-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 19

Jilid 19

“Mungkin saja itu keistimewaan Dewa.” Raja mengelus tubuh Praba Raga Karana.

“Untuk apa kita membicarakan Upasara? Apa peduli kita?”

“Sinuwun yang menanyakan, dan hamba yang merasakan suara itu.” “Suara tanpa bunyi? Haha…

“Tapi aku suka mendengar cerita semacam itu. Terutama darimu. Coba dengarkan suara hatimu, bagaimana caranya Upasara bisa hidup kembali?”

“Hamba tak mendengar apa-apa lagi….” “Lagi macet apa?

“Itu juga lucu.”

Raja tertawa kembali. Puas.

Tertumpah semuanya. Bersama derasnya air. Bersama empasan aliran. Terbuang, entah ke

mana. Praba Raga Karana menyandarkan tubuhnya ke tebing. Membiarkan Raja yang kelelahan bersandar di tubuhnya, bagai anak kecil minta perlindungan. Membiarkan matahari membakar.

Agak lama.

Sampai Raja terbangun karena air memasuki hidung. “Aku tak suka cara membuat sungai buatan ini. “Lebih baik besok ditutup saja.”

Raja segera bergegas naik ke pinggir. Dari tubuhnya mengucur air sepanjang kakinya melangkah.

Praba Raga Karana ditinggal sendirian. Tanpa busana. Tanpa apa-apa. Hanya suara hati, yang bergetar, yang tak menimbulkan bunyi, yang memberikan pertanda.

Yang kadang bisa dimengerti seketika, kadang hanya perlambang atau gambaran tertentu.

Suara hati yang mengisyaratkan sesuatu, seperti dulu, jauh sebelum Raja mengangkatnya dari kehidupan sebagai juru pijat.

Anak Kecil Mengunyah Cabe

RAJA JAYANEGARA seolah berlari melintasi Keraton.

Tangannya dibiarkan terbuka lebar sehingga semua benda hiasan yang tersenggol sengaja jatuh dan pecah berantakan. Baik yang dibuat dari tanah liat, tembaga, maupun emas. Hiasan yang biasanya menjadi pajangan ditata apik, hasil seni ukir yang tinggi, jatuh dan ditendang ke segala penjuru.

Para prajurit kawal pribadi yang menjaga dari jarak kejauhan tak berani berbuat apa-apa, selain tetap menjaga.

Bahkan ketika berada di dalam, payung kebesaran dicabut dan dilemparkan dengan keras ke arah atap!

“Hidup ini tak ada apa-apanya. “Tak ada siapa-siapanya. “Tidak kenapa-kenapa.”

Raja melangkah ke arah kaputren. Telunjuk dan suaranya menuding garang.

“Kumpulkan semua putri Keraton dalam kamarku! Semuanya! Dalam kamar peraduanku!

Siapa saja! Termasuk Tunggadewi dan Rajadewi!”

Dalam satu tarikan napas yang sama, tudingannya juga mengandung perintah tak terbantah. “Lepaskan semua buron yang ada di taman….”

Buron atau binatang buruan yang berada di taman adalah kumpulan binatang buas yang selama ini menjadi klangenan atau tempat Raja menghibur diri. Bisa dibayangkan bahwa prajurit yang mendapat perintah seperti ini sangat terkejut. Karena binatang buas itu akan sangat berbahaya jika dibebaskan begitu saja.

Akan tetapi perintah adalah perintah. Perintah Raja adalah sabda tak terbantah.

Dengan napas terengah-engah Raja menuju dapur, dan memerintahkan agar semua persediaan makanan yang ada dimasak dalam satu dandang yang sama.

“Lakukan, sekarang ini juga!”

Ketika seorang prajurit memberanikan diri menghadap dan menyampaikan bahwa Ibunda Permaisuri Indreswari berkenan sowan, Raja hanya mengangkat hidungnya tinggi-tinggi.

“Ingsun sudah tidak butuh menetek lagi. Air susu yang kuisap berbeda.

“Inilah air susu yang kubutuhkan sekarang ini. Dan aku tengah mengisapnya kuat-kuat.” Tak ada yang membantah.

Tak ada yang menghalangi bayangan langkah kaki Raja.

Bahkan Halayudha sendiri ketika mendengar kabar yang mengejutkan ini tak bisa segera memutuskan cara untuk bertindak. Bahwa seorang pemegang kekuasaan tertinggi bisa bertindak gila di luar jangkauan pikiran normal, itu sesuatu yang wajar. Halayudha mengalami masa-masa akhir Sri Baginda Raja, juga semasa Baginda yang boleh dikata gejolak yang berarti. Akan tetapi tetap bisa diterima.

Tapi tidak seperti ini.

Dan celakanya bagi Halayudha, sekarang ini kejadian berlangsung saat posisinya sudah sedemikian menguntungkan. Di saat dirinya tinggal selangkah lagi menjadi mahapatih secara resmi.

Sebenarnya ia bisa menunggangi peristiwa ini untuk keuntungannya. Namun, kalau benar- benar di luar jalan pikiran normal seperti sekarang ini, alih-alih pangkat dan derajatnya malah bisa berbalik.

Apalagi setelah diketahui bahwa Permaisuri Indreswari sendiri ditolak. Bahkan yang sebelumnya tak terbayangkan, telah terjadi. Raga Praba Karana ditinggalkan di taman, di sungai buatan, dalam keadaan tanpa busana. Tak ada yang berani menolong untuk memberi pakaian.

Inilah hebat.

Benar-benar jungkir-balik.

Kepala menjadi kaki. Dan kaki menjadi tangan.

Ini semua bukan karena pengaruh bubuk pagebluk atau apa. Sebelumnya sangat biasa sekali, lalu tiba-tiba saja berubah. Tudingan dan perintahnya makin keras.

Kini bahkan seluruh isi perabot Keraton dipindahkan. Kursi kebesaran diperintahkan untuk dipindahkan. Senjata-senjata yang mendapat tempat utama di kamar senthong, kamar tersendiri yang tak pernah disentuh orang lain, dibuka lebar-lebar pintunya.

Hanya Mahamata Puspamurti yang tidak terpengaruh. Ia duduk di bawah pohon beringin, wajahnya menyimpulkan senyuman. Kipas kayu yang berukuran besar digerak-gerakkan, sehingga angin keras seakan menggerakkan pohon beringin hingga ke dahan-dahannya.

Tokoh yang aneh dengan dandanan yang juga aneh ini seakan malah menikmati keributan yang tengah terjadi.

“Ya, memang begitu.

“Ladlahom, ladlahom, ada benarnya. Tak perlu ragu.”

Mendadak Raja yang tengah berada di dalam berlari ke luar, menuju ke arah Puspamurti. “Aku perintahkan tebang pohon ini, cabut semua akarnya!”

Puspamurti makin menyunggingkan senyuman. “Itu bagus.

“Apa lagi? Langit kamu turunkan? Tanah dan lantai Keraton dikeduk sehingga menjadi sungai? Atau semua prajurit kamu perintahkan memakan tanah?

“Boleh, boleh, aku senang.

“Ada teman. Mudah-mudahan kamu tak mengecewakan di belakang hari.” Raja memandang kiri-kanan.

“Tebang sekarang!

“Aku tak mau mendengar. Aku hanya mau memerintah.”

Para prajurit yang diperintah bergerak maju. Akan tetapi gerakan kipas Puspamurti membuat mereka tertahan. Angin deras menghalangi gerak maju mereka.

“Nenek tua…”

“Kenapa kamu bicara padaku? “Ladlahom itu namanya. “Seharusnya tidak.”

“Seharusnya kamu juga tidak bicara padaku.”

“Aku tidak bicara padamu. Tidak kepada beringin. Aku berbicara pada diriku sendiri. Mungkin juga tidak kepada diriku sendiri. Aku berbicara kepada mulutku.

“Mulutku adalah mulut manusia. Telingaku adalah telinga manusia. Semua sudah kumiliki sendiri. Seperti kamu.

“Ladlahom.

“Setelah Kebo Berune yang sia-sia, yang mengingkari sebagai mahamanusia, masih ada yang tersisa….” “Kamu keliru….”

“Tak ada kekeliruan bagi mahamanusia.”

Puspamurti menjawab sama cepatnya dengan nada suara Raja.

“Meskipun aku bisa berkata bahwa kamu masih terlalu hijau untuk menyadari. Kamu seperti anak kecil yang mengunyah cabe rawit, melonjak-lonjak karena kepedasan. Tanpa menyadari….”

“Aku tidak butuh komentarmu.” “Aku juga.

“Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Raja? Kamu kecewa apa sehingga melakukan ini semua? Untuk memperlihatkan kekuasaanmu? Untuk menghapus kekecewaanmu dari wanita yang kini kamu tinggalkan menggigil kedinginan?

“Aku tidak butuh jawabanmu.

“Tak perlu diterangkan, karena segalanya cukup terang. Sudah tertulis dengan jelas. Pada manusia terpilih, ia akan menjadi mahamanusia. Aku yang terpilih. Belakangan aku tahu ada Kebo Berune yang menguasai mati atas hidup, akan tetapi ternyata ia mengingkari.

“Sekarang ini kamu.

“Sejak kapan kamu mempelajari Kidungan Pamungkas?” Raja mengerutkan kening.

“Sudah kusadari bahwa kamu anak-anak yang tak tahu pedasnya cabe rawit. . “Yang begini saja masih bingung.

“Ladlahom!

“Apa betul di seluruh jagat ini tak ada yang tahu ilmu pembebasan manusia yang begitu utuh?

Apa betul cuma aku seorang yang bakal menjadi ahli waris satu-satunya yang terakhir?”

Suaranya yang mengandung pertanyaan sekaligus juga mengandung rintihan terbawa oleh angin yang berasal dari gerakan kipasnya.

Para prajurit bersiap mengepung. Bahkan Halayudha turun tangan sendiri. Memimpin di

depan.

“Harusnya tidak mungkin. Kalau seluruh jagat ini banyak manusia, mana mungkin hanya satu

mahamanusia? Itu bertentangan dengan isi kitab.

“Tapi kalau yang ada anak kecil yang merasakan ujung cabe, apa ia bisa dimasukkan sebagai penganut ajaran ini?

“Hei, kalian semua, menyingkirlah! Aku masih ingin merasakan segarnya angin yang menggoyang daun.”

Puspamurti menggerakkan kipasnya. Perlahan, akan tetapi tenaga yang keluar jauh lebih keras dari semula. Empat prajurit tersentak mundur seketika. Bahkan Raja ikut terdorong.

“Tebas!”

Perintah Raja tak perlu diulang. Serentak dengan itu sepuluh prajurit menyerbu tanpa memedulikan bahaya.

Halayudha yang berjalan terpincang, segera maju. Kedua tangannya membentuk silangan, sementara kedua kakinya menggeser maju. Dengan satu tarikan tangan kanan ke dalam, tangan kirinya menjotos ke luar.

Puspamurti hanya mengeluarkan suara dingin di hidung. “Main-main apa sungguh-sungguh?”

Pengejaran Mahamanusia

TENANG sekali Puspamurti menggerakkan kipasnya. Terulur ke depan dan seketika itu tenaga dalamnya membentur tenaga dalam Halayudha, yang segera mengubah dengan tenaga air. Menyedot keras, membetot dari dasar.

Halayudha bukan sembarang senopati. Ilmu yang diwarisi adalah ilmu-ilmu kelas satu. Apalagi sekarang ini sedang dilihat Raja, semangatnya makin menjadi-jadi. Sehingga Puspamurti tak bisa melayani duduk dengan tenang. Tubuhnya bergerak ke atas, membebaskan diri dari sedotan tenaga dalam Halayudha. Yang secara berturut-turut mencecar dari segala penjuru.

Puspamurti mengeluarkan suara ladlahom pendek sebelum akhirnya memusatkan diri menghadapi gerakan-gerakan yang serba tak terduga.

Saat itu Halayudha sengaja memamerkan kelebihannya. Segala jenis jurus yang pernah diketahui, pernah dipelajari, dikeluarkan. Baik jurus-jurus pendek dari Jepun ataupun dari tanah Tartar, disambung dan dirangkai dengan ajaran dari Kitab Bumi maupun Kitab Air.

Menakjubkan.

Dalam sekejap tubuh Halayudha bisa gagah, tegak lurus kaku, di lain pihak bisa berubah seperti gerakan penari, lalu berubah lagi seperti air yang mengalir.

Padahal selama ini Puspamurti seperti tak pernah mengubah gerakannya. Kenyataannya memang begitu!

Sejak semula Puspamurti memainkan satu jurus saja. Jurus yang dinamai Puspita Gatra, sesuatu yang berbunga di bagian ujung. Kipas gedenya bergerak, menekuk ke depan seperti menjadi berat tiba-tiba. Akan tetapi justru dengan gerakan yang selalu sama, gebrakan Halayudha menjadi pudar.

Satu-satunya yang memberi kesan bahwa Halayudha lebih unggul hanyalah bahwa dengan demikian Halayudha mampu mendesak Puspamurti meninggalkan pohon beringin. Bisa dituntun, bisa diarahkan ke tempat lain.

Hingga ke gerbang luar.

Namun, sebenarnya yang merasa mati kutu ialah Halayudha. Sepuluh-dua puluh jurus ia berhasil mendesak, merangsek, dan membuat Puspamurti berloncatan, tetap saja tak bisa menundukkan. Setiap kali, pada saat yang sudah terjepit, masih sempat menghindar. Sambaran angin yang makin mendekat ke arah tubuh Puspamurti, tetap tak bisa menyentuh.

Tubuh Halayudha sudah sepenuhnya mandi keringat. Demikian juga terasakan bahwa perlahan napas Puspamurti telah memberat. Akan tetapi, seperti terulang kembali, pukulan Halayudha tak pernah bisa menyentuh.

Halayudha mengganti dengan serangan berat. Bahkan dengan berani dijajalnya tenaga dalam penuh saat memainkan Banjir Bandang Segara Asat karena jengkel dan putus asa.

Akan tetapi justru ketika pengerahan tenaga sedang dilakukan, ujung kipas kayu lagi-lagi menekuk di depannya. Yang tak bisa tidak harus dienyahkan atau dihindari.

Beberapa kali Halayudha mencoba memancing membarengi menyerang dengan risiko terkena kipas tapi juga bisa menerjang. Akan tetapi setiap kali hampir dilakukan, setiap kali seperti disadarkan bahwa kipas lawan jauh lebih dekat ke bagian tubuhnya yang berbahaya.

Sepuluh jurus kemudian Halayudha mengempos semangatnya. Hasilnya tetap sama. Tak bisa melukai atau meringkus!

Bahwa dengan demikian Puspamurti makin sempoyongan, ternyata juga tidak membuatnya lebih gampang menekuk lawan.

Halayudha bukan tokoh kepala batu yang dungu. Mengetahui bahwa dengan jurus tunggal Puspamurti tetap bisa menghindar, rasa ingin tahu dan berguru yang muncul mendesak.

“Hebat, hebat…

“Ini baru permainan silat yang luar biasa.”

Puspamurti menghentikan gerakannya. Nyata sekali bahwa semua tenaga juga ikut terkuras. “Saya perlu belajar dari Mahamata….”

“Kamu licik, maha licik.

“Cocok untuk ilmu ini. Tapi aku tak suka padamu.” Puspamurti membalik.

Halayudha terkesima.

Tak nyana tak mimpi bahwa dirinya akan ditinggalkan begitu saja. Baru saja mereka berdua mengadu jiwa dalam pertarungan ketat, lalu tiba-tiba saja membalikkan tubuh.

“Suka atau tidak suka, apa bedanya bagi mahamanusia?” “Ada. “Aku mau pergi. Kejar aku kalau mau.” Ini benar-benar kurang ajar.

Tapi Halayudha sadar bahwa kalaupun ia kembali menyerang, akhirnya akan berulang sama.

Ia bisa mendesak habis, akan tetapi tetap saja tak bisa mengalahkan. “Apa hubungannya dengan Kitab Paminggir atau Pamungkas?” Puspamurti membalik.

Meludah.

Lalu dengan gayanya yang genit berjalan meninggalkan. Goyangan tubuhnya masih tersisa meninggalkan bau harum.

Halayudha masih berdiri tegak. Di kepalanya mendadak berkelebat beberapa rencana.

Puspamurti tak memedulikan. Ia terus berjalan sampai di luar Keraton, lalu menuju ke arah pedusunan. Baru kemudian sekali berhenti, memainkan jurus-jurus kipasnya. Lalu menghela napas berat.

“Apa betul hanya aku titisan mahamanusia itu?”

Kembali dijajalnya jurus yang sama. Kipasnya dimainkan tangan kanan dan tangan kiri, diganti dengan kaki, dengan gigitan, lalu menghela napas kembali.

“Apa betul hanya aku?”

Anehnya, suara itu tergema kembali, dalam nada dan irama yang sama, hanya bunyinya berbeda.

“Apa betul di seluruh jagat ini semua tahu bahwa ada ilmu pembebasan manusia secara utuh?

