-->

Serial Naga Geni Eps 24 : Pendekar Empat Serangkai

 
Eps 24 : Pendekar Empat Serangkai

BAGIAN I

HUTAN YANG BIASANYA sunyi senyap itu telah di- penuhi oleh benturan-benturan senjata diseling teria- kan-teriakan marah ataupun kesakitan yang meluncur dari mulut orang-orang itu. Dipandang dari kejauhan, tampaklah bayangan-bayangan tubuh yang berlonca- tan, berputar-putar dan berjumpalitan mengadu tena- ga.

Kini matahari telah berangsur-angsur merayap lebih tinggi dari tepi langit sebelah timur, dan seirama den- gan itu pertempuran di tengah hutan itupun menjadi kian dahsyat.

Si tokoh berwajah sekeras batu karang yang berge- lar Doyotan, sekarang dapat lebih menguasai dirinya. Tombak pendeknya yang bermata kembar senantiasa berputar bagaikan kitiran menyambar ke sana kemari, disertai desingan angin yang menyayat-nyayat telinga, bagaikan merintih-rintih untuk minta korban.

Tak jauh dari tempat itu, terlihatlah kilatan-kilatan cahaya yang berasal dari sabit berantai di tangan Gro- wong. Sambaran-sambaran maut semakin gencar mengurung gerakan-gerakan Gagak Cemani.

Sedang di tempat lain, Palumpang dan Tungkoro sekaligus menghadapi masing-masing dua orang lawan yang mengurungnya dengan serangan-serangan dah- syat pula.

Di saat pertempuran menjadi semakin dahsyat, ma- ka sadarlah Mahesa Wulung bahwa keenam lawan yang mengurung mereka ini adalah orang-orang pili- han dari gerombolan Tangan Iblis. Karenanya tidak ter- lalu mengherankan bila sampai sejauh itu mereka ma- sih tangguh menyerang Mahesa Wulung dan ketiga kawannya. Hampir dua puluh lima jurus lebih mereka bertarung, namun toh masih belum ada korban yang jatuh.

Mahesa Wulung yang telah menggenggam pedang- nya segera cepat-cepat menggerakkannya dengan he- bat. Kalau semula ia lebih banyak menangkis gerakan senjata lawan dan hanya sekali-sekali saja ia melan- carkan serangan, maka sekarang ini benar-benar ber- lainan. Tanpa sungkan-sungkan Mahesa Wulung mu- lai menyalurkan hawa sakti dan ilmu pedangnya yang bernama Sigar Maruta, hasil gemblengan dari men- diang Ki Camar Seta.

Karuan saja Doyotan menjadi terperanjat, sebab ia dapat merasakan gerak perubahan dari ilmu pedang lawannya. Tampak olehnya bahwa pedang Mahesa Wu- lung menjadi lebih santer bergerak. Yang tampak ke- mudian adalah kilatan-kilatan sinar putih yang me- nyambar-nyambar bagaikan halilintar. Bahkan seolah- olah pedang tersebut telah menari-nari dengan lincah- nya sambil setiap kali mematuk ke arah Doyotan da- lam gerakan yang tak terduga.

Masih lebih beruntung bila Doyotan dapat menang- kis pedang tersebut dengan tombak pendeknya yang bermata kembar meskipun untuk itu ia harus mengge- rakkan tenaga sepenuh mungkin. Jika tidak, jangan harap ia sanggup bertahan lebih lama.

“Keparat! Sukar juga untuk merobohkan orang ini!” gumam Doyotan penuh kejengkelan. “Biarlah. Akupun tak sudi untuk dipameri ilmu pedangnya. Akupun punya permainan menarik dengan senjataku ini!”

Tetapi... tiba-tiba....

Weesss. !

“Hiaattt!” Clangng! Tubuh Doyotan terpental ke belakang ketika sebuah tebasan pedang Mahesa Wulung membentur tombak Doyotan dengan kerasnya, sehebat runtuhan gunung karang yang meledak.

Disertai napas yang mendengus, Doyotan cepat- cepat berdiri sesudah beberapa langkah ia bergulingan dan terpental. Matanya semakin tampak merah karena diluapi oleh rasa amarah, sementara ia memegang lu- rus-lurus tombak pendeknya itu ke arah Mahesa Wu- lung.

Sudah barang tentu si pendekar Demak inipun ti- dak tinggal diam. Pedang di tangannya segera melin- tang di depan dada dengan mata pedang menghadap ke luar.

“Mahesa Wulung. Ternyata engkau seorang lawan yang tangguh. Karenanya aku terpaksa mengeluarkan ilmu tombakku ini, dan jangan menyesal bila engkau roboh olehnya!” demikian ujar Doyotan dengan lan- tang.

“Hmm, tak perlu kau berbasa-basi demikian,” seru Mahesa Wulung. “Pakailah ilmumu supaya engkau puas!”

“Bagus. Aku ingin tahu apakah engkau sanggup mempertahankan dirimu lebih lanjut!” teriak Doyotan sambil tangan kirinya menggeprak batang tombak pendeknya dan entah bagaimana asal mulanya, karena tahu-tahu tombaknya itu terbelah menjadi dua bagian, sehingga masing-masing tangan Doyotan kini telah bersenjata tombak.

“Hahhh?” desah Mahesa Wulung kaget. Ternyata ia tidak mengira bahwa tombak pendek Doyotan itu terdi- ri dari dua bagian tombak pipih yang melengket satu sama lain, dan kini tombak tersebut telah terpisah menjadi dua bagian. “Ha, ha, ha. Kau terkejut bukan? Sambutlah ini! Hyaattt!” teriak melengking terlontar dari mulut Doyo- tan disusul tubuhnya meluncur ke depan, sementara kedua tombak pendeknya menikam hebat.

Mahesa Wulung telah bersiaga pula agaknya, sebab begitu serangan Doyotan mendatang, pedang di tan- gannya segera menyambut. Maka keduanyapun ber- tempur hebat.

Di sebelah lain, Gagak Cemani masih gigih mem- bendung serangan sabit berantai dari Growong. Kalau semula ia merasa kerepotan menghadapi senjata aneh tersebut, kini tidak lagi demikian. Naga-naganya ia te- lah mengetrapkan semua ilmu ajaran gurunya, Ki Bu- janggiri* yang maha ampuh itu. Maka tubuhnya men- cutat ke sana-kemari, lolos dari sambaran sabit beran- tai dari Growong, tak ubahnya gerakan seekor burung gagak yang lagi bergurau. (*Lihatlah seri Naga Geni 15: Pendekar Gagak Cemani)

Bahkan tidak sampai di situ saja. Setiap kali, golok hitam di tangan Gagak Cemani selalu menerobos per- tahanan Growong dan menyambar dalam kecepatan yang menakjubkan. Beberapa luka-luka kecil telah menghiasi tubuhnya, tak ubahnya seekor jago aduan yang telah tergores oleh taji lawannya. Namun hal ini rupanya malah membuat hati Growong semakin pa- nas, tak ubahnya seonggok bara api yang terhembus angin dan menyala semakin hebat.

Serangan sabit berantai di tangan Growong bertam- bah ketat juga. Hanya saja Gagak Cemani kini telah mengetrapkan ilmunya, sehingga serangan-serangan Growong itu tidak banyak artinya, kecuali hanya un- tuk memperpanjang waktu saja.

“Celaka jika terus-terusan begini!” kata Growong di dalam hatinya. “Pendekar berkumis melintang ini me- miliki ilmu dan tenaga yang berlipat-lipat. Aku dapat menduga bahwa duapuluh lima jurus lagi pastilah aku bakal kehabisan tenaga untuk melawannya!”

Sambil bertempur itu Growong sibuk berpikir pula untuk menahan serangan-serangan Gagak Cemani yang semakin garang datangnya. “Hmm, aku harus menggeser lingkaran pertempuran ini ke arah Bungkil dan kawan-kawannya. Aku harus minta bantuan salah seorang di antara mereka!”

Dengan begitu, maka sedikit demi sedikit Growong berusaha mendekati ke arah Bungkil dan kawan- kawannya yang saat itu lagi bertempur melawan Pa- lumpang dan Tungkoro.

Tampaknya pula, pertempuran mereka itupun ten- gah berada di dalam puncak ketenangan. Seperti Pa- lumpang yang bersenjata Akar Bahar Merah, senantia- sa melancarkan serangan-serangan dahsyat ke arah lawannya. Gerakan pendekar laut ini benar-benar se- lincah ombak lautan yang menghempas tak henti- hentinya, sehingga tak mengherankan bila Bungkil dan kawannya yang seorang itu senantiasa dibuat kalang kabut. Mereka berdua menjadi ngeri melihat senjata akar laut milik Palumpang yang ganas memburu-buru ke segenap arah. Ke manapun mereka bergerak, senja- ta aneh itupun senantiasa memburunya.

Bungkil berdua telah mengucurkan peluh akibat pertempuran yang seru itu. Mereka mulai dijalari oleh perasaan jerih, sebab lawannya yang bergelar Palum- pang itu, benar-benar setangguh batu karang.

Bagi Bungkil, ini sudah merupakan satu kelebihan bahwa seorang lawannya masih sanggup bertahan. Se- dangkan bagi lawan-lawan yang telah dirobohkannya pada saat-saat lewat, tidaklah setangguh Palumpang.

Sambil terus bertempur, Bungkil diam-diam meng- harap bahwa Doyotan akan memberi sesuatu aba-aba untuk mengundurkan diri ataupun mengambil lang- kah-langkah yang perlu. Yah, bukankah Doyotan men- jadi pimpinan dalam penyergapan ini? Sudah seharus- nya ia dapat melihat suasana yang tengah terjadi. Na- mun rupa-rupanya Doyotan tak sempat memikirkan hal itu karena ia sendiri tengah mati-matian memben- dung serangan pedang Mahesa Wulung.

Tiba-tiba ia melihat bahwa gerakan Growong makin bergeser dan mendekat ke arah dirinya, membuat hati Bungkil agak tenang sedikit, sebab ia berharap akan mendapat bantuan dari Growong yang bersenjata sabit berantai.

Hampir saja Bungkil berseru kepada Growong agar ia mendapat bantuan dari tokoh tersebut. Namun alangkah kagetnya bila sahabatnya itu justru berseru dengan tajam ke arahnya, “Bungkil! Bantu aku mela- wan pendekar berjubah ini! Ia terlalu alot untuk dila- wan sendiri!”

“Hah!? Kamipun tengah kesukaran untuk meroboh- kan orang gendeng yang bersenjata akar ini!”

“Jadi...?” Bungkil tak melanjutkan kata-katanya, sebab sudah cukup jelas baginya bahwa justru kedu- dukan dirinya bersama kawan-kawannya, berada da- lam bahaya.

Orang seperti Growong justru berilmu sedikit lebih tinggi daripada dirinya. Maka jika Growong merasa ke- repotan menghadapi lawannya tersebut, lalu apalagi dengan dirinya?

Dalam pada itu Doyotanpun agaknya telah menya- dari akan kerepotan pada rekan-rekannya. Ia melihat, betapa Bungkil berdua mulai terdesak oleh Palum- pang. Begitu pula dengan Growong yang menghadapi Gagak Cemani. Hanya kedua rekan lainnya yang kini sibuk melawan Tungkoro kelihatan agak seimbang. Namun iapun ragu, apakah hal itu akan bertahan la- ma? Sedang dia sendiri? Doyotan tak habis mengum- pat sebab senjata tombak pendeknya yang sepasang itu masih belum sanggup merobohkan Mahesa Wu- lung.

Telah berkali-kali Doyotan melancarkan serangan- serangan mautnya, tapi setiap kali pula tubuh Mahesa Wulung lolos bagai asap dari ancaman senjatanya!

“Apakah terpaksa mengundurkan diri?” gumam Doyotan dengan jengkel. “Mereka terlalu kuat jika di- hadapi oleh enam orang saja. Seharusnya lima belas atau dua puluh orang, baru memadai untuk menge- royok mereka! Hmm, sayang ketua Tangan Iblis belum memperhitungkan kekuatan mereka!”

Rerasan Doyotan tersebut belum segera dilaksana- kan, sebab saat itupun hatinya masih diliputi oleh ke- ragu-raguan. Sementara ini, sepasang tombak pen- deknya berkali-kali menangkis tebasan pedang Mahesa Wulung yang berjurus Sigar Maruta.

Seperti diketahui, ilmu Pedang Sigar Maruta ini mempunyai banyak ragam jurus dan siasat. Tidak ku- rang dari tujuh puluh lima jurus Sigar Maruta telah diwarisinya dari pendekar Camar Seta, dan sesung- guhnya telah mendarah daging serta berurat akar di dalam diri Mahesa Wulung.

Dua puluh lima jurus awal dari Sigar Maruta ialah berlandaskan kelincahan gerak semata-mata, dan ini sering membuat pedang Mahesa Wulung seperti mena- ri-nari ataupun bergulungan seperti angin. Sedang dua puluh lima jurus yang kedua atau madya, adalah beri- si serangan maut dan mematikan. Pada dua puluh li- ma jurus yang ketiga atau inti telah diolah lebih dalam oleh Mahesa Wulung dan ini merupakan puncak dari ilmu Pedang Sigar Maruta yang dahsyat itu. Pada ju- rus-jurus inti inilah Mahesa Wulung telah memadukan ilmu pukulan Lebur Wajanya, sehingga dapat di- bayangkan betapa hebatnya seandainya Mahesa Wu- lung telah menggunakan jurus intinya.

Apa yang kini tengah digunakan untuk menghadapi Doyotan, adalah jurus-jurus kedua puluh enam dan dua puluh tujuh, yakni awal dari jurus Madya. Walau- pun begitu, toh sudah cukup menggetarkan dada Doyotan dan lebih celaka bagi Doyotan, karena ia mengira bahwa jurus-jurus tersebut adalah jurus pun- cak dari ilmu pedang Mahesa Wulung.

Wesss... wess... wesss.... Begitulah Doyotan dengan nekadnya menerjang Mahesa Wulung dengan sepasang tombak pendeknya yang bergerak laksana dua cakar elang lagi kelaparan.

Bertepatan saatnya juga, tiba-tiba Mahesa Wulung melesat ke depan sementara pedangnya bergulungan menyambar dan menyambut serangan lawan.

Sriingngng   Bet!

“Haahhh?!” Mahesa Wulung terperanjat kagum se- bab dalam saat-saat gawat, Doyotan masih sanggup menyelamatkan diri, meski akhirnya iapun mengeluh kaget, sebab ikat kepalanya telah tanggal dan kini be- rada di ujung pedang Mahesa Wulung!

“Ses... setan... kau!” desis Doyotan jengkel bercam- pur rasa jerih yang bercampur aduk di dalam hatinya. Maka segeralah ia berusaha memberi perintah untuk mengundurkan diri kepada kelima orang pengikutnya.

Akan tetapi, belum lagi perintah tersebut keluar da- ri mulutnya mendadak saja terdengarlah satu jeritan maut dari arah lingkaran pertempuran si Palumpang. Doyotan sempat juga melirik dan terlihatlah dengan je- las betapa senjata aneh akar bahar di tangan Palum- pang telah menembus dada salah seorang lawan, se- dang Bungkil sangat kaget melihat temannya roboh!

Rekan si Bungkil tadi menggelosor di tanah dengan menebah dadanya yang terluka berlobang-lobang, aki- bat tikaman senjata akar bahar dari Palumpang. Darah segar pun menyembur ke luar dari lobang-lobang ter- sebut, tak ubahnya beberapa mata air yang menyem- burkan airnya bersama-sama.

Kejadian itu mengagetkan pihak Doyotan, lebih- lebih bagi Growong sendiri. Sama sekali ia tidak men- gira bahwa salah seorang rekannya telah roboh lebih cepat dari apa yang diperkirakan. Dengan demikian, tipislah harapannya untuk mendapat bantuan dari mereka dan ini berarti pula bahwa Growong harus ber- tempur mati-matian seorang diri melawan Gagak Ce- mani!

Ternyata sabit berantai dari Growong sudah tidak ada artinya bagi Gagak Cemani. Meskipun senjata ter- sebut menyambar-nyambar ganas ke arah si pendekar berjubah, namun selalu saja dapat dihindari oleh la- wannya.

“Celaka! Kakang Doyotan belum memberi aba-aba mengundurkan diri! Tapi... memang... seandainya aba- aba tersebut diberikan, tentu kami mudah melepaskan diri dari keempat orang lawan ini!” demikian pikir Growong yang mulai kecemasan.

“Waarrghh!” seru jeritan lagi menyusul dari arah lingkaran pertempuran Tungkoro dan tampaklah salah seorang dari pengeroyoknya terjerembab ke atas tanah dengan darah berhamburan dari lehernya yang terso- bek oleh pedang Tungkoro. Sedang yang seorang lagi, beberapa saat masih terbengong-bengong menyaksikan temannya roboh bermandi darah. Ia sendiri telah men- derita luka-luka kecil di tubuhnya. Suasana benar-benar menjadi tegang di saat itu. Dengan robohnya dua orang rekan, maka Doyotan tinggal mempunyai tiga orang pengikut dan sebentar lagi dapat dibayangkan bahwa mereka berempat pun akan segera binasa di tangan keempat pendekar la- wannya. Yah,. Doyotan seolah-olah telah melibat bayangan maut di depannya, secepat berkelebatnya pedang Mahesa Wulung yang ganas dan gesit. Agak- nya, kata-kata ‘lari’ adalah satu-satunya jalan guna menyelamatkan nyawanya dari ancaman senjata keempat pendekar itu.

Namun nasib manusia kadang-kadang berjalan di luar dugaan si manusia itu sendiri dan sesungguhnya, semua itu tergantung kepada Tuhan Yang Maha Besar. Seperti apa yang dicemaskan oleh Doyotan berempat, ternyata tidak setepat dugaan mereka, sebab menda- dak saja terjadilah sesuatu yang memecahkan suasana ketegangan tadi.

Entah dari mana asal juntrungnya, tahu-tahu uda- ra siang di sekitar mereka telah dirambati oleh bunyi berdenting-denting aneh, yang meskipun tidak terlalu keras tetapi cukup menjentik-jentik telinga dan jan- tung. Sungguh menakjubkan! Rasa nyeri timbul sedikit demi sedikit berbareng alunan denting-denting yang sukar diketahui sumbernya.

