berhasil keluar meninggalkan kamar.

“Bagaimana kau bisa sampai kemari?” tanya Puteri Kilat.

“Ku lumpuhkan penjaga di depan, lalu yang menjaga di sini kubuat jadi patung sementara. Kalau keadaan sudah gaswat, eeh… gawat, sebaiknya kita menyingkir saja!” saran Suro.

“Mari…!”

Puteri Kilat Bayangan membimbing puteri Reza. Gadis ini selanjutnya melompati pagar Kasunanan sedangkan Pendekar Mandau Jantan mengikutinya dari belakang. Ketiga orang ini hanya beberapa saat saja telah menghilang di kegelapan malam. Lalu keadaan berubah sunyi, menghentak. Ketiga pengawal yang ditinggalkan dalam keadaan tertotok menjadi pucat ketakutan. Sebab bagaimana pun keamanan puteri menjadi tanggung jawab mereka.

***

5

Pagi hari udara terasa dingin menusuk. Puncak gunung Kendeng berselimut kabut tebal. Puteri Kilat Bayangan, Pendekar Blo'on, dan puteri Reza kelihatan sama-sama letih setelah hampir semalaman terus berlari meninggalkan Kasunanan Parit Wolu.

"Kita istirahat di sini. Nafasku sudah hampir putus!" ujar Suro Blondo dengan suara tersengal. Puteri Kilat Bayangan tersenyum, gadis baju hijau ini kelihatannya biasa-biasa saja. Ia dapat lari secepat angin, keletihan yang terlihat tadi sekarang bahkan telah lenyap. Berganti dengan sesungging senyum yang membuat jantung Suro dag dig dug tidak menentu.

"Saat ini pamanku pasti bingung, kemarahannya tidak dapat kubayangkan. Mereka pasti mencari kita."

"Biarkan saja. Mereka itu orang-orang gila yang suka memaksakan kehendaknya sendiri. Buat apa risau?" sahut Suro, seraya menyeka keningnya yang basah oleh keringat.

"Saudara...!" Puteri Reza buka bicara, "Menurut kakak puteri, saudara mencari kakang Ambar Alam. Apakah saudara bertemu dengannya dan mengapa saudara tidak membawanya kemari?"

"Terus terang saja, aku memang telah bertemu dengan Dewa Sabrang. Dia baru saja terbebas dari hukuman pendam yang dijatuhkan oleh ayahmu! Sayang aku tidak mampu membujuknya, dan...!"

"Apa? Ayah telah menghukumnya? Tidak mungkin!!" desis puteri Reza Baiduri. Matanya terbelalak tidak percaya. Suro garuk-garuk kepala. Ia kelihatan bingung, sehingga ia memandang pada Puteri Kilat Bayangan dengan tatapan penuh tanda tanya

"Benar, Reza. Ayahmu memang telah menghukum Ambar Alam di sebuah gua sempit selama lima tahun ini. Aku yang mengetahui kejadian itu, hanya aku tidak berani mengatakannya padamu, karena ketika itu paman mengancamku agar jangan membocorkan rahasianya kepadamu!" jelas Puteri Kilat Bayangan.

"Jadi? Apakah kakang Ambar tidak mau menjumpaiku lagi? Oh... sia-sialah penantianku selama ini!" kata puteri Reza seraya lalu mendekap wajahnya. Tangisnya tersedu-sedu. Suro jadi bingung, hingga membuatnya garuk-garuk kepala. Lalu terlintas sebuah akal di benaknya. Seraya pun berkata:

"Puteri tidak usah bingung-bingung. Ambar Alam alias Dewa Sabrang berjanji akan menjumpaimu. Cuma dia tidak mau ke Parit Wolu, itu sebabnya puteri kami ajak ke sini. Pada saatnya nanti dia akan datang, kau harus bersabar dan mulai sekarang kita harus mulai atur siasat!"

"Siasat apa?"   bertanya   Puteri   Kilat Bayangan.

Belum sempat Suro mengatakan siasat apa

yang hendak dijalankannya. Dari puncak gunung Kendeng tiba-tiba saja terdengar suara tawa mengekeh. Suara itu disertai dengan menderunya angin kencang bergulung-gulung. Lalu muncul seorang nenek tua berambut putih, tidak punya tangan tidak pula memiliki kaki. Kehadirannya didukung oleh dua ekor kera yang sangat besar. Kera-kera itu hampir setinggi Suro Blondo.

Suro terkesiap dan pencongkan mulutnya. Sedangkan Puteri Kilat Bayangan kerutkan keningnya. Ia seperti pernah bertemu dengan nenek yang duduk di atas bahu dua monyet besar berjalan tegak tersebut, hanya dia sudah lupa kapan dan di mana.

"Sudah sepuluh tahun daerah kekuasaanku ini tidak disambangi tamu. Pagi ini aku merasa punya untung karena ada tiga ekor kurcaci datang ke sini. Dua kurcaci cantik, sedangkan yang satunya... hik hik hik! Cukup tampan juga, tapi tampangnya seperti kedua anakku ini!"

"Orang tua kaki dan tangan buntung! Siapakah anda? Setan buntung penghuni gunung atau manusia juga seperti kami?" tanya Suro dengan perasaan dongkol.

Nenek tua yang duduk di atas bahu kedua ekor monyet besar itu dongakkan wajahnya ke langit. Lalu tawanya kembali meledak, sedangkan monyet-monyet yang mendukungnya ikut berjingkrak-jingkrak kegirangan.

"Hik hik hik! Bertanyalah pada gadis secantik bidadari itu? Dia mungkin bisa memberi jawaban untukmu!" Suro menoleh ke arah Puteri Kilat Bayangan, tapi gadis ini menggelengkan kepala dengan ragu-ragu. Tiba-tiba nenek tidak bertangan tidak berkaki ini membentak. "Puteri Kilat Bayangan, anak tunggal Rara Ayu, dan Raden Aryo Lungga. Kau adalah gadis bodoh yang tidak tahu bagaimana orang tuamu dibunuh. Kau tentu tidak tahu bagaimana dan siapa yang membunuh orang tuamu? Kala itu kau masih bayi pentil, masih suka ngompol. Tapi aku melihat, aku menyaksikan. Aku melihat darah Raden Aryo Lungga ketika dadanya tertembus pedang. Aku melihat ibumu yang dibokong dari belakang, saat itu kau berada di pangkuannya! Kematian itu, kematian itu membuat aku merana, aku kehilangan tangan dan kaki. Kalian tahu semua ini pekerjaan siapa?"

Puteri Kilat Bayangan tidak mampu membuka mulut, puteri Reza sama saja. Sedangkan murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api kerat-kerutkan keningnya.

"Kami tentu saja tidak tahu, nek!" sahut Suro. "Diam goblok. Aku tidak bicara padamu!" si ne-

nek mendengus sinis.

Suro katupkan mulutnya, ia bersungut-sungut tanda tidak suka melihat tingkah orang itu.

"Tua bangka itu galak sekali. Aku tidak tahu siapa dia, apa maksudnya. Apakah dia juga punya maksud tidak baik juga? Awas, kalau macam-macam aku tidak segan membuntungi kepalanya!" gerutu Suro dalam hati. "Cobalah jawab, Puteri Kilat?!" Gadis jelita yang matanya memancarkan seribu pesona angkat wajahnya. Memandang pada nenek serba buntung itu dengan perasaan tidak mengerti.

"Sekarang aku ingat. Kalau tidak salah aku pernah berjumpa denganmu di kaputren ketika aku berumur tujuh tahun. Lalu ketika pengawal melihatmu, kau melarikan diri!"

"Aku bukan melarikan diri, goblok! Kedatanganku hanya ingin memastikan apakah kau dalam keadaan sehat sebagaimana yang kuharapkan!" "Lalu nenek sendiri siapa?"

"Hik hik hik! Aku hanya mau bicara membuka rahasia jika pemuda konyol itu menyingkir untuk sementara dari hadapanku! Ini rahasia besar, masalah keluarga."

"Tapi dia telah menolong kami!" seru Puteri Kilat Bayangan.

"Tidak perduli apa dia telah menolong atau berusaha merebut hatimu. Masa lalu adalah bagian dari hidupmu masa kini. Kalau kau tertarik ingin mengetahuinya. Sebaiknya usir dia untuk sementara waktu!"

Ucapan itu membuat kedua gadis cantik ini melengak kaget. Sebaliknya merasa sangat terhina. Wajahnya yang tampan ini bersemu merah.

"Bicaramu seenak perutmu nenek jelek. Kau cacat namun sombong dan angkuh. Aku paling benci pada orang sombong, tapi lebih benci lagi pada orang cacat sombong. Huh, aku tidak akan perduli dengan bicaramu, uruslah gadis-gadis ini. Jika nanti ternyata kau tidak becus melindunginya dari kejaran para setan kapiran itu. Aku akan datang lagi meminta lidahmu dan kepalamu!" dengus Suro.

"Tunggu saudara...!"

Sia-sia saja puteri Reza mencegah, karena ternyata pemuda berambut hitam kemerahan itu telah lenyap dari hadapannya.

"Biarkan dip, pergi. Masalah yang akan kuceritakan ini hanya akan membuat malu kalian saja bila sampai diketahui orang luar."

Puteri Kilat Bayangan sebenarnya merasa tidak enak hati juga sebab bagaimana pun Suro telah berusaha menolong mereka.

"Apa yang ingin kau sampaikan, nenek. Aku heran kau mengenal kedua orang tuaku." "Tentu saja aku mengenal orang tuamu. Karena Raden Aryo Lungga adalah puteraku. Semua ini terjadi akibat ulah Sunan Bandi Suliwa. Ia terlalu rakus dengan kedudukan dan jabatan. Sehingga ketika warisan Kasunanan hendak dibagi oleh almarhum kakek kalian. Rupanya sunan Bandi Suliwa tidak terima. Sepekan kakek kalian meninggal, Sunan meminta bantuan tokoh-tokoh sesat rimba persilatan untuk menghancurkan Raden Aryo Lungga dan juga Rara Ayu yang masih terhitung saudara tua Sunan...!"

"Ayahanda sekejam itu?" Puteri Reza memekik

keras.

"Ini sebuah kenyataan, aku kehilangan tangan

dan kaki. Semua itu kulakukan semata-mata karena ingin menegakkan kebenaran. Tetapi ayahmu terlalu tangguh. Aku jadi pecundang dan terpaksa menyingkir. Perlu kau ketahui juga, puteri Reza. Pemuda tadi benar, kekasihmu di hukum oleh Sunan. Karena apa? Dia tidak suka kalian memadu kasih sesuai dengan kehendakmu. Sebab sesuai perjanjian mereka dulu. Sunan telah berniat menjodohkan kau dengan salah seorang putera dari sekutu-sekutunya. Sunan merasa berhutang budi pada mereka."

"Dan lebih celaka lagi, paman bermaksud menjodohkan aku dengan putera Macan Terbang yang kudisan itu!" Puteri Kilat Bayangan menyahuti.

Puteri Reza menangis tersedu-sedu. Meskipun Reza tahu ayahnya sangat keras, namun ia tidak menyangka kalau ayahnya tega berbuat sekejam itu hanya untuk mempertahankan warisan. Tiba-tiba ia merasa bersalah, jika Puteri Kilat Bayangan mau tentu ia dapat membalas dendam padanya. Atau paling tidak berubah membencinya.

"Kalau benarlah apa yang dikatakan oleh nenek ini. Sekarang kakak bebas memperlakukan aku sesuka hati kakak. Jika kakak mau membalas, balaslah kematian uwa Rara Ayu. Aku sudah muak melihat keculasan dan kekejaman ayah." Puteri Reza tampak putus asa sekali.

Puteri Kilat Bayangan tersenyum pedih. Kemarahannya terhadap pamannya memang meledak-ledak. Tapi untuk melampiaskan kemarahan itu pada Puteri Reza, sama sekali tidak terlintas dalam, pikirannya. Ia teramat sayang pada gadis itu. Jangankan membunuhnya, sedangkan menyakiti hatinya saja Puteri Kilat tidak sanggup.

"Jangan kau pikirkan masalah ini. Nasib kita sama, jika aku berhadapan dengan paman, persoalannya mungkin lain. Kita sama-sama tidak mengetahui. Sekarang kita harus memikirkan apa yang akan kita lakukan jika paman dan para sekutunya mencari kita?"

"Itu persoalan yang mudah. Kita buat sebuah pesta di sini untuk mengelabuhi Sunan Bandi Suliwa."

"Caranya bagaimana?" tanya Puteri Kilat.

"Kita berbuat seolah-olah kalian sudah dinikahkan dengan pemuda-pemuda yang telah menjadi pilihan kalian!" kata si nenek disertai tawa mengekeh.

