-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 23

Jilid 23

Tanpa ada bayangan atau tubuh orang. Nyai Demang menyusul.

Kini semua perhatian tertuju ke tengah perahu besar. Tubuh Gendhuk Tri yang melayang turun mendadak saja berputar keras, membentuk gulungan, ketika tiba-tiba dari lantai perahu menyembur semacam anak panah dan tombak secara berturut-turut.

Gendhuk Tri tidak hinggap di dasar perahu, melainkan di tiang utama. Seperti juga Nyai Demang.

“Inikah Pangeran Hiang yang perkasa, yang menyambut tamunya dengan sapu lidi?” Teriakan Gendhuk Tri menggema keras.

Nyai Demang mengakui bahwa Gendhuk Tri yang sekarang ini sama sekali tidak meninggalkan sisa sebutan gendhuk. Cara berpikir dan bertindaknya jauh lebih dewasa dari yang selama ini dikenal.

Bahwa dengan hinggap di tiang utama sebagai satu-satunya pilihan, menunjukkan kehebatan itu. Meskipun tadi tubuhnya melayang ke arah geladak, akan tetapi tujuan yang sebenarnya adalah tiang utama. Sehingga sejak semula mudah memutar. Dan dengan meloncat lebih dulu, Gendhuk Tri memberi kesempatan Nyai Demang untuk membaca apa yang dilakukannya.

Dan bisa mengikuti.

Yang tetap sama adalah ketajaman lidahnya, dan kecepatan memanfaatkan situasi.

Nyai Demang mengakui kehebatan ini. Karena memang sejak dulu hanya Gendhuk Tri yang mampu melukai Ugrawe-yang saat itu bahkan bayangan tubuhnya saja tak bisa disentuh. Juga dengan kepintarannya memanfaatkan situasi.

Seperti sekarang ini.

Dengan menyebut nama Pangeran Hiang, seolah Gendhuk Tri sudah mengetahui siapa yang dihadapi. Dan memilih menjadi lawan utamanya dengan memancing kegusaran. Karena menyebut Pangeran Hiang menyambut tamunya dengan sapu lidi!

Ini gaya Gendhuk Tri.

Sejak di Pesanggrahan Simping, Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hati, senjata apa yang dipakai oleh pasukan Tartar yang bisa menyapu lawan dalam sekejap dan seketika. Bahkan Paman Wilanda juga terluka seketika oleh banyak tusukan secara sekaligus.

Ternyata itu semacam senjata anak panah yang dilepaskan sekaligus. Senjata itulah yang disebut sebagai sapu lidi.

Yang ketika dilepaskan bersamaan tak bisa menemui sasarannya. “Pangeran Hiang… Apa masih perlu saya turun menjemputmu? Apakah tidak akan membuat bayi di perut Putri Koreyea kaget?”

Serangan kedua dengan menyebut-nyebut Putri Koreyea. Perhitungan semata-mata yang membuat Gendhuk Tri meneriakkan soal bayi dalam kandungan.

Jawabannya adalah sunyi. Tak ada apa-apa.

Gendhuk Tri melihat sekilas ke arah Nyai Demang, lalu meloncat turun Nyai Demang bergerak cepat. Ia mengibaskan kedua tangannya dan meloncat turun ke arah lain.

Kelihatannya.

Karena tubuhnya berputar dan kembali hinggap di tiang. Seperti juga Gendhuk Tri.

Yang menekuk tubuhnya membelok kembali.

Dari lantai perahu mendadak menjeplak kembali luncuran anak “lidi” yang berbentuk anak panah.

Menyambar dari segala sudut!

Sehingga kalau benar Nyai Demang atau Gendhuk Tri menginjak lantai akan dihujani dengan tusukan.

Puluhan jumlahnya. Dari segala arah.

Masih disusul dengan tembakan berikutnya. Yang agaknya dilepaskan dari tali busur raksasa, kalau dilihat betapa anak panah itu melesat dengan cepat dan keras.

Bisa dimengerti kalau selama ini tak ada yang bisa menyentuh perahu. Karena sudah diperlengkapi dengan berbagai senjata rahasia yang gawat.

“Mbakyu Demang, mari kita bermain-main ke atas….” Gendhuk Tri mendaki tiang. Dengan dua loncatan saja.

Nyai Demang berteriak kegirangan seperti anak kecil yang menemukan permainan menarik. “Aku juga tertarik barang itu.”

Benar!

Tujuan Gendhuk Tri adalah mengambil simbol naga bertaring yang dipajang di tiang utama!

Dengan perhitungan, kalau bagian yang menjadi simbol perahu ini diganggu, si pemilik akan terpaksa keluar!

Perhitungan yang jitu. Tapi meleset.

Pangeran Hiang maupun pengikutnya sama sekali tak terpengaruh oleh itu. Tak ada reaksi apa-apa dari perahu.

Gendhuk Tri menjadi dongkol. Selama ini boleh dikatakan hampir semua lawan bisa diakali. Bisa dipaksa menuruti kehendaknya.

Kali ini lain.

Benar yang dikatakan Nyai Demang, bahwa Pangeran Hiang berbeda dari semua rombongan Tartar yang pernah datang.

“Karena mereka tak mau datang, biar kita yang masuk, Nyai. “Ayo…!”

Dua tubuh melayang ke bawah.

Nyai Demang berhenti di bagian bawah sekitar dua tombak dari lantai. Sementara Gendhuk Tri terus meluncur ke bawah!

Serentak dengan itu terdengar teriakan kaget dari mereka yang menyaksikan di pinggir sungai. Serentak dengan itu ratusan anak panah menyebar keras, menghujani dari segala penjuru,

disertai kepulan asap. “Awas!”

Teriakan peringatan Nyai Demang menandakan kekuatiran yang dalam. Karena posisi Gendhuk Tri sangat tidak menguntungkan. Dalam keadaan melayang ke bawah, disambut dengan lepasan anak panah dan asap yang memercikkan api, Asap yang melumpuhkan dan membuat Pangeran Anom menjadi panas sekujur badannya.

Lebih berbahaya lagi, karena selama ini belum ada bayangan di mana lawan bersembunyi. Kalau senjata rahasia saja sudah begitu menyulitkan, apalagi tokoh yang bersembunyi. Yang bisa muncul setiap saat dan akan menggasak. Tanpa perhitungan ksatria atau tidak.

Itu sebabnya Nyai Demang kuatir akan kenekatan Gendhuk Tri. Gendhuk Tri sendiri masih sangsi.

Antara betul-betul mendarat di lantai perahu atau berhenti di tengah seperti Nyai Demang. Dua-duanya tidak dilakukan.

Karena Gendhuk Tri menjatuhkan kepala naga bertaring, dan dengan satu kaki menginjak, tubuhnya membal kembali ke atas.

Melayang naik. Satu tombak di atas tubuh Nyai Demang.

Pertunjukan mengatur tenaga dalam yang hebat. Karena Gendhuk Tri memakai pijakan untuk kekuatan dari barang yang dijatuhkan!

Dengan cara begitu, bukan saja puluhan anak panah lidi tak menemui sasaran untuk kesekian kalinya, akan tetapi Gendhuk Tri telah membuat Pangeran Hiang merah padam wajahnya. Karena simbol naga bertaring itu yang menjadi sasaran panah lidi dan semburan asap yang mendadak saja menghanguskan.

“Aku Prajurit Tua Sina, perlu turun tangan.”

Dari daratan terdengar teriakan keras. Disusul, atau bersamaan dengan itu, sesosok tubuh melayang ke atas perahu.

Langsung. Berdiri di lantai. Inilah hebat.

