Serial Naga Geni Eps 05 : Diburu Topeng Reges

 
Eps 05 : Diburu Topeng Reges


Bulan purnama semakin merayap lebih tinggi, se- perti hendak menyaingi cahaya ratusan bintang yang bertaburan di langit biru. Tak sepotong awan pun yang tampak mengambang di langit, sehingga cahaya yang terang-temarang langsung menerangi Jurang Mati, di mana Mahesa Wulung tengah mati-matian merayap di tebing jurang untuk mencapai mulut sebuah goa di sebelah kanannya.

Selangkah demi selangkah, kakinya melangkah ke samping, sementara kedua tangannya berpegang pada tonjolan-tonjolan batu dari tebing jurang.

“Hmm, sepuluh langkah lagi, pastilah mulut gua itu aku capai!” desis Mahesa Wulung sambil terus merayap ke kanan.

Setelah mencapai lima langkah, Mahesa Wulung berhenti sejenak. Peluh dingin mengucur dari lobang- lobang kulitnya, apalagi ketika ia melirik ke bawah ke dasar Jurang Mati. Satu lirikan saja cukup membuat kepalanya terasa mengkap-mengkap seperti hendak copot. Dirasanya satu tenaga aneh seperti hendak menyedotnya jatuh ke dasar jurang. Maka cepat-ce- pat ia mengerahkan segenap ilmunya ‘Tugu Wasesa’ yang sanggup melindungi dirinya dari segala getaran- getaran dan benturan-benturan yang sehebat apa– pun.

Sesaat kemudian ia dapat menguasai kembali dirinya dari pengaruh sedotan dasar Jurang Mati. Sementara itu beberapa buah batu kerikil yang tersinggung oleh kakinya, bergelindingan jatuh ke jurang, setelah lebih dulu membentur serta mener- jang tebing curam dari Jurang Mati, dengan suara gemelandang menggema, menimbulkan rasa ngeri di hati kecil Mahesa Wulung.

Terbayanglah, seandainya ia benar-benar terjatuh ke situ pastilah tubuhnya akan hancur luluh. Ter– ingat kembali akan nasibnya yang malang itu, hati– nya seolah-olah disayat oleh sembilu, pedih dan ngeri. Ia telah terjatuh ke jurang ketika menghindari serangan ilmu ‘Netra Dahana’ dari Ki Topang Reges yang dahsyat itu. Untunglah ia tidak terbakar oleh lidah api yang dipancarkan oleh mata Ki Topeng Reges. Tetapi kekalahannya itu tidak begitu membe- ratkan hatinya, sebab suatu ketika pastilah itu akan dapat ditebusnya kembali.

Yang sangat disesalkan ialah kematian Empu Bas- kara. Dengan kematian orang tua itu, yang seharus- nya diselamatkan dari tangan-tangan kotor gerom- bolan hitam, hampir seluruh tugasnya telah gagal sama sekali. Suatu hal yang sangat memalukan bagi seorang pendekar cabang atas seperti dirinya ini. Satu-satunya harapan ialah dengan merebut kembali catatan rahasia dari panah ‘Braja Kencar’ yang telah dibawa kabur oleh si Rikma Rembyak, murid kinasih dari Ki Topeng Reges.

Suatu perasaan baru terungkap dalam hatinya yang kini bergelora karena kematian Empu Baskara.

“Yah, aku harus keluar dari tempat ini, untuk membalaskan kematian Empu Baskara. Ke manapun larinya Ki Topeng Reges dan Rikma Rembyak, mereka akan aku kejar.” Mahesa Wulung kemudian melanjutkan kembali kerjanya. Sejengkal demi sejengkal ia terus merayap ke arah mulut goa di sebelah kanannya.

“Hmm,” sebuah tarikan napas lega terdengar dari hidung Mahesa Wulung, manakala mulut goa itu telah dicapainya dengan selamat. Perlahan-lahan ia mengamati goa itu dari luar. Tampaklah olehnya, mulut goa itu penuh ditumbuhi oleh lumut liar sedang bagian atasnya dipenuhi oleh benang laba- laba yang bergantungan, bagaikan benang perak yang gemerlapan ditimpa sinar purnama.

Yang agak mengherankan Mahesa Wulung ialah bagian tengah dari ruangan goa itu. Seberkas sinar purnama telah jatuh ke lantai, cukup menerangi tem- pat itu dari luar goa.

“Entah dari mana sinar purnama itu masuk? Mungkin dari lobang-lobang atas pada langit-langit goa,” pikir Mahesa Wulung penuh rasa kagum dan ingin tahu. “Baiklah, aku akan masuk ke dalam serta menyelidikinya. Mudah-mudahan goa ini cukup hangat untuk tempat beristirahat malam ini. Siapa tahu mungkin besok aku dapat menemukan jalan keluar dari Jurang Mati ini.”

Dengan hati-hati ia maju ke mulut goa. Tiba-tiba ia terhenyak kaget, ketika hidungnya mencium bau engas yang menyesakkan dada.

Syraat! dilolos pedangnya untuk menghadapi se– tiap bahaya. Naluriahnya yang tajam telah mencium adanya bahaya di sekitar tempat itu. Kembali ia melangkahkan kakinya ke dalam mulut goa.

Cess! sebuah rasa dingin terasa menerkam teng- kuknya, dan Mahesa Wulung pun bergerak cepat dengan putaran pedangnya ke atas. Sebuah benda terbabat putus dan melayang ke tanah. “Ooh. Lumut-lumut liar!” desis Mahesa Wulung seraya menatap ke atas. Ternyata lumut-lumut liar tadi memang meneteskan air ke bawah dan beberapa tetes air itu telah menjatuhi tengkuknya.

“Hmm, untunglah hanya air yang menetes ke tengkukku, seandainya senjata? Aku harus lebih hati-hati sekarang!”

Bersamaan dengan itu, ketika ia lebih jauh masuk ke dalam mulut goa, satu jeritan yang memekakkan telinga terdengar mengiringi beberapa bayangan yang melesat keluar dari dalam goa. Benda-benda itu terlalu rendah melayang dan satu-satunya jalan bagi Mahesa Wulung ialah menghindarinya dengan ber- tiarap di atas tanah. Bunyi berdesing serta kepak- kepak sayap terdengar di atas kepalanya menimbul- kan angin dingin yang menyapu tengkuknya. Mahesa Wulung melirik ke atas dan terpaksa ia menjerit kecil. “Kelelawar-kelelawar raksasa!” desis Mahesa

Wulung. “Tapi mereka telah keluar!”

Sejenak hatinya merasa aman, tetapi bau engas menyesakkan itu masih terasa hebat. Malahan kini terdengar pula bunyi bergetar setengah mencicit yang sangat halus, namun terasa masuk ke relung-relung telinga Mahesa Wulung, menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa hebatnya. Maka sekali lagi Mahesa Wulung menyalurkan ilmunya, ‘Tugu Wasesa’.

Mendadak saja, belum lagi ia selesai menyalurkan ilmunya, dari sebuah pohon besar pada dinding goa itu terlihatlah dua bulatan sinar yang menyala merah berkedip-kedip. Kemudian diiringi oleh satu jeritan hebat, sebuah sinar putih gemerlapan menyambar ke arah kepala Mahesa Wulung dengan kecepatan luar biasa.

Tentu saja ia sangat terkejut disambar oleh benda bersinar itu, maka secepat kilat ia berkelit ke sam- ping untuk menghindar. Anehnya, benda panjang itupun tetap mengikuti gerakannya dan tak ampun lagi tubuhnya kena terlibat.

“Benang laba-laba,” desis Mahesa Wulung kaget setengah mati.

Segera ia meloncat mundur ke tempat yang diterangi oleh sinar purnama dari lobang-lobang langit goa. Ia bermaksud meneliti benda yang melibat tubuhnya itu dalam penerangan sinar purnama ini, dan betapa herannya bila dugaannya tadi ternyata tidak meleset. Benang putih yang panjang gemer- lapan dan melibat dirinya itu, tidak lain adalah benang laba-laba seperti yang telah dilihatnya pada mulut goa ketika ia masuk ke dalam.

“Heh, ini memang betul-betul benang laba-laba. Tetapi ini terlalu besar dan berukuran luar biasa,” pikir Mahesa Wulung dengan cepat sambil memegang benang laba-laba itu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menebaskan pedangnya pada benda itu.

Bet! Pedang yang telah menebas benang laba-laba, terpental kembali ke belakang dan benang itu masih belum terputuskan. Sudah barang tentu Mahesa Wulung tercengang-cengang melihat kejadian ini. Ia pun sadar bahwa tebasan pedangnya tadi hanyalah dengan kekuatan separo tenaga, karena dalam hati ia berkeyakinan bahwa benang laba-laba itu tak akan melebihi kekuatan seutas tali. Namun kenyataannya, benang laba-laba tersebut lebih kuat dan punya daya melekat seolah-olah dilumuri oleh getah perekat.

Dasar Mahesa Wulung bukan termasuk orang yang mudah berputus asa, maka sekali lagi ia menyabetkan pedangnya dengan kekuatan penuh dan kini putuslah benang laba-laba itu dengan bunyi mendesing.

Di luar dugaan, begitu benang laba-laba itu putus, sebuah lagi menyambar ke tubuhnya sekaligus meli- bat dengan kerasnya. Untuk kedua kalinya Mahesa Wulung menebaskan pedangnya serta berhasil me- motongnya. Tiba-tiba dua bulatan merah yang berkedip-kedip itu bergerak mendekati dirinya.

Mahesa Wulung terus mengawasi ke arah lobang dinding goa dan terutama kepada dua bulatan merah yang bergerak perlahan-lahan ke arahnya. Mata Mahesa Wulung rupanya sudah terbiasa dengan keadaan gelap di dalam goa itu, maka terlihatlah satu bayangan remang-remang yang berkaki delapan, sangat mengerikan. Dan sejurus kemudian bayangan itu tepat berada di bawah sinar purnama yang jatuh ke lantai goa lewat lobang langit-langit.

Bukan main dahsyatnya! Baru kali ini selama hidupnya ia menyaksikan satu pemandangan yang sangat mengerikan, hingga kedua mata Mahesa Wulung terbeliak menyaksikannya, seakan-akan tak mau percaya dengan apa yang kini dihadapinya. Benda yang kini berada di depannya kira-kira sepuluh langkah itu tidak lain adalah laba-laba raksasa, lengkap dengan kedelapan kakinya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar serta duri-duri tajam. Kedua matanya yang menyala merah berkedip-kedip itu tampak sangat ganas. Dengan desisan yang menggetar, makhluk itu menatap ke arah Mahesa Wulung.

Sesaat Mahesa Wulung terbungkam mulutnya, seakan ia mau berteriak tapi tak satu kata pun yang keluar lewat bibirnya.

Mula-mula ia mengira, kejadian ini hanya satu impian buruk akibat kelelahan jiwanya. Namun ketika ia menggigit bibirnya dan benar-benar terasa sakit, jadi yakinlah ia bahwa laba-laba raksasa itu bukanlah satu impian.

Bersamaan pulihnya kesadaran Mahesa Wulung atas bahaya yang mengancam di depannya, menda- dak laba-laba raksasa itu mencicit hebat disusul oleh sambaran-sambaran benang perak lewat mulutnya yang datang secara bertubi-tubi, hingga sebagian besar tubuh Mahesa Wulung penuh dilengketi oleh benang laba-laba. Untungnya tangan kanannya yang menggenggam pedang itu sempat ditariknya ke belakang tubuh. Kalau tidak, pastilah nasibnya akan tak berbeda dengan tangan kirinya yang kini ter- lengket pada tubuhnya oleh belitan benang laba-laba itu.

Laba-laba raksasa itu sejenak berhenti melancar- kan serangannya, sedang kedua mata ganasnya terus mengawasi Mahesa Wulung yang tengah berusaha melepaskan lilitan benang-benang yang melekat dengan erat. Dengan sendirinya Mahesa Wulung tak melepaskan kesempatan yang hanya sekejap itu. Selagi binatang itu menghentikan serangannya, cepat-cepat ia menebaskan serta memutar pedangnya di tangan kanan dengan dilambari ilmu pedang ajaran Ki Camar Seta yang bernama ‘Sigar Maruta’. Maka akibatnya sangat menakjubkan. Dalam waktu sekejap saja, mata pedang itu seperti berubah menja- di puluhan, serta kemudian membabat semua benang laba-laba yang bersimpang siur melilit tubuhnya.

Agaknya laba-laba raksasa itupun menyadari akan kekuatan calon korbannya yang kini telah berhasil membebaskan diri dari benang-benang mautnya! Ia bergerak maju sambil mengeluarkan desisan yang tinggi, sementara dua kaki depannya diangkat tinggi- tinggi.

Mahesa Wulung tidak kurang waspadanya melihat gerakan laba-laba itu. Apabila kedua kaki depan laba-laba itu telah diangkat tinggi, pastilah ia akan memulai serangannya. Ia pernah memperhatikan cara menerkam seekor laba-laba terhadap seekor lalat yang telah terjerat oleh benang-benang perang- kapnya. Oleh sebab itu Mahesa Wulung bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan.

Lawan yang kini harus dihadapinya adalah seekor laba-laba raksasa setinggi manusia. Sungguh menge- rikan bentuknya. Untunglah bahwa Mahesa Wulung mempunyai kekuatan batin yang tinggi pula, sehingga dalam waktu yang singkat ia berhasil menguasai keadaan. Seandainya Pandan Arum pada waktu itu berada di situ, pastilah ia akan jatuh pingsan melihat laba-laba raksasa itu.

Dibarengi oleh satu jerit lengkingan, laba-laba itu menerkam Mahesa Wulung dengan gerakan yang cepat. Namun betapa kecewanya si laba-laba. Seandainya ia dapat berkata-kata, pastilah ia akan mengutuk-ngutuk, ketika calon korbannya itu melesat ke belakang beberapa langkah, sehingga terkamannya hanya mendapat tempat kosong.

Mahesa Wulung ketika berloncatan mundur itu mendapatkan ruangan goa yang semakin luas dengan langit-langit yang lebih tinggi. Di sini pun terdapat lobang-lobang pada langit-langit goa dan disinari oleh berkas-berkas sinar purnama.

Laba-laba itu terus merayap mendekati Mahesa Wulung dengan tenangnya, bagai seorang jagoan yang sudah dapat memastikan kemenangan atas lawannya. Kemudian dengan gesit dan ganas ia menerkam kembali ke arah Mahesa Wulung.

“Jeaatt!” sebuah teriakan lantang terdengar ber- samaan melesatnya tubuh Mahesa Wulung yang menjejak tanah dengan melewati sebelah atas dari tubuh laba-laba ke samping. Gerakan itu sangat cepat dan sukar ditangkap oleh mata. Bahkan, dalam gerakannya itu Mahesa Wulung sempat menyabetkan pedangnya kepada kaki-kaki depan dari binatang itu.

Seketika binatang itu menjerit hebat ketika kaki depannya terasa tersayat oleh benda tajam, diikuti oleh cairan merah bening yang memancar dari luka- luka itu.

Mahesa Wulung kini berdiri di arah samping kanan dari laba-laba itu, siap menghadapi serangan berikutnya. Yang agak mengejutkan ialah gerakan laba-laba itu, setelah berhasil dilukai kaki depannya, ia bertambah cepat dan ganas.

Ketika ia melihat manusia lawan itu berada di samping tubuhnya, ia pun secepat kilat memutar tubuhnya ke kiri menghadapi ke arah tubuh Mahesa Wulung. Tiba-tiba dari mulutnya memancar benang maut yang menyambar ke arah kaki Mahesa Wulung. Saat itu, Mahesa Wulung sedikit agak lengah sehingga tanpa berkutik kakinya kena terlibat oleh belitan benang laba-laba itu. Maka seketika iapun jatuh terjengkang ke belakang.

Untungnya saat itu ia masih memasang ilmu meringankan tubuhnya, sehingga benturan tubuhnya ke tanah itu tidak begitu terasa hebat. Laba-laba itu menjerit kecil, seolah-olah bersorak-sorak atas keme- nangannya itu, kemudian dengan perlahan-lahan ia menarik benangnya yang telah berhasil melibat kaki Mahesa Wulung itu ke belakang. Sedangkan dari mulutnya keluar air liur karena selera laparnya sudah merangsang, ketika mencium bau tubuh manusia.

Tubuh Mahesa Wulung terseret ke arah mulut laba-laba raksasa yang telah menganga siap men- caplok tubuhnya bulat-bulat. Sekilas Mahesa Wulung seperti orang yang mimpi dan dilihatnya mulut serta rahang laba-laba itu semakin dekat dan dekat. Terlintas bayangan wajah sahabat-sahabatnya, lebih- lebih Pandan Arum yang sangat dicintainya, yang mungkin sebentar lagi akan tidak dijumpai kembali. Namun ketika ia menyebut nama Tuhan Yang Maha Kasih, seakan-akan pulihlah kembali kekuatan tu- buhnya.

Hampir-hampir lupa bahwa selama itu ia masih menggenggam pedang pada tangan kanannya. Dengan satu gerakan yang hampir-hampir tak bisa dipercaya, Mahesa Wulung membabat putus benang laba-laba yang melibat kakinya, disusul tubuhnya berjungkir balik ke belakang beberapa langkah. Gerakan tersebut sangat cepat, hingga laba-laba itu hanya sempat menerkam debu-debu serta kerikil yang berhamburan ke udara.

Karuan saja laba-laba itu meraung-raung karena untuk kesekian kalinya calon korbannya telah ber- hasil lolos dari cengkeramannya. Kedelapan kakinya serabutan memukul dinding-dinding goa hingga keadaan dalam ruangan goa itu menjadi penuh debu. Suara raungannya sangat hebat hingga memantul ke segenap dinding-dinding goa, bahkan sampai pula ke tebing Jurang Mati. Semua itu merupakan luapan amarahnya terhadap manusia yang perkasa, yang setiap kali berhasil lolos dari serangannya. Mahesa Wulung agak bingung melihat laba-laba itu meng- aduk-aduk debu. Ia yakin bahwa hal itu termasuk siasat dari binatang tersebut dalam menghadapi lawannya, seperti halnya seekor ikan gurita yang menyemburkan cairan tintanya untuk membingung- kan lawan-lawannya.

Pemandangan dalam goa itu nampak remang- remang oleh debu yang mengambang di udara. Satu- satunya yang masih tampak dari bentuk laba-laba itu ialah kedua matanya yang menyala merah berkedip- kedip, dan ini sudah cukup bagi Mahesa Wulung untuk mengetahui letak kedudukan binatang itu.

Keheningan yang sejenak dipecahkan kembali oleh jeritan bernada tinggi dan muncullah dari debu-debu itu kaki laba-laba yang menerkam langsung ke arah Mahesa Wulung. Saat ini pulalah yang dinanti-nant- ikan olehnya, maka secepat itu pula Mahesa Wulung memutar pedangnya memapaki terkaman kaki-kaki binatang itu.

Craak!

Mahesa Wulung merasa kalau pedangnya telah membentur sesuatu dan ternyata tiga benda yakni ujung dari kaki laba-laba itu kena terbabat putus. Cairan merah bening menyemprot ke tanah diiringi raungan hebat, disusul oleh kaki-kaki binatang yang lain menyambar dengan deras ke arah Mahesa Wulung.

Dengan memiringkan tubuhnya ke samping, Mahesa Wulung bermaksud menghindari serangan itu. Sayang sekali, sebuah kaki dari laba-laba ini berhasil membentur pundaknya, sehingga terasalah sebagai runtuhan gunung meletus yang menimpanya. Maka tubuhnyapun kemudian terasa terbanting ke dinding goa dengan hebat. Untungnya saja, selama bertempur menghadapi binatang itu, ia tak lupa sela- lu memasang ilmu meringankan tubuh, dan benturan itupun tak berakibat luar biasa, kecuali kepalanya yang agak nanar sesaat.

Sebelum laba-laba raksasa itu mengulangi serang- annya kembali, Mahesa Wulung lebih dulu menjejak- kan kakinya ke tanah, kemudian melesat ke depan ke atas laba-laba dengan putaran pedangnya.

Dalam saat yang sesingkat itu, pedangnya berpu- tar laksana baling-baling yang berdesingan, kemu- dian menyambar ke arah dua benda merah yang berkedip-kedip ganas raungan yang terhebat keluar dari mulut laba-laba itu, ketika olehnya terasa bahwa kedua matanya terbacok oleh senjata tajam.

Belum lagi laba-laba itu selesai merasakan sa- kitnya, Mahesa Wulung telah menerkam lehernya, kemudian menikamkan pedangnya ke kepala laba- laba. Tubuh binatang itu bergetar hebat dan tiba-tiba dari luka tikaman pedang Mahesa Wulung, meman- carlah sebuah asap hitam bergumpal yang menyem- bur ke wajah Mahesa Wulung. Karena tak mengira akan hal ini, Mahesa Wulung tak sempat meng- hindar.

“Hah, racun hitam!” jerit Mahesa Wulung setengah kaget, ketika asap hitam itu telah menyampok wajah- nya.

Seketika kepalanya merasa pusing, dan pandang- annya mendadak kabur. Bahkan tubuhnya merasa lemah, apalagi ketika binatang itu membanting-bant- ingkan tubuhnya ke tanah, Mahesa Wulung tak dapat menguasai dirinya lagi. Tubuhnya terpelanting ke tanah seketika.

Pandangan matanya yang masih cukup jelas itu sempat menatap tubuh laba-laba yang bergeluyuran sambil membentur-bentur dinding goa dengan me- raung-raung Sesaat kemudian laba-laba itu rebah ke tanah dengan bunyi berdebum.

Dalam saat yang sama pula Mahesa Wulung ber- tambah pusing dan rebahlah kepalanya ke lantai goa, tak sadarkan diri.