"Tapi bagaimana kita mendapatkan pemuda yang mau mengerti persoalan kita. Sedangkan pemuda tadi saja sudah nenek usir."

"Puteri Kilat, aku tidak mengusirnya. Aku hanya memintanya untuk menyingkir. Dia pasti kembali, karena kulihat matanya mengatakan cinta padamu, Puteri Kilat! Hik hik hik...!"

Wajah si jelita merah seperti kepiting rebus. Ia sendiri sesungguhnya sangat kaget, tidak menyangka kalau Suro ada perasaan padanya. Namun untuk menanggapi ucapan si nenek. Ia merasa tidak punya perasaan apa-apa pada si pemuda. "Jika pemuda itu tidak kembali, siapa yang akan menggantikannya?"

"Hik hik hik! Cucuku, tentu kedua anak-anak ini dapat menjadi mempelai laki-laki. Tidak sungguhan tentu, sebab aku tidak akan sudi punya cucu turunan monyet."

"Ini pekerjaan gila, nek. Aku keberatan melakukannya!" tegas Puteri Kilat Bayangan. Sedangkan puteri Reza tidak memberi tanggapan apa-apa. Pikirannya tenggelam dalam persoalan-persoalan yang rumit dan menyakitkan hati.

"Lebih gila lagi jika kalian berdua menjadi isteri para musuh yang membuat kau dan puteri Reza sengsara lahir batin."

"Apa maksud kepura-puraan ini?"

"Hik hik hik! Aku yakin rencana pemuda konyol itu sama dengan rencanaku. Kalian hanya berpurapura jadi pengantin, bila Sunan dan kawan-kawannya muncul ke sini!" jelas Nini Suri Pamungkas.

"Baiklah, nek. Rencana gila ini kuterima. Tapi walau bagaimana pun aku harus mencari pemuda itu. Aku ingin tahu bagaimana nasib kakang Ambar Alam. Dia yang telah mengetahuinya, aku harus berjumpa dengannya!" tegas puteri Reza.

"Jangan bodoh. Jika kau meninggalkan lereng Kendeng ini. Bahaya selalu mengancammu. Sebaiknya tetaplah kau disini. Kita bisa bersama-sama mempersiapkan pesta bohong-bohongan untuk menyambut kedatangan mereka jika Sunan dan orang-orangnya datang kesini. Hik hik hik...!"

Apa yang dikatakan oleh Nini Suri Pamungkas memang benar, hanya puteri Reza kelihatannya memang tidak dapat tenang jika ia belum bertemu dengan Suro. Ia harus bertanya bagaimana keadaan Ambar Alam dan berada dimana saat ini? "Sekarang marilah kita ke pondokku yang berada di balik bukit itu!" ajak si nenek. Perempuan cacat itu menepuk-nepuk pundak kedua monyet besar yang berjalan dengan kedua kakinya.

"Nguk! Ngrokk!"

Tiba-tiba saja kedua monyet itu berbalik dan berjalan cepat menuju pondok yang terdapat di balik bukit.

* * *

Dewa Sabrang bukan lagi pemuda lemah seperti lima tahun yang lalu di saat Sunan Bandi Suliwa membenamkan sebagian tubuhnya di salah satu gua sempit di daerah yang teramat tandus. Berkat pengalaman yang panjang pahit dan menyakitkan itu pula ia memperoleh kesaktian yang sungguh dapat diandalkan. Itulah jamur Dewa Sabrang. Walau pun untuk semua itu ia harus rela tubuhnya menjadi belang. Putih dan hitam.

Sekarang ia menjadi bingung ke mana hendak pergi. Mengasingkan diri untuk mencari ketenangan jiwa adalah sudah menjadi sumpahnya. Namun kehadiran pemuda berwajah tolol kekanak-kanakan itu telah mengusik jalan pikirannya. Reza Baiduri mungkinkah sekarang masih mengingatnya? Dewa Sabrang terduduk lesu di pinggir sebuah tebing yang sangat curam.

Kebimbangan?

Mengapa kini kau datang mengusikku lagi?

Padahal aku sudah menentukan sebuah jalan yang mendaki lagi sangat sulit

Jalan pilihan yang orang lain jarang menempuh-

nya Kini aku berada di persimpangan jalan... Aku bingung lagi untuk menentukan arah Resah, bingung, gelisah tegang menerjang Mana jalanku yang dulu??

Mana ???

"Engkau bingung tentang jalan hidupmu sendiri. Kau ketahuilah bahwa jalan hidupmu adalah ke neraka!" sahut sebuah suara.

Dewa Sabrang tersentak kaget. Ia memandang ke salah satu arah. Saat itu dilihatnya ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam berdiri tegak tidak jauh di depannya. Di punggungnya tergantung sebuah gunting berukuran sangat besar berwarna putih mengkilat karena ketajamannya.

"Kau siapa?" tanya Dewa Sabrang dengan mata setengah terpicing.

"Ha ha ha...! Sunan Bandi Suliwa sejak lima tahun yang lalu telah menugaskan aku dengan upah besar untuk mengawasi gerak-gerikmu. Sebenarnya sejak dulu aku sudah berniat membunuhmu. Karena aku terlanjur terikat janji untuk melihat penderitaanmu selama lima tahun itu. Maka aku, Hantu Pemenggal Kepala selalu menunggu. Ternyata sekarang aku melihat sesuatu yang sangat lain dalam dirimu. Separuh tubuhmu seperti singkong bakar. Sedangkan bagian lainnya seperti salju. Karena kau sudah terbebas sepenuhnya. Kini adalah tugasku untuk menghentikan langkahmu agar tidak mengganggu puteri Reza lagi." Jawaban Hantu Pemenggal Kepala membuat Dewa Sabrang belalakkan mata.

*** 6

"Kau bermimpi di tengah hari bolong, Hantu Pemenggal Kepala. Perlu kau ingat. Bagiku cinta manusia sudah tidak menjadi persoalan utama lagi. Satu hal yang patut kau pertanyakan. Aku tidak suka pemaksaan terjadi atas manusia lain. Kini arah langkahku berubah lagi, kaulah yang telah merubahnya. Jika aku kembali ke Parit Wolu, semata-mata hanya karena ingin minta tanggung jawab Sunan. Apa katamu tentang pernyataanku ini?"

"Silakan kau bawa mimpi-mimpimu itu ke dalam kubur! Kau segera tahu akibat yang harus kau tanggungkan!" kata laki-laki berumur lima puluhan ini. Ia mengacak-acak rambutnya yang lurus bagaikan ijuk. Disentakkannya kepala ke belakang dua kali.

Disertai dengan teriakan keras, Hantu Pemenggal Kepala hantamkan tinjunya ke dada Dewa Sabrang. Angin keras menderu, rambut Dewa Sabrang yang riap-riapan berkibar-kibar. Namun detik itu juga ia menggeser langkahnya ke samping. Setelah itu kepala dirundukkan, sikunya menyongsong ke depan. Maka terjadilah benturan sangat keras. Hantu Pemenggal Kepala terjajar mundur disertai seringai kesakitan. Dewa Sabrang lakukan sebuah gerakan cukup unik. Tangannya diangkat menutupi kepala, lalu ia melompat satu tendangan dilepaskannya.

Setelah merasakan besarnya tenaga dalam yang dimiliki oleh lawan. Hantu Pemenggal Kepala kali ini tampak menghindar. Kemudian ia bersalto di udara. Setelah itu tinju kirinya menghantam bahu si pemuda. Sesungguhnya Dewa Sabrang sama sekali tidak memiliki dasar-dasar ilmu silat. Sehingga ketika pukulan itu meluncur ke bagian tubuhnya ia tidak kuasa menghindar lagi.

Buuuk! "Heh...!"

Hantu Pemenggal Kepala kaget setengah mati. Pukulan yang dilepaskannya tidak membawa akibat apa-apa bagi lawannya. Sebaliknya tangan laki-laki itu kontan bengkak membiru.

"Gila! Darimana dia mendapatkan kekuatan seperti itu? Tubuhnya keras seperti karang. Padahal dulu menurut Sunan ia tidak mempunyai kesaktian apaapa?" desis sang Hantu dalam hati.

"Kaget, Hantu jelek? Kau tidak usah heran, satu lagi yang perlu kau ketahui, dibalik penderitaan pasti ada hikmahnya. Aku telah mendapatkan hikmah itu. Sekarang kau boleh menyerangku bagian mana saja yang kau suka. Tapi ingat, jika sampai sepuluh jurus dimuka kau tidak mampu mengalahkan aku. Tubuhmu akan kupatahkan menjadi empat bagian!" ancam Dewa Sabrang berapi-api.

"Bangsat! Hiyaa....!" teriak Hantu Pemenggal Kepala. Laki-laki berambut kaku ini tiba-tiba saja lepaskan pukulan 'Pemutus Raga Mencabut Sukma' salah satu pukulan yang tentu saja menjadi andalannya. Hanya dalam waktu yang teramat singkat, menggeletarlah sekujur tubuh Hantu Pemenggal Kepala. Kedua telapak tangannya sampai ke siku telah berubah menjadi hitam menebarkan asap tipis berbau sengit. Untuk diketahui, Hantu Pemenggal Kepala adalah seorang jagoan bayaran berasal dari daerah Pagar Alam. Ia juga memiliki kepandaian tinggi, terlebih-lebih dalam mempergunakan guntingnya.

Sekejab kemudian menderulah sinar hitam melabrak Dewa Sabrang. Pemuda itu segera mempergunakan tangannya untuk lindungi kepala. Sedangkan tangan lainnya yang telah  berubah memutih akibat pengerahan tenaga dalam langsung dikibaskannya ke depan.

Wuuut! Buum!

Terjadilah ledakan yang sangat keras, hingga membuat dua sosok tubuh terlempar jauh dari kalangan pertempuran. Hantu Pemenggal Kepala dengan cepat berusaha bangkit berdiri. Darah meleleh dari hidung dan sudut-sudut bibirnya. Dewa Sabrang sendiri tidak mengalami akibat apa-apa. Hanya wajahnya berselimut debu. Ia duduk bersila, matanya terpejam.

Menduga lawannya terluka dalam, maka Hantu Pemenggal Kepala yang sudah tahu kehebatan lawannya langsung mengambil gunting besar yang selalu tergantung di punggungnya.

Ckrek! Ckrek!

Suara angin disertai bunyi gunting yang mengatup dan membuka terdengar jelas. Namun sama sekali Dewa Sabrang seakan tidak menghiraukan bahaya yang mengancamnya.

Craak! Craak!

Ketika gunting maut itu menghantam leher dan bagian tubuh lain Dewa Sabrang. Tidak sedikitpun senjata itu mampu melukai lawannya. Hantu Pemenggal Kepala melompat mundur saking kagetnya. Di saat belum lagi hilang kecut di hati laki-laki itu, Dewa Sabrang sudah lepaskan pukulan menggeledek ke arah Hantu Pemenggal Kepala.

Orang ini mencoba selamatkan diri. Ia berguling-guling menjauhi sinar hitam putih yang menghantam dirinya. Namun dengan cepat sekali pukulan jarak jauh itu meluas. Hingga tidak urung Hantu Pemenggal Kepala terhantam pukulan yang dilepaskan oleh lawannya. "Haaakh!"

Hantu Pemenggal Kepala terkapar. Luka yang dideritanya memang cukup parah. Dewa Sabrang tersenyum sinis, menghampiri lawannya dengan langkah satu-satu.

Tangan pemuda itu mencengkeram leher lawannya. Sekali sentak, maka berdirilah Hantu secara paksa.

"Setan! Kau pandanglah mata dan wajah ku baik-baik. Kau lihatlah!" seru Dewa Sabrang. Dengan bersusah payah Hantu Pemenggal Kepala membuka matanya, memperhatikan wajah Dewa Sabrang dengan perasaan kecut.

"Bukankah kau lihat sisa-sisa penderitaanku! Agar kau dapat mengetahuinya, seperti ini rasanya!" dengus Dewa Sabrang. Seraya mencengkeram rambut Hantu Pemenggal Kepala. Tiba-tiba saja kedua tangannya sama bergerak dan....

Kraak! Kraak! Kraak! "Akrrrkh !"

Terdengar sebuah jeritan yang sangat mengerikan. Tubuh Hantu Pemenggal Kepala patah menjadi tiga bagian. Matanya melotot, darah menyembur dari mulut laki-laki itu tiada henti. Ketika Dewa Sabrang mencampakkan tubuh lawannya. Maka tidak terlihat adanya gerakan lagi. Hantu Pemenggal Kepala tewas penasaran.

"Aku telah membunuh, puah!? Inilah pembunuhan pertama yang kulakukan. Apa mungkin aku dapat berhenti dari membunuh? Ini adalah awal, mungkin baru akan berakhir setelah aku dapat mematahkan kepala Sunan Bandi Suliwa!" desis Dewa Sabrang, wajah pemuda itu semakin bertambah murung.

