Serial Pendekar Bloon Eps 02 : Bayang-Bayang Kematian

 
Eps 02 : Bayang-Bayang Kematian 


Berdirinya sebuah singgasana kecil di gunung Bromo dengan sepak terjangnya yang ganas tanpa pandang bulu, telah menarik perhatian seorang tokoh sesat dari daerah Ponorogo. Ia seorang laki-laki memakai baju hitam ikat kepala warna hitam. Tubuhnya tinggi semampai berotot.

Rambut, kumis jambang dan jenggot berwarna hitam. Walaupun umurnya sudah mencapai hampir enam puluh tahun. Tapi ia kelihatan masih gagah, langkahnya tegap. Wajahnya yang angker hampir tanpa senyum, karena memang sepanjang hidupnya ia tidak pernah tersenyum.

Adapun tujuan laki-laki ini adalah ingin bergabung dengan penguasa gunung Bromo. Yang kabarnya merupakan tokoh-tokoh aliran hitam yang sangat kuat di samping memiliki jago-jago bayangan sekaligus pengawal-pengawal dalam jumlah tidak terbatas.

Sudah empat hari Warok Batiroso melakukan perjalanan bersama gemblaknya (Gemblak istri yang terdiri dari kaum sejenis). Bila sang gemblak ini letih, tidak segan-segan Warok menggendongnya. Ia sangat sayang pada Gemblak ini karena wajahnya yang sangat tampan   disamping memiliki ilmu silat tinggi.

"Hari sudah siang. Kurasa gunung Bromo tidak jauh lagi dari sini, istriku. Aku jadi ingin cepat-cepat sampai ke sana!"

"Jangan terlalu berambisi, Kakang Warok. Lihatlah ke langit, Undan milik kita masih jauh  tertinggal  di belakang. Kakang lari laksana terbang, tidak tahu siang tidak perduli malam!" "Undan  (Sejenis burung bangau berbulu hitam, tapi besar bukan main) kita itu semakin tua semakin lamban. Terkadang aku malas membawanya serta. Tapi binatang itu selalu ngotot dan mau ikut juga ke mana aku pergi!" Warok  Batiroso  mengomel. Dalam hidupnya sang Undan merupakan makhluk kedua yang sangat dia sayangi setelah Gemblaknya sendiri. Sekaligus binatang

ini merupakan pengawal setianya. "Jangan   terlalu   tergesa-gesa.

Tidak akan lari gunung dikejar. Ada baiknya jika kita istirahat dulu!"

Kening Warok Batiroso mengerut dalam ia melirik pada sang Gemblak bernama Panaran itu. Kemudian seraya anggukkan kepala tanda setuju, Warok Batiroso mengambil buli-buli tuaknya. Kemudian menikmatinya seteguk demi seteguk. Sang Warok kemudian menyodorkan daging panggang yang mereka bekal sejak dari Ponorogo beberapa hari yang lalu.

Sedang mereka istirahat melepas lelah, di atas mereka tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti angin puting beliung.

Tanpa melihat sekalipun tentu sang Warok sudah tahu bahwa suara itu timbul akibat kepakan sayap sang Undan. Hanya anehnya kali ini binatang yang sangat besar itu menguik keras. Suaranya berisik memekakkan gendanggendang telinga.

Ini adalah sebuah kebiasaan sebagai isyarat bahwa di tempat itu ada orang lain selain mereka berdua. Warok Batiroso tiba-tiba mendongak ke langit.

"Turunlah kekasihku. Jika pendatang bermaksud baik tentu ia tunjukkan diri. Kalau cari penyakit, tuanmu ini tidak segan-segan mengirimnya ke neraka!"

"Ngiiiiikkh...!"

Sang Undan memperdengarkan suara menguik keras. Sayapnya dikepakkepakkan hingga menimbulkan deru angin yang sangat keras.

Dalam pada itu di balik kerimbunan pohon terlihat seorang gadis cantik dengan tahi lalat di dagu dan berbaju kuning gading melompat keluar. Dan hanya beberapa kali lompatan saja gadis itu telah berada di depan Warok Batiroso.

Laki-laki berbadan tegap ini memandang kehadiran si gadis dengan tatapan tidak suka. Ketika ia bicara, suaranya serak sember.

"Katakan apa maumu? Mengapa mengintip orang yang sedang melepas lelah?"

Gadis berbaju kuning gading yang tidak lain adalah Dewi Bulan ini tersenyum. Seraya memandang Panaran sekejap, setelah itu menoleh ke arah Undan yang terus berputar-putar liar di udara.

"Aku bukan mau mengintipmu, Kisanak! Aku sedang pergi menuju ke suatu tempat tidak jauh lagi dari sini. Jadi teruskanlah istirahatmu, aku akan meneruskan perjalananku!"

Dewi Bulan baru saja hendak melanjutkan perjalanannya ketika di belakangnya terdengar suara membentak.

"Berhenti...!"

Mau tidak mau gadis ini hentikan langkahnya tapi tidak menoleh ke belakang.

"Kalau ingin bicara, bicaralah, aku tidak punya banyak waktu!"

"Gadis sombong! Kau hendak ke mama, katakan tujuanmu! Bukankah tempat  terdekat  dari sini  adalah gunung Bromo? Apakah kau mau ke sana?" "Pertanyaanmu banyak sekali. Mana

yang harus kujawab?"

"Jangan banyak mulut! Katakanlah ke mana tujuanmu!"

"Aku mau ke gunung Bromo. Apakah itu sudah cukup?" "Lagakmu tengil seperti bayi kebesaran upil! Aku tahu kau pasti minta ingin bergabung dengan penguasa gunung Bromo. Hak hak hak! Tujuan kita sama. Jika kita punya nasib baik, tentu kelak kita bisa bersahabat!"

Maka tertawalah Dewi Bulan mendengar ucapan si baju hitam.

"Siapakah namamu, Kisanak?" "Mengapa kau tanya nama? Aku

Warok Batiroso dari Ponorogo."

"Warok sama dengan jagoan jika menyimpang dari kodratnya. Terus terang, Kisanak. Aku pergi ke gunung Bromo justru untuk menagih hutang nyawa pada para iblis yang bercokol di sana. Jadi tujuan kita jelas jauh berbeda"

Warok Batiroso terkesiap mendengar ucapan Dewi Bulan. Sebaliknya Undan yang terus terbang berputarputar di atas Dewi Bulan mencuik keras. Kepakan sayapnya pang keras saja membuat pakaian Dewi Bulan berkibar-kibar. Dan muka gadis itu terasa perih bukan main.

"Hmm, kita punya tujuan berbeda. Jauh dari tanah kelahiran aku telah berjanji untuk menghambakan diri pada mereka. Walaupun mereka belum menerima kehadiranku. Adalah pahala besar jika aku membunuhmu untuk mereka!" geram sang Warok.

Dalam pada itu sang gemblak pun menimpali pula. "Bagus, bunuh saja, Kakang. Jika tidak dibunuh sekarang nanti pun jadi penyakit bagi kita!"

"Heee... kau. Manusia salah kaprah yang menyalahi kodratnya. Cap lonceng lawan cap lonceng. Jangan ikut campur jika tidak ingin mampus!" damprat Dewi Bulan sengit,

Disindir begitu Panaran rupanya tidak terima. Ia bangkit berdiri lalu cabut keris pendek berwarna hitam dari balik bajunya. Sebelum laki-laki ini bertindak, Warok Batiroso mencegah.

"Jangan buang-buang keringat istriku! Untuk membunuh bocah tengil ini, paman Undan sudah cukup mewakili kita."

Warok Batiroso tiba-tiba menjentikkan tangannya. Undan yang berputarputar di atasnya menguik keras. Tubuhnya berputar-putar melayang rendah. Isyarat yang diberikan oleh sang majikan itu rupanya sangat dimengerti oleh sang Undan sebagai isyarat membunuh.

Bukan main cepatnya gerakan burung besar ini. Dalam waktu yang singkat sekali ia sudah menyambar dengan paruh terbuka ke arah Dewi Bulan.

Gadis ini terkesiap. Sambaran angin yang sedemikian keras itu saja sudah membuatnya tergontai-gontai.

Ia   terpaksa   melompat   sambil berguling-guling. Dewi Bulan selamat dari patukan paruh sang Undan yang panjang dan runcing. Tapi kepakan sayapnya membuat dada sang dara seperti terhimpit batu gunung.

Dewi Bulan tiba-tiba saja membentak keras. Ia hantamkan dua tinjunya ke depan. Seleret sinar biru melesat dari telapak tangannya. Sinar yang disertai deru angin ini panas bukan main. Tapi seperti sudali mengerti bahaya yang mengancamnya saja, Undan ini kepakkan sayapnya yang lebar. Hingga pukulan yang dilepaskan oleh Dewi Bulan buyar, mental dan sebagian lagi berbalik nyaris menghantam diri sendiri.

Gadis itu berguling-guling. “Bumm! Bumm!"

"Kurang ajar!" gerutunya dalam hati.

Dewi bangkit berdiri. Kali ini ia mencabut pedang pendek dari pinggangnya. Pedang danda ini diputarnya sedemikian rupa hingga menimhulkan suara menderu-deru dingin sekali.

Di tangannya pedang kembar itu seakan berubah menjadi banyak. Warok Batiroso tergelak-gelak. Namun kagum juga melihat permainan pedang si gadis yang begitu cepat dan berbahaya itu. Jika saja hanya orang yang mempunyai kepandaian biasa yang melihat permainan pedang Dewi tentu mereka tidak dapat membedakan yang mana bayangan dan yang mana aslinya. Tapi karena Warok Batiroso tertokol berkepandaian tinggi dan sangat terkenal di daerahnya. Jadi permainan serta jurusjurus pedang Dewi hanya berupa gerakan-gerakan yang sangat mengagumkan.

"Bunuh!" Teriak Warok Batiroso pada Undan yang terus berputar mencari kelemahan jurus pedang 'Kupu-Kupu Menari Di Atas Bunga Matahari' tersebut.

"Keeek! Kreeekkh!"

Undan itu memekik keras menggetarkan dada Dewi. Sayapnya kembali mengepak membelah udara memedihkan mata.

Dewi mengerahkan tenaga dalanmya untuk melindungi sekujur tubuhnya dari hantaman sayap sang burung. Tidak lama kemudian ia menggenjot tubuhnya, hingga sekejap saja tubuhnya telah melayang di udara. Karena burung itu terbang rendah, begitu pedang pendek di tangan Dewi berkiblat, maka angin menderu disertai sinar putih berkiblat menebas.

Namun Undan itu telah mengangkat sayapnya sehingga tebasan pedang Dewi luput. Gadis itu tidak mau ambil resiko. Ia alihkan pedang ke tangan kiri. Lain tangannya menghentak ke atas. Pada saat burung itu melayang, pukulan Gempa Merbabu menghantam. "Brass!"

"Kreaaakkh!"

Tubuh sang Undan terguncang. Dewi melesat turun dan menjejakkan kedua kakinya di tanah dengan mulus sekali. Undan tersebut agaknya menjadi marah sebagaimana pemiliknya. Ia terbang tinggi, hingga bentuknya berubah mengecil. Hanya dalam sekedipan mata, binatang yang sudah sangat terlatih itu menukik turun. Bukan main gerakan burung besar ini. Sampai-sampai hampir tidak terlihat kasat mata karena cepatnya.

Dewi begitu merasakan sambaran angin langsung melompat ke samping. Tapi kepakan sayap burung yang seakan menendang tidak sempat dihindarinya.

Braak! "Glebuk!"

Dewi jatuh terguling-guling. Ia merasa dada dan punggungnya seperti remuk. Warok Batiroso melihat ini terlonjak girang dan semakin bersemangat.

"Bunuh dengan perahumu!" perintahnya.

"Kreaakk...!"

Sang Undan menyahuti dengan pekikan keras. Ia tidak lagi berputar. Melainkan terbang serendah-rendahnya sambil mematuk dahsyat ke arah batok kepala Dewi. Gadis ini pasti akan kehilangan kepalanya jika pada saat yang sangat kritis itu tidak melesat sebuah benda berwarna hitam panjang menderu kencang ke arah paruh sang burung.

Begitu kencangnya hingga Undan itu sendiri tidak sempat melihat bahaya ini.

"Taak!" "Kreaakkkk...!"

Sang Undan menjerit keras ketika benda hitam menghantam ujung paruhnya. Patukannya gagal, selain itu ia golang-golengkan kepalanya karena didera rasa sakit bukan kepalang. Terbangnya menjadi oleng, lalu membumbung tinggi semakin bertambah tinggi hingga lenyap dari pandangan mata.

2

Kejut hati Warok Batiroso bukan kepalang. Seseorang yang bisa menyerang burung perkasanya itu tentu merupakan mereka yang mempunyai kepandaian tinggi. Tapi ketika ia melihat ke samping kiri, orang yang berdiri di situ sambil cengar-eongir bertolak pinggang hanya seorang pemuda berambut hitam kemerahan bertampang tolol. Sungguh pun ia harus mengakui bahwa pemuda itu lebih tampan dari Gemblaknya sendiri. "Tidak ada hujan tidak ada angin. Hanya orang gila yang cari penyakit kalau berani mencampuri urusan orang lain!" bentak Warok Batiroso.

"Karena gadis baju kuning itu kawanku. Masak aku harus melotot saja melihat dia kehilangan kepala?"

"Hmm, rupanya kau kawannya?"

Suro Blondo garuk-garuk kepala, lain memandang pada Dewi Bulan yang melotol, kepadanya.

"Bagus, kurasa tujuanmu tidak jauh beda dengan tujuan gadis ini. Sebutkan namamu dan apa gelarmu?"

"Gelar tidak perlu, namaku Suro Blondo!" kata Pendekar Blo'on.

"Heh...! Rupanya kau yang dikabarkan sebagai anak ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro delapan belas tahun yang lalu? Kebetulan sekali aku ingin tahu apa kehebatan yang tersimpan di balik nama dan kelahiran yang menggemparkan dulu!" geram Warok Batiroso hampir tidak dapat menahan tawanya.

"Ha ha ha! Yang membuat gempar adalah tikus-tikus sesat sepertimu. Mereka kemaruk ingin punya murid sepertiku. Heh... apakah kau tidak kasihan membawa-bawa istrimu yang bunting itu?"

Merasa disindir begitu rupa, baik Warok Batiroso dan Panaran jadi sangat tersinggung sekali. "Keparat!"

Warok Batiroso hendak mengemplang kepala Suro. Tapi pemuda ini menahannya

"Tunggu?" "Apa lagi?"

"Bertarung dengan manusia ajaib seperti ku ada waktu dan batasnya. Kalau waktu yang sudah sama-sama kita sepakati telah berakhir. Artinya kau kalah jika tidak mampu merobohkan aku. Sebaliknya jika kau memang aku bersedia menjadi kacungmu"

"Kalau aku kalah?"

"Kalau kalah kau harus menyembahku tujuh kali setelah itu segera merat dari hadapanku!"

"Ha ha ha!" Warok Batiroso tergelak. Ia yakin dengan kemampuannya. Pemuda di depannya walau tadi sempat ia lihat kehebatannya pasti tidak sampai lima jurus ia akan menjadi pecundang. Apalagi mengingat wajah pemuda itu tampan. Paling tidak jika ia dapat mengalahkannya, selain Warok punya kacung pemuda itu dapat pula dijadikan selirnya.

"Bagaimana, apakah kau setuju?" tanya Pendekar Blo'on.

"Setuju. Berapa jurus kau tawarkan?"

"Sepuluh," jawab Suro Blondo. "Aku menawar lima."

Pendekar Blo'on menyeringai, kemudian tertawa sambil pencongkan mulutnya. "Kau menawar paling sedikit, jangan menyesal nanti kalau juraganmu ini harus mengemplang kepalamu pulang pergi, Warok...!"

"Banyak mulut!" "Tuuing...!"

Warok mengemplang mulut si pemuda. Tapi Suro sudah tarik mulutnya ke belakang. Lalu ia geser langkahnya ke samping kiri. Tinjunya menghantam dada sang warok. Laki-laki ini menepis dengan gerakan ringan tapi tangan dialiri tenaga dalam tinggi. Suro tak mau mengambil resiko. Lalu putar tangan ke samping. Tendangan kaki kanan menghantam perut.

Warok Batiroso terkejut sekali. Ia melompat ke belakang. Justru pada saat si pemuda hantamkan lagi tangannya ke dada lawan.

Tendangan dapat dihindari, tapi tinju lawannya menghantam telak dada sang Warok.

Karena hantaman itu cukup keras, Warok biar pun badannya besar tetap saja terhuyung ke belakang. Merah wajahnya menerima kenyataan ini. Ia kertakkan rahangnya, lalu tangan kanan diputar cepat. Inilah jurus 'Kalinding Bencana'. Sebuah jurus andalan yang sangat diyakini kehebatannya.

Serasa tangan lawan semakin lama semakin bertambah cepat. Hingga tangan ,yang berputar dan menimbulkan gelombang angin menderu-deru ini semakin lama seakan berubah menjadi banyak.

Pendekar Blo’on telah kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' Salah satu jurus konyol warisan gurunya Penghulu Siluman Kera Putih.

Seketika tubuh si pemuda terhuyung-huyung. Tangan kirinya tidak henti menggaruk sana-sini. Sedangkan tangan kanan moncecar mata sang Warok. Kaki si pemuda terus bergerak lincah. Terkadang posisinya setengah berjongkok sambil melompat-lompat. Tapi begitu serangan lawan semakin menghebat, ia berguling-guling sambil menunjuk-nunjuk ke langit.

Bibir si pemuda berkomat-kamit. Terkadang keluar suara mendesis atau ngak ngik nguk seperti suara seekor monyet yang ribut. Lalu dalam keadaan tetap berguling-guling itu ia melepaskan tendangan beruntun menyapu kaki sang Warok.

Serangan-serangan gencar yang dilakukan oleh Warok Batiroso selalu luput. Sebaliknya serangan baiik yang dilakukan oleh lawannya nyaris menghantam tempat-tempat yang berbahaya. Tidak ayal lagi, Warok Batiroso jadi uring-uringan.

