Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 56

Jilid 56

Sayangnya, Mahapatih Jabung Krewes yang merasa mengetahui dan menggenggam rahasia, juga hanya mengetahui sepotong kecil.

Yaitu tentang Pangeran Anom Angon serta Pangeran Muda Wengker yang diam-diam menjalin hubungan dengan kaputren. Dengan mengganti para dayang, Jabung Krewes merasa sudah menguasai keadaan.

Kesempatan inilah yang digunakan Pangeran Angon maupun Pangeran Wengker. Keduanya membulatkan tekad untuk menyusup ke dalam kaputren.

Justru saat Raja jengkar, atau meninggalkan Keraton. Bagi Jabung Krewes agak sulit membayangkan bagaimana amukan daya asmara sudah membakar hangus kesadaran kedua pangeran anom. Yang lebih memanaskan lagi ialah karena kedua pangeran anom merasa mendapat jawaban dari kedua putri. Kirimannya selama ini diterima dengan baik.

Tidak ada tanda-tanda dikembalikan.

Berarti satu langkah utama telah dimenangkan.

Maka keduanya memutuskan menemui secara langsung. Dengan menyamar sebagai prajurit kawal, keduanya menyusup masuk. Melewati kori butulan, pintu kecil, keduanya memasuki kaputren. Hanya dengan penerangan sinar rembulan, Pangeran Angon berjalan di depan. Pangeran Wengker mendampingi.

Para dayang utama telah disingkirkan dengan diam-diam. Hanya tinggal beberapa dayang yang memang ditugaskan mendampingi tak lebih dari satu tombak.

Memasuki kamar kaputren, Pangeran Angon bersiaga. Itu yang menyelamatkan jiwanya.

Karena dayang yang tugur berjaga sambil bersila di depan pintu, mendadak mengayunkan tangan dengan gerakan cepat sekali.

Wengker yang berada di belakang menusuk dengan tombak, apa pun sasaran yang bisa menahan serangan kedua.

Pangeran Angon mengaduh sambil memegangi pundaknya. Sebaliknya, penyerang juga tak menduga kecepatan Pangeran Wengker bereaksi. Sehingga untuk beberapa kejap tertahan.

Tapi hanya satu tarikan napas.

Pada tarikan napas berikutnya, keempat bayangan saling tubruk dengan serangan mematikan.

Pangeran Angon dan Pangeran Wengker sadar bahwa yang menyerang tiba-tiba ternyata bukan dayang. Melainkan dua orang yang menyamar sebagai dayang.

Yang jelas dua-duanya cukup berumur. Dan dua-duanya merupakan pasangan.

Semuanya baru menjadi jelas, ketika ada satu bayangan yang masuk ke tengah dan mengibaskan tangan. Wengker, Angon, dan dua bayangan penyerang serta-merta terjungkal.

Tanpa bisa bangun lagi.

Karena balung kodok, atau tulang ekor, menghantam lantai. Satu kibasan yang luar biasa.

Penuh tenaga keras, kuat, tapi tidak dikerahkan untuk mematikan. Cukup untuk memusnahkan kekuatan sementara. Sebab benturan pada balung kodok, menyengat semua saraf yang ada.

“Ksatria sejati, angin apa yang menyertai ksatria sehingga datang ke kaputren?” Bayangan itu menunduk hormat.

Di pundaknya seperti terpanggul seseorang yang menggelendot lemas. “Maaf, Mpu Tanca yang terhormat.

“Saya sama sekali tak berniat lancang masuk kaputren. Saya memang ingin sowan kepada Mpu serta Nyai Makacaru yang mulia.”

Suaranya mantap, mendasar, dan enak di telinga. Pangeran Angon sejenak lupa pundaknya yang perih.

Matanya tak salah menangkap ksatria gagah yang dikagumi. Upasara Wulung yang digelari ksatria lelananging jagat, yang memperlihatkan keunggulan dalam pertarungan utama di depan Keraton. Luar biasa gagah dan berwibawa.

Pangeran Wengker juga merasakan getar kewibawaan yang sama. Hanya sedikit terganggu dengan teka-teki yang muncul secara tiba-tiba. Siapa anak kecil yang berada dalam gendongannya? Teka- teki kedua yang sama membingungkan ialah bahwa penyerangnya adalah Mpu Tanca serta istrinya, Nyai Makacaru. Bagaimana mungkin keduanya bersatu-padu menyerang seketika?

“Ksatria yang gagah, pujaan para ksatria.

“Apakah yang membuat saya yang tua, pikun, dan tak mengerti kiblat ini, masih cukup berharga untuk ditemui?”

Nyai Makacaru membuka setagennya, memberikan obat penawar agar diborehkan, diurapkan, ke luka Pangeran Angon.

Pangeran Angon segera mengikuti apa yang diisyaratkan Nyai Makacaru. Pangeran Wengker masih bersila dalam keadaan siaga.

“Anak saya yang bernama Cubluk ini menderita suatu…” Upasara Wulung tidak melanjutkan kalimatnya.

Mpu Tanca menggeleng. Helaan napasnya menyayat.

Matanya terpejam lama. Tangannya berusaha menyentuh tangan Cubluk yang kini terlelap dalam pangkuan Upasara Wulung. Nyai Makacaru memejamkan mata, bersemadi, dan melakukan hal yang sama. Memegangi nadi tangan Cubluk.

Kemudian pindah ke kuku ibu jari kaki Cubluk. Disusul helaan napas yang berat.

Dan teriakan lolongan yang panjang. Hingga seluruh kaputren seakan terbangun karenanya. Nyai Makacaru muntah hingga mata, telinga, dan hidungnya mengeluarkan air.

Mpu Tanca gemetar.

Saat itu terdengar langkah kaki perlahan.

Putri Tunggadewi melangkah keluar dari peraduannya. Disusul Rajadewi.

Putri Tunggadewi tampak bisa segera menguasai diri, meskipun alis matanya sedikit terangkat naik. Meskipun sama sekali tak mengira bahwa di depan kamar peraduannya ada begitu banyak manusia yang tak dikenal.

Bahkan akhirnya Putri Tunggadewi ikut bersila. “Selamat datang, Paman Upasara….”

Upasara mengangguk pendek. Wajahnya masih membeku.

Mpu Tanca masih tersengal-sengal napasnya. Baru kemudian mereda.

Tubuhnya basah oleh keringat. Tangan dan suaranya gemetar hingga ke ulu hati. “Dewa, kutuklah saya yang tak berguna ini.

“Saya tak bisa apa-apa.”

Nyai Makacaru bersandar lemas ke tiang. Pandangannya menerawang kosong. “Maaf, Mpu Tanca serta Bibi Makacaru yang mulia….

“Saya hanya merepotkan.”

Pangeran Wengker mengelap keringat di jidatnya. Sambaran kilatan hati melihat bayangan Rajadewi membuat sukmanya seolah terbang ke langit tingkat tujuh

Akan tetapi tertarik melesak kembali ke bumi.

Karena tak segera mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya bisa memperkirakan. Bahwa Upasara Wulung muncul pada saat yang tepat. Dan kemunculannya secara sengaja untuk menemui Senopati Tanca, yang disebut sebagai empu, sebutan kehormatan. Untuk mencari obat bagi Cubluk.

Akan tetapi agaknya Tabib Tanca serta Nyai Makacaru tak berhasil memahami penyakit Cubluk. Bahkan sempat terguncang hebat.

Kalau Mpu Tanca serta Nyai Makacaru tak bisa mengobati, Dewa yang paling mumpuni sekalipun akan angkat tangan.

Alis Tunggadewi beradu.

“Apakah ada lelara, penyakit, yang tak tersembuhkan?

“Rasanya kalau ada lelara pastilah ada tamba, obat penyembuhnya.” Suara Tunggadewi menghibur, menenteramkan.

Tapi tidak Mpu Tanca. Serta Nyai Makacaru.

Keduanya boleh dikatakan menghabiskan seluruh usia, seluruh kemampuan, hanya untuk mendalami segala jenis jejamuan. Boleh dikatakan tak ada lelara yang tak bisa disembuhkan. Cepat atau lambat semua bisa diatasi.

Bahkan ketika Praba Raga Karana terkena penyakit yang sangat aneh sekalipun, Mpu Tanca akhirnya bisa menemukan pangkalnya. Meskipun memang kemudian tidak berniat menyembuhkan.

Akan tetapi sekali ini lain.

Sekali ini, ilmu dan kesaktiannya seperti mentok.

Sewaktu Mpu Tanca serta Nyai Makacaru memusatkan seluruh kemampuannya, menyatukan seluruh ilmunya, ketika itu seperti terjadi benturan yang keras.

Dap. Dap. Dap.

Tiga kali, dan Nyai Makacaru melolong serta muntah. Karena kemampuannya dikalahkan. Tak berbeda jauh dari Mpu Tanca. Meskipun akibatnya berbeda.

Pengerahan tenaga dan kemampuannya membuntu.

“Jiwa saya masih kotor, masih dipenuhi nafsu sehingga tak mampu.”

Kematian, Muara Dendam

MPU TANCA bersujud di kaki Upasara Wulung. Bersama dengan Nyai Makacaru. “Jiwa kotor…

“Jiwa kotor….”

Tunggadewi menepuk lantai dengan lembut.

