-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 54

Jilid 54

“Apakah mati menyakitkan? Kata Rama dulu, mati tidak menyakitkan, seperti kata Ibu. “Mati hanyalah perpisahan sementara untuk nanti kita akan bertemu lagi.

“Tetapi Kakang Klobot jangan marah pada saya.”

Jantung Upasara seperti digilas dengan gada. Hatinya seperti ditusuki duri. Kalimat Cubluk yang lengkap, sorot mata yang tak berubah, makin menggelisahkan. Benteng pertahanan rasa harunya seperti porak-poranda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama tak pernah tersentuh keharuan, mata Upasara membasah. Gendhuk Tri memeluk kencang. Menyusupkan kepala Cubluk ke dadanya.

“Apakah Rama Wulung juga tidak marah kepada saya?” “Tidak,” jawab Gendhuk Tri.

“Eyang Putri Nyai Demang?” “Juga tidak.

“Tak ada yang marah padamu, Cubluk. “Tak ada.”

“Kenapa semua berdiam, Ibu Jagattri?”

“Karena… karena, karena kamu tak mau berlatih tenaga dalam….” “Saya memang tidak mau, Ibu.”

Gendhuk Tri hanya bisa mengira-ngira kejadian yang mengerikan yang dialami Cubluk. Barangkali dengan kekuatan mengerahkan Ngrogoh Sukma Sejati akan bisa diketahui dengan jelas asal-usul Cubluk.

Walaupun sebenarnya sekarang ini sudah bisa diperkirakan. Bahwa Cubluk, dan juga Klobot, berasal dari keluarga yang masih berdarah Keraton, kalau mengingat caranya memanggil Nyai Demang dengan sebutan Eyang Putri.

Barangkali masih salah satu keturunan Keraton yang ikut terbasmi habis saat-saat pertarungan perebutan kekuasaan. Saat-saat terakhir sebelum melarikan diri, Cubluk masih sempat bercakap dengan kedua orangtuanya yang menjelang ajal. Dan hebatnya, semuanya bisa terekam sempurna.

Meskipun kemudian pelariannya di hutan cukup lama, ingatan itu tak terhapus. Hanya mengendap saja, karena kemudian tidak berani berkata- yang bukan tidak mungkin disebabkan karena ketakutan.

Maka begitu bisa berkata dan sedikitnya merasa aman, semua perbendaharaan yang dimiliki seperti tertumpah. Membuka semuanya.

Gendhuk Tri merasa kesal pada diri sendiri!

Kenapa justru di saat seperti ini malah terpikir mengenai masa lalu Cubluk. Dan bukan memusatkan perhatian bagaimana membujuk Cubluk atau mencari jalan keluar.

“Bagaimana rasa tubuhmu, Cubluk?” “Mengantuk, Ibu.

“Mengantuk sekali.” Upasara bergerak mendekati. Berjalan di sebelah Gendhuk Tri tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Apakah merebut Cubluk dari gendongan Gendhuk Tri dan menggendongnya, ataukah membiarkan begitu saja.

Atau yang lainnya. “Bagian mana yang sakit?” Napas Cubluk tersengal.

Sebagian wajahnya tampak merah.

Gendhuk Tri mengatupkan geraham. Dirinya yang sudah mengalami pengaruh adanya bercak hitam pada tubuh bisa merasakan sepenuhnya. Pada saat saluran pernapasan tertutup, sakitnya sungguh- sungguh menyiksa. Mampetnya pernapasan yang sempurna menyebabkan wajahnya menjadi merah, karena darah pun seolah berhenti mengalir.

Gendhuk Tri bisa menghayati penderitaan Cubluk. Tubuhnya yang kuat, penguasaan tenaga dalamnya yang sempurna saja masih bisa seketika ambruk tanpa daya.

Tangan Upasara mengusap wajah Cubluk. Bibirnya tersenyum.

Tangannya bergerak perlahan. Upasara segera mengangkat tubuh Cubluk dan menggendongnya.

Perlahan Upasara berusaha menyalurkan tenaga dalamnya lewat usapan telapak tangan. Terutama di bagian bercak hitam itu tampak berkumpul.

Mengurut perlahan. “Lebih enak?”

Napas Cubluk tersengal.

Dadanya naik-turun tanpa irama. Sebentar seperti mengejang, sebentar seperti berkelojotan. “Bagaimana, Kakang?”

Upasara mendekap, seolah tidak membiarkan Gendhuk Tri mendekat.

Baru kemudian setelah menguasai perasaannya, Upasara Wulung duduk bersila. Mengerahkan seluruh kemampuannya, seluruh kekuatan tenaga dalamnya dengan sangat hati-hati, meneroboskan ke dalam tubuh Cubluk.

Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri.

Napas Cubluk menjadi teratur kembali. Warna merah di wajahnya perlahan menghilang. Berganti seperti semula.

Nyai Demang menghela napas bersamaan dengan Gendhuk Tri dan Upasara Wulung. “Sudah baik?”

“Untuk sementara, Nyai.

“Untuk sementara bisa tidur. Akan tetapi jika bercak itu terseret atau tersebar ke bagian tubuh yang berbahaya, akan terulang lagi. Apalagi jika di bagian ulu hati sempat mengental.”

“Biar saja begitu.”

Suara Klobot belum selesai, ketika tangan Nyai Demang menyambar. Dua pipi Klobot berbekas telapak tangan Nyai Demang. Tapi yang lebih membuat sakit hati Klobot ialah bahwa Nyai Demang yang selama ini selalu sayang padanya, selalu memanjakan, bisa menamparnya. Dengan sorot mata penuh kemurkaan.

Lebih menyakitkan lagi karena ketika Klobot melarikan diri, tak ada yang mengejar. Tak ada yang menahan.

Tak ada yang menaruh perhatian.

Klobot yang masih kecil tak bisa mengetahui bahwa Nyai Demang sedang galau pikirannya. Tangannya tampak selalu gemetar. “Selama ini saya tahu bagaimana merawat anak yang sakit. Tidak hanya satu atau tujuh. Tapi yang seperti ini belum pernah.

“Ah… kenapa Dewa selalu menguji dengan cara seperti ini? “Kenapa…”

Nyai Demang menunduk. Menghela napas. Kedua tangannya mengelus tubuh Cubluk. Mendadak Gendhuk Tri mendorong tubuh Nyai Demang.

“Jangan, Nyai. “Jangan lakukan itu.”

Nyai Demang yang terguling bangkit dengan cepat. “Kenapa kamu sekasar itu?”

“Jangan Nyai lakukan. “Tak ada gunanya.” Upasara berdeham pelan.

Menawarkan suasana yang tiba-tiba membelit.

Nyai Demang baru saja melakukan sesuatu yang dianggap sebagai penyelesaian. Yaitu dengan mengerahkan tenaga menyedot bercak hitam. Paling tidak bercak hitam itu akan berpindah ke tubuhnya. Sebagian atau seluruhnya.

Gendhuk Tri segera bisa mengetahui. Makanya mencegah.

Karena kalau itu bisa dilakukan sebagai penyembuhan, dirinya sudah melakukannya!

Hanya karena keduanya sedang dipenuhi emosi dan rasa gelisah, bentuknya seakan bermusuhan dan saling menyalahkan. Dehaman Upasara menyadarkan keduanya.

“Maaf, Ibu….” “Sudahlah….”

Nyai Demang mengelus kepala Gendhuk Tri. Upasara masih bersila, memangku Cubluk.

Disertai helaan napas berat, Nyai Demang beranjak menjauh. Diikuti Gendhuk Tri. Keduanya berdiri, tenggelam dalam suara hati masing-masing.

Cukup lama. “Aneh.

“Kenapa cobaan selalu datang dengan cara seperti ini?” Gendhuk Tri seperti belum bereaksi.

