-->

Serial Naga Geni Eps 15 : Pendekar Gagak Cemani

 
Eps 15 : Pendekar Gagak Cemani


UJUNG MALAM baru saja tiba dan menerpa daerah Tanjung Bugel, disaat mana pula serombongan orang berkuda telah bergerak kearah selatan.

Yang berkuda paling depan adalah Ki Lurah Mijen bersama pendekar Gagak Cemani, kemudian menyusul Mahesa Wulung dan Pandan Arum, sedang di belakang mereka tampaklah Endang Seruni, Lawung-gana, dua ekor kuda yang bermuatan harta Tanjung Bugel dan dibelakangnya lagi tampaklah Pendekar Bayangan, Jagabaya Cangkring, Kertipana dan Sorogenen.

Disepanjang perjalanan mereka jarang berbicara. Rupanya saja, pertempuran yang baru mereka alami didaereh Tanjung Bugel beberapa saat berselang, telah betul-betul berkesan amat dalam dan terpateri dihati mereka.

Mahesa Wulung masih saja mengenang saat-saat terakhir dari kematian bekas gurunya, Ki Camar Seta dan ia sangat menyesali hal itu. Orang tua itu telah banyak menolong dan menempa dirinya dalam mempertinggi ilmu pedangnya.

Kini terbayanglah diruang mata Mahesa Wulung kejadian-kejadian silam ketika ia mengenangkan Ki Camar Seta. Sepintas, tergambarlah bayangan dirinya yang sedang berlatih ilmu pedang Sigar Maruta seraya ditunggu oleh orang tua itu. Yah, itulah kejadian di pulau Karimata beberapa tahun yang lalu.

Gambaran tadi lenyap, ketika gambaran yang lain mulai muncul didepan-nya. Terlihatlah ia bersama Ki Camar Seta berlari-lari dengan kencangnya. Sedang dibelakang, tampaklah Ki Topeng Reges memburunya dengan melancarkan serangan-serangan ganas.

Begitulah, gambaran-gambaran lain menyusul dan itu semua membuat Mahesa Wulung semakin terbisu sedih. Ki Camar Seta itu, sekarang telah tiada lagi dan kata-katanya yang terakhir masih terngiang-ngiang ditelinganya dengan jelas — Biarlah aku berlalu nak. Aku sudah tua ... —

Banyak kejadian yang dialami bersama Ki Camar Seta, dan selama itu telah berkali-kali ia ditolong oleh orang tua ini, tanpa memperdulikan bahaya yang menghadangnya.

Namun sekarang ia telah tewas dan aku belum banyak memberikan penghargaan atas jasa-jasanya yang begitu besar — demikian Mahesa Wulung berkata dalam hatinya.

Kakang Wulung! Kakang Wulung! — seru Pandan Arum seraya menggocang lengan kekasihnya dan karuan saja Mahesa Wulung menjadi gelagepan karena-nya seraya menoleh kesamping.

— Kau melamun, kakang! — sapa Pandan Arum dengan lembutnya.

— Eh, ya ... ya. Maaf, adi Pandan. Kata-katamu memang benar. Aku tengah melamunkan mendiang Ki Camar Seta — ujar Mahesa Wulung.

— Oh! — desis Pandan Arum setengah kaget. — Ki Camar Seta! ... Aku pun banyak berhutang budi kepadannya, kakang Wulung.—

— Hmmm, ya. Kita berdua memang banyak berhutang budi kepadanya — sambung Mahesa Wulung — Dari sebagai muridnya aku belum banyak berbakti kepadanya. Kini, satu-satunya baktiku kepadanya hanyalah dengan merawat senjata pedang serta caping miliknya.


Pandan Arum mengangguk-angguk oleh kata-kata Mahesa Wulung dan tangan kirinya secara tak sadar telah mengusap-usap sebuah kalung yang tergantung dilehernya dengan berhiaskan batu permata hijau yang berbentuk setengah lingkaran.

— Kalung inilah yang telah banyak membuat kegemparan dan hampir saja hilang, jika kakang Wulung tidak menemukan serta mengambilnya kembali dari tubuh Ki Bango Wadas, beberapa saat yang lalu. — ujar Pandan Arum didalam hatinya. Disebelah yang lain pula Gagak Cemani asyik bercakap-cakap dengan Ki Lurah Mijen.

— Kemanakah rencana dan tujuan andika setelah ini? — tanya Ki Lurah Mijen kepada pendekar berkumis melintang yang berkuda disampingnya.

— Aku belum pasti bapak — kata Gagak Cemani — sebab aku harus mencari si Setan Enam Serangkai lebih dahulu dan untuk itu pastilah memakan waktu lebih banyak. Sarang mereka yang tersembunyi didaerah Pegunungan Kendeng yang mempunyai penjagaan yang kuat dan sukar ditembus. —

— Bapak memang pernah mendengar daerah itu tapi jalan yang menuju kedaerah tersebut aku belun tahu angger. —

— Ki Lurah Mijen berkata ramah - Tapi jika perlu akupun bersedia menolong angger. —

— Aaakh, terimakasih Ki Lurah. Aku bergembira dengan kesediaan bapak tadi. Namun aku telah bertekad untuk mencari si Setan Enam Serangkai itu seorang diri. —

— Hanya seorang diri?! —

— Benar, bapak. Aku ingin menyelesaikannya seorang diri! —

— Eh, aku kagum dengan keberanian angger, dan semoga berhasil. Demikianlah, rombongan orang-orang berkuda ini terus menuju keselatan. Dibelakang mereka membayanglah ketinggian gunung Muria yang berpuncak tiga itu berselimutkan awan putih amat megahnya. Endang Seruni kelihatan berseri-seri wajahnya seperti juga hatinya yang kini merasa tenteram dan gembira. Bahaya demi bahaya telah dilaluinya dengan tabah dan saat sekarang adalah saat yang betul-betul penuh kebahagiaan. Bukankah semuanya telah tercapai apa yang diidam- idamkannya? Kekasihnya, Lawunggana telah kembali kepadanya, juga ia merasa senang bahwa Ki Lurah Mijen yang ternyata hanyalah ayah angkat itu telah berjanji untuk mengundang ayah kandung Endang Seruni dan Pandan Arum dari Asemarang, yakni Ki Soratani atau Ki Udagar.

— Adi Endang Seruni — ujar Lawunggana pelan.

— Heeh, mengapa kakang? — kata Endang Seruni agak kaget. —

— Aku lihat wajahmu berseri-seri, adi Seruni, Dan hampir saja wajah sang rembulan yang baru muncul dikaki langit sebelah timur sana, terkalahkan olehmu. —

— Hih, kakang Lawunggana berlebih-lebihan memujiku. Ah, aku akan malu kalau orang lain mendengarnya. —

— Heh, heh, heh. Maaf adi Seruni. Aku berkata sesungguhnya dan aku sangat bersyukur bahwa kita telah berkumpul kembali. —

— Oleh sebab itu, maukah kakang Lawunggana memenuhi permintaanku? —

— Eeh,   tentu   adi   Seruni.

Katakanlah. —

— Sampaikanlah ucapan terima kasih kita yang sebesar-besarnya kepada kakang Mahesa Wulung, karena dialah yang telah banyak memberikan pertolongan kepada kita. —

- Ya, akupun telah berpikir demikian, adi Seruni — ujar Lawunggana. — Dan kini aku merasa tolol bahwa dahulu aku pernah mencemburukan engkau dengan kakang Wulung. —

— Sssst, janganlah kakang Lawunggana mengungkit peristiwa yang silam. Masa depan kita serta kebahagiaan telah membayang didepan kita dan patutlah kita menyambutnya dengan baik. —

Sementara itu pula. Pendekar Bayangan yang berkuda disebelah belakang tampak bercakap-cakap dengan Jagabaya Cangkring.

— Eh, aku tak mengira bertemu dengan Gagak Cemani didaerah ini — ujar Pendekar Bayangan. — Ternyata pula dia adalah seorang yang sakti. —

— Apakah bapak telah mengenalnya?

— tanya Jagabaya Cangkring. — Mmmm, belum Cangkring. Aku belum mengenalnya. — jawab Pendekar Bayangan. — Yang aku kenal adalah Ki Banyak Sekti yakni ayah dari Gagak Cemani. Waktu itu, Ki Banyak Sekti masih sangat muda dan belum berkeluarga. Jika sekarang Gagak Cemani telah begitu besar, muda dan perkasa, pastilah ayahnya telah setua aku —

— Aku kagum cara dia bertempur — ujar Cangkring.

— Dugaanmu tidak keliru Cangkring. — sambung Pendekar Bayangan. — Dan dia mempunyai tenaga dalam yang sempurna. Mungkin tidak terpaut banyak dengan tenaga dalamku!


— Hah, jadi dia hampir setingkat bapak? — seru Cangkring setengah kaget. — Ooo, aku lalu kepingin mendengar kisahnya. —

— Tunggu saja sampai kita tiba di desa Mijen. Pastilah Gagak Cemani tak berkeberatan untuk menceriterakan pengalaman pengalamannya serta riwayatnya. —

— Aku yakin bahwa saudara Gagak Cemani memang hebat, seperti kata bapak tadi. Dia berani langsung menantang Setan Enam Serangkai dari Pegunungan Kendeng — ujar Cangkring pula. — Kita mulai membelok kebarat saya, Cangkring. -

— Benar, bapak. Kita akan segera melewati Tayu dan langsung menuju kearah desa Mijen. — Pendekar Bayangan berkata seraya mengendalikan kuda dan menderapkannya sekali karena didepan tampaklah Ki Lurah Mijen dan lain- lainnya telah mulai berpacu.

Mereka seperti berkejaran dengan sang malam

yang kini telah semakin lewat. Sisa-sisa sinar matahari yang semula masih kelihatan pada ujung-ujung langit barat kini telah lenyap sama sekali, sedang sang rembulanpun kini makin bertambah tinggi.

Di langit terang itu, sekali- sekali lewatlah kelelawar-kelelawar raksasa atau yang disebut dengan nama Kalong yang terbang dengan mengepak- ngepakkan sayapnya, menimbulkan perasaan seram. Tapi mereka adalah berombongan, sehingga perasaan seram atau takut lantaran menyusuri kesepian malam akan lenyap dengan sendirinya.

Apa lagi dengan adanya Pendekar Bayangan, Mahesa Wulung dan Gagak Cemani diantara mereka, maka seluruh rombongan tadi merasa aman dan tenang.

*** Sangat cerah sekali pagi ini.

Sisa-sisa kabut masih menelusup pada celah celah rumpun pisang dan ilalang. Pada bibir bibir daun bergelantunganlah butir-butir embun yang sekali-sekali jatuh tertanggal keatas tanah dan lenyap terhisap olehnya.

Beberapa orang anak buah Ki Rikma Rembyak tengah bergerombol duduk disebuah gubuk penjagaan ditepi pantai dan diantara mereka tampaklah Jagal Wesi.

— Rombongan kakang Soma Karang dan Bido Teles telah tiba kembali dari tugasnya — berkata salah seorang diantara mereka.

— Memang benar — ujar Jagal Wesi membenarkan — semalam mereka baru saja tiba dari daerah Tanjung Bugel. —

— Dan mereka juga membawa harta perhiasan emas intan! — sambung yang lain.

— Tapi kalian juga harus tahu! — potong Jagal Wesi — Banyak kawan-kawan kita yang tewas dan sekarang kita tak dapat lagi mendapatkan Garangpati, Bujel, Kerang dan beberapa orang lainnya. Mereka semuanya telah meninggal dalam usahanya mendapatkan harta Tanjung Bugel itu. —

— Yah, memang sayang. Tambahan lagi aku mendengar bahwa kita cuma memperoleh sebagian kecil saja dari harta tersebut. — sambung seorang teman Jagal Wesi yang bermata sipit. — Ahh, sayang sekali jika demikian. —

— Itu berarti bahwa rombongan Bido Teles maupun Soma Karang telah bertemu dengan lawan-lawan yang tangguh! — ujar Jagal Wesi pula. — Memanglah kalian harus tahu, bahwa di Demak banyak tokoh-tokoh yang sakti dan tangguh! —

— Ah, sobat jangan menakut-nakuti kita. — sela si mata sipit kembali dengan wajah kurang senang.

— Menakut-nakuti kalian? Apa maksudmu? — seru Jagal Wesi. - Janganlah sobat menjadi takut lantaran mendengar kehebatan seseorang! Hadapilah sendiri orang itu dan setelah sobat merasakan kesaktian-nya, barulah sobat boleh merasa takut!! —

Sementara itu didalam tempat kediaman Ki Rikma Rembyak dipusat pulau Mondoliko, terdengarlah tawa manusia yang bernada kegirangan sambung menyambung.

Ki Rikma Rembyak mondar-mandir diruangan itu dan sebentar-sebentar ia berhenti untuk mengusap perhiasan emas intan yang telah tersedia diatas meja, di depannya.

— Hua, ha, ha, ha. Bagus, Bido Teles! Dan kau juga Soma Karang. Kalian berdua telah menjalankan tugasmu dengan cukup baik! Agak sayang bahwa tidak seluruhnya Harta Tanjung Bugel itu jatuh ketangan kita! — ujar Ki Rikma Rembyak seraja berkali-kali menatap kelima buah peti kecil yang berisi uang emas serta beberapa perhiasan berharga. Ketika teringat olehnya akan Garangpati, maka Ki Rikma Rembyakpun bertanya. — Bido Teles! Apakah kau yakin bahwa Garangpati telah binasa?! —

— Begitulah Kiai, menurut laporan yang aku terima dari salah seorang anak buahku! — kata Bido Teles.

— Hmm, biarlah dia mati! — gumam Ki Rikma Rembyak. — Sudah sepatutnya dia mampus karena telah berkali-kali melanggar perintahku! Kali ini terlalu banyak korban yang jatuh dipihak kita. Nah, bagaimana ini Bido Teles?! -

— Ampun Kiai. Ternyata kita menghadapi musuh-musuh yang sakti, dan diluar dugaan kita sehingga hal ini mengacaukan pekerjaan kita! — ujar Bido Teles.

— Kau bilang menghadapi musuh- musuh yang sakti, hee! Siapa mereka itu! Lekas ceriterakan kepadaku! — berseru Ki Rikma Rembyak disertai wajah yang geram dan kemerahan!

Kemudian Bido Teles mencoba menceriterakan kembali secara singkat akan segala kejadian yang telah mereka alami dan tak lama sesudah Bido Teles mengakhiri ceriteranya, Ki Rikma Rembyak menggebrakkan tangannya keatas meja seraya mengumpat.

— Keparat! Lagi-lagi aku mendengar nama Mahesa Wulung. Aku sudah bosan dan muak mendengar tentang dirinya. Hmm, aku seharusnya sudah ingin mencincang anak bandel ini! —

— Bersabarlah Kiai - sela Soma Karang. — Bukankah Kiai tengah menyiapkan kembali Panah Braja Kencar yang dahsyat itu? Nah, tentang Mahe-sa Wulung serahkan saja kepada kami, sebab itu pula janganlah Kiai menunda persiapan Panah Braja Kencar ini! —

- Hua, ha, ha, ha. Soma Karang! Kau berkata benar. Memang aku tak akan menunda persiapan Panah Braja Kencar kita yang dahsyat itu. — Ki Rikma Rembyak berkata seraya menjambak dan menarik-narik rambutnya yang gondrong awut-awutan itu, sambil bergerundelan

— Hmmm, jika panah itu lekas selesai maka kita dapat membuat gentar orang- orang Demak, termasuk si Mahesa Wulung dan rekan-rekannya itu! Bukankah demikian Bido Teles dan Soma Karang? —

- Itu benar Kiai! — ujar Bido Teles.

- Tak salah lagi! Memang demikianlah yang kita harapkan — berkata Soma Karang.

Ki Rikma Rembyak kemudian membuka peti berhias logam berukir dan kemudian mengeluarkan sekantong uang yang cukup banyak dan diberikannya kepada Bido Teles.

- Terimalah itu Bido Teles, sebagai bayaran kepada para anak buahmu yang telah menjalankan tugasnya dengan baik! — demikian ujar Ki Rikma Rembyak.

- Terima kasih Kiai — Bido Teles berkata seraya menerima sekantong uang itu dari tangan pemimpin-nya.

— Dan kepada kalian berdua — begitu kata Ki Rikma Rembyak sambil memungut dua buah gelang emas dari peti kecil yang terletak dimeja itu. — Terimalah ini untuk kalian masing- masing sebuah gelang disertai ucapan terima kasihku yang sebesar-besarnya atas jasa-jasamu! —

Keruan saja Bido Teles dan Soma Karang buru-buru menerima kedua gelang tadi dengan perasaan gembira dan bangga, oleh penghargaan yang dilimpahkan oleh pemimpinnya Ki Rikma Rembyak.

Setelah itu, kedua pendekar jagoan dari Pulau Mondoliko ini segera membungkuk hormat untuk meminta diri.

— Mohon permisi Kiai — kata Bido Teles — Kami akan membagikan uang ini segera kepada anak buah kami! —

— Ya, ya. Bagikanlah uang itu segera kepada mereka, agar hati mereka senang dan tetap bersemangat untuk tugas-tugas yang lain! - Maka sebentar kemudian tampaklah kedua pendekar tadi melangkah keluar halaman sambil berseri-seri wajahnya, membuat beberapa orang anak buahnya yang melihat mereka segera saja mengetahui bahwa Bido Teles dan Soma Karang telah mendapat anugerah dari Ki Rikma Rembyak.

— Blending! Sigayam dan Sitongkol! Kumpulkan teman temanmu dipantai selatan! - ujar Bido Teles - Kita akan membagi rejeki! Lekas! — demikian perintah Bido Teles sambil menunjukkan sekantong penuh uang yang berada ditangan-nya kepada ketiga orang anak buahnya itu.

— Rejeki??? - seru Blending sambil melototkan matanya menatap sekantong uang tersebut. — Yaho! Baiklah Ki Bido Teles, kami akan segera mengumpulkan teman-teman kita.


Habis berkata begitu, Blending segera menepuk bahu kedua temannya itu dan berlarilah ketiganya kearah selatan untuk mencari teman-temannya.

Melihat ini Bido Teles tersenyum lebar dan menatap wajah Soma Karang yang juga tertawa kegirangan. Mereka terus melangkah kearah selatan menuju kepantai.

Ketika keduanya tiba disitu ternyata telah berkumpul sebagian anak buahnya dan sebagian lagi terlihat berdatangan ataupun berlari-lari kearah tempat itu.

— Saudara-saudara, dengarlah baik-baik — ujar Bido Teles kepada anak buahnya yang telah berkumpul didepannya. — Aku membawa sekantong uang, penuh. Kalian akan kubagi atas perintah pemimpin kita. Ki Rikma Rembyak!

Seketika itu terdengarlah teriakan gembira dan cekakakan mirip teriakan sekawanan iblis yang tengah berkumpul membagi mangsanya.

Sementara itu Jagal Wesi dan beberapa orang temannya yang semula bercakap-cakap dan duduk ditempat yang sama menjadi terkejut dan melayangkan pandangannya kearah Bido Teles dan Soma Karang yang tengah sibuk dikelilingi anak buahnya serta membagikan uang kepadsa mereka.

Jagal Wesi dan teman-temannya cuma terdiam saja, melihat mereka berjingkrakan lantaran menerima bagian uangnya setelah menjalankan tugasnya memburu harta Tanjung Bugel.

Banyak tingkahnya para anak buah Bido Teles tersebut setelah menerima uangnya. Mereka sebagian ada yang menari-nari dan sebagian lagi berteriak-teriak seperti setan kelaparan. Diantara mereka yang mengajak perempuan-perempuan keluarganya, pada menari nari dengan jenaka tapi juga menggairahkan. Yah, semua itu disebabkan tangan-tangan mereka telah menggenggam masing-masing lima keping uang emas murni yang luar biasa tinggi harganya bagi mereka, dan semua itu adalah hadiah dari Ki Rikma Rembyak.

Jagal wesi merasa nanar dan muak matanya menatap pemandang begitu. Segenap anak buah Bido Teles tadi menari-nari dengan irama liar dan karena nya Jagal Wesi bermaksud untuk meninggalkan tempat itu.

— Hee, tunggu! — tiba-tiba sebuah teriakan terdengar lantang sekali, berbareng Jagal Wesi mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. — Jangan pergi dari tempat itu! —

Sudah barang tentu Jagal Wesi menjadi sangat terkejut, karena teriakan tadi pasti ditujukan kepadanya. Dan ketika ia menoleh kearah suara tadi, ternyata memang benarlah dugaannya tadi.

Bahkan Jagal Wesi malah terkejut lebih hebat lagi demi diketahuinya bahwa yang berteriak tadi adalah Bido Teles sendiri. Maka seketika Jagal Wesi menghentikan langkahnya. Berbareng pula ia bersiaga menghadapi segala kemungkinan.

— Mengapa kau pergi, hai Jagal Wesi?! Apakah kau tidak senang bila kawan-kawanmu itu bersuka ria? — ujar Bido Teles.

— Maaf pemimpin muda, aku tak bermaksud begitu. Hari ini aku merasa tidak senat, maka ijinkanlah aku pergi!

