Serial Pendekar Bloon Eps 01 : Neraka Gunung Bromo

 
Eps 01 : Neraka Gunung Bromo 


Malam satu Asyuro adalah malam paling kramat dalam tradisi masyarakat Jawa. Malam seperti itu merupakan ajang bagi orang-orang tertentu dalam mencari keberuntungan. Ada pula tokohtokoh terhormat di kalangan masyarakat yang mencuci barang-barang pusaka simpanannya. Malam satu Asyuro malam kramat yang mengandung banyak berkah. Tidak heran jika kehadiran malam Asyuro ditunggu oleh banyak orang. Lain lagi halnya yang terjadi di sebuah tempat yang bernama Lereng Gunung Bromo. Seminggu sebelum malam satu Asyuro tiba. Banyak tokoh-tokoh persilatan yang datang dari seluruh tanah Jawa telah berkumpul disitu.

Bahkan di antara sekian banyak tokoh yang terdiri dari golongan hitam dan putih ada yang datang dari daerah lain di seberang lautan. Semula kabar menggemparkan tentang akan lahirnya seorang bayi di lereng Gunungg Bromo berasal dari seorang pertapa bernama Ki Begawan Sudra yang sudah sejak puluhan tahun mengasingkan diri di pantai laut selatan. Kabar tentang akan hadirnya bayi aneh ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru tanah Jawa. Kabar itu disampaikan dari mulut ke mulut, bahkan mereka yang tinggal di luar tanah Jawa juga mendengar kabar ini.

Tidak heran jika dua hari menjelang datangnya malam satu Asyuro. Lereng Gunung Bromo telah dipenuhi oleh orang-orang berkepandaian tinggi yang menginginkan bayi ajaib tersebut. Tidak jauh dari Gunung Bromo, bahkan terlihat satu pemandangan yang tampak aneh. Beberapa tokoh persilatan yang tergabung dalam sebuah partai telah mengumpulkan para perempuan hamil tua yang berdiam di sekitar lereng gunung tersebut. Tujuan mereka sudah jelas. Jika memang bayi ajaib itu kelak lahir disitu. Para tokoh persilatan berharap salah satu dari perempuan yang sedang hamil tua ini melahirkan anak yang dianggap memiliki keajaiban itu. Kalau hal ini sampai terjadi, maka tidak susah-susah mereka bersaing dengan tokoh-tokoh lain yang juga ada di tempat itu.

Tapi mungkinkah partai Persilatan Dunia Akhirat yang dipimpin empat tokoh ini dapat memenuhi ambisinya dengan cara mengumpulkan para perempuan yang sedang dalam keadaan hamil tua ini? Menurut pertapa Ki Begawan Sudra tersebut. Bayi ajaib yang akan lahir pada malam satu Asyuro itu memiliki ciri-ciri tertentu pada keadaan pisiknya. Antara lain ada sebuah tahi lalat besar pada punggungnya, kulitnya putih bersih. Rambutnya berwarna hitam kemerahmerahan.

Menjelang malam satu Asyuro tiba. Suasana di sekitar Gunung Bromo tampak gelap berselimut kabut tebal. Padahal saat itu baru sekitar jam tiga sore. Kabut yang menyelimuti lereng Gunung Bromo disertai dengan berhembusnya angin kencang seperti badai topan. Tiba-tiba suara halilintar menggelegar menyambar puncak Gunung Bromo. Sehingga orangorang yang berada di sekelilingnya menengadahkan wajahnya ke langit.

"Waktunya sudah hampir tiba!" teriak salah seorang di antara empat tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat.

"Apanya yang sudah tiba, Baja Geni!" mendengus kawannya yang terus mengawasi para perempuan yang dalam keadaan hamil tua tersebut. "Kalian lihat sendiri. Sejak tadi orang-orang bunting ini hanya pipis dan berakberak melulu. Kurasa sampai besok pagi pun bayi aneh itu tidak lahir!" tegasnya sambil bersungut-sungut pada tiga kawannya. Walaupun dalam suasana serba menegangkan seperti itu. Namun mendengar ucapan Balung Raja. Lakilaki gemuk yang memiliki tingkah kocak ini. Mau tidak mau tiga tokoh partai persilatan Dunia Akhirat tidak dapat menahan senyum.

Hanya laki-laki berbaju merah dan paling tua saja yang cuma tersenyum sebentar. Kemudian sikapnya berubah serius tidak ketulungan.

"Sudahlah. Hentikan tawa kalian yang jelek! Rasa-rasanya tanda-tanda kelahiran bocah aneh itu sudah semakin dekat. Orang-orang hamil ini harus kita awasi dengan ketat. Jika salah seorang di antara mereka mengerang kesakitan. Itu tandanya mau melahirkan!"

"Pesanmu akan kami perhatikan Ki Rambe Edan!" sahut Baja Geni. Lakilaki bertubuh jangkung dan berwajah tirus, angker seperti muka setan playangan.

"Hmm.... Lihat!" Balung Rtya tiba-tiba saja berseru keras. Jari telunjuknya mengarah ke salah seorang perempuan setengah baya yang tampak mulai mengerang-erang, tiga tombak di depan mereka. Dengan sigap tiga orang tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat segera menyerbu ke arah perempuan itu.

Perempuan dalam keadaan hamil tua ini terus mengerang-ngerang. Ki Rambe Edan dengan hati berdebar-debar segera mendekatinya. Sementara itu, Braja Musti, Balung Raja dan Raja Geni tampak berjaga-jaga dari segala kemungkinan yang tidak diingini.

"Apakah kau hendak melahirkan, perempuan istri orang?" tanya Ki Rambe Edan sambil berjongkok di sebelah perempuan berkebaya warna kuning.

"Tidak! Perutku mulas. Sejak tadi aku kentut-kentut melulu. Suami! Mana suamiku?" rintih perempuan berkebaya kuning ini.

"Suamimu? Ha ha ha...! Suamimu telah berangkat ke neraka duluan!" dengus Ki Rambe Edan. "Aku tidak membutuhkan suamimu, kau dengar? Yang kami butuhkan adalah anakmu. Itu pun jika kau melahirkan seorang anak lakilaki sesuai dengan ciri-ciri anak ajaib yang telah kami ketahui. Jika tidak, kau dan anakmu tentu segera menyusul suamimu ke neraka!"

Pucat wajah perempuan berkebaya kuning ini. Kemarahan telah melanda jiwanya. Ingin rasanya ia mencakar wajah laki-laki bermuka jelek di depannya. Tapi niatnya segera diurungkan ketika menyadari bahwa laki-laki bengis di depannya memiliki kesaktian yang sangat hebat dan tak mungkin lagi terlawan olehnya. Belum lagi tiga orang kawannya yang memiliki senjata sangat aneh bentuknya.

"Bangsat kalian semua! Anakku tidak akan kuberikan pada manusiamanusia iblis macam kalian!" maki perempuan itu sambil meludahi muka Ki Rambe Edan.

Plak! Plak!

"Aarkh...!" Perempuan malang ini menjerit kesakitan ketika tamparan Ki Rambe Edan menghantam wajahnya. Darah langsung mengucur dari hidungnya. Ia terkulai pingsan. Apa yang dialami oleh perempuan berkebaya warna kuning ini sempat dilihat oleh sepuluh perempuan hamil lainnya. Mereka jadi lumer nyalinya. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Ki Rambe Edan bangkit berdiri. Tatapan matanya berkilat-kilat tajam menyapu pandang pada para perempuan yang dalam keadaan tidak berdaya itu.

"Dengar kalian semua!" Lantang suara Ki Rambe Edan. "Siapa saja yang berani bertindak bodoh atau menyulitkan kami. Kalian akan mengalami siksaan yang sangat pedih dari kami!"

"Betul. Kami akan mengorek perut kalian dan mengambil jabang bayi yang belum waktunya melek di dunia ini!" tidak kalah seramnya. Balung Raja menimpali.

***

Kita tinggalkan dulu kawanan tokoh-tokoh yang sangat berambisi untuk memiliki bayi ajaib yang berada di lereng sebelah timur Gunung Bromo ini. Sementara itu di lereng sebelah barat Gunung Bromo juga sedang terjadi ketegangan. Di tempat ini berkumpul tokoh-tokoh sakti kelas satu. Walau jumlah mereka tidak sebanyak yang berada di sebelah timur. Tapi tokohtokoh yang datang dari berbagai daerah ini patut diperhitungkan. Mereka terus bersikap waspada dan menunggu segala kemungkinan. Di antara mereka ada yang mengendap-endap mendekati sebuah rumah berdinding kayu. Tapi ada juga yang duduk ongkang-ongkang ngejelepok ke tanah. Satu dua di antara mereka pula yang terus menerus memandang ke atas Gunung Bromo yang menjulang tinggi.

Di sebuah rumah yang telah terkepung oleh beberapa orang tokoh ini. Seorang laki-laki muda tampak gelisah. Sesekali ia melirik ke arah kamar di mana seorang perempuan berusia muda dalam keadaan terbaring dan perut membuncit. Laki-laki itu berwajah tampan. Ia memakai baju warna putih dengan ikat kepala warna putih pula. Di bagian pinggangnya tersembul sebilah gagang golok berbentuk aneh. Gagang golok inilah yang sejak tadi dipegangnya.

"Kakang!" rintih sebuah suara dari dalam kamar. Laki-laki berwajah tampan ini memasuki kamar istrinya. Sebuah pelita dengan nyalanya yang redup menerangi wajah seorang perempuan berwajah cantik.

"Ada apa, Dewi?" tanya sang suami sambil membelai-belai kening Dewi Rini istrinya.

"Kurasa sudah hampir tiba waktunya bagiku untuk melahirkan anak kita, Kakang Satria!" ujar perempuan itu melalui ilmu menyusupkan suara. Bagaimana pun sebagai seorang pendekar. Nalurinya mengatakan bahwa saat itu ada bahaya besar yang mengancam keselamatan mereka berdua.

"Tenanglah, jangan kau berpikir yang bukan-bukan." Satria Purba membujuk.

"Aku mendengar dan membaui kehadiran mereka. Apakah Kakang tidak tahu mereka sekarang telah mengepung tempat tinggal kita ini?"

Sang suami menggeleng-gelengkan kepala. "Menurut penyelidikanku. Sekarang ini tokoh-tokoh persilatan sedang berkumpul di sebelah timur lereng Gunung Bromo ini. Bahkan kulihat perempuan-perempuan hamil tua yang tinggal di desa Anabrang telah mereka kumpulkan di suatu tempat. Kalau pun ada yang menunggu di sebelah barat ini. Aku telah berjaga-jaga dari segala kemungkinan! Aku takut paman Dewana tidak mendengar kabar menggemparkan yang terjadi akhir-akhir ini." "Jangan berpikir macam-macam. Berdoalah selalu pada Tuhan agar kita selamat dari segala macam marabahaya!" "Kakang! Aduh perutku, Kakang... sakit sekali...!" rintih Dewi Rini

pelan suaranya.

"Tenanglah tenang. Aku telah mempersiapkan segala sesuatunya." Satria Purba mengingatkan. Suami istri yang sangat dikenal dengan 'Sepasang Pendekar Golok Terbang' ini memang sudah mendengar tentang ramalan Ki Begawan Sudra satu purnama sebelum kelahiran anaknya. Tapi mereka tidak yakin ramalan pertapa di pantai laut Selatan itu. Kalau pun kelak memang terbukti, jelas mereka berharap bukan anak mereka yang terlahir sebagai anak ajaib.

"Konsentrasikan pikiranmu pada kelahiran anak kita!" kata Satria Purba sambil mengelus-elus perut istrinya yang membuncit.

* * * DUA

Menjelang pukul duabelas malam tepat satu Asyuro. Di lereng Gunung Bromo di sebelah timur terdengar suara tangisan bayi. Bayi yang baru lahir ke dunia berasal dari rahim seorang perempuan yang dikumpulkan oleh partai persilatan Dunia Akhirat. Tanpa melihat keadaan bayi tersebut. Ki Rambe Edan segera menyambarnya. Mereka memang sudah berencana untuk melarikan bayi yang baru lahir itu ke markas besar mereka yang terletak di gunung Sumbing.

"Kita dapat rejeki besar! Bayi ajaib telah berada di tangan kita. Mari kita tinggalkan tempat celaka ini!" Ki Rambe Edan berteriak memberi aba-aba pada kawannya. Tapi pada saat itu dari arah lain terlihat berserabutan orang-orang persilatan yang memang sudah menunggu kelahiran bayi ajaib itu.

"Serahkan anak itu padaku!" bentak sebuah suara. Ketika Ki Rambe Edan menoleh ke arah tersebut. Terlihat oleh mereka seorang laki-laki tua bertampang angker. Laki-laki itu menyeringai dan langsung menyerang Ki Rambe Edan yang sedang menggendong bayi. Untuk menjaga keselamatan bayi. Tentu saja tiga orang tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat segera menghadang lakilaki bersenjata pedang dan berbaju merah ini dengan serangan-serangan yang sangat ganas dan mematikan. Tapi pada saat itu muncul lagi seorang perempuan tua berambut panjang.

"Aku juga menginginkan bayi itu, Setan Merah!" teriak perempuan renta berambut panjang sambil mengibaskan rambutnya yang menjadi senjata andalan itu ke berbagai penjuru arah.

"Tidak kusangka, Rambut Besi ambil bagian juga dalam perburuan ini. Ha ha ha...!" Setan Merah tertawa mengekeh. "Mari kita robohkan orangorang partai Dunia Akhirat. Jika mereka sudah pada mampus semuanya. Kita hanya tinggal menentukan siapa di antara kita yang paling berhak mendapatkan anak ajaib itu!"

"Setan sepertimu tidak mungkin becus memelihara bayi. Akulah yang paling pantas mendapatkan anak itu!" Nenek Rambut Besi tertawa bekakakan seperti kuntilanak.

"Tua peot banyak mulut! Robohkan dulu lawan, baru kau bicara...!" teriak Setan Merah. Ketika itu ia sudah menyerang Ki Rambe Edan yang dibantu dengan Balung Raja. Sedangkan Rambut Baja berhadapan langsung dengan Braja Musti dan Baja Geni.

"Bukan kalian saja yang berhak atas bayi ajaib itu. Tapi, aku Gajah Munding, juga ingin punya seorang murid yang dapat diunggulkan kelak di kemudian hari." Dari satu arah tibatiba saja menderu angin kencang yang disertai suara gdebak-gdebuk. Entah pihak mana yang memulai. Tahu-tahu pertempuran yang sangat seru tiba-tiba saja terhenti. Mereka serentak memandang ke arah datangnya suara aneh yang disertai dengan hembusan angin kencang itu. Dalam kegelapan lereng gunung, tampak menggelinding sebuah benda besar dengan kaki dan tangan terlipat. Dilihat sepintas lalu benda raksasa yang menerjang ke arah mereka itu seperti trenggiling. Ketika benda bulat itu sampai di tengah-tengah kalangan pertempuran. Maka menderulah angin laksana topan prahara ke arah empat penjuru angin. Angin kencang disertai hawa dingin membekukan itu menerjang orang-orang yang sempat terlibat pertempuran sebentar tadi.

Untung mereka adalah tokoh-tokoh persilatan yang sudah sangat berpengalaman. Sehingga masing-masing menyelamatkan diri. Bahkan tidak jarang di antara mereka ada yang melepaskan pukulan saktinya untuk menahan gelombang serangan yang dilakukan oleh sosok raksasa yang berjalan dengan kedua tangan dan kaki terlipat ini.

Buum! Buum!

Ledakan-ledakan dahsyat terdengar dua kali berturut-turut. Lereng Gunung Bromo seperti diguncang lindu. Batu-batu kecil berpelantingan ke udara. Dalam suasana gelap yang hanya diterangi cahaya bulan purnama. Tiba-tiba terdengar suara tawa menggeledek. Di tengah-tengah kalangan pertempuran tampak berdiri seorang laki-laki bercawat putih, berambut panjang menjela. Laki-laki bertampang kocak ini memiliki tubuh bukan main besarnya. Perutnya berlipat-lipat, lehernya yang panjang tampak membulat karena kelewat besar. Laki-laki ini diperkirakan memiliki berat tiga ratus kati. Semua orang yang hadir di situ sebentar dapat melihat ketika tokoh raksasa tertawa, perut serta dadanya yang besar tampak bergoyang-goyang.

"Sialan! Dia benar-benar Gajah Munding! Kawannya si Gajah Krempeng sebentar lagi pasti datang kemari. Bangsat! Urusan benar-benar jadi kapiran kalau kedua manusia gajah ini turut campur!" maki Ki Rambe Edan dalam hati. Rupanya tokoh angkatan tua ini sedikit banyaknya sudah tahu kehebatan manusia kembar dari lereng Merbabu tersebut. Dugaan Ki Rambe Edan ternyata tidak meleset. Tidak lama setelah tawa Gajah Munding sirep. Di tempat itu dari arah utara terdengar suara tawa lain mirip suara perempuan. Kemudian tampak pula sesosok tubuh berkelebat mendekat. Hanya dalam waktu sekedipan mata. Tahu-tahu di samping Gajah Munding telah berdiri seorang lakilaki berbadan kurus kering tidak ketulungan.

Sama seperti Gajah Munding, ternyata laki-laki ini pun hanya memakai cawat putih tanpa baju.

"Ah... saudara kembarku. Di sini sedang ada pesta gila rupanya? Kenapa kau tidak bilang-bilang padaku?" desis Gajah Krempeng. Matanya yang cekung berputar-putar liar menjilati orangorang di sekelilingnya. "Ah... aduh... mengapa orang bunting jelek pada dikumpulkan di sini...?"

"Tenanglah, kurus-kurus begitu kau pasti dapat bagian! Sekarang kita ambil bayi ajaib itu dari tangan mereka. Aku yang menggebuk orang-orang jelek ini, Sedangkan kau yang ambil bayi!"

Nenek Rambut Besi, empat tokoh yang tergabung dalam partai persilatan Dunia Akhirat dan Setan Merah tampak saling pandang. Rupanya si Rambut Besi dan Setan Merah menarik diri dari kalangan pertempuran yang siap berkobar. Mereka memilih menunggu kesempatan sampai salah seorang dari tokoh-tokoh itu mengalami kekalahan. Baru mereka menyerang pihak-pihak yang menang untuk merampas bayi.

