-->

Serial Naga Geni Eps 21 : Laki-Laki Di Atas Bukit

 
Eps 21 : Laki-Laki Di Atas Bukit

BAGIAN I

SUASANA KEBISUAN masih menyelimuti mereka yang lagi duduk mengerumun di depan pondok Ki Tu- tur. Mereka seolah-olah masih terbayang akan segala ceritera si kakek penggembala lebah yang baru saja le- wat.

Bagi Tunjung sendiri, ceritera kakeknya tadi ternya- ta di luar dugaan bagi perbendaharaan pengetahuan- nya selama ini. Ia sama sekali tidak mengerti bahwa Bogal Respati itulah yang membunuh kedua orang tu- anya.

Maka setelah mengetahui hal itu, Tunjung terdiam bersedih dan marah. Rasanya ia mau menginjak-injak mayat si Bogal Respati tersebut, namun kebijaksa- naannya telah membuatnya sadar, bahwa maksud itu tidak ada manfaatnya sama sekali.

Bagaimanapun juga, durjana itu telah mati dan tak perlu lagi untuk disesali oleh siapa pun!

“Sudah sewajarnya ia binasa, Ki Tutur,” ujar Wiku Salaka dengan mendesak. “Perlu pula Anda ketahui, bahwa Bogal Respati pernah juga mengacau rumah tanggaku!”

“Heehh? Si keparat itupun pernah mengganggu An- dika?” ulang Ki Tutur seraya dengan singkat menceri- takan segala sepak terjang si Bogal Respati kepada Ka- kek Wiku Salaka. “Jika demikian, kita mempunyai na- sib yang sama!”

“Memang benar,” kata Wiku Salaka. “Keluargaku berantakan. Anak isteriku cerai-berai tak karuan jun- trungnya lantaran si Bogal Respati itu!”

“Hmm, sayang sekali,” guman Ki Tutur terharu. “Apakah Andika tidak pernah berusaha mencarinya?”

“Itu terjadi belasan tahun yang silam. Sekarang pun aku belum pernah mendengar kabar beritanya.” Pertemuan yang tak terduga ini sangat besar man-

faatnya bagi Ki Tutur sendiri maupun Wiku Salaka. Demikian pula tak kurang gembiranya si pendekar Ngurah Jelantik, Tunjung, Sunutama dan yang lain- lain.

Ngurah Jelantik kemudian menceriterakan penga- lamannya kepada kakek Wiku Salaka ketika ia bersa- ma beberapa orang penjaga mengejar Nyi Durganti ser- ta Tangan Iblis, sampai terjadi pertempuran dahsyat.

Kakek Wiku Salaka mengangguk-angguk menden- gar penuturan Ngurah Jelantik. Dan iapun kemudian menceriterakan segala maksudnya untuk menyelidiki gerombolan Tangan Iblis serta mencari jejak Made Maya yang diculik oleh mereka.

“Untunglah aku telah menemukan Angger!” berkata Ki Wiku Salaka. “Sebab kami telah mencemaskan ke- pergianmu yang kelewat lama.”

“Terima kasih, Ki Wiku. Sekarang juga kami berse- dia membantu Andika untuk menyelidiki kedua hal tersebut,” demikian kata Ngurah Jelantik.

“Kami berduapun bersedia pula membantu Andika,” ujar Ki Tutur kepada Kakek Wiku Salaka, yang tentu saja diterima dengan senang hati.

Ketika mereka belum lagi lama beristirahat, menda- dak saja terdengarlah seruan dari arah selatan menga- getkan semuanya, “Hoooii Ki Salaka! Sunutama!”

“Ooh, itu Ki Selakriya?!” desis kakek Wiku Salaka seraya berpaling kepada Sunutama. “Benarkah pan- danganku itu, Angger Sunutama!”

“Betul, Kakek. Itulah Ayahanda Selakriya,” berkata Sunutama sambil meloncat menyambut ayahnya. Ka- tanya pula, “Ayah! Rupanya ada kejadian penting, jika Andika sampai menyusul kami ke tempat ini?!”

“Akupun menyangka demikian, Ki Selakriya,” kata Ki Wiku Salaka. “Adakah sesuatu...?”

“Kejadian hebat. Tapi menggembirakan kita semua,” seru Ki Selakriya dengan wajah yang penuh perasaan gembira. “Angger Made Maya telah kembali dengan se- lamat!”

“Haa? Made Maya telah kembali?” berseru Kakek Wiku Salaka, Sunutama dan yang lain-lain dengan he- ran bercampur gembira seperti terlukis pada wajah- wajah mereka.

Ki Selakriya kemudian menceriterakan secara sing- kat tentang peristiwa tersebut.

***

“Tunjung, berangkatlah lebih dahulu bersama sau- dara-saudara kita ini. Aku akan segera menyusul sete- lah membereskan rumah dan mengatur lebah-lebah putih kita!” demikian tutur Kakek Tutur kepada cu- cunya, si Tunjung.

Tak antara lama, berangkatlah rombongan kecil ini menuju ke arah selatan, untuk selanjutnya membelok ke barat daya dan seterusnya menuju ke daerah Gili- manuk tempat tujuan yang terakhir yakni rumah dan kediaman Saudagar Wayan Arsana.

Bagai iringan semut yang berjalan satu persatu, mereka menempuh lorong-lorong hutan yang lebat dengan lambatnya. Paling depan sendiri adalah Pende- kar Ngurah Jelantik dan Sunutama, berjalan kaki sambil membuka jalan, yang kadang-kadang dipenuhi oleh sulur-sulur dan ranting pepohonan liar di sana- sini.

Di belakang mereka, Ki Wiku Salaka, Tunjung serta Ki Selakriya berkuda. Lalu menyusul pula dengan ber- jalan kaki, si Tawes dan Paria. Sedang Jeprak berkuda di sebelah paling belakang, sambil mengawasi segala sesuatunya dari kemungkinan-kemungkinan bahaya  yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Namun sebenarnya tak ada yang harus dikhawatir- kan oleh Jeprak. Sebab jauh di belakang mereka, da- lam jarak yang sukar diukur, berjalanlah Ki Tutur dengan lebah-lebah putih piaraannya, yang sepanjang perjalanan diiringi bunyi gemerisik dan dengungan lembut bagaikan irama lagu mengalun.

“Paman Ngurah Jelantik,” ujar Sunutama memecah kebisuan, “Apakah si Tangan Iblis dan Nyi Durganti itu kelewat sakti?”

“Aku belum tahu pasti,” sahut Ngurah Jelantik. “Memang mereka tangguh-tangguh dan agaknya Nyi Durganti menggunakan ilmu hitam pula!”

“Ooh, luar biasa kalau begitu!”

“Memang. Tapi kita belum mencoba kemungkinan lain, kalau seandainya Nyi Durganti kita hadapi den- gan kekuatan yang tergabung!”

“Itu sangat bagus!” sahut Sunutama. “Dan perlu pula kita menggunakan siasat untuk menghadapi me- reka! Bagaimanapun saktinya seseorang, tapi mengha- dapi siasat lawan haruslah hati-hati! Ehh, itulah aja- ran Kakek Wiku Salaka,” ujar Sunutama seraya tersi- pu-sipu malu, sebab ia seolah-olah telah berpidato di depan pendekar kerajaan seperti Ngurah Jelantik ini.

“Heh, heh. Kau cepat maju, Sunutama,” kata Ngu- rah Jelantik sambil berkelakar menggoda. “Tapi aku iri kepadamu. Sebab kau yang lebih muda telah mempe- roleh jodoh sedang aku belum!”

Sunutama agak blingsatan, tetapi tiba-tiba ia berka- ta pelan diiringi senyum, “Stt, bagaimana dengan dewi hutan, si Tunjung itu?!”

“Husss! Jangan ngomong keras-keras! Nanti dia mendengarnya, Sunutama,” berkata Ngurah Jelantik serta tangannya mencablek punggung Sunutama. “Pin- tar pula kau menggoda orang.” “Hi, hi. Maaf, Paman. Tapi aku yakin bahwa ia patut menjadi jodoh Andika. Lihatlah dari raut mukanya yang mirip dengan Paman. Kata orang-orang tua, orang yang sejodoh pasti memiliki raut muka yang sa- ma.”

“Aah ada-ada saja kau.”

Begitulah, suasana perjalanan mereka tampak segar dan gembira. Lebih-lebih setelah diketahui bahwa Made Maya telah kembali dengan selamat.

Kini satu-satunya pemikiran adalah bagaimana se- harusnya menghadapi gerombolan Tangan Iblis yang sakti itu! Yang terang saja mereka akan berpikir berli- pat-lipat, sebelum saat bulan purnama penuh akan ti- ba beberapa hari lagi. Sebab di saat itulah mereka akan mendatangi rumah Wayan Arsana untuk mena- gih tiga peti uang emas serta harta benda sebagai te- busan si Made Maya,

Akhirnya, perjalanan mereka yang cukup panjang itu berakhir pada sore hari menjelang matahari akan membenam di garis langit barat.

Mereka disambut oleh I Wayan Arsana dan segenap penghuni rumahnya dengan rasa syukur dan gembira. Tetapi yang paling gembira adalah pertemuan kembali antara Sunutama dan Made Maya.

***

Beberapa hari kemudian di sebuah senja... Di luar pagar tembok halaman Saudagar Wayan Arsana, terli- hatlah adanya kesibukan orang-orang yang lalu-lalang mempersiapkan sesuatu.

Terakhir sekali beberapa orang tampak mengusung tiga buah peti besar dari kayu yang berukir indah. Ke- tiganya digotong keluar dari pintu gerbang rumah Wayan Arsana dan kemudian diletakkan di atas pela- taran luas yang ditumbuhi rumput-rumput. Beberapa gubuk-gubuk tak berdinding dibangun pula di tempat itu, tak jauh dari ketiga peti berukir.

Salah seorang yang turut bekerja di situ, seketika memberi rerasan kepada temannya.

“Peti-peti itu dipersiapkan untuk Tangan Iblis! Aku heran. Bukankah hal itu tidak ada gunanya? Toh Ni Made Maya telah kembali dengan selamat.”

“Ahh, kita tahu apa tentang hal itu? Barangkali Ki Wayan Arsana memang takut terhadap gerombolan Tangan Iblis, sehingga mereka harus menyiapkan tiga peti uang emas dan perhiasan untuknya,” ujar seorang yang lain. “Tapi yang lebih aku herankan adalah Kakek Wiku Salaka itu. Beliau mempunyai kesaktian yang hebat! Tapi menjelang penyerahan peti-peti ini, ia telah hilang, tidak menampakkan diri sama sekali.”

“Nah, itulah barangkali salah satu sebab, mengapa Ki Wayan Arsana harus menyerahkan peti-peti harta itu. Aku dengar bahwa Kakek Wiku Salaka menying- kirkan diri jauh-jauh.”

“Aku rasa, hal itu ada baiknya juga. Sebab dengan begitu tidak akan timbul pertempuran antara Kakek Wiku Salaka melawan Tangan Iblis! Yah, mudah- mudahan saja demikian.”

Percakapan kedua orang pekerja tadi telah mem- bayangkan sepintas betapa mencengkamnya nama Tangan Iblis pada mereka. Kegelisahan tampak me- rayapi mereka, lebih-lebih ketika perlahan-lahan sang malam mulai menjelma dengan lenyapnya cahaya sen- ja.

Bulan purnama penuh mencungul dari tepi langit timur dalam cahaya perak keemasan yang mempeso- na. Kalau pada hakekatnya, pemandangan ini sangat indah dan menenteramkan hati, tetapi kali ini adalah sebaliknya. Kemunculan sang rembulan tadi justru membuat jantung orang-orang yang berdiri di lapangan rumput itu berdentang-dentang dengan kerasnya.

Mereka telah tahu, bila sang purnama tadi tepat be- rada di atas kepala, sesuatu pasti bakal terjadi. Yakni kedatangan gerombolan Tangan Iblis.

Di bawah tiga gubuk tak berdinding itu berdiri pula dengan tenangnya I Wayan Arsana, Ki Selakriya, Ki Sukerte, dan Putu Tantri. Demikian pula terdapat si Tawes, Paria dan Jeprak.

Inilah aneh. Di manakah yang lain-lain, seperti Ki Wiku Salaka dan beberapa pendekar lainnya, tidak nampak sama sekali batang hidungnya. Barangkali memang benar perkiraan sementara orang bahwa Ka- kek Wiku Salaka serta beberapa orang pendekar lain telah menyingkirkan diri.

Semakin tinggi rembulan merayap ke atas, semakin tegang suasana yang ditimbulkannya. Belasan orang pengawal yang menyertai Wayan Arsana di gubuk itu tampak bersiap-siap menggenggam senjatanya lebih erat, seperti mereka yakin kalau sebentar lagi akan timbul pertempuran yang seru di tanah lapang terse- but.

Saudagar Wayan Arsana sebentar-sebentar menatap ke atas, ke arah bulan yang semakin tinggi mendekati titik tengah lurus di atas kepala. Sebentar-sebentar ia mengusap hulu pedangnya yang tergantung di ping- gang kiri.

Tiba-tiba saja Jeprak berkata seraya menunjuk ke arah tenggara.

“Lihatlah itu! Mereka telah datang. Gerombolan Tangan Iblis!” suara Jeprak dengan nada gemetar, se- bab ketegangan yang telah lama dinantikan akhirnya datang juga.

Ketegangan tadi memang sudah sepatutnya, seiring munculnya belasan sosok tubuh manusia yang datang dari arah tenggara dengan langkah-langkah tak teratur tapi cukup menggetarkan. Lebih-lebih yang berjalan paling depan, berambut putih terurai panjang dengan wajah kakunya, yakni Nyi Durganti.

Di samping agak ke belakang, Tangan Iblis melang- kah sangat tenang. Wajahnya yang keras seperti bong- kah-bongkah batu karang membuat keseraman yang memukau. Di belakang mereka berdua, Tampaklah Jembrana, Jimbaran, Dregil, Arje, Parse dan lain- lainnya berjalan menyandang berseragam senjata di tangannya.

Dalam sentuhan sinar rembulan purnama, mereka tampak seolah-olah barisan hantu yang sedang men- dekati mangsanya. Sangat menimbulkan suasana yang seram.

Seiring langkah-langkah mereka yang berat, berge- tar pulalah dada orang-orang yang berdiri di dekat ke- tiga peti harta serta pondok-pondok darurat. Mereka bagaikan terpukau menyaksikan kedatangan Nyi Dur- ganti, Tangan Iblis dan segenap anak buahnya.

Ketika mereka telah dekat sekali, tertawalah Tangan Iblis terbahak-bahak seraya berkata kepada Nyi Dur- ganti. “Heh, ha, ha. Lihatlah, Ibu. Orang-orang Wayan Arsana ketakutan dengan kita dan mereka telah me- nyiapkan tiga peti harta!”

“Bagus! Memang itulah yang saya kehendaki!” ujar Nyi Durganti. “Tapi hati-hatilah, Nak! Aku tak melihat tokoh-tokoh sakti mereka?”

“Barangkali mereka menyingkirkan diri! lari terbirit- birit karena takut melihat kita!” seru Tangan Iblis me- nyombong lalu disusul suara tertawa anak buahnya.

Kemudian Tangan Iblis menunjuk ke arah Wayan Arsana dan berkata, “Saudagar Wayan! Apakah peti- peti itu berisi harta yang disediakan untuk kami?!”

“Memang benar!” ujar Wayan Arsana sambil mem- buka ketiga peti berukir tersebut. “Lihatlah, ini berisi uang emas, dan segala harta benda untuk kalian. Saya harap kalian puas dan tidak lagi mengganggu kami!”

“Bagus! Tapi satu hal lagi yang harus saya selesai- kan di sini! Aku ingin mengadu tenaga melawan Kakek Wiku Salaka yang pernah menghinaku!” ujar Tangan Iblis.

“Lupakan saja hal itu!” seru Wayan Arsana tenang. “Barang yang sudah lewat tak usah dipersoalkan lagi!”

“Keparat! Jika si tua bangka itu tidak ada, maka ka- lian akan kami lumatkan! Bersiaplah untuk itu! Kelua- rkan setiap senjatamu untuk penghabisan kali!” teriak Tangan Iblis menggetarkan udara malam.

Tiba-tiba saja ketiga peti tadi bergetar dan berham- buranlah harta emas di situ ke udara, berbareng tiga sosok tubuh manusia meloncat ke luar dari dalam peti tersebut dan sesaat kemudian telah mendarat di dekat Wayan Arsana! Mereka bertiga tidak lain adalah Kakek Wiku Salaka, Sunutama dan Pendekar Ngurah Jelan- tik! Kemunculan mereka benar-benar mengejutkan Tangan Iblis beserta anak buahnya, lebih-lebih Nyi Durganti sendiri.

“Kurang ajar! Kalian main kucing-kucingan!” seru Tangan Iblis sangat marah. Sambil menoleh kepada segenap anak buahnya, ia berteriak, “Hancurkan me- reka!”

Yang melesat pertama kali adalah Nyi Durganti, menerjang ke arah Kakek Wiku Salaka dengan meng- geram. Sedang Ngurah Jelantik sebaliknya, ia menye- rang Tangan Iblis lebih dahulu dengan pedangnya.

“Kami datang, Iblis! Terimalah!”

Dalam detik itu pula, Sunutama. Wayan Arsana, Ki Selakriya dan yang lain-lain menerjang ke barisan anak buah Tangan Iblis, sehingga pertempuran hebat berkobarlah!

Sunutama yang masih muda tapi perkasa itupun telah pula terlibat pertempuran melawan Jembrana. Kalau pada saat yang lalu ia pernah gentar melihat tandang gerak si Jembrana, kali ini tidak lagi demi- kian. Berkat gemblengan dan bimbingan Kakek Wiku Salaka, Sunutama telah benar-benar tangguh dan ko- koh, bagaikan banteng jantan yang siap mendobrak lawan!

Karenanya, Jembrana yang bersenjata penggada be- si tidak lagi ragu menggempurkannya ke arah Sunu- tama dengan gerakan yang hebat, menyambar, berpu- tar-putar dan kemudian menggebrak ke tubuh lawan- nya tanpa putus-putusnya.

Dalam gerakan gesit tubuh Sunutama melenting ke sana kemari mengelakkan penggada Jembrana yang mengejarnya dengan beruntun. Akan tetapi tidak ja- rang pula ia mematukkan pedangnya dalam gerakan kilat yang kadang-kadang sukar ditangkap mata.

Hal ini tidak jarang menyebabkan Jembrana mema- ki dan mengutuk saking geram dan marahnya, meski dalam hati tak urung ia menaruh rasa kagum kepada Sunutama!

Rasa marah yang berkobar bagaikan obor, rupanya telah pula merangsang hati Tangan Iblis hingga gera- kannya makin bertambah hebat. Pedang lebar di tan- gan kanannya menebas secepat angin prahara semen- tara tangan kirinya tidak jarang menyambar dan siap dengan pukulan mautnya yang dahsyat ke arah Ngu- rah Jelantik berada.

Dengan sendirinya, Ngurah Jelantik tidak mau me- mandang enteng lawannya itu. Nama Tangan Iblis cu- kup menggetarkan setiap orang seperti pula gerakan- nya yang betul-betul mirip gerakan iblis kelaparan.

Maka Ngurah Jelantik mengetrapkan segala ilmu dan petunjuk-petunjuk yang telah diterimanya dari Ki Turut guna menghadapi iblis liar ini. Dengan  bera- ninya ia memapaki setiap serangan Tangan Iblis, se- dang di saat lain tubuhnya selalu berkelebat menyeli- nap di antara sambaran pedang lebar si Tangan Iblis.

Di sebelah tengah dari kancah pertempuran, Kakek Wiku Salaka seru menghadapi serangan Nyi Durganti. Keduanya seolah-olah merupakan lawan yang tangguh dan seimbang. Senjata tongkat di tangan nenek uba- nan berwajah kaku tadi menotok dan menyambar ke setiap bagian lemah dari lawannya, namun Kakek Wi- ku Salaka telah menduga hal itu, sehingga ke mana ujung tongkat Nyi Durganti bergerak, ke situ juga se- lendang pendek di tangannya mencelat dan memben- tur, diiringi letupan-letupan yang memekakkan telinga serta menggetarkan udara.

