Serial Naga Geni Eps 09 : Misteri Kapal Hantu

 
Eps 09 : Misteri Kapal Hantu


DESA MIJEN kini telah aman kembali setelah tum- pasnya gerombolan Ki Topeng Reges dari Watu Sem- plak. Para penduduk tadi kini dapat mencurahkan se- genap tenaga dan pikirannya guna membangun de- sanya seperti memperbaiki bangunan dan jalan-jalan yang rusak, menggarap sawah dan lain sebagainya. Dan mereka benar-benar menikmati permainan game- lan dan uyon-uyon yang diselenggarakan oleh Lurah Mijen semula.

Namun sore hari itu mereka dikejutkan oleh derap- derap kaki kuda yang masuk dari arah selatan desa.

“Oh, prajurit-prajurit Demak!” desis orang-orang de- sa yang kebetulan melihatnya, sedang dalam hati me- reka pun penuh tanda tanya akan maksud kedatangan kelima prajurit berkuda itu yang langsung menuju ke pendapa kelurahan.

Sesudah kelimanya turun dan menambatkan ku- danya, mereka pun berjalan ke arah pintu pendapa. Tapi belum lagi mereka masuk, sebuah bayangan ber- kelebat dari arah samping pendapa mendapatkan ke- lima prajurit itu.

“Adi Jagayuda?!” bayangan tadi berseru.

“Kakang Mahesa Wulung?!” seru salah seorang di antara kelima prajurit tersebut yang segera menyam- but Mahesa Wulung. Keduanya segera berangkulan saling mengguncangkan bahu seraya tersenyum lebar.

“Oh, aku telah lama tak bertemu Kakang. Tapi syu- kurlah bila selama ini Kakang dalam sehat-sehat saja.” “Hee, tapi dari mana Adi Jagayuda dapat mengeta- hui bahwa aku berada di sini?” ujar Mahesa Wulung

setengah heran. “Itu kuketahui dari kesatuan Nara Sandi, Kakang,” jawab Jagayuda. “Mereka memberi tahu dan menu- gaskanku kemari agar Kakang Mahesa Wulung kami jemput pulang ke Demak.”

“Tapi aku belum selesai dengan tugasku, Adi. Baru sebagian saja yang aku selesaikan,” sambung Mahesa Wulung. “Dan apa nanti kata para Wira Tamtama De- mak, bila untuk kesekian kalinya aku belum berhasil menyelesaikan kewajibanku. Catatan rahasia panah Braja Kencar masih berada di tangan Rikma Rembyak dan aku belum dapat mencium jejaknya. Untunglah Ki Topeng Reges yang merupakan bahaya pertama bagi Demak telah binasa, dan kini tinggal bahaya kedua da- ri Rikma Rembyak saja yang harus kita pecahkan.”

“Jadi Kakang telah berhasil membinasakan Ki To- peng Reges?!” desis Jagayuda terkejut, sementara Ma- hesa Wulung menganggukkan kepalanya pelan.

“Benar Adi, Ki Topeng Reges telah binasa oleh ilmu- nya sendiri,” Mahesa Wulung berkata. “Ia binasa se- timpal dengan kejahatan-kejahatannya.”

“Hebat kalau begitu. Hal itu tentu akan merupakan laporan luar biasa bagi kesatuan Wira Tamtama De- mak,” Jagayuda berkata pula. “Dan mereka pun telah menanti-nanti kedatanganmu di Demak, Kakang. Se- bab ada sesuatu yang telah terjadi di Laut Jawa dan menggegerkan kalangan para nelayan serta armada Demak!”

“Apakah itu, Adi?!” seru Mahesa Wulung kaget. “Sebuah kapal hantu telah muncul di laut utara

dan mengacaukan lalu lintas pelayaran!”

“Kapal hantu?! Oh, baru sekali ini aku mendengar- nya!” tukas Mahesa Wulung. “Dan mengapa ia disebut dengan nama kapal hantu?”

“Kapal tersebut tidak berlayar dengan layar, Ka- kang. Meskipun ada layar yang terpasang di tiang- tiang layarnya, tapi tidak lebih dari kain-kain tua yang telah compang-camping dan tidak mungkin ia mampu melayarkan badan perahunya. Yang menyebabkan ia disebut kapal hantu tadi, ialah keadaan kapal yang tampak seram berwarna agak kehitaman dan sepi. Se- panjang keterangan yang telah terkumpul, di atas ge- ladak kapal tadi tak pernah seorang pun yang tampak di situ, kecuali dayung-dayung kapal yang bergerak sendiri di kedua sisi dindingnya, sehingga kapal tadi seolah-olah bergerak sendiri. Itulah sebabnya orang- orang menamakannya Kapal Hantu!”

“Wah, luar biasa. Aku dapat membayangkan bahwa kapal itu merupakan pemandangan yang mengerikan!” sela Mahesa Wulung saking takjubnya.

“Tepat, Kakang. Orang-orang memang merasa ngeri bila kapal itu muncul. Kebanyakan ia menampakkan diri di waktu matahari mulai terbenam sampai mata- hari terbit kembali. Tapi kadang-kadang waktu siang hari yang diliputi kegelapan mendung ia muncul juga.” “Belum pernahkah seorang yang mendekatinya?”

terdengar Mahesa Wulung bertanya.

“Pernah. Pernah sekali ada sebuah perahu nelayan berusaha mendekatinya dengan maksud menyelidik. Tapi belum lagi mendekat, perahu nelayan tadi tiba- tiba menyala biru terang dan sekejap semua penum- pangnya binasa, kecuali seorang yang sempat terjun ke laut dan selamatlah dia.”

“Elho, ah ada tamu. Silakan Tuan-tuan masuk!”

Sebuah sapa dari arah pendapa terdengar memecah keasyikan tadi. Ki Lurah Mijen telah berdiri di ambang pintu.

Baik Mahesa Wulung, maupun Jagayuda ataupun keempat prajurit lainnya seperti tersadar dari lamunan oleh sapa Ki Lurah Mijen tadi.

“Maaf, Ki Lurah. Kami memang telah lama tidak sal- ing berjumpa dan bercakap-cakap. Perkenalkanlah, ini adalah Adi Jagayuda dari kesatuan Armada Demak.”

Mendengar perkataan Mahesa Wulung tadi, Ki Lu- rah segera mengulurkan tangannya kepada Jagayuda sambil terbata-bata berkata pula. “Saya Ki Lurah Mi- jen.”

Jagayuda pun segera pula menjabat tangan Ki Lu- rah. “Nama saya Jagayuda, Bapak.”

Sesudah itu Ki Lurah juga berkenalan dengan keempat prajurit Demak lainnya dan sejurus kemudian mereka telah masuk ke dalam pendapa kelurahan. Me- reka bertujuh duduk-duduk dalam balai-balai panjang beralaskan tikar pandan beranyam halus.

Sesudah mereka saling berkenalan dan minum- minum sekadarnya, mulailah Jagayuda mengutarakan maksud kedatangannya ke Desa Mijen ini, yakni men- jemput Mahesa Wulung untuk kembali ke Demak.

“Nah, demikianlah, Ki Lurah. Tugas berat bagi Ka- kang Mahesa Wulung telah memanggilnya,” ujar Ja- gayuda mengakhiri ceriteranya. “Dan ia harus kembali secepatnya.”

“Hmmm, yah. Aku pun dapat memakluminya, Tuan. Secara kebetulan memang Angger Mahesa Wulung ju- ga bermaksud kembali ke Demak untuk melaporkan kematian Ki Topeng Reges itu. Jadi dia sudah bersiap- siap untuk berangkat besok pagi dan saya berharap kepada Tuan agar Andika berlima sudi bermalam di desa ini. Dengan begitu maka Andika berangkat besok pagi bersama-sama dengan Angger Mahesa Wulung.”

Jagayuda mengangguk kecil dan berkata, “Baiklah, Ki Lurah. Kami tidak keberatan untuk tinggal mengi- nap di sini malam ini. Tapi kami pun mengharap agar Ki Lurah tidak terlalu merepotkan diri dengan keda- tangan kami ini.”

“Oh tidak, Tuan. Andika tak perlu cemas. Kami ju- stru merasa gembira bisa menjamu tamu dari kota. Si- lakan Tuan-tuan beristirahat dengan seenaknya,” ujar Ki Lurah Mijen, lalu ia berpaling ke belakang ke arah dalam seraya berseru. “Bune, Bune! Kemarilah seben- tar. Ini ada tamu kita!”

Sebentar kemudian, dari arah dalam terdengar langkah-langkah kaki dan muncullah Nyi Lurah serta Endang Seruni mendekat ke balai-balai dengan mem- bawa air minum.

“Nah, Bune. Inilah tamu-tamu dari Demak. Mereka adalah teman-teman Angger Mahesa Wulung dan ber- maksud menjemputnya pulang ke Demak. Maka siapkanlah tempat bermalam mereka di gandok kulon dan kita akan makan bersama malam nanti sehabis maghrib.”

“Eh, baiklah, Pak. Sekarang juga akan aku siapkan makanannya,” kata Nyi Lurah, sementara Endang Se- runi telah menghidangkan minuman tadi yang ditaruh dalam mangkuk-mangkuk tembikar. Setelah itu kedu- anya masuk kembali ke dalam.

“Cuma wedang serbat saja, Tuan. Marilah kita mi- num mumpung masih hangat,” ajak Ki Lurah Mijen dan mereka pun meminumnya dengan senang. Apalagi mereka sebenarnya telah haus, setelah berkuda dari Demak sejauh itu.

Tidak hanya itu saja mereka pun telah merasa lapar pula, maka selewat magrib, setelah tiba saat untuk makan, kelima orang itu nampak betapa lahapnya me- reka menikmati nasi hangat, sayur rebung, sambal pe- tai dan goreng tempe. Yah, mereka serasa makan di rumahnya sendiri. Melihat itu semua, Ki Lurah Mijen justru merasa bahagia bahwa tamu-tamunya tadi sungguh-sungguh mau menikmati hidangannya.

Kemudian bila tiba waktunya untuk tidur, Ki Lurah pun segera pula mempersilakan para tamunya untuk beristirahat. Tapi tidak demikian dengan Mahesa Wu- lung. Ia tidak segera memejamkan mata. Maka sesaat kemudian ia membuka pintu kamar gandok kulon.

“Heh, malam terang bulan,” gumam Mahesa Wulung seorang diri. Ditengoknya arah belakang dan terlihat- lah betapa Jagayuda serta keempat prajurit lainnya terpulas tidur di atas balai-balai. “Biarlah mereka tidur sepuasnya, aku akan menghirup udara malam di luar. Ooo..., betapa segarnya malam bermandi sinar perak sang purnama ini.”

Mahesa Wulung melangkah keluar menuju ke ha- laman samping. Suasana nampak tenang dan tentram, sedang di langit bintang-bintang bertaburan laksana ribuan permata yang mengelilingi sebuah bola perak raksasa.

Yang terdengar kemudian adalah bunyi dering jeng- kerik dan belalang menghimbau malam itu.

Belum lagi Mahesa Wulung selesai mengagumi ma- lam yang indah itu, tiba-tiba terdengarlah bunyi geme- risik daun ilalang di sampingnya, menyebabkan ia me- mutar tubuhnya ke samping secepat kilat serta bersia- ga menghadapi segala kemungkinan.

Namun satu kenyataan membuat Mahesa Wulung terhenyak kaget, sebab yang berdiri di sampingnya itu adalah Endang Seruni dengan wajah yang sayu serta pandangan yang kosong menatap ke arah Mahesa Wu- lung.

Melihat Endang Seruni yang berwajah manis tetapi menampakkan roman muka yang sayu tadi, menye- babkan pasti pendekar muda ini berdesir seketika. “Eh, Adi Endang Seruni, mengapakah engkau?” ber- tanya Mahesa Wulung dengan sedikit tergagap.

Namun Endang Seruni tidak lekas menjawab, kecu- ali ia tertunduk sesaat, sampai terdengar kembali Ma- hesa Wulung bertanya pula, “Mengapa engkau datang ke tempat ini, Adi?”

“Aku sengaja kemari, Kakang Wulung. Aku ingin bercakap-cakap denganmu sebelum engkau mening- galkan desa ini,” Endang Seruni menjawab. “Bukankah besok pagi Kakang akan kembali ke Demak?”

“Ya. Adi sudah tahu, bukan?” ujar Mahesa Wulung. “Dan sekarang, biarlah aku berpamit sekali kepadamu, Adi.”

“Sayang Kakang harus pergi meninggalkan kami, dan aku akan kesepian karenanya,” Endang Seruni berkata lirih. “Dan mungkin kita tak pernah berjumpa lagi.”

Mendengar perkataan gadis itu, Mahesa Wulung ja- di terpekur. Dan seketika itu teringatlah bahwa seha- rusnya ia sudah mengawini Endang Seruni, karena ia telah memenangkan sayembara sebagai calon suami Endang Seruni sesudah ia berhasil menyelamatkan gadis ini dari tangan gerombolan Jaramala, beberapa waktu berselang.

“Mengapa diam saja, Kakang? Aku tahu, Kakang Wulung akan segera melupakanku. Kini aku sadar bahwa Andika tidak mencintaiku. Bukankah begitu, Kakang?”

Mahesa Wulung tersentak oleh kata-kata Endang Seruni yang beruntun bagai hempasan gelombang.

“Maaf, Adi Seruni, aku tak dapat menjawab perta- nyaanmu itu.”

“Oh, kau tak mau berterus terang kepadaku, Ka- kang Wulung,” sahut Endang Seruni tak sabar. “Kata- kanlah isi hatimu itu, Kakang, supaya aku menjadi le- ga karenanya.”

“Dulu aku pernah mengatakan, bahwa ada seorang gadis yang telah mencintaiku. Kau tahu bukan, gadis itu telah mendambakan cintanya kepadaku dan aku tak dapat meninggalkannya begitu saja. Aku tak ingin mengkhianatinya.”

“Tapi... tapi, Kakang telah keluar sebagai pemenang sayembara itu, karena Kakang Wulung telah membe- baskanku dari tangan-tangan gerombolan Jaramala!” tukas Endang Seruni mendesak.

“Memang aku telah membebaskanmu, Adi Seruni. Tapi aku tak tahu bahwa hal itu merupakan suatu sayembara!” berkata Mahesa Wulung. “Menolong orang yang kesukaran adalah merupakan satu kewajiban yang mulia bagiku. Jadi aku tak mengharapkan apa- apa dari perbuatanku tadi.”

Mahesa Wulung kemudian diam sesaat apabila di- dengarnya isakan-isakan lembut dari Endang Seruni. Dan ketika ia menatap ke wajah gadis itu, terlihatlah olehnya beberapa butiran air mata yang berkilatan ke- timpa sinar rembulan, berderai runtuh ke pipinya. Dengan begitu sadarlah ia bahwa kata-katanya terlalu tajam.

“Adi Seruni..., maafkan aku, Adi. Barangkali kata- kataku terlampau keras buatmu ”

“Oh, betul... kata-katamu terlalu keras,” isak En- dang Seruni. “Kau tak menyukaiku lagi, Kakang? Ah betapa kejam dunia ini!”

“Jangan berkata demikian, Adi. Aku menyayangimu sebagai adikku sendiri. Tapi tentang cinta itu, aku tak dapat memikirkannya, lebih-lebih apabila tugas yang besar belum terselesaikan olehku.”

Jadi aku harus melupakanmu, Kakang? Oh, betapa dapat aku melupakannya. Betapa dapat?”

“Adi Seruni... aku coba membuatmu mengerti! Kea- daan mengharuskan kita berpisah di sini.”

Endang Seruni merasa akan meledak tangisnya, namun tiba-tiba di dalam angan-angannya terbayang, bahwa dengan berbuat begitu maka orang-orang akan terbangun dan berdatangan ke tempat mereka dan akan lebih runyamlah peristiwa itu. Memang ia sebagai gadis desa saja, tetapi ayah ibunya telah mengajarnya tentang sifat-sifat kebijaksanaan dan keluhuran budi. Maka betapapun berat goncangan perasaannya, akhir- nya, dengan bersusah payah iapun dapat mengata- sinya. Iapun kemudian sadar bahwa cinta tak dapat dipaksakan. Cinta hanya terjadi bila dua hati saling menyentuh dan terpadu menjadi satu. Sedang kenya- taan yang ia hadapi sekarang tidaklah begitu. Ia tidak dapat mengharapkan cinta dari Mahesa Wulung, pen- dekar muda yang berdiri di hadapannya ini, karena ha- tinya telah terisi oleh cinta gadis lain. Kini sadarlah Endang Seruni dan dengan tenang kemudian ia berka- ta, “Baiklah, Kakang Wulung. Biarlah kita terima saja apa yang telah terjadi dan bakal terjadi. Rupanya per- pisahan antara kita harus terjadi. Tetapi, ijinkanlah aku sekali lagi memohon sesuatu kepadamu, Kakang Wulung!”

“Apakah permintaanmu, Adi? Katakanlah. Bila aku kuasa meluluskannya, pastilah aku penuhi dengan se- nang hati.”

Endang Seruni kemudian tampak melepaskan se- buah untaian kalung dari lehernya dan lalu diulur- kannya kepada Mahesa Wulung.

“Kakang Wulung, terimalah kalung ini untukmu. Simpanlah sebagai kenang-kenangan dari seorang ga- dis yang pernah mencintaimu.” Mahesa Wulung terpukau menatap seuntai kalung emas yang mempunyai mata sebuah batu hijau berki- lat halus dan berbentuk setengah lingkaran dengan beberapa guratan pada permukaannya. Dengan berde- bar ia menggenggam benda itu.

“Betapa aku dapat menerima kalung yang indah lagi berharga ini, Adi Seruni?” tanya Mahesa Wulung.

“Simpanlah, Kakang Wulung! Itulah permintaanku satu-satunya. Atau campakkanlah ia ke tanah bila kau menolaknya. Nah, Kakang Mahesa Wulung, selamat jalan kuucapkan dan terimalah salam perpisahan dari adikmu ini!”

“Hee, mengapa...?” Mahesa Wulung terkejut bila ta- hu-tahu gadis ini tiba-tiba mendekapnya, kemudian terasa sebuah kecupan di pipinya dan selanjutnya En- dang Seruni berlari lincah ke dalam rumah. Dengan hati masih berdebar, Mahesa Wulung mengusap pipi- nya dan sesaat kemudian ia mengamat-amati kalung pemberian gadis tadi.

Di dalam cahaya bulan itu Mahesa Wulung dapat melihat bahwa guratan-guratan pada permukaan batu permata tadi bukanlah merupakan sebuah ukiran

penghias. Tetapi lebih mirip sebuah denah atau se- buah peta. Namun Mahesa Wulung tidak terlalu lanjut memikirkannya, maka disimpanlah kalung tadi ke da- lam saku di balik bajunya.

Bulan di langit masih bersinar terang, yang kini te- lah bergeser lebih ke barat. Sementara angin malam makin dingin seakan-akan menusuk ke tulang sum- sum. Mahesa Wulung kemudian berjalan, kembali ke kamarnya di gandok rumah sebelah barat.

*** 2

DI SAAT UJUNG sinar fajar telah menyapu puncak- puncak pepohonan di Desa Mijen, beberapa ekor kuda telah tertambat di halaman pendapa kelurahan leng- kap dengan pelananya. Tak jauh dari kuda-kuda tadi, berdirilah empat orang prajurit. Mereka tengah me- nunggu sesuatu, dan tak lama kemudian tampaklah Mahesa Wulung bersama Jagayuda berjalan ke luar dari rumah pendapa kelurahan, disusul oleh Ki Lurah Mijen dengan istrinya dan di belakangnya berjalan pu- la Endang Seruni. Kesemuanya menuju ke arah kuda- kuda tadi.

Dalam pada itu telah tiba pula di pintu gerbang ha- laman kelurahan, Pendekar Bayangan dan Ki Rebab Pandan. Keduanya berjalan dengan tenangnya men- dekati mereka yang tengah berkumpul tadi.

“Selamat pagi, Ki Rebab Pandan serta Ki Pendekar Bayangan,” sapa Ki Lurah Mijen kepada kedua Pen- dekar setengah tua yang kini berdiri di dekatnya.

“Selamat pagi, Ki Lurah,” jawab mereka hampir ber- bareng seraya mengangguk hormat.

“Kini tiba saat perpisahan buat kita. Ah, sayang se- kali. Rasanya kita telah berkumpul puluhan tahun la- manya, meskipun cuma beberapa minggu saja,” ujar Ki Lurah parau. “Kami sedesa tak dapat membalas jasa Andika berdua dan juga kepada Angger Mahesa Wu- lung. Hanya kepada Tuhan Yang Maha Pengasihlah kami bermohon, semoga Andika bertiga mendapat ka- runia dan pahalanya yang baik, atas jasa Andika yang telah bersusah payah melepaskan kami dari bahaya keganasan Ki Topeng Reges dengan gerombolannya.”

“Terima kasih, Ki Lurah” berkata Pendekar Baya- ngan. “Meskipun berpisah dan jauh di mata, tetapi kita akan tetap dekat di hati. Kami akan senantiasa me- ngenang desa ini serta segenap penduduknya yang ramah-tamah dan punya semangat kerja.”

“Ke manakah Andika akan pergi?” tanya Ki Lurah kepada Pendekar Bayangan. “Apakah juga akan ke De- mak bersama Angger Mahesa Wulung?”

“Tidak, Ki Lurah. Saya akan kembali ke Semarang dan kemudian ke Ungaran. Sedang Ki Rebab Pandan akan kembali ke Padepokan Gunung Merapi.”

“Ooh, jadi Andika bertiga pun akan berpisah juga?” tanya Ki Lurah pula.

“Benar. Namun dalam saat-saat yang genting kami akan saling membantu dan bekerja sama,” ujar Pen- dekar Bayangan.

Demikianlah, sesudah mereka saling berjabat ta- ngan dan berpamit meminta diri, kedelapan orang itu melompat ke atas punggung kudanya masing-masing. Mereka menderapkan kudanya ke arah selatan dengan debu dan kerikil berloncatan kesana-kemari. Sedang orang-orang di halaman kelurahan, terutama Endang Seruni, terus mengikuti mereka dengan pandangan matanya yang berkaca-kaca. Teringatlah ketika ia menjabat tangan Mahesa Wulung tadi hampir-hampir saja ia tak mau melepaskan.