Panggilan Prajurit Tua

UNTUK pertama kalinya ada orang luar yang mampu menginjakkan kaki di lantai perahu Siung Naga.

Dan orang itu adalah lelaki yang cukup berumur, yang menamakan dirinya Prajurit Tua Sina.

Sejenak Gendhuk Tri termangu karena tidak segera mengenali siapa yang begitu berani mati tapi juga penuh perhitungan masuk ke perahu.

Perhitungan Gendhuk Tri berdasarkan pengamatan bahwa Prajurit Tua Sina sudah sejak awal memperhatikan situasi, dan pada saat yang tepat masuk ke dalam. Saat yang tepat, karena setelah hamburan batang panah ia menerobos masuk.

Jalan pikiran Nyai Demang tak jauh berbeda. Hanya lamat-lamat ia seperti mengenali sosok di bawahnya. Walau belum pasti siapa dia. Gerak-gerik dan gerakan ilmu silatnya seperti dikenali.

“Hamba Prajurit Tua Sina, meminta izin Baginda untuk kembali menerima panggilan jiwa sebagai ksatria.”

Suaranya lantang.

Caranya menunduk dan menyembah menunjukkan rasa hormat yang dalam. “Maafkan kelancangan hamba selama ini, dan sekali ini.”

Nyai Demang menggeleng. Sudah jelas suasana perang sangat sempit dan tidak memberi kesempatan untuk berbasa-basi, akan tetapi prajurit tua ini malah menyembah dan menghormat.

Nyai Demang kurang memahami.

Bisa dimengerti, karena tidak tahu persis siapa yang sekarang berani mati berada di perahu.

Kalaupun sedikit mengenali gerak-geriknya, ia juga tidak segera bisa menemukan hubungannya dengan Mahapatih Nambi.

Memang yang sekarang berdiri gagah dengan rambut diikat selembar kain putih adalah ayahanda Mahapatih Nambi.

Mpu Sina!

Senopati Keraton Singasari yang gagah perkasa di masa pemerintahan Baginda Raja Sri Kertanegara. Akan tetapi sejak Raja Muda Jayakatwang merebut kekuasaan dengan cara yang hina, Senopati Sina lebih suka menyingkirkan diri ke Lumajang. Selama itu, apa yang dilakukan tak diketahui orang lain.

Senopati Sina seolah menenggelamkan dirinya, surut dari percaturan tata pemerintahan. Adalah putranya yang tetap mewarisi darah prajurit meneruskan pengabdiannya di Keraton dengan sama gagah dan beraninya.

Dari prajurit kawal, diangkat menjadi senopati, dan akhirnya mengemban tugas mulia sebagai mahapatih.

Seperti telah diceritakan di bagian awal, Senopati Sina tetap tak terguncang sedikit pun. Tak bergeser satu jari pun untuk kembali menengok ke Keraton. Apalagi terjun sebagai prajurit. Bahkan ketika putranya diangkat dengan upacara kebesaran Keraton, Senopati Sina yang biasa disebut dengan panggilan menghormat Mpu Sina tetap tak keluar dari kamarnya.

Sejak itu pula makin santer warta bahwa Mpu Sina tidak mau mengakui kekuasaan Baginda. Seperti semua senopati di masa pemerintahan Sri Baginda Raja, yang merasa bahwa selama ini belum ada yang pantas menggantikan takhta Keraton.

Ketidakjelasan sikap yang memancing warta ngayawara, berlebihan, inilah yang sebenarnya dipakai oleh Senopati Halayudha ketika menemui Mahapatih Nambi.

Bahwa sesungguhnya ganjalan utama yang menyebabkan Mahapatih Nambi diterima palapa karya, atau cuti dari tugas, karena secara halus Baginda kurang menyukai kekeraskepalaan Mpu Sina yang terlalu mengagungkan Sri Baginda Raja.

Singgungan kalimat itu yang menyebabkan Mahapatih Nambi segera saja terlibat perdebatan dengan Halayudha.

Di tengah perdebatan itulah kabar santer menggema lewat kentong titir yang bertalu-talu tanpa putus. Mengabarkan bahwa Baginda ditawan musuh dan kini dibawa pergi.

Pada saat itu pula Mpu Sina mengambil lagi keris yang selama ini tak pernah disentuh. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, berjalan ke luar pintu.

Melewati Mahapatih Nambi dan Halayudha yang masih berdebat kata.

Dengan mengambil dua kuda, Senopati Tua Sina menempuh perjalanan terus-menerus langsung menuju Kali Brantas.

Halayudha saat itu terkesima.

Tak percaya pada apa yang dilihatnya sendiri.

Seorang senopati yang berada di derajat dan kepangkatan yang tinggi, yang tiba-tiba mengundurkan diri, mendadak kembali menyandang keris untuk maju ke medan perang. Membela kehormatan Baginda yang selama ini bahkan tak dilirik dengan sebelah mata. Tak dihormati dengan satu jari sekali pun.

Mahapatih Nambi merasa mengetahui jiwa prajurit yang luhur, prajurit yang sesungguhnya, yang diwarisinya. Akan tetapi tetap sulit mempercayai bahwa dalam seketika ayahandanya bergegas pergi.

Memang luar biasa.

Mpu Sina memberikan tindakan nyata sebagai prajurit yang sesungguhnya Prajurit yang akan membela kehormatan Keraton, tanah airnya, dengan mengalahkan pertimbangan apa pun juga.

Bahwa selama belasan tahun menyembunyikan diri dari kegiatan apa pun, sampai dengan puncak pengangkatan putranya sebagai yang paling berkuasa sesudah Raja, bisa diperkirakan kekecewaan yang tak terobati.

Akan tetapi toh justru pada saat yang menentukan itulah Mpu Sina turun kembali ke gelanggang. Tetap sebagai prajurit.

Prajurit sejati. Prajurit tua sejati.

Itulah yang melesatkan dirinya di tengah medan pertarungan.

Dan masih sempat meminta maaf atas apa yang dilakukan pada masa lalu, maupun sekarang ini. Jiwa luhur. Jiwa sejati.

Tanpa mengetahui masalah pribadi yang berkecamuk di dalam hati Mpu Sina sekalipun, Gendhuk Tri bisa menangkap kegagahan dan keberanian seseorang yang berani menerobos masuk ke perahu. Dari atas Gendhuk Tri hanya menangkap sosok tua yang wajah dan seluruh kulitnya pucat seperti tak pernah tersentuh sinar matahari.

Mpu Sina selesai menyembah, meletakkan tangan di dasar lantai, dan mendadak tubuhnya melayang ke atas dengan jungkir-balik. Kedua kakinya terulur ke atas, lurus. Seolah ditarik dengan tali, tubuhnya naik tegak lurus.

Kalau tadi Nyai Demang dan Gendhuk Tri lepas dari lantai perahu dengan meliukkan tubuh untuk mencari kekuatan, kali ini Mpu Sina dengan tubuh kaku lurus.

Bahwa tenaga yang dipakai sebagai pijakan adalah telapak tangan yang menyentuh lantai, tetap tak mengurangi kekaguman. Apalagi hanya dengan satu tangan.

Tangan kiri.

Bersamaan dengan tubuh Mpu Sina yang naik, lantai perahu yang diinjak membuka. Jeblak!

Menganga. Suatu jebakan.

Dengan cara yang tepat Mpu Sina meloloskan diri. Dan tubuhnya seperti bisa berbalik.

Turun di pinggir perahu.

Berdiri dengan gagah di bibir pinggiran perahu. Gagah.

Sebentar.

