Serial Naga Geni Eps 08 : Keruntuhan Netra Dahana

 
Eps 08 : Keruntuhan Netra Dahana


RUANGAN RUMAH itu sejenak menjadi sunyi sesu- dah Rebab Pandan menyudahi ceriteranya, sementara itu Mahesa Wulung dan Pendekar Bayangan bergelut dengan pikirannya sendiri.

Bermula sekali, sejak mendengar awal ceritera Re- bab Pandan itu, Mahesa Wulung sangat tertarik akan kisah kepahlawanan Landean Tunggal yang tetap mempertahankan Kitab Hijau agar tidak jatuh ke ta- ngan orang-orang golongan hitam. Dan kini kitab itu telah disimpannya sebagai pusaka yang amat berhar- ga.

Namun satu hal kecil yang tampaknya sepele telah membuat Mahesa Wulung berdebar-debar dadanya. Ya, ketika Rebab Pandan hampir menyelesaikan babak terakhir dari ceriteranya itu, Mahesa Wulung merasa- kan suatu kejanggalan. Sesuatu yang sangat sukar di- terima oleh akal yang sehat.

Ia ingat betul-betul babak terakhir dari ceritera Re- bab Pandan yang mengisahkan pengejaran Ki Topeng Reges dan Jobin Karang terhadap Landean Tunggal di daerah Jepara.

Inilah yang janggal. Sebab seharusnya Rebab Pan- dan tak mungkin dapat menceriterakan hal itu. Bu- kankah ia pada saat itu tetap tinggal di Padepokan Gunung Merapi serta menemani Panembahan Jatiwa- na? Tambahan lagi ia dapat menceriterakan pertempu- ran Landean Tunggal melawan kedua musuhnya itu, dan berkesudahan dengan kematiannya. Nah, menga- pakah itu semua dapat diceriterakan oleh Rebab Pan- dan dengan gamblang dan terperinci? Seandainya saja ia pada waktu itu bersama dengan Landean Tunggal, tidakkah ia mau menolong kakak seperguruannya ta- di? Ataukah kemungkinan pula ia membiarkan Lan- dean Tunggal binasa di tangan kedua musuhnya itu!

Memperoleh pikiran begini Mahesa Wulung semakin bercuriga terhadap Rebab Pandan yang kini masih du- duk di hadapannya. Namun sebagai seorang perwira yang telah banyak pengalaman, ia tidak terlalu terge- sa-gesa mengambil satu keputusan dan ia pandai me- nyembunyikan perasaan curiganya tadi.

“Mengapakah kisanak termangu-mangu?” sapa Ki Rebab Pandan dengan tiba-tiba, membikin Mahesa Wulung geragapan kaget.

“Eh, tak apa-apa, Ki Rebab. Aku masih memikirkan betapa kita harus mengalahkan Ki Topeng Reges yang sakti itu?” Mahesa Wulung berkata setengah gugup.

Untunglah agaknya Ki Rebab Pandan kurang begitu memperhatikan wajah Mahesa Wulung, sehingga ia tak sempat menangkap perubahan wajah Mahesa Wulung yang membayangkan kegugupannya tadi.

“Untuk itu kita harus mencuri kaca Sirna Praba ser- ta lembaran-lembaran kitab Hijau dari Tangan Ki To- peng Reges!” sahut Pendekar Bayangan.

“Yah, itu cara yang harus kita tempuh. Serta lemba- ran-lembaran kertas tadi harus kita satukan kembali dengan kitab induknya, yakni Kitab Hijau lambang perguruan Padepokan Gunung Merapi. Hmm, kita pun harus mencari kitab itu pula,” ujar Ki Rebab Pandan. “Dan ini tidak mudah!”

“Jangan kuatir, Ki Rebab Pandan. Kitab Hijau tadi sekarang aku ” Mahesa Wulung tak jadi melanjutkan

kata-katanya, sebab tiba-tiba Pendekar Bayangan me- nepuk bahunya sambil tertawa keras memenuhi rua- ngan itu.

“Ha, ha, ha, ha. Yah. Kitab Hijau itu pun harus kita cari bersama-sama pula!” kata Pendekar Bayangan. “Bukankah begitu, Angger Mahesa Wulung?”

Mahesa Wulung bermaksud menjawab, namun be- tapa kagetnya, bila mulutnya mengucap tapi tak satu suarapun yang keluar. Agaknya tepukan tangan Pen- dekar Bayangan tadi telah melumpuhkan urat-urat untuk berbicara.

Maka sebagai gantinya Mahesa Wulung cuma meng- anggukkan kepala saja. Sedang dalam hati ia heran mengapa Pendekar Bayangan berbuat ini? Lalu iapun menatap ke arahnya, dan satu kerdipan mata dari Pendekar Bayangan telah cukup memberikan jawaban dari maksud perbuatannya tersebut. Kiranya bukan Mahesa Wulung saja yang menaruh rasa curiga terha- dap gelagat Ki Rebab Pandan ini, tetapi Pendekar Ba- yangan telah mencurigainya pula. Itulah sebabnya ia mencegah perkataan Mahesa Wulung yang akan men- ceriterakan perihal Kitab Hijau yang telah disimpan- nya.

“Ah, subuh telah menjelang! Baiknya kita sudahi dulu percakapan kita ini. Marilah kita beristirahat se- jenak. Besok masih banyak waktu dan kami akan ber- senang hati bila kisanak bersedia untuk berceritera la- gi,” terdengar Pendekar Bayangan berkata kepada Ki Rebab Pandan, dan sahabat barunya ini tersenyum meringis tanpa prasangka.

“Heh, heh, heh, terima kasih. Memang sebenarnya aku pun telah mengantuk setelah berceritera sekian panjang.”

Mereka bertiga kemudian beristirahat. Rumah bam- bu ini ternyata mempunyai beberapa kamar yang berisi balai-balai bambu beralaskan tikar pandan. Dengan begitu merekapun dapat memilih kamarnya masing- masing. Sampai sebegitu jauh Mahesa Wulung masih memi- kirkan Ki Rebab Pandan ini. Sayangnya ia belum begi- tu mengenal akan wajah Ki Rebab Pandan sendiri, se- hingga ia tak mengerti apakah orang ini Ki Rebab Pan- dan yang sesungguhnya ataukah orang lain yang men- gaku sebagai Ki Rebab Pandan.

Kalau menilik senjata yang dibawanya berupa rebab itu, pastilah tidak keliru bila orang ini bernama Ki Re- bab Pandan. Mahesa Wulung terpaksa memutar otak- nya menghadapi hal ini. Sangat sulit dan ia langsung terlibat di dalamnya.

Biarpun ia berbaring dan sudah berusaha meme- jamkan mata, namun belum juga ia tertidur. Di sam- ping ia memikirkan Ki Rebab Pandan ini, iapun memi- kirkan Kitab Hijau yang kini telah disimpannya. Apa- kah kitab itu harus ditunjukkan kepada Ki Rebab Pandan, sebab mengingat bahwa ia adalah saudara se- perguruan dengan mendiang Landean Tunggal. Me- mang tadi ia bermaksud begitu. Ia akan mengatakan kepada Ki Rebab Pandan bahwa Kitab Hijau itu kini berada di tangannya. Akan tetapi ternyata maksud ter- sebut gagal karena Pendekar Bayangan telah mence- gahnya.

Entah bagaimanakah kesudahannya dengan per- soalan ini, ia tak mengetahuinya. Apakah ia harus ber- terus terang kepada Ki Rebab Pandan ini bahwa kedua pusaka Landean Tunggal itu telah disimpannya. Ak- hirnya setelah beberapa saat berpikir, menimbang- nimbang, maka iapun mengambil satu keputusan un- tuk minta nasehat dan pertimbangan kepada Pendekar Bayangan yang kini telah menjadi gurunya pula. Pasti orang tua ini akan memberikan nasehatnya yang baik.

*** Semenjak Mahesa Wulung, Pendekar Bayangan dan Rebab Pandan tinggal di desa itu, segala kehidupan dan ketenteraman yang telah sekian lama terganggu, kini pulih kembali seperti sedia kala. Semuanya aman.

Segenap penduduk desa hampir-hampir saja lupa bahwa masa-masa yang telah lalu penuh dengan ke- cemasan dan penderitaan. Lebih-lebih bagi yang mem- punyai anak-anak gadis. Setiap saat mereka akan di- datangi oleh anak buah Ki Topeng Reges untuk me- minta gadis-gadis itu.

Tetapi kini mereka telah melupakan hal-hal begitu, apalagi dengan kedatangan ketiga pendekar sakti tadi, keamanan desanya pasti terjamin. Dan orang-orang desa tadi benar-benar merasa berterima kasih sekali atas kesediaan mereka untuk sementara menetap di desanya untuk menjaga keamanan di sini.

Benarkah mereka itu semua bersikap begitu? Tidak! Sebab Sela Ganden yang telah dikalahkan oleh Mahesa Wulung itu masih tetap menaruh dendam kepada pen- dekar yang masih muda ini.

Sebagai kepala jagabaya desa itu ia telah dibikin malu oleh Mahesa Wulung di depan mata orang-orang desanya. Untuk itu ia benar-benar bermaksud memba- las dendam serta melenyapkan pendekar muda itu dari desanya.

Akan tetapi nasib telah menentukan bahwa Mahesa Wulung terhindar dari maksud jahat yang telah meng- ancam jiwanya secara diam-diam. Demikianlah, pada suatu hari ketika Mahesa Wulung meronda di ujung desa sebelah utara dengan tiba-tiba ia telah terkejut karena di balik semak-semak bambu berduri teli- nganya yang tajam telah menangkap adanya bisikan- bisikan yang sangat mencurigakan.

Dengan gerak yang lincah Mahesa Wulung telah mengendap ke tanah bagai seekor tupai yang melihat adanya bahaya.

“Mengapakah Kisanak memanggilku dan ingin menghubungi ketua kami?” terdengar satu suara sember bertanya, membuat Mahesa Wulung menjadi tertarik perhatiannya.

“Aku ada perlu dengannya.” Satu suara lain yang bernada berat menjawab suara pertama, dan tiba-tiba saja Mahesa Wulung terperanjat sebab ia lupa-lupa ingat akan suara itu.

“Serasa aku pernah mendengar suara ini,” berkata Mahesa Wulung di dalam hatinya. “Tapi di mana tem- patnya?”

Sesaat pendekar muda ini terpekur memutar otak- nya itu, maka terkejutlah mereka, sebab dilihatnya Ki Rebab Pandan tengah memeriksa isi kamar Mahesa Wulung. Hal ini sangat mengejutkan mereka.

Kedua orang itu sama-sama keheranan dan saling berpandangan kemudian sama-sama mengangkat ba- hu, sebagai pertanda bahwa mereka tidak tahu- menahu akan hal itu.

Sekali lagi Mahesa Wulung menatap wajah gurunya dan orang tua ini mengangguk, dan berdehem keras serta berkata kepada Mahesa Wulung. “Angger Wu- lung, ayolah kita masuk ke dalam. Ki Rebab Pandan pasti telah menunggu-nunggu kita!”

“Ya, kasihan kalau ia terlalu lama menunggu kita,” jawab Mahesa Wulung disertai senyum yang penuh ar- ti.

Barangkali Ki Rebab Pandan terperanjat dengan mendengar suara mereka, ini terlihat di saat Mahesa Wulung dan Ki Jatilawang menginjak ambang pintu rumah itu.

Ki Rebab Pandan sangat tergopoh-gopoh menyam- butnya. “Ah, aku sudah lama menunggu Andika ber- dua. Lihatlah, nasi dan sayurnya telah dingin.”

“Eh, tak apalah, Ki Pandan. Biarpun dingin kalau kita sudah lapar, pasti kita serbu juga, bukan? Heh, heh, heh.”

Mendengar gurunya berkelakar itu Mahesa Wu- lungpun ikut ketawa. Agaknya Pendekar Bayangan be- rusaha menghilangkan kegusaran Ki Rebab Pandan. Dan oleh hal ini ia tak mengira bila kedua sahabatnya ini tengah mencurigainya.

Malam itu mereka bertiga makan dengan enaknya meskipun di dalam dada Mahesa Wulung dan Pen- dekar Bayangan dipenuhi oleh berbagai rasa curiga dan syak wasangka terhadap Ki Rebab Pandan.

***

2

SELAMA tinggal di desa ini Mahesa Wulung dan gu- runya kadang-kadang mengajarkan beberapa gerakan silat kepada para pemuda desa yang mendapat tugas ronda, agar mereka mempunyai bekal yang cukup da- lam kesiagaan dirinya.

Hari-hari mendatang, silih berganti dan ketegangan akan serbuan pembalasan dari para anak buah Topeng Reges kini makin mereda, sebab sampai pada saat in- ipun tak satu kejadian yang terjadi pada mereka dan pada akhirnya sekali merekapun melupakan akan ba- haya itu.

Yang kemudian tampak adalah wajah-wajah cerah dan senyuman yang tersungging di wajah para pendu- duk desa itu. Dan pada hari-hari berikutnya ada pula satu dua orang yang mulai bermulut usil dengan nada- nada sumbang.

Sela Ganden mulai menyebarkan kasak-kusuk di antara mereka.

“Nah, kau lihat ketiga orang itu? Mereka apa ker- janya di desa kita ini, kecuali kelayar-keluyur melulu. Sedang makan minum kita yang menjaminnya,” ujar Sela Ganden kepada beberapa orang teman minum di warung desa.

“Jangan lupa, kawan, bukankah dia telah bersusah payah menjaga desa kita ini,” kata seorang yang duduk di dekatnya.

“Menjaga desa kita? Huh, apanya yang perlu dijaga?

Bukankah kita telah aman tenteram?”

“Tapi kau tak bisa menyalahkan ketiga pendekar itu, sobat,” terdengar pula teman Sela Ganden berkata. “Ki Lurah telah mengajak mereka untuk sementara tinggal di desa kita.”

“Bah, Ki Lurah terlalu memanjakan mereka dan pa- ra pendekar tetiron serta gadungan itu menjadi sema- kin keenakan mengendon disini!”

“Stt, jangan keras-keras kau berkata begitu. Lihat, Mahesa Wulung baru saja lewat!” desah teman Sela Ganden.

Dan memang benarlah bahwa Mahesa Wulung te- ngah melewati jalan di depan warung itu. Telinganya yang tajam tak urung dapat menangkap percakapan mereka membuat darah dan telinganya serasa terbakar oleh bara api.

Tetapi bukanlah bernama Mahesa Wulung kalau ia mudah menurunkan amarahnya, maka pendekar mu- da ini tetap berjalan dengan langkah seenaknya. Apa yang baru didengarnya tadi segera dilupakannya. Ba- gai angin lalu yang bertiup di musim kemarau. Sudah lumrah bila setiap perjuangan dan perbuatan baik se- lalu mendapat tantangan. Bahkan kadang-kadang se- suatu yang tak diduga-duga bisa saja terjadi, seperti halnya Ki Rebab Pandan yang dengan diam-diam telah menggeledah kamar Mahesa Wulung.

Sesudah beberapa hari menimbang-nimbang akan kecurigaannya terhadap sikap Rebab Pandan itu, Ma- hesa Wulungpun bisa menduga bahwa pendekar itu agaknya mencari Kitab Hijau milik Landean Tunggal yang kini telah disimpannya.

Begitulah pada suatu hari, Pendekar Bayangan ber- sama Mahesa Wulung pergi keluar desa menuju ke arah utara, mencari tempat yang sunyi, sebab Pen- dekar Bayangan bermaksud memberikan nasehat- nasehat penting berkenaan dengan Kitab Hijau milik Landean Tunggal.

Keduanya menerobos dan memasuki hutan kecil di sebelah utara desa dan setelah melalui jalan rintisan setapak, tibalah mereka di padang ilalang yang cukup luas. Pendekar Bayangan serta Mahesa Wulung lalu duduk di atas sebuah batang pohon yang telah roboh di atas tanah.

Suasana hening sejenak. Angin bertiup lembut dan udara siang terasa sangat panas, sementara pucuk- pucuk daun muda pada tunduk terkulai lesu.

“Nah, kitab ini sekarang telah aku bawa, Guru. Dan apakah nasehat Guru untuk hal ini?” ujar Mahesa Wu- lung sambil mengeluarkan Kitab Hijau yang terbung- kus kain dari balik bajunya.

“Aku tahu, Angger. Kalau menurut hubungan ke- perguruan memang seharusnya Ki Rebab Pandanlah yang lebih berhak menyimpan Kitab Hijau itu, sebab dia adalah saudara muda seperguruan Si Landean Tunggal. Akan tetapi jika berdasarkan surat wasiat da- ri Landean Tunggal itu, memang Anggerlah yang harus memiliki Kitab Hijau tersebut,” ujar Pendekar Baya- ngan.

“Itulah yang menyulitkan, Guru,” sambung Mahesa Wulung seraya merenung ke bawah.

“Sekarang begini saja, Angger. Aku akan mengajak Ki Rebab Pandan berunding. Biarlah kalau seandainya ia berkeras untuk menyimpan Kitab Hijau itu. Namun sebelum itu kita harus membuat salinannya dari kitab tadi seperti halnya dengan pusaka-pusaka ampuh se- ring dibuat salinannya.”

“Oooh, baik juga pendapat Guru tadi. Aku sangat menyetujuinya dan....” Kata-kata Mahesa Wulung tak terlanjutkan sebab tiba-tiba saja dari balik semak ila- lang dengan tanpa suara melompatlah Ki Rebab Pan- dan sambil meringis, sambil menggenggam rebabnya.

“Kitab itu mutlak milikku! Dan sekarang juga serah- kan kepadaku!” berkata Ki Rebab Pandan dengan sua- ra mengguntur membikin Pendekar Bayangan serta Mahesa Wulung terkejut bukan main.

“Tak mungkin! Angger Mahesa Wulung punya bukti- bukti bahwa Kitab Hijau ini diserahkan oleh mendiang Landean Tunggal kepada siapa saja yang menemukan- nya!” sahut Pendekar Bayangan lantang, hingga Ki Re- bab Pandan mengangkat muka.

“Persetan dengan surat-surat bukti yang telah usang. Aku tak butuh itu. Yang aku mau ialah Kitab Hijau itu. Ayo cepat serahkan kepadaku, sebab aku yang berhak menyimpannya!”

“Hmm, aku tak menyangka bahwa Kisanak bisa be- rubah adat sebegitu cepat,” sela Mahesa Wulung.

“Apa perlumu, anak ingusan!” bentak Ki Rebab Pandan sembari mengacung-acungkan senjata rebab- nya ke arah kedua sahabatnya itu. “Sekarang aku ingin tahu. Andika telah berceritera bahwa Andika tetap tinggal bersama Panembahan Ja- tiwana ketika Landean Tunggal pindah ke Jepara! Te- tapi mengapakah Andika bisa menceritakan kisah per- tempuran Landean Tunggal melawan Topeng Reges dan Jobin Karang di Jurang Mati?”

Oleh pertanyaan yang tak terduga itu, Ki Rebab Pandan jadi terhenyak kaget dengan wajah yang se- bentar merah dan sebentar kepucatan. Namun sesaat kemudian, pendekar ini tertawa cekakakan terbahak- bahak.

“Hua, ha, ha, ha, ha. Setan alas kowe! Otakmu me- mang sangat tajam dan cemerlang. Tetapi biar bagai- manapun, kepala kalian berdua akan kuhancurkan dengan senjata rebabku ini! Ha, ha, ha. Baiklah kalau kalian ingin tahu siapa aku sebenarnya.” Setelah ber- kata demikian Ki Rebab Pandan tadi melepas ikat ke- palanya serta mengusap seluruh mukanya dengan len- gan bajunya, sehingga Pendekar Bayangan serta Mahe- sa Wulung kini ganti terhenyak kaget bagai melihat hantu kubur di depannya!

Yang berdiri di depannya kini adalah seorang yang berwajah garang dengan kepala gundul sedang di kaki- nya berserakan alis dan kumis palsunya. Kesan-kesan wajah Ki Rebab Pandan tidak terlihat sama sekali. Sa- tu penyamaran yang luar biasa.

“Hua, ha, ha. Kau tahu sekarang, hee? Akulah yang bernama Ki Jobin Karang bekas guru si Topeng Reges!” “Kurang ajar! Jadi kau masih hidup dan mengarang ceritera busuk itu di hadapanku!” geram Mahesa Wu-

lung.

“Hah, memang aku masih hidup ketika dipukul oleh Landean Tunggal, sebab sempat berpegang pada din- ding Jurang Mati. Dan sejak saat itu pula aku mem- bayangi Landean Tunggal yang telah dikurung oleh Ki Topeng Reges dalam sebuah goa. Setiap hari aku yakin bahwa pada suatu hari Landean Tunggal benar-benar mampus kelaparan! Hua, ha, ha, ha! Puaskah seka- rang? Kini cepatlah kau serahkan Kitab Hijau di ta- nganmu itu, Mahesa ingusan!”

