Serial Naga Geni Eps 12 : Bentrok Di Kali Serang

 
Eps 12 : Bentrok Di Kali Serang


HUTAN-HUTAN di sebelah timur daerah Mata Air Kembar Tiga telah nampak suram dan agaknya patut- lah kalau tempat itu menjadi sarang bahaya dan maut. Pohon-pohon yang besar, perkasa, tegak dengan megahnya bagai pencakar-pencakar  langit  yang me-

nimbulkan perasaan ngeri dan seram bagi siapapun.

Dan maut memang tengah bergulat di situ. Sebab di tepi tanah tanggul rawa berlumpur hidup, terlihatlah dua orang yang berusaha mati-matian agar mereka ti- dak terseret masuk ke dalam rawa maut itu. Kedua orang itu yang tidak lain adalah Daeng Matoa serta ga- dis Sandai mencoba menahan tarikan dari jari-jemari tangan pendekar Seguntur yang telah mengunci pada pergelangan tangan Daeng Matoa.

Seguntur kini telah tenggelam ke dalam lumpur liat yang menyedot segala sesuatu yang tercebur di situ. Apalagi bila benda tadi mempunyai jumlah berat cu- kup banyak serta bergerak-gerak. Hal ini akan mem- percepat daya penyedotan yang hebat oleh lumpur ta- di.

Dari keseluruhan tubuh Seguntur, cuma tangannya saja yang masih berada di permukaan lumpur karena bergantung pada lengan Daeng Matoa. Rupanya sisa- sisa tenaga terakhir dari Seguntur masih tersalur pada jari-jari tadi sehingga benar-benar mengunci pada per- gelangan tangan si pendekar Bugis bagaikan berse- nyawa dan melekat menjadi satu.

Daeng Matoa sendiri tak dapat berbuat apa-apa oleh hal ini. Pikirannya menjadi bingung lantaran dua per- soalan yang tengah dihadapinya. Pertama ia harus ber- usaha melepaskan jari-jari Seguntur bila ia tidak ingin terseret serta turut tenggelam ke dalam rawa berlum- pur hidup. Kedua, ialah pernyataan gadis Sandai yang mengatakan bahwa dirinya telah dicintai oleh gadis ini dan bersedia mati berbareng di dalam rawa maut ini.

Nah, kedua hal inilah yang membuat Daeng Matoa menjadi buntu pikirannya. Kalau toh kematian itu ha- rus dihadapinya seorang diri, itu tak menjadi soal, se- bab sudah menjadi jamak lumrahnya bila seorang pen- dekar akan mati pada suatu ketika.

Tetapi jika pada waktu-waktu yang setegang itu ia mendengar pencurahan cinta seorang gadis, akan menjadi lain soalnya. Rasa bahagia tapi juga bercam- pur rasa cemas serta menyesal bercampur aduk, ber- putar di dalam benaknya.

Yah, siapa tak bakal merasa bahagia bila dirinya te- lah dicurahi cinta seorang gadis yang semanis Sandai ini. Rasa dada akan meledak saking bangganya. Hanya sayangnya pernyataan cinta tadi terlahir dalam suasa- na pergulatan dengan maut.

“Sandai, mengapa tidak kau tinggalkan diriku, agar engkau terhindar dari maut yang bakal merenggut nyawaku!” ujar Daeng Matoa dengan nada parau serta terharu.

“Tidak, kekasih! Jika kau mati, aku akan tinggal seorang diri serta merana sepanjang hidupku. Maka ja- lan yang terbaik adalah ikut mati bersamamu!” seru Sandai seraya kedua tangannya masih memeluk pung- gung Daeng Matoa agar mereka tidak lekas terseret ke dalam rawa itu.

“Ternyata usaha Sandai ini tidak banyak faedahnya, sebab sedikit demi sedikit bersama tubuh Daeng Ma- toa, Sandai telah makin terenggut dari tanah tanggul di tepi rawa dan pastilah sebentar kemudian mereka berdua akan tercebur pula ke dalam rawa berlumpur  hidup itu.

“Demi cintaku padamu, tinggalkanlah aku sendiri, Sandai!” sekali lagi Daeng Matoa terdengar berseru pa- rau.

“Tidak, Daeng! Tidak!” sahut gadis Sandai dengan wajah pucat serta dada turun naik terengah-engah. “Aku lebih senang mati bersamamu, Daeng!”

Sekonyong-konyong dalam saat yang sedemikian te- gangnya itu, di mana maut tengah mengancam nyawa Daeng Matoa serta Sandai, melesatlah satu bayangan manusia dari sebelah barat rawa maut lalu melintas di depan kepala Daeng Matoa serta Sandai dengan berte- riak nyaring.

“Hyaaaat!”

Dalam saat yang pendek serta kecepatan yang su- kar dilihat oleh mata, bayangan tadi menebaskan pe- dang di tangannya setengah lingkaran ke bawah di- susul oleh bunyi benda terpenggal gemeretak menga- getkan Daeng Matoa serta Sandai.

Craaas!

Pergelangan tangan Seguntur terputus lepas dan darah menyembur ke segala arah, membasahi lumpur- lumpur di sekitarnya.

Sebentar kemudian lengan Seguntur yang terputus tadi telah tersedot seluruhnya ke dalam lumpur dan lenyaplah sudah tubuh Seguntur bersama Patung In- tan tanpa bekas kecuali beberapa gelembung udara yang timbul di permukaan lumpur, tepat di mana Se- guntur tenggelam.

“Oookh!” seru Daeng Matoa kaget dan cepat ia me- ngibas-ibaskan tangannya disertai perasaan ngeri, se- bab telapak tangan beserta jari-jari Seguntur masih melekat pada pergelangan tangannya.

Dengan bunyi berkecopak, potongan telapak tangan Seguntur tadi tercebur pula ke tengah rawa berlumpur hidup ini, dan sesaat kemudian lenyaplah pula benda itu dari permukaan rawa.

Gadis Sandai terpekik serta bersedu-sedan sambil merebahkan kepalanya ke dada Daeng Matoa yang se- ketika disambut oleh pendekar ini dengan penuh kasih sayang.

“Oh, kita telah selamat, Daeng. Kita telah terhindar dari maut. Pastilah arwah nenek moyangku telah memberikan pertolongan,” seru Sandai terisak-isak.

“Terima kasih, Sandai,” ujar Daeng Matoa seraya membelai-belai rambut Sandai dengan mesranya. “Kita telah selamat sekarang dan ketamakan telah meneng- gelamkan Seguntur ke dalam rawa maut ini.”

Kiranya akan betahlah untuk lebih lama menyan- darkan kepalanya ke dada pendekar Daeng Matoa, bila saja Sandai tidak terkejut oleh seruan dari tepi rawa sebelah timur sana.

“Daeng! Haai! Engkau baik-baik saja?!”

Mendengar seruan ini Daeng Matoa serta Sandai cepat berpaling ke sebelah timur dan terperanjatlah mereka berdua, karena di tepi rawa sebelah timur, ter- lihatlah Mahesa Wulung tengah membersihkan pe- dangnya yang merah oleh darah dengan beberapa lem- bar daun.

Maka seketika itu tahulah mereka bahwa yang me- menggal putus pergelangan tangan Seguntur adalah Mahesa Wulung itu sendiri! Kemudian Daeng Matoa serta Sandai cepat-cepat melangkah ke arah tepi rawa sebelah timur untuk mendapatkan sahabatnya.

“Kami berdua mengucapkan terima kasih kepada Andika, Saudara Wulung,” ujar Daeng Matoa seraya memegang lengan Mahesa Wulung. “Jika Anda tidak muncul, mungkin kami akan terkubur di dasar rawa berlumpur hidup ini.”

Sambil bergumam Mahesa Wulung mengangguk- angguk oleh kata-kata Daeng Matoa tadi. “Yah, aku terpaksa memapas lengan Seguntur itu, dan rasanya hal ini agak kelewat kejam. Kemungkinan lain untuk menyelamatkan kalian berdua dari tarikan jari-jari Se- guntur tidak ada dan hanya itulah satu-satunya cara yang dapat kukerjakan.”

“Sudah selayaknya Anda berbuat itu, sebab Segun- tur bukanlah orang yang patut kita kasihani,” ujar Daeng Matoa.

“Dan lagi, dia telah berkomplot dengan gerombolan Bengara serta sisa-sisa anak buah Kapal Hantu,” sam- bung gadis Sandai. “Ternyata dia pulalah yang menda- langi pencurian Patung Intan itu.”

“Sayang. Kini lenyaplah Patung Intan itu dan ter- kubur di dasar rawa maut. Tetapi bersama itu berarti lenyap pula Kutukan Patung Intan yang selama ini te- lah menghantui Lembah Sampit,” ujar Mahesa Wulung dengan wajah agak kecewa.

Dalam pada itu, dari sebelah barat muncullah se- rombongan orang dari balik semak-semak lebat. Me- reka adalah pendekar Bontang bersama Goro, kemu- dian Tagoh Hulu, si tua Tawau dengan dada terbalut, dan Pandan Arum serta beberapa orang anak buah Tawau.

Sesaat kemudian mereka telah saling menceritakan pengalaman masing-masing. Ketika mendengar penu- turan akan kematian Seguntur yang tenggelam ke da- sar rawa bersama Patung Intan itu, si tua Tawau agak terkejut pula.

Mendadak ia lalu teringat akan pengalamannya ke- tika mereka tersesat di taman bunga maut pemakan daging. Bukankah waktu itu jalan yang mereka tem- puh telah lenyap dan ia telah menduga bila yang ber- buat demikian, melenyapkan jejak-jejak tadi, adalah Seguntur sendiri. Kini percayalah ia sekarang bahwa dugaan tadi tidak keliru lagi. Segunturlah yang selama ini telah merupakan duri dalam daging, seorang mu- suh yang tinggal di dalam selimut. Pada lahirnya ia se- perti kawan, tapi di baliknya ia adalah musuh yang sangat licin!

“Patung Intan itu telah lenyap dan kembali ke asal- nya, ke dalam bumi yang telah mengandungnya semu- la,” ujar si tua Tawau kepada Mahesa Wulung yang berdiri di sebelahnya. “Kita tak patut menyesalinya la- gi. Anda tahu pegunungan-pegunungan di sebelah ti- mur sana?” bertanya Tawau seraya menunjuk ke arah timur.

“Mengapa, Bapak?” sahut Mahesa Wulung.

“Di sanalah terletak daerah Purukcahu, tempat asal bahan-bahan permata intan banyak ditemukan orang. Dan Anda tentu masih ingat akan ceritaku dulu, bah- wa bahan permata dari Patung Intan itupun berasal dari sana.”

Mahesa Wulung mengangguk mengerti dan si tua Tawau berkata pula, “Marilah kita pulang, sebelum malam tiba.”

“Maaf aku tak dapat menyertai kalian,” sela pende- kar tua Bontang kepada sahabat-sahabatnya. “Kami berdua mengucapkan selamat jalan dan semoga kalian selamat tak kurang suatu apa.”

“Terima kasih, sahabat. Anda telah cukup banyak membantu kami,” ujar Tawau seraya menjabat tangan si Bontang dengan eratnya. “Kami serombongan meng- ucapkan selamat jalan pula kepada Anda berdua.”

Setelah saling meminta diri, Bontang bersama Goro melesat ke cabang pohon dan mereka berdua dengan lincahnya meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain dan lenyaplah sebentar saja di sebelah selatan. Sedang Tawau dan rombongannya segera bergerak ke arah ba- rat untuk kembali ke Lembah Sampit.

Tawau bersama Tagoh Hulu berjalan paling depan, kemudian menyusul Mahesa Wulung serta Pandan Arum, sedang di belakangnya, berjalan berdampingan, si gadis Sandai bersama Daeng Matoa. Kemudian pa- ling akhir adalah beberapa anak buah si tua Tawau.

Rombongan kecil itu berjalan beriring menempuh jalan rintisan dengan enaknya. Mereka kini telah me- rasa lega setelah pengganggu-pengganggu keamanan kampung Lembah Sampit telah binasa.

Meskipun Patung Intan itu turut tenggelam bersa- ma Seguntur ke dalam rawa maut, namun mereka tak menyesalinya. Sebab dengan begitu berarti lenyap pula Kutukan Patung Intan yang selalu membawa bencana.

Bila mereka meninjau dari nilai kebendaan, me- mang Patung Intan tadi sangat berharga, bahkan mungkin tak terukur jika dinilai dengan mata uang. Selain bahan patung itu sendiri terbuat dari permata intan yang besar, juga halnya si pencipta patung terse- but sungguh sangat berharga dan patut terpuji.

Kini kaki-kaki mereka melangkah dengan mantap- nya memapaki tanah-tanah hutan itu tanpa merasa was-was ataupun kuatir lagi. Rasanya buat mereka ini sekarang menjadi lebih indah daripada dahulu. Kalau dahulu mereka tak sempat menikmati hutan-hutan be- lantara ini lantaran rasa cemas ataupun takut, kini mereka tidak begitu lagi.

Mereka benar-benar merasa segar menghirup udara sore yang bercampur bau bunga-bungaan yang mekar di waktu senja, seperti anggrek-anggrek kelarat dan bunga-bunga liar lainnya. Maka perjalanan pulang in- ipun tak terasa melelahkan buat mereka. Dan menje- lang sang malam turun ke bumi, si tua Tawau beserta rombongan telah tiba di kampung Lembah Sampit de- ngan selamat.

Sekali lagi Mahesa Wulung dapat menyaksikan be- tapa keakraban serta rasa kekeluargaan yang sangat dalam terjalin di antara mereka para penduduk Lem- bah Sampit ini.

Ketika Tawau beserta rombongan kecil itu tiba, ti- dak sedikit para penduduk yang berbondong, berlarian menyambut mereka dan akhirnya malam itu pula si tua Tawau lalu bercerita panjang lebar tentang kisah pencarian Patung Intan sampai pertempuran mereka melawan si liar pendekar Bengara serta sisa-sisa anak buah Kapal Hantu. Sewaktu cerita Tawau sampai pada pengkhianatan pendekar Seguntur, mereka hampir tak mau percaya akan hal itu, namun setelah orang tua itu menjelaskan panjang lebar tentang segala sesuatu yang menyangkut diri Seguntur, barulah orang-orang tadi memakluminya.

Sementara itu, Mahesa Wulung yang duduk ber- dampingan bersama Pandan Arum, tampak beberapa kali saling berbisik sambil melemparkan lirikan ke arah Daeng Matoa yang lagi asyik bercakap-cakap de- ngan Sandai. Keduanya tampak sangat mesra dan pe- nuh kasih sayang, sehingga hal itulah yang menye- babkan Mahesa Wulung berbisik-bisik kepada Pandan Arum tadi.

“Stt, Adi Pandan Arum. Lihatlah, betapa mesra dan asyiknya mereka bercakap-cakap bersama,” terdengar Mahesa Wulung berbisik.

“Heh, akupun melihatnya, Kakang. Rupanya hati mereka mulai bertemu,” jawab Pandan Arum dengan setengah berbisik disertai senyum penuh arti. “Aku telah lama melihat pendekatan mereka. Sejak kita dulu tersesat di taman pohon-pohon pemakan daging itulah aku telah tahu bahwa Sandai telah jatuh hati kepada Daeng Matoa dan karenanya aku merasa syukur pula.”

“Aku pun ikut gembira, Kakang. Mereka berdua aku rasa sangat cocok dan sepadan, serta patutlah jika ke- duanya telah saling berjodoh.”

“Dan aku juga tak perlu cemas lagi, Adi,” bisik Ma- hesa Wulung dan ini membuat Pandan Arum agak ter- tegun.

“Eh, apa yang Kakang cemaskan semula?!”

“Heh, heh, heh. Semula aku cemas, bahwa Adi Pan- dan Arum akan mencemburukan aku dengan si gadis Sandai ini!”

“Eeh... mmm... hih! Ini rasakan, kalau orang suka menggodaku!” desah Pandan Arum seraya jari-jari ta- ngannya beraksi mencari sasaran ke lengan Mahesa Wulung serta mencubitnya.

“Usss... aduh... aduuuuh! Ah, jangan diulang, Adi Pandan. Cubitanmu bagai bara api panasnya dan membuat dadaku bergoncang,” ujar Mahesa Wulung seraya tangan kanannya cepat-cepat mencegah serta menggenggam jari-jari Pandan Arum tadi, hingga keka- sihnya ini tak dapat mengulang cubitannya kembali, kecuali diam tak berdaya serta membiarkan jari- jarinya tetap dalam genggaman tangan Mahesa Wu- lung. Dan kemudian pendekar muda ini tergetar pula dadanya ketika Pandan Arum menyandarkan kepala- nya ke bahu kiri Mahesa Wulung.

“Kakang Wulung, kapankah kita pulang ke De- mak?!” terdengar tiba-tiba Pandan Arum bertanya lirih. “Aku rasa tak lama lagi, Adi Pandan. Bukankah persoalan di sini telah selesai, Adi? Dan tentunya Adi Jagayuda serta orang-orangnya telah cukup lama me- nunggu kita di Teluk Sampit di selatan sana.”

Sementara Mahesa Wulung serta Pandan Arum ber- cakap-cakap itu, tak antara lama si tua Tawau pun te- lah rampung mengakhiri ceritanya kepada para pen- duduk tadi. Dengan demikian, sejurus lagi menjadi sunyilah kembali tempat itu. Si tua Tawau serta para penduduk kembali ke rumah mereka masing-masing. Begitu pula dengan Mahesa Wulung, Pandan Arum, Daeng Matoa serta Sandai.

Semenjak malam itu dan hari-hari berikutnya, hu- bungan Daeng Matoa serta Sandai kian bertambah erat dan agaknya di antara keduanya telah ada kata sepakat untuk membina keluarga dan perkawinan me- reka. Hal itu tentu saja sangat menggembirakan bagi seluruh penduduk kampung Lembah Sampit.

***

Selang beberapa hari, kelihatanlah kesibukan di pantai Teluk Sampit. Sebuah kapal jung berbendera Makara kuning emas di atas dasar biru laut tengah bersiap untuk bertolak ke tengah laut. Sedang di pan- tai, berpuluh-puluh orang manusia berderet meman- dang kapal jung itu dengan asyiknya.

Di antara puluhan manusia itu, si tua Tawau, Ta- goh Hulu, Sandai, Mahesa Wulung, Pandan Arum serta Daeng Matoa dan juga Jagayuda tampak saling berja- bat tangan dengan mesranya.

Yah, hari itu adalah saat perpisahan yang mengha- rukan setiap orang yang berada di pantai itu. Si tua Tawau yang menahan perasaan harunya tadi berkali- kali menghapus butir-butir air mata yang meluncur dari sudut matanya.

Begitu pula Sandai tiba-tiba saja memeluk Pandan Arum dengan terisak-isak dan berkata dengan nada bergetar. “Nona Pandan Arum, Anda akan pergi... kita akan berpisah. Aku akan selalu mengenang kebaikan Anda selama kita bergaul sebagai dua orang saudara di pulau ini.”

Pandan Arum terharu pula oleh kata-kata itu dan membuat pelukannya kepada gadis Sandai semakin erat. Lalu jawabnya, “Aku pun akan senantiasa menge- nangmu, Sandai. Aku turut berdoa semoga perkawi- nanmu dengan Saudara Daeng, akan selamat dan ber- bahagia serta terimalah salamku.” Pandan Arum ke- mudian mengecup pipi Sandai.

“Sayang, jika Anda tak dapat menghadiri perkawi- nan kami nanti,” ujar Sandai dengan manja.

“Yah, memang sayang. Tetapi bukankah itu masih sebulan lagi? Sedang kami harus segera kembali ke Demak,” ujar Pandan Arum seraya mengelus-elus punggung Sandai. “Sebab kami telah cukup lama ting- gal di sini”

Dalam pada itu terdengarlah hiruk-pikuk sebentar, dan ketika beberapa orang tampak menepi, muncullah pendekar tua Bontang beserta sahabatnya si Goro, seekor orang utan yang berperawakan kekar dan selalu menemaninya ke mana saja.

Mahesa Wulungpun cepat menyambut Bontang ser- ta merangkulnya dengan kata yang bernada haru un- tuk meminta diri kepada bekas gurunya itu. Keruan saja orang tua inipun ikut terharu pula dan ia meni- tikkan air matanya.

“Selamat jalan, anakku,” ujar Bontang pelan. “Kami berterima kasih kepadamu, sebab kedatanganmu ke mari telah menjernihkan suasana, menghancurkan se- tiap tindak kejahatan. Pergilah anakku, tugas-tugas lainnya tentu telah menantimu. Pergilah dan kami akan menantimu setiap masa. Kita berpisah di sini, te- tapi hati kita akan tetap bertaut selamanya.”

Perpisahan yang mengharukan itupun berakhir ke- tika Mahesa Wulung bersama Pandan Arum dan Ja- gayuda serta para anak buah kapal satu demi satu naik ke atas kapal.

Sesaat kemudian dayung-dayung kapal mulai ber- gerak berbareng seirama membelah air laut dengan lincahnya, dan kapal jung itu sedikit demi sedikit ma- kin merenggang dari pantai Teluk Sampit, diiringi lam- baian tangan serta teriakan-teriakan selamat jalan yang sambung-menyambung memenuhi udara pagi di pantai. Beberapa burung camar dan bangau terkejut dan terbang dari balik rumpun-rumpun pohon bakau, dan di bawah, ikan gelodogpun berlarian masuk ke da- lam lubang-lubang rumahnya saking kaget akan so- rak-sorai dari mulut orang-orang di pantai Teluk Sam- pit.

Mahesa Wulung, Jagayuda dan Pandan Arum berdi- ri di buritan kapal serta memandang ke arah pantai Teluk Sampit yang kelihatannya semakin mengecil dan menjauh.

Agaknya di pantaipun si tua Tawau, Daeng Matoa, Sandai serta yang lain-lainnya masih berdiri pula me- mandang ke arah laut, mengikuti Kapal Barong Maka- ra yang semakin mengecil dan seolah-olah menjadi ti- tik hitam untuk kemudian lenyap di cakrawala selatan bagai ditelan oleh ujung laut yang menganga luas tak bertepi itu.

