Serial Pendekar Bloon Eps 07 : Neraka-Neraka

 
Eps 07 : Neraka-Neraka


Sampai sejauh mana Prisma Permata berpendar? Dan seberapa hebat kekuatan yang dimilikinya? Hanya Datuk Alang Sitepu saja yang mengetahuinya. Sebagaimana pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam ruangan pertemuan itu.

"Aku sekarang sudah menemukan cara untuk menggabungkan kekuatan yang kumiliki dengan kekuatan Prisma Permata ini. Hanya kita memerlukan waktu dan tempat yang aman untuk melakukannya."

"Datuk! Apakah tempat kediamanku ini tidak cukup aman?" tanya Diraja Penghulu Iblis.

Raja Penyihir ini menyeringai, Bibirnya yang menggelambir dan nyaris tanggal dari tempatnya bergoyang-goyang.

"Harus kuakui tempat ini sudah tidak aman lagi. Tamu-tamu yang tidak diundang berkeliaran disini pula."

"Aku menyediakan Ciruyung tempat tinggalku untuk menggabungkan dua inti kekuatan antara Prisma Permata dengan ilmu sihir Datuk!" Nyanyuk Pingitan menawarkan diri.

"Hmm, sebuah ide yang sangat baik. Aku setuju. Tapi bagaimana dengan kawan Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis?" Si Bungkuk Lima memandang lurus pada dua orang ini.

"Aku setuju saja. Asalkan semuanya sesuai dengan rencana kita!" Diraja Penghulu Iblis menyetujuinya.

Hanya Buto Terenggi saja yang tidak memberikan jawaban. Namun ia menganggukkan kepala.

Datuk Alang Sitepu tertawa. Sejenak setelah tawanya terhenti ia berkata:

"Kalau semuanya sudah setuju, sekarang aku ingin mengajak Nyanyuk Pingitan pergi ke rumahnya. Anda berdua boleh menunggu disini untuk mengecoh musuh diluar! Sepekan mendatang anda boleh menyusulku jika aku tidak sempat datang kemari!" pesan Datuk Alang Sitepu.

"Baiklah. Aku meminta agar Diraja Penghulu Iblis dan Buto Terenggi menjaga keutuhan bakal istana yang akan kita bangun ini."

Setelah berkata begitu Nyanyuk Pingitan dan Datuk Alang Sitepu bangkit berdiri. Pada saat itu waktu sudah menjelang subuh. Berangkatlah kedua tokoh ini meninggalkan gunung Pangrangko.

Sementara itu pada saat yang sama, Dewi Bulan yang telah menyamar sebagai Pendekar Blo'on ini tengah tertidur pulas. Ia memang tampak letih sekali menghindari sikap Maya Swari yang begitu manja dan mengajaknya melakukan hubungan sebagaimana layaknya suami istri untuk yang kedua kalinya. Bagaimana mereka dapat melakukannya. Sedangkan pendekar Blo'on palsu mempunyai kelamin yang sama.

Dewi Bulan sebenarnya merasa geli sendiri, tapi juga khawatir. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika Suro Blondo yang berada di samping Maya Swari.

Paling tidak malam ini mereka sudah melambung ke surga. Walau sesungguhnya Suro Blondo hanya berpura-pura saja menjadi suami Maya Swari.

Setabah-tabahnya laki-laki, siapa sih orangnya yang tidak tergiur melihat kecantikan Maya Swari?

Dengan alasan terlalu lelah, Maya Swari rupanya mau mengerti juga. Ia pun kelelahan setelah lama membujuk demikian juga halnya dengan Suro Blondo palsu.

Dalam keadaan pulas sedemikian rupa, kedua orang ini sama sekali tidak tahu bahwa saat itu ada sosok bayangan mengendap-endap. Bayangan itu tercipta dari api. Setelah sampai didepan pintu kamar Maya Swari. Bayangan tersebut berhenti. Matanya memandang liar kesekelilingnya untuk memastikan keadaan aman-aman saja.

Tidak lama tangannya bergerak, tangan itu sama sekali tidak menyentuh pintu. Tapi sungguh aneh, pintu terbuka. Si bayangan berkerudung itu menyelinap masuk. Setelah mulutnya berkomat-kamit. Tidak lama ia telah mendekati Maya Swari. Gadis ini sempat menggeliat, namun tidak terjaga.

Bayangan berpakaian gelap ini kemudian menotok urat gerak dan jalan suara Maya Swari. Gadis ini tersentak kaget dan terjaga. Matanya pun terbelalak lebar. Tapi sayang sudah terlambat, jangankan bergerak bersuara saja Maya Swari tidak mampu.

Orang yang telah menotok gadis ini mempunyai maksud yang tidak baik. Bayangan itu tanpa menunggu lebih lama lagi langsung memanggul Maya Swari di pundaknya. Lalu menyelinap pergi dengan membawa Maya Swari.

Melihat caranya, tentu bayangan itu memiliki kepandaian sangat tinggi sekali. Sebab Dewi Bulan yang memiliki kepandaian tidak rendah sama sekali tidak terjaga dari tidurnya.

Kita tinggalkan Dewi Bulan yang tertidur pulas memeluk mimpi. Ketika itu matahari mulai meninggi. Di salah satu lereng gunung Pangrangko. Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng tampak terheran-heran melihat dandanan pendekar Blo'on yang menjadi kacung itu. Rupanya tadi malam mereka tidak sempat melihat keadaan si pemuda berhubung begitu sibuknya mereka mengamankan Manusia Merah. Tapi kini setelah manusia Merah berada di tempat yang aman dan pulas pula. Mereka baru dapat melihat keadaan Suro Blondo yang sebenarnya.

"Kau...!"

"Ya, aku." Suro Blondo cengengesan sambil membetulkan topinya, berupa ikat kepala model kacung.

"Bukan itu maksudku. Siapa namamu? Apakah kau punya gelar?" tanya Gajah Gemuk sambil uncang-uncang kaki, namun mata tetap tertuju pada Manusia Merah yang tengah tertidur. "Aku Suro Blondo?"

"Apa? Suro Blondo?" Gajah Krempeng belalakkan mata. Teringat nama depan si pemuda, laki-laki kurus macam kurang makan ini teringat pula kejadian sekitar delapan belas tahun yang lalu.

"Apakah kau terlahir di gunung Bromo pada malam satu Asyuro delapan belas tahun yang lalu?" Gajah Gemuk ikut bicara.

"Kok tau...?"

"Ya tau... Pernah terjadi peristiwa besar disana. Jika benarlah kau anak ajaib sebagaimana dikatakan oleh seorang resi di pantai selatan pulau Jawa. Berarti sesuai dengan tanggal kelahiran kau manusia hebat. Tapi mengapa bertampang tolol seperti ini? Benarkah rambutmu merah?"

Tanpa menunggu jawaban si pemuda Gajah Gemuk mencopot ikat kepala si pemuda. Tapi apa yang diharapkannya tidak menjadi kenyataan.

"Rambutnya hitam, kakang. Seperti bukan dia orangnya si bayi ajaib dulu." Gajah Kurus menimpali.

"Apakah ciri-cirinya seperti itu?" Suro Blondo bertanya. Tiba-tiba ia menuangkan air didalam kendi yang dibawanya. Rambutnya menjadi basah. Ketika rambut diusap, maka kelihatanlah warna yang asli.

"Hei... siapa kau ini yang sebenarnya anak muda?" Hampir bersamaan Gajah Gemuk dan Gajah Kurus bertanya.

"Namaku Suro Blondo, tidak punya ibu tidak punya bapak. Orang-orang yang telah membunuh orang tuaku kini masih dalam pengejaran. Yang lain-lainnya aku tidak bisa katakan!"

"Ah malang benar nasibmu. Mengenai persoalanmu kita bicarakan saja nanti. Sekarang aku ingin bertanya mengapa kau menyamar sebagai kacung?" tanya Gajah Gemuk heran.

"Seseorang yang memintaku begini. Karena aku memang tidak mau menikah dengan anaknya iblis." Suro Blondo berterus terang.

"Siapa yang menyuruhmu?"

"Seorang sahabat yang cukup lama kukenal." sahut Pendekar Blo'on, lalu tersenyum.

"Namanya? Sebutkan namanya?" desak Gajah Gemuk.

"Sssst, bicara jangan keras-keras. Jika manusia Merah terjaga, mati kita semua." Si pemuda berbisik.

"Aku mengerti. Coba katakan siapa namanya?" Gajah Gemuk berbisik pula sehingga sekilas terlihat lucu.

"Dewi Bulaan...!" jawab Suro Blondo dengan suara keras lalu tertawa ngakak. Gajah Gemuk sampai melompat kaget. Sebaliknya Gajah Krempeng malah menoleh ke arah Manusia Merah. Rupanya ia takut laki-laki tinggi lima meter berkulit merah darah ini terjaga.

"Dewi Bulan! Sekarang dimana dia?" desak Gajah Gemuk.

"Eeh... setelah kakek ketahui namanya mengapa sekarang malah jadi ngotot?"

"Bocah! Cepat katakan! Dan jangan pula kau panggil aku kakek!"

"Bagaimana ini. Mana yang harus kujawab duluan." tanya Suro Blondo sambil menyeka keningnya yang keringatan lalu garuk-garuk kepala seperti monyet.

"Kau harus memanggilku paman. Karena umurku paling baru sembilan puluh tahun...!"

Kini Suro Blondolah yang menjadi kaget. Orang yang dihadapinya termasuk Orang sinting. Masa' umur sudah bau tanah masih minta dipanggil paman? Pikir si pemuda.

"Baiklah paman. Dewi Bulan itu ahli dalam menyamar, punya tahi lalat di dagu. Aku yakin paman berdua akan tertarik padanya bila sudah melihat lesung pipitnya...!"

Jawaban yang ngaco ini membuat Gajah Gemuk jadi sewot. Sekali gebrak tangannya sudah mencengkeram krah baju si pemuda, lalu diangkatnya pemuda itu tinggi-tinggi.

"Wei... mati aku...!" "Cepat Jawab!"

"Bagaimana bisa jawab kalau leherku dicekik begini?"

"Jika punya kepandaian mengapa tidak dipergunakan!" dengus Gajah Gemuk.

Karena merasa sulit bernapas dan kepala serasa mau pecah akibat jepitan yang begitu kuatnya. Suro Blondo terpaksa lepaskan tendangan.

Buuk!

Tendangan yang sangat keras itu membuat cekalan Gajah Gemuk terlepas. Dan Suro Blondo terbanting di tanah. Ia tercengang melihat Gajah Gemuk hanya usap-usap perutnya yang kena ditendang. Memang Suro Blondo tidak mengerahkan tenaga dalamnya, karena ia merasa tidak punya permusuhan dengan laki-laki berat dua ratus kati ini. Tapi tendangan yang dilepaskannya tadi dengan mempergunakan seluruh tenaga luar. Jika Gajah Gemuk tidak mengalami akibat apaapa. Ini sungguh menakjubkan bagi Suro Blondo.

"Duduk kurang ajar. Kau nakal sekali. Karena kau telah menendangku, sekarang aku harus memukulmu!" Gajah Gemuk cemberut.

Baru saja Gajah Gemuk hendak bergebrak. Tahu-tahu ada tangan kurus kering yang menahannya.

"Sabar kakang! Urusan kita masih banyak. Mengapa kita harus bertengkar?" kata Gajah Krempeng.

Lagi-lagi terjadi sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Suro Blondo melihat Gajah Gemuk sudah mengerahkan tenaga dalamnya. Tapi begitu tangan Gajah Krempeng yang hanya sebesar lengan bayi itu menahan. Gerakan Gajah Gemuk jadi terhenti. Padahal si pemuda dapat memastikan, kalau ada angin kencang sedikit-sedikit saja menerpa badan Gajah Krempeng. Pastilah laki-laki berbadan tipis ini jatuh tunggang langgang.

Tokh ia tidak dapat berpikir lagi, karena saat itu Gajah Krempeng yang tampaknya lebih penyabar ini telah menghadap kearahnya.

"Bocah...! Dewi Bulan adalah murid tunggal kami. Jika ada apa-apa, tentu kakangku ini akan menuntut mu. Sekarang coba katakan dimana dia!" desah Gajah Krempeng. Barulah Pendekar Blo'on mengerti.

DUA

"Dewi sendiri yang meminta untuk menggantikan kedudukanku sebagai pengantin. Karena saat ini dia sedang bersenang-senang dengan putri Diraja Penghulu Iblis! Ha ha ha...!"

"Huh... kalau begitu dia dalam keadaan berbahaya. Bagaimana ini adik Krempeng?"

"Kita bisa menyelamatkannya. Mari kita kesana...!"

"Tapi manusia Merah ini bagaimana pula?" "Untuk sementara biarkan Suro Blondo

yang menjaganya!"

"Mana aku bisa?" Pendekar Blo'on membantah. Tapi percuma saja, kedua gajah itu telah pergi.

Sekarang tinggallah Suro Blondo seorang diri. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Terkecuali diam menunggu sampai Manusia Merah sadar dari pingsannya.

"Kalau aku tetap berada disini keadaan bisa jadi kacau. Manusia Merah ini pingsan seperti mendengkur dan mendengkur seperti pingsan. Aku tidak tahu apakah penyamaran sudah terbongkar atau belum. Tapi "

Suro tiba-tiba saja terdiam begitu melihat Manusia Merah menggeliat.

"Oh... oh... moga saja jangan bangun sampai dunia kiamat!" desis Suro sambil mengurut dada.

Apa yang diharapkannya itu ternyata tidak kesampaian. Karena Manusia Merah begitu mengerjabkannya matanya langsung duduk. Begitu tingginya dia, sehingga dalam posisi seperti itu tingginya sudah menyamai Pendekar Blo'on yang tengah berdiri.

"Laaa... ladalah... dimana aku. Dimana musuh-musuhku. Kurang ajar, Prisma Permata milikku diambil orang. Aku harus mencarinya. Bau badannya aku tahu. Orangnya harus kutangkap!" kata Manusia Merah alias Soma Sastra. Matanya mencari-cari. Ee... dia melihat ada seorang pemuda tidak dikenal didepannya. "Kau siapa? Kaukah orangnya yang telah menyeretku?"

"Mati aku!" Suro Blondo keluarkan keringat dingin. Terbayang olehnya mulut Soma Sastra dapat menyemburkan lidah api. Sehingga diamdiam ia bergidik seram. "Aku Suro Blondo, seorang kawan yang juga ingin menangkap orang yang telah mencuri Prisma Kristalmu." "Heh... kawan? Seingatku aku tidak punya kawan. Apakah kau bisa kupercaya?" Manusia Merah meragu.

"Harus. Kau harus percaya hanya padaku. Karena didunia memang sangat jarang orang yang bisa dipercaya. Selain aku kau tidak punya kawan lagi. Musuhmu ada dimana-mana!"

"Hmm, begitukah?"

"Iya. Kulihat kau mempunyai kecerdikan yang lambat, kawan. Lihatlah aku juga begitu. Lihat tampangku pula... dimana-mana kau tidak akan pernah bertemu dengan orang sepertiku. Hanya manusia yang punya tampang sepertiku ini saja yang dapat menjadi kawanmu!" kata Suro Blondo sambil tertawa-tawa. Cuping hidung Soma Sastra kembang kempis. Seakan ia mengendus dan berusaha mengenali lawan bicaranya. Setelah itu Manusia Merah ini tertawa ngakak.

Kini giliran Suro Blondo yang dibuat pontang-panting. Suara tawa manusia merah tidak ubahnya seperti rentetan halilintar yang Maha Dahsyat. Sungguhpun Suro Blondo telah menutup indra pendengarannya. Tetap saja pengaruh suara tawa itu membuat jantung dan isi kepalanya terguncang. Pendekar Blo'on jatuh bangun. Kedua matanya telah berubah memerah karena menahan rasa sakit yang sangat.

Patut diakui getaran suara Manusia Merah ini menimbulkan gempa disana sini. Bahkan bangunan milik Diraja Penghulu Iblis pun sempat tergetar. "Hentikan...!" teriak Pendekar Blo'on. Tidak kalah kerasnya pemuda itu berteriak. Soma Sastra hentikan tawanya seketika. Ia kemudian berpaling dan memandang tajam pada Suro.

"Mengapa harus berhenti kawan. Setelah aku terkurung dibawah tanah selama seratus tahun. Mengapa tidak boleh tertawa?"

Suro sesungguhnya kaget juga. Tapi ia kemudian bicara apa adanya

"Suara tawamu membuat gunung runtuh dan lautan bergelombang. Aku tidak kuat mendengarnya. Eeh... apakah kau bersungguhsungguh mau mengangkat sahabat denganku?"

"Hmm, kurasa begitu. Tapi aku perlu mencari Prisma Permata yang telah dicuri maling. Tanpa prisma itu pulau Jawa bisa tenggelam."

"Jangan takut. Aku akan membantumu, tapi bagaimana caranya?"

Manusia Merah menggelengkan kepala. "Tidak akan semudah itu kawan. Sekarang

aku sudah tidak mengendus lagi bau si pencuri. Mungkin ia sudah pergi ke suatu tempat! Aku harus menyusulnya sebelum bahaya besar mengancamku!"