“Tak semudah itu enaknya, setan gundul!” seru Ma- hesa Wulung. “Buku ini boleh kau jamah setelah me- langkahi mayatku.” Mahesa Wulung dengan cepat memasukkan kembali Kitab Hijau ke dalam bajunya.

Pendekar Bayanganpun segera pula bersiaga me- masang jurus silatnya. Sayangnya sebelum keduanya sempat melakukan serangan terhadap si gundul Jobin Karang, orang ini dengan cekatan telah menggesek senjata rebabnya.

Bersamaan teralunnya nada gesekan rebab terse- but, udara di situ terasa bergetar hebat, sehingga Pen- dekar Bayangan serta Mahesa Wulung cepat-cepat memasang tenaga dalamnya untuk memagari tubuh- nya dari pengaruh bunyi gesekan rebab itu.

Dengan begitu, kedua lawan Ki Jobin Karang ini memusatkan perhatiannya dalam menanggulangi sua- ra tadi, sementara mereka tak mengira sama sekali bila saja secara mendadak Ki Jobin Karang melesat ke arah Mahesa Wulung dan sebuah tendangan kakinya telah melanda pundak si pendekar muda.

Mahesa Wulung tidak keburu mengelak. Tubuhnya terpental, terhempas ke tanah bergulingan. Bersamaan itu pula Kitab Hijau telah terpelanting dari balik ba- junya.

“Hua, ha, ha, ha. Kini jadi milikku Kitab Hijau ini!” seru Ki Jobin Karang seraya memungut kitab itu ce- pat-cepat. Dan selanjutnya setelah ia memasukkan ki- tab tersebut ke balik bajunya, Ki Jobin Karang meng- gesek kembali rebabnya, sehingga udara kembali ber- getar hebat.

Semenjak tadi Pendekar Bayangan telah berhasil menguasai dirinya, namun tidak begitu dengan si Ma- hesa Wulung. Apalagi setelah ia terkena tendangan kaki Jobin Karang. Maka sedikit demi sedikit suara ta- di menelusup ke dalam telinganya, menyebabkan Ma- hesa Wulung yang masih terguling di tanah itu merin- gis dan menyeringai kesakitan, sebab suara tadi seo- lah-olah jauh merembes ke dalam telinganya serta me- nyentuh isi otaknya, menimbulkan rasa nyeri dan me- nyengat-nyengat yang kelewat dahsyat.

Karuan saja melihat lawannya yang satu telah ber- kelesatan di tanah seperti cacing kepanasan, Ki Jobin Karang serentak tertawa terkekeh-kekeh.

Tetapi tiba-tiba sebelum hal itu berlangsung lebih lama, terjadilah suatu hal yang tak terduga-duga. Dari semak-semak bambu di sebelah utara mengalirlah udara aneh bersama tiupan angin menuju ke arah me- reka.

Bersamaan dengan merayapnya arus udara aneh tersebut, terasalah bagi Pendekar Bayangan dan Mahe- sa Wulung sesuatu yang segar dan sejuk meresap ke dalam telinga dan dada mereka. Rasa nyeri dan pedih yang disebabkan oleh gesekan rebab itu menjadi reda dan akhirnya hilang sama sekali.

Kini gesekan rebab itu tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Pendekar Bayangan dan Mahesa Wulung, sehingga perlahan-lahan Mahesa Wulung yang berguli- ngan di tanah bangkit berdiri dengan kukuhnya.

Tentu saja hal ini menyebabkan Ki Jobin Karang terperanjat kaget. Apalagi setelah ia menatap ke arah sumber udara yang mengalir dari arah semak-semak bambu. Terlihatlah Bayangan seseorang berdiri dengan melipat tangan di dadanya.

“Hah! Rebab ini tak berguna sama sekali!” gerundal Ki Jobin Karang sambil mencampakkan rebab dan alat penggeseknya itu ke atas tanah. “Bangsat, siapa kau ha?!”

Ki Jobin Karang berteriak marah, sementara itu Ba- yangan tadi yang berdiri di tempat kegelapan tiba-tiba meloncat dengan gaya yang amat manis dan..., tap! Orang ini tahu-tahu telah bersiaga di depan Ki Jobin Karang.

“Rebab Pandan, kau?!” desis Ki Jobin Karang diser- tai wajah yang penuh kerut lipatan marah, berkeri- ngat.

Dalam pada itu, Pendekar Bayangan serta Mahesa Wulung tak kalah herannya menyaksikan orang yang baru muncul ini, berwajah setengah tua penuh wiba- wa.

“Ya, akulah Rebab Pandan yang sesungguhnya! Se- telah kau berhasil menipu dan mencuri senjataku re- bab ini, kau ternyata telah berani memalsukan wa- jahku pula!” ujar orang yang menyebut dirinya sebagai Rebab Pandan yang sesungguhnya, dan dengan sece- pat kilat pula orang tersebut telah menyambar rebab dan alat penggeseknya yang tergeletak di tanah.

“Ha, ha, ha, ha. Manusia-manusia goblok! Kalian boleh mengutuk-ngutuk ataupun berkoak-koak seke- hendak hatimu, tapi yang penting Kitab Hijau ini telah aku kuasai dan tidak akan lepas dari tubuhku!”

“Hmm, bagus juga ocehanmu itu, sobat!” sahut Ki Rebab Pandan. “Tetapi hari ini juga kau akan meneri- ma pembalasanku!”

“Ah, maaf Ki Rebab Pandan, aku mohon Andika se- dia untuk memberikan Ki Jobin Karang itu untukku. Biar akulah yang akan menghadapinya!” sela Mahesa Wulung.

“Lha, itulah jalan yang baik pula. Bagus, aku pun tak berkeberatan, Kisanak!” jawab Ki Rebab Pandan menyetujui.

“Hee, kalian akan berusaha mengeroyokku? Bukan sikap ksatria itu namanya?!” teriak Jobin Karang.

“Setan alas! Kau bicara tentang sikap ksatria tetapi kau telah mencuri senjataku dan menyamar sebagai diriku!” sahut Ki Rebab Pandan. “Jangan kau kira bahwa kami berkelakuan serendah tampangmu. Kau telah dengar tadi bahwa Kisanak Mahesa Wulung ini telah memintaku agar dia diperbolehkan seorang diri menghadapimu. Nah, kau tak usaha kuatir akan kami keroyok. Kau boleh bertempur mati-matian melawan- nya.”

“Baik! Kau harus mati di tanganku, bocah ingusan!” terdengar teriakan menggeledek Ki Jobin Karang se- raya menunjuk ke arah Mahesa Wulung.

“Kematian seseorang tidak harus terletak di tangan orang lain,” berkata Mahesa Wulung dengan lantang. “Tetapi terletak di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa! Marilah kita mulai!”

“Hee, kau pandai bicara, bocah! Tapi tenagamu be- lum tentu sebaik omonganmu!” teriak Ki Jobin Karang. “Untuk kali ini aku tak mau bermain-main dengan ta- ngan kosong karena akan memakan waktu lama. Aku menghendaki kematianmu secepat mungkin. Nah, li- hatlah ini!”

Ki Jobin Karang segera mencabut sesuatu dari balik ikat pinggangnya dan kini tergenggamlah di tangan kanannya sebuah rantai panjang yang bermata kecil- kecil sedang pada ujungnya tergantung sebilah pisau kecil. Senjata ini tampak berkeredapan terkena sinar.

Melihat senjata itu, baik Mahesa Wulung, Pendekar Bayangan maupun Ki Rebab Pandan yang baru saja muncul itu, berdebar-debar hatinya.

“Ayo! Cabutlah pedangmu itu! Aku tak ingin kau mati konyol cuma-cuma di tanganku!” seru Ki Jobin Karang sekaligus memutar senjatanya. Mula-mula pe- lan, kemudian makin kencang dan akhirnya sudah merupakan sebuah lingkaran sinar putih dengan bunyi mendesing seperti siulan setan. Sementara itu ujung senjata rantai yang berbentuk pisau kecil tersebut be- rubah seperti ratusan jumlahnya yang sebentar- sebentar menyambar ke arah Mahesa Wulung.

“Hyaaat! Mampus kowe, hah!” berbareng dengan te- riakan ini Ki Jobin Karang melesat ke arah lawannya dan senjata rantainya membabat ke arah dada Mahesa Wulung.

Mendapat serangan itu, pendekar muda ini serentak menggenjotkan tubuhnya ke atas dan loloslah ia dari maut. Namun alangkah kagetnya bila ia belum sempat mendarat tahu-tahu senjata rantai Jobin Karang yang berujung pisau itu melenting dan mematuk kembali. Maka terpaksalah Mahesa Wulung memutar tubuhnya di tengah udara untuk menghindari senjata lawan.

Dengan sebuah loncatan ke belakang sejauh satu tombak, Mahesa Wulung telah tiba di luar jarak jang- kauan rantai Ki Jobin Karang. Untuk sesaat Mahesa Wulung berdiri tegak sementara itu Ki Jobin Karang pun berdiri sambil terus-menerus memutar rantainya.

“Hee, bocah ingusan! Masihkah kau mimpi untuk mendapatkan Kitab Hijau ini kembali?”

“Ya, aku akan mengambilnya dari tanganmu sendi- ri, setan gundul!” jawab Mahesa Wulung sekalian men- cabut pedangnya.

“Jempolan, kau bocah! Kalau saja kau kuat me- nanggulangi puncak permainan rantai Sapu Lesus ini, kau boleh mengambil kitabmu ini!” kata Ki Jobin Ka- rang dengan mempergencar putaran senjatanya.

Apa yang terlihat kemudian sangat menggetarkan hati. Tubuh Ki Jobin Karang seolah-olah dilingkari oleh sinar putih yang mengeluarkan desingan bunyi berna- da tinggi. Sesaat kemudian keduanya saling menyerbu. Maka bertempurlah kembali kedua orang tadi. Kali ini Mahesa Wulung kerepotan juga tampaknya. Senjata lawan tadi berkali-kali mengancam jiwanya, membuat dirinya sibuk berloncatan kesana-kemari sambil seka- li-sekali membalas dengan serangan pedangnya.

Memang hebat permainan rantai Sapu Lesus ini, sebab beberapa dahan pohon dan rerumputan ber- hamburan rontok terbabat oleh ujung pisau kecil itu.

“Awas hati-hati, Angger Wulung!” Pendekar Baya- ngan berseru memperingatkan Mahesa Wulung. “Per- gunakan ilmu pedangmu Sigar Maruta!”

Mahesa Wulung segera mengetrapkan seluruh tena- ga dalamnya dan gerakannya semakin lincah. Sekali- sekali ia berhasil menerobos pusaran rantai Ki Jobin Karang yang bergulung-gulung laksana ombak Laut Kidul. Sekali-kali Mahesa Wulung terpaksa bergulin- gan di tanah untuk kemudian menyerang pertahanan lawan yang kosong.

Selama bertempur itu Mahesa Wulung telah berkali- kali merasa kagum, sebab setiap kali pedangnya mem- babat senjata rantai Ki Jobin Karang yang nampaknya tipis dan mudah putus itu, ternyata tidak demikian ja- dinya. Senjata rantai tadi selalu bergetar lemas, se- hingga dengan mudah lolos dari kemungkinan putus. Maka akhirnya Mahesa Wulung mencoba siasat lain.

Demikianlah pada suatu saat, sambaran rantai Ki Jobin Karang ini dengan deras menyambar ke arah wa- jah Mahesa Wulung. Untungnya pendekar muda ini secepat kilat menarik kepalanya ke belakang, hingga rantai tersebut meleset dan kini terjulur di depannya dalam keadaan tegang.

Nah, memang saat inilah yang ditunggu-tunggu. Maka bersamaan itu pula ia menebaskan pedangnya ke arah rantai tadi.

Tas! Criiing!

Hampir semua mulut ternganga mengikuti kejadian ini. Rantai berujung pisau kecil tadi terputus dan ke- mudian jatuh terpelanting, tercampak ke tanah.

Belum habis keheranan mereka tadi, tiba-tiba Ma- hesa Wulung telah menebaskan sekali lagi pedangnya ke arah leher Ki Jobin Karang. Tetapi pendekar gundul ini memang cekatan. Segera ia berkelit ke samping ser- ta tiga langkah ia melompat menghindar, namun tak urung bahunya tersambar juga oleh ujung pedang Ma- hesa Wulung.

“Aaaaakh!” Ki Jobin Karang menjerit dan secepat itu pula ia melesat ke arah hutan-hutan kecil di sebelah utara.

Tetapi kali ini Pendekar Bayang tak tinggal diam. Sebuah pukulan Angin Bisu yang terkenal hebat sege- ra dilontarkan ke arah Ki Jobin Karang. Dan akibat- nya, pendekar gundul ini terhempas bagai selembar daun kering dan membentur sebuah batang pohon de- ngan suara berderak dibarengi jeritan hebat. Sesaat kemudian tubuhnya terkulai ke tanah dengan kepala yang berlumuran darah. Pecah mengerikan.

Mahesa Wulung, Pendekar Bayangan serta Ki Rebab Pandan segera berlari mendapatkan Ki Jobin Karang. Setelah itu Mahesa Wulung segera memungut Kitab Hijau dari balik baju Ki Jobin Karang dan kemudian ia menatap ke arah Ki Rebab Pandan. Demikian pula de- ngan Pendekar Bayangan. Keduanya meneliti dengan pandangannya terhadap Ki Rebab Pandan, mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Mereka mencoba meyakini bahwa sekali ini orang yang begitu muncul dan menyebut dirinya sebagai Ki Rebab Pandan tidaklah orang tetiron seperti Ki Jobin Karang yang telah menyamar sebagai Ki Rebab Pan- dan.

Agaknya Ki Rebab Pandan yang baru muncul itu- pun maklum akan pikiran mereka. Maka tiba-tiba saja ia tertawa terkekeh-kekeh.

“Heh, heh, heh. Tampaknya Andika berdua telah menggolongkanku dengan Ki Jobin Karang tadi yang telah menyamar sebagai diriku. Tetapi baiklah aku akan membuktikan bahwa aku bukan Ki Rebab Pan- dan yang tiruan.” Berkata demikian Ki Rebab Pandan melepas ikat kepalanya sehingga tampaklah rambut- nya yang sudah hitam keputihan itu dengan sanggul kecil di belakang kepala. “Nah, lihatlah. Apakah aku tetiron atau yang asli.”

Ki Rebab Pandan kemudian menarik-narik rambut dan kumisnya, juga janggutnya pula sehingga adegan ini tampak sangat menggelikan. Lebih-lebih sambil berlaku demikian Ki Rebab Pandan mengiringinya de- ngan ketawa.

Mahesa Wulung dan gurunya setelah melihat bukti tadi akhirnya tak tahan lagi, lalu ikut tertawa pula. Suasana yang menegangkan akhirnya menjadi cerah. Tempat itu kemudian terpenuhi oleh derai ketawa me- reka.

Mahesa Wulung dan Pendekar Bayangan lalu mem- perkenalkan diri serta berjabatan tangan dengan Ki Rebab Pandan.

“Maaf, Kisanak. Kami akui kalau semula kami ber- dua meragukanmu. Sebab kami kuatir jangan-jangan Andika juga tetiron seperti dia,” ujar Pendekar Baya- ngan seraya menunjuk ke tubuh Jobin Karang yang telah tergeletak tak bernyawa itu.

***

3

HARI BERTAMBAH siang, sementara kesuraman senja telah mulai merayapi langit di sebelah timur. Ke- tiga orang pendekar itu tengah beranjak untuk kembali ke Mijen di sebelah selatan arah mereka.

Mereka tengah melawati jalan setapak ketika dari arah selatan tampak debu berkepulan naik ke atas yang tampaknya bergerak menuju ke utara, ke arah mereka.

“Heei, Andika mendengar derap kaki kuda?” ber- tanya Ki Rebab Pandan kepada kedua rekan barunya.

“Ya, aku mendengar! Kira-kira mereka berempat,” jawab Pendekar Bayangan membuat Ki Rebab Pandan terperanjat.

“Lho, Andika dapat mengetahui jumlah mereka?” “Oh, tidak. Itu hanya kira-kira dari getaran derap

kaki-kaki kuda mereka.”

“Hebat! Itu hebat! Memisah-misah dan membeda- kan suara hanya dimiliki oleh para darah bayu saja bi- asanya. Kalau begitu Andika termasuk di antaranya.”

“Eh, terima kasih. Andika berlebih-lebihan memuji- ku.”

Sementara itu pula kepulan debu tadi bertambah dekat dan sebentar kemudian tampaklah empat orang berkuda menuju mereka. Pendekar Bayangan dan Ma- hesa Wulung pertama-tama dapat mengenal mereka. Yang paling depan adalah Ki Lurah Mijen sendiri. Dengan ringkikan keras kuda-kuda tersebut ber- henti tidak jauh dari ketiga pendekar itu. Ki Lurah Mi- jen dan ketiga penunggang lainnya segera meloncat tu- run.

Tampak sekali wajah Ki Lurah yang kecemasan ser- ta langkahnya yang tergesa-gesa menuju ke arah Pen- dekar Bayangan.

“Oh, adakah sesuatu yang penting, Ki Lurah? Aku lihat Ki Lurah seperti kecemasan,” tanya si Pendekar Bayangan.

“Benar... Benar katamu itu, Kisanak. Sesuatu telah terjadi ketika Andika bertiga meninggalkan desaku. Endang Seruni telah diculik oleh orang-orang anak buah Ki Topeng Reges.”

Bagai suara ledakan petir, berita itu menggetarkan dada-dada mereka. Terutama dada Mahesa Wulung yang dahulu pernah menolong keselamatan gadis ini dari cengkeraman orang-orang golongan hitam yang dipimpin oleh Jaramala.

“Kalau begitu, sekarang mereka belum jauh dari de- sa ini!” Pendekar Bayangan berkata.

“Betul! Kami berusaha mencegatnya, tetapi mereka terlalu kuat, dan tiga orang kita terluka parah oleh senjata-senjata mereka. Kini mereka tengah berkuda ke arah timur!”

“Jangan kuatir, Ki Lurah. Kita akan mengejar mere- ka sekarang juga!” ujar Mahesa Wulung.

“Terima kasih! Pakailah kuda-kuda kami ini!” Ki Lu- rah Mijen mempersilakan ketiga pendekar itu untuk memakai kuda mereka, dan kemudian ketiganya sege- ra berloncatan ke punggung kuda masing-masing milik orang-orang Ki Lurah tadi.

Sebentar saja mereka telah berpacu ke arah timur diikuti oleh pandangan Ki Lurah Mijen serta orang- orangnya, dan sejurus kemudian lenyap di balik hutan kecil. Dalam pada itu baik Mahesa Wulung, Pendekar Bayangan maupun Ki Rebab Pandan, masing-masing memacu kudanya secepat mungkin, sebab mereka tak ingin ketinggalan jauh oleh orang-orang Ki Topeng Reges.

Sesudah mereka menerobos hutan kecil tadi, maka tampaklah jauh di depan mereka orang berkuda yang menuju ke arah timur laut, sedang di belakangnya de- bu berkepul-kepul naik ke udara. Ketiga pendekar tadi mempercepat lari kudanya dan jarak dengan orang- orang Ki Topeng Reges bertahan dekat!

“Oh, mereka menuju ke arah Watu Semplak!” desis Mahesa Wulung. “Mereka langsung menuju ke sarang mereka!”

“Mereka harus kita serang sebelum mencapai dae- rah kekuasaannya!” seru Pendekar Bayangan.

Bila mereka semakin bertambah dekat, rupanya da- ri pihak gerombolan tersebut telah mengetahui adanya bahaya di sebelah belakang. Maka merekapun cepat bertindak.

Dari rombongan orang-orang Ki Topeng Reges itu, tiga orang berkuda keluar dari rombongan serta berba- lik menyongsong ketiga pengejarnya, sedang sisanya tetap melarikan Endang Seruni ke arah timur laut.

Ketiga orang anak buah Ki Topeng Reges ini dengan garangnya mempersiapkan senjatanya masing-masing. Yang berada paling depan adalah si Pelang Telu, ber- senjata sebilah tombak pendek dan yang dua orang la- gi tampak menggenggam pedang di tangannya.

“Adi Sangkrah dan Caplak, kalian langsung menye- rang kedua orang yang tua-tua itu. Yang termuda itu bagianku. Biar aku yang akan membereskannya!” seru Pelang Telu. “Baik, Kakang!” mereka berseru berbareng.

Jarak merekapun semakin bertambah dekat dan se- jurus kemudian keenam orang itu telah bertempur he- bat. Mereka saling terjang-menerjang dengan kekuatan cukup seimbang. Dengan pertempuran berkuda ini, se- tiap orang tidak akan sama baiknya, sebab masing- masing dipengaruhi oleh kepandaiannya mengendali- kan kuda.

