Serial Naga Geni Eps 04 : Hilangnya Empu Baskara

 
Eps 04 : Hilangnya Empu Baskara


Hilangnya Empu Baskara benar-benar membikin cemas siapa saja di daerah Demak ini. Sebagai seorang ahli pembikin senjata-senjata ampuh, ia sangat dihormati dan dibanggakan oleh negara dan segenap rakyatnya. Maka tak heranlah jika menghilangnya Empu Baskara ini menyebabkan kesuraman mereka di dalam kehidupannya sehari- hari.

Di Balai Ksatrian di kota Demak, hari itu kelihatan kesibukan-kesibukan. Beberapa perwira tampak berkumpul dan bercakap-cakap, antara lain Mahesa Wulung, Ranujaya, Jagayuda, Ki Tambakbaya, serta beberapa orang lainnya. Sedang Ki Camar Seta, pendekar tua itu pun tampak ikut duduk bersama mereka.

“Kiranya Andika semua sudah tahu, siapa Empu Baskara ini. Beliau telah menghilang dari rumahnya tanpa seorang pun yang tahu,” kata Ranujaya memulai bicaranya. “Kita telah gagal mencari jejak- jejak beliau. Yang membuat kita heran dari peristiwa ini, ialah saat-saat menghilangnya Empu Baskara dari Demak. Beliau telah hilang sepekan kemudian setelah ia berhasil menemukan sebuah senjata ampuh yang baru pertama kali ini pernah diciptakan oleh para empu di tanah Jawa.”

“Sebuah senjata   ampuh,   kata   Kakang   tadi? Apakah ia berujud keris, tombak, pedang atau macan lainnya?” Mahesa Wulung berkata menyela.

“Bukan! Ia tidak berbentuk benda pusaka yang dapat dipegang untuk bertempur, tetapi bentuknya lebih aneh lagi dan sangat sederhana. Nah, sebaiknya aku akan menceriterakan selengkapnya tentang Empu Baskara dan hasil-hasil penemuan yang telah dibuatnya secara tekun dan menakjubkan.

Kita kembali beberapa bulan yang lewat di tahun yang telah lalu. Hampir saja bencana paceklik melanda daerah Demak dan juga daerah-daerah sekitarnya. Bencana yang ditimbulkan oleh ribuan belalang yang ganas dan rakus telah menghabiskan berpetak-petak tanaman jagung dan berbahu-bahu tanaman padi serta tanaman palawija lainnya. Jika bencana ini tak teratasi, maka bahaya kelaparan akan muncul di mana-mana.

Masalah bencana kelaparan atau pun gangguan hama belalang tadi tidak dapat dihadapi dan ditanggulangi oleh kuatnya prajurit yang bersenjata lengkap. Hama tadi datang secara bergelombang dan tiba-tiba datang di sebuah tempat tanpa tanda-tanda yang dapat kita ketahui terlebih dulu. Nah, di dalam saat yang sangat genting inilah Empu Baskara telah menunjukkan suatu hasil ramuannya yang benar- benar menakjubkan kita semua. Ia telah berhasil mendapatkan senjata ampuh guna membinasakan belalang-belalang yang rakus tadi. Sesudah mengunci diri dalam kamar kerjanya berhari-hari, iapun berhasil dan telah pula mencoba senjata ampuhnya itu.

Pada suatu hari aku telah berkunjung ke rumahnya untuk melihat senjata itu. Ternyata senjata itu terbentuk serbuk-serbuk putih seperti tepung halusnya, yang dipasang pada mata anak panah.”

“Hanya serbuk-serbuk putih saja?” Mahesa Wulung berseru kaget.

“Begitulah, Adi. Hanya serbuk-serbuk putih saja. Aku pun heran mula-mula, tetapi setelah aku diajaknya mencoba, keherananku tadi berubah menjadi kekaguman yang tak ada habisnya. Di sebuah ladang yang luas dan diserang oleh ribuan belalang pada saat itu, aku dan Empu Baskara telah mencoba pusaka baru itu. Serbuk-serbuk putih tadi telah dimasukkan ke dalam mata anak panah yang dibuat seperti tabung bulat yang runcing dan berlobang.

Sesaat kemudian anak panah bermata aneh tadi aku tembakkan ke udara, di atas hamparan ladang yang diserang oleh ribuan belalang itu. Begitulah, anak panah tadi melesat ke udara dengan kencangnya. Sesaat kemudian setelah bergeser dengan udara, anak panah yang bertabung berisi serbuk putih itu menyala biru dan mengeluarkan asap yang selanjutnya menyebar di udara di atas ladang tersebut.

Apa yang terjadi kemudian sungguh-sungguh mengerikan. Asap putih tadi kemudian bercampur udara dan bagaikan kabut embun, turun ke bawah secara pelahan-lahan. Mendadak belalang-belalang tadi menjadi biru hangus lalu mengering dan mati.

Dalam pada itu terbayang angan-anganku sendiri, jika kabut dari serbuk putih tadi menimpa segerombolan manusia, maka pastilah orang-orang tersebut akan menjadi biru hangus dan mati dengan tubuhnya yang mengering, serupa dengan belalang- belalang itu. Hih, apa yang aku bayangkan ini pastilah tidak hanya membuat ngeri diriku sendiri, tapi juga Andika semua pastilah berperasaan yang sama.”

“Hmmm, memang hebat pusaka yang telah dibuat oleh Empu Baskara itu. Sebatang anak yang pada ujung matanya diisi oleh serbuk-serbuk putih dan mampu memusnahkan makhluk-makhluk hidup dalam waktu yang tidak lama,” ujar Ki Camar Seta saking kagumnya.

“Justru kehebatan pusaka itulah yang membuat kami cemas setelah Empu Baskara hilang dari Demak. Kami menguatirkan seandainya Empu Baskara diculik oleh orang-orang dari gerombolan hitam yang telah sekian kali mencoba merongrong kewibawaan Demak. Pastilah mereka tidak akan kepalang-tanggung menggunakan pusaka itu untuk melawan kita,” Ranujaya berkata dengan tenangnya, namun wajahnya membayangkan perasaan hatinya yang cemas.

“Maka kepada Adi Mahesa Wulung kami harapkan untuk segera mencari Empu Baskara yang hilang itu.”

“Daerah manakah yang telah Kakang Ranujaya selidiki untuk mencari jejak-jejak Empu Baskara ini?” terdengar Mahesa Wulung bertanya.

“Daerah selatan dan barat Demak sampai ke daerah Asemarang telah kujelajahi, tetapi tak ada petunjuk dan tanda-tanda di mana Empu Baskara berada. Sedang daerah utara dan timur sampai ke Gunung Muria baru kami mulai untuk menyelidikinya. Kemungkinan besar di daerah inilah Adi Mahesa Wulung dapat memulai dengan penyelidikannya.”

“Baiklah, Kakang Ranujaya. Aku akan berusaha mencari Empu Baskara dengan sebaik-baiknya. Kapankah aku dapat memulai dengan tugasku ini?”

“Sekarang juga dapat kau mulai dengan tugasmu, Adi Mahesa Wulung. Dan semua keperluan untuk tugasmu ini telah disiapkan. Kami berdoa dan berharap semoga tugas Andika ini berhasil dengan baik dan memuaskan. Ingatlah, bahwa Empu Baskara sangat penting artinya bagi keselamatan negara.”

“Terima kasih, Kakang. Ijinkanlah aku berangkat sekarang juga.” Mahesa Wulung mengangguk hormat kepada semua sahabatnya dan mereka pun membalasnya berbareng.

Ki Ranujaya pun rupanya sudah tidak ada keperluan lain untuk pertemuan di hari itu, maka ia pun segera berdiri. “Nah, kiranya tugas telah selesai kita bagikan, dan pertemuan ini kita akhiri sampai di sini. Adi Jagayuda, Andika boleh berangkat bersama- sama Adi Mahesa Wulung. Bantulah ia sebaik- baiknya.”

“Baik, Kakang. Aku siap berangkat bersama Kakang Mahesa Wulung.”

“Dan Kakang Camar Seta, Andika baru saja tiba dari Pulau Karimata setelah bertahun-tahun mengembara di sana. Maka untuk sementara waktu, Kakang Camar Seta aku persilahkan untuk beristirahat di Demak.”

“Terima kasih, Adi Ranujaya. Memang aku telah lama meninggalkan kota Demak, sehingga keadaan yang sekarang pastilah sudah jauh berbeda dengan keadaan waktu aku tinggalkan dahulu.”

“Ha, ha, ha. Aku merasa senang jika Ki Camar Seta bersedia aku antar berkeliling melihat-lihat keindahan kota Demak sekarang ini.” Mereka, para perwira Demak yang berunding itu, telah meninggalkan Balai Ksatrian. Dengan langkah yang tegap penuh kepercayaan diri sendiri, mereka memulai tugasnya yang baru yang benar-benar harus diselesaikan dengan sempurna.

Mahesa Wulung dan Jagayuda segera mengambil kudanya dan tak lama kemudian merekapun telah memacu kudanya ke arah timur. Matahari bersinar dengan ganas, namun awan-awan mendung hitam telah berarak-arak menghalangi sinarnya, sehingga suasana menjadi gelap suram, seperti suramnya kehidupan di Demak akibat menghilangnya Empu Baskara yang mereka bangga-banggakan.

Debu dan kerikil berloncatan terkena derap kaki kuda Mahesa Wulung dan Jagayuda yang dipacu seperti angin. Sebentar saja mereka melewati pintu gerbang timur kota Demak dan semakin jauh, keduanya tampak semakin kecil, seolah-olah dua titik hitam yang berkejaran.

Menjelang senja temurun dengan perlahan-lahan, Mahesa Wulung dan Jagayuda telah mendekati daerah Kudus. Keduanya menghentikan kudanya yang masih berlari dengan kencang. Kini kedua orang berkuda berdampingan dan berjalan dengan seenaknya.

“Adi Jagayuda, apakah Adi akan terus langsung ke Jepara atau singgah bersama saya di kota Kudus nanti?”

“Saya kira akan lebih baik jika saya meneruskan perjalananku ke Jepara, agar tugas ini dapat kita bagi berdua. Kakang Mahesa Wulung sementara tinggal di Kudus dan memulai penyelidikannya dari kota ini, sedang saya akan memulai dari sebelah utara, dari kota Jepara,” ujar Jagayuda sambil menatap Mahesa Wulung seperti meminta persetujuan. “Bagaimana, Kakang?”

“Itu bagus. Aku setuju sekali dengan siasatmu, Adi Jagayuda. Dan selanjutnya, tunggulah aku di kota Jepara.”

“Baik, Kakang. Kita berpisah saja di pertigaan jalan itu. Saya terus menuju ke utara dan Kakang masuk ke kota Kudus,” Jagayuda segera melecutkan cemetinya ke perut kudanya dan kuda itupun segera menderap. “Selamatlah, Kakang Mahesa Wulung!”

“Selamat jalan, Adi”.

Mahesa Wulung melambaikan tangannya ketika sahabatnya itu telah berpacu mendahuluinya, dan membelok ke utara pada pertigaan jalan di mukanya. Kepulan debu yang timbul akibat derapan kaki kuda Jagayuda semakin menjauh, dan sebentar kemudian lenyaplah ia dari pandangan mata Mahesa Wulung setelah Jagayuda menerobos pohon kenari yang menaungi jalan ke utara itu.

kini Mahesa Wulung berkuda sendirian. Kesunyian segera terasa mencengkam dirinya, ketika ia berkuda seorang diri di gelap senja dan memasuki kota Kudus.

Beberapa orang tampak berjalan membawa pikulan dan sesekali lewat pula orang-orang yang berkuda di jalan itu. Hampir setiap kali ia berpapasan dengan orang yang lewat, Mahesa Wulung memperhatikan wajah-wajah mereka. Namun tak seorang pun yang mirip dengan tanda-tanda serta ciri-ciri yang menunjukkan bentuk tubuh Empu Baskara.

Mahesa Wulung benar-benar merasa kesulitan dalam tugasnya kali ini, meski ia sudah diberi keterangan-keterangan tentang bentuk tubuh dan wajah Empu Baskara dari Ki Ranujaya. Bahkan lebih dari itu, Mahesa Wulung sendiri pernah berkenalan dengan Empu Baskara beberapa tahun yang telah lalu.

Setelah Mahesa Wulung melewati menara masjid Kudus yang terkenal itu, sampailah ia di sebuah warung penginapan. Segera ia turun dari punggung kudanya dan menambatkannya pada sebuah tonggak kayu yang terpancang di depan warung.

Mahesa Wulung segera masuk ke dalam dan menyewa sebuah kamar untuk ditempatinya beberapa hari lamanya. Warung penginapan ini ternyata banyak sekali pengunjungnya, dan mereka satu per satu diawasi oleh mata Mahesa Wulung yang tajam. Namun tak seorang pun yang tampak mencurigakan. Sampai saat itu Mahesa Wulung belum menemukan petunjuk dan jejak-jejak dari menghilangnya Empu Baskara. Tetapi pada malam berikutnya, ketika ia berjalan-jalan menghirup udara malam, Mahesa Wulung secara tiba-tiba berhenti pada sebuah sudut rumah yang gelap. Tidak jauh dari tempat ia bersembunyi, berdirilah dua orang yang bercakap-cakap amat pelan dan menimbulkan kesan yang mencurigakan bagi Mahesa Wulung.

“Kakang Kalapati, kita sekian lama mencari jejak Empu Baskara, tetapi sampai saat ini kita belum menemukannya. Apakah usaha ini akan kita teruskan?”

“Hah, kau jangan lekas putus asa, Adi Dandangmala. Apakah kau sudah lupa dengan kata- kata pemimpin kita. Jorangas? Bukankah kau sendiri telah mendengar bahwa tugas ini dipercayakan kepada kita? Dengarlah, aku siang tadi telah menjelajahi segenap warung penginapan di kota ini, dan aku mulai mencium jejak Empu Baskara di daerah timur kota.”

“Tunggu dulu, Kakang Kalapati. Dengarlah! Angin malam yang bertiup dari selatan telah membawa dengus nafas manusia,” terdengar oleh Mahesa Wulung seorang yang bertubuh pendek berkata memperingatkan temannya. Mahesa Wulung tambah berhati-hati.

“Yah, benar pula, Adi Dandang. Aku juga mendengar dengus nafasnya. Rupanya di sudut gelap itu ada yang mendengar dan memata-matai percakapan kita.”

“Hmm, mereka betul-betul bertelinga tajam!” Mahesa Wulung mengeluh karena tempatnya bersembunyi itu memang searah dengan tiupan angin, maka tak bahwa kedua orang yang tengah diawasi itu dapat mendengar dengus nafasnya.

“Jangan takut, Adi Dandangmala. Biarlah aku yang akan memberi pelajaran kepada si mata-mata itu.” Sambil berkata, orang yang dipanggil Kalapati dan bertubuh kekar itu secara tiba-tiba menyabetkan tangannya dan untunglah Mahesa Wulung telah bersiaga sejak tadi. Begitu ia berkelit ke bawah, lima buah sinar menancap di dinding kayu itu.

“Paku-paku baja!” desis Mahesa Wulung.

“Heh, heh, heh, heh,” Mahesa Wulung memperdengarkan ketawanya yang bernada seram. “Permainan paku bajamu kurang cermat dan terlatih, teman. Nah, sekarang terimalah kembali milikmu ini.” Mahesa Wulung mencabut dua batang paku yang menancap di dinding kayu, kemudian melemparkannya kepada kedua orang yang masih tertegun.

Begitu dua batang paku itu menyambar, kedua orang itu telah lebih dulu mengambil langkah seribu sambil memaki-maki, dan membuat Mahesa Wulung tersenyum geli melihatnya.

***

Ketika matahari bertambah tinggi, kota Kudus makin bertambah ramai. Seorang bertubuh pendekar dan gemuk dengan mengenakan sebuah caping, tampak memasuki sebuah warung penginapan. Sepintas lalu orang akan tersenyum bila melihat orang bercaping ini. Mengapa? Ya, orang ini berkumis terlalu tebal dan tidak seimbang dengan bentuk tubuhnya. Terlalu tebal dan lebat, ditambah lagi jenggotnya yang panjang membuat orang merasa ragu-ragu, jika itu semua adalah barang asli.

Tanpa menggubris orang-orang di situ, setelah ia memesan kamar, orang inipun cepat melangkah ke arah kamarnya. Begitu sampai di dalam kamarnya, dengan cepat-cepat ia menutup pintu kamar serapat- rapatnya dan sekaligus merebahkan dirinya di balai- balai. Butir-butir peluh menitik pada dahinya, dan sebelum ia mengalir, buru-buru diusapnya dengan lengan bajunya. Si gemuk pendek ini menghela nafas dalam-dalam, seolah-olah baru terbebas dari bahaya.

“Hmmm, baru kali ini aku sempat beristirahat dengan tenang,” gumam si gemuk pendek. “Mereka memang mengejar-ngejarku agar menyerahkan senjata ciptaanku ke tangan mereka. Akh, sebetulnya aku dapat melaporkan dan meminta bantuan dari prajurit-prajurit Demak agar melindungi diriku dari gerombolan Jorangas itu. Tetapi aku tak ingin merepotkan mereka, apalagi sampai jatuh korban karena membelaku. Biarlah kali ini Empu Baskara akan minggat dari daerah Demak agar hidupku lebih tenang dari ancaman penjahat-penjahat itu.”

Orang yang gemuk pendek itu kemudian duduk kembali dan mengusap mukanya dengan selembar saputangan. Setelah itu ia meraba kumisnya dan menariknya lepas, lalu janggutnya pun ditanggalkannya!

“Hehh, untunglah kumis dan jenggot palsu ini cukup sempurna untuk menyembunyikan mukaku yang sesungguhnya, sehingga orang-orang tak satu pun yang mengenalku sebagai Empu Baskara yang terkenal itu. Heh, heh, heh, Persetan! Aku kadang- kadang benci dengan diriku sendiri yang telah berhasil menciptakan senjata panah ‘Braja Kencar’. Senjataku yang mula-mula kuciptakan untuk membasmi belalang ternyata menimbulkan gagasan lain dan aku yakin bahwa penjahat-penjahat itu bermaksud menyelewengkan kedahsyatan senjataku tadi untuk pekerjaan-pekerjaan mereka yang terkutuk. Melawan kekuasaan Demak, inilah tujuan mereka yang pasti.”

Sekali Empu Baskara menarik nafas lega, lalu dituangkannya air kendi yang dingin ke dalam cangkir tembikar yang telah tersedia.

“Hmm, dadaku kini menjadi tenang setelah minum air sejuk ini. Mudah-mudahan mereka tak akan mengejarku lagi.”

Meskipun telah merasa aman, Empu Baskara tetap berhati-hati menjaga dirinya. Seluruh kamar diperiksanya satu persatu, tetapi ternyata tak ada yang mencurigakan. Lubang-lubang dinding yang memungkinkan orang mengintai dirinya dari luar tak ditemukannya pula. Kini ia merebahkan dirinya ke atas balai-balai.

Rasa penat dan pegal-pegal tubuhnya sedikit demi sedikit mulai berkurang setelah ia berhari-hari menempuh perjalanan yang jauh.

Ia berjalan dari Demak ke Kudus untuk menghindari pengejaran kaki tangan gerombolan Jorangas. Hutan-hutan dan semak-semak liar telah diterobosinya selama perjalanan itu agar tak seorang pun yang melihat kepergiannya dari kota Demak yang dicintainya.

Mengenang-ngenang kejadian-kejadian yang telah lewat itu, terasa matanya semakin bertambah berat dan mengantuk, maka sebentar kemudian Empu Baskara itupun tertidur dengan pulasnya. Wajahnya yang penuh keramahan itu kelihatan sangat tenang dengan aliran nafasnya yang teratur.

*** 2

Pada suatu sore, Empu Baskara duduk di ruangan warung itu menghadapi sebuah meja yang berisi sepiring ketela rebus dan secangkir kopi panas.

Ia baru merasa aman sungguh-sungguh setelah tiga hari ia bermalam di warung itu dan tidak seorang pun yang mencurigainya.

Juga ia tak merasa curiga sedikitpun ketika dua orang yang berkuda berhenti di warung itu. Selain kuda tunggang, kedua orang ini membawa pula dua ekor kuda beban yang dimuati beberapa karung.

Kedua tamu baru itu tampak olehnya memesan kamar kepada si pemilik warung penginapan. Setelah menambatkan kuda-kuda itu di kandang belakang, mereka masuk kembali sambil membawa karung- karung itu ke dalam kamar.

Empu Baskara terus saja mengawasi kedua tamu itu, serta karung-karung yang dibawanya. Beberapa butir putih tercecer dari lubang karung itu.

“Eh, mereka itu pedagang-pedagang beras rupanya,” pikir Empu Baskara karena melihat butir- butir putih yang tercecer tadi. Kini, kopi panas di depannya direguknya beberapa kali.

Beberapa saat kemudian, dilihatnya seorang di antara tamu-tamu baru tadi keluar kembali dan duduk di ruangan warung, tidak jauh dari tempat duduknya. Suatu ketika, Empu Baskara melihat ke arah orang baru yang bertubuh pendek dan kali ini betul-betul membuat Empu Baskara terkejut, bahkan ia merasa ingin menjerit, karena orang baru itu pun ternyata mengawasi dirinya pula.

