Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 47

Jilid 47

Gendhuk Tri bergeming. Ia menunggu sampai ketiga serangan Halayudha membungkusnya. Kedua tangan Gendhuk Tri bersiaga. Tangan kiri di pundak kiri, dan tangan kanan juga berada di pundak kiri. Yang dilindungi adalah dada.

Berarti serangan ke arah kaki, ke arah tubuh, ataupun ke arah kepala dibiarkan leluasa. “Aku tidak sebodoh itu.”

Bersamaan dengan ucapannya, Halayudha membatalkan serangannya dengan mengubah menjadi pukulan ke arah pundak kiri Gendhuk Tri yang justru terjaga.

Jabung Krewes bisa mengikuti jalannya pertarungan akan tetapi masih harus menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi. Mada beberapa kali menghela napas. Adalah hal yang terjadi dengan sendirinya, dirinya ikut larut dalam setiap pertarungan yang diikuti. Ajaran dan cara mengajar Eyang Puspamurti memang menempuh pendekatan semacam ini.

Sehingga tubuh Mada ikut bergoyangan, tenaga dalamnya turun-naik. Kalau mengikuti terus- menerus bisa-bisa Mada yang lebih dulu jatuh.

Halayudha mendesis.

Sewaktu menggempur dengan tiga serangan, Gendhuk Tri tidak memberikan perlawanan. Gendhuk Tri memberi kesan iwak kalebu ing wuwu, atau gerakan ikan masuk ke dalam bubu. Tak berdaya sama sekali. Daripada menggempur salah satu, Gendhuk Tri melepaskan semuanya.

Ini yang justru membuat Halayudha ragu sepersekian kejap. Karena tahu bahwa Gendhuk Tri sangat mahir dengan gerakan tiba-tiba. Ia menarik gerakannya dan mengubahnya menjadi gerakan menyerang yang lunak. Yang mengarah ke arah pundak yang justru terjaga.

Gerakan serangan yang disebut bacin-bacin iwak, ala-ala sanak, yang berarti “bau busuk ikan dan bau busuk sanak keluarga” meskipun sama-sama busuknya, tetap memperlakukan saudara dengan lebih baik.

Ini yang dibuktikan dengan serangan ke arah yang terjaga. Meskipun demikian, tidak berarti Halayudha mengurangi tenaga serangannya. Justru sebaliknya, ia bahkan mengarahkan seluruh kemampuannya. Apalagi kini mengetahui bahwa serangan balik Gendhuk Tri tak akan bergeser jauh dari posisi kuda-kudanya.

Untuk kedua kalinya Halayudha benar-benar kecele. Kepalanya menggeleng seakan tak percaya apa yang dilihat.

Gendhuk Tri justru menerobos masuk. Menyelinap di samping tubuh Halayudha dan untuk kedua kalinya selendangnya mampu menampar pipi Halayudha.

“Kena lagi!” teriak Mada tidak sadar.

Tidak sadar bahwa teriakannya bisa memancing kemurkaan Halayudha. Nyatanya begitu. Pukulan Gendhuk Tri menerobos masuk, mematahkan serangan Halayudha, karena Gendhuk Tri menguasai gerakan secara sempurna.

Seakan tubuh dan pukulannya seperti belut dilengani, atau belut diminyaki. Licin menerobos.

Dua kali terkena curian serangan, Halayudha tak bisa menahan diri lagi. Disertai erangan yang keras, tangan dan kaki Halayudha menjadi lurus kaku. Mencegat arah gerakan Gendhuk Tri.

“Permainan kayu!” Teriakan Mada mendapat jawaban Halayudha sama kerasnya. “Tutup mulutmu!”

“Mahapatih, bukankah itu gerakan berdasarkan kekuatan kayu? Bukan lagi gerakan binatang dalam air, tetapi sudah berubah sifatnya? Rasanya saya tak keliru, Mahapatih. Karena Mahapatih sendiri yang baru saja mengajari.”

“Apa pun isi pikiranmu, jangan berteriak. “Lagi pula siapa yang Mahapatih?”

Sebenarnya tanpa diberitahu Mada, Gendhuk Tri sudah mengetahui bahwa Halayudha mengubah gerakannya menjadi lebih keras. Setelah gagal mencoba dengan gerakan air, atau binatang yang hidup di air, Halayudha memainkan gerakan kayu. Gebrakan pertamanya adalah gerakan kayu apu, atau gerakan rumput laut yang seakan mengikuti irama gelombang. Seakan mengikuti arah pukulan Gendhuk Tri, akan tetapi pada titik tertentu bisa membalik. Yaitu pada jurus- jurus yang diberikan Mada.

“Nah, begitu kena sekali, Mahapatih. “Lawan akan mengira kita masih memainkan jurus yang sama, sehingga akan mengira, atau tidak mengira, apa yang kita mainkan. Dengan memasukkan diri pada situasi senden kayu aking, selesailah sudah rangkaian ini.”

“Aku sudah bilang tutup mulutmu!”

Kini berbalik. Halayudha seakan melawan dua orang sekaligus. Gendhuk Tri tidak merasa terbantu, akan tetapi Halayudha terpengaruh karena menjadi sangat murka.

Gerakan senden kayu aking, atau bersandar ke kayu mati, adalah jebakan yang berikut. Ketika lawan mengira, atau tidak mengira jurus yang dimainkan berbeda, ia seperti bersandar ke kayu yang sudah mati. Dengan sendirinya akan jatuh.

Kalau Gendhuk Tri menduga lawan memainkan jurus tertentu dan mencoba mengantisipasi, ia akan terjebak.

Tapi kalau dikatakan oleh Mada, jadinya Halayudha kelabakan sendiri. “Mahapatih, jangan mengubah gerakan terlalu banyak.

“Kalau memang tidak memainkan jebakan senden kayu aking, kenapa justru mengubah dengan nggugat kayu aking, menggugat kekuatan yang telah tiada. Kekuatan Bibi Jagattri masih utuh. Rasanya lebih kena dengan sodokan kayu bong, atau tusukan kayu bakar, tapi kenapa diubah lagi?”

Tentu saja berubah karena sudah dikatakan oleh Mada.

Sehingga makin lama gerakan Halayudha makin cepat, seakan berlomba dengan apa yang diucapkan Mada. Kedua tangan, kedua kaki, tubuhnya bergerak bagai angin puyuh. Menerjang, menarik ulang, mengemplang, dan mengurung.

Diserang dengan kecepatan penuh, Gendhuk Tri mulai terengah-engah. Kalaupun serangan lawan belum berarti karena selalu silih berganti sebelum menyentuh, Gendhuk Tri tak bisa mengembangkan pola permainannya. Juga tak bisa memusatkan pikiran untuk menerobos dengan serangan baru. Karena kemampuannya terbetot oleh gaya tarik balik Halayudha.

“Mada, kenapa kamu diam?” “Saya tak tahu lagi, Mahapatih.” “Alangkah tololnya kamu ini.

“Dengan serangan yang kamu tebak, aku bisa cepat mengubah. Lebih cepat dari mulutmu.

Aku bisa mengimbangi kecepatan lidahmu dengan gerakan tangan dan kaki.

“Dengan cara seperti ini, dengan ngawur begini saja Jagattri sudah empot-empotan.

“Dalam jangka langka Jagattri akan menang karena aku kehabisan tenaga. Tetapi perhitungan ini keliru.

“Bukankah begitu?” “Rasanya Mahapatih benar.

“Tetapi menurut Eyang Puspamurti, kalau irama tangan dan kaki tak dibedakan, sebenarnya arti serangan itu tumpul. Satu menyerang, dan satunya kembangan belaka.”

“Eyang genitmu sudah mati.” “Tapi ada benarnya, Mahapatih.

“Pukulan tangan kanan Mahapatih tidak menyimpan kekuatan, tidak mempunyai daya pukulan sama sekali.”

Halayudha melonjak sendiri. “Dari mana kamu tahu?”

Pathet Pati

SELENDANG Gendhuk Tri menyambar ketat.

Bret. Bret. Sampokan angin menepis kembali karena terjangan Halayudha makin lama justru makin cepat. Setiap langkah mengandung serangan beruntun.