*** 2

Desah angin subuh menyusuri tebing-tebing Jurang Mati, mengusap membelai butiran-butiran embun yang menempel pada batu tebing dan daun- daun ilalang. Sedangkan sang purnama telah merendah di ufuk barat berselimut leretan-leretan mega putih sebening sutera menerawang, membuat terpesona siapa saja yang menatapnya.

Sementara itu pula di cakrawala timur, bintang panjer wengi memancarkan sinarnya yang terang diiringi oleh saputan-saputan warna merah, sebagai pertanda dari permulaan fajar yang menyingsing.

Kelelawar-kelelawar beterbangan kembali ke sarangnya setelah semalam suntuk mengembara mencari makannya. Angin pagi yang sejuk bertiup ke tebing Jurang Mati, singgah ke relung-relung dan setiap lipatan dari tebing jurang yang terjal dan curam. Dan bilamana kesejukan angin pagi mengalir ke dalam goa, di mana Mahesa Wulung tergeletak pingsan itu, terasalah pemuda ini mengerdip- kerdipkan matanya. Ternyata angin pagi yang sejuk dan bersih itu telah masuk ke dalam paru-parunya serta mencuci hawa racun laba-laba yang tersekap di situ, sehingga pulihlah kembali kesadaran Mahesa Wulung.

Perlahan-lahan ia mencoba duduk dan mengen- dorkan segala urat-urat tubuhnya yang terasa tegang dan kaku, akibat semua gerakan-gerakan yang telah dikeluarkan ketika bertempur melawan laba-laba raksasa.

Sambil bersila dan bersikap seperti orang berse- medi, Mahesa Wulung mengatur tata pernafasannya. Inilah ajaran Panembahan Tanah Putih dari Asem- arang yang dipergunakan untuk mengusir pengaruh jahat dari segala hawa racun yang telah merasuk ke dalam tubuhnya.

Pengaruhnya ternyata cukup mengagumkan. Sela- in tenaganya pulih, penglihatan serta dadanya terasa bersih dan lapang, seperti mendapat tenaga baru.

Di sudut dinding goa, terlihatlah bangkai laba-laba raksasa yang telah kaku seperti patung. Kalau ia mengingat segala peristiwa yang baru saja lewat, ketika melawan laba-laba raksasa itu, seperti hampir- hampir tak mau percaya. Tak menyangka bahwa dirinya mampu bertempur melawan binatang seganas itu.

Mahesa Wulung kemudian berdiri serta mengakhiri sikap semedinya.

“Hmm, mudah-mudahan aku berhasil menemukan jalan keluar dari Jurang Mati dan goa ini.” Berpikir Mahesa Wulung sambil berjalan menyelidiki keadaan goa, yang dindingnya tampak licin serta lembab.

Sejengkal demi sejengkal ia menyelidiki segenap ruangan goa itu. Memang ruangan yang tengah sangat lebar dan langit-langitnya pun tinggi pula. Beberapa lobang-lobang tembus tampak menghiasi langit-langit goa dan dari sanalah cahaya pagi jatuh ke lantai serta menerangi ruangan itu.

Dalam menyusuri dinding-dinding goa, Mahesa Wulung tiba-tiba menemukan sebuah lobang pada dinding goa yang tertutup oleh bongkah-bongkah serta gundukan-gundukan batu sebesar kepala kerbau, bahkan lebih daripada itu.

Dengan hati-hati ia mendekati lobang itu dan untuk beberapa saat ia merenunginya.

“Hmm, lobang pada dinding ini seolah-olah memang sengaja ditutup dengan timbunan-timbunan batu besar. Kentara dari bentuk batu-batunya yang masing-masing terlepas dan tidak ada hubungannya dengan dinding goa.”

Bertambah merenungi serta menyelidiki lobang dinding goa yang tersumbat itu, semakin timbul keinginan untuk mengetahui rahasia apakah yang tersembunyi di balik timbunan batu-batu tersebut.

Maka Mahesa Wulung pun semakin pula sibuk menduga-duga. Mungkin lobang dinding itu adalah jalan keluar dari Jurang Mati. Atau mungkin pula berisi binatang yang lebih dahsyat lagi daripada laba- laba raksasa yang telah mati di situ.

Tak lama kemudian, akhirnya Mahesa Wulung mengambil satu kesimpulan bahwa dinding goa yang tertutup oleh timbunan batu itu harus dibukanya, betapapun jadinya nanti! Karena itu Mahesa Wulung segera mengambil sikap kuda-kuda serta memusat- kan segala kekuatan lahir batinnya. Tangan kanan- nya mengepal dan ditekuk ke belakang sejajar telinga.

“Hyaat!” Glaaar!

Benturan dahsyat terdengar memekakkan anak telinga disusul runtuhnya bongkah-bongkah batu yang bertimbun-timbun menutupi lobang dinding di dalam goa itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali. Batu-batu tersebut pecah berhamburan. Dan tam- paklah kemudian sebuah lobang yang cukup luas setelah debu-debu yang berkepulan mengendap ke tanah.

Mahesa Wulung sangat terperanjat. Apa yang diduganya semula ternyata memang benar. Di balik lobang dinding itu terlihat sebuah ruangan lain yang tidak kalah lebarnya dengan ruangan yang pertama. Cepat-cepat Mahesa Wulung masuk ke ruangan itu. Di ruang ini pun terdapat beberapa lobang-lobang pada langit-langit goa, merupakan jalan masuk berkas-berkas sinar matahari ke ruangan ini.

Dan kemudian, sekali lagi, apa yang dilihatnya betul-betul membuat dadanya bergoncang hebat, seolah-olah runtuhnya sebuah dinding batu.

Di ruangan kedua ini, tepat di tengah-tengahnya terdapatlah sebuah kerangka manusia yang duduk bersila dalam sikap bersemedi. Di depannya, di dekat kakinya yang bersila itu terlihat sebuah kitab dengan sampul berwarna hijau tua. Sedang di sampingnya pula terlihat secarik kain bertuliskan dengan huruf- huruf merah tua.

Perlahan-lahan didekatinya tengkorak itu. Diam- diam di dalam hati, Mahesa Wulung menaruh iba dan belas kasihan terhadap manusia yang bernasib ma- lang, terkurung di dalam ruangan goa, hingga mati tak terurus.

“Siapakah gerangan manusia yang bernasib semalang ini?” bertanya Mahesa Wulung di dalam hati. Dan ketika ia telah benar-benar dekat dengan tengkorak itu, terlihatlah semuanya dengan jelas. Tengkorak mengenakan sebuah pakaian yang telah hancur, sedang pada jari manis tangan kanannya, ia mengenakan sebuah cincin permata berwarna kuning yang memancarkan sinar kuning berkedip-kedip menakjubkan.

Tentu saja Mahesa Wulung tertarik melihat cincin permata yang aneh itu, tapi ia tak berani berbuat sesuatu. Selama hidupnya baru kali ini ia merasa kagum menjumpai permata yang mengeluarkan sinar berkedip-kedip. Namun dari kesemuanya itu, yang paling menarik hatinya ialah lembaran kain yang bertuliskan huruf-huruf, merupakan sebuah surat. Maka dengan hati-hati diambilnya surat itu serta diperiksanya.

“Ah, surat ini sudah terlalu lama dan usang. Mungkin sudah berpuluh-puluh tahun usianya. Untunglah tulisan ini masih cukup jelas,” desah Mahesa Wulung sambil sekali lagi meneliti surat itu. “Hmm, warna merah tua ini, kalau tidak keliru tulisan ini dibuat dengan cairan darah! Sekarang baiklah aku mulai membacanya.”

Berkas-berkas sinar matahari pagi yang jatuh dari lobang langit-langit goa, telah membantu Mahesa Wulung dalam membaca surat itu, dan ternyata surat itu merupakan sebuah pesan:

“Kepada siapa saja yang menemukan surat saya ini, saya selalu berdoa agar Andika adalah seorang yang baik, berbudi luhur, seorang yang berjiwa ksatria pembela kebenaran dan keadilan! Dengan demikian maka Andika adalah satu-satunya pewaris dari diriku dan kitabku ini. Tetapi jika Andika sudah menjadi pewaris kitab itu, Andika mempunyai kewajiban yang harus dilaksanakan, jika Andika tidak ingin terkutuk olehnya. Andika, ketahuilah. Kewajiban Andika adalah meneruskan tugasku. Yaitu membinasakan seorang pendekar yang berilmu hitam, seorang yang kejam dan bermata setan! Dialah yang telah mengurungku di lobang dinding ini. Ketahuilah aku bernama Landean Tunggal. Semula dia adalah adik seperguruanku di Padepokan Gunung Merapi. Kami berguru kepada Panembahan Jatiwana sejak masa muda. Begitu eratnya persahabatan kami, sehingga kami sudah seperti saudara sekandung seibu sebapa.

Tetapi sayang, setelah bertahun-tahun lama ber- guru kepada sang Panembahan, maka ternyatalah bahwa kami mempunyai sifat yang berbeda, dan itu semua telah diketahui oleh sang Panembahan.

Kami berdua telah digembleng oleh Panembahan Jatiwana menjadi pendekar pilihan. Namun saudara seperguruanku itu yang bernama Umpakan telah berubah menjadi orang yang sombong karena kesak- tiannya. Tidak jarang ia memamerkan kesaktiannya kepada orang-orang agar mereka mau mengagumi dan memujinya. Bahkan lebih daripada itu, sang Panembahan sering menerima laporan dari orang- orang, bahwa Umpakan sering menyakiti orang-orang yang tidak mau tunduk kepadanya.

Hal tersebut sangat mengecewakan Panembahan Jatiwana, sehingga beliau lebih menaruh kepercaya- annya kepadaku daripada Umpakan. Maka beliau telah mempercayakan kepadaku sebuah daripada kitab-kitabnya yang berisi ilmu silat dan kesaktian dari tingkat atas. Tentu saja hal ini menimbulkan iri hati bagi Umpakan dan hal ini pun menjadi berlarut- larut serta merupakan bibit persengketaan antara Umpakan dengan diriku serta sang Panembahan juga.

Demikianlah pada suatu ketika, Umpakan telah bertengkar dengan sang Panembahan karena ia menggugat, mengapa bukan dirinya yang diserahi kitab itu. Dalam pertengkaran itu, aku pun berusaha menengahi. Tetapi rupanya Umpakan telah menaruh rasa dendam kepadaku, sampai-sampai maksud baikku tadi menimbulkan salah paham baginya. Peristiwa itu berkesudahan dengan satu pertengka- ran dan perkelahian yang hebat, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi antara saudara seperguruan.

Dan akhirnya kebenaran selalu menang di atas kejahatan. Begitu pula dengan si Umpakan, ia dapat kukalahkan dalam perkelahian itu.

Umpakan membawa kekalahan itu, lalu mengem- bara ke arah selatan, ke Laut Kidul dengan dendam- nya kepadaku yang tak pernah kunjung padam.

Beberapa tahun kemudian aku, mendapat kabar bahwa ia telah menggembleng dirinya di sana serta bergaul dengan orang-orang dari golongan hitam. Kesaktiannya menjadi lebih hebat, apalagi setelah ia menemukan sebuah topeng yang telah rusak di tepi pantai Laut Kidul. Topeng itu kemudian diperbaiki serta dipakainya, dan semenjak itu ia bergelar Ki Topeng Reges.

Ketika ia merasa bahwa dirinya cukup melebihi kesaktianku, Ki Topeng Reges telah mencariku untuk membalas dendam atas kekalahannya dahulu. Tetapi sementara itu aku telah pindah ke Jepara tanpa setahunya.

Tetapi akhirnya ia berhasil mengetahui tempat tinggalku dan kemudian mencuri kitab itu. Perbua- tannya yang kelewat batas ini telah menimbulkan amarahku, hingga untuk kedua kalinya aku terpaksa mengadu tenaga melawan Topeng Reges.

Kitab itu berhasil aku rebut dari tangannya, namun betapa terkejutku bila beberapa halaman terakhir yang memaparkan ilmu sakti Netra Dahana telah terobek lepas dari buku itu. Ilmu itu membuat seseorang mampu mengeluarkan pancaran api dari matanya yang sanggup membakar segala sesuatu di hadapannya. Dan cara-cara menghadapi ilmu sakti Netra Dahana itu, terdapat pula pada halaman- halaman kitab yang telah dirobek dan disimpannya.

Pada suatu hari ia berhasil mencegatku dan terjadilah pertempuran hebat. Ki Topeng Reges dalam waktu yang singkat telah berhasil mendalami ilmu Netra Dahana yang dahsyat itu. Saya merasa menye- sal bahwa selama ini, selama menyimpan kitab itu, aku belum pernah mempelajari bagian-bagian ter- akhir yang berisi ilmu Netra Dahana. Akibatnya, aku tak dapat mengatasi kesaktian Ki Topeng Reges yang mampu memancarkan lidah-lidah api dari kedua matanya, sehingga akhirnya aku melarikan diri dengan kitab itu, lalu bersembunyi di goa ini. Ki Topeng Reges masih mengejarku sampai ke tempat ini, dan menyuruhku untuk keluar dari lobang dinding goa persembunyianku. Ia memaksa agar aku menyerahkan kitab ini kepadanya, tetapi aku bertekad lebih baik mati daripada menyerahkannya. Permintaannya itu aku tolak mentah-mentah.

Karena kemarahannya itu ia telah menyumbat lobang dinding ini dengan batu-batu besar yang ber- bongkah-bongkah amat banyaknya. Begitulah aku telah terkurung di lobang dinding dan mungkin aku akan mati pada suatu ketika. Aku tak dapat lari dari tempat ini, apalagi kalau Ki Topeng Reges telah me- nempatkan laba-laba raksasa untuk menjaga lobang dinding ini.

Aku selalu berdoa bahwa Andika yang menemukan suratku ini, adalah seorang yang berbudi luhur. Maka terimalah kitabku ini dan juga cincinku yang bernama Galuh Punar. Ia akan menjaga Andika dari pengaruh racun dan bisa yang jahat. Nah, terimalah ini semua serta penuhilah kewa- jiban Andika, seperti apa yang telah aku pesankan.”

Selesai membaca pesan itu dada Mahesa Wulung bagai gunung yang mau meledak. Tidak mengira, kalau orang yang mati terkurung di tempat ini adalah perbuatan Ki Topeng Reges pula. Kekejaman serta kejahatan yang tiada terkira besarnya.

Mahesa Wulung melipat surat tadi kembali, dan segala pesan Landean Tunggal telah dipahaminya betul-betul. Ia berjanji di dalam dirinya untuk melak- sanakan pesan itu dengan sebaik-baiknya. Kalau mengingat pergulatannya melawan laba-laba raksasa itu, Mahesa Wulung mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena telah berhasil mengalahkan laba-laba itu. Seandainya saja ia yang kalah, pastilah nasibnya akan sama dengan Landean Tunggal yang mati di tempat terpencil tanpa seorang pun yang mengeta- huinya.

Dengan sangat perlahan-lahan Mahesa Wulung menjangkau tulang tangan Landean yang mengena- kan cincin permata Galuh Punar pada jari manisnya.

“Kerangka Landean tidak akan kubiarkan begini saja. Ia harus dikubur secara layak sebagai seorang pendekar yang berbudi luhur. Mudah-mudahan ar- wahnya akan lebih tenang,” pikir Mahesa Wulung. “Dan cincin ini akan kupelihara dengan baik, seperti yang telah dipesankan oleh Landean.”

Sesudah cincin itu berhasil dilolos dari tulang jari manis Landean, Mahesa Wulung menjadi kagum bercampur bangga apabila mengingat khasiat Galuh Punar. Tangan kanannya serasa bergetar memegang cincin itu. Ia tak mengira sama sekali bahwa ia kejatuhan untung dan rejeki yang tak ternilai harganya, serta tak terbayar oleh sejumlah uang. Ditambah lagi dengan kitab yang bersampul hijau tua itu, Mahesa Wulung benar-benar bersyukur. Hatinya berjingkrak ibarat anak kecil yang menerima kem- bang gula kelapa dari orang tuanya yang penuh rasa kasih sayang.

Setelah puas ia menikmati cincin Galuh Punar itu, segera dipakainya ke dalam jari manis sebelah kanan. Kemudian dicarinya tempat yang baik untuk mengu- bur kerangka Landean di dalam goa itu juga.

Dengan mempergunakan pedangnya, ia menggali lantai goa yang telah dipilihnya, setahap demi setahap. Dan menjelang tengah hari, selesailah sudah sebuah lobang pada lantai goa yang cukup dalam. Kemudian Mahesa Wulung mengangkat kerangka itu serta menguburnya ke dalam lobang tadi. Beberapa saat Mahesa Wulung berdiam diri di depan kuburan kerangka itu dan diam-diam di dalam hatinya berkata, “Nah, Kisanak Landean. Kini beristirahatlah Andika dengan tenang di tempat yang sesepi ini. Percayalah, segala pesanmu akan kulaksanakan dengan baik.”

Mahesa Wulung bangkit perlahan-lahan serta memungut kitab hijau yang masih terhampar di lantai goa. Ia segera meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke ruangan yang pertama.

Sementara itu bayangan sinar matahari semakin condong ke timur, satu pertanda kalau hari makin bertambah siang.

***

Sore itu Mahesa Wulung mengumpulkan ranting- ranting dan dahan kayu yang kering, untuk dibuat obor atau unggun di dalam goa. Sambil mencari dan mengumpulkan kayu itu di mulut goa serta tebing- tebing jurang yang curam, tak lupa juga ia meneliti keadaan tebing itu. Namun sampai saat itu ia tak menemukan jalan keluar dari jurang itu.

Maka iapun mengambil keputusan untuk semen- tara tinggal di dalam goa itu serta mempelajari kitab hijau peninggalan Landean Tunggal. Jika rasa haus dan laparnya timbul, ia cukup menampung air yang menetes dari dinding goa. Selain itu telur burung serta jamur-jamur yang banyak tumbuh di dalam goa cukup baik untuk sekedar pelepas laparnya. Tetapi ia harus hati-hati memilih jamur itu. Jika tidak, pasti akan termakan yang mengandung racun.

Mulai saat itu ia membuka kitab hijau serta membacanya dari halaman pertama.

“Ooh!” satu desisan yang mengandung arti keka- guman terluncur dari mulut Mahesa Wulung bila diketahuinya bahwa sesungguhnya kitab hijau itu termasuk kitab ilmu silat dan kedigdayaan yang berusia sangat tua.

“Hmm, apa yang tertulis ini?!” ujarnya seraya membaca halaman pertama dari kitab hijau. “Bagi insan yang berjiwa ksatria, berbudi luhur serta welas- asih terhadap sesamanya, maka ilmu ini kuberikan, untuk memberantas kejahatan dan kebatilan demi tegaknya kebenaran, keadilan serta kedamaian hidup bebrayan di marcapada ini. Mangayu hayuning ba- wana”.

Kata-kata yang mengandung harapan luhur itu benar-benar meresap ke dalam kalbu Mahesa Wu- lung, seperti mengalirnya udara segar yang mengalir ke dalam dada dan paru-parunya.

Pada halaman kedua, dimulailah tulisan yang berisi pelajaran serta ilmu kitab hijau lengkap dengan gambar-gambar petunjuknya yang cukup rumit dan sukar.

Meskipun demikian, dasar Mahesa Wulung mem- punyai otak yang cemerlang, maka betapapun sukar- nya ilmu itu akhirnya terpecahkan juga olehnya. Itu semua berkat ketekunan serta pengalamannya yang sudah banyak.

Hari demi hari dan minggu ke minggu tak terasa olehnya dalam mempelajari kitab itu. Jika ia sudah asyik mempelajari kitab itu, kadang-kadang sampai terlupa akan rasa lapar dan dahaganya.

Pada bagian permulaan dari kitab itu, Mahesa Wu- lung dengan mudah dapat mempelajari kesemuanya. Tetapi bila menginjak pada bagian tengah, ia merasa cukup bingung, sebab bukankah ia sendiri telah mempelajari ilmu silat Panembahan Tanah Putih dari Asemarang. Hingga dalam setiap geraknya kadang- kadang saling mempengaruhi antara ilmu silat Pa- nembahan Tanah Putih dengan ilmu silat kitab hijau dari Landean Tunggal. Hal ini yang merepotkannya.

Kalau ilmu yang telah dipunyai berunsur pada gerak pukulan maut serta kekuatan jasmani, maka ilmu silat kitab hijau ini berunsur pada kelincahan gerak yang hebat, di samping itu ia masih ingat bahwa bagian terakhir dari kitab itu berisi ilmu Netra Dahana yang telah dicuri oleh Ki Topeng Reges.

Begitulah, Mahesa Wulung terpaksa lebih teliti lagi dengan ilmu kitab hijau. Ia berusaha menggabung- kan antara ilmu Panembahan Tanah Putih dengan ilmu kitab hijau yang kini tengah dipelajarinya.

Tempat itu begitu sepi dan tenang, tak terdengar suara berisik ataupun jeritan kecuali bunyi gemericik tenang dari air sungai yang mengalir di Jurang Mati, jauh di bawah sana. Ketenangan dan kesepian tempat itu telah membantunya dalam memperdalam ilmu- nya. Ia telah bertekad, bahwa justru dalam kesepian, ia akan mengisi hidupnya dengan suatu perjuangan dan ketekunan mendalami ilmunya mati-matian. Lebih-lebih bila mengingat, bahwa lawan yang bakal dihadapinya itu adalah Ki Topeng Reges, satu pende- kar sakti yang telah membuat geger dunia persilatan.

*** 3

Pada suatu pagi, di dalam ruangan goa itu beter- banganlah kelelawar-kelelawar untuk mencari tem- pat-tempat serta relung-relung yang gelap. Mereka pada bersembunyi ketakutan karena mendengar deru angin yang menyapu udara di dalam goa dengan dahsyatnya bagaikan suara rajanya prahara.