Sementara itu Dewi Bulan juga rupanya tidak tinggal diam. Ia melabrak Panaran gemblak sang Warok dengan serangan-serangan yang sangat ganas. Panaran yang sempat melihat Dewi Bulan sempat kucar kacir mendapat serangan sang Undan sama sekali tidak menyangka. Kini gadis itu berubah menjadi hebat tanpa mempergunakan senjata. Kini secara pelan ia menyadari bahwa gadis ini mempunyai jurus-jurus yang sangat berbahaya bila tidak mendapat serangan dari udara.

Dalam waktu singkat pertempuran sudah berubah menjadi seru. Sebaliknya Panaran sudah mencabut keris kecil lekuk tiga begitu mendapat tekanan dari lawannya. Keris berwarna hitam mengandung racun keji ini menderu-deru menimbulkan sinar hitam dan menebar bau amis. Pertanda bahwa senjata lawannya mengandung racun yang sangat keji.

"Aku tidak mungkin bertangan kosong terus menghadapi senjatanya yang mengandung racun itu," pikir Dewi Bulan.

"Sriing! Sring!" "Heaaa...!"

Dewi Bulan membentak keras, tubuhnya melesat ke depan. Sedangkan pedang kembar pendek yang baru dicabutnya menusuk ke arah leher lawan sedangkan satunya lagi menebar ke perut Panaran.

Mendapat serangan dahsyat dalam waktu bersamaan ini sempat terkesiap juga. Namun laksana kilat ia membanting tubuhnya ke samping kiri lalu lepaskan tendangan ke pergelangan tangan lawannya.

"Duuk!" "Eeeh...!"

Walau pedang di tangan kanan sempat tergetar dan pergelangan yang kena tendangan terasa remuk. Tapi pedang di tangan kirinya terus melaju mengancam dada Panaran. Laki-laki ini mengegoskan tubuhnya. Tidak urung....

"Reeek. !"

"Uuh. !"

Panaran mengeluh pendek. Bahunya yang kena sambar ujung pedang Dewi robek. Selir sang Warok menggerung marah. Lalu bangkit berdiri, tanpa menghiraukan luka yang dideritanya ia menyerang kembali dengan seranganserangan yang lebih gencar.

Dewi Bulan tidak mau kalah. Ia kerahkan jurus pedang 'Walet Menyambar Buih'. Salah satu jurus terhebat dengan fungsi menggempur dan bertahan.

"Wukk! Wukk!"

Kilatan sinar pedang itu memedihkan mata Panaran. Sinar hitam yang memancar dari keris Panaran seakan terdorong dan meredup. Hanya dalam kejapan mata saja Panaran telah terkurung. Di lain saat kerisnya membentur pedang di tangan Dewi Keris mustika itu terpental. Di saat itulah Pedang di tangan Dewi menempel di dadanya. Kalau Dewi Bulan mau, tentu jiwa Panaran sudah tidak dapat diselamatkan lagi.

"Aku mengaku kalah!" desisnya dengan muka pucat ketakutan.

"Lain kali jika bertemu dengan kau. Kepalamu akan kupenggal!" dengus Dewi Bulan sambil memasukkan pedang ke rangkanya.

Sementara itu pertarungan antara Warok Batiroso dan Pendekar Blo'on sudah mencapai puncaknya. Sang Warok yang menjanjikan waktu selama lima jurus kini telah melewatinya sampai empat puluh jurus. Rupanya ia tetap penasaran juga. Karena sejak tadi ia hanya mampu  membuat  lawan  jatuh tunggang langgang dan muntah darah. Sebaliknya Suro Blondo dengan mengandalkan jurus-jurus yang kocak dan konyol berulang kali menghantam sang Warok hingga membuat laki-laki ini menderita luka dalam cukup serius. Tokoh dari Ponorogo ini rupanya tidak mau menyerah begitu saja. Kini sambil  menyeringai  kesakitan  ia keluarkan golok panjang besar, tipis

tajam mirip golok milik tukang jagal. "Bocah!    Kuakui    jurus-jurus

silatmu yang aneh dan dahsyat itu. Tapi aku tidak mungkin membatalkan niatku untuk bergabung dengan penguasa gunung Bromo sebelum menjajal kehebatan golokku ini!"

"Ha ha ha! Aku bosan tawar menawar denganmu, kurasa kau tidak akan tepat janji lagi. Mau pergunakan Undanmu yang sudah terluka untuk mengerokku silakan. Mau pergunakan seribu senjata masa bodoh!"

"Kau terlalu memandang enteng padaku! Hiyaa...!"

"Aku selalu memandangmu berat dan tinggi Warok! Weiit... hampir saja ambrol bakul nasiku...!" jerit si pemuda sambil melompat ke belakang selamatkan perutnya dari hantaman golok besar lawannya.

"Wik! Wik! Wik!" "Ngung! Ngung! Ngung!" "Eiit! Hampir saja...!"

Suro Blondo bersalto ke udara ketika golok di tangan Warok Batiroso membabatkan goloknya terarah ke bagian kakinya. Masih dalam keadaan berjumpalitan di udara tanpa diduga-duga sang Warok mengejarnya. Tentu sangat sulit bagi Suro untuk menghindarkan diri dari bahaya. Sehingga ia mencabut senjata andalannya berupa Mandau Jantan berwarna hitam dari balik pakaiannya. Senjata dengan empat sisi lubang miring pada bagian tengahnya dan mempunyai ujung ganda ini menderu membelah udara. Seketika terdengar suara rintih tangis yang menyayat hati. Suara rintihan itu berubah menjadi jeritan yang menyakitkan gendang-gendang telinga ketika si pemuda menyalurkan tenaga dalamnya ke gagang Mandau Jantan tersebut.

Warok Batiroso terkesiap, dadanya bergetar dan langsung terasa sesak. Ia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghilangkan pengaruh aneh yang memancar dari senjata lawan. Tapi hingga sejauh itu ia tidak mampu juga melakukannya.

Warok kiblatkan senjatanya, terjadi benturan hingga menimbulkan bunga api.

"Raap!"

"Traak! Traak!"

Benturan keras itu membuat maaing-masing lawan terpental jauh. Warok Batirono jatuh terduduk. Sedangkan Suro Blondo masih mampu menjejakkan kakinya dengan baik di atas tanah.

Ketika Warok Batiroso melihat ke arah goloknya maka terkejutlah tokoh dari Ponorogo ini. Golok mustika di tangannya telah terbabat putus menjadi dua. Wajahnya berubah pucat, sadarlah ia kalau pemuda itu mau sejak tadi bukan saja goloknya yang buntung menjadi dua, tapi juga kepalanya bisa copot dari badannya.

Ketika ia memandang ke arah si pemuda, maka terlihatlah dengan jelas bahwa pemuda itu baru saja memasukkan senjatanya yang berbrentuk dan mengeluarkan suara aneh tersebut ke dalam sarungnya.

Pendekar Blo'on seka keningnya. "Apakah kau masih tetap penasaran juga, Warok?"

"Hmm, kalau tidak melihatnya sendiri mana aku bisa percaya. Kau masih muda tapi sudah mempunyai kepandaian beragam. Ternyata kau memang bukan pemuda lemah. Kepandaianmu mustahil dapat kuimbangi walau aku belajar lima belas tahun lagi. Aku mengaku kalah padamu, sesuai janjiku aku membatalkan niatku untuk bergabung dengan penguasa gunung Bromo. Di mataku, kau pantas menyandang gelar Pendekar Blo'on. "

"Ha ha ha...! Untuk menerima julukan yang sama, berarti aku harus memotong kambing lagi. Apa pun yang kau katakan, kuharap kau tidak melupakan janjimu. !"

"Oh tentu saja tidak!" Warok Batiroso tiba-tiba menjatuhkan diri dan berlutut sebanyak tujuh kali. Ketika sang Warok bangkit kembali, seraya berkata: "Jika kau menjambangi Ponorogo dan dapat kesulitan. Kau cukup menyebut namaku dan orang tidak ada yang berani mengganggumu!"

"Hmm, aku berterima kasih sekali. Semoga kau panjang umur, Ki. Banyak rejeki, enteng jodoh, panjang rambut, panjang kumis dan panjang pula kau punya...!" ujar Suro Blondo sambil garuk-garuk kepalanya.

Sesungguhnya Warok Batiroso mendongkol juga mendengar ueapan si pemuda yang dianggapnya setengah miring ini. Tapi mau apa, dia sudah kalah dan harus tahu diri dengan angkat kaki.

Tanpa menunggu jadi bahan olokan selanjutnya, Warok Batiroso langsung pergi dengan menggendong Panaran di pundaknya.

Pendekar Blo'on memandangi kepergian Warok Batiroso sambil tersenyumsenyum.

"Dunia ini benar-benar sudah tua apa manusianya yang semakin edan. Perempuan tidak kalah banyaknya. Kok kawin batangan lawan batangan? Seperti orang main Toya saja. Ha ha ha... gila... gila bukan main-main...!" Pemuda itu tertawa-tawa seperti orang miring. Namun bila ia teringat sesuatu, maka Suro Blondo celingukan.

"Aku kecolongan. Gadis baju kuning itu. Ahh...." Si pemuda tepuk keningnya berulang-ulang "Siapa namanya? Dewi... Dewi Bulan bintang. Dewi Dewa atau Dewi Saritem. Ah… Dewi Bundar, Dewi Bulan...! Ke mana dia pergi?"

Pendekar   Blo'on   memperhatikan suasana sekelilingnya. Tapi di tempat itu sepi seperti kuburan

"Aku yakin Dewi telah pergi ke gunung Bromo. Kupanya ia tidak mau kuikuti. Padahal aku punya urusan hampir sama. Dia pergi ke sarang macan sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hmm, hatiku mengapa berdebar-debar begini. Adik bukan, ibu bukan... mengapa aku mengkhawatirkan keselamatannya?"

Suro Blondo mondar-mandir di tempat itu, setelah berpikir agak lama ia kemudian mengambil kesimpulan.

"Sebaiknya aku susul dia. Siapa tahu dia benar-benar dalam kesulitan," pikir Suro Blondo.

Pemuda ini kemudian berlari-lari m-ninggalkan daerah berbukit itu dengan mempergunakan ilmu lari cepat Kilat Bayangan. Sehingga dalam waktu singkat ia telah hilang dari pandangan mata.

3

Pada sebuah lereng sebelah timur gunung Bromo terdapat sebuah bangunan megah berwarna biru. Bangunan itu selain menjulang tinggi dengan beberapa menara pengawas di atasnya juga cukup luas. Sehingga dilihat sepintas lalu mirip dengan sebuah istana kerajaan. Pada setiap menara yang berjumlah delapan buah ini terdapat pengawal paling sedikit tiga orang bersenjata panah, yang sewaktuwaktu siap dibidikkan. Karena bangunan itu dikelilingi sebuah benteng tinggi, mustahil orang dapat memasukinya terkecuali dari pintu gerbang depan yang menghadap ke lereng gunung.

Waktu itu hari telah menjelang malam ketika sosok bayangan berpakaian serba kuning mengendap-endap di luar benteng. Melihat gerakannya yang sangat hati-hati, jelas bayangan ini sengaja menghindari bentrok dengan regu pemanah yang bertugas di menara pengawas.

Setelah memastikan dalam keadaan aman. Tidak lama setelah itu ia menggenjot tubuhnya malompati tembok benteng setinggi hampir dua setengah tombak itu. Gerakannya enteng seringan kapas. Menandakan bahwa orang ini mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah cukup sempurna. Setelah dua kakinya menjejak tembok, ia mengawasi suasana di dalam benteng. Ternyata keadaan di sana dalam keadaan lengang. Kalau pun ada pengawal, mereka sedang duduk-duduk minum tuak keras. Bahkan ada pula diantara mereka yang sedang main kartu. Merasa keadaan dalam suasana aman-aman saja, maka bayangan kuning yang ternyata merupakan seorang gadis cantik ini melayang turun. Sama seperti pertama tadi, kini gerakannya pun ringan tidak menimbulkan suara.

Tapi tanpa diduga-duga, begitu kedua kakinya menjejak ke tanah, dua orang laki-laki berbadan tambun dan bertelanjang dada langsung menghantamnya dengan jotosan.

"Pengacau goblok ingin cari penyakit!" dengus salah seorang diantara mereka. Suaranya serak seperti dicekik setan.

Dengan gesit sekali gadis baju kuning yang ternyata Dewi Bulan ini menggeser wajahnya ke samping hingga pukulan itu luput. Tapi lawan yang satunya lagi sudah mencabut senjatanya berupa kaitan berbentuk bengkok namun dua sisinya memiliki ketajaman luar biasa.

Hingga sejauh ini Dewi Bulan melayani mereka dengan jurus-jurus tangan kosong. Sementara itu terdengar suara teriakan-teriakan orang yang terlibat pertarungan. Maka para pengawal lainnya berhamburan mendatangi. Mereka segera mengurung Dewi Bulan dengan sikap waspada. Menghadapi dua orang berbadan tambun ini, semakin lama Dewi Bulan kehilangan kesabaran. Apalagi mengingat senjata mereka yang berbentuk aneh itu berulang kali nyaris membuat robek badannya.

"Triing!"

"Wiing!" "Hiyaa...!"

Sekali bergebrak ia langsung mengerahkan jurus 'Mentari Redup Di Kaki Bukit'. Ini adalah salah satu jurus yang sangat diandalkannya. Rupanya Dewi tidak ingin membuangbuang waktu, mengingat musuh yang dihadapi terlalu banyak jumlahnya.

Sebaliknya dua lawan yang berbadan tambun ini begitu bernafsu untuk meringkus Dewi. Karena sudah menjadi peraturan di situ siapa yang dapat meringkus lawan dalam keadaan hidup akan mendapat hadiah yang cukup besar. Kedua laki-laki itu secara berbareng langsung menggempur sambil babatkan senjata unik di tangannya.

Dengan pedang kembar di tangan, Dewi menangkis. Terdengar suara berdentang dua kali berturut-turut. Bunga api sampai memijar. Ini merupakan tanda masing-masing lawan mereka sama-sama mengerahkan tenaga dalamnya. Dewi sendiri tangannya terasa linu, pedang hampir terlepas. Ia maju dan langsung menyeruak dengan mengerahkan serangan yang sangat mematikan.

Salah satu dari lawan berusaha menghalau serangannya. Tapi ia tidak sempat lagi babatkan senjatanya karena senjata Dewi meluncur deras membeset lehernya.

"Jres!" "Wuaakkh...!"

Jeritannya terputus bersama putusnya pangkal tenggorokan. Darah menyembur, si tambun memegangi lehernya yang hampir putus. Melihat ini kawannya menjadi kalap. Ia menyerang secara membabi buta. Kenyataan ini tentu saja menguntungkan Dewi. Sementara yang satunya meregang ajal, sedangkan yang ini bagaikan banteng terluka terus mendesak lawannya.

Bukan main gesit gerakan Dewi Bulan. Dengan lincah ia menghindari setiap serangan yang datang.

Karena serangan-serangannya selalu mengenai sasaran kosong, laki-laki tinggi besar ini menggembor marah.

Dengan kedua tangannya ia ayunkan senjata berbentuk kaitan itu.

"Wuuk! Wuuk!"

Dewi berkelit sambil merundukkan kepala. Tangan kiri menghantam ke depan. Pedangnya hanya menyambar angin. Karena lawan sudah menarik tubuhnya ke belakang. Tidak kalah cepat pedang di tangan kanan Dewi menyusul dan begitulah seterusnya.

"Traaang!"

Pedang itu membentur senjata si tambun, hingga untuk yang kesekian kalinya tubuh mereka sama-sama tergetar. Jika si tambun mundur sebaliknya Dewi merangsak maju.

Laki-laki berbadan besar ini terkesiap. Ia sudah tidak dapat lagi selamatkan diri ketika pedang pendek di tangan Dewi Bulan menembus dadanya.

"Bleess!" "Raaaakh!"

Karena pedang tersebut diputarnya sedemikian rupa. Maka ketika dicabut, perabotan dalam perut si tambun ikut terbetot keluar. Laki-laki itu melotot, lidahnya menjulur-julur keluar. Tubuhnya terhuyung-huyung dan ambruk ke tanah dengan jiwa melayang.

Kematian si tambun membuat pengawal-pengawal lainnya semakin rapat mengurung Dewi bahkan mulai mencabut senjatanya masing-masing. Pada saat itu pula menyambar angin yang begitu lembutnya. Dewi baru menyadarinya ketika sebuah tangan menyapu dadanya.

"Eeh...!" Dewi terkesiap dan lontarkan makian. Karena secara kurang ajar bayangan yang bergerak laksana kilat tadi meremas buah dadanya. Tapi ia jadi terkejut karena ternyata selain tidak mampu bersuara, Dewi juga tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Nyatalah sudah bahwa ia ditotok oleh lawannya dengan cara yang sangat aneh sekaligus kurang ajar.

"Ha ha ha...! Tamu yang tidak diundang ternyata seorang perempuan cantik dan menawan sekali. Hari ini aku Ki Rambe Edan dan kawan-kawan benar-benar ketiban rejeki yang sangat istimewa!"

Dewi memandang laki-laki tua bertampang angker yang berdiri tidak jauh di depannya dengan mata tidak berkesip sedikit pun. Melihat betapa hormatnya para pengawal yang berada di sekitar situ, jelas sudah bahwa lakilaki berhidung besar ini merupakan salah seorang pemimpin di situ. Inilah pembunuh orang tuanya. Betapa marahnya dia, tapi dalam keadaan tertotok begitu rupa, mustahil ia dapat berbuat banyak. Bisa-bisa keselamatannya sendiri pun dalam keadaan terancam. Tanpa sadar wajah si gadis berubah merah padam. Ia terlalu gegabah memasuki benteng istana yang dibangun atas cucuran darah dan keringat rakyat ini. Seharusnya ia bicara dulu dengan pemuda konyol yang telah menolongnya dari amukan Undan Warok Batiroso. Jadi bukan meninggalkannya begitu saja. Kini ia benar-benar berada dalam kesulitan yang sangat besar. Apalagi mengingat kawan-kawan Ki Rambe Edan telah berkumpul di situ. Dan semuanya merupakan orang yang telah menyebabkan kematian orang tuanya.

"Gadis secantik bidadari ini rasanya jarang kita temui di sini. Ia datang menyerahkan diri, Kakang. Alangkah baiknya jika kita mulai segala-galanya untuk menemani pesta tuak wangi!" kata yang berperut bundar sambil usap-usap perutnya.

