Serial Naga Geni Eps 16 : Pembalasan Rikma Rembyak

 
Eps 16 : Pembalasan Rikma Rembyak


KINI, DESA MIJEN telah sepi kembali setelah tiga hari yang lalu diramaikan oleh kemeriahan pesta per- kawinan dari Endang Seruni dan Lawunggana.

Waktu itu Desa Mijen seperti mandi cahaya oleh pu- luhan lampu dian minyak ataupun obor-obor yang di- pasang di setiap pojok desa dan jalan-jalan yang me- nuju ke rumah Ki Lurah Mijen. Pertunjukan Wayang kulit turut meramaikan malam itu.

Orang-orang pada berdatangan mengunjungi pesta tersebut dari segenap pelosok desa dan dari daerah luarpun tak terhitung banyaknya. Seperti akan runtuh rumah-rumah pedesaan oleh keriuhan dan keramaian tetabuhan gamelan yang mengiringi pertunjukan Wa- yang kulit dalam ceritera Gatutkaca Krama.

Malam itu adalah malam yang paling bahagia buat pengantin berdua, Endang Seruni dan Lawunggana te- lah disatukan dalam ikatan perkawinan yang suci se- bagai suami-istri yang bakal membina keluarga baru. Inipun merupakan tugas baru pula yang tak kalah be- ratnya seperti ketika mereka menghadapi Ki Bango Wadas serta gerombolan Bido Teles.

Ki Surotani, ayah kandung dari Endang Seruni, ha- dir pula pada pesta perkawinan itu, membuat perkawi- nan kedua pengantin menjadi pertemuan yang meng- harukan.

Betapa gembiranya Ki Surotani ketika ia bertemu kembali dengan putrinya yang dahulu telah disang- kanya tewas ternyata masih hidup. Endang Seruni ti- dak lain adalah Pandan Sari, yakni adik kandung dari Pandan Arum.

Dan lebih menggembirakan lagi, bila Ki Surotani se- gera mengenal kembali sahabat lamanya yang kini te- lah menjadi Lurah Desa Mijen dan sebagai ayah angkat Pandan Sari selama itu.

Demikianlah, hari ini tampak adanya kesibukan ha- laman depan kelurahan. Beberapa ekor kuda telah dis- iapkan untuk suatu perjalanan.

Ki Lurah Mijen dengan istri, Lawunggana, Endang Seruni, Pendekar Bayangan, para jagabaya telah sele- sai berjabat tangan dengan Mahesa Wulung, Pandan Arum, Ki Surotani dan juga Gagak Cemani. Mereka be- rempat akan segera meninggalkan desa ini untuk me- nempuh perjalanan mereka menuju ke Asemarang.

Sedang Nyi Surotani untuk beberapa hari masih akan tinggal di Desa Mijen ini, karena ia masih sangat rindu kepada Endang Seruni dan kelak ia akan kemba- li ke Asemarang dengan diantar oleh Endang Seruni serta Lawunggana.

Ketika Pandan Arum berpamitan kepada Endang Seruni, tiba-tiba memeluklah si pengantin baru ini ke- padanya dibarengi isakan tangis yang tertahan-tahan.

Sebagai seorang kakak, Pandan Arum dapat me- maklumi akan keharuan Endang Seruni tadi. Bukan- kah sebagai seorang adik, Endang Seruni telah men- dahuluinya dalam perkawinan.

“Kita akan bertemu lagi, Seruni. Dan ibu pun masih tinggal di sini untuk sementara. Berbahagialah. Kami selalu berdoa untuk kalian berdua,” kata Pandan Arum sambil mencium pipi adiknya dan membelai rambut- nya.

“Terima kasih, Yunda. Terima kasih,” ujar Endang Seruni seraya membalas mencium pipi kakaknya, hingga untuk sesaat keheningan dan keharuan mence- kam suasana.

Lebih-lebih ketika Pandan Arum dan rombongannya telah berpacu meninggalkan halaman kelurahan me- nuju ke arah selatan, Endang Seruni tak dapat lagi menahan tangisnya hingga Lawunggana terpaksa me- rangkul istrinya ini untuk dihiburnya.

Dalam pada itu, rombongan Ki Surotani telah sema- kin jauh dan sebentar itu pula mereka telah keluar da- ri gerbang Desa Mijen di sebelah selatan. Debupun naik ke atas, berkepulan oleh derapan kaki-kaki kuda yang melaju bagai angin.

***

Di tempat lain, dalam sebuah hutan kecil yang tak jauh dari pantai, tampaklah seorang pemuda dengan terengah-engah kepucatan, mengendap-endap di anta- ra semak-semak. Sebentar-sebentar ia berhenti sambil mengawasi tempat-tempat di sekitarnya dengan pan- dangan penuh curiga.

Tampaknya ia membawa sesuatu yang penting ataupun berharga, kentara dari sikapnya yang seben- tar merabakan tangannya pada ikat pinggangnya ber- hati-hati.

Dan karena sikapnya itu pula, maka beberapa pa- sang mata yang tersembul dari celah dedaunan semak, senantiasa mengawasi gerakan si pemuda tadi dengan sorot mata yang setajam mata serigala-serigala kelapa- ran.

“Hmmm, itulah orangnya yang aku ikuti sejak ia mendarat di pantai tadi, Kakang Gombong!” bisik seo- rang beralis tebal kepada temannya.

“Memang patut kita curigai orang itu!” jawab orang yang bernama Gombong dan berperawakan kekar de- ngan mata yang sipit. Pada ikat pinggangnya yang ber- warna merah, tergantung sebilah pedang lebar bersa- rung kayu hitam, seperti kebanyakan yang dipakai oleh prajurit Demak.

“Adi Balur dan Salung, kalian berdua memang ber- mata tajam. Aku bangga dan senang atas pekerjaanmu yang bagus ini, dan pemimpin kita pun akan senang pula bila mendengar laporanku nanti,” ujar Gombong sambil tersenyum lebar.

“Akh, betulkah itu, Kakang?” sela si Balur

“Heh, heh. Kalian tak percaya? Kalian berdua ada harapan untuk naik pangkat! Heh, heh...,” Gombong berkata pula.

“Eeh, terima kasih, Kakang. Terima kasih!” kata Sa- lung dengan terbata-bata saking gembiranya. “Sebaik- nya kita sergap cepat-cepat orang itu!”

“Heh, heh. Kalian sudah tak sabar lagi rupanya,” Gombong berkata seraya menatap kedua teman itu, sementara beberapa orang temannya yang lain telah bersiap-siap pula. “Yah, sekarang adalah saatnya! Tangkap segera orang itu!”

Maka selesai Gombong berseru, berloncatanlah so- sok-sosok tubuh manusia dari balik semak belukar dan langsung mencegat si pemuda yang telah diincar- nya itu.

“Berhenti! Jangan melawan!” bentak Gombong de- ngan lantangnya, hingga si pemuda yang telah melihat dengan kagetnya orang-orang yang bermunculan itu, menjadi lebih kaget lagi. Maka secepat kilat ia memba- likkan diri ke belakang untuk mengambil langkah seri- bu dengan segera.

“Horaaah! Akan minggat kemana kowe, haaah?!” se- buah bentakan menggeledek tahu-tahu telah mengha- dang si pemuda tersebut dan seketika tahulah ia, bah- wa dirinya telah terkepung!

“Ooh!” desis si pemuda seraya mendekapkan lebih erat kedua belah tangannya ke atas ikat pinggangnya. Hal ini membuat Gombong dan kawan-kawannya se- makin tertarik dan curiga kepada pemuda tadi.

“Heei, bocah! Apa yang kau sembunyikan di dalam ikat pinggangmu itu?!” seru Gombong lantang. “Ess, tidak ada apa-apa,” ujar si pemuda setengah ketakutan. Tapi ketika ia melihat ikat pinggang dan pedang yang dipakai oleh Gombong, hatinya menjadi agak tenang sedikit. “Akh, Bapak dari prajurit kawal?!” tanya si pemuda.

“Nah, kau sudah tahu siapa aku sebenarnya!” sahut Gombong serta-merta. “Jika begitu, kau harus terus terang kepadaku!” Gombong kelihatan tidak sabar dan kentara dari sikapnya yang sebentar mengusap hulu pedangnya.

“Memang ada sesuatu yang akan kuutarakan ke- pada Bapak, sebab kebetulan sekali bahwa Andika adalah prajurit kawal di daerah ini,” ujar pemuda tadi.

“Mmmm, apakah yang akan kau katakan?”

“Aku mempunyai sebuah pesan yang harus kusam- paikan kepada seorang tamtama Demak!” ujar si pe- muda.

“Huhh, sebuah pesan?” ulang Gombong agak terke- jut. “Itu mudah. Nanti aku antarkan untuk menemui tamtama tadi ke Demak. Engkau turut bersama saya ke sana!”

“Terima kasih, Bapak,” ujar si pemuda dengan lega. “Tapi bolehkah aku tahu, dari mana engkau da-

tang?” bertanya si Gombong lagi.

“Aku baru saja lolos dari Pulau Mondoliko,” berkata si pemuda tanpa kuatir apa-apa, karena ia telah ber- temu dengan seorang prajurit kawal dari Demak. “Dan karenanya, saya harus cepat-cepat menyampaikan pe- san tadi kepada seorang tamtama Demak!”

Gombong menjadi tercengang dan memandang wa- jah teman-teman lain yang juga ikut terperanjat oleh tutur kata dari si pemuda tersebut. Sementara itu pula Balur dan Salung mengerdipkan mata kepada Si Gom- bong.

“Kalau begitu serahkan saja pesan itu kepada kami sekarang, agar segera kami sampaikan kepada tamta- ma Demak!” berkata Gombong seraya mengulurkan tangannya ke arah si pemuda.

Oleh sikap tersebut yang tampaknya sangat tergesa- gesa, si pemuda agak tertegun beberapa saat dan ke- mudian berkata dengan ragu-ragu. “Maaf, Bapak. Per- mintaan Andika kurang kupahami. Bukankah Bapak tadi berkata hanya akan mengantarkan saja? Tetapi mengapa pesan itu harus kuserahkan kepada Bapak?”

Gombong mengerutkan dahinya sebagai pertanda bahwa hatinya mulai jengkel oleh ujar si pemuda tadi. “Hmmm, kau tak melihat bahwa aku pun seorang pra- jurit kawal dari Demak?”

“Benar, Bapak. Namun pesan tertulis yang aku ba- wa ini harus kuserahkan sendiri kepada tamtama De- mak.”

“Heeh. Apa bedanya? Pokoknya surat tersebut kan sampai kepada kami!” berkata Gombong setengah membentak.

“Sayang, pesan yang aku bawa ini sangat penting- nya dan tak berani aku menyerahkannya kepada sem- barangan orang, selain kepada tamtama Demak. Begi- tulah permintaan si pemberi pesan tertulis ini kepa- daku!”

“Kurang ajar!” desis Gombong seraya melototkan matanya. “Jadi engkau menggolongkanku sebagai orang sembarangan?!” Gombong tampak semakin ma- rah dan berseru kepada teman-teman lainnya. “Akan kita apakan bocah ingusan ini?”

“Kita hajar saja sampai benjol dan bengkak-beng- kak! Barulah pesan itu kita rampas!” seru Balur diser- tai tertawa lebar, hingga giginya yang besar-besar dan agak kehitaman itu terlihat dengan kesan menyeram- kan.

“Ooh, tidak. Andika semua tak boleh memaksaku demikian!” berkata si pemuda seraya melangkah ke samping untuk lari. Tetapi sekali lagi ia dibuat terkejut bila sebuah ujung pedang yang runcing dan tajam te- lah tertuju ke arah hidungnya! Ternyata Balur telah mengancam dengan pedangnya.

“Kau minta dipaksa agar pesan itu segera kau se- rahkan kepada kami, ha?!” Gombong berseru.

“Meskipun kalian mengancam, aku tak akan me- nyerahkannya! Pesan tersebut lebih berharga dari nya- waku!” berkata si pemuda tadi tanpa merasa takut, se- bab kini ia tak melihat kemungkinan dapat lolos dari kepungan orang-orang ini. Dan ia bertekad lebih baik hancur bersama pesan tertulis itu daripada ia menye- rahkannya kepada orang yang tidak berhak!

“Keparat! Copot lehermu, sekarang!” teriak Balur sambil menebaskan pedangnya dengan nafsu amarah yang berkobar, menggelegak laksana air bah tak terta- han oleh bendungan.

Tringng! Wessss!

Pedang tersebut mendesis ke arah leher si pemuda yang sebentar lagi pasti terpenggal putus bila ia tidak cepat-cepat mengendap ke bawah dengan gerakan ge- sit. Dengan begitu maka mata pedang tersebut cuma sempat menebas beberapa lembar rambut si pemuda yang masih bisa menyelamatkan lehernya itu.

Malahan saking kerasnya daya tebasan pedangnya itu, si Balur hampir saja jatuh tersungkur ke depan bi- la ia terlambat memutar gerakan tubuhnya ke sam- ping.

“Gila,” desis Gombong dengan terbelalak. “Pandai juga tikus cengeng ini menyelamatkan lehernya! Ayo, Balur! Jangan mau dipermainkan bocah itu!”

Keruan saja si Balur menjadi naik darah. Sebagai seorang jagoan bermain pedang, ia telah dibikin terke- coh oleh lawannya dalam jurus awal. Maka sekali lagi ia menyabetkan pedangnya ke samping ke arah dada si pemuda.

“Uuuuh,” si pemuda ini mengelak seraya melangkah surut ke belakang untuk menghindarkan dirinya, na- mun di saat itu pula si Balur telah melayangkan ke- palan tangan kirinya ke dagu si pemuda.

Praaak!

Kepala si pemuda terdongak ke atas ketika pukulan tangan kiri si Balur melanda dagunya dengan jitu. Be- berapa bintang berputar-putar terlihat oleh pandangan mata si pemuda, berbareng rasa sakit pada dagunya yang terasa bagai dipukul oleh pecahan batu gunung. Seketika tubuhnya terhuyung ke samping. Akan tetapi dalam waktu yang singkat tadi si pemuda sempat menggerakkan kakinya untuk mengait kaki lawannya dan berbareng dirinya jatuh, si Balur terpelanting pula ke tanah oleh serangan si pemuda yang tanpa terduga sebelumnya.

Balur mengumpat-umpat setengah mati oleh keja- dian tadi. Sementara itu pula, si pemuda dengan si- gapnya bangkit kembali untuk melarikan diri karena ia melihat kepungan yang lowong akibat jatuhnya si Ba- lur.

Sayangnya sekali ini si pemuda kurang mujur. Se- bab semenjak tadi Gombong selalu bersiaga dan begitu ia melihat si pemuda hendak melarikan diri, secepat kilat ia telah mendahuluinya dengan tendangan kaki yang mengarah ke lambung si pemuda.

Tendangan kaki tersebut memang dapat dilihat oleh si pemuda dan iapun telah bersiaga untuk mengelak. Hanya saja ia masih sedikit pusing, apalagi tendangan itu datangnya sangat cepat, sehingga tanpa ampun lagi tendangan si Gombong melanda dirinya dengan dah- syat.

Bruuuk! “Aaakhh!”

Si pemuda jatuh menggelinding ke tanah sambil megap-megap menahan sakit pada lambungnya.

Melihat pemuda itu roboh, Balur menjadi beringas. Secepat kilat ia menubruknya dan menindih dengan tubuhnya. Seketika itu pula tak berdayalah si pemuda tadi, tak ubahnya seekor ikan yang telah kehilangan air, tinggal menanti ajal saja.

Dalam penglihatannya yang telah kabur, si pemuda dapat melihat bahwa lawannya telah mengangkat ting- gi-tinggi senjata pedangnya untuk segera dihunjamkan ke dalam dadanya.

Bagaikan telah terbang semangatnya, si pemuda menjadi cemas seluruh sendi-sendi tulangnya dan ter- bayanglah olehnya, bahwa sebentar lagi pasti dadanya akan tertembus oleh pedang orang itu dan ia akan ber- teriak sekeras-kerasnya.

Yah, mungkin adalah teriakan yang terakhir yang akan dilontarkan sehebat-hebatnya sebagai pertanda kalau hidupnya akan segera berakhir.

“Aaaarghh!”

Terdengarlah teriakan dahsyat dan memekakkan te- linga memenuhi hutan kecil ini. Akan tetapi..., ternyata bukan berasal dari mulut si pemuda!

Bahkan si pemuda itu sendiri menjadi terkejut, se- bab semula ia telah bersiap untuk berteriak, namun kini teriakan itu bukan keluar dari mulutnya sendiri. Tetapi yah sukar dipercaya barangkali! Teriakan tadi adalah keluar dari mulut lawannya itu, yang telah siap membunuhnya!

Malahan si pemuda inipun menjadi lebih kaget lagi, apabila pandangan matanya yang kembali normal itu dapat melihat tangan kanan si Balur yang menggeng- gam pedang tahu-tahu melepaskan pedangnya serta terpelanting jatuh ke tanah. Sementara pada punggung telapak tangan si Balur sebelah tadi menancaplah se- bilah daun ilalang yang menembusnya laksana sebilah pisau tajam!

Balur segera bangkit sambil melolong-lolong kesaki- tan disertai perasaan ngeri pada hatinya bila ia mena- tap pada telapak tangan kanannya. Segera terbayan- glah olehnya, bahwa perbuatan itu adalah perbuatan seseorang yang memiliki tenaga dalam sempurna dan hebat yang telah melemparkan sebilah daun ilalang tersebut sampai dapat menembus telapak tangannya.

Gombong, Salung, serta beberapa orang lainnyapun ikut terkejut pula dan serentak mereka menoleh ke se- latan, bila dari arah itu terdengarlah orang tertawa menggelegas dengan lirihnya.

Demikian mereka menatap ke arah suara itu tadi, begitu pula mereka tersentak kaget bagai disambar pe- tir di siang bolong, karena di arah sana itu tampaklah empat ekor kuda berhenti dengan masing-masing pe- nunggangnya masih berada di atas punggung kuda.

Dua orang penunggang kuda yang di depan hampir sama gagahnya. Yang seorang berkumis melintang, dengan berjubah kain pada punggungnya, sedang pada tangannya masih menimang dua lembar daun ilalang di bagian ujung yang runcing. Di sebelah orang yang berkumis melintang ini, tampaklah seorang berpakaian sederhana. Bajunya yang berwarna kebiruan setengah terbuka sehingga sebentuk mata kalung yang dipakai- nya tersembul keluar dengan bentuk lingkaran cakra dengan empat jari-jari mata angin! Kumisnya yang hi- tam kecil dan ikat kepalanya yang berwarna biru agak ungu menambah kegagahan orang kedua ini.

Yah, itulah mereka, si Gagak Cemani dan Mahesa Wulung! Dan yang berada di belakangnya tidak lain adalah Ki Surotani dan Pandan Arum! Mereka dalam perjalanan ke Asemarang. Yang paling terkejut pertama-tama adalah si Gom- bong itu sendiri. Terutama ketika ia menatap Mahesa Wulung serta permata kalung yang dipakainya itu! Tak salah lagi bahwa yang berada di hadapannya itu ada- lah seorang perwira tamtama dari Demak! Dan pada saat yang sama pula, Mahesa Wulungpun tertegun pu- la menatap si Gombong yang berpedang lebar dan be- rikat pinggang merah seperti yang biasa dipakai oleh seorang prajurit kawal dari Demak!

Di dalam hati, Mahesa Wulung merasa keheranan, mengapa seorang prajurit kawal serta beberapa orang tersebut tengah menghajar seorang pemuda. Bahkan mereka hampir membunuh si pemuda itu bila tidak keburu dicegah oleh si Gagak Cemani.

“Hai, Kisanak!” Seru Mahesa Wulung. “Mengapa ka- lian berlaku sekejam itu kepada anak muda tersebut?”

Tergagap si Gombong untuk menjawab pertanyaan tadi dan sesaat kemudian iapun lekas-lekas berkata, “Anak muda ini adalah seorang penjahat yang kami jumpai dan ia melawan ketika akan kami tangkap!”

“Benar, Tuan!” sahut Salung pula dengan nada yang meyakinkan seraya menunjuk kepada si pemuda yang kini tengah tertatih-tatih untuk berdiri. “Dia membawa sebuah pesan yang sangat mencurigakan!”

“Sebuah pesan?!” ulang Mahesa Wulung dengan he- ran dan menyebabkan ia tertarik karenanya. “Hai anak muda, pesan dari manakah dan siapa nama Anda?!”

“Nama saya Pakerti, Tuan,” jawab si pemuda sambil mengawasi permata kalung yang tersembul dari balik baju Mahesa Wulung. “Pesan yang saya bawa, datang dari Pulau Mondoliko!”

“Ah, benarkah kata-katamu itu, Pakerti?!” ujar Ma- hesa Wulung. “Dan kepada siapa pesan itu dituju- kan?!”