Ting, ting, ting..., ting..., ting.... Begitulah bunyi dentingan aneh tersebut mengalir di udara dan tanpa disadari suasana pertempuran itupun menjadi terpen- garuh! Baik rombongan Mahesa Wulung maupun rom- bongan Doyotan seolah-olah lebih tertarik oleh suara dentingan tadi daripada lawan-lawan yang harus me- reka hadapi.

Dalam hal ini, tak seorangpun bisa menyangkal bahwa suara dentingan tersebut tidak penting bagi me- reka sebab dentingan tadi cukup membuat dada-dada mereka bergetar bagaikan disodok-sodok oleh sebatang galah runcing.

Maka seketika itu pula kedelapan orang yang bera- da di situ seolah-olah terpukau di tempat, bagaikan patung-patung bisu yang masih bernafas. Mereka me- nebar pandangan ke segala arah dengan maksud un- tuk mengetahui sumber suara yang aneh tadi. Namun itu hanyalah usaha yang sia-sia belaka sebab suara berdenting-denting tadi seperti mengalir dari beberapa penjuru dengan berganti-ganti.

Mengalami kejadian yang aneh tadi, Mahesa Wu- lung tidak mau menyia-nyiakan waktu. Segeralah ia melipat kedua sisi telapak tangan di depan dada, guna melapisi dirinya dengan tenaga dalam yang tersalur rapi. Begitu pula Gagak Cemani cepat-cepat bersede- kap tangan sesudah ia menyarungkan golok hitamnya terlebih dahulu.

Di dekat mereka, Tungkoro berusaha pula mengata- si suara aneh tadi dengan cara berdiri kokoh bagaikan patung batu. Sedang Palumpang punya cara sendiri. Ia segera duduk bersila di atas tanah dan kedua telapak tangannya menempel pada kedua lutut.

Sementara itu, Doyotan, Growong, Bungkil dan seo- rang lagi, rupa-rupanya telah menyadari akan penga- ruh suara yang berdenting-denting dan kini melanda mereka.

“Kawan-kawan. Jagalah dirimu, terutama indera- indera yang penting!” begitu seru Doyotan memperin- gatkan.

Growong bertiga segera dapat memahami peringa- tan itu kemudian bersama-sama Doyotan, mereka du- duk berjongkok di atas tanah. Agaknya mereka punya jurus-jurus tertentu untuk mempertahankan diri dari serangan suara aneh ini. Memang sebenarnya mereka berusaha mengurangi getaran suara tersebut dengan cara merendahkan tubuh seperti di atas.

Jika dilihat sepintas, agaknya memang tampak lucu sikap Doyotan beserta ketiga rekannya. Wajah-wajah mereka menjadi tegang dengan mata tak berkedip se- mentara napas mereka terdengar mengalir sangat te- nang.

Sungguh merupakan peristiwa yang ganjil. Kedela- pan manusia yang berada di situ mengalami satu kete- gangan yang tidak dapat dipecahkan begitu saja. Di sekitar mereka tidak terlihat sesuatu gerak apapun yang dapat diduga sebagai sumber suara.

“Celaka! Siapa yang melancarkan suara ganjil ini?” ujar Mahesa Wulung di dalam hati. “Apa pula mak- sudnya!? Hemmm, benar-benar mengagumkan!”

Gagak Cemani mengerutkan keningnya dan ia ber- kata menggumam seperti berkata untuk dirinya sendi- ri, “Ternyata pengalamanku kian bertambah. Belum pernah aku menjumpai ilmu seaneh ini ”

Saat itu pula Palumpang duduk bersila sangat te- nangnya, seolah-olah seperti ia biasa bersila di atas rakit di tengah lautan. Gempuran-gempuran ombak dan angin telah biasa dihadapinya, begitu juga desau angin ataupun ledakan petir, sehingga menghadapi suara dentingan aneh ini, Palumpang tetap bersikap tenang. Namun apakah kiranya ia bakal terus-menerus tahan menghadapinya?!

Suara dentingan aneh tadi memang semula sangat lembutnya dan kemudian meningkat lebih tinggi dan semakin meninggi sampai menimbulkan akibat yang sukar diduga sebelumnya. Hampir-hampir sukar di- percaya!

Doyotan bersama keempat pengikutnya sangat gigih berusaha mengatasi diri. Wajah-wajah mereka menjadi lebih tegang dan tersaput warna merah, sementara bintik-bintik keringat telah memenuhi dahi yang se- makin lama bertambah mengalir deras dari lobang- lobang kulit. Ketika waktu makin berjalan Doyotan dan Growong masih tetap berjongkok dengan kokohnya, sedang Bungkil dan seorang rekannya tidak lagi seko- koh itu. Keduanya mulai bergetaran seperti orang yang menderita sakit demam.

Di sebelah lain, Mahesa Wulung, Gagak Cemani, Pa- lumpang dan Tungkoro menderita pula akan getaran yang aneh dan menakjubkan. Tidak berbeda dengan pihak Doyotan, mereka berempat mati-matian me- nanggulangi serangan udara bergetar yang makin lama semakin hebat.

Wajah-wajah mereka mulai dialiri peluh, menetes- netes seirama degupan jantung yang menghentak- hentak tanpa henti. Mahesa Wulung masih berdiri dengan tenangnya, sedang Palumpang terus saja du- duk bersila tanpa bergerak, sehingga mirip sebuah pa- tung batu. Apa lagi kedua matanya setengah meme- jam, tak ubahnya orang yang lagi mengantuk atau seo- rang yang tengah menikmati sesuatu kenikmatan! Sungguh menarik. Mereka mempunyai sikap yang aneh-aneh. Lebih lagi dengan Gagak Cemani yang ber- diri dengan kokoh, kedua belah kakinya seakan-akan telah mencengkeram bumi di bawah. Ia bersikap men- gangakan sedikit mulutnya dan inilah cara Gagak Ce- mani menyambut serangan udara bergetar.

Rupanya saja, Gagak Cemani berusaha mengim- bangi getaran udara yang menerobos lobang telinga dengan membuang dan menyalurkannya lewat mulut yang terbuka. Dengan demikian, si telinga tidak bakal terlalu menderita ataupun sampai pecah barangkali! Sayang, tidak semuanya dapat bertahan begitu gi- gih dan hebatnya. Tungkoro mulai menampakkan wa- jah yang merah disertai tubuh yang sebentar-sebentar menggetar. Meskipun ia telah berusaha mengusir pen- garuh ini, namun hasilnya nihil saja. Bahkan ia malah mengaku gagal. Tubuhnya sebentar tetap menggetar dan Tungkoro sangat mencemaskan nasib selanjutnya. Hampir boleh ia memastikan, bahwa sebentar waktu lagi ia bakal tidak mampu melindungi dirinya.

“Ooh, benar-benar gawat!” pikir Tungkoro kegelisa- han. “Seseorang di antara kami harus berbuat sesuatu untuk mengatasi keadaan yang segawat ini! Aah, tetapi mereka masih berdiam diri! Tambahan lagi, apakah yang dapat kami perbuat?”

Demikianlah Tungkoro berpikir dan sesungguhnya siapapun yang berada di tempat itu hampir rata-rata mengajukan pertanyaan yang sama!

“Celaka! Aku tak dapat membayangkan, bila keja- dian ini berlangsung terus-menerus!” gumam Mahesa Wulung seraya menebarkan pandangan ke arah seke- liling. Ia melihat bahwa Gagak Cemani tetap gigih ber- tahan seperti halnya Palumpang. Tetapi ia menjadi sangat terkejut sewaktu pandangannya tiba pada Tungkoro. Rekan tamtama ini telah mulai terserang oleh getaran aneh yang berdenting-denting tak berke- putusan.

Kendati demikian, Tungkoro masih jauh lebih un- tung, sebab kelompok Doyotan lebih menderita lagi. Bungkil dan rekannya yang bernama Delok telah ber- tahan pada titik akhir. Selain tubuhnya bergemetaran sangat keras, juga wajah mereka merah padam berse- lang-seling dengan warna kepucatan berbareng air ma- ta mereka bercucuran seperti anak kecil.

Ting... ting... ting... ting.... Suara dentingan senada itu masih terus bergetar di udara dan semakin me- ningkat lebih tinggi dan kini seolah-olah udara berge- tar sepenuhnya.

Baik Bungkil maupun Delok sudah sampai pada ti- tik pertahanannya. Keduanya lalu jatuh terguling di tanah dengan tubuh yang masih bergemetaran diikuti suara rintihan mengalir dari mulut mereka, tak ubah- nya nasib dua orang yang mabuk! Keruan saja Doyo- tan dan Growong menjadi sangat kaget begitu menyak- sikan tubuh kedua rekannya terguling tanpa daya apapun. Keadaan di situ sangat gawat dan suasana misterius meliputi daerah itu, mencekam dan menyeret apa saja yang berada di dalam jangkauannya!

***

BAGIAN II

MENYERAHKAH MAHESA WULUNG dengan seran- gan yang aneh itu? Dan bagaimana pula dengan Gagak Cemani serta rekan-rekan lainnya? Kalau seandainya mereka tahu akan si penyerang ini, pastilah sejak se- pagi mungkin akan menerjang habis-habisan ke arah orang tersebut.

“Haai! Siapakah Anda, yang telah mengaduk-aduk udara sesegar ini?” tiba-tiba Gagak Cemani berteriak lantang. “Apakah Anda sebangsa dedemit iblis yang tak berujud? Jika tidak, maka lekas-lekaslah menunjuk- kan diri supaya kita dapat membuat perhitungan lebih matang!”

Suara lantang Gagak Cemani berkumandang ke se- genap arah, namun beberapa saat kemudian tidak se- suatu jawaban pun yang muncul, selain suara ber- denting-denting menjadi semakin keras.

“Haai! Apakah kami berhadapan dengan sesuatu yang berjiwa pengecut?” kembali teriakan meluncur. “Mengapa tidak lekas-lekas menampakkan diri?!”

Sesaat masih belum ada jawaban....

Tiba-tiba terdengarlah satu rentetan ketawa yang meringkik, bergetar membaur bersama suara yang berdenting-denting di udara. Biarpun peristiwa ini ter- jadi pada siang hari, tidak urung sempat pula mendiri- kan bulu roma bagi orang-orang yang berada di tempat itu.

“Hih, hi, hi, hi. Bagus! Bagus! Kalian berani men- gomel-ngomel, sedangkan kalianlah yang membuat ke- salahan terlebih dahulu!” demikianlah suara lantang terdengar sebagai jawaban bagi Gagak Cemani.

“Apa kesalahan kami?”

“Hi, hi, hi, pura-pura berlagak pilon, haa! Apa ka- lian tak menyadari bahwa kalian telah mengobrak- abrik tempat ini? Hutan yang semula tenang dan aman, sekarang telah porak-poranda. Pohon-pohon pada rusak, dan tanah di sini telah kalian kotori den- gan darah!”

“Jadi itu yang Anda sebutkan sebagai kesalahan kami? Apakah Anda tidak tahu bahwa kami tengah bertempur, dan orang bertempur terkadang tidak memperhitungkan tempat. Di manapun saja jadilah, bila masing-masing menghendaki bertempur. Dan ten- tang tempat ini hanya secara kebetulan kami gunakan, sebab tidak ada tempat lain lagi yang lebih cocok !”

begitu jawaban Gagak Cemani sangat lancar dan te- patnya.

“Hih, hi, hi, hi. Lidahmu memang hidup, bocah! Kau memang pintar ngomong. Pantasnya engkau menjadi seorang dalang. Baiklah, kalau soal tempat engkau ti- dak sudi dikatakan salah. Tapi ada satu hal lagi, yang kalian tidak bisa berdalih lagi! Hi, hi, hi, hi. ”

Gagak Cemani tertegun sejenak oleh jawaban tanpa rupa ini. Hatinya serasa berdebaran lebih keras, sebab selain ia masih harus menanggulangi suara dentingan yang belum putus itu, iapun menunggu alasan terak- hir dari si suara tanpa rupa. Maka Gagak Cemani se- gera berseru pula, “Nah, sekarang katakanlah hal itu, biar kami menjadi gamblang!”

“Hih, hi, hi, hi. Bagus! Ketika itu aku tengah berse- madi di daerah ini dan karena kedatangan kalian den- gan perkelahian yang tak bermutu itu, pekerjaanku menjadi rusak berantakan! Nah, karenanya tak ada la- gi alasan untuk mengelak dari tuduhanku ini! Kalian- lah yang bersalah dan bertanggung jawab atas kese- muanya!”

“Hemmm, bukankah tak sengaja kami mengganggu semedi Anda!?” seru Gagak Cemani. “Anda telah men- genal semadi, maka setidak-tidaknya Anda telah men- guasai perihal kebijaksanaan! Orang yang bijaksana seperti Anda pastilah bisa membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Mana perbuatan yang sengaja dan mana yang tidak sengaja!”

“Eeeh? Hemmm, hi, hi, hi, hi. Kau memang lincah bersilat lidah, bocah! Hal itu bisa kupahami, namun itu bukan berarti bahwa kalian bebas dari kesalahan yang tidak tersengaja, bukan!? Oleh sebab itu kalian akan kucoba, sampai di mana ketinggian ilmu yang ka- lian miliki. Bila lulus, kalian lolos dari tempat ini den- gan selamat. Tetapi bila tidak, kalian akan mendapat sedikit pelajaran dari Ki Gagang Aking atas kelancan- gan kalian mengganggu hutan ini!”

“Jadi Anda bergelar Ki Gagang Aking?” Gagak Ce- mani sedikit kaget. Nama tersebut memang belum jelas dikenalnya. Hanya saja ia pernah sekali mendengar tentang nama tersebut dari gurunya, Ki Bujanggiri be- berapa tahun yang lalu. Nama Gagang Aking pernah diceritakan oleh gurunya sebagai seorang tokoh pen- dekar yang suka berpindah-pindah tempat serta men- gembara menuruti gejolak hatinya. Gagak Cemani kembali memberanikan diri dan berseru kembali, “Jika demikian, mengapa Anda tidak menampakkan diri dan langsung berhadapan muka dengan muka!?”

“Bagus! Bersiap-siaplah untuk menghadapi keda- tanganku!” kembali terdengar teriakan lantang dan be- berapa saat kemudian, satu batang pohon randu alas tua yang telah kering, meletup keras disusul serpihan kayu berhamburan pecah ke segenap arah! Meskipun batang tua tersebut cukup jauh jaraknya, namun le- dakan tadi mampu menggoncangkan dada mereka.

Tak seorangpun terhindar dari rasa kagetnya. Ma- hesa Wulung, Gagak Cemani, Palumpang, Tungkoro serta segenap rombongan Doyotan sempat melihat ba- tang pohon yang pecah berserakan lalu disusul mun- culnya satu bayangan manusia tepat di tengah-tengah bekas pohon tersebut.

Yah, tepat di tempat itu terlihatlah seorang kakek tua bertubuh kurus kering dengan tertawa-tawa men- gikik, sementara kedua belah tangannya memukul- mukulkan dua buah lempengan logam hitam dan dari situlah sumber suara berdenting-denting tadi berasal.

“Hik, hi, hi, hi. Sekarang kalian telah melihat tam- pangku dan karenanya bersiap-siaplah menghadapi beberapa percobaan dari ilmuku! Nah, bersiaplah,” be- gitu ujar si kakek kurus Gagang Aking sambil mening- katkan kerasnya suara kedua batang logam yang se- nantiasa dipukulkan terus-menerus.

Akibatnya memang hebat! Suara berdenting-denting itu semakin keras menggetarkan udara dan menyerang setiap panca indera orang-orang yang bercokol di situ.

Doyotan dan Growong tetap berusaha menguasai keadaan tidak seperti Bungkil dan Delok yang kini te- lah bergulingan di tanah merintih-rintih serta mengge- liat-geliat tak ubahnya dua ekor ayam yang disembelih. Bagi Doyotan, peristiwa ini benar-benar terasa sebagai satu penderitaan yang berat. Baginya, lebih baik harus bertempur sampai mati daripada diserang dengan sua- ra yang aneh itu. Peluh dan air mata Doyotan mulai mengucur keluar, tak berbeda dengan rekannya, si Growong. Mereka berdua berusaha mati-matian meno- lak pengaruh suara yang ditimbulkan oleh Ki Gagang Aking dan keduanya tak berdaya untuk menolong Bungkil maupun Delok.

Ketika bunyi berdenting-denting itu kian menghe- bat, terlihatlah satu kejadian yang hampir sukar diper- caya oleh Doyotan maupun Growong. Tiba-tiba saja darah segar telah menetes dari hidung Bungkil dan De- lok yang masih menggelosor di tanah.

Sementara itu Ki Gagang Aking, si kakek tua yang bertubuh kurus dan berpakaian kulit, menjadi kian gembira ketika ia melihat bahwa kedelapan manusia yang berada di depannya telah terkena serangannya. Bahkan tak lama kemudian si kakek ini seperti kian menggila dengan pukulan-pukulan sepasang lempen- gan batang logam yang berada di tangannya.

Dengan lincahnya pula Ki Gagang Aking berlonca- tan di atas ujung-ujung daun rerumputan, persis see- kor capung yang lagi bermain-main dan ini merupakan satu pameran ilmu peringan tubuh yang tinggi tiada taranya.

“Ha, ha, ha. Aku sudah dapat menebak bahwa ka- lian tak sekuat yang aku duga. Paling-paling hanya ti- ga orang yang dapat bertahan lama menghadapi se- ranganku ini. Hi, hi, hi, hi.” Ki Gagang Aking berseru mengumbar suara membuat hati siapa yang menden- garnya berdebaran lebih keras. “Hi, hi, hi, sekarang ka- lian tengah berkenalan dengan jurus permulaan dari irama Pemecah Sukma. Hadapilah dengan segala ilmu yang kalian miliki. Jika tidak, boleh diharap bahwa da- rah segar akan mengalir ke luar dari urat darah dan panca indera kalian. Hi, hi, hi, lihatlah kepada kedua orang itu! Ia telah mulai tertembus oleh jurus perta- maku!”

“Irama Pemecah Sukma?!” desis Gagak Cemani se- raya mengerutkan kening. “Celaka! Aku harus me- nanggulangi ilmu tersebut, jika tidak menghendaki di- riku berempat akan binasa secara nista!”

