Serial Pendekar Bloon Eps 12 : Perjalanan Ke Alam Baka

 
Eps 12 : Perjalanan Ke Alam Baka


Kuda berbulu putih tampak melesat melintas di jalan berbatu. Di kanan kiri jalan itu yang kelihatan hanya kegersangan dan padang tandus saja. Panas terik seperti memanggang batok kepala, membuat otak terasa mendidih. Kabut beracun menghampar di sepanjang lembah itu. Sementara laki-laki yang duduk di atas kuda tunggangan itu tidak lain adalah seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh lima tahun. Kumisnya putih sebagian, rambutnya pun demikian. Ia memakai baju selempang seperti seorang resi. Tampaknya dia dalam keadaan tergesa-gesa.

Jalan itu rupanya membelok menuju ke tempat yang lebih sulit dan dipenuhi dengan kabut dan lubang-lubang mata air panas.

"Hiya! Hiya...!"

Laki-laki itu menggebah kuda tunggangannya, terdengar suara ringkikan keras. Tidak lama kemudian kuda itu pun tercebur ke dalam telaga beracun yang menganga di depannya.

"Hieekk...!"

Kuda terus meringkik keras memperdengarkan suara seperti hewan yang sedang sekarat dan meminta tolong pada majikannya. Tidak seorang pun mampu menolongnya. Sedangkan penunggangnya sendiri ketika itu terpaksa berjuang menepi untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Setelah bersusah payah, laki-laki itu dapat juga naik ke daratan. Tetapi sesuatu yang sangat mengerikan terjadi pada dirinya. Ia melolong kesakitan. Tubuhnya menggelepar seperti seekor ayam dipotong. Rupanya tubuh laki-laki malang itu melepuh dan rusak di sana sini. Air telaga selain panas mendidih juga mengandung racun yang sangat ganas. Rambut laki-laki ini rontok, kumisnya, jenggotnya dan semua bulu yang ada di tubuhnya rontok seperti tersiram air mendidih.    Penderitaan     laki-laki ini semakin bertambah menghebat, karena telaga air panas itu mengandung racun pula.

"Akh... taubat. Tuhan, mengapa begini buruknya nasibku! Cabut saja nyawaku, aku tidak dapat melaksanakan tugas yang diberikan oleh baginda!" rintihnya. Dia tidak lain adalah Patih Luragung, untuk lebih jelasnya mengapa Patih ini sampai tersesat di Bukit Kematian (Dalam Episode Lima Utusan Akherat). Tertatih-tatih laki-laki yang telah kehilangan seluruh rambut dan kulitnya ini berdiri. Keadaannya memang sangat menyedihkan sekaligus mengerikan sekali. Walaupun keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk mendaki ke puncak Bukit Kematian yang menjulang tinggi itu, Patih Luragung rupanya memaksakan diri juga.

"Tugas ini harus kulakukan, walaupun dengan sisa-sisa nyawaku!" desis sang Patih mengerang sakit. Sesungguhnya ia sudah tidak punya kemampuan apaapa lagi sejak ia bersama kudanya tercebur ke dalam telaga air panas. Kulitnya yang mengelupas itu merupakan siksaan tersendiri yang sungguh dahsyat. Namun ketika mengingat keselamatan kerajaan yang sangat terancam, maka Patih ini terpaksa melakukan pendakian juga. Bila ada batu atau ranting pohon mengenai dirinya, maka menjeritlah Patih Luragung seperti prajurit perang yang ditembus pedang.

"Keadaanku sama seperti orang yang dikuliti hidup-hidup. Sanggupkah aku mencapai puncak sana?" bibir yang sudah kehilangan kumis itu menggerimit sakit. "Akh...!" Patih Luragung tiba-tiba saja jatuh terguling, ia langsung tidak sadarkan diri. Angin mendesir, begitu sepinya Bukit Kematian atau lebih dikenal dengan Bukit Setan ini. Sehingga suara sehalus apapun tetap terdengar dengan jelas namun menyeramkan.

Patih Luragung ternyata tidak sadarkan diri karena luka-luka melepuh di sekujur tubuhnya. Keadaan ini berlangsung cukup lama juga. Setelah hampir dua jam, maka dari atas Bukit Kematian terdengar suara bergemuruh yang disertai dengan suara ledakanledakan dahsyat. Angin pun berhembus kencang. Debu beterbangan, berputar-putar di udara lalu melesat ke langit. Tidak lama setelah itu terdengar pula suara tawa bekakakan. Suara tawa serasa mengguncang puncak bukit dan meruntuhkan daun-daun kering.

Sosok tubuh tampak berkelebat menuruni bukit. Hanya dalam waktu sekedipan saja sosok tubuh yang cuma memakai cawat ini telah berdiri di depan Patih Luragung yang tidak sadarkan diri. Orang ini ternyata berwajah sangat mengerikan, ia adalah makhluk yang mengerikan di kolong langit ini, wajahnya seburuk setan. Matanya cuma satu terletak di tengah-tengah hidung. Mulutnya lebar, gigi-giginya yang semerah darah tampak runcing tajam.

Melihat pada sosok tubuh Patih Luragung yang mengelupas tawanya malah semakin menggema memenuhi seantero lembah. Dengan seenaknya tubuh sang Patih ditentengnya. Di lain waktu ia telah bergerak kembali ke puncak bukit. Sungguh kedatangan dan kepergiannya cepat laksana setan gentayangan. Tidak lama suasana berubah sunyi kembali.

Patih Luragung yang dalam keadaan setengah matang ini langsung dibaringkan di atas lantai dingin. Kakek bermata satu ini melangkah menghampiri perapian yang tidak pernah padam selama-lamanya. Di atas perapian batu terdapat sebuah kwali tanah berukuran besar berisi air mendidih. Melihat ke dalam tungku tersebut senyum angkernya terkembang. "Sebentar lagi aku akan pesta besar! Ha ha

ha...!" Tawa kakek bertampang iblis ini menggema. Lalu ia menghampiri Patih Luragung. Pakaian Patih malang ini dicopotnya, sehingga keadaan Patih jadi membugil. Pada saat si kakek berjanggut menjela sampai ke mata kaki ini melemparkan pakaian sang Patih. Terdengar suara bergemerincing.

"Eh, apalagi itu?" desisnya. Lalu dihampirinya benda terbuat dari logam itu. Benda berbentuk bulat itu semerah darah. Si kakek terkejut. Matanya yang mengerikan terbelalak, ia mengamati benda bulat itu dengan teliti. Bibirnya yang lebar bersungut-sungut.

"Benda ini milik Sang Maha Sesat?! Sungguh tidak dapat kupercaya? Batal keinginanku untuk menikmati daging rebus yang lezat, heh... jadi orang ini diutus oleh Sang Maha Sesat. Permainan apalagi ini? Pasti ada masalah yang sangat besar sedang terjadi. Tapi bagaimana bapak moyangnya iblis dan setan itu mau mencampuri urusan manusia? Ha ha ha... aku mengerti sekarang. Dia pasti sedang mencari pengikut lagi dalam jumlah yang lebih besar. Ini sesuatu yang sangat menarik. Aku akan ke sana! Tapi orang malang ini harus kubuat sadar dulu, nanti ku sembuhkan!" gumamnya sinis.

Siapa sesungguhnya kakek bermata satu bergigi macam gergaji ini? Dia seperti sudah sama kita ketahui (Dalam episode Lima Utusan Akherat). Dia tiada lain adalah Pertapa Seribu Abad. Masih tergolong sahabat Sang Maha Sesat di bumi ini. Usianya sudah ratusan tahun. Tapi belum juga mati, dalam umur yang panjang itu dihabiskannya untuk bertapa. Kebiasaannya sangat aneh yaitu memakan daging manusia setiap seminggu sekali. Ia hanya meninggalkan tempat pertapaannya apabila membutuhkan korban baru. Setelah memperhatikan Patih Luragung cukup lama, Pertapa Seribu Abad mengambil sepotong kayu kecil berwarna merah darah. Ia mulai menyembuhkan tubuh sang Patih hingga babak belur. Si Patih menggeliat, kemudian melolong-lolong kesakitan seperti seekor kerbau yang disembelih.

"Akh... hentikan, aku hendak kau apakan?" "Diam?!" Pertapa Seribu Abad membentak ge-

ram.

"Bagaimana aku bisa diam? Kau hendak mem-

bunuhku rupanya?" tanya sang Patih terus melolonglolong.

"Kalau kau mau hidup memang beginilah cara menyembuhkanmu!" dengus si kakek mengerikan. Patih Luragung menggeliat, menggelepar. Pemukulan itu terus berlangsung hingga pada akhirnya terjadilah sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Sekujur tubuh sang Patih yang terkena pukulan timbul warna merah seperti darah. Warna merah itu selanjutnya menghilang. Sehingga pada akhirnya tumbuhlah   kulit-kulit   baru di sekujur tubuhnya. Keadaan Patih Luragung kembali seperti sediakala. Hanya rambutnya saja yang tidak dapat tumbuh kembali, kumisnya, jenggotnya juga tidak tumbuh.

Kejut hati Patih Luragung bukan alang kepalang. Ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya dapat sembuh seperti sediakala. Hanya sang Patih terpaksa merelakan seluruh rambutnya yang tidak mungkin tumbuh kembali lagi.

"Benar kau diperintahkan Sang Maha Sesat kemari?" tanya Pertapa Seribu Abad.

"Benar, Ki Pertapa. Sang Maha Sesat mengharap kehadiran   Anda   di   kerajaan Ujung Dunia. Akan ada peristiwa besar di sana." jelas Patih Luragung dengan wajah tertunduk. "Kerajaan Ujung Dunia diperintah oleh Raja Lalim Durjana, betul?" tanya Pertapa Seribu Abad.

"Betul."

"Dia raja paling kejam di dunia, betul?" "Juga betul, Ki." sahut sang Patih.

"Putrinya cantik-cantik, selirnya banyak. Beliau punya sahabat keparat hartawan Abdi Banda, betul?"

"Benul juga, eeh... betul juga, Ki." jawab lakilaki ini sambil angguk-anggukkan kepala.

"Ha ha ha...! Ketahuilah, sesungguhnya jika cuma Lalim Durjana yang meminta bantuanku, tentu aku menolak. Namun mengingat Sang Maha Sesat adalah sahabatku. Dengan terpaksa aku menerimanya. Nah, sekarang kembalilah kepada rajamu...!"

"Tapi "

"Goblok. Aku tahu apa yang mau kau ucapkan. Kau hendak mengatakan apakah aku menerima panggilan ini atau tidak bukan? Ketahuilah, kecepatanmu berlari sama dengan kecepatanku berjalan. Kecepatanku berlari lebih cepat lagi dari hembusan topan. Jika kau memilih berjalan bersamaku, maka begitu sampai di kerajaan nyawamu akan putus dan kau langsung mampus. Pergi...!! Sebelum kesabaranku habis, Patih tuyul gundul." bentak Pertapa Seribu Abad.

Bentakan suara sang Pertapa saja sudah membuat tubuh Patih Luragung tersentak kemudian terbanting. Laki-laki setengah baya ini jadi ciut nyalinya. Dengan cepat ia beringsut menjauh, lalu putar langkah dan mulai menuruni Bukit Kematian.

"Tolol, jangan lewat situ lagi, apa hendak cari mampus!"

"Jadi lewat mana...?" tanya Patih tanpa berani menoleh lagi.

"Ambil jalan yang di sebelah kiri!"

Patih Luragung pun mengambil jalan di sebelah kiri. Pertapa Seribu Abad memperhatikan kepergiannya dengan tatapan matanya yang cuma satu. Lalu terdengar suara tawanya tergelak-gelak.

* * *

Laki-laki gendut pendek dan hanya memakai cawat ini terus berlari sambil mengempit kepala Panglima Arung Garda. Sesekali ia menoleh ke belakang. Wajahnya yang mirip dengan muka kodok tampak ketakutan sekali. Bagaimana pun seumur hidupnya ia baru sekali ini ia melihat ada orang yang telah kehilangan kepala, bahkan kepala itu ia sendiri yang membawanya. Namun orang yang telah kehilangan kepala itu masih bertahan hidup bahkan terns mengikutinya kemana pun ia pergi.

"Gher... grok... grok...!" Batang leher yang terputus, serta lubang tenggorokan yang tersumbat darah kental itu terus mengeluarkan suara seakan meminta pada Raja Kodok supaya mengembalikan kepalanya yang terus dikempit sambil dibawa berlari.

"Celaka?! Benar-benar celaka Panglima ini. Kepalanya sudah kubawa tapi ia masih mengejarku terus. Hhh, bagaimana ini? Apakah kepala ini harus kuberikan?! Tapi menurut Pendekar bertampang ketololtololan itu aku harus membawa kepala ini ke kota raja. Entah apa maksud tujuannya aku tidak tahu?" kata Raja Kodok dalam hati.

Pemuda yang sekujur tubuhnya selalu basah seperti seekor kodok itu terus berlari dan berlari. Sementara kodok-kodok yang berada di dalam sumpitnya mengeluarkan bunyian aneh seakan memberi semangat pada Raja Kodok agar terus berlari.

"Gher... krok... krok kokok...!" Tubuh tanpa kepala itu berkata (Kembalikan kepalaku, kepalaku itu mau dibawa kemana? Kembalikan cepat orang jelek!). Mana Raja Kodok perduli. Malah larinya semakin cepat, walaupun terkadang membuatnya menggelinding. Panglima Arung Garda pun mengejar dengan pontangpanting.

Setelah menempuh jarak sekian jauhnya. Maka sampailah Raja Kodok di alun-alun istana. Di sana ia melihat seorang pemuda memakai baju putih dan seorang kakek tua berpakaian putih pula sedang menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan di halaman. Begitu melihat kemunculan Raja Kodok, maka pemuda baju putih tersentak kaget.

"Gusti Allah?! Maha besar Engkau dengan segala keanehan yang kau ciptakan. Kepala siapa yang dibawanya?" desisnya agak tertegun. Si kakek yang tidak lain adalah Malaikat Penderitaan lain lagi. Ketika melihat kehadiran Raja Kodok sambil mengempit kepala Panglima di keteknya malah menangis....

"Oh... oh.... Gusti...! Kulihat ada orang jelek membawa-bawa kepala tanpa badan membuat aku menderita." katanya di tengah-tengah isak tangisnya. Lalu muncul badan tanpa kepala menunjuk-nunjuk Raja Kodok. Tangis Malaikat Penderitaan semakin menghiba-hiba. "Ini lagi, yang ini lebih celaka. Sesungguhnya manusia itu sering memperbodoh diri sendiri. Menuntut ilmu di jalan yang sesat, setan gurunya, iblis menjadi petunjuknya. Manusia tidak dapat melawan kodrat, tidak bisa menentang takdir. Ilmumu yang menahan rohmu terpisah dari ragamu. Orang paling jelek muka kodok. Serahkan kepala itu padaku!!" perintah Malaikat. Penderitaan.

Raja Kodok menjadi ragu-ragu. Ia teringat pesan Pendekar Blo'on. Apa yang harus dilakukannya kini? Menyerahkan kepala Panglima Arung Garda pada kakek yang suka menangis itu? "Orang tua gagah cengeng. Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Sedangkan Pendekar rambut macam rambut jagung meminta ku agar membawa kepala ini kemari. Dia tidak pesan supaya aku menyerahkan kepala ini padamu!"

"Hu hu hu! Orang yang kau maksudkan pastilah Anak Ajaib itu? Si konyol yang punya senjata dapat merintih-rintih. Aku dan pemuda ini masih terhitung sahabatnya. Serahkan kepala itu padaku?" Malaikat Penderitaan mengulangi perintahnya. Raja Kodok menjadi bingung. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Arung Garda untuk merebut kepalanya kembali. Kepala terjatuh, begitu menggelinding di atas tanah matanya langsung terbuka, mulutnya menyeringai lalu terdengar suara tawanya yang menyeramkan. Raja Kodok menubruk kepala tersebut. Namun sudah terlambat, sang kepala telah melayang dan melekat pada potongan lehernya. Begitu Arung Garda mengusap-usap bekas luka itu maka leher dan kepalanya menyatu seperti sediakala.

***

2

Pemuda baju putih yang tidak lain adalah Wahyu Sakaning Gusti alias Pendekar Lugu terkejut melongo. Malaikat Penderitaan langsung melompat. Gerakannya cepat seperti kilat. Di lain waktu ia sudah dapat menotok urat gerak di tubuh Panglima kejam ini. Sehingga membuatnya tidak mampu bergeser ke mana-mana.

"Ada yang ingin kau katakan, Panglima sebelum Anak Langit datang menjumpai kita dalam rangka membuka Surat Kedamaian Dunia?" tanya Malaikat Penderitaan.

"Ada!" sahut Arung Garda. "Kau adalah manusia paling pengecut. Kelak jika aku terbebas dari totokan ini satu hal yang ingin kulakukan adalah memenggal kepalamu!" dengus laki-laki itu sengit.

"Hu hu hu...! Aku sangat menderita sekali mendengar ucapanmu. Tapi kau lebih menderita lagi karena niatmu tidak akan tercapai!"

"Huh, bagaimana kau tahu manusia busuk?" "Tuhan Yang Maha Tahu. Ajal kematianku bu-

kan di tanganmu, ini menyangkut ketentuanNya. Agar kau tahu aku kelak akan mati bila di dunia ini muncul manusia yang punya empat mata empat telinga empat lubang hidung dua mulut. Aku memang sedih, aku menderita. Tapi aku lebih menderita lagi jika tidak mati-mati. Huk huk huk!"

"Manusia edan!" maki Panglima Arung Garda. "Aku memang penuh keedanan, namun kegi-

laanku jauh dari angkara murka yang membuat aku menderita, yang membuat orang lain tersakiti dan yang menyeret manusia dalam jurang penderitaan. Kau adalah seorang pemimpin. Apa nanti jawabmu dalam pengadilan negeri akherat tentang apa yang kau pimpin?!"

"Persetan!" dengus Panglima Arung Garda.

"Ya, kau memang sahabat setan, kau salah satu pengikutnya. Itu sebabnya kau selalu menyebutnyebut makhluk terkutuk itu. Seret dia dan kumpulkan bersama si Raja Tega...!"

Maka Raja Kodok tanpa bicara apa-apa lagi langsung memanggul Arung Garda kemudian didudukkan dekat seorang laki-laki berwajah angker yang telah kehilangan dua tangan dan sebelah kaki. Untuk lebih jelasnya apa yang telah terjadi dan menimpa diri tokoh dari Sampuran Harimau ini (Ikuti Episode Lima Utusan Akherat). Panglima Arung Garda tentu kaget setengah mati melihat Raja Tega dalam keadaan mengenaskan. Laki-laki yang telah kehilangan tangan dan kaki itu seakan kehilangan kewibawaannya lagi.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Arung Garda pelan.

"Bocah Setan berambut merah itu. Daripada begini nasibku lebih baik aku mati saja. Sayang aku tidak bisa melakukannya." Raja Tega menggeram.

"Begitu mudahnya manusia memilih mati. Bekal kebaikan apa yang sudah kau perbuat, Raja Tega? Apa kau pikir segala perbuatan baik buruk manusia kelak tidak ditanya?" kata Malaikat Penderitaan yang rupanya mendengar keluh kesah Raja Tega.