“Maaf, Tuan,” kata Pakerti kemudian. “Aku melihat permata kalung kepunyaan Andika itu, maka jelaslah bahwa Andika adalah seorang wira tamtama dari De- mak. Dan kepada Andikalah pesan tadi akan saya sampaikan”

“Mengapa harus kepada saya?” tanya Mahesa Wu- lung.

“Yah, begitulah maksud pesan tadi, Tuan. Ia harus sampai kepada seorang tamtama Demak. Dan karena Tuanlah tamtama yang pertama saya jumpai, maka kepada Tuanlah pesan tadi akan kuserahkan,” Pakerti berkata seraya melangkah mendekati Mahesa Wulung.

“Mmm, baiklah. Untuk itu aku tak berkeberatan.”

Pakerti segera mengambil sesuatu dari balik ikat pinggangnya, dan tampaklah kemudian sepotong ta- bung bambu kecil tersumbat terpegang pada jari- jarinya.

“Nah, terimalah pesan ini, Tuan,” ujar Pakerti se- raya menyampaikan tabung bambu kecil tadi kepada Mahesa Wulung yang masih duduk di atas punggung kudanya sambil mengangguk hormat.

Dengan cekatan tapi juga hati-hati, Mahesa Wulung menyambut benda itu dan segera melepas sumbat yang menutup lobang tabung bambu tersebut. Kemu- dian ia mengetuk-ngetukkan tabung bambu tadi ke atas telapak tangan kiri dan sejurus kemudian keluar- lah segulung kertas kecil.

Mahesa Wulung segera membukanya dan membaca beberapa tulisan yang tergores pada kertas kecil de- ngan manggut-manggut serta menatap wajah Pakerti beberapa kali.

Sementara itu Gombong dan kawan-kawannya sa- ling berpandangan ketika Mahesa Wulung membaca pesan tertulis pada kertas kecil tadi.

“Baiklah. Aku telah menerima pesan ini. Tapi Anda harus ikut aku ke Demak, sebab ada beberapa perta- nyaan yang ingin kusampaikan kepadamu!” ujar Ma- hesa Wulung.

“Terima kasih, Tuan. Dengan senang hati saya akan mengikuti Andika!” berkata Pakerti dengan wajah ce- rah dan perasaan aman, sebab berarti ia akan terhin- dar dari kemungkinan akan kemarahan orang-orang itu.

Memang begitulah. Rupanya Mahesa Wulungpun te- lah memperhitungkan kemungkinan akan bahaya-ba- haya yang bakal dialami Pakerti bila ia begitu saja me- ninggalkan si pemuda di tempat ini pula.

“Marilah kita berangkat ke Demak sekarang!” berka- ta Mahesa Wulung seraya menolong Pakerti naik ke atas punggung kudanya dan kemudian duduk di bela- kangnya. Begitulah keduanya kini telah duduk di atas satu punggung kuda.

Si Gombong melihat semua ini dengan hati yang ge- ram, tapi ia tak berani gegabah memperlihatkan kema- rahannya di hadapan wira tamtama dari Demak ini. Apalagi bahwa nama Mahesa Wulung sangat dikenal- nya, baik tentang kesaktian maupun pangkatnya. Oleh sebab itu ia cuma mengutuk-ngutuk sendiri di dalam hati dan untunglah ia dapat menahan diri sambil ber- kata hormat, “Harap dimaafkan tindakan kami, Tuan. Saya si Gombong dan kawan bertindak begitu karena menjaga kewaspadaan semata-mata.”

“Lupakan saja kejadian tadi, Kisanak Gombong,” jawab Mahesa Wulung dibarengi senyumnya yang ra- mah. “Malah karenanya, saya berasa senang bahwa Andika telah menjalankan tugas dengan sebaik- baiknya.”

“Terima kasih, Tuan,” Gombong berkata serta meli- rik ke arah Balur yang terluka dan kawan-kawan lain- nya yang telah menanti, kemudian berkata pula. “Kami mohon permisi meninggalkan Tuan-tuan sekarang!” “Silakan, Gombong. Dan obatilah temanmu yang terluka itu,” ujar Mahesa Wulung kepada mereka dan sesaat lagi, si Gombong dan kawan-kawannya telah berjalan ke arah timur dan lenyaplah mereka di balik pepohonan rimbun.

Di saat itu pula, Mahesa Wulung, Gagak Cemani, Pandan Arum, Ki Surotani serta Pakerti telah mulai melarikan kudanya ke arah barat daya.

“Adimas Mahesa Wulung,” begitu kata Gagak Ce- mani ketika ia telah berpacu di samping Mahesa Wu- lung. “Aku terpaksa melukai orang tadi. Harap Andika tidak menjadi gusar karenanya.”

“Tidak, Kakang Cemani,” kata Mahesa Wulung. “Su- dah sepatutnya Andika berbuat demikian. Jika tidak, pasti Pakerti ini telah mengalami cedera. Bukankah be- gitu, Pakerti?” berkata Mahesa Wulung seraya menoleh ke belakang, kepada Pakerti yang membonceng di punggung kudanya.

“Benar, Tuan,” sahut Pakerti. “Hampir saja nyawa- ku melayang jika Tuan Gagak Cemani tidak lekas ber- tindak. Mereka tadi telah sedemikian nekadnya untuk merampas pesan tertulis yang telah saya bawa tadi. Apakah mereka telah salah sangka terhadapku, Tuan?”

“Bisa juga demikian, Pakerti. Tapi aku belum ya- kin,” kata Mahesa Wulung.

“Yang bernama Gombong tadi, memang berciri se- bagai prajurit kawal dari Demak!” sambung Gagak Cemani pula. “Tapi benarkah bahwa ia seorang prajurit yang sesungguhnya? Maksud saya apakah Adimas per- nah mengenalnya?”

“Jika tidak keliru, memang aku pernah melihatnya beberapa waktu yang lalu di pinggiran kota Demak. Ia adalah seorang prajurit kawal yang baru,” jawab Ma- hesa Wulung. “Dan teman-temannya itu,” kata Gagak Cemani pu- la, “agak mencurigakan. Demikianlah perasaanku!”

“Memang benar, Kakang Cemani,” sambut Mahesa Wulung. “Sebagai seorang prajurit kawal, ia telah ber- kawan dengan orang-orang kasar. Entah siapa mereka itu, aku tak mengenalnya. Dan apa maksud mereka bersama-sama dengan si Gombong itu?”

Pertanyaan tersebut diam-diam tertanam pula di dalam dada Pakerti sejak tadi, ketika ia dicegat oleh Gombong dan kawan-kawannya. “Tuan Tamtama, apa- kah surat yang aku bawa tadi cukup berharga bagi Andika?”

“Sangat penting, Pakerti. Karenanya, aku mengu- capkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Anda!” berkata Mahesa Wulung. “Si pengirim namanya adalah Jagal Wesi. Kenalkah engkau kepadanya?”

“Dialah yang telah menolongku lari dari Pulau Mon- doliko itu, Tuan. Dengan begitu maka loloslah saya da- ri maut dan kematian yang dijatuhkan oleh iblis Rikma Rembyak,” ujar Pakerti.

“Hmm, jadi yang menolongmu adalah Jagal Wesi. Tapi Jagal Wesi itu sendiri adalah anak buah dari ge- rombolan Pulau Mondoliko, dan berarti pula anak buah si Rikma Rembyak!”

“Begitulah, Tuan,” sambung Pakerti. “Tetapi aku yakin bahwa Jagal Wesi adalah orang baik-baik!”

“Baiklah, Pakerti. Soal ini akan kita bicarakan lebih lanjut nanti. Kita akan segera singgah di Demak dan engkau akan tinggal di sana serta aku titipkan pada seorang sahabat. Sedang kami berempat akan terus ke Asemarang untuk mengantarkan Bapak Surotani ke sana. Setelah itu kami akan kembali ke Demak dan ki- ta lanjutkan lagi urusan dari pesan tertulis si Jagal Wesi ini,” begitu kata Mahesa Wulung kepada Pakerti.

Keempat kuda itu menderap pada jalan berbatu- batu yang menuju ke arah kota Demak. Beberapa kali mereka mulai berpapasan dengan orang berjalan kaki membawa dagangan, maupun gerobak-gerobak pedati lembu yang mengangkut kayu bakar ataupun barang- barang lainnya.

Itulah pertanda bahwa mereka telah lebih dekat dengan kota Demak, kota yang menjadi pusat pemerin- tahan di daerah yang maha luas itu. Beberapa rumah penduduk dan warung-warung terlihat sudah.

Breeng! Breeng! Breeng!

Terdengarlah bunyi tembor perunggu yang ditabuh orang dari tepi jalan tak jauh dari sebuah warung.

Karenanya, perhatian Mahesa Wulung dan rombo- ngannya menjadi tertarik oleh beberapa orang yang berkerumun, dari mana suara tadi berasal. Semakin lekat dari gerombolan orang yang berkerumun tadi ter- dengarlah suara keras, “Saudara-saudara, inilah cang- kul-cangkul hasil buatanku yang sangat kukuh dan bagus. Belilah beramai-ramai! Murah harganya! Nah, apakah Anda membutuhkan pisau dapur, parang ataupun sabit? Semua tersedia!”

Demikianlah suara itu terlontar dari mulut si peda- gang cangkul yang menawarkan barang dagangannya. Wajahnya agak persegi dihiasi oleh kumis lebat dan sepasang mata yang tajam berkilauan dan agak hijau seperti seolah-olah bukan mata manusia layaknya.

“Saudara-saudara, belilah barang daganganku ini! Apakah Anda ingin melihat barang buatanku ini? Nah, lihatlah! Ini dia, akan segera kutunjukkan kepada An- da semua betapa tajam dan sempurnanya!” ujar si wa- jah persegi seraya mengobat-abitkan sebilah parang di tangannya. Angin siang bertiup dengan membawa be- berapa daun kering layu yang tertanggal dari ranting pohon dan di saat beberapa lembar lewat di depan si wajah persegi, tiba-tiba terdengarlah suara.... Wuuuuk! Wuuuk!

Tiga buah daun layu, masing-masing terbelah men- jadi dua bagian akibat tebasan parang si wajah per- segi.

“Nah, Saudara-saudara! Apakah Anda masih sangsi akan ketajaman parang buatanku ini?” ujar si wajah persegi.

Beberapa orang sangat tertarik dan membeli bebe- rapa barang dagangan si wajah persegi tadi. Sungguh pandai orang ini memikat para pembeli.

“Heh, heh, terima kasih! Terima kasih!” seru si wa- jah persegi dengan gembiranya. “Dan kini terlihatlah lanjutan dari kesempurnaan parang ini!” Si wajah per- segi lalu memutar parang tadi di depannya dan terden- garlah bunyi mengaung seperti sekawanan lebah yang beterbangan.

Nguuungngng!

Baik Gagak Cemani, Mahesa Wulung, Pandan Arum serta Ki Surotani dan Pakerti yang telah dekat dengan orang-orang berkerumun di tepi jalan itu, menjadi ka- gum dan heran oleh pameran si wajah persegi terse- but. Mereka memperlambat kudanya sehingga kini ku- da-kuda tersebut cuma berjalan kecil-kecil, sementara kelima orang yang berada di punggungnya, me- nyaksikan parang bersuara tadi dengan tak habis he- rannya.

Di saat mereka semakin dekat, terjadilah sebuah kehebatan yang tidak tersangka-sangka datangnya. Parang yang lagi berputar dengan mengaung tadi tiba- tiba disambar oleh sebutir batu yang melesat dari be- lakang para penonton dengan kecepatan yang tak da- pat ditangkap oleh mata.

Akibatnya, parang tadi terpental lepas dari tangan si wajah persegi yang kemudian langsung meluncur ke arah leher Gagak Cemani dengan kecepatan dahsyat dan luar biasa!

Beberapa orang segera menjerit ngeri bercampur kaget, termasuk Pandan Arum, Ki Surotani, Mahesa Wulung dan Pakerti.

Adapun Gagak Cemani sendiri hampir tak dapat melihat parang yang meluncur dari arah depan yang lurus menuju ke lehernya. Oleh sebab itulah ia ter- tegun, ketika orang-orang pada berteriak ke arahnya yang maunya memperingatkan akan bahaya yang bak- al tiba.

Dalam saat itu pula Mahesa Wulung yang berkuda di samping Gagak Cemani, lebih dapat melihat jelas akan sebuah parang yang melesat ke arah sahabatnya itu.

Cepat ia bersiaga. Sebagai seorang sahabat, Mahesa Wulung tak mungkin membiarkan Gagak Cemani akan mendapat cedera, terlebih lagi oleh serangan-serangan gelap yang demikian itu.

Maka secepatnya Mahesa Wulung melolos sesuatu dari ikat pinggangnya dan sekaligus dilecutkan ke arah parang yang lagi melesat ke arah sahabatnya.

Duaaarrr! Pletaak!

Bunyi lecutan seperti mercon terdengar menge- jutkan setiap orang, ketika ujung cambuk Naga Geni di tangan Mahesa Wulung tepat menyambar parang ter- sebut dan akibatnya pula, parang tadi patah menjadi dua bagian dengan asap berkepul seperti habis di- panggang.

Bersama potongan-potongan parang itu tercampak jatuh di tanah, dari belakang para penonton yang ber- gerombol di situ, melesatlah sesosok bayangan manu- sia dengan gesitnya ke arah selatan, melarikan diri.

Melihat itu, Mahesa Wulung yang bermata tajam se- gera dapat menangkap gerakan si bayangan tadi dan iapun segera pula meloncat dari punggung kudanya untuk mengejar si bayangan ke arah selatan. Hampir saja oleh gerakan Mahesa Wulung yang tiba-tiba ini, Pakerti yang berada di belakang akan jatuh ke sam- ping. Untungnya ia lekas-lekas berpegang pada pelana kuda.

Di waktu itu juga, Gagak Cemani menjadi marah dan melesatlah si pendekar berjubah ini dari kudanya langsung menyerang si wajah persegi, yakni si peda- gang cangkul yang tadi memamerkan permainan pa- rangnya.

“Keparat! Kau pengecut! Menyerangku secara gelap. Sekarang terimalah hukumanmu, bangsat!” teriak Ga- gak Cemani sambil melancarkan pukulan tangannya ke arah si wajah persegi.

“Aaaah, tunggu dulu... aku tak bermaksud...,” de- sah si wajah persegi seraya mengelak dengan gesitnya terhadap pukulan tangan si Gagak Cemani.

Wuuut!

Sesaat si pendekar berjubah ini kagum bahwa si wajah persegi mampu mengelakkan serangannya. Akan tetapi Gagak Cemani secepat kilat melancarkan tendangan kakinya yang tepat melabrak pinggang si wajah persegi.

Bruuuk! “Uugh!”

Si wajah persegi terguling roboh ke tanah, namun kembali dengan gerakan lincah ia menggelindingkan tubuhnya ke samping dan begitu bangkit ia telah me- nyambar sebilah pacul dan menyabetkan ke arah Ga- gak Cemani.

Sriiing... Tjraaasss! Tak! Taaak!

Terdengar bunyi ganjil berturut-turut dan tahu- tahu, pacul di tangan si wajah persegi terputus menja- di tiga bagian, sehingga si wajah persegi melongo kehe- ranan. Yang tampak kemudian, Gagak Cemani itu memasukkan kembali golok hitamnya ke dalam sa- rungnya seraya tertawa menggelegas.

“Sekarang kau boleh menunjukkan semua permai- nan senjatamu di hadapan Gagak Cemani ini, penye- rang gelap yang terkutuk!” seru Gagak Cemani dengan menunjuk ke arah muka si wajah persegi.

“Saudara memang hebat!” ujar si wajah persegi ke- pada Gagak Cemani. “Tetapi Anda jangan mendakwa Wisamala dengan semena-mena untuk berbuat seren- dah itu! Aku bukan penyerang gelap! Aku tak sengaja melepaskan parang tersebut dari tanganku!”

“Hmmm, aku tidak akan percaya begitu saja terha- dap kata-katamu itu. Yang terang, parangmu tadi hampir menembus leherku!” ujar Gagak Cemani. “Dan untuk itu, kau harus mendapat sedikit pelajaran dari Gagak Cemani! Hyat!”

Dengan kecepatan kilat, Gagak Cemani melancar- kan pukulan dahsyat disertai loncatan ke arah Wisa- mala. Si wajah persegi itu dengan gugup menyilangkan kedua tangannya ke depan ketika pukulan Gagak Ce- mani melanda dirinya dan menangkisnya.

Duuuk!

Wisamala terpental ke belakang jungkir balik de- ngan nafas terengah-engah dan di saat itu pula Gagak Cemani terus mengejar tubuh lawan yang sedang menggelinding. Tanpa memberi kesempatan, si pende- kar berjubah menggenjotkan kakinya ke arah tubuh Wisamala.

“Heittt!” Braaak!

Dalam saat berbahaya, Wisamala masih sempat menggenjotkan kakinya ke tanah disusul tubuhnya melenting ke udara menghindari genjotan kaki Gagak Cemani.

Meskipun meleset, genjotan kaki Gagak Cemani me- nimpa sebuah batu besar dan akibatnya batu tersebut hancur berkeping-keping.

Keruan saja Wisamala terperanjat, dan sekaligus ia sadar bahwa lawannya yang berjubah itu adalah pen- dekar yang sakti. Itulah sebabnya maka Wisamala se- gera bersiaga dengan sepenuhnya dan ketika Gagak Cemani menyerang kembali, ia telah siap dan me- nyambutnya.

***

Sementara itu, di sebelah selatan, Mahesa Wulung dengan loncatan-loncatan panjang mengejar si baya- ngan yang tengah melarikan diri. Ternyata orang ini mampu berlari dengan cepatnya.

Kejar-mengejar terjadi dengan sengitnya. Dan aneh- nya, si bayangan tadi berlari sambil tertawa terkekeh- kekeh, membuat Mahesa Wulung semakin marah. Cambuk Naga Geni yang berada di tangannya segera dicambukkan ke arah depan dan terdengarlah letupan- letupan menggelegar disertai hempasan udara panas yang hebat.

Si bayangan terperanjat dan kemudian ia melesat ke atas dahan pohon dan hinggap di situ. Akan tetapi, ujung cambuk Naga Geni terus mengejarnya dan me- nyambar dahan tadi.

Duaaar! Kraakk!

Dahan pohon tadi semplak dan ambruk berkepi- ngan menjadi arang, sedang batang pohonnya seketika condong ke samping dan kayunya kering!

Si bayangan mendesis kaget sambil melesat ke sam- ping dan berpindah ke dahan pohon di sebelahnya, disertai tertawanya.

“Ha, ha, ha, kau memang hebat, sobat!” teriak si bayangan. “Tapi sayang aku tak bisa melayanimu ber- main-main lebih banyak. Akulah si Dobleh Kelana, dan sampaikan salamku buat Gagak Cemani! Sampai, ber- temu lagi!” demikian ujar si Dobleh Kelana yang berbi- bir tebal dan kemudian ia melesat kembali ke pohon di sebelahnya, untuk selanjutnya kabur ke arah selatan.

Melihat lawannya kabur, Mahesa Wulung mengge- ram jengkel tapi ia tak berbuat apa-apa dan membiar- kan Dobleh Kelana itu lenyap di balik pohon-pohon be- sar, sebab di saat ini ia masih mempunyai persoalan yang lebih penting!

Mahesa Wulung sadar, bahwa Dobleh Kelapa itulah yang mengganggu permainan parang si wajah persegi, sehingga parang tersebut sampai terlepas dan me- nyambar Gagak Cemani! Dengan sentilan sebutir batu yang sempat dilihat oleh Mahesa Wulung, Dobleh Ke- lana telah berhasil membentur lepas parang tadi!

Kini secepat kilat Mahesa Wulung menyimpan cam- buknya kembali dan memutar tubuhnya ke samping, dan selanjutnya ia melesat ke arah utara kembali, ke arah peristiwa tadi telah terjadi.

Sejak semula Mahesa Wulung telah cemas akan ter- jadinya salah sangka dalam diri Gagak Cemani. Dan rupanya saja hal inilah yang dikehendaki oleh si Dob- leh Kelana yang licik dan penuh siasat itu.

Ternyata dugaan tadi tidak meleset! Ketika Mahesa Wulung tiba di tempat semula, tampaklah olehnya bahwa Gagak Cemani telah bertempur hebat melawan si wajah persegi atau si Wisamala itu!

Pertarungan dahsyat terjadi di situ, sedang semua orang di sekitarnya saling melongo dan kagum melihat kejadian tadi. Wisamala kelihatan terdesak lama- kelamaan. Betapapun ia bertahan sekuat mungkin namun gerakan Gagak Cemani bertambah gesit dan tangkas. Sekali-sekali pendekar berjubah ini mener- jang bagaikan amukan seekor banteng dan lain kali ia menukik dari atas laksana seekor garuda yang mener- kam korbannya.

