Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 46

Jilid 46

“Pangeran Upasara, apakah tidak hormat jika kita mempersoalkan hal itu?” “Saya tidak tahu.

“Rasanya sangat kurang menghormati Eyang Sepuh dengan mempertanyakan hal itu.” Pangeran Hiang mengangguk mantap.

“Saya bisa memahami. Menghormati leluhur, orang yang lebih tua, di mana pun kita berada.

Juga di negeri asal saya.

“Akan tetapi saya berpikir lain, Pangeran Upasara. “Maaf kalau saya lancang.

“Kalau tadi Pangeran Upasara mengatakan Eyang Sepuh memunculkan diri lewat bisikan, bukankah itu pertanda bahwa bagi Eyang Sepuh pribadi masih ada ganjalan? Bukankah akan lebih sempurna lagi jika Pangeran Upasara bisa memahami dan kemudian mengubahnya?”

Wajah Upasara berubah beku. Keras. Kaku.

“Maaf, kalau saya salah bicara.”

Nyai Demang merapatkan kedua tangannya. “Pangeran Hiang tidak salah bicara, dan Anakmas Upasara tidak salah menerima. Rasa-rasanya kita harus melihat kembali dengan hati lebih bening, lebih bersih dan tenang, apa yang diajarkan Eyang Sepuh.

“Kalau tadi saya bertanya mengenai suasana batin Eyang Sepuh, karena sesungguhnya tadi terbersit suatu pertanyaan yang diucapkan Pangeran Hiang. Kenapa ajaran ngrogoh sukma yang tanpa batas itu justru macet pada wilayah tertentu? Dalam hal ini mencoba memahami daya asmara Gendhuk Tri.

“Apakah itu kamu rasakan ketika kamu mencoba memahami isi hati Permaisuri Rajapatni?” Upasara menggeleng.

“Sekali lagi saya minta maaf, kalau ini menyinggung masalah pribadi.” Upasara Wulung menggeleng lagi.

“Jangan merasa sungkan, rikuh, untuk membicarakan hal ini, Pangeran Hiang.” “Saya minta maaf karena dua hal.

“Pertama, karena ini masalah pribadi Eyang Putri Pulangsih dan Eyang Sepuh, dan kedua, karena kemampuan saya memahami tidak sepenuhnya benar.

“Ketika saya berusaha memahami berbagai kitab pusaka di tanah Jawa ini, saya merasakan betapa sesungguhnya tumbal menjadi sikap yang terutama. Ini yang kemudian mendasari dan terlihat pada bagian akhir Kitab Bumi yang kesohor, yang kemudian dianggap sebagai Jalan Buddha yang paling murni.

“Siapa pun yang menciptakan, di tangan Eyang Sepuh-lah Kitab Bumi menemukan bentuknya. Beberapa saat setelah itu, Eyang Sepuh juga menciptakan Kidungan Paminggir, Kitab Paminggir yang menggegerkan. Sehingga Sri Baginda Raja loncat dari singgasana dan menciptakan Kidungan Para Raja, dan kemudian disempurnakan atau dipertemukan oleh Mpu Raganata dengan Kidungan Pamungkas.”

Nyai Demang mendengarkan tanpa berkedip. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuatnya gelisah. Cara bertutur Pangeran Hiang sangat jelas, jernih, memperlihatkan penguasaan yang tinggi. Ini yang tidak pernah diduga semula, bahwa Pangeran Hiang bisa menyelam sedalam itu.

Ini yang membuatnya gelisah tanpa mengetahui dengan pasti apa sebabnya ia harus gelisah. “Nyai Demang, Pangeran Upasara pasti lebih memahami. Bahwa jarak sikap batin pada Kitab

Bumi sangat jauh berbeda dari Kitab Paminggir.

“Yang pertama berintikan penyerahan total, pasrah, kesediaan mengorbankan diri menjadi tumbal, sementara ajaran Kitab Paminggir justru bermuarakan pada ajaran mahamanusia.”

“Yang kembali dibumikan oleh Mpu Raganata dengan Kitab Pamungkas, kitab yang terakhir mengenai perbedaan pandang ini.”

“Benar, Nyai.

“Akan tetapi dari segi ajaran Eyang Sepuh, dari sikap batin Eyang Sepuh, kita menemukan dua inti yang berbeda. Atau bahkan berlawanan.

“Satu pihak mengajarkan menjadi tumbal. “Pihak lain mengajarkan menjadi mahamanusia.

“Ini membingungkan saya. Kitab Paminggir lebih belakangan diciptakan, dan rasanya selama ini belum pernah ada penyesalan atau perbaikan dari Eyang Sepuh sendiri. Bahkan dengan mengundurkan diri dari segala kegiatan duniawi dan Keraton, membuktikan bahwa Eyang Sepuh tetap berpegang teguh pada Kitab Paminggir.”

Nyai Demang menebak-nebak. “Itu yang saya pertanyakan, Pangeran Hiang. Apakah ada suasana batin yang mempengaruhi Eyang Sepuh kala itu?

“Apakah itu bukan daya asmara yang masih belum terselesaikan terhadap diri Eyang Putri Pulangsih?”

Suasana hening.

Perangkap Asmara

SUASANA hening masih terus berlanjut hingga beberapa langkah. Semua terseret jalan pikiran masing-masing.

Nyai Demang merasakan kegelisahannya. Pangeran Hiang menatap langit.

Upasara mengangguk. “Kalau Pangeran Hiang susah menerima mana yang lebih inti, tumbal atau mahamanusia, itulah kebesaran Eyang Sepuh. Itulah inti ajaran tanah Jawa yang susah dipahami dengan satu pengertian.

“Itulah daya asmara.”

“Apakah soal asmara sedemikian pentingnya?” “Apakah tidak?” Nyai Demang balik bertanya.

“Saya kira tidak perlu menumbuhkan keruwetan seperti yang dialami Eyang Sepuh. Menurut pendapat saya, yang bisa salah, Eyang Sepuh justru terjebak di dalam lingkaran yang menjeratnya untuk mencapai tingkatan tertinggi. Itu kalau benar beliau perlu menampakkan diri kembali, setelah mencapai tingkat moksa.

“Maaf, saya mengatakan apa yang ada dalam pikiran tanpa menutupi.” “Apakah Pangeran Hiang menilai asmara sebagai pelengkap belaka?” “Tidak juga, Nyai Demang.

“Akan tetapi yang jelas tidak untuk membebani. Tidak untuk bertiarap dalam perangkap. Saya sangat sedih, sangat kecewa terhadap Putri Koreyea. Tetapi saya tak akan menenggelamkan diri dalam kepedihan itu.

“Tak ada gunanya untuk saya.

“Tak ada gunanya untuk Putri Koreyea.

“Saya tidak menyinggung perasaan Nyai, akan tetapi mencoba memberikan gambaran pandangan saya secara pribadi. Saya katakan secara pribadi karena pengalaman dan perjalanan hidup saya berbeda dari Nyai Demang maupun Pangeran Upasara.

“Saya dibesarkan dalam tradisi seperti itu. Seperti juga Barisan Api. Seperti juga Gemuka, yang memilih tidak melibatkan diri dengan daya asmara.”

“Pembicaraan yang menarik karena terbuka. Tapi rasanya tidak perlu diumbar sebanyak ini,” suara Nyai Demang sedikit meninggi.

Akhirnya mereka meneruskan perjalanan dengan berdiam. Juga ketika Pangeran Hiang memutuskan bermalam di rumah penduduk, hanya dijawab anggukan.

Nyai Demang, yang merasa sedikit terganggu, hatinya masih bertanya-tanya. Kenapa agak mendadak Pangeran Hiang mengatakan itu?

Namun Nyai Demang tak berpikir banyak. Kelelahan dan ketegangan sangat cepat menyeret tidurnya dalam kelelapan. Sampai dini hari.

Meskipun tenaga dalamnya tidak sekuat Upasara Wulung, jalan pikiran Nyai Demang lebih teliti. Ketika bangun, Nyai Demang merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Karena betapapun lelahnya, tak nanti bisa begitu saja terlelap. Sehingga terbersit keraguan, adakah sebab lain yang mempengaruhi.

Sewaktu mencoba pernapasannya, Nyai Demang tidak menemukan sesuatu yang luar biasa.

