Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 44

Jilid 44

“Ketika Nyai mengajak saya menjauh, saya tahu maksud Nyai. Seperti juga Pangeran Upasara dan Adik Jagattri tahu. Ketika kita sekarang ini berbicara dalam bahasa yang mereka berdua tak mengerti, mereka berdua tetap tahu apa yang kita bicarakan.

“Inilah yang luar biasa, Nyai.

“Inilah yang oleh Pangeran Upasara dipertunjukkan dengan nama Ngrogoh Sukma Sejati.

Memunculkan Sukma Sejati, roh yang sesungguhnya, batin yang kudus.

“Dalam perwujudannya, Pangeran Upasara bisa muncul dalam tiga atau empat bayangan. Yang penuh. Ketika kita bertanya mana Pangeran Upasara yang sebenarnya, kita akan terjebak. Karena keempatnya adalah Pangeran Upasara, dan keempatnya sekaligus bukan Pangeran Upasara.”

Nyai Demang mengangguk-angguk.

“Aneh. Pangeran Hiang bisa menjelaskan apa yang saya geluti tiap saat dengan lebih terang.” “Tidak juga, Nyai. “Saya hanya meraba-raba.

“Sebab dalam pertarungan yang baru saja terjadi, saya berhasil memukul pergelangan tangan Pangeran Upasara. Berhasil menotok tangan Pangeran Upasara. Kena! Dan dalam gerakannya yang kemudian, terasa sekali bahwa akibat sodokan kipas itu, bayangan Pangeran Upasara menjadi oleng, terpengaruh.”

“Ya, saya ingat.”

“Saat itu saya berpikir bahwa saya menemukan titik lemah dari kekuatan Sukma Sejati. Biar bagaimanapun, dengan menindih salah satu bayangan tubuh, akan berakibat sama dengan bayangan tubuh yang lain.

“Nyatanya tidak begitu.

“Kalau saya mendesak kuat ke arah itu, saya akan kecele, karena yang bergoyang, yang tertindih hanyalah bayangan tubuhnya. Sedangkan Pangeran Upasara sendiri tak bergerak. Saat itu saya masuk perangkap. Perangkap dari rasa saya yang tidak sesuai dengan rasa yang dimiliki Pangeran Upasara.”

“Saya bisa menangkap apa yang Pangeran Sang Hiang katakan. “Apakah hal yang sama juga berlaku pada Gendhuk Tri?”

“Bisa dikatakan ya dan tidak.

“Adik Jagattri menggunakan kekuatan Sukma Sejati yang murni. Ketika Gemuka meluap dendamnya sampai membakar dirinya, perlawanan dengan tidak melawan justru melemahkan.

“Bisa dikatakan tidak, karena perwujudan kekuatan Sukma Sejati itu berbeda dari apa yang ditampilkan Pangeran Upasara.”

“Wah, wah, saya perlu belajar dari Pangeran Sang Hiang.

“Dengan kata lain, Gendhuk Tri juga menggunakan kekuatan Sukma Sejati?” “Sejauh pendapat saya, jawabannya adalah ya.”

“Di mana ia mempelajari? Apakah Kitab Pamungkas juga telah diserap habis?” “Saya tidak tahu pasti, Nyai.

“Akan tetapi kekuatan Sukma Sejati, merogoh dan mengeluarkan Sukma Sejati tidak harus melalui satu kitab tertentu. Bisa jadi ada ajaran yang menyebutkan secara jelas seperti Kitab atau Kidungan Pamungkas.

“Akan tetapi dalam pikiran saya, Kidungan Pamungkas tidak berdiri sendiri. Tidak tercipta begitu saja, tanpa kidungan-kidungan sebelumnya.

“Baik rangkaian dari Kitab Bumi, Kitab Penolak Bumi, Kitab Paminggir, Kitab Para Raja, atau lebih jauh dari itu. Bahkan Kitab Bumi pun tak diciptakan begitu saja.” Suara Pangeran Hiang berangsur rendah nadanya.

Manusia Mahadewa

SEAKAN menemukan irama yang sesuai antara irama hati dan irama yang akan dikatakan.

“Begitu banyak persamaan dengan kitab sebelumnya, baik yang ada di Tartar, Jepun, Koreyea, Hindia, ataupun bahkan sampai negeri Turkana.

“Semuanya seperti mempunyai sumber yang sama.

“Semuanya bersumber pada Yang Mahadewa. Pada manusia yang menjadi Mahadewa. Satu kata tersusun, satu langkah tersusun, sehingga akhirnya mendekati Mahadewa.

“Semuanya seperti menemukan jalan sendiri.

“Sehingga Eyang Sepuh mampu mengundang untuk mempertandingkan Jalan yang Sesungguhnya.

“Nyai, harus saya akui lahir dan batin saat ini, jalan yang ditempuh manusia Jawa, lewat Eyang Sepuh ataupun Pangeran Upasara, adalah jalan yang paling mengagumkan. Tidak berarti jalan yang paling benar, akan tetapi jalan yang membuka mata.

“Saya telah berkelana di padang pasir, telah berkeliaran di Keraton, menjelajah sampai Jepun dan Koreyea, akan tetapi belum pernah menemukan apa yang saya temukan seperti di tanah Jawa ini. “Ajaran di mana manusia menjadi sumber utama pencarian untuk menemukan Mahadewa. Di mana Mahadewa yang menjadi tujuan utama adalah manusia juga.

“Di mana kematian dan keabadian menjadi satu. Di mana kekalahan dan kemenangan menyatu.

“Saya menunduk dan menaruh hormat.”

“Terima kasih atas pujian Pangeran Sang Hiang. “Itu yang kita sebut mahamanusia…”

“Mahamanusia, atau Mahadewa yang manusia, pada akhirnya sama. Menyatukan manusia dengan Mahadewa dalam satu wujud, dalam satu pengertian.”

“Apakah itu berarti ilmu di tanah Jawa ini tak terkalahkan?” “Ya.

“Saat ini.” “Saat ini?” “Ya, Nyai.

“Saat ini, dalam jangka separuh usia manusia kurang, tanah Jawa akan mencapai puncak keluhuran yang tiada taranya. Seperti juga prajurit Tartar yang mampu menguasai jagat.”

“Dan kemudian, dan kemudian…” Pangeran Hiang menghela napas berat. Mendasar.

“Keraton Tartar yang berdiri di atas segala keraton di jagat ini, siapa yang membayangkan bisa diungguli? Awan dan langit akan merendah bila Khan yang Tak Terkalahkan menaikkan atap bangunan. Tak ada pedang lain yang dilepas dari sarungnya jika prajurit Tartar mengitari jagat.

“Tapi siapa sangka semuanya runtuh dan terobrak-abrik di tanah Jawa ini?

“Tanah becek yang banyak airnya, yang anginnya lembap, sedang menemukan bentuk kekuatannya yang sejati. Kekuatan yang sesungguhnya.

“Sampai kemudian, ajaran manusia Mahadewa menemukan perpecahan.” “Pangeran Sang Hiang, apakah Pangeran bisa meramal?”

Bibir Pangeran Hiang tergigit.

“Saya hanya memperhitungkan unsur-unsur yang menyatukan yang membuat kuat. Unsur itu pula yang akan memecah dan menghancurkan. Apa yang saya katakan ini semuanya hanyalah omong kosong, hanya pembicaraan belaka.

“Kenyataannya bisa berbeda.”

“Terima kasih atas semua penjelasan Pangeran Sang Hiang. “Terima kasih….”

Nyai Demang menunduk hormat. Lalu,

“Kalau Pangeran Sang Hiang tidak terganggu, saya ingin bertanya, apa rencana Pangeran selanjutnya?”

“Saya akan kembali ke Tartar, Nyai.

“Menyampaikan semua yang saya ketahui, saya alami.” “Itu berarti akan ada utusan yang datang lagi?”

“Ya.

“Selama Tartar masih ada, selama tanah Jawa masih ada, akan selalu terjadi kunjung- mengunjungi. Akan terjadi pertarungan, juga dengan tanah Hindia, Koreyea, Jepun, Turkana, Syangka, dan tempat-tempat yang lain.”

“Pangeran masih menaruh dendam?” “Dendam sudah saya kuburkan, Nyai. “Tapi pertemuan lain lagi tak terhindarkan.

“Tidak selalu dalam pengertian prajurit bertemu prajurit. Karena saya bisa kembali tanpa kemenangan tanpa kekalahan.

“Besar harapan saya mengajak serta Pangeran Upasara Wulung….” Suaranya meninggi.

Juga pada kalimat berikutnya. “…bersama Adik Jagattri.

“Dan akan lebih sempurna kalau Nyai Demang juga bersedia.” “Saya?”

Pangeran Hiang mengangguk. Mantap.

“Saya… saya untuk apa?” “Untuk saya, Nyai.

“Untuk kita berdua.”