Kelelawar-kelelawar itu mula-mula terkejut dan merasa takut bila deru angin itu bakal menghempas- kan serta menyapu mereka rontok ke tanah. Tetapi mereka merasa lega setelah deru angin itu berasal dari gerakan-gerakan Mahesa Wulung, salah satu penghuni goa yang telah dikenal oleh mereka. Kini kelelawar-kelelawar itu sibuk mengawasi tubuh Mahesa Wulung yang tengah melatih diri dengan ilmu silat kitab hijau.

Ternyatalah Mahesa Wulung dengan bersusah payah berhasil sedikit demi sedikit menggabungkan unsur-unsur gerak silat dari Panembahan Tanah Putih dengan unsur-unsur gerak dari kitab hijau itu.

Gerakan ilmu silat dari Mahesa Wulung memang menakjubkan sekali, hingga tak mengherankan kalau kelelawar-kelelawar pun sampai turut mengagumi- nya. Tubuhnya menjadi serupa burung branjangan, melenting dan berputaran di udara dengan gesitnya. Rasanya seakan-akan selembar daun kering, tubuh Mahesa Wulung merasa ringan, mampu bergerak tanpa menimbulkan bunyi kecuali desau angin yang terdengar akibat kecepatan gerak tubuhnya.

Dasar-dasar jaya kawijayan dan kesaktian telah berhasil diungkapkannya dari kitab hijau tersebut dengan baik. Sejak dari huruf awal sampai huruf terakhir dalam ilmu tata silat dan tata berkelahi telah dihafalkannya. Rangkaian kata-kata itu ia wujudkan ke dalam gerak, dan dari rangkaian gerak itu terben- tuklah keseluruhan ilmu silat kitab hijau yang dipela- jarinya.

Kesemuanya itu telah dicapai oleh Mahesa Wulung dalam waktu yang singkat. Jika orang lain, pastilah akan memakan waktu yang tidak kurang dari satu tahun, atau mungkin pula sampai lebih dari satu tahun.

Sekarang Mahesa Wulung dapat menggerakkan tubuhnya lebih leluasa. Kalau dahulu, setiap gerakan melesat dan melenting ke udara ia harus mengerah- kan ilmu meringankan tubuh, kini hal itu tidak perlu lagi.

Jika ia ingin melesat ke udara atau kemana saja, ia cukup menjejak tanah, maka tubuhnya akan mele- sat dengan entengnya bagai selembar daun kering yang terkena tiupan angin.

Saking asyiknya ia melatih ilmu silat kitab hijau itu, tak terasa kalau matahari semakin bergeser ke arah barat. Sejurus kemudian Mahesa Wulung ber- henti menggembleng dirinya bila sinar matahari yang jatuh ke ruangan goa itu telah condong ke barat.

Dari sekujur tubuhnya menetes-netes air keringat- nya yang keluar dari lobang-lobang kulitnya. Badan- nya terasa menjadi segar bagai disiram air embun. Ketika mengingat-ingat jurus gerakan silat yang telah dicapainya, ia tersentak kaget. “Seratus sepuluh jurus!” guman Mahesa Wulung setengah tak percaya. “Dan itu semua kukerjakan tanpa menimbulkan rasa capai. Luar biasa. Oh, sungguh beruntung aku dapat menemukan serta mempelajari kitab ini. Dan secara tidak langsung aku telah pula menjadi murid Landean Tunggal.”

Mahesa Wulung mengamat-amati tubuhnya yang kelihatan agak susut, tetapi urat-urat darah serta otot tubuhnya lebih nampak menjadi kukuh tak ubahnya akar tumbuh-tumbuhan yang semakin dalam merasuk ke dalam tanah, menjadikan batang tubuhnya semakin tegak perkasa.

Bila terasa kerinduannya akan langit yang biru bening, ia pun melangkah perlahan-lahan ke mulut goa untuk menatap langit yang mahaluas tak bertepi. “Langit yang cerah tak berawan hujan. Hmm, ini sudah sampai mangsa ke sanga. Begitu lama aku telah mendekam di dalam goa ini. Bagaimana dengan sahabat-sahabatku di Demak? Pasti mereka akan

merasa kehilangan aku di saat ini.

Mudah-mudahan Adi Pandan Arum dan Jagayuda dapat berhasil merebut catatan rahasia panah Braja Kencar dari tangan Rikma Rembyak.

Kalau aku telah mempunyai kewajiban menghan- curkan Ki Topeng Reges, maka terhadap si Rikma Rembyak muridnya itu, aku pun tak akan tinggal diam. Ia harus diselesaikan juga, sebab menyisakan benih-benih kejahatan akan sangat berbahaya akibatnya.”

Mahesa Wulung menatap tebing-tebing Jurang Mati yang curam. Kalau semula ia merasa ngeri meli- hat kecuraman itu, kini tidak lagi begitu. Malahan ia merasa kagum melihat tebing-tebing curam itu. Batu- batuan yang runcing dan berlekuk-lekuk bergemer- lapan ditimpa sinar matahari amat indahnya.

Di depan mulut gua itu Mahesa Wulung kembali mengheningkan cipta untuk melatih lagi ilmu silat- nya. Gerakan yang pertama hanya pelan-pelan saja kemudian jurus kedua dimulai disusul jurus ketiga, keempat dan selanjutnya dengan beruntun serta bertambah cepat.

Dengan satu loncatan indah, ia melambung dan mendarat ke tebing curam di atasnya. Tap! Kedua kakinya seolah-olah melekat pada tebing itu dan kembali ia melesat lagi serta berulang kali mendarat dan melenting ke udara.

Sepintas lalu ia seperti dapat berjalan pada tebing yang terjal dan tegak. Gerakannya sangat mirip kelin- cahan seekor kelabang. Berulang kali Mahesa Wulung melenting-lenting di antara tebing-tebing Jurang Mati dengan enaknya tanpa merasa kuatir sedikit pun akan terjatuh ke dasar jurang. Kalau dahulu ia memandang tempat ini sebagai sarang maut, kini menjadi lain lagi. Tempat itu baginya merupakan ge- langgang pembajaan diri, tak ubahnya Kawah Can- dradimuka tempat menggodok dan menggembleng Raden Gatutkaca di masa-masa mudanya.

Selagi Mahesa Wulung tengah enak-enaknya berloncatan di antara tebing-tebing Jurang Mati, di puncak tebing di sebelah atas terdengarlah benturan- benturan senjata yang beradu. Suara itu tak urung tertangkap oleh telinga Mahesa Wulung yang tajam biarpun ia tengah berloncatan kesana-kemari.

Seketika ia menatap ke atas ke ujung tebing jurang, dari mana suara benturan senjata itu terde- ngar. Satu pemandangan yang mengagetkan hati membuat Mahesa Wulung menghentikan latihannya. Di atas sana terlihat tiga bayangan  manusia yang bertempur mengerubuti satu bayangan manusia lain yang bertubuh ramping. Keempatnya bertempur de- ngan hebat diselingi dengan teriakan-teriakan perang yang melenting tinggi di udara.

Menyaksikan pertempuran itu, mau tak mau Mahesa Wulung menaruh kagum, terutama kepada bayangan manusia yang bertubuh ramping. Meski- pun ketiga lawannya berusaha memojokkan dirinya ke arah jurang, tetapi senantiasa ia berhasil lolos dari kepungan itu. Karuan saja ketiga lawannya terpaksa menahan gerakan tubuhnya. Kalau tidak, salah-salah mereka sendiri yang bakal tercampak ke Jurang Mati. Tergoncang dada Mahesa Wulung melihat baya- ngan manusia ramping itu. Pastilah ia seorang wani- ta. Rambutnya yang panjang tergerai bila ia melesat kesana-kemari dalam menghindari setiap serangan

ketiga lawannya.

“Hah, siapakah gerangan dia? Jangan-jangan Adi Pandan Arum sendiri?” desah Mahesa Wulung ikut kecemasan melihat pertempuran di tepi jurang itu.

“Baik, aku akan ke atas sana melihatnya. Aku tak senang melihat pertempuran yang main keroyokan, apalagi dia seorang wanita!” gumamnya seraya me- lesat ke tebing di sebelah barat. Setelah itu ia berlon- catan dari batu ke batu, menuju ke atas dengan enaknya.

Sementara itu, pertempuran di tepi jurang bertambah ramai. Ketiga pengepung gadis itu, yang seorang bersenjata pedang, sedang yang dua orang bersenjata tombak. Rupanya gerakan si gadis cukup tangguh sehingga sampai saat itu mereka belum berhasil mengalahkannya. Mereka karuan saja makin beringas melihat serangan mereka selalu gagal. Si gadis yang bersenjatakan tongkat kayu itu mampu memutar senjatanya bagaikan baling-baling yang selalu menutup dirinya dari setiap jangkauan senjata ketiga musuhnya. Melihat tongkat kayu itu, hati Mahesa Wulung mau tak mau merasa tertarik akan gadis itu. Ia merasa pernah melihat cara permainan tongkat kayu itu serta jurus-jurusnya sekaligus. Tetapi siapakah yang telah pernah menggunakannya? “Hmm, ya, ya. Aku ingat sekarang. Panembahan Tanah Putih dari Asemarang dan Pendekar Rikma Rembyak. Dua tokoh sakti yang selama ini menggu- nakan tongkat kayu sebagai senjata,” pikir Mahesa Wulung setengah berjingkrak. “Kalau begitu pasti gadis itu ada hubungannya dengan salah satu tokoh

dari keduanya.”

Habis berpikir, Mahesa Wulung mempercepat lon- catan-loncatannya ke atas menuju ke gelanggang pertempuran dan sekaligus mempersiapkan diri. Di luar dugaan, saat itu pula si gadis dalam keadaan makin terdesak oleh serangan-serangan dari ketiga pengepungnya.

Sebuah tebasan pedang berhasil dielakkannya dengan loncatan ke udara, berbareng pula dua ujung tombak lawannya yang lain siap menikam tubuhnya. Tentu saja si gadis merasa terperanjat setengah mati diserang seperti itu.

Maka dengan gerakan yang lincah ia secepat kilat merubah gerakannya. Tubuhnya mendatar rata, sehingga ketiga ujung senjata lawan hanya sempat mengenai angin. Ternyata gerakan gadis ini dilaku- kan secara tiba-tiba dan kurang sedikit cermat. Na- mun itu bukan kesalahannya, sebab gerak naluriah itu timbul demi keselamatan jiwanya yang terancam. Akibat gerakannya yang menyerempet-nyerempet bahaya itu, seketika keseimbangan tubuhnya hilang dan gadis itu terhuyung ke arah Jurang Mati. “Aahhh!” si gadis menjerit kecil ketika merasa bah-

wa tubuhnya terpelanting ke jurang, sedang ketiga lawannya melihat gadis itu serentak terkekeh-kekeh tertawa kesenangan.

“Ha, ha, ha, mati kowe!”

Tetapi mendadak ketawa mereka terbungkam se- ketika bagaikan orong-orong terinjak, manakala dari dalam jurang melesat bayangan tubuh manusia yang secepat kilat menyambar pinggang si gadis, dan men- daratkannya kembali di atas tanah.

Si gadis itu sendiri merasa terperanjat ketika pinggangnya merasa disambar sebuah tangan yang perkasa dan menyelamatkannya. Dengan cepat ia menoleh ke samping dan mau tidak mau ia terpaksa terpesona, bila orang yang menolongnya itu mempu- nyai wajah yang tampan dan ramah serta seleret kumis menghias bibirnya.

“Aah, siapakah Andika?” tanya si gadis. “Tenanglah. Aku akan membelamu dari ketiga

orang itu,” jawab Mahesa Wulung dengan manis. “Heei, siapa kamu!? Kurang ajar! Mengapa kamu

turut campur dengan urusan kami, keparat?!” teriak orang yang berpedang mengayunkan senjatanya penuh kesombongan ke arah Mahesa Wulung. “Rupa- nya kamu ingin merasakan pedangku ini, he?! Wah, minggirlah sebelum kebacut mengukur tenaga dengan Dongkol!”

“Eh, kau melarangku turut campur dengan urusan kalian? Rupanya kalian hanya berani bertempur melawan seorang gadis, dan lagi kalian ternyata golongan pengecut, sebab untuk melawan seorang gadis saja, kalian masih mau mengeroyoknya!” ujar Mahesa Wulung dengan tenangnya. Bagai disambar geledek, telinga Dongkol serentak merah membara demi mendengar ucapan Mahesa Wulung. Selama hidupnya, baru kali inilah ia men- dengar kata-kata dari mulut orang lain yang begitu lancang berani merendahkan dirinya. Dongkol meng- kerotkan giginya sambil merangsang Mahesa Wulung dengan putaran pedangnya ke arah kepala lawannya.

Sampai saat itu Mahesa Wulung masih saja berdiri tegak di samping si gadis, seolah-olah sebuah arca batu yang menonton sebuah pameran permainan pe- dang. Hal ini membuat Dongkol semakin takabur dan dikiranya sang lawan terpesona melihat ilmu pedang- nya. Maka tanpa menunda-nunda lagi Dongkol se- cepat kilat menyerbu ke arah Mahesa Wulung.

Wessss! Pedang Dongkol telah membabat ke arah kepala Mahesa Wulung, dengan kemantapan hati yang bulat serta bayangan pikirannya, bahwa seben- tar lagi kepala lawannya pasti akan terpenggal lalu menggelundung ke tanah tanpa sesambat. Tetapi di saat pedangnya hampir menyentuh leher lawannya, ia terpaksa kaget, sebab Mahesa Wulung cuma meng- geser kaki kanannya ke belakang serta memiringkan kepalanya sedikit. Gerakan itu memang sederhana, namun dilakukan dengan cepat hingga sukar diikuti oleh pandangan mata yang lumrah.

Dongkol menjadi semakin mendongkol hatinya bila pedangnya meleset dari sasarannya. Secepat kilat ia mengulang serangannya kembali lebih hebat ke arah Mahesa Wulung.

Sayang, untuk yang kedua dan ketiga kali pun serangannya senantiasa gagal, sebab setiap kali mata pedangnya sudah hampir mengenai sasarannya, seti- ap kali juga Mahesa Wulung cuma menggeser-geser sebelah kakinya saja. Hal ini terasa sebagai suatu ejekan luar biasa bagi Dongkol.

Jika saja ia mengetahui bahwa lawan yang kini dihadapinya itu telah menggembleng diri dengan kitab hijau dari Landean Tunggal, pastilah ia tidak akan sembarangan dengan dia. Dan memanglah, ka- lau orang lain saja merasa kagum terhadap gerakan- nya, Mahesa Wulung pun merasa kagum sendiri pula untuk setiap gerakannya. Terasa badannya mampu lebih cepat dan tangkas dalam menghindari se- rangan-serangan lawannya.

“Keparat, kau punya ilmu siluman!” umpat si Dongkol dengan marahnya.

Begitu selesai ucapannya. Dongkol mendadak me- ringis setengah menjerit. Sebab tahu-tahu tangannya yang memegang pedang telah kena tangkap oleh tangan kanan Mahesa Wulung sekaligus menghim- pitnya laksana sepasang tanggem baja yang tengah mengunci.

“Hiyuuung aduh, duh! Hee, kalian berdua jangan cuma ndomblong melihatku! Ayo cepat kau menye- rangnya!” seru Dongkol sambil mencucurkan keringat dinginnya.

“Hmm, kau tak perlu melolong-lolong minta tolong kepada kedua koncomu. Baiknya kau saja kembali kepada mereka! Haaet!!!” teriak Mahesa Wulung ber- bareng tangannya menghentak ke samping.

Akibatnya tak ampun lagi, tubuh Dongkol terpe- lanting deras ke arah kedua temannya yang bersen- jata tombak dan di saat itu tengah bersiap-siap me- nyerbu Mahesa Wulung.

Melihat kawannya melesat terpelanting ke arah mereka, kedua orang itu menjadi geragapan seketika. Betapa tidak? Mereka bersenjata tombak dengan kedua ujungnya tertuju ke arah Mahesa Wulung, sehingga sewaktu tubuh Dongkol melayang ke arah mereka, maka terpaksalah kedua orang itu meng- hindar jauh-jauh secepat kilat. Sedikit saja terlambat, pastilah tubuh si Dongkol akan menghunjam tersate pada tombak-tombak mereka.

Buuuk! Tubuh Dongkol terhempas ke tanah keras sambil meringis mengerang-erang. Biar begitu, itu masih terbilang untung kalau tubuhnya tidak remuk redam, sebab sebenarnya dia pun termasuk golongan jagoan, meskipun tingkat menengah saja.

“Setan alas! Kau menyombong kelewat batas di depan hidungku! Sekarang terimalah permainan tom- bak sepasang Jaya Yoga. Jebol dadamu kelakon!” seru kedua orang itu, lalu menyerang dengan tikaman- tikaman tombaknya yang penuh hawa maut.

Bagaikan gulungan-gulungan badai yang ganas, kedua mata tombak tersebut melibat tubuh Mahesa Wulung bertubi-tubi dan untuk inipun Mahesa Wu- lung selalu dapat menghindarinya dengan berlonca- tan kesana-kemari, kadang-kadang berjumpalitan di udara, tak ubahnya gerakan seekor kelabang.

Pada suatu saat dilihatnya sebuah pertahanan lawannya yang lemah, maka disertai gerakan manis, ia menerkam kepada salah seorang lawannya. Kedua tangannya laksana dua cakar burung garuda yang mengembang, kemudian menangkap tangkai tombak di sebelah ujungnya.

Tap!

Lawannya terpekik keheranan dengan hal itu, lalu cepat-cepat memutar tangkai tombaknya agar tombak itu dapat terlepas dari jari-jemari Mahesa Wulung. Di luar dugaan Mahesa Wulung mengayunkan sisi telapak tangannya ke atas tangkai tombak.

Kretak! Berbareng bunyi berderak memekakkan telinga, tangkai tombak itu patah disusul oleh gerakan tangan Mahesa Wulung yang menangkap bahu serta pergelangan tangan orang itu.

Kontan saja ia berteriak kepada temannya, “Kakang Yoga, bantu!”

Mendengar teriakan Jaya yang kini bergulat dengan lawannya, secepat angin ia menyerbu ke arah Mahesa Wulung. Mata tombaknya yang berkilat siap menjebol tubuh lawan dari samping! Tanpa dinyana di saat mata tombaknya hampir menghujam lambung kanan Mahesa Wulung, pendekar ini bergerak jauh lebih cepat seraya menggeser tubuh Jaya ke samping sebagai perisai.

“Haaaaghh!” teriakan pendek terlontar dari mulut Jaya sewaktu mata tombak Yoga menghujam pung- gungnya diiringi darah segar mancur kemana-mana.

Melihat tombaknya telah memakan korban ter- hadap temannya sendiri, karuan saja Yoga terpekik kaget setengah ketakutan. Tangkai tombak yang sekarang menancap ke punggung Jaya buru-buru dilepaskannya. Setelah itu ia melesat ke arah Mahesa Wulung, sekaligus mengirim pukulan ke arah lawan- nya.

Mahesa Wulung pun telah bersedia pula. Maka di saat pukulan lawan meluncur ke arahnya, ia segera memapakinya pula dengan kepalan tangan kanan- nya.

Blaaag!

Pukulan tangan Yoga berbentur dengan kepalan tangan Mahesa Wulung yang dirasanya seolah-olah membentur dinding karang tebal.

“Aduh!” Yoga menjerit hebat sambil menarik tangan kanannya kemudian dihembus-hembus de- ngan mulutnya, persis orang yang mau mendingin- kan kopi panasnya.

Memanglah tangan Yoga terasa panas dan sakit. Rasa ini cepat menjalar ke atas dan bila sampai ke kepalanya, seketika pandangan matanya nanar, dan berputaranlah semua benda-benda di depan mata- nya. Sejurus kemudian tubuhnya terjengkang ke tanah pingsan.

Di saat Mahesa Wulung telah merobohkan ketiga lawannya, sebuah bayangan manusia melesat me- ninggalkan tempat itu. Tentu saja Mahesa Wulung terkejut karenanya. Cekatan ia memburu ke arah bayangan itu. Si gadis! Ya, gadis yang telah ditolong itu berlari ke arah utara, tanpa berkata apa-apa. Apakah maksudnya?

Dalam beberapa saat setelah kira-kira mereka berkejaran sejauh dua puluh tombak, gadis itu kena ditangkap oleh Mahesa Wulung. Tetapi agak malang pula rasanya bagi si pengejar. Kakinya kena terantuk oleh akar pohon dan tak ampun lagi keduanya seketika jatuh bergulingan ke arah mata air yang jernih airnya. Untunglah pula bagi si gadis, karena Mahesa Wulung selalu melindungi kepalanya ketika bergulingan ke tanah, sehingga tidak sampai ia terluka terbentur batu-batuan.

Ketika keduanya terhenti bergulingan, si gadis yang tubuhnya menindihi si pendekar seketika ter- sipu-sipu dan bangkit, lalu duduk di tanah di samping Mahesa Wulung.

“Maaf aku telah menyusahkan Andika,” ujar si gadis dengan melirik ke samping.

“Eh, tak apalah. Akulah yang seharusnya malah meminta maaf, sebab Andika telah terjatuh karena kurang hati-hatiku,” ujar Mahesa Wulung. “Tapi mengapakah tadi Andika telah lari?!”

Si gadis tak segera menjawab, ia kelihatan cemas, dan ini membikin hati Mahesa Wulung semakin ingin mengetahui tentang diri si gadis.

“Sebenarnya aku tak mengingini seseorang terlibat dalam urusanku. Apalagi kalau ia mendapat susah karena aku.”