“Kita harus melakukan sesuatu, saya tak tahu apa. “Tanpa itu…”

Gendhuk Tri menghela napas. “Memang aneh.

“Sekarang saya bebas dari bercak hitam, tetapi rasanya lebih menderita. Sekarang Kakang Upasara menemukan kekuatan baru, tetapi sekaligus sangat lemah.

“Benar-benar ganjil. “Ah, tapi mana Klobot?”

Ajaran Sangkan Paran BAGI Gendhuk Tri pertanyaan yang terlontar adalah pertanyaan yang wajar. Karena tidak melihat Klobot, bibirnya mengucap begitu saja. Bagi Nyai Demang ternyata lain lagi.

Pertanyaan itu lebih dari perintah. Yang digerakkan oleh hatinya sendiri, sehingga tubuhnya langsung melayang. Dan kemudian akan berlari-lari kencang, mengitari seluruh bagian dari ujung ke ujung kalau perlu. Dengan perasaan was was, seolah kuatir Klobot akan lenyap ditelan bumi.

Kalau sudah begitu, Nyai Demang akan memandangi Klobot lama, memegangi kepalanya, menarik tangannya.

Gendhuk Tri sering mengatakan bahwa Nyai Demang sudah tidak wajar kelakuannya. Upasara hanya tersenyum kecil.

“Apa bedanya dengan Yayi Tri?” “Saya?”

“Kalau sebentar lagi Klobot tidak kelihatan, Yayi juga akan mencari.” “Kakang sendiri juga begitu.”

“Ya, tetapi saya mengakui.” Nyatanya begitu.

Suasana yang sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kehadiran Klobot dan Cubluk seolah membalik semua kenyataan sebelumnya. Sekarang semuanya terasa hangat, bersentuhan, dan mempunyai makna.

Kalau sudah demikian, saat yang terbaik dan paling menyenangkan ialah saat semuanya berkumpul. Upasara Wulung duduk di tengah lingkaran, sementara Gendhuk Tri di kirinya. Nyai Demang agak di depan, dan Klobot bersila. Cubluk kadang berada di pangkuan Gendhuk Tri, kadang menggelendot Upasara Wulung, kadang terlena di pangkuan Nyai Demang.

Kadang berlatih silat atau pernapasan, kadang saling bercerita. Satu-satunya yang memecahkan ketenteraman yang ada hanyalah kondisi Cubluk yang masih tak menentu. Atau juga pertanyaan- pertanyaan yang terdengar seperti menggugat.

“Kenapa Rama menciptakan ilmu silat?”

“Karena ilmu silat bisa untuk mempertahankan diri bila diserang musuh. Karena ilmu silat menjadi laku untuk memuja kebesaran Dewa Yang Mahadewa.”

“Rama Wulung sudah bisa main silat, kenapa menciptakan terus? Sampai kapan Rama berhenti?” “Sampai Rama ini tak bisa menciptakan lagi. Sampai saat sudah sangat tua, tak bisa main silat lagi.” “Siapa yang pertama kali menciptakan ilmu silat, Rama?”

“Manusia juga.

“Gerakan pertama bayi yang lahir adalah gerakan ilmu silat. Rama ini menciptakan jurus Kakang Kawah karena mau mengembalikan kepada kelahiran, kepada asal-mula dan kepada akhir, ke sangkan paraning dumadi. Awal kelahiran dan akhir kehidupan yang sesungguhnya.

“Inilah salah satu cara kita menjalani hidup. “Tidak benar kalau ilmu silat itu jahat, Cubluk.”

Kalimat Upasara seperti mencekik lehernya sendiri, karena dengan sorotan matanya yang bening, Cubluk seakan mengatakan apa yang menjadi kebalikannya. Seolah bisa balik menuduh: kalau ilmu silat tidak jahat kenapa ada bercak-bercak hitam dalam tubuhnya?

“Kelak kamu akan mengerti, Cubluk,” kata Gendhuk Tri lembut sambil mengusap rambut Cubluk. “Saya juga tak bermimpi akan bermain silat seperti sekarang ini. Saya ingin menjadi penari Keraton.”

Mata Cubluk bersinar. “Keraton kita?”

Ganti pandangan Gendhuk Tri yang bersinar tajam. “Ya, keraton kita.” Cubluk mengangguk.

“Cubluk, bukankah kamu dulunya pernah berada di Keraton?” “Saya tak tahu, Ibu Tri.

“Tetapi saya pernah mendengar Keraton disebut-sebut.” Nyai Demang menepuk pundak Klobot.

“Kamu mestinya ingat, Klobot.” Klobot menggeleng.

“Saya tak mau mengingat. Kalau di sini boleh bermain sepuasnya, boleh berlatih silat, saya tak akan mengingat kembali.”

“Siapa yang mengajarimu bicara sekasar itu?” “Eyang Putri sendiri.”

Nyai Demang menggaruk lehernya.

Ya, siapa yang mengajari kalau bukan mereka? Bukankah hanya mereka yang ditemui sekarang ini? “Baik, sekarang kita mulai berlatih.” Gendhuk Tri mengalihkan perhatian.

Upasara Wulung mengangguk.

“Dalam ilmu kanuragan ada berbagai jenis, ada berbagai kembangan. Yang sebenarnya akarnya sama. Yaitu pengerahan dan pengendalian tenaga dalam.

“Tenaga dalam itu ada dalam setiap manusia. Kalau dilatih bisa dikuasai, bisa dikendalikan sesuai dengan keinginan kita.

“Tenaga dalam adalah tenaga yang berada di dalam. Yang tidak kelihatan. Yang berbeda dari tenaga kasar, bisa dilihat dari otot atau tulang yang keras.

“Pengerahan yang pertama ialah dengan pasrah. Dengan memusatkan pikiran pada Dewa Yang Mahadewa….”

84

Upasara Wulung mulai. Hanya dengan satu tarikan napas, kekuatannya bisa dipusatkan. Sesuatu yang terjadi dengan sendirinya berkat latihan dan pengalaman puluhan tahun. Demikian juga dengan Gendhuk Tri. Meskipun ilmunya tidak sedalam mereka berdua, Nyai Demang tetap bisa melakukan dengan cepat.

Berbeda dengan Klobot yang matanya dipicing-picingkan rapat. “Tenang saja.

“Jangan memaksa diri. Atur napas dengan baik. Tarik napas dalam, dalam sekali. Tahan. Salurkan lewat hidung ke atas, ke ubun-ubun, bawa ke belakang meniti tulang belakang. Kumpulkan di bawah pusar. Tahan sekuatnya.

“Baru kemudian entakkan.

“Sewaktu mengentakkan napas masih ditahan. Tak perlu dengan gerakan tangan. Bisa dengan gerakan perut. Perut dikembangkan ke depan.

“Hekg.

“Hekg.

“Setelah melontarkan, tarik napas, dan ulangi seperti tadi. Tak perlu menggerakkan tangan memukul, kaki menendang. Nanti akan tersalur dengan sendirinya ke arah mana pikiranmu menuntunnya, ke arah mana hatimu menghendaki. “Pasrahkan dirimu. “Serahkan dirimu.

“Jangan pedulikan sekitar. Tak ada krendi, tak ada Rama Wulung, tak ada Ibu Tri, Eyang Putri Nyai, tak ada siapa-siapa. Layangkan tubuh, hingga terasa mengambang.”

Klobot berusaha keras.

Akan tetapi justru Cubluk yang bisa rumasuk, yang dadi. Tubuhnya lemas, pasrah, sehingga ketika Gendhuk Tri menyentuh sedikit saja, tubuh itu terguling.

Tanpa dirasakan oleh Cubluk yang seolah tertidur lelap. Napasnya naik-turun, tangannya bergerak- gerak.

“Jangan ditahan.

“Biarkan gerakan tanganmu, kakimu, kepalamu, biarkan tenaga itu menguasai. Ikuti saja. Ikuti terus.”