Dan Mahesa Wulungpun sibuk berpikir pula meng- hadapi serangan Ki Gagang Aking yang kelewat berba- haya. Dalam jurus pertama saja, dua orang rekan Doyotan telah menderita sangat beratnya. Maka dapat- lah dibayangkan seandainya Ki Gagang Aking telah menggunakan jurus-jurusnya yang lebih lanjut. Ba- rangkali jantung mereka akan pecah disusul kematian yang mengerikan!

Satu hal yang membuat Mahesa Wulung lebih ce- mas adalah keadaan Tungkoro. Tamtama Demak ini telah mendeprok dengan tubuhnya bergemetaran, se- mentara peluh dan air mata bertetesan tanpa henti. Karenanya Mahesa Wulung lalu beringsut mendekati Tungkoro seraya berkata lembut setengah berbisik, “Adik Tungkoro, sebaiknya engkau kubuat tertidur dengan totokan jariku. Dengan begitu, untuk sementa- ra waktu adik akan terbebas dari serangan Irama Pe- mecah Sukma! Nah, bagaimana, adik Tungkoro? Anda setuju?” Tungkoro mengangguk pasti, ujarnya pula, “Ya! Aku tak keberatan, Kakang Wulung! Lakukanlah segera!”

Dengan persetujuan tadi, Mahesa Wulung segera menotok tengkuk Tungkoro tanpa sungkan ataupun ragu dan sesaat kemudian, Tungkoro rebah tertidur dengan pulas.

Gagak Cemani mengangguk setuju atas tindakan bi- jaksana dari sahabatnya itu. Kini ia lebih berusaha melawan pengaruh serangan Ki Gagang Aking dengan seksama. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gagak Ce- mani tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak. Mula- mula amat perlahan, tapi kemudian meningkat lebih keras dan bernada tinggi. Suaranya benar-benar me- nyerupai teriakan burung gagak. Gak, krak, kak, kak, kak... kak, kak, kak....

Sungguh menakjubkan pula ilmu ketawa Gagak Cemani ini. Udarapun kini mulai digetarkan oleh dua buah suara yang saling melibat kejar-mengejar dengan hebatnya. Peristiwa ini berjalan beberapa saat dengan mendebarkan setiap dada orang yang tinggal di situ.

Namun agaknya suara dentingan logam Ki Gagang Aking menjadi lebih meningkat dan setahap demi seta- hap mengatasi suara ketawa Gagak Cemani. Karuan saja si pendekar berkumis melintang ini merasa takjub pula.

Melihat kenyataan tadi, Mahesa Wulung tidak begi- tu saja tinggal diam. Ia masih ingat betul kalau mem- bawa sebatang seruling yang diselipkan bersama sa- rung pedangnya. Maka segera dicabutnya seruling itu, dan bertiuplah satu irama merdu mengalun di dalam udara, melenggok-lenggok bagaikan seekor naga yang lagi berenang.

Si kakek kurus Gagang Aking terpaksa menyeringai dan jidatnya berkerut saking kagetnya. Gerundalnya pula, “Eh, bocah-bocah ini ternyata berilmu pula. Hi, hi, hi, biarlah tak mengapa! Justru aku merasa lebih senang menjumpai tokoh-tokoh muda yang berilmu tinggi. Hi, hi, hi, keparat! Tapi sampai seberapa jauh mereka sanggup bertahan?”

Apa yang digerundalkan Ki Gagang Aking, ternyata tengah pula dipikirkan oleh Mahesa Wulung. Irama se- rulingnya kian mantap dan gigih membantu getaran ketawa Gagak Cemani untuk kemudian bersama-sama melawan getaran logam sepasang di tangan si kakek kurus kering. Seketika pula berlangsunglah adu suara dan getaran yang hebat. Beberapa daun tua yang ma- sih belum tanggal dari tangkainya segera bergetaran hebat lalu rontok ke bawah melayang-layang di udara.

“Gila! Mereka bersama-sama bertahan dari seran- ganku!” gumam Ki Gagang Aking dan kemudian ia ber- teriak keras, “Hai, kalian bekerja cukup baik... tapi se- lanjutnya terimalah seranganku ini. Haiittt!”

Berbareng kata-katanya, si kakek kurus kering te- lah meluncur dalam gerakan sebat. Kedua lempengan batang logam di tangannya menyambar hebat ke arah Mahesa Wulung, Gagak Cemani dan Palumpang.

Serangan tiba-tiba Gagang Aking merupakan satu serangan hebat yang tidak terduga, sehingga usaha te- rakhir bagi Mahesa Wulung bersama rekannya adalah membuang diri ke samping secepat itu pula sehingga sepintas lalu ketiga pendekar ini tampak bagaikan tiga ekor belalang yang mencutat sangat gesitnya....

Hal ini membuat Ki Gagang Aking menjadi lebih be- ringas, meski rasa kagum terselip pula di dalam ha- tinya. Si kakek tua inipun secepat kilat memutar tu- buh dan kembali ia melancarkan serangan-serangan kilat ke arah lawan-lawannya.

Wesssss... wesss... trang trangng! Mahesa Wulung menyambut serangan si kakek dengan tebasan serulingnya, sedang Gagak Cemani te- lah menangkiskan golok hitamnya sekuat mungkin. Sementara itu pula, Palumpang beraksi dengan senjata Akar Bahar Merah yang ampuh dan berbisa.

Ketika benturan senjata-senjata terjadi, maka Ma- hesa Wulung serta kedua rekannya masing-masing terdorong surut ke belakang sehingga mereka bertiga terpaksalah terbengong kagum, tidak ubahnya orang- orang yang melihat hantu.

“Bukan main!” desis Mahesa Wulung. “Dengan ben- turan kecil saja, tubuhnya hampir terlontar. Si kakek kurus ini ternyata bukan tokoh sembarangan.”

Dengan terjadinya pertempuran ini, berarti pula dentingan sepasang logam di tangan Ki Gagang Aking berhenti untuk beberapa saat. Rupanya, kakek kurus itu sengaja memberi kelonggaran kepada Mahesa Wu- lung dan ketiga rekannya, demikian pula kepada Doyo- tan bersama rekan-rekannya.

Bila Mahesa Wulung telah bersiaga kembali, Gagak Cemani dan Palumpang tidak ketinggalan mengambil ancang-ancang untuk menghadapi si kakek Gagang Aking.

“Hi, hi, hi. Kalian terkejut, bukan? Bersiaplah kem- bali sebaik mungkin, supaya kalian tidak terlalu lekas roboh. Hi, hi, hi!” kembali Ki Gagang Aking berseru dan sesaat kemudian ia telah bersiap melancarkan se- rangannya.

Tapi... Hyaat! Gagak Cemani terlebih dahulu mele- sat laksana seekor rajawali dengan golok hitamnya menyambar ke arah si kakek tua.

“Uhh!” Ki Gagang Aking terkejut dan tiba-tiba satu bayangan lain telah pula menerjang pula ke arahnya. Sekilas ia melihat sebuah seruling tergenggam di tan- gan si penyerang. Itulah Mahesa Wulung! Dan sesaat itu juga, bayangan ketiga melenting dengan kecepatan kilat dan sebuah senjata akar bahar mengancam tu- buh Ki Gagang Aking. Dan tidak lain adalah Palum- pang si Pendekar Lautan!

Demikianlah, Mahesa Wulung bersama Gagak Ce- mani dan Palumpang meluruk ke arah si kakek tua yang bersenjatakan dua buah lempengan logam di tan- gannya. Keruan saja si kakek tua ini tercengang kaget dan kagum sampai-sampai ia mendesis.

Benar-benar Ki Gagang Aking merasa terancam oleh bahaya yang datangnya dari ketiga penyerangnya seka- ligus. Ia sadar bahwa ketiga pendekar muda yang me- nyerang itu memiliki masing-masing kekuatan yang dahsyat, karenanya pula si kakek telah memper- siapkan diri sepenuhnya.

“Heeittt!” teriak menggeledek terlontar dari mulut kakek Gagang Aking bersamaan kedua belah tangan- nya berkelebat mengayunkan sepasang lempengan lo- gam hitam.

Daaarr... daarr... daaarrr! Letupan tiga kali berun- tun terdengar memenuhi udara manakala ketiga senja- ta pendekar muda telah berbenturan dengan senjata si kakek Gagang Aking. Bunga api dan asap tipis menge- pul di udara ketika benturan senjata itu berlangsung, membuat Mahesa Wulung bertiga tercengang dan saat itu pula mereka terlontar ke belakang bagaikan tiga daun kering.

“Hi, hi, hi, sekarang aku ingin mencoba kelompok yang lain!” ujar kakek Gagang Aking seraya melesat di atas rerumputan ke arah Doyotan beserta rekan- rekannya.

Saat itu, Doyotan dan Growong lagi menolong si Bungkil serta Delok yang masih kempis-kempis akibat serangan ilmu Pemecah Sukma kakek Gagang Aking. Mereka jadi kalang-kabut begitu melihat si kakek ku- rus itu melesat dan menyambar ke arah mereka.

Buru-buru Doyotan memutar sepasang tombak pendek, sementara Growong telah menggerakkan sabit berantainya ke arah si kakek. Sedang Bungkil dan De- lok masih terhuyung-huyung meskipun keduanya te- lah menggenggam senjata goloknya.

Wesst! Sring... sring... blaarrr! Begitulah si kakek tua gesit menyelinap di antara libatan senjata dan ke- tika ia menyampokkan kedua belah senjatanya, Doyo- tan dan ketiga rekannya terpental nyungsep ke tanah diiringi jerit kesakitan. Tampaklah bahwa Bungkil dan Delok menggerung-gerung melontarkan darah segar dari mulut. Jelaslah bahwa mereka berdua telah ter- landa benturan yang menimbulkan luka dalam cukup parah.

Beruntung bagi Growong dan Doyotan. Mereka cu- ma terpental saja meski dada mereka serasa terbakar panas oleh bara api. Dengan susah-payah merekapun bersiaga kembali, sebab mereka yakin bahwa si kakek kurus itu bakal menyerang kembali.

Sementara itu, Mahesa Wulung telah membebaskan kembali Tungkoro dari totokan penidur, sehingga tam- tama ini terbangun dengan segar-bugarnya.

“Bersiaplah adik Tungkoro!” ujar Mahesa Wulung, kepada rekannya. “Kakek Gagang Aking itu memang luar biasa. Lihatlah, ia tengah menghajar rombongan Doyotan!”

Tungkoro terbeliak begitu menyaksikan bahwa ka- kek kurus kering itu tengah bertempur sengit melawan Doyotan dan ketiga rekannya. Ia bergerak bagaikan bayangan cepatnya, melenting di antara hujan senjata tanpa mendapat cedera apapun. Doyotan berempat menjadi semakin jerih pula.

“Siapakah orang itu sebenarnya?” gumam Mahesa Wulung kagum. Tak henti-hentinya ia mengawasi ge- rakan si kakek.

“Dia adalah seorang pendekar pengelana!” sahut Gagak Cemani. “Hal itu pernah diceritakan oleh guru- ku. Kata beliau, si kakek Gagang Aking itu suka mun- cul dan pergi tanpa juntrung! Ilmunya memang seting- kat dengan ilmu guruku.”

“Kemunculannya di tempat ini pasti mempunyai maksud-maksud tertentu, Kakang Cemani,” sambung Mahesa Wulung dengan penuh perhatian. “Ilmunya luar biasa!”

“Kita harus melawannya dengan bersungguh- sungguh, Adik Wulung. Sebab iapun menyerang kita tanpa tanggung-tanggung. Beruntunglah bahwa kita tidak muntah darah akibat benturan senjatanya!”

“Benar, Kakang. Ia ternyata sanggup menghadapi delapan lawan sekaligus! Kita berempat di sebelah sini dan Doyotan berempat di sebelah sana!” ujar Mahesa Wulung.

“Kita seperti barang-barang mainan bagi kakek Ga- gang Aking itu!” sahut Palumpang pula. “Awas, ia telah melirik ke arah kita!”

Peringatan Palumpang tadi ternyata tidak kosong, sebab meskipun jarak antara rombongan Doyotan dan Mahesa Wulung berempat cukup jauh, Palumpang da- pat mengawasinya dengan baik.

Dan sesungguhnya si kakek Gagang Aking sung- guh-sungguh melesat ke arah Mahesa Wulung berem- pat dalam kecepatan yang sukar diukur.

“Hi, hi, hi, kalian berempat telah lama menanti? Maafkan bocah-bocah. Nih, sekarang aku telah datang kembali ke sebelah ini! Terimalah seranganku. Hyaattt!” Si kakek Gagang Aking menggebrak dengan gesitnya ke arah empat pendekar muda. Gerakannya benar-benar mengerikan hati bagi setiap lawan yang berada di hadapannya.

Apapun gerakan si kakek Gagang Aking, Mahesa Wulung tidak tinggal diam. Dengan mengandalkan il- mu peringan tubuh, ia mencecar ke arah si kakek se- mentara seruling di tangannya bersuit-suit menjadi sa- saran.

Kakek tua itu terkejut oleh serangan Mahesa Wu- lung, lalu ia mencutat ke atas menghindar. Tak ta- hunya, Gagak Cemani telah mencegat dengan tebasan golok hitamnya yang menerkam dari atas!

“Haitt!” si kakek Gagang Aking membuang diri ke samping dan tanpa terduga ia menyampokkan kedua lempengan tembaga di tangannya ke samping, disusul dan benturan keras terjadi dan begitulah, senjata Ma- hesa Wulung dan Gagak Cemani masing-masing mem- bentur senjata si kakek Gagang Aking.

Dengan terbeliak, Mahesa Wulung mencutat ke atas ketika terasa bahwa pedangnya bagaikan membentur sebongkah batu karang sehingga tergoncang hampir terlepas. Gagak Cemani ikut keheranan oleh ketang- guhan ilmu si kakek kurus yang tidak dinyananya memiliki tenaga dalam sehebat itu. Akan tetapi, keka- getan terjadi pula pada Ki Gagang Aking. Ketika ber- benturan tadi terasalah hawa panas menyentuh ke di- rinya lewat senjata Mahesa Wulung dan Gagak Cema- ni.

“Luar biasa!” menggumam si kakek tua seraya ber- jumpalitan di atas udara. “Mereka masih muda-muda tapi tenaga dan ilmunya telah hebat. Hemm, aku harus hati-hati menghadapinya ”

Manakala Palumpang dan Tungkoro menerjang kembali ke arah si kakek, pertempuranpun menjadi bertambah seru. Sebentar saja, kelima manusia itu te- lah bergerak kelewat cepat, sampai-sampai sukar di- ikuti oleh pandangan mata si Doyotan bersama ketiga rekannya.

“Cepatlah, kita menyingkir dari tempat ini ” desah

Doyotan seraya mengatur napasnya yang sesak. “Jika sekali lagi kita terbentur oleh tenaga pukulan kakek bangkotan itu, pastilah kita akan muntah darah. Tam- bahan lagi kita harus cepat-cepat menyelamatkan so- bat Bungkil dan Delok. Mereka telah terluka dalam cu- kup parahnya.”

Growong mengangguk lemah. Kiranya pendapat Doyotan itu cukup baik, sebab tubuhnya sendiri seka- rang ini seperti kehilangan daya dan kiranya untuk memutar senjata sabit berantai, ia tak akan sehebat dan setangguh saat-saat yang lalu. Hal ini sama ar- tinya tidak perlu melanjutkan pertempuran melawan si kakek Gagang Aking maupun rombongan Mahesa Wu- lung.

“Bagaimana sobat Bungkil dan Delok? Apakah ka- lian masih sanggup untuk berjalan?” bertanyalah si Growong kepada kedua sahabatnya yang masih saja mendeprok di tanah seraya menyapu bekas-bekas da- rah di sudut mulutnya.

“Hehh..., masih sanggup... asal kami dipapah ”

jawab Bungkil sangat lemahnya. Sekali lagi ia me- layangkan pandangannya ke arah lingkaran pertempu- ran di sebelah timur, dan mulutnya menggumam, “Ka- kek tua itu mungkin bukan manusia. Dikeroyok oleh empat orang lawan sehebat itu, toh ia masih enak- enak tanpa khawatir sedikitpun ”

“Tapi bukankah ia setengah membantu kita?” Delok ikut berkata. “Husss, bukan begitu, Sobat. Ia tengah terlibat den- gan rombongan Mahesa Wulung dari Demak, dan be- berapa saat yang lalu ia telah mengobrak-abrik kita. Jadi terangnya ia tidak memihak siapa-siapa. Kare- nanya kita harus secepat mungkin meninggalkan tem- pat ini, sebelum si kakek itu melabrak kita buat kedua kalinya!” begitu Doyotan berkata seraya membantu si Bungkil berdiri dengan susahnya.

“Kalau demikian, akupun ingin cepat-cepat mening- galkan tempat terkutuk ini!” sambung Growong seren- tak pula memapah Delok pada bahunya.

“Yah. Biarkan Mahesa Wulung dan rombongannya terbinasa oleh si kakek bangkotan. Kalau kita gagal membunuhnya, toh akhirnya orang tua itulah yang menggantikan tugas kita....” ujar Doyotan serta mulai bergerak ke utara sambil memapah Bungkil, sedang Growong dan Delok mengikutinya dengan berjalan ter- seok-seok.

Mereka menerobos rerumputan, semak ilalang den- gan sangat hati-hatinya agar tidak sampai diketahui oleh si kakek Gagang Aking maupun Mahesa Wulung serta rekan-rekannya. Dan sebentar saja, keempat pengikut Tangan Iblis itu telah meninggalkan tempat tersebut secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi tak ubahnya musang-musang yang ngacir ketakutan melihat harimau.

Dengan demikian maka yang tertinggal di tempat itu adalah rombongan Mahesa Wulung beserta si kakek Gagang Aking. Mereka terus bertempur dengan gigih- nya, tanpa mengukur bahwa puluhan jurus telah me- reka lewati.

Bagi Mahesa Wulung berempat, pertempuran kali ini jauh lebih dahsyat dan sengitnya dibanding saat- saat ketika mereka melawan rombongan Doyotan. Beruntung bagi Mahesa Wulung dan rekan- rekannya. Walaupun pertempuran-pertempuran yang mereka lakukan ini banyak menghabiskan tenaga, namun mereka adalah terbilang pendekar-pendekar gemblengan dan soal kelelahan belum begitu sangat mengganggu terhadap gerakan-gerakan mereka.