“Kamu belum menjawabku, Mada. “Dari mana kamu tahu?”

“Saya hanya mendengar apa yang dikatakan Eyang Puspamurti, apa yang Mahapatih sendiri katakan.” “Apa yang kukatakan?”

“Pengerahan tenaga tanpa batas, artinya bukan tenaga besar, bukan tenaga sedang, bukan tenaga kecil. Melainkan tenaga yang tepat mengenai sasaran. Pengerahan tenaga asal besar dalam bahasa kasar disebut tenaga godok, asal pukul saja. Itu tidak menunjukkan kehebatan. Karena pada saat ngawur, saat godok, tidak dibarengi dengan kecermatan. Saya melihat tangan kanan Mahapatih menyimpan kelemahan.”

“Bagaimana mungkin bisa terjadi begitu?”

“Hasilnya sudah terlihat jelas. Mahapatih tetap tak bisa meringkus Bibi Jagattri, meskipun unggul.”

“Kenapa bisa begitu?

“Aku tahu sebabnya, bukan akibatnya.”

Terpengaruh atau tidak, Gendhuk Tri memang terseret dalam tekanan Halayudha. Pukulannya yang berubah serba cepat memaksa permainan menjadi tajam. Dan Gendhuk Tri berangsur-angsur merasa di bawah angin. Halayudha memang unggul dua kelas di atasnya dan menjadi sangat ganas.

Meskipun sekarang ini terlihat seperti main-main dengan memecah perhatian, sementara bertarung bercakap dengan Mada, akan tetapi sesungguhnya tetap mengandung dan mengundang ancaman maut. Pada tingkatan di mana darah Halayudha sudah bisa menjadi bagian keringat dan nyatanya tidak mempengaruhi penampilannya, Gendhuk Tri tetap sulit meloloskan diri.

“Mana saya tahu, Mahapatih?”

“Benar juga kalau Eyang Puspamurti selalu memanggilmu dengan sebutan tolol. Percuma kamu saya ajak bicara, saya latih keras, kalau soal kecil begini saja tidak mampu memecahkan.

“Pertanyaannya sederhana, kenapa pukulan kanan kosong.” “Tidak kosong benar.

“Karena masih bisa mematikan.” “Jelas karena aku sakti.

“Pertanyaannya, kenapa pukulan kanan tidak semematikan kiri.” “Bisa diubah, Mahapatih.

“Kanan jadi kiri, kiri jadi kanan.”

“Apakah tidak mungkin jadi kiri semua atau kanan semua?” Mada mengangguk-angguk.

Tubuhnya bergerak. Menggeliat berdiri, mencoba melakukan pukulan. Memainkan satu-dua jurus, mendadak terbanting ke belakang, dan kembali memuntahkan darah segar.

Halayudha terkejut sehingga perhatiannya bercabang. Saat mana digunakan Gendhuk Tri dengan cepat sekali. Pukulan tangan kiri menerobos maju ke ulu hati Halayudha!

Duk.

Tubuh Halayudha bergerak miring, terbanting. Raupan tangannya mengarah pinggang Gendhuk Tri.

Duk.

Tubuh Halayudha bagai disentak keras. Melengkung. Duk.

Suara perlahan yang terdengar adalah sentuhan pukulan Halayudha mengenai pinggang Gendhuk Tri. Yang seketika merasa ngilu, panas-dingin. Seluruh uratnya tergetar, pandangannya serasa lenyap. Tubuhnya limbung.

Halayudha mengerahkan tenaga melalui kedua tangannya. Dua pukulan serentak menerjang ke tubuh Gendhuk Tri. Yang menyambut dengan kedua tangannya.

Duk. Drugg.

Gelombang getaran yang kuat menyengat Gendhuk Tri tanpa kuasa ditahan lagi. Bibirnya mengeluarkan jeritan kecil, sebelum ndeprok, jatuh terduduk tanpa bangun lagi.

Wajahnya sangat pucat, bibirnya gemetar, dan kedua tangannya menyangga di lantai seakan tak kuat menahan tubuhnya. Gendhuk Tri masih berusaha bangkit, akan tetapi hanya membuatnya terjengkang tak sadarkan diri. Sebaliknya, Halayudha masih berdiri tegak.

Hanya dahinya yang berkerut, berlipat-lipat. Satu-satunya luka yang terlihat adalah bekas pukulan Gendhuk Tri yang mengenai dadanya. Ada dua bekas kepalan putih, yang membedakan dari warna kulit di sekelilingnya.

Ketika Halayudha menyentuhnya, bagian itu tidak memberikan reaksi rasa. Beku seperti daging mati.

Tetapi selebihnya, Halayudha berdiri tegar.

Matanya berkejap-kejap, tangannya menggaruki kepala ketika mendekat ke arah Mada. “Apa yang terjadi denganmu?”

Napas Mada naik-turun.

Ketika Halayudha memeriksa nadi di pergelangan tangan dan di leher bawah rahang, kerutan di jidatnya bertambah lagi. Sungguh luar biasa. Tenaga dalam Mada bergolakan seperti berbenturan sendiri.

“Barangkali perlu ditolong….” “Jabung Krewes, kamu diam saja.

“Kamu tidak mengerti. Di jagat ini aku lebih memerlukan Mada darimu. Kamu tenang-tenang saja. Kita akan tetap di ruangan ini, sampai satu demi satu mati.”

Halayudha meloncat ke arah Gendhuk Tri.

Makin heran karena mengetahui denyut nadi Gendhuk Tri memperlihatkan tanda yang sama. “Ini aneh, ini sangat aneh dan kelewat mengherankan.

“Sudah jelas Mada dan Jagattri memiliki dasar yang sangat berbeda, kenapa bisa berakibat

sama.

“Mada sebenarnya luar  biasa. Ia mengajukan pemikiran mengenai kekosongan pukulan.

Jarang ada yang bisa berpikir ke arah itu. Bukan itu saja. Ia juga melakukan sendiri. Hanya karena masih rendah kemampuannya, ia terkena sendiri.

“Hal yang sama terjadi pada Jagattri.

“Wanita ini kecerdikannya sepuluh lipat dariku, keberaniannya seratus kali Jabung Krewes. Jagattri juga melihat kemungkinan yang sama untuk menjajal kekuatan mengisi pukulan kosong. Akibatnya jadi sama.

“Aku tak bisa disebut pemenang karena Jagattri jatuh oleh benturan tenaga dalamnya sendiri. “Tapi ini penemuan yang hebat.

“Jika berhasil akibatnya sungguh luar biasa. Benar, benar sekali. Bisa jadi Upasara Wulung sudah sampai ke tingkat ini. Ada dua kemungkinan baginya.

“Satu ia sudah berhasil.

“Dua, ia menderita yang sama.

“Apa pun yang dilakukan, aku masih belum melihat titik untuk memulai. Celakanya aku masih harus menunggu sampai mereka sadar. Kalau berlangsung terlalu lama, bisa celaka.”

Kalau Halayudha masih mencari-cari, jawaban pertanyaan yang sama sudah tersungging dalam senyuman Jaghana yang ikhlas.

“Pencapaian yang mengagumkan.

“Selama ini saya merasa bisa menjelaskan banyak hal warisan Eyang Sepuh, akan tetapi tak pernah bisa mencapai tingkatan ini.”

“Paman Jaghana selalu membuat saya sungkan.” “Tidak.

“Saya mengatakan yang sebenarnya. Saya tak pernah menduga Anakmas Upasara mampu melihat kebersamaan antara tenaga air dengan tenaga bumi.

“Apakah Anakmas memakai pathet pati?”

Wajah Upasara berubah pucat. Tampak sangat sedih, seperti getun, menyesal sekali. “Inilah ketololan saya, Paman.”

Pangeran Hiang yang mengikuti pembicaraan tak bisa menemukan arti yang lebih luas dari yang didengar. Meskipun mengetahui bahwa keduanya sedang memperbincangkan titik awal keunggulan penemuan jurus-jurus yang dimainkan Upasara. Memang tidak bisa diterangkan dengan satu-dua kata.

