Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 58 (Tamat)

Jilid 58 (Tamat)

Tapi Ngwang menarik diri. Dengan mudah Ngwang menghindari benturan tenaga. Benturan yang menguntungkan justru ditolak. Karena Ngwang mengincar Cubluk. Seluruh serangannya tertuju ke arah itu.

Dalam hal ini Ngwang sebenarnya tidak terlalu cerdik. Malah boleh dikatakan menjadi sangat hati-hati. Jelas dalam benturan tenaga, Ngwang menang secara materi. Akan tetapi nyalinya telanjur keder dengan nama besar Upasara Wulung. Yang ketika dalam keadaan terluka masih mampu mengimbanginya. Apalagi kini kekuatan Upasara seperti menyatu.

Walau tetap tak sempurna, karena menjaga Cubluk. Titik lemah ini yang digempur habis-habisan. Kedutannya mengarah ke Cubluk, sementara tangannya yang kosong mencuri kesempatan menyambar, dan kakinya merobek serta merobohkan pertahanan Upasara.

Napas Mada naik-turun.

Ia tak bisa berbuat apa-apa, karena pikirannya seakan blong, jebol entah ke mana. Cara Halayudha mengubah pribadinya, watak bertarungnya, susah dipahami sehingga masih menjadi gangguan.

Jalan pikirannya sederhana.

Ketika mencoba merenungkan apa yang berlangsung, yang muncul justru kemungkinan yang lain. Mengenai cara bertarung Upasara, Gendhuk Tri, bukan hanya Halayudha.

Sebenarnya kedudukan yang bertarung sekarang ini sangat aneh. Di satu pihak jelas ada Upasara Wulung, Gendhuk Tri, serta Nyai Demang. Kalau mereka bersatu, akan merupakan kekuatan utama. Sementara lawan yang dihadapi, Halayudha berdiri sendiri. Ngwang di pihak lain lagi. Serta Pangeran Hiang yang bisa dikatakan berdiri sendiri.

Kalau saja dirinya bisa membuat semua yang ada mengeroyok atau paling tidak menghadapi Ngwang, pertarungan akan lebih cepat berakhir.

Atau bahkan, misalnya saja, menghabisi Halayudha.

Mada menarik-narik rambutnya karena kesal. Karena menyadari penuh bahwa jalan pikirannya terlalu ngayawara, terlalu dibuat-buat dan berbeda dari kenyataan yang ada.

Karena kini Pangeran Hiang menyerbu ke arah pertarungan melawan Halayudha. Kelihatannya sekilas seperti mengeroyok bersama Gendhuk Tri, akan tetapi pada suatu saat keduanya juga saling bertempur sendiri.

Ini baru pertarungan yang paling ganjil yang pernah dilihat Mada.

Selama ini matanya selalu menyaksikan dua atau tiga kubu secara jelas terbedakan. Namun sekarang justru terpecah-pecah.

Bahkan Upasara Wulung serta Gendhuk Tri tidak berada dalam tempat yang sama. Bukankah keduanya bisa bersatu-padu, sebagai pasangan yang tanpa tanding?

Bukankah tubuh anak perempuan kecil di pundak Upasara bisa dititipkan sementara ke Nyai Demang?

Yang membuat Mada heran sebenarnya bukan pertanyaan itu sendiri. Melainkan bahwa di balik pertanyaan itu pasti ada jawabannya. Kalau sampai mereka berdua tak perlu bersatu, kalau sampai gadis kecil itu digendong, pasti ada penyebabnya. Yang masih gelap baginya, tapi tidak bagi yang bersangkutan.

Sama dengan keadaan dirinya sendiri saat ini. Sehubungan dengan perintah Patih Tilam untuk menangkap Upasara Wulung. Benarkah seperti yang diutarakan, meneruskan peranan sebagai perantara wangsit, suara dari kegaiban, ataukah ada sesuatu yang lain?

Atau juga Raja yang tertegun seperti seonggok kayu tua.

Atau seperti dirinya yang keletihan karena mencoba memahami dan menandingi Halayudha yang dengan enak bisa mencla-mencle, tanpa kepribadian.

Mada mengibaskan pikirannya yang meliar tanpa bisa diarahkan kepada sesuatu yang lebih bermanfaat.

Karena pertarungan makin meninggi. Gempuran Ngwang yang bertubi-tubi, memaksa Upasara memindahkan tubuh Cubluk dari pundak kiri ke pundak kanan. Kadang kala bahkan perlu memutar tubuhnya, sehingga Cubluk berada dalam gendongannya. Kadang seperti diemban di bagian depan.

Dalam pertarungan seperti ini terlihat jelas bahwa Upasara bisa mengungguli Ngwang. Sekurangnya Ngwang tak bisa berbuat banyak. Serangannya ke arah kuda-kuda Upasara sudah lama ditarik. Karena Ngwang mengetahui kekuatan utama Upasara justru pada pijakan kaki. Yang kukuh, keras, tak tergoyahkan. Benturan keras lawan keras hanya membuat tubuhnya melesak ke dalam tanah, tak bisa mengambang.

Namun keunggulan tak menghasilkan apa-apa untuk menandai kemenangan. Karena Ngwang bisa melayang pergi dan datang, menyambar dan mengeleyang, sementara gerakan Upasara sangat terbatas. Lebih mengandalkan keunggulan tenaga dalam, dan kesiagaannya untuk mengambil risiko.

Nyai Demang yang terbebas dari serangan untuk sementara, hanya bisa membuat perhitungan dalam hati. Bahwa daya gempur Ngwang yang menggunakan seblak tak berbeda dengan ketika menggunakan kipas. Serangan banaspati, serangan dengan arah memenggal leher masih terlihat. Kadang diseling atau ditambahi dengan kedutan lampor, di mana ujung-ujung rambut berdiri tegak dan menjadi keras menyapu, seakan teriakan ratusan bocah. Yang mengakibatkan Cubluk tergerak mengikuti arah gerakan seblak.

Ini termasuk jurus yang paling berbahaya bagi Upasara. Karena Ngwang mempergunakan keunggulan untuk mempengaruhi Cubluk.

Lampor adalah jenis hantu yang dipercaya muncul siang hari dan mengajak anak-anak pergi. Sekali muncul, lampor bisa menarik puluhan anak. Dalam dongengan yang dipercaya, anak-anak sangat tertarik dan akan mengikuti tanpa peduli orang tuanya menahan dengan tangis ataupun jerit.

Inilah yang diketahui Nyai Demang. Justru karena Ngwang mampu memahami kekuatan semacam itu, ditambah dengan penguasaannya akan ilmu sirep.

Inilah bahaya yang sesungguhnya. Karena Upasara pun tak mampu menahan gerakan

Cubluk.

Ternyata Ngwang berhasil.

Tubuh yang selama ini diam tertidur, bergerak mengikuti arah yang dituding Ngwang. Diseling dengan jurus yang mengandalkan sirep cepet, sejenis dengan lampor yang keluar sore hari-yang berarti tenaga pancingan hawa dingin, Ngwang mulai bisa memaksakan gerakan Upasara.

Yang walaupun gagah perkasa dan bisa mengimbangi Ngwang, akan tetapi tak bisa membiarkan Cubluk bergerak begitu saja. Tangan dan kaki Cubluk yang lemah, yang bergerak mengikuti gerakan Ngwang, hanya membuat Upasara makin repot melindungi. Gerakannya menjadi makin keras, tetapi sekaligus terseret makin cepat. Baik menghindarkan serangan ataupun membalas.

Senopati Pamungkas 96

Bermain cepat justru sangat dikehendaki oleh Ngwang. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki masih sedikit lebih unggul. Dengan memaksa main cepat, Ngwang berusaha menguras tenaga Upasara Wulung.

Bertambah lima belas jurus, Ngwang makin maju setapak demi setapak. Ujung rambut seblaknya beberapa kali menyapu Upasara, dan mulai membuat gurat-gurat kecil melepuh di kulit tangannya. Yang mengganggu pemusatan kekuatan karena rasa gatal dan panas menyatu.

Apalagi Upasara tak ingin tangannya yang tergurat itu menyentuh Cubluk, karena kuatir memindahkan racun yang ada.

Upasara terpontang-panting. Sangat tidak imbang. Karena dirinya bukan hanya melindungi Cubluk. Malah boleh dikatakan gerakan Cubluk yang merepotkan dirinya.

Sepenuhnya Cubluk berada dalam kontrol Ngwang.

Meraga Sukma dan Merogoh Sukma

GAWAT! Sangar!