Bahkan makin hebat gerakan yang dilakukan, tena- ga mereka seperti kian menjadi berlipat-lipat. Apalagi mereka berempat selalu bertempur dengan jurus-jurus yang berpasangan, saling mengisi dan saling meleng- kapi.

Hanya saja satu keheranan yang hampir berbareng muncul di tengah-tengah mereka adalah tentang si ka- kek bangkotan Gagang Aking. Si tua ini selalu saja ge- sit meloloskan diri dari sentuhan-sentuhan senjata keempat lawan yang selalu mengancamnya sehingga tidak berlebih-lebihan bila gerakannya boleh dimi- ripkan dengan gerakan seekor burung seriti. Malahan Doyotan sejak semula telah menganggap bahwa kakek tua tersebut bukanlah sebangsa manusia lumrah, tapi adalah penjelmaan setan atau jadi-jadian.

Yang lebih menjengkelkan Mahesa Wulung berem- pat adalah sikap si kakek tua ini. Sambil bertempur begitu, ia selingi dengan ketawa-tawa yang mengikik bernada mengejek kepada keempat lawannya.

Selama ini hampir kedua senjata lempengan logam di tangan si kakek belum juga mampu menyentuh tu- buh lawan-lawannya, merupakan satu hal yang penuh pertanyaan dan teka-teki. Mahesa Wulung sendiri menduga bahwa si kakek itu belumlah sungguh- sungguh menumpahkan tenaganya, sehingga satu pe- rasaan cemas muncul dalam relung hatinya.

“Celakalah bila ini merupakan siasat si kakek Ga- gang Aking. Mungkin ia belum benar-benar turun tan- gan dengan senjata, karena ia lagi meneliti semua ju- rus-jurus yang ada pada kami. Dan jika ia telah men- getahui segala kelemahan-kelemahan yang ada pada kami... barulah ia melancarkan serangan mautnya!” demikian pikir Mahesa Wulung diam-diam. “Jadi aku tidak boleh berlengah-lengah menganggap enteng ke- pada si kakek ini! Akan kugunakan lagi pedangku ini!”

Mahesa Wulung dengan cekatan mengoper memin- dahkan serulingnya ke tangan kiri dan tangan kanan- nya melolos pedang di pinggang kiri.

Triingng! Wesst... wesst... wesst....

Begitulah maka Mahesa Wulung telah memindah- kan dua buah senjatanya. Seruling di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Kedua senjata tadi serentak menebas, menyambar bergulung-gulung ke arah si ka- kek Gagang Aking yang seketika menjadi terkejut.

“Hei, bocah! Kau bertambah nekad?!” seru si Ga- gang Aking seraya menggerakkan senjatanya, sepasang lempengan logam.

“Bukan urusanmu kakek! Bukankah Anda betul- betul ingin mencoba kepandaian kami? Nah, berma- cam-macam ilmu yang belum sempat kami keluarkan. Semoga Anda cukup sabar menantinya!” sahut Mahesa Wulung.

“Baah! Anak muda sekarang, rata-rata pandai ber- bicara! Keluarkanlah semua ilmumu, anak muda. Hal itu sudah kukatakan sejak awal tadi, bukan? Ayo, tunggu apa lagi, hah? Apa kau ingin lebih dulu kuro- bohkan?”

“Bagus! Sejak detik ini aku akan menuruti keingi- nanmu, kakek! Dan maafkan jika Anda akan kerepotan nanti!” sahut Mahesa Wulung seraya mengetrapkan ju- rus-jurus Madya dari ilmu pedangnya Sigar Maruta.

“Hi, hi, hi. Ayo jangan sungkan-sungkan, anak mu- da! Ehh, siapa namamu haa?”

“Mahesa Wulung! Hyaaatt!” sambil berseru hebat Mahesa Wulungpun mulai menyerang dengan jurus yang terbaru. Sementara itupun Gagak Cemani, Pa- lumpang dan Tungkoro memperhebat tekanan seran- gannya kepada si kakek Gagang Aking. Dipandang se- pintas lalu, memang kurang pantas serta tak berperi- kemanusiaan bila empat orang pendekar muda beril- mu tinggi telah mengeroyok seorang kakek tua. Namun dalam dunia persilatan hal ini tidak mustahil terjadi bahwa seseorang yang makin tua, makin pula bertam- bah tinggi ilmunya sampai-sampai ia ditakuti oleh go- longan muda.

***

BAGIAN III

KAKEK TUA berpakaian kulit ini terkesiap beberapa saat ketika Mahesa Wulung mulai menyerang dengan jurus-jurus barunya. Ia merasakan sambaran- sambaran angin tajam yang terpancar dari pedang si pendekar muda itu, karenanya cepat-cepatlah ia menghindar dari jangkauan pedang yang selalu meli- bat ke arahnya.

Ketika Ki Gagang Aking lolos dari pedang Mahesa Wulung, mendadak saja golok hitam Gagak Cemani te- lah menyambutnya dengan satu tebasan mendatar, sementara Palumpang telah menyampokkan akar ba- harnya ke arah kepala si kakek.

“Uhh,” desah Ki Gagang Aking seraya cepat-cepat menyabetkan sepasang senjatanya menyambut dua se- rangan beruntun tadi, sehingga tanpa terhindar lagi, terjadilah dua benturan seru berbareng dengan letu- pan asap panas. Dar... daarrr....

Di saat itu, Gagak Cemani maupun Palumpang ter- dorong surut dengan satu perasaan kagum yang tak habis-habisnya, sebab senjata-senjata mereka tadi seo- lah-olah menembus air dan tenaganya lenyap begitu saja tanpa bekas.

Adapun Mahesa Wulung tidak tinggal diam melihat si kakek telah melesat kembali ke udara. Sesudah ben- turan tadi Ki Gagang Aking menggunakan ilmu perin- gan tubuh dan mental ke atas bagai belalang sentanu. Maka cepat-cepat Mahesa Wulung mengejarnya dalam satu loncatan gesit.

Wusss! Kembali pedang Mahesa Wulung menyabet ke arah si kakek dalam jurus-jurus Madya Sigar Maru- ta yang kedua puluh tujuh dan dua puluh delapan di- ikuti oleh pukulan seruling dari tangan kirinya ke arah ulu hati lawan.

“Celaka!” desis kakek Gagang Aking. “Aku harus le- bih berhati-hati sekarang. Pemuda ini mempunyai simpanan-simpanan ilmu yang hebat. Hiaatt!” Sambil mengeluarkan teriakan tinggi, ia mengibaskan sepa- sang lempengan baja di tangan ke arah kiri dan kanan.

Claangng prashh!

Benturan hebat terjadi lagi.

Pedang di tangan kanan Mahesa Wulung bergetaran sedang seruling di tangan kirinya seketika pecah ber- keping, seiring terlepasnya lempeng logam dari tangan kiri si kakek Gagang Aking menandakan bahwa tenaga mereka hampir seimbang.

“Heett, kau tak selemah yang aku duga bocah!” seru si kakek seraya mencelat dan menyambar senjatanya kembali. Gerakan ini sungguh mengagumkan bagi keempat lawan di sekitarnya. Malahan tiba-tiba saja si kakek tahu-tahu telah meniup kembali ke arah Mahe- sa Wulung.

“Kalau begitu aku tak perlu ragu-ragu lagi bocah!” seru si kakek serentak menebaskan kedua senjatanya berbareng. Bagi Mahesa Wulung serangan ini mem- buatnya kaget, karena di samping ia masih memikir- kan senjata serulingnya yang pecah, serangan itu sen- diri datang kelewat cepat tak ubahnya satu tiupan an- gin santer yang tahu-tahu telah menampar mukanya.

Secepat kilat Mahesa Wulung menggunakan jurus Madya kedua puluh sembilan dan tiga puluh berun- tun. Pedang di tangannya berguling ke kiri dan kanan laksana angin lesus membuat si kakek tercengang se- saat, tapi lebih kaget lagi sewaktu ujung pedang Mahe- sa Wulung muncul begitu saja di arah lehernya.

“Husss!” lenguh si kakek seraya menggerakkan dua lempeng logamnya ke arah dalam dengan gerakan mengunci, sehingga dapat dibayangkan bila pedang Mahesa Wulung bakal terjepit mati. Namun si kakek sakti ini tak habis mengerti karena tiba-tiba saja pe- dang Mahesa Wulung lenyap seperti gulungan asap, bahkan terasa pula bahwa beberapa lembar jenggotnya yang kelabu terpagas putus serta melayang runtuh di udara.

“Asem kecut. Bocah ugal-ugalan! Jenggot dirawat bertahun-tahun, tak tahunya untuk permainan pedang saja. Awas kau, jangan lekas-lekas menepuk dada, bo- cah,” teriak si kakek Gagang Aking sambil bersungut- sungut mangkel.

Peringatan si kakek tadi disadari pula oleh Mahesa Wulung, karenanya iapun cepat menggunakan jurus berikutnya, tiga puluh satu, tiga puluh dua, tiga tiga dan berikutnya. Serentetan sambaran-sambaran angin pedang terdengar mengaung sampai mengagetkan, baik si kakek Gagang Aking maupun ketiga rekan Ma- hesa Wulung.

“Haahh?! Kau menggunakan jurus-jurus Sigar Ma- ruta?!” seru si kakek seraya berjumpalitan mundur.

“Ooo, jadi Andapun tahu, kakek!? Dari mana Anda mengetahui hal itu?!” ujar Mahesa Wulung setengah heran.

“Hihh, hi, hi. Aku tak bisa mengatakan hal itu seka- rang, bocah. Baiklah jika kau memiliki ilmu itu, aku- pun tak ragu-ragu lagi untuk memperkenalkan ilmu ‘Latu Sewu’... nah inilah dia! Sambutlah!” begitu si ka- kek berkata, disusul kedua lempengan logam hitam di tangannya diadu dan terjadilah satu ledakan nyaring berbareng menyambarnya kilatan-kilatan bunga api ke arah Mahesa Wulung.

Duaarr!

“Wuaahh! Ini berbahaya...!” desis Mahesa Wulung seraya berkelit ke samping untuk menghindari samba- ran bunga-bunga api tadi. Beruntung bahwa ia berha- sil, tetapi Mahesa Wulung terpaksa kaget sewaktu ia melihat bunga-bunga api tadi menabrak semak-semak belukar, yang seketika mengering dan menghan- guskan! Melihat ini mau tak mau hati Mahesa Wulung menjadi bergidik ngeri melihat nasib semak belukar itu.

Dapat dibayangkan seandainya bunga-bunga api tadi sempat mengenai tubuh manusia. Barangkali akan hangus pula, tak ubah daging satai bakar. Hal ini selintas mengingatkan Mahesa Wulung akan musuh besarnya. Ki Topeng Reges yang kini telah mati. Seperti diketahui bahwa Ki Topeng Reges pun mampu membi- nasakan lawan, cukup dengan kilatan sinar matanya yang memancarkan api maut.

Kini Mahesa Wulung menjumpai pula seorang la- wan yang memiliki ilmu dahsyat, yang membunuh la- wannya cukup dengan percikan bunga api dari bentu- ran senjatanya. Nama “Latu Sewu” bukanlah nama ko- song untuk sekedar gagah-gagahan, ataupun gertakan, tapi adalah nama yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Hal ini pernah didengarnya dari mendiang Ki Camar Seta. Kata beliau, ilmu tersebut muncul kira- kira tigapuluhan tahun yang lalu, jadi boleh disimpul- kan bahwa si kakek Gagang Aking ini hampir seangka- tan dengan bapak gurunya. Panembahan Tanah Putih atau Panembahan Bayu Sekti dari selatan Asemarang.

Yang lebih menarik hati Mahesa Wulung adalah pengetahuan si kakek Gagang Aking yang dapat men- genal jurus ilmu pedangnya, Sigar Maruta. Bukankah cukup mengherankan pula dan karenanya Mahesa Wulung kembali menduga-duga tentang hubungan ka- kek Gagang Aking dengan mendiang Ki Camar Seta?

Sayang bahwa Mahesa Wulung tak sempat berpikir lebih lanjut karena ia harus menghadapi si kakek tua ini dengan sungguh-sungguh.

Dalam saat itu pula, Gagak Cemani, Palumpang dan Tungkoro tak mau tinggal diam, begitu mereka melihat bahwa serangan-serangan bunga api si kakek terus- menerus mengancam keselamatan rekannya.

Bagi mereka, Mahesa Wulung telah mereka anggap sebagai saudaranya sendiri, hingga tak berlebihan ka- lau mereka disebut pendekar empat serangkai yang se- lalu berjuang dan bertindak bahu-membahu, seia se- kata dan sehidup semati.

Ketiga pendekar itu serentak melesat dan menerjang si kakek Gagang Aking. Senjata-senjata mereka bersi- utan menerjang dengan hebatnya, masing-masing da- lam jurus yang berbeda-beda namun saling melengka- pi. Tentu saja empat serangkai yang terhimpun itu tak bisa dianggap enteng oleh si kakek. Lebih-lebih ia me- nyadari bahwa Mahesa Wulung dan Gagak Cemani, si pendekar berselimut itu memiliki himpunan tenaga sakti dalam tataran tinggi.

Tanpa banyak membuang waktu, Ki Gagang Aking mengerahkan pemusatan tenaga saktinya lalu tubuh- nya melesat berjumpalitan ke sana kemari dari hujan sambaran senjata keempat lawannya, tak ubahnya seekor burung walet yang lolos dari terkaman air hu- jan.

Mereka lalu terlibat dalam satu pusaran yang seru, hingga angin dan dedaunan semak di situ dibuat ka- lang-kabut beterbangan, menambah suasana kesera- man dari pertempuran itu. Beberapa ekor burung dan binatang-binatang liar di sekitar tempat itu segera ber- larian menjauh dari lingkaran pertempuran tersebut, sebab selain terganggu oleh keramaian tadi, mereka- pun ketakutan oleh sambaran-sambaran bunga api dari si kakek Gagang Aking ditambah ledakan-ledakan nyaring.

Memang, si kakek ini berkali-kali melontarkan per- cikan bunga apinya ke arah empat pendekar lawannya, namun keempat lawannya tadi tidak kurang waspa- danya menjaga diri. Dengan mengandalkan kelinca- hannya, mereka menyerang berganti-ganti dari arah yang berlainan dan ini sungguh membuat repot bagi si kakek Gagang Aking.

Karenanya si kakek bergerundelan di dalam hati menaksirkan keempat lawannya. “Luar biasa! Belum pernah ada seorang lawan yang sanggup menghadapi- ku lebih dari duapuluh jurus. Itupun untuk ukuran orang-orang yang berilmu. Tak tahunya keempat orang muda ini masih sanggup bertahan lebih dari empat pu- luh jurusku!”

Dalam perkara tenaga sakti, lebih jelas bahwa si kakek Gagang Aking memang lebih tinggi dibanding dengan keempat lawannya yang masih muda. Tetapi dari perhitungan kelincahan dan ketahanan napas, agaknya merupakan satu segi yang patut diperhatikan oleh si kakek Gagang Aking.

Meskipun seandainya kakek ini sanggup bertempur sampai ratusan jurus jumlahnya, namun napasnya mungkin akan berebutan tak teratur sedang kelinca- hannya tidak lebih baik dari seekor kambing.

“Jika aku tingkatkan jurus-jurus seranganku, rasa- rasanya aku sanggup membuat roboh keempat lawan- ku yang masih muda-muda ini. Akan tetapi aku tak menghendaki hal itu, justru aku malah tertarik kepada mereka berempat, terutama kepada si pendekar muda Mahesa Wulung yang telah menggunakan jurus-jurus ilmu pedang ‘Sigar Maruta’. Satu saat, ingin sekali aku mengajak ngomong-ngomong lebih lanjut tentang di- rinya dan juga tentang ilmu pedang Sigar Maruta,” be- gitu kata si kakek di dalam hati. “Dan ini berarti bah- wa aku tak boleh mencederai mereka dalam pertempu- ran ini. Hmm, harus kucari jalan yang paling tepat! Tambahan lagi aku musti menjaga napas tuaku.”

Mahesa Wulung bersama ketiga rekannya tak mem- beri kesempatan sedikitpun kepada Ki Gagang Aking untuk sejenak menarik napas ataupun beristirahat. Mereka meluruk dan menerjang si kakek bagaikan ha- rimau-harimau kelaparan mencercah korbannya.

Tiba-tiba saja si kakek meloncat ke belakang dan kedua belah tangannya yang menggenggam lempengan logam segera diadunya seperti dahulu dan seketika terdengarlah suara-suara dentingan bertubi-tubi menggoncang udara. Kali ini lebih keras daripada yang sudah-sudah, sampai-sampai suara tersebut seperti langsung menusuk jantung keempat pendekar muda serangkai itu.

Keruan saja gerakan Mahesa Wulung berempat se- perti dihentikan di tengah jalan oleh satu tenaga gaib yang sebenarnya berasal dari sentuhan nada dentin- gan si kakek Gagang Aking.

Mereka berempat cepat-cepat mengerahkan tenaga saktinya untuk menolak pengaruh suara tadi.

Melihat hal ini, si kakek Gagang Aking tertawa ter- bahak dan terkekeh-kekeh sebab ia merasakan betapa lucunya pemandangan yang terjadi di depan matanya. Keempat lawan yang semula berloncatan garang ke arah dirinya, tiba-tiba saja terhenti dan berdiam diri tak ubahnya patung-patung bisu. Mereka ini sebenar- nya tengah berkutat mengerahkan tenaga saktinya, sedang si kakek terus saja mengadu dan memukul- mukulkan kedua senjatanya seraya berjingkrakan ber- keliling tak ubahnya seorang anak yang mengelilingi empat boneka mainannya. Ting... ting... ting... tingng... “Hi, hi, hi..., kalian tampak lucu... lucu sekali... hi, hi, hi, hi.”

Begitulah si kakek menggoda keempat lawannya yang kini tengah mengerahkan tenaga penolak. Di da- lam hati, Mahesa Wulung merasa jengkel, tapi juga ka- gum. Jengkel karena ia bersama rekan-rekannya kena dibuat mainan oleh si kakek Gagang Aking, dan kagum lantaran si kakek itu banyak mempunyai siasat untuk mematahkan serangan dari lawan-lawannya.