Tubuh Cubluk yang terbaring lembut mulai bergerak. Tangannya bergerak bagai menari. Mengarah ke depan, ke atas kepala, ke bawah, membentuk gerakan menyembah.

Klobot yang tak bisa memusatkan pikiran jadi memperhatikan dengan mata terbengong.

Buru-buru menutup kembali karena takut diketahui Nyai Demang. Hanya saja telinga tetap terbuka dan mendengarkan percakapan yang terjadi. Tak ada lagi konsentrasi dalam dirinya.

“Dadi, Kakang….” “Cubluk lebih pasrah.

“Tidak seperti Klobot yang masih gelisah. “Tenaga dalam Cubluk akan mengisi sendiri.”

Hanya kemudian disusul dengan helaan napas berat Nyai Demang.

“Saya masih tak bisa mengerti. Kenapa seorang yang begitu suci, begitu murni, begitu polos seperti Cubluk bisa menderita bercak hitam yang mengerikan.

“Luar biasa sekali.

“Anak ini cerdas luar biasa. Sebelum kita selesai mengatakan, Cubluk telah melakukan. Jangan- jangan selama ini Cubluk telah mempelajari cara berlatih.”

“Rasanya tidak, Nyai.

“Tenaga dalamnya sangat murni. “Itulah yang mencemaskan.”

Tanpa melanjutkan kalimatnya, Upasara merasa telah menjelaskan kepada Nyai Demang apa yang sesungguhnya bisa terjadi. Nyai Demang sangat mengerti, bahwa tenaga dalam yang murni dalam diri Cubluk bisa menjadi kekuatan besar, akan tetapi juga mengundang bahaya yang lebih besar. Sebab bercak hitam di tubuhnya bisa menjadi lebih ganas. Karena ada tenaga perlawanan.

Klobot tak bisa menangkap hal itu.

Tak bisa menangkap bahwa tenaga dalam murni yang bersih adalah kekuatan yang hebat, jika kondisi tubuh yang melatih cukup kuat. Akan tetapi jika menderita penyakit atau keracunan, akan menjadi bahaya berlipat manakala kekuatan racun itu lebih ganas. Ini merupakan latihan dasar.

Bagi Klobot hanya berarti bahwa dirinya dikalahkan Cubluk.

Tenaga Murka

KLOBOT menjadi geram. Makin dipaksa memusatkan pikiran, makin terbakar rasa murkanya. Merasa sebal, mengkal, marah, nista, hina, malu, menjadi satu. Yang terbayang di depannya adalah Cubluk yang tak peduli dan sengaja tak mau belajar justru bisa rumasuk. Sementara dirinya yang memaksa keras malah buntu. Pengaruh kemurkaan terasa menggeletarkan seluruh urat tubuhnya. Tubuhnya gemetar, tangannya gemetar. Gerahamnya beradu, mengeluarkan bunyi ketika saling beradu.

“Klobot,” desisnya lirih. Nyai Demang waspada.

Telunjuk jarinya mendorong dada Klobot. Hingga bergoyang.

Nyai Demang mendorong lagi. “Klobot!”

Teriakan menyayat terdengar. Tubuh Klobot bergetar hebat bagai kerasukan, berdiri gemetar dengan kedua tangan terkepal. Dan mendesis keras. Menghantam!

Hahh! Hahh!

Berputar keras, menggeletar hingga akhirnya kehabisan napas karena tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, ketika Klobot membuka matanya dan terhuyung-huyung.

“Kamu juga bisa.” “Bisa, Eyang?”

“Tenaga yang ada padamu ialah tenaga murka. Tenaga keras, tenaga kasar, tenaga sebagai kekuatan. Semakin kamu bisa memuntahkan kemurkaan, semakin bisa terjadi pengerahan tenaga. Untuk tahap pertama itu cukup bagus.”

“Benar, Rama Wulung?” tanya Klobot berusaha meyakinkan diri. Upasara Wulung mengangguk.

“Itulah pengerahan,” kata Nyai Demang lembut. “Saya sengaja menotol dadamu untuk membangkitkan kemurkaanmu. Untuk memancing rasa marah yang hebat. Pada saat itulah tenaga itu terkerahkan dengan sendirinya.

“Itulah kekuatan, Klobot.

“Tapi itulah juga kelemahan. Karena semakin kamu dikuasai rasa marah, semakin murka, semakin lemah. Karena lawan dengan mudah akan menguasai dirimu.

“Tapi itu langkah berikutnya.

“Tak ada salahnya kamu menjajal lagi.” “Marah lagi?”

“Ya, pusatkan pikiranmu. Undang tenaga murka.

“Bantulah dengan membayangkan sesuatu yang mengobarkan dendammu. Cubluk yang ternyata lebih sakti, lebih berhasil. Orang-orang yang menghancurkan rumah, orangtua, darah, Keraton.”

Tanpa diminta dua kali, tubuh Klobot menggeletar, suaranya menggerung keras. Kembali pukulan demi pukulan dilancarkan dengan keras.

“Kuasai diri, Klobot.

“Sewaktu mengentakkan pukulan, napas justru ditahan. Ketika menarik tangan, ketika itulah mengisap napas. Jaga agar tenaga di bawah pusar tak bocor. Kalau tidak begitu, kamu akan cepat lelah.

“Ya, terus gerakkan kaki dan tangan.

“Kaki kiri tak boleh melampaui kaki kanan. Tangan kiri juga tak boleh melebihi ayunan tangan kanan. Ada gerakan berhenti sejenak sebelum langkah berikutnya. Gerakannya seperti menyerempet saja.”

Hasilnya luar biasa.

Klobot menjadi terkesima dengan sendirinya. Tenggelam dalam gerakan pukulan yang makin lama makin keras, makin cepat, dan makin ganas. Begitu berhenti sejenak karena tersadar, Klobot mengulang dari awal kembali. Nyai Demang juga menyertai membimbing dan memberi contoh.

Klobot menemukan kepuasan. Karena kemurkaannya secara penuh tersentak keluar, seperti menyambar apa yang ada di depannya. Pohon dan batu yang tegar menjadi sasarannya. Dengan teriakan keras, Klobot akan terus memukuli pepohonan hingga kulit pohon lenyek.

Baru berhenti jika kelelahan. Keringatnya makin membasah. Napasnya makin tersengal. “Istirahat dulu.”

“Yah… yah…

“Tetapi kenapa Cubluk begitu, Eyang Nyai?” “Cubluk tidak memakai tenaga murka.

“Tenaga dalam yang muncul membimbingnya. Tangan yang bergerak itu bukan atas kemauannya sendiri. Digerakkan tenaga dalamnya. Tak berbeda dari tanganmu yang terkepal dan memukul.”

“Mana yang lebih sakti?” “Dua-duanya sakti.” “Siapa yang menang?”

Nyai Demang menghela napas. “Itulah dirimu. Kemenangan menjadi penting. Kekerasan menjadi yang utama. Tapi itu juga tidak keliru.

“Banyak cara, yang satu sama lain bisa berbeda.

“Agaknya kamu lebih cocok dengan kanuragan yang sebenarnya.” “Kita berlatih lagi, Eyang?”

“Kamu kira saya capek?

“Sampai napasmu putus, saya belum tentu mengeluarkan keringat.”

Klobot bukan hanya berlatih kosong, akan tetapi langsung menerjang Nyai Demang. Yang berdiri di depannya sebagai sasaran. Klobot meninju, memukul keras, bertubi-tubi ke arah perut Nyai Demang. Yang berdiri tegak di depannya.

Anehnya, pukulan itu tak ada yang menyentuh kain Nyai Demang. Semakin kuat Klobot menggempur, semakin tertahan gerakannya. Sehingga rasa gusarnya makin membakar.

Pengerahan tenaga yang makin keras pun hanya membuatnya terjengkang ke belakang. Terbanting keras.

“Tahu sekarang?”