“Sudahlah, Paman Senopati Tanca serta Nyai Makacaru.

“Kalau ada yang dipersalahkan, sayalah yang menjadi sumber segala dosa dan kotoran. “Bukan Paman serta Bibi Nyai.

“Saya mengerti kenapa Paman serta Bibi berada di sini untuk menyabung nyawa. Karena ingin membalas kemurkaan Raja. Sehingga siapa pun yang mendekati kamar peraduan saya akan berhadapan dengan patrem serta maut.

“Jiwa yang kotor, sayalah sumbernya.

“Karena sayalah yang menjalani kehinaan yang tak terhingga.” Suara Tunggadewi menggeletar.

Tetesan air mata serta tarikan bibirnya ke bawah, nada yang parau, menerobos ke dalam kulit siapa pun yang mendengarnya.

“Maaf, Paman Upasara Wulung.

“Sayalah yang menjadi penyebab macetnya kesaktian Mpu Tanca.” Upasara Wulung menggeleng lembut.

“Tidak, Putri Ayu. “Tidak.

“Ini semua kehendak Dewa yang membisiki saya yang bebal, berani menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Saya telah kualat, menerima murka atas kecongkakan batin saya.”

Perlahan Pangeran Angon bisa mengerti apa yang terjadi.

Sewaktu dirinya bersama Pangeran Wengker masuk ke deretan kamar peraduan Putri Tunggadewi, Mpu Tanca serta Nyai Makacaru telah bersiaga.

Entah sejak kapan.

Barangkali sejak Raja kembali ke Keraton.

Tujuannya hanya satu. Melampiaskan dendam kesumat kepada siapa pun yang berani mendekati kamar peraduan. Pun kalau itu Raja!

Atau justru Raja tujuannya! Raja!

Dendam yang tak bisa dihilangkan. Dendam kesumat yang hanya akan diselesaikan dengan kematian. Kematian bagi korban atau kematian bagi dirinya sendiri.

Entah sejak kapan, dengan cara yang sangat berbelit, Tanca serta istrinya bisa menyaru sebagai dayang, dan tetap bisa tugur di situ.

Lapisan dendam itulah yang menyebabkan Mpu Tanca tidak menjadi murni lagi. Demikian juga Nyai Makacaru. Sehingga tak mampu mengerti apa sebab penyakit Cubluk.

Sebaliknya, baik Putri Tunggadewi maupun Putri Rajadewi, merasa bahwa dendam itu disebabkan oleh apa yang mereka lakoni berdua.

“Mohon ampun, Putri Mulia.

“Jiwa hamba yang kotor, bukan karena Putri. “Putri tak bersalah.”

“Demikianlah sesungguhnya,” kata Nyai Makacaru perlahan. Putri Tunggadewi menunduk.

“Saya telah menyerahkan diri kepada Dewa Yang Mahadewa.

“Derita apa pun, pembalasan apa pun, akan saya sandang dengan ikhlas lahir-batin. “Malam ini telah saya katakan semuanya.

“Malam ini sebagian beban itu akhirnya bisa saya utarakan. Berbahagialah yang mendengarkan, karena menjadi tempat saya mengakui segala yang kotor.”

Rajadewi tersandar lemas.

Upasara Wulung merangkul Cubluk.

“Maaf, Paman Mpu Tanca serta Nyai Makacaru.

“Saya telah mengganggu Paman dan Bibi. Saya telah membebani dengan persoalan yang seharusnya tidak perlu menjadi perhatian Paman.

“Saya memberanikan diri sowan karena saya tidak melihat titik terang di ujung terowongan yang pekat ini. “Saya sedang mencari jalan.” “Upasara Wulung, ksatria sejati.

“Jiwa yang luhur, jiwa yang jernih, akan menemukan jalan. “Saya percaya, jalan itu akan diberikan Dewa.

“Kalau tidak, Dewa Yang Mahadewa sesungguhnya tak pernah ada.”

Perlahan kalimatnya, tapi menggelegar bagai sambaran seribu kilat secara bersamaan.”

Untuk seorang yang memuja Dewa Sang Pencipta, gugatan Mpu Tanca adalah gugatan terakhir yang bisa dilakukan.

“Ksatria gagah, saya hanya bisa meraba-raba.

“Kemurnian asmara yang setulusnya akan menindih bercak hitam yang berada dalam tubuh gadis kecil ini.

“Rasanya hanya itu yang bisa saya katakan.” “Terima kasih atas petunjuk Mpu Tanca. “Terima kasih, Nyai.”

Upasara Wulung mengangguk. “Paman Upasara mau pergi ke mana?” Gerak Upasara terhenti sejenak. “Kembali ke tempat asal.”

“Paman…” Tunggadewi mendekat. Menatap lekat. “Paman…”

Tangan kiri Upasara menepuk pundak Tunggadewi. Mengelus perlahan. “Terima kasih, Putri Ayu.

“Terima kasih.” “Paman Upasara…

“Saya tak mengerti banyak mengenai penyakit atau apa. Akan tetapi saya bisa melakukan sesuatu yang bisa….”

“Terima kasih….”

Jawaban Upasara disertai gelengan pendek.

Punggung tangan Upasara menghapus air mata di sudut. “Putri Ayu benar.

“Tak ada lelara tanpa tamba.

“Itulah inti kehidupan, kemuliaan dan kesucian.

“Jangan mengecewakan dirimu sendiri, jangan mengecewakan yang menyucikan diri di Simping. “Saya akan menjadi paman yang bahagia.”

Tunggadewi menggenggam tangan kiri Upasara Wulung. Melekatkan ke pipi, ke dagu, ke bibir.

90

“Akan selalu saya ingat apa yang Paman katakan.” Upasara mengangguk. “Putri Ayu Rajadewi, saya minta pamit.” “Sumangga, Paman.

“Paman telah meniupkan roh kehidupan, sukma kehidupan.” Upasara tersenyum tawar.

“Mpu Tanca dan Bibi Makacaru, saya minta pamit.” “Kami hanya bisa menyertakan doa, Ksatria Sejati. “Semoga kami tak mengulang kekeliruan yang sama.”

Terkesan jelas bahwa niatan Senopati Tanca dan Nyai Makacaru tak pernah bergeser. Upasara Wulung berdiri.

Menoleh kepada Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. “Pangeran Anom berdua, Pangeran telah mendengar semuanya. “Seperti kata Putri Ayu, berbahagialah yang mendengar kesaksian ini. “Kebesaran jiwa melebihi semuanya.”

Upasara mengangguk. Menjauh. Paman…

Tunggadewi dan Rajadewi masih meneriakkan nama Upasara Wulung dalam rintihan. Tapi bayangan Upasara Wulung telah lenyap.

Tanpa bekas.

Hanya beban gadis kecil yang menderita yang tertinggal. Agak lama semuanya terdiam.

Agak lama sekali.

Tak ada yang bergerak.

Setelah bersemadi sesaat, Tunggadewi berdiri, diiringi Rajadewi. Tanpa menoleh.

Tanpa mengucap.

Mpu Tanca menyembah hormat kepada Pangeran Angon serta Pangeran Wengker. “Paduka Pangeran, berbahagialah.”

Pangeran Angon malah menyembah. Juga Pangeran Wengker.

“Saya akan berusaha memahami kebahagiaan tak terhingga ini.” Pangeran Angon menyembah kembali.

Bersamaan dengan Pangeran Wengker. Kemudian mengundurkan diri.

Meninggalkan sepi.

Yang mengisi hati masing-masing.

Dengan jawaban dari segala kerinduan yang berdesakan selama ini. Bagi Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, lebih jelas terbaca. Walaupun Putri Tunggadewi dan Rajadewi tidak melirik atau berkata sepatah pun, ada isyarat kehadiran mereka berdua diterima.

Ini yang membahagiakan.

Bagi Putri Tunggadewi serta Rajadewi, ini juga merupakan pelepasan pertama segala kegundahan dan kecemasan. Bagi Senopati Tanca, sebagai dharmaputra, berarti tak ada lagi jalan mundur bagi tekadnya. Meskipun dengan demikian pengorbanan terbesar yang menyiksa, tak bisa menyembuhkan Cubluk, akan terus dirasakan.

Bagi Upasara Wulung?

Dan Pertarungan Semakin Dekat

KALAU saja Raja mengetahui semuanya, jalan yang ditempuh bisa berbeda. Sekurangnya bisa mengetahui bahwa dendam Senopati Tanca hanya akan bermuara pada kematian.

Kalau saja Jabung Krewes lebih meneliti apa yang terjadi dengan kesediaan Pangeran Angon dan Pangeran Wengker, akan lain lagi akhirnya.

Akan tetapi keduanya tidak berpaling ke belakang. Keduanya melangkah ke depan.

Menuju Perguruan Awan dengan segala dorongan yang tidak disadari akan berhenti di mana. Karena puncak pergolakan sedang menuju ke satu titik yang sama, Perguruan Awan.

Upasara Wulung dengan Cubluk yang dalam keadaan mati-hidup, membulatkan tekad untuk menempuh usahanya sendiri. Tanpa bantuan sentuhan Permaisuri Rajapatni yang kini bertapa di Simping. Pun ketika kemungkinan itu dibuka oleh Putri Tunggadewi yang secara sangat bijak bisa menangkap jalan keselamatan itu.

