-->

Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 15

Jilid 15

“Sekian ratus wanita bermimpi kusanding. Sekian puluh berdoa agar bisa kujadikan garwa prameswari dalem. Menjadi permaisuri yang utama. Tetapi kamu justru menolak.”

“Hamba tidak menolak….” “Tapi kamu tidak suka….”

“Hamba bersyukur, hamba bersuka…” “Tidak juga. “

“Kamu merasa apa yang kuambil sebagai putusan juga berlebihan. Atau memang begitu?

Atau kamu terpengaruh kisah Upasara?

“Aku tahu kisahnya menjadi dongengan di antara rakyat. Pada malam yang baik, kisah kepahlawanannya ketika menghancurkan pasukan Tartar, kejagoannya dalam pertarungan di Trowulan, dan kisah asmaranya makin menjadi-jadi. Kini akan lebih abadi lagi karena kematiannya.

“Praba, dalam pandanganku, Upasara bukan ksatria dalam asmara, meskipun ia bisa digolongkan pahlawan.

“Kalau itu yang dikehendaki biar saja. Tetapi aku tak ingin menjalani nasib seperti itu. Aku juga tak ingin kamu menjalani hidup seperti itu, Praba….”

“Sabda Sinuwun berlaku sekarang dan selamanya….” Raja berjalan menuju satu sisi tembok.

“Praba, kamu tahu apa yang ada di balik dinding ini?

“Kebun yang indah, yang dibangun Ibu Alit untuk melepaskan hari-harinya kala menunggu Baginda. Di situ terkubur Upasara.

“Apakah itu kemenangan bagi Ibu Alit?

“Aku tak tahu pasti. Apalagi sekarang Ibu Alit harus mengikuti Baginda ke Simping.

“Kamu tahu di balik dinding sebelah sana….” Raja menunjuk ke dinding yang lain. “Di sana ada rumah yang bagus, yang ditata sangat elok Di sana ada seorang pangeran, seusia denganku, tampan, gagah, berjiwa ksatria. Aku mengurung Pangeran Anom di sana. Saat ini menunggu keputusanku, apakah esok atau lusa harus dihukum mati karena menentang perintahku untuk berangkat ke tanah seberang. Karena aku mengenal sejak kecil, aku menemuinya. Aku menanyakan kenapa ia melawanku, dan apa permintaan terakhir sebelum menjalani hukuman pati.

“Yang pertama ia menjawab, bahwa ia tak ingin Keraton hancur oleh perebutan kekuasaan yang tak menentu.

“Yang kedua ia menjawab, mohon perlindungan untuk dua orang. Yaitu Gendhuk Tri dan Maha Singanada. Apa alasannya? Pertama, ia kasmaran, dengan Gendhuk Tri, sehingga wajar bila meminta keselamatan bagi gadis itu. Yang kedua, karena Gendhuk Tri telah menetapkan pasangan hatinya, Maha Singanada.

“Aku tertawa dalam hati.

“Tetapi aku tak menertawakan. Aku tak mau menyakiti dengan menertawakan ketololannya. “Dan ketika aku menyanggupi, ia kelihatan bahagia.

“Mati dengan tenang, nantinya.

“Aneh sekali. Kukira tadinya ia akan minta agar kedua orangtuanya juga diampuni. Atau sesuatu yang lain. Ternyata minta perlindungan bagi kekasihnya, serta kekasih dari kekasihnya.

“Aku tak bisa menertawakan.

“Karena mungkin aku tak akan menemukan kebahagiaan seperti dirinya. Karena keinginanku untuk membahagiakanmu tak terkabul….”

Praba memeluk kaki Raja untuk kesekian kalinya. Air matanya menetes. Membasahi.

“Duh Sinuwun, hamba… hamba yang hina ini tak menolak… Hamba hanya mengatakan tanpa semua kehormatan itu, hamba tetap akan dan hanya mendampingi, selama masih diperkenankan….”

“Praba…

“Aku mengenal asmara, hari pertama aku merasa diriku lelaki. Selama itu tak pernah berhenti mencari dan mencari. Rasanya semua gerakan asmara pernah kujalani. Rasanya semua bentuk wanita yang pernah ada, sudah kujajal.

“Hanya padamu kurasakan semua kenikmatan duniawi dan surgawi ini…” Raja menghela napas.

“Aku tak peduli kata jagat ini kalau kamu kuangkat sebagai permaisuri. “Selama kamu mau….”

Praba tenggelam dalam isakan. Tubuhnya gemetar.

Hingga ke ujung rambutnya yang tergerai karena sanggulnya terlepas. Raja mengangkat tubuh Praba. Menuntun ke dalam.

“Apa yang kamu rasakan, Praba?” “Bahagia, Sinuwun… Bahagia….”

“Sekarang katakan sesuai dengan suara hati yang sesungguhnya.

“Apa yang harus kulakukan pada Ibu? Mengirim ke Simping? Atau membiarkannya berada di Keraton?”

“Di Simping, suara hati yang memenangkan hati hamba secara pribadi. Tetapi Sinuwun lebih

arif.

“Sebelum tetap di Simping atau di Keraton, apakah hamba diperkenankan menghadap

Permaisuri?”

Kali ini Raja menghela napas. Pegangannya terlepas.

Kalimatnya terdengar keras.

“Ingsun tak mengizinkanmu menemui Ibu.” Mendadak Raja berbalik.

Meninggalkan Praba yang bersila menyembah. Langkah Raja terasa tergesa.

Begitu di luar sendirian, para prajurit kawal segera mengawal, ada yang memayungi, ada yang menyembah, ada yang melihat kiri-kanan.

Raja terus melangkah kembali ke dalam.