Jalan napas, jalan darahnya normal, tak ada gangguan suatu apa.

Meskipun demikian, sikapnya menjadi waspada. Itu pula sebabnya ketika mencapai pinggiran Perguruan Awan, Nyai Demang memusatkan perhatian pada diri sendiri. Berbaring di bawah sebatang pohon, dan sekuat tenaga memusatkan kekuatannya.

Sampai jauh malam tak terjadi sesuatu.

Memang saat itu pikiran Nyai Demang masih terganggu. Baik karena mendengar pendapat Pangeran Hiang, maupun menduga-duga apa yang tengah terjadi dengan Gendhuk Tri. Karena Nyai Demang mengetahui pasti bagaimana reaksi Gendhuk Tri menghadapi situasi yang tidak betul. Gendhuk Tri tak akan minggir. Halayudha sekalipun akan dihadapi.

Dengan beban pikiran seperti itu, Nyai Demang heran akan ketidak-mampuannya menahan kantuk yang menyelinap. Makin dikuatkan tenaga dalamnya untuk melawan, makin terasa berat matanya. Antara sadar dan tidak, Nyai Demang menggenggam tangannya untuk meyakinkan kesadarannya. Hanya saja tubuhnya tak mampu menahan. Dalam perjalanan terlelap, Nyai Demang melihat tangan yang mengusap wajahnya.

Nyai Demang memberontak sekuat tenaga. Tapi kelelapan yang lebih kuasa menyeretnya.

Ketika terbangun esok harinya, Nyai Demang menjajal tenaga dalamnya kembali. Tak ada sesuatu yang ganjil. Semuanya berjalan normal.

Apakah yang dialami hanya mimpi? Rasanya tak mungkin. Tangan yang bergerak di depan wajahnya itu begitu jelas terlihat dan sentuhannya terasakan.

Siapa yang melakukan?

Sebelum berangkat tidur, yang ada di dekatnya hanya Upasara Wulung yang tengah bersemadi. Bersebelahan dengan Pangeran Hiang yang juga melakukan hal yang sama. Hanya Pangeran Hiang memang bergerak-gerak, tangan dan kakinya seperti memainkan Enam atau Tujuh Langkah Karawitan.

Jadi siapa yang melakukan?

Kalau tokoh lain, rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin tanpa diketahui Upasara maupun Pangeran Hiang. Kecuali kalau memang masih ada tokoh yang sangat sakti mandraguna, yang setingkat atau malah di atas Upasara. Rasanya tak ada lagi. Lagi pula kalau benar ada tokoh sesakti itu, apa maunya? Kenapa membuatnya terlelap?

Nyai Demang menyimpan teka-teki dalam hatinya. Menyimpannya sendiri, meskipun Pangeran Hiang seperti bisa menerka apa yang terjadi.

“Kenapa, Nyai?”

“Tidak ada apa-apa, Pangeran Hiang.

“Kenapa Pangeran Hiang bertanya seperti itu?”

“Dua pagi ini Nyai menggerakkan tenaga dalam secara menyeluruh, seolah ada sesuatu yang sakit.” “Ah, kenapa Pangeran Hiang begitu memperhatikan?

“Hanya pegal-pegal yang biasa terjadi pada wanita setua saya.” Pangeran Hiang mengangkat alisnya.

“Saya bisa membantu, bila Nyai tidak berkeberatan.” “Dengan senang hati jika saya memerlukan Pangeran.

“Marilah kita bersiap. Rasanya kita harus bergegas agar sebelum matahari tenggelam sudah bertemu Paman Jaghana.”

Kalaupun dalam perjalanan terjadi percakapan, Upasara Wulung lebih banyak menjawab apa yang ditanyakan Pangeran Hiang. Terutama mengenai unsur-unsur irama dalam karawitan. Selebihnya berdiam, menghela napas.

“Anakmas…”

Pangeran Hiang mencekal tangan Nyai Demang.

“Pangeran Upasara tengah memikirkan sesuatu yang besar baginya. Sesuatu yang bisa dirasakan oleh semua jago silat, oleh semua pendekar. Ada yang bergolak dalam batinnya dan menunggu saat yang tepat untuk diartikan.”

“Sesuatu…” “Sesuatu yang juga saya rasakan selama ini, ketika irama karawitan itu merasuk ke dalam kesadaran.

“Barangkali saja Pangeran Upasara tengah menciptakan jurus-jurus yang luar biasa nantinya.” Nyai Demang mengerutkan keningnya.

“Pada saat seperti ini?” “Justru pada saat seperti ini.”

“Dari mana Pangeran mempunyai dugaan seperti itu?” “Saya juga merasakan, dan saya telah mengatakan.

“Ada dua pengertian mendasar yang sedang dipahami Pangeran Upasara. Pengertian tumbal dan pengertian mahamanusia. Dua pengertian yang berbeda, yang bertentangan. Pada daya asmara hal itu bisa diterangkan sebagai perbedaan yang tak terpahami. Siapa tahu dari dasar ini Pangeran Upasara bisa menciptakan sesuatu yang besar.”

Dari pembicaraan yang terjadi, Nyai Demang merasa bahwa Pangeran Hiang tidak menyembunyikan sesuatu. Mengatakan semuanya dengan jujur. Dan Nyai Demang bisa menerima.

Bukankah Tumbal Bantala Parwa juga tercipta ketika Eyang Sepuh menolak Putri Pulangsih? Bukankah Kidungan Paminggir juga lahir ketika bibit-bibit pertentangan dengan Sri Baginda Raja meninggi?

Tapi entah kenapa Nyai Demang curiga pada Pangeran Hiang. Caranya melatih Langkah Karawitan sangat aneh. Beberapa kali diulang, beberapa kali dilakukan dengan tenaga yang cukup besar. Sehingga seakan meninggalkan bekas pada tanah yang diinjak atau pepohonan sekeliling. Apalagi itu dilakukan pada jarak-jarak tertentu.

Dalam hal semacam ini, otak Nyai Demang bisa melejit cepat dari kemampuan ilmu silatnya. Kecurigaannya makin kuat, karena bekas injakan kaki Pangeran Hiang seakan membentuk huruf yang bisa diartikan sebagai siung atau taring.

Nyai Demang mengerahkan seluruh kemampuannya. Mempertajam pendengarannya, memperhatikan segala gerakan angin. Akan tetapi sampai di Perguruan Awan tak ada sesuatu yang aneh.

Upasara menghela napas.

“Paman Jaghana, hari ini saya berkunjung kembali ke Perguruan Awan….”

Apa yang dilakukan Upasara Wulung sebenarnya hanya mengucapkan uluk salam, mengatakan kehadirannya. Karena belum tentu didengar Jaghana, yang tidak ketahuan pasti di mana ia berada.

Persiapan Telah Selesai

PANGERAN HIANG ikut bersoja.

“Perguruan Awan memang terbuka seperti ini, Pangeran.

“Barangkali kita memerlukan waktu untuk bisa bertemu Paman Jaghana atau yang lainnya.” “Saya pernah mendengarnya, Nyai.”

“Barangkali sebaiknya kita sekarang berpencar, dan bisa saling memberi tanda jika bertemu Paman Jaghana.”

“Pastilah Paman Jaghana akan merasa mengetahui bahwa kita tiba di sini,” jawab Upasara tenang. “Lebih baik kita tunggu di sini.”

“Kalau begitu, saya akan mencari buah-buahan….” Pangeran Hiang mengangguk.

Nyai Demang segera bergerak cepat. Tubuhnya melayang, lenyap dari pandangan. Upasara duduk bersila, berhadapan dengan Pangeran Hiang.

“Pangeran Upasara,” kata Pangeran Hiang perlahan. “Katakan dengan jujur, apakah kata-kata saya terlalu kasar sehingga melukai perasaan Nyai Demang?”

“Saya tak sepenuhnya paham hati dan perasaan wanita, Pangeran.”

“Sejak saya mengatakan perihal daya asmara, Nyai Demang kelihatan banyak termenung.” “Hal yang wajar. “Itulah daya asmara.” Pangeran Hiang tersenyum. Dadanya membusung.

“Pangeran Upasara, nasib mempertemukan kita. Nasib menyatukan kita sebagai saudara.

Berbagi pengalaman yang berat menguji kita berdua, akan tetapi tali persaudaraan kita tak goyah.