Empu Baskara cepat-cepat berusaha menguasai dirinya, sambil menyeruput lagi air kopinya. Tapi dasar sial, saking tergesa-gesanya ia minum kopi itu membuatnya tersedak dan batuk-batuk sampai belepotan membasahi kumis dan jenggot palsunya.

Lebih sial lagi bagi Empu Baskara, sebab ketika ia berusaha membersihkan kumis dan jenggotnya dari air kopi itu, tiba-tiba dilihatnya orang baru yang bertubuh pendek itu melongo mulutnya.

Empu Baskara pun menjadi kaget. Cepat ia meraba kumis palsunya. “Ah, persetan! Kurang ajar.” Kumis palsunya ternyata menjadi miring letaknya. “Asem tenan!”

Cepat-cepat ia membetulkan kembali letak kumis palsunya itu. Dan tiba-tiba hati Empu Baskara merasa berdebar-debar, karena si orang pendek itu terus saja mengawasi dirinya. Maka iapun segera bangkit dari tempat duduknya serta melangkah cepat-cepat ke kamarnya.

Makin mendekati kamarnya, terasa jantungnya menjadi semakin berdetak keras. Dan betapa kagetnya ketika pintu kamar itu dijumpainya dalam keadaan terbuka. Seseorang tampak olehnya sedang menggeledah-geledah isi kamar. Ya, orang itu yang bertubuh kekar adalah pedagang beras yang dilihatnya tadi.

Empu Baskara melihat perbuatan orang itu menjadi naik darahnya. Betapa tidak, kamar itu telah dikuncinya dan tak seorang pun yang berhak menggeledah apalagi membongkar-bongkarnya. Perbuatan itu sama saja dengan menginjak-injak harga diri dan kehormatannya. Maka tanpa sadar akan bahaya yang tengah mengintai dirinya, Empu Baskara melompat ke dalam kamarnya serta menggertak orang itu dengan keras.

“Heei keparat, kowe! Apa maksudmu masuk kemari serta membongkar barang-barangku di dalam kamar ini, ha?!”

Persis kera yang kena lempar, orang yang kena gertak itu menjadi geragapan menoleh kesana kemari dengan wajah yang kepucatan. Namun kekagetannya itu hanyalah berjalan sesaat saja, sebab orang ini yang bertubuh kekar dan bernama Kalapati adalah salah satu tokoh gerombolan hitam Jorangas yang sangat berani dan kejam.

“Nah, kebetulan sekali kau cepat datang disini, munyuk tua. Aku butuh beberapa keterangan dan harus kau jawab beberapa pertanyaan yang akan kuberikan kepadamu!” Kalapati ganti membentak Empu Baskara sambil melolos pedang dari sarungnya yang terikat pada pinggangnya sebelah kiri.

Mendapat gertak balasan itu, Empu Baskara mengeluh cemas seperti orang yang terjaga dari mimpi buruknya. “Ooookh!”

Empu Baskara mundur berbalik, hendak mengambil langkah seribu dan lari dari kamarnya, tetapi betapa kagetnya di saat ia membalikkan diri itu sebab di belakangnya telah berdiri sambil menyeringai kejam si orang baru yang bertubuh pendek dengan sorotan matanya penuh keganasan. “Hi, hi, hi, hi, hi, kau merasa kaget, Pak?”

Empu Baskara bermaksud untuk berteriak meminta tolong dan belum lagi maksud itu dilaksanakan, mendadak satu benda keras terasa membentur batok kepalanya, sehingga pandangan matanya menjadi berkunang-kunang serta berputar. Tubuh Empu Baskara sesaat masih berusaha untuk tetap tegak, namun akhirnya menjadi oleng dan kemudian roboh ke lantai kamar tak sadarkan diri.

“Ha, ha, ha, Adi Dandangmala. Akhirnya dia jatuh juga ke tangan kita, ya. Sekarang ayo cepat kita gotong ke dalam kamar kita!”

“Dan kemudian kita akan membawanya kepada Kakang Jorangas dengan hati lega,” terdengar Dandangmala menyela.

“Betul, Adi Dandangmala. Jangan lupa, Empu Baskara ini harus kita larikan dengan memakai siasat yang telah kita rencanakan!”

Dandangmala cepat melongok keluar. Sepi-sepi saja.

“Wah, aman ini!”

Kemudian ia memberi isyarat kepada Kalapati dan kedua penjahat itu dengan tenang dan hati-hati menggotong tubuh Empu Baskara ke dalam kamar mereka.

“Nah, letakkan dulu tubuhnya di dekat karung- karung beras ini, Adi. Biar aku siapkan karung kosong untuknya,” ujar Kalapati sambil menyiapkan sebuah karung yang cukup besar.

Sementara itu Dandangmala pun bekerja dengan cermatnya. Mula-mula ia membungkam mulut Empu Baskara ini dengan selembar sapu tangan. Setelah itu mereka cepat-cepat memasukkan tubuh orang tua itu ke dalam karung.

“Nah, Adi Dandangmala, hari ini pula kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum orang-orang mengetahui hilangnya seorang tua itu dari kamarnya. Karung-karung itu harus kita bawa satu persatu ke kandang kuda dan sekaligus kita muatkan semuanya ke atas kuda.”

“Siap Kakang!” Dandangmala berkata dan tangannya yang kokoh telah mengangkat dua karung beras, lalu dipindahkannya ke atas bahunya dengan mudah.

Melihat kekuatan sahabatnya itu, Kalapati tersenyum-senyum, apalagi jika ia teringat akan sepak terjang sahabatnya itu, ketika dikeroyok oleh empat orang penjaga pesisir Rembang beberapa waktu yang lalu. Mereka itu dengan mudahnya dibanting oleh Dandangmala satu persatu berkaparan di atas tanah.

Ketika itu Dandangmala sudah tiba di pintu warung penginapan dan mendadak seorang pemuda bergegas masuk ke dalam warung. Tanpa sengaja pemuda ini telah membentur tubuhnya dan betapa kagetnya bila kemudian terasa tubuh oleng dan hampir terjatuh bersama karung yang dipikulnya itu. Untunglah pemuda ini cepat-cepat menahan tubuh Dandangmala yang hampir jatuh, dan disertai permintaan maaf.

“Ooh, maaf, Pak. Aku tak sengaja menabrakmu,” ujar pemuda itu yang tidak lain adalah Mahesa Wulung. “Perlu aku bantu, Pak?”

“Tidak usah! Sialan kau! Lain kali matanya dipakai yang benar!” umpat si Dandangmala disertai matanya yang melotot marah ke arah Mahesa Wulung. Tetapi di dalam hati, Dandangmala penuh pertanyaan terhadap pemuda yang baru saja menabraknya. Benar-benar dirinya dibuat heran oleh kekuatan dahsyat si pemuda. “Uh, siapa bocah ini. Kalau sampai orang tak berhasil merobohkanku, tapi pemuda ini dengan benturan tubuhnya yang tidak keras, hampir-hampir saja membuatku jatuh tersungkur!”

Sebaliknya Mahesa Wulung sendiri terkejut bukan main, sebab ia merasa pernah mengenal suara orang yang bertubuh pendek ini. Otaknya cepat. “Eh, rupanya aku terlalu berprasangka dengan kedua orang ini. Ternyata mereka adalah orang-orang pedagang beras dan tak perlu aku mencurigainya.”

Tetapi mendadak hati Mahesa Wulung menjadi bergoncang keras, apabila telinganya menangkap getaran aneh di dalam karung yang dipikul oleh Kalapati yang bertubuh kekar tinggi itu. Ketajaman telinganya menangkap dengus nafas manusia yang berbareng tapi berlainan nadanya. Mata Mahesa Wulung kembali lagi mengawasi karung itu.

“Oh, berisi manusia? Nah, sekarang aku betul- betul merasa curiga terhadap mereka,” desis Mahesa Wulung seraya melangkah mengikuti Kalapati.

Ia bermaksud mencegah kepergian kedua orang itu. Tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, ketika hati kecilnya mencegah maksudnya tadi. Ia berpikir dan dalam kepalanya melintas kepada peristiwa beberapa malam yang telah lalu di saat ia memergoki dua orang di tempat gelap, tengah membicarakan akan hilangnya Empu Baskara.

Belum lagi hilang kagetnya, Mahesa Wulung berpapasan dengan Kalapati yang juga memanggul sebuah karung dari kamar.

“Mereka rupanya adalah pedagang-pedagang beras,” pikir Mahesa Wulung dengan cepat, sebab dari lubang kecil karung itu tercecer beberapa butir beras. Maka iapun menarik nafas lega karenanya. “Kalau aku mencegah maksudnya, pastilah akan menimbulkan keonaran di daerah ini. Biarlah mereka pergi lebih dahulu dan mereka akan kuikuti terus ke mana perginya!” Mahesa Wulung berbalik dan mendekati si pemilik warung penginapan.

“Bapak, siapakah mereka itu?”

“Oh, mereka adalah pedagang-pedagang beras yang singgah di sini, Kisanak. Apakah Kisanak bermaksud membeli beras-beras mereka itu?”

“Aku tak bermaksud begitu, Bapak. Malahan sebenarnya aku menaruh curiga terhadap mereka!”

“Curiga terhadap orang-orang itu!” si pemilik warung mengerutkan dahinya, karena terkejut dengan kata-kata ini. “Apa maksud Kisanak yang sebenarnya?”

“Maaf, Bapak. Aku tak sempat berceritera panjang lebar di sini. Dan sekarang, aku sekali lagi ingin bertanya kepada Bapak. Semoga Bapak tidak keberatan sekali ini.”

Si pemilik warung ternyata mempunyai hati yang cukup baik dan bahkan ia menjadi tertarik dengan tamunya yang masih muda dan berwajah tampan ini, sehingga ia dengan senang hati menjawab pertanyaan Mahesa Wulung.

“Silahkan bertanya, Kisanak. Bapak akan berusaha menjawabnya sebisa mungkin.”

“Apakah Bapak pernah kedatangan seorang yang bertubuh gemuk pendek dan sudah tua?”

“Orang yang bertubuh pendek dan sudah tua? Hmm, ya, ya, aku ingat sekarang. Memang ada seorang tamuku berperawakan demikian itu. Ia telah menginap di sini beberapa hari lamanya dan dialah satu-satunya tamuku yang paling aneh!”

“Aneh?” potong Mahesa Wulung kaget.

“Ya. Ia memang tamu yang aneh, sebab ia jarang berkata-kata dengan tamu lainnya dan juga dengan aku sendiri.”

Mahesa Wulung yakin bahwa ia mulai mencium jejak Empu Baskara, dan ia lalu ingat bahwa Empu Baskara adalah seorang pendiam. Jarang ia mengobrol dengan orang lain. Ia hanya suka berbicara seperlunya saja.

“Bolehkah aku bertemu dengan dia, Bapak?” “Tentu saja boleh, Kisanak. Tapi... nanti dulu! Ia

pernah berpesan kepadaku kalau sedang di dalam kamarnya ia tak mau diganggu. Baiklah aku tengok dulu kamarnya, mungkin ia tak berkeberatan jika Kisanak menemuinya.”

“Baiklah, Bapak. Aku akan tunggu di sini saja.”

Si pemilik warung itu cepat melangkah ke dalam, menuju ke kamar Empu Baskara. Sesaat kemudian ia berlari-lari keluar sambil berseru kepada Mahesa Wulung.

“Wah, celaka, Kisanak. Celaka!”

“Mengapa, Bapak?!” seru Mahesa Wulung tak kalah kagetnya dengan si pemilik warung yang berwajah pucat penuh tanda tanya.

“Celaka. Orang tua itu telah menghilang dari kamarnya, dan lihatlah sendiri, isi kamarnya telah berantakan!”

Mendengar kata-kata itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, Mahesa wulung segera berlari ke kamar Empu Baskara yang telah ditunjukkan oleh pemilik warung. Keduanya masuk ke dalam. Isi kamar itu ternyata memang berserakan menunjukkan bekas dibongkar atau digeledah oleh tangan-tangan jahil. Mahesa Wulung cepat memeriksa barang-barang yang banyak terhampar di lantai.

Dipungutnya sebuah kitab yang terbuat dari kertas merang kemudian dibuka-bukanya. Tampak Mahesa Wulung terperanjat apabila di antara halaman- halaman kitab itu berisi gambar-gambar bentuk pamor dan hiasan dari mata tombak, panah dan keris-keris.

“Empu Baskara!” desis Mahesa Wulung seraya menutup kitab itu. Hanya Empu Baskaralah yang selalu pergi kemana-mana dengan membawa kitab- kitab berisi model-model dan keterangan-keterangan tentang bermacam-macam senjata pusaka.

“Maaf, Bapak. Aku yakin bahwa tamumu itu telah diculik oleh kedua orang pedagang beras tadi.”

“Tapi, Kisanak, aku tak melihatnya ia keluar dari kamarnya!” ujar si pemilik warung bingung.

“Bukankah mungkin kalau salah satu dari karung- karung yang dibawa mereka tadi berisi tubuh tamumu, si orang tua yang pendiam dan aneh itu?”

“Eh, ya, ya, mungkin juga demikian, Kisanak,” ujar si pemilik warung.

“Nah, sekarang aku meminta diri, Bapak. Akan mengejar mereka,” kata Mahesa Wulung sambil melangkah cepat-cepat keluar warung.

Si pemilik warung tak berkata sepatah pun, dan ia melangkah cepat-cepat ke pintu depan. Dilihatnya pemuda tadi meloncat dengan cekatan ke atas punggung kudanya dan bagaikan kilat, ia berpacu ke arah utara.

***

Mahesa Wulung terus melarikan kudanya dengan kencang, tetapi matanya yang tajam itu tak henti- hentinya mengawasi jejak-jejak kaki kuda yang tampak masih baru. Kepandaiannya mencari jejak- jejak dan berburu, sudah digemarinya sejak masa kecil ketika ia tinggal di Asemarang. Itu semuanya berkat didikan Ki Sorengrana, pamannya yang amat dikasihi.

Matahari makin condong ke barat ketika ia telah agak jauh meninggalkan kota Kudus. Sekali-sekali ia berhenti dan bertanya kepada orang-orang yang lewat tentang dua orang berkuda yang membawa karung- karung dengan kuda bebannya. Dan ternyata dari jawaban yang diperolehnya, jelaslah bahwa arah pengejarannya itu tidak keliru. Kedua orang buruannya itu berlari ke arah utara.

Jalan yang dilalui bertambah mendaki dan orang- orang yang lewat makin jarang dijumpai, sebab jalan itu mulai menerobos hutan-hutan kecil dan daerah- daerah semak ilalang yang amat pekatnya. Angin bertiup dengan kencang, terasa menampari wajahnya dan melambai-lambaikan rambut suri kudanya.

“Jalan ini akan sampai di desa Bae. Tapi aku tidak akan membiarkan buruanku lolos bersama Empu Baskara,” Mahesa Wulung bergumam sendirian ketika ia sudah tiba di kaki bukit selatan dari Gunung Muria yang menjulang tinggi bersaput awan putih. Jejak-jejak kaki kuda di depannya masih tampak dengan jelas. Meskipun jejak-jejak tadi amat banyak, namun Mahesa Wulung dapat menebak jumlahnya. Sedang seekor di antaranya pasti bermuatan cukup berat karana terlihat dari jejak- jejak kakinya yang amat jelas dan agak dalam di atas tanah.

Keadaan akan bertambah gelap bila matahari telah tenggelam di cakrawala barat dan pengejaran itu akan bertambah sulit bagi Mahesa Wulung. Karenanya Mahesa Wulung lebih mempercepat lari kudanya agar ia dapat segera mengejar mereka. Sedang jauh di muka, Kalapati dan Dandangmala rupanya tahu pula bahwa mereka diikuti oleh seseorang. Keduanya pun memacu kudanya yang berlari seperti kilat.

“Adi Dandangmala, cepat kau mendahuluiku dan mintalah bantuan kepada Kakang Gogorwana di ujung desa itu!” seru Kalapati kepada sahabatnya.

“Baik, Kakang. Aku berangkat sekarang!” ujar Dandangmala seraya memacu kudanya lebih cepat ke arah utara mengikuti arah yang berbelok-belok.

Setelah mendekati pohon beringin tua yang tumbuh di tepi kanan jalan, Dandangmala membelokkan kudanya ke kanan menerobos semak- semak bambu dan sebentar kemudian sampailah ia di depan sebuah gubuk ilalang. Begitu turun dari kudanya, Dandangmala langsung mendekat gubuk itu.

“Eh, kemana si Gogorwana itu?” terdengar Dandangmala menggerundal. “Di saat yang berbahaya ini, tenaganya sangat kuperlukan.”

“Kau mencariku, Adi?!” mendadak terdengar suara yang parau disertai satu gerakan yang mengejutkan Dandangmala, membuat ia terhuyung ke kanan.

“Ha, ha, ha, ha. Maaf kalau aku telah mengagetkanmu!” terdengar lagi suara yang parau dan ketika Dandangmala menoleh ke belakang, dilihatnya seorang yang bertubuh tegap dan tangannya memegang sebuah kapak yang berukuran tidak lumrah besarnya.

“Terlalu! Kau membuatku kaget, Kakang Gogor!” seru Dandangmala disertai mukanya yang masam berkerut. “Sampai sekarang kebiasaanmu itu tidak hilang juga!”

“Ha, ha, ha, ha. Kau pun masih suka cepat menjadi marah, Adi Dandangmala. Nah, lupakanlah hal itu tadi. Sekarang apa maksud kedatanganmu kemari itu?”

“Aku dan Kakang Kalapati sedang menuju ke Pecangakan dan kami dikejar oleh seorang yang belum kami kenal. Ia mengikutiku sejak dari Kudus. Bagaimana, Kakang?”

“Hah! Jadi kalian takut menghadapi musuh yang hanya seorang diri saja?” jawab Gogorwana. “Di mana letak keberanianmu yang telah sekian tahun selalu kau perlihatkan itu?”

“Takut? Kau bilang kami berdua tak berani menghadapi orang itu? Hah! Anak buah Jorangas tak pernah mempunyai rasa takut dalam menghadapi musuhnya! Kami memang sengaja tidak ingin tertunda dalam perjalanan ini, sebab kami membawa barang yang penting untuk pemimpin kita, Jorangas. Nah, kiranya Kakang Gogorwana sudah tahu tugas yang harus kau kerjakan, toh?”

“Mencegat orang itu,” ujar Gogorwana.

“Ya, mencegat orang yang mengejar kami itu dan jika perlu Kakang Gogor boleh ”

“Membunuhnya?!” potong Gogorwana disertai tertawanya yang berderai memenuhi halaman gubuk ilalang itu.

“Bagus! Memang kebetulan sekali. Sudah lama tanganku ini gatal untuk bertempur. Tapi jangan lupa Adi Dandangmala, aku tak pernah mengerjakan suatu pesanan secara cuma-cuma! Meskipun yang menyuruh tadi sahabatku sendiri, ha, ha, ha.”

“Kau memang mata duitan, Kakang Gogor! Baiklah, nih terimalah untukmu!” kata Dandangmala seraya melempar kantong kecil yang diambil dari ikat pinggangnya.

Dengan sigap Gogorwana menangkap kantong itu dan segera membukanya serta menghitung isinya, seikat mata uang logam.

“Heh, heh, ini sudah cukup, Adi Dandangmala. Sekarang kau boleh pergi meneruskan perjalananmu. Biarlah aku hadapi orang itu!”

“Terima kasih, Kakang Gogor. Aku pergi sekarang,” ujar Dandangmala dan iapun meloncat ke atas punggung kudanya serta dipacu ke arah jalan yang semula, menuju utara dan ternyata dilihatnya Kalapati sudah berpacu agak jauh di depannya.

Kini keduanya berkuda berdampingan dengan hati lega karena orang yang mengejar mereka telah dipasrahkan kepada Gogorwana. Sekali-sekali mereka menoleh ke belakang untuk melihat kuda bebannya yang digandeng kuda Kalapati. Mereka mencemaskan karung-karung yang diikat di punggung kuda beban itu, sebab satu di antaranya berisi tubuh Empu Baskara yang terikat, tak sadarkan diri dan sangat berharga bagi gerombolan Jorangas!

*** 3

Mahesa Wulung terus mempercepat lari kudanya menuju ke utara mengikuti jalan yang berbelok-belok dan menanjak. Tiba-tiba di antara desiran angin senja yang bertiup itu terdengarlah oleh telinga Mahesa Wulung bunyi orang menebang pohon yang berdentang-dentang menggema di arah utara dari jalan yang akan ditempuhnya.

“Hmm, sungguh aneh bunyi itu. Kalau saja orang menebang pohon, itu sudah biasa. Tetapi dalam senja begini ini, bukanlah waktunya yang tepat untuk menebang pohon! Aku mesti hati-hati mengambah daerah ini,” Mahesa Wulung berpikir keras untuk menduga-duga siapakah orangnya yang berbuat itu, menebang pohon dalam waktu yang tidak semestinya. Maka ditariknya kekang kudanya agar berkurang kecepatan larinya.