"Kurasa dia masih benar-benar tulen. Kakang Rambe... kami mendapat jatah sisanya setelah Kakang pun rasanya sangat terima kasih sekali!" ujar yang bermuka bengis sambil lalu membelai-belai wajah Dewi Bulan

"Manusia sesat haram jadah. Kalian semua akan merasakan pembalasanku yang sangat pedih jika sampai berbuat macam-macam padaku!" maki Dewi Bulan. Tapi suaranya sama sekali tidak terdengar.

Sementara itu Ki Rambe Edan sudah memberi perintah.

"Bawa dia ke kamarku! Aku ingin melihat kebagusan tubuhnya yang halus mulus ini!"

Dengan senang hati, Baja Geni memanggul Dewi Bulan memasuki istana mereka. Sepanjang jalan menuju istana itu tidak henti-hentinya tangan Baja Geni menggerayang kian kemari. Dewi Bulan yang keras hati ini hanya mampu menyumpah-nyumpah dalam hati mengingat ia tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali.

Di luar suasana berubah sunyi kembali. Para pengawal pergi ke tempat penjagaan masing-masing sambil membicarakan ketua dan pemimpin mereka yang telah mendapatkan gadis cantik yang tentu saja segera menjadi korban nafsu bejad mereka.

4

Di balik rimbunan pohon yang memayungi atap genteng bangunan besar tersebut. Sepasang mata yang terus mengawasi sejak tadi bukan tidak tahu apa yang terjadi. Malah matanya sempat melotot ketika Ki Rambe Edan secara curang menotok Dewi Bulan dengan cara meremas payudaranya. Tindakan kurang ajar ini membuat pemilik sepasang mata sempat garuk-garuk kepala. Dalam suasana seperti itu mustahil ia turun tangan, sungguh pun baginya keberadaan para pengawal tersebut tidak masuk dalam hitungan. Hanya kelihatannya ia lebih bersikap hati-hati. Dan tidak mau gegabah sebagaimana gadis itu.

Kini ia sedang mencari cara untuk membebaskan Dewi Bulan. Memang patut diakui sebagaimana yang pernah dikatakan oleh gurunya, ciri-ciri Ki Rambe Edan dan kawan-kawannya. Tidak satu pun yang mirip dengan musuh-musuh besar yang telah membuatnya yatim piatu. Mereka buman opembunuh orang tus si pemuda.

Tapi dulu, delapan belas tahun yang lalu, tindakan Ki Rambe Edan dan kawan-kawannya tidak kalah sadis dengan yang dilakukan oleh pembunuh kedua orang tuanya. Mereka mengumpulkan ibu-ibu yang hamil tua di gunung Bromo ini juga. Kemudian mereka membunuhinya secara semena-mena. Termasuk kedua orang tua Dewi itu sendiri.

"Belum sepantasnya Dewi Bulan turun gunung. Kurasa gurunya orang gendeng. Muridnya lebih sinting lagi. Wataknya keras, keberaniannya segunung. Cuma ia terlalu ceroboh." Si pemuda seka keningnya yang berkeringat, padahal udara malam di gunung Bromo dinginnya bukan main-main. Lalu kejap kemudian ia garuk-garuk kepalanya. "Aku harus dapat membebaskannya sebelum malapetaka besar menimpa diri gadis itu. Eeh... mengapa jantungku berdebar-debar. Aku seakan tidak rela jika sampai terjadi apa-apa dengannya. Padahal... tolol sekali. Mengapa aku terlalu merisaukannya?"

Pemuda ini kemudian melompat ke atap genteng bangunan. Suasana malam hari yang gelap benar-benar telah menolongnya dari penglihatan para pengawal yang berjaga-jaga di menara pengawas. Lalu dengan gerakan seringan kapas ia terus mengendap-endap sambil memasang telinganya.

Di tengah-tengah atap genteng ia berhenti. Ia mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa. Lalu...

"Gluk! Gluk! Gluk!"

"Yang kudengar pasti bukan suara kuda lagi minum atau orang lagi kencing berdiri. Pasti para iblis sedang menunggu giliran. Kurasa iblis yang satunya tidak jauh dari ruangan ini."

Si pemuda menggaruk lagi belakang kepalanya. Ia melangkah lagi, bergeser dari genteng yang satu ke genteng lainnya. Lalu terdiam sekitar jarak satu batang tombak dari tempat semula. Dia berjongkok, lalu merapatkan sebelah telinganya ke genteng. Mulamula Suro Blondo tidak mendengar apaapa. Tapi setelah memusatkan segala perhatiannya ke satu arah yang dituju, yaitu bagian dalam kamar, maka mendengar suara desah nafas memburu seorang laki-laki.

"Kebo gelo gajah budek, sapi lanang kebo kampret! Aku harus sampai ke dalam sebelum iblis rambut lurus bertindak lebih gila lagi!" desis pemuda itu sambil menggeser genteng satu demi satu.

Sementara itu di dalam ruangan kamar pribadinya, Ki Rambe Edan sudah melucuti pakaian yang melekat di tubuh Dewi Bulan. Kini gadis itu benar-benar dalam keadaan telanjang. Dadanya yang putih membusung tegak menantang segera dipermainkan oleh laki-laki bertampang angker ini. Diremasnya kedua bukit yang tegak menantang ini, sementara air liur sang iblis tidak hentinya meleleh membasahi tenggorokannya. Mata Ki Rambe Edan yang agak sipit membulat lebar. Kini tangannya bertindak lebih agresif lagi. Tangan itu meluncur melalui perut Dewi yang mulus. Lalu terus ke bawah dan mencopot penutup terakhir badan Dewi sehingga gadis itu benar-benar dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun.

Menyaksikan pemandangan ini nafsu iblisnya terbangkitkan. Darahnya memanas hingga ke ubun-ubun. Dengan leluasa ia menggerayangi seluruh keindahan tubuh yang dimiliki Dewi.

Ki Rambe Edan kemudian mencopot pakaiannya sendiri, hingga membuatnya seperti bayi. Dewi Bulan ketakutan setengah mati, wajahnya pucat, ia ingin berteriak tapi suaranya tidak keluar. Ia meronta, tapi tubuhnya yang dalam keadaan tertotok tidak dapat digerakkan sama sekali. Sedemikian besar ancaman ini sehingga ia sendiri merasa lebih rela dipenggal kepalanya daripada menanggung aib yang memalukan.

Ki Rambe Edan mulai mencumbui si gadis. Ia menjatuhkan ciuman bertubitubi ke bagian mana saja yang disukainya. Sementara itu Suro Blondo sudah membuka langit-langit kamar. Ia terkesiap melihat gadis yang selalu dipikirkannya dalam keadaan begitu rupa. Dengan penuh kegeraman ia mencabut senjata andalannya yaitu sebuah mandau jantan berwarna hitam dengan empat lubang miring di tengahtengahnya. Setelah itu Pendekar Blo'on melayang turun dengan kecepatan dua kali kecepatan biasa.

Senjata di tangannya diayunkan sekeras-kerasnya ke arah leher Ki Rambe Edan. Mandau menderu menimbulkan suara seperti orang sedang menangis. Mungkin suara inilah yang membuat Ki Rambe Edan terkejut, hingga ia cepat berpaling. Matanya terbelalak lebar begitu melihat senjata lawannya hanya seperempat jengkal saja dari batang tenggorokannya. Ia tidak sempat lagi berteriak memanggil kawannya, apalagi menghindar dari senjata berbentuk aneh itu.

"Jraak!"

"Cuur! Klokokk...!"

Darah menyembur dari penggalan kepala Ki Rambe Edan. Kepala yang terputus dari badan itu jatuh menggelundung dan di atas perut Dewi Bulan. Sekujur tubuh si gadis bermandi darah musuh bebuyutannya. Sementara kepala tanpa badan ini terhuyunghuyung, kemudian ambruk begitu saja setelah kehabisan darah.

Dewi terbelalak melihat kejadian mengerikan yang berlangsung sangat singkat ini. Suro Blondo mendekati pembaringan Dewi, ia ingin membebaskan totokan si gadis, tapi ragu-ragu. Karena totokan pengunci berada di bagian bukit kembar Dewi Bulan.

Pemuda ini melihat Dewi melotot kepadanya, ia tidak punya pilihan lain, Maka tak lama setelah itu memejamkan matanya. Karena tidak melihat ketika meraba, rabaannya tidak tepat pada bagian yang tertotok, malah yang terpegang bagian bukit yang paling tinggi.

Suro menahan nafas, lalu... "Bet! Bet!"

Satu sapuan agak keras dilakukannya. Gadis ini menjerit dan langsung bangkit berdiri. Setelah membersihkan darah Ki Rambe Edan yang membasahi tubuhnya, ia cepat mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya si pemuda berhasil membebaskannya. Pada saat yang sama, Balung Raja dan Baja Geni bukan tidak mendengar suara gaduh di dalam kamar sahabat tertua mereka. Tapi mereka menyangka Ki Rambe sedang bergumul dengan gadis bertahi lalat di dagu itu. Mereka baru tersentak kaget ketika melihat pintu terbuka. Sementara seorang pemuda berambut hitam kemerahan telah berdiri di sana sambil menenteng kepala Ki Rambe Edan. Sedangkan di belakang pemuda itu berdiri seorang gadis dengan muka bercelemongan darah. Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba Suro Blondo melemparkan potongan kepala Ki Rambe Edan ke arah mereka. Potongan kepala d«ngan mata membelalak dan lidah terjulur ini jatuh persis di atas meja. Balung Raja dan Baja Geni saling pandang, wajah mereka pucat kehilangan darah. Hanya sekejap mereka terkesima, di lain waktu mereka mencabut senjata mereka berupa kapak berujung tombak. Sedangkan Baja Geni mencabut rantai baja berujung pedang.

"Manusia rendah berhati iblis! Siapakah kau bocah bertampang tolol!" hardik Balung Raja. Rahangnya menggelembung pertanda amarahnya benar-benar memuncak sampai ke ubunubun.

"Manusia iblis berhati setan!" Suro membentak dengan tatapan mata tidak kalah dinginnya. "Kau siapa pula? Ha ha ha...! Aku tahu kalian telah membunuh kedua orang tua gadis ini. Sekarang kalian bermaksud menodainya secara keji! Tahukah kalian hutang kalian cukup banyak pada gadis ini. Dan semua itu belum berikut bunganya!"

Kini Balung Raja dan Baja Geni beralih pada Dewi Bulan yang juga sedang dilanda kemarahan.

"Siapakah kau?" tanya Balung Raja. "Aku! Orang tuaku kalian binasakan delapan belas tahun lalu di lereng gunung ini. Sedangkan kawanku ini adalah yang kelahirannya ditunggutunggu oleh tokoh-tokoh sesat semacam kalian."

"Jadi kau putrinya perempuan bunting yang telah kami bunuh dulu? Berarti kau muridnya Gajah Gemuk dan Gajah Krempeng?" desis Baja Geni sambil tersenyum sinis.

"Dan kau, siapakah?" Balung Raja ikut bertanya.

"Hmm, kawanku sudah mengatakannya. Aku Suro Blondo!" dengus si pemuda dengan mimik serius.

"Jadi kaulah orangnya yang kini sudah tumbuh besar. Bayi ajaib yang digembar-gemborkan pertapa pantai selatan itu ternyata setelah dewasa tidak lebih hanya berupa seorang pemuda bertampang tolol tidak ada gunanya. Terlanjur kepalang basah, hari ini peristiwa delapan belas tahun yang lalu segera terbukti apakah benar kau mempunyai kehebatan. Selain itu karena dosa-dosamu telah membunuh sahabat kami. Maka kini rasakanlah pembalasanku!"

"Plok! Plok!"

Dari luar para pengawal menghambur ke dalam. Dewi Bulan langsung menghadangnya. Untuk menghadapi pengawal-pengawal yang jumlahnya mencapai puluhan ini, Dewi Bulan langsung mencabut senjatanya. Pedang itu diputar sedemikian rupa. Maka terdengarlah suara jeritan-jeritan kesakitan. Satu demi satu pengawal itu roboh bermandikan darah.

Suro Blondo tidak membuang-buang waktu lagi. Ia kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' dan jurus "Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor' secara silih berganti.

Balung Raja dan Baja Geni putar senjatanya yang berbentuk aneh ini. rantai baja berujung pedang diputarnya sedemikian rupa. Sebaliknya Balung Raja dengan kapak berujung tombak mencecar Suro dari arah samping kanan. Dengan lincah sekali si pemuda menghindari serangan senjata lawan yang sangat cepat dan berbahaya ini. Angin menderu-deru. Rambut si pemuda berkibar-kibar terkena sambaran senjata lawannya.

Tapi dengan gerakan yang aneh dan kacau, Suro Blondo terus menghalau atau menghindari setiap serangan yang datang.

Tubuhnya berjingkrak-jingkrak, terkadang terhuyung ke kiri, di lain saat condong ke kanan. Hebatnya setiap serangan lawan selalu luput atau hanya menyambar tempat-tempat kosong.

Sementara itu Dewi Bulan sudah sampai di halaman depan. Sepanjang lorong ruangan telah penuh dengan mayat-mayat yang bergelimpangan. Pemuda ini demi melihat gelagat yang sangat baik segera lepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'.

Seleret sinar putih bergulunggulung menerjang Baja Geni dan Balung Raja yang sedang menerjangnya. Sinar yang memanca-kan hawa panas ini menderu kencang lalu melabrak lawannya.

"Bumm! Buum!"

"Uhk... keparat!" maki Balung Raja begitu pukulan lawan menyambar ke arah mereka. Tapi karena melindungi diri dengan senjata di tangan, akibat yang timbul karena pukulan itu tidak seberapa. Hanya bangunan itu saja yang runtuh pada bagian atapnya.

Sebaliknya Pendekar Blo'on telah melesat ke halaman.

"Kunyuk tolol gila! Hendak lari ke mana kau?" bentak Balung Raja ketika melihat lawannya berkelebat pergi. Tentu saja mereka tidak membiarkan lawannya meloloskan diri begitu saja. Mereka segera mengejar ke depan. Ternyata setelah sampai di halaman anak buah mereka sudah bergelimpangan, tewas di tangan Dewi Bulan.

Splak!

"Gubrak! Gubraak!"

Rupanya ketika Suro sampai di luar ia tidak langsung menuju halaman melainkan berdiri di samping pintu. Begitu melihat lawan-lawannya keluar sambil berlari ia sodorkan kakinya. Hingga membuat Baja Geni dan Balung Raja jatuh terguling-guling. Mereka bangkit berdiri, sambil meludah mulut menggembor memuntahkan kemarahannya.

"Anak setan! Aku tidak akan puaa sebelum memakan daging dan menghirup darahmu!" Teriak Balung Raja.

"Bapak iblis. Mulutmu berkoar seperti kaleng rombeng. Ajal sudah di depan mata tapi belum tobat juga!"

"Wut!"

"Wuuk! Wuuk!"

"Wiit... hampir saja putus si ntong!" kata Pendekar Blo'on memanasi. Ia melompat. Ketika serangan lawannya semakin menggila, maka ia berjingkrakjingkrak seperti anak kecil bermain tali.

"Bangsat!" Baja Geni menggerutu. Kedua tangannya bertepuk satu sama lain. Kemudian kedua tangan itu digosok-gosokkannya.

Wajah Baja Geni menegang, mulutnya komat-kamit. Dari telapak tangannya mengepul kabut pipih berwarna hitam. Kabut itu kemudian menyebar ketika Baja Geni hentakkan tangannya ke depan. Serangkum gelombang berhawa dingin dengan bau menyengat menderu dan menghantam Pendekar Blo'on. Pemuda ini leletkan lidah. Ia tidak menangkis atau memapakinya, melainkan mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Pada detik itu juga tubuhnya terangkat ke udara dengan kecepatan laksana kilat. Pukulan yang dilepaskan Baja Geni menyambar sejengkal di bawah kakinya, lalu menghantam tembok bangunan hingga hancur berkepingkeping

Pukulan mengandung racun keji yang dilepaskan oleh Baja Geni luput. Ia penasaran dan melepaskan pukulan susulan secara beruntun. Gerakan menghindar yang dilakukan oleh si pemuda semakin menggila. Tubuhnya berkelebat lenyap hingga berubah menjadi bayang-bayang yang sangat banyak membingungkan. Dalam pada itu Balung Raja yang menyerang dengan rantai Baja berujung pedang tampak kewalahan. Suro yang dalam keadaan mengambang di udara ini melepaskan tendangan beruntun ke arah wajah lawannya.

"Dekk!"

"Buk...! Buuk! Buk!" "Kraak!"

Terdengar tulang leher patah berderak. Balung Raja tidak sempat lagi melolong. Tubuhnya langsung terbanting dengan senjata masih di tangan ia menggelepar sesaat, lalu gerakannya semakin lemah dan hilang sama sekali bersamaan dengan melayangnya selembar nyawa Balung Raja.

"Kau benar-benar telah berubah menjadi balung seratus hari di depan," desis si pemuda. Kini ia hanya tinggal menghadapi seorang kawan lagi. Tibatiba terdengar suara bentakan nyaring penuh permintaan.

"Bangsat yang satu itu bagianku, Suro!" Berkata begitu sebuah bayangan berkelebat sedemikian cepatnya. Bayangan menuju ke arah Baja Geni yang sedang terpana menyaksikan kematian sahabatnya. Lalu ketika Baja Geni merasakan ada sambaran angin di belakang, begitu menoleh sebuah pedang pendek menghunjam punggungnya.

"Wuaakkh...!"

Baja Geni terhuyung. Ia mendekap ujung pedang yang tembus dari punggung hingga mencuat ke depan dada. Tidak sampai di situ saja, Dewi Bulan pun kembali mengayunkan pedangnya. Pedang itu dihantamkannya ke tubuh lawannya secara berulang-ulang hingga membuat kondisi lawannya yang telah kehilangan nyawa dalam waktu singkat ini tidak ubahnya seperti dicincang.

Melihat kekejaman ini Suro Blondo langsung mendatangi. Sebuah tangan yang kokoh menahan gerakan Dewi hingga membuat gadis itu menoleh. "Kau... mengapa kau lakukan...?"

"Bulan... eeh, Dewi...! Baja Geni telah meninggalkan dunia fana ini. Apakah kau hendak memasak dagingnya?"

"Selain membunuh orang tuaku, mereka juga hampir membuat aib yang sangat besar atas diriku."

