--> -->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 53

Jilid 53

Ungkal bener adalah sifat-sifat yang lebih banyak dimiliki dan diperlihatkan secara menonjol oleh para ksatria maupun pendeta. Selalu ungkal-mengasah-kebenaran.

Titik-tolak langkah dan tindakannya seolah memihak kepada kebenaran, tanpa peduli tata cara dan tata krama keprajuritan. Ini bisa menimbulkan gangguan di belakang hari, jika jiwanya tidak bisa menerima secara utuh tata nilai Keraton. Yang kadang bisa bertentangan dengan jiwa ksatria atau pendeta.

Raja Jayanegara mengetahui cara terbaik untuk mengatasi masalah ini. Dengan memanggilnya.

“Kamu tahu kenapa hari ini Ingsun timbali?” Mada menyembah dengan hormat.

“Mada, jasamu besar bagi Keraton.

“Ingsun ingin memberikan bebana, hadiah yang menyenangkan hidupmu. Kamu mempelajari tata krama keprajuritan, memperdalam ilmumu.

“Tak perlu menunggu waktu terlalu lama.

“Berangkatlah segera ke Daha. Di sana ada Patih Tilam yang sakti, yang bisa mengajarmu.” Mada menyembah hormat.

“Sendika dawuh Dalem, siap melaksanakan perintah Raja.” “Satu hal lagi, Mada.

“Ingsun merasa ada yang mengganjal hatimu. Atas perkenanku, katakan apa yang ingin kamu sampaikan.”

“Hamba segera menjalankan perintah Raja.” “Tak mau kaukatakan?”

“Sesungguhnya memang tak ada, Raja Sesembahan.

“Hanya hal kecil, sedemikian kecilnya sehingga sebenarnya hamba hanya memperbesar.” “Apa itu?”

“Rasa-rasanya selain Paman Upasara Wulung, masih ada Pangeran Tartar yang bisa mengganggu ketenteraman Keraton untuk waktu yang lama.”

“Kamu kira kamu bisa mengatasi kalau kamu di sini?” Mada menyembah.

“Mereka pernah datang dengan prajurit lengkap, dengan senopati pilihan. Tapi tak pernah bisa mengalahkan. Mereka datang lagi dan berusaha datang menculik Baginda, tetapi bisa disapu bersih. Apalagi hanya sisa-sisanya.

Mada kembali menyembah. “Berangkatlah, Mada.”

Raja meninggalkan Mada yang masih menyembah.

Mada masih tepekur agak lama, sebelum akhirnya menyembah hormat kepada Mahapatih Jabung Krewes dan mundur. Tidak perlu kembali ke rumah kediamannya yang memang tidak ada. Tak perlu berpamitan, karena memang tak ada yang dipamiti.

Mada langsung berangkat menuju tempat tugasnya yang baru. Mengabdi kepada Patih Tilam. Memang dalam sudut hatinya tumbuh pertanyaan. Kenapa harus mengabdi kepada Patih Tilam, kalau patih Daha itu sangat tidak menyukai sikapnya. Akan tetapi Mada menganggapnya sebagai perintah, dan ia menjalankan. Apa yang segera teringat adalah bayangan Eyang Puspamurti, yang selama ini menggembleng secara ketat mengenai pengabdian.

Semua kalimat yang pernah diucapkan Eyang Puspamurti terngiang kembali. Ini yang memperkuat niatnya, tanpa merasa sedikit pun bahwa dirinya kini disingkirkan. Bahwa dirinya dimasukkan ke situasi yang paling tidak enak.

Mada tak mempunyai pikiran seperti itu.

Kalaupun ada, sudah dibenamkan dalam-dalam ke hatinya untuk menjalankan perintah. Hanya kalau sekarang kakinya melangkah menuju Perguruan Awan sebagai jalan menuju Daha, itu karena masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab.

Sebelumnya, di Perguruan Awan, ketika ia berusaha menemui Paman Guru Jaghana, yang ia temukan hanya ceceran darah dan tangan orang. Di samping itu masih bisa ia lihat sendiri bahwa kehadiran Ngwang merupakan ancaman yang kuat. Tokoh yang begitu sakti, yang mampu mendesak dan melabrak tokoh-tokoh utama saat ini.

Sekurangnya itulah situasi ketika ditinggalkan dulu, untuk menyelamatkan Raja.

Perjalanan Kebahagiaan

AKAN tetapi, kini sesampai di Perguruan Awan, suasana purba yang menyambut. Angin, daun, tak banyak berubah. Perguruan Awan, tetap merupakan Perguruan Awan yang berada dalam angan- angan setiap orang.

Banyak hal tidak diketahui Mada.

Ketika Ngwang membopong Pangeran Hiang dan dikejar Halayudha yang menggenggam Kangkam Galih, Upasara Wulung dan Gendhuk Tri segera menyembah dan mengangkat tubuh Jaghana. Nyai Demang masih limbung, hanya mengikuti langkah demi langkah tanpa suara.

Upasara Wulung memanggul bersama Gendhuk Tri. Berjalan perlahan, seirama dengan angin, dengan goyangan dedaunan. Membawa tubuh Jaghana dan meletakkan di suatu tempat.

Tak bisa dikatakan di tengah atau di pinggir, karena Perguruan Awan memang tak bisa ditentukan mana tengah dan mana tepinya.

Di tempat itulah Jaghana dibaringkan.

Gendhuk Tri dan Upasara Wulung kembali bersemadi dalam waktu yang cukup lama. “Paman Jaghana yang mulia.

“Saya hanya bisa mengantarkan sampai di sini. Perjalanan kebahagiaan hanya bisa ditempuh Paman seorang yang berjiwa mulia.

“Sugeng tindak, Paman….”

Suara Upasara Wulung tidak menggeletar. Tidak dibebani dengan rasa menyesal, tidak nggogo- onggo, tidak gondok.

Yang ada adalah kepasrahan total, sepenuh-penuhnya. Hal yang sama yang dirasakan Gendhuk Tri.

Jaghana telah kembali kepada kekekalan dengan utuh. Tak ada yang disesali, tak ada yang diberati lagi. Lebih sempurna dibandingkan Eyang Sepuh yang moksa.

Meskipun tidak paham sekali, Nyai Demang mengetahui bahwa tata cara Perguruan Awan memang sedikit berbeda. Siapa pun yang pernah menjadi warga Perguruan Awan, pada hakikatnya menjadi bagian dari alam. Tak berbeda dengan buah yang jatuh, atau daun kering, serta angin ataupun curahan hujan.

Raga Jaghana ditinggalkan, karena akan menyatu dengan alam. Tidak ditandai dengan gundukan tanah atau candi atau perabuan. Karena demikianlah perputaran alam yang murni. Sebagaimana buah atau daun, sebagaimana angin atau embun.

Mereka bertiga meninggalkan tempat raga Jaghana disemayamkan. Nyai Demang beberapa kali menelan ludah, sebelum akhirnya mulai berbicara.

“Anakku, bagaimana keadaan tubuhmu?” Gendhuk Tri mengangguk.

“Segera akan kembali seperti sediakala, Nyai….” “Syukurlah kalau begitu.

“Saya sudah tertinggal mengetahui bagaimana perkembangan yang terjadi. Tetapi rasa-rasanya…” “Berkat Paman Jaghana kita semua diselamatkan.”

Jawaban Upasara terdengar biasa. Tanpa tekanan memberi penghormatan yang berlebihan kepada penyebutan nama Jaghana. Tanpa berlebihan, juga tanpa basa-basi.

“Kami akan segera mencari tempat, agar bisa mengusir bercak hitam yang tersisa. Juga dalam tubuh saya, Nyai.

“Masih perlu waktu, akan tetapi rasanya tak ada lagi halangan yang mengganjal.”

Nyai Demang mengangguk-angguk, meskipun terkesan masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal.

“Anakmas Upasara.

“Maaf kalau saya masih menyinggung dan menyebut nama Jaghana. Saya tahu itu akan mengurangi perjalanan keabadian yang kini tengah ditempuh. Akan tetapi ceritakanlah sedikit, agar saya menjadi tenteram.”

Upasara memulai ceritanya dari tradisi ajaran di Perguruan Awan, yang mau tak mau diterima dan dipahami semenjak dirinya ditunjuk Eyang Sepuh untuk menjadi pemimpin. Meskipun sebenarnya tak kentara benar siapa pemimpin atau guru dan siapa siswa.

Bahkan menyebut nama Jaghana tidak berarti menghalangi perjalanan keabadian, bilamana penyebutannya tidak disertai rasa getun-menyesal, atau eman-menyayangkan. Segalanya harus diterima dengan wajar, sebagaimana alam.

Baru kemudian Upasara menerangkan bahwa sejauh yang bisa ditangkap, Jaghana memang memilih berada di antara Gendhuk Tri dan Upasara Wulung, sebagai bentuk penyatuan tenaga tanah atau bumi dengan tenaga air.

Selama ini Upasara merasa telah menguasai kedua inti kekuatan dan merasa telah bisa menyatukan, akan tetapi sesungguhnya belum dalam pengertian yang sejati. Hal ini terbukti ketika Upasara berusaha mengusir bercak hitam di tubuh Gendhuk Tri selalu gagal. Tak banyak berbeda dari apa yang dilakukan Halayudha. Bahkan lebih mengerikan lagi, karena tenaga dalam Halayudha merusak tenaga dalam Gendhuk Tri.