Dari jauh tampak olehnya puncak-puncak pohon beringin yang tumbuh subur menaungi jalan yang berseling-seling dengan pohon kenari. Satu pertanda bahwa ujung Desa Bae sudah bertambah dekat.

Sesaat kemudian bunyi berdentang-dentang orang menebang pohon itu berhenti. Mahesa Wulung makin berhati-hati. Kaki kudanya melangkah terus dan sekali-kali dari mulut kuda terdengar bunyi meringkik yang kecil. Hal ini membuat Mahesa Wulung merasa curiga. “Kuda ini telah mencium sesuatu yang asing dan mungkin bahaya yang besar sedang mengintai di depan!”

Belum habis Mahesa Wulung berpikir itu, tiba-tiba kudanya mengeluarkan ringkikan yang keras disertai kepalanya yang sebentar mengangguk serta ditarik- tarik ke belakang.

“Heeee, kuda ini tidak mau melangkah maju!” desis Mahesa Wulung ketika dilihatnya kuda itu hanya berdiri sambil menderap-derapkan kaki depannya ke tanah.

Mahesa Wulung melihat sekeliling. Sepi! Hanya pohon-pohon kenari dan beringin yang menaungi serta memagari jalan itu, bagaikan setan-setan alas yang berbaris menantikan mangsanya. Mendadak satu bunyi berderak terdengar amat keras dan satu pohon kenari bergoyang dan bergerak ke bawah ke arah Mahesa Wulung bersama kudanya.

Kejadian itu amat mendadak seperti memukau kesadaran pikiran. Namun Mahesa Wulung bukan anak kemarin sore, maka melihat batang pohon kenari yang melayang roboh siap menghancurkan tubuhnya itu, ia cepat-cepat menarik tali kekang kudanya. Ternyata kuda Mahesa Wulung itupun mencium bahaya yang sedang terjadi. Dengan satu ringkikan keras, begitu ia merasa mulutnya tertarik oleh tali kekang, iapun mendongak ke samping kemudian membuat satu loncatan berbalik ke belakang yang cukup jauh.

Bunyi berderak dari robohnya batang pohon kenari yang melintang ke jalan, terdengar sangat keras memenuhi tempat sekelilingnya. Untunglah Mahesa Wulung dengan kudanya telah bertindak dengan cepat Kalau sedikit saja terlambat, pastilah mereka akan hancur lumat ditimpa oleh batang pohon kenari itu, yang besarnya lebih dari sepemeluk tangan. Mahesa Wulung merasa bersyukur, bahwa dirinya telah terhindar dari maut. Sementara itu tangan kanannya berkali-kali menepuk-nepuk leher kudanya agar menjadi tenang kembali

Dalam hati Mahesa Wulung terpesona melihat besarnya batang pohon kenari yang telah roboh itu. Dapatlah dibayangkan sepintas lalu, betapa hebatnya tenaga yang telah mampu menebang putus batang kenari dalam waktu yang sesingkat itu.

Belum habis rasa kagumnya, tiba-tiba hati Mahesa Wulung berdesir melihat satu sosok tubuh manusia yang melesat dari kerimbunan semak-belukar dan langsung berdiri tegak laksana patung perkasa di atas batang pohon kenari yang telah roboh melintang di tengah jalan.

“Hia, ha, ha, ha. Bagus! Kowe pancen gesit! Tapi jangan lekas membusung dada sebelum bisa menghadapi Gogorwana!” seru orang tegap yang baru muncul disertai sorot matanya yang kemerahan.

“Ooo, jadi kaulah yang bernama Gogorwana dan bergelar Blandong Nyawa?!” ujar Mahesa Wulung kaget, sebab ia pernah mendengar nama tokoh ini, yang dikenal sebagai seorang pendekar liar dengan senjata kapaknya. Kepandaiannya menebang dan membelah batang pohon sama baiknya jika ia menebas dan membelah tubuh lawan-lawannya.

“Jadi kau sudah tahu nama gelarku? Ha, ha, ha, itu lebih baik, agar kau mati dengan kepuasan. Nah, sekarang hadapilah kematianmu dengan tenang supaya pekerjaanku menjadi lebih mudah!”

“Tunggu dulu, Kisanak! Kau boleh membunuh Mahesa Wulung, asal lebih dahulu kamu sebutkan sebab-musababnya mengapa sampai kau berminat menghalangi perjalananku ini?”

Sekali ini Gogorwana atau yang bergelar Blandong Nyawa serentak terperanjat mendengar nama Mahesa Wulung. Ia telah mendengar nama itu, nama dari seorang pendekar Demak yang menjadi musuh dari setiap gerombolan hitam hampir di segenap Nusantara.

Tapi memang dasar Gogorwana seorang pendekar liar yang keras kepala serta membanggakan segenap kekuatannya, maka perasaan cemas dan terperanjatnya segera lenyap dari sudut-sudut hatinya, lalu berubah menjadi rasa bangga karena dapat berhadapan dengan Mahesa Wulung. Satu tokoh yang selalu menghantui orang-orang gerombolan hitam.

“Hah, kebetulan sekali jika musuhku kali ini seorang yang sudah mempunyai nama tenar! Mahesa Wulung, ketahuilah bahwa kau harus kulenyapkan dari muka bumi ini, karena telah berkali-kali menghancurkan teman-temanku dari gerombolan hitam dan juga kau telah berani mengejar-ngejar kedua sahabatku!”

“Keparat, kau ternyata antek begundal gerombolan Jorangas! Kalau begitu, bukan aku yang harus mati, tapi kamulah yang harus kuantarkan ke neraka!” teriak Mahesa Wulung sambil bersiaga dan meloncat turun dari atas kudanya.

“Setan! Memang tanpa tedeng aling-aling, akulah anak buah gerombolan Jorangas! Makanya kamu harus mampus!” teriak menggeram Gogorwana menggema di sekeliling tempat itu dan tahu-tahu ia bergerak seperti kilat melancarkan serangannya dengan satu tebasan membujur ke bawah, ke arah kepala Mahesa Wulung. Mata kapak berkilat merupakan sinar putih yang siap membelah kepala Mahesa Wulung dengan cepatnya, namun secepat itu pula Mahesa Wulung membungkuk menghindari serangan ini dan tubuhnya berguling ke samping beberapa langkah jauhnya, kemudian disusul bunyi menggegar akibat mata kapak raksasa si Gogorwana melesat dan kemudian membalah hancur batu hitam di bawahnya.

Mahesa Wulung cepat-cepat berdiri bersiaga kembali. Demikian pula Gogorwana pun bersiaga, dibarengi mulutnya yang menggerundal memaki-maki karena serangannya tadi dengan mudah dielaki oleh lawannya. Tanpa berkata-kata lagi ia menekap giginya, dikerahkannya segenap kekuatannya untuk kemudian sambil berteriak keras ia mengayunkan kapaknya mendatar, melintang dengan derasnya ke arah dada Mahesa Wulung yang telah bersiaga.

Sekali lagi Gogorwana dibikin terkejut oleh gerakan lawannya yang cepat selincah burung sikatan. Begitu mata kapaknya hampir merobek dada Mahesa Wulung, lawannya ini membungkukkan tubuhnya serendah mungkin dan... Wesss! Bunyi berdesir dari kapak Gogorwana yang melesat dan lewat di atas kepala Mahesa Wulung terdengar menyerikan telinga, disusul suara berderak keras. Sebatang pohon dadap yang cukup basar terbabat putus!

Untuk kedua kalinya serangan Gogorwana gagal, sedang tubuhnya yang terbawa oleh arah ayunan kapaknya yang begitu deras, dipergunakan oleh Mahesa Wulung sebaik-baiknya. Dengan sedikit tendangan sisi telapak kaki kanannya pada pinggang Gogorwana, membuat orang ini terhuyung ke depan dan kemudian jatuh terjungkal ke semak ilalang! Gogorwana berdiam diri mengatur nafasnya yang mengalir berdesakan tak teratur. Setelah agak tenang, ia mengangkat kedua tangannya yang masih menggenggam kapak itu melintang ke depan dadanya. Sejurus kemudian dengan pelan-pelan kapak itu bergerak ke atas dan berhenti setelah sejajar dengan tubuh Gogorwana, sedang mata kapak itu menghadap lurus ke arah Mahesa Wulung.

Dan dugaan itu ternyata tidak meleset. Sekejap saja kapak di tangan Gogorwana telah berputar seperti angin badai, berdesing-desing dibarengi kilatan-kilatan mata kapak yang menyilaukan mata meskipun senja makin menggelap. Bersamaan Gogorwana mengeluarkan ilmu kapaknya yang dahsyat itu, Mahesa Wulung pun memutar pedangnya yang berkelebatan mengerikan hati.

Maka di saat sang purnama mulai muncul di cakrawala timur, kedua pendekar itupun bertempur dengan hebatnya. Masing-masing telah mengerahkan segenap tenaga dan siasatnya guna merobohkan lawannya dengan secepat mungkin. Beberapa batang pohon kecil-kecil di sekitar mereka terbabat dan tersambar putus oleh kedua senjata pendekar itu yang bersambaran saling mengejar.

Menginjak jurus yang ke lima belas terasa oleh Gogorwana bahwa kedudukannya sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh Mahesa Wulung yang tandangnya persis banteng ketaton dengan ujung pedangnya yang bergerak cepat laksana ujung-ujung tanduk, siap menjebol setiap lawannya.

Sementara itupun Mahesa Wulung berpikir keras dalam menghadapi Gogorwana yang bertenaga luar biasa. Setiap pukulan dan ayunan kapaknya selalu disertai oleh sambaran angin panas! Pikirannya melayang ke arah Empu Baskara yang telah dibawa lari oleh kedua penculiknya. Ya, jika ia semakin lama bertempur di tempat ini, pastilah jarak kedua penculik itu akan lebih jauh dan mungkin tidak akan terkejar lagi. Bahkan mungkin pula ia tidak bisa menyelamatkan Empu Baskara dari tangan gerombolan Jorangas!

Mengingat itu semua, Mahesa Wulung mengambil keputusan untuk menyudahi pertempurannya. Tetapi bagaimana? Sedang serangan Gogorwana bertubi- tubi datangnya. Tiba-tiba sekilas senyum tersungging di bibir Mahesa Wulung, satu pertanda bahwa ia telah menemukan suatu cara terbaik guna menyudahi pertempuran itu.

Maka di saat ia melihat satu kesempatan yang kecil, yang tampaknya tak mungkin dapat ditembus, Mahesa Wulung telah menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sebuah tebasan pedangnya yang mendatar dan amat lincah bergerak dengan manisnya ke arah perut Gogorwana.

Dess! Gogorwana terpekik kecil sambil mengutuk sedang tangan kirinya cepat bergerak ke bawah. Ternyata ujung pedang Mahesa Wulung telah membabat putus ikat pinggang Gogorwana sampai ke sebelah dalamnya sekali, sehingga celana beserta kain Gogorwana melotrok ke bawah karena tidak ada lagi yang menekan.

Gogorwana menjadi serawutan. Sementara tangan kirinya menahan celana dan kainnya agar tetap pada pinggang, tangan kanannya bergerak separo tenaga dalam mengobat-abitkan kapaknya yang besar itu. Geraknya menjadi tak karuan, sebab disamping rasa marah, ia pun menjadi malu karena harus bertempur dengan cara yang demikian. Maka Gogorwana meloncat ke belakang dua langkah kemudian berbalik dan meloncat panjang ke arah semak-semak yang rimbun dan gelap. Tubuhnya lenyap seolah-olah ditelan oleh kegelapan malam.

Mahesa Wulung membiarkan lawannya lari. Ia cukup puas dapat menyudahi pertempuran itu dengan cara yang mudah, tanpa menimbulkan korban.

Segera pedangnya disarungkan kembali dan cepat ia meloncat ke atas punggung kudanya. Dengan satu sentakan tali kekang pada mulutnya serta depakkan kecil dari kaki Mahesa Wulung pada perutnya, maka kuda itupun tahu apa yang dikehendaki oleh tuannya. Mulutnya mengeluarkan ringkikan panjang melengking dengan satu loncatan yang manis. Ia melangkahi batang pohon kenari yang melintang roboh di tengah jalan itu. Mahesa Wulung memacunya kembali ke arah utara.

Setelah menanjak dan sekali lagi menurun, tibalah ia di Desa Bae. Keadaan desa itu tampak sepi, sedang semua pintu ditutup rapat-rapat, seperti dicengkam oleh suasana ketakutan. Mahesa Wulung merasa heran sebab pada umumnya, jika suasana cerah dan bulan telah timbul, pastilah setiap orang akan menjadi senang. Mereka biasanya lalu bergerombol atau duduk-duduk di halaman rumahnya untuk mengobrol dan bergurau dengan keluarga atau pun sahabat-sahabatnya. Sedang anak-anak kecil akan bermain-main sambil bertembangan ataupun berlari berkejar-kejaran.

Tetapi kali ini bukan suasana begitu yang dijumpainya, malahan sebaliknya, sepi dan tanpa suara orang yang bercakap-cakap. Mahesa Wulung melambatkan lari kudanya untuk sekedar meneliti suasana desa tersebut.

“Hmm, sayang sekali tak seorang pun yang tampak. Sebenarnya aku ingin bertanya kepada salah seorang penduduk desa ini untuk mengetahui ke mana larinya buruanku tadi?”

Rumah-rumah desa itu berapitan memanjang ke arah jalan yang tengah dilaluinya. Belum seorang pun yang tampak! Mahesa Wulung makin mendekati ujung desa yang sebelah utara dan sebentar lagi pastilah ia akan tiba di luar desa.

“Berhenti!” teriak seorang yang bertubuh jangkung bersenjata tombak. Sedang laki-laki bertubuh kekar di sampingnya, mengacung-acungkan sebilah keris ke arah Mahesa Wulung.

“Ini pasti orangnya! Pateni bae! Jangan kasih lolos dia, Kang Joran!” teriak yang bersenjata keris kepada si jangkung.

“Ya, pasti kita sikat dia. Tapi jangan tergesa-gesa. Biar aku tanya orang ini lebih dahulu!” seru orang yang disebut Joran oleh si tubuh kekar itu. “Dan siapkan orang-orangmu, Adi Siwalan!”

“Baik, Kakang!” teriak si tubuh kekar yang bernama Siwalan, kemudian ia melambaikan kerisnya. Serentak beberapa orang lagi muncul dan mengepung Mahesa Wulung.

“Ooh, ini pasti terjadi salah paham dengan diriku. Aku mesti hati-hati menghadapinya!” desis Mahesa Wulung sambil menghentikan kudanya yang masih meringkik-ringkik kecil.

“Apa maksudmu lewat di desa ini, Kisanak?!” teriak Joran dengan lantang.

“Maaf, kalian sebenarnya menghalangi jalanku. Aku tengah mengejar buruanku yang berkuda, sebanyak dua orang serta membawa kuda beban yang bermuatan karung-karung!” ujar Mahesa Wulung.

“Oooo, jadi Kisanaklah yang mengejar-ngejar kedua orang pedagang beras itu dan bermaksud merampas harta bendanya!” seru Joran memotong.

“Kisanak telah salah paham!” ujar Mahesa Wulung dengan tenang, sementara otaknya berpikir keras menghadapi keadaan yang kini terjadi dan cukup gawat. Segera ia dapat mengambil kesimpulan bahwa sesuatu telah terjadi sebelum ia tiba di sini. Dan juga ia yakin kalau orang-orang ini tidak mempunyai maksud-maksud yang jahat. Mereka sudah sepantasnya kalau mencurigai dirinya, sebagai orang asing di tempat ini, ia tidak akan berbuat sesuatu yang bisa membikin keadaan bertambah panas.

“Memang aku sedang mengejar kedua orang tadi yang dikenal sebagai pedagang-pedagang beras,” Mahesa Wulung berkata pelan. “Tetapi ketahuilah bahwa mereka sebenarnya adalah anak buah gerombolan Jorangas!”

Mahesa Wulung kebingungan juga menghadapi keyakinan mereka yang keliru itu. Kalau jalan baik dan musyawarah tak dapat dicapai, pastilah satu- satunya jalan ialah dengan kekerasan. Ia akan menerobos kepungan orang-orang itu dan meneruskan pengejaran.

“Begitulah kenyataannya seperti yang telah aku katakan tadi. Percaya dan tidaknya terserah kepada saudara-saudara semua. Tetapi lebih dulu berilah aku jalan untuk meneruskan perjalananku!”

“Ha, ha, ha, itu tidak mungkin! Aku adalah kepala keamanan desa ini, dan segala kepentingan disini ada di bawah naunganku, termasuk kedua orang pedagang beras itu. Mereka telah meminta tolong kepadaku agar mereka diselamatkan dari orang yang mengejarnya, yaitu Kisanak sendiri!” Joran berkata dengan nada yang tajam setengah mengancam. Maka sebaiknya Kisanak menurut saja untuk kami tahan!”

Kata-kata Joran itu sungguh mengejutkan bagi Mahesa Wulung dan mengguntur bagai guruh di telinganya. “Menahanku disini?!”

“Ya! Kisanak akan kutahan disini. Dan setelah kami periksa serta terbukti kalau Kisanak orang yang baik-baik, pasti kami akan bebaskan kembali!”

“Aku menolak maksudmu itu!” seru Mahesa Wulung lantang, sampai membuat orang-orang itu terperanjat. Baru kali ini ada orang yang berani menantang keputusan laskar pagar desa, di tempat mereka sendiri. Maka bagi mereka, itu terasa sebagai satu penghinaan yang amat besar. Sungguh-sungguh keterlaluan! Betapa akan hilangnya kewibawaan mereka, karena di tempat mereka sendiri ada orang yang berani menentangnya! Beberapa orang tampak menjadi merah mukanya, sedang Joran dan Siwalan menggertakkan gigi karena jengkelnya.

“Cincang saja orang ini! Jadikan bergedel!” teriak Siwalan ganas.

“Keparat, kau minta dipaksa orang asing!” sambung Joran sambil menyiapkan tombaknya.

“Silahkan, kalau kalian mau menangkapku!” teriak Mahesa Wulung dan sekali lagi mereka benar-benar dibuat terperanjat, tapi juga membikin mereka kehilangan kesabarannya! Kesabaran yang terakhir!

“Hyaaaat!”

Sebuah teriakan nyaring terdengar, berbareng melesatnya Joran dengan satu tusukan tombaknya ke arah dada Mahesa Wulung. Serangan itu begitu cepat dan hampir-hampir saja mengenai sasarannya, jika Mahesa Wulung tidak keburu merobohkan tubuhnya ke belakang. Mata tombak itu lewat sejengkal di depan dadanya dan dengan sigap, tangan kanan Mahesa Wulung menangkap tombak.

Joran terperanjat melihat Mahesa Wulung menangkap tangkai tombaknya dan lebih kaget lagi bila terasa olehnya bahwa ia tak dapat menggerakkan sama sekali tangkai tombaknya. Seolah-olah telah dijepit oleh dua dinding baja!

Kemudian dengan tenaga yang tidak begitu besar, Mahesa Wulung mendorongkan ke belakang tombak Joran, dan berakibat cukup hebat! Orang ini jatuh terjengkang ke belakang beberapa langkah di atas tanah. Orang-orang lain terpekik kecil, seolah-olah tak percaya melihat peristiwa yang baru saja terjadi.

Joran cepat berdiri dan menyerang kembali, sementara pada saat itu juga, Siwalan pun melancarkan serangan kerisnya ke arah Mahesa Wulung. Dua serangan itu datang berbareng dan sebagai air bah siap melanda Mahesa Wulung bersama kudanya.

Mahesa Wulung mengeluh dalam hati. Ia tak mengira sama sekali bahwa keadaan berkembang ke arah yang demikian itu. Tetapi segala sesuatu telah terlanjur dan ibarat orang yang menyeberang sungai, kalau kainnya sudah dijinjing tinggi-tinggi tapi masih juga basah, maka lebih baik kalau ia mencelupkannya sama sekali, agar penyeberangan tidak terganggu olehnya!

Maka begitu pun dengan Mahesa Wulung. Ia tak mau mati konyol di tangan orang-orang ini, yang bukan seharusnya menjadi musuhnya. Dengan satu kecepatan yang hampir tak terlihat oleh mata, Mahesa Wulung melolos pedangnya dan sekaligus diputarnya untuk menghadapi serangan Joran dan Siwalan yang datangnya berbareng.

Tak! Trang! Dua suara benturan terdengar dan mata tombak Joran terbabat putus, sedang keris Siwalan terpental lepas dari tangannya disusul tubuhnya jatuh terpelanting ke tanah!

“Maaf, Kisanak!” terdengar satu suara lembut, seolah-olah mempunyai satu perbawa dan membuat Mahesa Wulung serta orang-orang itu tersadar dari nafsu amarahnya, nafsu yang bisa menyeret manusia ke dalam perbuatan yang di luar batas kesadarannya. Dari sela-sela orang-orang itu, muncullah ke depan, seorang yang berwajah  damai dengan

rambutnya yang keputihan.

“Maaf, Kisanak!” terdengar sekali lagi orang tua itu berkata dengan lembutnya. “Orang-orangku ini terlalu kasar, tapi percayalah bahwa mereka bukan orang-orang kejam yang suka membunuh dan mencincang!”

“Ooh, Ki Lurah Bae!” desis orang-orang itu, terdengar oleh telinga Mahesa Wulung.