“Apakah saya tidak salah kalau tadi mengatakan Pangeran sedang memikirkan suatu jurus ilmu silat yang baru?”

Upasara tersenyum.

Dagunya tertekuk. Mengangguk.

“Tidak sepenuhnya langsung seperti itu.

“Barangkali bisa menjadi jurus-jurus ilmu, barangkali hanya menjadi beban pikiran.

“Kehadiran kembali Eyang Sepuh, bagi saya merupakan pertanyaan besar. Apa sebenarnya pencapaian moksa itu? Apa yang lebih dahsyat dari kekuatan moksa itu sendiri?”

“Daya asmara.”

Angin mendesis dari bibir Upasara. “Tepat sekali, Pangeran.

“Daya asmara itulah kekuatan yang lebih dahsyat. Hanya bagaimana memahaminya, agaknya pengetahuan saya masih sangat terbatas. Karena di satu pihak menjadi beban-seperti yang Pangeran katakan, seperti yang saya alami.”

“Maaf, Pangeran, saya makin tidak bisa memahami.

“Apakah itu berarti kekuatan yang menciptakan kesempurnaan atau malah menghancurkan?” “Seperti juga semua tenaga dalam, bisa berarti kedua-duanya. Bisa menghancurkan dan bisa

menguatkan.”

“Ini pembicaraan menarik, Pangeran.

“Dalam ilmu silat kita sama-sama mengenal unsur kekuatan bumi, air, api, angin, binatang, matahari, atau rembulan. Dasar kekuatan yang bertentangan, saling berbeda, saling mengalahkan.

“Sejauh yang saya tahu, kekuatan bumi yang dilahirkan Eyang Sepuh adalah segalanya.” Kalimat Pangeran Hiang terhenti karena reaksi Upasara Wulung.

70

By admin • Jan 9th, 2009 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II “Apakah kalimat saya keliru?”

“Saya rasa tidak sepenuhnya kekuatan bumi mengalahkan air, api, binatang….” Upasara mendesis.

Bersila hormat dan menyembah. Tangan kirinya bergerak perlahan bagai gelombang, sementara tangan kanannya bergerak dari bawah ke atas. Mulai dari tanah tertarik ke atas, sikunya tertekuk ke dalam dan perlahan naik ke atas, sebelum dientakkan ke depan!

Mata Pangeran Hiang membelalak. Menandakan rasa terkejutnya.

Selama ini belum pernah melihat gerakan seperti yang dilakukan Upasara sekarang ini.

Upasara menghela napas. Lalu memulai lagi dari awal. Tapi kini berganti. Tangan kanannya yang berada di atas, setingkat dengan bahu dan bergetar. Kelima jarinya menjulur tapi rapat, seperti tergerakkan oleh desiran gelombang angin di bawahnya. Dan tangan kirinya melakukan gerakan seperti yang tadi dilakukan tangan kanan. Yaitu tengadah, tertekuk hingga pergelangan, lalu ditarik ke atas, siku tertekuk ke dalam, sebelum naik setingkat dengan dada, sebelum dientakkan ke depan.

Pangeran Hiang mendesis. Meloncat dari tempat duduknya.

Mengawasi Upasara yang masih memusatkan pikirannya. Kejadian ini memang sangat luar biasa di mata Pangeran Hiang. Tak terbayangkan sebelumnya. Sesuatu yang luar biasa kalau diingat bahwa Pangeran Hiang mempunyai ilmu yang sangat tinggi, pengalaman yang sangat luas. Boleh dikatakan semua kitab pusaka yang ada sudah dimamah habis. Semua gerakan dan cara pengerahan tenaga bisa dikuasai dengan sangat baik.

Apalagi gerakan mengerahkan tenaga dalam yang dilakukan Upasara sebenarnya tak berbeda jauh dari apa yang dilakukan di Tartar. Hanya bedanya, gerakan itu selalu dilakukan dua tangan. Kalau Upasara biasa mengerahkan dengan satu tangan, itu pun sudah luar biasa. Akan tetapi Pangeran Hiang masih bisa memahami apa yang disebutkan sebagai Tepukan Satu Tangan, di mana tangan kanan dibiarkan terkulai sebagaimana tangan Buddha. Pangeran Hiang mengagumi kehebatan tepukan satu tangan yang menimbulkan bunyi lebih nyaring dari dua tangan.

Yang dianggap puncak kehebatan ajaran Kitab Bumi sehingga berani dikatakan sebagai Jalan Buddha yang sesungguhnya. Akan tetapi ternyata itu belum puncak.

Upasara bisa melakukan dengan sempurna, sementara tangan kanan melakukan gerakan lain. Dan bisa dibalikkan, di mana tangan kiri melakukan gerakan itu.

Empasan tenaga dalam Upasara memang tidak terlalu kuat. Tak cukup membuat Pangeran Hiang meloncat. Akan tetapi sebagai sesama pendekar, Pangeran Hiang menyadari bahwa Upasara menemukan pendekatan dan penghayatan baru dari ilmunya. Yang jika dilatih keras, benar-benar bisa luar biasa.

Karena sesungguhnya gerakan-gerakan dasar itulah yang nantinya dikembangkan, disempurnakan. Semakin sempurna gerakan yang diciptakan semakin cepat pengerahan tenaga dalam, dan semakin kuat perkasa.

Seseorang yang sakti bisa menciptakan ilmu mautnya hanya dengan melihat burung bertarung melawan harimau. Inti kekuatan yang tercermin itulah yang diangkat sebagai inti kekuatan ilmunya. Melihat semut yang mampu mengangkat beban yang sekian kali berat tubuhnya, melihat belalang yang mampu meloncat puluhan kali tinggi tubuhnya, melihat akar bambu yang mampu menyangga batang yang tinggi, merupakan petunjuk-petunjuk alam. Kemampuan memahami inti kekuatan itu, yang bila diubah dalam diri seorang pendekar, benar-benar luar biasa.

Upasara sekarang sampai di tingkat itu.

Tangan kanan melakukan gerakan bumi, tangan kiri melakukan gerakan air. Dan bisa sekaligus dibalik. Kiri menjadi tenaga bumi, dan kanan mengerahkan tenaga air.

Upasara masih berlatih ketika Jaghana muncul dan bersila di dekat Pangeran Hiang yang beberapa kali menggeleng.

“Selamat, Pangeran Upasara. Kemurahan Dewa Yang Mahadewa telah tercurah sepenuhnya.

Selamat!”

Pangeran Hiang berjongkok, menyembah dengan menjatuhkan kedua tangan di depan dan ubun-ubun menyentuh rumput sebanyak tiga kali.

Upasara menggeleng lembut. “Tidak, Pangeran Hiang. “Rasanya masih jauh….” Jaghana mengangguk.

“Tempat ini memang tempat kemurahan Dewa. Saya yang tak bisa mensyukuri.” Senyum tipis dan bahagia mengembang di wajah Jaghana.

“Rasanya mati pun puas setelah melihat sendiri….” “Paman…”

“Jangan terlalu sungkan.

“Marilah bersama-sama mengucapkan syukur kepada Dewa Yang Mahakuasa….” Ketiganya bersemadi bersamaan.

Hal yang bertentangan tengah terjadi pada diri Nyai Demang. Sewaktu pamit mencari buah, Nyai Demang sengaja meniti jalan dari arah dirinya datang.

Untuk memastikan apakah matanya tidak salah melihat tanda tulisan siung yang ditinggalkan Pangeran Hiang. Sambil memetik buah-buahan Nyai Demang melirik ke tempat tanda goresan kaki Pangeran Hiang tertinggal.

Rasanya jantung Nyai Demang terlepas dari dadanya ketika tulisan itu berubah menjadi: persiapan telah selesai. Menunggu Perintah Takhta

KALI ini Nyai Demang yakin dengan penemuannya. Jejak yang dibuat Pangeran Hiang pasti ditujukan kepada orang lain. Tak mungkin tidak. Dan orang yang dihubungi itu telah menjawab.

Tak perlu ragu lagi.

Biarpun tidak sepenuhnya menguasai, Nyai Demang bisa membaca huruf-huruf dari Jepun maupun Tartar. Dan sedikit-banyak bisa mengartikan.

Kali ini tak mungkin keliru.

