Serial Naga Geni Eps 23 : Arca Ikan Biru

 
Eps 23 : Arca Ikan Biru

BAGIAN I

ANGIN YANG MENGALIR santer menerpa gundukan batu-batu karang, kemudian terpuntir berpusing- pusing menimbulkan bunyi suitan nyaring, seolah-olah menjerit keriangan ataupun kesakitan karena setiap kali ia membentur mereka.

Di depan pintu gerbang yang terpahat dari batu ka- rang itu, masih terlihat dua orang yang bertanding mengadu tenaga dengan tangan kosong. Sedang di se- kitar mereka masih berdiri belasan pasang mata yang mengawasi kedua tokoh tadi dengan pandangan melo- tot kagum dan takjub. Mereka ini adalah para pengikut Saudagar Arya Demung, yang dengan hati berdebar- debar senantiasa mengikuti gerakan pemimpinnya yang lagi bertarung melawan Wasi Sableng, si jagoan kawakan yang berwatak aneh.

Arya Demung diam-diam merasa jengkel karena be- berapa kali serangannya ke arah Wasi Sableng telah terpatah di tengah jalan. Tubuh lawannya itu seolah- olah bagaikan bayangan yang bergerak berseliweran sangat cepatnya.

Apakah nantinya ia akan terpaksa mengaku kalah kepada Wasi Sableng di depan hidung anak buahnya ini? Rasa kekhawatiran ini sedikit banyak mempenga- ruhi gerakan tubuhnya, walau cuma sesaat saja.

“Sudahlah, Ki Saudagar! Serahkan saja sekantong uang dan selodong tuak kepadaku, agar Anda tidak susah-susah lagi mencucurkan keringat untuk per- mainan ini!” demikian seru Wasi Sableng, disusul ke- tawa mengkikik tak ubahnya seorang anak kecil yang mempermainkan jengkeriknya.

Seketika wajah Arya Demung diwarnai oleh warna merah, saking geram dan marahnya. Masakan seorang pendekar seperti dia tidak mampu mengalahkan seo- rang lawan seperti Wasi Sableng itu!? Bukankah nama Arya Demung telah terkenal malang melintang di dae- rah barat daya, sehingga akan memalukan kalau ia tak sanggup menanggulangi lawannya itu.

Maka sudah sewajarnya bila Arya Demung menge- rahkan segenap tenaga dan ilmunya, guna menghadapi serangan-serangan Wasi Sableng yang gencar itu.

“Kau terlalu congkak, Sobat! Apakah kau akan sanggup menerima seranganku ini, haa?! Aeeittt!!!” te- riak Arya Demung seraya melenting ke depan dengan melancarkan satu tendangan maut yang tak terhitung dahsyatnya, sampai menimbulkan suara berdesis.

Ternyata Wasi Sableng tergagap buat sesaat oleh datangnya tendangan kaki lawannya. Untung ia secara naluriah meliukkan tubuhnya ke samping, dan ten- dangan berat tadi nyaris menggampar bahunya.

“Huh, bertingkah juga kau!” desis Arya Demung bercampur kagum, dan secepat kilat iapun memutar gerakan tubuhnya sambil melancarkan kembali ten- dangan geledeknya dengan sebelah kakinya yang lain.

Wesss!!!

Sekali lagi Wasi Sableng melenting menghindarkan serangan itu dan tiba-tiba ia menerkam ke bawah den- gan gerakan yang gesit.

“Haarrh?!” dengus Arya Demung sangat terperanjat, bila saja sesuatu yang kuat terasa telah menjepit le- hernya, tak bedanya belitan belalai seekor gajah.

Tapi lebih terkejut lagi ketika ia melirik ke samping. Ternyata belitan yang menjepit lehernya itu, adalah be- litan dari lengan si Wasi Sableng yang semula diang- gapnya sebagai lawan yang ringan dan boleh disepele- kan.

“Heh, heh, heh. Heh, heh, heh. Kegesitanmu tidak seberapa, Ki Saudagar!” gereneng Wasi Sableng seraya mencibir mencemooh.

Dalam pada itu, Si Mulut Bertudung, Klenteng dan segenap pengikut Arya Demung tampak bersiaga dan bergegas untuk menolong pemimpinnya yang kini telah diringkus lehernya oleh Wasi Sableng.

Namun mereka terperanjat ketika Arya Demung berseru lantang, “Kalian jangan bergerak! Ini adalah urusan kami berdua. Tak usah kamu cemas. Aku be- lum benar-benar kalah olehnya!”

Teriakan Ki Saudagar tadi cukup menakjubkan. Bukan saja bagi segenap anak buahnya sendiri, tapi lawannyapun ikut terkejut pula oleh hal itu.

Wasi Sableng mengerutkan dahinya dan ia berkata dalam hati, “Luar biasa! Dengan jepitan pada lehernya ia masih sanggup untuk berteriak begitu lantang. Satu tanda bahwa dia memiliki ilmu yang tinggi!”

Belum selesai Wasi Sableng menyadari rerasannya tadi, mendadak saja lawannya ini berteriak lagi, “Heei, kalian tak usah cemas, Anak-anak. Lihatlah dengan mudah aku akan melepaskan diri! Aku akan lolos dari tangan Wasi Sableng ini!”

Begitulah teriakan Arya Demung dan tiba-tiba ia berkomat-kamit lalu tubuhnya bergetar seperti orang terkena sakit demam, membuat Wasi Sableng ikut ter- getar pula tubuhnya dengan satu ketakjuban yang tak terpahami.

Maka sesaat kemudian, entah bagaimana asal mu- lanya, Arya Demung tahu-tahu dapat meloloskan ke- palanya dari kungkungan lengan Wasi Sableng, diba- rengi teriakan mengagetkan,

“Hyaaatt... lepas kataku!”

Hampir setiap mulut pada melongo ketika Arya De- mung dengan mudah meloloskan diri tak ubahnya seekor belut yang lolos dari genggaman tangan manu- sia. “Gerakannya dan tubuhnya licin bagaikan belut!” desis Wasi Sableng sambil ia mengejar gerakan tubuh lawannya dengan sebuah terkaman kilat.

Akan tetapi sekali ini, justru Wasi Sablenglah yang menjadi lebih terkejut, sebab begitu kedua tangannya terjulur dengan terkamannya ke depan, maka sepa- sang jari-jari tangan yang kokoh telah mengunci kedua pergelangan tangannya.

“Heei, kau...?!” seru Wasi Sableng sewaktu menya- dari bahwa Arya Demunglah yang menangkap kedua pergelangan tangannya. Hampir-hampir ia tak dapat mempercayainya apa yang terjadi pada dirinya.

“Heh, heh, heh. Sekarang giliranku, Sobat!” kata Arya Demung sambil ia mengerahkan tenaganya untuk kemudian menghentakkan tubuh Wasi Sableng ke samping dengan kerasnya, sehingga tubuh lawannya tersebut terlempar dan terhempas bagaikan sebuah bola permainan.

Selintas saja dapat dibayangkan bahwa tubuh Wasi Sableng bakal rontok tulang-tulangnya akibat hempa- san itu, jika seandainya ia tidak lekas-lekas mengatasi keadaan ini.

Dengan mengandalkan kelincahan gerakannya, Wa- si Sableng membuat putaran tubuhnya di tengah uda- ra, mematahkan tenaga serangan tadi dan betul-betul mirip dengan kelincahan seekor kera.

Bruuukkk! Kedua telapak kaki Wasi Sableng tepat mendarat dan berpijak di atas tanah dengan iringan suara berdebuk keras, bagaikan sepasang cakar garu- da yang menancap ke bumi.

Itulah suatu hal yang luar biasa. Karenanya Wasi Sableng tetap tegak berdiri, tak seperti lawan-lawan Arya Demung yang lain, yang biasanya akan remuk untuk sekali banting saja. Korban-korbannya keba- nyakan bertubuh ringsek. Kendatipun demikian, meskipun Wasi Sableng da- pat mendarat kembali dengan selamat, namun ternya- ta bahwa kedua telapak kakinya telah amblas ke da- lam tanah sampai ke batas mata kaki, disertai asap ti- pis mengepul ke atas.

Hati Wasi Sableng seketika mencelos setengah mati, mengalami hal seperti ini. Apa ini bukan berarti bahwa tenaga dalam dari Arya Demung yang melemparkannya berukuran kelewat hebat?!

Sementara itu, Arya Demung yang melihat ketang- guhan Wasi Sableng terpaksa manggut-manggut gem- bira. Demikian pula Si Mulut Bertudung, Klenteng dan lain-lainnya sama-sama menarik napas panjang.

Biarpun lontarannya tadi tidak sampai mencederai lawannya, Arya Demung tidak menjadi berkecil hati, bahkan ia segera dapat meraba seberapa takaran tena- ga lawannya ini. Maka semakin gembiralah dirinya, seandainya ia berhasil mengikat persekutuan dengan Wasi Sableng.

“Hmmm, cukup pantas orang ini bila menjadi seku- tuku! Dengan bantuannya, pasti aku sanggup merebut Arca Ikan Biru yang sangat berharga itu,” demikian pi- kir Saudagar Arya Demung sambil bersiap siaga kem- bali untuk menghadapi lawannya.

Biarpun ia sendiri tak kalah ilmunya, toh masih ha- rus memperhatikan lawannya, serta berhati-hati sekali dalam mengambil langkah-langkah yang paling tepat, sebab dari gerakan tubuh Wasi Sableng yang tidak ter- lalu besar, cukup membuat debu-debu tanah menge- pul ke udara. Satu pertanda bila Wasi Sableng ini bu- kan lawan sembarangan.

Bagi Arya Demung sendiri, hal ini merupakan tam- bahan pengalaman yang jarang ditemui, maka sudah seharusnya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan tadi.

Selama ini, ia telah menyusun diri dan kehidupan- nya dengan mengandalkan ilmunya sampai akhirnya ia dapat menjadi seorang saudagar yang kaya raya dan berpengaruh di daerah Asemarang. Perjumpaannya dengan Wasi Sableng ini merupakan kesempatan un- tuk menguji, sampai di manakah kelebihan dan keku- rangan ilmunya selama ini.

Tak antara lama Arya Demung telah memulai lagi serangan-serangannya dengan bertangan kosong bela- ka. Gerakannya sangat cepat dan ia memutari lingka- ran di mana tubuh Wasi Sableng berdiri. Inilah gera- kan ilmu Lingkaran Roda yang mendasarkan gerakan berputar dengan kecepatan tinggi, sehingga akan membuat lawan yang dikitari akan menjadi pusing, dan di saat-saat demikian serangan penutup pasti akan berhasil merobohkan lawannya.

Kenyataannya memang demikian. Ketika Wasi Sab- leng melihat gerakan tubuh Arya Demung ini, mulai timbullah rasa peningnya. Untung saja pendekar yang angot-angotan ini masih bisa berpikir agak tenang.

“Huupp!” dengus Wasi Sableng seraya melenting ke- luar dari lingkaran gerak tubuh lawannya. Sayangnya terpaksalah mulutnya mencomel-comel, manakala Arya Demungpun menyusul gerakannya, dan ketika ia berhasil mendarat, tahu-tahu tubuhnya telah berada kembali di dalam kepungan tubuh Arya Demung yang senantiasa bergerak melingkarinya.

“Bukan main!” desis Wasi Sableng penuh kagum kepada lawannya. Tapi sekali lagi pendekar aneh ini berbuat seenaknya diri. Dengan tenangnya ia duduk di tanah sementara tangannya mengeluarkan seruas ba- tang tebu dari balik baju dan membrakotinya. Terden- gar mulutnya mencepak-cepak memamah serabut- serabut tebu dan menghisap sari gulanya.

“Edan!” seru Arya Demung dalam gerakannya. “Kau mengaku kalah, bukan!? Buktinya kau telah berhenti dan mendeprok di tanah!”

“Heh, heh. Siapa bilang aku telah kalah?! Itu kan mulutmu sendiri yang ngomong! Menyentuh tubuhku saja engkau belum mampu, kenapa sudah berani mengaku menang?”

“Lalu apa maksudmu dengan mengesot di tanah se- perti itu!?” bentak Arya Demung jengkel. Sebab seolah- olah lawannya telah tidak sudi lagi melayani seran- gannya. Bahkan ia telah berkesan bahwa dirinya yang selalu bergerak cepat mengelilingi kedudukan Wasi Sableng itu, kini menjadi bahan tontonan yang murah.

“Inipun termasuk salah satu silatku, Sobat!” seru Wasi Sableng dengan mengandung kelakar, meski itu- pun dianggap sesuatu yang luar biasa oleh lawannya.

“Lekas melawan aku!” Arya Demung berteriak. “Atau kau harus dipaksa dengan tembakan panah dari orang-orangku?”

“Weh, weh, kau mulai tidak sabar, Sobat!?” ujar Wasi Sableng. “Bagus! Bagus! Aku akan memenuhi keinginanmu!! Tapi lebih dulu sambutlah barang sam- pah yang tak berharga ini, sebab teriakanmu telah mengganggu seleraku dalam menikmati ruas-ruas tebu ini!! Hiaattt!”

Dengan gerakan gesit Wasi Sableng menimpukkan serabut-serabut sampah tebu ke segenap arah, di ma- na tubuh Arya Demung bergerak. Tentu saja Arya De- mung tidak berani memandangnya remeh, sebab Arya Demung telah melihat sendiri, betapa pendekar angot- angotan yang menjadi lawannya itu dapat merobohkan seorang anak buahnya dengan bersenjatakan seruas batang tebu saja! Apalagi kini! Arya Demung dapat me- lihat jelas bahwa serabut-serabut sampah tebu itu me- luncur ke arah dirinya, bagaikan belasan jarum-jarum berbisa! Keruan saja Arya Demung menjadi kaget dan seke- tika melentingkan diri ke udara guna menghindari se- rabut-serabut tebu yang mengancamnya.

Wasi Sableng dapat melihat hal itu pula, ketika tu- buh Arya Demung menghindari serabut tebunya, maka tanpa memberi kesempatan lagi iapun melesat ke uda- ra menyambut gerakan tubuh lawannya.

Seketika itu pula terlihatlah dua tubuh manusia berpapasan di udara dengan serangkaian serangan- serangan yang saling bergempur sangat seru dan men- gagumkan!

Wesss. Plak! Plaakk! “Huuhh?”

“Hah, ha, ha, ha. Bagaimana, Sobat Demung? Apa- kah Anda telah puas?” seru Wasi Sableng sambil ter- tawa-tawa kesenangan. Sementara tangan kanannya melipat ke belakang tubuh.

“Asem! Memang aku telah puas dengan pertunju- kanmu!” sahut Saudagar Arya Demung meringis. “Tapi kau tak mampu menandingiku, bukan?! Ini merupa- kan ujung dari kekalahanmu...!”

Tangan kiri Wasi Sableng sibuk menggaruk- garukkan kepala seraya berkata, “Mana boleh engkau berkata demikian, Sobat? Kau kira aku belum mampu menghilangkan kesombonganmu!? Heh, heh, heh, coba periksa barang-barangmu. Apakah tidak ada sesuatu yang hilang!?”

Kata-kata ini bagai sengatan lebah, terasa menga- getkan hati Arya Demung. Maka cepat-cepat ia meme- riksa tubuh dan tiba-tiba berseru, “Kantong uangku! Heei, jatuh ke mana dia?”

“Weh, heh, heh. Ternyata kau sama gobloknya den- gan diriku, Sobat!” dengus ketawa Wasi Sableng sangat riuhnya , lalu tangan kanannya yang melipat ke bela- kang ditunjukkannya ke depan, membuat Arya De- mung dan para pengikutnya terbelalak kaget, sebab pada genggaman jari-jemari tangan Wasi Sableng tadi tergantunglah sekantong uang milik Arya Demung yang semula disangkanya jatuh! “Lihat ini, Sobat. Se- karang jadi milikku. Kau setuju, bukan!?”

Arya Demung masih ternganga dan sejurus kemu- dian berserulah ia, “Heh, jadi... jadi kau... curi kantong uangku itu, hah?! Hmm, bagus, bagus! Karenanya aku lebih senang seandainya Anda mau bergabung sebagai sahabatku, sebab aku bersedia membayarmu lebih banyak dari yang sekantong itu!”

“Uang ini akan kugunakan untuk membeli tuak dan anggur kesukaanku.”

“Ha, ha, ha. Itu tak usah kau takutkan, Wasi Sab- leng! Di dalam rumahku tersedia beberapa tempayan dan gentong penuh berisi minuman yang lezat-lezat,” ujar Arya Demung bergirang, sebab ia boleh berharap bahwa Wasi Sableng akan bersedia menjadi sahabat dan sekutunya. “Kau tahu Sobat Wasi Sableng, bahwa kita mempunyai selera yang sama? Hih, hih, hih!”

“Jadi aku boleh minum sepuas-puasku!”

“Hi, hi, hi. Tentu saja boleh! Perutmu tidak akan sanggup menampung persediaan tuak dan anggurku.”

“Baik. Jika kata-katamu itu dapat kupegang, aku bersedia mengikat persahabatan dengan dirimu!”

Arya Demung, Si Mulut Bertudung dan segenap pengikut mereka berjingkrak gembira mendengar per- nyataan Wasi Sableng tadi. Seolah-olah mereka men- dapat runtuhan gunung emas.

Dengan bergabungnya Wasi Sableng tadi, bolehlah diharap bahwa mereka akan jauh lebih kuat dan per- kasa. Pendekar angot-angotan itu selain tangguh, juga memiliki kecerdikan-kecerdikan seperti terlihat, bahwa ia berhasil menyambar kantong uang Arya Demung se- lagi mereka berlintasan dan bergerak di udara bebera- pa saat yang lalu.

Bukankah itu semua merupakan satu kecerdikan dan kecepatan gerak yang sukar dicari tandingannya?! Satu kepandaian yang tidak dimiliki oleh setiap orang!

“Ha, ha, ha. Marilah Sobat Wasi Sableng. Silahkan masuk ke dalam pendapa rumahku untuk beristirahat dan mereguk anggur dan tuak persediaanku! Ayolah, Sobat!” seru Arya Demung serta merangkul pundak Wasi Sableng lalu diajaknya masuk ke dalam rumah pendapa, diikuti oleh Si Mulut Bertudung, Klenteng dan para pengikut lainnya. Mereka mengiringkan ke- dua pendekar jagoan itu dengan gembira.