Karena mendadak pinggiran dinding perahu itu tiba-tiba juga membuka! Menjeblak ke samping! Tanpa bisa dicegah lagi tubuh Mpu Sina terjungkal ke bawah.

Masuk ke dalam air sungai.

Gendhuk Tri berteriak keras. Tubuhnya meluncur turun, selendangnya lepas dan bergantung lurus ke bawah. Dalam keadaan kaget, tangan Mpu Sina masih sempat meraup selendang yang diulurkan Gendhuk Tri.

Akan tetapi tetap saja tubuhnya melorot ke bawah. “Tarik!”

Teriakan Gendhuk Tri seperti kurang ajar karena memberi perintah kepada orang yang lebih tua. Akan tetapi dalam keadaan kepepet, tak ada pikiran lain yang muncul seketika. Mpu Sina agaknya mengerti apa yang dimaksud Gendhuk Tri. Serta-merta ia menarik keras, dan tubuhnya mengangkasa. Tapi dengan demikian tubuh Gendhuk Tri yang makin cepat tertarik ke bawah.

Ke air sungai, atau entah jebakan apa lagi di bawah. Inilah bahaya.

Seperti mengorbankan dirinya untuk keselamatan Mpu Sina.

Ini kalau Mpu Sina melepaskan selendang yang ditarik. Nyatanya tidak.

Jadi ketika itulah Gendhuk Tri masih bisa menyendal selendang dan tubuhnya naik ke atas. Memang dengan demikian tubuh Mpu Sina kembali turun. Akan tetapi dengan cara yang sama, bisa menarik dan naik kembali.

Nyai Demang yang berada di dekat kejadian bersinar pandangannya.

Pujian dalam hatinya sesaat membuatnya lupa bahwa di sekitarnya masih banyak bahaya mengancam.

Pujian itu terutama karena pada saat yang tepat Gendhuk Tri mampu mengambil tindakan yang sangat besar risikonya.

Apa yang dilakukan Gendhuk Tri bukan hanya sekadar pameran bagaimana menyalurkan tenaga dalam, mengontrol, menguasai, akan tetapi sekaligus juga menyeimbangkan dengan orang yang ditolong, yang belum dikenal.

Inilah hebat.

Keseimbangan Air

APA yang diperlihatkan Gendhuk Tri mengundang decak kagum.

Bahkan Pangeran Anom yang menyusul di pinggiran sungai kemudian dalam keadaan masih setengah sadar seperti melihat dirinya yang memainkan permainan indah tapi berbahaya itu. Apa yang digambarkan Pangeran Anom tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Gendhuk Tri.

Ketika melihat dinding perahu di lambung yang bisa menjeblak dengan sendirinya, gerakan seketikanya adalah menolong Mpu Sina. Yang dalam keadaan seperti terjegal tak mampu menguasai tenaga dalamnya untuk meloncat atau menuju sasaran yang diinginkan.

Karena tubuh Mpu Sina berada di bawah, tubuh Gendhuk Tri tak mungkin bisa mengejar. Makanya ia mengulurkan selendangnya. Yang segera bisa disaut oleh Mpu Sina, dan memakai sebagai tenaga untuk pijakan melontarkan tubuhnya ke atas.

Kalau saat itu Mpu Sina melepaskan selendang, Gendhuk Tri yang mencelos amblas ke bawah. Kenapa itu tidak dilakukan Mpu Sina, itu yang membuat Nyai Demang bertanya-tanya dalam

hati.

Dugaan pertama, Gendhuk Tri dan Mpu Sina, yang menamakan diri sebagai Prajurit Tua Sina,

sudah lama saling mengenal. Sehingga sangat mungkin sekali dalam waktu kritis terjadi kerja sama.

Dugaan kedua, tenaga dalam yang dimainkan Gendhuk Tri memberi isyarat bahwa selendang tak boleh dilepaskan.

Kedua dugaan ini paling masuk akal, akan tetapi justru rasanya terbantah dengan sendirinya. Pertama, Gendhuk Tri tak begitu mengenal, atau malah baru sekarang bertemu wajah dengan Mpu Sina. Hal yang kedua, sedahsyat apa pun tenaga dalam Gendhuk Tri maupun Mpu Sina, kalau belum saling mengenal akan sulit, atau bahkan tidak mungkin, bisa mengenali isyarat dari tenaga dalam.

Dugaan yang lain adalah bahwa semua ini terjadi secara kebetulan saja. Ada benarnya.

Walau tidak tepat bulat.

Karena untuk jago silat setingkat Gendhuk Tri atau Mpu Sina, kebetulan bukan tidak diperhitungkan sama sekali.

Sewaktu Gendhuk Tri berusaha menolong tadi, yang pertama-tama adalah keinginan untuk menolong. Tanpa memedulikan dirinya bakal bagaimana. Juga ketika Mpu Sina tertarik ke atas, Gendhuk Tri tetap belum tahu bagaimana dengan dirinya sendiri.

Hanya saja nalurinya mengatakan bahwa Mpu Sina tokoh yang baik, yang tidak mau mencari keselamatan di atas kecelakaan orang lain.

Di sini yang lebih berbicara adalah nurani. Akal budi yang mempercayai sesama manusia. Bahwa pada dasarnya manusia berhati baik, mempunyai akal budi, dan bisa tolong-menolong. Itulah yang terjadi.

Ketika Gendhuk Tri bisa menggenjot tubuhnya ke atas, ketika itu pula Mpu Sina memahami ke mana arah jalan pikiran Gendhuk Tri. Karenanya, Mpu Sina tinggal menyesuaikan tenaga tarikan dan tenaga menahan.

Dengan demikian keduanya selamat, bisa hinggap di tiang utama.

Bukan sesuatu yang luar biasa kalau Pangeran Anom membayangkan dirinya yang melayang dan menari sambil memegang ujung selendang bersama Gendhuk Tri.

Karena inti gerakan dan pengaturan tenaga dalam Gendhuk Tri adalah memakai tenaga air. Sejak timbul kesadaran dan kejelasan sumber tenaga dalamnya, Gendhuk Tri bisa maju dengan pesat.

Maka tak terlalu sulit mengatur tenaga turun untuk naik silih berganti.

Gendhuk Tri mempergunakan pengaturan tenaga dalam Keseimbangan Air. Di mana air yang permukaannya lebih tinggi akan menurun ke arah yang lebih rendah.

Yang luar biasa adalah Mpu Sina yang bisa segera menyatukan diri dalam Keseimbangan Air. Begitu tenaganya sendiri berlebih ia memberikan kepada Gendhuk Tri, yang kemudian menerimanya.

Inilah kunci keberhasilan bagaimana kedua tubuh yang meluncur turun bisa kembali naik. “Kesuwun….”

Ucapan terima kasih Mpu Sina tenggelam dalam suara keras.

Suara dinding perahu yang menghantam air bengawan dengan keras. Dan begitu terbanting ke air, bagian dinding yang tadinya halus dari kayu bersusun itu mendadak mengeluarkan ratusan ujung tombak.

Bisa dibayangkan jika orang jatuh di tengahnya. Nyawa rangkap tujuh pun tak akan menolong.

Nyai Demang sedikit ngeri menyaksikan perubahan dinding perahu.

Kalau bagian itu bisa membuka dan menutup, bukan tidak mungkin bagian lain pun bisa berubah.

Termasuk tiang utama.

Tiang yang besarnya satu pelukan ini, siapa tahu bisa juga membuka dan atau ditarik amblas ke dalam.

Nyai Demang sudah memperhitungkan bahwa kekuatan Pangeran Hiang demikian besar, akan tetapi tetap tak menduga bahwa banyak sekali jebakan yang tersedia.