Soma Sastra bangkit berdiri. "Selamat tinggal kawanku. Ditengah jalan nanti aku akan membantai siapa saja yang kutemui karena mereka musuhku!"

"Betul, golongan iblis memang musuh kita. Selamat jalan!" Suro Blondo melambaikan tangannya persis diatas kuping. Manusia Merah segera melangkah pergi. Langkah kakinya panjang dan berat, hingga dalam waktu sekejap ia telah tidak terlihat lagi.

Barulah pada saat itu Pendekar Blo'on teringat sesuatu. Ia tepuk-tepuk keningnya.

"Ah mengapa bodoh sekali aku ini. Kalau ia membantai semua orang yang ditemuinya di jalan. Bukan tidak mungkin orang-orang tanpa dosa menjadi sasarannya. Tapi... eeh, apa pula itu...?"

Pemuda yang baru saja berniat menyusul Soma Sastra ini menjadi menunda niatnya saat terdengar suara teriakan disertai beradunya senjata tajam membelah keheningan pagi menjelang siang.

"Siapakah yang sedang bertempur itu?" batinnya dalam hati.

Laksana kilat ia bergegas pergi menuju tempat terjadinya pertempuran tersebut. Hanya dalam beberapa detik saja ia sudah sampai di lingkungan bangunan besar milik Diraja Penghulu Iblis.

Bangunan itu tetap utuh sebagaimana mestinya. Padahal tadi malam bangunan ini seperti dimakan api. Tapi pendekar Blo'on segera maklum bahwa apa yang dilihatnya tadi malam hanyalah permainan sihir seseorang. Dalam arti Manusia Merah telah tertipu. Hanya para pengawal yang bergelimpangan tanpa nyawa saja yang kelihatan.

Kini ditempat yang sama telah terjadi pertempuran lagi. Orang yang terlibat pertempuran itu adalah Dewi Bulan yang telah melepas penyamarannya dibantu dengan Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng. Sedangkan yang menjadi lawan mereka adalah Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis. Suro Blondo melihat saat itu Dewi Bulan telah terluka pada bagian bahu dan tangannya.

Mengapa gadis itu sampai terlibat pertempuran dengan Buto Terenggi? Pagi-pagi sekali Diraja Penghulu Iblis memanggil putrinya melalui seorang pengawal yang tersisa. Ia memang ingin membicarakan masalah yang tertunda tadi malam.

Tapi begitu pengawal ini sampai dikamar Maya Swari, gadis itu tidak berada ditempat. Dewi bulan yang menyaru sebagai Suro Blondo yang juga sempat terkejut melihat raibnya Maya Swari mengaku terus-terang bahwa Maya Swari hilang. Spontan pengawal tadi melapor pada Diraja Penghulu Iblis. Tidak pelak lagi Dewi Bulan pun dipanggil dan terbongkarlah penyamarannya. Melihat kenyataan ini Diraja Penghulu Iblis menjadi panik, lalu ia memanggil algojo untuk memenggal Dewi Bulan dihalaman depan.

Tapi lagi-lagi ia mendapat laporan bahwa para algojo dan pengawal-pengawal lainnya berkaparan. Mati.

Apa yang dialami oleh Diraja Penghulu Iblis tidak ubahnya seperti mimpi buruk. Tadi malam ia memang mendengar sendiri dari laporan Nyanyuk Pingitan tentang kehadiran manusia Merah. Tapi ia menyangka selain bangunan istana miliknya yang dilindungi oleh raja penyihir, ia juga menyangka para pengawal dan juga muridnya juga dalam lindungan selubung gaib. Tidak dinyana para undangan yang telah dijadikan pengawal berkat Racun Pelemah Akal, cuma bertahan beberapa jam saja.

Bagaimana pun Diraja Penghulu Iblis sangat sayang sekali pada putri satu-satunya. Jika Maya Swari yang mempunyai kepandaian tinggi itu diculik oleh orang lain. Pasti ini ada hubungannya dengan penyamaran Dewi Bulan. Karena gadis itu menurutnya tetap tidak mau mengaku. Maka akhirnya ia memutuskan untuk membunuhnya. Tapi ternyata diluar dugaannya Dewi Bulan memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Tidak pelak lagi terjadilah pertempuran sengit. Jurus demi jurus berlalu. Tapi masih belum ada tanda-tanda sapa yang bakal memenangkan pertarungan sengit itu.

Tapi ketika Diraja Penghulu Iblis mengerahkan jurus-jurus simpanannya. Maka disini terlihatlah bahwa Dewi Bulan mulai terdesak.

Dua kali pukulan menghantam perut dan dada si gadis. Hingga selain menimbulkan luka dalam juga membuat Dewi Bulan menjadi murka. Ia mencabut pedang pendeknya. Dengan mengerahkan jurus Kupu-Kupu Biru yang cukup terkenal itu ia merangsak lawannya.

Pertempuran menjadi sengit. Permainan pedang Dewi Bulan hanya dapat berkembang selama lima belas jurus. Diraja Penghulu Iblis ternyata selain sangat licik dan memang berpengalaman kini mulai melepaskan pukulan-pukulan yang sangat keji.

Dalam pertempuran menjelang lima puluh jurus, selain terdesak hebat. Keselamatan Dewi Bulan benar-benar dalam keadaan terancam. Satu pukulan dahsyat yang dilepaskan oleh Raka Tendra ini berhasil dihindari dengan tangkisan pedang. Tapi akibatnya ia terpaksa melepaskan pedangnya yang berubah panas seperti terbakar. Pukulan kedua dilepaskan oleh lawannya lagi. Namun pada saat-saat yang sangat kritis itu ada cahaya biru berkilauan menghambat cahaya hitam membara yang melesat dari telapak tangan Raka Tendra.

Glaar! Glaar!

Terjadi ledakan dahsyat. Diraja Penghulu Iblis terguncang tubuhnya. Sebaliknya pada bagian lain tampak seorang laki-laki krempeng jatuh terduduk, sedangkan yang berbadan gemuk hanya terguncang-guncang saja perutnya yang berlapis lemak.

"Bangunlah muridku!" Gajah Gemuk langsung mendekap muridnya dan mengurut punggung gadis itu hingga memuntahkan darah kental berwarna hitam. Yang kurus langsung berdiri dan mendamprat ditujukan pada Raka Tendra: "Iblisiblis pengecut! Beraninya cuma dengan bocah ingusan yang punya kepandaian tidak seberapa."

Raka Tendra tidak langsung menjawab. Melainkan meneliti orang yang bicara petenteng tangan dibawah ketiak.

"Ah... bukankah anda berdua Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng. Maafkanlah kami yang lupa menyambut dan mengundang majikan Merbabu waktu pesta kemarin!"

Gajah Gemuk mendengus. "Pesta apa? Siapa yang mau makan bangkai orang-orang yang sudah mati. Lagipula kau punya dua kesalahan. Pertama kau telah melukai muridku "

"Maaf..." Raka Tendra memotong. "Aku tidak menyangka gadis itu murid kalian."

"Yang kedua." Gajah Gemuk menyambuti. "Kau harus menyerahkan Buto Terenggi manusia daun itu kepada kami."

"Apakah salahnya?"

"Kesalahannya sudah sangat jelas. Dia telah mencuri ular-ular Kayangan milik kami. Dua kesalahan dibandingkan satu kenakalan murid kami kau masih utang satu, Raka Tendra!"

"Tapi !"

"Tidak ada tapi-tapi. Kalau kau tidak ingin kami membakar singgasanamu ini sebaliknya serahkan maling itu?"

"Tidak bisa. Terkecuali orang yang bersangkutan sudi menjumpai kalian!" Raka Tendra tetap bersikeras.

"Biarkan saudara Diraja Penghulu Iblis! Aku telah datang menjumpai kalian. Sekarang mau apa?"

Tiba-tiba terdengar suara ketus dan yang bicara tidak lain adalah Datuk Mambang Pitoka. "Bagus kau sudah datang! Sekarang serah-

kan ular-ular yang kau curi!" Gajah Gemuk mendengus marah.

Datuk Mambang Pitoka sebaliknya malah tertawa ngakak. "Ambillah dari perutku kalau kalian mampu!" tantangnya.

Dan ini bagi kedua Gajah sungguh merupakan penghinaan besar. Mereka merasa lebih terhina dan sakit lagi setelah melihat muridnya terluka terkena pukulan Raka Tendra.

"Iblis-iblis pengecut! Aku tahu siasat keji kalian dengan menyebar undangan merah!" desis Gajah Krempeng sudah tidak sabar lagi.

Sementara Gajah Gemuk membawa Dewi Bulan ke tempat yang aman. Dia sendiri langsung menyerang kedua tokoh sesat itu secara bersamaan.

TIGA

Tidak dapat dihindari lagi pertempuran sengit segera terjadi. Pada hakekatnya masingmasing lawan adalah tokoh-tokoh angkatan tua yang memiliki kepandaian tinggi. Sehingga begitu bergebrak, angin kencang langsung menyambar.

"Hiya...!"

"Shaa...!"

Masing-masing fihak keluarkan teriakan melengking tinggi. Lalu Gajah Krempeng lentikkan tubuhnya ke udara. Tangannya mendorong kebagian dada lawan. Sekali lagi angin menderu dahsyat, Inilah jurus 'Para Gajah Bersilahturahmi'. Sungguhpun jurus ini terkesan konyol, tapi tidak bisa dianggap main-main. Raka Tendra sendiri sempat terdorong ke belakang. Ia hindari tangan Gajah Krempeng yang terus terulur panjang.

"Aiih...!" Buto Terenggi dan Diraja Penghulu Iblis sama-sama mengegoskan tubuhnya ke samping kiri. Tangan Raka Tendra mengemplang ke kepala lawannya. Gerakan menghindar sekaligus membalas serangan lawan ini benar-benar tidak terduga oleh Gajah Krempeng. Ia terpaksa tarik pukulan untuk selamatkan kepala dari keplangan musuh.

"Hmm, hebat juga kau iblis!"

"Tutup mulutmu!" bentak Raka Tendra. Tokoh iblis itu sendiri kini kerahkan jurus

MENEPIS KABUT MENGUAK TABIR

Ini merupakan salah satu jurus pedang tunggal yang diciptakan oleh Diraja Penghulu Iblis. Tapi jurus ini akan lebih berbahaya lagi bila dimainkan dengan tangan kosong.

Diraja Penghulu Iblis tekuk kaki kanan ke depan, tangan kiri menjulur ke samping sedangkan tangan kanan membentuk paruh. Dengan bertumpu pada kaki kirinya tiba-tiba ia melompat ke depan lalu hantam ke kiri dan hantam ke kanan. Cepat bukan main gerakannya. Sehingga tangan lawan berubah menjadi banyak. Udara disekitarnya menebar bau busuk menyengat.

Menghadapi serangan Raka Tendra saja Gajah Krempeng sudah mulai kerepotan apalagi dari bagian lain Buto Terenggi juga mencecarnya secara beruntun.

Jika Gajah Gemuk malah tertawa-tawa melihat keroyokan itu, sebaliknya pendekar Blo'on menjadi sangat marah. Sejak tadi ia melihat pertempuran yang sengit itu. Tapi kini setelah melihat kedahsyatan serangan Raka Tendra ia sudah tidak sabar lagi. Ia menyeruak dari tempat persembunyian. Setelah itu terdengar pula suara bentakannya.

"Bukanlah tindakan orang gagah bertarung main keroyokan! Manusia daun mata ikan lele. Alangkah baiknya kalau kau bertarung dengan aku. Aku jadi ingin merobek-robek pakaian yang melekat di tubuhmu itu!"

Datuk Mambang Pitoka menoleh ke arah Suro Blondo. Lalu terdengar gema suara tawanya. "Huh... bukankah kau mantunya Diraja Penghulu Iblis, mengapa kau malah mencaci go-

longan mertuamu?"

"Ha ha ha! Siapa sudi jadi mantu iblis. Sampai mati pun aku tetap tidak setuju!" Suro Blondo pencongkan mulutnya lalu meludah ke tanah. Karena angin kebetulan berhembus ke arahnya. Maka ludahnya membasahi wajah sendiri.

"Kalau begitu kau memang pantas kucincang!" Datuk Mambang Pitoka menggembor marah.

Ia melompat ke depan, lalu lepaskan ten-

dangan menggeledek ke dada lawannya. Karena sudah mengetahui kehebatan pemuda ini ketika adu Pibu beberapa hari yang lalu. Maka ketika lepaskan tendangan tadi ia kerahkan setengah dari tenaga dalamnya.

Angin bersiut nyaring. Tapi Suro Blondo keburu rundukkan kepala, tangannya menderu menghantam perut lawan. Gerakan ini benarbenar diluar dugaan Buto Terenggi. Sehingga ia tidak sempat menarik pulang kakinya, sementara tinju Suro Blondo menggedor dengan telak.

Duuk!

Habis memukul si pemuda langsung melompat mundur. Sehingga Buto Terenggi yang ingin menyamakan kedudukan jadi kecele.

Gusar bukan main melihat serangannya hanya mengenai angin. Hanya dalam beberapa gebrakan saja ia telah mempergunakan jurus andalan, 'MENGUKIR NAMA DI ATAS PUSARA'.

Ini merupakan salah satu jurus berbahaya yang penuh dengan tipuan. Bila ia hantamkan tangan kiri, maka yang diincar adalah kepala lawan. Tangan kanan yang memukul, kaki menendang. Kiri-kanan, atas bawah disusul dengan bentakan-bentakan menggeledek membuat Suro Blondo terpaksa mengerahkan jurus 'SERIGALA MELOLONG KERA SAKTI KIPASKAN EKOR'.

Gerakan si pemuda berubah secara total. Tubuhnya tidak lagi hanya meliuk ke depan dan belakang bagaikan pucuk cemara ditiup angin. Melainkan telah melompat ke samping kiri, lalu berjongkok, melompat atau garuk-garuk kepalanya.

Apa yang dilakukan oleh si pemuda ternyata hanya membuat kemarahan Buto Terenggi semakin berkobar-kobar.

Ia semakin memperhebat serangannya. Kini kakinya melakukan tendangan beruntun ke arah lawan yang terus berjingkrak-jingkrak.

Pendekar Blo'on tiba-tiba berbalik. Tendangan lawan tidak dielakkannya. Ia menunggu dengan sikap seakan gugup, lalu....

Wuuiis! Traaap!

Buto Terenggi terbelalak. Sama sekali ia tidak menyangka lawan akan menangkap kakinya. Karena kaki kirinya tertangkap, ia bermaksud memukul kepala lawan yang berada dibawahnya. Pada saat itu diluar dugaan pula tiba-tiba Suro Blondo mendorong kakinya.

Gubraak!

Jika Buto Terenggi tidak punya ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.

Pasti ia telah jatuh tunggang langgang "Huuup!"

Dengan terhuyung-huyung ia mendaratkan kedua kakinya. Wajahnya yang hitam berubah kelam membesi.

"Pemuda bertampang tolol ini ternyata tidak bisa dianggap main. Gerakannya seradakseruduk seperti babi mabuk. Tapi..." pikirnya. "Hanya segitukah kepandaianmu manusia

daun?" Suro Blondo tersenyum mengejek. "Bangsat sombong!" maki Buto Terenggi

dengan suaranya yang sember. Tiba-tiba saja ia melompat ke depan, lalu melompat pula ke samping kanan, lalu kesamping kiri.

Melihat gerakan lawan yang sungguh sangat aneh dan lucu ini Suro Blondo hampir saja tertawa. Pada saat itu pula ia mendengar Gajah Gemuk mengisiki.

"Jangan kau pandang enteng dia. Sebentar lagi kalau bukan perutmu, kepalamu yang dibikin ambrol. Sekarang dia telah mengerahkan ajian 'MERUBAH RUPA MEMBENTUK BAYANGAN'!"

"Heeh...!" Suro Blondo sempat tertegun, lalu menerjang ke depan saat lawannya telah berubah menjadi empat orang. Tidak tanggungtanggung lagi ia menghantam ke depan. Tapi sasaran yang ditujukan hanya dengan sedikit menggeser kaki berhasil menghindari serangan si pemuda. Serangan luput, dari belakang pukulan laksana palu godam mendera punggungnya secara beruntun.

Pemuda berambut kemerah-merahan ini terpelanting. Darah meleleh dari sudut-sudut bibirnya. Dengan bersusah payah ia bangkit berdiri, matanya berkunang-kunang. Kemudian terdengar suara lolongan dari mulutnya yang berdarah, suara lolongan itu kemudian berubah menjadi tangis yang begitu menyedihkan, selanjutnya secara aneh berubah pula menjadi suara tawa berkepanjangan. Bukan hanya lawan saja yang dibuat terkejut. Sebaliknya Gajah Gemuk yang sedang berusaha menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Dewi Bulan juga terkejut. Sementara dalam keadaan tertawa-tawa itu Suro Blondo langsung teringat pada nasehat gurunya.