Beruntunglah kiranya, bahwa Wisamala masih mempunyai tenaga dan dapat mengatur nafasnya se- hingga ia masih sempat menghindar ke sana-kemari apabila serangan Gagak Cemani itu datang kepadanya. Sesaat kemudian, sebuah dupakan tumit Gagak Ce- mani sempat menyelonong dan membentur dada Wisa- mala, sehingga wajah persegi ini terhuyung mundur

sambil terbatuk-batuk dengan dada sesak.

Wisamala meringis kesakitan. Pada sudut mulutnya terlihatlah darah segar meleleh ke bawah. Tiba-tiba mata Wisamala yang berkilat kehijauan itu menatap tajam ke arah Gagak Cemani dibarengi mulutnya ber- teriak lantang.

“Gagak Cemani! Sudah kukatakan bahwa aku tak bermaksud buruk terhadapmu! Tapi kau masih berke- ras kepala. Sekarang lihatlah ini!” Wisamala tampak menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan ke- luarlah asap mengepul.

Gagak Cemani sangat kaget melihat asap yang ke- luar dari celah kedua telapak tangan Wisamala yang tengah digosok-gosokkan itu. Begitu pula Mahesa Wu- lung yang baru tiba di tempat itu serta orang-orang lainnya, ikut terkejut menyaksikan perbuatan Wisa- mala tadi.

“Lihatlah, sobat! Aku terpaksa mengeluarkan ajiku Hagni Kurda ini, disebabkan oleh sikapmu yang keras kepala dan mendakwaku dengan ngawur!” demikian seru Wisamala kepada Gagak Cemani. “Dan jangan sa- lahkan, jika engkau cedera karenanya!”

Habis berkata demikian, Wisamala melirik ke se- buah pohon melinjo yang tumbuh tidak jauh dari Ga- gak Cemani berdiri dan kemudian iapun berseru lan- tang. “Gagak Cemani! Tataplah pohon melinjo di sebe- lah itu! Haaaisss!” Kedua telapak tangan Wisamala yang berasap tiba- tiba dihempaskan ke arah pohon melinjo tadi, yang berjarak kurang lebih sepuluh tombak! Dan seketika itu juga menyemburlah udara panas yang keluar dari kedua telapak tangan Wisamala dan dengan dahsyat- nya menerjang pohon melinjo tersebut.

Gagak Cemani yang berdiri tidak jauh dari pohon tadi dapat merasakan udara panas yang menyambar, dan lebih terkejut lagi bila pendekar berjubah ini me- nyaksikan akibat ilmu Hagni Kurda yang dilontarkan oleh Wisamala. Burung-burung beterbangan dengan mencicit takut.

Wuuuut! Wessstt!

Udara panas, sepanas kobaran api seketika melan- da pohon melinjo yang bernasib malang dan sejurus kemudian, daun-daunnya mulai layu sedang buahnya berontokan jatuh, disusul batang pohon itu tumbang dengan asap mengepul!

Maka terbukalah kesadaran Gagak Cemani, bahwa lawannya itu memiliki ilmu yang tinggi yang pasti akan membahayakan dirinya. Oleh sebab itu, Gagak Cema- nipun diam-diam mempersiapkan ilmunya untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

“Wisamala! Ilmu yang kau pamerkan tadi cukup he- bat. Aku kagum karenanya! Tapi itu bukan berarti bahwa aku menjadi takut menghadapimu!” ujar Gagak Cemani.

“Kau mulai takut, sobat?!” teriak Wisamala sete- ngah mengejek dengan hidung nyengir-nyengir dan mata meriyip-riyip separuh terpejam bernada meren- dahkan lawannya.

“Baiklah, Wisamala,” kata Gagak Cemani pula. “Kau telah menunjukkan ilmumu yang hebat. Sekarang engkaupun harus melihat sedikit permainanku ini!”

Sambil berkata si Gagak Cemani yang sejak tadi te- lah bersiaga, secepatnya mengarahkan tenaga dalam- nya. Sementara itu, beberapa ekor burung terbang me- lintas di atas arena pertandingan.

“Wisamala! Kau lihat tiga ekor burung gelatik yang terbang itu? Saksikanlah mereka, dan inilah Bayu Ki- kis!”

Daaaahhh!

Si Gagak Cemani tiba-tiba mendorongkan ujung te- lapak tangan kanannya ke atas ke arah tiga ekor bu- rung gelatik tadi dan akibatnya sungguh-sungguh he- bat!

Ternyata dorongan ujung telapak tangan Gagak Cemani telah memancarkan hawa dingin sedingin es atau sedingin udara di puncak gunung. Begitu tiga ekor burung gelatik tadi terlanda oleh hawa dingin, maka seketika bekulah darahnya dan ketiganya jatuh tercampak di atas tanah dengan sayap masih me- ngembang dan tubuh kaku yang seperti patung! Ketika ketiganya jatuh, terdengarlah bunyi berdentang, seper- ti bunyi tiga benda logam yang terjatuh.

“Uuuh!” desak Wisamala terperanjat! Dengan mata yang melotot seperti tak percaya ia menyaksikan ketiga burung gelatik itu rontok di tanah, tidak jauh dari ka- kinya berdiri.

Wisamala mencoba memungut salah satu bangkai burung gelatik tadi. Tapi begitu tangannya memungut dan mengangkatnya, seketika itu pula ia mencampak- kan bangkai gelatik itu kembali sambil mengibas-ngi- baskan tangannya yang terasa dingin dan beku!

“Heh, heh, heh,” terdengar Gagak Cemani tertawa menggelegas kegelian melihat tingkah si Wisamala. “Gelatik itu telah menjadi patung beku, sobat!”

“Kurang ajar!” dengus Wisamala marah. “Kau mem- permainkan aku! Kau menantangku untuk mengadu ilmumu tadi?!” “Terserah jika sobat mengartikannya demikian! Aku telah bersedia,” jawab Gagak Cemani tenang.

Mendengar jawaban lawannya, darah Wisamala se- perti menggelegak dan naik ke kepalanya. Kemarahan- nya meledak, seperti lahar gunung berapi yang mende- sak keluar!

“Keparat!” teriak Wisamala. “Bersedialah untuk menjelang kematianmu, Gagak sombong!”

“Heh, heh, heh,” tawa si Gagak Cemani. “Sejak tadi aku telah bersiaga dan mulailah sekarang!”

Masing-masing selesai berkata dan keduanya telah mengerahkan ilmu dan kekuatan tenaga dalamnya, sedang orang-orang yang menyaksikannya menjadi cemas dan ketakutan. Beberapa penonton menyingkir mundur, sebab mereka takut kalau-kalau akibat ben- turan kedua ilmu dahsyat tadi akan menimbulkan bencana bagi dirinya.

“Haaiit!” Daahhh!

Terdengar seruan keras berbareng ketika Wisamala menghempaskan kedua telapak tangannya ke depan ke arah Gagak Cemani, sementara pendekar muda ber- jubah inipun mendorongkan ujung telapak tangannya ke depan untuk menyambut serangan Wisamala.

Tanpa diduga, Mahesa Wulung yang sejak tadi di- am-diam menyaksikan pertandingan tadi, telah mem- persiapkan diri. Ia tak ingin bila di antara mereka menderita cedera karena kesalahan yang berdasarkan salah paham dan salah duga semata-mata.

“Tahan!” teriak Mahesa Wulung sambil melanjutkan pukulan jarak jauh yang dilandasi ilmu simpanannya

—Lebur Waja, ke depan, untuk memotong lontaran il- mu Hagni Kurda dan Bayu Kikis sebelum keduanya bertemu dan saling membentur.

“Heeiiittt!” Blaaarr!

Ledakan dahsyat seperti ratusan petir bersama- sama meledak terdengar menggelegar di sekitar tempat itu. Pekik dan jerit ketakutan terdengar dari mulut pa- ra penonton, sementara empat ekor kuda dari rombon- gan Mahesa Wulung yang berhenti di situ meringkik- ringkik dan mendongakkan kepalanya ke atas dengan paniknya.

Sedang Gagak Cemani dan Wisamala sendiri tak ka- lah kagetnya. Seketika keduanya tergetar surut bebe- rapa langkah akibat benturan ketiga ilmu tenaga da- lam yang dahsyat tadi.

“Maafkan, Kakang Gagak Cemani. Aku terpaksa mencampuri pertandingan kalian. Sebab sebenarnya Kisanak Wisamala ini tidak bersalah!” seru Mahesa Wulung seraya meloncat mendekati Gagak Cemani.

“Haah! Tidak bersalah, kata Adimas Wulung?!” ujar Gagak Cemani setengah berseru saking herannya. “Ba- gaimana Adimas Wulung bisa berkata demikian?!”

“Sabarlah, Kakang Gagak Cemani,” Ujar Mahesa Wulung. “Ketika Kakang menyerbu Kisanak Wisamala, aku dapat melihat sesosok bayangan manusia berkele- bat lari ke arah selatan. Aku segera mengejarnya dan ternyata orang inilah yang menyampok parang dari Ki- sanak Wisamala sehingga parang tadi terlepas dan me- luncur ke arah Kakang Cemani!”

Mendengar keterangan Mahesa Wulung, si pendekar berjubah ini terperanjat bukan kepalang dan mende- sahlah si Gagak Cemani. “Huh? Siapa yang berbuat kurang ajar seperti itu?!”

“Dia tidak lain adalah si Dobleh Kelana, ketua dari Setan Enam Serangkai dari Gunung Kendeng!” kata Mahesa Wulung.

“He, jadi si setan licik itu pula yang mencoba meng- adu-domba!” seru Gagak Cemani. “Aakh, jika begitu Kisanak Wisamala itu tidak bersalah!”

Di saat itu, Wisamala yang masih berdiri tegak di tempatnya, menatap ke arah Mahesa Wulung dan Ga- gak Cemani dengan perasaan penuh tanda tanya. Bah- kan ia telah bersiaga jika seandainya kedua orang itu menyerang dirinya, ia akan bertahan sampai ke titik darah yang penghabisan.

Wisamala masih merasakan darah yang meleleh di sudut mulutnya akibat pukulan Gagak Cemani bebe- rapa saat yang lalu. Kini hatinya menjadi tambah ber- debar-debar ketika Gagak Cemani dan Mahesa Wulung melangkah ke arahnya dengan perlahan-lahan.

“Huh, kalian berdua mau mengeroyokku?!” ujar Wi- samala sambil bersiaga memasang kuda-kudanya.

“Sabarlah, Kisanak,” sapa Mahesa Wulung dengan nada ramah. “Aku tahu bahwa Andika tidak sengaja melontarkan parang tadi kepada Kakang Gagak Cema- ni. Memang ada orang jahil yang mengganggu permai- nan parangmu!”

“Hmm, sudah sejak tadi aku katakan hal itu. Tetapi sayang ia terlalu keras kepala sehingga hampir saja terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan!” ujar Wisamala seraya menghapus darah di sudut mulutnya dengan lengan baju luriknya.

“Aku minta maaf, sobat!” berkata Gagak Cemani de- ngan nada menyesal. “Memang aku terburu nafsu, me- nuduhmu yang bukan-bukan.”

Mendengar pernyataan maaf dari Gagak Cemani yang tulus ikhlas tadi, Wisamala mengangguk pelahan. Betapapun hatinya masih panas membara, namun hati kecilnyapun telah pula menerima pernyataan maaf si pendekar berjubah. Bahkan hati kecilnya juga meng- aku salah, karena ia telah menyerang Gagak Cemani dengan ilmunya Hagni Kurda yang terbilang dahsyat itu. Untung saja tidak ada korban yang jatuh.

Tetapi dengan munculnya Mahesa Wulung yang te- lah sanggup menggagalkan benturan ilmunya terhadap ilmu Bayu Kikis si Gagak Cemani, mau tak mau Wisa- mala memujinya.

“Akupun minta maaf, Kisanak,” berkata Wisamala menyambut ucapan Gagak Cemani tadi. “Manusia lu- mrah membuat kesalahan. Namun aku ingin tahu ten- tang si penyerang gelap itu. Ternyata tenaga dalamnya cukup hebat. Dengan sentilan batu saja, ia telah mampu menyampok lepas parang itu dari tanganku!”

“Hmm, memang dia musuh lamaku. Selama ini aku selalu berusaha memburunya dan ternyata dia telah keluyuran sampai di tempat ini!” ujar Gagak Cemani. “Dan perbuatannya memang sengaja untuk mencela- kakan aku serta mengadu domba kita!”

Sekali lagi Wisamala manggut-manggut oleh ketera- ngan dari Gagak Cemani yang telah menjelaskan siapa sebenarnya Dobleh Kelana, si penyerang gelap itu.

“Kisanak Wisamala,” Gagak Cemani berkata seraya mengeluarkan sebuah slepen atau dompet yang ter- buat dari tikar anyaman. “Anda telah terkena gempur kakiku beberapa saat yang lalu. Nah silakan Anda me- nelan obat ini, agar dadamu menjadi segar kembali.”

Wisamala menerima sepotong obat yang berbentuk bulat gepeng sambil mengucap terima kasih, serta me- nelannya sekali. Maka terasalah rasa pedas-pedas se- gar yang mengalir ke tenggorokan bersama aliran nafas dan sampai ke paru-paru. Hingga akhirnya dadanya yang semula sesak, kini menjadi lapang kembali.

“Eh, ke manakah tujuan Anda dengan berkuda itu?” tanya Wisamala.

“Saya sedang mengantar sahabat-sahabat kami ke Asemarang,” jawab Gagak Cemani. “Dan inilah salah satu di antara sahabat saya yang bernama Mahesa Wulung, seorang wira tamtama Demak.”

“Oh, jadi... jadi Andalah yang bernama Mahesa Wu- lung?!” seru Wisamala dengan tergagap saking gugup yang bercampur rasa kagum. “Nama Andika sering di- takuti dan menjadi momok bagi orang-orang gerombo- lan hitam.”

“Ah, Kisanak terlalu berlebih-lebihan menyebut diri- ku,” ujar Mahesa Wulung merendahkan diri. “Sebalik- nya aku merasa kagum oleh ilmu Kisanak yang ber- nama Hagni Kurda tadi. Dari tempat manakah Anda datang?”

Mendengar pujian Mahesa Wulung tadi, Wisamala sedikit tampak tersipu-sipu sambil berkata, “Oh, ilmu tadi kurang sempurna dan aku menyesal karena telah menggunakannya dalam bertanding melawan Kisanak Gagak Cemani. Habis, aku merasa sedikit kewalahan dalam menghadapinya, dan ilmu itulah satu-satunya yang dapat kugunakan untuk melindungi tubuhku.” Wisamala berhenti sejenak. “Tentang asalku, aku da- tang dari Alas Mentaok!”

“Ohh, Anda terlalu jauh datang dari daerah selatan sana! Dan Kisanak berdagang cangkul-cangkul ini?” tanya Mahesa Wulung.

“Yah, begitulah. Untuk menyambung hidupku, aku terpaksa berdagang barang-barang ini,” kata Wisa- mala. “Dan... eh maaf! Ijinkanlah aku mengumpulkan barang-barang daganganku yang berserakan ini. Su- dah kelewat siang dan aku harus segera kembali ke pondokanku.”

“Kisanak Wisamala,” sapa Mahesa Wulung. “Sebe- narnya kami masih ingin mengobrol lebih banyak ber- sama Anda. Tapi kamipun tengah menempuh perja- lanan ke Asemarang, maka rupanya kita terus segera berpisah di sini. Di lain waktu, pasti kita akan bertemu pula.”

“Oo, tentu. Aku pun merasa senang dapat berkena- lan dengan Andika berdua,” sahut Wisamala pula. “Mudah-mudahan perjalanan Anda membawa kebaha- giaan dan aku ucapkan selamat jalan. Sampai bertemu lagi.”

Wisamala telah selesai mengemasi barang daga- ngannya. Sesudah mereka bertiga bersalaman, Mahesa Wulung serta Gagak Cemani segera kembali ke ku- danya, sedang Wisamala telah bergegas melangkah ke utara untuk pulang ke rumah pondokannya.

Mahesa Wulung berempat sebentar saja telah tiba di dalam kota Demak. Ia cuma singgah beberapa saat un- tuk membeli bekal makanan serta menitipkan Pakerti ke sebuah perumahan prajurit dari kota ini. Setelah itu, berangkatlah mereka ke arah barat menempuh ja- lan besar yang menuju ke daerah Asemarang.

Matahari telah semakin jauh bergeser ke arah barat dan bayangan sore perlahan-lahan mulai meraba la- ngit timur seperti mengejar sang matahari yang seben- tar-sebentar tersaput awan mendung.

***

2

KETIKA Mahesa Wulung berempat melewati gerbang kota Asemarang, malam telah tiba. Mereka melam- batkan lari kudanya sambil menikmati pemandangan malam kota pelabuhan.

Beberapa warung masih dibuka serta menjual ba- rang makanannya sampai larut malam nanti. Beberapa gerobak lembu tampak berhenti di depan warung tadi sementara orang-orangnya tengah mengisi perutnya di dalam. Rumah-rumah penduduk pun masih terbuka pintunya dan dian lampu minyak bergoyang apinya, menyorotkan cahaya keluar rumah. Anak-anak kecil saling berkejaran di halaman bermain-main dengan riangnya bermandikan cahaya rembulan yang men- gambang amat indahnya di langit cerah.

Mahesa Wulung tersenyum melihat semua itu, dan sekilas terbayang masa kecilnya yang penuh kegembi- raan seperti bocah-bocah itu. Namun ketika Mahesa Wulung berempat tiba di jantung kota dan akan mem- belokkan kudanya ke selatan, mereka menjadi terpe- ranjat, sebab tampaklah oleh mereka orang-orang yang berduyun-duyun berjalan ke arah pelabuhan dengan tergesa-gesa. Sedang dari mulut mereka terdengarlah gumam dan bisik-bisik mengiringi wajah mereka yang kecemasan.

Melihat hal yang terasa ganjil bagi dirinya, Mahesa Wulung cepat-cepat menghentikan kudanya diikuti oleh Gagak Cemani, Ki Surotani dan Pandan Arum.

“Apakah yang terjadi, Kisanak?” bertanyalah Ma- hesa Wulung kepada seorang tua yang kebetulan lewat di depannya.

“Ooo, kata orang, ada sebuah perahu yang menda- pat kecelakaan di laut dan kini perahu tadi ditemukan oleh perahu lain serta kemudian diseretnya ke pelabu- han. Sekarang ia ada di pelabuhan.”

“Kecelakaan?” ulang Mahesa Wulung. “Ah, itu kan biasa terjadi, Kisanak. Tapi... mengapakah orang-orang ini berduyun-duyun ke sana? Agaknya ada sesuatu yang aneh.”

“Memang, kecelakaan bisa saja terjadi. Akan tetapi kalau semua penumpang itu dikabarkan mati di gela- dak perahu, bukankah itu sesuatu yang aneh untuk kita? Orang-orang pada mengira bahwa mereka telah dibunuh oleh setan-setan penjaga laut!”

“Ooh!” desis Mahesa Wulung berempat dengan ber- bareng. Hatinya tiba-tiba saja berdesir oleh keterangan orang tua tadi, sebab ia lalu teringat dengan pengala- mannya beberapa waktu yang lalu, ketika bersama- sama anak buahnya ia mengejar dan menghancurkan Kapal Hantu di lautan utara.

“Saya juga akan ke sana, Tuan,” ujar orang tadi se- raya meminta diri untuk melanjutkan perjalanannya.

“Terima kasih atas keterangan Kisanak tadi,” kata Mahesa Wulung sambil menatap ke utara ke arah orang-orang yang berduyun ke pelabuhan.

“Kakang Gagak Cemani,” ujar Mahesa Wulung pula, “apakah Andika tidak tertarik dengan ceritera tadi?!”

“Cukup menarik,” sambut Gagak Cemani. “Teruta- ma keterangan yang mengatakan bahwa para korban berada di geladak perahu itulah, yang membuat hatiku tertarik!”

“Tepat seperti perkiraanku, Kakang,” sambung Ma- hesa Wulung lagi. “Bagaimanakah kalau kita mene- ngok ke sana sebentar saja?”

“Itu bagus! Tapi bagaimana dengan Bapak Surotani dan Adi Pandan Arum?” kata Gagak Cemani seraya menoleh ke arah mereka berdua. “Apakah Andika ber- dua juga ingin singgah di sana?”

“Kami juga akan ikut ke sana,” ujar Pandan Arum serta Ki Surotani berbareng. “Kami perlu juga menge- tahui apakah yang telah terjadi pada mereka.”

“Kalau begitu marilah kita lekas berangkat,” ajak Mahesa Wulung serta menarik tali kekang kudanya, di- ikuti oleh Gagak Cemani, Pandan Arum dan Ki Surota- ni.