Apa betul semua sudah mewarisi secara sempurna?” Puspamurti memandang ke arah datangnya suara.

Ke arah pohon beringin liar, di mana di bawahnya ada bayangan tubuh tengah duduk bersila. “Ladlahom!

“Pasti kamu yang mengaku juru ramal Truwilun itu!”

Puspamurti berjalan sambil menyeret kipasnya menuju ke arah Truwilun yang duduk di tanah sambil mengumpulkan dedaunan.

Daun-daun yang disusun berbaris-baris, sehingga seolah memberikan kesan gambar seberkas sinar. “Ini bagus. “Kamu menangkap. “Juru ramal yang baik, tunjukkan…”

Sebelum kalimat Puspamurti selesai, daun-daun yang berbaris berubah menjadi gambar yang lain. Semacam gambar belalai gajah yang melengkung, mengisap lingkaran. “Ini baru ladlahom.

“Aku sudah tahu kamu pasti salah satu manusia yang aneh. Ternyata sangat aneh. “Truwilun, apa yang kamu bikin?”

Susunan daun di depan Truwilun berubah bentuknya. Tak lagi menyerupai belalai, melainkan bentuk kapas yang bersusun.

Puspamurti berjongkok. Kipasnya bergerak.

Susunan kapas berubah kembali menjadi belalai, mengisap lingkaran, yang oleh Puspamurti dibuat sedemikian rupa sehingga menggambarkan tengkorak.

Truwilun menggeleng.

Daun-daun kering itu berubah menjadi bentuk mahkota. Puspamurti menggeleng.

“Kamu tak mengerti, Truwilun. Tak ada mahkota.”

Puspamurti menggerakkan kipasnya. Angin menderu keras. Daun-daun kering di sekitarnya berpencaran ke segala penjuru bagai tersapu angin puyuh.

Akan tetapi gambar daun yang dibuat Truwilun tetap tak berubah. “Ladlahom!

“Kamu keliru. Mahamanusia itu bisa belalai yang mengisap ilmu apa saja, di mana saja, sampai habis.”

Truwilun mengangguk.

“Jadi tak ada batas mahkota.” Truwilun menggeleng.

“Mari kita mulai dari awal….” Truwilun mengangguk.

Kini daun-daun kering berpencaran lagi. Oleh gerakan tangan dan kipas Puspamurti yang dikebut sehingga membentuk gambar belalai dan sinar, diubah kembali menjadi rentetan kapas, lalu tengkorak, lalu susunan seperti bintang, lalu berubah seperti belalai lagi. Setiap kali Truwilun mengubah, Puspamurti mengubahnya kembali, dan keduanya saling mengangguk.

Bahkan saking gembiranya, beberapa kali Puspamurti memeluk tubuh Truwilun, mengusap dagu, dan mencium pipi.

Truwilun duduk bergeming.

Hanya saja, ketika Truwilun membentuk gambar mahkota, perubahan tak ada lagi. Puspamurti sangat kesal sehingga memukulkan kipas kayunya dengan keras.

Amblas ke tanah, menghancurkan dedaunan. Yang tetap membentuk simbol mahkota.

Riwayat Kitab-Kitab

PUSPAMURTI terbatuk keras.

Ia berlutut, dan akhirnya berbaring di tanah. Mencium telapak kaki Truwilun yang mendadak ditarik. “Apa selama ini aku salah?” Truwilun menggeleng.

Lalu menyusun kembali daun-daun yang kering. Malam telah turun. Kegelapan menyelimuti.

Puspamurti masih terbaring. Hanya kali ini memandang ke arah langit yang kosong. “Apakah mahamanusia itu terbatas?”

“Agaknya begitu.” Akhirnya terdengar suara yang nadanya setengah ragu. “Selalu ada mahkota?”

Truwilun mengangguk samar. “Sejak itu kamu menjadi peramal?” Jawabannya adalah helaan napas. Ringan.

Segar.

“Puspamurti, kamu dan aku sama. Seumur hidupmu kamu habiskan bersembunyi di dalam Keraton, demikian juga aku. Seumur hidupku kuhabiskan di tengah hutan yang dinamai Perguruan Awan.”

“Aku sudah tahu tanpa kamu bilang…”

Suara Puspamurti terdengar dipenuhi rasa menunjukkan kehebatan. Sesuatu yang tidak biasanya. Karena selama ini seperti tak memedulikan apa saja.

“Kamu ini Eyang Sepuh?” “Bukan.”

“Bagaimana kamu tahu ada mahkota?

“Bagaimana kamu tahu bahwa itu yang dimaksudkan adalah mahkota?” Tak ada jawaban.

“Kamu Baginda Raja Sri Kertanegara?” “Bukan.

“Aku Truwilun.” Puspamurti terbatuk. Lalu duduk. “Tak bisa tidak. Kalau kamu bukan Eyang Sepuh, pasti kamu Sri Baginda Raja Kertanegara.

Kalau tidak, bagaimana kamu bisa menemukan itu?

“Dengar baik-baik. Namaku Puspamurti. Aku pernah melihat yang namanya Eyang Sepuh.

Juga pernah melihat Sri Baginda Raja. Aku mempelajari semuanya. “Sejak masih digodok.

“Sejak ajaran Kitab Bumi belum dijadikan ajaran resmi. Aku telah mempelajari dengan baik. Aku hafal bagaimana bentuk penulisannya. Sampai dengan Kitab Paminggir, yang bagiku merupakan kitab dari segala kitab pembebasan yang pernah ada.

“Dengar baik-baik, Truwilun.

“Aku tahu Kitab Air. Aku tak tertarik. Tapi kitab mengenai mahamanusia aku tahu. Hanya ketika Sri Baginda Raja murka, aku menyembunyikan diri terus-menerus dan tetap mempelajari. Karena aku takut dimurkai Sri Baginda Raja, tetapi aku percaya kebenaran kitab itu.”

“Kalau begitu kenapa mencari Kidung Pamungkas?” “Karena sama.

“Bukankah begitu?”

Truwilun tak menjawab. Hanya berdeham kecil. “Truwilun, aku tak akan bilang ladlahom lagi.

“Aku akan menyegarkan ingatanmu kalau kamu ini Eyang Sepuh atau Sri Baginda Raja.

“Aku senopati yang paling lihai. Paling bisa memahami segala ilmu pada usia yang sangat muda. Mpu Raganata tahu siapa diriku. Aku tahu gagasan besar Sri Baginda Raja untuk menjadikan tanah Jawa sebagai tanah ksatria, dan hanya ada ksatria saja.

“Itu sebabnya diadakan penyatuan ajaran kanuragan. Yang dipilih adalah Kitab Bumi yang disodorkan Eyang Sepuh. Meskipun sebenarnya bagian depan disusun oleh ksatria yang lain. Akan tetapi tetap merupakan maha-karya Eyang Sepuh karena mampu menyusun bagian yang disebut Kitab Penolak Bumi.

“Kamu ingat?

“Aku bahkan sudah mempelajari. Bahkan bisa memainkan. Tapi semua itu tak ada artinya dibandingkan Kitab Paminggir, yang diciptakan Eyang Sepuh. Kalau kamu Eyang Sepuh, kamu tahu itu. Kalau kamu Sri Baginda Raja, kamu pasti ingat bahwa kamu tidak suka kitab itu.

“Kamu ingat?

“Kamu menyuruh menghancurkan.

“Tapi diam-diam kamu menyusun sendiri dan kamu namai dengan sebutan hebat, Kidungan Para Raja. Seolah membalikkan seluruh kebenaran yang ada dalam Kitab Paminggir.

“Kamu ingat?”

“Puspamurti, ada yang berbeda, ada yang sama.

“Memang pada awalnya yang dijadikan babon ilmu kanuragan resmi adalah Kitab Bumi. Kitab itu disusun oleh Paman Sepuh dan disempurnakan oleh Eyang Sepuh, terutama delapan jurus yang terakhir.”

“Nah, kamu ingat.

“Jadi kamu siapa? Eyang Sepuh atau Sri Baginda Raja?” “Bukan semuanya.”

“Tidak mungkin.”

“Saat itu Eyang Sepuh menciptakan kitab terakhir yang disebut Kitab Paminggir, atau karena isinya memang dalam bentuk kidungan, disebut Kidung Paminggir.

“Akan tetapi Sri Baginda Raja tidak berkenan, karena ajaran kidungan itu menjungkirbalikkan ketenteraman. Keraton bisa kacau-balau. Karena dalam ajaran itu tersirat bahwa setiap manusia bisa menjadi raja.