Helaan napas Jaghana atau wajah getun Upasara menandakan bahwa penemuannya seperti juga mengandung penyesalan atau beban yang berat.

Jaghana merasa dadanya sangat sesak. Dirinya adalah pewaris utama ajaran Perguruan Awan, dalam bentuknya yang murni. Dalam kehidupan sehari-hari pun, Jaghana tak mengenakan penutup tubuh secara sempurna, mencukur rambutnya hingga gundul. Penghayatan total dari cara hidup yang diajarkan Eyang Sepuh.

Dalam perjalanan hidupnya, hanya sekali Jaghana menempuh cara lain ketika menyamar menjadi Pendeta Truwilun. Dalam pengembaraan itu, Jaghana mampu menangkap kisikan ajaran dalam Kidung Pamungkas, yang disatukan intinya dengan Kidung Paminggir. Dalam artian yang luar, Jaghana pernah melenceng sebentar dari ajaran murni, sebelum kembali lagi ke jalan semula.

Hal yang sama sebenarnya ditempuh oleh Upasara. Ketika merasakan bahwa Eyang Sepuh muncul kembali dan menanyai Gendhuk Tri, kesadaran Upasara seperti dibongkar dari awal lagi.

Dalam kegelisahannya, Upasara menempuh jalan seperti yang dipertanyakan Jaghana. Yaitu melalui pathet pati.

Pathet berarti kunci dasar untuk menentukan tinggi atau rendahnya nada. Dalam hal ini menentukan tinggi-rendahnya kekuatan. Sedangkan pati berarti mati, maut.

Percakapan Pati

SESUNGGUHNYA apa yang dikatakan Upasara merupakan jawaban dari pertanyaan Halayudha yang tak diketahui Mada. Jawaban yang belum dikuasai Gendhuk Tri.

Pertarungan batin Upasara telah mencapai puncak daya tahannya, ketika batinnya yang ening, yang pasrah dengan bening, menemukan kilatan pencerahan.

Mencoba memadukan Kitab Bumi dengan Kitab Air, atau dalam bentuk wadak menyatukan Eyang Sepuh dengan Eyang Putri Pulangsih. Beberapa kali sudah terbukti bahwa ajaran dengan sumber sama itu pada titik-titik yang menentukan menjadi berbenturan atau berlawanan. Dalam perwujudan lahiriah adalah penolakan Gendhuk Tri.

Pada saat menemukan jalan buntu, Upasara merasa semuanya muspra, semuanya tak ada artinya lagi. Tak ada lagi garis pemisah antara berhasil dan gagal, antara hidup dan mati.

Pati menjadi kunci dasar memahami kehidupan. Tak berbeda dari sikap pasrah sebagai tumbal. Hanya bedanya, kepasrahan yang total dalam pati lebih tajam. Karena Upasara sadar untuk melewati jalan kematian.

Yaitu dengan memadukan ajaran Kitab Air dengan Kitab Bumi.

Selama ini jurus-jurus dalam Kitab Bumi dan Kitab Air bisa dimainkan secara berpasangan. Dan hasilnya boleh dikatakan luar biasa, dilihat dari sudut pandang Kitab Air maupun Kitab Bumi. Lebih luar biasa lagi keampuhan Kitab Air menjadi lebih menonjol. Dari pemahaman ini, Upasara merasa bahwa Kitab Air sebenarnya lebih bisa menerima Kitab Bumi dibandingkan sebaliknya.

Namun justru di sini masalah yang sebenarnya.

Kitab Air tampak unggul, akan tetapi terutama karena keberadaan Kitab Bumi. Keunggulan Gendhuk Tri menggebrak lawan-lawannya karena berpasangan dengan Maha Singanada.

Ini berarti sesungguhnya Kitab Bumi yang lebih unggul menerima ajaran Kitab Air.

Rebutan mana yang lebih unggul inilah yang ditempuh Upasara Wulung dengan usaha menyatukan. Memainkan jurus-jurus dan pernapasan Kitab Air di tangan kiri, memainkan Kitab Bumi di tangan kanan.

Tubuhnya seakan terdiri atas dua bagian. Memang sangat besar risikonya.

Bisa berarti kematian.

Itulah sebabnya dinamai jalan pati. Karena pertentangan bisa menghancurkan atau bertabrakan. Bagi orang yang telah menguasai ilmu dasar begitu tinggi, kemungkinan rontok sama sekali cukup besar.

Bahaya itu tetap tak berkurang meskipun Upasara bisa melakukan pecah raga, atau memisahkan tubuhnya seakan menjadi dua atau tiga orang. Berkat ajaran sukma sejati hal itu bisa dilakukan dengan baik. Akan tetapi dalam mecah raga, memecah tubuh, Upasara tetap memainkan dirinya sendiri. Tidak memasukkan unsur lain. Yang dalam hal ini mempunyai pertentangan dasar. Yaitu pertentangan yang dipahami sebagai pertentangan asmara.

Ternyata pada tahap awal, Upasara mampu menjajal!

Langkah awal yang merupakan penemuan penting untuk terobosan bagi perkembangan dunia persilatan.

Jaghana tak habis mengagumi. Dalam pandangannya, Upasara seakan ditakdirkan untuk menjadi pamungkas! Dididik menjadi ksatria pingitan oleh seorang guru Keraton, Ngabehi Pandu, begitu terjun ke dunia persilatan sudah langsung memahami Kitab Bumi. Dengan pencerahan yang luar biasa, dengan pikiran dan batin yang jernih, Upasara di kala usianya masih muda mampu memahami sifat dasar tumbal yang diajarkan dalam bagian Bantala Parwa. Perjalanannya yang kemudian juga menentukan kemenangannya dalam pertarungan di Trowulan.

Tidak keliru jika Eyang Sepuh menunjuknya sebagai pewaris tunggal untuk memimpin Perguruan Awan.

Jaghana mengakui pandangan Eyang Sepuh yang mampu menembus ke masa yang akan datang. Pilihan yang paling tepat.

Tidak sedikit pun Jaghana merasa iri atau mempertanyakan kepada Eyang Sepuh mengapa memilih Upasara dan bukan dirinya. Pertanyaan semacam itu tak pernah muncul pada murid-murid Perguruan Awan. Yang ada hanya penerimaan.

Dan rasa bersyukur.

Dan terbukti ajaran itu benar.

Selama ini Jaghana merasa berusaha mendekatkan diri dengan ajaran-ajaran Eyang Sepuh. Sampai pada titik di mana pertentangan antara Kidungan Paminggir dan Kidungan Para Raja disatukan oleh Mpu Raganata melalui buah tangannya, Kidungan Pamungkas. Jaghana bisa memahami penyatuan itu.

Akan tetapi apa yang dilakukan Upasara lebih jauh dari itu. Upasara justru memahami dan mampu menyatukan dalam bentuk ilmu silat. Dalam jurus-jurus yang dimainkan. Bukan hanya dalam pemahaman.

Satu langkah yang sangat menentukan telah dicapai. Tinggal penyempurnaan pada langkah- langkah berikutnya.

Sebenarnya pencerahan ini tidak membuat Jaghana menghela napas. Yang membuatnya tadi menghela napas berat adalah bahwa kemungkinan yang sama juga bisa ditempuh oleh Halayudha.

Kalau itu terjadi, entah apa jadinya jagat ini.

Seorang yang bisa culas, licik, licin, ganas tetapi sekaligus sakti mandraguna dan menggenggam kekuasaan serta memiliki kekuatan.

“Sebagai langkah awal, Halayudha bukannya tidak akan sampai ke titik ini, Paman.” “Sama mudahnya dengan Anakmas jika berada pada tempatnya sekarang ini.”

Kali ini Upasara yang menghela napas.

Kalimat pendek Jaghana menunjukkan ke arah titik di kejauhan yang tak pernah bisa diramalkan sebelumnya. Ajaran mahamanusia yang merajalela sekarang ini tidak pernah jelas di mana muaranya. Akankah seperti yang ditempuh Eyang Sepuh, Eyang Kebo Berune, Praba Raga Karana, Halayudha, Eyang Puspamurti, atau sesuatu yang masih tak bisa diperkirakan.