Jak! Jaaak!

Keempatnya telah memacukan kudanya ke arah pe- labuhan dengan melewati orang-orang yang berduyun- duyun ke arah yang sama. Semuanya tampak bergegas ke arah sana, seperti rombongan semut yang telah mencium adanya gula.

Panggung berlentera telah tampak, demikian pula tiang-tiang layar dari perahu-perahu yang berlabuh di situ kelihatan bertonjolan menjulang ke atas dengan indahnya.

Agak di sebelah tepi, terlihatlah sebuah perahu da- gang kecil yang biasa bermuatan enam orang, tertam- bat pada sebuah tonggak kayu di situ, dengan puluhan orang yang berkerumun menontonnya. Namun mereka cuma berdiri di daratan saja, sebab perahu tadi dijaga oleh prajurit-prajurit pengawal pelabuhan yang mela- rang mereka untuk menyentuh perahu tadi. Beberapa obor dan lampu telah dipasang di tempat itu.

Yang berada di geladak perahu tersebut cuma tiga orang saja, yakni petugas-petugas khusus yang lagi memeriksa perahu tadi dengan seksama.

Para pemeriksa tadi tampak menggeleng-gelengkan kepala seperti mencoba mengerti, apakah yang se- sungguhnya telah terjadi pada awak perahu ini?

Mahesa Wulung berempat telah tiba di tempat itu. Bersama Gagak Cemani ia turun dari punggung ku- danya, sedang Pandan Arum dan ayahnya tetap berada di atas kuda tak jauh dari penonton lainnya.

Dengan langkah tergopoh kedua pendekar itu men- dekati tangga naik perahu yang dijaga oleh empat orang prajurit kawal yang berperisai dan bertombak.

“Eh, Kisanak. Jangan terlalu dekat dengan perahu ini,” sapa salah seorang dari keempat prajurit tadi ke- pada Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. “Maaf, selain pasukan kawal pelabuhan, dilarang terlalu mendekat, apalagi sampai naik ke atas perahu ini.”

“Mengapa demikian?” ujar Mahesa Wulung seraya tersenyum dengan ramahnya. “Apakah kami tidak bo- leh melihat para korban yang terdapat dalam perahu ini?”

“Itu dilarang oleh pemimpin kami,” jawab prajurit tadi. “Sebelum ada keterangan dan selesainya peme- riksaan oleh pemimpin kami itu, tak seorangpun di- ijinkan naik ke atas perahu ini!”

“Hmm, terima kasih,” ujar Mahesa Wulung. “Anda bekerja cermat sekali. Tapi bolehkah kami bertemu pe- mimpinmu itu?”

“Heei, rupanya Kisanak berdua sangat berminat se- kali terhadap korban-korban ini. Siapa Anda? Je- laskanlah pula apa kepentingan Kisanak berdua, agar kami tak menaruh curiga terhadap Anda!” begitulah kata si prajurit kawal tadi.

Namun mendadak saja si prajurit ini menjadi me- longo setengah pucat, ketika tiba-tiba Mahesa Wulung menyodorkan permata kalung yang diraihnya dari ba- lik bajunya, ke depan si prajurit.

“Ooh, Tuan...,” desah si prajurit tadi begitu matanya menatap permata kalung yang berbentuk cakra berada di tangan Mahesa Wulung itu. “Maaf Tuan perwira, kami tak mengenal Tuan...,” ujar si prajurit dengan gugup. “Jika begitu, silakan Tuan berdua naik ke atas. Kami tak berkeberatan sama sekali!”

“Heei..., lhooo! Bukankah Tuan adalah Wira Laut Mahesa Wulung dari Demak?” terdengar seruan dari atas perahu membuat Mahesa Wulung, Gagak Cemani dan keempat prajurit kawal tadi mendongak ke atas, ke arah suara tadi.

“Waakh! Bapak Kerpu dan Tambakan! Selamat. Kita bertemu lagi di sini!” Seru Mahesa Wulung ketika ia melihat dua orang yang menyambutnya dari atas tang- ga perahu, yang tidak lain adalah Ki Kerpu dan Tam- bakan. Dua sahabat lamanya yang tinggal di bandar Asemarang sebagai pemimpin kawal dari prajurit-pra- jurit di situ.

“Yah, kita bertemu lagi, Tuan. Seperti pertemuan ki- ta beberapa tahun yang lalu ketika bersama-sama membasmi gerombolan Alas Roban,” ujar Ki Kerpu de- ngan tersenyum lebar dan ramah sekali. Sebentar kemudian, mereka telah berada kembali di atas geladak perahu dan tampaklah oleh mata Mahesa Wulung dan Gagak Cemani, keenam korban yang menggeletak tak bernyawa.

“Sukar untuk kami jelaskan, gerangan apakah yang telah menyebabkan kematian mereka,” ujar Ki Kerpu seraya menunjuk korban-korban itu. “Apakah Tuan melihat sesuatu yang aneh pada tubuh mereka?”

“Biru hangus dan kering!” seru Mahesa Wulung de- ngan suara bergetar saking kagetnya. “Akh, sungguh mengerikan dan malang sekali nasib orang-orang ini!”

“Dapatkah kiranya Tuan mengetahui sebab-sebab dari kematian orang-orang ini?!” kembali Ki Kerpu ber- tanya.

“Yah! Aku pernah melihati korban-korban yang se- macam ini,” kata Mahesa Wulung. “Persis seperti kor- ban-korban dari kejahatan Kapal Hantu.”

“Kapal Hantu?!” desis Ki Kerpu. “Tapi... Tapi bu- kankah menurut laporan yang aku terima dari Demak, bahwa Kapal Hantu tersebut telah dihancurkan oleh armada Demak?”

“Itu benar, Bapak!” sahut Mahesa Wulung. “Hanya saja aku agak kuatir, bahwa sekarang Ki Rikma Rem- byak mulai mengadakan pembalasan dendam atas ke- hancuran Kapal Hantu tadi.”

“Hemmm, jika rekaan Tuan tadi benar-benar terjadi, maka pastilah armada Demak akan dibuat sibuk kem- bali oleh tugasnya. Demikian pula Tuan Mahesa Wu- lung.”

“Bapak Kerpu,” ujar Mahesa Wulung pula. “Peristi- wa ini akan kuperhatikan sepenuhnya. Tentang penje- lasan Andika kepada para penduduk di sini, terserah kepada kebijaksanaanmu. Yang penting, usahakanlah agar mereka tidak menjadi panik karenanya. Sebab hal itu akan mempengaruhi mereka, terutama dalam segi perdagangan dan pelayaran di daerah ini.”

“Terima kasih, Tuan,” berkata Ki Kerpu. “Kami akan berusaha sebaik mungkin dan semoga seperti yang Tuan harapkan. Dan eh... hendak ke manakah Tuan berdua sekarang?”

“Kami hendak berkunjung ke Kampung Sekayu, Bapak. Kini, baiklah kami meminta diri sekali,” kata Mahesa Wulung.

Segera Mahesa Wulung dan Gagak Cemani menu- runi tangga perahu setelah keduanya berpamit kepada Ki Kerpu Tambakan serta kedua orang petugas lain- nya.

Ki Kerpu mengantarkan mereka sampai ke bawah dan sekali lagi mengucapkan terima kasihnya atas kunjungan tadi. Sesaat kemudian Mahesa Wulung be- rempat telah berpacu kembali ke arah selatan.

Sambil berpacu hati Mahesa Wulung selalu ber- tanya-tanya akan peristiwa yang mengerikan tersebut. Mungkinkah Ki Rikma Rembyak telah menciptakan kembali Kapal Hantu untuk membalas dendam? Na- mun selama ini ia belum pernah mendengar laporan tentang munculnya kapal yang semacam itu lagi. Ke- cemasan satu-satunya yang bisa dihubungkan dengan peristiwa tadi, adalah isi pesan tertulis yang telah di- serahkan oleh Pakerti kepadanya.

Tanpa terasa, mereka berempat telah memasuki gerbang Kampung Sekayu yang ditandai oleh dua buah pohon asem tua yang saling bertautan. Kampung tadi merupakan desa kecil yang bertanah subur.

Begitulah, mereka sampai di tujuannya malam itu. Dan sesudah membasuh muka dan kaki serta kemu- dian mohon ala kadarnya, mereka berempat masuk ke bilik tidurnya masing-masing.

Keempatnya segera tertidur pulas. Apalagi setelah mereka berkuda dengan menempuh jarak yang sepan- jang dan sejauh itu, badan mereka telah terasa penat- penat pegal.

Itulah sebabnya begitu mereka merebahkan tubuh- nya di atas balai-balai beralas tikar pandan, seketika itu tertidurlah mereka dengan nyenyak dan baru ter- bangun pada keesokan paginya.

***

Telah dua hari Mahesa Wulung dan Gagak Cemani tinggal di rumah Ki Surotani. Kepada Gagak Cemani tamunya yang baru itu, Ki Surotani selalu mengajak dan membawanya ke tetangga-tetangga di sekitarnya untuk diperkenalkan kepada mereka.

Dalam pada itu Mahesa Wulung selalu tinggal di rumah untuk menemani kekasihnya, si Pandan Arum, serta pula mempelajari isi surat tertulis yang dibawa oleh Pakerti dari Pulau Mondoliko.

Sore itu tampaklah Pandan Arum duduk termenung di pekarangan rumah. Bunga-bunga bermekaran de- ngan indahnya menyebar bau semerbak harum, me- nyegarkan perasaan dan kegembiraan hidup.

Namun sore itu Pandan Arum termenung berdiam diri, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu ha- tinya, dan itulah sebabnya maka ia terperanjat ketika Mahesa Wulung menyapa serta memegang kedua pun- daknya dari sebelah belakang.

“Adi Pandan Arum,” sapa Mahesa Wulung, “engkau melamunkan sesuatu?”

“Betul, Kakang Wulung,” lirih sekali Pandan Arum menjawab kekasihnya. “Aku melamunkan diriku, Ka- kang.”

“Mengapa, Adi?”

“Adikku si Pandan Sari telah kawin, mendahului aku,” ujar Pandan Arum. “Sedang aku? Aah, mungkin masih lama. Barangkali setahun lagi, dua tiga tahun lagi atau mungkin pula sepuluh tahun lagi barulah ki- ta kawin. Sedang aku telah pula merindukan berumah tangga, mendidik anak-anak kita dengan penuh kasih sayang.”

“Aku tahu perasaanmu, Adi,” berkata Mahesa Wu- lung sambil mengusap pundak Pandan Arum dengan penuh kemesraan. “Bersabarlah, Adi. Apakah Adi ma- sih menyangsikan cintaku kepadamu?”

“Oh, tentang cintamu, aku percaya sepenuhnya Ka- kang,” kata Pandan Arum seraya menunduk. “Tapi, bukankah kita selalu dikejar oleh hari, dikejar oleh waktu yang setiap kali akan menambah jumlah umur kita?”

“Aku juga memikirkan hal itu, Adi. Namun Adi ten- tunya tahu bahwa tugas-tugas yang berat senantiasa menumpuk di atas pundak kita, sebagai beban yang harus diselesaikan. Darma Ksatria! Demikianlah pe- doman yang telah terpatri di dalam hatiku, Adi. Dan menjadi Wira Tamtama Laut seperti kakang ini, ten- tunya tak akan berpangku tangan melihat kejahatan tumbuh dan merajalela di mana-mana. Maaf, Adi Arum. Jangan Adi berprasangka bahwa aku bermak- sud mengecewakanmu. Memanglah kalau dipikir, ke- jahatan akan selalu ada, meskipun hanya kecil ben- tuknya. Kebaikan dan keburukan selalu kita jumpai, dan begitulah namanya irama hidup, Adi. Menindas keburukan adalah tugas kita dan juga tugas setiap manusia di marcapada. Semua itu kita lakukan karena kita mengingini hidup yang tentram dan sejahtera. Jauh dari malapetaka dan keburukan-keburukan.” Mahesa Wulung berhenti sejenak dan menghela napas. “Aakh, terlalu bertele-tele menceramahimu, Adi. Maaf- kan.”

“Oo, tidak mengapa, Kakang Wulung! Tidak meng- apa! Aku senang mendengarnya,” seru Pandan Arum seraya menyandarkan kepalanya ke dada Mahesa Wu- lung yang bidang itu.

“Aku selalu memikirkan apa yang Adi pikirkan. Ha- nya saja, kakang tidak senang untuk mengambil suatu keputusan dengan tergesa-gesa dan serampangan. Se- bab perkawinan adalah sesuatu yang suci dan me- nyangkut hidup kita. Kapan, waktu hari dan tempat- nya, baiklah kita pikirkan dengan tenang dan lanjut.”

“Ookh aku selalu menambah beban di hatimu, Ka- kang Wulung,” desah Pandan Arum. “Dan saya kira, saat ini memang belum saatnya yang tepat untuk me- mikirkan hal itu. Juga saya tak mau ketinggalan untuk mendampingi Kakang Wulung dalam melaksanakan tugas-tugas yang berat sekalipun!”

“Terima kasih, Adi Pandan Arum. Kakang merasa gembira mendengar pengertian yang mendalam pada dirimu. Dan ketahuilah Adi, sekarang ini selagi kita be- rada di tempat ini, bahaya yang mahabesar tengah mengancam di depan hidung kita. Bahaya tersebut bi- sa menimbulkan bencana yang dahsyat bagi kita se- mua!”

“Aduh. Apakah bahaya itu, Kakang?” seru Pandan Arum dengan kagetnya.

“Engkau masih ingat sewaktu kita singgah di ban- dar pelabuhan Asemarang dua hari yang lalu?” tanya Mahesa Wulung.

“Mmm, aku ingat, Kakang! Bukankah malam itu ki- ta lihat orang berduyun-duyun menuju ke pelabuhan dan kita pun singgah di sana?”

“Nah, memang di situlah aku telah melihat adanya bahaya. Ternyata, ketika aku dan Kakang Gagak Ce- mani ikut memeriksa para korban yang menggeletak di geladak perahu, dapatlah kami saksikan bahwa tubuh keenam korban itu kering dan hangus kebiru-biruan, persis seperti korban-korban dari kejahatan Kapal Hantu.”

“Wah, sungguh mengerikan tentu,” desah Pandan Arum. “Jadi itulah bahaya yang Kakang Wulung sebut- kan?”

“Itu hanya sebagian saja, Adi,” sambung Mahesa Wulung pula. “Kau tentu ingat pula sepucuk pesan ter- tulis yang aku terima dari Pakerti? Di dalamnya tertu- lis sebuah pesan yang menyebutkan bahwa Ki Rikma Rembyak telah mendirikan sebuah benteng di Pulau Mondoliko serta merencanakan sebuah senjata ampuh yang sanggup menghancurkan sebuah desa dari jarak jauh! Pesan ini dikirim dari seorang yang bernama Jagal Wesi, yang tinggal di pulau itu juga.”

“Jadi pesan tersebut dikirim dari sana?!” ujar Pan- dan Arum keheranan. “Apakah itu bukan sebuah jeba- kan bagi kita, barangkali?”

“Hmm, bisa juga. Tapi Jagal Wesi itulah yang telah membebaskan dan meloloskan Pakerti dari Pulau Mon- doliko, ketika ia akan dijatuhi hukuman mati oleh Ki Rikma Rembyak!”

“Eeng, jika demikian,” desah Pandan Arum dengan berpikir-pikir sejenak, “kita boleh mempercayai pesan dari Jagal Wesi tadi. Tapi apakah hubungan korban- korban pada perahu tadi dengan Pulau Mondoliko?”

“Menurut keterangan Bapak Ki Kerpu, perahu tadi ditemukan terkatung-katung di sebelah barat Pulau Mondoliko oleh sebuah perahu lain dan kemudian me- nyeretnya ke bandar Asemarang ini.”

“Akh, makin jelaslah persoalannya!” ujar Pandan Arum. “Ki Rikma Rembyak mulai kembali melancarkan serangannya dan mungkin pula dimaksudkan sebagai pembalasan atas kehancuran Kapal Hantunya!”

“Begitulah seperti dugaanku semula!” sambung Ma- hesa Wulung. “Memang kiranya itulah pembalasan Rikma Rembyak!” “Kakang Wulung, aku lalu teringat akan nasib ma- lang yang telah dialami oleh mendiang paman Empu Baskara yang kini masih terkubur di dasar Jurang Ma- ti oleh perbuatan Rikma Rembyak!” gumam Pandan Arum dengan nada haru. “Dan rahasia panah Braja Kencar milik Paman sampai sekarang masih di tangan si keparat Rikma Rembyak itu.”

“Yah, sayang sekali, memang sampai sekarang kita belum berhasil merebut kembali rahasia panah Braja Kencar itu! Namun kini telah jelas bahwa Ki Rikma Rembyak telah memusatkan kekuatannya di Pulau Mondoliko dan tentunya pula di sana pulalah benda itu disimpannya!” berkata Mahesa Wulung. “Dan satu- satunya jalan ialah menyerbunya ke sana!”

“Itu benar, Kakang,” sahut Pandan Arum. “Akan te- tapi dengan kekuatan apakah kita menyerbu ke sana? Dengan kekuatan beberapa kapal dari armada Demak atau dengan diam-diam kita menyelundup ke sana?!”

Mahesa Wulung tampak berdiam sejenak untuk me- mikirkan perkataan Pandan Arum tadi. “Hal itu harus kita rencana masak-masak dengan para pemimpin di Demak, dan kapan hal itu bisa dilaksanakan, aku be- lum tahu. Yang terang saja di Pulau Mondoliko itu te- lah ada seseorang yang berpihak pada kebenaran, yak- ni di Jagal Wesi itu tadi. Dan tidak mustahil ia ber- sedia membantu kita nanti!”

Percakapan mereka terhenti sesaat oleh dua ekor burung ketilang yang berkejar-kejaran di sela-sela daun pohon sawo di depan mereka dengan mesranya. Rupanya, kedua burung itu adalah ketilang jantan dan betina yang lagi dimabuk asmara, membuat Pandan Arum dan Mahesa Wulung tersenyum penuh arti de- ngan sedikit kesipu-sipuan.

“Besok kita akan kembali ke Demak, Adi,” ujar Ma- hesa Wulung memecah kesepian yang sesaat itu. “Dan kita harus mendapatkan keterangan lebih banyak dari Pakerti sebelum kita mengambil langkah-langkah lebih lanjut.”

Mahesa Wulung menyelesaikan kata-katanya itu se- raya membungkuk memungut sebutir batu sebesar te- lur ayam, sehingga Pandan Arum keheran-heranan menatap kelakuan kekasihnya. Dan ketika ia hendak berkata, tiba-tiba saja Mahesa Wulung mendesis, memperingatkannya agar berdiam diri.

“Sssttt... tenanglah!”

Karenanya, Pandan Arum semakin keheranan di- buatnya dan kini tampaklah bahwa kekasihnya itu me- nimang-nimang batu tersebut di tangannya.

Sesaat Pandan Arum menjadi cemberut oleh sikap kekasihnya, dan ketika ia sekali lagi ingin bertanya ke- padanya, mendadak saja Mahesa Wulung mengi- baskan tangannya yang memegang batu tadi ke atas, ke arah kerimbunan pohon sawo di samping mereka, dibarengi seruan pendek. “Heeeiittt! Ayo turun!”

Batu tersebut melesat dengan kecepatan tinggi, me- rupakan seleret sinar kelabu dalam pandangan yang hampir sukar ditangkap mata.

Taaak!

Suara benturan terdengar diiringi oleh jeritan me- lengking menyertai sesosok bayangan tubuh manusia melayang turun dari atas pohon sawo dengan suara mengaduh.

Pandan Arum seketika berteriak kaget dan kembali ia dibuat kagum oleh sesosok bayangan yang melayang jatuh ke tanah. Tentunya orang ini akan cedera atau patah tulangnya, namun begitu si bayangan tadi ham- pir menyentuh tanah, maka dengan gesitnya ia menje- jakkan kakinya ke tanah lebih dulu. Dengan begitu maka tubuhnya kembali melenting dan secepat kilat kabur ke arah barat, dibarengi teriak kutukan bernada mengancam. “Keparat! Kalian memang bertelinga ta- jam. Hari ini aku mengaku kalah, tapi tunggu hari-hari yang akan datang!”

“Pengecut busuk! Kau ngacir melarikan diri setelah ketahuan!” seru Mahesa Wulung seraya melesat untuk mengejar si pengintai tadi.

Begitu pula si Pandan Arum tak mau ketinggalan melihat Mahesa Wulung mengejar musuhnya, sehingga dengan cepat pula ia meloncat mengikuti kekasihnya.

Akan tetapi semua itu tidak banyak gunanya, sebab ternyata bayangan tadi mempunyai ilmu lari yang sa- ngat hebat. Dalam sekejap saja lenyaplah orang itu di balik semak-semak yang telah dirambah oleh baya- ngan senja.