Perahu ini tidak terlalu besar. Panjangnya sekitar enam atau tujuh tombak. Lebar dua tombak.

Dari atas semua tampak tertutup.

Mendadak telinga Nyai Demang mendengar desisan suara binatang. Sewaktu matanya melihat ke bawah, batinnya benar-benar mencelos.

Dari bagian bawah tiang, bergerak naik seekor ular yang berwarna hijau, gesit. Lidahnya terjulur.

Seluruh kulitnya mengilat memantulkan sinar surya.

Berbeda dengan ular yang biasa dilihat, ular hijau ini mendaki ke atas dengan cara tegak lurus.

Tidak melilitkan badannya.

Dengan satu tangan memegang tali, satu tangan yang lain menjentik ke bawah, Nyai Demang membidik.

Tak. Ular itu berkelit.

Nyai Demang menarik tubuhnya ke atas.

Mpu Sina mendeham perlahan. Tangannya terulur ke bawah, memapak datangnya ular hijau. Dalam jarak setengah tombak dua jarinya menuding. Satu pancaran tenaga panas menembak langsung. Kembali ular hijau itu berkelit. Berputar sebentar, kemudian mendaki. Tanpa menunggu kesempatan bagi ular hijau itu untuk lebih dekat, Mpu Sina melepaskan pengikat rambutnya. Kain putih di tangannya mengedut keras. Bergerak bagai kepala ular yang langsung mematok kepala ular hijau.

Ketika ular itu mencoba berkelit, Mpu Sina mengubah gerakannya. Aneh sekali.

Ular itu menggeliat, menggulung tubuhnya, dan kemudian dengan pesat terbang ke arah Mpu

Sina!

Nyai Demang menjerit.

Akan tetapi dengan tenang Mpu Sina membuka telapak tangan kirinya, dan memapak dengan serangan tenaga dalam. Di tengah udara ular itu tertahan sebelum akhirnya jatuh ke lantai perahu.

Terbanting. Hancur tulang tubuhnya! Sesaat.

Disusul kemudian munculnya ular yang sama dari bawah. Kali ini sekelebatan saja ada tiga ekor yang merayap naik dengan cepat. Disusul lagi lima ekor yang mengiringi dari bawah. Sesaat kemudian barisan ular menjadi sangat banyak. Seakan tiang utama yang satu pelukan lebih itu berubah warnanya menjadi hijau mengilat.

“Rasanya kita perlu ke darat…,” Nyai Demang berbisik ke arah Gendhuk Tri “Rasanya demikian, Mbakyu.

“Tapi permainan ini menarik. Di tempat sesempit ini ternyata penuh dengan mainan kanak- kanak. Saya jadi ragu, apakah Pangeran Hiang bukannya kanak-kanak abadi. Seperti umumnya pangeran yang biasa dimanja dan diperbodoh.”

Perlahan suara Gendhuk Tri, akan tetapi cukup jelas bagi telinga yang menghuni perahu.

Sebaliknya dari kuatir, Mpu Sina melepaskan satu tali yang menggelantung di kapal dan diikatkan di kakinya. Cepat dan sebat sekali. Bersamaan dengan itu tubuhnya meluncur ke bawah, menyongsong ke arah ular. Sewaktu meluncur, tangan kirinya mencabut keris di bagian bawah punggung.

Akibatnya mengenaskan.

Puluhan ular yang merayap ke atas seperti kena tebas. Menggeliat sebentar, lalu saling gigit di antara mereka dan akibatnya berteplokan jatuh ke bawah. Bagai segumpal tali yang bergulung. Makin lama makin banyak. Apalagi ular yang baru keluar dari bawah, bukannya merayap ke atas, melainkan saling gigit di antara mereka.

“Hebat sekali, Paman Sina,” kata Nyai Demang lirih.

Mpu Sina tidak menjawab. Pandangannya menyapu seluruh lantai. Mendadak pandangannya mengecil.

Nyai Demang menduga bahwa akan muncul lagi binatang aneh atau serangan yang tak terduga. Dugaannya meleset.

Karena yang terlihat bayangan seorang wanita yang menaiki rakit kecil, merapat ke arah perahu. “Edan. Bukankah itu Permaisuri Rajapatni?”

Gendhuk Tri mengangguk. “Apa yang dilakukannya?”

Menyatu Pralaya

PERTANYAAN Nyai Demang bergema dalam hatinya sendiri.

Ia sama sekali tak menemukan jawaban kenapa Permaisuri Rajapatni merapat ke arah perahu.

Sendirian!

Permaisuri satu ini selalu menjadi teka-teki, pikir Nyai Demang dalam hati. Di satu pihak kadang menunjukkan sikap perlawanan kepada Baginda dan berani mendengarkan suara hatinya, di lain pihak seolah tidak mempunyai pegangan. Satu kali begitu merasa dekat dengan Upasara, pada kali yang lain justru mencincang tubuh Upasara!

Apa yang dilakukannya sekarang ini?

Ingin bergabung dengan Baginda? Ingin membuktikan dan membaktikan bahwa dalam pralaya, kematian, Permaisuri tetap menyatu?

Itu satu-satunya kemungkinan.

Kalau benar begitu alangkah tololnya. Alangkah tak bisa dimengerti hatinya, Nyai Demang meralat dalam hati.

Gendhuk Tri juga bertanya-tanya.

Ketika berada di Simping, Permaisuri Rajapatni tiba-tiba saja menghilang. Kini begitu muncul lagi, pastilah telah melakukan perjalanan jauh dan menyulitkan, masuk ke pertarungan dengan cara seperti ingin bunuh diri.

Rakit yang ditumpangi Permaisuri bergoyang. Mpu Sina berteriak keras.

Untuk pertama kalinya mengeluarkan teriakan. Tubuhnya melorot ke bawah, akan tetapi jaraknya sangat jauh.

Nyai Demang baru sadar bahwa bahaya yang mengancam sangat besar. Karena di permukaan sungai mendadak seperti muncul batang kayu hidup yang jumlahnya cukup banyak.

Buaya!

Sekurangnya ada tiga ekor buaya besar yang menggoyangkan rakit. Dan sebentar lagi tubuh Permaisuri akan menjadi santapan hidup-hidup.

Tanpa ada yang bisa menolong. Memang tak ada.

Karena ketika seekor buaya merayap naik, rakit itu oleng dan tubuh Permaisuri terayun ke samping. Hanya saja, sebelum air sungai menelan dan atau mulut buaya menelannya, sesosok tubuh melesat dari bawah air.

35

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Meraup tubuh Permaisuri. Mengempit di antara ketiak. Dengan sekali loncat masuk ke perahu. “Baginda telah menunggu.

“Silakan masuk.”

Suaranya perlahan, akan tetapi terdengar mengguntur seperti berdenging. Lalu dengan sedikit menghormat, menyilakan Permaisuri masuk ke bagian dalam perahu.

Lelaki itu gagah. Bertelanjang dada. Basah tubuhnya. Juga rambutnya yang digelung aneh. Ditekuk di bagian tengah kepala. Ketika bibirnya mengeluarkan lengkingan suara, buaya-buaya itu kembali menyelam dalam sungai.

Tak ada bekasnya lagi.

Gendhuk Tri menggigit bibirnya. Sangat jelas di telinganya ucapan “Baginda telah menunggu. “Ada permainan apa sebenarnya?

Sementara itu yang melihat dari pinggir sungai tak bisa menyembunyikan keheranan dan sekaligus juga kekagumannya.

Kecuali di atas salah satu pohon yang tinggi. Di situ Eyang Puspamurti yang diiringi ketiga muridnya terus menyaksikan apa yang terjadi. Agaknya Eyang Puspamurti sengaja memilih tempat yang cukup lapang untuk mengamati apa yang terjadi.