“Eyang Nyai pakai ilmu apa?” “Bukan ilmu apa-apa.

“Tenaga dalam. Pukulan kamu tak akan pernah bisa menyentuh kulit saya. Sedikit pun tak bisa. Yang menahan itu tenaga dalam yang saya miliki.

“Saya bisa menjatuhkanmu tanpa mengeluarkan tenaga. Tanpa menggerakkan tangan, kaki, atau yang lainnya. Paling-paling hanya entakan di perut, itu pun tak bisa kamu lihat.

“Tapi bisa kamu rasakan karena terjengkang.” “Begitu, Eyang Nyai?”

“Ya.

“Kamu lihat Cubluk yang berbaring itu. Kamu pun tak akan bisa menyentuhnya. “Coba saja.” Klobot memusatkan kekuatannya. Dengan sekali loncat tubuhnya menerkam ke arah Cubluk yang terbaring, sementara tangannya masih membuat gerakan menari.

Tubuh Klobot tersentak mundur.

Mencoba bergerak maju. Memaksa. Merangsek. Kedua tangannya terulur dengan keras. Tapi gerakannya kaku. Tak bisa menyentuh bayangan tubuh Cubluk sedikit pun.

Sampai kemudian terjengkang untuk kesekian kalinya. Terkapar.

Napasnya memburu. “Eyang Nyai, dadaku sakit.” “Masih bagus tidak jebol.

“Kamu sudah melihat sendiri tenaga dalam yang bisa dilatih. Kekuatanmu dari tenaga murka, tak bisa maju. Karena itulah yang menghalangi dirimu.

“Kalau kamu tak punya niat apa-apa, polos saja, kamu akan bisa menyentuh Cubluk. Seperti tak ada yang menahan.”

Klobot menggerakkan tangannya. Ragu sejenak.

Tangan itu terulur. Ke arah kaki Cubluk. Plek.

Bisa memegang. “Hah?”

“Kaget?”

“Saya tak mengerti, Eyang Nyai. “Ini benar-benar membingungkan.”

Perlahan Nyai Demang menguraikan kembali apa yang dikatakan. Dengan berbagai contoh sederhana. Mengambil sehelai daun kering, dan mengatakan bahwa Klobot tak bisa mengangkat.

Ketika Klobot menjajal dengan menggenggam dan mengangkat, tubuhnya tersungkur. “Karena saya memberikan tenaga pada daun kering itu.

“Inilah yang dinamakan penyaluran tenaga dalam. Bisa kepada sesama manusia, bisa kepada benda mati seperti sehelai daun kering.”

Nyai Demang kembali dari mula menerangkan. Bahwa tenaga dalam yang dipindahkan ke daun kering, sangat berbeda sifatnya dengan tenaga yang dimiliki Cubluk. Tenaga penghalang dalam diri Cubluk berasal dari tubuhnya. Sementara daun kering itu diberi kekuatan oleh Nyai Demang.

“Apakah saya bisa memindahkan ke dalam daun kering?” “Sama saja.

“Mengerahkan tenaga dalam di pusar atau di tangan atau di daun tak berbeda banyak. Hanya soal latihan belaka.”

“Saya ingin bisa sekarang, Eyang Nyai.” Nyai Demang menggeleng.

“Saya akan cari kutu sebanyak mungkin. “Saya akan pijati Eyang Nyai seluruh tubuh. “Saya akan melakukan apa saja.”

Tenaga Murni BERBEDA dengan Klobot yang jungkir-balik, pontang-panting, Cubluk masih terbaring. Gendhuk Tri bersila di sebelahnya, berbisik,

“Apa yang kamu temukan, Cubluk?” “Ngggh.”

“Apa yang kamu lihat?” “Bunga. Taman bunga, Ibu.” “Kamu senang di situ?” “Senang, Ibu.

“Ada mata air. Ada Ibu. Ada Rama. “Ada Dewa.”

“Dewa? “Seperti apa?”

“Seperti Dewa, Ibu.

“Penuh kasih. Tersenyum. Gemuk. Tanpa rambut. “Dewa, Ibu.

“Dewa.

“De…”

Suara Cubluk terhenti ketika tangan Gendhuk Tri mengelus lembut. Seakan tersadar dari lamunan, Cubluk terbangun. Matanya masih basah.

Gendhuk Tri merangkul dan ganti membopong. “Ke mana Dewa, Ibu?”

“Ia akan datang lagi.”

Upasara memalingkan wajahnya. Kemudian berjalan mengikuti Gendhuk Tri. Berdampingan, tanpa mengeluarkan suara.

Klobot melihat dengan sorot mata penuh tanda tanya. Nyai Demang mendesis.

“Kamu nanti akan mengetahui sendiri.

“Perjalanan kekuatan tenaga murni yang menjadi inti Cubluk membawanya ke suatu wilayah yang menyenangkan. Sukmanya bisa leluasa bergerak.

“Hanya saja karena ada halangan bercak hitam, bisa membahayakan. Karena pengerahan tenaga yang tak dikuasainya hanya akan menghancurkan dirinya.”

Nyai Demang tak bisa menerangkan bahwa desisannya lebih dalam dari itu sebagai pertanda rasa getun, penyesalan yang dalam.

Karena justru Cubluk yang begitu cerdas, begitu leluasa menggerakkan kekuatan sukma, terhalang. Sedikit saja keliru, benar-benar tak bisa tertolong lagi.

Inilah yang memberatkan Gendhuk Tri. Yang membuat hatinya risau tak menentu. Antara rasa bersalah yang membebani dan keinginan yang tak mampu menyembuhkan. Antara memberikan tenaga dalam dan kemungkinan bahaya yang lebih mengancam.

Perasaan itu berat menekan.

Karena menjadi gugatan pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dirinya menjadi sumber penderitaan bagi seorang anak yang tak berdosa? Kesalahan apa yang dilakukan sehingga harus memikul beban seberat itu? Perenungan yang berkecamuk makin mengamuk dalam dirinya. Dewa?

Atau itukah Paman Jaghana? Paman Jaghana?

Alangkah mulianya tokoh yang satu itu. Yang memilih jalan kebahagiaan dengan mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan orang lain. Yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Penyesalan Gendhuk Tri atas pilihan Jaghana bisa dipupus, bisa dihentikan, bahwa sesungguhnya itu memang dikehendaki Jaghana.

Sedangkan Cubluk, apakah Cubluk sadar apa yang dilakukan? Bisa jadi.

Kalau begitu, kenapa anak sekecil ini bisa begitu murni jiwanya? Bisa tidak.

Kalau begitu, kenapa dirinya begitu tega menyengsarakan jiwa yang murni? “Sebentar lagi senja, Yayi?”

Suara Upasara Wulung mencoba memecah sunyi. “Sebentar lagi pagi lagi, Kakang.

“Entah Cubluk masih bisa menikmati atau tidak.” “Yayi…”

“Saya tahu perasaan Kakang.

“Saya merasakan keinginan Kakang untuk melupakan sejenak apa yang terjadi. Tetapi Kakang sendiri mengetahui hal itu sama sekali tidak mungkin.”

“Yayi…”

“Kita tahu, sewaktu-waktu…”

Tangis Gendhuk Tri tak bisa ditahan. Meledak.

Tubuhnya bergoyangan.

Upasara Wulung memindahkan Cubluk ke pundaknya. Ke dalam gendongannya. “Ibu menangis, Rama?”

“Ya.

“Karena sudah lama tidak menangis.” “Saya takut mati, Rama.”

Upasara merangkul erat. Sudut matanya basah. “Tadi saya tidak takut. “Sekarang saya takut.”

“Rama dan Ibu akan selalu bersamamu. “Jangan takut.”

“Saya tak mau mati, Ibu.” “Tidak, ya… tidak….”

85 “Dewa itu baik ya, Ibu?” “Sangat baik.