Biarpun seorang pendekar yang tangkas dan tang- guh dalam ilmu tata kelahi, tapi tidak pandai dalam melayani kuda, maka bertempur di atas kuda justru merupakan gangguan juga. Sebab tentu saja perha- tiannya akan terpecah menjadi dua. Sebagian terhadap musuhnya dan sebagian lagi terhadap kudanya.

Dan dalam hal ini agaknya Pendekar Bayangan ju- stru kurang terbiasa dengan perang berkuda. Maka ke- tika Sangkrah menyerangnya dengan sabetan-sabetan pedangnya, Pendekar Bayangan agak kerepotan me- nangkis dengan tongkat kayunya.

Di pihak lain, Caplak agak keheranan setengah mati sebab dilihatnya bahwa Ki Rebab Pandan yang menjadi lawannya menggunakan rebab sebagai senjatanya. Senjata aneh ini berdesau menyambar-nyambar ke arah tubuhnya.

Sementara itu pula Mahesa Wulung dengan cekatan memainkan pedangnya yang berputar bagai baling- baling untuk menghadapi tikaman-tikaman tombak si Pelang Telu.

Mahesa Wulung ternyata paling pandai bertempur di atas kuda. Selain ia gencar melancarkan serangan- serangan terhadap Pelang Telu, maka dengan gesit pu- la ia menghindari setiap serangan Pelang Telu. Setiap kali tombak pendek Pelang Telu menikam, Mahesa Wu- lung cekatan menghindarinya dengan mengendap ren- dah ke punggung kudanya. Bahkan tidak jarang ia bergantung pada sisi lambung kudanya.

Pertempuran berlangsung tambah hebat. Kepulan debu, ringkikan kuda serta bunyi benturan senjata memenuhi tempat itu dengan ramainya.

Pendekar Bayangan akhirnya merasa bahwa dengan bertempur di atas kuda ia tidak dapat banyak menye- rang lawannya. Maka segera ia meloncat ke atas tanah. Melihat lawannya turun dari kuda itu, Sangkrah se- cepat kilat memburunya turun dari atas kuda. Tubuh- nya melesat bagai Bayangan dan Pendekar Bayangan

segera pula menyambutnya.

Kini Sangkrah betul-betul mengeluarkan ilmu pe- dangnya, sebab ia merasa bahwa lawannya ini bukan orang yang sembarangan. Ia melihat bahwa ujung tongkat lawannya ini bagai moncong seekor ular yang setiap kali mematuk-matuk ke arah dirinya.

Demikian pula sebaliknya dengan Pendekar Baya- ngan. Dalam hati ia memuji akan permainan pedang lawan. Inilah agaknya mengapa lawannya tersebut be- rani mencegat pengejarannya. Sekali-sekali pedang Sangkrah bergulung-gulung hebat melanda laksana air bah, tetapi kadang-kadang pula menusuk menikam tak ubahnya paruh burung garuda.

“Keparat! Sebut dulu namamu, tua lumutan!” seru Sangkrah keras-keras. “Sangkrah tak sudi bertempur dengan orang tanpa nama!”

“Heh, heh, heh, biar aku sudah lumutan tapi kau bocah ingusan jangan bermulut kelewat sombong! Akulah yang biasa disebut Pendekar Bayangan!”

“Pendekar Bayangan?!” jerit Sangkrah. “Kau yang bernama Pendekar Bayangan?!”

“Heh, heh, heh. Mengapa kau berteriak-teriak?! Kau takut mendengar namaku tadi?” seru Pendekar Baya- ngan.

“Justru sebaliknya! Aku telah lama ingin mengukur tenaga melawanmu, keparat! Maka pertemuan ini sa- ngat menggembirakanku!”

“Bagus. Kalau demikian aku tak setengah-setengah melayani bocah ingusan.”

“Hyaat!” Sangkrah menebaskan pedangnya dengan garang, sementara itu Pendekar Bayangan dengan se- bat berkelit ke samping dan tubuhnya bergerak mirip Bayangan hingga pedang Sangkrah cuma membelah udara kosong!

Melihat Pendekar Bayangan telah bertempur di ba- wah, Ki Rebab Pandan pun menyesuaikan diri. Sesu- dah sambaran pedang lawan berhasil ditangkisnya, senjata rebab di tangannya secepat kilat melayang ke leher kuda Caplak dan seketika kuda tadi merasa lum- puh, untuk kemudian rebah ke tanah.

Namun Caplak tak kurang cekatan. Sebelum ia ko- nyol tertindih oleh kudanya ini, buru-buru ia melesat ke tanah sambil mengutuk-ngutuk.

“Kurang ajar! Kau licik!”

“Maaf sobat, aku lebih senang bermain-main di ba- wah!” jawab Ki Rebab Pandan seraya meloncat turun dari punggung kudanya.

Mereka kemudian telah terlibat dalam pusaran per- tempuran yang seru.

Kalau Pendekar Bayangan dan Ki Rebab Pandan te- lah bertempur di bawah, Mahesa Wulung masih saja bertempur di atas kuda. Sebagai perwira dari Demak ia telah terbiasa bertempur begini, maka sedikit pun tak merasa kerepotan.

Malah bagi Pelang Telu sekarang yang celaka. Sege- nap tulang belulangnya terasa berkereotan pegal kare- na tak jarang ia memutar tubuh dan sebentar men- gendap lalu miring ke kanan atau ke kiri menangkis dan menyerang terhadap Mahesa Wulung.

Suatu ketika Pelang Telu menderap kudanya agak menjauh untuk mengambil jarak. Kemudian dengan serta-merta ia memacu kudanya ke arah Mahesa Wu- lung, siap menabrak kuda lawan.

Karuan saja Mahesa Wulung terperanjat, tapi ter- lambat! Kuda Pelang Telu dengan derasnya menabrak ke arah lambung kanan kudanya. Namun dalam saat- saat yang begini tegang Mahesa Wulung tak mudah hi- lang akal.

Tiba-tiba saja pedang di tangan Mahesa Wulung itu berkelebat cepat dan tas! Tali kekang dari kuda Pe-

lang Telu putus kedua-duanya, dan akibatnya, berba- reng dengan kedua kuda tadi berbenturan, tubuh Pe- lang Telu terpelanting dari punggung kudanya, bagai bola bergulingan di tanah.

Mahesa Wulung terpental pula jatuh ke tanah. Un- tungnya ia lekas mengetrapkan ilmu mengentengkan tubuh, hingga tubuhnya dengan lincah mendarat di tanah pada kedua belah kakinya tanpa cedera.

Sekarang ketiga pasang lawan tadi masing-masing bertempur di atas tanah, hingga terasa lebih leluasa. Sedang kuda-kuda tadi cuma meringkik-ringkik dan berloncatan di sekitar tempat itu. Agaknya merekapun merasa kagum melihat keenam tuannya bertempur de- ngan hebat.

Pendekar Bayangan kini merasa bahwa ia dapat me- layani serangan-serangan lawannya dengan sepenuh- nya. Tongkat kayunya tadi berputar dengan gencar dan menangkis setiap tebasan pedang Sangkrah, sea- kan-akan mempunyai mata pada ujungnya. Ke mana- pun ujung pedang Sangkrah menerkam, ke situ pula ia memapaki. Sangkrah yang merasakan serangan-serangan tongkat kayu tersebut, terpaksa harus mengerahkan segenap tenaganya. Tapi akhirnya pada jurus ke dua- puluh tujuh, ia benar-benar kewalahan. Bahkan ketika tongkat kayu Pendekar Bayangan melabrak lengannya, ia sama sekali tak sempat menghindar.

“Aduuuuh!” Sangkrah berteriak kesakitan serta pe- dangnya terpental, bila terasa seakan-akan sebuah tiang besi telah menghajar tulang lengannya. Entah patah atau remuk tulang lengannya, si Sangkrah tidak tahu. Tapi yang terjadi kemudian, ia jatuh terduduk lemas bagai selembar kain terjatuh dari penggantun- gan.

Sungguh mengejutkan bagi Caplak melihat Sang- krah telah dirobohkan oleh Pendekar Bayangan. Maka iapun memperhebat serangan pedangnya, sehingga mata pedang tadi seolah-olah menjadi ratusan mengu- rung Ki Rebab Pandan dengan ganas.

Namun Ki Rebab Pandan ini tidak pernah gentar menghadapi setiap bahaya, lebih-lebih bertempur me- lawan gerombolan hitam dari Ki Topeng Reges ini.

Baginya nama Ki Topeng Reges selalu mengingatkan untuk membalaskan kematian Landean Tunggal, sau- dara tua seperguruannya. Dengan begitu, maka sera- ngan-serangan Caplak selalu ditangkisnya dan setapak demi setapak ia berhasil mendesak lawannya itu.

Demi dirasanya serangan-serangan pedangnya sela- lu gagal, Caplak merubah jurusnya. Ia mulai me- nyerang lawannya dengan loncatan-loncatan panjang dibarengi tikaman serta tebasan pedangnya. Sungguh mirip gerakan elang menyambar ayam.

Barangkali kalau orang biasa, akan menjadi kalang kabut dengan perubahan serangan pedang itu. Sedang bagi Ki Rebab Pandan, tidak banyak pengaruhnya. Ka- lau saja Caplak mampu bergerak laksana elang kelapa- ran, Ki Rebab Pandan pun mampu menggerakkan tu- buhnya seperti seekor bajing yang berloncatan amat lincahnya.

Sementara itu, setelah lawannya jatuh terduduk tak berdaya, Pendekar Bayangan cuma berdiri saja meng- awasi kedua lingkaran pertempuran di depannya. Da- lam hati ia merasa kagum menyaksikan ketangkasan silat kedua sahabatnya itu. Lebih-lebih dengan si Ma- hesa Wulung. Dalam gerakan pendekar muda itu, ia melihat unsur-unsur gerak campuran dari mendiang saudara seperguruannya—Landean Tunggal. (Tamba- han Editor: kadang cerita Naga Geni ini terasa ada yang ‘mengganjal’. Seperti dalam konteks ini, “Dalam hati Pendekar Bayangan merasa kagum karena gera- kan silat Mahesa Wulung terdapat unsur gerak dari mendiang saudara seperguruannya, Landean Tunggal”. Saudara seperguruan Landean Tunggal kan seharus- nya Rebab Pandan, bukan Pendekar Bayangan? Penga- rang sesaat seperti ‘lupa’ pada jalan ceritanya sendiri, hingga bisa menulis begitu. Tapi walau bagaimanapun, cerita ini tetap menarik. Jadi..., mari kita lanjutkan sa- ja.)

Tak antara lama terlihatlah bahwa Mahesa Wulung ini telah berhasil menghimpit serangan tombak

pendek dari Pelang Telu. Dan agaknya lawan Mahe- sa Wulung itupun merasakan hal itu, sehingga dengan sebuah serangan nekad Pelang Telu menerkam ke arah Mahesa Wulung. Sementara tangan kanan menusuk- kan tombak pendeknya, tangan kirinya melancarkan serangan pukulan maut.

Mahesa Wulung cukup waspada. Sebelum mata tombak Pelang Telu menyentuh dadanya, ia menya- betkan pedangnya ke kiri dengan deras sampai mem- bentur mata tombak lawan.

“Traaang!” Kedua senjata berbenturan dibarengi loncatan bunga-bunga api ke udara.

Sesaat Mahesa Wulung tergetar tangannya, sedang Pelang Telu lebih daripada itu. Tombak pendeknya tadi terlempar jatuh dari pegangan tangannya!

Mahesa Wulung melihat kesempatan baik ini, dan ia tak mau melewatkannya. Maka sebuah tebasan pe- dangnya secepat kilat menuju ke arah tubuh Pelang Telu.

Nyata sekali bahwa Pelang Telu bukan lawan sem- barangan. Sebab begitu pedang Mahesa Wulung me- luncur ke arah kepalanya, ia buru-buru mengendap sambil menangkis dengan tangan kirinya. Untunglah ia memakai sebuah gelang baja murni yang lebar di pergelangan tangan kirinya, hingga dengan benda itu ia dapat menangkis tebasan pedang Mahesa Wulung. Dengan begitu, Pelang Telu dapat selamat dari pedang tersebut, walaupun akibatnya ia terhempas serta ber- gulingan di tanah.

Sambil bergulingan tadi, Pelang Telu mengambil ke- simpulan bahwa bila dilanjutkan tidak akan memberi- kan keuntungan baginya dan pertempuran tersebut harus ditinggalkannya.

Itulah sebabnya setelah sesaat bergulingan di ta- nah, Pelang Telu secepat kilat menjauh dari titik per- tempuran.

Dan di pojok lain tiba-tiba terdengar satu jeritan ka- rena Caplak kena sambar bahunya oleh senjata rebab dari Ki Rebab Pandan hingga tubuhnya terpental ke belakang beberapa langkah.

“Mundur!” Pelang Telu mendadak berseru memberi tanda kepada kedua temannya agar lari meninggalkan tempat itu. Sementara itu pula Sangkrah yang tadi terpukul oleh tongkat Pendekar Bayangan, rupa-rupanya telah dapat memperbaiki dirinya, maka cepat-cepat tangan kirinya yang tidak lumpuh itu meraba sesuatu benda dari balik bajunya.

“Awas, Guru! Pisau dari sebelah timur!” teriak Ma- hesa Wulung tiba-tiba, apabila ia dapat melihat gera- kan Sangkrah yang mengibaskan tangan kirinya ke arah Pendekar Bayangan.

“Hyaat!” Pendekar Bayangan bertindak cepat me- nyabetkan tongkat kayunya selingkaran penuh dan se- lanjutnya terdengar sebuah benturan keras.

“Traak!”

Pisau yang melesat deras ke arah tubuh Pendekar Bayangan telah kena tersampok oleh tongkat kayunya hingga melesat ke arah lain.

“Bagus lemparanmu, sobat! Tapi terimalah pisaumu kembali!” teriak Pendekar Bayangan ketika ia menyam- pok pisau Sangkrah tersebut.

Dan kemudian terjadilah sesuatu yang mengejutkan kedua sahabatnya itu. Ki Rebab Pandan dan Mahesa Wulung hampir tak percaya melihatnya, pisau tadi kembali melesat berganti arah dan langsung menuju ke arah Sangkrah berada.

“Aaaaakh!” sebuah jeritan panjang melengking ke- luar dari mulut Sangkrah, bersamaan pisau tersebut menghujam ke dalam dadanya hampir ke tangkainya penuh dan selanjutnya tubuh Sangkrah tergeletak ma- ti.

“Terima kasih, Angger Wulung. Kau telah menyela- matkan jiwaku!” ujar Pendekar Bayangan seraya me- nepuk-nepuk bahu Mahesa Wulung. “Tapi sayang ke- dua orang itu telah melarikan diri. Apakah kita terus menyerbu ke sarang Ki Topeng Reges?” “Sebaiknya kita pulang dulu, Guru,” ujar Mahesa Wulung.

“Mengapa, Angger?”

“Daerah sarang Ki Topeng Reges terlalu kuat dan ki- ta bertiga tidak cukup untuk menerobos ke sana.”

“Betul juga pendapat Andika,” sela Ki Rebab Pan- dan.

“Hmm, jika begitu marilah kita cepat-cepat kembali ke desa!” Pendekar Bayangan berkata, namun tiba-tiba ia berseru pula, “Tunggu dulu! Dengar, ada derap kuda dari arah barat! Ayo kita bersiaga! Jangan-jangan itu anak buah Ki Topeng Reges!”

Maka ketiga pendekar itupun mempersiapkan diri. Tetapi merekapun akhirnya menarik nafas lega, sebab orang-orang berkuda itu tidak lain adalah Ki Lurah Mi- jen serta beberapa orang prajurit desa.

Sesudah dekat, Ki Lurah Mijen serta orang- orangnya segera turun dan mendapatkan ketiga pen- dekar itu.

“Oh, agaknya Andika bertiga telah berhasil me- ngalahkan mereka,” kata Ki Lurah.

“Benar, Ki Lurah. Seorang dari mereka telah kami tewaskan. Tetapi yang lainnya kabur bersama Endang Seruni masuk ke dalam daerah mereka.”

“Aduh, lalu bagaimana dengan anakku si Endang Seruni?” desah Ki Lurah Mijen kecemasan.

“Jangan kuatir, Ki Lurah. Kita akan menyerbu ke- sana serta membebaskan puterimu itu,” ujar Mahesa Wulung.

“Sekarang juga?” Ki Lurah bertanya pula.

“Tidak sekarang, Ki Lurah, tetapi besok! Kita me- nyelinap ke daerah itu secara diam-diam pada waktu matahari mulai terbenam. Kemudian kita membe- baskan Endang Seruni.” “Baiklah. Marilah kembali ke desa dulu. Untuk per- siapan penyerbuan itu aku akan memilih orang-orang desa yang kuat dan tangkas berkelahi.” Ki Lurah Mijen akhirnya menjadi tenang mendengar kesanggupan tiga pendekar ini. Maka setelah mereka menyiapkan kuda- kudanya, rombongan itu kembali ke arah barat menu- ju Desa Mijen.

Tak lama kemudian sesudah menerobos hutan- hutan kecil, mereka telah melihat jalan ke arah de- sanya yang dikelilingi oleh daerah persawahan yang subur.

Ketika rombongan berkuda itu tiba di desa, seorang penjaga keamanan desa tampak tergopoh-gopoh me- nyambut mereka.

“Eee, Kertipana, bagaimana keamanan desa kita?” tanya Ki Lurah seraya melompat turun dari punggung kudanya, demikian pula dengan ketiga pendekar serta lain-lainnya.

“Baik, Ki Lurah. Cuma sayangnya, Kepala Jagabaya kita Kakang Sela Ganden lenyap bersama kaburnya orang-orang Ki Topeng Reges!” ujar Kertipana. “Dan sementara ini saya memimpin penjaga-penjaga keama- nan desa ini.”

“Hilang? Si Sela Ganden yang terkenal berani dan unggul bertempur itu?” ulang Ki Lurah Mijen tak habis herannya.

“Benar, Ki Lurah. Entah ia diculik atau entah ke mana kami tidak tahu waktu itu, sebab pertempuran tengah berlangsung hebat. Dan tahu-tahu ia telah le- nyap. Beberapa orang berusaha mencari di pelosok de- sa tetapi tak ada yang menemukannya.” Demikian Ker- tipana berceritera.

Mendengar keterangan tersebut hati Mahesa Wu- lung menjadi berdebar-debar. “Ah, agaknya Sela Ganden telah melaksanakan maksudnya, bergabung dengan gerombolan Ki Topeng Reges,” Mahesa Wulung berkata dalam hatinya.

“Hmm, satu hal yang sangat mengejutkan,” desah Ki Lurah Mijen. “Di saat-saat kita membutuhkannya dia telah lenyap. Tapi biarlah sementara hal itu kita diamkan, sebab yang lebih penting telah menunggu ki- ta. Nah, Kertipana. Kau menyiapkan orang yang kuat- kuat serta pandai bertempur. Besok siang kita berang- kat dari desa dan menuju ke daerah Watu Semplak untuk menyerang gerombolan Ki Topeng Reges.”

“Apakah semua penjaga keamanan desa akan ikut?” tanya Kertipana pula.

“Jangan semuanya, Kertipana. Separuh biar tinggal di desa ini untuk menghadapi setiap kemungkinan ba- haya. Kau memimpinnya di sini.”

“Baik, Ki Lurah. Kini izinkan aku memilih orang- orangnya yang akan ikut.”

“Ya, Siapkanlah olehmu, Kertipana.”

Kertipana segera meninggalkan mereka untuk. mengumpulkan para penjaga keamanan desa. Sedang Ki Lurah Mijen serta ketiga pendekar itu bergegas kembali ke arah pendapa kelurahan.

Begitu mereka tiba di halaman pendapa kelurahan, terdengarlah isak tangis dari arah dalam rumah uta- ma.

“Oh, bukankah itu suara Nyi Lurah?” tanya Mahesa Wulung seraya menatap wajah Ki Lurah.

“Benar, Angger. Sejak hilangnya Endang Seruni ia masih saja menangis dengan pilunya,” jawab Ki Lurah dengan berkaca-kaca matanya oleh air mata.

“Tapi percayalah, Ki Lurah, kita pasti akan dapat menyelamatkan serta membawanya kembali ke tengah keluarga Ki Lurah,” ujar Mahesa Wulung dengan hati ikut terharu, karena iapun dapat merasakannya bah- wa kesedihan Ki Lurah sekeluarga tidak akan dapat terukur oleh kata-kata yang bagaimanapun.

“Nah, silakan Andika bertiga beristirahat di gandok wetan,” kata Ki Lurah mempersilakan ketiga pendekar itu.