Cepat-cepat ia meloncat turun dari atas kudanya. “Tak apalah, Bapak. Aku pun tak mempunyai

maksud yang buruk. Maaf, jika aku telah merusakkan senjata-senjata mereka!” ujar Mahesa Wulung sambil menyarungkan pedangnya.

“Kisanak,” Ki Lurah Bae melanjutkan. “Apakah Kisanak mempunyai kalung?”

“Kalung?” Mahesa Wulung kaget. “Betul aku membawa sebuah kalung. Tapi apa maksud Bapak?”

“Aku ingin melihatnya, jika Kisanak tak berkeberatan,” kata orang tua itu.

“Mmm, baiklah, Bapak.”

Mahesa Wulung segera melepaskan untaian kalungnya dan kemudian menunjukkan sekali kepada Ki Lurah Bae.

Serentak terdengar suara bergumam dari mulut orang-orang itu, yang kaget setengah ketakutan! Sebab hias kalung itu berbentuk lingkaran bergerigi seperti mata senjata cakra Sang Prabu Kresna, dan mereka mengenalnya sebagai lambang keperwiraan dari seorang tamtama Demak!

“Nah, kalau begitu tak salah dugaanku bahwa Kisanak adalah salah seorang perwira dari Demak, dan bolehkah aku mengenal nama Tuan?” orang tua itu berkata lebih hormat. Sedang Joran dan Siwalan tersirap darahnya setelah mendengar bahwa orang yang baru saja dilawannya itu tidak lain adalah seorang perwira dari Demak. Hukuman apakah yang akan dijatuhkan kepada dirinya, kalau orang-orang seperti dia telah berani melawan bahkan mengancam seorang perwira dari Demak.

“Aku biasa dipanggil Mahesa Wulung, Bapak,” terdengar suara lemah dari mulut Mahesa Wulung, tapi cukup terasa sebagai sambaran geledeg pada telinga orang-orang itu, terutama dengan Joran dan Siwalan.

Mereka telah mendengar nama itu, nama seorang perwira Demak yang telah berkali-kali mengamankan serta menjaga Demak dari gangguan-gangguan kejahatan yang sering kali ditimbulkan oleh gerombolan hitam, dalam usahanya meruntuhkan kejayaan Demak.

Maka serentak Joran dan Siwalan melangkah maju serta membungkuk hormat.

“Maafkan kami, Tuan. Kami orang-orang picik dan tak berarti ini siap menerima hukuman ”

“Ah sudahlah,   Kisanak!   Kalian   berdua   tak bersalah, sebab aku telah katakan tadi bahwa ini semua terjadi karena salah paham,” Mahesa Wulung berkata dengan pelan tapi jelas, bagaikan seorang tua yang tengah menasehati anaknya karena telah berbuat kurang baik.”

“Tetapi, mengapakah Bapak Lurah Bae dapat menduga kalau aku seorang punggawa Demak?” lanjutnya.

“Aku merasa telah pernah berjumpa dengan Tuan beberapa tahun yang lalu di alun-alun Demak, dalam latihan keprajuritan,” ujar Ki Lurah Bae. “Waktu itu aku tengah menghadap ke Demak dan sempat menyaksikan latihan itu.”

Mahesa Wulung segera dapat mengenal kembali wajah Ki Lurah Bae, yang dahulu pernah berkenalan dengan dirinya. “Untunglah Bapak lekas turun tangan. Kalau tidak, pastilah menjadi lebih hebat peristiwa tadi.”

“Begitulah, Tuan. Memang rupanya Tuhan Yang Maha Besar masih mengulurkan tanganNya, hingga pertumpahan darah antara sesama sahabat tidak perlu terjadi. Dan sekarang aku persilahkan Tuan beristirahat sejenak,” ujar Ki Lurah Bae dengan ramahnya.

“Terima kasih, Bapak. Tetapi aku masih harus cepat-cepat melanjutkan pengejaranku. Aku harus menangkap kedua orang itu, sebelum mereka kabur terlalu jauh,” ujar Mahesa Wulung. “Nah, selamat tinggal Ki Lurah dan para kisanak. Aku menyesal sekali tak dapat bercakap-cakap lebih lama lagi.”

Mahesa Wulung setelah mengangguk hormat kepada orang-orang itu, dengan lincah dan sigap ia meloncat ke atas punggung kudanya.

“Selamat jalan,   Tuan!”   seru   mereka   hampir berbareng, ketika Mahesa Wulung mulai memacu kudanya ke arah utara.

Cahaya purnama menerangi jalan yang ditempuhnya yang sebentar-sebentar turun naik dan berbelok-belok bagaikan ular yang melilit kaki Gunung Muria.

*** 4

Kuda Mahesa Wulung berlari dengan kencang, seakan-akan mengerti akan kesulitan yang dihadapi oleh tuannya. Jalan yang naik turun serta berbelok- belok itu dengan enaknya ditempuh tanpa kesulitan.

Bila Mahesa Wulung melihat ke langit di atas Gunung Muria dan melihat bintang-bintang yang bertaburan amat banyak, dapatlah ia segera mendapatkan gugusan bintang Waluku yang bisa dipakainya untuk mencari arah utara.

“Hmm, jalan kecil ini menuju ke arah barat laut!” desis Mahesa Wulung sendirian. “Mungkin sampai ke Pecangakan!”

Kini Mahesa Wulung melalui jalan yang agak menurun, sedang di sebelah kiri tampaklah dataran subur yang terhampar luas. Setelah menyeberangi sungai kecil, ia menghentikan kudanya, sebab ia ragu-ragu, apakah kedua orang yang sedang diburu itu tetap pada jalan yang ditempuhnya.

Cepat-cepat ia turun serta mengambil sesuatu dari kantong kulit yang tergantung pada pelana kudanya.

“Mudah-mudahan batu api dan kawul ini dapat menolongku untuk mengetahui jejak kaki kuda mereka!”

Setelah beberapa kali memukul-mukulkan batu api itu, memancarlah percikan bunga-bunga api ke kawul itu dan terbakar menyala. Dengan sebuah dahan kering, dapatlah ia segera membuat api yang cukup terang menerangi permukaan tanah.

“Yah, jejak-jejak mereka masih tetap pada arahnya, menuju ke barat laut,” gumam Mahesa Wulung sambil meraba-raba jejak kaki kuda itu. “Jejak-jejak ini masih baru dan pastilah mereka belum begitu jauh larinya!”

Bagi Mahesa Wulung, soal mencari jejak-jejak serta mengetahui seluk-beluknya, bukanlah pekerjaan yang sukar.

Tak terasa oleh Mahesa Wulung, berapa lamanya ia telah berkuda, sebab perasaannya dipenuhi oleh ketegangan yang luar biasa. Perhatiannya sepenuhnya tertumpah pada kedua orang yang tengah dikejarnya itu. Mereka telah menculik Empu Baskara. Justru, hal inilah yang telah menjadi tugasnya! Mencari dan membawa kembali Empu Baskara ke Demak.

Tetapi sampai saat ini ia tak habis mengerti mengapa orang tua ini secara diam-diam meninggalkan Demak. Malahan sekarang ia telah diculik oleh anak buah gerombolan Jorangas yang mulai memperlihatkan kegiatannya. Mereka telah sekian tahun menghilang, tetapi sekarang muncul kembali.

Jalan yang dilewati semakin menurun, melewati lembah yang subur, penuh oleh pohon yang besar- besar dan rumpun pohon pisang yang tumbuh liar. Di antara sela-sela daun, beberapa ekor kunang- kunang tampak terbang dengan tenangnya, bagaikan lentera-lentera kecil yang berkedip-kedip amat indahnya.

Di antara deru tiupan angin yang kencang itu, tiba-tiba Mahesa Wulung mendengar getaran-getaran dari senjata yang beradu, dan arahnya kira-kira dari barat laut, tepat pada jalan yang kini tengah ditempuhnya!

Untuk ke sekian kalinya pula Mahesa Wulung terpaksa berpikir keras. Betapa tidak? Halangan- halangan dan berbagai peristiwa telah datang saling susul-menyusul dan ini dirasanya sebagai satu cobaan, satu ujian yang harus dihadapinya dengan gigih, apabila ia tidak ingin terseret ke dalam jurang kehancuran. Demikianlah, semakin cepat Mahesa Wulung memacu kudanya, semakin jelas suara senjata-senjata yang berbenturan itu terdengar oleh telinganya.

“Ah, siapakah yang telah bertempur di sana pada malam-malam sedingin ini?” Mahesa Wulung dipenuhi tanda tanya dalam hatinya, apalagi telinganya yang tajam itu mendengar suara lecutan yang meledak berkali-kali.

Sekonyong-konyong setelah membelok ke kiri dan kudanya berlari pada jalan yang telah mendatar, di tengah jalan ia melihat tiga orang yang terlibat dalam satu lingkaran pertempuran. Mereka tampak sebagai bayangan-bayangan hitam yang saling berkelahi, sambar-menyambar, incar-mengincar.

Seketika Mahesa Wulung tersirap darahnya bila melihat kepada mereka, sebab salah seorang di antaranya adalah seorang gadis! Ini dapat diketahuinya dari bentuk tubuh serta gerakan- gerakannya yang menarik dan lincah. Meskipun ia menghadapi dua orang lawan, tapi ia dengan tangguh melawannya. Yang lebih mengagetkan lagi ialah senjata yang dipergunakan oleh gadis itu yaitu ia menggenggam sehelai selendang yang berwarna jingga merah. Selendang itu dipergunakannya sebagai senjata yang berputaran amat hebat seperti kitiran, sedang ujung selendang itu sesekali mematuk ke arah dua orang lawannya.

“Hee, itu kalau tidak keliru adalah Adi Pandan Arum. Tapi mengapa ia berada di sini?” desis Mahesa Wulung saking herannya.

Ketika ia semakin dekat dengan mereka, mata Mahesa Wulung seketika terbelalak, sebab dugaannya tadi ternyata benar. Gadis yang bertempur itu adalah Pandan Arum, sedang kedua orang lawannya tidak lain adalah Dandangmala dan Kalapati. Dua orang anak buah Jorangas yang tengah dikejarnya!

Maka Mahesa Wulung tak menunggu lebih lama bagi. Dengan cepat dan cekatan ia meloncat dari atas kudanya dan langsung terjun ke tengah arena pertempuran!

“Adi Pandan Arum, biar yang seorang ini menjadi bagianku!” teriak Mahesa Wulung seraya menerjang Kalapati yang bertubuh kekar. Sebaliknya, Pandan Arum kaget tapi juga bercampur gembira sebab kedatangan Mahesa Wulung itu benar-benar tidak diduganya sama sekali. Memang, dalam hatinya pun gadis ini telah merasa kangen kepadanya, sebab telah beberapa waktu ia terpaksa berpisah dengan Mahesa Wulung. Ia selama itu tinggal di daerah Jepara untuk menemani bibinya, Nyi Sumekar. Seketika itu terjadilah dua lingkaran pertempuran yang cukup hebat, di bawah naungan sinar terang sang purnama. “Kakang Wulung! Cepat selesaikan musuh-musuh kita ini. Mereka telah menculik Empu Baskara!” seru Pandan Arum lantang sampai membuat Mahesa

Wulung terkejut seketika.

“Adi Pandan Arum, dari mana kau tahu hilangnya Empu Baskara?” seru Mahesa Wulung pula.

“Dari Kakang Jagayuda. Aku telah bertemu dengan dia di Jepara!”

“Bagus! Kalau begitu, kau pun harus cepat membereskan lawanmu!” sekali lagi Mahesa Wulung berseru dan merekapun bertempur semakin gigih.

Dalam pertempuran itu, setelah berjalan beberapa jurus Kalapati terpaksa mengucurkan keringat dinginnya. Diam-diam ia mengutuk sejadi-jadinya karena kedatangan Mahesa Wulung itu. Untuk menghadapi lawannya, Kalapati tidak kepalang tanggung mengeluarkan ilmu pedangnya yang dahsyat. Maka tak heran jika pedang di tangannya itu bersambaran dengan bunyi mendesing, mengurung tubuh Mahesa Wulung yang kini menjadi lawannya itu ternyata pula mempunyai ilmu pedang yang tak kalah hebatnya, yaitu ‘Sigar Maruta’, yang telah diajarkan oleh Ki Camar Seta dari Selat Karimata. Jika dua senjata orang itu beradu, maka berloncatanlah percikan-percikan bunga pi dan menerangi tempat itu laksana cahaya siang.

Sementara itu Dandangmala tampak menjadi kewalahan karena semakin terdesak oleh serangan selendang Pandan Arum yang menyambar dan mematuk-matuk seperti ular. Pedang di tangannya hampir sama sekali tak berarti untuk melawan ilmu selendang ‘Sabet Alun’ dari Pandan Arum ini. Maka iapun dengan segera mengambil senjata rahasianya dari ikat pinggang dan sekaligus melemparkannya dengan tangan kirinya ke arah Pandan Arum.

Serentak berhamburanlah puluhan paku baja beracun menuju ke tubuh gadis itu! Bersamaan dengan teriakan Mahesa Wulung yang memperingatkan gadis itu terhadap serangan senjata rahasia yang amat tiba-tiba, Pandan Arum pun secepat itu pula bertiarap ke tanah.

Sebenarnya ia dapat menangkis serangan itu dengan senjata selendangnya, tapi serangan paku beracun itu amat mendadak, sehingga satu-satunya jalan ialah bertiarap menghindari maut itu.

Ternyata Dandangmala cukup cerdik. Berbareng Pandan Arum bertiarap menghindari serangannya itu, cepat-cepat ia melesat ke samping meninggalkan arena pertempuran dan langsung menuju ke arah kuda beban. Sebuah karung yang terbesar disambarnya dan kemudian dipanggul serta dibawanya kabur.

“Aaaaakh!” terdengar teriakan ngeri keluar dari mulut Kalapati, ketika sebuah kilatan pedang Mahesa Wulung menebas lambung kirinya. Dengan mulut yang menganga seakan tidak percaya, ia masih mencoba mengerahkan sisa tenaganya untuk membacok Mahesa Wulung yang dengan tenangnya, kini berdiri di hadapannya. Tetapi tangannya yang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan siap membacok itu, ternyata tidak tahan lagi, Pedangnya terlepas jatuh ke tanah bersamaan darah merah segar menyembur dari lambung kirinya. Seketika itu pun ia terguling rebah dan mati.

“Adi Pandan Arum, cepat bangun! Lawanmu telah kabur dan membawa lari Empu Baskara. Ayo, kita kejar dia! Cepat!”

Teriakan Mahesa Wulung itu ternyata berpengaruh besar bagi Pandan Arum. Bagai orang yang sadar dari mimpi iapun cepat bangun dan melesat bersama- sama Mahesa Wulung untuk mengejar Dandangmala yang telah lari.

Kejar-mengejar terjadi dengan serunya. Mereka seperti tiga ekor ayam hutan yang saling berkejaran menyusup menerobos segala semak belukar yang rimbun dengan amat lincah dan pesatnya. Namun Mahesa Wulung kepandaiannya berlari lebih unggul dari Pandan Arum ataupun Dandangmala sendiri. Maka sebentar kemudian tersusullah Dandangmala oleh Mahesa Wulung.

Dengan satu loncatan yang manis, Mahesa Wulung mengerahkan ilmu meringankan tubuh dan ia meloncat melayang ke udara untuk kemudian menubruk Dandangmala. Satu totokan jari-jarinya ke arah pangkal telinga Dandangmala, sudah cukup untuk merobohkan orang ini ke tanah bersama-sama karung yang dipanggulnya.

Bagaikan selembar kain, tubuh Dandangmala terkapar tanpa daya. Semua anggota badannya seolah-olah lumpuh, kecuali mata dan mulutnya.

“Nah, Adi Pandan Arum, kini berhasillah tugas kita! Empu Baskara kembali ke tangan kita!” ujar Mahesa Wulung sambil mendekati karung yang tergeletak di tanah.

Pandan Arum pun mendekat, rupanya ia sudah tidak sabar lagi. Maka cepat-cepat ia membuka tali- temali yang mengikat karung itu, sementara Mahesa Wulung mengikutinya dengan pandangan mata serta hatinya yang berdegup-degup keras.

“Ooooh, apa ini?! Kakang Wulung, lihat!” seru Pandan Arum keras. Demikian juga Mahesa Wulung terbelalak matanya demi melihat isi karung yang telah dibuka itu.

“Kurang ajar! Isinya hanya daun-daun kering belaka,” seru Mahesa Wulung sambil mengaduk-aduk isi karung. “Kita tertipu mentah-mentah!”

“Kakang Wulung, mari kita tanyai orang itu. Mungkin ia tahu kemana mereka menyembunyikan Empu Baskara!” tukas si Pandan Arum terdengar.

“Ya, aku setuju hal itu,” Mahesa Wulung berkata seraya mendekati tubuh Dandangmala. Meskipun setengah lumpuh, orang ini masih juga memancarkan sinar matanya yang tajam menatap Mahesa Wulung dan Pandan Arum.

“Hei, Dandangmala! Cepat kau katakan di mana Empu Baskara kau sembunyikan?!”

Tak menjawab si Dandangmala. Benar-benar ia mengunci mulutnya. Mahesa Wulung mulai tak sabar.

“Ayo, lekas katakan, setan! Di mana Empu Baskara berada!”

Belum juga terdengar jawaban dari mulut Dandangmala, kecuali dengus nafasnya yang naik turun amat kencangnya. Hal ini membuat Mahesa Wulung kehabisan sabarnya.

“Taar! Tar! dua” tamparan tangannya telah singgah di pipi Dandangmala. Tapi ia masih tetap bungkam dan Mahesa Wulung betul-betul marah kali ini. Segera ia menghunus pedangnya.

“Cepat berkata! Kalau tidak, nyawamu akan melayang di ujung pedangku ini!” Bentak Mahesa Wulung. “Di mana Empu Baskara!”

Melihat mata pedang menempel dadanya, Dandangmala menjadi ketakutan. “Baik! Baik...! Aku akan katakan kepadamu. Tapi jangan... bunuh aku. Empu Baskara telah dibawa oleh Aaaakh!”

Teriakan panjang memilukan terdengar dari mulutnya, bersamaan sebuah leretan sinar putih yang menyambar cepat ke arah lehernya dan menancap di situ! Dandangmala mati seketika.

“Paku baja beracun!” desis keduanya berbareng, kemudian meloncat berdiri serta bersiaga.

“Ha, ha, ha, ha! Kalian betul-betul goblok! Akulah yang membawa Empu Baskara! Nah, selamat tinggal sobat!” teriakan itu terdengar bersamaan sebuah bayangan berkelebat amat cepat. Gerakannya bagai hantu. Bayangan itu memanggul sebuah karung pada bahu kirinya sedang tangan kanannya menjinjing sebuah kapak besar!

“Tahan, Kakang Wulung! Jangan kejar sekarang juga. Biarkan ia berlari,” seru Pandan Arum sambil memegang lengan kanan Mahesa Wulung.

“Mengapa, Adi Pandan?”

“Berbahaya jika dikejar sekarang pula,” jawab Pandan Arum. “Jangan kuatir, Kakang, aku tahu sarang mereka, orang-orang gerombolan Jorangas itu! Kita akan ke sana dan mencari Empu Baskara.”

“Hmm, benar juga katamu itu, Adi,” ujar Mahesa Wulung. “Tapi kita harus singgah dulu ke Jepara. Kita akan menjemput Adi Jagayuda disana dan selanjutnya kita bertiga akan menerobos ke sarang mereka.”

Tak lama kemudian, Mahesa Wulung telah menyiapkan kudanya, juga Pandan Arum pun mengambil salah seekor kuda dari kedua orang gerombolan Jorangas yang telah mati itu. Keduanya segera meloncat ke atas punggung kudanya masing- masing serta berpacu ke arah barat laut dengan kencangnya.

Bila rembulan semakin bergeser ke arah langit barat, Mahesa Wulung dan Pandan Arum mempercepat lari kudanya, mereka ingin lekas-lekas sampai di Jepara, dan kemudian mencari Empu Baskara.

Dalam berkuda   itu   Mahesa   Wulung   berpikir dengan heran tentang munculnya Pandan Arum dalam saat-saat yang tepat. Bukannya ia tidak merasa senang dengan kedatangan gadis ini. Tetapi masalah yang kini harus dihadapinya cukup berat dan berbahaya. la sebenarnya merasa cemas jika Pandan Arum turut melibatkan dirinya dalam hal ini.

Mahesa Wulung pun tersenyum bila mengingat sifat gadis yang kini berkuda di sampingnya. Pandan Arum seorang gadis yang berkemauan sekeras baja dan kadang-kadang suka menentang bahaya dimanapun saja. Telah beberapa kali saja, Pandan Arum bersama dirinya berjuang melawan kejahatan, melawan gerombolan-gerombolan hitam, dan selama itu tak sebuah bahaya pun yang mampu menyeret apalagi sampai memusnahkannya.

Namun kali ini tugas yang dipikulnya jauh lebih berat dari yang sudah-sudah. Kalau dahulu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya ia dibantu oleh sahabat-sahabat dan juga oleh anak-anak buahnya dari Armada Demak, sekarang ini hanya boleh diselesaikan secara diam-diam oleh dirinya bersama Jagayuda. Hanya berdua saja! Maka kedatangan Pandan Arum ini lebih memperberat tugasnya, karena ia harus menjaga keselamatan gadis yang dicintainya itu.