"Manusia-manusia keparat! Kami partai Dunia Akhirat tidak akan membiarkan kalian memiliki bayi ini!" teriak Balung Raja. Kemudian terdengar suitan panjang. Maka dua orang kawannya langsung mengeroyok Gajah kembar ini dari berbagai penjuru arah. Sementara itu Ki Rambe Edan bertindak sebagai penyelamat bayi dan bersiap siaga membantu kawan-kawannya jika mereka dalam keadaan terdesak. Hanya dalam waktu yang sangat singkat pertempuran seru pun segera terjadi.

Sementara itu lereng Gunung Bromo sebelah barat malam itu segera terkoyak dengan terdengarnya suara tangisan bayi. Suara tangisan bayi terdengar semakin lama bertambah semakin jelas. Satria Purba yang baru pertama kalinya menimang anak tampak tergopoh-gopoh mengurusi anaknya yang baru terlahir ke dunia ini. Tapi Golok Terbang ini tampak kaget sekali ketika melihat rambut anaknya tampak berwarna merah kehitam-hitaman. Selain itu pada bagian punggungnya terlihat sebuah topel (Tahi lalat) sebesar ibu jari.

"Ya Gusti Allah! Ramalan Pertapa itu ternyata benar!" desis Satria Purba dengan wajah berubah pucat. Dewi Rini yang dalam keadaan terbaring lemah di tempat tidur tampak heran melihat suaminya diam mematung di pinggir pemandian bayi yang telah disediakan.

"Kakang! Ada apa? Bagaimana anak kita? Laki-laki atau perempuan?" pelan sekali suara Dewi Rini.

"Aa... anak kita laki-laki. Dewi... ramalan Ki Begawan Sudra... ternyata...!"

"Ternyata apa...?"

"Benar!" desis Satria Purba. Si Golok Terbang langsung terdiam. Sementara tangis sang bayi belum juga terhenti. Satria Purba tiba-tiba saja mendengar gemerisik semak-semak terinjak oleh seseorang.

Sing! Sing!

"Jadah!" terdengar suara makian seseorang. Rupanya jebakan yang dipersiapkan oleh Satria Purba sejak sore hari untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diingini telah melesat ke arah sasaran. Kemudian dari arah lain terdengar suara jerit kematian dan suara sosok-sosok tubuh berjatuhan.

"Jadah! Sepasang Golok Terbang telah menjebakku dengan permainan usangnya!" maki seseorang. Setelah itu terdengar suara mendesing yang disertai suara menderu-deru. Pertanda bahwa orang-orang yang berada di luar pondok sedang berusaha menyelamatkan diri dari serangan perangkap yang telah dipersiapkan oleh Satria Purba.

"Ha ha ha...! Segala macam perangkap tikus kau pasang di sini! Aku Kala Demit mana kena dikadali!" Suara tawa yang dilanjutkan dengan ucapan menggeledek itu jelas-jelas mengandung tenaga dalam tinggi. Pondok milik Sepasang Golok Terbang bergetar hebat. Satria Purba jadi tercekat. Ia segera menyerahkan anak yang baru terlahir itu ke dalam pelukan istrinya.

"Lindungi anak kita dari tangan manusia-manusia busuk yang berada di luar sana!" pesan laki-laki berbaju hijau ini. Seraya dengan cepat melompat ke samping pintu. Dewi Rini yang dalam keadaan lemah karena baru saja selesai melahirkan ini tidak mungkin dapat melakukan banyak gerakan. Ia sendiri kemudian sambil mendekap anaknya segera mencabut golok yang terletak di bawah bantal.

Pada saat itu tiba-tiba saja terdengar suara berderak pada daun pintu. Sosok laki-laki berbadan kurus berambut awut-awutan dan berbaju tambal-tambalan sudah berdiri di depan pintu.

"Ha ha ha...! Kau bersembunyi di mana Satria Purba! Kulihat istrimu sudah melahirkan! Cepat serahkan anak itu padaku!" Laki-laki kurus bernama Kala Demit ini bermaksud menyerbu ke dalam kamar istri Satria Purba. Tapi tiba-tiba dari samping kiri tampak berkelebat sinar putih menyilaukan menghantam perut dan bahu Kala Demit.

"Hanya manusia laknat saja yang berani bertindak macam-macam di rumahku!"

"Uts...! Gila...!" Kala Demit berseru kaget. Ia menarik tubuhnya ke samping. Serangan golok yang membobol ke bagian perut laki-laki bertampang angker ini luput. Tapi belum sempat ia melakukan serangan balasan. Golok di tangan Satria Purba telah menderu mengancam kesepuluh jalan darah lawannya. Kala Demit menggeram marah. Ia mengibaskan tangannya ke bagian wajah Satria Purba. Laki-laki muda ini terpaksa tarik balik serangan untuk menyelamatkan muka. Tapi kemudian golok di tangannya membelok dan menyambar bahu Kala Demit.

Bret!

"Akh! Keparat! Manusia dungu, tolol bego! Kau benar-benar minta mati!" bentak Kala Demit. Laksana kilat ia melompat ke belakang. Tapi gerakannya langsung terhalang dinding penyekat ruangan. Sambil menotok jalan darah pada bagian yang terluka. Kala Demit menggembor marah. Tiba-tiba ia mencabut senjata andalannya berupa kebutan yang dapat berubah menjadi kaku laksana baja. Senjata maut yang jadi lambang kebesarannya selama malang melintang di rimba persilatan ini segera dikibaskan menyongsong tusukan golok yang terarah pada bagian lambungnya.

Angin sedingin es mengandung racun ganas menderu laksana badai topan prahara. Satria Purba tercekat dan terhuyung-huyung. Ia terpaksa menarik pulang tusukan goloknya. Untuk melindungi diri salah satu dari pasangan pendekar Golok Terbang ini lepaskan satu pukulan dahsyat 'Halimun Senja'. Seleret sinar biru disertai hawa panas membakar langsung melabrak kebutan milik Kala Demit.

Bum! Bumm!

"Ugkh...!" Pukulan dahsyat yang dilepaskan Satria Purba ternyata sebagian membalik dan menghantam diri sendiri ketika Kala Demit secara terus menerus hantamkan kebutannya ke depan. Laki-laki gagah berani ini terpelanting roboh. Tubuhnya mencelat keluar setelah sebelumnya menghantam dinding papan di belakangnya. Kala Demit tertawa panjang. Walaupun Satria Purba menderita luka dalam yang cukup parah. Namun dengan cepat ia bangkit berdiri dan langsung masuk ke dalam rumahnya melalui dinding yang bobol. TIGA

Braak! Braak!

Pintu bagian belakang pondok pada waktu bersamaan juga hancur berkeping-keping. Dua orang laki-laki berbadan katai berambut di kuncir ke atas tampak menyunggingkan senyum ke arah Kala Demit yang sedang tampak terkesima karena melihat Satria Purba ternyata masih hidup bahkan sekarang menyerangnya kembali dengan jurusjurus golok Terbangnya yang sangat berbahaya.

"Hu huhu...! Ternyata nasib kami lebih bagus dari nasibmu, Kala Demit! Silakan kau main-main dengan Golok Terbang! Sementara kami dengan bebas membawa bayi ajaib itu!" dengus salah seorang dari manusia katai itu. Tubuh mereka tiba-tiba berkelebat ke dalam kamar di mana Dewi Rini berada. Kala Demit marah bukan main. Ia bermaksud mengejar dua manusia cebol itu. Tapi tekanan serangan gencar yang dilakukan Satria Purba, juga perlu diperhitungkannya. Akhirnya ia hanya mampu memaki panjang pendek.

"Dua katai bangsat! Jika kau bawa anak ajaib itu. Kau dan kembaranmu akan kubuntungi kepala dan kaki!" Untuk yang kesekian kalinya Kala Demit mengebutkan senjatanya. Sementara itu, sebelum kedua manusia katai sampai di kamar Dewi. Dari arah barat tampak melesat cahaya putih seperti meteor. Cahaya putih menyilaukan mata itu kemudian tampak berputar-putar di atas atap rumah Sepasang Pendekar Golok Terbang. Kemudian ketika sinar seperti bintang berhenti di tengah-tengah bubungan rumah. Maka satu larik sinar kecil berwarna sama menembus ke dalam pondok dan langsung menyinari sosok bayi yang tidak lagi menangis di samping Dewi. Keanehan terjadi. Sinar yang hampir tidak dapat dilihat kasat mata itu tiba-tiba menggerakkan bayi. Kejadian itu tidak sempat dilihat Dewi. Karena perempuan muda yang baru melahirkan ini langsung menerjang sepasang manusia Katai yang tiba-tiba saja muncul di dalam kamarnya.

"Manusia-manusia iblis! Apa saja kerjamu di sini!" dengus Dewi Rini yang sama sekali tidak kenal dengan dua laki-laki asing ini.

"Serahkan anakmu! Jika kau ingin selamat!" perintah salah seorang di antaranya.

"Makan senjataku!" teriak Dewi Rini. Secepat kilat tubuhnya telah melesat ke depan. Golok di tangannya dua kali lebih cepat bergerak menebas ke bagian dada kedua laki-laki katai ini. Sekejap mereka sempat terkesiap. Tapi dengan sangat mengagumkan mereka merundukkan kepala sambil hantamkan satu jotosan ke dada Dewi.

Cras!

Sebagian kuncir salah satu manusia katai ini rontok tersambar ketajaman golok di tangan Dewi. Katai muka kuning mengeluarkan seruan tertahan. Untung hanya rambutnya yang terpotong, jika lehernya. Tentu katai muka kuning sudah tergusur ke neraka. Setelah Dewi Rini merasa gagal hantamkan goloknya ia cepat bersurut langkah. Serangan katai muka merah luput. Hal ini membuatnya marah bukan main. Denganberingas ia menerjang lawannya dengan serangan menggeledek. Dewi yang dalam keadaan lemah ini mati-matian mempertahankan diri.

Sementara tanpa sepengetahuan mereka yang terlibat pertempuran. Bayi yang baru berumur beberapa jam ini secara aneh tampak merangkak menuruni ranjang. Setelah itu seperti menyadari adanya bahaya yang menghadangnya. Ia terus menelusup ke tempat-tempat gelap di dalam ruangan. Sesekali matanya berkedip-kedip. Seberkas sinar putih terus menerus membimbingnya. Dengan cara merangkak seperti anak yang telah berumur delapan bulan. Ia menyelinap di balik pintu. Kemudian merangkak terus sampai di pintu belakang yang  hancur berantakan. Sampai di depan pintu belakang. Ia celingak celinguk. Selanjutnya merangkak lagi menuju kegelapan malam lereng Gunung Bromo.

Disaat itulah cahaya putih seperti meteor tampak berpedar-pedar. Cahaya itu bergerak mengikuti ke mana bergeraknya bayi. Kilat tiba-tiba menyambar. Cahaya putih memijar dan membentuk sosok tubuh seorang lakilaki. Laki-laki berbaju serba putih yang seakan datang dari langit ini melesat ke permukaan lereng dan langsung menyambar si bayi. Bayi itu kemudian di dukungnya. Seraya tertawatawa seperti orang linglung. Matanya meneliti bayi yang ada dalam gendongannya. Dan setelah mengetahui keadaan si bayi. Gema suara tawanya semakin memanjang.

"Ha ha ha. Ilmu Penuntun Sukma telah membuatmu selamat calon muridku!" kata laki-laki berambut, berjambang dan berjenggot serba putih ini sambil berlari menuju ke jurusan utara.

Sementara itu di dalam pondok pertarungan seru masih terus berlanjut. Satria Purba ternyata telah mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Bahkan kemudian satu tendangan telak menghantam remuk dadanya. Sehingga membuat laki-laki ini jatuh tergelimpang dengan mulut menyemburkan darah. Kala Demit yang dilanda kemarahan setan rupanya tidak mau bertindak tanggung-tanggung. Ia mengebutkan senjatanya ke wajah Satria Purba.

Craas!

"Akggh!" terdengar suara jeritan Satria Purba yang sedemikian menggidikkan. Dewi yang sedang bertarung menghadapi dua manusia katai sakti ini rupanya sempat mendengar suara jeritan suaminya. Walaupun tubuhnya yang dalam keadaan lemah dan terluka parah ini sudah tidak memungkin untuk bergerak. Namun tanpa menghiraukan lawan-lawannya ia meluruk ke depan.

"Kakang!" jeritnya ketika melihat keadaan suaminya tewas secara menggenaskan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kedua manusia katai yang dikenal dengan julukan 'Sepasang Iblis Pegat Nyawa'. Laksana kilat mereka menyambitkan senjata rahasianya berupa gigi-gigi ulat berbisa ke arah Dewi.

Wuss!

Dewi yang kurang kontrol dan berada dalam belenggu kesedihan ini sudah tidak dapat menghindari serangan gelap itu. Ia pun hanya mampu menjerit. Tubuhnya ambruk jatuh di atas mayat suaminya. "Kau satu aku satu! Sekarang aku inginkan bayi itu!" kata Kala Demit. Ia kemudian memasuki kamar Dewi.

"Celaka! Bayi itu sudah tidak ada di sini!" teriak salah seorang manusia katai tersebut tanpa menghiraukan ucapan dan kehadiran Kala Demit yang juga telah berada di dalam ruangan yang sama.

"Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi, Adi?" desis katai muka merah pada katai muka kuning yang juga tampak tercengang.

"Mana mungkin bayi dapat hilang begitu saja! Kalian pasti telah bersekutu dengan orang lain untuk menguasai bayi itu!" bentak Kala Demit. Rupanya ia merasa curiga.

"Demit jelek. Jangan kau berani membentak kami! Aku datang kemari bersama adikku! Ketika kami bertarung dengan istri pendekar Golok Terbang bayi itu masih berada di tempat tidur," bantah katai muka kuning berang.

"Tolol semua!" rutuk Kala Demit. Ia sendiri mulai memeriksa ke dalam ruangan-ruangan lain bahkan sampai ke bawah kolong. Tapi bayi yang diinginkannya tetap tidak dijumpai.

"Mungkin seseorang telah melarikannya! Kita harus melakukan pengejaran, Kakang!" Katai muka kuning sudah tidak sabar lagi. "Kita periksa dulu sekitar sini!" teriak muka merah.

Pada saat mereka saling bersitegang seperti itulah tiba-tiba terdengar seruan kaget seseorang.

"Oh.... Gusti   Allah...! Rupanya aku benar-benar datang terlambat...! Kedua ke-ponakanku! Hmm... siapa orangnya yang telah berani bertindak lancang dan gegabah ini...!" Suara seruan itu pertama datang dari jarak yang cukup jauh. Namun ketika kedua manusia katai dan Kala Demit mengintip ke pintu depan melalui sebuah lubang. Maka di depan pintu telah berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berambut serba merah.

"Malaikat Berambut Api...!" desis mereka hampir serentak. Tampak jelas ketiga wajah manusia iblis ini berubah pucat.

"Bayi tidak kudapat. Daripada mati di tangannya, lebih baik aku mencari selamat." membantin Kala Demit dalam hati. Tiba-tiba saja ia melesat meninggalkan kamar Dewi diikuti oleh sepasang Iblis Pegat Nyawa. Gerakan melarikan diri yang sangat luar biasa cepatnya ini sempat terlihat oleh kakek berambut dan berpakaian serba merah ini. Namun ketika ia hendak melakukan pengejaran. Gerakannya segera tertahan saat mendengar suara rintihan Dewi. Dengan hati terharu biru, si kakek datang menghampiri dan langsung berjongkok di samping keponakannya dan dalam keadaan tumpang tindih. Malaikat Berambut Api di pulau Seribu Satu Malam yang terletak di tengahtengah laut pantai selatan ini segera menelentangkan Dewi.

Ia memeriksa keadaan keponakannya ilu. Gelengan kepala disertai desisan lemah keluar dari bibirnya yang tertutup kumis serba merah.

"Racun yang terdapat dalam senjata rahasia gigi ular berbisa telah memenuhi jantungnya. Celaka... aku tidak mungkin dapat menyelamatkan jiwanya lagi." desis si kakek bersedih hati.

"Katakan Dewi! Aku telah mengetahui orang-orang yang telah mencelakai dirimu dan juga suamimu. Penciumanku tidak dapat ditipu. Tapi ke mana anakmu?"

Mata Dewi yang terpejam dan kehilangan cahayanya tampak meredup. Wajahnya berwarna biru. Diambang ajal ia tetap berusaha tabah.

"Pp.... Paman.... Ramalan Ki Begawan Sudra itu... ternyata memang terbukti. Hekh... ciri-ciri anakku sama persis dengan apa yang dikatakannya. Si... sinar put... tih... hanya dia yang dapat bergerak seperti cahaya.... Carilah Siluman Kera Putih. Dia yang telah membawa anakku.... paman...!" Kepala Dewi Rini terkulai. Malaikat Berambut Merah yang jarang bicara dalam hidupnya tundukkan kepada dalam-dalam.

"Orang-orang berjiwa serakah telah membunuh keponakanku. Ternyata sebagai seorang paman aku tidak dapat menjadi pelindungnya. Gusti Allah...! Pada arwah leluhurku dan leluhur kakangku... maafkan adikmu ini. Satu kepercayaan telah kulalaikan. Aku teledor, hingga membuat jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini terenggut. Anaknya... cucuku...! Tidak akan kubiarkan lagi siapa pun yang menyentuhnya. Lecet Baja kulit cucuku. Siluman Kera Putih benar-benar akan kubuat mampus!" desis Malaikat Berambut Api yang mempunyai nama asli Dewana ini dengan hati masgul. Mayat Sepasang pendekar Golok Terbang ini didukung di bahu kiri dan kanan. Tidak lama kemudian tubuhnya bergerak menuju pulau Seribu Satu Malam untuk menguburkan mayat keponakannya.

Di tengah-tengah perjalanan, tidak henti-hentinya Dewana menggerutu dan menyesali diri. Dalam keadaan berlari cepat itu, ia tidak hentihentinya memaki dirinya sendiri.