Tetapi rupanya tidak hanya Endang Seruni yang merasa terharu. Begitupun juga Mahesa Wulung yang kini memacu kudanya ke arah pintu selatan desa, me- rasakan betapa ia harus menahan perasaannya ketika ia harus berpisah dengan Endang Seruni. Sungguhpun gadis itu tak kalah cantiknya dengan Pandan Arum, tapi ia tak ingin mencintainya, sebab itu berarti mengkhianati kekasihnya.

Tiba di pintu selatan desa, mereka membelok ke ba- rat daya dan kuda-kuda tadi kini berlari lebih kencang dan leluasa. Mereka melewati jalan yang kiri kanannya ditanggul dengan batu-batuan, dan juga dikelilingi oleh daerah persawahan dan kebun-kebun tebu serta bebe- rapa petak tanaman tembakau.

Bila Mahesa Wulung sesekali menengok ke bela- kang, kini terlihatlah bahwa desa tadi semakin jauh dan kelihatan mengecil dan akhirnya hilang dari pan- dangan mata karena tertutup oleh pepohonan yang melebat tumbuh di sana-sini.

“Guru, mengapa Andika tidak singgah dulu nanti ke Demak?” tanya Mahesa Wulung kepada Pendekar Bayangan yang berkuda di samping kanannya.

“Sebenarnya saya belum dapat singgah sekarang. Mungkin lain kali saya akan menengokmu ke Demak atau Jepara.” ujar Pendekar Bayangan kepada pende- kar muda ini. “Dan saya akan memberi tahu kepada Adi Panembahan Tanah Putih, bahwa Angger Mahesa Wulunglah yang dapat membinasakan Ki Topeng Reg- es. Beliau tentu akan bangga karenanya.”

“Ah, terima kasih jika Guru bermaksud demikian. Ijinkanlah pula aku menyampaikan salam bakti ke ha- dapan Bapak Panembahan Tanah Putih di Asema- rang.”

“Ya, ya. Jangan kuatir, Angger. Salam baktimu buat Adi Panembahan Tanah Putih pasti aku sampaikan. Aku akan singgah dan bermalam di sana barang sehari dua hari sebelum aku kembali ke Ungaran.”

“Guru, mengapakah murid Ki Topeng Reges yang Andika pukul itu masih kuat bertahan?” Mahesa Wu- lung bertanya.

“Hmm, memang dia cukup hebat, Angger. Tetapi seandainya ia tidak dilarikan oleh si Monyong Iblis itu, pastilah dia dapat kita tangkap!” “Kedua orang tersebut pasti akan melaporkan ke- matian Ki Topeng Reges kepada Ki Rikma Rembyak! Dan mereka pasti akan lebih hati-hati lagi dalam menghadapi kita!” sahut Mahesa Wulung.

“Mungkin juga begitu. Tapi Angger jangan lupa bahwa dengan berita kematian Ki Topeng Reges tadi, mereka akan keder juga hatinya bila menghadapi kita!” ujar Pendekar Bayangan dan karenanya Mahesa Wu- lung mengangguk pelan. “Heh, tetapi siapakah orang- nya yang mengenakan topeng mirip Ki Topeng Reges itu?!”

Mendengar pertanyaan gurunya itu Mahesa Wulung tidak lekas-lekas menjawab, melainkan sesaat ia ber- diam diri memutar ingatannya.

“Oh, ya. Aku dapat mengingatnya, Guru. Seorang anak buah Ki Topeng Reges yang luka parah, sebelum sampai ajalnya ia telah mengaku bahwa orang tadi adalah murid kinasih Ki Topeng Reges. Dia bernama Jaramala!”

“Jaramala? Mm, namanya cukup perkasa. Aku jadi teringat dan seolah-olah pernah mendengar nama se- macam itu. Yah, dulu ada seorang tokoh hitam berna- ma Jorengmala di waktu masih muda. Orang tersebut pada suatu hari dikepung oleh prajurit-prajurit dan tamtama Demak. Sesudah bertempur dan ia terluka parah, ia masih sempat melarikan diri dan namanya lenyap, tak pernah disebut-sebut lagi sejak saat itu!”

“Apakah kedua nama tadi ada hubungannya, Gu- ru?” bertanya Mahesa Wulung dengan menatap Pende- kar Bayangan.

“Bisa juga mereka masih satu keluarga, Angger. Atau setidak-tidaknya masih satu perguruan,” jawab Pendekar Bayangan. “Tentang Jaramala itu sendiri, Angger tidak perlu mencemaskannya, setelah ia kena terpukul oleh tongkatku. Kalau ia tidak mati pasti ia akan cedera juga akibatnya, sebab pukulan tongkatku tadi aku lambari dengan pukulan Angin Bisu!”

“Uuh!” desis Mahesa Wulung kagum. Diam-diam ia mengakui kekuatan Jaramala. “Tapi apakah Guru memukulnya dengan tenaga penuh?”

“Memang tidak, Angger. Maksudku agar ia dapat ki- ta tangkap segera, seandainya Monyong Iblis tidak membawanya kabur.”

Dengan bercakap-cakap begitu asyik tadi, mereka tidak merasa bahwa jalan yang ditempuh telah begitu jauh dengan melewati hutan-hutan kecil di sepanjang kiri-kanan jalan.

Kemudian menjelang sore hari, sampailah mereka berdelapan di pintu gerbang kota Demak. Sesudah membelok sedikit ke selatan, kemudian membelok ke barat dan melewati pintu gerbang kota Demak, kuda- kuda mereka tidak lagi berpacu kencang melainkan menderap-derap kecil serta sekali-sekali melenggok- lenggokkan kepalanya seakan-akan merasa gembira telah sampai ke tempat tujuan, kota Demak yang me- gah di daerah pantai utara Jawa.

“Nah Angger Mahesa Wulung, sampai di sinilah kita harus berpisah sekarang. Kami berdua akan terus ke barat menuju ke Asemarang,” berkata Pendekar Bayangan, ketika mereka telah mendekati pusat kota di mana pusat pemerintahan berada.

“Selamat tinggal, Mahesa Wulung. Lain kali kita akan bertemu lagi,” Ki Rebab Pandan turut berkata pu- la. “Dan semoga Tuhan selalu melindungi kita!”

“Selamat jalan, Andika berdua” seru Mahesa Wu- lung kepada kedua pendekar itu yang terus berpacu ke arah barat meneruskan perjalanannya ke Asemarang.

Beberapa saat kemudian mereka telah jauh dari pandangan mata. Mahesa Wulung, Jagayuda dan pra- jurit-prajurit itu, kemudian membelok ke utara menuju ke sebuah pendapa yang berhalaman luas dan berpin- tu gerbang yang dijaga oleh dua orang prajurit bertom- bak. Mereka memberi hormat ketika rombongan ini melewatinya.

Dalam pada itu di dada Mahesa Wulung terasa ke- haruan yang tertahan, ketika sepanjang perjalanan di kota ini masih banyak orang-orang yang mengenal diri- nya. Beberapa orang telah mengangguk memberi salam disertai wajah cerah yang ramah dan tersenyum kepa- danya.

Di halaman yang luas seperti alun-alun kecil itu ke- lihatan prajurit-prajurit tengah berlatih olah keprajuri- tan. Pada wajah-wajah mereka terbayang semangat dan kegigihan berjuang, membuat Mahesa Wulung ikut merasakan bangga. Setelah Mahesa Wulung, Ja- gayuda dan keempat prajurit berkuda tadi menghenti- kan kudanya, mereka lalu menambatkan kudanya da- lam sebuah kandang di samping pendapa. Kini Mahesa Wulung bersama Jagayuda menuju ke pendapa tadi, sementara keempat prajurit tersebut bergabung de- ngan kelompok prajurit-prajurit yang tengah berlatih keprajuritan di halaman.

Begitu masuk di pendapa Balai Ksatrian tersebut, keduanya disambut oleh beberapa tamtama, seperti Ranujaya, Ki Tambakbayan, Sandi Pradangga, Wira Sengkala dan masih banyak lagi lainnya. Mereka de- ngan tergopoh-gopoh dan gembira menyambut kedata- ngan Mahesa Wulung, seorang Wira Tamtama dan juga seorang pendekar yang sudah tidak asing lagi na- manya bagi orang-orang Demak.

Ki Tambakbayan yang tertua berkata dengan hor- matnya, “Angger Mahesa Wulung, kami sekalian meng- ucapkan selamat datang atas kembalinya Angger ke Demak setelah sekian lamanya berkelana mengemban tugas negara.”

“Terima kasih, Bapak. Saya pun telah rindu kepada Demak yang saya tinggalkan begitu saja dan sekarang baru sempat kembali setelah Ki Topeng Reges berhasil kami hancurkan.”

“Syukurlah Angger lekas-lekas kembali, sebab baru- baru ini lalu lintas pelayaran terganggu oleh muncul- nya Kapal Hantu dan tentunya Armada Demaklah yang harus menangkapnya. Maka kami akan menugaskan Angger sebagai seorang Perwira Armada untuk menye- lesaikan hal tersebut.”

“Baik, Bapak. Saya juga sudah mengetahuinya dari Adi Jagayuda tentang Kapal Hantu tadi. Dari ceritera tentang sebuah perahu yang mencoba mendekati kapal tersebut, dan akhirnya terkena sinar biru hingga se- mua penumpangnya binasa. Saya lalu teringat sewak- tu kita dahulu membicarakan perihal rahasia Panah Braja Kencar dan hilangnya Empu Baskara.”

Wajah Ki Tambakbayan terangkat dan terperanjat oleh perkataan Mahesa Wulung tadi. Ia pun lalu ter- ingat pula akan hal itu. “Ah, Angger berpikir dengan cemerlang!”

“Ya, perkataan Adi Mahesa Wulung tidak keliru. Aku pun dulu pernah berceritera kepadamu bahwa Panah Braja Kencar dapat membunuh makhluk hidup sampai korban-korbannya binasa dengan tubuh me- ngering dan hangus kebiruan!” ujar Ranujaya me- nyambung pembicaraan.

“Itulah yang aku maksudkan, Kakang Ranujaya. Jangan-jangan antara Kapal Hantu dan Panah Braja Kencar serta Ki Rikma Rembyak ada hubungannya an- tara satu dengan lainnya,” sahut Mahesa Wulung sege- ra.

“Jika demikian, Kapal Hantu tadi harus secepatnya

kita tangkap agar kita dapat segera mengetahui siapa yang berdiri di balik rahasia Kapal Hantu tersebut,” Ki Tambakbayan berkata.

“Semua akan saya kerjakan, Bapak!” Mahesa Wu- lung berkata. “Dan Barong Makara akan muncul kem- bali di lautan. Tetapi lebih dulu saya akan menye- rahkan sepasang pisau belati pusaka yang kami ram- pas dari gerombolan Ki Topeng Reges.” Mahesa Wulung kemudian mengambil sebuah bungkusan dari balik ba- junya dan diletakkan di atas meja di hadapan para Wi- ra Tamtama ini. Kemudian selanjutnya Mahesa Wu- lung membuka bungkusan kain putih tadi dan terli- hatlah dua buah pisau belati berwarna kuning.

Semua yang hadir di situ serentak berdesis kagum melihat sepasang pisau belati pusaka tadi, yang seo- lah-olah berpijar kekuningan.

“Pusaka ini namanya Kiai Brahmasakti. Saya mo- hon agar ia disimpan dalam gudang pusaka,” kata Ma- hesa Wulung kemudian.

“Ooh, jika Angger Mahesa Wulung dapat menambah jumlah senjata pusaka di sini, rasa-rasanya akan lebih lengkap lagi jika kedua pusaka kita yang hilang itu te- lah kita temukan kembali,” terdengar Ki Tambakbayan berkata.

“Dua senjata pusaka kita hilang?!” desis Mahesa Wulung.

“Betul, Angger. Pusaka tadi adalah Kiai Nagasasra dan Sabukinten. Seorang Wira Tamtama telah pergi mencarinya, tetapi sampai sekarang belum kembali.”

Mahesa Wulung jadi tertarik oleh ceritera Ki Tam- bakbayan ini, maka bertanya pulalah ia. “Siapakah Wi- ra Tamtama itu, Bapak?” “Mm, meskipun belum mengenalnya, tapi Angger setidak-tidaknya pernah mendengar namanya. Karena memang Wira Tamtama tadi tidak berdiri dalam ling- kungan Armada Laut Demak. Dia bergelar Tohjaya atau dikenal pula dengan nama Mahesa Jenar.”

“Hah? Benar, Bapak. Saya memang pernah men- dengar namanya,” kata Mahesa Wulung. Dalam hati ia pun mengakui bahwa tidak semua Wira Tamtama yang ada di Demak ia kenal dengan baik. Sebab mereka memang terbagi dalam kelompok atau kesatuan yang berbeda-beda, seperti Wira Tamtama dari kesatuan prajurit darat, Wira Tamtama dari kelompok Nara San- di, dan Wira Tamtama dari kesatuan Armada Laut Demak.

Demikianlah, untuk selanjutnya, mereka, para Wira Tamtama tadi berunding untuk mengatur siasat dan usaha-usaha guna penangkapan Kapal Hantu tersebut serta latar belakangnya. Maka tak heran bila mereka menjadi sibuk dan asyik.

***

Tepat di ujung Pulau Mondoliko, berlabuhlah se- buah perahu layar kecil. Pulau ini letaknya berhada- pan dengan pesisir utara Jawa, kira-kira di sebelah utara Gunung Muria.

Pulau yang sunyi dan penuh dengan rimba pohon kelapa itu memang jarang dijamah oleh manusia, ka- rena mereka menganggap tidak banyak memberi man- faat apapun.

Tetapi mereka ternyata tidak bakal menyangka bila Pulau Mondoliko telah dijadikan tempat persembunyi- an Ki Rikma Rembyak serta orang-orangnya.

Hari itu ketika Ki Rikma Rembyak mendengar berita tentang perahu yang mendarat di pulaunya, buru-buru ia memerintahkan anak buahnya siaga. “Haai, cepat kalian bersiaga! Bawa senjatamu masing-masing. Ayo ikuti aku menyambut perahu itu. Kalau itu perahu Demak yang mencoba mengusik pulau kita ini, akan kita hancurkan!”

“Yaah! Hancurkan!” serentak anak buah Ki Rikma Rembyak berseru sambil mengangkat senjatanya ke atas berbareng, dan selanjutnya mereka mengikuti pemimpinnya yang berjubah dan berambut gondrong awut-awutan ke arah selatan.

Rombongan tadi berjalan di keremangan senja da- lam sikap siaga. Walaupun mereka telah menduduki Pulau Mondoliko dan menganggapnya sebagai daerah- nya, tak urung mereka merasa cemas juga bila keda- tangan oleh prajurit-prajurit Demak. Bukannya me- reka takut bertempur, melainkan mereka sengaja me- rahasiakan sarang ini.

Tiba-tiba Rikma Rembyak memberi isyarat agar rombongan tadi berhenti, bila matanya yang setajam mata burung elang itu dapat menangkap sebuah pera- hu layar yang telah mendarat di atas pesisir.

Hati mereka pada berdebar setelah mereka bersiap mengepung perahu tadi setengah lingkaran. Mendadak sebuah teriakan burung camar laut terdengar dari arah perahu. Amat nyaring dan berkumandang meme- nuhi tempat itu.

“Kawan sendiri,” desis Rikma Rembyak pelan. Ke- mudian ia mendekati perahu tersebut sambil berteriak, “Hooi, siapa kalian?! Lekas tunjukkan mukamu kalau tidak ingin kami tangkap beramai-ramai!”

Rikma Rembyak tahu bahwa itu suara teriakan bu- rung camar laut, merupakan isyarat bagi gerombolan- nya, bila mereka ingin berhubungan antara satu de- ngan lainnya. Begitu rampung Rikma Rembyak mengucapkan per- kataannya, dari arah perahu tadi meloncatlah sesosok bayangan manusia dengan memondong tubuh manu- sia pula.

Rikma Rembyak berdesir dadanya begitu sekilas ia memandang wajah dari orang yang dipondong ini. Ia mengenakan topeng yang mirip dipakai oleh gurunya, Ki Topeng Reges! Dan ia menjadi lebih terkejut lagi bila ternyata orang yang memondongnya itu tidak lain ada- lah si Monyong Iblis. Orang ini telah diutusnya untuk menghubungi Ki Topeng Reges di Watu Semplak.

“Haah! Siapakah yang kau pondong ini, Monyong Iblis? Bukankah ini Ki Topeng Reges?!” terdengar Rik- ma Rembyak menghujankan pertanyaan. “Mengapa dengan guruku ini? Lekas terangkan!”

“Ampun, Ki Lurah. Baiknya kita bawa orang ini ke sarang lebih dahulu. Nanti aku ceriterakan duduk per- karanya!” Monyong Iblis berkata. “Dan lagi kami be- rempat masih lelah setelah bersusah payah lari dari pantai Demak!”

“Hmm, bagus. Sekarang kembali ke sarang kita, ce- pat!”

Seperti juga Ki Rikma Rembyak, maka Monyong Ib- lis itupun bergegas pula ke arah utara kembali, sedang di belakang mereka anak buah Rikma Rembyak ber- iring-iring berjalan mengikuti pemimpinnya.

Hutan pohon kelapa dan nipah yang tumbuh liar di sepanjang pantai bagai memagari pulau itu dari mara- bahaya. Begitu ketatnya pohon-pohon tadi hingga sisa- sisa warna lembayung senja tidak kuasa menembus- nya, dan benar-benar merupakan pemandangan yang mengerikan.

Tapi tidak demikianlah dengan Rikma Rembyak dan orang-orangnya. Mereka berjalan dengan tenangnya melalui jalan yang berbelok-belok, di celah batang- batang kelapa. Beberapa orang di antaranya membawa obor.

Mereka semakin jauh dari pantai dan sampailah ki- ni di pusat pulau. Di situ terlihat beberapa rumah be- ratap dan berdinding dari daun-daun serta kayu-kayu papan dan batang pohon kelapa.

Di depan rumah-rumah itu pun terpasang obor- obor yang membuat tempat sekitarnya terang-bende- rang. Rombongan tadi berhenti di sebuah halaman rumah terbesar. Sesudah Rikma Rembyak memberi perintahnya, orang-orang tadi bubar untuk kembali ke tempatnya.

Kemudian Rikma Rembyak diikuti oleh Monyong Ib- lis yang memondong tubuh orang bertopeng tadi ma- suk ke dalam rumah.

“Nah, baringkan saja ia di balai-balai ini!” ujar Rik- ma Rembyak, dan Monyong Iblis pun mengerjakannya segera. “Sekarang, lekas ceriterakan apa yang akan kau ceriterakan, Monyong Iblis!”

“Baik, Ki Lurah!” kata si Monyong Iblis, yang mem- punyai mulut lebar dengan gigi atasnya yang menonjol ke depan. Benar-benar sesuai kalau ia disebut si Mo- nyong Iblis! Kemudian ia pun berceritera. “Ketika sam- pai di daerah Watu Semplak di kaki timur Gunung Mu- ria, kudapati perumahan Ki Topeng Reges kosong sa- ma sekali. Dari jejak-jejak kaki yang aku teliti dan aku ikuti, akhirnya sampailah aku di Desa Mijen. Ternyata Ki Topeng Reges dengan anak buahnya tengah bertem- pur melawan orang-orang desa itu. Akhirnya Ki Topeng Reges binasa oleh senjata si Mahesa Wulung yang be- rujud kaca bulat itu!”

“Kaca Sirna Praba!” desis Rikma Rembyak menyela. “Yah, mungkin itulah nama senjata tadi. Ki Topeng Reges binasa oleh ilmunya dan tubuhnya terbakar hangus. Sayang aku tak sempat menolongnya. Bahkan ketika Mahesa Wulung membuka topeng Ki Topeng Reges sambil berseru bahwa itulah wajah Umpakan, aku tak dapat berbuat apa-apa. Untunglah aku sempat menyelamatkan Topeng Reges kedua ini. Agaknya ia- pun murid Ki Topeng Reges.”

“Hehh. Sekarang marilah kita buka Topeng orang ini!” ujar Rikma Rembyak.

Topeng tadi dengan pelan dan hati-hati dibuka oleh Rikma Rembyak dengan dibantu oleh Monyong Iblis.

Dan akhirnya terbukalah topeng tadi, maka terlihat- lah wajah Jaramala yang berlepotan darah membeku. Rikma Rembyak lalu mengambil air bersih dan sobe- kan kain untuk membersihkan luka-luka tersebut. Ha- tinya bagai tersayat melihat wajah ini.

“Wah, matanya yang satu mengalami cedera!” desah Ki Rikma Rembyak. “Untunglah ia cuma pingsan saja.” “Sayang aku belum mengetahui namanya dengan

pasti!” kata Monyong Iblis kepada pemimpinnya.

“Tak apa. Sebab aku ingat bahwa Ki Topeng Reges mempunyai dua orang murid. Yang satu bernama Pe- lang Telu, karena ada tiga buah bekas luka pada kepa- lanya, sedang seorang lagi bernama Jaramala. Dan ki- ni, kau lihat kepala orang ini? Tak ada sama sekali be- kas-bekas luka. Dengan begitu aku percaya bahwa orang ini adalah murid Ki Topeng Reges yang bernama Jaramala.”

“Oh, aku kepingin menghajar orang yang bernama Mahesa Wulung itu!” seru Monyong Iblis dalam nada jengkel.

“Tak perlu tergesa-gesa, hah! Kalian berdua semen- tara tinggal di sini sampai orang ini sembuh dari luka- lukanya. Kemudian kalian kembali ke Teluk Sampit!” “Orang ini akan turut berjuang bersama kita? Ba- gus! Aku akan membawanya ke Borneo nanti!” ujar Monyong Iblis senang.

“Mudah-mudahan ia berguna bagi kita!”

Tempat itu sesaat menjadi sunyi. Sementara Rikma Rembyak dan Monyong Iblis merawat luka-luka Jara- mala. Sekali-sekali terdengar rintihan pelan dari mulut Jaramala.

Sedang di luar, beberapa anak buah Rikma Rem- byak tetap berjaga-jaga dengan mengelilingi sebuah api unggun untuk pemanas badan. Mereka akan tetap ber- jaga-jaga sampai larut malam, bahkan sampai sinar matahari muncul dari ufuk timur, barulah mereka se- lesai berjaga.

***

3

UDARA PAGI yang segar melapangkan dada meme- nuhi jalan yang menuju ke utara, di mana kota Jepara berada. Debu dan batu-batu kerikil berpencaran ke udara oleh derapan kaki-kaki kuda yang berpacu ken- cang ke arah utara.