Di Perguruan Awan sendiri, Gendhuk Tri memusatkan diri, bersemadi terus untuk kesembuhan Cubluk. Yang berarti selembar daun kering yang mengganggu akan dienyahkan segera.

Di Perguruan Awan, saat ini juga ada Nyai Demang. Meskipun kini sepenuh perhatiannya tersedot oleh kehadiran Klobot, akan tetapi masih ada yang mengganjal. Persoalan utama yang belum selesai mengenai hubungannya dengan Pangeran Sang Hiang.

Hubungan yang selama ini tumbuh secara menggetarkan tiba-tiba berubah menjadi keberingasan yang tak bisa dimengerti, sehingga menjadi ganjalan.

Bukankah sangat mungkin sekali Pangeran Hiang pun masih akan muncul? Itu belum semuanya.

Pendita Ngwang yang selama ini secara cermat merencanakan balas dendam Tartar, telah siap menunggu.

Menunggu pertarungan yang akan menentukan perjalanan hidupnya. Menentukan kebesaran Tartar yang telah menaklukkan dunia.

Masih ditambah dengan Mada, serta Nala dan Naka. Prajurit Utama Mada yang mempelajari ajaran mahamanusia, yang pernah menjadi penyelamat Raja, kini datang dengan tugas untuk menangkap Upasara Wulung.

Tugas yang paling mustahil.

Tetapi sebagai prajurit akan dilakukan juga.

Lebih dari itu semua, Halayudha juga menuju Perguruan Awan. Mahapatih yang pernah menduduki singgasana, ksatria sakti mandraguna yang mampu menyerap berbagai sari pati ilmu di jagat ini menjadi tokoh yang mengerikan karena susah diterka adatnya. Mengerikan karena kini di tangannya tergenggam Kangkam Galih yang telah menewaskan jawara-jawara sejati tanpa pandang bulu.

Dengan perkiraan yang paling jauh pun, Jabung Krewes tetap tak bisa memperkirakan separuh dari kejadian yang sebenarnya.

Hanya naluri kemanusiaan yang menyebabkan tanpa terasa bulu tubuhnya merinding. Dalam keadaan panas-dingin, rombongan terus melanjutkan perjalanan.

Yang pertama mengendus kedatangan rombongan Raja adalah Pendita Ngwang.

Yang makin tak bisa mengerti bagaimana memperkirakan manusia Tanah Jawa. Karena tak bisa masuk ke otaknya, bagaimana mungkin Raja malah datang ke Perguruan Awan. Ngwang memang ingin menyikat semuanya. Tapi tidak dengan cara seperti ini.

Karena kemunculan Raja dan rombongannya justru bisa mengacaukan rencananya, yaitu mengadu Halayudha dengan Upasara. Kalau perhatian mereka sempat terpecah, bagi Ngwang tetap susah untuk muncul sebagai pemenang.

Maka Ngwang mengambil jalan pintas. Dengan ngleyang, Ngwang mencoba mempengaruhi Raja.

Menyusupkan kemampuannya ke dalam joli, dan mengerahkan bau wangi sirep untuk membelokkan keinginan Raja.

“Sinuwun masih ingat hamba?” “Ya.”

“Sebaiknya…” “Tidak.

“Ingsun tak akan mundur. Hanya Ingsun yang bisa mengubah keinginan ingsun pribadi. “Tidak yang lainnya.”

“Sinuwun…”

“Munculkan dirimu, jika kamu memang perkasa.” Ngwang mengerahkan aji sirepnya.

Sesuatu yang sebenarnya ingin dijadikan kekuatan pamungkas dalam pertarungan akhir. Kekuatan tenaga dalam Ngwang merambat bersama menyebarnya bau wewangian.

Raja yang tak cukup kuat tenaga dalamnya dengan cepat bisa dikuasai. Demikian juga Jabung Krewes serta para pengawal utama. Hanya dalam waktu singkat semuanya tak sadarkan diri.

Ngwang bermaksud menyingkirkan ke suatu persembunyian agar tak mengganggu dan menimbulkan kecurigaan, ketika bayangan Klobot menyeruak masuk.

Klobot, bocah kecil ini tumbuh secara lain.

Dalam usianya yang masih dini sudah mendapat pengajaran langsung mengenai ilmu yang untuk pertama kalinya diciptakan oleh Upasara Wulung. Dengan kemanjaan dari Nyai Demang, Klobot memiliki sifat-sifat yang aneh.

Seperti setiap kali dilakukan.

Meninggalkan Nyai Demang diam-diam. Hanya agar nantinya dicari.

Dan dalam keluyuran sendirian, Klobot terus-menerus memamerkan ilmunya. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih dari yang lainnya. Sesuatu yang selalu ingin dibuktikan bahwa dirinya lebih dari Cubluk.

Kini Klobot menemukan permainan baru yang menarik.

Melihat prajurit Keraton, melihat Jabung Krewes yang tertidur, dan melongok ke dalam joli. “Aneh, semua seperti pernah saya kenal.”

“Mereka tertidur,” kata Ngwang dari persembunyiannya. “Siapa kamu?”

“Teman mainmu.” Klobot menggeleng. “Aku tak punya teman.

“Prajurit ini, joli itu, justru kukenal.”

“Karena mereka pulas, pasang saja di pohon. “Kalau nanti bangun, mereka akan bingung.” “Bagus juga.” Klobot tersenyum.

Tak terlalu sulit baginya menyeret para prajurit maupun Jabung Krewes. Dengan sekali loncat bisa membawa ke dahan yang tinggi. Dan meninggalkan tubuh mereka di situ.

Namun ketika mendekat ke joli, tanpa sadar Klobot berlutut. Bersila.

Menyembah. Dengan gemetar.

Ada satu kilasan yang menghajar kesadarannya. Seakan joli itu, bayangan tubuh yang terpulas dalam joli itu, pernah disembah seperti sekarang ini. Sejak pertama kali mengenal, Klobot selalu menyembah rata dengan tanah.

Ngwang sendiri heran.

Bagaimana anak gunung yang kelihatan liar itu bisa menyembah dan memahami tata krama Keraton. Akan tetapi Ngwang tak mau mengambil risiko.

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya untuk meringankan tubuh yang memang merupakan keunggulannya, joli terangkat naik. Naik membubung, menyelinap ke dahan pohon yang paling tinggi.

Klobot hanya merasakan tiupan angin, dan joli terangkat ke atas. Mata Klobot berkejap-kejap.

“Lupakan mainan itu. “Masih banyak yang lain. “Yang datang.”

Pengindriaan jarak jauh Ngwang menangkap adanya langkah-langkah mendekat. Maka ia kembali ke persembunyiannya untuk menunggu waktu yang tepat.

Sebaliknya, Klobot masih menyembah.

Pendengaran Ngwang tidak keliru sama sekali. Karena langkah kaki Nala dan Naka, yang paling lemah tenaga dalamnya, lebih dulu didengar. Baru kemudian bisa terbaca jelas ada langkah kaki lain.

Langkah kaki Mada. Dan langkah lain.

Yang ditunggu.

Langkah kaki Halayudha!

Inilah saat yang paling dinantikan.

Ngwang mengentak tenaga lewat perut dengan cara dikedutkan. Klobot bagai tersapu sepuluh tombak lebih. Hingga jungkir-balik. Karena kesal, Klobot membalas sekenanya.

Akan tetapi tergenjot kembali dengan tenaga yang tak tampak. Hingga terlempar bergulingan. Semakin bernafsu membalas, semakin jauh terlempar.

Klobot makin penasaran, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menemui Nyai Demang. Yang sebenarnya masih mendongkol, karena Klobot selalu sengaja melarikan diri.

“Eyang Putri Bibi Nyai, Eyang Putri Bibi Nyai… “Ada Ingkang Rama Ingkang Sinuwun..?

Nyai Demang terperangah.

Lebih heran dibandingkan melihat Klobot tumbuh tanduknya. Tamparan Kesadaran

KLOBOT sebenarnya lebih ganjil dari sekadar tumbuh tanduk. Karena tindakannya tidak keruan. Apa yang dialami baru saja seolah membongkar seluruh kandungan masa lampaunya, yang tidak dipahami benar. Yang seakan menyeruak dari bawah sadar, dari balik mimpi yang pernah ada.

Kejadian dirinya terbanting-banting oleh orang yang tak diketahui juga pengalaman lain yang cukup mengagetkan jiwanya.

Namun saat itu Nyai Demang justru terjebak dalam pikirannya yang kusut. Karena memikirkan Klobot, juga Upasara Wulung dengan Cubluk.

Teriakan yang mendadak, ucapan yang mengagetkan, membuat Nyai Demang gelagapan. “Bagaimana mungkin mulutmu yang besar kasar itu semakin liar?

“Bagaimana mungkin kamu berani menyebut Sinuwun Raja, sebagai Ingkang Rama, Ayahanda? “Rasa-rasanya mulutmu perlu diberi pelajaran.”

Tangan Nyai Demang bergerak perlahan.

Sangat perlahan, seperti biasanya. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini Klobot tidak mengelak. Plak.

Nyai Demang dan Klobot sama-sama terkejut. Nyai Demang terkejut karena tidak menyangka Klobot menerima begitu saja tanpa mengelak. Klobot terkejut karena tak pernah menyangka orang yang paling dekat dengannya akan memperlakukan semacam itu.