Tiba-tiba saja Nyi Durganti menyilang-nyilangkan tangan kirinya di depan kepala bersama bibirnya ber- getar mengucapkan mantera, lalu menggeram, “Gerr... haarh!”

Seketika hampir setiap orang terbengong begitu sempat menatap wajah Nyi Durganti yang tampaknya berubah menjadi wajah seram bertaring dengan lidah merah terjulur-julur disertai bau harum menusuk hi- dung. Geraknyapun berubah liar.

“Ilmu hitam!” desis kakek Wiku Salaka sangat ka- getnya. Apalagi setelah hawa panas mengalir dari gera- kan Nyi Durganti sampai-sampai rumput di sekeliling tubuhnya layu lunglai.

Biarpun demikian, Kakek Wiku Salaka pantang mundur. Bibirnyapun berkomat-kamit dan siap me- nyiapkan puncak ilmu dan tenaga dalamnya, sebab sewaktu Nyi Durganti menerjang ke arahnya, iapun menyambutnya.

“Hyaatt...! Daarr!” Tongkat Nenek Durganti hancur terbabat selendang Wiku Salaka, lalu tubuhnya ter- pental tiga langkah sambil terbatuk-batuk karena na- fasnya yang sengal-sengal.

Iapun menjadi kaget ketika dari balik semak-semak di sebelah selatan muncul beberapa orang penjaga yang dikepalai oleh Made Maya, Tunjung dan Ki Tutur. Mereka datang dan terjun ke arena pertempuran ter- sebut. Beberapa orang anak buah Tangan Iblis telah berkaparan mati.

Malah sesaat itu pula tampaklah Jembrana yang mengamuk dengan hebatnya, bagaikan harimau luka. Setiap saat geraknya bertambah garang, dengan gada besinya menyambar dan menyapu setiap bagian tubuh Sunutama yang tampak.

Dengan begitu, maka bagi setiap orang yang melihat tandang gerak Jembrana, terpaksalah mereka ngeri dalam hatinya. Mereka dalam jarak cukup jauh saja sudah dapat mendengar dan merasakan desau samba- rannya angin dari penggada besi di tangan Jembrana. Apalagi jika seperti Sunutama yang langsung mengha- dapi serangan-serangannya.

Dalam jarak permulaan dari jurus-jurus pertempu- ran antara Jembrana melawan Sunutama, sepintas la- lu seperti dapat dipastikan bahwa pendekar muda mu- rid Ki Wiku Salaka ini pasti akan terpukul roboh oleh gada besi Jembrana.

Namun kadang-kadang memang perkiraan tidak akan selalu cocok dengan kenyataan yang bakal terja- di. Seperti Sunutama yang kelihatan selalu terdesak oleh lawannya tadi ternyata hanyalah satu siasat saja.

Pemuda yang berotak cerdas ini membiarkan seran- gan-serangan lawannya mengalir tanpa berhenti, sebab sesungguhnya ia secara diam-diam selalu memperha- tikan setiap macam jurus dan serangan Jembrana.

Karenanya, banyaklah ia dapat mengetahui kelebi- han dan kekurangan dari lawannya sehingga hal ini dapat digunakan dalam mempersiapkan serangan- serangan balasan yang bakal dilancarkannya kemu- dian.

Di samping itupun si pendekar muda ini telah ba- nyak mendapat bimbingan, baik dari Ngurah Jelantik maupun Kakek Wiku Salaka sendiri. Maka sambil ber- tempur ia secara bertahap menumpahkan segala pela- jaran tata kelahi dan segala siasatnya yang dipelajari dari kedua gurunya tadi.

Tidak jarang iapun sengaja memancing kemarahan Jembrana dengan ejekan dan senda guraunya. “Heh, jangan ngawur, sobat! Kau harus memutar penggada- mu dengan baik! Jika tidak, aku merasa cemas bahwa ia akan memukul hancur kepalamu sendiri!”

“Setan! Bicaramu terlalu sombong, bocah ingusan! Marilah kau buktikan, apakah engkau masih mampu bertahan menghadapi serangan-seranganku ini!” teriak Jembrana disertai kemarahan yang meluap. “Jangan kau kira bahwa bertempur akan sama mudahnya den- gan pekerjaanmu yang hina, mengukir-ukir batu dan kayu!”

Mendengar ini, hampir saja Sunutama terjangkit marahnya, tapi untunglah perasaan tadi segera dita- hannya dengan cukup menggemeretakkan giginya. Kemudian katanya pula, “Hah, hah. Memang sangat mudah, sobat. Dengan pedangku ini aku mampu men- gukir patung-patung yang indah. Tapi juga dengan ini aku sanggup mengukir batok kepalamu!”

“Laknat bobrok! Mulutmu terlalu berharga untuk diremukkan dengan penggadaku ini! Sebaliknya nanti kusumbat dengan lumpur busuk sebelum kuinjak- injak dengan telapak kakiku!” geram Jembrana sambil melipat-gandakan serangannya.

Mendapat serangan gencar ini, Sunutama tak mau lebih banyak bergurau sebab ia khawatir kalau-kalau hal tersebut bakal melengahkannya sendiri. Hanya satu hal yang merupakan keuntungan bagi Sunutama, bila ternyata Jembrana telah bertempur dengan disertai kemarahan yang membanjir, sehingga tidak jarang beberapa kesalahan kecil telah dibuatnya!

***

Di sebelah lain, Ki Selakriya diam-diam merasa gembira bila puteranya, Sunutama, mampu mengha- dapi Jembrana dengan baik. Akan tetapi sayang ia ti- dak sempat mengawasinya lebih lanjut, sebab dia sen- diripun sibuk melawan serangan-serangan Dregil, sa- lah seorang anak buah Tangan Iblis yang bersenjata tombak.

Berbeda dengan Sunutama yang bertempur sambil memancing kemarahan lawan, Ki Selakriya ini lebih tenang dan waspada. Setiap geraknya diperhitungkan teliti dan sematang mungkin sebelum ia melancarkan serangan ke arah lawannya. Ki Selakriya bergerak den- gan gesitnya untuk menghadapi tikaman-tikaman maut dari tombak Dregil yang datang bagaikan paruh- paruh garuda yang siap menyobek-nyobek tubuhnya.

Beruntung bahwa dia memiliki bekal yang cukup untuk pertempuran yang semacam ini. Pedangnya berputar bagai pusaran air, siap menenggelamkan la- wannya.

Kedua lawan itu sambar-menyambar sementara masing-masing senjatanya berkilapan bergulung- gulung mencari sasaran tubuh lawan yang lengah per- tahanannya.

Dregil merasa bahwa ia telah gencar melancarkan serangan tombaknya, namun toh lawannya tadi belum tampak terdesak ataupun kewalahan. Karenanya pula tandangnya semakin gesit.

Tombak di tangannya berganti-ganti menyerbu la- wan. Sekali-kali ujung tombak itu mematuk-matuk, di lain saat ia menyambar ke samping kiri atau kanan. Sedang pangkal tombaknya, juga tak kalah melancar- kan serangan, laksana ekor ular naga yang menyabet kesana-kemari.

Menghadapi hal ini, Ki Selakriya tidak lagi cuma menghindar kesana-kemari. Pedang di tangannya ber- gerak lebih hebat sampai-sampai hanya terlihat seba- gian kilatan cahaya perak sang rembulan yang bersi- nar-sinar di langit bersih.

Dregil benar-benar terkejut melihat tandang Ki Se- lakriya. Dalam pandangannya, Ki Selakriya adalah seo- rang tua, seorang pemahat yang kerjanya mengukir barang yang halus-halus. Setidak-tidaknya muka Ki Selakriya akan mencerminkan sifat-sifat tersebut di dalam tatakelahinya. Ternyata ia telah berhadapan dengan gerak yang gesit dan ganas malahan tidak ja- rang di luar dugaannya, Ki Selakriya menyerang san- gat cepatnya, seperti seekor burung serigunting me- nyambar capung.

Sebentar kemudian Dregil mulai tampak berkerin- gat dan sekali-kali terdesak oleh serangan Ki Selakriya yang makin menggencar. Walau tombak di tangannya terus-menerus beraksi, tetapi tidak pernah sanggup menyentuh tubuh lawannya.

Tidak jarang bahwa tikaman-tikaman tombaknya yang seperti akan segera menembus tubuh Ki Sela- kriya, tahu-tahu lawannya ini dengan gesit meliukkan tubuh, hingga mata tombaknya cuma menikam udara kosong. Atau mendadak saja, kaki Ki Selakriya telah menginjak leher tombaknya, selagi senjatanya ini me- nyabet ke dada Ki Sela. Kemudian dengan meminjam tenaga pukulan tombak tersebut, Ki Sela gesit meng- genjotkan kaki dan tubuhnya melenting ke udara.

“Awas kepalamu, lepas!” seru Ki Selakriya seraya menyambar ke bawah dan ujung pedangnya menyam- bar ke arah kepala Dregil. “Hyaaatt!”

“Huh, kau kira mudah untuk merampas kepalaku yang cuma sebuah ini! Nih, makanlah tombakku! Huuup!” gerendeng Dregil sehabis mengendapkan tu- buh, dan secepat kilat ia menohokkan tombaknya ke arah lawan.

“Traaang!” Pedang Ki Selakriya menebas mata tom- bak Dregil sebelum sempat mendekati lambungnya dan akibatnya ujung tombak itu tergeser ke samping beberapa kaki. Dalam saat yang sekilas ini, tanpa di- duga kaki Ki Sela mendupak bahu Dregil dengan ke- rasnya. “Bukk! Aaah!”

Dregil tergelimpang nyungsep ke tanah seraya me- maki-maki, apalagi setelah didapati bahwa tangkai tombaknya telah patah akibat tertindih oleh berat ba- dannya.

Buru-buru ia memungut potongan ujung tombak- nya, tetapi sekali ini Ki Selakriya tidak melewatkan ke- sempatan baik. Dengan kecepatan luar biasa, ujung pedangnya menebas miring ke arah lawannya, lalu te- rasalah bahwa sesuatu terlanggar. “Breeettt! Haaah! Uh, uh!”

Dregil terjajar dengan mulut menyeringai-nyeringai, lalu tubuhnya gemetar untuk kemudian ambruk ke tanah dengan lambungnya yang sobek!

***

BAGIAN II

KEMATIAN DREGIL sangat mengagetkan si Arje yang saat itu sedang bertempur pula di dekatnya, me- lawan seorang penjaga yang bernama Jeprak.

Betapa tidak marah dan geram si Arje, melihat sa- habat karibnya telah mati. Maka serangannya menjadi berkobar-kobar melanda ke arah Jeprak.

Sepasang pedang pendek pada tangan Arje berganti- ganti silih menyambar ke tubuh lawan. Tak ubahnya hempasan-hempasan ombak laut selatan yang ganas serta tanpa berhenti bergulung-gulung ke tepi.

Kedua pedang tersebut mengeluarkan sinar berkila- pan, terkena pantulan cahaya rembulan, membuat ke- san yang menyeramkan dan menimbulkan rasa gentar. Pedang si Jeprak berkali-kali kewalahan menahan serangan sepasang pedang pendek lawannya. Terlebih lagi bahwa setiap pukulan kedua pedangnya, selalu di- lambari dengan tenaga dalam yang tersalur baik. Se- hingga karenanya, hampir setiap benturan pedang, Je- prak menjadi tergetar tangannya, disertai rasa pedih yang menyengat-nyengat. Maka tidak jarang ia meng- gunakan kedua belah tangannya guna menggenggam hulu pedangnya. Tetapi ternyata hal ini merupakan sa- tu langkah kekeliruan yang pernah diperbuatnya! Den- gan menggunakan kedua belah tangannya tadi, Jeprak menjadi kekurangan kewaspadaan maupun keseim-

bangan geraknya.

Dan jika pada suatu ketika ia terpaksa menangkis pedang kanan Arje, tiba-tiba saja pedang lawan yang sebelah kiri berkelebat menyambar sangat cepatnya.

“Wesstt! Aduuuhh!” teriak Jeprak ketika perutnya merasa disinggahi oleh sebuah sambaran benda dingin yang tidak lain adalah pedang kiri lawannya!

Dengan terhuyung, Jeprak masih berusaha mena- han dirinya untuk tetap tegak, namun sejurus kemu- dian ia terguling roboh di atas tanah, sedang darah se- gar mengalir dari luka perutnya.

“Ha, ha, ha, mampus kau sekarang!” seru Arje den- gan sombongnya. “Cuma begitu saja kekuatan pen- gawal dari Wayan Arsana?!”

Belum sesaat selesai bicara, Arje sangat terkejut se- bab sesosok bayangan manusia telah menerjangnya sambil berteriak, “Keparat! Akulah yang bakal menun- tut balas kematian saudara Jeprak!”

“Haa! Seorang lagi akan mengantar nyawa!” teriak Arje seraya menebaskan kedua pedang pendeknya.

“Trang Trang Traaang!” Arje menjadi terkejut lebih dahulu sebab nyatanya kedua pedang kebanggaannya dapat ditangkis oleh tongkat pendek lawannya yang berujung dua, dan terbuat dari logam putih.

“Heeh, heh! Akulah Paria! Hadapilah aku tanpa se- gan-segan!” seru Paria dengan lantang.

“Bagus! Akan terpenuhi keinginanmu tadi!” teriak Arje seraya melesat menyerang ke arah Paria dan per- tempuran hebat berlangsung kembali.

Bagaimanapun pedang pendek Arje berputar, tetapi sekali ini lawan yang dihadapi mempunyai kepandaian cukup tinggi dan melebihi kepandaian lawannya yang terdahulu.

Tongkat pendek bercabang milik Paria ternyata sanggup berputar dan ujungnya mengurung gerakan pedang si Arje laksana leher-leher elang yang melen- tur-lentur siap menyambar pedang-pedang tadi.

Dan rupanya Arje tidak begitu menyadari bahaya tongkat bercabang milik Paria. Selama ini ia belum pernah melihat senjata yang serupa itu, apa lagi meng- gunakannya.

Oleh sebab itu ketika keduanya telah bertempur pu- luhan jurus, tiba-tiba saja Arje telah dibikin terkejut karena pedang kirinya telah tertahan sesuatu, tanpa mampu bergerak sedikitpun.

“Heh?” desis Arje serta memperhatikan pedang ki- rinya dan ternyata pedang tadi telah terjepit oleh ujung cabang tongkat pendek si Paria, yang menjepit bagai- kan capit seekor kepiting.

Tetapi sebelum Arje sempat berbuat sesuatu dan sadar akan apa yang terjadi, tahu-tahu tongkat cabang Paria telah dipelintir ke samping sehingga tanpa am- pun lagi, pedang kiri Arje terpelanting lepas dari tan- gannya.

“Nah, cobalah mulutmu menyombong lagi, keparat! Pedangmu kini tinggal sebuah saja! Hayo, terimalah seranganku berikutnya!” demikian teriak Paria seraya menyerbu ke arah lawannya kembali.

Arje mengumpat begitu pedangnya tinggal sebuah saja dan baru tahulah sekarang, betapa tongkat baja bercabang dari lawannya itu tidak bisa dipandangnya ringan.

Dengan hanya pedangnya yang tinggal sebuah, Arje melawan kembali dan ia harus menggunakan satu sia- sat ataupun gerak tipuan guna menghancurkan seran- gan lawan.

Begitulah, ketika suatu saat Paria menangkis pe- dangnya, Arje secepat kilat melancarkan pukulan tan- gan kirinya ke dagu Paria dengan kerasnya. “Praaak!”

Seketika tubuh Paria terjajar ke belakang dan ter- huyung-huyung sebab pukulan Arje yang tadi me- nyambar dagunya, terasa bagai sebuah palu godam yang melanggar tanpa tanggung-tanggung dahsyatnya.

“Sekarang mampus kau!” teriak Arje seraya menge- jar Paria yang lagi terhuyung disertai tebasan pedang- nya. Akan tetapi dengan tidak diduga, kaki Paria men- gait kaki Arje yang seketika jatuh terguling di tanah.

Tanpa menunggu, Paria menubruk si Arje dan ke- duanya jatuh terguling-guling di tanah, tindih- menindih silih berganti dengan senjata masih di tan- gan masing-masing.

“Hekkk!” geram Arje sambil membeliak. “Kau... kau... keparat...!” kata-kata Arje terhenti sampai di situ sebab tubuhnya terkapar lunglai dengan tongkat ber- cabang milik pengawal Paria telah menancap dadanya. Sementara itu, Paria sendiri cuma tergores kecil oleh pedang pendek lawannya dan lukanya mene- teskan darah. Namun itu tidak berarti bagi si pengawal yang gagah berani ini.

***

Pertempuran sengit di bawah sinar perak sang rem- bulan terus berlangsung, tanpa mempedulikan berapa banyak korban manusia yang jatuh pada kedua belah pihak, yakni pihak Wayan Arsana melawan pihak Tan- gan Iblis. Dari pihak Wayan Arsana tidak kurang dari lima orang pengawalnya telah roboh terluka parah ataupun mati tergeletak di tanah. Sedang pihak Tan- gan Iblispun tidak sedikit pula kehilangan orang- orangnya, seperti kematian Dregil dan si Arje yang ter- kenal cukup tangguh itu.

Pertempuran tidak menjadi reda hanya disebabkan oleh kematian orang-orang yang kini bergeletakan di tanah dan rerumputan itu. Selama semangat dan ke- beranian masih bersemayam di relung hati orang- orang yang berada di kancah pertempuran ini, pertem- puran akan masih tetap berkobar.

Yang tidak kalah serunya adalah perang tanding an- tara Putu Tantri, si dara bersenjata sepasang kipas pe- rak, melawan si Parse yang menggenggam rantai. Ke- duanya sama-sama sangat tangguhnya dalam oleh ke- senjataan dan tata kelahi. Sehingga karenanya, belum ada tanda-tanda siapa bakal keluar sebagai peme- nangnya meskipun keduanya telah bertempur belasan jurus.

Kalau rantai di tangan Parse sanggup menyambar- nyambar sehebat pusaran angin, maka sepasang kipas perak Putu Tantri menyambar-nyambar menimbulkan angin dingin yang setiap kali sanggup membabat putus segala rintangan yang berada di hadapannya. Berkali-kali kedua senjata tadi bertemu dan berden- tang, menerbitkan bunga-bunga api berloncatan ke udara.

“Heh, heh, kau memang hebat, Nona. Sebab itu, jangan salahkan jika aku terpaksa melawanmu habis- habisan,” ujar Parse yang bertubuh gemuk itu sambil melototkan mata.

“Tak usah dengan kata-kata! Buktikan saja kesang- gupanmu itu!” berseru Putu Tantri sementara kedua kipas peraknya menyerang dengan hebat ke arah la- wan.

Parse yang bertubuh gemuk dan bersenjata rantai, memiliki kekuatan yang menakjubkan. Namun perkara kegesitan untuk berlompatan kesana-kemari ia kurang menguasainya karena keadaan tubuhnya memang ti- dak mengijinkan untuk diajak seperti itu.

Berkali-kali ia terpaksa bergerundal karena lawan- nya si dara berkipas perak ini, dengan lincah berlonca- tan kesana-kemari sambil sekali-sekali menyabetkan kipas peraknya.

Walaupun Parse telah berkali-kali menyerang den- gan rantainya, toh masih belum sanggup mendesak Putu Tantri. Karenanya Parse makin menyadari bahwa sepasang kipas perak di tangan dara itu bukanlah sen- jata yang sepele saja. Maka ia menjadi lebih berhati- hati.

Ketika suatu saat Parse melecutkan rantainya, den- gan sigap Putu Tantri menangkis dan kemudian men- jepit senjata tersebut dengan kedua kipasnya!

“Sreettt!” Parse kaget seketika, begitu rantai di tan- gannya kena dijepit lawan. Secepat kilat ia berusaha menghentaknya, tapi sungguh menakjubkan, bahwa ia tak berdaya sama sekali. Seolah-olah senjata rantainya tengah dijepit oleh jari-jari seorang raksasa.