“Cubluk mau makan buah apa?” Gendhuk Tri tersenyum.

Sesaat saja Gendhuk Tri bisa mengubah tangis menjadi senyuman. Senyuman yang menenteramkan. Karena hanya Gendhuk Tri yang bisa merasakan persis bagaimana penderitaan Cubluk. Yang dalam keadaan biasa, seperti tak ada gangguan apa-apa. Tapi sedikit alpa saja, bisa menghabisi semuanya.

Perhatian yang benar-benar menoreh ke hati, memakan kesadaran.

Hal sama yang dirasakan Upasara. Yang tersita seluruh perhatiannya kepada Cubluk. Bahkan ketika beberapa kali mencoba bersemadi, bayangan bercak hitam kadang-kadang muncul.

Berbeda dari mereka, Klobot yang bisa menikmati dengan gairah tinggi. Ia menjadi tumpuan pemuasan kemanjaan Nyai Demang. Dan sifat nakal anak-anaknya makin tumbuh. Secara sengaja Klobot menyelinap dan bersembunyi sehingga Nyai Demang kelabakan mencari. Sengaja Klobot menghindar jauh sekali, dan tertawa sendiri membayangkan Nyai Demang kebingungan.

“Kalau kamu pergi terus, saya akan mengikat kakimu.”

“Kalau Eyang Nyai mengikat kaki saya, saya akan pergi dan tak kembali.” Nyai Demang makin tak berkutik.

Dan Klobot bisa menikmati kemenangan. Kadang sengaja mencari perhatian dengan memanjat pohon yang tinggi, dan bersiap meloncat ke bawah.

Sebenarnya Nyai Demang bukannya tidak mengetahui bahwa Klobot ingin menarik perhatian Upasara Wulung. Biar bagaimanapun, Klobot sebagai anak lelaki sangat memuja keunggulan Rama Wulung. Yang selalu membuatnya takjub.

Nyai Demang bisa mengerti dari ucapan Klobot yang sedikit-sedikit menyinggung dan menyebutkan Rama Wulung. Juga dari tindakan-tindakannya.

Selama ini Nyai Demang masih bisa menguasai Klobot, karena ilmunya jauh di atas Klobot. Hanya saja kekuatirannya juga makin membesar. Mengingat tindakan Klobot makin tak terkendalikan.

Sementara Upasara Wulung sendiri seperti tenggelam dengan Cubluk. Dan pembicaraan dengan Gendhuk Tri.

“Kakang marah kalau saya mengatakan sesuatu yang menyinggung hati Kakang?” “Apa pun akan Kakang terima, Yayi, selama itu demi kesembuhan Cubluk.”

“Juga kalau kita ke pertapaan Simping?” “Simping?”

“Menemui Permaisuri Rajapatni….” Dada Upasara terguncang.

Terasa sakit hingga ulu hati. Gendhuk Tri menunduk.

“Yayi Tri, kenapa Yayi begitu tega mengatakan hal itu?” Gendhuk Tri mendongak.

“Tadinya saya ragu.

“Tapi akhirnya lebih baik saya katakan. Saya tahu apa yang harus saya lakukan.

“Bukannya tanpa alasan kalau saya menyebutkan nama Permaisuri Rajapatni yang sekarang menyucikan diri di Sanggar Pamujan Simping.

“Ingatan itu tidak tiba-tiba saja, Kakang. “Rasanya…” “Tidak.”

“Kakang dengar dulu.” “Tidak.

“Yayi dengar apa yang saya katakan.

“Permaisuri Rajapatni sudah memilih jalan suci yang terluhur selama ini. Yaitu bertapa, menjauhkan diri dari segala yang bersifat keduniawian.

“Datang kepadanya hanya akan menggugurkan niatnya yang luhur. Kesucian yang selama ini diperoleh.

“Tidak.” “Permaisuri…”

Yang Lalu Telah Lewat

WAJAH Upasara tampak membeku. Ada pergolakan di balik sikapnya yang kelihatan tetap tenang. Ada sesuatu yang mendadak menyeruak, sehingga tidak memberi kesempatan bicara pada Gendhuk Tri.

Yang agaknya juga terpancing untuk bersuara dengan nada tinggi. Untuk pertama kalinya Upasara seperti tidak peduli sikap Gendhuk Tri. “Tidak.

“Selama ini saya merasa Permaisuri Rajapatni tidak mempunyai hubungan dengan penyembuhan, dengan bercak hitam, atau yang seperti itu.

“Tak ada hubungannya sama sekali.”

“Beri saya kesempatan untuk ganti berbicara, Kakang. “Kekuatan…”

“Tidak.

“Saya menangkap apa yang akan Yayi katakan.

“Tenaga dalam murni yang kita miliki adalah tenaga dalam kekuatan dari Tanah air. Tenaga dalam yang menyatu. Walaupun belum bisa dikatakan padu seutuhnya.

“Dari pikiran ini Yayi mengira bahwa jika tenaga Tanah air yang sesungguhnya akan bisa menyembuhkan Cubluk. Tenaga penyatuan yang sesungguhnya itu mungkin sekali berasal dari tenaga dalam saya dan tenaga dalam Permaisuri Rajapatni.

“Bukankah itu yang Yayi pikirkan? “Ya!

“Jalan pikiran itu tidak salah. Penyatuan tenaga Tanah air adalah tenaga yang menyatu, dari kekuatan tanah dan kekuatan air. Sebagaimana bersatunya daya asmara yang sejati.

“Daya asmara yang sejati.

“Dan itu yang tidak saya miliki pada Permaisuri Rajapatni, demikian juga sebaliknya. “Tidak, Yayi.

“Tidak.

“Sebelum Permaisuri Rajapatni memutuskan untuk bertapa, barangkali pengandaian itu masih bisa. Meskipun itu pengandaian yang tidak beralasan, justru karena saat itu saya belum memiliki tenaga Tanah air.

“Tak mungkin. “Tidak. “Yayi, daya asmara yang sejati, sebagaimana penyatuan tanah dengan air, adalah penyatuan yang murni, yang tidak dipaksakan, yang diterima dan berlaku sebagaimana alam ini diciptakan.

“Hal yang sama terjadi pada kita.

“Kalaupun penyatuan kita tidak mungkin karena secara murni Yayi tidak bisa menerima Kakang….” Gendhuk Tri menubruk Upasara Wulung.

Rebah di dada yang gagah. Dan basah oleh air mata.

Jari-jari Gendhuk Tri gemetar menutup bibir Upasara. “Cukup, Kakang.

“Saya merasakan getaran daya asmara Kakang. Tanpa perlu diucapkan.” “Tidak, Yayi.

“Saya akan mengucapkan. Agar Yayi lebih merasakan bahwa saya memang menghendaki Yayi.” Pelukan Gendhuk Tri makin rapat.

Makin erat.

“Kenapa Kakang murka kalau tak mempunyai rasa lagi terhadap Permaisuri Rajapatni?” Upasara balas merangkul lembut, hangat, padat.

“Saya tak ingin Yayi menebak-nebak apa yang sepenuhnya saya rasakan.” Gendhuk Tri benar-benar menggeletar.

Sama sekali tak disangkanya Upasara akan mengatakan setegas itu. Setega itu mengucapkan dari bibirnya sendiri. Gendhuk Tri tidak mempunyai bayangan dan perkiraan apa-apa ketika menyebutkan nama Permaisuri Rajapatni.

Semuanya sangat mungkin sekali, bisa diatasi dengan penyatuan tenaga dalam Upasara Wulung dengan kekuatan batin Permaisuri Rajapatni. Dan agaknya ini merupakan satu-satunya jalan keluar.

Gendhuk Tri menyadari hati kecilnya masih nggregel, masih mengganjal, setiap kali menyebut nama Rajapatni, atau Gayatri. Karena merasakan betapa Upasara terseok-seok mengalami pasang-surut hidupnya.