“Yang disusun Mpu Raganata sebagai perpaduan antara yang ditulis Baginda dan Eyang Sepuh. “Itu sebabnya lahir Kitab Pamungkas. Kitab yang terakhir.

“Secara napas dan roh, Kitab Paminggir dan Kitab Para Raja, serta Kitab Pamungkas isinya sepenuhnya sama. Mengangkat derajat manusia. Bedanya pada tembangan Kidungan Para Raja, puncak kekuasaan manusia tak bisa sampai ke takhta, karena tidak semua manusia bisa menjadi raja. Yang bisa menjadi raja hanyalah raja karena pilihan Dewa.”

Puspamurti terbatuk keras. Tubuhnya bergoyang.

“Baru sekarang aku tahu ada yang bisa mengatakan seperti itu. Karena tadinya hanya aku sendiri yang mengetahui bahwa Kitab Paminggir dan Kidungan Para Raja intinya sama persis, meskipun semua kata dan susunan berbeda.

“Persis sama, kecuali tentang mahkota.”

“Karena Sri Baginda Raja tidak menghendaki semua manusia bisa menjadi raja.” “Jadi kamu Sri Baginda Raja?”

“Aku Truwilun.”

“Bagaimana mungkin seseorang seperti kamu bisa mendapat pencerahan untuk bisa menerangkan dengan gamblang, yang bahkan Sri Baginda Raja sendiri tak bisa? Yang bahkan Eyang Sepuh sendiri tak terang-terangan mengatakan begitu?

“Bukankah Eyang Sepuh menghilang musna karena lebih percaya bahwa Kitab Paminggir yang lebih hebat dan benar?”

“Eyang Sepuh moksa karena mengikuti pencerahan batin dari ilmu yang dipelajari. Akan tetapi Eyang Sepuh rasa-rasanya tak keberatan dengan Kitab Pamungkas, seperti yang dirumuskan Mpu Raganata.”

“Jadi kamu Eyang Sepuh? Atau malah Mpu Raganata?” “Bukan. Aku Truwilun.”

“Aku pasti kini. Kamu pasti Eyang Sepuh, yang malu-malu menampakkan diri. Lalu menjadi Truwilun.

“Pasti begitu.

“Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu mendapat pencerahan seperti ini?

“Eyang Sepuh sudah sampai di tingkat moksa. Tak perlu merepotkan seperti kita ini.” “Tapi kamu ini searif Eyang Sepuh….”

Truwilun menghela napas.

“Aku masih memerlukan pujian….” Suaranya mengandung penyesalan.

“Truwilun, kamu adalah Eyang Sepuh. Baik, aku mengakui itu. Mengakui kata-katamu. Aku akan tunduk dan menyerah sepenuhnya bahwa mahkota, bahwa takhta adalah batas akhir bagi yang tidak ditakdirkan menjadi raja.

“Sekarang mari tunjukkan di mana salahku.” Puspamurti duduk bersila.

Napasnya mendengus teratur.

Truwilun juga melakukan gerakan yang sama. Bersila menutup mata.

Kedua tangan saling menyatu. Lalu perlahan tangan kiri Truwilun dan Puspamurti saling melepas. Puspamurti yang menggerakkan tangan kirinya pertama kali, menarik daun-daun kering.

Dalam gelap malam tetap tak terlihat, akan tetapi seperti bisa terbaca oleh keduanya, bahwa Puspamurti membuat daun-daun kering membentuk gambar gunung, dengan puncaknya menghadap ke arah Truwilun.

Truwilun menggerakkan tangannya.

Gambaran gunung itu membalik. Ujungnya menghadap ke arah Puspamurti. Yang kemudian mengubahnya menjadi gambaran sungai. Truwilun, dengan mata tetap tertutup dan satu tangan menempel di telapak tangan Puspamurti, membalikkan arus ke arah Puspamurti. Dan sekaligus mengubah menjadi bentuk seperti hujan.

Puspamurti melakukan gerakan yang sama.

Hanya sekarang arah hujan ke Truwilun. Lalu mengubahnya kembali ke bentuk belalai.

Percakapan Diam TAK ada suara. Tak ada tanda gerakan yang jelas. Hanya kadang tangan yang bergerak sangat lembut.

Hanya kalau diperhatikan dengan jeli, gambar susunan daun itu yang setiap kali berubah.

Kalau tadinya perubahan itu cepat sekali, sekarang justru sebaliknya Gerakannya sangat lambat. Setiap lembar daun seperti enggan berubah. Seperti ketika membentuk gambar belalai, Truwilun tak melakukan gerakan.

Baru kemudian, kembali gambaran ujung belalai itu ditambahi tempurung. Puspamurti mengangguk-angguk.

Lalu membentuk gambaran yang sama dari susunan daun yang sama. Seolah anak kecil yang sangat bodoh dan berhati-hati menyusun, mengikuti yang telah dibuat Truwilun.

Setelah itu ganti Truwilun yang mengangguk.

Dan Puspamurti melanjutkan dengan bentuk tengkorak. Banyak sekali, berada di bagian

bawah.

Truwilun mengangguk kembali. Lalu menirukan apa yang sudah dilakukan Puspamurti. Satu

demi satu, daun-daun kering itu diteliti kembali, diletakkan dengan sangat hati-hati, seperti susunan semula.

Keduanya seperti terbenam dalam perbincangan yang sangat mengasyikkan, menenggelamkan, dan mengalihkan dari keinginan atau pikiran yang lain.

Sedemikian rumasuk, sedemikian masuk dan menyatu, sehingga tak lagi memperhatikan berapa lama sudah mereka menghabiskan waktu dengan cara berdiam diri saling menempelkan sebelah tangan.

Bisa dimengerti kalau Puspamurti tenggelam secara total. Selama ini Puspamurti tak pernah menemukan orang yang bisa diajak bicara, atau terlibat dalam masalah yang digeluti. Ada tokoh yang sempat menggetarkan perhatiannya karena sakti mandraguna. Tokoh muda yang bernama Upasara Wulung. Akan tetapi segera dirasakan bahwa Upasara Wulung lebih mendasarkan

Diri pada ajaran Kitab Bumi. Tak ada yang luar biasa dalam sikapnya, yang membuat Puspamurti merasa satu aliran.

Tokoh kedua yang dijumpai adalah Kebo Berune. Atau titisan kekuatan Kebo Berune. Saat itu Puspamurti merasa menemukan jawaban dari ilmu yang selama ini dipelajari. Bahwa mahamanusia mampu mengatasi kematian. Raga yang mati bisa dilanjutkan dalam raga yang lain.

Mahamanusia yang mengatasi kematian!

Meskipun demikian, masih ada keraguan dalam diri Puspamurti. Apakah tingkat tertinggi hanya bisa dicapai dengan cara itu? Kalau ajaran Kitab Bumi bisa mencapai titik moksa yang dianggap luhur, apakah Kitab Pamungkas begitu sengsara dan hina, ditampilkan sebagai mayat hidup?

Keraguan itu kemudian menemukan jawaban.

Karena kemudian tubuh Kebo Berune pun hancur berkeping, membusuk dengan cepat.

Yang sempat menyelinap ke dalam pikirannya adalah Raja Jayanegara. Raja yang menjungkirbalikkan tata krama dan tata pemerintahan. Puspamurti merasa menemukan bagian yang hilang dari yang selama ini dipelajari. Bentuk perwujudan dari kemahamanusiaan.

Tapi serta-merta kekecewaan menyertai. Karena Raja melakukan seperti tidak menyadari apa yang terjadi.

Sedemikian sepinya hati Puspamurti sehingga ia merasa bahwa ia satu-satunya yang mengenal dan mempelajari ajaran mahamanusia.

Sampai kemudian secara tidak sengaja bertemu dengan Truwilun. Tidak sengaja?

Rasanya tidak mungkin.

Pertemuannya dengan Truwilun bukan karena tidak sengaja. Memang akan bertemu, karena ada panggilan yang sama. Ada getaran yang sama di antara sesama mahamanusia.

Lebih mencengangkan lagi, Truwilun memberi jawaban bahwa ajaran dalam Kitab Paminggir telah diubah dengan batasan tertentu yang ada dalam Kitab Pamungkas!

Ini yang sedang dibuktikan. Siapa yang lebih unggul. Itulah yang sedang terjadi!

Puspamurti melakukan dari awal, sesuai dengan yang dipelajari dari Kitab Pamungkas. Ketika ia membentuk gambaran belalai, ia menggambarkan keinginan menimba segala ilmu, segala kanuragan yang ada dalam raya ini. Belalai melambangkan penyedotan ilmu yang tiada habis.

Dalam hal ini Truwilun setuju. Satu ajaran.