“Hyaatt!” Dengan gerakan tak terduga, Putu Tantri meminjam tenaga tarikan dari lawannya dan melesat- lah ia ke arah Parse. “Breett! Eaarrgghh!”

Dada Parse tersobek oleh tebasan kipas perak Putu Tantri dan tubuhnya roboh bergulingan di tanah den- gan bermandi darah dan sesaat kemudian, mati.

Kemudian Putu Tantri menerjang ke arah lawan- lawannya yang lain, bagai seekor banteng mengamuk.

***

Tak jauh dari tempat itu, Ki Sukerte tengah gigih menghadapi serangan pedang kembar di tangan Jim- baran. Sejak dari jurus yang mula-mula, pertempuran ini sudah nampak berat sebelah dan tidak seimbang.

Ini tak usah diherankan, sebab Jimbaran tergolong tangan kanan dari Jembrana dan juga murid dari Tan- gan Iblis! Dengan demikian segala ilmu yang dimili- kinya benar-benar luar biasa.

Pedang-pedangnya mampu bergulungan menyam- bar lawannya secepat prahara, membuat Ki Sukerte yang hanya bersenjata sepucuk keris itu, terdesak te- rus-menerus.

Rupanya, Ki Sukertepun telah berusaha mati- matian menghadapi serangan-serangan Jimbaran yang makin mengganas. Gerakan kerisnya selalu saja teng- gelam dalam putaran pedang Jimbaran, tak ubahnya setetes air yang dituangkan ke dalam samudera, le- nyap tanpa bekas!

“Ha, ha, ha. Pulanglah saja, sobat!” seru Jimbaran setengah mengejek. “Aku masih memberi kesempatan bagimu untuk kabur dari hadapanku ini!”

Ki Sukerte sangat marah mendengar kata-kata itu lalu berseru pula ia dengan lantang, “Untuk apa mun- dur? Sudah semestinya laki-laki mati di medan laga!”

“Ucapanmu sungguh bagus!” teriak Jimbaran. “Ha- rus kau buktikan hal itu sekarang!” Demikian selesai dengan kata-katanya, Jimbaran menerjang dengan ju- rus-jurus puncak dari ilmu pedangnya, dan ini benar- benar di luar dugaan bagi lawannya!

Kedua pedang Jimbaran seolah-olah menjadi ratu- san mata pedang yang menyambar ke arah Ki Sukerte dengan dahsyatnya.

Tanpa tanggung-tanggung, Ki Sukerte meloncat ke atas, menghindari pedang lawannya. Tapi Jimbaran- pun lebih gesit lagi. Begitu ia melihat lawannya mele- sat ke udara, iapun menjejakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya melenting pula, sementara kedua pedangnya bergerak menebas sangat cepatnya. “Seett! Srett!”

“Aaauuuggghhh!” jerit Ki Sukerte ketika tiba-tiba pedang Jimbaran berbareng menggasak lambungnya. Seketika itu juga tubuhnya runtuh ke atas tanah se- perti seekor burung yang tertembak panah!

Melihat ayahnya roboh, Putu Tantri meloncat segera ke tempat tersebut lalu mendekap tubuh Ki Sukerte seraya menangis terisak-isak seperti anak kecil.

“Ayah! Oh, Ayah! Huuuu...” Putu Tantri seperti ter- lupa akan dirinya sendiri. la tidak ingat lagi bahwa ia masih berada di gelanggang pertempuran.

Dengan meratapi tubuh ayahnya yang berlepotan darah Putu Tantri tenggelam dalam kedukaan dan rasa kehilangan yang tak terkira besarnya. Seolah-olah ia terlupa bahwa di sekitarnya penuh dengan bahaya yang setiap saat dapat merenggut nyawanya. Yang di- rasakan dan tampak dalam pikirannya hanyalah di- rinya, serta tubuh ayahnya. Keduanya seolah terdam- par di tanah kosong yang gersang dan kering, tanpa manusia lain di sekitarnya.

Memang sesungguhnyalah bahwa Putu Tantri telah terhanyut perasaannya.

Dalam saat itu juga, Jimbaran yang masih berdiri di situ dapat melihat si Putu Tantri selagi meratapi ayah- nya. Maka iapun segera melangkah ke arah pendekar puteri tersebut dan siap dengan tebasan kedua pe- dangnya!

Tetapi mendadak saja sesosok tubuh lain telah me- lesat dan menghadang di tengah jalan sehingga Jimba- ran menjadi kaget olehnya.

“Huh, kaupun sudah bosan hidup, haa?!” sapa Jimbaran selagi menatapi seorang lawan yang berdiri di hadapannya sambil menggenggam tongkat pendek bercabang. “Siapa namamu?!”

“Aku Paria!” ujar lawan yang tegap berdiri di hada- pannya. “Akulah lawanmu sekarang! Jangan kau ganggu gadis itu!”

“Keparat! Kau berlagak jadi pahlawan, hah?!” seru Jimbaran sambil bersiaga dengan kedua pedangnya. “Rasakan pedangku ini. Hyaattt!”

Seketika itu pula terjadilah pertempuran seru anta- ra Paria dan Jimbaran. Kedua senjata mereka saling kejar-mengejar dan beradu mencari sasaran masing- masing.

Rupanya memang ilmu pedang Jimbaran cukup he- bat, sebab hal ini dapat dirasakan oleh Paria yang sela- lu tergeser surut sedikit demi sedikit.

Oleh sebab itu pula, Paria selalu berhati-hati se- mentara tongkat bercabangnya siap menunggu kesem- patan beraksi. Dan akhirnya, pada suatu saat tongkat tadi benar-benar mendapat kesempatan baik.

“Claang! Treekk!” Tahu-tahu pedang kanan Jimba- ran kena dijepit oleh tongkat cabang Paria. Akan tetapi sayang, bahwa Jimbaran lebih gesit bertindak.

Demikian pedang kanannya kena dijepit lawan ma- ka pedang kirinya menyabet ke depan. “Claap!” Secepat kilat Paria sempat mengelak dan berbareng itu ia menghentakkan tongkatnya sekuat tenaga.

“Uuh?!” desis Jimbaran begitu pedang kanannya terpelanting lepas dari jari-jemari tangannya, akibat hentakan tongkat Paria.

Berbarengan itu pula, Jimbaran melihat kesempa- tan baik terbukti pedang kirinya tiba-tiba menerobos ke depan.

“Jlepp! Aaduuhhh!” Paria menyeringaikan mulut- nya. Sesaat Paria berteriak ketika dadanya ditembus oleh pedang Jimbaran dan darahnya muncrat ke luar, disusul dengan robohnya tubuh yang telah tak berdaya ini ke tanah.

Tanpa terduga sama sekali, sesosok bayangan ma- nusia berkelebat menghampiri Jimbaran dan sebuah pedang di tangan si pendatang tadi menebas dengan cepat ke arah Jimbaran. “Wesss... classs!”

Lengan kiri Jimbaran bersama pedangnya terlepas kutung oleh pedang si pendatang yang tidak lain ada- lah pengawal Tawes, dan kemudian tercampak di atas tanah.

Jimbaran mendesis kesakitan, sambil tak hentinya menatap ke arah tangan kirinya yang telah buntung dan hilang! Darah segar melontak ke luar seperti mata air yang tak habis-habisnya dari pangkal lengan kiri tersebut. Malah kemudian rasa berkunang-kunang te- lah menyerang mata Jimbaran akibat darahnya yang mengalir ke luar terus-menerus.

Sebelum Tawes mampu berbuat lain, Jimbaran te- lah melesat kabur ke arah selatan sambil menggerung- gerung tangisnya dan meninggalkan medan pertempu- ran.

***

Tidaklah kalah serunya pertarungan mati-matian antara Sunutama melawan Jembrana. Sudah tak ter- hitung lagi jurus-jurus yang telah mereka gunakan da- lam mengadu ketangkasan dan ilmu yang dimilikinya Tapi sejauh itu, penggada Jembrana yang selalu me- nyambar bagaikan halilintar, belum mampu menyen- tuh tubuh Sunutama. Hal ini membuat Jembrana ma- kin penasaran, sebab gerakan Sunutama benar-benar lincah, bagai bayangan yang senantiasa berpindah tempat apabila serangan-serangan datang mengejar- nya.

Karenanya pula, secara perlahan-lahan moril Jem- brana menjadi mengkerut, melihat segala serangannya selalu kandas di tengah jalan.

Meskipun sekali-sekali senjatanya sempat beradu dengan pedang Sunutama, tapi sama sekali tak mem- beri pengaruh apapun bagi lawannya yang masih mu- da ini. Keduanya tergetar surut beberapa langkah.

Malahan pedang Sunutama terasa sangat memba- hayakan bagi dirinya. Sekali-sekali pedang tersebut mematuknya bagai paruh garuda dan sekali tempo mengejarnya laksana ular. Maka makin nyatalah bah- wa ia terdesak oleh lawan mudanya ini terus-menerus.

Beberapa kali ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya ketika ia merasa bahwa nafasnya berdesa- kan tersengal, membarengi gerakan tubuhnya yang limbung.

Namun Sunutama tidak pula lekas-lekas menyuda- hi pertempuran ini, sebab sesungguhnya pertahanan Jembrana masih cukup kuat. Penggada lawannya ma- sih saja menyambar-nyambar melindungi tubuhnya dan ini sudah dimaklumi oleh Sunutama, bahwa gera- kan-gerakan tersebut dilakukan Jembrana hanya se- kedar untuk melindungi dirinya. la hanya mampu ber- tahan saja sekarang.

Kini Sunutama tinggal menanti saat yang baik un- tuk merobohkan Jembrana yang telah sangat kerepo- tan dan ketika sambaran gada lawannya agak keting- gian, detik itu pula pedang Sunutama telah meluncur dengan kecepatan kilat ke arah lawannya. “Hyaatt, te- rimalah ini!”

Dengan tepatnya mata pedang Sunutama telah menghunjam tembus dada Jembrana dan seketika itu pula robohlah ia dengan menjerit parau. “Eaarrhh!”

Dalam saat itu pula, Nyi Durganti yang telah men- gatur tenaganya segera melambung tinggi untuk me- nerkam ke arah kakek Wiku Salaka, sementara jari-jari tangannya mengembang, bagai sepasang cakar garuda yang siap menyobek tubuh lawan, seraya berteriak, “Kakek tua! Terimalah seranganku berikutnya. Heaattt!”

Kakek Wiku Salaka lebih gesit pula. la menyambut terkaman tadi dengan lecutan selendang pendeknya hingga sekejap kemudian terjadilah benturan tenaga dalam. “Blaarr!”

Tubuh nenek Durganti runtuh ke tanah, terhempas dengan kerasnya bagai garuda yang patah sayap, se- mentara Kakek Wiku Salaka sendiri masih berdiri pada tempatnya dengan dada sesak. la mengawasi lawannya yang dengan susah payah mencoba duduk mengatur tenaganya kembali. Namun sia-sialah usahanya sebab sesaat kemudian terlontaklah darah kental kehitaman dari mulut Nyi Durganti.

Dalam pada itu, Tangan Iblis yang bertempur tak jauh dari tempat tersebut, menjadi kaget melihat ibunya roboh dan saat yang pendek ini cukup mem- buat kelengahan dirinya.

Maka saat itu pula, pukulan tenaga dalam dari tan- gan kiri Ngurah Jelantik telah menerjang pundaknya! Dengan mengerang, Tangan Iblis terpental di atas ta- nah. Pundaknya seolah-olah bagai remuk dan terbakar oleh bara api yang berbongkah-bongkah.

Melihat pemimpin-pemimpinnya banyak yang ro- boh, sebagian besar anak buah Tangan Iblis kabur me- larikan diri.

Kakek Wiku Salaka masih berdiri terpaku meman- dangi Nyi Durganti yang terkapar di tanah. Satu pera- saan aneh segera menyelinapi hatinya, tatkala ia meli- hat sorot mata Nyi Durganti yang beriba-iba.

“Kakang Panji Salaka... kau telah mengalahkan aku... oh...!” rintih Nyi Durganti kepada kakek ubanan yang masih berdiri terpaku di hadapannya.

Seketika wajah Kakek Wiku Salaka menjadi tegang sebab lawan yang telah dirobohkan itu, dapat me- manggil nama mudanya. Satu nama yang biasa di- panggilkan oleh isterinya! Dan tidak oleh orang lain!

“Hah?!” desis Kakek Wiku Salaka dengan kagetnya serta membelalakkan mata. Karenanya, ia segera men- dekati Nyi Durganti seraya berseru, “Apa yang kau se- butkan tadi? Kau memanggil aku dengan nama Panji Salaka?!”

Sikap Kakek Wiku Salaka menarik perhatian orang- orang di sekitarnya. Wayan Arsana, Sunutama, Made Maya, Ngurah Jelantik dan yang lain-lainnya segera mengerumuni Kakek Wiku Salaka.

“Benar, Kakang Panji. Aku merasa senang bahwa akhirnya aku roboh oleh tanganmu!” desah Nyi Dur- ganti.

“Siapa kau hah? Aku tak mengenal wajahmu, tapi suaramu aku tak akan bisa melupakan. Apakah... apakah... kau...,” ujar Kakek Wiku Salaka ragu-ragu.

“Memang... dugaanmu tepat,” ujar Nyi Durganti pe- lan seraya tangan kanannya mengusap wajahnya. Ti- ba-tiba satu kulit tebal dari wajah kakunya terbuka mengelupas dan terlihatlah wajah perempuan tua den- gan raut muka yang masih cantik dan kuning. “Akulah isterimu... Ktut Mirah!”

“Mirah! Miraaahku!” lolong Kakek Wiku Salaka se- raya mendekap tubuh Nyi Durganti. “Aku tak nyana menjumpaimu dalam keadaan semalang ini...!” “Biarlah... Ini sebagai tebusan dosaku... karena aku

telah meninggalkanmu, belasan tahun yang lalu. Aku tergila-gila dan minggat bersama Bogal Respati sebab... tertarik ketampanan dan kesaktiannya,” desah Nyi Durganti.

“Jangan kau ungkat-ungkit lagi peristiwa itu, Mi- rah,” ujar Kakek Wiku Salaka terharu. “Anak-anak kita telah terpisah karenanya. Untunglah Candrasasi dapat kupelihara baik-baik dan akhirnya ia telah kawin den- gan Wayan Arsana.”

“Yah, yah. Aku tahu dan Made Maya adalah anak si Candrasasi bukan?” ujar Nyi Durganti lemah terbatuk- batuk.

“Heei, kau telah tahu hal itu, Mirah?”

“Aku telah mengenalnya. Bukankah ia mengenakan subang seperti yang kupakai ini?” kata Nenek Durganti sambil memperlihatkan subang emas pada telinganya.

“Nenek!!!” seru Made Maya dengan mencium jari- jemari Nyi Durganti. Air matanya mengucur deras, apa lagi setelah ia teringat sewaktu dipondong oleh nenek- nya ini. “Jangan meninggalkan kami, Nek! Jangan...!”

“Ooh, alangkah bahagianya aku dipanggil nenek oleh cucuku. Panggillah aku seperti itu lagi, Maya.”

“Nenek...! Nenek Ktut Mirah...!”

“Cucuku... bocah ayu. Dugaanku tidak meleset, ke- tika aku memondongmu... aku merasa getaran aneh... dan ternyata itu adalah getaran tali kekeluargaan ”

Suasana sangat mengharukan. Ditambah pula sete- lah dari lingkaran orang-orang itu, muncul isteri Wayan Arsana, yakni Candrasasi. Iapun mendekat Nyi Durganti serta menatap. “Ibu oh, Ibuuuu!”

“Gembira! Aku bersyukur dapat bertemu dan ter- baring di antara kalian,” ujar Nyi Durganti. “Selama ini aku telah mengenakan topeng untuk menyembunyikan wajahku. Tapi kini, tidak perlu lagi demikian ”

“Jangan berkata demikian, Mirah,” ujar Kakek Wiku Salaka. “Kau akan sembuh ”

“Tidak! Aku... merasa payah sekali... dan lebih baik aku berakhir hidupku ditunggui oleh kalian. Tapi...

Kakang Panji Salaka   tentu kau ingin mengetahui pu-

teramu yang telah aku bawa lari dan aku pisahkan da- ri Andika  ?”

“Yaa...! Di mana dia sekarang?!” ujar Kakek Wiku Salaka terkejut. “Kau baru menyebutnya sekarang!”

Nyi Durganti menggeserkan kepalanya dan menatap ke arah Tangan Iblis yang berdiri gemetar tak jauh dari tempat itu! Lalu berkatalah nenek tua ini sambil me- nunjukkan jarinya. “Dia. Dialah, puteramu sendiri, Kakang Panji Salaka. Namanya Sugatra, tapi bergelar Tangan Iblis!”

“Jagad Dewa!” desis Kakek Wiku Salaka. “Jadi di- alah anakku laki-laki yang telah sekian besarnya!”

“Angger Tangan Iblis!” seru Nyi Durganti sambil menggapai ke arah Tangan Iblis yang termangu-mangu bingung. “Dialah ayahmu sejati. Ki Wiku Salaka!”

“Hah? Dia ayahku?!” seru Tangan Iblis kaget. Pera- saannya terguncang hebat mendapati kenyataan yang amat pahit dan tragis. Bagaimanapun dia harus mene- rima kenyataan bahwa orang yang semula sangat di- dendami, ternyata adalah ayahnya sendiri.

Selama itu, ia hanya mengenal Ki Bogal Respati yang pernah membimbingnya dalam banyak hal. Na- mun ternyata sebaliknya, bahwa orang tersebut bukan ayahnya.

“Tidak! Kalian bohong!” seru Tangan Iblis yang ke- bingungan dan kehilangan arah. Wajahnya menjadi pucat dan air matanya berlinang-linang menatapi ibunya yang kini terbaring di antara orang-orang yang pernah menjadi musuhnya. “Barangkali aku memang tidak berayah ibu. Aku la- hir sendiri di dunia ini! Ha, ha, ha! Aku benci dengan kalian! Aku benci! Benciiiii...!”

Sambil berteriak melengking seperti orang tak wa- ras, Tangan Iblis berjingkrak lalu kabur ke arah sela- tan. Sayup-sayup masih terdengar teriakan dan lolon- gan dari mulutnya ketika tubuhnya lenyap di balik po- hon-pohon hutan.

“Dia memang anak yang bandel...,” guman Nyi Dur- ganti kepada orang-orang di sekelilingnya. “Kakang Panji Salaka..., semoga kelak Andika dapat mengin- syafkan Sugatra si Tangan Iblis. Engkau tak kebera- tan, bukan?” Demikian ujar Nenek Durganti yang ma- kin parah keadaannya. Napasnya terasa memburu tak teratur.

“Akan kupenuhi permintaanmu, Mirah,” berkata Kakek Wiku Salaka. “Aku tak keberatan.”

“Syukurlah... akupun minta maaf kepadamu... Ka- kang Panji... dan juga kepada kisanak sekalian... Aku telah banyak membuat dosa... uh... uh... Kakang Pan- ji... Candrasasi... cucuku Made Maya... uh... dekaplah aku lebih erat... pandanganku makin kabur... gelap... sepi sekali... aku tidak mendengar apa-apa... uh... aku pamit... ahh ”

“Ibuuuu!” teriak Candrasasi.

“Oh, Nenekkk!” Made Maya meratap sedih.

“Aku telah memaafkanmu, Mirah!” gumam Kakek Wiku Salaka dengan terisak. “Semoga Dewata meneri- mamu dan engkau mendapat jalan terang.”

Suasana berkabung mencekam setiap dada orang di lapangan rumput itu. Cahaya perak sang rembulan masih menerangi alam di situ, meskipun ia telah con- dong sekali ke arah barat.

Dari arah hutan terdengarlah lolongan burung han- tu, bagaikan ikut bersedih atas korban-korban yang ja- tuh dalam kancah pertempuran tadi. Satu dua ekor kunang-kunang masih menampakkan diri untuk ber- kelana di antara celah rerumputan. Mungkin buat me- nikmati sisa udara malam yang hampir berakhir, se- bab dari arah timur mulai terdengarlah kokok ayam hutan yang bersahutan menyambut ujung sinar pagi.