Mahesa Wulung dan Pandan Arum segera menghen- tikan larinya begitu melihat buronannya telah kabur dan lenyap.

“Ia telah kabur!” desah Mahesa Wulung sambil me- meriksa permukaan tanah di dekatnya yang tadi telah dilewati lari oleh si pengintai. “Sayang sekali.”

“Ilmu larinya cukup hebat, Kakang,” sambung Pan- dan Arum. “Siapakah dia kiranya?”

“Memang cukup hebat!” sahut Mahesa Wulung pu- la. “Tapi lihatlah ini,” berkata begitu si pendekar ini menunjuk ke atas tanah. “Tetes-tetes darah! Pasti lem- paran batuku telah mengenainya! Nah, jangan kau ce- ritakan kejadian ini kepada siapa-siapa!”

“Akh, peristiwanya makin menarik, Kakang!” kata Pandan Arum. “Menilik teriak ancamannya, orang tadi pasti berasal dari pihak lawan!”

“Wah, aku lalu teringat dengan si Pakerti. Tiba-tiba saja aku mencemaskan keselamatannya!” desah Mahe- sa Wulung dengan suara kecemasan.

“Mengapa, Kakang?”

“Bukankah tadi aku telah menyebut-nyebut nama si Pakerti? Dan tidak mustahillah bila pengintai tadi telah mendengarnya!”

“Oh, sungguh mencemaskan,” sahut Pandan Arum. “Jika orang tadi ternyata dari pihak lawan, pastilah ji- wa dan keselamatan si Pakerti akan terancam bahaya dalam setiap saat! Mudah-mudahan saja hal itu tidak terjadi!”

“Yah, mudah-mudahan saja begitu,” sambung Ma- hesa Wulung. “Marilah kita kembali ke rumah, Adi.”

Demikianlah, mereka segera pulang dan malam pun tiba dengan tenangnya, seperti juga ia lenyap dengan perlahan-lahan pada keesokan harinya.

***

3

KI SUROTANI kini telah tenang hatinya. Pandan Sa- ri yang dahulu telah disangkanya tewas dan lenyap, kini telah dijumpainya kembali dalam keadaan segar- bugar serta menjadi istri dari Lawunggana.

Demikian pula ia telah menerima hartanya kembali yang telah sekian lama tersimpan di daerah Tanjung Bugel secara rahasia. Begitulah sesungguhnya suka dan duka saling mengisi kehidupan kita, dan Ki Suro- tani yang bijaksana itu mengucap syukur kepada Tu- han Yang Maha Pengasih yang telah mempertemukan- nya kembali dengan putrinya itu.

Di pagi yang cerah dan berudara segar, Ki Surotani telah berdiri di pagar halaman rumahnya bersama- sama para penduduk Desa Sekayu lainnya. Pagi itu, Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Gagak Cemani te- lah bersiap akan berangkat, meninggalkan Desa Seka- yu untuk kembali ke Demak. Tiga ekor kuda yang tangguh dan segar telah pula siap dengan pelana di punggung dan beberapa bung- kusan bekal di perjalanan. Sesudah mereka bertiga berpamitan kepada Ki Surotani serta orang-orang desa yang berdiri di situ, segeralah ketiganya meloncat ke punggung kudanya masing-masing.

“Selamat jalan, Angger bertiga!” ujar Ki Surotani se- raya melambaikan tangannya ke arah Pandan Arum, Mahesa Wulung dan Gagak Cemani. “Berhati-hatilah dalam menjalankan tugas kalian!”

“Terima kasih, Bapak,” berkata Mahesa Wulung se- raya mengangguk dan tersenyum manis. “Kami akan segera berkunjung kemari jika tugas-tugas telah sele- sai.”

“Yah, jagalah si Pandan Arum itu olehmu baik-baik, Angger Wulung!” berkata pula Ki Surotani, sementara Pandan Arum sendiri tertunduk dengan wajah merah tersipu malu.

Mahesa Wulung sekali lagi mengangguk hormat se- belum ia menderapkan kudanya meninggalkan hala- man rumah Ki Surotani diikuti oleh Pandan Arum dan Gagak Cemani.

Ketiganya memacu kudanya seperti berlomba berke- jaran dengan ujung sinar matahari yang telah dipa- nahkan ke permukaan tanah.

Sambil berpacu itu, hati Mahesa Wulung senantiasa mencemaskan keselamatan Pakerti yang ditinggalnya di Demak. Lebih-lebih bila ia teringat akan peristiwa kemarin senja ketika ia berhasil memergoki seorang pengintai yang telah memata-matainya dengan diam- diam. Selain itupun ia sangat heran kepada orang yang bernama Jagal Wesi yang telah menyelamatkan jiwa Pakerti. Sungguh-sungguh ia ingin mengetahui siapa- kah sebenarnya si Jagal Wesi tersebut.

Menilik namanya, agaknya dia berkekuatan dan bertubuh kokoh seperti besi. Tapi sekali lagi, semua itu akan menjadi jelas bila ia telah bertemu dengan Paker- ti serta menanyainya pula.

Tanpa terasa, ketiganya telah melewati kota Asema- rang dan berbelok ke arah timur, menuju ke pintu ger- bang timur kota. Mereka mengikuti jalan besar yang menuju ke arah kota Demak dengan kecepatan bagai ketiga buah anak panah yang ditembakkan!

Matahari semakin tinggi mengarungi angkasa dan sinarnya menerangi permukaan bumi dengan terang- nya. Sebentar lagi siangpun akan tiba bersamaan Ma- hesa Wulung bertiga telah mendekati pintu gerbang luar Kota Demak.

“Kita akan langsung menuju ke tempat Pakerti?” bertanya Gagak Cemani kepada Mahesa Wulung.

“Tidak, Kakang Cemani,” sahut Mahesa Wulung. “Kita singgah dulu ke Balai Kesatrian, untuk melapor- kan diri dan menitipkan kuda di sana. Setelah itu, kita berjalan kaki menuju ke tempat Pakerti. Aku sambil la- lu ingin menunjukkan keramaian dan suasana Kota Demak kepadamu.”

“Eeh terima kasih, Adi Wulung,” ujar Gagak Cemani pula. “Kebetulan aku ingin mencicipi buah belimbing dari kota ini.”

“Heh, heh, heh. Kakang Cemani ternyata mempu- nyai selera yang baik. Memanglah, buah belimbing dari Kota Demak ini terkenal di mana-mana. Buahnya be- sar, manis dan kuning-kuning,” ujar Mahesa Wulung. “Nah, kita berbelok sedikit ke selatan dan kita masuk ke pintu gerbang rumah yang berhalaman luas itu. In- ilah Balai Kesatrian yang aku ceriterakan tadi.”

Mereka bertiga masuk dan segera menitipkan ku- danya, serta kemudian Mahesa Wulung memberikan laporan tentang kedatangannya kepada seorang petu- gas di situ. Sesudah selesai, ketiganyapun berjalan kaki menu- ju pintu gerbang keluar untuk mencari si Pakerti. Se- mentara itu, sambil berjalan tadi kelihatan Gagak Ce- mani memperhatikan keadaan Balai Kesatrian.

Tampak oleh Gagak Cemani, beberapa orang perwi- ra tengah berlatih diri di halaman Balai Kesatrian ini dengan berolah senjata bermacam-macam. Pendekar dari timur ini mau tak mau menjadi kagum juga oleh latihan-latihan mereka.

Di sebelah yang lain, tampak pula sedang duduk- duduk di bawah pohon beringin yang rindang, bebe- rapa orang perwira membicarakan sesuatu yang keli- hatannya sangat penting. Hal ini terlihat dari wajah- wajah mereka yang tegang dan penuh perhatian.

Tiba-tiba saja percakapan mereka terhenti seketika, apabila Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Gagak Ce- mani melewati tempat mereka. Semua pandangan ma- ta para perwira tadi tertumpah kepada Mahesa Wulung bertiga, lebih-lebih kepada Gagak Cemani, si pendekar berjubah itu.

“Kakangmas Mahesa Wulung!” terdengar sebuah se- ruan yang nyaring dari arah para perwira tadi. “Tung- gulah sebentar!”

Mendapat panggilan tersebut, Mahesa Wulung ber- tiga serentak berhenti dan berpaling ke arah mereka.

“Oo engkau, Adi Surowo. Telah lama kita tak ber- jumpa, bukan? Heh, makin gagah saja engkau ini,” ujar Mahesa Wulung kepada salah seorang perwira yang baru saja menyapa dirinya tadi.

“Eeeeh, Kakang Mahesa Wulung terlalu memanja- kanku dengan pujian-pujian tadi,” sahut perwira Su- rowo seraya tertawa lebar. “Dan kami baru saja mem- bicarakan perihal Kakang Mahesa Wulung beserta tuan pendekar berjubah ini.”

“Wah, tampaknya kami tengah menjadi tokoh dari ceritera kalian itu,” ujar Mahesa Wulung. “Kenalkanlah sekarang. Inilah Kakang Gagak Cemani dari daerah timur.”

Tak lama kemudian, mereka telah saling berkenalan dengan akrabnya, dan beberapa saat itu pula, Surowo telah berkata, “Kakangmas Mahesa Wulung, secara ke- betulan pada beberapa hari yang lalu aku telah sempat menyaksikan pertempuran Tuan pendekar Gagak Ce- mani di daerah pinggiran kota Demak di sebelah timur dan kemudian aku ceriterakan hal itu kepada teman- temanku ini. Akan tetapi, di antara mereka ini ada yang menyangsikan ceriteraku tadi. Mereka menyang- ka bahwa aku telah mengarang-ngarang tokoh yang bernama Gagak Cemani! Tak tahunya sekarang ini, mereka telah berhadapan dengan orangnya.” Surowo berhenti sejenak sambil melayangkan pandangan ma- tanya ke wajah salah seorang di antara perwira-per- wira tadi yang berwajah kaku dan berhidung lebar. “Bagaimana, Kakang Tungkoro?” bertanya Surowo ke- pada si wajah kaku. “Apakah Kakang masih belum percaya akan ceriteraku tadi?”

“Ehmm, yah aku percaya sekarang, Adi,” jawab Tungkoro seraya menatap pendekar Gagak Cemani de- ngan pandangan penuh selidik.

“Dan apakah Kakang juga masih akan melaksana- kan maksud Kakang semula?” kembali Surowo ber- tanya.

“Eh, agaknya kalian mempunyai persoalan yang menarik sekali,” sahut Mahesa Wulung pula. “Kata- kanlah. Jika boleh, kami ingin mengetahuinya!”

“Maaf, Kakangmas Mahesa Wulung,” ujar Tungkoro. “Kami tadi telah saling berjanji ketika Adi Surowo ber- ceritera, jika tokoh pendekar Gagak Cemani tadi betul- betul ada, saya ingin sekali untuk sedikit mendapat pelajaran dan bermain-main dalam beberapa gebrakan jurus silat dari Tuan pendekar Gagak Cemani.”

Mahesa Wulung termangu sesaat dan berpaling ke arah Gagak Cemani. Tapi apa yang dilihatnya cuma sebuah senyuman yang menghias pada bibir sahabat- nya itu, dan karenanya pula Mahesa Wulung berkata. “Apakah ini berarti tantangan buat Kakang Gagak Ce- mani?” 

“Ooo, harap dimaafkan, Kakangmas Mahesa Wu- lung,” kata Tungkoro tergagap bingung. “Bukan sekali- kali saya bermaksud menantang Tuan Gagak Cemani ini. Tapi karena terdorong oleh kekaguman dan keingi- nan saya untuk berkenalan lebih erat lagi, maka terla- hirlah maksud itu tadi.”

“Heh heh heh,” tawa pendekar Gagak Cemani sera- ya mengelus-ngelus kumisnya yang melintang. “Anda tak usah sungkan-sungkan terhadap saya, Tuan Tung- koro. Aku sangat senang dan menghargai maksudmu tadi. Dan untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”

“Eh, syukurlah jika Kakang Cemani tidak menjadi salah paham oleh maksud Adi Tungkoro ini,” ujar Ma- hesa Wulung.

“Nah, sekarang mulailah, Tuan Tungkoro,” ujar Ga- gak Cemani seraya bersiaga. “Apakah Anda menghen- daki bermain-main dengan tangan kosong dahulu ataukah langsung menggunakan senjata kita?”

“Jika Andika tidak keberatan, baiklah kita terlebih dahulu memakai tangan kosong saja,” berkata Tungko- ro sambil memasang kuda-kuda jurus silatnya ke arah Gagak Cemani.

Hampir setiap dada orang-orang di situ tergetar me- lihat kedua orang itu mulai bersiaga dengan jurus- jurus serangannya. Bagi perwira-perwira muda yang berada di situ, mereka telah tahu bahwa Tungkoro termasuk pula pendekar yang tangguh dan ulet. Se- dang Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Surowo yang pernah menyaksikan tandang dan gerakan Gagak Ce- mani menjadi berdebar-debar pula jantungnya.

“Hyaaaat!” terdengar pekikan Tungkoro berbareng tubuhnya menyerbu ke arah Gagak Cemani. Sebuah pukulan tangan yang sederas badai meluncur kepada Gagak Cemani.

Wuuuut!

Gagak Cemani tercengang sesaat oleh serangan Tungkoro. Dan begitu jarak pukulan itu tinggal sejeng- kal dari dadanya, dengan manisnya Gagak Cemani menggeser kaki kirinya ke kanan dalam, dan dengan sedikit menarik dadanya ke belakang, maka loloslah pukulan tangan Tungkoro tadi dari sasarannya.

Maka terdengarlah desis kagum dari mulut para penonton oleh kejadian tadi. Namun belum lagi me- reda, mendadak Tungkoro menutup serangannya yang gagal tadi dengan sebuah tendangan kaki kanan yang menyambar ke arah pinggang Gagak Cemani dalam kecepatan yang mengagumkan.

Betapapun Gagak Cemani telah matang dalam ilmu silatnya, namun melihat serangan-serangan dari Tung- koro tadi ia tak mau main-main. Maka di saat tenda- ngan tadi meluncur dengan derasnya, Gagak Cemani segera mengetrapkan ilmu meringankan tubuhnya ber- bareng kakinya menggenjot tanah. Dan bagaikan see- kor belalang, maka melentinglah tubuh Gagak Cemani ke udara disertai beberapa kali jungkir balik yang sa- ngat lincah. Dengan begitu, maka sekali lagi serangan Tungkoro cuma melanda udara kosong belaka!

Untuk kedua kalinya pula para penonton bergu- mam saking kagumnya, sedang Tungkoro dengan sen- dirinya menjadi semakin panas hatinya sehingga ter- paksalah ia mengerahkan segenap ilmu dan kekuatan tubuhnya dalam menghujankan serangan-serangan dahsyat ke arah Gagak Cemani!

Diikuti oleh desau angin dan bunyi bersuit, sera- ngan Tungkoro bertubi-tubi menggempur pertahanan Gagak Cemani yang teguh bagaikan benteng gunung karang.

Sepintas lalu, serangan Tungkoro tadi seperti topan ganas yang haus akan korbannya, bersambung-sam- bung susul-menyusul tak ada redanya. Jika lawannya hanyalah orang kebanyakan belaka, pastilah dalam sekejap mata akan terpukul roboh.

Gagak Cemani memang bukan pendekar sembara- ngan yang lekas terpengaruh ataupun berkecil hati menjumpai lawan setangguh itu. Mula-mula ia membe- ri kesempatan kepada Tungkoro untuk terus-menerus menghimpun serta mencecar dengan serangan- serangannya. Setelah ia mendapat sedikit ukuran akan kekuatan Tungkoro, maka cepat-cepat ia menyela- raskan dirinya sedikit berada di atas Tungkoro. Den- gan demikian, maka Gagak Cemani selalu berhasil me- nanggulangi semua serangan yang menuju ke dirinya.

Beberapa saat kemudian Gagak Cemani telah me- mulai serangan-serangan beratnya. Dimulai dari jurus- jurus ringan yang kemudian meningkat semakin dah- syat, sehingga membuat Tungkoro makin terperanjat.

Bagi dirinya, Tungkoro mulai dapat merasakan pe- rubahan dari serangan Gagak Cemani tersebut yang selincah burung sikatan tapi sedahsyat banteng meng- amuk!

Kendatipun Tungkoro telah mengeluarkan segenap ilmu silat serta ketrampilannya, rasanya toh belum memadai tandang Gagak Cemani.

Merasa kalau lawannya itu dapat mengatasi segala serangannya, maka Tungkoro menjadi lebih beringas dan diam-diam ia telah mengetrapkan pukulan ujung jarinya yang telah berkali-kali sanggup menjatuhkan lawan-lawannya, bahkan tidak jarang menimbulkan kematian di pihak mereka.

Tungkoro sekali ini ingin mengetahui apakah pen- dekar Gagak Cemani, si kumis melintang ini, mampu menyambut pukulannya pula!

Apa yang tengah dipikirkan oleh Tungkoro itu ter- nyata dapat diduga oleh si pendekar berjubah sebe- lumnya. Begitu ia melihat Tungkoro mengambil sikap pukulan tertentu, Gagak Cemani cepat-cepat bersiaga seraya meloncat ke samping.

“Hmm, dia telah bersiaga pula!” pikir Tungkoro di- am-diam. “Sekarang akan kuuji si Gagak Cemani ini dengan pukulan dari perguruan Kedungjati yang telah aku siapkan!”

Semua penonton pada menahan napas, seperti hal- nya Mahesa Wulung berdebar-debar jantungnya me- nyaksikan kedua pendekar itu telah saling bersiaga sepenuhnya.

“Hyaattt!”

Teriakan yang memekakkan telinga terdengar dan mengejutkan setiap telinga yang mendengarnya, disu- sul oleh tubuh Tungkoro yang melesat ke depan me- nerjang ke arah Gagak Cemani.

Sesaat dada Gagak Cemani berdesir, namun ia telah bersiaga sejak semula, dan kini dengan tegar dan tangguhnya ia menyilangkan kedua telapak tangannya di depan tubuh, siap untuk menyambut pukulan Tungkoro.

Blaaang!

Suara benturan keras terdengar, seperti dua bilah papan yang diadu dengan dahsyatnya. Dan apa yang terlihat kemudian sungguh menggoncangkan setiap dada orang yang berada di tempat itu.

Tampaklah tubuh Gagak Cemani masih tegak pada tempatnya dengan cuma bergoyang-goyang sedikit, se- dang Tungkoro seketika mencelat ke belakang bebe- rapa tombak untuk kemudian bergulingan jatuh di. tanah sambil meringis dan mendesis.

Dada Tungkoro dapat terlihat oleh setiap mata, be- tapa ia berkempas-kempis seperti ikan kekeringan air. Teranglah bahwa ia kehabisan napas dan tenaga.

Tetapi dasar ia pendekar pilihan dari Kedungjati, maka sejurus kemudian ia duduk bersila di tanah un- tuk mengatur napas dan tenaganya yang telah banyak lolos dan setengah membalik akibat tolakan pukulan dari Gagak Cemani.

Beberapa saat suasana menjadi lengang ketika se- tiap mata yang menatapi sikap Tungkoro yang lagi memulihkan tenaganya, termasuk pula Gagak Cemani yang dengan tenangnya menantikan lawannya itu.

Ketika Tungkoro telah memperoleh tenaganya kem- bali yang telah terlontar keluar tadi, kemudian ia me- natap Gagak Cemani dengan mata setengah menyipit, sebagai pertanda kekagumannya terhadap si pendekar berjubah itu.

“Memang hebat Gagak Cemani!” pikir Tungkoro sen- diri. “Ternyata tenaga dalamku berada di bawah ting- katannya! Tapi bagaimana dengan permainan senja- tanya? Hm, aku harus pula mencobanya!”

Sambil berpikir demikian, Tungkoro lalu meraba hulu pedangnya yang tergantung di pinggang kiri dan selama ini belum dipergunakannya.

Mendadak saja, dengan kecepatan yang menga- gumkan, Tungkoro telah mencabut senjatanya seraya meloncat ke depan. Pedang di tangannya terjulur lurus menyambar ke dada Gagak Cemani yang masih saja berdiri dengan tenangnya.

Yah, memang si pendekar berjubah sengaja berdiam diri, sebab dengan ketenangan itu berarti ia dengan mudahnya bisa memperhatikan Tungkoro. Hanya dengan sedikit menggeser kakinya dan men- condongkan badan ke kiri, maka ujung pedang yang telah meluncur ke dadanya berhasil dielakkannya.

Bahkan tidak hanya sampai di sini saja Gagak Ce- mani beraksi. Sambil menghindar tadi, tangan kanan- nya menyampok ke kanan ke arah tangan Tungkoro yang menggenggam pedang!

Untunglah saja Tungkoro masih cukup mempunyai kewaspadaan diri. Begitu ia melihat tangan kanannya terancam oleh pukulan tangan Gagak Cemani, secepat itu pula ia menarik kembali serangannya disusul tu- buhnya meloncat ke samping.