Kali ini Nyai Demang melongo. Bibirnya membuka. Darahnya berdebar kencang.

Kena! Kena sendiri. Kalau tadi masih bisa memikirkan kekikukan Upasara dan kekerasan sikap Gendhuk Tri, sekarang dirasakan sendiri.

Nyai Demang berusaha menguasai perasaannya. Barangkali pikirannya yang melancong terlalu jauh. Barangkali…

Tapi tidak. Kalimat Pangeran Hiang sangat jelas.

“Salah satu bentuk kemenangan dan kekalahan yang tidak dibuktikan dengan darah dan kematian adalah perkawinan.

“Tetapi bukan itu alasan utama saya mengajak Nyai. “Alasannya, karena saya menginginkan Nyai.” “Maaf, Pangeran Sang Hiang…”

“Saya akan mengerti apa yang akan Nyai ucapkan. “Saya siap mendengarkan.”

“Maaf, saya, saya, saya tak tahu harus menjawab apa.

“Pangeran Sang Hiang jangan salah mengerti. Saya ini sudah tua, sudah berkeluarga, sudah tidak pantas memikirkan pernikahan atau bahkan sudah lupa apa itu daya asmara.”

Pangeran Hiang menarik tegak tubuhnya. Punggungnya sedikit melengkung ke belakang. “Asmara, daya asmara juga soal rasa.

“Tak ada yang pantas atau tak pantas.

“Tak ada Permaisuri Praba yang pantas atau tak pantas. Awan di langit bisa mirip siapa, bisa tidak mirip siapa. Bisa pantas, bisa tak pantas. Itu hanya rasa.

“Awan tetap awan.”

“Maaf, Pangeran Sang Hiang. “Tidak perlu secepat ini.”

Nyai Demang sekarang merasa jengah. Tidak enak di hati. Malu menatap Pangeran Sang Hiang. Risi berada di dekatnya.

Setitik pun tak pernah terpikirkan. Sekelebat pun tak terbayangkan. Bahkan beberapa kejap sebelum Pangeran Hiang mengutarakan, Nyai Demang sama sekali tak menduga.

Inilah aneh. Aneh?

Selama ini tidak sedikit lelaki yang mengharapkan dirinya. Bukan hanya Galih Kaliki yang begitu tergila-gila hanya tak ketahuan juntrungannya. Bukan hanya Upasara yang saat itu masih belia. Bukan hanya Baginda yang khusus mengundangnya.

Tetapi lamaran Pangeran Hiang tetap terasa ganjil. Ganjil?

Atau karena dirinya selama ini tak menduga? Bukankah, bukankah sangat wajar? Mata Nyai Demang berkejap-kejap. Ada perasaan bahagia yang membuatnya bersyukur luar biasa. Hati kecilnya sebagai wanita merasa sangat termuliakan. Pada usia seperti sekarang ini, masih ada lelaki yang meminangnya. Dan lelaki itu adalah Pangeran Sang Hiang, putra mahkota Tartar!

Perasaan lain yang menggumuli, bagaimana keadaan di Tartar nanti, usianya merambat, kekejian yang pernah dilontarkan kepada Gemuka, akan tetapi tak semerisaukan lamaran ini.

Mata Nyai Demang berkejap-kejap. Terasa basah.

Butiran air bening menggelinding, melewati pipinya. Kini, giliran Gendhuk Tri yang melihat. Dan merasa kaget bercampur heran. Apa yang tengah terjadi, setelah keduanya menjauh dan berbicara dalam bahasa Tartar?

Selendang Gendhuk Tri tak lagi dipegangi Upasara Wulung. Akan tetapi kakinya terasa berat meninggalkan.

“Kakang…”

Kalimat Gendhuk Tri terhenti.

Upasara tampak pucat sekali. Tangannya berusaha mengurut kakinya. Gendhuk Tri mendekat.

“Sakit sekali, Kakang?”

“Barangkali memang harus dipotong.” “Kakang…”

“Agar Adik Tri mau menerimaku.” Gendhuk Tri berdiri tegak.

Meninggalkan Upasara yang dirasa amat sangat tidak lucu.

Menerka Angin Asmara

DI tempat yang berbeda pada waktu yang hampir bersamaan, Pangeran Muda Wengker merasa bahwa sejak tadi Pangeran Angon Kertawardhana memperhatikan dengan saksama.

Sebagai orang yang lebih muda usianya, Pangeran Muda hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Tanpa terlihat sedikit pun.

Sewaktu rombongan beriringan dan bergerak cepat menuju Keraton, Pangeran Angon tidak segera beranjak. Bahkan kemudian berada di barisan belakang. Paling belakang di antara para pembesar.

Beberapa kali Pangeran Angon seperti ingin membuka pembicaraan, akan tetapi kemudian urung. Hanya kudanya yang diperlambat langkahnya. Pangeran Muda mengikuti irama langkah kaki kudanya.

Pangeran Muda merasa diperhatikan dengan saksama, karena memang tidak biasanya Pangeran Angon melirik dan mengamati. Keduanya sama-sama menyadari posisi dan boleh dikatakan mengadakan hubungan satu sama lain. Pangeran Angon yang berasal dari Cakradaran ini sering mengunjunginya ke Wengker. Adakalanya juga meminta Pangeran Muda datang.

Sering keduanya berbicara hanya berdua. Melewati hari-hari dengan membicarakan apa yang terjadi di Keraton. Tukar pandangan, rerasan, tentang Keraton.

Keduanya menyadari bahwa sebagian wibawa dan keluhuran Keraton berada dalam tangan mereka. Sebagian kecil atau besar akan menjadi tanggung jawab mereka. Karena kedudukan mereka berdua adalah “pangeran muda”, yang pada situasi yang diperlukan keduanya memiliki kemungkinan itu. Andai terjadi sesuatu dengan Raja.

Secara tidak langsung, hal seperti itu juga menjadi bahan pembicaraan. Terutama ketika menerima pembicaraan Raja secara resmi untuk menjadikan Praba Raga Karana sebagai permaisuri. Ini berarti tidak lain bahwa keturunan Permaisuri Praba yang kelak akan meneruskan takhta. Dan bukan yang lain.

Itu pula sebabnya Pangeran Muda heran, karena masalah peka dan pelik saja bisa diutarakan, sekarang ini justru berdiam diri.

Tanpa perlu mengamati, Pangeran Muda bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tersimpan dalam diri Pangeran Angon. Terasa adanya perbedaan dengan hari-hari biasanya. Kalau sekarang ini tidak segera pulang ke Cakradaran, itu masih bisa dimengerti. Karena di Keraton ada duka yang menyayat.

Adalah sangat tidak hormat untuk segera kembali, tanpa melayat Permaisuri Praba Raga Karana. Walau kedudukannya secara resmi belum dinobatkan, akan tetapi tata krama Keraton mengharuskan siapa pun menganggap bahwa Praba Raga Karana adalah permaisuri yang sah.

Pangeran Muda hanya bisa menunggu. Menunggu isyarat.

“Yayi Pangeran, apakah ada sesuatu yang melintas dalam pikiranmu?” “Tidak ada yang istimewa, Kakang Pangeran.”

“Kamu akan menjawab dengan jujur jika aku menanyakan sesuatu?” “Sumangga, Kakang Pangeran….”

Hati Pangeran Muda bercekat.

Sama sekali tidak menduga bahwa Pangeran Angon menjadi sangat kaku bicaranya. “Aku perlu membicarakan sebelum terlalu jauh.

“Karena aku tak ingin melihat kita berdua memperpanjang penderitaan para prajurit dan penduduk.”

Pangeran Muda makin merasa tidak enak.

Para prajurit yang mengiring berjalan lebih lambat. “Kita belajar dari para leluhur.

“Selama ini kita berdua, juga Pangeran Anom, sebagai garis keturunan yang paling dekat dengan Keraton, berjanji dalam hati untuk tidak iri, untuk tidak mempersoalkan warisan Keraton.”

“Maaf, Kakang.

“Saya tak menangkap maksud Kakang.”

“Apakah Yayi Pangeran ingin mengajak kita berdua pergi ke kaputren?”

Wajah Pangeran Muda yang gagah, gasah, tampak kikuk. Senyumnya terlihat kaku. “Aku bisa menjadi perantara kalau Yayi menghendaki.”

Pangeran Muda berdeham kecil.

“Kakang, kaputren memang bagus, indah, asri, dan elok. “Saya akan mengiringkan Kakang Pangeran Angon. “Sumangga, Kakang….”

Kini ganti wajah Pangeran Angon yang berubah. Kaku.

Keras.

Tangannya terasa dingin.

Memang itu yang dirasakan. Dipikirkan. Sejak melihat pemunculan Putri Tunggadewi, sukmanya tergetar hebat sekali. Terguncang, seakan belum pernah mengalami perasaan seperti itu sebelumnya.