Pangeran Hiang diam-diam telah berhubungan dengan seseorang atau banyak orang. Nyai Demang lebih yakin lagi karena kini berada di Perguruan Awan. Di mana daun jatuh atau rumput tak pernah berubah sejak pertama kali tumbuh.

Bukan tidak mungkin selama ini Pangeran Hiang sudah berhubungan secara rahasia. Hanya saja tak pernah bisa diketahui. Dan tetap akan tak diketahui jika tanda-tanda itu tidak ditinggalkan di Perguruan Awan.

Tak salah lagi.

Tak mungkin salah lagi.

Kalau benar begitu, apa sebenarnya yang direncanakan Pangeran Hiang? Apa arti jawaban persiapan telah selesai? Persiapan apa? Persiapan peperangan untuk membalas dendam?

Sangat mungkin mengingat selama ini gelombang dari negeri Tartar tak pernah berhenti. Selalu datang silih berganti. Sangat mungkin sekali rombongan yang sama atau rombongan berikutnya menyusul. Mana mungkin seorang putra mahkota dibiarkan pergi sendiri tanpa diketahui kabar beritanya?

Kalau ini semua benar, berarti Pangeran Hiang selama ini melakukan sesuatu yang sangat rahasia, bermain sandiwara secara sempurna.

Sudah sejak Tiga Naga dipukul mundur, prajurit dan mahapatih dari Tartar selalu berusaha menerobos masuk lewat penyamaran dan sayembara.

Sudah sejak semula ada yang datang secara terang-terangan tetapi juga ada yang tak diketahui.

Tubuh Nyai Demang gemetar.

Untuk sesaat tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Baru kemudian melangkah limbung kembali ke tempat semula. Dengan pikiran yang sarat memenuhi kepalanya. Rasanya dirinya belum pernah menerima beban yang melewati batas kemampuannya.

Pangeran Hiang!

Pangeran Hiang yang melamarnya, yang mengajak ke takhta Tartar, ternyata diam-diam sedang menyusun kekuatan yang tak diketahui siapa pun. Tidak juga Upasara yang polos.

Pangeran Hiang!

Pangeran Hiang yang kelihatan polos, mengangkat saudara, ternyata sedang memainkan kartu utamanya dengan dingin. Nyai Demang makin sadar bahwa rasa kantuknya dulu itu karena gerakan usapan tangan.

Berarti sudah sejak lama. Apa yang akan dilakukan?

Menyimpan semuanya dan menanyakan secara pribadi kepada Pangeran Hiang? Apakah bukan seperti memasukkan kepala ke dalam kobaran api yang terpendam dalam sekam? Dengan berbagai cara, bisa saja Pangeran Hiang melenyapkan dirinya, tanpa ada yang mencurigai. Ilmunya sedemikian tinggi!

Atau menyimpan pengertian ini untuk dirinya sambil menunggu gerakan yang dilakukan Pangeran Hiang? Kalau jalan ini yang dipilih, apakah tidak berarti terlambat?

Kalau diperhitungkan bahwa penyusupan pasukan Tartar sejak semula begitu teliti dan cermat, sedikit terlambat bisa berarti habis punah.

Bagi Nyai Demang semuanya ini menjadi beban yang menindih hebat. Juga karena Pangeran Hiang telah melamarnya. Dan dirinya telah mengatakan menerima. Betapa hancur hatinya kalau kemudian mengetahui, ini semua merupakan bagian dari rencana Pangeran Hiang. Nyai Demang, Nyai Demang…! teriaknya dalam hati dengan suara tersayat. Kenapa kamu tidak pernah bercermin di air sungai? Di situ akan kamu temukan wajah wanita yang tua, yang tidak menarik. Di situ akan mudah kamu temukan kejanggalan, seorang putra mahkota Tartar yang bagai Dewa sungguh tak pantas bersanding denganmu. Mana mungkin kamu masih menyimpan impian yang ngayawara, yang bukan-bukan.

Sedemikian berat tindihan hati Nyai Demang sehingga lututnya bergetar. Tubuhnya perlahan merosot ke tanah dan buah-buahan yang dikumpulkan jatuh tercerai-berai.

Rintihan dari bibirnya mengisyaratkan kepedihan yang tak tertanggungkan. “Jagattri, anakku… Anak Tri… Jagattri, anakku….”

Nama Gendhuk Tri meluncur begitu saja dari bibirnya. Bawah sadarnya mengatakan bahwa pada saat seperti sekarang ini hanya Gendhuk Tri yang bisa mendengar kalimatnya. Hanya Gendhuk Tri seorang yang mampu menerima muntahan kandungan keruwetan batinnya.

Pada saat yang sama, Gendhuk Tri memantapkan langkah masuk ke dalam Keraton.

Tak berbeda dengan perhitungan Nyai Demang. Bahwa akhirnya Gendhuk Tri akan menghadapi Halayudha.

Sewaktu meninggalkan rombongan, Gendhuk Tri memang bermaksud kembali ke Keraton. Untuk mengetahui keadaan yang dikatakan Pangeran Anom. Hanya kali ini Gendhuk Tri tidak bertindak begitu saja. Melainkan mempersiapkan dengan sangat hati-hati.

Pertama kali yang dicari adalah Pangeran Anom.

Yang diketemukan hanyalah kabar. Bahwa Pangeran Anom tidak kembali ke Keraton, melainkan langsung menuju Pamalayu, menyusul kedua orangtuanya. Dari sini Gendhuk Tri merasa sedikit bersalah. Bagaimanapun, tindakan Pangeran Anom yang demikian tergesa dan tidak memedulikan segalanya, karena tak mendapat tanggapan darinya. Gendhuk Tri merasa bersalah, karena belum bisa menjelaskan secara langsung kepada Pangeran Anom.

Yang ditemui hanya Pangeran Angon, yang hanya mengulang apa yang sudah diketahui mengenai keadaan dalam Keraton. Gendhuk Tri berusaha menemui Tujuh Senopati Utama. Yang justru menemuinya pertama adalah Senopati Tanca.

“Kami mengerti sepenuhnya jiwa luhur jiwa ksatria sejati, Anakmas Jagattri. Tetapi saat ini kami tak bisa berbuat suatu apa, karena kami adalah senopati tanpa daya. Kami tak mempunyai hak, tak mempunyai kewajiban, tak mempunyai keberanian masuk ke Keraton, sejak kami dilengser dengan tidak hormat.”

“Paman Senopati Utama Tanca…” “Anakmas Jagattri, kami semua ini prajurit.

“Perintah Raja adalah segalanya. Kalau takhta bersabda, kami akan mengikuti perintah sampai ke tulang, sampai ke dalam tanah. Selama ini kami bukan apa-apa, bukan siapa-siapa….”

“Paman, apakah Paman Tanca akan membiarkan Keraton dirusak Mahapatih Halayudha?” Wajah Senopati Tanca seperti terbakar.

“Anakmas Jagattri.

“Bunuhlah kami jika itu perintah takhta. Akan kami jalani dengan senang, ikhlas, dan bahagia.

Kami hanya prajurit, dan selamanya prajurit!” “Maaf, Paman.

“Paman adalah senopati utama, dharmaputra yang tidak tertandingi untuk menerima anugerah kehormatan besar. Di seluruh Keraton hanya ada tujuh senopati yang mendapat kebesaran gelar tersebut.

“Maaf, Paman.

“Saya sengaja membakar hati Paman, agar menghilangkan rasa tak berharga. Keraton sedang dalam bahaya.”

“Anakmas Jagattri.

“Kita tak tahu apakah Raja sengaja memilih kejadian seperti ini atau tidak.”

“Bagaimana mungkin Paman Senopati Tanca bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Apakah keterangan ketiga pangeran anom kurang jelas?”

“Jelas, sangat terang. “Tetapi Raja serba tak terduga oleh prajurit kecil seperti kami. Dan hanya perintah Raja yang kami patuhi.”

Gendhuk Tri menggigit bibirnya. “Maaf, Paman Tanca, maaf.

“Saya kecewa besar atas sikap Paman.” “Kami bisa memahami.”

“Saya bisa menduga Paman sekalian sengaja membiarkan kejadian ini. Meskipun ada juga kemungkinan Paman mematuhi ajaran keprajuritan yang sekarang sedang direndahkan karena Paman dilengser, dipecat, Raja.

“Saya tidak marah. “Saya tidak dendam.

“Saya hanya kecewa besar.