Dua orang yang berkuda coklat tua ini berpacu ber- dampingan sambil bercakap-cakap dengan asyiknya.

“Kakang Mahesa Wulung, selama Andika pergi itu, Adi Pandan Arum selalu menunggu dan sekarang ia tinggal bersama bibi dan pamannya di lereng Gunung Muria. Ia sehat-sehat saja selama ini.”

“Eh, syukurlah jika begitu, Adi Jagayuda. Aku pun telah rindu untuk bertemu dengannya,” Mahesa Wu- lung berkata. “Dan satu hal yang selama ini senantiasa menjadi pemikiranku adalah Ki Camar Seta. Ia telah dirobohkan ketika kami berdua berkejar-kejaran de- ngan Ki Topeng Reges dan sampai sekarang aku tak mendengar lagi tentang dirinya.”

“Ki Camar Seta?” sahut Jagayuda. “Itu tak perlu Kakang risaukan!”

“Mengapa?” kata Mahesa Wulung setengah kaget. “Baiklah kalau Kakang Mahesa Wulung bertanya

lebih dulu. Ini memang akan aku ceriterakan kepada- mu. Pendekar bercaping itu ketika terluka telah dite- mukan oleh bibi Pandan Arum, yaitu Nyi Sumekar. Hingga akhirnya, sembuhlah ia setelah dirawat oleh kedua suami isteri itu. Namun ia belum bisa bergerak leluasa, sebelum pengaruh racun senjata Ki Topeng Reges yang melukainya terhapus sama sekali.”

“Eeh, tak mengira bahwa jiwanya akan tertolong, sebab aku mengira bahwa beliau akan tewas oleh sen- jata Ki Topeng Reges.”

“Yah, memang serba kebetulan jadinya. Ki Camar Seta itu diketemukan oleh Nyi Sumekar dalam keada- an tergeletak tak berdaya di rerumputan. Benar-benar hal ini seperti dalam ceritera saja,” ujar Jagayuda.

“Mmm,” terdengar Mahesa Wulung setengah bergu- mam sambil tersenyum. “Memang dalam kehidupan kita hal-hal yang secara dan serba kebetulan itu sering terjadi tanpa diminta dan tanpa dinyana. Adi Jagayuda tentu pernah mendengar tentang ceritera wayang Ra- mayana. Nah, tentu Adi tak akan lupa ketika Dewi Sin- ta dilarikan oleh Rahwana Raja bukan? Waktu itu se- cara kebetulan pula seekor garuda telah melihatnya ketika ia terbang di angkasa dan secepatnya berusaha merebut putri itu, meskipun akhirnya ia binasa oleh senjata sang Rahwana. Hal ini memang serba kebetu- lan, sebab semula sang garuda tadi tidak sengaja menghadang Sang Rahwana.” Mahesa Wulung diam sesaat dan terlihat Jagayuda manggut-manggut tanda mengarti akan tutur katanya. “Dan begitu pula dengan diriku, Adi Jagayuda. Di saat-saat aku jatuh ke Jurang Mati, aku secara kebe- tulan telah menemukan sebuah goa di mana tersimpan

sebuah kerangka manusia dengan kitab pusakanya.” “Benar, Kakang. Segala tutur katamu aku dapat

memahaminya dan aku ingin menambahkannya, bah- wa kesemuanya yang serba kebetulan tadi, berhubun- gan erat dengan nasib. Kadang-kadang hampir tidak masuk akal tampaknya seperti seorang ksatria Kurawa secara diam-diam berusaha membunuh Raden Parike- sit yang masih bayi pada saat itu. Secara kebetulan bayi tersebut menangis lalu menjejak-jejakkan ka- kinya, dan sebuah senjata panah pusaka yang diletak- kan di dekat kaki si bayi tadi kena terdupak oleh ka- kinya, hingga melesat dan menghujam tubuh si Kura- wa tadi hingga binasa!”

Mahesa Wulung merasa puas dengan kata-kata Ja- gayuda itu, maka tak heran bila ia mengangguk- anggukkan kepalanya pula.

Mereka terus memacu kudanya melewati jalan yang berbatu-batu kerakal, sedang di kiri jalan penuh de- ngan hutan pohon kelapa.

Ketika matahari semakin tinggi, mereka telah men- capai hampir separuh dari jarak yang harus mereka tempuh. Di sebuah kelokan jalan terlihatlah oleh ke- duanya sebuah warung di tepi kanan jalan.

“Adi Jagayuda, lihatlah warung di tepi jalan itu. Ba- gaimana kalau kita minum lebih dulu dan singgah se- bentar di sana?”

“Aku tak keberatan, Kakang. Ayolah! Tapi agaknya warung itu masih baru. Lihatlah atap dan dinding bambunya, semuanya masih baru.” “Tak jadi apa, toh?” Mahesa Wulung berkata ketika keduanya telah tiba di depan warung.

Mereka menambatkan kudanya lalu masuk ke da- lam warung.

“Ooo mari, Tuan. Silakan duduk,” si pemilik warung yang bertubuh agak gemuk mempersilakan kedua ta- munya ini. “Tuan berdua ini ingin minum?”

“Benar, Pak. Buatkan kami minuman kopi,” Mahesa Wulung mengajukan permintaannya dan si pemilik wa- rung tadi segera menyiapkan dua minuman kopi yang dituang dalam dua mangkuk tembikar, lalu menghi- dangkannya sekali kepada kedua tamunya.

“Terima kasih, Pak,” kata Mahesa Wulung sambil menerima mangkuk minumannya dari tukang warung tadi. Begitu pula Jagayuda, segera menerima minuman kopinya. Maka sebentar saja mereka berdua telah si- buk menikmati minumannya.

Suasana di situ tampak sangat tenang, meski kete- nangan ini terlalu berlebihan. Sebab warung tersebut terletak di pinggir jalan, jauh dari rumah tempat ting- gal ataupun desa. Tentu saja hal ini tidak luput dari pemikiran Mahesa Wulung.

Belum lagi mereka menghabiskan separuh dari mi- numan kopinya, tiba-tiba tiga orang lelaki masuk ke dalam warung. Kedatangan ketiga orang ini menge- jutkan Mahesa Wulung dan Jagayuda. Lebih-lebih ka- rena ketiganya tahu-tahu muncul di depan warung tanpa diketahui dari mana datangnya.

“Beri kami tiga mangkuk kopi!” ujar seorang yang berwajah garang berikat kepala merah soga.

Oleh permintaan ketiga tamunya yang baru, tukang warung tadi menampakkan wajah terkejut dan tanpa diduga ia mengerdipkan mata kanannya. Entah apa- kah sengaja atau tidak. Mungkin mata kanannya tadi kemasukan debu atau asap dari tungku di bela- kangnya.

Tapi anehnya, tamu yang berikat kepala merah soga ini pun mengerdipkan matanya pula. Namun Mahesa Wulung yang sejak tadi memperhatikan kedatangan ketiga orang tersebut dapat menyaksikan adegan yang cuma sekejap saja. Adegan berkedip mata ini sangat menarik bagi Mahesa Wulung.

“Maaf, Kisanak, kopinya baru saja habis. Cuma tinggal dua mangkuk dan itupun sudah diminum oleh kedua Tuan ini!” si pemilik warung berkata seraya me- nunjuk kepada Mahesa Wulung dan Jagayuda.

“Kurang ajar!” desis si wajah garang serta menoleh kepada kedua temannya. “Kopi kita telah diambil oleh kedua Tuan ini! Bagaimana kawan?!”

“Suruh kedua orang itu meminta maaf pada kita. Sebab mereka telah lancang memesan kopi milik kita!” seorang teman si wajah garang yang berhidung besar berkata dengan keras.

“Baiknya kita beri pelajaran sedikit atas kelanca- ngan mereka!” berkata pula teman si wajah garang yang seorang lagi. Bibirnya yang tebal itu mencibir me- remehkan.

Mendengar ketiga orang tersebut berkata demikian, Mahesa Wulung serta Jagayuda menjadi berjaga-jaga.

“Heei, wong kurang ajar! Sebut namamu lekas!” te- riak si wajah garang seraya menunjuk wajah Mahesa Wulung, sedang tangan kirinya mengguncang-guncang sebuah kapak bertangkai pendek. “Kalian tahu, yang berdiri di hadapanmu ini adalah Sora Gedrug!”

“Hmm, kalau kalian bertanya, akulah Mahesa Wu- lung!” ujar Mahesa Wulung tanpa tedeng aling-aling.

Mendengar nama itu, Sora Gedrug terperanjat. De- mikian juga si pemilik warung meringis menyeringai. “Hah, apakah kau berkata sebenarnya?! Jangan co- ba mengaku-aku dengan nama itu!” seru Sora Gedrug.

“Kau takut mendengarnya? Itulah namaku yang se- benarnya!” ujar Mahesa Wulung dalam sikap tenang, tanpa memperlihatkan rasa takut. Bahkan ia meneguk air kopinya menyebabkan Sora Gedrug menggeram jengkel.

“Keparat, kau meremehkan aku, ya! Kopi ini harus kusiramkan ke mulutmu!” teriak Sora Gedrug seraya menyambar mangkuk kopi kepunyaan Mahesa Wu- lung.

Namun tiba-tiba Sora Gedrug menjerit keras bila tahu-tahu pergelangan tangan kanannya kena dijepit oleh jari-jari tangan Mahesa Wulung disertai kata-kata manis.

“Sabar, Kisanak. Kau tidak dapat berbuat kurang aturan di hadapanku ini! Nah menyingkir kau!”

Mahesa Wulung lalu mengibaskan tangan kanannya dan tanpa ampun tubuh Sora Gedrug mencelat terpe- lanting menimpa sebuah bangku bambu yang seketika hancur berkepingan setelah tertimpa oleh badan si wa- jah garang tadi.

Dengan mengibas-ngibaskan kepalanya yang masih pusing dan menggeram, Sora Gedrug berdiri perlahan- lahan. Matanya jadi nyalang dan menatap tajam ke arah Mahesa Wulung, seolah-olah ia ingin menelan lu- nas lawannya ini.

“Cuh!” Sora Gedrug meludah ke lantai seraya meng- umpat-umpat. “Bergejil rembes! Nyawamu rangkap se- puluh ya, berani menghinaku seperti ni?!”

“Itu salahmu sendiri, sobat! Keributan tadi engkau- lah yang memulai!” ujar Mahesa Wulung sambil bersi- aga karena dilihatnya Sora Gedrug menimang-nimang senjata kapaknya. “Tambahan lagi persoalannya hanya air kopi. Sepele saja, bukan?”

“Ngocehlah semaumu! Kubelah semangka kepala- mu, hah! Hyaaat!” Sora Gedrug secepat kilat menya- betkan kapaknya ke arah kepala Mahesa Wulung. Be- gitu cepat gerakannya hampir-hampir sukar tertang- kap mata. Untunglah gerak dan naluriah Mahesa Wu- lung sangat peka. Urat syarafnya yang berada di balik kulit tubuhnya dapat merasakan adanya desiran angin yang berasal dari sabetan kapak Sora Gedrug.

Maka sebelum kepalanya konyol terbelah oleh ka- pak Sora Gedrug, Mahesa Wulung menggeser duduk- nya ke samping beberapa depa dengan cepat. Dalam hati ia sengaja membuat panas hati lawannya, sebab dengan begitu separuh pemusatan tenaga lawan akan terganggu karenanya.

Wuuus! Brooook!

Senjata kapak bertangkai pendek milik Sora Gedrug meleset dari sasarannya. Tetapi akibatnya meja kayu di depan Mahesa Wulung terbelah berserakan dan am- bruk ke lantai.

“Setan alas!” gerundal Sora Gedrug.

Saat itu Mahesa Wulung masih saja duduk di atas bangku panjang dan kemudian sekali lagi ia menyeru- put minumannya. Hal ini merupakan pemandangan yang tegang.

Melihat sikap ketenangan Mahesa Wulung tadi, ke- dua teman Sora Gedrug yang berhidung besar dan yang berbibir tebal kebiruan serentak menyerang ber- bareng.

“Modar kowe sekarang!”

Keduanya melancarkan serangan pukulan maut be- runtun datangnya, menyapu ke arah dada dan kepala Mahesa Wulung. Tiba-tiba dengan tangkas Mahesa Wulung telah menyambar sebuah bangku bambu di sebelahnya untuk kemudian dipakainya memapaki se- rangan kedua lawannya tadi.

Kraak! “Aauuuuw!”

Kedua teman Sora Gedrug memekik nyaring karena tangan-tangan mereka telah menghajar bangku tadi. Sungguh pedih dan sakit rasanya. Kendatipun begitu bangku tersebut menjadi rusak karenanya dan Sora Gedrug pun ikut terkejut.

Mahesa Wulung meloncat keluar warung selagi ke- dua orang tersebut peringisan serta mendesis-desis meniup tangannya masing-masing. Begitu mereka sa- dar bahwa lawannya telah berada di halaman warung, si hidung besar dan si bibir tebal bersama Sora Gedrug sekaligus berloncatan ke halaman memburu lawannya! Karuan saja Jagayuda tak bisa berpeluk tangan se- bagai penonton saja, jika melihat sahabatnya dan juga sebagai pemimpinnya telah dikeroyok oleh tiga orang lawan. Itulah sebabnya Jagayuda pun cepat-cepat me-

langkah ke halaman untuk membela Mahesa Wulung. Kalau sesungguhnya Jagayuda berpikir bahwa Ma-

hesa Wulung tidak perlu ditolongnya, karena ia yakin bila Mahesa Wulung akan dapat memenangkan per- tempurannya. Tetapi toh ia tidak akan tinggal diam dengan pengeroyokan tersebut.

Baru saja ia melangkah tiga langkah, Jagayuda me- rasakan getaran udara serta derai dengusan nafas di belakangnya, maka cepat pula ia menoleh. Alangkah terkejutnya! Sebuah pukulan tangan menyambar ke arah tengkuknya. Jagayuda terkejut sudah, tapi Ja- gayuda pun bertindak cepat.

Iapun menarik kepalanya ke belakang sebelum tengkuknya melerek tertimpa pukulan tersebut. Berba- reng itu juga, Jagayuda memutar kepalan tangan ka- nannya ke arah luar untuk menangkis serangan tadi.

Dook!

Dua benturan terjadi dan saat itu pula kedua ta- ngan tersebut tergetar seperti orang sakit demam, ndrodog.

Jagayuda terkejut, lebih-lebih ketika ia tahu bahwa si penyerangnya ini tidak lain adalah si pemilik warung yang bertubuh gemuk. Lalu Jagayuda memutar tubuh- nya siap menghadapi serangan yang kedua. Agaknya si tukang warung itu tak menyia-nyiakan waktunya, dan berbareng Jagayuda bergerak, kaki kanan si gemuk secepat kilat beraksi. Sebuah dupakan deras meng- gempur betis Jagayuda dan seketika itu juga ia terpe- lanting jatuh ke atas tanah!

“Hua, ha, ha, ha, ha. Terimalah salam perkenalan dari Wangsa Ginuk!” si pemilik warung berkata dengan bertolak pinggang dibarengi tertawa yang terkekeh- kekeh.

“Edan kamu! Heei apa maksudmu menyerang diriku secara tiba-tiba!” teriak Jagayuda sambil meloncat ber- diri kembali.

“Masih bertanya pula?! Bagus!” Wangsa Ginuk ber- kata. “Temanmu dan tiga orang yang berkelahi itu ja- ngan kau campuri! Biarkan mereka berkelahi karena mereka punya urusan sendiri. Tetapi ternyata kau mau mencampuri pertempuran mereka, maka jangan kaget bila aku pun harus menghajarmu!”

“Ooo, jadi kau senang melihat orang berkelahi. Kau anggap apa manusia itu, ha? Kau anggap ayam sa- bungan saja?!” teriak Jagayuda.

“Ha, ha, ha. Memang aku senang melihat orang ber- kelahi, sebab Anda akan dapat melihat seni geraknya. Kau akan tahu keindahan dari perkelahian itu sendiri.” “Jadi itulah kesukaanmu, Wangsa Ginuk? Aku tak senang dengan kesukaanmu. Jagayuda tak dapat me- nyetujui pikiran tadi!” ujar Jagayuda lantang.

“Persetan dengan larangan Jagayuda. Aku bukan bawahanmu dan aku tak akan tunduk dengan penda- patmu!” teriak Wangsa Ginuk. “Kau telah merusak ke- senanganku, dan seleraku terusak karenanya! Seka- rang, kau musti melawanku!”

Oleh perkataan Wangsa Ginuk tadi, Jagayuda cepat bersiaga, namun ia menjadi terperanjat seketika bila dilihatnya Wangsa Ginuk mencabut beberapa daun ila- lang.

Jagayuda masih belum mencabut pedang yang ter- gantung pada pinggangnya, karena dianggap belum berguna pada saat sekarang. Ia ingin menghadapi la- wannya dengan tangan kosong saja. Bahkan ia tidak menjadi takut sewaktu Wangsa Ginuk menggenggam daun-daun ilalang tersebut.

“Oh, apakah orang gemuk ini mau main-main de- ngan diriku? Tak mungkin! Daun-daun ilalang itu pas- ti ada maksudnya,” demikian Jagayuda berkata-kata sendiri di dalam hatinya.

Benar juga pikiran Jagayuda tadi. Tahu-tahu ta- ngan Wangsa Ginuk yang menggenggam lembaran- lembaran daun ilalang berkelebat dengan cepatnya, dan berbareng itu pula daun-daun ilalang tersebut me- lesat ke arah kepala Jagayuda dan juga ke arah dada- nya.

“Aaah!” Jagayuda berdesis merebahkan dirinya ke tanah lalu bergulingan menghindar.

Cap! Cap! Cap! beberapa bunyi tancapan terdengar dan daun-daun ilalang tadi bertancapan pada seba- tang pohon tepat di belakang Jagayuda semula berdiri, tak ubahnya batang-batang paku baja!

Melihat hal itu, terpaksa Jagayuda terlongoh-longoh keheranan seperti tak percaya, sebab baru sekali ini ia melihat daun-daun ilalang bisa menancap dan kaku bagai batang-batang logam.

Begitu pula Mahesa Wulung yang tengah bertempur menghadapi keroyokan Sora Gedrug dengan kedua te- mannya itu, sempat pula melihat peristiwa yang diha- dapi oleh Jagayuda. Maka tak urung Mahesa Wulung pun ikut terperanjat kagum olehnya, dan dapatlah di- bayangkan sampai seberapa tinggi tenaga dalam yang dimiliki oleh Wangsa Ginuk.

Tapi Mahesa Wulung tak dapat berpikir lebih jauh, sebab ia harus mengerahkan seluruh ilmu dan tena- ganya guna melayani keroyokan ketiga lawannya. Bagi dirinya yang tengah bertempur itu, apakah sulitnya menghadapi mereka.

Memang begitulah kenyataannya, sepintas lalu keti- ga pengeroyok tadilah yang seolah-olah mengepung dan mengurung Mahesa Wulung. Akan tetapi sesung- guhnya terbalik. Sora Gedrug dengan kedua temannya justru merasa bahwa merekalah yang terkepung, se- bab gerakan Mahesa Wulung yang berloncatan kesana- kemari laksana bayangan menerobos dan menelusup di antara tebasan senjata-senjata lawannya.

Dengan begitu, maka Sora Gedrug dan kedua te- mannya yang bersenjata dua bilah golok itu terpaksa harus hati-hati kalau tidak ingin terjadi saling memba- cok sesama kawan.

Melihat serangan mereka berkali-kali gagal, Sora Gedrug dengan kedua temannya berloncatan menjauh dari Mahesa Wulung dan kemudian bersiaga. Keti- ganya lalu berdiri sejajar satu baris serta memandang tajam ke arah Mahesa Wulung. Tentu saja Mahesa Wu- lung sendiri tercengang melihat sikap mereka ini. Itu- lah sebabnya ia pun berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Pengalamannya sejak ia terpukul roboh dan punah ilmunya oleh terjangan Ki Topeng Reges, sejak itu pula ia senantiasa berhati-hati dalam meng- hadapi musuh. Setiap lawan yang tampak sepele pun tak boleh dipandangnya sebelah mata. Sebab memang dalam kehidupan sehari-hari, apa yang tampaknya se- pele dan sederhana kadang-kadang mempunyai suatu kelebihan di baliknya.

“Hiaaat!” Teriakan nyaring yang sedemikian menge- jutkan terdengar dari mulut Sora Gedrug bersamaan tubuhnya melesat ke arah Mahesa Wulung sementara tangan kanannya menyabetkan kapaknya ke arah da- da lawannya.

Mahesa Wulung tidak lalu terkejut, sebab sejak se- mula ia telah bersiaga. Sebelum dadanya tersobek oleh kapak Sora Gedrug, Mahesa Wulung melentingkan tu- buhnya ke udara.

“Meleset, sobat! Kau kurang cepat!” seru Mahesa Wulung ketika tubuhnya mengambang di udara bagai selembar daun ketiup angin.

“Jangan ketawa dulu, lihat ujung kainmu!” kata So- ra Gedrug sambil meloncat ke belakang dan Mahesa Wulung buru-buru memeriksa kainnya seperti yang dikatakan oleh lawannya. Dan benarlah bila ujung kainnya sobek oleh tebasan Sora Gedrug. Sungguh mengagumkan juga baginya.

“Caat!”

Tiba-tiba kedua teman Sora Gedrug menyerang ke arah dirinya. Senjata pedang mereka berputaran bagai kitiran mengancam tubuh Mahesa Wulung dan mem- buat pendekar muda ini pun terkejut untuk kedua ka- linya. Maka secepat kilat ia meloncat ke samping de- ngan setengah mengendap, sekaligus menanti sera- ngan kedua lawannya kembali. Tetapi aneh, kedua orang tadi meloncat mundur, sedang sebuah serangan hebat lainnya mengancam dirinya datang dari Sora Gedrug. Sekali ini pun berhasil dihindarkan oleh Ma- hesa Wulung dan kembali kapak bertangkai pendek milik lawannya membelah angin belaka.

Bersamaan Sora Gedrug mundur, kedua temannya tadi ganti menyerang kembali. Begitulah mereka berti- ga berganti-ganti menyerang Mahesa Wulung sampai pendekar ini lama-kelamaan merasa kerepotan juga. Serangan tadi datangnya bagai ombak lautan yang bergantian memukul dinding pantai karang. Bagaima- napun teguhnya dia, pasti tergetar pula jadinya.

