-->

Serial Naga Geni Eps 06 : Munculnya Pendekar Bayangan

 
Eps 06 : Munculnya Pendekar Bayangan


BERBARENG munculnya warna semburat merah pada langit di ambang timur, sang purnama di ufuk barat telah separo tenggelam ke cakrawala. Kunang- kunang pada berterbangan pulang ke sarangnya setelah semalaman menyuluhi tempat-tempat gelap dengan lentera-lentera pada perutnya.

Gunung Muria yang tegak perkasa itu menyaksikan betapa sisa-sisa sinar purnama malam makin surut dan tenggelam di kaki langit barat. Tetapi seandainya ia bisa berkata-kata, pastilah ia akan menggertak terhadap tiga bayangan manusia yang saling berkeja- ran di kaki bukitnya sebelah selatan. Namun ternyata ia tetap membiarkan ketiga manusia yang saling berke- jaran tadi. Mungkin iapun menaruh kagum dan heran, mengapa di saat-saat pagi buta ini, mereka saling berkejaran. Memang saat begini adalah enak-enaknya orang menikmati sisa-sisa tidurnya, berselimut rapat- rapat menahan kedinginan yang merasuk ke tulang sumsum.

Ketiga manusia yang berkejaran itu mempunyai gerak yang lincah, tak ubahnya tiga ekor burung sikatan menerobos kerimbunan semak dan kelebatan hutan serta berloncatan dari batu ke batu. Bila mereka melewati semak-belukar yang tidak begitu tinggi, ketiganya cukup dengan melompat dan melewati semak-semak tadi. Dengan begitu ketiganya seolah- olah terbang di udara untuk beberapa saat.

Yang berlari paling belakang, mengenakan sebuah topeng berwajah hantu. Ia tidak lain adalah Ki Topeng Reges! Sambil berlari mengejar kedua orang yang berada di depannya, Ki Topeng Reges berkali-kali mengutuk dan bergerundalan.

“Setan mana yang telah mengajari mereka berlari secepat itu?! Tetapi biarpun mereka seandainya berlari dengan aji Sapi Angin, jangan harap dapat lolos dari tangan Ki Topeng Reges!”

Mahesa Wulung serta Ki Camar Seta yang dikejar oleh Ki Topeng Reges, berlari dengan cepat. Mereka berpikir, bahwa semakin menjauh dari rumah yang mereka tinggalkan dan berisi prajurit-prajurit yang terluka parah, hati mereka menjadi ayem seketika. Keduanya kini merasa tenteram, sebab dengan menjauhi rumah itu, mereka akan menjadi lebih leluasa untuk bertempur melawan Ki Topeng Reges, serta tidak akan membuat panik prajurit-prajurit yang tengah terbaring dengan luka-luka.

Begitulah, ketiganya saling berkejaran dan kadang- kadang mereka berhenti sejenak untuk bertempur. Ke- mudian merekapun berkejaran kembali seperti semula. Namun, setiap kali mereka bertempur, Ki Camar Seta dan Mahesa Wulung menjadi tergetar hatinya. Keduanya merasakan, senjata Ki Topeng Reges yang bernama Kiai Brahmasakti dengan nyala membara membentur pedang-pedang mereka. Begitu memben- tur, terasalah bahwa tangan-tangan mereka menjadi

nyeri dirayapi oleh bara api.

Dasar ketiganya adalah pendekar jagoan yang berilmu tinggi, sambil berkejaran itu Ki Topeng Reges sekali-sekali berhenti, bila dilihatnya Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta berhenti sejenak untuk mengatur nafas.

Ia berpendapat untuk tidak lekas-lekas membunuh mereka. Biarlah keduanya menderita kelelahan lebih dahulu serta tersiksa. Toh akhirnya kedua musuh itu akan dapat ditangkapnya. Dada Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta sedikit demi sedikit terasa panas, sebab jarak yang mereka tempuh dalam berkejaran dengan Ki Topeng Reges telah kelewat jauh. Betapapun kedua orang ini ter- bilang jagoan, akhirnya segi jasmaniah terpengaruhi pula. Itulah sebabnya bila mereka berhenti, keduanya segera mengatur nafas serta menghirup udara pagi yang sejuk sebanyak-banyaknya agar mengalir dan membersihkan ke dalam rongga dadanya. Dengan begitu paru-paru mereka selalu dapat dialiri udara segar dan ini cukup baik untuk mengatasi rasa perasa- an sesak yang timbul.

Arah mereka menjadi berubah, karena kalau terus berlarian ke arah utara, berarti mereka akan mende- kati kaki Gunung Muria, yang tentunya kurang menguntungkan dipakai sebagai medan berlari dan kejar-mengejar. Oleh sebab itu mereka membelok ke arah barat. Dengan begitu ketiganya tetap menempuh daerah perbukitan yang tidak terlalu terjal dan ber- jurang-jurang kelewat banyak.

Tetapi ketika mereka menginjak perbukitan di sebe- lah barat daya, sepasang mata yang setajam pedang mengawasi mereka dari balik dedaunan semak belu- kar. Mata yang sedemikian tajam tadi menatap mereka terus-menerus tanpa berkedip, dan menjadi lebih tajam lagi bila ketiga manusia yang berkejaran tadi berlari ke arahnya.

Tiba-tiba semak belukar tadi terkuak dan dua tangan yang berjari-jari kekar menyibakkan daun- daun serta muncullah kemudian seorang yang bertu- buh kekar agak kekurusan mengenakan pakaian serba putih. Kain latar putih, celana dan baju berwarna abu- abu dan yang aneh, ia mengenakan kain ikat kepala yang menyelubungi seluruh kepala dengan warna yang abu-abu pula.

Kain ikat kepala tadi sekaligus merupakan kedok dengan dua lobang bulatan untuk mata, sedang bagian muka lainnya tidak tampak sama sekali.

Munculnya orang yang berpakaian serba putih di tempat yang sesepi itu memang sangat mengherankan, dan orang yang menjumpai pastilah akan mengiranya seorang jin atau hantu. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat kayu.

Orang berpakaian putih itu, dengan tenangnya mengawasi ketiga orang yang tengah berkejaran, seakan-akan ia tengah menonton pertandingan olah raga. Satu perlombaan lari cepat yang benar-benar mengagumkan. Dan ia sesaat diam membisu. Tetapi begitu ketiga orang itu dilihatnya telah berada di sebelah barat, iapun secepat kilat melesat menguntit mereka agak jauh di belakang. Begitulah, orang berpakaian putih tadi seakan-akan ikut berlomba lari dan ia di garis paling belakang. Larinya pun tidak kalah hebatnya sampai-sampai daun ilalang yang dile- watinya seperti tidak bergoyang. Satu pertanda bahwa ia memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat!

“Hmm, telah lama aku mencari cari Mahesa Wu- lung, dan begitu ketemu sekarang ia tengah bermain kejar-kejaran dengan si Topeng Reges!” terdengar orang itu berguman sendiri. “Biarlah aku akan menguntit mereka di sebelah belakang. Aku ingin mengetahui, bagaimanakah akhirnya dengan mereka.”

Kejar-mengejar terus berlangsung dengan serunya. Sampai sebegitu jauh, Ki Topeng Reges masih belum berusaha untuk membinasakan lawannya. Rupanya ia masih membiarkan lawannya untuk lebih banyak menghirup udara pagi yang segar. Namun suatu saat Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta berbalik dan berhenti dengan tiba-tiba, lalu menyerang dirinya. Karuan saja Ki Topeng Reges terperanjat sesaat dan kemudian ia cepat-cepat menyongsong serangan lawan dengan sabetan-sabetan belati pusakanya yang ber- nama Kiai Brahmasakti.

Kembali terjadi lingkaran pertempuran yang sengit. Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta yang dapat me- mainkan pedangnya dalam jurus-jurus Sigar Maruta yang kembar itu dapatlah bergerak berpasangan sangat hebat.

Kedua pedang tersebut seolah-olah seperti kitiran berpusing dengan mendesau-desau membuat Ki To- peng Reges kerepotan juga. Untunglah ia menggeng- gam Kiai Brahmasakti di kedua tangannya. Ditambah dengan ilmu Netra Dahananya yang mampu membakar lawannya dengan jilatan lidah-lidah api.

Ki Topeng Reges masih tetap tangguh, bahkan sedikit demi sedikit ia mendesak kedua lawannya. Ketawanya yang bernada seram terdengar bila Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta terpaksa peringisan akibat benturan dengan Kiai Brahmasakti yang dapat menim- bulkan rasa nyeri serta percikan-percikan bunga api.

Suatu saat Mahesa Wulung berhasil menyapu kaki Ki Topeng Reges dengan sabetan pedangnya, sementa- ra Ki Camar Seta meloncat tinggi sambil mengirimkan satu tebasan pedangnya mendatar ke arah kepala si wajah hantu.

Serangan beruntun dari kedua pendekar pilihan ini tidak boleh disepelekan begitu saja, karena tebasan pedang-pedang mereka dilambari tenaga dalam yang telah disalurkan lewat pedang-pedang mereka. Maka tak heran bila sambaran pedang mereka mendesau dengan nyaring menuju ke arah sasarannya.

Jika lawan mereka bukan Ki Topeng Reges, pastilah akan segera rontok ke tanah tak bernyawa lagi. Dengan serangan begitu jangan diharap bisa lolos dari kedua mata pedang itu. Namun Ki Topeng Reges bukan orang yang mudah gugup atau putus asa dalam menghadapi setiap peristiwa. Namanya yang telah menghantui Laut Kidul serta daerah lereng timur Gunung Muria itu sepadan dengan kedahsyatan ilmu- nya. Maka begitu ia memperoleh serangan berbareng, secepat itu pula ia menjejak tanah serta mental ke udara dengan tubuh mendatar sejajar tanah, sehingga kedua serangan beruntun tadi hanya sempat menebas udara kosong. Untuk ini Mahesa Wulung serta Ki Camar Seta terpaksa bergerundalan sendiri, sebab si wajah hantu berhasil lolos dari serangan pedang- pedang mereka.

Kemudian tubuh Ki Topeng Reges meluncur ke depan serta jungkir balik dengan manisnya, lalu men- darat di atas tanah. Dari balik topengnya terdengar suara ketawanya yang sember bernada mengejek kedua lawannya.

Tiba-tiba satu teriakan nyaring terdengar dan jilatan lidah api menyambar ke arah Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta, membuat kedua pendekar ini ter- paksa berpikir dua kali. Mereka harus cepat-cepat menghindar jikalau tidak ingin terbakar hangus oleh ilmu Netra Dahana si wajah hantu.

Maka dengan cepat Mahesa Wulung menjentik kepada Ki Camar Seta dan sejurus kemudian kedua- nya berloncatan meninggalkan Ki Topeng Reges menu- ju ke arah barat laut. Melihat ini, si wajah bertopeng hantu menggeram.

“Keparat! Mereka lari lagi! Hah, biarpun mereka akan minggat atau sembunyi di pojok jagat, tangan Ki Topeng Reges akan tetap menjangkaunya! Hua, ha, ha, ha, ha!” Ki Topeng Reges mengakhiri kata-katanya kemudian melesat pula ke arah barat laut mencegat kedua lawannya, dan kembalilah terjadi kejar-menge- jar di kaki bukit Gunung Muria.

Tetapi Ki Topeng Reges kali ini sudah mendapat suatu ketetapan, bahwa ia akan menyudahi kejar- mengejar yang telah sekian kali berlangsung tanpa berkesudahan.

Begitulah, pendekar berwajah hantu memusatkan segala kekuatannya dan sambil berlari itu, ia menggen- jotkan kedua kakinya ke tanah. Tubuhnya melenting ke depan sangat cepat, melebihi cepatnya kedua mu- suh yang tengah dikejarnya itu.

Seketika Ki Topeng Reges melesat mendahului Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta, menyebabkan kedua pendekar ini terkejut bukan main. Mereka tak sadar apa yang terjadi, sebab mereka yakin bahwa Ki Topeng Reges masih jauh tertinggal di belakang. Yang tampak oleh mereka adalah sebuah bayangan yang melesat mencegat arah lari kedua pendekar itu.

Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta terkejut bukan main ketika bayangan yang mencegat tadi tidak lain adalah Ki Topeng Reges. Sepintas lalu mereka merasa mati kutu menyaksikan kehebatan si wajah hantu, lebih-lebih bila Ki Topeng Reges langsung mengirimkan tikaman belati panjangnya ke arah Ki Camar Seta.

Serangan yang tiba-tiba muncul di depannya itu membuat pendekar tua ini geragapan seketika. Cepat ia menyambut tikaman belati Ki Topeng Reges yang sebelah kiri. Namun bersamaan itu pula pendekar berwajah hantu ini secepat kilat menyabetkan belati kanannya ke arah Ki Camar Seta.

“Aduh!” satu jeritan kecil meloncat dari bibir Ki Camar Seta ketika ia merasakan  sebuah benda se- panas bara menyayat lengannya.

Pendekar tua ini tak ampun lagi jatuh terpelanting diikuti oleh derai ketawa Ki Topeng Reges yang mengu- mandang di udara sekeliling. “Hua, ha, ha, ha, mam- pus kowe si caping bejad!”

Melihat Ki Camar Seta terjatuh itu, Mahesa Wulung bermaksud menyerang si pendekar hantu, namun ia tiba-tiba mendengar seruan Ki Camar Seta, “Cepat, Angger! Lari dari sini! Biar aku sendiri yang mengha- dapi Topeng Reges! Larilah selagi ada kesempatan!”

Ki Camar Seta bangkit serta menyerang kembali dengan sabetan pedangnya, hingga Ki Topeng Reges terpaksa menunda serangannya, ke arah Mahesa Wu- lung. Sesaat keduanya telah terlibat dalam pertempu- ran. Sementara itu Mahesa Wulung dengan hati yang berat terpaksa memenuhi permintaan Ki Camar Seta. Cepat ia berlari meninggalkan mereka.

Mahesa Wulung merasa bingung hatinya. Ke mana- kah arah yang harus dituju. Maka ia terus berlari ke arah barat laut menurut langkah kakinya, melewati jalan-jalan rintisan di sela-sela semak-belukar. “Hemm, mungkin kalau arahku tetap, bisa juga tiba di Jepara atau Pecangakan.”

Di saat itu pula Ki Topeng Reges menyerang dengan ganasnya terhadap Ki Camar Seta yang telah terluka. Dalam hati ia merasa jengkel menghadapi pendekar tua ini, sebab dendam utamanya tertuju kepada Mahesa Wulung, sehingga tidak sepenuhnya pendekar tua itu harus dihadapi dengan segenap tenaganya.

Demikianlah dasar Ki Camar Seta sendiri telah merasakan luka yang ditimbulkan oleh belati pusaka Kiai Brahmasakti di tangan Ki Topeng Reges, maka sedikit demi sedikit tubuhnya merasa panas seperti disentuh oleh ribuan bara api. Ia yakin kalau dirinya telah terkena racun jahat dari senjata itu. Akibatnya geraknya pun menjadi terpengaruh dan lamban, ke- sempatan ini digunakan oleh Ki Topeng Reges dengan sebaik-baiknya. Dengan sebuah tendangan melayang di udara, kaki si pendekar berwajah hantu berhasil menggempur pundak Ki Camar Seta. Seketika pende- kar tua ini kembali jatuh terhempas ke tanah bergu- lingan sambil merintih.

“Nah, matilah kamu dimakan semut dan binatang buas lainnya. Sahabatmu si Mahesa pengecut itu akan segera kumampuskan juga!” Ki Topeng Reges berseru serta melesat ke arah barat laut mengejar Mahesa Wulung. Pendengarannya yang tajam dan mampu menangkap segala getaran itu, dengan cepat dapat mengetahui arah lari Mahesa Wulung.

Meskipun lawannya telah berlari cukup jauh, Ki Topeng Reges tidak kehilangan semangatnya. Perasaan dendam yang telah bersarang di dalam relung-relung hatinya memaksa dirinya untuk berlari lebih cepat dan segera membinasakan Mahesa Wulung. Dalam waktu yang pendek, akhirnya terkejar juga Mahesa Wulung olehnya dan untuk kedua kalinya ia kembali melenting ke depan siap menerkam lawannya.

Tetapi Mahesa Wulung tidak ingin mati secara konyol oleh tangan pendekar hantu. Cepat ia memba- likkan diri begitu didengarnya suara mendesau dari arah belakang. Pedang di tangan Mahesa Wulung berputaran menyambut terkaman Ki Topeng Reges yang meluncur deras seperti rajawali. Kedua tangan- nya yang menggenggam pusaka Brahmasakti itu benar-benar mirip cakar-cakar yang ganas.

Ki Topeng Reges yang tidak mengira akan peruba- han sikap Mahesa Wulung, ia agak gugup juga. Maka ia cepat-cepat menyilangkan kedua belati panjangnya memapaki sambaran pedang Mahesa Wulung.

Traaang!

Percikan-percikan bunga api berloncatan ketika senjata itu beradu dengan serunya, dan untuk ke sekian kalinya, Mahesa Wulung merasakan tangannya tergetar hebat dan nyeri! Mahesa Wulung cepat-cepat menarik pedangnya ke belakang dan selanjutnya ditebaskannya mendatar ke arah lawannya. Semua itu berjalan dengan cepat secepat orang meremas tomat dan tahu-tahu terdengar sebuah sobekan.

Weeek! Baju Ki Topang Reges tersobek dan ujung pedang Mahesa Wulung sempat pula menyentuh kulit dada Ki Topeng Reges.

Si pendekar berwajah hantu itu menggerung marah demi dadanya kena tersentuh pedang Mahesa Wulung. Sambil menjerit hebat penuh kemarahan Ki Topeng Reges menerjang lawannya dengan gerakan yang tiba- tiba serta cepat.

Mahesa Wulung cepat menangkis belati kanan pen- dekar hantu. Dengan begitu sepintas lalu pertahanan kanan Mahesa Wulung terluang dan Ki Topeng Reges berhasil menerobosnya.

Dess! Belati kiri Ki Topeng Reges berhasil menyayat pundak kanannya dan saking terkejutnya, padang di tangan Mahesa Wulung tergetar lepas begitu pundak- nya terasa panas dan sakit. Untunglah ia memakai cincin Galuh Punar yang mampu menolak bisa racun yang jahat, sehingga luka yang ditimbulkan oleh Kiai Brahmasakti tidak akan cepat-cepat menimbulkan kematiannya. Namun sekali lagi Mahesa Wulung terpekik kecil bila belati kanan Ki Topeng Reges juga berhasil menyambar pundak kirinya.

Sengatan pusaka Brahmasakti itu cukup hebat pengaruhnya terhadap Mahesa Wulung. Tubuhnya terjengkang ke tanah dengan rasa yang panas dan kesakitan.

Melihat lawannya telah berhasil dirobohkan, Ki Topeng Reges tertawa cekakakan saking panas hati- nya.

“Hua, ha, ha, ha, mampus kowe, Mahesa konyol! Dan sekarang setelah kau mencicipi keampuhan Kiai Brahmasakti, engkau pun patut pula merasakan kehebatan ilmu Netra Dahanaku!” ujar Ki Topeng Reges sambil menyelipkan kembali kedua belati pan- jangnya ke balik baju.

“Hyaaat! Jadi sate, kowe, Mahesa konyol!” teriak Ki Topeng Reges sambil merentangkan kedua tangannya ke depan dan lidah-lidah api memancar dari bola matanya serta menyambar ke arah Mahesa Wulung dengan ganas.

Untuk menghindari jilatan lidah-lidah api tadi, Mahesa Wulung terpaksa bergulingan di atas tanah yang penuh rerumputan dan duri semak. Meskipun setiap kali lidah api tadi berhasil dihindari, namun diam-diam dalam hati ia merasa kagum tapi juga ngeri. Betapa tidak? Segala rerumputan dan semak yang kena terjilat oleh lidah-lidah api tadi seketika menjadi kuning layu dan kemudian hangus!

Begitulah, memang Ki Topeng Reges tidak ingin cepat-cepat membunuh Mahesa Wulung. Ia ingin lebih dahulu menyiksa lawannya agar mati dengan cara yang perlahan-lahan dan kesakitan. Kalau saja ia ingin memusnahkan lawannya, hal itu mudah sekali. Apa- lagi Mahesa Wulung telah terluka oleh senjatanya, Kiai Brahmasakti. Hingga seandainya ia mau membunuh Mahesa Wulung, itu semudah jika ia membalik telapak tangan.

Pengaruh racun   dari   luka-luka   senjata   lawan berhasil tertahan oleh kekuatan cincin Galuh Punar, dan kini Mahesa Wulung hanya merasakan rasa nyeri dari luka-luka itu saja. Maka segera dengan sigap Mahesa Wulung berdiri kembali dan mengambil sikap. Ia mengarahkan segenap kekuatan lahir batinnya dan matanya setengah meredup. Tangan kirinya ditekuk ke depan dengan sisi telapak tangan lurus ke depan, sedang tangan kanannya dilipat ke samping belakang dengan teguhnya. Biarpun begitu luka-luka kedua lengannya mengganggu pula terhadap semua pengera- han tenaganya.

Melihat perubahan sikap Mahesa Wulung itu, Ki Topeng Reges surut ke belakang dan bersikap pula. “Ha, ha, ha, ha. Kau akan melancarkan ilmu pamung- kasmu? Baik, baik! Aku pun tidak gentar untuk menghadapinya. Aku juga punya ilmu pukulan maut dari Perguruan Watu Semplok. Nah, Mahesa konyol, matilah sekarang kamu!”

Ki Topeng Reges menekuk kedua tangannya di depan dada dengan mengepal dan dengan sebatnya pula ia menerjang ke depan ke arah Mahesa Wulung yang telah bersiaga pula.

Glaaar! Satu letupan dahsyat mengumandang di udara pagi, disusul oleh terpentalnya kedua pendekar itu ke belakang. Dua pukulan maut yang sama hebatnya telah beradu.

Kalau Ki Topeng Reges pada saat itu masih segar dan berkekuatan penuh, sebaliknya Mahesa Wulung sebelumnya telah terluka oleh senjata Ki Topeng Reges. Maka pemusatan ilmunya, Lebur Waja, tersebut tidak- lah seperti yang diharapkan. Paling-paling ia hanya mampu mengerahkan tenaganya separo kurang dan akibatnya malah merugikan dirinya sendiri. Begitu ia membentur kepalan tangan Ki Topeng Reges, terasalah bahwa tangannya seperti membentur sebuah tembok dinding karang yang tebal. Tubuhnya seketika terpen- tal ke belakang beberapa langkah untuk kemudian jatuh bergulingan di tanah. Tidak hanya itu saja aki- batnya, malahan tubuhnya terasa lumpuh seperti tersedot segala tenaganya oleh pukulan maut Ki Topeng Reges.

Setelah melihat lawannya tak berdaya sama sekali, Ki Topeng Reges meringis sambil mengelus-elus topengnya. “Hmmm, kau lumpuh sekarang! Dan kini terimalah kematianmu!”

Ki Topeng Reges segera menerkam ke arah Mahesa Wulung yang telah tergeletak lumpuh. Kedua tangan- nya dibentangkan dan jari-jemarinya siap merobek tubuh lawannya.