Begitu banyak yang ingin disampaikan kepada orang yang dianggap paling menyayangi, akan tetapi kandas oleh kenyataan yang begitu menyakitkan.

Klobot berbalik dan segera melarikan diri. Sebaliknya, Nyai Demang menahan diri untuk tidak segera mengejar. Kuatir Klobot akan semakin manja. Meskipun hatinya menyesal juga.

Namun sebenarnya yang membenam dalam pikiran Nyai Demang adalah cara Klobot mengucapkan Ingkang Rama Ingkang Sinuwun. Cara penyebutan yang tidak wajar dilakukan anak sekecil itu, kalau belum pernah mendengar sebelumnya.

Apalagi jika dikaitkan dengan asal-usul Klobot serta Cubluk yang masih menimbulkan tanda tanya. Juga diri kedua anak itu. Yang saat pertama seperti tak bisa berbicara, tetapi ketika terbongkar kembali kenangannya, seperti memiliki perbendaharaan tata krama yang tidak biasa diajarkan di kalangan rakyat biasa.

Hanya saja memang Nyai Demang tak menduga dan tak menyangka bahwa saat itu ada rombongan yang dipimpin langsung oleh Raja. Bahkan kalau Klobot bercerita secara baik-baik dan perlahan, Nyai Demang tetap akan menggeleng.

Klobot yang sedang jengkel inilah yang dilihat Mada dari persembunyiannya. Sementara itu Halayudha kemudian muncul dan terjadi pertarungan kecil-kecilan.

Karena Klobot mengira Halayudha inilah yang tadi membuatnya terbuang dan terbanting-banting!

Sehingga tanpa sadar jurus-jurus yang pernah diajarkan Upasara Wulung terpancing keluar. Ketiga jurus yang diciptakan Upasara Wulung dilakukan dengan berulang. Beberapa kali Halayudha menghindar, beberapa kali seolah menerima pukulan dan jatuh bergulingan. Sehingga Klobot makin bersemangat menghajar. Menumpahkan segala kejengkelan. Apalagi kini merasa di atas angin.

Mada sangat mengetahui bahwa dengan cara ini Halayudha justru menyerap semuanya. Dengan menerima risiko pukulan, yang walaupun cukup keras tapi tak membuat bulu tubuhnya bergeser, Halayudha mampu menangkap kekuatan yang bisa berlipat ganda andai digerakkan dengan tenaga penuh.

Sungguh suatu kesia-siaan.

Upasara menciptakan dengan sepenuh hati, melalui perjalanan dan pergolakan yang panjang, akan tetapi dalam waktu singkat bisa diketahui Halayudha.

“Aduh, aduh, ampun. “Ampun!”

Halayudha terus bergulingan, menjatuhkan diri setiap terkena pukulan dan tendangan. Klobot yang polos tak mengetahui bahwa kini tak ada yang tersisa lagi padanya.

“Masa dari tadi hanya itu yang diulang?” “Klobot.”

“Sebutan itu tak penting bagi saya.

“Hei, kenapa matamu memicing-micing seperti itu?” Klobot menggigit bibirnya.

Matanya menyipit. Dadanya naik-turun. “Gendheng. Gila. Edan. “Apa maksudmu? “Kamu mengenaliku? “Matamu mengenaliku.

“Apa iya sekecil ini kamu mengenaliku sebagai raja?” “Dusta.

“Klobot.

“Kamu bukan Rama Ingkang Sinuwun”

Bagi Halayudha ini sesuatu yang punya makna lain.

Dirinya memang mencapai gelar Ingkang Sinuwun, dan benar-benar disembah. Tapi imbuhan rama di depannya membuat terguncang.

Seperti diketahui, Halayudha tak mengenal siapa anaknya, atau tak yakin ia mempunyai anak atau tidak. Tenggala Seta yang dikatakan Mada sebagai anaknya, menggores ke dalam kekuatan batinnya. Sehingga mempercepat linglungnya.

Kini, tiba-tiba saja ada anak kecil yang menggugat ia bukan rama-nya. “Jangan-jangan kamu cucuku?”

Halayudha dipermainkan perasaannya sendiri.

Yang terentang tak keruan juntrungannya. Yang tidak jelas pokok pijakannya. Namun tidak sepenuhnya mengada-ada. Karena bisa saja anak kecil yang meneriakkan Klobot ini putra Tenggala Seta!

Berpikir begitu, Halayudha menggerakkan tangannya.

“Mari sini aku lihat, apakah plananganmu- burungmu berwarna putih.” Klobot menampik keras.

Tubuhnya bergulingan.

Dan menyentak, dengan guntingan kaki. Halayudha mendengus.

Dengan sangat mudah bisa menghindari sabetan kaki kecil. Namun gerakannya terganggu, karena Halayudha tak ingin Kangkam Galih melukai.

Mendadak Halayudha menghentikan gerakannya. Kangkam Galih-nya ditudingkan ke suatu tempat. “Keluar!”

Mada bercekat. Ia mengetahui bahwa Halayudha mempunyai ilmu yang tinggi. Bahkan sejak muncul tadi, ucapannya “merasa ada Mada di sini”, menunjukkan ketajaman rasa.

Bercekat karena menuding ke arah persembunyian Naka. Yang meloncat ke luar dengan gugup, serta berusaha segera memasang kuda-kuda. Klobot menyingkir dan berdiri dengan aman.

“Bukan kamu.

91

Posted on: June 19, 2009 by: admin

“Yang menyuruhmu keluar yang kutunggu. Kalau tidak mau keluar, biarlah aku yang memaksa.”

Kini Mada sepenuhnya sadar. Bahwa ada tokoh lain yang berada di sekitar tempat ini. Tokoh yang diam-diam mendorong Naka ke tengah. Tokoh yang tidak diketahui Mada.

Tapi Mada bisa segera memperhitungkan.

Bahwa yang masih tersisa selama ini tinggal tokoh-tokoh Perguruan Awan serta Pangeran Hiang dan Pendita Ngwang. Yang pertama jelas tidak mungkin.

Berarti yang kedua.

“Kamu, kamu pendusta yang menjijikkan.” “Tutup dulu mulutmu, cucuku.”

“Klobot.”

“Jangan berteriak seperti itu. Kamu hanya mengganggu keasyikan yang ditunggu. Percuma kamu menjadi cucu Halayudha yang sakti, kalau berguru kepada Upasara dengan jurus yang hanya sebegitu.

“Akulah gurumu yang sejati. “Akan kubuktikan sekarang ini.

“Bilang sama Upasara Wulung, Ingsun sudah datang.

“Kita kembali ke pertarungan yang sesungguhnya, karena tetamu lain sudah datang.”

Naka celingukan. Memang tadi tanpa disadari ada yang mendorongnya ke luar. Sehingga gerakannya menjadi tidak keruan. Kemudian bisa memantapkan diri dan memasang kuda-kuda. Walau sepenuhnya sadar tak tahu harus berbuat apa dengan ilmu tak seberapa yang ia miliki.

Jangan kata Halayudha, bahkan melawan Klobot pun barangkali ia belum tentu bisa mengungguli! Mada mengeraskan hatinya. Tak nanti ia membiarkan Naka di tengah gelanggang bahaya.

Kangkam Galih di tangan kanan Halayudha bergerak naik. Pandangannya yang keras dan tajam menyapu sekeliling.

“Paduka Halayudha, hamba ada di sini….”

Mada segera melompat keluar dari persembunyiannya. Mengambil tempat berjajar dengan Naka. “Itu aku sudah tahu.

“Kamu mau melindungi temanmu yang kosong melompong ini. Jiwamu kadang ada baiknya. “Tapi bukan kamu yang kutunggu.

“Bukan sebangsa cacing yang baru berlatih satu pukulan.”

Pedang Kematian

HALAYUDHA mengesankan garang, mendikte, dan sepenuhnya menguasai lapangan. “Aku sudah datang.

“Dengan pedang telanjang. Setiap kali Kangkam Galih tergenggam, setiap kali kematian yang setakar dengan bobotnya harus melayang. “Aku telah datang.

“Aku tak mau ada yang main sembunyi. Cucuku yang bodoh saja berani menjadi lelaki. “Aku telah datang.

“Untuk mendekatkan kematian dengan cara yang jantan.

“Perangkap apa pun, muslihat keji mana pun, mudah terbaca dengan gamblang. “Aku telah datang.”

Mendadak terdengar suara halus dari dua arah yang berbeda. Dan suara kasar dari arah dekat. “Klobot, kemari….”

Mada menoleh ke arah datangnya suara. Bisa menangkap bayangan tubuh Gendhuk Tri yang memasuki arena dengan langkah tenang. Sementara Nyai Demang tampak sedikit tergesa.

Benar, kini telah muncul dua tokoh utama.

Jagattri yang tenang, serta Nyai Demang yang tegang.

Sementara suara kasar tadi suara kaki Naka, yang agaknya tak bisa menahan diri.

Mada merapat ke arah Naka, bersama dengan Nala. Ketiganya berusaha menyatu, walau sadar bahwa Halayudha atau juga yang lainnya seakan tak memperhitungkan kehadiran mereka sama sekali.

“Jangan saling bersuara. “Jangan saling berkata. “Tajamkan indria batin.” Mada berbisik lirih.