Sewaktu menerima undangan dari Raja, Pangeran Angon tak sedikit pun membayangkan bakal mengalami perasaan seperti ini. Nama harum Putri Tunggadewi telah tersebar ke seluruh penjuru Keraton. Akan tetapi getaran itu baru terasakan mengguncang hebat ketika di pendapa. Ketika bisa menatap secara sempurna.

Kalau ia pernah bermimpi, pernah mengharapkan sesuatu dalam angan-angannya tentang kemuliaan wanita, Putri Tunggadewi-lah orangnya.

Itu yang membuatnya serbasalah dan dengan nekat maju ke pertempuran. Seperti juga Pangeran Muda.

Hanya karena perhatiannya yang begitu besar, tercipta rekaan dalam pikirannya sendiri, bahwa Pangeran Muda juga tersambar daya asmara.

Sehingga Pangeran Angon perlu menjelaskan.

Percakapan yang tidak langsung. Akan tetapi kini keduanya tak perlu menerka ke arah mana angin asmara bertiup.

“Maaf, Yayi….” “Sumangga, Kakang….

“Saya menyadari jadi orang lebih muda. Tak nanti berani lancang di depan Kakang….” Pangeran Angon mengangguk.

Wajahnya terlihat cerah. Lega.

“Hanya Yayi yang bisa memberitahukan kalau aku lupa. “Hanya Yayi yang berani dan kuharapkan.

“Ini pelajaran berharga buat kita berdua. Sekurangnya buat diriku sendiri. “Bantu aku, Yayi….”

“Sumangga….”

Pangeran Angon menggeprak kudanya.

Meloncat ke depan dan bergegas. Kedua tangannya terangkat ke atas, seakan melambaikan kemenangan.

Sesuatu yang tak mengherankan Pangeran Muda. Sesuatu yang membuat Pangeran Muda lebih memahami bahwa Raja pun bisa menjadi lebih lain dari biasanya.

Sesuatu yang tak diduga ketika mempersoalkan masalah Praba Raga Karana. Pangeran Angon mengutarakan dengan panjang-lebar, dengan kalimat-kalimat keras dan meyakinkan. Bahwa sebagai seorang yang ditakdirkan menjadi bangsawan tinggi, harus bisa menjaga diri, menjaga derajat, dalam keadaan apa pun.

Akan tetapi sekarang mengalami sendiri.

Bahwa angin asmara yang bertiup di tubuhnya bisa menyeret. Bisa membuatnya lupa bahwa dirinya pangeran yang mempunyai derajat dan pangkat.

Pangeran Muda menjepit perut kudanya, mengikuti loncatan. Keduanya seakan berpacu berebut cepat menuju Keraton. Bahkan melewati pintu gerbang utama masih dengan kecepatan tinggi.

Hanya saja di depan Keraton Pangeran Angon menahan kudanya kuat-kuat. Hingga kedua kaki depannya terangkat.

Mahapatih Halayudha menghadang. “Maaf, Paman Mahapatih….” Pangeran Muda bergegas turun.

Meskipun mereka berdua adalah pangeran muda yang dekat hubungannya dengan pemegang kekuasaan utama, akan tetapi tetap memberi hormat juga kepada Mahapatih. Begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi sikap Mahapatih Halayudha tampak keras. “Maaf, Pangeran Angon serta Pangeran Muda Wengker.

“Raja tidak berkenan ada suara-suara yang mengganggu. Maka sebaiknya Pangeran berdua menempati kamandungan, atau kembali ke Cakradaran dan Keraton Tua….”

Kamandungan berada di sebelah barat bangunan utama Keraton. Termasuk tempat terhormat kedua sesudah bangunan utama. Bahwa selama ini mereka berdua ditempatkan di sana, itu tidak mengurangi kehormatan yang diberikan.

Hanya saja cara Halayudha memberitahukan sungguh di luar dugaan. Kalaupun harus begitu, tidak selayaknya dikatakan di depan Keraton.

“Maaf, Mahapatih….” “Ini perintah Raja.”

“Kami berdua justru akan sowan, untuk berdoa di dalam.” “Tidak saat ini.

“Maaf, saya hanya menjalankan dawuh Dalem….” Halayudha berbalik.

Memerintahkan para prajurit yang berada di kamandungan dan di ksatrian supaya bersiap siaga. Semua berada di bawah perintahnya. Tak ada senopati lain yang berhak mengeluarkan perintah apa pun.

Mengabadikan Asmara PANGERAN ANGON serta Pangeran Muda lebih heran lagi, karena para prajurit pengiringnya juga disatukan di ksatrian. Di dalam kamandungan, Pangeran Anom juga tidak disertai prajurit. Demikian juga para tetamu utama yang diundang Raja.

Rasa heran yang meninggi, kecurigaan yang besar tetap tak akan bermuara pada apa yang direncanakan Halayudha.

Yang ingin menyelesaikan semua rencananya hari ini juga. Esok jika matahari bersinar, dirinya sudah duduk di dampar kencana, kursi emas, dan mengenakan mahkota.

Hari ini akan diselesaikan semua. Diselesaikan sendiri.

Dengan tangannya.

Itu sebabnya para prajurit kawal Keraton diperintahkan bersiaga di luar Keraton. Sementara ia sendiri masuk. Menghadap Raja.

Keningnya sedikit berkerut ketika mendapat laporan bahwa Senopati Jabung Krewes sudah lebih dulu dipanggil menghadap.

Halayudha menyembah, duduk bersila di sebelah agak depan Jabung Krewes. “Paman Mahapatih.

“Ingsun telah memerintahkan Tujuh Senopati Utama seleh pangkat dan derajat. Akan tetapi hari ini saya membutuhkan Tanca dan istrinya.

“Ingsun ingin agar tubuh Permaisuri Praba tetap awet seperti ketika masih hidup, tanpa luka sedikit pun.

“Bagaimana caranya?

“Apakah kamu juga akan matur seperti yang dikatakan Krewes?” Halayudha menyembah.

“Kalau Raja menghendaki, hamba yang akan memerintahkan Mpu Tanca serta istrinya, Nyai Makacaru, untuk mengawetkan, untuk mengabadikan Permaisuri Praba.”

“Ingsun menarik kembali….”

“Hamba yang memegang perintah, Sinuwun.

“Hamba yang mengatur semuanya, sehingga Sinuwun tak terganggu kewibawaan, keluhuran, nama besar, dan keabadian menyanding Permaisuri Praba Raga Karana.”

Senopati Jabung Krewes berdeham keras.

Karena darahnya mendidih hingga  melalui batas kesabarannya. Seolah daun  telinganya menjadi panas dan mengeluarkan uap kedongkolan.

“Hamba berjanji tak akan mengurangi kesenangan Sinuwun sedikit pun, tidak akan mengganggu seujung rambut dan setitik bayangan Raja.”

Senopati Jabung Krewes mencabut kerisnya. Meletakkan di depan kakinya.

“Aku tahu, kamu akan meloncat dari tempatmu, Jabung Krewes. “Aku sudah memperhitungkan itu.

“Tinggal kamu yang akan begitu. Tak ada yang lainnya. Tak ada siapa-siapa selain kita sekarang ini.”

Raja berdiri.

“Kamu tidak main-main, Halayudha.” “Hamba mengatakan yang sebenarnya.

“Sumangga, Ingkang Sinuwun, apakah dengan cara yang baik atau dengan cara mengadu kesaktian, membuktikan tulang siapa yang keras.”

Senopati Jabung Krewes mencabut kerisnya.

Kekasaran yang tak bisa didengar lagi. Penghinaan yang paling tidak bisa dimaafkan.

Akan tetapi Halayudha dengan gesit meloncat. Kakinya menginjak warangka keris, dan siku kirinya menyodok jidat Senopati Jabung Krewes. Jabung Krewes masih berusaha menghindar, akan tetapi tangan kanan Halayudha bergerak cepat. Dua jarinya menekan jakun Jabung Krewes.

“Satu sentakan, matamu tak bisa tertutup selamanya.” Hebat gerakan Halayudha.

Dalam kondisi yang lebih dari separuh pulih, Jabung Krewes bukan tandingan Halayudha. Pada tingkat sekarang ini, Halayudha memang tak akan menemukan tandingan dalam Keraton. Jarak ilmu terlalu tinggi.

Kalau Jabung Krewes terdiam beku, bukan karena takut jakunnya pecah kena pencet Halayudha. Apa pun akan dipertaruhkan untuk membela Raja.

Hanya saja sekarang ini memang tak bisa bergerak. “Halayudha!”

Halayudha melepaskan Jabung Krewes yang jatuh melongsor ke lantai bersih mengilat. “Duduk!”

Halayudha menggeleng. Tersenyum tipis.

“Tidak, sebelum Raja menjelaskan apa yang akan diperintahkan. “Hanya ada dua pilihan.

“Mengikuti apa yang hamba katakan dengan baik-baik, atau memilih jalan kekerasan.” “Kamu tahu apa makna kata-katamu?”