Di saat itu beberapa orang tampak memeriksa di bekas medan pertempuran, untuk menolong mereka yang terluka dan merawat mereka yang tewas.

Sedang Ki Wiku Salaka sendiri telah memondong tubuh Nyi Durganti atau Ktut Mirah yang telah mem- bisu tak bernyawa, kemudian berjalan pelan-pelan ke arah pintu gerbang rumah Wayan Arsana.

Di belakangnya, mengiringlah Candrasasi, Wayan Arsana, Made Maya, Sunutama, Ki Selakriya dan lain- lainnya dengan langkah yang berat dan perlahan, se- bagai gambaran dari kedukaan hati mereka.

Made Maya berjalan dengan terhuyung di dalam bimbingan suaminya, Sunutama. Isakan kecil sekali- kali terdengar dari mulutnya. Karenanya, berkali-kali Sunutama menghibur.

“Kesedihanmu itu kita bagi bersama, Maya. Keta- huilah, bahwa akupun menyesali kematian Nenek Durganti. Jika saja bencana itu tidak terjadi, pastilah nenekmu akan sempat menimang-nimang anak kita kelak,” ujar Sunutama kepada isterinya. “Tapi semua- nya telah terjadi, Maya. Manusia hidup di marcapada dengan segala lelakon yang telah digariskan oleh De- wata. Karenanya, kita wajib menerima dengan tulus apa yang menimpa diri kita, sebagai rasa sedih dan gembira yang silih berganti datangnya. Nah, ha- puskanlah kedukaanmu tadi. Lihatlah ke ujung fajar di kaki langit timur itu. Dialah cahaya harapan kita. Semua lelakon sedih akan berakhir di ujung fajar, dan masa depan yang lebih terang akan kita jelang bersa- ma.”

Made Maya mengangguk perlahan sambil menatap ke wajah suaminya seraya tersenyum, dan melihat ini, jari-jari Sunutama segera mengusap air mata di pipi is- terinya.

Beberapa hari kemudian, setelah suasana berka- bung itu sirna tersapu oleh waktu, bersemayam kem- balilah roman-roman muka yang penuh kegembiraan dan harapan.

Ki Selakriya telah menyelesaikan beberapa buah pa- tung yang indah-indah, sebelum ia melakukan perjala- nan ke Pulau Jawa. la bermaksud menengok sanak ke- luarganya yang tinggal di daerah Demak, sebab sudah cukup lama ia meninggalkan mereka.

“Aku tak akan lama, Sunutama,” ujar Ki Selakriya. “Aku segera kembali kemari. Aku akan tinggal bersama kalian, menghabiskan masa tuaku.”

“Terima kasih, Bapak.” Sunutama menjadi senang dengan keterangan ayahnya tersebut. Karena sesung- guhnya ia tengah menantikan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.

“Jangan kelewat lama, Bapak,” berkata pula Made Maya yang duduk di sebelah suaminya. “Andika harus menyaksikan dan merestui bayi yang kelak akan kula- hirkan.” Berkata demikian si Made Maya, seraya men- gusap perutnya yang mulai kelihatan besar dengan tersenyum manis.

Ki Selakriya terkekeh tertawa mendengar tutur me- nantunya, si Made Maya. Hatinya ikut gembira ketika melihat kebahagiaan keluarga baru Sunutama ini. “Tentu. Tentu! Aku akan ikut menimang-nimang si buyung kecil cucuku.”

“Apakah segala sesuatunya telah disiapkan, Ba- pak?”

“Yah. Dua tiga hari akan selesai.” “Eeh. Kami akan mengantarkan Bapak sampai ke pelabuhan,” ujar Sunutama. “Juga Paman Ngurah Je- lantik, Tanjung dan Ki Tutur. Mereka bertiga ingin pu- la melepaskan keberangkatan Bapak, sebelum keti- ganya kembali ke rumahnya.”

“Hmm, pendekar Ngurah Jelantik dan si Tunjung telah saling menyinta. Semoga mereka mendapat ke- bahagiaan dan segera kawin,” ujar Ki Selakriya.

“Yah. Kamipun berharap demikian, Bapak. Mereka seolah-olah telah menjadi bagian keluarga kita,” sahut Sunutama pula. “Mereka telah saling ikut mengalami suka duka bersama kita, dan tak sedikit kita berhu- tang budi kepadanya.”

Percakapan mereka tertunda ketika Wayan Arsana datang ke tempat mereka duduk-duduk dan kemudian berkata, “Ki Sela, telah aku pesankan perahu untuk Andika menyeberang Pulau Jawa.”

“Ah, terima kasih, Ki Wayan. Aku lalu menjadi te- ringat ketika saat-saat yang silam, Andika juga telah memesan perahu untuk penyeberangan kita ke Gili- manuk,” berkata Ki Selakriya sambil tersenyum lebar. “Tak tahunya kita bakal menjadi keluarga.”

“Heh, heh, heh. Ya. Ya. Akupun teringat itu,” kata Wayan Arsana kemudian. “Perahu ini nanti boleh eng- kau perintah sekehendak Andika. Jika Ki Sela ingin menempuh jalan darat sampai ke Demak, perahu ter- sebut akan membawa Andika sampai ke Banyuwangi saja. Tapi jika Andika ingin terus melewati jalan lau- tan, maka ia akan membawa Andika langsung sampai ke Bandar Kali Tungtang.”

Ketika beberapa hari kemudian persiapan telah rampung maka berangkatlah Ki Selakriya dan para pengantarnya ke Gilimanuk. Mereka berkuda sampai di sana.

Setelah itu, dengan perahu yang telah dipesan, Ki Selakriya bertolaklah dari Bandar Gilimanuk, mening- galkan para pengantarnya yang masih melambai- lambaikan tangan mengiringi keberangkatannya.

Perahu besar tersebutpun meluncur dengan lajunya menempuh permukaan air yang mengalir berkilatan oleh cahaya matahari pagi. Mereka seolah-olah tak mengenal akan bahaya apapun yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Mereka tak tahu, bahkan Ki Selakriya pun tak men- genal dan bakal menduga bahwa salah seorang pe- numpangnya yang bercaping dan selalu menunduk itu, tidak lain adalah Sugatra atau Tangan Iblis!

***

BAGIAN III

KI SELAKRIYA TERCENUNG di buritan memandan- gi daratan Pulau Dewata yang makin mengecil di per- mukaan air dan jauh, seperti tenggelam ke dalam laut.

Dihirupnya udara lautan yang segar dengan se- puas-puasnya, sementara beberapa butir air mata mengembang di kedua sudut matanya.

Satu perasaan baru bercampur bahagia mengisi rongga dadanya karena satu-satunya harapannya se- bagai orang tua telah terkabul. Sunutama telah meni- kah dan berkeluarga, bahkan dalam waktu yang tak lama lagi mereka berdua akan dikaruniai seorang anak. Inilah berarti bahwa iapun bakal menimang cu- cu yang pertama!

Yah, selintas ia teringat sewaktu dahulu ia memba- wa Sunutama menyeberang ke Pulau Bali untuk be- kerja pada Saudagar Wayan Arsana. Tak tahunya, Su- nutama bakal diambil menantu oleh saudagar tersebut dan kawin dengan puterinya yang bernama Made Maya.

Sungguh ia merasa berbahagia sekali. Ki Selakriya seperti mendapat reruntuhan gunung emas yang tak ternilai besarnya. Maka pelayarannya ini sangat meng- gembirakan kalbunya, segembira burung camar laut yang melayang-layang di permukaan air laut.

Ki Selakriya masih saja bergembira menikmati pe- layaran ini, sampai suatu saat ia menjadi terkejut keti- ka dirasanya perahu yang ditumpanginya ini, merubah haluan ke utara.

“Heei, para kisanak! Mengapa berganti arah?! Bu- kankah aku hanya menghendaki sampai di Banyu- wangi saja?” ujar Ki Selakriya dengan heran dan ber- campur curiga.

“Aku tahu hal itu, Tuan,” sahut si pemilik perahu yang berdiri di sebelahnya. “Tapi terpaksa rencana itu mesti berubah, sekarang!”

“Berubah? Apa maksudmu?!” tanya Ki Selakriya semakin tidak tahu sambil mengawasi si pemilik kapal yang berdiri dengan tenangnya.

Sebenarnya ia heran pula menatap perawakan si pemilik kapal yang cukup tegap, berkumis lebat dan berjenggot tebal. Tiba-tiba ketika tatapan matanya sampai kepada lengan kiri si pemilik kapal, hati Ki Se- lakriya berdesir seketika.

Ternyata lengan kiri orang itu telah buntung! Jadi ia cuma bertangan sebelah saja! Ini membuat Ki Sela- kriya bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri. “Heh, gerangan apakah yang membuat kemalangannya, sampai lengan kirinya buntung begitu?”

“Maaf, Tuan. Aku katakan terpaksa karena sesung- guhnya, ini adalah kehendak majikan saja,” berkata si pemilik kapal seraya melempar pandangannya ke arah salah seorang bercaping lebar yang duduk di sudut pe- rahu. “Kehendak majikanmu?” desah Ki Selakriya tak ha- bis heran. “Siapa dia dan apa maksudnya?”

“Tuan bisa bertanya sendiri kepadanya,” berkata pula si pemilik kapal seraya menunjukkan jarinya ke arah orang bercaping tadi.

Ki Selakriya segera berpaling ke arah si caping lebar dan bersiaga melancarkan pertanyaan-pertanyaannya. Namun sebelum Ki Selakriya cukup membuka mulut- nya, si caping lebar telah berkata lebih dahulu dengan diiringi tertawa cekakakan yang menyeramkan.

Lebih terkejutlah kiranya Ki Selakriya mendengar suara tawa demikian itu!

Dan sebagai puncak dari kekagetannya ialah ketika si tokoh misterius yang bercaping itu berdiri sambil membuka capingnya, disusul suara tertawa yang me- ledak dari mulutnya. “Ha, ha, ha. Kau tak usah kaget, sobat! Inilah aku, Sugatra si Tangan Iblis!”

Keadaan dan suara di depannya ini jauh lebih men- gagetkan daripada seribu guntur yang meledak bersa- ma, hingga untuk beberapa saat, Ki Selakriya terpaku seperti patung dengan mata terbeliak.

Ya, di depannya memang berdiri tegap tak ubahnya bukit karang, si Tangan Iblis sambil tertawa lebar! Be- gitu keras suara tertawa itu sampai udara di sekitar- nya seolah-olah terguncang dibuatnya.

Ki Selakriya akhirnya dapat menguasai dirinya kembali setelah sekian saat terpaku bagai terkena sihir jahat. la melangkah surut untuk mendekati si pemilik kapal serta mencari perlindungan kepadanya jika mungkin.

Akan tetapi sekali lagi ia seperti terpaku kaget apa- bila si pemilik kapal tadi tertawa pula terkekeh-kekeh seraya tangan kanannya mencopot dan melepas kumis jenggot yang semula melekat di wajahnya.

Bukan main terguncangnya dada Ki Selakriya, bila laki-laki tersebut, yang cuma bertangan sebelah itu, ti- dak lain adalah Jimbaran! Salah satu murid Tangan Iblis yang berhasil lolos dari medan pertempuran bebe- rapa saat yang lalu.

“Hua, hah, hah, hah, ha, ha, ha. Kau persis seekor kambing tua yang masuk perangkap para harimau, sobat!”

Ucapan Jimbaran tadi tak ada salahnya, sebab kea- daan Ki Selakriya memang telah terjepit di antara mu- suh-musuh lamanya! Apakah ia akan melawan?! Hal itu masih dipikirkan oleh Ki Selakriya sendiri sebab bukankah Ki Selakriya selalu berbuat sesuatu dengan dipikir baik-baik.

Para awak perahu lainnya, rupanya adalah juga termasuk anak buah Tangan Iblis. Mereka tersenyum- senyum saja melihat kebisuan Ki Selakriya.

Melihat ini Ki Selakriya tidak tanggung-tanggung buat menghunus kerisnya dari pinggang, tetapi Tangan Iblis dan Jimbaran cuma tertawa manis menganggap sepi atas sikap orang tua itu. Malahan sejurus kemu- dian, Jimbaran menggebrakkan kakinya ke lantai pe- rahu, disusul pintu geladak terbuka, lalu bermunculan beberapa orang berwajah garang yang serentak men- gepung Ki Selakriya!

“Heh, heh, heh. Sarungkan kembali kerismu, sobat. Aku tak menghendaki pertempuran sekarang!” seru Tangan Iblis.

“Lalu apa maksudmu ini?!” bertanya Ki Selakriya. “Kau akan segera tahu, nanti!”

“Keparat! Kalian boleh mempermainkan aku, tapi coba hadapi dulu kerisku ini! Hyaattt!” teriak Ki Sela- kriya.

Ternyata mereka telah bersiaga dengan senjata- senjatanya, hingga serangan Ki Selakriya dengan mu- dah ditangkisnya berkali-kali oleh mereka. Melihat kenekatan Ki Selakriya, tiba-tiba saja Tan- gan Iblis bergerak cepat melesat ke depan, menyerang Ki Selakriya dengan pukulan-pukulan tangan kosong. “Kau harus tunduk kepadaku, Ki Selakriya! Hup! Hup! Hup!”

Mendadak tangan pemimpin gerombolan ini berge- rak sangat cepat. Satu tangan menotok punggung Ki Selakriya dan tangan satunya lagi menotok kepala la- wannya. “Tuk... tuk!”

Tanpa berteriak, Ki Selakriya terguling roboh di lan- tai geladak dan tidak sadarkan diri, sedang kerisnya terpelanting lepas dari jari-jarinya.

“Ayo lekas ikat dia di tiang layar ini!” teriak Tangan Iblis yang segera dituruti oleh anak buahnya. Maka se- bentar kemudian tubuh Ki Selakriya telah terikat pada tiang layar perahu besar tersebut.

Dengan perlahan, Tangan Iblis mengambil segayung air untuk kemudian disiramkan ke wajah Ki Selakriya yang masih pingsan itu. Maka tak lama kemudian si pemahat ini tersadar kembali sambil mengeluh berat.

Bersamaan itu pula, Tangan Iblis, Jimbaran dan pa- ra anak buahnya yang lain, tertawa berderai terbahak- bahak, tak beda dengan sekumpulan makhluk liar yang tengah mengerumuni calon korbannya.

“Ha, ha, ha, ha, lihatlah teman-teman! Tamu kita telah siuman!” ujar Tangan Iblis seraya ketawa. “Kambing tua ini sekarang tidak berkutik lagi!”

“Akan kita apakan, Kakang?” sahut Jimbaran pula. “Kita bikin satai atau gulai saja? Aah, tapi daging tua- nya pasti kelewat alot! Hi, hi, hi, hi.”

Ki Selakriya cuma berdiam diri mendengar ejekan orang-orang di sekelilingnya. Memang sesungguhnya ia tak berdaya dan tak ada gunanya ia menunjukkan per- lawanan kepada mereka. Paling-paling ia mampu ber- kata dengan nada yang mengkal. “Lekas katakan apa maksud kalian sebenarnya sampai menculik diriku?! Apa kalian ingin membalas dendam? Ingin membu- nuhku, atau menghendaki nyawaku?! Jika begitu, le- kaslah laksanakan niatmu tersebut, supaya hatimu yang haus darah itu segera akan puas!”

“Plaarrr!” Tiba-tiba saja Tangan Iblis menampar mu- lut Ki Selakriya disertai gerundalan. “Maaf, aku ter- paksa menampar mulutmu yang mulai ngoceh dengan ngawur! Jika aku menghendaki kematianmu, sudah sejak tadi pasti dadamu telah kulobangi dengan puku- lan telapak mautku ini!”

“Lalu apa maksud dan keinginanmu?!”

“Aku tak menghendaki nyawamu! Juga kematianmu pun tidak! Nah, kau dengar sekarang! Yang aku ingin- kan adalah hasil karyamu!”

Ki Selakriya sangat terkejut dan hampir-hampir saja ia tak dapat mempercayai pendengarannya. Itulah se- babnya, maka Ki Selakriya bergumam, “Hasil karya- ku?! Aku menjadi semakin linglung dengan kata- katamu!”

“Jangan berlagak bodoh!” sahut Tangan Iblis. “Eng- kau seorang pemahat yang ulung! Aku pernah melihat dua buah patung singamu di depan pintu gerbang ru- mah si Wayan Arsana! Kau tahu, aku sangat tertarik akan patung-patung tersebut!”

“Apa hubungan patung singa tadi dengan dirimu?” ujar Ki Selakriya disertai perasaan heran.

“Kau harus membuat patung yang serupa untuk di- riku!” Tangan Iblis membentak keras. “Kepala dari pa- tung singa yang mendongak ke atas itu, sangat mena- rik dan mengagumkan hatiku! Nah, di suatu tempat, kau harus bekerja untuk diriku! Kau harus membuat patung kepala singa!”

“Hmm, kau seperti yakin, bahwa aku pasti akan memenuhi keinginanmu?” desis Ki Selakriya dengan tenangnya.

“Memang demikian!” sahut Tangan Iblis. “Kau tak bakal mampu menolaknya! Lihat saja nanti. Pertama, kau telah berada di tangan kami. Kedua, pekerjaan yang bakal engkau laksanakan tadi, adalah sesuai dengan bakat dan kepandaianmu. Jika pekerjaanmu telah selesai, engkau akan kubebaskan kembali dan mendapat hadiah penghargaan yang setimpal.”

“Dan bagaimana jika aku menolaknya?” berkata Ki Selakriya pula, seraya menatap ke arah lawannya.

“Kau akan memperoleh kematian secara lambat. Kulitmu akan disabet dan daging tubuhmu akan dike- rat, dipotong sedikit demi sedikit sambil dibubuhi air asam dan garam!” ujar Tangan Iblis disertai sorot mata yang tajam.

Ki Selakriya terdiam dengan terperanjat begitu mendengar kata-kata ancaman si Tangan Iblis. Sung- guh mengerikan siksaan yang dikatakan tersebut, dan itu seolah-olah terbayang di dalam pelupuk matanya, sehingga kemudian terasalah bahwa bulu tengkuknya meremang berdiri.

la pun makin terbungkam tanpa berani mengu- capkan kata-kata lagi, sebab sangatlah tolol untuk menentang Tangan Iblis selagi tubuhnya tak berdaya apa-apa.

“Nah, tentunya akan lebih baik bila mulutmu tidak lagi mengucapkan kata yang sombong dan membang- kang!” berkata Tangan Iblis seraya menuding ke arah Ki Selakriya yang kini menundukkan kepala.

Sambil memberengut, Tangan Iblis kemudian me- langkah meninggalkan Ki Selakriya yang terikat pada tiang layar. Demikian pula dengan yang lain-lain, me- reka kembali ke tempat tugas masing-masing.

Perahu besar mereka meluncur dengan pesatnya, memecah permukaan air laut, menimbulkan bisa me- mutih tersebar pada buritan perahu. Mula-mula ber- ganti haluan mengarah ke utara, menyusuri sepanjang selat Madura dan selanjutnya membelok ke barat laut, sebelum akhirnya membelok ke barat sama sekali.

***

Selama pelajaran ini, Ki Selakriya masih tetap teri- kat pada tiang layar. Wajah dan kulit tubuhnya tam- pak kemerah-merahan karena tamparan angin serta sentuhan sinar matahari yang menyengat-nyengat.

Agaknya saja, Tangan iblis benar-benar berusaha mematahkan kekerasan sikap Ki Selakriya, si pemahat yang kini telah diculiknya. Namun di tengah-tengah perlakuan yang kejam tadi, si Tangan Iblis tidak lupa untuk memberi minum serta sekedar makanan kepada tawanannya.

Bagaimanapun juga sikapnya, Tangan Iblis tidak akan sembarangan memperlakukan Ki Selakriya, se- bab ia sangat membutuhkan akan kerja tangan dan daya cipta dari si pemahat itu.