Rahangnya menggembung karena tegang.

Sementara itu, sebaliknya dari mendekat, Klobot justru menjauh. Lebih mendekat ke arah Halayudha. Kalau saja pedang itu disabetkan secara sengaja, atau tidak sengaja!

“Siapa kamu sebenarnya? “Apakah aku ini cucumu?”

“Telanjanglah, dan Ingsun akan tahu siapa dirimu. “Buka pakaianmu.”

Kalimatnya tertuju ke arah Klobot, akan tetapi pandangan Halayudha masih terus menyapu sekeliling.

Dalam satu tarikan napas yang sama, Halayudha menggertak keras. Pedangnya berkelebat, bersamaan dengan tubuhnya yang berputar kencang. Kesiuran angin membuat Mada menahan napas, dan mengeluarkan pujian kekaguman.

Halayudha benar-benar sakti.

Dengan memecah perhatian masih bisa mengamati sekeliling dengan sangat tajam. Dengan satu sabetan pedang, mampu membuat yang bersembunyi dipaksa ke luar.

Yaitu yang berada di balik bebatuan. Muncul bayangan tubuh Ngwang.

Yang kakinya tidak menginjak tanah. Sementara kedua tangannya seperti memainkan tasbih. Bibirnya membeku, wajahnya membatu.

“Apa tidak malu, pendita dipaksa menggeliat seperti cacing disongkel dari persembunyiannya? “Semua akan kupaksa keluar dari sarangnya yang busuk.

“Dan menempuh jalan kematian dengan Kangkam Galih, lewat tanganku. “Semuanya. “Mana Pangeran Kutung?

“Masih menunggu sambutan apa lagi? “Mana Upasara Wulung?

“Masih menunggu saat-saat yang terakhir lagi?

“Biarlah hari ini aku sempurnakan pertarungan yang sesungguhnya. “Tempat ini memang paling cocok.

“Aku bersumpah tak akan ada yang bisa lolos.”

Sekilas keadaan menyajikan pemandangan yang aneh.

Halayudha berdiri gagah sambil mempermainkan Kangkam Galih sebagai pusat perhatian. Di bagian pinggir, Mada bersama Naka dan Nala bersiaga. Pada bagian yang lain lagi, Nyai Demang tampak sangat cemas, berusaha mendekat ke arah Klobot yang tampak puas bisa mempermainkan Nyai Demang. Dan pada bagian yang lain lagi, Ngwang berdiri mematung.

Sementara Gendhuk Tri mengencangkan ikatan selendangnya. Sikapnya tetap terjaga. “Apakah masih ada yang ditunggu?”

Kalimat Gendhuk Tri seakan membantah ucapan Halayudha yang menganggap masih ada yang bersembunyi.

Mada bisa menangkap bahwa keduanya sedang mengadu ilmu pendengaran jarak jauh. Satu-satunya yang masih menahan diri hanyalah Ngwang.

Halayudha memandang Gendhuk Tri. Bibirnya mengguratkan kekaguman. “Jagattri, kuucapkan selamat.

“Tubuhmu sudah bersih dari bercak hitam. Sungguh hebat luar biasa kalian menemukan perpaduan tenaga tanah air. Aku harus membuktikan keunggulan tenaga kalian berdua.

“Aku harus membuktikan keunggulan jurus-jurus ciptaan Upasara Wulung. Benar-benar mengagumkan pertemuan kira sekarang ini.

“Kekuatan tenaga dalam yang selama ini tak dikenal, sekaligus jurus baru.

“Kalau yang dimainkan Klobot jelek dan besar kepala ini dijadikan ukuran, pendita busuk itu juga akan merasakan kehebatannya.

“Sekali lagi kuucapkan selamat.

“Tapi hari ini kita akan membuktikan siapa yang paling unggul.”

Tanpa mengubah nadanya, Halayudha menudingkan pedangnya ke arah Ngwang.

“Kamu pendita busuk yang tak punya otak dan hati serta perasaan. Ada saatnya kamu bisa mempengaruhiku dengan ilmu sirepmu. Tapi kini, aku bisa memaksamu keluar dan tak akan memberi kesempatan untuk menghindar lagi.

“Aku sudah bersumpah untuk itu. “Sekarang kita sudah berkumpul semua.

“Mau tunggu apa lagi? Siapa saja bisa mulai melawan siapa pun.” Mada maju setindak.

“Kamu juga boleh mulai, Mada. “Siapa lawan yang kamu pilih?” “Maaf…”

“Bukan sekarang saatnya beradu pendapat. Sekarang saatnya melihat siapa yang lebih ulet kulitnya dan lebih keras tulangnya. “Aku memang sudah lama ingin membuktikan siapa yang sebenarnya paling hebat. Tanpa pengaruh siapa pun, aku akan melakukan ini.

“Biar Ngwang juga mendengar.”

Sebenarnya yang paling kuatir adalah Nyai Demang. Was-was akan keselamatan Klobot. Maka begitu melihat Klobot keheranan melihat orang-orang yang tidak dikenal bermunculan, Nyai Demang meloncat menyambar tangan Klobot. Pada saat itulah pedang Kangkam Galih menyambar.

Pertarungan telah dimulai! Kangkam Galih telah berkelebat.

Dan tak akan berhenti sebelum banjir darah hingga tetes terakhir! Pedang kematian telah menyodet.

Gendhuk Tri gregetan, gemas, karena Nyai Demang yang menyulut lebih cepat. Meskipun yang kemudian terlintas adalah bahaya yang sangat besar.

Serentak dengan kesadarannya, kedua tangannya bergerak cepat. Mengirimkan pukulan jarak jauh sepenuh tenaga, berusaha mengesampingkan sabetan Halayudha. Sekurangnya membelokkan arah tebasan.

Yang segera terasa ketika dilontarkan.

Halayudha sudah menduga bakal masuknya serangan, juga memperhitungkan bahwa yang menghalangi pertama kali adalah Gendhuk Tri. Ketajaman memperhitungkan hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa.

Akan tetapi Halayudha sama sekali tak menganggap enteng.

Karena lontaran tenaga jarak jauh Gendhuk Tri bagai sapuan gelombang, yang segera terasakan, sebelum kedua tangan Gendhuk Tri menyambar dalam dua jurusan. Menyelewengkan arah pedang dan sekaligus juga menjerat kaki.

Gendhuk Tri sudah berada pada tingkatan yang setakar dengan Halayudha. Pukulan jarak jauh yang dikirimkan memang terjadi dengan seketika dan terasakan, bersamaan dengan niyat, niat untuk melindungi Nyai Demang.

Halayudha menjadi lebih hati-hati lagi.

Pertama, arah pedang menggeser. Kedua, kakinya susah digerakkan untuk membuat gerakan baru. Seakan dikunci. Tapi yang membuatnya lebih berhati-hati lagi, karena dengan demikian pertarungan yang sesungguhnya telah dibuka.

Semua yang berada dalam gelanggang akan terlibat.

Tak mengherankan, ketika Halayudha merasa ada satu pukulan aneh lain yang menyambar. Aneh karena pukulan itu seperti membelah lewat sela-sela ayunan pedangnya.

Ada tenaga yang menjepit dan mengarahkan seperti tenaga dorongan dari Gendhuk Tri. Mata Halayudha sedikit membelalak, karena tidak menduga datangnya pukulan itu!

Tak menduga meskipun sudah memperkirakan.

Pukulan Tunggal Tartar

PERHITUNGAN Halayudha tajam menguliti. Tenaga dalamnya sangat unggul sehingga keberadaan Pangeran Hiang pun bisa dirasakan.

Bahkan Ngwang sendiri tidak nglegewa, tidak menyadari bahwa Putra Utama Pangeran Sang Hiang akan muncul mendadak.

Perhitungan dari sisi mana pun, Ngwang tidak akan berkesimpulan Pangeran Sang Hiang muncul saat itu, dan menolong Nyai Demang!

Menolong Nyai Demang! Bahwa Pangeran Hiang masih ada hubungan dengan Nyai Demang Ngwang sangat mengerti. Bahwa kemudian Pangeran Hiang bisa berpaling ke wanita lain, selain Putri Koreyea, Ngwang yang dulunya selalu intim dengan Pangeran Hiang, tetap bisa mengerti. Dan menerima.

Akan tetapi setelah peristiwa di mana Pangeran Hiang terkena pengaruh sirepnya yang kuat, dan pemunculannya mengecewakan Pangeran Hiang sendiri, rasa-rasanya tak akan pernah punya nyali untuk tampil kembali.

Ngwang melupakan satu hal.

Jiwa ksatria yang mengalir dan hidup dalam sukma Pangeran Hiang Jiwa ksatria yang sesungguhnya, yang pada akhirnya mampu menindih dan mengesampingkan kehadirannya sebagai putra mahkota Tartar Sebagai orang yang datang untuk menaklukkan Tanah Jawa.

Ngwang bisa menilai bahwa Pangeran Hiang, seperti jawara lain yang menginjak Tanah Jawa, akan menjadi luluh dan larut sebagai kata ganti pengkhianat. Kenyataannya bisa dinilai dari segi kesetiaan utama pada Keraton.

Namun di atas semua itu, jiwa ksatria Pangeran Hiang tetap berbahaya. Memancar.