Demikianlah ketika malam bertambah larut, suasa- na desa itu diliputi oleh kesepian yang mencengkam.

***

4

DALAM PADA ITU, di suatu pagi tampaklah Ki To- peng Reges bergegas keluar dari sebuah rumah tua di dekat reruntuhan candi dan mendapatkan tiga orang yang menanti di halaman.

“Jaramala! Kali ini kau bekerja dengan baik dan be- nar-benar memuaskan hatiku. Sekarang, bawalah aku kepada gadis itu!”

“Baik, Guru!” ujar Jaramala. “Ia sekarang kami ta- han di rumah gubuk sebelah selatan itu.”

Segera Ki Topeng Reges diikuti oleh Jaramala, Pe- lang Telu dan Dadungrante bergegas menuju ke gubuk itu, yang terletak di bawah semak bambu hitam.

“Jaramala, siapakah orang asing yang berdiri di de- kat gubuk itu?!” bertanya Ki Topeng Reges karena tampak olehnya seorang asing yang berperawakan ke- kar berdiri di situ.

“Oo, dia bernama Sela Ganden, Guru. Berkat ban- tuannya pula maka Endang Seruni dapat kita culik,” ujar Jaramala.

“Mengapa ia berbuat begitu dan apa kerjanya?!” “Dia bekas pemimpin jagabaya dari Desa Mijen, Guru. Sela Ganden telah berbuat begitu dan sebagai imbalannya, ia mengharapkan agar kita menyingkir- kan Mahesa Wulung, Pendekar Bayangan dan Ki Re- bab Pandan dari desa itu,” Jaramala berkata pula.

Demi telinganya mendengar nama Mahesa Wulung dan Pendekar Bayangan, terdengar giginya gemertakan dari balik topengnya. Karena kedua musuh lamanya itu masih saja menghantui dirinya. Yang lebih menge- jutkan lagi adalah nama Ki Rebab Pandan tadi. Sebab ia masih mengingat bahwa bekas gurunya yakni Ki Jo- bin Karang berhasil merampas senjata rebab milik Re- bab Pandan serta menyamar sebagai dirinya, dalam rangka tugas mencari Kitab Hijau milik Landean Tung- gal.

“Hai Pelang Telu, bagaimana tugasmu menghubungi Ki Jobin Karang, apakah kau berhasil?” tanya Ki To- peng Reges.

“Ampun, Guru. Entahlah paham atau bagaimana, tapi Ki Rebab Pandan yang kami jumpai betul-betul melabrak kami. Malahan ia memukul roboh si Caplak.” Ki Topeng Reges mengangguk-angguk mendengar penuturan Pelang Telu tadi, kemudian katanya, “Hmm, mudah-mudahan Ki Jobin Karang berhasil dalam tu-

gasnya.”

“Begitulah harapan kita, Guru,” ujar Jaramala.

Keempat orang itupun telah tiba di depan rumah gubuk. Dan Sela Ganden yang berada di dekat tempat itu hampir terpekik melihat wajah Ki Topeng Reges yang mengenakan topeng berbentuk mengerikan.

“Sobat Sela Ganden,” ujar Dadungrante seraya mendekati Sela Ganden, “nah, kini silakan berkenalan dengan ketua kami, yakni Ki Topeng Reges dari pergu- ruan Watu Semplak.”

“Terima kasih,” kata Sela Ganden sambil mendekati Ki Topeng Reges. “Perkenalkan, Tuan, aku bernama Sela Ganden dari Desa Mijen.”

“Aku Ki Topeng Reges,” ujar kepala gerombolan yang bertopeng hantu itu. “Dan aku telah mendengar semua maksud-maksudmu. Jangan kuatir, sobat, aku nanti yang akan menyingkirkan si Mahesa ingusan itu. Beberapa hari lagi kita akan menyerbu ke desamu.”

“Menyerbu desa kami?! Dan membinasakan semua penghuninya?” seru Sela Ganden terperanjat.

“Ha, ha, ha, sobat tak perlu cemas! Aku menyerbu desamu hanya untuk mengambil gadis-gadis desa ser- ta menghancurkan Mahesa Wulung dan teman- temannya. Sedang terhadap penduduk lainnya, kami tak akan berbuat apa-apa, asal merekapun bersikap manis terhadap kami.”

“Terima kasih, Tuan. Terima kasih,” ujar Sela Gan- den.

Ki Topeng Reges kemudian masuk ke dalam gubuk dan di luar menunggu Jaramala, Pelang Telu dan Da- dungrante. Sedang di dalam ruangan tadi seorang ga- dis yang berwajah manis menjadi berteriak ketakutan ketika pintu terbuka dan muncul wajah Ki Topeng Reges yang sangat mengerikan.

“Ooh, jangan dekati aku! Kalian semua pengecut, penculik! Kembalikan aku ke desaku!”

“Hua, ha, ha, ha. Kok enak..., kok gampang mele- paskanmu?! Maaf, telah sekian lama aku cita-citakan untuk memboyong kau pulang kemari dan baru saat inilah terlaksana.”

Seraya berkata demikian Ki Topeng Reges makin mendekati Endang Seruni dan karenanya gadis ini tambah berteriak-teriak ketakutan.

Hampir saja jangkauan tangan Ki Topeng Reges da- pat memeluk tubuh Endang Seruni jika saja tidak se- cara tiba-tiba gadis ini mencabut sebilah pisau kecil dari balik ikat pinggangnya. “Selangkah kau maju, aku akan membunuh diri dengan ini!”

“Jangan! Jangan kau berbuat senekad itu!” teriak Ki Topeng Reges kecemasan. “Baik. Aku tak akan meng- ganggumu sekarang, sebab toh akhirnya kau harus bersedia menjadi isteriku!”

Ki Topeng Reges berbalik dan melangkah keluar de- ngan mata yang bersinar kemerahan. Jaramala melihat gurunya bersikap begitu menjadi cemas.

“Mengapa, Guru? Apakah kami keliru mengambil gadis itu? Dialah yang bernama Endang Seruni, bunga tercantik dari Desa Mijen.” Jaramala berkata setengah gemetar.

“Memang bunga tercantik! Tapi juga berduri, huh! Mengapa tidak kau geledah gadis itu sebelum kau ta- han di rumah ini!”

“Tapi, tapi aku lihat ia tidak membawa apa-apa, Guru,” ujar Jaramala sambil mundur-mundur.

“He, mengapa mundur-mundur kau? Takut kalau kumakan, ha?!” bentak Ki Topeng Reges. “Mari mende- kat sedikit, bocah!”

Jaramala mendekat ke depan Ki Topeng Reges se- tengah takut, seperti seorang anak kecil kena marah orang tuanya.

“Nah, dengar dengan telingamu baik-baik, goblok! Ia membawa sebilah pisau kecil di balik ikat pinggang- nya. Itu menunjukkan bahwa kerjamu masih kurang sempurna! Kurang teliti! Kau tahu, pisau tadi dapat mencelakakan diriku!”

Plak!

Pelipis Jaramala tiba-tiba tersambar oleh telapak ta- ngan Ki Topeng Reges dan tubuhnya terhempas seke- tika ke tanah sambil mengerang kesakitan. “Nah, itulah pelajaran buat murid yang kurang cer- mat bekerja!” Ki Topeng Reges berkata dengan menun- juk ke arah Jaramala.

“Ampun, Guru.... Aku berjanji tidak akan mengu- langi kecerobohan itu,” rintih Jaramala.

“Hmm, baiklah. Sekarang kau bersama Pelang Telu mengikuti aku untuk melanjutkan latihan kemarin. Dan kau Dadungrante, awasi keamanan di sini!”

Sesudah memberikan petunjuk-petunjuknya tadi, Ki Topeng Reges diikuti oleh Jaramala dan Pelang Telu segera menuju ke sebelah utara reruntuhan candi, di mana sebuah tanah yang cukup lebar ditumbuhi rum- put.

“Jaramala, sebagai murid tertua kau telah aku ajari dasar-dasar ilmu Netra Dahana. Dan sekarang terima- lah topeng turunan dari yang asli kupakai ini.”

Ki Topeng Reges mengambil sebuah bungkusan dari balik bajunya dan segera diberikan kepada muridnya yang segera pula diterima oleh Jaramala dengan ta- ngan gemetar.

Ketika Jaramala membuka bungkusan kain tadi, wajahnya serentak tegang terangkat. Sebab di dalam bungkusan itu ia seolah-olah melihat wajah topeng da- ri gurunya. Ia sungguh mengagumi topeng salinan itu, sebab benar-benar mirip dengan topeng yang dipakai oleh gurunya.

“Nah, cobalah kau pakai topeng itu!” ujar Ki Topeng Reges pula. “Tapi lebih dulu kau lepas ikat kepalamu itu.”

“Baik, Guru,” Jaramala menuruti perintah gurunya dan membuka ikat kepalanya, maka terurailah ram- butnya yang panjang sampai ke telinga. Setelah itu ia mengenakan topeng tersebut.

Dengan begitu Ki Topeng tertawa kesenangan lalu katanya, “Nah, sekarang kau akan menjadi kembaran- ku.”

“Sekarang apalagi perintah Guru lainnya?”

“Kita melanjutkan latihan kemarin,” ujar Ki Topeng Reges dan segera pula ia membuka serangan dengan satu pukulan secepat geledek ke arah dada Jaramala.

Ternyata Jaramala memang cekatan dan tangkas. Sebelum pukulan tadi mendarat pada kepalanya ia te- lah memaparkan tubuhnya ke samping dan sambil berbaring itu pula Jaramala menendangkan kakinya ke arah lambung Ki Topeng Reges.

Dan demikian pula gerak Ki Topeng Reges. Ia mele- sat ke udara dan sesaat kemudian ia melayang turun dengan kedua jari-jari tangannya siap menerkam Ja- ramala.

Untuk kesekian kalinya Jaramala menjatuhkan diri- nya ke tanah dan bergulingan menghindar.

“Bagus, Jaramala! Sekarang kita berlatih dengan ilmu Netra Dahana, biar orang-orang desa itu akan terkejut menyaksikan Ki Topeng Reges kembar!”

Sesudah berkata begitu Ki Topeng Reges menge- trapkan ilmunya dan begitu pula dengan Jaramala hingga sesaat keduanya memancarkan jilatan-jilatan api yang panas.

Biarpun jilatan api dari mata Jaramala hanya se- panjang satu lengan jauhnya dan jauh lebih pendek daripada jilatan api Ki Topeng Reges, namun hal itu sudah cukup membuat ngeri siapa yang melihatnya!

Pelang Telu yang melihat kedua Topeng Reges kem- bar itu berdesir hatinya. Dalam hati ia sangat kagum pada mereka. Kini latihan itupun dilanjutkan dengan menggunakan ilmu Netra Dahana, ciri utama dari per- guruan Topeng Reges dari Watu Semplak. Maka yang tampak kemudian adalah menyeramkan. Keduanya seolah-olah hantu yang saling bergulat dengan panca- ran-pancaran api dari matanya.

Demikianlah, latihan kedua Topeng Reges tadi ber- langsung semakin seru dan daun rumput serta semak di sekitar tempat itu pada hangus kering terkena oleh jilatan-jilatan api dari kedua pendekar hitam itu.

Bahkan tidak hanya itu saja akibatnya. Udara di si- tu pun menjadi panas. Burung-burung serta serangga berlarian menjauh dari tempat itu.

Latihan mereka berlangsung sampai lama, sejauh matahari merendah di cakrawala barat, barulah sele- sai.

“Cukup! Kita sudahi latihan ini. Kita lanjutkan be- sok lagi. Dan dua hari lagi kita akan bersiap-siap me- nyerang Desa Mijen,” kata Ki Topeng Reges.

“Terima kasih, Guru,” Jaramala berkata seraya me- lepas topengnya.

“Kau simpan saja topeng itu untukmu, Jaramala.” “Baik, Guru, terima kasih.”

“Pelang Telu, malam ini kita memperkuat penjagaan daerah Watu Semplak. Seperti biasanya, jangan sam- pai lengah.”

“Baik, Guru,” ujar Pelang Telu.

“Dan kau Jaramala, siapkan senjata-senjata untuk penyerangan itu.”

“Siap, Guru. Senjata-senjata itu akan kami siapkan,” kata Jaramala.

“Marilah kita kembali ke rumah dan kerjakan tugas- tugas tadi dengan baik.”

Sejurus kemudian ketiga orang itu berjalan kembali menuju ke rumah Ki Topeng Reges, sedang beberapa orang anak buah Ki Topeng Reges lainnya tampak si- buk mengadakan latihan-latihan dibantu oleh Da- dungrante. Udara dan kegelapan senja perlahan-lahan turun menyelubungi daerah kaki Gunung Muria sebelah ti- mur.

Bila daerah Watu Semplak telah dirambah oleh ke- gelapan senja seperti itu, maka daerah-daerah di seki- tarnya pun menjadi sunyi pula. Lebih-lebih semenjak daerah hutan lebat tersebut telah didiami oleh Ki To- peng Reges dan anak buahnya, menjadi lebih seram tampaknya, tak ubahnya sarang setan dan dedemit.

Rumah perguruan Topeng Regespun kelihatan sepi, kecuali sebuah dian minyak yang tergoyang-goyang tertiup angin kesana-kemari. Rupanya para penghuni- nya tengah digelut oleh mimpi dan kepulasan tidur.

Di halaman dan di jalan-jalan rintisan menuju ke rumah itu tampak beberapa orang anak buah Ki To- peng Reges tengah meronda dengan senjata terhunus di tangan.

Hal itulah rupanya yang membuat para penduduk di sekitarnya benar-benar menganggap daerah yang hitam atau terlarang. Hanya buat orang-orang yang mau mencari mati saja yang akan berani menempuh.

Tetapi benarkah bahwa tak seorang pun yang bera- ni menginjakkan kakinya ke hutan ini? Sehingga dae- rah itu akan tetap disebut alas pengalapan yang berar- ti hutan penelan segala makhluk?

Ternyata tidak demikian selamanya. Sebab ketika malam telah mulai menggeser sisa-sisa cahaya senja, dari arah selatan tampaklah beberapa sosok Bayangan manusia mengendap-endap mendekati daerah pergu- ruan Ki Topeng Reges.

Inikah kiranya orang-orang yang ingin mati itu? Ya, memang benar. Tapi mereka ingin mati untuk mene- gakkan kebenaran dan keadilan. Mereka adalah Ki Lu- rah Mijen serta orang-orang disertai ketiga pende- karnya, yakni Pendekar Bayangan, Mahesa Wulung, dan Ki Rebab Pandan.

Ki Lurah Mijen tampak memberikan petunjuk- petunjuk kepada orang-orangnya.

“Pakisan dan Sorogenen, kalian berdua mengikuti Anakmas Mahesa Wulung menerobos dan menyelinap ke pusat perguruan Ki Topeng Reges, untuk membe- baskan Endang Seruni.”

“Baik, Ki Lurah,” ujar Pakisan dan Sorogenen ber- bareng.

“Hati-hatilah, Anakmas Mahesa Wulung!” ujar Ki Lurah Mijen memperingatkan pendekar muda itu.

Pendekar muda itu mengangguk dan kemudian ber- sama-sama Pakisan serta Sorogenen ketiganya ber- lompatan masuk ke dalam semak-semak dan lenyap- lah ditelan oleh kegelapan.

Sementara itu Pendekar Bayangan, Ki Rebab Pan- dan dan Ki Lurah Mijen mulai menyebar orang- orangnya serta petunjuk-petunjuk yang perlu sebelum mereka mulai bertugas.

“Kisanak semua, jangan terlalu jauh masuk ke da- lam daerah perguruan Ki Topeng Reges ini. Sebab tu- juan utama kita ialah memancing mereka agar perha- tiannya tercurah pada kita, sementara Anakmas Mahe- sa Wulung serta kedua orang jagabaya itu membe- baskan Endang Seruni!” ujar Ki Lurah.

“Dan jangan lupa,” Pendekar Bayangan menambah- kan, “kalian jangan terlalu lama terlibat pertempuran dengan orang-orang Ki Topeng Reges. Jika terdengar aba-aba mundur, kalian segera menarik diri serta me- ninggalkan pertempuran.”

“Tapi bagaimanakah, Tuan, jika seandainya ada perkembangan lain?” bertanya salah seorang dari pa- sukan desa. “Maksudmu?” Pendekar Bayangan ganti bertanya pula.

“Seandainya gerombolan Ki Topeng Reges itu benar- benar dapat kita kalahkan dan kita berhasil mende- saknya?”

“Nah, jika demikian keadaannya,” ujar Pendekar Ba- yangan, “kita akan menghancurkan sama sekali pergu- ruan Ki Topeng Reges! Maka kami harap kalian me- nunggu aba-aba dari Ki Lurah.”

Demikianlah, setelah secara singkat mereka menyi- apkan senjata dan Ki Lurah Mijen memberi isyarat un- tuk mulai menyebar, maka berloncatanlah orang-orang itu ke dalam semak-semak dan menyelinap ke arah utara.

Begitu pula Pendekar Bayangan, Ki Rebab Pandan serta Ki Lurah Mijen berbareng menerobos ke arah utara bagai Bayangan-Bayangan hitam mengendap- endap tanpa bersuara.

Suasana sesaat menjadi tegang, terutama bagi orang-orang Ki Lurah Mijen yang tengah menyelinap ke arah utara. Namun bagaimanapun hati mereka tak merasa gentar, sebab keduapuluh orang-orang itu te- lah digembleng oleh Pendekar Bayangan, Ki Rebab Pandan serta Mahesa Wulung dalam tugas-tugas ini.

Sedang bagi anak buah Ki Topeng Reges yang te- ngah meronda itu, tak mengira sama sekali bahwa ada juga orang-orang yang berani menginjakkan kakinya ke hutan angker itu.

“Aaakh!”

Sebuah jerit pendek terdengar kemudian disusul pula oleh jerit pendek yang lain. Ini berarti dua orang anak buah Ki Topeng Reges telah kena sergap oleh pa- ra penyerbu itu.

Di sebelah lain, Mahesa Wulung serta kedua jaga- baya itu makin mendekati rumah perguruan Ki Topeng Reges. Perlahan-lahan dan mengendap-endap sangat hati-hati, ketiga orang ini memilih jalan yang baik agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.

Dari semak-semak tempat mereka mengendap itu, pandangan ke arah pusat perguruan Ki Topeng Reges sangatlah jelas.

“Kisanak Pakisan dan Sorogenen, lihatlah ke sana! Itulah pasti rumah utama perguruan Ki Topeng Reges. Aku akan menuju ke sana nanti, dan kalian berdua coba lihat rumah-rumah itu. Dari beberapa gubuk hanya satu buah saja yang dijaga. Agaknya gubuk itu sangat penting bagi mereka,” berkata Mahesa Wulung, sedang Pakisan dan Sorogenen masih mengawasi gu- buk yang dijaga oleh tiga orang bersenjata tombak dan pedang.

“Tuan Mahesa Wulung, salah satu dari penjaga gu- buk itu agaknya dapat aku kenal. Menurut bentuk tu- buhnya, kok seperti bentuk tubuh Kakang Sela Gan- den. Mengapa perlunya ia berada disini?”

“Nah kalau begitu, sementara aku masuk ke dalam rumah Ki Topeng Reges, kalian coba mendekati gubuk itu. Tetapi untuk itu semua, kita harus menunggu aba- aba dari Ki Lurah!”

“Baik, Tuan!” kata Pakisan dan Sorogenen. Kedua- nya lalu menghunus pedangnya.

Sesaat mereka menunggu aba-aba dari Ki Lurah Mi- jen dengan perasaan tegang dan hati berdebar-debar. Dan setelah sesaat mereka menunggu itu, tiba-tiba sa- ja terdengarlah dari arah selatan sebuah teriakan yang menggema di segenap sudut hutan itu.

“Topeng Reges, ayo keluar kemari! Inilah Ki Lurah Mijen datang kemari untuk menjemput putrinya! Tem- pat ini telah terkepung!” Mahesa Wulung serta kedua jagabaya yang masih mengendap itu tiba-tiba melihat pintu rumah Ki To- peng Reges terbuka dan dari arah dalam melesatlah sesosok tubuh keluar ke halaman.

“Keparat! Siapa kamu, ha?! Membuka mulut se- maunya sendiri! Kalau kau masih sayang akan nya- wamu lebih baik minggat dari tempat ini!” teriak Ki To- peng Reges yang baru saja melesat dari dalam rumah dan kini bertolak pinggang dengan garangnya.

“Lekas menyerah sebelum tempat ini jadi lautan api!” terdengar suara dari arah selatan pula.