Suro golang-golengkan kepala. "Memang betul...!"

Dewi memotong: "Tahukah kau betapa sakitnya hatiku?"

"Betul. Paling tidak aku turut merasakannya. Tapi tidak baik menganiaya mayat. Dia sudah menjadi bagian dari tanah. "

"Huh... jangan menggurui aku. Pemuda sepertimu mana layak memberi nasehat. Ah... gila...." Dewi membanting-banting kakinya. "Kini hanya tinggal kau yang belum mati."

"Mengapa kau menudingku begitu?" "Karena... karena... karena kau

telah melihat tub...!" Dewi Bulan katupkan bibirnya. Wajahnya berubah memerah. Ia teringat bagaimana pemuda tampan bertampang tolol ini merabaraba dadanya untuk membebaskan pengaruh totokan Ki Rambe Edan. Sebaliknya Pendekar Blo'on hanya garuk-garuk kepala sambil tersenyum tertahan.

"Dibandingkan Ki Rambe Edan, dosaku tidak kelewat besar, Dewi. Dia sudah lihat semua. Sedangkan aku tidak. Lagipula aku telah membantumu dan membebaskanmu dari aib maha besar. Kalau kau bunuh aku hari ini sama artinya aku tidak sempat mencari para pembunuh orang tuaku. Bagaimana kalau arwah mereka gentayangan dan mengejarngejar gadis secantikmu?"

"Pemuda ceriwis. Aku tahu telah barhutang nyawa padamu, kelak aku akan membayarnya."

"Tidak usah dibayar, cukup kau mengingatnya saja. Kurasa urusanmu di sini telah selesai. Sedangkan persoalan yang harus kuselesaikan sangat banyak sekali. Aku harus pergi sekarang...!"

Suro Blondo putar tubuhnya, ketika baru beberapa tombak ia melangkah Dewi Bulan yang mulai menyukai pemuda konyol ini memanggilnya.

"Hei... tunggu...!" cegah Dewi Bulan.

"Ada apa lagi?" tanya si pemuda. "Kau hendak ke mana?"

Suro garuk-garuk kepalanya.

"Aku mau cari musuh yang telah membunuh orang tuaku. Mungkin ke Pasuruan, Bukit Arjuna, Gunung Sumbing, Gunung Grumpung bisa jadi ke bukit kembar! Ha ha ha...!" kata Suro Blondo tanpa menoleh-noleh lagi sambil berlalu.

"Dasar edan!" gerutu Dewi Bulan seraya pandangi kepergian si pemuda yang telah menarik perhatiannya itu. Dan ketika pemuda itu lenyap dari pandangan matanya, ia merasakan adja sesuatu yang hilang dalam dirinya.

"Tuhan ya... Tuhan... mungkinkah aku dapat bertemu dengan dia di suatu saat nanti?" kata si gadis resah.

5

Di pantai Karang Bolong ada sebuah bukit-bukit kapur menjulang tinggi ke ungkasa. Tidak jauh dari bukit kapur lersebut terdapat pula sebuah bukit karang yang cukup tinggi. Untuk mencapai tempat ini orang harus menyeberangi laut karena letaknya memang agak ke tengah laut. Bukit karang ini selain sangat berbahaya juga licin sekali karena pada permukaannya ditumbuhi lumut-lumut laut yang telah berusia ratusan tahun. Siang itu setelah membatalkan niatnya pergi ke Pasuruan, pemuda berbaju biru berambut hitam kemerahan memakai ikat kepala warna biru belang-belang kuning ini pergi ke Karang Bolong. Ini semua dilakukannya karena menurut keterangan yang didapatnya di jalanan bahwa manusia Katai bersaudara tinggal di pantai Karang Bolong. Keterangan ini memang sulit dipegang kebenarannya, karena mungkin saja katai yang dimaksud bukan katai yang telah membunuh kedua orang tuanya. Karena di kolong langit ini banyak manusia berbadan cebol, jangkung, kurus, gemuk dan kurus kering macam orang cacingan juga cukup banyak.

Setengah hari setelah menyelusuri pantai laut Jawa. Kira-kira sekitar jam tiga sore, pemuda baju biru yang tidak lain adalah Pendekar Blo'on ini sampai juga di tempat tujuan. Ia mencari-cari, kemudian terlihat olehnya sebuah bukit karang menjulang seperti kerucut. Suro Blondo garukgaruk belakang kepalanya.

"Sarang setan tempatnya memang selalu sulit dijangkau," gerutu si pemuda. "Di sini tidak ada perahu yang lewat, tempat ini juga lebih sepi dari kuburan. Bukit karang itu agak jauh dari pantai ini. Bukan aku tidak sanggup berenang ke sana. Tapi dinginnya ini alamak. Lagipula konon banyak hiu-hiu ganas berkeliaran di sekitar sini. Apa caraku...?" Suro Blondo seka keringat yang mengalir di keningnya. Matanya mencari-cari hingga kemudian ia tersurut mundur. Matanya memandang tajam pada sebuah papan kayu peringatan dengan pesan-pesan menggidikkan tertulis di atasnya.

Pantai Karang Bolong siapa datang nyawa tidak tertolong,

Bukit Karang Hantu, siapa mendekat tinggal tulang belulang

Terkecuali para sekutu dan para sahabat ikan hiu

Jangan oba mendekar terkecuali punya jiwa seikat...

"Hmm, sebuah peringatan yang cukup Mengenaskan? Hanya dedemit neraka yang punya kerja. Dari jauh aku datang untuk mempertaruhkan nyawa, untuk apa aku harus pulang sia-sia!" dengus Pendekar Blo'on.

Pemuda ini kemudian mencari potongan kayu untuk menyeberangi selat kecil itu. Tapi sebelum usahanya tercapai, tiba-tiba terdengar suara seseorang bersenandung. Menilik suaranya yang kecil dan merdu sudah jelas pemiliknya paling tidak adalah seorang perempuan. Suro cepat menoleh ke arah datangnya suara. Tiba-tiba ia melihat sebuah perahu kecil meluncur cepat ke arahnya. Di atas perahu tampak seorang gadis cantik memakai kerudung serba putih. Ketika angin bertiup ke arah si pemuda, maka tercium bau badannya yang harum seperti bunga cempaka.

Pendekar Blo'on melongo ketika melihat perahu kecil itu mendadak berhenti. Seperti ada kekuatan yang menahannya dari bawah perahu.

"Anak muda nan tampan. Aku tahu kau mau menuju ke bukit karang itu. Aku jadi kasihan padamu, kulihat belum pernah ada yang selamat kembali bila sudah sampai ke sana. Daripada kau mengantar nyawa percuma, alangkah baiknya jika kau ikut denganku...!"

"Siapa Nisanak ini? Aku punya tujuan dan tidak seorang pun yang dapat menghentikannya terkecuali maut," kata si pemuda pelan.

"Hi hi hi! Dendam di hatimu dendam berkarat, sampai kiamat dunia akhirat.... Sebaik-baiknya manusia adalah dia yang suka mengukur kemampuan diri sendiri!" Gadis berkerudung di dalam perahu tertawa membahak. Suro Blondo kerutkan kening. Ia berpikir bagaimana mungkin perempuan dalam perahu tahu apa yang diinginkannya.

"Nisanak belum menjawab pertanyaanku. Katakan terus terang atau aku harus meninggalkanmu!"

"Mengapa harus tergesa-gesa jika hanya ingin mengantar nyawa? Aku gadis tanpa nama, hidup, makan dan tidurku di atas air. Kalau hanya untuk urusan orang yang mau buang nyawa, aku bersedia mengantarmu sampai ke bukit itu. Tapi dengan satu syarat!"

"Hi hi hi. Sudah kuduga, pemuda tampan bertampang tolol sepertimu mana punya banyak uang. Bagaimana kalau kau membayar dengan kepalamu?"

Suro Blondo garuk-garuk kepalanya. "Kau sangat keterlaluan sekali. Tidak tahukah kau bahwa aku cuma punya satu kepala?"

"Hi hi hi! Kalau tidak mau aku akan aegera pergi!"

Tanpa menunggu lagi gadis berkerudung putih dan berpakaian serba putih memutar perahunya. Di lain kejap ia telah bergerak menjauh, kemudian hilang di tikungan teluk.

"Heh... kalau hanya menggoda, untuk apa tunjukkan diri? Menolong orang dengan meminta imbalan jiwa adalah perbuatan tercela." Suro Blondo bersungut-sungut. Ia memutar badannya, lalu mengambil sepotong kayu kering yang tergeletak tidak jauh dari kakinya.

Kayu itu kemudian dilemparkannya ke dalam air. Setelah itu tubuhnya melayang, kaki menjejak ke atas potongan kayu tersebut. Hanya dalam waktu sangat singkat ia telah meluncur ke tengah selat dengan sangat cepat sekali. Namun pemuda ini kemudian menjadi tergagap ketika melihat puluhan sirip ikan menjembul ke atas permukaan air. Ikan-ikan haus darah ini mengitari si pemuda.

"Mati aku. Binatang-binatang ini bukan main banyaknya. Aku harus cepat sampai ke sana kalau tidak ingin mati konyol!" pikir si pemuda.

Dengan tetap menjaga keseimbangan tubuhnya, Suro menggenjot kakinya hingga potongan kayu yang dipergunakannya untuk menyeberang melesat laksana anak panah. Tapi tiba-tiba di depan pemuda itu menyembul badan ikan tersebut. Suro tidak sempat lagi mengurangi kecepatannya. Tidak ayal lagi tubuhnya terbanting. Suro Blondo tenggelam, air laut yang sangat jernih lagi dalam membuat ia dapat melihat puluhan ekor ikan mengejarnya. Sambil berenang menghindar Suro cabut senjatanya. Dengan mempergunakan senjata andalan ini ia menyongsong kedatangan ikan-ikan buas yang menyerangnya.

Sementara gadis berpakaian serba putih yang tadi sempat menghilang di balik cekungan teluk telah muncul di tempat itu dengan maksud menolong. Ketika ia sampai, pemuda lugu yang hendak ditolongnya telah lenyap dari permukaan air. Ia terkesiap ketika melihat air laut tiba-tiba berwarna merah. Kemudian terlihat pula gejolak air di sana sini.

"Celaka, bocah itu telah dimangsa ikan-ikan hiu di sini!" desisnya dengan mata membelalak lebar.

Air laut semakin bergolak, warna merah semakin menyebar dan berwarna pekat. Di dalam air Suro Blondo telah membunuh lebih dari dua puluh ekor ikan hiu besar dan ikan-ikan yang telah terbunuh itu dimangsa oleh kawanannya sendiri. Rupanya bau darah itulah yang membuat hiu-hiu lain yang kelaparan tidak dapat membedakan kawan sendiri. Melihat hiu-hiu lain berebut mangsa, maka kesempatan ini dipergunakan oleh Suro Blondo untuk berenang di bawah air mendekati pulau karang yang hendak ditujunya.

Sebentar saja ia sudah sampai ke pinggir bukit karang. "Puah... hampir meledak paru-paruku karena menahan nafas," keluh Suro Blondo. Ia melirik ke tengah-tengah teluk. Dilihat gadis baju putih kerudung putih duduk terbengong-bengong di atas perahunya.

Suro Blondo lambaikan tangannya. "Maaf, ikan-ikanmu rupanya semakin tidak sabar, sehingga kawaaannya sendiri dimangsanya...!"

Si gadis bermaksud mengejar, tapi ia mengurungkan niatnya. Seakan ia ragu mendekati bukit karang tersebut.

Suro Blondo sambil cengar-cengir tidak perduli lagi pada gadis di atas perahu tersebut. Ia mulai mendaki bukit karang yang terjal dan cukup licin tersebut.

"Edan... sudah sampai di tengah melorot lagi. Apakah mungkin tidak ada jalan lain untuk sampai ke tempat yang mirip dengan cekungan gua di atas itu?"

Si pemuda mendongakkan kepalanya ke atas. Bersamaan dengan itu ia melihat ada sosok tubuh melayang dan kemudian jatuh terhempas di sampingnya. Apa yang dilihatnya adalah sosok telanjang perempuan. Sekujur tubuhnya berlumuran darah, leher patah, mata melotot dan lidahnya terjulur.

"Perempuan malang ini mustahil jatuh dari langit. Mengapa tidak sempat kudengar jeritannya," desis Suro sambil goleng-golengkan kepalanya.

"Pastilah ini perbuatan iblisiblis berhati sapi. Aku harus bisa sampai ke atas sana tanpa sepengetahuan mereka. Dengan begitu aku bisa terhindar dari bahaya...!"

Si pemuda kemudian merayap lagi, kali ini ia menemukan jalan yang agak lebih baik dari pada lereng terjal yang coba didakinya tadi.

Sedikit demi sedikit ia mendaki. Tapi gerakannya terhenti lagi ketika melihat tiga ekor ular berbisa menghadangnya. Ular-ular itu angkat kepala tinggi-tinggi. Mulutnya terbuka, lidahnya yang bercabang terjulur. Ketika makhluk-makhluk melata itu mendesis, maka tercium bau amis bisa yang membuat mual pernafasan.

Suro Blondo yang pernah digodok dalam sumur kawah bisa dihuni ularular merah oleh gurunya, hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala. "Malang benar nasibmu, Nak.

Rupanya kau diperintahkan oleh tuanmu untuk menghadang aku! Nih gigitlah...!" Suro Blondo dengan sengaja angsurkan tangannya. Tiga ekor ular berwarna belang, kuning hitam ini serentak menyerbu dan mematuki tangan Suro Blondo.

Tangan si pemuda berdarah, air mukanya seketika berubah menghitam. Rupanya kekebalan di dalam tubuhnya mulai bekerja bertarung melawan bisa dari ular-ular yang menggigitnya.

Kulit tubuhnya yang hitam secara berangsur-angsur kembali ke warna semula.

Si pemuda lagi-lagi menyeringai. "Kurasa sudah puas kalian

menggigitku!" dengus Suro Blondo, sekejap kemudian ditangkapnya ketiga ekor ular sebesar jempol kaki ini setelah itu badan ular digigitnya satu demi satu.

Ular-ular ini meronta, tapi rontaannya semakin melemah ketika tulang belakangnya putus menjadi dua.

"Puih...!" Suro menyemburkan ludah bercampur darah ular. Selanjutnya ia merayap dan merayap lagi. Tidak sampai sepemakan sirih, sampailah pemuda ini di depan sebuah cekungan mirip gua. Pada dataran yang rata ia melihat sebuah pedang, pakaian dan juga tulang belulang lainnya. "Mayat tadi perempuan. Pakaian

ini juga pakaian perempuan. Gua besar itu seperti tertutup batu. Alangkah baiknya jika aku mencoba membukanya." Suro Blondo kemudian mendekati pintu gua yang tertutup batu. Sekejap kemudian ia mendorong pintu batu karang ini. Tapi jangankan bergerak, bergeming pun tidak.

Si pemuda mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan. Setelah itu ia mendorong lagi.

"Uuph...!"

Kali ini secara perlahan pintu batu terkuak sedikit. Suro mendorongnya lagi. Semakin lama pintu pun terbuka semakin lebar. Pendekar Blo’on tercengang begitu melihat ke dalamnya. Ruangan   gua  itu memancarkan cahaya  biru kehijauan yang entah datang dari mana. Lantai gua juga dalam keadaan bersih. Ketika melihat ke arah kiri, di sana ada sebuah altar. Di atas altar mirip dipan ini tergeletak sosok tubuh perempuan pula dalam keadaan   setengah  telanjang. Perempuan ini sangat sulit dikenali karena seluruh wajahnya yang menghadap ke langit-langit gua tertutup kain

berwarna merah.

Suro Blondo menyelinap masuk dan bersembunyi di salah satu sudut yang gelap. Ketika terdengar suara langkahlangkah kaki, maka ia menundukkan badannya serendah mungkin sehingga ia terhindar dari penglihatan orang lain,

6

Mula-mula yang dilihatnya adalah kemunculan seorang laki-laki berbadan pendek, cebol, wajahnya pucat kekuning-kuningan. Kumisnya cuma beberapa gelintir saja sedangkan alis matanya berwarna putih. Ia memakai celana pendek sebatas dengkul, bajunya hanya berupa selempang berwarna hitam. Di pinggang katai Muka pucat ini menggelantung sebuah ruyung berwarna perak.

Katai itu berjalan mendekati perempuan setengah telanjang di atas altar. Rupanya ia tidak menyadari kehadiran Suro di situ, sedangkan pemuda itu sendiri langsung tergetar tubuhnya saat melihat katai muka pucat. Inilah salah satu orang yang telah membunuh kedua orang tuaku, mana yang muka merah? pikir Suro Blondo.

Manusia katai ini setelah sampai di atas altar langsung menyingkap pakaian bawah gadis yang kepala serta wajahnya terbungkus kain merah. Setelah membuka pakaiannya sendiri, ia melakukan perbuatan yang sangat terkutuk atas diri si malang. Badannya yang kecil menghempas-hempas di atas tubuh si gadis. Tahulah Suro Blondo apa yang telah dilakukan oleh Katai Muka Mayat ini tarhadap gadis di atas altar.

Wajah Pendekar Blo'on berubah kelam mambesi. Ia meninggalkan kegelapan sudut gua. Tangannya melambai pelan. Angin nenderu dari telapak tangannya, melesat dengan cepat menghantam Katai Muka Mayat. Laki-laki berbadan kerdil ini langsung jatuh terpelanting. Rasa kejut di hatinya bukan alang kepalang. Kalaulah Suro mau membokong, tentu Katai Muka Mayat telah tergelimpang menjadi bangkai atau paling tidak menderita luka dalam cukup parah. Tapi pemuda berambut hitam kemerahan bertampang tolol ini walau mempunyai dendam sedalam lautan terhadap orang-orang yang telah membunuh ayah ibunya, ia tidak mau bertindak gegabah dan kesalahan tangan.

Katai Muka Mayat bangkit berdiri. Wajahnya jelas tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya tatkala melihat kehadiran seorang pemuda asing di ruangan itu. Ia jadi teringat pada pintu gua yang ditutupnya. Tidak setiap orang mampu membukanya terkecuali mereka yang memiliki tenaga dalam tinggi.

"Hhm, kau begitu berani menyeberangi selat dan menyusup ke tempat tinggal iblis. Siapa namamu?" Katai Muka Mayat menggeram.