“Adi Pandan Arum, mengapakah Adi begitu berminat dalam tugasku untuk mencari Empu Baskara ini?” sapa Mahesa Wulung sambil menoleh ke samping.

“Oh, aku juga ingin turut mencarinya, Kakang. Bukankah Empu Baskara penting artinya bagi Demak? Dan terutama pula dengan tugas ini, aku akan selalu berada di samping kakang.” Pandan Arum berkata demikian sekaligus melemparkan lirikan matanya yang indah itu ke arah Mahesa Wulung. Karuan saja pendekar ini menjadi berdegupan jantungnya setengah mati, karena lirikan gadis yang menjadi tambatan kasihnya, seperti panah yang menembus ke dada.

“Eh, eh, kalau begitu dan itu benar, aku pun tak keberatan, Adi Pandan. Sebab jika Adi selalu berada di sampingku, aku tak kuatir Adi akan hilang digondol orang,” ujar Mahesa Wulung menggoda sambil tersenyum.

“Wiiii, yang menggondol ya Kakang Wulung sendiri, to?” Pandan Arum menyindir dan mencibirkan bibirnya yang tipis dan merah delima itu, hingga sekali lagi membuat Mahesa Wulung kelabakan hatinya.

Memang terasa indah perjalanan itu. Sinar bulan yang condong di langit barat bersinar dengan terangnya, dan jauh di arah barat laut sana, berkelip- kelip cahaya-cahaya lampu minyak dari rumah- rumah yang bertebaran di dekat sawah-sawah yang hanya beberapa bahu saja. Pohon-pohon besar tumbuh pula disana-sini dengan suburnya.

“Kakang Wulung, lihatlah di sana. Bukankah itu Desa Pecangakan?”

“Tak salah, Adi. Memang, itulah Desa Pecangakan. Tapi kita hanya lewat saja, Adi Pandan, kita tak perlu singgah karena malam sudah begini larut,” kata Mahesa Wulung.

Beberapa saat kemudian mulailah mereka memasuki jalan desa itu Sepi. Desa itu terasa aman tampaknya. tak suatu pun yang kelihatan mencurigakan.

Ketika mereka berdua tiba di pintu keluar dari jalan desa itu, dari sebuah warung yang telah tertutup pintunya, keluarlah seseorang yang berjalan sempoyongan menuju ke arah mereka! Orang itu sambil sempoyongan menyanyi tak karuan, sementara bau tuak terhambur dari mulutnya.

“Jenang gula, kowe jangan lupa... Hah, hah, hah. Wong ayu anaknya siapa... Heei, berhenti kamu yang berkuda! Beri aku uang untuk beli tuak. Aku sangat haus. Hah, hah, hah,” orang itu meskipun sempoyongan, tapi masih juga bisa mengacungkan telapak tangannya ke arah Mahesa Wulung. “Ayo lekas beri aku uang!”

Mahesa Wulung tahu bahwa orang ini sedang mabuk, maka ia tak mau membuat keributan dengan orang ini. Cepat ia mengambil beberapa mata uang dari ikat pinggangnya kemudian diulurkan ke telapak tangan orang ini. Begitu diterimanya, orang ini dengan rakus menyimpan uang tadi.

“Terima kasih, hah, hah, hah, terima kasih.” “Kisanak!” sapa Mahesa Wulung kepada orang itu.

“Siapakah engkau, dan tampaknya Kisanak adalah seorang pelaut yang ulung.”

Mahesa Wulung sengaja memuji orang itu agar ia mau mengoceh lebih banyak. la tahu, bahwa orang mabuk suka mengoceh tanpa segan-segan tentang segala pengalamannya.

“Hah, hah, hah, kalian belum kenal aku? Seorang pelaut yang telah menjelajahi lima lautan di Nusantara ini? Akulah Rajungan, anak buah Lajur Terasi!”

Bagai sambaran petir nama itu terdengar oleh telinga Mahesa Wulung, sebab Lajur Terasi pernah menjadi buronan armada Demak lima tahun yang lalu. Waktu itu ia berhasil lolos dan sejak itu namanya tak pernah disebut-sebut lagi oleh orang, sementara ada yang mengatakan kalau ia telah tenggelam bersama kapalnya, tapi ada pula yang mengabarkan kalau ia tengah mendekam di Pulau Nusakambangan untuk memperdalam ilmunya.

“Oh, jadi Kisanak adalah anak buah Lajur Terasi. Tentu banyak pula pendekar-pendekar yang menyertainya?” tanya Mahesa Wulung.

“Hah, hah, tepat kata-katamu itu! Pendekar Rikma Rembyak dan gurunya, Ki Topeng Reges ikut pula datang kemari!” jawab orang itu tanpa merasa curiga. Kalau saja ia tahu kalau yang diajaknya bercakap itu Mahesa Wulung, musuh utama setiap gerombolan hitam, pastilah ia tidak akan sudi melayaninya. Dan yang pasti iapun akan mencincangnya habis-habisan! “Hmm, kalian memang orang-orang yang hebat,” puji Mahesa Wulung. “Kalau begitu, siapakah yang

mendapat kehormatan atas kunjungan kalian ini?” “Heh, heh, heh, kami datang kemari untuk

menjemput Empu Baskara!” ujar Rajungan. “Menjemput Empu Baskara?” berseru Mahesa

Wulung setengah heran.

“Ya! Menjemput Empu Baskara dari tangan Jorangas. Kami akan menukarnya dengan uang panas!”

“Ooh,” desis Pandan Arum demi mendengar ucapan Rajungan yang begitu gamblang. “Di mana Kisanak akan mengadakan tukar-menukar itu?”

“Heh, heh, heh, heh. Wong ayu kepingin tahu? Baik, aku akan mengatakannya, tapi kau pun harus memberi uang kepada Rajungan ini! Heh, heh, heh.”

Dengan cepat Pandan Arum mengambil beberapa mata uang dari ikat pinggangnya lalu diberikan kepada orang itu.

“Hmm, cukup banyak uangku sekarang. Kalau kalian ingin tahu tempatnya, di sana, di kaki barat Gunung Muria! Pada Jurang Mati itulah kami akan bertemu dengan mereka.”

Mahesa Wulung merasa cukup akan keterangan- keterangan yang diocehkan oleh mulut Rajungan. Maka ia tak bermaksud lebih lama lagi berada di tempat itu. Apalagi ia telah mendengar nama Rajungan dipanggil-panggil dari dalam warung.

“Rajungan! Rajungan! Di mana kamu?! Ayo lekas kembali!”

Segera Mahesa Wulung memberi isyarat kepada Pandan Arum dan gadis inipun sudah tahu apa yang harus diperbuatnya. Keduanya segera menghardik kudanya untuk meninggalkan tempat itu.

“Maaf Rajungan, kami terpaksa meninggalkamu. Malam sudah sangat larut dan kau dengar tadi, kawanmu telah memanggilmu kembali!” seru Mahesa Wulung.

“Heh, heh, heh, pergilah sesukamu! Aku berterima kasih atas pemberian uangmu ini, Kisanak. Mudah- mudahan kita akan bertemu kembali.” Rajungan berkata  sambil  melangkah ke samping dengan sempoyongan ia berjalan ke arah warung itu kembali. Sementara itupun Mahesa  Wulung bersama Pandan Arum telah  berpacu  meninggalkan desa Pecangakan, menuju ke arah barat laut, menempuh

jalan yang menuju ke kota Jepara.

*** 5

Bila kabut masih menyelimuti kota Jepara, tam– paklah kesibukan yang sudah menjadi kebiasaan penduduk kota itu sehari-hari. Mereka telah bangun bersamaan kokok ayam jantan yang pertama, untuk kemudian pergi ke tempat pekerjaannya masing- masing. Yang mempunyai sawah segera menggarap sawahnya, sedang yang menjadi nelayan, mereka pun pergi ke laut dengan membawa alat-alatnya. Begitu pula yang berdagang ke pasar, mereka berbondong- bondong menggendong barang dagangannya. Yang laki-laki memikul dan anak-anak pun ada satu dua yang mengikuti orang tuanya ke pasar.

Maka pada saat kesibukan itulah dari arah tengga– ra tampak dua orang berkuda memasuki kota Jepara. “Adi Pandan Arum, kita akan langsung menuju ke Balai Ksatrian agar Adi Jagayuda segera mengetahui

kedatangan kita,” ujar Mahesa Wulung.

Gadis itu tersenyum. Katanya. “Baik, Kakang Wulung, tapi apakah kita dapat beristirahat sejenak, nanti? Aku sudah cukup merasa lapar, Kakang.”

Mahesa Wulung agak terperanjat. Baru kali inilah ia sempat mengingat bahwa semalaman mereka telah berkuda menempuh jarak yang cukup jauh. Karena kesibukan tugas itu, rasa lapar seolah-olah terlupa– kan. Tapi dengan pertanyaan Pandan Arum itu, iapun sadar dan bahkan perutnya seketika merasa melilit- lilit kelaparan. Maka berkatalah Mahesa Wulung. “Oh, aku pun sudah merasa lapar pula, Adi Pan–

dan. Memang kita akan beristirahat sebentar sambil mengisi perut, dan yang penting kita pun akan be– runding dengan Adi Jagayuda tentang tugas kita ini!”

Setelah keduanya membelok ke timur dan segera memasuki pintu gerbang rumah yang berhalaman luas, merekapun cepat-cepat turun serta menambat– kan kudanya. Itulah Balai Ksatrian bagi para perwira dari armada Demak!

Baru saja mereka selesai menambatkan kudanya, dari arah pendapa keluarlah seseorang yang langsung datang ke arah mereka.

“Ah, Kakang Mahesa Wulung dan Adi Pandan Arum! Aku telah lama menunggu-nunggu kalian. Nah, mari silahkan segera masuk.” Jagayuda mem– persilahkan kedua sahabatnya itu, dan ketiganya masuk ke dalam pendapa.

Maka setelah ketiganya duduk tampaklah betapa akrabnya mereka bertiga. Maklumlah, hampir dalam setiap tugas ketiga pendekar ini selalu bersama-sama mengalami suka dan duka. Mereka tak akan lupa perjuangan mereka menentang gerombolan hitam Alas Roban, kemudian, mengejar kawanan bajak laut Karimun Jawa dan terakhir melawan badai di Selat Karimata. Sedang kali ini ketiganya berhadapan dengan tugas yang lebih berat, yaitu menemukan kembali Empu Baskara yang telah hilang.

“Nah, Adi Jagayuda,” ujar Mahesa Wulung sesaat setelah mereka mengabarkan keselamatan serta pengalaman mereka masing-masing. “Siang nanti selewat lohor kita mulailah tugas kita ini. Aku bersama Pandan Arum akan mencoba menerobos ke sarang gerombolan Jorangas. Kalau ternyata Empu Baskara masih berada di situ, kami akan berusaha membebaskan. Sedang Adi Jagayuda sendiri lang– sung menuju ke Jurang Mati, untuk menunggu setiap kemungkinan yang bakal terjadi.”

“Baik, Kakang. Kalau begitu marilah sekarang me– nyiapkan bekal-bekal kita untuk perjalanan nanti,” berkata Jagayuda. “Apakah kita perlu membawa senjata jarak jauh, Kakang?”

“Panah maksudmu itu?” potong Mahesa Wulung. “Ya,” jawab Jagayuda.

“Hmm, baik. Bawalah senjata itu. Kita memang menghadapi musuh yang cukup banyak serta berke– kuatan besar. Pasti panah itu akan besar gunanya.”

Begitulah, di waktu matahari mulai muncul di lereng Gunung Muria dan sinarnya merayapi puncak- puncak pohon sawo kecik di halaman pendapa Balai Ksatrian, ketiga pendekar itu sibuk mempersiapkan bekal-bekalnya, termasuk senjata-senjata mereka. Diperiksanya dengan teliti, apakah dalam keadaan yang baik untuk menghadapi lawan-lawan mereka yang tidak mustahil bersenjata yang lebih hebat. Mereka pernah mengenal Pendekar Rikma Rembyak yang bersenjata tongkat kayu disamping pusaka terompet kulit siput yang bunyinya mampu melumpuhkan jiwa dan kesadaran seseorang. Ditambah dengan pendekar-pendekar lain seperti Ki Topeng Reges serta orang-orang dari gerombolan Jorangas, pastilah lawan-lawan yang harus mereka hadapi tidaklah semudah orang menghalau berandal yang hanya kecil-kecilan. Berandal yang harus mereka hadapi kini adalah berandal-berandal yang jauh lebih besar. Mereka bukan sekedar tukang mencegat orang yang pergi berdagang ke pasar, tapi jauh lebih dari itu. Mereka telah berani mengacau keamanan dan kesentausaan Demak, maka tak ada pilihan kecuali harus dihancurkan.

Waktu terus bergeser, seperti matahari yang merayap dari garis edarannya, dari arah timur perlahan-lahan bergeser ke arah barat, dan bila ia telah membuat bayang-bayang tubuh condong ke timur, maka berangkatlah Mahesa Wulung, Jagayuda dan Pandan Arum meninggalkan pendapa Balai Ksatrian, mereka menuju ke jalan yang mencapai kota sebelah timur yang ditempuhnya dalam waktu hanya sekejap.

“Adi Jagayuda, di sinilah kita berpisah. Engkau harus menuju ke timur menuju Jurang Mati dan aku bersama Adi Pandan Arum ke arah tenggara,” kata Mahesa Wulung. Dan jangan lupa Adi, kau bersem– bunyi saja di tempat itu untuk mengawasi apa yang terjadi di situ. Jangan bertindak lebih sebelum aku datang.”

“Baik, Kakang. Aku akan melaksanakan perintah– mu sebaik mungkin,” jawab Jagayuda.

“Nah, sekarang mari kita segera berpisah di sini Adi Jagayuda. Selamat dalam tugasmu kali ini dan semoga Tuhan melindungi kita sekalian,” seru Mahesa Wulung sebelum ia bersama Pandan Arum memutar dan memacu kudanya ke arah tenggara. Sedang Jagayuda cepat-cepat melarikan kudanya ke arah timur menuju ke kaki barat Gunung Muria.

Bagi Mahesa Wulung, tugas kali ini tak dapat dibayangkan betapa kejadian yang bakal mereka jumpai. Apakah lebih berat, apakah mereka berhasil menemukan kembali Empu Baskara yang hilang atau entahlah. Ia pun tak bisa menemukan jawabannya. Maka jalan satu-satunya ialah berpasrah kepada Tuhan Yang Maha Besar akan segala nasib mereka. Sebab nasib mereka pasti telah tersurat, sehingga manusia tak akan kuasa merubahnya.

Untuk beberapa lama Mahesa Wulung tak berkata- kata dan Pandan Arum pun sibuk pula memacu kudanya. Mereka segera mencapai daerah perbukitan di kaki sebelah barat daya Gunung Muria. Pandangan mata Mahesa Wulung seakan-akan terpaku pada bukit yang terbujur membentang di hadapannya, yang berlekuk-lekuk seolah-olah timbul tenggelam diseling oleh kerimbunannya pohon-pohonan.

Jalan yang mereka lalui semakin menanjak ber– liku-liku. Udara pegunungan terasa sejuk meresap ke dalam lobang-lobang kulit meskipun matahari ber– sinar dengan terik. Awan-awan putih seperti kapas melayang-layang menyaput ujung dedaunan di atas pohon-pohon yang besar.

Bila mereka telah menempuh jalan yang makin menanjak itu, kuda-kuda mereka semakin berkurang larinya. Jauh di sana di sebelah barat laut, terham– parlah dataran rendah yang subur hijau itu seakan- akan permadani raksasa yang terhampar sampai ke tepi pantai Jepara. Genting-genting yang merah dari rumah-rumah di kota Jepara terlihat sangat indah dan di pantai tampaklah berderet-deret perahu arma– da Demak yang berlabuh dengan tenang. Sedang jauh di tengah, perahu-perahu nelayan sibuk memungut hasil-hasil laut yang berupa ikan-ikan segar.

Di kiri kanan jalan yang mereka lalui terbentang– lah padang rumput luas, diseling dengan semak- semak pohon perdu yang berserakan di sana-sini tak teratur.

Pada lereng-lereng bukit yang cukup curam tumbuh batang-batang ilalang setinggi dada.

Tiba-tiba Mahesa Wulung melayangkan pandang– annya ke lereng sebelah selatan, di mana di bawah kerimbunan pohon-pohon sarangan dan pakis terli– hatlah oleh matanya yang tajam seperti burung elang, akan bayangan sebuah goa.

“Adi Pandan Arum, lihatlah di sana!” seru Mahesa Wulung. “Tampakkah olehmu sebuah goa?”

“Sttt!” bisik Pandan Arum. “Memang itulah tempat yang kita tuju. Di situlah orang-orang Jorangas bersarang. Baiknya kita turun saja di sini, Kakang Wulung!”

“Setuju,” sahut Mahesa Wulung seraya meloncat turun dari atas kudanya. “Kita tambatkan kuda-kuda kita di bawah pohon cemara ini, Adi.”

Perasaan terbang segera merayapi hati mereka, se– telah kuda-kuda selesai ditambatkan pada kerimbu– nan semak-semak yang cukup tersembunyi. Dengan mengendap-endap serta menerobos batang-batang ilalang keduanya sedikit demi sedikit mendekati goa itu. Mahesa Wulung di sebelah muka dan Pandan Arum di belakang. Keduanya sangat berhati-hati. Se– bisa-bisa mereka jangan sampai menginjak batang- batang dan ranting-ranting yang kering ataupun me– matahkan cabang-cabang pohon sedikit pun, sebab itu semua akan menimbulkan bunyi yang mudah terdengar oleh telinga-telinga gerombolan Jorangas.

Jarak mereka semakin dekat. Keduanya berhasil bersembunyi di semak-semak pohon pakis tidak berapa jauh dari goa. Ketika mereka akan bertindak lebih jauh lagi, tiba-tiba berloncatanlah orang-orang bersenjata dari balik batu-batu besar dan dari ca– bang-cabang pohon sarangan, langsung mengepung mereka.

“Berhenti! Jangan bergerak!” teriak seorang tinggi kekar bersenjata kapak besar. “Hua, ha, ha, ha. Suatu kehormatan jika kalian sudi berkunjung ke tempat yang terpencil ini! Dan kau yang telah membuat malu kepadaku, kau pasi akan menerima balasan yang setimpal!” teriak Gogorwana keras- keras sambil menunjuk ke arah Mahesa Wulung.

Mendengar kata-kata itu, Mahesa Wulung cepat bersiaga menghadapi setiap kemungkinan. Tapi ia terpaksa menggagalkan sikapnya itu karena dari dalam goa keluarlah Empu Baskara dengan terikat tangannya ke belakang, dan di sampingnya berdiri pula seorang yang berperawakan sedang dan kekar. Pada ikat pinggangnya tergantung dua buah pengga– da pendek berujung bola besi berduri.

“Awas, berbuat sesuatu, nyawa Empu Baskara ini akan segera melayang di tanganku!” ancam orang ini yang tidak lain adalah Jorangas pemimpin dari gerombolan Jorangas. “Sekarang katakan apa maksud kalian datang kemari.”

“Aku mau menjemput Empu Baskara!” kata Mahesa Wulung lantang.

“Ha, ha, ha, menjemput Empu Baskara? Sayang, dia sudah ada yang memesan, Kisanak! Mereka akan menjemput Empu Baskara di Jurang Mati dan tidak secara cuma-cuma kami menyerahkannya,” ujar Jorangas sambil ketawa meringis. “Mereka akan me– nukarnya dengan seperti uang emas! Nah, lumayan juga, bukan!?”

“Kurang ajar! Kalian memang orang-orang yang busuk! Sudah sepantasnya kalau kalian dicuci dengan api neraka!” teriak Mahesa Wulung.

“Ha, ha, ha, kalian memang orang-orang yang hebat. Berani memasuki sarang harimau!” ejek Jora– ngas kemudian. Sekarang aku persilahkan kamu berdua beristirahat dulu dan selamat bermimpi... ha, ha, ha!”

Begitu berakhir kata-katanya, Jorangas menarik sebuah tambang besar yang terjurai dari sebuah lobang dinding goa dan seketika tanah yang dipijak oleh Mahesa Wulung dan Pandan Arum bergetar oleng dan merekah serta membuka, laksana pintu maut yang menganga menanti korbannya.

Tubuh Mahesa Wulung dan Pandan Arum serentak terperosok ke dalam lobang itu, diiringi oleh derai ketawa yang gemuruh dari mulut-mulut anak buah Jorangas.

“Ha, ha, ha, nikmatilah hidupmu yang terakhir! Sebentar lagi namamu akan musnah dan tak seorang pun yang bakal menemukan mayatmu!” Sekali lagi terdengar ejekan Jorangas.

Mahesa Wulung dan Pandan Arum melayang ter– pelanting ke bawah. Untungnya mereka tidak kehi– langan akal sehingga mereka masih dapat menguasai keseimbangan tubuhnya. Maka merekapun jatuh ke dasar lobang tanah itu dengan kakinya lebih dahulu menginjak tanah.