Si Mulut Bertudung bergumam sendiri, “Hmm, ter- nyata Wasi Sableng nampak lebih hebat daripada saat ia bertempur melawan Bikhu Gandharapati di halaman rumah Ki Sungkana! Apakah ia menggembleng dan meningkatkan diri dalam waktu yang singkat. Atau memang sebenarnya justru Bikhu Gandharapati itu benar-benar seorang yang sakti mandraguna?”

Begitulah mereka akhirnya duduk-duduk di penda- pa rumah Saudagar Arya Demung, sementara bebera- pa wanita pelayan yang masih muda tampil ke arah mereka dengan membawa lodong-lodong dan kendi ke- ramik berisi minuman.

Tawa riang dan penuh kegembiraan bergema di ruangan itu, apalagi para wanita belia itu melayani minuman sambil tersenyum-senyum gairah penuh pe- sona.

Wasi Sableng bahkan berusaha menarik pinggang salah seorang wanita tadi, tapi Arya Demung mencab- lek tangan sahabatnya seraya berkata lirih, “Husss, jangan keburu nafsu, Sobat! Bersabarlah. Engkau toh akan mendapat salah satu di antara mereka nanti! He, he, he!”

Ruangan itu makin tergetar oleh suara tawa dan ob- rolan dari mereka yang minum-minum dengan puas, melicin-tandaskan semua minuman yang tersedia di situ.

Sementara itu, jauh di tempat lain, di Dusun Pete- rongan, terlihatlah satu ketenangan yang meliputi se- galanya. Pohon-pohon bergoyang tertiup angin pagi yang sejuk dan segar. Beberapa ekor burung berkeja- ran di sela-sela dedaunan dengan kicau kegembiraan.

Dari sebuah kandang di belakang rumah, muncul- lah seorang anak laki-laki kecil berumur kurang lebih sembilan tahun. Di tangannya tergenggam sebatang cambuk pendek, untuk penggiring lima ekor kerbau yang telah berjalan di depannya. Sebentar anak itu melihat ke samping rumah.

“Ayo, Ayunda Tuntari! Kita berangkat sekarang. Kan kerbau-kerbau ini telah rindu untuk berkubang dan memamah rumput hijau?!” ujar anak laki-laki tadi ke- pada seorang gadis yang lagi memutar-mutar tongkat hitamnya. Tampaknya ia tengah melatih jurus-jurus silatnya. “Ayunda ternyata lebih mencintai tongkat itu daripada diriku! Huhh!”

Berkata begitu, anak laki-laki sembilan tahun itu tak ketinggalan mencungir-cungirkan hidung dan bi- birnya untuk menggoda kakak perempuannya tadi. Meski berkesan nakal, tapi menimbulkan pula kesan- kesan lucu yang segar.

“Hai, kau berani menggodaku, bocah nakal!” dengus Tuntari seraya meloncat ke arah anak tersebut dengan cepatnya. Tahu-tahu, entah bagaimana mulanya, tan- gan Tuntari telah menjewer telinga si bocah nakal. “Hayo, Mundong, coba kau berani nakal lagi?!”

Bocah yang bernama Mundong tidak berani mela- wan dan cuma menggebruk-gebrukkan kedua kakinya berganti-ganti ke tanah seraya mulutnya pecuca- pecucu. “Ngengng, Ayunda cuma berani sama adik... itu tandanya Ayunda tidak sayang kepadaku ”

Tuntari cuma tersenyum geli dan gemas. Ia tahu bahwa jewerannya terhadap telinga adiknya itu hanya- lah berpura-pura saja, dan yakin tidak menyakitinya. Tapi kenyataannya, si Mundong telah bersikap benar- benar kesakitan, sehingga hal ini menyebabkan Tunta- ri kegelian dibuatnya.

Kemudian gadis bertongkat hitam itu memeluk adiknya seraya mencium pipinya sambil berkata, “Nih, siapa bilang Ayunda tidak menyayangi adiknya. Nah, kau berangkatlah lebih dahulu, Anak manis, nanti ayunda akan menyusulmu!”

Mundong tersenyum-senyum, demi ayundanya ber- kata demikian dan terasa bahwa jari-jari kakaknya menggosok-gosok rambutnya yang hitam mulus. Satu kesayangan seorang kakak terasa olehnya. “Baiklah, Ayunda! Aku berangkat duluan!”

Tuntari tersenyum kecil, begitu si Mundong menyu- sul kerbau-kerbau yang berlenggang perlahan dan ke- mudian meloncat gesit ke atas punggung dari salah seekor kerbau itu. Sekali lagi si Mundong melambai- lambaikan cambuknya ke arah kakaknya, dan gadis inipun membalas dengan lambaian tongkatnya.

Kini Tuntari melangkah perlahan ke arah pendapa rumah itu, sambil menyelipkan tongkat hitamnya ke ikat pinggang. Ketika ia menoleh ke arah timur, dili- hatnya si Mundong bersama lima ekor kerbau itu telah melewati rumpun bambu.

Dengan menghela napas, gadis itu mendekati hala- man pendapa, di mana seorang laki-laki setengah tua tengah meneliti dan mengamat-amati sebuah benda di tangannya yang berwarna biru cemerlang, berbentuk ikan.

“Arca Ikan Biru!” gumam Tuntari perlahan sambil mendekati pendapa tadi. Sejenak ia teringat betapa terharunya sewaktu menerima benda berharga itu dari tangan Ki Sungkana yang dalam keadaan luka-luka. “Heh, mudah-mudahan Paman Sungkana sembuh kembali.”

Laki-laki setengah tua tersebut cepat-cepat mema- lingkan kepala, begitu telinganya menangkap langkah- langkah halus dari samping rumah.

“Haaa, kau Tuntari. Adikmu sudah berangkat?” ber- tanya laki-laki tersebut yang tidak lain adalah Ki De- mang Cundraka.

“Sudah, Ayah! Sebentar lagi aku akan menyusul- nya,” sahut Tuntari seraya mengambil tempat duduk di samping Demang Cundraka. “Apakah Ayah telah me- meriksa Arca Ikan Biru itu?”

“Mm, sudah... sudah. Tapi aku tak tahu, di mana letak nilai dan kepentingannya sampai benda ini diin- car oleh banyak orang,” desah Demang Cundraka, se- raya mengangkat Arca Ikan Biru dan menentangkan benda tersebut ke arah luar, di mana sinar matahari mulai memancar dari tepi langit.

“Apakah Ayah tidak cukup hanya menyerahkan benda ini ke Demak tanpa mengutik-utiknya?” ber- tanya Tuntari.

“Memang itu yang baik. Namun aku tak mempunyai maksud jahat, jika berkeinginan mengetahui seluk- beluk dari Arca Ikan Biru ini,” sambung ayah Tuntari. “Jika aku berhasil mengetahuinya, setidak-tidaknya akan tahu betapa penting dan harus kujaga mati- matian dari setiap bahaya.”

“Apakah tidak mungkin bila Arca Ikan Biru ini be- nar-benar sekedar permata berukir yang berbentuk ikan?” bertanya Tuntari.

“Itupun mungkin, Angger,” jawab Demang Cundra- ka. “Karenanya aku harus memeriksanya seteliti mungkin.” Tuntari menghela napas, mengetahui betapa Arca Ikan Biru ini merupakan barang penting yang harus diserahkan segera ke Demak, seperti permintaan Ki Sungkana kepada ayahnya ini.

“Ehh,” desah Tuntari. “Permisi Ayah, aku harus menyusul adik Mundong dengan kerbau-kerbaunya!” Sambil berkata Tuntari mengundurkan diri dari tempat duduknya.

“Ya, ya. Hati-hatilah engkau mengawani adikmu, Tuntari!” ujar Demang Cundraka seraya tersenyum gembira. Ia menatap ke arah halaman dan tampaklah betapa anak puterinya itu meloncat-loncat gesit ke arah timur dengan gerakan gesit bagai belalang ber- canda.

Sesaat kemudian Demang Cundraka telah sibuk kembali memeriksa Arca Ikan Biru yang masih berada di tangannya. Kadang-kadang ditimangnya benda ini dan sebentar kemudian diterawangkannya kembali ke arah luar.

“Hhh, sampai di mana benda ini dinyatakan sebagai benda berharga. Aku harus berhasil memecahkannya. Harus!” kembali mendesah Demang Cundraka karena rasa keinginan-tahunya tentang seluk-beluk benda yang berada di tangannya.

Memang ia melihat bahwa antara ukiran kepala dan bentuk tubuh dari Arca Ikan Biru ini, terdapat satu guratan yang dalam, seolah-olah memisahkan bentuk kepala dan tubuh.

“Ini memang garis insang yang aneh!” desis Demang Cundraka, dan ketika ia berulang menerawangkan bentuk itu ke arah cahaya matahari, tampaklah bahwa pada bagian dalam atau bagian perut dari Arca Ikan Biru ini sangat gelap, sedang bagian lain dan tepinya kelihatan terang karena tembus cahaya!

“Rupanya ada sesuatu di dalam Arca Ikan Biru ini!” gumam Ki Cundraka seraya menarik bagian kepala dan bagian tubuh arca tersebut ke arah yang berlai- nan.

Tapi semua itu sia-sia saja, sebab benda tersebut tetap tak bergeming sedikitpun, seolah-olah memang bagian kepala dan tubuhnya benar-benar menjadi sa- tu, merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Hal ini tidak membuat Demang Cundraka berputus asa, dan ia berpikir lebih-keras lagi. “Kalau dengan gerakan mencabut dan menarik tidak berhasil, bagaimana jika kurobah dengan gerakan memutar kepala?”

Mula-mula Demang Cundraka memutar kepala arca ikan ini ke kanan, tapi tetap tak bergerak sedikitpun. Maka dirobahnya dengan putaran ke kiri, dan ternyata bagian kepala arca ikan itu bergerak!

“Huh?” desis Demang Cundraka kaget, maka dite- ruskannya memutar bagian kepala tadi terus ke kiri di- iringi hati yang berdebar-debar sangat kerasnya.

Bagian kepala arca ikan itu makin memisah, se- mentara guratan batas leher atau insang tadi semakin melebar. Rupanya, bagian kepala dan tubuh memang dihubungkan oleh sebuah bagian membuat seperti se- kerup, sehingga benda ini hanya dapat dipisahkan dengan cara memutar, jadi bukan dengan cara mena- rik dan mencabutnya.

Tak lama kemudian, terpisahlah bagian kepala den- gan badan, dan ini membuat Demang Cundraka ber- gemetaran tangannya. Lebih-lebih sewaktu ia melihat bahwa lobang pada bagian badan arca ikan itu me- nyimpan segulungan kain berwarna putih.

Dengan hati-hati, dipungutnya gulungan kain ter- sebut dari tempatnya, yakni dari lobang perut arca ikan ini! Kemudian dibukanya pelahan-lahan. Di situ terdapat tulisan yang dapat dibacanya dengan jelas, meskipun belum keseluruhannya dibaca. Dilihatnya lebih teliti lagi seperti tak mau percaya untuk meneri- ma begitu saja, apa yang tertulis di situ.

“Bahaya tengah mengancam kota Asemarang!” desis Demang Cundraka gemetar. Cepat ia meraih ledeng be- risi air minum di sampingnya untuk direguk guna menghapus kekagetannya.

Hampir-hampir Demang Cundraka tak dapat mem- percayai apa yang diketemukannya ini. Ia tak mengira sama sekali bahwa ketika bagian kepala dan perut dari Arca Ikan Biru ini dapat dipisahkan, ternyata di da- lamnya berisi gulungan kain dengan sebuah tulisan yang membuat Demang Cundraka menjadi gemetar.

“Orang-orang Rikma Rembyak akan menyerang bandar Asemarang...!” desis Demang Cundraka begitu mulutnya mengeja huruf-huruf yang tertulis di situ. “Mereka datang pada saat bulan purnama penuh. Mmmm, berarti saat ini masih berapa pekan lagi da- tangnya...!”

Demang Cundraka masih termangu-mangu seraya memegangi Arca Ikan Biru dan surat rahasia tadi. Gumamnya terdengar kembali. “Pantaslah bila Ki Sungkana pernah menceritakan kepadaku bahwa ben- da ini sangat penting dan harus segera aku serahkan ke Demak. Tak tahunya benda ini jauh lebih berharga daripada dugaanku semula.”

Kemudian Demang Cundraka memasukkan kembali gulungan surat tadi ke dalam rongga perut dari Arca Ikan Biru dan menyumbatnya dengan bagian kepala, sehingga benda tersebut menjadi utuh seperti sedia kala, merupakan sebuah patung ikan berwarna biru kemilauan. 

“Tak mengherankan pula benda tersebut telah me- narik beberapa orang untuk memilikinya, seperti peris- tiwa yang telah menimpa Ki Sungkana beberapa hari yang lalu. Tetapi... apakah maksud mereka sebenar- nya? Apakah mereka sekedar mengingini bahan pa- tung ikan yang terbuat dari batu permata biru laut ini? Memang bahan patung ini sangat mahal harganya, dan jarang sampai dijumpai yang seindah ini! Ataukah me- reka mungkin pula mengetahui letak kepentingan dari Arca Ikan Biru ini? Yakni pada surat rahasia ini? Hehh, cukup memusingkan... tapi yang terang, benda ini harus segera kuserahkan ke Demak!”

Dengan hati-hati Demang Cundraka membung- kuskan patung ikan itu dalam selembar kain sutra bi- ru dan dimasukkannya ke dalam peti kayu berukir.

Suasana sekeliling masih tampak sepi dan ruangan di mana Demang Cundraka berada seolah dicengkam oleh kebisuan abadi. Hanya bunyi gemerisik dedaunan yang disapu angin terdengar dari luar rumah diseling oleh kicauan burung-burung yang berkejaran di sela dedaunan.

Memang Ki Demang Cundraka harus segera menye- rahkan benda tersebut ke Demak agar segera sesua- tunya menjadi kian jelas. Biarpun begitu, satu rasa ke- sangsian menyelinap di dalam dadanya, sehingga se- bentar ia menarik napas karena keresahannya itu.

Pangkal keresahan itu sebenarnya adalah Arca Ikan Biru yang kini berada di tangannya. Benarkah bahwa surat tersebut mempunyai tujuan seperti apa yang ter- tulis di situ? Ataukah hanya merupakan sebuah siasat saja untuk menimbulkan kekacauan?

Dan lagi, siapakah sebenarnya yang bernama Tan- gan Iblis, seperti yang disebut-sebut dalam surat itu? Demang Cundraka sama sekali belum mengenal nama tersebut. Beberapa deretan nama tokoh-tokoh sakti dan persilatan telah dikenalnya, namun nama Tangan Iblis masih baru dan sangat asing baginya!

Panembahan Tanah Putih, si kakek yang berilmu tinggi itu, telah dikenalnya. Juga nama-nama seperti Ki Kebo Kenanga, Jaka Tingkir, Kyai Paku Waja, Kyai Kendil, Wesi Mahesa Wulung dan lain-lainnya. Begitu pula dengan beberapa tokoh golongan hitam yang telah mati, ia masih mengingatnya dengan jelas, antara lain, Ki Topeng Reges, Singalodra, Ki Macan Kuping, dan sebagainya.

Maka jelaslah bahwa nama Tangan Iblis masih sa- ma sekali baru baginya dan merupakan satu teka-teki yang memusingkan. Pengalamannya yang selama ini telah dikumpulkan masih belum mencukupi untuk mengenal tokoh yang tersebut di dalam surat rahasia itu, dan tetap gelaplah nama Tangan Iblis bagi Demang Cundraka.

BAGIAN II

WASI SABLENG kini lebih terjamin hidupnya, se- menjak ia tinggal di rumah Saudagar Arya Demung. Makan-minum, pakaian dan apa saja yang dikehenda- ki, dengan mudahnya akan terpenuhi oleh rekannya, si Arya Demung.

Memang lebih beruntung bagi Wasi Sableng untuk bersekutu dengan saudagar tersebut, dan keduanya merupakan pasangan yang cocok dan saling mengun- tungkan.

Bila Arya Demung mendapatkan kesulitan, maka Wasi Sablenglah yang mendapat tugas untuk membe- reskannya, dan sebaliknya bila Wasi Sableng membu- tuhkan sesuatu, maka saudagar itulah yang memenu- hinya. Maka tak ubahnya Wasi Sableng sebagai seekor jago aduan yang setiap kali bertarung untuk tuannya.

Hari itu, seperti biasanya berlangsunglah acara mi- num-minum di ruang pendapa Arya Demung, Ki Sau- dagar itu sendiri duduk di situ bersama Wasi Sableng, Si Mulut Bertudung dan para pengikutnya yang lain. “Hayo, habiskanlah tuak-tuak itu, Sobat!” seru Arya

Demung. “Hari ini aku banyak mendapat keuntungan dari barang daganganku.”

Cleguk... cleguk... cleguk.... Wasi Sableng dengan lahapnya meneguk selodong tuak dan sejurus kemu- dian iapun berkata, “Hee, jangan khawatir hidangan- mu akan tersisa, Ki Saudagar! Apa yang dapat kau ke- luarkan, tunjukkanlah supaya aku dapat mengenyam- nya!”

“Ya, ya. Kau harus makan banyak, Sobat. Tugas- tugas yang lebih berat akan segera sampai kepada ki- ta,” demikian sahut Arya Demung.

“Tapi sayang, ada sesuatu yang kurang lengkap,” ujar Wasi Sableng seraya menyeringai lucu ke arah Saudagar Arya Demung di sampingnya.

“Hehh!? Ada yang kurang!? Apakah itu!?”

“Pelayan-pelayan wanita cantik itu belum muncul. Tanpa mereka, ruangan ini menjadi hambar rasanya.”

“Ooo, itu mudah saja,” sahut Arya Demung seraya bertepuk tiga kali, dan berlarianlah beberapa wanita genit dari balik tirai sutera pintu di samping pendapa, tak ubahnya beberapa orang bidadari yang muncul da- ri balik sela awan lembayung. Maka suasanapun ma- kin bertambah meriah.

Ruangan pendapa itupun masih diliputi oleh gelak ketawa dan bau tuak yang menghambur di udara, seo- lah-olah hanya kegembiraan belaka yang mengisi kehi- dupan mereka. Sedang para wanita genit pengantar hidangan itupun telah pula ikut terjun di antara mere- ka dengan menikmati hidangan yang melimpah ruah di atas meja-meja panjang berkaki pendek.

Hanya seorang wanita saja yang tampaknya tak ter- hanyut oleh kegembiraan tersebut. Dengan tenangnya ia tetap bekerja mengantarkan hidangan-hidangan yang perlu ditambahkan dan mengumpulkan lodong- lodong tuak serta pinggan mangkuk yang telah kosong. Rupanya saja wanita itu menarik perhatian bagi Wasi Sableng, yang sejak tadi selalu mengincar dengan lirikan matanya. Yah, sungguh aneh, bukan, bahwa wanita itu seakan-akan tidak menggubris akan pesta

gembira itu?