Dalam diri Pangeran Hiang telah terjadi perubahan yang mendasar Pertarungan batin yang melelahkan.

Sejak pertama kali muncul di Tanah Jawa, Pangeran Hiang mengalami berbagai peristiwa yang mengguncang akar-akar penilaian yang membentuk pribadinya. Kenyataan pertama ialah ketika berhasil menawan Baginda dan menyekapnya dalam kapal Siung Naga Bermahkota. Ketika seluruh prajurit dan para ksatria menyerbu tanpa memedulikan hubungan masa lalu dengan Keraton.

Nilai kesetiaan dan kepatuhan kepada Keraton yang tiada taranya.

Peristiwa berikutnya, dengan pertemuan dan gugatan hati sesaat bersama Upasara Wulung serta Gendhuk Tri. Ketulusan jiwa ksatria mereka berdua, yang menemani, yang bersahabat justru di saat- saat Pangeran Hiang merasa menemukan titik buntu dengan penderitaan Putri Koreyea..

Nilai kemanusiaan yang begitu bermakna.

Sehingga tanpa ragu sedikit pun, Upasara Wulung dan dirinya saling mengangkat saudara.

Peristiwa yang terjadi dengan tulus dari kehendak batin yang paling dalam itulah yang membuat Pangeran Hiang tak menghiraukan pemunculan Ngwang yang diam-diam memberikan tanda-tanda.

Bahkan kemudian Pangeran Hiang merasa bersalah, karena menyembunyikan pertemuan ini dari Upasara. Sementara Upasara Wulung sendiri, tak berkurang rasa persaudaraannya meskipun terluka perasaannya.

Pangeran Hiang guncang. Bimbang.

Antara tarikan Ngwang dan persaudaraan. Yang meruncing dengan kesalahpahaman kecil mengenai hubungan Nyai Demang dengan Jaghana.

Ini menjadi berarti karena saat itu Pangeran Hiang sedang melepaskan ketergantungannya terhadap Ngwang. Yang kemudian dianggap menjadi jiwanya, menyisakan rasa bersalah yang menekan. Yang dalam bentuk lahiriah terjadi pada diri Putri Koreyea.

Pertarungan batin makin kalut karena Ngwang masih terus-menerus berusaha mempengaruhi dengan aji sirepnya yang sangat luar biasa keras. Akan tetapi sikap apa yang harus dipilih menjadi jelas sewaktu Nyai Demang berada dalam bahaya. Bahaya yang tidak disadari, bahaya yang dikarenakan ingin menyelamatkan seorang anak kecil.

Itu sebabnya Pangeran Hiang langsung keluar dan menyamar. Mengeluarkan jurus yang dirasa aneh oleh Halayudha.

Pukulan Pangeran Hiang sebenarnya tidak terlalu aneh. Itu semata-mata karena pengerahan tenaga dalam yang dulu terbiasa tersalur dalam dua tangan, kini menderas lewat satu tangan. Sehingga yang terasa oleh Halayudha adalah pukulan tunggal, akan tetapi sekaligus bisa menjepit ujung pedangnya. Yang bisa memaksa Halayudha mundur selangkah. Baik karena tenaga dalam Pangeran Hiang yang sedikit berlawanan dengan pukulan yang biasa, maupun karena serangan Gendhuk Tri yang datang mendadak.

Keganjilan yang memaksa Halayudha menyimpan kembali serangan berikutnya, tak berarti tidak terpahami. Dengan sekali lirik, Halayudha mengetahui bahwa pukulan tunggal dari Tartar ini bisa berarti jepitan dan pukulan sekaligus.

Dari satu tangan bisa mengalirkan dua kekuatan yang menyatu atau mendua.

Berarti dalam waktu yang sangat singkat, Pangeran Hiang berhasil mengatasi hambatan satu tangan yang kutung. Ini terlihat jelas, setelah menyelewengkan arah pedang Halayudha, dengan gerakan tenaga yang berasal dari tangan satu-satunya itu pula ia menarik kembali tubuh Nyai Demang.

Yang melongo.

Yang tak menyadari apa yang terjadi.

Semuanya terjadi dalam kelebatan yang menghantam kesadarannya secara serentak.

Tarikan pada Klobot telah menyulut pertarungan yang sesungguhnya, menyeretnya ke dalam bahaya yang terbesar. Karena sabetan pedang Halayudha langsung menyambar. Hanya karena tertahan pukulan seketika dari Gendhuk Tri ada jeda waktu di mana Pangeran Hiang mengerahkan pukulan tunggal.

Ini sambaran kesadaran yang lain lagi. Yang membuatnya terkesima.

Antara percaya dan berharap itu kenyataan yang sesungguhnya. Pangeran Hiang!

Kalau Dewa Maut yang pernah berhubungan dengannya di dalam gua bawah tanah dulu itu bangkit dari kuburnya, Nyai Demang tak akan segentar sekarang ini.

Pangeran Hiang!

Yang menyelamatkan jiwanya. “Om.

“Om. “Om.”

Ngwang mendesis bagai ular berbisa menyambar semua racun dari tubuhnya. Tubuhnya seperti bergoyangan, kakinya bergerak-gerak menyeimbangkan pergolakan batin, sementara tasbih di tangannya mengeluarkan bunyi karena saling beradu.

Pergolakan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pergolakan dari sumber batin yang terdalam.

Pemunculan Pangeran Hiang merupakan pertanda bahwa hubungannya selama ini dengan dirinya telah putus. Bahwa akhirnya Pangeran Hiang memilih berada bersama para ksatria, dan meniadakan kemungkinan sebagai putra mahkota.

Ini sebabnya kenapa ia sampai mengeluarkan seruan tiga kali berturut-turut.

Hanya Ngwang yang menyadari betapa sebagian usahanya telah gagal. Usaha seumur hidup untuk mempelajari dan menjatuhkan Tanah Jawa, persekutuan yang menyatu dengan Pangeran Hiang, tak ada bekasnya lagi.

Kalau sebelumnya Pangeran Hiang masih ragu sehingga masih mau menemui, kini tak punya makna. Menyakitkan.

Itu yang membuat tubuhnya bergoyang, biji tasbihnya saling beradu. Karena batas penguasaan dirinya dilampaui kenyataan yang paling tak dibayangkan.

Putusnya hubungan persaudaraan. Selesainya masa lalu. Ini jauh lebih mengerikan dibandingkan mati dengan cara mengenaskan. Karena bagi Ngwang, dalam dirinya mengalir darah kesetiaan yang tiada tara dengan Keraton Tartar. Sebagai pendita, Ngwang adalah pendita yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Keraton Tartar. Yang mewujud dalam diri Pangeran Hiang. Yang akan ia layani apa pun yang diminta, tanpa perlu diucapkan.

Kini hubungan itu tak ada lagi.

Tak ada kebanggaan yang dipamerkan di depan Pangeran Hiang, tak ada perasaan-perasaan yang menjadi perwujudan dirinya.

Ngwang mendesis. Seolah menenggelamkan diri dalam situasi terkena sirep, sehingga mampu melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan pada suasana yang biasa.

Tak ada jalan mundur.

Melanjutkan ke arah kemenangan atau hancur seperti jawara-jawara Tartar sebelumnya. Tak ada pilihan lain.

Masih menggeletar suaranya, bagai lengkingan binatang buruan yang masuk jebakan. Pangeran…

Pangeran Hiang berdiri tegak, tidak menoleh, tidak melirik. Tapi dagunya seperti membuat gerakan anggukan pendek.

Satu lengan baju yang gedombrongan menjuntai kosong. Bergerak oleh desakan angin. “Pangeran Sang Hiang…”

Hanya itu yang bisa diucapkan. Selebihnya terkunci dalam tenggorokan.

92 Putus Tali Kandungan

NGWANG masih tergetar hebat. Dari tenggorokan dan hidung keluar bunyi yang memualkan, menjijikkan. Bunyi seperti menarik hidung yang tertahan, bunyi sepuluh ekor babi yang digorok.

Desisan bibirnya makin cepat.

Dan mencapai puncaknya ketika menyemprotkan sesuatu. Meluncur. Tubuh Ngwang turun.

Rata dengan tanah. Lalu naik kembali. Seperti semula.

Wajahnya sangat dingin.

“Tali kandungan telah diputus.

“Dunia perut berbeda dengan dunia mulut. “Tali kandungan telah ditebas.

“Tak ada maaf, tak ada penyesalan, tak ada balas. “Tali kandungan telah tak menalikan.

“Kehidupan sekarang dan kematian yang diharapkan. “Tali kandungan, tujuh keturunan.”

Kalimat Ngwang mbrengengeng, mendesah antara terdengar, sebagai japa mantra atau doa, dan gerutuan. Hanya Pangeran Hiang serta Nyai Demang yang bisa menangkap kata-kata Ngwang.

Akan tetapi, siapa pun yang melihat dan mendengar, mengetahui putusnya hubungan yang selama ini saling mengikat antara Pendita Ngwang dan Pangeran Hiang. Bahwa putusnya tali hubungan itu sampai berlanjut pada kehidupan sesudah kematian, pada tujuh turunan, menyangatkan apa yang sebenarnya tengah berlangsung.

Bahwa saat Ngwang memuntahkan masa lalunya begitu berpengaruh, terlihat jelas dari semburan yang dimuntahkan begitu kental, serta tubuhnya yang turun hingga rata dengan tanah.

