Serial Pendekar Bloon Eps 09 : Anak Langit & Pendekar Lugu

 
Eps 09 : Anak Langit & Pendekar Lugu


Bila bumi telah diguncangkan dengan guncangan yang Maha dahsyat. Bila gunung-gunung hancur lebur menjadi debu. Bila bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya. Bila perempuan hamil melahirkan dengan paksa sebelum waktunya. Bila seorang ayah meninggalkan anak dan istrinya. Bila perempuan menyusui meninggalkan bayi yang disusuinya. Bila orang mati dibangkitkan dari kuburnya, bila laut meluap dan bintang gemintang bertabrakan. Maka di hari itu bagi manusia tidak ada lagi tempat berlindung, tertutup pula baginya pintu tobat. Di hari itu harta benda tidak menolong, cinta manusia, kekasih manusia lari meninggalkannya dan mereka Maha sibuk dengan urusan masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang tidak kau syukuri? Kebanyakan manusia menjadi sombong, kebanyakan manusia itu lupa dan silau oleh kesenangan dunia yang cuma sedikit. Manusia berlomba-lomba mengumpulkan harta benda dan anak-anak. Padahal mereka hidup di dunia ini tidak akan lama, harta benda yang dikumpulkannya itu kelak akan ditinggalkannya pula! Maka nikmat Tuhan-mu manakah yang kau syukuri?"

Suara tanpa ujud itu menyentak di tengahtengah gemuruh suara hujan deras. Lalu terdengar rentetan suara petir menggelegar. Di awali dengan cahaya kilat yang menerangi suasana di sekelilingnya. Hujan deras tercurah lagi. Demikianlah hal seperti ini terus berlangsung selama tiga hari dua malam.

Sebagian rumah-rumah penduduk di kota kerajaan Ujung Dunia terendam. Bahkan ribuan diantaranya terseret arus. Hewan ternak banyak yang mati. Ratusan nyawa melayang dan mati tenggelam. Sungguh ini merupakan azab yang sangat mengerikan. Mungkin Tuhan marah melihat manusia melakukan dosa di mana-mana, dunia ini sudah semakin kotor bertimbun dosa dan kesalahan, keangkuhan, kekikiran, kelicikan, keserakahan anak-anak manusia.

Dalam suasana seperti itu, tidak seorang penduduk di kota Ujung Dunia itu yang keluar meninggalkan rumahnya atau sengaja memisahkan diri dari keluarganya. Kebanyakan diantara mereka memilih bertahan di dalam rumah bersama keluarga atau anak-anaknya, walaupun ketika itu sebagian rumah mereka telah terendam air. Kerajaan Ujung Dunia sendiri, yaitu kera-

jaan yang besar dari seluruh kerajaan yang besar dan pernah ada di kolong langit ini tidak tenggelam karena letaknya yang berada di atas gunung.

Sementara itu jauh dari keramaian kota tepatnya di sebuah tempat peribadatan berbentuk surau tampak seorang laki-laki muda berpakaian putih dan memakai sarung kedodoran duduk terpekur seorang diri. Hampir sepanjang waktu pemuda ini tampak berkemak-kemik memanjatkan do'a dan memuji kebesaran Tuhan. Ia tidak pernah lepas dari air suci dan boleh dikata sangat jarang meninggalkan tempat peribadatan. Rumah di dekat surau itu memang cukup banyak, jumlah penduduknya juga padat. Namun akhir-akhir ini mereka sangat jarang sekali beribadah. Mereka kelewat sibuk atau sengaja menyibukkan diri untuk berbagai macam kepentingan dunia.

Mereka saling berlomba mengumpulkan harta, atau bekerja membanting tulang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari yang kian hari semakin sulit didapat. Sementara harga kebutuhan pokok kian melambung tinggi nyaris tidak terjangkau.

Melihat kenyataan ini pemuda baju putih yang dikenal dengan nama Wahyu Sakaning Gusti hanya dapat mengurut dada. Dia sesungguhnya merasa kasihan pada para penduduk itu. Mereka telah tertipu mentah-mentah oleh kehidupan dunia dan melupakan kehidupan sesudah mati.

Pemuda gagah berwajah lugu ini tiba-tiba saja menengadahkan wajahnya ketika petir seakan menghantam puncak surau. Bibirnya yang selalu basah dengan asma Tuhan itu menggerimit.

Traat!

Glar! Glaar!

"Ya Tuhan...! Pertanda apakah ini? Jauhkan aku dan mereka dari azabmu yang pedih. Kembalikanlah kesadaran mereka pada fitrahnya sebagai manusia. Jangan kau masukkan aku dalam golongan hambamu yang melampaui batas. Aku takut kelak kami akan menjadi orang serugiruginya!" batin pemuda itu.

Wahyu Sakaning Gusti tiba-tiba bangkit berdiri. Ia melangkah ke teras Surau. Memandang ke luar hanya kegelapan saja yang terlihat. Di kejauhan pelita dari rumah-rumah penduduk berkelap-kelip bagaikan cahaya kunang-kunang yang redup.

Wahyu Sakaning Gusti alias Pendekar Lugu tengadahkan wajahnya ke langit. Hujan masih lagi menetes, angin masih juga bertiup, hawa dingin menampar-nampar wajah si lugu.

Traat!

Sekali lagi kilat menyambar. Suasana berubah terang benderang. Namun sungguh mengherankan, suasana terang itu seakan tidak ada habis-habisnya. Wahyu Sakaning Gusti kembali tengadahkan wajahnya ke langit. Astaga! Pemuda ini pun terperangah. Dari angkasa sana seakan ada cahaya terang benderang yang meluncur deras seperti Meteor. Cahaya itu sangat menyilaukan dan membutakan mata.

"Ya Tuhan... jangan kau turunkan bencana pada kami!" kata si pemuda seperti orang yang sedang memanjatkan doa.

Cahaya terang benderang berwarna putih dan berpedar-pedar itu terus meluncur ke bawah sejajar dengan atap surau. Sampai-sampai Wahyu Sakaning Gusti menyangka benda bercahaya itu akan menghantam hancur tempat ibadahnya.

Tidak disangka kira-kira tiga batang tombak lagi cahaya berpedar itu menghantam surau. Cahaya tiba-tiba berhenti mendadak. Pendekar Lugu tidak tahan melihat kehadiran cahaya tersebut karena begitu silaunya. Kemudian terdengar suara halus, nyaring mengejutkan....

"Wahai jiwa yang tenang. Aku datang dari sebuah tempat yang sangat jauh. Sebuah tempat bila seandainya pun seorang manusia mampu menempuhnya, tubuh orang itu akan hancur. Bila aku berjalan, maka langkahku lebih cepat dari perjalanan suara menempuh udara. Bila aku berlari maka kecepatanku berpuluh-puluh kali lipat kecepatan cahaya. Aku datang karena keteguhanmu. Aku menjumpaimu, karena kesabaran mu, karena kepasrahan mu menghadapi manusia yang semakin murka dan lupa diri. Wahai jiwa yang tidak pernah marah. Wahai jiwa yang selalu patuh pada perintah Tuhan, wahai jiwa yang tidak takabur, tidak sombong, tidak kikir, tidak iri, tidak tamak, tidak pernah membongkar aib dan kebusukan orang lain," kata suara itu dengan tenang namun menyejukkan.

Pendekar Lugu langsung terduduk lemas, sekujur tubuhnya menggigil dilanda kecemasan dan ketakutan. Lalu ia menangis, tangisnya membuat tubuh si pemuda terguncang. Dadanya menjadi sesak, seakan ia merasa kematian sudah hampir menjemputnya. Cahaya berpedar-pedar itu kemudian menyambung, suaranya membuat ujudnya yang dalam bentuk cahaya bergetar. "Malam ini adalah malam kepercayaan. Kau mendapat tugas yang sangat berat. Berat namun mulia, mulia jika kau dapat melaksanakannya dengan baik...!"

"Si... siapakah kau...?" tanya Pendekar Lu-

gu.

Suaranya terbata-bata karena ketakutan

itu masih melanda jiwanya.

"Aku hanya penyampai. Lebih baik kau panggil aku sebagai 'Anak Langit'. Sekali lagi ku tegaskan padamu, aku anak langiiit...! Hanya ini saja yang perlu kau ketahui sepanjang hidup." sahut suara dalam cahaya itu.

Wahyu Sakaning Gusti tampak berkomatkamit. Sekujur tubuhnya telah basah bermandi keringat. Padahal ketika itu udara sedemikian dinginnya dan hujan kembali turun dengan derasnya.

"Tugas apa yang harus kukerjakan?" tanya Pendekar Lugu alias Pendekar Penyampai, suaranya pelan namun jelas. Cahaya yang berpedar itu kembali bergetar.

"Sebelum apa yang kusampaikan engkau terima. Aku ingin bertanya terlebih dulu."

"Apa yang ingin kau tanyakan, ya Anak Langit?"

"Pertama takutkah kau pada raja yang kejam?" "Tidak!" tegas Pendekar Lugu.

"Takutkah kau pada pembesar, prajurit kerajaan, tokoh-tokoh sakti dalam rimba persilatan, tukang sihir, tukang teluh, dukun?" "Tidak! Selama aku berada di jalan yang benar." kata Wahyu Sakaning Gusti.

"Siapakah musuh yang paling kau takuti dan patut kau perangi?"

"Nafsuku!"

"Jawabanmu berada dalam posisi yang tepat." puji Anak Langit. "Ketahuilah di dunia ini banyak orang dikejar-kejar rasa takut. Kecuali manusia yang dekat dan selalu berpasrah diri pada Tuhan. Orang kaya takut jatuh miskin, orang melarat takut tidak makan. Orang berpangkat takut kehilangan pangkatnya. Takut dalam arti yang luas adalah takut kehilangan yang mulukmuluk di dunia ini." jelas Anak Langit.

"Adapun yang paling kejam tindakan manusia adalah memfitnah, membunuh, orang tua, paman, kakek, kakak menodai darahnya sendiri. Atau seorang ibu membuang atau membunuh darah dagingnya sendiri. Atau seorang ibu membuang atau membunuh darah dagingnya sendiri. Menurutmu apakah sudah tidak rusak perilaku manusia sekarang ini?"

"Rusak sekali, dan aku merasa sangat prihatin. Aku jadi takut!"

"Takut pada siapa?" "Pada Tuhanku!"

"Sekarang aku percaya. Ada pun tugas yang harus kau pikul ada dua. Pertama carilah hartawan yang paling kaya di dunia ini. Tidak perlu aku terangkan, nanti kau akan tahu ketamakan dan kekejamannya. Sedangkan yang kedua kau carilah raja yang paling kejam di kolong langit ini. Untuk membantu tugasmu agar berhasil dengan baik, maka kau harus mencari seorang pemuda ganteng berpakaian biru, memakai ikat kepala biru belang-belang kuning, tampangnya ketolol-tololan. Ia dikenal dengan julukan lain Pendekar Mandau Jantan alias si bocah Ajaib. Mengenai gelar sesungguhnya kau nanti boleh tanya pada yang bersangkutan. Dia punya kesaktian yang dapat diandalkan. Namun dalam masalah keteguhan hati terus-terang saja kurang." jelas Anak Langit.

"Apakah aku sendiri tidak boleh mencari hartawan dan raja itu?" tanya Pendekar Lugu.

"Pekerjaan ini tidak mudah. Kau memikul beban yang sangat berat. Karena sebelum sampai ke tujuan utama kau akan menghadapi rintangan yang tidak sedikit. Pemuda itu punya berbagai kesaktian yang dapat kau ajak bekerja sama!"

"Aku terima tugas ini. Apa pun yang akan terjadi pada diriku, sesungguhnya nyawaku kupasrahkan pada Tuhan!" kata Pendekar Lugu tulus.

"Wahyu Sakaning Gusti. Serukanlah pada hartawan kaya itu untuk menghentikan kemaksiatan. Hentikan jual beli kehormatan perempuan. Hentikan perjudian, hentikan pemadatan dan hentikan pembuangan harta. Jika tiga kali laranganmu tidak dihiraukan. Maka sudah menjadi tugas si Bocah Ajaib untuk membantumu. Demikian juga dengan raja Lalim Durjana. Kekejamannya sudah melampaui batas, tindakannya sewenang-wenang. Berilah peringatan padanya. Jika dia tetap membangkang, maka sudah menjadi tugasmu dan tugas Suro Blondo untuk menghentikan raja itu dengan cara yang keras!" tegas Si Anak Langit.

"Aku akan selalu mengingat pesanmu, malam ini juga aku segera mencari pemuda itu." jawab Pendekar Lugu.

"Berhati-hatilah, berpikir dengan kesabaran sebelum bertindak. Jika orang lain berkata kasar padamu jangan kau balas. Bersikaplah diam daripada bicara tidak berguna. Sesungguhnya Tuhan-mu menyukai orang-orang yang sabar. Selamat tinggal Wahai Jiwa yang tenang. Di lain waktu aku akan datang kepadamu!" kata sosok berujud cahaya tersebut. Cahaya tersebut kemudian melesat ke langit. Semakin lama bergerak semakin bertambah jauh sampai akhirnya hanya terlihat titik putih yang teramat kecil, lalu menghilang dari pandangan mata.

DUA

Lima ekor kuda dipacu dengan kecepatan tinggi. Kelima binatang tunggangan berbulu hitam tersebut berlari seperti dikejar-kejar setan. Penunggangnya adalah lima orang laki-laki berbadan gemuk memakai pakaian serba hitam. Wajah mereka angker, jenggot, cambang serta kumisnya tumbuh subur tidak terawat dengan baik. Yang mengerikan dari kelima laki-laki penunggang kuda itu semuanya picak bagian mata kirinya. Tidak hanya picak saja, tampaknya mereka sengaja mencungkil matanya beberapa tahun yang lalu. Sehingga terlihatlah sebuah rongga mata yang lebar dan berwarna kemerah-merahan.

Memasuki sebuah kota yang cukup besar. Kelima penunggang kuda ini bukan mengurangi kecepatan kuda mereka. Melainkan terus membedal kuda-kuda tersebut bagai orang kesurupan. Orang-orang yang berada di jalan cepat menyingkir dan seperti orang yang ketakutan.

Tidak lama kemudian mereka membelok ke sebuah gang lalu berhenti di sebuah bangunan mewah seperti sebuah penginapan. Kelima lakilaki bertampang angker turun dari kuda masingmasing. Dua orang laki-laki yang agaknya pekerja di situ menyambut mereka dengan hormat dan membawa kuda itu ke tempat biasa untuk ditambatkan.

Dengan langkah tegap mereka menuju ke pintu depan. Seorang perempuan bertubuh gemuk, gembrot mirip gentong datang menghampiri. Sementara di dalam ruangan itu tampak belasan gadis-gadis belia berwajah cantik dan memakai pakaian mini duduk dengan genitnya.

"Anak-anak, masuklah kalian ke dalam!" perintah si wanita gemuk.

"Jangan semuanya masuk. Tinggalkan empat orang untuk melayani kami!" bentak salah seorang diantaranya.

Lima belas gadis-gadis cantik berdada menantang dan berpaha mulus masuk. Sedangkan empat diantaranya terpaksa menunggu. Empat laki-laki menghampiri ke empat gadis yang menunggunya. Mereka langsung memeluk, meremas-remas bagian yang menonjol, atau tangan mereka menggerayang ke tempat-tempat menonjol yang lainnya. Dan sesungguhnya wanita itu memiliki banyak tonjolan dan tanjakan yang menyenangkan laki-laki keparat seperti empat mata picak ini.

"Tuan datang terlalu cepat dari waktu biasanya! Tentu saja setoran untuk bulan ini belum terkumpul sebagaimana mestinya!" kata Wanita gembrot macam gentong ini manja.

"Kami selalu datang pada waktunya. Hartawan Abdi Banda memberi perintah pada kami agar hasil dari daerah kemaksiatan ini dikumpulkan sebelum masa waktu yang ditentukan datang. Kami hanya menjalankan perintah, tidak lebih dan tidak kurang!" dengus laki-laki bertubuh paling tinggi dibandingkan yang lain-lainnya

"Baiklah, saya akan pergunakan uang saya dulu untuk menutupi sejumlah. kekurangan yang ada!" kata Suntarini.

Perempuan itu kemudian menghilang di dalam kamarnya. Ketua mata picak memperhatikan kawan-kawannya. Astaga! Ternyata mereka sedang berbuat mesum di ruangan itu tanpa malu-malu dilihat lainnya. Sungguh mereka tidak bedanya dengan binatang yang tidak punya pikiran dan rasa malu. Sebaliknya ketua mata picak ini kelihatannya menganggap kejadian itu biasabiasa saja.

"Ayo kawan-kawan, teruskan kalian balapan. Akh... masa kalah dengan gadis-gadis ini...!" kata Rahjendra sambil tergelak-gelak.

Lalu terdengar suara lenguh kenikmatan disana-sini. Rahjendra sudah tidak menghiraukan apa yang dilakukan mereka. Mata yang cuma sebelah itu membuat lebar ketika melihat kepingan uang emas yang dibawa oleh Suntarini.

"Apakah cuma sekantung ini?" tanya Rahjendra.

"Ya, sekantung ini. Bukankah biasanya segini juga jumlahnya?"

"Ah iya, aku sampai lupa? Rahjendra kemudian menjulurkan tangannya ke dada Suntarini. Sebentar saja dengan seenaknya ia membelaibelai bukit si gembrot yang lembek kedodoran.

"Aih, tuan nakal sekali," desahnya sambil mengedipkan matanya.

"Kenakalanku padamu tidak setiap aku datang kemari. Lain kali jika aku datang lagi kau harus melayani aku luar dalam!" kata ketua mata picak sambil terkekeh.

"Hik hik hik...! Tentu saja jangan khawatir!" janji Suntarini.

Laki-laki itu memasukkan kantung ke balik bajunya. Ia memberi isyarat pada kawankawannya untuk segera meninggalkan tempat itu. "Ingat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di tempat ini sebaiknya laporkan pada hartawan Abdi Banda. Tidak ada yang boleh berbuat onar di rumah surga ini. Sebagai orang kepercayaan kau harus menjaga kepercayaan yang

diberikan oleh hartawan padamu!" "Baiklah tuan!" sahut Suntarini.

Si gembrot mengantar orang-orang kepercayaan hartawan Abdi Banda sampai ke halaman depan. Kelima mata picak ini meninggalkan rumah pelacuran itu untuk kemudian memungut keuntungan-keuntungan lain di tempat perjudian dan pemadatan.