Tapi ada satu hal yang dapat dirasakan oleh Mahe- sa Wulung bahwa pada saat ini, ia bersama ketiga re- kannya merasa seolah-olah tengah diuji oleh si kakek Gagang Aking. Sekarang ia tak dapat lagi menghadapi serangan si kakek dengan serulingnya karena telah pe- cah berkeping beberapa saat yang lalu lantaran beradu dengan senjata si kakek itu, selain dengan pengerahan tenaga penolak.

Kakek Gagang Aking agaknya telah merasa puas dengan permainan tadi, lalu secepat kilat ia memutar kedua tangannya seperti gerakan baling-baling bebe- rapa kali dibarengi satu teriakan menggeledek, “Hiaattt... robohlah kalian! Hi, hi, hi, hi, hi!”

Mahesa Wulung berusaha mati-matian memperta- hankan diri, begitu pula ketiga sahabatnya. Di luar dugaan, himpunan tenaga sakti si kakek tadi sangat hebatnya dan itu dapat dirasakan oleh mereka berem- pat ketika satu tenaga dorongan yang sedahsyat pra- hara telah menerjang mereka.

Betapapun keempat pendekar tadi telah mengerah- kan segenap tenaga dan kemampuannya, tak urung pula terlanggarlah oleh serangan tadi. Tungkoro ter- pental dan jatuh bergulingan di tanah hampir sejauh lima atau enam tombak.

Tak jauh dari Tungkoro, Palumpang terhuyung- huyung surut ke belakang. Sebentar ia berusaha me- nahan diri, tapi akhirnya ia terguncang oleh satu tena- ga dorongan yang tak terlihat itu, kemudian jatuh menggeloso di tanah.

Sedangkan Mahesa Wulung serta Gagak Cemani masih tetap tegak di tempatnya meski tubuh mereka tergoyang-goyang bagaikan dua pucuk pohon cemara yang perkasa.

Itu semua membuat si kakek Gagang Aking terpak- sa kagum, sebab baru kali inilah ia menjumpai pende- kar-pendekar muda yang begitu tangguh dan ulet. Ra- sa iri tapi bercampur bangga dan takjub menyelinapi dada si kakek yang kemudian mengangguk-angguk se- nang. Ia tidak tahu bahwa Mahesa Wulung telah men- getrapkan jurus “Tugu Wasesa” yang membuat tubuh- nya tetap tegak berdiri dengan teguhnya, laksana tugu baja dan kedua kakinya seolah telah terpancang da- lam-dalam ke dasar tanah.

Begitu pula Gagak Cemani dikagumi oleh si kakek Gagang Aking. Ia melihat si pendekar berkumis melin- tang tadi tak ubahnya seekor burung gagak yang lagi hinggap di atas tanah. Jubah di punggungnya berkiba- ran ke belakang sebagai pertanda bahwa guncangan tenaga dalam si kakek yang tengah melandanya, ada- lah benar-benar hebat dan menggetarkan setiap hati.

“Hmm, benar-benar keempat orang pendekar muda ini cukup tangguh dan yang dua orang ini lebih hebat! Keduanya sanggup menghadapi bagian awal dari ilmu ‘Teleng Lesus’-ku*. Bagus, bagus,” ujar Ki Gagang Ak- ing dalam hati. “Tapi sekarang akan kutingkatkan le- bih hebat!” (* Inti topan, pusat badai)

Habis rerasan begitu, si kakek kontan menggerak- kan tangannya lebih hebat. Gerakan tangannya rada- rada kaku dan bahkan diiringi suara berkeretekan se- perti tulang-tulang beradu. Sungguh tak dapat diduga, kekuatan apakah yang tengah disiapkan oleh si kakek Gagang Aking ini?

Seperti Mahesa Wulung sendiri, ia lebih berwaspada melihat gerak-gerik si kakek aneh yang pasti jauh lebih hebat dari yang sudah-sudah. Maka tanpa membuang waktu iapun bersiaga melipatkan himpunan tenaga dalamnya dan beberapa saat kemudian terlihatlah be- tapa tubuh Mahesa Wulung bergetar, lalu kedua belah kakinya perlahan-lahan melesak mengeram lebih da- lam ke tanah seolah-olah mencari pegangan agar tu- buhnya semakin kokoh tanpa tergoyahkan oleh geta- ran apapun. Hal inipun diikuti oleh Gagak Cemani, si pendekar berkumis melintang itu. “Hyaattt! Kabur!” bentak Ki Gagang Aking serentak mengibaskan kedua tangannya ke depan diikuti gera- kan mengempos tenaga sakti ke arah Mahesa Wulung dan Gagak Cemani.

Saat itu pula, bagaikan datangnya satu prahara yang berlipat-lipat, tubuh kedua pendekar tadi dihem- pas oleh satu dorongan tenaga sakti serta angin yang tak terukur kekuatannya.

Di tempat lain, Tungkoro dan Palumpang turut me- rasakan tiupan santer yang melanda dari kibasan ke- dua belah tangan kakek Gagang Aking. Mereka seren- tak bertiarap ke atas tanah dengan serendah- rendahnya seperti angin melekat erat. Sementara itu satu ketakjuban timbul pula di dalam hati mereka ma- nakala tiupan angin dahsyat tadi cuma melanda ke arah mereka berempat. Di tempat-tempat lain, seperti di kiri kanan dan di belakang si kakek, tak satupun angin yang bertiup sesanter itu. Pohon-pohon di sana masih tetap tegak di tempatnya dan hanya dedaunan saja yang bergoyang-goyang lembut. Berbeda dengan arah di depan si kakek. Pohon-pohon berguncangan serta dedaunan pada terombang-ambing bersuara ber- derak-derak menyeramkan. Bahkan semak-belukar di sana telah sebagian terjebol dari dalam tanah sampai ke akar-akarnya.

Hal ini tampaknya seperti tak mungkin bisa terjadi hanya disebabkan oleh tenaga manusia saja. Namun di jaman itu memang tak tersangkal bahwa manusia da- pat melakukan hal yang aneh. Mereka masih belum banyak memikir ataupun menghayal keduniawian yang bersifat lahiriah. Mereka banyak mendalami ten- tang segi batiniah, tentang Maha Pencipta Alam, yakni Tuhan Yang Esa.

Kembali Mahesa Wulung berpikir keras ketika dira- sanya bahwa serangan si kakek Gagang Aking makin bertambah hebat. “Akan celaka kami berempat jika te- rus-terusan diserang secara begini! Sungguh hebat il- mu si kakek! Dan aneh! Aku mendapat kesan bahwa si kakek tidak benar-benar bermaksud jahat kepadaku dan juga kepada sahabat-sahabatku. Tapi, apakah aku diam membisu saja bila ia menyerang sehebat ini? Baiklah, aku akan menyambut serangan angin ini dengan pukulanku ‘Angin Bisu’. Biarlah akan dia ke- tahui, betapa akibatnya benturan angin dengan angin!” Selagi Mahesa Wulung berpikir-pikir mendadak Ki Gagang Aking tertawa mengejek, “Hi, hi, hi. Tinggal dua saja yang masih berdiri tegak di atas bumi. Yang dua telah melesot-lesot di tanah seperti cacing! Hi, hi, hi. Lucu. Empat pendekar serangkai yang kurang baik kerja samanya. Mengapa yang dua orang berusaha un- tuk tetap berdiri tegak, selagi yang dua orang telah menderita cukup pahit? Hi, hi, hi, hi. Yang dua ini ru- pa-rupanya telah kehabisan tenaga... atau kehabisan ilmu, barangkali? Apakah salah seorang tak mampu melawan ‘Teleng Lesus’-ku ini, he? Hi, hi, hi, hi, jika begitu, jangan salahkan kakek tua seperti aku ini, ka- lau mereka berempat akan terhembus ke luar dari

bumi! Hi, hi, hi.”

Heranlah Mahesa Wulung. Kakek tua ini seperti mengejek tapi setengah memperingatkan. “Hah, ia be- rusaha memperingatkan! Ia seperti dapat menebak maksudku. Baik, aku akan segera membantunya den- gan ‘Pukulan Angin Bisu’. Tak ada jalan lain lagi. Teta- pi apa maksudnya dengan peringatan itu?” begitulah, Mahesa Wulung diam-diam bersiaga mengerahkan himpunan tenaga saktinya.

Wajah pendekar muda ini menjadi tegang kemera- han dengan peluh yang bersembulan dari lubang- lubang kulitnya. Pandangan matanya lurus-lurus ke depan ke arah si kakek Gagang Aking seperti hendak menelan lawannya ini bulat-bulat.

Tiba-tiba tangan kirinya itu mendorong ke depan dibarengi satu teriakan menggeledek. “Haaaitt!” Wusss! Begitulah pukulan Angin Bisu yang terkenal dahsyat itu menerjang ke depan menerobos tenaga dorongan dari ilmu si kakek ‘Teleng Lesus’. Mahesa Wulung tidak cuma sekali saja melancarkan pukulannya itu. Selesai yang satu, segera ia menyusul dengan yang kedua dan seterusnya. Maka sungguh-sungguh hebat akibatnya.

Dua tenaga sakti tadi berbenturan dengan bunyi mengguntur. Mahesa Wulung masih tetap tegak di tempatnya karena kedua kakinya telah memancang ke dalam tanah dalam sikap Tugu Wasesa. Meskipun be- gitu, tubuhnya dapat terhuyung-huyung hampir jatuh. Di sebelah Mahesa Wulung, si Gagak Cemani ter- paksa tergetar surut beberapa langkah dengan seten-

gah terhuyung akibat benturan tadi.

Di depan, kakek Gagang Aking terkejut bukan main. Apalagi bahwa “Teleng Lesus”-nya tadi belumlah sung- guh-sungguh mencapai puncaknya, sebab memang semula ia tak menduga bahwa Mahesa Wulung memi- liki ilmu sedahsyat itu.

Pukulan Angin Bisu merupakan satu pukulan den- gan tenaga jarak jauh, dan mempunyai sifat-sifat penghancur yang dahsyat. Ia mampu menerobos sega- la rintangan di depannya. Ibarat pohon akan tumbang dan bebatuan akan hancur berserakan, apalagi si pe- rintang itu hanyalah seorang kakek tua seperti Ki Ga- gang Aking.

Lontaran tenaga sakti “Teleng Lesus” yang cuma bertenaga sebagian itu, kena ditembus dan dibentur oleh pukulan Angin Bisu. Benturan singkat terjadi dan kemudian pukulan maut jarak jauh tadi langsung me- nerjang si kakek Gagang Aking.* (* gagang = dahan, tangkai; aking = kurus kering)

Menyadari bahaya yang langsung menerjangnya, si kakek itu secepat kilat mengempeskan ilmu peringan tubuhnya dan melesat ke atas udara, sebelum pukulan Angin Bisu menerjangnya. Beberapa bongkah batu dan pohon telah tumbang berserakan sewaktu kena hajar pukulan tadi. Tapi si kakek sendiri tahu-tahu telah hinggap di puncak pohon seraya tertawa terkekeh- kekeh, “Hi, hi, hi. Pukulanmu hebat, anak muda! Den- gan jujur aku memuji ilmumu tadi, dan karenanya aku rasa persenda-gurauan dan pertemuan kita kali ini, cukup sekian! Di lain saat aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan kembali. Kau ingatlah baik- baik. Namaku adalah si tua Gagang Aking! Hih, hi, hi. Sekianlah, selamat tinggal! Oo, ya, hampir lupa. Jika tidak keliru ketiga orang lawanmu yang masih hidup tadi, telah ngacir melarikan diri ke arah utara ”

Habis berkata begitu si kakek Gagang Aking lalu meloncat ke atas pucuk pohon yang lain dan kemudian berganti lagi ke pohon di sebelahnya. Sebentar saja tu- buhnya lenyap di balik pepohonan di sebelah barat, secepat angin siang yang berlalu, menggoyang- goyangkan dedaunan dengan lembutnya.

Mahesa Wulung seperti belum percaya bahwa si ka- kek Gagang Aking itu telah berlalu dan lenyap dari pandangan matanya. Ketika lebih sadar, didapatinya dirinya masih tetap tegak di atas tanah dengan kedua belah kakinya tertanam hampir satu mata kaki lebih. 

Ia menarik napas lega. Ditengoknya ke samping, dan tampaklah si pendekar berkumis melintang, Ga- gak Cemani juga masih berdiri agak condong ke depan, sedang golok hitamnya masih tergenggam erat dan ujungnya terhunjam ke dalam tanah. Agaknya golok itu sengaja ditusukkan ke tanah sebagaimana sebuah jangkar bagi sebuah kapal yang sanggup menahan tu- buhnya agar tidak terbawa oleh arus maupun angin. Melihat ini, diam-diam Mahesa Wulung menaruh rasa kagum kepada sahabatnya dari daerah timur ini.

Gagak Cemani tersenyum ketika ia melihat bahwa Mahesa Wulung telah menyapanya, “Bagaimana Ka- kang Cemani?”

“Tak kurang suatu apa, adik,” ujar Gagak Cemani seraya mencabut golok hitamnya dari tanah. Begitu pula Mahesa Wulungpun telah menarik kedua belah kakinya.

Mereka segera teringat kedua sahabatnya yang lain, yakni Palumpang dan Tungkoro yang belum terlihat batang hidungnya. Keruan saja dada mereka bergun- cang kaget.

“Hai, kemana saudara Tungkoro dan Palumpang? Jangan-jangan kedua sobat kita ini telah terhembus oleh ilmu sakti si kakek Gagang Aking?” nyeletuk Ga- gak Cemani dengan perasaan cemas. “Serangan si ka- kek tadi memang hebat!”

“Mari kita akan mencari mereka!” sahut Mahesa Wulung seraya menebar pandangannya ke arah timur. Begitu pula dengan Gagak Cemani. Mereka berdua lalu berloncatan ke arah timur untuk mencari kedua orang sahabatnya itu.

Tak antara lama mereka dapat melihat dua sosok tubuh yang tertelungkup di atas tanah dengan tangan- tangannya berpegangan pada tonjolan-tonjolan batu dan rerumputan.

“Celaka! Jangan-jangan, mereka telah cedera!” ujar Mahesa Wulung penuh kekhawatiran seraya mendeka- ti Palumpang dan Tungkoro. Hatinya kian berdebar- debar keras.

“Belum tentu!” sahut Gagak Cemani dalam suara ragu. “Tak ada bekas-bekas darah, sedang tubuh me- rekapun baik-baik saja adanya!”

“Sobat Palumpang dan Tungkoro,” ujar Gagak Ce- mani dan Mahesa Wulung bergantian sambil menepuk tubuh kedua sahabatnya itu.

Tiba-tiba Tungkoro menggeliat bangun seraya mele- paskan rerumputan yang digigitnya. Ternyata, selain kedua belah tangannya yang berpegang pada batu dan rerumputan, giginyapun ikut menahan diri dengan menggigit rumput.

Sedang Palumpang terbangun pula seraya menca- but senjata akar baharnya yang dicobloskan ke dalam tanah sebagai alat penahan diri. Kesemuanya ini pa- tutlah dikagumi orang, keempat pendekar serangkai itu ternyata memiliki kelebihan-kelebihan yang mas- ing-masing tidak sama, tapi cukup hebatnya. Lebih- lebih dengan Mahesa Wulung dan Gagak Cemani.

“Aah, asem kecut! Kiranya bahaya telah lewat!” de- sis Palumpang sementara ia menyimpan senjatanya, lalu menebah-nebahkan kedua belah tangan untuk membersihkan debu-debu yang masih melekat pada pakaian dan tubuhnya. “Kukira, tubuhku telah ter- hembus ke luar dari bumi ”

“Seperti ngimpi saja rasanya!” sambung Tungkoro serta membenahi pakaiannya yang geluprut oleh debu. “Ilmu si kakek tadi sangat hebat. Entah ini, mungkin kita berempat akan menderita masuk angin seka- rang...!” Tungkoro tampak mengatur ikat kepalanya, kemudian menyarungkan pedangnya.

Mahesa Wulung tersenyum, sahutnya pula dengan setengah bergurau, “Untuk itu kita harus mencari orang yang akan mengeroki tubuh kita ” “Heh, heh, heh, tak usah repot-repot. Kita duduk antri berempat,” ujar Gagak Cemani sambil nyungir- nyungir. “Adik Mahesa Wulung di sebelah depan, lalu dikeroki oleh sobat Palumpang. Sedang sobat Palum- pang sendiri akan dikeroki oleh sobat Tungkoro yang duduk di belakangnya. Kemudian aku sendiri yang akan mengeroki sobat Tungkoro. Sebaliknya... Adik Mahesa Wulunglah yang akan mengeroki tubuhku ”

Akhir dari ucapan Gagak Cemani disambut oleh su- ara ketawa berbareng sampai tubuh mereka tergun- cang-guncang sampai bercucur air mata. Kiranya ke- gembiraan ini sangat tepat sebagai pengobat lelah, se- telah mereka mati-matian bertempur melawan rom- bongan Doyotan maupun si kakek Gagang Aking. Da- lam saat-saat begini ikatan persahabatan keempat pendekar serangkai itu terasa lebih erat dan akrabnya.

Nyit, nyit... nyiittt... nyiiitt. Tiba-tiba seekor kera yang masih muda sekali meloncat turun dari sebuah dahan pohon serta meloncat-loncat mendekati Mahesa Wulung berempat.

“Heh, heh, heh, lihatlah!” lagi-lagi nyeletuk si pen- dekar Gagak Cemani. “Tukang keroyoknya telah da- tang! Ha, ha, ha, ha, ha.”

Kembali getar tertawa cerah terdengar di antara me- reka. Sebaliknya, kera kecil yang telah nongol di dekat mereka itu cuma melompong memutar-mutar kepala sambil mengangkat alis dan dahinya berkali-kali, seo- lah-olah dipenuhi oleh tanda tanya yang tak pernah dimengertinya. Si kera kecil itu cuma berkata, nguk, nguk, dan nyit, nyit lain tidak. Jari-jarinya yang pan- jang itu berkali-kali pula menggaruk-garuk kepala tak ubahnya seorang manusia yang lagi kebingungan.

“Heh, heh, heh. Persis seperti munyuk ditulup!*” ujar Mahesa Wulung seraya menahan ketawanya un- tuk sesaat berkata demikian. (*munyuk ditulup = kera disumpit) Ucapan demikian adalah satu peribahasa yang mengibaratkan seseorang bodoh yang tidak dapat menanggapi sesuatu kejadian di sekelilingnya, sehing- ga ia cuma menoleh, menengok ke kiri-kanan tanpa berbuat sesuatu apa.