Sementara itu, Ki Selakriyapun rupanya telah men- jadi agak lunak sikapnya. Setelah ia mendengar akan ancaman hukuman serta keadaan dirinya yang terjepit di antara kekuasaan Tangan Iblis, maka terpaksalah ia harus tunduk di hadapan lawan. Tak ada jalan lain baginya.

Dengan sendirinya, Ki Selakriya sanggup juga memperlunak sikap. Ternyata pengalaman telah me- nimpa dirinya untuk berbuat lebih bijaksana dalam saat-saat kritis yang harus dihadapi.

“Biarlah aku sementara menuruti kemauannya. Aku ingin mengetahui apakah sebabnya ia sangat tertarik dengan patung singaku?” demikian pikir Ki Selakriya di dalam hati. “Akupun mulai tertarik dengan peristiwa ini.” Dalam saat yang bersamaan, si Tangan Iblis sibuk berpikir pula di dalam kamar buritan. Kepalanya dipe- nuhi dengan persoalan-persoalan yang sangat padat. Semenjak kematian ibunya, Nyi Durganti, ia telah me- larikan diri, menyingkir jauh-jauh dari rumah Sauda- gar Wayan Arsana.

Baginya, ia telah melupakan peristiwa pertempuran di Gilimanuk, yang dalam perjalanan hidupnya seperti sebuah mimpi buruk. Satu-satunya ibu yang dicintai telah tewas di tangan musuhnya, si kakek tua Wiku Salaka. Dan ternyata, kakek tersebut adalah ayah kandungnya sendiri! Bukankah ini seperti mimpi bu- ruk saja?

Tetapi, bagaimanapun juga ia harus menerima ke- nyataan tersebut. Siapakah yang paling bersalah da- lam hal ini, dan kepada siapakah kesalahan tadi harus ditumpahkan? la tak tahu!

Kalau ia menyalahkan Kakek Wiku Salaka, berke- nyataan yang ia dengar malah justeru ibunyalah yang bersalah dalam ini. Bukankah ia tergila-gila dengan ketampanan dan kesaktian Bogal Respati, sehingga ia rela meninggalkan Wiku Salaka!

Itulah sebabnya mengapa ia pernah berteriak untuk membenci semuanya. la tak sudi lagi untuk bertemu muka dengan Kakek Wiku Salaka dan keluarganya meskipun sesungguhnya mereka itu adalah darah da- gingnya sendiri!

Namun ketika pertemuannya dengan Ki Selakriya itu, segala kenangan buruk seperti bangkit kembali. Usahanya yang telah berbulan-bulan untuk melupa- kannya dengan mengembara kesana-kemari bersama sisa-sisa anak buahnya, ternyata tak berhasil kini.

“Persetan dengan semuanya!” gerundal si Tangan Iblis sendirian. “Tak peduli siapa ayah ibuku! Aku tak membutuhkan mereka lagi! Tangan Iblis mampu berdi- ri sendiri di atas kedua kakinya. Aku membenci mere- ka, karena telah melibatkan diriku dalam kesengsa- raan yang sedemikian pedihnya! Yang penting seka- rang, aku harus segera kembali ke Pulau Mondoliko! Di sanalah segala mimpi dan kenangan buruk itu dapat dilupakan segera. Tak kalah pentingnya, aku kini ber- hasil memboyong Ki Selakriya, si pematung yang kelak bakal menyelesaikan rencana besarku bersama saha- bat Rikma Rembyak.”

Tangan Iblis berhenti sejenak dari gerundalnya, sambil meneguk mangkuk tuak ke dalam mulutnya, sampai tercecer-cecer membasahi bajunya. Entah be- rapa mangkuk tuak yang telah mengisi perutnya. Se- mua itu untuk melewatkan waktu selama pelayaran ini dan juga untuk melupakan kenangan buruk yang me- lengket di otaknya.

Beberapa saat kemudian, gerundalan dari mulut Tangan Iblis makin pelan dan bertambah pelan, dis- usul kepala Tangan Iblis rebah ke atas meja saking mengantuk dan kelelahan. Lalu terdengarlah bunyi mendengkur berirama, seirama deburan ombak pada dinding-dinding perahu yang meluncur terus tanpa henti-hentinya, dari saat ke saat dan dari hari yang sa- tu ke hari yang lain.

Pada suatu senja, setelah mereka berlayar lebih dari tiga minggu, terdengarlah salah seorang pengawas ber- teriak dari atas tiang layar, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi terkejut bercampur rasa takut.

“Hantu lauttt! Hantuuu!” demikian teriak si penjaga tiang layar seperti orang ketakutan sambil menunjuk- nunjukkan jarinya ke arah utara.

Segenap awak perahu Tangan Iblis menjadi sangat heran karena mata mereka belum menangkap benda apapun, kecuali deburan ombak-ombak yang bergu- lung-gulung menggemuruh. Ki Selakriya sendiri saat itu tengah membersihkan geladak perahu. Tubuhnya kini telah bebas, tidak lagi diikat pada tiang layar semenjak ia berkata bahwa di- rinya bersedia membuat patung singa seperti yang di- kehendaki oleh si Tangan Iblis. Namun, meski tubuh- nya telah bebas, Ki Selakriya senantiasa diawasi oleh setiap anak buah Tangan Iblis untuk setiap gerak- geriknya.

Ketika ia mendengar teriakan tadi, cepat ia me- layangkan pandangannya ke arah utara. Bersama- sama anak buah Tangan Iblis yang lain, ia mendekat ke dinding lambung perahu sebelah kanan dan meng- gerombol di situ seperti kawanan semut yang kelapa- ran.

Tangan Iblis juga berdiri menghadap ke arah utara seraya berseru, “Kawan-kawan... jangan menjadi pa- nik! Tenang... tenang!” seru Tangan Iblis memperin- gatkan segenap anak buahnya. “Biar aku yang meng- hadapi hantu laut, seperti yang kalian takutkan!”

Apa yang mereka tunggu-tunggu ternyata muncul dengan menakjubkan. Berbareng terangkatnya gelom- bang laut yang meninggi, muncullah sesosok tubuh manusia yang tertawa berderak-derak sambil berlonca- tan meniti buih. Rupanya inilah yang disebut hantu laut oleh si penjaga tiang layar tadi.

Hal tersebut tidak usah disalahkan, karena siapa- kah yang bakal menyangkal bahwa sosok tubuh tadi adalah hantu laut yang muncul dari dalam laut.

Sambil tertawa menyeramkan, si peniti buih tadi memutarkan tangan kanannya yang menggenggam tali panjang berujung roda berduri, dengan mengeluarkan bunyi berdengung-dengung mengerikan.

“Hua, ha, ha, ha. Jangan mendekati daerah perai- ran Pulau Mondoliko, menyingkir lekasss! perahu ka- lian terlalu dekat dengan batasnya!” teriak si peniti buih dengan jelas sampai ke perahu si Tangan Iblis.

Karena itu dapatlah dibayangkan betapa setiap da- da orang-orang yang berada di perahu tersebut menja- di kecemasan. Mereka segera dapat mengetahui bahwa si peniti buih tersebut benar-benar makhluk yang sakti dan berilmu tinggi pula sukar untuk diukur kekuatan- nya. Mereka pun masih belum bisa menentukan, apa- kah si peniti buih tersebut juga manusia biasa atau- kah hantu laut seperti yang diteriakkan oleh si penjaga tiang layar tadi.

“Apa maksudmu?!” teriak Tangan Iblis dengan me- landasi tenaga dalamnya sehingga suaranyapun ter- dengar menggeledek menandingi teriakan si peniti buih tadi. “Siapakah engkau, dan mengapa berani menyom- bongkan diri, malang-melintang di perairan Pulau Mondoliko?!”

“Huhh?! Engkau berilmu pula rupanya!” sahut si peniti buih. “Akulah Talipati si peniti buih, pengawal dari Pulau Mondoliko. Sekali lagi kuperintahkan agar kalian menjauh dari perairan ini!”

“Ha, ha, ha, ha. Menjauh katamu? Justeru kami semua akan mendarat di Mondoliko!” teriak Tangan Ib- lis. “Akupun salah seorang rekan dari Rikma Rem- byak!”

“Haa? Betulkah itu? Ooo, kau kira aku mudah per- caya begitu saja. Buktikan dulu apakah engkau memi- liki kesaktian, sampai berani mengaku sebagai sahabat dari Rikma Rembyak!”

“Bagus!” desis Tangan Iblis seraya menjangkau se- buah tombak yang dipegang oleh seorang anak buah- nya.

“Untuk apa tombak itu, Guru?” bertanya Jimbaran. “Kau lihat saja nanti,” sahut Tangan Iblis. “Aku in-

gin menunjukkan sekedar contoh, bahwa ia berhada- pan dengan Tangan Iblis!” Selesai menimang-nimang tangkai tombaknya, ma- ka secepat kilat Tangan Iblis melontarkan tombak tadi ke arah Talipati, si peniti buih, sambil berseru, “Sam- butlah tombakku ini jika engkau ingin tahu, dengan siapakah engkau berhadapan!”

Mendengar seruan Tangan Iblis, Talipati makin mempercepat putaran roda berdurinya. Apalagi setelah ia melihat bahwa lawannya yang berada di geladak pe- rahu besar itu telah melontarkan tombaknya.

Talipati sangat kagetnya, sebab tombak tersebut dengan kecepatan kilat menyambar ke arah dirinya, tak ubahnya sebatang anak panah yang ditembakkan dari busurnya. Karenanya, Talipati tanpa ragu-ragu la- gi telah mengayunkan senjatanya ke depan mencegat sambaran tombak Tangan Iblis tadi. “Wusss... Blaaarr!”

Beradunya kedua senjata yang dilandasi pengera- han tenaga dalam tadi menimbulkan letupan yang nyaring menyerikan telinga, disusul kejadian menga- getkan.

Tubuh Talipati yang terguncang keras akibat bentu- ran senjata terlihat hampir terpelanting. Namun dasar ia seorang yang kaya siasat, maka sebelum tubuhnya terpelanting begitu maka kedua kakinya buru-buru meminjam tenaga benturan tersebut dan memental ke atas. Sesaat itu pula tampaklah tubuh Talipati men- gambang, melenting ke udara laksana capung dengan gerakan yang mengagumkan sekali, sehingga semua orang yang berada di dalam perahu, termasuk Tangan Iblis, Jimbaran, Ki Selakriya dan lain-lainnya, sangat terpesona.

“Hebat!” seru Talipati lantang. “Kau memiliki ilmu yang hebat dan tenaga dalam sempurna. Tetapi jangan kau kira bahwa aku lalu takut terhadapmu!”

“Jadi apa maksudmu? Apakah kau belum puas?!” ujar Tangan Iblis. “Apakah kau ingin mencoba pukulan maut Telapak Iblisku?!”

“Pukulan Telapak Iblis?!” ulang Talipati setengah kaget. Agaknya saja ia pernah mendengar tentang pu- kulan maut tersebut, sehingga mendengar kata-kata Tangan Iblis tadi, ia menjadi terpekur sesaat. “Ketua Ki Rikma Rembyak pernah menceritakan hal tersebut, tentang seorang sahabatnya yang memiliki pukulan Telapak Iblis dari daerah timur. Nah, baiklah. Jika be- gitu aku dapat mempercayai Anda. Tapi coba kau tun- jukkan terlebih dahulu telapak tanganmu! Sebab aku pun belum seluruhnya percaya, sebelum aku melihat ciri-ciri si pemilik pukulan Telapak Iblis seperti yang pernah diceritakan oleh Ketua Ki Rikma Rembyak.”

Jimbaran, Ki Selakriya dan lain-lainnya tercengang oleh ucapan Talipati tersebut. Nampaknya Rikma Rembyak terlalu ketat menjaga Pulau Mondoliko ini.

Tetapi yang lebih mengejutkan adalah ketika Tan- gan Iblis mengacungkan lengan kanannya ke depan. Dengan diam-diam ia mengerahkan jurus awal dari pukulan mautnya sambil mulutnya komat-kamit. Ma- ka sebentar kemudian terlihatlah telapak tangan ka- nannya seperti membara merah seolah-olah diselimuti oleh bara api yang menyala.

“Hahh!” desis orang-orang di sekitar Tangan Iblis berdiri. Demikian pula Ki Selakriya tak habis kagum- nya melihat kehebatan ilmu dari Tangan Iblis.

“Hmm,” desah Ki Selakriya seraya mengawasi si Tangan Iblis. “Ternyata ilmunya semakin hebat sejak pertempuran berdarah di halaman rumah Ki Wayan Arsana, beberapa waktu yang silam. Agaknya, selama itu ia telah memperdalam dan menggembleng il- munya.”

“Ooh! Itulah ciri-ciri yang pernah diceritakan oleh Ketua Rikma Rembyak!” seru Talipati ketika ia dapat menyaksikan telapak tangan lawannya yang membara kemerahan. “Tidak keliru lagi bahwa Andalah si Tan- gan Iblis!”

“Ha, ha, ha, puaskah Anda sekarang?!” seru Tangan Iblis diselingi ketawa meriah keriangan.

“Ya, aku telah puas. Dan karenanya haraplah di- maafkan segala kelakuan saya beberapa saat yang le- wat,” ujar Talipati dengan nada segan. “Sekarang Anda dengan bebas boleh mendarat ke Pulau Mondoliko.”

“Terima kasih. Jika tidak keberatan, Anda silahkan naik ke perahu kami dan bersama-sama kita mengha- dap Ketua Rikma Rembyak,” berseru pula Tangan Iblis sambil melambaikan tangannya kepada Talipati, yang segera menyambutnya dengan lambaian tangan pula.

Sesaat kemudian, Talipati menggerakkan kedua ka- kinya di atas permukaan air laut, berganti-ganti me- loncati buih laut yang bergulung-gulung menuju ke arah perahu.

Mau tak mau Tangan Iblis dan segenap anak buah- nya, termasuk Ki Selakriya sendiri menjadi kagum bu- kan main menyaksikan ketrampilan Talipati meniti buih dan berjalan di atas permukaan air laut, menuru- ti buih-buih memutih yang bertebaran laksana pema- tang-pematang di sana-sini. Sepintas lalu Talipati tak ubahnya seekor ikan terbang yang meluncur di atas permukaan air, sehingga tak ada salahnya bila orang- orang yang belum mengenal akan mengiranya sebagai hantu laut yang lagi keluyuran mencari mangsa.

Dalam sekejap mata Talipati telah mendekati lam- bung perahu besar si Tangan Iblis, kemudian dengan sekali genjotan kaki tubuhnya melenting ke atas dan masuk ke dalam geladak perahu.

Seketika dapatlah diketahui perawakan tubuh Tali- pati yang sebenarnya. Tidak terlalu tinggi tetapi cukup kekar. Yang aneh adalah rambutnya yang kaku pen- dek, laksana ijuk. Sedang tubuhnya berkilat seperti berselaput minyak seluruhnya. Entah apakah itu ka- rena air keringat atau benar-benar minyak seperti du- gaan kebanyakan orang di situ.

Yang lebih heran adalah telapak kakinya yang jauh lebih lebar jika dibandingkan dengan telapak kaki ma- nusia pada umumnya. Agaknya saja, ini sangat bergu- na dan bermanfaat bagi pekerjaannya, yakni untuk meluncur dan berloncatan meniti buih. Sedang senjata talinya yang berujung roda bergigi digantungkan pada bahu kiri, menambah kegagahan pada dirinya. Wajah- nya kelihatan angker dengan kumis yang kaku pula. Kedua matanya kecil, tapi tajam laksana mata ikan hiu yang ganas dan pemakan daging.

Talipati segera memperkenalkan diri kepada Tangan Iblis dan segenap orang-orang di situ yang tentu dis- ambut oleh mereka dengan gembira sekali. Bahkan se- bentar kemudian mengalirlah pertanyaan-pertanyaan berisi kekaguman terhadap ilmu meniti buih si Talipa- ti. Dengan begitu terjalinlah keramahan dan keakra- ban di antara mereka.

Lain halnya dengan Ki Selakriya. Dadanya seolah- olah tergetar melihat bahwa sahabat-sahabat Tangan Iblis ternyata adalah orang-orang yang berilmu tinggi- tinggi. Lebih-lebih setelah ia mendengar nama baru se- perti Rikma Rembyak dari Pulau Mondoliko. Pastilah iapun orang sakti!

“Aku memang tenaga baru yang menggabung pada Ketua Rikma Rembyak,” ujar Talipati memberi penjela- san. “Karenanya harap dimaafkan bila semula aku be- lum mengenalmu.”

“Ahh tak apa-apa, sobat,” sahut Tangan Iblis tenang diselingi senyum. “Aku memang pergi terlalu lama, se- hingga tentunya ada beberapa perkembangan di Mon- doliko yang tidak aku ketahui.” “Pulau Bali tentu sangat cantik,” sahut Talipati pu- la. “Sekali tempo aku ingin pergi ke sana.”

“Heh, heh, jika Anda memang tertarik,” sambung Tangan Iblis, “aku bersedia dengan senang hati untuk mengantarkan Anda ke sana.”

“Terima kasih.”

“Tentunya daerah Andapun sangat menarik,” cetus Tangan Iblis ganti bertanya.

“Benar. Tanjung Losari memang sangat indah,” kata Talipati. “Kalau sobat berada di sana, akan dapatlah menikmati matahari terbit dan tenggelam. Tapi sayang, untuk waktu yang lama aku tak dapat kembali ke sa- na.”

“Mengapa?” desis Tangan Iblis.

“Ada sesuatu persoalan yang belum terselesaikan dan membuat diriku harus segera kabur dari tempat itu. Lain kali dapat kuceriterakan hal ini kepada An- da.”

Tangan Iblis mengangguk-angguk mendengar penu- turan Talipati itu. Agaknya saja Tangan Iblis dapat menebak bahwa persoalan yang patut disingkiri oleh Talipati adalah persoalan yang buruk. Maka sesaat itu pula Tangan Iblis lalu teringat akan nasibnya sendiri yang secara tidak langsung terusir dari Gilimanuk dan keluarganya sendiri.

Dengan demikian, maka Talipati adalah rekan sena- sib yang kemungkinan mempunyai persoalan yang sama. Keheningan sejenak membuat Tangan Iblis se- perti termangu, tetapi untunglah sesaat kemudian ia dapat mengatasi hal itu.

“Ooh, aku hampir lupa sobat,” desis Tangan Iblis mengatasi keheningan tadi. “Ini adalah sobat Jimbaran si lengan satu! Dan di sebelahnya adalah Ki Selakriya si pemahat ulung dari Tanah Bintara.”

“Heh? Anda membawa pula seorang pemahat? Apa- kah pekerjaannya nanti?” bertanya Talipati dengan nada keheranan dan bercampur mencemooh. “Bukan- kah yang boleh menjadi sahabat-sahabat dari Ketua Rikma Rembyak harus terdiri dari orang-orang yang sakti, berilmu tinggi dan berani bertempur?”

“Tapi ini ada pengecualiannya!” sahut Tangan Iblis tegas. “Dan aku berhak menentukan sendiri terhadap- nya. Mereka semuanya adalah teman-teman dan anak buahku.”

Talipati agak kaget oleh kata-kata keras dari Tangan Iblis. Segera ia dapat menyadari kesalahannya, dan ia- pun tahulah bahwa sahabat barunya ini adalah seo- rang yang berwatak keras dan mudah marah. Maka buru-buru ia berkata lunak, “Maaf sobat. Aku memang orang yang picik. Selama hidupku aku jarang mem- perhatikan barang-barang kesenian, sebab selama itu aku tak sempat. Aku lebih banyak mengadu tenaga, bertempur dan olah kesaktian. Karenanya harap Anda tidak berkecil hati oleh kata-kataku yang kurang pan- tas.”

“Heh, heh. Anda adalah sobat yang baik. Sanggup mengakui kekhilafan sendiri,” sahut Tangan Iblis se- raya menepuk-nepuk bahu Talipati yang diam-diam terperanjat kecil, karena tepukan tangan tersebut sempat menimbulkan rasa kesemutan meski dalam tempo sekejap saja.