***

Pemuda baju biru itu celingak-celinguk memperhatikan keramaian kota di senja hari. Kota Cagar Tirta sejak lama memang dikenal sebagai kota kemaksiatan. Penduduk setempat tidak berani mencegah praktek-praktek terkutuk ini. Karena pemilik rumah pramusyarat itu tidak lain adalah hartawan Abdi Banda.

Siapa yang tidak kenal dengan hartawan Abdi Banda, manusia kaya raya di dunia yang kunci gudang harta bendanya saja tidak dapat ditarik oleh dua ekor kuda yang kuat-kuat.

Sementara itu pemuda berwajah ketololtololan ini tiada henti menggaruk kepalanya. Pembangunan kota yang sedemikian pesat membuatnya terkagum-kagum.

"Hebat juga daerah ini. Gedungnya megahmegah, penduduknya hemm... terutama para gadis itu. Jalannya megal-megol, pinggulnya wah... hanya membuat kepalaku mumet (pusing)." batin si pemuda berambut hitam kemerahan.

"Hieekh...!"

Kuda kurus kering yang ditunggangi oleh Suro Blondo tiba-tiba saja ngadat tidak mau jalan.

"Kuda goblok ini taik sama kentutnya saja yang besar. Tenaga tidak ada. Mana tulangtulangnya bertonjolan? Kuda kurus begini kalau dijual tukang loak pun nggak bakalan sudi. Menyesal aku mengambilnya di pinggir jalan. Dasar goblok... blok-blok...!" dengus si pemuda.

Disebut dirinya goblok, seakan mengerti kuda tersebut tiba-tiba saja berlari cepat laksana terbang. Suro Blondo terkesiap dan hampir saja terjatuh. Kuda terus berlari tidak tentu arah. Terkadang menabrak tukang jual makanan dan buah-buahan di pinggir jalan.

"Hei berhenti, gobloook...!" teriak Suro Blondo. Ternyata ucapan itu hanya membuat lari kuda semakin menggila. Suro jadi bingung, celakanya apa saja yang berada di depan kuda tersebut ditabraknya. Hingga pemilik barang-barang dagangan menjadi berang dan mengejar Suro Blondo si anak ajaib.

"Waduh mengapa jadi begini!" desis Suro si bocah Ajaib kalang kabut. "Wah kalau begini terus semua orang bisa memukuliku. Hanya kuda pinter saja yang tidak membuat susah majikan. Pinter... ter...ter...!"

Cieeet...!

Secara mendadak kuda itu berhenti saat Pendekar Blo'on menyebut kata pintar. Suro melongo, kini ia baru mengerti kuda itu rupanya punya panggilan yang konyol. Kalau dibilang goblok ia marah dan langsung berlari sekencangkencangnya. Sedangkan kalau dikata pintar langsung berhenti.

"Ah siapa sebenarnya majikanmu. Tuanmu pastilah orang konyol dunia akherat. Sekarang lebih baik kita berbalik. Aku perlu mencari sebuah penginapan untuk melewatkan malam ini."

Tklak-tkluk tklik tklok!

Demikianlah dengan malasnya kuda itu mengikuti perintah si Bocah Ajaib Suro Blondo. Setelah mencari-cari sampailah pemuda baju biru ini di depan sebuah tempat yang sangat mewah mirip dengan penginapan. Banyak laki-laki keluar

masuk dalam bangunan itu.

Seorang laki-laki tukang urus kuda menghampiri Pendekar Blo'on. Kuda langsung dibawa oleh laki-laki itu untuk ditambatkan di tempat yang telah tersedia.

"Hei... mau dibawa kemana kuda kurus itu?" tanya Suro Blondo.

"Ditambatkan, tuan!"

"Oh...!" Suro manggut-manggut. Si Bocah Ajaib segera bergegas memasuki pintu depan. Sampai di dalam bangunan itu ia melongo seperti orang bego. Banyak perempuan cantik di situ. Mereka masih muda-muda, para laki-laki hidung belang pun tidak kalah banyaknya. Diantara mereka ada yang sedang berpelukan atau bercumbu tanpa rasa malu dan tak jarang pula yang sedang berbincang-bincang sambil minum arak.

"Tempat macam apa ini? Apa mereka suami istri?" Suro garuk-garuk kepala. "Kurasa inilah yang namanya sorga dunia neraka akherat. Oh... kalau begitu aku salah alamat. Lebih baik aku keluar saja!" pikir si pemuda.

Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya dan hendak berlalu dari situ. Namun terlambat, dua orang gadis cantik berkulit putih dan memakai pakaian merangsang telah menggandeng tangannya kiri kanan.

"Aih tuan yang gagah. Mengapa buru-buru pergi? Kau adalah orang yang paling gagah dari sekian laki-laki hidung belang disini. Marilah ikuti kami!" kata salah seorang diantara mereka sambil tersenyum genit. Lalu temannya menimpali. "Kami tidak akan mengecewakan mu!"

"Hei, apa-apaan ini. Aku cari penginapan. Bukan mencari perempuan!" kilah Suro bingung.

"Hi hi hi...! Menginap disini dapat tidur dengan nyenyak dan kepuasan sekaligus!"

"Jangan....! Aku tidak punya uang...!" kata si konyol.

Kedua gadis jalang itu saling berpandangan. "Bagaimana Melur?" tanya yang disamping kiri Si Bocah Ajaib.

"Tidak apa-apa. Untuk pemuda setampan. dia aku bersedia menyerahkan diriku sepenuhnya tanpa dipungut bayaran sedikit pun." sahut Melur.

"Aku pun setuju!" sahut gadis yang berbadan jangkung.

Takut menarik perhatian orang-orang yang berada di dalam ruangan itu. Akhirnya Pendekar Blo'on hanya menurut saja. Kedua gadis cantik tersebut membawa pendekar Blo'on memasuki sebuah ruangan. Sebuah kamar mewah dengan tempat tidur berwarna merah jingga.

"Duduklah kekasih kami!"

Suro Blondo menurut. Namun tiba-tiba ia terperangah kaget ketika kedua gadis itu melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh mereka. Dalam keadaan polos begitu salah seorang diantaranya langsung berdiri di depan Suro.

"Hutan rimbanya begitu lebat, bukitnya menjulang ke langit!" pikir si pemuda seperti orang yang sedang menyanyi.

"Marilah kekasih. Malam ini kita habiskan untuk menikmati sorga dunia!" tantang salah seorang dari gadis itu. Sebelum dada yang menonjol itu menghimpit wajah si pemuda. Suro tiba-tiba saja melompat.

"Jangan kalian dekati aku!" dengus Pendekar Blo'on. Walau pun ia bersikap serius, namun tetap saja mimiknya terkesan konyol.

"Hei... ada apa? Kami mau memberi kenikmatan padamu mengapa sekarang menolak?!" tanya Melur.

"Kalian bertingkah seperti hewan saja. Dan jelek-jelek gini aku masih manusia!" tegas si pemuda.

"Kau... mengapa kau malah menolak? Malam ini kami menyerahkan tubuh kami dengan suka hati untuk seorang pemuda segagah engkau. Kalau kau mengecewakan kami, maka akan kami panggil tukang pukul!" ancam gadis jangkung.

Tanpa di duga-duga Si Anak Ajaib melompat lagi ke pintu. Karena pintu dalam keadaan terkunci maka ia terpaksa mendobraknya. Daun pintu hancur berkeping-keping. Kedua gadis itu berteriak keras.

"Tangkap orang itu. Ia tidak membayar...!" "Bayar apa? Lha wong aku tidak berbuat

apa-apa kok!" dengus Pendekar Blo'on. Percuma saja ia membela diri karena laki-laki di ruangan itu telah mengepungnya. Dua algojo berbadan tegap kumis melintang maju serentak.

"Jangan berani kurang ajar kau bocah. Siapa pun yang sudah bersenang-senang dengan gadis disini harus bayar!" teriak salah seorang algojo itu marah.

"Manusia congekan. Sudah kubilang aku tidak berbuat apa-apa. Gadis-gadis itu hanya memfitnah...!" Suro Blondo membela diri.

Percuma saja ia berteriak. Dua orang algojo menghantamkan tinjunya ke wajah Suro. "Tampangmu yang tolol biar kami bikin konyol sekalian!" dengus salah seorang algojo dengan beringasnya.

Suro melompat ke samping, lalu menangkis dengan sikunya. Gerakannya cepat dan sangat kacau sekali. Tiba-tiba saja....

Duuk! "Hek !"

Algojo berbadan gemuk pendek menjerit tertahan. Kawannya yang berbadan gemuk tinggi jadi marah. Ia menendang pendekar Blo'on tepat pada bagian buah jambunya. Buah jambu dilindungi pemiliknya dengan mempergunakan sebelah tangan. Suro melompat di atas meja sambil berjingkrakan seperti seekor monyet. Dari bibirnya terdengar suara ngak-ngik nguk seperti suara monyet. Lalu....

Jtak!

Tangan si pemuda menghantam jidad lawan. Kening algojo itu benjol sebesar telur angsa.

"Kunyuk keparat!" maki algojo pendek. Tangannya mencengkeram rambut si pe-

muda. Suro menarik wajahnya ke belakang. Lalu ia melompat-lompat, mengelak kian kemari dengan gerakan gesit seperti seekor kera. Inilah jurus ‘Kera Putih Memilah Kutu’. Salah satu jurus yang dimiliki oleh si pemuda.

Set!

Serangan si pendek lolos menghantam angin. Algojo jangkung semakin tidak sabar. Mereka mengepung Suro dari dua arah, lalu menerjang ke depan dalam waktu bersamaan. Rupanya Si Anak Ajaib meloloskan diri dari bawah. Tanpa dapat di tahan-tahan lagi mereka pun saling bertabrakan.

Bletak! "Wadaww...!"

"Goblok mengapa kau malah menabrakku!" maki algojo pendek.

"Sial! Dia nyeplos dari bawah bego!" bantah sijangkung.

Saat mereka sedang saling berbantahan itulah Pendekar Blo'on melompat ke udara. Lalu tangannya kanan kiri menyambar ke bagian tengkuk kedua lawannya.

Tuuk! Tuuk! "Hekh...!"

Kedua laki-laki tukang pukul itu merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku. Suro tertawa sambil mengekeh.

"Kalian benar-benar telah menjadi patung sementara yang tidak lucu. Eeh... ada lagi rupanya. Perempuan macam gentong ini apakah tukang pukul juga?" batin Suro Blondo.

Ternyata perempuan gembrot itu menghampiri Pendekar Blo'on. Suro menunggu dengan perasaan was-was.

*** TIGA

"Hhm, siapakah kau ini, pemuda tampan bertampang tolol? Kau datang membuat kegaduhan disini. Jelaskan tujuanmu jika tidak ingin mencari susah!" bentak si gembrot yang tidak lain adalah pengurus rumah pelacuran itu sekaligus orang kepercayaan hartawan Abdi Banda.

Pendekar Blo'on seka keningnya yang berkeringat. "Aku.... Suro Blondo. Aku kemalaman di sini dan cari penginapan. Ternyata aku salah masuk. Jadi aku terpaksa keluar, tapi kedua gadis itu telanjang lalu mengajakku ini dan itu. Aku tidak mau, eeh... mereka malah menuduhku yang tidak-tidak!"

"Benar begitu, Melur?" tanya Suntarini ditujukan pada kedua gadis yang sekarang telah berdiri di ambang pintu. Ternyata kedua gadis itu sangat patuh pada majikannya.

"Benar, bu!" jawab salah seorang diantaranya dengan ketakutan.

Jadi kalian berbohong?" dengus Suntarini berang.

"Maafkan kami. Terus-terang kami merasa tertarik pada pemuda itu. Tapi ternyata dia menghina dengan menolak ajakan kami!"

"Kenapa kau menolaknya, anak muda?" "Karena aku hanya ingin tidur saja. Sudah-

lah, aku tidak mau berdebat. Sekarang mau pergi, dan jangan coba-coba halangi aku jika tidak ingin kugebuk!" tegas Pendekar Blo'on.

"Silakan kalau mau pergi!" kata Suntarini. Pendekar Blo'on pun akhirnya berlalu me-

ninggalkan tempat maksiat itu. Sementara itu Suntarini diam-diam segera mengirimkan utusan untuk menghubungi kaki tangan hartawan Abdi Banda tentang kemunculan pemuda baju biru tersebut.

Setelah keluar dari rumah mewah itu Pendekar Blo'on terus menuju ke pinggiran kota. Namun di sudut kota langkahnya terhenti setelah melihat sebuah bangunan lain berwarna merah. Yang membuat Suro terheran-heran karena di bagian depan bangunan tersebut terdapat gambargambar manusia dalam berbagai bentuk.

"Gambar itu seperti orang main topengtopengan kelihatannya kayak orang mabuk. Lalu ada gambar bidadari cantik hampir telanjang. Aku heran sekarang ini berada dimana, ya...?" pikir si pemuda, lalu menggaruk kepalanya seperti orang linglung.

Karena merasa penasaran. Maka akhirnya pemuda itu melangkahkan kakinya memasuki bangunan tersebut. Sampai di dalam ia kaget juga. Dalam bangunan itu ternyata terdapat lakilaki yang sedang menghisap sesuatu dari pipa. Tercium bau khas yang selama ini belum pernah dirasakan oleh Suro Blondo.

Para laki-laki itu seperti orang yang sedang mabuk. Diantara mereka ada yang tertawa-tawa, ada pula yang tersenyum-senyum tanpa melepaskan pipa panjangnya namun ada pula yang menangis.

"Bapak, mengapa bapak tertawa seperti orang gila? Yang bapak isap ini rokok apa racun?" tanya si Anak Ajaib. Ia mengendus-endus. Cuping hidungnya kembang kempis. Namun tiba-tiba saja sebuah tangan yang kokoh telah menariknya ke belakang hingga membuat kakinya tergantung setengah jengkal dari lantai yang terbuat dari batu marmar itu.

"Bicara dengan orang yang sedang menikmati sorga adalah sebuah pantangan disini!" dengus orang berpakaian hitam memakai penutup kepala warna hitam pula. Seluruh tubuh orang ini terbungkus pakaian hitam ringkas. Hanya sepasang matanya saja yang tidak tertutup. Suro yang memang belum pernah bertemu dengan orang seperti ini jadi kaget.

"Hei... lepaskan! Kau hantu, setan atau manusia?" tanya si pemuda.

"Aku Ninja Sakura. Ninjatsu yang membunuh dengan seribu akal seribu cara!" sahut orang ini.

Lalu tanpa bicara apa-apa lagi ia menyeret Si Anak Ajaib menuju ke sebuah ruangan lain. Di dalam ruangan itu tubuh si pemuda berambut kemerah-merahan itu dilemparkan begitu saja. Untung dirinya tidak dalam keadaan tertotok. Sehingga ia masih dapat berguling-gulingan dengan baik.

Dengan cepat Suro Blondo berdiri. Ternyata lima orang laki-laki lainnya telah mengurungnya dengan ketat. Ninja yang menyeretnya tadi memberi aba-aba membunuh pada kawankawannya dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Pendekar Blo'on.

"Haiik...!"

Serentak kelima ninja hitam tadi maju ke depan. Mereka menyerang dengan mempergunakan pedang kecil dan pendek yang biasa di pergunakan untuk Harakiri (Bunuh diri).

Bukan main cepatnya serangan itu. Sehingga hanya dalam waktu sekejab lima buah ujung senjata telah siap merencah tubuh si pemuda.

Pendekar Blo'on leletkan lidah. Tiba-tiba ia melompat ke udara. Namun begitu serangan luput, lima buah piauw meluncur deras ke arahnya.

Siing!

Suro cepat pukulkan tangannya ke lima arah, senjata rahasia tersebut rontok menimbulkan suara berdenting. Lalu terlihat pula lima buah senjata berbentuk bintang empat persegi meluncur deras ke arahnya.

"Haiiit...!" Zab! Zab! Zab!

Suro melompat ke samping kiri, atau terkadang melompat sambil berjongkok. Tangannya menggaruk ke bagian tubuhnya. Sedangkan dari mulutnya terdengar suara lolongan panjang seperti suara lolongan serigala. Inilah sebuah jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'. Set! Set!

Lima buah senjata kembali meluncur membacok kepala, menusuk leher, menghantam perut dan menyabet punggungnya. Serangan kelima Ninja itu jelas sangat berbahaya.

Dengan cepat pemuda itu berguling-guling membebaskan diri dari kepungan senjata. Seorang lawan yang berada di sisi kirinya dihantam dengan telapak kaki.

Duuk! Kraak!

Lawan menjerit keras. Suro bangkit berdiri, kemudian merebut senjata lawannya. Belum sempat ia mempergunakan senjata yang dirasakan sangat aneh itu. Empat serangan lain telah mengejarnya. Suro tidak punya waktu. Ia angsurkan tubuh lawan dan segera menjadikannya tameng.

Cres! Cres!

Tidak ayal lagi tubuh Ninja malang itu menjadi sasaran bacokan senjata kawannya sendiri.

Empat Ninja hitam lainnya menggeram. Yang jadi pimpinan memberi isyarat dengan gerakan tangan. Tiba-tiba saja mereka mencabut pedang panjang di punggungnya. Senjata itu diputar dengan mempergunakan kedua tangan. Lalu serangan datang bertubi-tubi. Pendekar Blo'on jadi kalang kabut. Sambil melolong, menjerit atau menangis ia terus menghindari serangan Ninja itu. Walau pun gerakannya kacau, namun tidak satu pun mata pedang mengenai sasaran.

Serentak Ninja-Ninja ini melompat mundur. Yang jadi pimpinan maju ke depan, lalu menjura hormat. Ke empat Ninja menghilang. Yang jadi pimpinan buka bicara.

"Siapa anda?"

Suro garuk-garuk kepala. Bibirnya menyunggingkan senyum. "Aku tentu saja bukan setan hitam berkedok seperti kalian. Namaku Suro Blondo!"

"Suro San!"

"Suro Blondo saja tidak memakai San...!" "San sama artinya tuan. Tuan Suro, kuli-

hat anda punya kepandaian hebat. Jika sudi bergabung, tentu kita dapat bersama-sama menjaga rumah madat ini. Hartawan Abdi Banda pasti berkenan menerima anda sebagai pasukan keamanannya. Dan soal upah tidak usah khawatir!"

"Kau sendiri yang memakai kedok ini sia-

pa?"

"Aku dari Sakura, negeri jauh di seberang

laut. Aku Ninja Sakura!" "Dimana itu Sakura?" "Jauh dari sini."

"Apa disana sudah tidak ada pekerjaan untuk orang seperti kalian?" tanya si Bocah Ajaib.

"Banyak. Tapi untuk yang berani membayar tertinggi, itulah tujuan kami„.!"

"Namamu?" "Kenziro Nakasone."