“Kalau aku bersedia menolong Andika, apakah salahnya?” kata Mahesa Wulung ramah.

“Mmm, syukurlah kalau Anda berpikir demikian,” ujar si gadis setengah tersenyum, membuat lesung pada pipinya, menambah wajahnya yang manis itu semakin menarik. “Sesudah berterima kasih kepada Andika, perkenalkanlah diriku. Aku bernama Andini Sari dari Pulau Mondoliko.”

“Aku Mahesa Wulung dari Demak,” kata Mahesa Wulung. “Dan siapakah mereka itu?”

“Mungkin Anda terkejut kalau mendengar bahwa sebenarnya orang-orang itu adalah sahabat-sahabat ayahku sendiri,” kata Andini Sari.

“Tapi mengapa mereka berusaha membunuh An- dika?” bertanya Mahesa Wulung. “Mungkin Andika telah bersalah.”

“Ya, sebab aku telah lari meninggalkan ayahku dari Pulau Mondoliko. Aku berselisih pendapat dengan ayahku karena perbuatan-perbuatannya yang tidak aku setujui, maka aku terpaksa lari dari- padanya. Dan ketiga orang itu agaknya telah diperin- tah oleh ayah untuk membunuhku atau menangkap- ku hidup atau mati.”

“Oh, agaknya ayahmu termasuk bilangan orang yang kejam dan berkemauan keras!” sela Mahesa Wulung.

“Tepat! Andika tidak perlu heran dengan dia. Bahkan akhir-akhir ini ia telah membunuh seorang Empu terkenal dari Demak untuk merebut catatan panah rahasianya yang bernama Braja Kencar!”

“Haaa? Jadi ayahmu yang membunuh Empu Bas- kara dari Demak!? Kalau begitu kau adalah anak si Rikma Rembyak!” tukas Mahesa Wulung geram.

“Heei, Andika telah mengenal nama ayahku? Jangan-jangan Anda pun termasuk bilangan sahabat ayah dan mau menangkap pula!”

“Persetan! Aku bukan sahabat ayahmu yang kejam itu. Malah sebaliknya! Aku adalah musuh utama pendekar gondrong itu,” Mahesa Wulung berkata setengah jengkel, karena dikatakan sahabat si Rikma Rembyak. “Ayahmu harus menebus dosa-dosanya karena pembunuhan itu!”

“Terserah atas pendapatmu itu. Tapi ayah pernah bilang bahwa ia berbuat itu untuk menolong Empu Baskara agar lebih cepat mati. Dengan begitu ia terbebas dari deritanya.”

“Oooh, agaknya Andika pun sependapat dengan pendirian si Rikma Rembyak terhadap kematian Em- pu Baskara?!” ujar Mahesa Wulung tajam.

“Cukup kata-kata Anda itu!” potong Andini Sari. “Aku hanya mengatakan apa yang telah dikatakan ayahku. Itu bukan berarti aku setuju dengan perbua- tan-perbuatannya.”

“Ternyata Andika pandai berkata-kata pula.”

“Ya! Dan sama pula dengan kepandaianku untuk bertempur melawan Anda!” Andini Sari menyindir.

“Tidak! Tidak! Aku tak bermaksud mengukur tenaga melawan Andika,” ujar Mahesa Wulung seraya memperlihatkan raut mukanya yang membayangkan kecemasan. Hal ini tentu saja membuat Andini Sari semakin jengkel. “Lekas, bersiap-siaplah menghadapi seranganku ini. Melawan atau tidak, kau akan merasakan keman- tapan pukulanku!” Andini Sari berkata serta lang- sung mengirimkan pukulan tangan kanannya menim- bulkan suara berdesing.

“Heei, Andika tidak bermaksud sungguh-sungguh, bukan?!” seru Mahesa Wulung kaget dan bersiaga. Ia cepat-cepat menyalurkan ajarannya Tugu Wasesa.

Duuk!

Pukulan tangan Andini Sari bersarang ke dada Mahesa Wulung dan terjadilah benturan cukup keras. Mahesa Wulung tergetar sedikit ke belakang dan ini membuat ia sibuk berpikir. Apakah gadis itu memukul dengan kekuatan penuh atau hanya dengan sebagian kecil tenaganya?

Sedang si gadis melihat lawannya tahan terhadap pukulannya, tanpa banyak berpikir segera mengulang serangannya kembali dengan satu pukulan deras yang tak kalah hebat dengan pukulan pertama.

Untuk inipun Mahesa Wulung tak berusaha mengelak, sebab ia juga mempunyai pikiran lain, sampai di mana tenaga pukulan gadis ini?

Andini Sari terperanjat bila pukulannya yang kedua pun tanpa membawa hasil. Dalam batin ia terpaksa mengakui, bahwa lawannya ini mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari dirinya. Dan bila ia menatap wajah Mahesa Wulung yang tersenyum- senyum itu, hatinya jadi jengkel. Ia yakin dan merasa dipermainkan oleh lawannya. Maka seketika wajah- nya membara merah.

Bila sudah begitu, serentak bibirnya yang merah basah itu tampak menjadi semakin merah membuat hati Mahesa Wulung geragapan. “Andini Sari! Sudah! Sudah! Hentikan pukulanmu. Aku terima kalah saja!” “Tidak!” Andini Sari berseru. “Hiih, ini terimalah lagi pukulanku!”

Kemudian pukulan ketiga pun mendarat di dada Mahesa Wulung. Tetapi sekali lagi gadis ini terpesona melihat sikap lawannya yang tak mau mengelak. Hatinya menjadi bertambah jengkel separo kagum terhadap Mahesa Wulung. Pukulan berikutnya me- nyusul dan ketika lawannya masih saja tersenyum- senyum, si gadis pun melayangkan pukulannya kem- bali susul-menyusul dan lama-kelamaan bertambah pelan dan semakin pelan, lalu gadis ini surut ke belakang dari lawannya serta berpaling membelaka- ngi Mahesa Wulung.

Mahesa Wulung masih belum tahu dengan sikap Andini Sari. Mendadak saja telinganya menangkap isakan-isakan tangis yang kecil dan ternyatalah gadis itu menutupkan tangannya ke muka, menangis.

Mahesa Wulung bingung seketika mendengar isakan-isakan Andini Sari, maka ia segera mendekati gadis itu.

“Andini, Andini Sari, maaf aku telah membuatmu sakit hati. Aku tak bermaksud demikian.”

Si gadis yang mendengar ucapan lembut penuh perasaan tulus itu, hatinya agak terhibur. Lebih-lebih ketika terasa tangan sang pendekar mengusap pun- daknya. Sesaat keduanya diam membisu, terbenam dalam angan-angannya sendiri-sendiri.

Sekonyong-konyong kesenyapan itu dipecahkan oleh satu bayangan yang melesat dari semak-belukar yang rimbun, membuat Mahesa Wulung dan Andini Sari terkejut.

“Oooh, Kakang Mahesa Wulung!” seru bayangan itu. “Syukur kau masih hidup, Kakang!”

Andini Sari yang mendekap Mahesa Wulung kare- na kagetnya, demikian melihat siapa bayangan yang muncul di depan mereka itu, cepat-cepat melepaskan dekapannya.

“Adi Pandan Arum!” seru Mahesa Wulung kaget bercampur girang, karena gadis itu tiba-tiba muncul di depannya.

Sedang Andini Sari melihat gadis yang baru datang itu membuat hatinya sibuk berkata-kata sendiri, “Oh gadis itu. Keduanya nampak telah akrab. Mungkin ia adalah tunangan Pendekar Mahesa Wulung ini. Biar- lah aku berlalu saja dari tempat ini!”

“Nah, selamatlah kalian berdua. Selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi!” ujar Andini Sari sambil meloncat meninggalkan tempat itu. Gerakannya sangat cepat dan sebentar saja tubuhnya lenyap di sebelah utara di sebuah jalan rintisan kecil di balik batu terjal yang menjulang tinggi.

“Andini Sari tunggu!” teriak Mahesa Wulung, tapi gadis itu tak menggubrisnya.

“Siapakah dia, Kakang Wulung?” ujar Pandan Arum. “Dan itu tubuh-tubuh yang menggeletak di sana?”

“Gadis tadi adalah Andini Sari. Ia kutemukan tengah bertempur melawan ketiga orang ini, Adi. Demikianlah ia akhirnya kutolong dan ternyata Andini Sari adalah puteri si Rikma Rembyak!”

“Haaa?! Putri pendekar gondrong itu? Hmmm, cantik juga dia, ya, Kakang?” ujar Pandan Arum sambil mencuri pandang ke arah Mahesa Wulung, membikin pendekar ini trataban hatinya.

“Betul katamu itu, Adik. Tapi Pandan Arum pun tak kalah dengan dia.”

“Ahh, Kakang Wulung ini. Sekarang aku ingin mendengar lelakon Kakang, sampai dapat lolos dari Jurang Mati ini?” pinta Pandan Arum.

“Baik akan kuceritakan lelakonku pada Adi. Nah duduklah disini,” ujar Mahesa Wulung mempersilah- kan Pandan Arum duduk di sebuah batu besar di dekatnya.

Lalu berceritalah ia mulai terjatuh ke jurang kemudian menemukan goa serta berkelahi melawan laba-laba raksasa, sampai akhirnya ia menemukan kitab milik Landean Tunggal. Kesemuanya itu di- dengar oleh Pandan Arum dengan penuh perhatian, seakan-akan ia sendiri turut serta di dalam peristiwa itu. Wajahnya tampak tegang ketika mendengarkan pertempuran Mahesa Wulung melawan laba-laba raksasa, dan juga ia merasa kasihan mendengar kisah tentang Landean Tunggal serta kematiannya.

“Demikianlah kisah lelakonku ini, Adi Pandan. Untunglah aku membawa cambuk Naga Geni ini. Kalau saja tidak, mungkin sekarang ini kita tak akan berjumpa lagi,” kata Mahesa Wulung. “Dan sekarang cobalah Adi Pandan berceritera tentang pengejaran terhadap Rikma Rembyak. Dapatkah catatan panah Braja Kencar itu berhasil engkau rebut daripadanya?” “Ah, ketiwasan, Kakang Wulung! Pengejaran itu gagal sama sekali. Jangankan merebut catatan, sedang menyentuh tubuhnya saja tak berhasil. Rikma Rembyak ternyata mempunyai ilmu lari yang hebat, sehebat ilmu lari Sapi Angin,” Pandan Arum berhenti sejenak berceritera sambil menarik napas panjang seperti hendak mengatasi rasa kesalnya. “Pengejaran terus berjalan, namun tiba-tiba Rikma Rembyak menyabetkan tongkat kayunya ke belakang, sehingga mengenai Kakang Jagayuda yang kemudian terjatuh ke tanah. Begitulah, maka pengejaran itupun gagal dan Kakang Jagayuda terluka ringan untuk beberapa saat.”

“Hmmm, memang hebat si Rikma Rembyak,” de- ngus Mahesa Wulung setengah mengepal-ngepalkan tinjunya karena gemas.

“Sungguh berat penanggungan kita, Kakang. Aki- bat dari kegagalan tugas kita itu, maka pimpinan armada Demak telah mengambil satu keputusan, bahwa kita harus merebut kembali catatan panah rahasia Braja Kencar itu, dalam waktu tiga ratus hari. Jika itupun gagal pula, maka pimpinan armada Demak dengan sangat menyesal akan mencabut kedudukan kita sebagai perwira dari armada Demak.” “Haaa?! Memecat kita dari armada Demak?” ulang Mahesa Wulung dengan terkejut, dan sejenak ia berdiam diri merenungi ceritera Pandan Arum tadi. “Hehh, waktu tiga ratus hari cukup banyak, tetapi apakah cukup lamanya untuk membekuk Ki Topeng Reges dan Rikma Rembyak? Jika sampai dipecat dari keperwiraan armada Demak, ahh, betapa maluku. Di

mana mukaku ini harus kusembunyikan?” Merenungi nasib dirinya yang begitu malang itu,

Mahesa Wulung merasakan satu pergolakan dalam rongga dadanya. Jiwa ksatrianya menggelegak timbul karena mendapat tantangan yang begitu berat. Sekali lagi ia lebih dalam memikirkan tugasnya yang gagal.

“Adi Pandan, aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah Adi berikan kepadaku,” ujar Mahesa Wulung memecah kesunyian yang men- cengkam. “Apakah Adik masih sanggup mendampi- ngiku dalam tugas ini?”

Dalam beberapa saat Pandan Arum tidak segera dapat mengucapkan sepatah kata pun, malahan ia menundukkan kepalanya ke bawah. Kepalanya dipenuhi oleh bayangan-bayangan akan peristiwa masa yang lalu. Kalau saja ia tak dapat menekan perasaannya, pastilah ia akan terisak-isak menangis. Mungkinkah kegagalan tugas Mahesa Wulung itu disebabkan oleh campur tangannya? Pertanyaan itu berkali-kali timbul tanpa terjawab olehnya.

Akhirnya Pandan Arumpun berkata dengan nada bergetar setelah sesaat bergulat dengan pikirannya sendiri, “Kakang Mahesa Wulung, aku akan selalu membantu Kakang dalam tugas yang seberat apapun. Maka tugas ini akan kita selesaikan berdua. Bukan- kah begitu, Kakang?”

“Yah, terima kasih Adi. Mudah-mudahan kali ini bintang kita lebih cemerlang,” kata Mahesa Wulung dengan lega.

“Kakang Wulung, aku kira lebih baik kita berang- kat sekarang meninggalkan tempat ini,” sambung Pandan Arum. “Ke timur ini ada sebuah jalan yang melingkari kaki Gunung Muria sebelah timur. Dan disana menurut Kakang Jagayuda terdapat sebuah rumah tua di dekat reruntuhan bekas candi yang didiami oleh Ki Topeng Reges.”

“Jadi di sanalah Ki Topeng Reges bercokol,” desis Mahesa Wulung pendek. Ia lalu teringat akan tempat itu, yang oleh orang-orang di kaki timur Gunung Muria dianggap sebagai tempat hantu dan dedemit bersarang. “Nah, sebelum berangkat, biarlah aku turun ke goa di bawah sana untuk mengambil kitab hijau peninggalan Landean Tunggal.”

“Silahkan, Kakang. Aku akan menunggumu di sini saja,” kata Pandan Arum sambil tersenyum manis, tertuju kepada Mahesa Wulung.

Belum lagi ia selesai tersenyum, tiba-tiba dilihat- nya Mahesa Wulung meloncat ke tebing Jurang Mati serta dengan enaknya berloncatan turun ke bawah tak ubahnya gerak seekor belalang. Karuan saja hatinya berdebar setengah kagum melihat gerakan Mahesa Wulung yang hebat itu dan sebentar saja bayangan tubuhnya telah lenyap di bawah sana, di kegelapan dasar Jurang Mati.

***

Mahesa Wulung sebentar saja telah tiba di mulut goa. Sejenak ditatapnya tempat itu dengan rasa haru, mengingat bahwa di sinilah ia dapat menggembleng dirinya lebih matang, daripada yang sudah-sudah.

Tempat ini sebentar lagi akan ditinggalkannya. Meskipun ia tidak lama tinggal di goa itu, namun hatinya tidak akan melupakan sepanjang hidupnya.

Kemudian dengan langkah yang mantap ia memasuki goa itu, serta langsung menuju ke ruang tengah, tempat ia berlatih serta mempelajari kitab hijau Landean Tunggal sehari-hari.

Kitab itu terletak di atas sebuah batu cincin ber- alaskan tikar anyaman kasar dari daun ilalang yang dibuat oleh Mahesa Wulung sendiri. Sesudah Mahesa Wulung mengeluarkan selembar sapu tangan ber- warna kuning dari ikat pinggangnya, kitab tersebut dipungutnya serta dibungkus dengan rapi dan kemudian dimasukkan ke dalam bajunya.

Mahesa Wulung selanjutnya melangkah ke ruang sebelahnya tempat ia menanam kerangka Landean Tunggal. Sekali lagi ia menatap timbunan batu itu, sedang dalam batin ia mengenang serta berdoa untuk Landean Tunggal yang telah tiada. Sesudah itu ia cepat-cepat berjalan keluar, sebab ia tidak ingin membuat Pandan Arum terlalu lama menunggu di atas.

Tiba-tiba di saat ia menginjak pintu ruangan itu, didengarnya bunyi berdesir halus dari arah ruang sebelahnya yang kegelapan. Biarpun bunyi itu hanya lamat-lamat saja, tapi dapat ditangkap oleh telinga- nya yang tajam! Mahesa Wulung buru-buru melekat pada dinding goa.

Memang, di tempat gelap itu terlihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang amat cepat. Karuan saja hati Mahesa Wulung berdesir hebat bukan main, maka cepat-cepat ia merunduk dan mendekati tempat itu. Tapi betapa kecewanya bila tiba di situ, dilihatnya tak seorang pun tampak di tempat itu.

Mahesa Wulung tak sampai di situ saja penyelidi- kannya, sebab ia yakin bahwa matanya telah benar- benar menangkap gerakan tubuh manusia di sini. Segera ia berjongkok serta meraba-raba lantai goa itu dengan jari-jari tangannya. Sesaat kemudian ia menggumam.

“Jah! Tak keliru lagi. Ini adalah jejak-jejak baru dari kaki manusia. Tapi kemana dia berada?”

Selagi ia bertanya-tanya di dalam hatinya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara orang tertawa lunak. Perlahan-lahan sekali suara itu, tetapi jelas dan dekat di sekitarnya. Ketawa yang lunak itu membuat darah- nya berdesir lebih hebat.

Berkat pemusatan inderanya yang sempurna, da- patlah ia mengetahui sumber dari suara ketawa yang lunak tadi kira-kira di arah belakangnya. Oleh sebab itu ia cepat meloncat membalikkan diri serta bersiaga penuh. Dan kemudian alangkah terkejutnya bila di hadapannya berdiri sesosok tubuh manusia yang berada di tempat kegelapan.

“Maaf Kisanak, kalau aku telah membuatmu kaget,” terdengar suara lunak dari orang itu.

Mahesa Wulung tak segera menjawab, kecuali ia mengawasi orang itu dengan seksama dari ujung jari kakinya sampai ke ujung rambut kepalanya. Tubuh orang itu mempunyai potongan yang tegap perkasa. Sayangnya, wajahnya kurang jelas, karena ia berdiri di tempat gelap.

“Kisanak, apa maksudmu datang kemari?” berta- nya Mahesa Wulung setengah curiga.

“Aku tak sengaja datang ke tempat ini,” orang itu berkata. “Dan tidak tahu bahwa Kisanak tinggal di tempat ini. Maka Andika tak perlu gusar bila bertemu aku di sini. Tak apa-apa. Aku adalah orang kabur kanginan tak bernama. Nah, sekarang biarlah aku berlalu dari tempat ini.”

“Tunggu dahulu! Kisanak harus menyebutkan namamu dulu sebelum berlalu dari tempat ini,” Mahesa Wulung berkata dengan mantap.

“Tidak! Aku sudah berkata kalau aku tanpa nama,” desis orang itu. “Tak seorang pun berhak memaksaku menuruti kehendaknya!”

“Hmmm, kalau bandel, akulah yang akan memak- samu,” balas Mahesa Wulung membuat orang itu menggeram, tapi kemudian orang tersebut tertawa lunak.

“Heh, heh, heh, jangan coba menakut-nakuti aku. Rupanya dengan gertak sambalmu itu, kau bermak- sud menutupi kegentaranmu. Suaramu tadi gemetar, Kisanak. Heh, heh, heh,” sekali lagi orang itu tertawa lunak.

Bagi Mahesa Wulung, kata-kata orang itu terasa sebagai sambaran petir di telinganya.

“Kurang ajar. Kau menghinaku kelewat batas, Kisanak! Hanya saja aku ingin tahu apa kata-katamu itu seimbang dengan tenaga serta keperwiraanmu?”

“Heh, heh,   heh,   apakah   Andika   bermaksud menantangku?” ujar orang itu tenang-tenang. “Menantang, sih tidak. Hanya ingin aku mencicipi

keperwiraanmu!” kata Mahesa Wulung.

“Bagus, bagus! Sekarang terimalah salam perkena- lanku!” seru orang itu dengan menggeram mengirim- kan pukulannya ke arah Mahesa Wulung.

Untungnya Mahesa Wulung cepat-cepat sudah ber- tindak, begitu lawannya itu melancarkan serangan- nya, begitu pula ia memiringkan tubuhnya menghin- dar.

Wusss! Angin pukulan lawan berdesau nyaring. Cukup bagi Mahesa Wulung untuk mengukur sampai di mana kekuatan lawan.

Begitu ia berhasil menghindari serangan itu, ganti Mahesa Wulunglah yang melancarkan pukulan dah- syatnya.

“Hyaat!”

Namun alangkah terkejutnya, kalau lawannya itu untuk menghindari serangannya telah membuat satu gerakan yang membuatnya berdesir hati. Lawannya tadi telah meloncat mundur sambil berjongkok, sehingga dirinya terbebas sama sekali dari pukulan tangan Mahesa Wulung.

Melihat lawannya lolos, ia tak tinggal diam. Segera dikejarnya orang itu dengan serangannya yang bergu- lung-gulung laksana ombak badai siap menghempas- kan setiap perintang.

Demikianlah, maka keduanya tenggelam dalam perkelahian hebat di ruangan goa yang cukup luas itu. Terkadang keduanya sambar-menyambar di uda- ra laksana dua ekor rajawali yang tengah berlaga dan sebentar lagi berubah seperti dua ekor banteng yang ketaton saling mengukur tenaga

Mahesa Wulung yang sekarang bukan Mahesa Wulung yang dahulu. Berkat ilmu kitab hijau warisan dari Landean Tunggal itu, telah membajakan dirinya menjadi manusia yang kuat jasmani dan rohaninya. Tubuhnya bergerak bagaikan bayangan yang melon- cat kesana-kemari, ringan seringan daun kering serta lincah dalam menghindari setiap serangan lawan.