"Jika kau dalam keadaan sakit, bersikaplah tenang untuk menahan rasa sakitmu! Jika lawanmu tunggal tapi banyak, pejamkanlah matamu untuk menghadapinya. Karena permainan sulap tidak dapat menipu mata hati!"

Suro Blondo menyeringai, dengan masih terus tertawa dan menangis karena pada saat itu ia tengah mengerahkan jurus TAWA KERA SILUMAN. Pendekar Blo'on tiba-tiba pejamkan matanya. Kini ia bertarung hanya mengandalkan ketajaman telinganya saja.

Wuut! "Hiyaa...!"

Buto Terenggi tiba-tiba merangsak ke depan. Empat bayangan berupa dirinya juga menyertainya. Keanehan segera dirasakan oleh lakilaki mata sipit ini. Karena ternyata lawannya bukan mengincar bayangannya melainkan dirinya sendiri.

Deb! Bet! "Haaakgh!"

Tinju si pemuda mendarat dengan telak di dada Buto Terenggi. Laki-laki ini terseret mundur. Ia batuk-batuk, mukanya berubah pucat, lalu menyemburlah darah dari mulutnya. Kalaupun Datuk Mambang Pitoka ini kemudian menjadi sangat murka, semata-mata bukan karena rasa sakit yang dideritanya. Melainkan rasa malu yang sangat, karena ia tidak menyangka ajian yang telah diyakininya selama bertahun-tahun dan membuat geger orang-orang persilatan di wilayah timur kini dapat dihindari oleh seorang pemuda bertampang tolol.

Ia ambil mata kail dibahunya, setelah itu dengan mempergunakan mata kail yang dapat menjulur panjang itu ia menyerang si pemuda.

"Hmm, maling itu kini mencoba memancing lawannya dengan kail yang dipergunakan untuk mencuri ular Kayangan!" desis Gajah Gemuk. Ia menoleh pada Dewi Bulan yang terus mengawasi jalannya pertempuran. "Mari muridku. Sebaiknya kita pergi ke Ciruyung! Aku khawatir Iblis penyihir itu sudah dapat memecahkan teka-teki Prisma Permata untuk menghantam kaum lurus!"

Tap... tapi bagaimana dengan guru kurus dan pemuda itu?" Dewi Bulan diam-diam menjadi khawatir.

"Ah... sudahlah aku bosan melihat permainan mereka. Aku yakin masing-masing pihak dapat menjaga diri, kalau pun tidak selamat palingpaling mampus! Ayo...!" ajak Gajah Gemuk.

Karena murid tidak memberikan reaksi. Maka ia sambar muridnya, lalu didukung dibahunya. Selanjutnya Gajah Gemuk berlari dengan kecepatan laksana terbang. Apa yang diperhitungkan oleh Gajah Gemuk memang tidak meleset. Diraja Penghulu Iblis sendiri yang bertarung dengan Gajah Krempeng jadi tidak bersemangat karena kosentrasinya selalu terpecah memikirkan keselamatan anaknya.

Mereka sudah sama-sama terluka. Jika Gajah Krempeng tubuhnya babak belur dan menderita luka bacokan pada keningnya, maka Diraja Penghulu Iblis juga menderita luka dalam yang tidak ringan.

Jelas sekali jika kedua tokoh ini mempunyai kepandaian dan kesaktian hampir seimbang. Setelah pertempuran sengit itu berlang-

sung selama hampir sembilan puluh jurus maka Diraja Penghulu Iblis mulai berpikir untuk menyusul dua kawannya ke Lembah Ciruyung.

Sekejap kemudian ia mengeluarkan bola kecil berwarna hitam. Bola itu dilemparkannya ke arah Gajah Krempeng secara berturut-turut. Begitu bola hitam itu meletus. Maka asap tebal menebar dan membuat gelap sekelilingnya.

"Aku belum kalah, Krempeng! Urusanku juga banyak! Sampai ketemu di Lembah Ciruyung!" kata Diraja Penghulu Iblis.

"Bangsat kecoa. Mau mampus saja mengapa harus ke Lembah Ciruyung?" desis Gajah Krempeng sambil terbatuk-batuk.

Dalam kesempatan itu Buto Terenggi juga sudah sangat terdesak sekali mendapat serangan balik yang membuat kepalanya menjadi semakin bertambah pusing. Dalam keadaan sendiri seperti itu. Menghadapi Pendekar Blo'on saja ia sudah sangat terdesak sekali. Apalagi jika mengingat Gajah Krempeng ikut bergabung. Akhirnya mau tidak mau ia harus mengikuti jejak Diraja Penghulu Iblis. Dalam keadaan begitu rupa ia segera mempergunakan kelicikannya. Mula-mula mendesak Suro Blondo dengan serangan-serangan yang sangat berbahaya. Setelah itu ia melepaskan pukulan 'PARA MAMBANG BERSEDIH'.

Seleret sinar kuning kemilau keemasan menderu dari telapak tangannya hingga membuat suasana disekelilingnya berubah menjadi panas bukan main.

Pendekar Blo'on tercekat. Kemudian ia lepaskan pukulan 'KERA SAKTI MENOLAK PETIR'. Sepuluh ujung jemari tangan Suro Blondo memancarkan sinar putih kemilau laksana salju. Pukulan ini menimbulkan udara dingin bagaikan di padang es.

Ketika dua pukulan sakti ini bertemu diudara. Maka terjadilah ledakan dahsyat. Suro Blondo sempat tergontai-gontai. Dadanya sesak bukan main, wajahnya berubah pucat. Ketika ia melihat ke depannya. Dilihatnya Buto Terenggi sudah tidak berada ditempat lagi.

Sambil memegangi dadanya dengan tangan kiri, Suro Blondo garuk-garuk kepala dengan tangan kanan. Ia terduduk di bawah sebatang pohon yang sangat rindang. Sementara Gajah Krempeng datang menghampiri.

"Heh... wong gila kowe lawan. Akhirnya dia kabur. Mengapa kau tidak membunuh manusia daun itu?"

"Paman sendiri mengapa tidak bunuh Penghulu Iblis?" Suro Blondo balik bertanya.

"Ah... dia? Seharusnya aku membunuhnya. Tapi jika itu kulakukan, maka aku tidak akan berjumpa lagi dengannya. Eeh... maksudku aku tidak tega melakukannya. Bukankah dia mertuamu?"

Bukannya marah, Suro Blondo sebaliknya malah tergelak-gelak. "Siapa sudi menjadi mantunya. Sudahlah... jangan bicarakan masalah itu. Urusanku masih banyak. Aku takut Prisma Permata itu tidak dapat kita ambil dari tangan Raja Penyihir jika ia berhasil memecahkan rahasia yang terkandung didalamnya."

"Kurasa mereka bergabung dengan kawankawannya di lembah Ciruyung. Tapi sebelum kita berangkat kesana alangkah lebih baik lagi jika kita bakar saja sarang iblis ini!"

"Aku setuju." kata Suro Blondo.

Mereka kemudian bahu membahu melakukan pembakaran besar-besaran. Bangunan berbentuk istana itu hanya dalam waktu yang sangat singkat saja telah berubah menjadi lautan api.

"Sekarang tempat tinggalnya yang menjadi lautan api. Besok orangnya akan kujadikan debu."

"Jangan buang waktu! Sebaiknya kita berangkat sekarang!" kata Suro Blondo. mengingatkan. "Hmm, baiklah!"

Mereka menuruni gunung Pangkrangko. Tapi setelah sampai ditengah jalan mereka dikejutkan lagi dengan hadirnya para pengungsi secara besar-besaran.

"Orang-orang pada membawa bungkusan.

Hendak kemanakan mereka, paman?"

"Gila... aku juga tidak tahu. Tapi alangkah baiknya jika kita tanyakan pada mereka!" Gajah Krempeng kemudian menghampiri salah seorang dari para pengungsi itu. Barulah mereka mengerti telah terjadi luapan lumpur panas yang berasal dari gunung Gede.

"Anak muda, seingatku dibawah gunung gede bukankah ada Gua Darah. Apakah mungkin Gua Darah hancur kemudian menyemburkan lahar panas karena kebangkitan manusia merah?"

"Aku tidak tahu, paman. Tapi sebaiknya kita kabarkan hal ini pada semua tokoh-tokoh persilatan yang ada."

"Mari kita susul kakangku...!"

Maka kedua laki-laki ini langsung berangkat menuju lembah Ciruyung.

EMPAT

Maya Swari terus dibawa berlari dengan kecepatan laksana terbang. Jika malam ia tidak dapat mengenali siapa yang telah melarikannya itu. Maka kini dalam keadaan siang tentu ia tahu dan kenal orang yang telah menculiknya itu. Dia tidak lain adalah Datuk Alang Sitepu, Raja Penyihir dari gunung Sibayak. Apakah raja penyihir ini memang ada dua? Bukankah sesungguhnya Datuk Alang Sitepu tengah mengadakan perjalanan menuju Lembah Ciruyung bersama Nyanyuk Pingitan?

Marilah kita simak pada saat mereka meninggalkan Diraja Penghulu Iblis dan Buta Terenggi.

Ketika pertama kali melihat kecantikan Maya Swari diatas pelaminan. Datuk Alang Sitepu alias Bungkuk Lima ini sudah merasa jatuh hati dan terbangkit nafsunya. Tapi ia tidak mau bersikap gegabah. Karena ada hal yang sangat besar yang perlu mendapat perhatiannya. Hal besar itu menyangkut Prisma Permata yang berada ditangan Nyanyuk sebagai orang yang telah mencurinya dari Goa Darah.

Malam ketika kawan-kawannya mempercayakan Prisma Permata kepadanya. Tentu ini merupakan satu kemenangan. Karena hanya ia sendiri yang tahu sampai sejauh mana kegunaan barang yang sangat langka itu. Setelah Prisma Permata ada ditangannya ia mengatur siasat lagi dengan mencari dalih bahwa ia memerlukan tempat yang aman untuk memecahkan rahasia yang terkandung dalam Prisma tersebut. Padahal tanpa pemecahan apapun, sesungguhnya Prisma Permata itu memang memiliki kesaktian yang dahsyat. Asal saja tahu cara penggunannya.

Apa yang dikatakan oleh Datuk Alang Sitepu sebenarnya hanya tipuan semata karena ia sendiri memang ingin menguasai dan mendirikan kerajaan persilatan tanpa ada orang lain, sungguhpun kawan-kawan segolongan sendiri.

Menjelang dinihari mereka berangkat ke Lembah Ciruyung, baru lima puluh tombak meninggalkan istana Diraja Penghulu Iblis ia memberitahu Nyanyuk Pingitan bahwa disepanjang jalan nanti jangan bicara atau berkata apapun. Setelah merasa yakin. Berkat kesaktian serta mantra-mantra sihirnya yang sangat ampuh. Datuk Alang Sitepu menciptakan kembarannya. Sedangkan yang asli berbalik ke istana dan menculik Maya Swari.

Jadilah Nyanyuk Pingitan berjalan dengan bayangan sang Raja Penyihir. Kini di pinggir hutan Jati Muyung laki-laki bongkok berwajah hancur sebelah dan bermata satu ini meletakkan Maya Swari.

Gadis itu selain sangat marah juga menjadi ketakutan sekali. Ketika Datuk Alang Sitepu membuka jalan suaranya. Maka menyemburlah caci maki dari bibirnya yang mungil dan selalu membasah.

"Iblis keparat! Mengapa kau membawaku kemari?"

"Ah... jangan terlalu galak, Maya. Aku membawamu kemari tentu ada tujuan. Setiap laki-laki menghendaki seseorang juga pasti ada tujuan tertentu. Kecantikanmu membuat jantungku mpot-mpotan. Apakah kau tidak merasakannya?" Datuk Alang Sitepu kemudian tergelak-gelak. Tangannya dengan leluasa menjamah dan membelai pipi Maya Swari yang kemerah. Lalu belaian itu turun ke bagian lehernya yang jenjang, kemudian turun lagi dibagian dadanya. Karena pakaian Maya Swari menghambat gerakan tangannya, maka tidak ampun lagi pakaian itu dicabiknya.

Terlihatlah payudara si gadis yang putih tegak menantang. Datuk Alang Sitepu demi melihat pemandangan ini langsung menelan ludah. Matanya yang cuma, tinggal sebelah berputarputar liar, tenggorokannya turun naik.

Dengan nafas terengah-engah diremasnya dada si gadis yang kenyal itu berulang-ulang hingga membuat Maya Swari menjerit-jerit kesakitan. Ia berusaha meronta dan membebaskan diri dari totokan. Tapi setelah ia mengerahkan tenaga dalamnya berulang-ulang apa yang dilakukannya sia-sia saja.

"Bangsat! Manusia rendah... keparat...!" "Hakk Hak Kak...! Percuma saja kau me-

ronta dan menjerit, Maya. Gerakanmu hanya membuat semangatku kian menggebu untuk menikmati kehangatan tubuhmu. Aku tahu kau masih suci. Tentu ini merupakan kenikmatan yang tidak ada duanya." desis laki-laki berwajah mengerikan itu dengan suara sember.

"Lep.. lepaskan..! Oh... tidak...!" Maya Swari menjerit-jerit ketakutan. Setiap geliatnya membuat darah tua Datuk Alang Sitepu semakin panas berapi-api.

Bret! Bret!

Celana panjang biru penutup aurat Maya Swari terenggut lepas. Melihat tubuh telanjang didepannya, jantung si datuk semakin mpotmpotan. Ia raba-raba bagian yang sangat peka itu. Kini Maya Swari yang dalam keadaan terancam itu bukan lagi menjerit, melainkan sudah menangis.

Lebih ketakutan lagi ketika sang Datuk membuka celananya sendiri. Nasib serta kehormatan putri iblis namun baik budi ini benarbenar berada di ujung tanduk.

Terlebih-lebih ketika melihat laki-laki bermuka busuk sebelah itu mulai menindihnya. Namun rupanya suratan nasib menentukan lain. Pada saat-saat yang sangat kritis itu ada sinar putih yang datangnya dari balik pohon menderu ke arah Maya Swari. Sinar putih tanpa rasa itu langsung menembus ubun-ubun Maya Swari. Gadis itu menjadi kejang dan ia merasa tubuhnya secara tiba-tiba seperti tersentak.

Tanpa diduga-duga kini dari bagian bawah Maya Swari mencuat kepala ular berwarna putih. Ular itu langsung mematuk kepala burung kramat Datuk Alang Sitepu, hingga membuatnya meraung dan lepaskan pelukan.

Sambil terguling-guling Datuk Alang Sitepu pegangi burungnya yang dipatuk ular. Karena ular itu masih lengket dikepala anunya. Maka anunya yang bisa membengkak dan mengempis itu mengucurkan darah.

Didera rasa sakit yang bukan alang kepalang. Sang Datuk terpaksa memencet badan ular putih. Tapi ular itu tidak mati. Jalan satusatunya adalah memencet kepala ular tersebut. Tapi ia juga bingung. Jika kepala ular itu dipencetnya, praktis kepala anunya juga ikut tergencet. Ini akan bertambah repot. Karena separoh kepala anunya berada didalam mulut sang ular. Tidak ada jalan lain lagi. Datuk Alang Sitepu terpaksa memotong badan ular tersebut dengan mempergunakan kuku-kukunya yang runcing.

Ular itu menggelepar, mulutnya terbuka, dengan sendirinya ular itu jatuh bersamaan mengempisnya kepala anunya sang datuk.

Digeceknya ular itu sampai menjadi serpihan daging. Anunya jadi bengkak lagi karena bisa ular. Barulah pada saat itu ia teringat mengapa tadi tidak mempergunakan ilmu sihir saja untuk membunuh ular itu.

Cepat-cepat ia mengambil obat penawar bisa. Dalam hati ia berguman. "Bagaimana nanti jika anunya tidak dapat dipergunakan lagi. Jika anunya loyo dan tidak bisa kembang kempis ini bisa berabe, berarti setiap ada kesempatan menikmati kehangatan gadis ia harus gigit jari."

Kenyataan ini rupanya yang membuat Datuk Alang Sitepu menjadi marah sekaligus menoleh ke arah si gadis yang hampir mencelakakan dirinya. Tapi alangkah terkejutnya dia karena gadis itu sudah tidak ada lagi di tempat terkecuali hanya pakaiannya saja yang berserakan diatas rerumputan.

"Dajal! Perempuan sundul... pemborosan dan buang-buang waktu saja. Awas... aku tahu ada yang menolongnya. Suatu hari nanti jika ketemu ia akan kuperkosa pulang pergi!" desis Bungkuk Lima sambil menyeringai kesakitan. Begitu marahnya dia, sampai-sampai ia memukulkan tongkatnya yang berbulu kepala ular Cobra ke tanah.

Seketika dari bekas pukulan tongkatnya itu menyembur mata air panas berbau amis. Datuk Alang Sitepu rupanya masih belum puas. Ia melepaskan pukulan ke batu-batu gunung yang terdapat disekelilingnya. Batu-batu itu hancur berkeping-keping menerbangkan serpihan debu. Maka akhirnya ia meneruskan perjalanannya kembali. Tapi ia menghentikan langkah kaki ketika menyadari bahwa dari pusernya ke bawah tidak berpenutup apa-apa.