* * * Sunan Bandi Suliwa jelas menjadi gusar ketika melihat kenyataan bahwa putrinya dan Puteri Kilat Bayangan sang keponakan melarikan diri. Lebih gusar lagi, karena ada orang lain yang ikut ambil bagian dalam pelarian itu sebagaimana penjelasan pengawal yang sempat ditotok oleh Bayangan Biru. Tidak kalah geramnya, Kala Demit maupun Macan Terbang. Lebih panik lagi Sidra Gagap dan Randu Walang. Mereka tidak hentinya, menjerit atau meraung seperti orang gila.

Patut dimaklumi, baik Sidra Gagap maupun Randu Walang adalah pemuda jelek dan punya kesialan pula. Kesialan itu berupa penyakit gagap, sedangkan yang satunya lagi kudisan dan kepala botak pula. Sedangkan kedua gadis yang akan menjadi calon isteri adalah gadis-gadis cantik. Bukan gadis kampungan yang hanya dengan memandangnya langsung kenyang. Puteri Kilat Bayangan sangat aduhai dan memikat. Itu calon pasangan Randu Walang yang botak kudisan. Sedangkan puteri Reza Baiduri cantik pula, walau matanya memang tidak memancarkan pesona tinggi.

Yang mereka khawatirkan, bagaimana seandainya kedua gadis itu diperistri oleh Bayangan Biru yang telah membawa lari mereka. Sebaliknya Sunan Bandi Suliwa lain lagi. Ia menyangka yang melarikan puterinya tentu Ambar Alam kekasih puterinya ia hukum pendam selama lima tahun di gua sempit. Padahal sampai sekarang ini Hantu Pemenggal Kepala yang dipercaya mengawasi gerak-gerik Ambar Alam tidak muncul juga.

"Kita tidak bisa berpangku tangan lebih lama. Sekarang ini harus ada kerjasama di kedua belah pihak agar kita dapat menemukan puteriku dan juga keponakan murtad itu!" berkata Sunan Bandi Suliwa sambil berusaha menekan kemarahannya. Laki-laki kurus ceking berwajah kelimis tersenyum, tokh senyumnya tidak dapat memendam kegelisahan hatinya.

"Pemuda yang melarikan kedua puteri itu benar-benar anak setan yang sudah bosan hidup, sobat Macan Terbang. Apa benar kau pernah bertemu dengan pemuda gendeng itu?"

"Benar. Dia bahkan sempat membunuh salah seorang anak buahku ketika aku melakukan perjalanan ke sini." sahut Macan Terbang. Ia kemudian menjelaskan ciri-cirinya secara terperinci. Penjelasan Macan Terbang membuat kening Kala Demit menggerimit dalam. 

"Rambutnya, tampangnya rasanya tidak salah. Dua puluh tahun yang lalu aku menginginkannya. Tidak kusangka bibit bencana itu sekarang sudah menjadi biang penyakit yang cukup berbahaya. Bagaimana pun aku harus menemukan cara untuk melenyapkannya!" pikir Kala Demit. Untuk lebih jelasnya bacalah (Dalam episode Neraka Gunung Bromo & BayangBayang Kematian).

"Apa jawabmu sahabat Kala Demit?" tanya Sunan Bandi Suliwa seakan bosan menunggu.

Kala Demit usap-usap jenggotnya. "Muridku dan putera Macan Terbang sebaiknya bergabung dan sama-sama melakukan pencaharian. Sedangkan aku dan Macan Terbang mencari mereka bersama-sama, kurasa Sunan sendiri sebaiknya membawa sebagian pengawal untuk menelusuri tempat-tempat yang kita anggap mencurigakan. Sekitar tiga hari lagi kita berkumpul di sini. Apapun hasilnya!"

"Aku setuju sobat Kala Demit. Kalau mau berangkat, sekaranglah waktunya bagi kita!" ujar Sunan Bandi Suliwa seakan tidak sabar. Siang hari itu juga berangkatlah tiga rombongan yang telah disepakati ini. Mereka sama-sama menunggang kuda. Sidra Gagap dan Randu Walang bergerak mencari kedua putri yang melarikan diri dengan disertai oleh seluruh anak buah ayahnya Macan Terbang. Masing-masing menempuh jalan yang berbeda. Ini dimaksudkan agar pencaharian tidak berlangsung lama.

* * *

Senja hari, pemuda rambut hitam kemerahan duduk di atas sebuah pohon yang sangat tinggi. Tatapan matanya memandang jauh pada hamparan gunung Kendeng yang menjulang tinggi. Lalu di tengahtengah semilirnya angin senja yang sepoi-sepoi menyejukkan. Pemuda itu melantunkan lagu-lagu yang tidak jelas dan kurang teratur. Terkadang suaranya melengking tinggi meledak-ledak seperti suara monyet yang berteriak. Atau di lain waktu berubah pelan mendayu-dayu, kemudian berubah sangat pelan tidak terdengar, tidak bedanya seperti orang yang berkemakkemik membaca doa.

Setelah letih menyanyi si pemuda garuk-garuk kepala. Melihat ke bagian lain dari atas pohon itu, terdapat sebuah sungai berair jernih. Bahkan dari atas pohon Pendekar Blo'on dapat melihat adanya ikan yang sedang bermain-main.

"Terbit seleraku bila memandangmu. Tapi... akh...!" Si konyol garuk-garuk kepala. Wajahnya berubah murung. "Yang satu ini sangat lain. Sudah sering kulihat gadis cantik, yang hitam manis, yang kuning langsat. Yang hitam macam pantat kuali, yang umitumit, eeh... yang imut-imut. Yang besar pantatnya, yang kempes dadanya. Yang besar dadanya kempes di pantat. Semua itu adalah keindahan, tapi yang satu ini lain sekali. Begitu ketemu jantungku langsung serseran, melihat wajahnya hatiku bergetar. Belum pernah aku seresah ini. Mungkin inilah yang rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Semestinya aku tidak meninggalkan mereka. Uhh... nenek jelek kaki buntung itu membuat aku kesal. Apakah aku harus kembali ke sana?" Suro jadi ragu-ragu.

Tokh keragu-raguan itu tidak berlangsung lama. Suro memutuskan untuk kembali menjumpai puteri Reza dan Puteri Kilat Bayangan di lereng bagian selatan gunung Kendeng. Sementara itu puteri Reza secara diam-diam rupanya meninggalkan Nini Suri Pamungkas dan juga kakak misannya. Gadis ini masih penasaran dan tetap ingin mencari Pendekar Blo'on yang dianggapnya memang mengetahui di mana Ambar Alam berada. Karena sejak kecil gadis berbaju putih ini memang tidak pernah pergi kemana-mana.

Tentu saja suasana di daerah pegunungan yang ditumbuhi hutan lebat cukup membingungkannya. Ia pun tersesat.

"Kemana perginya pemuda geblek itu?" Puteri Reza menggumam seorang diri. "Hutan di lereng gunung ini sangat luas sekali. Eeh... aku seperti mendengar suara langkah-langkah kuda kemari!" Gadis berbaju putih tercekat. Dalam keadaan bingung seperti itu terlintas dalam benaknya untuk bersembunyi. Namun apa yang hendak dilakukannya terlambat. Karena si penunggang kuda telah melihatnya.

"Kurang ajar. Si gagap itu rupanya mencariku!" Karena melihat tidak ada kesempatan lain. Ma-

ka puteri Reza berlari selamatkan diri.

"A-a-aku... calon suamimu. Meng-meng-apa takut." kata Sidra Gagap dengan suara terbata-bata. Tiba-tiba ia melompat dari punggung kudanya. Dikejarnya puteri Reza yang sekarang sudah berada di pinggir sungai. "Pergi kau dariku pemuda goblok!" teriak gadis itu ketakutan. Karena Sidra Gagap terus mengejarnya. Maka akhirnya puteri Reza melompat ke sungai. Pakaiannya jadi basah sehingga bagian-bagian tubuhnya yang indah itu terlihat dengan jelas. Sungai itu ternyata hanya sedalam betis saja. Sidra Gagap gemetar tubuhnya. Seraya leletkan lidah begitu melihat kain yang membalut pinggul si gadis tersingkap sampai sebatas pertengahan paha. Melihat kaki yang halus mulus ini. Sidra Gagap jadi tergoda. Ia melompat ke sungai.

"Ak-aku... ja-jadi tidak sabar menunggu malam per-pertama. Ka-u calon isteriku. Se-se-sekarang dan nanti sama saja...!" kata si gagap. Puteri Reza merontaronta di saat pemuda berwajah angkuh itu memeluknya. Sidra Gagap ternyata semakin kurang ajar saja. Ia meremas-remas dada sang puteri yang membayang ketat di balik pakaiannya yang basah.

"Ki-kita bersenang-senang... ti-ti-tidak ada yang melihat. Hanya kita saja berdua...!" desis si pemuda sementara tangannya tiada henti meraba-raba kian kemari.

Selain bertambah kecut gadis ini tentu marah bukan main. Disayangkan puteri Reza memang tidak memiliki kepandaian apa-apa. Ia hanya menjerit-jerit di saat Sidra Gagap mencopoti kancing pakaiannya dan menarik lepas kain yang membalut tubuhnya. Gadis itu benar-benar dalam keadaan setengah telanjang. Si gagap melototkan matanya melihat keindahan di depannya. Nafsu kelakiannya terbangkitkan.

*** 7

Dipeluknya puteri Reza erat-erat, ia menciumi wajah sang puteri. Dari wajah beralih ke leher, dari leher Sidra Gagap memberanikan wajahnya di antara kedua bukit kembar sang puteri. Gadis ini menjeritjerit ketakutan. Terlebih-lebih lagi ketika Sidra Gagap tanpa melepaskan pelukannya langsung melucuti pakaian sendiri. Terakhir ditariknya secara paksa penutup bagian terlarang milik si gadis.

Sidra Gagap memang tidak ubahnya binatang jalang yang liar. Ia terus berusaha menerobos kesucian si gadis secara paksa. Namun hal itu tentu saja tidak mudah dilakukannya. Karena puteri Reza berusaha mempertahankan kehormatannya dengan cara merapatkan   kedua   kakinya. Didera oleh luapan nafsu yang meledak-ledak. Tentu saja lama-kelamaan Sidra Gagap menjadi tidak sabar. Ia berusaha menguakkan kedua kaki si gadis dengan paksa. Sehebat-hebatnya tenaga perempuan. Lama kelamaan melemah juga. Kedua kaki si gadis akhirnya merenggang. Sidra melihat hal ini langsung menyusup di antara kedua kaki mangsanya.

Namun kelihatannya nasib baik memang masih berpihak pada puteri Reza. Karena pada waktu itu terasa ada angin dingin berkesir, sosok Bayangan Biru berkelebat. Sedetik kemudian terdengar Suara jeritan Sidra. Tubuhnya terpelanting ke belakang, beberapa buah rambutnya jebol. Di belakangnya terdengar suara nyanyian tidak menentu persis orang yang memakimaki. Melihat dirinya yang dalam keadaan telanjang bulat itu. Puteri langsung menyambar sebagian pakaiannya yang hanyut. Lalu dengan sekenanya ia menutupkan kain dan baju ke bagian-bagian yang bertonjolan.

Sidra Gagap sendiri jadi kaget. Ia pegangi kepa-

lanya. Ternyata ada yang botak. Pada bagian yang botak meneteskan darah. Artinya seseorang telah menarik rambutnya hingga bagian kulitnya ikut tersobek. Sakit bukan main rasanya, nafsu bejadnya sontak menjadi lenyap. Puteri Reza langsung bersembunyi ke tempat yang aman. Sedangkan Sidra Gagap berdiri, memutar-mutar dan langsung menghadap ke pinggir tebing. Di sana ternyata telah berdiri seorang pemuda berpakaian serba biru berwajah ketolo-tololan, sedangkan tatapan matanya angker menyorotkan amarah. 

"K-k-kau sia-apa, monyet be-be-berani mencampuri urusan orang lain!" bentak Sidra dengan suara tergagap-gagap. Si baju biru yang tiada lain adalah Suro Blondo mendengus sinis. Ulah si gagap ini telah dilihatnya tadi di atas pohon. Bahkan kedatangannya juga sudah diketahuinya. Tanpa memberi jawaban, Suro menendang sebuah batu kerikil. Batu meluncur lurus persis ke tengah-tengah selangkangan Sidra Gagap. Si pemuda gagap saking kagetnya rupanya masih belum merasa saat itu ia sedang tidak berpakaian.

Takkk!