Rupanya lawannya itupun bukanlah orang yang sembarangan. Ia pun mampu bergerak selincah anak kijang yang menari-nari keriangan di padang rumput hijau. Bahkan sambil berloncatan kesana-kemari itu, lawan Mahesa Wulung tak lupa mengeluarkan suara ketawa yang lunak.

Pertempuran berjalan semakin seru, keduanya belum ada tanda-tanda akan kekurangan tenaga. Sesudah berjalan puluhan jurus, kedua pendekar itu menghentikan pertempurannya sejenak. Keduanya masing-masing mengatur nafasnya. Lawan Mahesa Wulung rupa-rupanya ingin cepat-cepat menyelesai- kan pertempuran ini, karena tiba-tiba saja ia meraba hulu kerisnya dan menghunusnya sekali.

Mahesa Wulung pun tak tinggal diam, bila melihat lawannya menghunus senjata. Maka cepat-cepat ia melolos cambuknya dari ikat pinggang.

“Kiai Naga Geni!” desis lawan Mahesa Wulung serta surut ke belakang menatapi cambuk pusaka yang mengeluarkan sinar biru kehijauan.

“Hah, Kiai Sangkelat?!” seru Mahesa Wulung lirih ketika keris di tangan lawan itu mengeluarkan sinar buram seperti bara api.

Kedua pendekar itu sesaat termangu-mangu. Masing-masing telah menggenggam senjata pusaka yang ampuh. Meskipun Mahesa Wulung belum me- ngenal siapa yang menjadi lawannya itu, tapi ia sudah dapat menebak kalau orang itu juga orang dari lingkungan istana Demak. Sebab keris Sangkelat termasuk pula pusaka ampuh dari Demak. Keris itu yang dibuat oleh Empu Supa dari Sedayu terkenal ampuh luar biasa. Sedangkan orang itu yang melihat pusaka cambuk Naga Geni di tangan Mahesa Wulung juga merasa kagum rupanya dengan senjata lawan- nya.

“Hmm, kita masing-masing memiliki pusaka-pusa- ka dahsyat. Nah, aku usulkan kepada Kisanak agar kita menyimpan kembali senjata kita masing-masing. Marilah pertempuran ini kita lanjutkan tanpa meng- gunakan senjata-senjata pusaka kita?!” terdengar orang itu berkata dengan tenangnya sambil menya- rungkan kembali kerisnya.

“Baik, aku pun sependapat!” Jawab Mahesa Wu- lung serta mengikatkan kembali cambuk Naga Geni ke ikat pinggangnya.

Setelah itu bergetarlah kembali udara goa itu oleh pertempuran kedua pendekar gemblengan. Keduanya terlibat dalam lingkaran pertempuran hebat. Batu- batu kerikil serta debu berhamburan kesana-kemari seperti diaduk oleh angin puyuh, sehingga perang tanding itu merupakan perang tanding yang dahsyat. Dalam pada itu, tiba-tiba Mahesa Wulung melihat lawannya mengambil sikap pukulan maut dengan menekuk kaki kirinya ke depan. Oleh sebab itu iapun tak akan tinggal diam begitu saja menghadapi aji pukulan lawannya yang mungkin amat dahsyat. Maka Mahesa Wulung pun mengerahkan segenap ke- kuatan lahir batin yang disalurkan lewat sisi telapak tangannya, untuk menurunkan aji pukulannya ‘Lebur Waja’.

Sejurus kemudian kedua pendekar itu saling berloncatan menyerbu dan satu letupan menggelegar memekakkan telinga terdengar memenuhi ruangan goa, apabila kedua aji pukulan maut itu saling berbenturan satu dengan yang lain.

Begitulah bila benturan itu terjadi, akibatnya cukup hebat. Kedua pendekar itu masing-masing terpental surut ke belakang beberapa langkah untuk kemudian jatuh terduduk dengan tubuh yang lemas bagai dilolosi otot dagingnya, sementara dada-dada mereka terasa sesak bagai terhimpit oleh timbunan bongkah-bongkah batu.

Keduanya saling mengamati dengan teliti, tapi Mahesa Wulung masih belum mengenal dengan jelas akan wajah lawannya, kecuali hanya remang-remang saja. Sayang, kegelapan ruangan goa itulah yang menghalang-halangi Mahesa Wulung untuk mengenal wajah orang itu lebih lanjut. Namun dari pantulan- pantulan sinar matahari di luar goa dapatlah Mahesa Wulung mengenali perawakan lawan serta guratan- guratan wajahnya yang menunjukkan ketampanan.

Hati Mahesa Wulung terpaksa bergetar ketika merasakan kedahsyatan pukulan dari lawannya yang berkekuatan luar biasa.

“Aji Lembu Sekilan!” desisnya gemetar.

Tapi lawannya itupun bergumam keheranan, “Hmmm, aji Lebur Waja dari Asemarang yang cukup sempurna! Untunglah aku mempunyai Lembu Seki- lan. Kalau tidak, pastilah tubuhku terbakar hangus atau remuk!”

Sesaat kedua orang itu terdiam seolah-olah tengah merenung serta merasakan akibat benturannya dua ilmu dahsyat. Masing-masing diam membisu tapi sibuk pula mengatur pernafasannya yang sesak.

Selagi Mahesa Wulung masih mengatur pernafasan serta melenyapkan rasa nyeri pada rongga dadanya, tiba-tiba saja lawannya itu telah bangkit lebih dahulu dari duduknya. Hal ini membuat Mahesa Wulung terpaksa keheranan setengah kagum melihat daya tahan lawannya yang begitu hebat.

Orang itu sambil berdiri masih tak ketinggalan memperdengarkan ketawa lunaknya sambil berkata pelan, “Heh, heh, heh, Andika cukup hebat mengua- sai ilmu pukulan Lebur Waja. Terus terang aku merasa kagum dan terimalah salamku. Aku yakin Andika akan berhasil menyelesaikan tugas-tugas Anda.”

“Terima kasih atas pujian Kisanak. Tapi kenyata- annya Kisanak lebih hebat daripadaku. Aku pun mengagumimu,” ujar Mahesa Wulung yang masih duduk di lantai goa. “Tapi siapakah Kisanak dan mengapakah Kisanak dapat mengenal ilmu pukulan si Lebur Waja?”

“Heh, heh, heh, Andika tak perlu heran. Aku memang suka mengembara dan muncul di tempat- tempat yang tak terduga, seperti yang Andika saksi- kan sekarang ini.” Terdengar kata-kata orang itu halus dan ramah. “Biarlah untuk sementara Andika tidak perlu mengenal namaku dulu. Lain kali pastilah kita akan bertemu pula.”

Orang itu kemudian melangkah keluar dari ruang- an itu dan berjalan ke arah relung-relung terowongan goa yang lebih dalam dan gelap. Tapi kata-katanya masih terdengar lagi oleh telinga Mahesa Wulung.

“Nah, selamat tinggal Andika. Sampai bertemu lain waktu.”

“Terima kasih, Kisanak,” sahut Mahesa Wulung pelan. Kembali ia menebak-nebak. Siapakah orang itu yang begitu hebat mempunyai daya tahan serta keperwiraan dengan tingkatan sempurna? Tiba-tiba sebuah percikan pikiran timbul, jika ia mengingat kembali aji pukulan Lembu Sekilan serta keris Sang- kelat yang dipakai oleh lawannya.

“Hhhhh, apakah dia? Ooooh tak mungkin. Tapi mungkin pula dia! Ya, jika tidak keliru dialah Mas Karebet si Jaka Tingkir dari Demak. Hanya dialah yang mempunyai ilmu serta pusaka itu dan hanya dia pulalah yang sanggup meloncat mundur sambil berjongkok.”

Bila dadanya sudah tidak merasa sakit serta nafas- nya telah lancar kembali, Mahesa Wulung cepat-cepat berdiri. Tampak olehnya tempat sekeliling yang penuh batu-batu berserakan akibat pertempurannya melawan pendekar tanpa nama itu.

Sesudah mengibas-kibaskan debu dari pakaian- nya, ia segera melangkah keluar menuju ke arah mulut goa tempat ia masuk semula. Dan dengan sekali menggenjotkan kakinya ke tanah, Mahesa Wulung segera berlentingan meloncat-loncat di tebing jurang menuju ke atas.

Kedatangannya segera disambut oleh Pandan Arum dengan wajah kecemasan.

“Ooh mengapa begitu lama mengambil kitab itu, Kakang? Aku sudah sangat kuatir jangan-jangan Kakang dicegat pula oleh laba-laba raksasa.”

Mendengar kata-kata Pandan Arum itu, ia cuma tersenyum manis. Ia sengaja tidak akan menceri- takan pertemuannya dengan pendekar asing itu.

“Tidak, Adi. Tak ada lagi laba-laba raksasa. Yang ada sekarang cuma bunga pandan yang cantik di hadapanku,” kelakar Mahesa Wulung.

Pandan Arum sedikit tersipu-sipu mendengar puji- an dari mulut Mahesa Wulung.

“Idih, cantik mana dengan temanmu tadi, si Andini Sari?”

Begitulah kalau sepasang muda taruna bersenda gurau. Pengalaman-pengalaman pahit serta kesusah- annya sesaat terhibur dan hilang dari benaknya. Keduanya adalah pendekar-pendekar muda penuh harapan di masa datang. Maka biarpun mereka menghadapi bahaya yang sebesar apapun, mereka akan senantiasa berhati besar menghadapinya. Memang begitulah seharusnya manusia dalam meng- hadapi persoalan yang besar dan rumit, yang boleh jadi akan dijumpai dalam hidup atau kejadian sehari- hari. Ia tak boleh berputus asa sebelum betul-betul berjuang menghadapi persoalan itu. Dan yang penting, manusia tak boleh lupa kepada Maha Pengu- asa Alam, Allah Yang Maha Besar. Untuk setiap hari, setiap tahun dan bahkan sepanjang kehidupan ma- nusia, ia harus berjuang, bertawakal serta memohon kepadaNya agar damai dan tenteramlah di dunia ini.

*** 4

Malam telah merajai semesta alam dan kehidupan siang telah berganti dengan kehidupan malam. Bunyi daun yang bergesekan di kelebatan hutan lereng Gunung Muria sangat menyeramkan bulu roma, tak ubahnya suara rintihan setan-setan.

Di sebuah rumah tua di dekat reruntuhan sebuah candi terlihatlah tiga orang duduk-duduk mengelilingi sebuah dian minyak yang sebentar-sebentar apinya bergoyang-goyang terkena angin.

“Nah, bagaimana dengan tugas kalian,” bertanya seorang yang berwajah kaku seperti tengkorak hidup dan berambut panjang.

“Telah berjalan sesuai dengan perintah, Kiai,” jawab seorang yang berambut pendek dengan tiga bundaran bekas luka di kepalanya.

“Dan sebentar lagi emas-emas itu pasti akan pindah ke kantong kita, Kiai,” sela si orang ketiga yang berhidung besar dan bergigi besar-besar.

“Hus, belum-belum sudah mimpi!” bentak si ram- but pendek. “Kita lebih dulu harus berhadapan dengan satu kelompok prajurit berkuda!”

“Jaramala dan Pelang Telu! Coba kau ceriterakan selengkapnya apa-apa yang telah kalian kerjakan!” potong orang berwajah hantu yang tidak lain adalah Ki Topeng Reges. “Nah, Jaramala ceritakanlah!”

“Baik, Kiai. Mula-mula kami menyamar ke Demak dan kami mulai menyelidiki tentang kiriman emas itu. Dua hari lagi, sepasukan berkuda akan lewat dengan membawa seperti uang emas serta perhiasan dari Gresik. Setelah berhasil kami mengetahui hal itu, kamipun segera pulang, Kiai,” Jaramala menyelesai- kan ceriteranya dengan menundukkan kepala, seolah-olah takut memandang wajah hantu gurunya.

“Hua, ha, ha, ha, bagus kowe! Pancen kalian murid-murid yang setia dan pintar!” seru Topeng Reges tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya ter- guncang-guncang. Begitu kuat tenaga dalamnya sampai-sampai genting-genting atap berderekan sedang dian api di meja pendek itu menjadi keder apinya. “Kalian boleh berangkat besok pagi dan bawa- lah beberapa orang kawan yang perlu. Bunuh semua prajurit Demak yang mengawalnya, kemudian ram- pas emas itu.”

Ki Topeng Reges berhenti sejenak serta meman- dangi kedua muridnya. “Emas itu akan kita gunakan untuk menyusun kekuatan melawan Demak.”

“Kami sudah mengerti, Kiai. Dan emas itu pasti akan pindah ke tangan kita segera!” sahut Pelang Telu mantap. “Biar mereka rasakan sepak terjang murid-murid Ki Topeng Reges dari Watu Semplak.”

“Hmmm, begitulah harapanku kepada kalian berdua, sebab toh kalian juga yang akhirnya harus meneruskan Perguruan Netra Dahana ini!” ujar Ki Topang Reges. Kemudian ia berhenti sejenak mere- nungi halaman yang terang-benderang bermandi sinar bulan.

Dari kejauhan terdengar raungan anjing-anjing liar yang mengumandang di lereng timur Gunung Muria. Terkadang bersahut-sahutan dengan raungan dari arah lain, sehingga keseraman hutan itu bertambah- tambah.

Suara binatang-binatang malam lainnya pun tak kalah seramnya. Ocehan burung hantu serta gangsir dan jengkerik atau sebentar-sebentar dering orong- orong melengkapi irama keramaian malam purnama itu.

“Dengarlah raungan serigala-serigala itu yang me- nyambut sinar bulan purnama,” Ki Topeng Reges berkata. “Sekarang marilah kita berlatih silat untuk menghadapi tugas kalian besok pagi!”

“Baik, Kiai,” ujar Jaramala dan Pelang Telu berba- reng. Kemudian ketiga orang itu melangkah keluar menuju ke halaman rumah yang merupakan padang alang-alang dikelilingi oleh pohon-pohon sawo dan beringin berdaun lebat.

Bunyi dering orong-orong gangsir dan jengkerik terbisu seketika bila di halaman itu telah dipenuhi oleh sambaran-sambaran serta deru-deru pukulan dari ketiga orang itu. Ketiganya bergerak dan ber- tempur amat cepat hingga yang nampak hanyalah bayangan-bayangan hitam yang saling berkelebatan seperti hantu malam berebut mangsa, diseling oleh jerit-jerit bersemangat dan pekikan-pekikan berlaga menambah ketiganya makin seru mengadu tenaga.

“Heeaat!” teriak Pelang Telu menyabet Ki Topeng Reges dengan sisi telapak tangannya yang sekeras batu karang ke arah kepala Ki Topeng Reges.

Si wajah hantu merunduk sambil berseru lantang, “Tidak kena! Hee, Pelang Telu, kau kurang cermat! Lihat nih, pertahananmu lowong!”

Ki Topeng Reges yang memperingatkan Pelang Telu itupun sambil mencablek muridnya dengan ujung jari tangannya, namun hal itu terasa oleh Pelang Telu bagai sengatan puluhan kalajengking yang nyeri sam- pai ke ujung ubun-ubun.

Sementara itu sebuah bayangan berkelebat menye- rang si wajah hantu dengan tendangan melayang di udara menyambar kepalanya. Ki Topeng Reges cukup waspada dan menyambut tendangan itu dengan kedua telapak tangannya menahan serangan.

Buuk!

Kaki Jaramala yang menyambar itu membentur telapak tangan gurunya dan seketika ia terpelanting ke belakang putar balik.

Untunglah ia termasuk murid pilihan dari Ki To- peng Reges, pendekar hitam berwajah hantu. Maka begitu ia terpelanting, segera ia mengerahkan tenaga dalamnya dan mendarat di atas tanah dengan kedua belah kakinya lebih dulu.

“Kau cukup baik!” teriak Ki Topeng Reges.

Jaramala dan Pelang Telu yang merasa gagal serangannya, cepat-cepat bersiaga dan menyerang berbareng ke arah Ki Topeng Rages dengan pukulan tangannya dengan cepat.

“Hyaat!” Ki Topeng Reges berteriak dan tubuhnya melesat ke udara, maka sebelum kedua pukulan itu mengenai sasarannya, si sasaran telah menghindar ke atas lebih dulu.

Kedua murid itu tidak putus asa, dengan cepat mereka menyerang kembali ke arah gurunya selagi Ki Topeng Reges masih mengambang di udara. Namun betapa kagumnya mereka bila Ki Topeng Reges masih bisa menghindar dengan melesat lebih tinggi lagi dan tahu-tahu ia telah nongkrong di atas sebuah cabang pohon beringin.

“Nah, sekarang hati-hatilah kalian!” seru Ki Topeng Reges sambil melesat turun ke bawah dengan kedua tangannya mengembang. Tubuhnya merupakan sinar yang berkelebat dan tahu-tahu Jaramala dan Pelang Telu terkena totokan jari-jari Ki Topeng Reges. Keduanya seketika terjengkang ke tanah dengan meringis menahan sakit.

“Hua, ha, ha, ha. Jangan kuatir, anak-anak. Nih, kusembuhkan rasa sakitmu,” ujar sang guru sambil mengurut punggung kedua muridnya dan keduanya segera sembuh kembali.

Setelah memberi petunjuk-petunjuk, Ki Topeng Reges dengan kedua muridnya itu kembali melanjut- kan latihannya. Ketiganya bertempur kembali dengan dahsyat, seolah-olah bukan latihan lagi, tetapi ber- tempur sungguh-sungguh.

Latihan itu berjalan sampai tengah malam meng- habiskan puluhan jurus. Kalau kedua muridnya itu telah mengucurkan keringat dinginnya, Ki Topeng Reges sendiri malah sebaliknya, ia nampak semakin segar dan beringas.

Akhirnya setelah Ki Topeng Reges merasa puas dengan kedua muridnya, maka latihan itupun disu- dahi. Diam-diam si wajah hantu itu memuji kedua muridnya dan yakinlah kalau Jaramala dan Pelang Telu akan bisa menyelesaikan serta membereskan sekelompok pasukan berkuda dari Demak serta merebut emas itu.

Ketiganya masuk kembali ke dalam rumah dan Ki Topeng Reges menuangkan sebuah belanga kecil ke atas tiga pinggan tembikar. Sebuah cairan hijau kecoklatan mengalir ke atas pinggan itu sampai penuh.

“Nah, Jaramala dan Pelang Telu. Ayo kita minum jamu ini agar badan kita segar kembali,” ujar Ki Topeng Reges mempersilahkan kedua muridnya.

Ketiganya berbareng mengambil pinggan berisi jamu itu. Ki Topeng Reges sambil mengangkat pinggan itu, ia melangkah ke jendela dan setengah menguakkan topengnya sedikit, ia meminum jamu itu.

Perbuatan Ki Topeng Reges itu tidak begitu meng- herankan bagi Jaramala dan Pelang Telu, sebab mes- kipun mereka belum pernah mengenal wajah di balik topeng seram itu, mereka sudah puas menjadi murid Ki Topeng Reges. Bagi mereka tidak peduli seandai- nya wajah asli gurunya itu tampan ataupun jelek. Dan memang murid-murid Ki Topeng Reges itu tak ada yang berani mencoba menatap wajah hantu gu- runya.

Malam makin bertambah larut dan bulan lebih jauh bergeser ke arah barat mendekati cakrawala, seperti seorang putri yang berjalan kelelahan menuju ke tempat peraduannya untuk melepaskan lelah.

“Kiai, apakah kami diperbolehkan tidur sekarang?” kata Jaramala memecah keheningan.

“Eeeh, ya, ya, aku lupa. Baiklah, kalian boleh beristirahat sekarang!” jawab Ki Topeng Reges.

Setelah sesaat kedua muridnya itu pergi, Ki Topeng Reges melangkah ke kamarnya untuk beristirahat pula. Matanya yang cekung tajam itu masih menatap sebuah kotak kayu berukir di dekat balai-balai.

Sambil merebahkan diri, kotak kayu itu diraih serta dibukanya dan tampaklah lembaran-lembaran kertas serta sebuah lopian, kaca bulat yang biasa digunakan untuk berkaca dan berhias.

“Hmmm, sayang sekali bahwa aku hanya sempat memiliki beberapa lembar halaman kitab hijau milik Landean Tunggal. Namun inipun sudah merupakan puncak dari ilmu kitab hijau itu. Dengan hanya beberapa lembar saja, terlahirlah ilmu Netra Dahana yang dahsyat. Selama orang lain tak membaca hala- man-halaman ini, tak seorang pun akan berhasil mengalahkan aku,” Ki Topeng Reges berkata-kata sendiri di dalam hatinya sambil membuka lembaran- lembaran kertas itu serta lopian kaca yang diamat- amatinya. “Dan kaca bulat ini yang nampaknya sepele, sesungguhnya merupakan senjata ampuh, tapi juga merupakan benda yang berbahaya bagi ilmu Netra Dahana. Hhh, tak perlu ada yang kukuatirkan memasuki kamarku ini. Bahkan murid-muridku pun tidak berani, sebab kamar ini penuh rahasia serta maut bagi setiap orang, kecuali aku sendiri Ki Topeng Reges!”

Ki Topeng Reges kemudian kembali menyimpan kedua benda yang amat berharga itu ke dalam peti kayu berukir. Matanya terasa berat dan lelah. Kemu- dian si wajah hantu itupun merebahkan dirinya ke balai-balai.

Di luar, dua orang murid Ki Topeng Reges yang lain tampak menjaga rumah itu. Mereka duduk- duduk di halaman depan. Tapi sebetulnya merekapun tak perlu takut sebab tempat itu terkenal sebagai sarang setan dan demit, hingga tak seorang luarpun berani menginjak Watu Semplak, pusat Perguruan Netra Dahana di lereng timur Gunung Muria.