“Ha, ha, ha, tikus-tikus gembel mau berteriak-teriak di kandang macan, ha?!” teriak Ki Topeng Reges sambil memberi isyarat kepada para anak buahnya yang telah berloncatan keluar dari rumah-rumah bambu. “Anak- anak, ayo, lekas menyerbu ke selatan! Kita cincang orang-orang yang bermulut besar itu!”

Serentak Ki Topeng Reges serta anak buahnya me- nyerbu ke arah selatan, sementara itu pula Mahesa Wulung dengan sigap dan cepat melesat ke arah ru- mah Ki Topeng Reges.

Tiba di dekat rumah, Mahesa Wulung menyelinap ke samping, menuju ke belakang rumah.

“Hmm, baiknya aku lewat dari belakang. Siapa tahu di ruang depan masih ada orangnya.”

Mahesa Wulung juga tak lupa untuk melolos pe- dangnya sebelum ia mendobrak pintu belakang. Ke- mudian dengan hati-hati ia masuk ke dalam.

Mahesa Wulung dengan pengawasan yang tajam meneliti segenap ruangan rumah. Tampak olehnya berbagai alat senjata, buku-buku tua dan perabot- perabot lainnya, seperti peti-peti kayu besar.

Ketika Mahesa Wulung membuka sebuah guci, ma- tanya serentak membelalak kagum, sebab di dalamnya berisi perhiasan-perhiasan emas.

“Hebat simpanan Ki Topeng Reges ini. Tapi bukan benda-benda yang aku cari. Kaca Sirna Praba dan lembaran-lembaran Kitab Hijau itulah yang harus aku cari!”

Setelah memeriksa ruangan rumah tersebut, tiba- tiba Mahesa Wulung terpancang perhatiannya pada sebuah ruangan kamar yang begitu indah, berukir gaya Jepara.

Mahesa Wulung segera mendekati kamar itu sambil kewaspadaannya tak terlupa, dipasangnya luas-luas, kemudian Mahesa Wulung memegang pegangan bulat daun pintu sebelum ia membukanya. “Hmm, agaknya kamar ini penuh dengan rahasia.”

Tanpa menduga apa-apa Mahesa Wulung memutar pegangan pintu yang bulat tadi untuk memasuki ka- mar tersebut. Mendadak sebuah sinar berkelebat dari atas, dan Mahesa Wulungpun bertindak cepat, memu- tar pedangnya separuh lingkaran di atas kepala sebe- lum sinar tadi menyambar kepalanya.

Traang!

Terdengar benturan nyaring ketika pedang Mahesa Wulung berhasil memotong ujung sinar yang meluncur deras ke arah kepalanya. Selanjutnya terdengar benda berdentang jatuh ke lantai.

“Sebuah tombak!” desis Mahesa Wulung, demi dili- hatnya ujung tombak dan tangkainya terhampar di lantai. “Hmm, Ki Topeng Reges memasang perangkap untuk menjaga kamar ini. Heh, hampir-hampir aku tersatai di tempat ini.”

Setelah dirasa aman, Mahesa Wulung masuk ke da- lam kamar. Matanya segera dapat menangkap sebuah peti kayu berukir yang tergeletak di balai-balai.

“Sungguh menarik peti itu. Rupanya itu adalah simpanan penting Ki Topeng Reges. Kentara disimpan- nya di balai-balai tempat tidur,” pikir Mahesa Wulung di dalam hati. “Biarlah aku ambil benda itu.”

Sambil sedikit gemetar Mahesa Wulung meraih peti kayu berukir itu dari balai-balai. Namun saat itu pula tanpa sengaja kaki kirinya menyandung sebuah batu persegi di lantai dan mendadak lantai di bawahnya terbuka ke bawah.

Untunglah untuk kedua kalinya Mahesa Wulung tak kurang waspada. Maka sebelum tubuhnya terpero- sok ke lubang lantai tadi, ia secepat kilat menghun- jamkan pedang di tangan kanan ke dasar balai-balai hingga terhunjam. Dengan begitu Mahesa Wulung da- pat berpegang pada tangkai pedangnya dan selamat dari perangkap itu.

“Wah, Ki Topeng Reges memang sangat licin!” desis Mahesa Wulung setengah gemetar. “Agaknya perang- kap tadi dipersiapkan untuk siapa saja yang berani memasuki kamar ini, termasuk orang-orang Ki Topeng Reges sendiri.”

Begitulah, akhirnya dengan susah payah Mahesa Wulung dapat menyelamatkan diri serta memungut pe- ti kayu berukir tadi. Dan kemudian ketika ia membuka peti itu mulutnya mengeluarkan desisan kagum.

“Inilah Kaca Sirna Praba dan lembaran-lembaran Kitab Hijau milik Landean Tunggal. Ooh, agaknya Tu- han telah mengharuskan bahwa benda berharga yang telah sekian lamanya di bawah cengkeraman Ki Topeng Reges harus kembali kepada tangan yang bersih.”

Tanpa tunggu waktu lebih lama, Mahesa Wulung segera mengambil Kaca Sirna Praba serta lembaran- lembaran Kitab Hijau dari peti tersebut serta menyim- pannya di dalam bajunya.

Setelah itu Mahesa Wulung meletakkan kembali peti kayu tersebut pada tempatnya dan sebelum ia mening- galkan kamar itu, lebih dulu ia membuat goresan- goresan huruf pada tiang kayu dengan sepotong arang yang berbunyi sebagai pesan kepada Ki Topeng Reges,

“Ki Topeng Reges, Kaca Sirna Praba dan lembaran- lembaran Kitab Hijau ini bukan hakmu. Oleh sebab itu harus aku ambil. Aku Mahesa Wulung.”

Selesai menulis tadi Mahesa Wulung cepat-cepat ke- luar dari rumah Ki Topeng Reges.

Dalam pada itu, Pakisan dan Sorogenen telah ber- hasil mendekati gubuk bambu yang dijaga. Kini hanya orang dua saja yang tampak berjaga. Rupanya yang seorang ikut menyerbu ke arah selatan bersama Ki To- peng Reges.

Baru saja berhasil mendekat, tahu-tahu kedua pen- jaga itu telah melihat mereka dan segera berloncatan menyerbu Pakisan serta Sorogenen.

“Berhenti! Siapa kau ha?!” seorang di antara penja- ga itu membentaknya, sementara seorang lagi yang berperawakan tegap dan besar, bersiap dengan tom- baknya.

“Heei, bukankah kisanak yang bertubuh tegap itu Kakang Sela Ganden?!” seru Pakisan seraya meman- dang Sorogenen.

“Ya, benar. Dialah Kakang Sela Ganden. Tapi me- ngapa berada disini?” Sorogenen berseru pula kehera- nan.

Dugaan mereka memang tidak keliru, sebab Sela Ganden pun segera dapat mengenal kedua temannya itu. Wajahnya sesaat tegang kepucatan, namun kemu- dian menjadi cerah kembali, sambil berkata kepada Pakisan dan Sorogenen, “Adi Pakisan dan Sorogenen, kalian lebih baik bergabung dengan kami. Sebab kita pernah bersama-sama dalam suka dan duka.” “Terlambat, Kakang Sela Ganden. Itu semua me- mang benar. Tapi itu hanya pada saat-saat yang lalu, di mana kita bersama-sama menjadi jagabaya desa ki- ta. Sedang sekarang sudah lain. Kakang berpihak dan tinggal bersama gerombolan Ki Topeng Reges,” jawab Pakisan dengan tegas, hingga Sela Ganden terperanjat karenanya.

“Lalu apa maksudmu datang kemari ini?” tanya Sela Ganden kembali. “Mau menangkapku?”

“Yah, kami berdua akan menangkapmu serta mem- bebaskan Endang Seruni!” sahut Sorogenen.

“Ha, ha, ha, ha. Dua ekor tikus masuk ke dalam sa- rang harimau dan di situ ia berani pentang mulut!” berkata Sela Ganden sambil ketawa terbahak-bahak.

“Ooo, bicaramu sudah berubah sama sekali, Kakang Sela Ganden. Lagakmu mirip orang-orang Ki Topeng Reges!” ujar Pakisan setengah menggeram jengkel.

“Memang aku sekarang berpihak kepada Ki Topeng Reges, sebab Ki Lurah telah menyingkirkan aku dan menganak-emaskan Mahesa Wulung.”

“Ooo, jadi karena hal tersebut menyebabkan Ka- kang Sela Ganden menyeberang kepada gerombolan- gerombolan hitam pengacau negara. Perbuatanmu ini keblinger, Kakang!” terdengar Sorogenen ikut men- campuri bicara.

“Keparat! Kalian coba-coba berkhotbah di depanku, ha?! Kalian masih terlalu hijau, dan sebagai pemim- pinmu aku harap Adi Pakisan dan Sorogenen berga- bung denganku!”

“Hah, kau bukan pemimpin jagabaya lagi! Kau tak lebih adalah antek begundal Ki Topeng Reges yang su- ka menjilat telapak kakinya!” Pakisan berteriak marah. “Bicaramu memerahkan telinga, tikus-tikus! Nih te- rimalah. Heaaet!” Sela Ganden segera menusukkan tombaknya ke arah Pakisan dengan tiba-tiba disertai lompatan menerjang.

Mendapat serangan tiba-tiba tadi Pakisan meloncat mundur kemudian berkelit ke kanan. Namun iapun terpaksa kaget bila tahu-tahu Sela Gandenpun mero- bah arah tusukan tombaknya mengikuti arah tubuh Pakisan berada. Dengan begitu maka Pakisan terpaksa menangkis ujung tombak itu dengan pedangnya.

Craaang!

Kedua senjata itu tergetar sampai ke tangan pemi- liknya, hingga Sela Ganden serta Pakisan berloncatan mundur beberapa langkah dan saling berpandangan tajam.

Setelah itu, akhirnya kedua bekas teman tadi saling menerjang dan bertempurlah mereka dengan serunya. Sementara sambil bertempur ini, Pakisan juga memi- kirkan sahabatnya yakni si Sorogenen. Tetapi hatinya menjadi lega setelah ia berhasil melirik ke arah utara, si Sorogenen dilihatnya tengah bertempur melawan penjaga yang seorang lagi. Kedua-duanya sama-sama menggenggam pedang.

Sorogenen tak tanggung-tanggung mengeluarkan permainan pedangnya yang betul-betul membuat pe- dang tersebut seolah-olah terbang mengurung anak buah Ki Topeng Reges tadi. Dan orang inipun dengan mati-matian mengarahkan tenaganya, sebab betapa- pun dirinya akan kalah, ia harus mempertahankan nyawanya. Maka pedang di tangannya pula bergerak sangat cepat, menyongsong setiap tebasan dan tusu- kan pedang Sorogenen.

Dengan demikian maka terjadilah dua lingkaran pertempuran di depan gubuk bambu itu. Masing- masing mengeluarkan segenap kemampuan ilmunya guna mengalahkan lawannya secepat mungkin. Agaknya hal ini tidak mudah. Sebab sepintas lalu mereka seperti berkekuatan seimbang dan sejajar. Dan kelihatan sekali bahwa Pakisan dapat bertempur de- ngan baik melawan Sela Ganden.

Walaupun Pakisan hanya bersenjata pendek yakni sebilah pedang sedang Sela Ganden menggunakan se- pucuk tombak, namun Pakisan memang benar-benar menguasai pedangnya.

“Kurang ajar kau Pakisan! Ilmu pedangmu memang hebat. Tapi jangan berbesar kepala kalau belum dapat mengalahkan Sela Ganden!” seru Sela Ganden.

“Ha, ha, ha, ilmu tombakmu pun tak kalah hebat, Sela Ganden! Sayangnya ilmu yang sebaik itu berada di tangan orang yang berotak keblinger!” Pakisan ber- teriak menjawab.

“Lekas minggat saja dari tempat ini, Pakisan. Aku tak sampai hati kalau harus bertempur melawan sobat lamaku. Terlalu sayang bukan, kalau tombak ini harus menembus tubuhmu?!”

“Lebih baik kau saja yang menyerah, Sela Ganden. Amat menyesal kalau saya harus memenggal lehermu dengan pedang ini!”

“Keparat! Kau berbicara sangat tajam, Pakisan!

Awas, terimalah permainan puncak tombakku ini!”

Habis berkata begitu, Sela Ganden melompat ke samping satu langkah serta memegang tombaknya lu- rus-lurus ke atas. Sesudah itu ia mulai membuka se- rangan baru dengan sebuah tusukan ke arah dada Pa- kisan.

Melihat serangan ini Pakisan mencoba menangkis dengan pedangnya, dan sayangnya ia tidak tahu bila Sela Ganden tiba-tiba memutar tombaknya. Pangkal tombak berputar ke depan dengan kecepatan kilat dan tanpa dapat ditangkis, tahu-tahu menyambar bahu Pakisan.

Praak!

Tubuh Pakisan terpelanting ke tanah dengan pe- ringisan menahan sakit. Belum lagi ia sempat mem- perbaiki dirinya, mendadak Sela Ganden telah meng- hunjamkan tombaknya ke arah tubuh Pakisan yang masih terhampar di tanah.

“Mati kowe, Pakisan!” teriak Sela Ganden mantap. Ujung tombaknya meluncur deras ke arah lambung

Pakisan. Untunglah Pakisan tidak terkena, maka iapun menggelindingkan tubuhnya beberapa putaran, se- hingga tombak Sela Ganden itu cuma menghunjam ke dalam tanah, diikuti oleh kutukan dari Sela Ganden.

Ia tak mengira bahwa pada detik-detik yang berba- haya Pakisan masih sempat menyelamatkan nyawa- nya. Sela Ganden dalam hati mengagumi kecekatan gerak Pakisan.

Dan tiba-tiba Sela Ganden berteriak kaget, sebab Pakisan menyerang kaki Sela Ganden dengan tebasan pedangnya sambil mengendap rendah. Sela Ganden terpaksa meloncat ke atas sambil menarik tombaknya yang masih tertancap di tanah. Terlambat sedikit saja, kedua kakinya akan terbabat putus oleh pedang Paki- san ini.

Walaupun Sela Ganden dapat menghindar, Pakisan tak putus asa. Ia terus mengejar Sela Ganden dengan tebasan-tebasan pedangnya sehebat mungkin.

Sambil mendarat itu Sela Ganden memutar tom- baknya mengurung tubuh Pakisan dan selanjutnya se- belum Pakisan dapat berbuat banyak, ujung tombak Sela Ganden berhasil menyambar bahu Pakisan.

Dalam keadaan begini Pakisan masih dapat meng- endap sehingga luka yang ditimbulkan oleh ujung tombak Sela Ganden tidaklah terlalu lebar. Bahu Pakisan tadi mengeluarkan darah segar me- ngalir bagai anak sungai. Ketika ia tengah merasakan luka di bahunya itu, sekali lagi Sela Ganden mengge- rakkan tombaknya dengan dibarengi teriakan.

“Hyaaat!”

“Eaaakh!”

Sebuah teriakan ngeri dan pilu terlontar dari mulut Pakisan apabila tombak Sela Ganden telah bersarang menghunjam ke dadanya. Darah memerah menyem- prot dari luka itu dan Pakisan sambil merintih roboh ke tanah. Sesaat kemudian matilah Pakisan sebagai seorang jagabaya yang telah berjuang demi kebenaran.

Sela Ganden menatap tajam ke arah mayat Pakisan, bekas sahabatnya yang telah sekian lama bergaul da- lam suka dan duka.

“Sayang sobat, kau terpaksa mati di tanganku!” gumam Sela Ganden seraya mencabut tombaknya yang masih menancap di dada Pakisan.

Sementara itu pula Sorogenen makin mendesak si penjaga. Pedangnya berkali-kali mengancam tubuh la- wannya.

“Menyerah saja kau, begundal Topeng Reges!” teriak Sorogenen lantang.

“Huh, menyerah?! Betapapun kau berilmu siluman, Bedes tak sudi menyerah di tanganmu. Lebih baik ma- ti!”

“Bedes?! Jadi itulah namamu? Pantas gerakanmu mirip seekor kera!” ejek si Sorogenen membuat Bedes terbakar merah wajahnya saking marahnya yang kele- wat sangat.

“Kau boleh mengejek, cecunguk! Tapi sebentar lagi kau akan mati di tanganku seperti temanmu itu!” te- riak Bedes.

Demi melihat kematian Pakisan itu, Sorogenen menjadi semakin hebat menyerang Bedes. Betapapun jadinya ia harus membalaskan kematian sahabatnya. Maka tak heranlah bila pedang di tangan kanannya kemudian menyambar bergulung-gulung laksana om- bak badai menghempas setiap rintangan.

Dan Bedes memang merasakan perubahan gerak pedang lawannya yang dirasanya menjadi berlipat- lipat. Namun rupanya Bedes pun berusaha menanggu- langinya sekuat mungkin.

Sejurus kemudian Bedes melesat garang menerjang dengan putaran pedang ke arah Sorogenen. Sementara itu pula Sorogenen pun telah bersiaga. Ia melesat me- mapaki terjangan Bedes.

Kedua tubuh tadi bersimpangan dan selanjutnya terdengar suara berdesing, lalu suara benda tersobek.

“Waah!”

Tubuh Bedes tercampak runtuh ke bawah dengan lambungnya sobek berlumur darah. Sejenak tubuhnya mengejang-ngejang kemudian diam tak bergerak. Mati! Sorogenen melirik ke sebelah lain, dan ternyata Sela Ganden pun tengah menatapnya dengan tajam. Kedua- nya berpandangan tajam. Kedua bekas sahabat itu kini

berhadapan sebagai seorang musuh!

“Sorogenen! Kau lihat mayat Pakisan ini? Aku ter- paksa melakukannya, dan seperti itu aku tak ingin ter- jadi pada dirimu!”

“Tak perlu kau menyesalinya, Sela Ganden. Kalau Pakisan telah meninggal itu pertanda bahwa ia tewas sebagai seorang jagabaya pembela kebenaran. Dan se- baliknya, jika yang meninggal itu engkau, itu tak lebih kematian seorang begundal Topeng Reges!”

Mendengar tutur kata ini Sela Ganden menjadi se- makin terbakar kemarahannya. Lalu dengan secepat kilat ia menerjang dengan tombaknya ke arah Soroge- nen.

Sekarang terjadilah pertempuran hebat antara me- reka. Keduanya sama-sama memeras kepandaiannya. Apalagi mereka dulu adalah saling bersahabat, hingga setidak-tidaknya mereka saling mengetahui akan ilmu gerak senjata lawannya.

Jurus demi jurus mereka lalui, dan sejauh itu ke- duanya masih saling berimbang. Namun nampaknya lama-kelamaan Sela Ganden mulai unggul juga dari- pada Sorogenen.

Ketika pada jurus keduapuluh, Sorogenen nampak terdesak oleh serangan tombak Sela Ganden. Walau ia mengerahkan kepandaiannya, toh pikir-pikir masih le- bih untung senjata Sela Ganden yang bertangkai pan- jang. Maka tak heran bila Sela Ganden lebih unggul. 

Agaknya pertempuran sudah hampir mendekati se- lesai, sebab Sorogenen sudah terus-terusan terdesak oleh Sela Ganden yang nampaknya semakin garang melihat lawannya tak kuasa menghadapi permainan tombaknya.

Akhirnya ketika tebasan pedang Sorogenen dapat dielakkan oleh Sela Ganden, tiba-tiba saja lengannya tersambar oleh mata tombak Sela Ganden, menyebab- kan Sorogenen berteriak hebat. Sebuah luka meman- jang yang cukup dalam telah menghiasi lengannya itu, sementara darah merah segar mancur hingga memba- sahi lengan dan bajunya.

Demikian pula pedang di tangan Sorogenen terlem- par dari tangannya serta jatuh di atas rumput.

Melihat lawannya sudah tak bersenjata lagi, Sela Ganden serentak tertawa terkekeh-kekeh, sedang tom- bak diangkat tinggi-tinggi siap dihunjamkan ke tubuh Sorogenen.

Karuan saja Sorogenen menjadi takut dan beberapa kali mundur-mundur ke belakang, kemudian jatuh ter- langgar oleh sebuah batu.

“Ha, ha, ha, ha, ha. Hari ini adalah kematianmu, Sorogenen! Tombakku ini akan mengantarmu ke nera- ka!” berseru Sela Ganden sambil mengangkat tombak- nya lebih tinggi lagi siap mengakhiri nyawa Sorogenen.

Tanpa terduga dan sama sekali tiada suara apa-apa sebelumnya, tahu-tahu sebuah Bayangan berkelebat cepat memotong arah tombak Sela Ganden yang te- ngah meluncur tadi.

Prak!

Sela Ganden terkejut bila tiba-tiba saja tombak dan tangannya terasa bergetar pedih, sewaktu tombaknya tersebut terasa membentur dinding batu.

“Keparat! Tahu-tahu kau muncul, setan!” teriak Se- la Ganden, setelah melihat siapa yang berdiri di mu- kanya, yakni Mahesa Wulung dengan pedang terhu- nus.