Batu kerikil langsung menghantam batang anunya yang cukup besar dan mulai mengempis. Karuan saja Sidra menjerit kesakitan sambil jejingkrakan. Ia menggerung, mendekap sambil memegangi perutnya yang mulas. Batang anunya bengkak membiru, salah satu telurnya juga biru, mungkin juga pecah.

"Aduh biyung... sakitnya... keparat! Anak setan, tol-tolol, sontoloyol" Sidra memaki-maki. Anunya semakin bertambah bengkak saja. Suro tertawa bekakakan. Bibirnya termonyong-monyong, sedangkan tangan kiri garuk-garuk rambut di atas kuping. "Bicaramu saja masih tidak lempang! Kau pikir aku kepincut melihat anumu yang item itu? Pakai dulu pakaianmu, jika kau masih penasaran aku menunggumu di sini!" dengus Pendekar Blo'on sinis.

Sidra sama sekali tidak menyahuti. Ia segera memakai pakaiannya. Selesai berpakaian ia melompat ke bibir sungai.

"Bunuh manusia keparat itu, Suro!" teriak puteri Reza dengan penuh kebencian.

"Jangan khawatir. Dia pasti menerima ganjaran setimpal dariku!" sahut Suro. Sidra menunjuk-nunjuk Suro dengan berangnya. Matanya melotot, lidahnya terjulur seperti anjing. Rupanya inilah puncak kemarahan si pemuda.

"Kk... kau tel-lah merusak, kes !"

"Keselo...!" Suro menyambuti. Lalu tawanya kembali terdengar.

"Ja-jahanam! Gur... gur-uku, pasti tidak aaakan ting-ting !"

"Tinggi hati!" Lagi-lagi Suro menyahuti Mendapat ejekan sedemikian rupa, semakin ka-

laplah Sidra Gagap. Kemarahan itu ditindihnya. Ia berusaha bicara sebaik mungkin.

"An-anak Setan! Kau telah melarikan calon is-

is...!"

"Istana surgamu! Gila betul. Bicara saja kau ti-

dak becus! Sekarang katakan padaku siapa gurumu!?" dengus Suro tidak sabar.

"Hh... ha ha ha...! Gur-guruku Kala Demit. Tampangmu yang konyol itu pasti akan dibuatnya hancur!" teriak Sidra Gagap penuh rasa percaya diri.

Wajah pemuda bertampang ketolol-tololan itu berubah kelam seketika. Sekujur tubuhnya menggeletar. Matanya melotot seakan baru saja melihat gelegar halilintar di siang bolong. Ketika pemuda ini tertawa, maka tawanya kini terasa lain, berubah menyeramkan dan mendirikan bulu roma. Suro acungkan tinjunya ke udara, kemudian terdengar siulan panjang tidak teratur.

"Ha ha ha! Kala Demit! Sebuah nama jahanam yang terukir di dalam kalbuku. Sembilan buah huruf yang tidak pernah terhapus dari dalam kepalaku! Bertahun-tahun aku mencarinya. Dia adalah satu dari Sepasang Iblis Pegat Nyawa yang terdaftar dalam buku lembaran yang paling hitam. Kau muridnya? Ha ha ha...! Jika semula aku punya rencana bagus untukmu, maka kini rencanaku lain lagi. Sebentar lagi kau berada dalam genggamanku, Kala Demit harus datang kepadaku untuk menyerahkan nyawa busuknya!" jerit Pendekar Blo'on.

"Ka-kau siapa?" tanya Sidra Gagap sinis.

"Agar kau tidak semakin gagap penasaran. Ketahuilah bahwa aku adalah anak yang kedua orang tuanya terbunuh pada malam satu Asyuro di lereng gunung Bromo. Gurumu adalah salah seorang dari tiga pembunuh orang tuaku. Kau dengar? Gurumu pembunuh orang tuaku!" jawab murid Penghulu Siluman Kera Putih dan murid Malaikat Berambut Api tegas.

Sebagai seorang murid, tentu saja Sidra pernah mendengar tentang apa yang dikatakan oleh pemuda itu dari gurunya. Namun sekarang ia menjadi heran sendiri setelah melihat pemuda yang waktu kecilnya jadi rebutan. Pemuda bertampang goblok itu bagaimana menjadi pusat perhatian dan rebutan para tokoh? Bahkan mereka rela saling berbunuhan untuk mendapatkannya. Padahal Sidra merasa yakin, otaknya pasti tidak lebih cerdik dari otak keledai.

"Ja-jadi kau-lah orangnya yang dimak-sudkan oleh guruku! Kebetulan sekali, kesalahanmu sudah tumpuk undung padaku. Jika aku meringkusmu, tentu aku dapat tunjuk-kan pada guru, bahwa dia dulu telah memperebutkan bu-bualan pertapa gila! Huh... mampus!" teriak Sidra Gagap.

Bibir Sidra membulat kecil, seraya lalu meniup dengan keras. Dari dalam mulutnya melesat lima buah jarum berwarna putih mengkilat. Jika saja Suro tidak awas sejak tadi, pasti mata dan wajahnya sudah ditancapi senjata-senjata rahasia milik lawan. Suro menjatuhkan tubuhnya lalu terus berguling-guling. Gerakan yang dilakukannya itu bukan menjauh, melainkan mendekati lawan, lalu kakinya menendang.

Des!

Sidra Gagap meraung keras. Tinjunya kanan kiri menghantam dada dan muka Suro dengan telak. Ia merasa yakin pukulan itu pasti tidak meleset. Apalagi kelihatannya lawan merasa kesulitan untuk menghindar, setengah jengkal lagi serangan mengenai sasaran. Suro menarik tubuhnya ke belakang dengan gerakan setengah berjingkrak. Lalu ia melompat, kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Begitulah yang dilakukan berulang-ulang. Tidak satu pun serangan gencar Sidra yang mengenai sasaran.

"Huk! Nguk! Nguk!" Untuk beberapa saat lamanya itulah yang dilakukan Suro secara terus menerus. Tingkahnya memang hampir sama dengan gerak seekor monyet yang menari-nari. Terkadang sambil menghindar ia garuk-garuk kepala, garuk hidung atau menggaruk punggungnya. Di dalam kesempatan lainnya seraya melompat dengan kaki ditekuk. Kakinya melesat...

Wuuk!

Sidra Gagap melompat, serangan luput. Di saat Suro sedang berjumpalitan di udara. Sidra membarenginya dengan pukulan telak.

Buuk! "Hukh!"

Ketika menjejakkan kakinya di atas tanah, Suro langsung terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya.

"Kau segera mampus, pemuda setan! Pukulan 'Mendobrak Benteng Membunuh Setan' tidak bisa dianggap main-main!" desis Sidra kata-katanya agak lancar.

"Setan jelek tidak becus bicara! Besar juga kau punya mulut! Huh...!" Suro tiba-tiba saja berjongkok, lalu segera menerjang ke depan. Namun sungguh sial, belum lagi ia mencapai sasaran, Sidra sudah melepaskan pukulan jarak jauhnya.

Hawa panes bergulung-gulung menyambar wajah Suro. Pemuda itu meraung keras, lalu membanting tubuhnya ke kiri.

Buumm!

Terlihat sebuah lubang sangat besar ketika ledakan itu terjadi. Suro leletkan lidah. Wajahnya masih terasa panas, ia bangkit berdiri. Mulutnya pletat-pletot, sekejap kemudian murid Penghulu Siluman Kera Putih ini dorongkan kedua tangannya. Angin kencang menderu, hawa dingin menghampar disertai sinar putih bagaikan salju. Sidra Gagap merasa pukulan susulan yang dilepaskannya membalik. Ia berusaha mempertahankan diri dengan melipat gandakan tenaga dalamnya. Tubuhnya malah tergetar, kakinya terseret-seret.

"Aaak...!"

Sidra terguling-guling. Ia terkapar dengan mulut menyemburkan darah. Suro tersenyum sinis, dengan cepat ia menghampiri lawannya. Begitu dekat ia bermaksud mencengkeram baju lawannya. Diluar dugaan Sidra menghantamkan kebutan ke dada Suro.

Prat!

Pendekar Blo'on memekik kaget. Ia terhuyung mundur, dadanya meneteskan darah. "Penipu licik! Kau akan tahu rasa nanti." desis si pemuda disertai seringai kesakitan.

"Ha ha ha! Ka-ka-u ternyata memang Pendekar Goblok!" sahut Sidra Gagap sambil mengibasngibaskan kebutan di tangannya.

"Ya... mungkin saja aku goblok. Tapi kau, hahaha...! Manusia sinting yang mesti ku potong lidahnya!"

Pendekar Mandau Jantan acungkan tinjunya ke depan. Tinju itu diputar-putarnya. Dengan mempergunakan jurus "Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor', pemuda ini langsung melabrak lawannya. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh Suro memang sangat cepat di samping mengandung tekateki yang sulit dipecahkan. Suatu saat tinju Suro menderu disertai tendangan kaki. Melihat serangan yang datang secara bersamaan. ini. Tentu Sidra segera berjumpalitan ke belakang. Tapi ternyata Suro merubah gerakannya, ia berputar ke arah lawannya bergerak. Sesekali terdengar suara lolongan panjang. Ketika Sidra menjejakkan kakinya. Tentu pemuda gagap ini jadi kaget karena lawan ternyata Suro telah berada di belakangnya. Dengan tangan terkepal dihantamnya wajah Sidra.

Dieng!

Pukulan keras itu laksana palu godam menghantam kepala. Sejuta bintang bertaburan di mata Sidra Gagap, kepalanya mendadak sontak jadi pusing. Selagi ia sempoyongan, Suro melompat, tangannya bergerak cepat.

Breet!

Senjata itu pun berpindah tangan. Serta merta gagang kebutan digetokkan lagi ke kepala Sidra Gagap. Kepala pemuda itu pun benjol-benjol. Ia jatuh terduduk. Melihat pemuda itu dalam keadaan tidak berdaya, maka puteri Reza berlari menghampiri, lalu lepaskan tendangan bertubi-tubi dengan tenaga kasarnya.

"Sudah biarkan saja!" Suro Blondo mencegah. "Bunuh dia!!" perintah si gadis. Suro gelengkan kepala. mata. "Kau membelanya?" Puteri Reza belalakkan "Kau salah, puteri. Ketahuilah. Guru pemuda sableng ini adalah orang yang kucari-cari selama ini. Kala Demit telah membunuh ayah dan ibuku di gunung Bromo. Jika dia kubunuh, maka aku kehilangan kesempatan untuk menagih hutang nyawa. Sekarang aku punya rencana!" Tiba-tiba saja Suro menotok Sidra Gagap. Lalu lanjutkan ucapannya. "Nenek kaki buntung itu kulihat punya dua ekor monyet. Rencanaku bagaimana jika kita sandingkan dia dengan monyet-monyet itu di atas pelaminan. Ha ha ha...!"

"Nenek itu pun punya rencana yang sama dengan rencanamu! Aku setuju saja, walau pun sebenarnya aku muak melihat tampangnya!"

"Untuk itu kita jangan buang-buang waktu. Mari!" Suro memanggul Sidra di bahunya. Setelah itu mereka berjalan melewati semak belukar yang terdapat di sekelilingnya.

* * *

"Reza hanya membuat urusan jadi tertundatunda. Jika ia sampai ketahuan ayahnya atau calon suaminya. Tentu masalahnya semakin gawat. Kasihan sekali nasibnya. Gunung Kendeng ini sangat luas, dimana aku harus mencarinya?" pikir gadis baju hijau. Puteri Kilat Bayangan akhirnya berlari-lari menelusuri lereng gunung di sebelah barat.

"Rasanya tidak mungkin dia berada di sekitar tempat ini. Heh, aku melihat semak-semak belukar di sebelah sana bergerak-gerak." kata Puteri Kilat. Ia kemudian memanggil-manggil adik misannya itu. Namun sampai suaranya serak tetap tidak ada sahutan.

"Puteri Reza...!!" teriaknya berulang-ulang. Karena tetap tidak ada jawaban, maka Puteri

Kilat Bayangan mendekati semak-semak yang dicurigainya. Setelah menyelidik kian kemari, ternyata ia tidak melihat siapa-siapa di situ. Gadis ini lama kelamaan menjadi kesal juga.

"Heh, ada kuda di sini? Kuda milik siapa?" Gadis baju hijau tersentak kaget. "Bukankah ini kuda milik paman. Aku merasa seperti ada beberapa pasang mata mengawasiku!" Puteri Kilat Bayangan merasa tidak enak. Ternyata dugaannya memang tidak meleset, sebab tidak lama bermunculan beberapa orang lakilaki dari balik semak belukar. Orang-orang bertampang angker ini langsung mengurung si gadis.

"Ha ha ha...! Kalau memang sudah jodoh, kemana pun kau pergi akhirnya kami temukan juga!" kata sebuah suara.