Karena keunggulan Ngwang juga dilihat Halayudha.

Halayudha bisa memperhatikan dengan saksama. Menghadapi serangan Gendhuk Tri maupun Pangeran Hiang, Halayudha masih bisa memaksa mereka mundur-maju tanpa pernah berani beradu dengan Kangkam Galih. Kedua lawan Halayudha seperti main petak umpet, setiap kali berhasil mendesak maju, jadinya malah mundur kembali begitu Halayudha menerabas asal-asalan dengan Kangkam Galih. Baik Pangeran Hiang maupun Gendhuk Tri mencari saat yang aman untuk menyusup maju. Tetapi kesempatan seperti itu tidak mudah diperoleh.

Melihat Upasara mulai terdesak, Halayudha menggerung keras. Mempercepat irama dan tempo serangannya. Tebasannya kiri-kanan makin tajam dan cepat. Putaran pergelangannya makin tak terkendalikan.

Yang menjadi makin sulit ditebak ialah permainan silat Halayudha. Di satu pihak, rangkaian serangan seperti permainan jago pedang panjang dari negeri Jepun yang menebas paksa dalam pertarungan jarak pendek, pada pihak berikutnya, rangkaian dari negeri Cina. Yang lebih mengandalkan serangan berjarak dan hanya kalau perlu merangsek maju.

Gerakan mengentengkan tubuh, berjumpalitan, ataupun menyusup, dalam rangkaian berikutnya berubah menjadi merapat, seolah mau menekuk habis Upasara berikut Cubluk sebagaimana gulat Tartar. Masih harus ditambah dengan kembangan kaki yang berasal dari ajaran tanah Hindia.

Mengagumkan.

Terlebih bagi Nyai Demang yang mempelajari serba sedikit. Semua yang dimainkan Halayudha mendekati titik kesempurnaan. Apalagi setiap perubahan gerak bisa berlangsung dalam satu tarikan napas. Inilah keunggulan Halayudha, yang tak dimiliki oleh yang lain yang tengah bertarung mati- hidup sekarang ini.

Nyai Demang menyesali.

Menyesali suara hati yang meminta Mada maju ke tengah gelanggang. Sekarang akibatnya justru lebih buruk.

Kehadiran Mada malah menyebabkan Halayudha bisa menemukan cara mengubah permainan silatnya sekaligus mengubah penampilannya.

Yang kini diteruskan dengan sadar. Mada mengelus dadanya.

Menahan batuk yang menyedak.

Bahwa Halayudha pernah mempelajari segala aliran ilmu silat dengan tekun, bisa diterima. Akan tetapi bisa memainkan segalanya dengan penuh penghayatan atau rumangsuk, itu benar-benar luar biasa baginya. Karena itu justru hal yang tak mungkin dilakukan.

Pertanyaan Mada: Apakah mahamanusia yang sejati justru seperti ini? Manusia yang tidak mempunyai pribadi?

Mata Mada memandang nyalang.

Apa yang dilihat dimasukkan ke dalam kekuatan batinnya. Untuk menemukan jawaban dari apa yang menggelisahkan. Untuk diakurkan dengan kekuatannya sendiri.

Kekuatan batinnya yang akan menjawab. Tubuh Mada menggeletar.

Napasnya berdengusan tergesa. Bagai tertimpa beban yang berat.

Mada tak bisa menghentikan, meskipun setengah sadar batinnya memperingatkan bahwa sekarang bukan saat yang tepat mencari tahu hal itu. Karena yang akan menjawab adalah yang merasakan getaran yang sama.

Itu berarti bisa Upasara Wulung, Gendhuk Tri, atau Halayudha. Siapa pun yang berusaha menjawab, seperti memecah pemusatan kekuatan batinnya.

Itu berarti Upasara atau Gendhuk Tri. Karena Halayudha mampu menukar diri.

Mengabaikan getaran yang ada, saat tidak memerlukan.

Mada mengerem kemauannya, hingga dadanya sakit dan pandangannya kabur. Mada keras kepala. Membiarkan rasa sakit makin tak tertahankan. “Jangan menarik sukma yang sudah didatangkan.” Itulah suara Upasara Wulung.

Berarti sebagian kekuatan inti Upasara terpecah lagi, di saat menghadapi situasi yang kritis. “Sukma sejati adalah kekuatan, adalah kehidupan.

“Ngraga sukma berarti menjadikan raga sebagai sukma. Menyatukan raga dengan sukma. Sedangkan ngrogoh sukma berarti membuat sukma keluar.

“Tak ada bedanya, jika tak dibedakan. “Tak ada samanya, jika nyatanya berbeda.

“Paman Jaghana tidak akan turun ke jagat ini, kalau sekadar merogoh sukma. Paman Jaghana, badaniah dari sukma.”

Mada menggerung makin keras. Bibirnya mendesis.

Rasa sakit di dadanya melenyap. Matanya bisa menemukan pandangan kembali. Tapi apa yang dilihatnya membuat darahnya berhenti berdesir.

Setiap kali pedang berpindah tangan, kesiuran angin mengiris tajam. Guratan luka di punggung tangan Upasara makin melebar. Darah menetes dan kadang muncrat seirama dengan sentakan gerakannya.

Kini serangan Halayudha juga mengarah langsung ke Upasara, seperti telah diperhitungkan Gendhuk Tri.

Saat yang tepat sekali.

Saat kekuatan Upasara terpecah banyak. Melindungi Cubluk, berhubungan dengan Mada, dan entah apa lagi.

Saat di mana Ngwang mengedutkan seblak-nya ke arah Cubluk, sementara kakinya terjulur ke depan menendang dada Upasara. Gerakan membungkuk bagai udang, mengempos seluruh kekuatan dalam satu genjotan.

Satu lontaran tenaga penuh disertai teriakan keras. Nyai Demang memekik.

Klobot menjerit, untuk pertama kalinya menutup mata. Klobot tidak tahu persis apa yang terjadi akan tetapi merasa kengerian melewati ambang kemampuannya.

Pangeran Hiang tersedak melihat perubahan yang mendadak. Bukan hanya perubahan Halayudha mengalihkan sasaran ataupun caranya bersilat, melainkan juga perubahan menyeluruh dalam penampilannya.

Seolah ada beberapa Halayudha yang setara yang mampu memainkan gaya Jepun, Tartar, Cina, India. Membuat tersedak, karena ketika Pangeran Hiang berusaha meruket, merangkul kencang dengan gulatan, Halayudha melabrak dengan kekuatan yang sama.

Sesaat Pangeran Hiang merasa Halayudha kena jebak.

Karena Pangeran Hiang menggulat dengan lengan yang kosong. Sehingga Halayudha akan terjeblos. Nyatanya tidak.

Dengan keluwesan tenaga air, Halayudha meluncur bebas. Tebasan Kangkam Galih mampu mengutungkan lengan baju yang kosong! Kosong!

Lengan baju kosong yang tidak bertenaga bisa disabet hingga putus! Dengan cara yang sama ketika menyabet putus lengan Pangeran Hiang!

Menebas benda keras atau benda lembut, Halayudha tetap sama saktinya! Kangkam Galih makin perkasa. Pada saat yang bersamaan dengan itu, Gendhuk Tri yang tengah berjumpalitan di udara menyongsong maju. Gendhuk Tri satu-satunya yang mempunyai peluang terbesar untuk masuk lebih dalam.

Dengan gerakan seakan menyambar Cubluk, yang bisa dilontarkan ke tengah udara untuk diselamatkan. Batin Gendhuk Tri mengisyaratkan hal ini, dan Gendhuk Tri yakin bahwa Upasara bisa menangkap getaran kemauannya ini.

Upasara memang menangkap kemauan Gendhuk Tri. Dan menganggap bahwa cara ini yang lebih baik. Bagaimanapun, keselamatan Cubluk makin terimpit bahaya.

Sekurangnya dengan berada dalam lindungan Gendhuk Tri, keselamatannya tidak berada dalam titik kritis.

Upasara menggerakkan pundaknya, seiring dengan tubuh Gendhuk Tri melayang. Ngwang bersorak kegirangan.

Juga Halayudha!

Percakapan batin Upasara Wulung dengan Gendhuk Tri seakan bisa terbaca jelas. Meskipun barangkali dari beberapa perkiraan, kemungkinan gerakan berikutnya memang bisa diduga.

Itu sebabnya Ngwang meloncat tinggi sambil melakukan tendangan berputar. Kemungkinan datangnya Gendhuk Tri akan disambut sentakan kekuatan utuh.