Tujuh Senopati Utama

PADA saat yang sama di tempat yang berbeda, Senopati Kuti dan Senopati Semi hampir bersamaan masuk ke Keraton. Kedua senopati yang gagal menunggu khidmat di depan pintu dalam.

Tanpa suara.

Permaisuri hanya muncul sekilas.

“Atas nama Raja, kalian para senopati utama yang berjumlah tujuh mulai sekarang ini juga tidak boleh mengenakan dan atau memakai senjata.

“Hanya itu yang perlu kalian ketahui.” Permaisuri segera meninggalkan ruangan. Pintu kembali tertutup.

Senopati Semi menyembah bersamaan dengan Senopati Kuti. Keduanya mengambil keris dari pinggang. Dengan khidmat meletakkan di lantai.

Setelah menyembah kembali, keduanya mundur dengan jalan berjongkok. Tanpa suara.

Hanya setelah di halaman bagian luar, Senopati Kuti berkata lirih, “Kakang Senopati yang memberitahukan hal ini kepada yang lain.” “Apa yang Kakang katakan akan saya laksanakan.”

“Kita akan bertemu kalau bulan masih bersinar sempurna.” Senopati Semi mengangguk perlahan.

Saat itu juga Senopati Kuti segera mencari kuda yang bisa dipakai secepatnya. Tanpa menghiraukan persiapan, segera mengendarai ke arah luar.

Apa yang dipikirkan hanya satu. Keselamatan Baginda.

Begitu banyak tanda tanya dalam hatinya, akan tetapi keselamatan Baginda tetap menjadi perhatian utama. Senopati Kuti terus mengempos kudanya hingga menjelang matahari tenggelam, kudanya menjadi kelelahan.

Ketika sedang mencari cara untuk melanjutkan perjalanan, mendadak terdengar derap kaki kuda mendatangi.

“Kamu menyusulku, Tantra?”

Suaranya menggelegar menandakan keperkasaannya. “Majulah kemari, siapa pun kisanak yang kamu bawa…”

Dari arah bayangan pohon, Senopati Tantra muncul sambil membawa dua ekor kuda. “Maaf Senopati… Saya memberanikan menyusul, karena…”

“Kukira kamu membawa teman.”

Senopati Tantra menoleh ke arah belakang. Hatinya menjadi ciut seketika. Bukan karena takut, melainkan tidak menyadari apakah ada yang mengikuti tidak. Karena sangat terburu-buru, sehingga kurang waspada.

Sebaliknya Senopati Kuti mengernyitkan dahinya. Rasanya ia mendengar tapak kuda yang lain. Adakah seseorang yang menguntit secara diam-diam? Adakah karena Tantra membawa lebih dari seekor kuda?

“Silakan, Senopati….”

“Terima kasih.” Senopati Kuti langsung meloncat ke punggung kuda.

“Tantra sebaiknya kamu berjaga di Keraton. Biarkan aku sendiri yang berangkat ke Simping.

Bila bulan purnama nanti…” “Mohon maaf sebesarnya.

“Saya ditugaskan menemani Senopati Kuti, karena terbetik kabar bahwa ada rombongan yang mencegat perjalanan Baginda menuju Simping….”

“Dari mana kabar itu?” “Dari Senopati Tanca….

“Beliau menuju Simping, akan tetapi ternyata rombongan Baginda belum sampai ke tempat itu. “Sampai sekarang masih dilacak, karena tidak ketahuan di perjalanan yang mana.”

“Siapa lagi yang berbuat begitu kurang ajar?”

Senopati Kuti mengepit perut kuda dan seakan terbang. Senopati Tantra mengikuti dari belakang. Keduanya terus memacu kudanya.

Melewati pedusunan, sawah, pedusunan, jalan menurun, mengikuti aliran sungai. Saat itu rombongan Senopati Pangsa muncul dari seberang sungai.

“Saya dari Simping. Baginda belum sampai di tempat. Hilang dalam perjalanan. “Yang kutemukan di jalan adalah prajurit Halayudha….”

“Apa pendapatmu, Kakang?”

“Rombongan Baginda yang berjumlah sekian banyak tiba-tiba lenyap seperti ditelan bumi.

Menghilang tanpa jejak. Ada kekuatan lain yang mendadak mengacaukan semua rencana.

“Mengingat bahwa kekuasaan di Keraton sendiri compang-camping, agak sulit memperhitungkan kelompok mana yang membelokkan rombongan Baginda.”

Senopati Kuti bersungut.

“Kita lahir dan besar dalam pertempuran.

“Udara yang kita isap setiap harinya adalah udara medan laga. Tak nanti mereka bisa lolos.

Kita hafal setiap lekukan tanah di sini. “Hanya memang sangat mengherankan.

“Saat ini Raja sedang bercengkerama dan tak meninggalkan Keraton. Kelompok yang dipimpin Manmathaba sudah lama tak bergerak sejak pemimpinnya rontok.

“Rasanya terlalu gegabah kalau Halayudha yang melakukan ini.” “Manusia yang satu itu sulit dipercaya….”

“Tetapi pasti tak akan pernah berani bermain-main dengan Baginda. “Kakang Pangsa, ada kabar apa dari Lumajang?”

“Sama aneh dan sama ganjilnya.

“Mahapatih ternyata belum sampai ke Lumajang.” Kali ini Senopati Kuti mengelus rambutnya. “Kakang Pangsa melihat sendiri?”

“Ya. Rombongannya memang ada di sana, akan tetapi sejak semula Mahapatih Nambi tak terlihat.”

“Jangan-jangan Mahapatih dan Baginda bergabung?” “Mungkin sekali.

“Hanya saja untuk apa?”

“Apa pendapat Kakang Pangsa? Apa yang akan kita lakukan? Terus menuju ke Simping?” “Terserah Kakang Kuti.”