Dasar-dasar untuk mempelajari, untuk terjun kepada semua ilmu juga dikenal dalam Kitab Paminggir. Demikian juga tengkorak yang merupakan simbol musuh-musuh yang harus dibasmi.

Dalam Kitab Pamungkas diajarkan jelas bahwa mahamanusia mempunyai kewajiban menyingkirkan kejahatan, musuh, tanpa mempertimbangkan hubungan pribadi. Kemenangan itu dibuktikan dengan membinasakan musuh sampai tinggal tengkorak.

Hanya ketika Truwilun membuat gambaran mahkota susun tujuh Puspamurti tak bisa mengikuti. Tak bisa mengikuti dalam arti seperti yang dibuat Truwilun.

Gambar mahkota susun tujuh itu tidak memuncak di bagian atas.

Beberapa kali Puspamurti berusaha mengubah, menambah di bagian ujung, akan tetapi tangannya tak kuasa.

Semakin dipaksa, semakin terasa tangannya tak bisa menggerakkan daun.

Sehingga akhirnya mengulang dari awal. Membuat gambaran belalai tempurung, tengkorak, hujan, gunung, sungai, pintu, yang bisa saling diikuti.

29

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Akan tetapi begitu masuk membentuk gambaran mahkota menjadi macet kembali. Sesungguhnya inilah inti perbedaan.

Perbedaan mendasar antara Kitab Paminggir dan Kitab Pamungkas!

Dalam ajaran Kitab Paminggir, mahamanusia itu tak mengenal batas. Bisa mencapai apa saja, tingkat yang mana pun. Termasuk mengenakan mahkota susun tujuh!

Sedangkan dalam Kitab Pamungkas, mahamanusia itu mengenal batas. Tidak sampai mahkota susun tujuh. Hanya bentuk mahkota.

Gambaran yang sama di bagian awal, tengah, sampai penutup. Tapi juga sekaligus berbeda di bagian akhir.

Ini yang kini dirasakan sepenuhnya oleh Puspamurti.

Dirinya begitu yakin akan sifat mahamanusia yang tak mengenal batas. Yang bisa mengenakan tujuh mahkota bersusun. Sejak mengenal ajaran itu, Puspamurti sangat kagum dan luluh di dalamnya.

Sekarang ini Truwilun menunjukkan sisi lain.

Apakah betul selama ini yang dipelajari ilmu yang salah?

Kalau mendengar penjelasan Truwilun sejak awal, kitab-kitab itu sebetulnya berawal dari Eyang Sepuh-setelah menyelesaikan maha karya Kitab Penolak Bumi. Hanya ketika masih bernama Kitab Paminggir, Sri Baginda Raja yang tadinya merestui berbalik mengecam habis.

Manusia dilahirkan untuk menjadi mahamanusia. Untuk menjadi apa saja. Hanya batasnya ialah menjadi raja. Karena raja adalah sesuatu yang tak bisa diduduki manusia biasa.

Itu sebabnya Truwilun tidak menggambarkan mahkota susun tujuh.

Masalah yang mendasar bagi Puspamurti ialah bahwa ia tak mampu membentuk.

Dalam hal ini baik Puspamurti maupun Truwilun seperti menyadari bahwa ini bukan pengaruh tenaga dalam semata-mata. Siapa yang lebih kuat tenaga dalamnya lebih bisa membentuk gambaran dari daun kering.

Dalam hal ini keduanya menyadari bahwa bukan Puspamurti dan Truwilun yang menghendaki secara sendiri-sendiri. Melainkan kehendak mereka berdua. Kedua tangan yang saling menempel tidak saling bertarung. Tidak saling menggempur tenaga dalam. Tidak menahan dan tidak menyerbu.

Kedua telapak itu merupakan persatuan dua kekuatan yang lebur menjadi satu. Kehendak Puspamurti juga kehendak Truwilun. Saat Puspamurti menggerakkan sesuatu, seluruh tenaga berpusat padanya.

Demikian juga sebaliknya.

Itu pula sebabnya dengan tidak saling melihat, keduanya bisa saling menirukan gerakan yang lain. Perpaduan yang aneh.

Tapi bukan yang luar biasa bagi Puspamurti maupun Truwilun. Karena keduanya melatih sesuatu yang sama, yang dari cara pengaturan napas dan tenaga dalam, bisa dikatakan sama persis.

Itu sebabnya begitu cepat keduanya bisa menyatu.

Dan tenggelam, luluh, masuk, serta menyatu tanpa memedulikan waktu. Matahari telah naik, dan kemudian turun kembali.

Malam telah kembali ke ujung semula, tapi keduanya tetap bergeming sedikit pun dari posisi semula.

Perjalanan Matahari

ENTAH beberapa lama keduanya terus mengulang lagi dari awal. Entah berapa malam sudah dihabiskan tanpa beristirahat sedikit pun.

Puspamurti seperti tak mau menyerah.

Beberapa kali diulangi dari awal, dan selalu mentok setiap kali sampai ke gambaran mahkota susun tujuh.

Adakalanya keduanya melakukan gerakan yang sangat cepat sekali, perubahan yang mendadak. Adakalanya sangat perlahan sekali sehingga seluruh malam dihabiskan hanya untuk membentuk satu gambaran saja.

Kemudian Puspamurti mengubah.

Ia menggerakkan selembar daun kering. Menunggu. Truwilun juga menunggu, pada awalnya.

Kemudian menggerakkan satu lembar daun, merangkai apa yang telah tersusun. Melanjutkan apa yang telah dilakukan Puspamurti. Begitu seterusnya.

Kembali keduanya membuat gerakan sangat cepat.

Akan tetapi kembali terhenti sampai pada gambaran mahkota susun tujuh. Macet kembali.

Saat itulah secara bersamaan Puspamurti dan Truwilun melepaskan kedua tangan yang saling menempel. Kini di wajah keduanya tampak penyerahan, bahwa itulah yang mereka alami, kalaupun diulang kembali.

Puspamurti lega karena kini sepenuhnya bisa menerima apa yang semula dikatakan Truwilun. Karena sewaktu membentuk gambaran secara bergantian, tak ada lagi perbedaan antara dirinya dan Truwilun.

Itu sebabnya Puspamurti menghentikan usahanya. Melepaskan tangannya dan membuka matanya.

Apa yang dilihatnya membuatnya mendengus dan tertawa keras.

Truwilun yang dilihatnya sekarang ini adalah seperti seonggok tumpukan daging. Bulat gemuk dengan kepala pelontos. Tak selembar pun rambut di kepala atau di pipi.

Yang tetap hanyalah sorot matanya.

“Oo-o, kamu ini rupanya orang yang gendut, jelek, bagai batu tua.” “Eyang juga begitu….”

“Eyang?” Puspamurti melonjak kaget. Mendadak tangannya mengelus ke pipi, ke hidung, mengusap bibir. Terasa banyak lekuk liku. Ketika melihat tangannya, seakan tidak percaya apa yang dilihatnya. Tangannya penuh dengan keriput!

Begitu juga kakinya.

Tangannya mencabut rambutnya yang putih!

Sesungguhnya tak perlu. Tanpa mencabut pun bisa diketahui bahwa rambutnya telah putih seluruhnya. Karena gelungan di rambutnya yang memudar bisa dilihat jelas.

“Oo-o, rupanya aku ini sudah kakek-kakek….” “Maafkan saya, Eyang….”

“O-oo, sungguh ajaib.

“Saya kembali menjadi tua. Tua bangka seperti kakek-kakek. Baguslah itu.

“Matahari selalu berjalan. Waktu selalu berjalan. Kita berada dalam gua, berada dalam Keraton, atau berada di langit, tak mengubah perjalanan itu.

“Bukan begitu, Truwilun?”

“Maaf, Eyang, saya bernama Jaghana….”

Puspamurti yang sudah berubah menjadi kakek-kakek tampak tak terlalu heran. “Saya ini tetap Puspamurti.

“O-oo, nama yang kurang pantas. Nama genit, nama yang dimuda-mudakan. Tapi dulu saya tak bisa menertawai seperti sekarang ini.

“Jaghana, banyak terima kasih atas pencerahanmu….” “Saya yang mendapat kehormatan dari Eyang.”

Puspamurti merangkul Jaghana. Lalu berubah menjadi menepuk-nepuk pundak Jaghana.

Seperti baru saja menyadari bahwa dirinya yang jauh lebih tua. “Jadi kamu benar-benar Jaghana?”

Jaghana mengangguk dalam. “Rasanya tidak mungkin.