Kalaupun Gendhuk Tri tumbuh sayap dan bisa terbang, masih perlu waktu untuk berkelit. Sementara tendangan maut telah masuk.

Sedangkan Halayudha memilih cara yang aman.

Cukup dengan memutar pergelangan tangan, sehingga arah tusukan bisa mendua. Bisa menembus dua tujuan, dua tubuh sekaligus. Baik Upasara maupun Gendhuk Tri akan terkena sodetan. Kalau satu menghindar, yang lainnya pasti kena. Kalau dua-duanya terkena, tak membuat tenaga Halayudha perlu dikerahkan lebih besar.

Nyai Demang tak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Mada menggigit bibirnya hingga berdarah.

“Rama Wulung…” Klobot menjerit lirih.

Pangeran Hiang menunduk. “Telah berakhir….”

Air, Rembulan, Api, Matahari

NYAI DEMANG menyebut nama Dewa Yang Mahadewa dalam batinnya. Pasrah. Memang segera berakhir.

Dalam pengertian yang berbeda.

Gendhuk Tri memang meloncat ke tengah udara. Melayang dengan tangan terkembang. Upasara memang menggerakkan pundaknya. Tetapi, yang tak terbaca adalah bahwa Gendhuk Tri tidak melayang ke arah Cubluk, yang tetap berada di pundak Upasara.

Hubungan batin keduanya telah mencapai titik keseimbangan pengertian yang berhubungan lebih halus dari apa yang ditunjukkan oleh gerakan Halayudha.

Gendhuk Tri melayang turun.

Dengan tangan bersidekap di dada. Dengan mata tertutup. Dengan tubuh tetap tegak.

Bersamaan dengan Upasara yang mengempos seluruh kemampuannya. Jurus demi jurus yang diciptakan dengan inti kekuatan tanah air, kini teruji sempurna seluruhnya. Sewaktu dua serangan ganas dari dua jurusan yang berbeda dengan kembangan yang sangat berbeda menggempur keras bersamaan, tenaga dalam Upasara mengumpul, berdenyar-denyar melalui seluruh pembuluh dalam tubuhnya menggelegak di bawah semua kulitnya.

Begitu Gendhuk Tri melayang turun dengan sikap semadi, Upasara menggebrak maju.

Mada seakan diarifkan, bisa mengetahui, bahwa Gendhuk Tri maupun Upasara Wulung sebenarnya sudah menyatu. Kekuatan tanah air, bukan lagi merupakan gabungan kekuatan Gendhuk Tri ditambah Upasara Wulung.

Melainkan dalam diri Upasara ada kekuatan tanah dan sekaligus kekuatan air. Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri. Secara sendiri-sendiri, bisa memainkan tenaga tanah dan tenaga air sekaligus.

Bahkan dalam bentuknya yang sekarang, dengan bersemadi, Gendhuk Tri seakan memindahkan tenaga dalamnya ke dalam tenaga dalam Upasara. Tanpa menggerakkan tubuh.

Sewaktu Kangkam Galih yang lebih dulu menebas, Upasara malah menyongsong. Siku kirinya ditekankan ke bawah.

Tepat ke arah pedang!

Dengan bertumpu pada kekuatan pedang yang bergerak, tubuhnya miring sebagaimana pedang, dan ikut terdorong bergerak. Gerak yang teramat sulit, karena kekuatan bertumpu pada bidang yang sangat sempit dan tipis. Apalagi poros pijaknya adalah siku!

Gerakan ini menyatu dengan ayunan tubuh mengikuti arah pedang. Seolah Upasara yang masih tetap merangkul Cubluk bermain dalam lingkaran. Walau sebenarnya Upasara berusaha membebaskan diri dari kekuatan yang menekan.

Gerakan ini sekaligus meloloskan diri dari gempuran Ngwang yang melayang di atas dengan kedutan seblak maupun tendangan kaki lurus yang mengarah ke dada.

Pada saat yang bersamaan dengan itu tubuh Cubluk dilontarkan ke bawah, dijepit di antara kaki Upasara, sehingga kedua tangannya leluasa membalas serangan.

Gerakan tangannya tetap perlahan, bisa diikuti dengan pandangan mata oleh yang melihatnya. Gerakan yang sangat sederhana.

Telapak tangan Upasara menengadah-membuka, kemudian berubah miring-menepis. Itu saja.

Membuka ke arah Ngwang yang melayang di atas, dan menepis dengan pinggir tangan mengetuk pergelangan tangan Halayudha.

Tubuh Ngwang yang melayang di atas seakan kena tenaga dongkrakan besar dari bawah. Seolah muntahan semburan gunung berapi yang menjotos keras, dan sekaligus bagai tarikan bumi terbelah ketika telapak tangan Upasara miring.

Akibatnya hebat.

Tenaga dalam yang dikerahkan sepenuhnya, yang membuat Upasara dan Gendhuk Tri bagai satu tarikan napas, dirasakan oleh Ngwang bagai sambaran angin beliung.

Tubuh Ngwang terpuntir. Tidak terputar, tapi terpuntir.

Hanya bagian-bagian tertentu yang berputar. Kaki ke arah dalam dan kepala ke arah luar. Mengeluarkan suara keras rontoknya tulang dan otot-otot.

Padahal beberapa kejap sebelumnya Ngwang hanya mengira bahwa Gendhuk Tri tak jadi menerima tendangannya, tanpa menyangka bahwa Upasara bisa menghindari tebasan Kangkam Galih. Apalagi balas menyerang, dengan tenaga mendorong, memuntir, dan kemudian mengempaskan.

Selebihnya udara sekitarnya mengental, pandangannya tertutup, dan bumi yang diinjaknya amblas.

Keunggulannya tidak menginjak bumi berubah menjadi malapetaka. Karena pengerahan tenaga dalamnya di bagian pusar menjadi macet. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, Ngwang mengentakkan kedua tangannya, meraup apa saja yang bisa. Dan melampiaskan seluruh kekuatannya dengan mencengkeram keras.

Entakan tenaga terakhir. Sebagai balas dendam.

Kalau bisa meledak bersama korban, ia sedikitnya bisa terhibur. Tubuh Upasara, atau hanya tangan atau kaki, akan remuk dalam genggamannya.

Apalagi kalau gadis kecil.

Hasilnya pekikan menyayat yang panjang dan menyakitkan telinga. Sehingga Nala bergoyangan tubuhnya. Nala sadar dari pengaruh sirep dan kekuatan lawan, tetapi seketika itu pula terlelap kembali.

Barangkali memang hanya Nala yang berada dalam medan pertarungan, tetapi sama sekali tak bisa mengikuti apa yang terjadi. Bahkan tidak sadar sama sekali.

Nyai Demang menutup telinga, dan membuat gerakan agar Klobot mengikuti. Sebenarnya tanpa disuruh pun, reaksi pertama Klobot ketika mendengar jeritan Ngwang yang menyayat adalah menutup telinga.

Mada sendiri terbengong dan untuk sementara pendengarannya menjadi mati.

Kejutan yang sama dirasakan oleh Halayudha. Ketika menebas dengan Kangkam Galih, ia tak menduga bahwa Upasara akan menyongsong. Dengan cara meletakkan berat badannya pada siku yang bertumpu di pedangnya. Dewa yang memiliki langit pun belum tentu berani mengambil risiko berat ini.

Nyatanya Upasara bisa melakukan dengan tepat.

Sebelum kagetnya lenyap, pergelangan tangannya kena tetak sisi telapak tangan Upasara yang mematikan pergelangannya. Sehingga pegangannya lepas.

Kangkam Galih terlepas!

Ini sungguh-sungguh luar biasa.

Dalam satu jurus, Upasara membalik kemenangan. Dengan menghancurkan Ngwang, sekaligus melukainya, dan mendepak Halayudha.

Dua-duanya jago utama.

Pendekar silat yang setara ilmunya dengan Upasara.

Ngwang paling menderita. Ketika terkena gempuran dan tubuhnya amblas serta pandangannya lenyap, tangannya meraup sekenanya dan mengerahkan kekuatan terakhir. Tak tahunya yang kena diraup adalah Kangkam Galih!

Dua tangan yang mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk diadu dengan Kangkam Galih. Pedang sakti yang selalu haus darah.

Teriakan yang memanjang bagai membelah langit dan menyayat menggambarkan kengerian yang tak tertanggungkan.

Apa yang sesungguhnya dimainkan oleh Upasara Wulung sebenarnya merupakan jurus kelima ilmu ciptaannya. Yang diberi nama Tirta Candra Geni Raditya. Dalam arti lahiriah kata-kata itu mengandung pengertian air, bulan, api, serta matahari.