Penyerahan Jaghana merupakan pencerahan sesungguhnya kekuatan tanah air. Kekuatan yang benar-benar menyatu, tak bisa dibedakan lagi mana kekuatan tanah dan mana kekuatan air, tak bisa dipisahkan antara Upasara Wulung dan Gendhuk Tri. Cara yang ditempuh Jaghana adalah dengan berada di tengahnya, dengan pengorbanan diri. Pengorbanan yang suci untuk kekuatan tanah air.

“Saya merasakan keikhlasan Paman Jaghana, karena sesungguhnya Paman Jaghana-lah yang mampu menyatukan Eyang Sepuh dengan Eyang Putri Pulangsih.

“Paman Jaghana mendapat pencerahan dari Yang Mahadewa dalam pengabdian keprajuritan dan pengabdian ksatria. Dengan menjadi Truwilun, Paman Jaghana mampu menyatukan pengertian mahamanusia, sebagai bagian yang utuh dari Kidungan Paminggir maupun Kidungan Para Raja. Apa yang telah diisyaratkan Eyang Mpu Raganata, mampu dibumikan Paman Jaghana.

“Dua pertentangan besar antara mahamanusia dan takhta, ternyata sesungguhnya bukan pertentangan. “Hal yang sama dicerahkan Paman Jaghana dari ajaran Eyang Sepuh serta Eyang Putri Pulangsih. Dua ajaran yang berintikan Kitab Bumi dengan Kitab Air, dua ajaran yang berintikan penolakan satu sama lain, ternyata bisa disatukan dalam kekuatan yang baru.

“Hanya Paman Jaghana yang mampu mendapat pencerahan dari Yang Mahadewa, lebih dari siapa pun.”

Nyai Demang mengelus dadanya.

“Apa yang Kakang katakan adalah hal sebenarnya, Nyai….

“Kakang Upasara menemukan penyatuan kekuatan sebagai yang disebutkan kekuatan tanah air. Namun sesungguhnya itu baru dalam angan-angan, dalam kemungkinan yang masih tersimpan sebagaimana biji yang belum bersemi.

“Dalam jurus-jurus ilmu silat, Nyai telah mengetahui bahwa sewaktu saya memainkan Kitab Air dan Kakang Maha Singanada memainkan Kitab Bumi, terjadi kekuatan baru. Penggabungan yang kuat. Akan tetapi, ternyata penggabungan itu sebenarnya baru kulit luarnya saja. Penggabungan yang sebenarnya…”

Nyai Demang mengangguk. Bibirnya tersenyum tipis.

“Sungguh dalam dan tak gampang dibayangkan. Bagaimana dulunya Eyang Sepuh dan Eyang Putri Pulangsih, yang saling mencintai tetapi juga saling menolak, masing-masing bertahan pada pendiriannya.

“Kitab Bumi, terutama bagian Tumbal Bantala Parwa, tercipta karena penolakan Eyang Sepuh. Sementara Eyang Putri Pulangsih justru menciptakan jurus-jurus yang melengkapi, sebagaimana bentuk pengorbanan diri dan penerimaan apa yang dilakukan Eyang Sepuh.

“Sungguh dalam dan menyentuh.

“Bahkan beberapa saat lalu, Anak Tri masih menolak Anakmas Upasara…. “Ah, sungguh aneh jagat ini.

“Setelah berlangsung puluhan tahun, Eyang Sepuh dan Eyang Putri Pulangsih bisa ditemukan, bisa dipersatukan dalam arti yang sesungguhnya.

“Dalam penyatuan kalian berdua. “Selamat, anakku.

“Selamat.

“Sembah dan puji syukur kepada Yang Mahadewa.

“Akhirnya kebahagiaan penyatuan itu datang juga. Dan syukur yang agung, saya masih mengalami.” Gendhuk Tri tergetar.

Matanya berkaca-kaca.

Rasa bahagia Nyai Demang terasakan sangat tulus. Mengetahui dan mengalami, bukan saja penyatuan ajaran Eyang Sepuh dengan Eyang Putri Pulangsih, melainkan juga dalam raga Upasara Wulung dengan Gendhuk Tri.

Kebahagiaan seorang ibu yang dirasakan anaknya!

Namun Gendhuk Tri juga merasakan ada kegetiran yang lain. Apalagi ketika Nyai Demang menubruk dirinya, merangkul kencang dan kemudian juga merangkul kencang Upasara. Kegetiran karena Gendhuk Tri melihat sendiri, justru ketika kebahagiaan itu serasa dalam genggaman, Nyai Demang terbanting.

Yaitu saat kehadiran Pangeran Hiang yang di luar dugaannya. Yang membawa Kangkam Galih! Air mata Nyai Demang membasah.

Dua ujung selendangnya serasa tak cukup untuk mengelap.

“Apakah ada yang bisa merasakan kebahagiaan lebih dariku? Tidak, tak ada lagi. “Apakah ada yang bisa mengurangi rasa bahagiaku? “Tidak, tak ada lagi.”

Justru kalimat itu yang menikam, menghunjam. Yang menunjukkan bahwa dendam Nyai Demang makin keras dan menajam!

Lepas Kendali Bumi

SESAAT. Sesaat bagai sinar laban, kilat, yang menerangi dan kembali ke wujudnya semula.

Pandangan mata Nyai Demang terbengong, berkedip-kedip, sementara senyum di bibirnya makin lama makin melebar, makin merekah.

Darah di tubuh Nyai Demang seakan berlarian. Angin yang dihirup dan diembuskan seakan berloncatan. Nyai Demang mendongak ke atas langit, kedua tangannya terentang. Diiringi tawa bergelak, kedua tangan, kedua kaki Nyai Demang bergerak.

Menari. Menari!

Kepalanya mengibas, dan seluruh rambutnya yang tadi tersanggul lepas terurai, kreyapan. Nyai Demang terus menari, dengan gerakan kaki, tangan, dengan mencabut selendang, membuang ke samping.

Tawaran terus bergelak, sementara air mata membanjiri pipinya. Kegembiraan yang melambung sampai di awan tingkat tujuh.

Ini adalah puncak kegembiraan Nyai Demang, yang bisa dirasakan untuk pertama kalinya, sejak keluarganya hancur dan habis. Kegembiraan yang dilampiaskan dengan melepas semua kendali perasaannya. Mengikuti rasa yang mendorong, yang membuat tangan, kaki, tubuh, dan kepala bergerak, terus bergerak.

Gendhuk Tri merasa tangan Upasara mencekal erat tangannya.

Gendhuk Tri mengetahui bahwa Nyai Demang perlu menyalurkan perasaannya secara terbuka, seperti sekarang ini. Perlu melepaskan “pijakan bumi”, dan melayang-layang. Perlu juga bisa memahami sepenuhnya bahwa Nyai Demang selama ini tertindih beban pikiran yang sarat dan berat.

Kejadian demi kejadian menenggelamkan dirinya ke jalan buntu. Dan secara tiba-tiba, Nyai Demang mengetahui bahwa Gendhuk Tri, anaknya, akhirnya menerima Upasara Wulung, seperti yang sangat diharapkan.

Itu semua menghapuskan tindihan hatinya.

Nyai Demang masih terus bergerak, menari, menarik kainnya, melepaskan, dan masuk ke tengah rerimbunan pepohonan.

Tinggal Upasara dan Gendhuk Tri yang masih berdiri dan bergandengan. “Kakang…”

“Nyai Demang sangat mencintai kita berdua. Karena sangat bersyukur, ia serasa tidak menginjak bumi.”

“Akhirnya masih ada yang menjadi saksi kebahagiaan kita, Kakang.”

“Daun, angin, tanah di tempat ini akan selalu menjadi saksi dan menjadi bagian diri kita. Kita telah kehilangan banyak sekali orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, kita telah dipisahkan dari saudara-saudara kita.

“Tetapi alam ini masih akan selalu bersama kita, Yayi.” “Ya, Kakang.

“Tapi masih perlu waktu untuk menemukan itu. Kekuatan Kakang belum pulih sepenuhnya, dan bercak hitam di bawah kulit di atas daging tubuh saya belum terusir.” Upasara Wulung melepaskan genggaman. Merangkul Gendhuk Tri.

“Segera setelah kita bisa menenangkan diri, kita bisa mulai menjajal pemulihan tenaga dalam.” Keduanya berjalan, menuju suatu tempat di mana buah-buahan bisa diraih tanpa meninggikan tumit “Apakah benar Kakang hanya akan bertarung untuk menguji ilmu yang sejati?”

“Rasanya begitu, Yayi.” “Kenapa, Kakang?”

“Karena itulah yang saya rasakan terbaik. Eyang Sepuh mulai mengundang untuk pertarungan setiap lima puluh tahun. Dan kini sayalah yang memegang tugas itu. Rasa-rasanya kalau semua jago silat di jagat ini memilih arena itu sebagai medan pertarungan menguji ilmu silat dan jalan kebenaran, jagat ketenteraman akan lebih luas dari wilayah Perguruan Awan ini.”