Senopati Kuti mendongak.

“Tantra, kamu melewati sebelah utara. Kakang Pangsa menelusuri jalan balik hingga ke Keraton. Aku sendiri akan memutar melewati Perguruan Awan.”

Senopati Pangsa mengangguk.

“Apa yang terjadi di Perguruan Awan?”

“Aku belum mengerti, Kakang. Hanya firasatku mengatakan, setiap kali ada sesuatu yang ganjil, hutan itu bisa memberi jawaban. Tempat itu sangat memungkinkan untuk persembunyian sekian banyak orang tanpa mengganggu pohon yang tumbuh. Kalau selama ini tak ada kabar beritanya, itu tak berarti di tempat itu tak ada kegiatan.”

Senopati Kuti mengangguk, lalu dengan sebat memacu kudanya. Ke arah kiri dari keinginan semula. Kuda yang masih segar dipacu kembali dengan keras. Hingga penumpang dan yang ditumpangi seakan mandi keringat.

Kadang Senopati Kuti masuk ke pedusunan, berhenti sebentar dan menanyakan kalau-kalau melihat adanya satu rombongan. Jawabannya ternyata gelengan.

Hanya sewaktu melewati pedusunan yang lain, Senopati Kuti mendengar adanya pembelian besar-besaran di pasar. Menurut penuturan, semua barang yang ada di pasar diborong, dan pembelinya seakan tak mengerti bagaimana cara menukar barang.

Senopati Kuti segera menyemplak kudanya ke arah yang dilalui para pembeli. Kali ini lebih berhati-hati.

Ketika mulai menemukan bekas-bekas kaki kuda yang agaknya sarat dengan muatan, hatinya mengatakan agar ia meneruskan perjalanan tanpa kuda.

Seperti biasanya, begitu mendapatkan pikiran tertentu, segera dilaksanakan. Kudanya dilepas begitu saja.

Langsung meneruskan perjalanan dengan jalan kaki.

Benar saja. Belum separuh hari, jejak-jejak yang diikuti makin lama makin jelas. Banyak tetumbuhan yang dipapras di sana-sini, bahkan ada tempat yang dipakai untuk beristirahat.

Berarti apa yang diburu tak jauh lagi.

Gua Kencana

APA yang disaksikan Senopati Kuti sebenarnya bisa dilihat tanpa perlu bersembunyi. Karena begitu lepas dari pepohonan, jalan yang dilalui cukup lebar. Cukup untuk berpapasan dua kereta yang lewat bersamaan.

Ini agak mengherankan.

Biasanya jalan utama dari desa ke desa dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dikenali. Akan tetapi yang sekarang ini ternyata agak tersembunyi. Lebih membuatnya bertanya-tanya dalam hati karena jalanan ini masih dalam tahap penyelesaian. Di sana-sini masih ada perkakas, masih ada bongkahan batu besar yang belum disingkirkan.

Sekitar tiga ratus tombak, Senopati Kuti bertemu rombongan yang mengangkut barang- barang. Ada tujuh gerobak ditarik sapi, beriringan. Tampaknya ketujuh gerobak itu penuh muatan, sehingga jalannya perlahan sekali. Di salah satu jalanan, malah terhenti karena roda kayu menghantam batu keras yang masih bertonjolan.

Senopati Kuti segera turun tangan. Dengan sekali sentak, kedua tangannya memutar roda dengan keras. Sapi-sapi di depan bersuara, sebelum akhirnya melangkah dengan tubuh bergoyang.

“Menghaturkan sembah dan terima kasih….” Senopati Kuti mengangguk pendek.

“Kami mempunyai setetes air. Jika Paduka berkenan….”

Dari suaranya, Senopati Kuti mengetahui bahwa mereka umumnya penduduk biasa. Juga dari caranya menyebut paduka, yang tidak membedakan sebutan untuk senopati atau perwira Keraton tertentu, agaknya mereka ini tak mempunyai pengetahuan mengenai tata Keraton. 

“Aku yang seharusnya berterima kasih. Saat ini aku belum haus.

“Kisanak, kalau aku boleh tahu, ke mana kalian akan pergi, dan apa saja bawaan kalian ini?” Lelaki tua yang agaknya menjadi pemimpin rombongan mengangguk ramah.

Seperti Paduka, kami menuju ke Gua Kencana. Apa yang kami bawa hanyalah keperluan sehari-hari. Ada ayam, ada kambing, ada burung, ada bumbu-bumbu, serta gula….”

Rasa ingin tahu Senopati jadi bertambah.

Selama ini dirinya sangat mengenai nama-nama tempat yang menjadi wilayah Keraton. Akan tetapi rasanya baru sekarang ini mendengar nama Gua Kencana. Nama itu sendiri termasuk di luar kebiasaan. Gua Kencana, berarti gua emas, Dan agak aneh jika ada nama tempat di desa kecil begitu bagus. Nama-nama yang berbau emas, permata, atau mutiara hanyalah nama-nama yang dipakai di Keraton. Mana mungkin tempat kecil begini berani dinamai kencana?

Hal kedua yang membuat bertanya-tanya ialah bahwa penduduk yang dijumpai sangat lugu, sangat polos. Sehingga tak mungkin rasanya berdusta. Dan mengatakan kebutuhan sehari-hari, pastilah itu yang sebenarnya. Akan tetapi jika kebutuhan sehari-hari saja begini banyak, apa yang sesungguhnya tengah terjadi?

“Masih berapa lama menuju Gua Kencana?”

“Sebelum matahari tenggelam. Kalau Paduka ingin berangkat lebih dulu, kami hanya bisa mengantarkan dengan doa.

“Silakan….”