“Tetapi saya akan tetap masuk ke Keraton.” Senopati Tanca menyembah Gendhuk Tri.

Bagi Gendhuk Tri itu penghormatan yang dalam. Akan tetapi saat itu hatinya beku. Kekecewaannya sangat melukai perasaannya. Karena bagi Gendhuk Tri sungguh tidak masuk akal bila seorang senopati utama bisa berdiam diri ketika Keraton terancam, betapapun pedihnya penderitaan yang dialami.

Itu berarti Gendhuk Tri akan menghadapi seorang diri.

Itu yang dilakukan kini. Masuk ke Keraton, berhadapan langsung dengan Halayudha yang menguasai takhta!

Siaga Bendera

GENDHUK TRI menyaksikan pemandangan yang sulit dipercaya.

Ketika ia memutuskan masuk ke Keraton seorang diri, tak terbayangkan bahwa sebenarnya ia tidak sendirian. Ketika Senopati Tanca menolak ajakannya, sebenarnya tidak sepenuhnya melepaskan sendiri.

Keluar dari bangunan sasanamulya, tempat para pangeran anom diinapkan, dalam perjalanan ke arah timur menuju Keraton, para prajurit tampak bersiaga penuh. Berjajar rapi di kiri-kanan jalan, dengan umbul-umbul, bendera yang menjadi lambang pasukannya.

Suasana meriah penuh warna-warni.

Di sebelah kiri, deretan umbul-umbul bercirikan gula klapa atjiri cakra, atau bendera merah- putih dengan gambar cakra di tengahnya yang merupakan ciri pasukan tamtama. Semuanya dalam keadaan siaga perang. Lengkap dengan persenjataan dan menunggu dengan gagah.

Sebelah lagi barisan pare anom, yang berumbul-umbul warna hijau-kuning dengan cakra di bagian tengah, menandakan prajurit carangan. Barisan prajurit yang membantu tugas sewaktu-waktu diperlukan. Ini berarti para pimpinan prajurit sudah menyadari situasi untuk bergerak cepat pada saat yang diperlukan. Hanya tinggal menunggu komando.

Itu yang belum ada.

Gendhuk Tri melangkah perlahan.

Sebelah kanan umbul-umbul berwarna merah dengan pinggir hitam, pasukan geniroga, berdampingan dengan pasukan alas kobong, atau hutan terbakar. Umbul-umbul ini tanpa simbol apa- apa di bagian tengah, yang melambangkan bahwa mereka bukan dari kesatuan prajurit perang, melainkan bagian yang membantu segala keperluan perang dengan menyiapkan senjata ataupun kuda dan atau keperluan lain.

Yang sedikit mengherankan Gendhuk Tri ialah bahwa di depan Keraton juga terlihat bendera dengan dasar warna hitam dan di bagian pinggir warna putih-biru-merah, yang merupakan ciri pasukan kepatihan. Ini termasuk agak ganjil mengingat bahwa kepatihan adalah prajurit-prajurit yang selama ini komandonya berada di bawah tangan mahapatih. Kalau sekarang ini ikut bersiaga, susah ditebak apakah bersiaga untuk membantu Mahapatih Halayudha atau justru sebaliknya.

Kalau diperhitungkan dari tata krama keprajuritan, jelas sekali untuk membantu Mahapatih. Akan tetapi kalau dilihat berbaris bersama barisan prajurit yang membawa bendera bango tulak, warna burung bangau tulak- pinggir hitam dasar putih, yang menandai prajurit kanayakan, prajurit Keraton umum, berarti mereka bersiaga untuk menjaga Keraton. Tanpa memperhitungkan apakah mereka prajurit kepatihan atau bukan.

Gendhuk Tri masih terus melangkah.

Ratusan prajurit yang siaga dengan bendera berjajar rapi memandang penuh hormat padanya. Sorot mata para prajurit sekilas seperti menumpahkan seluruh harapan pada langkah-langkah kaki Gendhuk Tri.

Selama ini Gendhuk Tri boleh dikatakan sudah malang-melintang di dalam Keraton. Baik sebagai lawan maupun sebagai kawan. Baik diterima dengan hormat maupun diusir dengan kekerasan. Sangat mungkin sekali para prajurit yang siaga sekarang ini sebagian pernah ikut mengejar dan menyergapnya. Akan tetapi, kini seluruhnya memandang hormat, dan seolah menunggu perintah darinya.

Tiba-tiba Gendhuk Tri merasa dirinya mempunyai arti. Merasa bahwa langkahnya menjadi tumpuan dari kemelut yang terjadi di Keraton. Selama ini, sejak upacara penobatan Praba Raga Karana menjadi prameswari utama yang berakhir dengan pertarungan berdarah, suasana menjadi tidak menentu.

Apa yang terjadi di balik dinding Keraton tak sepenuhnya bisa dimengerti. Kabar mengenai penguasaan oleh Mahapatih Halayudha sudah jelas santer terdengar, akan tetapi tidak ada perintah dari para pemimpin di bawahnya.

Seperti diketahui, para senopati yang membawahkan para prajurit secara langsung tidak segera mengambil tindakan. Demikian juga halnya para senopati utama, yang secara resmi telah dicopoti pangkat dan kekuasaannya. Sehingga di lapisan menengah ke bawah, benar-benar tak ada komando.

Pemunculan Gendhuk Tri sangat tepat.

Di saat para prajurit menunggu-nunggu dan gelisah, Gendhuk Tri melangkah. Benar atau tidak dugaan Gendhuk Tri masih harus dibuktikan kemudian. Akan tetapi bukti bahwa semua prajurit Keraton bersiaga, sudah menunjukkan persahabatan. Dirinya tidak datang untuk dimusuhi. Dirinya datang dan diakui.

Kalau Tujuh Senopati Utama tidak terjun secara langsung, itu tidak berarti menghalangi. Karena para prajurit yang sekarang bersiaga penuh ini tak mungkin berani bergerak kalau pemimpinnya melarang.

Gendhuk Tri bisa mengambil kesimpulan, bahwa para prajurit tetap dalam keadaan siaga, menunggu komando untuk berbuat sesuatu. Komando Raja akan merupakan perintah mati-hidup. Komando Mahapatih juga bisa berarti sama. Akan tetapi, saat itu dua-duanya tak memberi perintah apa-apa.

Gendhuk Tri melangkah sampai depan Keraton. Melangkah masuk, melewati pintu utama yang dibukakan khusus untuknya.

Di bagian dalam tak jauh berbeda.

Para prajurit kawal Keraton, para prajurit kawal pribadi Raja bersiaga. Lengkap dengan persenjataan.

Gendhuk Tri terus melangkah ke dalam, melewati pendopo utama, yang selama ini dipakai untuk pertemuan besar.

Turun dari pendopo utama, melalui bagian kosong sekitar tiga tombak, sampailah di gerbang dalam. Melewati bagian itu, berarti sudah masuk ke bangunan inti.

Dan dengan langkah pasti, Gendhuk Tri melangkah ke dalam. Ia sendiri yang mendorong pintu dan melangkah masuk.

Hawa dingin terasakan dari berbagai arah. Hawa dingin yang menyakitkan. Gendhuk Tri tidak jongkok sebagaimana biasanya bila memasuki ruangan itu, tidak juga laku ndodok, berjalan setengah merangkak.

Langkahnya tetap lebar. “Masuk saja, masuk saja.

“Ingsun memang memanggilmu.” Suara yang ia hafal, yang sangat dikenal, berasal dari ruangan Raja. Gendhuk Tri terus melangkah. Para prajurit kawal Raja-satu-satunya pasukan yang boleh berada di tempat itu, bersila siaga di depan pintu.

Sampai di sini Gendhuk Tri tak bisa menahan diri untuk tidak bersila, menyembah ke arah pintu sebelum masuk dengan tangan menyentuh lantai.

“Ingsun bilang apa.

“Kalau memanggil tak perlu kata-kata. Ingsun ini raja yang tak perlu berkata.” Sejenak Gendhuk Tri mengejapkan matanya.

Benar yang berada di tengah ruangan, yang duduk di kursi kebesaran adalah Halayudha.

Cara duduknya kurang ajar karena salah satu kakinya ditekuk ke atas.

Di sebelah kiri, sedikit ke belakang, Raja Jayanegara. Sedangkan di bawah, bersila Senopati Jabung Krewes dan Mada.