Suro Blondo garuk-garuk kepala. "Ha ha ha...! Bicara ya bicara... tapi urusi dulu senjata kramat berikut buah jambu milikmu. Gondal-gandil seperti itu apakah kau mau pamer kelebatan hutan rimbanya?"

"Aih...!" Katai Muka Mayat langsung mendekap bawah pusarnya. Ia mengenakan pakaian seadanya. Tidak lupa ia juga mengambil ruyung yang tergeletak di bawah kaki telanjang si gadis.

Wajah laki-laki itu semakin bertambah pucat. Tiba-tiba saja ia membentak berang: "Cepat katakan siapa kau yang sebenarnya, kunyuk bertampang tolol!"

"Dengar anjing gladak!" dengus Suro Blondo tidak kalah sengitnya. "Aku Suro Blondo, putra Sepasang Pendekar Golok Terbang dari gunung Bromo. Apakah kau ingat peristiwa delapan belas tahun yang lalu? Hah... mana kembaranmu yang bermuka merah?"

Katai Muka Mayat terkesiap, matanya yang kecil molotot. Tanpa sadar ia bahkan sampai bersurut mundur. Bibirnya mendesis…..

"Kau bocah ajaib itu? Rambutmu kemerahan, tapi tampangmu tidak meyakinkan. Apakah kau punya tompel di punggung?" tanya Katai Muka Mayat seakan menyelidik.

"Sekarang tidak ada waktu lagi untuk bertanya jawab, manusia cebol! Apakah aku punya tompel di punggung, di kening, hidung atau di kumis. Itu bukan persoalan. Jika kau merasa berhutang, maka hari ini aku datang untuk menagih hutang-hutangmu!"

"Hu hu hu...!" Katai Muka Mayat tertawa. Suaranya jelek seperti burung hantu yang menderita mejan. "Secara jujur aku memang ikut membunuh Satria Purba dan Dewi Rini orang tuamu. Aku dan kakangku dan yang satunya lagi tidak perlu kusebutkan karena aku sangat menghormatinya. Tapi mengingat tampangmu yang begitu, aku yakin ramalan pertapa itu hanya bualan saja. Hu hu hu... aku dan saudaraku memang ingin mencarimu. Membunuh pohon harus sampai ke akar-akarnya. Tidak disangka kau datang sendiri mengantarkan nyawa... Hu hu hu...!"

Katai Muka Mayat tiba-tiba melompat ke depan sambil lambaikan tangannya, tiga leret sinar berwarna keperakan datang menggebu-gebu. Suro sadar betul bahwa lawannya telah menyambitkan senjata rahasia ke arahnya sehingga dengan gerakan kacau ia menghindarinya. Serangan senjata rahasia itu lewat setengah jengkal di atas kepalanya. "Crap! Crap! Crap!"

"Bukan main...!" desis si pemuda. Ia berpaling ke belakangnya. Ternyata senjata rahasia berbentuk empat persegi itu menancap dalam pada dinding karang yang cukup atos tersebut. Katai Muka Mayat gelengkan kepala melihat pemuda berbaju biru ini dapat menghindari serangannya.

"Kau punya kebolehan juga rupanya. Sayang kau berada di dalam wilayah kekuasaanku. Hanya orang yang punya nyawa rangkap saja dapat keluar dari tempat ini hidup-hidup!"

"Jangan kelewat percaya diri, Iblis tergencet bumi. Lihat serangan...!" Suro membentak keras. Suaranya menimbulkan gema hingga membuat dinding gua karang tergetar.

"Hu hu hu! Shaaa...!"

Katai Muka Mayat melompat ke udara. Serangan Suro luput dan menghantam altar di depannya. Altar hancur, tubuh perempuan telanjang tergontai di udara dan jatuh lagi di atas hancuran batu-batu altar.

Dari atas menderu selaksa angin memerihkan kulit Suro Blondo. Pemuda ini melompat mundur sejauh dua batang tombak.

"Blaar!"

Lagi-lagi gua karang tergetar. Pukulan yang dilepaskan oleh Katai Muka Mayat luput. Di tengah ruangan gua terlihat sebuah lubang besar akibat pukulan si Katai yang luput sasaran tadi.

"Zeb! Zeb! Dep!"

Kaki si katai direntang, tangannya diputar cepat. Terdengar suara angin menderu-deru ketika manusia katai ini menggerakkan tangannya.

"Badai Topan Menggempur Karang...!" teriak si Katai menyebut nama jurus yang dimainkannya.

"Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor...!" jerit Suro Blondo tidak mau kalah.

Jika Katai Muka Mayat gerakangerakan silatnya sangat teratur sekali, maka sebaliknya dengan Suro Blondo. Gerakan yang dilakukannya tidak pernah beraturan dan terkesan konyol. Namun hingga sejauh itu ia dapat menghindari serangan lawan dengan sangat baik sekali.

Pemuda ini kemudian bergerak cepat, pada saat lawan semakin meningkatkan serangannya. Di lain saat ia melakukan serangan balik yang tidak kalah hebatnya.

"Hiyaa...!" "Deb!"

"Wuus!"

Dengan mengerahkan setengah dari tenaga dalam yang dimilikinya, Katai Muka Mayat lepaskan tendangan menggeledek ke perut Suro Blondo. Pemuda ini geser langkahnya ke samping. Tangannya menangkis sambil lepaskan tinjunya ke wajah lawan.

"Dhaak!" "Buuk...!"

"Wiih...!" Suro Blondo mengeluh. Tangannya yang dipergunakan menangkis terasa kesemutan. Katai Muka Mayat terhuyung ke belakang sambil terpincang-pincang.

Ia menggeram marah, dilihatnya bayangan lawan semakin lama semakin bertambah banyak. Ia menyerang lagi sambil kerutkan kening. Sejauh itu serangan-serangan yang dilakukannya selalu mengenai sasaran kosong.

Dengan gusar ia melompat mundur, tangannya yang pendek diangkat ke atas kepala. Tangan itu digosokgosokkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian.

"Plak! Plak!"

Saatkedua tangannya saling bersambut, maka terdengar suara ledakanledakan menggelegar. Suro terkesiap ketika sepuluh larik sinar mengejar ke arahnya. Pemuda berambut kemerahan ini mencoba memapakinya dengan pukulan 'Matahari Rembulan Tidak Bersinar'.

Mendadak suasana di sekelilingnya menjadi sirap. Tangan si pemuda yang melintang di depan dada bergetar hebat. Pukulan 'Monyongsong Kabut Tenggelam Dalam Kegelapan' yang terdiri dari sepuluh laret sinar berwarna biru ini seakan tersendatsendat. Bukan langsung menghantam tubuh si pemuda melainkan berputarputar mengelilinginya.

Ketika Suro Blondo menggerakkan kedua tangannya dengan gerak membubarkan, maka terdengar sepuluh kali suara ledakan beruntun. Katai Muka Mayat jatuh terguling-guling dan menghantam dinding gua. Sebaliknya, Suro Blondo jatuh terjengkang. Dari sudut-sudut bibirnya menetes darah kental berwarna hitam. Ia cepat mengerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dalam yang ia derita. Katai Muka Mayat walau juga sempat merasa dadanya seperti hendak remuk, namun secepatnya ia bangkit berdiri.

"Pemuda ini tidak bisa dianggap main-main. Kakang Muka Merah tidak ada di tempat saat ini. Kalau dia ada tentu untuk membunuhnya bukanlah sesuatu yang sulit. Kini aku harus mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menghabisi riwayat anak ajaib ini...!" bathin Katai Muka Mayat.

Selagi lawan dalam keadaan lengah, Katai Muka Mayat kembali menyerangnya. Kali ini ia mempergunakan ruyung peraknya yang berjumlah dua buah itu.

Suro Blondo menyeringai, ketika dua ruyung maut yang dapat mengembang dan menguncup itu menyerangnya. Suro Blondo menghindarinya sambil berjingkrak-jingkrak. Terkadang badannya condong ke depan, lalu miring ke kiri dan ke kanan. Di lain saat ia berjongkok, lalu mencecar kaki lawannya, hingga membuat si Katai melompat mundur tarik balik serangan. Tokoh sesat dari sclatan ini kembangkan ruyung di tangan kiri, sedangkan yang di tangan kanan dibiarkannya tetap menguncup. Ruyung yang terkembang ini dibiarkan sedemikian rupa, kemudian diputar hingga menimbulkan deru suara angin yang sangat menyakitkan gendanggendang telinga.

"Ziing!"

"Wuut! Wuut!"

Ruyung yang terkembang menerabas dada Suro sedangkan yang tetap menguncup menusuk ke bagian dada. Salah satu serangan ganas ini memang dapat dihindari Pendekar Blo'on. Tapi serangan lainnya tidak sempat dielakkannya walaupun ia telah melakukan gerak serta langkah yang aneh-aneh.

"Bret!"

"Eph...!" Pemuda ini mendekap bahunya yang sempat robek dari bagian baju sampai ke dagingnya. Darah mengucur. Ia cepat totok urat darahnya hingga darah yang mengalir cepat terhenti.

Mata si pemuda berkedap-kedip. Mulutnya pletat pletot, kemudian kaki depan ditekuk. Tangan ditepuknya ke bagian lutut, sedangkan yang kiri diangkat sejajar dengan bahu. Pemuda berambut kemerahan ini rupanya tidak ingin menghadapi serangan senjata lawan dengan mempergunakan Mandau Jantan yang selalu memperdengarkan suara rintihan tangis itu, melainkan dengan mempergunakan pukulan pamungkas kedua warisan dari kakek merangkap gurunya Malaikat Berambut Api.

Rambutnya yang hitam kemerahmerahan itu secara perlahan berubah merah membara sepenuhnya sehingga dilihat sepintas seperti lidah api yang berumbai-umbai. Jelas si pemuda telah mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya. Inilah pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Sebuah pukulan maha dahsyat yang tidak ada duanya di kolong langit ini.

Ketika Pendekar Blo'on dorongkan kedua tangannya ke depan, maka terdengar suara angin menderu-deru. Lalu terdengar pula suara jeritan di mana-mana. Jerit ketakutan yang seakan datang dari alam roh dan alam kubur. Jeritan ini sungguh membuat merinding bulu kuduk yang mendengarnya, termasuk juga Katai Muka Mayat. Selain itu ia terkesiap melihat rambut lawannya seperti dikobari api.

Melihat bahaya yang mengancamnya, Katai Muka Mayat mengembangkan ruyung lainnya. Sinar merah hitam menggebugebu. Lalu pukulan maut ini menghantam ruyung di tangan Katai Muka Mayat.

"Bum! Bum!"

"Praak!"

Benturan itu membuat ruyung di tangan Katai Muka Mayat hancur berkeping-keping. Katai Muka Mayat terhempas melabrak dinding goa karang. Ia bangkit berdiri. Terlihat dengan jelas darah mengucur dari hidung dan mulutnya. Namun ternyata ia memiliki daya tahan yang sangat hebat. Secepatnya ia bangkit berdiri. Suara jeritan mengerikan lenyap, tapi sebentar kemudian terdengar suara jeritan lagi.

Kali ini Katai Muka Mayat tidak tinggal diam. Kehebatan yang dimiliki pemuda bertampang tolol ini benarbenar telah membuka matanya. Tidak pelak lagi bersamaan waktunya dengan saat pemuda itu lepaskan pukulannya yang sangat mengerikan itu. Ia juga lepaskan pukulan 'Menyongsong Kabut Tenggelam Dalam Kegelapan' tingkat paling tinggi.

Keadaan di dalam ruangan gua seperti hendak kiamat saja layaknya. Berleret-leret sinar saling menghantam dengan suara yang memekakkan gendanggendang telinga.

"Glar! Duaamm...!"

"Broll...!"

"Wuaaakkkhh...!"

Suro Blondo tergontai-gontai lalu terjatuh terjajar menimpa tubuh perempuan telanjang yang sudah meregang ajal terkena sambaran pukulannya tadi. Dinding gua jebol, sosok tubuh terlempar keluar disertai suara jeritan menggidikkan. Sosok tubuh si Kate melayang-layang dan terjatuh ke dalam laut.

Tidak ada seorang pun yang tahu apakah Katai Muka Mayat ini masih hidup apa sudah mati. Sambil mengatur nafasnya yang memburu, Suro Blondo mengedarkan matanya ke segenap ruangan gua yang nyaris runtuh dan retak di sana-sini.

"Eeh... aku telah duduk di atas mayat perempuan ini," desis pemuda itu sambil bangkit berdiri. Ia melongok ke arah dinding gua yang berlubang besar, ia sadar dari sinilah tubuh si katai terlempar. Ia melirik ke bawah. Masih terlihat riak-riak air laut di mana lawannya jatuh tadi. Demikian tingginya puncak bukit ini sehingga membuat tengkuk Suro meremang.

"Aku harus memeriksa ruangan lainnya. Siapa tahu Katai Muka Merah bersembunyi di dalam sana." Melihat kondisi gua yang sangat membahayakan, Suro Blondo cepat memeriksa sisa-sisa ruangan yang berada dalam gua itu. Tapi ia tidak melihat orang yang dicarinya selain perempuan-perempuan telanjang yang sudah tidak bernyawa lagi.

Pendekar Blo'on palingkan muka ke arah lain dengan muka merah jengah.

"Manusia cebol itu rupanya punya kegemaran mengumpulkan perempuan. Huh sayang sekali aku tidak tahu di mana Katai Merah. Dan si kampret itu siapa bisa jamin itu siapa bisa jamin kalau dia mampus terkena pukulanku atau dimangsa hiu," gerutunya sambil garukgaruk kepala.

Suro Blondo kemudian cepat berlari kaluar dari gua karang itu ketika ia mendengar suara bergemuruh. Dinding-dinding gua berjatuhan, baru saja Suro sampai di mulut pintu gua. Gua tersebut benar-benar runtuh menimbulkan suara menggemuruh seperti diguncang gempa.

"Hampir... hampir saja mampus. Kalau mati di atas perempuan mungkin enak. Tapi kalau tertimbun batu apa enaknya...?"

Suro Blondo nyengir kuda. Ia memandang ke jalan semula. Melalui jalan itu pula ia harus turun. Diamdiam hatinya heran juga ketika melihat sosok serba putih berdiri di sana dengan jarak sekitar seratus tombak.

7

Pendekar Blo'on turun lagi. Setelah jarak mereka semakin bertambah dekat, maka terlihatlah dengan jelas bahwa gadis berbaju putih itu tidak lain adalah dia yang berada di dalam perahu tadi. Suro Blondo tidak begitu menghiraukannya. Tapi langkahnya jadi terhenti ketika melihat si gadis menghadang langkahnya.

"Aku tidak punya banyak waktu! Kuharap kau mau menyingkir Nisanak!" kata Suro Blondo ketus. Rupanya ia ingat gadis berkerudung ini begitu jual mahal ketika ia minta tolong untuk menyeberangkannya ke bukit karang ini.

"Hi hi hi! Begitu tergesakah kau? Dan kau telah membunuh orang itu?" bertanya si gadis sambil tersenyum malu.

Suro menatap tajam pada lawan bicara-nya. "Kau siapa? Mengapa selalu berusaha mencari tahu apa urusanku?"

"Aku… hi hi hi! Kebetulan adalah orang yang tidak suka melihat lakilaki memaksakan kehendaknya pada perempuan," kata si gadis. "Sedangkan siapa aku kau tidak usah tahu. Cukup kau panggil Kerudung Putih!" "Kerudung Putih, boleh jadi Malaikat, hantu pocong, kuntilanak, dan sejenis peri panunggu laut. Aku ingin bertanya padamu, kerudung... eh putih...! Apakah kau melihat Katai Muka Mayat terjun tadi?"

"Hmm, kebetulan aku tidak melihatnya. Yang kulihat adalah runtuhnya gua karang di atas sana. Aku takut kau tertimbun. Kalau sampai mati, alangkah baiknya jika mayatmu kuumpankan pada hiu-hiu yang kelaparan itu!"

"Aku ingin pergi sekarang. Tolong minggir, tuanmu mau lewat!"

"Cih sombong sekali kau. Kau pasti ingin mencari Katai Muka Merah?" Suro Blondo melengak terkejut. "Kau... bagaimana kau tahu?" tanya

Suro Blondo terheran-heran.

"Hi hi hi! Itu adalah persoalan yang sangat mudah. Jika kau bermusuhan dengan Katai Muka Mayat, berarti kau bermusuhan pula dengan abangnya," jelas si Kerudung Putih.

Cuping hidung si pemuda langsung kembang-kempis ketika mengendus bau harum tubuh si gadis.

"Apakah kau tahu di mana kirakira Katai Muka Merah ini berada...?"

"Hmm... aku bukan mata-mata. Katai Muka Merah adalah manusia anginanginan. Terkadang ia berada di timur, barat, utara, atau selatan. Atau boleh jadi dia berada di dasar lautan. Ia tidak pernah menetap seperti Katai Muka Mayat yang doyan perempuan itu. Boleh jadi sekarang ini ia tinggal di Muara Kali Condong di daerah Pasuruan bersama muridnya nan cantik jelita. Apakah kau mau ke sana?"

"Ha ha ha! Kebetulan sekali, sekali jalan dua ekor biang penyakit dapat kubekuk!" desis Suro Blondo.

"Siapakah yang kau maksudkan?" tanya si Kerudung Putih terheranheran.

Tatapan mata si gadis yang bening memandang tajam pada Pendekar Blo'on. Tatapan mata yang mengandung makna begitu dalam. Sehingga membuat Suro Blondo tidak kuat memandangnya berlama-lama.

"Menurut guruku, orang yang telah membunuh kedua orang tuaku adalah kedua manusia katai itu. Selain itu masih ada satu lagi. Yaitu Kala Demit. Dan menurut kabar yang kudengar pula. Kala Demit tinggal di daerah Pasuruan juga," jelas Pendekar Blo'on.

Suro Blondo tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika melihat gadis berkerudung putih memandang ke arah lain.

"Sakitkah kau?" tanya Pendekar Blo'on.

Si Kerudung Putih menggelengkan kepalanya.

"Banyak yang kupikirkan akhirakhir Ini," kata gadis cantik itu kemudian.

Ia tidak berani memandang pada Pendekar Blo'on. Seperti ada sesuatu yang meresahkan hatinya.