Senopati Kuti mengangguk. Ia mempercepat jalannya, kemudian melesat setelah merasa tak diperhatikan. Ia tak ingin mengejutkan dengan ilmu meringankan tubuh, mengingat dirinya belum mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Kali ini di depan juga ada rombongan lain. Bahkan suasananya lebih meriah, karena terdengar bunyi gamelan. Sementara iringan yang ada jumlahnya mencapai puluhan.

Beberapa di antaranya malah menenggak tuak.

Seseorang tampak terpengaruh minuman keras, dan mulai bersenandung.

Begini indahnya hidup tidur memeluk bidadari bangun memeluk bidadari

biar saja ada apa di mana asal Kedung Dawa masih ada hidup di surga.

Ada sesuatu yang melecehkan dalam kidungan itu. Yang menyebutkan tak peduli apa saja yang terjadi-di mana saja-asal tidak terjadi di Kedung Dawa, yang disamakan dengan surga. Senopati Kuti menahan diri untuk tidak menanyakan sesuatu. Hatinya mencatat sendiri bahwa wilayah ini bernama Kedung Dawa, nama yang pantas untuk sebuah desa. Kedung berarti bagian sungai yang dalam, sedang dawa berarti panjang atau luas. Dinamai begitu, tentunya daerah ini dekat dengan aliran sungai. Bisa jadi ini simpangan dari Kali Brantas.

Kalau benar begitu, dirinya agak tersesat ke arah lebih ke timur dari yang direncanakan. Desa Simping lebih ke arah selatan dari Keraton Senopati Kuti bersiap membalik mencari jalan lain, ketika mendengar suara-suara yang seakan ditujukan kepada dirinya.

“Tetamu sudah berdatangan. Kalau Baginda saja datang lebih dini, bukankah ini pesta besar?

Bukankah yang berjalan tergesa itu penggede Keraton juga?

“Mana saya tahu,” jawab yang diajak bicara. “Siapa saja bisa menjadi penggede, menjadi penguasa. Di Kedung Dawa segala apa bisa terjadi.”

“Kenapa Dewa memilih Kedung Dawa untuk menyimpan emas?” “Apa pedulimu?

“Dewa itu seperti manusia juga. Mereka berperang, berebutan, dan melarikan diri. Salah satu Dewa itu kesasar di desa ini. Masuk ke Gua Kencana. Hartanya disimpan di sana. Menurut rencana akan membuat barisan pohon kelapa dari emas.

“Jumlahnya seribu pohon.”

“Setinggi pohon kelapa yang sesungguhnya?” “Apa setinggi kamu!”

“Kalau satu Dewa saja bisa melarikan begitu banyak emas, bagaimana kalau sepuluh Dewa melarikan diri ya?”

Pembicaraan di antara minuman keras memang sering melenceng jauh. Akan tetapi Senopati Kuti merasa bahwa yang dibicarakan bukan sepenuhnya omong kosong. Ada sesuatu yang bergerak yang membuat desa Kedung Dawa menjadi pusat kegiatan yang mencengangkan. Mudah diduga bukan harta karun yang dibawa Dewa, akan tetapi ada kaitannya dengan emas yang menyebabkan ada sebutan Gua Kencana.

“Sebenarnya kita ini masih lebih baik dari penggede” “Sudah tentu.

“Kita begini-begini masih melakukan sesuatu. Masih ada yang kita sumbangkan. Sedangkan para penggede itu hanya datang, melihat, dan pulangnya membawa harta.”

“Hei, jangan omong sembarangan. Kalau penggede itu mendengar, kamu tak bisa bertemu anak dan istrimu.”

“Untuk apa bertemu istri di rumah, kalau di sini saja banyak pesinden ayu?” Jawaban yang terdengar disertai gelak tawa yang keras.

“Benar kalau dikatakan di sinilah sesungguhnya surga dunia itu. Aku sedang membayangkan makan paling enak, tidur bersama pesinden paling ayu, selama hidup sampai berdiri pun tak mampu lagi.”

Makin lama pembicaraan makin ngawur. Senopati Kuti mempercepat jalannya. Jalan yang dibuat agak tergesa ini ternyata cukup panjang.

Paling sedikit diperlukan ratusan orang dan memerlukan waktu beberapa bulan. Dari anehnya, selama ini Senopati Kuti tak pernah mendengar adanya rencana besar ini.

Ketika sampai di suatu lapangan yang luas, Senopati Kuti benar-benar makin heran. Karena di sana ada puluhan gerobak. Semuanya seperti tengah menurunkan muatan.

Benar-benar luar biasa.

Yang juga membuat lebih heran lagi ialah terlihatnya tanda payung kebesaran yang digunakan Baginda!

Apa benar Baginda dan rombongannya juga nyasar kemari?

Tidak, ini pasti tidak nyasar. Ada kesengajaan menuju Kedung Dawa. Kalau benar Baginda ada di sini…

Jidat senopati Kuti berkerut.

Kini sepenuhnya yakin bahwa rombongan Baginda berada di Kedung Dawa. Karena beberapa prajurit kawal yang mengenal segera menuju ke arahnya dan bersila di depannya.

“Bagaimana keadaan Baginda?”

“Semua dalam lindungan Dewa, sang Senopati….” “Sejak kapan kalian berada di sini?” “Sepekan lalu, Baginda memerintahkan bermalam di sini.” Rasa lega mengguyur Senopati Kuti.

Sekarang segalanya yang dikuatirkan tak ada sisanya lagi. Baginda dan rombongannya dalam keadaan selamat. Bahkan sudah bermalam selama sepekan. Sungguh tidak imbang dengan kecemasan para senopati yang mencari siang dan malam.

Tapi apa sesungguhnya yang terjadi di desa ini?

Sehingga Baginda yang sedang menuju Simping pun berputar arah?