Kapal jung berbendera Makara kuning emas itu kini telah berlayar dengan laju, sementara layar-layarpun telah dikembangkan sepenuhnya.

Mahesa Wulung yang masih berdiri di buritan itu, tiba-tiba saja terkejut oleh permata kalung milik Pan- dan Arum yang tersembul dari balik bajunya.

Permata kalung itu berbentuk setengah lingkaran terbuat dari batu permata hijau yang diikat dengan lo- gam emas berukir sangat indahnya. Ya, ia pernah pula melihatnya beberapa waktu yang lalu. Pandangan ma- ta Mahesa Wulung tak hentinya terpaku pada benda itu sampai akhirnya Pandan Arum merasa resah di- pandang secara demikian oleh kekasihnya.

“Idiiih, mengapa Kakang Wulung memandang dada- ku seperti itu? Apakah aku keliru memakai baju?”

“Eh... uh... tidak, Adi Pandan,” sahut Mahesa Wu- lung dengan tergagap-gagap saking kaget dan tersadar dari sikapnya.

“Aku... eh... bukan bajumu yang membuatku terce- nung sedemikian itu, tetapi permata kalungmu itulah sebabnya.”

“Mengapa, Kakang?!” sambung Pandan Arum kehe- ranan. “Aku ingat pula bahwa beberapa waktu yang la- lu, Kakang Wulung pun pernah terpesona oleh perma- ta kalungku ini, bukan?!”

“Benar, benar,” ujar Mahesa Wulung. “Sebab ada suatu keganjilan yang aku lihat pada permata kalung- mu itu.”

“Keganjilan?!” seru Pandan Arum lebih kaget. “Aku rasa biasa saja, Kakang Wulung. Kalung ini adalah pemberian ayahku dari Asemarang.”

“Adi Pandan Arum tak percaya?” sela Mahesa Wu- lung pula. “Bagaimana kalau aku dapat menunjukkan keganjilan itu?!”

“Silakan, Kakang Wulung,” ujar Pandan Arum sera- ya mengikuti sikap Mahesa Wulung yang memasukkan tangannya ke balik bajunya sendiri dan kemudian tampaknya menggenggam sesuatu yang diambil dari balik baju tadi. “Nah, Adi Pandan Arum, sekarang cobalah lihat ser- ta perhatikan baik-baik, apa yang engkau lihat pada telapak tanganku ini!” berkata Mahesa Wulung seraya membuka genggaman tangannya dengan segera dan karenanya Pandan Arum terpekik saking herannya, sebab pada telapak tangan kekasihnya itu terdapat seuntai kalung emas dengan permata hijau setengah bulat persis kepunyaan Pandan Arum itu sendiri.

“Oookh! Kalung itu!” seru Pandan Arum takjub. “Ka- lung itu persis kepunyaanku ini.” Berkata demikian gadis ini seraya melepaskan kalung yang sama dari le- hernya lalu diulurkan kepada Mahesa Wulung.

“Luar biasa!” desis Mahesa Wulung seraya menja- jarkan kedua kalung tersebut masing-masing dengan tangan kiri dan kanannya, lalu bagian permata kalung hijau yang merupakan irisan garis tengah lurus dan rata ditempelkan pada bagian yang sama dari kalung yang sebuah lagi sampai kedua permata kalung itu be- tul-betul sekarang berbentuk satu lingkaran penuh.”

“Lihatlah, Adi Pandan Arum! Perhatikan baik-baik. Bukankah hal ini benar-benar merupakan satu kegan- jilan yang tiada taranya?!” ujar Mahesa Wulung.

“Dari mana Kakang Wulung memperoleh kalung se- perti ini?” tanya Pandan Arum segera. “Tentu permata kalung ini berasal dari batu yang sama, yakni sebuah bulatan yang kemudian dipecah atau dipotong menjadi dua bagian.”

“Tak salah lagi, Adi Pandan Arum,” ujar Mahesa Wulung sambil mengamati permata dua kalung itu. “Guratan-guratan pada permukaan permata hijau in- ipun saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Aku rasa, guratan-guratan ini pasti ada artinya bagi kita. Dan ketahuilah Adi Pandan, bahwa kalung ini aku terima dari Endang Seruni.” “Siapa Endang Seruni itu, Kakang Wulung?!” tanya Pandan Arum setengah curiga terhadap keterangan kekasihnya.

“Dia adalah putri dari Ki Lurah Mijen yang aku se- lamatkan dari tangan para penjahat dan ia menye- rahkan kalung permata hijau ini sebagai pernyataan terima kasihnya,” demikianlah Mahesa Wulung berce- rita kepada kekasihnya, Pandan Arum, dan selanjut- nya diceritakan pula segala pengalamannya ketika ia tinggal di Desa Mijen beberapa waktu yang lewat.

“Mmm, aku ingin berkenalan dengan dia,” ujar Pan- dan Arum. “Tentu Kakang tidak akan berkeberatan un- tuk mengajakku ke Desa Mijen kelak.”

“Ah, dengan senang hati aku akan membawamu ke sana, Adi Pandan Arum,” kata Mahesa Wulung kepada kekasihnya. “Sebab memang sedari semula, ketika aku melihat permata kalungmu itu, aku bermaksud menye- lidiki serta menanyakannya kepada Ki Lurah Mijen.”

“Ooh, itu bagus, Kakang Wulung! Aku sangat setuju dengan pikiranmu tadi. Semoga persoalan kalung kembar bermata hijau ini segera dapat dipecahkan.” Tampak wajah Pandan Arum bersinar.

“Begitulah harapanku, Adi Pandan,” sambung Ma- hesa Wulung pula. “Aku kira, guratan-guratan pada permukaan permata kalung ini mengandung suatu ra- hasia.”

“Suatu rahasia?!” ulang Pandan Arum dengan ka- getnya demi mendengar penuturan kekasihnya ini. “Maksud Kakang, goresan-goresan ini mengandung se- suatu arti?”

“Tepatnya begitu, Adi,” jawab Mahesa Wulung se- raya memberikan kalung milik Pandan Arum kembali. “Seolah-olah guratan-guratan ini merupakan sebuah peta atau tulisan-tulisan tersembunyi.” Pandan Arum yang telah menerima kalungnya kem- bali segera mengamati permata kalung hijau tersebut, sementara hatinya dapat membenarkan ketajaman otak Mahesa Wulung.

“Hmm, hatiku kini seperti terbuka oleh pendapat- mu, Kakang Wulung,” berkata Pandan Arum kepada pendekar muda di sampingnya. “Tetapi jika demikian, sama artinya bahwa kedua kalung ini saling meleng- kapi dan membutuhkan antara yang satu dengan yang lain.” 

“Nah, jika demikian maksud Adi Pandan, itu berarti bahwa menguasai sebelah kalung hijau saja, tak akan ada manfaatnya bagi si pemakai,” ujar Mahesa Wu- lung.

“Kalau begitu, kita harus menjaga baik-baik kalung kembar ini sampai kita tiba di Desa Mijen serta me- nanyakan rahasia kalung ini kepada Ki Lurah,” Pan- dan Arum berkata seraya memakai kalungnya kembali. Kapal jung Barong Makara kini berlayar ke arah tenggara dan angin bertiup dengan derasnya mengem- bangkan layar-layar dengan penuh, hingga kapal mela-

ju dengan lancarnya.

Sesekali beberapa ikan terbang muncul ke permu- kaan air dan mencutat lalu melayang-layang di atas gelombang laut bagaikan ingin berlomba dengan kapal ini.

Betapa rindunya seluruh awak kapal terhadap sa- nak-keluarga yang telah beberapa waktu berpisah, tak dapat terlukiskan. Namun kini mereka merasa lega se- telah tugas-tugas mereka berhasil dan kembali ber- layar menuju Demak.

*** 2

MUARA KALI SERANG yang bertemu dengan Laut Jawa kelihatan amat tenangnya. Air sungai yang me- ngalir ke utara lalu bersatu dan bercampur dengan air laut. Sore itu udara amat panasnya terasa di pori-pori kulit. Untunglah angin pantai bertiup cukup menye- garkan.

Tetapi di balik ketenangan muara Kali Serang itu terlihatlah dua sosok bayangan yang berkelebatan amat serunya. Gerakan mereka sedemikian gesit hing- ga kadang-kadang sampai sukar ditangkap oleh mata dan merupakan bayang-bayang atau sinar hitam yang bergulung-gulung saling melibat.

Kedua manusia ini sesungguhnya tengah bertempur dengan tangan-tangan kosong belaka, sebab setiap kali cuma telapak-telapak tangan atau totokan-totokan ja- ri-jari tangan yang kelihatan saling beradu atau ber- benturan.

Setiap kali mereka menangkis dan memukul, setiap kali pula mulut mereka berdua meneriakkan jeritan yang dahsyat memantul dan menggetarkan udara dari muara Kali Serang.

Yang seorang masih kelihatan cukup muda dan ber- tubuh kekar dengan kumis tebal melintang di atas bi- bir, sedang dagunya dihiasi pula oleh bulu-bulu jang- gut yang hitam legam. Sedang lawan yang seorang lagi, sudah agak tua, yang terlihat dari kumis dan jenggot- nya yang sudah agak keputihan kelabu. Rambutnya yang tanpa ikat kepala itu cuma tumbuh pada sisi ke- pala serta bagian belakang saja. Bagian kepala sebelah atas gundul, tanpa selembar rambutpun yang tumbuh di situ. Orang tua ini bersenjatakan sebilah gada pe- mukul yang ujungnya berduri-duri runcing tajam, dan tergantung pada pinggang kirinya.

Agaknya mereka telah bertempur mengadu tenaga dalam puluhan jurus, dan keduanya mencucurkan ke- ringat berleleran di tubuhnya.

Ketika matahari makin merendah ke cakrawala ba- rat, dan keduanya masih bertempur sengit tanpa me- nunjukkan tanda-tanda adanya pihak yang kalah atau yang menang, sekonyong-konyong meloncatlah si orang botak tadi surut ke belakang hampir sepuluh langkah jauhnya.

“Hyaaat!” teriakan nyaring terdengar dan kedua ka- ki si botak tadi mendarat di tanah dan berdiri dengan kokohnya bagai tugu karang.

Taaap!

Begitu pula si orang muda menghentikan gerakan- nya dan berdiri dengan tangguh dalam sikap yang sa- ma dengan si botak tadi.

“Hua, ha, ha, ha kowe memang bocah hebat, La- wunggana! Tak kecewa aku mengangkatmu sebagai murid tunggal Bango Wadas!”

“Terima kasih, Guru!” ujar si orang muda yang di- panggil dengan nama Lawunggana tadi. — Namun, mengapa guru menghentikan latihan kita ini?!”

“Hua, ha, ha, ha, kau memang cukup tangguh, La- wunggana. Tetapi kita selama ini hanya bertempur de- ngan tangan kosong belaka. Maka jurus berikutnya, pakailah sepasang pisau cagakmu sebagai senjata un- tuk melawanku!”

Lawunggana sejenak merasa ragu-ragu oleh kata- kata Ki Bango Wadas ini, sehingga sesaat iapun tak bi- sa berkata-kata.

“Lawunggana!” bentak Bango Wadas dengan marah- nya. “Kau dengar kata-kataku tadi?! Cabutlah senjata- mu itu!”

“Maksud Guru, aku harus melawanmu dengan sen- jata andalanku ini?!” berkata Lawunggana setengah ragu seraya meraba kedua hulu senjatanya yang ter- sembul dari ikat pinggangnya. “Apakah ini berarti bah- wa aku harus pula melukaimu dengan senjataku?!”

“Berbuatlah sesuka hatimu, Lawunggana!” sahut Bango Wadas dengan meringis garang. “Hadapilah aku, seperti engkau betul-betul menghadapi seorang lawan yang bakal mengganyangmu! Hua, ha, ha, ha.”

Lawunggana tanpa ragu-ragu lagi segera mencabut kedua senjata pisau cagaknya sambil berkata, “Baik- lah, Guru. Aku terpaksa menggunakan senjataku ini atas permintaanmu. Semoga saja tidak akan benar- benar menggores kulit dagingmu, Ki Bango Wadas.”

“Keparat! Ha, ha, ha, ha. Jangan terlalu manja La- wunggana! Sebab sesungguhnya tak ada seorang mu- suh yang betul-betul menaruh belas kasihan terhadap lawannya,” seru Bango Wadas seraya melototkan mata. “Kalau kau tak bersedia menggores kulit dagingku, maka giliran senjataku inilah yang bakal menyobek tu- buhmu!”

Bango Wadas kemudian mencabut gada berduri da- ri pinggang kirinya serta memutar-mutar dengan ta- ngan kanannya, sampai menimbulkan suara berdesau serta cahaya berkeredipan dari ujung-ujung duri sen- jata yang terbuat dari baja runcing.

“Majulah Lawunggana, kata-kataku adalah juga pe- rintahku dan tak ada alasan buat menolaknya!”

Lawunggana mulai membuka jurus serangannya. Kedua tangannya yang masing-masing bersenjata pi- sau bercabang dua itu bergerak dengan lincah bagai cakar-cakar rajawali yang menyerang mangsanya. Mu- la-mula gerakan tersebut adalah setempat dan kedua kaki Lawunggana tanpa berubah dari tempatnya.

Namun, bersamaan teriakan dahsyat yang keluar dari mulut Lawunggana, melesatlah ia ke arah Ki Ba- ngo Wadas dan langsung menyerangnya dengan dah- syat.

Laksana terkaman seekor harimau kelaparan, La- wunggana melesat, tapi bersamaan itu pula Bango Wadas telah bersedia. Direndahkannya tubuhnya se- rendah mungkin sementara senjata gada berduri di ta- ngan kanannya berputar tak kalah hebat.

Kedua sosok bayangan tadi saling berbentrok dan senjata-senjata mereka saling bergempur dengan bunyi gemerincing dibarengi lidah-lidah api bertebaran me- loncat ke udara sore.

Traaang!

Lawunggana kemudian melesat ke samping sete- ngah terpental oleh tenaga benturan tadi, sedang Ban- go Wadas masih tetap berdiri tegak pada tempatnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Melihat kenyataan ini, Lawunggana tidak menjadi berkecil hati. Dan selagi gurunya tadi masih tertawa panjang, ia kembali berteriak seraya melesat menye- rang kembali ke arah Bango Wadas.

Sekali lagi si botak ini berkelit ke samping seraya menyabetkan penggadanya ke arah kedua senjata pi- sau cagak yang terjulur menyambar ke tubuhnya.

Crang!

Kembali Lawunggana terpental, tapi ia dengan lin- cahnya melenting ke udara tiga putaran dan cepat mendarat kembali ke tanah.

“Bagus! Bagus! Kini giliranku menyerang!” seru Bango Wadas dengan berseru hebat. “Hyaaaat!”

Lawunggana yang baru saja mendarat itu sangat terkejut, begitu penggada berduri logam runcing itu menyambar lambungnya dalam kecepatan tak terduga. Untunglah Lawunggana adalah murid gemblengan dari si botak Bango Wadas yang sakti, maka sebelum perutnya tersobek oleh sambaran senjata gurunya, ia terlebih dulu melontarkan diri ke atas sebuah pokok kayu yang kering dan hinggap berdiri di atasnya, lak-

sana seekor elang.

Tentu saja si botak Bango Wadas tidak mau mem- beri hati kepada muridnya ini. Biarpun ia telah berha- sil lolos dari serangannya ia masih tetap ingin menguji kemampuan muridnya, si Lawunggana.

Penggada berdurinya sekali lagi menghajar ke arah pokok kayu yang kering tadi dan menimbulkan suara berderak keras hingga Lawunggana yang berdiri di atas pokok kayu tadi sangat terkejut. Pendekar berkumis lebat ini melihat bahwa pokok kayu kering yang di- hinggapinya ini bergoyang keras dan kemudian roboh ke bawah.

Sangat mujur bahwa Lawunggana ini telah bersiaga, maka begitu pokok kayu kering itu roboh ia cepat me- loncat ke belakang beberapa jauhnya.

Bango Wadas secara diam-diam mengagumi segala ketrampilan muridnya, meski ada beberapa kekeliruan kecil yang tidak berarti.

Lawunggana terpaksa mengerahkan segenap tena- ganya, sebab dirasanya bahwa gurunya benar-benar menyerangnya dengan pukulan-pukulan dan jurus- jurus maut.

“Benarkah Ki Bango Wadas ingin membunuhku?” pikir Lawunggana setengah ragu. “Hmm, bagaimana- pun juga aku harus menghadapinya. Memang ia ka- dang-kadang berwatak aneh dan keras.”

Itulah sebabnya maka Lawunggana mengerahkan segenap tenaga dan ilmu serta jurus-jurus ajaran gu- runya, maka tak heran bila tubuhnya kadang-kadang melesat menerkam bagai seekor harimau tetapi mam- pu pula berloncatan dengan lincah menghindari setiap serangan gada berduri logam milik Ki Bango Wadas. Benar-benar Lawunggana dapat bergerak selincah tu- pai.

Namun betapapun pandainya seorang murid, toh dia akan masih selalu di bawah kemampuan gurunya beberapa tingkat jauhnya. Ini terlihat pada jurus-jurus berikutnya.

Sambaran-sambaran gada berduri logam dari Bango Wadas semakin rapat mengurung serta mencecar La- wunggana, sehingga sebentar saja pendekar berkumis tebal tadi telah dikurung oleh gumpalan sinar putih gemerlapan yang mengandung hawa maut.

Bagaimanapun kedua pisau cagaknya bergerak un- tuk mengimbangi sambaran-sambaran senjata guru- nya, namun Lawunggana semakin jauh dan tenggelam oleh lawannya.

Dalam setiap benturan senjata, setiap itu pula La- wunggana terkejut, sebab jari-jarinya terasa pedih de- ngan rasa yang menyengat-nyengat ke segenap bagian tubuhnya.

Lawunggana jadi berkeringat. Peluhnya mengalir menganak sungai dan badannya mulai terasa penat- penat. Entah, selama bertempur ini ia telah mengha- biskan beberapa puluh atau ratusan jurus, ia tak sem- pat menghitung lagi.

Kini ia tak mampu lagi membalas serangan-se- rangan gurunya, jadi semua jurusnya hanyalah jurus mempertahankan diri atau menangkis saja. Lebih dari- pada itu ia tak tahan, serta tidak mampu.

Demikianlah, pada suatu saat ketika gada berduri logam itu meluncur deras ke arah dadanya, Lawung- gana cepat memapaki dengan kedua pisau cagaknya dan terjadilah benturan paling dahsyat.

Craaang! “Aaaakh!”

Sebuah jeritan kecil terlontar dari bibir bersamaan tubuh Lawunggana ini terpental dan rebah ke tanah. Saat itu pula Lawunggana tak dapat berkutik lagi. Sambil duduk di atas rumput, ia masih tetap meng- genggam kedua pisaunya dan siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

Melihat itu semua, Bango Wadas jadi tertawa ter- kekeh-kekeh panjang.

“Hua, ha, ha, ha. Bagus, Lawunggana! Bagus! Aku puas melihatmu dan aku tak kuatir lagi seandainya kamu betul-betul bertempur melawan seorang musuh.” “Jadi, Guru tidak betul-betul bermaksud membu-

nuhku?!” seru Lawunggana ragu-ragu.

“Hah, kau jangan terlalu bodoh, Lawunggana! Mana ada seekor macan memakan anaknya sendiri!” bentak Ki Bango Wadas dengan wajah tegang dan menyebab- kan Lawunggana tertunduk ke tanah dengan hati ke- cut dan berdebar-debar.

Ya, memang sudah sepatutnya bila Ki Bango Wadas menjadi marah oleh perkataan muridnya itu. Masakan seorang guru dapat sampai hati membunuh muridnya yang baik dan tunggal itu.

Entah kalau dengan murid yang murtad dan me- nyeleweng, pasti seorang guru akan menghajarnya sendiri.

Akan tetapi, Lawunggana bukan terbilang dalam go- longan itu. Ia adalah murid yang patuh dan setia pada gurunya. Dengan demikian, maka perkataannya yang gegabah serta sembrono itu membuat Bango Wadas menjadi marah. Kendati demikian, Ki Bango Wadas adalah seorang yang berpengetahuan luas, dan ia dapat memaklumi bila perkataan Lawunggana tadi keluar berdasarkan dorongan rasa takut maupun panik. Maka betapapun marahnya Bango Wadas yang botak itu, dapat me- maafkan kesalahan muridnya ini.

“Maaf, Guru. Aku memang murid yang tolol dan An- dika sudah patut memberi hukuman kepadaku!” ujar Lawunggana seraya masih tertunduk ke bawah.

“Tak apa, Lawunggana,” sahut Ki Bango Wadas. “Aku telah memaafkanmu, dan marilah kita beristira- hat sejenak.” Demikian ajak si botak itu kepada mu- ridnya.

Kedua orang itu kemudian berjalan menuju ke po- hon kering yang roboh oleh penggada Bango Wadas beberapa saat yang lewat, dan selanjutnya mereka du- duk berdampingan.

Dalam pada itu, langit di sebelah barat telah dis- epuh oleh warna merah kelam, sedang awan kehita- man beberapa gumpal tampak mengalir ke selatan de- ngan malasnya.

“Lawunggana,” ujar Bango Wadas sambil menoleh ke arah muridnya, “kau telah cukup aku beri ilmu dan kau telah aku pandang cukup untuk menghadapi la- wan yang bagaimanapun tangguhnya.”

“Terima kasih, Guru,” sahut Lawunggana seraya menghela nafas. “Dan kini aku telah rindu benar de- ngan desaku, Mijen.”