Ruangan yang biasanya selalu suci, sepi, kini boleh dikatakan tak lebih dari sebuah pasar. Di seluruh bagian, di setiap sudut, ada bekas-bekas makanan yang belum disingkirkan, ada bau minuman keras yang menyengat dan sisanya masih basah, di samping tumpukan kitab-kitab berserakan, senjata, dan perabot lain yang selama ini tak pernah ada di situ.

Gendhuk Tri kikuk.

Apakah tetap bersila di bawah, ataukah berdiri.

Dengan bersila di bawah, rasanya seperti menghormati secara berlebihan pada Halayudha. Sesuatu yang tak akan pernah dilakukan Gendhuk Tri sepanjang hidupnya. Akan tetapi dengan berdiri, Gendhuk Tri seperti bertindak kurang ajar kepada Raja. Sesuatu yang tak mungkin dilakukannya. Rasa hormat yang berawal dari sikap batin tak bisa dihilangkan. Tak akan pernah bisa dihilangkan.

“Jagattri, kamu pasti tak tahu kedatanganmu kemari karena panggilan Ingsun. Sekarang ini bahkan Dewa pun bisa kusuruh datang kemari.”

“Halayudha, kalau kamu memanggilku, apa maumu?” Halayudha bergelak.

“Jabung Krewes, Mada, biarlah Jagattri ini tidak menyembah Ingsun, karena ksatria sejati tidak suka basa-basi. Maksudku, Ingsun-lah ksatria sejati yang tidak terlalu memerlukan sembahan kehormatan.

“Gerakanmu makin halus.

“Kamu masih ingat ketika kita sama-sama mempelajari Kitab Air, Jagattri?” “Saya datang tidak untuk urusan itu.”

“Ingsun sudah bermurah hati memanggilmu, Jagattri. Ternyata kamu masih gendhuk juga.

Masih gadis kecil yang keras kepala dan tak becus menghapus ingus. “Tapi tak apa.

“Tak apa.

“Bagiku sama saja.

“Kamu tahu, Jagattri, bahwa Ingsun-lah yang memegang pucuk pimpinan kekuatan, kekuasaan.

“Akulah Raja Majapahit, sembahan seluruh makhluk hidup dan mati seluruhnya.”

Garuda Mahambira

GENDHUK TRI mendongak.

“Pengakuan apa lagi yang kamu butuhkan, Halayudha? Apakah dengan menyebut dirimu dengan Ingsun, dengan duduk seenaknya di kursi kebesaran, dengan menguasai Keraton, kamu menganggap dirimu sampai di tingkatan mahamanusia?”

“Bagus, kamu cerdas seperti dulu.

“Aku tak pernah mempunyai pertanyaan seperti yang kamu ajukan. Juga Krewes di sini, beberapa hari ini tak mengerti apa-apa. Juga Mada yang kukira tadinya menyimpan kekuatan hebat.

“Pertanyaanmu mendasar, Jagattri. “Apa yang kucari? Pengakuan apa lagi yang akan kulengkapi? Aku tak pernah tahu. Aku mengikuti apa yang sebaiknya kulakukan. Dan inilah akhirnya. Sebuah kekuasaan tertinggi.

“Bukankah itu yang dikatakan Upasara?”

“Yang dikatakan Kakang, Mahapatih Halayudha sudah sampai ke muara yang tak akan bisa kembali lagi. Jalan pikirannya tidak akan bisa kembali sehat.”

Halayudha tertawa.

“Memang, itu yang paling bisa dikatakan.

“Aku akan dikatakan gila. Justru setelah merebut, memiliki, menguasai kekuasaan tanpa tanding, aku dikatakan gila. Mungkin aku gila, tetapi masih lebih waras dari raja sebelumnya.

“Jagattri, akulah satu-satunya raja yang tak perlu memerintah. Aku duduk di singgasana ini, tetapi aku tidak mengeluarkan perintah apa-apa.

“Karena pemerintahan bisa tetap berjalan.

“Aku hanya minta Krewes dan Mada menemani di sini. Makan makanan yang paling enak, tuak yang paling tua, mempelajari gerakan ilmu silat, berlatih pernapasan, dan bebas berbuat apa saja.

“Kalau iseng seperti tadi, aku memanggilmu.

“Nanti mungkin yang lainnya.

“Jagattri, apakah ada raja yang sebijak aku? Memerintah dengan tidak memerintah? Bukankah ini menghindari tindak durhaka? Kalau kamu tak mau kupanggil, kamu bisa pergi sesukamu. Seperti juga Krewes dan Mada.

“Apakah yang kukatakan keliru, Krewes?” “Sama sekali tidak.”

“Nah, kamu dengar sendiri. “Bagaimana, Mada?” “Benar, Yang Mulia.”

Halayudha berdiri dari kursinya. Kedua tangannya terkepal.

“Upasara Wulung ada benarnya. Ksatria bernasib abdi dalem yang diperbudak oleh ketaatan kaku itu mengatakan yang sebenarnya. Aku telah sampai pada muara.

“Aku mempunyai pikiran bahwa menjadi raja bukan sesuatu yang istimewa. Menjadi raja juga bisa tanpa bisa memerintah.

“Kamu mengenal yang duduk di dekatku tadi?

“Itulah Raja. Yang lahir dengan takhta di masa depannya. Yang sekarang kurampas. Paling- paling dia hanya bingung sebentar. Lalu menikmati hari-harinya di sisiku.

“Ah, kamu tidak tertarik mendengarkan hal ini. “Sekarang aku balik bertanya, apa maumu?” Gendhuk Tri berdiri.

“Halayudha, kamu membawa Keraton ke dalam kekeruhan, menjerumuskan ajaran-ajaran secara sesat.”

“Tidak juga.

“Belum tentu aku lebih buruk dari Raja.” “Kamu tidak berhak berada di tempat ini.” “Baik, baik.

“Aku memang tak ingin berlama-lama di sini. Tak membuatku menjadi gagah. Tak membuat aku menjadi berarti. Aku hanya membuktikan bahwa aku bisa.

“Meskipun untuk itu, begitu banyak yang dihantamkan kepadaku. Begitu banyak cara yang dipakai untuk menjatuhkanku.

“Di antaranya yang dilakukan Mada.

“Ia mengatakan bahwa aku membunuh satu-satunya anak kandungku. Jagat Dewa Batara!

Dengan menggoyang kesadaran itu, dikiranya aku akan gila. “Aku terlalu kuat untuk itu.

“Aku mahamanusia, aku bisa mengepakkan sayap dan angin akan mengikuti apa mauku.” “Kalau benar begitu, aku ingin menjajal Garuda Mahambira.”

Halayudha bergelak gembira. “Tidak, tak mungkin kamu menang.

“Kamu hanyalah air. Angin saja bisa kuubah arahnya. Aku tak perlu menghadapi sendiri. “Mada, bersiaplah.

“Kini saatnya kamu memperlihatkan apa yang kukatakan.”

Mada mengangguk. Gerakannya belum leluasa karena luka dalam, akan tetapi tampak siaga.

Langsung memasang kuda-kuda.

Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya.

“Jangan salahkan kalau angin mencabuti bulu-bulumu.”

Kata-kata Gendhuk Tri menunjukkan bahwa dirinya mengerti arti pertarungan yang akan

terjadi.

Dengan menyebutkan Garuda Mahambira, Gendhuk Tri menunjuk kepada kekuatan burung

garuda yang selama ini menjadi dongengan. Garuda Mahambira adalah burung garuda yang demikian saktinya sehingga mampu mengubah dan mengatur arah bertiupnya angin. Kepakan sayapnya mampu memutar balik arah angin sesuai dengan kehendaknya.

Ini yang dijadikan perlambang Halayudha sekarang. Yang mampu mengubah segalanya. Dengan menyebutkan Garuda Mahambira, Gendhuk Tri sadar lawan yang dihadapi sangat

hebat.

Ternyata masih lebih mencengangkan lagi karena Halayudha tidak akan menghadapi

langsung. Melainkan melalui Mada.

Itu sebabnya Gendhuk tri mengatakan kalau sampai terjadi sesuatu sampai “bulu-bulu garuda tercabut”, atau Mada terluka atau bahkan mati, di luar keinginan Gendhuk Tri.