— Hmm, kau jangan berpura-pura Jagal Wesi! Agaknya engkau merasa iri lantaran engkau belum menerima uang emas yang aku bagi-bagikan tadi?! — kata Bido Teles sambil tersenyum mengejek. — Nah maka terimalah ini olehmu! Engkau mendapat bagian pula! — Bersamaan dengan itu, Bido Teles meraba ikat pinggangnya dan secepat kilat ia mengibaskan tangan-nya kearah

Jagal Wesi — Wessss. —

Namun Jagal Wesi tidak tinggal diam. Ketika tiga buah sinar kuning melesat kearah dirinya, maka tangan kanan-nya buru-buru merentang kedepan me nyambutnya. - Tak! Tap! Tap! — Tahu tahu diantara jari jemari tangan kanan Jagal Wesi terseliplah tiga buah kepingan uang emas yang tadi dilemparkan oleh Bido Teles.

— Terimakasih tuan Bido Teles — ujar Jagal Wesi seraya menimang nimang ketiga mata uang emas tadi pada telapak tangannya dan kemudian menggenggamnya lama sekali. — Tapi aku rasa terlalu banyak yang aku terima ini! — Bido Teles kaget pula mendengar kata-kata Jagal Wesi tadi dan tiba- tiba ia melihat bahwa tangan si- pendekar kekar yang menggenggam uang emas itu, ini berkelebat kearahnya.

— Harap dimaafkan, pemimpin muda. Aku pulangkan uang ini kepada tuan! — ujar Jagal Wesi.

Dengan sebat Bido Teles menyambar uang yang dilontarkan oleh Jagal Wesi tadi. Akan tetapi sekali lagi ia terperanjat bila uang emas yang ditangkapnya itu bukannya terdiri dari tiga kepingan, melainkan cuma satu kepingan tebal yang sesudah diamat- amatinya, ternyata terdiri dari tiga keping uang emas yang dilekatkan menjadi satu!

— Permainan tenaga dalam! — desis Bido Teles

dengan kagum, tapi juga marah sehingga iapun berteriak serta melangkah lebih dekat lagi kearah Jagal Wesi — Kau berani menolak pemberianku hee? Sebagai anggota baru dilingkungan Pulau Mondoliko ini engkau terlalu ugal-ugalan! —

— Taaar! — sebuah tamparan dari tangan Biro Teles sekonyong-konyong menghajar mulut Jagal Wesi dengan kerasnya. Hampir saja Jagal Wesi membalas kepada Bido Teles dengan tinjunya, tetapi tiba-tiba teringatlah bahwa ia adalah anggota baru dalam gerombolan Rikma Rembyak ini.

Maka Jagal Wesi cuma terdiam oleh tamparan Bido Teles itu, malahan ia membiarkan hinaan yang di perbuat terhadap dirinya, oleh pemimpin muda itu.

Bido Teles yang sehabis menampar mulut Jagal Wesi itu segera pula menyumbatkan kepingan mata uang emas tadi kedalam mulut itu, sehingga Jagal Wesi menggeram.

— Nah, lain kali kau jangan berani menolak pemberian dari Bido Teles tahu! Sekarang kau boleh pergi sesukamu Jagal Wesi! — seru Bido Teles sambil tertawa terbahak-bahak demikian pula Soma Karang yang berada disitu ikut tertawa terpingkal-pingkal.

— Yah, memang keduanya merasa geli dan janggal, bila Jagal Wesi yang bertubuh kekar dan telah menunjukkan tenaga dalamnya itu, kini dengan tiba- tiba cuma berdiam diri mendapat tamparan dan hinaan semacam itu.

Sambil melangkah pergi, Jagal Wesi menahan rasa pedih pada bibirnya yang mengeluarkan darah dan dengan kepingan uang emas yang menyumbat pada mulutnya.

*** 2

BILA SENJA telah turun, beberapa dian minyak kelapa segera dipasang, sehingga ruangan pendapa kelurahan Mijen menjadi terang benderang, sebagai pertanda bahwa pertemuan penting tengah berlangsung.

Diruangan itu pula kelihatan sebuah balai-balai besar beralaskan anyaman tikar pandan halus dan di-situ pula duduklah Ki Lurah Mijen, Pendekar Bayangan, Mahesa Wulung, Gagak Cemani serta Lawunggana dan tak ketinggalan pula Pandan Arum maupun Endang Seruni. Sedang didekat mereka duduk pula Jagabaya Cangkring, Kertipana serta Sorogenen.

Agaknya pusat perhatian dalam pertemuan malam itu adalah pendekar Gagak Cemani yang berkumis melintang dan berjubah serta berikat kepala potongan daerah Timur.

Semua perhatian diarahkan kepadanya ketika Ki Lurah Mijen bertanya dengan ramah. — Angger Gagak Cemani, rupanya angger telah mengenal lebih jauh tentang Setan Enam Serangkai dari daerah Pegunungan Kendeng itu? —

— Memang benar dugaan bapak tadi

— jawab Gagak Cemani diseling senyuman. — Mereka telah merupakan musuh kawakan dengan ayahanda Ki Banyak Sekti sejak belasan tahun yang lalu. —

— Eh, dan tentang ayahmu Ki Banyak Sekti itu sekarang tinggal didaerah Ponorogo juga? — menyela pendekar Bayangan bertanya — Dahulu ketika kami saling berkenalan, masih sama-sama muda dan sekarang ini, akh, aku ingin bertemu lagi dengan dia. —

— Keinginan andika itu pastilah kami sambut dengan senang hati dan kami menantikan kunjungan andika di Ponorogo - ujar Gagak Cemani seraya menatap wajah ketuaan dari Pendekar Bayangan yang kini telah menanggalkan topeng putihnya.

— Hmm, terima kasih, terima kasih. — Pendekar Bayangan berkata dengan wajah gembira. — Tetapi, dapatkah kami mendengar tentang kisah ayahandamu Ki Banyak Sekti serta diri angger sendiri, mengapa sampai kalian bermusuhan dengan Setan Enam Serangkai dari daerah selatan itu? —

— Eeh, baiklah bapak. Saya akan menceriterakan kisah itu, tetapi cukup panjang dan semoga andika semuanya tidak menjadi bosan karenanya. — berkata Gagak Cemani.

— Berceriteralah angger, pasti kami akan senang mendengarnya walaupun akan tidak selesai dalam semalam ini — Pendekar Bayangan berkata. — Yaa,  berceriteralah   angger Gagak Cemani -sahut Ki Lurah Mijen pula. — Memang kebetulan kami adalah orang-orang  yang  doyan mendengar ceritera. Bukankah begitu Cangkring? — Jagabaya  Cangkring   tersenyum lebar seraya menggaruk-garuk lehernya, lalu berkata.  —  Betul   kisanak berceriteralah   sepanjang  mungkin. Dengan demikian pastilah Ki Lurah akan mengeluarkan     hidangan-hidangan masakannya yang lezat dan sedap untuk

kita! -

Suara tertawa serentak memenuhi ruangan pendapa tersebut karena kelakar dari Cangkring dan Ki Lurahpun menyambung pula — Ya andika semua tenang-tenang saja, sebab orang-orang didapur telah masak besar untuk merayakan pertemuan kita serta usa ha kita yang telah berhasil baik. Dan kau Cangkring. Untuk anda telah kami sediakan sambal goreng petai sekuali penuh yang menjadi kegemaranmu! —

Sekali lagi terdengar suara tawa gembira dan Cangkring kelihatan sesaat agak blingsatan namun kemudian tertawa pula dengan terkekeh-kekeh. Demikianlah ruangan tadi menjadi semarak oleh kegembiraan yang ada pada orang-orang itu dan akhirnya ketenangan segera mulai mencengkam suasana ketika Gagak Cemani telah memulai ceriteranya. - Ayahanda Banyak Sekti telah meninggalkan daerah Demak belasan tahun yang lalu karena waktu itu keamanan telah pulih dan merata dimana-mana.

Kepergiannya tidak karena disebabkan pulihnya keamanan itu saja, tapi dikarenakan pula undangan gurunya di Ponorogo yang meminta agar Ki Banyak Sekti tadi datang kesana. Entah, apa maksud gurunya tadi mengundang Ki Banyak Sekti untuk datang ke perguruannya di Ponorogo itu, tidaklah begitu jelas dan undangan itupun cuma dititipkan oleh gurunya kepada seseorang yang kebetulan datang berkunjung ke Demak untuk mengunjungi sanak familinya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi berangkatlah Ki Banyak Sekti tadi kearah timur menuju kedaerah Ponorogo dengan hati yang dipenuhi oleh tanda tanya.

Maka dengan selalu memacu kudanya, Ki Banyak Sekti segera menempuh perjalanannya dari desa ke desa, dari daerah yang satu kedarah yang lain, ia capai dalam waktu yang singkat

— Hemm, pastilah undangan guru ini sangat penting. Mungkin ia mendapat satu bencana atau ah,

tak mungkin. Ki Gendir Penjalin mmpunyai nama besar didaerahnya dan bapak guru cukup mampu untuk menghadapi setiap bahaya! — begitulah pikir Ki Banyak Sekti tadi. — Jika begitu pasti ada hal-hal lain yang menyebabkan ia mengundangku untuk datang ke Ponorogo! —

Sesudah melewati Rembang dan berbelok keselatan, ia menempuh daerah Blora dan Cepu, kemudian menyusuri aliran sungai Bengawan SAla terus ke selatan.

Mendekati daerah Ngawi, sungai bengawan Sala tadi bertemu dengan aliran sungai yang lain, yakni kali Madiun dan kesitulah Ki Banyak Sekti terus menempuh perjalan-nya menuju keselatan.

Setelah melewati Madiun, kegalah hati Ki Banyak Sekti, sebab tak lama kemudian akan tibalah ia di Ponorogo dan bertemu dengan gurunya, Ki Gendir penjalin.

Dan sore itu, ketika Ki Banyak Sekti tiba dihalaman rumah gurunya, dilihatnya Ki Gendir Penjalin sedang duduk termanggu menatap kearah langit barat yang kemerahan oleh cahaya senja.

Akan tetapi Ki Gendir Penjalin segera geragapan setelah ia mendengar derap langkah kaki kuda serta seruan yang memanggilnya dari arah utara. — Guru! Inilah aku telah datang. — Angger Banyak Sekti! Oh, aku selalu menunggu-nunggumu! — ujar Ki Gendir Penjalin seraya mendapatkan muridnya telah meloncat turun dari punggung kudanya dan berlari kesisinya.

Banyak Sekti lalu mengangguk hormat kepada Ki Gendir Penjalain dan iapun menjadi terharu ketika gurunya tadi merangkulnya. Baginya, Ki Gendir Penjalin tadi tidak cuma sekedar guru saja, tapi telah pula dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Itulah sebabnya mengapa ia terharu dan memang sebenarnya iapun telah rindu kepada orang tua ini.

— Angger Banyak Sekti, kedatanganmu telah lama kutunggu- tunggu sebab ketahuilah bahwa Gambisari telah menderita sakit hampir dua pekan ini. — ujar Ki Gendir Penjalin dalam nada cemas. —

— Ookh, Gambisari? Dia menderita sakit, guru? — seru Banyak Sekti dengan kagetnya. Selintas terbayanglah wajah manis Gambirsari, yakni putri Ki Gendir Penjalin yang selama ini telah dianggap sebagai adik kandungnya.

— Ia mengalami kelesuan dan kelemahan. Sebentar kadang-kadang tubuhnya agak deman dan tidak jarang dalam tidurnya dia selalu memanggil namamu! Itulah sebabnya aku memanggil kau kemari. — — Jika demikian aku akan segera menemuinya, bapak! — kata Banyak Sekti dengan tak sabar lagi. —

— Ya, baiklah angger. Mari aku antar masuk kedalam!. —

Keduanya cepat-cepat melangkah kearah pintu masuk dengan hati berdebar-debar. Seperti Banyak Sekti yang segera ingin melihat keadaan Gambirsari yang lagi sakit itu. Sedang Ki Gendir Penjalin sendiri, iapun ingin segera tahu apakah yang terjadi bila anak gadisnya yang selalu terbaring ditempat tidurnya itu melihat dan bertemu dengan Banyak Sekti?

Akan tetapi alangkah kagetnya mereka bila secara tiba-tiba pintu masuk rumah itu terbuka dan berlarilah sesosok tubuh semampai dari dalam dan langsung mendekap Banyak Sekti, membuat pendekar muda ini gelagepan kaget, seperti halnya pula Ki Gendir Penjalin sendiri.

Dan ternyata si pendekap tadi adalah Gambirsari sendiri yang berwajah agak kepucatan dengan rambut yang terurai panjang kehitaman.

Sebagai orang tua, Ki Gendir Panjalin yang semula melongo melihat anaknya bisa sembuh dengan tiba-tiba, segera pula menjadi cerah wajahnya serta tersenyum dengan hati yang bersyukur. - Eeh, Gambirsari. Gambirsari. — demikian kata Ki Gendir Penjalin dalam hatinya. — Mengapa kau tak bilang dari dulu-dulu bahwa engkau merindukan Banyak Sekti?! Ah, engkau telah menderita kasmaran. Gambirsari. Engkau telah mencintai kakak angkatmu ini secara diam-diam. Jika demikian, kalian harus segera menjadi suami istri, terikat dalam tali perkawinan yang suci dan kekal! —

— Engkau telah datang, kakang Banyak Sekti! Ookh. telah berhari-hari serasa bertahun-tahun aku menantikanmu, dan kini aku telah sembuh ketika mendengar suaramu tadi.

— ujar Gambirsari dengan masih mendekap erat tubuh Banyak Sekti, sampai pendekar muda ini seperti dapat mendengar detak jantung gadis ini ketika dada Gambirsari yang padat itu menghimpitnya

— Haai, engkau telah sembuh dengan tiba-tiba, Gambirsari! — ujar Ki Gendir Penjalin sambil tersenyum geli kepada anak gadisnya itu. — Dan jangan keras-keras engkau mendekap angger Banyak Sekti itu. Nanti ia jatuh pingsan kehabisan napas! —

— Aakh, bapak selalu menggodaku! Dahulu andika membiarkan kakang Banyak Sekti meninggalkan rumah ini sampai bertahun-tahun, menyebabkan aku kesepian seorang diri. — kata Gambirsari dengan suara manjanya. — Dan sekarang bapak tak boleh membiarkan kakang Banyak Sekti pergi lagi dari rumah ini. —

— Ooh, tentu tentu! - sahut Ki Gendir Penjalin. - Memang, aku akan menahan Banyak Sekti dirumah ini selamanya, sebab kalian akan segera aku kawinkan! —

— Kawin?! — seru Gambirsari terkejut

— Mengapa Gambirsari? — tanya Ki Gendir Penjalin. - Apakah engkau tak suka? —

— Ooo, suka sekali bapak! — seru Gambirsari sambil berseri-seri wajahnya, yang kini mulai nampak merah. — Memang inilah yang aku inginkan. Kawin dan menjadi isteri dari seorang pemuda yang akui cintai!


Banyak Sekti tersipu-sipu malu, tapi tak urung didalam hatinya terlontaklah teriakan gembira karena pernyataan dari Ki Gendir Penjalin serta gadis manis, si Gambirsari yang suka berkata blak-blakan, terus terang terhadap isi hatinya.

Begitulah, pada akhirnya Banyak Sekti kawin dengan Gambirsari dan hidup bahagia. Keduanya di karuniai seorang anak laki-laki, selang dua tahun kemudian. Dan mereka memberi nama Gagak Cemani, karena rambutnya yang hitam kelam dan berkilat bagai bulu burung gagak.

Belasan tahun telah lewat dengan tak terasa seperti lewatnya angin yang bertiup di setiap harinya berganti- ganti dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa hentinya.

Dan pagi itu disebuah persawahan yang terletak disebelah utara kota Ponorogo terlihatlah beberapa orang petani yang tengah mencangkul disawah. Sekali-sekali mereka melepaskan lelahnya sambil meneguk air minum yang ditaruh dalam bumbung bambu ataupun mengunyah sirih tembakau kesukaannya sambil bercakap-cakap.

— Kami merasa senang bahwa Ki Banyak Sekti telah menetap disini serta mendampingi Ki Gendir Penjalin — ujar salah seorang petani yang rambutnya telah separo putih.

— Yah, kadang kala seorang pengembara tidak akan selalu merantau serta berpindah pindah tempat tanpa tujuan tertentu. Suatu kali ia akan menetap disebuah tempat serta berkeluarga dan beranak cucu. — berkata Ki Banyak Sekti.

— Tapi aku kagum kepada andika — kata seorang petani lainnya. — Bahwa sebagai seorang pendekar, andapun rajin pula bertani mengolah sawah. —

— Ah, tapi ketahuilah kisanak seorang pendekar seperti aku inipun tak berbeda dengan andika semua. Kita adalah manusia dan harus mencukupi semua kebutuhan hidupnya Maka untuk itulah, akupun berta ni dengan kesungguhan. — Ki Banyak Sekti berkata menjelaskan isi hatinya.

Para petani tadi mengangguk- angguk oleh keterangan Ki Banyak Sekti dan sesaat kemudian seorang petani bertanya pula. — Aku pernah mendengar dan benarkah kiranya bahwa tugas seorang pendekar adalah untuk bertempur semata mata? —

— Itu tidak benar seluruhnya, kisanak! — jawab Ki Banyak Sekti sambil tersenyum. — Buat saya seorang pendekar akan bertempur dan harus turun ta ngan dimana kekacauandan kejahatan tengah meraja lela. Akan tetapi dimana tenang dan aman, dia haruslah hidup sebagaimana biasa, sebagai anggota masyarakat lainnya. Ada yang berdagang, bertani, menggembala ternaknya dan sebagainya, sehingga si pendekar tadi tidaklah berpisah jauh dari masyarakat. —

Alangkah kagum dan hormatnya para petani tadi, demi mendengar kata-kata Ki Banyak Sekti. Itulah pula sebabnya, mengapa Ki Banyak Sekti sangat dihormati serta disegani oleh para petani didaerah itu dan tidak jarang pula mereka meminta nasehat serta bantuannya bila mereka mendapat kesulitan.

Tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika terdengar teriakan keras dari arah selatan dan serentak semua pandangan mata terarah pada suara tadi. — Bapaaaak! —

Terlihatlah oleh mereka beberapa orang membawa bakul untuk mengirim para petani yang bekerja disawah itu. Para pengirim tersebut terdiri dari perempuan dan juga gadis dari keluarga petani petani tadi.

Namun seorang pengirim diantaranya adalah seorang anak laki- laki yang berumur kira-kira dua belas tahun. Bakul yang berisi makanan tidaklah dibawanya sebagaimana biasa, dengan menjingjing ataupun menggendongnya. Tetapi dengan cara lain yaitu menjunjung-nya di atas kepala.

Kalau begitupun, toh sebenarnya tidak terlihat aneh namun si bocah tadi menjunjung bakul makanan-nya sambil berlari lari dengan cepatnya dari pematang sawah yang satu kepematang sawah yang lain-nya.

- Bapaaaaak! — teriak si bocah tadi yang berambut hitam mengkilat dan bakul diatas kepalanya itu seolah-olah telah melekat dan tidak mau jatuh msekipun ia berlari-lari meloncat- loncat dengan sigapnya. — Akh, itu si Gagak Cemani! — desis Ki Banyaki Seksi seraya tersenyum. — Siapa yang menyuruhnya kemari? — Ki Banyak Sekti melihat puteranya tadi dengan bangga Gagak Cemani yang telah menjadi besar dan merupakan pemuda tanggung itu, benar- benar memiliki kelincahan dan kesigapan yang mengagumkan. Maka tak heranlah Ki Banyak Sekti bila bakul yang berada diatas kepala Gagak Cemani itu tidak mau jatuh meskipun sibocah itu berlari-lari dan segera tiba ditempat para petani itu lebih dulu dari pada perempuan-perempuan tadi.

— Bapak, aku membawakan makanan untuk bapak. — ujar Gagak Cemani kepada ayahnya. - Nasi, sambal jeruk dan ikan bakar serta juadah! —

— Mengapa tidak ibumu sendiri yang mengantarnya, nak? — bertanya Ki Banyak Sekti seraya mengelus-elus rambut anaknya itu dan sicilik Gagak

Cemani cuma tersenyum kepada ayahnya.

— Ibu sedang sibuk dirumah, bapak. — ujar Gagak Cemani. — lagi menambal baju bapak yang sobek tersangkut duri kemarin. —

ki Banyak Sektipun tersenyum oleh kata-kata Gagak Cemani. Ia lalu teringat bahwa kemarin sore ia telah menelusup-nelusup hutan kecil disebelah utara untuk memburu ayam hutan dan bajunya robek tersangkut duri.

— Apakah bapak marah lantaran aku datang kemari? — tanya Gagak Cemani.

— Ooo, tidak, nak. Tetapi mengapa engkau tadi berlari-lari ketika menuju kemari. Apakah engkau tidak kualir bila bakul makanan ini tertumpah jatuh?

— Maaf, pak. Tapi bukankah bapak serta kakek Ki Gendir Penjalin telah mengajarkan beberapa kecekatan kepada Gagak Cemani? — ujar Gagak Cemani.

— Dan karenanya Gagak Cemani tidak akan menumpahkan bakul makanan ini! —

Ki Banyak Sekti cuma tersenyum mendengar jawaban si kecil Gagak Cemani ini. Memang ia telah mengajarkan beberapa ilmu silat dasar yang sangat sederhana kepada anaknya itu, tapi untuk tingkatan yang lebih tinggi ia belum bersedia mengajarnya. Sebab ia merasa belum tiba waktunya.

Ia menguatirkan bila Gagak Cemani yang lagi berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, ini, telah memiliki ilmu silat tinggi, maka ia akan menjadi anak yang nakal dan semberono.