“Sangat tahu, Sinuwun…?

Ada nada menghormat yang telah menjadi tradisi hidupnya, tetapi juga kekerasan yang kurang ajar. “Jadi kamu menghendaki takhta?”

“Maaf, Sinuwun, kata-kata penjelasan tidak diperlukan lagi. “Hamba hanya menyilakan Sinuwun menentukan pilihan.

“Yang terbaik dan terhormat adalah penyerahan kekuasaan. Mengumumkan kepada seluruh rakyat. Dan hamba tak akan mengganggu sedikit pun.

“Cukup penat, letih, dan menyakitkan pengabdian hamba selama ini. Dan tidak menghasilkan apa-apa.

“Sekarang tak ada Dewa, tak ada ksatria, tak ada prajurit yang mampu menandingi hamba. “Sekarang, Sinuwun….”

Raja tertawa.

“Kamu menduga aku begitu bodoh mau menyerahkan takhta. “Jawabannya tidak.”

Halayudha mengangguk. “Baik, Sinuwun.

“Jangan salahkan hamba kalau ada daging terobek atau tulang patah.” “Jangan sesali jika prajurit-prajurit akan mencincangmu.”

Halayudha tertawa.

Nadanya sama tinggi dengan Raja. “Tak ada.

“Tak akan ada.

“Kematian Sinuwun akan diterima, kalau melalui gering total seperti yang dialami Permaisuri

Praba.

“Pewaris takhta Pangeran Anom, Pangeran Muda, Pangeran Angon hanya akan mengalami

nasib yang sama jika menentang hamba.

“Telah hamba perhitungkan masak-masak.

“Hamba telah menunggu sejak Baginda memegang takhta. “Dewa memberi kesempatan sekarang ini.

“Apa lagi yang akan hamba katakan selain restu dan menjalani perintah Dewa Yang Mahadewa? “Sinuwun, tak ada yang akan melesat datang dan tiba-tiba bisa mengalahkan hamba. “Upasara terlalu jauh, telah terluka, dan tak melihat Sinuwun lagi.

“Semua juga kekeliruan Sinuwun sendiri.” Halayudha maju setindak.

Raja tetap berdiri. Bergeming.

“Apa yang kamu inginkan?”

“Sinuwun memerintahkan, memberi sabda bahwa mulai sekarang ini Mahapatih Halayudha, dan hanya Mahapatih Halayudha, yang memegang pucuk pimpinan tertinggi.

“Setelah itu Sinuwun akan terus-menerus berada di dalam dalem kamandungan. Dalam pengawalan yang hamba perintahkan.”

“Ingsun…”

“Bagaimana nasib Sinuwun selanjutnya, tergantung apakah hamba merasa terancam atau tidak. “Rasanya cukup jelas.”

Mendadak Halayudha menghentikan kalimatnya.

Tubuhnya membalik bagai lingkaran. Kedua tangannya mengeluarkan tenaga penuh ke arah belakang.

Terdengar pekik ngeri.

Tiga prajurit kawal Keraton terdorong keras ke arah dinding, dan seketika itu juga lengket.

Tubuhnya menempel ke dinding.

Sekali lagi tangannya bergerak, dua prajurit yang lain menempel di pintu masuk. Hanya Mada yang berhasil meloloskan diri.

Namun tak urung tubuhnya bergoyangan, sebelum ndeprok, melongsor di lantai. Dari pinggir bibirnya mengalir darah segar.

Mada memang selalu menyertai Senopati Jabung Krewes. Ketika dipanggil menghadap, Mada juga mengikuti. Hanya sampai di luar. Makanya masih bisa mendengar suara-suara yang ganjil.

Mada nekat dan memerintahkan para prajurit untuk masuk.

Meskipun mengetahui bahwa sesuatu yang hebat tengah terjadi di dalam, Mada dan para prajurit kawal Keraton tak menduga akan digempur begitu dahsyat. Disambut dengan pukulan yang keras, ganas, dan mematikan.

Karena penguasaan tenaga dalamnya lebih dari yang lain, Mada tidak menjadi lengket dengan dinding. Meskipun untuk itu harus ndeprok tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

Bukan perhitungan Mada yang keliru. Kalaupun mereka semua bersiaga sepenuhnya, tetap tak akan bisa menandingi Halayudha.

“Ba…”

HALAYUDHA unggul segalanya.

Dari sisi ilmu silat, jelas para prajurit kawal Keraton tak mampu melukai ujung kukunya. Dari segi perhitungan strategi, juga jauh lebih unggul.

Sepuluh lipat prajurit yang menyerbu masuk, tetap tak mengubah keadaan. Bahkan jika saat itu Tujuh Senopati Utama ada di dalam, Halayudha bisa membekuk mereka semua.

Raja mundur tiga tindak. Halayudha berdiri di tengah.

“Sinuwun, hamba tak akan bertindak setengah-setengah. “Sekarang saatnya hamba memaksa.

“Semua bangkai di sini tak akan diketahui tempat pembuangannya.” Mada merintih.

Bibirnya bergerak, dan darah menetes. “Ba…”

Halayudha menggeleng. Mantap.

“Aku tahu, kamu paling istimewa, Mada.

“Kamu bakal menjadi prajurit besar. Tapi tidak selama masih ada Mahapatih Halayudha. Aku melihat ketegasanmu mengambil keputusan menyelamatkan Raja. Mataku tidak buta. Aku melihat ilmumu dua kelas di atas para prajurit. Hatiku tidak bisu.

“Aku tahu kamu menyimpan dendam yang berkobaran sejak aku membunuh saudara seperguruan mu. Kamu bisa menyembunyikan perasaan itu. Rasanya tidak beku. Aku tahu itu semua.

“Dalam saat-saat terakhir ini pun kamu ingin melakukan penjegalan. “Kuakui kamu hebat, Mada.

“Tapi aku sudah berkata, selama masih ada Halayudha, tak ada yang kelihatan hebat.

“Kamu mempunyai bakat hebat, mempunyai mulut besar, mempunyai kandungan yang kokoh menyimpan perasaanmu. Di belakang hari akan menjadi prajurit pinunjul. Tapi garis tangan tak bisa diubah.

“Mada, Mada…

“Nasibmu jelek. Seperti Bango Tontong. Seperti Tujuh Senopati Utama. Seperti semua yang menahan langkahku.”

Kalimat Halayudha seperti menguap dari perasaan yang terendam sekian lama. “Sinuwun akan melihat sendiri sekarang.

“Mada akan saya jadikan contoh, bagaimana nasib yang diderita Permaisuri Praba bisa diulangi.”

“Kamu… kamu yang melakukan?” “Hamba tak perlu berlindung. “Tak perlu menutupi diri.

“Beban itu terlalu berat.”

Halayudha menyedot suara hidungnya dengan keras. “Mada, kamu dengar aku?”

Kepala Mada mengangguk oleng. Matanya mulai mengatup.

Pandangannya sayu.

“Aku perlu belajar dari ilmumu yang menonjol. Akal licikmu yang mengilat.

“Baik. Sekarang aku mau lihat apa yang akan kamu katakan sebagai senjata pamungkasmu. “Katakan, Mada.”

“Ba…”

“Kamu minta aku mendekat, dan kamu ingin mati bersamaku? “Cara yang baik, tetapi tak mengena.

“Kamu akan mati sebelum memelukku. Dan aku tak akan mendekat.” Mada menggerakkan tangannya. Kaku, lambat.

Jarinya masuk ke mulutnya. Dengan darah tangannya menulis di lantai. Halayudha mengawasi, sambil tetap memperhatikan keadaan sekeliling. Bapa.

Bapa, itulah tulisan Mada. Tangannya gemetar.

Tak bisa berlanjut.

“Untuk apa berteka-teki seperti itu? “Kalau aku jengkel, aku lumatkan kamu.” Bapa,

Tunggula Seta…

Telapak tangan Halayudha memancarkan tenaga panas, ketika Raja bergerak dari tempatnya.

Dada Raja terasa sesak seketika, sehingga menarik atau mengeluarkan napas menjadi sulit.

Halayudha sepenuhnya menguasai keadaan. 67

By admin • Jan 1st, 2009 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Kalau kelonggaran diberikan kepada Mada, tidak berarti yang lain bisa mempergunakan kesempatan itu. Muslihat semacam itu terlalu ringan dan merupakan hafalan hidup Halayudha sehari- hari. Maka begitu ada angin bergerak dari arah Raja, tangannya langsung bergerak.

Kalau kelonggaran diberikan kepada Mada, karena Halayudha tak bisa membendung rasa ingin tahunya. Bahwa di balik batok kepala prajurit yang tampak biasa-biasa ini tersimpan kekuatan yang besar, yang tak terduga.

Boleh dikatakan, tinggal Mada yang mempunyai dendam tertinggi padanya. Karena saudara seperguruannya boleh dikatakan semua tewas di tangannya.