***

Burung-burung murai berkicau menyambut sinar matahari pagi di sebuah jalan yang membujur di selatan Gunung Muria. Sebuah jalan yang sering dilalui oleh lalu lintas orang. Gerobak-gerobak sapi dan pasukan-pasukan peronda dari Demak. Jalan itu hampir membujur di sepanjang pantai utara Jawa, sehingga hubungan antara Demak sampai ke barat, daerah Cirebon, dan ke timur sampai bandar Gresik menjadi sangat lancar.

Seiring tercampaknya sinar-sinar matahari pagi, dari arah timur muncullah pasukan-pasukan ber- kuda sebanyak satu kelompok. Yang terdepan dua orang, berperawakan kekar memakai baju kutang tak berlengan berikat kepala merah. Di belakangnya, seorang berkuda menggandeng seekor kuda beban bermuatan sebuah peti kayu dengan hiasan logam berukir. Sedang di belakangnya lagi masih terdapat enam orang berkuda bersenjata tombak.

“Adimas Aldaka, lihatlah di sebelah utara itu. Gu- nung Muria bermandi sinar matahari. Dan puncak- nya tampak jelas, seolah-olah terlalu dekat untuk dicapai dengan tangan kita,” ujar seorang berkuda paling depan kepada temannya di sebelah.

“Ah, kau ini ada-ada saja, Kangmas Gajah Sela,” sahut teman di sebelahnya. “Sebagai pemimpin pasu- kan ini, hal itu mungkin bisa kau lakukan. Tetapi kalau saya hanya mampu memegang puncak gu- nungan wayang kulit itu saja, Kangmas.”

Oleh jawaban temannya yang bernama Aldaka itu, Gajah Sela serentak tertawa terkekeh-kekeh geli.

“Hi, hi, hi, kau punya bakat membanyol, Adimas Aldaka. Pantaslah kalau Dimas menjadi anggota dagelan dan pasti orang-orang akan kaku perutnya mendengar leluconmu.”

Aldaka juga ikut tertawa, kemudian pula disusul oleh ketujuh orang di belakangnya, ketika mereka mendengar percakapan antara pemimpin pasukan dan wakilnya.

Karena kelucuan Aldaka, perjalanan mereka menjadi selalu segar, sehingga jarak yang melelahkan dari Gresik menuju ke Demak terasa lebih dekat. Pasukan berkuda itu terus menempuh perjalanan menuju ke arah barat melewati jalan yang dinaungi oleh pohon-pohon kenari dan munggur.

Meskipun dalam perjalanan itu Aldaka yang ber- tubuh kekar tapi sedikit gemuk senantiasa membuat suasana segar dengan dagelan-dagelannya, namun matanya yang setajam elang itu selalu mengawasi jalan di mukanya serta menembusi kelebatan semak belukar di sekeliling jalan.

Demikian pula dengan si Gajah Sela yang ber- tubuh tinggi dan kekar. Matanya yang bulat itupun sibuk mengawasi jalan di mukanya. Sebagai pemim- pin pasukan ia bertanggung jawab terhadap kesela- matan anak buahnya dan juga terhadap barang yang dikawalnya. Seperti uang emas dan perhiasan cukup membuat orang akan ngiler untuk memilikinya, maka untuk mengawalnya telah dipilih orang-orang yang gagah berani. Mereka senantiasa patuh dan setia se- hingga keamanan emas boleh ditanggung aman.

Tetapi jauh di sebelah barat sana, beberapa pasang mata berkali-kali mengawasi ujung jalan di sebelah timur dengan liarnya.

“Kakang Jaramala, apakah pasukan itu pasti lewat disini hari ini?”

“Oh rupanya kau sudah tak sabar lagi, Adi Pelang Telu. Tunggulah, mereka pasti akan lewat disini!” ter- dengar jawaban Jaramala.

“Dengarlah angin yang bertiup ini. Kau dengar... yah langkah-langkah kaki kuda dari arah timur?!” u- jar Jaramala lagi dengan tenangnya, membuat Pelang Telu terpaksa mengagumi ketajaman telinga sahabat- nya.

“Kawan-kawan, bersiaplah dengan tugas kita! Susunlah siasat yang telah kita rencanakan kemarin dulu!” seru perintah Jaramala dan sebentar pula berloncatanlah dari semak-semak sepuluh orang yang berwajah ganas bersenjata pedang, golok dan penggada serta panah tak ketinggalan pula.

“Nah, bersiap sekarang, lekas!” Sekali lagi Jara- mala berseru dan sebentar pula mereka pada berlon- catan kembali ke arah semak-semak di tepi jalan.

Hanya tiga orang yang masih tinggal di tengah jalan tanpa senjata. Seorang di antaranya segera menggeletak, sedang yang dua pura-pura berwajah sedih sambil meratap-ratap. “Ooh, piye iki. Adikku sakit payah. Aduh tak adakah orang yang menaruh belas kasihan?”

“Bagus, bagus. Hua, ha, ha, ha. Kalian ternyata pemain-pemain sandiwara yang ulung. Nah, teruslah bersiap begitu sampai pasukan Demak itu tiba di tempat ini!” seru Jaramala kegirangan sambil melon- cat ke dalam semak-semak.

Suasana menjadi tegang serentak. Anak buah si Jaramala yang bersembunyi di balik semak-semak itu pada bergemuruh dadanya, seperti gemuruhnya de- rap-derap kaki kuda dari arah timur yang berjalan dengan enaknya tanpa sedikit pun tahu bahwa di sebuah kelokan jalan di sebelah barat, bahaya yang besar tengah mengintai dan menunggu mereka dengan bayangan maut.

Tetapi dua orang yang berkuda paling depan itu selalu mengawasi jalan di depannya dengan tajam.

“Adi Aldaka, kali ini kau harus hati-hati, Adi. Aku dengar suara orang yang meratap di ujung jalan dari arah barat,” Gajah Sela berbisik sambil mengangkat tangan kanannya ke atas sebagai pertanda supaya waspada kepada anak buahnya yang berada di belakang. Mereka serentak bersiaga melihat isyarat pemimpinnya.

“Betul dugaanmu, Kangmas Gajah Sela. Lihat di sebelah sana!” ujar Aldaka seraya menunjukkan ta- ngannya ke barat. “Tiga orang kelihatan berkerumun di tengah jalan. Nampaknya seperti orang yang kesusahan, Kangmas!”

“Betul Adimas Aldaka, tampaknya seperti orang yang mendapat kesulitan!” bisik Gajah Sela. “Tetapi jangan lekas percaya begitu saja, Dimas.”

“Eh, mengapa Kangmas?” ujar Aldaka heran men- dengar kata-kata sahabatnya.

“Kadang-kadang apa yang kita lihat tidak seperti apa yang kita duga,” jawab Gajah Sela. “Hatiku curi- ga, Adik.”

“Maksud Kangmas?”

“Aku kurang percaya dengan mereka, Dimas. Lihat saja dengan perawakan-perawakan mereka yang ke- kar. Hal itu seperti tidak sesuai dengan apa yang mereka kerjakan sekarang ini. Kalau saja temannya itu sakit, bukankah mereka dapat menggendongnya atau memikulnya?”

“Hmm, mungkin juga Kangmas, tapi apa yang harus kita perbuat sekarang?” bertanya Aldaka.

“Kita jangan keburu mendekati mereka dulu. Biar kita berhenti agak jauh, Dimas!” bisik Gajah Sela. “Dan perintahkan anak-anak lebih waspada serta siap dengan senjatanya!”

“Baik, Kangmas!” sahut Aldaka dan kemudian ia cepat-cepat memberikan isyarat itu kepada ketujuh prajurit di belakangnya.

Hal itu tentu saja membuat heran ketiga orang yang berkerumun di tengah jalan serta orang-orang lain termasuk Jaramala dan Pelang Telu yang ber- sembunyi di balik semak-belukar. Siasat pencegatan telah mereka atur rapi, tapi mengapa iring-iringan pasukan Demak itu berhenti terlalu jauh? Mung- kinkah mereka telah mengetahui rencana pencegatan ini?

Dengus-dengus nafas mereka serta suara gemuruh pada dada terasa mengalir lebih cepat. Sebenarnya mereka telah tidak sabar untuk menunggu. Tetapi Jaramala pemimpin mereka belum memberi perintah menyerbu, sehingga mereka terpaksa masih tetap mendekam di tempat persembunyian mereka masing- masing dengan tangan-tangan yang gatal mengayun- kan senjatanya.

Dan sementara ketiga orang yang bersandiwara di tengah jalan itupun tampak kehilangan kesabaran- nya. Mereka melihat pasukan Demak itu berhenti terlalu jauh.

“Ooh, aduh. Tuan-tuan prajurit, mengapa Tuan- tuan berhenti di situ. Apakah Tuan-tuan tidak merasa iba melihat nasib kami ini?” terdengar salah seorang berteriak sambil tangannya berserabutan menunjuk ke arah temannya yang menggeletak di tanah.

“Mengapa dengan kalian?” teriak Gajah Sela dari kejauhan. “Apa yang telah terjadi?!”

“Tolonglah kami, Tuan. Adikku sakit payah dan harus cepat-cepat kami bawa pulang ke rumah kami di sebelah barat sana!”

“Tetapi mengapa tidak kalian angkat sendiri saja? Bukankah tubuh-tubuh kalian cukup kuat untuk membawanya?” Aldaka ikut menyahut pula.

“Badan kami sudah terlalu lelah, Tuan. Apakah Tuan-tuan sebagai prajurit tidak menaruh belas kasi- han kepada kami rakyat jelata yang tengah sengsara? Bukankah Tuan-tuan sebenarnya juga bagian dari rakyat dan harus melindungi rakyat.”

“Kalian memang benar! Kami juga berasal dari rakyat dan pelindung rakyat. Tetapi rakyat yang bagaimana, kalian harus tahu!” Seru Gajah Sela.

“Maaf Tuan-tuan. Kami tak mengerti pembicaraan yang muluk-muluk.”

“Kami akan melindungi rakyat yang patuh dan setia kepada negara! Sedang kalian aku sangsikan akan kesetiaanmu kepada negara! Kepada Demak!” Gajah Sela berteriak lebih keras sampai suaranya mengumandang di sela-sela daun pepohonan di sepanjang jalan itu.

“Heei, Tuan-tuan jangan sembarangan menuduh- ku!” terdengar teriakan dari mereka. “Mengapa Tuan- tuan dapat ngomong begitu?!”

Gajah Sela menggeram perlahan-lahan. “Kalian ja- ngan coba-coba mengelabuhi kami dengan sandiwara murahan itu. Berterus teranglah dan suruh temanmu yang menggeletak, bangun dengan segera! Lekas!”

Alangkah terkejut ketiga orang itu, dan dasar memang mereka sudah tidak sabar, maka orang yang pura-pura menggeletak sakit di tengah jalan itupun cepat-cepat bangkit berdiri, sambil bertolak pinggang serta menggerundal tajam. “Persetan orang-orang berkuda itu. Nantilah kulahap mentah-mentah mereka!”

Melihat gertakannya berhasil, Gajah Sela tertawa terbahak-bahak. Demikian pula dengan Aldaka yang sering memandang sesuatu dengan rasa humor ikut pula tertawa terkekeh-kekeh. “Ha, ha, ha, ada orang sakit digertak kok bisa sembuh seketika. Memang Kangmas Gajah Sela bisa menjadi dukun yang ampuh?”

Prajurit-prajurit yang di belakang pun ikut tertawa pula melihat kejadian itu.

“Nah, itu namanya orang baik-baik, suka berterus terang. Dan sekarang kalau kalian memang laki-laki sejati, ayo keluar semua dari semak belukar itu. Aku dengar dengus-dengus nafas busukmu yang berbau kejahatan dan ketamakan!” Gajah Sela sekali lagi berteriak keras dan berbareng itu pula semua anak buahnya telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

“Keparat! Kalian memang banyak mulut. Sekarang terimalah hadiahmu!” terdengar teriakan lantang dari mulut Jaramala, dan sejurus kemudian beberapa anak panah telah melesat berluncuran dari busur anak buahnya ke arah pasukan Demak.

Sungguh hebat serangan tiba-tiba itu, tetapi prajurit-prajurit Demak tak merasa takut dengan panah-panah yang beterbangan ke arah mereka.

Gajah Sela, Aldaka dan juga anak-anak buahnya cepat bertindak. Kedua pemimpin yang berada di depan itu segera melolos pedangnya dan diputarnya dengan ketat melindungi tubuh mereka.

Tak! Tak! Trang!

Beberapa anak panah yang menyambar mereka kena tersampok oleh tebasan pedangnya. Juga pra- jurit-prajurit di belakang mereka sibuk menangkis samberan anak-anak panah. Namun tiba-tiba ter- dengar dua jeritan berbareng. Tiga orang prajurit rebah di atas punggung kudanya dengan anak panah yang menancap pada bahunya dan yang lain pada pahanya.

Berbareng saat itu pula, kesepuluh orang anak buah Jaramala telah berloncatan menyerang ke arah prajurit-prajurit Demak yang telah kerepotan me- nangkis hujan anak panah. Sekonyong-konyong secara tiba-tiba tanpa bersuara telah melesat sesosok tubuh manusia dari arah utara jalan yang rimbun oleh semak-semak dan kemudian tepat berdiri tegak di tengah jalan, sehing- ga mau tidak mau anak buah Jaramala menghenti- kan langkahnya karena terhadang oleh orang itu.

Orang asing itu mengenakan caping yang lusuh oleh debu serta memegang tongkat kayu.

“Setan belang! Apa maksudmu berani menghadang jalan ini!” teriak Jaramala sambil mendelik matanya. “Hayo minggir ke tepi, lekas!”

“He, heh, heh, enak benar bentakanmu, sobat. Bukan aku yang seharusnya minggir dari jalan ini, tapi kau dan anak buahmulah yang harus minggat! Tahu kau, sobat?!” ujar isi caping lusuh berdebu.

“Ooh, rupanya si caping bejat kepingin dijadikan rempah-rempah, ya! Ayo anak-anak, jangan perduli- kan orang ini! Bila menghalangi kita, cincang dia lumat-lumat! Serbu!” teriak Jaramala dan seketika merekapun menyerbu ke arah prajurit-prajurit Demak.

Di saat itu pula si caping lusuh telah menggerak- kan tongkat kayu, yang ternyata adalah sebilah pedang yang berkilat oleh sinar matahari, kemudian disabetkan setengah lingkaran dan seorang anak buah Jaramala terpental bermandi darah.

“Eaaaah!”

Jerit serta teriakan berlaga segera memenuhi jalan yang semula sepi lengang dan berlangsunglah per- tempuran dahsyat. Tampaklah bahwa prajurit-praju- rit Demak agak kerepotan juga menghadapi serangan lawan yang lebih ganas dan haus darah.

Hal itu tak bisa dipungkiri mengingat tiga orang temannya yang terkena anak panah telah jatuh dari punggung kuda dan berkelojotan di tanah dengan sesambat. Maka mereka sekarang tinggal enam orang saja.

Gajah Sela dan Aldaka dengan gigih memutar pedangnya dan menangkis setiap serangan lawan, tetapi mereka menjadi terkejut apabila seorang pra- juritnya telah rebah dari kudanya dengan dadanya tertembus oleh pedang lawan sampai berlepotan darah. Dan seorang anak buahnya yang lain telah terluka pundaknya tapi masih terus gigih bertempur melawan penyerang-penyerangnya. Suatu hal yang membuat hati Gajah Sela makin terharu akan keberanian dari prajurit-prajuritnya.

“Untunglah ada penolong yang datang. Orang ber- caping itu memang hebat ilmu pedangnya,” berpikir Gajah Sela penuh kagum. “Tapi siapakah dia?”

Gajah Sela terpaksa berjuang mati-matian mela- wan Jaramala dan anak buahnya. Demikian pula dengan Aldaka. Keduanya mengamuk ketika sebagian prajurit-prajuritnya telah tak berdaya menghadapi lawan. Kini mereka tinggal berempat melawan mu- suhnya.

Matahari kian tinggi. Teriakan serta dentingan senjata-senjata yang beradu telah mengumandang dan sebagian terbawa oleh arus angin yang bertiup.

Ketika itu di sebelah barat laut tampaklah dua orang yang berjalan menerobos hutan serta semak- belukar dan ketika angin bertiup mengusap wajah- wajah mereka.

Tiba-tiba yang terdepan menghentikan langkah- nya. “Adik Pandan Arum, tunggu dulu! Aku mende- ngar sayup-sayup teriakan orang serta bunyi senjata beradu!”

“Dari arah mana, Kakang?” tanya si gadis yang tidak lain adalah Pandan Arum.

“Dari sebelah tenggara, Adik,” kata Mahesa Wu- lung sekali lagi sambil mempertajam telinganya. “Mari kita datang ke sana, Adik. Siapa tahu kita dapat memperoleh petunjuk-petunjuk yang berguna tentang Ki Topeng Reges.”

“Baik, Kakang. Marilah!” ajak Pandan Arum dan keduanya segera membelok ke arah tenggara menuju sumber suara yang sangat menarik perhatian me- reka.

Kedua pendekar sepasang itu dengan cepat berla- rian meloncat-loncat dan menerobos kelebatan hutan yang pekat. Sepintas lalu gerak mereka tak ubah dua ekor kijang yang lagi berlomba lari, sangat lincah dan cekatan. Semakin dekat suara-suara itu semakin cepat mereka berlari dan hati mereka tambah ber- debar-debar.

Mereka sibuk bertanya-tanya siapakah mereka itu yang tengah berlaga. Sejurus kemudian keduanya tiba di sebuah jalan yang lebar dan Mahesa Wulung segera berhenti, lalu diikuti oleh Pandan Arum.

“Hah! Pasukan berkuda dari Demak dikeroyok oleh perampok-perampok!” desis Mahesa Wulung dengan kaget setengah geram.

“Diserang oleh perampok?!” seru Pandan Arum tak kalah herannya.

“Tak keliru lagi, Adi. Nah, itu lihatlah sendiri di sebelah timur jalan itu. Mereka tengah bertempur dengan ramainya.”

“Ooh, lihat Kakang. Pasukan Demak sudah sebagian tak berdaya. Tinggal empat orang lagi yang masih bisa bertempur,” seru Pandan Arum dengan cemas.

“Yah, kita harus membantunya cepat-cepat, Adik. Tapi... eh siapa orang bercaping itu yang bertempur di pihak Demak? Hmm, musuh keliwat banyak. Nah, Adik Pandan Arum, tinggallah engkau disini. Biar aku yang terjun ke dalam pertempuran itu!” ujar Mahesa Wulung sambil mengeluarkan selembar sapu tangan segitiga yang lebar berwarna biru laut berhiaskan gambar makara kuning emas. “Mereka pasti akan terkejut dengan kedatanganku ini!”

Mahesa Wulung lalu memakai kedok itu yang menutup hidung dan mulutnya kemudian melolos cambuk Naga Geni dari ikat pinggangnya.

“Hati-hati, Kakang,” bisik Pandan Arum mesra. “Aku menunggumu disini.”

Dengan tersenyum Mahesa Wulung mengangguk dan segera diputarnya cambuk Naga Geni di udara.

Dar! Dar! Dar! Tiga ledakan cambuk yang dahsyat memekakkan telinga mengumandang di udara seke- liling dan mereka yang tengah bertempur itu berhenti seketika seperti terkena pukau sihir yang hebat.

Belum lagi mereka sadar akan asal-usul ledakan itu, tahu-tahu sesosok bayangan berkelebat dari ba- rat laut dengan memutar sebatang cambuk berkilat- kilat kebiruan dan mendarat dengan enaknya di dekat mereka tanpa menimbulkan suara.

“Barong Makara!” teriak mereka berbareng.

Kalau prajurit-prajurit Demak gembira melihat kedatangan Pendekar Barong Makara yang dikenal sebagai tokoh pembasmi golongan hitam, sebaliknya dengan Jaramala dan anak buahnya, dalam batin mereka mengumpat dengan perasaan cemas sebab mereka pernah mendengar akan sepak terjang dan kesaktian pendekar berkedok ini dari murid Ki Topeng Reges yang bernama Rikma Rembyak.

Tapi mereka adalah anak buah Ki Topeng Reges yang namanya juga ditakuti oleh setiap orang, hingga mereka tak mau begitu saja memperlihatkan kelema- han dirinya. Biarpun mereka cemas, tapi segera berloncatan menyerbu ke arah Mahesa Wulung atau si Barong Makara.

“Kawan-kawan! Ini ada mangsa baru yang meng- antarkan nyawa. Ayo cincang dia ramai-ramai!” teriak garang Jaramala memerintah anak buahnya yang segera pula berbareng menyerang.

Mahesa Wulung tak merasa gentar menghadapi empat orang lawan yang mengeroyok dirinya. Senjata- senjata lawannya yang begitu ketat mengurung dirinya terlihat sebagai lingkaran sinar yang bergu- lungan menyerang sangat ganas.

Gajah Sela dan Aldaka sedikit merasa lega dengan kedatangan Mahesa Wulung. Dengan begitu tekanan serangan-serangan terhadap mereka sedikit berku- rang. Dalam hati kecilnya, keduanya merasa kagum terhadap pendekar ini. Mereka mengenal nama Barong Makara sebagai tokoh pendekar laut dari armada Demak dan baru kali inilah mereka sempat berjumpa muka.

Gerakan Mahesa Wulung sungguh membikin kecut hati para pengeroyoknya. Telah berkali-kali senjata- senjata pedang mereka berkelebat menyambar tubuh Mahesa Wulung, namun setiap kali mereka terkejut apabila pedang-pedang mereka sama sekali tak me- nyentuh lawannya. Dari gerakan-gerakan serta cara membebaskan diri, tahulah mereka bahwa orang itu sebenarnya orang yang berilmu tinggi.