“Ombak rantai!” desis Mahesa Wulung saking terpe- ranjatnya. Jurus serangan demikian tadi pernah dike- nalnya dari sahabatnya, yakni Pendekar Camar Seta. Maka ia tak mau lebih lama lagi lalu ia menyiapkan pukulan maut Angin Bisu ajaran Pendekar Bayangan.

Namun di saat itu pula ia teringat bahwa dengan pukulan Angin Bisu tadi akan kurang bermanfaat se- bab ketiga lawannya tadi selalu bergerak membingung- kan.

Dalam ketegangan suasana begitu, Mahesa Wulung tak punya pilihan lain, lalu dicabutnya cambuk Naga Geninya dari balik bajunya. Yah, kiranya hanya de- ngan senjata inilah ia dapat menghadapi mereka.

Tampaknya tidak berbeda dengan Mahesa Wulung, Jagayuda pun kerepotan menghadapi Wangsa Ginuk. Ia terpaksa berloncatan kesana-kemari menghindarkan dirinya dari batang-batang daun ilalang yang dilempar- lemparkan oleh Wangsa Ginuk itu. Dalam hati ia pun merasa jerih bila seandainya daun-daun ilalang tadi bertancapan menembus tubuhnya.

“Ha, ha, ha, ha. Kau masih akan meremehkan aku juga. Nah, mintalah maaf kepadaku mumpung aku be- lum benar-benar marah!” teriak Wangsa Ginuk sambil terguncang-guncang tubuhnya karena tawanya.

“Keparat! Jangan lekas tertawa begitu girang. Aku pun masih punya pedang ini!” Seru Jagayuda serta melolos pedangnya.

Syraat!

“Hua, ha, ha, ha. Bagus, bagus! Aku pun tak akan ketinggalan. Lihatlah apa yang ada di tanganku kini!” Wangsa Ginuk sekilas menggerakkan kedua tangannya ke ikat pinggangnya dan terkejutlah Jagayuda karena- nya.

Dua bilah sujen atau tusuk satai yang terbuat dari logam tergenggam di kedua tangan Wangsa Ginuk dengan eratnya. Belum rampung keheranan Jagayuda, Wangsa Ginuk telah menerjangnya dengan sepasang senjata sujen tadi.

Sudah barang tentu Jagayuda buru-buru menang- kisnya dengan sabetan pedangnya.

Triiing!

Benturan kedua senjata itu terjadi dan Jagayuda kembali kagum apabila pedangnya tergetar disertai ra- sa panas yang menyengat. Kini sadarlah dirinya bahwa Wangsa Ginuk berilmu tinggi daripada dirinya.

Waktu Jagayuda menangkis sujen di tangan kiri Wangsa Ginuk, tak dinyana bila sujen di tangan kanan lawannya ini pun cepat bergerak menusuk dadanya. Sungguh-sungguh mengejutkannya!

“Uh!” Seru Jagayuda kaget dan secepat kilat ia menggelindingkan badannya ke sebelah kiri beberapa langkah jauhnya dari lawan. Dengan lincah dan tang- kas, kini Jagayuda berdiri tegak serta memainkan pe- dangnya. Suaranya berdesingan memenuhi udara.

“Ayo kita lanjutkan permainan kita!” Seru Jagayuda seraya menerjang ke arah Wangsa Ginuk dan kemu- dian terjadilah pertempuran sengit antara mereka.

Dalam pada itu Mahesa Wulung telah melancarkan serangan-serangan balasan kepada Sora Gedrug de- ngan kedua kawannya. Cambuk Naga Geni di tangan- nya berulang-ulang melecut ke udara memekakkan te- linga dengan ledakan-ledakan keras bagai bunyi se- rentetan mercon.

Sampai saat ini serangan Ombak Rantai ketiga la- wannya tadi belum berhasil dibuyarkannya. Namun Mahesa Wulung tidak lekas berputus asa. Karenanya ia mencoba menentramkan hatinya serta memusatkan perhatiannya. Kalau ia memandang bergantian ketiga lawannya yang bergerak berpasangan, pastilah mem- bingungkan.

Betullah, sesaat kemudian Mahesa Wulung berhasil memusatkan perhatiannya, dan ketika kedua teman Sora Gedrug yang berhidung besar dan berbibir tebal itu maju menyerang berbareng ke arah dirinya, Ma- hesa Wulung terlebih dahulu menyambutnya dengan putaran cambuk Naga Geni.

Dua lecutan dahsyat terdengar diiringi suara jeritan melengking susul-menyusul, dan tampaklah kedua la- wan Mahesa Wulung tadi jatuh terhempas ke tanah dengan melontakkan darah hitam kental. Yang seorang kepalanya hangus dan seorang lagi dadanya menga- lami nasib yang sama, hangus merah kehitaman.

Kini terbukalah mata Sora Gedrug bahwa senjata cambuk pendekar muda itu bukan sembarangan. Se- dang hati kecilnya diam-diam ngeri juga menyaksikan kedua temannya binasa dengan kepala dan dada yang hangus seperti itu.

Itulah sebabnya hatinya seketika mendadak jadi ciut, karena dengan kematian kedua temannya terse- but berarti buyarlah jurus serangan Ombak Rantai yang harus dilakukan berpasangan. Jurus itu tak mungkin dikerjakan seorang diri saja.

Maka tak ubahnya kapal yang patah kemudi, sera- ngan-serangan berikutnya dari Sora Gedrug sudah tak menentu lagi. Pada dasarnya serangan-serangan yang kini dilancarkan hanyalah mengandalkan atas kelin- cahan gerak senjata kapaknya melulu. Dan beberapa saat kemudian, ketika sebuah lecutan cambuk Naga Geni lawannya menyambar dan kemudian melilit ka- pak dengan jari-jari tangan kanannya sekaligus, Sora Gedrug tak mampu mengelakannya.

Tidak hanya sampai di situ saja kekagetan Sora Ge- drug. Tiba-tiba tangan kanannya yang terlibat oleh cambuk Mahesa Wulung tadi terasa dihentakkan de- ngan tenaga raksasa. Itu semua akibat hentakan oleh Mahesa Wulung.

Wuuuut!

Tubuh Sora Gedrug terangkat ke atas, lalu terlam- bung ke udara dan kemudian jatuh terhempas me- nimpa atap warung yang seketika ambruk dan be- rantakan ke bawah. Sora Gedrug tergeletak di tanah dengan merintih apabila seluruh tulang-tulangnya se- rasa remuk. Ia tak dapat lagi mengharap kemenangan atas lawannya.

Mahesa Wulung cepat-cepat memburu ke arah la- wannya yang telah tergeletak di tanah tak berdaya.

“Lekas katakan kau dari gerombolan mana!” sentak Mahesa Wulung seraya mengguncang-guncangkan pundak Sora Gedrug. “Cepat kau berkata kalau masih ingin panjang umurmu!”

“Beb... beb... baik! Tapi... Tuan akan membiarkan aku hidup?” terdengar Sora Gedrug berkata terputus- putus.

“Ya. Kau masih boleh hidup jika mau berkata sebe- narnya!” ujar Mahesa Wulung serta menghentikan tan- gannya yang masih mengguncang-guncang pundak So- ra Gedrug.

“Terima... kasih. Begini Tuan, kami berempat de- ngan si pemilik warung itu adalah benggol dan jago- jago berkelahi. Pada suatu saat kami saling bertaruh, barang siapa di antara kami berempat dapat me- ngalahkan Mahesa Wulung, maka dia si pemenang itu, akan menjadi ketua kami dan menerima taruhan uang yang telah kami kumpulkan,” demikian ujar Sora Ge- drug sambil terengah-engah. Tampak wajahnya kian bertambah pucat dan karenanya Mahesa Wulung pun keheranan.

“Kenapa kau, Kisanak?” bertanya Mahesa Wulung. “Aku... ak... aku tak kuat lagi... aaaah.”

Sora Gedrug terkulai kepalanya sesudah berkata demikian

Mahesa Wulung yang mencoba memeriksa tubuh orang ini jadi berdesis lirih, “Hmm, tulang belakangnya patah! Ah, kematian yang sia-sia saja.”

Diam-diam Mahesa Wulung menyesal atas kematian ketiga orang lawannya. Semula ia mengira bahwa keti- ganya ada sangkut-pautnya dengan Ki Rikma Rem- byak, sisa-sisa anak buah Ki Topeng Reges ataupun misteri Kapal Hantu itu. Tetapi ketiga-tiganya meleset. Mereka bukanlah bersangkut paut. Mereka semata- mata adalah empat tukang pukul yang tengah berta- ruh. Bertaruh untuk mengalahkan dirinya, dan tiga orang dari mereka telah binasa dengan sia-sia.

Sungguh perbuatan manusia yang bodoh! Terbodoh dari semua yang pernah dijumpainya. Namun itu telah terjadi dan yang salah bukanlah dirinya.

Pada saat itu pula, Jagayuda yang tengah bertem- pur melawan Wangsa Ginuk kelihatan makin terdesak. Dan ketika sebuah tebasan pedangnya meleset, ia ter- huyung sesaat dan tiba-tiba tendangan kaki kanan Wangsa Ginuk telah bersarang, menghajar pinggang- nya. Maka seketika Jagayuda jatuh terjengkang di atas tanah dengan pedang masih tergenggam erat.

“Heh, heh, heh. Kok ya tidak seberapa kekuatanmu, sobat. Sekarang terimalah kematianmu dengan senjata sujenku ini!” berkata begitu Wangsa Ginuk secepatnya mengangkat kedua belah tangannya berbareng, siap melempar kedua tusuk satai dari logam tersebut ke tubuh Jagayuda.

Dar! Dar!

Wangsa Ginuk melongo dan Jagayuda pun ternga- nga, sebab kedua belah senjata Wangsa Ginuk tadi ta- hu-tahu lenyap dari tangannya bersama dua ledakan keras terdengar di atas kepala Wangsa Ginuk! Cambuk Naga Geni telah merampasnya. Baik Jagayuda mau- pun Wangsa Ginuk secepat kilat menoleh ke arah ba- rat, begitu terdengar suara tertawa yang lunak.

“Heeh, heh, heh, Kisanak yang bertubuh gemuk! Kuakui kau memang jagoan berkelahi, tapi biarkan sahabatku itu. Sebab bukankah kau ingin menga- lahkanku? Nah, tunggu apa lagi kau?! Ayo, lawanlah aku,” seru Mahesa Wulung lantang. “Kalau aku kalah aku akan menjadi pelayanmu! Tapi sebaliknya, jika kau yang kalah, kau pun harus bersedia untuk menja- di pesuruhku!” Mahesa Wulung kemudian menyimpan kembali cambuknya.

“Bagus, keparat! Kaulah yang akan kalah!” teriak Wangsa Ginuk sambil meraih beberapa lembar daun ilalang dan sekaligus dilemparnya ke arah Mahesa Wu- lung dengan dilambari tenaga dalamnya. Maka persis seperti semula, daun-daun ilalang tadi berdesingan bagai batang-batang logam menyambar tubuh Mahesa Wulung.

Sungguh-sungguh hebat. Biarpun ini adalah pe- mandangan yang untuk kedua kalinya, Jagayuda dan Mahesa Wulung masih kagum juga. Yang lebih hebat lagi, ketika batang daun ilalang tadi tengah beterba- ngan melesat di udara, Wangsa Ginuk kembali meraup daun-daun ilalang dan dilemparnya pula ke arah Ma- hesa Wulung. Agaknya ia mau menghujani lawannya dengan tanpa memberi kesempatan untuk mengelak.

Mendapat serangan demikian gencar, Mahesa Wu- lung tak bermaksud menggunakan senjatanya lagi. Sebab untuk mencabutnya terlalu memakan waktu, sedang daun-daun ilalang tadi sudah terlalu dekat be- nar jaraknya. Maka dengan gerakan yang lincah, ke- dua tangan Mahesa Wulung membuat gerak melingkar bersimpang siur sangat ruwet di depan tubuhnya, dan kemudian terlihatlah pemandangan yang menak- jubkan.

Batang daun-daun ilalang yang tengah meluncur ke arah dirinya itu satu persatu disambarnya dan seben- tar saja kesemuanya telah tertangkap di kedua belah genggaman tangan Mahesa Wulung. Semua itu diker- jakan dengan mudah dan tampaknya semudah anak kecil memunguti bunga-bunga dari tangkainya.

Wangsa Ginuk terpaksa melongo melihat serangan- nya gagal. Tapi cuma sebentar, sebab sejurus kemu- dian ia terpaksa berloncatan kesana-kemari, apabila Mahesa Wulung mengibaskan kembali kedua tangan- nya dan daun-daun ilalang itu pun terbang ke arah si pemiliknya semula, yakni si Wangsa Ginuk.

Untunglah si tubuh gemuk ini masih punya tenaga untuk menghindarkan diri dan geraknya sungguh lu- cu, seakan-akan seluruh dagingnya ikut bergerak- gerak pula dalam berloncatan itu. “Kurang ajar! Kau memang hebat! Tapi coba terima seranganku berikutnya!” teriak Wangsa Ginuk dan kemudian ia menerjang ke arah Mahesa Wulung de- ngan depakan kakinya yang dahsyat. “Remuuuk kowe. Haaait!”

Tap!

Mahesa Wulung mencelat ke udara, namun tak dis- angka bila Wangsa Ginuk cukup trengginas cepat. Ke- dua belah tangannya tahu-tahu telah memeluk erat pinggang Mahesa Wulung dengan jepitan tenaga yang mematikan. Keduanya kemudian berdiri tegak di atas tanah.

“Kupatahkan tulang-belulangmu, setan!” geram Wangsa Ginuk sambil terus mempererat jepitan ta- ngannya.

Diam-diam Mahesa Wulung bisa mengukur keheba- tan tenaga dalam si Wangsa Ginuk ini. Ia tak dapat membayangkan seandainya yang diserang demikian ini orang biasa saja, pasti sudah sejak tadi akan binasa setelah patah tulang pinggangnya. Untunglah ia telah tergembleng berbagai pengalaman dan ilmu yang tang- guh, maka terheran-heranlah Wangsa Ginuk kare- nanya.

Dirasanya ia tengah memeluk sebuah tonggak baja dan tak mungkinlah bila ia harus mematahkannya.

“Aduuuh, hyung! Aaach, tobat! Lepaskan!” teriakan Wangsa Ginuk terdengar bila kedua telinganya tiba- tiba terasa dipuntir dan ditarik ke atas. Rasanya pedih dan panas, seperti akan copot dari kepala.

“Akan kulepaskan bila kau lepaskan pula jepitan tanganmu,” seru Mahesa Wulung pula.

Dan sejurus kemudian, ketika tangan Wangsa Gi- nuk terlepas dari pinggangnya, Mahesa Wulung lalu menotokkan kedua belah ujung jari-jari tangannya ke pangkal leher Wangsa Ginuk, dan orang ini pun seke- tika jatuh terduduk di tanah tanpa daya. Dari mulut- nya terdengar desisan bernada jengkel.

“Nah, sekarang aku yang menang, Kisanak. Dan kau harus menepati janjimu!” seru Mahesa Wulung.

“Ya, ya. Baik. Kau menang, sobat. Dan aku akan menepati setiap kata-kataku. Sekarang aku jadi pela- yanmu dan akan selalu mengikuti perintahmu!”

“Bagus! Itu namanya benggol ksatria!” ujar Mahesa Wulung. “Sudahlah. Kau tak perlu betul-betul berlaku sebagai pelayanku. Kalau kisanak suka, aku akan mengajakmu serta mengangkatmu sebagai teman se- perjalanan!”

“Ooh, teman seperjalanan? Aku tak mengerti mak- sudmu, sobat.”

“Aku akan berlayar dengan kapalku. Dan jika tidak keberatan, Kisanak kupersilakan menemani kami.”

“Wah, itu aku senang. Bukankah aku telah berjanji untuk menuruti permintaanmu? Hmm, lebih-lebih ten- tang berlayar. Jelek-jelek aku pun dulu bekas seorang nelayan, dan aku paham bagaimana bertemu dengan laut.”

Begitulah mereka bertiga akhirnya menjadi sahabat, lalu Wangsa Ginuk mengambil tiga buah mangkuk tembikar dengan selodong tuak. Ketiganya minum ber- sama sebagai tanda pengikat persahabatan.

Tak lama kemudian, sesudah membereskan tempat itu serta mengubur ketiga mayat benggol teman si Wangsa Ginuk, mereka pun bertolak dari tempat itu. Ternyata di semak-semak di belakang warung yang ba- ru saja dirobohkan tadi, Wangsa Ginuk serta ketiga temannya semula menambatkan kuda-kudanya di si- tu, dan terpaksalah tiga ekor kuda lainnya mereka le- paskan di hutan. Mahesa Wulung berkuda di depan dan Jagayuda bersama Wangsa Ginuk di belakangnya. Ketiganya berpacu terus ke utara melewati jalan yang diapit-apit oleh pohon-pohon munggur dan pohon-pohon besar lainnya. Jalan itu sebentar naik dan sebentar pula menurun.

“Bandar Jepara sudah dekat,” ujar Wangsa Ginuk kepada Jagayuda yang berkuda di sampingnya.

“Ya. Sesudah kita melewati hutan kecil di depan sa- na, kita akan sampai di bandar itu,” sambung Jagayu- da seraya menebarkan pandangan matanya ke depan.

Hutan kecil itu kian bertambah dekat dan Jagayuda seolah-olah telah membayangkan akan kesibukan ban- dar Jepara, pusat pangkalan Armada Laut Kerajaan Demak. Berbagai kapal-kapal besar dan kecil berlabuh di sana dan siap berlayar ke mana saja, ke tempat- tempat kejahatan dan ketidak-adilan merajalela.

Langit di sebelah timur mulai menggelap, mengiringi matahari yang pelan dan malas merambat ke arah ba- rat. Ketika ketiga orang itu selesai melewati hutan kecil tadi, mendadak dikejutkan oleh cahaya biru yang me- luncur ke langit dengan terangnya. Meskipun jaraknya jauh, kira-kira di sebelah utara sana, tapi warna biru itu sungguh-sungguh menakjubkan!

Mahesa Wulung mendadak teringat bahwa cahaya itu pun pernah dilihatnya ketika ia masih berada di Desa Mijen. Begitu pula ia lalu teringat akan ceritera tentang Kapal Hantu. Benarkah ada hubungan antara cahaya biru tadi dengan kapal tersebut? Begitulah Ma- hesa Wulung bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri.

Kini ketiganya telah mulai menginjak daerah Jepara dan mereka dapat menyaksikan lampu-lampu bandar pelabuhan yang dipasang pada tonggak-tonggak bam- bu. Demikian pula lampu-lampu kapal yang berkelip dan bergoyang-goyang dengan indahnya. Maka sam- pailah mereka setelah melalui gerbang bandar pelabu- han yang dijaga oleh pengawal-pengawal yang bersen- jata tombak.

“Berhenti! Siapa kalian! Turun!” teriak seorang pra- jurit kawal yang bertubuh tinggi dengan kakinya yang panjang.

Prajurit tadi disertai kawan kawannya sangat terke- jut melihat kedatangan ketiga orang berkuda ini. Apa- lagi wajah-wajah para penunggang kuda tadi tidak se- penuhnya terkena oleh cahaya lampu dan obor yang dipasang di gerbang itu. Wajah mereka cuma samar- samar kegelapan, dan inilah yang membuat para pra- jurit kawal tadi memerintahkan turun kepada mereka.

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Mahesa Wulung, Jagayuda dan Wangsa Ginuk berlon- catan turun dari punggung kuda. Mahesa Wulung ma- ju ke depan mendekati prajurit kawal yang bertubuh tinggi tadi, lalu menarik kalungnya serta menunjukkan hiasan kalung yang berbentuk lingkaran cakra bergigi empat.

“Aah, maaf Tuan. Maaf kami telah membentak- bentak Tuan...,” ujar prajurit kawal tadi dengan kaget bercampur rasa takut, sebab betapa malunya ia, seba- gai seorang prajurit telah berani membentak seorang Perwira Laut Kerajaan Demak.

“Tak apalah. Bahkan aku merasa senang, karena itu menunjukkan ketelitianmu dalam bertugas,” ujar Mahesa Wulung kepada prajurit kawal yang bertubuh tinggi tadi, dan kawan-kawannya pun ikut mengang- guk-anggukkan kepala.

Seorang prajurit lain membawa sebatang obor un- tuk menerangi tempat itu, dan tiba-tiba saja Mahesa Wulung berseru serta menepuk pundak si prajurit kawal yang bertubuh tinggi tadi.

“Heei, bukankah engkau Adi Egrang?”

“Ya, Allah. Jadi Tuan Mahesa Wulungkah ini?” seru Egrang pula dengan takjub. “Oh, saya merasa bersyu- kur dapat bertemu dengan Tuan kembali.”

Egrang dapat melihat wajah itu dan benarlah bahwa orang yang kini berdiri di hadapannya itu adalah Ma- hesa Wulung atau yang dikenal pula dengan nama Ba- rong Makara.

Sesaat, Egrang terkenang akan pengalamannya di masa lalu, ketika ia bersama-sama Barong Makara dan armada Demak berjuang menumpas gerombolan bajak laut Pulau Ireng dari Karimun Jawa. Yah, kenangan tadi terbayang di ruang matanya, meskipun cuma se- saat saja.

Akhirnya, Mahesa Wulung, Jagayuda dan Wangsa Ginuk diantarkan oleh Egrang menuju ke rumah pen- dapa yang berhalaman luas, tempat para perwira laut tinggal.

Dalam pada itu, langit di sebelah timur semakin ge- lap, pertanda sang malam segera merajai daerah ini. Bunyi hembusan angin yang lembut seakan-akan mengajak para makhluk untuk tidur, melepaskan le- lahnya.

***

4

TELAH DUA HARI Mahesa Wulung tinggal di bandar Jepara. Sementara itu sebuah kapal jung tengah diper- siapkan untuk bertugas Mahesa Wulung dalam menye- lidiki Kapal Hantu dan menangkapnya.

Serasa kembali ke masa-masa yang lampau sore itu, tampaklah Mahesa Wulung berdiri termenung di tepi bandar. Dihirupnya udara pantai dalam-dalam dan pandangannya ditebarkan ke tengah laut yang tampak meluas bagai tak bertepi. Jiwa pelautnya sea- kan bergolak, apabila telinganya menangkap deru an- gin dan ombak yang gemercik memecah di pantai. Kapal-kapal dan perahu-perahu yang berlabuh goyang- goyang di air menambah semarak keindahan bandar Jepara.