“Hmmm, yah, yah. Aku masih ingat benar. Kau hampir empat tahun tinggal bersamaku sejak perte- muan kita yang pertama. Bahkan aku masih ingat se- waktu kau datang dengan babak belur dan bercerita kepadaku, bahwa dirimu habis dihajar oleh Sela Gan- den, pendekar jagoan dari Desa Mijen.” “Hehhh,” desah Lawunggana dengan mata meman- dangi langit senja di sebelah barat. “Itu semua terjadi, sebab aku masih sangat hijau di waktu itu, sehingga aku tak berdaya melawan Sela Ganden.” Lawunggana sejenak berhenti berkata dan matanya menatap terus ke langit barat, seakan-akan mencoba mengingat selu- ruh kejadian yang telah dialaminya.

Warna langit barat yang merah kelam, semerah warna darah yang dulu pernah keluar dari mulutnya ketika ia dihajar oleh Sela Ganden beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu ia ingat betul dan kini gambaran-gam- baran peristiwa yang silam seolah-olah bangkit dan terpancang di ruang matanya kembali.

***

Saat senja hari di Desa Mijen, dan lebih tepatnya di pekarangan belakang rumah Ki Lurah Mijen. Dengan asyiknya ia tengah asyik bercakap-cakap dan bercanda dengan Endang Seruni, si gadis mungil dan lincah pu- tri dari Ki Lurah Mijen. Ia mengenal gadis ini sejak ma- sa kecil, dan sampai besarpun ia masih mengenalnya dengan baik.

Kalau dahulu Lawunggana selalu menganggap En- dang Seruni sebagai teman bermain saja, kini tidak begitu lagi. Wajah dan tubuh Endang Seruni yang ma- kin meningkat ke alam dewasa itu membuat La- wunggana berpikir lain.

Yah, ia tak tahu, mengapa tiba-tiba pandangannya terhadap Endang Seruni berubah dengan sendirinya. Ia heran bila setiap kali bertemu dan bercakap-cakap dengan gadis itu hatinya seolah-olah berdebar-debar dan bersorak dengan gemuruhnya.

Namun lama-kelamaan sadarlah Lawunggana bah- wa ia telah jatuh cinta dan kasmaran terhadap Endang Seruni itu.

Senja telah turun dan kedua muda-mudi ini tengah asyik bercakap-cakap. Apa yang terasa oleh Lawung- gana kemudian adalah keindahan yang begitu sem- purna.

Langit senja yang berwarna lembayung itu, begitu indah dan kini bersatu dengan keindahan wajah En- dang Seruni, menjadikan Lawunggana terasa bagai ter- lambung oleh alam mimpi.

Hanya saja, Lawunggana tidak sadar bahwa di balik dedaunan rumpun pisang, beberapa pasang mata te- ngah menatap mereka berdua dan inilah pangkal uta- ma bahwa senja itu, adalah senja yang terakhir bagi Lawunggana di Desa Mijen.

Demikianlah, sesudah senja makin menggelap, ma- ka iapun meminta diri kepada Endang Seruni dan se- jurus kemudian gadis inipun berlari ke dalam rumah.

Lawunggana segera meninggalkan pekarangan itu dan berjalan dengan tenangnya tanpa menaruh rasa cemas ataupun curiga sedikitpun. Ia tidak tahu bahwa dirinya tengah diintai.

Ketika kemudian Lawunggana sampai di dekat pe- pohonan rindang, tiba-tiba telinganya menangkap bu- nyi berdesing yang menuju ke arahnya disertai seleret sinar putih yang menyambar cepat sekali.

“Oh, apa ini?” keluh Lawunggana seraya mengendap ke bawah. Sebagai pemuda yang masih kurang berisi di dalam ilmu persilatan tentu saja ia merasa gentar menghadapi hal ini.

Craaaap!

Terdengar bunyi menancap dan alangkah kagetnya demi mata Lawunggana melihat sebuah pisau belati panjang menancap hampir separuh lebih pada batang pohon di dekatnya.

Seketika Lawunggana bergemetaran dan cepat-ce- pat ia bangkit serta kemudian berlari menjauhi tempat itu. Akan tetapi, belum lagi dua tombak jauhnya ia be- lari, mendadak berlompatanlah tiga bayangan tubuh manusia dari balik rumpun-rumpun pisang yang ge- lap.

“Berhenti, pengecut!” bentak seorang di antara me- reka yang bertubuh tinggi kekar menghadang di ten- gah jalan dengan berkacak pinggang. “Kau berani me- masuki pekarangan Ki Lurah Mijen dalam waktu yang tidak semestinya, haah?!”

“Dan lagi dia berani bercanda dengan Endang Se- runi secara sembunyi-sembunyi!” seorang lainnya dari mereka, ikut berbicara pula. “Akan kita apakan dia, Kakang Sela Ganden?”

“Heh, heh, heh, heh. Baiknya kita beri pelajaran se- cukupnya kepada bocah ingusan ini!” seru si tubuh kekar yang dipanggil dengan nama Sela Ganden itu! “Adi Pakisan dan Sorogenen, bersiaplah jangan sampai cecunguk ini dapat lolos dari tangan kita!”

“Bagus!” seru kedua orang lainnya hampir berba- reng, sambil memperdengarkan suara gigi-gigi mereka yang bergemeretak berkerot-kerot menakutkan.

Lawunggana masih saja bergemetaran tanpa dapat berbuat apa-apa. Makin lama makin dekatlah jarak ke- tiga manusia tadi menghampiri ke arah dirinya.

Yang paling tengah adalah Sela Ganden yang me- langkah dengan tegapnya seraya menatap tajam de- ngan mata yang berapi penuh kemarahan.

“Ooh, berhenti kalian!” ujar Lawunggana dengan paniknya. “Endang Seruni adalah sahabatku dan aku tak berbuat kurang sopan kepadanya.”

“Hiah, hah, hah, hah,” Sela Ganden terdengar lagi tertawa serta melangkah terus ke arah pemuda tadi berdiri. “Kau boleh menangis minta ampun serta men- cium telapak kakiku supaya aku menaruh belas kasi- han kepadamu, cecunguk!”

Lawunggana tak dapat berbuat apa-apa. Untuk me- lawan ketiga orang ini tak bakal mungkin terlaksana. Bukankah ia telah mengenal bahwa ketiga orang ini adalah jagoan-jagoan dari desanya yang juga merupa- kan pengawal Ki Lurah?

Biarpun begitu akhirnya Lawunggana tak punya pi- lihan lain dan ia telah bersiap-siap untuk berbuat se- perti apa yang diminta oleh Sela Ganden tadi, yakni meminta ampun kepadanya. Namun dalam hati kecil- nya timbullah bisikan yang menentang keputusannya tadi. “Ah, aku laki-laki dan tak berbeda dengan me- reka. Aku tak sudi meminta ampun ataupun menyem- bah di hadapannya. Itu adalah perbuatan yang hina! Bagaimanapun aku akan menolaknya!”

“Hei, lekas meminta ampun kepadaku!” bentak Sela Ganden dengan garang. “Atau kau pilih aku hajar?!”

Lawunggana tak berkata-kata lagi, kecuali ia melon- cat ke arah Sela Ganden dengan mengirim satu ten- dangan kaki yang mengancam kepala orang ini.

Ternyata Sela Ganden memang bukan orang yang sembarangan serta mudah diremehkan, maka sera- ngan tiba-tiba tersebut ditangkisnya dengan kibasan tangan kirinya ke arah luar dan saat itu pula terde- ngarlah benturan cukup keras dibarengi suara meng- aduh.

Bruuk! “Aduuuh!”

Lawunggana terpental dan jatuh ke atas tanah ce- kakaran sambil peringisan menahan rasa sakit dan pedih pada kakinya. Kini iapun sadar betapa hebatnya tenaga Sela Gan- den ini. Rasa takut, patah semangat serta nekad berge- lut di dalam dadanya. Memang sebagai seorang lelaki tidak boleh mundur setapak bila menghadapi bahaya yang timbul di hadapannya. Maka melesatlah kembali Lawunggana ke arah Sela Ganden yang masih saja berdiri dengan tenangnya serta melirik ke arah Soro- genen yang mengangguk-angguk sambil tersenyum pe- nuh arti.

Begitu loncatan Lawunggana tadi mencapai separuh tujuan, sekonyong-konyong kaki Sorogenen menyelo- nong ke depan dan tepat mengait kaki Lawunggana. Dengan disusul sebuah hentakan kecil maka sudah cukup membuat loncatan pemuda tanggung ini kehi- langan keseimbangan serta terjungkal ke tanah.

Tubuh Lawunggana seperti menghunjam ke bawah dengan kepala lebih dulu, sesaat kemudian disusul bunyi berkecopak serta air lumpur yang berterbangan muncrat ke mana-mana.

“Ha, ha, ha, ha,” terdengar ledakan ketawa mengge- ma di udara malam. “Lihat! Ada celurut mandi lum- pur!”

Lawunggana tertelungkup di atas tanah, tepat di atas kubangan lumpur dengan muka yang kehitaman coklat karena tertutup lumpur. Pandangan matanya terasa kabur, serta berkunang-kunang.

Ketika ia melongok ke atas, tampaklah ketiga mulut lawannya terbuka lebar serta tertawa terbahak-bahak. Melihat ini, Lawunggana sangatlah marahnya. Suara tertawa serta hinaan seperti merasuk sampai ke otak- nya melalui kedua telinga, membuat Lawunggana ma- kin marah.

“Heh, heh, heh, bocah ingusan! Kalau kau belum pandai bersilat jangan sekali-kali berani mendekati seorang gadis, apalagi yang cantik seperti Nyi Endang Seruni tadi!” kata Sela Ganden sambil memilin kumis- nya. “Lekas berlalu dari tempat ini sebelum hilang ke- sabaranku!”

“Hi, hi, hi, hi! Lucu! Sangat lucu! Bocah ini betul- betul sekarang mirip dengan hantu penjaga sawah! Hi, hi, hi,” terdengar pula Pakisan mengejek kepada La- wunggana yang kini masih terhenyak di atas kubangan lumpur itu dengan tubuh yang masih lemas dan kesa- kitan.

“Keparat!” teriak Lawunggana dengan geram seraya kedua belah tangannya meraup lumpur di dekatnya, serta sekaligus dilemparkannya ke arah ketiga orang lawannya. “Ini, makanlah olehmu!”

Bukan main terkejutnya Sela Ganden beserta kedua temannya, sebab serangan Lawunggana tadi sangatlah tiba-tiba datangnya, sehingga ketiganya tak sempat mengelak lagi dan tahu-tahu muka mereka telah ber- lepotan oleh lumpur.

Bahkan lebih dari itu, mulut Sela Gandenpun terke- na lumpur pula, dan karenanya pendekar jagoan ini mengumpat-umpat serta meludah-ludahkan lumpur yang sedikit masuk ke dalam mulutnya.

“Kurang ajar! Setan ingusan! Bocah tidak tahu di- kasih belas kasihan! Sorogenen dan Pakisan! Ayo, tangkap celurut edan ini!” teriak Sela Ganden, dan se- jurus kemudian mereka bertiga telah berloncatan ke arah Lawunggana.

Sebagai seorang pemuda, sudah barang tentu La- wunggana tidak mau begitu saja menyerah pada kea- daan. Maka sebelum ketiga lawannya terlalu dekat, ia secepat kilat bangkit berdiri serta menerjang ke arah mereka bertiga.

Baik Sela Ganden, Pakisan ataupun Sorogenen jadi terperanjat melihat terjangan Lawunggana itu, mes- kipun cuma sesaat saja. Mereka bertiga sadar bahwa Lawunggana itu adalah pemuda yang bandel, tak takut oleh ancaman mereka.

“Haaaet!” Lawunggana setengah meloncat serta me- ngirim pukulan tangannya ke arah kepala Sela Ganden sedang kakinya menerjang ke bahu Pakisan. Maka se- saat kemudian terjadilah benturan-benturan seru dan menggentarkan hati siapa saja yang menyaksikan.

Tubuh Pakisan tergetar beberapa langkah ke sam- ping, terkena tendangan kaki Lawunggana. Tapi ber- samaan itu pula Sela Ganden dengan dahsyatnya me- nangkis pukulan pemuda ini dan disusul ia melancar- kan pukulan sisi telapak tangannya ke lambung La- wunggana.

Plaaak! “Heekkk!”

Keluhan pendek terdengar dari bibir Lawunggana disusul oleh tubuhnya terpelanting ke samping dan terhempas kembali ke tanah becek dengan nafas ter- sengal-sengal.

Tubuh Lawunggana sekarang kelihatan lemas ba- gaikan tak bertenaga sama sekali. Dengan susah payah akhirnya ia berusaha untuk bangun, tetapi tiba- tiba Sela Ganden menyambar leher bajunya serta men- cengkeramnya sekali dan menggoncang-goncang de- ngan keras, tak ubahnya seorang petani yang tengah menggoncang buah kelapa yang baru saja dipetiknya.

“Tahu rasa kau, hah!” teriak Sela Ganden dengan geramnya dan kemudian tangan kanannya beraksi menampari pipi pemuda yang dalam cengkeramannya tadi dengan geramnya berkali-kali sampai kepala La- wunggana ini tergolek ke kiri dan ke kanan berulang- ulang. Sejurus kemudian, dari sudut mulut Lawunggana mengalir darah merah dan ini membuat Sela Ganden makin beringas. Tamparannya makin ganas bertubi- tubi melanda kepala Lawunggana.

Mengalami hal ini, Lawunggana yang sudah tak berdaya itu lalu meludahkan cairan darah mulutnya ke arah muka Sela Ganden. Keruan saja pendekar ja- goan ini bukan kepalang marahnya, setelah mukanya berlepotan darah akibat semprotan dari mulut La- wunggana.

“Kurang ajar!” teriak Sela Ganden sangat marah. “Pakisan dan Sorogenen! Ayo jangan tinggal diam! Kita buat pesta bocah bandel ini!”

Sela Ganden berteriak seraya memukul dagu La- wunggana hingga pemuda itu terhuyung-huyung dan secepat itu pula Pakisan menyongsongnya dengan se- buah tendangan telapak kakinya dan akibatnya La- wunggana terpelanting ke samping.

Sekali ini Sorogenen mengambil bagian. Begitu tu- buh pemuda tersebut terhuyung-huyung pula, ia me- nyambutnya pula dengan sebuah kibasan telapak ta- ngan dan tepat menghajar pelipis Lawunggana.

Tak ampun lagi pemuda ini terjajar ke samping se- mentara dari mulutnya keluar kata-kata yang terpu- tus-putus.

“Aaakh... bagus, kau main keroyok, pengecut bu- suk. Awas suatu waktu aku akan membalas ”

Kata-kata ini meskipun terucap dengan terputus- putus, sudah cukup membuat telinga ketiga orang itu menjadi merah!

“Celurut bandel! Sudah tak berdaya begitu masih berani mengancam, ha?! Ayoh teman-teman, hajar ce- lurut ini lebih hebat!” seru Sela Ganden dan kembali Lawunggana menjadi bulan-bulanan pukulan serta tendangan ataupun dupakan dari Sela Ganden, Pa- kisan dan Sorogenen.

Tubuh Lawunggana kini tak ubahnya sebuah bola mainan yang sebentar tercampak ke sana dan sebentar pula terpelanting ke mari, tanpa berdaya untuk menge- lak ataupun lari.

Sebentar kemudian Lawunggana tergeletak rebah ke tanah. Tubuhnya babak-belur dan ia cuma sempat mengeluh lemah. Sementara itu ketiga orang tadi ter- tawa terkekeh-kekeh mengelilingi tubuh Lawunggana yang terkulai di tanah becek berlumpur.

Agaknya Sela Ganden masih belum reda dendam- nya, sebab meski tubuh pemuda itu telah tak berdaya, beberapa kali ia masih menyepak Lawunggana terse- but dengan ujung kakinya, sampai korbannya mengge- liat-geliat kesakitan.

“Nah, kau tahu rasa sekarang, hah?! Bocah ingusan yang sombong!” seru Sela Ganden kembali seraya me- ludah ke bawah, ke tubuh Lawunggana.

“Pakisan dan Sorogenen! Mari kita tinggalkan celu- rut ini. Biar dia mengenangkan kehangatan pukulan- pukulan kita tadi!”

Ketiga orang tersebut segera berlalu meninggalkan tempat itu serta membiarkan tubuh Lawunggana terge- letak di comberan berlumpur. Mereka lenyap di sebe- lah timur, menerobos semak-semak bambu sambil tak ketinggalan memperdengarkan suara tertawanya yang terkekeh-kekeh memuakkan.

Sampai beberapa saat Lawunggana tak sadarkan di- ri dan malampun berlalu dengan tenangnya, seperti ti- dak pernah terjadi apa-apa di situ. Udara dingin mulai merayap ke segenap sudut pepohonan dan seluruh Desa Mijen yang telah membisu, sepi.

Perlahan-lahan dan sangat lemahnya, Lawunggana mulai sadar dan bergerak-gerak lalu mencoba bangkit. Tapi karena saking lemah dan rasa sakit yang masih menyengat-nyengat pada lambungnya, maka rebahlah ia kembali ke atas comberan lumpur dengan merintih kesakitan.

Dengan sangat bersusah payah, pemuda ini mera- yap bangkit, sementara kepalanya dipenuhi rasa den- dam yang menyala-nyala berkobar bagai api tersiram minyak.

Wajah Sela Ganden serta kedua temannya tadi ma- sih tergambar dengan jelasnya di ruang matanya dan setiap kali pula ia bersumpah untuk membalas den- dam kepada mereka atas pengeroyokan terhadap diri- nya ini!

Akhirnya Lawunggana dapat berdiri dan berjalan dengan sempoyongan ke arah barat laut. Ia tiba di tepi Sungai Serang dan berhenti sejenak di atas sebuah ba- tu besar.

“Hmmm, aku tak akan kembali ke Desa Mijen. Aku akan pergi entah ke mana. Biarlah aku menyusuri Sungai Serang ini sampai ke muaranya sana. Aku be- lum akan kembali, sebelum aku mempunyai kesaktian dan ilmu silat yang dapat mengalahkan Sela Ganden bertiga!” demikian kata Lawunggana di dalam hatinya.

Di kala itu, malam makin bertambah larut sedang bintang-bintang di angkasa bertaburan memancarkan sinarnya yang berkedip-kedip. Bulan yang cuma sepa- ruh bulat itu menyinarkan cahayanya yang lemah me- nerangi muka bumi dengan suasana yang samar- samar redup.

Lawunggana terus berjalan menyusuri aliran Sungai Serang ke arah muara sambil terhuyung-huyung serta sebentar-sebentar terpaksa istirahat. Telah beberapa jauhnya ia berjalan, tak dapatlah ia mengetahuinya de- ngan pasti, dan apa yang bakal menimpa dirinya ia tak perduli lagi. Bahaya apapun ia tak akan takut. Bina- tang buas? Atau hantu pemakan manusia barangkali, ia tak gentar menghadapinya.

Langkah-langkah kaki Lawunggana makin sem- poyongan dan pandangan matanya sebentar-sebentar kabur kembali.

“Ah, apakah aku akan pingsan kembali?” desis La- wunggana seraya terus melangkahkan kakinya. Teli- nganya masih mendengar aliran air Sungai Serang yang gemercik merdu, namun suara gemercik air su- ngai itupun akhirnya lenyap pula, bersamaan tubuh- nya makin terhuyung lemah. Dan di saat itulah La- wunggana melihat dalam kekaburan pandangannya, sebuah bayangan berkelebat ke arah tubuhnya yang hampir rebah disertai suara ketawa yang terkekeh- kekeh menyeramkan.

Maka selanjutnya terasalah bahwa tubuhnya dipon- dong oleh orang ini, serta dibawanya melesat ke arah muara. Dan selanjutnya sampai sekarang ia mengenal bahwa si penolong ini tidak lain adalah Ki Bango Wa- das yang sekarang menjadi gurunya sendiri.

***

Lawunggana masih duduk di samping gurunya, Ki Bango Wadas. Mereka saling berdiam diri, dan Ki Ba- ngo Wadas yang telah banyak pengalaman itu tahulah agaknya bahwa murid tunggalnya tengah melamun.

“Apa yang engkau lamunkan, Lawunggana?!” berta- nya si botak itu kepada muridnya. “Mengenang masa- masa yang lalu?”

Lawunggana seperti tersentak dari mimpi oleh per- tanyaan Ki Bango Wadas, lalu segera menjawabnya. “Maaf, Guru. Memang benar bahwa aku tengah mela- munkan pengalaman yang silam. Aku ingin benar me- nengok desaku, Mijen. Telah cukup lama aku tinggal- kan.”

“Hmm, aku maklum akan hal itu, Lawunggana,” ujar Bango Wadas. “Aku tak akan menghalang-hala- ngimu, sebab tak akan ada bahaya yang perlu engkau kuatirkan. Engkau sudah cukup mendapat ilmu dari- ku dan aku percaya, bahwa segala persoalan akan da- pat engkau pecahkan sendiri.”

“Beribu-ribu terima kasih, Guru,” sambung La- wunggana. “Kini aku akan dapat membalas sakit hati- ku kepada Sela Ganden, Pakisan dan Sorogenen.”

“Yah, jadi kau sungguh-sungguh akan menghajar mereka bertiga?!” seru Ki Bango Wadas dengan girang- nya. “Bagus, bagus. Aku sangat gembira mendengar maksudmu tadi dan semoga engkau akan berhasil. De- ngan begitu mereka akan segera tahu, siapakah eng- kau ini. Yakni si Lawunggana murid tunggal Ki Bango Wadas ini! Dan mereka kita gentarkan dengan segera. Yah, nama Bango Wadas akan segera menggoncang- kan dada mereka dan muncul kembali setelah hampir tujuh tahunan lenyap dari otak mereka!”

Mendengar kata-kata itu, sudah barang tentu kalau Lawunggana terperanjat dan pikirannya yang tajam segera dapat mengambil kesimpulan bahwa gurunya ini pasti mempunyai satu rahasia. Mengapakah Ki Ba- ngo Wadas telah mengasingkan diri selama hampir tu- juh tahun, seperti yang baru saja dikatakannya tadi?!