Akan tetapi ternyata dugaannya meleset.

Upasara terpancing emosinya, dari sisi yang berbeda. Sisi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ledakan perasaan yang lebih mengejutkan, tetapi sekaligus membuatnya bahagia adalah pernyataan Upasara bahwa ia mengharapkan!

Itu sudah lebih dari cukup! Lebih dari apa pun!

Hanya agaknya Upasara Wulung sendiri masih perlu melanjutkan. “Yayi akan mendengarkan penjelasan saya.

“Yang terakhir kalinya.

“Saya merelakan sepenuhnya jalan yang ditempuh Permaisuri Rajapatni. Karena itulah yang terbaik. Sebagaimana kita merelakan Paman Jaghana. Karena itulah yang terbaik dan mulia.

“Yang lalu biarlah lewat.

“Akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Baik yang penuh kebaikan, ataupun penuh keluhuran.

“Yayi dengar semua yang saya katakan?”

Di dada Upasara, dagu Gendhuk Tri bergerak. “Apalah susahnya menemui ke Simping. Apalah susahnya menemui Paman Jaghana di keabadian. Akan tetapi apa artinya? Memanjakan masa lalu? Menghidupkan masa lalu yang pernah membuahkan kekecewaan?”

“Kakang seperti kakek-kakek.” Upasara tetap merangkul.

“Sejak kapan Yayi mempunyai dan mengenal kakek-kakek?” “Sejak tadi.”

Gendhuk Tri berusaha membebaskan diri. Tapi Upasara tidak melonggarkan rangkulannya.

“Setiap kali kita memutuskan sesuatu, kita berjalan di jalan itu. Setiap kali kita memutuskan sesuatu, kadang berarti membuat putus dengan sesuatu yang tadinya melekat dalam diri kita.

“Inilah pilihan.

“Yayi masih mau mendengarkan omongan kakek-kakek?” “Terpaksa.”

Upasara tersenyum.

Tetap bersandar dan bersila, meskipun tangannya tak lagi memeluk. Gendhuk Tri beringsut sedikit.

“Sikap pasrah adalah sikap menerima dan sekaligus memberikan kebahagiaan tanpa pamrih. Kadang menyakitkan karena seperti membunuh kenangan yang selalu menyenangkan dan manis, tetapi itu tidak berarti lebih buruk.

“Sewaktu Permaisuri Rajapatni memutuskan untuk bertapa di Simping, saya rasa sudah melalui perhitungan yang mendalam. Sudah sampai tingkat memasrahkan diri. Dengan melepas semua nafsu, segala emosi, segala rasa, segala nalar.

“Kita harus menghormatinya.

“Dan meyakini sebagai yang paling menenteramkan. “Itulah semuanya.”

Gendhuk Tri memandang ke arah lain.

“Kalau tak ada Cubluk, rasanya pembicaraan seperti ini tak akan terjadi.” “Cubluk dikirim Paman Jaghana.”

“Rasanya saya percaya hal itu, Kakang.” Lalu suaranya berubah sedih.

“Tapi bagaimana dengan Cubluk? “Apakah…”

Gendhuk Tri tertahan kalimat lanjutannya. Lehernya tercekik oleh penderitaan yang lengket. “Kepada siapa lagi kita meminta, Kakang?

“Barangkali Senopati Tanca. Tabib yang sangat tersohor itu bisa kita mintai pertolongannya, meskipun saya tak yakin. Apakah Cubluk bisa dibawa ke sana? Keadaannya menguatirkan setiap ada perubahan.

“Atau Tabib Tanca yang dibawa kemari?” “Semua usaha, ada baiknya dicoba.

“Meskipun kita ragu apakah Tabib Tanca tidak memerlukan waktu yang lebih panjang dari penderitaan Cubluk. Rasanya, seperti yang diderita Putri Koreyea, sumber utamanyalah yang seharusnya bisa menyembuhkan.

“Itu berarti kita berdua.”

“Mudah-mudahan saya bisa menerima Kakang. “Saya tak bisa memaksa diri saya.” Upasara bangkit.

Merangkul Gendhuk Tri.

Agak lama.

Baru kemudian berdiri, menggandeng tangan Gendhuk Tri dan tetap menggenggamnya.

“Kalau saja penyembuhan Cubluk berhasil, rasanya tak ada yang membebani lagi. Entah dengan cara bagaimana mengucapkan rasa syukur yang agung ini.”

“Tempat ini sangat asri, Kakang. “Kalau saja…”

Kembali suara Gendhuk Tri tertahan. Upasara sempat bercekat, karena menduga ada sesuatu yang ganjil.

“…Kalau saja Halayudha dengan Kangkam Galih, Pendita Ngwang, Pangeran Hiang bisa menemukan jalan yang terbaik.”

“Juga kita, Yayi.”

Genggaman Upasara makin meremas.

Kebimbangan Raja

KETIKA Gendhuk Tri menemukan Klobot dan Cubluk, ketika itu pula Halayudha menemukan kesunyian.

Ketika kembali ke Keraton, Halayudha merasa tak menemukan apa-apa dan siapa-siapa. Seakan di seluruh Keraton tak ada yang dikenali satu pun.

Setelah berhari-hari seluruh perhatiannya terserap kehebatan Kangkam Galih, dan tidak menemukan pemecahan di balik ketajaman pedang hitam tipis, Halayudha menuju Keraton. Tak ada prajurit yang mencegah atau menghalangi. Bahkan di pintu gerbang, para prajurit jaga menyembah hormat padanya.

Halayudha masuk sambil menenteng Kangkam Galih tanpa memedulikan penghormatan. Sampai di dalam langsung menuju ruangannya.

Dan tetap tak menemukan apa-apa serta siapa-siapa.

Tak ada Mada, satu-satunya tokoh yang bisa berhubungan dengannya. Dan dalam linglungnya karena pikiran terpusat kepada satu hal, Halayudha tak mengerti bagaimana cara mengetahui di mana Mada. Padahal dengan membuka satu pertanyaan saja, Halayudha akan memperoleh jawaban bahwa Mada dikirimkan untuk nyuwita, untuk mengabdi, kepada Patih Arya Tilam.

Dalam keadaan seperti itu, jalan pikiran Halayudha menjadi buntu. Tak tahu harus berbuat apa. Hanya sedikit ingatannya bahwa ia datang ke Keraton karena ingin menemui seseorang, sekaligus berjaga akan serangan seseorang atau dua orang.

Selebihnya tak disadari benar.

Apa yang dilakukan dalam Keraton hanya mempermainkan Kangkam Galih. Memainkan jurus demi jurus sampai kelelahan. Menghunjamkan pedang ke dinding tembok hingga amblas. Memotong pohon dengan sambaran angin.

Hingga bosan sendiri karena selama ini tak ada yang berani menegur atau menyapa. Tak ada yang melihatnya.

Kecuali Raja Jayanegara yang melangkah dengan kaki ringan di dekatnya, dan tersenyum dingin.

“Baru Ingsun tahu, bahwa mahamanusia yang perkasa, raja yang tak mengenakan takhta, mahapatih yang berkuasa, pendekar tanpa tanding ini bisa kehilangan arah, bisa kehilangan pandom dalam hidupnya.” “Kamu mengerti apa bisa bicara seperti itu?

“Aku tetap mahamanusia yang perkasa. Dengan Kangkam Galih di tanganku ini, matahari bisa kubelah, rembulan bisa kucincang. Tak ada lagi yang bisa menandingi.

“Aku tetap mahamanusia.

“Aku tetap raja walau tak mengenakan mahkota. Dengan satu gerakan tangan, mahkota dan kursi dampar kencana akan menjadi milik dan lambangku. Kamu hanyalah raja, tetapi tak memiliki apa-apa. Yang lari terbirit-birit dari Keraton, hanya karena seorang prajurit mengangkat senjata. Di mana nyalimu? Di mana wibawamu? Raja macam apa dirimu itu?”