“Ya, ya. Benar, Kakang Wulung. Tapi ia lebih tepat sebagai tukang pencari kutu! Ha, ha, ha,” sambung Tungkoro sambil menunjuk ke arah kera kecil itu.

Begitulah suasana gembira meliputi keempat pen- dekar itu yang selintas seperti lupa bahwa beberapa saat yang lalu mereka telah menyabung nyawa untuk dapat tertawa sepuas itu.

“Heei, si kera kecil ini berkalung seutas tali!” sela Mahesa Wulung yang lebih lanjut memperhatikan kera tersebut.

“Ahh, hmmm, aneh juga hal ini,” Gagak Cemani menyelesaikan ketawanya setelah mendengar ucapan Mahesa Wulung. Memang ia dapat melihat bahwa seu- tas tali teranyam halus berwarna kemerahan meling- kari leher si kera kecil. Hal tersebut serentak menim- bulkan tanda tanya besar di dalam dada keempat pen- dekar itu.

Mereka sadar bahwa tak mungkin rasanya kalau kera kecil itu sengaja memakai seutas tali pada leher- nya. Jadi pastilah ada yang memasangkan di situ. Tapi siapakah orangnya? Itulah yang kemudian dikatakan oleh Mahesa Wulung, “Pasti kera ini pernah mengenal manusia atau dipelihara oleh manusia! Dan hal itulah yang pasti menarik kita!”

“Hmm, adik mampu berpikir sejauh itu!” sahut Ga- gak Cemani sementara tangannya mengelus-elus leher kera kecil itu dan memperhatikan tali merah yang me- lingkar di situ. “Aku menjadi iri dengan kemampuan dan cara berpikir andika.”

“Yah. Kiranya perkara ini patut kita selidiki Kakang Wulung,” sambung Tungkoro pula. “Bukankah mung- kin ada sangkut pautnya dengan tugas kita, membun- tuti gerakan orang-orang Tangan Iblis?”

“Benar!” terdengar Palumpang ikut berkata setelah ia memperhatikan tali merah di leher si kera kecil. “Tali ini adalah anyaman tangan manusia!”

Nguk, nguk, nguk. Nyit... nyiitt! Suara si kera kecil seraya kedua tangannya berganti-ganti menunjuk ke arah utara serta diguncang-guncangkan, bagaikan si- kap seseorang yang bermaksud menunjuk ataupun meyakinkan sesuatu yang diketahuinya.

“Aneh, ia menunjuk ke arah utara!” Mahesa Wulung berkata setengah heran dan kagumnya.

“Seperti yang diucapkan oleh si kakek Gagang Ak- ing, tentang Doyotan dan orang-orangnya!” tukas Ga- gak Cemani pula. “Bukankah ia mengatakan bahwa buronan kita telah lari ke arah utara?”

“Kita banyak menjumpai hal-hal yang aneh. Kare- nanya kita patut berwaspada diri!” Palumpang berkata pula. “Ayo, bagaimana kalau kita mengikuti maksud si kera kecil ini!”

“Pergi ke arah utara?” sahut Tungkoro.

“Itu lebih baik!” Mahesa Wulung menyambung pula. “Namun kita harus mencari kuda-kuda kita di daerah tenggara. Setelah itu barulah kita bergerak ke utara!”

Dalam pada itu, si kera kecil lalu meloncat ke bahu Mahesa Wulung tanpa rasa sungkan sedikitpun, seo- lah-olah ia telah mengangkat majikannya yang baru sesudah beberapa waktu yang lalu meninggalkan Tan- gan Iblis dan rombongannya.

“Tapi, lebih dulu kita harus mencari kuda,” ajak Tungkoro lalu melangkah ke arah tenggara bersama ketiga sahabatnya.

Dengan susah-payah dan terhitung masih ada un- tung, Mahesa Wulung bersama sahabat-sahabatnya te- lah berhasil mendapatkan kuda-kuda mereka, sesudah ubek-ubekan mencari ke sana-sini.

Segera pulalah keempatnya meloncat ke punggung kudanya masing-masing lalu memacunya ke arah uta- ra, melintasi semak belukar dan pepohonan hutan yang cukup lebatnya.

Si kera kecil tadi masih tetap mengikuti Mahesa Wulung dengan mengemblok pada pundak si pende- kar. Sesekali ia masih melenguh-lenguh sambil me- nunjuk-nunjuk ke arah utara, membuat Mahesa Wu- lung bersama ketiga sahabatnya tersenyum geli. Seca- ra tidak dinyana, mereka menemukan sahabat baru yang sekaligus bertindak sebagai penunjuk jalan.

Beberapa saat kemudian, mereka berempat telah berada di tengah perjalanan menuju ke arah utara. Mahesa Wulung yang berada di sebelah depan senan- tiasa menebar pandangannya ke setiap arah, ke setiap sudut pepohonan, lekuk batu-batuan maupun dari semak-belukar yang rimbun.

Matahari yang cerah menunjamkan sinarnya ke da- sar hutan, menembusi kelebaran pohon lewat celah- celah daunnya dan kemudian sinar yang dipantulkan ke atas oleh beberapa mata air yang mengalirkan air- nya merupakan sungai-sungai kecil. Pantulan tadi se- gera membuat sinar bergemerlapan di atas dedaunan dengan indahnya.

Nyiittt... nguk... nguukk! Kembali si kera kecil yang menggamblok pada punggung Mahesa Wulung segera menjerit-jerit seraya menunjuk-nunjukkan jarinya yang panjang ke atas rerumputan. Bahkan kemudian ia meloncat turun dari pundak Mahesa Wulung, se- hingga “tuan baru”-nya ini terperanjat beberapa saat.

Gagak Cemani maupun Palumpang serta Tungkoro tak kalah herannya sehingga mereka bertiga perlu menghentikan kudanya.

“Haai, apa yang akan kau tunjukkan, sobat bere- kor?” ujar Mahesa Wulung setengah terbengong kehe- ranan, sebab meskipun ia dapat meraba maksud si ke- ra kecil itu, namun matanya tak melihat sesuatu pe- mandangan yang aneh ataupun sangat penting, kecua- li semak-belukar dan ilalang melulu.

Krrr, nguk... nguukkk, ujar si kera kecil sambil ber- jingkrakan dengan masih menunjuk-nunjukkan ja- rinya ke arah rerumputan di dekatnya.

“Hmm, baiklah. Rupanya engkau akan memberikan jasa,” ujar Mahesa Wulung seraya meloncat turun dari kudanya. Saat itu pula. Gagak Cemani bertiga ikut tu- run ke tanah.

Mereka segera mendekati si kera kecil dan meme- riksa rerumputan di situ, yang sejak tadi telah ditun- juk-tunjuk oleh si kera kecil. Satu rasa curiga telah timbul pula di dalam dada mereka.

“Darah!” desis Mahesa Wulung kaget. “Darah di ba- lik rerumputan ini!”

“Sungguh tajam hidung si kera kecil ini!” ujar Ga- gak Cemani seraya menepuk-nepuk kepala kera itu yang seketika mencungir dan menjibir-jibirkan bibir- nya.

“Sudah agak kental membeku,” sambung Palum- pang pula. “Pasti tercecer lewat beberapa waktu yang lalu.”

Sementara itu Tungkoro yang lagi menyisih- nyisihkan semak di sebelah utaranya telah mendesis pula, “Lihat sobat. Jejak-jejak kaki dan juga tetesan darah yang telah beku!” “Pasti ini semua adalah jejak-jejak Doyotan dan ka- wan-kawannya!” ujar Mahesa Wulung pula. “Mereka sekarang tinggal berempat lagi jika tidak keliru, sebab dua orang telah kita robohkan dan tewas!”

“Benar, adik. Baiknya kita telusuri saja jejak mere- ka. Siapa tahu keempat orang itu akan membawa je- jak-jejak ke arah rombongan lainnya!” ujar Gagak Ce- mani seraya menatap ke arah utara seperti hendak menembusi hutan itu dengan sorot matanya.

“Setuju,” Mahesa Wulung menerima usul yang me- mang tepat itu. “Tapi sementara kita akan menuntun kuda-kuda ini, agar kita bisa lebih terperinci mencari jejak buruan kita.”

Maka sebentar kemudian rombongan berempat itu telah berjalan kembali menempuh tujuannya. Mereka beriring-iring dengan menuntun kudanya. Di sebelah depan Mahesa Wulung tetap berjalan bersama si kera kecil. Sebentar-sebentar ia mengawasi sekeliling. Di be- lakang, Gagak Cemani juga menuntun kudanya, diiku- ti oleh Tungkoro dan kemudian Palumpang.

Perjalanan mereka serasa agak lambat, tapi hal itu dapat dimaklumi sebab mereka tengah membuntuti buruannya dan ini bukanlah sesuatu hal yang boleh dianggap ringan. Sebab siapa tahu buronan yang dica- rinya justru lebih hebat dari mereka?

Hal tersebut tidak jarang terjadi sebab belum dapat dipastikan bahwa seorang pendekar pasti akan lebih unggul dari sasaran yang diburunya. Bukankah hal yang semacam itu cukup lumrah terjadi di dalam kehi- dupan manusia? Dan ini semua hampir direnungkan oleh Mahesa Wulung dan ketiga sahabatnya.

Bagi Mahesa Wulung sendiri yang paling diherani adalah pengetahuan si kakek Gagang Aking yang dapat mengenal jurus ilmu pedangnya Sigar Maruta. Maka sejak tadi, terus saja Mahesa Wulung memikirkan ten- tang hubungan si kakek tersebut dengan mendiang Ki Camar Seta yang telah memberi dasar-dasar ilmu pe- dang tersebut. Adakah keduanya saling mengenal dan saling berhubungan? Atau barangkali mereka adalah satu sahabat dalam satu perguruan? Soal-soal sema- cam itulah yang senantiasa dipikirkan oleh Mahesa Wulung, meskipun jawabannya untuk kesekian ka- linya tidak pernah ditemukannya. Maka untuk semen- tara Mahesa Wulung lalu melupakan tentang si kakek tadi dan selanjutnya ia menelusur jejak-jejak rombon- gan Doyotan dengan harapan nantinya dapat mene- mukan pula jejak si Tangan Iblis dan rombongannya.

***

BAGIAN IV

DERAP KAKI KUDA terdengar bergemuruh disusul debu berkepul ke udara. Sementara itu batu-batu ke- rikil mencutat ke sana kemari oleh terjangan tujuh ekor kuda yang berlari dengan napas berdengusan.

Yang berkuda di sebelah depan ada dua orang den- gan berdampingan. Mereka terdiri dari dua orang laki- laki setengah tua, namun ada bedanya. Seorang di an- taranya bertubuh gemuk pendek sedang satunya lagi berperawakan sedang. Keduanya tidak lain adalah Ki Dunuk dan Demang Cundraka.

Di belakangnya, Linting dan empat orang pengawal berjajar dua-dua ke belakang dengan membekal pe- dang-pedang pada pinggangnya. Sedang Linting sendiri yang bertindak sebagai kepala kawal menggenggam sebatang tombak. “Sungguh pagi yang nyaman, Kakang Demang!” ujar Ki Dunuk kepada Demang Cundraka sambil menoleh ke samping.

“Hehh, mudah-mudahan perjalanan kita akan memperolah kelancaran, Ki Dunuk,” sahut Demang Cundraka. “Sebelum siang, aku mengharap rombon- gan kita telah mencapai desa Genuk.”

“Memang itu yang kita harapkan, Kakang Demang,” jawab Ki Dunuk pula. “Di sana kita beristirahat bebe- rapa waktu dan memperoleh makanan segar.”

“Sesudah Genuk, kita akan melewati daerah Ka- rangsari dan kemudian Demak. Rasa-rasanya aku in- gin cepat-cepat tiba di kota tersebut, kemudian menye- rahkan Arca Ikan Biru kepada yang berwajib. Dengan begitu dapat diketahui bahwa bahaya yang tidak nam- pak tengah mengancam kita.”

Ki Dunuk menggersahkan napas, lalu ujarnya, “Benda yang bernama Arca Ikan Biru tersebut, ternya- ta telah membawa bencana yang tidak sedikit, Kakang Demang. Semoga ia selamat sampai ke kota Demak.”

“Eh, aku menyadari betapa bahaya akan mengan- cam kita pada setiap waktu dan setiap tempat. Namun apapun yang bakal terjadi, kita harus mati-matian menjaga benda itu.”

Ki Dunuk memanggutkan kepala dan tiba-tiba ia mengutarakan pendapatnya, “Sebagai satu rombongan yang membawa benda berharga dan penting, nampak- nya kita terlalu menyolok. Dengan begitu kita sangat menarik perhatian dan mudah menjadi sasaran dari maksud-maksud jahat.”

Dahi Demang Cundraka lalu berkerut sesaat ketika ia mendengar penuturan Ki Dunuk yang cukup ber- harga itu, tetapi sesaat kemudian wajahnya menjadi lebih cerah, satu pertanda bahwa ia telah menemukan suatu gagasan yang tentu saja menyangkut soal kese- lamatan Arca Ikan Biru. “Sttt, dengarlah Ki Dunuk!” ujar Ki Demang Cundraka seraya membisikkan satu deretan kalimat ke telinga Ki Dunuk di sebelahnya.

Tampak Ki Dunuk tersenyum dan mengangguk- angguk, dan Ki Demang Cundraka pun merasa puas karenanya.

Sementara itu....

Jauh di sebelah timur, di balik dedaunan pakis hu- tan, sepasang mata setajam burung elang senantiasa mengikuti gerak-gerik rombongan Ki Demang Cundra- ka. Gumam bernada gembira terdengar dari mulut si pengintai ini yang kemudian berdiri dan menjauh dari tempatnya semula.

Dengan satu gerakan ringan, orang tersebut melesat ke atas dahan dan selanjutnya bergayutan berayun ke arah timur dengan berganti-ganti pohon. Gerakannya sungguh mirip seekor kera. Gesit, cekatan dan tepat. Apalagi orang tersebut mengenakan pakaian seragam hitam-hitam, dengan selembar kain hitam tebal yang menutupi mulutnya, hingga mengesankan seperti orang sakit pilek.

Dia tidak lain adalah Si Mulut Bertudung, salah seorang pengikut saudagar Arya Demung yang telah tersohor di daerah barat daya Asemarang. Kini ia ha- rus cepat-cepat mengabari pemimpinnya, sesudah dengan cepat ia berhasil menyelesaikan tugasnya, yakni mengintai gerakan Ki Demang Cundraka dan orang-orangnya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila gerakannya lantas saja gesit seperti dikejar setan dan pohon demi pohon dilewatinya dengan sekejap ma- ta.

“Aku harus secepatnya sampai ke warung itu!” desis Si Mulut Bertudung sendiri! “Begitu tiba di kota Ge- nuk, aku akan melapor kepada Ki Arya Demung. Mu- dah-mudahan mereka telah siap di warung itu.”

Pakaian yang dikenakan Si Mulut Bertudung beras- al dari tenunan halus, lurik hitam kecoklatan. Pada pinggangnya terselip sepasang pedang pendek dengan ujung tangkai menongol ke depan, siap tercabut oleh kedua tangannya yang lincah, sewaktu-waktu ada ba- haya yang mencegatnya. Tampaknya kedua pedang pendek tadi adalah senjata andalan Si Mulut Bertu- dung dan boleh dipastikan bahwa sepasang pedang ta- di bukanlah sekedar senjata rahasia, bahkan juga mu- lutnya yang selalu bertudung itupun merupakan raha- sia pula. Namun rupanya saja keanehan itulah yang dipakai sebagai gelar nama kependekaran yang di- banggakannya.

Ketika loncatan Si Mulut Bertudung melewati satu pohon petai, mendadak saja si pendekar ini terhenyak menghentikan gerakannya, sebab di atas sebuah da- han pohon itu, sejauh hampir empat tombak bergan- tunglah sesosok tubuh manusia berpakaian kulit bina- tang, putih berbelang-belang hitam. Kedua kaki orang itu membelit pada dahan tadi, dengan demikian maka kepalanya menghadap ke bawah tak ubahnya seekor kalong atau kelelawar raksasa yang lagi bergantung di- ri.

Melihat ini, Si Mulut Bertudung hampir terpekik ka- rena kagetnya. Apa yang ditemui di depannya ini betul- betul membuat hatinya tercekat sehingga otomatis ge- rakannya terhenti dan ia berdiri termangu seperti pa- tung.

“Hoo, hi, hi, hi. Gerakan Anda cukup lincah, sobat. Tapi sorot matamu memperlihatkan kerja yang terbu- ru-buru,” begitu suara menegur dari mulut orang ter- sebut terdengar memecah kesenyapan suasana. “Itu bukan urusanmu!” bentak Si Mulut Bertudung. “Apakah aku tergesa-gesa atau berlambat-lambat da- lam perjalananku, ini adalah kepentinganku sendiri.”

“Heh, heh, heh. Kata-katamu setajam mata pisau, sobat. Tapi tak apa. Aku senang mendengarnya!” ujar si baju kulit yang ternyata sudah berusia tua.

“Jadi apa maksudmu dengan mencegat perjalanan- ku ini!?” seru Si Mulut Bertudung penuh kegeraman.

“Oo, anehlah pertanyaanmu, sobat! Aku sama sekali tidak mencegatmu! Mengapa kau berkata demikian? Apakah lantaran dirimu terkejut, lalu melontarkan dakwaan tadi?” ujar si tua berbaju kulit.

“Berlagak pilon, haa!” seru Si Mulut Bertudung se- mentara hatinya menjadi uring-uringan. Masakan sambil berbicara, si tua itu tetap bergantung diri dan ini dirasakan oleh Si Mulut Bertudung sebagai satu hinaan besar. “Mulutmu berbicara tak keruan!”

“Ooo, jadi aku yang kau salahkan? Sejak tadi sebe- lum kau lewat di tempat ini, aku telah bergantung di sini menyepikan diri,” ujar si tua dengan tenangnya. Masih saja bergantung dengan kedua belah kakinya.

“Keparat, kalau begitu, kaulah yang mesti menying- kir selagi aku lewat di sini! Nah dengar telingamu, haa!?” ujar Si Mulut Bertudung dengan wajah merah. Rupanya darah kemarahan telah naik ke kepala. Se- bab hatinya sangat jengkel, selagi hendak cepat-cepat kembali ke kota Genuk, mendadak si tua ini melenting di tengah jalannya.