"Kalau boleh tahu, kurasa aku bersedia menjadi pendengar yang baik sebelum melanjutkan perjalanan."

"Aku tidak bisa mengatakannya." "Kalau begitu tidak apa. Aku juga

tidak mau memaksa. Aku sendiri kalau dipaksa juga tidak mau," tegas Suro Blondo sambil menggaruk kepalanya.

"Se... sebenarnya entah mengapa sejak pertama aku melihatmu tadi, aku tidak sampai hati jika sampai terjadi apa-apa denganmu. Kala Demit menurut kabar yang kudengar punya kepandaian segudang. Pukulan yang dimilikinya juga dahsyat! Selama ini belum pernah kulihat seorang pun yang dapat mengalahkannya," jelas si Kerudung Putih.

"Ha ha ha...!" Suro Blondo tertawa membahak. Kemudian seka keningnya yang berkeringat. "Roh ayah dan ibuku tidak dapat tenang di alam kubur sana jika aku tidak dapat membalaskan kematian mereka. Aku tidak perduli apakah Kala Demit atau Katai Muka Merah punya kepandaian sebanyak buih di lautan ataupun tujuh lapis langit tembus. Sejak aku turun dari Semeru, aku telah bertekad untuk mencari mereka," tegas Pendekar Blo'on.

"Aku... sudah terlanjur simpati dan ingin bersahabat denganmu."

"Aku suka bersahabat dengan siapa saja, tapi jangan coba-coba mencampuri urusanku!"

Si Kerudung Putih menganggukkan kepala.

"Aku sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusanmu," tegas gadis itu. "Kalau begitu, maaf. Sekarang aku

harus pergi!"

Kerudung Putih tidak dapat berkata apa-apa, ketika Suro berlalu. Namun...

"Tunggu...!"

Suro Blondo tidak memperdulikan teriakan gadis itu. Ia terus berlari. Namun gadis Kerudung Putih terus mengejarnya sehingga Pendekar Blo’on terpaksa hentikan larinya dan memutar badannya menghadap gadis itu kembali.

"Ada apa? Apakah kau ingin menjadi penunjuk jalan bagiku?"

"Eeh... kalau kau mau. Kau dapat mempergunakan salah satu perahu yang terdapat di   bawah sana," kata si gadis dengan muka bersemu merah.

"Wah... sekarang kau baik sekali. Terima kasih sekali," jawab Pendekar Blo'on, "Apakah aku harus membayarnya?"

Gadis Berkerudung Putih menggelengkan kepalanya pelan.

Benar saja, ketika pemuda berambut hitam kemerahan ini sampai di pinggir pantai bukit karang, dilihatnya ada dua perahu berukuran sama tertambat di situ.

"Dia begitu baik. Tapi aku tidak tahu maksud baiknya. Siapa dia? Mudahmudahan saja ia bukan anak kuntilanak atau penunggu teluk ini," bathin si pemuda.

Suro melepaskan salah satu perahu. Dengan mempergunakan perahu tersebut, Pendekar Blo'on menyeberangi selat yang cukup lebar. Sementara gadis Berkerudung Putih berdiri mematung di tempatnya. Wajahnya yang cantik berubah sendu. Sekarang ia menjadi ragu apakah ia harus mengikuti pemuda polos yang telah menyita perhatiannya dalam satu hari ini atau membiarkannya tewas di tangan Kala Demit?

Rasanya ia tidak sampai hati melihat Suro Blondo tewas di tangan tokoh sesat yang kabarnya punya kepandaian tinggi tersebut. Padahal menurut kabar, Kala Demit adalah tokoh yang tidak ada duanya di kolong langit ini.

"Aku harus mencegahnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diingini terjadi padanya," bathin si Kerudung Putih. Dewi Kerudung Putih kemudian menuruni bukit karang. Tidak lama ia telah mendayung perahunya menyusul Pendekar Blo'on.

Sepanjang perjalanannya menuju Pasuruan ia menjadi ragu-ragu. Entah mengapa ia merasa suka pada pemuda berambut kemerah-merahan ini. Padahal selama ini ia merasa belum pernah jatuh hati pada pemuda tampan mana pun. Tetapi yang satu ini terasa lain dari yang ada. Ia ingat betul ketika mencuri pandang pada si pemuda. Jantungnya berdetak lebih cepat, hatinya gelisah tidak menentu. Tatapan Pendekar Blo'on begitu polos dan menggetarkan.

Tidak biasanya si Kerudung Putih yang biasanya dapat bersikap tegas itu kini menjadi gadis yang seperti kehilangan keberanian. Keragua-raguan it uterus mengiringi perjalanannya menuju ke Pasuruan.

***

Muara Kali Condong ternyata sangat jauh lagi dari Pasuruan. Pemuda baju biru muda ini merasa perlu menangsal perutnya sebelum sampai ke tempat tujuan. Tapi di sepanjang jalan yang dilaluinya sangat jarang sekali warung penjual makanan. Kalupun ada itu pun sudah penuh sesak oleh pengunjung.

"Kalau begitu aku harus mencari warung lain. Tapi... eh, sebaiknya aku bertanya pada orang di depan itu. Siapa tahu mereka dapat memberiku petunjuk di mana kira-kira Kala Demit berada." Setelah memikir sampai ke situ akhirnya ia menemui seorang lakilaki yang kebetulan lewat di depannya. "Ki... apakah Aki kenal dengan

Kala Demit?"

Si laki-laki miringkan wajahnya. Telinga digerak-gerakkan. "Apa... di sini memang daerah yang ramai. Kalau mau jual atau beli ayam di ujung pasar sana." Laki-laki itu berlalu. Pendekar Blo'on geleng-gelengkan kepala.

"Orang itu mungkin tuli. Orang bertanya Kala Demit, dia malah bicara soal ayam! Dasar edan...!" Si pemuda menggerutu, lalu berjalan lagi. Tidak lama ia bertemu lagi dengan seorang pemuda. Pemuda itu bibirnya agak sumbing. Suro Blondo lambaikan tangan dan bertanya lagi: "Saudara... apakah saudara tahu di mana tempat tinggal Kala Demit?"

Pemuda itu memandang ke arah Suro Blondo, menelitinya sebentar sambil berkata: "Hohala hertanya henhang Hala Hemit? Holang haik hihu hinggal hihak hauh haii hini."

Mendengar jawaban si pemuda sumbing Suro Blondo jadi garuk-garuk kepala karena tidak mengerti. "Apa sih maksudnya?"

Si pemuda sumbing jadi jengkel melihat pemuda konyol di depannya. Lalu ia rapatkan bibirnya yang sumbing. Ia bicara dekat sekali dengan telinga Suro Blondo. Dengan merapatkan bibir suaranya semakin jelas.

"Saudara bertanya tentang Kala Demit? Orang baik itu tinggal tidak jauh dari sini, tolol!"

Pemuda sumbing segera berlalu. Suro Blondo hampir-hampir tidak dapat menahan tawanya. Karena perjelasan itu dianggapnya kurang cukup, maka ia menghampiri seseorang anak kecil yang sedang bermain di halaman.

"Dik! Di mana ya Kala Demit tinggal?"

Bocah berusia sekitar sebelas tahun itu memandang pada si pemuda, lalu senyumnya mengembang.

"Dari sini abang terus saja, setelah itu belok ke kiri, setelah ke kiri terus belok ke kanan, lalu ke kiri lagi, kemudian ke kanan. Sampai di ujung jembatan bambu abang terus saja, lalu belok ke kiri, lalu ke kanan. Jika abang melihat patok-patok kuburan, nah dari situ sudah terlihat rumahnya."

Suro Blondo garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Kepalanya menjadi pusing setelah mendengar keterangan si bocah.

"Sial betul! Di dunia ini namanya belokan memang cuma ada dua. Kalau tidak ke kiri ya ke kanan. Akh... bodohnya aku. Mengapa kena dikerjai oleh bocah ingusan?"

Suro menggerutu sendiri, tanpa mau bertanya-tanya lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk menelusuri jalan sebagaimana yang dikatakan oleh si bocah. Langkahnya cepat, mulutnya berkomat-kamit menghitung banyaknya tikungan yang telah dilaluinya "Kirikanan. Hem, kiri lagi. Kiri-kanan. Weleh-weleh banyak sekali tikungan di sini. Berarti bocah itu tidak bohong, ia jujur. Untungnya aku bertemu dengan anak lugu. Hmm, sekarang kanan... ha ha ha... kiri lagi... dan... kalau tidak salah itulah jembatan bambu yang dimaksudkannya. Tapi mengapa tidak kulihat patok-patok kuburan? Janganjangan anak itu membohongiku. Ah... bohong apa bukan ya... bukan apa bohong ya... bukan bohong!" kata si pemuda sambil berjingkrak ketika melihat sebuah tempat pemakaman yang luas terbentang di seberang jembatan sungai.

Suro Blondo bergegas menyeberang. Tapi di depan mulut jembatan, langkahnya tertahan ketika melihat sebuah papan peringatan. Bertulis.... Sudi jembatan gila

Jika datang mengusung mayat, berarti selamat

Jika tiba membawa niat baik, berarti manusia cerdik

Andai datang membawa dendam dan amarah berarti celaka...!

"Omong kosong!" Suro Blondo tersenyum mencibir. "Pasti semua ini perbuatan Kala Demit. Betapa sok tahunya manusia busuk yang satu itu. Aku, Suro Blondo datang ingin menuntut balas. Hei….. jembatan gila, sinting, miring. Coba tunjukkan kebolehan gilamu!"

Baru selesai ia berucap, maka pemuda ini mulai menyeberangi jembatan bambu yang lebarnya tidak lebih dari satu meter ini. Di bawahnya lebih kurang sepuluh tombak sebuah jeram berbatu dan deras airnya menanti tubuhnya. Pendek kata tarpeleset sedikit saja nyawa tidak akan tertolong. Dengan gerakan ringan Pendekar Blo'on mulai menyeberang. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja jembatan tersebut bergetar. Getaran itu disertai guncangan keras, hingga membuat si pemuda nyaris terlempar dari atas jembatan.

"Benar! Sudi Jembatan edan... Ee, bagaimana ini? Bambu-bambu ini terus bergerak seperti ada yang mengayunnya, Kalau begitu aku harus merangkak di atasnya. "

Suro Blondo akhirnya terpaksa merangkak dengan kedua kaki dan tangannya. Sesekali ia harus berpelukan erat pada batang bambu untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Jika semula gerakannya lambat, semakin lama dan semakin ke tengah semakin dipercepatnya. Sampai akhirnya ia benar benar sampai ke seberang dengan selamat.

"Puuuuh...!" Si pemuda menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Jembatan gila si Sudi tidak bisa dianggap mainmain!"

Pemuda berambut kemerahan bertampang tolol berwajah tampan ini memandang ke sekelilingnya,

Di ujung tanah pemakaman itu ia melihat sebuah rumah sederhana berdiri tegak dengan tenangnya. Selain rumah yang satu itu, memang tidak ada rumahrumah penduduk lainnya.

"Kala Demit memang manusia cerdik. Ia memilih tempat tinggal dekat kuburan agar aku tidak susahsusah menguburkannya!"

*** 8

Merasa tujuannya hampir sampai, Suro Blondo mengayunkan langkahnya lagi. Setelah melewati jalan setapak, ia terpaksa mengambil jalan pintas dengan melewati tengah-tengah kuburan. Pada saat ia   berjalan   itulah, Suro merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tanah yang dipijaknya bergerakgerak seperti hidup. Permukaan tanah bergelombang. Ketika Pendekar Blo'on menghentikan langkahnya, maka permukaan tanah yang ikut bergerak-gerak

tadi ikut berhenti pula.

"Acara edan apa lagi ini yang dipersembahkan oleh Kala Demit? Aku tidak yakin ada dedemit yang mengikuti aku melalui bawah tanah. Atau memang ada siluman yang dapat melakukannya?" bathin Suro Blondo.

Ia memandang ke sekelilingnya yang sepi, lalu memandang ke langit yang sunyi Suro tiba-tiba merasa berada dalam keterasingan   waktu. Dan hidup di dunia ini seperti seorang diri.

"Suro! Hati dan pikiranmu sesungguhnya adalah satu. Jika kau merasa hidup ini sepi. Sesungguhnya itu hanya permainan dan suasana hati. Lingkunganmu adalah duniamu. Kau hadir di dunia ini bersama empat saudaramu. Suatu saat kau kembali lagi pada Sang Pencipta, juga sendiri. Jika kau berada di kuburan, maka ingat-ingatlah mati. Karena kematian itu pasti akan datang pada setiap orang. Tidak perduli apakah dia orang berpangkat, hartawan, atau gembel sekali pun. Tidak seorang pun yang dapat menundanunda kematiannya, walau barang sedetik pun. Musuh yang paling hebat datang dari diri sendiri, yaitu dari hawa nafsumu. Kebanyakan manusia jadi celaka dan tidak berguna karena terlalu menuruti hawa nafsu!"

Wejangan-wejangan yang pernah diberikan oleh gurunya kini seakan mengiang kembali di dalam gendanggendang telinganya.

"Di sana kubur di sini kubur, di tengah-tengah aku berdiri. Aku hanya orang yang ingin berbakti pada orang tua. Hawa amarahku tidak kelihatan, namun Kala Demit harus kucari!" pikir Pendekar Blo'on.

Setelah menimbang baik buruknya, Suro Blondo bermaksud meneruskan langkahnya lagi. Namun langkah kakinya terhenti seketika saat melihat ada papan peringatan tidak jauh dari tempat ia berdiri.

Saudara sampai di kuburan Mayat Hidup

Teruskan langkah berarti celaka! Lupahanlah masa lalu, karena setiap manusia,

Tidak pernah luput dari khilaf dan dosa

Lebih baik kita berdamai saja....

Suro tersenyum mencibir, lalu pencongkan mulutnya. "Mana bisa! Kalau orang tuaku dapat hidup kembali dengan hanya sejuta kata penyesalan dan maaf. Tentu setiap orang sudi memberi maaf. Hutang darah bayar darah, hutang pati bayar pati. Hutang ubi harus dibayar dengan talas. Hutang mati harus dibalas. Kala Demit! Begini pengecutnyakah kau.... Tunjukanlah dirimu agar kau dapat melihat bocah yang kau caricari dulu kini telah menyerahkan diri datang sendiri!" teriak Pendekar Blo'on.

Sejenak adalah hening. Sepi begitu menyentak, hingga setiap tarikan nafas Suro Blondo terdengar dengan jelas.

Hingga sejauh itu tidak terdengar suara apa-apa. Suro Blondo mulai mencari-cari. Namun apa yang diharapkannya tidak muncul-muncul juga hingga membuatnya jadi kesal.

"Baiklah... kalau kau tidak mau menemuiku. Aku akan menyeretmu keluar dari pondok bututmu itu, Kala Demit!'' teriak si pemuda dengan suara lebih lantang lagi.

"Gleerrr. !" Bukan jawaban yang didapatnya, tapi suara menggemuruh yang disertai retaknya permukaan tanah. Pada retakan tanah itu terlihat gerakan aneh seakan ada sebuah kekuatan yang meronta-ronta dari dalamnya.

Suro Blondo terkesiap. Memandang berkeliling, pemandangan yang sama terlihat dengan jelas. Lalu....

Diawali dengan suara ringkikan panjang, maka menyembullah sosok kepala dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu sosok tubuh menggeliat keluar.

Wajah mereka sangat menyeramkan, karena wajah itu rusak dan berlendir. Hidung sumplung, kedua mata membentuk rongga besar. Tercium pula bau busuk menusuk penciuman. Hingga membuat si pemuda berjalan mundur sambil menahan napas agar tidak muntah.

"Mayat hidup? Mungkinkah semua ini perbuatan Kala Demit? Begitu pengecutnya dia...!" desis Suro Blondo.

Tidak sampai sepemakan sirih, pemuda berambut hitam kemerahan ini telah dikepung dari segala penjuru arah.

"Edan. !"

"Groaaaakh. !"

"Crep! Craap!"

"Hiyaaa...!" Suro lentingkan tubuhnya. Hingga kedua kakinya yang terpegang oleh mayat-mayat hidup dapat terlepas.

"Groaakh...!"

Baru saja Suro menjejakkan kakinya di atas tanah, mayat-mayat gentayangan ini telah menyergapnya kembali.

Begitu kompaknya serangan mereka, sehingga membuat Suro jadi kerepotan. Ia melompat lagi ke udara. Ia segera mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu' Tangan pemuda itu bergerak dengan lincahnya, sementara kaki terkadang menendang atau meliuk-liuk menghindari sergapan lawan-lawannya yang terdiri dari mayat-mayat yang serba menjijikkan ini.

"Groakkk...!"

"Upts...!"

Begitu ganasnya serangan-serangan mayat hidup ini hingga membuat Suro Blondo semakin bertambah repot saja.

"Heyaa...!" "Duk! Duk!"

"Gubrak!"

Suro Blondo jatuh tergulingguling. Belum sempat ia berdiri, kaki mayat hidup yang berselumut lendir menendangnya berulang-ulang. Hingga membuatnya terhempas kian kemari.

"Sesuatu yang mengacaukan terkadang banyak menolong dirimu!"

Dalam keadaan muntah darah seperti itu, Suro seperti mendengar petuah kakek merangkap gurunya, yaitu Malaikat Berambut Api.

"Hraa...!"

Pendekar Blo'on melompat menjauh. Setelah berdiri sepenuhnya, tanpa menghiraukan darah yang meleleh di bibirnya, ia putar langkah, mulut dimonyong-monyongkan, lalu gerakan yang dilakukannya kemudian adalah sesuatu yang sangat kacau. Inilah jurus 'Kacau Balau'. Sebuah jurus pamungkas kedua yang dilandasi dengan gerakan aneh dan sangat kacau dan jelas sangat bertentangan dengan jurus-jurus silat.

Betapa tidak, terkadang tubuh si pemuda terhuyung ke depan seperti orang yang hendak terjengkang. Di lain saat miring ke kiri, oleng ke kanan. Kaki setengah diangkat seperti orang yang terpeleset kulit pisang.

Namun betapa pun hebatnya serangan mayat-mayat hidup ini, tidak satu pun serangan mereka mengenai sasaran.

Sebaliknya, begitu Suro melakukan serangan balik dengan cara yang aneh dan sulit diikuti kasat mata, maka lawan-lawannya nampak berpelantingan terkena jotosan maupun tendangan kakinya.