Laki-laki paling sadis ini bungkam, hanya matanya saja memandang pada si kakek dengan melotot. Rupanya ia sangat geram sekali. Malaikat Penderitaan kemudian beralih pada Raja Kodok.

"Anak manusia. Siapakah engkau?"

"Aku... tidak punya nama yang pasti. Guruku menyebutku Raja Kodok!" jawab pemuda gendut pendek muka kodok.

"Siapa gurumu?"

"Guruku Bidadari Sungai Ilir."

Malaikat Penderitaan memandang ke langit. "Aku pernah mendengar manusia misterius itu. Hem, lalu mengapa kau sampai ke sini, apa yang kau cari?!"

"Aku ini punya dendam yang tidak terkira. Aku mencari hartawan Abdi Banda. Orang yang telah membuat aku terlahir ke dunia, orang yang juga membuat ibuku sengsara dan bunuh diri!" geram Raja Kodok.

"Siapakah nama ibumu?" tanya Pendekar Lugu. "Ararini." sahut Raja Kodok.

Sepontan paras pemuda baju putih berwajah polos seakan tanpa dosa ini berubah memucat. Sekilas membayang masa lalu dalam ingatannya.

"Benarkah ibumu telah bunuh diri?" tanya Pendekar Lugu lagi.

"Benar."

"Semoga Tuhan mengampuni semua dosanya. Jika nanti kau telah bertemu dengan hartawan Abdi Banda, kau hendak kemana?"

"Aku mau mencari paman Wahyu Sakaning Gusti. Konon ia adalah kekasih ibuku. Aku ingin minta maaf pada orang itu atas ketidak setiaan ibu dan juga minta maaf atas kesalahan kakekku."

"Ibumu tidak bersalah. Ia sekedar berbakti dan menyenangkan hati orang tua. Kesalahan kakekmu dapat dimaafkan, lalu apa keinginanmu yang lain?" suara Pendekar Lugu biasa-biasa saja tanpa ekspresi atau pun gejolak jiwa.

"Aku ingin berguru padanya. Menurut yang kudengar paman Wahyu Sakaning Gusti tidak pernah marah, tidak sombong, tidak iri, tidak dengki dan tidak suka mencela orang lain. Sedangkan aku adalah orang yang masih penuh amarah, penuh dendam, dan penuh kebencian. Bahkan pada diri sendiri pun aku benci."

"Nanti kau pasti akan bertemu dengan orang yang kau cari. Sebagai tanda niat baikmu itu, apakah kau mau membantu kami meringkus raja Lalim Durjana dan kawan-kawannya yang bersembunyi di istana ini?"

"Tentu saja aku mau. Tapi aku harus tahu, siapakah kau dan siapa pula kakek yang selalu merengek-rengek seperti anak kecil itu?" tanya Raja Kodok.

"Aku Pendekar Lugu. Sedangkan kawan kita yang suka menangis itu adalah Malaikat Penderitaan." jelas si pemuda.

Raja Kodok anggukkan kepala. "Lalu apakah sekarang aku harus mulai mencari raja Lalim Durjana?"

"Kau ikuti kami, memeriksa setiap loronglorong yang ada secara bersama-sama." tegas Pendekar Lugu.

"Bagaimana dengan kedua setan pelayangan ini?" Raja Kodok kelihatan ragu-ragu.

"Biarkan saja, mereka tidak dapat pergi kemana-mana!" Malaikat Penderitaan yang menyahuti. Mereka bersama-sama memasuki istana yang besar itu. Apa yang mereka lakukan ini terutama bagi Pendekar Lugu dan Malaikat Penderitaan adalah untuk yang ketiga kalinya setelah pencarian pertama dan kedua mengalami kegagalan.

* * *

"Masih sakitkah lukamu?" tanya Pemuda baju biru berambut hitam kemerah-merahan yang duduk di samping si gadis. Sebagaimana telah sama kita ketahui gadis berbaju hitam ringkas ini terluka setelah bertarung dengan Panglima Arung Garda.

"Kurasa sudah agak baikan sedikit. Luka-luka ini cepat mengering. Aku merasa berhutang nyawa padamu." sahut Puspita Sari alias Rana Unggul.

"Hust, aku tidak menghutangkan apa-apa, kok. Yang punya nyawa kan Gusti Allah, bersukurlah kepadaNya?!" kata murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api ini sambil membalut luka memanjang di bagian iga Puspita.

Puspita memandang cukup lama pada pemuda bertampang ketolol-tololan ini. Semakin ia memandang pada wajah tampan ketolol-tololan tersebut. Maka hatinya pun semakin bertambah resah.

"Betulkanlah pakaianmu. Semakin lama aku memandangmu, aku sih tahan-tahan saja. Tapi adikku tentu tersiksa." ujar Suro Blondo tampak menahan senyum.

"Siapa adikmu?"

"Adik kecilku yang selalu ikut kemana saja aku pergi. Ha ha ha...!"

"Pemuda gendeng! Bicaramu selalu ngawur dan nyerempet-nyerempet terus!" gerutu Puspita bersungut-sungut. Seraya membenahi pakaiannya yang agak berantakan. Wajahnya berubah kemerah-merahan.

"Yang nyerempet itu selalu membuat degdegan, penasaran sekaligus menegangkan." Sama sekali Puspita tidak menanggapi. Perlahan ia bangkit berdiri. Sementara itu Utusan dari Kapuas, Madura Indra Giri, telah selesai menguburkan mayat-mayat anggota mereka. Mereka ini sebagaimana kita ketahui tewas di tangan Panglima Arung Garda.

"Mari kita hampiri para utusan itu!" kata Si Bocah Ajaib Suro Blondo. Si konyol membimbing Puspita Sari, gadis itu menceritakan semua tujuan para Lima Utusan Akherat pada si pemuda. Suro anggukanggukkan kepala. Kini ia semakin mengerti bahwa sebenarnya para Utusan itu orang-orang baik yang patut didukung keinginannya.

"Mmm... sukurlah Nona dalam keadaan baikbaik saja. Kami semua sudah cemas. Panglima iblis itu benar-benar setan. Ilmunya aneh, badan sudah kehilangan kepala masih bisa jalan-jalan. Benar-benar gila. Aku hampir nggak percaya kalo tidak lihat sendiri!" kata Kalingga Jati penuh rasa takjub.

"Anda sekalian, sebaiknya sekarang kita pergi ke Ujung Dunia."

"Pendekar, bagaimana pun kami harus membawa jenazah Manggar Kesuma, Bias dan Ubudana. Karena walau cuma mayat mereka juga harus menyaksikan apa yang ingin disampaikan oleh Anak Langit." kata Kalingga Jati wakil dari Ujung Kulon yang telah kehilangan ketuanya, yaitu Ubudana.

Suro garuk-garuk kepala. "Mungkinkah orang yang sudah menjadi mayat bisa menjadi saksi. Sedangkan lawan-lawan yang akan kita hadapi pun tidak sedikit. Apakah mereka tidak merepotkan?" tanya Pendekar Mandau Jantan.

"Mayat pun bisa menjadi saksi." Dunga ikut bicara. "Guru kami mengatakan bahwa mayat pun bisa menjadi saksi. Karena roh mereka sebelum dikuburkan jenazahnya tentu akan mengikuti kemana pun jasad kasarnya dibawa pergi."

"Baiklah. Jika memang sudah begitu mau kalian. Tapi hati-hatilah, siapa tahu mayat kawan-kawan kalian bisa ngompol atau memberaki kalian. Aku terus terang saja tidak bisa tanggung jawab." kata si konyol.

"Bercanda sih bercanda. Tapi jangan keterlaluan!" Puspita mengingatkan.

Pendekar Blo'on langsung tutup mulutnya rapat-rapat.

* * *

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, tegang dan menyeramkan itu. Maka Patih Luragung sampai pula di ujung jalan menuju kota raja. Suasana setelah terjadi perang besar-besaran di kota raja memang lengang sekali. Kini semua orang berubah memusuhi pihak kerajaan. Terlebih-lebih rakyat yang selama ini hidupnya tertindas penuh penderitaan. Patih Luragung pun tidak berani muncul secara terangterangan. Ia tidak ubahnya seperti seekor tikus. Yang mudah curiga terhadap sesuatu yang bergerak di sekitarnya. "Aku tidak tahu apakah paduka sekarang ini berada dalam keadaan aman atau malah sebaliknya. Mudah-mudahan saja Malaikat Penderitaan tidak mengetahui tempat persembunyiannya!" kata Patih yang sekarang telah berubah gundul ini penuh rasa harap.

Patih kemudian membelok di jalan kecil menuju lorong rahasia yang menghubungkan ke tempat persembunyian raja Lalim Durjana di bawah tanah. Belum sempat Patih mencapai lorong utama. Tiba-tiba saja ia merasa ada hembusan angin menerpa wajahnya. Laki-laki ini tersentak kaget. Memandang jauh ke depannya, terlihat kabut putih menghampar di depannya. Lalu terdengar suara seseorang....

"Patih, bagus kau telah melaksanakan tugasmu. Tapi kuingatkan padamu sebaiknya jangan kau masuk ruangan rahasia. Musuh-musuh kita sudah mulai berdatangan. Kita harus menjalankan sebuah siasat yang baik. Mari ikuti aku!"

"Siapa kau?" tanya Patih Luragung curiga.

"Aku sang Maha Sesat. Jangan banyak tanyatanya lagi. Ikutilah aku!" perintah suara tadi.

Patih rupanya memang merasa tidak punya pilihan lain lagi. Ia terpaksa mengikuti perintah Sang Maha Sesat. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di kamar-kamar peraduan putri raja.

"Salah satu kelemahan laki-laki adalah tidak tahan menghadapi godaan perempuan cantik. Nah sekarang kita coba, mudah-mudahan saja usaha ini mendatangkan hasil." Sang Maha Sesat mengisiki. "Nah sekarang kau bersiap-siaplah meringkus siapa saja yang masuk dalam jebakanku!"

Meskipun belum mengerti benar apa yang akan dilakukan makhluk alam gaib itu. Patih Luragung kemudian bersembunyi di tempat yang aman. Sementara kabut tadi sudah menyelinap memasuki kamar peraduan putri raja.

Pada waktu itulah terdengar suara langkahlangkah mendekat ke arah kamar dimana kabut tipis tadi menghilang. Rupanya orang yang datang ini tidak lain adalah Si Raja Kodok. Sampai di depan pintu ia tertegun. Suara-suara sumbang kodok dalam kepis terdengar.

"Mengapa hatiku berdebar-debar. Apa mungkin raja bersembunyi di sini?" pikirnya. Dengan agak raguragu Raja Kodok mendorong pintu. Karena pintu dalam keadaan terkunci dari dalam. Maka ia mendobraknya dengan melepaskan pukulan dahsyat 'Kodok Menyanyi Hujan Menggila'.

"Bumm!"

Pintu kamar hancur berantakan. Raja Kodok melompat ke dalamnya. Ia terkesiap. Di atas ranjang ia melihat Puspita dalam keadaan setengah telanjang. Kaki dan tangannya dalam keadaan terikat.

"Tol... tolonglah aku...!" rintih gadis itu.

"Siapa yang telah melakukan ini?" tanya Raja Kodok yang sudah datang menghampiri.

"Aku tidak tahu, aku dibokong. ia... ia hampir saja memperkosaku!" jawab Puspita, Raja Kodok langsung melepaskan tali-tali yang mengikat tangan serta kaki Puspita. Begitu terbebas, gadis itu langsung memeluk Raja Kodok sehingga dadanya yang putih tidak terbalut apa-apa menekan keras dada Raja Kodok.

"Aku berterima kasih sekali padamu, Raja Kodok. Aku hampir saja mendapat malu besar." desah si gadis tanpa melepaskan pelukannya.

"Aku heran, kemana perginya orang yang telah membuatmu malu?" tanya Raja Kodok.

"Di... dia langsung pergi begitu mendengar suara langkah-langkah orang kemari." Raja Kodok yang setengah keheranan-heranan ini segera menjauhkan dirinya dari Puspita. Ia baru saja hendak mengatakan agar Puspita membenahi pakaiannya. Pada saat itulah Puspita dengan gerakan cepat menutup hidung Raja Kodok dengan telapak tangannya.

"Haaar...!" Raja Kodok meronta.

Tapi usahanya ini sudah terlambat. Kabut tipis beracun telah terhirup olehnya. Raja Kodok terhuyung, lalu ia tersungkur tidak sadarkan diri. Puspita, tersenyum, kemudian tertawa mengakak. Puspita palsu ini kemudian memanggil Patih Luragung.

***

3

"Paman Patih, lihatlah kemari?! Dia merupakan bagianmu untuk mengamankannya. Setelah mereka semua terkumpul, seret ke alun-alun untuk menerima hukuman pancung!" dengus Sang Maha Sesat yang kini telah raib dari pandangan mata.

"Hmm, aku suka sekali melaksanakan tugas ini!" gumam Patih Luragung. Ia mengeluarkan segulung tali dari balik pakaiannya. Maka tidak lama kemudian Raja Kodok pun sudah dalam keadaan terikat. Kodok-kodok, dalam kepis memberontak melihat tuannya mendapat perlakuan sedemikian rupa. Tentu saja makhluk dua jenis alam ini tidak dapat keluar, karena penutup kepis dalam keadaan terkunci. Patih menyeret Raja Kodok untuk dibawanya ke tempat yang aman.

Sementara itu di ruangan lain, Pendekar Lugu masih belum menemukan apa-apa. Tadi mereka memang sepakat untuk berpencar, namun sekarang timbul keragu-raguannya. Jangan-jangan jalan yang mereka tempuh malah membahayakan diri mereka. Pendekar Lugu keluar dari kamar peraduan raja. Ia bergegas menuju ke kamar lainnya. Tiba-tiba saja ia melihat Raja Kodok dalam keadaan terikat terlentang di atas lantai tidak sadarkan diri.

"Raja Kodok?!" serunya kaget sekali.

Pendekar Lugu tanpa merasa curiga langsung menghampiri. Setelah memeriksa keadaan Raja Kodok. Maka semakin pucatlah wajahnya.

"Dia terkena racun jahat Sang Maha Sesat! Tidak kusangka dia masih berkeliaran di istana ini. Bagaimana cara aku menyembuhkannya?!" desis Pendekar Lugu cemas.

Baru saja Wahyu Sakaning Gusti hendak membuka tali yang mengikat Raja Kodok. Pintu di belakangnya menutup dengan suara keras. Cepat sekali Pendekar Lugu menoleh ke belakang. Di saat itulah angin kencang berhembus disertai menebarnya bau wangi. Pendekar Lugu tiba-tiba saja terguling. Ia telah menghirup uap beracun yang sangat ganas. Nasibnya tidak ubahnya dengan kejadian yang dialami oleh Raja Kodok. Sosok Raja Kodok tadi menghilang, lalu terdengar suara tawa bekakakan penuh kemenangan.

"Sekarang hanya tinggal Malaikat Penderitaan! Orang satu ini sulit. Tentu dia tidak dapat ditipu, padahal Surat Kedamaian Dunia itu harus dapat kuambil agar isinya tidak dapat diketahui oleh orang-orang yang ingin menempuh jalan yang lurus!" kata Sang Maha Sesat. Kini muncul lagi Patih berkepala botak, ia pun melakukan tugasnya untuk yang kedua kalinya.

Sang Maha Sesat dalam gaibnya bergerak ke arah lain. Jika Malaikat Penderitaan saat itu sudah menemukan jalan menuju ke dalam ruangan rahasia. Maka pada waktu bersamaan pula Suro Blondo dan kawan-kawannya sudah sampai di gerbang istana.

"Di sini terasa sepi sekali!" celetuk Dunga setelah memperhatikan situasi di sekeliling mereka.

"Sepi menghanyutkan." sahut Suro. Keningnya berkerut-kerut, mulutnya termonyong-monyong. "Lihat... bukankah dua ekor kunyuk itu yang hampir membuat kita semua celaka? Eeh... ini yang aneh! Kepala Arung Garda kok menempel lagi, herannya lagi dia dan Raja Tega seperti tidak berdaya. Coba kita lihat...!"

Kedelapan orang ini langsung mendatangi. Melihat kedatangan mereka Panglima Arung Garda melotot, sedangkan Raja Tega meludahi muka Pendekar Blo'on.

"Sial! Mestinya kau juga kehilangan gigi serta mulut. Ludahmu bau dosa. Kalau saja aku tidak malu sudah kukencingi kau punya muka!" gerutunya.

"Kau...!" Suro menunjuk Arung Garda. "Bagaimana kepalamu yang sudah kucopot itu dapat menyambung kembali?"

"Hh, tanyakan pada setan-setan di neraka!" dengus Panglima sinis. "Ingat! Jika aku terbebas dari pengaruh totokan jahanam ini, kaulah yang paling pertama kukirim ke neraka!" ancamnya. Suro menyeringai. Ia mendekat, lalu ditariknya dua helai kumis Arung Garda.

"Akkh... bangsat sialan. Anak Setan...!" maki Panglima telenggas ini sambil meringis-ringis kesakitan.

"Nah kucabut kumismu saja sudah kesakitan. Bagaimana kau bisa dengan sesuka hati menyakiti orang lain, membunuh manusia tanpa sebab. Apa kau kira nyawa manusia milik nenek moyangmu?" dengus murid Penghulu Siluman Kera Putih dan Malaikat Berambut Api dingin. "Sudahlah, biarkan saja. Sebaiknya kita susul kawan-kawan kita yang mungkin sedang berada di dalam sana." sergah Puspita Sari.

"Kau dan para utusan ini boleh bersama-sama memberitahukan kedatangan kita pada Malaikat Penderitaan. Kurasa mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan Anak Langit!"

"Kau sendiri?"

"Biarkan aku tetap berada di sini menjaga segala kemungkinan."

"Tuan Pendekar, menurutku keadaan di istana ini sudah aman. Sebaiknya kita semua masuk saja ke dalam." usul Dendra.

"Mana boleh begitu. Aku ragu raja Lalim Durjana minta bantuan sekutu-sekutunya. Jika kita semua berada di dalam. Tentu kita tidak akan tahu jika sewaktu-waktu musuh datang kemari!"

"Dia benar." Yang bicara adalah Dunga. "Kita harus menjaga segala kemungkinan. Karena bukan mustahil raja telah melarikan diri, untuk kemudian kembali lagi ke sini dengan membawa bantuan."

Alasan yang dikatakan Dunga memupus keragu-raguan di hati para utusan juga hati Puspita. Setelah para utusan memasuki istana, kini hanya tinggal Suro saja yang berada di alun-alun istana. Ia mondarmandir sambil mengawasi tawanan. Namun bila orangorang ini memperhatikannya. Maka Pendekar Blo'on cepat-cepat memalingkan perhatiannya ke arah lain.

* * *

Pada waktu itu terdengar suara tangis sayupsayup di kejauhan. Angin tidak berhembus, matahari redup. Suasana sunyi seakan berada di sebuah daerah tanpa kehidupan. Semakin jelas sosok yang menangis itu. Maka semakin kuatlah suara tangisnya. Hati setiap orang tercenung, jiwa terguncang. Raja Tega, Panglima Arung Garda tidak terkecuali Pendekar Blo'on sendiri ikut terseret dalam tangis. Maka menangislah mereka sejadi-jadinya. Keadaan mereka saat itu seperti orang yang sedang menyesali sesuatu. Terbayang dosadosa yang mereka perbuat di masa lalu.