“Ya, dan Kakang menyadari. Bahwa Perguruan Awan ini masih menjadi ajang pertarungan. Bahwa masih ada Pendita Ngwang yang bergerak leluasa. Masih ada Pangeran Hiang, dan mungkin tokoh- tokoh tersembunyi lainnya. Masih ada Halayudha yang membawa Kangkam Galih.

“Masih banyak yang belum diselesaikan, Kakang.”

“Masih banyak, dan tidak akan selesai, kalaupun Kakang bertarung setiap hari.

“Yayi, saya tidak berusaha melarikan diri, tidak mau lepas dari kendali bumi. Seperti juga dulu Eyang Sepuh memilih berada di Perguruan Awan, sewaktu Keraton sedang menuntut keberadaannya. Justru ketika sedang ramai-ramainya, Eyang Sepuh memilih berada di tempat ini.”

Upasara menahan diri sejenak. Gendhuk Tri tersenyum.

“Kakang, kita berdua seperti mengulang apa yang dialami Eyang Sepuh dan Eyang Putri Pulangsih, dengan penitisan yang berbeda.

“Saya sedang berusaha memahami, apakah kepergian Eyang Sepuh mengasingkan diri di tempat ini dulu bukannya karena menghindari Eyang Putri?

“Eyang Sepuh mau memperlihatkan daya asmara yang tetap tersimpan dengan cara menyembunyikan diri.”

Upasara tersenyum. “Bisa jadi.

“Tapi kenapa Yayi berpikir begitu?”

“Kadang masih tersisa pertanyaan kecil mengenai Putri Gayatri….”

Suara Gendhuk Tri bagai gelombang awan yang menggeser di langit. Mengubah bentuk semula. Upasara menghela napas.

“Maaf, Kakang.

“Rasa kewanitaan saya mengatakan begitu. Bukan karena Kakang sekarang ini memanggil saya Yayi, bukan karena hal lainnya.

“Saya tahu Kakang akhirnya memilih saya. Kakang menentukan jalan hidup Kakang bersama saya. Dan dengan sepenuh-penuhnya saya menerima. Saya merasa sangat bahagia.

“Dan karena rasa bahagia itu, karena rasa menyatu Kakang dengan saya, saya masih bisa merasakan getar yang tersembunyi.

“Apakah saya salah mengucap, Kakang?” “Tidak.

“Saya tidak ingin menghapus dari ingatan apa yang telah terjadi antara saya dan Permaisuri Rajapatni. Tetapi semuanya sudah berlalu, dan akan lebih baik menjadi begitu. Lebih baik bagi semuanya, bagi alam seisinya.” “Kakang bukan menyembunyikan diri?” “Sama sekali tidak.”

“Menurut Kakang, apakah Permaisuri Rajapatni juga tidak berusaha menjauhkan diri dari Kakang?” “Saya tak tahu pasti.

“Barangkali ada unsur itu. Tetapi menjadi tidak berarti dibandingkan dengan apa yang dicapainya.

“Kita dilahirkan berbeda, dengan tanggung jawab yang berbeda. Permaisuri Rajapatni lahir sebagai putri Keraton, penerus tradisi kebesaran Sri Baginda Raja. Apalagi Permaisuri Rajapatni ditakdirkan Dewa akan menurunkan raja besar tiada tara di belakang hari.

“Semuanya adalah tanggung jawab yang tak bisa ditanggalkan begitu saja. Tak bisa dilepaskan karena terbawa sejak lahir.”

Gendhuk Tri mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana keadaan tubuh Kakang?”

Mata Upasara terpejam. Napasnya naik-turun.

Perlahan getaran tubuhnya menyebar ke arah sekeliling. Gendhuk Tri mengetahui bahwa pergolakan tenaga dalam Upasara Wulung kadang masih bertentangan.

Hal yang sama terjadi pada dirinya sendiri.

Bahwa keduanya telah mengetahui bagaimana pemecahannya dan usaha penyembuhannya, tidak berarti dengan sendirinya semua persoalan telah selesai. Karena masih memerlukan waktu, karena masih mungkin sekali terjadi segala sesuatu yang tak diperhitungkan sebelumnya.

Rasa kuatir Gendhuk Tri lebih besar dari Upasara Wulung, baik karena dirinya mempunyai kepekaan yang halus sebagai wanita, ataupun karena pengalaman masa lalunya.

82

Di saat-saat kebahagiaan itu tinggal diraih, di saat tangan telah menyentuh, kejadian bisa berubah. Maha Singanada adalah contoh nyata yang dialami dan masih serasa dialami.

Ketenangan dan penerimaan yang luar biasa terasakan sesaat ketika Jaghana berada di tengahnya, menggandeng tangannya dan tangan Upasara. Didahului dengan kidungan dan diteruskan dengan kidungan, Gendhuk Tri merasa aman, tenteram, bahagia.

Sayup-sayup Gendhuk Tri mendengar suara air tersibak. Dan tawa yang renyah, yang lepas.

Nyai Demang pastilah kini sedang berendam di air, berlompatan, merasa bebas dari segala impitan. Tak merasa ada yang menahan untuk melampiaskan semua keinginannya. Sedemikian bebasnya sehingga menari-nari dan melepaskan semua pakaiannya.

Alangkah bahagianya Nyai Demang. Saat ini.

Tapi Gendhuk Tri tak bisa merasakan seperti itu. Karena kakinya masih menginjak bumi. Masih terbenam dalam-dalam. Bahwa pemulihan tenaga dalam Upasara Wulung dan dirinya masih belum lagi dimulai.

Padahal pada saat seperti ini, Ngwang, Pangeran Hiang, Halayudha masih gentayangan. Masih mencari peluang untuk muncul, dengan alasan yang berbeda-beda.

Cubluk, Perwujudan Asmara

SEKITAR sepenanak nasi, Upasara bersemadi. Baru kemudian mengusap kembali wajahnya. Perasaannya sedikit lebih segar. Tenaga dalamnya sebagian terhimpun kembali. Baru kemudian mencoba menjajal menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Gendhuk Tri. Menggiring kembali bercak hitam, dan berusaha menghilangkan. Tidak dengan menggempur keras, tidak dengan mendobrak, akan tetapi berusaha melarutkan. Mengembalikan kepada kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri yang asli. Sehingga nantinya tenaga dalam Gendhuk Tri tidak berkurang.

Usaha yang dilakukan siang dan malam, beberapa hari berturut-turut, memeras kemampuan Upasara Wulung. Akan tetapi Upasara seperti tenggelam dalam keasyikan. Semakin lama semakin membuatnya terus menjajal.

Nyai Demang melihat bahwa pada beberapa bagian bercak itu bisa hilang.

Namun Upasara dan Gendhuk Tri menyadari bahwa hal ini akan memakan waktu lama, dengan pengerahan tenaga sepenuh-penuhnya.

“Sampai lima puluh tahun yang akan datang, baru separuhnya bebas,” kata Gendhuk Tri, yang dijawab Upasara Wulung dengan anggukan.

“Rasanya ada yang keliru, Yayi.

“Tenaga dalam bisa menyalur cepat, akan tetapi hasilnya tak seberapa.” “Kenapa kalian berdua tidak menikah saja lebih dulu?”

Pertanyaan atau ungkapan Nyai Demang yang sangat mendadak, membuat Upasara menggigit bibirnya.

Dagunya mengangguk.

Sebaliknya, Gendhuk Tri menghela napas.

“Nyai, tubuh saya sekarang ini hanya sepertiga sehat. Kalau bercak hitam ini berada dalam pengerahan tenaga, akan memacetkan semuanya. Bahkan kesadaran pun tak saya miliki lagi. Hanya akan merepotkan dan menambah kekecewaan belaka. Karena saya tak tahu apakah saya ini disebut kliwa sementara atau seterusnya.”

Kali ini suara Gendhuk Tri getir.

Seperti menyihir Nyai Demang hingga memejamkan mata.

Kliwa adalah sebutan bagi wanita yang tidak merasa dirinya sebagai wanita, karena tidak mengalami nggarap sari atau datang bulan. Biasanya pada usia tertentu hal itu wajar terjadi pada setiap wanita. Akan tetapi termasuk janggal kalau Gendhuk Tri sudah mengalami sekarang ini, kalau dibandingkan dengan dirinya yang masih nggarap sari.

Nyai Demang memang sangat memperhatikan perawatan tubuh dan menjaga diri sehingga kondisi dan usianya tak bisa dibandingkan dengan wanita lain. Namun kalau itu terjadi pada diri Gendhuk Tri, pasti ada sesuatu yang tak beres.

Perasaan kewanitaan Nyai Demang teriris. Sesaat tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Sebaliknya, Gendhuk Tri terlihat lebih tabah, menghadapi tanpa alis berkerut. “Anakku…”

“Rasanya kita tak perlu menyembunyikan sesuatu di antara diri kita sendiri.” “Cukup.”

“Tidak, Nyai.

“Saya harus meyakinkan diri saya, harus berani mengatakan bahwa persatuan daya asmara hanya akan memperparah keadaan saya sekarang ini. Selama bercak hitam ini masih ada, selama itu pula tak ada jaminan keselamatan bagi bayi yang saya kandung.”