Meskipun begitu, kekuatiran tadi tidaklah begitu mendalam didalam hatinya, ia lebih tahu bahwa Gagak Cemani tidaklah tergolong anak yang begitu dan semua teman-temannya menyayanginya dengan sungguh-sungguh. Tak jarang ia melihat Gagak Cemani menolong teman-temannya tadi bila mereka mendapat kesulitan-kesulitan.

— Bapak, mengapakah Gagak Cemani tak boleh mendapatkan pelajaran ilmu silat yang lebih banyak? — tanya Gagak Cemani kepada ayahnya.

— Mmm, bersabarlah nak! — ujar Ki Banyak Sekti — Bukannya tak boleh, tetapi kurasa belum waktunya engkau mempelajarinya. —

— Apakah itu terlalu berat, bapak? —

— Yah, kukira begitulah. Meskipun engkau mampu tapi itu akan memakan tenaga yang lebih banyak. Dengan sendirinya akan menimbulkan kelelahan yang luar biasa.

— Maksud bapak, umurku belum cukup uniuk pelajaran itu? —

— Ha, kau telah menemukan jawabannya, Gagak Cemani. Tungguhlah sampai engkau berumur lima belas tahun, dan engkau akan mulai mempelajarinya.

— Terima kasih bapak. —

Setelah para petani tadi beristirahat melepaskan lelahnya, merekapun segera memulai pekerjaannya, mengelolah dan mengerjakan sawah garapan mereka. Sementara itu, para pengirim makanan telah pulang kembali, demikian pula dengan Gagak Cemani. Dengan berlari-lari kecil, ia menuju kejalan pulang menuju kerumahnya.

***

3

DISUATU SENJA yang baru saja mulai turun itu, lima orang anak kecil masih saja duduk ditepi sungai Madiun yang melalui sebelah timur kota Ponorogo.

Kelima anak laki-laki tadi semuanya memegang pengail ditangannya. Beberapa ekor ikan telah mereka dapat dan dirangkainya dalam sebuah tali kecil.

Udara senja yang telah mulai turun serta bayangan-bayangan awan hitam kecoklatan yang membayang dicakrawala barat telah menimbulkan kecemasan diantara mereka.

Bukan lantaran kegelapan senja atau gemericiknya aliran sungai itu saja yang mencemaskan mereka, tetapi jarak sungai tersebut dengan rumah mereka cukup jauh itulah yang membuat kecemasan mereka semakin besar. — Ayoh kita pulang sekarang Gagak Cemani! — ujar seorang anak laki-laki yang bertubuh gemuk. — Aku kuatir kalau ayahku marah-marah nanti. —

— Heh, heh, heh — tertawa si Gagak Cemani — Apakah ketakutanmu itu bukan disebabkan malam yang segera turun ini Beton? — tanya Gagak Cemani seraya menggoda si tubuh gemuk itu.

Karenanya anak laki-laki gemuk tadi menjadi semakin kecemasan tampaknya, lebih-lebih setelah Gagak Cemani melanjutkan kata-katanya. — Kau masih ingat dengan pohon randu alas dipengkolan jalan disebelah barat sana itu.

— Ya, ya,! — seru Beton seraya. — Mengapa dengan pohon tua itu. Bukankah siang tadi kita telah melewatinya? —

— Itu siang hari bukan? — sahut Gagak Cemani sambil tersenyum. — Tapi kalau malam begini, gelap jangan tanya lagi! —

— Eh, mengapa Gagak Cemani? — tanya seorang luki-laki lain yang bertubuh segemuk Beton itu. — Nah, kau juga Bonggol! Dengarlah baik-baik ujar Gagak Cemani. — Di pohon randu alas tua tersebut diamlah suatu hantu hitam yang bertubuh yinggi dan besar. Katanya ia suka membawa anak-anak kecil seperti kita ini. —

— Hiii! — desah Beton sambil mendesah badannya kedekat Bonggol - Kalau begitu kita harus melalui jalan lain! —

— Tapi apa gunanya? - sela seorang teman Gagak Cemani yang bertubuh kurus. — Hantu tadi toh akan keluar dan keluyuran pada malam segelap ini untuk mencari mangsanya, dan mungkin saat ini ia telah berada didekat kita. —

— Oooow! Hiii - seru Beton seraya merangkul Bonggol didekatnya lebih erat, sehingga kedua anak kecil yang berbadan gemuk itu hampir-hampir terguling jatuh setelah mendengar kata-kata Precil yang menakutkan tadi.

- Heh, heh, he, he, — sambung Gagak Cemani pula - Memang hantu tadi suka mengambil anak-anak yang gemuk seperti kalian berdua itu. Tetapi janganlah takut. Kalian akan kulindungi seandainya hantu itu berani mengganggumu!

- Ih, benarkah kata katamu itu? - ujar Beton setengah tak percaya — Kau berani berkelahi melawan hantu itu? —

- Pasti berani! Mengapa tidak? - sahut Gagak Cemani. Belum lagi habis mereka berkata-kata itu, mendadak saja terdengarlah suara gemerosak yang membuat kelima anak itu terkejut bukan kepalang.

Suara gemerosak yang dibarengi sesosok bayangan hitam berkelebat dari pohon yang satu kepohon yang lain. Mula-mula muncul dari utara kemudian bergerak kearah mereka.

— Set! Set! Set — demikianlah bayangan tadi semakin dekat dan berhenti tepat disebuah pohon didekat kelima anak tadi tanpa menimbulkan suara.

Kini kelima anak itu melihat betapa bayangan hitam tadi berdiri dipuncak pohon, tak ubahnya seekor burung yang bertengger dengan enaknya. Bayangan tersebut tertawa mengeletar menyeramkan  siapa saja yang mendengarnya sehingga kelima anak tadi saling berpegangan saking takutnya. — Ha, ha, ha, ha. Mengapa kamu, tikus-tikus kecil ini masih belum pulang, haa? — seru bayangan hitam tadi kepada kelima anak yang berada dibawah — Apakah kalian belum tahu, bahwa akulah hantu si tukang menggondol anak kecil yang masih suka

berkeluyuran dihari gelap! —

Bagaikan tersumbat oleh secarik kain, maka mulut kelima anak itu terbisu tanpa dapat bersuara sedikitpun. Sedang Gagak Cemani dengan bersusah payah mencoba mengatasi rasa takutnya tadi.

Maka tak antara lama dapatlah Gagak Cemani berteriak lantang. — Haai hantu hitam! Lekas pergi dari tempat ini! Jika tidak, pasti aku akan menghajarmu! — Sesaat, si bayangan hitam terdiam seperti tengahmeyakinkan diri bahwa teriakan tadi benar-benar berasal dari salah satu diantara kelima anak kecil tersebut.

Namun sesaat kemudian bayangan tadi kembali tertawa ketika sekali lagi ia dapat mendengar teriakan si kecil Gagak Cemani. — Heei hantu hitam! Jangan ganggu kami! —

Tiba-tiba dengan gerakan yang sangat lincahnya bayangan tadi lalu meluncur turun diatas tanah, tepat didepan kelima anak tersebut, dalam jarak kurang lebih dua tombak.

Karena tampaknya cuma Gagak Cemani yang lebih berani dari pada keempat temannya yang lain, maka si Bonggol, Beton serta kedua orang teman-nya lagi berdiri dibelakang Gagak Cemani.

— Kau tikus cilik! — seru si bayangan hitam yang bertubuh kekar itu. — Berani menantangku, haa!?

— Aku yang melindungi mereka! — bentak si kecil Gagak Cemani. — Jika ada yang mengganggu mereka akulah yang akan membelanya! —

— Hmm, aku kagum kepadamu tikus cilik!! Siapa namamu, haaa!? — teriak si bayangan hitam.

— Aku bernama Gagak Cemani! — — Namamu memang bagus, tikus cilik. Tetapi apakah engkau mampu menghadapiku, haa!! -

— Aku ingin mencoba!! —

— Ha, ha, ha, ha. Bagus! Tak kukira bahwa aku mendapatkan lawan yang sekecil engkau!

— Meskipun aku masih kecil, tetapi aku tak pernah takut menghadapi lawan yang lebih besar! — demikian kata Gagak Cemani yang telah bertekad untu membela keempat kawannya.

— Hee, tapi engkau tadi menyebutku sebagai hantu hitam. Apakah engkau yakin bahwa tubuhku benar-benar hitam?! —

— Tapi engkau telah mengaku sebagai hantu penggondol anak anak kecil. Dan kata nenek, hantu yang demikian itu bertubuh dan berkulit hitam! — Ha, ha, ha, ha. Engkau pernah diceritai nenek-imu begitu? — seru si bayangan hitam itu. Sekarang engkau akan kutangkap dan segera engkau akan dapat mengetahui apakah tubuhku benar- benar hitam! —

Dengan langkah-langkah tegap si bayangan hitam tadi mendekati Gagak Cemani sementara keempat teman-nya menjadi ketakutan setengah mati. Mereka lalu mundur mundur untuk menjauhi tempat itu.

— Hiaaah! — tiba-tiba dengan gerakan lincah Gagak Cemani menerjang kearah si bayangan hitam, tetapi sasarannya cuma menggeliat sedikit dan melesetlah serangan Gagak Cemani tadi.

— Ha, ha, ha. — tertawa si bayangan hitam ketika dilihatnya si Gagak Cemani hampir tersungkur jatuh akibat tenaga pukulannya sendiri yang mendorong kedepan. — Jangan melancarkan serangan dengan perhitungan yang serampangan, tikus kecil! Kau akan jatuh sendiri karenanya! —

Gagak Cemani menjadi terkejut oleh kata-kata peringatan dari lawannya itu dan lebih terkejut ketika si hantu hitam tersebut menyerangnya.

Sebuah terkaman telah mengancamnya dan gagak Cemani tampak kebingungan. Dalam saat-saat yang demikian itu terdengarlah lawannya yanng berperawakan kekar berseru. – Tikus kecil yang bodoh! Kau akan segera teremas oleh tanganku ini! Berbuatlah sesuatu! Mengelak kekiri, kekanan atau meloncat kebelakang! -

Cepat-cepat Gagak Cemani meloncat kesamping kanan seperti anjuran lawannya tadi dan benarlah bahwa sejurus kemudian serangan lawannya menjadi meleset!

Untunglah Gagak Cemani telah diajar dasar-dasar gerak oleh ayahnya maupun oleh kakeknya juga, hingga dengan mengandalkan kelincahannya yang ada, ia tak merasa gentar menghadapi lawannya.

Sebenarnya Gagak Cemani menjadi terkejut sebab lawannya yang semula tampak menakutkan itu kini seolah-olah menjadi orang yang bodoh dengan gerakan-gerakan sederhana yang setiap kali dapat ditangkis ataupun dihindarinya dengan mudah.

Maka Gagak Cemani menjadi tak mengerti sama sekali atas perubahan sikap lawannya. Apakah ia cuma pura- pura ataukah memang sebenarnya ia tak memiliki ilmu yang tinggi.

Bahkan lama-kelamaan Gagak Cemani mendapat kepastian bahwa dirinyapun sebenarnya memiliki kemampuan- kemampuan untuk menghadapi lawannya.

Namun sampai sejauh itu, Gagak Cemani masih saja keheranan, bila setiap kali si bayangan hitam menyerangnya, setiap kali lawannya itu memberi peringatan atau petunjuk- petunjuk yang berguna bagi dirinya.

Malahan tak jarang si bayangan hitam tersebut membuat serangkaian gerakan serta serangan yang lakukan- nya amat lambat, sampai-sampai Gagak Cemani secara jelas dapat melihat serta memahaminya dengan seksama.

Dengan melihat gerakan gerakan yang diulang beberapa kali oleh lawannya itu. Gagak Cemani dapatlah sedikit-sedikit menirukannya dan ini membuatnya terkejut! Si kecil ini hampir tak percaya! Tenyata gagak Cemanipun dapat pula melakukannya dengan cukup baik!

Dan sebenarnya memang itulah jurus silat pertama yang dikenalnya! Maka dengan berlandaskan jurus yang tadi pula. Gagak Cemani selalu melawan serangan-serangan lawannya.

Perkelahian mereka menjadi semakin seru dan dalam saat itu pula Gagak Cemani dapat sekilas mengetahui akan wajah lawannya meskipun malam cuma diterangi oleh bintang-bintang serta bulan yang cuma sepotong, melengkung seperti lengkung ujung kuku.

Si bayangan hitam yang menjadi lawannya terlihat mempunyai wajah yang lebih tua dari ayahnya dengan kumis lebat serta kerut merut pada wajahnya yang menunjukkan kekerasan serta kegarangan.

Dalam pada itu, Beton serta ketiga teman lagi menjadi cemas bercampur rasa takjub, bahwa Gagak Cemani mampu bertempur melawan bayangan hitam tersebut dengan hebatnya.

Setelah keduanya bertempur beberapa saat lamanya. Gagak Cemani mendengar lawannya berkata pula. — Heh, heh, tikus kecil! Kau ternyata memiliki keberanian yang besar! Nah, sampai disini dahulu pertempuran kita! Lain hari boleh dilanjutkan lagi bila engkau ternyata masih berani! Nah, sampai bertemu lagi tikus kecil! —

Habis berkata demikian, bayangan hitam tadi melesat keatas pohon dengan gerakan lincah dan ringan bagai seekor belalang!

— Set! Set! Set! — begitulah, sebentar saja tubuh si bayangan hitam itu telah melesat berpindah-pindah dari pohon kepohon dan lenyap disebelah utara.

Gerakan tadi benar-benar mirip gerakan hantu yang tiba-tiba pergi dan lenyap seperti halnya ketika ia muncul dan datang ditempat itu.

Sesaat kemudian tempat tersebut telah sepi kembali, kecuali derai nafas Gagak Cemani yang masih belum mereda akibat gerakan-gerakan tubuhnya ketika tadi bertempur melayani lawannya, sibayangan hitam itu.

Beton, Bonggol serta kedua orang temannya lagi mendekati Gagak Cemani seraya memeriksa tubuh teman-nya itu. Beton meraba-raba tubuh Gagak Cemani seraya berkata. — Kau tidak mendapat cedera, Gagak Cemani? —

Sebelum berkata, Gagak Cemani lebih dulu tertawa geli akibat rabaan jari-jari si gemuk Beton yang memencet-mencet tubuhnya. — Eah, engkau menggelitik aku Beton! Terimakasih, aku masih baik-baik saja dan tidak mendapat cedera sedikitpun, kecuali napasku yang Senen Kemis berkempis-kempis ini. —

— Engkau memang hebat Cemani! — ujar Precil — Tak kukira engkau dapat berkelahi sehebat itu. Ih, bagaimana kalau Gagak Cemani ini kita angkat sebagai guru kita, kawan-kawan? —

— Setuju! - seru keempat kawan Gagak Cemani tadi dengan serempak.

— Eh, tunggu dulu, kawan-kawan! Aku tak berkeberatan untuk mengajari kalian. Tetapi kalian tahu? Gerakanku tadi belum seberapa dan semua itu kutiru dari gerakan si bayangan hitam yang telah menjadi lawanku! Dengan demikian lebih tepatlah bila dia kita angkat sebagai guru! —

— Wah, takutlah kami dengan bayangan hitam tadi! — seru keempat kawan Gagak Cemani dan si beton tampak mengkirik-kirik serta berdiri bulu kuduknya bila mengingat peristiwa yang baru saja di alaminya.

— Kalian belum tahu, bahwa sambil bertempur dengan aku si bayangan hitam tadi memberi petunjuk-petunjuk tentang gerakan silatnya! — kata Gagak Cemani

— Wah memang aneh orang itu! -

— Oh, jika begitu kita dapat menjumpainya pula, Gagak Cemani! ujar Precil menyela. — Aku dengar tadi, ia bersedia melanjutkan perkelahiannya! — — Yah, itu benar! — sahut Gagak Cemani pula. — Ia masih menantangku lagi untuk bertempur melawan dia. Hmm, apakah kalian masih ingin bertemu lagi dengan si bayangan hitam itu tadi? —

— Kami akan mengantarmu Cemani! — sambung Beton — Tetapi yang berkelahi, biarlah engkau saja. Kami hanya menonton dari tempat yang agak jauh. —

— Wah, jadi aku akan kalian jadikan tontonan?! - ujar Gagak Cemani seraya tertawa meringis. — Biarlah, aku tak berkeberatan. Akan tetapi, aku minta agar kalian merahasiakan peristiwa yang baru saja kita alami ini! —

— Baik! Kita akan tetap merahasiakan peristiwa ini — Beton berkata seraya mengacungkan tangannya kedepan, disusul oleh tangan Precil yang menumpang diatas si Beton. Selanjutnya, tertumpang pula dua tangan temannya dan terakhir sekali Gagak Ce-mani menumpangkan tangannya pula.

Demikianlah kelima anak itu telah berjanji untuk saling memegang rahasia tersebut dengan sungguh-sungguh. Kemudian kelimanya berkemas-kemas mengumpulkan bilah-bilah pancing serta ikan-ikan yang telah mereka dapatkan dan merekapun berjalan kearah barat menuju kejalan pulang. Sepanjang perjalanan, Gagak Cemani tak habis-habisnya mengerti, betapa ia telah menemukan seorang lawan, tapi yang sekaligus menjadi pelatihnya pula.

— Ooh, siapakah bayangan hitam tadi? Apakah ia orang baik-baik atau orang jahat? — demikian pikiran Gagak Cemani bergelut sendirian. — Ayah telah mengatakan, bahwa segera aku akan dilatihnya setelah menginjak usia lima belas tahun! Akan tetapi beberapa saat yang lalu, seseorang telah menyerang dan juga melatihku dengan gerakan-gerakan silat yang cukup hebat. Hmm, bagaimana ini baiknya kalau aku menceritakan kepada ayah, pastilah beliau akan marah sekali. —

Ketika mereka telah sampai kedaerah persawahan serta dekat dengan rumah-rumah mereka, sekali lagi Gagak Cemani berkata kepada keempat kawannya. — Nah selamat malam. Besok lusa kita akan pergi mengail lagi ditempat yang sama. —

- Selamat malam — ujar mereka berbareng kemudian berpisahlah untuk kemudian kembali rumahnya masing- masing.

*** Dua hari berselang. Pada suatu senja, Gagak Cemani beserta keempat kawannya telah pula berada ditempat yang sama yakni disebelah timur Kota Ponorogo, ditepi sungai Madiun. Mereka telah selesai mengail ikan dan kini berkemas-kemas untuk pulang sambil menunggu munculnya si bayangan hitam yang dahulu pernah menyerang Gagak Cemani.

Kelima anak itu selalu melayangkan pandangan-nya kearah utara, dimana bayangan hitam itu dahulu muncul dan lenyap dari arah sana.

Beberapa saat mereka telah menunggu, tapi si bayangan hitam itu belum muncul juga, sehingga mereka mengira bahwa orang tersebut tak akan pernah datang lagi.

Tetapi nyatanya dugaan mereka adalah keliru sebab tiba-tiba saja terdengarlah suara tertawa mengikik di belakang mereka disusul kata-kata yang menyeramkan — Hi, hi, hi, hi, saudara- saudara kecil! Kalian menghadang maut ditempat ini, ha!? —

Begitu mengagetkan dan tiba-tiba kejadian ini sehingga kelima anak itu terlompat kaget dan Bonggol serta Beton yang bertubuh gemuk itu jatuh terguling ditanah, membuat si pendatang tadi lebih keras tertawanya. Gagak Cemani segera menjadi kaget, bila ia dapat mengamati wajah orang itu. Ternyata wajah itu berwarnah kemerah-merahan seperti wajah penari-penari yang melakukan tokoh raksasa dengan mengecat wajahnya dengan warna merah.

Maka tahulah segera si Gagak Cemani, bahwa orang tersebut bukanlah si bayangan hitam yang pernah muncul ditempat itu, dua hari yang lalu. Itulah sebabnya Gagak Cemani segera bersiaga.

- Hi, hi, hi. hi. Aku datang menggantikan temanku yang mempunyai janji untuk menjumpai saudara-saudara kecil yang suka keluyuran ditempat ini dan manakah diantara kalian yang telah berani berkelahi melawan dia?! — berseru si wajah merah itu.

- Maaf bapak, akulah orangnya! — ujar Gagak Cemani.

- Ooo, kaulah orangnya? — berseru si wajah merah tadi serta langsung menyerang Gagak Cemani. - Terimalah ini, saudara kecil! — Haaait! — I

Gerakan si wajah merah ini ternyata sangat hebat dan belum pernah dikenal oleh si Gagak Cemani sebe- lumnya. Tapi pemuda kecil ini cepat menggunakan gerakan yang dahulu pernah dipelajarinya dari musuhnya yang pertama kali yakni si bayangan hitam dan sejurus kemudian si kecil yang cerdas ini bergumam kagum. — Heh, gerakan si wajah merah ini merupakan kelanjutan dari gerakan si bayangan hitam! —

Ternyata lawan Gagak Cemani inipun menyerang dengan gerakan yang lambat sehingga si kecil itu dengan mudahnya segera mengenal dan menirukan gerakan silat lawannya yang gesit bagaikan ular.

Beberapa kali ia berhasil menghantam lawannya namun si wajah merah tadi tidak bergeming ataupun mengaduh, malahan tersenyum-senyum saja, dan keruan saja membikin Gagak Cemani semakin marah. Sejurus kemudian bertempurlah mereka dengan serunya. Gagak Cemani yang telah berhasil menggabungkan jurus-jurus pertama yang berasal dari bayangan hitam serta kemudian menggabungkan dengan jurus jurus si wajah merah ini, membuat gerakannya terasa lebih hebat!