“Mada, jangan terlalu heran.

“Itu ilmu biasa. Mahamanusia bisa menguasai bintang, binatang, rembulan, dan matahari.

Apalagi hanya buaya. Yang diperlukan hanya ketekunan untuk melatih. “Juga ular hijau tadi.

“Semakin berbisa dan berbahaya, sebenarnya binatang itu semakin bisa dikuasai dengan baik.

Satu bunyian yang dikenal, satu tepukan, akan membuat mereka patuh kelewat batas.

“Yang perlu kamu perhatikan ialah keris prajurit tua itu. Itu keris sakti. Anginnya saja bisa melukai. Rasanya begitu. Karena sekelebatan, dalam jarak yang belum menyentuh, ular itu sudah terluka.

“Ada yang kamu tanyakan, Mada?”

“Eyang, kenapa Prajurit Tua Sina memakai keris di tangan kiri?”

“Pertanyaanmu menunjukkan bahwa kamulah yang paling bodoh di antara bertiga, tetapi juga sekaligus paling pintar. Prajurit Tua Sina sengaja memainkan dengan tangan kiri. Inti dasarnya adalah Kitab Bumi juga. Ia senopati tua semasa Sri Baginda Raja. Ini gara-gara Eyang Sepuh yang menciptakan susunan ilmu itu.”

“Apakah Eyang Sepuh kidal?” Eyang Puspamurti tertawa. “Bejujag?

“Eyang Sepuh yang kalian hormati itu orang tidak waras. Ia sengaja memainkan, menciptakan seolah itu permainan kidal. Padahal sesungguhnya hanya mau menunjukkan bahwa dirinya mampu memainkan seperti orang kidal, seperti Eyang Putri Pulangsih.”

“Eyang Putri Pulangsih kidal?”

“Ya. Tapi ia berusaha keras untuk tidak kidal. Dilatih keras, dan nyatanya Tirta Parwa yang diciptakan tidak menunjukkan kekidalan itu.

“Jagat ini memang edan.

“Yang kidal berusaha tidak kidal, yang tidak kidal justru menciptakan ilmu kidal. Jagat ini memang aneh. Karena seorang Eyang Sepuh yang edan.

“Itu terbawa terus tanpa ada yang menyadari. Bahkan Upasara Wulung sendiri tidak menyadari sebelumnya, kenapa tepukan satu tangan lebih bertenaga jika dimainkan tangan kiri.

“Bukankah Eyang Sepuh itu sangat edan?

“Jagat dibikin jungkir-balik oleh ulahnya. Ia memuja, mencintai Pulangsih, meniru kidalnya, tapi juga mengemohi.

“Mada, Genter, di sini kalian saya bawa tidak untuk mendengarkan cerita tentang orang edan. Perhatikan baik-baik! Apa yang kalian lihat ini adalah permainan kelas jagat. Tak ada pelajaran yang semenarik ini.

“Kamu lihat lelaki yang rambutnya digelung di bagian tengah itu? Yang bisa mencuat dari sungai?” “Ya, Eyang.”

“Tubuhnya licin. Berarti geraknya sangat cekatan, gesit. Tenaga dalamnya sangat kuat.

Dengkingan suaranya sanggup memekakkan telinga kamu walaupun disumbat tangan. Hebat. “Tapi kamu tahu kelemahannya?

“Pendengarannya tidak cukup kuat. Karena selalu berendam di dalam air, indria pendengarannya berkurang. Berarti kalau kalian menghadapi lawan seperti itu, paling menguntungkan adalah memakai tenaga lembek.

“Itu yang sedang diperhitungkan Prajurit Tua, Senopati Unggul Sina. Ia sengaja menunggu di atas. Karena dengan permainan di udara, akan menyulitkan lelaki tadi.

“Jangan bertanya, perhatikan terus!”

Di atas perahu, Mpu Sina masih tetap bergelantungan. Sementara Gendhuk Tri menudingkan telunjuknya ke bawah.

“Lain kali jangan bawa ular yang lapar. Mereka akan saling makan sendiri.”

“Kalian telah memancing Jalugeni keluar dari sarang. Saya tak akan membiarkan kalian berlalu begitu saja.”

“Jalugeni, siapa yang mau keluar dari perahu?

“Aku justru ingin melihat apakah kamu masih mempunyai peliharaan jenis kecoa atau nyamuk atau perangkap tikus yang lainnya.”

Suara Gendhuk Tri bersamaan dengan bunyi keras.

Dinding yang menjadi lambung kapal telah menutup kembali. Rapat seperti semula. “Boleh juga.

“Ada permainan lain, Jalugeni? Aku ingin melihatnya.”

Jalugeni mengertakkan giginya. Tangannya bergerak dan mendadak tiang utama bergerak. Bergerak!

Seperti tumbang.

Tanpa berpikir panjang, Gendhuk Tri dan Nyai Demang meloncat turun ke arah perahu. Diiringi Mpu Sina yang cepat memutuskan tali pengikat kakinya. Ketiganya berdiri sejajar.

Berhadapan dengan Jalugeni.

“Saya Senopati Tua Sina….” Suara Mpu Sina ramah ketika memperkenalkan diri. Suatu hal yang lumrah karena lawan telah menyebutkan namanya.

“Saya Nyai Demang, abdi dalem Keraton….”

“Saya pemilik sungai ini,” kata Gendhuk Tri ketus sambil tetap bertolak pinggang. “Ingin menemui Pangeran Hiang, dan ingin mengundang ke darat karena kelihatannya bisa membuat hiburan untuk anak-anak.”

Jalugeni mengusap rambutnya.

“Terima kasih atas kedatangan kalian semua. Hanya saja, kali ini Pangeran Sang Hiang tidak berkenan menerima kalian. Dan urusan ini tak ada hubungannya dengan prajurit tua atau abdi dalem, ataupun pemilik sungai.

“Silakan kembali ke darat dengan baik-baik.” “Kalau bukan urusan kami, urusan siapa?”

Gendhuk Tri langsung mencerocos. Sementara berbicara pandangannya ke arah kiri-kanan, memperhatikan sekitar.

“Urusan Baginda….”

“Kamu mengerti tentang Baginda atau Keraton?

“Mengenali siapa rajanya saja tak becus, mau bicara soal Baginda.”

Perintah Takhta

NYAI DEMANG sadar bahwa Gendhuk Tri tengah memancing ke arah pembicaraan. Walaupun kedengarannya sangat tidak enak, Gendhuk Tri tidak bermaksud meremehkan Baginda.

Mpu Sina tampak menahan gejolak darahnya yang mendidih, yang risi mendengar kalimat- kalimat Gendhuk Tri yang memberi kesan tidak mau menganggap Baginda adalah rajanya! “Saya tak mau berbicara lebih jauh.

“Ini masalah takhta penguasa seluruh jagat tanpa kecuali. Bahkan kalau bisa kami tidak usah berbicara atau bertemu muka dengan kalian. Saya melanggar pantangan ini karena ingin membawa serta Permaisuri Rajapatni.

“Itu saja.”

“Tahu dari mana yang datang itu Permaisuri Rajapatni?” Jalugeni memandang tajam.

“Kamu kira kalau ada tanda khusus yang ditinggalkan untuk Permaisuri Rajapatni, beliau mau begitu saja datang?

“Jalugeni, tolong kamu bilang sama Pangeran Sang Hiang yang katanya putra mahkota takhta Tartar yang mampu meneguk jagat. Yang barusan datang adalah pesinden dari desa yang diumpankan untuk kalian. Bahwa yang berada di Simping dan kalian bawa bukanlah Baginda sesembahan kami.