"Sial! Gara-gara bukit kembar urusanku jadi kapiran!"

Seperti orang linglung tokoh yang biasanya angker ini kembali mendapatkan celananya. Untung Prisma Kristal Permata masih berada ditempatnya. Setelah mengenakan pakaiannya kembali kini ia melanjutkan perjalanannya ke Lembah Ciruyung.

Sementara itu tubuh telanjang Maya Swari terus melayang dalam keadaan rebah diudara. Sinar putih kemilau itu terus menggerakkannya ke satu arah. Sampai kemudian berhenti mengembang persis ditengah-tengah hutan Hutan Jati Muyung.

Lalu dari atas batu tidak jauh dari gadis itu yang tengah mengapung diudara. Terlihat seorang kakek tua berambut serba putih, wajahnya nyaris tertutup bulu-bulu warna putih. Alis matanya yang juga berwarna putih itu tertutup caping bambu.

Si kakek yang semula hanya mempermainkan ranting kayu berwarna putih sambil bersiulsiul ini tiba-tiba hentikan siulannya. Ranting putih ditangannya digerakkannya ke bawah. Hingga membuat Maya Swari jatuh terduduk. Ia jentikkan ranting itu ke arah Maya Swari. Mengagumkan sekali dalam sekedipan mata Maya Swari telah berpakaian lengkap berwarna putih seperti sutera halus. Si gadis dalam keadaan terkejut bercampur takjub ini memandang ke sekelilingnya. Ia tidak melihat siapa-siapa disitu terkecuali dirinya sendiri dan juga kakek bercaping yang duduk diatas batu. Satu hal yang membuatnya heran adalah sekujur tubuh si kakek memancarkan cahaya putih berpendar-pedar.

"Andakah yang telah menyelamatkan aku?" tanya Maya Swari dengan penuh rasa terima kasih.

Yang ditanya tidak langsung menjawab. Melainkan angkat capingnya, pandangi wajah Maya Swari dengan tatapan bosan. "Gusti Allah yang telah menyelamatkanmu dari nista. Bukankah kau putri Diraja Penghulu Iblis?"

Maya Swari merasa senang karena ternyata orang tua aneh ini kenal nama ayahnya. Dengan cepat ia menjawab.

"Anda kenal dengan orang tuaku, kakek?" "Huh! Siapa yang tidak kenal dengan Diraja

Penghulu Iblis. Karena undangannya membuat aku turun gunung. Jika bertemu ayahmu pasti kugebuk hingga babak belur!" dengus si kakek.

Jawaban si kakek benar-benar sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkannya.

"Apakah salah ayahku?" bentak Maya Swari menjadi sewot. Sungguhpun ia sadar karena kakek bercaping itu ia selamat dari aib yang sangat besar.

"Salah ayahmu? Huh... salah ayahmu sangat banyak sekali. Karena undangannya Prisma Kristal Permata dicuri dari Goa Darah. Karena dicuri Goa Darah menjadi hancur menyemburkan hawa panas. Manusia merah terlepas dari kurungan. Kini membantai penduduk yang tidak berdosa, orang-orang sengsara mengungsi menyelamatkan diri dari amukan lava dan amukan Manusia Merah. Raja Penyihir yang hampir menodaimu juga telah menyihir orang-orang yang tidak berdosa menjadi patung batu. Siasat apa lagi yang lebih keji, melebihi kejinya iblis berkepala ular?"

"Benarkah apa yang kakek katakan itu?" tanya Maya Swari dengan terkejut.

"Aku tidak memintamu percaya, setan tetap setan. Iblis bukan anak setan. Karena hatimu baik. Itu sebabnya aku beri kesempatan kau hidup. Tapi ingat jika kau mencampuri urusan orang tua. Tidak segan-segan aku membunuhmu kelak dikemudian hari."

"Tapi...!"

Kakek bercaping putih ini memotong. "Tidak ada tapi-tapi. Cepat minggat dari hadapanku!"

Panas hati Maya Swari, memerah wajahnya karena menahan amarah. Laki-laki gaek ini angkuhnya bukan main-main. Kalaulah tidak mengingat dia telah menolongnya. Tentu sudah dilabraknya sejak tadi.

"Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelumnya, sudilah kakek memberitahu siapa nama dan gelarmu."

"Hak hak hak! Gelar? Apa itu gelar? Aku hanya punya nama Barata Surya Penghulu Siluman Kera Putih!"

Karena merasa tidak kenal dengan nama itu, maka Maya Swari hanya diam saja. Jika saja Datuk Alang Sitepu yang mendengar si kakek menyebut nama, tentu ia akan berpikir dua kali untuk bertatap muka dengan si kakek. Sebagaimana diketahui Barata Surya alias Penghulu Siluman Kera Putih adalah satu diantara dua guru Pendekar Blo'on. Guru yang lainnya adalah Dewana atau Malaikat Berambut Api yang tinggal di Pulau Seribu Satu Malam. Jika salah satu guru si pemuda sampai turun gunung, sama artinya ada persoalan besar akan terjadi.

Laki-laki yang punya sikap ugal-ugalan, konyol dan angin-anginan ini lalu batuk-batuk.

"Tunggu apa lagi. Menyingkirlah kau dari

sini!"

Semakin bertambah geram saja Maya Swa-

ri. Ia tanpa menoleh-noleh lagi langsung melangkah pergi. Tidak lama Penghulu Siluman Kera Putih pun berlalu. Tapi bukan dengan berjalan kaki, melainkan mengambang diudara selanjutnya melesat dengan bantuan hembusan angin kencang.

LIMA

"Hraaak!" Sekali berteriak, sekali bergebrak. Orang-orang yang marah karena melihat manusia merah melakukan pembunuhan disepanjang jalan yang dilaluinya berpelantingan roboh.

"Cincang manusia gila itu!" teriak salah seorang mengkomandoi kawan-kawannya.

Para penduduk yang telah dirasuk marah ini bergerak kembali. Berbagai jenis senjata menghantam kaki dan perut Manusia Merah. Tidak satupun dari senjata-senjata itu dapat menembus kulit manusia keturunan raja Jin ini.

"Hraaaaa! Hraaaaakh...!" Kaki menendang, tangan menghantam kiri dan kanan. Lalu orang-orang malang itu berpelantingan roboh.

"Wuaaarkh." "Hekkkh...!"

Para korban berjatuhan, keadaan mereka sungguh menyedihkan. Ada yang kepalanya dipotes, ada yang dipatahkan pinggangnya dan tidak jarang dibanting lalu diinjak-injak.

Kenyataan ini tentu tidak lepas dari perhatian seorang perempuan berpakaian kembang. Rupanya perempuan cantik berusia sekitar tiga puluhan ini terus mengikuti perjalanan Manusia Merah Soma Sastra.

Setelah lama melihat kekejaman serta pembantaian yang dilakukannya. Akhirnya perempuan baju kembang-kembang yang tidak lain adalah Ratu Penyair tujuh Bayangan ini berusaha mendekati Soma Sastra.

Ia berkelebat-kelebat diantara kerumunan orang-orang yang mengeroyok Manusia Merah. Sampai kemudian terdengar suara bentakannya.

"Hei kalian semua! Apakah sudah pada gila? Dia jelas tidak dapat kalian kalahkan. Mundur... lebih baik mundur kataku!"

Peringatan ini paling tidak cukup berpengaruh dan menyadarkan sebagian diantara mereka. Tapi tidak bagi orang-orang yang telah kehilangan sanak keluarganya.

Mereka malah menjadi nekad dan beringas. Akibatnya mereka tidak ubahnya menciptakan neraka bagi mereka sendiri.

Korban terus berjatuhan. Sampai kemudian Ratu Penyair Tujuh Bayangan bicara seperti orang yang sedang bersair dengan suara keras merobek langit

Tololnya manusia karena menuruti marah! Marah adalah nafsu hewani!

Malang sungguh malang.

Kesadaran datangnya selalu terlambat. Turut kata nafsu angkara murka jadinya! Setan lawannya, iblis tandinganya.

Tolol! Bodoh! Bego!

Badai menggila mengapa dilawan? Jika sayang badan harus tahu diri.

Jika sayang nyawa sebaiknya angkat kaki. Pulang! Pulang!

Jangan-biarkan badan jadi tulang!

Biarkan anak jin ciptakan neraka karena dia tidak tahu dosa

Dasar celaka....

Ratu Penyair Tujuh Bayangan hentikan ucapannya. Ia memandang lurus ke arah Manusia Merah yang melotot kearahnya.

Laki-laki raksasa berkulit merah ini tibatiba menghentikan gerakannya lalu berkata.

"Kau... perempuan baju kembang-kembang apa maksud ucapanmu itu?"

Ratu Penyair Tujuh Bayangan seketika menutup indera pendengarannya ketika mendengar suara Manusia Merah yang tidak ubahnya seperti suara gelegar halilintar itu.

Sungguhpun ia telah menutup daun telinganya, tapi tetap saja jantungnya berdetak keras. Orang-orang yang telah mulai menjauhi Manusia Merah itu juga berkaparan mati. Telinga mereka meneteskan darah, mata melotot juga mengalirkan darah.

"Sobat merah! Aku tahu kau mencari Prisma Permata yang telah dicuri oleh Nyanyuk Pingitan. Orang yang kau cari sekarang telah melarikan diri ke Lembah Ciruyung. Kuharap kau tidak membunuh manusia yang tidak memiliki dosa dan salah apa-apa kepadamu!" 

"Kau apakah Dewa? Aku bukan sobatmu, didunia ini semua musuhku. Aku hanya punya seorang sahabat. Suro Blondo namanya. Jadi kau jangan mengaku-ngaku!" Manusia Merah mendengus marah.

"Kalau Pendekar Blo'on itu sahabatmu, perlu kau tahu dia juga sahabatku!"

"Tidak bisa. Tidak bisa! Di dunia hanya ada seorang sahabat. Kau hanya mengaku dan bermaksud menipu! Puuuuh...!"

Tanpa diduga-duga Manusia Merah kecilkan bibirnya, mulutnya menggembung dan angin laksana badai topan berhembus menerjang Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Serangan seketika ini membuat Ratu Penyair Tujuh Bayangan tadi tunggang langgang. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya ia mencacakkan kakinya diatas tanah membentuk kuda-kuda. Saat itu ia pun ingin melepaskan pukulannya ke arah Manusia Merah.

Hanya niatnya itu diurungkannya ketika ia mengingat sesuatu. Selanjutnya ia melompat ke samping kiri. Manusia merah mengejar dan injakkan kakinya yang berat dan menimbulkan gempa.

"Kalau pulau Jawa ini tenggelam karena ulah para iblis yang sok berkuasa aku tidak perduli. Tapi terus terang saja aku takut dengan murka bapak angkat. Hiiiih.... diiekh...!"

Manusia Merah Soma Sastra pukulkan tangannya ke arah Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Tapi begitu tangannya menderu, lawan sudah menghindar. Praktis pukulannya menghantam batu. Batu hancur dan meninggalkan lubang besar. Melihat Kenyataan ini Ratu Penyair Tujuh Bayangan menjadi dingin tengkuknya. Tidak terbayangkan bagaimana jika dirinya yang terkena tinju Manusia Merah. Paling tidak gepeng dan keluar taik muda.

"Gerakanmu menghindar sebagus walet api di neraka. Aku ingin tahu apakah kau juga mampu menghindari lidah apiku!"

Usai berkata ia kempiskan perut, lalu tarik nafasnya dalam-dalam. Setelah itu.

"Haaah...!"

Seketika dari mulut manusia merah menyembur lidah api. Titisan Raja Jin ini memang memiliki banyak keanehan disamping terlalu lugu. Begitu api menyembur langsung menyambar Ratu Penyair Tujuh Bayangan. Perempuan ini terpaksa bersalto ke belakang untuk menghindari sambaran lidah api. Tapi anehnya lidah api yang menyembur dari mulut Manusia Merah terus mengejar kemana pun ia berusaha menghindar. Tidak pelak lagi bangunan yang ada disekitarnya ikut terbakar. Hanya dalam waktu singkat disekitar mereka telah menjadi lautan api.

"Gilaaa....! Jika aku hanya bertahan begini terus, mustahil aku dapat memberi pengertian kepadanya. Jalan satu-satunya adalah dengan sedikit unjuk kebolehan " Pikir Ratu Penyair Tu-

juh Bayangan.

Sekejap tubuhnya berkelebat lenyap. Ia dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi terus berputar-putar diatas kepala Manusia Merah, hingga membuat laki-laki berumur lebih dari satu abad ini kelabakan.

Adalah buta jika lawan dianggap kawan Anak Jin menjadi picik karena kawan dianggap lawan

Prisma Permata sekarang telah dikuasai oleh Raja Penyihir

Mengapa membuang-buang waktu tidak mendapatkannya?

Pergi cepat pergi

Terlambat sedikit kembarannya bakal terlahir.... Seakan diingatkan Manusia Merah jadi tercekat. Apa yang baru saja diucapkan oleh Ratu Penyair Tujuh Bayangan seakan memiliki kesan yang mendalam baginya. Mendadak ia katupkan mulutnya, tangannya berhenti menyerang, lalu matanya yang berkilat-kilat aneh memandang tajam pada Ratu Penyair Tujuh Bayangan.

"Kau bagaimana bisa mengetahuinya? Apa yang kau ucapkan itu memang benar adanya. Aku harus segera pergi, tapi tidak tahu dimana Lembah Ciruyung!" ujar Soma Sastra dengan bingung.

"Aku tahu tempatnya. Kalau kau mau aku bisa tunjukkan!"

"Baik! Aku setuju, tapi jika kau menipuku, rasakan sendiri akibatnya." ancam Manusia Merah.

"Kau harus percaya padaku jika segala urusan ini dapat diselesaikan dengan baik!"

Manusia Merah mengangguk setuju. Dengan perasaan ngeri akhirnya Ratu Penyair Tujuh Bayangan pergi bersama Manusia Merah menuju Lembah Ciruyung.

Lembah Ciruyung merupakan lembah sunyi berbatu. Ditengah-tengah lembah itu terdapat sebuah bangunan terbuat dari batu. Dalam keadaan tertentu lembah ini selalu berselimut kabut tebal. Tidak jauh dari samping bangunan terlihat sebuah pemandangan yang cukup unik lagi menyeramkan. Tengkorak dan tulang belulang manusia bertebaran dimana-mana. Tidak ada yang tahu bahwa penghuni lembah Ciruyung ini pada setiap bulan purnama selalu menculik kaum laki-laki untuk dijadikan persembahan para roh dan makhluk lelembut yang diyakininya dapat menimbulkan malapetaka.

Suasana diluar bangunan memang terasa sangat sunyi sekali ketika Diraja Penghulu Iblis dan Buto Terenggi sampai di tempat itu. Sebagaimana di daerah Jawa lainnya. Suatu tempat terkadang sangat diyakini memiliki kekuatan gaib yang dapat mendatangkan kesenangan dan kesengsaraan.

Demikian juga halnya dengan lembah Ciruyung ini. Siapapun yang berada di tempat itu bila satu aliran dengan penguasa lembah. Maka kekuatannya jadi berlipat ganda. Kekuatan ini merasuk dalam diri seseorang tanpa disadarinya. Demikian juga halnya yang terjadi pada diri Diraja Penghulu Iblis dan juga Datuk Mambang Pitoka.

Ketika itu ada empat sinar yang merasuk dalam diri mereka. Merah, kuning, hitam dan biru.

Tanpa sadar mereka terus berjalan mendekati bangunan batu yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.

"Lihatlah tumpukan tulang belulang itu, Datuk. Rupanya sobat kita semakin tua semakin rajin mengumpulkan korban persembahan." "Betul. Tentunya orang-orang malang itu dijadikan gundiknya dulu sebelum dijadikan korban persembahan terhadap para roh disini." Raka Tenda menimpali.

"Kepada sobat-sobat tamu diluar. Mengapa hanya diam disitu?"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara sember dari dalam bangunan. Pintu batu terbuka. Dibalik pintu tidak ada siapa-siapa, berarti pintu itu membuka dengan sendirinya.

Setelah melirik ke arah kawannya. Datuk Mambang Pitoka kemudian melangkah masuk diikuti Raka Tendra.

"Hik hik hik...! Beginilah keadaan tempat tinggalku. Tentunya sangat jauh berbeda dengan singgasanamu, Diraja Penghulu!"

Setelah saling menjura penuh rasa hormat. Maka tidak lama setelah itu mereka duduk mengelilingi meja terbuat dari batu hitam. Konon batu hitam memiliki kemukjijatan untuk menyembuhkan gigitan binatang berbisa. Tapi Diraja Penghulu Iblis manalah perduli dengan hal-hal semacam ini. Sekarang hatinya tetap gelisah mengingat putri tunggalnya masih belum ditemukannya.