Perawakannya yang genit dengan wajah yang lon- jong benar-benar merupakan perpaduan tepat. Di atas matanya yang berbulu melengkung itupun terdapat sepasang alis yang tebal hitam, seolah melambangkan kekerasan yang sukar diduga.

Perhatian Wasi Sableng tak lepas-lepasnya dari si genit beralis tebal itu. Sesungguhnya baru kali ini ia melihat wanita yang cantik itu menurut ukurannya. Maka tak ayal lagi, ketika si genit itu berlalu di sam- pingnya, Wasi Sableng segera menyambarkan kedua tangannya ke arah pinggang si pelayan untuk meme- luknya.

Wesssttt, plaaak! “Uuuahhh...?”

Wasi Sableng terkejut bukan main dan mulutnya berkomat-kamit menahan marah disertai rasa kagum yang sangat besar. Sebab ketika kedua tangannya hampir mencapai pinggang si genit, mendadak saja si pelayan itu melegoskan pinggangnya, dibarengi tangan kirinya yang menggenggam selembar sapu tangan me- nyapu ke samping dan mencegat gerakan tangan Wasi Sableng.

Biarpun gerakan tadi dalam gaya yang gemulai, namun cukup hebat akibatnya. Oleh Wasi Sableng tangannya seolah-olah telah ditampel dengan sebilah lempengan benda keras, sehingga mulutnya meringis menahan rasa sakit yang menyengat-nyengat pada ke- dua belah tangannya. Yang membuat Wasi Sableng lebih melongo adalah sikap si genit itu. Seolah-olah ia tidak mengetahui bahwa orang yang baru saja ditampel dengan sapu tangannya itu telah peringisan menderita sakit.

Masih dalam ketidak-percayaannya akan kenyataan itu, sekali lagi Wasi Sableng meraihkan kedua tangan- nya ke pundak si genit beralis tebal yang masih berdiri di situ sambil mengerling dengan sudut matanya ke arah Wasi Sableng.

“Ehh, sabar, Tuan,” desis si genit sambil memiring- kan tubuhnya diiringi senyuman sinis dan tahu-tahu jari-jarinya telah mencubit lengan si Wasi Sableng.

“Huuaaduuhh!” seru Wasi Sableng kesakitan, sebab dirasanya cubitan tadi sekeras paruh burung betet yang mematuk, dan buru-burulah Wasi Sableng mena- rik kedua tangannya. “Keparat! Kau menghinaku!?”

Arya Demung dan lain-lain yang menyaksikan keja- dian, pada tertawa terbahak-bahak kegelian. Tapi ju- stru ini pulalah Wasi Sableng menjadi semakin berin- gas dan marah. Hanya Arya Demung sendiri yang da- pat memaklumi siapakah sebenarnya si genit itu, sam- pai ia berani menolak tangan Wasi Sableng yang ber- maksud memeluknya.

“Heh, he, he, ayolah sobatku Sableng! Tangkaplah si genit itu kalau engkau ingin memeluknya. Aku ingin tahu apakah Sobat masih cukup lincah untuk itu?!” ujar Arya Demung disertai tawa yang beruntun.

“Hee, Sobat ingin mengujiku?” seru Wasi Sableng sambil mencereng tajam ke arah sahabatnya, karena sedikit banyak ia merasa tersinggung oleh kata-kata itu.

“Hooo, janganlah sobatku Sableng berhati sekaku tangan tombak. Anggaplah ini sebagai permainan yang segar. Nah, tangkaplah si genit itu sekarang juga!”

“Bagus! Dan kau akan menghadiahi apa, jika aku sampai berhasil menangkapnya?” seru Wasi Sableng. “Heh, heh, heh, sekantong uang emas utuh itu!”

ujar Arya Demung sambil mengguncang-guncang se- pundi uang emas yang dikeluarkan dari balik bajunya.

“Kalau begitu, sekarang juga aku akan menangkap- nya!” geram Wasi Sableng sekaligus melesat menubruk ke arah si genit beralis tebal itu. “Hyaaattt!”

Terkaman Wasi Sableng memang tidak begitu hebat, sebab ia telah yakin bahwa dengan sekali tubruk saja, pasti ia dapat menangkapnya.

“Hi, hi, hi, meleset!” ujar si genit seraya meloncat ke samping, dan akibatnya Wasi Sableng hampir saja ter- sungkur di atas lantai pendapa yang mengkilat itu.

Untung saja si jagoan itu cepat-cepat memutar ge- rakan-gerakan tubuhnya untuk mematahkan tenaga dorongan dari dirinya sendiri.

Kini Wasi Sableng mengambil ancang-ancang sam- bil menatap ke arah si genit yang berdiri melenggang- lenggok sementara jari-jarinya mempermainkan sapu- tangan biru dengan gerakan gemulai.

Tak ketinggalan pula si genit melontarkan senyu- man sinis ke arah Wasi Sableng dan karenanya pula Wasi Sableng merasa bahwa si genit itu telah menggo- danya.

“Menjengkelkan!” gumam Wasi Sableng. “Ia mem- permainkanku? Apakah aku tak sanggup menangkap- nya?” Wasi Sableng berdesah dan menyungar- nyungirkan hidungnya, lantaran bau harum semerbak turut menghambur bersama goyangan sapu tangan bi- ru di tangan si genit itu.

“Hiihh! Sekarang rasakan!” seru Wasi Sableng se- raya menerkam ke depan dengan jari-jari mengembang tak ubahnya sepasang cakar garuda yang siap beraksi. Wuuutt…! Sambaran tersebut berlalu ke arah si ge- nit dengan hebatnya dan tampaknya pastilah sasaran itu akan teringkus seketika.

Namun tidak demikian kiranya. Si genit secepat ki- lat berjongkok serendah mungkin dan tangan kirinya tahu-tahu menyodok ke arah lambung Wasi Sableng.

“Wah, berbahaya!” gumam Wasi Sableng, sekaligus membuang diri ke samping dan bergulingan di lantai sangat cepatnya, tanpa memperdulikan guruh ketawa dari orang-orang di sekitarnya. Yang teringat hanyalah keselamatan dirinya dari sodokan tangan kiri si genit itu.

Akan tetapi hati Wasi Sableng mencelos seketika. Sewaktu ia melenting berdiri, ternyata si genit telah be- rada di samping, dan tangan kanannya yang meng- genggam sapu tangan biru itu serentak mengebut ke arahnya diiringi bunyi menjetar keras.

Dengan kekagetan yang luar biasa, Wasi Sableng melesat ke udara menghindari sapu tangan itu yang mematuknya bagai seekor ular ganas memburu mang- sanya.

“Luar biasa!” desis Wasi Sableng penuh keheranan dan rasa jerih. “Siapakah dia ini? Bukankah ia juga seorang pelayan yang mengatur hidangan!?”

Pada jarak yang cukup jauh, Wasi Sableng menda- rat di lantai, disertai dada yang kembang kempis. Ce- pat ia bersiaga kembali. Gerutunya, “Bagus! Jika den- gan cara yang halus ia sukar ditangkap, dengan cara keraslah ia akan kutundukkan!”

Bagi Wasi Sableng, tindakan si genit yang beberapa kali menghindari tangkapannya benar-benar menjeng- kelkan. Tapi lebih memanaskan hati Wasi Sableng ada- lah kelancangan si genit yang berani menyerangnya.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Wasi Sableng mener- jang ke depan. Tangan keduanya menerkam, sementa- ra kaki kanan menyapu ke arah tubuh si genit, dengan harapan bila si genit itu jatuh maka ia akan mering- kusnya.

Tapi apa yang terjadi? Dalam gerakan tenang, si ge- nit menangkis sambaran kaki Wasi Sableng dengan te- basan telapak tangan kirinya. Blaaakk…! Dan selan- jutnya dengan gesit ia melenting ke udara sehingga Wasi Sableng tak berhasil dengan terkaman tangan- nya.

“Heei, dia bukan pelayan sembarangan!” desis Wasi Sableng tak habis herannya. “Jadi dia sengaja ingin mencoba kekuatanku!”

Belum habis Wasi Sableng merenungi si genit tadi, mendadak saja lawannya itu menyerbu ke arahnya. Sapu tangan biru di tangannya menyambar bagaikan kilat cepatnya dan Wasi Sableng benar-benar terkesiap setengah mati.

“Hihh!” Wasi Sableng ganti menebaskan pukulan te- lapak tangannya ke samping. Ia bertekad untuk me- megat gerakan sapu tangan si genit, dan jika mungkin merebutnya.

Blaashh…! Satu bentrokan lemah tapi berhawa pa- nas terjadi ketika tangan Wasi Sableng berbentur den- gan sapu tangan si genit.

Sambil mengibaskan tangannya yang seperti tersen- tuh bara api, Wasi Sableng ganti menyodokkan tangan kirinya ke depan menerjang ke arah lambung si genit.

Akan tetapi, si genit beralis tebal itu meloncat ke atas dan kaki kirinya tanpa terduga menyapu ke arah pundak Wasi Sableng dalam serangan kilat.

Tak ada pilihan lain bagi Wasi Sableng, selain me- nerjang kaki si genit dengan geprakan tangan kanan- nya sehingga benturan terjadi cukup kerasnya.

Satu hal yang benar-benar mengagumkan adalah gerakan si genit. Begitu kaki berbentur, tubuhnya menggeliat melenting menjauhi Wasi Sableng dengan sangat lincah bagaikan gerakan udang di atas air. Suara ketawa riuh menggema di ruangan pendapa rumah Arya Demung karena pertandingan tersebut. Bahkan saking terpikatnya oleh hal itu, Arya Demung selalu menggebrak-gebrak meja panjang di depannya seperti memberi semangat dan irama bagi kedua tokoh yang tengah bertanding di depannya.

Si Mulut Bertudung sendiri ikut tercekat kagum oleh gerakan si genit, sebab selama ini setiap pelayan di rumah Arya Demung selalu bersedia melayani ta- munya, dan soal dipeluk bukanlah sesuatu yang asing bagi mereka. Namun si genit itu berani menentang ke- hendak Wasi Sableng, bahkan kini berani bertarung mengadu tenaga. Selintas lalu si Mulut Bertudung ini jadi teringat dengan Tuntari, si pendekar puteri yang pernah bertempur melawannya di halaman rumah Ki Sungkana beberapa waktu berselang.

“Hmm, ternyata puteripun sanggup bertarung dan memiliki kesaktian pula. Tapi siapakah si genit itu se- sungguhnya? Aku hanya tahu bahwa dia seorang ang- gota baru di rumah ini, dan namanya, sama sekali aku belum tahu. Hmm, menilik gerak-gerakannya, ada ju- rus-jurus yang mirip dengan jurus milik Ki Saudagar Arya Demung!”

Kedua orang itu makin bergerak serang-menyerang dengan cepatnya, sampai kadang-kadang sukar di- tangkap oleh mata orang-orang yang melihatnya. Me- reka bergerak ke sana-ke mari tak ubahnya dua ekor jago yang lagi berlaga memperebutkan kemenangan. Sapu tangan biru milik si genit senantiasa mematuk- matuk ke arah pertahanan Wasi Sableng yang kosong. Gerakannya sangat cepat, sehingga selintas yang tam- pak adalah sinar-sinar biru yang menyambar-nyambar ke arah Wasi Sableng.

Dapat dibayangkan, seandainya bukan Wasi Sab- leng yang menghadapi serangan tersebut, pastilah su- dah menggeletak orang itu sejak tadi karena terkena hajaran sapu tangan biru dari si genit.

Wasi Sableng makin terbuka matanya begitu mera- sakan terjangan-terjangan si genit yang semula cuma dipandangnya dengan sebelah mata saja. Tak tahunya wanita itu sanggup melawannya sampai beberapa ju- rus, dengan serangan-serangan yang gencar menggi- riskan.

Sekarang juga Wasi Sableng tak mau membuang- buang waktu lagi. Lawannya itu sanggup mengatasi serangannya lantaran ia membekal sapu tangan biru, maka bagi Wasi Sableng sendiri iapun tak ayal lagi un- tuk melolos sesuatu dari balik bajunya, membuat se- mua mulut berteriak kaget dibarengi bulu kulit mereka pada berdiri mengkirik seperti melihat hantu di siang hari.

“Ular weling!”

Yah, begitulah memangnya. Benda yang dilolos oleh Wasi Sableng dari balik bajunya, tidak lain adalah see- kor ular weling yang kulitnya berbelang-belang hitam dan putih kekuningan, salah satu jenis ular berbisa yang ditakuti orang.

Sedang Wasi Sableng sendiri cuma cengar-cengir ketawa lantaran ular weling ini adalah salah satu sa- habat atau binatang kesayangannya. Sejenak kemu- dian, Wasi Sableng menatap ke arah Arya Demung sambil berseru, “Sobat Demung! Lekas katakan kepa- daku, sebelum aku marah benar-benar. Siapakah se- benarnya si genit ini?!”

Arya Demung tertegun sesaat lalu menyahut, “Baik- lah kalau engkau ingin mengenalnya. Dialah yang ber- nama si Teja Biru, salah seorang pendekar undangan dari daerah barat yang datang bergabung kepada kita!” “Hee, jadi mengapa dia menyaru dan ikut mengatur hidangan seperti pelayan-pelayan itu semua?! Tamba- han lagi, mengapa engkau tidak memperkenalkan si genit itu sejak tadi, sampai kami terlibat dalam perta- rungan ini!?”

“Jangan gusar, Sobat Sableng! Itu semua adalah kehendaknya sendiri. Ia memang mempunyai cara- cara yang aneh untuk memperkenalkan diri, seperti caranya yang menyamar sebagai pelayan hidangan ta- di,” demikian ujar Saudagar Arya Demung menje- laskan.

“Hmm, kalau begitu ia sengaja mengelabui diriku? Keterlaluan! Dia harus membayar kerugian kepadaku untuk kekurangajarannya!” bentak Wasi Sableng se- raya menatap ke arah si genit Teja Biru tajam-tajam.

“Heh, heh, heh. Kau boleh bertanya sendiri kepa- danya, Sobat!” sahut Arya Demung kemudian. “Apakah dia bersedia membayar kerugian itu atau tidak.”

“Heei, Teja Biru! Lekas katakan, apakah engkau bersedia membayar kerugian itu!” kembali Wasi Sab- leng membentak keras-keras sementara ular weling di tangan kanannya menggeliat-geliat menjijikkan.

“Hih, hi, hi. Mana boleh ada yang untung rugi di si- ni? Apakah kita telah berjual beli di tempat ini?” balas Teja Biru dengan sindiran yang tajam memanaskan te- linga. “Aku sengaja ingin berkenalan dengan kamu, Sobat!”

“Tapi dengan cara yang menyakitkan hati?” balas Wasi Sableng. “Tidak! Kau harus kuhukum untuk itu!” “Hi, hi. Jangan terlalu gegabah mengancamku. Hu- kuman apa yang kau maksudkan?!” sahut Teja Biru seraya berlenggak-lenggok genit seraya menggoyang- kan sapu tangan birunya yang berbau harum itu. Pen- dek kata, seolah tingkah Teja Biru ini sangat memikat dan menggairahkan, sehingga tak mengherankan bila Wasi Sableng menghadapinya dengan beringas dan ha- ti yang kembang-kepis. Belum pernah ia dipermainkan dan digoda oleh wanita secantik si genit Teja Biru ini. “Kau... kau...,” seru Wasi Sableng dengan perkataan

yang sukar, gara-gara nafsu amarah yang bercampur aduk dengan rasa kegilaan untuk mendapatkan si ge- nit beralis tebal, berambut hitam mengombak itu. “Kau…, kau harus melayani semua perintahku! Itulah hukuman bagimu!”

“Hi, hi, hi, hi. Mudah sekali kata-katamu. Kau boleh menghukumku jika aku telah dapat kau kalahkan da- lam pertarunganku ini nanti!” ujar Teja Biru seraya bi- birnya mencibir dan memerot ke sana-ke mari dalam gaya yang menjengkelkan tapi memikat, membuat hati Wasi Sableng makin gulung-koming. “Dan sebaliknya, apa jadinya jika engkau yang kukalahkan?!”

“Kau boleh menghukumku, dan aku bersedia men- gerjakan segala perintahmu!”

“Bagus. Itu perkataan seorang jagoan yang sejati!” sambung Teja Biru. “Ayo kita mulai bertarung! Aku sengaja ingin mencoba kegagahanmu dan sedikit men- dapat pelajaran dari seorang pendekar jagoan yang bergelar Wasi Sableng!”

“Hmm, aku sudah dapat membayangkan, bahwa engkau akan segera dapat kukalahkan dan kupeluk dengan kedua belah tanganku yang kokoh ini!”

“Sambutlah ini!” seru Teja Biru. Serentak sapu tan- gan biru di tangannya melecut ke arah dada Wasi Sab- leng dengan bunyi menjetar nyaring. Taaarr…!

“Asem! Dia telah menyerang lagi!” desis Wasi Sab- leng seraya meloncat mundur dan ganti menyabetkan ular weling di tangan kanannya ke samping tepat keti- ka Teja Biru telah mengejarnya ke situ. “Heeit!”

Teja Biru mendesah kaget. Naluri kewanitaannya yang biasa jijik menghadapi binatang-binatang se- bangsa cacing, tikus, ulat dan ular membuat ia merasa jerih menghadapi ular weling di tangan Wasi Sableng. Beruntung bahwa ia menggenggam sapu tangan bi- ru, salah satu senjata andalannya yang selama ini te- lah melindungi dirinya dari setiap bahaya.

Sssss…! Suara desisan ular weling di tangan Wasi Sableng menyambar dengan ganasnya ke arah si Teja Biru. Tapi si genit itu cukup gesit menghindari dari senjata aneh lawannya yang mematuk-matuk dengan gerakan kilat.

Melihat kedua tokoh itu sudah bertarung kembali, para penonton menjadi terpesona kembali. Hampir se- mua mata pada melotot terpaku mengawasi, betapa Wasi Sableng dan Teja Biru saling melibat dan serang- menyerang.

“Mulut Bertudung!” bisik Saudagar Arya Demung kepada Si Mulut Bertudung yang duduk di sebelahnya. “Bukankah mereka berdua sama-sama hebatnya!?”

“Benar, Kakang Arya Demung.”