“Seharusnya kamu ini yang disebut Eyang Sepuh atau Baginda Raja Sri Kertanegara yang mulia. O-oo, setelah kita mengikuti perjalanan matahari, rasanya memang tak bisa bersembunyi lagi.

“Selamat, Jaghana.

“Dewa di langit ketujuh menerima baktimu. “Menerima diriku.

“O-oo, siapa kira ada yang setara dengan Eyang Sepuh atau Baginda Raja?” “Saya….”

“Kita berdua ini sudah sama-sama. “O-oo, tak perlu beringsut.

“Tapi katakan pada saya, Jaghana… apa hubunganmu dengan Baginda Raja?” “Saya hanyalah rakyat Singasari.”

“Ada hubungannya dengan Eyang Sepuh?”

“Saya salah seorang cantriknya yang tidak berbakat….” Puspamurti mengangguk-angguk.

“O-oo, sungguh hebat kelewat-lewat.

“Jagat Dewa Batara. Yang namanya Eyang Sepuh betul-betul diterima semua Dewa. Muridnya begini hebat. O-oo, o-oo….”

Sunyi sebentar.

Udara segar terserap dari bumi.

Puspamurti mengelus pakaiannya yang warna-warni yang kini tampak sangat tidak sesuai, juga ukurannya.

“Jaghana, bagaimana kamu bisa mendapatkan pencerahan mengenai Kitab Paminggir dan Kitab Pamungkas?”

“Semata-mata petunjuk Dewa. “Eyang lebih mengetahui mengenai hal ini.” “O-oo, saya tak cukup tahu….

“Entahlah, Eyang Sepuh itu juga tak akan mengetahui ini. Tak akan percaya. Bukankah kalau percaya ia tak akan pergi meninggalkan keramaian ini?

“Bukankah begitu?” Jaghana menunduk.

Seluruh tubuhnya membuat gerakan menghormat yang tulus.

“O-oo, jangan rikuh, jangan sungkan, jangan merendah. Kita sama-sama, Jaghana.

“Memang saya mengenal langsung siapa Eyang Sepuh yang kesohor itu. Ia memang sudah hebat ketika saya masih menjadi putra Keraton. Sebagai senopati, saya mengenalnya. Saya lebih mengenal lagi dari cerita-cerita Mpu Raganata.

“Juga perselisihannya dengan Sri Baginda Raja. Bukan, bukan perselisihan. Mana ada di bawah langit ini yang berani berselisih dengan Sri Baginda Raja?

“Biarpun Eyang Sepuh itu sangat kurang ajar, ooo, dialah lelaki yang paling lelaki, yang paling kurang ajar, sombong dari ujung rambut hingga ke ujung bayangan tubuhnya, tapi ia memang hebat, ia sembada, pantas untuk itu.

Seluruh jagat guncang oleh wibawanya.

Bila ia muncul, awan pun menyisih. Kamu tak mengenal dirinya saat itu. Karena mungkin sekali kamu hanya mengenalnya sejak di Perguruan Awan.”

“Betul, Eyang….”

“Ia bukan lelaki yang tampan. Ia bukan lelaki yang menjalankan tata krama. Ia mengetahui itu, menyadari, dan bangga karena sikapnya.

“Tapi, lagi-lagi saya akan memujinya. “Ia hebat. Sangat hebat, o-oo.

“‘Semua lelaki di jagat ini iri padanya. Termasuk Sri Baginda Raja. “Ia pantas membuat orang iri.

“Pikirannya cemerlang. Gagasannya menciptakan jiwa ksatria secara menyeluruh bagi semua lelaki, membuahkan apa yang disebut Kitab Bumi. Apa nun juga kecaman bahwa ia hanya menuliskan apa yang diciptakan Paman Sepuh, sama sekali tak mengurangi keunggulannya. Karena bagian akhir, yang sangat cemerlang, diciptakannya.

“Jaghana, kamu boleh bangga menjadi muridnya….” “Sesungguhnyalah…”

“Di seluruh jagat, di seluruh wilayah Keraton Singasari yang terdiri atas ratusan tokoh sakti dan mahasakti, karya ciptaannyalah yang terpilih. Dan memang paling unggul.

“Di saat berada di puncak kejayaan karena ilmu silatnya diakui, di saat ia bisa menikmati keunggulan yang tanpa tanding, di saat Baginda Raja memujinya, ia justru menciptakan Kitab Paminggir.

“Kembali jagat terguncang.

“Angin seperti berganti arah. Arus sungai seperti membalik. Gunung menjadi rata.

“Namanya kembali menjadi pocapan semua orang. Semua ksatria, semua tokoh sakti, semua pendeta, semua ksatria. Sedemikian gemilangnya karya ciptaannya, sehingga Sri Baginda Raja murka. Mengutuk.

“Walau diam-diam mengakui, dan mengubahnya. “O-oo.

“O-oo.

“Betapa hebatnya, kemudian terbukti bahwa muridnya yang gundul seperti batu, menemukan persamaan dari apa yang diciptakan Eyang Sepuh dan apa yang diciptakan Sri Baginda Raja.

“O-oo.

“Segala apa serba menjila, serba luar biasa, jika menyebut Eyang Sepuh!”

Perguruan Tanpa Guru EYANG PUSPAMURTI menggeleng, lalu disusul anggukan.

“Ketika Eyang Sepuh kecewa akan keputusan Sri Baginda Raja, ia mengundurkan diri. “Barangkali sebutan ini tidak sepenuhnya tepat. Ia tak pernah masuk menjadi prajurit, tidak

juga menjadi abdi. Tak pernah.

“Ia memiliki keleluasaan untuk masuk dan keluar dari Keraton, lebih dari Mpu Raganata

sendiri.

“Ia kemudian mendirikan Perguruan Awan. Jelas sekali masih tersisa dendam lama, atau

pembangkangan. Bahwa semua anak didik Perguruan Awan tak diperkenankan menduduki jabatan apa pun. Kemudian malah dijadikan sikap perguruan yang tidak menganggap tata krama.

“Perguruan tanpa guru, tanpa murid, tanpa cara pengajaran yang lazim.

“Siapa sangka justru dengan caranya yang selalu kelihatan ngawur itu, ia justru melahirkan bibit yang sangat cemerlang seperti dirimu, seperti Upasara Wulung…”

“Eyang Puspamurti, saya cantrik yang paling tidak berbakat dan berdosa….” “O-oo.

“Kenapa kamu berpikir begitu?” Jaghana menghela napas.

“Salah satu ajaran dalam Perguruan Awan ialah tidak mempunyai pamrih. Tidak mengharapkan balas jasa, tidak sesongaran, tidak mengunggulkan diri….”

“Lalu apa salahmu?”

“Saya telah berani menjajal….

“Sewaktu merenungi tanpa ujung tanpa pangkal, saya merasa ada baiknya berjalan-jalan di luar perguruan. Dan itu yang saya lakukan, Eyang.”

“Menjadi dukun ramal?”

“Melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan.”

“Dan karena kamu takut mengotori nama dan ajaran Perguruan Awan, kamu menumbuhkan rambut dan menyebut dirimu Truwilun?”

“Saya memang picik.”

Eyang Puspamurti menepuk pundak Jaghana sekali lagi. “Kamu bisa melihat sesuatu yang belum terjadi. Kamu bisa menolong orang lain, kenapa menyesali?

“Saya ini yang seharusnya menyesali diri. Sebagai ksatria, sebagai senopati, saya mengurung diri dan hanya memikirkan diri sendiri.

“Saya percaya, Jaghana, bahwa Eyang Sepuh itu juga akan menyukaimu, sebab dulunya ia juga begitu.

“Ia selalu tampil dengan gagasan yang aneh untuk orang lain. Ia menjungkirbalikkan tata aturan yang ada. Wajar sekarang kamu melangkah dengan cara yang sama.

“Pujian ini keluar dari hati yang tulus.

“Tahukah kamu betapa edannya Eyang Sepuh saat itu? Ia menantang semua ksatria di seluruh jagat raya ini untuk bertanding. Ia mengundang semua ksatria datang ke tanah Jawa untuk mengakui bahwa ialah lelananging jagat. Pikiran edan mana yang memungkinkan pertarungan setelah lima puluh tahun?

“Nyatanya, itu bisa terlaksana.

“Tidak perlu kamu sesali, Jaghana. Saya akan menyertaimu untuk itu. Hanya saja, tahu-tahu saya sudah terlalu tua.”

Untuk pertama kalinya Eyang Puspamurti seperti menahan kesal pada dirinya sendiri.