Mahesa Wulung yang sadar akan bahaya di hadapan hidungnya, segera berusaha menghindar. Ia yakin bahwa apabila serangan Ki Topeng Reges ini berhasil mengenai tubuhnya, pastilah bahwa tubuh atau kepalanya akan tembus dan berlubang sedalam jari. Tetapi alangkah kagetnya Mahesa Wulung bila tubuhnya terasa lemas dan sedikitpun ia tak mampu menggeserkan tubuhnya. Satu-satunya jalan ialah menghadapi kematiannya yang bakal tiba itu dengan hati yang tabah. Ia pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa akan segala nasibnya yang akan terjadi.

Pandangan mata Mahesa Wulung sesaat berku- nang-kunang. Sekilas terbayang wajah Pandan Arum yang dicintainya, juga wajah-wajah para sahabatnya dan yang terakhir adalah wajah gurunya sendiri, Panembahan Tanah Putih dari Asemarang yang tersenyum dengan manisnya.

Bertepatan dengan itu, tiba-tiba sebuah bayangan putih meluncur dari arah tenggara dengan derasnya menghadang terkaman Ki Topeng Reges.

Kejadian ini berjalan dengan cepat dan begitu tiba- tiba. Apa yang dilihat oleh pendekar berwajah hantu adalah sesosok tubuh yang memapaki terkamannya dengan tendangan dua buah kaki yang mengenakan terompah kulit. Ki Topeng Reges merasa mengkal dengan sesosok bayangan yang telah begitu lancang mengganggu pertempurannya melawan Mahesa Wulung. Maka Ki Topeng Regespun tak berusaha menarik serangannya agar tendangan itu benar-benar menimpa dirinya. Ia cukup mengepalkan jari-jarinya yang tadi masih mengembang.

Bruuuk! Dua tenaga yang hebat beradu dan tubuh Ki Topeng Reges terpental, mencelat ke belakang beberapa tombak jauhnya dengan jungkir balik di tengah. Sedang bayangan itu sendiri hanya terdorong surut tidak lebih dari lima langkah kaki. Karuan saja Ki Topeng Reges buru-buru mengetrapkan ilmu meng- entengkan tubuh, hingga tubuhnya tidak terlalu keras membentur tanah.

Dari balik topengnya terdengar gerundelan Ki Topeng Reges, saking kagum terhadap serangan orang yang baru muncul ini. Segera ia dapat mengukur sam- pai di mana tingkat kedahsyatan ilmu orang ini. Kalau tendangan kakinya saja telah mampu menggoncang- kan isi dadanya, betapa lagi kekuatan tangannya nanti.

Belum lagi ia selesai mengagumi tenaga lawannya, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh bentuk tubuh orang yang berani memapaki serangannya tadi.

Kini berdirilah di hadapan Ki Topeng Reges, seorang yang mengenakan pakaian berwarna serba putih. Ke- pala orang ini seluruhnya berselubung kain ikat kepala abu-abu dengan dua lobang bulatan untuk mata. Dengan begitu berhadapanlah di tempat itu dua orang pendekar yang masing-masing mengenakan kedok. Kalau yang satu berkedok seperti hantu, yang seorang lagi hanya berkedok kain belaka.

Mahesa Wulung yang pada saat itu masih meng- geletak di rumput terpaksa terlongoh-longoh melihat adegan yang menarik itu. Pendekar yang baru muncul itu, secara tiba-tiba telah menggagalkan serangan maut yang dilakukan oleh Ki Topeng Reges guna men- cabut jiwanya. Dengan demikian terang kalau ia telah berhutang budi kepada pendekar yang muncul seperti bayangan.

“Keparat! Siapa kamu, ha?!” teriak Ki Topeng Reges tajam. “Apa maksudmu turut campur dengan urusan- ku sendiri?!”

“Heh, heh, he,” orang berkedok abu-abu itu tertawa dalam. “Perkenalkan, sobat. Aku adalah Pendekar Bayangan. Maaf, kalau aku terpaksa mencampuri urusanmu. Aku melihat kau benar-benar berminat membunuh pemuda yang tidak berdaya itu.”

“Betul ujarmu itu!” sahut Ki Topeng Reges. “Tapi apa salahnya? Bukankah aku telah menang dalam per- tempuranku? Dan orang yang menang berwewenang untuk berbuat apa saja yang disukainya.”

“Termasuk membunuh orang yang sudah tak berdaya dan lumpuh misalnya?” tukas Pendekar Baya- ngan menyindir. “Apakah itu perbuatan yang berjiwa ksatria dan jantan?”

“Persetan! Ki Topeng Reges tidak mengenal basa- basi demikian itu. Apa yang aku anggap baik untuk kulakukan, aku kerjakan, dan tak seorang pun yang boleh menghalanginya!” ujar Ki Topeng Reges dengan seram.

“Dan seandainya aku yang akan mencegah perbu- atanmu yang jahat itu, apakah sobat bersedia meme- nuhinya?” berkata pula Pendekar Bayangan, hingga membuat Ki Topeng Reges benar-benar marah. Dari balik topengnya terdengar giginya gemeretak menahan kejengkelan hatinya.

“Setan!” teriak Ki Topeng Reges. “Bicaramu mirip seorang pendeta. Aku tak butuh ocehanmu di tempat ini. Simpanlah untuk dirimu sendiri!” Ki Topeng Reges bersiaga, sedang kedua bola matanya menjadi merah. “Selagi belum kasep, lekaslah menyingkir dari tempat ini. Jangan tunggu sampai aku benar-benar marah!”

“Bagus! Boleh kau tunjukkan kemarahanmu di hadapanku ini? Heh, he, heh. Kalau kau marah, pastilah wajahmu akan bertambah semakin buruk,” ujar si Pendekar Bayangan seraya memperdengarkan ketawanya.

“Hehhh, kau boleh ketawa. Tapi aku yakin bahwa wajahmu di balik topeng yang putih kumal itu pasti menjadi pucat,” terdengar Ki Topeng Reges menyahut.

“Heh, heh, heh, sayang kita sama-sama memakai topeng, hingga tak tahu mana yang sebenarnya lebih pucat di antara kita!” ujar Pendekar Bayangan. “Nah, kau akan tunggu apalagi? Kalau boleh kunasehatkan, tinggalkan pemuda itu di tempat ini. Dengan begitu tak perlu ada permusuhan di antara kita!”

Ki Topeng Reges kedengaran mengkereotkan giginya. “Hmm, Topeng Reges tidak kenal arti tawar- menawar. Kalau pemuda itu telah berhasil aku roboh- kan, apa lagi dengan kamu?! Paling-paling kau hanya setingkat lebih tinggi daripadanya. Kalau ternyata kau memiliki ilmu yang dua puluh tingkat di atas pemuda itu, apa boleh buat. Mungkin aku terpaksa mengalah!”

“Heh, heh, heh, kalau seandainya aku ternyata memiliki dua puluh lima tingkat lebih tinggi dari ilmu pemuda itu, kau mampu berbuat apa terhadapku, Topeng Reges?”

“Dua puluh lima tingkat katamu?!” seru Ki Topeng Reges terhenyak mundur. Sebenarnya ia tadi hanya beromong kosong saja dengan maksud mempertakuti lawannya, sedang dalam hati ia telah mengetahui bahwa Mahesa Wulung yang telah berhasil dilumpuh- kannya itu, ilmunya cukup baik meskipun masih berada lima tingkat di bawah ilmunya. Dengan begitu, jika Pendekar Bayangan mengatakan ilmunya dua puluh lima tingkat di atas Mahesa Wulung dan itu benar-benar sesungguhnya, maka berarti si Pendekar Bayangan berada dua puluh tingkat di atas ilmunya.

“Sungguh gila!” gumam Ki Topeng Reges lirih. “Dua puluh tingkat di atas diriku? Tak percaya, mustahil! Tapi biarpun begitu, ia tak akan mampu menandingi ilmu Netra Dahanaku!”

Ki Topeng Reges merentang kedua belah tangannya ke depan, demikian pula kakinya yang kiri setengah melangkah ke depan dengan sikap siaga. “Hai, Pende- kar Bayangan! Sebelum terlanjur mengadu tenaga me- lawan Topeng Reges ini, lihatlah ilmu Netra Dahanaku yang tak tertandingi.”

Ki Topeng Reges berpaling ke samping sambil mengerahkan segenap ilmunya dan sejurus kemudian dari bola matanya memancar jilatan lidah api ke arah sebuah pohon sukun yang subur buahnya dan ber- daun lebat.

Pendekar Bayangan terperanjat melihat hal ini. Demikian pula Mahesa Wulung yang terbaring di atas rumput. Meskipun ia telah berkali-kali menghadapi Ki Topeng Reges, namun sekali ini ia betul-betul kaget dan ngeri. Agaknya si pendekar hantu itu mengerah- kan puncak dari ilmu Netra Dahananya. Apa yang terjadi kemudian sangat hebat. Pohon sukun ini, begitu kena jilatan lidah api tersebut, seketika daun- daunnya menjadi kuning layu, sejurus kemudian me- ngering. Begitu pula buah-buahnya, seketika beron- tokan jatuh ke tanah. Mujurlah kalau buahnya ada yang cukup tua, mungkin enak juga dimakan, karena telah terpanggang oleh hawa panas yang luar biasa. Sesudah mengering, daun-daun tadi lalu menjadi hangus. Demikian pula batangnya. Semuanya hangus dengan mengepulkan asap panas ke atas udara. Satu pemandangan yang membikin ngeri hati siapa saja.

Melihat itu semua, Pendekar Bayangan melangkah surut dan bersiaga. Ia sadar bahwa Ki Topang Reges yang dihadapi ini bukanlah pendekar murahan yang boleh dipandang enteng saja.

“Hua, ha, ha, lihatlah akibat ilmu Netra Dahanaku tadi. Apakah kamu punya kelebihan ilmu, berani coba- coba menghalangi sepak terjangku?” seru Ki Topeng Reges sambil bertolak pinggang.

“Yah, memang hebat ilmu Netra Dahanamu tadi. Itu aku akui. Tapi sayang ilmu itu sering kau gunakan untuk melaksanakan pekerjaan jahatmu!” ujar Pende- kar Bayangan sebagai jawaban yang betul-betul me- nyentuh bilik-bilik hati Ki Topeng Reges. Namun bilik- bilik hatinya telah disarangi oleh setan-setan yang selalu membisikkan maksud jahatnya. Dan memang- lah hati Ki Topeng Reges sudah terlalu buntu dan sulit untuk menerima dan merasakan sesuatu yang bersifat baik dan luhur.

“Kurang ajar! Rupanya kau hanya pandai bicara saja. Lekas tunjukkan ilmu simpananmu, kalau tidak ingin tubuhmu menjadi dendeng panggang!” Ki Topeng Reges berseru sambil mengangkat dagunya sombong. Sedang lawannya tampak menggosok-gosokkan ta- ngannya.

“Baiklah, kalau kau ingin melihat ilmuku. Tapi harap dimaafkan kalau terlalu buruk dan sederhana!” Pendekar Bayangan berkata seraya bersiaga. Satu tangan ditekuk di depan dada sedang tangan yang kanan ditekuk ke belakang sejajar telinga, dengan jari- jari mengepal erat.

“Hyaat!” Pendekar Bayangan berseru hebat serta menggenjotkan pukulan tangannya ke depan dan akibatnya sungguh menggoncangkan dada. Pukulan tadi menimbulkan hempasan tenaga dan angin yang berdesau ke arah depan dan sebuah gundukan batu hitam sebesar anak gajah seketika retak dan ambrol dengan mengepulkan asap serta letupan kecil. Tidak hanya itu saja, selain batu hitam yang jaraknya tiga tombak dari Pendekar Bayangan tadi ambrol, juga beberapa semak-belukar terbetot lepas ke akar- akarnya dari permukaan tanah.

“Hah, Bayu Bajra?!” desis Ki Topeng Reges dengan membelalak mundur beberapa langkah saking kaget- nya. Apa yang baru saja dilihatnya tadi sungguh di luar dugaan. Maka ia segera mengambil keputusan untuk lebih dulu menyerang. Ki Topeng Reges segera bersiaga penuh.

Dengan satu terkaman hebat ia melesat ke arah Pendekar Bayangan. Namun begitu kedua tangannya hampir serasa menjangkau kepada Pendekar Baya- ngan, tahu-tahu kepala lawannya berkelit ke samping sekaligus mengirimkan satu tendangan sisi telapak kaki ke arah punggung Ki Topeng Reges. Dengan jerit tertahan si pendekar berwajah hantu ini terhuyung ke samping berputaran seperti gasing untuk selanjutnya rebah ke tanah. Tetapi Ki Topeng Reges adalah pende- kar gemblengan yang pilih tanding, begitu ia rebah ke tanah, begitu pula ia cepat berdiri serta menerkam kembali dengan dahsyatnya.

Kedua belah tangan Ki Topeng Reges yang berkuku cukup tajam siap merobek tubuh lawannya. Tapi sekali lagi ia terperanjat hebat bila tiba-tiba saja kedua belah tangannya kena ditangkap oleh Pendekar Bayangan. Ia hampir-hampir tak percaya. Mendadak si Pendekar Bayangan terasa melambungkan tubuh Ki Topeng Reges ke udara sambil diiringi oleh tertawanya yang terkekeh-kekeh.

“Heh, heh, heh, heh. Ketanggor kau sekarang, topeng burik! Rasakanlah enaknya bertamasya di udara!”

Tubuh Ki Topeng Reges yang terhempas ke udara itu seketika berjungkir balik dan kemudian menghun- jam ke tanah. Untunglah bahwa ia cukup cekatan. Maka begitu mendekati tanah ia segera menjatuhkan kakinya lebih dulu.

Bluk! Ki Topeng Reges mendarat kembali dengan manisnya, tapi tak urung iapun terhenyak bila melihat kedua kakinya agak melesak ke dalam tanah dengan membuat lubang cukup dalam. Padahal ia telah me- ngerahkan ilmunya mengentengkan tubuh. Maka sa- darlah dirinya bahwa tenaga penghempasan lawannya sangat hebat, dan sejurus kemudian matanya terasa berbinar-binar seperti melihat percikan-percikan bin- tang. Untuk ini, ia cepat-cepat bersemedi mengatur nafas dan jalan darahnya.

“Hayo, topeng burik! Lanjutkan permainan kita. Aku masih banyak tenaga untuk melayanimu!” terdengar Pendekar Bayangan menantang.

“Keparat! Aku terima kalah sekarang. Awas lain kali! Aku akan kembali untuk menghajarmu!” teriak Ki Topeng Reges sambil sekaligus melancarkan serangan ilmu Netra Dahananya ke arah Pendekar Bayangan.

Tetapi Pendekar Bayangan ini hanya cukup melenting-lenting kesana-kemari menghindari dan menelusup di antara celah jilatan-jilatan lidah api, tak ubahnya gerak Sang Hanoman dalam cerita Hanoman Obong.

Rupanya serangan tadi memang hanya sekadar untuk tabir dan maksud Ki Topeng Reges yang sejurus kemudian secepat kilat ia telah melesat ke samping dan tubuhnya telah lenyap di balik rerimbunan semak ilalang. Ki Topeng Reges telah lari dari tempat itu.

“Hmm, si topeng buruk telah lari! Biarlah, yang penting aku harus cepat-cepat menolong pemuda ini!” gumam Pendekar Bayangan seraya melangkah pelan- pelan ke arah Mahesa Wulung yang terbaring lumpuh di atas rumput.

Mahesa Wulung yang sejak tadi mengawasi tingkah dan gerak pendekar berkedok itu, dalam hati ia merasa kagum dan penuh tanda tanya. Semua jurus silat yang dipergunakan oleh Pendekar Bayangan tadi adalah jurus-jurus dari Perguruan Tanah Putih di Asemarang. Ah, siapakah dia? Mahesa Wulung bertanya-tanya dalam hati.

Sementara itu Pendekar Bayangan yang kini telah berdiri di samping tubuh Mahesa Wulung segera ber- jongkok dengan pelannya. Kemudian ia mengulurkan tangannya ke arah lengan Mahesa Wulung.

“Hmm, kau menderita luka beracun, anak muda,” ujar pendekar yang berkedok abu-abu itu kepada Mahesa Wulung. “Tetapi untung engkau mempunyai daya tahan yang luar biasa, Nak. Tubuhmu kebal juga terhadap bisa kalajengking biru!”

“Kalajengking biru?!” desis Mahesa Wulung dengan kaget, sebab nama kalajengking biru sering ditakuti orang sebagai binatang kecil yang sanggup membunuh lawannya dalam waktu yang singkat.

“Tapi kau tak usah takut ataupun cemas, Anak Muda,” sahut Pendekar Bayangan. “Aku akan meno- longmu!”

“Terima kasih sebelumnya, Tuan,” ujar Mahesa Wu- lung. “Tetapi bolehkah aku bertanya sesuatu, Tuan?”

“Hmm, silakan bertanya,” jawab Pendekar Bayangan dengan ramah. “Jika aku bisa menjawabnya, pasti aku akan memberikan jawabannya.”

“Siapakah Tuan dan mengapa Tuan telah bersusah payah menolongku?” tanya Mahesa Wulung.

“Seperti yang kau ketahui, Anak Muda. Akulah yang bernama Pendekar Bayangan. Kalau aku menolongmu itu semata-mata memenuhi darma ksatria, yaitu menolong setiap makhluk, terutama manusia yang sedang ditimpa bahaya,” kata Pendekar Bayangan seraya menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnya tidak perlu disebutkan dengan darma seorang ksatria, sebab manusia umumnya seharusnya mengenal hal itu. Menolong orang lain yang kemalangan adalah kewa- jiban setiap manusia yang berbudi dan berakal. Kita hidup di dunia ini tidak hanya sendirian, tapi ber- sama-sama dengan manusia-manusia dan makhluk lainnya. Jadi kita memerlukan tatapergaulan yang baik dan luhur.”

Pendekar Bayangan berhenti sejenak dengan kata- katanya sambil menatap Mahesa Wulung dengan pan- dangan mata yang bening dan agung, seolah-olah ia tengah memeriksa, apakah kata-katanya yang meng- alir tadi bisa diterima oleh Mahesa Wulung.

“Aku mengerti, Tuan,” ujar Mahesa Wulung seraya mengangguk hormat.

“Dan selanjutnya,” ujar Pendekar Bayangan melan- jutkan bicaranya, “tata pergaulan yang baik membu- tuhkan satu kerja sama antara manusia yang satu dengan yang lain. Satu kegotong-royongan yang telah dirintis oleh nenek moyang kita.”

Mahesa Wulung masih menunduk tekun mende- ngarkan kata-kata Pendekar Bayangan yang meresap ke dalam sanubarinya. Merasakan kata-kata itu, tiba- tiba membersit dalam kepala Mahesa Wulung bahwa Pendekar Bayangan termasuk berilmu tinggi. Segala kata-kata dan silatnya ketika melawan Ki Topeng Reges lebih meyakinkan Mahesa Wulung bahwa kini ia tengah berhadapan dengan seorang tokoh sakti. Ia me- lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Ki Topeng Reges yang ganas itu kena terhajar dan terusir oleh Pendekar Bayangan.

“Anak muda, aku tadi mendengar bahwa Ki Topeng Reges menyebutkan namamu dengan Mahesa Wulung. Betulkah engkau yang bergelar pula dengan nama Ba- rong Makara?” ujar Pendekar Bayangan. “Oh, rupanya masih ada yang engkau renungkan, Anak Muda!”

“Maaf, Tuan,” berkata Mahesa Wulung setengah geragapan. “Memang sayalah yang bernama Mahesa Wulung. Saya masih mengagumi dan heran dengan jurus-jurus silat dan tempur yang Tuan pakai tadi.”

“Mengapa dengan jurus-jurus silatku, Mahesa Wu- lung?” tanya Pendekar Bayangan. “Apakah ada yang aneh?”

“Yah, memang aneh, Tuan. Jurus-jurus demikian tadi aku kenal sebagai ciri dari Padepokan Tanah Putih di Asemarang. Jurus-jurus Tuan tadi banyak menggu- nakan unsur angin dan tenaga pukulan dalam yang terpusat, dan bapak guru pernah mempertunjukkan- nya kepadaku!” ujar Mahesa Wulung.

“Heh, heh, heh, rupa-rupanya anak muda adalah murid Panembahan Tanah Putih pula,” sambung Pen- dekar Bayangan sambil tertawa lirih. “Daya pikirmu sungguh tajam, Mahesa Wulung. Tahukah kamu jurus pukulan dengan menggunakan tenaga dalam tadi?”

“Tahu, Tuan,” jawab Mahesa Wulung. “Panembahan Tanah Putih menyebutnya dengan pukulan Angin Bisu dan itu merupakan bagian dari keseluruhan ilmu dah- syat Bayu Bajra yang pada waktu itu masih diper- dalam oleh Panembahan Tanah Putih.”

“Nah, itu kau sudah tahu semuanya. Sekarang apa yang masih kau herankan lagi, Mahesa Wulung?”

“Persamaan gerak silat yang Tuan pakai itulah yang masih aku kurang mengerti. Hal itu setidak-tidaknya menunjukkan adanya hubunganmu antara Padepokan Tanah Putih dengan diri Tuan.”

“Ah, kau selalu menghubung-hubungkan segala sesuatu, Mahesa Wulung. Tapi tak apalah. Aku senang dengan sifat-sifatmu itu. Kalau toh ada persamaan antara gurumu dengan aku, itu tak menjadi soal bagimu dan tentang asal-usulku pun kau tak perlu mengetahuinya pula. Itulah sifat-sifat Pendekar Baya- ngan muncul disana-sini dalam saat-saat kejahatan sedang merajalela.” Pendekar Bayangan berhenti seje- nak. “Dan mulai sekarang, kau tak perlu lagi memu- singkan tentang diriku, Mahesa Wulung. Mungkin suatu ketika kau akan dapat mengenalku lebih dekat lagi.”

“Terima kasih, Tuan,” kata Mahesa Wulung.

“Nah, tenanglah. Aku akan mengobati segala luka- lukamu.” Pendekar Bayangan berkata seraya menarik sebuah kantong kecil dari kain putih, dikeluarkan dari balik bajunya. “Minumlah obat ini agar rasa sakitmu hilang.”

Pendekar Bayangan itu lalu mengulurkan sebuah butiran berwarna hijau ke mulut Mahesa Wulung yang diterima oleh pendekar muda itu dengan senyuman. Butiran obat tadi ditelannya sekaligus. Setelah itu ia melepaskan baju Mahesa Wulung.

“Kita tunggu sesaat!” ujar Pendekar Bayangan. “Se- telah badanmu panas, barulah mengeluarkan racun dari dalam lukamu.”

Memang benarlah kata Pendekar Bayangan. Tubuh Mahesa Wulung dalam waktu sebentar telah berang- sur-angsur panas serta butiran-butiran peluh menetes dari lubang kulit.

Pendekar Bayangan lalu mendudukkan Mahesa Wulung dengan hati-hati, setelah itu kedua tangannya segera mengurut lengan kanan Mahesa Wulung yang terluka oleh belati Kiai Brahmasakti milik Ki Topeng Reges.