Pengertian yang lebih dalam dari itu adalah penggunaan unsur-unsur tenaga itu secara keseluruhan, tapi bisa diurai satu per satu. Sebutan Tirta Candra Geni Raditya biasanya untuk menggambarkan keputusan dalam tata hukum yang adil, lurus, luar-dalam.

Teliti seperti air dalam memeriksa, lembut seperti rembulan dalam menanya, jatuhnya putusan seperti api, dan semuanya jelas seperti di bawah matahari.

Dalam jurus yang diciptakan Upasara, semuanya diwujudkan dengan pengerahan tenaga tanah air. Menggelombang dengan tenaga air ketika seluruh tubuhnya tertumpu pada pedang, lembut mengikuti irama ayunan, dan panas membara menggertak atas serta samping. Kesemuanya dilakukan dengan jejeg-bener, lurus dalam pengertian irama memainkannya tak berbeda dengan irama gending, di mana penekanan keras, lembut, cepat, lambat sangat menentukan hasil yang dicapai.

Kalau meleset sedikit saja, gending tidak lagi nyamleng, tidak pas mengena, bisa buyar semuanya. Dalam serangan tadi, jika tenaga bertumpu dalam putaran pedang, sambil memiringkan tubuh melesat, semuanya bisa berantakan. Tubuh Upasara akan terpotong menjadi dua, karena Kangkam Galih yang tipis leluasa melibasnya.

Hasilnya memang luar biasa.

Ngwang berkelojotan, tubuhnya meregang bergulingan dengan darah terus memancar dari kedua tangan yang terbelah.

Sebaliknya, Halayudha terlempar satu langkah.

Akan tetapi Halayudha tidak berhenti di situ saja. Sekali terlempar jauh, segera membal balik. Lebih ganas, lebih beringas.

Tangannya meraih Kangkam Galih dan menebas keras. Tubuh Ngwang masih berkelojotan.

Meskipun telah terpisah. Terpisah.

Pisah.

Pedang dan Tanah air

TERPOTONG.

Potong. Terputus. Putus.

Terobek. Robek.

Gendhuk Tri merasa sangat mual. Dengan cara yang tidak mengenal perikemanusiaan, Halayudha memotong-motong bagian demi bagian tubuh Ngwang Tangan yang sudah lepas disabet, ditebas, dengan miring, dengan tusukan lurus.

Jari-jari yang masih meregang dikutungi satu demi satu. Mengerikan.

Halayudha makin buas. Makin kalap.

Semua bagian tubuh yang masih tersisa disodet, ditetas, dicacah-cacah. “Tahan…!”

Teriakan Gendhuk Tri berlanjut dengan langkah yang limbung. Bagaimanapun Ia tak tega melihat cara Halayudha yang menjadi sangat buas dan mengerikan. Bahkan tanpa latar belakang cerita mengenai Maha Singanada yang terpoteng-poteng itu pun, apa yang dilihatnya di luar batas kemanusiaan.

Nyai Demang menutupi mata Klobot sambil memejamkan matanya sendiri. Mada menggigil.

“Duh, Dewa… “Duh, Dewa…”

Pangeran Hiang mengerang bagai binatang terluka. Tangannya terentang kencang.

Halayudha berteriak keras, merasa terganggu oleh erangan Pangeran Hiang. Seluruh wajahnya telah berubah. Rambutnya menjurai, bercak darah memercik di seluruh wajah. Tangannya penuh darah merah yang masih menetes-netes.

Tapi yang paling mengerikan adalah matanya yang hanya menyisakan warna putih mendelik. Bibirnya membuka.

Meskipun tidak melihat sempurna, Halayudha langsung mengarahkan Kangkam Galih ke Pangeran Hiang.

Pangeran Hiang bersiaga.

Adalah Nyai Demang yang bergerak lebih dulu. Melompat ke depan dengan bergulingan. Kedua tangannya terentang. Menghadang di depan Halayudha. “Jangan…!”

Keberanian Nyai Demang yang nyaris seperti membunuh diri, karena menempatkan diri di depan Kangkam Galih yang siap ditebaskan.

Kepala Halayudha miring ke kiri dan kanan, mengawasi sekitar dengan mata yang hanya terlihat warna putih seluruhnya.

Tudingan Kangkam Galih beralih ke Mada ketika ia bergerak. Mada jadi mematung.

Kangkam Galih bergetar. Menuding ke arah Raja. Ke arah Upasara.

Ke arah Gendhuk Tri.

“Kudengar kidungan Kangkam Galih. “Tebas semuanya!”

Teriakan Halayudha mengguntur keras.

Sementara dengan terseok-seok, dengan menyeret tubuh, Nyai Demang berusaha menghadang.

Pangeran Hiang berusaha menghalangi. Gerakan kecil darinya membuat Halayudha menebaskan pedangnya.

“Nyai…” “Jangan…

“Jangan lakukan, Halayudha.”

“Nyai…” Pangeran Hiang berusaha lebih keras, “Nyai tak perlu menghadang di depan.

“Persoalan saya dengan Halayudha, biarlah saya selesaikan sendiri.

“Terima kasih atas perhatian dan keprihatinan Nyai Demang yang tetap tak berubah.” Dua pasang mata bertatapan.

Nyai Demang merunduk. Dahinya menyentuh tanah.

“Kudengar bisikan kidungan pedang. “Kemenangan.

“Kemenangan.

“Masih terus kudengar.

“Ya, aku Halayudha akan melakukan kidungan yang sebenarnya ini. Kidungan Pedang Tak Terkalahkan.”

Kedua tangan Halayudha menggenggam kencang Kangkam Galih.

Upasara perlahan membaringkan Cubluk di sampingnya. Mengelus dada Cubluk sesaat.

Gerakan yang sangat lembut, kecil, membuat Halayudha menggertak.

Kangkam Galih-nya menyambar.

Upasara menutup tikaman angin dengan tangannya. Tergurat luka melingkar.

Melingkar dari ujung ke ujung. Dan meneteskan darah.

Sambaran yang sama sebenarnya terjadi ketika Upasara menangkis. Yaitu tertuju kepada Pangeran Hiang yang berusaha menarik perhatian Halayudha ke arah lain.

Dan akibatnya sama.

Bahkan lebih parah. Karena ketajaman angin Kangkam Galih membuat Pangeran Hiang tak mampu berdiri. Kedua kakinya, sedikit di atas lutut, tergores luka.

Melingkar.

Benar-benar menggetarkan.

Kangkam Galih menjadi sedemikian sakti sehingga luka yang ditinggalkan berupa lingkaran.

Seolah pedang itu mengiris dua kaki Pangeran Hiang dari arah depan dan belakang, temu gelang.

Padahal hanya dengan satu sabetan. Mada menahan napas.

“Paduka…”

Belum selesai kalimatnya, Kangkam Galih tertuju ke arahnya. Bagai ada pancaran tenaga yang meneruskan ujung pedang. Menusuk pundak Mada. Seketika itu juga mengucurkan darah segar.

Seakan Kangkam Galih menjadi panjang dan bisa menembus. Kalaupun hanya angin, kekuatannya benar-benar sudah menyatu dengan jiwa Halayudha.

Tanah air memiliki api, rembulan, dan matahari

di mana ada samudra dan gunung, di situ tanah air tanah air bisa mengatas namakan

kemenangan peperangan takhta derajat

pangkat harta wanita segalanya

atas nama tanah air segalanya menjadi bisa dan boleh dan benar

tanah air adalah asmara berpasangan

tanah air adalah kasih memberi

berbakti menerima berbagi

tanah air yang sesungguhnya…


Kidungan Gendhuk Tri terputus karena  Halayudha menebaskan Kangkam Galih dengan sodetan.

Seakan ingin memotong lidah Gendhuk Tri dengan paksa. Yang terkunci untuk melanjutkan kata-kata kidungan.

Gendhuk Tri masih duduk. Masih bersemadi.

Ketegangan meninggi.

Justru ketika Halayudha terdiam. Pengaruh kidungan Gendhuk Tri? “Kudengar kidunganku sendiri. “Pedang adalah segalanya. “Inilah pusaka yang sejati.

“Inilah pusaka yang sejati. “Kemenangan yang nyata.”

Tanah air adalah sukma yang menjelma

dalam raga

tanah air adalah raga yang menjelma dalam sukma

tanah air adalah mahamanusia mengatasi manusia

takhta Dewa Dewa


Pedang Tanpa Dosa

HALAYUDHA menudingkan Kangkam Galih ke arah lain. Tepat berhenti di jidat Nyai Demang. “Aku Halayudha.