"Wah namamu aneh amat. Berarti kau orang asing! Aku tidak tertarik tawaranmu! Pulang ke negerimu atau aku akan memotong lidahmu!" tegas Suro Blondo dengan sikap serius, namun mimiknya tetap konyol.

"Di kasih tawaran baik untuk hidup enak tidak mau!" dengus Kenziro Nakasone.

Di luar dugaan tiba-tiba saja ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam layaknya seperti orang yang menghormat pada tamunya. Namun begitu Suro Blondo lengah. Maka dari balik pakaian hitam Kenziro melesat dua buah kaitan yang sangat tajam.

Seet!

"Wah kurang ajar. Manusia kapiran! Baru bisa menghormat saja sudah mau minta nyawaku! Heaaa...!" teriak Si Anak Ajaib.

Ia bersalto ke udara, sehingga senjata gaitan bertali ini lewat di bawah kakinya. Tiada disangka-sangka dari bagian langit-langit ruangan melesat sosok hitam lainnya. Sambil melayang di udara ia membabatkan pedang di tangan. Walau pun dalam keadaan kepepet, namun Suro masih mampu mengibaskan pedang pendek rampasan.

Trang!

Benturan pertama membuat Suro kehilangan keseimbangan. Namun pada kesempatan itu arah senjatanya yang sempat menyimpang dikembalikan ke arah semula.

Jhess! Bruuk

Pedang pendek menembus perut sang Ninja. Suro Blondo terduduk namun segera bangkit lagi. Ketika ia menoleh maka kepala Ninja-Ninja itu telah menghilang dari pandangan mata.

"Gila! Ninja itu kabur sebelum kalah dan tanpa sebab." pikir Pendekar Blo'on terheranheran.

Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba lantai ruangan yang dipijaknya seperti amblas ke bawah. Karena ruangan itu cukup luas, maka sungguh sulit bagi si pemuda untuk mencari selamat. Tubuhnya dengan cepat meluncur ke bawah.

Beruntung pada waktu itu tampak sosok bayangan lain berkelebat menyambarnya. Suro merasa tubuhnya melayang laksana terbang. Bayangan hitam tadi terus menerobos langitlangit ruangan. Tembus ke genteng, namun setelah mereka berada di atas genteng beberapa orang Ninja telah mengepung mereka.

Orang yang telah menyelamatkan Suro Blondo melemparkan sesuatu ke arah ketiga Ninja tadi.

Dar! Dar! Dar!

Ketiga benda bulat berwarna hitam langsung meledak ketika di tangkis oleh para Ninja itu. Begitu asap menebar, maka para penyerang bergelimpangan roboh dengan mata melotot dan jiwa melayang. Beberapa orang Ninja yang muncul kemudian langsung melakukan pengejaran. Namun gerakan dan ilmu lari mereka kalah cepat dibandingkan dengan sosok hitam yang memanggul Suro Blondo.

"Orang ini berlari secepat angin, bergerak seperti Malaikat. Tapi mengapa dia terus berlari. Padahal mereka tidak mungkin dapat menyusul." Karena posisinya sejajar dengan bahu sang penolong. Maka si konyol ingin memastikan yang menolongnya laki-laki atau perempuan. Tangan kirinya pun pura-pura menyampir di bagian dada. Belum lagi niat itu terlaksana, tangan penolongnya telah bergerak sepuluh kali lebih cepat.

Tuuk!

Dan tangan si pemuda pun berubah kaku karena tertotok. Terdengar suara dengus sosok hitam tersebut. Sementara ia tidak mengurangi kecepatan larinya.

Hingga pada akhirnya mereka sampai di sebuah tebing yang sangat curam. Tubuh Si Bocah Ajaib dilemparkan begitu saja.

Bruk!

"Wadoui... kira-kira. Tanganku yang sebelah tertotok. Main lempar seenaknya apa kau kira aku babi hutan?" protes Pendekar Blo'on bersungut-sungut.

Sosok berpakaian serba hitam yang ternyata juga memakai pakaian seperti ninja hanya mendengus. Malah ia menotok bagian tubuh lainnya disaat pemuda berambut hitam kemerahmerahan itu lengah.

*** EMPAT

"Ahk... kurang ajar sekali." Maki Si Anak Ajaib dalam hati. Inilah salah satu sikapnya yang paling tidak ia sukai. Ia selalu lengah dan jarang memikirkan keselamatan diri sendiri.

Jika sekarang dirinya sudah dalam keadaan tertotok tersebut, bukan mustahil orang yang telah melarikannya dari rumah madat itu punya maksud ingin membunuhnya

Dalam keadaan terlentang itu ia segera melihat orang yang telah menotoknya. Ternyata orang ini malah duduk di bawah sebatang pohon.

"Kau diam disitu dan jangan lihat-lihat kemari! Aku bisa membunuhmu kapan pun aku mau!" tegas orang itu.

"Heh... suaramu kecil seperti perempuan. Apakah anda seorang gadis yang sedang menyamar?" tanya Suro sambil menggelengkan kepalanya.

"Jangan bicara jika tidak kutanya!" dengus orang berpakaian seperti Ninja sengit.

"Wah suaramu ketus, pasti kau seorang perempuan!" tebak si usil tanpa menghiraukan ucapan si gadis.

"Diam...! apakah kau ingin cepat mati ditanganku?"

Jika saja tangannya tidak tertotok, mungkin pemuda ini sudah garuk-garuk kepalanya.

"Mati dengan cara bagaimana pun aku mau, yang penting atas kehendak Tuhan. Tapi jika harus mati ditangan orang misterius sepertimu, tentu aku jadi penasaran. Aku belum melihat wajahmu, rupamu, bibirmu mungkin jika kau punya bibir...!"

Plak!

Belum sempat pemuda itu melanjutkan kata-katanya sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipinya.

"Aku tidak punya silang sengketa denganmu, mengapa kau menamparku?" protes Pendekar Blo'on. Dalam otaknya yang cerdik ia segera mendapatkan akal untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan tersebut.

Diam-diam ia pun mengerahkan tenaga dalamnya. Namun pemuda itu terkejut. Karena totokan di tubuhnya bukan main hebatnya. Suro mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Kali ini usahanya itu mendatangkan hasil.

Maka terbebaslah dia dari pengaruh totokan. Namun ia tetap berpura-pura, menunggu perkembangan berikutnya. Ternyata orang itu menghampirinya. Setelah sampai di depan Pendekar Blo'on ia berjongkok.

"Kuperingatkan padamu jangan coba-coba mencampuri urusan hartawan Abdi Banda. Dia bisa membuat hidupmu tersiksa atau mati percuma karena ketololanmu!" tegas orang ini.

"Ehh... kau ini siapa? Apakah juga begundalnya hartawan yang memperdagangkan barangbarang haram itu?" pancing si Bocah Ajaib. "Jangan sembarangan kau bicara. Aku adalah orang yang tidak menyukai hartawan itu memperdagangkan wanita, judi dan madat. Cuma hartawan keparat itu terlalu tangguh karena sedemikian banyak pengawal berkepandaian tinggi yang menjaganya. Jangankan manusia, seekor semut pun tidak bisa menyusup ke sana, apalagi kau manusia lemah, tolol lagi!"

Suro Blondo tersenyum. Orang yang belum jelas identitasnya ini dan bersuara seperti wanita terlalu angkuh.

"Jadi itu alasanmu, sehingga engkau memusuhinya?"

"Bukan hanya itu saja. Hartawan Abdi Banda selain kikir, pelit juga sewenang-wenang terhadap rakyat miskin. Tidak sedikit orang yang mati percuma karena terlambat mengembalikan hutang. Ia juga manusia yang paling rakus dengan kemewahan dunia."

"Kalau begitu, kau pasti seorang gadis yang sedang menyamar!" tebak Pendekar Blo'on.

"Mau laki-laki, bencong atau wanita bukan urusanmu. Kau tidak layak mengetahui siapa aku. Yang jelas aku seorang laki-laki...!"

"Heh...!" Suro terlonjak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang telah melarikannya seorang laki-laki. "Lalu mengapa kau menotokku?"

"Untuk memastikan agar kau jangan pergi diluar sepengetahuanku! Tidak kusangka ternyata kau hanya pemuda lemah yang cuma bisa meloncat-loncat seperti monyet!"

"Kalau hanya cuma itu, sebaiknya aku pergi saja." kata Si Bocah Ajaib.

"Hi hi hi...! Bagaimana kau bisa lari dariku, jika tubuhmu dalam keadaan tertotok? Aku Rana Unggul tidak dapat kau tipu!"

"Begitukah Rana Unggul? Lihatlah aku sekarang sudah dapat berdiri." kata si pemuda. Pendekar Blo'on tiba-tiba berdiri.

Kenyataan ini membuat Rana Unggul terkesima. Bagaimana pemuda ini bisa melakukannya? Pertanyaan itulah yang mula-mula muncul dibenaknya.

"Kau.,. manusia tolol sepertimu bagaimana bisa membebaskan totokan?" tanya Rana Unggul.

"Ha ha ha...! Tentu saja kulakukan dengan ketololanku!" sahut si pemuda. Tanpa menunggu lebih lama lagi pemuda itu melarikan diri.

"Hei... tunggu...!" cegah Rana Unggul. Percuma saja ia berteriak memanggil, ka-

rena Suro Blondo telah menghilang dalam kegelapan malam.

Pendekar Blo'on terus berlari, hingga hari menjelang pagi sampailah ia di sebuah tempat yang sangat luas tanpa pepohonan.

"Daerah apa ini namanya?" pikir Suro. Seluas-luasnya mata memandang hanya hamparan batu kapur dan bukit gersang.

Dengan perasaan letih yang teramat sangat, pemuda ini melangkahkan kakinya menelusuri daerah tidak bertuan itu. Setelah seratus tombak, langkahnya terhenti kembali.

Entah dari mana datangnya tahu-tahu di depan pemuda itu telah berdiri seorang laki-laki memakai pakaian rapi berwarna putih. Laki-laki ini masih sangat muda, mungkin umurnya baru sekitar dua puluh lima tahun. Tampangnya lugu, tarikan pada bibirnya cukup keras agaknya ia seorang anak manusia yang sibuk dengan pikirannya.

"Salam sejahtera saudaraku! Tidak kusangka akhirnya Tuhan mempertemukan aku dan engkau juga!"

"Saudara, eh... aku merasa tidak punya saudara." kata si pemuda sambil menyeka keningnya.

"Setiap manusia adalah bersaudara satu dengan yang lainnya." Jelas pemuda yang pelihara jenggotnya itu.

"Oh begitu ya? Aku tidak tahu, selama ini aku beranggapan orang satu puser baru saudara. Ah, bicaramu enak sekali didengar aku jadi mengantuk...!"

"Jangan tidur dulu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan engkau wahai saudaraku!" cegah pemuda itu yang tiada lain adalah Pendekar Lugu.

"Aku mengantuk sekali. Sudah satu malaman aku tidak tidur, cari penginapan ternyata rumah pelacuran, mencari lagi ketemu rumah pemadatan. Lalu aku dikroyok Ninja, dibawa kabur oleh  Rana Unggul, laki-laki yang suaranya seperti perempuan. Isi dunia ini neko-neko (bermacam-macam). Perempuan dikaruniai wajah cantik, dada cantik, pinggul cantik malah menjual mulutnya yang dibawah puser. Lalu laki-laki suka lupa diri karena madat, arak. Mereka lalu mabuk... mabuk lagi... kemudian mabuk lagi! Aku jadi pusing...!" keluh si pemuda, sikapnya serius, namun tampang konyolnya tidak menunjukkan keseriusan.

"Apa yang kau lihat belum seberapa saudaraku. Di akhir jaman ini, ada bapak kandung berbuat seperti binatang hina dengan menyetubuhi anak perempuannya sendiri. Selama bertahun-tahun malah. Belum lagi seorang paman dengan keponakannya, seorang kakek dengan cucunya. Belum ditambah laki-laki serong, isteri serong."

"Itu pertanda apa, sobat. Apakah ini lambang kemajuan manusia?" tanya Suro.

"Bukan kemajuan, tapi kebobrokan moral. Tipis Iman, ini suatu pertanda tidak lama lagi dunia ini akan jadi porak poranda."

"Aha... bicaramu seperti seorang pandai agama. Siapakah engkau ini?" tanya si pemuda baju biru sambil golang-golengkan kepala.

"Aku anak manusia ciptaan Tuhan juga. Sama seperti dirimu dan manusia-manusia lain. Aku bukan ahli apa-apa. Hanya sekedar penyambung lidah dan mengemban suatu tugas yang cukup berat...!"

Untuk pertama kalinya Si Bocah Ajaib pandang wajah pemuda di depannya. Lagi-lagi Suro tercekat, betapa sejuk tatapan mata pemuda itu. Seakan tersimpan seribu satu kedamaian disana.

"Apakah engkau punya nama, sobat?" "Namaku Wahyu Sakaning Gusti." jawab

pemuda baju putih kalem.

"Heh, sebuah nama yang sangat agung." desis Suro tercekat. "Kau pasti bukan manusia seperti aku,"

Pendekar Lugu tersenyum. "Aku tetap manusia sepertimu. Tidak ada kelebihan pada diriku. Aku hanya sekedar penyampai. Bagaimana pun aku memerlukan bantuanmu!" kata Wahyu Sakaning Gusti.

"Bantuan apa, aku tidak bisa apa-apa?" sergah Suro.

"Tidak seorang pun yang tahu seberapa dalamnya sebuah telaga yang tenang. Bukankah kau Pendekar Blo'on?"

"Aku Suro Blondo. Bagaimana kau bisa ta-

hu?"

"Anak Langit telah mengatakan padaku!"

sahut Pendekar Lugu.

Pendekar Blo'on menggelengkan kepala sambil garuk-garuk rambutnya.

"Apa yang dapat kubantu?"

"Banyak sekali. Pertama adalah memberi peringatan pada hartawan Abdi Banda. Setelah itu memberi kesadaran pada raja Lalim Durjana!" tegas Pendekar Lugu. "Weleh-weleh. Apa yang baru kau ucapkan barusan adalah menyangkut persoalan sangat besar dan urusan yang besar pula. Aku tahu hartawan Abdi Banda adalah orang yang telah mengikuti jalan setan, langkah setan dan serba setan. Rumah pelacuran, perjudian, pemadatan dan masih banyak lagi yang membuat aku bingung. Mereka terlalu kuat, mustahil kita dapat mengembalikan mereka ke jalan yang betul."

"Jika Tuhan menghendaki, hal semacam itu tidak perlu dirisaukan." tegas Pendekar Lugu penuh keyakinan.

"Heh, jangan dipandang enteng. Hartawan Abdi Banda punya sepasukan Ninja Sakura. Tangan kanannya lima jagoan mata picak. Tidak terhitung tokoh-tokoh bayaran yang tentu saja memiliki kepandaian tinggi!" kata si pemuda waswas.

"Aku hanya penyambung lidah, tiga kali peringatan telah cukup. Sedangkan kau adalah pendampingku."

"Jika demikian, kita perlu bertemu dengan hartawan itu?" ujar Pendekar Blo'on.

"Aku telah datang dua kali dalam mimpinya. Sekali lagi aku datang kepadanya. Jika ia tidak mau kembali ke jalan yang benar. Maka kelak hartawan Abdi Banda akan binasa tertimbun harta dan kesenangan dunia lainnya!"

"Aku kurang mengerti dengan ucapanmu!" sergah Suro sambil usap-usap keningnya. Saat itu matahari sudah mulai meninggi. Angkasa tibatiba seperti terbelah dengan terdengarnya suara bergemuruh dahsyat.

"Dia datang lagi!" kata Pendekar Lugu sambil memandang ke langit.

"Siapa?"

"Anak Langit." sahut si pemuda. "Mengapa aku tidak melihatnya?"

"Ujudnya tidak pernah kelihatan, ia dalam bentuk cahaya. Seperti matahari itu, tapi lebih terang dari matahari!" jelas Pendekar Lugu. Ternyata memang benar adanya, begitu Suro mencoba memandang ke langit matanya menjadi silau. Cahaya itu tepat berada di atas kepala mereka.

"Kalian sudah saling bertemu. Maka sepakat sudah sama kalian dapatkan. Sesungguhnya, orang-orang sesat itu kalian beri peringatan atau tidak tetap sama tidak ada gunanya. Aku melihat Abdi Banda mengerahkan sebagian besar kekuatannya. Aku melihat tukang sihir telah menafsirkan arti mimpi perjumpaannya denganmu, Pendekar Lugu. Kebenaran yang kau sampaikan malah membuatnya murka. Satu kali peringatan lagi sudah cukup bagimu, Wahyu Sakaning Gusti. Tindakan selanjutnya tegakkanlah kebenaran. Hanya itu saja yang perlu kusampaikan saat ini, selamat tinggal...!" kata Anak Langit.

Cahaya aneh itu kembali melesat menembus langit. Suro termangu, heran sekaligus merasa takjub. LIMA

Empat orang penunggang kuda berbulu putih itu terdiri dari empat orang gadis berpakaian tipis memakai cadar. Tubuh mereka menebarkan bahu harum. Saat Pendekar Blo'on dan Pendekar Lugu hendak meninggalkan padang tandus tersebut. Maka diwaktu itu mereka muncul.

"Bagaimana perempuan-perempuan itu bisa menunggang kuda, saudaraku?" tanya Pendekar Lugu. Ia sendiri tidak berani memandang ke arah mereka. Karena pakaian gadis-gadis itu yang tipis memperlihatkan bentuk tubuhnya dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan.

"Hei, mengapa harus menunduk? Pemandangan di depan kita indah sekali. Kurasa Hartawan itu mengirimkan gadis-gadis ini untuk kita, Pendekar Lugu...!" celetuk Suro Blondo sambil cengar-cengir.

"Jagalah bicaramu, karena rusak bicaramu, maka ikut rusak pula anggota tubuhmu yang lain!!" tegas Pendekar Lugu tetap menundukkan kepala.

"Jadi aku harus bicara apa?" Suro garukgaruk kepala. "Orang-orang ini jelas utusan hartawan itu."

Belum sempat Pendekar Lugu menyahuti ucapan Pendekar Blo'on, keempat gadis penunggang kuda itu telah berhenti di depan mereka. Salah seorang diantaranya langsung bertanya.

"Yang mana diantara kalian bernama Wahyu Sakaning Gusti?" tanya gadis yang paling cantik.

"Aku...!"

"Yang bernama Suro Blondo?"

Pendekar Blo'on nyengir. "He he he...!

Aku..,!" sahut si konyol.

"Menurut ahli sihir hartawan Abdi Banda, kalianlah orang yang bakal menyusahkan majikan kami. Sekarang kami mengemban tugas untuk menangkap kalian!"