“Akhhhh!” Mahesa Wulung menjerit kecil bila lengannya terasa dijepit dan diurut oleh Pendekar Bayangan.

“Maaf, Mahesa Wulung. Tahanlah rasa sakitmu itu,” sela Pendekar Bayangan.

“Baik, Tuan,” ujar Mahesa Wulung setengah me- ringis menahan rasa sakit yang menyengat-nyengat seperti sengatan berpuluh-puluh kalajengking.

Sementara itu Pendekar Bayangan mengurut-urut lengan Mahesa Wulung ke arah bawah. Dari pangkal lengan sampai ke siku.

“Nah, lihatlah lukamu itu, Mahesa Wulung,” ujar Pendekar Bayangan. “Racun itu akan segera keluar.”

Mata Mahesa Wulung terbelalak membenarkan per- kataan Pendekar Bayangan. Dari lukanya itu sejurus kemudian menetes darah hitam kental ke atas rumput, yang merupakan campuran antara darah dengan racun. Setelah itu, sekali lagi Pendekar Bayangan mengurut lengan kiri Mahesa Wulung dan keluarlah pula racun dari luka yang kedua. Dengan demikian terbebaslah sudah Mahesa Wulung dari racun jahat milik Ki Topeng Reges.

“Hmmm, lawanmu tadi memang pendekar gem- blengan. Untunglah kau cukup memiliki daya tahan yang baik, meskipun belum seluruhnya sempurna. Itulah sebabnya kau hanya lumpuh saja. Kalau orang biasa, pastilah akan remuk tubuhnya dibentur oleh tenaga pukulan Perguruan Watu Semplok.”

“Benar, Tuan,” ujar Mahesa Wulung. “Tenagaku seolah-olah punah, tak bertulang lagi. Demikian pula ilmu silatku serasa lenyap tak berbekas. Untunglah Tuan datang menolongku.” Mahesa Wulung berkata sambil memandangi tubuh penolongnya, si Pendekar Bayangan. Dan ketika Mahesa Wulung memandangi mata pendekar itu, hatinya berdesir dengan cepat. Mata itu begitu bening, sebening air sumur yang dalam serta berputar-putar dasarnya.

Mahesa Wulung menjadi semakin sadar bahwa ia berhadapan dengan orang yang berkekuatan batin sa- ngat tinggi, sebab begitu ia memandang mata Pendekar Bayangan itu, ia menjadi seakan-akan ikut berputar dan terhisap ke dasarnya serta tenggelam.

“Hmmm, kalau begitu, untuk memulihkan tenaga- mu yang telah punah tadi kau harus tekun berlatih untuk waktu yang cukup lama,” ujar Pendekar Bayangan.

“Oooh,” desis Mahesa Wulung dengan perasaan hatinya yang pedih. Ia tidak menyangka bahwa ilmunya telah larut, akibat benturan melawan tenaga Ki Topeng Reges yang berlipat-lipat dahsyatnya. “Tak apalah, Tuan. Biarpun aku harus belajar lebih lama lagi, sampai beruban sekalipun, aku tetap berusaha dan aku telah berjanji untuk menghajar Ki Topeng Reges. Demikian pula catatan rahasia panah sakti Braja Kencar harus aku rebut kembali dari tangan Rikma Rembyak.”

“Bagus. Aku menghargai tekadmu yang sekeras gu- nung karang itu, Mahesa Wulung,” sambut Pendekar Bayangan setengah mengangguk-angguk. “Tetapi kau harus beristirahat lebih dulu. Marilah kita cari tempat yang cukup baik untuk itu. Aku tahu di sekitar ini banyak terdapat lobang-lobang dinding batu yang bisa kita pakai.”

“Baik, Tuan,” ujar Mahesa Wulung menyetujui. “Tapi aku tak dapat ”

“Jangan kuatir, aku akan menolongmu, Nak,” tukas Pendekar Bayangan seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah punggung dan paha Mahesa Wulung. “Aku akan memondongmu!”

Dengan enaknya Pendekar Bayangan mengangkat serta memondong tubuh Mahesa Wulung di dadanya. Untuk kedua kalinya Mahesa Wulung terpaksa me- narik napas dalam-dalam. Ia menjadi semakin yakin bahwa Pendekar Bayangan bukanlah orang yang sem- barangan. Setidak-tidaknya ia berilmu lebih tinggi daripada gurunya, Panembahan Tanah Putih dari Asemarang.

Tubuh Mahesa Wulung yang kelewat berat itu dengan enak dibawa berlari serta berlompatan dari batu ke batu, dan menerobos semak-semak oleh Pen- dekar Bayangan. Setelah mereka melewati gerumbul- gerumbul kecil dan rumpun pohon pisang yang banyak berserakan di kaki bukit sebelah barat, sampailah keduanya pada tebing-tebing batu yang menjulang tinggi dan benarlah apa yang dikatakan oleh Pendekar Bayangan tadi.

Pada permulaan tebing batu terlihat ceruk-ceruk akan lobang yang tidak begitu dalam dan buntu, cukup baik untuk dipakai tempat bermalam serta beristirahat. Malahan pertapa-pertapa, kadangkala menggunakan tempat-tempat tadi untuk bersemadi dan menyepi.

Setelah tiba di tempat itu, Pendekar Bayangan menurunkan tubuh Mahesa Wulung dan meletakkan- nya di tanah, di dekat lobang dinding batu. Dipilihnya salah satu lobang yang terbesar dan dibersihkannya sekali. Sambil berbaring Mahesa Wulung tak henti- hentinya melihat kerja Pendekar Bayangan yang ceka- tan dan cepat dalam membersihkan tempat itu. Kece- patan geraknya benar-benar mirip sebuah bayangan.

Sejurus kemudian, tampaklah Pendekar Bayangan telah selesai dan mengibas-kibaskan tangannya yang penuh oleh debu dan tanah, serta membersihkannya pada mata air yang tidak jauh letaknya.

Baju Mahesa Wulung selanjutnya dibentangkan olehnya ke atas lantai goa buntu tadi, sebagai alas bagi tubuh Mahesa Wulung yang akan dibaringkan. Dengan langkah perlahan ia menghampiri Mahesa Wulung.

Mula-mula Mahesa Wulung merasa kurang menger- ti dengan hal itu, tetapi Pendekar Bayangan yang bijaksana ini segera berkata, “Mahesa Wulung, berba- ringlah dengan baik dan tenang. Aku akan mencoba mengurut badanmu. Semoga kelumpuhan tubuhmu tidak terlalu berat.”

“Terima kasih, Tuan,” ujar Mahesa Wulung menurutinya. Tubuh dan pikiran ditenangkannya seperti sikap orang yang mengheningkan cipta. Namun bila jari-jemari tangan Pendekar Bayangan telah mulai mengurut tubuhnya, tak tahan juga Mahesa Wulung terpaksa meringis, sebab setiap kali jari-jari Pendekar Bayangan menyentuh kulit serta memijit simpul-sim- pul sarafnya, terasalah kalau tubuhnya seperti dialiri oleh rasa nyeri, pedih bercampur aduk tak ubahnya sengatan dari ratusan kalajengking berbisa. 

Mahesa Wulung sambil meringis menahan rasa nyeri, pikirannya yang tajam itupun bekerja pula. Ia memang pernah mendengar semacam ilmu yang dipergunakan untuk menyembuhkan simpul-simpul saraf yang rusak, yang dapat menyembuhkan kelum- puhan tubuh. Ia pernah membacanya dari sebuah catatan lontar kuno yang terbawa bersama penyerbuan tentara Kaisar Kubilai Khan ke Singasari puluhan tahun yang telah silam.

Ilmu itu telah terkenal puluhan tahun di tanah seberang sana. Mereka menyebutnya dengan ilmu tusuk jarum, karena mereka mempergunakan jarum dalam menyembuhkan serta mengobati saraf-saraf yang rusak. Sedang Pendekar Bayangan yang kini tengah mengobati kelumpuhannya itu, sama sekali tanpa mempergunakan sebatang jarum pun.

Begitulah Mahesa Wulung merasakan pijitan-pijitan yang nyeri mulai dari kepala, dada, sampai ke leher. Ia tak kuasa berteriak kecuali berdesis menahan sakit- nya, bahkan ia merasa seolah-olah seperti anak kecil yang dipijit oleh ayahnya sehabis kelelahan bermain- main sehari penuh.

Kemudian sedikit demi sedikit rasa sakit tadi berku- rang dan lenyap, untuk selanjutnya terasa bahwa pijitan tadi menimbulkan rasa segar dan nyaman.

“Bagaimana Mahesa Wulung, apakah kau masih merasakan pijitan yang sakit?” tanya Pendekar Baya- ngan.

“Tidak lagi, Tuan,”  jawab Mahesa Wulung meng- geleng.

“Jangan panggil aku tuan. Panggillah bapak.” “Baik, Bapak. Terima kasih.”

Pendekar Bayangan mengangguk. “Nah, Angger. Segera akan terbuka segenap urat-uratmu menjadi lebih hidup. Letak otot dan susunan sarafmu telah aku perbaiki. Dengan begitu darahmu akan mengalir kem- bali dengan lancar. Dengan sedikit latihan nantinya, tubuhmu akan berkekuatan berlipat-lipat. Tetapi apa- kah dengan sembuhnya kelumpuhan tubuhmu itu ilmu yang telah punah akan bisa pulih kembali? Aku tak tahu, Angger. Hal itu tak perlu kau risaukan amat. Aku nantilah yang akan menolong.”

Pendekar Bayangan meneruskan pijitannya kem- bali. Mahesa Wulung, lama-kelamaan merasa bahwa tubuhnya segar kembali dengan darah yang mengalir di segenap urat tubuhnya, merambat sampai ke ujung rambut dan ujung jari kaki, sementara jantungnya ber- detak dengan teratur. Demikian pula matanya serasa menjadi berat seperti digantungi oleh satu kekuatan aneh dan sedikit demi sedikit Mahesa Wulung tertidur dengan pulasnya. Melihat itu Pendekar Bayangan mengangguk puas dengan sebuah senyuman manis di balik topengnya.

*** 2

ANEH! MAHESA WULUNG merasa tengah berjalan bergandengan dengan Pandan Arum. Tiba-tiba mun- cullah sebuah kepala yang besar dan berwajah menge- rikan siap mencaploknya. Wajah itu adalah wajah Ki Topeng Reges yang tertawa dengan terkekeh-kekeh mengumandang di segenap penjuru.

Namun dalam saat-saat yang menegangkan, sebuah bayangan putih melesat dan memukul hancur kepala itu. Mahesa Wulung tersentak kaget karenanya. Dili- hatnya bayangan putih itu tersenyum kepadanya. Itu- lah wajah Pendekar Bayangan yang telah menolong- nya!

Dalam pada itu telinganya yang tajam telah mende- ngar satu bisikan halus, “Bangunlah. Kau telah cukup lama tidur. Tugasmu masih banyak.”

Mahesa Wulung tersentak lebih hebat dan segera meloncat berdiri. “Akh, aku telah bermimpi tadi!” desisnya sambil memandang sekeliling. Tampaklah matahari telah silam di sebelah barat. Di dekatnya terpasang sebuah api unggun kecil yang cukup menghangatkan tubuh. “Heei, aku tidak lumpuh lagi.”

Digerayanginya tangan dan kakinya sendiri, sebab ia hampir tak percaya akan kesembuhan tubuhnya dari kelumpuhan. Tapi ia hanya berdiri dan berada di tempat itu seorang diri.

“Hmm, di manakah Pendekar Bayangan yang telah menolongku tadi?” gumam Mahesa Wulung sambil memeriksa tempat itu. Suasana sepi di sekeliling tem- pat itu, kecuali bunyi jengkerik serta ledakan-ledakan kecil dari ranting dan dahan kayu dimakan deh api bergemeretakan. Mahesa Wulung terus menyelusuri. Dari api unggun terus berpindah ke lobang dinding batu tempat ia berbaring. Di situ, dilihatnya bajunya terhampar di lantai dan di sampingnya tergeletak pula pedang serta kitab hijau Landean Tunggal miliknya.

Angin senja pegunungan yang bertiup dingin terasa sekali oleh tubuh Mahesa Wulung, maka cepat-cepat ia meraih bajunya serta dipakainya pula. Tetapi di saat itu juga telinganya yang tajam mendengar bunyi geme- risik di sebelah selatan.

Dengan mengendap ia cepat menjangkau pedang- nya. Ia merasa bahwa dirinya tengah diawasi oleh sepasang mata yang tajam. Oleh sebab itu Mahesa Wulungpun mencoba melayangkan pandangan mata- nya ke arah sekeliling, ke semak-semak yang rimbun ataupun ke balik batu-batu yang berserakan tersembul dari dalam tanah. Matanya yang tajam itu seakan- akan ingin menembus kegelapan yang menghitam pekat, untuk mengetahui ada dan tidaknya suatu bahaya.

Mendadak saja Mahesa Wulung melihat satu bayangan yang menyambar ke arahnya dari semak- belukar di sebelah selatan. Gerak naluriahnya menja- lar cepat dan Mahesa Wulung berkelit ke samping serta melolos pedangnya secepat mungkin.

Taak! Sebuah batu hitam sebesar telur ayam menabrak dinding batu dan menghunjam ke dalamnya!

“Seseorang telah melemparku dari semak-semak itu!” desis Mahesa Wulung. “Hmm, tenaganya sungguh hebat. Batu hitam itu telah melesak ke dinding batu.”

Mahesa Wulung semakin berhati-hati. Ia yakin bahwa si pelempar ini mempunyai ilmu yang tinggi. Kalau tidak, masa’kan batu hitam itu bisa melesak ke dalam dinding batu, oleh sebuah lemparan saja.

Sebelum ia selesai merenungi hal itu, dua buah sinar kembali menyambar ke arah tubuhnya dengan kecepatan yang luar biasa. Namun Mahesa Wulung sekali ini tidak menunggu sampai tubuhnya terhajar oleh lemparan-lemparan batu gelap. Pedang di tangan- nya segera diputarnya rapat-rapat melindungi tubuh- nya.

Das! Praak! Dua benturan beruntun terdengar ketika Mahesa Wulung berhasil mencegat kedua sinar tadi. Dua buah batu hitam tersebut remuk dan ter- campak ke atas tanah. Mahesa Wulung menarik nafas dalam-dalam, sementara tangannya merasa pedih, akibat benturan pedangnya dengan kedua batu tadi.

Tiba-tiba, sekali lagi terlihat empat sinar menyam- bar berbareng ke arahnya. Meskipun begitu untuk yang ketiga kalinya, Mahesa Wulung kembali memutar pedangnya memapaki sinar-sinar yang menyambar itu. Mata pedangnya berhasil memukul hancur tiga buah batu yang pertama. Tetapi pada batu yang keempat, pedangnya tergetar dan lepas dari genggaman jarinya yang sejak tadi telah ditahankan dari rasa pedih.

“Luar biasa!” desis Mahesa Wulung, ketika ia meli- hat pedangnya terpental dan menghunjam ke atas rumput.

“Heh, heh, heh, heh.” Suara tertawa yang lunak terdengar ke telinganya sampai ia terhenyak kaget. Suara itu seolah-olah bernada mengejek, menertawa- kan dirinya yang bisa terkalahkan oleh sebuah batu biasa.

Dengan agak jengkel ia mencabut cambuknya Kiai Naga Geni yang melilit pada ikat pinggangnya. Bersa- maan ia selesai mengurai cambuk itu, kembali panda- ngan matanya menangkap enam sinar yang menyam- bar lagi ke arah badannya.

“Gila!” seru Mahesa Wulung. “Enam berbareng!” Ke- enam sinar tadi menyambar dengan cepatnya, seakan- akan dilemparkan oleh kekuatan raksasa.

Dalam keadaan yang sangat genting ini, Mahesa Wulung lebih cepat lagi memutar cambuk Naga Geni- nya yang telah terkenal ampuhnya. Suara putarannya mendesau nyaring dengan mengeluarkan sinar kebiru- an. Sejurus kemudian, bagai kelincahan seekor naga, cambuk itu mematuk hancur keenam batu yang menyambar ke arahnya.

Tetapi akibat dari gerakannya tadi Mahesa Wulung telah mengucurkan keringat dinginnya. Nafasnya ter- sendat-sendat pula. Ketika itu terdengar pula suara tertawa yang lunak disusul oleh melesatnya bayangan yang berkedok mukanya dari arah semak-semak yang sama.

“Pendekar Bayangan?!” seru Mahesa Wulung terpe- ranjat.

“Heh, heh, heh, maafkan aku, Angger,” ujar Pende- kar Bayangan sesaat setelah mendarat di muka Mahe- sa Wulung tanpa menimbulkan suara. “Akulah tadi orangnya yang telah melemparmu. Tetapi harap Angger tidak mempunyai rasa marah ataupun kurang percaya. Aku hanya sekedar main-main, sekedar menguji sam- pai di manakah kesembuhan tubuhmu serta pengaruh pijitanku.”

“Tak apalah, Bapak,” ujar Mahesa Wulung meyakin- kan. “Justru aku merasa berhutang budi kepada Bapak. Dengan begitu aku telah mengetahui sampai di mana kekuatanku sebenarnya.”

“Yah, sampai di mana kekuatan tubuhmu yang baru saja sembuh tadi, aku mengetahui semua. Te- rangnya kau masih harus berlatih kembali lebih giat,” ujar Pendekar Bayangan.

“Terima kasih, Bapak,” sahut Mahesa Wulung.

Sekonyong-konyong saja terdengar suara berdesing sangat keras mengiringi sebuah sinar. Dalam saat-saat yang begitu, Pendekar Bayangan meleset ke depan dengan pesatnya menyongsong sinar tadi.

Tap! Jari-jari Pendekar Bayangan tahu-tahu telah menjepit sebatang anak panah yang bergerigi.

“Penyerangan gelap!” bisik Mahesa Wulung. “Mereka telah mengincar kita, Bapak!”

“Tenang saja, Angger!” ujar Pendekar Bayangan lirih. “Bersiaplah engkau! Aku yakin musuh kita lebih dari satu orang. Baiknya aku membawa tongkat kayuku!”

“Aku siap bertempur, Bapak!” bisik Mahesa Wulung. “Baik! Nah, sekarang kita akan bertindak. Aku akan merayap ke arah selatan untuk menyerang mereka secara tiba-tiba, sedang Angger Mahesa Wulung tetap

bersiaga disini.”

“Baik, Bapak,” sekali lagi Mahesa Wulung berbisik.

Pendekar Bayangan kemudian merayap ke sebelah selatan dengan tangkas dan cepat. Tubuhnya bergerak persis bayangan mengendap-endap, menyelusup dari semak yang satu ke belukar yang lain. Ia makin men- jauh, menjauh dan akhirnya tubuh Pendekar Baya- ngan seolah-olah lenyap ditelan kegelapan malam.

Hati Mahesa Wulung semakin berdebar-debar ke- ras, menanti apa yang bakal terjadi selanjutnya. Seke- jap demi sekejap Mahesa Wulung terus menunggu, dan sesaat kemudian benarlah apa yang dinantikannya. Dari arah selatan terdengarlah bunyi senjata beradu diseling oleh teriakan-teriakan berlaga.

Mahesa Wulung cepat bertindak. Ia meloncat segera ke arah selatan untuk membantu Pendekar Bayangan yang pasti telah terlibat dalam sebuah pertempuran.

Namun belum lagi jauh ia beranjak, sesosok tubuh tahu-tahu menerkam ke arahnya dari sebuah rumpun ilalang. Ia tak sempat meneliti lawannya yang secara tiba-tiba telah menyerang itu. Mahesa Wulung merasa- kan sambaran-sambaran senjata lawan yang berben- tuk pedang lebar dengan ujungnya yang papak mirip ujung sebuah parang.

Pedang lebar tadi mendesau dengan dahsyat seperti topan siap melanda tubuh Mahesa Wulung dari sege- nap arah. Untuk ini Mahesa Wulung terpaksa meme- ras tenaganya untuk menghadapi serangan-serangan lawannya. Tubuhnya berjumpalitan di udara persis gerak-gerak burung layang-layang yang menyambar kupu-kupu.

Dengan begitu ia lolos dari tebasan-tebasan pedang lawannya yang datangnya bertubi-tubi laksana ombak Laut Kidul yang ganas dan dahsyat.

Sementara itu Pendekar Bayangan mengendap- endap dengan lambat menyelundup di antara sela-sela kerimbunan pohon pakis. Sebentar-sebentar ia ber- henti sambil mempertajam pendengarannya dengan teliti, sebab ia merasa bahwa di sekitar tempat itu pasti bersembunyi penyerang-penyerang gelap.

Inilah yang betul-betul berbahaya baginya. Para penyerang tadi setidak-tidaknya telah siap dan hafal dengan tempat itu. Sedang ia sendiri belum pernah datang kemari, dengan begitu tempat itu menjadi sangat asing baginya.

Tiba-tiba di balik sebuah semak ilalang didengarnya suara nafas yang mengalir dengan perlahan dan halus. Namun telinganya yang tajam itu dapat menangkapnya dengan jelas.

Maka si Pendekar Bayangan kemudian mendekati semak ilalang itu dari arah samping dan betullah apa yang didengarnya. Begitu ia menguakkan daun-daun ilalang, terlihatlah dua orang bersenjata panah siap dengan tembakannya.

Pendekar Bayangan setengah menggeram melihat kedua orang penyerang gelap ini. Dengan satu lon- catan yang panjang tak bersuara, ia menyerang kedua- nya. Tongkat kayunya berputar seperti baling-baling menyambar ke arah lawan-lawannya.

“Heei, apa kerja kalian disini cecunguk-cecunguk?” seru Pendekar Bayangan keras-keras. Karuan saja kedua orang itu terkejut bukan main digertak begitu macam, sampai keduanya berjingkrakan hampir jatuh. Cepat mereka berpaling mengarahkan senjata panah- nya ke arah Pendekar Bayangan. Dalam saat yang sama Pendekar Bayangan lebih cepat bertindak. Senja- ta tongkat kayunya telah menghantam senjata-senjata mereka berbareng dengan satu kecepatan yang menga- gumkan.

Bet! Kraak! Kedua busur yang ada di tangan mereka tahu-tahu patah menjadi dua, bagaikan dipotong oleh sebuah pisau tajam.

“Hantui?!” desis mereka berbareng, demi dilihatnya sesosok tubuh yang berdiri tegap di depan mereka. Pakaiannya yang serba berwarna putih berkedok pula. Orang itu menggenggam sebuah tongkat kayu.

Yang seorang secepat kilat mencabut sebuah rantai dari ikat pinggangnya yang berujung besi runcing. Se- mentara yang seorang lagi menghunus goloknya sam- bil menggeram. Dan selanjutnya mereka tanpa berpikir panjang telah menyerang Pendekar Bayangan yang nampaknya seperti belum siap sedia.

Agaknya mereka yakin bahwa serangan mereka ber- bareng itu, dapat merobohkan lawannya dalam waktu satu gebrakan. Tetapi alangkah kagetnya bila putaran senjata mereka tahu-tahu beradu dengan tongkat Pen- dekar Bayangan yang diputar setengah lingkaran.