Dan inilah pula yang membuat Gagak Cemani berhasil mengatasi serangan-serangan lawan-nya, bahkan akhirnya iapun berhasil mendesak si wajah merah! Orang tersebut tampak menjadi gelisah dan sesaat kemudian ia melesat kesamping sambil berseru. — Kurangajar kau saudara kecil! Biarlah sampai disini dulu pertarungan kita ini! Sampai jumpa dilain waktu, ditempat ini pula. Awaslah lain kali, saudara kecil! -

Gagak Cemani terlongoh heran bila dengan ini gerakan yang lincah dan cepat si wajah merah tadi telah berjungkir balik diudara dan lenyaplah dibalik semak-semak disebelah barat!

Telah dua kali Gagak Cemani menjadi heran. Ia telah diserang oleh dua orang lawan yang masing masing mempunyai gerak dan jurus yang berlainan tapi ditempat yang sama!

— Hemmm, agaknya sibayangan hitam mempunyai teman yang banyak dan ia telah menceriterakan perihal diriku kepada mereka! — begitu gerundal Gagak Cemani. — Yah, aku tak perduli, siapa yang lain kali bakal muncul dan menemui diriku serta bertempur ditempat ini pula!

Demikianlah akhirnya Gagak Cemani bersama keempat teman-nya segera berkemas dan pergi meninggalkan tempat tersebut sambil membawa beberapa ekor ikan hasil tangkapan mereka hari ini. Malam-pun terus berlalu tanpa kecuali sang bintang diang-kasa berkeredipan laksana ribuan kunang-kunang yang ber- gantung disebelah sana. Tempat tersebut menjadi sepi kembali, kecuali bekas-bekas telapak kaki serta batu- batu yang pecah berserakan akibat pertempuran beberapa saat yang lalu. Memanglah, seseorang yang telah mengalami kejadian hebat dan setiap kali itu pula ia berhasil lolos dan bahaya maka akan bertambah membajalah diri seseorang tadi serta tak akan merasa gentar untuk menghadapi kejadian-kejadian yang lebih hebat?

Dan Gagak Cemani yang masih kecil inipun menjadi ingin untuk setiap kali bertemu dengan lawan-lawan yang aneh ditepi sungai Madiun serta bertempur melawan mereka. Apalagi ia merasa mendapat keuntungan dengan perjumpaan yang ganjil ini.

Maka untuk ketiga kalinya, Gagak Cemani disertai kawan-kawannya datang ketepi sungai tersebut pada suatu senja untuk menunggu pertemuan yang aneh, yang pasti masih akan terjadi mengingat ancaman dari si wajah merah sebelum ia melesat lari.

Dan apa yang dinanti-nanti itu benar-benar datang.

Berbareng tertiupnya angin senja yang menyapu dan menggoyang-goyangkan rerumputan ditepi sungai, terdengarlah suara tertawa nyaring disusul mun- culnya seorang berwajah angker dengan alis mata, kumis dan jenggot yang tebal serta lebat menakutkan. Ia berjalan mendekati Gagak Cemani dan keempat kawannya.

— Mana bocah ingusan yang berani mengganggu kawanku si wajah merah, heei?! — seru siwajah angker seraya mendelik kepada Gagak Cemani. — Pasti kau orangnya, ya!? —

— Memang tak keliru lagi pak brewok!! Akulah Gagak Cemani yang menghajar kawanmu si wajah merah. Harap dimaafkan! —

— Setan kecil. Kau rasakan ini pukulanku! Yaah! — Si wajah angker melayangkan pukulan tangannya dengan deras dibarengi oleh tendangan kaki. Untung saja Gagak Cemani telah memiliki dua jurus silat yang segera dapat menghindari serangan si wajah angker dengan melenting keatas.

Gagak Cemani segera dapat merasakan perbedaan-perbedaan jurus silat dari ketiga lawan yang pernah dijumpainya. Kalau si bayangan hitam dengan jurus-jurus pukulan dan cara mengelak, maka si wajah merah dengan gerakan gesit bagai ular, melingkar- lingkar terhadap lawan yang diserangnya dan kini si wajah angker mempunyai gerakan yang garang tak ubahnya gerakan seekor harimau yang lagi marah!

Meskipun serangan serangan si wajah angker tadi hebat, namun tak satupun pukulannya yang benar-benar melanggar tubuh Gagak Cemani. Paling- paling hanya menyerempet sedikit. Entah, apakah ini disengaja atau memang pukulan tadi sesungguhnya tidak sampai sebab kenyataannya Gagak Cemani senantiasa berhasil menangkis serangan-serangan si wajah angker. Malahan sebaliknya, si wajah angker beberapa kali telah terkena pukulan Gagak Cemani.

Tak antara lama Gagak Cemani mendengar desah nafas lawannya yang kelihatan terengah-engah seperti mau kehabisan nafas. Tiba-tiba saja si wajah angker tadi menotokkan jarinya kepundak Gagak Cemani hingga si kecil ini jatuh terjerembab sedangkan si wajah angker sendiri lalu berbalik dan melesat menerobos semak-semak untuk kemudian lenyap tak berbekas sambil berseru — Sampai ketemu lagi! —

Itulah perjumpaan ganjil untuk ketiga kalinya bagi Gagak Cemani dan setelah itu ia tidak lagi selalu mengajak teman-temannya untuk datang ketempat itu. Kadang kadang dengan seorang diri ia pergi ketempat tersebut dengan memberanikan diri, apalagi ia telah mempunyai tiga jurus ilmu silat yang cukup tangguh.

Maka pada sebuah senja yang berikutnya. Gagak Cemani dengan berdebar-debar melihat sesosok ba- yangan meloncat-loncat mendatanginya dari sebelah utara! Sungguh hebat dan lincah gerakan orang ini. Tak ubahnya gerakan seekor belalang yang melenting- lenting dengan enak dan ringan.

— Tak keliru lagi! Pastilah engkau si Gagak Cemani yang bandel! — seru si pendatang yang berwajah kepucatan seraya menyerang kepada Gagak Cemani. — Aku akan membalaskan kekalahan sahabatku si brewok berwajah angker! —

Si penyerang berwajah pucat ini benar-benar memiliki gerakan lincah, selincah belakang dan menyerang Gagak Cemani dari arah berbeda-beda dan selalu berganti lumpat dengan cara melenting kesana kemari sangat membingungkan.

Semula Gagak Cemani agak kerepotan menghadapi jurus-jurus yang baru ini, tapi beberapa gebrakan lagi, si kecil yang berotak tajam ini berhasil mengenal dan menguasai ilmu lawannya. Meskipun si wajah pucat tadi lincah, tapi Gagak Cemani menggunakan jurus gerakan segesit ular yang pernah dipelajarinya dari si wajah merah! Akibatnya mengagumkan dan hampir- hampir Gagak Cemani tak percaya. Sebentar saja si wajah pucat tadi mengeluarkan keluhan-keluhan sebab selain Gagak Cemani mampu melayani serangan-seangan-nya iapun mampu pula menirukan gerakan selincah belalang tadi serta dipergunakan kembali untuk menyerang dirinya! Dan rupanya saja si wajah pucat itupun merasa bahwa ia tak akan mampu memperpanjang pertempuran itu lagi maka sambil berteriak nyaring dan mengagetkan mendadak ia melenting keudara bagai terbang dan melewati kepala Gagak Cemani lalu melesat pergi dengan meloncat-loncat kearah utara.

Kini Gagak Cemani tinggal seorang diri dengan perasaan lega dan senang. Empat jurus ilmu silat telah dikuasainya dengan baik dan didapatnya dalam waktu singkat.

Dalam hati Gagak Cemani merasa beryukur bahwa ia telah mengenal ilmu silat yang betul-betul diharapkannya, namun disamping itu terselip pula perasaan heran serta tanda tanya besar terhadap orang-orang yang selalu datang kepadanya.

Siapakah mereka ini?? Mungkinkah dari perguruan yang besar, bila menilik keempat lawannya itu saling mengenal dan bersahabat. Tapi akhirnya ia itu tak sepenuhnya mengganggu pikirannya. Hanya saja ia membenarkan kata-kata ayahnya dulu, bila sehabis bertempur seru pasti ia akan mengalami rasa pegal pegal ataupun lelah dan ia belum bisa mengatasi rasa ini.

Empat jenis gerakan ilmu silai telah dikuasai oleh Gagak Cemani dan ini pula sebabnya ia tak merasakan cemas ketika pada sebuah senja yang lain, ia menantikan kedatangan lawan yang berikutnya.

— Kraaaaak! — bunyi berderak terdengar memecah kesunyian senja dan Gagak Cemani cepat bersiaga sebab naluri dalam dirinya seolah olah telah mengatakan adanya bahaya yang tengah mendatang, dan itu ternyata benar!!

Dari atas pohon sukun meluncurlah sesosok bayangan manusia yang kemudian dengan tepatnya mendarat ditanah didepan Gagak Cemani, sampai si kecil ini terkejut setengah mati. Begitu tiba ditanah, bayangan manusia kali ini terus sekaligus memasang kuda-kuda jurus ilmu silatnya serta tak ketinggalan memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan.

— Hah, hah, he, he, he, he, he, hah. Ternyata kau memang bocah bandel Gagak Cemani. Kau selalu menanti kedatangan salah seorang di antara kami. Nah, kali ini akan kau rasakan betapa hebatnya se-ranganku ini! Heeeeeit! —

Gagak Cemani tidak cukup jelas meneliti wajah lawannya kali ini. Namun begitu waktu yang singkat itu telah dipergunakan olehnya dan tahulah dia, bahwa silawan tadi berwajah kaku dan keras laksana wajah dari gunung karang.

Baiknya, sikecil Gagak Cemani ini telah waspada terlebih dahulu, maka ketika serangan itu mendatang iapun segera melenting keudara dan balas menyerang dengan sambaran kakinya kearah kepala siwajah gunung karang.

Ternyata orang inipun tidak terlalu bodoh membiarkan kepalanya ditendang oleh si kecil Gagak Cemani dan dengan putaran tubuhnya kekiri maka lolos lah ia dari serangan tersebut.

Kini si wajah gunung karang ganti melancarkan serangannya kearah Gagak Cemani. Sambil berseru hebat ia menerkam si kecil tadi dengan gerakan sigap dan tandas bagaikan gerakan banteng yang hendak menanduk dan menerjang lawannya.

Karenanya Gagak Cemani menjadi terkejut bukan main dan berdesis kaget. -Hmm, gerakan silat yang baru!

— Cepat si kecil ini berkelit kesamping dengan gerakan segesit ular, tapi ternyata ia masih kurang cepat. Kedua terkaman tangan si wajah gunung karang tadi cuma sebelah saja yang menyinggung pundak Gagak Cemani, dan tanpa ampun lagi Gagak Cemani terpelanting roboh.

Melihat ini si wajah gunung karang berdiri bertolak pinggang seraya melotot kearah si kecil tak ketinggalan mulut bergerundalan. — Cis, baru sebegitu ilmu mu sudah takabur!! Gerakanmu tadi kurang cepat bocah bandel! Kuperingatkan sekali lagi untuk memperhatikan gerakanku nanti. Jika engkau lengah sekejap saja, dapat kupatahkan tulang belulangmu!! —

— Baik! Akan kuparhatikan kata- katamu itu pakde! — ujar Gagak Cemani seraya bangkit berdiri.

— Hus! Panggil pak gede kepadaku? Kurangajar! — seru si wajah gunung karang sambil bersungut-sungut wajahnya. — Gagak Cemani! Aku kagum terhadapmu. Maka kau kutantang untuk setiap kali datang ditempat ini untuk menemui saudara-seudara seperguruan kami yang banyak jumlahnya dan mencoba ilmunya! —

— Tapi berapa jumlah teman teman itu, pak?! —

— Puluhan, bahkan mungkin ratusen! Heh, heh, heh, — Tapi ingat Gagak Cemani, kau jangan menceriterakan pertemuan ini kepada orang lain jika tidak ingin menemui kematian! —

— Aku berjanji paki Tapi apakah bapak mempunyai guru? Tanya Gagak Cemani dengan rasa ingin lebih tahu. -

— Hmm, suatu kali kau akan dapat menjumpainya Gagak Cemani! Tetapi marilah kita lanjutkan pertarungan kita tadi, terlebih dahulu! Jika engkau dapat menandingiku maka tentu teman-temanku lainnya tak berkeberatan untuk menemuinya!! —

Si wajah gunung karang segera bergerak dan menyerang kembali kearah Gagak Cemani dan sejurus kemudian keduanya telah bertempur hebat, lebih hebat dari yang sudah-sudah.

Seperti halnya yang sudah-sudah, Gagak Cemani segera dapat mengetahui tata gerak dari ilmu silat lawan-nya dan sekaligus menirukan serta menguasainya sekali. Bahkan jurus gerakan itupun ia pergunakan kembali untuk menyerang si wajah gunung karang!

Lama-kelamaan si wajah gunung karang tampak terengah-engah apabila gerakan gerakannya yang sehebat banteng itu seperti larut dan tenggelam oleh gerakan-gerakan Gagak Cemani yang selalu berganti-ganti. Si kecil ini sebentar menggunakan gerakan selincah belalang, lalu berganti gerakan harimau, ataupun segesit ular dan kemudian jugs menggunakan gerakan banteng itu sendiri!

— Akhirnya orang ini melesat dengan sisa-sisa tenaganya, ketika Gagak Cemani berusaha menangkapnya, dan serunya. —

— Hee, Gagak Cemani! Hebat juga engkau! Nah, sampai sekian dulu bocah bandel! - Dengan kecepatan yang mengagumkan, tubuh si wajah gunung karang melesat ke arah utara ditelan oleh kelebatan semak belukar dan pohon-pohon raksasa disebelah sana.

***

4

ENTAH, SUDAH berapa kali Gagak Cemani datang ketepi sungai Madiun, ditimur kota Ponorogo itu. Sikecil itupun hampir tak pernah mengingat untuk menghitungnya. Mungkin telah puluhan kali, mungkin pula hampir seratus.

Kadang-kadang ia pergi seorang diri atau mengajak teman-temannya sedang waktunyapun tidak menentu. Jika tidak ada kerja dirumah, ia dapat datang ketempat itu dua hari sekali dan bila ada kesibukan, maka cuma sekali ia datang dalam seminggu.

Adapun tokoh-tokoh yang ia jumpai sering berganti orangnya. Hanya beberapa kali ia pernah menjumpai tokoh-tokoh yang sama. Sampai sejauh itu Gagak Cemani masih belum berhasil mengetahui asal-usul dari para tokoh yang selalu menjumpainya itu. Sedang apa yang terjadi pada dirinya. Gagak Cemani menjadi kagum pula, sebab kini telah dimilikinya sebuah ilmu silat yang terdiri dari rangkaian jurus dan gerakan yang hebat. Satu tata gerak yang benar-benar sukar dicari bandingannya.

Apalagi ketiga tokoh yang terakhir dijumpainya itu berhasil menangkap tubuhnya untuk kemudian didadah atau dipijat segala sendi- sendi dan urat-urat tubuhnya. Maka sejak itu Gagak Cemani tak pernah lagi merasa kehabisan nafas ataupun tenaga, meskipun ia harus bertempur dalam waktu yang lama!

Demikianlah, tak terasa waktu yang dua tahun telah lewat dan menjelang Gagak Cemani memasuki usia lima belas tahun, ayahnya telah memintanya untuk segera mempelajarinya ilmu silat.

Akan tetapi alangkah kagetnya Ki Banyak Sekti ketika pada jurus-jurus pertama dari pelajarannya, Gagak Cemani telah dapat melahap jurus-jurus pelajaran dari ayahnya itu dengan singkat! Demikian juga kakeknya, Ki Gendir Penjalin yang menyaksikan hal itu menjadi takjub pula.

Namun kedua orang tua itu hanya mengambil kesimpulan bahwa Gagak Cemani mempunyai dasar yang cukup baik serta bakat yang mendalam. Mereka tidak tahu bahwa si pemuda kecil Gagak Cemani ini telah digembleng oleh tokoh-tokoh misterius dan aneh! Seperti biasanya, pada senja- senja yang telah dijadikan semacam perjanjian waktu bagi pertemuannya dengan tokoh-tokoh yang aneh tadi, Gagak Cemani telah datang ditepi sungai tersebut.

Dan tiba-tiba saja terkejutlah ia, bila dilihatnya seorang bertubuh kekar tapi berwajah setengah tua dengan kerut muka yang juga menunjukkan keagungan itu duduk diatas puncak semak gelagah ilalang yang tumbuh didekat batu-batu besar dengan enaknya.

— Tenaga dalam yang sempurna! — gumam Gagak Cemani — Hmm, orang tua inipun agaknya yang akan mencoba diriku! —

Gagak Cemani lebih takjub, sebab tubuh orang tua tadi seperti tak tergerak ataupun terpengaruh oleh batang-batang daun gelagah ilalang yang didudukinya itu, yang bergoyang- goyang tertiup angin senja!

Maka cepat-cepat Gagak Cemani berloncatan mendapatkan orang tua tadi seraya memberi hormat dihadapannya, lalu, berkata dengan petahan. — Maaf, bapak. Apakah bapak juga datang ditempat ini untuk mencoba kepandaianku? —

— Heh, heh, heh, engkaulah si Gagak Cemani yang pemberani itu! — ujar orang tua tadi seraya membetulkan kerudung kain atau jubahnya yang ter singkap oleh angin senja. — Ketahuilah angger aku sengaja datang kemari untuk mengatakan bahwa semua tokoh yang datang untuk mencoba ilmu silatmu itu telah merasa kewalahan dan aku rasa untuk saat sekarang ini, kepandaianmu serta ilmu silatmu itu untuk kebaikan serta menolong sesama hidup demi tegaknya kebenaran dan keadilan yang kita cari itu. Camkanlah kata-kataku ini angger! -

— Terima kasih bapak. — Ujar Gagak Cemani, — Tapi dari manakah tokoh-tokoh itu datang? Apakah mereka murid-murid dari bapak? —

— Heh, he, muridku tidak sampai berjumlah puluhan atau ratusan bahkan tidak lebih dari lima orang saja! —

— Tap... tapi mereka yang datang itu hampir lebih dari seratus orang?!

— seru Gagak Cemani bingung.

— Oooooh, itukah yang mengherankanmu? Nah, lihatlah ini! — ujar orang tua itu seraya menutup mukanya dengan kain jubahnya dan ketika dibukanya kembali. Gagak Cemani seketika berseru kaget setengah takut.

— Aaaakh, si wajah merah! — desis Gagak Cemani, bila wajah si tua itu tiba-tiba berubah dengan wajah si tokoh yang berwajah merah yang pernah dijumpainya. — Dan kenalkah kau dengan ini? — ujar si tua kembali seraya menutup mukanya sesaat dan membukanya kembali.

— Ooooh, si wajah pucat! —

— Dan juga kenal dengan tokoh ini

— kata si tua seraya menutup dan membuka kembali wajahnya dengan kain.

— Haaah, itulah wajah si tokoh gunung karang yang berkekuatan banteng! — desis gagak Cemani semakin heran.

— Nah angger Gagak Cemani, tokoh- tokoh tadi sebagian besar adalah aku sendiri. — berkata si tua seraya memperlihatkan wajahnya yang semula, yakni wajah agung dari seorang yang setengah tua! Maka tahulah segera bahwa si tua tersebut bukanlah orang yang sembarangan dan karenanya Gagak Cemani ingin segera mengetahui siapakah sebenarnya orang tua itu.

— Maaf, bapak. Bolehkah aku mengenal nama bapak? —

— Eh, apakah itu penting bagimu ngger? —

— Tentu penting bagiku, bapak! Sebab nama itu nanti akan selalu kuingat sepanjang hidupku, sebagai peringatan atas tergemblengnya tubuhku sehingga memiliki ilmu yang cukup baik.

— Heh, heh, heh, heh. Kau anak baik. Gagak Cemani! Baiklah. Namaku panggil saja Ki Bujanggiri dari Gunung Liman — ujar si orang tua itu seraya tersenyum. — Dan untuk selanjutnya, aku tak dapat lagi menemuimu, karena masih ada tugas lain yang harus bapak selesaikan, angger. — Ki Bujanggiri tampak kemudian memungut sesuatu dari balik jubahnya sam bil berkata. — Udara akan segera dingin. Gagak Cemani. Maka pakailah kain ini untuk membalut dan menghangatkan tubuhmu, sedang golok ini, biasa kupakai untuk memotong dan membelah kayu. Kini kuberikan pula kepadamu untuk menjaga dirimu.

- Beribu-ribu terimakasih, bapak.

- ujar Gagak Cemani seraya menerima kedua benda tersebut dengan perasaan gembira bercampur haru. Lebih-lebih ketika tangan orang tua itu mengusap usap rambutnya yang hitam mengkilat bagai bulu burung gagak itu, terasalah rasa haru yang lebih dalam pada dada Gagak Cemani dan tanpa terasa terjatuhlah beberapa butir air mata yang menetes dari sudut matanya. Waktu dua tahun cukup lama, tapi terasa singkat oleh Gagak Cemani dan selama itu, orang tua dide-pannya itulah yang telah berjasa menggembleng dirinya. Sayang sekali bahwa Ki Bujanggiri itu kini akan meninggalkannya.