"Kalian mengapa cepat sekali datang kemari? Apakah keadaan di puncak Gunung Pangrangko sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan?" tanya Nyanyuk Pingitan sambil tertawa. Sehingga deretan giginya yang hitam pekat terlihat begitu mengerikan.

Secara singkat Diraja Penghulu Iblis kemudian menceritakan perihal hilangnya Maya Swari dan penyerbuan yang dilakukan oleh dua tokoh Gajah dari Merbabu. Ia juga tidak lupa membicarakan tentang Suro Blondo dan juga Dewi Bulan. Tidak ayal lagi Nyanyuk Pingitan menjadi marah.

"Aku sangat yakin salah satu dari orangorang golongan putih telah menculik anakmu. Tapi... kita tidak tahu siapa dia. Dan kemungkinan lainnya bisa saja pemuda bertampang tolol itu yang telah menyembunyikannya di suatu tempat. Keadaan ini kurasa dapat kita atasi, karena tidak sampai dua hari lagi, Datuk Alang Sitepu telah berhasil memecahkan kehebatan yang tersembunyi dibalik Prisma Permata tersebut."

"Sudahlah, sekarang istirahat dulu. Musuh-musuh kita mustahil berani menyatroni lembah ini" kata Nyanyuk Pingitan dengan penuh keyakinan.

Kepada dua tamu ini Nyanyuk Pingitan menyuguhkan tuak wangi. Ketika mereka baru saja hendak melanjutkan pembicaraan.

Tiba-tiba saja terjadi guncangan yang sangat keras pada dinding ruangan. Guncangan ini tentu sangat mengejutkan bagi orang-orang yang berada didalamnya. Sehingga ketiga tokoh sesat ini langsung menghambur keluar. Hanya datuk Alang Sitepu saja yang tetap bersemedi diruangan khusus bangunan batu tersebut.

Begitu mereka berada diluar. Maka terlihatlah oleh mereka seorang laki-laki gemuk bukan main dibantu dengan oleh seorang gadis sedang bertarung dengan dua ekor harimau putih peliharaan Nyanyuk Pingitan.

Perempuan berwajah mengerikan ini terkekeh-kekeh melihatnya.

"Rupanya kita kedatangan tamu. Biarlah dua ekor macan putih milikku yang melayaninya. Sebentar lagi mereka tentu menjadi santapan yang empuk! Hik hik hik...!"

"Kau begitu yakin, Nyanyuk? Tahukah kau bahwa laki-laki gemuk itu adalah tokoh dari gunung Merbabu?" tanya Raka Tendra.

"Apakah mereka setan, atau apa. Aku tidak perduli. Jika mereka tidak mempunyai nyawa rangkap mengapa begitu takut? Dua macan putih itu mempunyai keahlian tiga tingkat diatasku. Karena mereka adalah paman guruku!"

Apa yang dikatakan oleh Nyanyuk Pingitan memang tidak berlebihan. Selain sangat tangkas, kedua macan putih ini seakan mengerti ilmu silat. Setiap serangan yang dilakukannya ganas bukan main. Apalagi mereka menyerang dengan cara yang berbeda-beda.

Sebagai orang yang sangat berpengalaman, Gajah Gemuk bukan tidak menyadari akan hal ini. Menghadapi dua ekor harimau sekaligus bukan apa-apa baginya. Tapi ia juga harus melindungi muridnya yang baru saja sembuh dari luka dalam yang dideritanya.

Ini yang membuatnya agak repot. Sebenarnya ada satu hal yang membuatnya terheranheran. Seingatnya ia sudah dua kali menghantam kepala harimau putih itu dengan telak dan keras. Tapi pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi ini seakan tidak membawa arti apa-apa.

Malah kedua binatang ini semakin liar dan beringas, sehingga setiap serangan baik berupa cakaran maupun terjangan mereka semakin berbahaya saja.

ENAM

Kenyataan ini membuat Gajah Gemuk segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar pada kedua harimau itu. Ia merasa tidak yakin ada harimau kebal terhadap serangan pukulannya. Untuk itu ia mengambil ancangancang. Kedua tangan yang dikepalkannya kemudian dihantamkannya ke tanah. Lalu terdengar bentakannya yang sember.

"Jika kau bukan harimau sungguhan, maka kembalilah ke asalmu!"

Tubuhnya tiba-tiba melesat ke depan, bersamaan waktunya dengan sang harimau yang menerjang ke arahnya.

Begitu cakar sang macan menyambar ke bagian muka ia miring ke kiri sementara dua tinjunya menggedor dada makhluk buas tersebut dua-duanya sekaligus.

Buk! Beek! "Graaaumg...!"

Kedua harimau putih itu terlempar dan mengeluarkan suara menggerung. Begitu menyentuh tanah makhluk ini menggelepar dan secara perlahan kembali ke asalnya.

"Harimau siluman!" desis Dewi Bulan. Seketika ia mencabut pedang pendeknya. Dua ekor harimau yang telah kembali menjadi manusia ini bangkit berdiri. Ternyata mereka adalah dua orang laki-laki berumur kira-kira 56 tahun berambut panjang menjulai berbaju putih dan berambut putih. Ditangan mereka tergenggam sebuah seruling berwarna kuning keemasan.

"Berani kau datang ke lembah ini, Gendut! Sama artinya kau dan muridmu membuang nyawa percuma." dengus salah seorang diantara mereka.

"Ha ha ha! Melihat pada seruling itu dan juga melihat tampang kalian yang jelek-jelek. Kau pastilah Sepasang Iblis Seruling Emas? Suruh keluar murid keponakanmu yang pantas menjadi nenek kalian itu!"

"Kau berada diwilayah kami. Tidak layak memerintah terkecuali patuh pada perintah kami!"

"Setan! Murid keponakanmu itu telah mencuri Prisma Permata, hingga membuat sebagian Jawa ini dilanda lautan lahar panas. Ulahnya telah membangkitkan Manusia Merah dari penjara bumi. Selain itu dengan Prisma Permata itu Nyanyuk Pingitan dan kawan-kawannya bermaksud merajai rimba persilatan dengan mendirikan sebuah kerajaan."

"He he he! Itu adalah sebuah rencana yang sangat baik, gendut. Mengapa kau malah iri? Kalau kurang senang mengapa kau dan orang-orang golongan lurus tidak mendirikan sebuah menara kematian saja?"

Bukannya marah Gajah Gemuk malah tergelak-gelak.

"Aha, betul. Kami juga memang bermaksud mendirikan sebuah menara sekaligus membuat lubang besar. Tapi kami persiapkan semua itu untuk mengubur kalian," kata Gajah Gemuk pula.

"Paman Rawa dan Paman Ruwi. Jangan mengulur-ulur waktu. Lekas bunuh guru dan murid itu sekarang juga!" teriak Nyanyuk Pingitan yang terus menyaksikan perdebatan itu bersama dua orang kawannya. Rawa dan Rawi menanggapi perintah murid ponakan itu dengan anggukan kepala. Iblis Seruling Emas ini tiba-tiba membentuk gerakan yang sangat aneh. Tangan yang memegang seruling menuding lurus ke depan. Sedangkan tangan kiri menyilang di dada.

"Hiiit!" Wuuus! Nguuung!

Ketika mulut mereka menggembor nyaring. Tahu-tahu tubuh mereka telah melesat ke depan. Yang diincar adalah mata dan tenggorokan Dewi Bulan juga gurunya. Gadis ini kiblatkan pedangnya dengan mengandalkan jurus TARIAN KUPUKUPU DI ATAS BUNGA MATAHARF. Sedangkan

Gajah Gemuk sendiri pergunakan tangannya untuk menangkis seruling lawan.

"Haiiit!"

Traang! Traaang!

Terlihat ada percikan bunga api ketika pedang ditangan Dewi Bulan membentur seruling emas ditangan Rawa. Gadis itu sempat terhuyung mundur, dan tubuhnya bergetar. Jemari tangannya terasa panas bukan main. Jelas dalam hal tenaga dalam. Dewi Bulan berada beberapa tingkat di bawah Rawa.

Gajah Gemuk sendiri yang tangannya membentur seruling milik Rawi cuma tergetar. Kalau saja ia tidak melindungi tangannya dengan ajian Wesi Baja. Tentu tangannya yang dipergunakan untuk menangkis sudah remuk sejak tadi.

Sambil tertawa he he he he, kini Gajah Gemuk balas menyerang. Sungguhpun badannya gemuk luar biasa, tapi serangan-serangan yang dilancarkannya sebat bukan main.

Hanya ia kelihatan lebih berhati-hati, karena ia sendiri juga harus melindungi keselamatan muridnya.

Walaupun Sepasang Iblis Seruling Emas merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai kepandaian tinggi. Tapi Gajah Gemuk adalah tokoh angin-anginan yang punya kepandaian sulit dijajaki. Sehingga tidak mudah bagi Sepasang Iblis Seruling Emas ini untuk menjatuhkannya begitu saja.

Tidak ayal lagi semakin lama pertarungan

itu berlangsung semakin seru.

Sementara itu di dekat bangunan batu juga terjadi keributan. Rupanya Suro Blondo dan Gajah kurus telah sampai di Lembah Ciruyung juga. Jika Gajah Kurus langsung bergabung dengan Gajah Gemuk setelah melihat Dewi Bulan agak terdesak. Sebaliknya Pendekar Blo'on langsung berhadapan dengan Nyanyuk Pingitan, Buto Terenggi dan juga Diraja Penghulu Iblis.

"Akhirnya kau berani datang juga kemari, bocah! Manusia tidak tahu membalas guna sepertimu memang layak mampus. Tapi sebelumnya kau harus memberitahukan padaku. Dimana Maya Swari kau sembunyikan?!" Raka Tendra menggeram. Sedangkan dua orang kawannya telah bersiap-siap untuk mengemplang.

"Aku mana tahu menahu tentang putrimu." Suro Blondo garuk kepalanya. Lalu tersenyum.

"Bukankah kau telah menjadi suaminya?" Raka Tendra melotot.

"Aku suami bohong-bohongan, jadi pengantin juga bohong-bohongan. Eeh... iblis bau apek! Kulihat setelah kau bergabung dengan kawan-kawanmu menjadi berani unjuk gigi dan sombong. Apa kau kira kawan-kawanmu itu becus menghadapi Manusia Merah?" Si pemuda kemudian tergelak-gelak. "Lebih baik kalian serahkan saja Prisma Permata yang telah kalian curi untuk kukembalikan pada yang empunya. Kujamin aku cuma minta tangan dan kaki kalian saja."

"Bocah goblok tidak tahu gelagat! Mulutmu besar dan kelewat sombong. Apa kau kira kami akan mengampunimu?"

"Jhe... siapa yang minta ampun?" Si pemuda pegang mulutnya. "Dasar edan mulutku kecil kalian bilang besar. Sudahlah, bosan aku bicara dengan kalian! Serahkan saja Prisma Permata itu padaku!"

Sebagai jawabannya Raka Tendra langsung mengemplang kepala si pemuda. Suro begitu merasakan sambaran angin langsung merundukkan badannya, sehingga kemplangan lawannya lewat diatas kepalanya. Geram bukan main Raka Tendra melihat tinjunya luput dari sasaran. Kali ini ditendangnya selangkangan Suro. Suro melompat lagi, Ee... lagi-lagi serangan luput pula. Melihat si pemuda berhasil menghindari serangan. Dua lainnya menjadi kesal. Tanpa sadar mereka secara bersama-sama ikut menyerang.

Mendapat serangan dari segala penjuru arah dan dilakukan oleh tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi pula. Maka semakin konyollah gerakan menghindar yang dilakukan oleh Suro.

"Manusia kampret!" Buto Terenggi yang sudah merasakan kehebatan lawannya memaki sambil mengejar. Bersamaan waktunya dengan itu Raka Tendra menyerang pula dari samping kiri.

Suro terperangah, ia berpikir diantara serangan kedua lawan. Tidak satupun yang dapat dianggap ringan. Untuk itu ketika ia merasakan angin menderu menghantam dada, pinggang, tenggorokan dan juga kepala. Segera ia pergunakan jurus 'KACAU BALAU', yaitu salah satu jurus ambang pamungkas yang diwariskan oleh kakek merangkap gurunya Dewana alias Malaikat Berambut Api.

Dengan gerakan yang sangat sulit dipercaya ia jatuhkan tubuhnya. Pukulan itu luput. Tapi dari samping tidak terduga menderu tendangan Nyanyuk Pingitan. Tidak sempat lagi Suro menghindar. Perutnya kena dihantam kaki lawannya. Begitu kerasnya tendangan itu hingga membuat tubuhnya yang bergulung-gulung itu terangkat kemudian terbanting lagi.

Suro merasa perutnya pecah. Panas bukan main perut yang kena tendangan. Ia menggeliat sambil terus berguling-guling. "Aduh biung! Mogamoga tempat nasiku tidak berantakan di dalam. Nenek jelek itu benar-benar minta nyawaku. Tapi daripada aku memberinya nyawa, lebih baik ia kuberi tendangan juga." geram Suro dalam hati.

Dengan punggung bertumpu diatas tanah, Suro memutar tubuhnya. Kaki telentang dan menyambar siapa saja yang mencoba mendekatinya.

Dukk!

Bletak! Bletak!

"Anjing!" maki Nyanyuk Pingitan ketika tulang keringnya tersambar tumit lawannya, hingga membuatnya terpincang-pincang. "Monyet! Ha ha ha... dasar monyet hitam jelek!" Suro meledek. Semakin lama tentu ketiga lawannya ini semakin hilang kesabarannya.

"Mundur sobat-sobatku...!" teriak Nyanyuk Pingitan. Suaranya semakin sember dan bibirnya bertambah dower pertanda kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. "Biar aku mewakili Diraja Penghulu Iblis mencabut nyawa bocah gendeng ini."

Dua lawan mundur, kini hanya Nyanyuk Pingitan saja yang berhadapan dengan Suro Blondo.

"Aku tidak akan pernah puas sebelum memakan darah dan dagingmu."

"Dari pada makan darah daging. Bagaimana kalau kau minum kencingku saja?" Lagi-lagi ucapan Suro hanya membuat hati si nenek menjadi semakin panas.

"Bangsat. Kau memang pemuda tolol sekaligus miring! Kudengar kau punya julukan yang konyol. Dulu sayang sekali aku tidak sempat menyaksikan malam kelahiranmu yang menghebohkan itu. Otakmu miring, jalanmu sinting. Coba sebutkan siapa gurumu?" kata Nyanyuk Pingitan.

Diam-diam rupanya ia juga ingin memastikan siapa guru pemuda berambut kemerahan ini.

"Ha ha ha! Kau mau bertarung atau berkotbah didepanku, eeeh...? Kupikir iblis sepertimu bisa kotbah."

"Anjing buduk!" Nyanyuk Pingitan tiba-tiba mendorong kedua tangannya ke depan. Seleret sinar hitam menderu dan menghantam Suro.

Sesaat sebelum sinar itu menghantam tubuhnya. Ia telah melesat ke udara. Dalam keadaan berjumpalitan seperti itu, tidak mau kalah ia juga lepaskan pukulan 'RATAPAN PEMBANGKIT SUKMA'. Deru angin bagaikan di lautan badai. Bukan main dinginnya udara disekitar tempat itu. Sinar putih bergulung-gulung bagai awan putih yang siap memporakporandakan segalanya.

Nyanyuk Pingitan kejut bukan alang-alang melihat sinar hitam yang melesat dari telapak tangannya terbuntal sinar putih laksana salju.

Pukulan Nyanyuk Pingitan yang membalik ditambah lagi dengan pukulan yang dilepaskan oleh Suro tindih menindih. Nyanyuk Pingitan berusaha mempertahankan diri dengan melipat gandakan tenaga dalam sambil melepaskan pukulan beruntun. Tapi apa yang dilakukannya ini tidak menolongnya. Secara pelan namun pasti tubuhnya mulai terseret menjauhi kalangan pertempuran. Pakaiannya mulai koyak-koyak di beberapa bagian terkena hembusan angin yang semakin menggila,

Maka goyah juga akhirnya pertahanan Nyanyuk Pingitan

Blaar! Deer...!

Nyanyuk Pingitan jatuh menimpa dua kawannya. Sungguh aneh jika ia tidak mengalami akibat apa-apa. Sebagaimana kita ketahui, mereka berada di wilayahnya sendiri. Lembah Ciruyung mempunyai banyak keanehan. Salah satu diantaranya adalah membuat para penghuni dan sahabat penghuni bertambah baik dalam hal tenaga dalam maupun ilmunya.

Kini mereka bertiga bahu membahu. Tangan mereka saling menyatu. Begitu jemari tangan mereka menunjuk ke arah Suro Blondo. Lima belas sinar hitam melesat ke arah si pemuda. Merasakan sambaran angin sinar hitam itu saja Suro merasa tubuhnya seperti terbakar. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika kelima belas sinar itu menghantam tubuhnya.

Ia menjadi kecut, tapi segera pergunakan jurus 'SERIBU KERA SAKTI MENGECOH

HARIMAU'. Di samping itu ia juga pergunakan setengah dari tenaga dalamnya untuk mempersiapkan pukulan 'MATAHARI REMBULAN TIDAK BERSINAR'.