Kedua senjata mereka tergetar hebat ketika beradu dengan sambaran tongkat kayu lawannya.

“Keparat!” desis yang bersenjata rantai. “Kau ter- nyata berilmu pula. Tapi menghadapi Dadungrante, jangan lekas merasa bangga, kalau hanya mampu membentur rantai baja ini. Ayo Adi Saron, kita cincang saja orang ini cepat-cepat. Setelah itu kita baru me- nangkap si Mahesa Wulung.”

“Baik!” gumam yang bersenjata golok serta meri- ngiskan bibirnya yang tebal. Setelah itu ia meloncat dibarengi oleh kawannya menyerang Pendekar Baya- ngan.

Maka terjadilah pertempuran yang cukup hebat. Pendekar Bayangan yang mampu bergerak seperti bayangan itu sungguh-sungguh membikin kedua lawannya kerepotan. Kalau saja kedua orang itu telah menghantamkan senjatanya dan tampaknya si Pendekar Bayangan pasti terhajar hancur, tahu-tahu lawannya ini telah melesat menghindar dan tiba-tiba telah ada di belakang mereka.

“Heh, heh, heh, lebih baik kalian menyerah sebelum aku menunjukkan permainan tongkatku ini!” seru Pendekar Bayangan sambil tertawa dalam.

“Kelewat sombong kau setan!” seru Dadungrante beringas sekaligus memutar senjata rantainya seperti pusaran angin yang berdesau hebat.

Juga kawannya yang menggenggam golok itupun tak mau kalah rupanya. Senjatanya itu ditebaskan ke beberapa arah dengan sabetan-sabetan yang penuh berhawa maut.

“Hyaat!” Kedua orang itu menyerbu berbareng ke arah Pendekar Bayangan yang tampaknya belum siap sama sekali. Namun berbareng kedua lawannya me- nyerbu, iapun memutar tongkat kayunya dengan cepat merupakan pagar yang kokoh melindungi dirinya dari ujung senjata-senjata lawan yang menyambar-nyam- bar amat sengitnya.

Ketiganya bertempur dengan dahsyat, tak ubahnya tiga ekor harimau yang bertempur berebut mangsa. Saling berloncatan kesana-kemari dengan putaran dan tebasan senjatanya masing-masing.

Tetapi setelah berjalan beberapa jurus, tampaklah bahwa Pendekar Bayangan sedikit demi sedikit berha- sil mendesak kedua lawannya. Tongkat kayunya mem- berikan tekanan-tekanan terhadap Dadungrante dan Saron sangat hebat, menyebabkan mereka bermandi keringat dingin dan tersengal-sengal.

Mereka melihat tongkat kayu itu seperti berubah menjadi ratusan jumlahnya menyambar dan mematuk- matuk ke arah mereka. Dadungrante merasa penasa- ran melihat Pendekar Bayangan yang memberikan tekanan-tekanan hebat. Maka sambil mengerahkan segenap kekuatannya, ia menyabetkan senjata rantai- nya ke arah kepala Pendekar Bayangan.

Traak! Senjata rantai Dadungrante tanpa diduga telah melibat tongkat kayu Pendekar Bayangan yang telah dilintangkan di depan kepalanya. Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba saja Pendekar Baya- ngan telah menghentakkan tongkat kayunya dan tanpa ampun lagi Dadungrante terseret tubuhnya untuk kemudian terlambung ke udara sambil menjerit. Da- dungrante jatuh terpental di tanah dengan mengaduh.

Melihat kawannya telah roboh, Saron cepat-cepat menyabetkan pedangnya, namun Pendekar Bayangan melenting ke udara hingga tebasan pedang Saron tidak mengenai sasarannya, kecuali angin kosong belaka. Oleh sebab itu Saron memaki-maki saking jengkelnya.

Sambil bertempur tadi Pendekar Bayangan sempat pula melirik ke arah Mahesa Wulung yang bertempur di sebelah timur melawan seorang yang bersenjata parang.

Rupanya lawan Mahesa Wulungpun berilmu tinggi pula. Gerakannya saja cukup hebat. Parangnya ber- kali-kali membacok dengan garangnya, disertai oleh desingan nyaring yang berhawa maut.

“Mahesa Wulung, tunggu apa lagi kau hah?! Lekas menyerah, agar kami dapat mengampunimu!” teriak lawan Mahesa Wulung yang berambut pendek tanpa ikat kepala.

“Hmmm, jangan terlalu menyombong sobat,” sahut Mahesa Wulung sambil memutar cambuknya. “Kalau kau berminat menangkapku, cobalah sendiri dengan kesaktianmu!”

“Keparat! Kau terlalu menghina Pelang Telu, murid kinasih Ki Topeng Reges dari Watu Semplok!” seru lawan Mahesa Wulung keras-keras sambil mengayun- ayunkan senjata.

“Ooo, jadi terangnya kamu adalah para cecunguk dari Topeng Reges! Kalau begitu kebetulan sekali ini adalah satu hal yang telah aku tunggu-tunggu.”

“Apa yang kau tunggu-tunggu, keparat?!” seru Pelang Telu dengan beringas serta membelalakkan mata. “Apa kau menunggu ini!” Pelang Telu segera membacokkan parangnya ke arah lambung lawannya. Dan berbareng itu pula Mahesa Wulung telah memutar cambuknya untuk menyambut serangan Pelang Telu.

Weesss! Taar! Kedua ujung senjata beradu, tapi dengan cekatan Pelang Telu mengegoskan tubuhnya ke kiri untuk menghindari serangan berikutnya dari cam- buk Mahesa Wulung. Ternyata Mahesa Wulung tak kalah lincahnya. Begitu Pelang Telu berkelit ke kiri, iapun melayangkan pukulan sisi telapak tangan kiri- nya ke arah punggung Pelang Telu yang seketika ter- jungkal dengan meringis megap-megap, sedang dari mulutnya meleleh darah merah di sudut bibir.

Ternyata ia telah menderita luka dalam akibat gem- puran tangan Mahesa Wulung yang sekeras gumpalan baja. Dengan terhuyung-huyung dan terbatuk-batuk, Pelang Telu menjauhi Mahesa Wulung yang masih tegak bersiaga menunggu serangan berikutnya.

Di lain pihak, Saron telah melihat kedua orang temannya cedera, maka sambil menggeram hebat ia mengayunkan goloknya dengan melesatkan tubuhnya ke arah Pendekar Bayangan. Di samping itu kaki ka- nannya siap melancarkan tendangan maut.

Sekali ini Pendekar Bayangan betul-betul bermak- sud menyudahi pertempurannya, maka di saat Saron melanjutkan serangannya, Pendekar Bayangan me- nyongsongnya dengan satu pukulan Angin Bisu yang terkenal hebat. Akibatnya sangat hebat. Tubuh Saron yang melesat ke arah Pendekar Bayangan seolah-olah menabrak satu hempasan tenaga hebat yang selan- jutnya mementalkan tubuhnya ke belakang dengan derasnya.

“Eaaah!” Saron menjerit hebat berbareng tubuhnya terhempas ke dinding batu terjal, kemudian jatuh menggeliat-geliat lalu tak berkutik lagi. Wajahnya menyeringai mengerikan dengan sebuah luka me- nganga di kepalanya.

Mahesa Wulungpun ikut terkejut dengan kejadian itu. Dalam hati ia sangat mengagumi ilmu pukulan Angin Bisu milik Pendekar Bayangan.

Kalau kejadian ini sudah mengagetkan dan mence- kam suara, tiba-tiba satu suitan nyaring menguman- dang di udara lalu disusul oleh melesatnya Pelang Telu ke dalam gerumbul. Demikian pula dengan Dadung- rante. Meskipun tubuhnya telah babak belur ia masih cukup kuat untuk meloncat meninggalkan tempat itu.

“Biarkan mereka lari, Angger!” ujar Pendekar Baya- ngan ketika dilihatnya Mahesa Wulung bersiap me- ngejar mereka.

“Mereka sepatutnya tidak diberi ampun, Bapak,” desis Mahesa Wulung menahan hati.

“Kalau kita ingin menangkap pemimpinnya, ada ba- iknya kita sementara membiarkan begundal-begundal rendahan itu masih hidup. Mungkin kita akan men- dapat petunjuk-petunjuk secara tidak langsung dari mereka, tentang kedudukan Ki Topeng Reges yang sesungguhnya.”

“Baik, Bapak,” ujar Mahesa Wulung membenarkan. “Nah, Angger Mahesa Wulung, ayolah kita kembali

ke tempat itu untuk beristirahat!” Pendekar Bayangan berkata seraya menunjuk ke lobang dinding baru yang diterangi oleh cahaya api unggun. Keduanya berjalan beriring menuju ke ‘pondok’ mereka dan sejurus ke- mudian keduanya telah duduk bersama.

“Angger, aku telah menyaksikan ketangkasanmu tadi dengan puas. Namun aku masih belum bisa meng- andalkan kemampuan ilmumu yang telah punah itu!”

“Yah, aku pun masih sangsi, Bapak,” gumam Ma- hesa Wulung pelan. “Mudah-mudahan tidak selama- nya begitu.”

“Ada baiknya kau coba saja di atas batu hitam ini,” berkata Pendekar Bayangan seraya mengelus-elus batu di sampingnya. “Percayalah terhadap kekuatanmu sen- diri, Angger.”

“Terima kasih, Bapak. Aku akan mencobanya,” berkata Mahesa Wulung sekaligus memasang sikapnya dalam jurus pukulan maut Lebur Waja. Tangan yang kanan dilipatnya ke belakang sejajar telinga dan sesaat lagi Mahesa Wulung melesat menghantam batu hitam.

Kraak! Batu tersebut telah retak sampai ke dasar- nya, merekah mengerikan. Mahesa Wulung melihat hasil pukulannya ternganga keheranan. Ternyata lebih buruk! Kalau dahulu ia bisa memukul hancur sebuah batu hitam sebesar anak gajah, tetapi sekarang ini ia hanya mampu meretakkan saja, maka tak heranlah bila wajahnya tampak menjadi murung seketika.

Pendekar Bayangan yang cukup bijaksana itu rupa- nya dapat menangkap akan perasaan Mahesa Wulung. Oleh sebab itu ia cepat-cepat mempersilakan Mahesa Wulung duduk di sampingnya.

“Jangan berputus asa, Angger!” kata Pendekar Ba- yangan. “Biarpun pukulan Lebur Wajamu telah susut, namun aku akan mencoba menolongmu. Mungkin pukulan itu dapat diperbaiki kembali.”

Mereka duduk kembali di relung dinding batu itu. Beberapa petunjuk diberikan oleh Pendekar Bayangan dengan seksama kepada Mahesa Wulung. Di samping itu pula, Mahesa Wulung pun sekali lagi menekuni kitab hijau Landean Tunggal. Hawa Panas dari api unggun yang menyala terang itu membuat tubuh mereka hangat, hingga udara yang sesungguhnya dingin menusuk tulang tak terasa sama sekali. Malam semakin larut dan keheningan malam merajai tempat itu.

*** 3

MAHESA WULUNG terbangun ketika angin subuh terasa mengusap wajahnya. Di sekeliling masih cukup gelap, sedang api unggun sudah tidak lagi besar nyalanya, meskipun masih cukup membuat hangat di badan.

Semula Mahesa Wulung melihat sekelilingnya. “Hmmm, Bapak Pendekar Bayangan tidak nampak.

Ke mana dia pergi? Mungkin ia berjalan-jalan menghi- rup udara segar,” Mahesa Wulung berkata-kata sendiri di dalam hati. “Ah, memang orang yang sangat sakti, kadang-kadang berkelakuan sangat aneh.”

Tetapi bila ia selesai memeriksa tempat sekeliling- nya, Mahesa Wulung tiba-tiba terhenyak kaget. Tempat itu! Ya, tempat itu bukan tempat yang semula. Ternya- ta Mahesa Wulung kini berada di tepi sebuah jalan besar.

“Hah, ini jalan yang menuju ke Demak!” desis Mahesa Wulung. “Di sekitar inilah kira-kira anak buah Topeng Reges telah menyerang pengiriman emas bebe- rapa waktu yang lalu. Jadi Bapak Pendekar Bayangan telah memindahkan kemari ketika aku tertidur. Oh, apa pula maksudnya?!”

Ia menjadi bingung dengan hal itu. Namun ketika ia menatap ke api unggun yang masih menyala itu, tam- paklah kitab hijau Landean Tunggal tergeletak di atas rumput bersama secarik kain yang berisi tulisan, me- rupakan sebuah surat. Perhatian Mahesa Wulung tertarik oleh surat itu. Segera diambilnya kain tersebut serta diamat-amatinya dengan penerangan api unggun. Tampaklah tulisan yang dibuat dengan getah pohon yang berwarna coklat kehijauan dengan garis-garis tegas dan mantap. “Tulisan ini memang coretan tangan dari seorang yang berjiwa ksatria dan gagah berani. Hmm, apa ini isinya?”

Mahesa Wulung mulai membaca surat itu.

“Angger Mahesa Wulung, aku terpaksa meninggal- kanmu di tempat ini, sebab aku masih mempunyai tugas lain. Percayalah Angger, aku akan tetap men- jagamu. Dan lain kali kita akan bertemu lagi untuk menambah ilmu.”

Selesai membaca surat itu Mahesa Wulung mere- nung sejenak. Pikirannya melayang kepada saat perte- muan dengan Pendekar Bayangan yang muncul secara tiba-tiba dan kini meninggalkannya secara tiba-tiba pula. Betul-betul mirip sebuah bayangan!

Tapi ia tak merasa berkecil hati sekarang. Tubuh- nya yang semula lumpuh kini telah sembuh berkat pertolongan Pendekar Bayangan, hingga ia dapat pergi ke manapun juga. Dan ia telah bertekad untuk mene- ruskan tugasnya, yaitu mencari Ki Topeng Reges dan Rikma Rembyak serta merebut kembali catatan raha- sia panah Braja Kencar.

Berpikir demikian, Mahesa Wulung cepat berkemas- kemas. Setelah kitab Landean Tunggal disimpan serta pedangnya diselipkan ke ikat pinggang, api unggun segera dipadamkannya pula. Namun tiba-tiba member- sitlah satu pikiran ke dalam benaknya. Mengapakah ia tidak mencari lebih dulu Pandan Arum dan kawan- kawannya, si Gajah Sela dan Aldaka? Apakah yang terjadi pada mereka setelah ia meninggalkan rumah itu bersama Ki Camar Seta?

Akhirnya Mahesa Wulung mengambil keputusan untuk mencari mereka. Pikirannya yang tajam masih dapat mengenal letak rumah yang mereka tempati dahulu. Bukankah dengan begitu ia dapat memastikan apakah anak buah Topeng Reges tidak mengganggu mereka lagi?

Demikianlah Mahesa Wulung segera melangkahkan kakinya ke arah barat untuk mencari rumah itu. Ia berjalan dengan enaknya, namun telinganya yang tajam dipasangnya baik-baik untuk menjaga kewaspa- daan dirinya.

Beberapa bulak tanah telah dilewati. Warna-warna semburat merah yang dipancarkan oleh sinar fajar, jatuh di atas daun-daun pohon yang tumbuh di sepan- jang jalan, membuat segarnya suasana pagi mulai menjelang.

Tak lama kemudian, iapun tiba di rumah itu yang letaknya tidak jauh dari tepi jalan. Dengan agak hati- hati Mahesa Wulung mengetuk pintu itu.

Sesaat kemudian, sesudah ia mengetuk beberapa kali, terbukalah pintu kayu yang cukup tebal, kemudi- an melongok keluar sebuah kepala dengan wajah ketakutan.

“Pak Suta, agaknya Bapak mendapat kesulitan?” ujar Mahesa Wulung setengah heran. Sementara orang tua itu membuka pintu lebar-lebar serta mempersila- kan tamunya masuk.

“Oh, Tuan Mahesa Wulung. Masuklah cepat ke dalam. Maaf, memang bapak tadi menjadi ketakutan ketika pintu ini diketuk!”

“Mengapa, Bapak?” bertanya Mahesa Wulung.

“Heh, itu. Anak buah Ki Topeng Reges sedang meng- ganas. Lebih-lebih setelah mereka gagal merampas emas yang dikirim ke Demak beberapa waktu yang lalu. Mereka menumpahkan kemarahan hatinya kepa- da penduduk yang tidak berdosa, dengan membakar rumah dan menghancurkan isinya. Mereka keranji- ngan membunuh orang-orang itu dan kadang-kadang menculik gadis untuk dipaksanya menjadi isteri-isteri mereka.”

“Hmm, sungguh kejam mereka,” desis Mahesa Wu- lung dengan geram. “Tapi Bapak, di manakah kawan- kawanku yang dulu singgah beristirahat disini?”

“Oh, ya, ya. Prajurit-prajurit yang terluka itu, bukan? Mereka telah kembali ke Demak bersama-sama Pandan Arum. Pastilah sekarang mereka telah tiba di Demak dan aku ikut merasa bangga, karena mereka telah berhasil menyelamatkan emas itu. Sebagai bekas prajurit, aku ikut gembira dengan keberanian mereka menghadapi anak buah Ki Topeng Reges.”

“Apakah mereka mengganggu kawan-kawanku?” “Pasti tidak, Tuan. Mereka hanya terutama meng-

ganggu orang-orang desa saja. Terhadap prajurit-pra- jurit Demak mereka selalu menghindarinya. Hal ini membuat orang-orang desa menjadi ketakutan sete- ngah mati. Tidak jarang mereka bersedia menyerahkan uang dan perhiasannya asal orang-orang Ki Topeng Reges itu tidak mengganggu desanya. Dan kemarin seorang penduduk Desa Mijen memberitahuku keada- an desanya yang genting.”

“Desa Mijen yang terletak di tepi Kali Serang itu?” potong Mahesa Wulung.

“Benar, Tuan. Mereka telah menculik puteri lurah Desa Mijen dan bersedia melepaskannya asal orang- orang Desa Mijen bersedia menebusnya dengan uang dan emas perhiasan!”

“Terlalu!” desis Mahesa Wulung sekali lagi. “Bapak, kalau demikian biarlah aku pergi ke desa itu. Memang aku tengah mencari si Topeng Reges. Mungkin ia ber- sama-sama anak buahnya.” “Hari masih terlalu pagi, Tuan. Apakah Tuan tidak beristirahat sejenak disini?”

“Tidak, Bapak. Terima kasih.”

“Nah, jika Tuan amat tergesa-gesa, bawalah kudaku yang di belakang, agar Tuan tidak terlalu lelah. Tung- gulah sebentar, aku ambilkan ke kandang!” Pak Suta cepat bergegas ke belakang dan membawa kudanya ke halaman muka.

“Bawalah dia, Tuan, mudah-mudahan tidak mengecewakan,” ujar Pak Suta menyerahkan kudanya kepada Mahesa Wulung.

“Terima kasih, Bapak,” kata Mahesa Wulung mene- rima kuda itu, sekaligus melompat ke punggungnya.

“Permisi, Bapak, aku berangkat sekarang!” “Selamat jalan, Tuan!”

Kuda itu menderapkan kakinya dan sebentar saja ia telah berpacu ke arah utara menerobos kelebatan hutan. Mahesa Wulung tak mengira kalau kudanya itu sangat lincah dan boleh dikatakan ganas, sebab kalau ada sungai-sungai kecil ataupun lobang-lobang yang cukup lebar, ia terus saja melompatinya. Untunglah Mahesa Wulung telah biasa melayani kuda-kuda yang liar. Kalau tidak, jangan harap masih tahan melekat di punggungnya, dalam sekali lompatan saja pasti ia akan terbanting dari pelana kudanya.

Dalam berpacu itu Mahesa Wulung tiba-tiba meng- angkat keningnya, bila angin yang bertiup singgah di telinganya membawa suara orang yang bercakap-cakap diseling oleh ketawa yang tergelak-gelak. Agaknya lebih dari dua orang. Mahesa Wulung cepat-cepat memper- lambat kudanya, kemudian ia meloncat turun.

Sesudah mengikatkan kudanya di batang pohon, ia mengendap-endap mendekati arah sumber suara tadi. Ketika Mahesa Wulung berhasil mendekati tempat itu, ia segera mengintip dari jarak yang agak jauh. Dilihat- nya Jaramala dan tiga orang tengah duduk-duduk minum tuak.

Mahesa Wulung ingin mendekati mereka agar me- ngetahuinya lebih jelas, maka iapun merangkak- rangkak menerobos semak-semak liar serta sulur- suluran yang merambat di sana-sini. Perhatian Mahesa Wulung tiba-tiba tertumbuk pada sebuah gubuk ilalang tak berdinding. Di dalamnya terlihat seseorang yang terikat tangannya. Wajahnya kurang jelas karena tertutup oleh bayangan atap ilalang.

Mahesa Wulung menjadi berdesir melihat orang yang terikat di dalam ilalang itu. Siapakah gerangan dia? Maka iapun merangkak lebih dekat lagi, tetapi tiba-tiba sebuah dahan kering terinjak oleh lututnya hingga patah dengan suara berderak.

Keempat orang itu serentak kaget mendengar suara tadi.

“Hai, Bedama! Kau dengar suara itu?!” seru Jara- mala kepada seorang yang bertubuh jangkung, ber- kumis lebat.

“Dengar, Kakang!” jawab Bedama sambil matanya nyalang menatap semak-semak sekeliling. “Boleh aku periksa, Kakang?”

“Ya, periksalah dengan teliti! Jangan-jangan ada yang menguping percakapan kita,” ujar Jaramala.

Bedama segera berdiri dan melangkah ke arah semak-semak di mana Mahesa Wulung tengah bersem- bunyi, sambil melolos pedangnya. Dengan berjingkatan ia melangkah pelan-pelan serta menguakkan semak- semak itu sedang ketiga orang lainnya mengawasinya dengan hati yang berdebar-debar.

Mendadak mereka melihat sebuah tangan yang muncul dari balik dedaunan langsung memukul dada Bedama hingga orang ini menjerit hebat serta terpental ke belakang dengan memuntahkan darah segar. Seje- nak ia menggeliat-geliat kemudian diam tak berkutik lagi!

Serentak ketiga orang itu berloncatan berdiri seraya mencabut senjatanya masing-masing. Mereka menge- pung semak-semak itu.

“Hayo, lekas keluar kau, setan! Jangan mendekam di dalam saja!” seru Jaramala garang.

Kemudian dedaunan semak itu terkuak dan muncullah Mahesa Wulung dengan wajah yang tenang.

“Hee, kau, setan!” desis Jaramala.

“Ya, kita bertemu lagi sobat!” kata Mahesa Wulung. “Siapa yang kau simpan di pondok itu?!”

“Apa perlunya kau tanyakan?” seru Jaramala, sementara itu kedua orang temannya bersiaga dengan pedang terhunus mengawasi Mahesa Wulung.

“Karena aku akan membebaskannya!” jawab Mahe- sa Wulung dengan tenangnya.

“Haaaa?! Kau ingin mengambilnya dari tanganku? Itu tidak semudah katamu, setan! Sebelum kau me- nyentuh tubuhnya, terlebih dulu senjata-senjata kami akan mencacah tubuhmu! Nah, lekaslah minggat dari tempat ini, sebelum kesabaran kami hilang!”