“Prajurit, sampaikan kepada atasanmu, aku Senopati Kuti ingin sowan kepada Baginda jika diperkenankan.”

“Maaf, Senopati… Baginda sedang berada dalam Gua Kencana….”

Candi Senopaten Pamungkas

“APA itu artinya?”

“Baginda sedang berkenan meninjau Gua Kencana, dan tak ada yang bisa dihubungi saat ini.” “Jangan-jangan bahaya…,” desis Senopati Kuti yang mendadak keringat dinginnya mengucur.

Kalau sampai Baginda pergi sendirian, tanpa pengawal itu berarti mengundang bahaya besar. Darahnya mendidih.

“Di mana gua itu?”

“Di balik rumah, di lembah….”

Tanpa menunggu penjelasan, Senopati Kuti segera bergegas ke arah yang ditunjuk. Di seberang tanah lapang yang mirip alun-alun terdapat bangunan rumah yang luar biasa bagus dan besar. Bahkan kalau bangunan itu berada dalam Keraton, tetap terlihat mewah. Apalagi gerbangnya diukir dan dijaga ketat.

Tapi Senopati Kuti tak mempunyai perhatian sedikit pun. Tujuannya mengejar Baginda ke Gua Kencana. Maka langkahnya diteruskan lewat samping bangunan.

Belum sepuluh tombak sudah tampak penjagaan yang berlapis-lapis. Senopati Kuti tak bisa menghindar karena jalanan setapak yang juga baru dibuat ini tak memungkinkan untuk menyelinap. Kalau ia nekat menerobos, berarti mengundang keributan.

“Selamat datang, Senopati…. Boleh kami tahu siapa nama dan apa perlunya datang kemari?” Senopati Kuti mengibaskan tangannya.

Pandangan matanya tajam menatap penjaga yang berusaha memperlihatkan sikap hormat.

“Aku Senopati Kuti, satu di antara Tujuh Senopati Utama Keraton Majapahit, seorang dharmaputra, ingin menghadap Baginda….”

“Nama besar Senopati Kuti sudah terdengar sampai ke pelosok jagat. Maafkan kami yang buta dan tidak mengenali. Saya Prajurit Sariq menyampaikan hormat.

“Hanya saja kami tak bisa memberikan jalan kepada Senopati. Kami silakan Senopati menunggu di dalem utama….

“Rasa-rasanya aku mengenalmu. Apakah kamu senopati dari Turkana?” “Dulunya begitu….”

“Hmmmmm… Tak kusangka, kamu menjadi pengabdi di sini.

“Senopati Sariq, karena kamu sudah mengerti tata Keraton, karena kamu sudah mengenal siapa aku, bukakan jalan. Rasanya tak bisa aku membiarkan Baginda berada dalam gua tanpa pengawalan.

Senopati Sariq membungkuk hormat. Dua orang yang berada di belakangnya bersiap. “Tugas saya di sini menjaga jalan ini, Senopati.

“Saya pun tak rela junjungan saya lepas tanpa pengawalan. Akan tetapi ini perintah.” “Apa Ratu Ayu juga berada di dalam?

“Begitulah adanya.” “Sejak kapan datang?” “Sebelum Senopati….”

“Bagaimana mungkin kalian bergabung di sini?” “Panjang ceritanya….” “Katakan sekarang.”

“Tugas saya sekarang menjaga jalan ini.”

Terlihat jelas bahwa meskipun sangat menghormat, Senopati Sariq bersikap keras, lugas.

Siap menghadapi ancaman apa pun, untuk mempertahankan tugas. “Apa yang ingin Paman ketahui?”

Senopati Kuti hafal dengan nada suara. Ketika pandangannya berpaling ke arah pembicara, matanya berkejap.

Jakunnya bergerak.

“Gendhuk Tri, kamu juga ada di sini?”

23

By admin • Jul 28th, 2008 • Category: 1. Silat Jawa, AA - Senopati Pamungkas II

Gendhuk Tri menghela napas duka. Sesak. Pandangannya tidak berubah.

Bagi Senopati Kuti, Gendhuk Tri bukan orang lain. Semasa masih memakai kemben, sudah berada di medan laga menggempur pasukan Jayakatwang, dan terakhir malah terlibat pertarungan mati-hidup dengan pasukan Tartar.

Sejak itu memang jarang bisa bertemu dan berbicara karena kesibukan dan urusan yang berbeda.

“Paman Kuti tak usah kuatir. Baginda dalam keadaan aman. Tak akan ada musuh yang bisa menyusup masuk. Kecuali kalau di dalam terpeleset atau masuk ke perapian.”

Senopati Kuti mengangguk. Meskipun kalimat Gendhuk Tri sembrono dan kurang ajar, akan tetapi rasa kuatirnya punah mendengar jaminan keselamatan yang diucapkan.

“Akan lebih baik Paman menunggu di sini. Sehingga kalau ada apa-apa, bisa berbuat sesuatu.”

Senopati Kuti mendekati Gendhuk Tri. “Katakan apa yang terjadi di sini.

“Aku bisa edan….”

“Paman Kuti, sebelum saya mengatakan, Paman harus menjawab pertanyaan saya lebih dahulu. “Selama ini Paman berada di Keraton. Apakah betul Kakang Upasara tewas terbunuh? Senopati Kuti mengejapkan matanya.

Senopati Sariq menunggu. Tubuhnya seolah berubah menjadi kuning pertanda menyimpan perasaan yang bergolak.

“Aku di Keraton, akan tetapi sejak lama aku tak mempunyai tangan dan kaki. Hanya melihat dan mendengar. Aku ibarat manusia lumpuh tak ada gunanya.

“Apa yang bisa kulakukan, kalau aku hanya senopati yang tidak memegang kekuasaan memerintah?”