Melihat kawannya bergelimpangan, maka yang lainnya menyerang dengan kecepatan dan kekuatan berlipat ganda. Sebaliknya mayat-mayat hidup yang sempat terhempas ini bangkit pula kembali. Sehingga tekanan serangan lawan semakin bertambah berat saja.

"Gila...! Mayat-mayat ini digerakkan oleh satu kekuatan. Aku harus melepaskan pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'," desis Suro Blondo.

"Huup!"

Pemuda ini menarik tangannya yang membentang lurus ke depan. Setelah itu ia kerahkan tenaga dalam yang dimilikinya. Sekejap kedua tangannya bergetar, sedangkan sekujur tubuhnya hanya dalam waktu singkat telah dibasahi keringat.

"Hyaaa...!"

"Wuuk! Wuuk! Wuuk!"

Angin kencang disertai hawa dingin menderu ke delapan penjuru arah. Gelombang angin bercampur salju putih ini kemudian menghantam mayatmayat gentayangan itu dengan telak.

"Bumm! Buum! Buum!" "Groaaaakh...!"

Jerit menggidikkan terdengar. Jasad rusak busuk mengerikan berpelantingan roboh. Mereka berubah beku, tapi yang terhindar dari pukulan dahsyat si pemuda, lepaskan pukulan yang tidak kalah dahsyatnya dari pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma'.

Kenyataan ini membuat Pendekar Blo'on terkesiap. Dengan cepat ia lepaskan pukulan yang sama lagi. "Glar! Glaar!"

Ledakan-ledakan yang keras dan memekakkan gendang telinga terdengar. Pemakaman umum jadi porak poranda. Suro Blondo jatuh terguling-guling. Nyata kalau ia menderita luka dalam yang cukup serius. Terbukti darah mengalir tidak ada henti dari sudut bibirnya. 

Ia langsung menelan dua butir pel berwarna hitam. Tidak lama darah terhenti.

Terhuyung-huyung pemuda ini bangkit berdiri. Mulutnya peletatpeletot, suatu pertanda amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.

“Jika aku tidak pergunakan senjata! Kurasa sebentar lagi jiwaku melayang," bathinnya. Kemudian ia mencabut mandau di balik pakaiannya. Lalu terdengar suara tawanya membahana. "Mandau Jantan! Jika benar kau penjelmaan dari seorang pertapa sakti patah hati. Tunjukkanlah kehebatanmu! Aku membunuh mayat hidup yang menyalahi aturan. Tempat mereka adalah di liang kubur! Hiyaaa...!"

"Hiiiii...!"

Begitu mandau jantan di tangan Suro Blondo berkiblat. Maka empat lubang miring yang terdapat di tengahtengah mandau tersebut mengeluarkan suara jeritan tangis.

Sinar hitam menderu-deru disertai bersiurnya udara dingin luar biasa. Laksana kilat senjata maut ini menerabas.

"Crass! Tas! Ctas! Ctaas!" "Grooook...!"

Mayat-mayat hidup itu pun berpelantingan terkena tebasan senjata milik Pendekar Blo'on.

Di luar sepengetahuan si pemuda. Kiranya ada sepasang mata indah dan bening memperhatikan sepak terjangnya. Ia sempat mengkirik ketika melihat senjata di tangan pemuda itu membuat mayat-mayat hidup yang tentunya telah dibangkitkan oleh Kala Demit menjadi tidak berarti sama sekali.

Tapi lama kelamaan ia tidak tega juga melihat pemuda ini mengamuk membabi buta. Sebab ia tahu persis bahwa mayat-mayat itu tidak mungkin dihentikan meskipun mereka telah kehilangan kepala, tangan maupun kakinya.

Tidak lama kemudian ia pun keluar dari tempat persembunyiannya.

"Rebah...!"

Terdengar suara teriakan gadis berkerudung putih ini. Maka tanpa disangka-sangka oleh Suro Blondo, mayat-mayat yang menyerang Pendekar Blo'on pun berjatuhan dan kembali ke asalnya.

Jasad mereka dalam waktu singkat telah berubah membusuk. Suro terkesiap. Ia memandang ke arah datangnya suara.

"Kau...! Rupanya kau mengikuti aku, Kerudung Putih!" dengus Suro Blondo. "Pasti semua ini adalah permainanmu!"

"Justru kau salah! Aku hanya tahu bagaimana caranya menjatuhkan mereka, bukan membangkitkannya," bantah si gadis tegas.

"Lalu apa tujuanmu mengikuti aku kemari?"

"Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu" jawab Dewi Kerudung Putih dengan malu-malu.

Suro merasa serba salah.

“Kau tidak punya sangkut paut apa-apa denganku. Jika aku mati engkau pun tidak akan rugi."

“Tetapi aku tidak mau melihat kau mati,"

"Kalau begitu coba kau katakan di mana Kala Demit dan Katai Muka Merah! Aku tidak melihat dia ada di rumah itu," ujar si pemuda.

"Aku tidak mampu memastikannya. Mungkin beliau sedang melakukan perjalanan ke Madura. Biasanya sangat lama dan entah kapan dia pulang ke sini lagi!"

Kening Suro berkerut tajam. "Kau ada hubungan apa dengan Kala Demit?"

Dewi Kerudung Putih menggelengkan kepala. "Mengapa waktu itu kau menghalangi aku?" tanya Pendekar Blo'on tanpa berani memandang ke mata si gadis yang menyimpan seribu macam teka-teki itu.

Dewi Kerudung Putih tampaknya ingin mengatakan sesuatu. Tetapi bibirnya seperti terkunci. Hanya tatapan matanya yang terasa begitu aneh, bahkan kemudian wajah gadis berkulit bersih dengan bulu-bulu halus di pipinya tampak kemerah-merahan.

"Engkau tidak mengerti bagaimana perasaanku saat pertama kali melihatmu di teluk," jerit Dewi Kerudung Putih.

Selanjutnya tanpa bicara apa-apa lagi ia segera berkelebat pergi. Begitu cepat gerakannya, sehingga dalam waktu singkat Dewi Kerudung Putih telah lenyap dari pandangan mata si pemuda.

"Dia begitu aneh, tatapan matanya juga aneh. Matanya terasa lembut bening dan sejuk. Dan caranya memandang yang malu-malu. Sepertinya ia kagum padaku. Ah... ada-ada saja," dengus Pendekar Blo'on seraya kemudian geleng-geleng kepala. Ia merasa pikirannya menjadi kalut. Kala Demit adalah musuh besarnya, demikian juga dengan Katai Muka Merah. Tetapi gadis yang berjuluk Dewi Kerudung Putih itu mengapa selalu membayangi dan mengkhawatirkan keselamatannya? "Jika seorang gadis menaruh perhatian besar padamu. Bisa jadi ia sedang jatuh cinta."

Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Penghulu Siluman Kera Putih seakan mengiang kembali di telinganya. Suro tersenyum masam. Dua gadis cantik paling tidak telah menyita perhatian dan waktunya. Walau itu

hanya sedikit.

Yang satu agak terbuka. Sedangkan yang satunya lagi sangat misterius. Pemuda bertampang ketolol-tololan seka keringat di wajahnya, sambil menggeleng-gelengkan kepala ia melangkah pergi.

Suro Blondo sama sekali tidak menyadari bahwa sejak meninggalkan teluk di pantai laut Selatan, ada bayangan-bayangan lain yang terus mengikutinya dari tempat yang cukup aman.

Gerakan bayangan-bayangan tersebut sangat cepat seperti setan. Terkadang mereka mengikuti dari jarak yang sangat dekat. Tetapi tidak jarang bayangan-bayangan itu menghilang, kemudian muncul bayangan baru menggantikan posisi yang pertama.

"Bagaimana pun aku harus pergi ke Madura. Kurasa gadis kerudung putih tidak berdusta. Ha ha ha...! Kuda budek sapi nungging. Ke mana pun kalian bersembunyi aku tetap akan mengejar kalian!" seru Pendekar Blo'on seperti orang sinting.

9

Laki-laki itu berbadan tegap tinggi, perutnya bundar, kulit hitam seperti arang. Wajahnya angker dan tampak ditumbuhi cambang serta jenggot lebar berwarna putih. Rambutnya yang jarang juga tampak telah memutih. Bila tersenyum giginya yang cuma tinggal beberapa buah terlihat jelas. Gigigigi itu berwarna hitam.

Di dalam ruangan sempit bangunan batu, ia tampak mondar-mandir seperti ada sesuatu yang sangat mengusik pikirannya. Mulutnya tidak henti-henti mengunyah. Ketika ia meludah, maka ludahnya tampak berwarna merah.

Di Rimba persilatan kakek tua yang suka makan sirih ini dikenal dengan julukan 'Datuk Hitam Gadang Dibumi'. Beberapa tahun yang lalu ia baru saja meninggalkan tanah Andalas. Kejahatannya yang menggunung membuat ia dimusuhi oleh tokoh-tokoh persilatan tanah Andalas. Ia bukan saja tokoh hitam sesat yang selalu membuat onar dan beberapa kali melakukan pemberontakan tarhadap Rajo Mangku Alam. Tetapi perbuatannya yang selalu menculik gadis-gadis demi kesempurnaan ilmunya telah membuat penduduk di tanah barat menjadi khawatir sekaligus murka.

Rajo Mangku Alam bahkan menyediakan dua kantung emas bagi yang dapat manangkap Datuk Hitam Gadang Dibumi hidup atau mati. Tidak heran jika akhirnya ia meninggalkan tanah Andalas dan kini gantayangan di tanah Jawa.

Satu hal yang menguntungkannya. Di tanah Jawa ini ia mempunyai dua orang sahabat baik. Katai Muka Mayat dan Katai Muka Merah adalah kawankawan yang bersedia memberi tumpangan hidup dengan segala fasilitasnya. Walaupun begitu, kebiasaan Datuk Hitam Gadang Dibumi dalam menculik anak-anak perawan terus berlanjut. Apalagi mengingat sekarang di tanah Jawa ini ia mempunyai anak buah yang selalu patuh menjalankan perintahnya.

Kini ia menjadi sangat resah, karena sudah dua hari anak buahnya yang bernama Lohgender atau yang lebih dikenal dengan julukan Setan Merah Mata Jereng belum juga kembali dari perjalanannya. Padahal keinginannya untuk mencicipi kehangatan tubuh wanita sudah semakin menggebu-gebu.

"Setan alas. Menunggu... menunggu dan terus begitu sepanjang hari. Lama kelamaan membuat aku bosan. Setan Merah Mata Jereng, kalau sampai tidak mendapatkan gadis malam ini, hukumanmu akan semakin bertambah berat...!" geram si Datuk sambil membantingbantingkan kakinya. Bangunan batu kali bergetar hebat ketika kaki Datuk Hitam Gadang Dibumi menghantam lantai batu.

Tanpa menghiraukan getaran yang terjadi, laki-laki bertelanjang dada itu berjalan mondar-mandir mengitari ruangan. Tetapi langkahnya terhenti dengan tiba-tiba. Rupanya ia mendengar sesuatu yang mencurigakan di luar sana. Setelah menunggu beberapa saat lamanya, kemudian terdengar suara ketukan pada daun pintu yang sudah tua.

"Trotok! Tok! Tok!"

"Siapa?" bentak Datuk Hitam Gadang Dibumi.

"Aku yang datang Datuk. Harap membuka pintu, santapan yang kubawa ini kurasa   sangat  sesuai  dengan seleramu!" terdengar sebuah jawaban. Suara orang di luar serak, seakan ada kodok  di dalam tenggorokannya. Kakek berambut putih bertampang bengis segera menghampiri  pintu. Setelah pintu dibuka maka di depan pintu tersebut berdiri seorang lakilaki bermuka merah, sedangkan matanya yang menjorok ke dalam rongga tampak jereng. Di bahu laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun tersebut tersampir  tubuh  seorang wanita. Melihat keadaannya yang lemah lunglai, tampaknya gadis memakai kain kebaya itu dalam keadaan tertotok baik urat gerak maupun suaranya.

"Bawa ke kamarku!" perintah Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil leletkan lidah basahi bibir.

Laki-laki muka merah segera melakukan perintah atasannya. Setelah meletakkan tubuh gadis malang tersebut di atas tempat tidur yang terbuat dari batu pula, maka Setan Merah Mata Jereng keluar kembali. Ia duduk di ruangan depan sambil mengeluarkan sebuah bumbung kecil berwarna hitam dari balik pakaiannya. Isi bambu diintipnya, sehingga terlihat sepasang Yuyu (sejenis kepiting kecil air tawar). Yuyu-yuyu itu dikeluarkannya.

"Apa itu?" tanya Datuk Hitam Gadang Dibumi.

"Sepasang Yuyu, Datuk!" sahut Setan Merah Mata Jereng ketakutan dan tampak berusaha melindungi binatang mainannya.

"Aku bosan melihat yuyumu. Rupanya kutugaskan selama dua hari kau mencari yuyu dulu baru kemudian mencari gadis yang aku inginkan?!"

"Tidak Datuk! Kutemukan mainan kesayanganku ini di tengah jalan."

"Bagaimana kalau yuyumu kubunuh?" Setan Merah Mata Jereng ter-

kesiap. Dua hari yang lalu Datuk itu juga membunuh yuyu-yuyu miliknya. Padahal mainan itu sangat ia senangi dunia akhirat.

"Jangan... kumohon Datuk jangan membunuhnya. Yuyu ini adalah belahan hatiku. Jika Datuk membunuhnya, oh... aku bisa sangat sedih sekali!" ucap Setan Merah Mata Jereng.

"Baiklah, aku tidak akan membuatmu kecewa. Tetapi kuharap selama aku bersenang-senang, kau main di luar sana!"

"Bbb... baik, Datuk. Terima kasih karena kau tidak menyakiti binatang kesayanganku!" ucap si laki-laki muka merah. Setelah itu Setan Merah Muka Jereng segera meninggalkan ruangan tersebut. Datuk Hitam Gadang Dibumi tersenyum sinis, lalu ia melangkah menuju kamarnya.

Sebentar saja Datuk Hitam Gadang Dibumi telah berada di dalam kamarnya sendiri. Matanya yang bengis memandang tajam pada calon korbannya.

"Tubuh ramping, dada padat dan pinggulmu! Ha ha ha...!" Si Datuk tertawa membahak. Sejenak ia terdiam, tangannya dangan liar meraba-raba dada si gadis yang terasa padat dan kenyal. Gadis malang tersebut tentu saja tidak dapat mencegah kekurang ajaran si Datuk apalagi berteriak, karena sekujur tubuhnya dalam keadaan tertotok. "Tidak perlu merasa takut Sayang. Kita akan bersenang-senang. Aku akan memberimu sebuah pengalaman yang belum pernah kau dapatkan selama ini!" kata laki-laki tua itu.

Kemudian Datuk Hitam Gadang Dibumi duduk di samping gadis itu. Ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di bibir si gadis. Gadis malang berkulit kuning langsat tersebut tampak menitikkan air mata. Wajahnya berubah pucat ketakutan.

Datuk Hitam Gadang Dibumi sama sekali tidak menghiraukan semua ini. Malah sekarang ciumannya turun ke bagian leher si gadis yang jenjang. Lalu secara kasar....

"Bret! Bret!"

Jemari tangannya yang kokoh mencabik habis pakaian yang membalut tubuh gadis itu. Sehingga gadis malang tadi sekarang sudah tidak berpenutup sama sekali.

Mata sang Datuk berubah jalang macam singa kelaparan. Tangannya Bemakin kurang ajar Baja. Menggerayang dan meremas-remas dada si gadis dengan kasar. Tidak berselang beberapa lama bahkan tangannya meluncur ke bawah perut dan bermain-main di sana.

Air mata gadis itu semakin deras menetes. Sementara Datuk Gadang Dibumi mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Sebentar saja ia telah berada di atas tubuh si gadis. Kemudian ia melakukan gerakan-gerakan yang teratur. Gadis tersebut menyeringai kesakitan ketika kejantanan Datuk Hitam Gadang Dibumi memasuki dirinya dengan paksa.

Gerakan laki-laki tua itu semakin lama semakin menggila, menghempashempas dengan hebatnya. Hingga akhirnya tubuh tuanya melengkung disertai teriakan lirih penuh kenikmatan. Kemudian ia terkapar dengan senyum puas mengambang di bibirnya.

Tidak terbayangkan betapa hebatnya penderitaan si gadis. Hatinya jelas-jelas terguncang. Andaikan saja dia tidak dalam keadaan tertotok dapat dipastikan gadis itu telah membunuh diri.

"Ha ha ha…! Hebat... kau gadis yang masih suci! Karena itu aku mengampuni jiwamu. Jika saja kau sudah tidak asli lagi. Tentu kau sudah kubunuh...!" ucap Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil mengenakan pakaiannya kembali.

"Tok! Tok! Tok!"

Baru saja sang Datuk selesai berpakaian, pintu sudah ada yang mengetuknya.

"Bangsat apa lagi yang berani mengganggu ketenanganku!" dengusnya geram.

Kemudian ia menghampiri pintu dan membukanya. Ia menjadi jengkel, karena yang mengetuk pintu tidak lain adalah Setan Merah Mata Jereng.

"Ada apa lagi? Apakah kau tidak tahu bagaimana kebiasaanku?" bentak si tua bengis marah.

"Maaf, Datuk. Di luar ada orang terluka parah ingin bertemu denganmu!" lapor Setan Merah Mata Jereng ketakutan.

"Kalau sudah terluka parah biarkan saja mampus. Bukankah kau juga bisa mempercepat kematiannya?"

"Tet... tetapi ia mengaku sebagai kawan Datuk sendiri," ujar Si Jereng. Kemudian ia menjelaskan ciri-ciri orang yang dilihatnya. Wajah sang Datuk seketika berubah.

Tanpa bicara apa-apa ia segera bergegas keluar dari dalam bangunan tersebut. Ternyata di depan pintu tampak seorang laki-laki bermuka pucat seperti kain kafan dalam keadaan lemah. Di tubuh laki-laki bertubuh pendek ini terdapat beberapa luka yang sudah mulai membusuk.

"Katai Muka Mayat, sahabatku...?" seru Datuk Hitam Gadang Dibumi dengan terkejut.