"Keparat! Bukankah itu suara Randu Walang?" desis Puteri Kilat Bayangan kecut.

***

8

Ternyata setelah terlihat dengan jelas, memang Randu Walang dan beberapa orang anak buahnya yang telah mengepung Puteri Kilat Bayangan. Salah seorang diantaranya adalah laki-laki berkuping tunggal yang tempo hari berhadapan dengan Pendekar Blo'on dan hampir saja menjadi sasaran goloknya sendiri. "Calon isteriku, mengapa kau tega-teganya melarikan diri dariku. Apakah kau tidak suka padaku?" tanya Randu Walang. Pemuda yang sekujur tubuhnya di penuhi penyakit kurap itu tiada hentinya menggaruk-garuk sekujur tubuhnya. Apalagi ketika itu panas sedemikian teriknya, sehingga tubuhnya yang keringatan membuat penyakit kurapnya semakin menjadijadi.

"Orang jelek kudisan. Terus terang aku memang tidak suka padamu. Kurasa kambing congekan pun tidak sudi menjadi isterimu. Sebaiknya kau urus penyakit menjijikkan yang menghinggapi tubuhmu. Jangan coba-coba membujukku. Sekali pun tidak terlintas dalam pikiranku untuk berumah tangga. Seandainya aku punya keinginan nanti, tentu bukan dengan dirimu!" bentak Puteri Kilat Bayangan sinis.

Jawaban ini tentu saja membuat Randu Walang merasa terhina. Apalagi anak buahnya yang berkuping sebelah.

"Anak ketua, sebaiknya serahkan saja urusan perempuan ini kepada kami. Kalau sudah kena diringkus tentu dia tidak akan banyak tingkah lagi...!"

"Ha ha ha! Tentu saja gadis ini menjadi bagianmu untuk menaklukkannya. Tapi ingat, kau tidak boleh menyakitinya, bahkan membuat lecet tubuhnya sedikit pun tidak boleh!" sahut Randu Walang.

Begitu mendapat aba-aba, Jalak Abang dan lima orang anak buahnya langsung mengurung si gadis Secantik bidadari ini. Kelima laki-laki berbadan tegap yang di dadanya terdapat tatto bergambar harimau besar ini Secara bersamaan mencengkeram lawannya. Gerakan mereka cepat sekali. Bahkan lebih cepat dari dugaan Puteri Kilat Bayangan.

Wuus!

Lima buah tangan  laksana setan gerayangan menjamah bagian-bagian tubuh si gadis. Gadis baju hijau memaki-maki dalam hati. Tiba-tiba saja secepat kilat tubuhnya melesat ke udara sambil lepaskan tendangan memutar.

"Hiyaa...!"

Spontan kelima laki-laki itu menarik pulang tangannya. Tendangan kilat itu hanya membeset udara. Selagi Puteri Kilat berputar-putar di atas kepala lawan-lawannya. Maka dua diantara penyerangnya juga melompat ke udara.

Tindakan mereka yang nekad itu di sambut oleh gadis baju hijau dengan hentakan kedua tangannya.

Bukk!

Walau pun serangan kilat yang dilakukan oleh Puteri Kilat Bayangan kelihatan pelan. Namun akibatnya sungguh sangat luar biasa sekali. Kedua laki-laki itu seperti dibanting gajah. Mereka menggeliat, kawankawannya langsung menyerbu. Kini mereka sudah mulai mengeluarkan jurus-jurus harimau yang sangat berbahaya sekali.

Gadis baju hijau tersenyum mencibir. Tiga lakilaki langsung menerkam Puteri Kilat. Sesuai dengan julukannya, gadis ini cepat sekali berkelebat. Tahutahu lawannya menghantam angin. Si gadis memutar tubuhnya, kedua tangannya menderu. Kiri kanan menghantam dada lawan.

Buk! Buuk! "Wuakh...!"

Kedua orang ini terpelanting roboh, tulang rusuknya patah dan mereka menjerit-jerit kesakitan. Puteri Kilat Bayangan tidak memberi kesempatan lagi. Sekali lompat ia sudah menginjak perut kedua laki-laki itu hingga mata mereka melotot. Melihat keganasan si gadis Jalak Abang dan dua orang kawannya cabut senjata. Mereka sudah tidak menghiraukan teriakan Randu Walang yang khawatir gadis baju hijau menjadi sasaran senjata.

"Jalak Abang jangan lukai dia. Calon isteriku jangan sampai lecet! Awas aku potong kupingmu jika sampai calon isteriku terluka!"

Wut! Wut!

Tiga buah golok menderu, membelah, mencincang, menebas dan membabat tubuh lawannya. Puteri Kilat Bayangan tidak bedanya dengan seekor burung walet. Berkelebat kian-kemari, menyambar atau terkadang menerobos ke pertahanan lawannya.

Tapi pertahanan Jalak Abang dan dua kawannya cukup kokoh juga. Tubuh mereka diselubungi sinar golok yang berwarna putih bagaikan bintangbintang yang bertaburan.

"Bunuh!" teriak Jalak Abang prustasi.

"Jalak Abang! Kau berani melawan kehendakku! Jika gadis itu terbunuh, kepalamu nanti akan menjadi gantinya. Tidak cukup itu saja, anak binimu juga akan kubunuh semuanya!"

Maka pucatlah wajah Jalak Seta ketika diingatkan tentang anak isterinya. Ia menjadi ragu-ragu untuk melampiaskan keinginannya, justeru kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh Puteri Kilat Bayangan. Si gadis lepaskan pukulan 'Bidadari Kilat Halilintar'. Kedua tangannya diadu satu dengan yang lainnya. Terdengar ledakan dahsyat, sinar merah kuning dan biru bertebaran bagai bunga api.

Jalak Abang terbelalak matanya, serangan lawan yang datang secara tiba-tiba itu tidak mungkin dielakkannya. Maka golok di tangan langsung diputarnya. Lima larik sinar melabrak tubuhnya, golok langsung leleh, Jalak Abang terpaksa lepaskan senjata sambil menjerit-jerit. Praktis ia tidak memiliki pelindung apa-apa.

Bum! Buum!

Jeritan keras laksana merobek langit. Jalak Abang tubuhnya terbelah menjadi empat bagian. Sungguh mengenaskan keadaan laki-laki ini. Sedangkan kedua kawannya juga mengalami nasib sial. Sebagian pukulan Puteri Kilat Bayangan mengenai mereka. Sungguh pun tubuh orang-orang ini tidak tercerai berai. Namun nyawa mereka tidak terselamatkan lagi.

Puteri Kilat Bayangan membalikkan tubuhnya, memandang pada Randu Walang dengan tatapan mata sinis. Pemuda itu tercekat, hanya dalam waktu belasan jurus saja semua anak buah ayahnya sudah terkapar tanpa nyawa. Hal-hal seperti ini sangat jarang terjadi, sama sekali ia tidak menyangka gadis itu mempunyai kepandaian tinggi. Saking bingungnya Randu Walang garuk-garuk koreng di sekujur tubuhnya.

"Kau mengapa bertindak kejam begitu, calon isteriku!" desis Randu Walang kecut.

"Hei... botak kurapan, jangan lagi kau sebut aku calon isterimu jika tidak ingin mampus!" dengus si gadis sengit. Memang sejak pertama bertemu dengan pemuda ini sedikit pun tiada rasa simpati di hatinya. Malah kebenciannya meledak-ledak. Benci botaknya, benci kurapnya, pokoknya benci segala-galanya.

"Kau... mengapa begini galak. Apa kau ingin agar aku bertindak kasar padamu...?" bertanya Randu Walang disertai senyum terkekeh-kekeh.

"Hi hi hi...! Kau rupanya masih belum tahu siapa aku! Jika kau mampu menangkapku, mungkin aku bersedia mempertimbangkan permintaan gilamu. Mungkin juga aku bersedia tidur denganmu, dengan syarat kau bisa menangkapku!" kata Puteri Kilat Bayangan berbohong. "Tapi jika sepuluh jurus di depan kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau akan kujodohkan dengan monyet milik nenekku!"

"Tawaranmu sangat mengesankan hatiku, calon isteriku. Jangankan cuma menangkap, membelai dan memeluk pun aku sanggup. Ayolah aku sudah tidak kuat lagi menahan keinginanku!" desis Randu Walang, kata-katanya bernada mesum.

"Orang gila! Hiya...!" teriak Puteri Kilat Bayangan. Berhadapan dengan Randu Walang tentu saja si gadis tidak mau bersikap untung-untungan. Ia mengeluarkan segenap ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Sebaliknya Randu Walang karena terdorong keinginan nafsunya yang meledak-ledak segera berusaha menangkap gadis baju hijau.

Tidak heran bila pertempuran itu sekejap saja sudah menjadi sengit luar biasa. Pada dasarnya Randu Walang adalah pewaris tunggal jurus-jurus Macan Terbang milik ayahnya. Tidak heran jika serangannya lebih berbobot dan sangat berbahaya sekali.

"Haiit! Kena...!" teriak Randu Walang dengan gerakan orang memeluk.

Set!

Secepat kilat gadis baju hijau telah melesat ke samping. Randu Walang memeluk angin. Ia meludah dan memaki kegagalannya sendiri. Tiba-tiba saja si pemuda botak silangkan kedua tangannya di depan dada.

Tubuhnya sebentar saja sudah menggeletar, dari ubun-ubunnya yang gesang mengepul kabut tipis berwarna merah. Mulutnya meraung seperti jeritan harimau. Kaki kanan kemudian ditarik ke belakang, sedangkan kedua tangannya kini secara serentak bergerak ke samping ditarik ke belakang, kemudian didorong ke depan. Setiap gerakan apapun yang dilakukannya selalu menimbulkan desir angin yang sangat panas sekali. Lalu... Graaung!

Satu sentakan yang disertai dengan gerakan kaki membuat tubuh Randu Walang melesat laksana terbang. Cengkeramannya terarah pada bagian batok kepala Puteri Kilat. Gadis baju hijau melihat betapa berbahayanya serangan ini. Ia menjatuhkan punggungnya. Kaki terangkat dan menghantam dada Randu Walang. Pemuda ini memekik keras, sepuluh jurus hanya dalam waktu singkat telah terlewati. Sejauh itu pemuda kurapan masih belum dapat menyentuh tubuh Puteri Kilat Bayangan. Maka bertarunglah mereka tanpa memakai peraturan lagi.

"Gadis sebaiknya kau menyerah saja! Percuma kau mengadakan perlawanan!" teriak Randu Walang memberi aba-aba.

"Menangkap sapi saja kau tidak becus, ternyata mulutnya hanya mampu berkoar!" sahut Puteri Kilat sinis.

"Hmm, pandai juga kau bicara. Wajahnya cantik seperti bidadari, kuharap kau juga pandai melayaniku bila sudah di atas ranjang!"

Wuut! Plakk!

Randu Walang terhuyung ke belakang. Dua buah giginya rontok, Puteri Kilat rupanya menjadi gusar ketika mendengar ucapan Randu Walang yang tidak senonoh itu.

Pruuh!

Dua buah gigi berpentalan keluar dari mulut Randu Walang bersamaan menyemburnya ludah bercampur darah.

"Betina setan! Rasakanlah pembalasanku!" teriak si pemuda botak kudisan.

Sret! Sing! Randu mencabut pedang pendek dari balik punggungnya. Dengan masih mempergunakan jurusjurus dasar Macan Terbang ia mendesak Puteri Kilat Bayangan. Si gadis mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan gerakannya yang cepat seperti kilat terus menghindar. Tapi gempuran Randu Walang semakin lama semakin bertambah cepat bahkan membahayakan keselamatannya.

"Haiit...!"

Gadis baju hijau membentak keras. Tubuhnya bersalto sebanyak tiga kali. Melihat gerakan itu Randu membarenginya dengan satu tusukan dan sabetan.

Puteri menjadi gugup, tiba-tiba posisi berbalik, hingga membuat si gadis jelita jadi terdesak. Walau pun begitu gadis baju hijau terpaksa berguling-guling untuk selamatkan diri. Ternyata senjata lawan telah mendahuluinya. Pedang itu menyambar bagian dada hingga ke perut.

Breet!

Kancing-kancing baju si gadis terbeset lepas, pakaian bagian dalamnya juga berantakan angin nakal ikut menyibakkannya. Sehingga terlihatlah dada Puteri Kilat yang mulus padat menantang. Merah wajah gadis ini, ia berusaha menutupi bagian yang terbuka itu dengan menautkan pakaiannya. Bibir mungilnya yang tipis kemerah-merahan memaki.

"Kau telah berani mempermalukan aku! Nanti akan kau rasakan akibatnya...!" teriak si gadis.