“Cukup, anakku.”

“Padahal seperti yang Nyai katakan, justru kehadiran perwujudan daya asmara yang bisa membebaskan ini semua. Seperti juga halnya kesediaan Paman Jaghana berada di antara saya dan Kakang. Sebagai perwujudan tanah air.”

Nyai Demang mengusap keningnya. “Apakah, apakah diriku tak bisa?” Gendhuk Tri ragu.

Upasara Wulung berdeham kecil.

“Halayudha memakai pendekatan seperti yang Nyai katakan. Melalui tubuh Mada. Tetapi hasilnya, juga timbulnya bercak hitam.”

“Kalau begitu,” kalimat Nyai Demang seperti menghibur diri sendiri, “coba terus dengan usaha yang selama ini kamu lakukan. Meskipun perlahan, telah terbukti.”

“Atau kita lupakan.”

Suara Gendhuk Tri terdengar hambar.

Meskipun bisa mengutarakan dengan jelas, terang, dan kadang mengesankan dingin dari perasaan, apa yang dikatakan Gendhuk Tri banyak benarnya.

Upasara yang merasa sedikit terpukul. Wajahnya menjadi murung.

Untuk beberapa hari, ketiganya seperti menghindari pembicaraan satu sama lain. Seperti saling menghindari, bahkan untuk bertemu. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya, mencoba menemukan jalan pencerahan.

Gendhuk Tri yang mengesankan sedikit-banyak bisa mengesampingkan beban pikirannya. Masih bisa berlatih sendiri, berloncatan, dan berjalan mengelilingi Perguruan Awan.

Di hari ketujuh, Gendhuk Tri mencari tempat persemayaman Jaghana. Dan benar dugaannya, raga Jaghana telah lenyap.

Bersatu dengan alam.

Gendhuk Tri bersila, bersemadi, memanjatkan segala doa kepada Yang Mahadewa. Mengucapkan syukur atas penerimaan Jaghana kembali kepada Yang Maha Pencipta.

Sedemikian khusyuknya, sehingga Gendhuk Tri terlelap.

Baru kemudian terusik kesadarannya ketika mendengar suara sangat halus. Gendhuk Tri menahan napas dan memusatkan perhatiannya.

Dari sisi kiri terdengar irama langkah tertentu.

Perguruan Awan boleh dikatakan tempat yang sangat terpencil. Tidak sembarangan orang lalu lalang. Tidak semua kaki leluasa datang dan pergi. Makanya langkah-langkah yang terdengar terasa sangat ganjil.

Meskipun demikian Gendhuk Tri tidak merasakan adanya bahaya. Karena langkah kaki itu meninggalkan suara sangat berirama dan jelas. Bahkan dari orang yang menyembunyikan diri. Sesaat Gendhuk Tri masih menduga Nyai Demang yang berjalan. Hanya karena irama kakinya berbeda, Gendhuk Tri segera meloncat memburu arah datangnya suara.

Bibirnya tersenyum.

Dari arah datangnya suara terlihat krendi, rusa tutul, yang berjalan dengan tenang.

Selama ini binatang yang berdiam di Perguruan Awan, seakan bisa menikmati suasana yang tenang dan damai. Akan tetapi rusa tutul yang satu ini seperti sangat jinak.

Barulah kemudian Gendhuk Tri sadar bahwa rusa tutul itu memakai kalung mainan dari tangkai daun singkong.

Ini yang membuatnya sedikit heran.

Siapa yang berbuat ganjil seperti ini? Rasa-rasanya hanya Dewa Maut yang mempunyai keisengan.

Gendhuk Tri menggerakkan ranting. Krendi menoleh dan meloncat dengan sigap. Gendhuk Tri memburu tanpa menimbulkan suara. Perhitungannya hanyalah krendi ini akan kembali ke tempat asalnya. Dan dengan membuntuti, Gendhuk Tri bisa mengetahui siapa yang memelihara.

Dugaannya tepat. Tapi juga membuatnya kaget.

Karena rusa itu kembali ke tengah hutan, dan masuk ke pepohonan yang lebat. Kembali kepada pemiliknya, atau orang yang begitu akrab dengannya. Karena rusa tutul itu tampak jinak sekali, lulut ketika dielus.

Gendhuk Tri tak percaya bahwa ada penghuni lain di salah satu wilayah Perguruan Awan.

Tapi kini disaksikannya sendiri. Ada dua anak kecil yang mengelus rusa tutul. Sedemikian kecil sehingga tak terlihat karena teraling dedaunan.

Sepasang anak kecil itu seperti kakak-beradik, lelaki dan perempuan, karena keduanya tampak sangat mirip.

Rambutnya tergerai dan kotor, tubuhnya tak ditutupi selembar daun pun.

Agaknya dua bocah itu mengetahui kehadiran Gendhuk Tri. Serta-merta keduanya mengeluarkan bunyi mirip rusa, dan menyebar. Gendhuk Tri mengempos tenaganya. Dan selendangnya terentang. Satu menyambar ke arah kiri, satu ke arah kanan.

Satu sabetan dari gerakan yang berbeda arahnya.

Meskipun pepohonan sangat lebat dan menghalang, sabetan selendang Gendhuk Tri bisa menjerat dua kaki sekaligus.

“Tunggu!” Sentakannya lembut.

Dua anak itu seperti melayang di tengah udara, ketika selendang disendal balik. Dengan perlahan Gendhuk Tri berusaha merangkul.

Tapi mendadak kaget dan menjerit.

Dua-duanya menggigit dada Gendhuk Tri.

Dua tangan Gendhuk Tri mendorong, dan dua tubuh kecil terayun kembali ke udara. Kali ini Gendhuk Tri meraup dengan dua ujung selendang.

“Siapa suruh kalian begitu nakal?”

Dengan menggulung ke dalam selendang, Gendhuk Tri membuat keduanya tak berkutik. Hanya sorot mata kedua bocah itu yang memandang bengis ke arahnya.

“Cubluk,” teriak salah satu anak tersebut. “Klobot,” susul yang kedua.

Anak Tiban

GENDHUK TRI heran bercampur girang.

Heran karena melihat reaksi yang dipancarkan lewat sorot mata yang begitu ganas memusuhi. Girang karena ternyata sepasang anak kecil yang belum berusia lima tahun, yang rambutnya awut-awutan seperti tak mengenal air, ternyata bisa bersuara.

“Ya, ya.

“Namaku Bibi Tri.” “Cubluk.”

“Klobot.”

Ketika keduanya mengulang lagi dua patah kata itu, Gendhuk Tri agak sangsi. Apakah itu nama masing-masing anak kecil itu ataukah memang hanya itu yang bisa diucapkan.

Kemungkinan yang pertama lebih masuk akal. Karena cubluk berarti bodoh atau lugu. Sedangkan klobot berarti daun buah jagung yang kering. Sebutan yang merendah memang sangat sering dipakai orang kebanyakan. Atau mereka yang sengaja menyamar. Gendhuk Tri merasa menemukan mainan yang menyenangkan. Dua ujung selendangnya mengemban Cubluk dan Klobot yang meronta dan meneriakkan nama mereka.

Pandangan Gendhuk Tri menyapu sekitarnya. Tempat di mana Cubluk dan Klobot berada tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka berdua telah berdiam cukup lama. Agaknya sepasang bocah kecil ini selalu mengembara dan berpindah tempat. Ini sangat mungkin sekali terjadi, karena Gendhuk Tri atau Nyai Demang menyadari kehadiran mereka. Bukan tidak mungkin sewaktu Upasara tengah bersemadi atau terjadi pertarungan berat, kedua anak kecil itu mulai masuk ke dalam rimba Perguruan Awan.

Entah dari mana asalnya. Karena tak mungkin ditanyai.

Dengan satu sentakan lembut, Gendhuk Tri menarik selendangnya hingga menggulung ke arah tubuhnya. Cubluk dan Klobot seperti terlipat ke dalam perutnya. Ikut bergerak ketika tubuh Gendhuk Tri melayang ke arah rusa tutul, yang mengawasi sejak tadi dari kejauhan.

Rusa tutul termasuk binatang yang gesit. Apalagi berada di tengah pepohonan dan semak yang rimbun. Namun Gendhuk Tri bisa meloncati dan berada di depannya. Rusa membalik ke arah lain, akan tetapi kembali Gendhuk Tri meloncat dan berada di depannya, bahkan kedua tangannya mengelus telinga rusa tutul.

Yang dengan kaget melesat lari dengan kencang, menabrak segala sesuatu yang menghalangi. Sedemikian kencang larinya, sehingga ketika tiba-tiba berhenti, keempat kakinya seperti tertahan di belakang.

Gendhuk Tri berada di depan moncongnya.

Di luar dugaan Gendhuk Tri, Cubluk dan Klobot bersorak. Atau lebih tepatnya mengeluarkan jeritan yang melengking. Hanya karena wajah mereka memancarkan kegembiraan, Gendhuk Tri merasa bisa memberikan permainan yang menyenangkan.

Dua kali Gendhuk Tri mempermainkan rusa tutul yang kini mulai kelelahan dan tampak jinak.