“Ayo, Tuan! Silakan cabut senjatamu biar kita lebih sedap untuk bermain-main!” seru Tungkoro sambil melesat ke depan sambil menggerakkan pedangnya langsung mematuk dada Gagak Cemani.

Setiap dada seperti berdentang keras melihat cara Tungkoro melancarkan serangannya. Benar-benar trampil dan cekatan seperti gerakan seekor elang yang siap mematuk korbannya dengan paruhnya yang ta- jam!

Gagak Cemani merasa bahwa serangan pedang Tungkoro ini berbahaya sekali untuk disepelekan. Ma- ka secara tangkas pula Gagak Cemani menarik tubuh- nya selangkah ke samping serentak kakinya menggen- jot tanah.

Gerakan si pendekar berjubah ini ternyata tak kalah hebatnya. Laksana seekor burung sikatan yang tubuh- nya melenting ke atas, berbareng pula ia melolos golok hitamnya!

Sreeett!

Masih dalam gerakan selincah burung sikatan, si Gagak Cemani menyambar ke bawah dengan golok hi- tamnya menebas ke arah kepala Tungkoro.

Sriiingngng! Sambil menggerutu Tungkoro terpaksa mengendap dan dengan cekakaran menggulingkan tubuhnya di tanah untuk menjaga agar kepalanya tidak copot oleh tebasan golok Gagak Cemani!

Dalam saat itu pula tahulah Tungkoro bahwa ceri- tera tentang Gagak Cemani yang diceriterakan oleh sa- habatnya, Surowo, ternyata memang cocok dengan ke- nyataannya!

Meskipun demikian Tungkoro belum merasa puas sebelum ia mengetahui kelebihan Gagak Cemani dalam berolah senjata. Itu pula sebabnya mengapa Tungkoro memutar dan menggerakkan pedangnya untuk menye- rang Gagak Cemani dengan hebatnya, hingga kemu- dian yang terlihat pusaran adalah si putih yang melon- cat-loncat ke sana kemari, mengancam setiap kelenga- han dan kelowongan dari pertahanan Gagak Cemani.

Tetapi si pendekar berjubah itupun bergerak sema- kin dahsyat dengan senjata golok hitamnya. Golok ter- sebut seolah-olah menari-nari ke sana kemari me- nyambut setiap libatan pedang Tungkoro, bagaikan se- orang gadis yang selalu menyongsong setiap gerak ta- rian seorang jejaka.

Tidak jarang kedua senjata itu saling bersentuhan, bahkan berbenturan dengan suara gemerincing diba- rengi letupan bunga api. Dalam saat-saat demikian Tungkoro selalu berhati-hati, sebab setiap benturan itu terasalah betapa tangan kanannya menjadi nyeri.

Begitulah, setiap orang yang menyaksikan pertaru- ngan tersebut telah dicengkam oleh kekaguman serta rasa yang tidak dapat terpahami, tak ubahnya orang yang lagi bermimpi.

Wajah orang-orang tersebut semakin menegang, se- perti seutas benang yang direntang pula kedua ujung- nya, tanpa sedikitpun kesempatan untuk mengendor. Apalagi ketika kedua pendekar itu semakin cepat ber- gerak hingga seolah-olah tubuh mereka lenyap, kecuali dua bayangan hitam dan lingkaran-lingkaran sinar pe- dang dan golok hitam yang tertampak.

Tungkoro tidak mengira bahwa ia dapat menjumpai seorang pendekar muda sakti di luar lingkungan ke- prajuritan Demak. Kalau dengan Wira Tamtama Ma- hesa Wulung, ia telah pula mengenalnya. Nama-nama tokoh sakti di luar Demak telah ia dengar pula, seperti Macan Kuping, Ki Topeng Reges, Rikma Rembyak, Pen- dekar Bayangan, Ki Camar Seta dan sebagainya. Na- mun kesemuanya itu toh terbilang dari kalangan to- koh-tokoh tua. Sedang kini, ia menjumpai pendekar muda Gagak Cemani, yang masih sebaya dengan diri- nya dan sedikit lebih tua dari Mahesa Wulung.

Oleh sebab itulah, di dalam hati Tungkoro timbul perasaan bangga karena ia sempat berkenalan dengan Gagak Cemani dengan cara yang dikehendaki, yaitu bertanding olah tenaga dan kelincahan bermain senja- ta.

Habislah puluhan jurus berlalu, tapi pertempuran mereka belum mereda, bahkan makin sengit. Apalagi ketika Tungkoro telah memahami bahwa lawannya cu- kup tangguh untuk menghadapinya, maka ia tidak se- gan-segan untuk menumpahkan segala ilmu pedang- nya terhadap Gagak Cemani tanpa perlu kuatir bila Gagak Cemani akan mengalami cedera oleh senjata pedangnya.

Adalah sudah sepatutnya bila masing-masing ingin segera mengakhiri pertandingan tersebut, dengan me- nunjukkan kelebihannya kepada lawannya dan me- nang. Hanya saja satu hal yang tidak boleh terjadi pa- da mereka, yaitu masing-masing tidak boleh melukai lawannya.

Yah, itu sudah tentu demikian. Bukankah mereka bertarung hanya sekadar sebagai mempererat persa- habatan belaka? Jadi dalam hati mereka, tidak ada se- kelumit pun perasaan untuk membunuh ataupun me- lukai lawannya. Mereka sekadar ingin menunjukkan kelebihan yang dipunyainya. Lain tidak!

Akhirnya Tungkoro telah merasa cukup lama dan ia bermaksud menggunakan jurus pedangnya, ‘Menyobek Daun Ilalang’, untuk memenangkan pertandingan itu.

“Haaiittt!”

Teriakan keras terdengar dari mulut Tungkoro ber- samaan tubuhnya melesat ke arah Gagak Cemani. Ju- rus yang dipergunakannya mempunyai dua gerakan. Pertama menusuk, kemudian menebas ke samping, di mana lawan berada. Dengan begitu maka lawannya akan menjadi bingung, sebab kedua gerakan tadi sa- ling berhubungan tapi tidak terduga-duga datangnya.

Melihat hal ini, Gagak Cemani tidak tinggal diam begitu saja. Ia pun dengan sebatnya meloncat ke atas menyambut serangan Tungkoro tadi.

Maka terlihatlah dua bayangan manusia itu melun- cur ke atas saling menyongsong dengan senjata-sen- jata siap beraksi, dan apa yang kemudian terjadi sung- guh mencengkam perasaan.

Wessss. Sreettt, sret, sret. Traaang!

Begitulah, berbagai suara terdengar ketika Gagak Cemani dan Tungkoro saling berpapasan di udara.

Sesaat kemudian, keduanya telah mendarat kemba- li di tanah, namun itu bukan berarti bahwa suasana yang tegang tadi telah mereda. Bahkan sebaliknya.

Saat-saat itu adalah saat yang menentukan dan me- rupakan puncak daripada pertandingan itu. Kini se- mua orang ingin melihat apakah yang telah terjadi pa- da mereka? Siapakah yang kalah dan siapa yang me- nang?

Begitu Gagak Cemani dan Tungkoro mendarat dan tiba di tanah, keduanya segera berhadapan kembali dalam jarak sejauh tiga tombak lebih.

Yang pertama-tama memeriksa dirinya adalah Ga- gak Cemani. Ia merasa bahwa tubuhnya tidak menda- pat cedera sedikitpun, namun toh ia merasa ada sesu- atu yang tidak beres pada dirinya. Benarkah pedang Tungkoro telah berhasil menyentuh dirinya?

Tiba-tiba saja Tungkoro tersenyum dan begitu pula semua orang yang berada di tempat itu, ketika, Gagak Cemani mendesis kaget sesudah ia merentang sisi ju- bahnya yang kanan.

“Oooh!”

Ya, ternyata pada sisi jubah tersebut terlihat sobe- kan sepanjang setengah jengkal! Dan karenanya pula Gagak Cemani mengakui dalam hati akan kehebatan Tungkoro.

Sesaat kemudian Gagak Cemani menyarungkan kembali golok hitamnya, sementara Tungkoro masih saja tersenyum-senyum karena kelebihannya itu!

Suara bergumam terdengar dari mulut orang-orang yang berada di tempat itu, yang ternyata telah penuh oleh para tamtama prajurit dan petugas lainnya.

Ketika bergumam itu, semua pandangan mata bera- lih dari Gagak Cemani kepada Tungkoro. Mengapakah demikian itu? Mungkin orang-orang di situ ingin me- muji kehebatan permainan pedang Tungkoro yang te- lah berhasil menyobek sisi jubah si Gagak Cemani.

Sekarang giliran Tungkoro ingin memeriksa tubuh- nya, apalagi ketika ia merasa bahwa dadanya menjadi dingin oleh sentuhan angin.

Tungkoro cepat-cepat meraba dadanya. Selama ini ia kurang menyadari dirinya dan berkeyakinan bahwa golok Gagak Cemani tidak bakal sanggup menyentuh dirinya.

Namun benarkah kiranya anggapan Tungkoro tadi? Sayang ia tidak mengetahui, bahwa Gagak Cemanipun telah menggunakan jurusnya ‘Seriti Meminum Embun’ yang hebat.

“Waaakhhh!” seru Tungkoro, demikian ia meraba dadanya! Ternyata bajunya telah terbelah mulai dari leher sampai pusat dan sepertiga ikat pinggangnyapun turut tersayat pula! Inilah hebatnya. Meskipun baju- nya itu terbelah, kulit dadanya tidak mendapat cedera sedikitpun.

Hal tersebut tentu pula mustahil. Sebab jika sean- dainya mau, Gagak Cemanipun sanggup menggores ataupun membelah dada Tungkoro tadi.

Tetapi toh hal itu tidak dilakukannya. Sebab lawan- nya bertanding bukanlah orang jahat ataupun lawan yang sebenarnya, melainkan hanya lawan sementara sebagai pengikat perkenalan dan persahabatan saja.

Tungkoro buru-buru melangkah ke arah Gagak Cemani seraya tersenyum tulus dan berkata, “Hebat! Anda memang pendekar gemblengan, Saudara Gagak Cemani! Akh, aku merasa berterima kasih oleh pelaja- ran dari Saudara ini. Dengan demikian aku dapat mengetahui sampai di mana kemampuanku!”

“Tak usah berkecil hati, Tuan!” ujar Gagak Cemani seraya menyambut jabatan tangan dari Tungkoro ke- padanya. “Andika pun punya kelebihan yang menga- gumkan hatiku.”

“Eeh, Andika berdua telah bermain dengan baik!” berkata Mahesa Wulung yang mendapatkan kedua pendekar itu bersama Pandan Arum. Sementara itu orang-orang di situ satu demi satu berlalu dan kembali kepada kesibukannya semula.

“Sobat sekalian, aku permisi dahulu untuk mening- galkan kalian, karena aku harus mengganti bajuku ini lekas-lekas. Jika tidak, pasti aku akan masuk angin. Heh, heh, heh,” ujar Tungkoro seraya mendekap dada- nya. Sesudah mengangguk hormat kepada ketiga saha- batnya itu, Tungkoro berlalu meninggalkan tempat ter- sebut ke arah barat, sedang Surowopun berjalan pula di sampingnya.

“Adimas Mahesa Wulung. Waktu kita telah tertahan di sini beberapa saat,” berkata Gagak Cemani. “Apakah kita tidak perlu lekas-lekas pergi mendapatkan Paker- ti?”

“Benar, Kakang Cemani!” sahut Mahesa Wulung pu- la seraya menatap ke langit, melihat matahari yang te- lah mulai condong ke arah barat. “Marilah kita be- rangkat segera!”

Ketiganya lalu bergegas melewati pintu gerbang Ba- lai Kesatrian, kemudian berjalan ke arah timur untuk mendapatkan Pakerti yang telah ditempatkannya di rumah pemondokan para prajurit Demak.

Jarak yang mereka tuju tidaklah terlalu jauh, se- hingga dalam beberapa saat saja sampailah mereka di tempat tujuan.

Seorang prajurit tua segera tergopoh mendapatkan Mahesa Wulung bertiga dan berkatalah orang tua ini. “Anakmas Mahesa Wulung! Selamat datang... tapi... tapi di manakah si Pakerti itu? Bukankah tadi Anak- mas telah memerintahkan beberapa orang untuk men- jemput Pakerti?”

“Hah, bagaimanakah duduk perkara sebenarnya, Bapak?” sahut Mahesa Wulung seraya tercengang he- ran. “Aku tak mengerti maksud itu. Baru sekarang in- ilah kami datang kemari untuk menjemput Pakerti!”

“Oh, jadi... Anakmas tidak menyuruh orang-orang untuk menjemput Angger Pakerti?” ujar prajurit tua itu dengan melongo.

“Tidak, Bapak. Sekarang cobalah Bapak ceriterakan hal itu dengan jelas, agar kami dapat mengetahui du- duk perkara yang sebenarnya.” “Baik, Anakmas Wulung,” berkata orang tua itu se- raya mengatur kata-katanya. “Kejadian ini telah berla- lu, kira-kira sepenanak nasi lamanya dari sekarang. Beberapa orang telah datang ke tempat ini katanya un- tuk menjemput Pakerti. Aku masih dapat mengingat bahwa salah seorang dari mereka mempunyai bengkak dan sedikit luka pada pelipisnya. Mereka berkata ke- pada Pakerti yang waktu itu lagi duduk-duduk bersa- ma saya, bahwa mereka diutus oleh Anakmas Mahesa Wulung untuk menjemput Pakerti yang katanya ada urusan penting dan harus segera pergi ke sebelah ti- mur kota Demak ini. Kami tak merasa curiga apapun dan Pakerti menyetujui ajakan mereka. Sesudah ia berganti pakaian sebentar, berangkatlah Angger Paker- ti bersama mereka ke arah timur. Nah, demikianlah kejadian yang sejelasnya, Anakmas Wulung.”

“Aduh, ketiwasan kita!” seru Mahesa Wulung. “Me- reka justru adalah lawan-lawan kita, Bapak. Sebab kami tidak menyuruh seorangpun untuk menjemput si Pakerti!”

“Lalu apakah tindakan kita, Anakmas Wulung? Ba- gaimana kalau kita kerahkan beberapa orang prajurit untuk mengejar mereka?” kata si prajurit tua.

“Jangan, Bapak. Hal itu tentu akan menimbulkan keributan pada umum. Maka biarlah kami saja yang akan mencari mereka!” berkata Mahesa Wulung pula. “Marilah, Kakang Cemani dan Adi Pandan Arum, kita cepat-cepat mengejar mereka. Permisi saja Bapak, ka- mi pergi sekarang!”

Hati siapa yang tidak akan panik oleh keterangan si prajurit tua tadi, terlebih lagi bagi Mahesa Wulung. Apa yang dikuatirkan tentang keselamatan Pakerti ter- nyata kini telah benar-benar terjadi. Dan apabila Ma- hesa Wulung mengingat keterangan si prajurit tua yang menyatakan bahwa salah seorang di antara para penjemput Pakerti itu mempunyai ciri luka dan beng- kak pada pelipisnya, ia lalu menjadi teringat oleh keja- dian di Asemarang beberapa hari yang lalu. Di sana ia telah melukai seorang pengintai gelap, dan tidak mus- tahil bahwa si pengintai gelap tadi adalah orang yang mendatangi Pakerti.

Begitulah Mahesa Wulung bertiga berjalan dengan cepatnya ke arah timur. Pintu gerbang kota telah keli- hatan dan sebentar lagi mereka akan melewatinya.

Udara sore semilir bertiup sangat segarnya memba- wa hawa laut yang menyongsong dedaunan pohon yang sesiang tadi telah kepanasan oleh teriknya sinar surya.

***

4

DI SEBUAH hutan kecil tidak jauh dari daerah ti- mur kota Demak, tampaklah beberapa orang berjalan beriringan menerobos semak-semak ilalang.

Yang paling depan bertubuh kekar dengan kumis dan jenggotnya yang kasar serupa ijuk. Pada pelipis- nya terdapat sebuah bengkak kebiruan dan luka kecil yang sedikit agak kering.

Di belakangnya lagi, berjalan seorang yang berpera- wakan jauh lebih tinggi daripada si kumis ijuk yang ada di muka. Ikat kepalanya merah membara war- nanya. Ia memakai baju berwarna coklat tua berkilat seperti beludru dan pada bagian dadanya dihiasi oleh bulatan logam selebar telapak tangan lebih, merupa- kan perisai kecil yang selalu melindunginya dari setiap bahaya.

Berjalan nomor tiga adalah si Pakerti, yakni si pe- muda yang saat ini tengah dicari-cari oleh Mahesa Wu- lung dan kedua rekannya.

Sedang di belakangnya lagi, tampak empat orang berperawakan tinggi kekar yang selalu mengawasi Pa- kerti dengan seksama dan cermatnya.

Ketika mereka semakin jauh menerobos semak ila- lang tadi, diam-diam Pakerti menjadi semakin cemas dan menjadi setengah curiga.

Oleh sebab itu, Pakerti selalu mencoba meninggal- kan jejaknya dengan kadang-kadang mematah ranting pohon ataupun membuat lobang telapak kakinya lebih dalam di tanah. Ia berharap semoga ada orang lain yang dapat melihat jejaknya itu.

“Tuan, di manakah kalian akan mempertemukanku dengan Tuan pendekar Mahesa Wulung?” bertanya Pa- kerti kepada si baju perisai. “Mengapakah ia mengutus kalian dan tidak datang sendiri menemaniku?!”

“Jangan banyak cerewet, anak muda!” bentak si ba- ju perisai. “Ikuti saja langkah kami dengan menurut agar kau tidak mendapat kesukaran!”

“Heiii, itu kata-kata ancaman! Apa maksud kalian sebenarnya. Di mana Tuan Mahesa Wulung berada?!” seru Pakerti dengan cemas dan paniknya, sementara satu perasaan aneh mulai merayapi dadanya.

“Diam! Kau tidak dengar kataku tadi?!” teriak si ba- ju perisai. “Atau aku harus menyumbat mulutmu de- ngan pedangku ini supaya engkau diam?!”

“Lhoo, kemana kalian akan membawaku?!” berseru Pakerti ketakutan dengan dada berdentang-dentang.

“Ke neraka!” bentak si baju perisai lagi seraya me- noleh ke arah Pakerti. “Oleh karenanya, engkau tak perlu banyak tingkah, bocah ingusan!”

“Heee, jadi kalian telah menipuku?! Keparat!” teriak Pakerti sekaligus melancarkan pukulan tangan kirinya ke lambung si baju perisai di depannya. Api kemara- han telah membakar dadanya.

Breeeekkk! “Aaaauuuhhh!”

Kembali Pakerti berteriak kesakitan ketika pukulan tangannya mendarat di lambung si baju perisai, terasa seperti membentur bukit karang.

Pakerti terpental ke belakang serta mengibas-ngi- baskan tangan kirinya dan sebentar pula menghem- bus-hembusnya lantaran pukulannya tadi serasa membentur dinding karang yang tebal. Sedang si baju perisai cuma tertawa tergelak-gelak.

Merasa bahwa dirinya berada dalam bahaya, maka Pakerti dengan sebat meloncat ke samping untuk ka- bur. Tetapi sekali lagi ia terkejut, begitu si baju perisai menggerakkan tangannya separuh lingkaran dan tahu- tahu kesepuluh jari-jari tangannya telah menyambar pinggang Pakerti dan kemudian membantingnya sekali ke tanah, hingga tak ampun lagi si Pakerti jatuh ter- jengkang dan mengaduh kesakitan.

“Seret bocah ingusan ini!” teriakan perintah dari si baju perisai kepada keempat rekan di sebelah belakang yang secepat kilat menyeret dan mengikat tangan Pa- kerti dengan kuat.

Bagaimanapun juga pemuda itu masih mempunyai keberanian dan dengan sekuat tenaganya ia berontak sekeras mungkin. Namun rupanya para penyergapnya ini sungguh-sungguh orang pilihan, sehingga usaha- nya tadi adalah sia-sia belaka.

“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Pakerti seperti ca- cing kepanasan dijepit tangan-tangan perkasa.

“Heh, heh, heh. Berteriaklah sampai mulutmu so- bek! Toh, akhirnya engkau akan mampus juga!” bentak si baju perisai disertai ketawa yang memuakkan teli- nga.

Akhirnya Pakerti tak berdaya sama sekali. Selain ia kalah tenaga, iapun kurang cukup mempunyai bekal- bekal kepandaian silat.

“Hemmm, sekarang kau tak berdaya, setan kecil!” ejek si baju perisai dan mulutnya kemudian tersenyum lebar. “Tangan kirimu tadi telah lancang menyentuh tubuhku, dan untuk itu kau harus menerima huku- man!”