Raja Tega yang ikut terseret dalam tangis menyedihkan itu kini meraung. Tidak ubahnya seperti orang yang kehilangan kekasih yang sangat dicintainya. Pendekar Blo'on kerahkan tenaga dalam untuk menghilangkan pengaruh tangis yang menyedihkan itu. Namun ia sama sekali tidak berdaya melakukannya. Ia duduk bersila, lalu pejamkan matanya. Dikosongkannya hati, jiwa dan pikirannya. Sementara mulutnya terus termonyong-monyong.

Sekejap entah darimana datangnya. Di atas tembok istana telah duduk seorang laki-laki tua memakai kupluk putih. Di tangannya memegang tasbih. Wajahnya tertunduk, jenggot panjang dan ia terus menangis tiada henti.

"Huuuuuu... hu hu hu...! Kudengar keluh matahari, ia memancarkan cahaya penerang bumi yang sia-sia, karena begitu banyak manusia lalai menyembah TuhanNya! Kudengar pula jeritan bumi, begitu beratnya ia mengemban beban manusia-manusia bergelimang dosa. Matahari diperbudak manusia, bumi diinjak-injak orang-orang kotor. Seandainya kalian tahu pasti apa yang aku ketahui. Tidak ada kesempatan bagi kalian untuk tertawa dan menyia-nyiakan umur. Kalian lebih banyak menangis daripada tertawa. Hidup delapan puluh lima tahun, hatiku selalu risau memikirkan dosa-dosaku sendiri dan dosa orang lain. Adakah manusia pernah berpikir untuk apa dia hidup, buat apa dia dilahirkan? Apakah hanya untuk mengurusi perut, memperturutkan hawa nafsu atau menjadi budak setan?! Hu hu hu...! Sekali-kali tidak demikian, jika kau mau berpikir. Manusia dilahirkan untuk berbakti pada Gusti Allah. Aku kasihan... manusia kebanyakan lalai karena disibukkan mengurusi harta benda dan mengumpulkan anak-anak. Harta yang kau kumpulkan dengan susah payah itu kelak akan kau tinggalkan, orang-orang yang kau cintai itu kelak akan meninggalkanmu dan kau akan dilupakannya. Jika aku sudah terbujur menyatu dengan tanah bekal apakah yang aku bawa? Adakah harta benda dan anakanakku dapat menolongku dan menyelamatkan diriku dari sebuah azab yang pedih. Duh, betapa yang namanya manusia itu sangat sombong sekali, terlalu membanggakan diri karena keberhasilannya, kedudukannya, kekayaannya, kecantikannya dan mereka kebanyakan sangat mencintai dunia. Janganlah begitu, nanti engkau akan tahu pasti. Jangan begitu kelak engkau akan menyesal, penyesalan yang sama sekali tidak berguna. Aku sibuk, aku sedih melihat kalian mengejar gemerlapnya dunia. Aku lebih sedih lagi melihat dua alat pembunuh yang kini tidak berdaya. Oh, aku lebih suka merenung, perenunganku membuat aku menangis, tangisku karena penyesalan. Bukan untuk persoalan dunia yang penuh dengan kebusukan ini, tapi menyangkut urusanku dan urusan semua orang setelah mati. Hu hu hu...!"

Si kakek yang kedua matanya memerah dan bengkak-bengkak ini terus saja menangis. Raja Tega masih juga menangis, Arung Garda mulai dapat menguasai diri. Sedangkan Suro sudah berdiri dan tidak lagi menangis. Memandang ke atas tembok, ia melihat si kakek berjanggut panjang terus tundukkan kepala sambil menangis. Melihat ke bagian tangan, tasbih besar itu terus berputar lambat namun pasti. "Kisanak, siapakah Anda yang suka menangis?" tanya Pendekar Mandau Jantan sambil menyeka sisa air mata di pipinya.

"Hu hu hu, aku sibuk memikirkan dosadosaku. Aku bingung dimana kelak aku ditempatkan? Apakah di sorga atau neraka? Aku lupa siapa diriku sendiri. Kudengar orang menyebutku sebagai 'Makhluk Sibuk', kudengar pula orang menyebutku 'Si Perenung Dosa'. Aku tidak perduli siapa aku, aku hanya perduli pada perbuatan baik burukku...!"

Suro tercengang, mulut melongo. Ia cepat tutup mulutnya dengan satu jari tangan. Ia jadi teringat pesan gurunya Malaikat Berambut Api ketika ia berada di puncak Mahameru dulu.

"Suro, di dunia ini ada seorang manusia yang tidak sempat memikirkan urusan dan kemewahan dunia karena terlalu sibuknya ia memikirkan dosa sendiri dan dosa orang lain. Ia tidak mau usilan, ia selalu melerai setiap ada pertikaian. Ia menangisi kesalahannya di tempat sepi. Ia tidak pernah lupa mengingat Gusti Allah. Orang itu adalah Si Perenung Dosa atau Makhluk Sibuk. Kepadanya dapat kau tanyakan apa arti dan hakekat hidup manusia yang sebenarnya. Lalu ada lagi manusia sejati yang selalu memikirkan bagaimana kiranya manusia bisa selamat dari murka TuhanNya. Dia adalah Wahyu Sakaning Gusti. Sedangkan Malaikat Penderitaan. Dia tergolong manusia setengah Malaikat. Ujudnya antara ada dan tiada, tapi juga dapat menjadi nyata. Masih banyak lagi golongan lurus yang hidupnya hanya ingin mengajak orang lain berbuat baik agar manusia tidak tersesat    di dunia dan akherat. Justru orang-orang yang kusebutkan ini, kurang disukai oleh masyarakatnya. Keberadaannya bahkan dimusuhi, dicaci dan dihina. Namun sedikit pun mereka tidak membalas perlakuan buruk itu. Orang-orang inilah sesungguhnya manusia yang beruntung...!"

Teringat akan pesan-pesan gurunya, tiba-tiba saja Suro berlutut. Kakek di atas tembok semakin keras tangisnya.

"Aku bukanlah apa-apa, mengapa kau menghormat padaku? Mengapa engkau tidak menghormati dirimu sendiri, Bocah Ajaib?!" Ucapan Perenung Dosa ini membuat Pendekar Blo'on terkesima. Lalu ia bangkit lagi. Memandang ke atas tembok matanya berkacakaca.

"Perenung Dosa, ketahuilah bahwa aku adalah manusia hina yang punya begitu banyak kesalahan. Dosa-dosaku tidak terhitung banyaknya. Hutangku juga banyak, hutang air, hutang makanan, hutang udara, hutang segala kenikmatan hidup yang aku nikmati. Aku hutang, penglihatan, hutang penciuman, hutang pendengaran, hutang nyawa dan anuku juga berhutang pada Gusti Allah, sudilah kiranya kau memberi petunjuk padaku yang goblok ini!" kata Suro masih dengan merapatkan kedua tangannya.

Jika bukan Makhluk Sibuk yang mendengar ucapan si pemuda, tentu sudah tertawa mendengarnya.

"Apa yang kau sebutkan itu dalam arti yang luas. Semua itu cukup kau panjatkan dengan rasa syukur yang mendalam pada Tuhanmu. Ketahuilah sebaik-baiknya manusia adalah orang yang selalu merasa dirinya punya banyak kesalahan dan dosa. Dengan demikian berarti ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak, berpikir, menentukan langkah. Seburukburuknya manusia adalah orang yang selalu menganggap dirinya yang paling baik dan yang paling benar. Sedangkan orang lain dianggapnya salah semua. Halhal seperti yang kusebutkan ini hanya menimbulkan keangkuhan. Jika kau berbuat kebaikan anggap saja seperti kau membuang hajat, jangan kau ingat-ingat apa warnanya, bagaimana bentuknya, bulat, gepeng, atau encer. Jika kesalahan yang kau lakukan, sebaiknya kau sesalilah, dan berjanji dalam hati agar tidak membuat kesalahan lagi. Hu hu hu...!"

"Aku pun... hu hu hu...! Kalau boleh tahu darimanakah asal-usulmu, Kek? Aku ingin tahu sesungguhnya tugas apa yang harus kulakukan dalam hidup ini?" kata Suro Blondo.

"Tugas manusia adalah berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Mengenai asal usulku adalah dari lembah Penantian. Tempat itu jauhnya tujuh puluh tahun perjalanan kaki." sahut Makhluk Sibuk. Suro geleng-gelengkan kepala.

"Jauh amat, Kek." gumam Suro sambil garukgaruk kepala.

"Jika Gusti Allah menghendaki kelak kau akan sampai ke sana."

"Okh... oh...!"

"Bocah Ajaib, kau kedatangan tamu! Huk huk

huk...!"

Baru selesai Makhluk Sibuk bicara. Tiba-tiba di

depan Suro berkelebat sosok bayangan. Ketika Pendekar Mandau Jantan ini memandang ke depannya maka di situ sejarak dua tombak telah berdiri seorang kakek berbadan semampai, punya satu mata di tengahtengah kening dan bergigi runcing macam gergaji. Kakek berambut putih hanya memakai cawat ini tertawa ngakak. Giginya yang merah berlumur darah yang sudah mengering terlihat sangat mengerikan.

"Jauh Bukit Kematian ku tinggalkan, aku datang memenuhi panggilan sobatku Sang Maha Sesat. Ternyata di sini sepi-sepi saja, tidak ada penyambutan. Terkecuali seorang pemuda tolol dan tua bangka monyet yang duduk di tembok tanpa peradatan!" dengus Pertapa Seribu Abad.

Belum sempat Suro menyahuti, Makhluk Sibuk yang duduk sambil menangis di atas tembok menyahuti....

"Manusia yang paling konyol di dunia adalah Bocah Ajaib dan gurunya. Manusia yang gemar membunuh tanpa perasaan adalah Si Raja Tega, hu hu hu... manusia yang menyamai iblis di dunia ini adalah orang bermata satu bergigi gergaji dan doyan daging saudaranya sendiri. Dialah orang paling jelek, bertingkah laku seperti iblis yang selalu meresahkan dan menjerumuskan manusia dalam kesengsaraan. Aku sedih melihat dosa-dosanya tujuh langit tembus. Huk huk huk...!"

"Bangsat! Aku tahu siapa dirimu, kau terlalu sibuk memikirkan dosa-dosamu, itu sebabnya kau dijuluki Perenung Dosa. Lihatlah dosa-dosa orang lain yang begitu banyaknya. Urusilah mereka jangan kau campuri kepentinganku!" kata Pertapa Seribu Abad. Rupanya kakek aneh ini sudah kenal dengan Makhluk Sibuk yang konon dengan petuah-petuahnya membuat orang menangis tiada henti. Jika Perenung Dosa sudah menangis, kabarnya binatang dan makhluk hidup lainnya juga terhanyut dalam tangisnya.

"Hu hu hu...! Aku selalu heran manusia berbuat dosa masih bisa tertawa. Tetapi aku lebih heran lagi Pertapa sepertimu, manusia yang kejahatannya melebihi setan dipanjangkan umurnya! Hu hu hu... aku suka merenung bahkan aku tidak pernah berhenti dari perenungan!" sahut Makhluk Sibuk di tengahtengah isak tangisnya yang semakin menggila.

*** 4

Wajah Pertapa Seribu Abad berubah kelam membesi. Mata tunggalnya yang bulat besar kelihatan memerah. Semakin lama semakin bertambah merah laksana darah. Tiba-tiba dia berteriak keras, suara teriakan disusul dengan melesatnya sinar merah menghantam ke arah tembok. Sosok Mahkluk Sibuk lenyap dari pandangan mata. Sinar merah menghamparkan panas luar biasa melabrak tembok benteng.

"Buuuumm!"

Terdengar suara berdebum, tembok hancur menjadi kepingan debu dan batu-batu kecil, tidak terlukiskan bagaimana seandainya serangan itu mengenai manusia. Di bagian lain terdengar suara tangis tersendat-sendat. Tidak lama Pertapa Seribu Abad memandang ke arah itu. Ternyata Perenung Dosa telah duduk di sana sambil menyeka air matanya.

"Hmm, lebih tenang lagi kau merenung di dalam kubur. Aku akan mengirimmu ke sana dengan bocah tolol ini!" dengus mata satu.

Tidak lama Pertapa Seribu Abad mengedipkan matanya ke arah Suro Blondo. Dua larik sinar merah menerjang Si Bocah Ajaib dengan kecepatan luar biasa. Suro tertawa bekakakan.

"Orang gila!" Suro menggerutu. "Kau kira aku ini perempuan pake main kedip mata segala. Kalau pun aku perempuan mana aku mau dengan manusia jelak sepertimu!" Pendekar Blo'on melompat sejauh dua tombak selamatkan diri. Pukulan memang menghantam tempat kosong, tetapi hawa pukulan membuat kulitnya seperti hangus.

Suro leletkan lidah, mulutnya termonyongmonyong. Tiba-tiba saja pemuda itu menerjang ke depan. Karena serangan pemuda konyol itu sangat cepat datangnya dan ia sudah mempergunakan jurus 'Tawa Kera Siluman'. Tidak ada kesempatan lagi bagi Pertapa Seribu Abad lepaskan pukulan atau mengedipkan mata.

Ia menyambut serangan itu dengan tangan terkembang merobek dada,   kaki kakek mata satu pun menghantam ke arah perut Suro. Pemuda itu menghindar ke samping, sedangkan tangannya menangkis.

"Dhaak...!"

"Heps...!"

Pemuda ini jatuh terduduk. Tangannya bengkak membiru, dari bibirnya sempat terdengar suara tawa bekakakan. Pertapa Seribu Abad terus mencecarnya dengan serangan-serangan dahsyat. Pemuda itu kalang kabut dan berguling-guling menghindari.

Hingga kemudian terdesaklah pemuda ini. Tibatiba ia bangkit berdiri dan dengan cepat tubuhnya berkelebat lenyap dari pandangan lawannya. Sementara itu suara tawa terus terdengar di sekeliling Pertapa Seribu Abad. Suara tawa itu bagi tokoh berkepandaian tinggi ini terasa cukup mengganggu juga. Tiba-tiba saja ia berteriak keras. Tinjunya secepat kilat menghantam wajah Suro. Suro merunduk, ketika kaki menyapu ke arah pinggang Pendekar Blo'on melompat. Si kakek mengejar, tapi Suro sudah menjatuhkan tubuhnya. Lalu dengan bertumpu pada punggungnya, Suro lancarkan satu tendangan menggeledek.

"Duuk!" "Ueh...!"

Kaki menggedor pinggang, tapi malah Suro yang kaget dan meringis kesakitan.

Tubuh lawannya keras bukan main, terpincang-pincang Pendekar Blo'on bangkit berdiri. Di saat itulah lawan menyerangnya dengan pukulan yang sulit terelakan. Si Bocah Ajaib tarik kepalanya ke belakang, perutnya agak ke depan, gerakannya ini terkesan lucu, sebab begitu pukulan beralih ke perut. Maka kepalanya yang menyentak ke depan beradu dengan kepala lawannya.

"Bletak!"

"Waduh...!" Suro menggerutu, dengan cepat ia mundur sambil usap-usap keningnya yang benjol. Ee... ternyata jidat lawannya juga benjol kok. Pertapa Seribu Abad selain geram juga kagum karena dengan gerakan yang serudak seruduk seperti monyet mabuk ternyata lawan masih mampu menghindar dari seranganserangan yang cukup ganas.

"Sungguh bocah ini tidak pernah kusangka punya kepandaian yang hebat. Gerakannya penuh dengan keajaiban. Aku telah tertipu dengan penampilannya yang seperti orang goblok tidak punya kepandaian apa-apa." gerutu kakek mata tunggal dalam hati. "Iblis Edan ini tidak boleh dikasih hati. Aku ta-

kut dia minta kepalaku! Aku harus punya satu cara untuk menghancurkan tubuhnya yang atos itu." pikir Suro Blondo.

Belum lagi Suro sempat mengambil keputusan yang tepat. Pertapa Seribu Abad sudah menghentakkan kedua tangannya masing-masing ke kiri dan ke kanan. Ketika kedua tangannya disilangkan ke depan dada. Berubahlah paras Makhluk Sibuk.

'"Sirna Raga?" desisnya. Lalu tangisnya semakin bertambah keras. "Itu adalah pukulan sekaligus jurus yang paling keji!"

Pendekar Blo'on untuk beberapa saat lamanya terkesiap. "Kurasa inilah jurus yang mematikan bagiku! Tangannya merah seperti bara, bau amis ini merupakan tanda di kedua tangannya terkandung racun yang Maha ganas. Aku tidak mungkin bentrok badan dengannya!" pikir si konyol. Begitu seriusnya ia menghadapi serangan ganas itu, sampai-sampai di luar kesadarannya mulutnya sudah pletat pletot.

"Heaaa...! Hancur..." teriak Pertapa Seribu Ab-

ad.

'"Neraka Hari Terakhir'! Hyaa...!" teriak Pende-

kar Blo'on.

Tubuh si kakek mata tunggal yang sudah melesat kencang ke arahnya ini seakan tertahan-tahan di udara ketika ia melihat sinar merah kehitam-hitaman menyerbu ke arahnya. Sementara itu si kakek juga heran mendengar suara jeritan-jeritan aneh di sekelilingnya. Jeritan itu seakan datang dari makhluk-makhluk penghuni neraka. Melihat tidak ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan diri. Sambil memaki ia pergunakan kedua tangannya untuk melindungi tubuhnya. Maka dari sikap menyerang sekarang tangannya diputar hebat.

"Buuuum!"

Pertapa Seribu Abad menjerit tertahan. Ia jatuh terduduk, nafasnya megap-megap, dadanya sakit seperti tertusuk ribuan barang jarum. Wajah laki-laki itu pucat. Memandang pada murid Penghulu Siluman Kera Putih sekaligus murid Malaikat Berambut Api. Pemuda itu tampak lebih konyol lagi. Rambutnya awutawutan, bibirnya meneteskan darah, baju bagian depannya sobek. Ia tidak dapat lagi tersenyum, melainkan meringis kesakitan.

Suro segera atur jalan nafas, kerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka yang dideritanya. Dalam hati ia kaget juga 'Pukulan Neraka Hari Terakhir' adalah sebuah pukulan pada tingkatan paling tinggi dan merupakan warisan kakek Dewana. Pertapa Seribu Abad bukan saja dapat menangkis serangan maut itu, tapi ia masih bertahan hidup. Suro belum pernah melihat lawan dapat bertahan seperti ini. Selagi Suro masih memejamkan mata, Pertapa Seribu Abad menyerbu ke arahnya. Tangannya cepat terayun menghantam batok kepala Suro. Pemuda ini memang sempat rasakan adanya sambaran angin, tapi untuk bergerak mustahil baginya. Karena konsentrasi masih berpusat pada bagian dada dalam usaha menyembuhkan luka. Kalau pun ia paksakan diri, akibatnya dapat membuat tubuhnya lumpuh.

Pada saat yang sangat kritis itu, berkelebat sosok bayangan, kemudian terdengar pergelangan tangan seperti patah berderak.

"Aaa...!"

Pertapa Seribu Abad menjerit kesakitan. Tidak jauh darinya berdiri Makhluk Sibuk.