Tidak berarti Gendhuk Tri memandang remeh Mada.

Karena sejak pertama Gendhuk Tri mengenal bahwa Mada adalah murid langsung Eyang Puspamurti, yang secara murni mempelajari ajaran mahamanusia. Mada pula yang pertama kali mendapat gemblengan dari Jaghana. Sehingga dasar-dasar ilmunya kuat.

Akan tetapi untuk pertarungan di mana Gendhuk Tri akan mengerahkan seluruh kemampuannya, bukan tidak mungkin bisa membawa akibat yang berat.

Yang kembali bercekat adalah Senopati Jabung Krewes. Mada, prajurit pilihan bagi Jabung Krewes, adalah bibit unggul yang istimewa. Dalam keadaan yang paling tersudut, selalu bisa menemukan jalan keluar yang gemilang.

Sejak berada di dalam ruangan, Halayudha secara luar biasa melatih dan menggempur keras.

Boleh dikatakan seluruh waktu Halayudha hanya untuk memaksa Mada.

Dengan pembicaraan, dengan latihan, dengan serangan.

Jabung Krewes tidak terlalu paham, bahwa sebenarnya hal itu bagian dari penggodokan yang luar biasa, yang terjadi dengan sendirinya. Karena dasar-dasar ilmu Mada adalah ajaran mahamanusia, yang saat itu justru tengah digandrungi Halayudha. Dan karena Halayudha mempelajari dari ilmu-ilmu lain terlebih dulu, pencapaiannya memang berbeda. Itu yang menarik hati Halayudha, sehingga memaksa Mada mengeluarkan semua ilmunya untuk dibandingkan dengan yang diketahui.

Mada sendiri seperti mendapat didikan secara langsung dan penuh. Ini juga sesuatu yang tidak luar biasa bagi Mada. Karena selama mengikuti Eyang Puspamurti, Mada selalu mendapat jejalan dengan cara keras.

Halayudha mengangkat tangan kirinya, tubuhnya tak bergerak. Kakinya setengah mengangkang. Seluruh kekuatannya dipusatkan kepada Mada.

Mada menggebrak maju, dengan sapuan kaki. Gendhuk Tri merasakan tenaga dorongan sapuan yang cukup besar. Akan tetapi bukannya menghindar, Gendhuk Tri malah memapak maju. Tulang keringnya diadu dengan tulang kering Mada.

Dari gerakan pertama, Jabung Krewes menyadari bahwa Gendhuk Tri tak mau membuang kesempatan sedikit pun. Kalau saja Jabung Krewes mengenali dasar-dasar ilmu silat Gendhuk Tri, bisa mengerti kenapa Gendhuk Tri langsung menyambut dengan tenaga keras.

Sebab gerakan Mada menyapu lawan adalah gerakan yang tepat untuk menghalau tenaga air, yang merupakan inti ilmu silat Gendhuk Tri.

Sebenarnya Gendhuk Tri bisa memancing gerakan lawan untuk mengetahui siasat yang lebih jauh. Namun Gendhuk Tri maklum bahwa tak perlu pembukaan seperti itu. Karena sadar sepenuhnya yang dihadapi adalah Halayudha yang telah mempelajari ilmu yang ada dalam Kitab Air.

Sebat gerakan Mada, akan tetapi Gendhuk Tri lebih sebat lagi. Kaki beradu, dua ujung selendang Gendhuk Tri langsung menyambar leher Mada.

Raja Jayanegara yang sejak tadi berdiam diri mengeluarkan teriakan kaget. Karena menyadari bahwa dua ujung selendang itu berubah menjadi jerat yang tak memungkinkan Mada lolos. Kalaupun bisa melepaskan diri dengan membuang tubuh, sudah terlambat karena kakinya kena patok kaki Gendhuk Tri. Kalaupun bisa mundur, masih tetap dalam jangkauan selendang.

Kalau menahan dengan dua tangan, hasilnya kurang-lebih sama. Selendang akan menggulung kedua tangan Mada, dan dengan sekali sentak, tubuh Mada akan terpuntir. Apalagi Gendhuk Tri berputar!

Garuda Binarat

GAWAT. Ganas serangan Gendhuk Tri. Seakan menghadapi lawan yang setanding dengannya.

Dengan memutar tubuh sambil melayang ke angkasa, daya pelintir makin kencang. Dugaan Jabung Krewes bahwa bila selendang itu melibat leher, Mada akan habis, belum seluruhnya benar. Karena dua pelintiran yang berbeda arah putaran itu bukan hanya mematahkan setiap tulang dan urat, akan tetapi bukan berlebihan kalau sampai kepala itu tanggal.

Pun andai kedua tangan Mada yang menggantikan, kekuatan daya tahan tetap tak seimbang. Tangan kanan akan terpuntir ke depan dan tangan kiri terpuntir ke belakang, dan akan berakhir sama. Lunglai tanpa bisa digerakkan kembali.

Akibatnya, Senopati Tanca pun belum tentu bisa memulihkan kembali. Ganas memang.

Gendhuk Tri barangkali tidak akan memainkan jurus berputar pada gebrakan pertama, kalau saja Mada tidak menyerang langsung dengan cara yang sama.

Kekuatan utama Gendhuk Tri ialah permainan air. Merendah, mencari tempat yang rendah. Bagian bawah merupakan inti kekuatannya. Dan selama ini sudah terbukti bahwa Gendhuk Tri mampu meloloskan diri dalam saat kepepet dengan menggelosor ke bawah. Yaitu melalui selangkangan lawan, dan muncul di belakang lawan sambil melancarkan serangan balasan.

Maka bisa dimengerti kalau Mada langsung mematikan keunggulan gerakan Gendhuk Tri. Lebih bisa dimengerti lagi karena Halayudha sangat mengetahui keunggulan ini, dan berusaha mematikan langkah Gendhuk Tri sedini mungkin.

Dengan gerakan yang sama ganasnya.

Karena dalam gerakan yang sederhana, Mada sudah masuk ke dalam pertarungan ganas. Sabetan kakinya akan membuat Gendhuk Tri melangkah mundur atau meloncat, dan pada saat itu Mada akan melancarkan serangan ganas dan habis-habisan. Dengan segala gerakan yang memungkinkan.

Untuk memotong semua kemungkinan.

Nyatanya Gendhuk Tri membaca kemauan Halayudha dengan cermat. Bukannya menghindar, akan tetapi malah balas menendang sama kerasnya, dan pada saat yang sama menggetarkan selendangnya!

Libatan selendang Gendhuk Tri memang delapan dari sepuluh tenaga dalam yang dikerahkan. Tak bisa lain karena tenaga dalam Mada lewat bentrokan kaki membuatnya tergetar hingga ke ulu hati. Sungguh tenaga dalam yang hebat untuk ukuran Mada yang belum lama terjun ke dunia persilatan. Apalagi gelombang tenaga dalam yang membentur seakan bergema.

Bukan hanya menghantam duk. Melainkan menghantam duk, dan duk lagi. Hantaman kedua ini yang membuat Gendhuk Tri merasa nyeri.

Kalau saja tidak segera meloloskan diri, gelombang yang ketiga bisa menghantam kembali. Dengan kakinya yang tertahan kaki Gendhuk Tri, tubuh Mada miring ke belakang. Kedua tangannya tidak menangkis datangnya serangan, akan tetapi melindungi kepala. Kepalanya ditarik ke dalam, seakan mengkeret.

Selendang Gendhuk Tri berbenturan, menimbulkan bunyi keras. Disusul tubuh Mada yang jatuh berdebam.

Jabung Krewes menahan napas.

Masih juga menahan napas, meskipun melihat Mada bangkit kembali tak kurang suatu apa. Hanya gerakannya agak limbung. Tapi jelas bukan karena serangan Gendhuk Tri yang mengena tepat, melainkan karena sejak awalnya Mada masih belum pulih tenaga dalamnya.

Berputar di angkasa, Gendhuk Tri turun kembali menyambar Mada. Kedua ujung selendangnya melibat Mada pada bagian bawah. Gerakan yang manis dan mengundang maut.

Tangan Halayudha ditarik ke dalam, tubuhnya menggeliat bagai dikilik-kilik. Mada mengikuti gerakan Halayudha, dengan terhuyung-huyung mundur ke arah Halayudha.