Angger Gagak Cemani, malam akan semakin dingin dan bapak akan segera pergi. — ujar Ki Bujanggiri - Engkaupun harus segera pulang, agar orang tuamu tidak terlalu cemas menantikanmu? — Begitu selesai dengan kata-katanya Ki Bujanggiri segera melesat pergi keutara dalam gerakan yang mengagumkan. Jubahnya yang mengembang itu bagaikan sayap seekor burung yang lagi terbang.

Sebentar saja lenyaplah sudah, tubuh Ki Bujanggiri tadi seperti ditelan oleh kelamnya malam dan lebatnya pepohonan. Sedang Gagak Cemani segera mengikatkan kain pemberian orang tua tadi pada punggungnya serta menyelipkan golok itu kepinggangnya.

Perlahan-lahan Gagak Cemani meninggalkan tempat itu dan sekali- kali ia menengok kebelakang sana, seperti ingin meyakinkan bahwa tempat tersebut betul-betul ada dan bukan sekadar impian belaka, la menerobos semak belukar dan menunju kejalan kecil yang menuju kerumahnya.

Dalam beberapa loncatan bagai terbang, Gagak Cemani telah melesat melewati semak belukar untuk kemudian mendarat diatas jalan itu.

Akan tetapi .... Wuuut — sriiing sriiing-sriiing! — beberapa tebasan pedang berkelebat dan menyambut tubuh Gagak Cemani dengan hebatnya. Namun pemuda ini dengan gesitnya pula, mencelat ke udara serta berputaran menyelinap diantara tebasan-tebasan itu dan sebentar kemudian loloslah ia dari serangan maut tadi.

Gagak Cemani berhasil hinggap pada cabang pohon sementara dua sosok bayangan yang berada dibawah pada saling melongo melihat serangan pedang tadi berhasil dielakkan Gagak Cemani.

Mata tajam si Gagak Cemani segera dapat mengenal mereka, apalagi ketika kedua orang tadi bergerundalan kagum. Itulah sebabnya Gagak Cemani segera berteriak — Ayaaah! Kakek! disusul tubuhnya meluncur kebawah, mendarat di atas tanah.

Kedua orang itu yang tidak lain adalah Ki Banyak Sekti serta gurunya yakni Ki Gendir Penjalin berseru kaget. — Gagak Cemani?? Engkaulah itu nak?? —

— Benar bapak akulah Gagak Cemani! — ujar pemuda itu seraya berlari mendapatkan ayah dan kakeknya.

— Aah, hampir saja, nak. Tapi mengapa engkau berkerudung kain itu serta menyoren golok dipinggangmu? Dari mana kau dapat semua benda itu, nak? — tanya Ki Banyak Sekti kepada anaknya.

Maka terpaksalah Gagak Cemani menceriterakan pertemuannya dengan Ki Bujanggiri yang duduk diatas ujung semak gelagah ilalang serta kemudian memberinya kedua benda tersebut kepadanya.

— Haaakh!? — kedua orang tua serentak kaget demi mendengar nama Ki Bujanggiri disebut oleh Gagak Cemani.

— Luar biasa! — desis Ki Gendir Penjalin. — Kau beruntung sekali cucu! Ketahuilah bahwa Ki Bujanggiri adalah adik seperguruan dari Ki Patih Bujangganong dari kerajaan Bantarangin yang dahulu diperintah oleh Sang Prabu Kelana Sewandana! —

— Oh, bukan main hebatnya ceritera itu, kakek! — kata Gagak Cemani. — Tapi kerajaan Bantarangin itu aku belum pernah mendengarnya? —

— Nah, pada suatu hari Sang Prabu Kelana Sewandana disertai Ki Patih Bujangganong bermaksud melamar Putri Sangga Langit dari kerajaan Kediri. Maka keduanya disertai rombongan perajurit-perajurit Bantarangin pergilah memasuki wilayah kerajaan Kediri, setelah lebih dulu menaklukkan Singa Barong, seekor harimau penjaga tapal batas kerajaan. Mereka berjalan dengan membunyikan tetabuhan yang mengagetkan para perajurit serta Sang Prabu. Mengira kedatangan musuh, mereka segera menghujani rombongan Sang Prabu Kelana Sewandana dengan tembakan panah, lemparan tombak, bandil dan sebagainya sehingga tamu dari Bantarangin hampir seluruhnya tewas bina sa termasuk Prabu Kelana Sewandana, Ki Patih Bu jangganong serta Singa Barong itu sendiri. Sedang beberapa orang yang sempat melarikan diri, seperti Bujanggiri saudara seperguruan dari Ki Patih Bujangganong, segera mengasingkan diri dan menetap di Gunung Liman, serta tak terdengar lagi kabar beritanya. Begitu pula Negeri Bantarangin yang terletak di-daerah ini, ibarat tanaman yang kekeringan air dan akhirnya runtuh serta lenyap pula — demikian ceritera Ki Gendir Penjalin.

Gagak Cemani berkedip-kedip mendengarnya dan tak lama kemudian ia mengangguk-angguk, sedang Ki Banyak Sekti segera berkata. — Ayo, nak. Kita pulang sekarang. Malam akan semakin larut! —

— Baik ayah, tapi mengapakah ayah dan kakek membawa pula senjata serta berjalan ditengah malam begini?! — bertanya Gagak Cemani sambil mengawasi. sebilah pedang yang terselip dipinggang ayahnya, juga sebilah keris yang tampak disengkelit pada dada kakeknya. — Adakah sesuatu yang terjadi? —

— Kami berdua tengah meronda, nak

— ujar Ki Gendir Penjalin kepada cucunya. — Keadaan mulai gawat dan keamanan mulai terancam, sebab pendekar jagoan dari wilayah selatan saling berselisih serta menunjukkan kekuasaannya masing-masing, sehingga tak jarang terjadi perselisihan dan keributan-keributan. Kami merasa kuatir bila kerusuhan seperti itu meluas kedaerah utara, ketempat kita tinggal ini. —

Ketiganya, tak antara lama telah berjalan menuju kearah semula menyusuri jalan yang dinaungi oleh pohon-pohon asam dikanan kirinya.

— Mengapa pendekar-pendekar jagoan itu membuat keributan, kakek? —

— Ya, seperti kata-kataku tadi, mereka saling menunjukkan kekuasaannya dan tidak jarang, mereka menarik pajak terhadap penduduk didaerahnya dan tentu saja hal itu membuat kecemasan- kecemasan kepada penduduk disitu. —

— Aaakh, keterlaluan jika begitu. Kesaktian mereka membuat celaka terhadap orang-orang disekitarnya. — ujar Gagak Cemani.

— Memang, kesaktian yang tidak dilandasi oleh jiwa besar, akan membahayakan. Pendekar tadi akan beranggapan bahwa dirinyalah yang terpenting dan terunggul diantara para penduduk itu. Dan karenanya pula, sipendekar lalu merasa patut dan selayaknya bila orang-orang tersebut menjamin hidupnya, memberi makan minum dan pakaian, juga memberi perempuan kepadanya, demikian kata Ki Banyak Sekti yang membuat Gagak Cemani pelahan-lahan menyadari tentang hakekat kebenaran dan kehidupan seba- gai seorang pemuda yang menginjak masa dewasa.

Ketika mereka bertiga membelok kearah selatan, tiba-tiba Ki Gendir Penjalin memberi isyarat supaya berhenti dengan segera. — Aku mendengar langkah-langkah kaki menuju kemari! —

— Betul, kakek! — sahut Gagak Cemani. — Kita harus menyingkir cepat- cepat! — Gagak Cemani berkata seraya meloncat ketepi jalan berbareng dengan loncatan Ki Banyak Sekti dan Ki Gendir Penjalin kearah yang sama.

Dengan bersembunyi dan berdiam diri dibalik semak-semak tepi jalan itu, mereka menunggu dengan perasaan berdebar-debar akan kejadian-kejadian yang bakal dialaminya.

Sesaat kemudian, Ki Gendir Penjalin menjentik pundak cucunya serta menunjuk nunjukkan telunjuk kanannya kearah selatan. — Stt, itulah yang kita nanti, nak! —

Mata si Gagak Cemani terbiasa mengawasi kegelapan malam dan juga dibantu cahaya rembulan yang cuma separo bulat itu, membuat sipemuda ini dapat melihat dua sosok tubuh berjalan dari arah selatan. Begitu pula Ki Gendir Penjalin serta Banyak Sekti serta mengetahui dua pendatang dari arah selatan. Namun mereka bertiga menjadi terkejut dan saling melongo bila kedua pendatang itu berjalan dengan terseok-seok.

Yang seorang berjalan dengan dipapah oleh temannya dan seketika tahulah Ki Gendir Penjalin kalau seorang diantaranya pendatang itu menderita cedera atau kepayahan.

— Ayo, kita tolong mereka! — bisik Gagak Cemani.

— Tunggu dulu! Jangan tergesa- gesa! — potong Ki Gendir Penjalin terhadap maksud cucunya itu — Itu ada yang datang lagi dari sebelah selatan menyusul mereka berdua! Mungkin adalah teman-teman dari mereka pula.—

Benar juga kata kata Ki Gendir Penjalin itu, sebab tak lama kemudian, dari sebelah selatan datanglah serombongan orang yang mendatangi kedua orang tadi.

— Larilah engkau lebih dulu, Rengganis! Larilah! Biar aku yang menghadapi orang-orang itu! — ujar orang yang dipapah.

— Tidak ayah! Andika telah terluka ketika menghadapi mereka dan sekarang akan melawan mereka kembali! Itu berarti membunuh diri, ayah! ujar yang seorang lagi dengan suara nyaring yang menunjukkan suara seorang wanita. — Mari kita terus berlari atau menyelinap kesemak belukar itu! —

— Heei, berhenti kalian! Kurang ajar! — teriak salah seorang dari pengejar yang berwajah kejam sambil mengacungkan sebuah celurit, yakni senjata sebangsa sabit yang berukuran besar. Sementara itu keempat kawan lainnya, serta merta berloncatan me- ngelilingi kedua orang buronan itu.

— Patra! Lekas kau serahkan anak gadismu itu sebagai pengganti pajak kalian yang tak dapat kau bayar! Pemimpinku pasti akan senang menerimanya! — seru siwajah kejam, disertai lirikan beringas kearah Rengganis.

— Jangan terlalu lama kakang Kemarung! — seru salah seorang dari teman siwajah kejam yang berpe rawakan pendek dan kekar dengan kumisnya yang lebat keriting bagaikan tembakau panggang.

— Bereskan saja si Patra dan rebut si manis Rengganis itu! Senjata bindiku ini akan memecah kepalanya. —

— Heh, heh, heh. Kau sudah tak sabar lagi Omprong! — ujar Kemarung seraya melirik kearah temannya itu, yang pada tangannya telah tergenggam senjata bindi, sebangsa penggada yang ujungnya dilapisi oleh logam tebal.

— Keparat. Kalian manusia biadab! Alasan, tak berperikemanusiaan! — teriak Patra seraya melolos kerisnya dengan gerakan gemetar akibat luka- luka yang dideritanya. — Kalian cuma berani main keroyok saja! —

— Heh, heh. Apa bedanya hal itu monyet! — sahut Kemarung dengan mendelik. — Toh, akhirnya kau harus mati, Patra! —

— Nah, bukankah si Patra busuk itu terlalu bandel kakang Kemarung! — ujar Omprong. — Tunggu apa lagi, kita?


— Yaa, sekarang ... serbu! Hancurkan dia! — teriak Kemarung kepada keempat orang temannya. Tapi sebelum kelima orang itu menyerbu, terhentilah mereka sebab sebuah teriakan telah menggetarkan udara malam.

— Tahan! Berhenti! — menyusul kemudian tiga sosok bayangan manusia yang tidak lain, Ki Gendir Penjalin, Ki Banyak Sekti serta Gagak Cemani berloncatan keluar dari semak belukar ditepi jalan. — Kamilah kawanmu! —

Melihat ini Kemarung terkejut tapi juga marah dan tanpa bertanya- tanya lagi, berbalik menyerang ketiga pendatang tadi. Bagaikan serigala kelaparan kelima pendekar dari selatan tersebut menerjang lawan-lawannya. Senjata-senjata mereka berkelebatan membelah udara dengan suara mengaung mengerikan. Sedang Rengganis serta ayahnya mengikuti pertempuran dimukanya dengan hati berdebar-debar saking takut dan takjubnya. Keduanya merasa bersyukur karena datangnya ketiga penolong itu.

Kemarung langsung menerjang Ki Gendir Penjalin dengan celuritnya yang menyambar-nyambar laksana petir dengan dugaan bahwa situa yang menjadi lawannya ini akan segera dapat dipenggal kepalanya dalam gebrakan pertama.

Tapi dugaan tadi menjadi meleset, sebab Ki Gendir Penjalin lebih dulu melenting keudara sekaligus mencabut kerisnya. Jika mau, sebenarnya Ki Gendir Penjalin tidak perlu menggunakan senjata untuk menghadapi Kemarung, namun ia melihat bahaya yang lebih besar yang mengancam menantu serta cucunya yang masih kelewat muda itu. Maka ia berharap untuk dapat lekas-lekas melumpuhkan lawannya dan kemudian membantu Ki Banyak Sekti serta Gagak Cemani.

Dengan sibuknya Banyak Sekti menghadapi se rangan golok dari ketiga lawan pengikut Kemarun, sedang Gagak Cemani dengan gesitnya menghindari serangan-serangan Omprong yang datangnya bagaikan angin puyuh.

Pertempuran seru telah berlangsung. Kelima jagoan dari selatan tadi tidak mengira bila malam itu mereka harus bertempur mati-matian menghadapi tiga orang lawan yang tangguh.

Omprong yang menghadapi Gagak Cemani itu menjadi semakin geram dan marah bila serangan-serangan senjata bindi ditangannya itu selalu dapat di- hindari oleh Gagak Cemani dengan berloncatan ke-sana-kemari.

Maka tak lama kemudian Omprong mulai mengeluarkan jurus-jurus mautnya, sehingga dalam sekejap mata senjata bindi tadi bergerak ganas dan lincah mengurung gerakan-gerakan Gagak Cemani, membuai sipemuda berjubah ini menyadari bahaya yang tengah mengancam keselamatan dirinya.

— Sreeett! — Gagak Cemani melolos golok pemberian Ki Bujanggiri beberapa saat yang lalu dan menyebabkan Omprong maupun dirinya sendiri menjadi terkejut! Golok tersebut berwarna buram seperti termakan karat, tapi pada mata goloknya yang tajam, berkilatanlah cahaya berkeredapan dari sang rembulan yang menimpanya.

Kemarung sesaat menjadi berdesir hatinya menyaksikan golok milik Gagak Cemani tadi. Hanya saja sebagai seorang jagoan, pendekar, ia tak mau memperlihatkan hal itu. Lebih-lebih dihadapan lawannya yang jauh lebih muda dari pada dirinya. Tak berbeda dengan Kemarung yang berhadapan melawan Ki Gendir Penjalin. keris orang tua itu nampak membara oleh mata lawannya dan Kemarung ber- desis karenanya. — Keris pusaka! — Meskipun begitu, Kemarung bukannya menjadi ciut hatinya oleh senjata tadi. Malahan dengan sekuat tenaga ia mengobat-abitkan celurit ditangannya untuk memenggal leher lawannya dan selanjutnya merampas keris puasaka tersebut.

Serangan-serangan Kemarung begitu rapat dan hebatnya, sehingga senjata celuritnya tersebut berubah tampaknya merupakan gulungan sinar putih yang bertubi-tubi melanda kearah Ki Gendir Penjalin, membuat lawannya yang tua ini-menjadi kerepotan dalam sekejap saja.

Melihat hal ini, Kemarung semakin kegirangan. Hanya agak untunglah Ki Gendir Penjalin menggenggam kerisnya yang ampuh. itu. Pelahan-lahan, seperti mengalirnya udara malam, keris tadi mulai mengeluarkan hawa saktinya yang membawa pengaruh tidak sedikit pada pembawanya, yakni Ki Gendir Penjalin.

Keris tersebut seolah-olah hidup ditangan pendekar tua tadi dan mampu bergerak sendiri. Hawa panas terasa menyambar-nyambar dari keris itu, bei bareng Ki Gendir Penjalin dapat bergerak lebih cepat serta mencelat kesana-kemari dicelah-celah tebasan senjata celurit lawannya dan karenanya. Kemarung menjadi gelagepan!

— Lekaslah kau minggat dari tempat ini, sebelum Klabang Nyander ditanganku ini menjebol dadamu. — seru Ki Gendir Penjalin. Namun Kemarung tidak lekas berkecil hati oleh kata- kata musuhnya dan serangannya masih terus menggencar.

Dipihak lain, Ki Banyak Sekti dengan gigihnya menghadapi keroyokan dari tiga orang pengikut Kemarung yang masing2 bersenjata golok. Mereka telah sejak tadi mengurung Ki Banyak Sekti dengan jurus-jurus mautnya, namun selama itu pula lawannya selalu berhasil menghindarkan diri. Mengalami kejadian ini, keruan saja ketiga orang itu bertambah jengkel dan tak salah lagi bila serangan serangannya diperlipat gandakan.

Dua orang menyabetkan goloknya kearah kaki Ki Banyak Sekti, sementara yang seorang telah men-cegat dari sebelah atas dengan loncatan gesit dibarengi tebasan golok kearah leher Banyak Sekti. Sungguh mengerikan bila Ki Banyak Sekti tidak segera bertin- dak. Pasti kalau tidak lehernya yang copot kedua kakinya akan buntung terpapas oleh golok-golok lawan. — Hiaat! — Ki Banyak Sekti tiba- tiba meloncat keatas menghindari kedua golok yang menyerang kaki, sedang untuk serangan dari sebelah atas iapun telah bersiaga dengan pedangnya.

Sesaat kemudian tampaklah tubuh Ki Banyak Sekti berpapasan dengan tubuh lawannya diudara dan kedua senjata ditangan mereka cepat beraksi!

— Breet. Yaarrrgh. —

Itulah korban pertama yang jatuh. Anak buah Kemarung tadi runtuh dari atas udara, melayang ke-bawah bagaikan buah durian jatuh dan berdebuk keras- disertai darah berhamburan dari perutnya. Kedua temannya yang lain sangat terkejut melihat hal itu, dan secepat kilat menerjang Ki Banyak Sekti berbareng.

Namun Ki Banyak Sekti secepat kilat berguling ditanah, begitu kedua ujung golok itu menyambar dadanya. Dan waktu yang singkat tidak pernah dile- watkan oleh Ki Banyak Sekti begitu saja. Ketika kedua golok lawan tadi terulur kedepan, disaat itulah pedangnya berkelebat lewat dibawah ketiak lawan-lawannya. — Aaargh. —

Kedua lawan Ki Banyak Sekti tersebut menjerit sambil menebah dadanya masing-masing yang me- nyemburkan darah segar dan selanjutnya roboh terguling ditanah tanpa berkutik lagi. Omprong yang telah sekian kali tak berhasil mengalahkan Gagak Cemani, menjadi lebih kaget lagi ke tika ketiga temannya itu telah binasa oleh pedang Ki Banyak Sekti.

Kembali Omprong mengulang jurus mautnya dan senjata bindinya tadi menghajar kearah kepala Gagak Cemani — Wesss! — Omprong ternganga dan mengumpat. — Anak setan! — Gagak Cemani tahu-tahu bergerak selincah belalang menghindarkan diri sehingga senjata Omprong tadi cuma mendapatkan udara kosong belaka. Berbareng itu pula golok si Gagak Cemani cepat, menyambar dan sekali lagi Omprong mengumpat, sebab disaat ia meraba ikat kepalanya, ternyata telah putus dan ujung golok sipemuda itu masih sempat menggores dahinya!

Kemarung melihat semua itu! Ketiga anak buahnya telah mati, sedang Omprong telah terluka meskipun cuma tergores kecil. Namun itu semua telah menunjukkan harapan tipis untuk memperoleh kemenangan. Maka satu- satunya jalan adalah melarikan diri. Dan segeralah ia memberi isyarat kepada Omprong dengan teriakan dahsyat sambil menyabetkan senjata celuritnya kearah Ki Gendir Penjalin, sebagai perlindungan dirinya, yang akan mengambil langkah seribu itu. Akan tetapi, disaat ia mulai dengan langkah pertamanya tangan kiri Ki Gendir Penjalin masih bisa menggebrak punggung pendekar jagoan dari wilayah selatan tadi. Seketika Kemarung menjerit parau dan mulutnya melontarkan darah merah serta terhu- yung-huyung akan roboh. Untunglah. Omprong cukup cekatan dan secepat kilat menyambar tubuh Kemarung serta dibawanya kabur sambil tak lupa meneriakkan ancamannya. — Awas kalian! Tunggu pembalasan kami! —

— Heeh! Katakan kepada ketuamu, agar tidak membuat kekacauan diwilayah utara ini! Ki Gendir Penjalin tidak akan tinggal diam begitu saja, — demikian teriak Ki Gendir Penjalin dengan lantangnya.

Dalam sekilas saja, lenyaplah Omprong dan Kemarung menerobos semak belukar di sebelah selatan, meningggalkan mayat ketiga temannya tergeletak terkapar di tengah jalan.

— Terimakasih, kisanak. — berkata Patra seraya mendekati Ki Gendir Penjalin. Dalam pada itu pemuda Gagak Cemani telah sejak tadi mencuri pandang kearah sigadis yang berdiri dibelakang Patra seraya berpegangan pada baju ayahnya.

Entah mengapa kali ini dada Gagak Cemani berdebar-debar menatap wajah gadis tersebut, sedangkan Rengganispun rupanya mengetahui bahwa dirinya menjadi sasaran pandangan dari pendekar muda Gagak Cemani. Maka tak mengherankan bila sebentar sebentar ia tertunduk kebawah.