“Dengan kedua orang itu, kita akan lebih kuat lagi.” “Aku khawatir kalau mereka menjadi sungguh-

sungguh bertempur, Kakang Demung!” “Memang mereka sungguh-sungguh, bukan?”

“Dan bagaimana bila sampai Teja Biru jatuh sebagai korbannya?!”

“Itu tak mungkin!” sahut Arya Demung.

“Mengapa tak mungkin?” sambung Si Mulut Bertu- dung. “Bukankah mereka bertarung sungguh- sungguh? Dan setiap pertarungan, tidak mustahil membawa korban!”

“Sebab Wasi Sableng tak akan sampai hati mence- derai si Teja Biru!” Arya Demung berkata pasti.

“Dari mana Kakang Demung mengetahui hal itu?” “Ahh, kau kurang membawa mata!” sahut Arya De-

mung. “Bukankah Wasi Sableng cukup menyayangi tubuh si genit Teja Biru? Ia sangat tergila-gila kepada si genit itu!” Si Mulut Bertudung manggut-manggut mendengar keterangan Saudagar Arya Demung tadi. Pangkal per- tarungan ini bila dipikir adalah disebabkan keinginan Wasi Sableng untuk memeluk tubuh si genit Teja Biru yang padat semampai itu. Tapi hal itu ternyata tidak semudah yang diduga, sebab mana boleh seorang pen- dekar puteri seperti Teja Biru sudi dianggap remeh oleh orang lain, meski orang itu adalah rekannya sen- diri?!

“Nah, lihat itu!” bisik Arya Demung kembali kepada Si Mulut Bertudung. “Beberapa kesempatan untuk se- rangan mematikan telah dilewatkan oleh Wasi Sableng. Apakah itu tidak berarti bahwa Wasi Sableng cukup menyayangi Teja Biru?”

“Hmm, benar, Kakang. Tapi bagaimana sebaiknya?” “Maksudmu?”

“Bagaimana bila si genit Teja Biru berusaha mence- derai Wasi Sableng?” tanya Si Mulut Bertudung.

“Itupun tak bakal terjadi,” jawab Arya Demung. “Heeiii?”

“Tak perlu heran, sebab sebelumnya aku telah pula berpesan kepada si genit Teja Biru!”

“Ooohh.”

“Aku telah berpesan kepadanya, agar sekeras- kerasnya tidak sampai mencederai terhadap Wasi Sab- leng.”

“Hebat! Jadi Kakang telah mengaturnya?”

“Heh, heh, heh. Aku tahu bahwa Wasi Sableng se- nang dengan wanita-wanita cantik. Karenanya aku be- rusaha mengikat persekutuan kita lebih erat dengan cara-cara yang sesuai dan cocok!”

“Heh, ini pasti akan merupakan pertunjukan yang hebat dan menarik,” ujar Si Mulut Bertudung.

“Memang demikian, Adi!”

“Mereka sama-sama gesit dan tangguh!” Pertarungan antara si genit Teja Biru dan Wasi Sab- leng makin seru. Kedua senjata mereka saling pagut- memagut, sambar-menyambar tak henti-hentinya, tanpa jemu. Adakalanya terjadilah benturan antara sapu tangan biru di tangan si genit dengan ular weling milik Wasi Sableng. Anehnya ular tersebut seakan- akan tahan benturan yang sedahsyat apapun. Sung- guh menakjubkan.

Bahkan setiap kali berbentur, ular weling milik Wasi Sableng selalu berusaha untuk mencaplok sapu tan- gan biru yang menjadi lawannya.

Mengingat hal itu semua, si genit Teja Biru menjadi lebih waspada dan berhati-hati dalam menggunakan sapu tangan birunya. Salah langkah, senjatanya bisa terampas oleh lawan dan itu berarti pula sebagai keka- lahannya.

Meskipun pertarungan ini telah berlangsung berpu- luh jurus, belum seorangpun di antara mereka berdua yang menunjukkan tanda-tanda kelelahan ataupun kehabisan tenaga.

“Kau belum menyerah!?” seru Wasi Sableng kepada lawannya yang terus-menerus gigih melancarkan se- rangan.

“Kaulah yang mesti menyerah kepadaku, hi, hi, hi,” sahut Teja Biru. “Dengan begitu, kau boleh membung- kuk minta ampun di hadapanku. Atau kau pilih me- meriksa kutu di kepalaku?!”

“Haaah!?” desis Wasi Sableng dengan nada kaget, marah bercampur heran. Bukankah itu kata-kata hi- naan bagi dirinya? Tapi lantaran kata-kata tadi di- ucapkan dengan gaya yang memikat dan genit oleh Te- ja Biru, justru membuat Wasi Sableng tidak menjadi marah lebih lanjut. Malahan ia menjadi senang pula karenanya. Dan katanya kemudian, “Babo-babo! Tob- las. Wong denok ayu, hati-hati jika sampai dapat kuka- lahkan. Engkau akan kupondong keliling Asemarang terus-menerus selama tujuh hari!”

“Pikiran gendeng! Hi, hi, hi, hi. Tak akan semudah itu mengalahkan Teja Biru!” seru si genit sementara sapu tangannya terus-menerus menyambar mencari sasaran.

Dalam pada itu, sesungguhnya Teja Biru merasa bingung dan kerepotan memikirkan cara, bagaimana harus mengalahkan Wasi Sableng dengan cara yang ti- dak menyakitkan hatinya. Begitulah, sambil bertempur menghadapi Wasi Sableng, ia terus memikirkan cara yang tepat dan jitu.

Rupanya Wasi Sableng pun tengah mencari cara untuk menundukkan si binal Teja Biru dalam jurus- jurus berikutnya. Untuk menggebrak sampai roboh, te- rang ia tidak sampai hati dan sesungguhnya ia sendiri- lah yang bakal rugi jika si genit sampai mengalami ce- dera.

Dasar Wasi Sableng seorang pendekar yang suka berpikir ugal-ugalan dan lucu, maka sebentar kemu- dian bibirnya menampakkan senyum lebar, merupa- kan pertanda bahwa ia telah menemukan gagasan yang sejak tadi dicari-carinya. Berkali-kali matanya menatap baju Teja Biru yang berbunga-bunga biru kuning dan garis hitam tersebut dari bahan sutera ha- lus. Leher baju itu sangat lebar, begitu pula lengan ba- junya yang panjang, merupakan perpaduan yang sera- si. Setiap kali bergerak, laksana puluhan bunga-bunga beraneka warna ikut terayun ke sana ke mari.

Selagi sibuk berpikir-pikir itu, mendadak Teja Biru mengebutkan sapu tangannya ke arah dada Wasi Sab- leng, sehingga jagoan ini dengan kelabakan menangkis dengan putaran ular welingnya ke kiri.

Namun dalam saat yang berbareng pula, tahu-tahu tangan kiri si genit Teja Biru mendorong ke depan ke arah lambung lawannya, berisi dorongan tenaga dalam yang sukar diukur kekuatannya.

“Berbahaya!” desis Wasi Sableng serta melenting ke atas, sebab itulah satu-satunya tindakan yang tepat dalam waktu yang kritis dan gawat, terlebih-lebih ia tak menduga sama sekali akan serangan tersebut.

“Inilah saat yang tepat!” gumam si genit Teja Biru dengan disertai kecepatan kilat, lalu tubuhnya melesat ke atas mengejar Wasi Sableng.

Sekali lagi Wasi Sableng dibikin kaget, tapi dengan lincahnya pula ia membelok ke samping memapaki ke- jaran si genit Teja Biru, sementara masing-masing sen- jata telah siap beraksi ke arah lawannya. Maka sesaat kemudian, terjadilah satu papasan di udara antara Wasi Sableng dengan si genit Teja Biru, persis dua ekor jago yang melambung di udara!

Bettt! Wessss!

Wasi Sableng menangkis sapu tangan Teja Biru dengan tebasan sisi telapak tangan kirinya, sedang ular welingnya bergerak ke bawah mencari sasaran.

Akan tetapi pada saat itu pula Wasi Sableng mera- sakan sambaran angin kencang melintas di kepalanya tanpa dapat diduga dan dicegah terlebih dahulu.

Wasi Sableng menangkis sapu tangan Teja Biru dengan tebasan sisi telapak tangan kirinya sedang ular welingnya bergerak ke bawah mencari sasaran.

Dalam detik berikutnya, kedua tokoh itu telah men- darat kembali di atas lantai dengan diikuti oleh semua mata yang menontonnya. Baik Wasi Sableng dan Teja Biru masing-masing memeriksa keadaan tubuhnya.

“Hahh?” dengus Wasi Sableng ketika ia mendapati ikat kepalanya telah tanggal dari kepala dan entah ja- tuh di mana tadi. Tapi betapa hatinya menjadi runtuh mencelos sewaktu ia melihat bahwa ikat kepalanya itu tergenggam di tangan kiri si genit Teja Biru.

“Hah, ha, ha, ha. Akui saja terus terang, Sobat! Sia- pa yang kalah kali ini, heei?!” seru si genit Teja Biru seraya melambai-lambaikan kedua tangannya yang masing-masing menggenggam sapu tangan biru dan ikat kepala Wasi Sableng, sementara pinggangnya ber- goyang ke kanan kiri bagai alunan ombak kecil yang mampu menghanyutkan hati.

Maka tak ubahnya si Teja Biru melakukan gerak ta- rian yang mempesona para penonton, ditambah ping- gulnya yang selalu berputar-putaran ibarat pusaran angin ribut, dan kata-kata godaan terus meluncur dari bibirnya yang merah mawar.

“Ayo, Wasi Sableng! Jangan berlagak pilon! Kau te- lah kukalahkan! Hi, hi, hi!”

Wasi Sableng mengangkat alisnya, lalu katanya pu- la sambil ketawa geli, “Hooo? Hiha, ha, ha, ha! Wong denok ayu, denok ayu! Mengapa engkau begitu cepat mengambil kesimpulan menang atas diriku, wong ayu! Coba rasakan, apakah tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirimu sendiri?!”

Sudah barang tentu si genit Teja Biru tidak cuma tinggal diam ataupun menganggap kosong akan kata- kata si Wasi Sableng tadi. Itulah sebabnya ia buru- buru menenangkan diri, sebab memang sejak tadi ia belum merasakan apa-apa.

“Hihh?” desah Teja Biru tiba-tiba ketika ia merasa- kan ada sesuatu yang bergerak-gerak di antara celah dadanya, membuat kegelian tapi juga mengkirik bulu tengkuknya. Sesaat ia memejamkan mata keenakan, namun sejurus itu pula ia menjerit ketakutan. “Hihhh, hiiii... tolong... hhii...!”

Si genit Teja Biru berjingkrakan seperti orang gate- len dan betapa terkejutnya, lebih-lebih ketika dari sela- sela leher bajunya yang lebar itu mencungul sebuah ekor belang-belang berwarna hitam kuning sambil ber- gerak-gerak nakal ke kiri kanan. Maka kontan si genit Teja Biru menjerit sekeras-kerasnya. “Hiii... ular we- liiing!”

Dapat dibayangkan betapa mengerikan peristiwa ini, terlebih lagi bagi si cantik Teja Biru, yang kadang kala bergaya agak sombong. Sehingga keadaan seperti berbalik sama sekali. Kalau semula ia tertawa girang, tiba-tiba kini ia menjerit-jerit ketakutan.

Arya Demung, Si Mulut Bertudung dan segenap orang-orang di situ pada kebingungan. Tapi dapat ber- buat apakah mereka ini? Bukankah kejadian ini cukup mengagetkan sehingga kebanyakan mereka tertegun seperti arca.

“Heh, heh, heh. Wong denok ayu, engkaulah yang kalah. Kau tak perlu takut. Ularku itu cuma nunut agar tidak kedinginan,” ujar Wasi Sableng, jagoan yang suka berlaku lucu edan-edanan itu. “Ular welingku ti- dak akan menggigit. Mengaku kalahlah, Teja Biru! Nanti ia akan kuambil kembali dari tempat itu!”

“Lekas ambil!” teriak Teja Biru sambil berjingkrakan dan berlari keluar dari pendapa dengan diiringi pan- dangan mata yang melotot dan mulut melongo dari pa- ra penonton yang kebingungan. “Hiii... tolong... tolong!” Sejenak kemudian meledaklah ketawa para penon- ton dengan berakhirnya pertandingan tadi dalam peris- tiwa yang mengerikan tapi juga lucu. Mereka yakin bahwa kedua tokoh itu akan selamat tanpa cedera

apapun.

Di tengah-tengah gelak ketawa yang riuh itu, ma- suklah si Klenteng dengan wajah yang tegang dan na- pas berangsur-angsur tak teratur. Rupanya saja ia ba- ru melakukan perjalanan jauh dan tergesa-gesa. Ber- bintik-bintik peluh yang menempel pada dahinya.

Saudagar Arya Demung terkejut pula melihat keda- tangan Si Klenteng. Sebentar saja, iapun lebih tertarik kepada kedatangan Klenteng, sebab ia yakin bahwa se- tiap kedatangan orang ini, pastilah membawa berita- berita penting.

“Hei, kau tampak terengah-engah, Klenteng? Ada- kah sesuatu yang penting sampai engkau krenggosan seperti itu?” ujar Arya Demung menanyakan perihal keadaan pengikutnya yang bertubuh pendek hitam itu.

“Benar, Ki Demung! Sesuatu yang penting!”

“Bagus! Oih, minumlah terlebih dahulu supaya na- pasmu lebih teratur. Kau harus berbicara dengan te- nang,” kata Arya Demung seraya menyodorkan selo- dong tuak ke depan Klenteng.

“Heh, terima kasih,” sahut Klenteng sekaligus me- nyambut lodong tuak itu dan meneguknya dengan la- hap, sampai-sampai mulutnya basah kuyup dengan tuak yang menetes-netes.

Setelah Arya Demung melihat kepuasan minum dari Klenteng itu segera ia berkata, “Nah, sekarang kau bo- leh berkata dengan tenang.”

Klenteng mengajukan duduknya lalu berkata perla- han,

“Ki Demung, ketahuilah bahwa sebentar lagi Arca Ikan Biru akan dibawa ke Demak!”

“Heei, dibawa ke Demak!?” ulang Arya Demung den- gan kaget. “Memang ini kabar yang penting.”

“Kira-kira empat-lima hari lagi.” “Siapa yang mengantar benda itu?”

“Siapa lagi kalau bukan si Demang Cundraka!” “Jadi dia sendiri yang membawa benda itu?” “Mungkin disertai beberapa orang teman.” “Hmm, dari mana engkau tahu perihal itu?”

“Aku menyamar dan menyelidik ke sana, seperti pe- rintah Andika, Ki Demung,” ujar Klenteng.

“Bagus, apa yang kau ketahui ” “Mereka telah menyiapkan kuda dan bekal-bekal untuk perjalanan tersebut, dan itu kuketahui dari si Demang Cundraka sendiri!”

“Hai, bagaimana bisa begitu?”

“Karena aku telah menjual kudaku yang bagus ke- padanya, dan ia menceriterakan hal itu.”

“Hmm, itulah kesempatan yang kita tunggu-tunggu, Klenteng!” ujar Arya Demung seraya mengepal- ngepalkan tangannya. “Kita akan mendapat uang ba- nyak jika memperoleh Arca Ikan Biru tadi!”

“Jadi bagaimana rencana Andika?”

“Tunggu dulu. Kita harus membicarakan hal itu lengkap dengan Wasi Sableng dan si genit Teja Biru,” sahut Arya Demung. “Dengan demikian rencana akan sekaligus menjadi matang.”

Si Mulut Bertudung dan Klenteng mengangguk se- tuju, dan mendadak mereka mengalihkan pandangan ke arah halaman ketika terdengar teriakan dan suara ketawa riuh bercampur aduk tak menentu.

Maka segera tampaklah bahwa dengan langkah yang tergopoh-gopoh, Wasi Sableng masuk ke dalam pendapa seraya memondong si genit Teja Biru yang meronta-ronta bergeronjalan sambil mengutuk-ngutuk. “Lepaskan! Turunkan aku, bedebah! Kau membuat

malu di hadapan orang banyak!”

“Heh, he, he. Bukankah kau telah mengaku kalah?” sahut Wasi Sableng. “Dan aku boleh memondongmu selama tujuh hari keliling kota?!”

“Ya, tapi tidak sekarang! Turunkan!”

“Hah, ha, ha,” Arya Demung ikut ketawa dan ka- tanya pula. “Sobat Wasi Sableng! Marilah kalian ber- dua mendekat kemari. Ada sesuatu yang akan kita percakapkan. Ini sangat penting bagi kita semua!”

“Hih, baiklah. Turunlah, denok ayu,” ujar si Wasi Sableng sambil menurunkan tubuh si genit Teja Biru yang masih memberengut dengan wajah malu kemera- han.

Mereka berlima berkumpul dan duduk mengelilingi meja panjang, sementara Arya Demung telah memberi tahu orang-orang di ruang pendapa, bahwa mereka akan berunding. Maka segenap pengikut Arya Demung boleh beristirahat dan berjaga-jaga di luar.

Kini ruangan pendapa itu menjadi senyap kembali, kecuali alunan napas teratur dari kelima tokoh yang berkumpul di tengah ruangan.

Arya Demung segera mengulang segala laporan Klenteng agar Wasi Sableng dan Teja Biru mengeta- huinya.

“Satu-satunya jalan ialah mencegat mereka!” ujar Arya Demung dengan pasti. “Dan merampas benda itu dari tangan mereka!”

“Tapi, bukankah Demang Cundraka setidak- tidaknya telah mengenal Andika?” bertanya Klenteng.

“Ya, Anda adalah orang yang cukup terkenal di kota ini, pasti ia telah melihat Anda sebelumnya,” sela Wasi Sableng pula.

“Itu mudah diatasi!” sahut si genit Teja Biru. “Anda boleh memakai topeng, agar tidak dikenal oleh Demang Cundraka. Saya kira itu cukup baik!”

“Ya, ya, benar. Aku setuju dengan pendapatmu,” ujar Arya Demung menerima pikiran Teja Biru. “Nah, bagaimana pendapat kalian bertiga?”

“Setuju! Kiranya itulah jalan yang paling tepat,” ujar Wasi Sableng, Si Mulut Bertudung dan Klenteng ham- pir berbareng.

“Di mana kira-kira kita akan menghadang mereka?” bertanya Si Mulut Bertudung seraya memilin-milin kumisnya sampai meruncing seperti ujung jarum.

“Aku hafal dengan jalan dan tempat-tempat yang menuju ke Demak,” ujar Klenteng sambil mencelupkan jari tangannya ke dalam mangkok berisi tuak, lalu membuat coretan-coretan di atas meja, menggambar- kan sebuah peta sederhana antara Asemarang dengan Demak.