Dengan demikian maka Jaramala dengan anak buahnya bertambah gelisah dan marah. Maksudnya untuk merampok emas belum lagi berhasil, dan sekarang mereka mendapat dua orang lawan yang tak bisa diremehkan begitu saja.

Kedatangan orang bercaping dan disusul oleh orang yang berkedok itu tidak mereka duga sama sekali. Kalau semula mereka tahu, pastilah Ki Topeng Reges akan ikut melakukan pekerjaannya dan orang- orang itu pastilah akan dapat ditumpasnya dalam saat yang pendek.

Jaramala makin memperketat serangannya dan bersama anak buahnya ia sudah bertekad untuk mengganyang orang berkedok yang telah mengham- bat pekerjaan mereka. Ternyata orang berkedok yang hanya bersenjata cambuk itupun memperhebat pula putaran senjatanya.

Memang Mahesa Wulung atau Barong Makara merasakan betapa para pengeroyoknya makin mem- pergencar serangannya. Maka bila ia menambah hebat gerakannya, perbandingan tingkat jurus-jurus pertempuran mereka akan tetap sama, yaitu Mahesa Wulung ada di tingkat lebih atas daripada Jaramala, bahkan dapat selalu mengimbangi setiap serangan yang membenturnya.

Yang pasti para pengeroyoknya makin gelisah, apalagi mereka melihat cambuk lawannya bertambah mendesing-desing bergulungan bagai ombak Laut Kidul yang mampu memukul tebing-tebing karang terjal dan sedikit demi sedikit akan merontokkannya.

Begitu pula dengan Jaramala dan anak buahnya. Cambuk itu kemudian melecut dengan ledakan yang memekakkan telinga dan tahu-tahu seorang anak buah Jaramala terpental keluar dari lingkaran per- tempuran serta terhuyung-huyung memegangi kepa- lanya yang hangus bagai batu terbakar. Orang ini kemudian rebah dan mati.

Melihat temannya seketika mati oleh sambaran ujung cambuk itu, para pengeroyok Mahesa Wulung terpekik kaget. Tak nyana mereka, bahwa cambuk lawannya begitu hebat, mampu menghanguskan sa- sarannya tak ubahnya sambaran sebuah halilintar.

Daar! Sekali lagi cambuk Naga Geni di tangan Mahesa Wulung meledak dan seorang korban lagi terpelanting di atas tanah, mati.

Sementara itu tak jauh dari Mahesa Wulung, si pendekar bercaping kelihatan begitu enaknya melaya- ni setiap orang lawannya. Pelang Telu yang ikut mengeroyoknya, terpaksa berkali-kali menggerundal, sebab setiap tebasan pedangnya dan juga tebasan- tebasan golok anak buahnya selalu berhasil dihindari oleh si caping lusuh.

Yang membikin jengkel Pelang Telu ialah serangan dan ejekan orang bercaping ini. Setiap kali berhasil menghindari serangan-serangan mereka, ia senan- tiasa berkelakar.

“Hup, tebasanmu kurang mampu, sobat! Nah boleh coba lagi sekarang! Mari! Yaaah, masih kurang kena. Kalian masih harus bertekun lagi. Dan seka- rang lihat, aku beri contohnya! Hyaat!”

Pendekar bercaping menebaskan pedangnya mene- robos sambaran senjata-senjata mereka dengan bunyi mendesau dan selanjutnya sebuah jeritan panjang keluar dari mulut seorang anak buah Pelang Telu yang menganga dengan gigi bertonjolan. Orang itu hanya terluka panjang akibat sambaran ujung pe- dang pendekar bercaping. Namun sesaat kemudian luka kecil panjang yang nampak sepele tadi tiba-tiba membuka, diiringi menyemburnya darah merah segar dari dalam.

Belum sempat Pelang Telu dan anak buahnya menolong kawannya tadi, tiba-tiba pedang orang bercaping ini kembali beraksi.

“Nah, sobat-sobat baik! Ini contoh berikutnya!” Kilat pedangnya kembali menebas dan korban kedua roboh tak bernyawa.

Tetapi Pelang Telu serta anak buahnya bukan ter- masuk orang-orang penakut, sebab mereka telah digembleng oleh gurunya, Ki Topeng Reges. Mereka menyadari bahwa dalam setiap pertempuran selalu terjadi dua kemungkinan. Menang atau kalah, ter- bunuh atau membunuh dan menghancurkan atau dihancurkan oleh lawan. Maka mereka tetap merang- sak kepada pendekar bercaping dengan putaran-pu- taran golok dan pedang-pedang mereka.

Di sebelah lain, Gajah Sela dan Aldaka serta seo- rang prajurit lagi sibuk melayani serangan-serangan anak buah Jaramala. Mereka pun terlibat dalam perang tanding yang cukup hebat.

Di tengah-tengah pertempuran yang berkecamuk dahsyat, seorang prajurit berkuda yang bertugas menggandeng kuda beban bermuatan emas, tampak sedikit demi sedikit menjauhi titik pertempuran. Me- mang dia telah diserahi tugas untuk menjaga kuda beban itu sehingga apapun yang diperbuatnya ia tak dapat dipersalahkan. Jika seandainya ia meninggal- kan titik pertempuran tersebut, bukan berarti ia seorang pengecut, apalagi ia telah meninggalkan kawan-kawannya yang tengah bertempur.

Namun satu hal yang agak mengherankan, entah sengaja atau tidak, bahwa para perampok-perampok tadi, yakni Jaramala dan anak buahnya tak pernah mengusik prajurit tadi yang menggandeng kuda ber- muatan emas. Malahan mereka seolah-olah menghin- darkan diri dari prajurit tadi serta membiarkannya sendirian tanpa ada yang mengganggu. Begitulah prajurit tadi terus menggeser ke arah barat menjauhi titik pertempuran, dan bila dirasanya telah cukup aman, ia segera memacu kudanya.

Melihat hal ini, Gajah Sela yang tengah bertempur itu menjadi kaget dan heran. Sebagai pemimpin pasu- kan ia tak pernah merasa memberi perintah untuk membawa lari emas itu, sebab ia yakin kalau peram- pok-perampok ini sebentar lagi bisa dikalahkan, terutama dengan kedatangan kedua penolongnya. Maka begitu ia melihat anak buahnya berpacu ke arah barat, Gajah Sela segera berteriak keras-keras.

“Heei, Dangsapati! Berhenti! Mau lari kemana kau?” Gajah Sela berteriak dengan perasaan penuh tanda tanya.

Tapi ternyata prajurit itu tak menggubris teriakan- nya, dan ia tetap melarikan kuda-kudanya ke arah barat. Betapa jengkelnya Gajah Sela! Sebagai pemim- pin pasukan, baru kali ini ada prajuritnya yang mau berbuat sembrono serta berani menentang perintah- nya. Akan dibawa kemana emas itu, ia tak tahu.

Sungguh mencemaskan hatinya atas tindakan si Dangsapati yang nekat, tetapi lebih mengejutkan lagi ialah lawannya bertempur yang tertawa terkekeh- kekeh menyakitkan telinga.

“Heh, heh, heh, heh, heh, biarkan ia menyelamat- kan emas itu. Tanggung aman. Jangan pedulikan dia. Yang penting kau harus mati di ujung golokku ini!”

Mendengar perkataan lawannya, Gajah Sela terhe- nyak kaget dan kemudian ia menggeram, “Keparat! Kau anggap aku orang apa, heh?! Mari tunjukkan permainan golokmu!”

Bersamaan rampungnya kata-kata Gajah Sela, lawannya segera menyerang dengan putaran goloknya secepat pusaran angin siap melanda dirinya. Untung Gajah Sela selalu waspada, dan begitu serangan golok lawan melibas dirinya, segera pula ia menebaskan pedangnya secepat angin untuk memapaki serangan lawan.

Craaang!

Bunyi benturan kedua senjata sangat nyaring disertai percikan bunga-bunga api dan kedua-duanya tergetar surut. Akibat dari benturan itupun sangat hebat. Betapapun uletnya Gajah Sela namun ia ter- paksa meringis ketika jari-jari tangan yang meng- genggam pedang terasa nyeri, panas. Demikian pula lawannya yang bersenjata golok tadi, selain tangan- nya nyeri iapun terpental jatuh ke tanah bergulingan. Gajah Sela tak mau melepaskan kesempatan baik ini. Segera ia memburu lawannya yang tengah bergulingan di tanah, dan kemudian mengirimkan

sebuah tebasan pedangnya.

Rupa-rupanya lawannya itupun termasuk orang pilihan sebagai murid perguruan Netra Dahana dari Watu Semplok. Maka ketika ia merasa angin tebasan pedang Gajah Sela, cepat-cepat melentingkan dirinya ke belakang beberapa langkah, hingga pedang Gajah Sela hanya sempat membacok tanah dan rerum- putan. Karuan saja ia menggeram jengkel.

“Heh, heh, heh, jangan mimpi terlalu pagi untuk merobohkan Trebis dari perguruan Netra Dahana!” terdengar lawan Gajah Sela menyambung.

“Setan! Jangan cepat besar kepala dengan lon- catan-loncatan seburuk anjing kudisan. Sekarang terimalah permainan puncak dari ilmu pedang ini, Hyaat!” Gajah Sela menerjang dengan hebat ke arah lawannya dengan sebuah tusukan yang menentukan.

Melihat hal itu, Trebispun segera bersiap-siap dengan putaran goloknya. Sementara itu, Dangsapati yang melarikan kuda ke arah barat tidak mengira bahwa dari semak belukar, sepasang mata sejernih air sendang tapi setajam mata elang, telah mengawasi seluruh gerak-geriknya. Dan kemudian Dangsapati dikejutkan oleh melesat- nya satu bayangan berjumpalitan di udara dan men- darat tepat di hadapannya, dari arah semak belukar!

Bayangan tadi ternyata seorang gadis yang kini menghadang di tengah jalan, menyebabkan Dangsa- pati terpaksa menghentikan kedua kudanya sambil berteriak-teriak.

“Hee, bocah ayu, siapa kau! Dan apa maksudmu menghadang di tengah jalan?”

“Hmmm, aku heran dengan kelakuanmu ini. Meninggalkan kawan-kawan yang telah mati-matian menyabung nyawa! Mau kau bawa kemana emas itu?!” bentak si gadis yang tidak lain adalah Pandan Arum.

“Persetan dengan kawan-kawanku. Mereka telah punya urusan sendiri dengan orang-orang perampok itu. Demikian pula aku punya urusan sendiri dengan emas ini. Aku akan menyelamatkannya.”

“Haaa, menyelamatkan emas itu untuk kantongmu sendiri? Aku agak curiga dengan kau! Lagak bicara- mu seolah-olah menunjukkan kalau kau bukan seo- rang prajurit seperti mereka itu.”

“Ooo, kau jangan suka bermulut usil! Apa yang saya kerjakan ini adalah urusanku sendiri, tahu?! Dan orang lain tak usah campur tangan! Hayo minggir dari jalan ini dan biarkan aku lewat dengan leluasa!” Dangsapati berteriak.

“Bukan aku yang menyingkir, tapi kaulah yang harus turun dari kudamu itu!”

“Hem, sayang kalau aku terpaksa menggunakan kekerasan untuk menyingkirkanmu, cah ayu! Ooh, mungkin kau menghendaki beberapa buah mata uang emas? Baik! Itu akan kuberikan asal kau menepi dari tengah jalan.”

“Cukup dengan ocehanmu yang busuk itu! Nah, sekarang turunlah dari kudamu serta menurutlah untuk kubelenggu!”

Perkataan Pandan Arum itu terdengar oleh telinga Dangsapati bagai sengatan halilintar, membuat ia benar-benar kehilangan kesabaran!

“Bagus, kalau kau berkeras kepala serta ingin menangkapku. Cobalah!” tantang Dangsapati sambil menyiapkan tombaknya.

Demikian pula Pandan Arum cepat-cepat melolos selendang jingga dari ikat pinggangnya.

“Heh, heh, heh, rupa-rupanya kamu ingin terbang serta lolos dari ujung tombakku ini! Percuma. Selagi aku masih cukup bersabar, menyerahlah!”

“Heh, tidak semudah itu kenyataannya! Lihatlah permainan selendang Sabet Alun!”

Begitu selendang jingga Pandan Arum melenggok- lenggok berputaran semakin kencang, Dangsapati terpaksa menelan ludah kecemasan dan cepat-cepat ia mendahului menyerang dengan hunjaman tombak ke arah Pandan Arum.

Dalam saat yang sama, tiba-tiba sebuah kilatan sinar merah mencegat ujung tombaknya dan lang- sung melibatnya dengan keras seakan-akan sebuah belalai dari gajah.

Dangsapati kaget ketika tahu-tahu selendang si gadis yang disangkanya remeh ternyata telah melibat tombaknya, kemudian terasalah bahwa gadis itu menghentakkan selendang tadi sangat keras.

Kraak! Tombak Dangsapati patah menjadi dua dan seketika semangatnya hilang lenyap melihat keheba- tan senjata lawan. Dengan segera ia melepaskan tangkai tombaknya yang patah, serta memacu kuda- nya kabur meninggalkan Pandan Arum.

Tetapi sayang sekali, sebelum ia sempat melak- sanakan niatnya terlalu jauh, sekonyong-konyong ujung selendang Pandan Arum telah melecut dan menyambar kepala kudanya. Terdengarlah suara ledakan disusul kuda Dangsapati memekik tinggi dan roboh bersama penunggangnya. Kepala kuda itu retak dan bermandi darah, sedang Dangsapati sendiri tertindih pahanya oleh badan kuda.

“Ha, ha, ha. Sekarang beristirahatlah di situ seben- tar!” Seru Pandan Arum seraya mengikat kembali selendang jingga ke pinggangnya.

Sementara itu, ketika Jaramala melihat kemung- kinan yang kecil untuk memenangkan pertempuran, cepat-cepat ia memberi isyarat pada teman-temannya untuk menarik diri dari pertempuran. Sebuah suitan nyaring keluar dari mulutnya dan dengan serentak Jaramala, Pelang Telu, serta sisa-sisa anak buahnya berloncatan secepat angin meninggalkan titik pertem- puran, dan sebentar saja mereka telah lenyap di balik semak-semak belukar seperti hantu.

Mahesa Wulung masih berdiri di dekat pendekar bercaping ketika Jaramala dan anak buahnya kabur meninggalkan mereka. Gajah Sela segera pula men- datangi kedua penolongnya dan menyatakan terima kasihnya.

“Kami mengucapkan terima kasih yang tak ter- hingga atas bantuan yang telah Kisanak berikan,” ujar Gajah Sela serta mengangguk hormat. “Kemu- dian, alangkah bahagianya bila saja Tuan-tuan sudi menyebutkan nama serta berkenalan dengan kami.” Pendekar bercaping itupun mengangguk dan mele- pas capingnya, kemudian mengangguk pula dengan hormatnya.

“Ki Camar Seta!” desis Mahesa Wulung sambil menurunkan kedoknya.

“Oooh, Anakmas Mahesa Wulung! Syukur kita masih bertemu dalam keadaan sehat-sehat. Aku telah mendapat laporan bahwa Anakmas telah terjatuh ke Jurang Mati ketika bertempur melawan Ki Topeng Reges. Apakah Anakmas sehat-sehat saja?”

“Terima kasih, Bapak. Aku baik-baik saja,” ujar Mahesa Wulung dengan hormatnya.

Mendengar nama kedua pendekar itu, Gajah Sela berseru kagum, “Oooh, jadi Tuan-tuanlah yang bergelar Ki Camar Seta dan Mahesa Wulung pendekar Demak yang terkenal. Maaf, aku tak segera mengenal Tuan-tuan berdua karena aku jarang berada di Demak, dan kami berkedudukan di Gresik.”

Di sebelah timur, Aldaka sibuk menolong prajurit yang terluka, dibantu oleh seorang anak buahnya. Di saat-saat yang begitu dapatlah terbayangkan kega- nasan anak buah Ki Topeng Reges.

Di tengah-tengah kesibukan itu, dari arah barat muncullah si Pandan Arum menuntun seekor kuda beban yang bermuatan emas dan di depannya berja- lan sempoyongan Dangsapati dengan terbelenggu tali sekujur tangan dan dadanya.

“Ooooh, mengapa dengan orang ini, Adik?” seru Mahesa Wulung kaget. “Bukankah ia seorang dari- pada anak buah Kakang Gajah Sela ini?”

“Betul, Kakang. Tapi dia juga kaki tangan dari Ki Topeng Reges, dan untuk ini ia telah mengaku sendiri.”

“Haa?!” seru Gajah Sela dan Mahesa Wulung kaget, tetapi Ki Camar Seta berkata dengan tenangnya. “Me- mang tidak keliru! Dangsapati adalah cecunguk Ki Topeng Reges. Ia sengaja menyelundup pada kita!”

“Dari manakah Bapak tahu?” sela Pandan Arum tak habis herannya.

“Hal itu telah diketahui oleh Nara Sandi di Demak dan kemudian aku dikirim kemari untuk mencegah bahaya yang mengancam pengiriman emas itu!”

Mendengar ini Mahesa Wulung teringat kembali akan kesatuan Nara Sandi yang mempunyai tugas menyelidiki dan meneliti segala sesuatu yang bersifat rahasia untuk menjamin keamanan negara. Dan juga sebagai Wira Tamtama Demak, ia pun banyak menge- nal sebagian dari tokoh-tokoh Kesatuan Nara Sandi, seperti Sandi Pradangga, Wira Sengkala dan lain- lainnya.

“Dan aku pun ditugaskan untuk membantu dan mencari Anakmas Mahesa Wulung dalam usahanya merebut catatan rahasia panah Braja Kencar yang telah dilarikan si Rikma Rembyak,” ujar Ki Camar Seta melanjutkan.

Gajah Sela yang mendengar uraian itu tidak nyana bahwa persoalan itu menjadi begitu rumit. Dalam hati ia kagum terhadap ketrampilan Kesatuan Nara Sandi yang dapat mengetahui akan penyelundupan Dangsapati dalam tubuh pasukannya, namun dalam hati kecilnyapun ia menyesal bahwa dirinya sampai tidak mengetahui ada musuh di dalam selimut.

“Bapak Ki Camar Seta, apakah kami akan melan- jutkan perjalanan ke Demak sekarang juga?” ber- tanya Gajah Sela kepada orang tua itu.

“Begitulah sebaiknya. Memang, di sebelah barat sana ada sebuah rumah tua yang biasa dipergunakan oleh prajurit-prajurit Demak beristirahat dalam me- nempuh perjalanan ke timur. Nah, kita nanti malam akan singgah di sana untuk bermalam dan nanti akan kusuruh beberapa orang penduduk untuk merawat dan mengobati luka-luka anak buahmu. Kemudian besoknya kita menuju ke Demak.”

“Terima kasih, Bapak,” ujar Gajah Sela. Demikianlah, tak lama kemudian mereka bersiap-

siap serta berjalan ke arah barat. Sinar matahari sudah tidak begitu panas lagi sedang angin siang bertiup kencang mengusap dedaunan yang berkilatan oleh sinar matahari.

*** 5

Raungan anjing-anjing liar mengumandang dari tebing dan lereng-lereng pegunungan menyelusuri kaki bukit Gunung Muria sebelah timur dan kemu- dian bergulungan campur aduk dengan desah angin sore, seperti nyanyian dan rintihan setan-setan yang gentayangan mencari mangsa.

Di sebuah rumah tua, di dekat reruntuhan sebuah candi, tampaklah tiga orang yang duduk saling ber- hadapan seperti patung-patung. Yang berkedok han- tu itu tampak menatap kedua orang di hadapannya dengan pandangan yang setajam pedang, hingga keduanya menunduk makin dalam.

“Heemm, jadi kalian pulang dengan tangan kosong tanpa hasil sedikit pun, setan alas!” geram Ki Topeng Reges kelihatan jengkel.

“Ampun, Kiai. Sayang sekali mereka telah dibantu oleh dua orang pendekar yang muncul secara tiba- tiba, sehingga pekerjaan kita terpaksa gagal.”

“Kalian memang anak-anak tolol. Bukankah Dang- sapati sudah saya selundupkan ke dalam pasukan pengantar emas itu?!” ujar Ki Topeng Reges.

“Betul Kiai. Tapi...”

“Tapi bagaimana?” Ki Topeng Reges memotong “Dangsapati kan murid terbaik di antara kalian? Ada apa dengan dia?!”

“Anu, ah, ketiwasan, Kiai,” Jaramala makin kecut hatinya.

“Ketiwasan, kau bilang?!” bentak si wajah hantu garang dan sekaligus melayangkan tangannya ke arah mulut Jaramala.

Plak!

“Hiyuung! Aduh, tobat Kiai. Ampun!” rintih Jara- mala sambil menutup mulutnya dan sesaat kemudian dari sela-sela jari-jemari yang menutup mulutnya itu mengalir dan menetes cairan merah ke atas lantai. Begitu Jaramala melihat jari-jarinya, ia kontan mera- ung panjang! Hatinya seakan-akan lenyap terbawa raungan anjing liar di luar sana, ketika diketahuinya bahwa bibirnya telah tersobek oleh tamparan Ki Topeng Reges yang hanya sekali itu, dan darah merah telah melepoti jari-jari tangannya.

“Hih, kapokmu kapan, kowe!” bentak Ki Topeng Reges pula. “Ayo, lekas katakan di mana sekarang Dangsapati itu?!”

“Dia, dia telah ditangkap oleh mereka, Kiai,” ujar Jaramala setengah merintih karena masih merasakan bibirnya yang robek oleh tamparan gurunya.