Boleh dikatakan, tinggal Mada yang harus dibasmi. Tanpa peristiwa ini pun, Mada akan dihabisi. Karena hanya tinggal Mada yang tahu ketika dirinya telanjang!

Yang mengetahui bahwa dirinya tak memiliki kejantanan lagi. Aib itu hanya bisa dibongkar oleh Mada.

Halayudha tidak kuatir sedikit pun bahwa Mada bisa mengeluarkan muslihat yang membalik jalannya situasi. Halayudha percaya diri sepenuh-penuhnya, ia telah menguasai semuanya.

Maka perhatiannya cukup besar mengenai apa yang dikatakan Mada. Kalau sejak tadi Mada hanya mengulang “Ba… Ba…” lalu menuliskan Bapa, Tunggula Seta…, hati dan pikiran Halayudha membuat perhitungan sendiri.

Tunggula Seta, bisa berarti puncak, ujung, yang berwarna putih.

Dengan kata lain, menurut pemikiran Halayudha, Mada ingin melampiaskan dendamnya yang terakhir dengan membuka rahasia yang bisa membuatnya malu sepanjang hidupnya.

Ujung, puncak, bisa berarti juga kejantanan. Halayudha tersenyum penuh kemenangan.

Lampiasan dendam semacam ini malah membuatnya lebih berhasil. Hanya Halayudha yang bisa menikmati penderitaan orang yang sekarat karena ulahnya.

Seperti sekarang ini.

Tapi senyum itu hilang dengan sendirinya.

Pemikiran yang berikutnya berkembang. Ia mengenai Mada. Yang pasti tak akan melakukan makian dendam di saat terakhirnya. Lagi pula, kalau hanya memaki, kenapa memakai pembukaan Bapa… Kenapa harus menghormat?

“Mada, katakan, atau…”

Tubuh Mada jatuh berdebam. Tersungkur. Napasnya tinggal satu-satu.

Tangan Halayudha yang sudah terangkat, berubah menunjuk ke arah Senopati Jabung

Krewes.

“Mahapatih mengetahui maksud Mada.”

Suara Senopati Jabung Krewes terdengar serak, tidak jelas.

Tenaga dalam yang dikerahkan untuk melawan jepitan Halayudha tak berhasil banyak.

Meskipun cukup mengagumkan juga. “Tahu?”

“Ba…” “Apa?”

“Mahapatih mengetahui, siapa yang meneriakkan kata Ba… sebelum pergi untuk selamanya.” “Ba?”

Ganti kini Senopati Jabung Krewes yang tersengal-sengal. Air matanya mengalir. Pengeluaran tenaga yang berlebihan, menguras seluruh kemampuannya.

“Ba?”

Halayudha mengulang lagi.

Satu kata yang tak selesai. Ba, yang ternyata kependekan dari Bapa. Siapa yang meneriakkan kata itu?

Suara itu memang terdengar olehnya. Terasa aneh, terasa menyelinap ke urat nadi. Tapi terlupakan karena tak mempunyai gema dalam hatinya.

Ba…

Kwowogen yang mengucapkan kata itu. Itu terucapkan saat Halayudha memakai tubuh Kwowogen untuk menangkis serangan Pangeran Hiang. Ya, itu yang teringat. Ba…

Apakah berarti Kwowogen akan mengucapkan bapa..? Apa artinya?

Apa kaitannya dengan Tunggula Seta?

Tangan Halayudha terkepal. Keringat dingin menetes. Wajahnya mendongak ke atas.

Tawanya sangat keras, menggeletarkan atap Keraton. Pengerahan tenaga sepenuhnya.

Hingga terbatuk-batuk.

Matanya tajam menikam sekeliling.

“Jabung Krewes, kamu mau mempermainkan aku?

“Aku bisa menebak caramu yang licik. Kamu bisa meniru Nyai Demang yang menjebak Pangeran Hiang, dengan mengatakan penyebab penderitaan Putri Koreyea.

“Tapi aku bukan Pangeran Sang Hiang. “Ingsun Raja Gung Binatara, Halayudha!”

Kutukan Dewi Renuka

TAWA Halayudha menggelegar, bersambungan, bagai gelombang menggempur atap, dinding, tiang utama. Gemanya terbalik lagi, bergulung di gendang telinga.

Tenaga dalam simpanan seolah muncrat bersemburan.

Pecah tersodet seperti ketika Gemuka tersayat Kangkam Galih. Perbandingan yang tidak berlebihan. Karena sesungguhnya, baik Gemuka maupun Halayudha sama-sama terluka. Dan masih sama-sama bahaya.

Itu yang teringat oleh Senopati Jabung Krewes. Getaran tawa Halayudha keras menggempur, akan tetapi tidak membahayakan gendang telinga. Karena tidak digunakan untuk menyerang. Namun getarannya terasa ngilu memedihkan.

Jabung Krewes bisa membayangkan bahwa Halayudha sangat terpukul dan terguncang kesadarannya. Seluruh akar kesadarannya sebagai manusia, sebagai ayah, terbetot paksa.

Jabung Krewes sendiri setengah tidak percaya apa yang dituturkan oleh Mada. Itu terjadi ketika rombongan kembali ke Keraton.

Jabung Krewes sengaja memanggil Mada agar bisa berjalan bersama. “Kaget aku memanggilmu, Mada?”

“Hamba siap menerima segala hukuman atas kebusukan hamba.” “Bagus, kalau kamu tahu itu.

“Apakah kamu mengetahui sebelum bertindak?”

“Eyang Puspamurti pasti kecewa, karena beliau telah mengajari tata krama prajurit.” “Aku hanya ingin mengatakan, saat ini Dewa masih mengasihimu, Mada. “Barangkali kebetulan, dan itu jarang bisa diulang.”

Mada terdiam.

“Sekarang kamu boleh pergi.” Mada menyembah.

Tapi tak bergerak. “Apa lagi, Mada?”

“Keraton saat ini sedang kosong, Senopati yang mulia.” “Hmmm.” “Hamba pernah mendengar dongengan lama Sri Baginda Raja Kertanegara yang mengosongkan Keraton, sehingga seorang yang jahat bisa menyusup.”

“Hmmm.”

“Mohon perhatian Senopati.” “Hmmm.

“Pikiranmu aneh. Tak bisa disamakan begitu saja. Raja Muda Gelang-Gelang memang putra tak berbudi.”

“Seseorang yang tak berbudi jika menemukan kesempatan dan pada dasarnya mempunyai nafsu serakah.”

“Hmmm.

“Hanya ada seorang sekarang ini yang bisa melakukan itu. “Tapi rasanya terlalu jauh. Tak ada kemungkinan itu.” “Maaf, Senopati yang mulia.

“Yang seperti tak terduga, yang seperti tidak mungkin, bisa terjadi. Maaf, Senopati… Siapa yang mengira Raja Muda Jayakatwang yang dibesarkan, diberi pangkat dan derajat oleh Sri Baginda Raja, bakal melakukan kraman?”

“Hmmm.

“Aku tahu kamu mempelajari ajaran Mahamanusia. Manusia yang bisa apa saja, tega apa saja, bisa naik ke langit. Tapi Mahamanusia tak akan merebut takhta.”

“Siapa yang tega berbuat apa saja, bisa berbuat apa saja tanpa penyesalan?”

Mada menceritakan secara singkat, bahwa Kwowogen, prajurit Keraton yang secara sengaja dikorbankan oleh Halayudha, yang menjadi atasannya. Kwowogen yang besar kemungkinannya adalah putra satu-satunya Mahapatih Halayudha.

“Putranya?”

“Pengakuan Kwowogen demikian bunyinya, Senopati yang mulia.” “Dari mana kamu menduga begitu?

“Apakah sebelumnya Kwowogen bercerita padamu?” Mada menggeleng dan menyembah.

“Hamba berlima telah menjadi saudara tanpa memedulikan asal-usul, tanpa membedakan pangkat dan derajat. Keempatnya kini telah tiada. Tinggal hamba. Tak ada bukti lain.”

“Kwowogen sendiri mengakui?”

“Seruan Ba yang tak selesai terucapkan adalah panggilan untuk Bapa…”

Ketika itulah utusan Raja datang. Senopati Jabung Krewes diperintahkan menghadap sendirian. Mada diperintahkan berjaga di luar bersama para prajurit.

“Aku tak berjanji mengatakan kepada Raja. “Tidak juga kalau ditanya.

“Kamu kecewa, Mada?”

“Hamba menyampaikan apa yang hamba pikir baik.

“Tanggung jawab sepenuhnya pada kebijaksanaan Senopati yang mulia, satu-satunya senopati Keraton yang masih dipercaya Raja.”

“Hmmm, kamu cerdik.

“Tetapi aku tak bisa menghaturkan.”

Itu merupakan keyakinan Senopati Jabung Krewes. Nyatanya, Raja tidak menyinggung sedikit pun. Malah meminta pendapat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekuatiran perlawanan paksa Halayudha.