“Paman belum menjawab pertanyaan saya. “Apa benar Kakang Upasara mangkat?” Senopati Kuti mengangguk.

“Upasara ksatria sejati. Lelananging jagat kang sejati. Di jagat ini hanya ada satu orang ksatria yang begitu mulia, itulah Upasara Wulung. Yang tidak tertarik pangkat dan derajat. Yang sakti, yang mulia hatinya.

“Bagaimanapun, Upasara gugur sebagai pahlawan. Sebagai Senopati Utama, lebih dari Tujuh Senopati Utama ini!

“Dewa menghendaki begitu.”

Sesaat Gendhuk Tri mengeluarkan suara tertahan. “Aku akan membalaskan sakit hati, dendam ini, kepada Halayudha, segera setelah urusan ini selesai.”

“Paman Kuti, apakah benar Kakang Upasara dipoteng-poteng jasadnya?”

Tubuh Gendhuk Tri gemetar. Kentara sekali masih terguncang batinnya. Ketika mengucapkan kata dipoteng-poteng-dipotong-potong, getaran itu masih menyayat.

Tubuh Senopati Kuti juga gemetar. Tak kuasa mengangguk.

Hanya bisa menunduk.

Selama ini ia tak percaya bahwa seorang senopati, seorang ksatria seperti Upasara Wulung harus menerima hukum poteng. Tubuhnya dipotong-potong, dipisahkan kedua kaki, kedua tangan, kepalanya…

“Lupakan yang…”

“Tak akan pernah kulupakan, Paman.

“Sekarang Paman jawab pertanyaan ini. Apa benar itu semua perintah Gayatri?”

416

Cara menyebut Gayatri, benar-benar ditandai dengan kebencian yang bergetah. Biar bagaimanapun, Senopati Kuti tak bisa menerima junjungannya dijangkar, disebut nama kecilnya begitu saja. Tak sembarangan lidah boleh menyebutkan nama Permaisuri Rajapatni.

Namun agak sulit Senopati Kuti melampiaskan kemarahannya. Ia menyadari bahwa Upasara adalah pujaan bagi masyarakat Majapahit secara keseluruhan. Sejak pertarungan di Kediri, keunggulannya atas pasukan Tartar secara gemilang dalam pertarungan yang disaksikan dengan mata telanjang, sejak itu nama Upasara menjadi nama harum yang semakin melegenda. Di Kalangan para ksatria, nama Upasara memuncak tatkala pertarungan di Trowulan berakhir.

Kabar kematiannya sudah mengguncang seluruh masyarakat. Apalagi mengenai hukum poteng yang menyebar luas sebagai pelaksanaan perintah dari Permaisuri Rajapatni.

“Sesungguhnya aku tak mengetahui pasti dan mana asal mula perintah “Tapi hukum potong itu benar?”

“Ya….”

“Paman Kuti, dengar baik-baik.

“Kita sama-sama di sini. Menunggu Baginda, dengan keinginan dan tujuan yang berbeda.

Paman berniat melindungi Baginda, saya berniat bertanya.

“Saya ingin mengetahui, apa yang ada di hati Baginda yang membiarkan atau malah merestui hukum poteng bagi Kakang Upasara, sementara di tempat ini Baginda ingin meresmikan Candi Senopaten Pamungkas.

“Saya tak tahu siapa yang waras dan siapa yang berubah ingatan.” “Jaga mulutmu baik-baik.”

“Saya ulangi, saya tak tahu siapa yang waras. Kalau benar Baginda membiarkan Kakang Upasara dihukum pisah tubuh, dan sekarang meresmikan candi untuk mengenang kedigdayaannya, apa-apaan ini semua?

“Serigala yang paling busuk pun tak memakai cara seperti ini.”

Kedua tangan Senopati Kuti terangkat. ‘ Senopati Sariq maju selangkah. Gendhuk Tri berdiri dengan gagah.

“Kalau Paman tidak terima, majulah. Saya siap menghadapi.”

Lamaran Sodagar Galgendu

TANTANGAN main keras.

“Ada waktunya tersendiri.”

“Baik, sampai kapan pun saya siap menghadapi orang yang membela manusia berhati serigala.”

“Tidak sekasar itu omongan gadis yang waras.

“Apa pun yang kamu katakan, sebagai senopati Keraton saya akan membela Baginda. “Masalahnya belum jelas benar, apakah itu betul-betul perintah Permaisuri Rajapatni atau hanya ulah Halayudha….

“Dengar baik-baik, Gendhuk Tri.

“Aku senopati, aku prajurit. Bayangan tubuh Baginda yang dipelototi pun, akan kucari sebabnya, akan kucungkil matanya. Salah atau tidak salah, itulah tugasku.

“Dengar dulu baik-baik, agar mulutmu tak lancang.

“Dalam kekisruhan sekarang ini, agaknya perlu menenangkan hati. Selama ini Halayudha bisa terus-menerus malang-melintang dan mengatur segala apa yang terjadi di Keraton. Sejak semula, Halayudha mempunyai dendam kepada Upasara.

“Siapa yang melukai tangan kanan Upasara, sehingga tak bisa leluasa digerakkan? “Sehingga Upasara harus menggunakan tangan kirinya?

“Siapa yang meneruskan sabetan keris Senopati Agung Brahma, kalau bukan Halayudha?

Kenapa yang diarah persis pundak kiri? Agar seluruh kemampuan Upasara musnah. “Setelah tangan kanannya dilumpuhkan, kemudian tangan kirinya.

“Setelah ditawan, muncul kekuatiran bahwa Upasara Wulung bisa bangkit kembali. Hal yang bisa diterima kalau mengingat bahwa Upasara Wulung bahkan mampu mengembalikan tenaga dalamnya yang musnah. Satu-satunya jalan untuk memusnahkan secara total adalah memotong tangan dan kakinya.