Ia segera memapah sahabatnya itu untuk dibawa masuk ke dalam. Setelah berada di dalam ruangan, maka Setan Merah Mata Jereng merebahkannya di atas tempat tidur sederhana terbuat dari marmar. "Apa yang terjadi denganmu?" tanya kakek berbadan tinggi jangkung berkulit gelap ingin tahu.

"Akkh... seseorang. Bocah ajaib itu memukulku dengan pukulan yang sungguh dahsyat. Ia datang untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya dua puluh tahun yang lalu," jelas Katai Muka Mayat.

"Siapa?" desak sang Datuk. Sementara itu Setan Merah Mata

Jereng telah kembali lagi menemui ketuanya dengan membawa obat-obatan yang dibutuhkan.

"Waktu peristiwa menggemparkan terjadi, kau mungkin belum berada di sini..." ujar laki-laki berbadan kerdil itu. Kemudian sacara singkat ia menceritakan segala sesuatunya di masa silam dengan jelas.

"Hmm, geger bayi ajaib yang terlahir pada malam satu Asyuro itu ketika berada di Andalas aku memang pernah mendengar. Tapi kala itu aku hanya menganggapnya hanya sebagai kabar burung. Ternyata pemuda itu benar-benar ada?!" dengus Datuk Hitam Gadang Dibumi. "Rupanya tempat tinggalmu di pantai Selatan telah diketahuiuya? Kalau begitu alangkah lebih baik jika kau tinggal di sini bersama aku. Kita mempunyai kesenangan yang sama. Kurasa kita mempunyai kecocokan satu sama lain." "Aku hanya akan membuat kau repot. Kurasa jika luka dalam ini telah sembuh, mungkin aku akan segera kembali ke teluk lagi. Saat ini kurasa pemuda itu mengira aku sudah mati. Karena waktu itu aku terlempar ke laut...!"

"Sobatku, Katai. Aku bisa sampai ke tanah Jawa ini karena jasa baikmu dan juga saudara seperguruanmu. Apa salahnya jika sebagai sahabat kita saling tolong menolong?" ujar Datuk Hitam Gadang Dibumi serius.

"Kutekankan padamu, aku tidak ingin menyusahkan engkau. Lagipula jika bocah ajaib itu sampai tahu aku berada di sini, maka aku tidak dapat menyangkal dia juga akan memusuhimu!" kata Katai Muka Mayat khawatir.

"Ha ha ha...! Apakah bocah itu begitu hebat di matamu, sehingga engkau menjadi takut? Aku juga jelas tidak berpangku tangan, jika dia datang tentu dia menjadi bagianku!"

Datuk Hitam Gadang Dibumi selanjutnya memerintahkan Setan Merah Mata Jereng untuk tetap berjaga-jaga di depan.

Katai Muka Mayat sendiri menyadari kali ini luka-luka yang dideritanya cukup parah. Bahkan ia telah berusaha menyembuhkan luka dalamnya. Namun sampai sejauh itu tidak juga berhasil. "Baiklah kuterima tawaranmu itu." Katai Muka Mayat akhirnya memberi keputusan.

Datuk Hitam Gadang Dibumi tentu saja merasa senang mendengarnya.

10

Hampir sepekan pemuda berambut hitam kemerah-merahan ini melakukan perjalanan. Tetapi perjalanannya ke Madura tidak membuahkan hasil apa-apa. Katai Muka Merah seakan hilang raib ditelan bumi. Semua ini membuat hatinya menjadi penasaran. Mungkinkah Katai Muka Merah pergi ke tempat lain, atau Dewi Kerudung Putih sengaja berbohong padanya. Namun kalau dipikirkan lagi apa untungnya?

Dengan kecewa akhirnya Suro kembali ke tanah Jawa. Di sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya menggerutu.

"Dia berani membohongi aku. Kalau ketemu lagi akan kupotong lidahnya. Oh, bukan hanya lidahnya saja, tapi tangan dan kaki juga harus kupotong...!" pikir Pendekar Blo'on sambil garuk-garuk kepala.

Kini ia memasuki sebuah daerah yang sangat tandus di mana tidak terdapat rumah-rumah penduduk di situ. Dalam suasana panas terik seperti itu ia terus mengayunkan langkahnya. Tidak sampai sepemakan sirih si pemuda berjalan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti.

"Bau busuk ini, seperti bau bangkai manusia," kata Suro.

Ia kemudian mengendus-endus, sehingga hidungnya kembang kempis seperti binatang buas yang sedang mengintai mangsanya.

"Bau ini datangnya dari arah selatan. Hmm, betul dari arah sini!" Suro mengikuti sumber bau tersebut. Hingga kemudian terlihatlah olehnya sebuah pemandangan yang sungguh menyedihkan. Banyak mayat-mayat bergeletakan di situ, mereka semuanya terdiri dari para wanita dan tidak mengenakan pakaian sama sekali. Mayatmayat tersebut di antaranya telah menjadi tulang belulang. Tapi ada juga yang masih kelihatan baru.

"Mereka kelihatannya bukan mati secara wajar. Pasti seseorang telah memperkosanya. Kemudian setelah tidak dibutuhkan dibunuh dengan cara mencekiknya. Dunia ini benar-benar sudah edan... keterlaluan...!" geram si pemuda

Kemudian ia memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ia menjadi hean. Para wanita itu didatangkan dari mana? Pendekar Blo'on kembali mengedarkan matanya. Dan tiba-tiba saja ia tersenyum sinis ketika melihat sebuah bangunan batu tampak bertengger di lereng bukit.

"Kurasa iblis bercokol di dalam bangunan itu, aku harus melihatnya. Barangkali Katai Muka Merah bersembunyi di sana."

Memikir sampai ke situ, Suro akhirnya bergegas menghampiri bangunan batu yang jaraknya hanya sekitar tujuh puluh lima batang tombak dari tempat dia berada.

Setelah dekat dengan bangunan tersebut, Pendekar Blo'on menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Dadanya menjadi sesak, di depan bangunan Suro Blondo melihat ada seorang laki-laki bermuka merah. Semula ia menyangka laki-laki itu adalah musuh besar yang tengah dicari-carinya. Namun setelah melihat bahwa orang itu berbadan tinggi semampai, maka ia menjadi ragu, walau begitu ia tetap mengayunkan langkahnya mendekati.

"Hei... kau berhenti di situ...!" teriak laki-laki bermuka merah pada Pendekar Blo'on.

Orang yang membentak tadi sejenak tampak sibuk memasukkan sesuatu ke dalam bumbung bambu kecil. Selanjutnya dengan tergesa-gesa segera mendatangi. "Kau siapa?" tanya si muka merah

curiga.

"Kau sendiri siapa? Apakah kau yang berjuluk Katai Muka Merah?" bentak Suro Blondo.

"Bukan. Aku Setan Merah Mata Jereng. Cobalah kau lihat mataku, benar-benar juling, bukan?"

Suro sebenarnya merasa geli juga melihat cara laki-laki di depannya bicara seperti orang melawak. Namun karena urusannya sangat mendesak, maka ia langsung bicara pada titik persoalan.

"Siapa yang bersembunyi di dalam rumah itu?"

"Perlu apa kau tanya?" dengus Setan Merah Mata Jereng ketus.

"Aku mencari seseorang berbadan pendek. Namanya Katai Muka Merah. Aku rasa dia bersembunyi di dalam bangunan itu, makanya aku harus masuk ke sana!" tegas Suro Blondo.

"Kau boleh masuk, tetapi setelah meninggalkan kepalamu di sini!" sahut Setan Merah Mata Jereng.

Tanpa basa-basi lagi laki-laki berkulit kemerah-merahan ini langsung bersiap siaga membangun serangan. Namun sebelum tubuhnya melesat kea rah Suro, terdengar suara bentakan dari aah bangunan…

"Tunggu dulu...!!"

Gerakan Setan Merah Mata Jereng berhenti seketika. Dari depan pintu tampak sebuah bayangan berkelebat. Hanya dalam waktu sekejap saja di depan Pendekar Blo'on telah berdiri seorang laki-laki bertelanjang baju Laki-laki tua tersebut berwajah angker. Tatapan matanya seolah-olah ingin menembus batok kepala Suro Blondo.

"Siapa kau?" dengus laki-laki berkulit gelap tidak ramah.

"Aku Suro Blondo!"

"Hmm, kau si bocah ajaib dari gunung lliomo? Ha ha ha...! Tampangmu yang ketolol-tololan membuat kau tidak pantas menyandang gelar si bocah ajaib. Dan kau rupanya yang telah membuat sahabatku Katai Muka Mayat terluka parah?!"

Pendekar Blo'on terkejut sekali mendengar ucapan orang berkulit hitam tersebut.

Semula ia menyangka Katai Muka Mayat yang tercebur ke dalam laut itu telah binasa.

"Huh, rupanya bangsat pendek itu masih hidup. Dan tentunya sekarang berada dalam lindunganmu. Kuperintahkan padamu agar segera menyerahkan setan yang telah membunuh orang tuaku. Kalau tidak kau akan menyesal!" tegas Suro Blondo sengit.

"Ha ha ha...! Kepada orang lain kau mungkin bisa main gertak. Tapi sekarang kau berhadapan dengan Datuk Hitam Gadang Dibumi! Dan perlu kau tahu, Katai Muka Mayat dan Katai Muka Merah adalah sahabatku. Jika kau mengusiknya walau seujung rambut pun maka nyawamu tidak ada yang menjamin keselamatannya," tegas si kakek.

"Lagak bicaramu seperti Malaikat pencabut nyawa. Kau melindungi musuh besarku. Maka kau rasakanlah akibatnya!" teriak Suro Blondo.

Tanpa basa-basi lagi Suro langsung menerjang Datuk Hitam Gadang Dibumi. Tetapi gerakannya itu segera dihalang-halangi oleh Setan Merah Mata Juling. Akibatnya laki-laki bermata jereng inilah yang menjadi sasaran serangan Pendekar Blo'on.

Anak buah Datuk Hitam Gadang Dibumi ternyata mempunyai kepandaian yang sangat mengagumkan. Ia langsung berkelit ke samping kiri ketika melihat serangan lawan menghantam mukanya. Setelah itu tanpa terdugaduga pula ia melancarkan serangan balik dengan melepaskan tendangan ke selangkangan lawan.

Pendekar Blo'on langsung melompat mundur sambil menepiskan tangannya ke bagian kaki kanan. Benturan tenaga dalam tidak dapat dihindari.

"Duuk!" "Heh...!"

Pendekar Blo'on dan Setan Mata Jereng sama-sama terkejut. Pemuda memakai ikat kepala berwarna biru belang-belang kuning ini kemudian mengerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'. Setelah itu ia kembali menerjang lawannya.

Gerakan Suro yang tampak kacau seperti seekor monyet yang sedang menggaruk-garuk kepalanya ini benarbenar membuat repot lawannya. Apalagi terkadang dalam keadaan berjongkok ia masih dapat melepaskan seranganserangan yang cukup berbahaya.

"Huup...!"

Setan Merah Mata Jereng tiba-tiba saja melompat ke udara. Ia segera mengerahkan jurus 'Menari Di Dalam Bayang-Bayang'. Jurus ini adalah salah satu jurus andalan yang dimiliki oleh Setan Merah MataJereng.

Hanya beberapa saat saja setelah ia mempergunakan jurus andalannya ini, maka tiba-tiba tubuhnya lenyap hanya tinggal bayang-bayang saja. Suro terkesiap. Seranganserangan lawannya membuat setiap gerakan pemuda itu seperti menemui jalan buntu. Apalagi mengingat serangan Si Jereng cepatnya bukan main.

Suro Blondo serta merta melompat ke samping. Namun pada waktu bersamaan lawannya melepaskan tendangan beruntun ke bagian perut. Tampaknya walau telah berusaha menghindar serangan lawan datang begitu cepat. Sehingga....

"Buuk!"

Tanpa ampun lagi, Pendekar Blo'on jatuh terjengkang. Tampak jelas darah menetes dari sudut-sudut bibirnya. Pemuda itu kemudian bangkit kembali. Melihat Setan Merah Mata Jereng terus menyerangnya, maka si pemuda segera mengerahkan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'.

Detik-detik selanjutnya gerakan si pemuda tampak lebih cepat. Langkah kakinya tidak beraturan, terkadang tubuhnya meliuk-liuk, atau melompat ke samping kanan dan ke kiri. Di lain waktu sambil mengeluarkan suara lolongan panjang, kaki kirinya menghantam lawannya.

Setan Merah Mata Jereng tampaknya menjadi gugup. Tendangan kaki Suro yang keras dan mengandung tenaga dalam tinggi membuat orang ini jatuh terpelanting. Ada benjolan besar akibat tendangan itu. Namun ia segera bangkit berdiri dan secara tidak terduga-duga ia mengibaskan kedua tangannya ke arah Suro.

"Wuut!"

Sakejap saja tampak seleret sinar meluncur deras ke arah si pemuda. Dan sebelum serangan yang menebar hawa panas itu menghantam tubuhnya, maka Suro melepaskan pukulan 'Kera Putih Menolak Petir'. Segulung sinar putih menderu ke arah lesatan sinar yang keluar dari telapak tangan lawannya. Udara di sekitar tempat itu tiba-tiba saja berubah menjadi panas luar biasa. Setelah itu benturan keras tidak dapat dihindari lagi....

"Glaar!" "Aaakh. !"

Setan Merah Mata Jereng memekik keras. Tubuhnya terlempar cukup jauh. Sedangkan Suro Blondo tampak tergetar saja, meskipun luka dalam yang dideritanya cukup berbahaya juga.

Hebatnya lawan sudah bangkit kembali. Kali ini ia segera melepaskan pukulan 'Bayang Bayang Setan'.

Begitu tangannya berkiblat, maka angin kencang bergulung-gulung menyerang Suro. Pemuda yang telah mempersiapkan tenaga dalam ke bagian telapak tangan ini tidak mau menunggu lebih lama.

'"Matahari Rembulan Tidak Bersinar'! Heaaa...!" teriak Suro.

Laksana kilat tangannya didorongkan ke depan. Maka untuk yang kedua kalinya terjadi benturan yang sangat dahsyat.

"Buuum!"

Tanah terguncang keras. Setan Merah Mata Jereng terkapar di atas batu. Sedangkan kaki Suro melesat sedalam tumit. Ketika pemuda itu mencoba menarik kakinya yang sempat terbenam di dalam tanah, maka pada saat itulah Datuk Hitam Gadang Dibumi membokongnya dari belakang. Suro berusaha menghindari bokongan tersebut. Tetapi kaki kanannya susah dicabut dari himpitan tanah. Sehingga tidak dapat dihindari lagi...

"Duuk!" "Aaakh...!"

Jeritan keras disertai menyemburnya darah dari mulut Suro Blondo yang terbuka. Tubuhnya tersungkur, jelas sekali kalau pemuda ini menderita luka dalam   yang cukup serius.

"Ha ha ha...! Cuma segitukah kehebatanmu, bocah gila?'' desis Datuk Hitam Gadang Dibumi sambil bertolak pinggang

Suro masih sempat mendengar semua itu. Kecurangan yang dilakukan oleh lawannya benar-benar membuatnya marah. Secara diam-diam ia mempersiapkan pukulan 'Neraka Hari Terakhir'. Akibat pengerahan tenaga dalam ini tentu membuat Suro menjadi semakin tersiksa. Tetapi dia sudah tidak perduli lagi. Ketika Datuk Hitam Gadang Dibumi menghampirinya. Di saat itu laksana kilat ia berbalik sambil menghantamkan pukulan ke arah lawannya. Semula Datuk Hitam Gadang Dibumi yang menyangka bahwa lawan masih dapat bertahan. Lebih tidak menduga lagi pemuda itu mampu melepaskan pukulan dahsyat ke arahnya. Karena jarak di antara mereka teramat dekat, maka Datuk Hitam Gadang Dibumi tidak sempat menghindar lagi. Pukulan yang mengandung hawa panas menghanguskan itu pun menghantam tubuhnya.

"Buummm!"

Datuk Hitam Gadang Dibumi menjerit keras. Sontak tubuhnya terpelanting. Sebagian wajah laki-laki itu hangus. Suro sendiri akibat pengerahan tenaga tadi membuat luka yang dideritanya menjadi bertambah parah. Akhirnya ia tidak sadarkan diri. Ketika pemuda ini terjaga, maka hari sudah menjadi malam. Ia merasa heran karena saat itu ia tidak berada di tempat terbuka. Melainkan di dalam sebuah pondok.

"Di mana manusia laknat yang telah membokongku!" desisnya.

Suro segera bangun, dan ia merasa tubuhnya menjadi ringan. Ia yakin pasti ada orang yang telah menolongnya. Ternyata dugaannya benar. "Kau sudah sadar?" kata sebuah

suara merdu.

Pendekar Blo'on memandang ke arah datangnya suara. Ternyata di sampingnya telah duduk seorang gadis cantik memakai kerudung putih.

"Kau...!"

"Aku menemukan tubuhmu tergeletak di padang tandus."

"Ke mana Datuk keparat itu?" "Ketika aku datang, aku tidak

melihatnya, terkecuali mayat seorang laki-laki yang menyerangsang di atas batu."

"Kau gadis aneh, kau menipuku." "Apa yang kutipu?" tanya Dewi

Kerudung Putih heran.

"Aku pergi ke Madura, Katai Muka Merah tidak berada di sana!"

“Mungkin aku salah kasih keterangan, maafkanlah,'' ujar si gadis sambil menundukkan kepala

“Siapakah yang sebenarnya kau ini?" tanya si pemuda heran.

"Luka-lukamu belum sembuh benar. Nanti pada suatu saat kau akan mengetahuinya juga."

“Katakan siapa kau?!" kata Pendekar Blo'on bersikeras.

"Aku adalah orang yang ingin selalu dekat dengan dirimu!" sahut Dewi Kerudung Putih. Ia langsung menempelkan jari tangannya ke bibir si pemuda ketika melihat pemuda itu ingin bicara lagi.

"Istirahat... hanya itu yang kuminta darimu...!" ujar si gadis sambil merebahkan Suro Blondo di alas balai-balai.

Karena sadar dirinya masih belum pulih benar, maka pemuda berambut hitam kemerahan ini terpaksa menurut juga, walaupun hatinya menggerutu. Gadis di depannya begitu baik, misterius dan ia tidak tahu apa yang terkandung dalam hatinya. Suro pada akhirnya hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya saja.

TAMAT