“Nah, kalau ini sudah jelas, dan kalian tetap mau membawa semua itu ke Tartar, ya… tak ada yang menghalangi.”

“Kalau bukan raja kalian, untuk apa kalian memaksa bunuh diri?”

“Kenalilah tanah Jawa, dengan menginjakkan kaki ke buminya. Bukan dari perangkap tikus ini. Siapa pun yang mengganggu ketenteraman bumi ini, mengusik selembar daun, membunuh seekor nyamuk, menjadi tanggung jawab kami semua yang dibesarkan di bumi ini.

“Mengerti?”

Otot di tangan Jalugeni meregang.

“Kami datang bertiga. Tidak adil kalau kamu melawan sendirian. Keluarkan pangeranmu dengan istrinya….”

Belum selesai ucapan Gendhuk Tri, Jalugeni bergerak sebat. Kedua kakinya menyapu Gendhuk Tri dan kedua tangannya membekuk dari arah depan dan belakang.

Cepat sekali gerakannya.

Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya, namun mendadak dirasakan bahwa selendangnya menjadi kaku. Tak bisa digerakkan. Kedua kakinya mundur dua langkah, tubuhnya berputar.

Kedua tangan Jalugeni tetap berada di depan dan di belakang. Tetap berusaha memeluk Gendhuk Tri.

Keras. Bagai cengkeraman baja kukuh.

Seumur-umur Gendhuk Tri tak pernah menghadapi lawan yang begitu keras dan kaku gerakannya. Sangat keras dan sangat kaku!

Kalau biasanya Gendhuk Tri meloloskan diri dari bagian bawah dengan menjatuhkan tubuhnya, kali ini tidak mungkin lagi. Bukan karena kuatir ada jebakan tertentu di bawah, melainkan karena kedua kaki Jalugeni sudah menguasai bagian bawah secara total. Sedikit saja gerakan kaki Gendhuk Tri salah, akan terlibat habis!

Nyai Demang terkesima. Sehingga tak sempat menolong.

Sebaliknya, Mpu Sina yang berada dalam jarak dekat bersikap sebagai ksatria untuk tidak menyerang dari belakang.

Nasib di tangan Gendhuk Tri sendiri.

Menyadari bahaya yang tidak main-main, Gendhuk Tri menekuk tubuhnya. Semua ruas tulang dalam tubuhnya seperti dilipat menjadi satu.

Tubuhnya masih berdiri tegak, akan tetapi seolah berubah menjadi pendek.

Dua tangannya terangkat ke depan, membuat pertahanan dengan siku membuka. Sehingga kalaupun pelukan itu mencengkeram, sodokan sikunya bisa mendahului.

“Itu gerakan memadat,” komentar Eyang Puspamurti. “Bukan gerakan yang menguntungkan, karena dengan begitu ia bertahan secara total. Bertahan sepenuhnya. Dalam gerakan dua-tiga kali lagi, bahkan mungkin tenaga dalamnya tak bisa disalurkan secara leluasa.

“Seharusnya wanita itu, Tri itu, memainkan tenaga dalam dengan sifat air seperti yang dimiliki. Yaitu mengalirkan jepitan seperti gelutan-sebelum lebih jauh kalian harus tahu, itulah ciri utama Tartar. “Berbeda dengan ilmu silat Cina yang mengandalkan tenaga dalam dan kembangan, Tartar mengandalkan tenaga luar.

“Susah.

“Barangkali susah memakai tenaga mengalir. Karena Jalugeni itu sangat kuat. Luar biasa. “Mestinya saya terjun langsung sehingga kalian bisa tahu lebih jelas….”

Penjelasan Eyang Puspamurti kepada ketiga muridnya cukup jelas, akan tetapi tidak menggambarkan kenyataan sepenuhnya.

Karena apa yang terjadi lebih cepat dan lebih beragam.

Jalugeni mampu menguasai Gendhuk Tri, akan tetapi juga terkejut melihat bahwa tubuh lawan bisa mengerut. Pada saat itu siku lawan seperti menembus ulu hatinya. Sehingga Jalugeni menarik tubuhnya sedikit miring ke samping. Dengan demikian, gerakan tangannya juga ikut menyamping.

Seolah menyerang Mpu Sina.

Yang dengan cepat luar biasa mencabut keris dan menusuk keras. Jalugeni meloncat ke angkasa, tungkai kakinya mematuk dahi Mpu Sina.

Seperti julukannya, jalu adalah taji bagi ayam jantan. Gerakannya tak jauh berbeda. Yang berbeda adalah tembusan tenaganya yang begitu keras menyengat. Nama tambahan geni, atau api atau bara, bukan sekadar nama pemanis. Tetapi memang mempunyai alasan kuat.

Mpu Sina mendengus pendek. Kerisnya mendadak naik. Tegak lurus.

Mana yang lebih dulu. Ayunan tungkai yang menjadi taji atau ujung keris.

Jalugeni tak mau berisiko. Tubuhnya dijatuhkan ke depan. Mpu Sina juga tak menunggu lama.

Tubuhnya ikut melayang ke atas. Kerisnya kini berpindah dalam jepitan kaki!

Menyambar ke bawah!

Jalugeni mengeluarkan suara keras. Bersamaan dengan itu, mendadak atap bagian tengah rumah-rumahan membuka, dan sekian belas bayangan berkelebatan keras.

Gendhuk Tri melepaskan selendangnya. Bersama dengan Nyai Demang keduanya menyatu dan menyerbu.

Langkah keduanya tertahan, karena serbuan panah dari berbagai penjuru. Terpaksa mengurung diri, bersama Mpu Sina yang juga mundur ke belakang.

Gerakan mundur mereka begitu cepat sehingga menempel ke dinding perahu. Yang sekali lagi menjeblak ke bawah.

Mpu Sina yang lebih dulu meluncur ke bawah. Kakinya menotol rakit yang ditinggalkan Permaisuri Rajapatni. Sekaligus tubuhnya membal ke pinggir.

Dalam menotol tadi, Mpu Sina sekaligus mengubah letak rakit yang mendekat ke arah Gendhuk Tri dan Nyai Demang. Yang melakukan gerakan sama.

Di antara mereka bertiga, Nyai Demang yang paling lemah. Maka meskipun sudah mengempos seluruh kekuatan, tubuhnya tak bisa mencapai pinggiran sungai.

Gendhuk Tri tak mampu menyelamatkan karena ia sendiri tengah melayang.

Satu kelebatan tubuh menyambar Nyai Demang, merangkul, dan membawa ke tepi. “Paman Jaghana.”

Jaghana tersenyum lembut.

Matanya tetap memancarkan sinar lembut, bibirnya yang basah dan sedikit merah memancarkan senyuman. Wajah yang selalu sumringah. Selalu mengandung harapan, kebahagiaan, dan ketenteraman.

“Ya, dia yang kalian kenal sebagai Truwilun.

“Jangan cerewet. Sekarang akulah guru kalian. Dan ini pelajaran penting!” teriak Eyang Puspamurti di tempatnya. “Gerakan Truwilun atau Jaghana itu kaku. Jelek sekali. Tak pantas kalau ia berasal dari Perguruan Awan yang kondang itu. Kenapa jadi begitu buruk? Apa ilmu silatnya sudah anjlok? Kenapa waktu menghadapi aku ia kelihatan sakti?”

Eyang Puspamurti tak pernah menduga bahwa seumur hidup Jaghana baru sekali ini memeluk wanita. Sebelumnya, jangan kata memeluk, menyentuh saja tidak pernah. Memandang lekat saja tidak. Makanya gerakannya tampak menjadi kikuk. “Maaf…,” katanya pelan.