"Perenung Dosa, mengapa kau campuri urusan orang lain?" bentak kakek Pertapa. Ia mengurut-urut tangannya. Secara aneh tangan itu menyambung dan utuh kembali seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

"Huk hu hu hu...! Mencampuri urusan orang lain hanya menambah dosa bagiku! Tapi aku akan lebih berdosa lagi jika melihat pembunuhan terjadi di hadapanku, sementara aku hanya bersikap masa bodoh!"

"Bangsat! Rupanya kau mau minta bagian mati duluan!" geram Pertapa Seribu Abad.

"Untuk apa aku sibuk-sibuk mengurusi amarah setan. Aku sudah kelewat sibuk memikirkan dosaku dan dosa umat. Huk huk huk..,!" Makhluk Sibuk tibatiba melompat. Sekali berkelebat ia sudah berada di atas genteng, nongkrong di sana sambil menangis.

Walaupun Pertapa Seribu Abad bermaksud mengejarnya, namun di depannya telah menghadang Pendekar Blo'on. Pemuda itu seka keningnya yang berkeringat bercampur debu.

"Punya hubungan apa kau dengan Malaikat Berambut Api?" tanya si kakek.

"Perlu apa kau bertanya? Ingin mengulur waktu atau mau mengulur jalan menuju akherat? Ha ha ha...!" dengus Pendekar Mandau Jantan.

"Huh, jangan bermimpi bocah konyol. Dan jangan pula kau kira gurumu manusia yang paling hebat!" teriak Pertapa Seribu Abad. Tiba-tiba saja secara curang dan cepat ia mengedipkan matanya. Sinar merah menyambar, Suro berusaha menghindar dengan cara seperti monyet bergelantungan berpindah tempat. Ternyata gerakannya yang cepat itu masih kalah cepat dengan gerakan lawannya. Serangan itu menyambar selangkangannya. Suro menjerit dan berguling-guling untuk memadamkan api. Kedua pahanya kiri kanan melepuh. Ia segera memeriksa. Mulutnya termonyongmonyong.

Untung cuma pahanya saja yang melepuh, adiknya Suro yang sedang tidur tidak apa-apa.

"Bangsat betul kau. Sasaran lain masih banyak, kau malah memilih pusaka milik perempuan! Aku benar-benar tidak terima lahir batin." maki Suro.

"Set!"

Pendekar Blo'on cabut senjata ampuh Mandau Jantan di balik pakaiannya. Sinar hitam berkeredep menyilaukan mata. Ketika Suro mengalirkan tenaga dalam ke bagian senjata itu, maka semakin menghitamlah Mandau Jantan di tangannya.

"Inilah senjata maut yang menghebohkan itu!" batin Pertapa Seribu Abad. Tiba-tiba saja ia membeset lengannya dengan mempergunakan ujung jemari tangannya. Sesuatu yang sangat mengerikan dan sulit dipercaya terlihat. Si kakek mengambil benda putih kecil sepanjang siku. Senjata itu tersimpan di bawah kulit di dalam daging tangan Pertapa Seribu Abad. Di atas genteng tangis Makhluk Sibuk semakin menjadi-jadi. Sementara Suro yang sempat tercengang leletkan lidahnya. Kemudian ia menggerakkan senjata di tangannya. Sinar hitam bergulung-gulung disertai dengan terdengarnya suara meringkik, menangis dan suara tawa. Suara yang aneh-aneh itu jelas berasal dari empat buah lubang miring yang terdapat di cekungan pipih yang terdapat di tengah-tengah mandau.

Walaupun sahabat Sang Maha Sesat ini sempat kaget juga. Namun ia segera putar pedang tipis pendek yang dikenal dengan nama 'Perenggut Jiwa Penghancur Sukma'. Inilah pertempuran yang paling sengit penuh bahaya yang pernah dihadapi oleh Pendekar Konyol Suro Blondo. Sebab ketika itu masing-masing pihak telah mengerahkan segenap kesaktian dan jurusjurus yang mereka miliki.

Sinar hitam dan sinar merah saling mendesak, mengurung atau terkadang menerobos pertahanan lawannya. Suro secara silih berganti merubah jurusjurus serangannya. Kini ia bahkan mempergunakan jurus 'Kacau Balau', untuk menghindari tusukan dan sabetan senjata lawan. Pemuda ini terhuyung kian kemari, gerakannya tidak beraturan sulit ditebak, bahkan    Pertapa Seribu Abad sendiri sampai sejauh itu tidak dapat memecahkan jurus lawan yang penuh dengan bermacam-macam keanehan. Pertapa Seribu Abad melompat mundur seperti frustrasi, sebaliknya Suro melompat maju. Lalu tusukkan senjata ke lambung si kakek. Orang ini menepisnya dengan mempergunakan senjata.

Tring...!

Dua-duanya terhuyung ke belakang. Pucat wajah Suro, tapi lawannya lebih pucat lagi. Benturan tadi membuat Suro merasa tangannya panas seperti terbakar. Sampai-sampai Suro membolang-balingkan senjatanya untuk menghilangkan hawa panas yang menyerang tangannya.

Kesempatan yang sekejap itu tidak disia-siakan Pertapa Seribu Abad. Ia menerjang ke depan sambil tusukkan pedang 'Perenggut Jiwa Penghancur Sukma'. Terdengar suara mendesing menyakitkan telinga. Suro berkelit ke samping selamatkan diri. Tangannya terangkat, lalu diayunkannya Mandau Jantan menerabas pangkal lengan si kakek.

"Hiiiiiik! Huuuuu! Ha ha ha...!"

Seiring dengan terdengarnya suara mandau yang aneh-aneh itu. Maka....

"Traas!" "Auuuukh !"

Pertapa Seribu Abad menjerit kesakitan. Potongan tangan berikut pedangnya terjatuh. Pedang ditendang oleh si konyol sesuka hatinya. Senjata itu melesat ke udara. Tapi begitu sampai di angkasa terdengar suara ledakan yang sungguh dahsyat sekali.

Keanehan lagi-lagi terjadi pada lawannya. Si kakek mata tunggal ini tiba-tiba menjerit seperti orang yang urat-urat di sekujur tubuhnya dicabuti. Suro terlolong-lolong, terlebih-lebih ketika melihat Pertapa Seribu Abad ambruk seperti orang lumpuh kehilangan tenaga dan kekuatan.

"Huk huk huk! Aku manusia paling sibuk, kau pendekar tolol tidak perlu sibuk memikirkan apa yang terjadi pada Pertapa Seribu Abad. Ketahuilah, bahwa pedang Perenggut Jiwa Penghancur Sukma merupakan sumber kekuatannya. Ia juga sumber kesaktian orang itu, kau telah menendangnya secara tidak sengaja. Kau tolol tapi pintar. Jika pedang itu terpisah sepuluh tombak dari tuannya, maka seperti yang kau saksikan itulah yang terjadi padanya." Makhluk Sibuk mengisiki.

"Oh begitu. Ha ha ha...! Jadi setan jelek itu ada kelemahannya. Nah sekarang aku harus buat perhitungan padanya!" Dengan penuh kegeraman Suro menghampiri. Mandau Jantan ditimang-timangnya. "Hancur pakaianku harus diganti dengan kulitmu. Aku juga ingin mencabuti gigimu yang jelek itu. Kemudian matamu yang menyalahi kodrat dan tidak pada tempatnya harus kupindahkan ke sebelah kiri. Nah apa usulmu Pertapa Seribu Abad!" tanya Suro, cengar cengir namun serius.

"Bangsat! Kalau kau mau membunuhku. bunuh saja. Tidak perlu kau menyiksaku!' dengus si kakek. Ia mengedipkan matanya. Namun tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Ia benar-benar telah kehilangan kesaktiannya.

"Mati bagimu terlalu enak, kau harus merasakan penderitaan yang menyakitkan. Nah sekarang akan ku mulai dari gigimu, matamu tentu saja yang terakhir kali mendapat giliran, agar mata yang cuma satu itu dapat melihat Mandau ini melakukan tugasnya!" kata Suro, lalu tersenyum sinis. Pada waktu itu pula ia mendengar suara bisikan.

"Apa nanti kata orang kau seorang Pendekar. Tapi menyakiti dan menganiaya orang yang sudah tidak berdaya. Bukankah itu merupakan tindakan yang sangat pengecut?" Suro memandang ke atas genteng. Makhluk Sibuk alias Perenung Dosa sudah tidak terlihat lagi. Tapi Suro konyol tetap merasa yakin yang mengisiki barusan pastilah Perenung Dosa.

"Buah...! Kalau saja aku tidak takut disebut pengecut. Sekarang kau pasti telah merasakan pembalasanku. Nanti setelah kawan-kawanmu kukumpulkan di sini. Kalian bersama-sama akan menuju ke Alam Baka!" kata Suro. Pemuda bertampang konyol ini lalu menghampiri Pertapa Seribu Abad. Lalu tiba-tiba saja ia meremas tongkat milik si kakek. Tiba-tiba orang ini merasakan sekujur tubuhnya menjadi kaku. Ia hendak memaki karena sikap si pemuda yang konyol itu. Tapi suaranya tidak terdengar. Si Bocah Ajaib kemudian tertawa tergelak-gelak menuju ke istana. Lalu terdengar suaranya....

"Totokan pada tongkat membuat orang tidak dapat bergerak dan bicara. Lebih dari itu ia tidak mungkin bisa kurang ajar pada wanita selama lima tahun! Sungguh manusia tidak berguna jika sudah lumpuh segala-galanya !"

"Manusia edan keparat!" maki Pertapa Seribu Abad tanpa mampu berbuat apa-apa.

***

5

Malaikat Penderitaan menelusuri Lorong Rahasia di belakang istana. Dalam kesempatan itu pula ia melihat ada seorang laki-laki menghadang di depan kakek itu. Malaikat Penderitaan memandang ke depan. Kedua matanya menyipit seakan ingin menyelidik.

"Aku Malaikat Penderitaan, sebaiknya orang di depan menyingkir! Aku tidak mau cari perkara cari urusan." gumam si kakek pelan suara.

"Aku memang sengaja menunggu kedatanganmu ke sini. Ternyata kau datang juga. Nah sekarang

serahkanlah kitab yang kau bawa. Surat Kedamaian Dunia isinya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini!"

Malaikat Penderitaan tertawa, namun tawanya seperti orang yang sedang menangis. "Hak hak hak. Mendengar permintaanmu hanya membuat aku menderita. Kau tidak punya hak apa-apa atas surat yang kubawa. Menyingkirlah!" tegas kakek bermuram durja itu sinis.

Laki-laki di depannya tarik salah satu kakinya ke belakang. Tampaknya ia telah siap melakukan sesuatu.

"Malaikat Penderitaan." dengus laki-laki misterius di depannya sengit. "Engkau, aku atau siapa saja sekarang ini tidak jauh bedanya dengan orang yang sedang melakukan perjalanan ke alam baka. Surat Kedamaian Dunia paling tidak harus kuketahui apa isinya, jika kau ingin terselamat dari perjalanan itu. Tetapi jika kau tidak menuruti kehendakku. Maka sesungguhnya perjalanan yang kau tempuh begitu sulit mendaki dan penuh onak duri!"

"Huh huh huh ! Hidupku sepenuhnya kugan-

tungkan pada Gusti Allah. Jika hari ini Ia memanggilku untuk kembali, maka sedikit pun tiada berat bagiku. Aku menerima semua yang terjadi dan yang sudah menjadi garisku dengan ikhlas. Namun jika kau meminta sesuatu yang menjadi tanggung jawabku, maka aku akan mempertahankannya hingga titik darah yang terakhir!" tegas Malaikat Penderitaan.

"Lebih baik kau ingkari, di sini hanya aku dan kau saja, tidak ada siapa-siapa yang melihat. Jika kau penuhi keinginanku ini, maka sepuluh puteri raja yang cantik-cantik menjadi milikmu, kau juga berhak menduduki tahta kerajaan menggantikan raja Lalim Durjana. Aku juga akan mengupayakan agar seluruh harta benda peninggalan hartawan Abdi Banda menjadi milikmu!" bujuk laki-laki misterius.

"Huh, lezatnya kenikmatan dunia memang semua orang ingin memiliki. Tapi ketahuilah, kau meminta pada orang yang salah, waktu yang kurang tepat. Wahai Sang Maha Sesat, jika kau berikan apa yang kau janjikan itu pada orang yang mencintai kehidupan dunia, mungkin mereka tidak akan menolak. Malah mereka terus merasa kekurangan. Namun bagiku dunia ini tidak ada apa-apanya. Sungguh pun kau persembahkan bintang di tangan kiriku dan seribu bidadari cantik di sebelah kananku! Kau tidak dapat mengelabuhi aku. Pergilah, sebelum kesabaranku habis!" bentak Malaikat Penderitaan.

Sang Maha Sesat yang menyamar menjadi seorang laki-laki tidak dikenal itu terkejut sendiri. Ia selalu kehilangan cara untuk menghadapi Malaikat Penderitaan, tokoh pikir, berilmu dan juga mengetahui sesuatu di balik kejadian. Baginya lebih baik menghadapi dan menggoda sejuta manusia yang bodoh dan punya pengetahuan dan ilmu kesaktian terbatas, walaupun sepanjang pagi dan malam berbakti pada TuhanNya.

"Meminta dengan cara baik-baik kau tidak memberi. Kukira tidak ada salahnya jika sekarang aku harus merampas kitab berisi surat Maha penting itu! Lihatlah...!"

Si kakek memandang ke depan. Terlihat olehnya rambut laki-laki itu berubah menjadi ribuan ekor ular berbisa. Ketika laki-laki jelmaan Sang Maha Sesat ini menyentakkan kepalanya ke belakang. Dua puluh ekor ular besar meluncur deras meninggalkan kepala laki-laki itu. Ular-ular tersebut langsung menyerang si kakek dengan mulut ternganga siap memagut.

Malaikat Penderitaan lepaskan baju putihnya, bibirnya mendesis. Baju diputar dengan cepat. Yang keluar dari baju itu bukan saja hanya angin kencang menderu-deru, tapi juga sepuluh sinar api berbentuk memanjang berukuran lebih besar dan bergerak cepat memangsa ular-ular jejadian tersebut.

"Tub! Tub! Tub!" "Ssst!"

"Byaar!"

Dua puluh ekor ular besar berbisa berwarna hitam lenyap ditelan sepuluh lidah api yang bentuknya menyerupai ular besar. Malaikat Penderitaan menyerbu ke depan. Baju saktinya ia kebutkan ke arah Sang Maha Sesat. Laki-laki itu melompat mundur, namun masih sempat terdengar suara raungannya.

Tiba-tiba sambil terhuyung-huyung ia membuka mulutnya lebar-lebar. Mata Sang Maha Sesat sekarang telah berubah merah seperti bara. Itulah ujud asli mata setan. Kemudian dari mulut yang terbuka itu terlihat ada ular besar yang meluncur keluar. Ular itu bergerak meluncur ke arah si kakek. Panjang ular jejadian itu tidak kurang dari dua batang tombak. Ular itu kemudian membelit si kakek. Kali ini kakek berjenggot putih itu kelihatan agak kewalahan. Ia berusaha membebaskan diri dari belitan ular yang semakin menyesakkan pernafasannya.

"Haaaaaa...!"

Malaikat Penderitaan melolong panjang. Dari bagian kepala hingga sekujur tubuhnya tiba-tiba berubah mengecil dan licin berselimut lendir. Karena perubahan itu terjadi secara tiba-tiba, praktis ia dapat membebaskan diri dari belitan ular tersebut.

Begitu dirinya terbebas dari ular milik Sang Maha Sesat, maka bajunya langsung dikibaskan.

"Braak!"

Terjadi keanehan, ular tadi terpental dan tubuhnya terpotong menjadi dua. Namun begitu menyentuh tanah, ular jejadian itu pun lenyap tidak meninggalkan bekas.

"Maha Sesat yang selalu memperdaya manusia, menipu manusia, menjerumuskan, menyesatkan dengan berbagai macam cara. Apalagi yang akan kau lakukan untuk mencapai keinginanmu?"

"Inilah dia '"

Maha Sesat tiba-tiba saja mengangkat kedua tangannya ke udara. Tangan itu lalu diputar-putarnya. Maka tidak lama kemudian menyemburlah lidah api yang dalam waktu singkat telah membesar dan melahap tubuh Malaikat Penderitaan.

Kakek berjanggut panjang berkemak-kemik. Wajahnya tertunduk sedangkan kedua tangannya tengadah. Tiba-tiba di dalam lorong itu entah dari mana datangnya berhembuslah angin dingin bercampur air. Angin kencang itu menyapu habis sekaligus memadamkan api yang diciptakan oleh Sang Maha Sesat. Laki-laki penjelmaan bapak moyang setan ini terkejut. Dua kali ia bermaksud membuat hangus lawannya. Namun kelihatannya apa yang dilakukannya tidak mendatangkan hasil sebagaimana yang diharapkannya.

Malaikat Penderitaan begitu terbebas langsung lepaskan pukulan 'Mengusir Iblis Merenggut Amal'. Kedua tangan si kakek yang didorongkannya ke depan itu tampak memutih. Sinar putih laksana cahaya namun menyejukkan itu spontan melabrak lawannya Sang Maha Sesat menghindar. Akan tetapi sinar putih terus mengejarnya kemana pun lawan menghindar. Hingga kemudian satu sentuhan lembut menghantam tubuh jelmaan Sang Maha Sesat. Laki-laki itu menjerit keras. Ujudnya menjadi gumpalan kabut tipis. Malaikat Penderitaan segera dapat merasakan adanya bau wangi bunga mayat. Jeritan Sang Maha Sesat terus terdengar, semakin lama semakin menjauh. Lalu sayup-sayup terdengar suaranya penuh ancaman...

"Malaikat Penderitaan! Aku boleh kalah hari ini karena keteguhanmu. Tapi aku akan terus berusaha menggoda anak cucu manusia, memperdaya mereka hingga di hari kiamat nanti mereka menjadi pengikutpengikut dan temanku di neraka. Ha ha ha...!"

"Oh... aku menderita mendengar ancamanmu, apa yang menjadi hakmu tetap hakmu, tapi apa yang menjadi hak Gusti Allah akan tetap kembali kepadaNya!" sahut Malaikat Penderitaan. Akhirnya sambil berkeluh kesah tentang penderitaannya ia terus menelusuri ruangan rahasia yang ternyata cukup luas bagaikan istana kedua.

* * *

Mayat Bias Pati, Manggar Kesuma dan Ubudana masih terus dibawa-bawa oleh Lima Utusan Akherat. Padahal ketika itu mereka sudah jauh berada di dalam kerajaan yang telah ditinggalkan oleh rajanya.

"Kita tidak menemukan apa-apa di sini. Apa mungkin Surat Kedamaian berada di tangan Malaikat Penderitaan?" tanya Malai Berung.

"Hal itu tidak dapat dibantah lagi. Aku ikut mendengarkannya ketika Malaikat Penderitaan bicara pada Suro Blondo." kata Puspita.

"Mungkinkah Anak Langit sudi datang ke sini. Sedangkan aku pernah mendengar di sinilah tempat kerusakan tingkah laku manusia?" tanya Kalingga Jati.