“Yah, sekarang kita berhadapan lagi, Sela Ganden! Dahulu aku sudah berusaha melupakan perselisihan kita. Tetapi rupanya kau belum puas!” seru Mahesa Wulung.

“Dia seorang pengkhianat!” teriak Sorogenen seraya menunjuk ke arah Sela Ganden. “Dia memang sengaja menghilang dari desa kita untuk bergabung dengan ge- rombolan Topeng Reges!”

“Diam kau, kunyuk! Aku tak minta kau ikut bicara!” bentak Sela Ganden kepada Sorogenen yang masih terduduk di tanah dengan terluka lengannya.

“Dan sekarang dia telah membunuh saudara kita— Pakisan, dengan tombaknya itu!” sekali lagi Sorogenen berteriak, membikin Sela Ganden hilang kesabarannya dan secepat kilat ia menerjang ke arah Sorogenen de- ngan tombaknya. Namun sekali lagi Mahesa Wulung berkelebat cepat mencegat arah terjangan Sela Ganden dengan mene- baskan pedangnya yang telah dilambari tenaga dalam.

Wesss! Traak!

Mata tombak Sela Ganden terbabat putus dan ter- campak ke tanah, menyebabkan pemiliknya terlongoh keheranan. Maka secepat kilat Sela Ganden menyerang Mahesa Wulung dengan tangkai tombaknya. Berbareng itu pula, Mahesa Wulung telah menyiapkan putaran pedangnya, sementara tubuhnya dengan lincah mele- sat ke arah kiri Sela Ganden.

Apa yang terjadi selanjutnya sukar dimengerti. Se- bab begitu Mahesa Wulung dua kali menebaskan pe- dangnya, tahu-tahu tangkai tombak Sela Ganden ter- potong menjadi tiga bagian.

Kini Sela Ganden tinggal menggenggam dua potong tangkai tombaknya, yang seketika itu juga dihem- paskannya ke tanah sambil mengutuk-ngutuk.

Begitu merasa dirinya sudah tidak bersenjata lagi, Sela Ganden mundur ke belakang dengan hati yang berkecamuk panik.

Agaknya Mahesa Wulung dapat mengerti apa yang dirasa oleh lawannya. Dasar memang pendekar muda ini berjiwa ksatria, ia tidak ingin melihat lawannya ma- ti dengan bertangan kosong. Maka tiba-tiba Mahesa Wulung mengendap serta memungut sebilah pedang yang tergeletak di dekat mayat Pakisan, untuk selan- jutnya dilemparkan ke arah Sela Ganden dan tercam- pak di depan kakinya.

“Ayo, Sela Ganden! Pungut pedang itu, lekas! Aku tak ingin engkau mati konyol di tanganku!” seru Mahe- sa Wulung.

Sela Ganden yang melihat kesempatan ini tak per- cuma dilewatkan begitu saja. Maka secepat kilat ia menyambar pedang itu dari tanah.

“Heh, he, he, he. Kau memang berjiwa ksatria, so- bat. Tapi jangan menyesal bila kepalamu nanti terpak- sa lepas dari tubuhmu!”

Habis berkata demikian Sela Ganden menerjang de- ngan pedangnya. Demikian pula Mahesa Wulung telah bersiaga dan selanjutnya pertarungan dahsyat tak ter- cegah lagi!

Kedua bekas musuh lama ini bertarung laksana dua ekor harimau. Masing-masing saling berloncatan melibat dan terjang-menerjang dengan serunya.

Sebentar saja tempat itu telah dipenuhi oleh desi- ngan-desingan pedang dan derap kaki yang berlonca- tan kesana-kemari.

Mahesa Wulung memutar pedangnya, menyerang Sela Ganden dari segenap arah, sedang sebaliknya Se- la Ganden tak dapat berbuat banyak terhadap lawan- nya, hingga tak lebih sikapnya hanya bersifat memper- tahankan diri. Untuk membalas menyerang ia sudah tak mungkin lagi, sebab pedang Mahesa Wulung ini seperti mempunyai mata, selalu mengikuti gerak tubuh lawannya, tak ubahnya seekor nyamuk yang meru- bung tubuh manusia untuk mengisap darahnya.

Terpaksa Sela Ganden mengakui kelebihan lawan- nya yang masih muda itu. Setiap kali pedangnya ber- hasil menangkis tebasan pedang Mahesa Wulung, te- rasa selalu seluruh buku-buku dan ruas-ruas tulang jarinya seperti akan copot berantakan. Hal ini mem- buat permainan pedangnya semakin kacau.

Pada jurus ketigapuluh satu, Sela Ganden terpekik kesakitan ketika secara mendadak ujung pedang Ma- hesa Wulung berhasil menggores bahu kirinya, hingga bajunya pun ikut terobek disertai darah merah memer- cik deras. Merasakan lukanya itu, Sela Ganden menggeram marah. Maka dengan satu serangan nekad, Sela Gan- den melesat dengan menendangkan kakinya ke arah kepala Mahesa Wulung, sementara pedang di tangan kanannya menebas ke dada lawan!

Hampir saja Mahesa Wulung kelabakan menerima serangan ini, kalau saja ia tidak cepat-cepat bergerak. Ia memutar tubuhnya ke kanan setengah mengendap, sedang pedang di tangannya pun menangkis pedang Sela Ganden dengan serunya, hingga saling memben- tur.

Craaang!

Sesaat terdengar bunyi gemerincing, kemudian di- susul bunyi berdebuk, sebab tangan kiri Mahesa Wu- lung berhasil menghajar lambung Sela Ganden.

Maka seketika tubuh Sela Ganden terpental dan se- belum ia jatuh ke tanah, sekali lagi pedang Mahesa Wulung menyerangnya.

Crasss!

Paha Sela Ganden terbabat pedang Mahesa Wulung dan tak ampun lagi Sela Ganden terjerembab jatuh ke tanah dengan luka kedua yang tak kalah dalam dari luka di bahu kirinya.

Kini Sela Ganden tergeletak di tanah merasakan ke- sakitan dari kedua lukanya yang mengalirkan darah. Dengan nafas yang berdengusan bagai sapi akan di- sembelih, ia menatap ke arah Mahesa Wulung yang masih saja berdiri tegap tak jauh dari tempatnya.

“Keparat! Kau memang hebat, sobat! Kau telah ber- hasil merobohkan Sela Ganden dengan dua buah luka. Tapi kau jangan mimpi bisa menyentuh tubuhku atau menangkapku hidup-hidup!”

Selesai berkata begitu dengan tiba-tiba Sela Ganden mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, hingga Mahesa Wulungpun kaget serta bersiaga. Ia mengira kalau Sela Ganden bermaksud melancarkan serangan balasan.

Ternyata keliru sekali perkiraan Mahesa Wulung, karena kejadian berikutnya membuat dadanya bergon- cang. Pedang yang telah diangkat tinggi-tinggi oleh Se- la Ganden tadi bukannya untuk menyerang, tetapi se- konyong-konyong meluncur keras ke arah dada Sela Ganden sendiri dan..., bless! Pedang tadi menembus dadanya sampai ke punggung belakang, dibarengi pe- kikan pendek dari mulut Sela Ganden serta semburan darah. Tak lama kemudian tubuh Sela Ganden tadi re- bah tergeletak dan sesudah berkelojotan sesaat, ke- mudian matilah ia.

“Dia membunuh diri!” desis Mahesa Wulung. “Biarlah dia berbuat begitu, Kisanak,” ujar Soroge-

nen yang telah berdiri serta mendekati Mahesa Wu- lung. “Ia sudah sepantasnya menemui kematiannya sebagai imbalan atas dosa-dosanya.”

Sementara itu, Mahesa Wulung segera membalut luka Sorogenen.

“Hmm, memang begitulah seharusnya,” gumam Ma- hesa Wulung serta menatap ke arah mayat Pakisan. “Dan bagaimana dengan dia?”

“Biarlah aku nanti yang akan memanggulnya pu- lang ke desa. Tetapi lebih dulu kita periksa gubuk bambu ini. Agaknya sangat penting!” ujar Sorogenen.

“Hah, betul. Aku hampir saja lupa!” berkata Mahesa Wulung, lalu mendekati pintu gubuk itu. Pandangan matanya menatap tajam ke arah pintu itu seolah-olah ingin mengetahui segenap isi dan rahasia di balik pin- tu itu.

Tangan Mahesa Wulung dengan hati-hati segera membuka pintu itu. Dan begitu terbuka, serentak Ma- hesa Wulung dan Sorogenen terkejut bukan main, de- mi sesosok tubuh bertubuh ramping berkelebat cepat keluar dan langsung menusuk dada Mahesa Wulung dengan sebuah pisau kecil.

Untunglah Mahesa Wulung bukan anak kemarin sore yang mudah mati kutu menerima serangan men- dadak. Maka sebelum senjata itu sempat menyentuh dadanya, ia secepat kilat mengegoskan tubuhnya ke samping kemudian dengan kedua ujung jari tangannya ia menotok pergelangan tangan si penyerang, menye- babkan pisau itu terlempar lepas dan si penyerang ke- lihatan lemas tangannya.

“Kakang Mahesa Wulung!” seru si penyerang bertu- buh ramping yang tidak lain adalah Endang Seruni.

“Endang Seruni?! Oooh, engkaukah ini?!” desis Ma- hesa Wulung sambil menatap gadis ini.

“Kakang.... Oh kau telah menyelamatkan aku lagi, Kakang Wulung...!” desis Endang Seruni seraya meme- gang tangan Mahesa Wulung dan merebahkan kepa- lanya ke dada si pendekar muda itu, membuat dada Mahesa Wulung gemuruh berdegupan.

“Adi Endang Seruni, kau tidak diganggu oleh setan- setan itu?” tanya Mahesa Wulung kepada gadis itu.

“Tidak, Kakang Wulung. Mereka takut dengan pi- sauku tadi. Aku mengancam akan membunuh diri ka- lau mereka berani menyentuhku!” ujar gadis ini serta melepaskan pelukannya.

“Ah, hebat kau, Adi Seruni,” ujar Mahesa Wulung kagum. “Tapi di sini sangat berbahaya. Marilah kita meninggalkan tempat terkutuk ini.”

“Tapi Kakang... tanganku masih belum pulih kekua- tannya. Kau tadi menotokku,” ujar Endang Seruni bermanja.

“Eh, ya, ya. Marilah kusembuhkan,” kata Mahesa Wulung seraya memegang tangan kanan gadis itu serta mengurutnya sekali. Sebentar kemudian tangan En- dang Seruni telah pulih kekuatannya.

Dalam pada itu di bagian selatan, Ki Topeng Reges serta anak buahnya dengan serunya bertempur mela- wan Ki Lurah Mijen beserta orang-orangnya.

Gerak Ki Topeng Reges benar-benar mirip setan. Serba ganas dan cepat. Ia mengamuk sejadi-jadinya karena ada orang-orang yang berani merambah dae- rahnya.

Walaupun ia harus menghadapi dua orang tokoh sakti di pihak Ki Lurah Mijen, seperti Pendekar Baya- ngan dan Ki Rebab Pandan, sedikitpun ia tak merasa gentar.

Sementara itu pula orang-orang Ki Topeng Reges bertempur melawan anak buah Ki Lurah Mijen. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya, tetapi disini kedua belah pihak tadi saling bertemu dan bermusuhan seo- lah-olah telah bermusuhan lama.

Bagi orang-orang Ki Lurah Mijen, sekali ini mereka sungguh-sungguh mengalami pertempuran sebenar- nya. Setelah mereka dilatih di desanya oleh ketiga pendekar sakti itu, setidak-tidaknya mereka telah bi- asa dan terlatih dalam menggunakan senjata. Berlai- nan dengan keadaan semula, mereka lebih terbiasa memegang alat-alat bertani seperti bajak, garu, pacul dan sebagainya. Namun sekarang keadaan telah beru- bah. Mereka terpaksa harus berlatih menggunakan senjata demi untuk menjaga desanya.

Pertempuran tadi semakin seru jalannya. Ki Topeng Reges berhadapan dengan Ki Rebab Pandan, sedang Pendekar Bayangan serta Ki Lurah Mijen melawan orang-orang Ki Topeng Reges.

“Rebab Pandan! Rupanya kau adalah Rebab Pandan yang sesungguhnya, murid si tua bangka dari Padepo- kan Gunung Merapi itu!” seru Ki Topeng Reges.

“Heh, betul terkaanmu tadi. Memang akulah Ki Re- bab Pandan yang asli. Sedang temanmu yang menya- mar sebagai diriku itu telah mampus. Dan lihatlah, senjataku yang dirampasnya itu berhasil aku rebut kembali!” teriak Ki Rebab Pandan seraya mengacung- kan senjata rebabnya ke arah Ki Topeng Reges.

“Kurang ajar kau, kunyuk! Hari ini kau harus mampus sebagai penebus nyawa Ki Jobin Karang tadi!” seru Ki Topeng Reges.

Selanjutnya dengan tiba-tiba Ki Topeng Reges tadi melesat ke arah Ki Rebab Pandan menyerang dengan kedua tangannya menggenggam dua bilah belati yang menyala seperti bara, yakni Kiai Brahmasakti senjata andalan Ki Topeng Reges.

Ternyata Ki Rebab Pandan tidak bingung diserang secara demikian. Senjata Rebabnya dilayangkan mem- babat ke arah lambung Ki Topeng Reges yang pada waktu itu tengah menerjang ke arah dirinya. Tetapi ge- rakan tadi kalah cepat dan sebelum rebabnya berhasil menghajar tubuh pendekar bertopeng setan ini, kebu- ru lawannya telah melentingkan tubuhnya ke atas sambil mengumpat-umpat tak karuan.

Agaknya kali ini Ki Topang Reges tidak mau selalu bertempur secara ringan-ringanan saja. Maka secepat kilat ia telah mengerahkan segenap tenaga dalam dan ilmu Netra Dahananya.

Sesudah bulatan mata Ki Topeng Reges menjadi semburat merah, kemudian memancarlah sinar api yang panas, diiringi ketawa Ki Topeng Reges yang ter- kekeh-kekeh mengerikan.

“Hi, ha, ha, ha, ha. Senjata rebab tengikmu tak akan mampu melawan Netra Dahana ini. Rebab Pan- dan, kubakar kau jadi sate sekarang!” Ki Topeng Reges secepat itu pula melancarkan serangan Netra Daha- nanya dan dua buah jilatan lidah api menyambar ga- nas ke arah Ki Rebab Pandan.

“Mulutmu sangat besar, Topeng Reges. Jangan kira aku masih seperti dulu, mudah kau takut-takuti de- ngan gertakanmu!” kata Ki Rebab Pandan sekaligus meloncat-loncat berputaran tubuhnya, laksana roda yang menggelinding kesana-kemari menghindari setiap jilatan lidah api Netra Dahana.

Sesudah beberapa kali berhasil menghindari sera- ngan-serangan Ki Topeng Reges, Ki Rebab Pandan se- cepat kilat menerjang ke arah Ki Topeng Reges dengan pukulan senjata rebabnya.

Dalam saat yang menegangkan, Ki Topeng Reges sudah menyilangkan kedua belah pisau belatinya di depan tubuh dan sebentar kemudian terjadilah satu benturan yang dilambari tenaga dalam hingga menge- luarkan suara letupan dan selanjutnya kedua pende- kar tadi masing-masing tergetar tubuhnya dan terpen- tal ke belakang beberapa langkah.

Tetapi Ki Rebab Pandan mencelat lebih jauh daripa- da Ki Topeng Reges. Dengan begitu sadarlah ia bahwa Ki Topeng Reges masih lebih tinggi tingkatan ilmunya dibanding dengan dirinya. Tambahan lagi, akibat ben- turan itu terasa kepalanya sedikit pening-pening.

Juga Ki Topeng Regespun dalam hati merasakan bahwa pandangan matanya sesaat berkunang-kunang, maka tak urung ia diam-diam mengakui ketangguhan Ki Rebab Pandan.

Selanjutnya sesudah keduanya saling bersiaga, ber- tempurlah mereka kembali dengan serunya. Begitulah bila kedua musuh lama telah bertemu, segala ilmu di- kerahkan untuk melawan musuhnya.

Jauh di sebelah lain, Pendekar Bayangan bersama Ki Lurah Mijen serta orang-orangnya bertempur meng- hadapi terjangan anak buah Ki Topeng Reges.

Dalam kesempatan ini, Jaramala, Pelang Telu, Da- dungrante, dan Caplak mengamuk. Sebagai tokoh- tokoh andalan dari gerombolan Ki Topeng Reges, me- reka memperlihatkan keberaniannya, dan beberapa saat kemudian mereka jadi terkejut, sebab beberapa orang teman lainnya telah roboh terkena pukulan tongkat kayu Pendekar Bayangan.

Malam telah menjelang. Sang purnama dan bin- tang-bintang telah menerangi buana berkerdipan lak- sana ribuan kunang-kunang tersebar di langit biru. Namun suasana yang indah ini tak dihiraukan oleh mereka yang tengah bertempur di kaki timur Gunung Muria, kecuali mereka bersyukur bahwa cahaya bulan dan bintang-bintang itu telah membantu mereka da- lam pertempuran tadi.

Entah apakah jadinya bila pertempuran tersebut te- rus berlangsung lebih lama. Sebab tak sedikit pula orang-orang Ki Lurah Mijen banyak yang roboh luka- luka oleh amukan anak buah Ki Topeng Reges.

Mereka lebih unggul, terutama mereka bertempur di tanah sendiri, hingga mereka telah betul-betul me- ngenal serta menguasai medan tempur ini. Dengan be- gitu mereka dapat leluasa mengintai dan kemudian menembakkan panah ataupun senjata-senjata rahasia ke arah orang-orang Ki Lurah Mijen itu.

Tiba-tiba di tengah kecamuknya pertempuran itu, terdengar satu suitan nyaring dari arah barat, sehing- ga Ki Lurah Mijen yang telah mengenal isyarat itu mengangkat mukanya ke atas.

“Hmm, inilah tanda yang dijanjikan oleh Anakmas Mahesa Wulung. Aku harus pergi ke arah suara tadi!” gumam Ki Lurah Mijen seraya meloncat ke samping, ke arah barat keluar dari lingkaran pertempuran.

Dalam beberapa loncatan saja, sampailah Ki Lurah Mijen pada semak-semak bambu, dan mata tuanya yang masih cukup awas itu dapat menatap adanya tiga sosok tubuh yang berjalan, sedang seorang di anta- ranya kelihatan memanggul tubuh manusia.

“Bapak Ki Lurah Mijen?!” seru Mahesa Wulung yang melihat seorang setengah tua datang ke arah mereka.

“Benar, Anakmas. Akulah ini!” ujar Ki Lurah Mijen tak sabar. “Bagaimana tugasnya?”

“Inilah Endang Seruni, Bapak. Ia telah berhasil ka- mi bebaskan dari tawanan Ki Topeng Reges,” berkata Mahesa Wulung, dan Endang Seruni segera berlari mendekap ayahnya.

“Oooh, Endang Seruni. Engkau selamat, Nak!” de- sah Ki Lurah Mijen seraya mengelus-elus kepala anak- nya. “Tapi siapakah orang yang dipanggul oleh Soroge- nen itu dan di mana Pakisan?”

“Itulah dia Pakisan, Ki Lurah. Dia telah tewas dalam menjalankan tugasnya oleh senjata Sela Ganden!” kata Mahesa Wulung.

“Sela Ganden?!” Ki Lurah Mijen sangat terkejut. “Jadi dia sengaja menghilang dulu itu? Tapi mengapa dia berada di sana?”

“Dia memihak gerombolan Ki Topeng Reges dan dia pulalah yang membantu menculik puterimu, Ki Lu- rah!” jawab Mahesa Wulung. “Tapi jangan kuatir, Ki Lurah. Dia pun telah mati menebus dosa-dosanya.”

“Yah, syukurlah dia telah mati,” desah Ki Lurah. “Jika demikian, apakah sebaiknya kita tarik saja orang-orang Mijen dari tempat ini, sebelum terlalu ba- nyak jatuh korban di pihak kita?”

“Baik, Ki Lurah. Dan lagi aku pun berhasil menda- patkan senjata pemunah ilmu Netra Dahana!” berkata Mahesa Wulung, membuat Ki Lurah Mijen cerah wa- jahnya.

“Oh, jadi Anakmas telah berhasil mendapatkan- nya?” kata Ki Lurah Mijen. “Syukurlah. Kini kita tarik saja orang-orang kita!”

Ki Lurah Mijen segera mendekati seorang pasukan Desa Mijen yang membawa senjata panah.

“Berikan aku panah sendaren itu,” kata Ki Lurah. “Inilah, Ki Lurah.” Orang tersebut cepat memberi-

kan busur dan sebuah anak panah yang ujungnya berbentuk bulat, merupakan alat bunyi yang mudah bersuara apabila tertiup angin.