"Manusia-manusia edan! Kalian semua akan celaka. Berani menyentuh keponakanku berarti kematian. Jika telah membunuh seperti ini berarti tidak ada ampunan dunia akhirat!"

Malaikat Berambut Api terus berlari laksana terbang. Sama sekali ia tidak menghiraukan suasana di sekelilingnya yang gelap gulita. Sekarang sudah tersusun rapi dalam benaknya, setelah selesai mengubur kedua keponakannya itu ia akan mengejar Siluman Kera Putih yang berdiam di Gunung Mahameru.

EMPAT

Di lereng Gunung Bromo sebelah timur pertempuran sengit terus terjadi. Empat tokoh yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat terus berusaha merobohkan dua lawan tangguh. Namun tampaknya Gajah Munding dan adiknya Gajah Krempeng bukan lawan sembarangan. Terbukti setelah dua puluh jurus berlalu. Empat tokoh partai Dunia Akhirat mulai terdesak hebat. Padahal waktu itu Balung Raja, Ki Rambe Edan, Braja Musti dan Baja Geni telah mengerahkan senjata andalah masing-masing. Hebatnya kedua manusia Gajah yang satu berbadan seperti raksasa dan satunya lagi berbadan kurus macam  tengkorak hanya mempergunakan tangan kosong dalam menghadapi serangan gencar mereka ini. "Rampas bayi itu, Saudara kurus!

Kita tidak punya banyak waktu untuk melayani manusia-manusia tolol ini!" teriak Gajah Munding keras bukan main. "Tenang saja! Aku segera melakukannya," sahut Gajah Krempeng. Tubuh kurusnya tiba-tiba melesat ke arah Ki Rambe Edan yang membawa bayi

dengan kecepatan laksana terbang. "Bangsat! Jangan mimpi! Makan

nih...!" Ki Rambe Edan hantamkan pedang di tangannya ke arah kepala Gajah Krempeng. Laki-laki ini tanpa diduga-duga bersalto ke udara. Dalam gelapnya malam Gajah Krempeng yang langsung menjejakkan kakinya di bahu Ki Rambe Edan lakukan dua totokan berturut-turut.

Totokan yang dilakukan Gajah Krempeng langsung pada bagian pusat gerak dan suara. Hingga membuat tubuh laki-laki itu tidak dapat bergerak lagi. Kesempatan itu dipergunakan oleh Gajah Kurus untuk merebut bayi dari tangan Ki Rambe Edan. Setelah mendapatkan bayi, Gajah Krempeng langsung berkelebat pergi. Dikejauhan sayup-sayup terdengar suara Gajah Krempeng memanggil saudaranya si Gajah Munding. "Tinggalkan pertempuran gila!

Aku sudah dapatkan bayi ajaib!"

Gajah Munding tertawa mengekeh. Ia melepaskan dua tendangan dahsyat berturut-turut. Lawan menyadari betapa berbahayanya serangan manusia raksasa yang bernama Gajah Munding itu. Sehingga hampir bersamaan mereka melompat mundur sejauh tiga langkah. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Gajah Munding. Tubuhnya yang sangat besar itu langsung terlipat dan menggelinding cepat bagaikan meteor.

"Kejar pencuri bayi!" teriak Balung Raja pada kawan-kawannya. Tapi dari arah kiri mereka tiba-tiba terdengar suara gelak tawa disertai caci maki seseorang.

"Hik Hik Hik! Orang-orang tolol! Mengapa mencari susah dengan mengejar dua gajah setan! Pekerjaan itu hanya sia-sia. Mereka bukan melarikan bayi ajaib... paling-paling juga bayi kudisan! Lihat kawan kalian yang telah jadi patung...!"

"Eeh...!" Braja Musti melengak kaget. Cepat ia palingkan muka ke arah lain. Di sebelah kiri mereka terlihat Ki Rambe Edan berdiri tegak dengan posisi tangan seperti menggendong bayi. Sungguh menggelikan keadaan tokoh tua ini. Tapi bila mereka ingat kehebatan dan kepandaian yang dimiliki kakek tua ini. Maka mereka jadi terkejut. Gajah Krempeng diluar sepengetahuan mereka rupanya dapat menjatuhkan Ki Rambe Edan. Jika Gajah Krempeng dapat menjatuhkan Ki Rambe Edan dengan cara sedemikian mudahnya. Tentu Gajah Krempeng pastilah bukan manusia sembarangan.

"Bebaskan totokannya!" teriak Baja Geni memberi perintah pada kawannya. Balung Raja segera menghampiri Ki Rambe Edan. Sementara itu Baja Geni melompat ke depan Setan Merah dan Rambut Besi yang masih tetap berdiri di situ sambil tersenyumsenyum mencemooh.

"Setan Merah! Rambut Besi! Apa yang kalian berkata tadi? Apakah bayi yang dilarikan oleh Gajah Munding dan saudaranya bukan bayi ajaib seperti yang dikatakan oleh pertapa laut selatan?"

"Hik hik hik!" Rambut Besi menyambuti dengan tawa.

"Hek! Ha ha ha...! Orang-orang goblok tolol! Kalau kau mau tahu, bayi yang dibawa kabur oleh Gajah Munding hanya bayi biasa. Rambutnya tetap hitam, bukan merah. Punggungnya dalam keadaan mulus tanpa tahi lalat...!"

"Kalian dusta!" bentak Baja Geni. Ia memang merasa penasaran bahkan mulai ragu-ragu ketika dua manusia di depannya memberi peringatan. "Goblok tolol! Dusta dan tidak bohong sama-sama tidak ada untungnya bagi kami. Saudara bukan, anak bukan! Mau kalian kejar bayi kudisan itu aku tidak perduli! Bukankah begitu, Rambut Besi?" dengus Setan Merah. Ia berpaling pada perempuan tua yang sedang memonyongkan mulutnya.

"Bodoh amat! Daripada tarik urat dengan tokoh-tokoh dari partai celaka, lebih baik kucari bayi aneh itu di tempat lain di sekitar Gunung Bromo ini!" Sekali menjejakkan kakinya. Perempuan renta berambut panjang menjela ini sudah lenyap dari hadapan mereka. 

"Hmm. Monyet kurus rambut besi boleh juga dipercaya! Aku pun tidak berlama-lama di sini. Orang-orang bunting itu hanya mengingatkan aku pada nenekku yang sedang hamil tua!" Setan Merah. Laki-laki berbaju merah dan memiliki kepandaian tinggi ini pencongkan mulutnya. Dari sela-sela bibirnya meluncur air ludah menderu ke arah Baja Geni.

"Terima oleh-olehku!"

"Kurang ajar!" Baja Geni hantamkan tangannya ke arah air ludah yang meluncur ke bagian wajahnya. Ludah yang melesat dari mulut Setan Merah tertahan dan memercik ke seluruh penjuru arah. Tapi ada juga di antaranya yang mengenai baju Baja Geni. Hingga membuat laki-laki itu menyumpah serapah. Dikejauhan terdengar suara Setan Merah sayupsayup di telinga Baja Geni.

"Seumur-umur kalian menunggu para perempuan itu melahirkan. Kalian tidak mungkin mendapatkan apa-apa. Tampaknya bayi ajaib telah terlahir di sebelah barat sana. Orang partai Dunia Akhirat? Apakah kalian tetap mengharap bayi dari perempuan hamil yang kalian kumpulkan? Tunggulah sampai dua purnama mendatang. Mudah-mudahan perempuan-perempuan itu melahirkan taik yang lebih besar...!"

"Bangsat rendah!" maki Ki Rambe Edan yang baru saja terbebas dari totokan menggembor marah. "Gajah Krempeng! Suatu saat nanti aku cincang tubuhmu yang cuma rongsokan itu!"

"Sudahlah! Para kurcaci itu tidak ada di sini! Mereka membawa bayi biasa. Sekarang apa yang harus kita lakukan terhadap perempuan itu?" tanya Brcna Musti seakan tidak sabar lagi.

"Ya... apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi fajar segera terlihat. Kurasa malam satu Asyuro sudah hampir berakhir. Dan kita tidak mendapatkan apa-apa."

"Hmm. Aku pun yakin tentang hal itu. Kalau perempuan-perempuan hamil ini tidak ada gunanya. Untuk apa susah payah. Lebih baik kita bunuh mereka semua!" Ki Rambe Edan dengan kejam memutuskan.

"Ya.... Aku setuju mayat-mayat mereka kita buang di jurang sebelah sana. Mungkin dalam waktu yang singkat kita dapat menjadikan tempat ini sebagai markas."

"Bagus! Aku setuju, Braja Musti. Tapi kudengar-dengar di sebelah barat lereng gunung ini berdiam sepasang Pendekar Golok Terbang. Kita harus menyelidik apakah mereka masih tinggal di daerah ini atau tidak. Jika memang tidak, kita dapat memulai segala sesuatunya dari sini." Ki Rambe Edan menimpali.

Ketika itu Baja Geni segera memberi isyarat pada dua orang kawannya untuk membantai para perempuan malang yang dalam keadaan hamil tua tersebut.

"Kalian dikumpulkan di sini ternyata merupakan orang-orang yang tidak mempunyai guna sama sekali. Malam ini adalah malam terakhir kalian dapat melihat dunia!" desis laki-laki tertampang sadis ini.

Sreek!

Baja Geni dan kawannya mencabut senjata di pinggang masing-masing. Para perempuan yang tidak berdaya ini ketakutan setengah mati.

"Ja... jangan bunuh kami...! Kasihanilah selembar nyawa kami, Tuan?" rintih para perempuan itu ketakutan. Tubuh mereka menggigil, terlebih-lebih setelah melihat kilatan senjata di tangan orang-orang di depannya.

"Nyawa kalian memang cuma selembar. Kalau kalian punya berlembar-lembar pun kami tetap akan mencabutnya?!" Balung Raja mendengus sinis.

"Hiya...!" pedang di tangan laki-laki itu tiba-tiba saja menderu dahsyat. Jerit serta lolong kematian pun menggema menyambut datangnya sang fajar. Darah membasahi rumput-rumput berembun. Tubuh-tubuh malang ini tersungkur mandi darah dengan lukaluka sungguh sangat mengerikan. Braja Musti, Balung Raja dan Baja Geni tergelak-gelak melihat orang-orang yang tidak berdosa itu meregang ajal. Dari tempat yang agak jauh Ki Rambe Edan menyeringai puas melihat pembunuhan yang dilakukan oleh kawankawannya. Semburat merah mulai terlihat di langit sebelah timur. Lereng Gunung Bromo berubah sunyi, seakan tidak pernah terjadi apa-apa di situ. Mayat-mayat bergelimpangan tampak mulai membeku.

*** Waktu terus bergulir tanpa menunggu. Malam satu Asyuro beberapa minggu telah terlewatkan. Namun tidak seorang pun yang dapat melupakan peristiwa tragis yang terjadi di Gunung Bromo. Bahkan tokoh-tokoh persilatan yang merasa gagal mendapatkan bayi ajaib itu. Tetap menunggu kabar dan mencari kesempatan ingin memiliki bayi itu. Hanya kabar yang mereka tunggu tidak kunjung datang. Tidak seorang pun di antara mereka yang tahu, di mana dan di tangan siapa bayi ajaib itu berada.

Gunung Mahameru dalam ketinggian dua ribu lima ratus kaki lebih. Hampir setiap saat selalu berselimut kabut tebal. Hampir seluruh lerengnya ditumbuhi dengan berbagai jenis pohon pinus membaur dengan pohon-pohon lainnya. Tidak seorang dari kalangan manapun yang berani datang atau menjarah tempat itu. Konon gunung Mahameru selain sangat angker, juga didiami oleh dedemit dan makhluk halus. Anehnya walaupun tidak kelihatan ujudnya. Hampir setiap saat dari pagi sampai menjelang sore. Sepanjang lereng melingkar selalu terdengar suara jeritan-jeritan kera.

Masih di daerah sekitar lereng. Di sebuah tempat yang membentuk cekungan. Terlihat sebuah pondok jati yang agak terlindung dari pepohonan. Di depan pondok terdapat sebongkah batu besar dan datar pada permukaannya. Di atas batu itulah seorang laki-laki berbaju putih, bercambang, jenggot dan berambut serba putih duduk bersila sambil menimangnimang bayi di tangannya. Laki-laki ini tampak terus tertawa-tawa seperti orang sinting. Karena agaknya ia memang merupakan orang sinting. Anehnya bila ia tertawa, bayi dalam pangkuannya yang sedang menangis itu hentikan tangisnya seketika.

"Ah... ha ha ha...! Bayi bagus! Tulang-tulangnya juga bagus untuk kujadikan manusia sakti. Aku beruntung. Tapi... bayi ini mengapa rambutnya kemerah-merahan? Ada tahi lalat besar di punggungnya. Mukanya memang ganteng, tapi... kelihatannya... seperti orang tolol! Kayak orang bego, Blo'on...! Eh... bayi baru dua minggu bisa tertawa. Senang, ya... apakah senang kau jadi orang blo'on? Eeh... dia tertawa lagi. Waduh apa ini hangat-hangat...!" Lakilaki bertampang seperti monyet ini meraba bagian depan celananya. Basah.

"Hah...!" Si Orang tua mendelik. "Kau... kau kencingi aku! Kurang ajar, kau kencingi aku!" Seakan mengerti bayi berambut kemerah-merahan itu tiba-tiba menangis sekeras-kerasnya. Semakin lama tangisnya semakin keras, hingga membuat si kakek jadi kebingungan.

"Cup... diam, ya... akh, rupanya kau tahu aku ngomel. Uuh... bukan kau yang kencing. Ya.. ya... bukan kau yang kencing. Aku yang kencing. Tua bangka ini yang kencing di celana. Ha ha ha Kakek bertampang seperti kera putih tergelak-gelak. Aneh, bayi lakilaki itu tiba-tiba hentikan tangisnya dan ikut pula tertawa.

LIMA

Kakek berbaju serba putih yang tidak lain penguasa seluruh Siluman Kera Putih ini terus tertawa-tawa. Perutnya terguncang-guncang. Air mata terus mengalir dari sudut-sudut matanya akibat tawa yang tiada henti.

"Kau... ha ha ha...! Kau ini lucu, bocah mungil yang lucu. Aku suka bayi lucu sepertimu. Tampangmu blo'on tapi aku yakin tersimpan kecerdikan di dalam benakmu, nah... nah matamu bilang begitu.,.!" Siluman Kera Putih hentikan tawa dan ucapannya. Ia mendengar siluman siluman kera yang merupakan rakyatnya memberi isyaratisyarat khusus padanya. Ini merupakan satu pertanda ada orang lain di sekitarnya. Tapi sungguh aneh, makhluk-makhluk lelembut itu mengapa tidak menyerang pendatang yang belum terlihat olehnya. Bahkan Penghulu Siluman Kera-Kera Putih melihat makhluk-makhluk dalam kegelapan itu seperti ketakutan.

Angin kencang laksana topan tiba-tiba saja menderu hebat. Dari satu arah terdengar suara orang menggumam. Jelas suara yang didengarnya mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi. Sehingga Siluman Kera Putih terpaksa tertawa-tawa untuk menghilangkan pengaruh getaran suara gumaman tersebut.

"Penghulu Siluman Kera Putih! Barata Surya penguasa alam kegelapan di gunung Mahameru. Kuharap kau mau menyerahkan anak itu padaku sebagai orang yang berhak merawat dan membesarkannya! Kalau tidak jangan salahkan aku jika seluruh siluman di sini habis kubinasakan!"

"Eeh... siapakah orang itu? Semestinya ia tidak dapat melihat keberadaanku di sini, karena perisai gaib yang kumiliki!" desis Barata Surya terheran-heran. Dengan cepat ia bangkit berdiri. Bayi dalam gendongannya di dekapnya erat-erat. Seakan ia tidak ingin berpisah dengan bayi lucu dalam gendongannya. "Seluruh tokoh rimba persilatan di permukaan bumi ini mungkin tidak dapat menembus alam gaib, Barata Surya. Jauh-jauh aku datang dari pulau Seribu Satu Malam. Semata-mata demi menyelamatkan keturunanku dari tangantangan orang yang tidak bertanggung jawab!"

Kalau saja tokoh lain yang bicara seperti itu. Walaupun jumlah mereka mencapai belasan. Mungkin Penghulu Siluman Kera Putih tidak akan gentar menghadapinya. Tapi jika memang benarlah laki-laki yang bicara tadi tanpa mau menunjukkan diri. Berarti Sekarang ia sedang berhadapan dengan Malaikat Berambut Api. Yaitu satusatunya tokoh sakti yang sangat diseganinya di kolong jagad ini.

"Kisanak! Tunjukkanlah diri! Segala sesuatunya masih dapat kita bicarakan...!"

Byaar! Byaar!

Lereng gunung Mahameru seakan diterangi oleh ribuan pelita yang datang dari seluruh penjuru arah. Suasana kemudian berubah menjadi terang benderang. Di tengah-tengah cahaya terang berkilau itu, tampak sosok tubuh berambut merah dan juga memakai pakaian warna merah belang kuning. Wajahnya yang ditumbuhi cambang berwarna merah tampak dingin berwibawa. "Malaikat Berambut Api!" desis Barata Surya setelah melihat siapa laki-laki di-depannya.

"Berikan anak itu padaku, Barata Surya!" perintah Malaikat Berambut Api alias Dewana. Suaranya terasa tajam menusuk.

"Eeh... mana bisa begitu! Aku ingin mengangkat bocah berambut merah ini menjadi muridku! Seluruh apa yang kumiliki ingin kuturunkan kepadanya! Apakah itu tidak hebat?"

"Apa?" Malaikat Berambut Api belalakkan mata. "Satu kegilaan besar jika semua apa yang kau miliki kau turunkan pada cucuku. Kau manusia segala sinting, segala gila, segala konyol dan keblinger! Dalam didikanmu cucuku bisa jagi tolol!"

"Ah... he he he...! Betul! Ini anak hebat, apa yang dikatakan oleh pertapa Ki Begawan Sudra memang ada padanya. Rambutnya merah seperti rambutmu, Kisanak. Ada tompelnya dan tulang-tulangnya baik sekali. Tapi lihatlah, tampangnya tolol tidak ketulungan!"

