Serial Naga Geni Eps 07 : Bara Api di Laut Kidul

 
Eps 07 : Bara Api di Laut Kidul


WAJAH PERAK sang rembulan masih menyinarkan cahayanya ke arah permukaan bumi. Pantulan sinarnya pada permukaan daun yang basah oleh embun malam, berkilat-kilat gemerlapan laksana permata-permata yang bertaburan.

Sementara itu, di dalam rumah yang terletak di ujung Desa Mijen, tampaklah tiga orang duduk di balai-balai dalam suasana penuh keakraban.

Ki Rebab Pandan tak habis-habis kekagumannya menatap wajah Pendekar Bayangan yang kini telah menanggalkan topengnya. Wajah itu yang lebih tua daripada dirinya, masih juga menampakkan kesegarannya dan cerah. Sepasang kumis dan jenggot keputihan menghias wajahnya. Demikian pula mata Pendekar Bayangan yang tampaknya sudah tua itu, masih pula bersinar bening dan tajam.

“Nah, Ki Rebab Pandan. Sekarang, silakan Andika berceritera tentang Panembahan Jatiwana dan Ki Topeng Reges itu. Kami ingin sekali mendengarnya, lebih-lebih dengan kisah Landean Tunggal yang sangat mengharukan itu,” ujar Mahesa Wulung dengan penuh hormat. 

“Ya. Berceriteralah, Kisanak. Saya rasa, aku pun pernah mendengar nama Panembahan Jatiwana beberapa puluh tahun yang lalu,” sambung Pendekar Bayangan pula.

“Oh, ya, ya. Baiklah. Aku mulai saja dengan ceri- teraku. Kita mulai pada waktu yang telah silam, kira- kira duapuluh tahun yang lalu. Di waktu itu, saya masih mengabdi pada Panembahan Jatiwana sebagai seorang cantrik, seorang cantrik yang masih sangat muda sekali yang kadang-kadang menangis bila bertengkar dengan kawannya,” Ki Rebab Pandan berhenti sejenak sambil menyeruput wedang jahenya.

“Hmm, ceritera Andika mulai menarik,” gumam Pendekar Bayangan seraya menelan ubi rebus yang telah dikunyahnya. “Teruskanlah. Kami akan mende- ngarnya sampai selesai.”

“Baiklah, dan lebih menarik lagi bila aku me- ngatakan pada Andika berdua, bahwa aku sebenarnya adalah putera Panembahan Jatiwana sendiri!” ujar Ki Rebab Pandan.

“Ha, Andika putera Panembahan Jatiwana?!” seru Pendekar Bayangan dan Mahesa Wulung berbareng saking kaget dan herannya.

“Begitulah. Sedang Landean Tunggal yang waktu itu berusia jauh lebih tua dari aku, menjadi murid kesayangan Bapak Panembahan Jatiwana. Ia seorang yang baik, dan terhadap diriku ia sungguh menaruh rasa sayang dan kasih. Bagiku ia merupakan seorang kakak yang sejati.”

Suasana Padepokan Gunung Merapi ini sangat tenteram dan damai. Perguruan Panembahan Jatiwana berlangsung dengan baik serta cukup terkenal dimana- mana, di segenap pesisir utara dan selatan Jawa. Tetapi suasana tenteram dan damai tadi akan segera berubah, bila pada suatu sore yang cerah kami berdua dengan Kakang Landean Tunggal mengantar Panembahan Jatiwana berjalan-jalan menuruni lereng gunung sebelah selatan.

“Angger Landean Tunggal dan kau, Rebab Pandan. Apakah kalian telah memahami loncatan-loncatan Srigunting yang telah aku ajarkan kemarin?” berkata Panembahan Jatiwana sambil menghentikan langkahnya. “Sudah, Guru. Kami berdua telah mempelajarinya, tetapi mungkin masih kurang sempurna,” jawab Landean Tunggal.

“Tak apalah, Angger. Justru kalian berdua kuajak kemari ini, selain untuk berjalan-jalan menghirup udara sore sesegar ini, juga aku ingin melihat sampai di manakah kalian telah memahami loncatan-loncatan Srigunting itu,” berkata Panembahan Jatiwana seraya menatap kedua muridnya, membuat kedua orang itu tertunduk segan. “Memanglah, suatu permulaan pasti kurang sempurna. Tetapi dengan latihan-latihan dan ketekunan pastilah hal itu bisa dicapai Angger.”

“Terima kasih, Guru,” sela Landean Tunggal. “Apakah guru bermaksud ”

“Memang aku ingin melihatnya, Landean,” sahut Panembahan Jatiwana segera. “Supaya aku dapat mengetahui kekurangan-kekurangannya.”

“Baik, Guru,” kata Landean Tunggal dengan me- nganggukkan kepalanya kemudian melangkah surut ke belakang dua langkah. Setelah memusatkan tenaganya, dengan segera ia menjejak tanah dan melesatlah tubuhnya ke udara bagaikan gerak burung srigunting dengan tiga putaran di atas untuk sejurus kemudian ia mendarat kembali ke tanah dengan tegak. Melihat kelincahan Landean Tunggal, orang tua ini tersenyum lega. “Hmmm, ya, ya. Itu cukup baik, Angger. Nah, kini aku pun ingin melihat loncatanmu,

Rebab Pandan.”

“Siap, Guru,” Rebab Pandan menghormat kemudian ia pun meloncat ke udara dengan tiga kali putaran tubuhnya seperti bola, persis yang dikerjakan Landean Tunggal. Tetapi ketika mendarat iapun menunjukkan gaya tersendiri. Ia telah mendarat di tanah dengan berjongkok. Karuan saja Landean Tunggal serta Panembahan Jatiwana terperanjat kagum!

“Hebat kau, Adi Rebab Pandan,” seru Landean Tunggal memuji.

“Bagus, bagus. Kalian berdua ternyata murid yang cerdas. Loncatan-loncatan tadi cukup sempurna. Dan akan lebih sempurna jika Angger berdua bisa lebih lama berloncatan dan bersilat di udara.” Panembahan Jatiwana berhenti berkata, demi dilihatnya kedua muridnya itu terlongoh-longoh mendengar tutur katanya.

“Bersilat di udara?” seru mereka kaget.

“Ya, bersilat di udara, sehingga akan sesuai dengan namanya. Loncatan srigunting! Apakah Angger pernah melihat burung srigunting yang terbang berjumpalitan di udara kesana kemari?”

“Pernah, Guru,” ujar Landean Tunggal. “Tetapi itu berarti kita harus mengerahkan segenap ilmu meri- ngankan tubuh.”

“Tak salah lagi, Angger!” sahut Panembahan Jatiwana membenarkan. “Bila kalian telah mampu melakukannya, maka tak mustahil Angger akan dapat meloncat dan berputaran serta bersilat di udara dalam waktu yang cukup lama.” Orang tua ini berhenti sejenak seraya menatapi kedua muridnya, kemudian ia melanjutkan kata-katanya, “Nah, baiklah. Untuk jelasnya aku akan memberi contoh kepada Angger berdua.”

Mendengar ujar gurunya, Landean Tunggal serta Rebab Pandan berdebar-debar hatinya, sebab mereka belum pernah melihat orang tua ini mempertunjukkan loncatan srigunting dalam bentuk tata kelahi dan silat.

“Hyaaat!”

Tiba-tiba lamunan mereka dikejutkan oleh sebuah teriakan nyaring dan mata mereka menangkap baya- ngan tubuh gurunya melesat ke atas udara tinggi- tinggi dan berjumpalitan kesana kemari serta memutar tongkat kayunya seperti pusaran angin berderu-deru menakjubkan. Gerakan ini dilakukan dengan cepat serta lincah, selincah gerak burung srigunting. Sesudah bersilat di udara sesaat tadi, Panembahan Jatiwana lalu melayang ke bawah dan mendarat kembali di atas tanah.

Ketika mendarat itu, Panembahan Jatiwana masih melihat kedua orang muridnya tersebut terdiam membisu.

“Kalian tak perlu heran, Angger. Jika kalian terus senantiasa berlatih dengan gigih, pastilah kelak Angger akan dapat melakukannya pula.”

“Terima kasih, Guru.”

“Dan sekarang,” kata Panembahan Jatiwana kepada kedua orang muridnya, “marilah kita berlatih loncatan srigunting dalam pengetrapan tata silat. Kalian boleh menyerangku berbareng!”

Berbareng dengan kata-katanya itu, ia melihat betapa kedua muridnya segera memasang kuda-kuda siaga. Landean Tunggal bergeser surut ke belakang, sementara Rebab Pandan melingkar ke kanan dua langkah. Kedua pasang mata mereka menatap tajam ke arah dirinya. 

“Heh, heh, heh, bagus! Bagus! Kalau sudah begitu baiknya kita mulai saja latihan ini. Ayo, seranglah saja,” ujar Panembahan Jatiwana kegirangan serta bersiaga sepenuhnya.

Tiba-tiba sebuah angin berdesir dingin, dan ter- nyata secara cepat dan diam-diam Landean Tunggal telah melancarkan serangan pukulan ke arah orang tua ini.

Sementara itupun Rebab Pandan dengan sigapnya mengirimkan sebuah tendangan kaki ke arah lambung gurunya. Biarpun dalam hati kedua murid Panembahan Jatiwana itu segan melakukan serangan- serangan ini namun merekapun yakin bahwa gurunya jauh berada di atas tingkatan ilmu mereka, sehingga dengan demikian keduanya tidak usah kuatir kalau- kalau Panembahan Jatiwana itu terluka karenanya.

Dugaan mereka ternyata benar. Sebelum serangan mereka sempat menyentuh kulit tubuh orang tua ini, mendadak saja Panembahan Jatiwana telah melesat ke udara. Serangan-serangan mereka hanya mendapatkan udara kosong belaka.

Dasar Landean Tunggal termasuk murid gemble- ngan orang tua ini, maka begitu serangannya gagal ia tidak lantas berputus asa. Iapun cepat mengetrapkan ilmu loncatan srigunting dan sambil melesat ke udara, kedua tangannya telah melancarkan pukulan beruntun. 

Tetapi orang tua ini sekali lagi membuat putaran di udara dan loloslah ia dari gempuran Landean Tunggal, membuat muridnya ini terpekik kagum. Kini Panembahan Jatiwana ganti melayang turun dan menyerang Landean Tunggal dengan tepukan telapak tangan. Serangan ini begitu tiba-tiba dan hanya menggunakan sedikit tenaga, namun akibatnya sangat menakjubkan. Lengan Landean Tunggal yang terkena gempuran telapak tangan tadi tergetar dan kesemutan, sehingga ia terpaksa lekas-lekas mendarat ke tanah.

Belum habis Panembahan Jatiwana mengawasi Landean Tunggal mendarat ke tanah, tiba-tiba dari arah samping meluncur satu serangan pula dengan hebatnya. Maka cepat-cepat orang tua ini melengos ke samping. Dan alangkah kagetnya, bila penyerang ini tidak lain si Rebab Pandan. “Hyaat!” Plaak!

Tahu-tahu tangan Rebab Pandan tergempur oleh telapak tangan Panembahan Jatiwana, sampai pemuda ini tergetar surut ke belakang. Tapi baiknya ia cepat- cepat berputar di udara hingga getaran tadi punah karenanya. Sejurus kemudian iapun turun ke tanah kembali.

Begitu pula orang tua itu. Iapun turun ke tanah, biarpun hanya sebentar. Sebab setelah itu iapun melesat kembali ke udara dengan sigap dan lincah.

Dalam waktu yang sama, Landean Tunggal telah mengejarnya dengan loncatan Srigunting ke arah gurunya, dan bertempurlah mereka kembali ganti- berganti. Maka tak ubahnya gerakan burung srigunting, ketiganya berloncatan ke udara serta bertempur dan sesaat mendarat kembali ke tanah untuk kemudian berlenting lagi ke udara.

Kalau mula-mula keduanya segan bertempur melawan gurunya, kini tanpa terasa mereka telah mengerahkan segenap ilmunya dalam menghadapi orang tua ini.

Mereka bertempur dengan seru sampai puluhan jurus dihabiskan. Tetapi tiba-tiba saja di tengah pertempuran yang seru ini, Panembahan Jatiwana telah berseru, “Tahan! Kita sudahi latihan ini!”

Tentu saja kedua muridnya itu terlongoh keheranan melihat gurunya menutup latihan tersebut secara tiba- tiba. Mereka menduga keras pastilah ada sesuatu kejadian yang penting, sampai orang tua ini berbuat begitu.

“Angger berdua, dengarlah dengan baik-baik. Angin dari arah selatan ini telah membawa getaran-getaran aneh. Getaran dari pertarungan yang seru!” Mendengar ujar gurunya ini, Landean Tunggal serta Rebab Pandan terpaksa memusatkan pendengarannya dan setelah beberapa lama berusaha, dapatlah mereka mendengar getaran-getaran dari arah selatan.

“Benar, Guru! Rupanya telah terjadi pertarungan di sebelah selatan sana!” seru Rebab Pandan.

“Nah, marilah kita pergi ke sana. Kita akan lihat apakah yang telah bertarung disana,” kata Panembahan Jatiwana sekaligus memberi isyarat kepada kedua muridnya itu.

Sebentar saja ketiga orang itu telah berloncatan ke arah lereng Gunung Merapi sebelah selatan dengan cepatnya.

Ketiga orang itu masing-masing bertanya di dalam hati, apakah gerangan yang tengah terjadi di lereng selatan sana? Pertarungan manusia ataukah pertaru- ngan antara binatang buas? Getaran-getaran tadi makin terdengar jelas apabila mereka semakin jauh menuju ke lereng selatan.

Di antara keremangan cahaya senja, di antara semak-semak ilalang di dataran kecil, terlihatlah tiga bayangan bergerak-gerak dengan cepatnya, saling melibat.

Panembahan Jatiwana dengan kedua muridnya itu segera bergerak lebih dekat ke arah ketiga bayangan itu, dan kini tampaklah dengan jelas apa yang tengah terjadi di hadapan mereka.

Seorang pemuda dengan mati-matian bertahan terhadap serangan dua ekor harimau tutul! Tampaknya ia seorang pemberani, sebab ia hanya menggunakan sebuah ranting kayu dalam menghadapi kedua binatang buas itu. Pada tubuhnya tampaklah goresan-goresan dan luka-luka berdarah.

Rupa-rupanya kedua ekor harimau tutul itu sudah sangat kelaparan, sehingga gerakan mereka tampak semakin ganas. Loncatan-loncatan, terkaman serta raungan yang menyeramkan terdengar memenuhi tempat itu. Mereka merangsang pemuda itu dengan ganas. Bau darah manusia yang menetes-netes dari luka-luka itu sangat merangsang nafsu laparnya.

Sementara itu sang pemuda calon korbannya telah banyak menderita luka-luka. Gerakannya menjadi semakin lamban, apalagi darahnya telah banyak yang keluar dari luka-luka tubuhnya. Ditambah dengan rasa lelah yang kelewat sangat, maka si pemuda itu sudah berputus asa kiranya. Ia tak mampu lagi menangkis cakaran-cakaran kuku-kuku tajam dari kedua harimau tutul itu, hingga bertambahlah luka- luka baru yang menghiasi kulitnya.

Dalam detik-detik yang kritis ketika pemuda itu roboh ke tanah dan kedua harimau itu siap menerkamnya, sekonyong-konyong dua buah batu sebesar telur ayam telah melesat menerjang tubuh kedua ekor harimau itu hingga keduanya jatuh bergulingan ke tanah dengan raungan kesakitan.

Tentu saja kedua binatang tadi menjadi marah, bila serangannya telah terganggu akibat lemparan batu- batu tersebut. Mereka cepat bangkit dan mengendap. Mulutnya tampak menyeringai lebar, hingga gigi-gigi dan taringnya yang runcing kelihatan sangat seram.

Keduanya menatap tajam ke arah utara dan tampaklah seorang tua bertongkat kayu, berdiri de- ngan kokoh laksana tonggak baja yang tak tergoyahkan badai ataupun gempa. Sedang agak jauh di belakang orang tua itu, berdiri pula dua orang muda yang tidak lain adalah Landean Tunggal beserta Rebab Pandan.

Kedua macan   tutul   tersebut   tidak   lekas-lekas memulai serangannya, seolah-olah mereka tengah mengukur tenaga lawannya. Agaknya mereka keheranan dengan kekuatan orang tua itu yang telah berhasil merobohkannya dengan lemparan batu!

Tetapi sesaat kemudian, mereka mulai menggeram dan bersiaga. Panembahan Jatiwana tidak merasa gentar karenanya, selain memutar tongkat kayunya sampai berdesing menerbitkan angin.

Tiba-tiba seekor di antaranya menerkam ganas ke arah Panembahan Jatiwana, namun orang tua ini keburu meloncat ke udara sementara tongkatnya tetap berputar hebat! Kejadian berikutnya sangat cepat dan sukar ditangkap mata. Tubuh macan tutul yang menerkam tadi tahu-tahu menggeliat serta menggerung keras akibat tongkat kayu Sang Panembahan menggempur batok kepalanya, dan sejurus kemudian macan tutul itu rebah ke tanah de- ngan kepala yang pecah!

Dalam waktu yang sama, ketika Panembahan Jatiwana masih mengambang di udara, macan tutul yang kedua segera meloncat tinggi-tinggi dengan kuku jari-jarinya yang mengembang penuh, siap merobek tubuh orang tua ini. Akan tetapi sekali lagi Panembahan Jatiwana berputar di udara dan kembali tongkat kayunya beraksi.

Prak!

Raungan hebat memecah kesunyian senja, apabila tongkat itu membentur tulang punggung harimau ini. Gemertak tulang patah serta disusul oleh tubuh si tutul terhempas ke tanah telah mengejutkan Landean Tunggal serta Rebab Pandan. Tak nyana, bahwa gurunya yang sudah setua itu masih mampu merobohkan dua ekor macan tutul dalam beberapa gebrakan saja. Mereka sesaat masih menatapi bangkai kedua ekor macan tutul yang kini tergeletak di tanah bermandi darah!

Landean Tunggal serta Rebab Pandan buru-buru berlari mendekati gurunya.

“Oooh, Guru tak apa-apa?” sapa Landean Tunggal penuh kecemasan.

“Maaf, kami berdua tak sempat membantu,” ujar Rebab Pandan agak menyesal, sebab sebenarnya mere- ka tak sampai hati membiarkan orang tua ini bersusah payah berjumpalitan menghadapi kedua macan tutul itu.

“Tak apa, Angger. Aku masih tetap baik-baik saja. Marilah kita cepat-cepat menolong orang itu! Kita harus menyelamatkan jiwanya!”

“Baik, Guru,” ujar mereka berbareng.

Ketiganya segera bergegas mendekati si pemuda tadi, yang tergeletak dengan tubuhnya penuh luka- luka berdarah.

“Ah, kasihan dia. Mudah-mudahan jiwanya dapat tertolong,” berkata orang tua itu seraya berjongkok di samping tubuh si pemuda berkumis lebat yang terkapar di tanah tak berdaya.

“Ooh, Bapak telah menolong jiwaku,” desis si pemuda sambil menyeringai kesakitan. “Terima kasih.” “Tenanglah, Angger,” Panembahan Jatiwana berkata

lirih. “Biarlah bapak membalut luka-lukamu.”

Selesai berkata Sang Panembahan segera me- ngambil selembar kain putih selebar ikat kepala serta dirobeknya menjadi beberapa bagian. Kemudian ia memetik daun-daun pohon-pohon kemeladingan serta diremas-remasnya hingga lumat, untuk kemudian dibubuhkan pada luka-luka itu.

“Nah, untuk sementara ini cukup untuk menghentikan darahmu yang mengalir dari luka-luka,” kata Sang Panembahan sambil membalut luka-luka si pemuda.

Sementara itu, Rebab Pandan yang memandang wajah si pemuda berkumis lebat hatinya seketika berdebar-debar. Entah apa sebabnya, ia tidak mengetahui. Hatinya merasa curiga terhadap pemuda ini, maka iapun menyela berbicara, “Maaf, Kisanak. Siapakah Kisanak dan mengapa berada di tempat ini?”

“Eh, saya bernama Umpakan dan saya... eh saya... hanya berjalan jalan saja ke tempat ini. Kemudian kedua macan tutul tadi menyerangku,” jawab si pemuda berkumis lebat tadi tergagap-gagap, menambah kecurigaan Rebab Pandan.

“Angger Rebab Pandan! Simpanlah pertanyaan- pertanyaanmu untuk waktu yang akan datang, bila Kisanak ini telah sembuh dari luka-lukanya,” sambung Panembahan Jatiwana.

Mendengar tutur kata gurunya itu, Rebab Pandan tertunduk malu. Kata-kata tadi seolah-olah sebagai sindiran yang menunjukkan ketidak-sabaran serta kecurigaan yang berlebihan.

“Marilah kita papah Kisanak ini ke padepokan kita,” ajak Panembahan Jatiwana kepada kedua muridnya.

Maka tak lama kemudian ketiganya beranjak. Rebab Pandan serta Landean Tunggal memapah tubuh Umpakan yang masih kelihatan payah, sedang Panembahan Jatiwana berjalan di sebelah muka. Me- reka mendaki jalan yang semula menuju ke arah utara, kembali ke Padepokan Gunung Merapi.

Saputan warna-warna merah lembayung tinggal sepotong-sepotong di cakrawala barat, pertanda bahwa malam segera menjelang. Beberapa ekor kelelawar mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makan, dengan mencicit serta mengepak-ngepakkan sayapnya mengarungi udara malam.

Langkah-langkah mereka makin lambat sebab jalan mulai mendaki berbelok-belok dan mereka harus berhati-hati, sebab kini tubuh Umpakan merupakan beban yang cukup berat.

Ketika keempat orang itu tiba di pintu gerbang Padepokan Gunung Merapi yang ditumbuhi oleh sebuah pohon jati tua, maka tergopoh-gopohlah para cantrik menyongsong mereka. Kedatangan rombongan itu, yang disertai oleh seorang dalam keadaan luka- luka serta dipapah oleh Landean Tunggal dan Rebab Pandan, menyebabkan mereka saling bertanya-tanya di dalam hati mereka sendiri, apakah yang telah terjadi, dan siapakah tamu yang dipapah dalam keadaan luka-luka tersebut?