“Hmm, baik,” ujar Arya Demung seraya memberi tanda pada peta tersebut. “Inilah Desa Genuk! Kita ha- rus mendahului kesana sebelum keberangkatan De- mang Cundraka dan kawan-kawannya.”

“Jadi kita akan mencegat mereka di Desa Genuk?” sambung Si Mulut Bertudung dengan wajah penuh tanda tanya.

“Jika terjadi pertarungan di desa itu, pasti memba- hayakan keselamatan kita,” menyela si Teja Biru.

“Tentu saja tidak di sana kita mencegatnya,” potong Arya Demung segera. “Kita akan menghadang mereka sebelum mereka mencapai Genuk. Kita sikat habis orang-orang itu, lalu memungut Arca Ikan Biru dan kemudian kabur ke arah Asemarang! Nah, bagaimana pendapat kalian?”

Keempat pembantu Arya Demung tidak segera me- nyahut, kecuali memanggut-manggutkan kepalanya, tanda mereka dapat menerima gagasan tadi.

“Kapan kita akan berangkat?” bertanya Wasi Sab- leng.

“Sebaiknya besok pagi kita memulai perjalanan,” ujar Arya Demung. “Kalian akan segera mendapat tu- gasnya masing-masing, dan inilah kesempatan bagi kalian untuk memperlihatkan keberanian dan kegaga- han yang Anda punyai.”

Wasi Sableng berempat termenung sesaat, tapi seju- rus kemudian mereka berlima telah sibuk memperbin- cangkan tentang rencana dan segala sesuatunya. Me- reka segera tenggelam dalam suasana kesungguhan yang mencekam.

Sementara itu para pengikut Arya Demung di luar, senantiasa berjaga-jaga dan sebagian lagi beromong- omong di bawah kerindangan dedaunan pohon-pohon yang tumbuh rapi di sekeliling halaman rumah Arya Demung.

Entah apalagi yang diperbincangkan oleh Arya De- mung berlima, tak seorangpun lain yang tahu, begitu pula para anak buahnya. Mereka hanya tahu menja- lankan perintah-perintah dari Arya Demung, si pe- mimpin yang menghidupi dan membiayai mereka den- gan segala kebutuhan hidup. Yah, tak lain dari kebu- tuhan hidup. Kebutuhan lahiriah yang dapat dikenyam dan dinikmati oleh inderawi. Sedang kebutuhan batin, oh, entahlah. Mungkin Arya Demung tidak pernah me- nyinggung ataupun memikirkannya.

Maka pada keesokan harinya, Arya Demung telah menyiapkan sahabat dan pengikutnya. Belasan ekor kuda yang tampak segar-segar, sementara beberapa anak buah Arya Demung tengah mengatur pelana- pelana mereka serta bekal-bekal yang perlu diba- wanya.

Pada masing-masing lambung kiri orang-orang itu tergantunglah sebuah golok panjang. Wajah-wajah me- reka kelihatan keras dan tandus dengan dihiasi kumis ataupun jenggot yang lekat dan menyeramkan pan- dangan.

Arya Demung tampak mengenakan baju dan celana singset berwarna coklat, sedang kain di pinggangnya berwarna merah berbunga-bunga besar. Tangannya menggenggam sebilah golok lebar bertangkai sepanjang satu depa, sehingga merupakan tombak pendek.

Si Mulut Bertudung mengenakan pakaian tenun ha- lus lurik bersenjata sepasang pedang pendek yang ter- selip di kiri kanan pinggangnya. Sedang si genit Teja Biru tampaknya tidak membawa senjata apa-apa, ke- cuali ujung saputangan birunya yang terjuntai dari ba- lik bajunya. Meskipun cuma selembar sapu tangan, namun bagi Teja Biru telah merupakan satu senjata ampuh yang tidak sedikit telah menjatuhkan korban- korban.

Begitu juga Wasi Sableng tidak kelihatan membawa senjata tajam di tangannya. Tapi para rekan-rekannya telah maklum bahwa pendekar aneh angot-angotan seperti dia, kadang-kadang mengeluarkan senjata aneh yang tak terduga-duga. Seperti ia pernah bersenjata tongkat kayu, batang ruas tebu, dan terakhir sewaktu bertanding dengan Teja Biru, ia menggunakan seekor ular weling sebagai senjatanya.

Nah, bukankah itu merupakan senjata yang aneh? Pendekar aneh seperti Wasi Sableng sering pula mem- punyai jurus-jurus asing yang sukar ditebak jenis dan macamnya. Pakaiannya berwarna biru kehitaman. Yang tampak seram adalah sepasang gelang hitam berkilat berukuran tebal, menghias kedua pergelangan tangannya.

Di sebelahnya, sibuk menyiapkan kudanya, si Klen- teng yang bertubuh pendek berkulit kehitaman. Ia ber- senjata rantai logam yang dibelitkan pada bahunya.

“Ayo, kawan-kawan! Kita berangkat sekarang!” seru Arya Demung beberapa saat kemudian, setelah ia me- lihat bahwa segenap rombongannya telah selesai ber- siap-siap untuk berangkat. Dan sejurus itu pula ia me- loncat ke atas punggung kudanya.

Wasi Sableng, Teja Biru, Si Mulut Bertudung dan Klenteng menyusul dengan meloncat ke punggung ku- danya masing-masing, begitu pula belasan anak buah Arya Demung segera menyusulnya.

Tak antara lama, rombongan itupun meninggalkan pintu gerbang batu karang dengan suara gemuruh dan debu bergulung ke udara, menuju ke arah utara. Bebe- rapa orang yang tetap tinggal menjaga di situ, pada melambai-lambaikan tangannya, sebagai ucapan sela- mat jalan kepada rombongan yang telah berangkat itu.

BAGIAN III

“APAKAH kau yakin bahwa di daerah terpencil itu didiami oleh orang-orang seperti yang pernah kau li- hat?” berkata sesosok bayangan manusia yang men- gendap di antara semak-semak kepada ketiga bayan- gan yang lain.

Waktu itu cahaya sore dan senja mulai turun. Po- hon-pohon menjadi tersapu oleh warna merah darah. Sesekali terdengar suara ayam jantan berkokok di ba- lik semak belukar yang telah gelap melekat.

“Inilah daerah di mana kita pernah dicegatnya, Ka- kang Wulung,” ujar salah seorang yang tidak lain ada- lah Tungkoro. “Dua hari yang lalu aku secara diam- diam telah memeriksa daerah ini, dan aku melihat be- berapa orang asing yang belum pernah kujumpai den- gan gelagat yang mencurigakan.”

“Hmmm, memang daerah Demak selatan ini jarang didiami oleh manusia,” sambung Gagak Cemani di se- belah Mahesa Wulung. “Maka satu hal yang aneh bila kita pernah diserang di daerah ini!”

“Aku merasakan sesuatu yang aneh di sini,” ujar Palumpang ikut mengutarakan isi hatinya. “Naluriku seperti berkata bahwa kita tengah menghadapi sesuatu yang gawat!”

“Mungkin memang demikian,” sahut Mahesa Wu- lung pula. “Hati-hatilah, Sobat. Mungkin kita tengah memasuki daerah sarang para iblis dan hantu!”

Mereka berempat meneruskan langkahnya, men- gendap-endap laksana empat ekor harimau yang lagi mengincar korbannya ke arah selatan. Angin senja ber- tiup lembut tanpa menggoyangkan pepohonan, tapi karenanya membuat suasana semakin tegang.

Pohon-pohon besar, seperti beringin, randu alas, trembesi dan sebagainya berderetan bersela-sela tum- buh di sana dalam lindungan sinar senja, bagaikan pagar-pagar hantu yang menakutkan.

“Heei, kita terlalu jauh meninggalkan kuda-kuda ki- ta,” bisik Palumpang kepada ketiga rekannya.

“Ooh, hampir kita melupakannya karena keasyikan ini,” sahut Mahesa Wulung. “Tolonglah Anda memba- wakannya kemari, Sobat Palumpang!”

“Baik,” sahut Palumpang seraya berbalik mengen- dap ke arah utara untuk mengambil keempat ekor ku- da mereka yang semula ditambatkan dekat semak- semak pohon salak.

Sebentar pula Palumpang telah mengambil kuda- kuda itu dan sementara ketiga rekannya tiba-tiba ber- bisik-bisik seraya menunjuk ke arah selatan beberapa kali.

“Lihat, ada gerakan manusia di sebelah pohon be- ringin tua itu!” ujar Gagak Cemani. “Mereka duduk bergerombol di sana.”

“Barangkali satu rombongan orang-orang yang ten- gah dalam perjalanan ke suatu tempat,” sambung Pa- lumpang pula. “Mungkin mereka tengah beristirahat karena hari telah gelap.”

“Itu mungkin pula,” Tungkoro berkata. “Tetapi aku telah melihat mereka dua hari yang lalu. Jadi sean- dainya mereka beristirahat, masakan tiga hari ini be- lum selesai. Dan siapa tahu, mungkin sebelum aku melihat mereka, orang-orang itu telah bercokol di sa- na?”

Mahesa Wulung mengangkat dahi oleh pendapat Tungkoro tadi. Tak dikiranya bahwa rekannya mem- punyai pikiran sedemikian, setepat apa yang dipikir- kannya pula. Karenanya iapun menjadi makin bercuri- ga terhadap orang-orang asing itu dan berkatalah ia, “Mari kita mendekati mereka dengan diam-diam. Tapi berhati-hatilah dengan kuda-kuda itu, Sobat Palum- pang. Jangan sampai ia mengeluarkan ringkikan yang mengejutkan orang-orang itu!”

“Jangan khawatir. Aku dapat menjaga mereka den- gan baik,” bisik Palumpang yang menggenggam keem- pat pasang tali kendali kuda-kuda itu.

Demikianlah, dengan gerakan hati-hati, Mahesa Wulung berempat pelahan-lahan mendekati pohon be- ringin tua, tempat di mana segerombolan orang-orang duduk berkeliling menghadapi api unggun yang telah mulai mengecil, namun bongkah-bongkah bara api masih cukup mengeluarkan hawa panas, cukup menghangati tubuh-tubuh mereka.

Dan sesungguhnya memang mereka adalah orang- orang yang tengah berkelana. Saat ini mereka lagi mendengar keterangan-keterangan si pemimpin yang duduk di tengah, di atas sepotong bongkah kayu be- sar.

“Dengarlah baik-baik!” ujar si pemimpin yang ber- tubuh kekar. “Sebentar malam, dengan lenyapnya sen- ja di pojok barat, kita akan segera menempuh perjala- nan ke arah barat. Nah, apakah dirimu telah me- nyiapkan untuk keperluan itu, Jimbaran?”

“Sudah, Guru,” sahut Jimbaran kepada pemimpin- nya, yakni Si Tangan Iblis. “Jika diijinkan, aku akan memeriksa sekali lagi.”

“Boleh! Periksalah segala sesuatunya!”

Jimbaran si lengan tunggal itu lalu bangkit dengan cekatan dan keluar meninggalkan gerombolan manusia yang duduk berkeliling di dekat pohon beringin tua. Tampaklah bahwa Jimbaran berjalan ke arah semak- semak dan masuk ke dalamnya. Dalam pada itu, Mahesa Wulung berempat semakin mendekati pohon beringin tua tersebut. Mereka dapat melihat orang-orang duduk bergerombol di situ dari se- la-sela dedaunan semak di sekitarnya.

“Mereka lebih kurang sebanyak tiga puluh orang,” bisik Mahesa Wulung kepada ketiga rekannya. “Satu jumlah yang mencurigakan. Sayang kita tak menden- gar pembicaraan mereka.”

“Tapi untuk itu kita harus lebih mendekati!” sahut Gagak Cemani menengahi. “Dan dengan kuda-kuda ini, pasti tidak mungkin!”

“Andika berdua dapat mendekati mereka,” Tungkoro ikut berkata lirih. “Biarlah saya dan Sobat Palumpang tinggal di sini menjaga kuda-kuda kita.”

“Hmm, satu usul yang baik,” gumam Mahesa Wu- lung. “Jarak kita dengan pohon beringin tua itu kira- kira sejauh lima belas tombak, dan kita bisa mendekati mereka sampai sedekat lima tombak, asal tanpa mem- buat suara.”

“Bagus. Marilah kita kerjakan, Adi Wulung!” sahut Gagak Cemani yang sudah tidak sabar lagi melihat pemandangan di depannya. Ia ingin segera tahu, sia- pakah sebenarnya mereka itu? “Dan Sobat Palumpang serta Tungkoro, haraplah berhati-hati.”

“Terima kasih,” jawab Palumpang berdua.

“Mari berangkat!” bisik Mahesa Wulung seraya men- jentik pundak Gagak Cemari seraya menggenjotkan kakinya ke tanah dengan pengerahan ilmu meringan- kan tubuh. Sesaat itu pula Gagak Cemanipun melesat menyusulnya.

Mereka berdua berloncatan dari pohon-pohon tanpa membuat suara gaduh, kecuali desir angin lembut yang tak berarti. Gerakan mereka sangat ringan dan gesit, ibarat dua ekor tupai berkejaran ke arah selatan. Sementara itu Tungkoro dan Palumpang cuma mengikuti kedua sahabatnya tadi dengan hati berde- bar-debar. Selain kagum akan ilmu dan gerakan mere- ka, juga kemungkinan bahaya yang bakal ditemui oleh Mahesa Wulung dan Gagak Cemani membuat hati Pa- lumpang berdua menjadi berdebar-debar.

Sementara itu bulan yang separoh bulat telah terbit di langit sebelah timur. Cahayanya tidak begitu terang, tapi cukuplah untuk mengganti cahaya senja yang se- makin menipis.

Daerah itu penuh pula ditumbuhi oleh semak po- hon ilalang, menempati bagian-bagian yang tidak di- tumbuhi oleh pohon-pohon besar, sehingga sangat co- cok kiranya bila daerah tersebut ditempati sebagai sa- rang-sarang persembunyian.

Akan tetapi sangat cocok pula bagi Mahesa Wulung dan Gagak Cemani untuk mengintai si Tangan Iblis dan segenap gerombolannya yang tengah berkumpul di situ.

Mereka hinggap di atas dahan pohon trembesi, tak jauh dari beringin tua itu, kemudian turun ke bawah dan bersembunyi di balik semak ilalang. Maka tak an- tara lama Mahesa Wulung dan Gagak Cemani dapat lebih jelas melihat ke arah sasaran.

Tangan Iblis masih kelihatan bercakap-cakap den- gan para pengikutnya dan tiba-tiba dari semak di sebe- lah selatan muncullah Jimbaran yang langsung masuk ke dalam gerombolan manusia itu dan berkatalah ia kepada Tangan Iblis, “Guru, semua telah siap dan ku- da-kuda kita telah pula dipelanai oleh orang-orang ki- ta!”

“Yah, jika demikian kita dapat berkemas sekarang,” ujar Tangan Iblis seraya berdiri dari tempat duduknya. “Hayo, anak-anak, berkemaslah! Dan padamkan api unggun itu!”

Mahesa Wulung menjentik pundak Gagak Cemani, dan keduanya telah memegang tangkai golok dan pe- dang mereka dengan eratnya. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tak dikira bahwa saat mereka tiba di tempat itu, tepat pula Tangan Iblis dan gerombolannya siap berkemas meninggalkan tem- pat itu. Hal ini sungguh di luar dugaan.

“Sttt, kita menunggu mereka?” desis Gagak Cemani. “Ya, kita harus mengetahui, ke arah mana mereka akan pergi,” ujar Mahesa Wulung. “Inilah yang terpent-

ing!”

“Heei, mereka memadamkan api unggun,” bisik Ga- gak Cemani. “Lihatlah, Adi Wulung!”

Beberapa orang anak buah Tangan Iblis tampak menyiram-nyiramkan pasir dan percikan air dari sisa- sisa air minum mereka. Akan tetapi Tangan Iblis sege- ra mencegah mereka dengan nada keras, “Ahh, terlalu lama! Biarlah aku matikan api unggun ini. Kalian bo- leh berkemas-kemas dengan kuda-kuda itu. Ayoo!”

Habis berkata, Tangan Iblis tiba-tiba mendorongkan telapak tangan kanannya ke arah api unggun itu dan terdengarlah suara letupan kecil disusul desisan pan- jang. Ssss….

Sungguh mengagumkan, bahwa seluruh bara api itu telah padam menjadi arang dan tumpukan abu memutih seolah-olah tersiram olah curahan air hujan.

“Lihatlah, Kakang Cemani,” bisik Mahesa Wulung perlahan. “Si pemimpin itu mempunyai tenaga dalam yang hebat. Pukulan telapak tangannya sanggup me- madamkan api!”

“Jika aku boleh berprasangka, orang itulah yang membunuh kedua orang tawanan kita di daerah ini beberapa hari yang lalu,” ujar Gagak Cemani.

Mahesa Wulung terperanjat dan berdesis, “Jika per- kiraan itu benar... berarti orang inilah yang bernama Tangan Iblis! Bukankah ini kesimpulan yang kita tunggu-tunggu?”

“Lihatlah, mereka telah berkemas-kemas!” berkata pula Gagak Cemani. “Mereka mengeluarkan kuda- kudanya dari balik semak belukar di sebelah selatan.”

Ternyata memang semak belukar di sebelah selatan itu adalah tempat penambatan kuda yang tersembunyi bagi gerombolan Tangan Iblis. Kini mereka telah me- nyiapkan diri, dan sesaat kemudian Tangan Iblis ber- seru kepada Jimbaran, “Jimbaran! Aturlah orang- orang kita untuk berkuda dua-dua. Kita tidak melewati jalan umum, tetapi menerobos semak-semak. Kare- nanya, tempatkanlah empat orang di sebelah depan untuk merintis dan membuka jalan!”

“Baik, Guru Tangan Iblis! Kita telah siap,” sahut Jimbaran sekaligus meloncat ke punggung kudanya. Demikian juga Tangan Iblis mencengklak ke atas punggung kudanya dengan gerakan lincah dan sebat.

Sebentar itu pula si pemimpin ini mengacungkan tangannya ke arah barat dan rombonganpun bergerak! Dengan empat orang yang mendahului, barisan ini mulai menempuh perjalanan yang tidak diketahui arah tujuannya. Baik oleh Mahesa Wulung dan Gagak Ce- mani, maupun oleh para anak buah Tangan Iblis sen- diri, kecuali bagi Tangan Iblis dan Jimbaran.