Karuan saja suasana semakin bertambah seru dan tegang. Tapi Suro tetap berhati-hati karena melihat jumlah lawannya cukup banyak juga. Ia tidak ingin konyol sebelum berhasil merebut Prisma Permata yang di sembunyikan oleh salah satu tokoh iblis ini.

TUJUH

Kita tinggalkan dulu Pendekar Blo'on yang sedang menghadapi lawan-lawan yang cukup berat. Sementara itu Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng yang kini tengah menghadapi Sepasang Iblis Seruling Emas tampak mulai berada di atas angin.

Saudara sedarah yang selalu bertarung dengan mempergunakan tangan kosong ini sejak mengerahkan jurus 'PARA GAJAH BERSILATURAHMI' berhasil menekan serangan lawan-lawannya.

Sungguhpun memang patut diakui Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng juga tidak terlepas dari luka dalam yang diderita. Namun keadaan lawan jauh lebih parah lagi.

"Kakang! Kita sebenarnya terlalu banyak mengulur waktu dan menguras tenaga...!" Gajah Krempeng mulai mengisiki saudaranya. Sebaiknya kita habisi saja. Lihatlah bocah itu kelihatannya jadi bulan-bulanan. Kita harus menolongnya."

"Apa yang kau katakan memang benar. Tapi orang ini seperti punya nyawa rangkap saja. Aku sudah membantingnya, tapi tidak mampus! Lihatlah murid kita nampaknya gelisah sekali melihat pemuda itu jadi keroyokan."

"Tapi mengapa dia tidak turun tangan membantu kawannya?"

"Aku telah menotoknya tolol! Kalau tidak sejak tadi dia pasti telah bergabung dengan pemuda itu."

"Sebaiknya lepaskan saja. Biar dia bantu Suro Blondo." "Edan... Dewi Bulan belum sembuh benar dari luka dalam yang dideritanya. Biarkan dia istirahat, kalau perlu kita-kita yang sudah pada tua bangka ini selesaikan urusan disini, lalu bantu disana."

"Huuuup!"

Seruling ditangan Rawa menderu pada saat Gajah Gemuk saling mengirimkan isyarat pada sesamanya.

Apa yang dilakukan oleh Rawa bukan sembarangan serangan. Karena ia telah mengerahkan jurus 'HARIMAU MERANGKUH LEMBAH'.

Gajah Gemuk terpaksa tarik pulang pukulan lalu menyampok senjata Rawa. Tapi hanya membelokkannya sedikit saja tangkisan Gajah Gemuk luput. Serangan ganas ini tampaknya akan membuat remuk wajah lawan jika Gajah Gemuk tidak cepat merundukkan wajahnya ke samping lalu sambar tangan kanan lawan yang memegang senjata.

"Dewa Bergabung Gajah menjerit!" teriaknya sambil mematahkan tangan lawannya.

Kraak!

Tangan Rawa patah mengeluarkan suara berderak, namun Rawa sama sekali tidak menjerit. Seruling jatuh, langsung dipungut Gajah Gemuk. Dengan sekuat tenaga langsung dipukulkan ke kepala Rawa.

Praak!

Darah dan otak Rawa berhamburan. Badannya langsung menggelosor ke tanah. Melihat kematian saudara seperguruannya. Ruwi menjerit bagai orang kesurupan. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sementara seruling ditangannya dia lemparkan ke udara.

Mulut Ruwi berkomat-kamit. Dari telapak tangannya menebar kabut tipis dan menimbulkan bau kayu cendana.

Dari atasnya seruling yang dilemparkannya keluar suara aneh. Ketika Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng mendongak ke langit. Maka terlihat oleh puluhan bahkan ratusan seruling yang sama. Seruling dengan ujung runcing itu kemudian meluruk ke tanah bagaikan anak panah yang dilepaskan dari langit.

Tentu saja suasana menjadi gempar. Gajah Gemuk dan adiknya langsung putar tangan diatas kepala dengan kecepatan bagaikan titiran. Maka terdengar suara tung ting tang disertai berpentalannya puluhan seruling yang kena disampok ke berbagai arah.

Sepuluh seruling kena dihalau, yang datang dua puluh menyerang. Dua puluh berhasil dienyahkan yang datang empat puluh. Begitulah yang terjadi seterusnya.

Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng berjingrak-jingrak bagai orang yang diserang lebah.

"Wuaaaah.... Tipuan mata gombal!" teriak-

nya.

Teriakan yang sangat keras itu tentu saja

membuat kosentrasi lawannya buyar. Praktis seruling yang sedang menari-nari di atas udara pun berubah menjadi tunggal dan jatuh ke bawah. Sebelum seruling itu menyentuh tanah, Rawi berusaha menggapainya. Kesempatan lengah Ruwi dipergunakan oleh Gajah Krempeng dan Gajah Gemuk untuk melepaskan pukulan.

Braak! Raaaak! "Aaaaa...!"

Dihantam dari depan dan belakang oleh Gajah bersaudara. Dada Rawi remuk. Ia hanya mampu menjerit pendek, tulang-tulang rusuknya melesak dan menyatu. Ketika Gajah Gemuk dan adiknya sama-sama tarik tangannya. Maka Rawi yang sudah tidak bernyawa itu ambruk tergontaigontai.

Keduanya saling berpandangan setelah itu mereka berpaling ke arah Suro Blondo dan lawanlawannya yang tampak mulai letih. "Sebaiknya kita bantu dia?" "Mari. Eeeh... tapi tunggu dulu. Lembah ini seperti diguncang gempa!" Gajah Gemuk memasang telinganya baik-baik. Kemudian ia memandang ke satu arah dimana suara itu berasal.

"Lihat bukan gempa! Tapi manusia merah!" Benar saja yang datang ternyata manusia merah. Ia tidak datang sendiri, melainkan bersama seorang perempuan berpakaian kembang-

kembang.

Sekali lihat kedua Gajah bersaudara sudah dapat mengenali perempuan itu. Namun mereka jadi heran. Bagaimana mungkin Ratu Penyair Tujuh Bayangan dapat menjinakkan Manusia Merah.

Semakin mendekati tengah lembah suara mereka semakin menggemuruh. Batu-batu disampingnya di tendang oleh manusia dengan tinggi lima meter ini sehingga hujan batu di tengahtengah lembah sudah tidak dapat dihindari. Praktis mereka yang sedang bertarung keluar dari kalangan pertempuran. Manusia Merah berdiri tegak di tengah-tengah mereka.

Cuping hidungnya mengendus-endus. Lalu matanya tiba-tiba melotot mendelik pada Nyanyuk Pingitan.

"Kau...!" Telunjuk Manusia Merah langsung menuding pada Nyanyuk Pingitan. Sinar merah laksana darah menyembur dari telapak tangan Soma Sastra. Sinar itu menderu kencang. Nyanyuk Pingitan tahu gelagat dan langsung menghindari serangan yang tidak disangka-sangka ini. Serangan luput, pohon dibelakangnya jadi korban langsung terbakar bagaikan pohon kering.

"Kau yang telah mencuri Prisma Permata dari Goa Darah. Goa Darah hancur. Aku terbebas dari dalamnya, tapi bukan malah merdeka, sebaliknya sangat tersiksa! Terimalah kematianmu...!" Manusia Merah kembali tudingkan telunjuknya. Dua leret sinar laksana bara melesat dari ujung kuku Manusia Merah. Lagi-lagi Nyanyuk Pingitan berusaha menghindarinya sambil lontarkan caci maki. Tapi rupanya Manusia Merah ini tidak beri kesempatan lagi. Sepuluh jari direntangkannya. Maka dari sepuluh jari itu secara berturut-turut menderu sinar yang sama. Diserang sedemikian rupa, Nyanyuk Pingitan jadi pontang-panting juga. Sungguh pun patut diakui ia punya tenaga dalam tinggi dan juga ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna.

Tapi ternyata Manusia Merah bukan saja hanya menyerang Nyanyuk Pingitan. Raka Tendara, Buto Terenggi dan kawan-kawan. Suro Blondo tidak luput dari serangannya. Melihat ini Pendekar Blo'on jadi kebat kebit juga. Karena Serangan Manusia Merah itu disamping sangat ganas juga mematikan dan menimbulkan kobaran api dimana-mana.

Suasana di Lembah Ciruyung saat itu benar-benar telah berubah menjadi Neraka.

"Manusia Merah sobatku! Jangan kau bunuh kawan-kawanku. Bunuh saja manusia jelek itu!" teriak Suro Blondo.

"Heeh... bukankah kawanku hanya dua. Kau dan juga perempuan baju kembangan ini...!" Manusia Merah menyahuti.

"Tidak manusia gendut perut macam kuali tengkurap itu juga kawan kita. Juga yang kurus kurang makan itu kawan. Mengamuk ya mengamuk, tapi jangan bunuh kawan sendiri!"

"Baik. Dan kalian cukup menonton di pinggir saja. Ketiga orang ini bagianku...!"

Apa yang dikatakan oleh Manusia Merah bukan hanya sekedar omongan belaka. Karena dilain saat ia telah menyerang Nyanyuk Pingitan, Buto Terenggi dan juga Diraja Penghulu Iblis sekaligus

Ketiga tokoh iblis ini tentu saja gembira sekali. Melihat lawan-lawannya yang lain tidak ikut mengeroyok mereka. Itu sebabnya mereka ini langsung mengerubuti Manusia Merah dengan berbagai tipu muslihat yang ada. Tidak segansegannya mereka mengeluarkan senjata andalan dan juga melepaskan pukulan-pukulan yang sangat mematikan.

Tapi putra titisan Jin ini selain kebal senjata juga tidak mempan pukulan sakti. Sehingga apa yang mereka lakukan hanya sia-sia saja.

Karena yang menjadi incaran pertama adalah Nyanyuk Pingitan. Maka Manusia Merah langsung mencecarnya tanpa menghiraukan serangan dua orang lawan lainnya yang juga berbahaya tapi tidak berakibat pada Soma Sastra.

"Hiya..."

Nyanyuk Pingitan yang sudah semakin terdesak walaupun dibantu oleh kawan-kawannya ini tiba-tiba cabut tusuk kondai perak dari batok kepalanya. Laksana kilat sambil melesat ke udara ia sambitkan tusuk konde itu ke arah mata Manusia Merah.

Tapi Soma Sastra ini sambil menggeram murka segera tepis sambitan lawan dengan telapak tangannya.

Traang!

Suara berkrontangan terdengar. Sambitan itu luput, sementara tangan Manusia Merah yang terulur terus menyambar ke arah pinggangnya.

Nyanyuk Pingitan berusaha berkelit dari jangkauan tangan lawannya. Tapi sudah tidak ada lagi kesempatan baginya, karena begitu tangan kiri luput. Maka tangan kanannya kembali menyambar. Dan....

Kreepkkk !

Kini Nyanyuk Pingitan berada dalam genggaman Manusia Merah. Dua kawannya yang berusaha menolong dengan menusukkan senjata masing-masing ke paha lawannya tidak membawa akibat apa-apa.

Tusukan tidak mempan, maka mereka memukul. Tapi pukulan yang mereka arahkan ke kaki lawan ini malah berbalik dan menyerang diri mereka sendiri.

Cengkeraman pada pinggang Nyanyuk Pingitan memang begitu kerasnya. Malah semakin lama Nyanyuk Pingitan merasakan tekanan yang membuat isi perutnya mau pecah dan dada seakan meledak.

"Cepat kau katakan dimana Prisma Permata itu kau sembunyikan!" bentak Manusia Merah hingga membuat Nyanyuk Pingitan yang telah melindungi telinganya dengan tenaga dalam saja menggelepar.

"Ak... aku tidak menyimpannya! Benda itu sekarang berada ditangan Raja Penyihir!" jawab Nyanyuk Pingitan sambil megap-megap.

Dalam hidupnya barulah kali ini ia merasa ngeri menghadapi lawan. "Cepat panggil keluar mereka!"

"Bukan mereka tapi cuma ahli sihir itu saja yang berada didalam bangunan batu...!"

"Ak-ku—tidak bisa..,!"

Tekanan pada perut Nyanyuk Pingitan semakin mengeras. Sehingga dari mulut dan hidung perempuan berwajah angker itu menyembur darah bercampur kotoran.

Sementara itu dari balik pintu bangunan batu melompat keluar seorang laki-laki berbadan bungkuk berwajah rusak sebelah menebar bau busuk dan bermata merah bagaikan bara. Lakilaki itu berbadan bungkuk dan memegang tongkat berwarna hitam dengan hulu berukir kepala ular cobra.

Begitu melihat kemunculan laki-laki ini, maka Suro Blondo, Gajah Gemuk dan Gajah Kurus menghambur ke sana.

Ratu Penyair Tujuh Bayangan yang baru mau menyusul langkahnya segera dihadang oleh Diraja Penghulu Iblis. Rupanya setelah mereka kehabisan akal untuk menjatuhkan Manusia Merah, Diraja Penghulu Iblis menjadi marah bukan kepalang.

"Aku tidak akan ikut main keroyokan seperti kalian! Raka Tendra rupanya kau lebih suka mengurusi persoalan Prisma Permata itu dari pada mengurusi Putrimu yang hampir saja diperkosa oleh Datuk Alang Sitepu?"

"Ratu Penyair! Mengapa kau berpihak pada musuh? Lagipula apakah mungkin Datuk Alang berani melakukan itu?"

"Turut kata-kataku. Lebih baik kau kembali ke gunung Pangrangko untuk hindari kematian bersamaku."

Raka Tendra yang dalam keadaan terkejut ini tidak dapat mengambil keputusan secepatnya. Ratu penyair Tujuh Bayangan jadi tidak sabar. Disambarnya tangan sahabatnya ini. Kemudian tanpa menoleh-noleh lagi mereka pergi dengan kecepatan laksana terbang...

Sementara itu Datuk Alang Sitepu malah tersenyum-senyum begitu melihat Pendekar Blo'on serta dua gajah bersaudara. Tidak lupa iapun memandang tajam pada Manusia Merah yang sedang mengadili Nyanyuk Pingitan.

"Kalian sudah pada datang kemari semuanya. Berarti kalian telah datang ke neraka tanpa diundang. Kau manusianya yang bernama Suro Blondo. Dan kalian berdua tentu dua Gajah yang tidak berguna!" Datuk Alang Sitepu menggeram dahsyat. "Kalian segera mampus dan jadi bangkai percuma!"

Laki-laki bertampang menjijikkan dan berbadan bungkuk ini angkat tongkatnya tinggitinggi.

Tongkat itu kemudian menebar bau busuknya bangkai. Dari hulu tongkat keluar kabut tipis berwarna kelabu. Kabut itu membentuk bayangan dan kemudian berubah menjadi manusia yang sama persis dengan Gajah Gemuk dan Gajah Kurus. "Mundur anak muda!" teriak Gajah Gemuk dan Gajah Kurus. Ia sendiri kemudian melompat ke depan. Setelah itu mengebutkan jubah yang menggelantung di pundak mereka ke arah kembaran tiruan.

Terdengar suara letusan yang sangat keras. Gajah yang tercipta atas kekuatan sihir itu lenyap. Tubuh Datuk Alang Pitoka sempat tergetar. Gajah Gemuk dan Gajah Kurus asli tertawa mengekeh.

"Masih banyakkah permainan sulapmu? Jangan sungkan-sungkan, keluarkan saja semuanya!"

Datuk Alang Sitepu hanya tersenyum mengejek. Ia goyang-goyangkan kepala tongkatnya. Kali ini kabut merah yang menebar. Kabut itu semakin lama membubung setinggi lima meter. Maka terciptalah manusia merah tiruan. Manusia Merah ini langsung menyerang Gajah Gemuk dan Gajah Kurus.

Pendekar Blo'on tentu saja tidak dapat tinggal diam. Tiba-tiba ia menerjang ke arah Datuk Alang Sitepu.

Sementara itu Manusia Merah yang sesungguhnya benar-benar sedang mengadili Nyanyuk Pingitan yang membuat Jawa bagian Barat telah tenggelam oleh lumpur lava. Mula-mula ia mencopoti tangan Nyanyuk Pingitan. Perempuan renta berkulit hitam legam ini menjerit-jerit kesakitan. Kemudian ketika kedua kakinya ditarik lepas dari badannya. Maka darah menyembur keluar dari luka-luka yang sangat mengerikan ini. Sampai disini Nyanyuk Pingitan sudah tidak mampu menjerit lagi. Suaranya habis bersama hilangnya seluruh tenaga yang mengalir ditubuhnya.

Setelah itu sambil menggeram. Manusia Merah menginjak tubuh yang sudah tidak berdaya ini hingga hancur dan melesak ke dalam tanah.

"Ha ha ha...! Mati... malingnya sudah mati...!" teriak Manusia Merah sambil tertawa-tawa. Suara tawa laki-laki ini benar-benar membuat Lembah Ciruyung seperti dilanda gempa.

Buto Terenggi meskipun tubuhnya sempat terguncang-guncang menjadi murka sekali melihat kematian Nyanyuk Pingitan.