“Tertangkap?! Si Dangsapati itu bisa kena tangkap oleh pasukan Demak?!” raung Ki Topeng Reges dengan marahnya, dan bola matanya menjadi liar se- perti hendak menelan kedua murid yang ada di hadapannya. “Kurang ajar! Ini pasti gara-gara keda- tangan kedua orang itu!”

“Betul, Kiai. Memang itu akibat kedatangan kedua pendekar yang kemudian menolong orang-orang De- mak itu, hingga pekerjaan kita gagal. Semula Dangsa- pati sudah berhasil melarikan emas itu, namun dapat dirampas kembali oleh mereka,” kata Pelang Telu menjelaskan.

“Keparat!” desis Ki Topeng Reges dengan geram dan dari balik topengnya terdengar suara berkereot- kereot karena giginya yang saling bergesekan saking jengkelnya. “Pelang Telu, coba ceriterakan ciri-ciri kedua orang itu!”

“Baik, Kiai. Yang seorang memakai caping dengan senjata tongkat pedang, dan orang yang kedua ber- kedok pada mulutnya serta membawa sebatang cam- buk yang menyala biru kehijauan,” ujar Pelang Telu.

“Barong Makara atau Mahesa Wulung!” geram Ki Topeng Reges. “Dia adalah musuh besar kita. Rupa- nya dia masih bisa selamat ketika terjatuh ke Jurang Mati oleh seranganku. Hemm, betul-betul pendekar gemblengan dia!”

“Begitulah, Kiai,” ujar Pelang Telu menegaskan. “Memang sebenarnya kami akui kalau kedua pende- kar itu mempunyai ilmu yang lebih tinggi daripada kami. Sehingga kekalahan kami bisa dimaklumi. Kalau kedua orang ini tidak muncul, pastilah seluruh pasukan itu musnah dalam waktu yang sekejap mata. Sebab pada gebrakan pertama saja, hanya tinggal empat orang prajurit yang masih bisa berdiri dan melawan kami.”

“Hmmm, kedua orang itu harus kuhukum, karena telah lancang mencampuri urusanku!” gumam Ki Topeng Reges. “Di mana mereka sekarang, sewaktu kalian tinggalkan?!”

“Masih di kelokan jalan itu, Kiai. Dan sebagian besar telah terluka berat oleh senjata-senjata kami. Pastilah mereka tidak akan langsung menuju Demak.”

“Ya, mereka pasti akan singgah untuk merawat orang-orangnya,” sahut Ki Topeng Reges menyam- bung ujar si Pelang Telu. “Dan aku tahu, di sepanjang jalan menuju Demak, terdapat beberapa rumah yang sering disinggahi oleh pasukan-pasukan Demak.” “Tetapi, Kiai. Apakah tidak terlalu berbahaya men-

cari mereka di sana?” sela Pelang Telu.

“Goblok! Aku akan ke sana malam nanti, supaya pekerjaan bisa lebih lancar dan sekali ini mereka tidak akan lepas dari tanganku!” Ki Topeng Reges menggeram lirih, sedang kedua jari-jari tangannya saling mengepal. “Nah, kalian tinggal di sini. Biar aku sendiri mencari mereka.”

“Kiai, bolehkah aku ikut membantu mencari me- reka,” usul Pelang Telu kemudian.

“Tidak usah! Aku sanggup menemukan mereka. Daerah itu aku kenal baik-baik, seperti aku mengenal halaman rumah ini!” jawab Ki Topeng Reges dan kemudian ia bangkit serta menuju ke kamarnya.

Sementara itu, Jaramala dan Pelang Telu saling bergelut dengan pikiran sendiri. Mereka merenungi kejadian-kejadian yang baru saja lewat, seolah-olah tergambar kembali pertempuran di belokan jalan keti- ka mencegat pasukan pengawal emas itu. Keduanya yang mula-mula merasa bangga ketika merobohkan beberapa orang prajurit Demak dari kudanya, secara tiba-tiba menjadi cemas dengan kedatangan kedua pendekar yang melabrak mereka.

Langkah-langkah yang berat terdengar keluar dari kamar, dan lamunan kedua orang itu menjadi buyar. Tampaklah Ki Topeng Reges telah menggenggam dua buah senjata yang berujud belati panjang yang me- ngeluarkan sinar membara.

“Kiai Brahmasakti!” desis Jaramala dan Pelang Telu berbareng, begitu pandangan mata mereka menatap pada dua buah belati yang tergenggam di tangan gurunya. Keduanya merasa kalau bulu romanya merinding. Keampuhan Brahmasakti telah mereka ketahui sejak dahulu, tak ubahnya keam- puhan pusaka-pusaka sakti lainnya yang telah me- reka dengar dari Demak seperti keris Condong Cam- pur, Sangkelat, Tombak Kiai Plered dan sebagainya.

Tetapi Brahmasakti yang ada di tangan gurunya itu agak lain. Belati panjang itu selalu mengeluarkan sinar membara yang berhawa panas dan kekuatan- nya menyamai bisa seratus ekor ular berbisa, hingga lawan yang kena tersinggung saja pasti akan mati dalam waktu yang tidak lama. Orang biasa saja seperti diri mereka berdua itu boleh dipastikan tidak akan tahan lama memegang kedua pusaka itu, apalagi menggunakannya dalam pertempuran. Kalau mereka melihat bahwa gurunya membawa kedua pusaka kembar itu pastilah bisa diduga kalau lawan dan musuh-musuh yang harus dihadapi oleh Ki Topeng Reges itu, termasuk orang-orang yang berilmu tinggi. Sebab kalau hanya lawan biasa saja pastilah gurunya tidak perlu membawa Kiai Brahmasakti. Dengan pancaran api ilmu Netra Dahana gurunya, cukuplah untuk membinasakan lawannya.

Tetapi kali ini tidak, gurunya telah menggenggam pusaka ampuhnya.

“Kalian tunggu saja. Kedua orang penghalang itu pasti akan termakan oleh senjata ini!” Ki Topeng Reges setelah menimang-nimang kedua pusaka itu, lalu menyimpannya ke dalam baju serta melangkah ke halaman. “Nah, aku berangkat sekarang!”

“Baik, Kiai,” ujar Jaramala dan Pelang Telu ber- bareng.

Mereka menatap gurunya yang masih melangkah dengan tegap ke halaman dan sesaat kemudian Ki Topeng Reges menjejak tanah dan tubuhnya melesat ke arah selatan seperti bayang-bayang dan lenyap di keremangan senja. Beberapa ekor kelelawar terkejut karenanya dan mencicit-cicit terbang berhamburan.

***

Sang rembulan sebentar-sebentar terselubung oleh awan putih yang berarak-arak mengalir di langit, membuat sinar yang menerangi tempat itu sebentar terang dan sebentar gelap. Di rumah itu yang letak- nya tidak jauh dari tepi jalan yang menuju ke arah Demak, tampaklah beberapa ekor kuda yang ditam- batkan pada tonggak-tonggak kayu. Di ruangan tengah rumah itu tampaklah Pandan Arum sibuk mengobati serta membalut para prajurit-prajurit yang terluka parah. Untunglah ia memiliki kepandaian tentang ilmu pengobatan dan jamu-jamuan ajaran dari bibinya, Nyi Sumekar, sehingga ia dengan mudah dapat memberi perawatan terhadap mereka.

Namun hatinya tak urung merasa cemas juga sebab dua di antara prajurit-prajurit yang terluka itu, dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Keduanya terlalu banyak kehilangan darah dan lukanya pun terlalu dalam pula.

Biarpun begitu, Pandan Arum dan juga Ki Camar Seta telah berusaha sedapat-dapatnya. Sementara Pandan Arum, Gajah Sela, dan Aldaka berada di ruang tengah, di halaman rumah di dekat pagar bambu kelihatan Ki Camar Seta dan Mahesa Wulung bercakap-cakap dan di sebelah lain, seorang prajurit berdiri dengan menggenggam tombaknya untuk men- jaga rumah itu.

“Anakmas Mahesa Wulung, dengan tewasnya Empu Baskara dan kabar kematian Angger yang terjatuh ke jurang itu telah membuat geger kalangan armada Demak dan lingkungan istana. Itulah sebab- nya kesatuan Nara Sandi telah mengirimku kemari dan juga dari Wira Tamtama. Angger Mas Karebet telah berkenan untuk pergi menyelidikinya. Ternyata peristiwa ini didalangi oleh Ki Topeng Reges dan muridnya si Rikma Rembyak.”

“Begitulah, Bapak. Ki Topeng Reges tidak bisa kita anggap lawan yang ringan. Ilmu Netra Dahana yang dikuasainya sangat berbahaya bagi kita. Aku telah melihat sendiri betapa dua orang anak buah Jorangas telah terbakar hangus kepalanya oleh sambaran api Ki Topeng Rages yang memancar dan menjilat dari kedua matanya.” Mahesa Wulung berhenti sejenak menarik napas. “Dan ilmu itu hanya bisa dihadapi dengan lembaran-lembaran kitab hijau yang disim- pannya.”

“Ooo, kitab hijau milik Landean Tunggal yang telah Angger ceriterakan kepadaku itu?” sambung Ki Ca- mar Seta.

“Betul, Bapak,” jawab Mahesa Wulung.

“Hmmm, sulit juga hal ini. Pasti Ki Topeng Reges menyimpan barang itu pada tempat yang tersem- bunyi. Sebab barang itu juga merupakan bagian daripada nyawa dan hidupnya,” ujar Ki Camar Seta pula.

“Namun betapapun sukarnya aku harus mencari lembaran-lembaran kitab itu, Bapak,” sambung Ma- hesa Wulung.

“Ya, memang itulah satu-satunya jalan untuk me- ngalahkannya,” sambung Ki Camar Seta membenar- kan. “Mari, Anakmas, kita masuk ke dalam. Malam makin bertambah larut.”

Kedua orang itu segera masuk ke dalam dan di luar semakin sepi. Malam telah memeluk bumi. Gu- nung Muria, Jepara, Demak, Kudus dan seluruh permukaan bumi telah menjadi kelam. Demikian pula rumah yang disinggahi oleh mereka menjadi sepi dan kelam.

Di dalam, Ki Camar Seta dan Mahesa Wulung ikut pula membantu Pandan Arum dalam merawat pra- jurit-prajurit yang terluka. Hati mereka pada terharu memandangi tubuh-tubuh yang terbaring luka itu, namun merekapun berbangga bahwa prajurit-prajurit itu telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Apabila malam semakin larut, tiba-tiba terdengar sebuah jerit nyaring. Pandan Arum tersentak kaget. “Dengar Kakang Wulung, suara apakah itu?”

“Ah, itu hanya suara pekikan burung hantu,” jawab Mahesa Wulung seraya memegang pundak gadis itu supaya tenang.

Namun tiba-tiba terdengar pula sebuah jeritan pendek, dan Pandan Arum melangkah ke pintu. “Biar aku keluar sebentar, Kakang. Aku ingin mengetahui burung hantunya.”

Pandan Arum yang tiba di ambang pintu melihat keluar.

“Ah, sepi-sepi saja!” pikirnya.

Tetapi ketika ia melihat ke sudut rumah, dilihatnya prajurit jaga telah menggeletak di tanah. Maka iapun secepat kilat berlari ke arah itu dan segera memerik- sa prajurit itu.

“Hah, pingsan?! Jalan darahnya tertotok!” desis Pandan Arum setelah memeriksa tubuh prajurit itu.

Inilah yang hebat. Sebuah totokan jalan darah biasanya hanya mampu melumpuhkan orang, tetapi tidak sampai seperti itu.

Baru saja selesai memeriksa orang itu, telinga Pan- dan Arum yang cukup tajam telah menangkap bunyi gemerisik halus di atas genting. Cepat ia menjumput batu kerikil dan melemparkannya ke genting sambil berseru, “Hei, siapa itu yang di atas genting?!”

Berbareng dengan teriakan itu sesosok bayangan berkelebat turun dari atas genting dengan ringannya seperti selembar daun kering dan tepat berdiri dengan kokoh di depannya. Betapa kaget dan ngeri- nya bila ia menatap bayangan yang telah berdiri di hadapan itu. Sebuah wajah yang kaku seperti hantu menghiasi muka orang itu dan kemudian rasa kaget serta takutnya meledak. Pandan Arum menjerit hebat.

Si wajah hantu yang tidak lain adalah Ki Topeng Reges tertawa seram melihat gadis cantik itu menjerit ketakutan.

“Heh, heh, heh, tak mengira bahwa di tempat ini kutemukan bunga yang cantik! Tetapi sayang, kalau kau termasuk kawan si Mahesa Wulung, engkau pun harus mati di tanganku, cah ayu!”

Ki Topeng Reges maju mendekati Pandan Arum. Tapi gadis inipun melangkah mundur dengan rasa kecemasan.

“Berhenti, setan! Akulah tandinganmu!”

Mendengar teriakan itu, Ki Topeng Reges cepat berbalik dan sambil menggeram hebat iapun bersiaga ke arah suara itu.

“Hmm, kaulah yang aku cari! Sekarang berjong- koklah di hadapanku ini untuk menerima hukuman- mu!” Ki Topeng Reges berkata sambil mengacungkan tangannya ke depan ke arah muka Mahesa Wulung.

“Bagus, kalau kau ingin menghukumku, cobalah! Aku bukan anak ingusan yang patut kau takut- takuti,” ujar Mahesa Wulung sambil bersiap.

“Haaait,” Ki Topeng Reges secepat kilat meloncat menerkam Mahesa Wulung dengan kedua tangannya yang mengembang seperti cakar-cakar setan.

Ia ingin melumpuhkan Mahesa Wulung dengan gebrakan pertama dan kemudian membunuhnya sekali. Namun alangkah kagetnya ketika dengan gerakan secepat angin, lawannya berhasil lolos dari terkamannya. Yang lebih mengagetkan lagi ialah jurus yang dipergunakan oleh Mahesa Wulung itu. Ia merasa pernah mengenalnya. Inilah yang membuat Ki Topeng Reges ragu sejenak dan ketika ia mengingat- ingat jurus yang dipakai oleh Mahesa Wulung tadi, hatinya berdesir seketika.

Ya, ia mengingat jurus itu yang dulu dipergunakan oleh Landean Tunggal, sahabatnya yang telah diku- burnya di Jurang Mati. Mungkinkah Mahesa Wulung yang dulu terjatuh di Jurang Mati telah menemukan kitab hijau milik Landean Tunggal? Pertanyaan itu yang berkali-kali bergema dalam otaknya. Tiba-tiba dilihatnya Mahesa Wulung melolos pedang!

“Persetan!” desis Ki Topeng Reges. “Meskipun ia sakti, tapi ia tak akan tahan dengan ilmu Netra Da- hana!”

Ki Topeng Reges segera mengerahkan ilmunya dan sebentar saja bola matanya menjadi kemerahan dan berbareng kedua tangannya mengembang ke depan, dua jilatan lidah api telah memancar dari matanya serta menyambar Mahesa Wulung.

Sekali lagi Mahesa Wulung melesat ke udara dan keduanya bertempur hebat saling melibat tak ubah- nya dua pusaran angin prahara. Pandan Arum yang mengikuti pertempuran itu merasa ngeri juga hatinya berdebar-debar.

Mahesa Wulung yang agaknya merasakan kesem- pitan tempat itu yang penuh pepohonan, segera melesat ke genting dan Ki Topeng Reges pun menge- jarnya.

Di saat keduanya saling bertempur di atas genting, sebuah bayangan lain menyusul melesat ke atas genting. Melihat ini Pandan Arum semakin tertarik dengan pertempuran itu. Ia pun menggenjotkan kakinya ke atas tanah kemudian melesat ke genting pula dengan enaknya.

Begitu tiba di genting, Pandan Arum segera dapat mengetahui bahwa bayangan tadi adalah Ki Camar Seta. Pandan Arum tak tinggal diam, ia segera pula bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tandang dan olah Ki Topeng Reges benar-benar dilihatnya seperti hantu, dengan kedua tangannya yang sebentar siap menerkam lawan di samping lidah-lidah api yang memancar dari kedua bola matanya. Tetapi ia terpaksa bekerja lebih keras lagi, sebab lawannya bukanlah anak ingusan yang mudah ditakut-takuti, bahkan ia merasa kagum tetapi juga mengumpat bila pendekar yang semuda itu telah mampu menandinginya.

Tiba-tiba Ki Camar Seta mengepungnya.

“Keparat! Si Caping kumal juga ingin bermain- main denganku. Ayo, mulailah! Jangan hanya berdua atau bertiga. Meski kau tumplak seluruh bala prajurit- mu, aku tak akan lari dari sini!” terdengar Ki Topeng Reges sesumbar dengan suara yang menggeledek.

Sampai sejauh itu Pandan Arum hanya melihat pertempuran tadi dengan hati berdetak. Ia merasa kagum akan ilmu meringankan tubuh ketiga pen- dekar tersebut, yang kini terlibat berpusaran seperti angin dalam pertempurannya. Betapa jadinya kalau mereka tidak mengerahkan ilmu tersebut? Pasti genting-genting itu akan berserakan pecah rontok ke bawah! Pertempuran berjalan semakin dahsyat! Ki Topeng Reges yang dikerubuti dua pendekar jagoan itu tampak semakin ganas. Dalam hati ia telah bertekad untuk membinasakan kedua lawannya itu, karena mereka telah berani menggagalkan maksudnya untuk merampok emas.

Maka dengan segenap ilmu yang dimilikinya serta dilengkapi oleh kemarahan yang memuncak, kedua lawannya tersebut sebentar kemudian telah dikurung dengan ilmu ampuhnya, Netra Dahana. Lidah-lidah api yang panas dan liar segera menjilat dan menyam- bar-nyambar tubuh Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta. Untunglah keduanya cukup memiliki kelinca- han, sehingga tubuh mereka sebentar-sebentar me- lenting ke udara untuk menghindari sambaran- sambaran lidah api.

Tiba-tiba sambil menggeram Ki Topeng Reges menggerakkan kedua tangannya ke balik baju dan sebentar kemudian kedua tangan itu telah menggeng- gam Kiai Brahmasakti, pusaka yang berujud belati panjang yang membara.

Melihat kedua senjata itu, Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta meloncat mundur dengan dada berdegup. Ki Topeng Reges terkekeh karenanya. Dengan bangga ia mengacungkan kedua pusaka itu. “He, he, he, kalian kaget bukan? Inilah Kiai Brahmasakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan! Sebentar lagi kalian akan merasakan kehebatannya. Nah,

bersiaplah buat kematianmu, setan!”

“Ki Topeng Reges!” seru Mahesa Wulung. “Jangan menakut-nakuti. Kaulah yang harus menyerah di hadapanku!”

Bukan main marahnya Ki Topeng Reges, maka secepat kilat ia melesat ke atas dan menyerang Mahe- sa Wulung dengan kedua pusaka kembarnya, Kiai Brahmasakti.

Mahesa Wulung terkejut mendapat serangan tiba- tiba yang meluncur secepat angin. Segera ia memapa- ki dengan pedangnya.

Trang!

Dua benturan senjata berbunyi nyaring menyeri- kan telinga disusul bunga-bunga api berpijar ke udara malam.

Mahesa Wulung tersentak kaget. Akibat dari ben- turan kedua senjata itu, tangannya tiba-tiba merasa panas, seakan-akan pedangnya telah dipanggang oleh bara api yang bertimbun-timbun. Iapun meloncat surut.

Di saat itu pula serangan Ki Topeng Reges berikutnya dapat ditangkis oleh Ki Camar Seta dengan putaran pedangnya. Namun Ki Camar Seta pun seperti halnya Mahesa Wulung, ia merasakan akibat benturan pedangnya dengan senjata Kiai Brahmasakti di tangan Ki Topeng Reges. Sungguh- sungguh mengejutkan. Cepat ia meloncat surut.

Melihat lawannya meloncat surut, Ki Topeng Reges sekali lagi tertawa terkekeh-kekeh. “Heh, heh, heh, kalian rasakan kehebatan senjataku ini bukan? Hayo, kerahkan segenap ilmumu sebelum mati di ujung senjataku ini.”

Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta sadar akan bahaya yang mengancam mereka semua. Mereka berpikir keras mencari jalan yang baik dan tiba-tiba Mahesa Wulung menjentik Ki Camar Seta. Keduanya segera melesat turun ke tanah sambil menantang.

“Heei, Ki Topeng Reges, jika kau laki-laki sejati, kejarlah kami. Mari kita teruskan permainan kita.”

Keduanya bermaksud memancing Ki Topeng Reges agar menjauh dari rumah itu, hingga sahabat-saha- bat mereka akan lebih aman.

Ki Topeng Reges segera melesat turun mengejar kedua lawannya. Mereka berkejaran ke arah utara, menerobos kelebatan hutan, melompati sungai- sungai kecil, tak ubahnya tiga ayam alas saling berkejaran. Sebentar kemudian ketiganya lenyap, seperti ditelan kelebatan hutan lembah kaki Gunung Muria.

Pandan Arum segera melesat turun dari atas gen- ting dengan perasaan yang bercampur-baur, memi- kirkan Mahesa Wulung dan Ki Camar Seta yang tengah lari, diburu oleh Ki Topeng Reges. Dalam hati ia berdoa semoga keduanya dapat selamat dari ceng- keraman si wajah hantu.

Tempat itu kembali menjadi sepi dan malam sema- kin bertambah larut. Sang purnama yang bulat per- lahan-lahan dan lambat bergeser ke arah cakrawala barat.

***

Sampai di sinilah ceritera “Diburu Topeng Reges” berakhir, dan segera akan datang mengunjungi Anda, cerita berikutnya dari seri Naga Geni yang berjudul “Munculnya Pendekar Bayangan”.

TAMAT