"Ha ha ha...! Sobatku, mereka mau menangkap kita. Apakah kau mau?"

"Suro Blondo. Tidak ada yang punya kuasa atas jiwa kita terkecuali Tuhan!" sahut Pendekar Lugu. Sekejab pemuda ini menoleh pada gadisgadis berpakaian tipis itu. "Lebih baik kalian kembali dan beritakan pada hartawan kikir itu agar kembali ke jalan yang benar." tegas Pendekar Lugu.

"Jangan berkotbah di depan kami. Kami bekerja sesuai dengan perintah!" dengus keempat gadis berpakaian tipis kembang-kembang ini. Serentak mereka melompat dari punggung kudanya masing-masing.

Dua orang berusaha menotok Wahyu Sakaning Gusti sedangkan yang dua lagi berusaha meringkus Pendekar Blo'on. Ternyata Pendekar Lugu ini dengan cepat mengelak. Lalu melompat di atas cabang pohon. "Saudara Suro. Aku tidak berkenan berhadapan dengan perempuan. Lebih baik kau urus mereka!" kata pemuda itu.

"Wah itu tidak adil namanya. Masa' engkau yang memberi peringatan aku yang harus menghadapi bahaya!" dengus Pendekar Blo'on sambil menghindari serangan yang dilakukan oleh lawannya.

"Jangan biarkan mereka meloloskan diri!" teriak gadis bertubuh jangkung.

Dua gadis lainnya segera mengejar Pendekar Lugu. Namun pemuda berjenggot itu telah lenyap dari pandangan mata. Kini hanya tinggal Pendekar Blo'on saja yang terpaksa menghadapi serangan ke empat gadis cantik itu. Suro melompat ke samping ketika serangan lawan menghantam dadanya. Tapi dari bagian belakang menderu tendangan yang cukup keras. Suro jadi kalang kabut. Ia jungkir balik, lalu melompat lagi ke udara.

"Hiyaa...!"

Dua orang gadis cantik mengejarnya. Sekali jambret maka yang kena dijambret malah celana Suro Blondo. Celana itu melorot sampai sebatas pantat.

"Wei... kurang ajar. Gadis-gadis mesum. Kalian telah bikin aku malu, maka balasannya juga harus setimpal." dengus si pemuda.

Suro tarik balik celananya. Sementara gadis tadi sempat dibuat merah wajahnya. Rupanya ia tidak sengaja melakukan itu. Dengan demikian dia lengah. Suro dengan cepat melompat ke depan, tangannya lalu menyambar.

Breet! Bret!

Dengan satu sentakan keras, maka pakaian lawan yang tipis itu terlepas semuanya. Pendekar Lugu langsung pontang panting menghindari pemandangan yang menyolok itu.

"Auuw...!"

Kedua gadis itu menjerit karena malunya. Mereka menutupi bagian auratnya yang terbuka menantang.

"Weleh-weleh...! Ada hutan lebat, bukit kembar. Apakah kita harus sama-sama menyerang tanpa pakai senjata?" tanya si konyol.

Dua orang kawan gadis-gadis itu tentu tidak tinggal diam. Mereka segera mencabut senjatanya.

"Pemuda gendeng! Kau telah membikin malu besar pada kawan-kawan kami. Untuk itu kau harus menyerahkan nyawamu!" ancam gadis yang jadi pimpinan mereka.

"Kemaluan kawanmu memang besar-besar. Pasti majikanmu menyukai yang seperti itu. Masalah nyawa itu urusan Tuhan! Aiih...!"

Belum sempat Suro melanjutkan katakatanya, dua mata pedang telah membabat mulutnya. Suro terpaksa melompat lagi, lalu usapusap mulut yang hampir tertebas pedang.

"Mereka ini benar-benar minta nyawaku. Kalau mulutku tadi kena aku pasti tidak punya mulut. Padahal cuma mulut perempuan yang lebih dari satu. Gelo betul...!" gerutu pemuda berambut kemerah-merahan ini dalam hati.

Siing!

Senjata lawan kembali menderu dan menghantam batok belakang kepalanya si pemuda. Secepat kilat pemuda itu menundukkan kepala, lalu ia melompat-lompat atau terkadang berjingkrakan.

"Nguk! Nguk!"

Gerakan tangan si pemuda menggaruk ke depan, menendang ke samping sambil menggaruk tubuhnya. Berulang kali tebasan pedang mengenai tempat kosong. Kedua gadis itu terus merangsak, sementara dua kawannya sedang sibuk membenahi pakaiannya.

"Manusia kunyuk! Apa bisamu cuma melompat dan menghindar?" dengus si jangkung.

"Hiyaa...!"

Terdengar suara teriakan dari belakang Pendekar Blo'on. Pemuda ini terpaksa bergulingguling, karena pada saat itu dua ujung pedang meluncur ke dada dan lehernya. Tidak urung tendangan keras menyambar punggungnya.

Buuk! "Hekk...!"

Pemuda ini menggeliat kesakitan. Namun ia masih dapat tersenyum walau pun bibirnya meneteskan darah. Sementara lawannya tadi telah menginjaknya tepat pemuda itu dalam keadaan telentang. Dengan cepat Suro menangkap kaki yang mulus itu. "Wah kau tidak memakai celana dalam rupanya!" gerutu si konyol. Secepatnya ia membantingkan tubuh si gadis, lalu totokan yang cukup kuat menghantam punggung si gadis.

"Oh...!"

Gadis itu mengeluh. Pemuda berambut hitam kemerahan ini sudah tidak dapat berdiam lebih lama.

Set! Wuuk!

"Aih... gelo betul...!" celetuknya. Ia melihat senjata lawannya dari dua arah sekaligus. Pemuda ini segera mundur, lalu mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.

Disertai teriakan keras tubuh pemuda itu berkelebat lenyap, hingga tidak lama kemudian yang terlihat adalah bayangan biru belaka. Ketiga lawannya tentu menjadi kaget dan dibuat bingung. Karena begitu cepatnya gerakan Suro Blondo ini, hingga membuat serangan lawan-lawannya mengenai sasaran kosong.

Suro terus maju ke depan. Tiba-tiba ia melompat tinggi ke udara. Saat tubuhnya meluncur ke bawah, maka tangannya meluncur ke dua arah sekaligus.

Tuk! Tuk! "Akh...!"

Dua orang lawan kena ditotok. Tubuh mereka kaku dengan gerakan seperti orang bersilat. Si Bocah Ajaib ini jadi geli dan ingin tertawa. Namun pada waktu yang bersamaan yang jadi pimpinan menusukkan pedangnya ke arah si pemuda. Suro Blondo jadi terkesiap dan langsung geser langkahnya. Ternyata dia kalah cepat, sehingga...

Bret. "Aduh...!"

Pemuda ini menjerit tertahan. Walaupun punggungnya ketika itu mengucurkan darah Suro tidak perduli. Ia terus berputar-putar, lalu kakinya menendang keras perut lawannya. Pimpinan dari gadis-gadis itu mengibaskan pedangnya untuk memapas kaki lawannya. Tapi Suro geser kakinya. Kaki terus meluncur dan menghantam puser si gadis agak di bawah.

Dess! "Aaaa...!"

Gadis baju kembang-kembang terpelanting roboh. Ia muntah darah, dalam keadaan seperti itu ia mencoba bangkit berdiri. Namun terhuyung-huyung dan jatuh lagi.

Suro memungut sebuah pedang, lalu menempelkannya di tenggorokan gadis itu.

"Sekarang tiba giliranmu. Kau mau mati atau kembali ke jalan yang benar!" kata si pemuda sambil seka keningnya.

"Ja... jangan bunuh aku. Kami memilih mengabdi padamu. Hartawan Abdi Banda sudah sangat tua. Sedangkan kau masih muda dan tampan. Kami tentu mau disuruh apa saja!"

"Bagaimana kawan-kawanmu?"

"Tentu mereka lebih senang lagi bersama-

mu...!" Suro tepuk keningnya. Kepala pemuda itu langsung pusing. "Gila kalau ke empat gadis cantik ini semuanya mengabdi padaku mana tahan!" pikir si pemuda. Si konyol lalu bertanya. "Kalau kalian kusuruh memijit tubuhku apakah mau?"

"Wah, mau sekali. Disuruh mijit luar dalam sampai bagian yang paling dalam pun kami mau saja." sahut gadis itu.

Suro menghampiri gadis yang terluka tersebut. "Aku mau menyembuhkan kau. Buka mulutmu!"

Tanpa curiga si gadis membuka mulutnya. Suro memasukkan obat pulung berwarna hitam pemberian gurunya Malaikat Berambut Api. Obat itu pahit rasanya.

"Kau memberiku apa?" "Obat?"

"Kok bentuknya bulat seperti itu?"

"Cerewet ah, mungkin taik kambing atau kotoran sapi. Jangan banyak tanya. Yang penting kau bisa sembuh." dengus si pemuda pencongkan mulutnya. Tidak berapa lama gadis yang bernama Seruni itu mulai dapat merasakan pengaruh mujarab obat tersebut.

Suro menghampiri tiga gadis lainnya yang dalam keadaan tertotok. Lalu dia membebaskan totokan bekas lawannya. Begitu terbebas dari totokan mereka langsung berlutut.

"Hei... apa-apaan kalian? Aku bukan majikanmu!" cegah Suro Blondo bingung. Namun keempat gadis itu tampaknya tidak perduli lagi dan tetap ngotot ingin mengabdi pada si pemuda. "Bagaimana pun anda telah memaafkan

kesalahan kami dan memberi kesempatan pada kami untuk tobat. Kami, aku, Seruni, Seroja, Sentini dan Sri Sedap ingin mengabdikan jiwa raga kami padamu!"

"Wah, kalau bicara soal mengabdi sebaiknya kalian mengabdi pada Tuhan. Ah... namamu kok aneh amat. Sri Sedap, kayak penyedap makanan saja. Apa ada bagian tubuhmu yang sedap!"

"Ada... ada kalau tuan mau. Aku bersedia memberikannya pada tuan kapan saja...!" jawab Sri Sedap tanpa ragu.

Suro garuk-garuk kepala dan sempat memerah wajahnya. Di saat itulah terdengar suara sayup-sayup....

"Pendekar Blo'on. Lidahmu bisa menjerumuskan dirimu ke jurang neraka. Hati-hatilah kau bicara! Mereka itu lemah Iman. Jika mereka kau suruh telanjang sekali pun pasti mau. Tapi Tuhanmu murka, sebaiknya kau membimbing mereka ke jalan yang benar!" kata suara itu yang tidak lain adalah suara Pendekar Lugu yang menunggunya di kejauhan.

"Jangan takut, sobat. Aku hanya mengajak mereka bercanda!" Jawab Pendekar Mandau Jantan ini disertai senyum.

Pemuda tampan berwajah ketolol-tololan ini mengajak ke empat gadis itu menuju kota Tirta Maya. ENAM

Tirta Maya tidak pernah sepi dari waktu ke waktu. Suasana semakin bertambah ramai apabila malam hari. Banyak kalangan bangsawan mencari hiburan di kota ini. Diantara mereka ada yang menghabiskan uang di meja judi. Ada pula yang bersenang-senang di rumah pemadatan atau pelacuran. Semua tempat ini seperti telah disebutkan adalah milik hartawan Abdi Banda.

Sore itu seorang gadis cantik berambut panjang terurai memasuki rumah pelacuran yang tidak pernah sepi pengunjung itu. Kehadiran gadis berpakaian hitam ringkas ini tentu menarik perhatian tetamu laki-laki yang sedang tawar menawar dengan perempuan-perempuan pelacur itu. Tidak kurang si gembrot Suntarini, yaitu perempuan kepercayaan sang hartawan merasa heran. Ia menyangka tentu gadis ini ingin menawarkan diri untuk menjadi gadis penghibur. Hal ini tidaklah mengherankan karena sangat banyak gadisgadis dari daerah miskin yang berbuat seperti itu demi menyambung hidup dirinya atau keluarganya.

Namun gadis ini sangat lain, ia lebih cantik. Pinggulnya sedang buah dadanya membayang kencang di balik pakaiannya yang ketat. Mungkin anak orang punya atau paling tidak dia gadis terpelajar. Tatapan matanya membuat para laki-laki langsung klepek-klepek. "Ada yang dapat kami bantu, Nisanak!" tanya Suntarini menyambut kehadiran gadis itu dengan senyum ramah berbau maksiat. "Atau mau bekerja disini? Ditanggung penghasilan besar, pekerjaan hanya uncang-uncang kaki dan melayani tamu yang datang!"

"Kurasa hanya kau yang dapat membantuku keluar dari kesulitan!" kata gadis itu setengah berbisik.

Sementara itu beberapa laki-laki terus memandangnya dengan mata melotot. Tatapan mata mereka diwarnai dengan nafsu rendah. Suntarini sendiri langsung tersenyum. Gadis ini pasti akan menawarkan diri. Terbayang dalam benaknya keuntungan besar yang akan diraihnya. Seorang gadis yang masih suci tentu dia dapat menawarkan pada langganan dengan harga tertinggi. Paling sedikit seratus keping uang emas.

"Apakah kau membutuhkan uang Nisanak...!"

"Namaku Puspita Sari."

"Nama yang bagus secantik orangnya." Suntarini menimpali.

"Betul aku membutuhkan uang...!" sahut Puspita Sari.

"Berapa?"

"Tiga ratus keping emas!"

Mata Suntarini membulat lebar. "Itu adalah jumlah yang cukup besar. Tapi kalau kau mau bekerja disini seperti gadis-gadis itu tentu uang yang kau butuhkan ada. Bagaimana?" Gadis cantik itu tersenyum sinis, namun tetap menganggukkan kepala.

"Tunggu sebentar disini!" Suntarini meninggalkannya. Ia tampak bicara dengan seorang laki-laki berbadan gemuk berperut besar. Lakilaki yang sudah bau tanah menganggukanggukkan kepala, lalu mengeluarkan uang dan diberikannya pada Suntarini.

"Nah sekarang kau sudah menjadi milik Kinanjar. Jangan khawatir, dia orang kaya. Dia punya ratusan ekor sapi dan ratusan ternak lainnya. Ikuti dia ke kamar. Nanti bagianmu dapat kau ambil!" pesan Suntarini. Kinanjar tanpa malu-malu langsung menggandeng lengan Puspita Sari.

Puspita diajak memasuki sebuah kamar. Sesampainya di dalam kamar laki-laki gemuk itu langsung mencengkeram dada si gadis. Namun diluar dugaan gadis itu mencabut sesuatu berwarna putih mengkilat lalu menusukkannya ke perut Kinanjar.

Laki-laki malang itu tidak sempat lagi menjerit karena mulutnya dibekap oleh Puspita. Ia berkelojotan di atas tempat tidur, darah mengucur deras membasahi sprei. Tidak lama kemudian laki-laki itu tewas sebelum dapat mencicipi apaapa.

Pintu ditendang, hingga terbukalah dengan lebar. Sosok tubuh besar yang sudah tidak bernyawa lagi melayang dari dalamnya. Lalu menghantam meja tempat dimana Suntarini sedang menghitung laba.

Braak!

Mayat Kinanjar yang melotot jatuh di bawah kaki Suntarini. Suasana di ruangan itu pun menjadi panik, ribut dan gadis-gadis penghibur berhamburan keluar saking takutnya.

Para tamu laki-laki tetap berada di tempat walaupun hati mereka diliputi dengan rasa gentar juga. Dua orang tukang pukul langsung menghambur menyerang Puspita Sari. Tangan si gadis dikibaskan ke arah mereka. Dua buah benda berwarna putih seperti perak melesat dengan kecepatan laksana terbang.

Algojo-algojo itu tidak sempat lagi mengelak. Dua buat mata pisau beracun menembus leher sedangkan yang satunya lagi menghantam jantung.

Orang-orang ini langsung ambruk dan tidak berkutik lagi. Tubuh Puspita Sari lalu melayang, bukan main cepat gerakannya. Di lain waktu ia sudah mencengkeram rambut Suntarini. "Kau telah membuat rendah martabat kaummu sendiri. Perempuan-perempuan itu sekarang tidak ubahnya seperti sampah busuk yang tidak berguna. Semua ini hanya demi kepentingan hartawan dan kepentinganmu sendiri. Kau hanya tinggal mengatakan, kematian bagaimana yang kau dambakan?!" dengus Puspita Sari, gadis

yang tidak jelas asal usulnya ini geram.

"Ja... jangan... kau ambillah uang ini semuanya asalkan jangan kau bunuh aku Nisanak!" ucap Suntarini menghiba-hiba.

"Uang busuk dari hasil yang menjijikkan. Sekarang kau harus memakan kepingankepingan uang ini sampai habis!" perintah si gadis, dingin.

"Bbb... baik...!"

Karena takut dibunuh dan mengalami nasib sial seperti kedua algojo itu, maka Suntarini terpaksa memakan uang tersebut.

Baru dua keping uang emas yang dimakannya mata sudah melotot seperti melihat setan. Suntarini terpaksa minum air. Namun mata uang tetap nyangkut di tenggorokan.

"Nah seperti itulah yang dirasakan oleh orang lain. Sekarang makan lagi!" perintah Puspita.

Dengan tubuh menggigil ketakutan Suntarini kembali telan dua keping emas, hingga matanya melotot.

"Auu... uuuk... uuh...!".

Perempuan gembrot itu tersengal-sengal karena begitu sulitnya bernafas.

"Siksaan ini belum seberapa, nanti di neraka kau akan tahu akibatnya. !" dengus Puspita.

Dengan keras ia memukul punggung leher Suntarini, hingga empat mata uang melompat dari mulutnya. Namun karena sedemikian kerasnya pukulan itu hingga membuat Suntarini tergeletak. Tubuhnya mengejang, lalu terdiam untuk selamalamanya.

Puspita langsung menyambar puluhan pelita yang terdapat di situ. Minyak ditumpahkan. Hanya dalam waktu yang sangat singkat rumah pelacuran itupun dikobari api.

Api semakin lama semakin bertambah membesar dan terus melahap rumah kemaksiatan ini. Gadis-gadis penghibur yang tidak sempat menyelamatkan diri terbakar hidup-hidup.

Puspita berkelebat keluar. Dalam pada itu dari arah belakangnya terdengar suara derap langkah kuda yang dipacu dengan tergesa-gesa. Ternyata mereka adalah lima laki-laki gemuk mata picak.

"Siapa yang telah membakar salah satu kekayaan hartawan Abdi Banda?" tanya Rahjendra yang jadi pimpinan.

Walau pun di bagian halaman depan itu banyak laki-laki hidung belang yang menyaksikan kejadian tersebut. Tidak seorang pun yang berani angkat bicara. Padahal ketika itu Puspita masih berada di antara mereka.