Mereka segera masuk ke dalam rumah dan diba- ringkannya tubuh Umpakan di atas sebuah balai-balai. Panembahan Jatiwana buru-buru mencuci kedua belah tangannya bersih-bersih, lalu ia menuangkan sebuah lodong tembikar yang berisi cairan obat ke dalam cawan dari tempurung kelapa serta kemudian dengan hati-hati diminumkannya ke mulut Umpakan.

Suasana sesaat menjadi hening. Perhatian masing- masing tertuju kepada Umpakan. Rebab Pandan yang sejak tadi telah berusaha mengatasi rasa curiganya terhadap Umpakan ini, namun tak mudah kiranya. Relung hatinya seolah-olah berbisik, bahwa Umpakan adalah orang yang tidak baik kelakuannya!

Beberapa waktu kemudian, tampaklah Umpakan telah tertidur lelap. Nafasnya tampak teratur sedang kulit tubuhnya kini tidak sepucat tadi melainkan kemerahan seperti sedia kala.

Melihat ini, Panembahan Jatiwana segera memberi isyarat kepada Landean Tunggal serta Rebab Pandan dan juga para cantrik, untuk meninggalkan ruangan itu.

“Yah, Angger berdua serta para cantrik. Kini biarlah Kisanak ini beristirahat sepenuhnya. Marilah kita pun beristirahat, agar besok kita bisa bangun lebih pagi. Banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan.”

“Baik, Bapak Guru,” ujar Landean Tunggal dan setelah bersama-sama Rebab Pandan serta para cantrik mengangguk hormat, mereka kemudian me- ninggalkan ruangan itu. Begitu pula, Sang Panembahan tua ini bergegas ke arah kamarnya.

Akhirnya sepilah ruangan itu, juga sepi pula Padepokan Gunung Merapi yang telah diselimuti oleh kabut malam. Alam seolah tertidur semuanya, kecuali suara binatang-binatang malam yang bersahutan.

Namun di sebelah ruangan kamar di dalam rumah padepokan itu, Landean Tunggal serta Rebab Pandan tidak segera dapat tidur sebab mereka masih disibuki oleh pikiran-pikiran tentang diri Umpakan yang baru saja mereka tolong itu.

“Ssst, Adi Rebab Pandan. Mengapa kau belum tidur juga?” bisik Landean Tunggal kepada adik seperguruannya yang berbaring di sampingnya.

“Maaf, Kakang. Aku merasa curiga terhadap Umpakan,” jawab Rebab Pandan.

Landean Tunggal agak terkejut mendengar kata- kata Rebab Pandan, tapi kemudian iapun maklum bahwa adik seperguruannya itu mempunyai perasaan yang tajam.

“Apa sebabnya kau curigai dia, Adi?” tanya Landean Tunggal kemudian.

“Kakang masih ingat ketika aku bertanya kepadanya, mengapa ia sampai berada di tempat ini? Ternyata Umpakan tadi telah menjawabnya dengan tergagap-gagap.”

“Ah, mungkin itu disebabkan luka-luka ataupun kelelahannya, Adik Rebab Pandan,” sela Landean Tunggal.

“Bisa jadi, Kakang. Tetapi bagiku hal itu lebih berkesan sebagai suatu kebohongan,” bisik Rebab Pandan. “Aku yakin ia telah menyembunyikan sesuatu.”

“Hmm, kalau itu benar, kita harus berhati-hati mulai sekarang, Adik,” ujar Landean Tunggal. “Terutama kita harus menjaga keselamatan Bapak Guru.”

“Betul Kakang. Aaaah...,” Rebab Pandan berkata di- susul dengan menguap, “aku telah mengantuk, Kakang.”

“Kalau begitu, marilah kita tidur, Adik,” potong Landean Tunggal.

Keduanya lalu memejamkan mata serta menenangkan pikiran dan beberapa waktu kemudian merekapun mulai tertidur dengan pulasnya. Agaknya mereka telah kelelahan sehabis berlatih sore hari tadi bersama gurunya.

***

2

KEHADIRAN UMPAKAN pada Padepokan Gunung Merapi ini semula tidak membawa perubahan apa-apa. Bahkan yang terlihat adalah kerajinan Umpakan dalam berguru dan menuntut ilmu ajaran Panembahan Jatiwana. Ilmu jaya kawijayan, kesantrian serta keluhuran budi, semua dipelajarinya, tetapi pada bagian yang ketiga tersebut nampaknya cukup sulit untuk diterimanya. Bahkan tidak jarang terjadi perdebatan dengan Panembahan Jatiwana tentang ilmu keluhuran budi tersebut.

Hal ini tentu saja mengherankan panembahan tua itu, sebab tidak demikian halnya dengan Landean Tunggal serta Rebab Pandan. Keduanya dengan mudah memahami ilmu keluhuran budi tadi.

Sebenarnya ilmu itu hampir setiap orang bisa menerimanya, sebab sangat mudah dipahami. Seperti bagaimana keharusan menghormati serta menaati segala perintah Tuhan Yang Maha Besar, menghormati raja, menghormati guru, orang tua, saudara tua serta sahabat dan juga terhadap sesama makhluk di marcapada ini. Dengan demikian maka tidak mustahil ilmu keluhuran budi ini akan menciptakan ketentraman dan kedamaian hidup bebrayan di dunia.

Tetapi bagi orang yang jiwanya sudah terlalu kotor sering berbuat kejahatan pastilah sukar menerimanya. Sebab jiwanya seolah-olah sudah tertutup untuk ilmu keluhuran budi ini. Sedang sebaliknya untuk hal-hal yang busuk, mereka akan lebih meresapkannya.

Namun rupanya Panembahan Jatiwana tidak terlalu berprasangka buruk terhadap diri Umpakan. Ia hanya menganggap bahwa hati Umpakan terlalu tumpul untuk memahami keluhuran budi, seperti halnya anak kecil yang terlalu sulit untuk memahami bahwa gerhana matahari bukanlah karena sang matahari ditelan oleh Buto Ijo, tetapi karena matahari tertutup oleh bayangan rembulan.

Oleh karenanya, Sang Panembahan berusaha sungguh-sungguh untuk menolong Umpakan. Ia tidak ingin dikatakan terlalu berat sebelah dalam membimbing murid-muridnya. Demikianlah, waktu beredar dengan cepat dan selama ini hampir tak terasa. Sudah tiga tahun lebih Umpakan tinggal bersama mereka di padepokan lereng Gunung Merapi.

Akhirnya, Sang Panembahan Jatiwana sebagai seorang yang telah arif bijaksana dapatlah sedikit- sedikit memahami kecurigaan Rebab Pandan waktu mula-mula bertemu dengan Umpakan. Kini pun orang tua ini bertanya-tanya dalam hati, benarkah Umpakan orang yang baik-baik? Dan pertanyaan ini akhirnya lebih keras merunyam dada apabila pada suatu pagi, orang tua ini mengajak ketiga muridnya untuk me- ngadakan latihan silat dan tata kelahi.

Dalam latihan ini, masing-masing berusaha menunjukkan kecakapannya yang selama ini telah dipelajari dan ditekuninya.

Suatu ketika, tibalah giliran pertandingan antara Landean Tunggal menghadapi Umpakan.

Sesudah keduanya membungkuk hormat kepada Panembahan Jatiwana, mereka segera bersiaga dan tiba-tiba saja latihan itupun dibuka dengan satu se- rangan mengagetkan dari Umpakan yang dilancarkan sangat cepat ke arah Landean Tunggal. Panembahan Jatiwana menjadi terkejut karenanya demikian pula Rebab Pandan.

Untunglah Landean Tunggal bukan anak kemarin sore. Dengan tangkasnya ia mengelak dari serangan itu, malahan dengan lincah iapun bergerak membalas menyerang ke arah Umpakan disertai tebasan sisi telapak tangan.

Mendapat serangan ini, Umpakan segera melontarkan diri ke udara berjumpalitan dengan ilmu loncatan Srigunting. Tubuhnya seakan-akan terbang. Namun Landean Tunggal tidak tinggal diam karenanya. Iapun secepat kilat melesat ke atas mengejar Umpakan. Maka keduanyapun makin terlibat dalam pertempuran sengit.

Panembahan Jatiwana melihat bahwa Umpakan makin beringas dalam geraknya. Apa yang dilihatnya kemudian, jelas bahwa Umpakan betul-betul bertempur dengan segala nafsu dan ilmunya! Tandangnya segarang serigala lapar. Menerjang, menerkam, menyambar seolah-olah ia kerasukan setan.

Meskipun begitu, Landean Tunggal tidak lekas menjadi gugup. Iapun menjadi semakin cepat geraknya. Kemampuan Umpakan menyerang ia selalu dapat melihatnya dan segera membalasnya dengan hebat!

Rebab Pandan yang mengetahui gerakan Umpakan, seketika berdebar-debar hatinya. Gerakan tadi ter- nyata telah merupakan gerak percampuran antara gerak ajaran Padepokan Gunung Merapi bercampur gerak yang lain, sehingga membingungkan pandangan mata. Rupa-rupanya saja sebelum Umpakan datang di tempat ini ia pernah pula belajar silat di tempat lain.

Begitulah, pertempuran tadi semakin bertambah hebat. Di dalam hati Umpakan mengumpat-umpat bahwa Landean Tunggal masih dapat menyamai ketangkasannya, bahkan lama-kelamaan pastilah diri- nya akan dikalahkan oleh rekannya itu! Sebagai anak yang berdarah muda ia tidak menginginkan hal itu.

Suatu ketika Umpakan melancarkan tendangan maut ke arah rusuk lawannya, tetapi Landean Tunggal lebih cepat berputar seperempat lingkaran sambil me- nyambut serangan tadi dengan tebasan sisi telapak ta- ngan dan selanjutnya...

Praak!

Terjadilah benturan antara sisi telapak tangan Landean Tunggal dengan tulang betis Umpakan, disu- sul oleh pekik kesakitan dari mulut Umpakan.

Landean Tunggalpun tergetar ke belakang sampai terhuyung-huyung, sedang Umpakan jatuh terpelan- ting ke atas tanah.

Panembahan Jatiwana serta Rebab Pandan terkejut karenanya. Keduanya segera beranjak untuk meng- hentikan latihan itu. Lebih-lebih dengan orang tua ini. Ia tidak ingin melihat keduanya betul-betul berkelahi ataupun sampai terluka salah satu di antaranya.

Betapapun sesungguhnya Panembahan Jatiwana merasa bangga bahwa muridnya telah mampu bertempur sehebat itu, namun keduanya adalah hasil didikan, hasil gemblengan dari Padepokan Gunung Merapi. Maka iapun tidak ingin bahwa ilmu ajarannya itu saling berbentur sendiri.

“Landean Tunggal! Umpakan! Sudahlah! Cukup sekian saja latihan ini!” terdengar seruan nyaring dari Panembahan Jatiwana, mengumandang di halaman padepokan itu.

Sebagai seorang murid yang patuh, seruan itu sudah cukup berarti. Maka Landean Tunggal lekas- lekas melontarkan diri ke belakang menjauhi Umpakan yang kini sedang berdiri kembali.

Rebab Pandan menarik nafas lega mendengar seruan Panembahan Jatiwana. Tetapi tidak demikianlah dengan Umpakan. Relung-relung hatinya telah diamuk perasaan jengkel dan marah. Sehingga ia cepat-cepat berdiri kembali dan menyerang ke arah Landean Tunggal.

Serangan itu sungguh tak terduga kecepatannya. Dan yang lebih parah lagi, Landean Tunggal tak bersiaga pada waktu itu. Hingga seandainya ia terpukul oleh Umpakan boleh dipastikan kalau ia roboh!

Tiba-tiba dalam saat yang begitu tegang, sebuah bayangan melesat mencegat serangan Umpakan dan sejurus kemudian Umpakan terhenti langkahnya.

Rebab Pandan yang mengikuti kejadian itu, serentak terhenyak takjub. Apa yang dilihatnya, tahu- tahu lengan Umpakan terpegang oleh jari-jemari Panembahan Jatiwana, sampai saudara tua seperguruan ini meringis kesakitan. Oleh Umpakan dirasanya lengannya terjepit oleh jari-jari gurunya, seperti terjepit oleh lempengan-lempengan besi.

“Umpakan, kau tak mendengar kata-kataku, Angger? Ingatlah, kau hanya berlatih saja,” terdengar Panembahan Jatiwana menyapa lirih dengan nada penuh wibawa. “Lihatlah, lawan yang kau hadapi sekarang. Bukankah itu saudara seperguruanmu sendiri, si Angger Landean Tunggal?”

Oleh hal ini, apalagi karena cepitan dari jari gurunya yang hebat itu, Umpakan seperti tersadar dari perbuatannya. Maka ia segera menunduk ke tanah de- ngan wajah penuh kecewa dan menyesal.

“Maaf, Bapak Guru. Aku agak terlanjur tadi,” desis Umpakan memecah kesunyian.

Biar berkata begitu, hatinya tak urung mengutuk. Ia menganggap kalau gurunya lebih menyayangi Landean Tunggal daripada dirinya sendiri. Buktinya, ia hampir-hampir terkalahkan oleh Landean Tunggal. “Hmm, pasti Bapak Guru lebih banyak memberi gemblengan kepada si Landean Tunggal itu!” Demikian hati Umpakan penuh kata-kata dan kekecewaan yang tidak terlahirkan.

“Hmm. Kalau kalian telah sadar, sekarang berjabatan tanganlah agar kalian tak akan saling mendendam lagi!” ujar orang tua itu seraya melepaskan pegangannya.

Dan akhirnya kedua murid itu saling berjabat ta- ngan memenuhi permintaan gurunya. Saat itu kelihatan sekali kecanggungan Umpakan ketika ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Landean Tunggal, seolah-olah ia sangat terpaksa melakukan hal itu.

Maka sejak itulah Panembahan Jatiwana telah mulai dapat menilai sampai dimana kemampuan masing-masing muridnya. Dengan begitu ia telah dapat mengira-ngira kepada siapakah kelak ia harus menyerahkan Padepokan Gunung Merapi ini. Tidak lain adalah kepada Landean Tunggal serta dibantu oleh Rebab Pandan.

Untuk itu, panembahan tua itu bertindak sangat hati-hati. Ia tidak ingin terang-terangan menunjukkan kekecewaan atas sifat-sifat Umpakan yang suka main menang sendiri. Dan sebagai orang tua yang bijaksana, ia sangat pandai mengasuh ketiga muridnya ini. Ia tidak menginginkan satu kericuhan di padepokannya yang selama ini telah dibinanya dengan bersusah payah.

***

Sebagai seorang pemuda yang punya harga diri, ia tidak mau begitu saja merasa tertinggal oleh ketangkasan si Landean Tunggal. Itulah sebabnya setelah kejadian itu, sejak ia dikalahkan oleh Landean Tunggal, Umpakan diam-diam sering menyendiri ke tempat-tempat sunyi untuk berlatih silat. Bagi dirinya, ia belum merasa puas sebelum dapat mengalahkan Landean Tunggal.

Dalam pada itu, baik Panembahan Jatiwana, Landean Tunggal maupun Rebab Pandan tidak pernah tahu, kemana si Umpakan pergi. Mereka memang se- ngaja tidak ingin menanyakan hal itu kepada Umpakan. Biarlah murid ketiganya ini berbuat memenuhi gejolak hatinya, asal ia tidak menyusahkan padepokan itu serta orang-orang di sekitarnya.

Demikianlah, pada suatu hari Landean Tunggal serta Rebab Pandan berjalan-jalan keluar padepokan. Keduanya berangkat pagi-pagi ketika matahari mulai memanahkan sinar-sinarnya ke lereng timur Gunung Merapi.

Diam-diam di dalam hati kedua pemuda ini penuh rasa ingin tahu, di manakah selama ini Umpakan menghilang. Kadang-kadang tiga hari tiga malam si Umpakan tidak pulang ke padepokan, lalu selang satu hari ia muncul dan dua hari lagi iapun sudah pergi.

Landean Tunggal bersama Rebab Pandan mula- mula menuruni lereng sebelah barat, kemudian membelok ke selatan. Mereka mulai memasang ketajaman telinganya untuk mendengar, kalau-kalau mereka dapat mengetahui tempat Umpakan berlatih silat. Getaran dari gerakan ilmu silat saja sudah cukup bagi mereka untuk dapat ditangkap oleh ketajaman telinganya.

Ketika mereka mulai menginjak lereng selatan, benar-benarlah keduanya dibikin kaget oleh getaran yang bersimpang siur dan berdesau dari arah hutan kecil, di dekat sebuah mata air.

“Adi Rebab Pandan, kau dengar itu, Adi?” gumam Landean Tunggal seraya menggamit tangan adik seperguruannya.

“Ya, Kakang. Aku juga mendengar suara itu,” jawab Rebab Pandan sambil memandang Landean Tunggal penuh tanda tanya.

Dan keduanya tiba-tiba saja lalu teringat akan pertemuannya dengan Umpakan di tempat ini pula. Sedang kini, di tempat itu pula mereka mendengar suara-suara aneh, karuan saja sesaat bulu tengkuk mereka meremang saking ngerinya.

“Kakang Landean Tunggal, apakah kita akan mendekati suara itu?” tanya Rebab Pandan kecemasan.

“Apakah Adi merasa takut?” ujar Landean Tunggal kemudian.

“Bukan takut, Kakang. Tetapi aku kuatir kalau Bapak Guru marah, sebab kita tidak lebih dulu memberi tahu kepada beliau.”

“Jangan kuatir, Adi. Biarlah nanti aku yang dimarahi oleh Bapak Panembahan. Kita hanya akan mendekati suara itu untuk sekedar mengetahui saja. Kalau nanti ternyata ada yang penting, barulah kita beritahukan kepada Bapak Guru,” Landean Tunggal berkata.

Mendengar ini, Rebab Pandan menjadi tidak kuatir lagi. “Baiklah, Kakang. Aku setuju denganmu.”

“Nah, marilah kita berhati-hati mendekati tempat itu sekarang,” berkata Landean Tunggal kemudian bersama Rebab Pandan mengendap-endap mendekati hutan kecil itu, dari mana suara berdesau dan getaran-getaran hebat terdengar.

Kedua pemuda itu kemudian menyelinap dan mene- robos semak ilalang serta rumpun pisang. Dengan sa- ngat hati-hati mereka selangkah demi selangkah melewati sebuah mata air.

Tiba-tiba Rebab Pandan menarik lengan Landean Tunggal, hingga kakak seperguruannya ini terbengong keheranan. “Ada apa, Adi Rebab Pandan?!”

“Lihatlah ini, Kakang!” ujar Rebab Pandan sambil menunjuk ke tanah yang lembab di tepi mata air. “Jejak-jejak kaki manusia!” desis Landean Tunggal sambil mengawasi ke bawah. “Dan lebih dari jejak seorang!”

Karuan saja Landean Tunggal memuji setengah mati akan ketajaman perasaan dan indera si Rebab Pandan. Dalam hati ia merasa kagum akan kemampuan adik seperguruannya itu.

“Agaknya jejak-jejak ini ada hubungannya dengan suara bising itu, Kakang Landean!” sela Rebab Pandan. “Ayo, cepatlah kita melihat mereka, Kakang.”

“Ya, marilah, Adik,” Landean Tunggal berkata seraya secepat kilat mengendap-endap kembali ke arah tempat itu.

Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di tempat itu. Kedua pemuda itu segera menguak dedaunan de- ngan jari-jarinya dan betapa terperanjatnya bila ia melihat suatu pemandangan di balik dedaunan itu.

Seorang yang bertubuh pendek agak bungkuk de- ngan kepala gundul duduk membelakangi mereka dan sementara itu, di depan si gundul kelihatanlah Umpakan bersilat dengan gerakan yang cepat bagai hantu. Tubuhnya merupakan gumpalan sinar yang berkelebatan amat cepat, sementara tangan dan kakinya sebentar-sebentar melancarkan serangan ke udara kosong. Meskipun tanpa sasaran, pukulan ta- ngan dan kaki menimbulkan angin dan memecah udara sehingga menimbulkan suara berdesau dan daun-daun kering beterbangan kian-kemari!

“Stt, Kakang Landean, siapakah si gundul itu?” bisik Rebab Pandan kepada telinga kakak seperguruannya.

“Hiss. Jangan keras-keras. Kita perhatikan saja gerakan silat Umpakan ini. Mungkin ada gunanya bagi kita nanti,” ujar Landean Tunggal dengan suara yang sangat lembut.

Rebab Pandan cuma mengangguk saja.

Gerakan Umpakan itu kini makin cepat bernada ganas, dan si gundul yang menunggunya itu me- ngangguk-angguk serta bertepuk kegirangan.

“Hi, hi, hi, bagus, cah bagus. Kamu memang bocah yang hebat. Untunglah aku bertemu dengan kamu, bocah. Hi, hi, hi, sekarang si Jobin Karang ini punya murid yang tangguh! Dan sebentar lagi akan malang- melintang di pulau Jawa! Hi, hi, hi.”

Mendengar nama si gundul yang menyebut namanya Jobin Karang itu, Rebab Pandan menggamit lengan Landean Tunggal. Keduanya saling berpanda- ngan penuh tanda tanya. Rebab Pandan mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu, tetapi kemudian Landean Tunggal berbisik ke telinga Rebab Pandan, “Nama itu pernah kudengar sebagai tokoh hitam dari Laut Kidul!”

Oleh keterangan tadi, mau tak mau Rebab Pandan terperanjat seketika. Apa yang selama ini dikuatirkan ternyata benar, bahwa Umpakan seorang yang tidak baik, yang kini ternyata berkawan dengan tokoh hitam. Si Jobin Karang.

Sementara itu, Umpakan telah mengakhiri latihannya. Dengan satu lontaran jungkir balik di udara, kemudian ia mendarat di tanah di depan Jobin Karang dalam posisi kaki bersila, selanjutnya ia membungkuk hormat di depan orang gundul itu.