“Kalian tak perlu menakut-nakuti Mahesa Wulung, sobat!” berkata pula Mahesa Wulung dengan lantang. “Kau lihat nasib temanmu itu?”

Ketiga pasang mata yang menatap tubuh Bedama tergeletak mati di tanah, berdesir pula hatinya ngeri. Sekali pukul saja ia telah roboh. Kalau seandainya mereka hanya seorang diri berhadapan dengan Mahesa Wulung, boleh dipastikan mereka akan lari ketakutan. Namun, kini masih bertiga mereka. Sehingga ketiganya tetap berdiri teguh di tempatnya. Tambahan pula me- reka telah mendengar dari mulut Ki Topeng Reges sendiri, bahwa Mahesa Wulung telah berhasil dihajar- nya setengah mati.

“Jangan kau keburu membusungkan dada dulu, setan!” teriak Jaramala garang. “Justru atas kematian Bedama inilah, kami bertiga akan merencakmu lumat- lumat!”

“Aku peringatkan sekali lagi, sobat! Aku akan lebih senang bila darah tidak akan tertumpah lagi,” ujar Mahesa Wulung. “Aku minta kau bebaskan orang itu segera.”

“Keparat! Kau terlalu bertingkah di hadapan mataku. Ayo, lekas cabut pedangmu! Hei pengecut!”

Syraat! Mahesa Wulung melolos pedangnya dengan kecepatan luar biasa. “Kalian terlalu mendesakku, sobat! Baiklah, aku telah siap meladenimu sekarang!”

“Hayaaaa!” Jaramala berteriak nyaring serta me- nyerbu ke arah Mahesa Wulung diikuti oleh kedua orang temannya.

Sinar kemilau dari ketiga pedang mereka berkereda- pan menyambar ke arah Mahesa Wulung dengan hebatnya.

Mahesa Wulung tidak kalah waspada. Sebelum u- jung ketiga pedang itu merobek dagingnya, ia merun- dukkan tubuhnya ke bawah, sambil menyapukan pedangnya mendatar ke bawah, membuat ketiga la- wannya cekakaran kaget. Namun merekapun cukup cekatan. Apalagi mereka tidak ingin kehilangan kaki- kaki mereka terbabat oleh pedang Mahesa Wulung, maka ketiganya serentak berloncatan ke udara.

Setengah tombak mereka mengambang di udara untuk kemudian melayang ke bawah menerkam Mahe- sa Wulung. Namun Mahesa Wulung dengan tiba-tiba tanpa diduga oleh ketiga orang itu, meloncat ke samping dengan cepatnya!

Pedangnya terjulur lurus ke arah lambung Jara- mala yang berada di sebelah pinggir. Ternyata disini, Jaramala bukanlah lawan yang bisa disepelekan. Dengan sebuah putaran pedangnya ia menangkis se- rangan Mahesa Wulung, hingga terjadilah dua bentu- ran senjata yang nyaring. Dalam waktu yang bersama- an itu pula, kaki kiri Mahesa Wulung mengait kaki Jaramala yang seketika jatuh terjerembab di atas tanah.

Tahu kalau pemimpinnya terjatuh, kedua orang anak buah Jaramala itu menerjang Mahesa Wulung. Pedang-pedang mereka berputar ganas mengurung tubuh lawannya, sementara Jaramala berdiri kembali dengan peringisan menahan sakit.

Tiba-tiba di saat kedua ujung pedang lawannya terjulur, Mahesa Wulung cuma mengegoskan badan- nya sedikit ke samping, sedang pedangnya berkelebat secepat bayangan bergerak.

Croos! Terdengar satu benturan tajam dan kedua lawan Mahesa Wulung berloncatan ke samping. Tetapi mendadak seorang di antaranya terhuyung ke depan dengan menempelkan tangan kirinya ke dada yang ditandai oleh sebuah goresan panjang berlumur darah. Sejurus kemudian ia rebah ke tanah tak bernyawa lagi. Lawannya yang seorang lagi masih berdiri terma- ngu-mangu menyaksikan temannya yang seorang roboh. Kemudian dengan gerakan yang tanpa terduga ia meraup tanah dengan tangan kirinya serta diham-

burkannya ke depan ke arah mata Mahesa Wulung.

Sungguh kaget Mahesa Wulung akan hal ini. Cepat ia memejamkan matanya untuk menghindari butiran- butiran pasir yang bertaburan itu. Namun beberapa butiran pasir tak urung sempat menyasar ke matanya menimbulkan rasa pedih dan nyeri.

Kesempatan ini dipergunakan oleh lawannya de- ngan baik. Demikian pula Jaramala tak tinggal diam. Berdua mereka menerjang ke depan disertai putaran pedangnya secepat baling-baling bergerak.

Dalam keadaan yang demikian itu, Mahesa Wulung masih sempat menangkis kedua pedang lawan, selan- jutnya ia menjatuhkan dirinya ke belakang beberapa langkah. Keadaan itu sungguh menguntungkan bagi kedua lawan Mahesa Wulung. Orang yang berhasil melempar pasir ke mata Mahesa Wulung segera pula memburu ke arah tubuh Mahesa Wulung yang tengah tertelentang di tanah.

Pedang di tangan orang itu segera dihunjamkan ke arah perut Mahesa Wulung, namun mulut orang tadi menjadi melompong bila tubuh Mahesa Wulung bergu- ling cepat ke samping sehingga ujung pedang anak buah Jaramala tersebut menghunjam ke tanah.

Dengan demikian orang ini seakan-akan terpancang di tanah, dan sebelum ia sempat mencabut pedangnya kembali, dilihatnya pedang di tangan Mahesa Wulung bergerak cepat! Apa yang dirasanya kemudian sebuah tebasan merobek pinggangnya, dan seketika ia men- jerit hebat untuk kemudian terguling ke samping, ke atas rumput dengan darah berhamburan dari ping- gangnya.

Jaramala sungguh kaget melihat kawannya yang ketika itu roboh pula. Sejurus kemudian orang itupun tak berkutik lagi. Dengan menggeram hebat Jaramala menerjang ke arah Mahesa Wulung dengan perasaan dendam yang membara.

Keduanya sebentar saja telah terlibat dalam satu lingkaran pertempuran yang hebat, tak ubahnya dua ekor naga yang tengah mengadu tenaga. Saling mem- belit, melibat lawan ataupun menerkamnya.

Dalam beberapa jurus, Jaramala masih cukup hebat menyerang Mahesa Wulung yang tangguh itu. Pedangnya berkelebatan mengurung tubuh lawannya, tepat seperti taring seekor naga. Tetapi setelah meng- injak jurus-jurus berikutnya, Jaramalapun benar- benar merasa betapa serangan-serangan Mahesa Wu- lung semakin gencar melanda dirinya. Pedang di tangannya setiap kali tergetar oleh benturan pedang Mahesa Wulung yang datangnya seperti ombak ber- gulung-gulung. Betapapun Jaramala menguras tenaga- nya untuk mempertahankan dirinya, namun Mahesa Wulung makin mendesaknya.

Akhirnya Jaramalapun menganggap untuk tidak meneruskan pertempuran itu, apalagi nafasnya sudah tidak teratur seperti semula. Maka iapun mengerahkan tenaganya untuk membuat satu loncatan ke samping, melarikan diri. Dengan sebat ia menjejak tanah, se- mentara itupun Mahesa Wulung lebih cepat mene- baskan pedangnya ke arah Jaramala, tetapi sayang ia terlambat. Tubuh Jaramala kelewat cepat sehingga pedang Mahesa Wulung hanya sempat membuat go- resan kecil pada lengannya. Biarpun begitu, luka kecil tadi cukup membuat rasa pedih di kulitnya. Lompa- tannya tidak berubah karenanya. Tubuh Jaramala sekejap saja telah lenyap di sela-sela semak belukar yang rimbun.

Tempat itu kembali menjadi sepi, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang penting, kecuali tiga tu- buh tak bernyawa terhampar di rerumputan berlepo- tan darah.

Sesudah ia menyarungkan pedangnya kembali, Mahesa Wulung melangkah ke arah gubuk ilalang di sebelah kanannya. Makin dekat ke gubuk tak ber- dinding itu, makin jelaslah apa yang terikat di dalam- nya. Sesosok tubuh ramping bermuka bulat telur ter- baring tak berdaya oleh ikatan tali-tali yang melilit tu- buhnya. Begitu pula mulutnya diikat dengan selembar kain ikat kepala.

“Seorang gadis!” desis Mahesa Wulung terperanjat. Maka iapun cepat-cepat mendekatinya serta membuka tali-temali yang mengikat tubuhnya. Setelah itu baru- lah ia membuka kain pengikat mulutnya.

Gadis tadi begitu merasa tertolong nyawanya seren- tak meledak tangis pilunya yang menyayat hati, mem- bikin Mahesa Wulung kebingungan setengah mati.

“Tenanglah, Nona, tenanglah. Kau telah terlepas dari tangan orang-orang jahat itu,” kata Mahesa Wu- lung membujuk gadis itu.

“Orang-orang itu telah menculikku dari Desa Mijen, Tuan. Mereka bersedia membebaskan asal orang-orang desa menebusnya dengan uang dan emas!”

“Kau berasal dari Desa Mijen?” tanya Mahesa Wu- lung.

“Benar, Tuan. Dan bila orang-orang desa tidak mau menebusku, si Jaramala akan memaksaku menjadi isterinya!” ujar gadis itu disertai isakan-isakan tangis. “Perkenankan aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, Tuan. Kalau Tuan tidak datang menolongku, entah apa jadinya dengan diriku.”

“Di mana Jaramala menculik Nona?” tanya Mahesa Wulung.

“Di mata air di sebelah selatan desa, Tuan. Mereka melarikan diriku selagi aku tengah mengambil air mi- num. Kemudian aku lihat Jaramala menyuruh seorang anak buahnya untuk mengirim surat ke desa kami, agar mereka menebusku dengan uang dan emas. Kami orang-orang tani kecil, Tuan, hingga mustahil kiranya menyediakan syarat-syarat itu.”

“Hmmm,” gumam Mahesa Wulung sangat geram- nya. “Tapi Nona tak perlu kuatir lagi. Aku akan meng- antarmu pulang ke Desa Mijen.”

“Terima kasih, Tuan,” gadis itu berkata lembut. “Maaf, sedari tadi aku belum menyebutkan namaku. Perkenalkanlah aku bernama Endang Seruni... dan siapakah nama Tuan?”

“Eh, panggil saja aku Mahesa Wulung dari Demak,” kata Mahesa Wulung sambil menganggukkan kepala, sebagai tanda perkenalan. Demikian pula gadis itu.

“Nah, bersiaplah Nona, sebentar lagi kita berang- kat.”

“Baik, Tuan,” berkata gadis itu dengan senyum yang manis.

Demikianlah, setelah keduanya berkemas-kemas, merobohkan gubuk ilalang serta membersihkan tempat itu, segera Endang Seruni didudukkan Mahesa Wu- lung ke atas punggung kudanya, sedang ia sendiri duduk di belakangnya. Dengan sedikit sentakan tali kekangnya, kuda itu menderap ke depan serta berpacu kecil-kecil.

Mereka berpacu ke utara menuruti lembah sungai yang penuh ditumbuhi oleh semak pohon gelagah berseling-seling pohon tebu. Endang Seruni yang duduk di depan itu berdiam diri. Pikirannya disibuki oleh pertanyaan-pertanyaan tentang si penolongnya yang berwajah tampan itu. Rupanya Mahesa Wulung pun begitu pula. Dalam hati iapun bertanya-tanya, mungkinkah gadis ini putri dari Ki Lurah Mijen seperti yang pernah didengarnya?

Memang gadis yang duduk di depannya ini, berkulit sawo matang, sangat manis. Alisnya yang lengkung dengan bulu matanya yang hitam berkilat ditambah dengan bola matanya yang bulat bersinar, benar-benar membuat wajah Endang Seruni semakin manis.

Sekali-kali Endang Seruni sambil melihat peman- dangan di kiri-kanan, sempat pula mencuri pandang ke wajah Mahesa Wulung. Dan bila begitu, tentu saja hatinya berdetak keras, seakan-akan darahnya men- jadi penasaran mengalir cepat.

Mahesa Wulung yang duduk di belakangnya dapat merasakan pula kehangatan tubuh Endang Seruni. Namun bila mereka menatap barisan petak-petak sa- wah jauh di utara, Mahesa Wulung menambah kecepa- tan lari kudanya. Mereka seolah-olah dibawa terbang oleh kuda Mahesa Wulung yang berlari kencang me- nempuh angin. Itulah daerah persawahan Desa Mijen.

“Adi Endang Seruni, eh, maaf, Nona. Bolehkah aku memanggilmu dengan tadi?” kata Mahesa Wulung memecahkan kebisuan antara mereka.

“Oh, begitulah aku lebih senang, Tuan. Tentunya aku akan memanggilmu dengan Kakang Mahesa Wu- lung. Begitu, bukan?” ujar Endang Seruni sambil melirik dan Mahesa Wulung tersenyum karenanya.

“Adik Endang Seruni, apakah orang di desamu tidak seorang pun berani menghadapi Jaramala dan anak buahnya?”

“Cuma beberapa orang saja yang berani, tetapi lainnya tak mampu berbuat apa-apa. Mereka orang- orang tani, hingga mereka lebih cekatan memainkan pacul, garu dan alat pertanian lainnya daripada meme- gang senjata. Tambahan lagi Jaramala dan anak buah- nya jauh lebih kuat daripada mereka. Pernah pula seorang dari desa kami menyerang orang-orang jahat itu. Tetapi akibatnya mengerikan! Orang tadi dengan mudah dikalahkan oleh mereka dan kemudian mereka menggantungnya di pohon durian di pintu gerbang desa! Dan sejak itu orang-orang desa kami menjadi jera menghadapi mereka.”

“Yah, memang mereka bukan tandingan orang- orang Ki Topeng Reges, Adik! Tak bisa disalahkan, kalau mereka menjadi takut menghadapinya.”

“Nah, Kakang Mahesa Wulung, engkau lihat petak- petak sawah di depan sana itu? Dan gerumbul pepoho- nan di dekat kelokan sungai? Itulah Desa Mijen, tem- pat aku tinggal bersama ayah, ibu dan para sanak desa lainnya,” ujar Endang Seruni dengan mata berka- ca-kaca saking girangnya. Ia dapat membayangkan betapa ayah ibunya akan gembira menerima kedata- ngannya.

Desa itu makin lama makin bertambah dekat. Mereka berdua mulai mencapai daerah persawahan yang luas. Bunga-bunga padi tengah berkembang me- nyebarkan bau sedap ke udara, membayangkan hasil jerih payah serta keringat para petani yang telah menanamnya dengan hati-hati. Setelah melewati tanah persawahan, keduanya telah tiba di sebuah jalan yang membelok ke sebuah gerombolan pohon-pohonan rak- sasa. Di pintu gerbang masuk, mereka melihat seba- tang pohon durian yang tumbuh dengan megahnya.

Ketika tiba di desa itu, Mahesa Wulung segera me- narik-narik tali kekang kudanya agar ia memperlambat derap kakinya. Begitulah maka keduanya melewati jalan desa itu, yang di kiri kanannya dipagari oleh rumah-rumah. Beberapa orang melihat kedatangan mereka, segera memanggil teman-teman lainnya dan sebentar saja tampaklah beberapa gerombol penduduk desa berdiri di sepanjang tepi jalan itu sambil terse- nyum-senyum ramah. Laki-laki, wanita, anak-anak, tua dan muda pada berjajar di tepi jalan desa. Satu dua orang kelihatan berbisik-bisik kepada teman di sebelahnya dan sejurus kemudian mereka tersenyum atau mengangguk-anggukkan kepala. Hal ini membuat Mahesa Wulung bertanya-tanya di dalam hati. “Hmm, apakah yang mereka bisikkan tadi? Agaknya ada sesu- atu yang menarik perhatian mereka.”

Wajah-wajah penduduk desa yang menyambut kedatangan mereka, tampaklah memancarkan kerama- han serta kegembiraan. Beberapa dari mereka bergu- mam. “Oh, itu Endang Seruni telah kembali.”

“Siapakah pemuda yang mengantarnya ini?” “Cakap dan tampan bukan?” gumam yang lain.

“Ah, sungguh beruntung pemuda itu, dan keduanya memang amat serasi.”

“Pasti dia seorang pendekar gemblengan.” “Mengapa kau berkata begitu?”

“Nah, lihatlah tubuhnya yang perkasa itu dan juga pedangnya yang tergantung di pinggang. Agaknya ia seorang ahli bermain pedang.”

Demikianlah, telinga Mahesa Wulung yang setajam pisau dapat menangkap gumam serta bisikan dari mu- lut orang-orang yang berdiri di tepi jalan. Beberapa anak kecil segera mengikuti mereka di belakang kuda sambil berjingkrakan. Kemudian beberapa orang ikut pula mengiringkan mereka hingga sebentar saja telah merupakan rombongan kecil, bahkan mirip sebuah arak-arakan, apabila satu dua orang bergabung pada rombongan itu. Di antara mereka tampak pula orang- orang wanita.

“Kakang Mahesa Wulung, teruslah kita menuju ke rumah itu,” ujar Endang Seruni sambil menunjuk ke sebuah rumah yang agak lebih besar daripada rumah- rumah lainnya, berpagar anyaman bambu cukup ting- gi. Rumah ini menghadap ke arah selatan, berhalaman luas dan berhiaskan tanaman bunga-bunga. Di kiri- kanan rumah terpancanglah dua tonggak bambu yang digantungi oleh sangkar-sangkar burung perkutut yang sekali-sekali bersuara dengan merdunya.

“Adi Endang Seruni, mengapakah orang-orang itu mengikuti kita?” bertanya Mahesa Wulung.

“Entah, Kakang. Aku pun tak mengerti. Bisa juga mereka ingin mendengar kisahku dan juga tentang si Jaramala dengan anak buahnya.”

Mahesa Wulung lalu menghentikan kudanya tepat di depan gerbang masuk halaman itu, yang dijaga oleh dua orang bersenjata tombak.

Dengan sigap Mahesa Wulung meloncat turun dari punggung kudanya dan kemudian ia menurunkan Endang Seruni ke tanah. Mereka memasuki gerbang itu dan tibalah di halaman luas tadi.

Di situ telah pula menanti beberapa orang. Di an- tara mereka berdirilah seorang laki-laki yang setengah tua dengan garis-garis wajah yang segar dan kuat. Di sampingnya, berdiri seorang wanita yang agak lebih muda dari laki-laki tadi.

Begitu Endang Seruni yang berdiri di halaman meli- hat wanita tadi, segera ia menghambur lari ke arahnya. Demikianlah pula dengan wanita itu. Ia menyambut Endang Seruni dengan pelukan mesra serta jerit tertahan. “Ooh anakku Ngger, Endang Seruni.”

Wanita itu mengelus-elus rambut Endang Seruni sambil bercucuran air matanya. “Kau selamat Ngger, kau telah kembali kepada kami. Oh Tuhan Yang Maha Pengasih telah mempertemukan kita kembali Ngger.”

Laki-laki tua di samping mereka yang tidak lain adalah Ki Lurah Mijen itupun ikut pula mencucurkan air mata girang bercampur keharuan. Betapa rasanya, kalau ia sudah tak mempunyai harapan serta berputus asa mendapatkan putrinya kembali, kini tiba-tiba telah bertemu kembali dengan gadisnya itu.

Setelah sejenak mereka saling melepaskan serta mencurahkan kerinduan dan keharuannya, Endang Seruni secara singkat telah menceriterakan lelakon- nya. Maka sesaat kemudian Ki Lurah Mijen mendekati Mahesa Wulung dengan tersenyum ramah.

“Marilah, Kisanak, kita duduk-duduk di dalam pen- dapa agar kami dapat lebih puas mendengar kisah ten- tang perjuangan Kisanak dalam membebaskan Endang Seruni dari penjahat-penjahat itu.”

“Terima kasih, Bapak,” kata Mahesa Wulung dengan mengangguk hormat. Dalam hati sebetulnya ia merasa segan untuk menceriterakan pertempurannya melawan Jaramala dengan anak buahnya. Dasar ia memang bukan orang yang suka menonjol-nonjolkan diri atau pun menceriterakan kelebihan serta kedudukannya.

Namun sebuah suara yang bernada angker telah memecah suasana.

“Nanti dulu, Ki Lurah! Apakah Ki Lurah tidak memeriksa lebih dulu orang ini!”

Tampaklah seorang yang sedari tadi berdiri di belakang Ki Lurah Mijen telah melangkah ke depan dan berdiri di samping Mahesa Wulung. Kata-kata itu sungguh berpengaruh sekali sehingga membuat Ki Lurah Mijen tampak mengerutkan keningnya dengan menatap orang itu.

“Apakah maksudmu, Sela Ganden?” tanya Ki Lurah Mijen sambil mengawasi orang yang dipanggil Sela Ganden, berperawakan kekar dengan otot-otot yang bertonjolan pada lengan, dada dan kakinya. Ia menge- nakan baju biru tua berlengan pendek di atas siku, sedang celananya dari kain lurik lengkap dengan kain batiknya. Dari ikat kepalanya yang berwarna merah saga dan ikat pinggangnya yang lebar, Mahesa Wulung sibuk menduga-duga kedudukan si Sela Ganden. Agaknya ia adalah seorang pejabat keamanan desa ini, sebagai seorang jagabaya yang bertanggung jawab terhadap segi keamanan desanya.

“Aku kurang pasti terhadap orang ini, Ki Lurah,” Sela Ganden berkata sambil melirik ke arah Mahesa Wulung dengan tajam. “Apakah dia betul-betul orang yang menolong putri Ki Lurah dari gerombolan Jara- mala itu?”

“Sudah aku katakan,” sela Endang Seruni. “Apakah Kakang Sela Ganden masih kurang percaya dengan omonganku?”

“Beribu maaf, Nona!,” jawab Sela Ganden. “Bukan- nya aku tak percaya ceriteramu itu. Tetapi orang itulah yang kurang aku percaya. Maksudku apakah ia orang yang baik-baik?”

Kata-kata Sela Ganden itu terasa bagai sambaran geledek di siang bolong oleh telinga Mahesa Wulung, menyebabkan pendekar muda ini darahnya bergejolak. “Mengapa Kakang Sela Ganden berkata demikian?!” sekali lagi Endang Seruni bertanya. “Bukankah dia

telah menolongku dari penjahat-penjahat itu?”

“Nah, itulah yang aku ragukan tentang dirinya. Apakah tidak mungkin dia sendiri adalah kaki tangan dari Ki Topeng Reges?” ujar Sela Ganden.

Mahesa Wulung makin mendidih darahnya. Un- tunglah ia seorang perwira yang cukup terlatih, sehing- ga meskipun darahnya seolah-olah telah merunyam- kan kepala, ia tetap menunjukkan sikap yang biasa saja. Wajahnya tetap cerah. Tak ubahnya sebuah sungai yang dalam, meskipun permukaannya tenang tapi dasarnya penuh pergolakan dan aliran-aliran yang siap menenggelamkan apa saja.