Namun tiba-tiba Mahesa Wulung mengerutkan da- hinya, bila di antara sela deru angin dan deburan om- bak, didengarnya bunyi langkah-langkah ringan ham- pir tak bersuara.

“Mmm, agaknya langkah-langkah dari seorang yang berilmu tinggi. Siapakah dia?” pikir Mahesa Wulung seraya menyelinap di balik tonggak-tonggak kayu di tepi bandar.

Dengan pelan-pelan ia mengintipkan matanya ke arah selatan dan tampaklah sesosok tubuh manusia yang berloncatan dengan lincahnya, mirip sebuah bayangan di kegelapan senja. Bayangan tadi berhenti sejenak serta menoleh ke kiri-kanan seperti hendak mencari sesuatu dan kemudian memandang tajam ke arah Mahesa Wulung bersembunyi. Melihat hal ini ter- paksa Mahesa Wulung berdebar-debar hatinya, apalagi ketika bayangan tersebut berjalan ke arahnya.

“Sangat mencurigakan!” desis Mahesa Wulung. “Baiknya aku tangkap segera orang ini.”

Si bayangan semakin dekat dan Mahesa Wulung te- lah bersiaga. Maka ketika bayangan tadi lewat, men- dadak dirinya tahu-tahu telah disergap oleh Mahesa Wulung sambil berseru.

“Orang asing! Jangan melawan!”

Mendapat sergapan tiba-tiba itu, tentu saja ia sa- ngat terkejut dan berusaha melawan Mahesa Wulung. Namun semakin ia bergerak melawan, dirasanya kedua tangan Mahesa Wulung yang melingkari tubuhnya se- makin bertambah ketat menghimpitnya.

“Lepaskan aku!” seru si bayangan.

“Hee, kau bandel ya! Tapi jangan harap bisa lepas dari tangan Mahesa Wulung” berseru Mahesa Wulung.

Ketika si bayangan mendengar kata Mahesa Wulung tadi, sekilas ia melirik ke arah wajah si pendekar muda ini, dan tiba-tiba saja ia pun berkata. “Baik, aku me- nyerah. Aku tak akan melawanmu!”

Dalam pada itu, Mahesa Wulung merasakan satu keganjilan, sebab hidungnya yang tajam tiba-tiba me- nangkap bau wangi dari orang yang disergapnya. Ka- ruan saja bulu tengkuknya meremang disertai rasa berdebar-debar.

“Eeh, jangan-jangan yang aku tangkap ini tidak lain adalah hantu,” demikian Mahesa Wulung berkata da- lam hati. “Tapi tidak mungkin! Aku lihat sendiri orang ini berjalan dengan menginjakkan kakinya di tanah. Sedangkan orang pernah berkata, bahwa hantu berja- lan dengan mengambang di udara, tanpa menapakkan kakinya.”

Mahesa Wulung tidak cuma kaget oleh bau wangi tadi, tetapi lebih dari itu! Sebab orang ini pun tiba-tiba memelukkan kedua tangannya kepada Mahesa Wulung serta merebahkan kepalanya ke dada pendekar muda yang bidang ini.

“Heei, apa maksudmu?!” seru Mahesa Wulung kehe- ranan oleh sikap aneh orang yang disergapnya ini.

“Kakang Mahesa Wulung, kau tak mengenalku la- gi?” ujar orang ini dengan suara terbata-bata.

Hal ini membuat pendekar muda yang menangkap- nya terperanjat kaget, lalu berkata pula, “Tidak! Aku tidak melupakanmu. Bahkan aku masih selalu meng- ingat suaramu, Adi Pandan Arum!”

“Ooh, syukur, Kakang. Aku merasa bahagia bahwa Kakang Wulung masih mengenalku,” ujar si orang tangkapan yang tidak lain adalah Pandan Arum dan kemudian mempererat dekapannya, seolah-olah ia ta- kut akan kehilangan orang yang dicintainya ini.

Keduanya sesaat diam membisu. Mereka lalu terke- nang dengan saat pertemuan mereka pertama di dae- rah Asemarang pada waktu yang silam.

“Adi Pandan Arum, kau mengetahui kalau aku telah kembali di Jepara?” bertanya Mahesa Wulung seraya melepaskan dekapan dan kemudian ia melepas ikat kepala merah soga yang terikat di kepala Pandan Arum. “Eh, Adi tak perlu menyembunyikan rambutmu yang indah ini di hadapan kekasih.”

“Oh, ya. Aku selama ini tinggal bersama Bibi Su- mekar, dan siang tadi aku bertemu dengan Kakang Ja- gayuda ketika aku datang ke Jepara,” kata Pandan Arum, seraya membiarkan ikat kepalanya diambil oleh Mahesa Wulung. Maka terurailah rambutnya yang hi- tam berombak ke atas punggungnya dengan indah.

“Ah, rambutmu bertambah panjang dan indah, Adi Pandan Arum,” desah Mahesa Wulung kagum.

“Benar, Kakang. Dan cintaku padamu juga bertam- bah panjang dan dalam,” ujar Pandan Arum lirih, lalu ia membalikkan diri dan memandang ke arah laut, se- mentara Mahesa Wulung yang berdiri di belakangnya bersandar pada sebuah tonggak kayu.

“Tapi Kakang akan berlayar lagi?” Pandan Arum bertanya. “Aku lihat sebuah kapal jung telah dis- iapkan.”

“Benar, Adi Pandan,” jawab Mahesa Wulung. “Aku akan berlayar lagi dan aku harus menangkap Kapal Hantu yang telah sekian lamanya mengacau Laut Ja- wa.”

“Kapal Hantu? Uh, tugas yang mengerikan!” desis Pandan Arum cemas. “Aku pernah mendengar na- manya, Kakang. Dan jika seandainya itu benar-benar ada, pasti sukar untuk menangkapnya.”

“Betapa pun sukarnya, Adi,” sambung Mahesa Wu- lung, “tugas itu telah dipercayakan kepadaku dan Ka- kang akan menyelesaikannya. Aku ingin memperbaiki kegagalan kerjaku pada waktu-waktu yang lalu.”

Pandan Arum tak berkata lagi. Ia masih menatap ke arah laut yang berkilatan airnya tersapu oleh cahaya rembulan. Ia pun paham akan kekerasan hati ke- kasihnya.

“Adi Pandan,” Mahesa Wulung berkata memecah kesunyian, “marilah kita kembali. Angin bertambah de- ras rasanya.”

“Baik, Kakang,” kata Pandan Arum.

Keduanya lalu berjalan bersama, ke arah selatan menuju ke arah perumahan Armada Laut di pojok ti- mur bandar Jepara ini.

Tempat itu kembali menjadi sunyi, kecuali ombak laut yang gemercik. Sesekali lewatlah dua orang praju- rit kawal yang tengah meronda keamanan bandar, dan malam pun kian menjelang dan larut.

Akan tetapi di balik tonggak-tonggak kayu, tidak jauh dari tempat Mahesa Wulung dan Pandan Arum semula bercakap-cakap, tampaklah kepala manusia sebatas leher berada di permukaan air laut.

“Hmm, semula aku cuma ditugaskan untuk mema- ta-matai persiapan kapal-kapal Demak ini. Tak ku- sangka bila aku malah berhasil mendengar percakapan yang berguna dan penting untuk Ki Rikma Rembyak. Ternyata mereka telah menyiapkan kapal untuk me- nangkap Kapal Hantu! Hhhh, kurasa aku harus cepat- cepat meninggalkan tempat ini dan memberi tahu ke- pada ketua.”

Habis berkata demikian, dalam sekejap mata orang itu cepat-cepat berenang ke arah utara, menuju ke semak-semak pohon bakau. Di situ menunggu sebuah perahu dengan beberapa orang menunggu di dalam- nya.

“Bagaimana, Kakang Blenyik?” tanya orang-orang di dalam perahu itu.

“Yah, tak keliru lagi! Mereka akan mencoba kembali untuk menangkap Kapal Hantu!” ujar Blenyik seraya meloncat naik ke dalam badan perahu.

“Menangkap Kapal Hantu?! Hah, ha, ha, ha. Mereka mengimpi di siang bolong kalau mengharap untuk me- nangkapnya,” terdengar seorang teman Blenyik tertawa terkekeh-kekeh.

“Diam! Jangan meremehkan mereka!” potong Ble- nyik dengan nada marah.

“Mengapa?!” serempak teman-teman Blenyik mem- buka mulut. “Mereka akan musnah dan binasa seperti kapal-kapal lainnya!”

“Kalian belum tahu?! Mahesa Wulung ada bersama mereka di dalam kapal Armada Demak itu!”

“Mahesa Wulung?! Wah...!” serempak teman-teman Blenyik berseru dan kemudian membisu, terbungkam.

“Nah, apa kataku?!” bentak si Blenyik kepada te- man-temannya. “Sekali ini betul-betul berbahaya bagi kita. Maka cepat-cepatlah kita kembali ke Mondoliko. Hayo lekas menyingkir dari tempat ini!”

Tanpa berkata-kata lagi, mereka segera berdayung ke arah utara dengan cepatnya. Mereka terus menyu- suri sepanjang pantai Jepara. Dan sesudah melewati Tanjung Piring, mereka mulai membelok ke arah timur. Perahu tadi semakin jauh dan bertambah jauh sampai akhirnya lenyap di pojok timur.

***

Sang pagi menjelang pula, dan saat itu tampaklah kesibukan di bandar Jepara. Sebuah kapal jung telah siap untuk bertolak, berlayar ke tengah lautan. Di ge- ladak buritan, Mahesa Wulung, Jagayuda, Wangsa Gi- nuk dan Pandan Arum tengah menyaksikan persiapan terakhir untuk berlayar dengan seksama. Para awak kapal bekerja dengan cepat hingga sebentar saja sele- sailah sudah persiapan itu.

Tak antara lama, dari arah bandar, di mana para perwira-perwira laut lainnya berkumpul untuk me- nyaksikan keberangkatan kapal ini, terdengarlah bunyi gong yang ditabuh dengan suara keras, yang kemudian menggema beralun di udara pagi ini. Berbareng itu pu- la, para awak Kapal Barong Makara segera memahami akan isyarat gong yang ditabuh tadi dan mereka pun menggerakkan dayung-dayungnya.

Maka bergeraklah kapal jung Barong Makara itu ke tengah, sementara dayung-dayung di kedua sisi din- ding kapal bergantian menyibak air laut. Layar pun mulai dikembangkan, sedang di tiang layar utama, se- buah bendera biru muda dengan gambar Makara kun- ing emas di tengahnya, berkibaran megah dihembus angin pagi.

Di tepi bandar Jepara yang semakin menjauh dan mengecil itu, masih tampak para prajurit dan orang- orang yang melambai-lambaikan tangannya sebagai salam ucapan selamat jalan kepada Kapal Barong Ma- kara.

Sebentar saja kapal ini telah langsung mengarungi lautan, memecah air yang biru kehijauan bagai tak bertepi dan tak berujung. Beberapa burung camar laut bercuit-cuit beterbangan di dekat kapal.

Kini pesisir Jepara tadi cuma tampak sebagai satu garis kecil memanjang, sedang Gunung Muria yang menjulang tinggi hanya merupakan gundukan biru di atas garis memanjang tadi. Dan selanjutnya, bila me- reka semakin jauh menuju ke utara, maka garis dara- tan tadi sudah tak nampak lagi oleh mata. Hal ini membuat dada para pelaut tersebut terasa lapang, se- lapang lautan biru yang mereka jelajahi kini. Tetapi, bagi yang pertama kali berlayar tentu lain rasanya, se- bab mereka pasti merasa cemas. Jangan-jangan me- reka tak bisa menemukan daratan lagi atau mereka mencemaskan kalau-kalau kapal yang mereka tum- pangi akan tenggelam di lautan.

“Hoooi!” tiba-tiba terdengar teriakan dari seorang pengintai di atas tiang layar. “Perahu di arah timur!”

Mahesa Wulung cepat-cepat mengarahkan tero- pongnya ke sebelah timur setelah mendengar teriakan tadi. Dan memang tampaklah di sebelah sana, sebuah perahu berukuran cukup besar terkatung-katung di atas air.

Lewat teropongnya itu, Mahesa Wulung dapat me- ngetahui bahwa perahu tadi sangat sepi tanpa dilihat- nya manusia di geladak.

“Hmmm, tak ada gerakan manusia sama sekali. Aneh, belum pernah aku menjumpai perahu yang ber- layar sendiri!”

Jagayuda yang berdiri di sebelah Mahesa Wulung segera bertanya, “Bagaimana, Kakang? Apakah kita dekati perahu itu?!”

“Ya. Kita harus mendekatinya, Adi Jagayuda. Segera kita berbelok ke timur. Suruh orang-orang bersiaga!” ujar Mahesa Wulung. “Saya kuatir kalau-kalau hal ini merupakan sebuah perangkap!”

“Apakah kira-kira perahu tersebut yang sedang kita cari?!” bertanya Jagayuda serta memasang teropong yang diterimanya dari tangan Mahesa Wulung. “Betul, Kakang. Tampaknya sepi-sepi saja.”

“Tak mungkin kalau Kapal Hantu, Adi. Sebab me- nurut ciri-ciri yang telah kita terima, Kapal Hantu sela- lu bergerak dengan dayung-dayung. Sedang perahu itu tak menggunakan dayung sama sekali.”

“Tapi bukankah dayung-dayung itu dapat disembu- nyikan oleh mereka?” Jagayuda kembali mengutarakan kecurigaannya. “Mungkin mereka tengah menjebak ki- ta.”

“Bisa juga, Adi Jagayuda,” jawab Mahesa Wulung. “Coba sekali lagi kau perhatikan dengan seksama. Bu- kankah perahu itu masih mempunyai layar yang baik dan utuh. Juga warna catnya bukan warna yang kehi- taman seperti ciri-ciri yang dimiliki oleh Kapal Hantu!”

Jagayuda mengangguk oleh kata-kata Mahesa Wu- lung tadi. “Betul, Kakang. Perahu itu pun terlalu kecil kalau kita namakan dengan Kapal Hantu.”

Begitulah, Kapal Barong Makara semakin mendeka- ti perahu tadi, sedang para awak kapal bersiaga den- gan meriam-meriam dan senjata lainnya. Setelah men- dekat, beberapa jangkar pengait segera berlontaran ke dinding-dinding perahu tersebut yang dilemparkan da- ri arah Kapal Barong Makara oleh anak buah Mahesa Wulung.

Akhirnya merapatlah kapal jung dengan perahu ta- di, dan segera pula Mahesa Wulung bersama Jagayu- da, Pandan Arum dan sebagian anak buahnya berlon- catan ke geladak perahu, sementara Wangsa Ginuk dengan sebagian orang-orang lainnya tetap tinggal di kapal. Keadaan perahu besar ini tetap hening, sepi. Tanpa gerakan manusia sama sekali, hingga membuat Mahe- sa Wulung dan anak buahnya keheranan sangat. Begi- tu tiba di geladak perahu, mereka secepat kilat me- nyiapkan senjatanya, namun tak berguna sama sekali sebab tak ada sambutan.

“Haai! Ada orang di sini?!” seru Mahesa Wulung.

Tak ada jawaban. Suasana tetap sepi, kecuali bunyi derit tali-temali yang bergesekan diseling percikan air laut di dinding kapal.

Mereka tak sabar lagi, maka menyebarlah mereka untuk menyelidiki perahu besar ini. Pandan Arum me- loncat ke arah buritan memeriksa deretan tong-tong kayu tempat air, dan apa yang dijumpainya sungguh mengejutkan dan membuatnya ngeri.

“Aaaeeee!” Pandan Arum berteriak ketakutan.

Mendengar teriakan kekasihnya, Mahesa Wulung segera meloncat ke arah Pandan Arum berada dan de- mikian pula para anak buahnya. Mereka pun berlonca- tan ke arah jeritan tadi.

Begitu Mahesa Wulung tiba di tempat itu, Pandan Arum cepat memeluknya dengan wajah yang masih pucat sementara tangan kirinya menunjuk ke arah se- belah bawah dari tong-tong air tadi dengan berseru se- perti orang bisu. “Uh, uh, i... i... tul uh.”

Mahesa Wulung dan anak buahnya seketika terpe- ranjat setengah mati di saat pandangan mata mereka tiba di tempat yang telah ditunjuk oleh Pandan Arum tadi. Setapak mereka mundur ke belakang dan hampir tak percaya dengan pemandangan yang ada di depan- nya. 

Di situ, di dekat tong-tong kayu tadi bergeletakan tubuh-tubuh manusia dalam keadaan yang mengeri- kan. Mati, dengan kulit tubuhnya kering dan hangus kebiru-biruan.

“Semuanya telah mati dan pada tubuh-tubuh awak perahu ini tidak ada tanda-tanda luka ataupun bekas- bekas pertempuran,” ujar Mahesa Wulung kepada Pandan Arum dan Jagayuda.

“Mengerikan, Kakang,” Pandan Arum berkata. “Menakutkan,” desah Jagayuda pula. “Belum per-

nah aku melihat kematian yang begini macam.”

“Di situ ada sebuah kamar. Biarlah aku periksa!” kata Mahesa Wulung. “Adi Pandan Arum dan Jagayu- da, kalian bersama anak buah bersiaga dan tunggu aku!”

“Baik, Kakang,” ujar Pandan Arum dan Jagayuda berbareng.

Mahesa Wulung segera mendekati kamar itu dan dibukanya pintu kamar itu.

Kreeeaat!

Terdengar bunyi engsel pintu bergerit, menyebab- kan rasa berdesir di hati orang-orang yang mendengar- nya.

Mendadak dari arah kamar itu terdengar satu teria- kan garang, membuat semangat hati bagai terbang ra- sanya.

“Hyaat!”

Sebuah tombak pendek meluncur dari ruang kamar langsung menuju ke tubuh Mahesa Wulung. Untung- lah sejak saat semula pendekar muda ini telah bersia- ga dengan pedangnya. Maka begitu tombak itu melun- cur ia telah menyabetkan pedangnya satu lingkaran penuh untuk menyambut serangan itu.

Traak!

Tombak tadi terpatah jadi dua dan tercampak di atas lantai.

Sesudah itu menyusul sebuah bayangan manusia melesat menyerang Mahesa Wulung. Karuan saja me- reka yang menyaksikan menjadi lebih kaget, sebab ternyata masih ada yang hidup di perahu ini.

“Hee, tunggu!” teriak Mahesa Wulung sambil me- nangkis serangan pedang yang dilancarkan oleh orang ini.

Tetapi orang ini tak menjawab kecuali pedang di tangannya makin bertambah garang menyerang Mahe- sa Wulung. Sepintas lalu tampaklah bahwa orang ini telah kehilangan kesadarannya. Matanya membayang- kan dendam yang bercampur rasa takut. Itulah sebab- nya ia menyerang dengan ganasnya.

Pedang orang ini berputar bagai angin dengan gera- kan yang cepat, hingga kadang-kadang tampak sebagai putaran sinar putih yang menyambar-nyambar ke arah Mahesa Wulung.

Si penyerang ini bertubuh tegap mengenakan baju putih dan bercelana pendek hitam. Wajahnya tampak kepucatan, seperti orang yang tak pernah tidur. Kumis dan jenggotnya tumbuh menjadi satu sangat lebatnya, sedang ikat kepalanya berwarna biru tua.

Mahesa Wulung tak bermaksud melawan dengan sungguh-sungguh, sebab ia ingin mengetahui sebab- sebab kematian dari awak perahu ini. Maka ia cuma meloncat ke sana, melompat kemari menghindari teba- san pedang si penyerang yang sangat ganas dan pena- saran. Sekali-sekali Mahesa Wulung menangkis dan menghantamkan pedangnya, sekadar dilakukan agar ia tidak terlalu terdesak benar-benar oleh serangan- serangan lawannya.

Rupanya si penyerang itu pun makin bertambah ka- lap dengan serangan-serangannya. Apalagi setelah di- rasanya bahwa musuh yang tengah dihadapinya cuma setengah-setengah dalam serangan balasannya. “Kurang ajar! Kau mempermainkan aku!”

“Itu salahmu sendiri!” seru Mahesa Wulung. “Me- ngapa engkau tiba-tiba menerjangku?!”

“Tak perlu bertanya banyak-banyak!” bentak si pe- nyerang yang berkumis dan berjenggot lebat ini. Wa- jahnya yang kepucatan menampakkan keputus-asaan. “Kau telah melihat kawan-kawanku ini mati di sini dan aku ingin pula mati bersama mereka di perahu ini!” 

Habis berkata, orang ini menyerang lagi dan Mahesa Wulung menangkisnya, sampai pedang si penyerang tergetar dan mulutnya menyeringai menahan getaran pedangnya yang membuat jari-jarinya terasa pedih.

Ketika ia melihat sebuah kapal jung telah merapat pada perahunya, orang ini berteriak, “Heei rupanya ka- lianlah yang telah menyerang dan membinasakan ka- wan-kawanku kemarin malam!”

Betapa Mahesa Wulung dan anak buahnya terkejut mendengar tuduhan dari wajah pucat ini, maka tak perlu heran bila Mahesa Wulung cepat menyahut, “Ooo, jangan terburu melemparkan tuduhan yang tak berdasar sama sekali. Ketahuilah kawan, bahwa kapal kamilah yang menemukan perahumu ini, hingga kami mengetahui bahwa kawan-kawanmu telah tewas de- ngan keadaan yang mengerikan!”

“Bah, aku tak mudah percaya dengan ceritamu,” sahut si wajah pucat. “Kecuali kau dapat mengalahkan Daeng Matoa ini!”

“Jadi Andika mau meneruskan perkelahian ini?!” tanya Mahesa Wulung. “Orang-orangku akan menerta- wakan sikap Andika.”

“Persetan dengan orang-orangmu!” bentak Daeng Matoa. Kemudian ia menyerang kembali ke arah Mahe- sa Wulung dan kembalilah perahu tersebut digetarkan oleh lingkaran pertempuran yang cukup seru. Sekarang Mahesa Wulung sungguh-sungguh mera- sakan tekanan serangan dari Daeng Matoa yang seumpama angin puyuh, melibat dan menghempas de- ngan serunya.

Dua puluh lima jurus telah lewat dan si wajah pu- cat ini masih gigih menyerang lawannya, namun Ma- hesa Wulung ganti mengerahkan tenaga dalamnya. Sebuah tebasan pedangnya diarahkan kepada pedang Daeng Matoa dengan deras.

Crang!