Semuanya serba mungkin.

“Sebab bagi mahamanusia, pati bukan akhir. Kematian bisa menjadi awal, tengah, atau akhir.

Dan kita tak bisa menarik mundur. Kita tak bisa mengandaikan masa mahamanusia itu tidak ada.”

Sementara Jaghana dan Upasara terlibat dalam pembicaraan, Pangeran Hiang memainkan sebatang kayu kering, menggores tanah. Keningnya berkerut dan beberapa kali menelan ludahnya.

“Maaf, Paman Jaghana, bolehkah saya mengganggu sebentar?” “Silakan, Pangeran Hiang….”

“Apakah pathet juga ada hubungannya dengan karawitan?” Jaghana tersenyum lembut.

“Pandangan Pangeran Hiang sangat tajam. “Saya mendengar entah kabar dari mana, bahwa Pangeran Hiang mampu memecahkan irama Enam atau Tujuh Langkah Karawitan.

“Saya tak tahu banyak mengenai hal itu. Akan tetapi bisa saya katakan bahwa pathet atau ukuran nada, sangat menentukan dalam karawitan. Setiap gendhing, semua gamelan, mempunyai pathet untuk menentukan ukuran nada. Sehingga kita menyesuaikan dengan irama yang ada.”

“Ada berapa jenis pathet, Paman?” “Ada tiga jenis.

“Pathet Enam jatuh pada gerakan leher, Pathet Sembilan jatuh pada gerakan lima, sedangkan Pathet Manyura jatuh pada gerakan enam.

“Berarti Enam atau Tujuh Langkah itu bisa juga dikatakan Tiga Belas Langkah, karena dibedakan gerakan besar, yang berarti nada rendah, dan gerakan alit, kecil, yang berarti nada tinggi.”

Pangeran Hiang bersujud. “Terima kasih, Paman.”

Pangeran Hiang menghapus coretannya, dengan gerakan sekenanya. Sehingga tidak sepenuhnya hilang tanda-tanda yang dibuatnya.

Saat itulah Nyai Demang muncul.

Setelah bisa sadar dengan sendirinya, Nyai Demang menguatkan hatinya. Kembali ke tempat semula. Itulah saat Pangeran Hiang menghapus tanda-tanda secara tidak sempurna.

Dan sisa tanda itu ialah “siung naga bermahkota” atau tanda takhta. Nyai Demang kembali tergetar.

Jaghana segera mendekat dan membimbing. “Maaf, Nyai….

“Tempatnya seperti ini, tetapi kita masih bisa mencari tempat untuk istirahat….”

Nyai Demang memasrahkan tubuhnya dalam gendongan Jaghana. Yang segera membimbing ke suatu tempat yang lebih terlindungi. Hatinya berdesir manakala mengetahui nadi Nyai Demang sangat cepat iramanya.

“Nyai Demang, tenang saja sebentar….” “Uh… Uh…”

Dalam kemelut pikiran, Nyai Demang kehilangan suaranya. Pangeran Hiang yang turut memeriksa hanya mengerutkan keningnya ketika merasakan bahwa bagian-bagian tubuh Nyai Demang menjadi dingin, terutama di ujung kaki, tangan, dan bagian bawah leher.

“Apa… apa Nyai pernah terkena penyakit?” Upasara menggeleng.

Sepanjang yang diketahuinya, Nyai Demang tidak pernah menderita penyakit tertentu atau keracunan. Bahkan rasanya terluka cukup berat saja tidak pernah.

Kecuali serangan yang berasal dari Perahu Naga.

Pemisahan dan Penyatuan

JAGHANA mengangguk cepat dan suaranya agak keras. “Biarlah saya yang merawat, Anakmas.”

Meskipun ucapannya tertuju kepada Upasara, akan tetapi sekaligus juga meminta secara halus agar Pangeran Hiang tidak melakukan sesuatu.

Bagi Jaghana masalahnya bukan karena Pangeran Hiang akan memegang dan memeriksa tubuh Nyai Demang, akan tetapi sorot mata Nyai Demang menjadi ganjil setiap kali didekati Pangeran Hiang.

“Tinggalkan kami sebentar, Anakmas….” “Baik, Paman….”

Upasara segera keluar dari tempat itu diiringi Pangeran Hiang yang mengerutkan keningnya.

Kelihatan sekali tangannya sangat gelisah, menyapu bibirnya.

Ditinggal berduaan saja, napas Nyai Demang berangsur-angsur tenang kembali. Jaghana memeriksa seluruh tubuh Nyai Demang. Telapak tangannya mengurut dari ubun-ubun ke dahi, hidung, belakang telinga, leher, dada, perut, tangan hingga ujung jari, punggung, pinggang, paha, kaki, ujung kuku, kembali lagi ke ubun-ubun.

“Apa yang ingin Nyai katakan?” “Uhuh.”

Jaghana memberikan sebatang ranting kecil. “Tuliskan.”

Nyai Demang bersemangat. Tangannya memegang ranting, bergerak perlahan. Akan tetapi kemudian terhenti. Jaghana menggertak keras, tubuhnya melayang ke luar tempat terlindung itu. Kedua tangannya mengeluarkan angin pukulan ke arah sekitar.

Cukup keras dan bertenaga.

Sehingga Upasara dan Pangeran Hiang hampir bersamaan meloncat. “Paman…”

Jaghana menggeleng. “Saya sudah pikun.

“Saya mengira ada angin berkesiur. Apakah Anakmas melihat sesuatu yang ganjil?” “Tidak, Paman.”

“Pangeran Hiang?” “Tidak, Paman.

“Barangkali saya tak cukup mendengar, karena pikiran saya masih tertuju pada Enam atau Tujuh Langkah. Tetapi kalau diperlukan, dengan senang hati akan saya lakukan penyelidikan.”

Jaghana menggeleng. “Tidak, terima kasih.”

“Apakah ada hubungannya dengan sakitnya Nyai Demang?” “Tidak juga, Anakmas.

“Hanya sakitnya mendadak sekali. Saya akan mencari embun pagi untuk mengembalikan semangatnya.”

Jaghana membalikkan tubuh. Upasara membuat gerakan menahan.

“Paman, Paman bisa turut mendengar.

“Di sini tidak ada sesuatu yang kita rahasiakan. Tidak perlu kita sembunyikan.

“Saya dan Pangeran Hiang telah mengangkat saudara. Suatu kehormatan besar bagi saya. “Makanya, untuk menghormati persaudaraan kita, apakah ada yang akan Pangeran katakan?” “Pangeran Upasara, saya tak menangkap maksud Pangeran.”

Wajah Upasara keras.

Suaranya berderak seperti batuk berat. “Nyai Demang seperti ketakutan.

“Selama ini ia hanya bersama kita berdua. Kita berdua, salah satu atau dua-duanya bisa menjadi penyebabnya.

“Apakah Pangeran Hiang mengetahui sesuatu?” “Tidak.

“Sama sekali tidak, Pangeran Upasara.

“Sungguh menyakitkan mendengar pertanyaan itu.” “Sama sakitnya dengan yang mengucapkan, Pangeran. “Maaf.”

Jaghana mengelus kepalanya yang pelontos.

“Sudahlah, kita tak perlu tenggelam dalam kecurigaan. Saya yang bersalah karena sudah pikun.” Jaghana berbalik kembali.

Upasara masih berpandangan dengan Pangeran Hiang. “Saya kecewa, Pangeran Upasara.” “Saya minta maaf.”

Suara itu masih terdengar jelas sekali ketika Jaghana kembali duduk di sebelah Nyai Demang. Kini sekujur tubuhnya tidak bergerak.

Seperti juga Gendhuk Tri.

Sehingga Halayudha menggigit bibirnya. “Jabung Krewes…

“Kamu perintahkan bawa Jagattri dan Mada ke ruangan yang bersih. Singkirkan semua barang yang ada di sini. Aku mau mulai lagi dari awal.

“Dan raja itu biar saja pergi ke mana….”