“Kaki tangan Topeng Reges?” sela Ki Lurah Mijen keheranan. “Kan tadi Endang Seruni telah berceritera bahwa Kisanak Mahesa Wulung ini telah menewaskan tiga orang anak buah Jaramala. Dan kalian tahu, Jara- mala adalah murid Ki Topeng Reges sendiri. Kalau kau berkata Kisanak ini juga anak buah Ki Topeng Reges, mana mungkin? Apakah sesama gerombolan mereka telah saling membunuh?”

Sela Ganden tak dapat berkata-kata setelah mende- ngar tutur Ki Lurahnya. Namun agaknya ia kurang puas juga dan mulutnya yang dihiasi kumis meleng- kung ke atas serta lebat itu berkata kembali, “Mungkin juga, Ki Lurah. Sebab dengan mengorbankan beberapa orang anak buahnya yang tak berarti, ia telah berpura- pura membebaskan Endang Seruni agar dia dapat menyelundup ke tengah-tengah kita!”

“Terlalu berprasangka kau, Sela Ganden! Apa yang telah kau katakan tadi, semua serba mungkin, tanpa bukti kenyataan. Biar begitu, aku tetap menghargai- mu. Semua itu menunjukkan ketelitian serta hati- hatimu. Namun aku pun berharap, agar sekali ini kau biarkan Kisanak ini sebagai tamuku. Aku yang akan bertanggung jawab kepadamu, kepada segenap pen- duduk desa ini. Kalau nantinya ternyata Kisanak ini anak buah Topeng Reges, akulah yang akan pertama- tama menusuk dadanya dengan kerisku ini.”

Sela Ganden terkejut pula melihat Ki Lurah melolos- kan kerisnya, lalu diacungkan ke atas udara. Bagai- manapun juga ia merasakan pula kewibawaan orang tua ini, hingga kepalanya tertunduk ke tanah tak berani membantahnya lagi.

“Terserah atas kehendak Ki Lurah,” ujar Sela Gan- den pendek. “Kalau itu sudah menjadi keyakinan Ki Lurah, aku tak akan menyangkalnya.”

“Nah, itulah harapanku, Sela Ganden,” berkata Ki Lurah Mijen sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia sekali lagi mempersilakan naik ke dalam pendapa kepada tamunya, Mahesa Wulung.

Sebetulnya dalam hati Ki Lurah Mijen merasa kecewa dengan sikap Sela Ganden yang sok main menangan dan keras kepala. Sikapnya sebagai seorang Jagabaya, penjaga keamanan desa, kadang-kadang sering berlebih-lebihan dari yang semestinya.

Tak lama kemudian duduklah mereka di atas balai- balai besar di tengah pendapa kelurahan Desa Mijen. Tampak Ki Lurah Mijen dengan isterinya, Endang Seruni, Mahesa Wulung, Sela Ganden serta dua orang pembantunya.

Dan kemudian mereka mulai berbicara tentang diri- nya masing-masing dengan ramahnya. Sedikit kesalah- pahaman yang tadi timbul, kini hilang larut bersama mengalirnya hidangan-hidangan serta minuman yang membasahi kerongkongan mereka.

Demikian pula Mahesa Wulung berusaha menekan perasaannya yang tadi telah tergores oleh kata-kata serta sikap Sela Ganden yang kelewat batas, sehingga bila pandangan mata mereka bertemu, tergoncanglah dada-dada mereka kembali, seperti tergetar oleh dua benturan dahsyat.

Di lain pihak, Endang Seruni berkali-kali mencuri pandangan ke arah wajah Mahesa Wulung. Kalau tadi waktu berkuda ia tak sempat menatap wajah yang tampan itu, kini terbuka luaslah kesempatan ini.

Sampai sejauh itu, Mahesa Wulung belum menceri- terakan siapakah dia sebenarnya. Mereka hanya mengenalnya dengan nama Mahesa Wulung dari Demak.

“Bapak Ki Lurah Mijen, apakah gerombolan Jara- mala itu  sering mengacau desa ini?”  tanya Mahesa Wulung.

“Yah, begitulah, Kisanak,” jawab Ki Lurah kepada Mahesa Wulung. “Mereka sering muncul serta menga- cau desa ini. Untunglah sedikit-sedikit kami mempu- nyai orang-orang pemberani yang sanggup mencegah pengacauan mereka. Di antaranya adalah Jagabaya Sela Ganden ini.”

Mendengar namanya disebut, Sela Ganden merasa berbangga diri. Maka diangkatlah wajahnya sambil mengelus-elus kumisnya.

Mahesa Wulung yang melihat tingkah Sela Ganden merasa kurang senang jadinya. Tetapi agaknya orang ini sangat berpengaruh karena jabatannya sebagai jagabaya, sehingga ia menganggap dirinya paling tahu dan berkepentingan terhadap keamanan desanya. Apa- lagi setelah Endang Seruni terculik oleh orang-orang Jaramala dan ia tanpa dapat berbuat apa-apa, ia men- jadi seakan-akan kurang bertanggung jawab dan pengecut. Kalau sebenarnya ia ingin pula membebas- kan Endang Seruni dari tangan-tangan gerombolan Jaramala, ternyata hal ini tidak disetujui oleh Ki Lurah, sebab orang tua ini kuatir kalau-kalau Sela Ganden dan teman-temannya akan menjadi korban pula dari keganasan gerombolan Jaramala. Dengan be- gitu maka desa ini akan kehilangan orang-orang berani dan akibatnya akan jauh lebih parah dan berbahaya bagi segi keamanan. Maka setelah Endang Seruni terculik, namanya seakan-akan jatuh karenanya. Na- manya yang semula sangat angker dan selalu disegani oleh segenap sanak pedesaan, menjadi seakan-akan tercoreng oleh arang hitam. Dan karenanya, bila ia telah melihat bahwa seseorang telah berhasil membe- baskan Endang Seruni, maka hatinya menjadi sete- ngah iri hati, terhina, atau pun dirinya merasa diren- dahkan oleh si Mahesa Wulung, seorang asing yang kini duduk di pendapa kelurahan. Perasaan tadi ber- campur aduk di dalam otaknya membuat pening di kepala. Sebagai seorang jagabaya yang bertanggung jawab dalam bidang keamanan yang seharusnya mem- bebaskan Endang Seruni, kini melihat bahwa orang lainlah yang telah berhasil membebaskannya dari cengkeraman penjahat-penjahat itu, tanpa menebus- nya dengan emas ataupun uang.

Apalagi Sela Ganden masih mengingat dengan baik akan kata-kata sayembara Ki Lurahnya, bahwa siapa saja yang berhasil membebaskan Endang Seruni dari tangan gerombolan orang-orang Jaramala, maka ia akan mendapat hadiah yang tak ternilai harganya. Orang itu kalau seorang laki-laki akan dikawinkan dengan Endang Seruni, dan bila ia seorang wanita, akan diangkatnya sebagai saudara kandungnya.

Oleh sebab itulah maka berkali-kali Sela Ganden melirik ke arah Mahesa Wulung dengan tajam. Ia dapat membayangkan betapa bahagianya pemuda itu nanti akan dapat mempersunting bunga tercantik dari desa- nya ini. Pemuda itu akan duduk bersanding dengan Endang Seruni sebagai pengantin laki-laki dan akan disahkan sebagai suaminya.

Sebaliknya dengan diri Mahesa Wulung. Ia tak habis herannya melihat sikap kurang senang dan kecurigaan Sela Ganden terhadap dirinya. Apakah gerangan yang menyebabkannya? Mahesa Wulung tak mengetahui, bahwa dengan membebaskan Endang Seruni dari tangan penjahat-penjahat itu, ia secara langsung telah menjadi calon suami Endang Seruni. Justru hal inilah yang telah diimpi-impikan oleh Sela Ganden.

Sementara itu Ki Lurah Mijen sendiri tak puas- puasnya menatap wajah pemuda penolong anaknya.

Memang keduanya sangat serasi untuk pasangan mempelai, sebagai suami istri. Kedua wajah mereka tampak kemiripannya dan orang tua ini lalu jadi ter- ingat akan tutur kata nenek moyangnya, bahwa sese- orang akan menjadi jodohnya sebagai suami isteri bila keduanya mempunyai wajah yang mirip. Ia sudah dapat membayangkan bahwa pemuda inilah kelak yang bakal mengganti kedudukannya sebagai Lurah Desa Mijen, serta membimbing segenap sanak desanya menuju kepada kemakmuran dan kesejahteraan.

Maka sejurus kemudian, setelah suasana agak hening, berkatalah Ki Lurah itu dengan terbatuk-batuk kecil sebelumnya. Ia tengah memilih kata-kata yang bakal diutarakan di hadapan Mahesa Wulung, calon menantunya.

“Eh, Kisanak Mahesa Wulung, disamping bapak mengucapkan terima kasih yang segunung anakan besarnya, ada pula sesuatu hal yang akan kuutarakan kepada Kisanak.”

“Silakan, Bapak. Silakan Bapak mengutarakan apa yang Bapak maksudkan. Jika masih ada kesulitan, saya akan dengan senang hati membantu menyelesai- kannya,” berkata Mahesa Wulung.

Mendengar perkataan itu, Sela Ganden bertambah panas hatinya. Perkataan tadi dirasanya bagai senga- tan kala berbisa, bahkan dianggapnya sebagai satu sindiran pedas bagi dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa terhadap gerombolan Jaramala.

“Beginilah Kisanak Mahesa Wulung. Sejak diculik- nya anakku Endang Seruni ini, aku telah mengadakan satu sayembara.”

“Sayembara?” Mahesa Wulung bergumam kaget. “Benar, Kisanak. Aku telah bersayembara, bahwa barang siapa dapat membebaskan Endang Seruni dari tangan-tangan jahat gerombolan Jaramala, maka ia akan kutetapkan sebagai calon suami anakku dan kemudian akan kukawinkan dengan dia.”

“Oooh, jadi... jadi Bapak telah....” Mahesa Wulung tak kuasa meneruskan kata-katanya. Rasa bahagia dan juga rasa kebingungan bercampur-baur dalam benaknya. Betapa tidak bahagia, kalau tiba-tiba saja ia harus menyunting gadis yang begitu manis dengan wajah keibuan yang lembut dan sejuk serta berambut panjang beralun sampai ke pinggangnya. Tetapi di saat itu pula ia teringat kepada Pandan Arum yang telah mencintainya.

“Yah, bapak telah menetapkan satu perkawinan Angger Mahesa Wulung dengan anakku Endang Seruni,” sambung Ki Lurah Mijen melanjutkan kata- kata Mahesa Wulung yang putus tak terselesaikan.

“Maaf Bapak, beribu-ribu maaf bila aku pun akan mengutarakan sesuatu ke hadapan Bapak,” ujar Mahesa Wulung dengan bernada gemetar parau.

“Oh, tak apalah, Angger. Katakanlah! Sebagai calon mertua, bapak akan bersedia membantu,” sahut Ki Lurah dengan ramahnya.

“Tetapi aku mengharap agar hal ini tidak membuat kesalah-pahaman terhadap Ki Lurah dan para sanak kadang di sini,” kata Mahesa Wulung pula.

“Ya, ya, katakanlah, Angger. Katakanlah, agar kami dapat memecahkan sesuatu yang mungkin menggang- gumu!”

“Begini Bapak, anugerah itu sangat tak terduga dan teramat besar bagi diriku ini. Aku belum dapat meneri- manya sekarang.”

Ki Lurah Mijen berkerut keningnya mendengar per- kataan Mahesa Wulung dan demikian pula dengan Nyi Lurah dan Endang Seruni sendiri. Sedang Sela Ganden lain sekali, ia menyeringaikan mulutnya atas kata-kata itu. Hal itu menimbulkan satu pikiran yang licik dan akan dipergunakannya sebagai balasan sakit hatinya terhadap kedatangan Mahesa Wulung di tengah-tengah kehidupannya.

“Apakah itu berarti Angger Mahesa Wulung menolak untuk kukawinkan dengan anakku, Endang Seruni?” kata Ki Lurah Mijen kemudian. “Agaknya anakku kurang memadai untuk menjadi isteri Angger?”

“Bukan begitu, Bapak.”

“Atau mungkin Angger Mahesa Wulung telah ber- isteri pula?” ujar Ki Lurah mendesak.

“Belum, Bapak,” jawab Mahesa Wulung.

“Nah, kalau begitu apakah ada hal-hal lain yang menyebabkan Angger belum bersedia menerima Endang Seruni sekarang ini?”

“Begitulah sebenarnya, Ki Lurah. Memang aku masih mempunyai tugas yang berat, yaitu menangkap Ki Topeng Reges dan muridnya si Rikma Rembyak!”

Serentak mereka menjadi terperanjat mendengar ujar Mahesa Wulung itu. Nama-nama Topeng Reges dan Rikma Rembyak adalah nama-nama yang mena- kutkan bagi mereka. Dan bila sekarang ini tamunya berkata akan menangkap kedua ‘hantu’ itu, mereka jadi sibuk menduga-duga, siapakah sebenarnya pemu- da ini?

“Di samping itu pula,” sambung Mahesa Wulung, “ada pula seorang gadis yang telah mencintaiku. Inilah yang membingungkanku, Ki Lurah, sehingga aku belum dapat menyatakan pendapatku.”

“Jadi Angger Mahesa Wulung tidak menolak anakku Endang Seruni, tetapi menerimanya pun belum berse- dia pula?” kata Ki Lurah menegaskan. Mahesa Wulung cuma mengangguk membenarkan. Ia pun sadar bahwa menolak maksud Ki Lurah Mijen itu sama dengan menghinanya terang-terangan, dan ini bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi dirinya.

Tapi di saat itu pula, agaknya Sela Ganden telah menemukan jalan bagi maksudnya membalaskan sakit dan iri hatinya terhadap Mahesa Wulung. Dan kemu- dian ia menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Maka dengan tiba-tiba Sela Ganden menunjuk ke arah muka Mahesa Wulung sambil membentak keras me- ngejutkan siapa saja, lebih-lebih bagi Mahesa Wulung sendiri.

“Bohong! Sungguh kurang ajar kowe! Kau berani menghina derajat Ki Lurah desa ini. Semua tutur kata- mu tadi hanya alasan melompong belaka. Kau bermak- sud merendahkan kewibawaan Bapak Lurah! Dengan begitu secara langsung kau telah menantangku! Seba- gai seorang jagabaya, aku bertanggung jawab terhadap ketenteraman dan keamanan desa ini, dan hal ini telah kau rusak sama sekali!”

“Nanti dulu, Sela Ganden. Aku tak menghendaki keributan di desa ini. Bersabarlah terhadap Angger Mahesa Wulung ini. Dia adalah tamuku,” sela Ki Lurah Mijen.

Sesaat Mahesa Wulung kebingungan mendengar kata-kata itu. Ia sadar bahwa hal ini bisa menimbul- kan satu keributan. Satu kekalutan yang telah dipan- cing oleh Sela Ganden dengan sengaja.

“Tamumu ini telah mempertolol kita. Betapa ia tidak merusak ketenteraman kita. Coba Ki Lurah bayang- kan, kalau betul-betul ia telah bersusah payah ber- tempur melawan orang-orang gerombolan Jaramala untuk membebaskan Endang Seruni, dan kini setelah ia berhasil ia telah menolak kemenangannya, menolak hadiah sayembara dari Ki Lurah!”

“Maaf, Kisanak Sela Ganden. Aku tak menginginkan keributan di sini. Toh Bapak Lurah Mijen telah dapat memahami penuturanku tadi,” berkata Mahesa Wulung dengan sabarnya.

“Benar, Sela Ganden. Aku telah memahami alasan Angger Mahesa Wulung, sebab ia masih mempunyai tugas yang cukup berat,” sambung Ki Lurah tua itu.

“Apa faedahnya Ki Lurah meladeni alasan dan oce- han-ocehan si Mahesa Wulung ini. Kalau dia ternyata seorang laki-laki sejati, ia harus berani mengambil satu keputusan di saat ini juga,” Sela Ganden berkata lantang sambil melototkan mata. “Kau telah berani secara lancang mengganggu ketenteraman kami dan untuk itu, kau harus mendapat hajaran yang setimpal dari tangan Sela Ganden ini dan para jagabaya lain- nya. Bukankah begitu, Adi Sorogenen dan Pakisan?!”

Sela Ganden menoleh kepada kedua orang pemban- tunya yang duduk di belakang. Kedua orang ini pun mengangguk kaku membenarkan. “Benar, Kakang Sela Ganden. Itu sudah patut bagi seorang asing yang telah berani mengganggu ketenteraman serta mencampuri urusan kita. Biarlah ia mendapat pelajaran sekedar- nya!”

Sebenarnya Mahesa Wulung merasa tidak senang diperlakukan seperti itu. Sebagai seorang pendekar, kata-kata itu seperti sebuah tamparan di mukanya. Maka betapapun ia berusaha membendung perasaan- nya, toh akhirnya sedikit demi sedikit tak tertahankan lagi. Dan ibarat sebuah bendungan air, jika ada satu lubang kecil saja, maka ia sudah cukup buat jalan keluar dan besar kemungkinan lubang kecil tadi akan sanggup menjebolkan seluruh bendungan. Begitulah ibaratnya, maka tak heranlah bila wajah Mahesa Wulung lama-kelamaan merah membara. Sua- tu tanda bahwa hatinya mulai terbakar. Lebih-lebih setelah ia mendengar kata-kata Sela Ganden berikut- nya.

“Ayo Mahesa Wulung, lekas keluar ke halaman! Kau harus menerima pelajaran dari kami!”

Akan tetapi Mahesa Wulung masih terdiam diri, sebab ia benar-benar tidak ingin membuat keributan di tempat ini. Dan jika seandainya keributan terpaksa terjadi, maka hal itu janganlah dirinya yang memulai, tetapi harus dari pihak Sela Gandenlah asalnya!

Sementara itu, Ki Lurah Mijen tak mampu berbuat apa-apa terhadap ketiga orang jagabayanya. Ia sudah cukup hafal dengan tingkah laku Sela Ganden yang sok main menangnya sendiri. Semula ia bermaksud mencegah Sela Ganden, tetapi ketika ia menatap tubuh, gerak-gerak serta sikap Mahesa Wulung, Ki Lurah tua yang sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan menjadi yakin bahwa Mahesa Wulung bukan orang yang sembarangan.

Ketika ternyata Mahesa Wulung masih belum beranjak dari tempat duduknya, Sela Ganden segera mengerdipkan matanya kepada kedua orang pemban- tunya yang kontan tersenyum lebar menyeringai. Oleh karenanya Pakisan tampak bangkit berdiri dan me- langkah ke arah Mahesa Wulung. Tangannya meng- goncang pundak Mahesa Wulung.

“Ayo, Kisanak, keluarlah! Mari kita sekadar ber- main-main di halaman.”

Mahesa Wulung merasa betapa pundaknya digon- cang oleh Pakisan, namun sekali lagi ia masih men- coba bersabar diri, dan berkata dengan tenangnya, “Jangan coba memaksaku untuk berbuat keributan, Kisanak!”

“Heh, kau mau membandel, ya?!” bentak Pakisan seraya mencengkeram pundak Mahesa Wulung lebih keras, sekeras cengkeraman cakar-cakar burung elang yang tengah menggenggam mangsanya! Oleh hal ini, Mahesa Wulung terperanjat dan sekarang ia sudah tak mau lebih bersabar, sebab kesabaran toh akhirnya ada batasnya pula. Kesabaran yang kelewat batas bisa menyebabkan seseorang diinjak-injak harga dirinya.

“Keluar! Kita sama laki-lakinya. Tunjukkan kejanta- nanmu!” terdengar Sela Ganden ikut membentak sam- bil mencibirkan bibirnya yang bernada merendahkan terhadap Mahesa Wulung.

“Kakang Mahesa Wulung, jangan kau turuti kehendaknya!” Endang Seruni ikut menyela dengan rasa cemas.

“Maaf Endang Seruni, ini adalah urusan laki-laki, dan Nona tidak perlu mencampurinya! Agaknya tamu kita ini seorang pengecut dan ”

Pakisan tak dapat meneruskan kata-katanya apa- bila sebuah tangan yang kokoh laksana terbuat dari baja, tahu-tahu menangkap tangannya dan menghen- takkannya dengan kekuatan yang luar biasa hebatnya. Maka akibatnya hebat sekali. Tubuh Pakisan terpelan- ting jungkir balik ke arah halaman dengan mengaduh.

Hampir semua mulut ternganga melihat gerakan Mahesa Wulung yang tiba-tiba dan menyebabkan Paki- san terpelanting seperti sebuah sabut tanpa daya. Mendadak mereka lebih dikejutkan lagi dengan mele- satnya tubuh Mahesa Wulung keluar pendapa, ke arah halaman di mana Pakisan jatuh terjerembab di hala- man kelurahan.

Sela Ganden dan Sorogenen sadar akan bahaya yang mengancam jiwa Pakisan, maka keduanya segera bangkit serta meloncat keluar menuju ke halaman. Me- reka melihat betapa dengan tenangnya Mahesa Wu- lung berdiri menghadap Pakisan yang tengah berusaha bangkit dari jatuhnya.

Dengan sigapnya Pakisan tadi meloncat berdiri dan kakinya bekerja dengan cepat menyambar ke arah lambung Mahesa Wulung. Tetapi dengan secepat angin Mahesa Wulung menggeser kaki kirinya ke belakang setengah lingkaran hingga serangan Pakisan ini gagal. Berbareng itu pula Mahesa Wulung mengirim sebuah pukulan sisi telapak tangan kanannya ke dada Paki- san. Lawan Mahesa Wulung inipun agaknya cukup waspada. Sebelum pukulan itu bersarang ke dadanya, Pakisan telah melompat ke samping dengan cepat. Na- mun bersamaan itu pula Mahesa Wulung telah mengi- rimkan tendangannya dan tepat mengenai paha Paki- san yang membuat orang ini kehilangan keseimbangan untuk kemudian jatuh terjengkang ke tanah. Panda- ngan matanya menjadi berputaran berkunang-kunang. Ternyata Pakisan tergolong orang yang berjasmani kuat, maka iapun cepat-cepat berdiri tegak kembali. Giginya gemertakan menahan marah. Ia merasa ka- gum sebenarnya bahwa lawannya ini mempunyai gerakan yang cepat dan lincah. Mata Pakisan melirik ke arah Sela Ganden dan Sorogenen yang telah berdiri di halaman pendapa, tidak jauh dari Ki Lurah Mijen,

Nyi Lurah dan Endang Seruni yang telah pula berdiri di situ.

“Adi Pakisan, ini pakailah pedangku!” terdengar Sorogenen berseru sambil melemparkan sebilah pe- dang ke arah Pakisan.

Sekejap saja dengan tangkas si Pakisan menggerak- kan tangannya menyambar pangkal pedang itu. Kini tergenggamlah di tangannya sebilah senjata yang cukup berbahaya bagi Mahesa Wulung. Karenanya Endang Seruni terpekik kecil kecemasan dan men- dekap ibunya.