— Andika bertiga telah menyelamatkan nyawa kami. — ujar si tua Patra serta membungkuk hormat didepan Ki Gendir Penjalin.

— Ah, sudahlah, kisanak. — sahut Ki Gendir Penjalin sambil buru-buru memegang kedua pundak si tua Patra agar bangun kembali. — Sudah sepatutnya kita saling tolong menolong. —

— Perkenalkan, saya adalah Patratuwa dan ini adalah Rengganis, anak saya. — kata Patra memperkenalkan dirinya. — Tak mengira bahwa kami berdua akan bertemu dengan andika. Ki Gendir Penjalin. Nama andika telah terkenal sampai diwilayah selatan. Eh, siapakah yang bersama andika ini? —

— Mereka adalah keluargaku juga — jawab Ki Gendir Penjalin sambil memperkenalkan menantu dan cucunya. — Ini adalah Ki Banyak Sekti dan pemuda ini adalah Gagak-Cemani.

Patratuwa semakin kagum bila mendengar nama Ki Banyak Sekti disebut oleh Ki Gendjr Penjalin. Ternyata keduanya masih sekeluarga. Baginya, nama Banyak Sekti telah dikenalnya sebagai seorang pendekar ulung yang suka turun tangan bila melihat kejahatan merajalela ataupun kekacauan-kekacauan.

— Aku telah mendengar pembicaraan andika tadi - berkata Ki Gendir Penjalin. - Oleh sebab itu, tak perlulah andika kembali kedaerah selatan sana. Tinggallah saja bersama kami, sebab tanah diwilayah kami masih cukup luas untuk didiami. —

— Mmm, terimakasih, Ki Gendir. — kata Patratuwa — Kami sangat berterimakasih atas tawaran andika itu. Tetapi apakah hal itu tidak akan membahayakan keselamatan andika sendiri? Ah, kami telah melibatkan andika dalam persoalan kami dan menyusahkan andika saja! —

—Eeeh, janganlah andika berpikir demikian, Ki Patratuwa. Ketahuilah bahwa kami tak akan membiarkan perbuatan-perbuatan mereka yang sejahat itu. Kami bermaksud membasminya, tapi sayang kami tidak mengetahui kekuatan mereka yang sebenarnya. — ujar Ki Gendir Penjalin

— Bukankah begitu, Banyak Sekti? -

— Yah, begitulah bapak — sambung Ki Banyak Sekti — Hal itu, kita tak perlu menguatirkannya. Jika memang perlu kita bisa meminta bantuan dari laskar-laskar daerah pantai utara, seperti Demak ataupun Gresik. — Ki Gendir Pejalin mengangguk- angguk mendengar penuturan dari anak menantunya dan sesaat kemudian iapun mengajak Patratuwa serta anak gadisnya untuk berlalu dari tempat ini. — Marilah kisanak, datanglah ketempat kami dan tinggal disana dengan tenteram. Nanti kalian dapat membuka tanah persawahan yang baru dan menggarapnya bersama kami. —

Sekali lagi Ki Patratuwa mengucapkan terima kasihnya atas pertolongan Ki Gendir Penjalin tadi.

— Dan kau. Banyak Sekti. Pulanglah lebih dulu untuk memanggil beberapa orang penduduk guna me rawat dan menguburkannya sekali mayat-mayat ini! — demikian kata Ki Gendir Penjalin kepada anak menantunya.

— Baik, bapak. Permisi dahulu! — Ki Banyak Sekti segera meloncat meninggalkan tempat itu dan beberapa saat kemudian disusul oleh Ki Gendir Penjalin, Patratuwa, Rengganis dan Gagak Cemani berjalan menuju kearah barat.

Malam terasa semakin sepi dan larut. Bunyi belalang malam serta gesekan daun-daun yang tertiup angin terdengar sangat menyayat hati, seperti bunyi rintihan dari setan- setan yang keluyuran mencari korbannya. Mereka memasuki hati manusia-manusia yang lemah imannya untuk diseretnya kedalam perbuatan- perbuatan jahat. Merampok, memeras, membunuh dan kemudian mereka tertawa bersama-sama dan akhirnya bersama-sama pula mereka terseret kedalam neraka!

***

5

SEBUAH RUMAH besar terletak diperut hutan lebat didaerah selatan Ponorogo. Biarpun tidak terlalu luas, tapi hutan tersebut sangat ditakuti oleh setiap orang didaerah itu. Seperti kata-kata janma mara janma mati, yang berarti siapa yang datang disitu akan mati disitu pula, menyebabkan orang-orang menjauhinya.

Hampir setiap hidung telah mengetahui bahwa hutan itu telah didiami oleh warok Keling Maruta beserta para pengikutnya.

Kesaktian, keberanian serta kekejamannya pula, telah membuat namanya terkenal dan ditakuti oleh segenap penduduk didaerah Ponorogo.

Disuatu siang, dua orang berjalan dengan torhu yung serta terengah-engah memasuki hutan itu duri sebelah utara. Beberapa orang pengawal yang melihat kedatangan mereka segera menyambutnya. Jadi te ranglah bahwa kedua orang tersebut telah dikenal oleh para pengawal dan itu semua tidak usah mengherankan, sebab keduanya adalah Kemarung dan Omprong dua orang pendekar yang cukup terkenal dika- langan para pengikut Ke|ing Maruta.

Beberapa orang lainnya yang melihat kedatangan Kemarung serta Omprong saling memandangnya dengan penuh tanda tanya. Keduanya tampak mendekati rumah besar tadi dan langsung memasukinya, setelah lebih dulu mengetok pintunya.

Seorang berwajah garang dengan rambut panjang kekusutan keluar dari sebuah bilik menyambut Kemarung serta Omprong dengan bentakan keras — Ku- rangajar! Kalian mengganggu kami yang sedang beristirahat! —

Disaat itu pula, keluarlah dari bilik tadi seorang wanita berparas cantik dengan membetulkan letak kain dan bajunya sedang rambutnya yang panjang masih terurai lepas dengan setengah kusut.

Melihat itu semua, Kemarung serta Omprong terkejut beberapa saat dan kemudian tunduk kebawah, sementara Keling Maruta menatap kedua pengikutnya itu dengan mata yang liar saking marahnya.

— Bagaimana tugas kalian, haaa!?


— Ampun kiai, kami berdua telah

mendatangi rumah Patratuwa dan melaksanakan perintah dari kiai — ujar Kemarung.

— Dan selanjutnya bagaimana? — bentak Keling Maruta.

— Ses ... segera kami katakan, apabila ia tidak sanggup membayar pajak, anak gadisnya harus diserahkan pada kita! —

— Bagus! Bagus! Kemudian apa yang dilakukannya? —

— Katanya ia sanggup membayar kiai — sambung Omprong.

— Hah, apa katamu? Patratuwa yang miskin itu sanggup membayar hutangnya?

- seru Keling Maruta dengan heran.

— Begitulah katanya, kiai. Sebenarnya kamipun tak dapat mempercayai hal itu. Patratuwa lalu memberikan hidangan serta minta agar kami berlima menunggu diruang depan sementara ia mengambilkan uang simpanannya. Beberapa saat kami telah menunggunya dengan tak sabar, apalagi Patratuwa belum muncul muncul kembali. Maka cepat-cepatlah kami memeriksanya dan wah, kami telah ditipunya mentah- mentah. -

- Ditipu? Kalian yang terkenal berakal kancil itu dapat ditipunya? - Keling Maruta berseru dengan marah.

— Maaf, kiai. Setelah kami periksa, ternyata pintu rumah belakang telah terbuka. Jadi jelaslah bahwa Patratuwa telah melarikan diri lewat pintu tersebut. Maka cepat-cepatlah kami melakukan pengejaran. Sebentar itu pula tampaklah oleh kami, Patratuwa dan anak gadisnya tengah berlari menuju keutara. Jarak antara kami dengan mereka cukup jauh, namun hal itu bukan menjadi halangan bag-i kami. Karenanya, kami terus mengejarnya dan segera menangkapnya. Tetapi, ternyata Patratuwa membawa keris dan melawan, sehingga terjadilah pertarungan sengit. Rupanya ia pun cukup pandai bersilat dan akhirnya ia dapat kami lukai! —

— Hmm, bagaimana akhirnya si Patratuwa itu? —

— Ampun kiai, ia melemparkan segenggam pasir hingga kami terpaksa mengelak dan kesempatan itu dipergunakan oleh Patratuwa serta anak gadisnya lari kembali kearah utara! — kata Omprong dengan wajah kepucatan.

— Jadi terangnya, kamu telah gagal, bukan! —

— Bet... bet.... betul kiai — ujar Omprong ketakutan — Harap dimaafkan atas kesalahan kami tersebut

! —

— Omprong! Goblok! Kalian tak becus melaksanakan perintahku, hah! Percuma kalian menjadi peng-ikutku, jika tidak mampu menangkap Patratuwa itu! — seru seorang bertubuh kekar, berkulit hitam dengan wajah yang garang seraya memelintir telinga Omprong, sehingga orang ini terpaksa menjerit-jerit minta ampun.

— Ampun, kiai! Tobat! Sungguh mati, kami telah bertempur mati- matian. Tetapi sayang ada bebe rapa orang yang datang dan menolong Patratuwa itu sehingga ketiga pembantuku telah tewas— Omprong berkata sambil menyembah-nyembah sedang didekatnya duduklah Kemarung dengan ketakutan pula.

— Siapa mereka itu, hah? Katakan, siapa nama mereka! Biar aku hajar dengan kolorku ini! Apakah mereka bernyawa rangkap, berani menentang pendekar Keling Maruta ini! — seru si kulit hitam seraya melepaskan telinga Omprong, yang seketika rebah terduduk sambil mengelus-elus telinganya.

— Salah seorang diantara mereka menyebutkan dirinya dengan nama Geridir Penjalin! — ujar Omprong.

— Gendir Penjalin!? — seru Keling Maruta dengan wajah terangkat seperti melihat hantu dimuk nya. — Hmm pantas sekali kalian dibuat tak berdaya! Pantas! Pantas! Nama Gendir Penjalin memang cukup menggetarkan hati setiap pendekar dan jago silat di-daerah ini!


— Dia malah menantang kita sewaktu saya berlari menyelamatkan kakang Kemarung! — Omprong berkata lagi.

— Keparat! Dia akan merupakan lawan yang tangguh bagi kita! Hmm, kita musti mencari bantuan untuk menghajar Ki Gendir Penjalin! —

— Bantuan dari mana kiai? — Kemarung bertanya.

— Dari Gunung Kendeng! Kita undang Si Setan Enam Serangkai untuk membantu kita disini! —

— Oh, betul kiai! Saudara saudara Sasta Tunggal itu pasti akan dengan mudah membantu pekerjaan kita! — sambung Kemarung dengan gembira.

— Besok kalian berdua serta beberapa orang lain cepat-cepat pergi kesana, ke Gunung Kendeng itu. Bawalah suratku nanti, dan serahkan kepadanya!


— Baik kiai — berkata Kemarung dan Omprong berbareng — Kami akan kesana secepatnya.

— Nah, sekarang kalian boleh pergi serta menyiapkan bekal-bekalmu!


Sesudah meminta diri dan membungkuk hormat, keduanya meninggalkan halaman rumah besar yang terletak didalam hutan lebat didaerah selatan Ponorogo.

Ternyata daerah itu memang dikuasai oleh pendekar Keling Maruta, seorang warok sakti yang mempunyai banyak pengikut, serta ditakuti oleh penduduk disekitar hutan kecil tersebut.

Sepak terjangnya memang banyak menimbulkan kerugian-kerugian serta kesengsaraan pada pihak penduduk yang tak tahu apa-apa.

Bermula, para penduduk tidak menaruh  keberatan untuk   membayar sekadar uang  kelebihan  yang  ada, kepada Keling Maruta ini. Semua itu terlahir sebagai ucapan terima kasih mereka, karena Keling Maruta telah berkali-kali menaklukkan pendekar liar dari daerah lain yang telah berusaha mengacau ketenteraman penduduk disitu. Itulah  asal    mulanya!   Tapi sekarang   ini   telah  berbeda  sama sekali! Keling   Maruta  yang makin ditakuti orang-orang menjadi semakin

manja dan mau menang sendiri.

Kini sumbangan dari pada penduduk tadi, tidak lagi merupakan kesukarelaan, tetapi dipaksa! Paksaan yang betul-betul memberatkan mereka, bahkan jumlah uangnyapun telah disebutkan dan ditentukan oleh Keling Maruta!

Maka terpaksalah para penduduk membayarnya, karena sesungguhnya mereka takut menahan kemauan Keling Maruta. Beberapa orang yang berani menolak kemauannya telah menjadi korban dari kekejaman-nya. Dan sejak itulah timbul ketakutan serta kepanikan dikalangan penduduk. Satu dua orang terpaksa melarikan diri serta meninggalkan rumah dan hartanya, demi menyelamatkan hidupnya.

Tinggal didaerah itu, ibarat duduk diatas bara api! Tidak tenang dan menggelisahkan. Lebih-lebih setelah Keling Maruta dengan paksa meminta beberapa orang gadis dari keluarga para penduduk untuk dijadikan isterinya serta isteri-isteri pengikutnya.

Begitulah, ketidak tenteraman mencengkam hati setiap penduduk di daerah Selatan Ponorogo, baik perempuan, tua ataupun muda. Tapi akan begitulah seterusnya, sang waktulah nanti yang akan menjawabnya.

*****

Matahari telah tinggi bertengger diangkasa, ketika Ki Gendir Penjalin dan kedua orang pembantu membersihkan halaman dan pekarangan rumah. Menyiangi rumput, menyirami tanaman- tanama yang tumbuh subur disitu. Bunga-bunga mawar, melati berkembang dengan indahnya.

Hari itu Ki Gendir Penjalin sengaja tinggal dirumah untuk membersihkan pekarangan, sedang menantu serta cucunya pergi kesawah. Begitu pula te-tangga-tetangga yang lainnya, seperti Ki Patratuwa dan anak gadisnya si Rengganis itupun pergi mengerjakan sawahnya.

Sekonyong-konyong kesibukan Ki Gendir Penjalin serta dua orang pembantunya tadi dikagetkan oleh meloncatnya beberapa orang dari atas pohon, dan mendarat ditanah di depan halaman rumah Ki Gendir Penjalin.

— Hi, hi, ha, ha, ha! Kamukah orangnya yang bernama Gendir Penjalin?! — tanya seorang berwajah garang dengan berikat kepala hitam berbunga-bunga coklat. Kumis dan janggutnya yang lebat itu menambah keseraman wajahnya.

— Tak keliru kata-katamu! Akulah Ki Gendir Penjalin! —

— Huah, bagus kiai! Aku telah mencari dan telah Sama ingin bertemu dengan kamu! — ujar siwajah garang yang tidak lain adalah Ki Keling Maruta - Kesempatan hari inilah yang paling baik dan telah aku pilih. Semua keluargamu telah pergi dan turun meng- garap sawah dan kau cuma tinggal seorang diri! Ha, ha, ha, ha, ha! —

-Setan alas dari mana kau tahu itu semua? — bentak Ki Gendir Penjalin. — Dan lagi aku belum kenal dengan kalian! —

— Hi, ha, ha, ha. Tidak perlu heran, kowe kiai? - kata Keling Maruta seraya memandang salah seorang pembantu Ki Gendir Penjalin yang bermata juling, kemudian berseru kepadanya — Brengkol? Lekas menggabung kemari? —

Simata juling tadi dengan sigap mendekati rombongan Keling Maruta, serta berdiri bersama mereka, sehingga Ki Gendir Penjalin terbelalak keheranan.

— Brengkol? Jadi... jadi sebagai pembantu baruku, kau adalah kaki tangan mereka? —

— Gendir Penjalin?? Akulah Keling Maruta dari wilayah selatan! Kabarnya kau telah membunuh tiga orang anak buahku serta melindungi Patratuwa yang lari bersama anak gadisnya? —

— Hmm, jadi kaulah ketua dari gerombolan perusuh itu? —

— Berkaok-kaoklah semaumu, Gendir Penjalin. Sebab hari ini kau harus mati dan keris puasakamu akan jatuh ketangan kami! —

Melihat kegawatan ini, seorang pembantu Ki Gendir Penjalin yang seorang lagi berbalik dan melarikan diri. Tapi secepat itu pula tangan dari salah seorang pengikut Keling Maruta mengibas dan sebuah pisau kecil tahu-tahu telah menancap dipunggung orang tadi.

— Kreneng! — seru Ki Gendir Penjalin kaget melihat pembantunya terluka, namun orang tersebut terus saja berlari-lari dengan sempoyongan.

— Keparat! Kalian telah melukai pembantuku!? —

— Heh, heh. Aku Dobieh Kelana, pemimpin Setan Enam Serangkai dari Gunung Kendeng! — ujar sipelempar pisau tadi dengan bertolak pinggang. — Menyerah sajalah Ki Gendir Penjalin! —

— Hmm, kalau kalian menghendaki keris pusaka Kelabangnyander, ambillah sendiri dari tanganku! — ujar Ki Gendir Penjalin seraya melolos sebilah keris yang tersembunyi dibalik bajunya. — Marilah ambil keris ini jika kalian berani! —

— Keparat! Mati kowe! — seru Keling Maruta seraya menerjang kearah Ki Gendir Penjalin dengan pedang lebarnya bagaikan terjangan harimau kalap — Wess! Crang ... Pletaak! —

Ki Keling Maruta terpelanting ketanah dan pedang lebarnya telah patah menjadi tiga bagian akibat tebasan keris Kelabangnyander milik Ki Gendir Penjalin. Maka segeralah Keling Maruta membuang tangkai pedangnya, lalu cepat-cepat melolos kolor pusaka- nya dan melesat kembali menyerang Ki Gendir Penjalin.

— Hyaat! Blaar!! — Sekali lagi kedua senjata pusaka bertemu dan masing-masing tergetar surut beberapa langkah. Sekarang sadarlah Keling Maruta bahwa Ki Gendir Penjalin serta keris pusakanya merupakan lawan yang tangguh. Maka berserulah ia kepada keenam Setan Enam Serangkai — Saudara- saudara inilah lawan kita yang hebat. Marilah kita hadapi bersama-sama! —

Persis gerakan setan, keenam pendekar undangan dari Gunung Kendeng tadi, meloncat keudara dengan cepat dan gesit, lalu tahu-tahu telah mengepung Ki Gendir Penjalin dari segala arah.

Pertempuran seru segera terjadi ketika Ki Keling Maruta, Setan Enam Serangkai serta beberapa orang anak buah lainnya telah menyerang Ki Gendir Penjalin.

Pendekar tua ini segera mengeluarkan segenap ilmu dan tenaganya untuk menghadapi keroyokan dari tokoh-tokoh sakti. Ditambah dengan keris Klabangnyan-der ditangannya maka mengamuklah ia bagaikan banteng ketaton. Dalam beberapa gebrakan, dua orang pengikut Keling Maruta yang cuma mengandalkan tenaga luar dengan permainan pedangnya, telah terjerembab muntah darah oleh tendangan kaki Gendir Penjalin. Dan seorang lagi rebah ketanah seperti kain basah ketika tercoblos dadanya oleh keris Klabang- nyander milik pendekar tua itu. Namun, suatu rencana licik yang terbilang sebagai siasat dalam ilmu persilatan dari Setan Enam Serangkai, tidak terduga sama sekali oleh Ki Gendir Penjalin yang berwatak ksatria itu.

Tiba-tiba saja Dobleh Kelana melolos selembar sapu tangan.merah dari ikat pinggangnya dan dikebut-kan kearah K i Gendir Penjalin dengan suara menjetar keras. Dalam saat itu pula berhamburanlah bau harum yang segera tersedot oleh Ki Gendir Penjalin kedalam hidungnya, membuat pendekar tua ini berdesis — Celaka!! - Itulah ilmu sapu   tangan   Lali Sukma yang dapat melumpuhkan kesadaran serta tenaga seseorang. Maka tak usah heran bila Ki Gendir Penjalin segera menjadi lemah, dan dengan mudahnya keris Klabangnyan-der direbut dari

tangannya oleh Keling Maruta.

Para pengeroyok tadi hampir saja menghunjamkan senjata-senjata mereka ketubuh Ki Gendir Penjalin, jika Keling Maruta tidak segera berteriak.

— Tahan! Terlalu enak kalau kakek bandel ini kita bunuh! Hajarlah dia sepuas kalian biar keluarganya tahu serta tak berani lagi menentang pendekar Keling Maruta! -

— Praaak! — Keling Maruta meninju mulut Ki Gendir Penjalin dan seketika tubuh pendekar tua ini terhoyong kebelakang. Tapi dari belakang, sebuah tendangan kaki yang hebat, diberikan Dobleh Kelana kearah punggung Ki Gendir Penjalin, menyebabkan orang tua ini mengeluh dan terjerumus kedepan.

Kemarung yang pernah dihajar oleh pendekar tua itu, tak mau tinggal diam. Dengan dupakan kaki, ia menyambut dagu Ki Gendir Penjalin dan terpelantinglah pendekar tua itu ditanah dengan mulut megap-megap seperti ikan kehabisan air.

Kemarung belum puas maka tiba- tiba ia menggenjotkan kakinya keatas punggung Ki Gendir Penjalin yang tengah gelosoran ditanah dan pendekar tua ini menjerit kesakitan disertai darah terhambur dari mulutnya membasahi tanah.