Halayudha berdiri, terbatuk, menggeleng-geleng. Kedua tangannya tergenggam dalam kepalan yang keras. Seakan siap menjotos siapa saja.

Jabung Krewes segera melakukan apa yang diperintahkan. Ini kesempatan pertama bisa meninggalkan tempat. Yang pertama dilakukan adalah menyembah Raja serta menunjukkan tempat beristirahat. Baru kemudian memerintahkan prajurit kawal untuk membopong Gendhuk Tri dan Mada ke suatu ruangan.

Halayudha menyuruh keduanya diletakkan berdampingan.

Ia sendiri berada di tengahnya. Telapak tangan yang satu menempel ke tubuh Mada, telapak tangan satunya ke tubuh Gendhuk Tri.

Perlahan sekali, dengan sangat hati-hati, Halayudha mengerahkan tenaganya. Hawa panas dari tubuhnya disalurkan ke arah Mada, ke arah Gendhuk Tri. Dengan bergantian maupun secara bersamaan.

Uap putih mengepul dari ubun-ubunnya.

Dari kedua tangannya melembap keringat warna merah.

Jabung Krewes mendengus. Ini kesempatan yang besar. Kesempatan mempergunakan kelengahan Halayudha. Pada saat sedang memusatkan pikiran seperti ini, sesakti apa pun pasti berada dalam keadaan kosong.

Kesempatan menyingkirkan Halayudha.

Kalau bukan sekarang ini, tak mungkin ada kesempatan yang lain. Dengan kesaktian yang dimiliki sekarang ini, Halayudha seperti tak bisa dikalahkan.

Halayudha sendiri tengah bertarung dengan jalan pikirannya. Dirinya begitu tenggelam lelap, terseret hanyut oleh kemungkinan yang dikisikkan Mada.

Dan kini tengah dijajal.

Tetap mengherankan. Tenaga dalam yang dikirimkan ke Mada tidak menemui halangan suatu apa. Demikian juga tenaga dalam yang dikirimkan ke tubuh Gendhuk Tri tidak mengalami penangkalan. Sebaliknya, ketika mengirim ke tubuh Mada, tubuh Gendhuk Tri juga tidak menjadi gangguan.

Ini artinya tenaga dalam mereka berdua tidak bertentangan.

Akan tetapi nyatanya tenaga dalam mereka tadi saling bentrok sendiri.

Bagi Halayudha ini merupakan teka-teki yang membuatnya berpikir keras. Semakin keras berpikir, semakin larut. Semakin larut berarti semakin kosong.

Asap makin mengepul.

Keringat darah makin membasah.

Senopati Jabung Krewes merangkapkan kedua tangannya, bersemadi. Bibirnya berkomat- kamit. Bulat sudah tekadnya. Kerisnya dihunus. Dengan menahan napas, Senopati Jabung Krewes bersiaga.

Satu loncatan, satu tikaman! “Tahan, Jabung….”

Suara dingin, berwibawa yang sangat dikenalnya. Senopati Jabung Krewes segera menyarungkan kerisnya, duduk bersila, menyembah hingga menyentuh lantai.

“Mohon ampun, Ingkang Sinuwun…” “Terbukti kamu masih mematuhi Ingsun. “Berarti Ingsun tetap raja diraja. Tak perlu kamu lakukan itu. Halayudha memang leletheking jagat, yang paling kotor di jagat ini, tetapi Ingsun tergugah karena sikapnya.

“Untuk pertama kalinya Ingsun mengetahui bahwa sesungguhnya Ingsun tetap raja yang memegang kekuasaan tertinggi.

“Jabung.

“Mulai hari ini juga, Ingsun mengangkatmu sebagai mahapatih, patih utama Keraton Majapahit!

“Ingsun akan mengumumkan ini di balairung, dalam pasowanan agung.” Jabung Krewes masih menyembah rata dengan tanah.

“Sinuwun…” “Jalankan sabdaku.

“Kehendak Ingsun yang berlaku.”

Kalau saat itu Halayudha terjaga dan meremuk habis tubuhnya, Jabung Krewes tetap tak akan seterkejut sekarang ini.

Bagaimana mungkin Raja melarang menghilangkan Halayudha? Bagaimana mungkin Raja malah mengangkatnya sebagai mahapatih?

Bagaimana mungkin…

“Bawa ini, ini tanda kebesaran Ingsun, ini tanda takhta yang sejati.” Raja mengulurkan keris pusaka ke wajah Jabung Krewes.

Akulah Raja

SENOPATI JABUNG KREWES menyembah hormat sekali. Menggenggam keris dengan tangan gemetar.

“Keris bergagang singa itu warisan langsung dari Sri Baginda Raja. Ingsun yang memiliki.

Kamu tak perlu ragu, tak perlu bertanya-tanya.

“Ingsun bisa bicara banyak, tetapi itu sudah lebih dari cukup.

“Dengan mengenakan kelat bahu di kedua lenganmu, resmilah kamu menjadi mahapatih. “Ingsun-lah Raja. Dan hanya ada satu penguasa yang sesungguhnya. Halayudha bisa apa

saja, sakti, tetapi ia tetap bukan raja. Tak akan ada yang menerimanya. Tidak Dewa, tidak juga seekor semut pun.”

Jabung Krewes menunggu. “Masih ragu?”

“Sama sekali tidak, Sinuwun.

“Hamba adalah prajurit biasa-biasa. Rasanya masih banyak yang lain lebih pantas untuk jabatan dan kepangkatan terhormat dan mulia ini.

“Hamba akan selalu mengabdi Raja….” “Sudah kukatakan, Ingsun-lah Raja.

“Kalau kamu mengakui, lakukan apa yang kusabdakan.” “Sendika anglampahi dawuh, Sinuwun…”

“Karena aku raja, aku yang menentukan. “Bukan Senopati Utama yang kuangkat. “Bukan Halayudha yang kusingkirkan. “Lakukan.”

Dengan langkah gagah, Senopati Jabung Krewes akhirnya keluar dari ruang utama Keraton. Para prajurit kawal Keraton menyembah hormat ketika Jabung Krewes mengangkat keris pusaka tinggi-tinggi.

“Sabda Raja tak bisa ditarik kembali. Perintahnya adalah kemuliaan bagi yang menjalankan. “Mulai hari ini, Raja memerintahkan semua prajurit bersiaga sebagaimana biasa. Tak ada

bahaya, tak ada perubahan.

“Pasowanan agung, hari para senopati menghadap, akan diadakan sebagaimana biasa. “Untuk sementara saya ditugaskan mengatur pertemuan besar nanti.”

Terdengar sorak-sorai di luar Keraton. Umbul-umbul dinaikkan tinggi dan dikibar-kibarkan. Kabar yang dibawa Senopati Jabung Krewes dengan membawa keris pusaka Keraton disambut dengan kegembiraan.

Sesaat Senopati Jabung Krewes bersyukur kepada Dewa. Ketegangan yang panjang dan melelahkan dalam beberapa hari terakhir ini musnah sudah. Kesiagaan para prajurit yang tak menentu harus berpihak ke mana, sekarang mencair.

Senopati Jabung Krewes sadar bahwa dirinya bukan pemangku jabatan terhormat. Itulah sebabnya ia bertindak sangat hati-hati. Setelah mengumumkan sabda Raja, Jabung Krewes memerintahkan agar kegiatan sehari-hari tidak mengalami perubahan apa-apa.

Ia menemui pemimpin prajurit kepatihan, dan mengatakan bahwa segala sesuatu mengenai kelangsungan Mahapatih Halayudha akan diselesaikan Raja.

“Saya berani menjamin dengan sepenuh jiwa dan raga saya, bahwa tak akan ada pergantian jabatan dan pangkat di antara kalian, tak ada pertumpahan darah, selama kalian semua mengikuti perintah.

“Saya tahu selama ini ada pandangan yang simpang-siur.

“Tetapi saya tekankan sekali lagi, kita semua adalah prajurit. Dan prajurit hanya mengabdi kepada satu raja. Apa pun yang terjadi, Raja dan keluarganya, Keraton dan segenap isinya, harus kita bela sampai mati.”