"Sesuatu yang baik terkadang bisa saja datang di tempat-tempat yang buruk sekali pun. Walaupun tempat itu yang paling kotor di dunia!" jawab Dunga.

"Aku tidak melihat Raja Kodok. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diingini padanya!" kata Puspita.

"Kurasa ia sudah sampai di sini. Coba sekarang kita sebaiknya mencari tahu dimana dia?" usul Dendra.

Maka Puspita Sari dan Lima Utusan segera ber-

gegas memeriksa setiap ruangan yang ada. Pada waktu itu pula pintu di belakang mereka tertutup dengan hempasan yang sangat keras.

"Blaam!"

"Celaka! Kita terjebak!" desis Engku Bonang. Kemudian terdengar suara tergelak-gelak. Me-

reka yang masuk ke dalam perangkap itu pun saling berpandangan.

"Setiap orang yang datang adalah tamu, tamu harus dimuliakan. Tapi jika tamu tidak tahu peradatan, maka kecelakaan besar baginya! Ha ha ha...!"

"Siapa kau?" bentak Puspita Sari.

"Aku adalah orang yang dipercaya menjalankan tugas di sini! Nasib kalian tidak berbeda dengan nasib Pendekar Lugu dan Raja Kodok! Sekarang lihatlah kecerdikanku!" dengus sebuah suara.

Kemudian secara tidak terduga-duga dari setiap penjuru sudut menerobos asap berwarna putih kebirubiruan. Asap yang menebarkan bau wangi namun mengandung racun keji itu memang tidak terlihat nyata. Akan tetapi keberadaannya sungguh sangat membahayakan!"

"Aku mencium bau yang sangat wangi. Eh... ekh...." Datuk Paja tidak dapat melanjutkan katakatanya, karena tiba-tiba saja ia tersungkur. Hidung dan mulutnya mengucurkan darah. Kawan-kawan utusan dari Kapuas ini segera menyadari apa yang tengah terjadi.

"Tutup pernafasan kalian!" Dunga berteriak memberi peringatan.

Segala-galanya memang sudah terlambat. Lima orang laki-laki tersungkur tidak sadarkan diri. Puspita yang memang sudah bersiaga sejak semula tidak sempat mengalami kejadian yang sangat mengerikan itu. Akan tetapi ia merasa kepalanya sakit mendenyut, matanya berkunang-kunang. Ketika pintu terbuka. Puspita masih sempat melihat seorang laki-laki kepala botak tanpa kumis tanpa jenggot tanpa alis menyeringai padanya.

"Ha ha ha...! Betapa beruntungnya aku hari ini. Aku tidak pernah menyangka begitu lemahnya musuhmusuh kerajaan. Lebih menguntungkan lagi karena di antara musuh-musuh yang pantas kubinasakan, terdapat pula seorang gadis cantik! Ha ha ha...! Tunggulah, sayang...!" kata si botak yang tidak lain adalah Patih Luragung.

Laki-laki itu kemudian mengeluarkan segulung besar tali. Mulailah ia mendekati lawan-lawannya yang sudah tidak sadarkan diri. Puspita tentu saja tidak tinggal diam, walaupun ketika itu sakit di kepalanya semakin mendera.

"Hei... jangan coba-coba menyentuh mereka!" teriak Puspita.

Dengan terhuyung-huyung ia menerjang. Tapi gerakannya kacau, karena kesadarannya mulai berkurang. Dengan mudah sekali Patih Luragung menghindari serangan Puspita. Gadis itu berbalik, lalu lepaskan tendangan ke perut sang Patih. Serangan ini kurang terarah, karena keseimbangan gadis itu berkurang.

"Ha ha ha! Dalam keadaanmu seperti ini, tidak ada yang lebih baik bagimu terkecuali melayaniku di tempat tidur. Tunggulah... nanti kita akan bersenangsenang. Tapi kawan-kawanmu harus dibereskan dulu! Kurasa mereka siap menjalani hukuman pancung di alun-alun." Seru Luragung.

Lalu tubuhnya bergerak dengan cepat, ia bermaksud menotok Puspita.. Seandainya gadis ini dalam keadaan normal, tentu Patih Luragung bisa dibuat keteter. Sungguh pun begitu si gadis masih mampu berkelit. Sangat disayangkan kesadarannya semakin banyak berkurang karena pengaruh racun pemberian Sang Maha Sesat yang dipergunakan oleh Patih Luragung. Tidak lama kemudian gadis itu pun terjungkal dan tidak sadarkan diri.

"Hhm, akhirnya kau roboh juga tanpa aku harus bersusah payah menotokmu!" desis sang Patih. "Sang Maha Sesat memang hebat, Racun Pelumpuh Kekuatan ternyata memang ampuh. Sekarang aku harus mengikat orang-orang yang sangat bodoh ini." dengus si botak. 

Akhirnya satu demi satu para Lima Utusan Akherat itu diikatnya. Patih agak heran ketika melihat ada tiga mayat dengan luka-luka yang sungguh mengerikan sekali.

"Aku heran, mengapa orang-orang ini membawa-bawa mayat kawannya? Inikah yang dikatakan oleh Panglima Arung Garda sebagai Lima Utusan Akherat. Mayat busuk begini sebaiknya ku bakar nanti di tengah alun-alun. Sekarang aku harus mengusung mereka ke halaman istana!" pikir sang Patih.

Setelah, Engku Bonang, Datuk Pala, Dendra, Malai, Kalingga dan Dunga diikatnya. Maka ia pun mulai menggusung orang-orang ini ke halaman depan. Sampai di sana Patih menjadi kaget ketika melihat ada tiga orang laki-laki dalam keadaan tidak berdaya. Dua diantaranya ia kenal dengan baik.

"Apa yang terjadi padamu, Panglima?" tanya Patih Luragung. Setelah meletakkan tawanan dengan cara melemparkannya. Patih langsung menghampiri Panglima Arung Garda.

"Malaikat Penderitaan yang telah memperlakukan aku begini! Tolong bebaskan totokanku!" pinta Panglima.

"Bb... baik...!"

Dengan cepat Patih mengurut bagian yang kena totok. Tapi sama sekali ia tidak mampu berbuat banyak.

"Aku tidak bisa membebaskan totokan keparat ini, Panglima!"

Panglima Arung Garda mengeluh putus asa. "Mungkin ini sudah nasibku! Kerjakanlah apa yang menjadi tugasmu, selamatkan raja dari tangan Pendekar Blo'on dan Malaikat Penderitaan. Kau juga harus berhati-hati, karena belum lama tadi muncul Perenung Dosa!" pesan Panglima.

Patih Luragung anggukkan kepala. Seraya menoleh dan memandang penuh kengerian pada Raja Tega. mu?" "Siapa yang membuntungi tangan dan kaki-

Raja Tega menggeram. "Pendekar Goblok Suro Blondo! Dendamku padanya sedalam lautan...!" "Eeh...!" Patih Luragung lebih kaget lagi ketika

melihat Pertapa Seribu Abad. "Apa yang terjadi pada Anda, Kakek pertapa?" tanya si botak lagi dengan kening berkerut

***

6

"Ha ha ha...! Apa yang terjadi pada diriku adalah karena kesalahanku sendiri. Bukan kesalahan siapa-siapa. Bocah goblok itu mana bisa mengalahkan aku jika senjataku secara tidak sengaja ditendangnya ke langit. Itulah sumber kekuatanku sekaligus kelemahanku! Kupesankan padamu agar berhati-hati. Kalau kau dapat melakukannya, ringkuslah dia, sebelum kau diringkusnya!" pesan Pertapa Seribu Abad.

"Apakah dia masuk ke dalam istana?" tanya Patih Luragung curiga.

"Ya. Mungkin dia mencari raja Lalim Durjana dan hartawan itu!" tegas si mata satu.

"Baiklah, berhubung tugas masih banyak. Aku mohon diri. Di dalam sana masih ada empat tawanan lagi yang harus kukeluarkan!" Tanpa menunggu jawaban Pertapa Seribu Abad. Patih Luragung segera meninggalkannya.

Setelah keluar masuk memanggul para utusan yang tidak sadarkan diri. Sekarang tibalah gilirannya menghadapi Puspita. Ia tersenyum melihat Puspita yang dalam keadaan menelentang. Lalu dielusnya pipi si gadis. Elusan dan rabaan itu beralih ke leher, kemudian berpindah ke dada si gadis. Patih Luragung menelan ludah basahi bibir. Jantungnya berdetak keras.

"Ini benar-benar nasib baikku. Semuanya masih serba asli tidak seperti isteriku yang sudah kendor kedodoran. Untung benar-benar untung...!" serunya disertai tawa bergelak seperti orang gila.

"Mestinya kubawa ke ranjang, hitung-hitung seperti seorang pengantin. Tapi mana aku sabar... akh;..!" gumam Patih Luragung. Jemari tangan yang gemetaran itu kemudian melepaskan kancing baju Puspita. Sehingga terpampanglah pemandangan yang mempesona nafsu iblisnya. Patih telan ludah lagi, telan ludah lagi. Bisul kembar yang menonjol itu lalu dibelainya dengan lembut. Rupanya ia merasa penasaran. Sehingga ia bermaksud melihat bagian lainnya sebelum akhirnya memutuskan untuk memenuhi selera binatangnya. Baru saja tangannya menyentuh celana panjang hitam Puspita. Pada waktu bersamaan melesat sebuah benda kecil menghantam tangannya.

"Bletak!"

"Aukkh.... Sakiit...!" teriaknya sambil mengibasngibaskan tangannya yang benjol membiru. Kelabakan dan merasa terganggu ia bangkit berdiri. Memandang ke belakangnya tidak ada siapa-siapa terkecuali pintu besar yang dalam keadaan terbuka. Patih bangkit bermaksud menutup pintu, namun sebelum langkahnya sampai ke sana, pintu menutup dengan sendirinya.

"Eeh... apakah setan yang menggangguku?" pikirnya. "Mungkin Sang Maha Sesat yang suka usil."

"Blak!"

Patih lebih kaget lagi karena secara tidak terduga pintu terbuka kembali dengan sendirinya. Patih Luragung tiba-tiba saja tertawa.

"Maha Sesat, jangan kau bercanda. Apakah kau merasa iri jika aku bersenang-senang dengan gadis ini?!" tanyanya sambil tersenyum. Sebagai jawabannya terdengar suara dari seluruh penjuru arah.

"Tidak ada yang melarangmu bersenangsenang, Patih. Tapi kau juga harus ingat, kalau mau mencangkul cangkullah ladang sendiri. Itu ladang bukan hakmu, meskipun belum ada yang punya harus dijaga kebersihan dan kelestariannya. Kalau ladang itu kau cangkul, berarti nanti penggarap yang asli cuma kebagian sisa, kebagian ampas. Padahal cangkulan pertama itu paling berkesan bagi seorang suami!" jawab suara itu.

Patih tersentak kaget, mustahil Sang Maha Sesat mencegahnya berbuat maksiat. Karena pekerjaan seperti itu merupakan sesuatu yang sangat disukainya.

"Maha Sesat, mengapa kau melarangku? Bukankah setiap pengikutmu cenderung melakukan kesalahan dan menjauhi perintah Gusti Allah!" protes Patih Luragung.

"Sang Maha Sesat itu bapak moyangnya setan, sedangkan aku masih turunan manusia. Punya mata, punya hidung, punya telinga, punya satu mulut. Kita punya juga sama, tapi tidak ceroboh seperti kamu. Kalau kebutuhanmu mendesak, bukankah masih banyak perempuan telanjang di luar sana?"

Meskipun mulai dongkol dan curiga, Patih Luragung masih bertanya juga....

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Kambing, kerbau, ayam dan lain-lain. Kurasa itulah pasangan yang paling cocok bagimu sesuai dengan selera nafsu rendahmu. Ha ha ha. !"

"Bangsat! Siapa kau?" teriak   Patih Luragung berubah merah padam wajahnya.

"Ha ha ha...! Patih jahanam! Kau membuat gadis itu setengah malu. Kau elus pipinya, hukumannya tangan harus dipotong, kau pegang-pegang dadanya imbalannya anumu harus dipotong. Nah, kau harus memilih mana dulu yang harus kupotong?!"

"Manusia bangsat! Tunjukkan dirimu, jangan sembunyi seperti banci !" dengus sang Patih.

"Jika pangeranmu ini sudah keluar tunjukkan diri. Maka kau harus merangkak di depanku, kemudian garuklah rambutmu sepuluh kali seperti seekor monyet!"

Patih Luragung menggumam tidak jelas. Bersamaan dengan itu di depan pintu muncul seorang pemuda berbaju biru, rambut hitam kemerahmerahan. Wajahnya tampan, namun terkesan tolol kekanak-kanakan. Pemuda itu tersenyum, sambil senyum ia garuk-garuk kepala. Patih Luragung yang semula kaget, kini setelah melihat tampang si pemuda langsung tertawa tergelak-gelak. "Ha ha ha! Kau rupanya, aku tidak menyangka kau iri hati melihat aku mau bersenang-senang dengan gadis itu. Jika kau mau, tentu kita bisa bergantian setelah aku nanti!"

Suro Blondo berubah serius. Mulutnya termonyong-monyong. "Sorgamu-nerakaku, dan juga neraka kawanku itu. Akh... kau sudah melihatnya. Karena kau sudah melihat apa yang bukan menjadi hakmu, untuk kesalahan ini kau harus menyerahkan kedua matamu!" desis Pendekar Mandau Jantan alias Bocah Ajaib.

Mata Patih Luragung membulat lebar. Sekarang baru mengerti rupanya inilah pendekar yang dimaksudkan oleh Panglima Arung Garda. Berarti gadis itu adalah murid Datuk Alam Salindra, sekaligus calon isteri hartawan Abdi Banda. Untuk lebih jelasnya (Dalam Episode Sang Maha Sesat).

"Bagus?! Ternyata aku tidak usah bersusah payah meringkus dua kunyuk buronan yang selama ini merugikan hartawan Abdi Banda dan juga pihak kerajaan." kata Patih Luragung.

Tiba-tiba saja laki-laki berkepala gundul ini mengambil sebuah benda berbentuk bulat. Salah satu ujungnya langsung ditekan. Sehingga keluarlah asap tebal yang didahului dengan letupan kecil. Namun Suro yang sudah mengetahui muslihat ini dan sempat pula melihat kejadian yang menimpa para utusan sudah tutup pernafasannya.

Mulut Suro menggembung, lalu....

"Puuuuh !"

Maka asap beracun yang membuat orang tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama berbalik menyerang Patih Luragung. Ternyata Patih ini sudah punya penangkalnya. Sehingga walau asap itu menyerang dirinya tidak mengakibatkan apa-apa. "Ha ha ha...! Kau dapat bertahan dengan racun itu, Patih? Aku tahu racun yang dapat melumpuhkan kekuatan itu berasal dari Sang Maha Sesat. Aneh... aku tidak mencium bau bunga mayat. Kemanakah perginya Sang Maha Sesat? Aku yakin dia sudah jadi pecundang, bukan? Malaikat Penderitaan pasti telah mengusirnya. Apa sekarang jawabmu untuk mempertanggung jawabkan semua ini?"

"Huh, untuk menghadapi Pendekar goblok sepertimu apa yang harus kutakutkan? Majulah aku akan membuatmu mati penasaran. Kau tidak akan mendapatkan gadismu itu. Jika nanti kau sudah setengah mampus, aku akan memperkosanya di depan hidung dan matamu!" tegas Patih Luragung disertai sesungging senyum sinis.

"Begitu, Patih? Lagakmu kren amat. Ingin kulihat apakah ucapanmu itu benar-benar terbukti, atau kau hanya sebangsanya anjing yang cuma dapat menggonggong tapi tidak bisa menggigit karena terlalu tua dan giginya ompong semua. Ha ha ha...!"

"Anak setan! Heaa...!"

"Setan gundul! Ufs...!" sahut Pendekar Blo'on menyambut serangan Patih Luragung. Pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini langsung dorongkan kedua tangannya ke depan. Sedangkan kepalanya merunduk. Ketika tangannya hampir membentur dengan tangan lawannya. Maka Suro langsung tarik tangannya dan menggeser langkah ke samping. Kaki kanannya sedikit diangkat menggaet kaki lawannya.

"Bruuk!"

Patih Luragung tersungkur mencium lantai mar-mar. Hidungnya mengucurkan darah. Sambil menggeram marah Patih bangkit berdiri. Tanpa menghiraukan darah yang menetes, ia berbalik menerkam lawannya dengan satu lompatan yang sangat cepat sekali. Ketika itu Suro sudah berjingkrak-jingkrak seperti tingkah seekor monyet. Terkadang ia bahkan melompat-lompat, lalu tangannya mencakar-cakar atau terkadang menggaruk tubuhnya sendiri.

"Nguk! Nguk!"

Melihat jurus-jurus lawan yang tidak ubahnya seperti gerakan-gerakan kunyuk ini. Patih Luragung jadi kesal saja. Ia pun akhirnya semakin memperhebat serangan dan mempercepat gerakan pula. Setiap gerakan yang dilakukan Patih Luragung mengeluarkan desir angin dingin dan panas silih berganti. Rupanya inilah jurus "Membalik Bumi Merubah Langit' salah satu dari kesekian banyak jurus-jurus simpanan yang dimilikinya.

Tiba-tiba saja tinju Patih Luragung meluncur cepat menghantam dada Suro. Pemuda itu terkesiap, ia terguling-guling selamatkan diri. Ternyata serangan itu cuma tipuan, karena begitu lawan berguling-guling, mendadak saja Patih lepaskan tendangan beruntun yang lebih dahsyat. Suro jadi kalang kabut. Si konyol segera berjumpalitan. Ketika ia melakukan gerakan kedua. Tepat pula kaki lawannya terangkat. Tidak ampun lagi....

"Dess!" "Ehekgh !"

Pendekar Blo'on menjerit keras, tubuhnya sampai terputar-putar karena sedemikian kerasnya tendangan. Akan tetapi murid Penghulu Siluman Kera Putih sekaligus Malaikat Berambut Api ini cepat mengambil tindakan. Tiba-tiba saja ia melompat ke depan. Ketika lawan menghadang dengan pukulan jarak jauh. Suro malah berputar mengelilingi lawannya. Sementara itu dari bibirnya terdengar suara lolongan panjang menghiba-hiba atau terkadang suara tawa bekakakan.

"Edan! Pemuda ini punya apa? Aku sama sekali tidak dapat menyentuh apalagi mendekatinya?" batin Patih Luragung dalam kagetnya. Memang tidaklah mengherankan bila Patih kerajaan ini dibuat terkejut. Karena rupanya Suro ketika itu sudah menggabungkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kobaskan Ekor' dan 'Tawa Kera Siluman'. Akibatnya tentu sangat terasa bagi Patih Luragung.

Namun sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam di dalam pertempuran. Tentu Patih tidak mudah terkecoh. Tiba-tiba saja ia menggebrak ke depan. Serangkaian serangan gencar dilakukannya, ternyata Suro bukannya mundur. Melainkan menyambut serangan itu dengan tidak kalah sengitnya. Patih kerajaan lepaskan tendangan menggeledek, si konyol coba menyambutnya.

Duuk!

"Walah... keparat betul tuyul gundul ini...!" maki si pemuda. Ia terhuyung-huyung ke belakang. Tangan pemuda itu tampak memerah, setelah diusap-usap tangan tersebut tampak berubah biasa kembali, hanya warna merah saja yang belum hilang sepenuhnya.