“Bukan Gemuka yang bisa kalian akali dengan kidungan, tembang, atau apa saja. Kalian kira aku bisa dipengaruhi dengan cara hafalan lirik-lirik tanpa makna itu?

“Aku lebih mendengar suara pedang yang menggetarkan dan membuatku merasa jantan.

Menjadi lelaki yang sejati.”

Halayudha menggerakkan pergelangan tangannya, ujung Kangkam Galih bergeser menoreh ke arah sanggul Nyai Demang hingga terlepas.

Gendhuk Tri tak bisa menahan diri. Kedua tangannya terulur, pukulan menggelombang menghantam seketika. Halayudha mengeluarkan suara dingin. Dengan membalikkan tubuh, Halayudha balik menerjang ke arah Gendhuk Tri.

Tenaga yang menghantamnya dilawan. Dihadapi dengan dada terbuka. Kangkam Galih menyibak masuk. Gendhuk Tri meloncat minggir, selendang mematuk.

Bret, wreek!

Ujung selendang terputus. Tubuh Gendhuk Tri terpental sempoyongan. Berguling-guling ketika Halayudha membenamkan Kangkam Galih.

Setiap kali ditusukkan amblas ke tanah. Meskipun demikian Halayudha bisa menarik kembali dengan enteng dan kembali menebaskan. Kangkam Galih berubah bagai tombak, bagai keris, bagai cundrik, yang membuat Gendhuk Tri menghindar, menggelepar bagai ikan kehabisan air.

Mada tak tahan.

Bersamaan dengan Pangeran Hiang, Mada menggertak maju, menggunakan kerisnya dan keris Nala. Walaupun semua terluka, terobosan kidungan Gendhuk Tri membuat Halayudha yang mata putihnya bergerak-gerak, seperti menginjak bumi lagi. Bukan semata-mata kena pengaruh Kangkam Galih. Tapi ternyata juga tak gampang.

Dengan mengeluarkan suara dingin, Halayudha membabat. Menebas rata ke semua arah. Keris di tangan Mada kutung seketika, tubuhnya terlempar terkena sabetan angin yang membekaskan garis merah sepanjang wajahnya. Pangeran Hiang berjongkok. Satu pukulan menghantam pundak Halayudha hingga oleng.

Sampai dengan sepuluh jurus. Halayudha bisa ditindih. Akan tetapi sambaran Kangkam Galih benar-benar luar biasa. Tak ada yang berani mendekat.

Pertarungan tidak imbang kembali berulang.

Mada melirik ke arah Upasara. Yang duduk bersila memunggungi pertarungan. Yang dari kepalanya mengepulkan asap lurus ke atas. Keluarnya asap dari ubun-ubun Upasara dalam bentuk yang menyentak-nyentak. Setiap kali seperti satu embusan. Tidak berurutan sebagaimana biasanya orang yang melatih tenaga dalamnya.

Upasara memang tidak sedang melatih tenaga dalamnya. Justru sebaliknya.

Karena keadaan tubuh Cubluk menjadi gawat tak menentu. Ketika memelorotkan tubuh Cubluk ke bawah dan mengepit di antara kakinya, sementara tangannya melancarkan pukulan Tirta Candra Geni Raditya, denyut nadi kehidupan Cubluk tak terganggu. Upasara mampu menggunakan tenaga lembut menahan Cubluk. Sehingga kalaupun bergeser ke arah pundak kiri, pindah ke pundak kanan, menempel di punggung, atau kembali ke dada, tak ada perubahan apa-apa yang mempengaruhi.

Memang penyakit yang diderita Cubluk bukan itu.

Melainkan mengalir atau berpindahnya bercak hitam, yang sebenarnya berasal dari tenaga dalam kotor Halayudha.

Ketika tengah membalik tubuh tadi, keteg-nadi kehidupan-Cubluk menjadi tersendat. Maka Upasara segera berlutut dan berusaha menerobos masuk melalui tenaga dalamnya.

Tidak gampang. Karena Cubluk pada dasarnya tidak begitu menghendaki penyembuhan, dan karena tubuhnya masih terlalu ringkih, terlalu lemah dibandingkan dengan tenaga dalam Upasara. Sehingga harus sangat hati-hati dan perlahan. Sedikit saja mendesak dan takarannya berlebihan, Cubluk bisa lebih menderita.

Tanah air bukan pedang keris, tombak, bindi, gada bukan semua gegaman

pedang kemenangan hanya bila diperlukan

sebab kekuatannya terbatas pada tangan kalau lebih percaya kekuatan pedang apa artinya kekuatan tanah air

di mana kasih dan kekuatan mahamanusia…

Halayudha menanggapi dengan tertawa lebar. Kini sepenuhnya dirinya menguasai pertarungan. Dengan mendesak maju kiri-kanan, Halayudha bisa mempermainkan lawan-lawannya.

Bahkan dengan pangkal pedangnya, berhasil mengetok pundak kanan Pangeran Hiang. Tubuh Pangeran Hiang terhuyung rebah.

Pada saat jatuh, Pangeran Hiang memaksakan tenaganya, dan menubruk ke arah Halayudha. Tangan kiri yang menjadi satu-satunya tumpuan menepiskan kemungkinan penyerangan yang masuk. Kakinya terangkat ke atas.

Selangkangan Halayudha kena tendang, hingga terbanting, dan jalannya terseok-seok. Akan tetapi itu makin berarti memaksa Halayudha mengerahkan seluruh dendamnya.

“Demi langit dan bumi, pedang lebih kuasa dari semuanya!”

Kangkam Galih dipegang erat dengan tangan kanan, menempel di pundak, sebelum ditebaskan. Membabat keras, tajam, lurus, dengan sepenuh tenaga.

Pangeran Hiang membuang tubuh sekuatnya, namun tak urung pinggang dan punggungnya mengucurkan darah. Gendhuk Tri yang berada di sebelahnya terguncang angin pukulan, sehingga sanggulnya terlepas, dan sebagian rambutnya terbabat putus.

Nyai Demang yang berlutut terkena sambaran angin yang membuat pundak hingga tangannya mengucurkan darah. Yang lebih parah lagi karena sabetan Halayudha menggunakan serangan lab laban atau banjir menghantam tanggul penghalang, sehingga gelombang serangan menyebar ke segala arah. Sisi kiri rambut Nyai Demang ikut terpapas.

Jurus yang sama juga menyambar Mada.

Mada tak tahu serangan mana mengenai dirinya, akan tetapi hidungnya mengucurkan darah.

Agak aneh karena seakan angin serangan bisa menerobos lubang hidungnya.

Gempuran Halayudha menggunakan gelombang lab laban dipergunakan dengan perhitungan yang cerdik. Halayudha sudah berada pada tingkat yang menguasai ilmunya secara sempurna. Menghadapi sekian banyak lawan, dengan menggunakan gelombang serangan banjir menghantam tanggul, seakan banjir mempunyai perhitungan bagaimana menjebol tanggul penahan. Tidak asal melabrak begitu saja. Inilah kelebihan Halayudha, sehingga tak perlu memaksakan diri dengan jurus seperti Banjir Bandang Segara Asat, yang terlalu memaksakan risiko bagi dirinya.

Mada tidak menghapus cucuran darah dari hidungnya. Sebaliknya dari mundur, Mada justru maju menghadang.

“Paduka keliru.

“Paduka tak perlu merasa dibebani dosa tak berampun. Tenggala Seta sudah menerima. Sejak pertama telah mengenal Paduka sebagai ayahnya, sebagai orang yang dihormati. Tenggala Seta menerima kenyataan Paduka korbankan. Bahkan merasa bahagia. Paduka tak perlu merasa sangat berdosa dengan membunuh dan mengorbankan anak tunggal.

“Dewi Renuka ikut bersalah.

“Paman Sepuh Dodot Bintulu ikut bersalah. “Bukan hanya Paduka.”

Halayudha terhenti. Mendongak ke langit. Tawanya menggelegar.

“Mada! Kamu ingin memakai taktik menggoyahkan pikiranku? Kamu mau memakai cara yang sama untuk mengacaukan tekadku? Kamu keliru, Mada.

“Kamu tak mengenal aku.

“Tak mengenal siapa Halayudha yang sebenarnya.

“Aku adalah mahamanusia. Aku tak terpengaruh oleh dosa. Tak dibebani penyesalan. Tak memiliki rasa yang memberati seperti yang kalian rasakan.