Dua pedang tersebut berbentur dengan seru, hingga tangan Mahesa Wulung tergetar karenanya. Ini sudah cukup mengherankan bagi diri Mahesa Wulung. Agak- nya Daeng Matoa juga memusatkan tenaga dalamnya. Biarpun begitu ketika terbentur tadi, si wajah pucat memekik kesakitan, bersamaan pedangnya terpelan- ting lepas dari tangannya. Di saat itu pula kaki Mahesa Wulung menyambar kaki Daeng Matoa dengan gerak mengait yang manis, hingga lawannya itu terjerembab ke lantai.

Hal ini membuat Daeng Matoa terkejut, dan sebe- lum ia sempat berdiri, tiba-tiba terasa benda yang di- ngin telah menempel di atas dadanya. Pedang! Yah, pedang Mahesa Wulung telah menembus dada lawan- nya. Daeng Matoa yang gagah berani telah memejam- kan matanya, siap menanti kematian. Tetapi betapa herannya bila pedang tadi tidak jadi menembus da- danya, bahkan ketika ia membuka matanya, dilihatnya Mahesa Wulung menarik pedangnya tersebut, lalu dis- arungkan kembali, sedang bibirnya menampakkan se- nyum yang ramah.

“Hmm, Anda memang hebat. Tapi sayang Anda ber- sikap penasaran dan lagi menghina kami dengan tudu- han yang bukan-bukan!” ujar Mahesa Wulung. “Nah, jika aku pun bersikap penasaran pula, maka Anda pasti sudah tak bernyawa lagi.”

“Mengapa Anda tak melakukannya?!” ujar Daeng Matoa setengah terdengar sambil menunduk.

“Sebab aku yakin, bahwa kita tidak seharusnya sa- ling mendendam dan bertempur seperti tadi,” berkata Mahesa Wulung pula. “Nah, sekarang berdirilah dan ceriterakan kepada kami sebab-sebab kematian para awak kapalmu ini.”

Setelah Daeng Matoa berdiri, segeralah ia berceri- tera.

“Kami pelaut-pelaut Bugis telah membawa muatan rempah-rempah dari Pulau Celebes dan berdagang ke bandar Sunda Kelapa. Setelah selesai, kami kembali. Kira-kira pada waktu senja, tibalah kami di perairan Borneo selatan, dan di situlah bencana yang dahsyat telah menimpa kami. Di antara kegelapan senja mun- cullah sebuah kapal aneh yang bergerak tanpa layar dari sebelah utara. Hal ini telah dilaporkan kepada pemimpin dan mereka kesemuanya pergi ke atas gela- dak, sedang saya sendiri tetap tinggal di kamar bawah ini, sebab badanku lagi tidak enak serta pusing- pusing. Nah, apa yang terjadi kemudian aku tak tahu, sebab tiba-tiba sebuah cahaya biru terang telah me- nyala di atas perahu kami, dan ini dapat kulihat dari kilatan sinarnya dari dalam kamarku. Selanjutnya ter- dengar olehku teriakan ngeri dari semua awak perahu, kecuali diriku seorang yang masih tinggal berbaring di kamar. Betapa ngerinya teriakan kawan-kawanku tadi, yang seolah-olah seperti teriakan orang terkena api. Sesaat kemudian suasana menjadi sepi kembali dan buru-buru aku mencoba menengok keluar. Akan te- tapi, oh! Betul-betul membuat mataku tak percaya! Se- luruh awak perahu ini telah mati dengan tubuh yang hangus kering kebiruan, seperti yang Anda temui tadi.” “Hehh, jadi kalian telah diserang oleh Kapal Hantu,” sambung Mahesa Wulung pula. “Mereka memang se- ringkali menyerang kapal-kapal, dan ketahuilah bahwa

kami tengah mencari Kapal Hantu tadi.”

“Kapal Hantu?!” seru Daeng Matoa. “Uh, namanya sangat menakutkan. Memang aku pernah mendengar- nya dari desas-desus, tapi itu semula hanya aku kira dongeng kosong belaka. Tidak nyana bahwa Kapal Hantu tadi benar-benar ada dan kami telah menjadi korbannya.”

Daeng Matoa berdiam sesaat lalu berkata kembali, “Kalau memang Kapal Hantu tadi sangat berbahaya, mengapakah Anda berusaha mencarinya?”

“Sebab kami harus menghancurkan atau menang- kapnya. Itulah tujuan kami dari Armada Demak,” ujar Mahesa Wulung, dan mendengar kata-katanya tadi Daeng Matoa seketika terperanjat.

“Uh, Andika dan kapal jung itu dari Armada De- mak? Jika demikian, terimalah salam dan hormatku. Juga aku meminta maaf atas tuduhanku yang keliru tadi.”

“Tak mengapa, Daeng. Aku memaklumi bahwa si- kapmu tadi kau lahirkan dalam keadaan yang gelap pikiran. Kini perkenalkanlah. Saya bernama Mahesa Wulung, dan ini Jagayuda, Wangsa Ginuk dan ini Pandan Arum.”

Daeng Matoa mengangguk hormat, lalu berkenalan dengan mereka satu persatu. Sesudah itu Mahesa Wu- lung lalu memerintahkan anak buahnya segera me- mindahkan barang-barang yang penting dan berguna dari perahu Bugis tadi ke dalam kapalnya. Atas perse- tujuan dengan Daeng Matoa, semua itu dilakukannya dan Daeng Matoa pun turut pindah ke dalam Kapal Barong Makara.

“Terima kasih, Saudara Wulung. Aku akan ikut ber- samamu mencari kapal Hantu itu. Biarlah aku mem- balaskan kematian kawan-kawanku tadi.”

“Dan bagaimana dengan perahumu itu?”

“Seperti yang telah saya utarakan tadi, bakarlah pe- rahu dan juga mayat teman-temanku tadi agar jasad abu mereka terbaring di dasar lautan dengan tenang.”

“Baiklah, Daeng. Itu orang-orangku telah siap me- nyalakan api,” ujar Mahesa Wulung seraya menatap ke arah perahu tadi.

Beberapa anak buahnya kelihatan menuang minyak ke geladak dan dinding perahunya, lalu menyalakan api. Sebentar saja api pun telah berkobar dan orang- orang tadi segera berlompatan kembali ke Kapal Ba- rong Makara.

“Berdayung ke utaraaaa!” teriak perintah Mahesa Wulung, dan secepat kilat Kapal Barong Makara telah bergerak ke utara menjauhi perahu yang tengah terba- kar tadi. Para anak buah Mahesa Wulung dengan se- bat berdayung penuh semangat.

Di saat Kapal Barong Makara berlayar ke utara, pe- rahu Bugis tadi telah terbakar bagai sebatang obor yang menyala di tengah lautan, dan selanjutnya perla- han-lahan mulai miring dan tenggelam ke dalam air dengan suara berdesis dan ledakan-ledakan kecil.

Daeng Matoa masih saja mengikuti perahu tadi sampai benar-benar dilihatnya tenggelam sama sekali.

“Sudahlah, Daeng. Biarlah mereka terbaring di ba- wah sana dengan damai,” ujar Mahesa Wulung kepada Daeng Matoa yang masih terdiam di dinding kapal dengan menatap ke arah selatan.

“Tidak apa-apa, Saudara Wulung,” jawab Daeng Ma- toa dengan nada tersengal haru. “Aku hanya menge- nang kawan-kawanku tadi. Mereka telah sekian lama selalu bersama berlayar denganku dalam suka dan duka, hingga saat bencana itu terjadi. Aku menyesal bahwa waktu itu aku terbaring sendirian di dalam ka- mar, sehingga aku tak dapat menyaksikan bencana yang menimpa mereka.”

“Maaf, Daeng, itu saya kira lebih baik. Sebab de- ngan tetap tinggal di dalam kamar tadi, Anda masih tetap hidup.”

“Uh, mengapa Anda bisa berkata demikian, Saudara Mahesa Wulung?” tanya Daeng Matoa seraya menatap ke wajah Mahesa Wulung yang berdiri di sampingnya.

“Sebab aku kira sinar biru tadilah yang menyebab- kan kematian, hingga kawan-kawan Anda tewas de- ngan tubuh yang mengering hangus kebiruan.

“Mmm, kalau begitu sinar tadi adalah senjata yang dahsyat!” desis Daeng Matoa. “Apakah kiranya kita da- pat menangkap Kapal Hantu tadi?”

“Mudah-mudahan kita berhasil, Daeng!” “Yah, mudah mudahan begitu.”

Dalam pada itu, Kapal Barong Makara terus melaju ke arah utara dengan tenang. Dari arah timur laut awan mendung kehitaman tampak berarak-arak meng- ambang di langit bagai sebuah selimut berwarna kela- bu hitam tengah dikembangkan.

Awan tadi menyebabkan lautan di sebelah utara menjadi kegelapan dan suram tampaknya, sedang bu- rung camar dan elang laut pun terbang melintas di ha- luan kapal dengan teriakan-teriakan bernada takut serta cemas.

Suasana berubah hening. Para awak kapal yang ada di geladak tiba-tiba saja hatinya merasa cemas ketika menatap ke arah laut sebelah utara. Mahesa Wulung, Daeng Matoa, dan lain-lainnya juga memandang ke arah utara yang kini telah mendung dan diliputi kege- lapan amat pekat.

Mahesa Wulung segera memasang teropongnya me- meriksa ke sebelah utara, dan tiba-tiba saja dilihatnya sebuah bayangan hitam di atas air yang muncul dari kegelapan bergerak lambat ke arah selatan dengan lu- rus.

Bertepatan dengan itu, dari sebelah atas terdengar teriakan awak kapal yang berjaga di atas tiang layar.

“Ahoooi! Kapal di sebelah utara!”

Semua mata serempak tertuju ke arah utara dan betullah kiranya. Sebuah bayangan hitam tadi sema- kin bertambah jelas menuju ke arah kapal mereka. Ternyata adalah sebuah kapal bergerak dengan dayung-dayung panjang di kedua belah sisi dinding lambung kapalnya. Sedang pada tiang-tiang layarnya bergantungan kain-kain layar yang sobek-sobek dan compang-camping sangat usang.

“Kapal Hantu!” desis Mahesa Wulung terperanjat. “Hah, Hantu?” seru Daeng Matoa ikut terperanjat

pula. “Celaka kita. Bagaimana kita menghadapinya?” “Tenang-tenang saja, Daeng!” ujar Mahesa Wulung.

“Bantulah Dinda Jagayuda serta para anak buah me- nyiapkan meriam di ruang bawah.”

“Baik, Saudara Wulung!” ujar Daeng Matoa serta meloncat dari tempat itu bersama Jagayuda. Mereka segera masuk ke pintu geladak menuju ke ruang ba- wah.

“Hai, saudara-saudara, kosongkan geladak ini! Se- mua masuk ke ruang bawah! Lekas!” Mahesa Wulung berseru dan para awak kapal ini secepat kilat masuk ke ruang bawah.

“Kakang Mahesa Wulung, aku tinggal bersamamu,” Pandan Arum berkata memohon. “Jangan, Adi Pandan. Kali ini sangat berbahaya!

Masuklah ke ruang bawah selekasnya!”

“Tapi, Kakang...,” Pandan Arum tak melanjutkan kata-katanya demi dilihatnya wajah kekasihnya me- nunjukkan nada melarang. Maka cepat-cepat ia pun masuk ke ruang bawah.

Kini tinggallah Mahesa Wulung berdiri seorang diri di atas geladak, sementara Kapal Hantu tetap bergerak menuju ke kapalnya.

“Hmm, dengan jalan apa aku harus menghadapi- nya? Paling-paling aku harus mengusahakan kapal ini berada di luar jarak tembakannya.”

“Heeei, Belokkan arah kapal ke arah barat!” teriak Mahesa Wulung segera, dan bergantilah haluan Kapal Barong Makara ini menuju ke arah barat laut.

“Baiknya aku pun menggunakan panahku. Siapa tahu banyak gunanya,” gumam Mahesa Wulung seo- rang diri lalu secepat kilat ia mengambil panahnya dari dalam kamar di sebelah buritan.

Kapal Hantu tersebut semakin dekat, dan dengan menggunakan teropongnya, tahulah Mahesa Wulung bahwa di geladak kapal tersebut terdapat beberapa tengkorak dan kerangka manusia berserakan, sehingga tepatlah kalau disebut dengan nama Kapal Hantu.

Mahesa Wulung telah bersiaga dengan panahnya ketika jarak kedua kapal itu makin bertambah dekat. Sekonyong-konyong, ia melihat adanya gerakan di atas geladak Kapal Hantu itu dan sejurus kemudian melun- curlah sebuah sinar terang yang menyala kebiruan da- ri arah Kapal Hantu dengan derasnya menuju ke Kapal Barong Makara. Namun dalam saat itu juga Mahesa Wulung telah menembakkan panahnya menyongsong berkas sinar biru tadi.

Sinar biru tadi telah mencapai separuh jarak ketika panah Mahesa Wulung melesat dan menerjangnya. Saat itu juga terdengarlah satu ledakan suara yang dahsyat bagai seratus petir menggelegar bersama me- mekakkan telinga.

Glaaarrr!

Berkas sinar biru tadi pecah di tengah jalan kemu- dian rontok jatuh ke atas laut dengan suara berdesis berbuih-buih bagai bara api tersiram air.

Bersamaan itu juga, terdengarlah suara Jagayuda di ruang bawah.

“Tembaak!”

Maka berdentumanlah mulut-mulut meriam di din- ding kanan Kapal Barong Makara dan peluru berlun- curan menghajar Kapal Hantu.

Walaupun sebagian jatuh di luar jarak tembak, na- mun ada satu dua yang tiba di geladak Kapal Hantu, menimbulkan kerusakan-kerusakan yang ringan. Meli- hat hasilnya, Jagayuda sekali lagi memerintahkan un- tuk bersiap melakukan tembakan berikutnya.

Namun betapa kagetnya mereka, bila Kapal Hantu tadi tiba-tiba berganti haluan berbelok ke timur, men- jauhi Kapal Barong Makara, dan sebentar kemudian berbelok lagi ke utara dengan lincahnya, tak ubah seo- rang manusia yang lari ngacir meninggalkan gelang- gang pertempuran.

Para awak Kapal Barong Makara serentak keluar dari ruang bawah untuk menyaksikan Kapal Hantu ta- di lari ke arah utara. Dari geladak kapal, Mahesa Wu- lung dan anak buahnya dapat mengikuti arah lari si Kapal Hantu, yang bergerak sangat cepat seperti se- ekor ular naga tengah berenang menempuh laut yang gelap.

“Uh, tidak disangka bila Kapal Hantu tadi dapat kita usir begitu mudah,” ujar Daeng Matoa sambil meng- usap dahinya yang penuh keringat dingin saking ce- masnya. “Lalu apakah tindakan kita sekarang?!”

“Kita akan mengejarnya sekarang juga, Daeng!” ujar Mahesa Wulung tenang, dan kemudian ia memanggil Jagayuda. “Adi Jagayuda, perintahlah anak buah un- tuk bersiap-siap dan ganti haluan ke arah utara lurus. Sebab kita akan mengejar Kapal Hantu itu sekarang.”

“Baik, Kakang. Jika kita lurus ke utara, segera akan tiba di perairan Borneo selatan,” ujar Jagayuda.

“Ya, kita akan mencari jejak Kapal Hantu tadi di sa- na, sebab bukankah arah itu pula yang dituju oleh me- reka?”

Jagayuda segera melakukan perintah tadi dan tak antara lama Kapal Barong Makara telah berganti ha- luan, kembali menuju ke utara.

Sekarang mereka mulai mengarungi daerah yang gelap tertutup oleh awan mendung tebal mengambang di laut. Ombak yang besar-besar telah muncul, bagai gundukan yang berwarna putih untuk kemudian terli- bat ke bawah dengan bunyi berdebur keras. Busa pu- tih pun tersebar di permukaan air, berlimpahan, ter- bawa oleh hempasan ombak kesana-kemari.

Biarpun begitu, Kapal Barong Makara tadi dengan teguh menempuh alunan ombak yang sebentar terang- kat di ujung ombak dan sebentar lagi teralun ke ba- wah, tak ubahnya sebatang sabut terombang-ambing.

Para awak kapal melakukan tugasnya masing-ma- sing dengan cepat, tanpa mengenal rasa takut. Ombak yang beralun menghempas-hempas itu malah diang- gapnya sebagai teman, sebagai penggembleng sema- ngat diri, sebab dengan ombak itu mereka dapat meng- uji sampai di manakah mereka dapat mengenal dan bersahabat dengan laut.

Kapal Barong Makara terus maju. Dengan dibantu oleh dayung-dayung yang bergerak membelah air, me- reka akhirnya berhasil melewati daerah ombak besar tadi, sampai beberapa waktu kemudian seorang penja- ga tiang layar telah memberi tahu adanya daratan di sebelah utara.

“Pulau Borneo,” gumam Mahesa Wulung seorang di- ri dengan berdiri di geladak kapal. “Betapa maha- luasnya pulau ini, dan kata orang besarnya ada lebih dari dua kali Pulau Jawa.”

Mahesa Wulung kemudian memasang teropongnya ke arah utara. “Hmmm, sayang sekali senja telah me- nurun dan kehijauan pulau ini tidak nampak.”

Mereka makin bertambah dekat dengan daratan di sebelah utara yang terhampar memanjang dalam war- na kesuraman hitam.

“Adi Jagayuda,” seru Mahesa Wulung yang masih saja mengawasi daratan dengan teropongnya dan se- bentar kemudian Jagayuda telah sampai di sebelah- nya, “kau lihatlah daratan di sebelah utara itu.”

“Mengapa, Kakang?” tanya Jagayuda serta meneri- ma teropong dari tangan Mahesa Wulung.

“Awasilah baik-baik dengan teropong itu! Kau lihat sebuah teluk di sana? Nah, di pojok timur dari teluk tadi ada sebuah kapal yang tengah berlabuh.”

“Tepat, Kakang. Aku lihat itu semua dari teropong ini,” ujar Jagayuda. “Dan anehnya, kapal itu berwarna gelap kehitaman serta memakai layar yang telah com- pang-camping. Ah, ya. Bodoh benar aku. Pastilah itu Kapal Hantu yang tengah kita cari!”

“Dugaanmu memang benar. Aku pun yakin bahwa kapal itulah yang telah menyerang kita di saat menje- lang senja,” Mahesa Wulung berkata sementara otak- nya berputar mencari siasat yang jitu. Dan tak berapa lama berkatalah ia, “Begini, Adi Jagayuda. Kita akan  secara diam-diam berlabuh di tepi barat teluk itu, dan selanjutnya menyergap Kapal Hantu tersebut.”

“Tapi apakah nama teluk itu, Kakang?” tanya Ja- gayuda.

“Namanya...? Mmm, nanti dulu,” ujar Mahesa Wu- lung seraya memasang teropongnya sekali lagi. “Ter- nyata di sebelah timur teluk ini ada lagi sebuah teluk yang kedua. Ah, dua teluk yang berjajar. Jika demiki- an, pasti yang pertama adalah Teluk Sampit dan yang kedua adalah Teluk Sebangan!”

Demikianlah, setelah persiapan diatur, Kapal Barong Makara tadi berlayar terus mendekati tepi barat Teluk Sampit. Tanpa banyak menimbulkan suara, mereka te- lah berlabuh dan mendarat dengan selamat. Mahesa Wulung segera memerintahkan untuk menurunkan se- buah perahu kecil panjang untuk dipakainya nanti.

***

5

KAPAL HANTU yang berlabuh di tepi timur Teluk Sampit itu sungguh-sungguh merupakan pemanda- ngan yang mendirikan bulu roma. Setiap orang pasti akan takut melihatnya apalagi menjamahnya jangan sekali-sekali mengimpikannya.

Tapi di sebuah kamar di buritan Kapal Hantu ini, terpasanglah dian minyak yang bergoyang-goyang ter- gantung pada langit-langit atap. Beberapa orang ber- wajah angker tampak duduk di situ.

“Laporanmu memang tepat, Blenyik. Kita telah ber- hadapan dengan sebuah kapal armada Demak baru- san saja. Dan seperti halnya kalian, aku pun ikut ka- gum bahwa kapal itu masih bisa melepaskan diri dari Kapal Hantu ini. Bahkan mereka telah memuntahkan peluru-pelurunya,” ujar seorang yang berwajah garang dengan gigi mulutnya yang bertonjolan.

“Sayangnya kita tadi cuma melepaskan sebatang anak panah saja. Kalau lima sekaligus berbareng, pas- tilah mereka tidak akan dapat menangkisnya, dan bi- nasalah mereka. Maka aku usulkan kepada Paman Monyong Iblis, agar untuk selanjutnya kita lebih hati- hati,” demikian kata-kata seorang lain yang menutup sebelah mata kirinya dengan selembar kecil kulit bina- tang. Pendekar yang bermata satu ini pun mempunyai wajah yang garang.

“Heh, heh, heh. Memang kita telah membuat kesa- lahan kecil, Jaramala. Tapi itu bukan kesalahan kita. Sebab biasanya dengan sebatang anak panah Braja Kencar saja, itu sudah cukup untuk membinasakan seluruh isi kapal sasaran,” Monyong Iblis berkata. “Namun usulmu tadi aku dapat menerimanya. Heh, heh, heh. Tak percuma aku mempunyai seorang pem- bantu yang bergelar si Mata Siji seperti kamu.”

“Aku lebih senang kalau kalian bertempur secara jujur, tanpa menggunakan panah Braja Kencar itu!” bentak seorang gadis yang ikut duduk di situ. “Sejak semula aku tak setuju kalau Ayahanda Rikma Rem- byak memberikan panah-panah itu kepada kalian de- ngan tujuan membinasakan kapal-kapal yang kita jumpai!”

“Heh, heh, heh. Janganlah menghalang-halangi maksud ayahmu, Andini Sari. Sadarlah bahwa kau te- lah diampuni oleh beliau, ketika Andika lari dari Pulau Mondoliko.”

Oleh jawaban Monyong Iblis tadi, Andini Sari ter- diam membisu, kendati di dalam hatinya ia masih me- nyanggah dan menentang cita-cita ayahnya untuk menjadi raja lautan Jawa.

“Berapa lama kita akan tinggal di pangkalan Teluk Sampit ini?” bertanya Mata Siji kepada Monyong Iblis.

“Kita terpaksa tinggal di sini beberapa hari sampai kerusakan-kerusakan kecil tadi selesai diperbaiki,” ja- wab si Monyong Iblis. “Dan kemudian kita akan ber- aksi kembali!”