"Ha ha ha...! Bila kau marah-marah, di mataku semakin bertambah cantik saja. Di sini cuma kita berdua, mengapa kita tidak bersenang-senang saja."

"Hmm, bicaramu semakin kurang ajar saja?!" jerit Puteri Kilat Bayangan. Tangan kiri menutupi dada, tangan kanan digerak-gerakkan ke atas kepala sedangkan jemari tangannya menyatu rapat seperti paruh burung. Kaki kiri si gadis diangkat ke atas, gerakan-gerakan ini terkenal sangat cepat.

"Kau...? Bukankah itu jurus 'Congcorang'...!" desis Randu Walang dengan mata melotot kaget.

"Ya, berhati-hatilah kau. Salah langkah kau bisa kehilangan mata!" tegas si jelita. Apa yang dikatakannya itu bukan gertakan kosong. Sebab begitu Randu Walang menyerang. Maka gadis itu telah lenyap dari hadapannya. Randu jadi bingung. Ia berbalik, di waktu itu tendangan lawan telah menghantam dadanya dengan sangat keras sekali.

Pemuda botak kudisan memang sial nasibnya. Ia terguling-guling. Justru pada waktu itu wajahnya mencium kotoran kuda.

"Bangsat! Kuda goblok, berak tidak bilangbilang! Hiaaa...!" Merasa penasaran bercampur rasa malu. Randu Walang bangkit berdiri. Dengan beringas ia menusukkan senjata ke perut Puteri Kilat Bayangan. Serangan itu tidak dielakkan oleh lawan. Tetapi di saat pedang hampir menembus kulitnya yang putih itu. Jemari tangan si gadis bergerak cepat.

Taap!

Badan senjata terjepit di antara jemari lawannya. Puteri Kilat berputar-putar seperti gerakan seekor belalang yang menghindari patukan burung. Randu Walang ternyata tidak dapat mengikutinya, sehingga pedangnya berpindah ke tangan lawannya. Gadis baju hijau melemparkan senjata itu ke semak-semak. Di saat Randu terperangah menyaksikan keajaiban yang terjadi. Satu jari tangan Puteri Kilat mencoblos matanya.

"Wuaakh...!"

"Mataku, akhh... mataku...!" jerit Randu Walang sambil memegangi sebelah matanya yang hancur. Ia berguling-guling seperti setan gila yang prustasi. "Bangun!" bentak si gadis.

Merasakan penderitaan yang teramat sangat itu, tentu saja Randu Walang tidak menghiraukan ucapan si gadis. Ia terus berguling-guling sambil pegangi sebelah matanya yang hancur.

Buuk! "Ukh...!"

Randu menjerit tertahan ketika kaki si gadis menghantam punggungnya. Puteri Kilat Bayangan tersenyum sinis.

"Kini telah terbukti, kiranya kau hanya bermulut besar saja!" dengus si gadis. Kemudian ditotoknya Randu Walang. Tangannya di ikat dengan tali yang tersampir di atas pelana kuda. Tidak berselang lama Puteri Kilat Bayangan telah berada di atas punggung kuda. Maka Randu Walang pun diseret menuju lereng gunung Kendeng. Keadaan pemuda kudisan itu benarbenar sangat mengenaskan. Tubuhnya terhempashempas di atas tanah berbatu.

"Niatmu untuk menjadi pengantin akan kami turuti, sebentar lagi! Hi hi hi...!" Puteri Kilat Bayangan tertawa mengekeh.

***

9

Kasunanan Parit Wolu di pagi itu dalam keadaan sepi. Bangunan megah ini hanya dijaga oleh beberapa orang pengawal saja bersenjata lengkap. Sudah hampir dua hari ini Sunan tidak berada di tempat. Rupanya usaha Sunan untuk menemukan puterinya kembali belum mendatangkan hasil. Sepagi itu dari bagian luar tembok benteng, tampak sesosok tubuh bergerak cepat mendekati gerbang utama. Pemuda berambut riap-riapan memakai baju biru bercelana hitam komprang ini langsung dihadang oleh pengawal yang bertugas di tempat itu.

"Berhenti!!" perintah salah seorang dari dua pengawal dengan lagak memuakkan. Si pemuda hentikan langkahnya, memandang sejenak ke arah si pengawal dengan tatapan mata bosan.

"Mau apa kau kemari, orang muda kulit hitam putih?" tanya yang lainnya.

"Huh, aku hendak bertemu dengan kanjeng Sunan. Apakah dia ada di tempat?" tanya si pemuda dingin.

"Beliau tidak ada. Kalau pun ada, tentu kau tidak boleh masuk!" jawab si pengawal ketus. Kedua rahang si pemuda mengatup rapat dan tampak menggembung menahan marah.

"Kalian berdua sama bangsatnya dengan Sunan Bandi Suliwa! Kalau tidak mau mampus sebaiknya kau menyingkir!" tegas pemuda itu.

"Monyet gila kesasar, sadarkah kau sedang berhadapan dengan siapa?" tanya si pengawal, seraya menodongkan pedangnya ke leher Dewa Sabrang.

Namun tanpa disangka-sangka si pemuda menepiskan senjata itu, lalu membalikkannya ke tenggorokan pengawal. Gerakan yang dilakukannya ini sangat cepat bukan main. Tahu-tahu leher pengawal malang ini mengucurkan darah. Si pengawal menjerit sambil mendekap tenggorokannya yang nyaris putus. Pedang disentakkan dari tangan lawan. Sekelebatan senjata telah berpindah tangan. Belum lagi pengawal kedua sempat berbuat sesuatu, pedang di tangan Dewa Sabrang sudah amblas di bagian perutnya.

Kedua pengawal ini kemudian roboh tidak berkutik, yang lain-lainnya langsung berhamburan keluar begitu mendengar suara jeritan kawannya. Betapa kagetnya mereka ketika melihat seorang pemuda berdiri tegak dengan tatapan matanya yang dingin menusuk. Di tangan pemuda itu tergenggam sebilah pedang berlumuran darah.

"Hei... siapa kau...?" teriak salah seorang diantara belasan pengawal ini sambil mencabut senjatanya. Dewa Sabrang tersenyum tipis. Tatapan matanya sungguh menggidikkan bagi yang memandangnya.

Masa lalu sering terlupakan

Tapi aku tidak bisa melakukannya Saat aku berada di simpang keraguan

Kusadari matahari sudah makin meninggi Aku hampir tidak dapat lagi membedakan Cinta Tuhanku dan sayang manusia

Masa lalu telah menusukku dengan sembilu teramat dalam...

Hal ini sangat melukai, melukai teramat dalam Salahkah aku menggantung harap

Antara harapan dan sia-sia

Aku datang bukan tuk mengharap cinta dan kasih dari seorang anak manusia

Aku hanya ingin bertanya, mengapa orang-orang tersalah masih bisa tertawa

Mengapa pula orang-orang benar malah menan-

gis

Aku datang bukan untuk menghapus luka atau

perturutkan nafsu kebencian.

Aku datang semata-mata untuk meluruskan jalan agar tidak semakin menyesatkan!

Menyingkirlah! Menyingkir!!

Jawaban Dewa Sabrang yang tidak ubahnya seperti orang yang melantunkan bait-bait sair ini tentu saja membuat pengawal-pengawal itu menjadi sangat marah. Salah seorang diantaranya dengan tidak sabar langsung menyerbu ke arah Dewa Sabrang. Namun pemuda itu laksana kilat langsung menyambitkan senjata berlumuran darah di tangannya. Senjata itu meluncur laksana kilat dan tidak terelakkan lagi.

"Wuaaak...!"

Gerakan si pengawal tertahan, matanya mendelik. Ia dekap pedang itu dan berusaha mencabut senjata yang membenam di perutnya. Tindakan yang dilakukannya ini hanya mempercepat kematiannya saja. Ia terguling, yang lain-lainnya sempat terperangah. Tapi hanya sebentar saja. Di lain waktu mereka sudah menyerbu sambil mengibaskan senjata di tangan masingmasing.

Menghadapi hujan senjata yang bertubi-tubi ini, Dewa Sabrang hanya menghindar seenaknya saja. Sehingga tidak dapat dicegah beberapa senjata milik lawannya mengenai tubuhnya. Tapi serangan itu tidak membawa akibat apa-apa. Untuk kedua kalinya para pengawal ini dibuat terkejut. Dewa Sabrang tertawa dingin. Tangannya yang sudah berwarna putih kehitam-hitaman itu akhirnya bergerak laksana kilat.

Buk! Buk! Buk!

Pukulan-pukulan yang dilakukan oleh Dewa Sabrang membuat lawannya menjerit kesakitan. Mereka roboh, tubuh berubah berwarna hitam. Darah kental meleleh dari hidung mereka. Dewa Sabrang rupanya sudah tidak dapat lagi mengendalikan amarahnya. Sehingga secara tidak sadar ia sudah mempergunakan pukulan Racun Dewa. Akibatnya tentu sangat mengerikan sekali. Apa yang terjadi pada kawankawannya membuat sisa-sisa pengawal menjadi kecut kehilangan nyali.

"Lebih baik jangan kalian halang-halangi aku, jika ingin selamat!" dengus Dewa Sabrang. "Pergilah sebelum kalian mengalami nasib seperti kawan-kawan kalian!" bentak Dewa Sabrang.

Melihat tidak ada kemungkinan lain lagi. Para pengawal ini pun berserabutan meninggalkan halaman Kasunanan. Dewa Sabrang memperhatikan tingkah pengecut pengawal-pengawal itu untuk kemudian langsung bergerak memasuki ruangan besar dihadapannya. Tidak sampai setengah jam kemudian Dewa Sabrang telah keluar lagi dengan perasaan kecewa.

"Aku tahu kemana puteri pergi! Kurasa kesanalah aku harus mencari!" pikir Dewa Sabrang. Pemuda ini kemudian menghampiri seekor kuda putih yang terdapat di samping bangunan itu. Dengan mempergunakan kuda itu ia berangkat menuju gunung Kendeng.

* * *

Tetabuhan ala kadarnya sudah tersedia di bawah tratak. Perhelatan besar itu agaknya sudah hampir dimulai. Pengantin perempuan sudah dirias ala kadarnya. Sedangkan mempelai laki-laki memakai topi caping yang terbuat dari kulit kayu. Wajahnya coreng moreng dengan warna kontras, hitam merah dan biru. Kedua mempelai laki-laki ini memakai pakaian kedodoran. Tubuh mereka dibaluri warna yang terbuat dari tanah liat. Bibirnya diberi warna merah menyala.

Tampaknya di lereng gunung Kendeng sedang diadakan pesta besar. Dua pasang pengantin disandingkan sekaligus. Di samping mempelai laki-laki duduk dengan resah mempelai perempuan. Mempelai perempuan tidak henti-hentinya cengar-cengir atau garuk-garuk kepala. Terkadang bahkan tidak segansegan mempelai perempuan mencari kutu di kepala pasangannya. Sementara di samping mempelai lakilaki tersedia arak keras, mereka tidak henti-hentinya meneguk minuman memabukkan itu hingga membuat mata memerah dan bicara melantur tidak karuan. Pada deretan sebelah kiri, tampak mempelai laki-laki duduk dengan santai. Kelihatan sekali ia kurang menghiraukan matanya yang bengkak membiru. Wajahnya juga coreng moreng, bicaranya ngawur tidak karuan. Terkadang ia tertawa-tawa sendiri, sedangkan mempelai perempuan yang duduk di sampingnya terdiam dengan mulut melongo.

Pada setiap pasangan pengantin itu. Di sampingnya berdiri seorang gadis berpakaian dayang memegang kipas dari daun pisang. Para gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum. Wajah mereka juga coreng moreng, bergincu tebal dan memakai alis berukir tebal pula.

Para gadis pengiring ini mengenakan kostum yang sepenuhnya terbuat dari rangkaian bunga. Walau patut diakui dibalik semua itu mereka berpakaian lengkap. Kipas daun pisang tidak henti-hentinya dikibaskan. Lalu mempelai perempuan nyengir lagi sambil melahap pisang yang terdapat di sampingnya.

Tidak lama kemudian muncul seorang nenek dipanggul oleh dua ekor monyet besar. Dia tidak lain adalah nenek kaki dan tangan buntung yang lebih dikenal dengan Nini Suri Pamungkas. Perempuan cacat ini memperhatikan dua pasang pengantin yang kini kelihatan sibuk dengan urusan masing-masing. Pengantin perempuan terus menerus makan pisang, sedangkan mempelai laki-laki tiada henti meneguk minumannya.

"Nguk! Nguk!"

Kedua monyet yang memanggul si nenek tampak ribut. Namun monyet-monyet ini tidak berani melakukan sesuatu yang membuat majikannya bisa marah. Nini Suri Pamungkas menepuk-nepuk bahu kedua monyet yang selalu memanggulnya kemana pun nenek ini pergi.