Patih Luragung memandang ke depannya dengan tatapan seakan tidak percaya. "Bocah ini bisa selamat dari tendangan 'Lintas Bisa'?" pikirnya sambil menggelengkan kepala tidak habis mengerti. Laki-laki berkepala gundul itu tiba-tiba saja mencabut senjata mautnya berbentuk cakar. Ketika senjata itu disusupkan disela-sela jarinya. Maka lima buah cakar berbentuk mata pisau ini siap mencabik-cabik tubuh Suro.

"Krtk! Krtk!"

"Anak setan. Jika kau punya senjata yang dapat kau andalkan. Sebaiknya kau pergunakan. Dalam dua jurus di depan, nyawamu pasti tidak akan selamat." Suro sadar betul bahwa ucapan lawannya bukan gertakan kosong belaka. Ia tersenyum sinis sambil garuk-garuk kepala. Ia lalu acungkan tinjunya, dengan tinju terkepal ia setengah berlari dan menyerang ke depan. Patih Luragung mengibaskan lima buah cakar berbentuk seperti mata pisau yang cukup tajam sekali menyambut serangan Si Bocah Ajaib.

Suro menarik tangannya. Cakar melesat membeset tempat kosong. Pada waktu bersamaan tangan kiri Suro menerobos pertahanan lawannya.

"Braak!"

Patih Luragung terguling-guling, kepalanya menghantam dinding. Pukulan tadi cukup keras juga sehingga membuat tulang rusuk Patih patah berderak. Ia bangkit, tapi malah darah yang menyembur dari mulutnya. Suro sambil menyeringai termonyongmonyong cabut senjatanya. Melihat ke senjata Pendekar Blo'on yang sangat aneh bentuknya membuat Patih jadi keder juga, walaupun memang tidak sempat kehilangan nyali seluruhnya. Suro menggerakkan Mandau Jantan di tangannya.

"Ngiiik!"

Lalu digerakkannya lagi ke samping dengan cara berbeda dengan yang pertama.

"Huuu hu hu...!"

Setelah si konyol menggerakkan lagi ke atas. "Haaa haha...!"

"Nah, sudah kau dengar bagaimana irama senjataku ini. Sebelum aku meminta tangan dan matamu, perlu ku jelaskan padamu tiga arti suara senjata ini. Suara ringkik kuda sama artinya dengan penderitaan hidup manusia. Sedangkan suara tawa, itulah kejahatan dan kesenangan manusia. Sedangkan Suara tangis. Itulah pertanggung jawaban manusia dihari yang paling menentukan yaitu hari pembalasan!" kata Suro. "Pemuda keparat! Kau hanya pandai berkhotbah?" maki Patih Luragung.

"Oh, kau rupanya tidak percaya dengan datangnya hari kiamat. Sekarang aku dapat menunjukkan salah satu contoh kecil! Hiyaa...!" Pemuda ini tibatiba saja berteriak keras. Lalu pemuda ini menerjang ke arah lawannya. Sedangkan Mandau Jantan di tangannya meluncur....

"Trak!"

Senjata itu tertahan cakar di tangan Patih. Tapi Suro terus menggerakkan tangannya yang bebas ke mata lawannya. Apa yang dilakukannya ini tidak berlangsung mulus. Karena tangan kiri Patih menahannya pula. Maka dalam keadaan saling tindih ini terjadilah dorong-mendorong. Masing-masing lawan kelihatannya memang berusaha menyerang atau bertahan. Suro melotot, sedangkan Patih Luragung tegang berusaha selamatkan matanya. Mandau terus ditekan, tapi lima cakar di jari Patih menahan. Apa yang sedang berlangsung ini memang terkesan lucu menggelikan tapi juga menegangkan.

***

7

Pendekar Blo'on lipat gandakan tenaga dalamnya. Mandau ditekannya, sedangkan tangan kiri terus terarah ke mata Patih Luragung. Sampai akhirnya Suro membuat gerakan ringan tapi berbahaya. Mandau di tangannya bergerak.

"Traak!"

"Cress!" "Aaak !" Patih menjerit kesakitan. Cakar mautnya hancur, tangan putus mengucurkan darah. Bersamaan dengan itu pula Patih Luragung tidak dapat mempertahankan matanya. Dua jari tangan Pendekar Blo'on menghunjam di kedua matanya.

"Protk!"

Maka berteriaklah Patih Luragung seperti orang gila. Kedua matanya melesak dan hancur. Darah semakin bertambah banyak. Laki-laki ini memang benarbenar mengalami penderitaan yang teramat sangat. Ia kemudian berdiri, lalu lari sekencangnya sambil mendekap kedua belah matanya yang mengucurkan darah. Karena matanya sudah tidak dapat melihat lagi, maka berulang kali ia jatuh bangunmenabrak dinding. Setiap jatuh bangun lagi lalu lari demikianlah yang terjadi seterusnya,

Murid Malaikat Berambut Api masukkan kembali senjata ke dalam rangkanya. Ia mendekati Puspita dengan mata terpejam. Lalu setelah berjongkok di sampingnya dibenahinya pakaian si gadis yang sempat berantakan. Karena matanya tertutup, terkadang ia menyenggol dua daging yang menonjol itu.

"Bangsat itu mudah-mudahan saja mendapat ganjaran yang setimpal!" gerutu Pendekar Blo'on.

Setelah pakaian Puspita rapi, maka Suro membuka matanya. Lalu ia meraba denyut nadi di pergelangan tangannya.

"Heh, jantungnya lemah sekali. Racunnya cukup kuat, dia perlu pertolongan secepatnya." Karena Puspita masih belum sadar, maka Suro jadi bingung.

Lalu garuk-garuk kepalanya

"Gila?! Kalau kutempelkan tangan ini ke dadanya, nanti dia kira aku kurang ajar dan bermaksud macam-macam. Padahal aku harus menyalurkan tenaga dalamku." kata Suro. Lama juga ia termenung memikirkan jalan terbaik. Sampai kemudian bibirnya yang cemberut itu tersenyum. Tanpa bicara apa-apa, Suro menelungkupkan badan si gadis. Kemudian kedua tangannya pun menempel ketat di punggung Puspita. Suro bersila, lalu pejamkan matanya. Wajah yang penuh kekonyolan tersebut tampak tegang. Sebentar saja tubuhnya telah basah oleh keringat dan bergetar. Perlahan namun pasti. Dari ubun-ubun Pendekar kocak ini membersit kabut tipis. Ternyata bukan dari ubunubun saja kabut tipis keluar, tapi dari lubang hidung dan mulutnya keluar kabut yang sama.

Ini merupakan suatu tanda bahwa Pemuda Ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro ini sedang mengerahkan seluruh hawa murni yang dimilikinya. Tubuh Puspita yang dingin mulai menghangat, hawa hangat ini terus menjalar ke sekujur tubuhnya. Poripori Puspita berubah merah, lalu dari setiap pori-pori yang muncul ke permukaan itu keluar darah kental berwarna kehitam-kehitaman.

Pendekar Blo'on lalu menarik tangannya kembali saat terdengar suara rintihan si gadis. Lalu ia bersemedhi untuk menghimpun kekuatan kembali. Perlahan Suro membuka matanya. Sedangkan gadis berpakaian hitam ini sudah duduk, namun tubuhnya masih terasa lemas.

"Kau...?!" Puspita terkejut melihat Suro telah berada di sampingnya. Lebih terkejut lagi ketika tidak melihat kelima laki-laki utusan lima benua sudah tidak ada lagi di situ.

"Kemana mereka?"

"Mereka siapa?" tanya Suro Blondo.

"Para utusan itu bersama-sama aku di sini. Lalu seseorang menjebak kami!" jelas Puspita Sari. Kemudian secara singkat Puspita menceritakan saat-saat terakhir memasuki jebakan.

"Tidak perlu kau risaukan. Mereka sedang menunggu hukum pancung dari Patih Luragung." tegas Suro. Lalu sambil garuk-garuk kepala ia melanjutkan ucapannya. "Tapi Patih yang hampir menodaimu itu entah becus menjalankan hukum pancung atau tidak." "Apa maksudmu? Berterus teranglah...!" desak

gadis itu rupanya penasaran.

"Lha wong tangannya sudah kupotong. Sedangkan matanya sudah kubutakan. Aku takut malah ia memancung burungnya sendiri."

"Jadi... dia hampir kurang ajar padaku?!" desisnya dengan mata terbelalak lebar.

"Huh, kesalahanmu selalu kurang waspada, kau kelenger melulu. Bagian atas sih sudah diacakdiacak oleh Patih gundul tadi. Cuma bagian bukitbukitnya saja. Sedangkan bagian hutan dan rimbanya aku jamin belum! Ha ha ha...!" Suro tertawa bergelak.

"Plak! Plaak!" "Aduh...!"

Pendekar Blo'on jatuh terguling-guling. Sedangkan Puspita berdiri bertolak pinggang. Mata mendelik memandang Suro dengan tatapan tidak suka.

"Kau...!" Suro terperangah.

"Ya, aku terpaksa menampar mulutmu yang kurang ajar. Aku tidak suka mendengar ucapanmu, kau tahu?" ketus suara Puspita.

Suro menyeka bibirnya yang berdarah. Ia meringis kesakitan. Baru saja ia hendak buka mulut, satu tamparan menghantam hidungnya.

"Kau, mengapa kau menamparku!" Suro mem-

protes.

"Aku tidak suka mendengar kata-katamu yang

kotor!" Pendekar Blo'on masih dapat tersenyum meskipun senyumnya terkesan dipaksakan. "Kau rupanya lebih suka dibuka dan dirabaraba oleh orang biadab dari pada sekedar kata-kataku yang kurang berkenan?!"

"Sungguh aku ingin membunuh mereka, tapi kuharap kau suka menjaga mulut dalam setiap katakatamu!"

Suro Blondo tiba-tiba saja terkekeh. "Perempuan bagiku adalah makhluk misterius, ceriwis dan menggemaskan. Sekali lagi kau berani menampar aku. Aku bersumpah pasti akan membalasmu dengan sebuah ciuman yang tidak akan pernah kulepaskan!"

"Dasar pemuda gendeng!" dengus si gadis, wajahnya berubah memerah. "Ke mana mereka?"

"Di halaman depan. Pergilah ke kamar yang sudah kubuka. Di sana Pendekar Lugu dan Raja Kodok masih dalam keadaan pingsan. Mereka sudah berusaha kutolong. Dan kurasa sekarang mereka sudah sadar!" Pendekar Blo'on lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke ruangan lain tanpa menoleh-noleh lagi.

"Kau mau kemana?"

"Tentu saja menjauh darimu, aku bosan kau gampari (gaploki) terus menerus. Bisa-bisa mulutku jontor dan mancung ke depan jika urusan gila ini selesai!" sahut Si Bocah Ajaib sayup-sayup di kejauhan.

Puspita alias Rana Unggul tercenung mendengar kata-kata pemuda itu. Ia menyesal mengapa ia turun tangan kasar terhadap pemuda yang telah menyelamatkan kehormatannya berulang kali. Padahal secara tidak sadar sekarang ia mencintai pemuda itu. Dia selalu berbuat salah, sedangkan pemuda itu sama sekali belum pernah menyakitinya. Tingkahnya yang konyol itu memang sudah menjadi sifatnya. Sifat yang dibawanya sejak lahir, mungkin. Tanpa pernah dibuatbuat.

"Oh, mudah-mudahan ia tidak merasa sakit hati atas perlakuanku!" rintih hati kecil Puspita. Kemudian dengan perasaan tidak menentu ia meninggalkan ruangan megah tersebut untuk menuju ke ruangan lain dimana Raja Kodok dan Pendekar Lugu berada.

* * *

"Patihku tidak pernah kembali ke sini?!" kata laki-laki memakai mahkota kebesaran ditujukan pada seorang laki-laki bertubuh besar perut besar yang kini menjadi siterunya karena telah berani berzina dengan salah seorang selirnya yang bernama Seriti. Si gendut kikir yang tiada lain hartawan Abdi Banda beringsut menjauh.

"Paduka, Sang Maha Sesat adalah makhluk yang dapat dipercaya. Ia tidak mungkin memungkiri janjinya."

"Hartawan keparat! Apa yang dikatakannya padamu diantara kebenaran-kebenaran yang dia ucapkan?" Setengah sinis raja Lalim Durjana bertanya. "Di... dia dapat menjaga keselamatan harta bendaku. Dia juga membuat aku panjang umur karena

aku telah mematuhi saran dan perintahnya!"

Lalim Durjana kerutkan keningnya, seraya mondar-mandir di depan sang hartawan yang kini berubah menjadi seorang pesakitan.

"Dia berkata begitu padamu? Apakah kau sudah melihat harta bendamu masih utuh di tempatnya?"

"Aku belum melihatnya, baginda."

"Apakah kau juga ingin tahu bahwa kau panjang umur jika aku memenggal kepalamu?!" dengus laki-laki itu sengit.

"Paduka, mengapa tuan berkata begitu?" tanya Abdi Banda ketakutan. "Ha ha ha! Bukan aku bernama Lalim Durjana jika aku bukan seorang raja yang kejam dan penuh kedurjanaan. Ingat-ingatlah, aku tidak pernah melupakan kesalahanmu, apalagi kesalahan itu menyangkut kehormatan dan harga diriku. Kau telah menginjak-injak martabatku, Abdi Banda. Setiap kesalahan yang diperbuat oleh seseorang, aku tidak dapat lagi membedakan seorang kawan atau lawan. Nah, sekarang kepada siapa kau mau minta perlindungan selain kepadaku?!"

"Oh jangan. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama!" Hartawan Abdi Banda meratap. "Mintalah perlindungan pada Sang Maha Sesatmu, aku punya firasat dia sekarang sudah meninggalkanmu!" Hartawan Abdi Banda menangis, mengge-

rung sambil memanggil-manggil Sang Maha Sesat.

Sementara itu Lalim Durjana sudah mengeluarkan sebuah pisau tipis yang berkilat-kilat karena ketajamannya.

"Sekarang bukalah celanamu, punya kau harus dipotong untuk menebus kesalahanmu!" tegas Raja Ujung Dunia.

"Paduka??" Abdi Banda keluarkan seruan ka-

get.

"Buka kataku!" perintah Lalim Durjana seten-

gah membentak.

Dalam takutnya itu Abdi Banda ragu-ragu. Rasanya kali ini memang tidak ada yang menyelamatkan atau membelanya lagi. Tubuh laki-laki gendut ini tampak menggigil. Terlintas dalam pikirannya, jika ia kehilangan pusaka yang sangat berharga, berarti hidup ini rasanya sangat hampa sekali. Setiap ada gadis cantik ia nanti cuma bisa gigit jari. Atau cuma dapat telan ludah tanpa, ia tahu bagaimana lagi nikmatnya sorga dunia. Baginya lebih baik kehilangan semua harta bendanya dari pada harus kehilangan tongkat pusaka. Atau kehilangan seribu surat Maha penting yang tersimpan di gudang harta.

"Baginda jangan sakiti aku. Sebagai gantinya aku rela menyerahkan seluruh harta serta Surat Kedamaian Dunia yang tersimpan di gudang hutan larangan. Percayalah baginda, asalkan jangan punya aku satu-satunya itu kau minta dengan paksa!" Suara hartawan kaya itu memelas sekali.

"Puah, ngomong apa kau? Aku tidak butuh hartamu, aku juga tidak membutuhkan segala macam surat. Kau harus jalani hukuman untuk menegakkan kewibawaanku!" Raja Lalim Durjana tetap pada keputusannya.

Abdi Banda semakin kecut. Dia berdoa, tapi doa itu ditujukan pada siapa? Selama hidupnya ia tidak pernah mengenal Tuhan, ia tidak pernah menyembah atau melaksanakan perintahnya. Ia sering berhura-hura dan bangga dengan hartanya. Tuhan pasti membencinya, Tuhan pasti mentertawainya. "Berdoa pada setan, sedangkan Sang Maha Sesat yang menjadi panutannya tidak muncul. Keputusan terakhir ia pun berdoa pada setan....

"Oh setan, cegahlah orang ini. Aku tidak mau kehilangan apa yang aku punya. Perempuan bagiku adalah hidangan, mana mungkin aku menyantap hidangan hanya dengan melihat-lihat saja langsung kenyang. Aku juga takut mati, kalau yang satu dicabutnya, mungkin aku akan mati. Jangan... kumohon gagalkan usaha raja kejam ini !" rintihnya dalam hati.

"Ha ha ha...! Selesaikah kau berdoa, Abdi Banda? Ketahuilah, Tuhan pasti akan mencampakkan doamu ke tong sampah. Waktu senangmu saja kau tidak pernah bersyukur dan berdoa. Ketahuilah, doamu tidak ubahnya bualan busuk! Sekarang buka!!" teriak Lalim Durjana

"Paduka!" desis si gendut. Ia beringsut mundur ketika melihat raja Lalim Durjana bergerak mendekat ke arahnya.

"Jika kau tidak turut perintah, maka kedua kepalamu akan kupisahkan dari badanmu!" dengus sang raja penuh ancaman.

Karena merasa terdesak dan tidak punya pilihan lain. Maka hartawan Abdi Banda akhirnya menjadi nekad. Ia sadar Lalim Durjana punya kesaktian jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya. Namun rupanya hartawan ini menganut pepatah berbuat lebih baik dari pada tidak sama sekali.

"Di sini hanya tinggal kita berdua saja, Paduka. Aku punya keagungan kau punya kekuasaan. Jika kau terus memaksaku. Maka salah satu dari dua kebesaran itu akan ada yang runtuh. Sekarang tinggal terserah kau, memilih damai atau cari permusuhan!"

Maka tertawalah raja Lalim Durjana mendengar ucapan sang hartawan.

"Kau tidak ubahnya dengan katak yang mau melawan lembu. Harapanmu itu hanya akan sia-sia saja, Abdi Banda! Kau pasti pecundang dan mati di tanganku!" dengus Lalim Durjana sengit sekaligus semakin bertambah marah.

"Aku tidak pernah mati, aku tidak akan mati selamanya sesuai petunjuk Sang Maha Sesat. Ha ha ha...!" Sambil tersenyum sinis, tiba-tiba saja Lalim Durjana menusukkan pisau kecil di tangannya. Gerakannya cepat, namun Abdi Banda yang sudah nekad itu berkelit selamatkan perutnya lalu tangannya menghantam pergelangan tangan lawan.

"Plak!"

Lalim Durjana terhuyung, pisau di tangannya terlepas. Sesungguhnya hartawan itu hanya mempergunakan tenaga kasar saja. Karena tenaganya kelewat besar. Raja yang kurus ini nyaris jatuh. Ia menggeram, secepat kilat Lalim Durjana melompat. Kakinya menyapu dan meluncur deras ke perut sang hartawan. Si gendut menangkisnya, raja Ujung Dunia menarik balik kakinya, serangan kaki digantikan pukulan tangan kiri kanan. Dengan gerakan yang lamban si gendut coba menangkisnya. Namun terlambat....

"Brak!" "Akh !"

"Buum!"

Abdi Banda jatuh berdebum. Hidungnya hancur, tulang iganya retak, dan ia tidak dapat bangkit kembali. Raja Lalim Durjana menyeringai. Ia mencabut pedang pendek, sekali melompat ia sudah membuat celana hartawan itu robek. Lalu....