“Bukankah ini lebih masuk akal dibandingkan permintaan atau perintah Permaisuri Rajapatni yang bijak dan mulia?

“Berpikirlah yang luas.”

“Tapi Paman mendengar sendiri kabar bahwa hukum poteng itu perintah Gayatri?”

“Dalam suasana seperti sekarang, kabar yang paling aneh memang sengaja disebarluaskan.” “Untuk Apa?”

“Jangan tanya padaku. Semua orang juga akan mengetahui untuk apa.” “Paman Kuti, saya minta maaf kalau saya berlaku lancang.

“Mari kita teruskan pembicaraan ini. Untuk apa Halayudha menyebar berita ini kalau kenyataannya tidak begitu?”

“Untuk mengadu.”

“Tak mungkin.” Gendhuk Tri menggeleng keras. “Paman, Halayudha adalah manusia busuk.

Paling busuk.

“Di seluruh jagat ini, Kakang Upasara hanya pernah mendendam pada satu orang. Namanya si busuk lahir-batin Halayudha….”

“Nah, jalan pikiran kamu mulai waras.” “Paman yang tidak waras.”

Kali ini Senopati Kuti benar-benar berkeringat karena gusar. Diikuti omongannya, akan tetapi setiap kali Gendhuk Tri justru mempermainkan.

“Paman yang tidak waras.

“Halayudha memang culas, hina, dan segala yang busuk. Tapi Halayudha tak akan sebodoh itu menyebarkan kabar bahwa Kakang Upasara dipotong-potong karena perintah Gayatri, kalau hal itu tidak benar.

“Karena akan sangat mudah dibantah. “Bukankah ini jalan pikiran yang waras?”

Diam-diam Senopati Kuti mengakui kebenaran omongan Gendhuk Tri. Halayudha pastilah tidak sebodoh itu. Menyiarkan kabar yang akan sangat mudah dibantah.

Kalau benar begitu…

Tubuh Senopati Kuti kini sepenuhnya mandi keringat. Desisan napasnya memburu. “Aku tak tahu.

“Barangkali kamu bisa menunggu….”

“Itu sebabnya saya berada di sini. Saya sengaja datang bersama Nyai Demang dan Ratu Ayu untuk mengetahui hal yang sebenarnya.”

“Dari mana kamu tahu Baginda berkenan mampir kemari?” Gendhuk Tri menyunggingkan bibirnya. Seakan meremehkan nama yang dibicarakan.

“Siapa yang berkenan? Baginda datang kemari karena Sodagar Galgendu. Sodagar Galgendu yang membuat Baginda terkesima dan ingin melihat Gua Kencana. Yang membuat Sodagar Galgendu melakukan itu karena ada saya, ada Nyai Demang, dan terutama karena ada Ratu Ayu….”

Mata Senopati Kuti berkejap-kejap.

Seakan kalimat sederhana Gendhuk Tri terlalu sulit diterima. Agak tidak masuk akal bahwa Baginda berkenan singgah ke suatu tempat, dalam perjalanan penting ke Simping, karena terkesima Gua Kencana. Yang ternyata dimiliki oleh seseorang yang disebut Sodagar Galgendu. Dan yang disebut Sodagar Galgendu ternyata diperintah oleh Gendhuk Tri, Nyai Demang, dan Ratu Ayu!

“Paman Kuti, saya tak mendengar apa-apa selain kabar kematian Kakang Upasara ketika berada di Keraton. Dalam kekecewaan yang besar, kami bertiga-saya, Nyai Demang, dan Ratu Ayu- berniat melanjutkan perjalanan sendiri-sendiri. Saat itulah kami mendengar berita bahwa cara Kakang Upasara menemui ajalnya sangat mengerikan.

“Kami berniat membuktikan sendiri dengan menanyai Gayatri. Tapi ternyata kemudian ia bersama Baginda. Atas kemauan baik Sodagar Galgendu, daripada susah-susah mengejar Baginda dan belum tentu mau menjawab, lebih baik di tempat ini.

“Galgendu mengirimkan utusan, dan rombongan Baginda membelok. Berada di sini. “Apa tidak hebat yang namanya Galgendu itu?”

Nada suara Gendhuk Tri sudah mulai kembali seperti biasanya. “Siapa itu Sodagar Galgendu?”

“Paman tidak tahu?” “Tidak.”

“Saya juga tidak.” Gendhuk Tri tertawa lebar. Disusul,

“Sampai sekarang saya juga tidak tahu siapa dia.

“Yang saya tahu orangnya gemuk, gede. Yang saya tahu sejak lama ia tergila-gila kepada Ratu Ayu. Ia mau melakukan ini semua, termasuk membuat Candi Senopaten Pamungkas, karena berharap bisa mendekati dan mendapatkan Ratu Ayu….

“Sariq, kamu tak usah malu. “Itu biasa.

“Belum tentu Ratu Ayu mau….” “Apa lagi hebatnya?”

“Tak perlu banyak. Satu saja kehebatannya cukup. Galgendu mempunyai gua emas, yang sanggup membuat seratus pohon kelapa sebesar aslinya. Semua dari emas.

“Nah, Baginda saja tergiur….”

Kembali tangan Senopati Kuti melayang. Senopati Sariq menangkis cepat. Dua benturan tangan mengeluarkan suara keras.

Pada kejap yang bersamaan, seluruh jalanan penuh dengan prajurit yang bersiaga. “Paman, Paman boleh merasa unggul.