"Jangan cemburu, Nyet Tam, Nyet Tih!" kata si nenek (Maksudnya monyet hitam dan monyet putih). "Isteri-isteri kalian hanya dipinjam sementara waktu buat kedua pemuda yang gila kawin ini. Nanti jika pesta besar ini selesai. Mereka pasti kembali pada kalian juga!"

"Nenek jelek! Cepat tepung tawari pasangan mempelai ini. Sebagai tanda restu darimu, aku sudah tidak sabar memukul tetabuhan ini!" ujar pemuda baju hijau yang sedari tadi tiada henti mencuri pandang pada gadis pengiring mempelai yang berada di sudut kanan.

"Hik hik hik! Pemuda tolol! Tanganmu gatal ingin memukul tetabuhan atau kau merasa pingin seperti mempelai ini. Lalu siapa yang ingin kau jadikan pasangan? Cucuku Puteri Kilat Bayangan atau mempelai yang suka makan pisang itu?" ejek Nini Suri Pamungkas.

Puteri Kilat Bayangan tundukkan wajahnya. Seandainya wajahnya tidak tertutup pewarna. Tentu terlihat betapa paras gadis secantik bidadari itu berubah memerah seperti tomat matang. Suro Blondo nyengir, walau hatinya memang tidak pernah tenang.

"Jangan kau menyindir ku, Nek! Aku khawatir malah kau ingin kawin yang kedua kalinya. Jangan serakah, aku yang muda-muda saja belum pernah merasakan jadi pengantin. Ha ha ha...!"

"Anak setan sontoloyo. Tutup mulutmu, sekarang aku hendak memberikan restu pada kedua pasang pengantin ini. Nah tabuhlah kendangmu, ayo pukul!" perintah si nenek. Plak! Dut! Plak! Dut! Duuut!

Kendang dipukul bertalu-talu. Tentu saja iramanya sesuka hati si pemuda. Sementara di bawah tratak si nenek mulai menaburkan bunga-bunga hutan yang terdiri dari berbagai jenis. Baik puteri Reza maupun Puteri Kilat Bayangan sama menahan tawa melihat cara si pemuda memukul tetabuhan yang kedengarannya seperti orang yang kentut di tengah orang ramai hingga tertahan-tahan. Suro termonyong-monyong melihat mempelai perempuan jejingkrakan sambil memakan pisang. Sesekali mempelai perempuan mencium mempelai laki-laki tanpa rasa malu.

Clepot!

"Dasar binatang! Tidak ada pikirannya, betulbetul gendeng!!" gerutu Suro.

"Ayo yang keras kau menabuh kendang. Jangan pelan seperti cacing kurang makan. Ayo lebih keras lagi. Biar para tetamu tidak nyasar kondangan di tempat lain!" perintah Nini Suri Pamungkas.

Si pemuda pun akhirnya memperkeras pukulannya. Saking kerasnya, hingga tetabuhan menjadi robek. Suro melempar tabuhan yang robek dan menggantikannya dengan tetabuhan yang lain. Sementara mempelai yang sedang bersanding tampak tersenyumsenyum.

"Hei bagaimana rasanya jadi pengantin?" tanya Si Bocah Ajaib di tengah-tengah kesibukannya. Pertanyaannya ditujukan pada Randu Walang yang sudah mabuk berat.

"Ha ha ha...! Jadi pengantin kepala rasanya muter terus. Endah juga sih, tapi ada mual sedikitsedikit...!" jawab Randu Walang yang memang sudah mabuk berat.

"Uh... uh...! Aku lain, kawanku itu salah. Jadi pengantin rasanya seperti berada di atas angin, melayang timbul tenggelam. Kepala agak sakit dan dunia ini rasanya milik orang-orang kaya. Lalu jalan tidak rata, tratak ini bergerak-gerak mengerikan. Uh... uh...!" Sidra Gagap dengan lancar ikut menanggapi pertanyaan Suro Blondo.

"Orang-orang mabuk, disandingkan dengan monyet pun bagi kalian indah saja!" teriak Pendekar Blo'on, kemudian terdengar suara tawanya bergelakgelak.

* * *

Kita tinggalkan kesibukan pesta gila yang terjadi di lereng gunung Kendeng. Sementara itu di bagian lain lereng gunung, tampak Sunan Bandi Suliwa dan para pengawalnya yang berjumlah belasan orang tampak terns memacu kudanya. Baik para pengawal maupun Sunan Bandi Suliwa sendiri sudah sama-sama letih. Apalagi mengingat sudah dua malam mereka tidak istirahat barang sedikit pun.

"Kanjeng Sunan, bagaimana jika kita melepas lelah sebentar!" tanya salah seorang pengawal dengan perasaan takut.

"Siapa yang mau istirahat silakan. Tapi istirahatnya seumur hidup!" dengus Sunan tanpa mengurangi kecepatan kudanya yang sudah sangat kelelahan.

Pengawal ini langsung katupkan bibirnya. Kuda-kuda itu terus berlari bagai dikejar-kejar setan. Setelah melewati tikungan tebing curam. Mendadak saja tiga orang pengawal di depan menjerit dan langsung terlempar dari atas pelana kudanya. Begitu menyentuh tanah para pengawal yang malang ini langsung terdiam tidak berkutik. Sunan menghentikan kuda, belum lagi hilang rasa kagetnya dan belum pula sempat meneliti. Dari balik batu besar menderu sinar hitam putih dan langsung melabrak pengawal yang berada di belakangnya. Sunan tidak sempat lagi memberi peringatan. Lima orang pengawal langsung roboh bersama kuda tunggangan mereka. Sekujur tubuh pengawalpengawal ini berubah menghitam keracunan.

Pukulan gelap tadi benar-benar sangat dahsyat. Sunan sendiri seakan hampir tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Tiga orang bisa pengawal menjadi kecut. Selagi ia hendak bicara, dari balik batu besar muncul seorang pemuda terambut riap-riapan berwajah dingin. Dari kepala hingga ke dada kulit pemuda itu hitam pekat, sedangkan dari dada hingga ke ujung kaki berwarna putih seperti kapas. Walau pun peristiwa itu sudah berlangsung lima tahun yang lalu, tapi Sunan masih dapat mengingat bekas bendaharanya itu.

"Kau rupanya!?" desis Sunan Bandi Suliwa

sinis.

"Ya, aku Ambar Alam si Dewa Sabrang. Orang

yang lima tahun lalu kau hukum pendam di mulut gua celaka itu. Tidak ada jalan bagimu untuk selamat Sunan. Aku tahu muslihatmu. Dulu kau bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat yang akan menjadi besanmu ketika menghancurkan orang tua Puteri Kilat Bayangan. Kini kau memperkosa kemerdekaan hati manusia dengan kehendak gilamu!" dengus Dewa Sabrang.

"Rupanya kau merasa sakit hati karena aku melarangmu berhubungan dengan putriku. Ha ha ha! Sebaiknya kau berkaca siapa dirimu!"

"Bukan persoalan sakit hati atau putus harapan. Aku hanya ingin membuatmu mengerti bahwa manusia tidak punya kuasa atas jiwa orang lain! Heaa...!" Dewa Sabrang berteriak keras dan langsung lepaskan pukulan "Payung Dewa'. Udara panas membakar bergulung-gulung, angin sambarannya saja sudah membuat tiga pengawal Sunan Bandi Suliwa terkapar tidak berdaya.

Sedangkan Sunan sendiri langsung melompat dari punggung kudanya. Gerakannya cukup mengagumkan. Kuda Sunan menjadi sasaran. Terdengar dentuman sangat keras menggelegar. Kuda hitam itu terbanting ke tanah. Sunan yang sekarang sudah berada dekat dengan Dewa Sabrang dengan penuh kemarahan juga lepaskan pukulan 'Tapak Sakti'. Suasana mendadak sontak berubah panas seperti berada di neraka. Dewa Sabrang tidak tinggal diam. Ia pun lepaskan pukulan dengan tenaga berlipat ganda.

Buum!

Ledakan-ledakan itu sangat mengerikan sekali. Masing-masing pihak sempat terangkat ke udara. Rupanya Dewa Sabrang sudah memperhitungkan betapa hebatnya kesaktian yang dimiliki oleh Sunan Bandi Suliwa. Sehingga di saat berhadapan ia langsung melepaskan pukulan-pukulan yang sangat mematikan. Sunan terkejut sekali melihat kemajuan pesat yang diperoleh Ambar Alam. Ia kelihatan seakan-akan tidak percaya melihat kehebatan Dewa Sabrang.

Menyadari lawannya sekarang bukan pemuda yang lemah lagi, maka Sunan Bandi Suliwa pun segera mengerahkan jurus-jurus yang paling diandalkannya. Tidak terelakkan lagi terjadilah pertempuran sengit di mana masing-masing pihak melepaskan pukulanpukulan dahsyat yang menjadi andalannya masingmasing.

“Kini saatnya, Sunan!?” teriak Dewa Sabrang histeris.

“Jangan kau bermimpi!” dengus Sunan Bandi. Laki-laki itu kemudian hentakkan kedua tan-

gannya ke depan. Sekejab saja terlihat tiga leret sinar meluncur deras ke arah Dewa Sabrang. Pemuda ini pun tidak mau kalah. Ia lepaskan pukulan untuk menyambut serangan lawannya. Sinar putih menyilaukan melesat laksana kilat. Lalu terjadi ledakan keras menggelegar. Dua-duanya tercampak, tapi diantara mereka berdua tidak satu pun yang terluka. Sunan Bandi Suliwa terpaksa cabut senjatanya. Sebuah pedang berwarna kuning dan dikenal dengan nama pusaka Wesi Kuning ini lalu ditusukkan ke dada Dewa Sabrang.

***

10

"Haiit!"

Dewa Sabrang berguling-guling, senjata itu menyerempet di bahunya. Si pemuda menjerit keras. Ternyata senjata ampuh itu mampu menembus kekebalan tubuh Dewa Sabrang. Pemuda rambut riap-riapan bangkit lagi. "Aku dan dia sama-sama kebal. Tapi kurasa aku mampu mengatasinya." pikir Dewa Sabrang. Terlintas sebuah akal di benaknya, ia merasa yakin sekali Sunan Bandi Suliwa tidak mungkin dapat dirobohkan terkecuali dengan mempergunakan senjata miliknya sendiri. Untuk itu ia harus dapat merampas senjata dari tangan lawannya. Mengingat sampai kesitu, maka sambil lindungi kepala Dewa Sabrang mencoba mendesak, baru beberapa gebrakan ia sudah terdorong mundur lagi karena senjata lawan terus saja berkelebat-kelebat menyambar ke arah tubuhnya.

Dewa Sabrang terpaksa bersurut mundur lagi sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan. Sebentar saja kedua tangannya telah berwarna hitam keputih-putihan. Sunan kaget sekali melihat perubahan ini. Ia lalu memutar senjata lindungi diri. Badai topan mengandung hawa panas bergulung-gulung.

Wuuk! Wuuk!

Senjata kanjeng Sunan diputar membentuk perisai. Sekejab kemudian laki-laki itu langsung dapat merasakan sebuah tekanan yang dahsyat. Kedua tangannya goyah, pedang Wesi Kuning menggeletar. Lalu serangan itu semakin tindih menindih, hingga Sunan terdorong dan akhirnya terlempar. Senjata di tangan terlepas. Dewa Sabrang yang memang menghendaki kejadian ini langsung menyerbu, lalu memungut senjata milik lawan.

Sunan Bandi Suliwa yang masih jungkir balik langsung berubah pucat wajahnya melihat senjatanya sudah berpindah ke tangan musuh.

"Serahkan senjataku!" teriak Sunan dengan suara bergetar.

Dewa Sabrang menyeringai sinis. Di lain kejab tanpa didahului oleh ucapan apapun ia sudah memburu Sunan. Lawan berkelit menghindar sambil menepis lengan Dewa Sabrang. Gerakan itu dapat dihindari oleh si pemuda. Senjata di tangannya kembali berkiblat. Sunan terdesak, namun masih berusaha lepaskan tendangan.

Wuus!

Lagi-lagi serangan itu gagal mengenai sasaran. Sementara senjata di tangan Dewa Sabrang sudah menerobos pertahanannya. Tidak terelakkan lagi senjata maut itu pun menembus perut kanjeng Sunan.

Ces! "Akh...!"