Sesaat kemudian terdengarlah lapat-lapat derap kaki kuda meninggalkan tempat itu dengan aba-aba Jorangas yang lantang.

“Cepat! Kita menuju ke Jurang Mati! Biarkan kedua orang itu mampus di dalam lobang! Ha, ha, ha!”

Sesaat kemudian terasa kesunyian mencengkam tempat itu. Apalagi bagi kedua makhluk yang malang itu. Ternyata keadaan lobang perangkap dalam tanah tersebut cukup tinggi dan dalam. Kira-kira setinggi tiga tombak lebih sedikit, sedang sisi-sisi dinding dari lobang itu sangat licin, terdiri dari batu-batu gunung yang rupa-rupanya telah dipasah halus. Demikian pula dengan udaranya, terasa sangat pengap berbau belerang. Semua kejadian ini benar- benar di luar dugaan mereka. Mahesa Wulung dalam hati mengutuk dirinya sendiri yang begitu kurang teliti dan mudah kena perangkap musuhnya. Kalau hanya dialami sendiri akan kejadian yang malang itu, maka tak seberapalah penyesalannya. Tapi gadis yang sangat dicintainya, kini terikut pula dalam lobang perangkap gerombolan Jorangas. Sungguh sayang. Sayang sekali jika Pandan Arum sampai menemui bencana di tempat yang terpencil ini.

Kini Mahesa Wulung berdiam diri, sementara kepalanya berputar mencari siasat untuk melepaskan diri dari lobang perangkap ini.

Sedang Pandan Arum sendiri melihat Mahesa Wulung berdiam diri, ia menjadi lebih bingung. Sekarang timbullah dalam hatinya, satu perasaan menyesal, karena telah mencampuri tugas kewajiban Mahesa Wulung dan menyeretnya ke tempat ini, sehingga mereka sendiri akhirnya terperosok ke dalam perangkap lawan.

Berpikir begitu, Pandan Arum merasa berputus asa untuk dapat keluar dari perangkap tersebut. Nafasnya menjadi kencang tak teratur dan lehernya serasa tersekat oleh sedu-sedu penuh penyesalan.

Kemudian bersama butir air matanya mulai menetes dari sudut mata, gadis ini tiba-tiba merasa cemas. Selanjutnya ia mendekap dada Mahesa Wulung.

“Oh, Kakang Wulung. Apakah kita akan mati bersama di lobang tanah ini, Kakang?” isak Pandan Arum berputus asa. Ternyata naluriahnya sebagai wanita, yang mudah merasa cemas itu timbul secara cepat. “Tenang, Adi Pandan. Tabahkan hatimu dalam cobaan yang berat ini. Jika kita tak berhasil lolos dan terpaksa harus mati disini, biarlah Adi. Bukankah kita tetap berdua dan akan mati bersama-sama?”

“Benar, Kakang. Benar. Cinta kita akan kekal selama-lamanya. Tapi Kakang Wulung, aku tak mau mati dengan cara yang sekonyol ini, bagai tikus-tikus dalam perangkap,” ujar Pandan Arum sambil bersem– buran sedu-sedannya. “Aku menyesal telah memba– wamu ke tempat ini, Kakang!”

“Jangan berkata demikian, Adi. Itu mungkin sebagai suatu rentetan ujian yang harus kita hadapi dengan sepenuh tenaga. Jika kita telah berputus asa di tengah jalan, pastilah kita menjadi lebih cepat hancur!”

“Apakah Kakang menemukan suatu jalan untuk lolos dari lobang ini?” Pandan Arum bertanya dengan cemas

“Akan aku coba dengan tenagaku, Adi. Nah, berlin– dunglah di belakangku. Aku akan mencoba merusak dinding perangkap ini!” ujar Mahesa Wulung.

Dengan cepat Pandan Arum berdiri di belakang Mahesa Wulung. Sesaat kemudian, Mahesa Wulung telah mengerahkan dan memusatkan segenap tenaga lahir batinnya bersamaan tangan kanannya menekuk ke belakang serta mengepal.

“Hyaaaat!!!” Glaaar!

Suara benturan dahsyat akibat pukulan tangan Mahesa Wulung yang berlandaskan aji ‘Lebur Waja’ menggelegar di dalam lobang itu, hingga Pandan Arum terpaksa menutupkan kedua belah tangannya ke telinga. Satu sisi dinding batu gunung yang merupakan dinding licin perangkap itu telah retak dan hancur berkeping-keping lembut. Namun mereka serentak terperanjat setengah mati bila dari lobang pecahan dinding itu mengalir air yang berkepul mengeluarkan dan menguapkan bau belerang yang menyesakkan dada. Pandan Arum terbatuk-batuk karena uap ini.

“Perangkap!” desis Mahesa Wulung menyaksikan hal itu. “Mereka sengaja mengatur ini secara terpe– rinci!”

“Kakang Wulung, aku tak kuat lagi...,” rintih Pandan Arum diseling dengan batuk-batuk.

“Tahan sebentar lagi, Adi!” seru Mahesa Wulung sambil melolos cambuknya dari pinggang. “Hanya ini– lah satu-satunya harapanku!”

Dengan menggenjotkan kakinya ke tanah yang kini mulai terendam air, Mahesa Wulung melenting ke atas bersamaan tangannya melecutkan cambuk Naga Geninya ke arah atas, keluar dari lobang tersebut. Ia berharap kalau ujung cambuknya berhasil mengait salah satu benda di sekitar mulut lobang perangkap itu, pastilah cambuk ini dapat dipakainya sebagai alat pemanjat yang baik!

Taar! Ujung cambuk itu melesat keluar tapi sesaat kemudian kembali lagi memantul ke bawah, karena tak berhasil menemukan pegangan.

Mahesa Wulung menghadap ke arah lain dan se– kali lagi melecutkan cambuknya ke mulut lobang itu.

Taar! Sretttt!

“Berhasil!” desis Mahesa Wulung gembira, karena ujung cambuknya terasa menemukan sasarannya dan cepat-cepat ia mencoba menarik-nariknya, apa– kah cukup kuat untuk dipakainya memanjat.

Ternyata ujung cambuk Mahesa Wulung telah melilit akar-akar dari pohon sarangan tua yang tum– buh di sebelah barat dari mulut lobang perangkap tersebut.

Sementara itu terasa kalau kaki mereka seakan- akan tercelup dalam air mendidih yang berbau asap belerang! Maka tanpa menunggu waktu lebih lama, Mahesa Wulung segera memeluk pinggang Pandan Arum dengan tangan kiri sedang tangan kanannya berpegang cambuk. Hampir saja gadis ini jatuh ke air panas itu karena badannya telah lemas akibat rasa cemas dan uap belerang yang mematikan.

Untungnya dengan cepat-cepat ia memeluk ping– gang gadis itu, Mahesa Wulung berhasil menahan tubuh Pandan Arum yang mulai merosot ke air ber– uap belerang panas!

“Adi Pandan! Cepatlah bergantung pada bahuku dan berpeganglah erat-erat!”

“Baik, Kakang Wulung,” ujar Pandan Arum dengan lemah. “Aku telah siap!”

Dengan susah payah, mereka berdua sedikit demi sedikit memanjat ke atas melewati dinding yang telah retak dan berlobang akibat pukulan Lebur Wajanya Mahesa Wulung. Sambil menghindari dinding-dinding yang licin, mereka terus memanjat ke atas dan akhirnya dengan nafas yang lega, keduanya selamat sampai pada mulut lobang perangkap itu.

Tetapi baru saja mereka selesai keluar dari lobang tersebut, mendadak Pandan Arum berteriak nyaring. “Awas, Kakang Wulung, mereka datang!”

Mata Mahesa Wulung menangkap dua bayangan yang melesat ke arah mereka dengan bersenjata pedang.

“Kurang ajar! Kalian ternyata bernyawa rangkap. Tapi jangan harap lolos dari tempat ini!” seru salah seorang dari mereka. Kedua anak buah Jorangas menyerang berbareng dengan tebasan pedangnya.

Dalam saat yang menegangkan ini Pandan Arum cepat bertindak. Ia melolos selendang jingganya.

Sraat! Seleret sinar merah jingga melibat ke arah pedang-pedang mereka dan langsung membelitnya dengan keras. Dengan satu sentakan yang keras, Pandan Arum menarik selendang jingganya ke bela– kang. Maka tak ampun lagi kedua orang itu bersama pedangnya terdorong deras ke muka dan langsung terpelanting ke arah lobang perangkap. Dua jeritan berbareng terdengar bersama kedua tubuh mereka lenyap ke dalam lobang itu.

“Senjata makan tuan!” desis Pandan Arum tajam. Hatinya kini merasa agak puas, karena sebagian dendamnya telah terbayar!

“Mereka cuma berdua, Adi Pandan! Lain-lainnya telah pergi ke Jurang Mati!” ujar Mahesa Wulung. “Marilah kita cepat-cepat menyusul mereka kesana!”

“Baik, Kakang. Mudah-mudahan kuda-kuda kita tidak mereka temukan!” sela gadis itu.

Mahesa Wulung mengambil kembali cambuknya yang masih terkait pada akar pohon sarangan.

Setelah itu keduanya menuju ke arah semak- semak pohon pakis dan menerobosnya. Terdengarlah ringkikan kuda yang panjang, membuat Mahesa Wulung dan Pandan Arum tersenyum.

“Lihat, Kakang. Kuda-kuda kita selamat.”

“Yah, aku bersyukur, Adi. Tapi kita masih harus memeras tenaga lagi. Kita harus mengejar mereka secepatnya ke Jurang Mati, sebelum tukar-menukar itu terjadi!”

Sekarang Mahesa Wulung melepaskan tambatan kudanya, begitu pula dengan Pandan Arum. Sesaat kemudian berderaplah langkah-langkah kaki kuda mereka meninggalkan debu-debu yang berkepul ke udara di muka goa itu.

Mahesa Wulung dan Pandan Arum berjalan beriring, menempuh jalan rintisan yang berkelok- kelok seperti ular, menuju ke utara.

Matahari semakin bergeser ke cakrawala barat dengan malasnya. Angin pegunungan terasa meng– usap-usap tubuh mereka dengan segar, bagaikan usapan seorang ibu yang begitu kasih kepada anak- anaknya.

Di sana-sini terdengar kicau burung yang bersahut-sahutan dari sela dedaunan.

“Hari telah sangat siang,” desis Mahesa Wulung. “Dan sebentar lagi senja akan segera menjelma,”

sahut Pandan Arum.

Keduanya berdiam diri kembali. Masing-masing terbenam dalam angan-angannya sendiri. Jiwa Empu Baskara akan ditukar dengan seperti uang emas oleh kawanan bajak Lajur Terasi, sungguh suatu perbu– atan yang keterlaluan dan kelewat batas! Mereka menganggap orang tua itu sebagai barang dagangan yang bisa diperjual-belikan. Satu perbuatan yang harus mereka cela dan kutuk habis-habisan.

“Kita harus tiba di sana sebelum gelap, Adi Pandan,” kata Mahesa Wulung. “Ayolah, kita lebih cepat lagi!”

Langkah-langkah kaki kuda mereka bertambah cepat melewati jalan yang begitu rumpil dan berbatu- batu. Mereka mesti berhati-hati kalau tidak ingin jatuh ke tebing jurang yang cukup curam, menganga bagai mulut-mulut raksasa menanti mangsa.

Tempat yang akan mereka tuju adalah sebuah dataran luas yang tepinya merupakan jurang yang curam dengan batu-batunya yang bertonjolan run– cing. Jauh di dasar jurang, mengalirlah sungai yang jernih airnya seperti kaca dengan tenang.

Telah beberapa orang yang mati tercampak ke jurang ketika lewat di situ. Maka tak heranlah bila orang-orang menyebutnya dengan nama Jurang Mati. Karena begitu dalamnya jurang itu, kalau orang berani berdiri di situ serta menatap dasar jurang, maka pastilah orang tersebut akan terjatuh ke sana seolah-olah terhisap oleh satu kekuatan ajaib dari dasar jurang.

Mahesa Wulung dan Pandan Arum semakin berdebar mendekati tempat itu. Entah, kejadian apa yang bakal mereka hadapi.

***

Sementara itu, Jagayuda dengan tekun dan hampir tak bergerak terus mengawasi dataran itu dari sela-sela batu terjal yang terlindung oleh semak pohon pakis.

Bersamaan melayangnya awan putih yang berarak- arak mengalir ke arah selatan, terdengarlah derap- derap kaki kuda dari arah barat yang mengepullah debu ke udara.

“Hmm, gerombolan Lajur Terasi!” gumam Jagayuda sendirian. “Tapi siapa yang berkuda di depan itu? Oh tak salah lagi, itulah dia si Rikma Rembyak! Dan yang di sampingnya itu, siapakah dia? Mengenakan topeng yang rusak serta mengerikan, persis wajah dari hantu. Mungkin inilah Ki Topeng Reges guru saktinya Rikma Rembyak dari Segoro Kidul. Sekarang tinggal menunggu orang-orang Jorangas. Mudah- mudahan Kakang Mahesa Wulung tidak terlambat datang di sini!”

Jagayuda   sungguh    merasa    gelisah    melihat kejadian yang harus dihadapinya. Mengintai dua gerombolan yang akan bertemu di Jurang Mati. Dan hatinya akan lebih gelisah bila telah sekian lama Mahesa Wulung dan Pandan Arum belum juga datang. Ah, memang, menunggu adalah suatu peker– jaan yang berat dan membosankan. Yang dikuatirkan adalah kelambatan!

Jika kedua gerombolan itu telah bertemu dan berlangsung tukar-menukar itu, sedang Mahesa Wulung belum juga datang, apakah gerangan yang harus diperbuatnya? Merebut Empu Baskara seorang diri? Salah! Itu sama saja dengan bunuh diri. Sebab seberapakah kekuatan dirinya bila dibanding dengan tokoh-tokoh utama dari kedua gerombolan itu?

Tetapi dari dalam dada Jagayuda menggeloralah satu perasaan lain. Perasaan tanggung jawab sebagai seorang perwira Demak! Bagaimana sukar dan berbahayanya keadaan yang harus dihadapi, ia tak boleh berputus asa. Ya, ia akan bertekad merebut Empu Baskara dari tangan mereka seorang diri, jika kedua sahabatnya itu betul-betul tidak datang.

Belum lagi habis angan-angan Jagayuda, tiba-tiba dari arah selatan kelihatan debu yang berkepulan serta ringkikan kuda.

Dan muncullah kini orang-orang Jorangas. Ber– kuda paling depan adalah Jorangas sendiri, pemim– pin gerombolan. Di belakangnya dua orang berkuda berdampingan, yaitu Gogorwana yang bersenjata kapak besar dan Empu Baskara dengan kedua tangannya terikat ke belakang. Kemudian yang paling belakang adalah tiga orang saudara pendekar pedang bernama Jurangpitu, Parung dan Growong. Lalu seorang lagi yang bersenjata tombak dan bernama Watangan. Rombongan ini masuk ke dataran Jurang Mati dengan gagahnya. Jorangas berkali-kali memilin kumisnya yang lebat dan kaku sebagai pernyataan rasa bangganya karena berhasil menculik Empu Bas– kara, seorang ahli menciptakan pusaka-pusaka am– puh dari Demak. Dalam matanya, sudah terbayang gemerlapnya sinar-sinar mata uang emas yang sepeti penuh, dan sebentar lagi akan diterimanya dari orang-orang Lajur Terasi sebagai penukar Empu Baskara.

Setelah Jorangas dan orang-orangnya tiba di data– ran itu, kini berhadap-hadapanlah kedua rombongan itu laksana dua kekuatan iblis yang bertemu. Kedua- duanya adalah gerombolan hitam yang gemar mem– buat kekacauan. Merampok dan membunuh adalah hal yang biasa bagi mereka dalam mencari rejekinya. Hingga tak jarang sering antara sesama gerombolan hitam saling berbentrok karena memperebutkan sasaran korban yang sama. Memang jarang ada persesuaian paham antara mereka.

Namun kali ini, dua kekuatan hitam bertemu di Jurang Mati, tidak untuk bertempur ataupun meng– adu keunggulan. Kali ini mereka bertemu untuk berdagang.

Dan Empu Baskara yang menjadi barang daga– ngan itu, merasa sedih sekali. Tak nyana bahwa diri– nya diperlakukan serendah ini, berbeda waktu ia masih berada di Demak. Setiap orang akan mengang– guk hormat bila bertemu dengan dirinya di jalan.

Hatinya penuh rasa penyesalan bila memikirkan itu semua. Sungguh malang nasib dirinya! Kalau dahulu ia bermaksud menghindarkan ancaman orang-orang Jorangas dengan cara melarikan diri dari Demak, sekarang ini malah betul-betul ia jatuh ke tangan mereka.

Sungguh memalukan! Apa kata orang-orang nanti seandainya mereka tahu bahwa akibat tingkahnya sendiri, ia telah masuk ke dalam perangkap gerom– bolan Jorangas.

Sejurus kemudian setelah kedua rombongan itu berhadap-hadapan, mereka lalu turun dari kudanya masing-masing. Jagayuda yang melihat hal ini, makin bertambah gelisah. Namun tiba-tiba terasa pundak– nya ditepuk dari belakang, hingga Jagayuda mem– balik cepat seraya melolos pedangnya.

“Tenang, Adi Jagayuda!” terdengar suara yang berat.

“Oh, Kakang Mahesa Wulung! Kau membuatku terkejut. Di mana Nimas Pandan Arum sekarang?” tanya Jagayuda.

“Stt, jangan bicara keras-keras. Tuh, lihat di semak-semak ilalang di samping pohon kering di belakangmu,” ujar Mahesa Wulung. “Ia menunggu kita di sana.”

Jagayuda melihat ke arah tempat itu dan tersenyumlah ia, karena dilihatnya Pandan Arum berdiri di sana sambil melambai kepadanya, sedang di sampingnya tertambat dua ekor kuda yang tubuhnya berkilat karena basah oleh keringat.

“Nah, Adi Jagayuda. Sebentar lagi kita akan melaksanakan siasat kita. Apakah kau telah siap, Adi?”

“Beres, Kakang. Aku paham akan segala tugasku secara terperinci. Bahkan aku bersedia memperta– ruhkan nyawaku untuk itu,” jawab Jagayuda.

“Bagus. Kau memang ksatria Demak yang sejati, Adi. Jasamu akan selalu tercatat dengan tinta emas. Nah, mudah-mudahan kita akan berhasil kali ini!” Sementara itu antara Jorangas dan Lajur Terasi sebagai pemimpin dari rombongan masing-masing terjadilah serah terima di dataran lembah Jurang Mati.

“Jorangas, terimalah ini satu peti uang emas sebagai penukar Empu Baskara!” Lajur Terasi menye– rahkan peti tersebut dan cepat-cepat disambut oleh Jorangas dengan tertawa terkekeh-kekeh.

“Ha, ha, ha. Terima kasih, sobat. Terima kasih! Tapi tunggu dulu! Aku akan melihat lebih dahulu, apakah uang emas di dalam peti ini betul-betul asli?!” kata Jorangas kemudian seraya membuka peti itu. Diambilnya salah satu mata uang emas lalu digigit serta dibauinya.

“Hmm, emas asli! Kalian memang sobat-sobat yang baik! Sekarang, terimalah Empu Baskara. Juga gulungan kertas yang menjadi miliknya ini, terimalah pula. Itu semua menjadi milik kalian!”

Lajur Terasi menyeringai puas melihat Empu Bas– kara yang berdiri di hadapannya. Tetapi mendadak satu alunan nada seruling mengalir ke lembah itu dengan satu irama yang memukau, menggoncangkan setiap jiwa!

Mereka sesaat terpaku seperti patung, dan dalam saat yang menegangkan itu, dari balik batu yang terjal meluncurlah satu bayangan orang berkuda ke arah mereka dengan cepat bagai angin. Penunggang kudanya yang tidak lain adalah Jagayuda, dengan sigap menyambar pinggang Empu Baskara dan kemudian dibawanya lari ke arah utara sambil berseru dengan keras-keras!

“Jorangas, Empu Baskara telah kembali ke tangan kita! Sekarang, cepatlah kamu berlari dengan peti uang emas itu!” Mendengar teriakan itu, wajah-wajah mereka seketika menjadi tegang dan merah. Sebaliknya wajah Jorangas sesaat tampak pucat, karena ia sama sekali tak mengerti, bahkan ia menjadi bingung dengan teriakan orang yang berkuda itu.

Lajur Terasi, Rikma Rembyak dan Ki Topeng Reges menjadi marah. Bagi mereka, teriakan orang yang berkuda serta penyerobotan Empu Baskara itu cukup memberikan satu pengertian yang gamblang bagi mereka! Bahwa ada satu tipu muslihat yang diatur oleh Jorangas. 

“Kurang ajar! Mereka memang telah mengatur siasat yang licik! Empu Baskara telah diserobot kembali oleh kaki tangannya!” desis Laju Terasi sekaligus menghunus pedangnya.

“Tunggu dulu, sobat!! seru Jorangas. “Kalian salah paham dengan kami! Orang berkuda tadi bukan...”