Barulah ketika Halayudha bertolak pinggang, Senopati Jabung Krewes menyadari apa yang dikisikkan Mada. Tapi terlambat dan Halayudha kelewat tangguh.

Pastilah Mada sejak tadi mengamati dari luar. Mengetahui bahwa Halayudha juga masuk ke kamar Raja. Dan begitu mendengar ada sesuatu yang tak beres, segera menyerbu masuk.

Sekarang ini, gelegar tawa Halayudha pasti terdengar di seluruh Keraton. Karena gelombang suaranya yang bergulung dan bersambung. Akan tetapi setelah sekian lama, tak ada tanda-tanda prajurit atau senopati yang menyeruak masuk. Gempuran Mada tepat pada saatnya.

Namun Senopati Jabung Krewes masih sangsi. Apakah ada artinya bagi seorang seperti Halayudha.

Itulah sumber kecemasannya. Karena kini segalanya tergantung seberapa lama Halayudha tertawa. Setelah tawanya selesai, segala sesuatu bisa terjadi. Dan itu menyangkut Raja, Keraton, serta isinya.

Berpikir begitu, Jabung Krewes makin ngeri. Dan karena jalan pikirannya kacau, pemusatan tenaga dalamnya juga berbenturan tak beraturan. Sulit ditebak perasaan apa yang bergolak dalam diri Halayudha. Juga oleh orang yang bersangkutan.

Halayudha sendiri merasa terbuai sekaligus tenggelam, perkasa sekaligus runtuh, tertawa sekaligus menjerit tangis.

Baginya dalam hidup ini hanya dorongan menjadi prajurit, menjadi senopati, menjadi ksatria tak terkalahkan yang bisa membuatnya bahagia atau berduka. Segala kebanggaan dan kekecewaan berawal dan berakhir di situ.

Kalau ada bagian yang menyelinap kecil, adalah hubungannya dengan seorang wanita yang disebut-sebut sebagai Dewi Renuka. Disebut-sebut karena Halayudha sendiri tidak mengetahui siapa nama sesungguhnya, dari mana asal-usulnya, dan bagaimana hubungannya dengan gurunya, Paman Sepuh Dodot Bintulu.

Sebutan Dewi Renuka untuk memperjelas bahwa suatu hari nanti, wanita itu akan mengalami nasib yang paling memilukan. Dibunuh oleh anaknya sendiri!

Hubungan dengan Dewi Renuka disesali sebagai kutukan yang sepenuhnya disandang. Secara wadak itu berakibat sabetan yang memotong kejantanannya. Secara batin, penderitaan yang terus berkepanjangan. Karena selalu digoda rasa bersalah, dikutuk, dan tak tahu harus bersikap bagaimana. Bagaimana bersikap terhadap yang disebut Dewi Renuka. Ikut mengutuk, atau menebus dosa. Halayudha tak tahu tindakan apa yang akan diambil, dan tak pernah mendengar kabar.

Maka betapa kejamnya Dewa menghukum karena dirinya menjadi takdir pembunuh anaknya sendiri. Adakah yang lebih kejam dari itu?

Dalam benak Halayudha sekarang ini sedang terjadi tikam-menikam antara kesangsian dan rasa bersalah yang maha berat.

Kesangsian apakah benar Kwowogen itu putranya. Tak ada bukti apa-apa.

Tapi kalau bukan, bagaimana mungkin Mada bisa menyebutkan? Bagaimana mungkin Mada mengetahui rahasia masa lalunya? Rasanya di jagat ini hanya tiga orang yang mengetahui. Dua pelakunya yaitu dirinya dan yang disebut Dewi Renuka, serta Paman Sepuh.

Halayudha mencoba mengingat kisah-kisah pertemuan dengan Kwowogen. Tak ada yang luar biasa.

Hanya saja, hanya saja…

Kesangsian dan keyakinan bertarung kembali. Saling menindih, saling mengimpit, saling mencakar dan merobek-robek paksa batin Halayudha.

Hanya saja memang ada perubahan sifat Kwowogen, sejak dirinya berhasil ditelanjangi Eyang Puspamurti. Sejak itu, sorot mata Kwowogen menjadi lain.

Dengan kata lain, sejak itu Kwowogen mengenali dirinya. Halayudha membentuk sendiri rangkaian yang mendukung jalan pikirannya. Bahwa setelah dirinya dihukum Paman Sepuh, yang disebut Dewi Renuka mendapat hukuman yang sama. Atau disebrat, dibuang.

Saat itu benih dalam tubuhnya makin membesar. Pastilah penuh penderitaan yang sarat ketika melahirkan, ketika membesarkan.

Waspa Ludira

TERGAMBAR dalam bayangan kelebatan demi kelebatan. Betapa seorang wanita ayu, yang barangkali tak bersalah benar, harus menanggung beban sendirian.

Saat menyembunyikan diri karena hamil. Saat melahirkan.

Semua ditanggung sendiri. Tanpa ada yang bisa diajak berbagi. Tidak juga Paman Sepuh, atau Halayudha.

Tikaman yang pedih.

Penderitaan yang berkepanjangan, karena membesarkan, dan pastilah suatu ketika si anak menanyakan siapa dan bagaimana ayahnya, serta di mana berada. Tak ada petunjuk, tak ada apa- apa, selain penjelasan bahwa ayahnya adalah lelaki yang tak memiliki kelelakian lagi.

Betapa mengerikan, ketika akhirnya Kwowogen menyadari bahwa ayahnya adalah Halayudha!

Yang ditemui secara tak sengaja, karena dipecundangi Eyang Puspamurti.

Halayudha ingat dengan jelas.

Dalam pertarungan besar yang baru saja terjadi, jelas sekali bahwa Kwowogen sangat melindungi dirinya. Padahal dirinya justru mencelakai dengan cara hina. Membuat kerisnya terbang ke arah Pangeran Hiang dan akhirnya, akhirnya, tubuhnya dipakai sebagai perisai oleh Halayudha.

Betapa menggeletarkan, pada saat terakhir masih meneriakkan ucapan Ba… Masih mengakui bapaknya!

Rasanya belum pernah Halayudha mengalami guncangan seperti sekarang ini. Karena yakin bahwa Kwowogen memang putranya. Sebutan terakhir itu yang membuktikan. Tak mungkin Mada mengarang cerita panjang, tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Dan bisa dimengerti bahwa hanya kepada Mada, atau sahabatnya seperguruan yang lain, Kwowogen menceritakan dirinya.

Jadi benar Kwowogen adalah putranya. Yang dikorbankan.

Tubuh Halayudha masih berdiri tegak. Keringatnya membasah. Sebagian berwarna merah, juga yang mengembeng di sudut matanya. Air mata darah, waspa ludira. Itu hanya terjadi pada seorang ahli tenaga dalam yang mengalami guncangan paling hebat yang tak bisa dikuasai.

Akan tetapi kalau Senopati Jabung Krewes berpikir bahwa dalam keadaan terguncang hebat Halayudha bisa dikuasai, jalan pikiran itu keliru!

Darah masih menetes, membasahi.

Akan tetapi Halayudha masih gagah perkasa. Kelebatan pikirannya masih bertarung.

Membenarkan bahwa Kwowogen adalah putra tunggalnya. Mengakui sebagai tindakan yang tak bisa diampuni.

Itu bukan satu-satunya jalan pikiran. Karena tikaman tangkisan juga muncul dalam benaknya. Bahwa apa pun yang terjadi, tak akan mengganggu, tak akan menghalangi langkah-langkahnya. Perjalanan yang jauh, yang dirintis sebagai prajurit, yang menjadikan dirinya alas kaki, menempuh segala kehinaan di mata orang lain, pengorbanan yang tiada habisnya, tak akan dimentahkan begitu saja.

Apalagi sekarang ini.

Di saat takhta sudah dalam genggamannya. Takhta!

Takhta!

Di seluruh tanah Jawa hanya ada satu maharaja. Dan itu adalah Ingkang Sinuwun Halayudha.

Yang memiliki dan menguasai semuanya. Langit, bumi, dan isinya.

Pertarungan antara menerima kutukan dan pangkat serta derajat yang tak tertandingi itu tercermin dalam gejolak tawa yang masih terus berkumandang. Sebentar tinggi nadanya, menyayat, lalu berubah menjadi rendah, menyayat.

Baru kemudian sekali iramanya menjadi datar, dan lenyap. Halayudha masih berdiri gagah. Mengucurkan darah.

“Jabung Krewes, kalau perlu kita mati bersama. Sampyuh di tempat ini bersama Sinuwun. “Kutukan ini harus kulampiaskan kepada semua saja.

“Bukan kutanggung sendiri.”

Tangan Halayudha bergerak, mencipratkan darah ke segala penjuru. Raja melangkah mundur sambil menyipitkan mata. “Halayudha, kutukan itu sesuai dengan apa yang kamu lakukan.” Halayudha meringis.