Pakisan tertawa terkekeh-kekeh setelah menggeng- gam pedang itu. Sebagai jago pedang kedua disamping Sorogenen, ia merasa berbangga hati mendapat kesem- patan memperlihatkan ilmu pedangnya di hadapan Ki Lurah desanya. Maka diputarlah pedang itu. Semen- tara beberapa orang yang kebetulan lewat di depan rumah Ki Lurah Mijen menjadi tertarik perhatiannya. Mereka terpaksa berhenti melihat Jagabaya Pakisan memutar-mutar pedangnya di depan seorang asing di halaman pendapa kelurahan. Sepintas lalu mereka mengira bahwa para jagabaya tengah mengadakan latihan ketangkasan olah senjata.

“Ayo, cabutlah pedangmu, setan!” teriak Pakisan kepada Mahesa Wulung. Oleh sebab itu para penonton tadi menjadi terperanjat. Barulah sadar mereka, bahwa di halaman kelurahan itu tengah terjadi pertarungan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar latihan olah senjata saja.

“Tak perlu aku mencabut pedangku, Kisanak,” ujar Mahesa Wulung tenang-tenang. “Aku kuatir ia akan kotor oleh darahmu!”

Pakisan menggeram marah mendengar kata-kata tajam dari mulut lawannya. Maka tanpa berkata-kata lagi ia membabatkan pedangnya ke dada Mahesa Wu- lung dengan kecepatan yang mengagumkan!

Wess! Pedang Pakisan ternyata hanya menebas udara kosong sedang lawannya tahu-tahu telah berke- lebat cepat dan berdiri di belakangnya. Orang-orang yang menyaksikan terpaksa ternganga-nganga kehera- nan melihat gerakan yang persis sebuah bayangan.

“Aku di sini, Pakisan!” ujar Mahesa Wulung seraya menepuk pundak Pakisan dari belakang, hingga membuat lawannya ini terkejut setengah mati. Ia sadar bahwa dirinya tengah dipermainkan oleh Mahesa Wu- lung. Sebab bila sungguh-sungguh lawannya mau ber- tindak, pastilah ia telah dipukul roboh dari belakang!

“Keparat!” teriak Pakisan sambil berputar ke bela- kang secepat kilat sekaligus membacokkan pedangnya ke arah Mahesa Wulung. “Hyaaat! Wah, edan!” terde- ngar Pakisan mengutuk lagi demi bacokan pedangnya meleset sebab lawannya telah melesat ke udara lak- sana seekor belalang mencutat.

Jagabaya Pakisan menjadi lebih penasaran setelah kedua bacokan pedangnya dengan mudah dihindari oleh Mahesa Wulung. Sebagai jago pedang, ia menjadi malu karenanya, maka sebelum Mahesa Wulung sem- pat menginjakkan kakinya ke tanah, ia cepat-cepat menyerangnya kembali. Pedangnya menyambar hebat ke arah kaki Mahesa Wulung.

Untuk serangan ini pun pendekar muda yang telah kenyang akan pengalaman itu tak kurang waspadanya. Kakinya diangkatnya sampai tertarik dan tubuhnya sejajar di tanah mengambang di udara, sehingga pedang Pakisan lewat sejengkal di bawah tubuhnya. Sungguh-sungguh mendebarkan hati yang menyaksikannya.

Kini Mahesa Wulung sudah cukup lama membiar- kan lawannya memperlihatkan permainan pedangnya. Maka iapun cepat-cepat melayang ke bawah berbareng kakinya menjejak tangan Pakisan yang menggenggam pedang.

“Accckh!” Pakisan berteriak ngeri dan pedangnya terlepas dari genggamannya.

Dalam waktu yang singkat dan berbareng, tangan kiri Pakisan menggempur dada Mahesa Wulung, hing- ga pendekar ini tergetar karenanya. Namun tiba-tiba pula Mahesa Wulung melayangkan pukulan sisi tela- pak tangannya ke dada Pakisan. Akibatnya cukup hebat. Biarpun ia tidak mempergunakan unsur puku- lan mautnya Lebur Waja, tapi sudah cukup terasa hebat bagi Pakisan. Tubuhnya seketika terguncang hebat, begitu dadanya terpukul oleh tangan Mahesa Wulung. Pandangannya jadi semrawut dan berkunang- kunang, kemudian ia jatuh terhenyak ke tanah dengan tak berdaya.

“Heeeit!” sebuah teriakan hebat terdengar dan Mahesa Wulung mengendap, sebab sebuah bayangan manusia telah menyerang dengan tusukan padang ke arah dirinya.

Orang ini adalah Sorogenen yang telah menye- rangnya dengan sebilah padang.

Sorogenen segera memutar-mutar pedangnya dan sebentar saja senjatanya ini telah merupakan gum- palan sinar putih yang berputar amat cepat.

“Heei, Mahesa Wulung! Lihat pedangku ini!” seru Sorogenen sambil memutar pedangnya ke atas separo lingkaran dan tahu-tahu sebuah daun kering yang kebetulan jatuh dari atas pohon telah terbelah dua tepat di tengahnya.

Mahesa Wulung menjadi terbuka kesadarannya bahwa Sorogenen adalah jago pedang yang cukup he- bat. Itulah sebabnya ia secepat kilat melolos pedang- nya pula.

“Nah itu bagus namanya, sobat!” seru Sorogenen kesenangan melihat lawannya telah pula melolos pedang. “Sekarang, aku ingin tahu sampai di mana kemahiranmu bermain pedang!”

Mahesa Wulung tanpa melihat lawannya segera membabatkan pedangnya ke udara dari kiri bawah ke kanan atas, dan kemudian dari atas jurus ke bawah. Semua mata hampir terbeliak kaget, sebuah daun kering pula yang melayang dari atas terpotong kecil menjadi empat buah!

“Kurang ajar, kau manusia sombong harus mera- sakan pedangku ini!” Sorogenen membacok ke arah Mahesa Wulung yang disambut oleh lawannya dengan tangkisan pedangnya.

Trang!! Bunga api terloncat ke udara dan tangan Sorogenen tergetar nyeri. Cepat-cepat mengerahkan tenaganya dan menyerang kembali ke arah Mahesa Wulung.

Sebentar saja terjadilah lingkaran pertempuran yang seru. Masing-masing mengerahkan ilmu pedang- nya. Setelah keduanya bertempur lebih dari lima belas jurus, terlihatlah bahwa ilmu padang Mahesa Wulung sedikit lebih unggul daripada lawannya. Dan tiba-tiba saja pedang Mahesa Wulung bergerak lebih ganas ke arah tubuh Sorogenen dan mengurungnya laksana kilatan halilintar.

Syrat! Bet! Bet!

“Oookh!” Sorogenen berteriak melongo ketika seko- nyong-konyong ikat kepala, ikat pinggang serta kain batik dan juga pedangnya terbabat lepas dari tubuh- nya. Sorogenen terpaksa mundur-mundur ke bela- kang, sebab ia sudah tak berdaya lagi terhadap lawannya. Kecepatan gerakan pedang Mahesa Wulung betul-betul membuatnya ketakutan setengah mati. Hati serta keberaniannya seakan-akan menjadi meng- kerat sekecil biji kacang karenanya.

“Hyaat! Jebol dadamu kelakon!” teriakan yang mengguntur terlontar ke udara bersamaan Sela Gan- den menerjang Mahesa Wulung dengan sebuah tombak cagak, semacam tombak yang berujung atau bermata dua, mirip sebuah capit dari kalajengking yang ber- bisa.

“Kurang tepat, Kisanak!” ujar Mahesa Wulung sambil berkelit ke samping, hingga Sela Ganden terdo- rong ke depan oleh tenaganya sendiri. Maka Mahesa Wulung menggerakkan kakinya, menendang ke lam- bung Sela Ganden.

Namun Sela Ganden lebih waspada. Sebelum kaki Mahesa Wulung menerjang tubuhnya, ia berputar ke kanan seraya menebaskan tombak cagaknya ke arah kaki Mahesa Wulung! Serangan itu sangat tiba-tiba terjadi dan hati para penonton berdesir karenanya, hingga mereka sesaat menahan nafas.

Endang Seruni yang juga menyaksikan gerakan tombak Sela Ganden itu hampir-hampir menjerit kare- nanya, sebab ia sadar bahwa Sela Ganden mempunyai ilmu permainan tombak yang terkenal dahsyat

Sebaliknya, Mahesa Wulung dengan tenang melen- tingkan dirinya ke udara dan loloslah ia dari sambaran tombak cagak lawannya! Selanjutnya, sambil mendarat ke tanah Mahesa Wulung tak tinggal diam. Diputarnya pedang di tangan dan dengan gerakan secepat angin ditebaskannya ke kepala lawannya.

Namun Sela Ganden benar-benar seorang tangguh. Sebelum pedang lawannya membelah kepalanya yang hanya satu itu, ia cepat-cepat merunduk setengah berjongkok sedang tombaknya ditusukkannya me- nyambut tebasan pedang Mahesa Wulung yang melun- cur deras.

Traaang! Kedua senjata di tangan dua pendekar itu beradu nyaring sampai memercikkan bunga-bunga api ke udara. Keduanya semakin bertempur dengan hebat. Dalam hati, Sela Ganden mengakui bahwa ia belum pernah melihat permainan pedang yang sedemikian dahsyatnya. Pedang di tangan Mahesa Wulung itu menyambar-nyambar laksana burung garuda menyam- bar mangsanya. Ganas dan lincah. Tetapi kadang-ka- dang juga mematuk seperti ular, sampai menimbulkan angin yang berdesis-desis mengerikan pendengaran.

Sela Ganden terpaksa mengerahkan segenap kekua- tan jasmani serta ilmu tombaknya dengan seksama, karena ia makin merasakan serangan pedang Mahesa Wulung yang bergulung-gulung laksana ombak Laut Kidul yang siap menghempas dirinya.

Demikianlah keduanya bertempur dengan dahsyat. Masing-masing memiliki keahlian dalam menguasai senjatanya. Ditambah dengan ketangkasan serta ke- uletan semangatnya, mereka menjadi semakin sengit bertempur!

Mereka pun tak kalah kagumnya menyaksikan per- mainan tombak cagak Sela Ganden yang menyambar dan menyerang ke segenap tubuh Mahesa Wulung dari semua arah. Cahaya berkilatan dari pantulan sinar matahari siang pada mata tombak itu, kelihatan melingkar-lingkar membingungkan pandangan.

Mata tombak cagak Sela Ganden yang berujung dua itu sungguh berbahaya bagi Mahesa Wulung. Ia harus berhati-hati menjaga pedangnya, apa lagi sampai kena tercepit di antara kedua ujung mata tombak cagak itu, pastilah pedangnya bisa terbetot lepas.

Sementara itu beberapa potong awan mendung yang kelabu kehitaman mengalir ke arah selatan, melewati sinar matahari siang, sehingga sinar mata- hari itu terhalang sekali-sekali. Bayangan awan terse- but bergerak di permukaan tanah, menyebabkan sua- sana Desa Mijen ini sekali gelap dan sekali terang ben- derang, silih berganti. Maka pertempuran di halaman kelurahan itupun menjadi semakin seram. Mereka masing-masing telah mencoba untuk meng- uasai keadaan. Malahan masing-masing telah mencoba mengerahkan segenap kekuatan dan ilmu mereka, maka tak heranlah bila darah mereka menjadi seperti mendidih menambah semangat bertempurnya berlipat- lipat.

Pada suatu saat, Sela Ganden menyongsong teba- san pedang Mahesa Wulung dengan ujung tombaknya dan apa yang selama ini diharap-harapkan, terjadilah sudah! Pedang Mahesa Wulung kena terjepit di sela- sela antara kedua ujung mata tombak Sela Ganden. Untuk ini, Mahesa Wulung berusaha menarik pedang- nya, namun Sela Ganden bergerak lebih cepat lagi. Sebelum pedang lawan itu berhasil lolos, ia telah lebih dahulu memilin tangkai tombak cagaknya ke kanan dan sekuat tenaga. Dengan begitu ia berharap agar Mahesa Wulung melepaskan pedangnya.

Tetapi ternyata harapannya meleset sama sekali, sebab Mahesa Wulung yang telah kaya akan penga- laman olah keprajuritan itu segera pula mempererat genggaman pedangnya. Seketika terjadilah putar- memutar senjata antara Mahesa Wulung dengan Sela Ganden. Tampaklah masing-masing mengerahkan segenap tenaga hingga wajah-wajah mereka menjadi tegang dan berkeringat. Ternyata sedikit demi sedikit Sela Ganden berhasil mengungkit pedang lawannya sehingga ia menjadi lebih berkeyakinan untuk bisa menjatuhkan Mahesa Wulung.

Putaran tangkai tombak Sela Ganden memang hebat, dan ini terasa sekali oleh Mahesa Wulung. Kalau ia masih bersikap begitu, pastilah akan tercabut lepas pedang di tangannya, maka terpaksalah ia ber- buat lain. Ia meloncat kecil selangkah ke kiri dan seka- ligus menebaskan pukulan sisi telapak tangan kirinya ke arah tombak Sela Ganden.

Kraak! Tangkai tombak Sela Ganden, tepat pada lehernya, telah gemertak patah dan terpelanting lepas bersama pula dengan pedang Mahesa Wulung ke atas tanah. Dan kemudian disusul oleh tendangan kaki kiri Mahesa Wulung ke pinggang Sela Ganden, sehingga jagabaya bertubuh kekar ini terjungkir ke depan, mencium debu tanah di halaman kelurahan.

Meski dengan muka berpupur debu dan sambil memaki-maki, Sela Ganden cepat-cepat berdiri. “Setan alas! Kowe memang pendekar gemblengan! Namun jangan harap mampu menghadapi ilmu remasan tangan wesi milikku ini! Haaakh!”

Sela Ganden tiba-tiba mengangkangkan kedua kakinya ke samping dan tubuhnya setengah condong ke depan. Kemudian menyusul ia memukulkan kedua telapak tangannya ke atas kedua pahanya, sebelah kanan dan kiri berbareng.

Semua orang di halaman kelurahan itu terperanjat keheranan, termasuk Mahesa Wulung. Apakah yang akan diperbuat oleh Sela Ganden ini? Pukulan sisi telapak tangan Sela Ganden tadi, mula-mula perlahan saja dan menimbulkan suara ceplok-ceplok berbareng. Tetapi lama-kelamaan pukulan tadi keras dan semakin keras dan berakibat luar biasa. Setiap benturan pukulan telapak tangan Sela Ganden ke atas pahanya, menimbulkan getaran di tanah, seolah-olah halaman kelurahan ikut bergoyang karenanya.

Endang Seruni menjadi kecemasan. Demikian pula dengan Nyi Lurah Mijen, dan bahkan semua orang di situ pada berdegupan jantungnya. Mahesa Wulung mengeluh dalam hati bahwa keadaan berlarut-larut ke arah puncak ketegangan. Ia merasa heran dan kagum bahwa di tempat yang asing ini ia menjumpai ilmu yang hebat, yang disebut oleh Sela Ganden sebagai ilmu remasan tangan wesi.

Setelah genap tiga belas kali, Sela Ganden tiba-tiba menghentikan pukulan anehnya tadi sambil berteriak ke arah Mahesa Wulung.

“Hee, keparat! Lihatlah ampuhnya remasan tangan wesiku ini! Kau akan terlumat olehnya. Lihat!”

Segera Sela Ganden memungut sebuah batu hitam dari tanah yang besarnya sebesar buah kelapa. Batu hitam tadi dijepitnya di antara kedua telapak tangan- nya dan kemudian diremasnya semudah orang mere- mas buah tomat. Pletak! Batu sebesar buah kelapa tadi ambyar dengan berderak keras, diiringi oleh derai ketawa Sela Ganden kepuasan. “Hua, ha, ha, lihat cecunguk! Kepalamu akan demikian pula jadinya!”

Karuan saja Mahesa Wulung tak mau bertangan kosong menghadapi Sela Ganden yang telah memasang ilmunya. Maka cepat-cepat ia pun memasang pemusa- tan ilmunya, pukulan maut Lebur Waja. Biarpun tidak sehebat semula dan belum pulih akibat benturan Ki Topeng Reges dahulu, namun masih lumayan pula daripada bertangan hampa.

Sela Ganden segera bersiaga. Kedua jari-jari tangan- nya berkembang laksana kuku-kuku cakar garuda dan siap meremas kepala lawannya. Keduanya segera sama-sama melompat menyerbu.

Mendadak sebuah bayangan putih melesat dari pepohonan di luar pagar halaman kelurahan, bersama sebuah teriakan menggeledek.

“Tahan!” Bayangan putih tadi tahu-tahu telah berdiri di tengah, di antara ke dua pendekar yang telah saling menerjang.

Dengan mementang kedua belah tangannya masing-masing ke samping, bayangan putih yang tidak lain adalah Pendekar Bayangan telah mencegah dua benturan ilmu mereka yang cukup hebat. Maka sejurus kemudian terjadilah dua letupan berbareng.

Mahesa Wulung terbentur oleh kibasan telapak tangan Pendekar Bayangan hingga dirinya terpental ke belakang beberapa langkah. Tapi ia cukup cekatan sehingga ia jatuh ke tanah dengan mendaratkan kakinya lebih dulu! Sedang Sela Ganden yang telah menerjangkan kedua cakaran telapak tangannya ke depan, terbentur pula oleh kibasan tangan Pendekar Bayangan, dan seketika pandangan matanya gelap serta terpental ke belakang. Tubuh Sela Ganden tersebut mencelat menabrak pagar bambu hingga tumbang bersama-sama tubuhnya ke tanah.

Para penonton pada berteriak kagum dengan peris- tiwa ini. Pendekar Bayangan lalu mengangguk hormat kepada Ki Lurah Mijen.

“Maaf, Ki Lurah. Aku terpaksa berbuat demikian, sebab aku tak ingin mereka celaka oleh benturan kedua ilmunya yang dahsyat itu. Dan perkenalkanlah, aku adalah Pendekar Bayangan, guru Mahesa Wu- lung.”

“Oh, tak apa Kisanak. Sebenarnya aku pun tak ingin mereka saling baku hantam dengan ilmunya. Namun aku yang tua bangka ini tak mampu mencegah mereka, sebaik yang telah Kisanak lakukan baru saja ini.” ujar Ki Lurah Mijen. “Tapi kulihat mereka terban- ting jatuh.”

“Itu tak apa, Ki Lurah. Biarlah aku nanti yang merawatnya.”

Ki Lurah Mijen segera menyuruh beberapa orang untuk menggotong tubuh Sela Ganden dan Pakisan ke dalam pendapa kelurahan.

Sementara itu, Mahesa Wulung mendekati Pendekar Bayangan serta membungkuk hormat. “Selamat da- tang, Bapak. Mujurlah Bapak keburu datang. Kalau tidak, entahlah apa jadinya dengan kami.”

“Yah, sebenarnya aku selalu membayangimu, Ang- ger. Nah, sekarang marilah kita beristirahat. Kau terlalu keras memeras tenagamu dan Angger harus memulihkannya kembali,” ujar Pendekar Bayangan lirih.

Tak lama kemudian Pendekar Bayangan sibuk mengobati Sela Ganden dan pembantunya itu. Dan malam itu serta hari-hari berikutnya, Pendekar Baya- ngan dan Mahesa Wulung tinggal di sebuah rumah di ujung desa, untuk menjaga kalau-kalau gerombolan Jaramala dan anak buah Ki Topeng Reges lainnya mengganggu desa ini.

Untunglah luka-luka dan keadaan tubuh Sela Ganden dengan seorang jagabaya lainnya tidaklah be- gitu mengkuatirkan. Keduanya berangsur-angsur sem- buh dan siap untuk mengemban tugasnya kembali.

***

4

DI KAKI BUKIT sebelah barat dari Gunung Muria, tergeletaklah sesosok tubuh di atas rerumputan yang tebal tanpa daya. Di dekat kepalanya tergeletak sebuah caping lusuh dan juga sebilah padang tertancap di atas tanah tidak jauh dari tubuh itu.

Angin sore yang bertiup segar telah membelai tubuh itu dan bila luka di lengannya terusap oleh angin, maka terasalah rasa perih dan kaku-kaku menjalar ke ubun-ubun.

Orang itu yang tidak lain adalah Ki Camar Seta, pelan-pelan membuka matanya yang masih terasa berat. Ia telah sadar dari pingsannya. Teringat kembali olehnya akan pertempuran melawan Ki Topeng Reges, seorang pendekar hitam bertopeng hantu.

Untunglah, sesudah ia terluka oleh senjata lawan- nya yang bernama Kiai Brahmasakti, cepat-cepat ia meminum sebuah butiran obat yang disimpan dalam kantong kecil pada ikat pinggangnya. Dengan memi- num obat itu, maka racun jahat yang merasuk ke dalam tubuhnya dapat dicegah agar tidak ikut meng- alir mengikuti peredaran darahnya.

“Hari telah sore,” desis Ki Camar Seta setengah me- rintih, sebab rasa pedih kembali menghentak-hentak pundak dan lengannya yang terluka. “Entah berapa hari aku tergeletak disini. Tapi agaknya aku belum akan mati sekarang.”

Ki Camar Seta merasa bahwa kepalanya menjadi pening berkepyur-kepyur. Dalam saat yang begitu, tiba- tiba dilihatnya sesosok bayangan telah berkelebat dari arah utara menuju ke arahnya. Sesaat dilihatnya bayangan itu bertubuh ramping dan termangu-mangu memandangnya. Namun kemudian bayangan itu sege- ra berjongkok di dekat tubuhnya.

“Kakang Camar Seta! Kakang Camar Seta, oh, kau terluka Kakang?” terdengar kata-kata yang lembut ke telinganya, membuat Ki Camar Seta terperanjat. Rasa- rasanya ia pernah mengenal suara itu dan hal ini membuat Ki Camar Seta seperti bermimpi, sebab sete- lah ia mengenal kembali suara itu, teringatlah sejenak pada masa remajanya.

Ya, suara itu adalah suara gadis yang pernah dicin- tainya, bernama Rara Sumekar. Oleh karenanya, Ki Camar Seta segera mencoba mengerahkan segenap kekuatan tubuhnya dan berhasillah akhirnya. Panda- ngan matanya berangsur-angsur menjadi terang kem- bali dan betullah apa yang diduganya, wanita yang telah berusia dan berjongkok di dekatnya itu, sesung- guhnya adalah Nyi Sumekar, bibi dari Pandan Arum dan isteri seorang pertapa yang bernama Ki Wiratapa.

Meskipun garis-garis ketuaan telah tergores pada lekuk hidung dan sudut bibirnya, namun masih tampak bekas-bekas kecantikan di masa mudanya. Dan sesungguhnya Nyi Sumekar memang cantik di waktu remajanya dahulu.

“Akh, benar Nyi Wiratapa. Aku telah terluka oleh senjata Ki Topeng Reges sewaktu bertempur melawan- nya,” ujar Ki Camar Seta lirih. “Aku tak tahu lagi apa- kah yang terjadi selanjutnya dengan Angger Mahesa Wulung. Sebab setelah aku terjatuh ke tanah, Ki Topeng Reges kemudian memburu Angger Mahesa Wulung.”

“Mudah-mudahan ia selamat, Kakang,” sambut Nyi Sumekar pula. “Bagaimanakah kabarnya Angger Pan- dan Arum?”