“Terima kasih, Paman,” suara Nyai Demang terdengar sangat lirih. Ia sendiri tiba-tiba merasa kurang enak telah menyebabkan Jaghana sangat repot.

“Paman… Paman Wilanda…” Jaghana mengangguk.

Wajahnya tetap memancarkan kearifan.

“Sudahlah. Adimas Wilanda telah menemukan kesempurnaan yang sesungguhnya.” Suaranya menghibur, akan tetapi nadanya tetap terasa hambar.

Mpu Sina memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badan. “Saya masih sempat mengenal Perguruan Awan.”

“Duh, Senopati budiman, saya yang merasa bahagia bisa bertemu dengan nama yang selama ini harum….”

Keduanya tampak saling menghormati, tetapi juga menyadari bahwa tak ada waktu yang cukup untuk itu.

Di kejauhan terdengar suara lantang yang meneriakkan bahwa Mahapatih Nambi telah datang.

Mengalihkan Aliran Sungai

SEJENAK perhatian terserap ke arah Mahapatih Nambi yang seolah terbang dari atas kudanya. Begitu meloncat ke tanah langsung mengumpulkan para senopati.

“Semua prajurit, tanpa kecuali, harus bersiap! Sewaktu-waktu akan ada perintah penyerbuan! “Saya tidak akan mempermasalahkan kebodohan prajurit telik sandi yang kebobolan sampai

tingkat   paling   memalukan.   Sekarang,   semua   pikiran   hanya   ditujukan   kepada   bagaimana

membebaskan Baginda, mengusir lawan tanpa menimbulkan korban.” Mahapatih menunjukkan kelasnya sebagai pimpinan prajurit.

“Para dharmaputra yang ada memimpin masyarakat di sebelah barat dusun. Mereka sedang melakukan upaya untuk membendung sungai, dan membelokkan arus ke desa sebelah. Apa pun yang terjadi sebagai risiko banjir sementara, tak menjadi soal. Dengan berubahnya aliran Brantas, perahu lawan tak bisa berlayar. Mengurangi arus air yang mengalir sebanyak mungkin adalah tujuan pengerahan tenaga di sebelah barat.

“Ada pertanyaan dan keraguan?” Jawabannya ialah anggukan.

“Pasukan panah berapi disiapkan dan mengurung secara langsung. Kalau keadaan sudah mepet dan tak ada jalan lain, lebih baik perahu itu terbakar daripada lepas ke laut.

“Di sini saya yang memegang komando, dan tak ada yang lain.” Pandangannya menyapu ke seluruh prajurit yang menunduk hormat.

“Untuk menyelamatkan Baginda, para senopati dan para ksatria akan bekerja sama. Karena rombongan Pangeran Hiang tak bisa ditarik ke darat, pertarungan akan berlangsung di perahu. Usahakan membuat rakit sebagai jembatan ke arah perahu.

“Saya akan maju sendiri, bersama Halayudha dan para ksatria utama yang sekarang sudah berkumpul.

“Senopati Pangsa, bagaimana keadaan lawan?” “Seperti sudah kami laporkan, Mahapatih.

“Nyai Demang juga sudah berusaha mengintip ke dalam perahu. Sementara ini yang kami ketahui, Baginda dan para permaisuri ditawan di dalam perahu yang dilindungi dengan segala perlengkapan dan persenjataan aneh, serta binatang berbisa, termasuk barisan buaya.

“Kekuatan lawan ditangani oleh Pangeran Hiang dan Permaisuri Koreyea, serta pengikutnya yang berjumlah sekitar dua belas atau tiga belas pendekar.

“Pangeran Hiang seorang jago silat yang ternama, yang besar di perantauan. Ilmu silatnya berakar pada ilmu silat Tartar. Sampai sekarang belum ada yang mengetahui bagaimana wujud Pangeran Hiang dan seberapa jauh ilmunya. Kita belum bisa menerobos masuk. Usaha terakhir dilakukan oleh Mpu Sina yang mulia, Gendhuk Tri, serta Nyai Demang.” “Baik, baik.

“Jadi perahu itu sekaligus merupakan benteng. Apa yang telah diusahakan untuk menjebol?” “Lewat arus sungai, akan tetapi gagal. Prajurit kita tak mampu mendekat. Persenjataan mereka

juga sangat rumit. Terutama barisan anak panah yang lepas seketika, serta asap yang membuat seluruh tubuh panas seketika.

“Kami menghentikan usaha menerobos lewat rakit.” “Sementara itu saja.

“Jangan segan mengerahkan upaya untuk ini. Ibarat kata, kita semua sedang memindahkan aliran sungai dan gunung sekaligus.

“Apakah sudah ada keterangan dari Raja?” “Raja berkenan datang memimpin sendiri.” “Baik.

“Selama belum ada itu, saya yang memegang komando.”

Mahapatih Nambi memberi aba-aba dengan tangannya. Membubarkan kerumunan para senopati.

Kemudian memandang ke arah Senopati Halayudha. “Saya perlu bantuan Senopati.”

“Kebanggaan tersendiri bagi saya, Mahapatih.” Keduanya bertatapan.

Seolah saling mengukur kekuatan yang tak terlihat.

Dalam situasi segenting itu, Mahapatih Nambi tak akan bisa menebak jalan pikiran Halayudha. Suaranya yang mantap dan anggukan kesetiaan tidak dengan sendirinya menggambarkan apa yang berbunyi dalam hati Halayudha.

Karena Halayudha melihat bahwa jalan mendaki lurus yang menyenangkan telah berubah sekarang ini.

Ketika berangkat ke Lumajang, Halayudha yakin sekali dirinya bakal muncul menjadi mahapatih. Kekuasaan Raja boleh dikata sudah berada dalam genggamannya. Di Lumajang dirinya sudah mempunyai rencana matang untuk menyudutkan Mahapatih Nambi. Dengan memperbesar masalah lama. Ganjalan hati Raja bahwa sesungguhnya Raja kurang berkenan dengan Mahapatih. Itu sebabnya permintaan Mahapatih untuk palapa karya, atau cuti dari tugas, mendapat persetujuan tanpa batas.

Dengan mengobarkan persoalan Mpu Sina, Halayudha merasa yakin berada di atas angin. Itu kenyataannya.

Karena Mahapatih Nambi sudah mulai terpancing. Hanya saja suasana dan situasi berubah bagai siang ke malam. Penyanderaan Baginda membuat Mahapatih bangkit kembali. Dan menjadi pemimpin yang langsung memegang komando. Ini berarti kembali ke kekuasaan yang diakui secara langsung.

Lebih kokoh lagi karena kini Mpu Sina sendiri terjun ke dalam gelanggang. Kekuatan moral yang membangkitkan semangat semua prajurit yang ada.

Apalagi ditambah pengerahan masyarakat untuk membelokkan aliran sungai, praktis Mahapatih diakui kepemimpinannya oleh semua lapisan.

Masih harus ditambah lagi bahwa kini para ksatria turut berkumpul untuk mendukung. Sempurna sudah kekuasaan yang bulat di tangan Mahapatih Nambi.

Kalau saja dirinya yang memperoleh kesempatan itu, Halayudha merasa jauh lebih leluasa untuk tampil. Kalau saja dirinya tidak pergi ke Lumajang, pengakuan itu akan disandangnya.

Menurut perhitungannya hanya dengan peristiwa-peristiwa besar sajalah pemimpin kedua akan muncul sebagai tiang utama. Hanya dari peperangan gawat yang menentukan inilah peranan untuk Mahapatih mendapat pengakuan.