Tampilnya Jabung Krewes disambut dengan hangat. Walaupun tidak semeriah ketika Halayudha menyatakan diri sebagai Mahapatih. Dari beberapa kalangan senopati, Jabung Krewes memang cukup diterima, meskipun tidak terlalu menjadi tumpuan harapan. Satu-satunya yang membuat para senopati dan prajurit sangat hormat dan menghargai adalah pada saat-saat Keraton sangat kritis, Jabung Krewes tetap berada di dekat Raja.

Ini sangat besar artinya, sebagai pertanda kesetiaan sekaligus menandakan bahwa Raja berkenan kepadanya.

Bagi Jabung Krewes persoalannya lebih rumit dari itu. Kalau kalangan senopati dan prajurit menerima kehadirannya dengan hangat, tidak demikian halnya dengan Tujuh Senopati Utama. Ini menurut perhitungan Jabung Krewes sendiri.

Karena dirinya sadar bahwa ketujuh Senopati Utama lebih berpengalaman, lebih sakti, dan lebih tua darinya. Kehadiran mereka ternyata membawa kepelikan sejak semula.

Baginda menganugerahkan jabatan dan pangkat Senopati Utama, akan tetapi tidak memilih salah satu sebagai mahapatih. Tidak juga memberi kekuasaan yang jelas. Ini rada ganjil, tetapi barangkali pertimbangan politik dan kekuasaan membuat demikian.

Sewaktu Raja naik takhta, kedudukan Tujuh Senopati Utama makin surut dari segi kekuasaan, akan tetapi mereka justru menggalang kekuatan.

Jabung Krewes ingin memainkan peranannya.

Ingin mencoba mendekati, karena menurut perhitungannya para pengikut Senopati Utama masih cukup kuat berakar. Para senopati dan prajurit yang berada di bawah kekuasaannya langsung masih merasa sebagai senopati unggul yang berjasa besar dalam peperangan. Kenyataannya begitu, walau itu terjadi beberapa tahun yang telah lewat.

Tentu saja Jabung Krewes tidak mengemukakan itu ketika menemui Senopati Tanca. Dirinya telah siap menghadapi senopati yang sekarang tersisih itu. Memahami sebagai senopati yang sakit hati.

Kalimat pertama Senopati Tanca membenarkan dugaannya.

“Untuk apa Senopati Jabung Krewes menemui saya yang tua, kotor, dan tersisih ini? Apakah tidak lebih baik pura-pura tidak mengetahui bahwa di Keraton ini masih ada mayat yang bernyawa?”

“Paman Tanca, senopati utama yang besar jasa dan wibawanya, saya merasa rendah menghadap kemari, akan tetapi saya menebalkan wajah saya untuk meminta bantuan dan restu dari paman-paman yang lebih mumpuni.

“Maaf, Paman Tanca.

72

By admin • Jan 27th, 2009 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II “Saya datang kepada Paman bukan sebagai orang yang tepat. Saya tidak sehebat Senopati Tantra, saya hanyalah orang yang bernasib baik ditarik ke dalam Keraton. Kebetulan sekali orang yang menarik saya adalah Mahapatih Halayudha.”

Jabung Krewes memainkan kartunya.

Biar bagaimanapun, ia tidak datang untuk mengemis. Ia datang untuk menawarkan sesuatu, dengan kedudukan yang sama.

Dengan menyebut-nyebut nama Senopati Tantra, Jabung Krewes mengisyaratkan dirinya memang bukan senopati yang dididik langsung oleh Tujuh Senopati Utama. Bukan kader yang mereka siapkan.

Dengan menyebut-nyebut Mahapatih Halayudha, Jabung Krewes memastikan posisinya sebagai orang luar dari kelompok Senopati Utama. Dengan mengatakan secara kebetulan, karena saat itu memang sengaja dipasang dan diberi kekuasaan untuk mengimbangi kekuasaan Senopati Bango Tontong, yang adalah pengikut setia Mahapatih Nambi.

“Apa yang Senopati harapkan dari kami?” “Ajakan mengabdi kepada Keraton.”

“Saya telah melakukan sejak saya bisa berdiri.” “Ajakan mengabdi kepada Raja.”

Senopati Tanca berdeham keras.

“Marilah kita berhadapan telanjang, Senopati Jabung Krewes.

“Kita sama-sama lelaki, sama-sama prajurit. Sampeyan tahu sikap saya sejak dulu.

“Apakah selama ini saya kurang mengabdi? Jiwa-raga, batin-lahir, saya abdikan sepenuhnya.

Tetapi apa yang kami terima?” “Saya memahami hal itu.” “Rasanya itu cukup.”

“Saya akan memintakan ampunan….” “Tidak.

“Kami tidak akan pernah mengemis, menyembah hina. “Tidak akan pernah.

“Kalau itu niatan Senopati, urungkan sebelum kita berbicara lebih jauh.” Telinga Jabung Krewes terasa panas.

“Saat ini Keraton sedang membutuhkan….” “Keraton selalu membutuhkan.

“Apa saja selalu dibutuhkan.

“Dan kami selalu siap memberikan. “Apa saja selalu kami berikan.

“Tapi kami akan melihat jelas kepada siapa kami menyerahkan seluruh pengabdian ini.” Jabung Krewes mengangguk.

“Saya kira yang Paman Tanca katakan sudah jelas.” “Saya kira demikian.”

“Saya tak perlu mengulang bahwa Raja tetap Raja dan masih akan menjadi Raja. Sebab itulah ketenteraman, kebahagiaan, bagi seluruh Keraton.”

Senopati Tanca berdiri.

“Saya melihat prajurit sejati di depan saya.

“Senopati Jabung Krewes, sampeyan senopati yang jantan.”

Pujian tulus, akan tetapi sekaligus juga mempertegas jarak. Senopati Jabung Krewes sadar sepenuhnya, bahwa Tujuh Senopati Utama masih akan tetap menjadi masalah di belakang hari.

Sirih Kalacakra KETIKA Senopati Jabung Krewes kembali dengan tangan hampa, Halayudha sedang berada dalam puncak pertarungan tenaga dalam untuk menyeimbangkan antara pergolakan yang ada di dalam tubuh Gendhuk Tri dan tubuh Mada. Ketika itu pula Jaghana mengulangi kembali pemeriksaan atas tubuh Nyai Demang.

Kini Jaghana merasa lebih leluasa, karena Upasara maupun Pangeran Hiang mulai menyingkir, berada di tempat yang cukup jauh. Sehingga Jaghana merasa lebih leluasa menangani penderitaan Nyai Demang.

Bukan karena apa, melainkan karena cara pengobatan yang diajarkan di Perguruan Awan berbeda dari ajaran yang lain. Bagi Jaghana, apa yang dialami Nyai Demang menimbulkan tantangan penyembuhan. Karena Nyai Demang yang masih sehat, mendadak kehilangan suara, dan kemudian malahan pingsan.

Menjadi tantangan karena ajaran di Perguruan Awan boleh dikatakan tidak mengenal penyakit. Selama ini mereka yang mendiami Perguruan Awan tak pernah terkena penyakit. Selama bersatu dengan alam, tubuh bisa menjadi alam. Meskipun tidak ada perlindungan yang pokok, hujan atau panas tidak membuat tubuh menjadi sakit. Meskipun hanya memakan buah-buahan yang ada, mandi secukupnya, dan berpakaian sekenanya, selama ini tetap terjaga kesehatannya.

Jaghana tak bisa menerima kelainan tubuh Nyai Demang begitu saja.

Walau di dalam hati bertanya-tanya, karena kalau ditilik dari denyut nadi maupun tarikan napas, rasanya tak ada yang salah dengan tubuh Nyai Demang.

Kedua jempol Jaghana menekan kening, samping kiri dan kanan. Menekan pipi, menekan leher, menekan dada, menekan payudara tepat di bagian kedua puting Nyai Demang.

Dengan tetap bersila, dengan mata menatap wajah Nyai Demang, Jaghana melakukan berulang kali. Semuanya dikerjakan dengan tarikan napas yang sama.

Tak ada pikiran kotor atau bayangan yang aneh-aneh.