Maka semakin sadarlah bahwa ia telah berhadapan dengan orang yang memiliki kesaktian tinggi dan ke- mungkinan lebih tinggi daripada kesaktiannya sendiri.

Ki Selakriya sendiri menjadi berdebar-debar men- dengar percakapan dua tokoh sakiti yang nadanya agak keras dan panas ini. Tetapi untunglah suasana ini segera terhapus oleh kesadaran Talipati sendiri dan juga atas kebijaksanaan si Tangan Iblis juga. Suasana keramahan tetap terjalin pada mereka. “Hooii... daratan! Kita telah sampai!” Terdengar te- riak lengkingan salah seorang penjaga tiang layar dari atas. “Putar haluan kanan!”

Memang demikianlah sebenarnya. Dalam kereman- gan sinar rembulan, di sebelah utara terlihatlah dara- tan menghitam menyeramkan, laksana kepala seekor naga yang lagi mengintip ke permukaan air.

Suasana penuh rahasia menyelimuti pulau tersebut dan ini dapat dirasakan oleh Ki Selakriya yang berdiri di dekat dinding perahu. Akan tetapi bagi Tangan Iblis, Talipati dan yang lain-lain, mungkin justeru sebalik- nya. Mereka merasa bahagia dan senang untuk mema- suki pulau terpencil ini.

Perlahan-lahan maka perahu besar tersebut mem- belok ke arah barat laut dan lurus menuju ke daratan Pulau Mondoliko untuk mendarat ke sana.

Tiba-tiba Jimbaran mengulurkan tangannya yang menggenggam terompet kulit siput kepada Tangan Iblis seraya berkata, “Apakah Guru perlu memberi tanda kepada Ketua Rikma Rembyak?”

“Terimakasih, memang sebaiknya demikian,” sahut Tangan Iblis sekaligus menyambut terompet kulit siput tadi dan menempelkan pada bibirnya.

“Traaaattt!” terdengar alunan lengking terompet ku- lit siput menggema udara malam, menyambar bagai aliran ombak ke segenap arah.

Sungguh hebat tiupan Tangan Iblis ini. Udara sea- kan-akan tergetar olehnya dan sesaat kemudian sete- lah ia menghentikan tiupannya, terdengarlah lengking terompet balasan dari arah pulau, menggema dengan megahnya.

“Mereka telah tahu kedatangan kita!” ujar Tangan Iblis kepada Talipati yang berdiri di sampingnya. “Mu- dah-mudahan makanan lezat dan segar telah menung- gu kita.” Sewaktu perahu makin mendekati pantai, terlihat- lah obor-obor api yang melambai bergoyang-goyang da- ri arah sana, satu pertanda bahwa orang-orang telah menyambut kedatangan perahu Tangan iblis.

Sebuah bendera Kuning bergambar telapak tangan merah segera dikibarkan ke atas tiang layar, menim- bulkan pemandangan megah bagi perahu yang kini perlahan-lahan mengarah ke pantai.

Sayup-sayup terdengar sorak-sorai dari arah pantai. Agaknya mereka tahu bahwa yang datang ini adalah Tangan Iblis, salah seorang tangan kanan dan sahabat Rikma Rembyak, si ketua ataupun raja tanpa mahkota dari pulau terpencil ini.

Dapat diibaratkan bahwa Tangan Iblis adalah pepa- tih dari Ketua Rika Rembyak, karena kesaktiannya yang hampir sejajar dan setingkat.

Apabila perahu besar berbendera telapak tangan merah itu mendarat, para penyambut segera menyerbu ke dekatnya sambil berteriak dan tertawa-tawa kese- nangan, sebab mereka telah tahu akan kebiasaan, bahwa setiap perahu yang datang pasti membawa ha- diah-hadiah dan oleh-oleh yang tidak terdapat di pulau terpencil ini.

Untuk sesaat acara sambutan ini menjadi kacau dan penuh kebebasan atau mengarah kepada keliaran. Beberapa awak perahu telah meloncat turun ke atas pasir ke arah gadis-gadis yang menyambutnya dan kemudian mereka berjingkrakan menari-nari.

Tangan Iblis, Talipati, Jimbaran, Ki Selakriya dan beberapa orang turun melewati tangga dengan tenang, sementara beberapa orang lagi di belakangnya telah menggotong beberapa peti berat untuk diturunkan.

Mendadak terdengarlah bunyi gong dipukul dan mulut orang-orang yang tadi berkaok-kaok bebas, se- ketika diam seperti terkunci oleh dengung gong yang menggema di udara.

Dari balik pinta gerbang batu karang, muncullah sebuah usungan yang dipikul oleh dua belas orang yang melangkah dengan perlahan-lahan tapi cukup te- gap mendekati tangga perahu Tangan Iblis.

Yang mengagumkan adalah usungan tersebut. Se- mua berwarna putih, terbuat dari susunan tulang ikan raksasa. Mungkin sekali dari tulang-tulang ikan lodan atau ikan paus yang telah dikeringkan dan diawetkan.

Di atas usungan tersebut, duduklah seorang laki- laki muda dengan gagahnya. Rambutnya terlihat beru- rai panjang awut-awutan, menutupi kedua telinga dan tengkuknya. Sambil tersenyum-senyum ia melempar pandang ke arah Tangan Iblis dan rombongannya. Ke- mudian ia berseru, “Terimalah ucapan selamat datang dari Rikma Rembyak!”

“Terima kasih, Ketua!” seru Tangan Iblis seraya membungkuk sedikit. “Salam dan hormat kami untuk Anda!”

Rikma Rembyak kemudian meloncat turun dari atas usungan untuk menyambut para sahabatnya yang ba- ru saja datang. la menjabat tangan kanan si Tangan Iblis yang segera disambut oleh sahabatnya ini dengan akrab. Mereka lalu berpelukan seolah-olah bagai dua orang saudara yang telah berpisah sekian lama dan kini bertemu kembali.

“Anda telah lama meninggalkan Mondoliko,” ujar Rikma Rembyak. “Banyak sekali soal-soal yang harus kita bicarakan.”

“Aku tahu, sobat,” desah Tangan Iblis dengan suara tertahan-tahan seperti tersekat dalam kerongkongan dan ini membuat Rikma Rembyak tertegun sejenak, le- bih-lebih ketika ia rasakan aliran basah yang menetes ke bahunya.

“Heei, kau baik-baik saja bukan, sobat?! Mengapa engkau ini...?” berbisik Rikma Rembyak kepada saha- batnya yang masih memeluknya. “Mendapat kesuli- tan?”

“Maaf, Kakang Rikma! Aku telah mengucurkan air mata, sebab ibuku Nyi Durganti telah tewas!” ujar Tangan Iblis dalam suara gemetar.

“Tobat! Ooh, kasihan kau, Adi Tangan Iblis. Aku ikut berduka cita atas hal tersebut... Tapi siapakah yang telah sekurang ajar dan gegabah, berani turun tangan terhadap Nyi Durganti itu?”

“Dia... dia adalah ayah kandungku sendiri!” “Haa, ayah kandungmu sendiri?”

“Benar.”

“Sampai sekejam itu?” desis Rikma Rembyak heran. “Tidak begitu soalnya,” tukas Tangan iblis. “Mereka telah berpisah ketika aku masih kecil. Dan pada suatu saat mereka telah bertemu dan berhadapan dalam pi- hak yang berlainan sebagai lawan yang harus bertem- pur mati-matian. Ternyata kemudian, ibuku Nyi Dur- ganti telah roboh oleh pukulan Wiku Salaka, si ayah

kandungku sendiri!”

“Sungguh luar biasa peristiwa ini!” Rikma Rembyak mendesak. “Apakah Nyi Durganti yang sering kau ceri- terakan kesaktiannya itu, dapat terkalahkan oleh la- wan?”

“Memang aku melihatnya sendiri. Dan ternyata ibu- ku telah lebih dahulu mengenal bahwa lawan yang di- hadapinya itu adalah ayah kandungku sendiri, atau je- lasnya adalah bekas suaminya. ”

“Hmm, memang lelakon manusia bermacam-macam ragamnya. Tapi sudahlah, Sobat Tangan Iblis. Yang te- lah lewat tak perlu kita risaukan. Masih banyak peris- tiwa-peristiwa yang harus kita hadapi!”

“Terima kasih, Kakang Rikma.”

“Marilah kita masuk ke perkampungan kita. Aku te- lah mulai membangun benteng dari balok-balok batu karang.”

“Dan bagaimana dengan bangunan megah yang pernah Anda ceriterakan dulu? Aku telah membawa seorang pemahat ulung dari Pulau Dewata.”

“Ooo, yah, yah. Itu akan segera kita bicarakan di pondok besar kita, Adi Tangan Iblis,” ujar Rikma Rem- byak seraya mengajak para sahabatnya masuk ke da- lam perkampungan. Sedang para penyambut, sebagian masih bersuka-suka di pantai dan sebagian kembali bersama-sama Ki Rikma Rembyak ke dalam perkam- pungan.

***

BAGIAN IV

DI SEBUAH RUANGAN, dalam pondok yang besar, terlihatlah beberapa orang berkumpul dan bercakap- cakap. Menilik dalam air muka serta gerak pembica- raan dari mereka agaknya saja sesuatu pembicaraan penting tengah terjadi.

Mereka tidak lain adalah Rikma Rembyak, Tangan Iblis, Talipati, Jimbaran, dan tiga orang lainnya yang berperawakan kekar dan tegap. Wajah ketiga orang ini tak kalah seram dengan Rikma Rembyak ataupun Tangan Iblis.

“Saya turut berduka atas kematian Jimbaran dan para anak buahmu yang lain, Adi Tangan Iblis,” ujar Rikma Rembyak dengan suara berat. “Tapi mereka toh tewas sebagai orang-orang kita yang setia.”

“Memang demikian, Kakang Rikma.”

“Yah, masih banyak pendekar-pendekar kita yang duduk di sebelahmu itu. Mereka adalah Adi Surokolo, si pendekar berjala maut. Di sebelahnya adalah Wira- pati pendekar jarum berbisa. Dan yang satu ini, Sarpa Ireng si ular laut, pendekar yang berilmu segesit ular laut.”

Tangan Iblis mengangguk seraya melirik ke arah mereka bertiga. Kemudian iapun berkata, “Kakang Rikma Rembyak, aku telah membawa seorang pemahat ulung yang pasti sangat berguna bagi kita.”

“Ooh, aku ingat hal itu. Jadi orang kemarin itulah yang engkau maksud?” sahut Rikma Rembyak. “Tam- paknya memang dialah orang yang patut membantu kita!”

“Memang demikian adalah sesungguhnya, Kakang,” berkata pula Tangan Iblis. “Aku telah melihat sendiri betapa ia mencipta dan memahat patung-patung yang bagus!”

“Dan tentang bangunan yang saya maksudkan da- hulu ternyata bukan hanya sekedar bangunan untuk memperindah saja. Tetapi ada manfaatnya yang lain!”

“Uuh?” desis Tangan Iblis kaget. “Apakah kira-kira yang Kakang maksudkan itu?”

“Jangan kaget, Adi Tangan Iblis. Dengarlah baik- baik mengapa pula sampai kalian kupanggil semua. Nah, ketahuilah bahwa aku telah mendengar adanya seorang empu yang berhasil menemukan senjata am- puh. la tinggal di daerah Demak!”

“Senjata ampuh?” ulang Tangan Iblis. “Bukankah kita cukup mempunyai senjata-senjata ampuh yang cukup hebat untuk menjaga pulau ini serta mele- nyapkan lawan-lawan kita?”

“Tapi yang diketemukan dan dibuat oleh empu ter- sebut lain lagi bentuknya!” sahut Rikma Rembyak. “Dan kita harus merebutnya!”

“Apakah macamnya senjata itu?”

“Senjata itu berbentuk panah. Namanya adalah Pa- nah Braja Kencar!” ujar Rikma Rembyak dengan suara bergetar seolah menyebut sesuatu nama yang mena- kutkan.

“Nama yang bagus!” puji Tangan Iblis seraya menge- lus-elus janggutnya. “Seberapa besarkah keampuhan- nya, Kakang?”

“Hebat keliwat-liwat!” bisik Rikma Rembyak sambil melotot. “Dengarlah! Bila panah tersebut kita panah- kan ke atas sasaran, segera ia akan menyala dan me- nurunkan asap yang kemudian menyebar ke bawah. Dan kejadian apakah berikutnya? Kalian boleh mener- ka!”

Tak seorangpun yang bisa menerka kecuali cuma mengeluh kesah, seperti tak sabar menunggu kelanju- tan ceritera Rikma Rembyak.

“Nah, asap tadi dalam sekejap saja akan menimpa setiap barang yang berada di bawahnya dan akhirnya barang-barang tadi akan kering, hangus dan musnah!” “Luar biasa!” seru Tangan Iblis diiringi oleh suara bergumam dari orang-orang di sekitarnya. “Senjata yang terhebat yang pernah aku dengar sekali ini. Jika ia menimpa segerombolan manusia, pastilah ia akan

melenyapkan sasaran tadi dalam waktu singkat.” “Itulah sebabnya aku ingin merebut senjata Panah

Braja Kencar dari tangan empu tersebut!” ujar Rikma Rembyak.

“Siapakah nama empu yang sakti itu, Kakang?”

“Dia bernama Empu Baskara!” (Lihatlah Seri Naga Geni 4 dan 5: “Hilangnya Empu Baskara” dan “Diburu Topeng Reges”)

“Jadi kita akan berangkat ke Demak dan merebut senjata tadi?” bertanya Tangan iblis penuh rasa ingin tahu.

“Cukup aku sendiri yang berangkat ke sana!” ujar Rikma Rembyak. “Adi Tangan Iblis tinggal di pulau ini, memimpin pembuatan bangunan yang kita rencana- kan semula!”

“Baik, Kakang Rikma Rembyak,” sahut Tangan Iblis. “Menurut Kakang, bangunan tersebut harus merupa- kan bukit yang mempunyai lobang kepundan. Jadi se- perti gunung yang kecil dan menganga!”

“Benar! Ingat baik-baik, Adi Tangan Iblis. Lobang itu harus cukup lebar dan di dalamnya harus ada ruan- gan yang cukup besar!”

Sekali lagi Tangan Iblis mengangguk segera mem- buat corat-coret pada selembar sobekan kain dengan larutan tinta hitam yang terbuat dari cairan tinta ikan gurita.

Semua pandangan mata terarah pada jari-jari Tan- gan Iblis yang menggenggam sebilah tangkai kayu den- gan ujungnya berserabut seperti bulu. Benda tadi se- bentar menari-nari di atas selembar kain, dan kemu- dian terlihatlah beberapa bentuk-bentuk gambar dari bangunan yang tengah direncanakan.

Sesudah selesai, Tangan Iblis lalu menyerahkannya kepada Rikma Rembyak seraya berkata, “Inilah Ka- kang, bentuk bangunan yang engkau maksudkan. Dan tentu saja untuk lebih menambah kemegahan serta keseraman, maka bukit itu tidak sekedar bukit yang polos, tetapi mempunyai hiasan, yakni merupakan bentuk kepala singa yang mendongak ke atas. Dan lo- bang kepundan yang Andika maksud tadi adalah me- rupakan mulut singa yang menganga!”

Sebentar Rikma Rembyak mengamat-amati gambar tadi lalu tertawa terbahak-bahak, tak ubahnya anak kecil yang mendapat hadiah besar dari orang tuanya. Bahkan saking gembiranya, Rikma Rembyak mene- puk-nepuk bahu Tangan Iblis sambil berkata, “Bagus! Bagus! Kau berotak cemerlang, Adi Tangan Iblis! Patut engkau menjadi tangan kananku, tak ada salahnya!” Kemudian Rikma Rembyak menunjukkan gambar tadi kepada sahabat-sahabatnya yang lain, seperti Talipati, Surokolo, Jimbaran dan lain-lainnya.

Mereka mengangguk-angguk mengerti dan menye- tujuinya.

“Jika demikian, aku beri nama dengan Bukit Kepala Singa,” ujar Rikma Rembyak. “Bagaimana sobat seka- lian?”

“Setuju!” ujar Tangan Iblis bersama-sama yang lain. “Nah, untuk bangunan tersebut, gunakanlah bukit batu karang di sebelah di utara itu!” Rikma Rembyak berkata disertai tangannya menunjuk ke arah utara, di mana terdapat bukit batu karang yang cukup tinggi 

dan letaknya kira-kira di tengah pulau.

“Tapi apakah pemahat yang kau bawa itu akan sanggup mengerjakan Bukit Kepala Singa?” bertanya pula Rikma Rembyak kepada Tangan Iblis.

“Itu tidak menjadi soal, Kakang Rikma!” jawab Tan- gan Iblis. “Sebab di samping dia, aku akan menggerak- kan orang-orang lain untuk membantunya. Terutama adalah tawanan-tawanan kita!”

“Hah, ha, ha. Bagus! Semuanya harus kau awasi sebaik-baiknya, Adi Tangan Iblis! Dan engkau tentu tak lupa, bagaimana memberi pelajaran dan meladeni orang-orang yang membangkang!”

“Dilempar ke mulut gurita atau digerogoti oleh mu- lut ketam-ketam kecil di teluk maut!” seru Tangan Iblis seraya tersenyum lebar.

“Ha, ha, ha. Kau tak lupa akan kegemaran kita, Adi!”

“Jika aku boleh bertanya, Kakang Rikma Rembyak, bersama siapakah Anda akan menjelajahi daerah De- mak guna merebut pusaka Panah Braja Kencar itu?”

“Aku akan menemui guruku di lereng Gunung Mu- ria dan meminta bantuannya. Dialah yang bergelar Ki Topeng Reges!” “Ooh..., “desis orang-orang yang mendengarnya. “Kesaktiannya tak usah aku ragukan. Sorot ma-

tanya saja cukup menghanguskan dan mematikan sa- saran yang dihadapinya,” ujar Rikma Rembyak mem- beri penjelasan.

“Beruntung Kakang Rikma Rembyak mempunyai seorang guru yang sesakti itu!” kata Tangan Iblis me- muji. “Mudah-mudahan senjata tadi dapat Anda miliki kelak. Akan tetapi, apakah hubungan senjata tersebut dengan Bukit Kepala Singa?”

“Ho, ho, ho. Kau belum mengerti, Adi Tangan Iblis,” kata Rikma Rembyak. “Memang aku belum menje- laskan tadi. Terutama kegunaan ruangan di bawah Bukit Kepala Singa tersebut. Heh, ketahuilah. Kita akan membangun busur panah yang terbesar. Mung- kin seratus kali atau lebih besar berlipat kali daripada busur panah biasa. Dan busur tadi akan kita pasang di ruangan tersebut!”

“Sungguh hebat. Namun bukankah panah asli yang akan Anda cari tadi, cuma berukuran kecil saja?” sa- hut Tangan Iblis.

“Ya, memang begitu. Rahasia keampuhan Panah Braja Kencar tidak terletak pada anak panah itu sendi- ri, tapi terletak pada serbuk-serbuk ramuan yang dipa- sang pada mata panahnya. Serbuk itulah yang menja- lar, menyebar cepat dan kemudian memusnahkan se- gala sasaran!” berkata Rikma Rembyak.

“Jadi Kakang Rikma akan membuat serbuk maut itu secara besar-besaran?” sela Tangan Iblis.

Rikma Rembyak mengangguk sambil sekali lagi me- nikmati gambar rencana dari Bukit Kepala Singa yang digambari Tangan Iblis. Sesaat kemudian ia berkata, “Adi Tangan Iblis, coba kita panggil si pemahat Sela- kriya itu kemari! Aku ingin tahu apakah ia benar- benar bersedia membantu kita.” “Itu lebih baik, Kakang Rikma,” ujar Tangan Iblis setuju.

“Biarlah Sobat Surokolo akan memanggilnya,” Rik- ma Rembyak berkata kepada si pendekar berjala maut yang duduk di sebelah Tangan Iblis. “Bawalah si Sela- kriya itu kemari dan perlakukanlah ia sebagai tamu ki- ta.”