Wuss!

Sekali berkelebat Dewana telah sampai di depan Barata Surya. Tangannya berkelebat laksana kilat. Tahu-tahu bayi berambut merah itu telah berada di tangan Malaikat Berambut Api. Namun keanehan terjadi. Bayi di tangan Dewana ini langsung menangis. Tubuhnya meronta-ronta seperti tidak suka berada dalam gendongan kakeknya.

"Cup... diam cucuku! Aku ini kakekmu! Eeh... betul, tampangmu seperti tampang orang tolol...!" semakin bertambah keras saja tangis si bayi. Hingga membuat Penghulu Siluman Kera Putih tertawa-tawa.

Malaikat Berambut Api jadi salah tingkah. "Aku rasanya tidak dapat membuatnya diam. Ia sudah terlanjur akrab dengan siluman jelek itu. Kalau dia menangis terus. Mana mungkin aku dapat membawanya ke Pulau Seribu Satu Malam. Walah... dia kencing lagi...!" Wajah Dewana berubah memerah.

"Apa kataku. Dia tidak mau ikut kakeknya." Tiba-tiba Barata Surya merebut bayi itu. Ehh... begitu berada dalam gendongan Penghulu Siluman Kera Putih. Bayi itu diam seketika. Bahkan ia mulai tersenyum-senyum kembali.

"Apa dosaku? Dia benar-benar serasi dengan siluman muka kunyuk itu. Kalau pun aku bersikeras dengannya, paling tidak segala kesaktian yang kumiliki dapat mengalahkannya. Tapi bagaimana kalau anak itu menangis terus! Bocah itu benar-benar memaksaku untuk menentukan pilihan...!" gerutu Dewana sambil katupkan rahangnya rapat-rapat. "Lihatlah sobat! Dia diam. Dia suka padaku. Eeh... bagaimana pendapatmu jika kita sama-sama membesarkannya di tempat ini?"

"Membesarkannya di tempat kediaman siluman. Jangan-jangan kalau besar nanti dia menjadi setan gentayangan. Kurasa lebih baik jika aku membesarkannya di kandang kuda!" Wajah Penghulu Siluman Kera Putih berubah memerah. Namun hanya sebentar saja. Untung yang bicara itu adalah tokoh sangat sakti yang diseganinya, kalau tidak Barata Surya pasti sudah menampar kakek tua di depannya itu pulang pergi.

"Ah, jangan begitu sobat. Seumur hidup aku belum punya murid. Kau pun begitu juga. Jika kekuatan kita samasama kita gabungkan kelak ia akan menjadi seorang pendekar tangguh tanpa tanding!"

"Kau membujukku?" dengus Malaikat Berambut Api.

"Mana berani aku mengatakan begitu. Aku cuma mengajakmu untuk memberikan yang terbaik padanya."

"Bagaimana kalau kita sama-sama membesarkannya di Pulau Seribu Satu Malam?"

"Walah! Jauh amat. Mana bisa aku mengawasi kera-kera siluman yang berdiam di sini kalau aku harus pergi ke tempatmu!" "Jika begitu urusi saja monyetmonyetmu itu. Biar aku yang urus cucuku...!" ketus suara Malaikat Berambut Api.

"Jangan begitu sobat! Aku sungguh-sungguh mengasihi anak ini, karena Anda merupakan orang yang paling berhak. Maka aku bersedia bekerja sama membesarkan anak ini." Dalam suasana seperti itu. Malaikat Berambut Api merasa harus mengambil kesimpulan terbaik. 

"Kalau begitu aku bersedia mengikuti kehendakmu. Sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah anak itu sudah punya nama?"

"Wah belum. Dua minggu bersamanya aku merasa senang sekali. Sehingga belum terpikirkan olehku tentang namanya." Barata Surya menyahuti.

"Kedua orang tuanya telah menjadi korban...!"

"Aku ikut merasa prihatin atas kejadian itu." Memotong Barata Surya.

"Dia terlahir pada malam satu Asyuro. Karena rambutnya yang kemerahmerah itu. Maka aku memberinya nama Suro Blondo.... Bagaimana apakah kau setuju...?!"

Penghulu Siluman Kera Putih tidak langsung menjawab. Melainkan memandang pada bayi dalam gendongannya. Seraya bicara pada bayi itu seperti sedang bicara dengan orang yang sudah dewasa.

"Kau setuju jika kakekmu memberi nama Suro Blondo?"

Bayi dalam gendongan Barata Surya menggeliatkan tubuhnya sejenak kemudian tawa kecilnya terdengar.

"Ha ha ha! Dia setuju, sobat! Dia setuju dengan pemberian nama itu." kata Barata Surya. "Kalau dia setuju aku pun setuju."

"Baik! Tapi aku punya beberapa syarat yang harus kau penuhi." tegas Malaikat Barambut Api.

"Apakah syarat-syaratnya?" tanya Penghulu Siluman Kera Putih sambil cengar-cengir.

"Pertama aku tidak suka kau menurunkan sifat-sifat jelekmu kepadanya. Kedua aku yang memberi dasar-dasar ilmu tenaga dalam kepadanya. Aku tidak mau melihatmu mengajarkan ilmu sesat padanya?!"

"Oho... jangan takut. Semua ilmuku tidak ada yang menyesatkan. Aku menjamin Suro Blondo tidak tersesat!"

"Ingat! Janjimu kupegang sampai kapan pun. Sekali kau ingkar! Bukan kau saja yang akan menanggung akibatnya. Seluruh monyet-monyet siluman yang ada di sini akan menanggung akibat perbuatanmu!" Ancaman Malaikat Berambut Api bukan main-main. Siluman Kera Putih sadar benar siapa tokoh yang jarang muncul di rimba persilatan ini. Setiap kemarahannya dapat menimbulkan kobaran api di kepalanya. Dan ia sangat disegani karena tinggi ilmu kesaktiannya yang tidak dapat diukur.

"Aku terima perjanjian ini sobat!" sahut Barata Surya serius." Jika Anda suka. Anda boleh tinggal di dalam gubukku ini...!"

"Hmm, sekali-sekali tidak. Hanya sewaktu-waktu saja aku akan datang kemari. Siang hari cucuku berada dalam pengawasan dan didikanku. Sedangkan pada malam hari ia berada dalam bimbinganmu sepenuhnya!"

"Aku setuju! Ya... aku setuju sekali...!" Penghulu Siluman Kera Putih tertawa cengengesan.

***

Hampir setiap malam bocah lucu bertampang tolol itu selalu bermainmain dengan kera-kera berbulu putih yang jumlahnya mencapai ratusan ekor. Dalam usianya yang baru tujuh tahun. Tubuhnya sudah tampak kekar berotot. Walaupun tampangnya blo'on, namun sesungguhnya ia mempunyai otak yang cerdas. Hanya dalam waktu-waktu tertentu saja ia memang tampak lamban dalam berpikir. Tapi tingkahnya yang konyol, kocak dan ketolol-tololan membuat kera-kera yang selalu menemaninya menjadi sangat suka bermain-main dengannya. Malam itu udara di lereng Gunung Mahameru terasa dingin mencucuk. Tapi sungguh aneh, bocah bertelanjang dada ini malah merasakan kegerahan yang bukan alang kepalang. Ia mengipas-ngipas daun jati di tangannya. Daun jati itu bolongbolong bekas dimakan ulat. Sehingga kipasan-kipasan yang dilakukannya tidak membawa arti sama sekali. Tibatiba ia nyengir sendiri.

"Kakek Dewana tidak sama dengan kakek Barata Surya. Orang rambut merah itu terlalu keras dalam membimbingku. Ia datang seperti setan dan pergi seperti angin. Tapi ia mengatakan dirinya sebagai kakekku. Apa sih artinya kakek? Dan guruku yang kayak monyet itu. Hampir tiap malam selalu memasukkan aku ke dalam telaga yang ada asapnya. Kata kera-kera itu telaga di bawah sana rasanya panasnya seperti lahar gunung. Tapi ketika aku dimasukkan ke dalam telaga itu. Uuh... air telaga itu dinginnya tidak ketulungan...!"

Swiiiet!

"Eeh... guru gila itu memanggilku. Malam malam begini aku disuruh mandi lagi. Bagaimana ini? Apakah aku harus menolak?" batin si bocah kekar lalu mengusap-usap dadanya yang bidang.

"Suro Blondo manusia tolol! Cepat kau kemari. Saatnya bagimu untuk menikmati sarapan kesepuluh...!" terdengar teriakan orang yang sangat dikenalnya.

"Sialan guru kampret! Malam ini aku tidak mau mandi di situ. Aku mau tidur!"

"Kurang ajar. Jangan buat kakekmu jadi kecewa. Telaga mendidih itu adalah untuk memantapkan tenaga dalammu...!"

"Guru sinting. Setiap malam aku harus mandi di dalam air mendidih yang sangat berbisa itu. Di dalamnya ularular merah menggelitikku. Sedangkan kau sendiri enak-enakan ngorok di atas pohon telaga!"

Sebenarnya ular-ular merah berbisa yang hidup di dalam telaga panas tersebut bukan menggelitik Suro Blondo, melainkan menggigitnya. Sehingga tanpa disadari oleh Suro Blondo. Lama kelamaan tubuhnya menjadi kebal terhadap segala macam bisa yang maha ganas sekali pun. ENAM

"Suro Blondo! Kau beraninya membangkang pada aku saja. Pada kakekmu Malaikat Berambut Api kau tidak berkutik! Ayo kemari! Atau aku menyuruh anak-anak menyeretmu kemari?" dengus Barata Surya, lalu usap-usap jenggotnya yang putih bagaikan kapas.

"Monyet-monyet yang punya ekor selalu dipanggilnya anak-anak. Gila barangkali aku punya guru." Suro Blondo membatin di hati.

"Cepat Suro! Air telaga sudah menggelegak menunggumu. Jangan kau tunggu kesabaranku sampai habis!" Sambil uncang-uncang kaki di atas pohon, si kakek mengulangi perintahnya.

Suro Blondo usap-usap perutnya yang putih berkilat-kilat. Pemuda tanggung bertampang tolol ini semakin jengkel saja mendengar perintah gurunya.

"Kesabaran jangan selalu dihabiskan, Guru! Kalau Guru sudah tidak punya kesabaran. Ke mana Guru akan mencari gantinya...!" kata Suro Blondo tenang.

"Sialan anak tolol! Kau membantah terus kalau diperintah!"

"Guru bego. Kerjanya kasih perintah melulu." rutuk Suro Blondo. Tiba-tiba saja Penghulu Siluman Kera Putih tergelak-gelak. Kalau bukan muridnya yang bicara begitu. Mungkin sudah sejak tadi digebuknya Suro Blondo. Sejenak Barata Surya hentikan tawanya.

"Anak ini wataknya sama persis dengan sifatku diwaktu kecil. Kalau tidak mengingat kakeknya manusia sakti Mandraguna. Sudah kucopot mata dan hidungnya." gerutu Barata Surya.

Saat itu Suro Blondo membatin pula: "Kunyuk berjanggut itu selalu memanjakan aku. Sialnya dia tidak mau sama-sama mandi di telaga panas."

"Hei... tunggu apalagi...! Cepat kerjakan...!" teriak Barata Surya jadi berang. Pada saat itu tanpa diketahui oleh Penghulu Siluman Kera Putih ini. Suro Blondo telah masuk ke dalam telaga panas berbisa tersebut.

"Anak-anak seret manusia yang di atas pohon!" kata Barata Surya tanpa melihat lebih dulu. Kalau pohon yang selalu dijadikan tempat beristrahat Suro Blondo sudah kosong.

Puluhan ekot kera siluman saling pandang. Satu-satunya orang yang berada di atas pohon hanya Barata Surya sendiri. Dengan bingung puluhan ekor kera berpaling pada Suro Blondo yang tampak meringis dan menunjuknunjuk ke arah pohon yang diduduki Barata Surya. Secara beramai-ramai kera siluman itu tanpa menimbulkan suara langsung mendekati penghulu mereka. Lalu....

Sreet!

"Eeh... apa-apaan monyet-monyet tolol! Eeh... heii. !"

Byur...! Melihat gurunya basah kuyup tercebur ke dalam telaga. Suro Blondo tergelak-gelak. Monyet-monyet siluman ikut berjingkrak-jingkrak kegirangan.

"Kurang ajar! Murid tolol, kerakera blo'on...! Menyingkir kalian semua sebelum kena gebukanku!" bentak Barata Surya marah bukan kepalang.

"Nguk! Nguk!"

Monyet-monyet siluman pun menjauhi tempat di sekitar telaga.

"Guru salah sebut. Ha ha ha. !

Mestinya kera-kera itu yang tolol. Guru yang geblek dan aku... ha ha ha... blo'on... ha ha ha. !"

"Diam...!" bentak Barata Surya. Seraya melompat dari dalam telaga. Sementara itu air di dalam telaga terus bergolak. Hawa panas mulai menyengat. Sedangkan ular-ular berbisa yang berada di dalamnya mulai menyerang Suro Blondo pula.

"Ih... aku nggak bisa diam. Ular-ular sialan ini terus menggelitikku...    ihh...    hiii...

geli...!" Suro Blondo terus meringisringis.    Entah    kegelian    entah kesakitan. Yang jelas disekujur tubuhnya yang terendam air berwarna merah itu mulai tampak dipenuhi luka di sana-sini. Luka-luka itu menimbulkan rasa dingin yang teramat sangat. Sehingga membuat sekujur tubuh Suro Blondo bergetar hebat.

"Sudah Guru! Dingin... dingin sekali. Aku mau naik ke daratan, Guru. Sudah tidak tahan...!"

"Diam di situ, kalau perlu sampai besok pagi!" bentak Barata Surya.

"Uhu... tega nian dikau...!" Suro Blondo menggerutu.

Barata Surya terkekeh-kekeh. "Kalau mau jadi manusia berguna, murid harus patuh perintah guru. Kau harus ingat pula, jika tenaga dalammu sudah benar-benar sangat sempurna dan tubuhmu telah kebal sepenuhnya karena berendam di Telaga Bisa. Dua tahun mendatang aku dan kakekmu akan menurunkan jurus-jurus ilmu silat tingkat paling tinggi kepadamu. Jika kau tidak punya tenaga dalam yang tinggi, mana bisa aku dan kakekmu menurunkan pukulan-pukulan dahsyat yang kami miliki!" jelas Penghulu Siluman Kera Putih lebih lanjut.

Setelah memberi penjelasan pada muridnya. Barata Surya segera melompat lagi ke atas pohon di mana tempat ia tadi berada. Kemudian beliau rebahkan badan. Hanya dalam waktu beberapa menit saja, suara dengkurannya pun terdengar dengan jelas di telinga sang murid.

"Sekujur tubuhku sudah berdarah. Hawa dingin semakin menyerang. Telaga ini panas bukan main, tapi mengapa setelah tubuhku digigiti ular-ular merah ini badanku jadi dingin sekali." Suro Blondo menggerutu. Satu dua ekor ular merah ditangkapnya. Dengan geram digigitnya kepala ular-ular yang sangat berbisa itu.

"Huh... rasain pembalasanku!" Suro Blondo cengengesan ketika melihat ular tanpa kepala tersebut menggelepar-gelepar lalu mati.

"Guruku sudah tidur. Aku sudah mengantuk baiknya aku naik ah...!" Dengan hati-hati Suro blondo merangkak naik ke daratan meninggalkan telaga bisa. Namun di atas pohon kemudian terdengar satu bentakan keras menggeledek.

"He... mau ke mana kau...?

Jangan coba-coba ya...!"

"Dalam keadaan mendengkur seperti itu. Tidak sangka guru mengetahui apa yang akan kulakukan! Dasar guru sinting...!" Suro Blondo menggerutu. Dengan terpaksa ia kembali masuk ke dalam telaga bisa. Sedangkan sang guru yang sama-sama miringnya terus ngorok berkerokokan. ***

Sejak empat tokoh sesat yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat mendirikan markas di Gunung Bromo. Maka sejak saat itu sepak terjang mereka sudah sampai di daerah Nongkjajar, Wendit bahkan Singosari. Segala macam kejahatan mereka lakukan. Membunuh dan melakukan perampokan besar-besar sudah biasa mereka lakukan.

Mereka juga melakukan penculikan di mana-mana. Tidak jarang orang persilatan yang berusaha menghentikan sepak terjang mereka ini tewas secara sia-sia. Semakin lama partai yang dipimpin oleh Balung Raja, Ki Rambe Edan, Braja Musti dan Baja Geni semakin bertambah besar. Pengikutpengikutnya juga semakin bertambah banyak. Dalam waktu 17 tahun, mereka bahkan telah berhasil membentuk sebuah kerajaan kecil yang memiliki mata-mata tersebar di setiap daerah. Bahkan sejak saat itu semua penduduk dibebankan membayar upeti. Siapa yang membangkang pasti mereka bunuh. Pendeknya tidak seorang pun yang berani menentang kekuasaan mereka.

Siang itu udara terasa panas membakar bumi. Daerah Nongkojajar yang padat penduduk memang senantiasa sarat dengan berbagai kegiatan. Tampaknya mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Tidak perduli pada musim panas atau pun musim hujan. Mereka senantiasa bekerja keras demi untuk membayar upeti pada majikan di Gunung Bromo. Di sebuah waning yang selalu sarat dengan pengunjung. Seorang gadis mengenakan pakaian ringkas berwarna kuning gading tengah menikmati hidangan yang dipesannya pada pemilik warung. Ia memakai ikat kepala warna biru. Rambutnya yang panjang dan menebarkan bau harum semerbak membuat orang-orang yang berada di dalam warung itu selalu melirik dan mencuri pandang kepadanya. Gadis berwajah cantik dengan tahi lalat di dagu ini bersikap acuh tak acuh. Sungguh pun ia sadar sejak tadi berpasang-pasang mata terus mengawasinya sambil menelan ludah.