Jurus pertama belum selesai, akan tetapi baik Halayudha maupun Gendhuk Tri serta Mada mengakui pertarungan akan berlangsung sangat keras.

Halayudha mengakui bahwa Gendhuk Tri yang sekarang ini bukan hanya cerdas membaca serangan dan membalas dengan serangan tiba-tiba, akan tetapi jauh lebih terarah. Ketika dua putaran selendangnya siap memuntir leher Mada, Halayudha mengakui bahwa itulah serangan yang paling tepat. Dengan tenaga memuntir sambil melemparkan diri, kemungkinan serangan tetap ganas akan tetapi dirinya bisa terbebas dari serangan balasan.

Serangan dengan putaran tubuh merupakan serangan yang berbahaya. Karena pengerahan tenaganya tak bisa tanggung, dan karena masuk ke dalam pertarungan mati-hidup. Dalam ajaran Kitab Bumi, serangan semacam ini hanya dilakukan pada saat-saat yang menentukan. Mulai dari Jaghana sampai Upasara Wulung yang dengan gemilang bisa memainkan gerakan berputar lebih cepat dari gerakan putaran bumi, belum pernah memainkan sebagaimana Gendhuk Tri. Di sinilah bedanya Kitab Bumi dan Kitab Air.

Halayudha mengakui keganasan Gendhuk Tri yang membalas sama kerasnya.

Mada mengakui bahwa pada saat itu tak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menggulung diri dengan merebahkan tubuh ke belakang. Ketika ganjalan di bawah dilepaskan karena Gendhuk Tri melayang, tubuhnya terbanting ke belakang.

Sebaliknya, Gendhuk Tri mengakui bahwa Halayudha makin sakti dan tak terkirakan lagi betapa tinggi ilmu yang dikuasai. Dalam saat kritis yang hanya sepersekian kejap, Halayudha mampu mendiktekan kemauannya atas diri Mada.

Yaitu dengan memayungi diri, dalam gerakan Garuda Binarat. Yaitu gerakan burung garuda yang mengubah diri menjadi payung. Gerakan menutup diri yang tak mudah dilakukan, karena serangan Gendhuk Tri bukanlah serangan menghunjam, sebagaimana kisah mengenai terpanahnya Garuda Binarat. Yang berubah menjadi payung karena terkena anak panah.

Namun demikian, serangan yang melebar ternyata juga mampu dilawan dengan gerakan Garuda Binarat. Ujung-ujung selendang Gendhuk Tri berbenturan sendiri sehingga berbunyi keras. Kalau saat itu Gendhuk Tri tak mampu menguasai diri, dua selendangnya bisa saling terpuntir sendiri. Akibatnya pinggang Gendhuk Tri bisa rontok.

Kini dalam gebrakan ketiga, masih dalam jurus pertama, Mada tak mampu menahan goyangan tubuhnya sehingga ambruk di dekat Halayudha. Yang mau tak mau menggantikan peran Mada.

Berhadapan langsung dengan Gendhuk Tri.

Seperti yang diharapkan Gendhuk Tri. Meskipun sebenarnya Gendhuk Tri lebih enteng jika menghadapi Mada. Betapapun juga Mada tidak setangguh Halayudha, dan Halayudha belum cukup sempurna memainkan kekuatannya, seperti yang pernah dipamerkan Eyang Kebo Berune.

Kalau dalam tiga gebrakan ini dibuatkan perhitungan mana yang unggul, sebenarnya masih imbang. Gendhuk Tri maupun memaksa Halayudha turun tangan sendiri, tetapi sekaligus menghadapi bahaya yang lebih besar. Mada sendiri tak terhitung kalah sepenuhnya, andai tenaga dalamnya yang terserang Halayudha bisa segera pulih.

Dalam pertarungan langsung, segera terasakan betapa kerasnya tekanan Halayudha. Di saat sedang kehausan hasrat untuk mempraktekkan semua ilmunya, Halayudha merasa menemukan lawan tanding yang bisa mengimbangi. Dua tangan Halayudha langsung mencekal pergelangan tangan Gendhuk Tri; dan berbareng dengan itu, kaki Halayudha kembali menyapu. Jenis gerakan yang sama dengan yang dimainkan Mada. Yang berbeda hanya pengerahan tenaga dalam dan penguasaan yang berlipat ganda.

Gendhuk Tri menyambut, sementara dua selendangnya kembali menggulung dalam puntiran. Benar-benar sama-sama keras kepala!

Meskipun bagi Gendhuk Tri bisa merugikan. Karena tenaga dalam Halayudha dua tingkat di atasnya. Maka bentrokan kaki mengguncang tubuh Gendhuk Tri. Akibatnya puntiran selendangnya menjadi tidak berarti lagi. Pada saat itu kedua tangan Halayudha meraup pundak Gendhuk Tri dan membanting keras sambil mengeluarkan teriakan.

Masih dalam jurus pertama. Mada membelalak terpana. “Sangat berbahaya.”

Ini memang pameran keunggulan, pameran kesombongan yang sama-sama ketemu batunya. Dengan nekat Gendhuk Tri mengulang jurus tangkisan, walau tahu kekuatan Halayudha lebih besar. Pada saat lawan menguasai dan balik menggempur, Gendhuk Tri membalik diri.

Kepalanya tertekuk ke dalam.

Tangan Halayudha mengelus punggung Gendhuk Tri, yang ketika berbalik sebat, selendangnya menampar pipi Halayudha. Meninggalkan bekas warna merah-hitam.

“Boleh juga.”

Halayudha masih sempat memuji karena kekagumannya tak tersembunyikan lagi. Gendhuk Tri memamerkan jurus yang tadi dipakai Mada. Kalau Mada memakai gerakan memayung, menjadi payung, Gendhuk Tri meloloskan diri dengan gerakan Garuda Mungkur atau Garuda Berbalik Punggung. Dengan memakai akar gerakan yang sama seperti yang dipakai Mada untuk meloloskan diri. Bedanya, tubuh Gendhuk Tri tak perlu jatuh, dan karena kehebatannya bisa langsung membalas

71 Gerakan Ikan

HALAYUDHA satu langkah tertinggal.

Bukan berdasarkan perhitungan siapa mengalahkan siapa. Melainkan dari perhitungan siapa memainkan jurus mana yang ternyata lebih sakti dari lawannya. Sejak saling menggebrak pertama, Gendhuk Tri memainkan jurus-jurus yang menjadi kekuatan Halayudha, meskipun saat itu melalui Mada.

Dalam memainkan jurus-jurus garuda, Halayudha justru kecolongan. Sabetan kecil yang tidak cukup berarti untuk menentukan kemenangan, akan tetapi cukup membuat panas. Dan karena panas hatinya dan tak mau diungguli kesombongannya, Halayudha segera mengubah gerakannya.

Tubuhnya menggeliat, memainkan jurus-jurus andalan Gendhuk Tri. Tubuh Halayudha menikung di tengah, membelit ke arah Gendhuk Tri, sementara tangan dan kakinya mengunci jalan keluar. Dengan gerakan seksi ngiwak-iwak, Halayudha memancing Gendhuk Tri mengeluarkan semua ilmunya. Tiga serangan yang dilakukan serentak, atas-tengah-dan-bawah, bisa merupakan serangan sebenarnya, bisa merupakan pancingan.

Pengaturan tenaga Kitab Air sepenuhnya adalah memakai irama air. Dan Halayudha memainkan dengan gerakan ikan, gerakan iwak. Dengan menjebak lawan pada gerakan seksi ngiwak-iwak, Gendhuk Tri akan terseret menebak mana serangan yang pancingan, mana serangan yang sebenarnya.

Arti harfiah seksi ngiwak-iwak adalah kesaksian yang berdasarkan suara, tidak melihat sendiri kenyataan yang ada. Dalam hal ini pukulan, tendangan, dan belitan tubuh Halayudha ketiganya mengeluarkan suara dengan tenaga yang sama. Kalau tidak cerdik, bisa terjebak.

Satu hal yang dilupakan Halayudha adalah bahwa Gendhuk Tri sepenuhnya menyukai pertarungan semacam ini. Justru ketika Halayudha memainkan jurus-jurus gerakan garuda, Gendhuk Tri bertambah semangatnya. Kini ketika lawan mengubah dengan gerakan yang menjadi miliknya, Gendhuk Tri menyambut gembira.