Yang terang rombongan itu bergerak ke arah barat, menerobos semak belukar yang menggelap, dan hanya sedikit sekali sinar bulan membantu mereka.

“Kita kembali ke utara,” bisik Mahesa Wulung ke- pada Gagak Cemani. “Kita harus cepat-cepat menda- patkan Sobat Palumpang dan Tungkoro!”

“Tapi tunggu dulu!” cegah Gagak Cemani. “Biarkan mereka berlalu semua dari tempat ini. Nah, mereka te- lah menerobos ke barat sekarang.” Demikian Gagak Cemani berkata seraya terus-menerus mengawasi rombongan Tangan Iblis yang telah berangkat. Dengan sigap mereka menyelinap di balik dedaunan semak ke arah utara, dan selanjutnya berloncatan ba- gaikan kijang berpacu keriangan. Cahaya senja, se- mentara itu telah lenyap sama sekali, tenggelam di ka- ki langit barat dengan diratapi oleh kokok ayam hutan yang akan masuk ke dalam sarangnya.

Tungkoro dan Palumpang terkejut pula melihat Ma- hesa Wulung dan Gagak Cemani datang dengan sikap tergopoh-gopoh sehingga mereka berseru mengajukan pertanyaan, “Heei, kalian dikejar lawan!?”

“Tidak!” sahut Mahesa Wulung. “Bahkan kita yang akan mengejar lawan! Bersiaplah dengan kuda kalian!” Tanpa bertanya lebih banyak, Tungkoro dan Palum- pang telah meloncat ke atas kudanya, disusul oleh Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. Merekapun men- derapkan kudanya ke selatan ke arah jalan yang telah dikenal oleh Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. Me- reka berdua berpacu di sebelah depan lalu di bela- kangnya, adalah Tungkoro dan Palumpang. Beberapa ekor kunang-kunang bersibak menghindarkan diri dari depan mereka, seolah-olah bagaikan kilatan air laut

yang tersibak oleh haluan perahu.

Dengan hati-hati, Mahesa Wulung segera memberi- tahu kepada kedua rekannya yang berada di sebelah belakang agar mereka melambatkan lari kudanya.

Karenanya, Tungkoro dan Palumpang dapat pula memakluminya bahwa mereka berempat telah mulai memasuki jalan rintisan yang menerobos semak belu- kar dan pepohonan yang lebat. Rupanya saja ini ada- lah jalan rintisan yang baru saja dilalui oleh Tangan Iblis dan rombongannya.

Sepanjang jalan itu, terlihat bekas-bekas dahan po- hon yang putus, bekas ditebasi oleh senjata-senjata ta- jam. Pohon-pohon besar tumbuh di kanan-kiri mereka, dan kadang kala beberapa ekor burung yang terban- gun dari tidurnya, seketika terkejut dan berkepak- kepak menjauhkan diri.

Dalam pada itu Palumpang hampir saja terpekik kaget, ketika ia melihat beberapa pasang mata bersinar bertengger di atas dahan-dahan pohon. Maka dengan gerakan agak lucu, Palumpang cepat-cepat menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Melihat ini, hampir-hampir Tungkoro mengeluarkan tawanya yang berderai.

“Sttt, mengapa, Sobat?” tanya Tungkoro.

“Itu...! Ah, aku kira hantu dedemit!” sahut Palum- pang seraya menunjuk ke arah pasangan mata yang mengkilap. “Kiranya adalah burung-burung hantu yang lagi bercanda!”

“Heh, heh. Untunglah Anda tidak jadi berteriak! Ka- lau jadi... mungkin sayapun akan ikut berteriak keta- kutan,” ujar Tungkoro setengah menggoda, membuat Palumpang tersenyum kecut merasa malu.

Perjalanan semakin jauh menerobos ke arah barat, seperti tak akan ada habisnya daerah yang tengah me- reka lewati ini. Gagak Cemani yang berkuda di samp- ing kiri senantiasa menggunakan ketajaman telinganya guna mendengarkan gerakan ataupun suara-suara yang datang dari sebelah depan.

Begitu pula Mahesa Wulung yang memiliki telinga tajam, selalu waspada terhadap keselamatan mereka berempat. Sebab tidak mustahil, bahwa tanpa disenga- ja akan kecepatannya, mereka dapat menyusul terlalu dekat terhadap rombongan Tangan Iblis. Jika itu terja- di maka berbahayalah akibatnya. Mungkin iringan ter- belakang dari rombongan Tangan Iblis dapat menden- gar akan derap langkah kaki-kaki kuda Mahesa Wu- lung berempat. Untuk ini, perlulah mereka menjaga ja- rak perjalanan.

Oleh sebab itu pula, tidak jarang mereka berempat berkali-kali berhenti sejenak untuk mengatur jarak tersebut. Hal ini sesungguhnya sangat membosankan bagi para pemburu itu, namun hanya itulah satu- satunya jalan yang paling baik, yang dapat mereka la- kukan.

“Kemana kiranya mereka akan menuju? Kita belum melihat tanda-tanda bahwa mereka akan berhenti!” ujar Gagak Cemani dengan nada agak kaku.

“Kita tidak tahu!” sahut Mahesa Wulung. “Aku kira mereka betul-betul menggunakan kesempatan malam hari untuk menempuh perjalanan ini!”

“Dan lagi mereka memilih jalan yang belum pernah dijamah oleh manusia,” Gagak Cemani menyambung. “Satu cara yang pandai dan penuh siasat.”

“Mudah-mudahan kita akan segera tahu akan mak- sud dan tujuan mereka, Kakang Cemani,” kata Mahesa Wulung sambil menahan tali kekang kudanya ketika kuda tersebut akan menderap lebih cepat.

Dalam saat yang sama.…

Jauh di sebelah depan, rombongan Tangan Iblis maju dengan cepatnya. Empat orang yang berjalan di sebelah depan dengan golok dan pedangnya, menebasi ranting-ranting yang menghalang di depan mereka. Sungguh suatu pekerjaan yang tidak ringan, apalagi dilakukannya dalam waktu malam. Namun ternyata bahwa mereka sangat terlatih untuk pekerjaan- pekerjaan yang demikian itu.

“Jimbaran,” ujar Tangan Iblis seraya berpaling ke kiri, di mana murid utamanya ini berkuda. “Apakah kau merasakan bahwa perjalanan kita ini sangat su- lit!?”

“Bagi orang biasa memang sulit, Guru. Tetapi bagi gerombolan Tangan Iblis, tak ada jurang yang dalam, tak ada gunung yang tinggi,” berkata Jimbaran dengan mantapnya. Tangan Iblis tersenyum kecil oleh kata-kata berse- mangat dari muridnya. Memang dia pandai mengambil hati gurunya dan sesungguhnya pula kata-kata terse- but tidak jauh dari kebenaran yang ada.

Jauh waktu, sebelum Tangan Iblis membawa anak buahnya sampai ke tempat itu, mereka telah digem- bleng dan dilantik untuk tugas-tugas tertentu yang cukup berat. Karenanya, setelah mereka berhasil me- nyelesaikan latihan-latihan itu, tak ada lagi istilah sulit ataupun sukar di dalam diri mereka.

Bersama pemimpinnya yang bergelar Tangan Iblis, mereka sanggup menjelajah ke mana saja, tak mem- perdulikan hutan lebat, lereng yang curam, lembah yang angker ataupun setan dedemit. Sedang mengha- dapi lawan-lawan sehebat apapun, mereka tidak men- jadi gentar pula.

Namun, benarkah bahwa mereka tidak memiliki ra- sa gentar? Sedangkan Tangan Iblis sendiri telah seke- lumit merasakan kegentaran ini ketika tiba-tiba ia ber- kenalan dengan Pukulan Angin Bisu milik Mahesa Wu- lung beberapa waktu yang silam.

“Guru, apakah kita akan menghadapi tokoh-tokoh yang tangguh?” bertanya Jimbaran.

Tangan Iblis mengerutkan dahinya oleh pertanyaan si lengan tunggal itu, lalu katanya, “Aku kira begitu, Jimbaran. Apakah engkau merasa cemas?!”

“Ooh, tidak Guru,” sahut Jimbaran cepat. “Aku memikirkan bahwa suatu saat Andika akan dapat me- nemukan lawan yang dahulu pernah diceriterakan oleh Guru!”

“Ya, ya. Aku masih ingat hal itu,” sahut Tangan Ib- lis. Sesaat terkilaslah kenangan ketika ia diserang den- gan Pukulan Angin Bisu oleh seorang lawan di padang rumput ilalang. “Justru merupakan suatu anugerah ji- ka aku sampai berhasil menemukan orang itu!” “Sudahkah Guru mengetahui nama orang itu?” “Sayangnya memang belum. Tapi aku segera dapat

mengenal orang itu bila ia menggunakan ilmu puku- lannya! Dan di saat itulah aku akan mengadu tenaga dengan dia!”

Jimbaran tak berkata lagi dan membiarkan gurunya bergelut dengan pikirannya sendiri tentang kemauan, cita-cita dan sepak terjangnya. Maka rombongan itu kembali sunyi, kecuali sesekali bunyi ringkikan kuda memecah kesepian, sedang di barisan depan tetap ter- dengar bunyi tebasan-tebasan golok dan pedang yang mematahkan ranting-ranting pepohonan serta semak.

Barisan berkuda itu tak ubahnya seekor ular hantu yang menyelusup, menerobos hutan pekat di malam hari dengan satu keberanian yang luar biasa. Mereka terus bergerak ke barat.

BAGIAN IV

DESA PETERONGAN dalam suasana ketenangan.

Sinar bulan yang separoh bulat, terbentang redup oleh arak-arakan awan setipis kain sutera mengalir ke arah utara. Desa yang terletak di sebelah tenggara dan termasuk dalam wilayah bandar Asemarang itu selalu tampak tenang-tenang.

Beberapa rumah masih kelihatan menyalakan lam- pu minyaknya, menandakan bahwa penghuninya ma- sih berjaga, dan bila orang menengok ke rumah Ki Demang Cundraka, akan tahulah bahwa Ki Demang pun masih berjaga dan tengah bercakap-cakap dengan beberapa orang. 

“Biarlah aku ikut bersamamu, Ayah!” ujar Tuntari dengan suara bernada manja.

Demang Cundraka menatap ke arah puterinya. “Perjalanan kali ini sangat berbahaya, Atun!”

“Tapi... tapi bukankah Atun sudah dapat menjaga keselamatan diri sendiri...?”

“Benar, Nak. Namun lebih baik bila engkau tinggal di rumah bersama ibu dan adikmu,” sahut Ki Demang Cundraka seraya menatap ke arah Nyi Demang yang ikut berkumpul di ruang itu.

“Begitulah sebaiknya, Angger Tuntari,” sambung Ki Dunuk ikut berbicara, menumpangi tutur kata De- mang Cundraka. Sebagai seorang tua yang dapat me- nangkap arti pandangan mata Ki Demang, Ki Dunuk mengetahui bahwa Ki Demang tidak menghendaki pu- terinya mengikuti dalam perjalanan yang akan diada- kan oleh Ki Demang Cundraka. “Angger dapat menjaga ibu dan adikmu di rumah. Kiranya aku dan beberapa orang kawan sudah cukup untuk mengawani dan mengawal Kakang Demang.”

“Tuntari,” berkata pula Nyi Demang kepada pute- rinya, “turutlah akan kata-kata ayahmu dan pamanmu Ki Dunuk itu, Ngger.” Nyi Demang membujuk Tuntari seraya mengelus-elus pundak anak gadisnya sebagai curahan kasih sayang seorang ibu. “Aku menghargai sekali akan tekadmu untuk mengawal ayahmu itu, Ngger. Tetapi bila engkau tinggal di rumah, Anggerpun dapat mengawal ibu dan adikmu. Bukankah kedua hal itu sama pentingnya?”

Tuntari tak dapat menyangkal tutur kata ibunya, maka iapun tertunduk diam, sementara hatinya berka- ta-kata sendiri, “Apa yang dikatakan Ibu dan Paman Dunuk adalah benar. Ibu dan Ayah sama pentingnya bagiku. Maka menjaga Ibu di rumah sama saja dengan mengawal Ayah di dalam perjalanan. Bukankah mere- ka berdua adalah orang tuaku dan keduanya sama- sama aku sayangi tanpa perbedaan apapun.”

“Ayah pun sudah maklum, bahwa perjalanan Ayah untuk mengantar Arca Ikan Biru ke Demak ini banyak bahayanya. Beberapa orang, seperti yang pernah kau alami, ternyata telah mengincar benda tadi, sehingga dapat dipastikan bahwa setidak-tidaknya mereka akan berusaha kembali mencari benda tersebut. Akan tetapi jangan dikira bahwa mereka akan begitu saja dengan mudahnya untuk merampas benda itu dari tanganku!” berkata Ki Demang Cundraka sambil menatap wajah- wajah di sekelilingnya. “Benda yang bernama Arca Ikan Biru ini sangat penting bagi kita semua, dan ia harus secepat-cepatnya kita serahkan ke Demak. Jika sam- pai terlambat, pasti kota Asemarang bakal dilanda oleh bahaya!”

“Tuntari bersedia memenuhi perintah Ayahanda,” ujar Tuntari dengan suara tenang, sebab ia banyak mempertimbangkan segala persoalan. “Saya akan ting- gal di rumah menjaga Ibu dan adik.…”

Helaan napas lega terdengar dari hidung Ki Dunuk dan Ki Demang Cundraka, sementara Nyi Demang ter- senyum lebar seraya berkata, “Nah, engkau telah ber- pikir bijaksana, Nak. Biarlah Ayah berangkat bersama Ki Dunuk dan beberapa pengawal. Aku percaya bahwa ayahmu akan sanggup menanggulangi segala kesulitan serta bahaya yang ada. Kita di rumah dapat membantu dengan doa semoga ia sampai ke Demak dengan sela- mat.”

Sekali lagi Tuntari mengangguk pelan.

“Ayah akan berangkat pagi-pagi, Nak. Engkau boleh menyiapkan bekal perjalanan bersama ibumu,” ujar Ki Demang Cundraka kepada Tuntari. Maka tidak antara lama merekapun bekerja bersama Nyi Demang dan Tuntari segera sibuk menyiapkan bekal bagi Ki De- mang Cundraka untuk perjalanan yang cukup jauh itu.

Begitu pula Ki Dunuk membantu Demang Cundra- ka, melipat beberapa potong pakaian, memberesi sen- jata, dan yang paling penting adalah membungkus ko- tak kayu berukir yang berisi Arca Ikan Biru. Benda in- ilah yang telah melibatkan mereka dalam tugas yang berat dan menyulitkan.

Siapakah menyangkal bahwa benda tersebut mem- punyai taruhan nyawa bagi orang yang menyimpan- nya. Telah terbukti bahwa Ki Saudagar Sungkana yang menyimpan benda itu telah diserbu oleh Si Mulut Ber- tudung dan orang-orangnya, sampai akhirnya ia men- derita luka-luka cukup parah. Seandainya ia tidak ke- buru ditolong oleh Tuntari, Ki Dunuk dan Bikhu Gandharapati, pastilah ia telah tewas di ujung senjata para penyerang itu. (Periksalah seri Naga Geni 22 “Je- jak Tangan Iblis”)

Begitupun si pelaut tua, orang yang mula-mula membawa Arca Ikan Biru dan ditugaskan oleh Ki Rik- ma Rembyak untuk menyampaikannya kepada Tangan Iblis, kini telah mati. Ia dibunuh oleh kaki tangan Rikma Rembyak, karena dia telah dianggap berkhia- nat, setelah ia menyerahkan Arca Ikan Biru tadi, justru kepada Ki Sungkana dan bukan kepada Tangan Iblis. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Ternyata si pelaut tua itu dapat mengetahui, bahwa benda tersebut merupakan benda yang gawat dan ha- rus segera disampaikan ke Demak lewat Ki Sungkana. Ia telah insyaf bila benda itu benar-benar jatuh kepada Tangan Iblis maka bandar Asemarang akan diancam malapetaka.

Dengan mengingat persoalan-persoalan di atas, ma- ka sekali lagi Ki Demang Cundraka semakin sadar bahwa perjalanan yang bakal dilakukan ini sangat berbahaya. Ia tak ingin melibatkan puterinya, Tuntari, dalam bahaya itu. “Biarlah,” demikian tekad Ki De- mang Cundraka. “Bahaya itu akan kuhadapi sendiri bersama Ki Dunuk dan beberapa orang pembantu.” Beberapa kali Ki Demang Cundraka masih menggo-

sok-gosok mata pedangnya sambil merenunginya. Su- dah beberapa lama ia tak menggunakan senjata itu dan kini terpaksalah ia harus menghunusnya demi memperjuangkan kebenaran.

Dalam pada itu, Ki Dunuk tak mau mengganggu Demang Cundraka. Dibiarkannya sahabat kentalnya itu membersihkan senjata dan bergelut dengan pere- nungannya, sementara ia sendiri tengah asyik meni- mang-nimang sebuah kapak bertangkai pendek, satu- satunya senjata yang telah sekian lama tidak disen- tuhnya. Besok pagi senjata-senjata itu akan tergan- tung di pinggang mereka dan siap membela tuannya dari segala marabahaya.

Pada keesokan harinya, tepat di saat ayam jantan pertama berkokok, Ki Demang Cundraka telah bangun, begitu pula dengan segenap isi rumah Ki Demang.

Dari gandok wetan, yakni rumah yang ditempati oleh kelima pengawal Ki Demang, telah pula tampak bersama-sama Ki Dunuk mengeluarkan tujuh ekor kuda dari kandang di belakang rumah dan me- nyiapkannya di halaman pendapa.

Sang matahari perlahan-lahan menyorotkan sinar- nya dari balik gumpalan pepohonan di pojok timur, di- iringi oleh kicau unggas yang beterbangan di udara dengan riangnya untuk menyambut udara segar dan bersih.

Persiapan Ki Demang Cundraka telah selesai.

“Nah, Nyai. Tinggallah baik-baik di rumah. Tuntari akan menjagamu,” ujar Demang Cundraka kepada is- teri dan anak puterinya, sedang adik laki-laki Tuntari masih belum kelihatan. Agaknya ia masih nyenyak ti- dur di balik selimutnya.

Nyi   Demang    dan    Tuntari    masih    melambai- lambaikan tangannya ketika Demang Cundraka, Ki Dunuk, Linting dan empat orang lainnya telah berpacu meninggalkan halaman rumah, menuju ke arah timur laut dengan kencangnya.

“Aku merasakan, hatiku menjadi berdebar-debar dengan keberangkatan Ayah, Bu!” ujar Tuntari seraya tidak melepaskan pandangan matanya dari rombongan ayahnya yang berkuda semakin jauh itu.