Surokolo membungkuk hormat serta mengundur- kan diri, lalu keluar dari ruangan itu. Suasana menjadi hening sejenak. Di luar angin laut terdengar berdesau berkejaran melintasi atap pondok tersebut.

Udara sore yang diliputi mendung terasa mema- naskan ruangan yang digunakan oleh Rikma Rembyak dan para pengikutnya. Beberapa orang kelihatan men- datangi meja di ruangan tersebut lalu meletakkan be- berapa lodong tembikar berisi air minum dan talam- talam yang berisi makanan.

Tapi semua itu rupanya tidak begitu menarik perha- tian Rikma Rembyak, sebab ternyata ia masih saja me- renungi lembaran kain yang berisi gambar-gambar bangunan Bukit Kepala Singa yang sangat menarik perhatiannya.

Dalam rongga matanya seolah-olah telah dapat di- bayangkan dengan jelas, betapa mulut Bukit Kepala Singa itu menganga dan menyemburkan kilatan api dari lontaran panah Braja Kencar ke udara. Kemudian terbayang pula, bagaimana kapal-kapal yang tertimpa oleh asap dan kilatan cahaya panah tersebut menjadi musnah dan orang-orang yang menumpangnya pada terhangus kering, mati seolah belalang yang dibakar oleh kobaran api. Dengan demikian, pulau tempat ke- diaman mereka akan menjadi tempat angker, ditakuti oleh orang-orang luar. Bahkan lebih daripada itu, akan berarti pula menambah kewibawaan terhadap nama Rikma Rembyak. Bila sudah demikian, maka ia berhak untuk menentukan daerah perairan yang lebih luas. Dan tentu saja, akibatnya setiap perahu ataupun kap- al besar yang melewati daerah tersebut, haruslah membayar pajak kepada Rikma Rembyak, si penguasa pulau ini!

Kembali dalam lamunannya, Rikma Rembyak men- gangguk-angguk seraya tersenyum kecil, tanpa mem- perdulikan para sahabatnya yang asyik meneguk tuak dan melahap makanan. Yang semata-mata tergambar dalam ruang matanya, adalah kekuasaan besar apabi- la ia telah berhasil menguasai Panah Braja Kencar itu! Meski hal ini belum dicapainya, tapi bisikan hatinya seolah-olah telah dapat meyakinkan bahwa ia akan berhasil mendapatkannya.

Bukankah ia mempunyai seorang guru yang kelewat sakti dan pasti sanggup membantunya? Nama Ki To- peng Reges cukup menggetarkan siapa saja yang men- dengarnya dan tentu saja ini menambah lebih mudah akan segala maksud keinginannya. Sebagai seorang murid yang telah banyak membantu gurunya, maka sudah sepatutnya bila sekali waktu ia mengharap per- tolongan gurunya. Tambahan lagi ia yakin bahwa gu- runya yang sangat menyayangi pasti akan mengabul- kan permintaannya ini.

Sesaat teringat pula ia, betapa ia telah turut berta- ruh nyawa guna membela Ki Topeng Reges dalam me- rebut Kitab Hijau dari Panembahan Jatiwana maupun ketika melawan Landean Tunggal dan Rebab Pandan. (Lihat Seri Naga Geni 7 “Bara Api di Laut Kidul”)

Rupanya Rikma Rembyak akan terus melantur- lantur dengan lamunannya, seandainya tidak segera terdengar langkah-langkah kaki manusia yang mema- suki ruangan tersebut dari arah pintu masuk.

Hal ini membuat Rikma Rembyak tersentak, seperti orang yang tergugah dari mimpinya. Ditatapnya orang yang baru saja melangkah masuk. Mereka tak lain adalah Ki Selakriya dan Surokolo, yang kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Rikma Rembyak. Hati Ki Selakriya berdebar-debar ketika diketahui bahwa ia berada di antara orang-orang yang berpera- wakan kekar dan berwajah keras menyeramkan. Sorot mata mereka tiba-tiba seluruhnya tertuju ke arah di- rinya sehingga mau tak mau si pematung tua ini terge- tar hatinya. Dari sorot mata mereka saja, seolah-olah dirinya seperti menjadi kerut dan kerdil. Rasanya ia berada di antara raksasa-raksasa yang kini siap

menghukum atau melahap dirinya.

Apakah tindakannya kini? Akan melawan mereka? Oh, itu perbuatan bodoh, sebab tentu tak akan banyak gunanya. Bahkan merupakan tindakan yang sama to- lolnya dengan orang membunuh diri. Dan seandainya ia berhasil melawan mereka serta ke luar dari ruangan tersebut, toh pasti tidak akan seluruhnya dapat melo- loskan diri, keluar dari Pulau Mondoliko yang terpencil ini!

Maka satu-satunya jalan ialah menurut kemauan mereka. Sampai akhirnya ia dibebaskan dari cengke- raman mereka sama sekali. Ki Selakriya tertunduk ki- ni, ia tak kuasa menatap orang-orang di situ.

“Kisanak! Apakah engkau si pemahat Selakriya?” bertanya Rikma Rembyak memecah keheningan. “Jan- gan takut-takut, Kisanak.”

“Benar, Tuan. Nama saya adalah Selakriya, si pe- mahat yang terlunta-lunta,” ujar Ki Selakriya menun- duk.

“Mengapa Kisanak berkata demikian?”

“Karena saya tidak dapat mengetahui apakah suatu saat saya dapat kembali ke kampung halaman serta berkumpul kembali dengan sanak keluarga saya,” ter- dengar kata-kata Ki Selakriya diucapkan dengan nada bergetar, menggambarkan perasaannya yang tertahan selama ini.

Rikma Rembyak manggut-manggut mendengar uca- pan si pemahat itu, sebab iapun dapat merasakan be- tapa Ki Selakriya menjadi cemas akan nasibnya. Maka berkatalah ia, “Harap dimaafkan jika kami membawa- mu ke mari dengan cara paksa. Semua itu terdorong oleh keinginan kami untuk menyertakan Kisanak da- lam bangunan yang tengah kami rencanakan.”

“Saya pernah mendengar hal itu, Tuan,” Ki Sela- kriya berkata pula. “Ki sanak Tangan Iblis telah men- gatakan mengapa ia sampai menculikku kemari.”

“Itu telah kau ketahui, dan lebih baik!” sambung Rikma Rembyak dan kemudian mengulurkan selembar kain yang semula telah digambari oleh Tangan Iblis. “Nah lihatlah ini, Ki Sela! Bukankah ini gambaran ben- tuk dari patung singamu! Tangan Iblislah yang meng- gambarnya!”

Ki Selakriya keheranan juga melihat corat-coret di atas selembar kain itu. Tak diduga sampai sedemikian jauh Tangan Iblis dan sahabat-sahabatnya memperha- tikan pahatan hasil karyanya.

Memang gaya patung singa itu diingatnya dari pa- tung-patung singa yang terdapat di Candi Borobudur. Hanya anehnya, apa yang digambar oleh Tangan Iblis di situ, hanyalah kepala singa saja dengan menganga ke atas, seolah-olah tengah mengeluarkan auman ma- rah!

“Ki Selakriya, kau dapat melihatnya, bahwa di sebe- lah utara atau di tengah pulau ini terdapat bukit batu karang. Maka kami merencanakan untuk memahat bukit itu seperti yang terlihat dalam gambar tersebut! Yaitu dengan bentuk kepala singa yang mengaum ke atas, seperti kepala patung Singa yang pernah engkau buat. Jadi jelasnya, engkaulah nanti yang mengepalai pemahatan Bukit Kepala Singa ini!” demikian ujar Rikma Rembyak. “Tentang segala kebutuhanmu, boleh kau katakan kepada Sobat Tangan Iblis.”

“Ini pekerjaan raksasa!” ujar Ki Selakriya setengah gemetar. “Memerlukan puluhan pemahat yang harus mengerjakannya.”

“Jangan khawatir. Orang-orang yang akan memban- tumu akan segera kami carikan, Ki Sela,” seru Rikma Rembyak. “Apapun yang engkau kehendaki akan sege- ra kami usahakan selekasnya!”

“Dan juga tentang kebebasanku, Tuan?”

“Ha, ha, ha. Kau cukup cerdas, Ki Sela!” Rikma Rembyak berkata. “Itupun akan kami berikan setelah bangunan Bukit Kepala Singa itu selesai. Engkau bo- leh pulang dan jika kau kehendaki kamipun akan mengantarmu. Atau mungkin kau mengingini sendiri, sebuah perahu untuk berlayar pulang? Itu semua akan kami berikan, merupakan janji kami yang boleh kau pegang kenyataannya kelak. Begitu pula kami akan memberikan hadiah-hadiah kepadamu!”

“Tak begitu-begitu penting, Tuan,” sahut Ki Sela- kriya memberanikan diri. “Yang paling berharga adalah kebebasanku.”

“Ha, ha, ha. Sifat senimanmu sangat kuat, Ki Sela! Tak apalah. Tapi semua ucapanku akan kulaksanakan dengan tepat. Perkara kau mau menerima hadiah itu atau tidak terserah kepadamu sendiri. Saya rasa ke- dua hal itu sama pentingnya! Mana ada orang tak membutuhkan uang emas atau barang perhiasan yang bakal kuhadiahkan kepadamu?! Itu dapat dijual dan cukup untuk membiayai hidupmu sekeluarga. Di ma- na ada manusia tidak membutuhkan harta benda? Apakah mereka akan hidup telanjang, tinggal di gua- gua seperti orang liar? Ha, ha, ha, ha.” Ki Selakriya tertegun oleh ucapan dan kata-kata si Rikma Rembyak. Meski ia tahu bahwa ucapan itu tidak semuanya benar, Ki Sela tetap membisu, tanpa berani berkata-kata lagi. Sebab hal ini akan menimbulkan kemarahan Rikma Rembyak yang memiliki pandangan sangat berlainan dengan dirinya sendiri.

Bagi dirinya, harta benda bukanlah jalan mutlak untuk mencapai kebahagiaan hidup. Masih banyak hal lain yang tak kalah pentingnya, seperti ketentraman hati, rasa sumarah dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa, dan lain-lainnya. Harta benda hanyalah seke- dar pelengkap hidup saja, agar manusia tidak telan- jang dan dapat makan minum secukupnya.

“Nah, kau tentu tak berkeberatan untuk memban- gun Bukit Kepala Singa tersebut,” ujar Rikma Rem- byak. “Sebab kau tak mungkin memilih jalan lain atau menolaknya, Ki Sela! Kau mestinya sudah paham, apakah jadinya bila ada orang yang berani menentang kemauan kami!”

Ki Selakriya mengangguk lemah. Bagaimanapun, memang tak ada jalan lain, kecuali harus menerima permintaan mereka! Kecuali bila ia menghendaki ke- matian dan ini berarti ia tak akan dapat menemui sa- nak keluarganya kembali!

Rikma Rembyak tersenyum lebar mengetahui ke- sanggupan Ki Selakriya, maka tiba-tiba saja ia men- gangkat mangkuk-mangkuk berisi tuak sambil berse- ru, “Sobat-sobat semua, Ki Sela bersedia mengerjakan Bukit Kepala Singa! Karenanya, marilah minum se- puas-puasnya untuk menyambut hal ini! Dan Ki Sela, terimalah mangkuk minuman ini!”

Ki Selakriya sekali lagi, terpaksa menerima permin- taan mereka dan menyambut semangkuk tuak dari tangan Rikma Rembyak. Sementara itu para sahabat Rikma Rembyak lainnya telah berkali-kali meneguk minumannya tanpa segan-segan.

Entah berapa mangkuk tuak Ki Selakriya telah me- neguknya, sebab kalau semula ia cuma meneguknya satu dua mangkuk saja, tapi akhirnya ia terpaksa lebih banyak lagi.

Beberapa orang di sampingnya rupanya telah mulai setengah mabuk atau pening-pening. Seperti Talipati, Sarpa Ireng dan yang lain berkali-kali memaksa menu- angkan mangkuk-mangkuk berisi tuak ke dalam mulut Ki Selakriya.

Akhirnya yang teringat kemudian, adalah pandan- gan matanya berkunang-kunang, lalu terasa tubuhnya dituntun keluar ruangan untuk kembali ke rumah pondokannya semula. Dan agaknya ia dapat memasti- kan bahwa orang yang mengantarnya adalah si Suro- kolo. Dan malam itu ia tidur dengan pulasnya, tanpa mengingat kejadian-kejadian apa yang bakal dijum- painya pada keesokan harinya. Baginya itu lebih baik demikian.

Kini ruang tersebut telah sepi kembali. Ketua Rikma Rembyak yang berambut awut-awutan dan berjubah merah telah meninggalkan ruangan, demikian pula yang lain. Bagi yang mabuk, terpaksalah pengawal- pengawal menolong mereka, mengantarnya kembali ke rumah masing-masing. Pulau Mondoliko telah ditelan malam.

Bulan sebentar-sebentar tersaput awan mendung yang berarak-arak terbawa angin malam seakan-akan menghalangi sinar perak yang menerangi pulau ter- pencil ini. Sekali-kali terdengar pekikan burung hantu, menambah keseraman suasana malam di pulau ini.

*** BAGIAN V

DALAM KELEMBUTAN sinar matahari pagi, Ki Sela- kriya tengah memutari bukit karang yang terletak hampir tepat di tengah pulau terpencil ini. Dilihat dan diperiksanya benar-benar keadaan batu-batuan yang terdapat di situ, sebab hal ini harus diketahuinya be- nar-benar sebelum ia memulai pekerjaannya.

Apa yang kini dihadapinya adalah satu tanggung jawab yang besar dan selama ini belum pernah ia mengalaminya. Karenanya pula ia harus lebih berhati- hati dan cermat untuk memperhitungkan segala sesu- atunya. Baik keadaan batu-batuan bukit karang terse- but, alat-alat yang dipergunakan untuk memahatnya, maupun jumlah orang-orang yang bakal mengerjakan- nya. Itu semua diperhitungkan dengan masak-masak. Begitu pula tak kalah pentingnya gambar-gambar ren- cana dari Bukit Kepala Singa itu sendiri. Ternyata Ki Selakriya telah membuat gambar yang lebih terperinci lagi, lengkap dengan ukir-ukirannya sekali.

Namun sementara itu, tetap terselip juga rasa keka- gumannya kepada Tangan Iblis. Tak dikiranya sama sekali bahwa orang yang lebih banyak berurusan den- gan pekerjaan-pekerjaan yang kasar dan tidak jarang mengadu nyawa, ternyata memiliki cetusan pikiran dan gagasan yang demikian hebatnya dan indah.

“Ki Sela, berapa lamakah kira-kira Bukit Kepala Singa ini dapat selesai?” bertanya Tangan Iblis ketika ia mengikuti Ki Selakriya pagi itu.

“Aku belum bisa memastikan,” jawab Ki Selakriya. “Mungkin enam bulan atau lebih, barangkali setahun- lah baru selesai.”

“Jika seandainya berbakat, ingin pula rasanya aku membantumu, Ki Sela,” ujar Tangan Iblis kembali. “Ah, tak seharusnya demikian, Tuan. Bukankah ini pekerjaan bagi para tawanan saja?!”

“Hah, benar... Maaf aku telah membawamu ke tem- pat ini dengan paksa. Tapi jangan khawatir, Ki Sela. Engkau pasti bebas secepat Bukit Kepala Singa ini se- lesai!”

“Akupun berharap demikian, Tuan.” “Kau menyesal Ki Sela?”

“Tak perlu kusesali, Tuan. Bagaimanapun juga aku selalu menghadapi lelakonku dengan tulus dan dada terbuka.”

Tangan Iblis terbungkam oleh percakapan sesaat ini. Hatinya seolah-olah telah terketuk oleh cahaya ke- benaran. Akan tetapi rupanya saja ia kurang menden- garnya, atau mungkin pula memang belum waktunya ia dapat mendengar dan terbuka hatinya oleh ketukan tadi. Terbukti bahwa Tangan Iblis membuang muka dan mendesah kesal, kemudian meninggalkan Ki Sela- kriya dan Surokolo di tempat itu. Hal ini tentu saja membuat mereka berdua saling berpandang penuh tanda tanya.

Pada hari-hari berikutnya, pekerjaan raksasa itu te- lah mulai dilaksanakan. Di sana-sini di segenap lorong dari bukit karang itu terdengar bunyi berdentang- dentang nyaring dan mengumandang, berasal dari pa- hat dan palu yang menakik sisi-sisi permukaan dari bukit karang ini, silih berganti. Berpuluh-puluh orang telah membantu Ki Selakriya dalam pekerjaan ini. Me- reka kebanyakan adalah orang tawanan atau budak belian dari Rikma Rembyak.

Bunyi berdentang ini mulai mengalun sejak mun- culnya pagi sampai malam tiba, bagaikan irama lagu yang menyayat-nyayat seperti tersayatnya wajah-wajah bukit karang yang telah dipahat-pahat tanpa hentinya. Sehari demi sehari pekerjaan itu telah berjalan den- gan lancarnya. Hampir sepuluh permukaan batu ka- rang di bagian bawah telah terpahat, sementara bela- san tangan kayu dan tali-temali kelihatan terpanjang di sana-sini, ditempatkan pada bagian-bagian yang sukar dicapai.

Sungguh pekerjaan yang tidak ringan! Salah-salah bila nasib malang, mungkin mereka akan terjatuh ke bawah dan menemui ajal. Maka tak heran bila satu dua di antara para pekerja ini ada yang bergerundalan dengan teman di sebelahnya.

“Pekerjaan gila! Apa pula gunanya memahat bukit karang ini?” ujar salah seorang pekerja yang bertubuh penuh keringat. la masih cukup muda.

“Huss! Jangan bicara seenaknya saja. Kalau sampai terdengar oleh para pengawas, celakalah kita,” desah teman di samping yang berkumis lebat.

“Baiklah, aku tak akan keras-keras berkata,” ujar si muda. “Tapi cobalah kita pikir baik-baik. Apakah kita akan segera dibebaskan oleh mereka, seandainya pe- kerjaan ini telah selesai?”

Tiba-tiba keduanya membisu, manakala dua orang penjaga lewat di dekatnya seraya membentak.

“Hayo bekerja lagi! Jangan banyak ngobrol! Apa ka- lian ingin merasakan ini, hah?! Taaarrr!” sebuah puku- lan cambuk melanda punggung si pemahat muda yang seketika meringis menahan sakit. Tapi ia tidak berani berbuat apapun.

Akhirnya mereka bekerja kembali, setelah kedua orang penjaga itu bergegas ke arah lain. Sedang di sa- na-sini masih sibuk para pemahat yang bekerja men- gikis dan memahat permukaan bukit karang itu. Maka sesungguhnya pekerjaan tersebut tidak sedikit mencu- curkan keringat dan darah dari orang-orang tawanan yang dipimpin oleh Ki Selakriya ini. Iapun secara tidak langsung adalah seorang tawanan juga. Meskipun ta- wanan yang diperlukan secara baik dan cukup hormat. Namun hati Selakriya sering sedih bila dilihatnya salah seorang dari pembantu-pembantunya mendapat pukulan cambuk atau siksaan, karena kesalahan yang tidak terlalu besar. Hal ini hampir membuat Ki Sela- kriya menarik satu kesimpulan bahwa semua pengikut dan penghuni perkampungan Rikma Rembyak ini ter- diri dari orang-orang yang berperangai kasar, kejam,

dan tidak berperikemanusiaan.

Ternyata dugaannya itu tidak seluruhnya benar, sebab ketika pada suatu hari ia kehausan di atas bukit karang tersebut, tiba-tiba saja seorang gadis cantik be- rusia sangat muda telah memberinya selodong air mi- num seraya berkata dengan ramahnya. “Terimalah air minum ini, Bapak, sekedar penghapus dahaga dan pe- nyegar badan.”

“Terimakasih, Angger yang baik hati. Tapi siapakah Andika ini?”

“Namaku Andinisari, Bapak,” sahut si gadis belia. “Nama yang bagus. Dan di manakah engkau ting-

gal? Selama berada di pulau ini, belum pernah aku mengenalmu,” ujar Ki Selakriya.