Namun sebagai jawara utama, sebagai tokoh yang sangat diunggulkan, penguasaan diri Ngwang tetap kuat.

Bisa berdiri tenang kembali di atas tanah. Tubuhnya tegak.

Tasbihnya tak lagi beradu.

Sebenarnya pergolakan yang sama juga terasakan oleh Pangeran Hiang. Hanya karena kekuatan batinnya lebih mantap, sikapnya tak banyak terpengaruh. Hanya wajahnya makin dingin membeku, tak mengisyaratkan satu perasaan pun.

Semua kejadian berlangsung sangat cepat.

Renungan dan pertimbangan dalam hati saling berkelebat.

Nyai Demang sendiri belum sepenuhnya bisa menangkap perubahan sikap Pangeran Hiang. Sorot matanya menjadi suram dan cemas melihat sikap Pangeran Hiang yang membatu.

Mada mundur selangkah. Nala mengikuti.

Demikian juga Naka. Klobot meleletkan lidah.

Baginya ini merupakan pemandangan yang sangat menarik. Ngwang yang tidak menginjak tanah, seorang yang disebut Pangeran berdiri teguh dengan satu lengan baju kosong melambai.

“Semua telah muncul. Mana Upasara Wulung?

“Apakah ksatria lelananging jagat ingin menemukan kemenangan terakhir dengan curang? Percuma gelaran yang begitu menggetarkan jagat kalau ternyata akan berlindung di balik dalih hanya akan bertarung dalam pertarungan lima puluh tahun.

“Cara busuk untuk mengamankan gelarnya. “Tapi tak akan tahan lama.

“Sekarang saatnya untuk dibuktikan.

“Aha, Jagattri, kamu sudah pantas berada dalam gelanggang.

“Pangeran Hiang, kamu pun tak terlalu buruk dengan sepotong tangan yang tersisa. “Kita telah mulai.

“Bersiaplah!”

Meskipun seperti memberi aba-aba, Halayudha bergerak lebih cepat. Sabetan pedangnya lebih dulu menyambar sebelum separuh kalimatnya selesai. Torehan angin tajam menyambar dengan tenaga penuh ke arah Gendhuk Tri, dan dilanjutkan dengan tusukan ke arah Pangeran Hiang.

Keduanya berada di tempat yang berjauhan. Akan tetapi Halayudha bisa menyerang dengan satu gerakan. Bagi Halayudha melibatkan semua ke dalam pertarungan lebih menguntungkan dibandingkan jika main satu lawan satu.

Dalam keadaan yang paling genting, Halayudha masih bisa memanfaatkan keunggulannya. Bukan hanya dalam pengertian memecah-belah kekuatan yang bisa menyatu, melainkan dengan semua melawan semua, Halayudha memperoleh dua keuntungan.

Yang pertama, ilmunya memang terdiri atas berbagai aliran yang bisa dikuasai dengan baik. Semakin serabutan jalannya pertarungan, semakin menjadi kembangan yang dikuasai.

Yang kedua, dalam pertarungan semua lawan semua, imbangan kekuatan akan terbagi. Jika dirinya menyatroni satu lawan yang terdesak, berarti lebih cepat bisa melenyapkan lawan. Toh tak akan ada yang menyesali kalau Halayudha bersikap demikian. Tak akan ada yang menyalahkan bersikap demikian. Tak akan ada yang menyalahkan mengambil keuntungan dengan mengeroyok.

Walau sebenarnya Halayudha tak peduli sebutan apa yang dilekatkan pada dirinya.

Jurus pertama sudah langsung menyeret Gendhuk Tri dan Pangeran Hiang. Gerakan Kangkam Galih yang menyambar, menorehkan dua jurus yang berbeda. Bisa dibayangkan betapa kuatnya, kalau kesiuran sabetan itu saja bisa membuat sebatang dahan yang cukup besar terpotong. Dan bisa membeset kulit Nala.

Jauh jaraknya, tapi irisan anginnya saja sanggup melukai kulit! Bisa dibayangkan kalau berada dalam jangkauan tikaman.

Gendhuk Tri ataupun Pangeran Hiang tak merasakan sesuatu yang baru dalam tikaman Halayudha. Bahwa Kangkam Galih memang istimewa itu sudah diketahui. Pedang sakti itu sedemikian tajamnya sehingga seolah bisa memutuskan kekuatannya sendiri. Tapi pengerahan tenaga yang bisa memotong dahan atau melukai kulit Nala, sebenarnya sama dengan pukulan jarak jauh yang digunakan Gendhuk Tri.

Yang bisa terasakan ketika krenteg atau niatan memukul itu muncul.

Siasat lain yang tak terlihat segera adalah, dengan mengerahkan serangan pada Gendhuk Tri serta Nyai Demang, Ngwang mempunyai kesempatan menggebrak langsung.

Nyatanya demikian.

Mada mendengus bagai gajah disodok tolak-nya, langit-langit mulutnya. Karena yang digempur pertama adalah Nyai Demang.

Yang tak cukup bersiaga.

Nyai Demang menjerit kaget. Tubuhnya menelungkup di atas tubuh Klobot dan segera bergulingan menyingkir jauh. Jeritan itu sebenarnya berasal dari rasa sakit yang ngilu di pinggang. Seketika bagian pinggang ke bawah menjadi mati untuk digerakkan dan menimbulkan ngilu. Satu-satunya yang terlintas adalah menyelamatkan Klobot.

Itu sebabnya Nyai Demang memeluk Klobot dan bergulingan di tanah.

Untuk satu gebrakan ini Nyai Demang bisa menyelamatkan diri. Akan tetapi ini semua sepersekian dari tarikan napas saja. Karena kini justru lebih berada di ambang bahaya.

Apa artinya jika bisa bergerak lagi?

Apa artinya jika Klobot justru berada dalam dekapannya dan tak bisa lepas? Satu sabetan pedang bisa menembus dua tubuh tanpa bisa dielakkan.

Dalam melancarkan serangan, Ngwang memakai cara yang juga dipakai Halayudha. Serangannya tidak hanya satu arah. Bersamaan dengan menyambar pinggang Nyai Demang dengan tungkai, kedua tangannya terbuka lebar.

Tasbih di tangannya terayun di udara.

Dengan gerakan menyendal, tali yang menyatukan biji tasbih lepas, menyambar ke berbagai penjuru. Termasuk ke Gendhuk Tri yang berusaha membebaskan diri dari tikaman pedang sakti.

Termasuk Pangeran Hiang, yang berteriak nyaring. “Awas!”

Lengan baju kutung Pangeran Hiang memapak maju sabetan, sedang lengan yang berisi tangan menjotos ke arah tebaran tasbih.

Bahwa Pangeran Hiang memilih menghadapi sabetan dengan lengan kutung, menunjukkan bahwa baginya lebih utama menyelamatkan mereka yang digempur Ngwang, dibandingkan dengan mengamankan dirinya.

Bisa dikatakan begitu.

Walau sebenarnya bukan perhitungan asal-asalan. Pangeran Hiang tak nanti bisa ditaklukkan oleh Halayudha dengan satu-dua jurus saja. Meskipun hanya dengan satu tangan, meskipun Halayudha memiliki Kangkam Galih.

Halayudha sendiri tahu bahwa memaksakan kemenangan dengan sangat cepat atas diri Pangeran Hiang atau Gendhuk Tri boleh dikatakan mustahil.

Tingkatan Gendhuk Tri atau Pangeran Hiang jauh di atas Nyai Demang yang bisa dilumpuhkan seketika.

Halayudha memusatkan perhatiannya.

Tak ingin terkecoh hal kecil. Walaupun Ngwang seolah berada di pihaknya dengan membungkam Nyai Demang, tidak berarti akan membantu menghadapi Gendhuk Tri serta Pangeran Hiang.

Jelas bahwa Ngwang pun akan menimba untuk kemenangannya sendiri. Semua terbaca jelas oleh Halayudha.

Maka ketika Ngwang mengangkat tangannya, dan biji tasbih lepas dari ikatannya, Halayudha melepaskan Kangkam Galih ke atas. Kedua tangannya terbuka mengemposkan tenaga mendorong pecahan tasbih.

Langkah Merendah

BIJI TASBIH yang memencar pecah di tengah udara dan seketika mengeluarkan bau harum yang mulek, menusuk sekaligus memadat. Sangat berbahaya bagi yang mengisap secara telak.

Sentakan tali oleh Ngwang memang dimaksudkan sebagai tenaga pendorong bagi biji tasbih yang bisa pecah, yang di dalamnya berisi bubuk wangi, bubuk sirep.

Ditambah dengan tenaga dorongan, asap wangi itu bisa menyebar seketika.

Apalagi Halayudha juga menambahkan dengan tenaga dorongan ke arah yang sejajar dengan dorongan Ngwang. Yang tidak mengarah kepada dirinya.

Halayudha bahkan merasa perlu melepaskan Kangkam Galih ke tengah udara, agar pengerahannya bisa sempurna. Karena Halayudha menyadari bahwa aji sirep Ngwang memang luar biasa beracun, dan belum ada yang bisa mengatasi. Satu-satunya jalan hanyalah memperkecil kemungkinan terkena.