Sesudah Ki Lurah menerimanya, maka dibidikkan- nya anak panah itu ke arah udara dan sebentar kemu- dian meluncurlah ia dengan pesatnya dengan menge- luarkan bunyi berdengung yang keras memenuhi dae- rah pertempuran.

Mendengar suara panah sendaren tadi, orang-orang Ki Topeng Reges pada terkejut. Sementara orang-orang Ki Lurah Mijen yang tengah bertempur itu secepat kilat mengundurkan diri dari medan pertempuran sambil membawa teman temannya yang terluka.

Semula anak buah Ki Topeng Reges akan mengejar- nya, tetapi Ki Topeng Reges kuatir kalau pengunduran diri itu hanya sebuah siasat saja, maka cepat-cepat ia berseru nyaring. “Tahan! Jangan kejar! Biarkan tikus- tikus itu ngacir, lari kembali ke desanya. Besok pagi kita balas kekurangajaran mereka!”

Pertempuran selesai dengan kemenangan di pihak Ki Topeng Reges karena mereka dapat mengusir para penyerangnya. Ki Topeng Reges dan anak buahnya berbangga diri atas kemenangannya. Akan tetapi alangkah kagetnya bila Ki Topeng Reges masuk ke da- lam rumahnya, dilihatnya kamarnya berserakan dan terbuka pintunya.

“Heh, ini hebat!” desis Ki Topeng Reges. “Siapa ini yang telah berani lancang memasuki kamarku?! Dan senjata rahasiaku tak berhasil mengenai sasarannya! Pasti yang berbuat ini orang yang berilmu tinggi!”

Tanpa tunggu lama lagi, Ki Topeng Reges segera masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang berdebar- debar.

“Huh, peti kayuku masih pada tempatnya!” gumam Ki Topeng Reges serta menyambar peti kayu berukir yang tergeletak di balai-balai, seraya tak sabar peti tadi dibukanya lebar-lebar.

“Aduuuh! Hilang! Semuanya hilang! Celaka, kaca Sirna Praba dan lembaran-lembaran kertas ilmu Netra Dahana tidak ada lagi di sini!” geram Ki Topeng Reges. “Kurang ajar! Orang yang berbuat ini akan kuremas batang tubuhnya seperti ini.”

Ki Topeng Reges yang masih dalam keadaan marah dan memegang kotak kayu itu segera meremasnya de- ngan hati jengkel. Kraaak! Kotak kayu berukir itu seke- tika pecah hancur berkepingan.

Anak buah Ki Topeng Reges yang mendengar teria- kan-teriakan pemimpinnya segera berlarian masuk ke dalam rumah itu, mendapatkan pemimpinnya.

“Oh, apa yang terjadi, Guru?” bertanya Jaramala. Dan di samping tampaklah Pelang Telu, Dadungrante, dan lain-lainnya dengan wajah yang penuh tanda tanya.

“Keparat! Kita telah tertipu! Tertipu mentah-mentah oleh siasat mereka! Dan gobloklah kita semua!” Ki To- peng Reges mengumpat-umpat.

“Mengapa, Guru? Bukankah mereka telah berhasil kita usir dari daerah kita?” Kembali Jaramala ber- tanya. “Itu semua hanya tipuan! Sekarang lihat, selagi kita sibuk bertempur melayani mereka, seseorang telah masuk kemari dan mengobrak-abrik barang-barang serta kamarku ini!” seru Ki Topeng Reges pula.

Jaramala yang mendengar penuturan gurunya ini seketika menjadi kaget. Ia pun tak mengira bahwa se- rangan tadi hanyalah satu pancingan saja. Matanya yang tajam itupun kemudian menatap ke arah kamar Ki Topeng Reges. Dan ketika pandangan matanya me- rayapi dinding dan tiang di situ, tiba-tiba ia melihat se- suatu yang tercoret pada tiang.

“Guru, lihat tiang ini!” seru Jaramala seraya men- dekati tiang tersebut dan memeriksanya. Demikian pu- la dengan Ki Topeng Reges. Matanya yang setajam pi- sau pencukur itu sekilas telah membaca coret-coret tadi.

“Hmm, perbuatan Mahesa Wulung!” geram Ki To- peng Reges.

“Benar, Guru. Mahesa Wulung yang masuk kemari!” desis Jaramala menyambung.

Dalam suasana kemarahan dan kejengkelan ini ti- ba-tiba dari luar pintu masuklah si Caplak dengan ter- gopoh-gopoh berkeringat pada dahinya.

“Maaf, Guru,” kata Caplak, “tawanan kita telah me- larikan diri. Sedang kedua penjaganya telah tewas, termasuk anggota kita yang baru dari Desa Mijen!”

“Hah! Si Sela Ganden juga telah mati?! Hmm, in- ipun pasti perbuatan si Mahesa Wulung juga. Tak mungkin kedua orang itu mati oleh tangan gadis halus seperti Endang Seruni,” Ki Topeng Reges berkata de- ngan suara menggeram. “Heh, sayang, si bergejil Sela Ganden itu telah mati. Kalau tidak pasti ia akan kita hukum siksa, sebab dialah yang menjadi sumber ma- lapetaka ini. Dan untuk itu semua, kitapun tidak akan tinggal diam bermurah hati. Kita harus membalas ke- pada mereka lebih hebat daripada kekurangajaran me- reka saat ini. Desa Mijen itu akan kita serbu dan sapu rata dengan tanah. Bakar dan cincang setiap orang yang tidak mau tunduk di hadapan Ki Topeng Reges! Nah, sekarang kalian boleh mengaso dan besok pagi siapkanlah dirimu serta senjata-senjatamu! Serangan mereka akan kita balas di waktu senja pula!”

“Baik, Guru!” seru Jaramala serta orang-orang lain- nya, dan kemudian merekapun bergegas keluar.

“Jaramala dan Pelang Telu, kalian berdua jangan pergi dahulu. Tinggallah disini sebentar, karena ada hal-hal penting yang akan kita bicarakan,” ujar Ki To- peng Reges kepada kedua murid utamanya.

Sesudah Jaramala dan Pelang Telu duduk mengha- dap gurunya, ketiganya mulai merundingkan rencana penyerbuan ke Desa Mijen.

Begitulah mereka sibuk berunding sampai jauh ma- lam. Dan sebelum Ki Topeng Reges mengakhiri perte- muan itu, sekali lagi ia berpesan kepada kedua murid- nya itu. “Dan yang paling penting, kita harus merebut kembali kedua benda pusaka yang telah diambil oleh Mahesa Wulung itu!”

***

5

DENGAN beriring-iring rombongan orang-orang Mi- jen yang dipimpin oleh Ki Lurah serta ketiga pendekar sakti itu pergi meninggalkan daerah Ki Topeng Reges. Mereka berjalan ke arah selatan melewati hutan-hutan yang lebat.

Sepanjang perjalanan, mereka tak banyak bicara, karena masing-masing masih memikirkan pengalaman yang baru saja ditempuh. Pengalaman yang mungkin baru pertama kalinya bagi orang-orang Ki Lurah Mijen, namun buat ketiga pendekar yang berkuda paling de- pan tidaklah demikian.

Baik buat Ki Lurah Mijen sendiri maupun orang- orangnya sungguh merasa bangga bahwa mereka telah mempunyai keberanian, rasa percaya diri sendiri akan sanggup menanggulangi segala rintangan dan kesuli- tan yang mereka hadapi.

Daerah yang baru saja mereka jelajahi tadi terkenal sebagai daerah angker dan ditakuti oleh semua orang. Namun toh akhirnya mereka berani menempuhnya, tak ubah memasuki mulut macan, dan kini mereka de- ngan mudah meninggalkannya pula.

“Anakmas Mahesa Wulung,” ujar Ki Lurah Mijen kepada pendekar muda yang berkuda di sampingnya, “setelah Anakmas berhasil mengambil pusaka-pusaka yang telah sekian lama dikangkangi oleh Ki Topeng Reges itu, apakah kira-kira ia masih berani menyerang desa kita?”

“Hmm, soal itu Bapak, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama mungkin dia tidak berani me- nyerang atau malah kemungkinan ia pindah ke daerah lain. Kemungkinan pula, justru sebaliknya. Ki Topeng Reges akan menjadi marah dan menyerang kita. Mu- dah-mudahan ia berada pada kemungkinan pertama, namun seandainya ia memilih kemungkinan kedua, itupun kita tidak perlu merasa cemas. Biarlah kita menyambut serangan mereka. Aku percaya Ki Topeng Reges dapat kita hancurkan,” Mahesa Wulung berkata dalam nada yang mantap, membuat Ki Lurah Mijen te- nang hatinya.

“Jika demikian, Anakmas Mahesa Wulung,” sahut Ki Lurah, “akupun ingin pula turut menyambut mere- ka.”

“Terima kasih, Bapak,” ujar Mahesa Wulung seraya melirik ke arah kiri Ki Lurah Mijen dimana Endang Se- runi tengah berkuda dengan tenangnya. Di depan me- reka tampaklah Pendekar Bayangan serta Ki Lurah Mi- jen berkuda berdampingan sambil bercakap-cakap pu- la. Entah apa yang mereka perbincangkan Mahesa Wu- lung tak mengetahuinya.

Di belakang mereka orang-orang Ki Lurah Mijen. yang telah terlatih sebagai pasukan penjaga desa ber- jalan pula dengan tenangnya, sedang sebagian yang luka-luka dinaikkan di atas punggung kuda. Semua- nya ada enam ekor kuda. Yang berjalan paling bela- kang adalah Sorogenen dengan pedang yang tergan- tung di pinggang kirinya. Hatinya masih diliputi oleh kesedihan. Sebab sahabatnya, Pakisan, telah tewas da- lam penyerangan itu.

Iring-iringan tadi setelah berjalan ke arah selatan lalu membelok ke arah barat daya menuju ke Desa Mi- jen. Hutan yang mereka lewati semakin tipis, sementa- ra semak-semak masih tetap lebat. Pohon-pohon be- sarpun semakin jarang.

Sesekali sayup-sayup terdengar kokok ayam hutan dari kejauhan dan udara pagi mengalir dengan segar- nya.

“Sudah menjelang fajar,” gumam Ki Rebab Pandan yang berkuda berdampingan dengan Pendekar Baya- ngan.

“Untunglah Ki Topeng Reges serta anak buahnya ti- dak mengejar kita,” sahut Pendekar Bayangan. “Agak- nya ia kebingungan setengah mati setelah kedua ben- da pusakanya itu berhasil diambil oleh Mahesa Wu- lung.” “Setelah kita nanti memiliki benda pusaka itu, pasti Ki Topeng Reges akan dapat kita kalahkan. Dalam waktu siang Kaca Sirna Praba itu akan mampu me- musnahkan segala benda serta membakarnya hangus!” ujar Ki Rebab Pandan.

“Wah, itu hebat sekali. Tetapi pada waktu malam tentu kurang sekali manfaatnya. Dan celakalah bila Ki Topeng Reges menyerang kita pada waktu malam hari,” sahut Pendekar Bayangan sambil menatap wajah Ki Rebab Pandan. Keduanya sesaat berdiam diri.

“Mudah-mudahan ada satu keajaiban yang dapat mengalahkan kekuatan Netra Dahana milik Ki Topeng Reges itu,” gumam Ki Rebab Pandan.

“Mudah-mudahan begitu,” ujar Pendekar Bayangan pula.

Rombongan Ki Lurah Mijen terus menempuh jalan- jalan yang sebentar naik, sebentar turun. Kini mereka telah berada di daerah selatan kaki Gunung Muria dan arah mereka masih tetap menuju ke arah barat daya menuruni lembah yang terakhir untuk kemudian me- nempuh dataran subur, dialiri oleh sebuah sungai.

Ketika mereka mulai menginjak jalan menuju ke ujung desa, tiba-tiba saja rombongan itu dikejutkan oleh sebuah cahaya biru gemerlapan yang meluncur di langit sebelah utara.

“Oh, apakah itu, Bapak?” tanya Endang Seruni ke- pada ayahnya dengan perasaan takjub.

“Mungkin itu bintang kemukus, pertanda akan adanya bencana, Ngger,” ujar Ki Lurah dalam nada yang tenang. “Tetapi kita tak perlu kuatir. Kita akan berdoa semoga Tuhan menjauhkannya dari kita.”

Bersamaan mencungulnya sinar fajar yang pertama, Ki Lurah dan rombongannya telah menginjak pintu gerbang desa sebelah utara. Beberapa orang peronda segera dapat melihat kedatangan mereka dan berlari- lari menyambutnya seraya berteriak-teriak kegirangan. Seorang di antaranya segera memukul kentongan tan- da berkumpul dan seketika segenap penduduk desa pada berlarian keluar dari rumah.

“Kertipana, apakah baik-baik saja keadaan desa se- lama aku pergi?” ujar Ki Lurah Mijen kepada seorang laki-laki yang datang menyambutnya.

“Semuanya selamat, Ki Lurah. Tak ada kejadian apa-apa yang patut kita cemaskan,” ujar Kertipana.

“Syukurlah, Kertipana. Itulah yang kami harapkan.” “Bagaimanakah dengan Nona Endang Seruni, Ki Lu-

rah?” tanya Kertipana pula. “Dan pasukan desa kita?” “Angger Endang Seruni berhasil kita bebaskan dari

tawanan mereka. Namun untuk itu Pakisan telah te- was,” kata Ki Lurah Mijen. “Baiklah untuk hal itu kita bicarakan lebih panjang di pendapa kelurahan nanti.”

“Terima kasih, Ki Lurah,” berkata Kertipana, kemu- dian iapun menyertai rombongan itu menuju ke depan kelurahan.

Sesudah tiba di situ, tampaklah Nyi Lurah berlari menyambut Endang Seruni. Sesaat keduanya berpelu- kan dengan mesra dan mengharukan. Nyi Lurah sa- ngat bersyukur kepada Tuhan bahwa untuk kedua ka- linya, putrinya telah terhindar dari bahaya.

Dalam pada itu, orang yang luka-luka segera men- dapat perawatan seperlunya, juga mayat Pakisan dira- wat sebaik-baiknya untuk dikubur siang nanti.

Sungguh mengharukan suasana di pendapa itu. Orang-orang desa lainnya segera menghibur keluarga Pakisan yang bertangisan memilukan hati. Begitulah dalam suatu peristiwa, suka dan duka selalu kita jum- pai silih berganti. Bagi orang yang berjiwa lemah pasti- lah akan tergoncang hatinya menghadapi keduanya. Tapi bagi orang yang beriman teguh pastilah tidak de- mikian jadinya. Suka dan duka adalah wajar dalam irama penghidupan.

Sementara itu di sebuah rumah dinding desa, Ma- hesa Wulung, Pendekar Bayangan dan Ki Rebab Pan- dan tampak duduk berhadapan di sebuah balai-balai panjang dan di dekatnya terletak sebuah meja berkaki pendek dengan dian minyak yang menghiasinya. Di hadapan ketiga pendekar itu tergeletak Kitab Hijau, Kaca Sirna Praba serta lembaran-lembaran kertas be- risi ilmu Netra Dahana.

“Nah, inilah semua yang selalu diincar oleh Ki To- peng Reges untuk dikuasai seluruhnya. Dan Ilmu Ne- tra Dahana telah berhasil dikuasainya,” ujar Mahesa Wulung.

“Hmm, untunglah dengan berhasilnya kedua benda pusaka ini jatuh ke tangan kita, berarti runtuhnya Ne- tra Dahana bagi Ki Topeng Reges. Untuk menghadapi ilmu Netra Dahana yang dahsyat itu, haruslah kita mempergunakan Kaca Sirna Praba ini.” Ki Rebab Pan- dan berkata seraya memegang Kaca Sirna Praba. “An- dika berdua tentu telah tahu, bila kaca ini sanggup memantulkan cahaya dan kekuatan sinar hingga berli- pat-lipat kekuatannya. Nah, dapatlah dibayangkan bila jilatan sinar panas atau lidah api dari mata Ki Topeng Reges itu kita pantulkan kembali kepadanya!”

“Ah, sungguh dahsyat bila dibayangkan akibatnya. Tapi apakah kaca ini pernah dicoba terhadap kekuatan Netra Dahana?” bertanya Mahesa Wulung.

“Memang belum pernah, Kisanak,” jawab Ki Rebab Pandan. “Yang pernah dicoba dahulu oleh almarhum Kakang Landean Tunggal hanyalah terhadap kekuatan sinar matahari saja. Dan itupun sudah cukup untuk membinasakan Gombelwadas, tokoh berandal dari le- reng Gunung Ungaran.”

“Mudah-mudahan perkiraan kita tadi tidak melesat, Ki Rebab Pandan,” sambut Pendekar Bayangan. “Dan bagaimanakah tentang lembaran-lembaran kertas yang berisi Ilmu Netra Dahana itu?”

“Hmm, itu saya serahkan pada Andika, Angger Ma- hesa Wulung,” ujar Ki Rebab Pandan. “Saya kira ada baiknya kertas-kertas tadi kita persatukan pada buku induknya, yakni Kitab Hijau itu, dan selanjutnya Kitab Hijau itu aku serahkan kepada Andika, sesuai dengan pesan almarhum Kakang Landean Tunggal. Sedang Kaca Sirna Praba itu kelak aku minta untuk diperbo- lehkan kami simpan di Padepokan Gunung Merapi se- bagai pusaka lambang perguruan Panembahan Jati- wana.”

Mendengar ujar Ki Rebab Pandan yang tulus itu, hati Mahesa Wulung seperti tersiram oleh air embun. Lega dan terharu. Maka iapun berkata kepada Ki Re- bab Pandan, “Betapa saya harus menyusun kata-kata ucapan terima kasih kepada Andika, terlalu sulitlah kiranya. Namun saya bermohon semoga Tuhan mem- balas kebaikan Andika, Ki Rebab Pandan.”

“Terima kasih pula aku sampaikan kepada Angger Mahesa Wulung,” kata Ki Rebab Pandan kemudian. “Sebab Andika pulalah yang telah berhasil merebut kedua pusaka itu dari cengkeraman Ki Topeng Reges.”

Demikianlah kalau ketiga pendekar tadi tengah asyik berbicara. Sementara itu di luar pun tampak ke- sibukan Ki Lurah Mijen dan Kertipana mengatur bebe- rapa penjagaan pada keempat penjuru desa. Meskipun hari telah siang, namun kewaspadaan tetap dijaga, se- bab sebenarnya di dalam hati Ki Lurah Mijen tersim- pan pula rasa cemas akan pembalasan Ki Topeng Reg- es dan anak buahnya. Sang waktu memang tak terasa terus berjalan dan matahari telah bergeser jauh memasuki cakrawala ba- rat, hingga senjapun telah tiba. Bintang-bintang ma- lam mulai bermunculan di langit timur. Bersamaan itu semua, apa yang benar-benar dikuatirkan oleh sege- nap penduduk terjadilah sudah.

Dari arah pintu utara desa, terdengarlah gegap gempita suara manusia yang mirip gemuruhnya air bah. Tak salah lagi, itulah para anak buah Ki Topeng Reges yang menyerbu desa Mijen serta langsung di- pimpin oleh Ki Topeng Reges sendiri.

Tapi untunglah bahwa pasukan penjaga desa telah lebih dulu ditempatkan pada tempat-tempat yang keli- hatan berbahaya dan lemah, sehingga ketika pintu utara diserbu oleh gerombolan dari lereng Muria itu, merekapun segera menyambutnya dan sebentar saja terjadilah pertempuran hebat di tempat itu.

“Ayo serbu! Bakar habis desa terkutuk ini!”

Tiba-tiba terdengar suara menggeledek dari arah ge- rombolan penyerbu itu dan mendadak melesatlah dua sosok tubuh mendobrak pertahanan pintu utara desa. Semua orang terkejut dan ngeri seketika, sebab kedua sosok tubuh tadi adalah dua orang Topeng Reges yang berpakaian dan bertopeng sama serta masing-masing menggenggam sebilah pisau bersinar kekuningan membara! Inilah hebat! Dalam saat-saat yang tegang sebegitu rupa, telah menjadi lebih tegang dengan mun- culnya Ki Topeng Reges kembar!

“Hei, Mahesa Wulung! Lekas keluar melawanku!” terdengar seorang di antaranya berteriak menantang.

Baru saja selesai tantangan itu, sebuah Bayangan tahu-tahu berkelebat menyerang mereka dan terjadilah pertempuran seru! Bayangan tadi yang tidak lain ada- lah Pendekar Bayangan dengan garangnya menerjang kedua Topeng Reges kembar.

Rupanya Topeng Reges kembar inipun tidak kepa- lang tanggung menghadapi Pendekar Bayangan. Maka sebentar saja mereka telah mengetrapkan ilmu Netra Dahana-nya serta mengurung Pendekar Bayangan de- ngan jilatan lidah-lidah api.