Saat itu Nyai Demang yang tertarik mendengar suara-suara, bisa melihat dari kejauhan. Kembali perasaan kewanitaannya tersentuh melihat Gendhuk Tri yang bermain bersama dua anak yang lucu dalam gendongan. Sudah sepantasnya sekiranya Gendhuk Tri mempunyai anak seusia itu.

Ada hari, ada nyanyi Kenapa harus bersedih hati

Waktu bayi, temanmu adalah bidadari….

Lagu yang ditembangkan dengan rengeng-rengeng-bersenandung itu dilantunkan Upasara. Yang tiba-tiba saja teringat suatu peristiwa saat pertama kali melihat Gendhuk Tri. Yang waktu itu usianya belum ada sepuluh tahun, yang diculik dan coba dihibur oleh Jagaddhita, nenek berambut putih yang selendangnya warna-warni.

Sudah barang tentu Gendhuk Tri hafal lahir-batin senandung tersebut. Karena Mbakyu Jagaddhita selalu mengulang kidungan itu, dan hanya itu-itu saja barisnya, dalam keadaan perang atau menghibur.

Dan sekarang Upasara yang menyenandungkan. Sementara Gendhuk Tri yang berperan sebagai Jagaddhita. “Dari mana dua anak manis ini?”

“Paman Jaghana yang mengirimkan, Nyai,” jawab Gendhuk Tri tertawa-tawa.

“Alangkah manis dan lucunya. Coba saya gendong. Apakah saya sudah terlalu tua atau malah sudah tak sanggup lagi?” Nyai Demang meloncat, dan membuka lipatan selendang. Seketika itu juga Cubluk dan Klobot melorot turun dan dengan gesit sekali berlari kencang sambil mengeluarkan pekikan. Cara berlarinya sangat kencang.

Namun tanpa menggeser kedua kakinya, tenaga Upasara bisa menarik keduanya. Yang langsung mencakar, menggigit tangan Upasara.

“Awas, gigitannya….”

Suara Gendhuk Tri tidak diselesaikan. Kalau tadi ia melepas, terutama karena kaget. Sedangkan Upasara membiarkan Cubluk dan Klobot menggigit keras hingga keduanya seperti mau mengeluarkan air mata.

“Cubluk.”

“Klobot.”

Setelah merasa tak berhasil Cubluk dan Klobot mencakari. Dan masih melakukan gerakan penyerangan lain, sebelum akhirnya berusaha melarikan diri kembali.

Kepala mereka tertarik, karena Upasara telah memegangi ujung rambut mereka. “Anak tiban biasanya memang nakal. Tapi bapaknya ternyata lebih nakal lagi.”

Suara Nyai Demang menunjukkan isi hati yang sebenarnya. Dengan menyebut sebagai anak tiban, Nyai Demang secara tidak langsung menerima sebagai “anak yang diberikan”. Apalagi dengan membahasakan diri Upasara sebagai “bapaknya”.

“Bagaimana tidak nakal, kalau bapaknya belum pernah mengetahui cara momong….” Keriangan segera menjalar di Perguruan Awan.

Perhatian Upasara, Nyai Demang, maupun Gendhuk Tri terserap oleh Cubluk dan Klobot. Mereka mengajak bicara, dan tak terjawab. Mereka mengajak bermain, dan tak dihiraukan karena memilih lari. Mereka memberikan buah-buahan, dan dimakan lahap. Mereka mendekatkan krendi, dan keduanya tampak senang sekali. Kalau Gendhuk Tri membelit mereka ke dalam dengan ujung selendang dan berloncatan, Cubluk dan Klobot tampak sangat gembira.

Barulah setelah malam tiba, Cubluk dan Klobot tidak lari menjauh. Terutama karena rusa tutul itu tampak tenang berada di dekat Upasara Wulung.

Keduanya juga berada di situ sampai tertidur pulas.

Gendhuk Tri menceritakan bahwa keduanya ditemukan begitu saja, seolah kiriman dari Paman Jaghana.

“Sejak peperangan yang terus berlangsung, entah berapa anak yang hilang di hutan ini. Akan tetapi Cubluk dan Klobot ini agaknya dibimbing oleh Dewa. Sehingga selamat sampai sekarang. Cukup mengagumkan kalau diingat selama ini mereka berdua sudah berada di hutan sejak bisa berjalan.”

“Apa pun sebabnya, rasanya menyenangkan melihat mereka berdua. Lucu.”

Meskipun kikuk, Upasara berusaha mendekati mereka. Meloncat ke atas pohon yang tinggi untuk mengambil buah, membuat lingkaran di tanah di mana krendi tak bisa melalui, atau mencoba membopong keduanya.

Hanya di saat mengerahkan tenaga dalam ke tubuh Gendhuk Tri, Cubluk dan Klobot diasuh Nyai Demang.

Cubluk cepat akrab dengan Nyai Demang. Apalagi Nyai Demang bisa membuatkan kalung dari tangkai daun singkong, dari daun pepaya, bahkan dari biji buah mada, atau menggunakan klenteng, biji kapuk, sebagai sabuk.

Sebaliknya, Klobot lebih suka menjauh, bermain dengan krendi. Berjalan sendiri dan mencari permainan sendiri.

Ketika itulah Nyai Demang menyadari keterlambatannya.

Klobot dan krendi bergerak ke arah Upasara Wulung dan Gendhuk Tri. Yang tengah bersila berhadapan sambil menempelkan kedua telapak tangan dan kaki.

Saat yang gawat. Akan tetapi mana mungkin Klobot mengetahui. Ia mendekat, menarik-narik selendang Gendhuk Tri. “Jangan!”

Teriakan Nyai Demang yang parau dan keras terdengar oleh Klobot. Akan tetapi agaknya Klobot tak mengerti artinya. Ataupun kalau mengerti tetap akan nekat menarik selendang.

Dengan tenaga keras.

Tenaga bocah usia lima tahun. Akan tetapi cukup kuat untuk membuyarkan pemusatan pikiran yang justru tengah berada pada puncak pertemuan.

Gendhuk Tri merasa dadanya bergolak, perutnya bergolak, dan seluruh isi perutnya memberontak. Berusaha menahan masuknya tenaga dalam Upasara yang terus memancar.

Sebab jika tenaga itu tersalur ke arah Klobot yang menyentuh bagian tubuh Gendhuk Tri atau Upasara Wulung, anak itu bisa celaka. Si bocah kecil yang tak berdosa itu bakal terkena gempuran keras.

Klobot tetap menyendal selendang Gendhuk Tri, mengajak bermain. Karena sentakannya yang terlalu keras, tubuhnya jadi tertarik cepat.

Tertarik ke arah tubuh Gendhuk Tri.

Yang segera melebarkan tangannya. Padahal justru pancaran tenaga dalam di situ paling kuat arusnya. Demikian pula halnya dengan Upasara!

Sentuhan Tanah air

TANGAN Gendhuk Tri lebih dulu merangkul tubuh Klobot. Dengan sedikit memutar tubuh mengikuti irama dorongan jatuhnya Klobot, Gendhuk Tri menahan Klobot.

Upasara melompat bangun, dan bersiaga di sebelah Gendhuk Tri. Kekuatiran Nyai Demang sebagian terbukti.

Klobot berada dalam bahaya benturan tenaga dalam. Akan tetapi tidak menangis atau mengeluarkan suara kesakitan. Hanya kalau diperhatikan, telapak tangan Gendhuk Tri meninggalkan bekas di kedua lengan Klobot. Seakan sidik jarinya menempel jelas dalam bercak-bercak hitam.

Upasara mengatupkan gerahamnya.

Gendhuk Tri gemetar membopong Klobot. Pandangannya beradu dengan mata Upasara yang memandang dengan sorot mata kasih dan kuatir, sorot mata bertanggung jawab dan bertanya.

Nyai Demang mengelus-elus hidungnya. Merasakan betapa perpindahan tenaga dalam dari Upasara tidak sampai menghancurkan Klobot. Meskipun hasilnya cukup mengerikan. Bercak itu berpindah ke tubuh Klobot.

Dilihat dari segi tertentu, seakan ada pemecahan. Bahwa bercak hitam itu bisa dipindahkan dari tubuh Gendhuk Tri. Tanpa menyebabkan Gendhuk Tri menderita terlalu lama. Tapi dilihat dari segi Klobot, seakan menjadi korban belaka.

“Apa… apa… tidak mungkin bercak hitam itu dipindahkan ke saya?” Gendhuk Tri menggeleng.

“Kecil kemungkinannya, Nyai.

“Klobot ini seakan bagian perwujudan tenaga bumi dengan tenaga air. Yang membentuk dengan sendirinya, yang mengalir dengan sendirinya.”

“Apa… apa… tidak mungkin bercak hitam di tubuh Klobot dihilangkan?” Kali ini Upasara yang menjawab,

“Tenaga dari luar hanya akan mengacaukan tenaga yang sekarang ada dalam diri Klobot. “Kecuali kalau Klobot sendiri bisa mengusirnya. Karena sesungguhnya tenaga dalam yang berada dalam tubuhnya kini berawal dari kekuatan tanah air. Sentuhan yang masih wungkul, karenanya bercak hitam itu ikut terbawa.”