"Kau mencari orang yang membakar gedung ini?" tanya Puspita sambil menghampiri.

"Betul! Siapa pun kunyuknya harus diganjar setimpal!" dengus Rahjendra.

"Aku yang telah membakarnya!" sahut Puspita tanpa merasa gentar sedikit pun.

Rahjendra menjadi marah bukan kepalang. Ia langsung menyerbu ke arah gadis berpakaian hitam ketat tersebut. Namun si gadis tiba-tiba melenting ke atas tembok. Dalam sekejapan saja tubuhnya lenyap. Rahjendra alias Setan Kebinasaan bermaksud mengejar. Namun belum sempat ia melompat, di atas tembok telah berdiri seorang laki-laki berpakaian serba putih berjanggut panjang.

"Siapa kau? Apakah kawannya gadis liar tadi?" bentak Rahjendra sengit.

Si pemuda yang tidak lain adalah Pendekar Lugu tersenyum. "Aku tidak mengenalnya. Aku hanya penyambung lidah, untuk itu tinggalkan hartawan Abdi Banda dan kembalilah ke jalan yang benar!" kata Wahyu Sakaning Gusti.

"Bangsat kapiran! Kau bicara pada orang yang salah dan waktu yang salah pula. Hiaa...!" teriak Rahjendra. Ia langsung menghunus sangkur kembarnya dan menikam dada lawannya secara bertubi-tubi. Serangan yang dilakukan oleh Setan Kebinasaan ini cepat bukan main. Namun ternyata Pendekar Lugu sambil melipat tangan di dada hanya menghindari tusukan yang bertubitubi itu.

Walaupun pun gerakannya lambat sekali dan satu-satu, tapi anehnya tidak satu senjata pun yang mengenai sasaran.

Rahjendra katupkan gerahamnya rapatrapat. Lalu ia menerjang kembali ke depan. Sekarang ia telah mengerahkan jurus 'Setan Mahrakayangan'. Serangan yang dilakukan Rahjendra tampak berubah aneh. Sangkur itu menusuk, menikam, atau terkadang meliuk-liuk di udara untuk kemudian secepatnya meluncur deras ke arah sasaran. Wuus!

Wahyu Sakaning Gusti miringkan tubuhnya ke samping kanan. Lalu secepatnya ia berputar. Inilah jurus 'Manusia Krisis Iman' Gerakannya bebas tidak beraturan, langkahnya terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Terkadang ia menepuk kening sendiri seperti orang pusing.

Wuuuk!

Dua kali serangan sangkur tidak mengenai sasaran. Rahjendra melotot seakan tidak percaya. Lawan yang satu ini sedikit tidak membalas atau menangkis, namun serangannya selalu kandas di tengah jalan.

TUJUH

Dalam keadaan seperti itulah terdengar suara bergelak dari kejauhan. Suara itu berubahubah seperti lolongan tangis, amarah kera, atau teriakan melengking. Kelima mata picak terkesiap. Di lain waktu di atas tembok bangunan yang sebagian telah terbakar berdiri seorang pemuda tampan berambut hitam kemerah-merahan. Pemuda itu bertampang ketolol-tololan.

"Pendekar Lugu, bertempur melawan iblis hanya loncat sana loncat sini. Apa mau jadi monyet? Mata picak itu tidak perlu di kasih hati. Mereka lebih suka menjadi anjing peliharaan daripada mendekatkan diri pada yang menciptakannya! Ha ha ha...!" kata Pendekar Blo'on sambil tertawa bergelak.

Rahjendra alias Setan Kebinasaan merasa kupingnya seperti disengat kalajengking. Ia acungkan senjatanya, lalu membentak garang....

"Kunyuk bertampang bego. Siapa pula kau ini? Apakah kau yang diramalkan oleh ahli nujum Julgafarah dan Nukman Java sebagai orang yang akan membuat susah hidup hartawan kami!" bentak Rahbasa saudara seperguruan Rahjendra.

"Hak hak hak...! Yang membuat susah hidup si kikir, si congkak, si angkuh, si sombong itu adalah dirinya sendiri. Aku adalah aku. Aku bukan anjing seperti kalian. Karena aku lebih tinggi dari kalian, maka sebaiknya menyalaklah tiga kali. Setelah itu segera minggat dari sini kalau tidak mau susah! Ha ha ha !"

Rahjendra tentu beranggapan pemuda ini telah miring otaknya. Bagaimana bocah bertampang geblek seperti itu sangat dikhawatirkan oleh para ahli nujum? Kepandaian apa yang dia punya?

"Bocah gila, sebaiknya kau jangan petentang-petenteng pentang bacot. Turunlah! Akan kurencah kau punya wajah biar konyol sekalian!" teriak Rahseta si mata picak paling bungsu.

"Kalian orang-orang yang melampaui batas. Kalian telah tertipu oleh kepalsuan dunia mentah-mentah. Kuingatkan sekali lagi segera kembali ke jalan yang betul!" Pendekar Lugu menengahi. "Percuma kau bicara sobat! Orang-orang seperti mereka telah terkunci mata hatinya. Kau beri peringatan atau tidak sama saja!" sahut Pendekar Blo'on menimpali.

Lima tokoh dari bagian utara tanah Jawa ini menggerung marah. Serentak Rahbasa, Rahjala, Rahyuyu dan Rahseta melompat dari kudanya masing-masing. Mereka melemparkan dua buah golok pendek ke arah Suro Blondo. Pemuda ini jadi kalang kabut, ia melompat-lompat di atas tembok. Sekali Suro berputar, dua batang golok berhasil disentil bagian gagangnya. Senjatasenjata itu tiba-tiba membalik kembali meluncur ke arah pemiliknya dengan kecepatan berlipat ganda.

Swieet! Swieet!

Melihat golok meluncur dengan sangat cepat sekali. Keempat laki-laki mata picak itu langsung melompat menghindar. Golok terus meluncur dan menancap di tanah.

Si Bocah Ajaib melompat turun, sekarang sedikit banyaknya dia percaya bahwa pemuda ini mempunyai kepandaian juga.

"Pendekar Lugu apakah kau mau ambil bagian juga, sobatku?" tanya si pemuda sambil cengengesan.

"Aku berpantang membunuh. Aku hanya manusia penyambung lidah! Begitupun jika terpaksa aku juga turun tangan!" sahut Pendekar Lugu. Yang dimaksudkan turun tangan bukan untuk menghilangkan nyawa orang lain sebaliknya hanya sekedar membuat lawan tidak berdaya. "Bunuh kedua pemuda pangkal bencana itu!" teriak Rahjendra memberi aba-aba pada kawan-kawannya.

Rayuyu dan Rahseta mengurung Pendekar Lugu lalu menyerangnya. Sedangkan Rahjendra yang menganggap bahwa pemuda berambut hitam kemerahan ini lebih berbahaya segera mengeroyok Si Bocah Ajaib.

"Wah, kalian rupanya sebangsanya iblis pengecut yang hanya bisa main kroyokan. Heiit...!" Si Bocah Ajaib tidak sempat melanjutkan ucapannya.

Tinju lawan sudah menghajar ke mulut si pemuda. Suro mundur ke belakang, mulutnya termonyong-monyong, sedangkan keningnya berkerut dalam. Dari samping menderu dua serangan lainnya. Suro menangkis dengan sikunya. Sehingga terjadi benturan keras. Suro terhuyung dan sikunya mendenyut-denyut. Sedangkan Rahjala sendiri jatuh terduduk. Sementara dari depan Rahjendra sudah menusukkan sangkurnya dengan sangat cepat sekali.

"Gila, dari pada perut di tembus sangkur mending aku ke belakang!" gumam di pemuda. Seraya segera menggeser langkahnya. Dari belakang tiba-tiba tendangan Rahbasa menghantam pantatnya.

Gubrak!

Suro terguling-guling. Ia menyeringai kesakitan, namun segera melompat berdiri.

"Heaaa...!" Pemuda ini tiba-tiba melompat ke depan, tangannya mencakar, lalu berjongkok, kakinya menendang, sesekali garuk kepala. Dengan lincah dan gesit ia menghantam dengan serangkaian pukulan yang tidak ada putus-putusnya. Inilah jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'

"Huuu... nguk... nguung...!"

Lalu terdengar suara tawa yang berganti dengan tangis, lalu berganti lagi dengan suara isak tertahan. Gerakan Suro ketika itu benarbenar sangat kacau. Tidak satu pun serangan ketiga lawannya mengenai sasaran yang diharapkan. Walau pun ketika itu mereka sudah mempergunakan jurus 'Matahari Tenggelam'.

"Ciaaa...!"

Rahjendra menjadi kalap. Ia melompat lagi ke depan. Seraya tusukkan senjatanya ke dada dan perut Si Bocah Ajaib. Pemuda ini bergerak ke belakang Rabasa. Tubuh si picak ini dicengkeramnya. Lalu kawan yang sudah dalam kekuasaannya ini disodorkan ke arah senjata lawannya.

Brees! "Wuaaakh...!"

Rabasa menggeliat, isi perutnya berbusaian keluar disertai menyemburnya darah dari luka mengerikan itu. Rahjendra jadi terkesiap melihat kawannya roboh oleh senjatanya sendiri.

"Kunyuk keparat! Heaa... !"

Laki-laki itu dengan marahnya langsung menyambitkan dua sangkur di tangannya. Suro tersenyum, otaknya yang cerdik langsung dapat akal. Ia merangkak, lalu disambarnya kaki lawan, diangkat lalu diputar membentuk perisai diri.

Wet! Wuuk!

Rahjala berusaha membebaskan diri, namun semakin ia meronta maka semakin bertambah cepat pula si konyol memutar dirinya. Sehingga....

Zeb! Ceb!

Lalu terdengarlah suara jeritan menusuk kalbu. Untuk kedua kalinya Rahjendra telah membunuh saudara seperguruannya sendiri tanpa sengaja.

Kita tinggalkan dulu Si Bocah Ajaib yang sedang bertarung dengan Rahjendra. Sementara itu Pendekar Lugu tampak begitu sibuk menghadapi hujan serangan yang begitu bertubi-tubi. Sebenarnya jika si pemuda berjanggut ini mau turun tangan kejam, sejak tadi Rahyuyu dan Rahseta sudah berhasil dikalahkannya. Namun karena ia berpantang membunuh, apa yang dilakukannya hanya mengelak dan menghindar.

Melihat lawan hanya menghindari serangan-serangan mereka. Maka mereka semakin mengganas. Sangkur kembar di tangan mereka berkelebat menyambar-nyambar.

Sinar putih menyilaukan mata mengurung pemuda berjenggot itu. Tiba-tiba ia melompat ke udara.

Trang! Ting!

Senjata mereka saling membentur dengan senjata kawan sendiri. Di saat mereka kehilangan sasaran seperti itu, tiba-tiba saja dari atas tempat melesat bayangan hitam memakai kedok hitam seperti Ninja.

Bayangan tadi menyambitkan dua buah pisau berwarna putih mengkilat. Rahyuyu dan Rahseta langsung menangkis serangan gelap itu.

Tring! Tring!

"Pembokong tengik!" maki Rahyuyu.

"Huh, setiap iblis harus mati!" sahut sosok berkedok itu sambil menerjang ke depan. Dan....

Dhaak! "Akh !"

Rahyuyu terpelanting. Ia merangkak bangkit lagi, tapi orang berpakaian Ninja itu telah menyambitkan pisau ke arahnya.

Set! Jlep! "Hekgh !"

Rahyuyu tersungkur lagi dengan jantung tertembus pisau. Rahseta terkejut sekali. Dengan marahnya ia menerjang ke depan. Namun lawannya sudah menghindar ke samping. Lalu secepat kilat tangannya menyambut....

Tap!

Tangan lawan berhasil ditangkapnya. Lalu tangannya yang lain bergerak lebih cepat lagi.

Kraak! "Auuuuuh !"

Rahseta melolong seperti anjing kepentung alu. Tangannya patah. Orang berpakaian Ninja itu kelihatannya tidak memberi kesempatan lebih lama lagi. Ia kali ini mencabut senjata berbentuk aneh. Kecil, tipis dan berkilat-kilat karena ketajamannya.

Satu sentakan keras dilakukannya, senjata itu meluncur deras ke depan. Rahseta main mundur, sedang senjatanya berkiblat.

Traak!

Dua buah sangkur langsung mental di udara. Pedang kecil yang dapat dilipat itu terus meluncur tanpa dapat dihindari lagi.

Crees!

Rahseta mendekap lukanya, ketika senjata ditarik oleh orang berkedok, maka isi perutnya berbusaian keluar. Laki-laki mata picak ini tersungkur, menggelepar sejenak lalu diam untuk selama-lamanya.

Sementara orang berpakaian ninja menghampiri Pendekar Lugu. Sedangkan Pendekar Blo'on ketika itu dengan lawannya sudah samasama melepaskan pukulan yang menjadi andalannya.

"'Ratapan Pembangkit Sukma'! Hiaa...!" Pemuda bertambang konyol ini tiba-tiba dorongkan kedua tangannya ke arah sinar hitam yang meluncur deras ke arahnya.

Angin kencang laksana salju disertai hawa dingin membekukan melesat secepat kilat.

Udara sontak berubah, yang dingin menggulung yang panas. Lalu terjadi letupan.

Bluup! Buum! Tanah berlubang, debu dan batu kerikil berpelantingan ke udara. Rahjendra tergulingguling. Suro Blondo sendiri mendekap dadanya yang sesak bukan main-main.

"Heh...! Bagaimana Rana Unggul bisa muncul disini!" kata pemuda itu sambil mengurut lehernya. Tingkahnya itu tidak beda dengan orang yang sedang tersedak.

"Awas, saudaraku!" teriak Pendekar Lugu. Suro berpaling ke belakang, dilihatnya

Rahjendra yang sudah setengah mati itu menghunus senjata sambil menyerbu ke arahnya.

"Sialan orang budek mata pecak ini, mau mati saja pakai ngajak-ngajak orang lain!" gerutu si pemuda, ia pun langsung berkelit.

Senjata lolos, sedangkan kakinya menghantam dada lawannya dengan tenaga yang kuat.

Kraak!

Rahjendra hanya dapat mengeluh tertahan. Tubuhnya terbungkuk-bungkuk sebentar, lalu ambruk untuk selama-lamanya.

Si Bocah Ajaib menggumam tidak jelas, kemudian ia menghampiri Pendekar Lugu dan Rana Unggul. Rana Unggul memperhatikan si pemuda dengan sorot matanya yang terasa lain menggetarkan hati.

"Aku merasa dia bukan seorang laki-laki. Tatapan mata dibalik pakaian hitam yang membungkus seluruh tubuhnya terasa seperti apa... ya...!" pikir Suro.

"Manusia tolol! Meskipun bego kau punya kepandaian yang cukup lumayan. Padahal kalau kau mau sejak tadi pimpinan manusia picak itu dapat kau robohkan." tegas Rana Unggul.

"Wah... aku lupa sih...!" Suro menepuk keningnya.

"Kau tidak boleh pergi dengan Pendekar Lugu. Otakmu cerdas, namun kau selalu telat berpikir. Untuk itu kau urus saja gadis-gadis bekas anak buahnya hartawan itu. Selamat jumpa di rumah madat...!"

"Hei... sobatku...!" cegah Pendekar Mandau Jantan setengah berteriak. Namun tanpa bicara apa-apa Pendekar Lugu telah mengikuti Rana Unggul.

"Entah apa yang telah mereka bicarakan. Kok Pendekar yang punya pantangan membunuh itu jadi nurut, ya...? Atau ia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui? Ah... memikir sampai budek sekali pun aku tetap tidak tahu apa yang mereka bicarakan!" gerutu Pendekar Blo'on.

Seraya pergi lagi untuk menghampiri ke empat gadis yang ditinggalkannya di tepi telaga.

DELAPAN

Wanita hamil sembilan bulan perutnya memang besar. Tapi lebih besar lagi perut lakilaki yang sekarang duduk di kerajaan hartanya. Tubuhnya besar dengan berat sekitar seratus lima puluh kati. Kulitnya berlemak, dan keningnya berminyak. Ia hampir tidak pernah berhenti makan. Di kanan kiri laki-laki setengah baya itu duduk bersimpuh gadis-gadis cantik dengan pakaian tipis. Mereka adalah pelayan laki-laki itu dalam segala hal.

"Kalian semua harap menyingkir dari sini!" perintah hartawan Abdi Banda pada para gadis yang mendampinginya.

Dengan patuh mereka meninggalkan ruangan mewah yang dihiasi dengan perak dan permata.

Setelah para gadis ini meninggalkan ruangan itu. Maka muncul tiga orang laki-laki. Yang dua sudah berusia lanjut, sedangkan yang satunya lagi berumur sekitar lima puluh tahun. Mereka adalah ahli nujum Julgafarah dan Nukman Jaya serta Kala Menek. Orang yang disebut terakhir bertampang angker nyaris tanpa senyum. Ia mempunyai kesaktian tiada terukur, sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Ketika sampai di dalam ruangan orangorang ini langsung mencari tempat duduk di depan sang hartawan.

"Apa yang dapat kami lakukan, tuan?" tanya Julgafarah buka suara.

Hartawan kaya raya ini tidak langsung menjawab, ia usap-usap perutnya yang tidak tertutup baju sama sekali. Karena tiada pakaian yang muat oleh badannya terkecuali pakaian yang belum dijahit. "Aku gelisah, adalah kalian semua tahu bagaimana gelisahnya aku?" dengus Abdi Banda. "Dalam hidupku aku sulit sekali tidur, aku takut harta bendaku dicuri orang, aku takut terjadi kebakaran, dan aku takut mati. Semua ketakutan itu membuat aku tidak tenang. Harta bendaku ini dapat untuk membeli dunia dan seisinya. Aku tidak ingin mati karena harta-harta itu."

"Tuan tidak perlu segelisah itu. Kami semuanya senantiasa setia mengabdi pada tuan. Orang-orang itu tidak mungkin berani datang ke sini. Mereka tidak setangguh yang tuan bayangkan!" hibur ahli nujum Nukman Jaya.

"Tapi aku selalu gelisah. Coba kalian bayangkan sudah berapa hari picak bersaudara pergi. Hingga sekarang masih belum ada kabar beritanya. Aku khawatir mereka kalah atau binasa. Sekarang ini aku ingin kalian menyimpan kunci-kunci gudang harta di tempat yang aman. Setelah itu kerahkan seluruh pasukan Ninja kita untuk membunuh Pendekar Lugu dan Pendekar Blo'on."