Pendekar Bayangan yang berpakaian serta berkedok kain serba keputihan ini, dengan lincahnya berlonca- tan di antara celah-celah lidah api, tak ubahnya Sang Hanoman dibakar oleh orang-orang Alengka dalam ki- sah Ramayana.

Dalam hati, Pendekar Bayangan sibuk menduga- duga siapakah gerangan Ki Topeng Reges yang seorang lagi? Muridnyakah? Jika benar pasti sangat hebat hal ini. Jika genap ada selusin orang macam Ki Topeng Reges ini, pastilah cukup buat mengacau Demak!

Siapakah dan mana yang Topeng Reges asli, Pende- kar Bayangan sibuk meneliti sambil bertempur itu. Namun mendadak ia melihat adanya perbedaan di an- tara Ki Topeng Reges kembar ini. Yang seorang tampak lebih jauh dan panjang memancarkan lidah-lidah api daripada satunya lagi. Dan inilah agaknya yang asli.

“Ki Topeng Reges, inilah aku!” sebuah teriakan ter- dengar menggeledek dan Mahesa Wulung melesat, me- nerjang Ki Topeng Reges yang terpanjang memancar- kan lidah api tadi.

Sekarang terjadilah dua lingkaran pertempuran yang tak kalah serunya dari yang semula. Mahesa Wu- lung segera menghunus pedangnya pula apabila ia me- lihat Ki Topeng Reges telah menggenggam sebuah bela- ti panjang.

Tak jauh dari mereka, Sorogenen berhadapan de- ngan Dadungrante. Keduanya sangat seimbang dalam pertempuran ini. Setiap kali Dadungrante menyerang dengan senjata rantenya, secepat itu pula Sorogenen mengelak sangat gesitnya.

Pelang Telu sementara itu harus memeras tena- ganya menghadapi Ki Rebab Pandan yang bersenjata- kan sebuah rebab dengan alat penggeseknya. Senjata aneh tadi berkali-kali mengancam jiwa Pelang Telu dan terpaksa ia menangkis berkali-kali dengan pedang panjangnya.

Dalam pada itu Caplak yang mengamuk seru, telah berhasil melukai dua orang pasukan penjaga desa, namun mendadak saja Kertipana telah menerjangnya dengan pedang di tangannya.

Dan Mahesa Wulung yang bertempur hebat itu te- rus mendesak kedudukan Ki Topeng Reges, menye- babkan pendekar bertopeng hantu tersebut cepat me- lesat ke atas genting pendapa balai desa. Mereka sege- ra bertempur di atas rumah ini.

Mahesa Wulung tidak sadar bahwa yang kini diha- dapinya itu adalah Ki Topeng Reges yang sesungguh- nya, sebab terlihat bahwa pancaran lidah api lawannya itu jauh lebih panjang daripada Topeng Reges kedua yang kini berhadapan pula melawan Pendekar Baya- ngan.

Ki Topeng Reges sendiri merasa heran bila Mahesa Wulung yang dulu pernah dilumpuhkan itu masih saja mampu bertempur hebat melawannya. Dilihatnya se- tiap gerakan tubuh Mahesa Wulung tadi seolah-olah Bayangan yang berkelebatan cepat setiap ia meman- carkan lidah api dari matanya.

Walaupun setiap serangan Mahesa Wulung dapat menghindari, namun toh keringatnya berleleran dari lubang kulitnya saking pengaruh hawa panas berbisa yang keluar dari lidah-lidah api Ilmu Netra Dahana. Untunglah dalam saat-saat begini maka cincin Galuh Punar peninggalan mendiang Landean Tunggal itu ba- nyak gunanya. Rasa panas beracun tadi berangsur- angsur berubah menjadi tawar dan yang terasa oleh Mahesa Wulung kemudian adalah rasa segar belaka. Maka tak perlu heran bila ia masih mampu bergerak dengan gesitnya. Jurus-jurusnya semakin santer dan pedangnya berputar bagai pusaran angin.

Sekali-kali pedang itu bergempuran dengan belati Brahmasakti di tangan Ki Topeng Reges, sampai terge- tarlah keduanya. Ki Topeng Regeslah yang benar men- jadi kagum akan lawannya yang masih muda itu. Hingga sekarang baru kali inilah ada lawan yang sang- gup menanggulangi benturan dengan senjata pusa- kanya, sampai bahu dan isi dadanya terasa bergetar pula.

“Eaaaakh!” satu teriakan nyaring terdengar meme- nuhi udara senja yang semakin kelam dan tergeletak- lah mati tubuh Caplak di kaki Kertipana.

Sorogenen yang masih belum sembuh luka-lukanya, makin terdesak surut oleh sabetan-sabetan rantai dari Dadungrante yang berputar mematuk-matuk laksana seekor ular berbisa. Beberapa kali ia telah tersengat oleh ujung rantai tadi menyebabkan luka-luka kecil mengucur darah yang amat pedih. Hal ini menyebab- kan rasa senang bagi Dadungrante dan akhirnya ia mengerahkan satu pukulan yang hebat ke arah Soro- genen. Dasar memang sudah terluka, maka Sorogenen tak begitu cepat mengelak dan ujung senjata rantai la- wannya itu menghantam punggungnya dengan seru.

Sorogenen seketika terhenyak kesakitan dan sebe- lum ia roboh tak sadarkan diri, ia masih sempat meng- himpun tenaganya yang terakhir. Pedangnya diki- baskannya mendatar ke arah perut Dadungrante dan sesaat terdengarlah suara benda terobek. Waaak!

Kemudian penglihatan Sorogenen kabur. Ia masih sempat melihat Dadungrante menekan perutnya yang terluka menganga bersiram darah dengan teriak kesa- kitan. Dan berbareng tubuh Dadungrante ambruk tak bernyawa, maka Sorogenenpun roboh ke tanah, ping- san.

Melihat dua orang kawannya telah mati, Pelang Telu semakin ganas menyerang Ki Rebab Pandan. Pedang panjang bergulungan mengerikan, siap membabat tu- buh lawan.

“Hyaat!”

Pelang Telu tiba-tiba menebaskan pedangnya ke arah leher Ki Rebab Pandan. Tetapi untungnya Ki Re- bab Pandan cepat-cepat mengendapkan tubuhnya ren- dah-rendah ke bawah.

“Kurang tepat pedangmu, sobat!” desis Ki Rebab Pandan ketika pedang panjang Pelang Telu sejengkal lewat di atas kepalanya dengan suara berdesing.

“Kurang ajar! Kau memang gesit! Tapi cobalah teri- ma lebih tebasan pedangku ini!” Pelang Telu sekali lagi memutar arah pedangnya dan membacok Ki Rebab Pandan.

Keruan saja Ki Rebab Pandan tak mau mati cuma- cuma oleh senjata lawannya. Maka sebelum ujung pe- dang lawan menyentuh tubuhnya, ia melenting ke udara dan terpaksa Pelang Telu mengumpat lagi kare- na pedangnya hanya menebas angin.

Pelang Telu berusaha memperbaiki kedudukannya, tetapi Ki Rebab Pandan lebih cepat bergerak kali ini. Seraya melayang turun, senjata rebabnya menyambar ke arah lawannya.

Praak! “Aaaakh!” Suara benturan beriring dengan jeritan dari mulut Pelang Telu terdengar apabila senjata rebab kepunyaan Ki Rebab Pandan menghajar batok kepalanya. Maka di saat itu pulalah Pelang Telu terjungkal ke tanah de- ngan kepala pecah, dan matilah murid Ki Topeng Reg- es yang kedua ini.

Pada saat yang sama, pertempuran antara anak buah Ki Topeng Reges lainnya melawan pasukan pen- jaga desa berlangsung semakin hebat.

Beberapa orang pasukan desa tampak rebah ke ta- nah dengan luka-luka pada tubuhnya. Namun tidak sedikit pula anak buah Ki Topeng Reges yang mati di situ. Kertipana yang sudah terbebas dari lawannya kemudian menerjunkan diri pula ke medan pertempu- ran untuk memimpin pasukan-pasukan desanya.

Akan tetapi alangkah kagetnya bila sesosok Baya- ngan tiba-tiba melesat dari atas pohon mencegat lonca- tan Kertipana, dan tak dapat dihindari lagi terjadilah tubrukan cukup keras. Kemudian tubuh Kertipana bergulingan di tanah. Sedang orang tersebut tak terge- tar sedikitpun dan seketika berdiri bertolak pinggang di atas tanah dengan sombongnya.

Kertipana segera berdiri meski kepalanya masih berputar-putar rasanya.

“Hee, siapakah kau keparat?! Menyerang secara li- cik!” seru Kertipana serta menatap lawannya.

“Ha, ha, ha, ha. Kau ingin tahu siapakah aku? Nah, kenalilah, aku bernama Monyong Iblis dari Pulau Mondoliko!”

“Apa maksudmu kau gentayangan sampai ke sini?!” “Hmm, aku tengah mencari Ki Topeng Reges dan

ternyata ia berada disini! Dia sahabatku! Maka siapa yang bermusuhan dengan dia berarti pula sebagai mu- suhku,” seru Monyong Iblis. “Jika demikian kaupun harus binasa!” teriak Kerti- pana seraya menyerang Monyong Iblis dengan pedang- nya.

Sayang ia tak mengetahui bila lawannya itu terma- suk pendekar gemblengan. Ia cukup berkelit kemudian memukul punggung pedang Kertipana dengan golok besarnya, hingga pedang itu terpelanting lepas, disusul tangan kirinya menghantam tengkuk Kertipana. Maka terjerembablah seketika tubuh Kertipana di tanah tak sadarkan diri lagi, diiringi oleh derai ketawa Monyong Iblis.

“Ha, ha, ha. Hanya sebegitu kekuatanmu, sobat?! Baiknya golokku ini pun harus mandi dengan darah- mu!” ujar Monyong Iblis seraya mengangkat goloknya, siap membacok tubuh Kertipana.

Praang!

Monyong Iblis terpaksa kaget apabila goloknya kena benturan senjata rebab milik Ki Rebab Pandan yang secara cepat turun tangan menolong Kertipana.

“Keparat kau, kepingin turut campur!” teriak Mo- nyong Iblis sekaligus menyerang Ki Rebab Pandan.

Sebentar saja keduanya telah terlibat dalam perta- rungan hebat! Keduanya sungguh-sungguh pendekar yang tangguh. Dengan demikian pertempuran ini tam- pak seimbang. Biarpun begitu, Ki Rebab Pandan tidak ingin hanya sampai di situ pertempuran tadi. Dan se- lanjutnya, sedikit demi sedikit ia melipat-gandakan se- rangan-serangannya.

Demikian pula agaknya dengan Pendekar Baya- ngan. Tanpa merasa gentar ia melayani setiap sera- ngan Topeng Reges yang kedua. Biarpun Topeng Reges yang menjadi lawannya itupun mampu menyerang de- ngan ilmu Netra Dahana, tetapi agaknya kurang sem- purnalah ilmu itu. Sebab jilatan lidah api yang me- mancar dari matanya hanyalah berjarak pendek saja.

Dengan demikian maka Pendekar Bayangan tidak mendapat kesulitan dengan Ilmu Netra Dahana yang belum sempurna itu. Yang paling berbahaya adalah pi- sau yang membara di tangan Topeng Reges kedua ini. Pusaka belati Brahmasakti tidaklah boleh dipandang sebelah mata, dan karenanya pula Pendekar Bayangan harus berhati-hati.

Akhirnya dalam satu kesempatan yang baik, tong- kat Pendekar Bayangan berhasil memukul pisau tadi sampai terpelanting ke udara. Inilah hebatnya. Karena Pendekar Bayangan melambari gerakan tongkatnya de- ngan Pukulan Angin Bisu. Setelah itu secepat kilat Pendekar Bayangan melesat ke udara serta menyam- bar wajah bertopeng lawannya itu. Maka tak ampun lagi Topeng Reges kedua itu tergetar beberapa langkah ke belakang sambil menjerit hebat.

Diam-diam Pendekar Bayangan kagum akan lawan- nya itu. Topeng Reges kedua itu ternyata masih mam- pu berdiri meskipun dari balik topeng di wajahnya tadi menetes-netes darah merah segar!

Di saat itu juga Ki Topeng Reges yang tengah ber- tempur melawan Mahesa Wulung di atas genting pen- dapa balai desa menjadi terkejut melihat Topeng Reges kedua kena cedera oleh pukulan tongkat Pendekar Ba- yangan.

“Wah, celaka muridku si Jaramala itu,” gumam Ki Topeng Reges setengah menggeram marah.

Maka secara tiba-tiba ia menyampok pedang Mahe- sa Wulung dengan pusaka belatinya, Kiai Brahmasak- ti.

Crang!

Kedua senjata mereka tergetar dan pedang Mahesa Wulung jatuh berdentang di atas genting. “Ha, ha, ha, ha. Nah, sekarang kau tak bersenjata lagi, Mahesa rembes. Kini terimalah ajalmu dengan Ne- tra Dahana ini!”

Habis berkata begitu Ki Topeng Reges mementang kedua tangannya ke depan, siap melancarkan sera- ngan Netra Dahana.

Mahesa Wulung sadar bahwa sebentar lagi pasti ke- dua mata Ki Topeng Reges akan memancarkan sinar panas dan lidah api yang sanggup menghanguskan di- rinya.

Dan benarlah apa yang diperkirakan oleh Mahesa Wulung ini. Bersamaan teriakan Ki Topeng Reges, me- mancarlah sinar panas serta lidah api ke arahnya ber- gerak dengan kecepatan yang hampir sukar ditangkap oleh mata.

Dan memang inilah yang diharapkan oleh Mahesa Wulung! Tangan kanan Mahesa Wulung bergerak cepat meraba sebuah benda dari balik bajunya, dan lang- sung dihadapkan pada pancaran sinar panas serta li- dah api tadi.

“Hah! Oh, kaca Sirna Praba!” desis Ki Topeng Reges terperanjat!

Tapi terlambat sudah. Kejahatan memang ada ak- hirnya! Sinar panas dan lidah api dari pancaran mata Ki Topeng Reges, seketika membentur permukaan kaca Sirna Praba tadi dan kemudian terpantul kembali ke arah Ki Topeng Reges sendiri!

“Eeeeaaaakh!” Teriakan panjang terlontar dari balik topengnya, dan Ki Topeng Reges terbakar tubuhnya oleh ilmunya sendiri!

Sungguh pemandangan yang mengerikan. Ilmu Ne- tra Dahana itu telah membakar tubuh tuannya sendiri, dan Ki Topeng Reges terhuyung-huyung sempoyongan dengan menjerit-jerit di atas genting dan sesaat kemu- dian jatuhlah ia terpelanting ke bawah!

Walaupun tubuhnya telah terhempas ke atas tanah, api yang melibat dirinya masih saja menyala. Akhirnya dengan tubuh hangus dan berkelojotan bagai belut di- bakar, matilah Ki Topeng Reges yang telah sekian lama namanya menggegerkan dunia persilatan.

Mahesa Wulung yang juga telah tiba di tanah segera mendekati tubuh Ki Topeng Reges yang tergeletak tak bernyawa itu.

Monyong Iblis terkejut melihat Ki Topeng Reges ma- ti, lebih-lebih ketika Mahesa Wulung berhasil membu- ka kedok Ki Topeng Reges sambil berseru, “Ki Topeng Reges telah mati!”

Monyong Iblis tak melihat pengharapan lagi. Maka secepat kilat ia melepaskan dari serangan-serangan Ki Rebab Pandan serta menyambar tubuh Topeng Reges kedua alias si Jaramala yang masih saja berdiri ter- mangu menyaksikan gurunya mati terbakar oleh il- munya sendiri! Maka dalam saat yang sekejap terlihat- lah Monyong Iblis memanggul tubuh Jaramala, mele- sat ke arah utara dan lenyap di balik pepohonan yang gelap.

Ki Rebab Pandan segera dapat mengenali wajah Umpakan yang kini tak bertopeng lagi.

“Yah, memang benarlah kalau dia Umpakan!” ujar Ki Rebab Pandan.

Pendekar Bayangan juga mendekat seraya meng- genggam kedua pisau belati pusaka Kiai Brahmasakti milik Ki Topeng Reges.

“Angger Mahesa Wulung, terimalah kedua pusaka ini. Dan serahkanlah kepada gedung pusaka di Demak agar tersimpan dengan aman!” Pendekar Bayangan se- gera menyerahkan kedua belati pusaka itu kepada Ma- hesa Wulung dan diterimalah oleh pendekar muda ini disertai satu anggukan kepala. “Terima kasih, Guru.”

Sementara itu beberapa orang anak buah Ki Topeng Reges cepat-cepat melarikan diri dan selebihnya telah binasa ataupun terluka bergeletakan di bekas medan pertempuran.

Orang-orang desa segera keluar dari rumah berbon- dongan mendekati pintu utara desa. Sementara para pasukan penjaga desa dan wanita-wanita sibuk meng- obati orang-orang yang terluka.

Sedang Ki Lurah Mijen dan Kertipana mendapatkan ketiga pendekar pembela desanya itu dengan perasaan yang terharu bercampur gembira. Terharu karena keti- ga pendekar itu telah dengan tulus ikhlas membela mereka.

Tidak hanya Ki Lurah dan Kertipana saja, bahkan segenap penduduk desa berterima kasih kepada Mahe- sa Wulung, Pendekar Bayangan, dan Ki Rebab Pandan. “Ooh, kami sangat berhutang budi pada Andika ber- tiga. Kami tak mengira bila Ki Topeng Reges yang sakti itu dapat kita binasakan juga. Ah, betapa kami bisa membalas jasa-jasa Andika bertiga yang begitu besar,”

Ki Lurah berkata disertai nada haru.

“Terima kasih pula kami ucapkan Ki Lurah,” sam- bung Pendekar Bayangan. “Semua itu tercapai berkat bimbingan Tuhan Yang Maha Besar. Manusia hanya- lah sebagai pelaku saja. Seperti kematian Ki Topeng Reges serta keruntuhan Netra Dahana itu, tentulah sudah digariskan oleh-Nya dan kami bertiga sebagai perantara.”

Kata-kata Pendekar Bayangan tadi benar-benar menyentuh dasar hati Ki Lurah dan orang-orang lain- nya. Mereka tambah kagum terhadap kerendahan hati ketiga pendekar pembela desanya. Memang, seorang yang berjiwa ksatria akan selalu mengecilkan arti dari perbuatannya, meskipun perbuatan tadi sangatlah be- sar jasa dan manfaatnya bagi segenap kepentingan be- brayan umum, bagi kepentingan semua hidup.

“Apakah rencana Andika bertiga setelah Ki Topeng Reges berhasil kita binasakan?” kembali Ki Lurah Mi- jen bertanya.

“Ya, kami selanjutnya akan pergi ke Demak untuk melaporkan kematian Ki Topeng Reges itu,” ujar Mahe- sa Wulung. “Dan tugas-tugas berikutnya pastilah telah menunggu kita untuk penyelesaiannya.”

“Tapi kami tak ingin Anda bertiga terlalu cepat un- tuk meninggalkan desa ini. Tinggallah barang dua tiga hari lagi, sebab nanti malam kami bermaksud meng- adakan syukuran atas kemenangan kita terhadap ge- rombolan Ki Topeng Reges. Dan untuk Andika bertiga akan kami suguh dengan permainan gamelan dan lagu uyon-uyon oleh para sanak pedesaan sendiri.”

Begitulah Ki Lurah meminta agar ketiga pendekar itu tidak lekas-lekas meninggalkan desanya. Dan seba- gai orang-orang yang berbudi tinggi dan bijaksana, ke- tiga pendekar itupun tidak sampai hati menolak per- mintaan Ki Lurah itu.

“Eh, kalau dengan usul Ki Lurah tadi, pasti yang paling gembira adalah Kisanak Rebab Pandan. Sebab dengan sendirinya ia berkesempatan mempertunjuk- kan permainan serta gesekan rebabnya,” sambung Pendekar Bayangan lagi. “Setuju bukan, Ki Rebab Pandan?”

“Heh, heh, heh, heh. Setuju, Kisanak. Memang telah beberapa lama aku tak berkesempatan menikmati sua- ra gamelan,” kata Ki Rebab Pandan dengan senyuman yang cerah, secerah wajah-wajah mereka yang telah berhasil dalam perjuangannya menumpas gerombolan Ki Topeng Reges.

Sampai disini berakhirlah ceritera “Keruntuhan Ne- tra Dahana”. Dan seri NAGA GENI berikutnya yaitu “Misteri Kapal Hantu”. Akan Anda temui lagi si Mo- nyong Iblis dan Ki Rikma Rembyak yang telah sekian lama tak terdengar beritanya.

Tamat