“Kalau saya sampai menyangka kamu Eyang Sepuh atau Sri Baginda, itu tandanya kamu sudah mencapai tingkat itu. Sebab rasanya, hanya Eyang Sepuh serta Sri Baginda Raja yang mampu memecahkan wewadi, rahasia, Kitab Pamungkas dan Kitab Paminggir. Nyatanya, kamu lebih hebat. Lebih bisa melihat persamaan dan perbedaan antara dua kitab itu.

“Jaghana, apakah itu berarti tak ada mahamanusia?” “Sejauh saya tahu, tetap ada, Eyang.”

“Tapi tak bisa memakai mahkota susun tujuh?” “Karena ada kodrat yang dimiliki raja yang tak dimiliki manusia. Karena ketenteraman raja perlu dijaga.”

“Meskipun rajanya seperti sekarang ini?” Jaghana menunduk.

“Justru pada saat seperti ini, Eyang.

“Di saat Sri Baginda Raja memegang takhta, tak akan ada pikiran yang sungsang bawana balik, pikiran yang membalikkan dunia, di mana orang seperti saya ingin menjadi raja.

“Di saat seperti sekarang atau nanti….” “Luhur budimu, Jaghana.

“Kamu akan tetap mengabdi Raja?” “Sebisa mungkin, Eyang.”

“O-oo.

“Dasar jiwa luhur itu yang dimiliki Eyang Sepuh. Eyang Sepuh telah mencapai tatanan mahamanusia karena ajaran luhurnya meresap dalam dirimu. Tanpa perlu seperti Kebo Berune. Tanpa mendirikan candi.

“O-oo.

“Jaghana, kenapa tak bisa memakai mahkota susun tujuh?” “Karena…”

“Karena kodrat?”

“Karena bisa begitu tanpa mendudukinya.”

“Apakah akan ada seorang ksatria, seorang prajurit yang lebih sakti lebih perkasa dari rajanya, dan tidak mengganggu kewibawaan Raja?”

“Bisa begitu, Eyang.” “Siapa yang bisa begitu?

“Upasara sudah tiada. Rasanya tinggal Halayudha.” “Saya tidak melihatnya sekarang ini.”

“Pada kurun masa yang akan datang?” “Bisa jadi, Eyang.”

“Raja yang mana?”

Jaghana menunduk makin dalam.

“Apakah saya masih hidup untuk melihat sendiri peristiwa itu?”

“Siapa yang mengetahui tentang kematian dan usia panjang atau pendek?” “O-oo.

“Kamu benar tidak tahu atau tidak mau mengatakan? “O-oo.

“Tak apa.

“Kadang saya masih tergoda untuk mengetahui. Untuk mempertahankan kemudaan sekian tahun. Untuk menunda usia. Tapi sewaktu tiba-tiba menjadi setua sekarang, ternyata tak ada yang perlu disesali.

“O-oo.

“O-oo.

“Satu kali saya bertemu dengan Eyang Sepuh setelah ia mendirikan Perguruan Awan. Ia mencari buah-buahan dari yang ditanam, mengenakan pakaian seadanya yang menempel di tubuhnya. Rambutnya putih, akan tetapi wajahnya segar.

“Ia tertawa melihat saya.

“Apa yang kamu cari? Obat untuk terus-menerus membuat rambutmu hitam, kulitmu kencang, kelelakianmu tetap, dan merasa unggul karena yang lain menjadi tua?

“Kecil sekali kamu ini.

“Saya tahu siapa dia, bagaimana caranya merontokkan kebanggaan seseorang. Saya tidak meladeni. Saya balik bertanya apa yang dia cari dengan sok gagah, sok suci mengasingkan diri? “Saya juga sama kerdilnya dengan kamu.

“Di sini saya merasa lebih dari di Keraton. Di sini saya bisa menyempurnakan Kidungan Paminggir. Saya tahu kamu yang paling suka dengan kidungan itu.’

“Apa maksudnya semua itu?

“Di sini saya bisa mengatakan bakal ada Tamu dari Seberang, seperti ketika Ken Arok yang mendadak bisa menjadi raja.’

“Apakah kamu masih mendendam kepada Sri Baginda Raja?

“Saya harus menunjukkan kebesarannya dengan selalu menguji apa yang dilakukan. Seperti juga Sri Baginda Raja mengakui kebesaran dan kehebatan saya dengan melarang ajaran Kidungan Paminggir.

“Sri Baginda Raja ingin memberi penghargaan kepada saya dengan caranya yang bisa membuat saya bangga sepanjang masa.’

“Waktu itu saya bilang ladlahom, kenapa masih ada yang selalu bisa tak terkirakan dari semua tindak-tanduknya. Sewaktu saya menanyakan apakah ilmu yang saya pelajari sudah rampung, sudah tuntas, Eyang Sepuh menjawab sambil berlalu,

“Kalau itu pertanyaanmu, batu yang saya ajari bisa menjawab.

“Jaghana… kamu bisa mengetahui sendiri betapa masih tetap tinggi kepalanya mendongak ke arah langit. Saya menggebrak, menyerang, menyergap, tapi Eyang Sepuh tak mau meladeni.

“‘Satu jurus saja kamu tak bisa menguasai, bagaimana mungkin melatih dengan berbagai jurus?’

tahun.” “Sejak itu saya hanya mematangkan satu jurus saja. “Sejak itu saya tak pernah menemukan bayangannya.

“Tapi ia tetap benar. Kamu bisa menjawab pertanyaan yang kukandung selama puluhan

Eyang Puspamurti menengadah ke langit.

“Siapa pun yang membicarakan Eyang Sepuh, akan selalu berakhir dengan pujian. “Tapi memang itulah kenyataannya.

“O-oo.

“Jaghana, karena kamu yang membuka jalan terang mata batin saya, mulai saat ini saya akan mengikuti ke mana kamu pergi, dan membantumu….”

Percakapan Dua Lelaki

JAGHANA tidak menduga bahwa telinganya akan mendengar kalimat seperti yang diucapkan Eyang Puspamurti.

Jauh dalam hatinya sebenarnya Jaghana justru merasa bahwa Eyang Puspamurti sedikit- banyak telah meringankan beban hatinya.

Kegundahan hatinya telah lama menjerat batin. Jaghana merasa menemukan jalan buntu.

Dirinya boleh dikatakan sebagai pewaris Perguruan Awan. Walau secara resmi kepemimpinannya di tangan Upasara Wulung, akan tetapi dirinyalah yang sehari-hari berada di Perguruan Awan.

Dari alam yang serba tenteram, angin yang serba teratur, tumbuhan dan hewan-hewan yang serba rukun, kegelisahan batinnya terusik.

Beberapa kali Jaghana berusaha menghilangkan dan menenggelamkan ke dalam semadi yang khusyuk.

Akan tetapi tetap saja tak terusir.

Sehingga akhirnya Jaghana memutuskan memanggil Wilanda, dan mengutarakan maksudnya.

“Saya akan meninggalkan tempat ini, Paman.” “Dewa menyertai perjalanan….” “Saya tahu Paman pernah meninggalkan tempat ini, dan tata krama yang masih ada dalam Perguruan bahwa yang pergi tak perlu kembali.

“Saya pamit.

“Karena saya tak bisa menahan godaan untuk melihat dunia.”

“Paman Jaghana, dari dulu sampai sekarang saya ini orang yang tak mempunyai arti apa-apa.

Di Perguruan tak berguna, di jagat luar juga demikian.

“Apakah saya diperbolehkan mengikuti bayangan Paman Jaghana?”

“Kalau semua pergi, siapa yang berada di ketenteraman dan kebahagiaan alam ini?” “Ketenteraman dan kebahagiaan ini pun kita bawa, Paman. Untuk disemaikan di tempat lain.”

Sejak saat itulah Jaghana melangkah keluar dari Perguruan Awan, diiringi Wilanda. Mereka berdua memakai kain penutup seperti penduduk yang lainnya.

Di sepanjang perjalanan, Jaghana dan Wilanda membantu siapa saja atau apa saja yang ditemui. Sehingga mereka yang tertolong makin lama makin banyak, dan menyebutnya sebagai dukun, sebagai tukang ramal.

Jaghana menamakan dirinya Truwilun, karena merasa tak pantas memakai nama Jaghana. Walaupun sesungguhnya nama itu berarti pantat, akan tetapi nama itu mempunyai sangkut-paut dengan Perguruan Awan.

Wilanda juga menyebut dirinya Cantrik, pembantu Truwilun.

Apa saja mereka lakukan berdua. Di sawah, bisa berhenti sebentar membetulkan bajak, meluruskan bendungan, membangun rumah, mengobati orang sakit, mengalahkan para durjana.