"Pak Tua! Saya minta tambah makanannya!" Sama sekali ia tidak menoleh pada pemilik warung ketika ia menyampaikan keinginannya itu. Ketika pemilik warung bermaksud menyediakan pesanan si gadis. Saat itulah tiga orang laki-laki berpakaian hitam. Berambut panjang awut-awutan, bercambang bawuk lebat memasuki warung tersebut. Orang-orang di dalamnya yang memang telah mengenal siapa adanya laki-laki bertampang angker ini langsung meninggalkan warung. Hanya gadis berpakaian kuning gading yang tetap berada disitu. Sama sekali ia tidak menghiraukan ketiga laki-laki yang membekal golok besar ini.

"Bapak! Mana pesanan saya...?" tanya si gadis. Suaranya terasa enak didengar. Pemilik warung tampak ketakutan. Bukan pada si gadis melainkan pada ketiga laki-laki yang sedang menghampiri gadis itu.

"Bocah manis. Rupanya kau sangat lapar sekali, ya...? Bagaimana jika kami menemanimu makan di sini? Kami juga sama-sama lapar!" kata yang berbadan tinggi tegap.

"Aku tidak butuh siapa pun di sini!" ketus suaranya, Perlahan ia memandang pada laki-laki di depannya. Sebaliknya laki-laki di depannya tampak tercekat. Tenggorokannya turun naik, mata mereka terbelalak lebar. Sama sekali mereka tidak menyangka kalau gadis yang sejak tadi memunggungi mereka ini memiliki wajah yang sangat cantik luar biasa. Melihat kecantikan si gadis. Semakin berani dan kurang ajar sajalah tindakan mereka ini. Salah seorang dari lakilaki berpakaian hitam ini mencolek dagu si gadis. Melihat gadis itu hanya diam sama. Maka dua lainnya tertawa mengekeh. "Merpati cantik ini ternyata sangat jinak sekali, kawan-kawan!"

"Dia sangat pantas untuk kau jadikan istrimu, Kakang Wongso!" Yang berbadan lebih pendek menyahuti.

"Betul! Jika gadis ini mau kujadikan istriku. Maka istriku yang sepuluh itu akan kuceraikan semua...! Bagaimana Nduk, apakah kau mau menjadi istri orang kepercayaan penguasa Gunung Bromo?"

"Kakang! Biasanya seorang gadis memang suka malu-malu! padahal hatinya sih mau...!" berkata Karsa Jaliteng. Yaitu laki-laki yang paling muda di antara mereka. Memerah wajah gadis cantik ini. Tubuhnya gemetar, pertanda ia sedang berusaha meredakan amarahnya.

"Pak Tua! Siapkan hidangan yang paling istimewa buat kami dan gadis ini!" perintahnya tegas. Hingga membuat pemilik warung yang sudah mengetahui keganasan ketiga laki-laki kepercayaan penguasa Gunung Bromo ini dengan tergopoh-gopoh segera menyediakan pesanan mereka.

Ketika orang-orang berbaju hitam ini bermaksud duduk mengelilingi gadis berbaju kuning gading. Sebuah bentakan terdengar.

"Jangan berani lagi bertindak macam-macam di depanku! Sekali kau duduk di situ! Jangan salahkan aku jika aku terpaksa harus melempar kalian keluar dari warung ini!"

"Eeh...!" Tiga Iblis Pemburu Nyawa sama-sama melengak. Di mata mereka semakin marah gadis ini semakin bertambah cantik wajahnya. Tiba-tiba ketiga laki-laki bertampang angker ini tertawa tergelak-gelak.

Bahkan laki-laki berbadan pendek bernama Karsa Jalinteng yang sudah gatal, tangannya dengan cepat menjulur ke dada si gadis yang padat membusung. Tapi gadis itu dengan gerakan yang sangat sulit diikuti mata biasa sudah mencengkeram tangan yang kurang ajar itu. Lalu....

Wuss!

Sosok tubuh laksana kilat melayang keluar melalui pintu depan.

Bruuk. !

"Akkh...!" terdengar suara teriakan kesakitan di luar sana. Karsa Jaliteng dengan terhuyung-huyung bangkit berdiri. Sementara dua kawannya yang masih berada di dalam warung tersentak kaget dengan mata terpentang lebar.

"Perempuan bangsat!" maki Karsa Jaliteng yang sekarang telah berdiri di ambang pintu. Wajah laki-laki itu berselot debu. Hidungnya mengucurkan darah. Bibirnya jontor dan tangan kirinya tampak bengkok. Patah. TUJUH

Semakin bertambah kaget saja dua orang kawannya melihat Karsa Jaliteng dalam keadaan begitu rupa. Jika semula mereka hanya bersikap ingin mempermainkan gadis cantik yang duduk tenang di tempatnya. Maka kini kemarahan telah menguasai jiwa mereka. Wongso Mendit bahkan mencengkeram bahu si gadis. Laki-laki ini dapat meremukan tulang belulang lawannya. Untuk itu ia dikenal sebagai Tangan Baja. Setengah jengkal lagi tangan Wongso Mendit menyentuh bahu si gadis.

Plaak!

"Akhh...!" Wongso Mendit memekik keras. Tidak sampai sekedipan tangan si gadis menghantam dadanya tanpa menoleh sedikit pun. Laki-laki berbadan jangkung ini terjajar dan memegangi dadanya yang terasa seperti remuk. Bila ia melihat ke dadanya sendiri. Maka terkejutlah ia. Bagian dada yang terkena tinju si gadis tampak memerah memar.

"Betina liar. Kau benar-benar tidak melihat tingginya gunung di depanmu ini!" bentak Lingga. Tiga Iblis Pemburu Nyawa tiba-tiba sambil menggembor marah bermaksud meringkus gadis itu. Tangan mereka yang terkepal menderu dahsyat menimbulkan angin panas memerihkan kulit. Namun sebelum ketika serangan beruntun yang dilakukan oleh kaki tangan penguasa Gunung Bromo sampai. Dengan gerakan yang cepat dan indah gadis berpakaian ringkas telah melompat ke udara.

Ia menjenjakkan kakinya persis di tengah-tengah ruangan warung. Menyadari serangan mereka yang dapat dihindari oleh lawannya. Tiga Iblis Pencabut Nyawa kertakkan rahang.

"Gadis liar! Tertawalah kau sepuasmu! Jika kau telah berada dalam genggaman kami, kau pasti minta ampun!" desis Karsa Jaliteng.

"Cepat kita ringkus! Betapa aku ingin menelanjangi tubuhnya yang mulus itu!" kata Wongsi Mendit.

"Iblis-iblis Hina! Kalian adalah manusia rendah bermulut besar! Kalau belum kurobek mulutmu yang kotor itu, tidak puas hatiku!" geram gadis berbaju kuning. Tubuhnya tiba-tiba berkelebat lenyap bagaikan bayangbayang. Wongso Mendit, Lingga dan Karsa Jaliteng yang melakukan serangan ganas lebih awal jadi kelabakan. Bahkan lebih celaka lagi. Setiap serangan yang mereka lakukan hanya mengenai sasaran kosong.

Des! Dess!

Dua kali tendangan telak membuat Lingga dan Karsa Jaliteng jatuh terpelanting tubuh mereka menabrak kursi dan meja yang terdapat di dalam ruangan warung. Lalu tidak sampai disitu saja, gadis cantik ini terus berkelebat. Dilain kejab.

"Huup!" Tap!

Kedua kakinya mendarat di punggung Wongso Mendit. Jemari tangan yang lentik namun kokoh mencengkeram bibir atas dan bibir bawah lawannya.

Week!

Terbelahlah bibir Wongso Mendit. Laki-laki berbadan tinggi semampai ini menjerit keras. Darahnya langsung mengucur dari luka lebar di mulutnya yang terbelah.

"Untuk kenang-kenangan!

Berikan ini pada majikan kalian!" Plaak!

Satu hantaman keras mendarat di kening Wongso. Bukan main kerasnya pukulan itu sehingga membuat pembantu majikan Gunung Bromo jatuh terduduk tidak sadarkan diri.

Ruangan warung berubah sunyi. Gadis berbaju kuning gading itu sudah lenyap. Sementara Lingga dan Karsa Jaliteng yang kena tendangan dahsyat si gadis tampak berusaha bangkit berdiri. Bergetar tubuh mereka berdua ketika melihat bibir Wongso Mendit terkoyak lebar hampir mencapai telinga. Lebih terkejut lagi saat melihat secarik kain yang melekat di jidat kawannya. Dengan langkah terhuyung-huyung Karsa Jaliteng menghampiri kawannya yang tidak sadarkan diri. Sementara itu Lingga hanya memandang dari tempatnya berdiri dengan mata liar mencari-cari.

"Celaka! Gadis liar itu telah melarikan diri!" desisnya geram.

"Lihat ini lebih celaka lagi!" teriak Karsa Jaliteng ketika mendapatkan sobekan kain berwarna kuning yang menempel ketat di jidat kawannya. Lingga datang mendekat.

"Sial dangkal! Bagaimana paku itu bisa menancap di kening kawan kita? Coba cabut...!"

Dengan sangat hati-hati Karsa Jaliteng mencabut paku berikut sobekan kain kuning berlumur darah.

"Ada tulisannya!" teriak Karsa Kaliteng dalam kejutnya.

Mereka pentang sobekan kain bercampur darah. Maka terbaca beberapa baris kalimat yang membuat darah mereka serasa mendidih.

Empat tokoh yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat! Saat kematian bagi kalian sudah hampir tiba! Secepatnya persiapkan kubur kalian masing-masing. Tujuh belas tahun yang lalu kalian berhutang nyawa kepadaku!

Dewi Bulan Wajah Lingga dan Karsa berubah kelam membesi. Jelas ancaman itu ditujukan pada majikan mereka. Tapi yang membuat mereka geram adalah karena gadis yang bernama Dewi Bulan itu telah merat dari hadapan mereka.

"Apa yang kita lakukan?" Lingga berpaling pada Karsa Jaliteng

"Tidak ada pilihan lain. Kita bawa Wongso Mendit dan laporkan peristiwa memalukan ini pada ketua kita!" Tanpa banyak cakap, Lingga langsung memanggul tubuh Wongso Mendit. Ketika sampai di halaman depan warung. Mereka lebih terkesima lagi ketika melihat kuda tunggangan mereka terkapar mati dengan leher berlubang besar.

"Keparat! Sungguh keparat! Betina itu benar-benar menginginkan kematian dari kita!" Lingga menggeram marah. Kumisnya yang melintang tampak bergerak-gerak pertanda kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.

"Kita pakai kuda pemilik warung!"

Orang-orang ini segera melepaskan kuda yang terdapat di kandang belakang. Sekejap saja kudakuda itu telah melesat meninggalkan debu-debu di udara.

"Kudaku! Ah... maling-maling pemeras rakyat itu...!" desis bapak pemilik warung tanpa mampu berbuat apa-apa.

***

Puncak gunung Mahameru yang biasanya sepi, pagi-pagi itu dipecahkan oleh suara bentakanbentakan disertai teriakan menggelegar. Bumi laksana terbelah, langit bagai terkoyak. Terlebih-lebih ketika terjadi ledakan-ledakan dahsyat di satu tempat. Daun-daun jati tampak berguguran. Segala jenis binatang lari terkencing-kencing meninggalkan sarangnya. Monyet-monyet siluman menyelamatkan diri mencari tempat sembunyi. Dan bila memandang ke puncak Mahameru. Maka di sana terlihat dua sosok tubuh sedang bertarung. Pertarungan yang bukan saja Maha dahsyat, namun juga sangat mengerikan. Betapa tidak dua orang yang terlibat pertempuran sengit itu berkelebat laksana bayang-bayang saja. Angin pukulan yang mereka lepaskan terasa memanggang tubuh. Debu dan batu-batu kecil beterbangan. Pohon-pohon di sekitarnya meranggas tanpa daun akibat pertempuran itu. Sesekali terdengar bentakan dahsyat, lalu ada makian dan sumpah serapah. Tapi anehnya suara tawa pun terkadang menggema di sana. "Kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu', Suro...!" terdengar teriakan laki-laki berbaju serba putih dan berambut, jambang serta jenggot berwarn a putih.

"Guru, kau...!" Pemuda gagah yang berdiri bertolak pinggang memakai baju warna biru muda tidak dapat teruskan ucapannya. Kakek serba putih di depannya sambil keluarkan bentakan melengking langsung menerjang ke depan. Tangan kanan menotok ke sepuluh bagian jalan darah. Tangan kiri menyiku ke perut sedangkan kaki yang setengah berjongkok berjingkat-jingkat memburu.

Walaupun jurus yang dilancarkan si kakek terkesan lucu dan terkadang tangan menggaruk-garuk seperti orang kena penyakit gatal. Tapi serangan itu benar-benar sangat berbahaya. Suro Blondo pemuda berambut gondrong memakai ikat kepala warna biru belangbelang kuning sadar benar bahaya besar sedang mengancamnya. Untuk itu ia menggenjot kedua kakinya. Tubuhnya melesat ke udara kemudian melakukan salto beberapa kali. Begitu tubuhnya menderu ke bawah. Maka ia sudah hantamkan kedua tangannya dengan mempergunakan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Inilah salah satu jurus yang tidak kalah dahsyatnya dengan jurus yang dilancarkan oleh si kakek.

Wuuk! Buuk! Buuk!

"Gila! Gila betul!" desis Suro Blondo sambil menyeringai kesakitan. Ia memang berhasil memukul punggung kakek yang menyerangnya dengan ganas. Tapi kakek itu dengan gerakan yang sangat aneh sekali sempat menghantam jidat pemuda baju biru muda. Kepalanya mendenyut sakit, seribu kunang-kunang bertabur di matanya.

"Sebentar lagi Suro! Sebentar lagi kau mampus!" Si kakek miringkan badannya. Tangan diputar-putar sambil menggaruk-garuk sekujur tubuhnya tidak ubahnya seperti tingkah seekor monyet. Tangan si kakek bergetar hebat. Tangannya bergerak cepat, hingga dilihat sepintas lalu tangan itu berubah menjadi ribuan jumlahnya.

"Eeh.. dia mengerahkan jurus 'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'. Benar-benar edan! Ia ingin membunuhku rupanya!" desis si pemuda.

"Jangan memaki bocah blo'on. Mampus...!" teriak si kakek. Tangan yang telah berubah banyak itu menderu ke seribu arah. Angin kencang berhembus, udara berubah panas seperti di neraka. "Hiyaat...!" Suro Blondo tidak menunggu lebih lama lagi. Tubuhnya berkelebat terhuyung-huyung, terkadang ia berjongkok dan melompat-lompat. Sungguh aneh dan lucu gerakannya. Tapi tidak lama setelah itu terdengar suara tawanya yang tidak beraturan. Tawa itu terdengar melengking tinggi, menyakitkan gendang-gendang telinga. Kadang berubah pelan mendayu-dayu. Namun dilain saat telah berubah seperti suara rintihan tangis, memilukan. Tangan dan kaki mendorong ke segala penjuru arah. Selanjutnya melompat dan menendang. Inilah jurus 'Tawa Kera Siluman'.

Si kakek menggeram marah, mulutnya mengomel panjang pendek. Lalu terdengar suara bentakan dahsyat merobek langit. Tangan-tangannya yang seakan berubah menjadi banyak itu menghantam dengan kecepatan dua kali kecepatan suara.

"Edan! Kau benar-benar mau membunuhku!" Suro Blondo meradang. Ia berkelit secepat yang ia mampu.

Wuus!

"Hups...!" Walaupun pemuda berbaju biru muda memakai ikat kepala warna biru belang kuning dapat menghindari tinju yang menggeledek itu. Tidak urung ia menjerit ketika sambaran angin panas menyengat melabrak dada. Suro Blondo usa-usap dadanya. Tampak dada itu memerah. Ia langsung melompat menjauh. Hatinya menggerutu, mulutnya pletat-pletot, lalu tersenyum.

"Ha ha ha...! Bagus! Gila, tolol blo'on, sedeng! Tidak sia-sia! Tidak sia-sia. Kau dengar...!" Melihat gurunya tertawa dan tampak hentikan serangan. Maka Suro Blondo pemuda tampan bertampang, konyol, kocak dan blo'on ini ikut tertawa-tawa.

"Bagus! Ha ha ha...! Guru hampir membunuhku! Ha ha ha... gila benar!" Ucapan dan tawa Suro Blondo melenyap. Terlebih-lebih setelah melihat kedua telapak tangan kakek baju putih menapak tanah. Suro Blondo segera menyadari kalau gurunya bermaksud melepaskan pukulan yang sangat dahsyat!

"Hah... dia ingin melepaskan pukulan 'Kera Sakti Menolak Petir'. Aku harus mempergunakan pukulan apa?" memaki Suro Blondo dalam hati. Tibatiba saja ia berteriak: "Guru! Kau jangan main-main dengan pukulan itu. Aku bisa mati...!"

"Kalau semua akal yang kau miliki sudah hilang! Maka kau memang pantas mati di tanganku!" menggeram Penghulu Siluman Kera Putih. DELAPAN

"Walah, mati aku!" Suro Blondo menggerendeng. Ia melihat gurunya yang dalam posisi berjongkok dan tangan mentetak tanah semakin bergetar hebat. Kedua tangannya memancarkan sinar merah kehijau-hijauan. Udara di sekitarnya telah berubah pula menjadi panas menggila.

"Nguk! Nguk! Hiyaa...!" sambil berteriak tinggi melengking hingga membuat runtuh daun-daun jati pada pohon-pohon sekitarnya. Tubuh Barata Surya melesat ke atas, dua tangannya menghantam ke depan.

"Kiamat...!" teriak Suro Blondo. Tanpa sungkan-sungkan lagi ia pun segera mengerahkan tenaga dalam yang telah mencapai tarap kesempurnaan. Dilain kejap dengan kaki kiri ditekuk ke depan. Ia dorong tangannya yang telah berubah menjadi biru terang. Seleret sinar biru redup datang bergulung-gulung menyongsong pukulan dahsyat yang dilepaskan oleh si kakek. Udara di sekitarnya berubah dingin dan panas tidak ketulungan. Puncak Mahameru seakan dilanda gempa hebat.

Bummm! Buummmm!