“Lawunggana, berangkatlah engkau besok pagi ke desa itu dan engkau pasti akan dapat menemui gadis- mu lagi, yakni si Endang Seruni!” Ki Bango Wadas ber- kata lagi seraya menepuk-nepuk pundak Lawunggana, murid tunggalnya ini.

Mendengar kata-kata gurunya, Lawunggana seke- tika menjadi berseri-seri wajahnya dan roman muka Endang Seruni seperti terbayang di hadapannya de- ngan wajah cantik dan menggairahkan.

“Ah, hampir empat tahun ia tak kulihat lagi,” begitu bisik Lawunggana dalam hati. “Pasti sekarang ia lebih cantik.”

Dari wajah yang cerah itu, Ki Bango Wadas tahulah akan keadaan muridnya, dan tak lama kemudian ia- pun bangkit berdiri serta berkata pula — Lawunggana, bersabarlah untuk menjumpai kekasihmu itu. Seka- rang, ayolah kita pulang dulu. Hari telah cukup gelap!” “Eh... baik, Guru,” berkata Lawunggana agak terga- gap dan cepat-cepat ia bangkit serta melangkah meng-

ikuti gurunya ke arah barat.

Mereka berjalan beriring melewati semak-semak be- lukar dan sesudah melewati ladang kecil bertanaman jagung, merekapun tiba di sebuah hutan kecil dengan pepohonan-pepohonan yang rindang dan lebat.

Akhirnya setelah sampai pada sebuah batu besar, keduanya berjalan melingkar ke utara dan tibalah ke sebuah pondok bambu yang kecil tapi cukup rapi dan kelihatan bersih.

Sementara Ki Bango Wadas membuka pintu, La- wunggana segera menyalakan dian minyak dengan ba- tu apinya, maka terang-benderanglah ruangan itu. Pa- da dinding-dinding bambu, tergantunglah beberapa macam senjata, seperti tombak, golok dan keris serta beberapa kantong kain putih yang berisi obat-obatan, selembar kulit yang berisi tulisan-tulisan terpasang pula pada dinding tadi dengan rapi.

Sesudah Ki Bango Wadas serta Lawunggana mem- bersihkan diri, mereka berdua menyiapkan makan ma- lamnya yang terdiri dari nasi jagung dengan lauknya ikan sungai yang telah dibakar disertai sejumput cabai dan garam.

Terasalah oleh Lawunggana betapa lelah dan lapar- nya setelah ia menempuh latihan tataran terberat dari gurunya. Hidangan malam tadi dilahapnya dengan se- gera, sesuap demi sesuap.

“Segeralah engkau tidur, Lawunggana,” ujar Ki Ba- ngo Wadas kepada muridnya. “Agar engkau bisa ba- ngun pagi-pagi besok, sebab perjalananmu cukup jauh.”

Lawunggana mengangguk perlahan sambil menyele- saikan makannya, demikian pula Ki Bango Wadas.

Di luar, malampun semakin larut dan embun meng- hiasi dedaunan berbutir-butir gemerlapan laksana per- mata intan, sedang kabut malam perlahan-lahan me- rayapi permukaan tanah seolah-olah hendak menelan hutan kecil muara Kali Serang ini.

***

3

PULUHAN KAPAL dan perahu-perahu berlabuh di Bandar Jepara dengan tenangnya. Terkadang satu dua kapal bertolak dan ada juga yang datang untuk berla- buh.

Suara gemericik ombak-ombak kecil yang memecah ke tepi pantai terdengar silih-berganti diseling jeritan- jeritan burung camar laut yang terbang merendah dan berputar di angkasa.

Di pendapa Tamtama yang terletak tidak jauh dari Bandar Jepara, duduklah Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Jagayuda serta beberapa tamtama lainnya seperti Ki Tambakbayan dan Ranujaya. Juga Wira Sengkala serta Sandi Pradangga tampak pula duduk- duduk bersama mereka.

“Angger Mahesa Wulung,” ujar Ki Tambakbayan de- ngan hormatnya, “syukurlah bahwa Angger telah ber- hasil menghancurkan Kapal Hantu itu. Laporan telah aku kirimkan ke Demak dan lengkap menceritakan se- gala pengalaman Angger ketika berada di pulau Bor- neo.”

“Terima kasih, Bapak,” jawab Mahesa Wulung. “Ki Rikma Rembyak belum terdengar kabar beritanya se- dang Kapal Hantu tadi memang menggunakan senjata- senjata panah Braja Kencar dalam setiap pengacau- annya, seperti yang telah berhasil aku rampas serta kuserahkan kepada Bapak kemarin.”

“Yah, memang Ki Rikma Rembyak sukar dicari je- jaknya. Tapi Angger tak usah kuatir, sebab suatu keti- ka pastilah ia akan dapat kita bekuk batang lehernya!” demikian kata Ki Tambakbayan. “Sekarang Angger bo- leh beristirahat beberapa saat, sampai ada tugas baru bagimu nanti.”

“Ke manakah rencana Andika sekarang?” tanya Sandi Pradangga yang bermata tajam tapi berwajah ramah itu.

“Mmm, kami akan berkunjung ke Desa Mijen untuk menengok Ki Lurah Mijen. Di samping itu, ada sesuatu hal yang perlu aku tanyakan kepada Ki Lurah tadi.”

Sandi Pradangga agak berkerut oleh penuturan Ma- hesa Wulung, namun kemudian iapun tersenyum. “Ke Desa Mijen? Ah, agaknya ada urusan pribadi?!”

Mahesa Wulungpun tersenyum seraya berkata, “Be- nar, Kakang Sandi. Aku bersama Adi Pandan Arum akan datang menemui Ki Lurah Mijen, selama waktu istirahat itu.”

“Itu pilihan yang baik,” ujar Sandi Pradangga pula. “Semoga liburan Andika akan menyenangkan.”

“Terima kasih,” kata Mahesa Wulung pula. “Kami akan berangkat besok pagi dengan berkuda ke sana.”

Demikianlah, Mahesa Wulung, Pandan Arum, Ja- gayuda dan Ki Tambakbayan serta yang lain-lainnya masih asyik bercakap-cakap di Pendapa Tamtama itu sampai sang matahari condong ke langit barat.

Tepat sang senja mulai hadir, selesailah sudah per- cakapan mereka dan masing-masing lalu kembali ke tempat tinggalnya. Mereka boleh dikatakan telah me- rasa puas dengan hancurnya Kapal Hantu itu, sebab sejak itu pula terasalah bahwa pelayaran serta lalu-lin- tas perniagaan di lautan telah lancar kembali, pulih seperti sediakala. Nama Kapal Hantu telah lenyap dari percaturan dan dilupakan untuk selama-lamanya se- perti juga nama Monyong Iblis yang pernah mengge- gerkan kalangan tamtama serta prajurit Demak seba- gai seorang golongan hitam yang telah berkali-kali mengacau keamanan.

Keesokan harinya, di pagi yang berhawa segar, ber- paculah dua ekor kuda ke arah selatan meninggalkan Pendapa Tamtama dengan derapan yang cepat.

Ketika mereka berdua melewati pintu gerbang sela- tan kota Jepara, beberapa prajurit kawal segera meng- angguk dan memberi hormat kepada kedua penung- gangnya yang tidak lain adalah Mahesa Wulung serta Pandan Arum.

Debu serta kerikil berloncatan ke tepi jalan oleh de- rapan kaki-kaki kuda mereka. Di sepanjang jalan terli- hatlah para petani yang berangkat untuk menggarap sawahnya di daerah selatan kota Jepara.

Semula mereka agak terkejut melihat dua orang berpacu tadi. Tapi setelah dekat, orang-orang inipun seketika melambai-lambaikan tangannya serta meng- angguk hormat kepada kedua penunggang kuda ini.

Yah, siapakah yang tidak mengenal Mahesa Wu- lung, pendekat utama, serta Perwira Laut dari Armada Demak ini?

Mereka terus berpacu menuruti jalan yang menuju ke selatan, menyusuri pantai Jepara dengan hiasan ombak berdebur memecah ke pantai.

Sementara itu pula, jauh lebih ke sebelah selatan sana, sebuah perahu sampan yang kecil dan cukup hanya ditempati oleh seorang penumpang tengah me- luncur menentang arah aliran Kali Serang menuju ke arah tenggara.

Air sungai yang tenang mengalir menuju ke muara di sebelah barat laut, tidaklah merupakan halangan bagi si pendayung. Pemuda yang berdayung dan ber- kumis tebal ini tidak lain adalah Lawunggana, si murid tunggal dari si botak sakti Ki Bango Wadas. Tangan yang kokoh dan cekatan itu dapat berdayung dengan lincah dan silih berganti dari sisi kiri dan kanan.

Pantulan cahaya matahari yang menimpa permuka- an air, bergemerlapan menambah keindahan suasana pagi. Lawunggana kadangkala tersenyum sendiri bila memikirkan Desa Mijen yang akan ditujunya. Wajah Endang Seruni berkali-kali melintas di depan pelupuk matanya, sehingga Lawunggana semakin cepat men- dayung sampannya ini, sedang hatinya berkata-kata sendiri.

“Endang Seruni... hampir empat tahun aku tak me- lihatnya. Tapi cintaku kepadanya terasa makin subur dan mendalam. Ohh, mudah-mudahan iapun demikian pula tidak mengkhianati prasetya cintanya kepadaku.”

Sangat lajunya sampan pendekar berkumis tebal ini mengarungi air, ringan bagaikan selembar daun kering dan cepat laksana ikan berenang. Peluhpun mengalir dari dahi Lawunggana kemudian mengalir ke bawah bercucuran, namun kesemuanya itu tidaklah mengurangi semangat Lawunggana. Mala- han boleh dikata bahwa keringat-keringat tadi mem- persegar tubuhnya.

Tiba-tiba saja, sewaktu ia sampai pada bagian su- ngai yang kiri-kanannya bertebing pepohonan semak ilalang, bambu dan gelagah, hatinya merasa berden- tang-dentang dan seolah-olah ada beberapa pasang mata yang tengah mengawasinya.

Tebing pepohonan bambu, gelagah dan ilalang itu ternyata cukup panjang, dan inilah yang membuat La- wunggana semakin berdebar-debar dadanya.

Suara gemercik air yang terdengar sepanjang perja- lanan Lawunggana mendadak dipecahkan oleh suara berdebur dari tepi sungai sebelah kiri disusul oleh air memercik beberapa saat ke atas.

Mata Lawunggana yang tajam segera dapat melihat adanya bahaya yang mendatang.

“Hemm, inilah agaknya makhluk-makhluk yang mengintaiku sejak tadi,” gumam Lawunggana seorang diri. Ia melihat sebuah benda bergerak cepat, sedikit di bawah permukaan air dengan menimbulkan arus dan gelombang kecil ke arah sampannya.

“Buaya!” desis Lawunggana. “Sekarang aku harus berhati-hati menghadapinya!” Selesai berkata, ia cepat melolos pedangnya. “Aku harus mendahului menye- rangnya lebih dulu sebelum ekornya memukul badan perahuku yang kecil ini.”

Byuuur!

Sekali lagi terdengar suara dari tebing sebelah ka- nan. Pendekar berkumis tebal itu segera dapat melihat tubuh seekor buaya terjun ke dalam air, sedang buaya lainnya yang masih bermalas-malas acuh tak acuh ke- pada temannya yang terjun ke dalam air tadi.

Lawunggana terperanjat bukan main, ketika dua ekor binatang air itu dengan cepat berenang ke arah perahunya dari samping kiri dan kanan.

“Serangan berbareng!” desah Lawunggana seraya meletakkan pedang yang telah dilolosnya tadi dan ce- pat-cepat ia berdayung kembali disertai pengerahan se- luruh tenaga. Maka sejurus kemudian, perahu sampan Lawunggana meluncur ke depan lebih cepat dan aki- batnya, kedua ekor buaya tadi cuma menerkam air be- laka dan saling bertubrukan.

Buaya-buaya lainnya agaknya melihat bahwa se- rangan kedua temannya tadi menemui kegagalan dan mereka berterjunan ke dalam air, menimbulkan gelom- bang-gelombang kecil dan riak air bergejolak menye- ramkan.

Sepintas lalu Lawunggana teringat akan cerita Jaka Tingkir yang bertempur melawan buaya-buaya di Ke- dung Srengenge. Tetapi apakah itu cerita sesungguh- nya atau hanya cerita kiasan saja, ia tidaklah tahu de- ngan pasti.

Alangkah terkejutnya pendekar berkumis tebal ini apabila dari sebelah depanpun terlihat beberapa ekor buaya mencegat arah sampannya, sehingga sesaat La- wunggana seperti orang linglung terbengong-bengong tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya.

Dan waktu sesaat ini cukup bagi binatang air itu melakukan serangannya. Seekor di antaranya segera menabrakkan tubuhnya yang berkulit keras bergerigi sampai sampan Lawunggana yang kecil itu bergoncang hebat.

Untunglah pendekar muda ini tidak kehilangan ke- seimbangan dan ia cepat-cepat menyambar pedangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam dayung.

Kembali seekor buaya menyerangnya dari sebelah kiri dengan benturan punggung dan kali ini Lawung- gana tidak tinggal diam. Cepat ia menyabetkan dayungnya ke bawah, ke arah punggung si penyerang dan buaya menggeliat serta berputar di air, tetapi dayung di tangan kirinya seketika patah menjadi dua.

Tepat di saat itu seekor buaya lain tiba-tiba menya- betkan ekornya yang kokoh dan tebal dari sisi kanan perahu. Maka akibatnya sampan perahu kecil ini ber- goncangan keras dan oleng ke kiri lalu terbalik! Dan di sekitarnya beberapa ekor buaya telah mengapung.

“Hyaaat!” Lawunggana berteriak keras dan ia melen- ting ke atas berbareng perahu kecilnya itu terbalik. De- ngan sebuah loncatan yang manis, ia melayang turun dan mendarat di atas sebuah punggung seekor buaya.

Merasa punggungnya kena injak ini, si raja air se- gera menyabetkan ekornya. Tetapi Lawunggana yang selalu waspada secepat kilat melesat dari punggung buaya tersebut sambil tak lupa menghunjamkan pe- dangnya ke lekukan leher sebelah belakang binatang air ini.

Buaya tadi menggeliat hebat dan dari punggungnya menyembur darah merah pekat ke permukaan air su- ngai dan menyebar bercampur dengan raungan dari mulut lebarnya.

Tap!

Kedua kaki Lawunggana mendarat pula pada pung- gung buaya yang lain, untuk kemudian melenting pula ke arah punggung buaya lainnya sambil memutar pe- dangnya secepat angin lesus serta sekali-sekali dihun- jamkan ke punggung si raja air ini. Sebentar saja bebe- rapa ekor buaya telah berhasil dilukainya.

“Aku harus menepi selekasnya!” desis Lawunggana seraya bergerak ke arah tepi sungai sebelah kanan.

Demikianlah, dengan meloncat dari satu punggung buaya ke punggung buaya yang lainnya, Lawunggana segera tiba di tepi sungai sebelah kanan.

Ketika tiba di darat, ia masih melayangkan panda- ngannya ke tengah sungai dan terlihatlah beberapa ekor buaya berputar menggeliat-geliat akibat luka-luka tikaman pedang Lawunggana tadi, sedang buaya-bua- ya lainnya rupanya telah membenamkan diri dalam- dalam ke dasar sungai.

Akhirnya Lawunggana bergegas meninggalkan teb- ing sungai itu serta mendaki ke arah tanggul. Di de- pannya, jauh di antara hutan-hutan kecil di sebelah sana, terhamparlah petak-petak sawah yang kehijauan subur.

“Di sanalah terletak Desa Mijen!” desis Lawunggana. Iapun berjalan menuju ke arah petak-petak sawah itu.

Di langit matahari bersinar dengan teriknya dan be- berapa awan putih bagaikan gumpalan-gumpalan ka- pas raksasa mengalir ke arah selatan.

Hutan kecil makin bertambah dekat dan Lawung- gana masih ingat betul-betul akan masa-masa kecil- nya. Di tepi hutan kecil itulah terdapat sebuah mata air yang jernih, tempat ia dahulu bermain-main ber- sama Endang Seruni di masa kecil dahulu.

Sebuah dorongan batin yang kuat, seolah-olah me- merintahkan agar ia menengok mata air itu dan kare- nanya Lawunggana kemudian membelok ke barat, ke tepi selatan hutan kecil.

Tiba-tiba saja telinga Lawunggana menangkap se- buah alunan tembang, lagu Asmarandana yang me- nyayat, menggayut-gayut melambangkan sebuah hati yang rindu dan jatuh cinta tapi kemudian mencerita- kan kepatahan, hati yang hancur dan rusak. Hal ini membuat Lawunggana terhenyak, sampai ia terhenti langkahnya.

Ia sendiri seperti terkena dan dapat merasakan isi dari nyanyian yang mengharukan tadi. Akan tetapi, yang lebih membuat heran Lawunggana, adalah suara si penembang itu. Yah, ia seperti pernah mendengar suara itu, tapi siapakah orang itu?

Maka, secepatnyalah Lawunggana berlari ke arah mata air di sebelah selatan hutan kecil ini.

Ia ingin mengetahui, siapakah kiranya si penem- bang ini, dan itulah sebabnya ia menguakkan bebe- rapa dedaunan semak belukar di depannya. Sama se- kali ia tak bermaksud membuat kaget orang ini, se- hingga Lawunggana mengambil keputusan untuk mengintip terlebih dahulu.

Bersamaan terkuaknya dedaunan itu, tampaklah olehnya seorang gadis duduk membelakang berambut hitam bersanggul kecil dan ujungnya terurai ke bawah sampai ke punggung. Lehernya yang jenjang berkulit sawo matang itu, berkilatan terkena pantulan cahaya matahari yang menimpa air sendang.

Gadis tersebut duduk di atas sebuah batu hitam yang besar, dan menjorok di atas permukaan mata air ini, sedang tangannya memegang serta mempermain- kan setangkai bunga mawar merah.

Lawunggana semakin berdebar hatinya dan ia ingin mengenal serta melihat wajah gadis itu. Dengan me- langkah perlahan-lahan serta hati-hati sekali ia, meng- ambil arah memutar dan berjalan mengendap-endap ke arah samping gadis itu duduk. Sebentar berhenti dan sebentar melangkah kembali.

Namun entah apa sebabnya bila tahu-tahu kakinya telah salah memilih jalan sehingga terinjaklah seba- tang dahan kering yang seketika patah berderak! Maka seketika itu pula si gadis berpaling ke arah- nya dengan pandangan mata yang tajam sesaat, dan kemudian terbeliak lebar. Begitu pulalah dengan La- wunggana sendiri. Ia menatap gadis itu dengan mata tak berkedip seperti seorang yang terkena sihir dah- syat.

Kedua orang itu saling berpandangan beberapa la- ma tanpa kata-kata yang keluar dari mulut mereka.

Lawunggana mulai melangkahkan kakinya ke de- pan, sementara gadis itupun telah bangkit dan berja- lan ke arah Lawunggana mendatang. Keduanya masih saja saling berpandangan.

Ketika jarak antara mereka berdua semakin dekat dan kira-kira tinggal tiga tombak lagi, keduanya segera berlari saling menyongsong.

“Endang Seruniiii!” seru Lawunggana dengan suara bergetar parau.

“Kakang Lawunggana!” teriak lirih gadis itu dengan suara yang bergetar pula.

Jarak semakin dekat dan seperti digerakkan oleh tenaga yang sama, mereka berdua sama-sama me- ngembangkan kedua belah tangannya ke depan.

Sesaat kemudian terjadilah adegan yang mesra, tapi juga mengharukan. Endang Seruni, yakni gadis yang bermain-main dengan setangkai bunga mawar merah tadi kini mendekap Lawunggana dan memeluknya sa- ngat erat.

Begitu juga pendekar berkumis lebat itupun tak ke- tinggalan. Dipeluknya pula gadis bertubuh sintal dan padat ini dengan mesranya, seolah ia ingin menjadi sa- tu dan tak berpisah lagi. Yah, empat tahun perpisahan bukanlah waktu yang pendek bagi dua orang yang berkasih-kasihan.

“Kakang Lawunggana, oookh,” desah Endang Seruni seraya merebahkan kepalanya ke dada pendekar ber- kumis lebat ini, dan di situ merasakan ketenangan yang mendalam.

“Adi Endang Seruni,” bisik Lawunggana sambil membelai rambut gadis itu dengan usapan yang penuh kemesraan. “Aku selalu merindukanmu selama empat tahun ini.”

Endang Seruni menengadahkan kepalanya menatap wajah Lawunggana.

“Aku pun begitu... Kakang,” ujar gadis ini dan ta- ngannya menahan jari-jari pendekar muda yang me- narik dagunya ke atas. “Mmm engkau mulai nakal, Kakang.”

“Kau semakin cantik saja, Adi Seruni,” bisik La- wunggana setengah menggoda, membuat gadis itu ter- senyum dan memejamkan matanya yang berbulu hi- tam melengkung. Iapun tak tahu bahwa Lawunggana menundukkan kepalanya dan alampun seperti impian bagi kedua kekasih itu.

Sesaat kemudian, Endang Seruni berontak, mele- paskan pelukan pendekar muda itu serta meraba bi- birnya yang baru saja merasakan kehangatan mesra dari kekasihnya.

Gadis itu berpaling membelakangi Lawunggana di- sertai isakan-isakan kecil dengan tiba-tiba. Pikirannya menjadi bingung karena pertemuannya dengan La- wunggana yang telah berpisah sekian lama tanpa ka- bar beritanya.

Memang sebenarnya ia masih mengharap akan per- temuannya dengan Lawunggana ini. Tetapi bukankah ia belum lama sembuh dari kepatahan hatinya serta cintanya kepada Mahesa Wulung beberapa waktu yang lalu?

Lawunggana menjadi terperanjat oleh perubahan sikap Endang Seruni yang tiba-tiba, dan iapun berkata pelan.

“Adi Seruni,” ujarnya, “mengapakah engkau, Adi? Adakah seseorang yang telah merebut cintamu kepa- daku?”