“Tenggala Seta anakku atau bukan, tak ada bedanya. “Klobot cucuku atau bukan, tak ada bedanya.

“Yang kubunuh sekarang kamu, atau Raja, atau bukan, tak ada bedanya.

“Yang ikut menanggung dosa Gajah Mahakrura, atau Renuka, atau setan belang, aku juga tak peduli. Aku mahamanusia, tanpa beban seperti Dewa atau manusia.

“Pedang inilah bahasa yang mengerti apa mauku. Sekarang, di sini, dengan Kangkam Galih, tak ada yang akan bisa membelokkan pikiran dan perasaanku. Kalau kamu bisa mengungguliku, aku menyerah. Kalau tidak, bersiaplah mengakui kekuasaan mahamanusia. “Aku tak akan menyesal membunuh kalian semua. Tidak juga merasa berdosa. Walau kemenangan ini hanya bukti kecil dari keunggulan mahamanusia.

“Singkirkan pikiran itu, Mada.

“Upasara boleh menembangkan kidungan selangit tentang keluhuran tanah air. Tetapi bagiku, pedang lebih berbicara.”

Senopati Pamungkas 98 Jurus Melempar Bintang

HALAYUDHA memutar tubuhnya. Kembali gelombang jurus lab laban menyapu keras. Nyai Demang terpental ke tengah udara sambil masih mendekap Klobot yang terkunci bibirnya sejak menyaksikan cipratan darah yang mengingatkannya akan malapetaka yang pernah dialami. Mada sendiri tersungkur, karena angin tebasan menghantam lutut dan persendiannya.

Hanya Gendhuk Tri yang terbebaskan, dengan memutar tubuhnya secara bulat dan penuh. Sementara Pangeran Hiang terdongak, kepalanya seperti disentak dari belakang.

Arus pukulan itu juga menghantam Upasara. Saat itu Upasara membalik.

Telapak tangan kanannya masih menempel di tubuh Cubluk, menahan agar nadi keteg tetap bergetar, sementara tangan kiri membuka. Dengan posisi setengah berlutut, Upasara mengirimkan tenaga pukulan ke depan.

Menyongsong serangan Halayudha.

Dalam keadaan terdesak, Upasara memainkan jurus yang sangat biasa. Tangan kiri ke depan, mendepak dengan kekuatan penuh sebagaimana yang ada dalam ajaran Kitab Penolak Bumi. Sedangkan gerakan pukulan Upasara boleh dikatakan bagian dalam Kitab Bumi, yang terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Hanya bedanya, gebrakan itu tak sepenuhnya bersandar pada kekuatan bintang, sebagaimana yang diajarkan dengan memperhatikan keadaan sekitar. Karena kekuatan bumi sekitar tempat berada, keadaan dirinya jelas tidak mendukung ke arah pengerahan tenaga.

Pukulan Upasara Wulung lebih mirip dengan apa yang disebut sebagai "adoh lintang binalang kayu, cepak cupete tangeh kenane". Yaitu seperti orang yang melempar bintang di langit dengan kayu, panjang atau pendek lemparannya tetap tak akan mengenai sasaran.

Akan tetapi perumpamaan itu tidak sepenuhnya tepat. Karena Halayudha bukanlah bintang di tengah langit. Sebaliknya dari bintang yang bisa cukup berdiam di tempat, Halayudha merangsek maju.

Dengan ayunan pedang. Akibatnya hebat.

Dada Halayudha seperti disambar dengan tenaga gunung roboh. Sesak seketika. Semua pembuluh tubuhnya menjadi kacau tak beraturan. Rasa nek yang keras mengganjal ulu hatinya.

Dengan mengeraskan hati, Halayudha tidak mundur atau berkelit, melainkan tetap melawan paksa dengan gelombang serangan. Yang berbenturan, bergejolakan, berhantaman.

Adu tenaga dalam yang tidak menguntungkan Halayudha. Karena pengerahan tenaga lab laban lebih bermakna sebagai serangan bergelombang, bukan pengerahan tenaga secara penuh. Kini justru Halayudha dipaksa begitu, karena tindihan tekanan tenaga dalam Upasara. 

Halayudha benar-benar kehilangan pegangan kekuatan.

Akan tetapi kakinya dipaksa melangkah terus. Maju. Kalaupun tenaga dalamnya makin rusak, satu sabetan Kangkam Galih akan memisahkan kepala Upasara.

Pemandangan yang menggetarkan.

Gendhuk Tri terpana. Tak bisa berbuat suatu apa, karena tak mungkin bisa "masuk". Pedang kemenangan sedang berada dalam gerakan terakhir untuk pembebasan dari kutetan tenaga tanah air. Telanjur menyatu dalam pertarungan.

Keadaannya sangat kritis. Tak bisa ditolong. Baik Upasara maupun Halayudha.

Upasara menahan dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya masih menempel pada tubuh Cubluk. Dan Halayudha menyeret tubuhnya dengan paksa untuk maju.

Setindak, dua tindak. Kangkam Galih diangkat tinggi. Menusuk ke bawah.

Hanya berjarak satu tangan.

Dengan satu langkah saja, berarti tusukannya akan masuk ke tubuh Upasara!

Atau kalau Halayudha masih kuat, sabetan tenaga yang tersalur dalam kibasan angin akan bisa menebas leher Upasara! Sementara Upasara tak mungkin mengubah gelombang tenaga dalam yang menahan dan menekan Halayudha. Sedikit saja mengendur untuk dipusatkan kembali, sekejap sekalipun, membuat Halayudha terbebas dari tindihan tenaga. Keleluasaan yang bisa membuatnya merebut keunggulan. Karena sehebat apa pun, Upasara tak akan bisa kebal dari Kangkam Galih.

Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya. Semua urat tubuhnya menggembung. Kakinya dikuatkan, dadanya membusung maju.

Satu geseran kaki saja. Satu geseran ke depan!

Halayudha tidak ingin melakukan kesalahan pada saat pertarungan tenaga dalam yang sesungguhnya terjadi. Kalau ia mengambil tenaga dalam secara lain, akan menyebabkan Upasara mampu menjungkir-balikkan. Karena dirinya dalam keadaan kosong atau melemah. Yang juga dialami Upasara.

Maka keduanya menahan sekuatnya, mengerahkan tanpa menggeser pengerahan yang ada. Tangan kiri Upasara makin tegang. Getaran tangan menjalar ke seluruh tubuh, seakan impitan Halayudha makin lama makin keras. Serambut demi serambut makin memepet, menindih.

Kini seluruh tubuh Upasara telah tergetar.

Bahkan Cubluk yang berbaring di rerumputan juga menggigil.

Gigi Gendhuk Tri berkelutukan mengeluarkan bunyi keras. Secara emosi, kini Gendhuk Tri sudah tidak bisa menahan lagi. Adegan yang terjadi berada di atas kemampuannya untuk menahan diri. Tubuhnya menjadi lemas, dan seakan mencair. Seperti seluruh tubuhnya berubah menjadi cairan yang membanjir.

Halayudha menggertak maju. Seluruh uratnya menggembung.

Apakah lebih dulu pecah ataukah berhasil maju, itulah perbedaan kekalahan dengan kemenangan. Getaran tangan kiri Upasara makin naik-turun. Seakan muatan tenaga dalam yang berbenturan makin tak kuat ditanggung.

Bahkan ujung jari tengahnya menekuk. Turun.

Mendekat ke ibu jari.

Halayudha meringis. Pundak kirinya lebih dulu bergeser maju. Satu gerakan kecil yang menandai keunggulannya.

Jari tengah Upasara makin menurun, menyentuh ibu jari. Mendadak jari itu menjentik ke depan.

Halayudha menjerit keras. Tubuhnya terbanting. Tangannya memegangi dada, sementara Kangkam Galih tergeletak.

Gendhuk Tri melayang bersamaan dengan Mada.

Yang satu melayang ke arah Cubluk. Memeluk dengan kasih yang sepenuhnya tertumpah. Sementara Upasara terjatuh dan bertumpu pada lututnya.

Yang kedua mendekat ke arah Halayudha. Melihat wajah Halayudha yang pias, yang tak bertenaga sedikit pun. Napasnya seperti terhenti, karena tak mengeluarkan getaran. Di bagian dada yang ditutupi Halayudha saat-saat terakhir, terlihat warna hitam legam bagai tembong.

Upasara Wulung mengubah gerakan jari tengah mendekat ke ibu jari sebagai kekuatan. Untuk melancarkan serangan terakhir, yang diambilkan tenaganya dari tubuh Cubluk.