"Cres!"

Sekali lagi pedang itu berkelebat, maka putuslah milik hartawan itu. Abdi Banda meraung keras sambil pegangi sisa anunya yang mengucurkan darah. Abdi Banda totok urat nadi besar, darah terhenti, namun rasa sakit itu tidak tertahankan. Begitu hebatnya ia menahan rasa sakit sampai diluar kesadarannya ia terkencing-kencing. Air yang mengalir keluar itu hanya membuat sang hartawan semakin menderita. Lalim Durjana tersenyum puas.

***

8

Belum sempat ia menyarungkan pedang kecilnya yang berlumuran darah. Pintu kamar besar itu berderak terbuka. Seorang kakek tua berpakaian putih berjenggot putih masuk tanpa basa-basi. Raja Lalim Durjana tersentak kaget. Ia memandang pada kakek di depannya penuh rasa curiga. Kesempatan ini dipergunakan oleh Abdi Banda untuk membetulkan pakaiannya yang dipenuhi darah. Lalim Durjana menyilangkan senjatanya di depan dada. Senyumnya sinis, kumisnya bergerak-gerak. Seakan kumis itu punya nyawa.

"Siapakah kau orang tua? Datang dengan membawa maksud buruk atau baik? Jika buruk sebaiknya cepat angkat kaki tinggalkan ruangan rahasia ini. Jika maksudmu baik sejalan dengan keinginanku, ketahuilah aku punya puteri cantik-cantik, kau berhak mendapatkan salah seorang diantaranya!" Raja Lalim Durjana diam-diam lancarkan siasat jalankan taktik.

"Huk huk huk...!" Kakek baju putih alias Malaikat Penderitaan tertawa, tapi tawanya seperti orang menangis. "Kemewahan dunia ini di mata Gusti Allah tidak lebih besar dari sebelah sayap nyamuk. Aku benar-benar menderita mendengar tawaranmu. Namun aku lebih menderita lagi melihat cara dan jalan hidup yang kau tempuh! Ketahui pula olehmu, hari ini Anak Langit akan membuka sedikit rahasia dari sekian banyak rahasia besar Gusti Allah. Nanti kau akan menyaksikannya, kau bahkan akan menjalaninya sebagai bukti dan contoh bagi orang-orang yang datang setelah kita!"

"Kau bicara apa, orang tua? Sungguh katakatamu sulit ku mengerti?!" Membentak Raja Lalim Durjana.

"Aku bicara tentang keadilan. Aku bicara tentang kekejamanmu, aku juga bicara tentang kerakusan orang gendut itu akan harta! Kalian dengar, kerakusan dan kekejaman!"

"Puah! Manusia busuk tidak tahu diuntung. Engkaukah yang berjuluk Malaikat Penderitaan?" tanya Lalim Durjana sinis.

"Aahk... aku menderita mendengar ucapanmu. Kata dan tebakanmu tidak ada yang salah. Yang patut kusesalkan adalah perbuatanmu. Maka sekarang ini sebaiknya kau menyerah!"

Wajah Lalim Durjana berubah menegang, apabila ia menarik nafas, maka desah nafasnya memburu. Pertanda ia berusaha meredam gejolak kemarahannya. "Tidak perlu berdebat, Kat! Sebaiknya ringkus

saja dulu kutu busuk yang bikin onar dipermukaan bumi itu. Atau kau merasa tidak sanggup? Kalau tidak becus, aku juga bisa meringkus mereka!" Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang menimpali. Malaikat Penderitaan maklum siapa yang datang. Tapi Lalim Durjana dan hartawan Abdi Banda sama memandang ke arah pintu. Di depan pintu berdiri seorang pemuda rambut hitam kemerahan pakai ikat kepala biru belang-belang kuning. Lagaknya cengar-cengir seperti pemuda kurang waras. Ia bertolak pinggang kedua tangannya menyentuh ketiak. Sehingga membuat geli yang melihatnya.

Melihat kemunculan pemuda tampan bertampang ketolol-tololan, maka hartawan Abdi Banda bangkit berdiri, bahkan Lalim Durjana yang memang sudah pernah melihat pemuda ini ketika bentrok dengan Raja Tega di halaman istana langsung melompat ke depan. Untuk lebih jelasnya(Dalam episode Lima Utusan Akherat).

Lalim Durjana melotot, melihat laki-laki jangkung itu melotot, maka Suro pun ikut melotot pula. Sehingga beberapa saat lamanya mereka saling pelototpelototan.

"Haes, lama-lama pegal mataku!" Suro kedipkan matanya. "Kalau dipikir-pikir sebaiknya kau dan si gendut jelek yang telah kehilangan tongkat itu menyerah saja. Percuma kalian melawan, kau dengar tidak? Bukankah begitu, Kat?" Suro menoleh pada si kakek seakan minta dukungan.

"Anak setan! Kau berada di wilayah kekuasaanku, masih juga kau berani jual lagak?" Lalim Durjana mendengus geram, lalu katupkan mulutnya rapat-rapat.

"Kekuasaan kepalamu peang?! Ha ha ha...! Bicara apa kau raja jelek bau apek? Terhadap dirimu sendiri saja kau tidak punya kuasa." Pendekar Blo'on tersenyum mencibir.

"Heaa...!"

Lalim Durjana tiba-tiba saja kirimkan pukulan ke arah Suro. Pemuda ini dengan mulut termonyongmonyong langsung melompat dan berlindung di belakang Malaikat Penderitaan. Pukulan Lalim Durjana praktis menghantam tembok di belakangnya. Tembok hancur, sebagian kamar runtuh hingga tanah menimbuni ruangan itu.

"Kat, sekarang giliranmu! Dia sudah mulai gila, rupanya raja gendeng ini hendak mengubur kita hidup-hidup di sini. Ayolah maju, tunggu apa lagi?" desak Si Bocah Ajaib serius.

"Pendekar geblek! Menyingkirlah kau dari sini." bentak Malaikat Penderitaan. Kalau pun Pendekar Blo'on menyingkir, maka ia duduk sambil uncanguncang kaki di atas kursi mewah yang terletak di sudut ruangan. Rupanya sekarang raja Lalim Durjana telah mencabut senjatanya. Satu tikaman telak dilakukannya. Hartawan Abdi Banda tutup mata ketika melihat berkelebatnya senjata itu. Sedangkan Malaikat Penderitaan hanya sedikit saja menggeser kakinya. Lalu tangannya menyambar ujung senjata lawannya.

"Plak!" "Heh!"

Senjata itu melesat ke atas dan tidak mengenai sasarannya. Dengan penuh rasa geram Lalim Durjana memutar senjata, setelah beberapa kali berkelebatkelebat di udara. Kemudian disertai teriakan keras ia melompat sambil babatkan senjatanya ke bahu si kakek. Sama sekali Malaikat Penderitaan tidak menghindar. Telak sekali senjata mengenai sasarannya.

"Craak!"

Lalim Durjana menjadi terkejut karena senjatanya seakan hanya menghantam batu cadas yang bukan main-main kerasnya. Ia periksa senjatanya. Ternyata senjata itu mengalami kerusakan. Kini ia menusukkan senjata ke perut lawannya, ternyata si kakek sama sekali tidak menghindar. Malah ia seakan memberikan perutnya untuk ditusuk.

"Jheees!"

Sebagian senjata Lalim Durjana menembus ke perut Malaikat Penderitaan. Ia tertawa, tawa khas seperti orang yang menangis sedih menghiba-hiba. Penuh kejut Lalim Durjana menarik senjatanya lagi dari perut lawan.

Astaga! Senjata itu seakan berubah panjang dan tidak ada habis-habisnya meskipun sang raja sudah bergerak sampai di depan pintu.

Melihat kejadian ini Suro garuk-garuk kepala sambil bertepuk tangan. Ia bahkan berjingkrakjingkrak sehingga membuat kursi bergoyang-goyang dengan keras.

"Hebat! Ha ha ha....! Ternyata kau juga pandai main sulap, Kat. Menyesal jika kau tidak mau mengajari aku. Hebat...! Ha ha ha! Raja gelo itu bisa frustrasi melihat ulahmu, Kat!" celetuk Suro tiada henti bertepuk tangan.

Malaikat Penderitaan sama sekali tidak menanggapi ucapan si konyol. Ia kemudian memegang badan pedang, senjata itu diketuk-ketuknya tiga kali. Tiba-tiba saja pedang milik Lalim Durjana memendek. Laki-laki itu pun tersentak dan ikut terbawa senjatanya. Ketika ia telah berada satu meter di depan Malaikat Penderitaan. Maka kakek berjenggot putih ini menjatuhkan totokan bertubi-tubi.

"Tak! Tik! Tuuk!"

"Aaaaa...!"

Lalim Durjana menjerit kesakitan, ia menggelepar, meliuk bahkan membanting-banting badannya. Ini merupakan sebuah siksaan yang sangat dahsyat melebihi sakitnya tertusuk seribu mata pedang. Begitu menderita Lalim Durjana sampai ia terkencingkencing.

Si kakek menggumam tidak jelas dan mencampakkan senjata lawannya. Melihat kejadian itu, hartawan Abdi Banda bermaksud melarikan diri. Tapi Suro sudah menghadangnya.

"Eit... mau kemana kau gajah bunting! Ini bagianmu!" desis Si Bocah Ajaib. Lalu ia menotok Abdi Banda, sehingga tubuh hartawan itu berubah kaku tidak dapat digerakkan. Sementara itu raja Lalim Durjana terus berguling-guling sambil menjerit histeris. 

"Apa yang kakek lakukan padanya?" tanya Suro kemudian.

"Dia harus merasakan penderitaan orang lain, begitulah rasanya. Nah, sekarang kau uruslah gendut kikir itu." perintah si kakek. Sekejap kemudian tubuhnya sudah berkelebat sambil menenteng raja Lalim Durjana

"Betul-betul hebat orang itu. Aku tidak tahu seberapa banyak kesaktian aneh yang dia miliki!" kata Pendekar Blo'on dalam hati. Lalu ia memandang tajam pada hartawan Abdi Banda, sementara itu keluarga raja, termasuk ratu dan puterinya sudah datang ke ruangan itu. Rupanya mereka kaget ketika mendengar jeritan sang raja. Kenyataannya Si Bocah Ajaib tidak begitu perduli, perhatiannya tetap tertuju pada hartawan Abdi Banda. Lalu terlihatlah senyumnya yang sinis disertai kata-kata yang cukup pedas....

"Ketika tempat-tempat maksiat, perjudian dan rumah madat kau dirikan. Itulah awal sebuah jiwa menjadi budak nafsu. Kau kotori bumi ini dengan kemaksiatan, dengan tawamu dan tawa orang-orang berbau mesum. Hidupmu terangkat di atas tumpukan dan gelimang dosa. Dari desah dan erangan nafas berlendir. Mata dan hatimu, jiwa dan pikiranmu terkunci mati. Lalu Sang Maha Sesat berdiri di atas segala, kemudian bermunculanlah orang-orang dalam kemunafikan, kau ambil pengawal-pengawal dari barisan setan yang terlaknat. Jalan hidupmu menyalahi kodrat, betapa sia-sia hidup sepanjang usiamu. Itulah persoalan pertama yang perlu kusampaikan padamu." kata Suro serius. "Persoalan yang kedua adalah, kau telah menghimpun segala kebusukan dunia, kedengkiannya, keiriannya, kesombongan dan fitnahnya. Semua kau kumpulkan dalam sebuah singgasana harta yang palsu. Diantara sekian banyak wanita yang kau zinahi atas nama isteri. Ada satu kebiadapan yang kau perbuat. Kau tatto tubuh si gadis malang. Dadanya, auratnya dan tempat-tempat terlarang untuk menyembunyikan sebuah peta tempat penyimpanan surat kebenaran. Kau memberi hanya mengharap imbalan, kau menyembah setan dan nafsumu sendiri. Aku si bodoh Pendekar Blo'on, telah bersumpah di depan mayat perempuan itu. Akan mentatto tubuhmu dengan gambar tongkat yang paling besar di dunia. Itulah simbol keperkasaanmu yang kau puja-puja sampai mati!"

Maka pucatlah wajah hartawan Abdi Banda demi mendengar ucapan Si Bocah Ajaib yang secara tiba-tiba seperti orang yang sedang berpetuah itu. Keluarga raja termasuk permaisuri dan putri-putrinya tercengang. Suro memberi isyarat pada mereka untuk segera menyingkir.

"Ini bukan urusan kalian, menjauhlah jika ingin selamat!" perintah murid Penghulu Siluman Kera Putih. Maka tanpa berani membantah lagi keluarga kerajaan yang tidak ikut ambil bagian dalam masalah besar itu langsung menyingkir. Suro mengeluarkan Mandau Jantan di tangannya. Lalu secepat kilat Mandau itu berkelebat di atas dada Abdi Banda. Laki-laki berperut besar seperti kuali besar tertelungkup menjerit setinggi langit. Hanya dalam waktu singkat dari pusar Abdi Banda sampai ke dada terukirlah sebuah tongkat besar memakai topi waja.

"Apa yang menjadi janjiku telah kulaksanakan. Semoga arwah isterimu dapat tenang di alam sana!" desis Pendekar Blo'on. Tidak lama ia pun membebaskan totokan, setelah totokan terbebas maka Suro Blondo memerintahkan hartawan Abdi Banda berjalan menuju alun-alun.

* * *

Halaman istana yang luas itu kini secara aneh telah berubah menjadi sebuah tempat yang terasa asing serba putih. Semua orang termasuk di dalamnya, Pertapa Seribu Abad, Raja Tega, Arung Garda dan Patih Luragung jadi terkejut. Mereka seakan telah dipindahkan dari satu alam ke alam lainnya.

Yang membuat para tokoh sesat ini menjadi kaget, karena di tengah-tengah hamparan alam yang serba putih namun panas seperti membakar itu. Terdapat pula sebuah menara yang seakan menjulang ke langit. Semula kejadian yang berlangsung singkat ini diawali dengan gelegar suara petir yang sambung menyambung tiada henti. Kemudian mata mereka menjadi silau pada waktu sinar putih melesat seakan datang dari langit. Lalu terlihat sinar putih lainnya yang lebih terang, berpedar-pedar seperti cahaya bintang kejora.

Malaikat Penderitaan yang muncul kemudian bersama Lalim Durjana juga tidak kalah kagetnya. Ia langsung memuji kebesaran Gusti Allah atas segala keajaiban yang terjadi. Laki-laki tua ini memandang ke langit. Ia melihat sebuah cahaya besar bersinar menyilaukan mata. Sinar yang apabila mata terlalu lama memandangnya dapat menjadi buta. Raja Lalim Durjana menggigil ketakutan, memandang ke tengahtengah halaman yang telah berubah menjadi sebuah daerah yang teramat asing itu terdapat. Dua menara yang satu berwarna putih berkilauan yang lainnya berwarna hitam pekat.

Di sanalah menunggu Pendekar Lugu, Raja Kodok, Puspita. Dan juga para Utusan Akherat. Menunggu kabar yang selama ini mereka harap kedatangannya dengan perasaan takut, gembira, juga cemas. Tidak lama kemudian muncul Suro Blondo bersama hartawan Abdi Banda yang sudah dibuat tidak berkutik. Melihat kejadian yang serba aneh ini si pemuda tercengang.

"Weleh-weleh... orang-orang, kita berada dimana sekarang? Apakah kita sudah mati. Apakah kita berada di alam baka? Wah... bagaimana ini aku belum bertobat, belum juga kawin. Malaikat, Kat... kita berada dimana?" tanya si konyol, saking bingungnya pemuda itu tidak henti-hentinya menggaruk kepala.

Pendekar Lugu menyahuti. "Saudaraku, kini sudah saatnya Anak Langit berkenan memberi kabar kepada kita. Memberi petunjuk, agar setiap jiwa dapat merenunginya. Kalian lihatlah, Lima Utusan Akherat sudah sadar dengan sendirinya atas kehendak Tuhan. Lihat ke langit!"

Suro memandang ke langit. Tapi tidak ada kemampuan bagi matanya untuk menentang cahaya putih berpedar-pedar itu.

"Itukah Anak Langit?"

"Ya...!" Malaikat Penderitaan menyahuti.

Murid Malaikat Berambut Api baru saja hendak mengatakan sesuatu. Tiba-tiba saja cahaya putih bergerak turun lebih rendah lagi. Lalu terdengar suara guntur menggelegar. Cahaya tadi mengalami perubahan yang sangat aneh dan membentuk ujud seperti seorang manusia biasa. Tapi tingginya tidak terkirakan bahkan menjulang tinggi ke langit. Kedua kaki orang ini tidak menyentuh tanah, melainkan mengambang menakjubkan. Ia memakai pakaian serba putih. Telapak kakinya besar dan terompanya pun sangat besar sekali. Ketika ia mengulurkan tangannya ke arah Malaikat Penderitaan. Maka kitab berisi Surat Kedamaian Dunia melesat dari balik pakaian si kakek berpindah ke tangannya. Kitab surat itu disentuhkannya ke dada. Bibir Anak Langit tersenyum betapa senyumannya penuh kedamaian. Entah mengapa para tokoh sesat sebaliknya malah menjadi sangat ketakutan sekali.

***

9

Anak Langit mengangkat tangannya. Semua orang yang berada di situ jatuh terduduk. Sekujur tubuh mereka menjadi lemas, penglihatan menjadi goncang dan hati pun ikut terguncang. "Aku adalah makhluk yang masih ciptaan Gusti Allah juga. Aku datang dari alam gaib, alam yang penuh dengan kebaikan dan lagi dilimpahi rahmat! Kalian tidak mampu menembus alam itu dengan penglihatan kalian. Tapi ketahuilah, bahwa setiap gerakgerik, langkah dan perbuatan manusia ada yang mengawasinya."

"Anak Langit? Bolehkah aku tahu siapa dirimu?" tanya Pendekar Blo'on serius.

"Aku adalah makhluk yang tidak pernah berpaling dari Tuhanku walau barang sekejap. Hanya itu saja yang perlu kau ketahui, hai anak manusia! Sekarang aku ingin mengatakan sesuatu yang juga pernah dikatakan pada orang-orang sebelum kalian. Ingat! Hidup manusia itu sifatnya hanya sebentar saja. Waktu hidup manusia di dunia sangat sempit sekali bagi orang-orang yang mau berpikir. Maka beruntunglah orang-orang yang berbuat kebaikan di bumi ini, saling mengasihi dan berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan. Mereka tidak pernah lalai mengerjakan kewajiban apa yang telah menjadi kewajibannya. Setiap manusia kelak akan mempertanggung-jawabkan perbuatannya di hari pembalasan. Hari dimana yang setiap jiwa tidak punya penolong. Ayah tidak dapat mewakili anaknya, anak tidak dapat mewakili ibunya. Karena semua orang sibuk dengan urusan masingmasing. Ini adalah contoh yang sangat kecil. Nah sekarang aku ingin bertanya pada Pendekar Lugu. Apakah yang kau banggakan dalam hidupmu, hai anak manusia?" Semua mata yang hadir kini tertuju pada Wahyu Sakaning Gusti. Pemuda itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Tangisnya begitu memilukan, sehingga baik golongan lurus maupun golongan sesat ikut-ikutan menangis.