"Kunci harta sudah tadi pagi ditarik oleh sebuah kereta kuda menuju tempat yang aman. Sekarang hanya tinggal menunggu perintah selanjutnya!" ujar Kala Menek.

"Bagus sekali kalau begitu. Sekarang aku ingin mencari orang-orang itu. Segala harta yang aku sukai, harus dibawa serta. Juga gadis-gadis yang aku cintai jangan satu pun yang ditinggalkan!" tegas hartawan Abdi Banda. "Tapi perjalanan ini menempuh bahaya, tuan. Kita belum tahu apakah Pasukan Ninja Sakura mampu menghadapi kedua pemuda itu atau tidak. Menurut para Telik Sandi. Ada orang lain lagi berpakaian seperti Ninja berada di pihak mereka!"

"Kala Menak! Jumlah kita sangat banyak. Mengapa menjadi tidak mampu hanya mengatasi para kroco begitu? Mana aku bisa tenang jika aku tidak melihat dengan kepala mata sendiri kematian mereka?" dengus Abdi Banda.

"Tapi kita membutuhkan orang upahan untuk memindahkan harta-harta itu ke dalam kereta kuda."

"Upahnya bayar saja nanti setelah kita pulang dari sana." potong sang hartawan.

"Orang-orang itu tidak mau melakukannya, tuan. Karena gaji mereka dua bulan yang lalu saja belum dibayar!" jelas Nukman Jaya.

"Sebagai ahli nujum, sebagai tukang sihir kepercayaanku. Apakah kau sekarang sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi? Kau bisa melakukan apa saja yang membuat hati mereka takut!"

"Baiklah tuan. Nanti sore segala-galanya dapat kita jalankan dengan sesuai rencana."

Kedua ahli nujum itu kemudian meninggalkan tuannya. Kini yang ada di situ hanya tinggal Kala Menak.

"Apa yang harus saya lakukan, tuan?" tanya si gadis. "Kau lakukanlah pembersihan besarbesaran. Siapa saja yang mencurigakan harus dibunuh!" kata hartawan kikir itu dengan tegas.

"Perintah segera dilaksanakan." sahut Kala Menak.

Kala Menak lalu membungkukkan badannya, sampai-sampai keningnya menyentuh permadani demi memberi penghormatan pada hartawan Abdi Banda. Setelah itu si gadis ini melangkah pergi.

Abdi Banda tersenyum. Kala Menak adalah orang yang paling diandalkannya. Sekarang dia pasti sedang melakukan pembantaian terhadap orang-orang yang membangkang mau pun yang dianggap mencurigakan. Karena arti pembersihan itu sendiri tidak lain adalah Pembantaian.

"Hartaku harus kekal abadi. Hidupku harus kekal, kesenangan ini tidak boleh berlalu, karena di sinilah sorgaku. Disinilah duniaku dalam gelimang harta benda yang tidak ada habishabisnya!"

Hartawan Abdi Banda tiba-tiba saja tergelak-gelak. Ia duduk di kursi kebesarannya sambil uncang-uncang kaki.

***

Suro duduk termenung di tepi telaga itu. Di depannya api unggun sudah mulai padam. Sehingga yang tertinggal hanya baranya saja. Suro Blondo mengambil lima ekor burung belibis yang telah berhasil ditangkap Seruni dan kawankawannya. Kelima ekor belibis hutan yang telah dibersihkan itu langsung dipanggangnya di atas bara merah menyala.

Sementara itu Seruni, Seroja dan Sentini tengah asyik berenang di tengah telaga berair sejuk. Hanya Sri Sedap saja yang saat itu menemani Pendekar Blo'on. Sesekali gadis ini mencuri pandang ke arah Si Bocah Ajaib.

Ada rasa kagum dalam hatinya. Pemuda itu sangat tampan, walau pun wajahnya ketololtololan dan terkesan kekanak-kanakan. Tiada rasa bosan memandangnya. Tidak seperti ketika berhadapan dengan hartawan Abdi Banda. Berhadapan dengan tua bangka gendut itu sekali pandang saja langsung kenyang.

Selama ini untung dia dapat mempertahankan kehormatannya. Hingga sampai detik ini dirinya tetap utuh. Mungkin hanya Sentini dan Seroja saja yang sudah terpedaya.

"Wuih, baunya sedap sekali!" kata si pemuda, tanpa sadar ia menelan ludah.

Sri Sedap tersentak dari lamunannya. "Tuan bilang apa? Sedap?" tanya Sri Sedap.

"Ya... betul, memang sedap baunya. Beruntung kau punya nama Sri Sedap! Aih bagus sekali... ha ha ha...!" Suro lalu ketawa.

"Tuan...!"

"Jangan kau panggil tuan. Panggil saja namaku!" kata Suro.

"Bagaimana aku harus memanggil, apakah boleh kupanggil kakang?" Sri Sedap mengerling manja.

Dalam pada itu ketiga saudara-saudara Sri Sedap sudah menepi. Tampaknya mereka sudah menganggap Suro seperti saudara sendiri atau lebih dekat dari itu. Sehingga mereka pun tidak punya rasa malu walau pun harus memperlihatkan auratnya, atau memang mungkin mereka punya maksud-maksud lain, untuk menggoda si konyol.

"Berpakaianlah kalian dengan betul! Jangan perlihatkan segala sesuatu yang bersipat menonjol atau yang ada tonjolannya pada laki-laki. Aku sih kuat saja. Tapi adikku yang di bawah ini bisa berontak!" tegas si pemuda sambil menundukkan kepala.

"Hi hi hi...! Mengapa takut? Kami adalah para abdi-abdimu. Tentu kami tidak merasa takut harus memberikan sesuatu yang kami miliki jika kakang Suro membutuhkannya!" tentang Seruni.

"Bicara jangan ngeres-ngeres. Persoalan yang kita hadapi sangat besar. Bagaimana kalian bisa menggodaku?"

"Kakang tidak pernah bersenang-senang dengan perempuan, ya...?" tanya Seroja gadis berkulit hitam manis sambil mengenakan pakaiannya kembali. Pendekar Blo'on menggelengkan kepala.

"Makanya jangan malu-malu kucing." Sentini menimpali.

Si konyol mati kutu. Menghadapi godaan empat gadis kalau tidak tabah bisa kebobolan. Suro garuk-garuk kepalannya.

"Janganlah kalian seperti barang dagangan. Yang dipegang-pegang oleh pembeli sampai lecek namun ditinggalkan begitu saja. Segala perabotan yang kalian miliki sebaiknya hanya untuk dipersembahkan pada suami kalian!" tegas si bocah ajaib. Walau pun Suro sudah bersikap serius tetap saja tampangnya semakin konyol.

"Kalau pada pacar bagaimana, kakang?" tanya Sri Sedap.

"Pacar belum pasti menjadi suami. Jika main pasrah-pasrahan nanti kalian menyesal sendiri!" sahut si pemuda.

"Bagaimana jika dengan majikan!" Seroja menimpali.

"Kalau majikan yang kurang ajar anunya saja yang dipotong. Kalau dua-duanya kurang ajar sebaiknya mampus saja." dengus Suro. "Sudahlah aku bosan membicarakan bukit-bukit dan hutan rimba. Sebaiknya kalian makan saja panggang burung ini." Si Bocah Ajaib kemudian membagi-bagikan burung panggang itu pada keempat gadis berpakaian tipis tersebut.

Mereka pun kemudian saling diam dan mulai makan panggang burung belibis tersebut. Suro seperti orang rakus saja, sampai ke tulangtulang burung pun dimakannya. Apa yang dilakukannya ini membuat geli gadis-gadis yang mengelilinginya. Tapi Suro bersikap cuek (acuh) saja. Selesai makan panggang burung Pendekar Blo'on merebahkan tubuhnya di tempat yang memang telah mereka persiapkan sejak sore.

"Kalian tidur di sebelah sana!" perintah Suro Blondo.

"Takut kakang. Sebaiknya kita bergabung saja!" rengek Seruni.

"Wah bagaimana sih kalian ini?" tanya Suro termonyong-monyong.

"Mana kami berani jauh darimu, Kakang Suro. Nanti ada hantu!" kata Sri Sedap.

"Sesuka-suka kalianlah!" Suro Blondo mengalah.

Akhirnya mereka tidur berdempetdempetan. Suro kebetulan berada di tengahtengah mereka. Pemuda ini jadi gelisah, ia jadi ingat dengan Dewi Bulan serta gadis misterius berkerudung putih itu.

"Seandainya Dewi berada disini, tentu aku sudah di dampratnya pulang pergi...!" batin si pemuda. "Pendekar Lugu, anak Langit. Dia orang suci yang aneh. Bertarung tidak pernah membalas. Sedangkan Anak Langit siapa sesungguhnya orang itu? Kehadirannya dalam ujud cahaya. Apakah dia Malaikat atau roh suci? Jaman sekarang tidak ada manusia suci, manusia menjadi bangga kalau sudah berbuat dosa. Mengapa urusan jadi kapiran begini? Tampang hartawan Abdi Banda sendiri belum pernah aku lihat, jelekkah dia? Apa seperti kodok atau seperti lutung?"

Si Bocah Ajaib memandang kanan kirinya. Terasa hembusan nafas Seruni dan Sri Sedap yang berada di kanan kirinya. Nafas mereka teratur pertanda sudah tidur. Tapi kedua gadis ini menghadang ke arahnya. Sehingga wajah mereka menyentuh pipinya.

Hati si pemuda dag dig dug juga, karena payudara mereka yang kenyal menempel di lengannya.

"Wah... gadis-gadis ini ada-ada saja. Sebaiknya aku pindah di tempat yang aman saja, ah...!" kata si pemuda dalam hati. Baru saja ia hendak beranjak, eeh... Sri Sedap menggeliat. Tangannya menimpa pusaka Si Bocah Ajaib. Entah sengaja atau tidak. Yang jelas jemari tangan si gadis tetap betah berada disitu.

"Gelo, leh. Nimpa kok di sini, bagian lain kek...!" Suro dengan cepat menggeser tangan Sri Sedap, baru saja tangan gadis di samping kirinya tergeser. Ee... tangan Seruni menimpa bagian yang itu pula.

Si Bocah Ajaib geleng-geleng kepala.

"Gila betul.... Kalau si kecil terjaga aku mana berani jamin sepak terjangnya. Huh... adaada saja..." Suro akhirnya menggeser tangan Seruni pula. Dua gadis menggeliat lagi, semakin edan mereka malah memeluk si pemuda dengan ketatnya.

*** SEMBILAN

Darah si pemuda mulai berdesir dengan cepat. Ia memejamkan matanya untuk mengusir pengaruh pikiran-pikiran yang kotor. Belum lama matanya terpejam, tiba-tiba saja ia mengendus bau busuk menyengat disertai suara gesekan daun yang sangat halus. Jika telinga Pendekar konyol ini tidak terlatih, tentu ia tidak dapat mengetahui kehadiran orang lain di tempat itu.

"Hei... kalian bangun semua. Ada orang datang kemari!" kata si pemuda dengan berbisik. Sesungguhnya ke empat gadis-gadis itu memiliki kepandaian yang rata-rata cukup lumayan. Begitu Si Bocah Ajaib ini membangunkannya maka mereka segera terjaga.

"Tapi tidak ada orang selain kita?" desis Seruni berbisik pula.

"Kurasa ada monyet bau mengintai kita. Sebaiknya kalian cari selamat dan tinggalkan tempat ini secepatnya!" Suro memberi usul.

"Tidak!" tegas Sri Sedap. "Kami sudah memutuskan untuk mengabdikan sisa hidup kami pada Kakang Suro."

"Jangan tolol. Masa depan kalian masih panjang. Kalian bisa mengabdikan diri pada Tuhan."

"Kakang sendiri?" Sentini ragu-ragu. "Jangan kau pikirkan hidupku!"

"Mana boleh begitu? Apa pun yang terjadi kami tetap bertahan disini bersamamu!"

Tekad mereka rupanya tidak ada yang gepeng, sudah bulat semua. Suro Blondo mana mungkin ngotot dengan memaksa mereka pergi.

"Ha ha ha...! Seorang pemuda punya tampang konyol menjadi rebutan empat orang gadis. Kalau dia mau berarti loyo pulang pergi. Kalau menolak sungguh dia pemuda yang bodoh dan aku si Cambuk Akherat pasti tidak menolak...!" kata sebuah suara dari balik kegelapan pohon.

"Manusia busuk, jangan lagi kau berani kurang ajar pada kami. Kami tidak serendah yang kau bayangkan!" sahut Seruni, ketus suaranya.

Dar! Dar!

Terdengar suara menggeledek disertai berpijarnya bunga api dalam kegelapan malam. Rupanya orang dibalik kegelapan melecutkan cambuknya. Melihat kehebatan senjata itu pastilah orangnya bukan tokoh sembarangan.

Tidak lama muncul sosok tubuh dari balik kegelapan. Astaga! Ternyata orang ini hanya memiliki sebelah kaki dan sebelah tangan. Tampangnya angker, kepala lonjong, keningnya menonjol. Ia sama sekali tidak memakai pakaian terkecuali yang menutupi bagian auratnya saja. Rambut laki-laki itu kusut masai, hidung berlubang besar, sehingga terlihatlah lidahnya yang kasar seperti ditumbuhi bulu.

"Kalian masih muda semuanya. Sayang masih begini muda harus menjadi calon bangkai!?" dengus Cambuk Akherat. Laki-laki sebelah tangan sebelah kaki ini lalu melangkah lebih dekat lagi ke arah gadisgadis itu. Mereka bergerak mundur dengan sikap waspada.

"Ha ha ha...! Mengapa takut? Untuk kalian para gadis cantik, kematian kalian dapat kutunda, sedangkan pemuda geblek ini harus cepatcepat dikirim ke neraka!" dengus Cambuk Akherat.

"Kau mau seenaknya saja main kirim. Ya kalau Tuhan menerima, kalau tidak kau sendiri bisa celaka. Aku ingin tahu mengapa kadal serba buntung sepertimu punya ambisi untuk mengirimkan ke neraka, apa salahku?" tanya Si Bocah Ajaib.

"Hmm, perlu kau tahu sebelum mampus. Aku ini masih sahabatnya hartawan Abdi Banda. Cambuk Akherat berasal dari Lembah Tak Bertuan. Nah karena aku tahu betapa resahnya dia saat ini, maka setelah bertahun-tahun tidak berjumpa sekarang aku ingin menghadiahkan kepalamu untuknya. Dia pasti sangat gembira, karena menurut para ahli nujumnya kau adalah orang yang bakal membuat dia celaka!"

"Ha ha ha...! Ambisimu kelewat besar juga. Sayang kau tidak bertanya padaku apakah kepalaku yang cuma satu ingin kuserahkan padamu atau tidak! Aku malah khawatir salah-salah kepala burungmu yang akan kupenggal!" dengus si pemuda sambil cengengesan.

"Pemuda    gendeng!     Mampuslah     kau, heaaa...!"

Cambuk Akherat ternyata sangat ganas sekali. Sekali gebrak tubuhnya sudah melompat ke depan. Dia menghantam dengan tinju tangannya, karena memang tangan itulah yang masih utuh. Angin dingin menderu, Suro merasa wajahnya seperti ditusuki ratusan batang jarum.

Melihat gelagat betapa tangguhnya Cambuk Akherat, Si Bocah Ajaib langsung mempergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'

Wuees!

Sebentar saja tubuh si pemuda telah berkelebat lenyap. Tinju Cambuk Akherat menghantam angin. Namun ia cepat memutar tubuh sambil mendengus. Segera dikerahkannya jurus 'Memanah Kehampaan Hidup'.

"Hiaaa...!"

Cambuk Akherat berteriak keras. Ia menerkam ke depan. Tangannya yang cuma sebelah itu bergerak laksana angin dan mengikuti kemana saja lawan menghindar. Tampak jelas mereka benar-benar tangguh. Suro dengan nekad lepaskan tendangan kaki. Lalu....

Set!

Kakinya meluncur, Cambuk Akherat melompat setinggi setengah tombak. Setelah itu tangannya cepat terjulur dan....

Srek!

Pakaian Suro berikut kulit dadanya mengelupas. Ada darah yang menetes, namun Suro masih sempat meringis. Tangan lawan kembali menyambar ke wajahnya. Pendekar Blo'on menangkis.

Bleduk!

Pemuda ini langsung terjengkang. Punggung tangannya tampak merah. Cambuk akherat sendiri terhuyung-huyung.

"Hh, kau ternyata cukup berisi juga!" dengus laki-laki sebelah kaki sebelah tangan itu. Diam-diam ia terkejut juga dan tidak menyangka pemuda bertampang ketolol-tololan ini mempunyai tenaga dalam yang tinggi.

Selagi Pendekar Blo'on belum sempat berdiri, tiba-tiba ia melepaskan pukulan 'Penghuni Kegelapan'.

Ketika laki-laki ini mendorongkan kedua tangannya ke depan. Maka terlihatlah sinar terang benderang menyilaukan mata meluncur deras menerjang Pendekar Blo'on.

Wuut!

Tubuh si pemuda tiba-tiba saja melompat tinggi ke udara. Serangan lawan lewat di bawah kakinya. Pukulan terus meluncur menghantam pohon besar di belakangnya. Pohon hancur dan tumbang. Lalu di sana-sini terdengar suara tawa seperti kera. Itulah jurus Tawa Kera Siluman. Suara tawa ini disertai berkelebatnya tubuh Suro di atas kepala lawannya. Lalu kakinya menendang.

Blaak! "Uts...!"

Cambuk Akherat merasakan kepalanya seperti dihantam palu godam. Sakit dan terus mendenyut seperti mau pecah. Suro leletkan lidah, kakinya terpincang-pincang. Kepala Cambuk Akherat ternyata keras seperti batu

"Benar-benar edan!" maki Suro dalam hati "Huh, bangsat betul kau!" maki Cambuk

Akherat. Kali ini ia lipatkan gandakan tenaga dalamnya. Lalu tangannya kembali dikibaskan ke arah lawannya.

Segulung angin kencang disertai menebarnya hawa panas laksana memanggang tubuh Suro Blondo. Pemuda ini terkesiap dan leletkan lidah. Dia pun akhirnya tidak tinggal diam. Matanya melotot, mulutnya termonyong-monyong. Rupanya ketika itu si pemuda tengah mengerahkan tenaga dalamnya ke arah bagian tangannya.

"Matahari Rembulan Tidak Bersinar! Hiyaaa...!" teriak si konyol. Telapak tangannya yang telah berubah kusam dan mengepulkan asap tipis dihentakkannya ke depan. Selarik sinar redup berwarna biru semu merah menderu dengan cepatnya.