Kanjeng Sunan Bandi Suliwa memekik tertahan. Perutnya yang tertembus pedangnya sendiri mengepulkan asap menebar bau sengit. Matanya mendelik sedangkan tubuhnya menggeletar untuk beberapa saat lamanya. Setelah itu Sunan Bandi Suliwa terkapar tidak bangun-bangun lagi. Dewa Sabrang setelah mengamankan pedang Wesi Kuning milik lawannya langsung memanggul tubuh Sunan yang sudah tidak bernyawa. Setelah itu ia langsung menaiki kuda yang disembunyikannya di semak-semak. Mayat Sunan Bandi Suliwa disampirkannya ke bagian depan pelana, kemudian itu tali kekang disentakkan dan kuda pun berlari meninggalkan mayat-mayat pengawal yang bergelimpangan.

* * *

"Tamu akhirnya datang juga!" sera Pendekar Blo'on. Dan tetabuhan di depannya dipukul dengan keras.

"Setiap tamu yang datang mengapa tidak disambut?" menimpali Nini Suri. Pamungkas.

"Mereka masih heran melihat pengantin! Di atas pelaminan putra dan murid mereka tampak gagah seperti macan loyo!" kata Pendekar Blo'on. Seraya hentikan tetabuhannya. Lalu berdiri tegak di depan mempelai yang sedang bersanding.

Tidak jauh di seberang teratak, Macan Terbang dan Kala Demit Sudah melompat dari punggung kuda masing-masing.

Mata mereka terbelalak melihat anak dan murid mereka bersanding dengan monyet besar. Lebih heran lagi karena baik Sidra Gagap dan Randu Walang dihias secara asal-asalan dan kedua pemuda itu kelihatannya sedang dalam keadaan mabuk berat.

"Siapa yang berani melakukan tindakan gila itu pada muridku!" teriak Kala Demit marah besar. "Ha ha ha...! Orang jelek. Bukankah kau menginginkan muridmu menjadi pengantin. Kini mereka sudah bersanding dan tampak bahagia, kenapa tamu datang marah-marah? Aku dan nenek itu yang meriasnya tanpa harus membayar. Mana rasa terima kasihmu!" ejek Suro Blondo sambil garuk-garuk kepala.

"Bangsat! Permainan gila ini harus diakhiri dan kalian mesti menyerah pada kami!" teriak Macan Terbang tidak sabaran.

"Walah... bebaskan dulu putramu. Baru nanti kita bebas bicara. Lihatlah dia sudah mabuk berat. Apa kau juga ingin mabuk seperti anakmu!" dengus Suro dengan tangan berkacak pinggang.

Kata-kata Pendekar Blo'on yang seenaknya itu tentu membuat Macan   Terbang menjadi kalap. Ia pun melompat ke depan dengan maksud memberi pelajaran pada si konyol sekaligus menarik putranya dari atas pelaminan. Namun tidak terduga-duga rupanya bagian lantai tratak di pasang lubang besar. Begitu menginjakkan kakinya di bawah teratak. Macan Terbang langsung terperosok ke dalamnya. Walau pun Macan Terbang telah berusaha menyelamatkan diri namun lubang itu terlalu lebar. Sehingga ia kehilangan keseimbangan. Tidak ayal lagi tubuhnya meluncur ke bawah. Sedetik kemudian terdengar suara jeritannya yang menyayat. Tubuh Macan Terbang tertembus bambu-bambu runcing berceragah yang dipasang di bawah lubang tersebut. Kala Demit telan ludah melihat kematian Macan Terbang yang mengenaskan itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya yang tercebur ke dalam lubang tersebut.

Sementara itu, Puteri Kilat Bayangan dan Nini Suri Pamungkas sudah mengepung tokoh sesat.

"Kalian manusia-manusia pengecut yang sangat licik!" dengus Kala Demit marah sekali. "Jangan banyak bacot, Kala Demit. Segala kebusukanmu bersama Sunan sudah diketahui oleh semua orang yang berada di sini. Kau dulu ikut membuntungi kaki dan tanganku bersama Sunan Bandi Suliwa. Sekarang tibalah saatnya bagimu untuk merasakan penderitaanku dan juga penderitaan Puteri Kilat Bayangan!" tegas Nini Suri Pamungkas.

"Tunggu dulu!" Suro Blondo tiba-tiba saja melompat dan kini berdiri tegak di tengah-tengah mereka. "Kala Demit punya seribu hutang yang harus dibayarnya hari ini. Siapapun yang berada di sini tidak boleh ikut campur! Dia menjadi bagianku!"

Tokoh sesat itu memandang lurus pada Suro. Setelah memperhatikan ciri-ciri pemuda itu, sekarang yakinlah dia bahwa pemuda berambut hitam kemerahan ini adalah si Bocah Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro di lereng Bromo.

Mendengar ucapan Suro, Nini Suri Pamungkas dan Puteri Kilat Bayangan langsung mundur teratur. Sebaliknya Kala Demit melangkah maju menghampiri Pendekar Blo'on.

"Kau si bocah ajaib itu?" "Betul!" sahut Suro ketus.

"Menyesal aku telah membunuh orang tuamu. Jika cuma beginilah tampangnya bocah yang kami perebutkan tempo hari. Tentu aku tidak akan ikut ambil bagian dalam urusan gila itu. Sekarang kau mau apa?" "Ha ha ha...! Ayah, ibu...!" Suro menengadah-

kan wajahnya ke langit. "Hari ini aku telah bertemu dengan orang yang menyebabkan kematianmu! Hutang-hutang itu harus impas! Ha ha...!" Suro berteriakteriak seperti orang gila. Kala Demit yang sudah mendengar kehebatan pemuda berwajah ketolol-tololan ini tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Dengan cepat ia layangkan pukulannya ke bagian dada Suro Blondo.

Serangan ini dua kali kecepatan suara. Tibatiba saja Suro sudah jatuh terpelanting. Ia menggerung marah, dengan mulut peletat-pletot seraya melompat berdiri. Berhadapan dengan musuh besarnya Pendekar Blo'on tidak mau bersikap ayal-ayalan lagi. Mendadak sontak terdengar suara tawa yang tiada henti-hentinya dari mulut si pemuda. Suara yang sedemikian menyeramkan membuyarkan konsentrasi lawannya. Lalu tubuhnya berkelebat, gerakannya sangat cepat, namun terhuyung-huyung seperti kera mabuk.

Kala Demit jadi terkesiap. Ia langsung menghalau setiap serangan si pemuda yang mengandung bermacam-macam muslihat, meskipun jurus-jurus dan setiap gerakannya sangat aneh sulit dipecahkan.

"Astaga! Itu adalah jurus Tawa Kera Siluman milik Penghulu Siluman Kera Putih!" desis Nini Suri Pamungkas. Rupanya si nenek kenal dengan Barata Surya tokoh sakti bukan main yang punya watak konyol, angin-anginan itu. "Pantas tingkah pemuda itu sangat mirip dengan tokoh aneh itu."

Di tengah-tengah pertempuran yang sengit di antara dua musuh bebuyutan ini. Muncul Dewa Sabrang, pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan mereka yang bertempur, melainkan menghampiri Nini Suri Pamungkas dan dua gadis dengan dandanan aneh.

"Kakang Ambar!?" seru puteri Reza sambil memeluk Dewa Sabrang. Ia menangis terisak-isak di dada kekasihnya yang terpisah selama lima tahun.

"Apa yang terjadi disini?" tanya Dewa Sabrang

dingin.

"Kami mengecoh paman Sunan dan para saha-

batnya!" Puteri Kilat Bayangan yang menyahuti. "Nenek, Reza. Aku telah membunuh Sunan Bandi Suliwa. Jika kalian membenciku aku tidak akan sakit hati. Perbuatan gila itu harus dihentikan!"

"Dia memang pantas menerima hukuman itu." Kata Puteri Kilat. "Kurasa Puteri Reza dapat memakluminya. Aku pesankan padamu, lindungilah adik misanku itu baik-baik. Sayangilah dia sebagaimana dia menyayangimu!"

"Betul, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Nini Suri Pamungkas menimpali.

"Kau mau mengampuni aku, Reza?" tanya Dewa Sabrang kelihatan kurang puas.

"Aku memaklumi tindakanmu, kakang, Semoga Gusti Allah mau memaafkan kau dan ayahku!"

"Oh, kau selalu baik padaku. Mari kita bawa mayat ayahmu untuk dikuburkan secara layak!"

Puteri Reza Baiduri menganggukkan kepala. Setelah berpamitan pada Nini Suri dan Puteri Kilat, mereka meninggalkan tempat itu.

Kini tinggallah Puteri Kilat dan neneknya yang terus mengawasi jalannya pertempuran yang semakin sengit itu. Pada waktu itu Pendekar Blo'on memang sudah tampak terluka. Ia telah mengerahkan segenap kesaktian yang dimilikinya. Sekarang pemuda ini menghadapi tekanan-tekanan yang tidak ringan dari Kala Demit. Apalagi tokoh sesat ini telah melepaskan pukulan-pukulan yang sangat dahsyat. Menghadapi serangan gencar yang seakan tidak ada habis-habisnya ini. Suro terpaksa mengeluarkan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis', salah satu jurus tingkatan terakhir warisan kakek gurunya Malaikat Berambut Api.

Di satu kesempatan Kala Demit berusaha menerobos pertahanan lawannya. Di saat pemuda itu melompat ke udara. Maka tinjunya yang telah berwarna hitam itu menderu. Suro melihat kelebatan tangan lawan segera menangkis. Dess! "Heh...!"

"Eeh...!"

Dua-duanya sama terkejut. Warna merah membekas di telapak tangan Suro. Sedangkan Kala Demit dalam keadaan terhuyung-huyung langsung lepaskan pukulan "Menerobos Langit Membelah Matahari'.

"Terimalah kematianmu, anak setan!" Sekejab saja kedua tangannya dihentakkan. Melihat hal ini Nini Suri Pamungkas jadi khawatir atas keselamatan si pemuda. Ia bergerak ke depan sambil mengebutkan ujung jubahnya. Sinar biru tampak melesat, lalu menepis sinar hitam kuning di tengah jalan.

Buum! "Akh...!"

Nenek kaki dan tangan buntung menjerit keras. Tubuhnya terlempar dari bahu-bahu monyet yang mendukungnya. Ketika Puteri Kilat hendak membantu Suro yang dalam keadaan kalang kabut itu. Si pemuda membentak keras.

"Jangan mendekat, Puteri Kilat!" Pendekar Blo'on memperingatkan. Pemuda itu tiba-tiba saja hentakkan tangannya. Di lain kejab terlihat bayangan hitam berkelebat-kelebat disertai terdengarnya suara ringkik, ratapan tangis dan tawa bergelak-gelak. Kiranya pemuda itu sudah mempergunakan Mandau Jantan yang sangat hebat itu.

Wuus!

Kini posisi berbalik, Kala Demit jadi kalang kabut dan berusaha menghindari tebasan-tebasan senjata lawan.

Bet!

Karena tidak melihat adanya peluang lain. Maka laki-laki itu langsung mengeluarkan kebutan. Namun senjata mautnya ini hanya dapat melindungi dirinya beberapa saat saja. Ketika Suro melompat, Mandau Jantan di tangannya memapas senjata lawan.

Pres!

Kebutan itu jadi berantakan. Mandau bergerak lagi, sementara Kala Demit bergerak mundur menjauh.

"Hiya...!" Crees! "Akh...!"

Kala Demit meraung keras. Tangannya terbabat putus sebatas lengan. Darah mengucur. Namun Suro yang sudah kalap ini terus memburunya. Sebelum senjata mengenai sasaran yang diharapkan. Terdengar suara ledakan yang disertai menebarnya asap hitam menutup pandangan. Suro terpaksa menahan gerakan. Tidak lama setelah asap hitam menghilang, maka ia tidak melihat Kala Demit maupun Randu Walang dan Sidra Gagap di situ.

"Jahanam! Dia melarikan diri. Ukh..,!" desis Suro agak terbungkuk-bungkuk. Rupanya ia menderita luka dalam yang tidak pernah dihiraukannya sejak tadi.

"Cucuku, bawalah pemuda itu ke pondok. Luka-lukanya harus diobati. Dia murid tokoh hebat. Kau harus mengenalnya lebih dekat lagi! Hik hik hik!" kata Nini Suri Pamungkas. Gadis secantik bidadari ini dengan malu-malu memapah Suro yang tampak kelelahan. Tubuhnya gemetar, bukan karena menahan rasa sakit saja, melainkan juga karena didera oleh perasaan aneh terhadap Puteri Kilat Bayangan. Untuk pertama kalinya ia tidak dapat bertingkah macammacam. Bahkan untuk bicara saja Suro tidak berani. Mungkin inilah yang dikatakan cinta pada pandangan pertama, Suro tidak tahu. Pendekar Blo'on hanya dapat berharap meskipun ia gagal membunuh orang yang telah mencelakakan orang tuanya. Mudahmudahan si jelita yang penuh seribu pesona itu punya perasaan yang sama.

TAMAT