“Aku tinggal bersama Ki Rikma Rembyak, sebab dia adalah ayahku. Nah, permisi dulu, Bapak. Silahkan Andika minum dengan puas!” Habis berkata demikian Andinisari telah melesat pergi meninggalkan Ki Sela- kriya yang terbengong sambil menggenggam selodong air minum.

Menjelang minggu kedua belas, bentuk kasar dari Bukit Kepala Singa itu telah tampak. Kemudian pada minggu-minggu berikutnya Ki Selakriya beserta para pembantunya tinggal memperhalus dan menyempur- nakan Bukit Kepala Singa ini dengan sangat hati-hati dan cermat.

Diam-diam Ki Selakriya merasa berbangga hati me- lihat bukit tersebut telah mendekati kesempurnaan. Siapakah orangnya yang tidak menjadi senang bila sa- lah satu dari gagasannya telah berdiri dengan megah. Namun yang lebih senang bagi Ki Selakriya adalah ke- bebasannya yang telah dinantinya, dan oleh sebab itu kerjanya makin bertambah giat.

Sejauh itu, Ki Selakriya tak kurang berterima ka- sihnya kepada Andinisari yang selalu berbaik hati un- tuk membawakan minum dan sekedar makanan ke atas Bukit Kepala Singa. Bahkan dari ceritera-ceritera gadis tersebut, dapatlah Ki Selakriya mengetahui bah- wa Rikma Rembyak telah menyeberang ke daratan pantai Jepara untuk menemui gurunya. Sayang Andi- nisari tidak mengetahui apakah kepentingan ayahnya sampai menyeberang ke pesisir utara Jawa itu. Hal in- ipun tidak menjadi pemikiran bagi Ki Selakriya sendiri karena ia tak mau mencampuri urusan Rikma Rem- byak.

Bulan demi bulan pekerjaan menyempurnakan Bu- kit Kepala Singa itu terus berjalan dan makin terlihat- lah betapa megah dan menyeramkan bangunan terse- but. Lobang kepundan yang merupakan mulut Singa itu menganga ke atas dan lobang tersebut terus ke ba- wah, menembus dasar bukit yang kini tengah dibua- tkan sebuah ruang besar dengan beberapa pintu ma- suk yang tersembunyi.

Mengetahui ukuran ruang dalam perut bukit ini, Ki Selakriya menjadi penuh tanda tanya. Gerangan untuk keperluan apakah ruangan sebesar itu? Untuk tempat persembunyian, untuk menyimpan harta benda atau sebagai benteng pertahanan? Ki Selakriya tidak menge- tahuinya, apalagi para sahabat Rikma Rembyak yang ditanyai, tak bersedia menjawabnya, termasuk si Tan- gan Iblis sendiri. Demikian pula Andinisari juga berka- ta, bahwa ia tidak mengetahui kegunaan ruangan ter- sebut, karena ayahnya tidak pernah menceriterakan hal itu kepadanya.

Maka sedikit demi sedikit terseliplah kecurigaan da- lam hati Ki Selakriya terhadap ruangan dalam perut bukit tersebut. Dan akhirnya kecurigaannya memun- cak ketika sebulan kemudian Rikma Rembyak telah ti- ba kembali dari kunjungannya di daerah Jepara.

Hampir seluruh penghuni pulau diharuskan ber- bondong-bondong menyambutnya ke bandar kecil di sebelah selatan. Ki Selakriya sendiri dan para tawanan juga berdatangan ke sana. Suara terompet kulit siput mengalun di udara. Mereka akhirnya dapat melihat se- buah perahu layar berukuran besar berlabuh di ban- dar.

Di atas geladak perahu, Ketua Rikma Rembyak me- lambai-lambai ke arah semua penghuni pulau yang menyambut. Wajahnya kelihatan sangat cerah dan gembira. Agaknya saja ia banyak memperoleh kese- nangan selama kunjungannya ke pesisir Jawa.

Lebih-lebih ketika Rikma Rembyak menatap ke pu- sat Pulau Mondoliko, tercengang kagumlah ia! Hampir- hampir ia tak dapat mempercayai penglihatannya sen- diri, sebab Bukit Kepala Singa yang dicita-citakan itu telah berdiri dengan megah, sampai-sampai ia mende- sis saking kagumnya, lalu berkatalah ia, “Para sahabat dan segenap penghuni pulau ini! Aku telah datang kembali dengan membawa pusaka sakti yang tak terni- lai. Lihatlah pula seorang sahabat baru yang berdiri di sebelahku ini. la bersedia menggabung kepada kita. Namanya adalah Monjong Belis. Dan lebih gembira lagi bila ternyata Bukit Kepala Singa itu telah berdiri den- gan megah! Nah, karena kegembiraanku itu, terimalah hadiah uang emas ini!” (Lihat Seri Naga Geni ke 9 “Mis- teri Kapal Hantu”)

Selesai berkata, Rikma Rembyak segera membuka sebuah peti besar di depannya lalu memungut segeng- gam uang emas dan disebarkan ke arah para penyam- but. Seketika terjadilah rebutan memungut uang emas yang sedikit banyak menimbulkan pemandangan menggembirakan.

Sesudah selesai Rikma Rembyak mengobralkan uang emasnya, ia kemudian turun ke darat diiringi Monjong Belis dan segera disambut oleh Tangan Iblis, Surokolo, Jimbaran dan sahabat-sahabatnya yang lain. Mereka menuju ke rumah besar Rikma Rembyak, sementara orang-orang pada bubar, kembali ke tempat masing-masing.

Sejak saat dan peristiwa kedatangan Rikma Rem- byak itu, Ki Selakriya menjadi tidak tenteram hatinya. Penyelesaian Bukit Kepala Singa tinggal beberapa minggu lagi, terutama menyelesaikan pahatan-pahatan bentuk gigi singa pada mulut kepundan.

Sepuluh orang membantu Ki Selakriya dalam hal ini. Satu demi satu bentuk gigi singa dipahat dan di- ukirnya dengan teliti serta hati-hati. Mereka bersebelas tampak sangat sibuk, di sela bunyi dentang pukulan pahat dan palu.

Namun ada hal yang lebih penting bagi Ki Selakriya. Sambil mengukir tepian dari lobang kepundan ini, pandangan matanya tak henti-henti menembus ke arah dasar kepundan.

Pada perut bukit ini, terlihatlah adanya kesibukan yang sangat menarik bagi Ki Selakriya. Jauh di bawah sana terlihatlah beberapa anak buah Rikma Rembyak, keluar masuk melewati pintu-pintu rahasia yang ter- buka lebar.

Pintu-pintu tersebut, Ki Selakriya masih mengin- gatnya baik-baik sebab ia masih sangat hafal akan se- gala sudut dan seluk-beluk dari denah Bukit Kepala Singa itu. Malahan secara diam-diam, selama ini pula Ki Selakriya telah menggambarkan denah tersebut pa- da ikat pinggang kulitnya di sebelah dalam. Semua da- lam ukuran yang sangat kecil.

Makin lama semakin tertariklah ia kepada kesibu- kan-kesibukan di perut bukit yang dapat diintainya dari sebelah atas itu. Sebagian anak buah Rikma Rembyak tampak mengusung kayu-kayu berukuran panjang ke dalam ruangan ini, sementara yang lain mengatur tali-temali yang berukuran besar pula.

Ya! Semuanya dalam ukuran besar seperti roda- roda kayu, engsel-engsel logam dan landasan balok- balok. Inilah yang sangat menarik perhatian Ki Sela- kriya.

“Apakah mereka akan membuat tambang di sini?” demikian pikirnya. “Tapi aneh. Aku belum mendengar tentang adanya biji-bijian batu atau logam yang ber- harga. Jika bukan itu maksudnya, pastilah ada sebab- sebab lain dan inilah yang ingin aku ketahui!”

Begitulah, sambil memimpin pekerjaan tadi, Ki Se- lakriya senantiasa mencatat peristiwa-peristiwa dalam perut bukit ini ke tengah otaknya baik-baik.

“Barangkali mereka akan membangun benteng di perut Bukit Kepala Singa ini. Tapi...,” pikiran Ki Sela- kriya tiba-tiba berdebat sendiri manakala ia mulai me- lihat titik-titik terang perihal kesibukan-kesibukan di bawah sana.

Tampak olehnya sebuah kayu panjang dan besar dengan kedua ujung yang mengecil langsing. Pada ba- gian tengah dirangkapi oleh lapisan-lapisan kayu yang lain, terikat oleh belitan-belitan tali raksasa.

“Haahh! Busur panah raksasa! Apakah mereka su- dah gila?” Desis menggumam terdengar dari mulut Ki Selakriya ketika lebih jelas ia melihat bahwa di antara kedua ujung kayu yang besar dan panjang itu, dihu- bungkan oleh seutas tali raksasa yang terpilin berpin- tal-pintal. “Lalu sasaran apakah yang bakal ditembak dengan panah sebesar itu?”

Pertanyaan Ki Selakriya tak terjawab dan berhenti hingga di situ saja. Kiranya yang tahu jawabannya ha- nyalah Rikma Rembyak sendiri atau pembantu- pembantu dekatnya saja.

Meskipun demikian, Ki Selakriya tidak bisa melu- pakan busur panah raksasa itu. Mungkin buat selama hidupnya ia tak akan lupa, sebab bukankah dia sendi- ri ikut membangun Bukit Kepala Singa ini? Dengan begitu, maka iapun turut bertanggung jawab di dalam hati. Jika ternyata seperti busur raksasa yang dilihat- nya itu telah melengkapi Bukit Kepala Singa untuk ke- pentingan-kepentingan jahat, maka akan menderitalah hati Ki Selakriya!

Akhirnya, setelah beberapa minggu kemudian, sele- sailah pekerjaan terakhir dalam membangun Bukit Kepala Singa ini. Mulut kepundan yang lebar itu kini telah berbentuk mulut singa yang menganga ke atas dengan deretan gigi-giginya yang besar berukir indah, dan selesailah pekerjaan laki-laki di atas bukit terse- but.

Maka pada suatu malam yang cerah, Ki Selakriya telah dipanggil ke rumah besar Rikma Rembyak. Ter- nyata ketika pemahat tua itu tiba di sana, telah ber- kumpul pula pembantu-pembantu Rikma Rembyak, seperti Tangan Iblis, Surokolo, Talipati, Monjong Belis dan lain-lainnya. Mereka telah menunggu kedatangan Ki Selakriya.

“Ki Selakriya! Tentu engkau kaget setelah kupanggil ke ruang ini. Ketahuilah bahwa kami ingin mengu- capkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada- mu. Subuh nanti kau akan dibebaskan dan Sobat Tangan Iblis serta Surokolo akan mengantarmu den- gan perahu sampan sampai ke daratan pantai Jepara.” “Terima kasih, Tuan,” ujar Ki Selakriya dengan ge-

metar.

“Dan ini, Ki Sela. Terimalah uang emas sebagai ha- diah jerih payahmu. Terimalah nanti dengan baik. Dan ingat! Engkau harus merahasiakan tentang peker- jaanmu di pulau ini! Tahu?! Baik! Nah, bersiaplah se- karang juga, Ki Sela!” demikian kata Rikma Rembyak seraya menunjukkan peti kecil berukir indah. “Peti ini akan kau terima dari tangan Sobat Surokolo, setiba engkau di daratan pantai Jepara.”

Betapa rasa kegembiraan Ki Selakriya tidak terukur lagi ketika mendengar ucapan Ketua Rikma Rembyak tadi. Dan malam itu juga ia telah berkemas, bersiap- siap untuk keberangkatannya pada dini hari nanti.

Maka apabila saat itu tiba, Ki Rikma Rembyak, be- berapa pembantu dan juga Andinisari telah mengantar Ki Selakriya sampai ke bandar yang terletak di sebelah selatan.

Tak lama kemudian perahu yang membawa Ki Sela- kriya telah berlayar bersama Tangan Iblis, Surokolo dan beberapa awak perahu lainnya. Sebelum perahu itu lenyap dari pandangan mata, Andinisari masih saja melambai-lambaikan tangannya, terutama ditujukan kepada Ki Selakriya, si pematung tua yang karya- karyanya mengagumkan itu.

Perahu itupun telah meluncur dengan pesat menuju ke arah selatan, sementara sang purnama telah con- dong ke cakrawala barat. Daratan Pulau Mondoliko makin menjauh dan tiba-tiba saja seisi perahu ini di- kejutkan oleh alunan terompet siput yang ditiup dari arah pulau dengan terputus-putus, seperti tanda ba- haya nampaknya.

“Lihat di sebelah timur itu!” seru Tangan Iblis. “Ada tawanan yang lari dengan perahu!” Dan apa yang dikatakan oleh Tangan Iblis ini dapat dilihat pula oleh Ki Selakriya pula. Tampaklah dalam cahaya redup sang rembulan, sebuah perahu layar ke- cil meluncur di sebelah timur, mengarah ke selatan pula.

“Tapi percuma saja!” desis Tangan Iblis. “Mereka se- bentar lagi akan musnah. Ki Sela, perhatikan puncak Bukit Kepala Singa itu!” demikian ujar Tangan Iblis se- raya menunjuk ke arah puncak Bukit Kepala Singa yang masih tampak cukup jelas.

Ki Selakriya tak habis mengerti, tapi sebentar ke- mudian kagetlah ia bukan kepalang ketika dari puncak bukit itu meluncur sebuah cahaya kebiruan ke udara dengan pesatnya, tak ubahnya sebuah bintang bere- kor. Cahaya ini menuju ke arah selatan, kemudian menukik ke bawah, seakan hendak mengejar perahu yang melarikan diri itu. Saat itu juga menyebarlah asap biru yang mengembang ke segala arah, mener- kam pula ke perahu tadi dan ikut menyala biru menge- rikan. Detik berikutnya perahu tersebut terbisu, terka- tung-katung tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidu- pan bagi penumpangnya.

“Mereka telah musnah!” desah Tangan Iblis pendek. “Ooh?!” keluh Ki Selakriya dengan badan lemas. Ki-

ranya baru sekaranglah ia mengetahui apakah gu- nanya Bukit Kepala Singa dengan ruang di dasar bukit serta busur panah raksasa yang pernah dilihatnya. Te- tapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali berharap bahwa suatu saat Bukit Kepala Singa itu harus mus- nah. Jika tidak, pasti bahaya besar akan mengancam.

Pelayaran terasa singkat dan mereka telah menda- rat di pantai Jepara. Tangan Iblis dan Surokolo kemu- dian menurunkan Ki Selakriya sambil mengucapkan kata-kata perpisahan dan saat itu pula Surokolo me- nyerahkan peti uang emas kepada Ki Selakriya. “Selamat tinggal, Ki Sela!” seru Tangan Iblis dari bu- ritan perahu yang kini telah berlayar kembali mening- galkan daratan. Sebentar saja perahu tersebut melaju ke arah utara dengan pesat.

Dengan langkah dan perasaan yang lemah tak ka- ruan tertimbun pula kekecewaan, Ki Selakriya berjalan kaki untuk menuju ke Demak dan menemui sanak ke- luarganya. Ternyata setelah dihitung-hitungnya, ham- pir lima tahun lebih ia ditahan di Pulau Mondoliko yang terpencil itu.

Ki Selakriya akhirnya menetap di daerah utara De- mak dan meneruskan pekerjaannya sebagai pemahat yang ulung. Hidupnya mulai agak tenang. Sekali-sekali bila ada sanak keluarganya yang melawat ke daerah timur, Ki Sela selalu menitipkan surat-surat untuk ke- luarga Wayan Arsana dan Sunutama di Gilimanuk.

Namun kenangannya kepada Bukit Kepala Singa itu tak dapat terlupakan. Sebagai kenangan ia membuat tiruannya dari batu putih dan diletakkannya di atas meja kecil beralaskan kain sutera merah. Begitulah, bertahun-tahun ia menanggung perasaan risau ten- tang bukit tadi sampai akhirnya pada suatu hari di- kunjungi oleh putera Sunutama yang bernama Sekar- wangi, seorang gadis kecil yang akan menemaninya da- lam waktu lama. Sejak itu Ki Selakriya merasa tente- ram karena didampingi oleh cucu tercinta.

Akan tetapi sayang sekali. Pada suatu hari secara tiba-tiba muncullah Tangan Iblis di halaman rumah- nya, membuat Ki Sela kaget bukan buatan.

“Apa maumu, Tuan?” ujar Ki Sela.

“Atas perintah Ki Rikma Rembyak, engkau harus kembali ke Pulau Mondoliko, Ki Sela! Ada hal penting yang harus kau kerjakan di sana!” demikian ujar Tan- gan Iblis seraya menatap tajam.

“Tidak! Aku tak mau kembali ke sana! Pulau itu ter- kutuk!”

“Keparat! Jika begitu terimalah ini. Hyaat! Plaak!” Telapak tangan kanan si Tangan Iblis dengan tiba-

tiba melayang ke dada Ki Selakriya yang seketika ro- boh dengan bekas telapak tangan yang mengecap ke- merahan. Ki Sela tak berkutik, sedang Tangan Iblis melesat pergi sembari ketawa puas.

Begitulah sampai akhirnya Sekarwangi meratap dan memeluk tubuh kakeknya yang disandarkan di bawah pohon sawo di halaman rumah.

“Nah, begitulah selengkapnya ceritera dan pengala- manku, Tuan-tuan! Ah, tentunya terlalu panjang ceri- tera tadi, sampai Andika semua tertahan berhari-hari di rumahku ini. Maafkan aku,” demikian ujar Ki Sela- kriya yang duduk di samping Sekarwangi. Di hadapan mereka tampaklah Mahesa Wulung, Pandan Arum, Gagak Cemani, Palumpang dan Tungkoro.

Mereka seperti masih terpaku akan semua ceritera Ki Selakriya yang baru saja berakhir tadi. Terlebih lagi bagi Mahesa Wulung yang merasa berkepentingan se- kali dengan Ki Rikma Rembyak dan Bukit Kepala Singa itu. Bukankah rahasia panah Braja Kencar masih be- rada di tangan Ki Rikma Rembyak sampai saat ini.

Oleh sebab itu adalah menguntungkan sekali jika ia sampai dapat berkenalan dan berjumpa dengan Ki Se- lakriya ini. Iapun teringat bahwa pemahat tua ini mempunyai salinan denah dari Bukit Kepala Singa dan sedikit banyak mengetahui seluk beluk rahasia bukit tersebut.

“Kami merasa senang dengan ceriteramu, Ki Sela,” berkata Mahesa Wulung. “Justru kami tengah menye- lidiki jejak Ki Rikma Rembyak dan gerombolannya.”

“Ya, ya. Jika saja Tuan dapat menghancurkan Bukit Kepala Singa itu...,” keluh Ki Selakriya dengan muka sedih. “Jangan risau, Ki Sela. Aku dan kawan-kawanku berharap demikian karena pulau tersebut sangat membahayakan keselamatan perahu-perahu serta kapal armada Demak. Bahkan mungkin pula jika ke- kuatan panah di dasar Bukit Kepala Singa itu sangat besar, dapatlah ia mencapai kota-kota dan memus- nahkan kita. Ketahuilah Ki Sela, bahwa kami pernah menghancurkan sebuah Kapal Hantu yang bersenjata Panah Braja Kencar, berikut pemimpinnya bernama Monjong Belis atau Monjong Iblis!”

“Ooh, syukurlah, Tuan,” kata Ki Selakriya seraya membuka ikat pinggang kulitnya. “Andika boleh meli- hat rahasia Bukit Kepala Singa yang terkutuk itu. Bu- kalah selembar lapisan kulitnya di sebelah dalam dan Tuan akan mendapatkan denah tersebut.”

Mahesa Wulung mengerjakan permintaan Ki Sela- kriya, dan benar juga, ia mendapatkan denah rahasia itu. Maka semua perhatian menjadi tertuju ke arah- nya.

Selesailah sudah seri Naga Geni 21, “Laki-laki di Atas Bukit” dan segera menyusul kepada pembaca Seri Naga Geni yang ke 22, berjudul “Jejak Telapak Iblis”.

TAMAT