Namun ketika mereka tengah asyik bercakap-cakap tadi, tersembullah sebuah kepala manusia dari luar jendela kamar, dengan sorot mata yang tajam menga- wasi semua isi kamar. Di luar kamar itu, malam sa- ngat pekat dan remang-remang. Awan hitam berarak di langit menghalangi sinar bulan yang tengah bersinar.

“Bagaimana, Saudara Wulung?” bisik sesosok bayangan hitam kepada bayangan pertama yang ten- gah mengintip tadi.

“Sudah cukup. Mari kita kembali!” berkata baya- ngan pertama yang tidak lain adalah Mahesa Wulung.

Kedua bayangan tadi kemudian mengendap-endap di atas geladak menjauhi kamar tersebut, dan dengan lincahnya mereka turun dari dinding Kapal Hantu, me- lalui rantai jangkar yang tergantung di atas air. Gera- kan mereka selincah tupai, bergayutan menuruni ran- tai tadi ke bawah, dan sebuah perahu kecil dan pan- jang telah menanti di air dengan seorang pendayung- nya. Kabut malam memenuhi tempat itu membuat su- asana yang seram.

“Kembali ke barat, cepat!” terdengar Mahesa Wu- lung berbisik dan sebentar kemudian perahu ramping tadi meluncur ke arah barat amat lajunya.

Bila mereka telah tiba di sebelah barat Teluk Sam- pit, perahu kecil tersebut segera merapat pada dinding Kapal Barong Makara. Tiga bayangan telah naik ke dinding kapal melalui tangga-tangga tali dengan cepat- nya. Sementara itu, beberapa orang segera menyambut mereka. Tampak ikut menolong ketiga orang tadi, Pan- dan Arum, Jagayuda dan Wangsa Ginuk.

“Adakah orang di Kapal Hantu itu, Kakang?” tanya Jagayuda tak sabar.

“Yah, ternyata mereka adalah kaki tangan Rikma Rembyak,” ujar Mahesa Wulung dengan nada geram.

“Kaki tangan Rikma Rembyak?!” ulang Jagayuda kaget.

“Benar. Mereka ada beberapa orang, seperti Mo- nyong Iblis, Jaramala, Blenyik, Andini Sari, dan masih ada lainnya. Sedang para awak Kapal Hantu itu mung- kin berada di daratan,” terdengar Mahesa Wulung ber- kata, sementara yang lain mendengarnya penuh perha- tian. “Mereka akan tinggal di Teluk Sampit ini bebe- rapa hari untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan Kapal Hantu itu.”

“Hmm, itulah kesempatan yang baik buat menye- rangnya!” terdengar Pandan Arum ikut berkata. “Ja- ngan biarkan Kapal Hantu itu lolos dari tangan kita.”

“Aku sependapat denganmu, Nona,” sahut Daeng Matoa. “Hanya saja waktu penyerangan itu mesti di- perhitungkan sangat terinci. Siapa tahu awak Kapal Hantu itu tidak sedikit jumlahnya.”

“Ah, itu memang benar, Daeng. Mereka menyebut tempat mereka berlabuh tadi dengan kata ‘pangkalan’. Maka boleh dipastikan bila tempat itulah sarang me- reka di daerah Borneo ini, dan kita harus segera me- nyerangnya sebagai sasaran yang pertama, kemudian barulah Kapal Hantu itu kita hancurkan.”

“Rencana yang gemilang!” desis Jagayuda. “Kapan saat penyerangan itu, Kakang?”

“Besok sore, Adi. Kau bersama Adi Pandan Arum membawa separuh anak buah kita untuk menyerang pangkalan itu, sementara aku bersama Daeng Matoa dan Wangsa Ginuk akan mencoba merebut Kapal Han- tu itu. Nah, dengan demikian maka perhatian mereka akan pecah menjadi dua, sehingga kita memperoleh keuntungannya.”

Mahesa Wulung mengakhiri kata-katanya, setelah lebih dulu ia memerintahkan kepada awak kapal agar malam ini penjagaan diperkuat.

Teluk Sampit ini ternyata ditumbuhi oleh pohon- pohon besar, seperti karet tahun, trembesi dan lain- lainnya. Juga sulur-suluran rotan yang membelit-belit dan bergantungan pada dahan-dahan pohon, laksana sekawanan ular yang melilit-lilit.

Sesekali terdengar suara binatang malam yang ber- teriak memecah kesepian malam. Kelelawar-kelelawar yang besar pun melayang-layang dengan mengepak- ngepakkan sayapnya membuat suasana tempat itu sangat menyeramkan bagi pendatang dari armada De- mak.

Namun tidaklah demikian pada keesokan harinya. Ketika sinar matahari telah menerangi teluk itu, war- na-warna hitam pekat semalam kini berubah menjadi warna hijau subur.

Lewat tengah hari, tampaklah gerakan-gerakan dari awak Kapal Barong Makara menyusuri pantai Teluk Sampit menuju ke arah timur. Mereka itu dipimpin oleh Jagayuda dan Pandan Arum, dengan seluruh jum- lah ada empat puluh orang banyaknya. Dua orang ter- depan membawa golok-golok besar untuk memapas semak-belukar sebagai pembuka jalan bagi rombongan tadi. Kenyataannya sangatlah berat menempuh hutan tanah Borneo ini. Sebentar-sebentar mereka harus me- lalui rawa-rawa lembah di daerah Teluk Sampit sebe- lum mereka tiba di daerah pangkalan sarang kawanan bajak Monyong Iblis dengan Kapal Hantunya.

Sementara itu, di sebuah rumah yang berdiri di atas tonggak-tonggak kayu, di tepi Teluk Sampit, para awak Kapal Hantu beristirahat dengan lesunya. Mereka ter- paksa menunggu di tempat itu selagi kapal mereka tengah diperbaiki. Keadaan hutan yang besar dan liar, ditambah dengan suasana sepi, membuat mereka ma- las-malasan berjaga.

Untuk menghapuskan kelesuan tadi, satu dua o- rang sibuk mengail sedang beberapa orang lainnya membersihkan senjata. Andini Sari tengah menggosok pedangnya, demikian pula Blenyik dan seorang te- mannya sedang mempertajam golok-golok mereka de- ngan batu karang. Mereka duduk di atas batu-batu di dekat tonggak-tonggak rumah, tanpa mengetahui bah- wa beberapa pasang mata tengah mengawasi mereka dari balik semak-belukar.

Ketenangan pangkalan di tepi Teluk Sampit itu tiba- tiba dipecahkan oleh sebuah jeritan nyaring membuat orang-orang tadi terperanjat. Seorang anggota bajak pengawal pangkalan, berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka dari sebelah barat. Pada punggungnya tertancap dalam-dalam, sebuah belati panjang.

“Hee, Kakang Bukur! Lihat itu, kawan kita terluka!” seru Blenyik kepada teman di sampingnya. Mereka berdua sangat kaget.

Serentak Blenyik dan Bukur menyambut pengawal tadi. Begitu pula Andini Sari dan lain-lainnya segera mengerumuninya pula.

“Mengapa, kawan? Apa yang terjadi?!” Seru Blenyik menanya.

Si pengawal tadi sudah terlalu payah rupanya, se- bab ia cuma sempat menjawab singkat. “Ada musuh!” Dan rebahlah ia tak bernyawa lagi. Kejadian ini membuat mereka seperti tersadar, bahwa untuk ke sekian kali mereka tengah bermalas- malas di tempat ini, sampai tak tahu kalau ada musuh di sekitar mereka.

Tepat di saat mereka panik, terdengarlah jeritan pe- rang dari sebelah barat serta bermunculan kepala- kepala manusia bersama ujung-ujung senjata dari ba- lik dedaunan semak di sekitar rumah.

“Serbuuu!”

Maka sejurus kemudian, udara sore di pangkalan telah digetarkan oleh pertempuran dahsyat. Jagayuda, Pandan Arum dan kawan-kawannya menyerbu pang- kalan Teluk Sampit!

Oleh suara teriakan dan benturan-benturan senjata tersebut, orang-orang di atas Kapal Hantu seketika ter- peranjat pula. Mereka bertanya-tanya dalam hati, apa- kah gerangan yang tengah terjadi di pangkalan?

Monyong Iblis dan kawan kawannya menjadi terta- rik perhatiannya oleh suara riuh tadi, hingga mereka tidak mengetahui kalau sebuah perahu ramping telah merapat pada buritan Kapal Hantu ini. Tiga bayangan segera berloncatan lewat tangga-tangga tali lalu naik ke atas geladak. Yang seorang tampak menggendong empat buah tong kecil pada punggungnya.

“Nah, Wangsa Ginuk. Berikan yang dua buah itu kepadaku. Dan yang dua buah sisanya, kau pasang saja pada sudut-sudut buritan ini!”

“Baik, Tuan,” jawab Wangsa Ginuk seraya mem- berikan dua buah tong kecil itu kepada Mahesa Wu- lung.

“Daeng, berjaga-jagalah selagi kami memasang obat peledak ini!” ujar Mahesa Wulung.

Daeng Matoa mengangguk serta berkata pula. “Hati- hati, Saudara Wulung. Jangan kuatir, aku akan me- lindungi kalian berdua dengan pedang pusakaku ini.” Mereka bertiga saling mengangguk dan tersenyum,

kemudian berpencar melakukan tugasnya masing- masing. Dengan cekatan mereka memasang obat-obat peledak tadi ke tempat-tempat yang sukar dicapai ma- ta dan cukup tersembunyi.

Akan tetapi, sebelum mereka sempat bekerja lebih jauh dan menyalakan sumbu pembakar, mendadak si Monyong Iblis yang berada di haluan kapal bersama anak buahnya seperti digerakkan oleh tenaga naluri- nya. Dan tiba-tiba ia menoleh ke belakang, ke arah bu- ritan. Maka tahulah ia, bahwa Kapal Hantunya telah kemasukan orang asing.

“Heei, kawan-kawan! Tangkap dan bikin mampus tiga orang asing di buritan itu! Lekas!”

Para awak Kapal Hantu seketika berloncatan me- nyerbu ke arah tiga pendekar tadi, dan pertempuran seru tak dapat dicegah lagi.

Monyong Iblis segera menerjang ke arah Mahesa Wulung. Sementara Daeng Matoa menyambut sera- ngan si Mata Siji bersama dua orang bajak lainnya. Wangsa Ginuk menangkis tiga orang pengeroyoknya dengan golok besarnya.

Mahesa Wulung terpaksa mengerahkan seluruh te- naganya ketika dua orang lainnya ikut membantu Mo- nyong Iblis. Namun ia tak gentar sedikit pun meng- hadapi mereka bertiga, meskipun ketiga pedang lawan itu bergulung-gulung mengurung dirinya.

Betapa marah dan geram si Monyong Iblis ketika ia mengenal kembali wajah Mahesa Wulung ini. Seketika berteriaklah dia. “Hee, kaulah orang yang telah mem- binasakan Ki Topeng Reges! Kinilah saatnya engkau mati di tanganku!”

“Huh! Aku siap melayanimu, Monyong bobrok! Di pojok dunia mana pun, kejahatan tak akan mendapat tempat!” seru Mahesa Wulung memutar pedangnya, menyambut serangan ketiga lawannya.

Beberapa jurus telah lewat dan setiap kali pedang- nya berbentur dengan golok besar si Monyong Iblis, te- rasalah jari-jarinya tergetar pedih serta seakan-akan ada puluhan jarum runcing menyengat-nyengat tangan kanannya.

Di sebelah lain, Wangsa Ginuk cukup seru menang- gulangi ketiga lawannya. Golok besar di tangan ka- nannya berkelebatan menangkis setiap tikaman pe- dang lawan dengan cepat. Beberapa jurus lewat, dan tiba-tiba seorang di antara ketiga pengeroyok tadi ro- boh tak bernapas lagi akibat tebasan golok Wangsa Gi- nuk yang menyobek lambungnya.

Kedua lawan Daeng Matoa, yakni si Mata Siji dan seorang temannya, terpaksa mengutuk-ngutuk ketika dirasanya bahwa lawannya yang berpedang pendek ini mampu dengan gigih mengembalikan setiap serangan- serangan yang mereka lancarkan.

Monyong Iblis jadi penasaran ketika musuh mu- danya ini sanggup bertahan lama, itulah sebabnya se- konyong-konyong ia bersuit keras, dan sejurus kemu- dian dua orang anak buahnya berloncatan ikut me- ngeroyok Mahesa Wulung. Sayang mereka terlalu pan- dang enteng terhadap pemuda ini, maka seorang di an- taranya agak lengah dan sebuah tebasan pedang Ma- hesa Wulung membuatnya terjungkal ke tanah tak berkutik lagi, dengan darah menyembur dari dadanya.

Ketika Mahesa Wulung sibuk menghadapi ketiga orang lawannya, dari sebelah belakang tubuhnya telah mengendap-endap seorang anak buah Monyong Iblis dengan sebilah tombak pendek di tangannya, siap di- hunjamkan ke punggung Mahesa Wulung. Orang tadi mengangkat tombaknya tinggi-tinggi di- tujukan ke arah punggung lawannya. Tetapi seketika mulutnya terbuka lebar-lebar dengan jerit kesakitan, sebab tahu-tahu sebuah golok besar telah menembus dadanya.

Mahesa Wulung kaget ketika penyerang gelap tadi ambruk ke lantai geladak dengan menggelepar-gelepar. Dengan sekilas pandang tahulah ia bahwa golok besar tadi adalah milik Wangsa Ginuk yang telah dilempar- kan kepada penyerang gelap, hingga loloslah ia dari maut. Tak terucapkan betapa besar rasa terima kasih Mahesa Wulung kepada Wangsa Ginuk ini.

Pendekar yang bertubuh kegemukan ini mampu bertempur dengan gesit! Kini ia hanya bersenjata sepa- sang tusuk satai dari logam, yang tampaknya sangat sederhana. Biarpun begitu kedua lawannya tak dapat memandang sepele terhadap senjata Wangsa Ginuk yang aneh tadi. Serangan-serangan pedang mereka se- lalu kena tangkis oleh sepasang senjata logam runcing di tangan Wangsa Ginuk.

Pedang pendek di tangan Daeng Matoa menyambar- nyambar segenap arah mematahkan setiap ujung sen- jata lawan yang menyerangnya, membuat lawannya harus berpikir dua belas kali sebelum tubuh mereka terobek oleh pedang pendekar Bugis ini. Maka tak da- pat dielakkan lagi ketika pada jurus ketiga puluh dela- pan, dua orang di antara pengeroyok-pengeroyok Daeng Matoa jatuh berkaparan di lantai Kapal Hantu, terkena sabetan pedang pendek lawannya.

Si Mata Siji atau Jaramala yang ikut mengepung Daeng Matoa ini merasa kagum pula, apalagi ketika enam orang temannya berbareng menjepit Daeng Ma- toa, pendekar Bugis ini pun dengan gesit selalu lolos dengan menelusup-nelusup di antara lawan-lawannya dan saat itu pula pedang pendeknya cepat beraksi, hingga tiga orang pengeroyok rebah ke lantai geladak. Mati.

Dalam pada itu, pertempuran yang berlangsung di pangkalan di tepi Teluk Sampit itu pun berkobar de- ngan sengitnya. Anak buah kapal Armada Demak yang dipimpin oleh Jagayuda dan Pandan Arum terus men- desak kedudukan lawan. Sebentar saja telah berkapa- ran korban-korban di tanah, dan darah pun memba- sahi tanah berawa-rawa dan rerumputan.

Satu dua orang prajurit-prajurit Demak telah me- nembakkan panah-panah berapi ke atas atap rumah berpanggung tadi, dan api seketika berkobar memba- karnya. Asap hitam dan jilatan-jilatan lidah api telah membuat suasana pertempuran kian dahsyat.

Blenyik mengamuk terhadap serangan prajurit-pra- jurit Demak ini. Dengan menggunakan goloknya yang setajam pisau cukur itu, dicobanya ia menahan arus serangan, tetapi tak berhasil, meski beberapa orang prajurit Demak telah dirobohkannya. Tiba-tiba sebuah bayangan melesat dan menerjang ke arah Blenyik.

“Hae, ini datang lagi ke hadapanku, seorang yang telah bosan hidup! Mari lebih mendekat. Golok pusa- kaku masih haus darah!!” seru Blenyik dengan som- bongnya.

“Huh! Golok rongsokanmu itu tak akan mampu menghadapi pedang Jagayuda ini!”

“Eee, menghina ya! Terimalah sambaran golokku ini!” teriak Blenyik serta menerjang ke arah Jagayuda.

Hampir saja golok tadi membelah kepala Jagayuda, kalau tidak cepat-cepat si pendekar Demak ini meng- endap ke bawah. Dalam saat yang sama, pedang Ja- gayuda menebas ke arah lambung si Blenyik, tetapi orang ini pun sangat lincah. Tubuhnya melenting ke udara sekaligus goloknya menangkis pedang Jagayuda sambil mulutnya nyungir-nyungir dan menggerundal.

“Weh, kurang ajar orang ini! Hampir saja perutku tadi hilang! Eh, aku mesti harus lebih hati-hati meng- hadapinya!”

Keduanya kembali bertempur seru.

Di sebelah selatan, Pandan Arum berhasil menero- bos pertahanan lawan, namun gerakannya jadi terhen- ti oleh terjangan si Bukur.

“Bedebah! Ada prajurit cantik yang gerakannya mi- rip banteng ketaton! Menyerah saja kau di tangan Bu- kur ini, ha!”

“Uh, jadi namamu Bukur, ha? Pantas kalau kau menjadi begundal Kapal Hantu itu. Pantasnya kau makan lumpur saja!”

Kedua mata Bukur menjadi merah oleh ejekan Pan- dan Arum. Memang ia tahu, bahwa binatang bukur atau sejenis kerang, hidupnya di lumpur-lumpur laut. Tetapi nama Bukur bagi dirinya tidaklah serendah itu. Maka goloknya segera ditebaskan ke arah pendekar wanita ini.

“Hyaat! Matilah kowe, heh!” Traang!

Pedang tipis Pandan Arum menghentikan tebasan goloknya dan sekaligus meluncur ke arah kepalanya. Untunglah Bukur keburu mengelak ke samping, biar- pun akhirnya ikat kepalanya tersambar oleh ujung pe- dang Pandan Arum.

Oleh hal ini, Bukur semakin penasaran dan sera- ngannya menjadi semakin hebat. Keduanya terlibat da- lam pertarungan seru, sampai puluhan jurus lamanya. Tampaklah kini bahwa permainan golok si Bukur sudah tiba pada puncaknya dan tidak dapat lagi lebih baik daripada itu. Maka Pandan Arum yang menjadi lawannya tadi segera dapat mengetahui kelemahan Bukur, dan sekarang dikeluarkannyalah jurus-jurus ‘Sabet Alun’ ajaran bibinya, Nyi Sumekar. Pedang di tangan Pandan Arum seketika berdesingan dahsyat bagai ombak samudra yang menghempas-hempas di waktu badai dan akibatnya Bukur merasa kewalahan dalam menghadapi jurus-jurus Sabet Alun ini.

Permainan golok Bukur jadi tertindih dan terdesak oleh libatan-libatan pedang Pandan Arum dan akhir- nya ia tak kuasa bertahan lebih lama. Ketika sebuah sabetan pedang Pandan Arum mencercah perutnya, ia cuma sempat berteriak pendek dan kemudian tubuh- nya roboh ke tanah becek berlumpur.

Pandan Arum sesaat termangu melihat lawannya te- lah roboh tak bernyawa. Tetapi tahu-tahu sebuah bayangan manusia melesat ke arahnya dengan seran- gan tombak pendek yang menakjubkan.

Traang! Traang!

Dua benturan dengan percikan lidah api terdengar, bersamaan pedang Pandan Arum berhasil menangkis serangan pertama dari putaran tombak pendek si pe- nyerang tadi. Keduanya mundur setapak dan masing- masing dapat melihat wajah lawannya.

“Uh, Anda seorang gadis?” seru Pandan Arum kaget, ketika ia tahu bahwa yang berdiri di hadapannya ada- lah seorang gadis bersenjata tombak pendek. “Siapa- kah namamu?!”

“Yah, tapi Anda pun seorang gadis pula. Namaku Andini Sari,” ujar si gadis lawan Pandan Arum itu de- ngan tegas.

“Hmm, seorang gadis cantik seperti Anda berpihak pada gerombolan Kapal Hantu!” desis Pandan Arum. “Mengapa kau lakukan itu?”

“Ooo, Anda ingin tahu, ha?! Baik! Akulah yang ber- nama Andini Sari, putri Ki Rikma Rembyak!” Andini Sari berkata seraya menatap tajam kepada Pandan Arum. “Sekarang siapa namamu?”

“Tinggalkan daerah ini dan hiduplah secara baik- baik,” ujar Pandan Arum. “Sayang kalau jiwamu ter- lanjur bergelimang dosa.”

“Bahh! Itu urusanku sendiri! Meskipun aku hidup bersama mereka, tetapi aku tak seburuk yang Anda ki- ra!” jawab Andini Sari. “Nah, sekarang terimalah se- ranganku!”

Pandan Arum segera menyambut serangan Andini Sari dan sebentar kemudian keduanya telah bertempur hebat. Dalam beberapa gebrakan, sekonyong-konyong tombak pendek membentur keras ke arah pedang Pan- dan Arum, sehingga pedang tersebut terlepas dan ter- campak ke tanah. Karuan saja Pandan Arum kaget, te- tapi ia pun cepat-cepat melolos selendang berwarna jingga dari balik bajunya. Maka sebelum lawannya menyerang kembali, lebih dulu Pandan Arum memutar selendang jingga tadi yang dilambari ilmunya, Sabet Alun. Oleh karenanya Andini Sari jadi terdesak dan terpaksa ia keheranan bila setiap sentuhan ujung se- lendang Pandan Arum menyebabkan dahan-dahan po- hon berontokan jatuh di tanah.

“Tunggu dulu!” seru Andini Sari. “Aku seperti per- nah melihat wajah Anda?”

Ia melompat ke samping, menyebabkan Pandan Arum keheranan serta menatap wajah Andini Sari be- berapa saat lamanya untuk kemudian berseru.

“Uh, betul. Aku pun ingat. Bukankah Anda gadis yang ditolong oleh Kakang Mahesa Wulung di Jurang Mati dulu itu?” ujar Pandan Arum. “Sekarang ia tengah bertempur di atas Kapal Hantu itu.”