“Baik-baik saja, Nyi. Ia tinggal bersama prajurit- prajurit Demak yang tengah dalam perjalanannya menuju Demak.”

“Kakang, kebetulan aku habis memetik kelapa ijo untuk kubuat obat. Nah, minumlah ini, Kakang. Ia akan dapat menawarkan racun yang terdapat di dalam tubuhmu.” Nyi Sumekar mengambil kelapa muda tadi dari sebuah kantong kain putih yang digendongnya di punggung. Kelapa muda itu telah dikupas sabutnya, sehingga dengan mudah Nyi Sumekar membuat lobang pada ujung tempurungnya dengan sebilah pisau kecil.

Ki Camar Seta menerima buah kelapa muda itu dan selanjutnya direguknya dengan lahap. Dasar memang ia telah merasa haus pula. “Terima kasih, Nyi Wira- tapa. Aku lebih baik sekarang.”

Nyi Sumekar lalu memeriksa lengan Ki Camar Seta yang terluka dan kemudian lengan baju pendekar tua sahabatnya itu disobeknya pula. Dengan cekatan ia menaruh bubukan obat pada luka Ki Camar Seta serta dibalutnya sekali.

“Nah, Kakang. Ini cukup baik untuk mencegah lukamu menjadi bengkak. Di pondokku nanti lukamu akan kurawat lebih lanjut,” ujar Nyi Sumekar sambil memberes-bereskan kembali kantong kain yang berisi dedaunan untuk peramu obat.

“Nyai, bagaimanakah dengan Adi Wiratapa? Apakah ia sehat-sehat saja?” tanya Ki Camar Seta menanyakan keselamatan Ki Wiratapa sahabatnya, juga sebagai suami Nyi Sumekar sampai kini.

“Yah, ia lagi sibuk mengunduh ketela pohon hari ini. Pasti ia akan bergembira bertemu dengan Kakang Camar Seta nanti.”

“Masih jauhkah pondokmu itu, Nyi?”

“Oh tidak, Kakang. Itu di balik gerumbul pohon- pohon di sana itu, terletak pondokku.”

Kedua orang itu kemudian berjalan ke arah utara. Ki Camar Seta menggunakan tongkat pedangnya seba- gai penumpu tangannya yang luka, sedang Nyi Su- mekar berjalan di belakangnya, sambil sekali-sekali mengawasi langkah Ki Camar Seta yang setengah terseok-seok menempuh jalan perbukitan kaki Gunung Muria sebelah barat.

Senja makin tenggelam dan malam pun menjelang.

*** Malam itu bulan bertengger di langit biru dengan megahnya. Sepotong awan bagai gumpalan kapas, me- rayap malas ke arah utara. Suasana tampak tenang dan syahdu. Tetapi di balik gerumbul pepohonan di halaman sebuah rumah pada ujung Desa Mijen, tampaklah dua bayangan manusia bergerak-gerak saling serang-menyerang dengan sangat lincahnya. Mereka terlibat dalam pusaran gerak yang cepat, bagaikan bayangan yang belit-membelit dan terjang- menerjang.

Mereka bertarung tanpa menggunakan senjata, kecuali dengan pukulan-pukulan tangan dan sedikit tendang-tendangan kaki.

“Nah, kau lebih baik sekarang, Angger. Kau ada kemajuan hari ini. Tekunkanlah gerak-gerak tadi, Angger,” ujar seorang yang mengenakan kedok putih di kepalanya.

“Terima kasih, Bapak Pendekar Bayangan. Segala petunjukmu akan kuindahkan baik-baik,” berkata pendekar muda yang tidak lain Mahesa Wulung sendiri.

“Bagus Angger, bapak merasa senang dengan ke- tangguhanmu. Saya kira ada baiknya kita beristirahat sebentar. Ada sesuatu yang akan kubicarakan pada Angger Mahesa Wulung.” Pendekar Bayangan berkata dan mempersilakan muridnya ini duduk. “Marilah duduk disini, Angger!”

Keduanya kemudian duduk di atas sebatang pohon tua yang telah ditebang dan tergeletak di sudut halaman rumah. Dengan mendehem kecil Pendekar Bayangan memulai kata-katanya yang tampaknya sangat penting.

“Angger Mahesa Wulung, telah beberapa kali kau kulatih memahami dasar-dasar  ilmu pukulan Angin Bisu yang sebetulnya lebih dahsyat daripada pukulan Lebur Waja. Pukulan Angin Bisu tadi merupakan bagian dari ilmu pamungkas Bayu Bajra. Kalau semula Angger merasakan adanya persamaan atau saling mempengaruhi antara ilmu Bayu Bajra dengan Bayu Rasa dan juga antara pukulan Lebur Waja dengan Angin Bisu itu, Angger Mahesa Wulung tidak perlu heran. Sebab memang kedua ilmu tadi dari sumber yang sama, yakni dari Ki Buyut Ungaran.”

“Oh jadi Bapak adalah murid Ki Buyut Ungaran dari daerah selatan Asemarang?” gumam Mahesa Wulung setelah terlonjak kaget. “Jadi kalau demikian, Bapak ada hubungannya dengan guruku, Panembahan Tanah Putih.”

“Tepat dugaanmu, Mahesa Wulung. Kau memang berpikir kelewat tajam, heh, heh, he. Aku tak heran, dan memang pantas kau adalah murid kinasih panem- bahan berjenggot itu.”

“Bolehkah aku mengenal Bapak sekarang?” tanya Mahesa Wulung disertai perasaan ingin tahunya yang semakin keras.

“Baiklah, Angger. Sekarang kau boleh mengenalku lebih dekat, seperti yang telah aku katakan dahulu.” Pendekar Bayangan berkata sambil mencopot kedok yang menutup sebagian besar kepalanya. “Nah, Angger Mahesa Wulung, namaku yang sebenarnya adalah Ja- tilawang, saudara seperguruan dari Ki Bayu Sakti atau yang bergelar Panembahan Tanah Putih.”

Mahesa Wulung segera menatap wajah Jatilawang yang sedikit lebih tua daripada gurunya sendiri. Wajah orang ini sangat cerah meskipun garis-garis ketuaan menghias dahi dan matanya. Kumisnya yang meleng- kung putih dilengkapi oleh jenggot yang pendek, tebal dan keputihan pula. “Panembahan Tanah Putih saya anggap seperti saudara kandungku sendiri, sehingga apa yang dirasa- kan aku pun ikut merasakannya pula. Sayang, waktu Angger Mahesa Wulung berlibur di Asemarang bebera- pa waktu yang telah lewat, bapak tak sempat menjum- paimu, sebab bapak tengah berkelana di daerah Jawa Timur. Dan atas persetujuan Panembahan Tanah Putih pula, aku telah mencari-carimu kemana-mana. Kalau si jenggot tua itu telah melatihmu dengan ilmu Lebur Waja dan Bayu Rasanya, maka aku telah bertekad pula menurunkan ilmuku kepada Angger Mahesa Wulung.”

“Terimakasih, Bapak Jatilawang,” kata Mahesa Wulung.

“Ketahuilah, bahwa pukulan Lebur Waja lebih ba- nyak memusatkan kekuatan jasmaniah,” sambung orang tua itu, “sehingga untuk memukul hancur sebuah sasaran, pukulan sisi telapak tanganmu harus benar-benar menempel atau membentur benda terse- but. Sedang pukulan Angin Bisu lebih memusatkan unsur kekuatan batin serta tenaga dalam. Dengan demikian maka sasaran yang akan Angger pukul tidak harus dalam jarak yang dekat, tetapi dalam jarak jauh pun Angger akan dapat mengenainya.”

“Wah, hebat, Bapak! Jadi dengan angin pukulannya saja sudah cukup untuk menghancurkan sebuah sasa- ran?” sela Mahesa Wulung saking kagumnya. “Benar- benar seperti dalam ceritera wayang saja.”

“Heh, heh, heh, rupa-rupanya Angger Mahesa Wu- lung adalah penggemar tokoh-tokoh dalam ceritera,” sambung Jatilawang kemudian. “Kalau begitu tentu- nya Angger mengenal tokoh-tokoh wayang yang mem- punyai darah bayu. Sebutkanlah beberapa di anta- ranya.” “Mereka adalah Batara Bayu, Anoman, Werkudara, Liman Situbanda dan lainnya maaf, saya agak lupa, Bapak,” kata Mahesa Wulung setengah malu.

“Heh, heh, heh, itu sudah cukup, Angger. Dan ketahuilah, bahwa para darah bayu tadi dapat me- makai dan mengendalikan jalannya angin dalam setiap gerak dan keperluannya. Begitu pulalah dengan Ki Buyut Ungaran. Beliau menggunakan unsur-unsur angin dalam ilmunya yang dahsyat, seperti yang Angger kenal dalam Bayu Rasa dan Bayu Bajra.”

Mahesa Wulung mengangguk-angguk penuh penge- rtian akan segala tutur kata Ki Jatilawang atau yang lebih dikenal sebagai Pendekar Bayangan. Juga tentang pelajaran-pelajaran dasar yang diberikan oleh Jatilawang dalam aji pukulan Angin Bisu telah benar- benar dipahaminya.

“Nah, Angger Mahesa Wulung,” ujar Ki Jatilawang kemudian setelah keduanya berdiam diri sesaat, “marilah kita lanjutkan kembali latihan kita tadi.”

“Baik, Bapak,” Mahesa Wulung berkata sambil bangkit dari duduknya. Demikian pula Jatilawang ber- diri serta memakai kembali kedok kainnya yang ber- warna putih kelabu itu.

Maka sesaat kemudian halaman rumah di ujung desa itu pun digetarkan kembali oleh pertarungan seru antara Mahesa Wulung dengan Pendekar Bayangan. Meskipun keduanya tidak bertarung sebagai musuh, namun mereka sangat sungguh-sungguh melatih ilmu- nya, sehingga tampaknya di halaman rumah itu tengah berlangsung pertempuran yang sesungguhnya.

Mahesa Wulung terkejut bila suatu ketika ia men- dapat serangan pukulan tangan dari Pendekar Baya- ngan yang sangat cepat datangnya. Tapi dengan tangkasnya Mahesa Wulung mengelak ke kiri, berba- reng itu pula ia menyabetkan pukulan sisi telapak tangan kirinya ke arah tangan Pendekar Bayangan yang belum sempat ditarik kembali.

Plaak! Kedua tangan itu saling membentur dan keduanya tergetar olehnya.

Pendekar Bayangan tersenyum di balik topengnya. “Heh, heh, heh, bagus, Angger. Kau mulai menguasai Bayu Bajra dengan baik. Nah, hati-hatilah aku akan menggunakan pukulan Angin Bisu. Perhatikanlah baik-baik agar engkau pun bisa mengetrapkannya secara sempurna.”

Habis berkata Pendekar Bayangan melancarkan pukulan Angin Bisunya secara cepat ke arah Mahesa Wulung. Untuk serangan inipun Mahesa Wulung ter- nyata telah bersiaga pula. Begitu pukulan Angin Bisu hampir menghempas dirinya, Mahesa Wulung secepat kilat melentingkan tubuhnya ke udara, dan akibatnya pepohonan di belakang tubuh Mahesa Wulung terom- bang-ambing meliuk kesana kemari serta berontokan daunnya. Itulah akibat pukulan Angin Bisu dari Pen- dekar Bayangan. Memang sesungguhnya dalam latihan ini Pendekar Bayangan hanya separo tenaga dalam melatih dan melancarkan pukulan-pukulan Angin Bisu kepada Mahesa Wulung, sebab ia kuatir kalau-kalau muridnya ini akan cedera karenanya.

Dalam pada itu sambil melayang turun ke bawah, Mahesa Wulungpun melancarkan pukulan Angin Bisu yang telah dipelajari, ke arah Pendekar Bayangan. Tetapi dengan gerak yang lincah pula guru Mahesa Wulung ini berjumpalitan ke belakang mengelakkan pukulan muridnya dan akibatnya, rumput batu-batu kerikil serta debu berhamburan ke udara seperti terhempas oleh putaran angin lesus.

Melihat ini, dada Pendekar Bayangan bergelora penuh rasa bangga. Ia sama sekali tidak mengira kalau muridnya ini dapat menguasai dasar-dasar pukulan Angin Bisu serta ilmu Bayu Bajra dalam waktu yang sedemikian singkatnya. Maka ia diam-diam mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Besar bahwa ia sempat menyelamatkan pemuda itu dari cengkeraman Ki Topeng Reges.

Muridnya itu kini betul-betul merupakan banteng muda yang perkasa dan tangkas. Sepasang tangannya yang dihiasi oleh otot-otot dan urat-urat darah dengan lincahnya melancarkan pukulan-pukulan hebat yang menimbulkan hempasan-hempasan angin yang men- desau, sedang kakinya sanggup tegak di atas tanah laksana tonggak-tonggak baja yang jauh menghunjam di dalam tanah, tak tergoyangkan oleh getaran-getaran serangan gurunya.

Tetapi Pendekar Bayangan justru merasa senang dengan serangan-serangan muridnya, sebab secara tidak langsung iapun dapat berlatih serta menyempur- nakan bagian-bagian yang lemah dari ilmunya itu. Ka- rena itu, latihan tersebut berlangsung dengan serunya. Keduanya masing-masing mempunyai kekuatan-keku- atan yang cukup seimbang.

Gerakan Pendekar Bayangan makin lama semakin bertambah cepat dan lincah melingkar-lingkar sambil sekali-sekali menyerang muridnya. Sungguh membi- ngungkan pandangan gerak-gerak itu, tak ubahnya gerakan sebuah bayangan. Tetapi Mahesa Wulung pun dapat menanggapinya dengan baik. Ia pun lebih was- pada dengan matanya, sehingga ke mana pun Pende- kar Bayangan itu melontar dan menyerang, ia senan- tiasa siap menghadapinya.

Dalam pada itu, di antara deru angin pertarungan antara guru dan murid, tiba-tiba menyeliplah sebuah alunan lagu dandanggula yang dibawakan oleh ge- sekan senar-senar rebab dengan merdunya. Lagu tadi seolah-olah merupakan curahan isi hati yang me- nyayat-nyayat terbawa oleh angin dan kemudian ikut melingkar bersama-sama gerakan kedua orang yang tengah berlatih itu. Karuan saja Pendekar Bayangan dan Mahesa Wulung menjadi terpengaruh oleh alunan nada rebab itu, sehingga gerak-gerak mereka seperti menjadi lamban. Mereka sibuk bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan orang yang menggesek rebab di malam begini sepi ini. Dan anehnya, suara rebab tadi terasa sangat dekat.

“Berhenti dulu, Angger!” ujar Pendekar Bayangan kepada Mahesa Wulung dan keduanyapun menghenti- kan latihannya.

Mereka kemudian mengawasi segenap sudut hala- man dan ke pepohonan untuk mencari sumber suara dari gesekan rebab tadi.

“Hmm, waspadalah Angger, ini pasti perbuatan orang yang sakti! Agaknya dia menginginkan latihan kita terhenti. Hah, apakah maksud dia yang sesung- guhnya?” gumam Pendekar Bayangan sambil mema- sang telinganya tajam-tajam.

“Tetapi rupanya ia tidak bermaksud jahat, Bapak. Kalau ia mau menyerang kita pasti sudah dilakukan- nya semenjak tadi,” sela Mahesa Wulung pula.

“Betapapun begitu, aku masih kurang senang, Angger. Sebab secara tidak langsung ia telah meng- ganggu latihan kita,” ujar Pendekar Bayangan kemu- dian, dan sesaat kemudian setelah ia mendapat kepas- tian, tiba-tiba ia menunjuk ke atas, ke arah dahan pohon beringin yang tumbuh menaungi sebagian dari halaman rumah itu.

“Hee, Kisanak! Hentikan gesekan rebabmu itu! Dan lekas turun kemari! Apa maksudmu mengganggu lati- han kami?”

Mahesa Wulung tak tinggal diam. Ia pun melihat ke atas dahan beringin itu, dan terlihatlah olehnya seorang yang berperawakan sedang agak kurus, dengan asyiknya menggesek rebab di tangan. Begitu asyiknya sehingga ia seolah-olah tidak memperdulikan seruan Pendekar Bayangan.

Melihat hal ini, Pendekar Bayangan merasa jengkel, maka tiba-tiba ia melancarkan serangan pukulan ke atas ke arah dahan yang diduduki oleh si penggesek rebab itu!

Krak! Dahan beringin itu patah dan dengan lincah orang itu bertengger kembali ke dahan yang lain. Mahesa Wulung sangat terkejut dengan gerakan si penggesek rebab yang amat lincah.

Dan lebih mengejutkan lagi, Pendekar Bayangan sekali lagi melancarkan pukulan Angin Bisunya ke atas. Kembali dahan tersebut berderak patah. Tetapi kembali si penggesek rebab melontarkan diri ke dahan yang lain, seolah-olah ia tak ambil pusing dengan kedua orang yang berada di bawah itu. Ia kembali menggesek rebabnya.

Begitulah, setelah beberapa kali Pendekar Bayangan menyerang dan sudah lima dahan beringin yang dipatahkan, si penggesek rebab tiba-tiba bergerak turun. Tapi anehnya ia bukan meloncat melainkan ia berjalan pada batang pohon beringin itu. Kakinya seakan-akan melekat pada kulit pohon, seperti mem- punyai perekat, sehingga ia berjalan dengan seenak- nya. Dan lebih aneh lagi, ia dapat berjalan dengan tetap tegak meskipun ia berjalan pada batang yang tumbuh lurus, tegak ke atas langit. Dengan demikian ia seolah berjalan miring! “Aji Ciret Gombel!” desis Pendekar Bayangan.

Begitu tiba di tanah, orang ini langsung menyerang Pendekar Bayangan dengan pukulan rebab dan alat penggeseknya yang masing-masing terpegang erat di kedua tangannya.

Berbareng itu pula Pendekar Bayangan telah bersi- aga. Ia menyambar tongkat kayunya yang tersandar di pagar bambu. Maka sebentar saja mereka telah terlihat dalam pertempuran dahsyat. Mereka sama-sama tang- guhnya.

“Tenaga Anda sungguh hebat, Kisanak! Sebab tak pernah ada orang yang sanggup menahan benturan tongkat kayuku ini lebih dari lima kali!” ujar Pendekar Bayangan sambil terus bergerak lincah. “Kecuali Anda seorang!”

“Kalau begitu akulah yang beruntung, sebab aku dapat pelajaran yang lebih berharga dari Pendekar Bayangan, ha, ha, ha,” si penggesek rebab tertawa nyaring.

Mereka bertempur kembali dengan seru. Terjang menerjang, tangkis-menangkis dengan senjatanya. Alat musik rebab dan penggeseknya yang tergenggam erat di tangan orang itu merupakan dua penggada yang ampuh, bergerak susul-menyusul menyerang ganas ke arah Pendekar Bayangan. Namun pendekar berkedok ini pun tak kalah hebatnya. Tongkat kayunya berputar laksana kitiran memapaki setiap serangan lawan, sehingga sedikit demi sedikit si penggesek rebab tadi terdesak surut oleh Pendekar Bayangan.

Merasa terdesak, si penggesek rebab mempergencar serangan serta gerakannya sampai akhirnya mereka mencapai kedudukan yang cukup seimbang. Meskipun begitu, ia mengagumi gerak Pendekar Bayangan yang mampu bergerak secepat bayangan berkelebat. Ketika menginjak jurus yang keempat puluh lima, tiba-tiba si penggesek rebab melontarkan diri ke bela- kang disertai nafasnya yang terlonjak-lonjak.

“Tahan!” seru si penggesek rebab kepada Pendekar Bayangan dan pendekar inipun menghentikan sera- ngannya.

Kini kedua orang itu berdiri berhadapan dengan gagahnya, saling memandangi tubuh lawannya masing-masing.

“Heei, kita cukup seimbang, bukan? Tapi mengapa Kisanak ingin menyudahi permainan kita ini?” seru Pendekar Bayangan bernada keheranan.

“Maaf, sebenarnya aku ingin melanjutkannya. Aku bangga karena Kisanak telah menambah pengalaman si penggesek rebab yang berotak tumpul ini. Ha, ha, ha,” ujar si penggesek rebab itu. “Namun sesungguh- nya aku tidak ingin bertempur lebih lanjut melawan Anda, sebab memang semula aku tak bermaksud demikian itu.”

“Apa maksud Kisanak?” tanya Pendekar Bayangan. “Dan siapa pula nama Andika ini?!”

“Kisanak berdua boleh menyebutku Ki Rebab Pandan. Aku datang dari Padepokan Gunung Merapi,” ujar orang itu disertai senyuman ramah. “Memang ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada kisanak berdua.”

Mendengar Ki Rebab Pandan menyebut nama Pade- pokan Gunung Merapi, Mahesa Wulung menjadi ter- ingat akan lelakon Landean Tunggal yang penuh penderitaan akibat keganasan dan balas dendam Ki Topeng Reges yang terkenal ganas itu.

“Apakah Kisanak murid dari Panembahan Jati- wana?” satu pertanyaan meluncur dari bibir Mahesa Wulung, membuat Ki Rebab Pandan terlonjak kaget setengah mati, sebab ada orang asing yang telah menyebut nama gurunya.

“Hah, Andika telah menyebutnya? Agaknya Andika pernah mendengar dari mulut orang-orang tua.”

“Benar. Bahkan aku mengenal baik akan pendekar Landean Tunggal, seorang murid Panembahan Jatiwa- na yang berbudi baik dan seorang muridnya lagi yang berkelakuan buruk, yakni Umpakan atau yang ber- gelar Ki Topeng Reges.”

“Hebat! Andika telah berceritera dengan tepat!” seru Ki Rebab pandan lebih kagum lagi.

“Dan sekarang, Ki Topeng Reges sering mengganas di daerah Demak,” sambung Mahesa Wulung pula.

“Heh, heh, heh. Rupa-rupanya kita ini pasangan yang cocok sekali. Masing-masing punya simpanan ceritera-ceritera yang hebat,” sela Pendekar Bayangan. “Jika demikian, marilah kita masuk ke dalam rumah, agar ceritera-ceritera kita lebih nikmat didengar. Dan lagi kami masih ada ubi rebus serta wedang jahe. Lumayan buat mencegah kantuk.”

“Terima kasih, Kisanak,” ujar Rebab Pandan sambil melangkah menuruti Pendekar Bayangan yang telah melangkah ke arah pintu masuk rumah berdinding anyaman bambu. Di belakangnya menyusul pula Ma- hesa Wulung.

Maka sepilah kembali halaman rumah. Tampak Pendekar Bayangan, Ki Rebab Pandan dan Mahesa Wulung duduk di balai-balai serta beramah tamah. Ketiganya saling memperkenalkan diri.

Namun Pendekar Bayangan dan Mahesa Wulung menjadi sangat tertarik, bila Ki Rebab Pandan akan mulai menceriterakan segala lelakonnya, terutama kisah tentang Panembahan Jatiwana dengan kedua muridnya yang berbeda watak itu. Hingga di sinilah berakhir cerita “Munculnya Pendekar Bayangan” dan selanjutnya akan datang mengunjungi Anda ceritera dari Seri Naga Geni yang ketujuh dengan judul: “Bara Api Di Laut Kidul”.

TAMAT