Gendhuk Tri, dalam batas tertentu, merasa paling beruntung. Sabetan beruntun dari Halayudha tertunda, karena Kangkam Galih dilepas ke udara. Ada kesempatan bagi Gendhuk Tri untuk memukul arah pedang hitam, dan satu tangan lagi meraih punggung Nyai Demang, yang kaku menelungkup tanpa reaksi.

Pada saat yang sama tadi, Pangeran Hiang juga melontarkan pukulan, dengan arah yang berbeda dari dorongan Ngwang, dan terutama Halayudha.

Kalau tokoh-tokoh lain menyadari kehebatan dan keganasan sirep wangi Ngwang, Pangeran Hiang boleh dikatakan lebih menyadari kemungkinan yang tak terpikirkan. Aji sirep wangi Ngwang mempunyai beberapa kekhususan penggunaan. Ada yang mempengaruhi dalam sekejap, ada yang bisa menghilangkan pikiran, ada yang menjadi gangguan sepanjang usianya jika diisap kuat, menerobos paru-paru dan terbawa darah.

Dalam perang habis-habisan semacam ini, Ngwang pasti mengeluarkan simpanannya yang terakhir.

Dengan serangan ini, Ngwang memang ingin bergegas sepenuhnya dan bisa segera menguasai medan. Tidak dalam artian meraih kemenangan seketika, akan tetapi pijakannya lebih kokoh dibandingkan yang lain. Karena Ngwang sebenarnya sudah bisa memperhitungkan keunggulannya.

Selama ini dirinya terus-menerus hanya memikirkan bagaimana memecahkan rangkaian ajaran dalam Kitab Bumi. Akan tetapi, ketika jurus-jurus yang diciptakan dijajal di Tanah Jawa, ternyata masih kagok. Kitab Bumi telah mengalami beberapa perkembangan. Keunggulan mutlak Ngwang tak bisa diraih secara total.

Keunggulan lain yang terasakan berdasarkan pengamatan, hanyalah caranya mengentengkan tubuh dengan ngleyang. Melayang dengan kecepatan sesuai kekuatan lawan. Ini membuatnya unggul, akan tetapi bukan cara untuk meraih kemenangan. Apalagi lawan yang dihadapi bisa dengan cepat membaca keunggulannya.

Maka yang segera disebarkan adalah senjata andalannya. Menggunakan sirep wangi, dibarengi dengan pengucapan mantra.

Pengaruh bau wangi yang keras akan segera terasakan hasilnya. Lawan akan terjebak dan mudah diarahkan.

Keinginan yang paling mungkin ini ternyata bisa dipatahkan. Untuk sementara.

Kalau tenaga sendalan, ditambah dorongan, ditambah lagi gesekan dorongan tenaga dalam Halayudha, mampu menyebarkan asap wangi, kini seperti memadat kembali oleh tenaga dalam Pangeran Hiang.

Pipi Mada mengempot, menggelembung, dan melesak melihat gumpalan asap yang bergerak dan mendadak terhenti.

Mada boleh dikatakan beruntung. Karena sering langsung terlibat dalam pertarungan-pertarungan kelas utama. Itu pula yang menyebabkan perkembangannya dalam ilmu silat maupun ilmu lain mengungguli ksatria satu angkatan.

Kali ini pun Mada tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.

Asap adalah benda yang sangat ringan, tipis, dan segera menyatu dengan angin. Apalagi kalau diembuskan. Akan tetapi ternyata bisa ditahan Pangeran Hiang.

Pameran tenaga dalam yang sempurna.

Mada menahan napasnya, memantapkan pengerahan tenaga dalam. Dalam hal ini, Mada belum bisa memberitahu Nala maupun Naka. Mereka bertiga berada dalam jarak yang cukup jauh dari ledakan tasbih, akan tetapi masih ada rembesan bau wangi.

Yang membuat Nala dan Naka seakan tak menginjak tanah. Seperti tersedot ke atas.

Nala tampak tak bisa menguasai diri. Sabetan angin pedang yang menggores di kulitnya seperti melepuh, mengeluarkan darah. Tanpa iringan teriakan mengaduh, tubuh Nala terjatuh ke bawah.

Dalam olengnya, Naka masih bisa mundur dengan terhuyung-huyung.

Mada mengerahkan tenaga dalam untuk melawan sekuatnya. Tangannya menggandeng Naka. Desakan agar Naka mengatur pernapasan tak bisa segera diutarakan, karena takut dirinya sendiri bocor dan mengisap sirep wangi.

Luar biasa pengaruh sirep wangi.

Nala seakan mandi darah. Luka yang ada melebar dan meroyak. Seakan asap ganas itu mempercepat proses kematian.

Lebih luar biasa apa yang dilakukan Pangeran Hiang.

Ini dirasakan Gendhuk Tri maupun Halayudha serta Ngwang. Dengan pertimbangan yang berbeda.

Dalam pandangan Halayudha, tenaga dalam Pangeran Hiang ternyata mampu dikendalikan menjadi tenaga keras, sekaligus juga lembut. Yang terakhir ini terbukti ketika melawan tenaga dorongan darinya ataupun dari Ngwang, tetapi tetap mampu menahan bergeraknya asap.

Dalam pandangan Ngwang, pangeran yang dipuja ini telah menemukan kuncian yang luar biasa, sehingga penguasaannya sedemikian sempurna. Penguncian yang seakan khusus diciptakan Pangeran Hiang untuk membungkam ilmu Ngwang.

Mirip dengan pandangan Ngwang maupun Halayudha, Gendhuk Tri bisa merunut lebih jauh sumbernya. Ketika Pangeran Hiang melontarkan pukulan tadi, kedua kakinya jinjit, terangkat tumitnya, sehingga tubuhnya lebih tinggi. Akan tetapi lututnya tertekuk, dengan dada menutup.

Itulah langkah merendah, sikap nggandul, sikap menggantung. Dengan cara menggantung inilah Pangeran Hiang mampu mementahkan berkembangnya asap. Kalau Ngwang menduga Pangeran Hiang menemukan kuncian, bagi Gendhuk Tri ini memang jawaban yang sempurna dari Langkah Karawitan yang dulu dipelajari bersama. Pangeran Hiang menemukan bahwa irama permainan dalam karawitan adalah irama yang nggandul, yang menggantung. Tidak selesai dengan habis.

Demikian pula dengan langkah yang merendah.

Pada saat mengangkat tumit tinggi-tinggi, seolah tubuhnya memanjang. Akan tetapi tekukan lutut itulah yang lebih menurunkan ketinggiannya.

Demikian pula halnya dalam pengerahan tenaga.

Kalau pukulan kerasnya diadu lawan keras, asap sirep justru lebih menyebar ke segala arah. Lebih cepat dan lebih ganas. Tapi Pangeran Hiang menggunakan langkah merendah, dengan penguasaan irama pengerahan yang nggandul, keras tidak, lunak pun tidak.

Berada setengah-setengah.

Tanpa disadari, Pangeran Hiang sebenarnya telah masuk dan inti kekuatan karawitan. Langkahnya yang kagok, hitungan irama yang berbeda, merupakan cerminan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuatu yang tak mampu dipahami oleh Gemuka. Oleh utusan sebelumnya.

Bahkan oleh Ngwang sekalipun.

Yang menciptakan ilmu secara khusus untuk menghancurkan ajaran dari Kitab Bumi. Ini yang luar biasa!

Pencerahan Pangeran Hiang terjadi justru ketika ia rumangsuk tanpa batas, tanpa beban. Ketika menenggelamkan diri, dan merasakan ikatan tali persaudaraan dengan Upasara adalah bagian dari proses yang wajar. Yang dicarinya selama ini.

Persaudaran.

Bukan kemenangan.

Gendhuk Tri menggertak maju, mengambil posisi ke dekat Nyai Demang. Ketika satu tangan mengolengkan Kangkam Galih dan satu tangan menarik tubuh Nyai Demang, dan masih sempat menangkap kehebatan langkah merendah Pangeran Hiang, Gendhuk Tri tak mau terpaku. Karena menyadari bahwa bahaya berantai dengan bahaya lain masih akan susul-menyusul.

Asap wangi memang sangat berbahaya, akan tetapi serangan berikutnya bisa sama bahayanya. Karena bisa jadi tidak hanya ada satu atau dua rangkaian serangan biji tasbih. Bisa jadi ini sekadar untuk menyerap perhatian. Untuk disusul serangan yang lain.

Baginya Kangkam Galih lebih menakutkan. Karena Halayudha bisa memainkan secara gila-gilaan. Menyabet secara beringasan tanpa memedulikan keselamatannya, sudah cukup untuk membuyarkan. Karena selama ini belum ada yang bisa menindih ketajaman dan kesaktian Kangkam Galih.

Dengan kemampuannya membaca jalannya pertarungan, Gendhuk Tri menggertak maju. Menyusup ke tengah pertarungan. Satu tangan meraih pundak Nyai Demang dan menariknya, serta mendorong ke tempat yang lebih aman, dan tangan lain bersiaga.

Ini berarti Gendhuk Tri mengibarkan bendera, menerjang arah badai.

Dengan mendahului menggertak ke arah Halayudha, Gendhuk Tri terbuka dan bisa menjadi sasaran Halayudha maupun Ngwang. Atau juga Pangeran Hiang!

Mana Serangan, Mana Pancingan