Begitulah Jaghana dan Wilanda melakukan perjalanan. Berpindah dari satu desa ke desa yang lain, di mana mereka berdua bisa melakukan sesuatu. Dengan cara itu pula mereka berdua menghidupi dirinya.

Tak ada sesuatu yang luar biasa selain membantu.

Sampai suatu ketika keduanya dihadang lima pemuda. Usia mereka rata-rata sama, juga dandanan yang menunjukkan bahwa mereka terbiasa berada di sawah dan sungai.

“Bapa Truwilun, kami berlima ingin meminta pertolongan Bapa yang selalu mengabulkan pertolongan siapa saja.

“Nama saya Mada, ini keempat teman karib saya bernama Senggek, Genter, Kwowogen, dan Madana.”

Sejak Jaghana menelan ludahnya.

Ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri kelima pemuda di depannya. Baik dari apa yang diperlihatkan ataupun apa yang dikatakan.

Dengan menyebut nama-nama seperti Mada, Madana, Senggek, Genter, serta Kwowogen, mereka seperti tengah bermain-main. Mada bisa berarti air berahi atau air asmara. Madana bisa juga berarti dewa asmara, atau daya asmara. Sedangkan Senggek dan Genter, arti harfiahnya adalah galah panjang, tetapi dalam hal ini bisa berarti tanda kejantanan. Kwowogen lebih menegaskan lagi bahwa telah mencapai rasa puas yang memuakkan

“Apa yang bisa saya lakukan untuk kalian, anak muda?”

“Kami berlima ingin menjadi ksatria, ingin gagah perkasa, kondang, terkenal di seluruh penjuru, mempunyai pangkat dan derajat yang tinggi.”

“Keinginan yang baik, Mada.”

“Kalau kami kondang pasti akan menjadi baik. Kalau kami punya pangkat dan derajat pasti dikagumi dan dihormati, serta ditulis dalam kidungan.

“Bapa Truwilun selalu mengabulkan permintaan, sekarang kabulkanlah keinginan kami.” “Baik, akan saya lakukan sejauh kemampuan saya.

“Tetapi karena permintaan kalian begitu banyak, sebutkan salah satu.” “Kami ingin menjadi orang besar.”

Jaghana tersenyum. “Itu kamu sendiri, Mada.

“Bagaimana dengan kamu, Madana? Senggek, Genter, Kwowogen? Apakah kalian merasa terwakili oleh Mada?” Keempat pemuda yang berada setengah langkah di belakang Mada saling pandang. “Katakan ya atau tidak,” bentak Mada mendadak.

Keempatnya mengangguk. “Besar sebagai apa, Mada?” “Sebagai orang.”

“Kalau besar sebagai orang, apanya yang besar?” “Tangan. Jotosan.”

“Baik, baik.

“Saya akan mengajari kalian sebisa saya.”

Wilanda masih sedikit bertanya-tanya dalam hati, akan tetapi Jaghana benar-benar melatih.

Memberi petunjuk cara berlatih pernapasan, dua-tiga jurus, saat itu juga.

Kelimanya mengikuti gerakan-gerakan dengan cepat. Senggek dan Genter menunjukkan bisa menguasai gerakan dengan gampang.

Juga ketika Jaghana mulai memperlihatkan beberapa gerakan pukulan. “Cukup?

“Kami berdua masih akan melanjutkan perjalanan, Mada.”

“Bagaimana mungkin kami bisa menjadi jago silat kalau hanya dua atau tiga jurus saja?” “Bisa saja, asal dilatih terus.”

“Kenapa Bapa tidak melatih terus?”

“Ada yang lebih mendesak yang harus saya lakukan, Mada.

“Masih banyak yang sakit, yang gelisah. Ataukah kalian ingin saya terus bersama di sini, dan melupakan yang lain?”

Mada mengangguk.

“Terima kasih, Bapa Truwilun. “Silakan berangkat.”

Jaghana meneruskan perjalanan hingga ke desa lain. Meneruskan apa yang sudah dilakukan.

Mengobati, mengurut, menasihati, dan memberikan pertolongan yang lain.

Ketika itulah Mada kembali muncul di depannya. “Bapa Truwilun, satu jurus berikutnya.

“Saya tak mau mengganggu Bapa terus-menerus, akan tetapi di saat senggang ini, apa salahnya mengajari lagi?”

Diam-diam Jaghana mengagumi tekad kelima pemuda tersebut. Karena mereka meneruskan perjalanan dengan cepat untuk mengejar dirinya.

Jaghana lebih kagum lagi melihat bahwa kelimanya sudah bisa memainkan jurus-jurus yang diajarkan. Agaknya selama ini kelimanya berlatih sangat keras.

Bahkan boleh disebut kelewat keras, karena kemudian Jaghana menemukan bekas-bekas jotosan hampir di sekujur tubuh kelima pemuda tersebut. Berarti mereka berlima telah berlatih keras.

Jaghana menurunkan jurus-jurus dasar yang berikutnya. Yang lebih ditekankan adalah cara melatih pernapasan. Murni seperti yang diperoleh dari Kitab Bumi.

Sepanjang malam hingga fajar.

Esoknya Jaghana meneruskan perjalanan.

Sempat terusik ketika Wilanda mengatakan bahwa kelima pemuda pasti akan menyusul lagi. “Dugaan Paman tepat.

“Mereka kelihatannya sangat besar keinginannya.” “Siapa mereka ini?

“Dilihat dari usianya, sudah terlambat untuk mempelajari ilmu silat. Dasar-dasar yang mereka miliki masih kosong, kecuali Senggek yang agaknya pernah mengikuti ajaran suatu perguruan kecil.”

“Mereka semua ini bagian dari yang ketularan ajaran Kitab Bumi yang pernah disebarkan. “Mereka semua ini bagian dari perjalanan kita.” Jaghana tak bisa menyembunyikan bahwa batinnya seperti mendengar kisikan lembut. Bahwa kelima pemuda itu seperti menyimpan sesuatu yang bisa menemukan jalan keluar di belakang hari.

Baru dalam tiga perjalanan berikutnya, setelah kelimanya selalu bisa mengejar, Jaghana mendengar lebih jelas. Bahwa kelimanya anak-cucu petani serta pencari ikan di Kali Brantas. Kelimanya kini tak mempunyai perahu dan tanah lagi, dan ingin menjadi senopati yang dikirim ke tanah seberang.

“Kami mendengar cerita bahwa senopati yang dikirim ke seberang menjadi gagah dan sakti.

Raja pasti akan menunjuk kami, karena kini tak ada yang mau dikirim.”

Satu Jalan Utama

WILANDA diam-diam memperhatikan, bahwa dari kelima pemuda yang selalu mengikuti jejak terlihat jelas adanya satu tekad. Kalau salah satu dari kelimanya memutuskan atau mengatakan sesuatu, keempat yang lainnya mengikuti.

Kebetulan beberapa kali Mada yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya.

Ketika hal ini disampaikan kepada Jaghana, jawabannya adalah anggukan yang dalam. “Mereka berlima tidak terlalu kosong.

“Bahkan boleh dikatakan telah mempunyai sumber sikap. Lebih dari itu semua, dari kelimanya terlihat jelas adanya satu jalan utama. Tak ada pilihan lain, kalau salah seorang sudah memutuskan sesuatu.

“Ketika Mada mengatakan ingin menjadi senopati, semuanya mengiya dan menerima dengan tulus. Juga ketika sebelumnya Mada mengatakan ingin menjadi ksatria gagah dan terkenal.”

“Satu jalan utama,” ulang Wilanda dengan suara hati-hati. “Menunjukkan mereka bisa maju dengan cepat. Kaki mereka berpijak ke bumi dengan dalam. Tak perlu ada keraguan sedikit pun dalam melakukan sesuatu.

“Mereka disuruh berlatih, dan terus berlatih tanpa kenal henti. Dengan memilih satu jalan utama, pemusatan pikiran dan kekuatan menjadi satu, sehingga tak ada cabang jalan yang lain.”

“Ada benarnya, Paman Wilanda. “Ada untungnya.”

“Tetapi juga ada bahaya sikap semacam itu, Paman Jaghana.” “Selalu begitu….”

“Saya mungkin keliru besar. Akan tetapi kalau sikap kelimanya menunjukkan kecenderungan itu, kenapa Paman tidak memberikan ilmu dari Kidungan Paminggir?”

Kalimat Wilanda menyentuh hati Jaghana.

Karena apa yang dikatakan Wilanda sebelumnya telah tergema dalam diri Jaghana. Bersitan itu cukup menggelisahkan hati Jaghana-sesuatu yang justru tak akan terpikirkan oleh mereka yang menempuh “satu jalan utama”.