Wajah Raja Jayanegara berubah. “Aku kadang kala bimbang.

“Kamu selalu dalam kebimbangan.

“Sebutanmu hanya Raja. Berbeda dengan ayahanda Baginda. Berbeda jauh dengan sebutan Sri Baginda Raja. Adalah bagus kalau sampai sekarang kamu tidak memiliki putra mahkota, agar tidak lebih nista lagi.

“Apa lagi yang kamu miliki?”

“Lancang benar mulutmu yang busuk itu.”

Halayudha malah tersenyum melihat Raja menjadi geram.

Kangkam Galih diletakkan di pundak. Tetap menempel meskipun kedua tangannya bergerak leluasa, mengiringi kalimatnya.

“Lihatlah dirimu, wahai yang menamakan diri Raja Jayanegara.

“Apakah kamu masih berharap semuanya datang dan menyembah? Mencium bekas kakimu? “Itu bisa saja terjadi.

“Dan masih akan terjadi. Karena tidak semua bisa menjadi seperti aku, mahamanusia. Yang bisa mengatakan apa adanya, sebagaimana mata bisa melihat.

“Aku bimbang, itu kuakui.

“Tapi aku tak mengenakan mahkota. Kamu mengenakan mahkota, kebimbanganmu menyebabkan kehancuran orang lain. Dan alangkah ajaibnya kalau kamu tak pernah menyadari itu. Kamu tak bisa menyadari dirimu sebagai manusia yang bisa merasakan perasaan manusia yang lain.

“Kamu telanjur salah dilahirkan.” Halayudha bersungut.

Bergeming tak menghindar ketika Raja mencabut keris pusaka dan menikam. Kangkam Galih melorot sendiri, menangkis. Terdengar bunyi cring yang keras.

Keris itu terlepas dari genggaman.

“Kamu bisa panggil seluruh prajurit utama. Akan kurajang seperti bawang, akan kuiris seperti buncis.

“Kamu bisa mengeluarkan Tumbak Kiai Braja yang bercabang lima sebagai tombak pusaka Keraton. Akan kupotong seperti tangkai bayam.

“Saat ini kamu keliru memilih manusia untuk melampiaskan kemarahanmu.” Tangan kiri Halayudha terulur.

Pundak Raja seperti tertekan. Sewaktu berusaha melawan, tindihan makin memberat. Sewaktu berusaha menahan, lututnya menjadi goyah.

Sehingga tanpa disadari bergoyangan dan berlutut. Berlutut.

“Itu lebih baik.

“Sesekali berlutut di depan orang lain. Masih beruntung kamu berlutut di depan mahamanusia. “Ini pelajaran pertama, yang terbaik.

“Selama ini kamu tak pernah menerima pelajaran dari orang lain. Semua guru hanya memenuhi permintaanmu. Para empu yang mengajarimu menjadikan kamu bukan manusia.

“Aku memberikan kesempatan terakhir. “Berlututlah sampai kamu bisa membebaskan diri.”

Halayudha menyeringai dan menyeret Kangkam Galih meninggalkan tempat begitu saja. Meninggalkan Raja yang masih tertekuk lututnya.

Yang menjadi kaku untuk digerakkan.

Bahwa Halayudha sakti, bisa diketahui. Akan tetapi bahwa tanpa menyentuh kulit sekali pun bisa membuat Raja berjongkok tanpa bisa membebaskan diri, itu baru luar biasa!

Karena biar bagaimanapun dirinya membesar-besarkan ilmunya, Raja Jayanegara mempunyai dasar yang cukup kuat. Maka hati kecilnya makin gondok karena ternyata dengan enteng sekali bisa didudukkan oleh Halayudha.

Kalau saja ini terjadi di luar tempat kediaman, apa lagi yang tersisa? Seorang prajurit yang paling cubluk sekalipun meragukan apa yang dilihat: Seorang raja berlutut di jalanan! Siapa lagi yang bisa menghormati?

Benar-benar tak terbayangkan oleh Raja sendiri. Benar-benar dilindas hingga rata tanpa sisa.

Lebih menyakitkan lagi, karena kalimat sembarangan Halayudha seakan mengatakan hal yang sebenarnya. Dirinya tak pernah duduk di depan orang lain. Dirinya salah sejak lahir. Dirinya bukan manusia.

Rasa geram membuat Raja Jayanegara makin gemetar. Tapi tetap saja tak bisa bergerak.

Akankah dirinya berteriak meminta pertolongan? “Sinuwun, jangan melawan tenaga yang menindih.

“Kosongkan pikiran. Pusatkan kekuatan pada tangan yang menempel ke bumi.”

Suara dalam nada yang aneh. Sekejap Raja menduga itu suara Halayudha yang nadanya dilainkan. Akan tetapi sebutan menghormat Sinuwun, memungkinkan adanya orang lain. Lagi pula memang tak ada pilihan lain.

Raja meletakkan kedua tangannya ke tanah. Menempel rata.

“Jangan mencoba berdiri.

 “Biarkan tenaga bumi mengalir ke tangan.”

Benar. Raja merasakan tangannya gemetar. Sentuhan dengan bumi membuat getaran yang kuat. Seakan memberikan sumber kekuatan.

Selanjutnya tak terlalu sulit baginya untuk mengatur dengan tata aturan dalam dunia persilatan. Menunggu getaran hingga keras dan terkumpul, baru kemudian mengerahkan.

Dan ternyata bisa berdiri.

Meskipun masih sempoyongan. Dan pundaknya masih terasa sangat ngilu. Raja memandang kiri-kanan.

Tak ada bayangan siapa-siapa. “Maaf, Sinuwun, hamba tak berani menunjukkan diri. “Mahapatih Halayudha masih ada di sekitar tempat ini.” Raja menghela napas.

Siapa gerangan yang menyebut dirinya hamba, dan memanggil Halayudha dengan sebutan Mahapatih, akan tetapi takut diketahui keberadaannya?

Pertanyaan yang hanya berbunyi sesaat.

“Ingsun menunggumu di kamar peraduan. Karena kamu sudah bisa masuk kemari, pastilah tahu segala isinya.

“Kalau kamu takut bertemu Halayudha, akan Ingsun perintahkan untuk diusir selamanya.” Tak ada jawaban.

Tak ada suara.

Raja masih bimbang ketika tiba-tiba merasa tubuhnya diseret ke tempat semula, dan pundaknya ditekan ke bawah. Hingga berlutut kembali seperti sebelumnya.

Saat itu terdengar langkah Halayudha.

Pembalasan Pamungkas

HALAYUDHA muncul dan sedikit mengerutkan keningnya.

“Bagaimana mungkin kamu bisa nebak bantala, menempelkan telapak tangan ke tanah? Siapa yang mengajarkan Kitab Bumi dengan cara seperti itu?

“Putaran tangan ke bumi, tanpa menyentuh, akan lebih sempurna. “Tapi sudahlah.

“Sudah cukup pelajaran pertama hari ini. Kamu boleh merenungkan apa yang terjadi hari ini. Aku masih banyak urusan karena mestinya aku menemui seseorang, dan berjaga atas serangan orang lain. Yang susah kuingat namanya.

“Sudahlah. “Sudah cukup.”

Telapak tangan Halayudha terulur. Lurus. Ketika telapak itu meninggi, tubuh Raja ikut terangkat. Hingga bisa berdiri.

“Besok di tempat yang sama, pada waktu yang sama, aku akan mengajarkan hal yang lain. “Sekarang aku mau jalan-jalan dulu. Barangkali kutemukan apa yang kucari tapi tidak kuketahui.”

Enteng sekali Halayudha meninggalkan Raja sendirian. Masih dengan menenteng Kangkam Galih. Ketika memasuki bangunan Keraton, ujung Kangkam Galih meninggalkan goresan dalam.