Tenaga dalam yang berada dalam diri Cubluk, yang terkena bercak hitam.

Penyaluran tenaga, pemindahan tenaga yang tepat. Dengan mengalirkan, bukan memaksa, bukan mendesak.

Tenaga dalam tanah air, mengalir. Sunyi.

Kaku.

"Ada perang lagi, Ibu Jagattri?"

Suara Cubluk bagai semilirnya angin kehidupan. Gendhuk Tri mendekap Cubluk rapat-rapat ke dadanya. "Tidak.

"Tak ada lagi."

Gendhuk Tri melangkah perlahan. Menjauh dari medan pertarungan. Langkah lembut, bersamaan dengan berhentinya cairan yang keluar dari seluruh tubuhnya. Rambutnya yang terpotong separuh tak mengurangi rasa keibuannya yang memancar.

"Terima kasih atas budi, Nyai Demang "

Suara Pangeran Hiang terdengar bersahaja. "Saya tak akan pernah melupakan." "Pangeran..."

"Nyai Demang, saya tak punya nyali untuk menemui Nyai. Tapi saya ingin mengatakan bahwa ada bagian yang tak bisa saya terangkan bagaimana ini semua terjadi.

"Semua tanggung jawab saya.

"Nyai Demang, satu-satunya nyali yang masih ada dalam diri saya hanyalah kembali dengan satu tangan ke Tartar. Apa pun yang akan terjadi di sana atau di perjalanan nanti, itu adalah kehendak Dewa yang saya maui."

Dengan satu tangan, Pangeran Hiang menyoja kepada Upasara. "Pangeran Upasara Wulung..."

"Kita masih bersaudara, Pangeran Hiang."

"Berat meninggalkan Pangeran Upasara Wulung yang budiman. Tetapi nilai persaudaraan tak akan pernah hilang.

"Saya tak bisa berjanji atau berharap apakah suatu ketika kita bisa bertemu lagi atau entah dalam turunan keberapa "

Suaranya tertelan keharuan.

Pangeran Hiang seperti sadar bahwa dirinya tak mungkin mempunyai keturunan. "Kita tak akan bertemu lagi, Pangeran Hiang.

"Karena kita tak pernah benar-benar berpisah." Dimulai dengan Niat Baik

LENGAN tangan kanan Pangeran Hiang yang kosong bergerak, menghapus air mata.

Lalu bersama-sama tangan kiri yang masih utuh Pangeran Hiang menyoja sekali lagi sambil berlutut. Baru kemudian bergerak cepat. Membuka pakaiannya, membungkus tubuh Ngwang yang terpotong- potong pada bagian yang masih bisa diangkat.

Suara Nyai Demang tertahan di tenggorokan ketika meneriakkan namanya. Pangeran Hiang memandang lekat.

Mendekat.

"Nyai, begitu singkat pertemuan kita berdua, akan tetapi begitu berarti bagi saya.

"Pada akhirnya saya bisa memilih, mencintai seorang wanita, sebagaimana kodrat saya sebagai lelaki.

"Dan wanita itu adalah Nyai Demang."

"Pangeran, apakah Pangeran benar berniat ke Tartar?" "Ya, Nyai, dan tak ada yang bisa menahan lagi."

"Tidak juga saya, Pangeran?

"Saya malu mengatakan hal ini, tetapi saya harus mengatakan agar di belakang hari saya tak menyesali."

"Jiwa besar Nyai sungguh mulia.

"Apakah saya masih mempunyai keberanian memboyong Nyai?" Nyai Demang menunduk.

"Semua mempunyai masa lalu yang tidak bagus untuk diingat. Semua mempunyai kesalahan. "Biarkan itu menjadi sejarah."

"Saya juga tak mempunyai masa depan sebagai lelaki."

"Apakah semua hanya diperhitungkan dari sisi itu, Pangeran Hiang? "Apakah daya asmara hanya "

Nyai Demang menunduk.

Luka dan luka, di badan dan di batinnya, tetap menghalangi bibirnya untuk mengatakan yang sesungguhnya.

Lengan kutung yang kini tak terbungkus lengan baju bergerak.

"Kalau Nyai tidak berkeberatan, marilah kita berangkat sekarang juga. "Saya kuatir penundaan bisa berarti kekecewaan lain."

Nyai Demang terdiam.

"Tartar negeri yang jauh, dan tak berubah lebih jauh kalau kita berangkat sekarang atau setelah matahari tenggelam.

"Pangeran Hiang "

Kini tangan Pangeran Hiang merangkul perlahan. Lembut.

Wajah Nyai Demang merah dadu.

"Eyang Putri Bibi Nyai, Rama Wulung menang?" Suara Klobot terdengar nyaring, tinggi. Nyai Demang menghindar dari Pangeran Hiang, merangkul Klobot kencang. "Kenapa Eyang Putri menangis?"

Tangan Upasara menggapai dari jauh. Dengan sedikit takut, Klobot mendekatinya. "Jangan ganggu Eyang Putri "

"Ya, Rama."

Upasara menarik tangan Klobot, menjauh dari Pangeran Hiang dan Nyai Demang. Gendhuk Tri menggendong Cubluk dengan wajah berseri-seri.

"Klobot?"

"Ya, Rama "

"Ada Rama lain, Rama ingkang Sinuwun yang masih mematung. Kalau kamu berbakti, kamu bisa menyembuhkannya kembali.

"Saya tak bisa, Rama." "Tak bisa atau tak berani?"

Suara dan nada Upasara perlahan, tidak mengesankan baru saja terjadi peristiwa yang begitu hebat. "Tidak berani menyentuh, Rama "

"Sekarang saatnya, Klobot.

"Kamu bisa menolong seseorang, benar-benar seorang manusia lain. Yang membutuhkan pertolongan, meskipun barangkali tidak mengatakannya."

"Rama Wulung "

"Jangan menjadi sesuatu yang tak mengenakkanmu sebagai prasangka. Satu-satunya yang paling baik dilakukan adalah membuang prasangka.

"Klobot, Rama tahu kamu sudah bisa menilai, bisa merasa sakit hati, bisa terhina. Tapi lupakanlah semuanya.

"Rama tahu kamu masih ingin menunjukkan keunggulan. Salah satu sifatmu yang bisa berbahaya dengan Tembang Tanah air yang Rama ajarkan.

"Tetapi mulailah dengan niat baik."

Upasara Wulung mengangguk sambil tersenyum.

Klobot mendekati Raja dari belakang. Menyembah hormat, dan tengadah kembali. Menghormat dalam gerakan sembah.

Tujuh kali.

Raja terhuyung-huyung.

Pulih kembali. Bersamaan dengan Mahapatih Jabung Krewes. "Mohon ampun, Ingkang Sinuwun.

"Hamba...

"Hamba "

Raja terbatuk. Tanpa menoleh, tanpa menyapa, menuju ke joli. Masuk begitu saja. Mahapatih Jabung Krewes bergegas memerintahkan para prajurit untuk segera mengangkat joli.

Dan rombongan berlalu. Tergesa.

Klobot masih menunduk, bersila.

Sampai Upasara Wulung mengelus rambut Klobot yang menatap dengan sorot mata penuh kekaguman. Sorot mata memuja, dengan bibir setengah terbuka.

Senyum Upasara masih terlalu samar.

"Ayolah, jangan kehilangan kesempatan bermain seperti biasanya." "Rama "

"Apa lagi?"

"Rama Wulung atau saya yang menyembuhkan Ingkang Sinuwun? "Bagi Rama, bagimu, seharusnya tak ada bedanya.

"Tujuan adalah harapan. "Begitulah kebaikan diajarkan.

"Kebaikan adalah keinginan yang jernih. "Semua atas kehendak Yang Mahadewa."

Kedua tangan Upasara mengusap wajahnya sendiri. Disertai tarikan napas yang dalam. Baru kemudian berjalan perlahan mendekati Gendhuk Tri.

Di tengah langkahnya, Upasara memandang Mada yang kini bersimpuh di tanah bersama Nala. Yang masih saja terbengong, karena masih belum mengerti apa dan bagaimana kejadian di sekitarnya berlangsung.

"Mada, saya bisa memperkirakan kedatanganmu. Katakan kepada yang memerintahkanmu, siapa saja, bahwa saya akan menerimanya jika ia datang sendiri. "Saya tak memerlukan perantara.

"Kecuali kalau kamu sendiri berniat menangkap. Saya tak akan menghindari siapa pun yang datang. Tetapi saya tidak menghendaki, sampai pertemuan yang sebenarnya, lima puluh tahun yang akan datang."