Bagi warga Perguruan Awan cara pengobatan Jaghana bukan sesuatu yang luar biasa.

Upasara Wulung pun barangkali akan menempuh cara yang sama.

Apa yang dilakukan Jaghana sebenarnya mencoba melakukan pengobatan dengan cara Suruh Kalacakra, atau Sirih Kalacakra, yaitu pengobatan daun sirih.

Perguruan Awan adalah wilayah di mana tetumbuhan maupun hewan mendapat tempat yang utama. Tak ada selembar daun yang dipotong percuma, tak ada rumput yang disiangi atau dicabuti. Semua tanaman dibiarkan tumbuh sebagaimana kodratnya. Demikian juga halnya dengan daun sirih. Daun yang satu ini dikenal sebagai daun untuk mengobati berbagai jenis penyakit, atau untuk mencari tahu adanya suatu jenis penyakit.

Daun sirih menjadi istimewa, karena beda rupane, pada rasane, atau berbeda bentuknya akan tetapi sama rasanya.

Seperti diketahui permukaan daun sirih bagian atas dan bagian bawah berbeda, akan tetapi kalau digigit sama rasanya. Ungkapan ini mengandung makna yang dalam. Bisa berarti bahwa sesungguhnya perbedaan itu tidak ada artinya. Pembedaan itu hanya menyatakan sisi pandang, akan tetapi sebenarnya tetap sama.

Kehebatan daun sirih ini dikembangkan sebagai pendekatan untuk memahami segala jenis dedaunan, bunga-bunga, maupun tumbuhan yang ada. Pada tingkat yang tinggi, Jaghana pernah menerima ajaran mengenai Sirih Kalacakra. Yaitu pengobatan dengan cara Kalacakra mendapat ajaran dari Dewa Guru.

Menurut cerita yang ada, Dewa Guru yang menguasai dunia mempunyai seorang anak lelaki yang diberi nama Dewa Kala. Anak lelaki ini tumbuh sebagai lelaki yang ganas dan banyak merugikan manusia lain. Semua ajaran yang diberikan pada Dewa Kala tak bisa diterima. Masuk telinga kiri, keluar dari telinga kiri pula. Sehingga Dewa Guru menurunkan ajaran yang akan memudahkan Dewa Kala memahami. Inti ajaran itu diguratkan di dahi Dewa Kala, dan bunyinya memakai kata-kata yang terbalik.

Semua terdiri atas delapan kata. Salah satu kalimat itu berbunyi “ya midara radamiya’, yang artinya “yang menyebabkan kemiskinan harap mencukupi”. Kata ya midara, di bagian akhir dibalik menjadi radamiya. Demikian juga ungkapan “ya midosa, sadomiya”, “yang berbuat jahat jangan mencelakakan.”

Inti ajaran ini ialah membalik pemeriksaan biasa untuk menghasilkan kesempurnaan. Seperti yang dilakukan Jaghana. Dengan menekan pelipis, sebenarnya Jaghana mengetahui apa yang terjadi dengan ulu hati, hidung berarti pangkal paha, dan puting payudara berarti otak bagian dalam. “Ya da-yuda, da-yuda-ya,” desis Jaghana. Mantra yang berarti, “Siapa yang berbuat jahat akan kehilangan daya serang.”

Dengan pemusatan kekuatan penuh, dengan pikiran yang bersih, usaha Jaghana menemukan hasilnya. Nyai Demang mulai terbatuk-batuk, mulai sadar kembali. Hanya wajahnya merah dan secara cepat tangannya menutupi wajah, ketika tangan Jaghana menekan bawah pusar.

“Bagaimana, Nyai?”

Nyai Demang menggeleng. “Uh, teri… terima… kasihhh…”

“Nyai, saya akan menjajal Sirih Kalacakra lagi. Harap Nyai bersihkan pikiran.”

Kembali Jaghana menekan bagian-bagian tubuh Nyai Demang dengan jempol tangannya.

Nyai Demang memberontak dan menarik tubuhnya. “Maaf, Paman Jaghana….”

Jaghana menghela napas.

“Sudah, sudah cukup,” kata Nyai Demang cepat, sambil menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Agaknya, walaupun mengetahui Jaghana tidak bermaksud kurang ajar, namun tetap merasa rikuh. Rasa enggan yang muncul dengan sendirinya dari lubuk susila seorang wanita.

Jaghana mengangguk membenarkan.

“Saya belum pulih seperti semula, akan tetapi rasanya cukup, Paman.” “Ya, Nyai.

“Apakah Nyai sudah bisa menceritakan apa yang terjadi?”

Wajah Nyai Demang kembali pucat. Seakan dihadapkan kembali dengan apa yang ditakuti, dengan apa yang disembunyikan. Keringat dingin membanjir, dan lidahnya menjadi kelu.

Jaghana sigap menubruk, dan kembali memainkan kedua jempolnya. Napas Nyai Demang naik-turun.

“Katakan, Nyai.

“Saya ada di samping Nyai.”

Nyai Demang membuka mulutnya, akan tetapi yang terdengar suara serak.

Jaghana tidak kehabisan akal. Sekali lagi mengambil dahan kering, dan menggenggamkannya ke tangan Nyai Demang.

“Tuliskan kehendak Nyai.”

Jaghana bukan berkata, akan tetapi sekaligus bersiaga. Kalau-kalau ada angin berkesiuran yang menyebabkan Nyai Demang terkulai. Seluruh kemampuannya dikerahkan untuk menangkap bisikan yang paling lemah sekalipun. Saat seperti itu, seekor cacing di dalam tanah, seakan bisa dirasakan geraknya.

Nyai Demang menggoreskan kalimat:

Bawa saya.

Jaghana bisa menangkap maksud Nyai Demang. Tanpa wigah-wigah, tanpa sungkan atau malu, Jaghana segera membopong Nyai Demang dan melangkah ke luar.

“Nyai, saya akan berjalan lurus terus.

“Jika Nyai menepuk dengan tangan kiri, saya akan membelok ke kiri. Jika Nyai menepuk dengan tangan kanan, saya akan berbelok ke kanan.

“Nyai cukup jelas mendengar?” Nyai Demang mengangguk.

Rasa ngerinya jauh berkurang sewaktu berada dalam dekapan Jaghana. Perlahan rasa aman itu menjalar dan membuat Nyai Demang tenang kembali.

Jaghana menggendong Nyai Demang menelusuri jalan di mana tadi melihat tanda-tanda yang ditinggalkan Pangeran Hiang. Tempat di mana Nyai Demang mencari buah-buahan.

Nyai Demang diturunkan dan memandang sekeliling. “Aneh…”

“Nyai sudah bisa bicara lagi?” “Aneh. “Tanda itu tak ada lagi. Apakah saya melihat atau hanya mengira-ngira?”

Barulah kemudian Nyai Demang bisa menceritakan dengan urut apa yang dialami. Apa yang dilihatnya sebagai tanda-tanda Pangeran Hiang berusaha berhubungan dengan tokoh lain.

Mereka berdua merunut lagi pada tempat yang lain. Pada permulaan pertemuan di mana Pangeran Hiang meninggalkan tulisan siung naga bermahkota.

Nyatanya tidak ada bekasnya.

“Apakah Paman mengetahui ada goresan yang dihapus atau terhapus dengan sendirinya?” Jaghana berjongkok, memeriksa dengan teliti.

“Saya tidak pasti, Nyai.

“Tapi satu hal jelas. Apa yang Nyai alami sekarang ini bukan semata-mata beban pikiran. Kelunya lidah, ketidakmampuan berbicara yang muncul mendadak, yang bisa hilang lagi, karena perbuatan orang lain.”

“Apakah itu berarti Pangeran Hiang…”

Membalik Ama Jadi Asih

NYAI DEMANG tidak melanjutkan kalimatnya. Sejenak matanya menatap kosong.

Jaghana hampir saja menduga Nyai Demang kehilangan suaranya lagi kalau saja tidak melanjutkan dengan,

“Apakah berarti Pangeran Hiang yang melakukan?” “Atau Anakmas Upasara.

“Atau saya.

“Atau Nyai sendiri.”