“Ah, engkau mencemaskan ayahmu, Atun!” ujar Nyi Demang seraya merangkul Tuntari. “Apakah engkau masih menyangsikan kesanggupan ayahmu dalam be- rolah senjata?”

“Bukan hal itu, Ibu ”

“Jadi apa yang membuatmu khawatir?”

“Tidak lain adalah orang-orang yang selalu mengin- car Arca Ikan Biru di tangan Ayah! Bukankah Ayah adalah orang ketiga yang menyimpan benda tersebut?”

“Elho, jadi apa hubungannya dengan orang pertama dan kedua, Tuntari?” bertanya Nyi Demang.

“Orang pertama telah tewas karena benda itu. Se- dang orang kedua yakni Paman Sungkana telah pula cedera akibat benda itu pula. Aku khawatir..., aku...

khawatir..., bila Ayah..., bila Ayah ”

“Ahh, janganlah kau berpikir begitu, Atun. Itu tak baik!” ujar Nyi Demang dengan menghela napas. “Jan- ganlah berpikir yang buruk-buruk tentang ayahmu. Pikirkanlah tentang keselamatan dan hal yang baik- baik, agar ayahmu memperoleh keselamatan serta ke- lancaran dalam perjalanan mereka itu!”

“Maaf, Ibu,” keluh Tuntari seraya memeluk ibunya, membuat Nyi Demang terharu pula, mengingat betapa besar cinta kasih putera-puterinya kepada kedua orang tuanya. Dan Nyi Demang ikut menjadi cemas ke- tika dirasanya bahwa kedua tangan Tuntari telah ber- getar dan dingin. Maka segeralah Nyi Demang membimbing Tuntari masuk ke dalam pendapa sambil berkali-kali menase- hatinya agar Tuntari beristirahat dan berpikir tenang.

“Beristirahatlah, Atun!” ujar Nyi Demang. “Barang- kali engkau masuk angin, karena semalam engkau berjaga sampai larut malam. Akan kubikinkan untuk- mu ramuan jamu pengusir angin jahat, Nak!”

“Terimakasih, Ibu,” ujar Tuntari seraya merebahkan badannya ke atas balai-balai di dekat jendela kamar- nya dengan perasaan yang gundah. Betapapun ia be- rusaha menenangkan diri, tapi ternyata tidak semudah yang ia duga. Dan mungkin kegelisahan Tuntari ini merupakan satu firasat yang tidak mereka pahami, bahwa sesungguhnya satu bahaya telah mengintai per- jalanan Ki Demang Cundraka.

Bahaya itu tidak lain adalah berasal dari Arya De- mung dengan gerombolannya yang selalu mengincar Arca Ikan Biru!

Kembali ke daerah selatan Demak. Mahesa Wulung, Gagak Cemani, Tungkoro dan Palumpang masih terus membuntuti jejak Tangan Iblis yang bergerak ke arah barat. Semalaman mereka terus berkuda.

Kini, matahari pagi telah mulai menampakkan diri, dan sinarnya yang masih condong sekali itu menero- bos sela-sela dedaunan menerangi kepekatan hutan di sekeliling. Ternyata kini tampaklah pemandangan yang menyegarkan, berbeda sekali dengan suasana di waktu malam yang gelap pekat dan menyeramkan.

Bunga-bunga liar tumbuh di sana-sini dengan in- dahnya, sementara beberapa burung pemakan madu dan kupu-kupu beterbangan di atas dedaunan.

Palumpang berdesis gembira ketika ia mendapatkan buah-buah pisang hutan yang telah ranum dan ma- sak. Buru-buru ia memetiknya dari pohon.

“Haa, lumayan buat sarapan pagi!” ujar Palumpang seraya menyungir-nyungir. “Hmm, beberapa di anta- ranya telah berlobang! Dimakan burung atau tupai.”

Mahesa Wulung bertiga tersenyum melihat keceka- tan Palumpang memungut pisang-pisang hutan itu dan mereka menerima bagian pisangnya dengan rasa bersyukur. Dengan begitu mereka dapat sekedar men- gisi perutnya yang telah mulai kosong, setelah sema- laman mereka berkuda terus-menerus. Bagi mereka, perjalanan ini dianggapnya biasa saja. Tetapi bagi orang-orang biasa, ah, barangkali akan jatuh tertidur di atas pelana kudanya. Atau barangkali malah ter- lempar jatuh di atas tanah, saking kelelahan dan kan- tuknya.

“Kakang Cemani,” ujar Mahesa Wulung lalu meno- leh ke samping, “apakah Kakang ingin mengambil isti- rahat barang sejenak?”

“Sekarang belum perlu, Adi Wulung,” sahut Gagak Cemani pelan. “Nanti saja, menjelang tengah hari dan saat luhur, kita akan beristirahat sebentar.”

“Benar, Sobat Mahesa Wulung,” sambung Palum- pang pula. “Kita masih cukup segar untuk mene- ruskan perjalanan ini. Lihatlah, merekapun terus me- ninggalkan jejak yang baru!”

Mahesa Wulung melihat pula, beberapa ranting dan semak belukar yang ditebas-tebas sebagai pembuka ja- lan. Bekas-bekas itu telah ditinggalkan oleh rombon- gan Tangan Iblis tanpa sedikitpun menduga bahwa mereka dibuntuti oleh empat orang pendekar dengan seksama.

Akan tetapi benarkah bahwa pembuntutan itu akan terus-menerus berjalan lancar? Suatu kejadian kecil yang tak terduga dan sangat sepele telah merobah su- asana itu. Hal itu bermula dari seekor kera kecil yang selalu duduk di atas punggung kuda si Tangan Iblis.

Kera tersebut sudah sangat jinak dan berkali-kali ia naik turun ke atas pundak Tangan Iblis tanpa rasa sungkan-sungkan, sebab sebenarnya Tangan Iblispun sangat menyayangi binatang kecil itu.

Namun tiba-tiba saja kera kecil itu telah mengang- kat jidatnya, manakala dari sebuah cabang pohon ter- dengar jeritan-jeritan nyaring dan riuh.

Tangan Iblis, Jimbaran serta beberapa orang anak buahnya ikut terkejut sesaat, namun kemudian terta- wa bila suara riuh tadi berasal dari beberapa ekor kera besar-kecil yang bertenggeran di atas pohon. Dengan gerakan-gerakan yang lucu dan lincahnya, kera-kera itu mencibir dan meringis-ringis ke arah kera kecil yang bertengger pada pundak Tangan Iblis, seolah-olah menggoda ataupun mengajak bergurau dengan si kera kecil itu.

“Heh, heh, heh. Lihatlah, Jimbaran! Si kecil ini mendapat sambutan dari munyuk-munyuk itu,” ujar Tangan Iblis sambil tersenyum lebar.

“Barangkali ia menerima salam ucapan selamat da- tang dari mereka,” ujar Jimbaran pula.

Akan tetapi mendadak saja semuanya pada terpe- ranjat dan rupanya saja tafsiran mereka adalah keliru. Si kera kecil tiba-tiba ikut berteriak dan menjerit-jerit dari atas pundak Tangan Iblis. Bahkan sejurus kemu- dian ia meloncat pergi meninggalkan tuannya dengan satu jeritan nyaring. “Nyitt... nguuk, nguuk, nguukkk!” “Heeei? Dia pergi kepada mereka!” seru Tangan Iblis kaget. “Hayo, Jimbaran. Kejarlah si munyuk kecil ke-

parat itu! Sungguh nakal dia!”

Jimbaran segera meloncat turun dari atas pung- gung kudanya, lalu mengejar si kera kecil itu.

“Heei, kembali, Sireng! Kembali!” seru Jimbaran sambil berloncatan mengejar. Namun si kera kecil maupun rombongan kera-kera itu justru malah terke- jut dan mereka berlarian ke arah timur dengan cepat- nya.

Jimbaran tidak mau menyerah dengan kera-kera itu. Ia terus berloncatan gesit mengejar mereka. Ba- gaimanapun sukarnya, ia akan berusaha mati-matian untuk menangkap si kera kecil yang nakal itu. Jimba- ran telah tahu bahwa Tangan Iblis sangat menyayangi kera kecil yang bernama Sireng tadi, karenanya ia ha- rus selekas mungkin menangkapnya kembali.

Dengan kepergian Jimbaran, rombongan Tangan Ib- lis terpaksa mengurangi kecepatan jalannya, untuk menjaga supaya Jimbaran tidak ketinggalan terlalu jauh bila ia kembali.

Tanpa menggubris akan segala rintangan, Jimbaran berloncatan dari dahan pohon ke dahan yang lain. Meski tangannya hanya sebelah saja, Jimbaran tidak kehilangan kegesitannya untuk bergerak. Tubuhnya bagaikan kijang melesat ke arah timur, di mana kera- kera tersebut berlarian lewat dahan-dahan pohon.

Jimbaran menjadi semakin jengkel. Ternyata kera- kera itu tidak mau begitu saja ditangkapnya. Setiap kali hampir terjangkau oleh tangannya, setiap kali pula si kera kecil yang bernama Sireng itu menambah kece- patan larinya. Sedang kera-kera lainnya ikut berlari di sampingnya, seolah-olah memberi semangat dan membimbingnya, agar si kera kecil itu tidak kembali ke tangan manusia-manusia itu.

Terus saja Jimbaran berloncatan mengejar. Terus dan terus ia memburu si kera kecil tadi tanpa mengin- gat-ingat telah seberapa jauh ia meninggalkan bari- sannya. Tetapi tiba-tiba ia mengendap turun ke bawah dan menghentikan pengejarannya terhadap kera-kera tadi.

Seperti seekor bunglon ia menyelinap dan mengintai dari balik batang pohon. Kedua matanya menatap ke arah timur. Dari arah sinar matahari pagi, terlihat em- pat sosok bayangan manusia berkuda.

“Hah, ada orang yang menuju kemari!” desis Jimba- ran dengan hati tersontak kaget. “Mereka menuruti je- jak yang dilalui oleh pasukan kami! Hmm. Tegasnya, mereka tengah membuntuti kami! Celaka, aku harus cepat-cepat kembali, untuk melaporkan hal ini kepada Guru Tangan Iblis!”

Maka tanpa membuang waktu lagi, Jimbaran terus berbalik dan meloncat kembali ke arah barat dengan kecepatan yang luar biasa, seakan-akan ia dikejar oleh hantu mengerikan. Mungkin bila diukur, akan terca- tatlah bahwa kecepatan geraknya jauh lebih tinggi bila dibanding kecepatannya waktu ia berangkat.

Karenanya, Tangan Iblis menjadi terkejut tiba-tiba ketika ia melihat Jimbaran berloncatan datang dengan napas yang terengah-engah.

“Heei, mengapa engkau, Jimbaran?” seru Tangan Iblis. “Dikejar hantu!? Mana si kera nakal itu, ha?”

“Ampun, Guru. Saya mohon ampun sebesar- besarnya,” ujar Jimbaran. “Saya mengaku bersalah...!”

“Edan kau rupanya!” sahut Tangan Iblis dengan lu- apan marahnya. “Ngomonglah dengan jelas! Belum- belum sudah mengaku salah... apanya yang salah!?”

“Ses... saya terpaksa membiarkan si kera kecil itu kabur!” ujar Jimbaran dengan kepala menunduk kuyu.

“Goblok! Mengapa berbuat demikian?” “Karena ada sesuatu yang lebih penting.”

“Yang lebih penting?!” ujar Tangan Iblis seraya mengguncang-guncang pundak Jimbaran. “Apa itu?”

“Saya... melihat empat orang asing mengikuti jejak- jejak kita, Guru. Mereka berkuda pula.”

“Haahh, itu berbahaya! Lekas kumpulkan beberapa orang!” berseru Tangan Iblis. “Enam orang yang terde- pan mendapat tugas baru dengan dipimpin oleh Doyo- tan!” Orang yang bernama Doyotan segera turun dari atas kudanya dan maju ke depan, begitu pula lima orang di belakangnya segera berbuat sama Tokoh ini memiliki perawakan gempal dengan otot darahnya yang melilit-lilit melingkari tubuhnya bagaikan kawat- kawat tembaga yang kokoh. Sedang dua orang yang berdiri mengapit di kiri-kanannya bertubuh kekar pu- la. Mereka adalah Growong dan Bungkil, dua tokoh yang boleh diandalkan kesaktian dan keberaniannya.

“Dengarlah, Anak-anak!” ujar Tangan Iblis. “Menu- rut Jimbaran, kita telah dibuntuti oleh empat orang asing dari sebelah timur. Karenanya, kita harus me- nyesatkan perhatian mereka dan kemudian menghan- curkannya!”

“Kami telah siap, Guru,” kata Doyotan.

“Baik! Siasat kita begini. Doyotan berenam terus membuat jejak lurus ke arah barat dengan tetap me- ninggalkan bekas-bekas tebasan semak belukar dan ranting pepohonan. Sementara itu, aku dan yang lain- lainnya akan merubah arah dengan serong ke utara, tanpa meninggalkan jejak apapun. Nah, di saat orang- orang asing itu tersesat, maka Doyotan berenam harus menghancurkannya! Cukup jelas, bukan?” demikian kata Tangan Iblis dengan singkat mengutarakan sia- satnya.

“Jelas, Guru!” ujar Doyotan seraya mengangguk. “Biarlah orang-orang asing itu kami selesaikan. Mereka akan kami labrak sampai hancur!”

Tangan Iblis mengangguk puas dan bibirnya terse- nyum lebar, katanya pula, “Sekarang juga kita mulai! Doyotan dan rombongannya berjalan di sebelah bela- kang. Hayo!”

Selesai berkata, Tangan Iblis, Jimbaran dan rom- bongan besarnya telah bergerak kembali ke arah barat, sementara Doyotan berenam berpindah tempat ke ba- gian paling belakang. Mereka terus berjalan beberapa saat, dan ketika rombongan besar Tangan Iblis meng- hampiri sebatang pohon randu alas, ia segera memberi tanda untuk merubah haluan. Dengan melewati samp- ing pohon raksasa itu, mereka membelok serong ke arah utara, tanpa meninggalkan jejak apapun, mene- robos hutan itu dengan diam-diam.

Sedang Doyotan bersama kelima temannya tetap dalam arahnya yang lurus ke arah barat dengan me- ninggalkan jejak-jejak seperti semula.

Begitulah, dua rombongan itu mulai berpisah arah. Doyotan dan kelima kawannya sesaat masih menatap bagian ekor dari barisan besar Tangan Iblis yang mele- nyap di balik semak-semak, bagaikan seekor ular yang menyelinap di antara dedaunan untuk menyelamatkan diri.

Doyotan tidak menjadi berkecil hati dengan perpi- sahan itu, sebab sesudah melaksanakan tugasnya, mereka akan menyusul kembali ke arah utara untuk kemudian bergabung lagi dengan rombongan besar Tangan Iblis.

Yang kini memenuhi ingatannya adalah orang-orang asing, seperti yang dikabarkan oleh Jimbaran telah be- rani membuntuti gerombolan mereka.

“Hemm, aku ingin tahu, apakah maksud mereka sebenarnya? Bukankah tindakan mereka ini ibarat membuntuti seekor harimau ganas, setiap saat siap mencaplok mereka!?” demikian pikir Doyotan. Rom- bongan yang dipimpinnya ini terus berjalan dengan lancarnya, menerobos semak dan melewati pepohonan yang besar-besar. BAGIAN V

HATI Mahesa Wulung mencelos kaget sewaktu tiba- tiba berloncatan beberapa ekor kera besar-kecil, men- cerecet berteriak-teriak di atas dahan-dahan pohon. Kera-kera tersebut berlarian dari arah barat dengan gerakan yang cepat bercampur kepanikan, seperti yang tercermin dalam wajah-wajah mereka itu.

Gagak Cemani, Tungkoro dan Palumpang ikut ter- peranjat, lalu mendongak ke atas untuk melihat kera- kera tersebut.

“Sungguh aneh!” ujar Mahesa Wulung di dalam ha- tinya. “Firasat apakah yang diberikan oleh kera-kera itu? Mereka berlarian seperti dikejar sesuatu.”

“Lihatlah kera-kera itu, Adi Wulung!” ujar Gagak Cemani. “Mereka tampak ketakutan...!”

“Ya benar, Kakang Cemani. Mereka seperti dikejar oleh sesuatu dari arah barat!”

“Tepat sekali penyimpulanmu!” sahut Gagak Cema- ni pula. “Dengan begitu, akan berarti bahwa sebentar lagi kita akan dapat melihat sesuatu yang muncul di belakang kera-kera itu, yakni si pengejar mereka!”

Mahesa Wulung terpaksa kagum pula oleh keteran- gan Gagak Cemani tadi, lalu katanya pula, “Mengapa di belakang kera-kera itu, Kakang Cemani? Itu kan be- rarti bahwa si pengejar mereka berada di atas pepoho- nan!”

“Yah, memang begitu, Adi Wulung.”

“Apakah tidak mungkin bila si pengejar itu berada di sebelah bawah?” kembali Mahesa Wulung bertanya.

“Saya kira, jika si pengejar itu berada di bawah, maka kera-kera tersebut tidak bakal berlarian secepat dan sepanik itu. Paling-paling mereka hanya berlonca- tan ke sana-kemari sambil memekik-mekik,” ujar Ga- gak Cemani.

Dengan mengangguk-angguk, Mahesa Wulung me- mahami pengupasan Gagak Cemani yang jitu tadi. Ju- stru ia menjadi bergembira mempunyai sahabat kental yang telah dianggapnya seperti saudara sendiri. Se- mentara itu satu rasa kecurigaan yang dihubungkan dengan kera-kera tersebut telah muncul di dalam dada Mahesa Wulung. Tiba-tiba saja ia merasa harus ber- siaga untuk menghadapi segala sesuatu, karenanya iapun berkata kepada sahabatnya, “Kakang Cemani, sebaiknya kita berhenti sejenak!”

“Mengapa, Adik Wulung?”

“Aku ingin meyakinkan apakah perjalanan kita ini baik-baik saja, tanpa sesuatu bahaya yang mengan- cam di depan kita,” ujar Mahesa Wulung.

“Ya. Itu perlu juga,” kata Gagak Cemani. “Bukankah aku telah berkata pula tadi, bahwa sebentar lagi kita bakal melihat sesuatu yang telah mengejar kera-kera tersebut?”

“Aku masih ingat hal itu, Kakang Cemani!”