DELAPAN

Ia sambil menggembor bagaikan kerbau yang marah karena nggak mau disembelih langsung mencabut kailnya yang dapat berubah memanjang itu. Begitu kail ada ditangannya, ia langsung menyerang Manusia Merah dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Tentu saja apa yang dilakukannya ini mendapat perlawanan yang sengit dari Manusia Merah. Laki-laki berbadan luar biasa tinggi ini tiba-tiba membuka mulutnya. Lidahnya yang kemerah-merahan ini terjulur. Api tiba-tiba melesat bergulung-gulung dari mulut Manusia Merah yang terbuka lebar. Tidak pelak lagi Buto Terenggi terpaksa melepaskan pukulan saktinya.

Seleret sinar kuning keperakan mencelat dari telapak tangan Buto Terenggi. Sinar kuning itu menyambar bola api yang bergulung-gulung dari mulut Manusia Merah.

Zzssst...! "Hiiih...!"

Tampaknya usaha Buto Terenggi hanya sia-sia saja. Tidak lama kemudian pukulan itu membalik dan menghantam diri Buto Terenggi.

Hanya dalam waktu singkat, jika saja lakilaki ini tidak cepat menghindar sudah terkena pukulannya sendiri, ditambah lagi dengan sambaran lidah api yang keluar dari mulut Manusia Merah. Paling tidak tubuhnya bisa gosong.

Namun pada saat-saat yang sangat kritis itu dari arah samping menggerung pula suara lainnya. Manusia Merah terkejut bukan alang kepalang. Ketika ia memandang ke arah itu. Maka dilihatnya Datuk Alang Sitepu tengah mengacungkan Prisma Permata ditangannya tinggitinggi. Dari Prisma itu pula mencuat keluar Manusia Merah yang sama persis dengan Manusia Merah yang asli. Mati-matian Suro Blondo berusaha menghalangi. Tapi apa yang dilakukannya tampaknya tidak mendatangkan hasil. Tubuhnya bahkan terpelanting tunggang langgang terkena pengaruh getaran kehadiran Manusia Merah baru yang muncul dari salah satu sisi Prisma. "Hraaaakhhh...!"

Terwujudlah kembaran manusia merah ini. Maka Manusia Merah dengan Manusia Merah bertarung.

Keadaan di lembah Ciruyung semakin bertambah mengerikan sekali.

"Paman Gajah berdua. Mundurlah! Hadapi manusia Buto yang satu itu!" teriak Pendekar Blo'on.

Gajah Krempeng dan Gajah Gemuk segera melompat dari kalangan pertempuran.

Mereka langsung berhadapan dengan Buto Terenggi yang kini telah mempergunakan kailnya sebagai senjata.

Sementara itu Suro Blondo kini telah berhadapan dengan Datuk Alang Sitepu. Laki-laki ahli sihir ini kembali menggerak-gerakkan tongkat ditangannya. Dari telapak tangan kiri tiba-tiba meluncur pukulan ekor ular Cobra yang langsung menyerang Suro Blondo.

"Heaaa...!"

Pemuda ini sambil berteriak nyaring segera lepaskan pukulan 'Neraka Hari Terakhir' Inilah untuk yang pertama kalinya Pendekar Blo'on melepaskan pukulan Maha Dahsyat yang diwariskan oleh kakek gurunya Malaikat berambut Api.

Seketika terdengar suara jeritan dimanamana. Angin kencang menderu-deru menerbangkan batu-batu sebesar kambing jantan. Sinar Hitam dan merah melesat dari telapak tangan lakilaki ini. Dan suasana disekitar lembah berubah panas bagai di neraka.

Duuum! Duuum!

Terjadi ledakan dahsyat ketika pukulan yang melesat dari telapak tangan Suro Blondo membentur tongkat ditangan Datuk Alang Sitepu. Ular-ular cobra, jadi-jadian tersapu bersih. Tubuh Datuk Alang Sitepu tergontai-gontai.

Kedua Manusia Merah yang sedang bertarung terkejut bukan kepalang. Sedangkan Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng terpaksa menyingkir jauh-jauh.

"Aduh tauubaat. Biyung... bocah gemblung itu ternyata hendak membuat mampus kita semua!" desis Gajah Krempeng sambil leletkan lidah.

Sementara itu Datuk Alang Sitepu sudah bangkit berdiri. Wajahnya berubah pucat. Bibirnya yang menggelambir itu bergoyang-goyang dan seperti mau copot dari tempatnya.

"Kau ternyata pemuda yang tangguh. Tapi kau tidak mungkin dapat mengalahkan raja Sihir dari seberang " dengusnya.

Tongkat di tangannya kemudian diangkatnya tinggi-tinggi. Menyusul Prisma Permata yang berwarna merah berkilauan. Begitu kedua benda ini diadu. Maka tercipta pula Suro Blondo-Suro Blondo yang lain.

Si Pemuda meskipun geram tapi tertawa ngakak. Ia menggabungkan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma' dan 'Neraka Hari Terakhir' menjadi satu. Sebaliknya untuk menghindari serangan lawannya ia menggabungkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' dan 'Jurus Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'.

Pukulan beruntun dilepaskannya ke arah dirinya yang palsu, tidak lupa ia juga melepaskan pukulan ke arah Datuk Alang Sitepu.

Hari ini Pendekar Blo'on benar-benar harus menguras tenaga habis-habisan dan juga terpaksa mengerahkan segenap kemampuan dan kesaktian yang ia miliki.

Pukulan-pukulan beruntun yang dilepaskannya membuat ciptaan Datuk Alang Sitepu musnah terbakar. Tapi satu menghilang yang tercipta bisa dua, tiga dan berlipat ganda. Inilah yang membuat Pendekar Blo'on menjadi repot sekali. Dalam keadaan seperti itu ia tidak sempat lagi mengingat petuah-petuah yang pernah diberikan oleh gurunya. Kini ia telah bersiap-siap untuk mencabut senjata pusakanya Mandau Jantan yang terselip dibalik bajunya.

Tapi pada saat-saat yang menegangkan itulah, seakan datangnya dari langit terlihat cahaya berwarna putih. Cahaya putih itu berpendarpendar dan langsung menyambar ke arah tangan kiri Datuk Alang Sitepu yang sedang bertarung melawan Suro Blondo.

Hanya dalam waktu sekedipan mata saja.

Prisma Permata telah berpindah tangan.

"Benda celaka ini hanya membuat geger dunia dan isinya!" terdengar suara tanpa rupa. Semua orang langsung menghentikan pertempuran. Terkecuali Buto Terenggi yang kini telah di totok oleh Gajah Gemuk dan menjadi tawanannya. Manusia Merah sendiri menjadi terheranheran melihat lawannya yang menyerupai dirinya jadi menyusut. Bahkan kemudian hilang begitu saja.

Sementara diantara Datuk Alang Sitepu dan Suro Blondo kini telah berdiriseorang lakilaki berbaju putih, berambut putih dan pokoknya semuanya serba putih. Ditangan kakek itu menggenggam sebuah Prisma Permata milik Manusia Merah.

Anehnya Manusia Merah sendiri langsung bersujud di depan si kakek yang tidak lain adalah Penghulu Siluman Kera Putih alias Barata Surya dan merupakan guru pendekar Blo'on.

"Aha... guru, telah datang rupanya. Hore guru telah datang...!" Suro Blondo tanpa sadar bertepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak sehingga mengundang tawa yang lainnya.

"Cah geblek! Jangan kau berjingkrakjingkrak seperti anak kecil." kata kakek yang sekujur badannya memancarkan cahaya putih ini penuh teguran. Suro Blondo langsung terdiam sambil garuk-garuk kepalanya.

Sementara itu Datuk Alang Sitepu yang telah menderita luka dalam parah akibat pukulan si pemuda yang terakhir tadi langsung tahu gelagat. Ia sadar meskipun ia merupakan raja penyihir namun ia tidak mungkin mengkadali tokoh tua yang satu ini. Itu sebabnya begitu orang-orang lengah. Ia langsung ambil langkah seribu.

Tapi apa yang dilakukannya ini terlihat oleh Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng sehingga ia mereka langsung melakukan pengejaran.

"Tinggalkan kepalamu yang bau busuk! Jangan lari! He he he he... malah lari...!" Maki Gajah Gemuk sambil menggendong muridnya Dewi Bulan ia tertawa-tawa.

"Guru... mengapa guru malah menyusul kemari?" tanya Suro Blondo. Matanya memandang tajam pada Prisma Permata yang berada di tangan gurunya.

"Ketololanmu selalu membuatku kuatir. Kalau kau mati digebuk orang mana aku perduli. Tapi jika hanya setengah mati saja apa aku tidak repot!" dengus Barata Surya yang sama konyolnya dengan sang murid ini tanpa senyum.

"Ah... guru. Kawanku Manusia Merah apakah harus dibiarkan mendekam seperti itu. Tolong kembalikan Prisma Permata itu padanya guru...! Kasihan dia."

"Suro Blondo. Aku lebih tahu apa yang tidak kau ketahui." Penghulu Siluman Kera Putih lalu berpaling pada manusia merah. "Kau bocah malang. Sebaiknya bangkit!"

Manusia Merah bangkit berdiri. Ia tidak berani memandang pada Barata Surya secara langsung.

"Prisma Permata ini memang milikmu. Untuk itu akan kukembalikan padamu. Tapi sebelumnya ingat-ingatlah pada pesanku ini. Kau harus kembali ke gunung Gede bersama Prisma ini. Jika kau sayang dengan nyawa manusia. Tentu kau akan menolong mereka dari kehancuran. Hanya dengan kau kembali ke sana saja amukan lahar panas akan berhenti dengan sendirinya."

"Baik paman mulia."

"Aku bagaimana guru? Apakah juga harus kembali ke tempat tinggal guru?!" tanya Suro sambil cengar-cengir.

"Kau bocah geblek, mana kau boleh kembali ke puncak Mahameru? Rimba persilatan masih membutuhkan uluran tanganmu, demikian juga manusia lain yang hidup dalam kekejaman jaman. Lagipula kau harus mencari musuh besar orang tuamu, maka teruskanlah pengembaraanmu!"

"Apakah guru hendak ikut aku?"

"Siapa sudi, jalan bersama denganmu bisa membuat aku semakin goblok!"

"Guru sendiri memang sudah geblek, sudah miring dan setengah edan dari sananya, kok. Ha ha ha...!"

"Anak Setan! Jangan kau berani kurang ajar padaku, ya?" bentak Barata Surya dengan mata melotot.

"Guru muka monyet. Nyiet-nyiet... ha ha ha...! Urusilah kera-kera silumanmu!" dengus si konyol.

Kalaulah Penghulu Siluman Kera Putih tidak hapal betul bagaimana tabiat murid yang sangat disayangnya itu. Tentu Si Bocah Ajaib sudah di kemplangnya sejak tadi-tadi.

Kini sikap Barata Surya berubah serius. Ia berpaling pada Manusia Merah yang terus mendekam seperti ayam betina mau nelor.

"Terima prisma Permata ini, jangan kau salah pergunakan lagi." pesan si kakek.

Manusia Merah menerima Kristal Permata tersebut, kemudian....

"Budi baik paman pasti selalu ku kenang!" kata Manusia Merah dengan penuh rasa hormat.

"Jangan lupa, kau pun harus mengenangku, sobat!" kata Suro tidak mau ketinggalan.

"Ya, aku juga akan mengenangmu, sahabat tolol sepertimu di dunia ini mana ada duanya. Tapi terus terang aku suka, aku suka padamu!"

"Hus, kau pikir aku perempuan apa?" "Sudahlah, jangan pula kalian saling bersi-

keras. Pergilah Titisan Jin!" perintah Barata Surya.

Maka tanpa bicara apa-apa lagi, Manusia Merah langsung meninggalkan Lembah Ciruyung yang porak poranda.

Suro Blondo memperhatikan kepergian sahabatnya itu sambil geleng-gelengkan kepala. Ketika Suro menoleh ke arah gurunya, maka Penghulu Siluman Kera Putih itu telah kembali berubah menjadi cahaya putih, cahaya itu membentuk sosok Barata Surya, sayup-sayup Suro mendengar suara gurunya....

"Hati-hatilah kau membawa diri, muridku! Kerjakanlah apa yang semestinya kau kerjakan, jangan tunda sampai besok apalagi sampai tua. Pesanku jangan cengeng, jangan tinggi hati, jangan mata keranjang dan jangan pula ngompol. Ha ha ha...!"

"Si edan itu dari dulu sampai sekarang tetap saja edan. Ah, guruku aku pasti merindukanmu!" desis Suro.

Pendekar Mandau Jantan alias Si Bocah Ajaib celingak-celinguk. Ia sekarang hanya tinggal seorang diri.

"Weleh, dunia ini sekarang kurasakan sepi sekali. Sekarang aku tinggal sendiri. Buto Terenggi dibawa kabur untuk terima hukuman dari paman Krempeng. Sunyi sungguh sunyi." desah Suro, seraya kemudian melangkah meninggalkan Lembah Ciruyung. Sampai di bibir lembah yang mulai berselimut kabut terdengar sayup-sayup suara si pemuda konyol seperti orang sedang bersair. lagi. Lembah ini sunyi, tapi hatiku lebih sunyi

Aku sendiri kau tidak sendiri. Aku rindu apakah kau juga rindu?

Bulan... oh kau bulan, lirikanmu membuat hatiku berbunga-bunga.

Senyumanmu membuat jantungku nyutnyutan.

Adakah hatimu semanis empedu? Bulan oh bulan, dimanakah dikau? Ha ha ha. Aku disini....

Suara si pemuda tiba-tiba terputus ketika mendengar suara bergemerisik tidak jauh di sampingnya.

SEMBILAN

"Hi hi hi...! Pemuda goblok lagi kasmaran. Manusia paling tolol di kolong langit. Sair picisan begitu apa hebatnya?" kata sebuah suara dari balik semak belukar.

Suro nyengir, lalu garuk-garuk kepala. "Ee... kau siapa, manusia usilan perempuan jelek kayak hantu. Atau kuntilanak kawannya almarhum Nyanyuk Pingitan atau kau saudara kembarnya?" cibir Suro Blondo.

"Hi hi hi...! Jika kau melihat diriku, aku yakin kau akan tergila-gila karena diriku memang cantik!" sahut si gadis.

"Siapa mau percaya, orang yang selalu sembunyikan diri biasanya punya wajah buruk seperti beruk (monyet). Tentu saja beruk yang paling jelek di dunia. Ha ha ha !"

"Hmm, bicaramu sungguh keterlaluan. Apakah setelah kawan-kawanmu pergi kau masih mau jual lagak di depan si Cantik?" dengus suara di balik semak-semak itu.

"Kalau kau memang cantik, mengapa tidak perlihatkan diri?" tanya Suro.

Suasana berubah sunyi, Pendekar Bloon garuk-garuk kepala. Semak belukar di sampingnya sedikit pun tidak bergoyang.

"Hei, mengapa kau diam?" tanya Suro. Diam-diam hatinya mulai gelisah. Kembali tidak terdengar jawaban apa-apa. Suro penasaran, lalu mendekati semak-semak belukar dimana suara tadi berasal. Daun-daun disibakkannya.

"Tidak ada, apa tadi rohnya Nyanyuk Pingitan yang mulai gentayangan ya...?" pikir Si Bocah Ajaib.

Kemudian ia menyingkap semak-semak di sampingnya. Tiba-tiba saja sebuah tangan menghantamnya.

Buaak...! "Ekh...!"

Suro jatuh terduduk, pukulan tadi cukup keras juga, apalagi pemuda ini dalam keadaan tidak waspada. Pemuda itu merasa beribu kunangkunang menari di matanya, nafasnya sesak. Namun dengan cepat ia bangkit berdiri.

Pendekar Mandau Jantan hendak lepaskan pukulan, namun di balik semak belukar terlihat sesosok tubuh melesat ke udara, dilain waktu telah menjejakkan kakinya tanpa menimbulkan suara sedikit pun

Suro cepat berbalik. Maka terlihatlah olehnya seorang gadis berpakaian ketat. Sehingga bagian-bagian yang menonjol bertonjolan dengan jelas. Namun wajah gadis ini ternyata jelek bukan main. Mukanya benjol-benjol seperti tumbuh penyakit bisul yang tidak terhitung.

"Gadis ini bersuara merdu, aku mengapa tidak yakin kalau dia gadis yang jelek. Padahal kenyataannya benar-benar jelek." guman Suro dalam hati.

"Pemuda geblek berambut seperti rambut jagung! Kau telah membuat bencana di lembah Ciruyung. Tahukah kau hal itu hanya akan menyengsarakan dirimu sendiri?" dengus si gadis.

Suro tertawa dengan mulut terpencong. "Betulkan begitu, kalau begitu aku menjadi sedih. Tapi aku lebih sedih lagi melihat wajahmu yang jelek. Ha ha ha!"

"Kau boleh bicara apa saja. Yang perlu kau ketahui jika guruku datang kesini. Pasti jiwamu tidak akan tertolong!"