Setelah itu, keenam Setan Enam Serangkai tadi bergiliran menghajar tubuh Ki Gendir Penjalin. Dobleh Kelana, Dempok, Pangisas, Gempol, Juranggrawah dan Dadungilu melancarkan tendangan-tendangan, pukulan serta injakan kaki kepada korbannya, dan se- saat kemudian pingsanlah Ki Gendir Penjalin, terkulai tak berkutik.

— Heh, heh, heh. Telah pingsan kakek tua ini? Kalau tidak segera mati, pastilah dia akan lumpuh! — ujar Keling Maruta. - Ayo, tinggalkan dia disini. Yang penting, keris Klabangnyander ini telah jatuh ketangan kita! —

Sebentar saja, rombongan Keling Maruta beserta Setan Enam Serangkai telah berlalu meninggalkan rumah Ki Gendir Penjalin. Mereka menerobos semak belukar disebelah timur, untuk menghindari perjumpaan dengan orang orang lain.

*****

Beberapa orang yang melepaskan lelah, tampak duduk-duduk ditepi sawah dan terdengarlah sendau-gurau yang segar, menilik gelak ketawa yang menggeletar diudara siang ini.

Ki Banyak Sekti, Nyi Gambirsari, Gagak Cemani, duduk bersama Ki Patratuwa serta Rengganis sambil menikmati bekal mereka. Demikian pula ditepi-tepi sawah lainnya, tampaklah petani2 yang beristirahat, setelah melakukan kerja berat, menyiangi sawah, membetulkan pematang sawah yang sering dirusak oleh tikus dan ketam, dan juga mengatur perairan.

Rengganis yang habis kepanasan bekerja disawah, menyebabkan pipinya yang montok itu kemerah-merahan dan lantaran inilah Gagak Cemani berkali- kali mencuri pandang kepada gadis itu. Ki Banyak Sekti suami isteri, serta Ki Patratuwa telah mengetahui gelagat ini dan mereka membiarkan kedua muda mudi itu saling berlempar pandang dengan asyiknya.

Dalam hatinya, Ki Patratuwa lebih senang lagi bila kedua muda-mudi tadi, kelak menjadi suami isteri untuk membina keluarga baru. Dan ia mengharap agar hal itu benar-benar dapat terlaksana....

Suasana istirahat yang tenang itu, mendadak saka dikejutkan oleh munculnya sesosok tubuh manusia dari celah-celah semak ilalang disebelah utara. Dengan berjalan sempoyongan dan terhuyung-huyung, orang tersebut meng- gapai2kan tangannya sehingga orang- orang yang berada ditepi sawah itu menjadi kaget.

- Kreneng! - desah Ki Banyak Sekti demi melihat orang, tersebut yang dikenalnyasebagai pembantu ayah mertuanya yakni Ki Gendir Penjalin. Merasa ada sesuatu yang tak beres, maka meloncatlah  Ki Banyak Sekti mendapatkan Kreneng yang kini telah rebah dan merangkak diatas rerumputan. Bukan main kagetnya Ki Banyak Sekti  ketika melihat  bahwa  pada punggung orang  tersebut tertancap sebilah pisau. Cepat-cepat ia mencabut

pisau itu serta menolongnya duduk. Gagak Cemani serta Ki Patratuwa tidak tinggal diam melihat hal itu. Merekapun berlarian mendekati Ki Banyak Sekti yang lagi menolong Kreneng.

— Siapa yang melukaimu, Kreneng?

— bertanya Ki Banyak Sekti.

— Si ... si Brengkal itu pengkhianat! Dia... kaki tangan gerombolan penjahat ... dan kini mereka telah mengeroyok Ki Gendir Penjalin! — ujar Kreneng seraya menyeringai kesakitan.

— Hah? Ayahanda dikeroyok!? — seru Ki Banyak Sekti kaget — Gagak Cemani! Mari kita cepat kembali kerumah!

— Baik ayah. Aku ambil dulu gokokku! — seru Gagak Cemani serta meloncat ke sebuah gubuk kecil ditepi sawah. Setelah menggemboknya serta pe- dang kepunyaan ayahnya ia berlari kembali kearah Ki Banyak Sekti berada. Dengan sigapnya, Ki Banyak Sekti menyambut pedangnya dari tangan Gagak Cemani dan  sebelum mereka berdua pergi, Ki Banyak Seksi lebih dulu ber- kata kepada K i Patratuwa. — Bapak, rawatlah  saudara Kreneng  ini

seperlunya! —

— Jangan kuatir. Aku akan merawatnya baik-baik! -

— Kau akan kemana pakne!? — seru Nyi Gambir sari sambil berlari-lari mendekati suaminya dengan di ikuti Rengganis.

— Ada bencana dirumah ini! Tinggallah engkau disini dahulu. Aku bersama Gagak Cemani akan pergi kesana! —

— Hati-hatilah, engkau pakne! — Ki Banyak Sekti bersama Gagak

Cemani melesat keutara dengan mengerahkan tenaga meringankan tu- buhnya hingga tampaknya mereka seperti melayang melewati semak-semak belukar dan lenyaplah dikelo-kan jalan yang menuju kerumah mereka.

Sementara itu, Ki Patratuwa segera membawa Kreneng kegubuk ditepi sawah serta merawat lukanya dibantu oleh Rengganis dan Nyi Gambirsari.

Meloncati semak belukar, melompati batu-batuan berbelok kekiri, kekanan, itulah Ki Banyak Sekti dan Gagak Cemani dalam perjalanannya menuju kerumah yang jaraknya cukup jauh. Tetapi karena mereka berlari dengan cepatnya, maka keduanya cukup menghabiskan waktu yang sedikit saja.

— Ayah! Lihat itu! Kakek Gendir Penjalin tergeletak dihalaman! — seru Gagak Cemani kepada ayahnya ketika mereka tiba dihalaman rumahnya.

Tubuh Ki Gendir Penjalin terhantar ditanah dengan keadaan babak belur berlepotan darah sangat menyedihkan. Dari lobang hidung dan mulutnya terlihat darah kental yang telah membeku, namun kedua ayah dan anak itu menarik napas lega ketika dada Ki Gendir Penjalin masih memperdengarkan detak-detak jantungnya.

Dengan saputangan yang telah dibasahi oleh air, dibersihkanlah wajah Ki Gendir Penjalin oleh Gagak Cemani, sementara Ki Banyak Sekti mengambil beberapa butir ramuan obat serta air minum dari dalam rumah.

Ki Gendir Penjalin mulai sadar dan membuka matanya.

— Jangan bergerak terlalu banyak kakek! — ujar Cagak Cemani kepada kakeknya, ketika orang itu mencoba berdiri.

— Ayah, minumlah obat ini lebih dulu — sambung Ki Banyak Sekti seraya memberikan obat serta air minum itu kepada ayah mertuanya. Setelah me- minumnya, Ki Gendir Penjalin segera menceriterakan kejadian yang telah dialaminya beberapa saat yang lalu.

— Ah, ketirasan angger Banyak Sekti - desah Ki Gendir Penjalin yang telah mengakhiri ceriteranya — Keris pusaka kita Kelabangnyander telah dirampas dan jatuh ditangan Keling Maruta? Hal ini sangat berbahaya, sebab orang sesakti dia disertai keris Kelabangnyander tadi pastilah akan membuatnya malang melintang didunia persilatan serta bertindak sewe nang- wenang. —

— Heh, keparat si Keling Maruta itu? — geram Ki Banyak Sekti dengan marahnya sambil berdiri dari duduknya

— Biarlah aku yang merebut kembali keris pusaka itu dari tangan mereka? Gagak Cemani, tung gulah kakek di rumah, aku akan pergi sekarang juga???

-

Tanpa menunggu lebih lama, Ki Banyak Sekti telah melesat keluar halaman menuju kearah selatan tanpa menggubris ayah metuanya yang berseru parau. — Tunggu dulu angger? Sangat berbahaya? Setan Enam Serangkai tinggal bersama mereka? —

Sesaat setelah Ki Banyak Sekti pergi, muncullah dari sebelah barat daya. Nyi Gambirsari, Ki Patratuwa, Rengganis, si Kreneng dengan punggung terbalut kain, serta beberapa orang penduduk lainnya yang bersedia menolong Ki Gendir Penjalin.

Dengan di bantu oleh Ki Patratuwa. Gagak Cemani memapah kakeknya kedalam rumah, diikuti oleh Nyi Gambirsari, Rengganis dan Kreneng, sedang orang2 lainnya berkerumun di halaman rumah Ki Gendir Penjalin. Mereka segera membetulkan pagar-pagar pekarangan yang rusak akibat pertarungan antara Ki Gendir Penjalin melawan gerombolan Keling Maruta dan merekapun telah menyingkirkan mayat seorang anak buah Keling Maruta yang tertinggal di situ.

— Heh. sangat tergesa-gesa kepergian angger Banyak Sekti. Aku mencemaskan keselamatannya? — desah Ki Gendir Penjalin setelah ia duduk dibalai-balai kayu diruang depan.

— Mengapa kakek? Bukankah ayahanda banyak Sekti cukup mampu untuk menghadapi musuh-musuh yang sakti? — ujar Gagak Cemani dengan keheranan.

— Tapi Setan Enam Serangkai dari Gunung Kendeng terlalu sakti dan sangat licik untuk dihadapi seorang diri. — kata Ki Gendir Penjalin. — Mereka banyak mempunyai tipu muslihat di dalam ilmu silatnya, dan akulah salah satu korbannya. —

— Jadi kita harus menyusul ayahanda dengan segera! —

— Benar Cemani. Tetapi ayahmu pasti telah jauh? — kata Ki Gendir Penjalin dengan nada cemas. — Dan perjalanan kedaerah selatan pasti memakan waktu lebih dari separo hari.


— Kami mengenal daerah itu dengan baik, Kil Gendir Penjalin menyambung Ki Patratuwa pula. — Jika tak keberatan, akupun ingin pergi membantu Ki Banyak Sekti? -, — Aku juga akan pergi, ayah! — sahut Rengganis dengan tegasnya — Aku tak dapat membiarkan ayah pergi tanpa aku, lebih-lebih dalam menempuh bahaya. —

— Sangat berbahaya, Rengganis. Sebaiknya engkau tinggal dirumah saja! Ki Patratuwa berkata.

— Tidak ayah, aku harus ikut! — sahut Rengganis yang berkemauan keras itu. — Bukankah ada pula kakang Gagak Cemani yang akan melindungiku?! Dan lagi, akupun telah pandai bersilat berkat ajaran kakang Cemani! —

Ki Gendir Penjalin tersenyum mendengar kata-kata Rengganis yang bersemangat itu, lalu berkata pula ia.

— Biarlah ikut, Ki Patra. Aku percaya kalian akan selamat! —

— Ki Patratuwa mengangguk setuju.

— Baiklah.—

— Nah, sekarang sore mulai turun.

— ujar Ki Gendir Penjalin. — Angger Banyak Sekti pastilah akan tiba di tempat sarang gerombolan itu, besok pagi pagi buta. Oleh sebab itu, jika andika bertiga berangkat dengan berkuda, maka akan tersusullah kiranya angger Banyak Sekti. Nah, Cemani siapkanlah semuanya.

— Akan kusiapkan kuda-kuda itu, kakek — berkata Gagak Cemani seraya bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kebelakang rumah dengan sigapnya.

Dalam waktu yang singkat saja, persiapan mereka telah selesai. Rengganis tampak mengenakan pakaian pria, tapi rambutnya tetap disanggul pada bagian pangkal sedang ujungnya terurai lepas kepunggung. Dipinggangnya terselip sebilah pedang, membuat Rengganis semakin tampak cakap.

Sekali lagi mereka berpamit kepada Ki Gendir Penjalin dan Nyi Gambirsari untuk berangkat dan sekali lagi pula, Ki Gendir Penjalin berpesan. — Berhati-hatilah dan waspada. Si Setan Enam Serangkai ba- nyak mempunyai siasat yang licik, yang tidak akan terduga macamnya, tapi salah satu diantaranya adalah kebutan sapu tangan merah yang menyebarkan bau harum dan dapat melumpuhkan tenaga lawannya.

- Terimakasih Ki Gendir. - kata Ki Patratuwa — semoga Tuhan melindungi kita semua. —

— Yah, semoga begitu — sambung Ki Gendir Penjalin, seraya memandang kepada mereka bertiga yang telah berada di atas punggung kudanya masing-masing.

Demikianlah, pada cahaya matahari yang telah merendah kecakrawala barat, kelihatanlah tiga orang berkuda kearah selatan menempuh jalan yang cukup baik.

Mereka segera berpacu dengan cepatnya, seperti berlomba dengan sang matahari yang hendak masuk kedalam peraduannya.

Langit disebelah timur makin menggelap, secepat warna saputan merah dan lembayung dilangit barat makin berkurang. Jengkerik dan orong-orong berdering disana-sini dari liang rumahnya atau di bawah dedaunan rumput, menyambut kehadiran sang malam.

Ki Patratuwa berkuda di sebelah depan, kemudian Rengganis dan Gagak Cemani, di sebelah belakang. Mereka terus berpacu menerobos pepohonan lelwi dan besar yang tumbuh dikanan kiri jalan dan menempuh malam yang makin turun dengan hati yang tangguh dan tekad yang membaja.

Untunglah, bintang-bintang dilangit kelam itu satu persatu mulai bermunculan serta memberikan cahaya yang samar2, tapi itu sudah cukup bagi mereka bertiga untuk mengenal jalan- jalan yang mereka tempuh.

Mereka telah berteguh hati untuk membantu Ki Banyak Sekti dalam usahanya menghajar gerombolan Keling Maruta yang semakin merajalela itu.

Akan mampukah mereka melawan Keling Maruta serta para pengikutnya? Tak seorangpun yang dapat menjawabnya, juga mereka sendiri tak tahu akan jawabnya!

Tapi mungkin ada yang tahu jawabannya, ialah sesosok bayangan manusia yang berloncatan dengan gerakan yang ringan! Bayangan tersebut menggenggam sebatang tongkat besi yang hitam berkilat pada tangannya dan ia muncul secara tiba-tiba, tepat pada jalan yang telah dilalui dan ditinggalkan oleh K i Patratuwa bertiga.

— Heh, heh, heh. — demikian bayangan manusia itu terkekeh mengangguk-angguk sambil mengelus membelai jenggot putihnya. - Aku ingin tahu, apakah yang mampu mereka kerjakan terhadap Keling Maruta itu!?


Sekejap kemudian bayangan itupun melanjutkan loncatan-loncatannya kearah selatan dan akhirnya lenyap di balik kelebatan pepohonan di sebelah sana.

Kini sang malam telah sepenuhnya merajai permukaan bumi, dan mulai pojok cakrawala timur sampai barat dicengkam oleh kesenyapan menghantu. Hawa dinginpun mulai tersebar seperti muncul dari permukaan tanah, menusuk tulang belulang dan membekukan sendi- sendi tubuh. ***

6

— PLAK! — terdengar suara tamparan tangan yang menghalau nyamuk dibarengi suara menggerun-dal - Kurangajar! Mengganggu orang berjalan!

-

- Jangan terlalu keras, kakang Kemarung! Engkau bisa terjauh dari atas pohon ini! - terdengar suara yang lain dari sebelah.

— Adik Omprong, aku sangat mengantuk! Telah semalam kita berjaga- jaga disini atas perintah Ki Keling Maruta! —

_ Akupun telah ngantuk, kakang! Tapi sebentar lagi pasti selesai, karena pagipun akan menjelang.

- Memang berat tugas kita ini. Berjaga di atas pohon seperti binatang kelelawar sajal Salah-salah bisa terjatuh kita kebawah dan tulang leher atau punggung bisa patah karenanya. —

— Heh, heh, heh. Kata-katamu memang benar. Aku bisa membayangkan bahwa teman-teman lain yang berjaga- jaga pula di atas pohon di sekitar ini, pasti merasakan seperti kita kakang Kemarung. —

— Ternyata Ki Keling Maruta merasa perlu untuk menempatkan penjagaan di sekitar perumahan kita. — ujar Kemarung seraya menancap- nancapkan pisau belatinya.

Omprong menarik nafas dan katanya pula. - Ia yakin bahwa sanak keluarga Ki Gendir Penjalin akan menjadi marah dan menyerbu kemari. Itulah sebabnya kita berjaga-jaga di sini, untuk menjebak mereka! Begitu mereka muncul, kita binasakan mereka sampai habis! —

Kemarung meringis senang oleh kata-kata Omprong, maka iapun menyahut. — Untunglah saudara-saudara Setan Enam Serangkai dari Gunung Kendeng itu sudi membantu kita. Kalau tidak, pasti kita tak berhasil menghajar situa Gendir Penjalin itu! —

— Tentu saja mereka bersedia membantu kita ! - sambung Omprong. - Sebab Ki Keling Maruta tidak sedikit membayar mereka! —

— Hmmm, memang saudara-saudara Setan Enam Serangkai sangat mementingkan uang! Kepada siapa saja ia bersedia membantu asal dibayar cukup tinggi!

Tiba-tiba Kemarung serta Omprong sangat terperanjat oleh suara burung hantu dari arah barat. Keduanya tahu dengan segera; apa arti dari suara tersebut.

— Ada orang asing masuk kedalam daerah kita! — desis Kemarung dengan hati berdebar-debar, seperti pula dengan Omprong. — Itulah isyarat dari teman-teman kita! — ujar Omprong pula.

Sementara keduanya asyik berbisik-bisik, dari arah utara terlihatlah sesosok bayangan manusia mengendap-endap dengan hati-hati. Kabut pagi yang menerawang serta bertebaran di atas permukaan tanah itu tersibak oleh bayangan manusia tadi, menimbulkan pemandangan seperti dalam mimpi.

Namun tiba-tiba pula sibayangan tadi berhenti secara mendadak dan melayangkan pandangannya kearah pepohonan yang banyak terdapat di sekelilingnya. Rupanya si bayangan telah mencium bahaya!

Begitu besar dan tinggi serta cabang-cabang dan daunnya yang melingkupi pemandangan menyebabkan setiap orang akan merasa ngeri bila memasuki hutan di daerah selatan ini. Dan karena itu pulalah Kemarung dan Omprong serta kawan-kawan lainnya, telah menduga bahwa sibayangan tersebut pastilah orang yang mencari maut!

Melihat si bayangan manusia termangu-mangu berdiri, Kemarung serta kawan-kawannya segera menduga bahwa orang tersebut pastilah ketakutan untuk meneruskan maksudnya. Maka saat itu pula mereka-pun tertawa terkekeh- kekeh hingga menimbulkan suara yang menyeramkan. Suara tawa mereka terpan- tul mengumandang sahut-menyahut, laksana kumandangnya belasan iblis yang tertawa kegirangan.

Sekilas si bayangan terperanjat, tapi hanyalah sesaat itu saja. Sebab detik berikutnya, sibayangan itu mengibaskan tangannya kearah atas, kearah cabang pepohonan disusul bunyi berdesing susul-menyusul — Sing — sing

— sing — sing! —

— Yaaarkh! — empat orang seketika roboh dari atas pohon dan melayang terpelanting ke bawah dengan badannya tertembus pisau-pisau kecil hasil lem- paran si pendatang itu.

Keruan saja Kemarung serta Omprong terperanjat oleh kejadian itu. Empat orang temannya telah tewas dalam sekejap saja tanpa mengadakan pertempuran sedikitpun!

Karena itu, yakinlah mereka bahwa sipendatang tersebut mempunyai ilmu silat yang hebat dan sesaat kemudian mereka lebih terkejut lagi, bila sipendatang tadi berseru pula. — Keling Maruta! Ayo keluarlah kamu pengecut! Kalian cuma berani mengeroyok seorang tua saja! Sekarang aku datang menuntut bela! Ayolah, hadapi si Banyak Sekti ini!!! —

Kemarung dan Omprong tak sabar lagi mcn dengar tantangan Ki Banyak Sekti yang menggeledek itu, maka bersuitlah Kemarung memberi tanda kepada teman-teman penjaga lainnya.

Bagaikan hantu-hantu kelaparan, Kemarung serta teman-temannya berloncatan kebawah dan mendarat di atas tanah dengan serempak! Mereka segera mengepung Ki Banyak Sekti dari segala arah dan tampaknya tak ada kemungkinan sedikitpun bagi Ki Banyak Sekti untuk bisa lolos!

— Hah, ha, ha,! Ana ula marani gebuk! {Ada ular mendekati pemukul) — ejek Kemarung seraya mengobat-abitkan celuritnya. — Kau datang seorang diri, bung? Mana tikus-tikus yang lain?! —

— Keparat! — sumpah Ki Banyak Sekti saking marahnya — Aku cukup datang seorang diri, dan kalian belum tentu sanggup menghadapi!! Mana pemimpinmu, haaah! Suruh keluar dan bertempur melawanku! -

— Haah! Seekor tikus berani berteriak-teriak sesumbar disarang harimau! — seru Kemarung sambil meludah ke tanah. — Tak perlu pemimpinku keluar untuk menghadapi seekor tikur penasaran macam tam- pangmu! Cukup aku saja! —

— Hmm, bicaramu memerahkan telinga, tapi tenagamu belum tentu segarang harimau! — jawab Ki Banyak Sekti — Kau berani berkaok-kaok kalau dikelilingi oleh sobat sobatmu! — — Setan alas! Ayo, kawan-kawan! Cincang si tikus kurang ajar ini, sampai lumat! — teriak Kemarung seraya melesat menerjang Ki Banyak Sekti d ngan garangnya.