“Weh, weh. Orang seperti kamu ini suka bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain. Lebih berba- haya lagi seandainya kamu memegang kekuasaan. Pastilah orang-orang kecil akan kau tindas dengan se- mena-mena!” sahut si tua kembali dalam nada tajam sehingga dada Si Mulut Bertudung seperti tertusuk olehnya. Matanya seketika mendelik.

“Sihh. Mulutmu pandai berpidato! Maka terimalah benda-benda penyumbat untukmu, ini! Hyaatt!” teria- kan si pendek terdengar membarengi berkelebatnya tangan kanan Si Mulut Bertudung ke depan. Benda berkejaran bersuit dan gemerlap, langsung menyambar ke arah kepala si tua.

Trek - tek - tek! Sambaran sinar-sinar terhenti tepat di depan kepala si tua berbaju kulit membuat si Mulut Bertudung tercengang buat sesaat.

Hampir-hampir ia tak dapat percaya ketika tiga buah paku baja yang baru dilemparnya itu dapat di- tangkap ujung-ujungnya, oleh gigitan atau jepitan gigi si orang tua.

“Nah, boleh kau terima kembali! Whaahh!” seru si orang tua seraya mengibaskan kepalanya ke samping dan tahu-tahu ketiga paku baja hadiah Si Mulut Ber- tudung telah mental balik dan meluncur ke arah tuan- nya sendiri dengan bunyi berdesing.

“Ahh!” desis si Mulut Bertudung seraya mengelak- kan diri dengan sedikit cekakaran. Sungguh memalu- kan seandainya senjata-senjata tersebut menimpa tu- buhnya sendiri.

Si kakek tua lalu menggerakkan tubuh yang dengan cepat berputar ke atas, sehingga ia duduk di atas da- han pohon itu dalam sekejap mata. Sungguh gerakan yang sukar dan cukup mengagumkan, apalagi sambil berputar itu kedua tangan si kakek tetap bergantung tanpa menyentuh dahan pohon sedikitpun. Gerakan ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang berilmu tinggi di samping segi-segi kecekatan yang dimilikinya.

“Heh, heh. heh. Hampir terjadi senjata makan tuan!” gereneng si kakek tadi sekaligus melontarkan sorot mata yang tajam ke arah Si Mulut Bertudung. “Kau mulai menyerang dengan senjata gelap, sobat. Satu kesalahan yang tak kecil.”

“Jangan lekas sombong, kakek kurus. Setiap pen- dekar mampu berbuat demikian. Hanya aku lebih se- dikit hebat sebab melakukan tangkapan itu sambil bergantung diri!”

“Bagus! Jadi sambutlah pelajaran kedua buat orang yang sok jagoan dan berbuat sewenang-wenang!” seru si kakek sambil melesat ke depan, menyambar Si Mu- lut Bertudung. Jari-jari kedua tangannya mengembang bagaikan cakar-cakar garuda siap merobek sasaran- nya.

Tentu saja Si Mulut Bertudung melesat ke atas den- gan cepat, apalagi ketika terasa olehnya bahwa samba- ran si kakek itu mempunyai kecepatan kilat.

Wesst - westt! Sambaran tangan si kakek dapat di- hindari oleh Si Mulut Bertudung, namun angin tajam yang berasal dari sambaran tadi tak urung menyerem- pet kedua pelipisnya sehingga terasa kepedihan yang amat menusuk. Karenanya, Si Mulut Bertudung seten- gah kalang kabut menyelamatkan diri.

Dengan satu tiupan ringan, Si Mulut Bertudung mendarat ke tanah, sekaligus melolos kedua pedang pendeknya untuk menghadapi si orang tua. Sedang dalam hati, Si Mulut Bertudung tak habis-habisnya ur- ing-uringan meskipun terselip pula rasa jerih oleh ge- rakan-gerakan si orang tua yang kelewat mantap dan penuh perbawa.

Si orang tua bertubuh kurus itupun meluruk turun begitu dilihatnya Si Mulut Bertudung telah mendarat di tanah. Ketawa pelahan yang seolah-olah berasal dari lehernya itu terdengar menggeletar mengejutkan Si Mulut Bertudung, seakan-akan suara hantu penjaga hutan. Tanpa melewatkan kesempatan sedikitpun, Si Mu- lut Bertudung menikamkan kedua pedang pendeknya dengan gerakan memutar dan menggunting. Tetapi en- tah bagaimana si orang tua itu menggerakkan tubuh- nya, sebab tahu-tahu tubuhnya seperti lenyap hanya dengan sekali berkelebat dan kedua pedang pendek Si Mulut Bertudung tadi hanya mendapatkan udara me- lompong.

“Setan!” desis Si Mulut Bertudung setelah ia kehi- langan lawannya. Pandangan matanya disebar namun tak juga ia menemukan jejak lawannya. Keruan saja hati si pendekar ini berdegupan saking cemasnya, se- bab seperti yang baru saja dialami, satu serangannya yang cukup matang, telah dapat dihindari lawannya dengan sangat mudahnya.

Mendadak saja selagi ia mencari jejak lawannya ter- dengarlah satu suara ketawa dari arah belakangnya, menyebabkan bulu tengkuk Si Mulut Bertudung me- remang seketika. Sadar akan bahaya di belakang, se- cepat kilat ia memutar gerakan ke belakang sedang kedua pedang pendeknya langsung menyabet dan me- nikam berbareng, sampai berdesingan.

“Heh, heh. Tak akan semudah itu kau menyerang- ku! Heeitt!” Si orang tua mengibaskan tangan yang ce- patnya melebihi gerakan pedang Si Mulut Bertudung bahkan seakan-akan mendahuluinya.

Plakk! Begitulah tiba-tiba tangan kanan si orang tua menampar lebih dahulu pelipis Si Mulut Bertudung sehingga tokoh ini hampir saja terpelanting roboh.

“Nah, itulah peringatan dari si kakek tua yang tak berharga.”

Sekali ini Si Mulut Bertudung lebih terkejut sebab si orang tua itu bergerak bagai hantu.

“Sambutlah kedua pedangku ini dengan senjatamu! Lekas! Aku tak mau terhina dengan cara-caramu!” “Bagus!” desis si kakek tua seraya mencabut sesua-

tu dari balik baju kulitnya dan sebentar kemudian ter- lihatlah dua batang logam tergenggam pada kedua be- lah tangan. Memang tidak lain si kakek itu adalah Ki Gagang Aking si pendekar tanpa juntrung, selalu ber- pindah-pindah tempat dan mengembara menuruti ke- hendak kaki.

Si Mulut Bertudung tidak lagi berkata tapi bertin- dak dengan menyabetkan kedua pedang pendeknya berbareng ke arah si Kakek Gagang Aking. Trang... Traang!

“Haaah?!” desis Si Mulut Bertudung begitu kedua tangannya bergetar hebat. Hatinya serentak bagai di- bakar oleh bara api dan memuntahkan amarahnya. Namun tiba-tiba ia teringat pula bahwa ada tugas lebih penting yang harus dikerjakan, yaitu cepat-cepat tiba di kota Genuk. Maka secepat kilat Si Mulut Bertudung melesat ke atas dahan pohon seraya berseru lantang, “Sayang kakek. Aku punya tugas lain. Akan kita lan- jutkan lagi permainan ini di lain kesempatan!”

Kakek Gagang Aking membiarkan Si Mulut Bertu- dung kabur ke arah timur dan lenyap di balik pepoho- nan sesudah ia berloncatan melalui dahan-dahan po- hon. Sedang ia sendiri cuma bergerundelan membe- rengut, “Tempat-tempat ini seperti tidak aman dan ku- rang cocok buat bersemadi. Sudah dua kali aku ter- ganggu. Yang pertama dengan dua rombongan di sebe- lah tenggara sana dan kini terganggu pula oleh orang yang mulutnya bertudung itu! Hmm, akan kucari tem- pat lain.”

Begitulah Ki Gagang Aking lalu mengeloyor ke arah timur sambil menyimpan senjatanya kembali, yang berbentuk dua batang logam pipih ke dalam bajunya. Langkahnya tenang-tenang menunjukkan betapa ko- koh jiwa dan semangatnya. Meskipun sudah tua tapi ia tidak berjalan dengan membongkok-bongkok, seperti seorang tua pada usia sebaya itu.

Karenanya tidak heran bila orang kadang-kadang meragukan ketuaan usia Ki Gagang Aking. Meski ram- but dan kumisnya seputih perak, namun wajahnya masih kelihatan segar kemerahan dan kerut-kerut di tempat itu tidak terlalu banyak, seolah-olah ia tahan terhadap usia, dan orang lantas bisa mengingat ten- tang seorang pendekar yang pernah disebut-sebut da- lam dongeng yang kabarnya juga tahan usia. Ia tidak lain adalah Panji Tengkorak, si pengembara lontang- lantung.

Angin kencang mulai bertiup dan mengiringi le- nyapnya si kakek Gagang Aking di balik semak pakis dan belukar di sebelahnya. Seekor tupai mulai menon- golkan kepalanya lalu bermain-main, sesudah bebera- pa saat ia ketakutan disebabkan terjadinya pertarun- gan antara Si Mulut Bertudung dan Ki Gagang Aking.

***

BAGIAN V

KESIBUKAN warung di bawah pohon asam itu terus saja berjalan dari pagi sampai sore dan dari malam sampai pagi. Terlebih lagi sesudah beberapa hari bebe- rapa orang tinggal menginap dan makan minum di si- tu.

Seorang berperawakan angker duduk dengan re- sahnya menghadapi meja panjang. Sebentar-sebentar ia menatap ke arah luar, seperti merenungi kaki langit di sebelah sana. Perlahan-lahan sang matahari naik semakin tinggi.

Tiba-tiba seorang berpakaian biru kehitaman den- gan lengan bajunya yang longgar perlahan mendekati si tokoh yang lagi resah tadi. Kedua lengan si penda- tang ini berhiaskan dua gelang hitam mengkilat beru- kuran kelewat tebal dan besar!

“Ki Arya Demung, Anda tampak gelisah,” ujar si ge- lang tebal yang tidak lain adalah Wasi Sableng.

“Si Mulut Bertudung belum juga datang. Seharus- nya, sudah waktunya ia sampai di tempat ini,” sahut saudagar Arya Demung sambil berkali-kali menebar pandangnya ke arah barat dan kadangkala mulutnya mencapak membayangkan kegelisahan.

“Apakah ia telah hafal dengan daerah ini, sehingga tidak ada kemungkinan akan tersesat di jalan?”

Arya Demung mendongak sesaat oleh kata-kata Wasi Sableng tadi, namun kemudian ia menjawab, “Tersesat? Ah, itu tak akan terjadi pada Si Mulut Ber- tudung. Ia cukup baik mengenal daerah ini! Yang ju- stru aku khawatirkan tentang dia ialah kalau sampai ia mendapat bahaya di tengah jalan.”

Selagi mereka berembuk begitu terdengarlah lang- kah-langkah kaki kuda dari arah barat yang seketika membuat Wasi Sableng dan saudagar Arya Demung berjelalatan menatap ke arah sana. Tapi betapa mere- ka kecewanya ketika si pendatang itu bukanlah Si Mu- lut Bertudung yang lagi dinanti-nantinya, melainkan adalah empat orang berkuda yang tampak keletihan.

Arya Demung menggerendeng dan meludah saking jengkelnya, namun empat orang penunggang kuda itu tak mengetahui tampaknya. Mereka terus mendekat ke warung dan turun dari atas kudanya hampir berba- reng. Terus saja Arya Demung dan Wasi Sableng mem- perhatikan keempat pendatang itu, begitu juga para pengikut Arya Demung yang duduk bertebaran di bangku-bangku Warung.

Keempat pendatang itu tampaknya sebagai pen- gembara yang kelelahan dan singgah di warung ini un- tuk mengisi perut dan menghilangkan haus. Untuk itu semua, baik Wasi Sableng dan Arya Demung tidak be- gitu perduli sebab daerah ini dan lebih-lebih warung ini sering disinggahi oleh pengembara maupun orang- orang yang singgah di tengah perjalanannya.

Meskipun tak perduli, tapi tak urung hati Arya De- mung menjadi berdesir sewaktu ia memperhatikan sa- lah seorang pendatang yang berkumis melintang dan berkerudung kain batik hitam biru pada punggungnya. Diam-diam Arya Demung menaksir mereka.

Begitu keempat orang pendatang itu lewat di sam- pingnya, tanpa diduga saudagar Arya Demung meng- gebrak meja seraya tertawa terbahak-bahak. “Heh, heh, heh. Lihatlah, Sableng! Siang-siang begini ada orang kedinginan berkerudung kain. Barangkali ia bi- asa hidup di padang pasir...!”

Meski sesaat Wasi Sableng tak dapat menangkap maksud Arya Demung, tapi setelah ia merasakan kata- kata di atas, maka segera ia menyahut, “Ahh, benar juga ujarmu. Atau barangkali pula ia salah satu anggo- ta rombongan penari keliling yang lagi demam pilek.”

Tiba-tiba Gagak Cemani, si kumis melintang yang mengenakan jubah di punggung melempar lirikan ta- jam ke samping dan sebentar lagi ia pasti menggebrak ke arah Wasi Sableng dan Arya Demung jika ia tidak buru digamit tangannya oleh Mahesa Wulung yang berdiri di sampingnya seraya berbisik, “Jangan ladeni mereka ” Tanpa menunjukkan sikap mendongkol, Mahesa Wulung justru mengangguk tersenyum kepada Wasi Sableng dan Arya Demung untuk menghilangkan ke- san-kesan yang tidak diharapkan. Akhirnya, Mahesa Wulung, Gagak Cemani, Palumpang dan Tungkoro du- duk menghadapi meja panjang sejauh dua tombok ku- rang lebih dari tempat Wasi Sableng dan Arya Demung berada.

Seorang wanita cantik langsung mendatangi meja Mahesa Wulung dan menyapa ramah, “Tuan, Tuan be- rempat akan minum apa? Serbat, kopi atau...?”

“Satu lodong tuak dan empat cawan, ditambah jua- dah ketan dan lauknya sekali,” ujar Gagak Cemani ringkas. Terasa bahwa kemangkelan hatinya terhadap sindiran Wasi Sableng, Arya Demung ikut terlontar da- lam kata-kata itu, “Dan juga setundun pisang yang masak ”

Wanita itu tetap tersenyum ramah, lalu katanya, “Baik tuan. Semuanya akan kami siapkan. Persilahkan melepaskan lelah sepuasnya. Maaf, tempatnya agak kurang baik.”

“Ooh, tak apalah. Terima kasih,” ujar Mahesa Wu- lung pula dengan iringan senyum, ketika wanita berpa- ras cantik itu membalikkan diri untuk mempersiapkan hidangan tersebut. Gaya jalannya yang gemulai dan mempesona segera terlihat, sehingga tanpa sengaja Tungkoro mendesis kagum.

Memang sesungguhnya tidak hanya Tungkoro yang terpesona, sedang semua rombongan Arya Demungpun mengalami hal yang sama. Apalagi dengan Wasi Sab- leng sendiri. Kedua biji matanya seakan-akan meloncat keluar dari kelopaknya, begitu melihat gerakan wanita cantik ini dalam berjalan.

Namun ada hal yang lebih penting dan inilah yang membuat Arya Demung dan Wasi Sableng sekaligus merasa cemburu kepada rombongan Mahesa Wulung berempat. Seperti yang diketahuinya, wanita cantik ini adalah pemilik warung yang jarang sekali melayani langsung kepada para tetamunya. Sedang mereka sen- diri, baik Wasi Sableng maupun Arya Demung selama tinggal di warung itu, jarang ditemui oleh si wanita cantik. Tak disangkanya bahwa Mahesa Wulung be- rempat yang baru saja datang itu, tahu-tahu disambut langsung oleh si pemilik warung. Keruan saja Arya Demung dan Wasi Sableng merasa terbakar hatinya melihat hal itu, sehingga tak mengherankan bila gigi Wasi Sableng bergemeretakan. Dasar seperti Wasi Sab- leng yang suka melihat wanita cantik dan malah suatu ketika hatinya jadi tersinggung karena sikapnya tidak diacuhkan oleh si pemilik warung tadi, maka salah- salah rasa mendongkolnya beralih menumpah kepada Mahesa Wulung dengan ketiga rekannya.

Di sebuah meja lain duduklah pula seorang wanita cantik ditemani oleh seorang pria berkulit hitam, ber- tubuh pendek. Di atas meja mereka masih terlihat ma- cam-macam hidangan yang tersedia di situ dan sedikit aneh bahwa mereka tersenyum-senyum melihat sikap Wasi Sableng yang lagi angot-angotan marah. Mereka adalah si genit Teja Biru dan Klenteng, termasuk pen- gikut-pengikut saudagar Arya Demung.

Tak antara lama, si cantik pemilik warung itupun muncul kembali dengan membawa hidangan-hidangan yang dipesan oleh Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. Sekali lagi terlihatlah betapa lemah-gemulai yang mempesona setiap insan di situ.

Akan tetapi hal itu malahan seperti membakar rasa cemburu Wasi Sableng. Matanya yang tajam itupun masih seterusnya melotot ke arah Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. Lebih-lebih ketika sesaat ia sempat me- lirik ke arah si genit Teja Biru yang tersenyum-senyum ke arahnya. Senyum tadi berkesan mengejek kepada dirinya yang terang-terangan tidak digubris oleh si cantik pemilik warung.

“Ooh, sebentar. Maaf tuan-tuan. Tuaknya masih ke- tinggalan di belakang. Akan kuambil dahulu!” ujar si cantik seraya tersipu-sipu malu dan tersenyum merun- tuhkan hati, karena kelupaannya itu. Agaknya saja ia jarang menyambut sendiri tetamunya sebab di situ memang ada beberapa pelayan pembantu yang siap melayani tamu-tamu. Maka apakah keistimewaan sambutannya kepada Mahesa Wulung berempat tadi tidak menimbulkan rasa iri dan cemburu kepada teta- mu lainnya?

Buat ketiga kalinya Wasi Sableng dapat menyaksi- kan betapa lenggang si cantik seumpama macan lapar dapat memukau setiap hati pengunjung warung yang berada di situ. Ia melangkah ke arah dapur untuk mengambil tuak dan sebentar lagi ia pasti lewat di situ. “Ia sengaja mengejekku!” gumam di hati Wasi Sab- leng. “Sekali ia lewat dengan melenggang-lenggok se- perti angsa begitu, akan kugeret* ia ke mejaku ini!”