Oleh pertanyaan tadi, Endang Seruni tak dapat ber- kata apa-apa, melainkan membisu saja sampai dide- ngarnya kembali Lawunggana berkata pula.

“Adi Seruni, ketahuilah bahwa aku tak pernah me- lupakanmu selama ini. Aku masih tetap mencintaimu, Adi!”

“Cinta?!” desis Endang Seruni dengan setengah me- ncibir dan bernada sumbang. “Huh, aku tidak sudi me- ngenal cinta lagi! Cinta telah membuatku hidup seng- sara!”

Sehabis berkata demikian, Endang Seruni kemu- dian berlari meninggalkan mata air itu, menuju ke arah jalan ke Desa Mijen, meninggalkan Lawunggana seorang diri terbengong keheranan.

“Seruni! Adi Seruni... tunggu dulu!” teriak Lawung- gana serta berusaha menahan Endang Seruni, tetapi gadis ini segera berseru dengan lantangnya.

“Jangan sentuh aku lagi! Biarlah aku merasakan kehancuran hatiku. Pergilah engkau, Kakang Lawung- gana. Biarkan aku seorang diri!”

Lawunggana terhenyak antara sadar dan ragu-ragu. Apa yang ditemuinya, adalah peristiwa yang mula- mula menyenangkan, mesra, penuh harapan hidup kemudian hancur oleh kenyataan yang penuh tanda tanya dan kegelisahan hidup, bercampur-aduk menja- di satu, membuat kepalanya seperti pusing dan akan meledak!

Ia masih dapat melihat arah lari gadis itu yang me- nuju ke arah gerbang Desa Mijen. “Apakah yang menyebabkan Endang Seruni mende- rita perasaan seburuk itu?! Heh, bagaimanapun juga aku harus mengetahui sebab musababnya!” desah La- wunggana. “Dan satu-satunya jalan untuk mengeta- huinya ialah bertanya langsung kepada Ki Lurah Mijen sendiri. Pasti ayah Endang Seruni itu akan bersedia menjelaskan duduk perkaranya!”

Dan akhirnya Lawunggana menyadari bahwa apa yang dialaminya saat ini adalah kejadian yang benar- benar ada dan bukanlah cuma sekadar mimpi belaka.

Pendekar muda inipun segera berlari ke arah jalan yang baru saja dilewati oleh Endang Seruni menuju ke gerbang Desa Mijen dengan cepatnya.

Beberapa orang yang melihat kejadian ini agak ter- cengang-cengang. Mereka merasa janggal bahwa seo- rang gadis seperti Endang Seruni ini, apalagi dia seba- gai putri seorang kepala desa telah berlari-lari di se- panjang jalan desa, ketika pulang ke rumahnya.

Tetapi orang-orang desa tadi akan lebih terkejut apabila ia melihat pula seorang pemuda berkumis teb- al dan berjenggot tampan juga berlari-lari kecil agak jauh di belakang Endang Seruni. Beberapa orang yang agak tertarik segera membuntuti mereka.

Demikianlah, tak lama kemudian Endang Seruni te- lah memasuki halaman pendapa kelurahan dan bebe- rapa orang yang tengah duduk di situ segera terkejut karenanya.

Ki Lurah Mijen dan istrinya serta beberapa abdi pe- layan yang berada di situ dengan tergopoh-gopoh me- nyambut putrinya seraya berseru.

“Endang Seruni... lho mengapa engkau berlari-lari, Nak?!”

Yang ditanya tidak lekas menjawab, melainkan ia merangkul ibunya dan merebahkan kepalanya pada pangkuan Nyi Lurah.

“Karena aku terkejut, Ibu,” ujar Endang Seruni de- ngan manja. “Ketika aku main-main di sendang, tiba- tiba datanglah Kakang Lawunggana menemuiku.”

“Lawunggana?! Pemuda yang telah sekian lama menghilang itu muncul kembali?” ujar Ki Lurah Mijen sambil tersentak kaget. “Di mana dia sekarang, Nak?”

“Aku lihat dia juga berlari mengikuti dan mungkin akan ke mari, Bapak,” kata Endang Seruni pula.

Nyi Lurah dapat merasakan bahwa anak gadisnya ini terengah serta berdebar-debar hatinya. Maka iapun mengajak putrinya ini untuk masuk ke dalam. “Ayo, Nduk. Marilah minum air dulu, biar hatimu tenang.”

“Baik, Bu,” kata Endang Seruni serta melangkah ke dalam rumah dalam rangkulan mesra ibunya, Nyi Lu- rah Mijen.

Ki Lurah segera bergegas ke luar halaman untuk menyatakan cerita putrinya, Endang Seruni. Jika seandainya benar bahwa Lawunggana datang ke ru- mahnya, ia akan menyambutnya dengan baik, sebab sebagai orang tua yang bijaksana ia telah tahu bahwa sejak kecil mula, antara Lawunggana dan Endang Se- runi telah terjalin persahabatan yang erat, bahkan orang tua inipun tahu bila persahabatan mereka ber- dua ini telah berkembang menjadi jalinan cinta yang pertama.

Sejak semula, Ki Lurah Mijen telah cocok dengan pemuda Lawunggana yang berperangai halus, lagi so- pan itu. Tetapi sayang beberapa tahun yang lalu, ia te- lah pergi meninggalkan desa ini tanpa ia tahu sebab mulanya.

Dalam penuh tanda tanya itu, serta ketidak-tahuan itu, Ki Lurah telah mengira bila antara Lawunggana dengan Endang Seruni, terjadi suatu pertengkaran. Namun dugaan inipun akhirnya keliru sama sekali. Sebab Endang Seruni sendiri telah berkata kepadanya bahwa antara mereka berdua tidak ada pertengkaran ataupun perselisihan.

Lebih heran lagi Ki Lurah Mijen, demi Endang Se- runi bercerita pula kalau sesungguhnya ia telah berca- kap-cakap di pekarangan rumah pada suatu sore, se- belum Lawunggana, akhirnya menghilang sama sekali beberapa tahun lamanya. Nah, jika demikian, pastilah terjadi sesuatu yang menyebabkan pemuda itu pergi dari desa ini!

Begitulah, kejadian yang telah hampir empat tahun terjadi itu membuat Ki Lurah Mijen teringat kembali akan segala kejadian dan peristiwa yang silam.

“Permisi, Ki Lurah!” terdengar suara yang bergetar dari luar halaman, menjadikan orang tua ini geragapan bagai terbangun dari mimpi.

“Eh, ooo... engkau adalah Lawunggana, bukan?” bertanya Ki Lurah Mijen seraya mempersilakan tamu mudanya ini masuk ke halaman. “Marilah masuk, Nak. Wah, engkau sekarang amat gagah.”

Yang dipuji sangat berdebar dan tertunduk malu, kemudian berjalan di samping Ki Lurah menuju ke pendapa rumah. Mereka kemudian duduk di ruang pendapa dan Ki Lurah yang telah tidak sabar itu lekas- lekas membuka percakapan.

“Angger Lawunggana,” ujar Ki Lurah Mijen, “keda- tanganmu sangat mengejutkan kami, tetapi kamipun merasa senang pula.”

“Terima kasih, Ki Lurah. Tapi harap dimaafkan ka- lau aku telah mengejutkan orang-orang di desa ini.”

“Tak apa, Ngger. Tak apa. Meskipun Andika telah pergi menghilang dari desa ini beberapa tahun la- manya, bagi kami Angger masih kami anggap pendu- duk desa ini,” berkata Ki Lurah Mijen dengan ramah. “Sekarang, katakanlah kepadaku, Angger Lawunggana. Agaknya ada sesuatu yang amat penting, menilik keda- tanganmu langsung ke mari dengan peluh yang bercu- curan.”

“Memang penting, Bapak,” jawab Lawunggana. “Se- belum di desa ini, aku telah melewati sebuah mata air. Di situ aku bertemu seorang gadis yang ternyata ada- lah Adi Endang Seruni. Pertemuan kami yang tiba-tiba itu sangat menggembirakan bagi kami. Tetapi sayang, suasana gembira tadi berubah ketika aku berkata ke- padanya bahwa aku masih tetap mencintainya. De- ngan tiba-tiba saja Adi Endang Seruni berlari mening- galkanku seorang diri seraya berkata bahwa ia tidak ingin mendengar kata-kata cinta lagi.”

Ki Lurah Mijen mengangguk-angguk oleh ketera- ngan dan tutur kata Lawunggana tadi. Setelah berdiam sesaat kembali ia berkata, “Angger Lawunggana, semo- ga Angger tidak lantas terkejut oleh sikap Endang Se- runi tadi, dan maafkanlah dia seluas-luasnya. Me- mang, sudah agak beberapa lama Endang Seruni se- ring bersikap begitu dan suka melamun, menyendiri di tempat-tempat yang sunyi. Hal ini tentu menyusahkan kami sekeluarga, dan orang-orang kampungpun juga turut berprihatin karenanya.”

“Eh maaf, Bapak. Adakah sebab-sebabnya sampai Adi Endang Seruni bersikap demikian itu?”

“Memang, Angger. Ada sebab-sebabnya, namun per- soalan ini tidak dapat dipersalahkan terhadap orang lain semata-mata. Sebab begitu sulit dan menyusah- kan.”

“Jika diijinkan, aku ingin mengetahuinya, Bapak,” ujar Lawunggana pula. “Sebab bagaimanapun juga, aku masih mengharapkan Adi Endang Seruni.” “Sekarang dengarlah, Angger. Beberapa waktu yang lalu, di daerah ini pernah dikacau oleh orang-orang ja- hat dari gerombolan Topeng Reges. Mereka sering me- ngacau dan membuat bencana di sana-sini. Malah ak- hirnya dengan kurang ajar mereka berani menculik Endang Seruni.”

“Jadi Adi Endang Seruni pernah diculik?!” ujar La- wunggana.

“Benar, Angger. Secara kebetulan seorang perwira dari Demak telah menolongnya. Dan dengan begitu, seharusnya dialah yang menjadi calon suaminya. Se- bab sejak diculiknya Endang Seruni, Bapak telah me- ngadakan sayembara, bahwa siapa yang berhasil membebaskan Endang Seruni dari tangan orang-orang Topeng Reges itu, ia akan kujadikan suaminya.”

“Tetapi, mengapakah selanjutnya, Bapak?” potong Lawunggana dengan hati berdebar-debar.

“Perwira Demak tadi ternyata menolak keputusan sayembara tadi, sebab ada dua hal yang membuatnya bersikap begitu. Pertama, ia tidak sengaja memasuki sayembaraku itu dan pertolongannya tadi hanyalah terdorong oleh suatu kewajiban belaka. Kedua ia telah dicintai oleh seorang gadis lain dan iapun telah men- cintainya pula. Nah, kedua hal itulah yang menyebab- kan Endang Seruni tidak jadi kawin dengan perwira Demak tadi, sehingga selanjutnya menyebabkan En- dang Seruni berkelakuan pemurung dan pelamun. Ka- dang-kadang ia lekas marah dan mudah tersinggung.”

“Heh, keterlaluan si Perwira Demak itu,” ujar La- wunggana setengah jengkel. “Seharusnya ia tak me- nolak keputusan sayembara itu. Meskipun hal tadi ju- ga berarti bahwa aku akan kehilangan Adi Endang Se- runi. Namun toh aku tak akan menyesal, karena En- dang Seruni akan mendapatkan seorang suami yang berpangkat.”

“Memang benar. Akan tetapi kami juga tidak bisa menyalahkan dia. Dia punya alasan-alasan yang dapat kita pahami, Angger.”

“Siapa nama Perwira Demak itu, Bapak?”

“Dia bernama Mahesa Wulung,” ujar Ki Lurah Mi- jen. “Dan dia pulalah yang dapat membinasakan Ki Topeng Reges!”

“Hebat! Luar biasa!” desis Lawunggana kaget sete- ngah kagum. “Nama kedua orang tadi telah terkenal di daerah sekitar Asemarang, Demak dan Jepara. Mereka adalah orang-orang yang sakti, Ki Lurah.”

“Memang benar, Angger Lawunggana.”

“Itulah sebabnya aku ingin bertemu dengan Mahesa Wulung.”

“Apakah perlunya, Angger?” Ki Lurah Mijen berkata dengan suara yang mengandung rasa cemas. “Apakah Angger. ”

“Aku kepingin mengukur tenagaku dengan dia, Ba- pak,” sahut Lawunggana tajam. “Supaya aku tahu sampai dimanakah kesaktian seorang Perwira Demak yang telah berani menolak seorang gadis secantik En- dang Seruni!”

“Ah, janganlah menambah kesulitan sendiri, Ang- ger,” desah Ki Lurah Mijen. “Kami sendiri telah menco- ba melupakan kejadian itu dan lagi alasan-alasan Ma- hesa Wulung dapat kami pahami. Andapun pasti men- gerti, bahwa cinta dan perkawinan tidak selalu harus dipaksakan.”

“Itu benar. Tetapi apakah kedudukan Bapak tidak merasa diremehkan oleh sikap Mahesa Wulung tadi?”

“Sebagai seorang yang berpikir dangkal, sikap Ma- hesa Wulung tadi memang membuatku marah. Namun sebagai seorang kepala desa dan seorang tua yang ber- pikir luas aku tidak merasa dihinakan olehnya.”

“Itu pendapat Bapak! Akan tetapi pendapatku lain lagi,” kata Lawunggana dengan suara keras. Agaknya pengaruh didikan Ki Bango Wadas yang keras dan ta- jam benar-benar telah merasuk dan meresap ke tulang sumsum dan hatinya. “Ketahuilah, Ki Lurah. Sebagai seorang yang mencintai Endang Seruni, perbuatan ser- ta sikap Mahesa Wulung tadi sangat menyakitkan ha- tiku. Maka aku wajib membalaskan perbuatannya itu.” “Janganlah kau turuti bisikan hati dendammu itu, Angger Lawunggana. Sangat berbahaya, dan lagi tidak akan membawa faedah bagimu,” ujar Ki Lurah Mijen

kecemasan.

Meskipun telah dibujuk-bujuk, Lawunggana tidak mau mengerti akan kemauan orang tua ini. Bahkan dengan jengkelnya ia telah menggenggam sebuah cangkir tembikar yang ada di sampingnya dan kemu- dian meremasnya sekali, sehingga hancur dengan sua- ra berkeretakan lalu ditaburkan ke lantai dalam ben- tuk taburan serbuk tanah hitam kemerahan.

Keruan saja Ki Lurah Mijen terkejut bukan main melihat hal ini. Tidak dikiranya sama sekali Lawung- gana mampu berbuat sehebat begitu dan mengerikan hatinya. Jika seandainya cangkir tadi adalah tangan manusia, pastilah bisa dibayangkan kalau tangan ter- sebut akan lumat!

“Biar, aku akan mencari Mahesa Wulung serta mengadu kekuatan dengan dia. Aku akan menghajar- nya!” teriak Lawunggana seraya bergegas melangkah ke luar halaman.

“Tunggu, Angger Lawunggana!” seru Ki Lurah Mijen, sehingga Lawunggana terhenti langkahnya di ambang pintu. “Engkau jangan berbuat menuruti kehendak nafsu amarah, Angger. Itu tidak akan baik jadinya dan engkau akan menyesal nantinya!”

“Menyesal? Tidak! Aku tidak akan-menyesal!” ben- tak Lawunggana dengan suara keras. “Apa yang aku ucapkan akan betul-betul kulaksanakan!”

“Ingatlah, Angger Lawunggana. Mahesa Wulung adalah seorang Perwira Kerajaan dan dia bukan orang sembarangan!”

“Justru itulah, Bapak. Seorang Perwira Kerajaan harus betul-betul berlaku bijaksana!”

“Tak ada seorang manusia yang bersifat sempurna, Angger. Baik Mahesa Wulung, aku sendiri ataupun Angger Lawunggana pula. Sebagai seorang ayah aku telah bersalah karena menyayembarakan anakku, dan Angger sebagai seorang yang mencintai Endang Seruni, terlalu lama Angger meninggalkannya tanpa kabar be- rita apapun. Nah, itulah sekadar contoh kecil akan ke- salahan-kesalahan kita.”

“Betul! Memang semua itu benar!” sahut Lawung- gana. “Tak ada manusia yang sempurna. Akan tetapi ketidak-sempurnaan jangan terlalu menghalangi ma- nusia untuk berbuat bijaksana!”

“Angger Lawunggana, apakah maksudmu yang se- benarnya? Apakah maksudmu untuk mengadu tenaga dengan Mahesa Wulung tidak semata-mata didorong oleh nafsu amarahmu saja?”

“Itu bukan menjadi soal! Pokoknya dia akan kusu- ruh meminta maaf kepadaku dan kepada Adi Endang Seruni. Dan kemudian dia harus mengembalikan cinta Adi Endang Seruni kepadaku!”

Lawunggana sangat jengkel dan marah tampaknya, maka segera ia akan bergegas ke luar. Namun tepat di saat itu pula dari dalam rumah muncullah Endang Se- runi serta Nyi Lurah.

“Kakang Lawunggana, janganlah kau turuti kema- rahan hatimu itu!” seru Endang Seruni seraya mena- han lengan Lawunggana. Dan untuk kedua kalinya pu- la Lawunggana terhenti langkahnya. “Engkau ingin membuatku lebih bingung dan lebih menderita lagi?!”

“Mengapa engkau berkata demikian, Adi Seruni? Apakah itu berarti engkau melarangku untuk berta- rung melawan Mahesa Wulung?”

“Yah, memang aku melarangmu, Kakang!”

“Nah, kalau begitu artinya engkau masih mengha- rapkan cinta dari Mahesa Wulung!” bentak Lawungga- na.

“Salah! Engkau terlalu kejam jika berkata demikian. Memang mula-mula aku mengharapkan begitu karena kekosongan hatiku dan mengingat jasa-jasanya. Tetapi sekarang tidak lagi,” ujar Endang Seruni sambil ter- isak-isak. “Sekarang antara aku dan Mahesa Wulung tidak ada apa-apa lagi, sebab sesungguhnya dia telah mempunyai seorang kekasih dan sudah sepantasnya- lah bila ia menolakku. Kami menghargai sikapnya itu.”

“Jadi engkau sendiri tidak merasa dihinakan oleh- nya, Adi Seruni?!” potong Lawunggana dengan sete- ngah heran.

“Sama sekali tidak! Jika ia menerimanya, itu berarti Kakang Mahesa Wulung mengkhianati kekasihnya,” ujar Endang Seruni.

“Hmmm!” desah Lawunggana manggut-manggut dan mulai memahami keadaan yang dihadapinya. Meskipun demikian, dia adalah murid Ki Bango Wadas yang beradat keras dan tidak suka mengalah, lebih- lebih lagi dia adalah murid tunggalnya. Maka dengan sendirinya dia tidak mau begitu saja mencabut mak- sudnya dan berkatalah Lawunggana kemudian. “Baik- lah Adi Seruni, aku berjanji tidak akan mencari Ma- hesa Wulung. Akan tetapi jika aku sampai berjumpa dengan dia, di suatu tempat di mana saja, aku akan tetap membuat perhitungan serta mengadu tenaga de- ngan dia.”

Mendengar keterangan Lawunggana ini, baik Ki Lu- rah Mijen, istrinya maupun Endang Seruni sendiri me- rasa sedikit lega. Dalam hati mereka berharap, semoga antara Mahesa Wulung dan Lawunggana tidak akan pernah saling berjumpa. Terutama dengan Endang Se- runi yang tidak menginginkan terjadinya bentrokan di antara mereka berdua.

Ia telah tahu bahwa Mahesa Wulung adalah seorang Perwira Demak yang sakti, sedang Lawunggana pun juga seorang yang berilmu tinggi. Telah dilihatnya be- tapa dengan mudahnya Lawunggana meremas sebuah cangkir tembikar sampai hancur. Ini sudah cukup se- bagai bukti akan kehebatan tenaga dalam Lawungga- na.

Pendapa kelurahan ini sesaat menjadi lengang, sepi dan masing-masing manusia yang ada di situ terdiam membisu seperti tenggelam dalam renungannya sen- diri-sendiri.

Angin sejuk bertiup dengan lembut menyapu pu- cuk-pucuk pepohonan di halaman Kelurahan Mijen dan udara panas segera tersapu bersih. Kini hawa se- gar terasa melonggarkan dada dan menyegarkan kulit.

Dalam hati kecil Endang Seruni merasa gembira ju- ga oleh kedatangan kembali Lawunggana di Desa Mijen ini. Hanya saja ia masih bercemas hati pula, jika men- gingat akan tekad Lawunggana yang ingin mengadu tenaga dengan Mahesa Wulung.

Sementara itu Ki Lurah Mijen sendiri merasa agak senang dengan munculnya kembali si Lawunggana, se- bab ia berhadap mudah-mudahan dengan jalan inilah Endang Seruni dapat menjadi sembuh dari penyakit murung dan melamunnya. Bukankah semasa dulu ke- dua anak muda ini saling bergaul erat dan saling men- cinta?

Kebisuan tadi tidak berlangsung lama, sebab tiba- tiba saja dari arah jalanan di muka halaman kelura- han, terdengarlah suara menggeledek keras, membuat semua orang yang berada di pendapa kelurahan terke- jut semuanya.

“Cecunguk Lawunggana! Kau berani menginjak ta- nah pedesaan Mijen ini serta membuat keributan di si- ni hee!?” terdengar teriakan seorang berperawakan ke- kar yang ternyata adalah Sorogenen.

“Oooh, ayah! Lihatlah, Paman Sorogenen telah me- ngetahui kedatangan Kakang Lawunggana!” ujar En- dang Seruni dengan sangat cemasnya.

“Tenang sajalah, Nak. Engkau tak perlu cemas de- ngan hal ini. Serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Ki Lurah Mijen dengan tenangnya.

“Benar, Pak. Semoga tidak akan ada korban apa- apa serta tidak terjadi pertumpahan darah,” desah En- dang Seruni kecemasan.

Tiba-tiba saja Lawunggana telah meloncat ke luar halaman sambil berteriak garang. “Sorogenen! Heh, heh, heh, heh. Ternyata engkau masih mengingatku dengan baik dan engkau tentunya masih mengingat ketika engkau menghajar serta menjebloskanku ke da- lam lumpur comberan!”