Berbareng saat itu pula, Omprong serta belasan teman lainnya menyerbu lawannya yang seorang ini sambil berteriak ramai. Senjata-senjata mereka bersi-utan menerjang Ki Banyak Sekti, merupakan kilatan-kilatan sinar yang lalu lalang dari segenap arah dengan derasnya.

Akan tetapi sekali lagi mereka terpaksa melongo bila Ki Banyak Sekti dalam gerakan sebat mencuat keatas menyebabkan senjata2 lawannya cuma me- nyobek udara kosong saja!

Sejurus kemudian, tahu-tahu Ki Banyak Sekti telah mendarat di luar kepungan para lawannya, sehingga mereka saling melongo saking takjubnya.

Seorang anak buah Kemarung cukup waspada, maka secepat kilat ia berbalik dan membacok Ki Banyak Sekti dengan tiba-tiba. Hanya saja Ki Banyak Sekti lebih cepat bertindak! Pedangnya berkelebat dan mendahului golok lawannya tadi.

Lalu sesaat lagi terdengarlah jeritan nyaring bersamaan tubuh lawan Ki Banyak Sekti terguling roboh dan dadanya menganga bekas luka sayatan pedang yang menyemburkan darah.

Kemarung dan Omprong, keduanya adalah orang-orang berani dan kasar, mudah terbakar kemarahannya. Maka melihat beberapa orang anak buah nya telah terkapar mati di atas tanah, mereka menjadi semakin penasaran. Bersama anak buahnya yang lain, menyerbulah mereka dengan ganasnya kearah Ki Banyak Sekti.

Kembali ujung-ujung senjata berserabutan meluncur dan menusuk kearah tubuh pendekar itu. Untung bahwa Ki Banyak Sekti bukanlah lawan yang boleh diremehkan begitu saja, maka selagi maut mengintai pada ujung- ujung senjata lawannya itu, bergerak lah ia dengan gesit. Tubuhnya berputar bersama pedangnya dengan dilambati pula tenaga dalam yang dahsyat.

— Syuuuut... traang! — Ujung- ujung senjata lawan seketika tergetar hebat, berbareng pula rasa pedih dan panas menjalarketangan para pemegang senjata, membikin mereka mundur beberapa langkah.

Dasar Ki Banyak Sekti. Orangnya cerdik dan dapat memilih waktu. Karenanya, selagi lawan-lawannya merasakan akibat benturan senjata tadi, pedangnya sekali lagi diputar dengan hebatnya. — Eaaargh! — tiga jeritan berbareng sekaligus terdengar memecahkan udara pagi buta dan tampaklah tiga orang anak buah Kemarung menebah perutnya yang terobek oleh pedang Ki Banyak Sekti. Mata-mata mereka melotot, seperti tak percaya akan keadaan dirinya, namun sebentar kemudian merekapun roboh!

Sebuah suitan nyaring terdengar dari mulut Ke-' marung begitu ia melihat korban pada anak buahnya makin bertambah banyak. Seperti orang dikejar setan, tiba-tiba Kemarung dan teman-temannya bertebaran lari keselatan masuk kedalam hutan.

Melihat ini Ki Banyak Sekti sesaat terkejut, tapi lalu tertawasambil mengejek — Ha, ha, ha, ha, ada macan-macan ompong lari terbirit-birit menghadapi seekor tikus! — Cih, tak punya malu, belum lagi lecet kulitmu, sudah mau lari! Berhenti!

Ki Banyak Sekti secepat kilat mengejar kearah selatan dan celakalah orang yang lambat larinya sebab sekali pedang K i Banyak Sekti'menebas, seorang anak buah Kemarung menderit keras dan roboh dengan lengan terpapas putus. Kemudian seorang lagi jatuh tersungkur dan mati, karena punggungnya terbelah!

Itulah sepak terjang Ki Banyak Sekti kalau sudah mengamuk, dan terus saja ia mengejar lebih jauh masuk keperut hutan. Namun sebenarnya inilah satu kesalahan yang besar yang diperbuat oleh Ki Banyak Sekti, sebab sebagian kewaspadaan pada dirinya menjadi kabur. Dikiranya bahwa orang- orang tersebut melarikan diri dengan arti ketakutan semata-mata terhadap amukannya, tapi sebenarnya inilah yang termasuk dalam siasat mereka. Yakni memancing Ki Banyak Sekti untuk masuk lebih jauh keda lam sarang mereka!!

Dan ketika itulah kaki Ki Banyak Sekti menginjak sebuah perangkap mereka — Aaakh! — Sebuah seruan kaget terlontar dari mulut Ki Banyak Sekti, sebab tahu-tahu kakinya telah menginjak jaring yang seketika terangkat keatas dan menjerat dirinya! Maka tergantunglah tubuh Ki Banyak Sekti terayun-ayun diatas cabang pohon bagaikan seekor ikan yang terjerat dalam jaring.

Meskipun Ki Banyak Sekti telah berusaha menjebol jaring itu, tapi sia-sia saja. Ternyata jaring itu terbuat dari bahan liat yang tidak dapat diputus oleh senjata tajam, seperti pedang Ki Banyak Sekti misal- nya!

— Ha, ha, ha, ha, — terdengar suara tertawa menggeletar seperti iblis bersamaan munculnya belasan sosok tubuh manusia dari tempat-tempat gelap dan berkabut, dari balik batang- barang pohbn raksasa. Mereka tidak lain adalah Ki Keling Maruta, Setan Enam Serangkai dari Gunung Kendeng, Kemarung, Omprong, Brengkol dan segenap anak buahnya.

Mereka menatap keatas pohon, ditempat mana tubuh Ki Banyak Sekti tergantung dalam sebuah jaring tanpa daya!

— Ha, ha, ha Mampus kau sekarang monyet! — teriak Ki Keling Maruta dari bawah seraya matanya bersinar kegirangan.

— Itulah dia, kiai! Banyak Sekti telah kita tangkap! — ujar Kemarung sambil menunjuk kearah Ki Banyak Sekti. — Kita bunuh saja sekarang! Hujani dengan panah, atau kita bakar, biar menjadi sate! —

— Keparat! — teriak Ki Banyak Sekti dari atas. — Bunuhlah aku dengan cepat! Kalian cuma pengecut-pengecut rendahanl

— Ha, ha, ha, berkaok-kaoklah sesukamu, monyet! — berkata Ki Keling Maruta — Kamu akan ku biarkan tergantung gantung disitu dan akan mati dengan secara lambat, setelah lebih dulu menderita kelaparan dan haus! Tubuhmu akan segeYa menjadi ke- rangka! —

Mendengar kini Ki Banyak Sekti menjadi marah, dan berontaklah dia. Namun sekali lagi perbuatannya hanyalah sia-sia saja.

Malah karenanya, tubuhnya yang terjerat dalam jaring tadi terayun- ayun kesana kemari menyebabkan' Ki keling Maruta serta segenap pengikutnya tertawa terpingkal-pingkal saking gelinya melihat tingkah Ki Banyak Sekti tersebut.

— Ayo kawan-kawan. Kita tinggalkan monyet itu di sini. sebentar lagi pasti akan menangis melolong-lolong! — kata Ki Keling Maruta dengan kata-kata ejekan yang tertuju kepada tawanannya.

Ki Banyak Sekti terdiam saja sambil menelan ejekan yang menyakitkan hati itu. Ia telah memasrahkan- nasibnya kepada Tuhan Yang Maha Besar dan ia cuma menyaksikan musuh-musuhnya pergi meninggalkan tempat itu menuju kearah selatan.

Akan tetapi sewaktu Ki Keling Maruta dan orang-orangnya telah cukup jauh dari tempat itu, lebih kurang lima belas tombak, tiba-tiba saja muncullah tiga sosok tubuh manusia dari balik batang pohon beringin tua seraya menunjuk-nunjuk kearah K i Ba- nyak Sekti.

Seorang diantara mereka, secara sigap melesat keatas, kearah Ki Banyak Sekti terjerat dan sebuah golok kehitaman ditangan kanannya segera membabat ujung jaring yang tergantung pada cabang pohon diatasnya. — Craaang! —

Bunyi gemerincing terdengar, berbareng tali atau ujung jaring tadi terpapas putus, sehingga tubuh Ki Banyak Sekti yang masih terkurung oleh jaring itu meluncur kebawah dengan derasnya!

— Ayah! Pakailah ilmu meringankan tubuh! — teriak sipenolong memperingatkan Ki Banyak Sekti!

— Oh, kaukah itu, Gagak Cemani?!

— seru Ki Banyak Sekti demi mendengar suara sipenolong yang tak asing lagi baginya.

— Benar, ayah! Hati-hatilah! — ujar Gagak Cemani.

Benar saja peringatan Gagak Cemani kepada ayahnya tadi, sebab dengan mengerahkan ilmu peri-ngan tubuh, maka Ki Banyak Sekti tidak terlalu keras jatuhnya, la cuma terguling tiga langkah saja. Secepat itu pula Gagak Cemani berlari mendapatkan ayahnya serta membuka jaring-jaring tersebut yang telah menjerat Ki Banyak Sekti. Sebentar kemudian bebaslah Ki Banyak Sekti.

— Hmmm, golokmu tadi cukup hebat, nak! Untunglah engkau datang juga kesini! - Ki Banyak Sekti berkata seraya memandang bangga kepada Gagak Cemani yang masih menggenggam golok ampuh pemberian Ki Bujanggiri.

Dalam pada itu dua sosok tubuh manusia berlarian pula mendapatkan mereka dan Ki Banyak Sekti segera dapat mengenal mereka. — Aah, Ki Patratuwa dan Rengganis datang pula kemari!? —

— Kami bertiga datang kemari, Ki Banyak Sekti. Agar pekerjaan andika menjadi lebih ringan! — kata Ki Patratuwa.

— Eh, terima kasih, tapi bagaimanakah dengan ayahanda Gendir Penjalin? - Ki Banyak Sekti bertanya dengan hati cemas.

— Andika tak usah cemas. — sahut Ki Patratuwa. — Sebab bapak Gendir Penjalin tidak terlalu berat cederanya...!

Rupanya, Ki Keling Maruta dan orang-orangnya dapat mendengar suara berisik dibelakang mereka, sehingga dengan cepatnya mereka kembali ketempat semula!

— Heei, simonyet bisa lolos dari jaring itu, hah!? — teriak Ki Keling Maruta sambil menunjuk kearah Ki Banyak Sekti serta ketiga orang penolongnya. — Dan kalian bertiga, monyet-monyet yang ingin mati pula? -

Rengganis terkejut sekali dan berlindunglah ia dibelakang tubuh Gagak Cemani sedang Ki Patratuwa dan Ki Banyak Sekti telah bersiaga dengan senjatanya.

— Heh, heh. Suaramu telah sumbang. Keling Maruta! — ujar Ki Banyak Sekti — Apakah hatimu telah menciut hah?! —

— Keparat!! Kawan-kawan Bunuh keempat monyet dangkalan ini dengan segera! Jangan kasih ampun mereka! — begitulah berteriak Ki Keling Maruta, dan segera bersama anak buahnya menyerbulah mereka ke-arah empat orang lawannya.

Pertempuran hebat segera terjadi. Disaat itu kabut pagi telah mulai terhapus, sehingga mereka saling dapat melihat wajah teman ataupun lawannya dengan jelas.

Pada jurus-jurus gebrakan pertama, empat atau lima orang dari anak buah Keling Maruta segera roboh tak bernyawa. Namun saat berikutnya, terjadilah perubahan yang mengagetkan ketika Keling Maruta, Setan Enam Serangkai dan segenap anak buahnya telah mengepung mereka. Tampaklah Ki Banyak Sekti, Ki Patratuwa dan Rengganis terdesak, kecuali Gagak Ce- mani yang dengan sigapnya menerjunkan diri kearah Setan Enam Serangkai dan menyerangnya dengan hebat, membuat keenam pendekar dari Gunung Kendeng itu kewalahan dan mengumpat-umpat — Anak setan ini!! — Omprong dan Keling Maruta yang menyerang Ki Banyak Sekti menjadi tidak sabar, lantaran lawannya ini selalu berhasil menangkis serangan- serangannya. Baik senjata bindi maupun kolor sakti mereka tak berhasil merobohkan Ki Banyak Sekti dan itulah sebabnya maka Keling Maruta tiba-tiba melolos senjata lain dari balik bajunya. — Sreettt! — Ki Banyak Sekti mendesis kaget — Keris Kelabangnyander

!— Sebilah keris yang berkeredapan telah tergenggam pada tangan Keling Maruta yang dikenal sebagai milik Ki Gendir Penjalin!

— Hah, kau kaget bukan? sebentar lagi kau akan mati dengan keris ini monyet!! — seru Keling Maruta seraya menyerang lawannya. Sejak itu pulalah, Ki Banyak Sekti kian terdesak oleh serangan serangan Om prong dan Keling Maruta tak bedanya pula dengan Ki Patratuwa dan Rengganis yang kerepotan menghadapi Kemarung dan Kreneng serta kawan-kawannya.

Dalam keadaan begitu, mendadak saja melesatlah seorang bayangan manusia dari utara dan terjun ke- tengah arena pertempuran seraya memutar tongkat besi ditangannya!

— Aaaargh! — Jeritan-jeritan parau terdengar mengiringi tubuh tubuh anak buah Keling Maruta berjungkalan muntah darah dan mati oleh hajaran tongkat besi tadi.

— Kakek! — seru Gagak Cemani kaget bercampur bangga ketika sipendatang bertongkat besi itu segera dapat dikenalnya sebagai K i Gendir Penjalin! Kakek tua ini bergerak sangat hebat dan setiap pukulan tongkatnya berarti maut bagi lawan- lawannya. Oleh sebab itu pula, segera Keling Maruta dan Kemarung mengalihkan serangannya kepada Ki Gendir Penjalin!

— Kakek bobrok! Lekas menyerah sebelum engkau mati ditanganku! — seru Keling Maruta sambil mengacungkan keris Kelabangnyander ditangannya. — Apa kau ingin mengambil kembali kerismu ini, hoaa? Ambillah jika kamu berani! —

— Keparat! — Akan kuhancurkan sarangmu ini, setan! — teriak kakek tua, Ki Gendir Penjalin seraya menyerang Keling Maruta dan bertempurlah mereka kembali dengan hebatnya!

Disebelah lain. Setan Enam Serangkai semakin keheranan menghadapi Gagak Cemani yang senantiasa mampu menanggulangi serangan-serangannya, maka tiba-tiba Dobleh Kelana mengibaskan selembar sapu tangan merah yang menyebar bau harum ke arah Gagak Cemani. Namun pemuda ini telah waspada dan segera memasang siasatnya dengan menjatuhkan diri ketanah berpura-pura telah mengisap bau harum tadi. Melihat ini keenam lawannya terkekeh-kekeh tertawa seraya mendekati tubuhnya dan siap menghancurkan tubuh sipemuda ini dengan senjata-senjata mereka!

Namun tiba-tiba Gagak Cemani menggelindingkan tubuhnya dan goloknya membabat kearah kaki keenam lawannya, yang tentu saja dengan cekakaran meloncat keatas. Tapi terlambat! Dua orang diantara mereka terbacok betisnya, sehingga menjerit dan mendeprok ditanah tanpa sanggup lagi untuk bertempur.

Sementara itu, Kemarung tiba-tiba membacokkan senjata celuritnya dari sebelah belakang Ki Gendir Penjalin. Untungnya kakek tua ini dapat mendengar bunyi berdesing dari arah belakang, dan secepat kilat ia berbalik sambil menghajarkan tongkat besinya mendahului serangan Kemarung,

— Desss! - Aaaargh — Kemarung memekik, ketika tongkat itu memukul hancur kepalanya dibarengi darah segar muncrat kemana-mana, dan kemudian tubuh Kemarung ambruk jatuh, seperti selembar kain basah. Tapi di saat itu pula Keling Maruta menusukkan keris Kelabangnyander kelambung Ki Gendir Penjalin!

-'Aduhhhh! - Kakek tua ini mengeluh ketika lambungnya mengucurkan darah. Namun sekali lagi ia memutar tongkat besinya dengan sekuat tenaga dan menghajarkannya kearah Keling Maruta — Praaak! — Eaaaakh! —

Lengan kanan Keling Maruta seketika remuk dan lumpuh, sehingga keris Kelabangnyander tersebut terpelanting ketanah. Dobles Kelana yang melihat Keling Maruta roboh, secepat kilat menyambar tubuh rekannya serta memungut keris pusaka tadi. — Mun-duiiur. — teriaknya dan seketika itu pula sambil membawa Keling Maruta serta dua orang rekannya yang terluka, mereka kabur kearah barat. Bersamaan waktunya, Omprong tersungkur ketanah setelah pedang Ki Banyak Sekti menghunjam kedalam dadanya. Sedang si Kreneng ambruk pula sesudah tubuhnya terluka oleh tebasan-tebasan pedang Ki Patratuwa serta tusukan tusukan keris dari Rengganis.

Pertempuran telah berakhir pula. Satu, dua orang pengikut Keling Maruta yang masih hidup segera lari pontang- panting ketakutan. Mereka kebanyakan adalah orang-orang yang dipaksa menjadi kaki tangannya.

Ki Banyak Sekti berempat segera mengerumuni Ki Gendir Penjalin dan berusaha menolongnya, tapi sia-sia. Sebaliknya orang tua ini cuma tersenyum se raya berkata dengan sisa- sisa tenaganya. — Berjanjilah. Kalian harus merebut... keris pusaka kita... Kelabang-nyander... dari... tat... tangan mereka..... — dan terlepaslah nafas terakhir dari Ki Gendir Penjalin dengan tenangnya. Orang tua itu kini telah mati, tinggal jasadnya saja yang terbujur ditanah, membisu dingin dan pucat.

Rengganis yang tak tahan akan kesedihan ini segera menangis terisak- isak dan mendekap pundak Gagak Cemani. Sedang Ki Banyak Sekti dan Ki Patratuwa tertunduk dengan air mata berlinang-linang dipipinya. Sua sana berkabung nencekam hati mereka.

— Marilah Ki Banyak Sekti — ujar Ki Patratuwa telah beberapa saat merenungkan kesedihan ini. — Kita bawa pulang jasad Ki Gendir Penjalin ini untuk kita rawat dan kita kebumikan dengan baik. —

— Baiklah Ki Patra. Terimakasih — kata Ki Banyak Sekti dengan suara hampir tak terdengar. — kita akan cepat-cepat kembali. —

Begitulah, dengan kesedihan tak terhingga mereka berjalan kearah utara sambil membawa jasad kakek tua itu, pulang kekampung halaman mereka. Biarpun begitu, mereka bersyukur pula bahwa gerombolan Keling Maruta telah musnah. Adapun perumahan serta segenap harta milik gerombolan tadi telah dipasrahkan oleh Ki Banyak Sekti kepada para penduduk di daerah Selatan untuk dimanfaatkan sebaik mungkin, sebab sesungguhnya peninggalan- peninggalan tersebut adalah hasil keringat para penduduk yang dirampas oleh Keling Maruta.

Dengan perlahan, rombongan kecil tadi menempuh jalan yang penuh oleh pohon-pohon raksasa dan matahari yang makin bertambah tinggi, meneroboskan sinarnya kedalam hutan itu, menerangi tempat-tempat yang gelap dan tersembunyi seolah-olah memberi jalan bagi mereka, seakan menghibur dan berkata, bahwa suka dan duka adalah kejadian yang biasa bagi kehidupan dimuka bumi dan berbahagialah orang yang sadar selagi suka dan bersabar selagi duka, sebab Tuhan mengasihi orang yang demikian itu.

Beberapa waktu kemudian, disuatu pagi yang cerah tampaklah seorang pendekar muda menuntun seekor kuda dan berhenti dipintu gerbang desa disebe- lah utara Ponorogo. Sedang gadis cantik yang berjalan bersamanya, berhenti pula disisinya.

— Jangan terlalu jauh, adi Rengganis — ujar pendekar muda tadi yang tidak lain adalah Gagak Cemani. — Cukup sampai disini saja engkau mengantarku.—

Berapa lamakah kakang Cemani akan pergi mencari kembali keris Kelabangnyander itu? — bertanya Rengganis.

— Ah, aku tak tahu adi. Mudah- mudahan tidak terlalu lama dan doakanlah semoga aku berhasil dengan segera — ujar Gagak Cemani seraya menjabat tangan gadis itu. Sesaat terbisulah mereka, hanya hati keduanya yang dapat berkata-kata.

Sejurus kemudian. Gagak Cemani telah berpacu keselatan sementara Rengganis melambaikan tangan-nya sampai kekasihnya itu lenyap dikelokan jalan disebelah selatan.

Demikianlah ceritera saya telah berakhir! — ujar Gagak Cemani kepada para sahabatnya. Namun seperti terpukau, Ki Lurah Mijen, Pendekar Bayangan, Mahesa Wulung, Pandan Arum dan lain-lain-nya termenung oleh ceritera dari pendekar Gagak Cemani tersebut.

Sampai disini selesailah cerita Seri Naga Geni. Pendekar Gagak Cemani dan lain kali anda akan menjumpai kisah-kisah dan pengalaman Gagak Cemani dalam buku lain tersendiri. Selanjutnya akan segera sampai kepada pembaca. Seri Naga Geni yakni — PEMBALASAN KI RIKMA REMBYAK - Kedahsyatan, kepahlawanan, kemesraan dan kasih sayang akan terjalin dalam ceritera ini. Nah, nantikanlah kedatangan-nya.-

Tamat