"Sesungguhnya tidak ada yang aku banggakan dalam hidupku. Aku adalah seorang pengelana yang menunggu datangnya ajal tiba. Aku tidak memiliki apa-apa, terkecuali kebaikan dan mengajak semua orang berbuat baik dan berbakti pada Tuhannya. Sungguh Ridhonya sangat ku dambakan, melebihi dunia dan seisinya..." kata Pendekar Lugu di tengahtengah sedu sedannya.

"Pendekar Lugu, aku melihat sebuah kesesuaian antara ucapan dan isi hatimu. Gusti Allah Pencipta seluruh makhluk meridhoimu. Wahai jiwa yang tenang. Jiwa yang tidak pernah marah, tidak dengki, tidak iri, tidak sombong, tidak takabur dan jiwa yang tidak pernah menyakiti sesama. Teruskanlah langkahmu dalam keteguhan yang tidak pernah berpaling dari Tuhanmu. Kelak kau akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak terhingga dari Tuhanmu." kata Anak Langit disertai senyum.

Raja Kodok yang berada di samping Puspita tersentak kaget. Inilah orang yang aku cari. Pikirnya. Ia ingin mengatakan keinginannya untuk menjadi murid Pendekar Lugu. Namun mulutnya seperti terkunci. Anak Langit beralih pada Pendekar Blo'on. Lalu ada senyum menghias di bibirnya.

"Suro Blondo bocah yang terlahir pada malam satu Asyuro. Bagimu telah banyak diberi kelebihan. Antara lain dibalik ketololanmu tersimpan kecerdikan. Teruskanlah usahamu dalam menegakkan kebenaran: Satu sifat jelekmu terlalu mata keranjang. Kurangi dan hilangkanlah itu. Sebab matamu adalah kemaksiatan, telingamu, otakmu, hatimu, dan juga tangan serta kakimu. Usahamu masih jauh dari sempurna, langkahmu masih panjang. Berusahalah memperbaiki diri, jangan takabur dan sombong. Nah sekarang apa usulmu?" Suro seka keningnya yang bermandikan keringat, lalu garuk-garuk kepala "Anu... aku berada di tengah jalan membingungkan. Jika aku tidak membunuh ya aku yang terbunuh. Bagaimana ini, jika aku mati, aku ini masuk neraka atau sorga...?"

"Untuk menegakkan sebuah kebenaran, terkadang kau harus pergunakan senjata. Menurut catatan, kebaikan dan kesalahanmu masih kacau. Untuk itu perbanyaklah membenahi diri, jangan suka iseng. Semoga Gusti Allah memberikan yang terbaik di sisimu. Dia yang menentukan kau berada dimana sesuai amal dan kebaikanmu!"

"Tap...!"

"Berjumpa denganku waktunya singkat sekali. Waktumu habis, sekarang giliran Raja Kodok!" kata Anak Langit. Raja Kodok, dalam ketakutannya langsung tunjuk tangan.

"Anak manusia, kulihat hatimu penuh dendam. Dendam dan amarah pada masa lalu yang sesungguhnya sebuah kenyataan. Jangan sesali diri dan keadaanmu. Jangan pula kau sesali mengapa kau terlahir ke dunia ini. Semua itu sudah digariskan oleh Tuhan padamu. Tidak usah berkeluh kesah lagi. Tidak perlu meratapi nasib, gantilah kemarahanmu dengan sabar, ganti dendammu dengan sifat welas asih. Jangan kau kutuki dirimu sendiri, karena hal itu hanya akan membuat Gusti Allah marah. Perjalanan hidupmu masih panjang. Sampai suatu ketika nanti ajal pasti datang menjemputmu. Belajarlah lebih banyak pada Wahyu Sakaning Gusti. Sebab ia adalah sebaikbaiknya manusia yang patut kau ikuti. Lalu sekarang apa usulmu?" tanya Anak Langit.

"Rasanya setelah mendengar pernyataanmu tidak ada lagi yang aku usulkan. Kerisauanku selama ini telah terjawab. Wajahku begini buruk, aku ingin mengimbangi keburukanku dengan kebaikan. Dulu aku begitu bernafsu untuk membalas dendam pada hartawan itu. Tetapi sekarang terserah bagaimana keputusanmu. Karena aku tidak punya hak lagi atas jiwa orang lain!"

"Hartawan itu sudah berada dalam ketentuan Tuhan. Jangan kau risaukan. Nah bagaimana dengan kau Malaikat Penderitaan?" Si Kakek tiba-tiba menjerit. Tangisnya meledak, ia bersujud sedangkan sekujur tubuhnya terguncang keras.

"Anak Langit, makhluk suci dalam kebenaran yang penuh rahmat tidak pernah ingkar. Hidup ini adalah sebuah penantian yang sangat panjang. Terkadang aku merasa lelah menjalaninya. Aku merasa hidup ini adalah ujian dan cobaan demi cobaan. Aku menangis di tempat yang sepi melihat tingkah laku manusia. Aku melihat kecelakaan besar dari apa yang mereka buat sendiri. Aku melihat kekikiran manusia apabila dia berpunya. Aku mendengar rengekan mereka bila dirinya ditimpa kesusahan. Kalau boleh aku meminta, bukalah pintu hati seluruh penghuni bumi ini untuk menuju ke jalan kebaikan. Jadikanlah mereka saling kasih mengasihi antara sesamanya." pinta si kakek sambil tersedu-sedu.

"Malaikat Penderitaan, Gusti Allah Maha Tahu, Ia memberi petunjuk pada orang-orang yang dikehendakinya, dan menyesatkan orang-orang yang dikehendakinya pula. Barang siapa yang hatinya condong pada segala macam kepentingan dunia, ia adalah budak nafsu dan pengabdi setan. Jangan hal-hal semacam ini membuat hatimu gelisah dan sedih. Kelak setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan perbuatannya. Lalu apa pertanyaan yang lain?" Malaikat Penderitaan menggelengkan kepala, lalu menangis lagi dan terus menangis.

"Anak manusia yang bernama Puspita Sari. Kau punya tujuan ingin membalas dendam seperti Raja Kodok. Abdi Banda memang termasuk manusia yang melampaui batas. Kau tidak perlu melakukannya dalam hari yang berbahagia ini. Karena kalian akan sama-sama menyaksikan apa yang bakal terjadi pada dirinya. Kau termasuk beruntung, dididik oleh guru yang sesat, tapi kau menemukan jalan terbaik. Untuk masa yang akan datang, jangan lagi kau menyamar sebagai laki-laki. Sebab Tuhan marah melihat perempuan berprilaku seperti laki-laki dan laki-laki berprilaku seperti perempuan. Nah sekarang apa katamu?"

"Tidak ada lagi yang ingin kutanyakan. Semuanya sudah sangat jelas!" sahut Puspita dengan kepala tertunduk. Setelah itu perhatian Anak Langit beralih pada Lima Utusan Akherat baik yang masih hidup maupun yang sudah menjadi mayat.

"Kalian datang dari tempat-tempat yang sangat jauh. Kalian menanti dalam waktu yang cukup lama setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang sekali. Sebelum aku bicara terakhir kali pada tokohtokoh yang membuat keonaran di muka bumi ini. Tibalah bagiku untuk membuka isi Surat Kedamaian Dunia." kata Anak Langit. Surat itu lalu diambilnya dari kitab tipis sebagai tempat penyimpanannya selama ini. Begitu surat dibuka, maka terpancarlah cahaya putih yang sangat terang benderang. Ada pun isi Surat Kedamaian Dunia seperti ini....

Anak manusia terlahir ke dunia membawa dua sifat

Sifat yang baik dan yang buruk

Terserah manusia itu sifat yang mana yang akan disuburkannya

Sesungguhnya nafsu dan setan saling berdampingan, Sedangkan hati berdekatan dengan kalbu sifat luhur.

Antara nafsu dan keluhuran budi tidaklah berjauhan

Terserah manusia, mana yang mau diikuti

Jika keluhuran budi, berarti manusia telah menempuh jalan yang lurus lagi baik

Jika nafsu yang menjadi pegangannya

Maka ia akan tersesat jauh dan menjadi pengikut setan.

Dunia dan seisinya ini sesungguhnya tempat segala kebusukan, kepalsuan, sandiwara dan tidak ada apa-apanya.

Ada pun yang lebih baik dari segala-galanya adalah disisi Zat yang menciptakan manusia.

Maka patuhilah perintahNya dan tinggalkan yang dilarangNya.

Sampai disini Anak Langit menghentikan pembacaannya. Ia memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Wajah-wajah yang tertunduk, tidak punya daya dan kekuatan apa pun. Mereka tidak mampu bicara, tidak dapat menunjukkan keangkuhannya. Anak Langit kemudian kembali pada surat putih yang berpedar-pedar memancarkan cahaya.

Isi penting surat ini untuk diketahui

Bahwa diantara seratus rahmat Gusti Allah Cuma satu yang diturunkan di atas dunia ini Satu rahmat inilah yang dibagi-bagi pada, seluruh makhluk yang hidup bertebaran di muka bumi.

Sehingga terlihat nyata antara serigala dengan anaknya saling mengasihi.

Sembilan puluh sembilan rahmat tertahan di langit untuk kepentingan seluruh manusia kelak.

Hal yang sedemikian ini terdapat dalam perkataanNya sejak manusia pertama diciptakan di permukaan bumi ini.

Anak Langit selesai sudah membaca Surat Kedamaian Dunia yang menjadi rebutan itu.

Ia melipat surat itu kembali dan memasukkannya ke dalam kitab tipis tempat penyimpanan.

"Dengarlah kalian semuanya. Aku tegaskan pada kalian untuk saling hormat menghormati, saling welas asih, saling mengajak untuk berbuat kebaikan. Jangan pula saling menyakiti sesamanya, jangan saling hasut, saling hina, saling dengki, iri, tamak, saling membunuh. Jangan pula durhaka pula pada Zat yang menciptakanmu, jangan durhaka pada orang tua, isteri jangan durhaka pada suami, atau yang muda durhaka pada yang tua. Jangan kalian tunggu jasad sampai terbujur baru ingat berbuat kebaikan. Hidup ini singkat, waktu sangat berguna. Aku juga adalah makhluk yang diciptakanNya. Sama sekali aku tidak berkotbah pada kalian. Sebaik-baiknya manusia adalah yang menganggap dirinya bodoh dari pada orang bodoh mengaku pintar. Seburuk-buruknya manusia adalah yang menganggap dirinya paling benar." kata Anak Langit.

"Makhluk yang tercipta dari cahaya itu rupanya menyindirku!" pikir Pendekar Blo'on sambil seka air matanya.

"Para Lima Utusan Akherat. Kalian semua sudah mendengar isi Surat Kedamaian Dunia. Meskipun kawan-kawan kalian sudah tiada, tapi sekarang ini arwah-arwah mereka juga hadir di sini ikut mendengarkan apa yang aku kabarkan pada kalian. Sampaikanlah pada guru kalian, masing-masing setelah kembali ke asal kalian kelak, tanpa ada yang kalian kurangi atau tambahi dari apa yang kalian dengar hari ini!"

"Kami semua akan menyampaikan berita gembira ini. Tidak dapat kami lukiskan betapa gembiranya hati kami bahwa sesungguhnya wangsit yang diterima oleh guru kami adalah sebuah kenyataan!" kata Dunga mewakili kawan-kawannya.

"Sekarang tibalah giliran bagi para tokoh sesat." desah Anak Langit. Wajahnya yang penuh kearifan dan cinta kasih ini tiba-tiba saja berubah bengis. "Anak manusia yang bernama Abdi Banda? Menurut penglihatan dan dari catatan yang tidak dapat dibantah. Sepanjang usiamu hanya kau pergunakan untuk menumpuk harta yang tidak berguna. Kau mendapatkannya dari gelimang kemaksiatan dan kau pergunakan untuk kemaksiatan pula. Betapa celakanya kau hidup di dunia, hidup hampir enam puluh tahun tidak sedikit pun kulihat kebaikanmu. Tempat, yang paling kekal bagimu adalah neraka Jahanam. Nah sekarang sentuhlah dua menara itu, Yang putih adalah menara keberuntungan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sedangkan yang hitam adalah seburuk-buruknya menara karena kejahatan. Cepat lakukan...!!" perintah Anak Langit.

Hartawan Abdi Banda terkesima, ia jelas tidak mau melakukannya. Karena ia tahu pasti apa yang bakal terjadi padanya. Tapi sungguh celaka kedua kakinya bergerak dengan sendirinya tanpa mampu dicegah. Wajah hartawan itu sepucat kain kapan, tubuhnya menggigil. Dan saat itu ia benar-benar memaki dan menyumpahi kakinya karena terus berjalan ke arah menara tanpa dapat dicegah. Bukan ke menara putih, tapi ke menara hitam. "Duhai celakalah aku...!" jerit hartawan Abdi Banda ketika tangannya melekat pada menara yang bentuknya empat persegi, panjang menjulang ke langit. Sang hartawan menjerit tubuhnya terbakar, pada saat itu ia melihat seluruh hartanya berdatangan ke arahnya dan berubah menjadi api yang membakar dirinya. Maka tewaslah hartawan Abdi Banda. Yang lainlainnya terperangah. Tokoh-tokoh golongan lurus menangis tersedu-sedu.

"Jangan kalian heran, ajal hartawan itu memang sudah sampai hari ini." ujar Anak Langit ditujukan pada tokoh-tokoh golongan lurus. "Nah sekarang tiba pula giliran anak manusia yang bernama Arung Garda dan Raja Tega. Sepanjang hidup kalian hampir tidak pernah berbuat kebaikan. Kalian menghilangkan jiwa-jiwa orang lain yang sesungguhnya milik Gusti Allah. Pilihlah salah satu dari menara itu. Jika memang kebaikan kalian banyak tentu kalian akan memilih menara kebaikan, menara putih. Hari ini kalian tidak akan bisa bicara!"

Baik Raja Tega maupun Arung Garda menangis keras, tangisan itu berubah menjadi lolongan mengerikan mendirikan bulu roma. Maka tanpa dapat dikendalikan lagi sesuai kehendak hati dan perintah otak, kaki mereka pun melangkah. Tapi langkah mereka bukan menuju ke menara putih, melainkan menuju ke menara hitam.

"Ya Tuhan, beri aku tangguh untuk menghadapi siksaan ini. Aku ingin bertobat!" rintih hati Arung Garda dan Raja Tega.

Dalam pada itu terdengarlah suara Anak Langit. "Sungguh taubat tidak akan berguna bila ajal sudah di tenggorokan. Tidak ada yang dapat menghentikan dan menangguhkan walau barang sedetik!"

Tangan Arung Garda dan Raja Tega terulur, begitu menyentuh, maka menggelegarlah suara petir menghantam tubuh mereka. Jeritan terputus. Tubuh mereka cerai berai menjadi serpihan daging yang hangus berbau busuk bukan kepalang. Lalim Durjana dan Pertapa Seribu Abad terkesima, bagaimana pun Raja Tega telah kehilangan kedua tangan sebelah kaki. Dalam keadaan ia sendiri tidak punya kuasa untuk berdiri. Namun pada waktu mendengar perintah Anak Langit ia langsung berdiri, bahkan sisa tangannya yang buntung menyentuh menara hitam tersebut.

"Sekarang adalah bagian Lalim Durjana dan Pertapa Seribu Abad. Ketahuilah, selama ini kalian telah bersekutu dengan Sang Maha Sesat. Di sini dalam pertemuan ini makhluk terlaknat itu memang belum terima ganjaran. Ganjaran baru diterimanya setelah bumi dan langit tergulung, gunung-gunung dihancurkan dan manusia beterbangan tanpa guna. Dia adalah makhluk yang durhaka pada Zat yang menciptakannya. Kau Lalim Durjana selama hidupmu terlalu mendewa-dewakan kekuasaan, sedangkan Pertapa Seribu Abad selain memakan daging sesamanya, juga penuh kebiadapan. Sekarang bangkitlah, kalian punya hak untuk menghampiri menara manapun yang kalian sukai. Sama seperti yang lainnya, sekarang pula ajal kalian!"

"Apakah ajalku tidak dapat ditangguhkan?" "Pertapa Seribu Abad, aku tidak punya kuasa

apa-apa untuk memberi tangguh kematianmu. Semua ini adalah ketetapan Tuhan yang tidak dapat dirobah. Sekarang jalan...!!" perintah Anak Langit.

Secara aneh Pertapa Seribu Abad yang lumpuh itu berdiri, Lalim Durjana juga ikut berdiri. Lalu dengan menundukkan kepala mereka berjalan ke arah menara putih. Tapi sungguh aneh, kaki mereka membelok ke menara yang hitam. Sungguh pun mereka memaksakannya untuk menuju ke menara yang putih, tetap saja mereka menuju ke menara yang hitam. Tangan mereka pun terulur dan menggapai.

"Bumm!" "Aaaa...!"

Menjeritlah kedua tokoh ini ketika tubuh mereka tersengat cahaya hitam yang keluar dari menara itu. Dua-duanya terpelanting, lalu roboh dalam keadaan hangus, dada pecah dan isi kepala meleleh.

"Itulah balasan bagi orang-orang yang lalai dan melampaui batas. Sepeninggalku ini, akan timbul lagi kesesatan dan angkara murka di bumi ini...! Teruskanlah sebar kebaikan di muka bumi, musuh-musuh kalian akan semakin tangguh, bahkan menyaru seperti kalian. Kitab berisi surat ini akan kubawa. Nah selamat tinggal...!" kata Anak Langit. Ketika Anak Langit berubah ujudnya menjadi cahaya, maka cahaya itu kemudian melesat ke angkasa. Suasana di sekitarnya berubah sebagaimana sediakala. Dua menara lenyap, hamparan putih juga hilang. Yang terlihat hanya mayat-mayat para tokoh sesat yang bergelimpangan dalam keadaan menyedihkan.

Malaikat Penderitaan juga menghilang, Pendekar Lugu dan Raja Kodok telah pergi tanpa sepengetahuan Suro Blondo. Menyusul sisa-sisa Lima Utusan Akherat. Yang tertinggal hanya Puspita Sari dan Patih Luragung, kakek buta itu menangisi diri sendiri.

"Aku tidak diadili, tapi sisa-sisa hidupku dalam kegelapan seperti ini. Oh, sungguh merupakan penderitaan yang sangat pedih melebihi tertusuk seribu pedang!" rintih sang Patih.

"Puspita, lebih baik kita tinggalkan orang buta maling ini. Aku takut dia iri melihat kita bermesramesraan" kata Pendekar Blo'on.

"Pendekar geblek, contoh mengerikan saja belum lama terjadi. Kini kau berani pegang-pegang tanganku!" dengus Puspita Sari.

"Walah, aku tidak pernah kesusu (Tergesa-gesa) kok jika memegangmu! Paling yang wajar-wajar saja tapi asyiiik...!"

"Orang sinting!" cibir si gadis dengan wajah merona merah.

Suro tergelak-gelak, lalu tawanya menghilang di kejauhan. Puspita pun seakan tidak rela kehilangan sehingga ia mengejar. Angin dingin berhembus. Kerajaan Ujung Dunia berubah menjadi sepi. Hanya isak tangis Patih Luragung sesekali terdengar dalam penyesalan.

TAMAT