“Heh heh heh, ha, ha,” terdengar derai ketawa para pengikut si baju perisai tadi seraya mengganggu si Pa- kerti dengan tamparan-tamparan dan tendangan kaki.

“Keparat! Iblis!” umpat Pakerti dengan beraninya. “Ayo, bunuhlah aku jika kalian berani!”

“Bagus! Kau masih berani berlagak di hadapanku! Kau tahu siapa aku ini, haah?! Akulah Surokolo, si dada besi yang tak terkalahkan!” demikian seru si baju perisai yang menyebutkan dirinya, menyebabkan dada Pakerti berdesir seketika, sebab ia pernah mendengar nama itu. Nama yang banyak dikenal dalam deretan tokoh-tokoh rimba persilatan yang berulang kali mela- kukan kejahatan.

“Ayo, kawan-kawan. Ikat bocah bandel ini di batang pohon!” terdengar kembali seruan Surokolo kepada pa- ra pengikutnya yang kemudian dengan cekatan melak- sanakan perintah tersebut.

Sekejap mata saja tubuh Pakerti telah terikat dan melekat pada batang pohon oleh belitan-belitan tali yang melilit dengan kerasnya, ibarat otot-otot raksasa.

Sriiingng!

Tiba-tiba saja Surokolo telah mencabut pedang pan- jangnya. Matanya dengan liar menatap ke wajah Paker- ti, lalu berkata, “Engkau tadi berkata supaya kami membunuhmu?! Hah, memang kami telah memikirkan hal itu. Tapi kami punya cara-cara tersendiri untuk- mu. Hah, hah, he, he, he. Terlalu enak jika engkau ma- ti dengan cepat. Lihatlah, kami akan membuatmu mati dengan cara yang perlahan-lahan dan lambat!”

Begitu selesai berkata-kata, Surokolo secepat kilat mengayunkan pedangnya ke depan dan sekejap kemu- dian terdengarlah jerit yang mengerikan berbareng ter- pelantingnya sebuah lengan berlumur darah ke atas tanah.

“Aaaaeerh!” Rintih memilukan keluar dari mulut Pakerti ketika ia merasa bahwa lengannya telah copot dari tubuhnya oleh tebasan pedang Surokolo.

Penglihatan Pakerti menjadi semakin kabur, seolah- olah ia berada di tengah kabut. Darah segar terus mengalir dari luka-lukanya tanpa bisa ditahan lagi.

Namun sedikit banyak ia masih dapat menangkap bayangan wajah Surokolo dan orang-orangnya. Terde- ngarlah kemudian gumamnya perlahan. “Kalian penge- cut... tunggulah kelak pembalasanku... tunggulah!”

“Hua, ha, ha, ha, ha,” tertawa Surokolo diikuti oleh pengikut-pengikutnya. “Lihatlah kawan-kawan. Bocah ini masih berani mengancam kita, padahal sebentar la- gi ia akan mampus kehabisan darah!”

“Kakang Surokolo! Biarlah dia mampus di sini dan menjadi makanan binatang. Sekarang ke manakah tu- juan kita?!?” bertanya si kumis ijuk.

“Kita segera pulang, Bedor!” ujar Surokolo kepada si kumis ijuk serta kemudian menyarungkan kembali pe- dangnya dan memberi isyarat kepada para pengikut- nya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Sambil meludah, sekali lagi Surokolo menatap ke arah Pakerti lalu berseru, “Katakan saja jika engkau masih sempat hidup, bahwa perbuatan ini adalah pem- balasan dari Rikma Rembyak!”

Pakerti masih bisa mendengar kata itu namun per- lahan sekali, dan sesaat kemudian kepalanya terkulai ke bawah karena pingsan.

Surokolo, Bedor dan keempat pengikutnya telah berloncatan ke arah barat dan lenyap di sebelah sana. Kini tinggallah Pakerti di tempat tersebut dalam kea- daan pingsan dan terikat pada sebatang pohon.

Sungguh malang nasib Pakerti ini. Kalau dahulu ia masih bisa lolos dari tangan maut Ki Rikma Rembyak sendiri, kini ia telah tertangkap buat kedua kalinya dan tangan kirinya terpenggal putus! Darahpun masih menetes dari luka-lukanya dan suatu ketika pasti ha- bis mengalir keluar semua darahnya. Dengan demikian tentulah Pakerti akan mati secara lambat! Sungguh mengerikan akibatnya. Tapi apakah hal ini akan be- nar-benar terjadi? Tak seorangpun dapat menjawab- nya.

***

Pakerti masih saja tak sadarkan diri ketika dari arah timur terlihat tiga sosok bayangan manusia me- nerobos dan menguakkan semak-belukar dan gerum- bul pohon yang lebat-lebat.

Matahari sudah sangat rendah pada langit barat, namun cahayanya masih cukup menerangi wajah keti- ga bayangan manusia tersebut.

Yang berada di sebelah muka, sebentar membung- kuk ke bawah serta memeriksa rerumputan serta ta- nah-tanah di depannya dengan telitinya.

Tak antara lama iapun memungut sebuah ranting pohon yang telah dipatahkan. Oleh kedua orang lain- nya, maka ranting tersebut diperiksanya pula, dan kemudian berkatalah salah seorang di antaranya.

“Kakang Gagak Cemani, aku yakin bahwa ranting ini bekas dipatahkan oleh tenaga tangan manusia. Pa- tahan yang ujung membuatnya tertanggal lepas dari batang pohonnya, sedang patahan kedua cuma me- nimbulkan separuh patah.”

“Ternyata aku pun menduga demikian, Adimas Ma- hesa Wulung. Dan lihatlah di depan kita ini. Kau lihat adanya rerumputan ilalang yang kusut dan mosak- masik itu?” ujar Gagak Cemani sambil menunjuk ke depan.

“Mudah-mudahan saja hal ini akan memberi petun- juk-petunjuk tentang jejak Pakerti, Kakang,” kata Ma- hesa Wulung pula.

“Marilah kita lekas-lekas maju ke depan,” ajak si Gagak Cemani, dan mereka bertiga segera meneruskan perjalanannya.

Makin jauh mereka melangkah, makin banyaklah semak daun ilalang yang rebah dan kusut ke sana ke- mari, sehingga diam-diam ketiga orang ini menjadi berdebar-debar jantungnya.

Mereka telah bersiap-siap pula untuk menghadapi setiap kemungkinan, dan dengan seksama dilihatnya setiap sudut pepohonan di dekatnya.

Tiba-tiba saja Pandan Arum menjerit kecil seraya menunjukkan jarinya ke arah sebuah pohon dengan wajah kepucatan dan mata melotot.

“Ooookh! Ses... siapa orang itu?! Lihatlah ke sana!” seru Pandan Arum, sehingga Mahesa Wulung serta Gagak Cemani melihat ke arah yang sama.

“Itulah... Pakerti!” seru Gagak Cemani, serta Mahe- sa Wulung berbareng serta berlarian mendekati tubuh Pakerti yang terikat pada sebatang pohon dalam kea- daan mengharukan.

Tangan kirinya telah buntung, berlumuran darah kental yang setengah kering. Untuk ini Pandan Arum terpaksa berpaling serta menutup matanya untuk menghindari pemandangan yang ngeri dan mengharu- kan tersebut.

Tanpa menunggu lebih lama, Mahesa Wulung serta Gagak Cemani berloncatan untuk menolong Pakerti. Tali-temali yang mengikat tubuhnya segera dilepaskan dan di saat itu pula tubuh Pakerti merosot ke bawah menggelusur di tanah.

“Celaka!” desis Gagak Cemani dengan wajah mu- ram. “Dia telah banyak kehilangan darah!”

“Jika demikian, apakah ia tidak mempunyai kesem- patan untuk hidup?!” sambut Mahesa Wulung dengan cemasnya.

“Masih ada! Cuma aku sangsi apakah daya tahan tubuhnya cukup baik untuk menghadapi luka-lukanya itu,” berkata Gagak Cemani seraya memeriksa luka Pakerti yang selalu meneteskan darah itu. “Marilah ki- ta gotong si Pakerti ini dan kita bawa pulang ke De- mak!”

“Benar, Kakang Cemani,” sambung Mahesa Wulung. “Di sana kita akan dapat merawatnya lebih baik!”

Akan tetapi tiba-tiba saja terjadilah sesuatu yang mengejutkan Mahesa Wulung bertiga. Sebuah baya- ngan manusia telah muncul di bawah rerumpun pi- sang serta meloncat ke arah mereka serta berseru,

“Tahan!”

Mahesa Wulung, Gagak Cemani dan Pandan Arum secepat kilat bersiaga dengan senjatanya karena bayangan itu telah begitu dekat dengan mereka.

Namun sekali lagi mereka dibikin kaget ketika da- lam sinar senja itu, Mahesa Wulung bertiga dapat me- ngenal wajah orang itu yang tidak lain adalah Wisa- mala.

“Hee, angin apakah yang membawamu datang ke- mari, sobat?!” seru Gagak Cemani heran.

“Maaf jika aku telah mengejutkan kalian!” ujar Wi- samala.

“Kami akan menolong sahabatku ini,” Mahesa Wu- lung berkata. “Luka-lukanya cukup berat.”

“Tapi aku yakin bahwa kalian tidak menghendaki anak ini mati, bukan?” sahut Wisamala. “Jika ia terlalu banyak bergerak, maka lukanya akan bertambah pa- rah, demikian pula darahnya akan semakin banyak ke- luar dan tidak mustahil bila kematian akan mereng- gutnya!”

“Jadi, apakah maksud Anda?” tanya Gagak Cemani kepada Wisamala.

“Aku sanggup menolong pemuda ini, sobat,” jawab Wisamala. “Dan ijinkanlah aku merawatnya sampai sembuh. Kebetulan sekali aku belum mempunyai mu- rid.”

“Tapi ia mempunyai kepentingan dengan kami,” sambung Mahesa Wulung. “Dan bagaimana nantinya?” “Itu Andika tidak perlu kuatir. Jika kelak ia telah sembuh pasti akan datang menemui Andika!” ujar Wi- samala seraya memeriksa tubuh dan luka-luka Pa- kerti. “Biarlah sekarang aku menghentikan darahnya

yang menetes dari luka-lukanya ini.”

Selesai berkata, Wisamala kemudian menotokkan ujung jarinya ke atas pundak kiri Pakerti serta memi- jitnya beberapa kali, sedang Mahesa Wulung bertiga selalu mengamatinya.

Sungguh mengagumkan jadinya. Beberapa saat ke- mudian darah yang selalu menetes dari luka Pakerti telah berhenti dan Pakerti sendiri telah mulai merintih. Dari mulutnya terdengar gerenengan pelahan, “Suro- kolo, kalian pengecut. Hanya berani terhadap orang yang tak berdaya. ”

Mendengar nama Surokolo disebut-sebut oleh Pa- kerti, Mahesa Wulung serta Wisamala mengangkat mu- kanya saking kagetnya.

“Wah, jika demikian,” ujar Mahesa Wulung, “pasti- lah yang membuntungi tangan Pakerti ini adalah Su- rokolo dan komplotannya.”

“Kiranya memang begitu,” Wisamala berkata sambil menyelesaikan pekerjaannya membalut luka Pakerti dengan selembar kain bersih.

“Baiklah, Kisanak,” kata Mahesa Wulung kemudian. “Aku serahkan perawatan Pakerti ini kepada Anda. Semoga ia dapat sembuh dan menjadi murid Anda yang baik.”

“Terima kasih, terima kasih!” ujar Wisamala dengan gembiranya. “Aku berjanji akan merawatnya dan mem- beri didikan yang baik kepadanya!”

Dengan bantuan Mahesa Wulung dan Gagak Cema- ni akhirnya Wisamala telah memondong tubuh Pakerti di dadanya.

“Sayang, aku tak dapat lama-lama tinggal di tempat ini, sebab keadaan pemuda ini sangat menguatirkan sekali!” Wisamala berkata. “Aku minta diri sekarang.”

“Berangkatlah, sobat. Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Anda untuk mengobati Pakerti,” berkata Mahesa Wulung seraya menepuk pundak Wi- samala.

Sekali lagi Wisamala mengangguk tersenyum dan kemudian, dengan sebuah loncatan panjang ia telah melesat ke arah selatan bagaikan seekor belalang yang mengejar cahaya senja yang sebentar lagi akan tengge- lam dan hilang di langit sebelah barat.

Dalam pada itu Mahesa Wulung bertigapun telah melangkah ke arah selatan untuk kembali ke Demak. Dan ketika mereka memasuki gerbang timur kota De- mak, kini telah senyap-sepi terbuai oleh dekapan sang malam yang hitam pekat.

***

Sebuah pondok sementara yang terbuat dari bambu dan beberapa lembar papan kayu serta beratapkan rumput ilalang berdiri di lekukan kaki pegunungan kapur di sebelah timur Kali Serang.

Di depan pondok tadi, terlihatlah seorang laki-laki tengah membelah kayu bakar dengan sebilah parang yang besar dan berkilap.

Menilik balok-balok kayu yang besar-besar di dekat- nya, pastilah orang tidak bakal percaya bila semua itu adalah persediaan dari kayu bakar yang tengah di- buatnya di situ.

Dengan enaknya laki-laki tadi berkali-kali men- gayunkan parangnya dan setiap kali mata parang ter- sebut menimpa potongan balok-balok kayu di depan- nya, maka terbelahlah pecahan dari balok tadi menjadi pecahan-pecahan kayu.

Dari sebab itu maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa laki-laki tersebut memiliki kekuatan tenaga da- lam yang sangat hebat. Jika pekerjaan tadi hanya mengandalkan tenaga kosong saja, pastilah selesainya akan memakan waktu yang lama. Di samping itu, ma- ka paling-paling mata parang tadi hanya akan me- nancap pada permukaan balok kayu saja.

Namun hal itu tidak pernah terjadi. Setiap mata pa- rang tadi membacok, maka ia akan terus membelah sampai ke bawah terus, seolah-olah ia cuma membelah gumpalan batang pohon pisang saja.

Dan laki-laki itu terus saja bekerja seperti tidak me- ngenal rasa lelah. Dalam beberapa saat saja maka te- lah bertumpuk-tumpuk di sebelahnya pecahan kayu bakar menggunung.

Sambil bekerja tadi, sekali-sekali ia menoleh ke arah pondoknya, seperti ia menguatirkan sesuatu yang berada di dalam pondok tersebut.

Memang demikianlah sesungguhnya, dalam hatinya selalu saja ia bertanya-tanya tentang nasib seseorang yang sampai saat ini masih terbaring menggeletak di atas balai-balai bambu di dalam pondoknya itu, de- ngan badan yang masih panas.

Orang ini bermandikan peluh dan tergeletak di situ dengan nafas yang sedikit lebih cepat dari nafas keba- nyakan orang. Peluh yang keluar dari pori-pori kulit- nya, sebentar-sebentar jatuh dan menetes di atas ba- lai-balai.

Agaknya ia mulai sadar dan dengan lambat sekali ia membuka kedua belah matanya.

Yang pertama-tama ditatap oleh pandangan mata- nya adalah atap daun ilalang dan bambu yang seder- hana buatannya. Terasa perubahan pada wajah orang ini, yang tergambar pada bulatan bola mata yang me- lebar dan melotot.

“Hehhh... di mana aku ini?” desah orang tersebut seraya mencoba bangkit berdiri dari balai-balai.

Ia merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang ti- dak sempurna pada dirinya. Ya! Ingat ia sekarang. Di saat ia bangkit, ternyata tangan kirinya tidak mau membantu dan bekerja seperti biasanya.

“Ooh, ada apakah dengan tangan kiriku? Lumpuh- kah, sehingga tidak mau bekerja?” begitu pertanyaan orang tadi seraya mengacungkan kedua belah tangan- nya ke depan.

Sekonyong-konyong menjeritlah ia, bila yang dapat teracung ke depan serta dilihat oleh matanya, hanya- lah tangan yang sebelah kanan, sedang yang kiri sama sekali tidak dapat!

Meskipun maksud diri juga mengacungkan tangan kirinya ke depan, tapi berkali-kali ia tak berhasil. Se- hingga akhirnya tangan kanannya dengan geragapan dan gugup meraba dan meremas tangan kiri.

“Tidak ada!” desahan keras terdengar.

Yah, ia tak menjumpai lagi tangan kirinya! Berkali- kali ia merabanya tapi memang tak dijumpainya!

“Aku... telah cacad!” gumamnya pelahan. “Tangan kiriku telah hilang!” Ia mulai berdiri dan tiba-tiba ber- teriaklah ia dengan nada keputus-asaan yang sangat. “Aku telaaah buntuuuuuungng!”

Sambil berteriak, orang ini berlari ke arah pintu un- tuk ke luar dari pondok bambu, dan begitu tiba di luar seakan-akan seluruh sendi-sendi tulangnya seperti lumpuh dan iapun jatuh terduduk di tanah sambil me- nangis tersedu-sedu.

“Ooh, engkau telah sadar kembali Pakerti!” seru seorang bertubuh kekar yang terburu-buru mendekati si buntung tersebut. “Syukurlah, Pakerti. Selama ini aku selalu mencemaskanmu. Berhari-hari engkau ter- geletak pingsan di balai-balai itu.”

“Tu... Tuan Wisamala?” desis Pakerti seraya mena- tap orang yang berdiri di dekatnya.

“Ya, akulah ini,” ujar Wisamala seraya mengulurkan tangannya kepada Pakerti, yang telah buntung tangan kirinya saat kini. “Berdirilah, Pakerti.”

“Terima kasih!” sahut si pemuda Pakerti sambil berdiri. “Andika telah menolongku, Tuan Wisamala.”

Pakerti masih bisa mengenal kembali wajah Wisa- mala yang dahulu pernah bertempur dengan Gagak Cemani akibat kesalah-pahaman.

“Jangan putus asa ataupun berkecil hati, Pakerti,” kata Wisamala seraya membimbing Pakerti ke arah samping pondok. Keduanya kemudian duduk di atas sebuah gumpalan batu. “Meskipun engkau telah cacat, tapi hidupmu akan tetap berarti!”

“Tapi, dengan tangan yang cuma sebelah ini, apa- kah yang dapat aku perbuat?!”

“Banyak! Engkau masih dapat bekerja seperti se- diakala. Dengan memerlukan latihan yang rajin, maka tanganmu yang cuma sebelah itu akan lebih trampil kerjanya.”

“Benar, Tuan Wisamala. Namun apakah dengan tangan yang tinggal sebelah ini aku mampu membela diriku dari bahaya yang mengancam?!” “Heh, heh, heh, pertanyaanmu itu sudah wajar, Pa- kerti. Sebaiknya dengarlah lebih dulu ceriteraku ini. Pernahkah engkau memperhatikan ceritera wayang tentang Raden Kumbakarna? Nah ketika perang Aleng- ka, kedua tangannya telah buntung oleh senjata la- wan. Tapi toh ia masih bisa mengamuk dengan dah- syat, malahan lebih dahsyat daripada saat-saat ia ma- sih bertangan. Dengan berdasarkan itu pula, maka saya percaya bahwa meskipun engkau telah kehila- ngan tangan kirimu, tak akan menjadi halangan untuk mempertahankan dirimu,” demikian tutur kata Wisa- mala kepada Pakerti yang duduk di sebelahnya. “Ke- tika aku menjumpaimu, engkau tengah ditolong Tuan Mahesa Wulung bertiga. Namun aku telah melihat ba- haya maut yang sedang mengancammu. Maka aku minta kepada mereka untuk menolong dan mengang- kat murid kepadamu.”

“Aaaah, benarkah itu, Tuan?” ujar Pakerti dengan ragu-ragu bercampur rasa senang, sebab ia telah tahu bahwa Wisamala adalah seorang pendekar gemble- ngan.

“Heh, heh, heh, heh. Apakah engkau belum meya- kini terhadap kata-kataku ini, Pakerti?!” sahut Wisa- mala serta tersenyum lebar. “Wisamala tidak senang bermain-main. Apa yang dikatakan adalah pula cetu- san hatinya.”

“Maaf, Tuan,” sambung Pakerti dengan nada me- rendah. “Bukannya aku tak mempercayainya. Justru saking gembiranya dan bahagianya maka aku hampir tak percaya oleh kebaikan Tuan untuk mengangkatku sebagai murid Andika.”

“Jadi bersediakah engkau menjadi muridku?” tanya Wisamala kembali.

“Aku senang sekali, Tuan Wisamala!”

“Bagus, dan sejak saat ini kau harus memanggilku bapak guru.”

***

Mulai saat itulah maka Pakerti telah diangkat seba- gai murid Wisamala. Langkah pertama, kepada Pakerti diajarkan dasar-dasar ilmu pengetahuan tentang hi- dup. Bagaimana ia harus hidup dan bergaul dengan masyarakat dan bebrayan hidup. Bagaimana cara-cara bekerja yang baik dan masih banyak lagi lainnya.