“Apa… apa… itu berarti Anak Tri bisa mengatasi juga, andai tenaga dalamnya sudah berupa kekuatan tenaga tanah air?”

Jalan pikiran Nyai Demang sederhana. Dan tepat.

Bahwa kini dalam tubuh Klobot tersimpan tenaga dalam yang berasal dari kekuatan tenaga dalam Gendhuk Tri maupun Upasara. Yang masih murni, maupun yang tercampur dengan bercak hitam. Kalau hal yang sama terjadi dalam diri Gendhuk Tri, besar sekali kemungkinannya untuk menyembuhkan diri. Karena Gendhuk Tri menguasai cara melatih diri dan mengerahkan tenaga dalam. Sementara sedikit persoalan timbul dengan Klobot. Anak kecil itu sama sekali tak memiliki dan tak tahu bagaimana melatih kekuatannya. Dan agak sulit memberitahukan, kalau mengingat selama ini ia tak mengenal kata dan kalimat.

“Apa… apa… mungkin melatih dan mengajari Klobot?” Pertanyaan itu dijawab sendiri.

“Mungkin sekali.

“Kalau saja kita bisa menyuruh menirukan apa yang kalian lakukan, dengan sendirinya Klobot akan berlatih. Caranya dengan membuatnya bergembira lebih dulu, yaitu diayun dengan selendang. Kalau Cubluk mengikuti, Klobot pasti akan mengikuti juga.”

Gendhuk Tri mengangguk. Mengakui jalan perasaan Nyai Demang sebagai ibu lebih menentukan karena ditunjang pengalaman mengasuh anak.

“Apa… apa… bercak itu juga berbahaya pada diri Klobot?” “Sama dengan yang saya alami.

“Kalau bercak ini mengganggu dan terseret ke pernapasan, sangat fatal akibatnya. Karena Klobot tak cukup kuat menahan diri.”

“Kalau begitu jangan terlalu lama.” Gendhuk Tri memandang ke arah Upasara.

“Kakang yang menentukan gerakan-gerakan apa yang paling sesuai.” “Mari kita coba bersama.”

Upasara mulai memusatkan pikirannya. Sekarang benar-benar ditakar ilmu dan kemampuannya untuk menciptakan gerakan-gerakan, jurus-jurus kekuatan tenaga tanah air. Yang selama ini baru berada dalam ingatannya, dalam kemungkinan-kemungkinan.

Sekarang harus segera diwujudkan. Kalau tidak, bercak hitam di tubuh Klobot akan mengancam jiwanya. Dan jika itu yang terjadi lebih dulu, penyesalan yang paling panjang sekalipun tak ada gunanya.

Gendhuk Tri juga memusatkan pikiran, rasa, nalar, dan mencari detak theg, dan bisa mulai dengan irama kidungan yang disenandungkan Upasara Wulung.

Tiada tanah tiada air

pada tanah air tiada ayah tiada lahir

asmara tak berakhir tanah air ialah Dewa sekalian Dewa tanah air ialah takhta sekalian takhta tanah air ialah sukma sejati

yang kekal abadi

bukan kekuatan tanah bukan kekuatan air bukan kekuatan Dewa bukan kekuatan takhta semata

di setiap jengkal tanah ada air di setiap tetes air ada tanah

di mana ada tanah, di situ ada air

di darah, di angin pernapasan yang mengalir

di tangan kiri yang ke kiri dan ke kanan

di tangan kanan yang ke kanan dan ke kiri di kaki kanan dan kiri

di telinga kiri dan kanan

di pusar, di hati, di kewanitaan, di kelelakian

gerakan tangan, tarik kaki kanan gerakan hati, saluran pernapasan menyatu satu

menjelma esa…

Tangan, kaki, perut, dan tenaga Upasara mengikuti irama kidungan. Demikian juga Gendhuk Tri. Nyai Demang juga berusaha mengikuti, seakan baru pertama kalinya berlatih silat. Klobot dan Cubluk akhirnya juga ikut melakukan gerakan-gerakan.

Kelimanya tenggelam dalam latihan ilmu dan jurus-jurus baru yang diciptakan Upasara. Yang cukup memeras tenaga, karena sekujur tubuh Upasara maupun Gendhuk Tri tergetar hebat. Klobot mengikuti, akan tetapi beberapa kali mengalihkan perhatian ke arah lain. 

Adalah Nyai Demang yang menjewer keras telinga Klobot, memuntir dengan pedas, setiap kali Klobot tak mau mengikuti. Cubluk beberapa kali mengikuti, akan tetapi kemudian lebih suka kepada mainan yang ada di tangannya.

Nyai Demang sebenarnya bisa memaksa Cubluk. Namun karena merasa bahwa yang lebih perlu adalah Klobot untuk penyembuhan tubuhnya, perhatiannya lebih tertuju padanya.

Dan senakal-nakalnya Klobot, ia sadar bahwa pelintiran dan jeweran di telinga atau di rambut lebih menyakitkan. Sehingga mau tak mau memaksa diri untuk mengikuti.

Tanpa terasa, Upasara mewujudkan pendekatan baru dari ilmu silatnya, yang diturunkan langsung kepada Klobot. Bocah kecil ini telah mewarisi ilmu silat dan pengerahan tenaga dalam yang paling utama. Bukannya tanpa akibat.

Karena di hari kelima, hampir saja Nyai Demang menyesali hidupnya. Ketika beristirahat, Klobot merebut mainan Cubluk dengan jalan mendorong tubuh Cubluk.

Yang terakhir ini terpental.

Hanya karena Nyai Demang sigap, segera bisa mengamankan. Namun tak urung menjadi cemas. Karena tenaga dorongan Klobot sangat luar biasa kerasnya.

Peristiwa kedua terjadi ketika Klobot berusaha mengelus krendi. Dan menarik ekornya. Rusa tutul itu melengking kesakitan, matanya melotot dan berkelojotan.

“Lepas, Klobot!” Klobot melepaskan.

“Sekarang kamu tidak boleh sembarangan.

“Tenagamu terlalu besar. Kamu bisa meraih buah di ujung pohon itu….”

Nyai Demang memberi contoh meloncat ke atas. Tangannya bisa menyentuh buah mangga. Klobot mencoba. Dan berteriak kegirangan. Karena meskipun tak bisa menyentuh, akan tetapi tubuhnya terangkat tinggi.

Tanpa diperintah, Klobot meminta Nyai Demang melatihnya lagi. “Kamu harus minta dengan baik-baik, cucuku.

“Tak bisa main tarik selendang seperti ini.”

83

Kakang Kawah…

KLOBOT ternyata lebih cepat menangkap apa yang dilihat. Sekurangnya menaruh minat yang besar. Dengan cepat bisa mengikuti apa yang diperintahkan Nyai Demang. Bisa segera mengucapkan Rama, Ibu, tetapi telanjur memanggil Nyai kepada Nyai Demang.

Sebenarnya Cubluk, tidak seperti nama yang dipakai. Kemampuan untuk mengikuti secara tidak langsung apa yang diajarkan kepada Klobot, bisa mencerna dengan baik. Akan tetapi perhatiannya kepada segala jenis mainan jauh lebih besar.

“Nyai… main lagi. Main lagi.” “Main apa?”

“Main lagi, Nyai.” “Iya, main apa?”

Mata Klobot bersinar dan berputar-putar.

Ia tak segera bisa menyebutkan namanya. Gendhuk Tri memandang sambil menahan senyum. “Main silat?” Gendhuk Tri membuat gerakan permulaan.

“Ya, Ibu.”

“Baik. Kita mulai dengan jurus permulaan….”

Gendhuk Tri kembali memandang Upasara. “Kakang, apakah jurus-jurus ini kita biarkan saja ataukah…”

“Jurus Kakang Kawah, Adi Ari-Ari….” “Inilah gerakan pertama.

“Klobot, kakinya jangan terlalu rapat….”

Klobot mengikuti dari awal. Kedua kaki setengah mengangkang, bahu turun dan mulai dengan gerakan tangan. Berbeda dari pembukaan pada ajaran Kitab Bumi, Upasara tidak menaikkan kedua tangan secara bersamaan. Melainkan tangan kanan yang ditarik ke atas, tangan kiri tetap di tempat dengan sikap membuka. Tarikan tangan kanan pun mencapai setinggi telinga, untuk kemudian dibenamkan ke bawah.

Jurus yang dinama Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, memang sesuai sebagai jurus pembukaan. Walau kedengarannya seperti menjawab sekenanya, namun Upasara mempunyai pandangan yang mengakar. Inti permulaan yang digetarkan melalui tenaga dalam tanah air adalah pembukaan seperti kelahiran bayi. Di mana yang keluar pertama adalah kawah atau air ketuban, sehingga dituakan dan disebut sebagai kakang. Sedangkan yang keluar kemudian disebut sebagai kekuatan yang lebih muda, adi.

Nyai Demang merasakan kekuatan dan pilihan jitu jurus-jurus ciptaan Upasara. Kini untuk pertama kalinya ia mempelajari ilmu silat dari awal.

Kalau selama ini dirinya memperdalam dan memulai dari bagian tengah atau malah akhir, kini mulai sebagaimana orang yang belum pernah belajar sama sekali. Dengan melantunkan kidungan, dengan menembang, dengan melakukan gerakan pemanasan, pemusatan pikiran, sebelum mulai berlatih.