“Hih, hi, hi, hi. Aku senang, cah. Aku bangga de- ngan kemajuan itu. Tapi kenapa kau tidak mau cepat- cepat bergabung dengan kami? Mengapa lebih kerasan dan betah tinggal di padepokan bobrok itu?!” terdengar si gundul berkata.

“Maaf, Ki Jobin,” jawab Umpakan. “Aku belum bisa tinggal bersamamu sekarang, sebab masih ada beberapa soal yang harus kuselesaikan di Padepokan Gunung Merapi itu!”

“Hmm, terserah padamu, bocah. Tetapi apa jadinya jika para peronda Asemarang dan Banyubiru dapat menemukan dirimu disini? Pasti kau akan dilumatkan di tempat ini beramai-ramai!”

“Kalau itu terjadi, aku akan melawan mereka de- ngan sekuat tenaga, Ki Jobin. Mereka akan kuhajar dengan ilmu silat ajaranmu ini!”

“Hi, hi, hi, baiklah. Aku tak perlu mencemaskan dirimu, Umpakan. Ilmu silatku tadi sudah cukup buat menghadapi mereka.”

Ketika itu Landean Tunggal berbisik kepada Rebab Pandan, “Adik, dugaanmu dulu rupanya benar. Si Umpakan adalah seorang buronan. Ia tengah dikejar oleh peronda-peronda dari Asemarang dan Banyubiru.” “Ah, sungguh berbahaya nasib Bapak Panembahan.

Jika para peronda itu mengetahui bahwa Umpakan menjadi muridnya, pastilah mereka akan menyalahkan guru kita. Sebab beliau telah melindungi seorang buronan!” ujar Rebab Pandan.

Tiba-tiba sebelum mereka melanjutkan kata-kata- nya, tangan Landean Tunggal buru-buru menutup mulut Rebab Pandan, sebab bersamaan dengan itu si gundul Jobin Karang tahu-tahu menoleh ke belakang seraya berseru nyaring.

“Hee, aku mendengar kasak-kusuk di pohon sana!

Hih, rupanya pisau ini harus bekerja!”

Dengan kata-kata itu, Jobin Karang secepat kilat melemparkan sebuah pisau kecil panjang yang diambil dari balik bajunya.

Traak! “Ciiat!” Landean Tunggal serta Rebab Pandan tak terkira kagetnya mendengar bunyi itu, yang tepat berasal dari sebuah dahan pohon yang melintang di atas kepala mereka.

Ketika kedua pemuda itu menoleh ke atas, tampaklah seekor tupai tertancap pada dahan pohon oleh sebuah pisau panjang hampir separo lebih masuk ke dalam kayu!

Melihat hal itu, Rebab Pandan serta Landean Tunggal menarik nafas lega. Untunglah bukan kepala mereka yang ditembusi oleh pisau itu. Untuk itu keduanya bersyukur, tetapi juga tak kalah kagumnya melihat tenaga lemparan si Jobin Karang itu.

“Hi, hi, hi untunglah hanya seekor bajing saja. He, Umpakan, apakah kau juga sanggup meniru lemparanku tadi, ha?!” terdengar Jobin Karang me- nyapa Umpakan.

“Mudah-mudahan, Guru!” kata Umpakan sambil bergerak cepat mencabut pisaunya, lalu dilemparnya ke arah bangkai tupai tadi.

Claak!

Pisau itu pun menghunjam tepat pada tubuh binatang itu, di samping pisau gurunya, si Jobin Karang. Hanya saja pisau tadi menancap kurang dari separo. Namun hal itu sudah cukup membanggakan Jobin Karang.

“Hi, hi, bagus, bagus. Nah, kiranya latihan cukup untuk hari ini. Besok kau datang ke sini sore hari. Sekarang marilah kita mengaso sejenak.”

Dalam pada itu, Landean Tunggal serta Rebab Pandan mengendap-endap kembali menjauhi tempat itu. Dedaunan serta semak-semak lebat cukup baik melindungi mereka, hingga keduanya selamat serta terlindung dari pandangan mata Jobin Karang serta Umpakan.

Maka sejak saat itulah, Landean Tunggal serta Rebab Pandan sering datang ke tempat ini untuk mengintip latihan-latihan Umpakan bersama Ki Jobin Karang. Dengan begitu kedua pemuda itu dapat mengetahui semua gerakan-gerakan silat Umpakan serta jurus-jurusnya.

Akhirnya setelah berpuluh-puluh kali Umpakan digembleng oleh Ki Jobin Karang, ia menjadi seorang pendekar yang tangguh. Umpakan yang sekarang bukanlah Umpakan yang dahulu, dan sejak ini ia sudah memperlihatkan ketangguhannya. Terutama kepada orang-orang petani di seluruh kaki Gunung Merapi, ia sering memamerkan keperkasaannya. Tidak jarang beberapa orang petani telah naik ke Padepokan Gunung Merapi untuk mengadukan kelakuan Umpakan ke hadapan Panembahan Jatiwana.

Bila sudah mendapat laporan begitu, Sang Panembahan tidak jarang bersedih hati mendengar kelakuan muridnya yang sering menyakiti orang-orang tak bersalah. Lalu panembahan tua ini terpaksa mengeluarkan uang ataupun benda-benda berharga untuk sekadar mengganti apa-apa yang telah dirusakkan oleh perbuatan Umpakan kepada para petani itu.

Pernah terjadi, si Umpakan ingin minum air kelapa muda. Disuruhnya seorang petani untuk me- ngambilkan kelapa muda itu. Tetapi karena kurang cepat, maka si Umpakan menjadi marah. Kemudian pohon kelapa tadi dengan tiga kali tendangan kakinya telah roboh ke tanah.

Kadang-kadang Panembahan Jatiwana merasa menyesal telah menerima Umpakan sebagai muridnya.

Begitulah, kekurang-ajaran Umpakan tadi makin meluas. Lebih-lebih ketika pada suatu hari seorang petani bernama Pak Dadap telah tergopoh-gopoh me- ngadu pada Panembahan Jatiwana, yang pada saat itu tengah duduk-duduk bersama Landean Tunggal serta Rebab Pandan.

“Oh, celaka, Sang Panembahan. Ketiwasan!” ujar Pak Dadap dengan nafas kempas-kempis. Agaknya ia telah berlari ketika menuju ke padepokan ini.

“Hee, mengapa, Ki Dadap? Ada apa?” sapa Panembahan Jatiwana tak kalah bingungnya.

“Angger Umpakan! Angger Umpakan murid ketiga Sang Panembahan, telah bertengkar dengan anak gadisku, si Rara Sendang!”

“Hee?! Kakang Umpakan lebih kurang ajar lagi rupanya! Maaf, Bapak Panembahan. Aku harus kesana secepat mungkin!” seru Rebab Pandan sambil loncat keluar rumah.

Landean Tunggal yang melihat adik seperguruannya tadi meloncat keluar, iapun secepat kilat menyusulnya. “Adik Rebab Pandan, Tunggu! Kau tak boleh kesana seorang diri! Berbahaya!”

Sebentar saja kedua pemuda itu telah berloncatan dan lenyap di balik pepohonan.

“Wah, celaka ini, Ki Dadap!” seru Panembahan Jatiwana cemas. “Ayolah kita pergi ke rumahmu!”

“Baik, Sang Panembahan.”

Kedua orang tua itupun cepat-cepat berjalan me- nuju ke timur, menuruni Padepokan Gunung Merapi.

Jauh di bawah sana, di kaki timur Gunung Merapi terlihatlah petak-petak sawah yang terhampar dengan rapi. Daun-daun padi yang menghijau berombak- ombak diusap oleh angin pegunungan yang segar.

Akan tetapi suasana pagi yang segar ini dipecahkan oleh jeritan dan teriakan seorang gadis. “Tinggalkan aku seorang diri! Pergi! Pergi! Aku tak butuh pertolonganmu! Biar aku urus sendiri sawahku ini!”

Gadis tadi, yang berwajah manis dan berkulit sawo matang, tampak mencoba mengusir seorang pemuda berkumis tebal yang mencoba mendekati dirinya.

“Hua, ha, ha, ha. Kowe semakin manis kalau marah, wong ayu! Dengarlah sekali lagi kata-kataku! Ikutlah dengan diriku ke Laut Kidul. Kau akan jadi istriku dan hidup makmur di sana.”

“Tidak! Tidak! Aku sudah berkali-kali berkata kepadamu, Kakang Umpakan, kalau aku lebih suka tinggal disini!” seru Rara Sendang keras-keras.

“Ooo, kau ingin selamanya tinggal di tempat busuk ini, seperti katak dalam tempurung?! Di lain tempat masih banyak pemandangan yang indah, kota-kota yang besar, keramaian, tontonan, pakaian yang indah- indah! Apakah kau tidak ingin melihat itu semua?”

“Biar aku dibilang sebagai katak, aku akan tetap tinggal disini! Aku benci kepadamu!”

“Kau benci kepadaku?! Apakah aku kurang tampan untuk menjadi suamimu?” ujar Umpakan.

“Kau cukup tampan, Kakang Umpakan. Namun ketampanan bukanlah barang yang penting bagiku.”

“Ha, ha, ha, rupa-rupanya ada orang lain yang telah menempati hatimu, Rara Sendang!”

“Biar! Itu bukan urusanmu, Kakang!”

Umpakan terus mendekati Rara Sendang, sehingga gadis ini terpaksa mundur-mundur sambil me- ngacung-acungkan sebilah tongkat kayu di tangannya.

“Berhenti! Jangan mencoba menggodaku, Kakang. Atau tongkat kayu ini akan menghajarmu!” berkata demikian Rara Sendang sambil memutar tongkat kayunya yang dipegang pada pertengahannya. Dengan demikian maka tongkat tadi berputar bagai baling- baling.

“Hua, ha, ha. Hebat! Hebat! Bocah ayu pandai bermain silat!” kata Umpakan sambil cekakakan tertawa. “Tapi di depan hidungku jangan menyombong begitu, hee!”

“Hyaat,” Rara Sendang berteriak nyaring sambil menyerang Umpakan dengan pusaran tongkat kayunya. Tetapi si pendekar kumis tebal ini cuma berkelit ke samping dan loloslah ia dari serangan tongkat kayu itu.

Kini Umpakan ganti menyabetkan telapak ta- ngannya ke arah Rara Sendang dengan tenaga yang sangat kecil. Memang sesungguhnya ia cuma bermaksud menakut-nakuti gadis itu saja. Namun ia pun terpaksa kagum bila gadis ini melesat ke samping menghindari serangan Umpakan itu. Rara Sendang terus menyerang Umpakan dengan sengitnya, maka terjadilah pertempuran singkat selama delapan jurus. Sebab pada jurus ke sembilan, tiba-tiba Umpakan menggerakkan tangannya secara cepat dan tahu-tahu telah menempel tangan Rara Sendang yang sebelah kanan.

“Lepas tongkatmu sekarang!” terdengar Umpakan berteriak-nyaring dan terlepaslah tongkat kayu itu dari jari-jari Rara Sendang.

Kemudian sebelum gadis ini berbuat lain, tahu-tahu dirinya telah dipeluk oleh Umpakan. Karuan saja si gadis ini berteriak ngeri, seperti kalau dirambati oleh ulat berbulu. “Aduh! Lepaskan, setan! Lepaskan!”

“Ha, ha, ha, Kau boleh berteriak semaumu, Rara Sendang. Tapi tak seorang pun yang akan. ”

“Aduh! Aaakh!”

Umpakan terpaksa   melepaskan   Rara   Sendang, sebab tiba-tiba sebuah batu sebesar buah salak me- nyambar lengannya, hingga pendekar ini terpaksa berteriak kesakitan melolong-lolong.

Rara Sendang cepat-cepat berlari ke arah sosok tubuh yang baru datang dari balik semak belukar.

“Ooh, Kakang Rebab Pandan. Untung kau lekas datang, Kakang. Si Umpakan telah menggangguku!”

“Tenang, Adi. Lihatlah aku datang bersama Kakang Landean Tunggal. Kau tak perlu kuatir!” ujar Rebab Pandan dengan perasaan jengkel dan marah kepada Umpakan, sebab saudara seperguruannya ini telah berani menggoda gadis pujaannya!

“Setan kau, Rebab Pandan dan Landean Tunggal! Kalian selalu menggangguku!” umpat Umpakan serta mengacungkan jari telunjuknya ke arah muka kedua saudara seperguruannya.

“Apa maksudmu mengganggu Adi Rara Sendang ini, Kakang Umpakan?!” seru Rebab Pandan.

“Bocah ingusan! Kau tahu apa dengan urusanku, ha?! Ketahuilah, aku ingin mengambil Rara Sendang sebagai isteriku.”

“Hmm, kau lihat sendiri, gadis ini tidak senang de- nganmu. Apakah kau akan memiliki seseorang dalam wujud jasmaniahnya saja, sedang hati dan perasa- annya tetap tertambat pada orang lain?!”

“Persetan! Jangan cuma berkoar saja, kau bocah ingusan! Marilah kita berkelahi untuk mengukur kejantanan kita!”

“Baik! Aku siap melayanimu, Kakang Umpakan,” ujar Rebab Pandan, sekaligus bersiaga membuka jurus silat pertama. Juga Landean Tunggal segera memasang kewaspadaannya.

Umpakan segera bersiaga pula. Sayangnya, sebelum kedua pendekar ini bertempur seru, sekonyong- konyong melesatlah satu bayangan berjubah abu-abu ke arah mereka.

“Tahan!” terdengar suara nyaring dari bayangan tadi yang tidak lain adalah Panembahan Jatiwana! Sedang di belakangnya berdirilah Ki Dadap dengan wajah suram.

“Kau akan membuat kericuhan lagi, Angger Umpakan?!” ujar Panembahan Jatiwana dengan lembut.

“Tidak, Sang Panembahan! Aku cuma bersenda- gurau dengan Adi Rara Sendang ini,” jawab Umpakan.

“Baiklah, untuk sesaat akan kita lupakan hal ini,” kata Rebab Pandan menyela dengan jengkel.

“Angger Umpakan, sekarang silakan Angger mening- galkan tempat ini, biar tidak terjadi perselisihan di antara kita lebih parah.”

“Baiklah, untuk saat ini aku masih bersedia me- ngalah. Akan tetapi, untuk perkara-perkara selanjutnya, jangan harap aku sudi mengalah!”

Habis berkata demikian, Umpakan segera mening- galkan mereka di persawahan itu. Ia terus menuju ke lereng selatan dan lenyap di balik pepohonan.

Peristiwa ini ternyata makin menambah jurang perbedaan pendapat antara Umpakan dengan orang- orang Padepokan Gunung Merapi itu. Maka semenjak itu, Umpakan makin jarang tidur di padepokan. Baginya, rumah padepokan itu dianggapnya tempat yang paling bobrok. Tidak menyenangkan.

Dan juga sejak peristiwa itu, Rebab Pandan tambah sering berkunjung ke rumah Rara Sendang, untuk sekedar membantu dan menjaga gadis manis yang menjadi bunga terindah di kaki Gunung Merapi.

Begitulah, satu peristiwa memang kadang-kadang dapat menimbulkan hal-hal yang aneh. Umpakan kini makin tekun melatih dan menambah ilmu silatnya di bawah bimbingan si gundul Ki Jobin Karang dari Laut Kidul.

***

3

PADA SUATU sore, Panembahan Jatiwana memanggil kedua muridnya di ruang tengah. Sesudah ketiga orang itu duduk di balai-balai mereka saling menghormat.

Sesaat suasana tampak hening. Di depan Panembahan Jatiwana bersila, tergeletaklah sebuah alat musik gesek yakni sebuah rebab dengan penggeseknya, sedang di dekat benda itu pula terlihatlah sebuah cincin permata yang bersinar kuning kemilau.

Melihat kedua benda ini, Landean Tunggal serta Rebab Pandan bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah gerangan maksud gurunya memasang benda- benda itu di depan mereka?

“Angger berdua, hari ini aku akan membicarakan sesuatu yang penting bersama kalian,” terdengar Panembahan Jatiwana membuka percakapan itu. “Sampai dengan hari ini, aku telah memancang cukup membimbingmu dalam berbagai ilmu yang bermanfaat bagi hidupmu kelak. Kini umurku makin bertambah dan aku semakin tua. Padepokan Gunung Merapi ini telah aku bangun dengan susah-payah serta senantiasa menjaga nama baik perguruan kita ini. Tetapi nama baik tadi hampir-hampir dirusakkan oleh Umpakan. Kalau boleh berterus terang, sebenarnya bapak merasa kecewa dengan menerima Umpakan sebagai keluarga perguruan padepokan ini. Aku sama sekali tidak nyana kalau dia berkelakuan begitu. Lebih-lebih dengan ceritera kalian bahwa ia telah berkawan dengan orang-orang golongan hitam itu, aku lebih kecewa lagi. Agaknya ia mau membalaskan sakit hatinya yang dahulu kepada kita. Dan kau, Angger Landean Tunggal serta Rebab Pandan, kalian harus berhati-hati terhadapnya. Hindarilah pertengkaran de- ngan dirinya, sebab mulai saat ini aku akan mencalonkan Angger Landean Tunggal sebagai penggantiku kelak, dan Rebab Pandan sebagai wakilnya. Nah, apakah kalian sanggup menerimanya?”

Kedua pendekar muda ini tertunduk penuh haru mendengar kata-kata gurunya. Mereka tidak mengira bahwa gurunya telah mempercayakan satu tugas luhur sebesar itu. Sejurus kemudian kedua anak muda itu mengangkat wajahnya serta terlihatlah ma- tanya berkaca-kaca.

“Sanggup, Guru! Kami akan bersedia memimpin dan meneruskan perguruan kita dengan menjaganya mati-matian. Kalau perlu kami rela mengorbankan jiwa untuknya,” ujar Landean Tunggal.

“Hmm, yah aku merasa syukur atas kesanggupan kalian. Dengan begitu, kekecewaanku terhadap Umpakan sedikit terobati karenanya,” berkata Panembahan Jatiwana sambil mengangguk-angguk. “Kemudian ada satu tugas yang akan kuserahkan kepada kalian, Angger. Tetapi sebelum itu, bapak ingin menyerahkan benda-benda ini kepada Angger berdua. Cincin ini yang bernama Galuh Punar, kuserahkan kepada Angger Landean Tunggal. Ia akan menjagamu dari pengaruh serta serangan racun dan bisa yang jahat. Terimalah ini Angger!”

Landean Tunggal dengan tangan bergetar menerima cincin Galuh Punar yang memancarkan cahaya kekuningan itu, lalu dipakainya pada jari manis ta- ngan kanannya. “Terima kasih, Guru.”

“Dan kepadamu, Angger Rebab Pandan, ambillah rebab ini untukmu. Kerangka rebab ini terbuat dari tulang binatang badak dari Ujung Kulon, yang kerasnya hampir menyamai besi baja. Dalam keadaan terpaksa, alat ini dapat kau pergunakan sebagai senjata dalam pertempuran. Sedang bunyi gesekannya bila dilambari dengan tenaga dalam akan dapat mempengaruhi sesuatu keadaan.”

Disertai rasa yang bangga dan penuh haru pula, Rebab Pandan menerima rebab itu dari tangan Panembahan Jatiwana. Ia tak mengira bahwa ayahnya akan menyerahkan benda itu kepadanya, sebab sejak kecil ia telah merindukan rebab itu. Masih teringat jelas ketika masa kecilnya, Panembahan Jatiwana sering menggesek rebab ini untuk membujuknya, bila ia menangis sebab dimarahi oleh ibunya. Sekarang rebab itu telah menjadi miliknya, dan diam-diam ia berjanji dalam dirinya untuk merawat barang itu sebaik-baiknya. “Terima kasih, Bapak,” ujar Rebab Pandan.

“Angger berdua, setelah kalian menerima kedua benda itu, bapak akan mengatakan tugas yang akan kuserahkan kepadamu. Ketahuilah Angger, kita mempunyai beberapa kitab berisi macam-macam ilmu. Salah satu di antaranya yang bernama Kitab Hijau, berisi ilmu silat tataran tinggi. Seperti halnya ilmu loncatan Srigunting yang telah kalian terima dari ajaranku itu, berasal dari kitab ini pula,” Panembahan Jatiwana berhenti sejenak, lalu memungut sebuah kitab bersampul warna hijau yang terletak di sebuah lemari di belakangnya. “Nah, Angger berdua. Inilah kitab itu! Bagian terakhir, dari Kitab Hijau ini berisi ilmu Netra Dahana yang dahsyat, yang kelak boleh kalian pelajari juga. Tetapi sayang sekali, Angger. Kitab ini masih mempunyai kelengkapan yang harus kita cari. Kelengkapannya ialah sebuah kaca rias berbentuk bulat, bertangkai logam kaca biru. Mungkin Angger berdua akan heran mendengar keteranganku ini, tapi begitulah keterangan yang tertulis di dalam kitab ini. Benda itu disebut kaca Sirna Praba.”

“Mengapa disebut Sirna Praba, Bapak?” bertanya Rebab Pandan, penuh rasa ingin tahu.

“Sebab bila ia terkena sesuatu cahaya, kaca tadi akan memantulkan cahaya tersebut dengan kekuatan yang dahsyat, yaitu seratus kali dari kekuatan cahaya semula. Maka sinar tersebut tidak mustahil akan sang- gup membakar hangus sesuatu benda!” ujar Panembahan Jatiwana.

Keterangan ini membuat Landean Tunggal maupun Rebab Pandan terpekur keheranan. Keduanya merasa heran bahwa di zaman sekarang ini masih ada benda yang sehebat itu. Mereka lantas teringat pada cerita wayang dari kitab Ramayana. Di saat pertempuran antara Prabu Rama melawan Dasamuka ada seorang panglima perang Alengka yang sakti. Seorang raksasa yang bernama Bukbis. Ia sanggup membakar musnah lawannya dengan sinar api panas yang memancar dari mata. Tetapi Sang Hanoman punya akal. Dengan lembaran kaca tembaga yang teramat lebar, maka dihadapilah Bukbis tadi. Tentu saja Bukbis kaget. Dikiranya ia melihat musuhnya, maka iapun memancarkan sinar apinya. Namun sinar tadi terpantul kembali mengenai dirinya dan akhirnya matilah dia dengan ditimbuni kaca tembaga tadi, hingga tubuhnya hangus dan hancur. “Di manakah kaca Sinar Praba tadi berada, Guru?” bertanya pula Rebab Pandan kepada Panembahan Jatiwana.