"Edan! Curang! Kau curang...!" memaki Penghulu Siluman Kera Putih ketika melihat kenyataan bahwa Suro Blondo mempergunakan pukulan dahsyat 'Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar'. Pukulan itu adalah pukulan dahsyat yang diwariskan oleh kakek Suro Blondo sendiri.

"Ha ha ha! Mampus...!" Suro Blondo terkekeh-kekeh saat melihat gurunya jatuh terguling-guling. Bibirnya mengalirkan darah. Tapi tidak lama kakek baju putih telah bangkit berdiri. Malah ia tertawa pula, seakan tidak merasakan sakit yang dideritanya. Pada dasarnya guru dan murid ini memang sama-sama konyol, sama-sama sinting dan blo'on pula. Sehingga walaupun Suro Blondo sendiri sempat merasakan dadanya seperti dihimpit batu ribuan kati. Ia juga tetap tertawa-tawa.

"Kau curang! Matahari dan Rembulan Tidak Bersinar bukan milikku." kakek baju putih bermonyongmonyong.

"Memang! Kakek Malaikat Berambut Api yang mengajarkannya padaku! Tapi kan sama saja! Orang tua itu adalah guruku juga!" Suro Blondo pemuda bertampang tolol berambut merah ini usap-usap dadanya.

"Ujian dariku telah selesai, Suro! Pohon-pohon telah roboh, daundaun telah berguguran. Dan puncak Gunung Mahameru ini hampir runtuh! Tapi masih ada satu ujian lainnya yang tidak kalah dahsyat! Kakekmu sebentar lagi pasti muncul di sini. Ingat di hadapannya kau tidak bisa cengengesan kayak kunyuk sebagaimana berhadapan denganku. Gurumu yang satu ini harus kau hadapi dengan serius. Kalau kau memang tidak ingin dikemplang kepala dan ditendang pantatmu."

"Saya mengerti, Guru!" "Mengerti apa?"

"Mengerti kalau guru yang di hadapanku ini, gila, miring otaknya...!"

"Edan! Jangan sekali lagi kau menghinaku! Aku tidak main-main bocah Blo'on...!" Suro Blondo katupkan mulutnya ketika melihat Penghulu Siluman Kera Putih pelototkan mata.

"Mohon maafmu!"

"Jangan kau tunjukkan sikap konyolmu di depan kakekmu! Beliau merupakan orang yang tidak suka mainmain. Karena beliau ingin mengujimu. Kuharap kau lebih ber-hati-hati dalam menghadapinya. Salah sedikit kau punya badan bergerak atau menghindar. Bisabisa tubuhmu terbelah dan dicincang jadi perkedel!"

"Jangan sampai." "Jangan sampai apa?"

"Jadi perkedel! Aku mau jadi menusia saja, guru!" "Kalau kau ingin menjadi manusia sejati maka kau harus membela orang tuamu. Kau tahu siapa kedua orang tuamu, Suro?" tanya Barata Surya sambil memandang tajam pada muridnya.

Suro Blondo mengangguk. "Siapa orang tuamu?"

"Guru dan kakek Malaikat Berambut Api!"

"Buset! Goblok benar kau ini," maki Barata Surya. Diam-diam hatinya geli juga melihat ketololan muridnya.

"Kau punya kemaluan jenis apa, Suro?"

"Sialan! Dia bertanya yang bukan-bukan!" maki Suro Blondo dalam hati.

"Tolol! Memaki pula kau! Coba sebutkan?"

"Batangan, Guru!"

"Aku punya juga batangan! Kalau kakekmu?"

"Eee...!" Suro Blondo mengusapusap dadanya. "Sama batangan juga guru."

"Batangan lawan batangan apa mungkin menghasilkan kau yang bego!"

"Wah tidak tahu! Soalnya guru dan kakekku tidak pernah kasih tahu!" sahut Suro Blondo.

Sikap Barata Surya kemudian berubah serius. "Ketahuilah, kedua orang tuamu berjuluk Sepasang Golok Terbang! Mereka tewas di tempat kediamannya di Gunung Bromo sesaat setelah melahirkan kau!"

Suro Blondo kertakkan rahang. Sekujur tubuhnya menggigil dijalari luapan amarah. "Apakah ayah dan ibu tewas karena melahirkan aku?"

"Goblok! Yang melahirkan itu ibumu! Sedangkan ayahmu hanya berpartisipasi saja atas kehadiranmu! Ingat.... Suro. Yang membunuh orang tuamu adalah Kala Demit dan juga Sepasang Iblis Pegat Nyawa. Mereka itu adalah manusia-manusia berhati kejam yang menginginkan dirimu pada masa itu. Kau carilah mereka dan buat perhitungan yang setimpal! Jangan kau buat kecewa arwah orang tuamu, Suro. Dan selalu berhati-hatilah, karena mereka merupakan orang-orang sakti berkepandaian sangat tinggi!" Pesan Penghulu Siluman Kera Putih.

Wajah Barata Surya tertunduk. Dilain saat matanya memandang jauh ke depan. Ada kesedihan membayang di wajahnya. Terlebih-lebih bila mengingat waktu berpisah di antara mereka semakin bertambah dekat. Bagaimana pun Suro Blondo adalah seorang murid yang sangat dikasihinya. Meskipun wajahnya yang tampan itu terkesan tolol, tapi semua pelajaran silat tingkat tinggi yang diberikan padanya dapat dipelajarinya dengan baik. Watak konyol, sifat sintingnya sama benar dengan watak Barata Surya. Walaupun ia juga dapat bersikap serius berkat disiplin yang diterapkan oleh Malaikat Berambut Api. Namun semua itu tidak mampu menghapus kesan blo'on di wajahnya.

"Guru sedih?"

Ucapan Suro Blondo membuat Barata Surya terkekeh. "Siapa yang sedih Suro. Siapa menangis bila berpisah dengan murid tolol semacammu!" desis kakek baju putih terus tertawa-tawa. Suro Blondo pun ikut tertawa walau tawanya terdengar sumbang.

Tawa mereka serta merta lenyap. Angin kencang menderu-deru. Lalu terdengar suara menggeram menyertai berhembusnya angin kencang itu. Barata Surya memandang ke arah datangnya badai topan dan ke arah muridnya silih berganti.

"Sudah waktunya Suro. Sudah tiba waktunya bagimu menghadapi kakekmu sendiri!" Tubuh Barata Surya bergetar hebat. Sinar putih laksana kilat menggebu dan mengurung sang guru. Dilain kejap sosok Barata Surya yang berujud siluman melenyap.

"Guru...!" Suro Blondo berseru kaget.

Dilain kejap di hadapan Suro Blondo berdiri seorang kakek jangkung berambut merah dan berbaju serba merah. Berbeda dengan Penghulu Siluman Kera Putih yang kocak, konyol dan sinting. Sedangkan kakek berjenggot merah ini tampangnya dingin berwibawa. Dalam segala hal ia tidak pernah tertawa.

Suro Blondo menjura hormat. Sikapnya jelas-jelas tampak lucu sekali. Bukan satu kebiasaan yang dibuat-buat tapi memang begitulah kebiasaan pemuda itu.

"Suro! Akhir penggemblenganmu sudah sampai pada batasnya! Sekarang pergunakanlah segala yang pernah kau dapatkan selama ini! Huups...!" Tanpa banyak cakap lagi, Malaikat Berambut Api berteriak keras. Tubuhnya berkelebat lenyap laksana bayangbayang. Tangannya melakukan totokan ke batang leher Suro, kaki menendang keselangkangan. Serangan beruntun yang datang secara bersamaan ini sungguh dahsyat alang kepalang. Jika bukan Suro Blondo yang menghadapinya, mungkin sejak tadi tubuh orang itu terjengkang roboh. Jemari tangan si kakek yang terkembang tampak menyapu, membabat dan menusuk. Sambaran angin bersiuran dan dingin bukan main. Setiap pohon-pohon yang terkena sambaran ujung jari si kakek terbabat roboh seperti dipotong benda tajam. Dapat dibayangkan berapa dahsyatnya serangan kakek serba merah ini. Menghadapi serangan ganas ini Suro Blondo tidak bersikap sungkan lagi. Ia mengerahkan jurus 'Kacau Balau'. Yaitu salah satu jurus yang pernah dipelajarinya dari kakek tua yang menyerangnya. Gerakan hebat yang dilakukan oleh Suro Blondo benar-benar tidak teratur. Tubuhnya huyung ke kanan huyung ke kiri. Tangan kanan menderu dahsyat menghantam dada lawannya, sedang tangan kiri mencakar wajah si kakek.

"Hmm...!" Malaikat Berambut Api menggeram tidak jelas. Ia menarik kembali serangannya. Tubuh laki-laki ini terus berkelebat. Kaki deras menyambar. Dengan gerakan-gerakan yang semakin kacau, namun cepat luar biasa Suro Blondo bersalto ke belakang. Sehingga serangan ganas yang dapat meremukkan dadanya luput. Ia tidak sempat lagi menarik napas. Dengan ganas dan sambil cengar-cengir ia melakukan serangan balasan.

"Bagus! Hebat!" Malaikat Berambut Api berseru memuji. Lalu tangannya diputar sedemikian rupa di atas kepala. Sinar merah bergulunggulung menerjang Suro Blondo sekaligus menyerang dan mengepungnya.

"Huup!"

Suro Blondo menghindar ke samping. Tinju Malaikat Berambut Api tiba-tiba menggebrak dadanya. Ia tidak menunggu, sikut kanannya menghadang.

Duuk!

Malaikat Berambut Api tertawa rawan. Tangannya yang membentur sikut muridnya tampak memerah, tubuhnya sempat tergetar pula. Sebaliknya Suro Blondo meringis kesakitan. Ia usapusap sikunya sebentar, lalu sambil cengar-cengir ia mendahului menyerang gurunya.

Gerakan yang dilakukan Suro Blondo cepat bukan main. Dalam waktu hanya sekejap mata pekikan-pekikan menggelegar laksana menghancurkan gendang-gendang telinga, menggetarkan puncak Gunung Mahameru sekaligus memporak-porandakan hutan di sekelilingnya. Inilah jurus 'Neraka Pembasmi Iblis' yang ganas itu. Hanya dalam waktu tujuh jurus setelah Suro Blondo mengerahkan jurus 'Neraka Pembasmi Iblis'. Malaikat Berambut Api tampak mulai terdesak. Angin kencang bergulung-gulung membuntal tubuh si kakek. Laki-laki berbaju merah ini ganda tertawa menyadari tubuhnya mulai terdorong hebat akibat gempuran dahsyat muridnya. Kemudian ia membentak. Serangan ganas dan deru angin kencang seakan tertahan dan membalik menyerang Suro Blondo.

"Gila betul!" pemuda berambut merah ini menggerendeng. Kakinya setengah tertekuk ke depan. Mulutnya berkomat-kamit disertai menyemburnya suara tawa yang membuat budek gendanggendang telinga dan menyempitnya pembuluh darah.

'"Ratapan Pembangkit Sukma'...!" teriak Suro Blondo. Tangannya yang melintang ke depan dada dan diputar ke atas dan ke depan tiba-tiba melambai ke arah Malaikat Berambut Api.

"Mari kita sama-sama mengadu jiwa!" desis kakek berambut merah. Tubuhnya bergetar keras. Tangannya diputar sedemikian hebat laksana titiran. Di lain saat di tangan kakek tua ini terdapat sebilah senjata berbentuk aneh. Senjata aneh itu mengeluarkan bunyi seperti orang meratap dan menghiba-hiba. Dilain kejab berubah menjadi suara siulan atau ringkikan kuda. Sinar hitam dingin menggidikkan bergulung-gulung membentuk sebuah perisai yang sangat hebat.

"Hiyaa...!" Sinar putih laksana salju melesat dari telapak tangan Suro Blondo. Akibat lesatan sinar itu membuat suasana di sekitarnya berubah dingin menggidikkan. Ditambah lagi udara dingin yang terpancar dari senjata aneh warna hitam di tangan gurunya. Maka udara di sekelilingnya menghampar hawa dingin mematikan.

Bumm! Buuummmm!

"Wuakh... celaka...!" Suro Blondo memekik setinggi langit. Pukulan 'Ratapan Pembangkit Sukma' yang dilepaskannya kandas terhantam senjata aneh di tangan gurunya. Dentuman keras akibat benturan dahsyat tadi membuat tanah di depan mereka berlubang besar. Suro Blondo terhuyung-huyung. Meskipun tubuhnya seperti remuk, ia masih mampu cengengesan.

SEMBILAN

Malaikat Berambut Api lintangkan senjata berbentuk aneh itu ke depan dada. Mulutnya menyeringai, wajahnya yang kemerah-merahan berubah kelam membesi.

"Suro Blondo! Kau memiliki pukulan Maha Dasyat yang kuberi nama pukulan 'Neraka Hari Terakhir'! Kurasa hanya pukulan itulah yang mampu menandingi Mandau Jantan di tanganku ini. Ini adalah senjata sakti yang tidak dapat dibuat main-main, Suro! Perhatikanlah...!"

Suro Blondo tidak sempat lagi perhatikan senjata di tangan si kakek. Laki-laki di depannya sambil mengerahkan tenaga dalam ke bagian tangannya memutar senjata berwarna hitam itu hingga menimbulkan angin dahsyat menderu-deru. Bahkan sekarang seluruh rambut kakek tua itu telah berubah merah menyala. Sadarlah pemuda bertampang Blo'on di depan si kakek. Bahwa kakek merangkap guru ini telah mengerahkan tenaga dalam pada puncak tertinggi.

"Weleh, kakek sinting itu rupanya benar-benar ingin membuat aku mampus...!" Suro Blondo leletkan lidah. Ia menarik kaki kirinya ke belakang. Tangan disilangkan ke depan dada dalam keadaan terkepal. Tubuhnya bergetar hebat ketika Suro Blondo mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya. Akibat pengerahan tenaga dalam sampai pada puncaknya disertai hawa amarah yang menggelagak. Maka secara aneh rambut Suro Blondo yang kemerah-merahan itu berubah merah bagaikan api. Itulah pukulan 'Neraka Hari Terakhir' yang telah siap dilepaskan oleh si pemuda tampan bertampang blo'on.

Sontak sekujur tubuhnya mengepulkan uap panas. Udara di sekitar puncak gunung hingga ke lereng Mahameru berubah panas seperti di neraka. Daun-daun berubah layu, berguguran akibat sengatan hawa panas mamatikan itu. Dalam keadaan berkelebat lenyap itu. Malaikat Berambut Api menggeram. Ia babatkan senjata sakti Mandau Jantan di tangannya. Suro Blondo memekik kaget. Tapi cepat hantamkan kedua tangannya memapaki senjata maut di tangan gurunya. Sinar merah panas membutakan mata bergulung-gulung menerjang ke arah si kakek. Laki-laki itu segera merasakan bagaimana panasnya api yang menyengat. Ia kiblatkan Mandau Jantan di tangannya. Hawa dingin menghadang dan menghalau sinar merah menghanguskan yang nyaris menghantam tubuhnya.

Blaar! Blaar!

Dentuman-dentuman keras menggelegar laksana membelah langit. Membuat tanah puncak Mahameru menjadi longsor. Pohon-pohon besar bertumbangan. Baik Malaikat Berambut Api yang rambutnya berubah merah memancarkan cahaya maupun pemuda tampan bertampang blo'on sama-sama terlempar jauh dari kalangan pertempuran. Bahkan sebagian longsoran tanah sempat menimbun tubuh mereka. Sehingga tampak hanya tinggal rambut mereka saja yang berwarna merah menyala.

"Uhuk! Uhuk...! Tobat-tobat...!" kata Suro Blondo yang baru saja keluar dari reruntuhan tanah. Sementara itu Malaikat Berambut Api yang juga mengalami nasib sama telah duduk di atas gundukan tanah yang menguruknya dengan mata terpejam. Suro Blondo seka jidatnya yang mengucurkan keringat. Sebentar ia memandangi kakeknya yang diam tidak bergeming.

"Ufss... napasku sesak. Sekujur tulangku seperti mau remuk. Mata pedih kulit hangus. Ah... guruku apakah ia menderita luka dalam juga. Aku harus menolongnya!" Suro Blondo melompat ke depan. "Guru... kau...!" kata-kata pemuda tampan bertampang blo'on tertahan. Ia melihat mata gurunya terbuka kembali. Tatapan matanya memandang tajam ke arah Suro Blondo. Sedangkan dipangkuannya terlihat senjata aneh yang tadi telah dipergunakannya untuk menyerang Suro Blondo.

"Duduklah mendekat, cucuku!" terasa berat suara Malaikat Berambut Api. Pemuda berbaju biru tampak raguragu. Namun matanya tidak lepas memandang senjata hampir sepanjang pedang, namun memiliki ujung runcing pada punggungnya, sedangkan di tengahtengahnya yang berbentuk pipih memiliki empat lubang miring. Gagang Mandau Jantan seperti yang dikatakan gurunya tadi. Tampaknya terbuat dari mata akar bahar berbentuk seorang pertapa berkepala gundul dan mempunyai kuncir di atas kepala botaknya. Suro hanya dapat menduga, mungkin empat lubang miring di tengah-tengah senjata itulah yang tadi saat dipergunakan mengeluarkan suara yang aneh-aneh.

"Mendekatlah kemari, mengapa takut?!"

Sambil menyeka keningnya yang terus berkeringat, Suro Blondo menyeringai. Ia segera duduk di depan kakeknya.

"Di depanku kuharap kau jangan cengengesan seperti gurumu yang sinting itu...!" kata Malaikat Berambut Api. Suaranya tajam, namun tegas. Suro katupkan bibirnya rapatrapat. Ia teringat pesan Barata Surya tentang bagaimana ia harus bersikap bila berhadapan dengan kakek kandungnya ini.

"Suro Blondo! Kau tahu mengapa hari ini kakekmu ini menguji segala kemam-puanmu yang telah kau pelajari dariku juga dari gurumu Barata Surya?"

"Tahu guru, eeh... Kakek...!" "Apa?"

"Kakek mungkin mau hadiahkan padaku sebuah senjata aneh yang dapat merintih, dapat bersiul dan dapat pula meringkik seperti kuda!"