“Memang aku tak pernah melupakanmu, cecunguk! Meskipun engkau telah berhias kumis tebal serta jeng- got yang bagus, tetapi aku tak pernah lupa akan tam- pangmu! Sayang, kedua temanku telah tidak ada lagi. Kalau masih ada, pasti mereka akan bersenang hati menghajarmu kembali!” teriak Sorogenen.

“Bah! Engkau jangan menganggap seperti dulu-dulu lagi! Sekarang engkau boleh mencoba tenagaku dan jangan menyesal bila engkau akan segera dapat aku robohkan!”

“Heh, besar sangat mulut kosongmu itu! Sebelum bermain-main denganku coba lihat dulu permainan pedangku ini!” teriak Sorogenen sekaligus melolos pe- dangnya serta melihat ke atas sebuah pohon mangga di mana buahnya tengah melebat tumbuh.

“Hyaaat!” Sorogenen meloncat ke atas dengan si- gapnya seraya melibatkan pedangnya dan berbareng tubuhnya tiba di tanah kembali, berjatuhlah sebutir buah mangga dengan terbelah menjadi empat bagian dan terserak di atas tanah.

“Heh, heh, heh, aku kagum akan kepandaianmu, sobat! Tapi jangan keburu berbangga sebelum melihat jurus pedangku pula!” demikian Lawunggana berkata seraya memetik tiga lembar daun mangga sekaligus di- lemparnya ke udara. Setelah itu dengan secepat kilat tangannya bergerak mencabut pedangnya, disusul oleh tebasan yang dilakukannya amat cepat.

“Hyaaaat!”

Sebuah sinar kilatan pedang Lawunggana melintas di udara, kemudian ketiga lembar daun tadi melayang ke atas tanah, masing-masing terpotong tiga bagian!

Melihat ini semua, orang-orang di halaman kelura- han serentak terperanjat kagum. Begitu pula Soroge- nen sendiri ikut terperanjat pula, sedang dalam ha- tinya ia mengumpat-umpat oleh pameran yang dilaku- kan oleh Lawunggana ini.

Namun Sorogenen sama sekali tidak mau menun- jukkan kekalahannya dalam hal olah senjata ini. Seba- gai seorang yang pernah bersahabat serta berjuang bersama-sama dengan Mahesa Wulung, sedikit banyak ia telah banyak mengetahui serta belajar dari permai- nan pedang Mahesa Wulung yang terkenal dengan nama Sigar Maruta.

“Lawunggana!” sekali lagi Sorogenen berteriak. “Tunjukkan semua kepandaianmu supaya aku bisa mengukur sampai di mana aku harus mengatasi ke- saktianmu!”

Mendengar kata-kata ini, wajah Lawunggana seke- tika berubah menjadi warna merah membara, me- nunjukkan betapa ia marah dan geramnya. Ia melang- kah ke samping sedikit lagi, lalu berhenti tepat di ba- wah sebuah dahan pohon.

“Sorogenen!” terdengar Lawunggana berteriak nya- ring. “Lihatlah kecepatan pedangku ini untuk terakhir kalinya. Setelah itu kau akan merasakan sendiri kehe- batannya!”

Semua orang berdebar-debar mendengar kata-kata Lawunggana ini, lalu disusul sebuah teriakan melengk- ing dibarengi tubuh Lawunggana melesat ke atas, se- mentara pedangnya sekaligus menebas ke atas dengan bunyi berdesing.

Sejurus kemudian, Lawunggana melayang turun sambil menyarungkan pedangnya kembali dan orang- orang di situ masih saja terpesona melihatnya. Tam- paknya pedang Lawunggana tak mengenai apa-apa.

“Nah, sekarang lihatlah ke atas dahan pohon di atasku ini,” Lawunggana berkata kepada Sorogenen. “Aku kuatir kau tidak akan dapat menyamainya, so- bat!”

Sorogenen serta orang-orang yang berada di hala- man itu serentak terhenyak kaget demi sesaat kemu- dian mata mereka melihat bagaimana daun-daun hijau dahan tersebut satu demi satu, selembar demi selem- bar, jatuh melayang ke bawah dengan tangkai daun- nya berbekas irisan terpotong oleh mata pedang La- wunggana, tidak kurang dari lima belas lembar daun jumlahnya!

Sorogenen mendesis penuh kagum. Ia tak mengira bahwa anak muda yang dulu pernah dihajar oleh Sela Ganden habis-habisan, kini telah mencapai kepan- daian yang begitu luar biasa hebatnya. Sesungguhnya saja Sorogenen tidak ingin mengungkap-ungkapkan peristiwa yang lama. Jika ia menegur Lawunggana, itu hanyalah sekadar untuk memperingatkan agar pemu- da ini tidak membuat keributan-keributan. Benar- benar ia menguatirkan akan hal ini dan agaknya saja ia telah menduga kalau peristiwa ini akan berlarut- larut.

Bagaimanapun saja kekuatiran Sorogenen, sebagai seorang jagabaya atau penjaga keamanan desa ia tidak mudah dipertakuti oleh permainan senjata dari seo- rang anak muda seperti Lawunggana ini. Itulah sebab- nya iapun berseru kepada Lawunggana dengan keras- nya, “Heh, Lawunggana! Kau kira aku tak mampu ber- buat seperti itu pula?!”

“Hah, ha, ha, ha. Panas hatimu ya!?” ejek Lawung- gana kepada Sorogenen. — Sekarang, tunjukkanlah kemampuanmu pula!”

“Bagus! Akan kutunjukkan permainan yang tidak kalah baiknya, supaya kaupun sadar dengan siapa engkau berhadapan!”

Sorogenen mengakhiri kata-katanya dan tahu-tahu ia dengan sebat melenting ke atas seraya menyabetkan pedangnya.

Wesss! Trak!

Terdengarlah sebuah benturan, disusul kemudian tubuh Sorogenen tiba kembali di tanah dengan enak- nya.

Beberapa saat kemudian tidak juga terlihat adanya kejadian apa-apa. Maka Lawunggana seketika berte- riak mencemoohkan. “Hah, mana, Sorogenen? Mana kehebatan ilmu pedangmu itu?! Kalau tak becus, ja- nganlah sekali-sekali mencoba beraksi di depan hi- dungku!”

“Bersombonglah sesukamu, Lawunggana. Akan te- tapi, lihatlah lebih dulu dahan pohon di atasku ini!” sahut Sorogenen tajam. “Setelah itu kau boleh tertawa semaumu!”

Lawunggana terpaksa melihat ke atas, ke arah da- han pohon yang tumbuh menjulur tepat di atas Soro- genen, sedang orang-orang lainpun juga memperhati- kan dahan itu.

Tiba-tiba   Pletaaak!

Dahan pohon itu terbelah menjadi dua, dengan ma- sing-masing bagian membuka keluar dan bergetar.

“Ookh!” Orang-orang di situ termasuk Lawunggana terguman lirih melihat dahan yang mula-mula tampak tidak apa-apa, tahu-tahu telah terbelah.

Dengan begitu tahulah mereka bahwa sebenarnya dahan tadi telah beberapa saat terbelah, tetapi baru saat inilah ia kelihatan dengan jelas dan gamblang!

Dada Lawunggana bergoncang pula oleh kejadian itu dan ia mengakui diam-diam bahwa ilmu pedangnya dengan ilmu pedang Sorogenen ini tidaklah terpaut ter- lalu banyak. Tetapi tentang ilmu silat bertangan ko- song, belum tentulah demikian.

“Nah, kau bisa lihat, Lawunggana, bahwa ilmu pe- dangku tidak terlalu jauh ketinggalan dari ilmu pe- dangmu! Maka lebih baik kau lekas berlalu saja dari Desa Mijen ini!”

“Kurang ajar!” teriak Lawunggana demi mendengar kata-kata pengusiran dari Sorogenen tadi. Serentak marahnya meluap bagaikan air bah yang tak terben- dung lagi dan kemudian meledaklah kata-katanya. “Sorogenen! Kau tak dapat memperlakukanku seperti dulu-dulu lagi. Kalau kau masih ingin juga menco- banya, marilah lakukan maksudmu itu!”

“Haaa, jadi dengan kata-kata kau tak dapat aku pe- ringatkan, hee! Rupanya kau menghendaki keke- rasan?!” teriak Sorogenen dengan marahnya.

“Yah, dengan kekerasan sekalipun aku tak akan ta- kut menghadapimu!” seru Lawunggana menantang.

“Celurut busuk!” Sorogenen berteriak sekaligus me- lesat ke arah pendekar muda berkumis lebat ini.

“Matilah engkau, Lawunggana!”

Tak ubahnya sebuah kitiran maut, pedang Soroge- nen berputar sangat cepatnya melanda ke arah La- wunggana diiringi bunyi suitan nyaring mengiris hati.

“Hyaaat!”

Lawunggana terperanjat bukan main! Pedang Soro- genen itu dilihatnya sangat cepat meluncur ke arah di- rinya. Namun Lawunggana masih sadar dan secepat pedang itu meluncur, ia mengendap serendah mungkin ke samping.

Syraaat! Trak! Tak! Tak!

Terdengar bunyi serentetan yang mengejutkan dan tiba-tiba tiga potongan dahan pohon di dekat Lawung- gana tertebas patah.

Melihat demikian hebat serangan Sorogenen, La- wunggana sambil mengendap melolos pedangnya seka- ligus menyabetkan ke arah kaki Sorogenen.

“Haap!” Dengan lincah Sorogenen melenting ke atas hingga pedang Lawunggana berlalu menebas angin dan kedua kakinya selamat!

Akan tetapi Lawunggana cepat merubah serangan- nya lagi. Pedangnya yang tadi mengancam kaki Soro- genen bergerak ke atas, menusuk ke dada lawannya. Orang-orang yang menyaksikan terpekik berbareng melihat betapa ujung pedang itu meluncur deras ke- dada Sorogenen. Mereka membayangkan bahwa seben- tar lagi dada Sorogenen akan berlubang tembus sam- pai ke punggung! Tampaklah Endang Seruni meme- jamkan mata kengerian.

“Uuuh!”

Desah terkejut keluar dari mulut orang-orang yang ada di halaman kelurahan, sampai Endang Seruni ter- paksa membuka matanya kembali.

Mereka melongo ketika tubuh Sorogenen berjumpa- litan ke belakang beberapa kali dan kini giliran kedua kalinya pedang Lawunggana menusuk udara kosong!

Oleh serangan-serangannya yang gagal, Lawungga- na segera menjadi lebih meluap marahnya dan mener- janglah ia menyerbu ke arah Sorogenen.

Tentu saja Sorogenen amat terperanjat melihat de- sakan Lawunggana yang tanpa memberi kesempatan kepada dirinya, maka secepat kilat ia menangkis teba- san pedang lawannya.

Traaang!

Terdengar sebuah benturan nyaring dan terasa bahwa pedang Sorogenen tergetar, memedihkan jari- jemarinya dan hampir-hampir saja pedangnya terlepas! Sedang Lawungganapun terhenyak kaget oleh ben- turan tadi. Ia merasa kalau tebasan pedangnya seolah- olah menghantam sebuah tembok karang, sehingga ia

terpental ke belakang beberapa langkah.

Sekarang, mereka berdua masing-masing sadar, ka- lau kekuatan mereka hampir seimbang dan sama kuatnya.

Itulah sebabnya Lawunggana tidak lekas-lekas me- nyerang kembali, sementara Sorogenen dengan cepat bersiaga kembali. Keduanya berhadapan sesaat tak ubahnya dua ekor jago yang tengah bersiap-siap untuk berlaga, sementara kedua mata mereka saling tentang- menentang dengan tajamnya.

Lawunggana sadar bahwa Sorogenen mempunyai kekuatan yang luar biasa dan untuk selanjutnya ia ha- rus berhati-hati. Sebaliknya, Sorogenen tahu kalau La- wunggana mempunyai tenaga dalam yang hebat juga. Hal ini terasa ketika ia berbentur pedang dengan dia, seluruh buku jari-jarinya menjadi pedih dan hampir saja pedangnya terlempar jatuh!

Sejurus kemudian sesudah keduanya saling bersia- ga, mendadak Lawunggana menerjang ke arah Soroge- nen, langsung dengan tusukan mematikan ke arah tenggorokannya.

Hampir saja Sorogenen terlengah bila ia tidak men- dengar bunyi desing pedang lawannya yang deras me- luncur ke arahnya. Untungnya ia cepat berkelit dan ganti pedangnya dengan cepat menebas ke arah lengan Lawunggana.

Tentu saja pendekar berkumis tebal ini secepat kilat menarik lengannya kembali seraya mengutuk jengkel. “Setan alas!”

Selanjutnya ia membalasnya dengan sebuah sabe- tan mendatar ke arah lambung Sorogenen membuat lawannya ini cekakaran bergulingan ke belakang me- nyelamatkan perutnya. Dengan begitu mereka menjadi lebih beringas dan pertempuran berlangsung tambah sengit.

Suatu kali Lawunggana berhasil melenting ke udara menghindari tebasan pedang Sorogenen, meskipun akhirnya ujung pedang itu sempat menyobek kain ba- tiknya.

Alangkah marahnya Lawunggana dan tiba-tiba pula ia menyambar ke bawah sekaligus menetakkan pe- dangnya menuju kepala Sorogenen.

Claaang!

Sorogenen buru-buru menangkis dengan pedangnya pula dan sekali ini celakalah dirinya, sebab oleh geta- ran pedang-pedang itu, kembali jari-jemari menjadi pe- dih dan terlepaslah pedangnya, terpelanting jatuh ke tanah.

Maka terdesaklah Sorogenen dan sebelum sempat ia bergerak lebih lanjut, tahu-tahu ujung pedang La- wunggana ini telah menempel di dadanya.

“Heh, heh, heh, nyawamu sudah berada di ujung pedang ini, Sorogenen! Tahu kau, hah?! Tapi aku bu- kan seorang pengecut yang suka membunuh orang tak bersenjata ataupun suka main keroyok seperti tam- pangmu itu!”

“Jangan cerewet! Kalau mau bunuh aku, bunuh- lah!” seru Sorogenen keras-keras.

“Hah, tak perlu kau berkaok-kaok, Sorogenen,” ujar Lawunggana seraya menyarungkan kembali pedang- nya, dan secepat kilat ia menyabetkan sisi telapak ta- ngannya ke arah kepala Sorogenen.

Plaaak!

Demikian cepatnya serangan ini sampai ia tak sem- pat menghindar sama sekali dari serangan Lawungga- na, maka terkaparlah Sorogenen jatuh ke tanah sete- lah pelipisnya kena hajaran Lawunggana tadi.

Seluruh pandangan mata Sorogenen seketika ber- kunang-kunang dan sebelum ia sempat berbuat sesua- tu, kepalan tinju Lawunggana telah menyambar da- gunya.

Praak!

Sorogenen terpelanting kembali ke atas tanah dan dari sudut bibirnya mengalirlah setetes darah segar, diiringi rintihan pelan. Pandangan matanya sebentar kabur, sebentar jelas menatap ke arah Lawunggana yang meringis kepuasan melihat dirinya terhampar di tanah, di halaman Kelurahan Mijen.

“Nah, begitulah rasanya kalau orang dihajar, Soro- genen!” seru Lawunggana geram. “Kau masih ingat ke- tika engkau mengeroyok serta menghajarku?!”

Duuk!

Habis berkata itu, Lawunggana sekali lagi melan- carkan tendangan kaki ke pundak Sorogenen, sehingga tubuhnya terjerembab terguling di tanah dengan me- rintih-rintih. Tetapi rupanya Lawunggana masih meng- anggap belum cukup balasan yang diterima oleh Soro- genen. Itulah sebabnya beberapa pukulan lagi yang sangat deras bersarang pada kepala dan tubuh Soro- genen, sampai orang ini berlepotan darah dan megap- megap.

“Tahan kemarahanmu, Kakang Lawunggana!” tiba- tiba terdengar ucapan lembut bernada cemas dari arah belakang tubuh Lawunggana, membuat pendekar mu- da ini seperti terbangun dari mimpi buruknya, lalu ia lekas berpaling ke belakang.

“Janganlah kau teruskan perbuatanmu ini, Ka- kang,” ujar Endang Seruni yang berada di belakang La- wunggana seraya memegang pundaknya. “Bukankah ia telah tak berdaya sama sekali?!”

“Mmm, memang benar, Adi Seruni,” ujar Lawung- gana kemudian. “Urusan pribadiku dengan Sorogenen telah selesai. Aku telah puas dengan menghajarnya, dan aku minta maaf karena telah membuat keributan di sini.”

“Ya, aku dapat memaklumi maksudmu, Kakang La- wunggana,” ujar Endang Seruni dengan nada sedih.

“Kini, biarlah aku berlalu dari sini, Adi Seruni,” ber- kata Lawunggana. “Aku akan kembali ke pondokku, di muara Kali Serang.”

“Kau akan pergi?” tanya Endang Seruni.

“Mudah-mudahan aku bisa menengokmu kembali.” Lawunggana kemudian mengangguk hormat kepada

Ki Lurah Mijen serta orang-orang desa yang telah menggerombol di situ.

“Bapak Ki Lurah Mijen, serta para kisanak seka- lian,” ujar Lawunggana halus, “sekali lagi aku minta maaf, bahwa perbuatan lancangku menghajar Kisanak Sorogenen ini adalah sekadar memenuhi sumpahku untuk membalas perbuatannya beberapa tahun yang lalu. Sekarang ijinkanlah aku meminta diri.”

Mendengar ini, Ki Lurah Mijen menganggukkan ke- pala, namun beberapa orang yang menggerombol di halaman kelurahan ini, tampak bergegas untuk me- ngepung serta menghalang-halangi Lawunggana. Un- tunglah Ki Lurah Mijen cepat melihat gelagat yang ku- rang baik ini dan lekas-lekas ia berseru, “Kertipana, dan Kisanak-kisanak sekalian! Janganlah menambah keributan lagi. Biarlah Angger Lawunggana segera ber- lalu dari tempat ini.”

Kertipana serta orang-orang lainnya lalu menyingkir serta memberi jalan kepada Lawunggana yang berjalan dengan enaknya meninggalkan halaman kelurahan. Biarpun begitu ia masih tetap berwaspada menghadapi setiap kemungkinan yang bisa terjadi.

Setelah keluar dari halaman, Lawunggana berbelok ke barat dan dengan beberapa lompatan panjangnya ia telah lenyap di balik pohon-pohon besar.

*** 4

HALAMAN KELURAHAN Desa Mijen sepi kembali. Beberapa orang yang ada di situ satu demi satu me- ninggalkan halaman, sedang Kertipana dan tiga orang lainnya lalu menggotong tubuh Sorogenen dan diba- wanya ke pendapa kelurahan.

Ki Lurah Mijen, Nyi Lurah serta Endang Seruni ber- gegas untuk masuk ke dalam. Akan tetapi, mendadak terdengar derap-derap kaki kuda dari arah utara.

Keruan saja mereka yang ada di halaman terperan- jat melihat di sebelah utara. Dalam cahaya matahari sore yang telah sangat rendah itu, terlihatlah debu- debu putih berkepul-kepul naik ke atas dan dua sosok bayangan kuda dengan penunggangnya berderap me- nuju ke arah pendapa kelurahan.

Ki Lurah Mijen serta orang-orang lainnya menanti serta ingin melihat, siapakah gerangan yang berkuda menuju ke arah mereka ini?

Perlahan-lahan kedua penunggang kuda tadi makin mendekat dan bertambah dekat. Kuda-kuda mereka tidak berpacu lagi melainkan berlari-lari kecil.

Ki Lurah Mijen kelihatan mengangkat dahi seperti berusaha mengingat akan kedua penunggang kuda itu. Salah seorang di antaranya, ia seperti pernah menge- nalnya. Bentuk tubuh serta gerakan tubuhnya seolah- olah ia pernah melihatnya.

Oleh keremangan senja, wajah kedua penunggang kuda itu tidak dikenalnya, namun tak lama kemudian wajah Ki Lurah Mijen berseri dan mulutnya mendesis, “Angger Mahesa Wulung!”

Memang benarlah terkaan Ki Lurah Mijen itu. Piki- rannya yang tajam dan daya ingatnya yang baik tidak keliru lagi. Kedua penunggang kuda itu adalah Mahesa Wulung dan Pandan Arum.

Ketika mereka tiba di depan halaman kelurahan, Ki Lurah telah datang menyambutnya sementara itu di belakangnya, tampaklah Endang Seruni berlari-lari ke- cil ikut menyambut kedua tamu itu.

“Selamat sore, Ki Lurah Mijen,” ujar Mahesa Wu- lung seraya meloncat turun dari punggung kudanya, demikian pula dengan Pandan Arum yang dengan amat lincahnya turun dari kuda.

“Ooh, Angger Mahesa Wulung, selamat datang ke Desa Mijen, Angger,” sapa Ki Lurah dengan ramah dan hormatnya.

“Terima kasih, Bapak,” ujar Mahesa Wulung. “Kami berdua datang ke mari karena ada sesuatu perkara dan sesuatu hal yang akan kutanyakan kepada Ba- pak.”

“Eeeh, tentulah itu sangat penting bagi Angger,” Ki Lurah Mijen berkata. “Dengan senang hati tentulah Bapak akan membantumu, Angger. Baiklah nanti akan kita bicarakan di dalam.”

“Kakang Mahesa Wulung, lama benar Kakang tidak mengunjungi kami?” berkata Endang Seruni dengan nada manja. “Agaknya ada kesibukan-kesibukan tugas di Demak?”

“Benar, Adi. Banyak tugas-tugas yang harus kami rampungkan di sana.”

Dalam pada itu, Pandan Arum merasa berdebar-de- bar hatinya. Melihat sikap manja dan lincah dari En- dang Seruni tadi, ia sedikit merasa cemburu kepada- nya. Apalagi jika ia mengingat bahwa kekasihnya, Ma- hesa Wulung pernah tinggal cukup lama di Desa Mijen ini.