“Hmm, dia tersimpan di dalam Candi Gedong Songo, di lereng Gunung Ungaran. Kalau Angger berdua telah tiba disana, carilah sebuah patung Ganesya. Di belakang patung tadi terdapat sebuah kotak batu. Nah, di dalamnya tersimpan kaca Sirna Praba itu.”

“Ooh, mengapakah ia tersimpan disana, Guru? Bukankah ia benda yang sangat berharga?” ujar Landean Tunggal.

“Ya, mungkin karena itulah benda tadi tersimpan di situ, sebab ia tak boleh jatuh ke tangan orang sembarangan. Sangat berbahaya akibatnya!” berkata Panembahan Jatiwana. “Ia hanya boleh dimiliki oleh si pemegang Kitab Hijau ini!”

Suasana sesaat menjadi hening. Sang Panembahan berdiam diri, demikian pula Landean Tunggal serta Rebab Pandan. Kalau Panembahan Jatiwana bertanya dalam hati, apakah kedua muridnya ini sanggup mencari benda itu, maka lain lagi dengan kedua muridnya ini. Landean Tunggal serta Rebab Pandan ingin lekas-lekas mencari kaca Sirna Praba itu secepat mungkin.

“Bagaimana, Angger sekalian? Apakah kiranya Angger berkeberatan dengan tugas mencari benda tersebut?” ujar Panembahan Jatiwana mengatasi kehe- ningan.

“Tidak, Guru. Kami tidak akan keberatan untuk mencari benda itu,” menjawab si Landean Tunggal mantap, hingga orang tua ini manggut-manggut puas.

“Dan setiap waktu kami akan berangkat segera bila telah diizinkan oleh Bapak Guru,” kata Rebab Pandan menyambung.

“Bagus, bagus. Besok pagi-pagi, Angger berdua boleh berangkat secepatnya ke utara,” Panembahan Jatiwana berkata pula. “Dan ingatlah segala petunjuk- petunjuk yang telah aku ceriterakan tadi.”

“Semua telah kami ingat dengan baik-baik. Bapak Guru tidak perlu merasa kuatir karenanya,” berkata Landean Tunggal menegaskan percakapannya. “Kami berdua akan berusaha sungguh-sungguh untuk mencari kaca Sirna Praba sampai ketemu.”

“Terima kasih, Angger berdua. Ehh, diam-diam ini telah kelewat malam, Angger sekalian. Marilah kita mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatanmu besok,” ujar Panembahan Jatiwana, dan sampai di situ berakhirlah percakapan ketiga orang itu.

Mereka lalu menyiapkan keperluan untuk perjalanan besok. Satu perjalanan yang tidak dapat dipandang ringan, sebab mereka harus mendaki dan menuruni lereng-lereng gunung serta jurang dan menerobos hutan-hutan lebat untuk mencapai daerah percandian Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran.

***

Pagi itu di halaman depan rumah Padepokan Gunung Merapi, tampaklah dua ekor kuda ditambatkan pada pohon jeruk, sedang di sampingnya berdirilah seorang tua bersama seorang pemuda tegap lagi asyik bercakap-cakap.

“Ah, sebentar lagi akan berangkat, tapi Adik Rebab Pandan belum juga muncul,” ujar si pemuda dengan nada kurang sabar.

Sebaliknya si orang tua cuma tersenyum-senyum sambil bergumam. “Heh, heh, heh. Itulah kalau orang muda lagi dimabuk cinta. Biarlah, kau tunggu sebentar lagi, Angger Landean Tunggal. Mungkin adikmu Rebab Pandan digelendoti oleh Rara Sendang, sebab pergi ke Gunung Ungaran sejauh itu akan makan waktu yang cukup lama.”

“Oooh, itulah Bapak, mereka datang,” desis Landean Tunggal, dan Panembahan Jatiwana segera berpaling ke arah timur dimana dua orang muda-mudi bergandengan.

Setelah mereka dekat, buru-buru Panembahan Jatiwana berkata, “Eeh, kalian panjang umur, Angger. Baru saja kami bicarakan, tahu-tahu sudah datang.”

“Betul juga ya, Sang Panembahan. Kok seperti Raden Harjuna saja. Kalau dirasani tahu-tahu muncul!” sela Landean Tunggal menggoda adik seperguruannya yang baru tiba bersama kekasihnya, Rara Sendang.

Digoda oleh kakak seperguruan serta gurunya itu, tentu saja si Rebab Pandan jadi blingsatan malu, sementara si gadis tertunduk disertai senyum manis dan ibu jari kakinya mengorek-ngorek tanah.

“Ah, maaf Bapak Guru dan Kakang Landean Tunggal. Aku baru saja pamit minta diri kepada Pak Dadap sekeluarga. Maksudku cuma sebentar, tapi Adi Rara Sendang ini, menahanku agak lama. Ia cemas kalau aku menemui bahaya di jalan,” kata Rebab Pandan.

“Lha, kan betul omongku tadi, Angger Landean Tunggal? Heh, heh, heh, janganlah kau terlalu mengu- atirkan kangmasmu ini, Rara Sendang. Percayalah kalau ada apa-apa di perjalanan, pasti Angger Landean Tunggal akan menjaganya. Harjunamu ini tak akan hilang, Nini Rara Sendang.” Oleh kata-kata Sang Panembahan, si gadis manis berkulit sawo matang yang hatinya semula mencemaskan kepergian Rebab Pandan, serentak menjadi tenang. Maka iapun berkata penuh hormat,. “Terima kasih, Sang Panembahan. Kini hatiku tidak lagi secemas tadi.”

“Nah, begitulah namanya cinta sejati. Kemana pun sang kekasih pergi menunaikan tugas, tak perlu dicemaskan lagi. Biar bagaimanapun jadinya, kalau sudah ditakdirkan menjadi jodohnya, pasti akan tetap bersatu juga. Sekarang, mumpung matahari belum terlalu tinggi, kalian kuizinkan berangkat, Angger berdua,” ujar Panembahan Jatiwana seraya menepuk bahu kedua muridnya itu dan merekapun lalu membungkuk hormat serta meminta diri.

“Hati-hati, Kakang,” ujar Rara Sendang menyela. “Dan semoga Tuhan akan melindungi kalian dari marabahaya.”

“Terima kasih!” seru Rebab Pandan dan Landean Tunggal berbareng sambil memacu kudanya ke arah utara menyusuri lereng Gunung Merapi dari arah barat.

Kabut putih masih menyelimuti lereng-lereng gunung sebelah atas laksana gumpalan kapas raksasa. Ditambah dengan kelebatan hutan lereng Gunung Merapi dan sekali-sekali terdengar raungan binatang buas, maka bagi seorang yang berhati kecil akan segera ketakutan setengah mati. Betapa tidak? Tempat itu masih sangat asing dan jarang dijamah orang, hingga Landean Tunggal dan Rebab Pandan harus berhati-hati dalam memilih jalan.

Namun mereka telah tergembleng oleh Panembahan Jatiwana, baik jiwa ataupun raganya dalam menghadapi setiap rintangan. Maka perjalanan ini walaupun penuh bahaya dan sukar, kedua pemuda tadi justru malah merasa senang, sebab apa saja yang telah diajarkan oleh Panembahan Jatiwana, semua dapat ditrapkan dan dipraktekkan disini. Seperti bagaimana memilih jalan yang baik, mengenal suara binatang buas, macam-macam tumbuh-tumbuhan, dan masih banyak lagi lainnya.

Mereka terus menuju ke utara menuruni lereng Gunung Merapi sebelah barat, dan sejurus kemudian keduanya telah tiba di kaki gunung itu. Jalan disini lebih banyak yang mendatar, sehingga kuda-kuda me- reka lebih bisa berlari cepat.

Agak jauh di sebelah utara, tampaklah kemegahan Gunung Merbabu yang tinggi perkasa tak ubahnya de- ngan Gunung Merapi di sebelah selatan. Gunung tadi makin lama makin dekat, apalagi setelah keduanya tiba di kaki bukitnya. Terasalah betapa kecilnya manusia berhadapan dengan kemegahan alam ciptaan Tuhan.

Perjalanan ini terasa amat jauh bagi Landean Tunggal serta Rebab Pandan. Setelah mereka menyusuri kaki Gunung Merbabu dan ke utara, tibalah keduanya pada sebuah tebing yang landai dan di bawahnya terlihatlah satu lembah yang luas. Beberapa petak-petak sawah yang luas hampir memenuhi sepertiga dari lembah itu. Itulah tanah perdikan Banyubiru yang terkenal subur.

“Kakang Landean Tunggal, hari telah sore,” kata Rebab Pandan. “Bagaimana kalau kita singgah di Desa Banyubiru itu?”

“Hmm, baik, Adi. Memang aku pun bermaksud me- ngajakmu bermalam di desa itu. Kita akan singgah dulu melepaskan lelah dan besok kita lanjutkan lagi perjalanan ini,” ujar Landean Tunggal sekaligus menderapkan kudanya menuruni lembah Banyubiru dan di belakangnya menyusul Rebab Pandan.

Ketika mereka tiba di lembah itu, kegelapan senja telah merayapi daerah perdikan Banyubiru dan desa kecil itu seperti tertelan oleh kegelapan dan kesepian.

Tetapi sejurus kemudian beberapa dian lampu telah dipasang di dalam rumah-rumah. Juga di depan rumah penduduk beberapa orang tampak bergerombol bercakap-cakap. Beberapa di antaranya tampak berke- rudung kain seolah-olah kedinginan oleh hawa senja pegunungan yang dingin. Namun bagi Landean Tunggal serta Rebab Pandan yang berpikiran tajam, tahulah bahwa di balik kerudung kain tadi setidak- tidaknya terselip parang ataupun pedang yang membuat tonjolan-tonjolan pada kerudung kain tersebut.

Orang-orang tadi memandang tajam ke arah Landean Tunggal serta Rebab Pandan ketika mereka makin mendekati tempat orang-orang itu bergerombol. Namun setelah orang-orang tersebut menatap wajah Landean Tunggal serta Rebab Pandan yang cerah dan bening, merekapun lalu mengangguk hormat.

“Permisi, Kisanak sekalian,” sapa Landean Tunggal kepada orang-orang itu dengan ramahnya.

“Oooh, mari silakan,” ujar seorang yang paling tua di antaranya. “Anak berdua ini mau kemana?”

“Kami menuju ke Ungaran, Bapak,” kata Landean Tunggal. “Tapi malam ini terpaksa singgah bermalam disini.”

“Ooh, begitu. Nah, anak berdua boleh menginap di warung itu malam ini. Tapi hati-hati, Nak. Tengah malam nanti jangan keluar pintu, sebab desa ini tengah diintai bencana!”

“Diintai bencana?” ujar Landean Tunggal seraya menarik tali kekang kudanya agar berhenti. Kedua pemuda ini cepat-cepat turun dari atas kuda, sebab bercakap-cakap dengan lawan bicara yang berdiri di bawah serta lebih tua itu tidaklah sopan.

“Maksud Bapak?” ulang Landean Tunggal penuh rasa ingin tahu. Demikian pula Rebab Pandan menjadi tertarik oleh hal ini.

“Sebenarnya kami adalah para penjaga keamanan Desa Banyubiru ini. Beberapa waktu yang lalu kami telah berhasil mengepung dua orang berandal yang mencoba mengganggu desa kami, tetapi agaknya mere- ka orang-orang gemblengan, sebab mereka melawan dengan gigih. Seorang di antaranya berhasil melo- loskan diri dari kepungan dan seorang lagi akhirnya tewas di tangan kami. Begitulah kejadian tadi rupanya berbuntut panjang sampai saat ini. Rupa-rupanya seorang berandal yang berhasil lolos tadi telah mengundang teman-temannya untuk menyerbu desa ini pada tengah malam nanti.”

“Dari manakah hal itu bisa diketahui?” ujar Rebab Pandan keheranan.

“Mereka telah mengirimkan surat ancaman itu pada sebatang anak panah yang ditembakkan ke halaman balai desa!” jawab si orang tua.

“Hebat!” desis Landean Tunggal.

“Memang hebat, Nak. Sebab kali ini mereka akan datang bersama dua orang tokoh sakti!” sambung si orang tua. “Maka jika tengah malam nanti terjadi pe- nyerangan, anak berdua tetaplah tinggal di dalam rumah. Biar kami yang akan menghadapi mereka. Tetapi jika kiranya anak berdua berlapang dada, kami akan dengan senang hati menerima bantuanmu dalam menyambut penyerbuan itu.”

“Eh,   baiklah,    Bapak.    Kami    akan    mencoba keberanian kami. Mudah-mudahan tidak terlalu mengecewakan para Kisanak disini,” kata Landean Tunggal. “Kini izinkanlah kami singgah ke warung itu dahulu.”

“Wah silakan, Anak berdua. Maaf, kami telah terlalu lama menghentikanmu!” si orang tua tadi berkata sete- ngah malu.

Landean Tunggal dan Rebab Pandan sekali lagi me- ngangguk hormat dan berlalulah mereka dengan menuntun kudanya, sebab jarak warung itu sudah tidak begitu jauh lagi.

***

Warung itu sudah ditutup pintunya, sebab malam telah tiba dan tidak bakal ada pengunjung lagi. Di ruang tengah, di sebuah kamar yang disediakan bagi para penginap, terdapat beberapa balai-balai bambu berukuran kecil untuk satu orang. Landean Tunggal serta Rebab Pandan berbaring pada balai-balai itu!

Malam yang kebetulan pada musim kemarau ini dihiasi oleh sang purnama yang memancarkan sinar peraknya ke lembah itu. Lembah yang subur dengan sawah-sawah yang disebut Banyubiru, malam ini kelihatan sepi. Jalan desa telah pula sepi, lengang. Tak seorang pun penduduk keluar rumah kecuali para penjaga keamanan desa pada berjaga-jaga di pintu- pintu masuk desa. Mereka tengah menanti penye- rangan para berandal yang mengancam Desa Banyubiru, di tengah malam nanti.

Betapapun mereka telah siap berjaga-jaga, namun tak urung rongga dada orang-orang itu berdegupan keras, sebab mereka sadar bahwa kali ini harus bertempur melawan berandal-berandal yang sakti. Me- reka tak henti-hentinya mengawasi tanah-tanah pegunungan yang mengelilingi lembah Banyubiru itu.

Sementara itu dalam saat yang sama, di tebing lembah di sebelah timur, tampaklah limabelas orang berkuda berhenti di balik semak ilalang.

Dua orang yang di depan agaknya pemimpin rombongan itu, sebab keduanya tampak berkata-kata asyik. Yang satu masih muda sedang yang satu lagi se- tengah tua.

“Kakang Botorsewu, sebentar lagi tengah malam,” ujar seorang pemuda berwajah angker dengan rambutnya yang gondrong awut-awutan kepada teman di sampingnya yang mempunyai tubuh kekar berwajah hampir persegi kaku. Kumis dan jenggotnya kasar serabutan kurang teratur.

“Kau sudah gatal untuk mencincang mereka, Adik Rikma Rembyak?” sahut Botorsewu kepada sahabatnya yang masih muda dan berkalung terompet kulit siput. “Sabarlah! Aku peringatkan, kita harus bertempur hati-hati. Apalagi sebagai tokoh bajak laut, bukankah kurang biasa bertempur di daratan!”

“Hah, bagiku sama saja. Pokoknya asal aku tiup terompet siput ini, mereka akan jadi kelabakan sete- ngah mati dan Kakang Botorsewu serta berandal- berandal tinggal memukul hancur desa ini.”

“Hua, ha, ha, baiklah, Adik Rikma Rembyak. Aku percaya akan kemampuannya terompet siputmu itu. Baiklah Adi, mari kita mulai pesta ini! Ha, ha, ha,” Botorsewu terkekeh-kekeh ketawa.

Rikma Rembyak segera meniup terompet siputnya. Maka keluarlah satu nada melengking mengalun menelusuri tebing lembah dan turun ke Desa Banyubiru dengan suara berpusaran seperti suara siulan berpuluh-puluh setan lapar mengharap mangsa. Mula-mula nada itu sangat rendah dan orang-orang desa serta para penjaga keamanan mengira itu berasal dari bunyi angin kemarau pegunungan yang bertiup deras. Akan tetapi setelah nada tadi berangsur-angsur meliuk tinggi, terperanjatlah orang-orang desa tersebut.

Kini merayaplah rasa takut dan ngeri ke dada mere- ka. Siapa tak akan takut bila di tengah malam terang bulan, tahu-tahu terdengar bunyi lengkingan meru- nyam hati. Celakanya bunyi terompet siput Rikma Rembyak tadi tidak hanya sampai di situ saja. Kini makin meninggilah bunyi tersebut sampai me- nyakitkan telinga dan mendirikan bulu tengkuk.

Maka akibatnya hebat sekali. Para penduduk bergentayangan nabrak-nabrak sambil menutupi kedua telinganya dengan tangan demikian pula para penjaga desa tadi. Bagi yang berpikiran tajam serta buru-buru menutup kedua lobang telinganya dengan sobekan kain ataupun gumpalan kapas, pastilah akan terbebas dari pengaruh bunyi alunan terompet siput si Rikma Rembyak tadi. Tetapi bagi yang kurang mengerti, jangan diharap kalau mereka tidak bergulingan di tanah sambil menjerit-jerit setengah menangis. Maka dalam saat-saat yang seperti ini, hanya orang tulilah yang paling beruntung, sebab ia tidak akan termakan oleh lengkingan suara tadi.

Untunglah di saat-saat yang begini kritis masih ada dua orang di antaranya yang terbebas dari bunyi tadi, meskipun mereka sama sekali tanpa menutup kedua lobang telinganya.

“Ayo, Adi Rebab Pandan. Kini tibalah saatnya kita menolong mereka!” seru Landean Tunggal sambil meloncat keluar dari pintu warung penginapan, diikuti oleh Rebab Pandan yang menggenggam rebabnya lengkap dengan alat penggeseknya.

“Kakang Landean Tunggal, berjagalah di pintu gerbang desa. Aku akan melawan bunyi ini!” berkata demikian Rebab Pandan sekaligus menggenjotkan tubuhnya ke atas dengan ilmu loncatan Srigunting dan melesatlah ia ke atas genting warung penginapan.

Sementara Landean Tunggal melesat ke gerbang masuk Desa Banyubiru, Rebab Pandan bersila di atas genting sambil menggesek rebabnya. Sebentar kemudian, meluncurlah alunan lagu dari senar-senar rebab yang digesek oleh tangan Rebab Pandan. Bunyi irama rebab tadi sangat lembut tapi tajam seakan- akan luapan dari rasa hati Rebab Pandan yang menentang bunyi alunan terompet siput si Rikma Rembyak dari atas tebing sana.

Walaupun irama terompet siput Rikma Rembyak datang bergulung-gulung bagai ombak badai Laut Kidul, tetapi bunyi gesekan Rebab Pandan pada alat musik geseknya itu meliuk-liuk lincah, laksana seekor naga yang tengah berenang menyelusuri samudera. Dan kemudian bila kedua gulung suara itu bertemu, terjadilah benturan dahsyat di udara.

Blaaar!

Rikma Rembyak yang masih duduk di punggung kudanya di samping Botorsewu menjadi tercengang kebingungan melihat tiupan terompet siputnya mendapat perlawanan dari arah desa. Sambil terus meniup terompet siputnya semakin keras, Rikma Rembyak gerenengan di dalam dada. “Eeh, gila, kurang ajar! Setan mana yang berani lancang menandingi terompet siputku ini?!”

Sekali lagi ia mengerahkan tenaga dalamnya dan meniup terompet siputnya dengan hebat, namun untuk kesekian kalinya pula Rikma Rembyak si pendekar muda dari kawanan berandal ini terpaksa terbengong mengkal, apabila suara alunan dari senar- senar rebab yang digesek itu semakin menindih suara lengkingan terompetnya.

“Kakang Botorsewu! Wah, keparat orang-orang desa itu! Rupanya mereka juga menyimpan pendekar sakti. Ayo, kita serbu saja mereka sekarang ini!” seru Rikma Rembyak.

“Bagus, Adik Rikma Rembyak!” jawab Botorsewu sambil melolos parang dari ikat pinggangnya yang berkilat ketimpa sinar bulan.

Parang yang sudah dilolos itu segera diacungkan ke atas dan kemudian ia berteriak dengan suara menggeledek, “Kawan-awan, lihatlah baik-baik desa di lembah itu. Sepuluh orang mengikuti kami dan tiga orang penembak panah menjalankan tugasnya!”

Sesudah berkata begitu, Botorsewu bersama Rikma Rembyak segera menderapkan kudanya menuruni lembah diikuti oleh kesepuluh anak buahnya lalu di- susul tiga orang pemanah yang telah mempersiapkan panah apinya. Mereka memacu kudanya dan bagai serigala-serigala kelaparan mendekati pintu gerbang desa.

“Serbuuuu!” teriak Botorsewu, berbareng tiga panah api melesat ke arah desa dan membakar dua buah rumah penduduk.

Di pintu gerbang masuk desa, Landean Tunggal telah selesai mempersiapkan pertahanan bersama para penjaga desa. Beberapa bambu berduri dipasang melintang pada pintu gerbang untuk menghalangi serbuan itu.

Melihat ini Rebab Pandan tak tinggal diam. Sambil berloncatan dari genting rumah yang satu ke genting rumah yang lain, ia memutar rebabnya di tangan serta berkali-kali menyampok jatuh panah-panah api yang bersiutan di udara.

Kemudian Rebab Pandan melesat turun ke tanah serta berlari ke arah pintu gerbang desa di sebelah timur, dari mana serbuan berandal-berandal tadi dipusatkan!