Yang agak mengherankan Gendhuk Tri ialah kenyataan bahwa Nyai Demang seperti bersaing dalam artian sebenarnya dengan Klobot. Setiap kali Klobot bisa melakukan suatu gerakan dengan sempurna, Nyai Demang berusaha menunjukkan dengan cara yang lebih sempurna. Seakan dengan demikian semangatnya tumbuh kembali dari awal, seakan Klobot sepantaran dengan usianya. Yang harus dikalahkan dengan telak.

“Salah, Nyai….” “Tidak bisa.

“Nyai lebih benar. Kekuatan kawah adalah kekuatan pecahnya air ketuban. Kekuatan yang berasal dari dalam. Ada miripnya dengan keluarnya telor, munculnya akar, pecahnya bulir padi. Akan tetapi bedanya dengan kekuatan dari Kitab Bumi adalah gerakan tangan kanan itu baru awal. Bukan kekuatan itu sendiri. Karena kekuatan itu sendiri terjadi sebelum gerakan tangan kiri terjadi.

“Intinya berada di antara kawah dan ari-ari. “Bagaimana kamu bisa bilang salah?

“Dalam ajaran Kitab Bumi maupun Kitab Air, gerakan yang pertama sudah berarti pengerahan tenaga. Tetapi apa yang diciptakan Rama Wulung berada di tengahnya.

“Itu berarti ketika kamu menggerakkan tangan kanan ke atas sampai ke telinga, bukan tenaga yang sesungguhnya. Tenaga sesudah itu, tetapi sebelum tenaga tangan kiri yang kamu gerakkan ke belakang membentuk lengkungan busur panah, itulah tenaga tanah air.

“Bagaimana kamu bisa bilang salah?”

Nyai Demang memperlihatkan dengan gerakan yang halus, dan memaksa Klobot memperhatikan. Setengah memaksa Klobot mengakui bahwa gerakannya sendiri tak sesempurna itu.

Klobot tak pernah mau mengakui, kecuali kalau Nyai Demang sudah meloncat tinggi dan memetik buah mangga.

Upasara tidak bisa memahami sepenuhnya perasaan Nyai Demang yang mendadak seperti menemukan gairah baru untuk menunjukkan keunggulan atas Klobot. Akan tetapi sepenuhnya bisa memahami bagaimana Nyai Demang sangat memperhatikan Klobot. Bagaimana Klobot bermanja- manja di dalam dekapan Nyai Demang, sementara tangan Klobot dibiarkan nakal mencolek lubang hidung, atau mempermainkan rambut Nyai Demang.

Sifat yang lain yang kemudian muncul adalah ketika berlatih jurus kedua, Endhut Blegedaba, atau Lumpur Magma Blegedaba. Jurus kedua yang diciptakan Upasara memperlihatkan kekuatan yang sangat keras. Yang sebenarnya bisa dimengerti karena asal-usul ilmu silat Upasara sendiri berawal dari ilmu silat yang diciptakan Ngabehi Pandu dengan mengambil sifat banteng, yang pada saat tertentu menjadi banteng ketaton, atau kekuatan banteng terluka.

Gerakan kedua tangan menggebrak ke depan, bagai memuntahkan tenaga sepenuhnya sambil menahan udara di pusar ini menggambarkan bagaimana muntahnya lumpur magma dari kandungan Gunung Jamurdipa, gunung paling ganas dalam kerajaan para dewa. Menurut cerita, dari kandungan Kawah Candradimuka yang selalu bergelegak panas itu mengalir endhut atau lumpur yang dinamai blegedaba.

Tenaga itulah yang dipakai untuk pengerahan. Jurus kedua yang ganas, karena sudah langsung menerjang, menggulung.

Yang justru sangat disenangi Klobot. Juga Nyai Demang.

Disenangi Klobot karena tenaga dorongan yang besar itu terlihat hasilnya. Bisa membuat pohon bergoyang, bisa membuat Cubluk menjerit dan bergulingan, ataupun krendi menguik-uik. Termasuk untuk mengagetkan Nyai Demang!

Sebaliknya, Nyai Demang menyukai karena, sekali lagi, dalam jurus ini keunggulannya terlihat jelas. Setiap kali Klobot nakal, dengan jurus yang sama dengan yang dimainkan Klobot, Nyai Demang bisa membuat Klobot terjungkal bergulingan. Kalau Klobot belum berteriak-teriak minta ampun berkepanjangan, Nyai Demang tak akan menghentikan serangannya.

Bahwa semua tadi dilakukan dengan ukuran tenaga tertentu sehingga hanya membuat Klobot jungkir- balik tanpa terluka, hanya Klobot sendiri yang tidak tahu.

Pada jurus ketiga yang disebut Endhog Amun-Amun, Susuh Angin, Klobot makin repot. Apa pun daya serangnya, dengan tendangan, pukulan, atau melarikan diri, selalu diketahui dengan saksama. Bahkan ketika Klobot memilih berdiam diri sambil menutup mata, Nyai Demang bisa meniup Klobot hingga gelagapan.

Jurus ketiga ini sebenarnya untuk mengetahui serangan lawan. Yang diibaratkan mencari susuh angin, atau sarang angin, yang dalam artian sebenarnya tak bisa ditemukan. Karena angin tidak diketahui di mana sarangnya, ke mana tujuan utamanya. Sama dengan mencari endhog amun-amun, atau telur amun-amun, getaran air yang terkena sinar matahari. Setiap kali didekati akan menjauh kembali. Sehingga sebenarnya tak pernah bisa disentuh.

Amsal yang dipergunakan Upasara sangat jelas bagi Nyai Demang, akan tetapi tentu saja tak bisa dipahami Klobot. Justru di sini Nyai Demang merasa bisa mengungguli habis-habisan. Tanpa memedulikan sejauh mana Klobot bisa menangkap apa yang diucapkan, Nyai Demang akan selalu berusaha menerangkan panjang-lebar.

Rangkaian jurus dan pengerahan tenaga dalam dari Kidungan Tanah air bisa diikuti dengan mudah. Mulai dengan pengerahan tenaga, serangan keras yang tiba-tiba, sampai jurus ketiga, menebak asal serangan lawan. Yang sedikit luar biasa bagi Nyai Demang adalah bahwa dalam setiap serangan memang terkandung kekuatan tenaga bumi, tetapi sekaligus juga tenaga air. Dalam lumpur terkandung air dan sekaligus tanah. Dalam kawah, amun-amun, demikian juga halnya.

Yang lebih membuat Nyai Demang kesengsem memamerkan ialah Nyai Demang bisa mengubah tenaga tangan kanan dengan tangan kiri, dan sebaliknya. Bahkan bisa mengubah dengan jurus ketiga lebih dulu.

Sehingga dalam berlatih, sebelum jurus kedua Klobot bisa dikempit di antara kaki, atau bahkan kepala Klobot seolah tersorong ke bawah ketiak Nyai Demang.

Bahwa tanpa menggunakan jurus-jurus itu pun Nyai Demang bisa mengalahkan Klobot dengan sangat mudah, Klobot tak mengetahui. Sehingga makin penasaran. Dan setiap kali Nyai Demang puas seolah bisa memperdayai habis-habisan.

“Klobot, kamu sudah janji. “Kalau kalah akan mencari kutu.” “Ya, Nyai.”

“Ayo.”

“Lima ekor saja.”

“Janjinya sepuluh ya sepuluh.”

Terpaksa Klobot mencari kutu di rambut Nyai Demang yang berbaring sambil memejamkan mata, dan merasakan seluruh kebahagiaan lewat sentuhan lembut tangan-tangan Klobot. Yang bisa menjadi gemas karena menemukan kesulitan besar menemukan kutu di antara belantara rambut Nyai Demang.

Tujuh Gunung, Tujuh Samudra

SEBALIKNYA dari Klobot, Cubluk sama sekali tak berminat berlatih silat. Hanya saat melatih pernapasan Cubluk mengikuti. Selebihnya bermain kembali, atau menjauh.

Yang membuat Upasara menaruh perhatian lebih, terutama karena Cubluk sebenarnya sangat cepat mengerti. Segala sesuatu yang diajarkan padanya, dengan sekali memberi pengertian, Cubluk bisa menangkap dengan cepat dan mampu mengingat. Rasanya, ketika Gendhuk Tri merasa dirinya belum selesai mengajarkan pun, Cubluk sudah mengangguk.

“Kenapa Rama Wulung menyebut jurus keempat sebagai Let Gunung-Sagara Sap Pitu?”

“Hanya perumpamaan belaka. Itu artinya biarpun dihadang tujuh gunung dan tujuh samudra luas, dalam mengerahkan tenaga untuk memukul dan menguasai lawan, lawan pasti akan bertahan, atau berusaha menyerang. Diibaratkan pertahanan lawan itu sebagai let, sebagai batas dari tujuh gunung dan tujuh samudra.

“Biarpun demikian, pukulan yang kita lancarkan harus mengenai sasaran.” “Kenapa tujuh?”

Upasara melengak.

Tak pernah menduga akan dikejar dengan pertanyaan semacam itu.