“Sinuwun tahu apa?

“Tahu apa tentang kutukan dan penderitaan? Sinuwun yang seharusnya menerima lebih dari yang hamba derita. Tapi Dewa takut melakukan.

“Hamba yang akan melakukan.”

Halayudha menggosok telapak tangannya. Yang sepenuhnya berwarna merah.

Jabung Krewes berusaha membebaskan diri sekuatnya. Napasnya tersengal-sengal, akan tetapi kakinya mulai bisa digerakkan. Tanpa berpikir panjang, Jabung Krewes menggelindingkan tubuh ke arah Halayudha. Tangannya terentang lebar.

Halayudha hanya menggerakkan kakinya, seolah menendang dengan sepersepuluh bagian tenaganya. Jabung Krewes tersentak dan tubuhnya menggeliat, sebelum akhirnya rebah.

Tak bergerak.

“Sinuwun bisa membela diri.

“Hamba siap melayani. Dengan senjata apa saja.” “Halayudha!

“Apakah takhta tak berarti lagi bagimu?” “Berarti sekali, Sinuwun.

“Sama berartinya nama Tunggula Seta. Ujung yang putih. Senopati juga nama hamba. Halayudha, ujung bajak. Sama berartinya. Diubah menjadi Kwowogen atau yang lainnya sama saja. Derajat dan pangkat mahapatih, atau maharaja, atau maha takhta, akhirnya sama.

“Langit di atas atau di bawah, apa bedanya? “Bumi diinjak atau dijunjung, apa bedanya?

“Jagat lahir sungsang. Tanpa tata krama, tanpa aturan. Membunuh Raja atau Mada atau menghidupi atau mengampuni, tak ada bedanya.

“Itulah Mahamanusia, Sinuwun. “Itulah hamba.

“Bersiaplah….”

Raja Itu Disembah

TAWA yang mirip jeritan, atau jeritan yang mirip tawa dari Halayudha menyisir udara sekelilingnya.

Kini bukan hanya sekitar Keraton saja yang bisa mendengar, melainkan seluruh bagian Keraton. Termasuk kamandungan, tempat ketiga pangeran muda berkumpul. Sampai di dalem baluwerti. Sebenarnya tak akan menggerakkan rasa ingin tahu, kalau bukan nada tawa yang melengking. Karena selama ini, dalam keadaan yang bagaimanapun, tak nanti akan ada tawa yang menggelegar atau jeritan yang tinggi. Cara mengucapkan kalimat saja, bila berada dalam Keraton, boleh dikata kalah keras dengan suara selembar daun kering yang jatuh. Maka lengkingan tawa itu cukup mengherankan juga.

Pangeran Angon serta Pangeran Wengker yang lebih dulu bersiaga. Keduanya hanya cukup melempar pandang untuk kemudian segera berlalu. Disusul Pangeran Anom. Ketiganya serentak merasa terpanggil karena tanggung jawab, dan juga karena daya tarik yang lain. Terutama Pangeran Angon yang sejak pertama kali menatap Putri Tunggadewi serasa bagai disambar petir. Daya asmara yang sangat kuat mengenyakkan diri, tak memungkinkan untuk memusatkan pikiran kepada yang lain. Jangan kata teriakan dari Keraton, tak ada alasan pun Pangeran Angon bisa segera berangkat ke Keraton.

Jarak antara kamandungan dan kaputren sebenarnya tidak terlalu jauh. Tak lebih dari dua ratus tombak. Yang memisahkan hanyalah bangunan tembok yang tinggi. Yang sekali loncat pun akan bisa dilalui. Akan tetapi dinding tembok itu hanyalah simbol perbedaan yang memisahkan secara nyata apa yang menjadi bagian dalam Keraton, dan apa yang di luarnya. Walaupun bangunan baluwerti dan kamandungan masih di dalam tembok Keraton, yang membedakan dengan seluruh bagian di luar Keraton, akan tetapi di dalamnya sendiri ada perbedaan yang tak bisa begitu saja dilewati. Kini saatnya.

Pangeran Angon bergegas masuk. Langsung menuju bagian dalam, tanpa menghiraukan para prajurit yang bersiaga dan berjaga-jaga. Pangeran Anom memberi tanda agar berhati-hati sebelum masuk ke Keraton. Bahkan Pangeran Anom yang lebih dulu mendorong pintu masuk.

Sebenarnya ini memang menyangkut tata krama. Karena Pangeran Anom memang menang awu, atau dituakan di antara dua pangeran yang lain. Maka Pangeran Anom-lah yang melangkah lebih dulu.

Begitu melangkah masuk, pandangannya segera nanar. Seakan tak percaya terhadap apa yang dilihatnya.

Raja Jayanegara berjongkok di dekat kursi emas, sementara Halayudha justru berdiri bertolak pinggang, dengan dada dan punggung yang basah oleh keringat serta darah. Di lantai dekat pintu berserakan mayat para prajurit. Senopati Jabung Krewes masih mengerang, dan Prajurit Mada tampak berusaha bangun.

“Siapa kalian?

“Siapa yang memerintahkan kalian sowan tanpa tinimbalan? Siapa yang memerintahkan menghadap tanpa dipanggil?”

Suara Halayudha sangat tegar, telunjuknya menuding, memerintah, dan merendahkan. “Kenapa kalian yang memakai pakaian pangeran muda begitu tak tahu tata krama, datang

tanpa menyembah?

“Apakah jalan pikiran kalian sudah jungkir-balik, hingga raja dianggap bukan raja? “Raja adalah manusia yang disembah.

“Berlutut, bersilalah, haturkan sembah dengan baik.”

Tangan kanan Halayudha menuding, sementara tangan kiri terangkat ke atas. Tenaga dalam meluncur dari tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyimpan satu pukulan yang setiap saat bisa diempaskan.

Pangeran Anom tak bisa berbuat lain. Paksaan tenaga Halayudha kuat menekan pundaknya untuk bersila. Pangeran Angon juga tak kuasa membendung. Pangeran Muda Wengker berusaha mengelak dengan terhuyung-huyung.

“Lakukan apa yang dikatakan,” suara Raja Jayanegara terdengar menggeletar. “Tutup mulutmu. Ingsun yang memerintah, bukan kamu.”

Pangeran Muda Wengker segera menyadari bahwa situasi yang terjadi memang sangat gawat. Kalau sampai Raja sendiri memerintahkan memberi sembahan kepada Halayudha, itu bukan hanya luar biasa. Tetapi sudah tak masuk akal sama sekali, dan ada sesuatu yang sangat luar biasa.

Tak ayal lagi Pangeran Muda Wengker memberi sembah. “Begitu sebaiknya.

“Baik, baik, sekarang pasowanan bisa dimulai.”

Halayudha duduk di atas singgasana. Kedua kakinya diangkat di kursi. “Jabung Krewes, bangun kamu.”

Kaki Halayudha bergerak, dan Senopati Jabung Krewes merasa impitan di dadanya berkurang. Sungguh permainan tenaga dalam yang sempurna. Kalau selama ini dirinya berkutetan dan memaksa diri sepenuhnya untuk membuka pertahanan tubuhnya dan mengembalikan kekuatannya tapi sia-sia, Halayudha hanya cukup menggunakan tenaga dalam yang dikirimkan lewat dua jempol kakinya.

Walaupun kemampuan Halayudha sebenarnya lebih berakar mengenai bagian mana yang dibuka, Jabung Krewes tetap mengakui bahwa dari semua yang ada di dalam Keraton, tak ada satu pun yang bisa mengungguli Halayudha. Kalau tadi masih berpikir untuk mencuri kesempatan berbalik menghajar Halayudha, kini pikiran itu dibuang jauh-jauh.

“Sembah aku…”

Jabung Krewes adalah senopati Keraton. Tokoh yang mempunyai derajat dan pangkat yang tinggi, yang dibuktikan dengan pengabdian. Pastilah akan memilih mati daripada harus menyembah Halayudha. Atau siapa pun selain Raja.

Ini jalan pikiran Pangeran Anom. Bahkan dipaksa dengan tenaga dalam Halayudha yang menyiksa pun, tak nanti Jabung Krewes akan mengikuti. Ia akan melawan sepenuhnya, meskipun hasilnya sia-sia atau mengorbankan nyawanya.

Ini jalan pikiran Pangeran Anom.

Ini juga jalan pikiran Jabung Krewes.

Karena posisinya sangat berbeda dengan Pangeran Anom, Pangeran Angon, atau Pangeran Muda Wengker-yang terakhir ini malah mendapat perintah resmi dari Raja.

“Hamba Senopati Jabung Krewes, menghaturkan sungkem pangabekti kepada Raja sesembahan….”

Suaranya lembut, nadanya menghormat dan tulus. Halayudha tertawa terbahak.