Di pihak kaum berandal, Botorsewu menggertakkan giginya ketika panah-panah api tadi tak memenuhi maksudnya, yaitu membakar rumah penduduk serta menimbulkan kekacauan! Maka bersama tiga orang anak buahnya yang bersenjata pedang, mereka mendekati pintu gerbang desa.

Keempat orang berandal itu memutar pedangnya bagai angin puyuh dan sebentar saja, bambu-bambu berduri yang melintang pada pintu gerbang itu telah terpotong-potong putus berserakan ke tanah.

Mereka segera menyerbu masuk ke desa, sayangnya tiba-tiba para penjaga desa lebih cepat bertindak. Ketiga orang yang di belakang kena sergap dan robohnya mereka dari kudanya termakan oleh senjata- senjata penjaga desa. Sedang yang terdepan, yaitu Botorsewu segera terlibat dalam pertempuran melawan Landean Tunggal.

“Setan! Kau berani melawan Botorsewu, hah?!” “Ha, ha, Landean Tunggal siap melayanimu, sobat!”

Kesepuluh orang berandal lain yang dipimpin oleh Rikma Rembyak segera pula menyerbu masuk ke arah desa. Ternyata di balik semak-semak di tepi desa, para penjaga desa telah bersiaga dengan sepenuhnya.

Maka begitu pasukan berandal itu mendekati pintu gerbang desa, berloncatanlah dari semak-semak di pinggir jalan para penjaga desa menyergap berandal- berandal tersebut.

Sebentar saja tempat itu telah menjadi arena pertempuran dan adu senjata yang seru. Rikma Rembyak menebas-nebaskan pedangnya dengan ganas hingga menakutkan pada pihak penyergap, dan sebentar pula pedangnya telah berhasil membacok lengan seorang penjaga desa, hingga orang ini menjerit hebat.

Ketika sekali lagi ia bermaksud membacokkan pedangnya untuk membereskan orang tadi, mendadak pedangnya terasa membentur sesuatu benda.

Traak!

Alangkah kagetnya Rikma Rembyak ketika sebuah bayangan yang baru saja melesat itu tahu-tahu telah menangkis bacokan pedangnya, sampai tangannya tergetar pedih! Yang membuat heran Rikma Rembyak ialah ketika ia memperhatikan benda yang menghalangi bacokan pedangnya ini, ternyata hanya sebuah rebab belaka!

“Setan keparat! Anak gendruwo! Siapa ini edan- edanan, bertempur dengan alat musik? Apakah kamu kekurangan senjata?!” teriak Rikma Rembyak sambil meloncat turun dari punggung kudanya!

“Berandal tengik! Rupanya kaulah yang membuat suara bising tadi!” seru Rebab Pandan sambil me- nyambut serangan Rikma Rembyak. Ia melihat musuh ini berkalung terompet kulit siput.

“Dan kau juga rupanya yang lancang mengganggu tiupan terompetku dengan rebab bobrok itu?!” teriak Rikma Rembyak seraya menebaskan pedangnya ke arah leher Rebab Pandan dalam kecepatan angin badai, sementara dalam kepala ia sudah membayangkan bahwa leher lawannya ini akan putus dengan sekali tebas saja.

Namun mendadak Rikma Rembyak terpaksa melompong mulutnya bila tahu-tahu pedangnya cuma menyambar angin. Sedang Rebab Pandan, pendekar muda dari Gunung Merapi, meloncat ke udara dengan gesit sebelum pedang lawan sempat menyentuh tubuhnya.

Dengan penuh keheranan, Rikma Rembyak melihat bahwa lawannya melesat ke udara dan jungkir balik laksana sikap burung srigunting. Bersamaan Rebab Pandan mendarat ke tanah, Rikma Rembyak memburu dan sekali lagi menebaskan pedangnya.

Untuk kedua kalinya Rebab Pandan memperlihatkan kegesitannya. Cepat-cepat tangan kirinya yang menggenggam alat pengengsel rebab menangkis tebasan pedang lawan.

Traang! Terpaksa Rikma Rembyak terkejut setengah mati dengan hal ini, dan tiba-tiba dilihatnya pula rebab yang digenggam oleh tangan kanan lawannya menyam- bar hebat ke arah kepalanya. Untunglah ia cepat-cepat mengendap. Kalau terlambat sedikit saja pastilah tubuhnya sudah tak berkepala lagi!

Di tempat lain Botorsewu menyerang Landean Tunggal dengan sambaran-sambaran parangnya. Parang tersebut yang berkilat tajam dan besar me- nyambar-nyambar cepat sekali, sebab digerakkan oleh tangan yang perkasa dan berotot gempal. Hanya saja Botorsewu belum tahu bahwa lawannya adalah Landean Tunggal, murid Panembahan Jatiwana. Maka hanya cukup dilambari kelincahan gerak serta loncatan-loncatan Srigunting, loloslah Landean Tunggal dari incaran-incaran maut senjata lawannya.

Yang sangat menjengkelkan hati Botorsewu ialah lawannya ini. Ia tetap bertangan kosong dalam menghadapi serangan-serangan parangnya! Keduanya semakin ganas bertempur terjang menerjang, berloncatan di udara dan gerakan mereka bagai bayang-bayang saking cepatnya.

Sedang di pojok barat, para penjaga desa bertempur mati-matian melawan kesepuluh orang berandal. Hampir-hampir saja orang-orang desa tadi terkalahkan oleh berandal itu, kalau saja dari arah sebuah rumah tidak keburu muncul seorang tua yang berjalan seenaknya!

Tiba-tiba seorang dari penjaga desa yang lagi bertempur, melihat kedatangan orang tua itu.

“Ki Canggah Banyubiru!” teriaknya seru hingga me- ngagetkan para berandal tadi.

Melihat orang tua itu, empat orang berandal melepaskan diri dari libatan pertempuran dengan para penjaga desa, serta menyerbu Ki Canggah Banyubiru.

Namun orang tua ini dengan tenang melepas ikat kepalanya dan menyongsong serangan keempat berandal tersebut. Keempat senjata pedang di tangan berandal-berandal tadi berkelebat dan menebas-nebas hebat, tetapi dengan enaknya si orang tua tadi berloncatan lincah dan menelusup di antara sambaran-sambaran pedang lawan. Kemudian setelah beberapa kejap tiba-tiba ia memutar dan menggerakkan ikat kepalanya! Tar! Tar! Taar! Terdengar tiga ledakan berturut-turut dan tiga orang dari penyerangnya roboh terlempar ke tanah.

Yang seorang berteriak ngeri setengah kaget. Cepat- cepat ia memutar tubuh untuk lari, tapi Ki Canggah Banyubiru lebih cepat bergerak. Taaar! Sekali lagi ikat kepalanya melenting dan menyambar tulang punggung berandal tadi dan rebahlah penyerang yang keempat ke tanah dengan darah segar tersembur dari mulutnya.

Setelah itu, orang tua itu cepat-cepat menerjunkan diri ke arena pertempuran yang tengah berkecamuk hebat. Dalam pada itu, sambil bertempur tadi Ki Canggah Banyubiru sempat melirik ke arah Landean Tunggal dan Rebab Pandan yang bertempur gigih melawan kedua orang pemimpin berandal-berandal ini. Betapa kagumnya dan memuji dalam hati, bahwa tamu-tamu yang menginap di warung desa mampu bertempur sehebat itu!

Serangan-serangan parang dari Botorsewu rupanya semakin hebat, dan melihat hal ini Landean Tunggal melompat ke samping serta melepas ikat pinggangnya. Ikat pinggang kulit tadi lalu diputarnya di atas kepala dengan sekuat tenaga, maka timbullah suara berdesau menakutkan. Sedang ujung ikat pinggang yang dipasangi oleh timangan baja biru tadi, berkeredapan merupakan cahaya biru.

Botorsewu tidak tunggu lama lagi. Secepat kilat ia menerjang ke arah Landean Tunggal, tetapi tiba-tiba merasa tangan kanannya yang menggenggam pedang tergempur oleh satu tenaga raksasa hingga pedangnya terpelanting lepas dibarengi oleh mulutnya berteriak kesakitan. Botorsewu berusaha menguasai dirinya, namun sekali lagi ujung-ujung ikat pinggang Landean Tunggal yang terbuat dari baja biru tadi menyambar kepalanya, bagai sambaran geledek!

“Eaakh!” Botorsewu seketika terjerembab ke tanah dengan kepala berlumuran darah. Sesaat tubuhnya mengejang dan kemudian diam tak bergerak. Mati!

Melihat pemimpinnya mati, sisa-sisa berandal tadi menjadi kendor semangat tempurnya. Sedang di sebelah lain, si Rikma Rembyak mengutuk-ngutuk dalam hati, bila lawannya yang sama-sama masih muda ini sedikit demi sedikit berhasil mendesaknya!

Dan memang benarlah! Rebab Pandan melipatgandakan serangannya. Lebih-lebih setelah ia tahu bahwa pemimpin berandal telah ditewaskan oleh kakak seperguruannya!

“Cepat bertekuk lutut, sebelum kau mampus di ta- ngan Rebab Pandan!” teriak Rebab Pandan.

“Kunyuk edan! Mana ada orang mau menyerah kepada tukang penggesek rebab macam tampangmu itu!” jawab Rikma Rembyak sambil memperhebat permainan pedangnya, tapi mendadak senjata lawannya menyambar ke arah kepalanya, maka cepat- cepat ia menangkis dengan pedangnya. Traang!

Mendadak saja kaki Rebab Pandan beraksi dengan cepat. Sebuah tendangan telah menyambar ke dada Rikma Rembyak dan pendekar dari pihak berandal yang masih muda ini, terpelanting jungkir balik di tanah. Sementara itu Rikma Rembyak dapat melihat bahwa sebagian kekuatan dari teman-temannya telah hancur, apalagi Botorsewu telah mati.

Dengan secepat geraknya, tiba-tiba Rikma Rembyak melesat ke samping dan meloncat ke salah satu punggung kuda, seraya berteriak, “Kawan-kawan, ayo kita mundur!!”

Mendengar itu, tiga orang berandal segera meloncat ke punggung kuda dan memacunya ke arah timur mengikuti Rikma Rembyak! Seorang lagi dari berandal yang terluka parah mencoba meloncat ke punggung kuda, tapi rupa-rupanya tenaganya telah habis, sehingga loncatannya tidak sampai dan terhempaslah ia ke tanah dan mati!

Begitulah pertempuran tadi selesai. Sebelas berandal termasuk Botorsewu telah tewas. Sedang di pihak penduduk tiga orang tewas dan beberapa luka- luka.

Atas kemenangan ini, karuan saja para penduduk dan penjaga-penjaga keamanan serta Ki Canggah Banyubiru sangat berterima kasih kepada Landean Tunggal dan Rebab Pandan.

Malam kembali sepi, sedang di balai desa, sibuklah orang-orang mengurus korban-korban pertempuran tadi. Dalam hati penduduk desa sejak malam itu, timbullah rasa tenteram dan damai yang telah dirindukannya. Mereka tak perlu lagi cemas akan pengacauan dari kaum berandal tadi, sebab sebagian besar dari kekuatan mereka telah musnah. Sementara itu Landean Tunggal serta Rebab Pandan kembali ke warung penginapan dan tidurlah mereka dengan pulasnya.

***

4

LANDEAN TUNGGAL mengerdip-ngerdipkan mata- nya ketika terasa bahwa berkas-berkas sinar matahari jatuh menimpa pelupuk matanya.

“Wah, matahari sudah tinggi! Agak kesiangan ini!” desis Landean Tunggal serta bangkit dengan segera. Ketika dilihatnya ke samping, tampaklah adik seperguruannya juga masih tertidur pulas, seperti orang yang kelelahan.

Memang ketika teringat akan kejadian tadi malam, maklumlah ia bahwa pertempuran menghadapi para berandal itu sangat melelahkan. Maka tak heranlah bila adik seperguruannya, si Rebab Pandan itu yang biasanya selalu bangun pagi-pagi, kali ini masih belum membuka mata.

Landean Tunggal bermaksud membiarkannya untuk sebentar waktu lagi. Namun ketika ia teringat akan tugas yang mereka kerjakan, lalu segeralah ia menepuk-nepuk pundak Rebab Pandan.

“Hyaat!” Cegg!

Rebab Pandan bangun dan langsung mengirim satu pukulan ke arah Landean Tunggal, tapi untungnya ta- ngan Rebab Pandan itu tiba-tiba ditangkap oleh cengkeraman Landean Tunggal.

“Hai, mengapa kau, Adik?!” seru Landean Tunggal setengah heran, sedang Rebab Pandan cuma meringis segan.

“Heh, heh. Maaf, Kakang Landean. Aku tengah bermimpi bertempur melawan Rikma Rembyak tadi malam. Dan ketika Andika membangunkan aku, kukira musuh lain yang mau mengeroyokku!”

“Ha, ha, ha. Tak apalah, Adi! Aku malah bangga bahwa Adi tetap waspada, meskipun dalam keadaan mimpi!” ujar Landean Tunggal. “Marilah kita berkemas, Adi. Kita akan cepat-cepat meneruskan perjalanan ke Gedong Songo.”

“Baik, Kakang.”

Kedua pendekar muda ini segera berkemas-kemas dan membersihkan badan dengan air sumur yang sejuk menyegarkan. Sesudah selesai dan membayar sewa kamar serta makanan, mereka meneruskan perjalanannya kembali ke arah utara.

Sewaktu mereka melewati jalan desa itu, tampaklah beberapa orang berbisik-bisik lalu mengangguk hormat kepada Landean Tunggal dan Rebab Pandan. Agaknya mereka telah tahu bahwa kedua pendekar muda inilah yang telah menolong desa mereka dari pengacauan berandal-berandal gunung.

Sesudah mereka keluar dari pintu gerbang desa, dipacunya kedua kudanya menuju utara. Sepanjang perjalanan hanya gunung dan hutan- hutan lebat serta gemericik air yang mengalir dari sela- sela batu mengiringi panorama alam yang indah. Mere- ka jadi terhibur oleh karenanya. Keindahan alam tadi seperti wajah seorang puteri yang mengelu-elukan perjuangan mereka dalam mengusir kaum berandal yang telah sekian lama membikin rusuh. Kini wajah alam itu seperti cerah, angin bertiup segar dan udara cerah.

Landean Tunggal dan Rebab Pandan menambah kecepatan lari kudanya. Tak antara lama, tibalah me- reka di sebuah sungai kecil yang tidak begitu dalam, sebab sungai itu merupakan awal dari sebuah sungai yang panjang mengalir ke utara, yakni Sungai Tuntang.

“Cepat Adi, kita menyeberang! Sebentar lagi kita sampai. Lihatlah gunung yang mendekam di utara sana. Itulah Gunung Ungaran yang kita tuju, Adi,” ajak Landean Tunggal serta menderapkan kudanya menyeberangi sungai kecil yang dalamnya hanya selutut kaki kudanya.

“Di manakah letak candi-Candi Gedong Songo itu, Kakang?” kembali bertanya Rebab Pandan.

“Kalau kita sama mendaki kaki Gunung Ungaran dan kemudian membelok ke arah timur laut, di lereng itulah kita akan menjumpai candi-candi itu.”

Sungai kecil itu telah mereka seberangi. Kini keduanya menempuh hutan-hutan kecil di kaki Gunung Ungaran sebelah selatan. Dalam perjalanan ini, Landean Tunggal berkali-kali tersenyum bila mendengar adik seperguruan yang berkuda di sebelah belakang itu bersenandung tembang Dandanggula ataupun tembang lainnya yang mendambakan kerinduan hati seorang pemuda yang teringat akan gadisnya. Landean Tunggal yang cukup bijaksana membiarkan saja Rebab Pandan bersenandung tadi dan ia tak akan mengganggunya. Apalagi suara itu sangat empuk dan merdu, hingga perjalanan mereka tak terasa telah menginjak lereng sebelah timur.

Landean Tunggal sendiri sering bertanya-tanya dalam hati, kapankah hatinya juga akan tertambat pada seorang gadis seperti Rebab Pandan ini? Tapi anehnya sampai saat ini ia masih belum tergerak hatinya ke arah itu, kecuali ke arah keluhuran budi dan semua pelajaran ilmu dari Panembahan Jatiwana.

Di lereng timur itu, kabut putih sebentar-sebentar melayang ringan berarak-arak sampai sinar matahari siang sebentar hilang dan sebentar muncul. Bunyi se- rangga, terutama tenggeret atau yang biasa disebut garengpung itu berdengung bersahut-sahutan dari pohon-pohon sarangan dan pohon-pohon lainnya. Pohon-pohon pakis, bunga-bunga anggrek liar dan sulur-suluran, sebagai ciri utama dari tumbuh- tumbuhan tanah pegunungan banyak tumbuh di sana- sini dengan lebatnya.

Kuda mereka tidak lagi dapat berpacu karena jalan yang mereka lalui penuh berbatu-batu lagi curam. Me- reka sebentar-sebentar melepaskan lelah serta beristirahat secukupnya sambil menikmati nasi yang telah dikepal-kepal sebesar genggaman tangan. Sedang lauknya ikan asin yang mereka beli dari warung peng- inapan di Desa Banyubiru pagi tadi.

Menjelang matahari turun ke cakrawala barat, kedua pendekar muda tadi telah sampai ke daerah percandian. Dari jauh, tampaklah remang-remang bentuk Candi Gedong Songo yang kelabu kehitaman.

Akan tetapi, benarkah bahwa perjalanan mereka lancar? Sebab di balik semak-semak pohon pakis berloncatanlah satu bayangan laki-laki tua, berambut panjang terurai dengan wajah keriput tua tersenyum dengan sinisnya ke arah dua pendekar muda tadi! Dan gerak loncatannya yang ringan bagai kapas itu dapatlah segera diukur betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh kakek tua ini.

“Haa, apakah yang mau dikerjakan oleh bocah- bocah ingusan di senja-senja begini ini? Apakah mere- ka tidak tahu bahwa daerah ini termasuk wewenang kekuasaan Gombelwadas? Heh, heh, heh, baiknya aku tunggu dulu apa maunya mereka!” gumam kakek tua tadi seraya berloncatan lagi membayangi Landean Tunggal serta Rebab Pandan dari balik semak-semak.

Dalam pada itu, kedua pendekar muda tadi cepat- cepat mendekati daerah percandian yang telah gelap. Mereka lalu turun dari kuda dan menambatkannya sekali pada sebuah pohon pakis.

“Kakang Landean Tunggal, di manakah kita akan bermalam kali ini?” tanya Rebab Pandan kepada kakak seperguruannya.

“Hmm, disini tak ada rumah penduduk, Adi. Tapi janganlah kuatir. Tak ada jeleknya kita menginap di relung-relung candi rusak itu, daripada kita kaku kedi- nginan di luar sini.”

“Setuju, Kakang,” sahut Rebab Pandan dengan tersenyum.

Maka kedua pendekar muda itupun mempersiapkan tempat untuk tidur. Dengan berlandaskan bantal kepala kuda serta masing-masing berselimut selembar kain, mereka segera merebahkan dirinya ke lantai batu dan tak lama kemudian tertidurlah keduanya kelelahan. Di luar, udara dingin terasa menusuk tulang sumsum.

Sedang di balik semak-semak, si kakek tua tadi mengangguk geram. “Hah! Mereka tidur di situ. Bagus, bagus! Aku sekarang belum tahu maksud-maksud me- reka. Baiklah, aku akan tunggu sampai besok pagi!”

Habis menggerundal begitu, kakek tersebut melesat ke samping dan lenyaplah tubuhnya di gelap malam yang telah mencengkam daerah Gedong Songo. Daerah ini masih jarang didatangi manusia dan di sekeli- lingnya masih dipagari oleh hutan lebat. Oleh sebab itu daerah ini sangat sepi baik siang dan lebih-lebih malam hari. Maka tak heranlah bila kedatangan Landean Tunggal serta Rebab Pandan ke tempat candi- candi tua ini sangat mengherankan bagi si kakek tua yang menyebut namanya Gombelwadas itu.

Sang malam terus beredar tanpa lelahnya dan sang waktu tak terasa cepat berlalu. Demikianlah sisa-sisa malam telah bergeser ke langit sebelah barat, sementara ujung fajar pagi mengintai dari cakrawala timur.

Sayup-sayup terdengar kokok ayam hutan dan beberapa ekor jengkerik masih mendering merdu, seakan-akan masih berusaha menahan kepergian sang malam.

Landean Tunggal serta Rebab Pandan telah bangun di sinar pagi yang pertama menyentuh daerah Gedong Songo itu. Keduanya lalu membersihkan diri pada ma- ta air di dekat candi.

“Adi Rebab Pandan, marilah kita mulai mencari Kaca Sirna Praba!” ajak Landean Tunggal kepada adik seperguruannya.

“Kita harus mencari patung Ganesya lebih dulu Kakang,” ujar Rebab Pandan. “Dan ini tidak mudah, sebab di daerah ini pasti ada lebih dari satu patung Ganesya!”

“Yah, tapi kita harus menemukan kaca itu, biar bagaimana pun sukarnya, Adik!” berkata Landean Tunggal. “Bukankah Kitab Hijau milik perguruan kita tidak akan lengkap bila kaca Sirna Praba tadi tidak kita temukan?”

“Dari mana kita akan mulai mencari benda itu, Kakang?”

“Kita periksa saja tempat ini dari selatan dan kemudian menuju ke utara,” ujar Landean Tunggal, dan kemudian keduanya mulailah memeriksa candi- candi itu dari sebelah selatan.

Tiap relung dan sudut dari candi-candi itu ditelusuri serta diteliti dengan seksama. Pada candi pertama diketemukan patung Ganesya, tapi peti batu seperti yang dipesan oleh Panembahan Jatiwana tidak mereka ketemukan.

Biar begitu kedua orang ini tidak berputus asa. Me- reka terus mencari dan mencari hingga pada candi yang paling utara, mereka menemukan lagi sebuah patung Ganesya.