Mada mengangguk dalam. Nala menyembah.

"Bolehkah saya berdiam di sini untuk beberapa saat, Paman Upasara Wulung?" "Tempat ini selalu terbuka bagi siapa saja.

"Selamanya.

"Apa yang kamu cari di sini, Mada? Merawat Halayudha, mengantarkan kepergiannya?" Mada berdiam sejenak.

"Saya mengenal jagat ini karena dilahirkan kembali oleh Bapa Guru Truwilun. Saya tak bisa menyampaikan, bahkan rasa hormat dan ucapan terima kasih."

"Paman Jaghana kembali kepada alam. "Bersama alam.

"Pujian, penghormatan, rasa syukur, terima kasih, bisa dikembalikan ke alam. Alam yang terbentang di bawah langit, di atas bumi, yang menjadi tanah air kita."

Upasara Wulung menggandeng Klobot. "Rama, apakah ini bukan pertarungan?"

"Lima puluh tahun lagi, baru dikatakan pertarungan sebenarnya. Ini pencarian."

Nala mengusap wajahnya. Seakan mendengar kata-kata bertuah yang belum pernah didengarnya. Mada masih termenung ketika mendengar rintihan.

Bukan rintihan, melainkan gumam.

Suara Halayudha yang masih terbaring, punggungnya rata dengan tanah. "Alam... Tanah air...

"Upasara Wulung keliru, bahwa hanya aku yang menjadi mahamanusia. Aku... aku siapa?

"Aku yang terkena bercak hitam di dada. Yang sebenarnya berasal dari tenaga dalamku sendiri yang tidak benar. Alangkah mengagumkan bahwa akhirnya bisa mengenal diriku.

"Dan Upasara Wulung mengatakan itu alam, itulah tanah air. "Apa betul begitu?

"Siapa yang menanam rumput tak akan menuai padi. Siapa yang menanam glugut tak akan menuai bambu. Itu alam.

"Kamu siapa?"

Mada menunduk mendekat.

Wajah Halayudha tampak kosong. Sinar matanya tak menyatu pada satu Kembali ke Awan

APA yang dikatakan Halayudha seperti tidak keluar dari bibir. Dengan mengatakan siapa menanam glugut, atau bulu bambu yang gatal, tak akan menuai bambu, atau juga siapa menanam rumput tak bakal menuai padi, bukan sesuatu yang baru.

Semasa kecil Mada telah mendengarnya. Hanya sekarang terasakan maknanya ketika diucapkan Halayudha yang dadanya terkena bercak hitam.

Halayudha yang terbaring rata. "Aku sebenarnya paling tahu.

"Aku tahu Upasara Wulung menemukan kekuatan tanah air. Aku juga bisa menemukan. Atau juga... juga... apakah tak ada yang mempunyai nama selain Upasara Wulung?

"Aneh.

"Kenapa aku bertanya seperti ini? Apakah nama diperlukan, ataukah tak ada nama lain selain Upasara Wulung?

"Pedang itu mestinya punya nama. Aku pernah menyebutkan namanya. Tapi Upasara Wulung mengatakan bukan itu kekuatannya. Sebab kalau itu kekuatan sesungguhnya, apa artinya tanah air? "Kenapa dia ucapkan itu?

"Aku yang tahu, aku yang bisa menerangkan. Tak ada yang lebih dari aku. Semua ilmu, semua ajaran, semua perbuatan, semua derajat dan pangkat, tak ada yang bisa menyamaiku. Sebab siapa saja tak akan mengungguliku.

"Aku bisa mengatasi kematian. Sebab dalam hidup aku bisa mati, dalam mati aku tetap hidup." Mada menunduk.

Dengan sangat hormat dan hati-hati, matanya menutup mata Halayudha yang nyalang. Menutupkan dengan perlahan, dengan usapan kasih. Bagaimanapun pandangan dan penilaiannya kepada Halayudha, bagi Mada tokoh yang satu ini sangat istimewa dan rapat hubungannya. Bahkan bisa menggetarkan karena iba.

Nala memegang tangan, bahu, kaki.

Ketika matahari makin terik, Mada menggotong Halayudha ke tempat yang lebih teduh. Mata Halayudha kembali nyalang terbuka.

"Paduka..."

Halayudha mengangguk. Lalu menghela napas. Berusaha duduk dengan susah. Nala menolong dengan dorongan perlahan.

"Aku tak akan kembali ke alam, seperti... siapa? "Aku mengatasi alam.

"Karena aku lebih unggul."

Halayudha berusaha bangun. Nala menopang. Keduanya berjalan bersama. Mada mengiringkan. "Ke mana...?"

"Mengikuti kedeping netra..."

Mengikuti ke mana mata berkedip, ke tujuan yang menggetarkan hidupnya. Mada mengikuti dan pada sekian ratus langkah ganti menopang.

Secara bergantian mereka terus menopang, dan beberapa kali Halayudha berusaha berjalan sendiri, sambil mengatakan tentang alam, tentang perang dan pedang, tentang ajaran dan ilmu, tentang bambu dan padi, tentang rumput dan glugut, tentang Upasara Wulung, dan entah siapa lagi.

Mereka bertiga seperti melakukan perjalanan, akan tetapi ternyata hanya melingkar. Kembali ke tempat semula.

Dan mengulang kembali dari awal.

Kadang kala Klobot tahu, dan melihat dari kejauhan. Kadang mengikuti langkah, kadang bermain dengan krendi, atau kembali bersama Nyai Demang.

"Siapa dia, Eyang Putri Bibi Nyai?"

"Kelak kamu akan tahu bahwa ia adalah seseorang yang tidak mau menerima alam." "Kenapa dia menyebut nama Rama Wulung?"

"Hanya nama itu yang tersisa dalam ingatannya." "Eyang Putri, Eyang menangis?"

"Tidak."

"Saya sering melihat Eyang Putri menangis. Ibu Jagattri mengatakan begitu. Cubluk juga mengatakan begitu."

"Saya tidak menangisi apa-apa, Klobot."

"Kata Ibu Jagattri, Eyang Putri menangisi Pangeran Hiang." Suara Klobot berganti nadanya, rendah dan memelas, menimbulkan iba.

"Apakah Eyang Putri Bibi Nyai mau pergi ke Tartar?" "Saya menangisi saya sendiri."

"Jadi Eyang Putri akan pergi ke Tartar?" "Siapa bilang begitu?"

"Pangeran Hiang." "Apa yang dikatakan?"

"Eyang Putri Bibi Nyai akan pergi ke Tartar. Negeri yang banyak angin, banyak kuda, banyak keraton. "Segera."

"Ayolah kita berlatih seperti dulu. Kamu tidak boleh bermanja dan tidak boleh nakal. "Ajak Cubluk kemari. Akan saya ajari tembang yang paling bagus."

Klobot tampak cemberut. "Ajak Cubluk."

"Cubluk selalu bersama Rama Wulung."

"Mulai sekarang sering-sering kamu ajak Cubluk. Bermain bersama kita. Sebentar lagi Rama Wulung dan Ibu Jagattri akan sangat sibuk mengurusi bayinya.

"Ayolah." "Tidak mau.

"Cubluk juga tidak mau Rama Wulung punya bayi." "Hush, siapa yang mengajarimu omong kasar begitu?" "Karena kalau punya bayi, Eyang Putri pergi."

"Siapa yang bilang?" "Pangeran Hiang." "Tidak."

"Rama Wulung." "Tidak." "Ibu Jagattri." "Tidak."

"Ya. Eyang Putri sendiri bilang begitu sama Pangeran Hiang. Cubluk juga mendengar. Kami pura-pura tidur kalau Eyang Putri berduaan."

"Sssttt, tak boleh.

"Tak boleh cerita sama siapa-siapa." "Kenapa?"

"Itu Pangeran Sang Hiang.

"Kamu akan diajari bersoja dengan satu tangan "

Suara Nyai Demang lembut, akan tetapi terdengar sampai ke telinga Upasara Wulung yang tengah bersama Gendhuk Tri, berada di dekat Cubluk yang tertidur lelap.

Wajah Upasara sapandurat, sekilas berwarna merah. Sorot matanya lembut bertanya.

Gendhuk Tri mengangguk lembut.

Tangan Upasara menggenggam tangan Gendhuk Tri. Lembut.

Merambatkan daya asmara sejati. Mempertemukan daya asmara sejati.

Sepotong angin menggerakkan rumput, bergoyang perlahan.

Sepotong angin menyentuh awan, menggerakkan, menciptakan bayangan, keteduhan, penerimaan.

SELESAI