Membelah batu keras.

Selama Halayudha malang-melintang di Keraton, tak ada yang berani menghalangi atau menegur. Tidak juga Mahapatih Jabung Krewes yang berjaga bersama para prajurit kawal raja di tempat biasanya. Mahapatih Jabung Krewes sama sekali tak merasa bahwa sesuatu yang sangat gawat tengah berlangsung.

Yang juga tidak diketahui oleh Halayudha. Juga tidak disadari sepenuhnya oleh Raja.

Karena kini yang memainkan peranan adalah Ngwang!

Pendita terakhir yang merasa memikul seluruh tanggung jawab kebesaran Keraton Tartar yang selama ini selalu gagal menanamkan pengaruh di Tanah Jawa. Sejak semula Ngawang telah menyiapkan dan menyerahkan sisa hidupnya untuk mempelajari segala sesuatu mengenai ilmu di tanah yang akan didatangi. Bahkan berhasil menciptakan jurus-jurus untuk mementahkan ajaran dalam Kitab Bumi.

Sebagai tokoh utama dan terakhir dari negerinya, Ngwang tak ingin mengulang kegagalan utusan sebelumnya. Terutama sekali, rombongan yang dipimpin langsung oleh Pangeran Sang Hiang. Ketika Pangeran Putra Mahkota Tartar itu menjadi ragu, Ngwang yang menyembunyikan diri mengambil alih penyerangan.

Tidak berbeda jauh dari Gemuka, Ngwang pun berhitung tujuh kali sebelum melakukan sesuatu. Segala sesuatu diperhitungkan dengan amat sangat teliti. Apalagi setelah kegagalan usahanya dengan munculnya Halayudha yang menggenggam Kangkam Galih.

Sejak itu otaknya berpikir tanpa henti.

Bahwa Tanah Jawa ini menyimpan kekuatan-kekuatan besar yang tak terkirakan, dengan memakai perhitungan apa saja. Begitu banyak tokoh sakti, begitu hebat medan yang dihadapi.

Bahkan rasanya, dengan menundukkan raja saja tidak cukup untuk menaklukkan Tanah Jawa.

Ngwang mengumpulkan seluruh kemampuan untuk mengadakan pembalasan pamungkas, pembalasan terakhir. Yang diarah adalah Raja. Tidak dengan mengalahkan atau menculik, akan tetapi memakai sabda Raja untuk menyalurkan dendam seluruh kehormatan Tartar.

Itulah sebabnya Ngwang menyusup ke Keraton. Dan menunggu kesempatan cukup lama. Semua keinginan dan desakan hatinya disabarkan, agar bisa muncul pada saat yang diperlukan.

Akhirnya hal itu terjadi.

Saat Raja dipaksa berlutut oleh Halayudha. Ngwang bertindak. Menyelamatkan.

Akan tetapi tetap belum berani memunculkan dirinya. Karena kehadirannya sebagai orang manca bisa mempengaruhi kepercayaan Raja. Makanya tetap menahan diri. Hanya berbisik perlahan pada saat-saat tertentu.

Ini membuahkan hasil, karena Raja mengikuti apa yang disarankan. Mengikuti apa yang diminta oleh Halayudha.

Ini berarti langkah sangat penting.

Karena dari sini, Ngwang ingin memakai tangan Halayudha, lewat pergulatan kebimbangan Raja!

Membuat Halayudha mengangkat senjata, dan akhirnya sebagai penyelesai masalah untuk menumpas Upasara Wulung.

Dengan langkah ini, Ngwang bisa merampas dua hasil terbesar sekaligus. Mengalahkan ksatria lelananging jagat, gelar yang diincar para pendekar di seantero jagat, sekaligus membawa Raja.

Dua kemenangan yang gilang gemilang.

Kemungkinan untuk itu ada, dan tak boleh sedikit pun meleset.

Bagi Ngwang, mempersiapkan secara amat cermat merupakan syarat mutlak. Maka segala sesuatu direncanakan dengan cermat. Semua kemampuannya dikerahkan. Bukan hanya dalam ilmu silat.

Ini yang akan dijajal. Yaitu memakai sangat atau saat yang tepat. Waktu menempati peranan yang sangat penting bagi Tanah Jawa. Itu semua diperoleh setelah sekian lama mempelajari adat Tanah Jawa.

Sekian lama mempelajari ajaran dari Tanah Jawa, Ngwang juga menemukan apa yang disebut sebagai pengapesan. Sesuatu yang berarti kesialan, atau titik terlemah. Seorang jago silat yang paling lihai sekalipun mempunyai pengapesan. Memiliki saat di mana seluruh kemampuannya berada pada titik terendah.

Ini bisa diperhitungkan dari hari, waktu, sampai titik yang pas.

Sejauh yang diketahui, pada saat apes, seorang jago silat tak akan melakukan kegiatan yang berarti. Lebih suka bersemadi atau berdiam diri. Para jago silat sadar di mana kemampuannya berada dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan, atau malah bisa dikatakan mudah mencelakai diri. Dan setiap jago silat memiliki pengapesan.

Sebenarnya ini juga bukan sesuatu yang sama sekali baru bagi Ngwang. Dalam ajaran ilmu silat mana pun, selalu ada titik lemahnya. Kalau bisa mengetahui hal ini, kemenangan akan lebih mudah diraih.

Bahkan ilmu silat yang diciptakan ini pun, berangkat dari melihat titik lemah ajaran Kitab Bumi. Kalau bisa masuk ke dalam titik lemah, meskipun satu titik, bisa menjadi pijakan untuk menguasai. Sangat itu datang setelah Ngwang berhasil membisiki Raja, dan Raja mengikuti perintahnya.

Ketika Halayudha sedang bersemadi seorang diri, Ngwang menumpahkan seluruh kesaktiannya dengan ajian sirepnya. Ajian yang bisa membuat orang lain terpengaruh. Sasarannya bukan langsung Halayudha, melainkan Raja.

Yang mendatangi Halayudha ketika bersemadi.

Ini merupakan salah satu keunggulan Ngwang yang tak bisa ditandingi oleh siapa pun di negerinya. Bahkan tokoh sakti seperti Jaghana tak bisa mengendus. Bahkan Nyai Demang bisa disirep tanpa sadar. Hanya Upasara yang saat itu bisa melihat ada sesuatu yang kurang beres pada diri Pangeran Hiang. Hanya Upasara yang merasakan kehadiran Ngwang, meskipun tidak mengetahui dengan pasti di mana dan dalam bentuk apa kehadiran Ngwang.

Kalau kemudian Nyai Demang mengetahui, itu terutama dari tanda-tanda yang bisa dibaca olehnya. Bukan dari penangkal sirep.

Kini saatnya!

Raja Jayanegara berdiri di tempat yang agak jauh dari tempat bersila Halayudha. Suaranya parau. “Kemenangan segala kemenangan di tanganmu, Halayudha.

“Pedang sakti di tanganmu. Upasara hanya tinggal sejengkal di depanmu. Kenapa kamu tinggalkan?” Antara sadar dan tidak, Halayudha mendengar lamat-lamat suara bisikan.

“Cari dia, Halayudha. “Cari.

“Jangan berubah pendapat lagi.

“Jangan mendustai  dirimu,  bahwa  Upasara bukan ksatria  lelananging  jagat. Kamu  telah meraih semuanya, kecuali gelaran yang sangat kamu impikan.

“Sempurnakan dirimu, orang yang tak terkalahkan dalam segala hal.

“Kamulah kemenangan itu, kamulah mahamanusia yang sempurna. Di jagat ini dan jagat yang akan datang.”

Ngwang terus berusaha mempengaruhi pikiran Halayudha melalui sosok Raja. “Apa maumu?”

“Mengingatkan bahwa kemenangan sempurna bukan dalam angan-angan, tetapi bisa diwujudkan. Itulah inti ajaranmu.”