“Tepat! Memang akulah gadis yang ditolongnya itu! Jika demikian,” seru Andini Sari, “aku tak perlu mem- perpanjang pertempuran ini! Nah, selamat tinggal, No- na! Sampaikan salamku kepadanya, terima kasih!”

Habis berkata begitu, Andini Sari meloncat dengan sebat ke arah timur dan tubuhnya lenyap di balik se- mak-belukar pohon bakau.

Dalam saat itu pula terdengar sebuah jeritan me- lengking dari mulut Blenyik, sesudah pedang Jagayuda mengoyak dadanya. Seketika itu pula si Blenyik am- bruk tengkurap ke atas tanah yang sebentar kemudian diwarnai oleh warna merah darah.

Ketika orang-orang awak Kapal Hantu melihat pe- mimpin-pemimpin mereka telah lenyap, semangat me- reka pun jadi menurun. Sebagian dari mereka ada yang menyerah dan sebagian lagi melarikan diri, atau- pun yang nekad bertempur akhirnya binasa di ujung senjata-senjata pasukan Demak. Maka pertempuran di daerah pangkalan Teluk Sampit itu boleh dikatakan selesai dan reda.

Akan tetapi di geladak Kapal Hantu masih saja ber- langsung pertempuran sengit. Mahesa Wulung berge- rak selincah burung sikatan menyambar belalang. Tu- buhnya berloncatan kesana-kemari menyelinap dan menyelusup di antara tubuh-tubuh para pengeroyok- nya, dan setiap kali pula satu dua orang dari mereka terguling ke geladak sesudah kena sambar ujung pe- dang Mahesa Wulung.

Monyong Iblis jadi terpaku oleh kehebatan ilmu pe- dang Mahesa Wulung ini. Itulah sebabnya ia me- ngerahkan segenap ilmu dan tenaganya sehingga golok besarnya makin bertambah cepat gerakannya, seolah- olah dikendalikan oleh tenaga raksasa. Sedemikian hebatnya sampai suatu ketika pedang Mahesa Wulung terpelanting lepas dari tangannya setelah dibentur oleh golok Monyong Iblis tadi.

“Hua, ha, ha, ha. Masih akan mau teruskan perla- wananmu, hai bocah rembes?” seru Monyong Iblis se- raya menimang-nimang goloknya dengan wajah yang sombong dan meremehkan lawannya.

Tetapi Mahesa Wulung tidak berkata sampai ia me- lolos cambuk Naga Geni dari balik bajunya.

“Nah, Monyong Iblis, sekarang aku terpaksa meng- gunakan senjata simpananku ini. Monyongmu jangan lekas-lekas mengejek sebelum engkau merasakan be- nar-benar akan keampuhan cambuk ini!”

Oleh cahaya bulan yang remang-remang dan ba- tang-batang obor yang dipasang pada dinding kapal, tampaklah betapa kagetnya wajah Monyong Iblis ketika melihat cambuk Naga Geni di tangan Mahesa Wulung yang menyala hijau kebiruan.

Dar! Daar!

Dua ledakan cambuk menyambar ke arah Monyong Iblis, tetapi lebih dulu pemimpin Kapal Hantu ini mele- sat ke samping dan akibatnya dua buah tong kayu be- risi minyak di tempat semula ia berdiri, terpukul han- cur berkeping-keping oleh ujung cambuk Naga Geni!

Monyong Iblis bergeser terus sampai ia tiba di de- pan kamar buritan kapal ini, dan terpojoklah ia di sa- na. Sekali lagi cambuk Naga Geni melecut ke arahnya tapi secepat kilat Monyong Iblis kembali mengelak ke samping.

Daaar!

Pintu kamar buritan terpukul hancur oleh cambuk tersebut, membuat Monyong Iblis semakin keder hati- nya. Namun tiba-tiba ia tersenyum lebar ketika dari dalam kamar yang gelap tadi, muncullah sesosok bayangan yang telah ia kenal.

“Garangpati! Baru muncul kau, haa!” seru Monyong Iblis kepada orang yang baru muncul berwajah kejam ini.

Garangpati tampak menggenggam sebatang anak panah dengan busurnya dan ia berpaling ke arah Mo- nyong Iblis. “Maaf, Kakang. Aku lagi tertidur tadi. Baru saja terbangun oleh ribut-ribut ini!”

“Ah, kau enak-enak tidur pulas selagi kita bertem- pur di luar! Sekarang aku minta bantuanmu, Garang- pati! Sebagai penembak panah terulung dari Kapal Hantu, kau harus menembak orang ini! Dialah musuh kita nomor satu!” ujar Monyong Iblis.

“Menembak orang ini? Huh, apa sukarnya. Biarlah ia kumusnahkan dengan panah Braja Kencar ini!” seru Garangpati seraya memasang panahnya, siap ditem- bakkan ke arah dada Mahesa Wulung.

Tetapi betapa kagetnya bila sekonyong-konyong pendekar muda di depannya itu telah memutar cam- buk yang berwarna biru di hadapannya. Demikian ce- patnya cambuk Naga Geni tadi berputar, sampai meru- pakan putaran lingkaran yang berwarna biru kehi- jauan tak ubahnya dengan sebuah perisai pelindung tubuh. Inilah yang hebat! Terutama bagi Monyong Iblis dan Garangpati yang baru pertama kali melihat per- mainan cambuk sehebat ini. Keduanya mau tak mau tergetar pula hatinya. Mereka sadar bahwa pendekar muda yang menjadi lawannya ini berkepandaian sa- ngat tinggi, bahkan mungkin lebih tinggi dari mereka berdua.

Garangpati yang telah membidikkan panah Braja Kencar tadi tertegun dan kebingungan setengah mati, setelah bayangan tubuh Mahesa Wulung seolah-olah lenyap di balik lingkaran biru yang berputar sangat ce- pat itu. Yah, betapa tidak jengkel hatinya bila sasaran yang sesungguhnya masih berdiri di depan hidungnya tiba-tiba saja tertutup oleh putaran cambuk.

“Hmm, untunglah aku punya cambuk Naga Geni ini,” pikir Mahesa Wulung. “Dan panah Braja Kencar itu, harus berhasil aku rampas dari tangan Garangpati sekarang juga.”

Selesai berpikir demikian Mahesa Wulung tiba-tiba melecutkan cambuk Naga Geninya ke arah Garangpati.

Dar! Daar!

Dua ledakan cambuk beruntun terdengar lalu terli- hatlah bahwa pusaran cahaya biru tadi telah menyam- bar tangan Garangpati.

“Aaach!” terdengar Garangpati berteriak dan betapa kagetnya bila tahu-tahu anak panahnya kena teram- pas oleh belitan cambuk pendekar muda itu, dan kini telah berpindah ke tangan kiri Mahesa Wulung, sedang busur panahnya terpatah menjadi dua bagian.

Garangpati sangat marah. Cepat-cepat ia membu- ang busur panah itu, sekaligus mencabut pedangnya dan menerjang ke arah Mahesa Wulung. Akan tetapi pendekar muda ini lebih dulu memiringkan tubuh dan kaki kanannya menerjang ke lambung Garangpati.

Sungguh ‘manis’ sambutan ini hingga Garangpati tak sempat mengelak lagi.

Buuk! “Aaaauuww!”

Tubuh Garangpati terpelanting ke atas, melewati dinding kapal dengan mulut memuntahkan darah se- gar, dan kemudian tercebur ke dalam laut.

Monyong Iblis terpaksa mengakui kehebatan ten- dangan kaki Mahesa Wulung dan ia tak tahu apakah Garangpati tadi mati atau hanya terluka dalam saja, sebab tubuhnya telah ditelan air.

“Hah, panah ini telah berhasil aku rampas!” pikir Mahesa Wulung seraya menyelipkannya ke ikat ping- gangnya. “Dan aku akan membawanya ke Demak!” “Heei, kau, keparat! Serahkan kembali panah itu!”

teriak Monyong Iblis seraya tangannya menunjuk ke arah pinggang Mahesa Wulung, di mana anak panah Braja Kencar terselip pada ikat pinggang pendekar muda ini.

“Heh, heh, heh,” Mahesa Wulung tertawa mengge- legar seenaknya. “Harus aku serahkan kembali kepa- damu? Huh, lha kok seenaknya sendiri! Kalau mau, ambillah sendiri dari ikat pinggangku ini. Tetapi untuk itu kau harus melangkahi mayatku lebih dulu!”

“Wuah, bicaramu sangat memanaskan telinga!” seru Monyong Iblis saking jengkelnya. “Baik. Kau berkata begitu dan jangan menyesal bila tubuhmu kutebas de- ngan golok pusakaku ini!”

Monyong Iblis berseru dan secepat itu juga mener- jangkan goloknya. Tapi golok tadi ternyata cuma mene- bas dinding kapal, secepat bayangan Mahesa Wulung telah meloncat ke udara menghindarkan diri.

Sekali ini Monyong Iblis tidak sudi memberi kesem- patan kepada lawannya. Maka dengan beringas. Kem- bali ditebaskan goloknya mendatar bolak-balik, ke kiri dan ke kanan untuk menyambut dan mencegat tubuh Mahesa Wulung yang masih mengambang di udara.

Oleh serangan tadi, terpaksalah Mahesa Wulung berputar jumpalitan di udara dan belum mendarat ke lantai geladak. Sebab tidak mustahil kalau perbua- tannya tadi akan berakibat dengan terpapasnya kedua kakinya oleh golok besar Monyong Iblis. Namun betapa ia harus bertahan diri berjumpalitan di udara lebih lama. Menahan napas tidaklah mudah apalagi sambil berjumpalitan seperti itu di tengah udara.

Maka dengan mengerahkan tenaga dalamnya, ia mengetrapkan salah satu ilmu dari Kitab Hijau dan melesat ke arah tiang layar.

Taaap!

Kedua telapak kaki Mahesa Wulung tahu-tahu me- nempel dan melekat pada tiang layar tadi, hingga seo- lah-olah tubuh Mahesa Wulung tersebut tertancap te- gak di situ.

Monyong Iblis sesaat masih mengobat-abitkan go- loknya dengan maksud mencegat turunnya tubuh Ma- hesa Wulung. Tetapi terpaksa ia melototkan matanya setelah tahu bahwa tubuh pendekar muda itu melekat di tiang layar, tak ubahnya sikap seekor cicak kubin atau celeret gombel yang mampu meloncat dan me- nempelkan tubuhnya pada sebatang pohon.

“Heh, heh, heh,” tertawa Mahesa Wulung dari atas tiang layar. “Mengapa kau menyungir-nyungirkan mo- nyong jelekmu, he? Marilah kau susul aku ke atas ka- lau bisa!”

“Setan alas! Jangan sombong kowe! Kalau hanya meloncat ke tempatmu saja aku mampu, meskipun aku tak bisa bertengger seperti kakimu itu!” teriak Mo- nyong Iblis dan sesaat kemudian ia menggenjotkan tu- buhnya ke lantai geladak lalu melesatlah ia ke atas, ke arah Mahesa Wulung melekat. “Hyaat!”

“Heh, heh, heh,” Mahesa Wulung sekali lagi tertawa kecil dan secepat kilat ia melesat ke bawah selagi tu- buh Monyong Iblis melenting ke udara. Begitu tiba di lantai, Mahesa Wulung cepat bersiaga dengan cambuk Naga Geninya.

Tentu saja Monyong Iblis mengumpat-umpat tak karuan bila ia merasa dipermainkan oleh lawannya yang masih muda ini, dan sekarang ganti tubuhnya yang cekakaran di udara selagi Mahesa Wulung telah bersiaga di bawah.

Namun Monyong Iblis betul-betul telah habis kesa- barannya. Sebagai pemimpin Kapal Hantu dan tangan kanan Ki Rikma Rembyak, ia telah diremehkan oleh lawan mudanya ini. Seketika ia melesat turun dan me- nerkam Mahesa Wulung dengan sabetan golok besar- nya.

Sekali ini Mahesa Wulung lebih waspada. Apalagi ia merasakan angin dingin dari sabetan golok lawannya. Agaknya si Monyong Iblis benar-benar mengerahkan puncak permainan goloknya. Oleh sebab itu, sebelum serangan golok Monyong Iblis tiba dan mencercah tu- buhnya, Mahesa Wulung lebih dahulu melecutkan cambuk Naga Geninya menyambut terkaman Monyong Iblis tadi.

Duuaar!

Dua senjata bersimpangan, tapi ujung cambuk Na- ga Geni lebih dahulu sampai ke sasarannya dan me- nyambar dada Monyong Iblis, sehingga pemimpin Kap- al Hantu ini menjerit parau dan tubuhnya terhempas ke bawah. Namun sungguh hebat! Kedua kakinya lebih dulu tiba di lantai geladak dan ia masih mampu berdiri tegak, meskipun pada dadanya terdapat luka gosong hangus berwarna merah kehitaman.

“Ses... ses... setan alas... kowe!” seru Monyong Iblis dengan suara terputus-putus serta parau, disertai mu- lutnya yang menyeringai-nyeringai menahan darah hi- tam kental yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia men- coba mengangkat lagi goloknya ke atas serta melang- kah ke tempat Mahesa Wulung berdiri. Baru selang- kah, tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan oleng lalu am- bruk ke lantai geladak tak bernyawa lagi.

Sementara itu, di sebelah lain Wangsa Ginuk ber- tempur dengan gigih. Dan hal ini membuat lawan-la- wannya semakin nekad. Mereka menerjang berbareng ke arah Wangsa Ginuk dari dua arah, sedang Wangsa Ginuk pun tidak lengah. Belum lagi kedua ujung pe- dang lawan menyentuh tubuhnya, ia cepat berkelit ke depan sambil menggerakkan sepasang senjata batang logamnya. Dan sesaat kemudian, kedua lawannya tadi menjerit keras-keras dengan kedua dada mereka mas- ing-masing berlobang memancurkan darah. Tubuh mereka terguling berbareng dengan suara berdebuk ke lantai dan matilah keduanya.

Pada saat yang sama, Jaramala atau si Mata Siji sempat melihat kejadian tadi dan ia melesat keluar da- ri lingkaran pertempurannya melawan Daeng Matoa lalu menyabetkan pedangnya ke lambung Wangsa Gi- nuk dari sebelah belakang!

“Aaargghh!” Wangsa Ginuk terhenyak dan meng- geliat sambil menebahkan tangan kiri ke lambungnya yang tersobek menyemburkan darah segar. Ia berpa- ling ke samping dan tampaklah olehnya, si Mata Siji tersenyum bangga.

“Kep... keparat! Kau... cur... curang!” seru Wangsa Ginuk terengah-engah.

Sebelum roboh, ia masih sempat mengibaskan tan- gan kanannya ke arah Mata Siji dan senjata batang lo- gamnya melesat dan menghunjam ke pundak lawan- nya. Akan tetapi dasar ia bekas murid gemblengan Ki Topeng Reges, maka ia cuma menjerit kecil saja dan kemudian dengan enaknya ia mencabut kembali sen- jata tadi dari pundaknya lalu dicampakkan ke lantai seraya meludah.

“Huh, mampus kowe, babi keparat!” umpat si Mata Siji sambil menyeringai ke arah tubuh Wangsa Ginuk yang kegemukan dan terhantar tak berdaya di lantai.

Alangkah kagetnya Daeng Matoa menyaksikan sa- habatnya roboh oleh serangan licik si Mata Siji dari be- lakang. Kegeraman hatinya timbul secepat pedang pendeknya berkelebat menebas ke kiri dan ke kanan, dan seketika itu pula tiga orang pengeroyoknya bero- bohan ke lantai tak bernyawa lagi. Sehabis meng- ganyang ketiga lawan tadi dengan pedang pendeknya, Daeng Matoa segera melesat ke arah Mata Siji. Sayang- nya, lawan yang telah secara curang merubuhkan sa- habatnya tadi ternyata cukup gesit. Apalagi si Mata Siji telah memperhitungkan, bahwa dengan luka di pun- daknya ini, ia tak akan dapat berkelahi lebih lama lagi. Maka sebelum Daeng Matoa terlalu dekat, ia telah me- loncat ke samping, melalui dinding kapal dan selan- jutnya terjun ke laut.

Betapa besar kegeraman hati Daeng Matoa melihat lawannya lolos, terpaksa ditahannya dalam hati saja, sebab ia lebih mementingkan sahabatnya. Kini ia men- dekati tubuh Wangsa Ginuk yang telah tergeletak tan- pa daya.

“Ooh, Saudara Daeng Matoa,” ujar Wangsa Ginuk lemah. ”Jangan hiraukan aku. Terlambat sudah untuk menolongku dalam luka yang begini parah.”

“Tak mengapa, Saudara Wangsa. Aku akan menye- lamatkanmu!” kata Daeng Matoa.

Tetapi maksud ini tercegah oleh kata-kata Wangsa Ginuk yang makin lemah.

“Aku minta agar engkau membiarkanku di sini. Per- gilah, dan lekas laksanakan rencana kita untuk mele- dakkan Kapal Hantu yang terkutuk ini. Aku akan puas jika mati sebagai orang baik-baik.”

Wangsa Ginuk tak dapat meneruskan kata-katanya, kecuali wajahnya yang semakin pucat dan mulutnya bergumam menyebut nama Tuhan Yang Maha Besar, dan sesudah itu ia diam tak berkutik lagi.

“Aku akan penuhi permintaanmu, kawan,” desis Daeng Matoa seraya cepat-cepat berdiri dan menyam- bar sebatang obor yang terpasang pada dinding kapal. Ia pun berseru ke arah Mahesa Wulung yang masih si- buk menghadapi keroyokan para awak Kapal Hantu yang berlompatan keluar dari lubang pintu geladak. Rupanya masih banyak orang-orang yang tinggal di ruang bawah. Demikian pula Daeng Matoa diserbu oleh beberapa orang, tetapi mereka satu persatu diro- bohkan oleh senjata pedang pendek dan obor di tangan pendekar Bugis ini.

Mahesa Wulung dapat juga mendengar seruan Da- eng Matoa tadi, maka ia pun secepat kilat menyambar obor api dari dinding kapal lalu melemparnya ke arah geladak di sebelah kamar buritan. Sedang Daeng Ma- toa tak ketinggalan melemparkan obornya ke atas lan- tai geladak yang telah dibanjiri oleh minyak yang ter- tumpah.

Api berkobar seketika menjilat-jilat bagai lidah ular ke segenap arah dengan cepatnya. Suasana pun men- jadi kacau-balau.

“Saudara Wulung, lekas keluar!” teriak Daeng Ma- toa berlari ke arah samping kapal dengan kecepatan penuh.

“Bagus! Kita terjun sekarang!” seru Mahesa Wulung yang telah melesat ke arah dinding kapal pula.

Mereka segera terjun berbareng ke laut dan air pun muncrat ke atas diiringi suara berdebur. Para awak Kapal Hantu yang masih berada di geladak mengutuk- ngutuk serta mengacungkan tinjunya ke arah Mahesa Wulung dan Daeng Matoa yang berenang cepat ke arah barat, menjauhi Kapal Hantu tadi. Orang-orang di ge- ladak Kapal Hantu tampak sedang mencoba mema- damkan kebakaran di kapal mereka, tetapi tiba-tiba empat buah ledakan dahsyat terdengar memecahkan anak telinga dari arah geladak tengah dan buritan kapal, menggoncang dan menggetarkan seluruh bagian kapal, dan sesaat itu juga geladak serta tiang layar berkeping-keping hancur berpelantingan terlempar pu- la bagai boneka mainan anak-anak disertai jeritan- jeritan.

Sebentar kemudian sisa-sisa Kapal Hantu tadi mi- ring ke air dan tenggelamlah sudah kapal yang telah sekian kali dan lama mengacau lalu-lintas pelayaran di laut Jawa sebelah utara.

Sementara itu, Mahesa Wulung dan Daeng Matoa telah tiba di pantai barat Teluk Sampit. Keduanya di- sambut oleh Pandan Arum, Jagayuda dan segenap prajurit-prajurit Demak dengan rasa syukur dan gem- bira. Tugas mereka telah berhasil. Namun mereka pun bersedih hati pula atas kematian Wangsa Ginuk yang gugur sebagai prajurit Armada Demak. Yah, setiap per- juangan memang selalu meminta korban, dan mereka akan tetap dikenang sepanjang jaman. Wangsa Ginuk tidak mati sia-sia, sebab Kapal Hantu telah hancur bi- nasa, sedang pangkalan Teluk Sampit pun telah mus- nah akibat pertempuran itu.

Mahesa Wulung dan anak buahnya segera kembali ke kapal, sedang beberapa orang lainnya masih tinggal di pantai untuk berjaga-jaga. Mereka akan berlayar ke- esokan harinya. Malam pun semakin larut dan bin- tang-bintang di langit masih berkedip-kedip dengan indahnya, sementara sang rembulan telah jauh ber- geser ke langit barat.

Dalam pada itu, sebuah bayangan manusia telah mengawasi semua kejadian di Teluk Sampit itu dari balik semak-semak pohon bakau di tepi pantai. Sesaat bayangan tadi mengangguk-anggukkan kepala, lalu berbalik dan berlari ke tengah hutan dengan lincah- nya, tak ubahnya gerak seekor kijang. Ketika malam itu mereka berempat makan malam di kamar buritan, tiba-tiba Mahesa Wulung terperanjat melihat permata kalung yang tersembul dari balik baju Pandan Arum, sebab bentuk dan warnanya mirip den- gan permata kalung pemberian Endang Seruni kepa- danya, yakni berbentuk setengah lingkaran berwarna hijau.

Jagayuda dan Daeng Matoa juga terkejut melihat perubahan wajah Mahesa Wulung, sampai Pandan Arum bertanya, “Mengapa Kakang?”

Oleh pertanyaan ini Mahesa Wulung seperti ter- sadar dari mimpi, dan buru-buru ia berkata sambil tersenyum. “Eeeh, tak apa-apa, Adi. Kalungmu itu sa- ngat indah, dan aku senang melihatnya.”

Mereka pun tersenyum berbareng, dan tak lama kemudian keempatnya kembali ke kamar mereka mas- ing-masing untuk beristirahat.

Nah, selesailah sudah ceritera Seri Naga Geni “Mis- teri Kapal Hantu” dan segera akan sampai kepada para pembaca, Seri Naga Geni yang berikutnya yaitu “Maut di Lembah Sampit”. Akan Anda jumpai perjuangan Mahesa Wulung melawan kedahsyatan rimba Kaliman- tan yang penuh rahasia itu.

TAMAT