Jawaban sederhana yang mau tak mau membuat Nyai Demang tersenyum. Dengan jawaban itu, Jaghana seolah mau mengangguk membenarkan. Karena, mana mungkin mencurigai hal itu? Atau dirinya sendiri yang bermain sandiwara?

“Paman, terus terang saya sangat kecewa sekali.” Nyai Demang menghapus matanya yang basah. “Menangislah, Nyai, hambatan hati akan lega.”

Nyai Demang kemudian bisa menuturkan dari awal. Sejak perpisahan dengan Jaghana, penemuan Pangeran Hiang mengenai Enam atau Tujuh Langkah Karawitan, pendapatnya mengenai daya asmara, dan akhirnya kembali dari awal. Mengenai lamaran Pangeran Hiang.

Berhadapan dengan Jaghana, kalimat-kalimat Nyai Demang meluncur begitu saja. Seolah air yang tadinya tertahan dan kemudian menemukan arus lain.

“Bagaimana mungkin saya bercerita hal ini?

“Apakah Paman memakai jampi ya si hama, maha siya?” “Nyai yang merapalkan itu.

“Dan Pangeran Hiang akan mendengar.”

Singkat jawaban Jaghana, pendek caranya mengucapkan tanpa tekanan perasaan. Akan tetapi artinya luas dan dalam.

Ya si hama, maha siya adalah lirik terakhir yang ada di dahi Dewa Kala.

Yang artinya mengubah ama, atau hama, menjadi asih, segala dendam menjadi asih, menjadi kasih, menjadi maksud baik.

Kalimat ajaran Dewa Guru yang serba terbolak-balik itu mengundang makna yang bisa dijabarkan. Bukan sekadar agar mudah dihafal, melainkan juga menunjukkan penguasaan yang sempurna.

Demikian juga halnya dengan jawaban Jaghana.

Jawaban itu mengundang pengertian, bahwa Nyai Demang yang menghendaki maksud jahat Pangeran Hiang berubah menjadi baik. Dan diberi tekanan oleh Jaghana bahwa rapal semacam itu bisa terjadi.

“Tidak segampang itu, Paman. “Pangeran Hiang pewaris takhta atas Tartar, keraton yang mampu menguasai jagat paling luas. Pangeran Hiang tidak datang untuk menerima kekalahan.

“Kalaupun Pangeran Hiang bisa menerima kekalahan, tidak demikian dengan pengikutnya. Yang pasti akan menyusul entah kapan. Rasanya tak mungkin putra mahkota dibiarkan pergi dan hilang begitu saja.

“Entah kalau Paman pernah mempunyai jalan pikiran lain.” “Nyai, saya belum pernah mencurigai orang lain….”

“Saya tahu, Paman.

“Saya juga tidak ingin mencurigai.

“Akan tetapi seperti Paman katakan, ada yang menyebabkan saya mendadak tak bisa bicara untuk beberapa saat. Dan yang seperti ini tak bisa kita biarkan saja.

“Di mana Anakmas Upasara?” “Berjalan bersama Pangeran Hiang.”

“Apakah tidak mungkin Anakmas bakal dibokong?” Jaghana tersenyum tipis, lembut, samar.

“Paman Jaghana, biarlah saya yang menanggung dosa karena mempunyai pikiran jahat. Akan tetapi itu bukan tidak mungkin terjadi. Kalau Pangeran Hiang tega menyembunyikan sesuatu, ia bisa tega melakukan apa saja.

“Dan untuk Pangeran Hiang, kepala Anakmas Upasara sangat tinggi nilainya.”

Jaghana menggeleng dengan keras. Tangannya bergerak seirama dengan gelengan kepala. “Sangat mungkin, Paman.

“Anakmas Upasara terlalu sulit dikalahkan dalam perang tanding. Paling tidak memerlukan waktu yang cukup panjang. Akan tetapi dengan cara-cara seperti melumpuhkan saya, hal itu bisa terjadi dengan cepat.

“Dan Paman Jaghana jangan lupa, Anakmas Upasara dalam hal-hal seperti ini tak lebih dari bocah ingusan. Anakmas bukan hanya tak memiliki kecurigaan, akan tetapi tak pernah mengenalnya.”

“Nyai, Nyaiii…

“Pikiran kotor akan memberati hati.”

“Ini sikap hati-hati. Saya tak akan membiarkan Pangeran Hiang mencurangi Anakmas….” Sikap Nyai Demang menunjukkan kekesalan yang dalam.

Sorot matanya memandang rendah Jaghana. “Kita tak mempunyai waktu banyak, Paman.

“Barangkali saat ini Anakmas sudah kena pengaruh tanpa terasa. Barangkali Pangeran Hiang dan pengikutnya sudah meringkus Anakmas. Atau malah sudah menyeret ke Tartar.

“Paman Jaghana.

“Anakmas Upasara bukan hanya ksatria lelananging jagat, bukan hanya pewaris murni Perguruan Awan, melainkan juga lambang tanah Jawa. Pangeran Hiang atau siapa pun dari tanah seberang ingin menaklukkannya.

“Sekali lagi saya katakan, Anakmas Upasara sama kosongnya dengan Paman Jaghana dalam hal semacam ini. Kalau tidak begitu, mana mungkin Halayudha bisa menyudutkan dan hampir menghancurkan beberapa kali.

“Ketidakmatian Upasara karena ulah Halayudha, hanya karena kemurahan Dewa Yang Maha murah.”

Kalimat Nyai Demang bergegas dan beringas. Beberapa bagian terulang diucapkan karena desakan menumpahkan dorongan hati untuk meyakinkan Jaghana.

“Paman.

“Anakmas tak bisa dikalahkan dalam pertarungan. Tapi sangat gampang ditaklukkan tanpa sadar. Bahkan tetap tak mengetahui bahwa dirinya dicurangi.”

Jaghana merangkapkan kedua tangannya di depan dada. “Apakah saya harus mengotori jiwa dan pikiran saya?”

“Kenapa Paman masih lebih mementingkan kesucian hati pada saat seperti ini? “Paman. “Karena saya belum bisa bergerak leluasa, saya minta Paman menggendong saya. Menuju ke tempat Anakmas Upasara.”

“Saya akan membawa Nyai, tapi tidak dengan bekal kecurigaan, tidak diniati dengan pikiran kotor.” “Saya tak peduli. “Maaf.

“Maaf.

“Saya akan pergi sekarang.”

Nyai Demang bergerak perlahan. Tertatih-tatih. Jaghana terbatuk keras, merangkapkan tangan di dada, bibirnya berkomat-kamit sebelum akhirnya menyambar Nyai Demang, menggandeng dengan merangkul pinggangnya.

“Tangan Nyai yang menjadi petunjuk.

“Tepukan kiri, kanan, atau diam saja berarti lurus.” Dalam hatinya Nyai Demang kesal.

Sangat kesal.

Sangat kesal sekali karena yang mengetahui tempat Upasara adalah Jaghana, akan tetapi meminta dirinya yang memberi petunjuk. Dan hal semacam ini tak bisa diutarakan kepada Jaghana. Rasa kesal ini bisa berlipat kalau Nyai Demang mencoba memahami bahwa hal ini menjadi sikap hidup, sikap batin sehari-hari Jaghana ataupun Upasara.

Berusaha tidak mencurigai.

Bagaimana mungkin nilai seperti ini masih bisa dipertahankan di tengah kemelut, di tengah intrik-intrik, di tengah dunia di mana ada manusia seperti Halayudha?

Kalau sudah begitu, apa artinya keunggulan ilmu silat yang tiada tara? Apa arti sakti mandraguna kalau kakinya tak menginjak bumi, dan tak tahu siasat yang sangat sederhana?

Perasaan Nyai Demang makin tak menentu ketika Jaghana menggandeng dari ujung ke ujung dan tak menemukan bayangan Upasara. Tubuh keduanya bergerak makin cepat menyusup, makin tinggi menerabas.

Tetapi, tetap saja.

Tak ada bayangan Upasara maupun Pangeran Hiang. “Apa saya bilang!”

Suara Nyai Demang sangat keras. “Apa saya bilang.”