“Kenapa tujuh gunung dan tujuh samudra, Rama Wulung? Kenapa tidak sembilan misalnya?”

“Itu… itu… hanya penyebutan belaka. Tak ada kelirunya kalaupun diberi nama sembilan gunung, sembilan samudra misalnya. Penyebutan ini, karena kita biasanya menyebut tingkat yang tinggi dengan angka tujuh. Langit tingkat tujuh, bumi tingkat tujuh, dan lain sebagainya.”

“Kenapa Rama menciptakan jurus ini?”

“Ya karena saya ingin menciptakan ilmu silat. Karena Rama mendapat petunjuk untuk merumuskan apa yang saya inginkan. Ilmu silat itu dinamai Tembang Tanah air, karena liriknya bisa ditembangkan. Barangkali nantinya akan menjadi Kitab Tanah air, kalau sudah dituliskan.”

“Kenapa Rama Wulung dan Ibu Jagattri memakai perumpamaan dipisahkan tujuh gunung, tujuh samudra?”

Upasara benar-benar tersudut. Gendhuk Tri menghela napas.

Agak susah menerangkan dengan panjang-lebar. Bukan karena kuatir Cubluk tak bisa menangkap. Justru sebaliknya. Nama Cubluk yang dikenakan menunjukkan perbedaan antara bumi dan langit. Dalam waktu yang singkat ketika mulai mengucapkan kata-kata, Cubluk bisa menyebutkan dua puluh nama yang berbeda dari rambut yang ada di tubuh. Dapat dengan mudah membedakan nama buah mangga, buah sawo yang masih kecil. Nama biji antara buah yang satu dan yang lain. Nama binatang atau anak binatang yang berbeda. Bagi Klobot bisa disebutkan dengan sama atau satu sebutan saja, tetapi Cubluk bisa menyebut dengan tepat perbedaan satu dengan yang lainnya.

Agak susah menerangkan selengkapnya, karena Upasara Wulung maupun Gendhuk Tri merasa sedikit rikuh, jengah, untuk menjelaskan bahwa jurus keempat ini dinamai demikian untuk menggambarkan keadaan mereka berdua. Yang diumpamakan dipisahkan oleh tujuh gunung dan tujuh samudra, kalau sudah jodoh akhirnya akan bertemu juga. Dieletana sagara-gunung sap pitu.

Ilmu silat Upasara yang diciptakan adalah penemuan ketika pergolakan batinnya telah menemukan kedamaian. Sehingga meskipun kelihatannya sekilas sangat ganas, akan tetapi mengandung keteguhan dan menggambarkan adanya pertemuan kebahagiaan. Inti bersatunya kekuatan tanah dengan kekuatan air.

“Kalau memang bisa menemukan, kenapa jurus itu menjadi jurus keempat, Rama? Kenapa bukan jurus pertama?” “Tidak bisa begitu saja.

“Semua ada prosesnya. Tumbuhan tidak langsung berbuah begitu saja. Rumput pun tidak langsung tumbuh sebesar itu. Juga kamu. Juga Kakang Klobot. Juga krendi.

“Semua berasal dari kecil. Semua lahir lebih dulu.” “Apakah gunung tadinya juga kecil?”

“Barangkali malah sebaliknya,” jawab Gendhuk Tri. “Gunung tadinya lebih besar. Yang bisa tumbuh adalah yang hidup.”

“Apakah matahari hidup, Ibu Jagattri?” “…Ya.”

“Apakah matahari akan bertambah panas?”

Cubluk akan terus mengejar dengan berbagai pertanyaan, yang menyebabkan untuk pertama kalinya Gendhuk Tri merasa tersudut. Selama ini dirinya selalu bisa menyudutkan lawan dalam berbicara. Akan tetapi menghadapi Cubluk, batas kesabaran Gendhuk Tri tinggal seujung rambut.

Upasara tampak lebih telaten. Lebih sering terus menemani, dan Cubluk juga biasa tidur di pangkuan Upasara.

“Ibu Jagattri, kenapa bercak hitamnya masih ada?” “Sebentar lagi juga akan hilang.”

“Kata Rama Wulung, bisa dipindahkan ke Kakang Klobot secara tak sengaja. Kenapa tak dipindahkan seluruhnya saja?”

“Kenapa, kamu tak suka kepada Kakang Klobot?” “Bukankah Kakang Klobot bisa mengusir dengan ilmunya?” Gendhuk Tri mengangguk.

“Memang, itu cara yang cepat. Akan tetapi, bercak hitam ini pertanda tenaga dalam yang macet. Jika terlalu banyak, melebihi kemampuan Kakang Klobot, akibatnya bisa bahaya.”

“Kenapa tidak dicobakan ke saya, Ibu Jagattri?” “Tidak, tidak.

“Kamu…”

“Saya lebih kuat, Ibu Jagattri.

“Saya bisa mengerahkan tenaga dalam. Bisa memusatkan dan melakukan seperti Kakang Klobot dan Eyang Putri Nyai Demang.”

“Ya, ya, tapi terlalu berbahaya.” Inilah yang tidak diduga Gendhuk Tri. Maupun Upasara Wulung.

Bahwa Cubluk mampu melakukan itu.

Semua itu terjadi ketika Upasara Wulung tengah berlatih bersama Gendhuk Tri. Sewaktu konsentrasi penggempuran tenaga dalam mencapai puncaknya, Cubluk menarik napas dalam, mengerahkan tenaga dalam Kakang Kawah, Adi Ari-Ari dan dengan kedua tangan membuka langsung menubruk ke arah pertemuan kedua tangan yang beradu.

Cubluk berada di tengahnya.

Dengan kemampuan yang dimiliki, dengan tenaga yang ada dan mulai terlatih, sentuhan seketika mampu menyalurkan dengan cepat. Dengan sangat cepat. Jauh lebih cepat dibandingkan ketika Klobot menubruk secara tak sengaja.

Saat itu Upasara dan Gendhuk Tri mampu mengurangi tenaga dalamnya. Sekarang justru sebaliknya. Apalagi tubuh Cubluk sudah sama irama tarikan napas dan saluran tenaga dalamnya. Inilah hebat.

Mengejutkan!

Kalau dulu Klobot hanya terkena bercak hitam di bagian lengan yang terpegang tangan Gendhuk Tri, kini boleh dikatakan sepenuhnya tubuh Cubluk terkena sentuhan.

Gendhuk Tri seperti melayang ke atas. Tubuhnya benar-benar tersentak, dan pandangannya membelalak ke arah Cubluk yang berdiri dengan wajah tetap tersenyum.

Tetap tersenyum.

Tetap dengan mata bening.

Walau bagian leher, pundak, lengan, dan dada berwarna hitam. “Cubluk, kamu… Kamu…”

“Ibu Jagattri, bercak hitam itu tak ada lagi di tubuh Ibu.”

Gendhuk Tri sangat lega memang. Sekilas bisa mengetahui bahwa akibat sedotan yang memancar keras, bercak tubuhnya berpindah ke tubuh Cubluk. Seluruhnya.

Itu yang membuatnya mau pingsan. “Bagaimana, bagaimana tubuhmu?” “Tak apa-apa, Ibu Jagattri.”

Upasara meraba denyut nadi Cubluk yang bergolakan. Nyai Demang yang mendekat kemudian tak bisa berkata apa-apa selain bibirnya yang membuka.

“Celaka besar,” kata Gendhuk Tri tak bisa mengontrol perasaannya. “Kalau bercak hitam itu menyebar…”

“Kita harus segera membebaskan.”

Upasara menarik lembut Cubluk. Mendudukkan dengan bersila. “Mari…”

Cubluk menggeleng.

“Saya tak mau berlatih ilmu itu, Rama Wulung.” “Kenapa tak mau?”

“Rasa-rasanya dulu pernah ada yang saling membunuh, saling menyiksa dengan ilmu silat. Makanya saya tak mau membunuh dan menyiksa.”

Gendhuk Tri menggeleng-geleng beberapa kali. Loncatan pikirannya membersit dan menabrak kian- kemari. Cubluk ini sangat cerdas dan luar biasa peka perasaannya.

Kalau Klobot bisa melupakan atau tak peduli dengan apa yang pernah terjadi dengannya, sebaliknya hal yang demikian melekat pada Cubluk. Bukan tidak mungkin keluarganya dulu dihabisi atau terlibat dalam pertarungan yang mengerikan.

Itu yang membuat sikap Cubluk tidak mau mempelajari ilmu silat. Seperti yang ditunjukkan selama ini. Ini berarti sama dengan membiarkan Cubluk menerima kematian.

Alangkah ngerinya.

Nyai Demang yang merasa paling pintar membujuk dan berpengalaman dengan anak kecil, menjadi mati kutu.

Kuasa Sukma Tanah air

KARENA Cubluk hanya menggeleng. Dengan sorot mata kanak-kanak dan senyum polos.

“Cubluk memang sangat bodoh,” teriak Klobot kesal. “Kamu bisa mati seketika! Aku saja yang lebih gagah dan lebih hebat bisa sakit dan tersengal-sengal.”

“Kenapa Kakang Klobot selalu marah?” “Karena kamu bodoh.

“Karena kamu mau mati.” “Hush!” sergah Nyai Demang.