"Gundulmu! Bukan itu tujuan utama!" Malaikat Berambut Api mendengus gusar.

"Maaf, kalau begitu aku tidak tahu!" kata Suro sambil menjura lucu. Dewana alias Malaikat Berambut Api geleng-geleng kepala. Sekeras-kerasnya Malaikat Berambut Api mendidik Suro Blondo dalam berdisiplin. Namun karena dasarnya ia memang memiliki watak yang kocak, konyol dan lucu. Tetap saja Suro Blondo menjadi dirinya sendiri. Belum lagi bila mengingat begitu dekatnya Suro Blondo dengan Penghulu Siluman Kera Putih yang memang miring. "Suro! Tahukah kau sudah berapa tahun kau tinggal dan berguru di

puncak Mahameru ini?"

"Ee... kalau tidak salah baru lima tahun!"

"Blo'on. Jangan bergurau." rungut kakek berbaju merah.

"Kalau tidak salah sudah hampir delapan belas tahun!"

"Bagus!" Malaikat Berambut Api tersenyum puas. "Selama itu kau sudah mempelajari seluruh ilmu sakti yang kami punya. Kau harus ingat. Bila kau meninggalkan puncak Mahameru ini. Maka orang-orang yang perlu kau cari adalah musuh besarmu yang telah membunuh kedua orang tuamu! Selain itu pergunakanlah segala kesaktian yang kau miliki untuk menolong sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Jangan congkak dan takabur terhadap apa yang kau punya. Karena di atas langit masih ada langit!"

Suro Blondo mendongak ke langit tiba-tiba. "Ah, kakekku pikun barangkali. Sejak dulu langit cuma satu." membatin Suro Blondo.

"Sinting! Maksudku semuanya adalah perumpamaan." desis kakek Dewana yang seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh cucunya. Suro tepuktepuk jidatnya.

"Disamping itu, Suro Blondo. Akhir-akhir ini kudengar di puncak Gunung Bromo ada sekawanan manusia iblis yang telah begitu berani membuat cemar dan mengobrak-abrik tanah milik leluhurmu! Juga merupakan tugasmu untuk membasmi manusia-manusia durjana pemeras rakyat itu. Lakukanlah apa yang dapat kau lakukan. Pergunakan apa yang dapat dari kami untuk kebenaran. Apakah kau mengerti Suro?"

"Mengerti, Kek?" "Mengerti apa?"

"Semua ilmu yang Kakek dan guru Barata Surya berikan kepadaku, hebat semua!" sahut Suro Blondo, mimiknya terkesan serius.

"Geblek! Sinting! Bukan itu maksudku!"

Pemuda bertampang blo'on usapusap keningnya. "Sekarang aku sudah mengerti apa yang Kakek maksudkan. Dan aku berjanji tidak akan membuat Kakek kecewa." kata Suro Blondo serius.

Malaikat Berambut Api, tokoh sakti dari pulau Seribu Satu Malam dari laut selatan ini terdiam. Ia menimang-nimang senjata Mandau Jantan yang berwarna putih itu dari pinggangnya. Suro memperhatikan semua itu tanpa pernah berkedip sekali pun.

Sreek!

Senjata berbentuk aneh dengan lubang miring di tengahnya itu dimasukkan ke dalam rangkanya.

"Kau sudah melihat senjata maut tadi, Suro?" kakek Dewana memandang tajam pada muridnya. Suro Blondo mengangguk.

"Hampir tujuh puluh tahun aku membuat senjata sakti itu, Suro. Segenap kemampuan dan kesaktianku kucurahkan pada senjata ini. Dalam umur delapan puluh lima tahun. Sudah saatnya bagiku untuk menyerahkan senjata sakti ini pada orang yang pantas!"

Suro Blondo tersentak kaget. Semula ia menyangka umur kakeknya paling baru lima puluh tahun. Tidak tahunya sudah delapan puluh lima.

"Kupesankan padamu. Rangka Mandau Jantan ini dapat melenyapkan segala macam bisa! Kau dapat mempergunakannya jika sewaktu-waktu kau benar-benar membutuhkannya. Nah sekarang terimalah...!" Malaikat Berambut Api mengangsurkan tangannya pada Suro Blondo.

"Guru, Kakekku! Mana berani aku...!" "Goblok! Terima kataku!" bentak kakek Dewana, marah bukan main.

"Tapi...!" Suro masih ragu-ragu. "Kenapa?"

"Apa aku pantas menerima kepercayaan ini?"

"Tentu saja. Karena senjata ini khusus kuciptakan untuk orang sepertimu. Perlu kau tahu, mulai saat ini karena tampangmu yang tolol itu. Maka kau pantas kuberi gelar Pendekar Blo'on...!"

Suro Blondo kerutkan kening. Wajahnya tampak berubah memerah. Tapi kemudian terdengar suara tawanya membahak. Tawa itu semakin lama semakin meninggi membelah langit. Jika bukan Malaikat Berambut Api yang berada di depan Suro Blondo. Niscaya orang itu terjengkang roboh akibat pengaruh suara tawa si pemuda.

"Diam! Kenapa kau tertawa?" Malaikat Berambut Api meradang. (Meradang = marah).

"Pendekar Blo'on... guru Barata Surya juga pernah berkata begitu. Aku setuju... ha ha ha.... Blo'on...! Tapi pintar...!" Suro Blondo tertawa dan tertawa lagi. Perutnya terguncangguncang. Matanya sampai terpicing karena geli.

Namun pemuda ini tampak terkejut ketika membuka mata, Malaikat Berambut Api sudah lenyap dari hadapannya. Suro Blondo mencari-cari. Dikejauhan sayupsayup terdengar suara Dewana.

"Aku akan pulang ke pulau Seribu Satu Malam. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk turun gunung...!"

"Wah aku harus turun gunung. Bagaimana ini... ke mana perginya guruku, si sinting yang satunya lagi ke mana dia. Beliau sekarang berada di mana?" Suro Blondo usap-usap jidatnya yang keringatan. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang seakan datang dari sebuah tempat yang sangat jauh seperti dari perut gunung Mahameru.

"Anak bodoh! Jangan cuma celingak-celinguk seperti kunyuk! Lekas kau merat tinggalkan tempat ini! Aku sudah muak lihat tampangmu!" Jelas yang bicara melalui ilmu mengirimkan suara itu adalah Barata Surya, gurunya yang konyol.

"Walah! Siluman jelek! Aku sudah bosan mendekam terus di puncak Mahameru ini!" Ucapan itu disambung dengan suara tawa membahak yang tidak putus-putusnya. Hingga membuat suasana di sekelilingnya seperti diguncang petir. SEPULUH

Adalah satu kecelakaan besar bagi siapa saja yang berani menentang kekuasaan partai Dunia Akhirat. Balung Raja, Braja Musti, Baja Geni dan Ki Rambe Edan jadi uring-uringan   setelah membaca sobekan kain kuning yang dibawa oleh Tiga Iblis Pemburu Nyawa. Hampir enam belas tahun selama mereka mendirikan markas besar di puncak gunung Bromo. Belum pernah ada seorang pun orangorang rimba persilatan berani mengusik atau mencampuri sepak terjang mereka yang ganas. Tapi hari ini tiga pembantu utama telah jadi pecundang seorang gadis cantik yang tidak pernah mereka kenal sama sekali.

Sungguh pun suasana di dalam markas yang mirip istana kecil ini semakin memanas. Namun karena begitu banyaknya urusan yang harus diselesaikan oleh pentolan-pentolan yang tergabung dalam partai Dunia Akhirat. Maka mereka hanya mengirimkan seorang tokoh sakti bernama Braja Musti. Pagi-pagi sekali laki-laki bertampang kejam bersenjata bola berduri ini dengan diiringi oleh Tiga Iblis Pemburu Nyawa tampak menggebrak kuda tunggangannya menuju daerah Nongkojajar. Seperti dikejar-kejar setan mereka memacu kuda-kuda tunggangan itu. Setiap orang yang dijumpai di tengah jalan, cepat-cepat menyingkir saat melihat siapa para penunggang kuda tersebut.

"Heya...!"

"Heya...!"   suara    teriakanteriakan menyelingi derap langkah kaki kuda. Debu mengepul ke udara. Semakin lama para penunggang kuda itu semakin jauh meninggalkan lereng Gunung Bromo. Sebelum     sampai   di   daerah Nongkojajar di sebuah tempat yang agak tersembunyi terdapat sebuah telaga yang cukup luas. Airnya terasa sejuk karena memang di atas telaga itu tertutup pohon-pohon liar yang cukup tinggi.    Masih   dari  atas  telaga, terdengar      suara       seseorang bersenandung. Menilik besarnya suara pastilah pemiliknya merupakan seorang gadis.  Atau  mungkin   juga  seorang banci, atau boleh jadi kuntilanak. Terlebih-lebih mengingat di daerah itu tidak satu pun terlihat ada rumah penduduk. Seorang pemuda yang baru saja muncul dari arah utara. Mendadak saja  menghentikan   langkahnya.  Ia menarik napas dalam-dalam saat mencium bau harum   yang  sangat   menyengat. Sesaat   pemuda   berbaju   biru muda memakai ikat kepala warna biru belangbelang kuning ini celingak-celinguk menyapu      pandang     tempat   di sekelilingnya. Wajah pemuda ini sebenarnya cukup tampan, rambutnya hitam kemerah-merahan. Cuma tampangnya seperti orang Blo'on. Lagaknya yang cengar-cengir menimbulkan kesan lucu yang polos.

"Bau wangi ini apakah bau setan? Tapi ada orang menyanyi-nyanyi. Ah... sepertinya dari sana...!" Tanpa prasangka apa-apa, pemuda berbaju biru muda ini bergerak mendatangi. Semakin dekat ia ke arah telaga, maka suara nyanyian semakin bertambah jelas, bau harum yang sempat terendus hidungnya juga semakin menyesakkan dada. Si pemuda yang tiada lain Suro Blondo alias Pendekar Blo'on segera bersembunyi di balik sebuah batu besar ketika melihat air telaga bergolak besar. Semula ia menyangka orang yang bernyanyi-nyanyi dalam telaga itu adalah bidadari yang baru turun dari kayangan. Dengan takut-takut ia tongolkan kepalanya.

"Busyet! Orang itu tidak berpakaian. Mengapa tidak seperti aku? Dia punya bisul kembar di dadanya! Ini pasti porno. Baiknya aku cepat pergi...!" Dengan wajah memerah karena dengan tidak sengaja ia telah mengintip gadis cantik yang sedang mandi. Suro Blondo bermaksud meninggalkan tempat secepatnya. Tapi celakanya kakinya tergelincir karena memang batu yang dipijaknya licin bukan kepalang.

Grosak!

"Aduh...!" Suara berisik semaksemak dan keluhan pendekar Blo'on terdengar oleh gadis yang baru saja mengenakan pakaiannya kembali.

"Pengintip kurang ajar! Jangan lari...!"

"Ala emak, mati aku!" Si pemuda mengeluh. Setelah celingak-celinguk dan tidak melihat orang di situ. Dengan mempergunakan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sangat sempurna ia menjejak kakinya. Tubuhnya melesat ke udara. Dilain saat ia telah bersembunyi di atas cabang pohon paling tinggi.

"Mudah-mudahan gadis itu tidak melihatku! Malu aku kalau ketahuan!" batin Suro Blondo.

Dugaan pemuda tampan berambut merah pirang ini memang tidak meleset. Beberapa saat tampak seorang gadis berpakaian serba kuning berambut panjang telah berdiri disitu. Matanya memandang berkeliling tapi ia tidak melihat siapa pun disitu.

"Tadi aku mendengar suara orang di sini! Betul... ini bekasnya...! Jelas-jelas ia mengintipku! Kurang ajar betul!" maki si gadis dengan wajah berubah merah jengah. "Pengintip kudisan! Aku tahu kau masih bersembunyi di sekitar sini. Cepat tunjukkan diri kalau tidak ingin kupecahkan kepalamu!"

Suro Blondo memperhatikan kulit tangannya. "Ah... aku tidak kudisan seperti yang dikata gadis itu. Kalau begitu pasti ada orang lain lagi di sini selain aku!" Suro Blondo usapusap keningnya yang keringatan.

Namun tiba-tiba saja pemuda ini jadi kelabakan ketika tangannya mulai diserang semut-semut merah. Semakin ia berusaha menahan serangan semut-semut itu. Maka semakin bertambah banyaklah makhluk-makhluk kecil ini yang menggigitnya.

"Celaka...!" Walau suara Suro Blondo tidak keras, namun cukup di dengar oleh gadis di bawahnya. Sontak ia mendongakkan kepalanya ke atas pohon.

"Monyet pengintip baju biru, harap turun tunjukkan tampang!" teriak gadis baju kuning sambil bertolak pinggang.

"Sudah ketahuan begini, terpaksa aku turun...!" Dengan gerakan yang sangat indah sekali, pendekar Blo'on bersalto beberapa kali. Dengan kedua kakinya ia menjejak persis di depan gadis itu. Ia usap-usap keningnya yang berkeringat. Lagaknya cengar-cengir. Gadis di depannya yang semula tampak marah, kini malah terkejut.

"Aneh...! Pemuda ini tampan, tapi mimiknya tampak tolol! Lagi pula mengapa rambutnya bisa berwarna merah pirang begitu?" membatin gadis berbaju kuning.

Sebaliknya Suro Blondo memandang ke arah si gadis tidak berkesip." Cantik... cantik bukan main. Kulitnya putih bersih, ada tahi lalat pula di dagunya. Siapakah dia? Apakah benar dia seorang bidadari?"

"Pemuda mata keranjang! Berani kau memandangku? Sudah mengintip sekarang kau melihatku begitu rupa!" Membentak gadis baju kuning, hingga membuat Suro Blondo terjingkat kaget.

"Ma... maaf Nisanak! Sebenarnya aku bukan mengintipmu. Aku tidak sengaja... sungguh...!" sahut si pemuda dengan mimik lucu. Sungguh pun ia telah berusaha bersikap serius.

"Dusta...!"

"Aku    tidak    berdusta!" bantah Suro Blondo.

"Tampangmu saja seperti orang bego. Padahal kau pengintip licik! Rasakan nih! Hiyaa...!" Tidak banyak cakap, dara berbaju kuning berwajah cantik ini langsung kirim satu tendangan dahsyat ke arah dada Suro Blondo. Melihat angin kencang menderu ke dadanya. Suro Blondo yakin tendangan yang dilakukan si gadis mengandung tenaga dalam tinggi. Suro Blondo terkesiap. Ia melompat mundur sejauh dua tombak.

"Nisanak! Jangan...! Kau salah sangka...!"   Pemuda  itu   berusaha membela diri. Namun manalah gadis baju kuning mau    mengerti. Ia   terus menyerang   bahkan  sekarang   mulai melepaskan   pukulan-pukulan   tangan kosongnya. Suro Blondo terus mengelak. "Mengelak terus bisa kojor aku!" membatin si pemuda. Untuk menghindari serangan yang semakin bertambah ganas itu. Suro Blondo kerahkan jurus 'Kera Putih Memilah Kutu'. Spontan tubuhnya meliuk-liuk,    gerakan-gerakan   yang dilakukannya tidak ubahnya seperti tingkah  seekor monyet.  Terkadang tangannya menggaruk, kaki berjingkatjingkat. Atau menangkis dengan sikap

seperti main-main.

"Bagus! Rupanya kau hanya sejenis kunyuk yang hanya pandai main sulap. Kerahkan semua yang kau punya! Aku ingin melihat tiga jurus di muka kau masih mampu melompat lompat seperti monyet!" bentak dara baju kuning marah bukan main.

"Ah... ah... jangan marah terus.

Nisanak salah paham!"

"Persetan dengan salah paham! Mampus...!" Gerakan silat dara baju kuning berubah seketika. Jika tadi ia menyerang dengan gerakan yang sangat teratur mengundang maut. Kini diawali dengan satu bentakan menggeledek. Tubuhnya berkelebat lenyap, hingga tinggal berupa bayang-bayang kuning saja. Satu hantaman keras menderu ke bagian wajah Suro Blondo. Ia tersentak kaget sekaligus menarik wajahnya ke depan.

"Mati aku...!" Suro Blondo menggerutu. Tangannya menyodok ke depan dengan maksud menangkis tangan kiri lawan yang mencengkeram bagian lambungnya. Namun rupanya serangan itu hanya tipuan belaka. Sebaliknya kaki dara baju kuning sudah menghantam perutnya. Suro Blondo tidak dapat selamatkan perutnya.

Buuk!

Pemuda berbaju biru muda berikat kepala warna biru belang-belang kuning ini jatuh terguling-guling. Isi perutnya seperti diaduk-aduk. Anehnya ia masih mampu cengengesan seakan tidak merasakan akibat apa-apa. Selain kaget, gadis ini tentu saja marah sekali. Tendangan yang dilakukannya jelas mengandung tenaga dalam tinggi. Paling tidak pemuda tampan bertampang tolol di depannya menderita luka dalam yang tidak ringan. Tapi ternyata pemuda itu malah cengengesan.

Semakin panas semakin bertambah penasaran, dara baju kuning. Hingga amarahnya yang meluap-luap itu dilampiaskannya dengan menyerang Suro Blondo lebih dahsyat lagi.

"Ups... tidak puaskah kau setelah hampir membuat remuk ususku, Nisanak...!" pekik Suro Blondo.

"Mana aku bisa puas kalau belum membuat remuk mukamu yang konyol itu!" bentak dara baju kuning.

"Gadis liar ini kalau belum kubikin kapok semakin besar kepala saja...!" rutuk pendekar Blo'on. Saat ia melihat serangah dara baju kuning menderu lagi menyerang sepuluh jalan darah. Sadarlah Suro Blondo lawannya tidak main-main dengan ancamannya.

"Hiiiiiit...!" disertai suara menggeredeng panjang. Jemari tangan si pemuda terpentang ke depan. Pinggulnya bergoyang seperti orang yang sedang menari. Mulutnya pletat-pletot seakan mengejek. Hampir sama dengan gerakan monyet melompat. Suro Blondo menerkam ke depan dengan badan setengah membungkuk.