"Siapa gurumu? Apakah masih punya hubungan dengan Nyanyuk Pingitan?" tanya si konyol.

"Guruku adalah kakang seperguruan dengan bibi guru Nyanyuk Pingitan! Nah sekarang sudah jelas bagimu! Bersiap-siaplah untuk mampus! Heaa...!" Gadis yang sekujur tubuhnya dipenuhi dengan benjolan-benjolan itu langsung menyerang Suro Blondo. Pemuda berambut hitam kemerahan ini berkelit.

"Hei... kau sudah jelek main serang saja. Sebutkan dulu namamu, nanti baru boleh kau membunuhku!"

"Kau segera tahu siapa namaku setelah di neraka nanti!" dengus si Cantik. "Aih...!"

Suro terpaksa merundukkan tubuhnya ketika tinju lawan menghantam mukanya. Si gadis mendengus geram. Dalam hati ia merasa kaget juga melihat keanehan gerak yang dimiliki oleh lawan.

Tiba-tiba saja ia melompat mundur, lalu bergerak ke samping, sedangkan tangannya melakukan gerakan seperti menggaruk dada.

"Wah kalau gatal biarkan aku saja yang menggaruk kau punya dada, Cantik. Pasti aku tidak akan menolak! Tapi aku yakin di atas kau punya bisul masih ada bisul-bisul yang lain dan...!"

"Anak setan!" maki si gadis. Kemudian ia melompat tangannya terpentang mencakar mulut Suro. Suro katupkan mulut dan selamatkan kepala. Tangan kanan di angkat, sehingga terjadi benturan keras.

Duuk! "Ukh...!"

Suro sempat terhuyung, telapak tangannya memerah, mulut si pemuda termonyongmonyong. Kemudian ia memutar tubuhnya, tendangan lawan bersiut keras. Suro berjongkok, lalu melompat-lompat sambil garuk sana sini. Ketika tendangan pertama lolos, maka si gadis menghujaninya dengan pukulan dan tendangan.

Pendekar Blo'on tampak semakin sibuk. Si Cantik, namun jelek kelihatannya semakin membabi buta. Tiba-tiba saja ia melompat, ee... Suro terpeleset. Tidak ayal lagi tinju lawannya menghantam tubuh si konyol...

Buk! Buk! "Adow...!"

Pendekar Mandau Jantan terguling-guling. Ia jatuh tengkurap, lawan sekali lagi melompat bermaksud menginjak punggung Suro dengan satu hentakan yang sangat keras. Tapi Suro sudah menggelinding lagi, sehingga injakan si Cantik meleset. Kaki gadis itu sampai amblas sampai sedalam mata kaki. Ia cabut kakinya, begitu terbebas tubuhnya melesat, tangan meluncur mencengkeram leher Suro. Belum kena Suro sudah melotot seperti orang yang tercekik. Bukan main geramnya si Cantik melihat tingkah si konyol. Ia kemudian mengerahkan jurus 'Pancaran Surya', sungguh aneh. Tubuh gadis itu kemudian berputar-putar. Di bibirnya terdengar pekikan-pekikan seperti suara nyanyian-nyanyian sumbang. Tubuhnya berkelebat, lalu tubuhnya meluncur lagi. Suro ketika itu segera mengerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.

Suro melompat-lompat, pantatnya bergoyang-goyang dengan gerakan yang tidak teratur, ia menjerit-jerit seperti hewan buas yang melolong. Lalu disaat serangan beruntun menghujani dirinya. Pemuda ini langsung memapakinya.

Des! Des! "Heh...!"

Si cantik terhuyung-huyung, namun Suro hanya tergetar saja. Gadis itu menggeram. Lalu tanpa terduga-duga lepaskan pukulan ke arah si konyol.

"Edan. Dia benar-benar menghendaki nyawaku. Bukan main-main?!" gerutu Suro.

Serangan yang menghampar hawa dingin itu melabrak Suro, tapi pemuda ini tidak tinggal diam. Dengan mulut termonyong-monyong sebagai tanda keseriusannya. Pendekar Mandau Jantan hentakkan tangannya. "'Kera Sakti Menolak Petir'! Heaaa...!" Sinar putih menderu. Lalu terjadi benturan persis di depan Suro Blondo.

Buuuum...!

"Hekh!"

Suro menjerit sambil terhuyung-huyung. Tangannya mendekap wajahnya yang panas seperti tercebur ke dalam air mendidih. Si Cantik tergelak-gelak.

"Goblok, sebenarnya aku tidak goblok. Aku cerdik, namun selalu agak telat mikir!" gerutu Suro mencaci diri sendiri.

"Sebentar lagi kau benar-benar mampus, Pendekar Geblek. Hutang nyawa bibi guruku harus dibayar lunas dengan tampang konyolmu!" geram Si Cantik.

"Hh, Cantik namun jelek. Silakan jika kau mampu melakukannya. Jika aku mati, arwahku gentayangan. Aku akan mencari manusia jelek sepertimu, aku akan menghantui hidupmu hingga kau minta ampun dan terkencing-kencing!" sahut Suro. "Dasar Setan!"

"Kau juga biangnya setan." "Haiiiit!"

Sambil membentak keras, Cantik mencabut senjata dari balik pinggangnya. Senjatanya unik juga, sebuah keris berkeluk tujuh berwarna hitam.

"Kau punya senjata bentuknya berlikuliku. Sungguh unik, tapi racun yang terkandung di dalamnya sangat keji. Kalian golongan sesat memang orang-orang yang selalu haus darah. Ketahuan Nyanyuk Pingitan bersalah, kalian masih tetap membelanya!" kata Suro. 

Sebagai jawaban Cantik gerakkan senjata di tangannya. Sinar hitam menderu, lalu menusuk lambung Suro. Pemuda ini pergunakan jurus 'Kacau-balau', dan yang namanya jurus inimemang benar-benar kacau sekali. Setiap serangan balik maupun gerakan menghindar yang dilakukan Suro tidak pakai aturan sebagaimana umumnya jurus-jurus silat biasa. Kaki si pemuda bergerak lincah, tubuhnya meliuk ke kanan atau ke kiri seperti pohon yang di tiup angin.

Di lain waktu ia sudah berputar, lalu ketika tusukan untuk yang kesekian kalinya mencecar tubuhnya, maka Suro berkelebat dan berputar ke belakang. Seluruh tenaga dalam di alirkan ke tangan, hingga tangan itu bergetar. Lalu....

Braak! "Akh !"

Pukulan keras itu membuat tubuh Cantik terpelanting. Keris di tangannya tercampak jauh. Ia langsung tidak sadarkan diri, sedangkan darah tampak mengalir deras di mulutnya.

SEPULUH

Suro Blondo yang semula memang tidak punya niat membunuh gadis yang mengaku sebagai si Cantik ini langsung datang menghampiri. Entah mengapa ada perasaan lain di hatinya. Rupanya itulah yang membuatnya terdorong untuk mengusap darah yang mengalir di sudut-sudut bibir yang dipenuhi dengan benjolan-benjolan itu. Eeh, benjolan tersingkap. Ternyata di balik benjolan tersebut tampak begitu halus.

"Orang ini ternyata memakai topeng!" desis

Suro.

Ia kemudian menyingkapkan topeng yang

sangat mirip dengan kulit itu. Begitu topeng tipis ini terkelupas seluruhnya. Maka terbelalaklah mata Suro lebar-lebar.

"Astaga! Wajahnya sangat cantik sekali. Mengapa dia lebih suka menyaru seperti orang buruk? Aku sungguh tidak menyangka dan hatiku mengapa deg-degkan begini? Padahal dia jelasjelas musuhku!" guman Pendekar Blo'on. Ia menggaruk-garuk rambutnya hingga tampak acak-acakkan. Sebentar diperiksanya keadaan Si Cantik. Ternyata nafasnya masih ada, jantungnya berdenyut satu-satu. Gadis itu pun ditelungkupkannya. Setelah menelungkup ia berusaha mengalirkan tenaga dalam agar jalan darah gadis itu menjadi lancar.

Sayang belum sempat Suro menyempurnakan peredaran darah di tubuh gadis itu terasa ada angin dingin bersiut. Ketika Suro menoleh ke belakang, maka tubuhnya tersungkur.

Rupanya orang yang baru datang itu menendangnya. Bukan hanya sekali tendangan saja, melainkan berulang-ulang. Tubuh si konyol terbanting dan terangkat, lalu terbanting lagi.

Perut Bocah Ajaib ini seperti hancur dada terasa remuk. Dengan gerakan seperti monyet yang kalah perang ia menghindar setengah berlari.

Kemudian ia menoleh, dilihatnya seorang kakek tua berambut putih bermata juling dan menggendong buntalan di punggungnya telah berdiri bertolak pinggang.

"Kau apakan muridku?" Dingin suara si kakek. Namun mata julingnya terus berputarputar tidak mau berhenti.

"Tidak diapa-apakan, dia sendiri yang menyerangku. Karena muridmu hendak menusukku, maka aku terpaksa membela diri. Mana mungkin aku berdiam diri"

"Hmm, agar kau tahu. Aku adalah Nyanyuk Buyutan, saudara tua Nyanyuk Pingitan yang telah kau bunuh. Asalku dari Cijulang, nah apa jawabmu hingga kau berani membunuh Nyanyuk Pingitan?" geram Nyanyuk Buyutan. Suro tergelak-gelak, lalu pegang mulutnya hingga tertutup rapat-rapat.

"Nyanyuk Buyutan, ketahuilah... adikmu itu telah bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat melarikan Prisma Permata. Sedangkan Prisma itu sendiri milik Manusia Merah. Dia bersalah, tentu saja. Karena Prisma itu sangat penting artinya bagi keseimbangan tanah Jawa ini. Nah kalau daratan sudah tenggelam, kita semua akan hidup di mana, Ki?"

"Aku sudah mendengar kabar itu. Tapi aku tetap tidak puas hati. Bagaimana pun darah harus dibayar darah!"

"Kalau begitu dendammu terlalu membabi buta. Sungguh setan telah menyesatkanmu!"

"Diam!" bentak Nyanyuk Buyutan. "Menyesal sekali aku harus membunuhmu!"

"Apa artinya kau bunuh aku, tokh dagingku tidak enak, orang jelek mata juling! Ha ha ha...!"

"Tertawalah kau sepuasmu. Katakan apa julukanmu anak Setan bertampang tolol?!"

"Ak... eh, mau membunuh atau diskusi, Ki? Kalau kau tanya julukan gelar atau apa saja namanya. Kalau nggak salah 'Pendekar Blo'on' itulah julukanku. Nah apakah engkau juga ingin kukasih julukan, Ki?" tanya Suro dengan mulut terpencong. Nyanyuk Pingitan terdiam, namun matanya mendelik.

"Kalau kau mau gelar dariku, bagaimana kalau julukanmu Orang Sinting Mata Juling?" kata Suro sambil cengar-cengir.

"Bangsat betul kau! Anak setan sepertimu pantasnya kukirim ke neraka. Kau hanya membuat gatal tanganku!"

"Masih mending, Ki. Pantatku sendiri sudah gatal-gatal sejak tadi!" sahut Suro.

Jawaban si konyol ini benar-benar membuat jengkel Nyanyuk Buyutan. Tanpa menghiraukan muridnya yang masih belum juga sadarkan diri. Si kakek langsung lepaskan pukulan dahsyat ke arah Suro.

Segulung sinar biru kehitam-hitaman menggebu menghamparkan hawa panas yang sangat luar biasa sekali.

"Wuaaak...!"

Dengan gerakan yang tidak terduga-duga, Suro Blondo melenting ke udara. Tangannya langsung ditetapkan ke depan memapas serangan lawan dengan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.

Angin kencang dingin, menghamparkan hawa dingin laksana es menderu-deru dan terjadilah benturan keras bukan main-main.

Buuuum...! "Waaa...!"

"Heeew...!"

Terjengkang Suro Blondo tunggang langgang. Untung punggungnya duluan yang menghempas ke tanah. Jika kepalanya duluan, nasib si geblek semakin bertambah konyol saja.

Nyanyuk Buyutan sendiri sebagai salah satu tokoh berpengalaman sempat kaget. Ia sempat merasakan tangannya kesemutan, laki-laki kurus ini terhuyung-huyung seperti orang mabuk.

Suro leletkan lidah, kepalanya digelenggelengkan berulang-ulang. Mulutnya cemberut.

"Kau ternyata boleh juga Pendekar geblek. Melihat pukulanmu tadi rasanya kau ada hubungan dengan Malaikat Berambut Api! Benarkah?" tanya si juling dan matanya terus berputar-putar seperti mata yang bingung.

"Syukur, Ki. Kau kenal kakekku, mestinya kita salaman dulu!" kata Suro lalu ia mendekat berpura-pura salaman. Di luar dugaan tangannya menghantam dada Nyanyuk Buyutan.

Tokoh sesat yang telah kenyang makan asam garam persilatan ini tentu tidak kena dikadali. Ia berkelit, tangannya menyampok, sedangkan kakinya menendang.

Kini situasi berbalik, Suro terpaksa berjingkrak. Lalu ia pergunakan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau', tubuhnya pun berkelebat. Namun ujung kakinya tersangkut kaki lawannya. Si konyol jatuh, tapi kakinya dengan cepat berputar. Kini punggung lawannya yang jadi sasaran.

Dees! Gubraak! "Bangsat!"

Begitu memaki Nyanyuk Buyutan melompat dan berdiri lagi. Kemudian ia cabut senjatanya. Senjata berbentuk kebutan yang dapat melemas atau berubah kaku sesuai dengan pengerahan tenaga dalam tersebut menghantam dada Suro.

Pemuda ini tidak dapat mengelakkannya lagi. Dadanya terhantam kebutan. Bajunya hancur daging dadanya robek dan Suro menjerit-jerit kesakitan.

Wajah si Bocah Ajaib berubah tegang, perlahan namun pasti rambutnya yang hitam kemerah-merahan ini berubah merah laksana bara.

"Gila, inikah si bocah Ajaib itu?" pikir Nyanyuk Buyutan. "Tidak dapat disangkal bila di balik wajahnya yang ketolol-tololan ia memiliki berbagai keanehan yang sungguh mengagumkan!"

"Huuuuuk...!"

"Ha ha ha...!" Suro tertawa-tawa, tapi tubuhnya berkelebat lenyap. Itulah jurus 'Tawa Kera Siluman'. Tawa si konyol tidak kunjung henti, sedikit banyaknya kosentrasi lawan jadi terganggu. Tiba-tiba saja Suro menerjang ke depan gerakannya ini dua kali kecepatan biasa. Melihat pemuda ini nekad mengadu nyawa. Nyanyuk Buyutan kebutkan senjata di tangannya.

Senjata itu berubah kaku dan tegang seperti kawat besi. Yang menjadi sasaran adalah bagian muka Suro. Pemuda ini mendengus geram, kepalanya dirundukkan. Setengah berjongkok, tangannya terangkat tinggi menghantam siku lawan.

Tak!

Senjata terlepas, namun kaki lawan menghantam dadanya. Pemuda ini menjerit. Bibirnya mengucurkan darah. Ia jatuh terduduk, di saat itulah lawan mencoba menghabisi jiwanya.

Dalam keadaan terluka dalam, Suro tidak mungkin menghindar. Sementara jiwanya benarbenar dalam keadaan terancam bahaya. Tidak ada pilihan lain. Pendekar Blo'on raba pinggangnya, lalu tangan bergerak. Saat tangan bergerak, terdengar suara jerit, tawa bercampur suara ringkikan kuda.

Ternyata pemuda ini telah mencabut Mandau Jantan. Terlihat sinar hitam menyambar tangan Nyanyuk Buyutan.

Tess!

Ada sepotong tangan terpental, terdengar pula jeritan. Jeritan yang kemudian semakin menjauh, ternyata Nyanyuk Buyutan melarikan diri sambil menyambar tubuh muridnya.

"Suatu saat kau akan merasakan bagaimana dahsyatnya pembalasanku!" kata Nyanyuk Buyutan sayup-sayup di kejauhan.

Suro tidak menyahuti, ia batuk-batuk, malah darah yang keluar. Setelah menelan dua obat pulung sambil mengembalikan tenaga dalamnya. Maka rasa sakit itu agak berkurang.

"Ekh... gila, hampir saja aku mampus!" maki Pendekar Blo'on. Pelan-pelan ia berdiri, namun ketika ia mendengar suara sayup-sayup suara seorang gadis, maka tersentaklah ia....

"Kakang Pangeran Linglung... suamiku kekasihku !"

"Celaka, itu kan suaranya Maya Swari! Wah sudah tidak betul lagi. Siapa mau menjadi suaminya putri iblis! Mendingan aku ngacir saja!" guman Suro.

Tanpa menunggu kedatangan Maya Swari, Suro langsung lari tunggang langgang.

"Kakang Pangeran... Pangeran Linglung...

tega nian dikau... hu hu hu. !" tangis si gadis me-

ledak

Semakin di panggil Pendekar konyol ini semakin ngibrit. Meskipun ketika itu dadanya masih mendenyut.

T A M A T