Pangeran Anom memuji keunggulan Jabung Krewes dalam menempatkan diri. Ia memang menyembah hormat, menekuk tubuhnya separuh, suaranya mengandung nada hormat yang sesungguhnya, akan tetapi sebenarnya ditujukan kepada Raja Jayanegara.

Bukan kepada Halayudha. Hanya arahnya yang sama.

Keluwesan semacam inilah yang merupakan inti kekuatan para senopati, pikir Pangeran Anom. “Baik, baik.

“Hari ini Ingsun akan medar sabda. Ingin pidato resmi, mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan keluhuran Keraton dan para Dewa. “Kalian semua dengarkan baik-baik.

“Ingsun ini sesungguhnya yang disebut mahamanusia yang paling sempurna.

Belum pernah ada sebelumnya, dan tak akan pernah ada lagi, mahamanusia seperti Ingsun. “Pertama, Ingsun ini prajurit biasa, diangkat sebagai senopati, dan kemudian mahapatih,

setelah itu raja. Dewa pun menyembah padaku.

“Kedua, Ingsun akan segera mengambil permaisuri, selir-selir, gundik-gundik, membuat taman, dan menyatakan perang.

“Ketiga, apakah tidak sebaiknya Ingsun memakai gelar yang baru? Bukan wangsa Sri Baginda Raja, bukan nama Syangka, bukan nama siapa-siapa. Tapi dari nama asal-usul Ingsun sendiri.

“Mada, kenapa kamu?”

Mada menunduk, tanpa berusaha menghapus darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya.

Hanya karena tenaga dalamnya yang kuat Prajurit Mada masih bisa bertahan, masih mampu berkata dengan suara perlahan.

“Kenapa tidak memakai gelar Tenggala Seta?” Jabung Krewes menggigit bibirnya.

Untuk kesekian kalinya Jabung Krewes memuji prajurit pilihannya setinggi langit, sekaligus menguatirkan.

Memuji setinggi langit, karena Mada tetap mendesakkan kekuatan yang bisa merontokkan Halayudha. Satu-satunya peluang yang mampu menerjang benteng kekuatan utama Halayudha.

Dengan menyebutkan nama Tenggala Seta yang artinya bajak atau wluku putih, Mada masuk ke pembicaraan kembali. Pembicaraan yang bisa mengguncang Halayudha di saat ia siap membasmi seluruh isi Keraton sekarang ini.

Tenggala berarti bajak atau wluku, yaitu peranti untuk mengolah tanah yang selalu dipakai para petani. Namun hala juga bisa berarti bajak. Sedangkan tambahan kata seta yang berarti putih, menggenjot kembali jalan pikiran Halayudha kepada putranya yang tewas di tangannya sendiri secara sengaja dan menjijikkan.

Pengertian putih di sini, bisa diartikan bajak putih, bisa pula diartikan kelelakian yang putih! Yang hanya dimiliki Halayudha!

Inilah yang menghantam pertahanan dan kekuatan Halayudha, sehingga batinnya guncang. Sehingga keringat dan tubuhnya menyatu. Yang meskipun tertawa-tawa meremehkan, batinnya tersiksa sempurna. Yang membuatnya seolah tidak waras.

Jabung Krewes juga kuatir, karena setiap saat Halayudha bisa murka, dan sekali alis matanya terangkat, telunjuknya menuding, habislah Mada. Atau bahkan seisi ruangan!

Tongkat Tak Takut Lumpur

HALAYUDHA berdeham keras. Kepalanya bergoyang. Mahkota di kepalanya berayun, jatuh di lutut kakinya.

“Lihatlah baik-baik.

“Mahkota bersusun ini dipakai lututku.

“Hanya mahamanusia yang bisa melakukan itu. Kamu, Jayanegara tak pernah berani melakukan.

“Mana yang lebih keramat, lututku atau mahkota ini?” Halayudha bergelak lagi.

Keringat dan darah kembali menetes. “Usulmu tidak jelek, Mada. “Meskipun tampangmu buruk sekali.

“Kukira Tenggala Seta nama yang bagus. Tapi kurang berwibawa. Hanya saja alasannya bisa kuterima. Memakai nama gelaran anaknya, keturunannya, dan bukan leluhurnya.

“Itu baru tata krama yang menarik. “Sesuai dengan Ingsun.

“Tapi tunggu dulu, Mada. Segala apa harus bisa dibuktikan. Segala yang tidak ada bukti nyata, dialami dan diakui semua orang, bukan kasunyatan, bukan kenyataan.

“Hanya lamunan.

“Kenyataan itu hakikat aku ini.

“Nyata menjadi raja, nyata memainkan mahkota, nyata kalian sembah.

“Sekarang pertanyaanku, benarkah Tenggala Seta atau siapa pun namanya itu putraku? Bukankah aku harus melihat sendiri bahwa kemaluannya, kelelakiannya, memang berwarna putih? Bagaimana kamu bisa membuktikan itu? Mana mayatnya?”

Mada berusaha menjawab, akan tetapi kembali tenaga dalamnya yang masih belum sepenuhnya dikuasai berbenturan sendiri, sehingga tubuhnya rebah.

Kesempatan emas yang terlepaskan. Sungguh sayang.

Sangat sayang, pikir Jabung Krewes.

Mada berhasil membangun serangan yang langsung menghunjam ke titik pikiran Halayudha.

Tinggal menyelesaikan dengan baik. Tapi tak mampu.

Dibandingkan para prajurit pilihan umumnya, Mada dua atau tiga tingkat lebih tinggi. Tenaga dalamnya boleh dikatakan bisa disejajarkan dengan Senopati Jabung Krewes. Sesuatu yang bisa dimengerti. Karena Mada satu-satunya prajurit yang mempelajari ajaran pengerahan tenaga dari mahamanusia, tanpa melewati ajaran Kitab Bumi. Bukan hanya itu. Masih ditambah lagi sumber utama yang mengajarinya adalah Jaghana, pendekar dari Perguruan Awan yang merupakan murid langsung Eyang Sepuh. Dan ditempa siang-malam tanpa henti oleh Eyang Puspamurti. Gemblengan yang luar biasa, yang membedakannya dari prajurit lainnya.

Hanya saja karena penguasaannya belum sempurna, atau karena terdorong nafsu besar untuk segera menyodokkan keunggulan, Mada tak bisa menguasai dirinya.

Hanya bisa mengejang dan ditimbuni rasa penasaran. Senopati Jabung Krewes tak menyia-nyiakan kesempatan.

“Sekarang sedang diruwat oleh ksatria lelananging jagat sebagai cara membuktikan keunggulan….”

Halayudha terbatuk. Mahkota di lututnya terjatuh. Menggeletak di lantai. Simbol sakti seluruh negeri tanpa kecuali, yang dihormati, dan disembah itu tergeletak seakan tak mempunyai arti.

“Apa maunya Upasara Wulung itu?”

Kalau Raja Jayanegara masih menebak-nebak arah serangan kata-kata Jabung Krewes, bagi Pangeran Anom segalanya telah jelas.

Jabung Krewes meneruskan tembakan yang gagal dilakukan Mada dengan cara yang halus, manis, tapi menikam langsung.

Halus dan manis yang dipujikan Pangeran Anom sebenarnya hanya karena Jabung Krewes tak mengerti apa yang terjadi dengan mayat Tenggala Seta atau siapa pun namanya sekarang ini. Bisa-bisa sudah disingkirkan atau dibakar. Kalaupun diketemukan, belum tentu bisa meyakinkan Halayudha bahwa warnanya benar-benar putih, karena setelah menjadi mayat seluruh tubuh warnanya cenderung sama.

Makanya Jabung Krewes mengatakan sedang diruwat, sedang dirawat, sedang dibebaskan oleh Upasara. Kalaupun bertemu mayat yang diduga Tenggala Seta, masih bisa dialihkan bahwa Upasara Wulung telah memotong kelelakiannya.

Menjawab pertanyaan Halayudha, akan lebih mudah. Karena bisa saja dijawab bahwa Upasara Wulung akan menjadikannya sebagai jimat, sebagai kekuatan lain melawan Halayudha.

Dalam keadaan yang normal sekalipun, Halayudha bisa mempercayai hal itu. Bukan karena dirinya memakai berbagai jimat, akan tetapi segala jenis dan segala tata cara memakai dan memperolehnya sangat dikuasai.

Sesungguhnya dengan menyeret nama Upasara Wulung, Jabung Krewes melakukan taktik Teken Mangsa Wedi ing Blethokan, atau siasat Tongkat Tak Akan Takut Lumpur.

Cara yang sangat dipuji Pangeran Anom dan disebutkan sebagai menikam langsung.

Tongkat Tak Akan Takut Lumpur adalah kiasan dalam dunia persilatan. Dalam pengertian sebenarnya, sebatang tongkat tak akan takut terkena lumpur. Dalam arti persilatan, bisa menjadi sebuah tantangan. Kalau memang dirinya tongkat, untuk apa takut kepada lumpur.