Dua tenaga sakti itu saling susul menyusul. Kemudian terjadilah sebuah ledakan yang bukan saja membuat orang-orang di sekitarnya jatuh tunggang langgang, namun juga membuat masing-masing lawan terpelanting sejauh tiga batang tombak.

Suro menekan dadanya yang seperti mau meledak dan mendenyut sakit. Lalu ia seka darah yang menetes disudut-sudut bibirnya. Keempat gadis yang menyaksikan pertempuran sengit itu jadi khawatir.

"Hm, bukan main. Bukan main-main! Kadal buntung ini ternyata memang mau minta nyawaku!" geram si konyol.

"Huh, boleh juga kau!" dengus Cambuk Akherat.

Sreet! Jdar! Jdar!

Ternyata Cambuk Akherat melepaskan senjata andalannya yang bergerigi. Senjata maut berwarna merah itu langsung meledak-ledak mengeluarkan bunga api ketika dilecutkan di udara.

"Awas kakang Suro!" Seruni berteriak mengingatkan.

"Ha ha ha...! Idola kalian sebentar lagi kupenggal kepalanya. Tidak usah dirisaukan. Aku dapat menggantikan posisinya untuk kalian!" sahut Cambuk Akherat disertai tawa bergelak.

"Manusia setan! Iblis laknat!" maki Sri Se-

dap.

"Kau yang paling galak, pasti kau yang pal-

ing hebat nanti bila berada di tempat tidur!" desis laki-laki hidung sumplung ini sambil leletkan lidah.

Jdar!

Cambuk melecut di udara, sebentar saja Suro terkurung oleh serangan-serangan senjata ampuh yang mematikan itu. Suro melompat sana, mengelak kesini, atau terkadang ia berjingkrakjingkrak seperti anak kecil yang sedang bermain tali. Tapi ketika cambuk itu diputar ke atas dan disentakkan ke samping. Maka tidak ayal lagi cambuk itu menghantam dadanya.

Braak! "Wadow...!"

Suro terjengkang. Dadanya babak belur dan dagingnya berserabut. Senjata itu kembali melecut, Suro berguling-guling. Ke empat gadis yang menyaksikan kejadian itu langsung menyerbu ke depan. Mereka menghunus senjata dan langsung menyerang Cambuk Akherat.

"Huh, rupanya kalian memilih mati dari pada bersenang-senang denganku...!" teriak Cambuk Akherat.

Maka ia pun mengerahkan cambuk apinya ke arah gadis-gadis itu.

Breet! Triing!

Senjata itu terpental, Seruni tidak dapat menjaga keseimbangannya.

Ctar! Bret! "Aaa...!"

Sebagian tubuh Seruni hancur. Ia terhempas dekat Suro, gadis itu merintih. Suro segera mendukungnya, tampaknya sudah tidak ada harapan hidup lagi bagi gadis itu.

"Suro, ternyata aku tidak dapat membantumu... huk... ajalku segera tiba...!" kata Seruni dengan suara lirih.

"Seharusnya kalian tidak turun tangan!" Suro menyesalkan. "Ekh... Suro aku tidak tega melihat kau dalam keadaan begitu...! Peluk aku, Suro...!"

Maka Pendekar Blo'on pun memeluk Seruni. Gadis itu tersenyum manis bibirnya tampak pucat.

"Cium aku, Suro...!"

Maka Pendekar Blo'on pun menciumnya. Betapa dingin bibir Seruni, gadis itu kemudian terkulai.

"Heh, dia mati...!" desis pemuda itu terke-

sima.

Seroja, Sentini dan Sri Sedap langsung

menghampiri kakaknya. Sementara Pendekar Blo'on bangkit berdiri. Mulutnya termonyongmonyong, lalu ia mencabut senjata andalannya pusaka Mandau Jantan yang di tengah-tengahnya terdapat empat lubang miring. Senjata berwarna hitam itu segera diputarnya dengan sentakan serta gerakan yang aneh.

"Aku akan mengadu jiwa denganmu!" dengus si pemuda.

Sekejap saja ia sudah menerjang ke arah Cambuk Akherat. Laki-laki bertangan tunggal berkaki tunggal ini segera mengibaskan cambuknya ke arah si pemuda.

Si Bocah Ajaib langsung melompat, mandau di tangannya mengeluarkan suara ringkikan panjang, lalu dari lubang itu pula terdengar suara tangis berkepanjangan. Cambuk Akherat terkesiap. Cambuk terus meluncur, Mandau Jantan di tangan si pemuda berkelebat.  Tar! Teng!

Cambuk pusaka itu terbabat putus, senjata di tangan si pemuda terus meluncur ke arah dada lawan. Namun Cambuk Akherat dengan terkejut segera melompat ke belakang.

Suro memburunya, lawannya berkelit, lalu sisa-sisa cambuk menghantam punggungnya. Si Bocah Ajaib menjerit sambil terguling-guling. Punggungnya robek besar. Darah semakin banyak saja yang menetes keluar.

Si Konyol melompat berdiri walau pun tubuhnya sempat terhuyung-huyung juga.

"Ha ha ha...! Ajalmu sudah hampir tiba!

Bersiap-siaplah kau!" teriak si Cambuk Akherat.

Sekali lompat ia telah berada di depan Suro. Lalu cambuknya diayunkannya lagi. Namun Suro sudah menghindar lewat selangkangan lawan dengan cara merangkak.

Daak!

Dengan keras sekali kaki kanannya menendang pinggang Si Cambuk Akherat.

Bruuk!

Laki-laki berwajah angker ini tersungkur, hidungnya tertutup debu. Yang lebih celaka lagi buah jambunya tergencet batu, sakitnya sampai naik ke perut.

Si Konyol dengan cemberut melompat lalu menginjak-injak tubuh Cambuk Akherat. Tidak disangka tangan lawannya menghantam.

Duuk! "Wadaw...!"

Suro tersungkur pula, posisinya di samping lawan. Ia menoleh, dan Mandau di tangannya melayang ke arah leher. Cambuk Akherat tidak sempat lagi menangkis.

Crok! "Akh...!"

Tulang leher lawannya putus, darah mengucur dari luka itu. Tubuh Si Cambuk Akherat berkelejotan sebentar lalu terdiam untuk selamalamanya.

Pemuda itu usap rambutnya, dipandanginya mayat lawannya untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia menghampiri Sri Sedap dan saudara-saudaranya yang baru saja selesai menguburkan mayat Seruni.

"Aku menyesalkan kejadian ini. Sebaiknya kalian tidak usah ikut aku lagi. Begitu banyak bahaya yang akan aku hadapi!" tegas Suro.

"Semua ini sudah takdir, tidak perlu disesalkan. Tapi kami tetap ingin ikut dengan Kakang!" kata Sri Sedap.

"Kubilang jangan!"

"Kalau tidak boleh tidak mengapa." ujar Seroja mengalah. Tapi diam-diam ketika Pendekar Blo'on pergi mereka terus menguntit di belakangnya.

*** SEPULUH

Membunuh sambil tertawa itulah kebiasaan Kala Menak. Kini ia melakukan pembersihan di jalan-jalan yang bakal dilalui oleh hartawan Abdi Banda. Setiap orang yang dianggapnya mencurigakan pasti dibunuhnya. Sehingga sangat banyaklah penduduk dan masyarakat biasa yang tidak berdosa menjadi korban. Kala Menak dengan kuda hitamnya memang tidak ubahnya seperti iblis pencabut nyawa, ia bergerak laksana setan. Orang-orang yang melihat kehadirannya langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri.

Semua ini tentu saja dilihat oleh seorang pemuda berbaju putih berjenggot kambing. Dialah si Pendekar Lugu. Tampak jelas wajahnya yang polos itu menunjukkan rasa keprihatinan yang mendalam. Tidak lama pemuda ini melipat tangannya di depan dada. Lalu tubuhnya bergerak mengambang di udara. Hanya dalam beberapa kelebatan saja ia telah berubah ujudnya menjadi seorang kakek renta berpakaian compangcamping. Inilah sejenis ilmu langka bernama 'Merobah Ujud Malih Rupa'. Pada masa itu sangat jarang sekali orang yang memiliki ilmu seperti ini. Hanya orang yang hatinya jauh dari dengki, kesombongan dan rasa iri yang dapat mengamalkannya.

Kakek tua ini duduk di pinggir jalan. Waktu ia musim kemarau, sehingga debu dan angin berterbangan di jalan itu. Wajah si kakek yang kotor berselimut debu.

Kala Menak yang sibuk membantai orang di kanan kiri jalan itu sambil tertawa-tawa terus memacu kudanya. Semakin lama ia semakin dekat dengan kakek itu. Kuda hitam tunggangan Kala Menak tiba-tiba saja meringkik keras dan angkat kaki depan tinggi-tinggi.

"Hieeekh...! Hehheh...!"

"Macan angin, mengapa berhenti! Tabrak saja tua rongsokan itu biar merat ke akherat sekalian!" dengus Kala Menak.

Ia memaksa kudanya agar segera bergerak kembali, namun kuda tersebut tetap ngadat.

"Membunuh sambil tertawa! Kelak manusia seperti itu akan diseret ke neraka sambil menangis! Jika hati telah dikuasai hawa nafsu dan setan. Maka amarahnya melebihi iblis!" kata si kakek.

"Heh...!" Kala Menak tersentak kaget. Tidak ada orang lain disitu terkecuali dia dan si kakek. Berarti ucapan tadi benar-benar ditujukan buat dirinya.

"Kau menyindirku? Siapakah kau ini?" bentak Kala Menak berang.

Si kakek angkat wajahnya, sehingga terlihatlah wajah polosnya tanpa dosa.

"Aku masih hamba Tuhan juga. Aku tidak menyindir siapa-siapa? Manusia membunuh manusia tanpa alasan yang jelas, tanpa pernah bertobat dia jelas masuk neraka!" "Kurang ajar. Sekali lagi katakan padaku siapa kau?" hardik Kala Menak.

"Aku, Sira Sakaning Bumi! Tugasku memberi peringatan pada siapa saja yang ingin kembali ke jalan yang benar." sahut si kakek.

"Apa yang sedang kulakukan adalah tanggung jawabku pada hartawan Abdi Banda. Tugas ini harus kulaksanakan dengan baik!"

"Hartawan kikir itu bukan penentu hidup manusia lain, karena dia masih manusia juga. Mengapa kau cabut nyawa orang lain, sedangkan membuat nyawa nyamuk kau sendiri tidak mampu?" tegur Sira Sakaning Bumi.

Kala Menak sesungguhnya geram juga, namun ia masih tetap berusaha menahan kemarahannya.

"Kau tidak usah memberi ceramah di depanku! Hartawan selalu curiga bila bepergian. Untuk itu aku mengadakan pembersihan sebelum beliau mengadakan perjalanan panjangnya!" jelas si gadis.

"Rasa takut yang berlebihan dalam dirinya karena dia sengaja menjauhkan diri dari Tuhan. Ia takut kehilangan harta, ia takut jadi susah, ia takut mati. Padahal kematian itu akan datang pada setiap makhluk yang bernyawa!" kata si kakek.

"Buaaah... tua bangka gombal! Mampuslah engkau...!" teriak Kala Menak. Rupanya ia sudah tidak sabar lagi. Pedang besar di tangannya yang berlumuran darah kering langsung dikibaskan ke kepala Sira Sakaning Bumi. Namun senjata itu hanya menyambar angin karena yang menjadi sasaran senjatanya telah melompat ke tempat yang aman.

Kala Menak membedal kudanya, kuda memburu ke arah lawannya. Sekali lagi si kakek melompat ke udara. Lalu bersalto dan kakinya menjejak punggung Kala Menak.

Orang ini kalau tidak kuat berpegangan pada kendali kuda dapat dipastikan tercampak dari atas kudanya. Ia pun menggeram marah. Tiba-tiba saja Kala Menak melompat meninggalkan punggung kudanya. Sambil berguling-guling pedangnya membacok ke arah kaki lawannya. Karena senjata itu berat sekali. Ketika dikibaskan, maka senjata itu mengeluarkan suara deru angin. Sira Sakaning Bumi melompat, lalu tubuhnya berputar sedangkan kaki melepaskan tendangan ke bagian wajah lawannya. Untunglah Kala Menak adalah pembunuh yang berpengalaman. Sehingga dengan cepat ia menangkis.

Duuk! "Eps...!"

Kerasnya benturan membuat tubuh Kala Menak tergetar. Tangannya jadi linu. Belum sempat ia bangkit berdiri, lawan telah menyerangnya kembali.

Kala Menak tidak diam, sambil bergerak mundur ke belakang ia pergunakan jurus pedang 'Merambah Hutan Menembus Bukit'. Dengan cepat pedang yang sangat berat itu mengurung si kakek. Lalu di lain waktu senjata meluncur tiada terkendali ke perut lawannya. Kelihatannya Sira Sakaning Bumi alias Wahyu Sakaning Gusti tidak menghindari serangan dahsyat itu. Ia malah busungkan perutnya dan....

Blees!

Ujung pedang seakan menembus perut lawannya. Si kakek tersenyum bijaksana. Tidak ada darah yang menetes, padahal sudah separuh senjata itu amblas kedalam perut Sira Sakaning Bumi. Kenyataan ini betapa sangat mengejutkan. Bertahun-tahun Kala Menak menjadi pembunuh sadis dan bertahun-tahun pula ia mengabdi pada hartawan Abdi Banda, belum pernah ia menemui musuh seaneh-aneh sekarang ini.

Saking cemasnya Kala Menak menarik senjatanya. Astaga! Senjata yang ditariknya itu berubah menjadi panjang. Semakin ia bergerak mundur menarik pedangnya sendiri, maka pedang yang ditarik dari perut lawan semakin bertambah panjang seakan tidak ada habis-habisnya

"Edan... tua bangka ini punya ilmu apa?" pikir Kala Menak.

Ia ternyata masih berusaha menarik senjata itu. Walau pun kini pedang itu telah ditarik sejauh sepuluh batang tembok, namun ujung senjata yang membenam di tubuh Sira Sakaning Bumi tetap tidak kelihatan. Kakek tua itu kemudian mengusap perutnya.

Braak!

Kala Menak terguling-guling. Pedang itu secara aneh kembali ke bentuk alisnya. Pucat wajah Kala Menak. Jika kakek itu mau tentu dia sudah mampus sejak tadi.

"Jangan kau sia-siakan waktu hidupmu. Aku tidak punya hak mencabut nyawa orang lain. Pergilah kau dari hadapanku! Masih ada waktu bagimu untuk bertobat. Tapi jika sekali lagi kulihat kau berbuat keonaran, maka tidak seorang pun yang dapat menjamin keselamatanmu!" tegas Sira Sakaning Bumi.

Lumer sudah nyali Kala Menak. Hilang kebengisannya, hilang keganasannya. Ia kemudian melompat ke punggung kudanya. Kuda dipacu cepat tanpa menoleh-noleh lagi. Pendekar Lugu yang kini menjelma menjadi seorang kakek tua ini tersenyum. Kemudian ia meninggalkan tempat itu menuju rumah Pemadatan.

***

Sosok berpakaian hitam dan memakai kedok itu terus berjalan di atas genteng. Ia mengendap-endap atau sesekali berhenti dan merundukkan tubuhnya bila melihat penjaga kebetulan lewat di dekatnya. Sementara itu di sudut lain terlihat pula sosok lainnya sedang bergerak ke arah yang sama. Orang berpakaian hitam ala Ninja ini terkejut melihat kehadiran sosok lain yang juga mengenakan pakaian seperti dirinya.

"Apakah orang itu Ninja Sakura? Kalau benar mengapa dia tidak menyergapku?" batin sosok berpakaian hitam yang tiada lain adalah Rana Unggul.

"Ee... orang itu malah menuju jalan satu satunya ke ruangan utama. Sungguh tolol sekali. Padahal para Ninja itu bersembunyi di situ! Mustahil kehadirannya tidak diketahui oleh mereka. Dasar goblok... benar-benar nekad dia!" gerutu Rana Unggul.

Kemudian ia terus mengikuti sosok hitam di depannya sekalian ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Baru beberapa langkah ia melihat dua orang Ninja tergeletak dengan dada berlubang. Ia menuruni anak tangga menuju lantai utama.

"Hmm, ternyata dia punya tujuan yang sama dengan aku. Ada Ninja lagi yang mati disini!" kata Rana Unggul.

Rana Unggul merapatkan tubuhnya ke tembok ketika mendengar suara bentak-bentakan yang sangat sulit dimengerti maknanya. Ternyata sosok yang menyelinap pertama tadi dalam keadaan terkurung rapat.

SEBELAS

"Manusia tolol! Berani-beraninya dia masuk dari situ! Sekarang terjebak, apa yang bisa diperbuatnya untuk menyelamatkan diri dari manusia Ninja itu?!" maki Rana Unggul kesal. Sementara orang yang memakai pakaian ringkas tadi ternyata telah membuka seluruh pakaian luarnya. Maka terlihatlah seorang pemuda berambut hitam kemerahan berpakaian warna biru. Lagak pemuda itu cengengesan. Rana Unggul tentu saja kaget bukan main.

"Wah si tolol itu lagi." gerutu Rana Unggul. Sementara itu Pendekar Blo'on telah terke-

pung rapat. Kali ini jumlah pasukan Ninja itu memang cukup besar. Diantara mereka ada yang mempergunakan toya, pedang, trisula maupun pedang. Senjata-senjata itu langsung menghujani Suro. Sebagaimana diketahui gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para Ninja Sakura ini dikenal sangat kompak dan serentak. Tentu saja Suro tidak dapat bersikap main-main lagi. Ia mempergunakan jurus 'Kacau Balau' salah satu jurus warisan Malaikat Berambut Api yang masih terhitung kakek dan gurunya sendiri.

Maka tidak dapat disangkal bila kemudian gerakan-gerakan tubuh si pemuda berubah total menjadi kacau. Langkah-langkah pemuda ini tampak serampangan dan terkesan asal-asalan. Langkah-langkah pemuda ini tampak serampangan dan terkesan asal-asalan. Namun sungguh hebat, sepuluh pasukan Ninja yang mengerubuti tidak seorang pun yang mampu menusukkan senjatanya. Berulang kali Si Bocah Ajaib berhasil lolos dari kepungan lawan. Rana Unggul kaget, tidak pernah terlintas dalam benaknya kalau pemuda bertampang ketolol-tololan ini ternyata memiliki ilmu silat tinggi dan jurus-jurus yang mengagumkan.

"Pantasan dia berhasil membebaskan totokanku tempo hari!" kata Rana Unggul yang merasa tertipu mentah-mentah.

"Hiaa...!"