Permainanmu benar-benar mengagumkan kami, Jorangas! Setelah uang itu kau terima, Empu Baskara kau serobot kembali,” teriak Rikma Rembyak menyahut. “Apakah uang itu masih belum cukup bagimu?!”

“Iblis kurang ajar! Kata-katamu membikin merah telinga. Kau orang-orang jahat yang tak patut diam– puni lagi!” Jorangas berteriak jengkel.

“Ha, ha, ha, mulutmu memang pintar mengoceh! Apakah kau lupa, bahwa kau pun orang yang busuk. Kita semua memang golongan orang-orang jahat! Ha, ha, ha!”

Jorangas menjadi bertambah marah. Demikian pula para anak buahnya segera bersiap dengan sen– jata-senjatanya.

Jorangaspun cepat mencabut dua penggadanya yang berujung bola besi berduri dari ikat pinggang. Baginya tak ada lagi jalan keluar kecuali dengan bertempur!

Sekonyong-konyong dari semak-semak di belakang rombongan Lajur Terasi, keluarlah Mahesa Wulung sambil tertawa.

“Ha, ha, ha, Jorangas memang cukup licik, sobat– ku Lajur Terasi!”

“Hee, kaulah orangnya yang pernah mencoba mengambil Empu Baskara dari sarangku!” teriak Jorangas sambil mengacungkan senjatanya ke arah Mahesa Wulung.

“Lajur Terasi! Kau pun rupanya mempunyai akal kancil! Orang itu telah kau kirim ke sarangku untuk menculik Empu Baskara, sebelum tukar-menukar ini terjadi. Untunglah ia gagal!”

Kalau tadi Jorangas yang kebingungan, tetapi kini Lajur Terasi yang menjadi bingung. Melihat hal ini, Jorangas dan anak buahnya sudah tidak sabar lagi. Maka dengan teriakan gegap gempita mereka seren– tak menyerbu berbareng ke arah rombongan Lajur Terasi. 

Di lembah Jurang Mati itu serentak terjadilah lingkaran pertempuran yang hebat. Gemerincingnya senjata yang beradu mengumandang di tebing-tebing jurang sangat mengerikan.

Gogorwana langsung menyerbu ke arah Rikma Rembyak dengan sabetan kapaknya yang berdesing- desing. Sedang Ki Topeng Reges menyongsong serangan pedang dari Jurangpitu dan Parung berbareng.

Di sebelah selatan, Jorangas menyerbu ke arah Lajur Terasi penuh nafsu. Dua senjata penggadanya berputaran laksana angin, siap melanda Lajur Terasi yang bersenjata pedang lebar. Dan tak jauh dari tempat itu, Rajungan gigih melawan Growong dengan pedangnya. Keduanya bersenjata sama dan kedua pedang itu seperti dua pusaran angin yang setiap kali berbentur hebat.

Di utara, Mahesa Wulung tanpa kesukaran me– nyambut serangan dari seorang anak buah Jorangas yang bersenjata tombak. Mula-mula musuhnya ini hanya melancarkan serangan-serangan yang tidak berbahaya dan ini semua secara mudah dihindari oleh Mahesa Wulung. Tetapi secara sedikit demi sedikit dan pasti tombak lawan itu semakin hebat geraknya. Ujung mata tombak itu menjadi puluhan tampaknya dan menusuk serta mematuk ke arah tubuhnya.

“Hi. hi, hi, jangan kira nyawamu bisa selamat dari tombak Watangan!”

Sesungguhnya untuk kelincahan serta kegesitan lawannya yang bertombak itu, Mahesa Wulung terpaksa harus bekerja lebih keras. Kalau mula-mula ia hanya cukup dengan tangan kosong menghadapi lawannya, namun sekarang ia tidak boleh terus- menerus mengandalkan kegesitannya melulu, apalagi serangan tombak dari Watangan itu semakin rapat mengurung dirinya. Meskipun tidak mengena, ujung tusukan-tusukan tombak lawan telah memantulkan angin yang menabrak kulit Mahesa Wulung, dan itu pun sudah cukup membuatnya merasa perih.

Seharusnya hal itu tidak mungkin terjadi, karena Mahesa Wulung telah mempunyai ilmu Sikap Tugu Wasesa yang mampu menahan getaran pukulan atau pun suara sehebat apapun. Memang, lawan yang dihadapinya kini bukanlah lawan yang sembarang, sebab Watangan memang jagoan bermain tombak di antara anak-anak buah Jorangas lainnya. Sekiranya Mahesa Wulung tak memiliki cukup tenaga serta ketangguhan, dalam waktu tidak seberapa lama boleh dipastikan kalau tubuhnya jebol berlobang-lobang oleh tusukan-tusukan tombak Watangan.

Mahesa Wulung tidak ingin selalu mengecewakan Watangan, karena ia telah berkali-kali mendengar kutukan-kutukan dari mulut Watangan bilamana setiap tusukan tombaknya tidak berhasil menyentuh tubuh Mahesa Wulung sedikit pun. Maka segera ia mencabut cambuk Naga Geni dari pinggangnya dan diputarnya dengan hebat menyambut serangan tombak lawan.

Demikianlah, pertempuran mereka jadi lebih seim– bang jadinya. Masing-masing memiliki ilmu memain– kan senjata yang cukup bernilai tinggi, sampai setiap gerakan senjata-senjata itu selalu menimbulkan gulungan-gulungan angin yang deras sekali. Meski– pun begitu hati Watangan lama-lama berdesir hebat sebab cambuk lawannya itu mengeluarkan kilauan sinar yang menyala biru kehijauan. Maka yakinlah ia bahwa senjata itu bukan cambuk sembarangan, seperti cambuk penghalau kerbau, tapi pastilah cambuk pusaka yang ampuh.

Memang perkiraan Watangan tidak meleset, sebab cambuk Naga Geni di tangan Mahesa Wulung itu bergetar semakin hebat seolah-olah seekor naga yang menari dengan ekornya yang siap menyambar setiap orang pengganggu.

Sebuah tusukan tombak dengan saru menerobos ke arah perut Mahesa Wulung dan hampir-hampir saja mengenai sasarannya bila Mahesa Wulung tidak keburu melesat ke udara, sekaligus memutar Naga Geni ke arah bawah!

“Burung seriti meminum embun!” desis Watangan melihat gerakan silat Mahesa Wulung yang menukik ke bawah.

Apa yang dikuatirkan selama ini benar-benar terjadi. Ujung cambuk Naga Geni itu meluncur pesat ke arah kepalanya dan satu suara benturan terjadi bersamaan mulut Watangan meneriakkan satu je– ritan panjang!

“Aaargh!” Tubuh Watangan terjengkang ke belakang dengan kepala hangus bagai dibakar. Ia rebah tanpa berkutik lagi.

Di pojok lain Growong dan Rajungan bertempur gigih. Mereka saling menyerang dan menangkis silih berganti, tapi saat itu keduanya belum berhasil menyudahi pertempurannya.

Sampai dengan saat ini, Lajur Terasi dengan gigihnya menyambut setiap pukulan dan sambaran senjata Jorangas, yang datangnya bagaikan hujan deras.

“Hayoh, Lajur Terasi! Kerahkan segala kesaktian– mu untuk menghadapi penggada kembarku ini. Kalau tidak, pasti kepalamu akan remuk disambarnya,” seru Jorangas mengejek.

“Kamu boleh ngomong semaumu, Jorangas. Tapi pedangku ini akan lebih dulu membelah tubuhmu!” teriak Lajur Terasi sambil memutar pedangnya lebih hebat lagi.

Wess! Week! Sambaran pedangnya mengenai ujung kain Jorangas yang terjurai pada ikat pinggang bela– kangnya. Karuan saja Jorangas terperanjat kela– bakan melihat kainnya tersobek oleh pedang Lajur Terasi.

Tiba-tiba sebuah tebasan lagi menyambar ke arah lehernya. Untunglah ia cepat-cepat bertindak! Dengan mengendap ia berhasil lolos dari tebasan pedang itu. Tetapi memang Lajur Terasi bukan orang yang mudah berputus asa, maka sekali lagi ia mengulang serangannya!

Untuk ketiga kalinya, Jorangas lebih waspada dalam memperhitungkan siasatnya. Begitu sabetan pedang Lajur Terasi menyambar kepalanya, cepat ia berkelit ke samping hingga serangan itu hanya mengenai tempat kosong. Dalam saat itu juga Jorangas menggerakkan senjata di tangan kirinya dengan cepat.

Prak! Penggada berujung bola besi berduri itu memukul tangan kanan Lajur Terasi yang menggeng– gam pedang lebar. Maka terlontarlah satu jeritan panjang dari mulut Lajur Terasi dan pedangnyapun terpelanting lepas. Setelah itu senjata bola besi di tangan kanan Jorangas sekaligus meluncur ke bawah dan menyambar kepala Lajur Terasi. Maka untuk kedua kalinya ia menjerit dengan keras. Sesaat ia geluyuran, tapi akhirnya roboh ke tanah dengan kepala yang rengkah menganga dan matilah sudah Lajur Terasi!

Melihat lawannya telah berhasil dirobohkan, Jora– ngas menjadi lebih beringas, maka matanya nyalang melihat ke sana-kemari. Kebetulan pandangannya menatap pada Mahesa Wulung yang telah berhasil memenangkan pertempurannya melawan Watangan.

Tanpa membuang waktu Jorangaspun melesat ke arah Mahesa Wulung disertai sambaran-sambaran penggada bola besi di kedua belah tangannya.

Mahesa Wulung cukup waspada melihat berkele– batnya seseorang yang menuju ke arah dirinya. Se– gera ia memapaki lawannya itu, dan bertempurlah keduanya dengan hebat.

Di sebelah   lain,   Gogorwana   memutar   senjata kapaknya yang berdesingan, menyerang tubuh Rikma Rembyak dari segenap arah. Kalau saja yang menjadi lawan Gogorwana itu orang biasa saja, pastilah sudah sedari tadi akan mampus melawannya. Apalagi senjata kapak Gogorwana itu tidak lumrah besarnya. Terlalu besar kalau dipergunakan oleh orang-orang biasa. Tapi bagi Gogorwana, yang tubuhnya tinggi dan tegap itu, maka kapak tadi memang sangat cocok serta seimbang untuk dirinya. Sambaran-sambaran– nya yang sangat berbahaya dan mematikan, setiap kali mengancam nyawa Rikma Rembyak.

Dalam pada itu, Rikma Rembyak terpaksa menge– rahkan segenap kekuatannya dalam menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Ia sadar bahwa dengan kekuatan jasmani dan kekuatan melulu ia tak akan mampu melawan Gogorwana itu, maka ia menggunakan kelincahannya.

Sehingga tidak heran jika tubuhnya sebentar- sebentar melenting ke udara menghindari setiap tebasan kapak raksasa Gogorwana. Dengan jubahnya yang berwarna merah darah serta senjatanya tongkat kayu, Rikma Rembyak terus-menerus mempermain– kan lawannya dengan berloncatan kesana-kemari, persis seekor kelelawar hantu pengisap darah.

Betapa panas hati Gogorwana karena dipermain– kan oleh lawannya yang berambut gondrong awut- awutan. Dalam matanya, tampaklah seakan-akan Rikma Rembyak yang berambut gondrong itu adalah seorang manusia iblis. Gogorwana lebih mempergen– car serangannya dan makin bertubi-tubi bagai ombak yang menyapu ke arah Rikma Rembyak.

Melihat perubahan gerak Gogorwana yang makin garang itu, Rikma Rembyak tak ingin lebih lama bersikap loncat sana loncat sini menghindari senjata lawan. Lalu diputarnya tongkat kayu hitamnya me– magari tubuhnya rapat-rapat. Mula-mula tongkat hitam itu hanya bergerak di sekitar tubuhnya sekedar untuk menutup dan menangkis serangan kapak si Gogorwana. Setelah itu gerak tongkatnya bertambah meningkat, melonjak jauh dari tubuhnya, seolah-olah gerakan ular menerkam mangsa.

Gogorwana cepat memapaki tongkat Rikma Rem– byak dengan tebasan lurus ke bawah. Daar! Dua senjata yang dilandasi oleh tenaga dalam itu berben– tur. Masing-masing tangan mereka bergetar hebat oleh benturan itu.

“Ha, ha, ha, kau tak akan menang melawan Gogorwana, setan gondrong! Rasakan nanti tajamnya kapakku ini!” teriak Gogorwana penuh kesombongan. “Edan! Baru berhasil membentur senjataku saja sudah berani menyombongkan mulut! Tunggulah nanti seranganku berikutnya. Rikma Rembyak tak

akan mundur setapak pun!”

Selesai ucapannya, Rikma Rembyak segera mener– jang ke arah Gogorwana dengan teriakan hebat.

“Haaaat!”

Tubuhnya meluncur cepat, namun betapa kagetnya Rikma Rembyak bila Gogorwana dengan gerakan ke samping kiri sekaligus membacokkan kapaknya ke arah tubuhnya.

Braat! Jubah merah si Rikma Rembyak kena tersobek sepanjang tiga jengkal jari.

“Kurang ajar!” kutuk Rikma Rembyak melihat jubah kesayangannya tersobek oleh mata kapak Gogorwana.

“Ha, ha, ha, jubahmu tersobek, sobat? Maaf, yang kuincar bukan jubahmu, tapi kulitmulah yang seharusnya sobek,” ejek Gogorwana. “Keparat! Kau berani merobekkan jubah kesayanganku!! desis Rikma Rembyak marah. “Kau mesti bayar dengan nyawamu!”

“Ha, ha, ha, pasti jubahmu hanya laku dijual di rombengan saja, sobat! Dan itu pun harus ditembel lebih dulu, bukan? Ha, ha, ha!” Sekali lagi Gogorwana mengejek hingga wajah Rikma Rembyak menjadi semerah bara.

Tanpa diduga-duga ia menerjang ke arah Gogor– wana.

Mendapat serangan yang tiba-tiba itu, Gogorwana meloncat ke samping dan menyelinap di balik batang pohon kering. Tetapi Rikma Rembyak yang sudah naik darah itu terus menghajar ke arah Gogorwana.

Braak!

Sabetan tongkat hitam Rikma Rembyak memben– tur batang pohon yang kering itu dan berderak roboh ke tanah. Gogorwana cepat menghindar, kalau tidak ingin mati konyol ketimpa pohon yang roboh.

Terbukalah mata Gogorwana betapa hebatnya kekuatan Rikma Rembyak. Hanya dengan pukulan tongkatnya saja, sebatang pohon kering yang cukup besar berhasil dirobohkan begitu mudah.

Begitulah, keduanya bertempur dengan seru, sampai pada lima belas gebrakan. Masing-masing saling menunjukkan keunggulan dan keuletannya.

Pada jurus-jurus berikutnya, terlihatlah bahwa Gogorwana telah mengucurkan keringat dinginnya, sedang nafasnya berdengusan tak teratur. Itu semua akibat dari pengerahan segenap tenaga simpanannya, sebab kapak raksasanya itu membutuhkan tenaga yang besar dalam menggerakkannya.

Rikma Rembyak tak menyia-nyiakan keadaan lawannya itu maka cepat ia melancarkan serangan terakhir dengan menyapukan tongkatnya ke arah kaki Gogorwana.

Karuan saja lawannya cepat memapaki serangan itu dengan tebasan kapaknya ke bawah. Tapi ternyata serangan Rikma Rembyak tadi hanyalah pancingan saja. Maka, begitu kapak Gogorwana meluncur ke bawah, sekonyong-konyong tongkat Rikma Rembyak berganti arah. Tongkat itu tanpa terduga terus menyambar ke atas, ke arah dada Gogorwana.

Duk! Ujung tongkat Rikma Rembyak membentur dada Gogorwana yang seketika menjerit hebat!

Wajah Gogorwana menjadi merah kebiruan sedang bekas ujung tongkat Rikma Rembyak hanya menim– bulkan warna biru hangus pada dadanya. Tapi orang tak akan tahu bahwa bekas yang tampaknya sepele itu berakibat lebih hebat di dalam rongga dada Go– gorwana. Semua isi rongga dadanya telah rontok akibat benturan tongkat lawannya.

Maka Gogorwana mengerang serta memuntahkan darah hitam kental. Kedua belah tangannya melepas kapaknya kemudian menekan dadanya seolah-olah mencoba menahan isi dadanya yang telah hancur. Namun sejurus kemudian, ia jatuh terjungkal dan mati seketika.

Dalam saat yang bersamaan, terdengar pula satu teriakan ngeri dari mulut Rajungan yang termakan oleh sabetan ujung pedang Growong. Rajungan menekan lambungnya yang terluka, sedang tangan kanannya yang masih berpedang itu cepat bergerak. Dengan sisa tenaganya, ia melontarkan pedang itu ke arah Growong.

Sayangnya, Growong cukup waspada. Begitu pe– dang itu meluncur ke arahnya, iapun cepat menang– kis dengan satu putaran pedang setengah lingkaran, sehingga pedang Rajungan terpental dan menghun– jam ke tanah. Ketika Growong hendak menyerang Rajungan kembali ternyata orang ini telah rebah ke tanah tak bernyawa.

Jorangas yang masih bertempur melawan Mahesa Wulung, sekilas melihat bahwa Growong berhasil mengalahkan musuhnya, maka cepat-cepat ia berteriak kepada anak buahnya itu.

“Growong! Cepat kau ambil gulungan kertas di dekat Lajur Terasi itu! Surat itu sangat penting bagi kita!”

Begitu mendengar seruan pemimpinnya, Growong cepat-cepat meloncat ke arah mayat Lajur Terasi yang menggeletak, dan tidak jauh dari tubuh itu, tampaklah segulungan kertas dan benda itu segera disambarnya.

“Bawalah lari jauh-jauh dari tempat ini!” terdengar sekali lagi Jorangas berteriak dan Growongpun me– laksanakan perintah itu. Maka berlarilah ia ke arah selatan, cepat seperti anak panah lepas dari busur– nya.

Teriakan Jorangas tadi ternyata cukup keras, sampai telinga-telinga lain pun bisa mendengarnya. Dan di antara orang-orang yang pada saat itu ber– tempur di dataran Jurang Mati, Rikma Rembyaklah yang paling menaruh perhatian terhadap peristiwa ini!

“Hmm, pasti gulungan kertas tadi berisi catatan penting. Kalau tidak, mengapa Jorangas memerintah anak buahnya itu untuk membawa kabur gulungan kertas tadi dari tempat ini?” demikian pikir Rikma Rembyak. “Aku tidak boleh membiarkan orang itu minggat dari tempat ini! Gulungan kertas tadi harus jatuh ke tanganku!”

Rikma Rembyak telah mengambil satu keputusan dan itu pasti akan dilaksanakan. Maka tak lama kemudian, melesatlah ia ke arah selatan, untuk mengejar Growong.

Gerakannya yang dilambari oleh tenaga dalam serta ilmu meringankan tubuh, membikin larinya itu seakan-akan tak menyentuh bumi.

Kini, yang masih bertempur di lembah Jurang Mati itu terdiri dari dua lingkaran. Yang di sebelah barat ialah Jorangas yang dengan gigih melawan Mahesa Wulung. Sedang di arah timur, Ki Topeng Reges melayani Jurangpitu dan Parung dalam satu per– tempuran yang teramat seru!

Ki Topeng Reges yang diketahui sebagai guru dari Rikma Rembyak itu, gerakannya benar-benar mirip hantu. Sebentar lagi ia melenting dan tahu-tahu sudah berada di belakang Jurangpitu dan Parung. Karena gerakannya tadi sangat cepat maka sukarlah ditangkap oleh pandangan mata. Hingga ia seolah- olah bisa menghilang serta kemudian muncul di sana-sini.

Selama itu ia tidak menggunakan senjata sama sekali dalam menghadapi lawannya yang berpedang. Baginya, cukup mengandalkan kedua belah tangan– nya yang ampuh dan untuk ini pun, Jurangpitu serta Parung sudah mengerti akan kesaktian jari-jari Ki Topeng Reges. Malah beberapa bagian dari tubuh mereka selama bertempur itu, merasakan singgungan jari-jari Ki Topeng Reges yang menimbulkan rasa panas dan nyeri seperti disengat oleh puluhan lebah berbisa. Maka kedua orang itu lebih berhati-hati dalam menghadapi lawannya.

Betapapun hebatnya   Jorangas   yang   memutar kedua penggada bola besinya, toh belum juga ia berhasil merobohkan Mahesa Wulung. Kalau tadi ia telah memukul mati Lajur Terasi, terhadap Mahesa Wulung pun ia mula-mula berharap demikian pula.

Sedang kenyataannya sekarang, menjadi terbalik! Bukan ia yang memukul hancur lawannya yang jauh lebih muda itu, tetapi ia sendirilah yang terus- menerus terdesak oleh putaran cambuk Naga Geni.

Bagi Mahesa Wulung, lawannya yang dihadapinya kali ini sungguh-sungguh tidak bisa dianggap ringan. Ia sadar kalau Jorangas termasuk pendekar berilmu tinggi, dan ini terasa dalam sambaran-sambaran penggada besinya, yang selalu dibarengi oleh angin panas.

“Ha, ha, ha.... Hai, Mahesa Wulung! Kalau kau memang seorang pendekar jagoan, hadapilah senjata kembarku ini yang sebentar lagi akan merencak tubuhmu!” Jorangas berteriak nyaring dengan sombongnya.