Patung Ganesya berkepala gajah yang melambangkan kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan ini duduk bersila dengan megah, dan kedua pendekar muda tadi cepat mendekatinya.

Landean Tunggal dengan hati berdegupan mene- ngok celah-celah di bagian belakang patung ini, dan tiba-tiba terbelalaklah matanya bila ia menatap sebuah kotak batu berukir kasar. Dengan segera Landean Tunggal memungut kotak batu tadi sambil bergemetaran tangannya, sebab hatinya dipenuhi pertanyaan, apakah betul benda yang dicari, tersimpan di dalam kotak batu ini?

“Adi Rebab Pandan,” seru Landean Tunggal kepada adik seperguruannya yang berdiri di belakangnya de- ngan terperanjat pula menatapi kotak batu itu, “lihatlah, Adi. Kita telah menemukannya! Menemukan benda yang diminta oleh guru kita!”

“Akh, syukurlah, Kakang. Syukurlah! Hampir saja aku berputus asa karenanya,” ujar Rebab Pandan terbata-bata penuh haru.

“Ayo, kita periksa di luar, Adik!” seru Landean Tunggal tak sabar, sebab ia ingin lekas-lekas mengetahui benda yang telah bersusah payah dicarinya.

Keduanya lalu berloncatan keluar candi dan berdiri dekat pintu gerbang candi yang berjenjang.

Hati-hati sekali mereka membuka peti batu tersebut. Begitu tutupnya terbuka, maka kedua pendekar muda itu lebih terpesona lagi. Memang terasa bahagia, bila sesuatu benda yang bersusah- susah payah dicarinya, kini betul-betul diketemukan. Sebab kaca yang berbingkai logam baja biru, seperti yang biasa digunakan untuk berias itu, terletak di dalamnya.

“Oooh, benar-benar menakjubkan, Kakang!” kata Rebab Pandan. Dan Landean Tunggal pun tak habis kagumnya menatapi kaca Sirna Praba tadi.

Tetapi selagi mereka diliputi kekagumannya terhadap benda ini, sekonyong-konyong berkelebat satu bayangan manusia menyambar ke arah mereka. Sebuah tangan yang berjari-jari penuh keriput ketuaan berkembang siap menyambar kaca Sirna Praba itu.

Tentu saja kedua pemuda ini terperanjat bukan main. Rebab Pandan secepat kilat mengayunkan senjata rebabnya ke arah tangan tadi dan terjadilah satu benturan. Weess. Trak!

Bayangan tadi kemudian berjumpalitan di udara dan mendarat di tanah dengan bertolak pinggang, sambil meringis sinis ia berkata, “Heh, heh, heh, terimalah tadi sekadar salam perkenalan dari Gombelwadas, penguasa daerah lereng Ungaran ini.”

“Terima kasih, Kakek! Tapi apakah maksudmu mencoba mengganggu kami?” ujar Landean Tunggal agak curiga.

“Heh, heh. Jangan pura-pura kamu, bocah ingusan! Apa kau kira aku tidak melek, kalau kalian telah menemukan benda berharga itu!” seru Gombelwadas garang!

“Apa pula maksudmu, Kakek?” sela Rebab Pandan pula, karena iapun kurang senang dengan munculnya orang tua ini. Dalam hati ia sudah menduga akan timbul persengketaan dengan dirinya.

“Keparat! Kalian banyak ngomong saja! Lekas kalian serahkan benda itu kepadaku. Sebagai penguasa daerah ini, aku berhak menguasai segala barang yang terdapat disini!”

“Haa, apakah ada seorang yang mengangkat Kakek sebagai penguasa daerah ini?!” berseru Rebab Pandan jengkel.

“Kurang ajar, masih saja berkelakar bodoh! Yang mengangkat adalah diriku sendiri! Tahu, kowe?!”

“Hmm, kami tak akan begitu saja menyerahkan benda ini, Kakek! Dari jauh kami telah bersusah payah mencarinya ke sini dan kini ada orang yang dengan enak mau mengambilnya. Tidak! Benda ini telah kami ketemukan dan akan kami bawa pergi!”

“Kunyuk! Rupanya harus kuambil dengan paksa!” teriak Gombelwadas dan melesatlah ia tiba-tiba ke arah Landean Tunggal serta Rebab Pandan. “Hyaat!”

Kedua pendekar tadi sangat terperanjat dan terpaksa keduanya terhuyung-huyung ke belakang karena tersampok oleh angin pukulan si kakek tua yang dahsyat. Oleh kenyataan ini, kedua pendekar tadi dapat mengukur bahwa kekuatan Gombelwadas tadi setaraf dengan guru mereka. Panembahan Jatiwana! Karuan saja mereka terpaksa bertempur sepenuh tenaga, bila tidak ingin mati konyol!

Sebentar saja terjadilah pertempuran dahsyat! Ketiganya bergerak bagai bayangan berkelebatan saking cepatnya.

Biar kakek tua Gombelwadas ini seperti orang yang sudah tak bertenaga, yang kira-kira sekali pukul akan menggeletak di tanah, namun tidak demikianlah ke- nyataannya! Bahkan tenaganya malah berlipat-lipat! Geraknya sangat garang, laksana seekor macan lapar, sedang kedua tangannya berkali-kali menerkam de- ngan ganasnya!

Tapi yang dilawan kali ini adalah murid-murid gemblengan Panembahan Jatiwana. Kedua pemuda tadi bergerak lincah, menghindari setiap terkaman si kakek tua dan lama-kelamaan mereka merasa terdesak oleh lawannya. Keduanya sama sekali tak sempat membalas, kecuali hanya bertahan saja. Itu pun sudah untung, sebab tandang kakek tua tadi semakin ganas!

Kakek Gombelwadas juga keheranan menghadapi kedua lawan mudanya ini. Tak mengira sama sekali bahwa mereka mampu bertempur melawan dirinya sampai sekian lama! Maka tiba-tiba ia mengibaskan ta- ngannya dan berkeredapanlah jarum-jarum kecil berbisa menyambar ke arah Landean Tunggal dan Rebab Pandan.

Diserang begini macam, mereka sangat terkejut dan untunglah mereka dapat menguasai dirinya. Dengan lompatan Srigunting, keduanya lolos dari sambaran- sambaran jarum berbisa tadi. Berbareng itu pula, Gombelwadas melesat ke arah Rebab Pandan. Tahu-tahu pundak pendekar muda ini kena tercengkeram oleh jari-jari si kakek tua dan selanjutnya tubuh Rebab Pandan kena terhempaskan ke tanah oleh Gombelwadas hingga bergulingan de- ngan meringis. Setelah itu si kakek tua ganti berpaling ke arah Landean Tunggal.

“Heh, heh, heh, tahu rasa kau bocah ingusan!” ejek Gombelwadas dan sekali lagi ia mengibaskan ta- ngannya ke arah Landean Tunggal.

Berpuluh jarum berbisa terbang menyambar cepat, tapi Landean Tunggal cukup memiringkan tubuh menghindari jarum-jarum tadi. Sayang, bahwa jarum- jarum tersebut terbang dalam keadaan tersebar ke samping hingga tiga buah di antaranya menancap ke lengan Landean Tunggal.

Melihat ini, si kakek tua terkekeh senang, sebab pasti lawannya akan binasa sekejap lagi. Namun ia terpaksa menghentikan ketawanya bila Landean Tunggal dengan enaknya mencabut ketiga jarum berbisa itu dan membuangnya ke tanah. Kakek tua itu tidak tahu bahwa Landean Tunggal mengenakan cincin Galuh Punar yang dapat menawarkan racun dan bisa sehebat apapun!

Kini Landean Tunggal tahulah bahwa mereka menghadapi tokoh sakti yang luar biasa. Maka kaca Sirna Praba tersebut yang masih digenggamnya diarahkan menentang sinar matahari, sambil menghadapi arah Kakek Gombelwadas berdiri!

Sinar matahari dengan sendirinya tercampak me- nimpa kaca tersebut. Landean Tunggal sebenarnya tak bermaksud menggunakan kaca Sirna Praba ini, tetapi ia sudah benar-benar kehabisan akal menghadapi Kakek Gombelwadas yang hebat begitu. Apalagi adik seperguruannya telah kena dihempaskan ke tanah dan kini masih terbaring peringisan.

Begitulah sinar panas matahari tadi terpantulkan oleh kaca Sirna Praba dan diarahkanlah oleh Landean Tunggal ke arah Kakek Gombelwadas. Maka terjadilah akibat yang hebat ketika sinar panas matahari me- nimpa tubuh Kakek Gombelwadas.

Orang tua tadi seketika menjerit hebat dan tubuh- nya terbakar sampai bergulingan rebah ke tanah sambil berserabutan tangan dan kakinya. Sebentar kemudian apipun padam dan Gombelwadas yang sakti itu mati dengan tubuh hangus seperti daging sate.

Landean Tunggal merasa ngeri melihat akibat pantulan sinar panas yang dipantulkan oleh kaca Sirna Praba ini. Iapun segera menyimpan kaca tadi di dalam bajunya dan cepat-cepat ia menolong Rebab Pandan. Dengan sedikit pijatan-pijatan yang teratur pada pundak adik seperguruannya, sembuhlah si Rebab Pandan dari rasa pedih dan sakit yang kelewat sangat, akibat cengkeraman Kakek Gombelwadas.

Tak beda dengan Landean Tunggal, Rebab Pandan pun terperanjat melihat kehebatan dan akibat dari sinar pantulan kaca Sirna Praba tersebut. Belum pernah ia melihat kengerian seperti itu.

“Kakang, ah hebat sekali kaca Sirna Praba ini!” desah Rebab Pandan disertai hati yang ngeri.

“Itulah agaknya mengapa kaca ini tersimpan di tempat terpencil seperti ini, seperti yang dikuatirkan oleh Bapak Guru. Sebab jika ia sampai jatuh di tangan orang sembarangan, berbahaya akibatnya, bukan?”

Rebab Pandan mengangguk membenarkan perkataan Landean Tunggal.

“Adik Rebab Pandan, kini selesailah tugas kita ini. Marilah kita lekas-lekas berkemas untuk perjalanan pulang ke Padepokan Gunung Merapi.” “Baik, Kakang Landean. Marilah!”

Sebentar saja mereka telah rampung berkemas, dan segera berpacu ke arah selatan menuruni lereng kaki Gunung Ungaran sebelah timur.

Perjalanan pulang kali ini terasa lebih cepat dan ringan bila dibanding sewaktu mereka berangkat. Tambahan lagi, mereka telah berhasil mendapatkan kaca Sirna Praba yang mereka cari, hingga langkah- langkah kuda mereka seolah-olah terasa lebih ringan. Di hadapan mereka terbentanglah lembah Banyubiru, sedang di sebelah selatan sana berdiri Gunung Merbabu dan Merapi.

***

5

BERKALI-KALI Sang Panembahan Jatiwana berjalan mondar-mandir di halaman Padepokan Gunung Mera- pi. Hatinya kadang-kadang merasa cemas, tapi juga kadang-kadang menjadi tenang, bahkan penuh harapan bahwa kedua muridnya akan berhasil menemukan kaca Sirna Praba yang dimaksud.

Kedua muridnya, Landean Tunggal serta Rebab Pandan, telah satu pekan lebih lamanya pergi mening- galkan padepokan dan sampai senja ini mereka belum kembali.

Ketika itu terasa bahwa Padepokan Gunung Merapi menjadi lebih sunyi daripada hari-hari yang lalu. Sedang kenyataannya, para cantrik dan abdi padepokan selalu menemani dan menghibur orang tua ini, demikian pula sampai pada senja sekarang. Di senja ini, ketika Sang Panembahan lagi mondar- mandir tadi, tampaklah seorang cantrik tergopoh- gopoh dari arah jalan masuk ke halaman padepokan.

“Oh, Sang Panembahan tak perlu lagi bercemas hati sekarang. Lihatlah dari tebing barat itu. Kedua anak murid Sang Panembahan telah kembali dengan selamat. Mereka tengah naik menuju kemari,” ujar cantrik tadi terasa sebagai siraman air embun ke hati Sang Panembahan. Segar dan dingin, menenangkan hatinya yang lagi kecemasan menanti kedua anak muridnya pulang.

“Eh, ya Allah! Syukurlah, cantrik. Kita sudah berhari-hari menantinya, bukan?” ujar Sang Panembahan terbata-bata saking gugupnya dan gembira.

Panembahan Jatiwana lalu bergegas ke pintu gerbang diikuti oleh beberapa orang cantrik keluarga padepokan. Mereka sesaat berdiri di situ memandang ke arah tebing sebelah barat.

Dan betullah apa yang dikatakan cantrik tadi, sebab tak antara lama muncullah dua anak muda berkuda dari tebing barat, seolah-olah muncul dari balik tanah.

Keduanya menuju ke pintu gerbang padepokan di mana Panembahan Jatiwana dan para cantrik berdiri menyambut mereka. Ketika kuda-kuda mereka makin mendekat, Landean Tunggal serta Rebab Pandan cepat-cepat meloncat turun dari punggung kuda. Keduanya lalu mengangguk hormat ke hadapan gurunya, dan panembahan tua ini segera menepuk- nepuk pundak mereka.

“Bagaimana, Angger sekalian, apakah tugasmu telah berhasil?”

“Berkat doa Bapak Guru, kami berdua telah berhasil mendapatkan kaca Sirna Praba,” berkata Landean Tunggal.

“Wah, syukurlah, Angger. Dengan begitu akan lebih sempurnalah perguruan kita ini. Mari Angger berdua, silakan segera masuk ke rumah. Kita akan lebih puas bercakap-cakap, dan aku ingin mendengar kisah perjalanan kalian.”

“Terima kasih, Guru,” ujar Landean Tunggal dan bersama Rebab Pandan, keduanya masuk ke dalam rumah, setelah lebih dulu membasuh kakinya dengan air tempayan di dekat pintu.

Demikianlah mereka duduk di ruang depan, sementara seorang cantrik menyuguhkan minuman serta ketela rebus yang masih hangat.

Landean Tunggal berceritera tentang perjalanan me- reka ke daerah Gedong Songo itu, dan Panembahan Jatiwana mau tak mau mengagumi kedua muridnya yang telah berhasil mengatasi segala bahaya yang dijumpainya. Dan paling bangga lagi buat Sang Panembahan ialah diketemukannya kaca Sirna Praba ini. Maka ia tak habis kagumnya mengamat-amati kaca ini. Apa yang diimpikan akan kelengkapan Kitab Hijau selama ini, betul-betul terlaksana sekarang.

Maka semenjak kembalinya Landean Tunggal serta Rebab Pandan ke padepokan ini dengan selamat dan pula diketemukannya benda ampuh tersebut, suasana padepokan ini terlihat lebih cemerlang dan semarak lagi.

Tetapi apakah yang begitu akan dapat berlangsung terus? Sayangnya tidak begitu nyatanya. Sebab setelah lima hari mereka kembali ke padepokan, Sang Panembahan telah mengambil suatu keputusan, suatu maksud yang telah sekian lama ditunggunya.

Pagi itu Sang Panembahan telah memanggil kedua muridnya ke ruang depan. Sesudah mereka duduk di balai-balai, Sang Panembahan memungut kaca Sirna Praba serta Kitab Hijau.

“Nah Angger berdua, kini tibalah saatnya kalian menerima kewajiban sebagai wakilku kelak. Kitab Hijau serta kaca ini harus kalian simpan dan pelajari baik-baik,” Panembahan Jatiwana berkata dengan mantap. “Dan aku minta Angger Landean Tunggal menyimpannya!”

“Beribu terima kasih, Bapak Guru,” ujar Landean Tunggal serta Rebab Pandan berbareng. Kedua pende- kar muda ini benar-benar merasa terharu karenanya.

Suasana sesaat menjadi hening, namun mendadak dari balik pintu masuk, muncullah Umpakan dengan wajah cemberut.

“Hah! Rupanya benarlah apa dugaanku semula, bahwa Bapak Guru terlalu berat sebelah terhadap muridnya. Mengapa justru aku tidak ikut dipercaya untuk menyimpan kedua benda itu?” berkata Umpakan seraya mengacungkan tangannya ke arah Kitab Hijau dan kaca Sirna Praba.

Pasti saja mereka itu terperanjat terhadap sikap Umpakan yang muncul tiba-tiba dan bersikap kurang sopan yang berkata sambil berdiri dengan sikap acak- acakan seperti orang hutan tak mengenal tatakrama.

Bila sesungguhnya mereka dalam hati merasa mengkal dan marah namun ketiganya adalah orang- orang yang pandai menguasai perasaan serta tahu me- ngaturnya mana yang perlu dilahirkan dan mana yang tidak. Mereka seolah-olah tak menjadi heran ataupun takut terhadap sikap Umpakan ini.

Oleh sikap ini, Umpakan merasa seperti diperma- inkan ataupun diremehkan sekali, maka tiba-tiba ia menggeram marah, serta berteriak garang. “Hah, kalian orang-orang yang tak mengenal rasa adil dan bersekongkol menyisihkan diriku! Tapi kalian jangan menyesal bila aku berhasil menghancurkan Padepokan Gunung Merapi, seperti ini!”

Berkata demikian itu, Umpakan berbareng memukul dinding kayu dengan seru!

Braak! Dinding tersebut pecah berlobang akibatnya. Baik Panembahan Jatiwana, Landean Tunggal, serta Rebab Pandan terbelalak melihat akibat pukulan Umpakan yang mampu melobangi tembus dinding kayu setebal dua jari, semudah melobangi selembar

daun!

“Hua, hua, hua, kalian tahu? Kalian melek dengan kekuatan pukulanku ini? Nah, aku tak ingin keke- rasan lebih lanjut, maka serahkan kedua benda itu kepadaku!” ujar Umpakan.

“Manusia tak tahu diuntung!” teriak Landean Tunggal marah. “Kalau tahu tabiatmu seburuk ini, dari dulu tak perlu kami menyelamatkan dirimu dari mulut-mulut macan itu. Biar kamu mendekam dalam perut binatang itu!”

“Hah! Tak perlu mengungkit-ungkit barang yang telah lalu! Tak guna! Yang penting adalah sekarang, waktu yang kini kita hadapi! Kalau kepingin mencoba kekuatanku, ayo kulayani sekarang juga, Landean Tunggal!” berseru Umpakan serta meloncat ke halaman, sedang Landean Tunggalpun menyusulnya meloncat keluar.

Tanpa berkata lagi, Umpakan langsung mengirimkan serangan ganas ke arah Landean Tunggal, tapi betapa kaget ia bila dengan gesit Landean Tunggal berhasil menghindar. Dan sebentar kemudian di halaman Padepokan Gunung Merapi ini terjadi pertarungan yang dahsyat. Umpakan menumplak segala kegesitan, ketangkasan serta kesaktiannya untuk melawan Landean Tunggal. Namun kesemuanya ini, seakan-akan terhempas musnah menghadapi kekuatan lawan. Yang lebih mengherankan bagi Umpakan ialah gerakan silat Landean Tunggal yang senantiasa menyamai bahkan tahu cara-cara menangkis jurus-jurus silat ajaran Ki Jobin Karang. Oleh karenanya Umpakan makin terdesak setelah menghabiskan tiga puluh jurus.

Mendapat lawan yang tangguh begini, Umpakan lebih mata gelap. Cepat ia menggerakkan kedua ta- ngannya ke balik baju serta secepat kilat dikibaskannya ke arah Landean Tunggal!

“Awas Kakang Landean!” seru Rebab Pandan memperingatkan kakak seperguruannya bila dilihatnya delapan buah pisau kecil panjang berkilatan melesat ke tubuh Landean Tunggal. Demikian pula Sang Panembahan berdesir hatinya melihat hal ini.

Untunglah, Landean Tunggal lebih cepat lagi gerakannya!

Dengan menjejak tanah tubuhnya melesat ke udara dalam gaya loncatan Srigunting dan semua orang menahan nafas melihat kejadian berikutnya yang cuma sekejap saja.

Tiga buah pisau lewat di bawah tubuh Landean Tunggal, sedang yang empat buah lainnya masing- masing kena terjepit oleh jari-jari kedua belah tangan, kaki dan yang satu lagi kena terjepit oleh mulutnya!

Umpakan terpaksa melompong mulutnya melihat adegan yang begitu hebat seperti tak masuk akal. Belum lagi ia sempat bertindak lagi, tahu-tahu tubuh Landean Tunggal melesat ke arah dirinya dan terasalah kedua kaki lawannya bagai tembok baja mendobrak dadanya, dan tanpa berkutik tubuhnya terhempas ke belakang jungkir balik di tanah berbatu- batu. Tapi masih untung ia mengetrapkan ilmu meng- entengkan tubuh walaupun secara tiba-tiba hingga luka-luka yang dideritanya tidak seberapa banyak. Hanya benjol bengkak serta tergores berdarah pada kulit.

“Aduh... keparat kowe, Landean Tunggal!” ujar Umpakan sambil sempoyongan berdiri. “Baik, kau menang sekarang! Tapi awas, tunggulah pembalasanku nanti!”

Umpakan terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu ke arah selatan, diikuti oleh pandangan semua ma- ta orang-orang di padepokan.

“Angger Landean, ah keadaan semakin ruwet agaknya. Tak urung Umpakan tadi akan kembali lagi kemari. Jika ia membawa teman-temannya golongan hitam ataupun berandal-berandal, celakalah kita. Nah, begini saja Angger Landean Tunggal. Kau pindah saja ke Jepara di pesisir utara sana. Bawalah dan simpanlah Kitab Hijau serta kaca Sirna Praba ini olehmu,” berkata Sang Panembahan dengan hati risau. “Besok pagi berangkatlah Angger kesana. Dengan begitu maka kita terpencar menjadi dua, dan salah satu akan bisa selamat dari keganasan Umpakan.”

“Baiklah, Gapak Guru,” jawab Landean Tunggal tertunduk sedih dan memanglah ia teramat sedih bila meninggalkan Padepokan Gunung Merapi ini, seperti yang terjadi pada keesokan harinya. Dengan sangat mengharukan perpisahan dengan Panembahan Jatiwana, Rebab Pandan dan para cantrik serta keluarga padepokan berlangsung di pagi hari itu.