Si konyol tiba-tiba saja merebut salah satu toya di tangan lawannya. Ia terus melompat ke udara dengan gerakan terkesan kacau. Tubuhnya bahkan sempat berputar-putar. Toya itu selanjutnya diputar-putar, lalu menderu.

Wuuk!

Laksana kilat Toya mengemplang kepala dua orang Ninja yang berada persis di bawahnya. Orang-orang itu mengeluh dan tersungkur.

Tiga buah benda persegi empat melayang ke arah Suro. Pemuda ini tersenyum mengejek. Dengan mempergunakan toya itu ia menangkis.

Clep! Clep! Clep!

Senjata rahasia berbentuk bintang ini menancap di toya itu. Toya kemudian dilemparkan dan menghantam lutut salah seorang Ninja yang ketika itu memburu ke arahnya. Orang itu tersungkur, kawan-kawannya cepat datang membantu. Suro kalang kabut menghadapi hujan senjata yang seakan tidak ada habis-habisnya ini. Ia pun melompat menjauh mengambil jarak. Dikerahkannya tenaga ke bagian telapak tangan.

"'Kera Sakti Menolak Petir'! Heaa...!" Suro dengan mulut termonyong-monyong mendorongkan kedua tangannya ke lima arah sekaligus. Lima larik sinar putih melesat dari telapak tangannya. Para Ninja itu memutar senjatanya masingmasing untuk melindungi diri.

Blarr...! "Auk...!"

Lima orang lawan terpelanting roboh ketika sinar putih menghantam tubuh mereka.

"Mampus-mampus dah...!" dengus si pe-

muda.

Namun lawan terus berdatangan. Sehingga

tidak ada waktu sedikit pun bagi Suro untuk berleha-leha.

"Jika aku tidak membuka jalan darah! Sebentar lagi tenagaku terkuras habis. Dan ini bisa membuatku semakin konyol!" pikir Suro Blondo.

Diawali dengan satu bentakan keras, pemuda itu segera pergunakan jurus Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor.

Maka terdengarlah suara lolong, tawa serta tangis pemuda itu. Sementara tubuhnya bergerak cepat memporak porandakan serangan-serangan yang dilakukan oleh para Ninja tersebut.

Dua orang lawannya menyerbu ke depan, Suro tidak mundur lagi. Melainkan menyambut serangan itu sambil mengayunkan kakinya dengan lincah.

Wuut!

Lalu ia mengibaskan tangannya ke arah lawan-lawannya. Jelas sekali saat itu Suro melepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir', salah satu pukulan yang paling dahsyat dari seluruh pukulan sakti yang dimilikinya. Terdengar suara jeritan dimana-mana, seakan makhluk-makhluk gaib menyingkir ketakutan. Sinar merah dan hitam menggebu-gebu, sehingga hawa panasnya saja mampu membuat hangus orang-orang di sekitarnya.

Lalu terjadilah ledakan-ledakan dahsyat. Puluhan sosok tubuh terlempar dalam keadaan matang. Tidak satu pun dari Ninja-Ninja itu yang selamat. Rana Unggul sendiri terpaksa mengerahkan tenaga dalam untuk menghindari pengaruh siksaan panas yang melesat dari telapak tangan si konyol. Untuk pertama kalinya Rana Unggul pentang matanya lebar-lebar.

"Pemuda konyol itu benar-benar tidak terduga-duga." desisnya penuh rasa takjub.

Sebagian pukulan Suro yang sempat melenceng membakar tiang-tiang penyangga rumah pemadatan. Suro segera kembali menuju ke jalan pertama tadi dia datang, sedangkan Rana Unggul sudah bergerak mendahului. Ia terus melompat dari atas bangunan. Sampai di suatu tempat yang aman Rana Unggul menunggu. Namun dari balik semak belukar muncul sesosok tubuh berpakaian hitam lainnya.

"Kau... menyamar sebagai kami tidak tahunya musuh...!" kata pimpinan Ninja, suaranya menggeram.

"Kau siapa?" tanya Rana Unggul.

"Aku pimpinan Ninja Sakura. Namaku Kenziro Nakasone." sahut laki-laki bermata sipit itu sinis.

"Hmm, rupanya kau orangnya yang telah menjadi begundal di rumah madat itu? Jauh-jauh meninggalkan negeri sendiri, ternyata hanya untuk bikin onar di negeri leluhur orang lain!" dengus Rana Unggul sinis.

"Kau telah membikin rusak apa yang menjadi tanggung jawab kami. Karena itu kau harus tanggungkan akibatnya." kata Pimpinan Ninja Sakura ini marah.

Begitu Kenziro Nakasone menggerakkan jari tangannya. Maka sepuluh jarum beracun melesat cepat menuju sepuluh jalan kematian. Rana Unggul mendengus. Lalu tarik shal dan mengebutkan shal tersebut hingga jarum-jarum beracun tadi rontok di atas tanah.

Ketua Ninja ini lalu menyambitkan senjata rahasia berbentuk bintang persegi empat. Empat buah benda berwarna putih menyilaukan melesat. Kali ini Rana Unggul gerakkan tangannya menyampok.

Tes! Tes! Tes!

Tiga senjata rahasia runtuh, satu diantaranya terjepit di antara tangan Rana. Laki-laki bersuara seperti perempuan ini menyambitkan senjata itu ke arah pemiliknya.

Beruntung Kenziro cepat melompat, jika tidak perutnya pasti kena tembus senjata rahasianya sendiri.

Dalam kesempatan itu Si Bocah Ajaib Suro Blondo sudah sampai di situ. Ia tepuk tangan sambil berjingkrakan seperti orang gendeng. "Rana Unggul! Waktu jangan dibuang-

buang, Tinja... eh, Ninja hitam itu adalah kepalanya tikus-tikus yang sudah kubuat mampus di sarangnya tadi. Tangkap dia, kalau sudah tertangkap aku pengin lihat apakah anunya pakai helm atau sarung!"

"Pemuda edan! Tidak perlu menggurui aku!" dengus Rana Unggul.

Ketika itu pertempuran memang sudah berlangsung seru-serunya. Kenziro Nakasone sudah mencabut pedang panjangnya. Senjata itu membabat dan menusuk ke arah sasaran dengan ganasnya.

Namun pemuda misterius Rana Unggul kelihatannya memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Terbukti walau pun lawannya telah mempergunakan senjata, masih belum terlihat tandatanda dirinya terdesak.

Gerakan Rana Unggul memang seperti walet saja, begitu cepat dan lincah seperti gadis cantik yang menari-nari. Semakin lama Kenziro semakin bersemangat. Pedangnya membacok ke bagian kepala, menebas ke arah leher atau menusuk ke ulu hati. Semua itu berlangsung sangat cepat.

"Haiik!"

Kenziro melompat lagi. Kemudian ia lakukan babatan menyilang. Rana Unggul menggeser langkahnya. Ketika serangan senjata lewat di sampingnya maka ia segera menghantam dengan tinjunya.

Duuk! "Hekh...!"

Kenziro merasa dadanya menyesak dan sempat membuatnya terhuyung-huyung. Tibatiba ia melompat dan....

Des!

Kini gantian Rana Unggul yang tercampak. Suro yang menyaksikan pertarungan sengit itu tampak semakin bersemangat.

"Walah... baru segitu kau sudah hampir loyo, Rana. Hantam saja keteknya kalau nggak bolanya. Tikus berkedok itu kurasa tidak ada apa-apanya. Kalau mereka main keroyokan baru seimbang!" ledek si konyol sambil garuk-garuk kepala.

Rana Unggul sesungguhnya kesal mendengar ocehan si usil. Namun ia tidak punya waktu melayani pemuda itu bicara. Belum lagi ia siap dengan posisinya, Kenziro sudah melabraknya lagi. Kali ini disertai dengan lemparan senjata rahasia.

Mendapat dua serangan yang datang secara bersamaan itu Rana Unggul terpaksa berguling-guling.

Huk! Huuk! Huk!

Pedang terus mencecar Rana Unggul, sehingga laki-laki berpakaian seperti Ninja ini terpaksa terus berguling-guling. Dalam keadaan berguling-guling ia pun cabut senjatanya.

Cring! Sring! Sring! Traang!

Terjadi benturan yang cukup keras. Karena pedang milik Rana Unggul kecil dan tipis, maka membuat laki-laki itu tergetar. Sekali lagi bentrokan senjata tidak dapat dihindari.

Tring!

Rana Unggul terdorong lagi. Namun secepat kilat ia melompat, saat tubuhnya melayang di udara seperti itulah ia mengibaskan senjata di tangannya. Kenziro rupanya merasa ada sambaran angin yang cukup keras. Ia pun segera menundukkan tubuhnya serendah mungkin.

Wuut!

Serangan Rana Unggul menghantam angin.

Tangan Kenziro menyodok perutnya.

Buuk! "Ngek!"

Rana Unggul mendekap perutnya. Suro tertawa mengekeh. Ia seka keningnya, lalu....

"Walah baru segitu saja kau sudah dibuatnya mules. Ayo desak terus jangan kalah semangat!" teriak Suro memberi semangat.

Semakin panas saja kuping Rana Unggul. Lalu ia melompat ke belakang, pedang diangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Lalu disertai teriakan melengking tinggi ia menerjang ke depan. Gerakan ini dikenal dengan jurus 'Menepis Ombak Mendulang Intan'. Pedang tipis itu terus meluncur. Pabila lawan menangkisnya, maka senjata di tangan Rana Unggul membelok, lalu mengancam perut Kenziro. Pimpinan Ninja ini terkesiap. Ia melompat lagi untuk selamatkan perutnya. Namun gerakannya itu sangat terlambat, sehingga...

Breet! "Akh...!"

Kenziro menjerit kesakitan. Dalam kesempatan itu ia masih berusaha menangkis.

Traang!

Kenziro tergetar, ia meringis kesakitan. Pedang di tangan Rana Unggul kembali meluncur dan terus menerabas ke dada Kenziro.

"Hekh...!"

Kenziro melotot. Ia terhuyung-huyung, ketika Rana Unggul mencabut senjatanya, maka laki-laki ini tersungkur. Ia pun tewas seketika itu juga. Suro bertepuk tangan, tepuk-tepuk jidadnya lalu tepuk pula pantatnya.

DUA BELAS

"Bocah Gelo... mengapa kau tepuk semua yang kau punya? Apakah sudah gila...!" dengus Rana Unggul. Diam-diam ia memperhatikan pemuda berambut hitam kemerah-merahan itu "Ach... mengapa begini. Dia sangat lain dalam pandanganku!" Rana Unggul mengeluh.

"Jika kau tidak suka melihat aku menepuk semua yang aku punya, apakah kau mau jika aku menepuk kau punya? Ha ha ha...!" kata Pendekar Blo'on sambil tertawa. "Kau jangan kurang ajar. Aku benci melihat kesintinganmu!"

"Benci atau suka? Aku tidak bisa jamin apakah kau benar-benar seorang laki-laki. Tubuhmu ramping, kulit halus dan bau tubuhmu, hmm... harum...!" Si Bocah Ajaib mengendusendus.

"Diam...!" bentak Rana Unggul sambil me-

lotot.

Suro mengatupkan mulutnya sambil ter-

monyong-monyong.

"Mengapa kau cengar cengir seperti monyet begitu? Apa yang lucu?"

Suro menggaruk rambutnya. "Anu... sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu. Waktu kita menghadapi mata picak bukankah Pendekar Lugu pergi bersamamu? Sekarang kemana dia?"

"Oh, mengenai Penyambung Lidah itu sesungguhnya aku pun kurang tahu. Ia memisahkan diri ketika aku menuju kesini. Katanya ia mau menjumpai hartawan Abdi Banda." sahut Rana Unggul. Suara laki-laki itu tidak seketus tadi.

"Aku pikir dia mau minta sebagian harta hartawan itu untuk bagi-bagikan padamu dan padaku. Wah... senangnya jadi orang kaya Pa-

dahal aku belum pernah kaya, lho. !"

"Manusia geblek sepertimu mana bisa kaya. Lagi pula untuk apa segala macam kekayaan hartawan itu? Dia memperolehnya dari cucuran keringat dan darah orang lain." sergah Rana Unggul.

"Betul sekali. Sebagian harta Abdi Banda bahkan ada yang bisa berdesah-desah... ha ha ha...!"

"Lho, kok...!" Rana Unggul terheran-heran. "Tentu saja, kalau harta itu diperolehnya

dari pelacur tentu ada yang mendesah-desah, megal megol, esak-esek dan... wah pokoknya puyeng!"

"Bocah edan! Apakah kau sudah tidak bisa bicara betul?" bentak Rana Unggul.

Diam-diam ia semakin suka pada Suro karena kekonyolannya selain juga tampan.

"Jaman sekarang semakin susah saja jadi orang benar. Kata orang yang haram saja sulit. Dapat kau bayangkan apa nggak gila tuli...?"

"Oh, jadi kau mau mengikuti gilanya dunia?!" ejek Rana Unggul.

"Tidak. Dunia nggak pernah gila! Justeru manusianya-lah yang sudah nggak karuan. Manusia sudah banyak yang edan, banyak yang gila. Gila harta, gila kedudukan, gila perempuan dan gila segala...!" kata Suro sambil golang-goleng kepala.

"Semakin lama bicaramu semakin ngaco. Urusan belum lagi beres, mengapa kita harus berleha-leha. Sekarang sebaiknya kita pergi dari sini. Besok kita bisa meneruskan perjalanan menuju ke singgasana hartawan Abdi Banda!"

"Lalu sekarang kita kemana?" tanya Si Bocah Ajaib.

"Cari tempat tidur, tolol!"

"Wah, kalau tidur apakah kita harus bersama-sama?" pancing Suro.

Wajah di balik topeng hitam itu berubah memerah. Kalau saja Suro tahu hal ini? Sayang Pendekar Blo'on tidak pernah tahu.

"Jangan lagi kau berani bicara sembarangan. Aku bisa membunuhmu!" ancam Rana Unggul.

"Weleh, galak amat sih? Aku kan cuma bicara tidur saja kau langsung marah. Kita kan sama-sama laki-laki."

"Sudahlah, aku bisa jadi gendeng mendengar ocehan!" dengus pemuda bertubuh ramping tersebut.

Kemudian ia berbalik langkah berlari-lari meninggalkan Suro Blondo. Suro golang-geleng kepala lalu segera mengejar Rana Unggul.

***

Laki-laki itu belum tergolong tua, usianya baru sekitar empat puluh lima tahun. Wajahnya tidak begitu tampan, pakaiannya rapi bermotip kembang-kembang. Ia memakai topi berwarna kembang-kembang pula. Ia sesungguhnya termasuk tokoh sakti yang sangat jarang berkeliaran di rimba persilatan. Di daerah Jawa bagian tengah ia dikenal dengan julukan Malaikat Penderitaan. Mengenai asal usul dan nama asli tokoh yang nyentrik ini tidak seorang pun yang tahu.

Kesaktian yang dimilikinya tidak terukur, ia bahkan sangat mahir dalam memainkan golok. Tiga buah golok sekaligus terkadang dipergunakannya untuk menghadapi lawannya.

Orang ini sesampainya di atas sebuah bukit langsung menghentikan langkahnya. Ia memandang ke depan, lalu wajahnya berubah murung. Semakin jauh memandang maka keningnya berkerut dalam.

"Berburu ke padang dasar, dapat rusa belang kakinya. Akh mengapa segila ini. Apa yang

harus kusesali? Aku berjalan dalam kegilaanku, aku melangkah dalam kegilaanku, mereka tertawa dalam kegilaannya. Jika mereka sedih itu lebih baik dari aku yang gila! Tidak ada yang lebih senang dalam dunia ini terkecuali aku, tiada yang lebih sedih terkecuali aku. Sepanjang langkahlangkah ini menapak, apa yang telah kuperbuat? Kebaikan atau keburukan. Hidupku penuh penderitaan, bukan kesenangan yang aku ucapkan. Hik hik hik,..!" Malaikat Penderitaan menangis sesunggukan. Tubuhnya terguncang, nafasnya tersendat-sendat. Sampai pada akhirnya ia menengadahkan wajahnya ke langit. Lalu ia menunduk seperti orang ketakutan.

"Kulihat ke langit, ternyata Tuhan Murka. Siapakah yang perduli? Tidak seorang pun yang perduli. Manusia menjadi bangga jika dirinya sudah menjadi sombong, iri, dengki, tamak dan kikir. Aku sedih melihatnya. Karena semua itu pangkal bencana, pangkal penderitaannya di akherat. Oh betapa malangnya, diriku Malaikat... bukan yang tercipta dari cahaya tapi Malaikat hanya julukan. Malaikat Penderitaan...!" kata laki-laki itu. "Aku meninggalkan tempat pengasinganku karena urusan besar. Kehadiran sang Maha Sesat juga termasuk urusan yang tidak dapat dianggap main-main. Lalu siapakah yang mencoba mempermainkan hidup ini? Tuhan murka, langit murka, bumi murka, angin murka dan semua yang ada di bumi ini menjadi murka karena ulah manusia!" dengus Malaikat Penderitaan hanya sekejap kemudian Malaikat Penderitaan sudah berlalu meninggalkan puncak bukit itu.

Belum lama Malaikat Penderitaan pergi, di puncak bukit Penantian muncul tokoh lainnya. Ia seorang wanita berusia sekitar tujuh puluh tahun. Orang ini memakai anting pada dua lubang hidungnya. Di keningnya juga terpasang anting, kupingnya, bibirnya. Dan mungkin di setiap anggota tubuhnya yang berlubang terpasang anting.

Perempuan renta ini berpakaian kumuh, rambutnya jarang dan sudah berwarna putih semuanya. Di lihat sepintas lalu, nenek renta ini seperti orang yang tidak pernah mandi selama berbulan-bulan.

"Hik hik hik...! Hartawan Abdi Banda. Akan banyak darah yang berceceran karena kekayaannya. Aku akan dapatkan semua itu, urusan besar. Persoalan tidak main-main. Banyak orangorang punya ilmu berada di sana. Hu hu hu...! Sebaiknya aku pergi kesana sekarang!" kata perempuan itu yang tiada lain adalah Ratu Alam Kubur.

Perempuan renta itu kemudian me lanjutkan perjalanannya kembali menuju ke singgasana milik hartawan Abdi Banda.

Urusan memang semakin runyam, tokohtokoh sakti rimba persilatan banyak yang bermunculan dan tentu juga cari keuntungan. Kemudian hadir pula sang Maha Sesat yang menipu manusia dengan berbagai cara. Siapa sesungguhnya Rana Unggul. Malaikat Penderitaan, Ratu Alam Kubur? Benarkah urusan hanya sekedar harta? Atau ada persoalan lain yang lebih menarik dari semua itu? Nantikan kelanjutannya!!

TAMAT