“Ya, tertawa dan menyombonglah sepuasmu, sebe– lum ajalmu tiba, sobat!” jawab Mahesa Wulung.

“Kurang ajar! Kau bocah cilik yang bermulut besar! Matilah kau sekarang!” seru Jorangas sekaligus menyapukan tangan kanannya yang menggenggam penggada bola besi itu ke arah kepala Mahesa Wulung, berbareng pula penggada kirinya bergerak pula menyambar dada lawannya.

Bagi Mahesa Wulung tak mungkin untuk meng– hindari serangan sedemikian cepat dan tiba-tiba. Satu-satunya jalan ialah berjungkir balik surut ke belakang sejauh satu tombak, hingga dirinya terbebas dari pukulan-pukulan maut Jorangas.

Karuan saja mulut Jorangas menghambur-ham– burkan makian, karena calon korbannya itu berhasil lolos dari sambaran beruntun penggada besinya.

Mahesa Wulung segera berdiri kembali serta bersi– aga, sementara Jorangas pun berhenti sejenak untuk mengatur aliran nafasnya yang tersengal-sengal tak teratur. Demikian pula dengan Mahesa Wulung.

Kini kedua lawan itu berhadap-hadapan serta bersiap kembali dengan senjata. Jorangas sekali lagi memutar kedua penggada bola besinya, siap merangsang lawannya.

Sekali ini Mahesa Wulung telah matang memper– hitungkan siasatnya. Sebelum Jorangas terlalu dekat, ia terlebih dulu melecutkan cambuk Naga Geninya ke arah lawan. Hal ini sama sekali di luar dugaan Jora– ngas, sehingga ia cepat-cepat menyilangkan kedua penggada bola besinya untuk menangkis ujung cambuk lawan yang meluncur bagai seekor naga ke arah dadanya!

Sreettt! Ujung cambuk Naga Geni berhasil melilit kedua senjata Jorangas yang bersilang itu.

Jorangas sendiri meringis gembira melihat tangki– sannya berhasil. Tetapi kegembiraan ini hanya se– saat, sebab kedua senjatanya seolah-olah melekat oleh belitan cambuk Naga Geni.

Jorangas terperanjat, maka cepat-cepat ia menarik kedua senjatanya itu agar terlepas dari belitan cambuk lawan. Ia tak ingin kehilangan senjata kesayangannya yang selama ini telah menjadi andalannya.

Sebaliknya Mahesa Wulung, begitu terasa cambuk Naga Geni tertarik oleh lawan, iapun mengerahkan segenap tenaga dalamnya, sehingga terjadilah tarik- menarik antara Mahesa Wulung dengan Jorangas.

Tanpa setahu Jorangas, Mahesa Wulung tertawa dalam hati, sebab memang hal inilah yang telah diharapkannya! Maka ketika tarikan Jorangas semakin keras, Mahesa Wulung pun lebih keras lagi menggenggam cambuk itu dengan kedua belah tangannya!

Melihat ini, Jorangas menjadi lebih berusaha keras dengan tarikannya. Dan di saat tarikan Jorangas sampai pada puncaknya, Mahesa Wulung mengen– dorkan tarikan cambuknya ke muka, sehingga mau tak mau Jorangas terhuyung-huyung ke belakang.

Mahesa Wulung tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan meminjam tenaga lawan yang menarik cambuknya dengan keras, ia melesat ke depan ke arah Jorangas, sementara kedua tangan masih menggenggam erat cambuk Naga Geninya.

Gerakan ini sangat mengagumkan! Tubuh Mahesa Wulung laksana peluru yang melayang di udara dan langsung menuju ke arah Jorangas.

Untuk ini, lawannya terperanjat bukan main! Ia tak sempat lagi menghindar ataupun lari. Apalagi kedua senjatanya itu terbelit ketat oleh cambuk Mahesa Wulung. Maka kejadian berikutnya sukar di– tangkap mata, apabila tangan Mahesa Wulung meng– hentakkan cambuknya ke belakang dengan beberapa putaran, sehingga terlepaslah ujung cambuknya itu dari belitan pada penggada Jorangas. Dan selanjut– nya Mahesa Wulung dengan mengerahkan segenap tenaga serta ilmu pukulan Lebur Wajanya ia mele– cutkan cambuk Naga Geni ke bawah, ke arah kepala Jorangas. Cambuk itu meluncur laksana kilat.

Kraak! Terdengar suara benturan keras, disusul oleh jerit kesakitan yang panjang terlontar dari mulut Jorangas. Ia masih mencoba berdiri, tapi serentak tubuhnya bergemetaran lagi terjengkanglah tubuh Jorangas ke belakang dengan mata melotot liar serta darah menyembur dari kepalanya yang pecah.

Mahesa Wulung dalam hati mengucapkan syukur, karena Jorangas yang menjadi lawannya telah mati. Kematian yang setimpal bagi seorang yang telah sekian waktu membuat keonaran serta kejahatan terhadap bebrayan sehari-hari!

Ketika ia melirik ke arah timur, tampaklah Ki Topeng Reges masih melayani serangan-serangan Jurangpitu dan Parung.

“Hmm, biarlah mereka menyelesaikan urusannya sendiri. Aku masih harus menjemput Empu Baskara!” gumam Mahesa Wulung sambil melesat ke arah utara, untuk mencari Jagayuda yang telah berhasil menyerobot lari Empu Baskara.

Dengan berlari cepat dan diseling oleh loncatan- loncatan panjang dari batu yang satu ke batu yang lain, tubuh Mahesa Wulung bergerak persis anak kijang yang lincah dan binal. Ia berbelok ke arah barat laut dan sebentar saja lenyaplah di balik batu terjal dan semak-semak pohon pakis.

Ki Topang Reges melihat pula ke sekeliling tempat itu. Sepi semua! Kecuali mayat-mayat anak buahnya sendiri dan juga anak buah Jorangas yang berka– paran bermandi darah.

Ia sudah cukup lama menghadapi kedua lawannya yang bersenjata pedang itu. Kini tibalah ia menge– luarkan ilmu simpanannya.

“Hee, tikus-tikus! Kalian sudah cukup bermain- main, bukan?! Nah, sekarang hiruplah udara segar untuk penghabisan kalinya!” Ki Topeng Reges ber– teriak keras dan suaranya menggema berpantulan dari tebing ke tebing sangat menyeramkan.

Jurangpitu dan Parung sadar bahwa Ki Topeng Reges mengeluarkan ilmu simpanannya. Oleh sebab itu keduanyapun lebih mempergencar serangannya. Meskipun hal ini tidak banyak gunanya, tapi setidak- tidaknya dapat memperpanjang hidupnya sesaat.

Ki Topeng Reges merentangkan kedua belah tangannya ke depan sambil memusatkan kekuatan ilmunya. Dan terpekiklah bila mata Jurangpitu dan Parung melihat ke arah wajah Ki Topeng Reges yang berkedok seperti hantu.

Mata Ki Topeng Reges itu membara merah dan makin lama makin menyala mengerikan.

“Ha, ha, ha, tikus-tikus berdua! Lihatlah mataku ini! Lihatlah! Kalian akan merasakan ilmu simpanan– ku yang tiada bandingannya. Terimalah ilmu ‘Netra Dahana’ ini!”

Jurangpitu dan Parung tak sempat lagi melarikan diri atau menghindari serangan dahsyat ilmu ‘Netra Dahana’. Sebuah sinar merah seperti lidah api me– mancar dari mata Ki Topeng Reges dan menyambar ke arah kedua lawannya itu, yang seketika menjerit hebat.

Jurangpitu serta Parung berjingkrakan kesana- kemari dengan memegang kepalanya masing-masing, persis ayam yang disembelih! Sedang kepala mereka hangus terbakar oleh pancaran api yang keluar dari mata Ki Topeng Reges!

Kedua orang itu tak lama kemudian roboh ke atas tanah, diiringi oleh derai ketawa Ki Topeng Reges yang kepuasan melihat kedua lawannya telah mati. Ketika ia melihat ke sekeliling, terdengarlah mulutnya mendesis.

“Hah, ke mana muridku si Rikma Rembyak tadi? Aku harus mencari dia dan kemudian menemukan kembali Empu Baskara!”

Segera Ki Topeng Reges melesat ke arah selatan untuk mencari Rikma Rembyak!

***

Di kegelapan senja, sebuah bayangan manusia berloncatan menuruni tebing-tebing dan berhenti di sebuah tanah lebar di tepi Jurang Mati. Dilihatnya di tempat itu telah berdiri tiga sosok tubuh, yang terkejut melihat kedatangannya.

“Oh, Kakang Mahesa Wulung!” teriakan yang ber– nada lembut terdengar dari salah satu bayangan itu.

“Adi Pandan Arum, syukurlah kalian selamat! Dan inikah Empu Baskara?” tanya Mahesa Wulung sambil mendekati Empu Baskara yang masih berdiri dengan wajah murung.

Jagayuda tersenyum melihat kegembiraan itu.

“Ya, inilah Empu Baskara, pamanku dari Demak!” ujar Pandan Arum membuat Mahesa Wulung terbeliak kaget! Demikian pula dengan Jagayuda.

“Pamanmu? Empu Baskara ini masih pamanmu sendiri, Adi Pandan!?” seru Mahesa Wulung.

“Benar, Kakang Wulung. Maaf, aku tak mengata– kan kepadamu sejak dahulu, karena aku kuatir hal itu akan menambah kesulitan!”

“Kalian telah terlambat!” potong Empu Baskara lemah. “Gulungan kertasku yang berisi catatan- catatan penting rahasia panahku Braja Kencar telah jatuh ke tangan orang-orang jahat itu!”

“Ooh!” terdengar desis penyesalan dari mulut Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Jagayuda.

Suasana sesaat menjadi sunyi. Kecuali bunyi gemericik air sungai yang mengalir di dasar jurang dan sesekali terdengar alunan suara burung hantu yang menambah keseraman.

Bagi Mahesa Wulung, pernyataan Empu Baskara tadi sangat mengejutkan sekali. Bayangkan! Seandai– nya catatan rahasia panah Braja Kencar tadi terbuka oleh penjahat-penjahat itu, pastilah akan berakibat luar biasa. Mereka pasti akan menggunakannya dalam pekerjaan-pekerjaan jahat mereka!

Sekonyong-konyong, dari puncak tebing terdengarlah derai ketawa yang menggetarkan udara senja, membuat keempat orang itu kaget dan melongok ke atas ke arah puncak tebing.

“Rikma Rembyak!” desis mereka berbareng, ketika di tebing itu berdiri bertolak pinggang si pendekar berambut gondrong awut-awutan!

“Ha, ha, ha, kalian sudah tahu namaku? Itu bagus! Lihatlah sekarang di tangan kiriku ini. Segulungan catatan rahasia Empu Baskara yang telah berhasil kurebut dari tangan si Growong, anak buah Jorangas! Kalau kalian ingin selamat, serahkan pula Empu Baskara ke tanganku. Nanti boleh aku tukar dengan uang emas!”

“Keparat! Kami tak serendah itu! Bagi kami nilai Empu Baskara sama dengan nyawa kami!” teriak Mahesa Wulung. “Kau boleh membawanya setelah berhasil melangkahi mayat-mayat kami bertiga lebih dulu!”

Rikma Rembyak menggerundal sendiri, sebab ia tahu tak akan mampu menghadapi ketiga pendekar bersama-sama sekaligus.

“Diamlah kalian!” seru Empu Baskara memotong. “Tak perlu lagi kalian memperebutkan diriku yang telah begini sengsara. Itu semua memang salahku. Aku telah menciptakan senjata ampuh, panah sakti Braja Kencar dan akibatnya, keonaranlah yang timbul! Aku tak ingin menyesali hal itu sepanjang hari tuaku. Selama aku masih ada, penyesalanku tak akan habis. Kini biarlah aku mengambil suatu kepu– tusan,” Empu Baskara berkata sambil terseok-seok melangkah ke arah tepi Jurang Mati.

Semua mata seolah-olah terpaku seperti kena sihir dan pukau yang hebat!

Tak seorang pun bergerak kecuali Empu Baskara yang terus melangkah ke jurang dan sesaat ia berhenti serta menoleh ke belakang!

“Nah, biarlah aku beristirahat di dasar Jurang Mati ini. Kalian tak perlu lagi ribut-ribut!”

Mahesa Wulung, Pandan Arum dan Jagayuda bergerak berbareng untuk memburu dan mencegah maksud Empu Baskara. Tetapi sebuah sambaran sinar putih disertai derai ketawa, meluncur dari atas tebing dan lurus menuju ke arah punggung Empu Baskara yang tengah berdiri termangu di tepi jurang.

“Aaaakh!” Empu Baskara berteriak lemah ketika jarum-jarum berbisa menembus punggungnya, kemudian disusul dengan tubuhnya roboh dan melayang ke bawah, ke dasar jurang yang dialiri oleh air sungai sejernih kaca.

“Ha, ha, ha, maaf aku telah menolong kematian orang tua itu lebih cepat dengan jarum-jarum bisaku! Nah, sekarang aku akan meninggalkan kalian,” terdengar Rikma Rembyak berseru dari atas tebing.

Tetapi di saat itu, Jagayuda bertindak lebih cepat! Ia memasang panahnya dan sebentar itu pula beberapa anak panah telah ditembakkan serta meluncur ke arah Rikma Rembyak.

Namun sayang Rikma Rembyak waspada. Maka begitu anak-anak panah itu meluncur ke arah dirinya, ia memapakinya. Tak! Tak! Trang!

Semua panah Jagayuda tersampok rontok tanpa satu pun yang menyentuh tubuh Rikma Rembyak. Jagayuda sangat marah, demikian pula Pandan Arum yang masih terisak-isak atas kematian Empu Baskara, seorang pamannya yang telah sekian tahun dirindukannya!

“Keparat! Aku akan kejar kamu, dan merebut kembali surat rahasia Empu Baskara!” teriak Jagayuda sambil meloncat ke arah puncak tebing di mana Rikma Rembyak berdiri.

Melihat hal itu, Pandan Arum pun tak tinggal diam. Cepat ia melesat menyusul Jagayuda untuk mengejar Rikma Rembyak.

Sebentar saja keduanya tiba di puncak tebing, tapi Rikma Rembyak bukan orang-orang bodoh kalau masih berdiam diri di tempat itu. Iapun berlari, sehingga terjadilah kejar-mengejar. Ketiga bayangan itu bagai tupai-tupai yang lincah berloncatan dan akhirnya lenyap di balik batu-batu terjal di arah timur.

Mahesa Wulung tinggal sendirian di tempat itu. Suatu pukulan hebat bahwa tugasnya ini hampir seluruhnya gagal. Empu Baskara telah tewas, demikian pula catatan rahasianya lenyap pula terbawa oleh Rikma Rembyak. Harapan satu-satunya ialah kepada Jagayuda dan Pandan Arum yang kini tengah mengejar Rikma Rembyak. Dapatkah mereka merebut kembali gulungan kertas itu?

Yah, entahlah, Mahesa Wulung cuma bisa berdoa dalam hati semoga keduanya berhasil. Dalam hati iapun maklum bahwa sesuatu tidak selalu berhasil seperti yang diharapkan. Sekali berhasil sekali-sekali gagal. Begitulah irama kehidupan!

“Hua, ha, ha, ha. Kini berhasillah aku berhadapan muka dengan pendekar jagoan dari Demak! Hayo, perlihatkan semua kesaktianmu, kalau tidak ingin mati konyol oleh tanganku!” terdengar teriakan sekonyong-konyong dari atas batu sebelah selatan.

“Ki Topeng Reges!” desis Mahesa Wulung bagai melihat setan di arah puncak batu sebelah selatan.

Ki Topeng Reges tanpa banyak cakap terus terjun ke bawah, menyerang Mahesa Wulung.

Untuk menghadapi tokoh sakti ini, Mahesa Wulung tak kepalang tanggung. Maka dikerahkannya segenap kepandaian serta ilmunya dalam menyambut serangan Ki Topeng Reges.

Sebentar saja terjadilah pertempuran seru di tepi Jurang Mati. Keduanya sambar-menyambar, terkam- menerkam kadang-kadang melenting ke udara untuk kemudian mendarat kembali di atas tanah. Debu berkepulan ke atas dan kerikil-kerikil berpelantingan kesana-kemari.

Putaran cambuk Naga Geni di tangan Mahesa Wulung ternyata banyak menolong dirinya, sehingga tak sekali pun jari-jari Ki Topeng Reges mengenai bagian-bagian tubuhnya yang penting.

Hal ini membuat lawannya yang bertopeng hantu itu mengumpat sejadi-jadinya. Apalagi beberapa kali ujung jarinya ketika tersampok oleh cambuk yang menyala kebiruan itu, terasa seperti terbakar oleh jilatan api, sampai berakibat bengkak-bengkak kecil merah lebam.

Maka Ki Topeng Reges menggeram serta meren– tangkan kedua tangannya ke depan, siap melancar– kan serangan hantunya.

“Ha, ha, ha, mati sekarang kau tikus!”

Mahesa Wulung terus memutar cambuk pusaka– nya tanpa berani menatap mata Ki Topeng Reges. Sebab itu berarti mengundang maut baginya. Ketika pancaran lidah api menjilat serta  menyambar dari arah mata Ki Topeng Reges, Mahesa Wulung melesat dan berjumpalitan di udara, sehingga lidah-lidah api itu hanya mengenai tempat-tempat kosong saja.

Begitulah, maka tubuh Mahesa Wulung berlen– tingan ke udara, kesana-kemari, seolah-olah menari- nari di antara lidah-lidah api yang menyambar- nyambar semakin rapat serta bertubi-tubi datangnya. Keringat Mahesa Wulung mengalir menganak sungai akibat hawa panas dari lidah-lidah api terse– but, dan setapak demi setapak ia terdesak ke tepi

jurang.

Suatu ketika Mahesa Wulung melenting ke udara menghindari lidah api, tetapi ketika mendarat kem– bali, kakinya telah menginjak batu licin berlumut. Akibatnya tak ampun lagi, Mahesa Wulung terpeleset dan terpelanting ke arah Jurang Mati disertai iringan derai ketawa Ki Topeng Reges kepuasan.

Meskipun Mahesa Wulung tak mati terbakar oleh pancaran api matanya, tapi jurang yang dalam serta tebing-tebing yang curam cukup untuk menjamin kematian Mahesa Wulung.

Tubuh Mahesa Wulung melayang ke bawah, ke arah dasar Jurang Mati yang penuh dengan tonjolan- tonjolan batu runcing laksana ujung-ujung tombak.

Untunglah ia cepat-cepat bertindak. Selagi ia melayang ke bawah itu, ia melecutkan cambuknya ke arah sebuah batang pohon kering yang banyak ber– tonjolan dari sela-sela dinding jurang.

Sreeet! Ia berhasil! Ujung cambuk itu melilit pohon kering tadi hingga sesaat ia tergantung-gantung di situ. Hanya sayang, rupanya pohon kering tersebut tidak cukup kuat. Dengan suara berderak keras, patahlah batang pohon kering itu dan tubuh Mahesa Wulung kembali terpelanting ke dasar jurang. Dasar Mahesa Wulung bukan orang yang mudah berputus asa, maka sekali lagi ia melecutkan cambuk ke arah sebuah batu runcing yang menonjol dari dinding jurang.

Sraat! Berhasil untuk kedua kalinya! Cambuk Naga Geni melilit batu runcing tadi sehingga Mahesa Wulung terayun-ayun di dinding Jurang Mati, seperti seekor laba-laba yang bergantung pada benangnya.

Ketika Mahesa Wulung melirik ke bawah, tak jauh dari kakinya, terlihatlah bagian dinding jurang yang melebar datar, seolah-olah sebuah jalan kecil selebar setengah depa. Mahesa Wulung melihat tempat itu dengan menarik nafas lega dan kemudian ia meng– hentakkan cambuknya, sehingga belitannya pada batu menonjol di atasnya terlepas.

Buk! Kedua kaki Mahesa Wulung mendarat pada jalan kecil tersebut dengan sigapnya.

Pertama-tama Mahesa Wulung mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, karena dirinya telah terhindar dari maut. Sesudah ia mengatur ketenangan dirinya, sedikit demi sedikit ia merayapi dinding jurang itu ke arah kanan sebab di sebelah kiri, jalan kecil tadi makin menyempit dan lenyap merupakan dinding curam yang licin.

Tanpa gentar sedikitpun ia bergerak terus ke arah kanan dengan membelakangi jurang itu, sementara kedua tangannya bergerayangan pada dinding curam memilih tempat untuk berpegangan.

Bersamaan lenyapnya cahaya senja yang terakhir, yang kini diganti oleh munculnya sang purnama serta tebaran bintang-bintang di langit bersih itu, mata Mahesa Wulung menangkap adanya bayangan hitam pada dinding jurang itu, kira-kira sejauh sepuluh langkah lagi ke kanan. Bayangan tadi seolah-olah merupakan celah dari dinding jurang yang menjorok ke dalam sebagai mulut sebuah goa. Meskipun Mahesa Wulung berharap untuk dapat beristirahat sejenak di mulut goa itu, namun tak urung hatinya berdebar-debar pula mendekati tempat itu.

SELESAI