Dara baju kuning terkesiap. Ia menyambuti cengkeraman jemari tangan si pemuda dengan tendangan kaki yang terarah pada bagian kepala lawannya. Gerakan yang menganggap enteng lawan ini segera disambut Suro Blondo

Jab!

Tangan kanan si pemuda mencengkeram kaki lawannya. Kemudian dengan tenaga kasar didorongnya kaki sang dara.

"Ups...! Keparat betul...!" Sang dara terpaksa jungkir balik untuk menyelamatkan kepalanya yang terus meluncur ke arah sebongkah batu di belakangnya.

Jlik!

Kini gantian dara baju kuning yang terbengong-bengong. Sama sekali ia tidak menyangka pemuda tampan bertampang tolol itu dapat menyerangnya sedemikian rupa. Lebih tidak menyangka lagi, pemuda berambut pirang itu ternyata memiliki kepandaian tinggi. Jika ia memang mau mencelakai. Pasti sejak tadi pemuda itu telah mempergunakan tenaga dalamnya untuk mencelakai dirinya. Sungguh pun begitu ia masih merasa penasaran. Ia ingin menjajal sekaligus menjajaki kemampuan yang dimiliki oleh pemuda di depannya. Namun sebelum niatnya kesampaian. Ia mendengar derap suara langkah kaki kuda mendekat ke arah mereka.

"Jangan ke mana-mana, pemuda Blo'on. Urusan kita belum selesai. Aku merasa perlu mengurus kunyuk-kunyuk jelek berkuda yang baru datang itu...!" desis dara baju kuning. Ia memandang ke arah datangnya suara kuda. Sungguh pun masih agak jauh, namun ia sudah dapat melihat siapasiapa saja penunggang kuda itu, terkecuali satu orang di antaranya ia memang tidak mengenalnya sama sekali.

SEBELAS

Benar saja tidak lama para penunggang kuda berpakaian serba hitam telah berhenti di depannya. Begitu sampai salah seorang di antara mereka langsung menuding dara berbaju kuning gading.

"Itu dia gadis liar yang telah berbuat kurang ajar pada kami, tetua...!" Yang bicara adalah Wongso Mendit yang bibirnya pernah disobek oleh sang dara saat bentrokan di warung beberapa hari yang lalu. Braja Musti, laki-laki tegap berperut buncit berkumis melintang macam tambang dada menggeram. Tenggorakannya turun naik setelah melihat kecantikan sang dara.

"Kulihat di tempat ini seperti bekas terjadi pertempuran!" Braja Musti yang biasanya bersikap kasar ini bicara pelan. Suaranya juga lunak. Dara baju kuning meludah ke tanah. Ia melihat ke arah pemuda berambut pirang. Tapi dara baju kuning terkesiap, karena melihat pemuda itu tampan berambut merah bertampang tolol sudah tidak ada lagi di situ.

"Tampaknya kau kehilangan lawan, anak manis! Tapi kau tidak perlu berkecil hati! Kami pantas menjadi lawanmu setelah kau merobek mulut salah seorang anak buahku! Sebelum itu coba kau jelaskan mengapa kau begitu berani mencari penyakit mengusik ketentraman kami!" sambil berkata mata Braja Musti menjelajah lekuk liku tubuh si gadis dengan jalang.

"Manusia anjing kurap!" mendamprat dara baju kuning." Delapan belas tahun yang lalu, kau dan tiga kawanmu telah membunuh orang-orang hamil tidak berdosa di lereng Gunung Bromo. Sekarang saatnya bagimu untuk mempertanggung jawabkan dosa-dosa kalian!" Kening Braja Musti laki-laki berusia hampir tujuh puluh tahun ini berkerut dalam.

"Kau tidak perlu kerutkan kening segala! Berpura-pura lupa telah menghutang nyawa ayah ibuku!" semakin lantang suara sang dara. Jelas ketika itu ia benar-benar dikuasai amarah menggelegak. Seumur-umur belum pernah Braja Musti dibentak oleh orang lain, apalagi oleh seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali. Wajahnya pun berubah memerah.

"Eeh... siapakah kau...!" "Aku Dewi Bulan! Sengaja datang kemari ingin mencabut nyawa empat tokoh sesat yang sekarang bercokol di puncak Gunung Bromo!"

Saat itu Suro Blondo yang sengaja menghindar dan bersembunyi di kerimbunan pohon tampak melongo. Ia seka keringat di dahi, matanya terus memandang ke bawah.

"Tidak kusangka aku mempunyai tujuan yang sama dengan gadis itu. Tapi kurasa kunyuk jelek itu bukan orang yang membunuh orang tuaku!" Suro Blondo menduga-duga. Namun kemudian ia teringat pesan Malaikat Berambut Api.

"Walaupun bukan pembunuh orang tuaku! Guru berpesan agar aku juga mengusir orang-orang partai Dunia Akhirat! Lebih baik kutunggu dulu apa yang terjadi."

Sementara Dewi Bulan yang terlihat tegang tarik urat sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Begitu membentak ia sudah lepaskan satu serangan dahsyat ke arah Braja Musti. Orang yang diserang terkekeh. Ia papaki serangan tangan kosong lawan dengan mempergunakan kaki kanan-nya. Serangan menyamping itu luput. Dewi Bulan merasa gusar, tangannya tidak ditarik pulang tapi terus meluncur ke kepala kuda Braja Musti.

Praak! Kuda tunggangan meringkik keras. Braja Musti hampir terpelanting jika saja ia tidak cepat lakukan jungkir balik, lalu jejakkan kaki ke tanah sambil memaki.

"Bocah liar! Kau akan merasakan betapa pedihnya siksaanku. Tapi sebelum kematianmu. Aku akan memanfaatkan kebagusan tubuhmu untuk bersenang-senang!" Braja Musti mengekeh panjang.

"Puih! Manusia hina! Mampuslah kau...!" jerit Dewi Bulan. Sekaligus menerjang, sekarang ia mengerahkan jurus 'Dibalik Mega Gajah Semburkan Air'. Segelombang angin kencang dingin membekukan datang bergulung-gulung melabrak tubuh Braja Musti. Laki-laki tua ini sempat terkesiap, namun tanpa membuang waktu lagi segera melompat ke samping. Lalu ia memutar tangannya ke arah datangnya angin serangan itu.

Buss!

Serangan gencar yang dilakukan sang dara seakan tertahan. Braja Musti membentak. Dan tubuhnya berkelebat ke depan sambil   hantamkan   dua tinjunya   secara beruntun.   Tanpa ayal lagi Dewi Bulan menyambuti serangan itu. Saat tinju datang, ia menepis dengan tangan kanannya.

Plaak!

"Iiih...!" Dewi Bulan berseru tertahan. Tubuhnya sempat tergetar. Sedangkan tangan yang dipergunakan untuk menepis terasa panas mendenyut. Sebaliknya Braja Musti juga sempat terperangah. Ia tidak menyangka gadis semuda itu telah memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Lima jurus telah berlalu. Braja Musti menggembor. Tubuhnya berkelebat lenyap laksana bayang-bayang. Angin kencang bersiuran. Sehingga dara baju kuning itu sekarang tampak terkurung bayangan hitam yang terus melancarkan serangan-serangan mautnya.

Tawa Dewi Bulan menggema, tubuhnya bersalto ke udara. Ketika ia berbalik ke bawah satu pukulan jarak jauh dilepaskannya.

Wuiss!

"Hmm...!" Braja Musti menggerendeng. Ia angkat tangannya tinggi-tinggi. Serangkum sinar panas datang menggebu menyongsong pukulan yang dilepaskan oleh lawannya.

Blaar! Blaar!

Dua kali ledakan dahsyat terdengar berturut-turut. Dewi Bulan terpental sejauh tiga tombak. Wajahnya berubah pucat. Sebaliknya Braja Musti jatuh terduduk. Mulutnya menyeringai, dada terasa sesak seperti ditindih batu gunung.

Dewi Bulan bangkit berdiri, dengan langkah agak terhuyung-huyung ia mencabut pedang pendek berwarna putih berkilauan. Saat itu Wongso Mendit, Lingga dan Karsa Jaliteng yang mempunyai dendam tersendiri terhadap gadis itu sudah menyerbu Dewi Bulan dengan pedang terhunus di tangan masing-masing.

"Walah ini yang namanya tidak adil!" gerutu Suro Blondo. Ia memutus empat buah ranting lalu menyambitkannya ke arah Tiga Iblis Pemburu Nyawa bersamaan waktunya dengan berkelebatnya pedang di tangan lawan-lawan Dewi Bulan.

Traang!

Terdengar tiga kali suara berdentang. Tiga Iblis Pemburu Nyawa memekik kaget. Tangan mereka bergetar hebat. Hawa panas terasa menyengat bagian telapak tangan sehingga membuat pedang di tangan masing-masing hampir terlepas dari tangan.

Braja Musti sendiri sempat tertegun melihat anak buahnya sempat tersentak ke belakang dan menjeritjerit seperti kesetanan.

Di saat itulah terlihat sosok tubuh berbaju biru muda melayang turun dari kerimbunan pohon. Ia menjejakkan kedua kakinya persis di samping Dewi Bulan. Gadis itu sempat pelototkan mata ketika mengenali pemuda di sampingnya. Suro Blondo tersenyum.

"Dalam keadaan seperti ini jangan kau marah padaku, Nisanak. Musuh-musuh yang kau hadapi adalah musuhku juga...!" Dewi Bulan akhirnya hanya diam saja. Sementara Braja Musti sambil menggembor marah melompat mendekati lawannya.

"Pemuda bertampang tolol! Jangan campuri urusan orang lain! Menyingkirlah sebelum orang-orangku menggorok lehermu!" bentaknya dengan kemarahan menggelegak.

Suro Blondo cengengesan. Mulutnya yang pletat-pletot menggeram: "Masa aku hanya diam saja melihat seorang gadis dikeroyok oleh empat monyet brewok bertampang iblis!"

"Bangsat! Siapakah kau?" "Mengenai siapa aku tidak

penting!" kata Suro Blondo mengejek. "Cuma sedekar kalian ketahui. Aku juga mempunyai tujuan yang sama dengan nisanak ini...!"

"Ha ha ha! Bocah bau ingus! Kau akan menyesal seumur-umur karena telah begitu berani mengusik kewibawaan kami!"

"Tetua! Mengapa harus berteletele! Serahkan pada kami biar kami bereskan dua ekor tikus yang tidak tahu peradatan ini!" menyela Karsa Jaliteng tidak sabar.

"Bunuh mereka!" teriak Braja Musti.

Ini adalah perintah yang sangat di-tunggu-tunggu oleh Tiga Iblis Pemburu Nyawa. Tanpa berpikir lagi, mereka sudah menerjang saling dahulu mendahului. Pedang di tangan mereka menderu, berkelebat-kelebat menyambar dengan ganasnya. Suro Blondo ganda tertawa. Tubuhnya melompat ke atas. Lalu pergunakan jurus 'Serigala Melolong Kera Sakti Kipaskan Ekor'. Sungguh lucu dan konyol gerakan silat yang dimainkan oleh pemuda ini. Tapi setiap serangan balasan yang dilakukannya cukup berbahaya disamping mengeluarkan angin menderu-deru.

"Hiya! Nguk! Nguk...!" Suro Blondo melompat-lompat. Pinggulnya bergoyang-goyang. Tubuhnya seruduk sana seruduk sini. Karsa Jaliteng penasaran bukan main melihat serangannya selalu menghantam tempat kosong. Saat pemuda lawannya melakukan sergapan ke arahnya. Pedang di tangannya kembali menderu membacok dan membabat.

"Ups...!" Dengan gerakan yang sungguh lucu dan konyol. Suro Blondo berhasil mengelakkan serangan lawan. Tangan kanannya menjulur ke bagian pertahanan lawan yang lowong.

Praak!

"Akkhgh...!" Karsa Jaliteng melolong setinggi langit. Tubuhnya terbanting mukanya hancur terhantam pukulan lawannya. Wajah tokoh Tiga Iblis Pemburu Nyawa mandi darah. Tubuhnya diam, nyawanya putus seketika.

Sementara itu Dewi Bulan juga telah berhasil mendesak dua lawannya. Pedang pendek di tangannya terus menderu-deru. Mati-matian Wongso Mendit dan Lingga berusaha bertahan. Tapi setiap ia melakukan serangan balasan selalu dapat dihalau oleh Dewi Bulan.

"Terus... terus...! Bunuh saja monyet jelek itu, Nisanak!" Suro Blondo memberi semangat. Ia bahkan bertepuk tangan. Melihat ini Braja Musti berang bukan main.

"Monyet tolol! Jangan hanya bertepuk tangan disitu! Makanlah senjataku!" Teriak laki-laki berusia enam puluhan ini. Bola berduri di tangannya menderu dan menimbulkan udara dingin menusuk sumsum.

"Hups! Kurang ajar. Monyet jelek, curang!" Suro Blondo meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat indah sekali.

Bumm!

Satu ledakan terdengar ketika senjata berbentuk aneh itu menghantam batu di belakang pendekar Blo'on. Suro Blondo geleng-geleng kepala melihat lubang besar akibat hantaman senjata maut lawannya.

'"Seribu Kera Sakti Mengecoh Harimau'...!" jerit pemuda tampan bertampang blo'on ini. Seketika gerakannya berubah cepat bukan main. Tubuhnya bergerak laksana kilat. Tangan, kaki yang menendang tampak berubah menjadi banyak sedemikian rupa. Seakan tubuh Suro Blondo berubah menjadi ratusan mengelilingi Braja Musti dari segala penjuru arah.

Seumur hidup belum pernah Braja Musti mendapat lawan yang memiliki jurus seaneh ini. Sambil kertakkan rahang, Braja Musti semakin memperhebat serangannya. Tapi hanya dalam beberapa jurus kemudian lakilaki ini terpelanting roboh ketika tersapu tendangan kaki lawannya. Dalam waktu bersamaan, tubuh Dewi Bulan tampak berputar sebat laksana sebuah gading. Pedang di tangannya laksana kilat membacuk, menebas menusuk dan menghantam pertahanan lawannya yang sudah morat-marit.

"Hiyaa...!" Crass! Craas!

Wongso Mendit dan Lingga tampak melintir tubuhnya. Tenggorokannya robek besar. Darah mengucur deras dari luka itu. Mata mereka tampak melotot seakan tidak percaya dengan apa yang mereka alami. Tubuh kedua orang ini langsung terguling roboh menyusul kawannya.

Trek! Dewi Bulan memasukkan pedang pendek ke dalam sarungnya. Ia memandang pada Suro Blondo yang terus menyerang Braja Musti dengan bola berduri milik lawannya yang berhasil dirampasnya.

Entah mengapa sekarang timbul rasa sukanya setelah melihat kehebatan dan kekonyolan pemuda itu.

"Lekas bunuh monyet brewok itu. Ayo...!" Dewi Bulan berteriak-teriak ditujukan pada si pemuda. Dengan mimik serius, Suro Blondo terus menerjang. Braja Musti yang tampak selalu gagal melepaskan pukulan jarak jauhnya jadi terdesak. Geram campur marah menyatu dalam jiwanya. Suro Blondo yang ketika itu telah mengerahkan jurus tingkat tinggi. Yaitu jurus 'Tawa Kera Siluman', benar-benar sudah tidak dapat tertahan lagi gelombang serangannya. Satu ketika Braja Musti bermaksud merebut senjata andalannya kembali. Namun bersamaan dengan itu Bola Berduri rampasan tepat menderu ke dadanya. Gerakan itu cepat bukan main. Sehingga Braja Musti tidak mampu menghindarinya lagi.

Braak!

Bola Berduri langsung amblas ke dalam dada Braja Musti. Laki-laki ini terhuyung, bibirnya mengeluarkan suara seperti tercekik. Tubuhnya melejanglejang. Kemudian mati dalam keadaan jatuh terduduk.

"Ha ha ha! Mati...! Satu dari empat iblis telah mati...!"

"Kisanak! Karena kau telah menyelamatkan aku. Aku menganggap urusan di antara kita telah selesai. Oh ya... siapakah namamu?" tanya Dewi Bulan. Ditanya dengan ramah oleh gadis cantik yang tadi sempat hampir mencelakainya. Jantung Suro Blondo terasa dek-dekkan juga.

"Nisanak tidak marah lagi padaku?"

"Kalau masih marah, sudah kugebuk kau sejak tadi!"

Suro Blondo sebelum menjawab usap keningnya yang keringatan. "Namaku Suro Blondo!"

"Pantasan...!" Dewi   Bulan tidak meneruskan ucapannya.

"Pantasan apa?"

"Wajahmu ganteng tapi tampangmu bego...!" Dewi Bulan tersenyum. Sungguh mendebarkan senyumnya. Karena dua pipinya membentuk lesung pipit.

"Kau juga cantik! Sayang ceriwis dan pemarah!" sahut Suro Blondo, cengengesan. Anehnya Dewi Bulan tidak marah. Malah ia balas tersenyum. Sesaat ia memandangi pemuda tampan bertampang blo'on di depannya. Bersamaan waktunya Suro Blondo memandang pula ke wajah si gadis. Tatapan mata mereka bertemu. Hati Dewi Bulan berdebar keras. Wajahnya bersemu merah. Ia cepat palingkan wajah ke arah lain.

"Suro! Maaf perjumpaan kita sampai di sini saja. Aku ada urusan mendesak di Gunung Bromo...!" Hanya dalam sekedipan mata saja, Dewi Bulan telah lenyap dari hadapannya.

"Hei... tunggu...! Aku juga mau ke Gunung Bromo...!" teriak Pendekar Blo'on memanggil. Ia pun mengejar ke arah lenyapnya si gadis sambil mengerahkan ilmu lari cepat Kilat Bayangan. Bagaimanakah nasib Dewi Bulan dan Pendekar Blo'on? Mampukah mereka menghadapi orang-orang yang telah membunuh kedua orang tua mereka?

Petualangan Suro Blondo,

Pendekar Blo'on Mandau Jantan

selanjutnya, dalam episode 'Bayang

Bayang Kematian'.  

TAMAT