Landean Tunggal berkuda ke arah barat dan sebentar-sebentar dia menengok ke belakang serta melambai-lambaikan tangannya. Padepokan Gunung Merapi tadi semakin jauh dan bertambah jauh dari matanya, namun semakin dekat di dalam hatinya.

***

Sementara itu jauh di sebelah selatan sana, di tepi pantai Laut Kidul.

Di sela bunyi-bunyi deburan ombak yang mendahsyat bergulung-gulung memecah ke pantai, berloncatanlah sebuah bayangan manusia ke udara laksana gerakan seekor burung camar meniti buih. Lincah, cekatan dan gesit!

“Bagus, bocah! Bagus! Tak percuma aku menggemblengmu di Laut Kidul ini!” teriak seorang laki-laki berkepala gundul yang berdiri di samping seorang pemuda berambut gondrong awut-awutan.

“Nah, Rikma Rembyak! Lihatlah gerakan Umpakan itu dengan baik. Sebagai murid termuda, kau harus lebih banyak belajar dulu kepada Umpakan sebelum langsung menerima pelajaran dari aku. Maka kau harus menganggap Umpakan sebagai gurumu pula!”

“Baik, Ki Jobin Karang,” kata pemuda gondrong tadi.

Keduanya sangat mengagumi gerakan Umpakan dan begitulah dari hari ke hari dan dari minggu ke bulan, Umpakan terus berlatih lebih giat. Segala petunjuk dan nasehat Ki Jobin Karang dipatuhinya betul-betul. Dalam dirinya ia masih menyimpan dendam yang membara terhadap Landean Tunggal, merupakan satu bara api di Laut Kidul!

Hampir setiap hari ketiganya berlatih seru di pantai. Mulai dari Pantai Congot di sebelah barat sampai ke Parangtritis di sebelah timur telah mereka jelajahi dalam latihan-latihan tadi.

Dalam waktu-waktu senggang, mereka bertiga se- ring memancing ikan di laut ini. Mereka sengaja melakukannya selain untuk dimakannya, yang penting adalah untuk melatih kesabaran dan kecekatan. Kedua unsur tadi sangat penting dalam ilmu silat.

Pada suatu hari seperti biasanya mereka tengah asyik memancing. Tapi jika Ki Jobin Karang dan Rikma Rembyak telah mendapat beberapa ekor ikan, Umpakan masih belum dapat seekor pun. Hal itu tentu saja menimbulkan rasa kesal di dada Umpakan.

Untunglah, pada tarikan pancingnya yang kelima belas, Umpakan berbesar hati sebab terasa sangat berat! Maka secepat kilat ditariknya tali pancingnya ke atas. Tetapi apakah yang terjadi? Sungguh mengejutkan sekali! Satu hal yang sangat ganjil!

Bukan ikan ataupun sesuatu binatang laut lainnya yang dapat dimakan, tetapi sebuah topeng! Yah, sebuah topeng dari logam tipis yang telah rusak dan penuh rumah-rumah siput yang menempel pada sebagian besar sisinya telah tergantung pada mata pancing milik Umpakan.

Ki Jobin Karang dan Rikma Rembyak tercengang dibuatnya! Dan selanjutnya, tiba-tiba saja Ki Jobin Karang membungkuk hormat di depan Umpakan yang lagi sibuk mengamat-amati topeng rusak itu.

“Heei, mengapa engkau, Guru?!” seru Umpakan kaget.

“Topeng itu! Topeng yang bocah pegang itu adalah topeng lambang keperkasaan serta kesaktian yang pernah dimiliki oleh kaum berandal dari Laut Kidul. Topeng itu telah sekian lama hilang, ketika pemimpin kami yang memakainya telah tewas dan tercebur ke laut ini dalam suatu pertarungan melawan seorang pendekar Majapahit bernama Harya Nagageni yang bersenjata cambuk pusaka yang menyala biru kehijauan! Nah, dengan topeng yang bocah temukan ini, berarti kaulah yang beruntung. Kaulah yang akan membangun kembali kejayaan berandal Laut Kidul yang telah musnah!”

Umpakan terhenyak kaget mendengar penuturan Ki Jobin Karang tersebut. Tak mengira bahwa dirinya kejatuhan rejeki nomplok sebesar itu, satu keberun- tungan yang benar-benar tak terduga olehnya!

Ketiganya lalu berjalan pulang. Sampai di rumah, Umpakan cepat-cepat membersihkan topeng tadi de- ngan hati-hati dan cermat, sedang Ki Jobin Karang dan Rikma Rembyak menunggunya.

“Hmm, lihatlah, Guru. Sekarang ia telah bersih, tapi beberapa bagian ada yang rusak dan tergores seperti ini.”

“Tidak apa-apa, Umpakan, itu dapat diperbaiki nanti!”

“Terima kasih, Guru!” ujar Umpakan puas sambil melepas ikat kepalanya hingga terurailah rambutnya yang panjang. Topeng tadi dicobanya pada mukanya dan ternyata sangat sesuai. “Hmm, topeng ini akan kupakai dan sejak saat ini aku akan bergelar Ki Topeng Reges!”

Semenjak saat itu, sejak topeng tadi diperbaiki serta dipakainya, Ki Topeng Reges seperti mendapat tambahan tenaga baru, dan keinginannya untuk membalas dendam atas kekalahannya kepada Landean Tunggal semakin berkobar. Apalagi jika ia mengingat akan kedua benda pusaka yang kini berada di tangan Landean Tunggal itu. Semua itu harus direbutnya! Tapi kapankah maksud itu dapat terlaksana? Ini yang selalu dipikirkannya!

Maka pada suatu hari ia berunding dengan Ki Jobin Karang, muridnya si Rikma Rembyak dan beberapa orang berandal yang sengaja tinggal bersama mereka untuk berguru.

“Ki Jobin Karang, Rikma Rembyak dan murid- muridku yang lain, kalian aku minta berkumpul disini untuk mengetahui rencana-rencana dari gerombolan kita! Dalam waktu yang dekat ini aku akan menjelajah ke Gunung Merapi di sebelah utara sana, sebab kalian telah tahu bahwa kita mempunyai musuh utama yang bercokol di Padepokan Gunung Merapi itu! Jika mere- ka dapat kita kalahkan, maka nama perguruan kita dapatlah lebih terkenal lagi di mana-mana. Hutan- hutan dan daerah-daerah seperti Mentaok, Prambanan, Gunung Kidul, Borobudur, Banyubiru dan lain-lainnya akan segera jatuh ke tangan kita! Heh, heh, heh, mungkin pula kita pun akan dapat me- ngangkangi pesisir utara sana! Untuk itu semua, aku bersama Ki Jobin Karang akan pergi untuk sementara waktu. Kalian kuharap tinggal di sini menjaga daerah pantai kita, dan Rikma Rembyak akan memimpin kalian sebagai wakilku! Bagaimana konco-konco, ada yang kurang jelas?”

“Sudah mengerti, Guru,” jawab Rikma Rembyak seraya mengangguk. “Kami akan menjaga tempat ini sebaik-baiknya.”

“Hmm, begitulah yang aku harapkan!” ujar Ki Topeng Reges dengan hati senang. Dalam hatinya ia merasa lega bahwa kali ini ia akan datang ke Padepokan Gunung Merapi serta membuat perhitungan dengan Landean Tunggal.

Kini ia akan menunjukkan kesaktiannya kepada mereka yang telah berkali-kali menyakitkan hatinya. Wajah-wajah Panembahan Jatiwana, Rebab Pandan serta terutama Landean Tunggal selalu menghantui pikirannya. Meskipun sesungguhnya dalam hati kecilnya ia mengakui bahwa dirinya sendirilah yang mula-mula bersalah dan merusak ketenteraman Padepokan Gunung Merapi itu, namun apa yang kini berkuasa dalam dirinya adalah kebutaan. Kebutaan akan kebenaran yang sesungguhnya. Rasa dendam cemburu, dan sombong saling bergelut di rongga dadanya dan ini semua sudah tak dapat dikekangnya. Yang dapat terbayang dalam kepalanya hanyalah pembalasan dendam. Mereka, orang-orang padepokan tadi, harus tunduk di telapak kakinya, serta merayap minta belas kasihan di hadapan Ki Topeng Reges!

Begitulah pada suatu pagi, Ki Topeng Reges bersama Ki Jobin Karang telah pergi meninggalkan Laut Kidul menuju ke utara. Keduanya berkuda untuk mempercepat waktu dan menghemat tenaga, sebab mereka yakin bahwa segera akan terjadi pertarungan melawan orang-orang Padepokan Gunung Merapi!

Dengan memacu kuda-kudanya seperti angin lalu, Topeng Reges serta Ki Jobin Karang mendekati Gu- nung Merapi. Dan menjelang senja, di saat matahari mendekati kaki langit sebelah barat, mereka telah tiba di lereng kaki Merapi.

Seperti tak sabar rupanya, kedua pendekar berandal tadi menderap kudanya ke atas menelusuri jalan kecil yang menuju ke arah Padepokan Gunung Merapi.

Dalam pada itu, seorang cantrik yang kebetulan tengah memeriksa hasil kebunnya di lereng gunung, tiba-tiba telah memergoki kedatangan kedua orang ini. Dengan terpekik kaget cantrik itu menatap seorang penunggang kuda yang berwajah seperti hantu, me- nyeramkan.

Cantrik tua ini hampir tak dapat membedakan apakah itu wajah asli ataukah wajah tiruan, karena memang cahaya senja membuatnya samar-samar. Karena takut dan kagetnya, orang tua ini berlari, namun alangkah kagetnya bila tahu-tahu si wajah hantu yang tidak lain Ki Topeng Reges ini meloncat dari punggung kudanya serta menerkam tubuhnya.

“Berhenti, setan! Aku butuh ocehanmu!” teriak Ki Topeng Reges sambil menggoncang-goncang bahu cantrik tua itu. Kini orang tua itu dapatlah mengetahui bahwa wajah yang seperti hantu ini adalah sebuah topeng!

“Aduh, aduh, jangan sakiti saya!” rintih cantrik tua tadi ketakutan. “Ssss... saya tak tahu apa-apa, Tuan.”

Plak! Plak! Dua buah tamparan ganas mampir di pelipis orang tua ini, sampai menjerit kesakitan.

“Lekas katakan! Apakah hari ini, si tua Jatiwana, Landean Tunggal serta Rebab Pandan ada di rumah!” seru Ki Topeng Reges.

“Ooh... yang ada cuma Bapak Guru dan Rebab Pandan saja, sedang... sedang Landean Tunggal telah pindah ke Jepara...”

“Haa?! Pindah ke Jepara? Keparat si kunyuk itu telah minggat ke utara! Hmm, kemanapun ia lari akan kita kejar! Bukankah begitu, Ki Jobin Karang?!” seru Topeng Reges.

“Bagus, aku akan selalu mengikutimu! Tapi apakah kita tidak perlu singgah ke padepokan itu? Biar kita beri sedikit pelajaran kepada si orang tua, Jatiwana itu!”

“Yah! Aku setuju! Ayo kita cepat kesana!” seru Topeng Reges serta menghempaskan tubuh cantrik tua itu ke tanah dan ia meloncat kembali ke punggung kuda serta memacunya ke arah jalan masuk ke Padepokan Gunung Merapi.

Sementara itu Panembahan Jatiwana dan Rebab Pandan yang lagi asyik berbicara di ruang depan, tiba- tiba dikagetkan oleh sebuah teriakan menggeledek dari arah halaman.

“Kakek peot Jatiwana! Ayo, lekas keluar! Aku si Umpakan telah kembali, dan siap mengadu tenaga de- nganmu! Hai kakek pengecut, cepat keluar!”

Rebab Pandan yang mendengar teriakan itu menjadi naik darah. Cepat ia beranjak keluar, tetapi tiba-tiba sebuah cengkeraman yang kuat menahan langkahnya!

“Sabar, Angger Rebab Pandan! Apakah kau lupa bahwa kau dan Landean Tunggal adalah pewaris dari perguruan ini?! Jika kau sampai cedera, maka harapanku tadi adalah sia-sia belaka! Nah, biarlah aku yang keluar sendirian. Kau tak perlu ikut! Sekali lagi aku tekankan, bahwa aku melarangmu keluar apapun yang terjadi pada diriku! Angger sembunyi saja di sini!” Panembahan Jatiwana meloncat keluar, sedang Rebab Pandan tetap bersembunyi dengan kecemasan. Dari celah-celah lobang dinding ia mengintai keluar.

Sementara itu tangannya telah menyambar rebabnya yang tergeletak sejak tadi.

Dari celah dinding tadi dapatlah ia menyaksikan gurunya yang kini berdiri tenang di halaman padepokan menyongsong dua orang berkuda yang telah tiba di pintu gerbang padepokan.

Kali ini baik panembahan tua maupun Rebab Pandan yang mengintip dari dalam tempat sembunyi itu terperanjat melihat salah seorang tamunya yang berwajah seperti hantu, yakni Ki Topeng Reges! Topeng yang dipakai oleh Umpakan ini ternyata mempunyai daya pengaruh yang membuat lawannya berkecil hati dan merasa ngeri.

Tiba-tiba tanpa berkata lagi kedua tamu tadi langsung menyerang Panembahan Jatiwana dengan ganas. Ketiganya segera bertempur hebat dan sebentar saja telah menghabiskan puluhan jurus. Mereka bergerak sangat cepat sampai sukar diikuti oleh pandangan mata.

Ternyata panembahan tua ini menghadapi tokoh- tokoh kuat yang tak mudah dapat dikalahkan, bahkan dirinya sendiri menjadi terdesak lama-kelamaan oleh Ki Jobin Karang dan Topeng Reges! Akhirnya, sebuah pukulan tangan Ki Jobin Karang berhasil menelusup pertahanannya lalu menggempur bahunya.

Akibatnya, panembahan tua ini terhempas ke tanah diiringi ketawa berderai dari mulut Ki Jobin Karang serta Topeng Reges! Dengan segera Panembahan Jatiwana berusaha bangkit, namun sekonyong- konyong sebuah tendangan kaki Topeng Reges menggempur kembali pundaknya hingga orang tua ini terhempas kembali ke tanah dengan mengaduh kesakitan!

“Akh! Kau terkutuk, Umpakan! Kau akan terhukum oleh perbuatanmu sendiri!”

Mendengar ini, Umpakan atau Ki Topeng Reges ser- ta Ki Jobin Karang makin bertambah ganas. Keduanya seperti kerasukan setan menghajar panembahan tua ini dengan pukulan serta tendangan kaki ganti-ber- ganti, sampai ia kelesetan di tanah babak-belur.

Sementara itu Rebab Pandan yang menyaksikan peristiwa ini, cepat menggesek rebabnya dengan nada yang menggayut-gayut pedih dan menyebabkan Ki Topeng Reges serta Ki Jobin Karang terhuyung disertai rasa panik dan bingung yang bercampur aduk menjadi satu, hingga mereka terpaksa menghentikan pukulan serta tendangannya pada tubuh Panembahan Jatiwana.

“Ayo, Ki Jobin Karang! Cepat kita tinggalkan tempat keparat ini! Lekas!” teriak Ki Topeng Reges sambil mendekati kudanya.

“Baik... baik! Aduh suara apa ini yang telah menggores menyayat hati! Keparat!” desah Ki Jobin Karang seraya meloncat ke punggung kudanya, lalu mengikuti Topeng Reges meninggalkan halaman Padepokan Gunung Merapi menuju ke arah barat.

Begitu keduanya lenyap di balik lereng barat, Rebab Pandan secepat kilat meloncat ke halaman diikuti oleh beberapa orang cantrik tergopoh-gopoh berlari keluar.

Tubuh Panembahan Jatiwana yang pingsan segera digotong ke dalam rumah oleh Rebab Pandan dibantu oleh para cantrik dan mereka merawatnya dengan seksama. Kalau mengingat kejadian tadi, Rebab Pandan marahnya bukan main, tetapi tokh ini telah dikehendaki Panembahan Jatiwana, hingga ia tak berani berbuat apa-apa.

***

6

ANGIN SIANG bertiup di selatan kota Jepara dengan segarnya, menghilangkan panas dan udara gersang. Beberapa rumah petani berdiri di dekat kebun dan tanah persawahan yang subur kehijauan.

Seorang pemuda berkumis tebal, memanggul pacul sedang berjalan ke arah sebuah rumah. Tetapi ia tiba- tiba dikagetkan oleh seorang laki-laki setengah tua yang dikenalnya sebagai tetangga, menghentikan jalan- nya.

“Angger Landean Tunggal. Ssstt, aku tadi lihat dua orang berkuda yang berwajah seram telah masuk ke dalam rumahmu. Keduanya sesaat berada di rumah itu dan akhirnya keluar dengan mendekap sesuatu benda!”

“Wah celaka ini,” desis Landean Tunggal seraya meloncat ke dalam rumah. “Hmmm semua berserakan, pastilah kedua tamu tadi mencari sesuatu!”

Hati Landean Tunggal berdebar-debar. Selama tinggal dan mengasingkan diri di kota Jepara, semuanya tampak tenteram. Namun hari ini tidaklah demikian. Dan tiba-tiba saja ia lalu teringat kepada sesuatu! Sesuatu yang selama ini disimpan dan dibawanya ke Jepara atas permintaan gurunya. Panembahan Jatiwana. Dimasukinya ruang kamar tempat ia tidur. Di sini pun barang-barang berserakan. Cepat-cepat Landean Tunggal membuka sebuah gerobok, sebuah peti kayu tempat menyimpan pakaian dan benda-benda berharga lainnya. 

“Aduh! Kaca Sirna Praba dan Kitab Hijau pemberian guru telah hilang!” seru Landean Tunggal dengan suara gemetar saking kagetnya. Dilihatnya sebuah peti kayu kecil berukir tempat menyimpan kedua benda tersebut telah hilang dari tempatnya semula.

Bagai orang kebingungan Landean Tunggal berlari keluar halaman rumah. Memang dilihatnya di atas tanah banyak terdapat bekas-bekas telapak kaki kuda, sedang si orang tua tetangganya masih saja berdiri di situ.

“Benar, Pak Suta! Mereka telah mencuri hartaku!” ujar Landean Tunggal. “Kemana arahnya mereka pergi, Pak?!”

“Keduanya datang dari arah selatan, Angger! Dan mereka kembali ke arah selatan pula!” kata Pak Suta terbata-bata.

“Terimakasih, Pak. Aku akan mengejar mereka! Titip rumahku sebentar!” seru Landean Tunggal seraya berlari ke belakang menyiapkan kudanya.

Orang tua tadipun ikut pula membantunya. “Hati- hati, Angger, agaknya mereka berdua adalah orang- orang jahat!”

“Baik, Bapak. Aku berangkat sekarang!” Landean Tunggal berkata serta meloncat ke punggung kuda dan memacunya kabur ke arah selatan.

Debu jalan berkepul-kepul naik oleh derapan kaki kuda Landean Tunggal tadi, dan begitu pula jauh di mukanya di jalan yang sama, tampaklah dua ekor ku- da dipacu oleh penunggang-penunggangnya. Seorang di antaranya yang berwajah hantu tampak mengepit sebuah peti kayu kecil berukir indah.

“Bapak Ki Jobin Karang, lihatlah, kita telah berhasil mendapatkan kitab pusaka Hijau dan kaca Sirna Praba yang telah sekian lama kita impi-impikan!”

“Ha, ha, ha, aku pun turut gembira, Topeng Reges! Dengan begitu perguruan kita akan menjadi lebih kuat!” kata Ki Jobin Karang, sementara itu udara siang makin terasa panas.

“Wah, kita telah menempuh jarak yang panjang, Ki Jobin Karang! Baiklah kita istirahat sebentar di hutan kecil itu!” ajak Topeng Reges lalu membelokkan kudanya ke kiri menuju ke sebuah hutan kecil di sebelah timur jalan.

“Carilah sebuah mata air untuk menyegarkan tubuh, Angger Topeng Reges. Juga kuda-kuda kita perlu minum!” seru Ki Jobin Karang yang berpacu di belakang kuda Ki Topeng Reges.

Setelah beberapa saat mereka menerobos hutan kecil itu, berhentilah keduanya di sebuah mata air kecil yang jernih.

“Nah, ini kebetulan sekali, Ki Jobin Karang. Badanku pun terasa sangat kering!” ujar Ki Topeng Reges.

Ditanggalkannya topeng itu setelah mereka turun dari kuda, lalu dibasuhnya mukanya dengan air sejuk ini. Setelah itu lalu tangan, kaki dan leher serta dadanya dibasahi dengan air, hingga terasa tenaganya kembali segar. Demikian pula dengan Ki Jobin Karang. Sesudah mereka puas menyegarkan tubuh dan kuda- kuda, merekapun minum dengan lahapnya. Keduanya lalu beristirahat sepenuhnya.

Dalam pada itu, Ki Topeng Reges telah memakai kembali topengnya dan tampak ia sibuk membuka- buka lembaran Kitab Hijau tersebut. Pada bagian pertama, ia tak tertarik akan isinya. Demikian pula bagian tengah ia melewatinya saja. Tapi pada bagian terakhir ia sangat tertarik akan isinya yang memaparkan Ilmu Sakti Netra Dahana. Ternyata kaca berbingkai logam biru yang terdapat di dalam kotak kayu tadi, ada hubungannya dengan ilmu ini! Kaca ini adalah kaca pusaka yang mampu mengatasi Ilmu Sakti Netra Dahana.

Ki Topeng Reges mengangguk-anggukkan kepalanya puas, mengetahui akan rahasia kedua benda pusaka tadi. Bukankah dihubungkan dengan topeng yang ia pakai ini, akan sesuai dan menjadikan dirinya sakti tak terkalahkan?! Sejenak kemudian terpikirlah satu keputusan yang akhirnya akan merubah dirinya sebagai Topeng Reges yang sakti!

Kedua orang tadi masih beristirahat ketika matahari bergeser perlahan-lahan ke arah barat, hingga sinar- nya tidak lagi terang. Tempat tadi menjadi suram. Tetapi sebuah semak tiba-tiba terkuak lebar oleh jari- jari dan muncullah sebuah wajah bermata tajam me- ngawasi kedua orang tadi.