“Bagus. Karenanya akupun ingin melihat kenyataan dari penyimpulanku tadi!” ujar Gagak Cemani. “Saya kira, kera-kera tersebut tidak bakal berlarian tanpa se- suatu sebab.”

Begitulah akhirnya, empat orang sahabat itu meng- hentikan langkah kudanya. Mahesa Wulung, Gagak Cemani, Palumpang, dan Tungkoro masing-masing memperhatikan suasana di sekelilingnya, terutama ke arah barat, di mana bekas-bekas jalan yang dirintis oleh gerombolan Tangan Iblis masih kelihatan dengan jelasnya. Ranting-ranting yang patah, dedaunan yang terbabat putus, kelihatan berserakan di sana-sini.

Beberapa saat, mereka berempat telah duduk ter- mangu, masing-masing di atas punggung kudanya. Te- tapi sampai sejauh itu tak sesuatu kejadian apapun yang membuat mereka terlepas dari ketegangan ini. “Tak terjadi apa-apa, Kakang Cemani,” ujar Mahesa

Wulung. “Aneh, bukan?”

“Yah! Aku menjadi bercuriga sekarang!” menyahut Gagak Cemani. “Baiknya kita mempersiapkan senjata.” Palumpang dan Tungkoro telah bersiap-siap pula.

Kini hutan di sekelilingnya menjadi sepi tampaknya, seakan-akan diliputi oleh kebisuan dan ketegangan yang mencekam. Dan memang sesungguhnya, suatu ketegangan tengah menanti-nanti untuk meletup den- gan hebatnya!

Jauh sedikit di sebelah barat atau lurus di depan rombongan Mahesa Wulung berempat, Doyotan ber- sama kelima orang pengikutnya telah berpencar di ba- lik semak pepohonan ataupun tonjolan batu-batu.

Mereka terus-menerus mengintip keempat orang as- ing yang tidak lain adalah Mahesa Wulung, Gagak Ce- mani, Palumpang dan Tungkoro. Gerundal dan gera- man tanda jengkel berkali-kali terdengar dari mulut para pengintai itu.

“Hmmm, keparat! Mengapa mereka terhenti di sa- na?” kata Doyotan dengan jengkelnya.

“Barangkali mereka telah tahu tentang kita...!” desis Growong seraya menggenggam lebih erat senjata sabit- nya yang berantai panjang dan berkeredapan.

“Tak mungkin mereka tahu,” sahut Bungkil yang bermata kecil, sementara golok besarnya dicocok- cocokkan ke atas tanah. “Kita kan bersembunyi di sini baik-baik, tanpa membuat gaduh. Jadi dari mana me- reka tahu?”

“Kita serang saja sekarang!” ujar ketiga orang teman lain yang bersembunyi di belakang mereka. “Apa lagi yang kita tunggu-tunggu?”

“Biar mereka bergerak lebih dekat kemari!” bisik Doyotan. “Setelah itu barulah kita serang dengan tiba- tiba.”

“Hehh, tanganku sudah gatal untuk menarik senja- taku ini!” geram si Growong yang berwajah angker. Pa- da dahinya terdapat bekas luka yang cekung, dan agaknya karena keanehan ciri tersebut maka ia di- panggil dengan nama Growong.

“Tahan dahulu, Sobat, janganlah berbuat gila- gilaan. Akulah yang memimpin di sini!” desah Doyotan yang wajahnya tidak saja angker, tapi keras bagaikan gumpalan batu karang. “Apapun yang terjadi di sini, baik ataupun buruk, akulah yang bertangguh jawab!”

Sesaat Growong melirik tajam ke arah Doyotan dan menggemeretakkan giginya. Baginya, Doyotan cuma lebih tinggi setingkat ilmunya dari dirinya. Tetapi, ka- rena ia telah diserahi memimpin rombongan kecil ini oleh Tangan Iblis, maka terpaksalah ia berada di ba- wah perintah Doyotan.

Itulah sekelumit gambaran tentang ketegangan yang timbul di antara para pencegat. Baik ketegangan pri- badi di antara mereka sendiri maupun ketegangan da- lam menghadapi keempat orang asing yang tengah di- nantinya!

Terlihatlah betapa peluh mereka berbintik-bintik menetes dari lobang kulit, selambat waktu yang dinan- tikan oleh mereka. Bahkan terasa pula betapa rasa gatal telah menyengat-nyengat permukaan kulitnya, bagaikan belasan ekor semut yang tengah menge- royoknya.

Dalam pada itu, Mahesa Wulung, Gagak Cemani dan kedua rekannya, juga merasakan saat-saat kete- gangan yang timbul pada diri mereka.

“Sungguh aneh! Terasa sangat sepinya!” bisik Gagak Cemani kepada Mahesa Wulung. “Bagaimana, Adik Wulung? Apakah akan terus mengambil jalan ini, ataukah kita berganti arah?” “Kita tetap mengambil jalan ini, tapi terlebih dahulu aku ingin meyakinkan, apakah di sana aman-aman sa- ja,” begitu Mahesa Wulung berbisik ke arah Gagak Cemani. “Aku akan melepaskan pukulan Angin Bisu ke arah barat!”

“Heei, tapi bukankah hal ini bakal menerbitkan su- ara dan gerombolan mereka pasti akan segera menge- tahui tentang diri kita?” gumam Gagak Cemani sedikit cemas.

“Mereka tak bakal tahu, Kakang Cemani. Paling- paling mereka hanya mengira adanya angin ribut yang bertiup dari sebelah timur. Nah, dengan begitu, seti- dak-tidaknya mereka akan menyerukan kepada teman- teman rombongan tentang datangnya angin ribut. Dari situlah kita akan mengetahui apakah mereka masih berada di sana atau tidak.”

“Baiklah!” ujar Gagak Cemani singkat serta mem- biarkan Mahesa Wulung bersiaga lalu melancarkan Pukulan Angin Bisu ke arah barat, yakni ke arah jalan rintisan yang berada di depannya.

Werrrr...! Angin ribut segera bertiup bersamaan ter- lontarnya Pukulan Angin Bisu dari Mahesa Wulung. Dedaunan porak-poranda terombang-ambing, semen- tara ranting-ranting kecil segera berpatahan diiringi bunyi berderak-derak membisingkan telinga.

Maka di saat itulah, Doyotan sudah tidak dapat menahan marah dan kesabarannya, dan berserulah ia kepada kelima orang kawannya, “Ayo, kita serang se- karang!”

Enam sosok tubuh bersenjata muncul dari sela-sela dedaunan semak yang terombang-ambing angin bagai- kan enam ekor ular berbisa yang siap memagut lawan- nya. Seorang di antaranya berada di sebelah depan, langsung menerjang ke arah Mahesa Wulung dengan ganasnya. Senjatanya adalah tombak pendek yang bermata kembar pada kedua ujungnya, berputar lak- sana baling-baling maut. Si penyerang ini yang berotot seperti kawat tembaga, tidak lain adalah Doyotan!

Mahesa Wulung sangat terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Doyotan. Namun tanpa kehilangan pen- gamatan ia segera memutar kudanya ke kiri sehingga senjata tombak bermata kembar dari lawannya segera dapat dielakkannya.

Dalam sekilas itu pula tampaknya si Doyotan bakal terjungkal ke tanah, tetapi tiba-tiba saja ia telah me- lenting kembali ke atas udara, sebab begitu kedua ujung kakinya menyentuh bumi segera dihentakkan- nya ke situ sehingga tubuhnya mencelat bagaikan be- lalang. Sungguh mengagumkan!

Tanpa membuang waktu, Mahesa Wulungpun mele- sat dari atas punggung kudanya, langsung menya- betkan pedang di tangannya ke arah Doyotan,

Westt!

“Heyaahh!” Doyotan menyambut serangan itu den- gan tombaknya bermata kembar, sementara kaki ki- rinya menyapu kepala Mahesa Wulung dengan deras. “Mampus kau!”

Trengng…! Plakk…! Mahesa Wulung lebih dulu me- nangkis kaki Doyotan dengan sabetan tangan kirinya ke atas, sementara kedua senjata di tangan masing- masing telah beradu sampai bergetaran hebat! Kalau Mahesa Wulung hanya terperanjat sedikit, maka Doyo- tan lebih banyak kagetnya karena hampir-hampir pu- taran senjatanya mental balik dan menyobek tubuhnya sendiri!

Tak ubahnya seekor tupai, Doyotan mendarat di atas tanah, begitu pula Mahesa Wulung telah memi- jakkan kakinya ke bumi tanpa banyak suara, bagaikan selembar daun kering. Melihat ini, Doyotan tercekat kaget, dan batinnya, “Pantas, orang ini berani mengu- sik rombongan Tangan Iblis! Tak tahunya memang dia mempunyai ilmu pula!”

“Heei, seranganmu kurang terkendali, Sobat!” ujar Mahesa Wulung setengah mengejek. “Untunglah kare- nanya. Dadaku tidak jadi terlobang oleh senjatamu itu!”

“Eee, kau sudah bersombong diri, sedangkan seran- ganku tadi belumlah serangan yang sesungguhnya!” seru Doyotan sambil meludah ke tanah. “Sebentar lagi kau akan mati di tanganku ini. Barulah kau tahu siapa sesungguhnya yang bergelar Doyotan!”

“Heh, heh. Mahesa Wulung akan bersedia melayani beberapa jurus seranganmu yang sehebat apapun!”

“Kurang ajar! Sombongmu sudah kelewat batas!” “Silahkan ngomong sepuas mulutmu!” teriak Gro-

wong. “Sebab setelah ini, ia tak akan sempat lagi un- tuk berkata-kata!”

“Bagus! Aku memang sangat senang berhadapan dengan musuh yang bersemangat seperti kamu!” sahut Gagak Cemani. “Terlebih-lebih lagi dengan golok pusa- kaku ini!”

“Keparat! Sambutlah seranganku yang berikutnya!” umpat Gowang Growong seraya memutar sabitnya kembali, sampai bersiutan nyaring mengeluarkan bunyi yang memedihkan telinga.

Gagak Cemani telah kenyang akan segala pengala- man peperangan yang beraneka coraknya. Menghadapi senjata sabit berantai tersebut, buru-buru ia berseli- weran di antara celah belukar dan berharap agar sen- jata lawannya itu akan terkait pada dahan pohon serta macet di situ.

Akan tetapi pendekar bergolok hitam ini terperanjat pula, sewaktu sabit berantai lawannya tetap menyam- bar-nyambar dan membuat putus segala semak belu- kar yang melindungi Gagak Cemani, sampai pendekar berkumis runcing ini mengeluh kaget.

“Tobat!” desis Gagak Cemani. “Memang kesombon- gannya ternyata benar. Senjata sabitnya berantai itu sangat hebat!”

“Ha, ha, ha. Kau tahu sekarang bahwa senjataku ini sangat hebat tak terlawankan. Hanya angin saja yang kiranya sanggup menghadapinya!” ujar Gowang Gro- wong seraya menarik serangannya. Seperti diketahui, karena senjatanya itu berantai maka jarak serangan- nya dapat diperjauh tapi dapat pula diperpendek.

Belum lagi Gowang Growong selesai berkata, Gagak Cemani telah lebih dahulu melesat menerjang ke de- pan. Golok hitam di tangannya menyambar laksana sebuah taring naga dengan getaran hebat. Wusssss….

“Auuhh!” desis Gowang Growong seraya berjumpali- tan ke samping, meski sedikit terlambat, karena ujung golok hitam Gagak Cemani masih sempat menyentuh pundaknya. “Keparat. Serangannya sangat cepat, se- cepat burung gagak menyambar mangsa. Rupanya nama Gagak Cemani dihubungkan pula dengan kece- patan geraknya!”

Bagi Gowang Growong, luka kecil itu memang tidak menimbulkan rasa sakit seperti. Sebagai seorang pen- dekar gemblengan dari Tangan Iblis, ia tak bakal me- nangis hanya disebabkan kulitnya terluka kecil oleh senjata lawan. Namun yang membuat panas hatinya, ialah kekalahan cepatnya dalam melukai seorang la- wan. Ternyata Gagak Cemani belum cedera apa-apa, sedang dia sendiri telah terluka pundaknya!

Oleh sebab itu Gowang Growong menjadi marah se- kali. Senjatanya yang aneh tadi diputar kembali lebih hebat. Sebentar menyambar sangat jauh, sebentar lagi menyambar dalam jarak yang lebih dekat, tak ubahnya seekor ular berbisa yang siap mencari kelemahan la- wan. Begitu lawannya terlengah, begitu cepat ia me- nyambar dan akibatnya jangan diragukan lagi. Pasti ada kepala copot dari tubuh ataupun tubuh lawannya bakal berbelah menjadi dua.

Gagak Cemani tidak pula secara gegabah menang- gap serangan-serangan tersebut. Ilmu meringankan tubuhnya yang telah matang segera ditrapkan dengan sebaik-baiknya, sehingga tubuhnya terlihat mencelat ke sana-ke mari dengan gerakan-gerakan ringan yang lincah. Hingga selintas lalu tampaklah ia bergerak se- perti burung gagak dengan jubahnya yang berkibaran di atas punggung.

Ia berselinapan di celah-celah hujan sambaran sabit lawannya yang berputar seperti bolang-baling tanpa kenal ampun. Sekali-sekali golok hitamnya menyambar ke arah Gowang Growong, tetapi secepat itu pula la- wannya mengelak.

Di sebelah lain, Palumpang menghadapi dua orang lawan yang menyerangnya secara beruntun sambung- menyambung. Golok-golok mereka bersambaran dari arah-arah yang tak terduga asalnya serta gesit.

Anehnya sampai sejauh itu, Palumpang tidak menggunakan senjata apapun. Jadi dia cuma bertan- gan kosong selama itu. Tak heranlah bila kedua la- wannya itu menjadi semakin panas hatinya, sehingga salah seorang yang bertubuh kecil berseru keras, “Heei lekas kau gunakan senjatamu, supaya matimu secara terhormat pula!”

“Heh, heh. Kau berkata tentang kehormatan. Tetapi mengapa kalian main keroyok!?” ujar Palumpang ta- jam.

“Persetan! Kami tak ingin membiarkan seorang ka- wan cuma berdiri sebagai penonton selagi kawannya sibuk bertempur. Karenanya, apa salahnya bila te- manku ikut bertempur di sampingku?” seru si tubuh kecil yang tidak lain adalah Bungkil. Senjata golok berkali-kali menebas dengan angin maut yang menggi- riskan hati. Tak terkira bahwa musuh Palumpang yang bertubuh kecil itu sanggup menggerakkan golok besar sehebat itu. Kiranya orang-orang yang kini menyerang rombongan Mahesa Wulung itu terhitung sebagai ja- goan-jagoan terpilih dari gerombolan Tangan Iblis!

Lain lagi dengan Tungkoro. Ia cepat-cepat menghu- nus pedangnya seraya menghantam kedua lawannya yang bersenjata golok-golok panjang. Dengan begitu segera terdengar bunyi gemerincing dan berdentang dari benturan-benturan ketiga senjata mereka, diseling letupan asap panas yang mengagumkan.

Bagi Tungkoro, pertempuran ini betul-betul memin- ta perhatian yang lebih banyak, sebab kedua lawannya ini sangat bernafsu untuk membunuhnya, seperti ter- lihat dari sorot mata mereka yang tajam dan penuh kebencian.

Segala ilmu pedang yang pernah dipelajari, ditum- plak oleh Tungkoro dalam pertemuan ini, sehingga pe- dang Tungkoro tak henti-hentinya menyambar, mema- tuk dam membacok ke arah sasaran. Namun kedua lawannya bukankah anak kemarin sore. Golok-golok mereka selalu menyerang dari dua arah yang berten- tangan.

Kalau yang satu menyerang ke arah kaki, maka yang satu lagi ke arah kepala. Agaknya mereka ber- maksud mencegat gerakan-gerakan Tungkoro dan hal ini sebenarnya cukup menyulitkan pula bagi Tungkoro. Bagaimanapun juga menghadapi seorang orang lawan lebih mudah daripada dua orang lawan, sebab ia harus membagi dua perhatian sekaligus yang tidak sama.

Begitulah maka pertarungan ini berlangsung sangat dahsyatnya di tengah hutan, merupakan tiga lingkaran pertarungan yang masing-masing penuh dengan kete- gangan dan bentrokan-bentrokan maut. “Heh? Jadi rombongan yang aku buntuti hanya ter- diri dari enam orang ini saja?!” gumam Mahesa Wu- lung sedikit heran. “Pasti tidak! Aku yakin bahwa kee- nam orang ini ditugaskan oleh mereka untuk mence- gatku!”

Dalam pada itu, Bungkil dan seorang kawannya semakin hebat melancarkan serangan-serangan golok- nya ke arah Palumpang yang bertangan kosong. Sela- ma ini, pendekar lautan itu cuma berloncatan ke sana- ke mari menghindari serangan dan kadang-kadang ia melancarkan tendangan maupun jotosan ke arah ke- dua lawannya. Benar-benar gerakannya selincah ikan cucut di atas permukaan air.

Akan tetapi Bungkil berdua terus-menerus meli- patkan serangannya, sehingga akhirnya Palumpang merasa sedikit kerepotan juga. Dan tiba-tiba saja Pa- lumpang mencabut sesuatu dari balik bajunya, mem- buat kedua lawannya surut ke belakang dengan terte- gun. 

Pada tangan kanan Palumpang tergenggamlah seuntai akar laur bercabang-cabang, berwarna hitam kemerahan. Itulah salah satu senjata aneh Palumpang yang terbuat dari Akar Bahar Api. Begitu akar tadi di- gerakkan oleh Palumpang, segera terlihatlah batang- batang runcing merah hitam menyambar-nyambar dengan bau air laut yang asin ke arah Bungkil dan kawannya. Kedua lawan ini bertebaran menghindar dengan memekik kecil saking kaget dan ngerinya. Me- reka sadar bahwa akar tersebut sangat ampuh dan berbisa. Tikamannya berarti maut, kecuali bagi pemi- liknya yang memiliki obat penawar untuk menahan dan menyembuhkan lukanya. Hingga di sini selesailah ceritera “Arca Ikan Biru”, seri Naga Geni yang kedua puluh tiga. Segera akan menyusul ke ruang Anda, seri Naga Geni 24 dengan judul “PENDEKAR EMPAT SERANGKAI”. Akan  Anda

ketahui bagaimana dengan Demang Cundraka dan ke mana tujuan Tangan Iblis? Apakah Tuntari tinggal berpangku tangan di rumah? Tunggulah. Mungkin Pa- nembahan Tanah Putih dan Pendekar Bayangan akan muncul kembali.

TAMAT