Pada tahap berikutnya oleh Wisamala, diajarkanlah gerakan-gerakan lincah kepada Pakerti. Terutama Wi- samala menekankan kepada muridnya agar ia memiliki kelincahan yang sempurna.

Mengapakah demikian? Hal tersebut disebabkan oleh keadaan tubuh Pakerti yang kini telah cacat. Ka- lau dahulu ia mampu menangkis serangan lawan de- ngan tangan kirinya, sekarang tidak mungkin lagi hal itu dialaminya, sebab tangan kirinya telah buntung!

Maka satu-satunya jalan ialah menangkis dengan tangan kanannya, dan tentu saja hal tersebut bisa di- lakukan bila dirinya mampu bergerak cepat ke kiri atau ke kanan, juga ke setiap arah yang diperlukan- nya.

Dan pada suatu hari Pakerti harus menghadapi per- cobaan dan latihan-latihan dari Wisamala. Keduanya berdiri saling berhadapan tak jauh dari pondok mereka dalam sikap yang bersiaga.

Sesudah Wisamala mengawasi dan menyaksikan kesiapan muridnya, berserulah ia, “Pakerti! Perhatikan dengan baik batu-batu kerikil yang ada pada telapak tanganku ini. Nah, sudah kau lihat? Semua ada lima butir dan kesemuanya harus kau tangkis dengan baik. Untuk itu pakailah tangan kosong saja!”

“Baik, Bapak Guru. Aku telah siap,” Pakerti berkata serta sekaligus mengambil sikap, sedang Wisamala berkisar ke kanan untuk menjauhi tangan kanan Pa- kerti. Dengan demikian ia mencoba untuk menyerang titik kelemahan dari pertahanan Pakerti, yaitu bagian kiri tubuhnya yang tidak mempunyai pertahanan.

Hal itu agaknya telah dipahami sepenuhnya oleh Pakerti. Apalagi gurunyapun telah sering mengajarnya tentang taktik menyerang dan pertahanan diri.

“Yaaaahh!” berteriak Wisamala seraya mengibaskan tangannya dengan tiba-tiba ke arah Pakerti disambung oleh dua leret sinar hitam yang menyambar si pemuda buntung itu.

Weessstt!

Pakerti cepat bertindak. Ia berputar ke kiri, secepat itu pula tangan kanannya menyampok seperempat lingkaran, memapaki kedua sinar hitam tadi.

Plak! Plaaakk!

Suara keras bagai benturan benda keras terdengar begitu kedua sinar hitam tersebut kena tersampok, dan runtuh ke tanahlah dua buah batu hitam.

Akan tetapi Wisamala sekali lagi mengibaskan ta- ngannya seraya meloncat ke atas, disusul tiga sinar hi- tam seperti semula meluncur ke tubuh Pakerti.

Si pemuda buntung tidak menjadi gugup karena- nya. Iapun mengendap ke kiri dan kembali tangan ka- nannya menyampok ke arah sinar-sinar tersebut. Di samping itu, kaki kanannya juga tak ketinggalan me- nyampok ke atas.

Tak. Takk. Taaakk!

Tiga buah benturan keras berturut-turut terdengar dan kembali tiga batu lemparan dari Wisamala runtuh ke tanah oleh tangkisan Pakerti yang menakjubkan.

“Hmm, cukup bagus, Pakerti!” ujar Wisamala. Se- nyum puasnya mengembang pada bibirnya. “Sekarang pakailah parang itu, Nak. Sebab serangan yang meng- ancammu akan lebih besar. Nah, cabutlah dia!” Di saat Pakerti melolos parang dari pinggang kiri- nya, Wisamala telah siap menyediakan batu-batu ke- rikil di tangannya.

Sesaat kemudian, Wisamala bergerak cepat meling- kari tubuh Pakerti dari arah kiri dan tidak ketinggalan kedua tangannya saling bergantian mengibas ke arah Pakerti.

Maka di saat itulah sinar-sinar hitam yang berasal dari batu-batu bersambaran menyerang Pakerti, tak bedanya dengan hujan meteor yang mengurung si pe- muda buntung.

Parang Pakerti menjadi sibuk akibatnya, terlebih la- gi berada di tangan si pendekar buntung ini. Maka be- gitu bergerak mata parang tadi seolah-olah menjadi puluhan jadinya.

Bunyi berdentang maupun benturan beruntun ter- dengar memenuhi udara, dan runtuhan batu-batu be- sar hitam berkali-kali rontok ke tanah.

“Toblas! Toblas! Tidak terlalu jelek, Pakerti!” berseru Wisamala dan tahu-tahu tangan kanannya telah me- nyambar sebilah tongkat logam yang sejak tadi tersan- dar pada sebongkah batu.

Melihat hal itu, Pakerti merasa berdesir hatinya. Gurunya telah menggenggam senjata tongkatnya yang selama ini belum pernah dilihat permainannya.

“Perhatikan tongkatku ini, Pakerti! Cobalah engkau menangkisnya bila ia menyerangmu. Aku akan senang jika serangan berikut ini berhasil engkau patahkan pu- la!” begitu kata-kata Wisamala seraya bersiap me- lancarkan serangan.

Kesiagaan Pakerti yang dipersiapkan masak-masak ternyata banyak membawa hasil. Begitu ia melihat gu- runya meloncat ke arah dirinya sambil mengayunkan tongkat logam, Pakerti segera berkelit ke samping, dii- ringi parangnya menebas ke kanan menangkis tongkat logam.

Bunyi gemeroncang terdengar keras dan kedua ta- ngan yang menggenggam senjata itu masing-masing bergetar hebat.

Pakerti meringis, karena telapak tangannya sangat panas serasa memegang bara api. Tahulah ia, bahwa gurunya mempunyai tenaga dalam yang bebat, dan ba- ru sekaranglah ia merasakannya ketika parangnya tadi membentur tongkat logam Wisamala.

Sedangkan Wisamala sendiri mengangguk-angguk puas. Meskipun telapak tangannya tidak merasakan apa-apa akibat bentrokan senjata tadi, namun ia ka- gum juga oleh tangkisan Pakerti.

Ia melihat bahwa parang Pakerti masih tetap ter- genggam erat di tangannya dan tidak mencelat lepas seperti yang diduga semula.

Dengan demikian, maka teranglah bahwa muridnya yang bertangan satu itu sudah cukup memiliki perta- hanan untuk membela dirinya. Biarpun itu masih me- wujudkan langkah-langkah pertama, Wisamala telah lebih dari puas.

“Haaaitt!” Wisamala berseru serta meloncat kembali kepada muridnya dan menyerang dengan tongkat lo- gamnya. Dalam pada itu Pakertipun telah bersiaga.

Maka sebentar kemudian, keduanya bertempur kembali dengan serunya. Begitu cepat dan lincah gera- kannya, sampai-sampai tubuh mereka lenyap dan me- rupakan bayangan yang saling melibat diseling oleh sebentar-sebentar benturan senjata yang berdenting mengumandang di udara.

Demikianlah Pakerti dan gurunya bertempur untuk melatih ketrampilan mereka. Mulai saat itu terbukalah mata hati Pakerti bahwa dirinya ternyata tidak sebu- ruk yang ia duga. Ia melihat kemungkinan-kemung- kinan pada dirinya, bahwa kecacadan dan ketidak- lengkapan tubuhnya, tidak akan membawa kemeroso- tan dirinya. Bahkan ia bisa mengangkatnya sejajar de- ngan kemampuan orang lain. Dan itu semua berhasil dicapainya berkat latihan dan ketekunan yang tidak pernah kenal akan putus asa.

***

5

SAMPAI SAAT ITU, Mahesa Wulung masih saja ber- pikir-pikir tentang siapakah Surokolo yang telah dis- ebut-sebut oleh Pakerti beberapa waktu yang lalu.

Yang terang saja, pastilah orang itu ada hubungan- nya dengan pengintai gelap yang berhasil ia lukai keti- ka berada di Asemarang.

Dari peristiwa-peristiwa yang dijumpainya dapatlah Mahesa Wulung menghubungkan kesemuanya itu. Mulai dari perkenalan dan persahabatannya dengan Gagak Cemani, kemudian menjumpai sebuah kejadian di mana Pakerti hampir mati dikeroyok oleh Gombong dan pengikut-pengikutnya.

Kemudian ketika hampir memasuki gerbang kota Demak, sebuah insiden dengan Wisamala telah terjadi akibat usaha adu domba dari Dobleh Kelana yang mendendam kepada Gagak Cemani.

Ketika ia berada di Asemarang ia telah menyaksikan sebuah perahu yang mati semua awak perahunya. Dan itu mirip dengan korban-korban dari Kapal Hantu.

Dari sebuah pesan yang diterimanya dari Pakerti, dapatlah ia mengetahui bahwa Ki Rikma Rembyak te- ngah mempersiapkan balas dendamnya.

Tentu saja mereka tidak akan tinggal diam terhadap Pakerti yang telah lolos dari Pulau Mondoliko itu. Se- dang kenyataannya kini Pakerti telah cedera dan di- siksa oleh segerombolan orang.

Dengan kejadian itu pula maka Mahesa Wulung te- lah dapat mengambil kesimpulan bahwa setidak-tidak- nya gerombolan orang-orang tadi ada hubungannya dengan Ki Rikma Rembyak. Dan seorang di antara me- reka ialah bernama Surokolo!

Untung saja Pakerti sempat diselamatkan oleh Wi- samala yang sekaligus mengambilnya sebagai murid. Akan tetapi Mahesa Wulung masih belum mengerti, di mana Surokolo dan orang-orangnya berada sekarang.

Jika orang-orang ini telah mampu mencederai si Pakerti, apakah tidak mungkin bila mereka melakukan pengacauan terhadap keamanan di daerah sekitar De- mak?

Persoalan yang berbelit-belit ini menyebabkan Ma- hesa Wulung beberapa hari ini agak sering termenung berdiam diri.

Dan tentu saja Pandan Arum menjadi bingung oleh sikap kekasihnya itu.

“Mengapakah Kakang Wulung ini?” pikir Pandan Arum. “Ia selalu termenung-menung saja, tanpa mem- beritahukan kepadaku apakah kesulitan yang ditemui- nya.”

Dengan diam-diam Pandan Arum menceriterakan hal ini kepada Gagak Cemani, dan kemudian keduanya selalu mengawasi Mahesa Wulung secara rahasia.

Pada suatu hari, Mahesa Wulung sengaja berjalan- jalan melihat keramaian kota Demak seorang diri. Se- ngaja dalam hati ia berusaha membayangi dan mencari jejak Surokolo dan orang-orangnya.

Sampailah ia di bagian utara kota Demak yang sa- ngat ramainya. Di situ terdapat beberapa warung-wa- rung yang menjual barang makanan dan dagangan lainnya. Mahesa Wulung yang telah banyak pengalaman itu tahu, bahwa warung-warung tadi merupakan tempat pertemuan yang sangat tepat bagi setiap orang. Dan ti- dak mustahil bila di antara mereka itu, terdapat orang- orang jahat yang menyamarkan diri. Dari kemungki- nan itu, Mahesa Wulung berharap untuk dapat men- cium jejak Surokolo yang tengah dicarinya.

Di sebuah warung yang cukup ramai Mahesa Wu- lung berhenti. Dipesannya segelas minuman setelah ia mengambil tempat duduk. Pandangan matanya mulai disebar ke segenap sudut kamar warung itu.

Semua wajah orang yang ada di situ diamatinya de- ngan teliti satu persatu dan mencoba untuk menyeli- diki mereka.

Tiba-tiba salah seorang dari pengunjung warung itu ada yang dikenalnya. Berwajah keras dan bermata si- pit, itulah dia si Gombong.

Orang ini bangkit dari duduknya ketika Mahesa Wulung menatap ke arah dirinya. Gombong sedikit ter- senyum dan kemudian dengan perlahan-lahan ia men- dekati tempat duduk Mahesa Wulung.

“Maaf, Tuan. Bolehkah aku duduk bersama Tuan?” ujar Gombong kepada Mahesa Wulung. “Ada sebuah berita penting untuk Tuan.”

“Ehh, tentu, Kisanak. Aku tak keberatan. Marilah duduk di sini,” jawab Mahesa Wulung. “Apakah yang hendak kau katakan?”

“Sebuah kecelakaan kecil Tuan,” ujar Gombong se- tengah berbisik-bisik. “Namun cukup menarik untuk kusampaikan kepada Andika. Di pantai utara, aku menjumpai sebuah perahu kecil terdampar dengan ke- tiga awak perahunya mati dalam keadaan tubuh yang mengerikan, yaitu kering kebiruan!”

“Hah! Tidak kelirukah kata-katamu itu, Kisanak?” berkata dengan gugupnya Mahesa Wulung. “Tidak, Tuan. Andika boleh membuktikannya sen- diri, dan untuk itu aku bersedia mengantarkan Tuan ke tempat perahu tersebut.”

Mahesa Wulung terdiam sejenak dan ia berpikir, agaknya ia telah mulai mencium jejak orang-orangnya Rikma Rembyak, dan selanjutnya iapun berkata ke- pada Gombong di sebelahnya. “Terima kasih, Kisanak. Kapankah kita berangkat?”

“Jika tak keberatan, sekarang juga kita berangkat ke sana, Tuan,” Gombong berkata dengan meyakinkan. “Baik, Kisanak. Marilah,” sahut Mahesa Wulung pu-

la. “Tapi aku tak membawa kuda.”

“Itu mudah saja, Tuan,” kata Gombong. “Biarlah aku meminjam seekor kuda lagi dari temanku untuk Andika.”

Keduanya segera bangkit dan berjalan ke arah pin- tu, sementara tiga pasang mata mengawasi gerak-gerik Gombong dan Mahesa Wulung dengan diam-diam dari sebuah jendela warung.

Sebentar kemudian, keduanya telah berpacu ke arah utara meninggalkan debu berkepulan menuju ke pantai. Ketiga orang pengintai itupun cepat pula berge- rak. Dari belakang warung mereka telah menyediakan tiga ekor kuda. Kemudian mereka berkuda ke arah utara, menuruti jejak Mahesa Wulung dan Gombong.

“Awas! Jagalah jarak kita kepada mereka berdua. Jangan terlalu dekat, tapi juga jangan sampai kita ke- hilangan jejak mereka!” ujar seorang di antaranya, yang agaknya tertua sendiri.

Mahesa Wulung dan Gombong yang berpacu di de- pan, tidak begitu memperhatikan bahwa keduanya te- ngah diikuti oleh ketiga orang pengintai yang berkuda. Apalagi pikiran Mahesa Wulung yang kini lagi diliputi tanda tanya besar tentang Surokolo dan ketambahan lagi dengan berita tentang sebuah perahu yang ter- dampar di pantai.

Matahari bersinar dengan teriknya. Gumpalan-gum- palan awan mendung yang mengalir di angkasa me- nambah rasa panas dan gerah di badan. Peluh kuda- kuda mereka mengalir deras membasahi kulit bulunya, sehingga badan mereka berkilatan karenanya.

Tanpa terasa, Mahesa Wulung dan Gombong telah tiba di daerah pantai utara. Dari jauh telah terlihat ombak-ombak putih yang dengan tenangnya berleret- leret memecah ke pasir pantai.

Pohon-pohon bakau yang tumbuh di pantai-pantai menghijau dengan indahnya dan di sana tergoleklah sebuah perahu kecil.

“Itulah, Tuan!” kata Gombong serta menunjuk ke arah perahu kecil tadi. “Ia kutemukan di sana dengan ketiga penumpangnya yang mati.”

“Hmmm, Kisanak benar.” Mahesa Wulung berkata sambil mempercepat lari kudanya untuk mendekati perahu tersebut. “Ayo, marilah lebih cepat!”

Seperti orang kehausan yang melihat seguci air, be- gitulah Mahesa Wulung memacu kudanya untuk ce- pat-cepat mendapatkan perahu tadi.

Sekonyong-konyong satu kejadian yang tak terduga sama sekali telah mengejutkan Mahesa Wulung. Se- buah bunyi berdesing muncul dari balik semak-semak pohon bakau langsung menyambar ke arahnya.

“Anak panah!” desis Mahesa Wulung kaget.

Tapi rupanya anak panah tadi cuma ditujukan ke- pada kuda Mahesa Wulung, yang dengan tepatnya me- nancap di lambung kuda, tak jauh dari paha Mahesa Wulung sendiri.

Hiieeehhh...!

Jerit dan ringkikan kuda itu terdengar, disusul tu- buhnya terjungkal roboh diikuti oleh tubuh Mahesa Wulung. Namun pendekar Demak ini tidak begitu bodoh un- tuk membiarkan tubuhnya tergencet roboh bersama kudanya. Maka secepat kilat ia melenting ke udara dengan gesit dan lincahnya.

“Hiaaattt! Siapa yang berlaku kurang ajar ini?!” Dengan beberapa kali putaran manis di udara, Ma-

hesa Wulung kemudian mendarat turun di pasir pan- tai. Namun kaget juga dia. Beberapa ujung senjata ter- sembul dari sela dedaunan pohon bakau.

“Hua, hah, hah, ha. Kau memang gesit, sobat!” ter- dengar suara manusia yang disusul oleh munculnya beberapa orang dari balik semak pohon bakau yang rimbun. “Maafkan atas sambutan kami yang agak ge- gabah ini!”

Sementara itu pula, Gombong telah turun dan ber- diri di dekat kudanya sambil memandang ke arah Ma- hesa Wulung dengan tatapan mata yang kosong.

Oleh karenanya pula maka Mahesa Wulung berkata kepada Gombong. “Hai, sobat! Lelucon apakah ini?”

“Hah, hah, ha, ha,” ketawa si wajah garang yang ba- ru muncul itu. “Kau telah bertugas dengan baik, Gom- bong! Terima kasih! Terima kasih!”

Bagai mendengar ledakan petir, Mahesa Wulung sangat kaget oleh tutur kata si wajah garang tadi, dan buru-buru ia berpaling ke arah Gombong sambil berte- riak, “Gombong?! Jadi... jadi kau telah kenal dengan orang-orang ini?!”

“Hi, haa, haa, Gombong memang anak buahku yang paling pandai dan panjang akal,” seru si wajah garang sambil mengelus-elus perhiasan perisai yang menem- pel pada dada bajunya.

“Gombong! Jadi kau telah berkhianat kepadaku?! Keparat!” teriak Mahesa Wulung dengan jengkel dan marahnya sambil sekaligus bersiaga untuk menghada- pi setiap kemungkinan. Sadarlah sudah Mahesa Wulung, bahwa ia telah masuk dalam jebakan lawan. Sekelumit penyesalan di- ri terhadap kecerobohannya tergores dalam hati.

Meskipun begitu, Mahesa Wulung masih ingin me- nyelidiki perihal Gombong untuk mengetahui sampai di manakah peranan orang itu dalam gerombolan Su- rokolo. Dengan pandangan tajamnya seperti tusukan ujung pedang, Mahesa Wulung menatap ke arah Gom- bong.

Tetapi prajurit kekar bermata sipit ini buru-buru membuang muka untuk menghindari tatapan mata Mahesa Wulung, dan ia kembali terkejut bila pendekar Demak itupun berseru kembali.

“Gombong! Sadarkah perbuatanmu ini? Engkau te- lah mengkhianati atasanmu!”

Gombong tidak segera bisa menjawab atau menang- gapi terhadap kata-kata Mahesa Wulung tadi. Kepada Wiratama Mahesa Wulung yang seolah-olah telah ter- kepung itu, Gombong tidak lagi berani menatapnya. Wajahnya lalu tunduk ke bawah, seperti merenungi bumi dan menebak berapa butir pasir yang ada di ba- wahnya ini.

“Hia, ha, ha, ha. Pendekar Mahesa Wulung!” bentak Surokolo keras-keras. “Tak perlu kau kini banyak omong dengan bualmu kepada si Gombong. Hadapilah kenyataan! Kini kau berhadapan langsung dengan Su- rokolo! Akulah yang bernama Surokolo! Kau dengar dan tahu kini, heeii!”

“Hmm, aku sudah menduga sebelumnya! Dan me- mang aku tengah mencari-carimu untuk membuat per- hitungan dengan dirimu! Kau telah menyiksa si Pakerti dengan cara yang keji!” ujar Mahesa Wulung seraya mengawasi keadaan sekeliling. Yah, ia telah terkepung kini dan sekali lagi ia menatap ke arah Surokolo yang tampaknya tenang berdiri seraya mengelus-elus logam perisai yang menghiasi dada bajunya.

Nah, bagaimanakah nasib Mahesa Wulung selanjut- nya akan segera Andika jumpai dalam “Seribu Keping Emas Buat Mahesa Wulung”. Dengan adegan-adegan yang lebih menarik, memikat dan seru! Sampai di sini, selesailah seri Naga Geni “Pembalasan Rikma Rem- byak”. 

TAMAT