“Hmm, rupanya kedua orang inilah yang mencuri Kitab Hijau dan kaca Sirna Praba! Tapi tunggulah, Landean Tunggal kali ini akan menunjukkan kegesitannya!”

Dengan menggerundal begitu, tiba-tiba melesatlah tubuh Landean Tunggal ke arah Topeng Reges bagai selembar kapas terhempas angin. Itulah kehebatan ilmu Kitab Hijau yang telah digabung dengan loncatan Srigunting! Dengan menjejak tanah saja, Landean Tunggal dapat melenting ke arah yang ia sukai tanpa bersuara!

Ki Topeng Reges yang tengah berbaring setengah ngantuk di samping Ki Jobin Karang, tiba-tiba terkejut merasakan angin dingin yang bertiup kencang ke arah mereka. Kemudian sebuah bayangan menyambar peti kayu berukir yang tergeletak di samping tubuhnya, membuat dirinya terhenyak kaget. Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, sebuah tendangan kaki seko- nyong-konyong melanggar dadanya hingga Ki Topeng Reges terhempas ke tanah dan demikian pula nasibnya si Jobin Karang. Begitu ia berusaha menerkam Landean Tunggal yang telah berhasil merebut peti berukir tadi, lawannya ini cuma berkelit ke samping dan tangan kanannya mengirimkan satu pukulan yang bersarang ke dagunya, menyebabkan Ki Jobin Karang terpelanting jatuh. Setelah itu Landean Tunggal melesat arah utara dan lenyap di balik semak ilalang!

Sambil mengutuk, Ki Jobin Karang peringisan terduduk di tanah, sementara Ki Topeng Reges masih terbaring dengan dada sesak.

“Hee, Angger Topeng Reges! Mengapa tidak kita kejar orang itu. Ia telah merebut kembali peti pusaka itu!” seru Ki Jobin Karang setengah marah. “Ah, sia-sia perjalanan kita ini!”

“Tenang saja, Ki Jobin Karang! Peti kayu berukir tadi hanya berisi Kitab Hijau saja, sedang kaca Sirna Praba serta lembaran-lembaran terakhir dari Kitab Hijau yang berisi Ilmu sakti Netra Dahana telah aku robek! Nah, lihatlah ini, Ki Jobin Karang!” kata Ki Topeng Reges seraya mengeluarkan sebuah kaca dan lembaran-lembaran kertas dari balik bajunya.

Ini semua menyebabkan Ki Jobin Karang terbeliak matanya.

“Uaaah, bejat! Angger memang pandai bersiasat!” puji Ki Jobin Karang. “Pantas kalau Angger menjadi pemimpin!”

Mendengar pujian tadi, Topeng Reges cuma terkekeh ketawa kegirangan dan kemudian berkata. “Tapi tadi aku tak sempat membalas tendangan kaki Landean Tunggal. Ia memang hebat bukan? Biarlah kali ini merasa menang. Tetapi tunggulah setelah aku mempelajari Ilmu Sakti Netra Dahana ini. Jangan harap aku akan membiarkannya hidup lebih lama lagi!”

“Mmm, sekarang kemana tujuan kita, Topeng Reges?” tanya Ki Jobin Karang. “Kita kembali saja ke Laut Kidul?”

“Tidak! Marilah kita mencari tempat yang sepi di kaki Gunung Muria itu untuk mempelajari lembaran- lembaran kertas ini!” berkata Ki Topeng Reges. “Dan sesudah berhasil, kita akan mencari si kunyuk Landean Tunggal!”

Ki Jobin Karang mengangguk setuju. “Baik, Angger! Ke mana pun engkau pergi, aku akan senantiasa me- ngikutimu!”

Kemudian mereka berkemas-kemas meninggalkan tempat tersebut dan berkuda ke arah selatan, menempuh hutan-hutan lebat di kaki Gunung Muria yang kini telah disaput oleh warna-warna merah senja. ***

Sejak saat itu, sesudah Landean Tunggal berhasil merebut kembali Kitab Hijau pemberian Panembahan Jatiwana dari tangan Ki Topeng Reges, ia sibuk dan senantiasa memperdalam latihan-latihan silatnya. Berhari dan berminggu-minggu ia membajakan diri- nya.

Kitab Hijau tadi dipelajarinya kembali berkali-kali, seperti kurang puas rasanya jika dibiarkan tertutup saja! Kadang-kadang ia menyesali dirinya karena bagian terakhir dari Kitab Hijau yang berisi Ilmu Sakti Netra Dahana belum sempat dipelajarinya. Dan bagi- an-bagian itu telah hilang! Oh, betapa marah nanti bila gurunya Sang Panembahan Jatiwana mendengar hal ini.

Bila Landean tunggal menghubungkan kejadian- kejadian tadi dengan peristiwa-peristiwa yang telah silam, maka sekonyong-konyong berdebar-debarlah dadanya. Ya, selama ia tinggal di tempat ini tak seorang pun tahu bahwa ia menyimpan Kitab Hijau dan kaca Sirna Praba. Dua pusaka sakti yang jarang tandingannya.

Kalau begitu, siapakah yang tahu bahwa kedua benda pusaka dipegang olehnya? Tak ada yang tahu! Kecuali Panembahan Jatiwana, Rebab Pandan dan... Umpakan! Yah, nama yang terakhir tadi tiba-tiba menggoncangkan dadanya! Bukankah Umpakan tadi yang pernah mengirikan benda-benda tadi ketika masih berada di Padepokan Gunung Merapi? Dan orang yang mengenakan topeng hantu tadi mempunyai ciri-ciri dari bentuk tubuh Umpakan.

Dalam hati kecil Landean Tunggal, terselip juga rasa penyesalannya terhadap gurunya. Mengapa orang tua itu terlalu percaya dan terbuka tangan hingga menerima Umpakan sebagai muridnya? Kini teman seperguruannya itu telah menjadi tokoh berandal yang sakti dan merajai golongan hitam di Laut Kidul. Bahkan Umpakan telah berani terang-terangan menentang Panembahan Jatiwana.

“Ah... betapapun marahnya dan menghukumku, aku akan menerimanya. Bapak Panembahan Jatiwana harus aku beritahu akan hilangnya kaca Sirna Praba dan lembaran-lembaran dari Kitab Hijau yang telah dirobek. Aku berkeyakinan bahwa orang bertopeng itu adalah Umpakan sendiri!” Begitu Landean Tunggal berkata-kata sendiri di dalam hatinya. “Baiknya aku berangkat hari ini juga, sebab hal tadi sangat gawat dan lagi sarana apakah untuk menghadapinya, hanya Panembahan Jatiwana yang lebih tahu ”

Landean Tunggal kemudian mempersiapkan kudanya dan juga barang-barang yang perlu ia bawa, terutama Kitab Hijau itu. Dengan perasaan yang sa- ngat berat Landean Tunggal meninggalkan rumah dan tempat itu, karena telah bertahun ia tempati dengan tenteram.

Demikianlah, Landean Tunggal lalu melarikan kudanya ke arah selatan menyusuri kaki Gunung Muria. Dilewatinya hutan-hutan kecil dan desa-desa yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja. Sebentar ia mendaki tanah bergunung-gunung dan sebentar turun ke lembah datar.

Setelah beberapa saat ia berkuda, sampailah ia di lembah kaki Gunung Muria sebelah selatan yang dipagari oleh hutan lebat, maka berhentilah ia sejenak memandang hutan tersebut yang membentang dengan megahnya. Hutan tadi masih jarang diinjak kaki manusia sebab banyak terdapat binatang buas ataupun serangga-serangga berbisa. Malahan ia pernah mendengar bahwa disini terdapat ular-ular yang berukuran luar biasa besarnya, di samping sejenis serangga semacam laba-laba yang dapat tumbuh sampai setinggi manusia.

Untuk itu semua Landean Tunggal tidak heran, sebab Panembahan Jatiwana sendiri pernah memberitahunya bahwa di tempat-tempat terpencil, lembah ataupun sangat tinggi dari permukaan laut, sehingga sinar matahari jarang sampai, akan banyaklah kehidupan-kehidupan yang aneh, seperti binatang-binatang raksasa dan sangat berbisa sampai kepada tumbuh-tumbuhan yang menghisap darah dan memakan daging.

Namun Landean Tunggal bukanlah berkecil hati menghadapi keadaan alam yang begitu seramnya. Maka setelah sesaat ia berhenti, ditepuknya leher kudanya kembali agar berjalan. Tapi anehnya kuda tadi malah meringkik dengan kaki depannya yang berjingkrakan panik.

“Ada suatu yang berbahaya!” desis Landean Tunggal dan pandangan matanya menyusuri segenap pepohonan dan semak-semak yang kini tampak kegelapan oleh awan-awan mendung hitam yang berarak-arak mengalir ke arah selatan.

Tiba-tiba saja di balik pepohonan yang lebat itu, mata Landean Tunggal menatap adanya kilatan-kilatan cahaya merah yang sebentar menyala dan sebentar padam seperti mempunyai jarak yang tertentu.

Cepat Landean Tunggal meloncat turun dari kudanya dan kemudian ia mengendap-endap ke arah kilatan-kilatan cahaya di balik pepohonan tadi untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang tengah terjadi.

“Heh, mungkinkah itu api dari hantu termamang, seperti yang diceriterakan oleh orang-orang tua?” gumam Landean Tunggal. Pikirannya lalu membayangkan sebuah bentuk tubuh yang terdiri dari api menyala, tengah keluar dari dalam tanah dengan kaki di atas dan kepala di bawah! Itulah bentuk hantu yang pernah ia dengar dari mulut ke mulut.

Langkah Landean Tunggal makin dekat dan bertambah dekat hingga kilatan-kilatan cahaya api itu seperti terasa membakar tubuhnya. Dilihatnya bebe- rapa rumpun semak terhangus seperti abu.

Dengan hati-hati sekali ia menguakkan semak- semak tadi dan hampir saja terbeliak sambil menjerit pendekar ini menyaksikan pemandangan di depannya. Disana, dilihatnya seorang bertopeng seperti hantu tengah berloncatan kesana-kemari sambil sekali-sekali memancarkan kilatan cahaya api dari matanya ke arah dedaunan, hingga semak-belukar di sekelilingnya ha- ngus terbakar menjadi abu.

Sungguh dahsyat dan mengerikan! Itulah Ilmu Sakti Netra Dahana yang terdapat di dalam Kitab Hijau pemberian Panembahan Jatiwana! Dan orang yang bertopeng itu, adalah yang mencurinya. Ia masih me- ngenal baik-baik orang bertopeng hantu ini.

Serasa ia mau meremas si topeng hantu ini, tapi tak mungkin. Kini ia telah menguasai Ilmu Netra Dahana, dan untuk melawannya ia tak kuasa sama sekali, sebab kaca Sirna Praba itupun telah jatuh ke tangan si wajah hantu itu pula. Hanya kaca itulah yang sanggup melawan Ilmu Netra Dahana!

Dalam beragu hati itu, mendadak Landean Tunggal merasakan satu hempasan angin dari arah samping. Seperti satu gerak naluriah yang telah mendarah da- ging, Landean Tunggal mengendapkan tubuh sambil bersiaga penuh.

Prak! Sebuah pukulan tangan dari orang yang berkepala gundul setengah tua dan agak bongkok telah berhasil ditangkis dengan tangan kirinya hingga masing-masing tergetar surut. Landean Tunggal cepat membalas, tapi orang inipun dengan lincah berkelit ke samping. Kemudian ia berkacak pinggang.

“Ha, ha, ha, sekaranglah saat kita mengukur tenaga, kunyuk. Inilah Ki Jobin Karang dari Laut Kidul!”

Landean Tunggal terkejut dan segera dapat me- ngenal wajah itu. Ya, tak salah lagi. Inilah Ki Jobin Karang yang dulu menggembleng Umpakan di lereng Merapi. Maka cepat-cepat ia bersiaga dan memang tepat, sebab tiba-tiba Ki Jobin Karang menyerang ganas ke arah dirinya. Disambutnya serangan itu dan terjadilah pertempuran yang seru! Sekali ini Landean Tunggal betul-betul mencurahkan segenap ilmunya.

Mendadak sebuah bayangan lain melesat dan langsung menyerang Landean Tunggal pula. Inilah Ki Topeng Reges! Lidah-lidah api yang ganas berkali-kali menyambar dari bola matanya siap membakar Landean Tunggal menjadi sate!

Menghadapi keroyokan ini, Landean Tunggal benar- benar merasa terdesak, tak tahu ia bagaimana caranya menghadapi Ilmu Sakti Netra Dahana yang kini telah dikuasai oleh Ki Topeng Reges. Bukankah kaca Sirna Praba yang ampuh itupun telah jatuh ke tangan pendekar berwajah hantu ini?

Akhirnya Landean Tunggal melesatkan dirinya ke udara, kemudian larilah ia ke arah utara, menuju ke kaki Gunung Muria sebelah barat.

Melihat lawannya lari, Ki Topeng Reges menggeram marah. “Kurang ajar! Lekas Ki Jobin Karang, ayo, kita kejar si keparat itu!”

Sebentar saja terjadilah kejar-mengejar di kaki Gunung Muria itu. Ketiga manusia tadi berkejaranlah laksana tiga ekor belalang saling berloncatan amat gesitnya. Landean Tunggal yang berlari paling cepat sibuk mencari siasat untuk melepaskan diri dari kejaran kedua orang lawannya itu. Maka dicobanya ia berlari terpotong-potong bertukar arah sebentar membelok ke kiri dan sebentar membelok ke kanan. Dengan begitu ia berharap akan lolos dari mereka de- ngan segera.

Memanglah, sesungguhnya Ki Topeng Reges dan Ki Jobin Karang sudah hampir kehilangan jejak Landean Tunggal. Namun mereka tak putus asa, sebab mereka bertelinga tajam. Dari getaran-getaran langkah kaki Landean Tunggal saja, mereka telah dapat mengetahui ke arah mana lawannya berlari.

Sambil mengejar tadi, Ki Topeng Reges memperde- ngarkan suara ketawanya yang bergetaran dan semakin lama semakin nyaring mengerikan telinga. Bahkan kali ini suara tertawa Ki Topeng Reges yang dilambari dengan segenap tenaga dalam seperti menyusuri segenap pepohonan dan lekuk-lekuk lereng serta jurang-jurang, sedemikian mengerikan seakan- akan memenuhi seluruh rimba dan menelan Landean Tunggal yang tengah berlari di depan para pengejarnya. Begitu hebatnya pengaruh suara tertawa tadi, hingga dada Landean Tunggal seperti tergoncang- goncang. Tanpa terasa mereka telah tiba di sebuah dataran luas dikelilingi oleh sebuah jurang yang dalam bernama Jurang Mati!

“Hua, ha, ha, lekas menyerah saja dan serahkan Kitab Hijau milikmu, supaya kau aku ampuni!” ancam Ki Topeng Reges.

“Keparat! Kalian boleh memiliki kitab itu, setelah kalian terlebih dulu melangkahi mayatku!” teriak Landean Tunggal dengan seramnya!

“Hyaat! Modar kowe!” teriak Ki Topeng Reges bersama Jobin Karang yang menerjang Landean Tunggal berbareng, dan kembali terjadilah pertempuran hebat di tepi Jurang Mati.

Ki Jobin Karang terus mendesak Landean Tunggal sampai ke tepi jurang. Sebuah tebasan telapak ta- ngannya tiba-tiba dapat menggempur pundak kiri lawannya hingga pendekar muda ini terpekik kesakitan. Namun dalam saat itu pula Landean Tunggal pun mengirimkan sebuah genjotan tangan, tepat di arah ulu hati Ki Jobin Karang hingga pendekar berandal ini ternganga mulutnya tanpa bersuara, kecuali semburan-semburan kecil darah segar yang keluar dari tenggorokannya.

Sesaat tubuh si pendekar gundul ini oleng dan kemudian terpelanting ke bawah. Beberapa suara benturan keras dibarengi jerit mengerikan mengiringi tubuh Ki Jobin Karang yang melayang ke Jurang Mati dan membentur batu-batu tonjolan di lereng jurang.

Melihat hal ini, betapa marahnya Ki Topeng Reges! Dan tidak heranlah bila ia mempergencar serangannya dengan Ilmu Sakti Netra Dahana.

Rasa sakit pada pundak kiri Landean Tunggal semakin terasa pedih sehingga geraknya menjadi terganggu. Ketika ia melihat sebuah jalan rintisan yang turun ke arah Jurang Mati ini, Landean Tunggal buru- buru melesatkan diri ke arah jalan ini, sedang Ki Topeng Reges tak mau tertinggal lolos oleh lawannya, sehingga iapun terus mengejar lawannya menuruni Jurang Mati!

Landean Tunggal menjadi kaget bila jalan kecil ini berakhir pada sebuah lobang gua pada lereng terjal. Tanpa pikir panjang ia cepat-cepat masuk ke dalam. Ternyata Ki Topeng Regespun memburunya ke dalam lobang gua ini, membuat Landean Tunggal kebingu- ngan. Tiba-tiba ia menemukan sebuah ruangan lain di dalam goa ini dan tanpa pikir panjang lagi ia menyelinap ke dalamnya.

“Hua, ha, ha, ha, bersembunyi di situ? Baiklah, kalau kau berkeras kepala mengangkangi Kitab Hijau itu. Matilah engkau di dalam sana!” seru Ki Topeng Reges seraya menerjang tepi lobang tersebut sampai beberapa bongkah batu runtuh menutup lobang ini. Kemudian sekali lagi kakinya beraksi dan sekali lagi sehingga akhirnya bongkah-bongkah batu tadi telah menutup lobang ini seluruhnya. Setelah ini Ki Topeng Reges lalu mengeluarkan sepotong tabung bambu kecil dan membuka sumbatnya sekali.

“Nah, nah, keluarlah sobat. Kau aku tempatkan di goa ini untuk menjaga tawananku, si kunyuk Landean Tunggal yang bandel!” guman Ki Topeng Reges sambil mengawasi seekor laba-laba hitam keluar dari tabung bambu itu dan kemudian larilah makhluk kecil ini ke tempat gelap.

“Ha, ha, ha. Dalam beberapa saat nanti, laba-laba tadi akan tumbuh dan berkembang sebesar dan seting- gi manusia. Dengan begitu maka tak mungkinlah bila Landean Tunggal tadi dapat lolos dari tempat ini hidup-hidup!” Ki Topeng Reges segera bergegas keluar dan meninggalkan tempat ini.

Sementara itu, di dalam lubang goa yang telah tersumbat oleh bongkah-bongkah batu, si Landean Tunggal terduduk di dasar goa yang licin dan lembab. Untunglah di langit-langit goa ini terdapat lubang- lubang yang tembus udara sampai ke atas, hingga ia masih dapat bernafas dengan leluasa. Di samping itu berkas-berkas sinar matahari masuk lewat lubang langit-langit goa itu pula.

Landean Tunggal berputus asa kini. Tak mungkin ia dapat keluar lagi, lebih-lebih setelah ia melihat pundak kirinya yang bengkak kemerahan. Agaknya pukulan Ki Jobin Karang tadi bukan sekedar pukulan kosong, tetapi pukulan yang memutus saraf-saraf dan merusak otot-otot gerak hingga separuh tubuhnya yang kiri terasa lumpuh dan pedih.

Landean Tunggal lama-lama terbiasa dengan kegelapan ruang goa ini. Kini ia sudah dapat mengenal segala sesuatu di sekeliling dirinya. Dikeluarkannya Kitab Hijau yang sedari tadi disimpan di balik bajunya dengan terbungkus selembar kain putih selebar ikat kepala. Kain itu disobeknya sebagian, sedang sisanya dipergunakan untuk mengalasi Kitab Hijau yang diletakkan di dekat kakinya.

Dengan menahan sakit, Landean Tunggal telah menggigit ujung jari telunjuk kanannya sampai mengeluarkan tetesan-tetesan darah. Demikianlah, pada sobekan kain tadi, dibuatnya sebuah surat yang ditulis oleh Landean Tunggal dengan darah dari jari telunjuknya. 

“Aku hanya turut berharap semoga tempat ini diketemukan oleh seorang pendekar budiman,” gumam Landean Tunggal seorang diri.

Demikianlah, sesudah itu ia bersemadi menanti saat pertolongan tiba, hingga berhari, berminggu, dan berbulan-bulan, bahkan bertahun lamanya sampai pa- da saat akhir hayatnya, ia tetap bersemadi di goa itu.

“Nah, demikianlah ceriteraku ini berakhir. Semoga Kisanak Pendekar Bayangan dan Mahesa Wulung tidak kecewa,” ujar Ki Rebab Pandan kepada kedua pende- ngarnya yang masih terpesona beberapa saat.

“Hebat dan sangat mengharukan, sobat!” desis Pendekar Bayangan dengan mata berkaca-kaca me- ngenangkan nasib Landean Tunggal.

Demikian pula Mahesa Wulung merasakan betapa hatinya tersayat pilu merasakan penanggungan Landean Tunggal yang malang. Terbayang kembali ketika ia bertemu dengan kerangka Landean Tunggal, dan menemukan kedua benda pusakanya, yakni cincin permata Galuh Punar dan Kitab Hijaunya.

Tempat itu sesaat menjadi sunyi senyap, masing- masing tengah bergelut dengan pikirannya sendiri- sendiri. Namun satu hal yang menjadi pikiran utama dan sama, adalah Ki Topeng Reges! Kepadanyalah me- reka akan menuntut balas atas kematian Landean Tunggal dan atas segala kekejaman serta kejahatan yang telah dikerjakan!

Nah, para pembaca yang budiman, itulah tadi ceri- tera “Bara Api di Laut Kidul” dari Seri Naga Geni yang kami sudahi. Tetapi benarkah bahwa Ki Topeng Reges yang berilmu Netra Dahana itu tak terkalahkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, tunggu ceritera seri Naga Geni berikutnya, yakni “Keruntuhan Netra Dahana”.

T A M A T