Bukti yang jelas adalah penunjukan Upasara Wulung sebagai mahapatih. Karena secara nyata Upasara Wulung menunjukkan kedigdayaan dalam pertempuran. Demikian pula ketika diadakan pengangkatan Nambi, yang menjadi masalah karena senopati lain juga merasa lebih berjasa. Lebih mempunyai peranan dalam pertempuran.

Peperangan yang melahirkan pemimpin. Medan peperangan yang menciptakan orang menjadi pahlawan.

Halayudha menyadari kekeliruannya. Selama ini ia berada di balik Baginda, di dalam bayangan Raja. Meskipun kekuasaannya diakui dan bisa memainkan peranannya, tetap saja ada lubang menganga yang mengganggu keabsahannya untuk menjabat mahapatih. Karena kehadirannya tidak terasa menentukan dalam peperangan. Itu pula sebabnya Halayudha mengubah model penampilannya.

Tapi sekarang ini terlambat.

Mahapatih Nambi justru keluar dari sarang. Kekuatan yang kesilep, terbenam, malah muncul kembali. Tidak sebagai mahapatih yang palapa, melainkan sebagai pemegang kekuasaan penuh.

Berarti makin sulit baginya untuk tampil secara gagah. Terlambat.

Terlambat?

Pertanyaan ini menggema. Tak ada yang terlambat. Situasi memang memungkinkan tampilnya Mahapatih Nambi. Akan tetapi ini belum berarti semuanya sudah di tangannya. Justru karena upaya untuk pembebasan Baginda sedang dimulai.

Masih ada peluang. Selalu ada peluang.

Dalam peperangan, segalanya bisa berubah. Segalanya bisa terjadi. Apalagi secara resmi Mahapatih Nambi mengatakan akan memimpin langsung. Berarti terjun ke tengah peperangan.

Kalau benar Pangeran Hiang sangat sakti, masih ada kemungkinan perubahan.

Kalau dirinya cukup cerdik membaca situasi, bukan tidak mungkin ada kesempatan untuk tampil.

Selama ini yang menjadi ganjalan bagi Halayudha hanyalah Mahapatih Nambi. Karena dari para ksatria, rasanya tak ada yang bermimpi menjadi mahapatih di belakang hari. Bahkan penunjukan Baginda pun bisa batal!

Menyadari perhitungannya, Halayudha menyempatkan diri mengutarakan maksudnya. “Maafkan hamba, Mahapatih.

“Kalau hamba lancang sekarang ini, karena terpanggil untuk berbuat segera. Apakah tidak seyogyanya Mahapatih membentuk pasukan inti untuk menerobos ke dalam perahu. Karena jumlah prajurit yang banyak, hanya akan memperbanyak korban yang tidak perlu.

“Di sini kebetulan ada Mahapatih yang perkasa, ada Senopati Sina, ada Jaghana, Gendhuk Tri, Nyai Demang, dan mungkin saya sendiri. Dengan tambahan beberapa nama lagi, rasanya kita berani menerobos ke dalam perahu.”

Anggukan perlahan Mahapatih Nambi berarti satu langkah yang pasti bagi Halayudha untuk meneruskan langkah berikutnya.

Langkah yang telah jelas dalam benaknya.

Membalik Ikan, Perahu Karam

ALIS Mahapatih Nambi menyatu.

“Tujuan dari serangan pertama yang kita lakukan sekarang ini adalah untuk mengetahui keadaan dalam perahu. Saya sudah memerintahkan untuk membuat gambar perahu yang sama di darat. Sehingga kita bisa mengetahui di mana Baginda berada.

“Untuk itu semua, saya minta kerelaan para prajurit dan para ksatria berada dalam satu gerakan Membalik Ikan.”

Eyang Puspamurti yang berada di atas pohon mengangguk-angguk.

“Kwowogen, kamu yang paling suka mempelajari strategi perang. Tahu arti gerakan Membalik Ikan? Itulah gerakan untuk mengacau-balau musuh, agar kita tahu kekuatan lawan yang sesungguhnya. Kalau kita makan, ikan kita balik, kita tahu semuanya, sehingga lebih tepat memilih mana yang akan kita ambil lebih dulu.

“Gerakan yang bagus dan tepat.

“Mahapatih itu ternyata mempunyai bibit sebagai senopati ing ngalaga, senopati di medan pertempuran. Strategi ini pertama-tama bukan untuk memperoleh kemenangan seketika, melainkan untuk mengetahui kekuatan lawan. Langkah berikutnya adalah memastikan strategi selanjutnya. “Dengan Membalik Ikan, ini berarti harus menjungkirbalikkan perahu. Atau membuat perahu karam.”

“Eyang…” “Dengar dulu.

“Dalam setiap gerakan atau strategi, bisa berarti yang sebenarnya, akan tetapi bisa juga berarti kurang atau lebih. Dalam hal ini, sangat tidak mungkin sekali membuat perahu karam. Akan tetapi suasana dibuat sedemikian rupa seolah perahu karam, dan semua isinya keluar.

“Karena saya adalah guru kalian yang sakti dan tahu segala macam lebih dari guru mana pun, kalian dengar baik-baik. Saya seret kalian bertiga kemari untuk menerima wejangan.

“Untuk serangan Membalik Ikan, yang diperlukan pertama ialah prajurit yang wedi wirang, wani mati, takut kepada kehinaan, lebih berani kepada kematian. Kematian jauh lebih berarti daripada keselamatan tapi hina. Dalam hal ini ketidakmampuan menjalankan tugas atau Membalik Ikan. Dalam mati, prajurit harus mati mbegagah, ora mringkus, mati dengan gagah, bukan ketakutan. Mati gagah ialah mati dengan membunuh lawan.

“Satu-satunya cara untuk membangun serangan ini adalah dengan bergerak cepat. Dalam ilmu keprajuritan disebutkan sebagai gerakan banteng ketaton, atau banteng terluka. Selalu menyerang ke depan, tanpa memedulikan kemungkinan terluka. Makin terluka makin maju. Kesebatan yang dipakai adalah jurus Cukat Kadya Kilat, Kesit Kadya Tatit-Bergerak Cepat Menyambar Bagai Kilat, Menembus Satu Bagian untuk Kemudian Segera Menembus Bagian yang Lain Lagi. Gerakan burung prenjak tinaji, atau gerakan burung prenjak yang dipanah. Tidak berada dalam satu tempat dalam satu jurus. Semakin luas wilayah yang digempur, semakin cepat mengetahui situasi.

“Dengan serangan seperti ini, apa yang kalian pelajari perlahan, diam-diam, urutan jurus menjadi tidak penting lagi. Kalian harus memakai pendekatan ngamuk punggung, atau mengamuk sebagaimana orang bodoh, yang tak mengenal ilmu silat.

“Yang penting terus-menerus merangsek, menggempur, berpindah, menyambar, dan maju. “Mengerti, Kwowogen?”

“Ya, Eyang.

“Ini sama dengan ajaran Eyang mengenai menyerbu benteng musuh.” Lain. “Eyang…”

“Lain.

“Menyerbu benteng, berusaha menguasai di dalam. Ini lebih dekat dengan jaladri pasang, atau pasang laut. Bukan hanya inti di dalam yang diserang, melainkan semuanya. Seluruhnya.

“Meskipun demikian gerakan ini ada pemimpinnya, ada yang mengatur apakah gerakan ini membentuk perahu, membentuk alun-alun, atau yang lainnya.”

“Apakah semuanya bersedia berkoban seperti yang dituntut, Eyang?” “Mada, kamu selalu bodoh dan pintar.