Tetapi yang membuat Pandan Arum lebih berdebar lagi adalah wajah gadis itu. Wajah itu seolah-olah ada- lah cermin dari wajahnya sendiri. Entah mengapa ia merasakan ada sesuatu rahasia yang tersembunyi pa- da diri Endang Seruni ini. Terutama kalung permata hijau yang telah diberikan gadis itu ternyata sama dan kembar dengan kalungnya sendiri.

Begitulah maka keganjilan-keganjilan itu membuat Pandan Arum lebih tertarik akan gadis tersebut.

Ketika itu pula rupanya Endang Seruni merasakan apa yang dirasakan oleh Pandan Arum, yakni kemiri- pan wajah mereka berdua. Bedanya, Pandan Arum ke- lihatan lebih tua sedikit daripadanya.

Mahesa Wulung memahami kekakuan ini, maka ia berkata dengan ramahnya kepada Endang Seruni. “Adi Endang Seruni, mari aku perkenalkan dengan gadis ini. Ia bernama Pandan Arum.”

Pandan Arum tersenyum, begitu pula Endang Se- runi.

“Nama yang bagus,” gumam Endang Seruni seraya mengulurkan tangannya kepada Pandan Arum. “Perke- nalkan, namaku Endang Seruni.”

“Nama Andika pun sangat bagusnya,” kata Pandan Arum.

“Bagaimana kalau aku memanggil yunda kepada Nona?” tanya Endang Seruni seraya tersenyum manis.

“Dengan senang hati aku terima dan tentunya aku juga menyebut Andika sebagai Adi Seruni.”

“Terima kasih,” Endang Seruni berkata sambil me- natap Pandan Arum dari kepala sampai ke bawah. “Ooh, rupanya Yunda seorang pendekar pula agaknya,” berkata pula Endang Seruni karena ia melihat sebilah pedang tergantung di pinggang kiri Pandan Arum.

“Ooo, ini cuma sekadar untuk menjaga diri saja, Adi Seruni,” Pandan Arum berkata dengan merendahkan diri. “Dan seseorang yang bersenjata bukan berarti ia seorang pendekar.”

Endang Seruni tersenyum gemas mendengar kata- kata Pandan Arum, dan tiba-tiba saja ia mencubit le- ngan gadis itu. “Mmm, Yunda Arum memang pintar mengelak, tapi aku yakin Andika adalah seorang pen- dekar.”

Mereka berempat segera melangkah masuk ke pen- dapa kelurahan dan kemudian mereka duduk di se- buah balai-balai besar di ruangan itu.

“Bapak Ki Lurah Mijen,” Mahesa Wulung membuka percakapan, “aku tadi melihat dari jauh ada kesibukan orang-orang di halaman kelurahan ini. Aku seperti me- lihat seseorang digotong-gotong dan dibawa ke dalam rumah.”

“Aaakh, itu cuma peristiwa kecil, Angger Mahesa Wulung,” berkata Ki Lurah Mijen. “Yang digotong tadi adalah Sorogenen. Ia kepayahan setelah berkelahi mengadu tenaga dengan Lawunggana dan ia dikalah- kan.”

“Lawunggana?!” ulang Mahesa Wulung kaget. Sia- pakah dia, Ki Lurah?”

Oleh pertanyaan ini, terpaksalah Ki Lurah Mijen bercerita secara singkat tentang Lawunggana, tentang Sela Ganden, Pakisan, Sorogenen serta segala peristi- wa dan persoalan mereka.

Tampaklah Mahesa Wulung manggut-manggut pe- nuh pengertian, lalu berkata, “Jangan kuatir, Ki Lurah. Biarlah nanti aku membantu mengobati Sorogenen.”

“Terima kasih, Angger Mahesa Wulung,” sambung Ki Lurah Mijen. “Sekarang silakan Angger mengatakan apa-apa yang harus aku bantukan kepada Angger Ma- hesa Wulung.”

Mahesa Wulung segera merogoh sesuatu dari balik bajunya dan terlihatlah seuntai kalung dengan perma- ta hijau di atas telapak tangannya.

“Lihatlah, Ki Lurah Mijen. Kalung ini diberikan oleh Adi Endang Seruni beberapa waktu yang lalu.”

“Yah, aku pun telah diberitahu oleh Nini Endang Seruni tentang kalung tersebut, dan aku tak keberatan bahwa kalung itu sekarang berada di tangan Angger.”

“Terima kasih, Ki Lurah. Namun karena kalung itu pulalah yang membawaku sampai ke mari.”

“Mengapa, Angger Mahesa Wulung?”

“Ternyata kami berdua merasa ada sesuatu yang ganjil dalam kalung ini. Nah, sekarang Adi Pandan Arum pun akan menunjukkan kalungnya, Ki Lurah.”

Pandan Arum segera membuka untaian kalung dari lehernya dan diserahkannya kepada Mahesa Wulung. Lalu kedua kalung itu ditimang di atas kedua telapak tangannya.

“Inilah kalung milik Adi Endang Seruni dan Adi Pandan Arum. Kedua-duanya ternyata kembar, Ki Lu- rah!”

“Kalung itu?! Ookh, kalung Soca Wilis yang telah sekian lama hilang dan terpisah kini bertemu kembali!” seru Ki Lurah Mijen dengan mata terbelalak keheranan dan mulut ternganga.

Demikian pula Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Endang Seruni sendiri ikut terperanjat oleh kata-kata Ki Lurah Mijen itu.

Ki Lurah Mijen kemudian menatap wajah Pandan Arum lama-lama dan lalu bertanya kepada gadis itu. “Benarkah Angger yang memiliki kalung permata hijau tadi?”

“Begitulah sesungguhnya, Bapak Ki Lurah Mijen.” “Apakah kalung ini tidak Angger peroleh dari pem-

belian?” bertanya kembali Ki Lurah Mijen. “Ooooo, tidak, Bapak Ki Lurah. Kalung ini aku teri- ma dari ayahku sendiri,” ujar Pandan Arum.

Ki Lurah Mijen menjadi berseri-seri wajahnya dan kembali bertanya, “Kalau begitu, siapakah ayahmu itu, Nona?”

“Beliau bernama Ki Soratani.”

“Ki Soratani?! Tidak keliru lagi! Yah tidak keliru la- gi!” seru Ki Lurah Mijen dengan gembira, membuat Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Endang Seruni ter- peranjat serta ingin mengetahui apakah sebab-sebab yang membuat Ki Lurah Mijen segembira itu.

“Kami tidak mengetahui, Ki Lurah Mijen, apakah yang membuat Bapak juga sangat tertarik oleh kedua kalung kembar ini?” ujar Mahesa Wulung. “Dan tadi Andika menyebutnya dengan nama Soca Wilis?!”

“Hmm, ketahuilah, Angger Wulung. Sesungguhnya kedua kalung itu berasal dari diriku sendiri!”

“Berarti kedua kalung itu adalah kepunyaan Ki Lu- rah?!” Pandan Arum bertanya pula dengan wajah pe- nuh tanda tanya.

“Bagaimanakah itu bisa terjadi, Bapak?” bertanya pula Endang Seruni. “Bukankah Yunda Pandan Arum telah bercerita bahwa kalung itu pemberian ayahnya sendiri?!”

“Nah, kalian bertiga, ketahuilah pula. Sebelum per- mata kalung ini dibuat sebagai perhiasan untuk kedua kalung ini, semula adalah berasal dari sebuah batu yang sama, dari sebuah permata yang tadi aku sebut dengan nama Soca Wilis, artinya Mata Hijau. Permata tadi kemudian dipecah menjadi dua bagian dan kami jadikan permata untuk kalung tersebut.”

“Tetapi mengapakah kalung yang sebuah tadi sam- pai berada di tangan Ki Soratani?” bertanya Mahesa Wulung. “Aakh, itu ada ceritanya, Angger Wulung! Dan sa- ngat panjang serta ada hal-hal yang pasti bakal mem- buat kalian bertiga akan terkejut dan mungkin tidak percaya,” ujar Ki Lurah Mijen dengan tenangnya.

“Kalau demikian, dapatkah kami bertiga mendengar cerita atau riwayat kalung kembar Soca Wilis itu?” ber- tanya kembali Mahesa Wulung.

“Ya, berceritalah, Bapak!” Endang Seruni mendesak pula. “Aku ingin tahu siapakah Ki Soratani dan siapa- kah Yunda Pandan Arum ini sesungguhnya!”

“Baiklah, Angger Wulung, Pandan Arum dan kau Endang Seruni. Dengarlah baik-baik ceritaku ini su- paya jelas dan kalian memahaminya,” Ki Lurah Mijen berkata membuka ceritanya.

Dahulu kala adalah seorang saudagar kaya yang terkenal ramah, berbudi baik dan suka menolong se- samanya. Ia berdagang emas intan dan perhiasan yang berharga tinggi. Kekayaannya yang banyak serta kelu- huran budinya ternyata membawa dirinya banyak di- kenal oleh orang-orang dari kalangan pemerintahan kerajaan Demak dan daerah-daerah lainnya.

Ia sering keluar masuk daerah-daerah untuk mem- perdagangkan perhiasan emas intannya tadi. Tidak ja- rang untuk perjalanan yang jauh itu ia membawa serta keluarga serta pengawal-pengawalnya. Ia telah menje- lajah hampir seluruh pesisir utara Jawa serta kota- kota besar yang terdapat di situ. Agaknya memang ia mempunyai darah pengembara yang mengalir dalam tubuhnya.

Ia mempunyai dua orang anak perempuan yang waktu itu masih mungil-mungil dan manis. Kedua anak itu dibawanya serta dalam pengembaraannya ke mana-mana.

Pada suatu kali, aku sempat berjumpa dengannya di kota Jepara dalam perjalanannya ke daerah timur. Begitu berkenalan, kami segera menjadi akrab dan ia lalu memintaku untuk menyertainya selama perjala- nan itu serta bersedia membayarku dengan layak.

Agaknya iapun tahu bahwa aku banyak berpenga- laman serta mengetahui perihal permata dan batu-ba- tu mulia. Hal itu tentu penting bagi perdagangannya.

Untuk penawarannya itu, aku menyatakan bersedia dan ini membuatnya ia menjadi senang. Begitulah ka- mi akhirnya bekerja sama dan kami terus menyusuri pantai Jepara ke utara dan selanjutnya akan mengitari pantai daerah Jepara tadi ke timur dan akan terus mengembara sampai ke daerah Surabaya.

Selama perjalanan itu, kami bersahabat semakin erat dan akhirnya ia telah menganggapku sebagai sau- dara ataupun keluarganya sendiri.

Yang paling menarik hatiku ialah kedua anak pe- rempuannya yang masih kecil itu.

Kedua anak itu sangat manja dengan aku. Mereka kadang-kadang aku gendong ke mana-mana dan se- ring aku ajak bermain-main. Meskipun aku masih be- lum berkeluarga pada waktu itu, namun kesayangan- ku pada kedua anak kecil tersebut tidak berbeda de- ngan anak kandungku sendiri.

Entah mengapa sebabnya, terkadang aku telah menganggap mereka sebagai anakku sendiri. Dan ka- rena kasih sayangku kepada kedua anak kecil itu, aku menghadiahkan sebuah permata hijau yang aku sebut dengan nama Soca Wilis tadi kepada saudagar kaya tersebut. Aku meminta agar permata tadi menjadi mi- lik kedua anak perempuannya yang mungil.

Atas persetujuan kami, akhirnya permata Soca Wilis itu kami potong menjadi dua bagian dan berbentuk se- tengah lingkaran. Begitu baiknya permata hijau terse- but yang menurut kata orang tergolong batu permata giok berasal dari tanah seberang utara, menjadi sangat indahnya meskipun telah terpotong dua bagian.

Oleh saudagar kaya sahabatku itu, kedua permata bagus yang kini telah menjadi dua bagian, dipasang pada dua buah kalung emas sebagai hiasannya.

Kalung kembar tadi lalu dikalungkan pada leher kedua anak perempuan mungilnya yang masing-ma- sing bernama Pandan Arum dan Pandan Sari.

Saudagar kaya tadi di samping banyak mempunyai sahabat-sahabat, tak jarang pula mempunyai musuh- musuh yang selalu mengintai harta bendanya. Dan memang begitulah kehidupan di dunia ini, selalu diser- tai dua kemungkinan. Makin banyak seseorang mem- punyai harta atau pangkat, makin banyak pula ia mempunyai musuh atau saingan. Dan seharusnya memang manusia tidaklah boleh begitu lakunya.

Seorang bijaksana dan berbudi luhur seharusnya akan senang bila melihat seseorang atau sahabatnya memperoleh kekayaan atau pangkat yang baik. Tapi manusia begini memang jarang dicari. Biasanya ia akan malah menjadi iri atau dengki karenanya.

Nah, sesungguhnya itulah yang biasa pula menjadi sumber bencana bagi ketentraman dan kehidupan be- brayan manusia. Karena dengki dan iri tadi kadang- kadang sebuah negeri menyerang dan menghancurkan negeri lain. Seorang pendekar membinasakan pende- kar lainnya dan begitu masih banyak contohnya.

Begitulah pada suatu ketika, kami telah tiba di dae- rah Tanjung Jati yaitu pesisir utara daerah Jepara. Di situ kami merasa akan adanya seseorang yang selalu membayangi rombongan kami. Hal itu telah dilaporkan oleh beberapa orang pengawal kepada kami.

“Bahaya!” desis saudagar tadi. “Lagi-lagi bahaya se- lalu membuntuti kita, sahabat!”

“Tapi Andika tak perlu kuatir. Bukankah kita mem- punyai pengawal-pengawal yang cukup tangguh?!”

“Memang, itu benar. Hanya saja kita harus mengi- ngat bila sampai terjadi sesuatu keributan atau per- tumpahan darah akibat harta bendaku ini, pastilah aku akan sangat menyesal karenanya.”

“Hmm, Andika mempunyai pendapat yang benar, Ki Saudagar. Akan tetapi Ki Saudagar harus pula meng- ingat bahwa bukanlah semata-mata kesalahan kita ka- lau orang sampai mengiri atau dengki karena melihat harta benda kita. Seharusnya kesalahan itu berasal dari diri mereka sendiri, Ki Saudagar, yaitu kesalahan mereka yang tidak dapat mengatur nafsunya.”

“Sahabat,” ujar saudagar kaya tadi kepadaku, “ada- kalanya aku ingin berhenti sebagai pedagang harta perhiasan emas intan dan beralih sebagai seorang pe- tani saja.”

Mendengar pendapat Ki Saudagar itu, aku sesaat menjadi kaget, namun akupun dapat memakluminya pula.

“Ki Saudagar,” aku berkata kepadanya. “Pikiran An- dika itu sangat bijaksana. Tapi di manakah Ki Sauda- gar akan menetap sebagai petani kelak?”

“Aku belum tahu, sahabat,” ujar Ki Saudagar tadi. “Biarlah akan aku pikirkan lebih dahulu. Dan kelak aku memilih nama Soratani.”

Begitulah percakapanku dengan Ki Saudagar saha- batku, dan dari situlah aku tahu betapa luhurnya dia. Perjalananpun kami teruskan ke timur dan rombongan Ki Saudagar ini tidak mendapat rintangan sesuatu apa.

Walaupun begitu, sesungguhnya bahaya selalu mengancam kami serombongan, dan akhirnya kami mendapat laporan bahwa di belakang kami terlihat pu- la segerombolan manusia yang kami duga adalah orang-orang jahat!

Berita ini sangat mengejutkan kami. Akan berbalik? Itu tak mungkin, sebab berarti akan langsung berha- dapan dengan gerombolan tadi! Lari ke selatan? Itu sama sulitnya, sebab di selatan terdapat tanah pegu- nungan dan Gunung Muria yang menjulang tinggi dan merupakan dinding penghalang yang sukar ditembus!

Maka jalan satu-satunya adalah terus menempuh jalan ke timur menyusuri pantai utara Jawa. Kami berharap setelah tiba di Juwana akan mendapat perto- longan dari laskar keamanan di kota itu.

Dalam pada itu rombongan orang-orang yang meng- ikuti kami rupanya punya siasat pula. Terkadang jarak mereka terlalu dekat dan kadang-kadang pula mereka menghilang seperti berhenti menguntit kami. Namun besoknya mereka muncul pula jauh di belakang kami.

Akhirnya tibalah kami di daerah Tanjung Bugel, dan Ki Saudagar mempunyai keputusan yang tiba-tiba. Ia memerintahkan para pengawal untuk berjaga-jaga se- dang sebagian pengawal lainnya membantu kami un- tuk menanam barang dagangan kami yang berujud benda-benda perhiasan emas intan yang kami taruh di dalam sebuah guci berukir indah.

Setelah harta benda tadi kami tanam, kemudian kami memberi tanda serta membuat peta rahasia pada kedua permata kalung hijau tadi secara cepat dan se- derhana.

Nah, itulah sebabnya kalian akan mendapatkan goresan-goresan pada permukaan kalung permata hi- jau kembar ini. Kedua batu hijau tadi masing-masing berisi sebuah bagian dari peta harta itu. Jika kedua batu permata hijau ini disatukan tepat pada sisi yang semula, maka akan kita dapatlah peta harta yang se- lengkapnya.

Malam itu kami selesai menanam harta perhiasan tersebut di pantai Tanjung Bugel dan secepatnya kami meneruskan perjalanan ke arah selatan.

Malampun makin bertambah larut dan beberapa orang telah ada yang menguap karena lelah dan me- ngantuk. Namun apa daya, kami harus secepatnya berjalan dan tiba di daerah Juwana.

Ki Saudagar berkuda sambil mendukung Pandan Arum dan di belakangnya berkuda Nyi Saudagar de- ngan wajah cemas dan murung. Sedang aku sendiri berkuda pula sambil mendukung si kecil—Pandan Sa- ri. Kedua anak perempuan mungil inipun telah tertidur kelelahan di punggung kuda pada dukungan kami masing-masing.

Suatu bencana memang tidak dapat diperkirakan datangnya. Kami cuma membawa kuda enam ekor dan pengawal-pengawal lainnya berjalan kaki mengiringi kami.

Di pagi buta, menjelang subuh, mendadak kami te- lah dikepung dan diserang oleh segerombolan orang- orang bersenjata. Kami dapat memastikan bahwa para penyerang itu adalah orang-orang yang selalu mengun- tit rombongan kami.

Pertempuranpun berlangsung dengan seru. Dentang senjata dan percikan bunga api dari senjata-senjata yang beradu memenuhi udara di situ.

Kadangkala terdengar jeritan menyayat hati dari arah yang tidak aku ketahui. Udara masih terlalu gelap bagi kami sehingga pertempuran menjadi sangat kalut. Sambil berkuda dan mendukung si kecil mungil Pandan Sari tadi, akupun menebaskan pedangku ke kiri-kanan untuk menangkis setiap senjata yang me- nyerang kami.

Beberapa orang yang berhasil aku robohkan dengan pedangku, aku tak tahu dengan pasti, kecuali terasa dalam pedangku telah membentur beberapa benda lu- nak diiringi jerit kesakitan.

Di samping itu terdengar pula olehku kuda yang meringkik-ringkik dan berpacu menjauhi tempat per- tempuran ini. Sedang aku sendiri tak bisa bertahan te- rus-terusan begini. Di samping merepotkan, juga sa- ngat membahayakan si kecil mungil yang aku dukung ini. Lebih-lebih lagi setelah si mungil Pandan Sari ini terbangun dan menangis ketakutan.

Saat itulah aku merasa bahaya telah benar-benar mengancam diri kami berdua. Segera aku derapkan kudaku ke arah selatan sementara pedangku terus berputar sebagai baling-baling menghalau setiap peng- halang.

Kudaku terus kupacu ke arah selatan. Aku tak tahu bagaimana nasib Ki Saudagar beserta istri dan si kecil mungil Pandan Arum ataupun para pengawal kami.

Tetapi dalam hati kecilku aku berdoa dan berharap semoga bunyi derap kaki-kaki kuda yang semula aku dengar tadi adalah derap kuda-kuda Ki Saudagar dan istri serta ketiga pengawalnya. Yah, aku mencemaskan sekali nasib mereka. Namun aku tak dapat berbuat banyak kecuali menyelamatkan si kecil Pandan Sari yang berada dalam dukunganku ini.

Dalam udara subuh itulah aku terus berpacu dan berpacu ke arah selatan sampai akhirnya tiba di dae- rah Juwana. Dengan segera aku melaporkan kejadian itu kepada pasukan pengawal kota dan pagi itu juga bersama-sama pasukan tadi kami memeriksa tempat terjadinya pertempuran semalam.

Ternyata di situ cuma menggeletak beberapa mayat pengawal rombongan kami serta orang-orang dari pi- hak penyerang. Adapun mayat Ki Saudagar, istrinya, ataupun si mungil Pandan Arum tidak kami temukan. Dengan demikian yakinlah kami bahwa Ki Saudagar masih selamat dan inilah yang benar-benar kami ha- rapkan. Tetapi ke manakah mereka ini?

Setelah kejadian itu, aku mengembara mencari jejak hilangnya Ki Saudagar tadi. Tetapi sampai sekian lama kami tak menemukannya, sehingga akhirnya kami me- netap di Desa Mijen ini.

Adapun nama si mungil Pandan Sari telah kuganti dengan Endang Seruni dengan maksud agar kenangan pahit dan memilukan itu lenyap dari benak kepalaku, dan sejak itu pula Endang Seruni telah kuanggap se- bagai anak kandungku sendiri sampai sekarang.

Begitulah Ki Lurah Mijen menyudahi ceritanya se- raya memandang ke wajah Endang Seruni dan berkata pula kemudian, “Maaf, Angger Seruni. Maafkanlah bila akhirnya aku telah menceritakan hal ini kepadamu. Bukan maksudku untuk melukai hatimu, Nak. Bukan. Aku menceritakan hal itu karena aku merasa gembira bila sesungguhnya Pandan Arum masih selamat dan sekarang duduk bersamamu ini!”