(*geret = seret, tarik)

Tak antara lama, si cantik pemilik warung itupun muncul dan berjalan ke arah meja Mahesa Wulung. Lenggang-lenggoknya masih saja tak ketinggalan. Ooh, seandainya ia tahu akan tekad Wasi Sableng, pastilah akan dihentikannya lenggang-lenggoknya itu. Tapi sayang, memang hanya Wasi Sableng sendiri saja yang tahu.

“Nah, inilah tuan. Tuak selodong yang Anda pesan,” ujar si cantik pemilik warung seraya meletakkan empat buah cawan di atas meja dan kemudian tuak selodong penuh.

“Bolehkah aku mengenal namamu?” tiba-tiba Tung- koro menyelonong dengan pertanyaannya.

“Ooh, tuan menanyakan namaku?” ujar si cantik seraya tersenyum-senyum menawan. “Apakah itu per- lu?”

“Benar. Siapa?”

“Ken Warsih,” jawab si cantik pelahan.

Mendadak saja sesuatu bayangan berkelebat den- gan iringan kesiur angin deras dan tahu-tahu lengan si cantik Ken Warsih yang lagi menuang-nuangkan lo- dong tuak ke dalam cawan-cawan itu, telah tergeng- gam oleh jari-jemari yang kokoh.

“Ooh, lepaskan ini!” seru Ken Warsih bercampur ra- sa kaget yang luar biasa, sebab tahu-tahu Wasi Sab- leng telah berada di sampingnya dengan menggenggam lengan kanannya.

“He, he, he, he. Kau juga harus melayani aku, wong denok ayu! Bukankah aku juga tamu di sini dan men- genalmu lebih lama dan lebih dahulu daripada empat orang ini?” seru Wasi Sableng seraya mengurut-urut lengan kanan Ken Warsih sampai si cantik ini mengki- rik-kirik dan mengeluh ketakutan, “Hihh, lepaskan !”

“Heh, heh, heh, kulitmu memang halus denok ayu. Sayang kalau tinggal di warung yang penuh asap begi- ni. Salah-salah kulitmu akan kotor dan menjadi hitam seperti sobatku yang bernama si Klenteng itu!” ujar Wasi Sableng seraya menunjuk Klenteng dengan tan- gan kirinya. “Baiknya kau ikut dan tinggal bersamaku saja! Wasi Sableng akan menjagamu!”

“Berlakulah yang sopan, sobat!” tiba-tiba terdengar suara pelahan tapi penuh wibawa meluncur dari bibir Mahesa Wulung dengan tenangnya.

“Hoo, kau berlagak jagoan dengan menolong wanita cantik ini?” geram Wasi Sableng sementara beberapa rekannya tampak bersiap siaga melihat gelagat pende- kar angot-angotan ini.

“Lepaskan jari-jarimu dari tangan wanita ini, sobat! Kau telah menyakitinya...!” ujar Mahesa Wulung kem- bali.

“Apa katamu? Berani kau ”

“Lepaskan, kataku!” Plakk…! Tiba-tiba tangan kiri Mahesa Wulung berkelebat menebas ke samping dan tahu-tahu tubuh Wasi Sableng terhuyung ke belakang dan rebah di dekat tempat duduknya semula, tak jauh dari kaki Arya Demung. Beruntung bahwa ia memiliki himpunan tenaga sakti yang dapat mengurangi penga- ruh lontaran itu. Tambahan pula memang ia tidak ber- siap sebelumnya dan serangan datang begitu menda- dak tanpa diduga sama sekali.

Cepat-cepat Wasi Sableng bangkit dengan amarah yang meluap. Secepat kilat ia merauk beberapa tusuk satai dan dikibaskan ke arah Mahesa Wulung. Benda- benda tadi melesat dengan pesatnya menyambar sasa- ran, sampai-sampai Ken Warsih yang melihat gelagat ini mundur dengan menjerit ketakutan.

Kembali Mahesa Wulung menyentilkan tangan ka- nannya ke samping dengan tubuh condong ke kiri dan tanpa terduga tusuk-tusuk satai tadi terpental berganti arah dengan kecepatan yang tidak berubah.

“Wuaaahh!” tiga teriakan parau terdengar dari samping kanan Mahesa Wulung yang ternyata keluar dari mulut tiga anak buah Arya Demung dengan mas- ing-masing telapak tangan kanannya tertembus oleh tusuk sate dari bambu itu. Ketiga golok mereka terpe- lanting jatuh di lantai. Rupanya saja ketiga orang ter- sebut hendak membokong serangan dari sebelah bela- kang. “Hei, hei, hei! Jangan bertengkar!” Satu teriakan ta- jam memenuhi udara berbareng ketawa renyah keluar dari mulut si genit Teja Biru. “Buat apa bertengkar ka- rena soal sepele saja! Sekarang biarlah aku memberi ucapan selamat kepada si pendekar berkumis kecil itu. Siapa namamu, pendekar? Terimalah ucapan selamat dari Teja Biru. Hup!”

Sambil berkata si genit Teja Biru memungut cawan berisi tuak dan ditimpukkan ke arah Mahesa Wulung. Sungguh di luar dugaan, bahwa cawan berisi tuak itu meluncur dengan kecepatan kilat ke arah dada si pen- dekar.

Meski seperti tak masuk akal, tapi dapat dibayang- kan bahwa lontaran dengan dilandasi himpunan tena- ga sakti itu akan sanggup membuat amblas cawan be- risi tuak tadi ke dalam dada Mahesa Wulung.

“Huppp!” desis Mahesa Wulung mengibaskan tan- gannya buat ketiga kali dan tahu-tahu cawan berisi tuak tadi telah lenyap disambarnya.

“Lenyap?!” desis Wasi Sableng, Arya Demung dan si genit Teja Biru. Bagaimana mungkin bahwa cawan yang cukup lebar itu lenyap dalam genggaman tangan Mahesa Wulung?

Sambil tersenyum lunak, Mahesa Wulung lalu membuka genggaman tangannya dan semua mulut hampir berseru kagum, sebab pada telapak tangan Mahesa Wulung terletak satu bulatan benda berwarna coklat tua berasal dari bahan cawan tuak tadi.

“Ucapan selamatmu telah kuterima nona!” kata Ma- hesa Wulung seraya menggebrakkan benda bulat tadi ke atas meja, yang seketika amblas ke dalam kayu daun meja.

Arya Demung dan orang-orangnya terkejut dan hampir saja ia memberi aba-aba untuk mengeroyok Mahesa Wulung berempat, jika dari arah barat tidak muncul seorang penunggang kuda yang langsung me- nuju ke arah warung.

“Wah, untung si kakek Gagang Aking itu tidak me- nemukan kudaku ini. Hah, tapi yang penting tugasku mengintai rombongan Demang Cundraka telah berha- sil!” gumam si pendatang. Dengan cepat si penunggang kuda meloncat turun dan Arya Demung berseru gem- bira, “Haa, kau telah datang adik!”

“Kita harus berangkat sekarang! Orang-orang itu tengah dalam perjalanannya!” bisik Si Mulut Bertu- dung ke dekat telinga Arya Demung.

“Bagus! Ayo, anak-anak, kita berangkat sekarang,” seru Arya Demung sambil sesaat menatap tajam ke arah Mahesa Wulung berempat serta berkata, “Dan ka- lian! Cukup disini permainan tadi. Tunggulah sampai bertemu di lain saat! Kau boleh bermain sepuas- puasmu sebelum nyawamu melayang di ujung golokku ini!”

Wesss! Sambil berkata demikian Arya Demung menggerakkan goloknya ke atas meja dan sesaat ke- mudian bersama orang-orangnya meloncat ke luar dari warung dan berpacu dengan kuda-kudanya ke arah barat.

Semua mata masih menatap ke arah rombongan Arya Demung sambil bertanya-tanya tentang asal tu- juan dari orang-orang itu, lebih-lebih dengan permai- nan gertak si pemimpin rombongan dengan goloknya.

Kraakkk... byaarr! Tiba-tiba semua orang dike- jutkan oleh meja bekas tempat Arya Demung yang se- mula masih tegak tanpa cacat apapun, mendadak run- tuh ambyar berkeping-keping menjadi tumpukan kayu bakar!

“Bukan main!” desis Tungkoro kaget. “Mereka berilmu tinggi pula!” sahut Mahesa Wu- lung.

“Hmm, jika terjadi pertempuran tadi, pastilah san- gat hebatnya,” sambung Gagak Cemani.

“Ooh, semua ini lantaran saya tuan!” desah Ken Warsih dengan nada penuh penyesalan. “Harap tuan- tuan sudi memaafkan saya. ”

Si cantik ini berkata dan matanya yang jeli itu ber- kaca-kaca oleh air mata, maka cepat-cepat Mahesa Wulung berkata kembali, “Anda tak usah merasa de- mikian. Mereka pada dasarnya tergolong orang-orang liar dan suka bertindak semaunya sendiri. Maka sudah sewajarnya kami membela nona!”

“Terimakasih... terimakasih,” ujar Ken Warsih se- raya mengusap air matanya dengan ujung depan ba- junya, lalu senyum manis mulai menyungging bibir- nya. “Silahkan duduk kembali. Kalian akan kuambil- kan tuak lagi!”

“Aku akan membantu Anda!” ujar Tungkoro seraya bangkit dari bangku, tapi Ken Warsih buru-buru ber- kata, “Oooh, tidak perlu tuan. Biarlah aku kerjakan sendiri, sebab tadi aku telah merepotkan tuan-tuan dengan orang-orang liar itu. Kini, biarlah kami hidang- kan makanan yang lezat-lezat sebagai rasa terimakasih kami!” Selesai berkata, Ken Warsih lalu menuju ke arah dapur sambil tersenyum segan. Ia telah ditolong sekali dan untuk kedua kali, si cantik ini merasa tidak pantas sebelum ia dapat membalas budi.

Tungkoro duduk kembali ke atas bangkunya den- gan tersipu sementara Mahesa Wulung, Gagak Cemani dan Palumpang tersenyum-senyum kecil.

“Ken Warsih memang cocok untukmu, adik Tungko- ro!” ujar Mahesa Wulung, diiringi senyuman penuh ar- ti. “Haa, kalian mulai menggodaku, hah!” sahut Tung- koro dengan wajah merah saking malunya.

“Aaaa. Jangan marah sobat! Makanlah ini!” ujar Gagak Cemani seraya menyuapkan sepotong juadah ketan ke dalam mulut Tungkoro yang lagi ternganga.

“Hepp,” gagap Tungkoro kaget. Tapi dasar sesama sahabat, ia tidak marah, bahkan mengunyah juadah ketan itu dengan nikmatnya dengan mata yang berpu- tar-putar lucu. “Haem... nyaem... nyaem... nyaem ”

***

BAGIAN VI

JALANAN yang menuju ke kota Genuk tampak sunyi-senyap ketika matahari makin bergeser ke pun- cak kepala. Selain cahayanya memancarkan panas se- hingga orang-orang segan melakukan perjalanan, juga saat-saat tengah hari begini banyak dianggap menim- bulkan bahaya dan merupakan larangan, semacam kepercayaan yang banyak didapati pada pengembara- pengembara.

Meskipun hal itu sukar diterima oleh akal sehat, namun ada beberapa segi kebenaran, bahwa matahari memang bersinar sepanas-panasnya pada saat tengah hari, tepat jatuhnya sinar tegak lurus di atas kita.

Dalam saat-saat demikian, tidak mustahil kalau si- nar terik itu mampu menyebabkan pingsan dan apabi- la orangnya sangat lemah bisa juga ia meninggal. Agaknya pula, orang lalu menghubung-hubungkan bahwa para raksasa dalam ceritera wayang, suka men- cegat manusia pada tengah hari begini.

Mereka biasanya lalu beristirahat sejenak sampai matahari lewat dan condong ke arah barat, barulah perjalanan yang ditempuhnya itu dilanjutkan lagi.

“Tengah hari, Kakang demang!” ujar Ki Dunuk se- raya mengusap peluh yang mengalir membasahi da- hinya. “Bagaimana kalau sejenak kita beristirahat me- lepaskan lelah?”

“Sebentar lagi kita akan tiba di Genuk. Di sanalah kita nanti mengambil istirahat beberapa saat,” sahut Demang Cundraka pendek. “Karenanya harus cepat- cepat kita sampai kesana, adik Dunuk!”

“Tapi ini adalah saat tengah hari ”

“Memang. Tapi lebih penting Arca Ikan Biru daripa- da saat tengah hari...,” sahut Demang Cundraka pula. “Tambahan lagi seperti siasatmu, kita telah berganti pakaian dan benar-benar kita tampak sebagai rombon- gan saudagar pedagang.”

Ki Dunuk tak menyanggah lagi sebab ia tahu bahwa Demang Cundraka mempunyai watak keras.

Maka kembali ia memperhatikan jalan di depannya yang kelihatan selalu sepi dan panas oleh terkaman sinar matahari. Untunglah mereka mengenakan cap- ing-caping bambu yang agak lebar sehingga sebagian tubuh mereka cukup terlindung olehnya.

Namun Ki Dunuk tak urung merasakan berdebar- debar di dalam dadanya. Satu perasaan cemas yang tak berujung pangkal tiba-tiba menyelinap di dalam hati, membuat si gemuk ini sebentar-sebentar menoleh ke kanan kiri, ke arah semak belukar dan pepohonan yang banyak tumbuh subur di sana-sini. Dan menda- dak saja....

“Hyaatt! Ha, ha, ha. ” Belasan sosok tubuh melon-

cat ke luar dari belukar di depan rombongan Demang Cundraka dengan sikap kasar petentang-petenteng, tak ubahnya sikap kawanan raksasa yang tengah mencegat seorang satria.

“Ayo berhenti kalian!” seru si pemimpin rombongan pencegat yang bersenjata golok lebar bertangkai pan- jang.

Dalam saat itu pula Demang Cundraka segera ber- bisik kepada seorang penunggang kuda yang berada di sebelah kirinya, “Sttt, Linting. Jika terjadi pertempu- ran, kau cepat-cepat berpacu kembali menuju Asema- rang dan katakan kepada Angger Tuntari bahwa rom- bongan kita berada di dalam bahaya!”

Pengawal Linting mengangguk paham.

Para pencegat sesaat menjadi ragu, terlebih lagi dengan Si Mulut Bertudung. Rombongan yang mereka cegat ini ternyata adalah rombongan para pedagang dan bukan rombongan Demang Cundraka seperti yang pernah diintainya beberapa saat yang lalu.

“Tudung! Mereka kan rombongan pedagang!?” desis Arya Demung dengan muka cemberut jengkel. “Apakah kita telah salah cegat, heh? Bukan ini sasaran kita!”

“Tapi... tapi tak ada rombongan lain,” sahut Si Mu- lut Bertudung dengan terbengong kebingungan dan hatinya kecut juga kalau ia kena marah dan gampar dari Arya Demung.

“Ha, ha, ha. Kita kena dikelabuhi oleh mereka!” ber- kata Klenteng seraya ketawa terkekeh-kekeh. “Peker- jaan kita tidak keliru. Orang-orang ini tidak lain adalah rombongan Demang Cundraka!”

“Hah, dari mana kau tahu hal itu?” ujar Arya De- mung seraya melotot heran ke arah si Klenteng yang masih tersenyum-senyum puas.

“Lihatlah Ki Arya. Aku masih bisa mengenal baik- baik akan kudaku yang belang-belang putih itu,” sahut Klenteng seraya menunjuk ke arah kuda yang ditung- gangi oleh Ki Dunuk. “Kuda itu kujual kepada Demang Cundraka beberapa saat yang lalu. Nah, maka kesim- pulanku bahwa orang-orang ini adalah rombongan Demang Cundraka!”

“Kurang ajar! Jadi kau telah memata-mataiku sela- ma ini!” bentak Demang Cundraka dengan mencopot caping dan sekali dikibas, caping tadi langsung mener- jang si Klenteng tepat pada mulutnya. Seketika ia ro- boh terjengkang dengan mengaduh-aduh dan mulut- nya mengucurkan darah segar.

“Huh! Kau telah menunjukkan diri!” ujar si Klenteng seraya bangun tertatih-tatih sekaligus melolos senjata rantainya yang dibelitkan pada bahunya.

“Pameranmu sungguh hebat, sobat!” seru Arya De- mung beringas. “Sekarang cepat kau serahkan Arca Ikan Biru ke dalam tangan kami! Atau kau ingin sedi- kit pameran dari golokku ini? Hyaattt...!” Wesss... wess....

“Yueehhh....” Brukk! Tiba-tiba saja, sesaat sesudah Arya Demung mengibaskan golok lebarnya, kuda De- mang Cundraka lalu roboh dengan kepala terbelah dan menghamburkan darah!

Keruan saja Demang Cundraka seketika meloncat turun ke tanah dan berseru marah, “Setan iblis! Kau bertingkah semena-mena. Ambillah sendiri Arca Ikan Biru sesudah kalian dapat melangkahi mayat-mayat kami!”

“Serbu!” teriak menggeledek dari Arya Demung se- raya menerjang ke arah Ki Demang Cundraka dengan goloknya dan sesaat itu pula terjadilah pertempuran hebat.

“Linting! Sekarang tiba saatnya, segera larilah,” seru Ki Demang Cundraka kepada si pengawal yang masih bertempur di atas kudanya.

Mendengar perintah itu, Linting seketika mengge- prak kudanya dan berpacu ke arah barat dengan ken- cang dan gesitnya.

“Jangan biarkan ada yang lolos!” teriak Arya De- mung ketika ia melihat seorang pengikut Ki Demang Cundraka telah memutar kudanya dan berpacu ke arah barat. “Bereskan orang itu!”

***

Hingga di sini selesailah Seri Naga Geni XXIV ‘Pen- dekar Empat Serangkai’. Ikutilah seri selanjutnya yang ke XXV “ORANG-ORANG LIAR”. Akan kita ketahui ba- gaimana nasib Arca Ikan Biru. Bagaimana nasib si pengawal Linting dan ke mana tujuan rombongan Tan- gan Iblis, semuanya akan pembaca temukan dalam buku tersebut. Selamat membaca dan salam buat ANDIKA semua.

TAMAT