Mata Endang Seruni berkaca-kaca sambil mencoba menahan isak tangisnya lalu katanya, “Tap... tapi, Ba- pak, bagaimana aku dapat yakin bahwa Yunda Pandan Arum ini adalah kakakku yang sesungguhnya, kakak kandungku sendiri?”

“Aku masih ingat dengan gamblang, Angger Seruni, bahwa pada lekukan lengan kiri si mungil Pandan Arum terdapat sebuah tahi lalat hitam.”

Begitu mendengar kata-kata Ki Lurah Mijen ini, Pandan Arum seperti digerakkan oleh tenaga batinnya dan secepat kilat ia menyingsingkan lengan baju kiri- nya serta menatapnya dengan tajam.

“Oooh, ada tahi lalat di sini!” desis Pandan Arum tertegun.

Ia melihat sendiri dan juga Ki Lurah Mijen, Mahesa Wulung dan Endang Seruni juga menatap sebuah tahi lalat yang terdapat pada lelukan lengan kiri Pandan Arum itu.

“Jadi... jadi kau adalah adikku sendiri, Endang Se- runi?!” seru Pandan Arum seraya memeluk Endang Se- runi yang segera itu pula disambut oleh Endang Seruni dengan dekapan mesra dan disertai isak tangis keha- ruan.

“Yunda... Pandan Arum... akulah adikmu si Pandan Sari.... Ooh...,” rintih Endang Seruni seraya mendekap tubuh Pandan Arum lebih erat.

“Adikku sayang...,” terdengar isak Pandan Arum sambil mengusap membelai-belai kepala Endang Se- runi dan kemudian menciumi pipi gadis itu. “Ooh, aku sudah merasakannya sejak semula, Adi Seruni. Sejak aku melihat wajahmu yang sangat mirip dengan wa- jahku sendiri.”

Di tengah saat yang mengharukan ini, Nyi Lurah ke- luar dari ruang dalam diiringi seorang wanita memba- wa talam berisi cangkir-cangkir tembikar berisi minu- man dan sepiring ketela rebus. Iapun semula terkejut melihat anak gadisnya bertangis-tangisan dengan ga- dis tetamu ini. Namun iapun akhirnya terharu serta te- risak-isak setelah mendapat penjelasan singkat dari Ki Lurah Mijen tentang duduk perkara yang sesungguh- nya dan terpendam selama ini.

“Syukurlah bila Ki Saudagar sekeluarga masih se- lamat,” ujar Ki Lurah Mijen bersyukur.

Sekonyong-konyong di tengah keharuan ini, Mahesa Wulung secara tiba-tiba telah mencabut pisau belati kecil dari balik bajunya serta sekaligus melemparkan- nya ke atas langit-langit genting sirap.

Claaap! “Aaaaakh!”

Semua orang di situ terkejut dan telinga mereka mendengar langkah-langkah pincang di atas genting atap dan berlari menjauh dan kemudian lenyap tak terdengar lagi!

Pisau belati yang menancap pada langit-langit atas itu sesaat kemudian menetes-neteskan cairan darah segar ke atas lantai membuat mereka terpekik ngeri.

“Percakapan kita telah didengar oleh si pengintai ge- lap, Ki Lurah!” ujar Mahesa Wulung. “Dengan begitu maka berarti kedua kalung Soca Kumala ini berada da- lam bahaya!”

“Ooh, celaka! Kata-katamu benar, Angger Wulung.

Maka, aku minta agar Andika menjaga keduanya!” “Jangan takut, Ki Lurah. Akan kujaga baik-baik ke-

dua kalung ini!” berkata Mahesa Wulung dengan te- nangnya, membuat mereka menjadi tenang pula serta hilang cemasnya.

Malam makin larut, dan sunyi senyap penuh kehe- ningan segera menelan suasana Desa Mijen.

***

5

DI PAGI CERAH, tampaklah tiga sosok tubuh ma- nusia tengah berjalan-jalan di tepi Kali Serang tak jauh dari Desa Mijen. Mereka adalah Mahesa Wulung, Pan- dan Arum dan Endang Seruni atau Pandan Sari itu. Ketiganya tampak berwajah cerah, secerah sinar mata-  hari pagi yang memanahkan sinar-sinarnya.

“Kakang Wulung,” ujar Pandan Arum dengan te- nangnya, “siapakah kiranya si pengintai gelap pada malam yang lalu itu?!”

“Hmm, pasti dari gerombolan yang bermaksud jahat dan menaruh minat pada persoalan kita, lebih-lebih terhadap kalung kembar ini,” berkata Mahesa Wulung. “Serta rahasia yang tersembunyi di belakangnya.”

“Dan sekarang, kalung yang telah aku berikan ke- pada Kakang Wulung, juga harus aku pakai kembali?” bertanya Endang Seruni. Mengapa Kakang Wulung?”

“Aku ingin supaya kedua kalung itu tetap berada pada masing-masing pemiliknya semula, dan aku cu- kup menjaganya dari luar saja,” Mahesa Wulung ber- kata.

“Terima kasih, Kakang Wulung,” ujar Endang Se- runi.

Mereka bertiga meneruskan perjalanannya, berja- lan-jalan menghirup udara pagi yang masih segar ini. Pohon-pohon besar yang banyak bertumbuhan di se- panjang jalan itu daunnya beriak-riak tersapu angin pagi yang sejuk. Dan ketika mereka tiba di depan se- buah pohon asam yang sangat lebatnya, tiba-tiba Ma- hesa Wulung berhenti serta memberi isyarat pula ke- pada Pandan Arum dan Endang Seruni supaya berhen- ti.

“Hati-hati!” ujar Mahesa Wulung. “Aku merasa bah- wa di atas pohon asam di depan kita itu ada gerakan- gerakan manusia!”

“Oookh,” desah Pandan Arum dan Endang Seruni berbareng. Keduanya berdebar-debar oleh perkataan Mahesa Wulung.

“Heeei, sobat!” seru Mahesa Wulung dengan lan- tangnya. “Apakah maksudmu yang sebenarnya?! Apa- kah perlumu pagi-pagi begini memanjat-manjat pohon asam?!”

Tepat selesainya kata-kata Mahesa Wulung, sebuah bayangan tiba-tiba pula melesat turun dari atas pohon asam tersebut dan mendarat di tanah.

“Lawunggana!” berdesis Endang Seruni dengan ce- masnya.

“Eeeh, dialah orang yang bernama Lawunggana itu?” bertanya Mahesa Wulung kepada Endang Seruni.

“Benar, Kakang Wulung. Berhati-hatilah!”

Suasana menjadi tegang. Lawunggana berdiri berto- lak pinggang di hadapan mereka bertiga. Sorot mata- nya tajam mengawasi Mahesa Wulung dan Endang Se- runi berganti-ganti.

“Sobat, apakah engkau yang bernama Lawungga- na?”

“Hah, engkau sudah tahu namaku, kisanak!” ujar Lawunggana. “Bagus! sekarang sebutlah pula nama- mu!”

“Aku Mahesa Wulung!”

“Mahesa Wulung? Ha, ha, ha, ha. Pucuk dicinta, ulam tiba!” seru Lawunggana gembira sambil tertawa terbahak-bahak kesenangan. “Kebetulan sekali. Aku telah lama menunggu-nunggu saat pertemuan ini! Aku ingin mengukur tenaga melawanmu!”

“Apakah ini berarti sobat berusaha mencari kesuli- tan?” bertanya Mahesa Wulung. “Dan apa alasan-ala- san Anda dalam hal ini?!”

“Engkau pernah membuat kecewa terhadap Endang Seruni kekasihku itu! Kau tahu, itu sama artinya de- ngan menghina diriku!” teriak Lawunggana dengan ke- rasnya serta bersinar-sinar sorot mata kemarahannya.

“Kakang Lawunggana! Jangan kau teruskan mak- sudmu!” Seru Endang Seruni kecemasan. “Hal itu te- lah berlalu dan selesai.”

“Tapi bagi diriku belum berarti selesai, Adi Seruni,” seru Lawunggana. “Aku telah bersumpah untuk ber- tempur melawan Mahesa Wulung! Maka janganlah menghalangi maksudku!”

Mahesa Wulung yang pernah mendengar perihal Lawunggana dari Ki Lurah Mijen segera bersiaga dan ia tidak terkejut ketika Lawunggana itu melesat ke arah dirinya.

“Haaaet!”

Sambaran pedang di tangan Lawunggana bagai kilat menyambar leher Mahesa Wulung. Tapi pendekar De- mak ini dengan tenangnya mengegoskan bahunya ke kanan, dan lalulah pedang lawan tadi dengan menebas angin. Dalam waktu yang sependek itu pula, secara ki- lat Mahesa Wulung mencabut pedangnya sekali mene- tak ke punggung pedang Lawunggana tadi.

“Craaaang!”

Bukan main terkejutnya Lawunggana akibat bentu- ran pedang Mahesa Wulung itu. Seakan-akan ia diben- tur oleh satu pukulan tenaga raksasa yang membuat- nya seketika terpental ke samping beberapa langkah, tunggang-langgang.

Meskipun begitu Lawunggana tidak lupa menge- trapkan ilmu mengentengkan tubuh sehingga iapun berjumpalitan tanpa menyinggung tanah dan selamat- lah kepalanya.

Sambil bersiaga kembali, Lawunggana menggeram marah, bagaikan seekor harimau melihat mangsanya. Sementara itu Mahesa Wulung berdiri dengan tang- guhnya laksana tonggak besi yang tak goyah oleh gem- pa sedahsyat apapun.

Dengan sebuah teriakan dahsyat, Lawunggana me- nerjang kembali ke arah Mahesa Wulung, lalu berulan- glah pertarungan sengit. Terkadang tubuh mereka berdua hanya tampak sebagai bayang-bayang hitam yang berputaran dengan dua gulungan sinar pedang yang putih kebiruan berkilatan ditimpa sinar matahari pagi yang kini mulai bergeser meninggi. Pertempuran- pun semakin bertambah lebih hebat lagi.

Pada suatu ketika Mahesa Wulung berhasil mende- sak kedudukan Lawunggana yang kini telah bermandi peluh itu. Sebuah tebasan pedang Mahesa Wulung yang disertai segenap himpunan tenaga dalam telah berhasil menggetarkan pedang lawannya dan akhirnya dengan bacokan ke bawah secara tiba-tiba membuat Lawunggana cekakaran menangkis serangan tersebut.

Claaang!

Terdengar sebuah benturan yang amat keras dan terpental lepaslah pedang Lawunggana dari jari-jema- rinya disertai jerit kesakitan dari mulutnya.

“Eaaakh!”

Namun begitu senjatanya lepas, si pendekar kumis lebat segera meloncat ke samping sekaligus melolos kedua pisau bercabang dari ikat pinggangnya.

Dengan senjatanya ini, Lawunggana seperti menjadi lebih bergairah dan lebih beringas dalam melancarkan serangan-serangannya terhadap lawannya. Kedua pi- sau cagak atau bercabang tadi seperti benar-benar hi- dup bersambaran susul-menyusul seperti cakar raja- wali yang tengah kelaparan menyerang mangsanya.

Kini Mahesa Wulung terpaksa terkejut melihat ke- dua senjata Lawunggana itu. Kekagetannya itu ternya- ta ada benarnya pula, sebab pada jurus-jurus berikut- nya terasa olehnya bahwa kedua pisau bercabang itu selalu mencecar dan mengurung dirinya.

Bila saja yang diserang itu bukan Mahesa Wulung, mungkin sudah sejak jurus yang pertama orangnya akan pecundang atau paling sedikit sudah bertekuk lutut. Akan tetapi lawan Lawunggana kali ini adalah Mahesa Wulung, seorang perwira laut dari Armada Demak yang telah sekian kali bertempur, bertualang mengarungi laut-laut serta menghadapi berbagai-bagai rintangan serta bahaya. Maka pertempuran antara ke- dua pendekar ini kelihatan seimbang dan seru.

Gulungan sinar pedang Mahesa Wulung berdesir mengerikan siapa saja, termasuk Pandan Arum dan Endang Seruni yang menonton pertempuran mereka dengan dada berdegupan. Keduanya melihat bahwa kedua senjata pisau bercabang milik Lawunggana ber- desingan di antara gulungan sinar pedang Mahesa Wu- lung, tak ubahnya dua ekor burung seriti yang berlon- catan di antara gulungan tubuh seekor ular yang hen- dak mencaploknya.

“Uuh, ini berbahaya!” desis Mahesa Wulung sambil berloncatan menindas setiap serangan Lawunggana yang semakin ganas.

Pada jurus yang keempat puluh dan jurus-jurus be- rikutnya, Mahesa Wulung mau tak mau harus menga- kui bahwa senjata pisau bercabang yang sangat aneh milik Lawunggana itu benar-benar luar biasa ampuh dan hebat gerakannya.

Kalau semula kedua pisau bercabang itu cuma me- nyerang ke arah bagian-bagian tubuh Mahesa Wulung saja, sekarang lebih meningkat lagi dengan menyerang pedang pendekar Demak ini. Maka justru hal inilah yang lebih berbahaya lagi.

Begitulah, pada suatu ketika tebasan pedang Ma- hesa Wulung berhasil ditangkis oleh pisau bercabang tadi tepat jatuh di antara sela-sela cabang pisau terse- but. Dengan begitu terjepitlah pedang Mahesa Wulung tadi! Mahesa Wulung segera sadar akan bahaya yang kini telah mengancam di depan hidungnya. Maka secepat ia berusaha menarik pedangnya, namun belum lagi ber- hasil pisau cabang yang sebuah lagi segera menjepit pula terhadap pedangnya! Sekali lagi Mahesa Wulung terkejut karenanya.

“Hia, ha, ha, ha,” terdengar Lawunggana terkekeh- kekeh kegirangan. “Kau kaget, sobat?! Kasihan! Itulah jurus Kepiting Menjepit Bulan yang tak terkalahkan!”

Habis berkata demikian, Lawunggana kemudian memutar dan memelintir kedua pisau cabangnya, se- hingga pedang yang berada di sela-sela jepitan itu ter- getar hebat!

Dengan sekuatnya Mahesa Wulung berusaha me- nahan pedangnya yang ikut terputar itu, tapi alangkah sukarnya. Kemudian tangannya terasa ikut bergetar dan jari-jarinya merasa kesemutan.

“Lepaaas!”

Terdengar Lawunggana membentak dengan suara menggeledek diiringi hentakan dan pelintiran sepasang pisau cabangnya berbareng.

Akibatnya, terlepas dan terbetotlah pedang Mahesa Wulung itu dari tangannya, membuat pendekar Demak ini terkejut bagai orang mimpi di siang bolong. Ia ham- pir-hampir tak percaya begitu melihat pedangnya te- rampas serta kemudian tercampak di atas rerumpu- tan.

“Heei, sobat Mahesa Wulung!” seru Lawunggana se- raya mengangkat muka menyombong. “Berhati-hatilah kowe! Mungkin sebentar lagi kedua lengan atau kaki- mu akan terbetot lepas oleh pisau cabangku ini! Ha, ha, ha, ha!”

“Hyaaat!” Lawunggana kemudian berteriak seru sambil melesat menyerang ke arah Mahesa Wulung. Kedua pisau cabang Lawunggana tersebut menyerang kembali, mengurung seluruh bagian-bagian lemah dari tubuh Mahesa Wulung.

Melihat ini Pandan Arum serta Endang Seruni men- jadi kecemasan. Pandan Arum bermaksud menolong Mahesa Wulung itu, tapi bagaimana caranya serta apa yang harus diperbuatnya, ia tidaklah tahu.

Mahesa Wulung segera terpaksa berloncatan, me- lenting kesana-kemari menghindari serangan-serangan pisau bercabang di tangan Lawunggana itu, karena ia tak berpedang lagi.

“Berhenti, Kakang Lawunggana! Sudahilah pertem- puran ini!” Terdengar Endang Seruni berseru kepada Lawunggana, sementara dalam hati ia merintih penuh sesal, sebab semua peristiwa ini tidak sedikit ber- sumber pada dirinya.

“Ha, ha, ha, jangan turut campur, kekasih. Lihatlah saja nanti. Aku bersedia berhenti serta berdamai asal sobat Mahesa Wulung bersedia meminta maaf serta bertekuk lutut kepadamu, wong ayu!”

“Perkataanmu itu tak mungkin, Kakang Lawungga- na! Kau lihat aku sekarang berdiri di samping gadis ini?! Dialah kekasih Mahesa Wulung sendiri. Di antara kami tidak ada lagi persoalan dendam ataupun bersa- lah!” kembali Endang Seruni berseru.

“Haaah, aku belum puas dengan ceritamu saja, Adi Seruni. Aku ingin lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa sobat Mahesa Wulung benar-benar berlutut di depanmu dan di depanku sekarang!”

Mahesa Wulung sedikit tersinggung mendengar ka- ta-kata Lawunggana yang sangat tajam ini. Tiba-tiba saja ia meloloskan sebuah cambuk berwarna biru kehi- jauan dari balik bajunya seraya menggumam.

“Hmmm, biarlah aku pakai cambuk pusaka ini lebih dulu. Aku kepingin mencobanya di depan Lawunggana. Namun aku harus berusaha agar pendekar ini tidak sampai celaka oleh cambuk Naga Geniku!”

“Lawunggana, marilah kita lanjutkan permainan ki- ta tadi secepatnya!” seru Mahesa Wulung lantang.

“Haaaet!” Lawunggana tanpa berkata-kata lagi lalu melesat ke depan menerjang Mahesa Wulung kembali.

Tapi sekali ini Lawunggana ganti terkejut pula, apa- bila ia terpaksa mundur karena ia melihat bahwa Ma- hesa Wulung telah memutar cambuk Naga Geninya sampai lawannya cuma melihat sebuah lingkaran men- desis-desis berwarna biru kehijauan.

Dan lebih terkejut lagilah Lawunggana, sebab seko- nyong-konyong ujung cambuk Naga Geni menyambar dan melilit pada lengan kirinya. Saat itu terasa len- gannya seperti dirambati oleh aliran hawa panas me- nyerikan sendi-sendi tulang, dan apabila ujung cam- buk tadi ditarik oleh Mahesa Wulung, membekaslah pada kulit lengannya lingkaran-lingkaran merah seper- ti bekas terbakar.

Lawunggana menyerang kembali, tapi tak ada fae- dahnya lagi. Keampuhan kedua pisau cabangnya se- perti tertelan oleh kehebatan perbawa dan kesaktian cambuk Naga Geni.

Akhirnya ujung cambuk itu menyambar dan mem- bentur kedua ujung pisau cabang Lawunggana dengan dua ledakan berturutan.

Daar! Daaar! “Eeeaah!”

Lawunggana melepaskan kedua pisau cabangnya, yang tiba-tiba saja terasa sebagai bara api panas dan terpelanting ke atas tanah. Belum lagi ia sempat mem- perbaiki sikap, tiba-tiba ujung cambuk Mahesa Wu- lung meledak-ledak di sekitar kepalanya dengan suara  yang sekeras petir mengurung dengan rapatnya. “Aaaaduh!” Lawunggana merintih serta menutup

kedua belah telinganya dengan tangan, namun suara ledakan cambuk itu terasa masih saja menyengat- nyengat telinganya. Hingga pendekar ini rebah berguli- ngan di tanah, cambuk Naga Geni masih saja meledak- ledak.

“Kakang Wulung, jangan kau celakai dia! Kasihan Kakang Lawunggana itu!” ujar Endang Seruni seraya memeluk lengan Mahesa Wulung dengan eratnya.

“Jangan kuatir, Adi Seruni. Ia tak akan celaka atau mati. Aku tahu kau masih mencintainya, bukan? Syu- kurlah! Tapi aku harus memberi sedikit pelajaran ke- padanya, agar sifat keras kepala dan mau menang sendiri itu terkikis habis dari relung hatinya!” ujar Ma- hesa Wulung dengan tenang.

“Oh, jika begitu aku berterima kasih!” ujar Endang Seruni dengan hati lega.

Sementara itu Mahesa Wulung segera menyimpan kembali cambuk pusaka Naga Geni ke dalam bajunya serta iapun lalu memungut kembali pedangnya yang tadi tercampak jatuh di atas rumput.

Sekonyong-konyong mereka dikejutkan oleh sesosok tubuh yang berkelebat cepat dari sebelah utara dan langsung menerjang Mahesa Wulung dengan samba- ran-sambaran penggada berduri.

Wesss! Wees! Syaaat!

Penggada berujung duri-duri tersebut mengurung Mahesa Wulung dengan bertubi-tubi. Untunglah pen- dekar Demak ini cukup tangkas dan iapun mene- baskan pedangnya ke sana-ke mari menyambut setiap serangan lawan dengan gigih dan tangkas.

“Busyet! Keparat!” teriak si penyerang yang berke- pala botak mirip burung bangau itu dan berputaran di udara lalu mendarat di atas tanah dengan ringannya. “Setan! Kau mencampuri urusan kami?!” seru Ma-

hesa Wulung.

“Mengapa tidak! Kau telah mencelakai muridku! Be- lum tahu kau, haa?! Akulah si Bango Wadas dari Mua- ra Serang!” teriak si penyerang itu membuat Mahesa Wulung setengah kaget dan cemas. “Sekarang kau ha- rus mati di tanganku, keparat!”

Ki Bango Wadas melesat dan menerjang kembali ke arah Mahesa Wulung dan terjadilah pertempuran dah- syat untuk kedua kalinya di tepi Kali Serang ini. Mas- ing-masing menumpahkan segala ilmu dan kepan- daiannya, membuat pertempuran tersebut semakin hebat serta mencemaskan siapa saja yang melihatnya.

Sampai di sini, berakhirlah cerita seri Naga Geni “Bentrok di Kali Serang” dan segera akan sampai ke- pada Anda, seri Naga Geni yang berikutnya yakni “Har- ta Tanjung Bugel”. Di sini para pembaca akan tahu siapakah sesungguhnya Ki Bango Wadas dan bagai- mana dengan Lawunggana serta Harta Tanjung Bugel itu!

TAMAT