“Tapi di tempat ini, terlalu banyak orang sakti yang mau bertarung karena mendapat emas. Kalau Paman lihat sekeliling, di lapangan terbuka semua manusia ada. Ksatria, prajurit, sodagar atau pedagang besar-kecil, pendeta, semua mau berada di sink

“Mau mendengarkan dan mengikuti perintah Galgendu yang mempunyai gua emas. “Nah kalau Paman masih mau adu tenaga, silakan.”

Senopati Kuti menggeleng. “Baik, kita tunggu persoalannya.”

“Itu yang sejak tadi dikatakan Senopati Sariq. Ada tempat untuk menunggu. Yang saya kira lebih bagus dari rumah senopaten. Seperti Paman, saya pun menunggu.

“Hanya saja saya menunggu di sini, karena lebih cepat mendengar dari Ratu Ayu….” “Siapa saja yang berada dalam Gua Kencana?” “Galgendu, karena ia yang punya. Baginda, karena ia yang ingin tahu. Dan tentu saja semua permaisurinya, yang juga ingin tahu seperti apa gua emas itu.

“Saya bisa masuk, akan tetapi untuk apa melihat barang rongsokan yang dipuja itu?” Senopati Kuti menghirup udara keras-keras. Dadanya menggembung.

“Gendhuk Tri, terima kasih atas penjelasan ini semua.” “Aha, Paman jadi kelihatan sungkan.

“Sejak dulu kita tak berhubungan erat, akan tetapi juga tidak bermusuhan. Entah sebentar lagi.

Kecuali kalau di dalam gua sana Ratu Ayu sudah membereskan semuanya.” Itu yang dikuatirkan Senopati Kuti!

Baginda boleh jadi masih sakti, masih bisa memainkan ilmu silatnya yang memang hebat. Akan tetapi kalau bersama empat permaisuri, berada di tempat yang belum diketahui medannya, pastilah sulit menyelamatkan diri. Apalagi yang dihadapi adalah Ratu Ayu Bawah Langit. Yang sewaktu diadakan sayembara pilih jodoh, hanya bisa diungguli oleh Upasara.

Itu yang membuat Senopati Kuti tak bisa berbuat apa-apa. Karena tetap tak bisa menyusul masuk. Tak bisa berbuat apa.

Apa yang terjadi dalam gua sekarang ini?

Perjalanan Kangkam Kencana

RATU AYU sendiri tak membayangkan perjalanan hidupnya hingga ke Gua Kencana.

Sejak berkelana dari Negeri Turkana, keinginannya hanya satu. Menemukan ksatria yang mampu mengalahkannya, yang akan membebaskan negerinya dari cengkeraman bangsa Tartar.

Sampailah perjalanannya ke tanah Jawa. Selain mendengar dari gurunya bahwa ada pertemuan yang berlangsung setiap lima puluh tahun, juga mendengar kabar bahwa hanya di tanah Jawa pasukan Tartar bisa ditundukkan. Pasukan yang menguasai separuh jagat ini ternyata tak berkutik menghadapi raja tanah Jawa, baik semasa Sri Baginda Raja maupun penerusnya.

Dalam sayembara yang menemukan, Upasara yang muncul sebagai pemenang. Yang bisa mengalahkannya. Lebih dari itu, Upasara memiliki Kangkam Galih, pedang tipis panjang yang tadinya tersembunyi di dalam tongkat galih pohon asam. Pedang itu dipercayai sebagai pusaka dari Negeri Turkana, sehingga baik Ratu Ayu maupun para senopati pengiringnya percaya setulusnya, bahwa Upasara adalah pembebas yang dicari.

Sejak saat itu tekad Ratu Ayu sudah bulat untuk nyuwita, mengabdi sebagai istri. Sambil menunggu hari baik, saat Upasara bersedia menduduki takhta di Turkana.

Akan tetapi Upasara seperti lenyap ditelan bumi. Ratu Ayu tak bisa mencari, tak bisa menemukan tempat bertanya. Serta rasanya tak mungkin terus-menerus bertahan di Keraton.

Maka mulailah petualangan, perjalanan yang melelahkan. Sangat melelahkan karena sebagai ratu, tak bisa berhenti di sembarang tempat untuk beristirahat, makan, atau mandi. Tak bisa bertanya langsung. Kerepotan yang utama, selain pembiayaan yang besar, masalah yang dihadapi selalu muncul. Sebagai wanita yang mendapat julukan Ratu Ayu Bawah Langit, selalu ada saja yang mencoba mendekati. Baik yang sekadar ingin tahu, atau memang tergila-gila.

Selama ini para senopatinya yang setia mengawal bisa menyelesaikan, akan tetapi persoalan yang sama selalu datang. Ke mana pun pergi, rombongannya selalu menjadi pusat perhatian.

Pada saat itu, Senopati Sariq menghadap dan mengatakan bahwa ada yang berniat mempersembahkan sesuatu kepada Ratu Ayu.

“Untuk apa kamu laporkan, kalau kamu sudah tahu jawabannya?” “Maaf, Gusti Ratu.

“Sekali ini lain. Utusan yang datang ingin menyerahkan Kangkam Kencana, pedang emas yang sama bentuknya, sama rupanya dengan Kangkam Galih, hanya seluruhnya terbuat dari emas.”

“Untuk apa membawa barang yang hanya akan memberati?”

“Selain itu juga bisa memberi pertolongan mencari dan menemukan Raja Turkana Upasara Wulung….”

“Orang macam apa dia itu?” Ratu Ayu mendengar laporan lebih lengkap. Bahwa yang ingin bertemu bernama Galgendu, biasa disebut Sodagar Galgendu. Sodagar, atau saudagar, adalah sebutan untuk kaum pedagang besar. Yang biasanya menggunakan perahu besar dalam melancarkan usahanya.

Kaum sodagar ini tak pernah mendapat tempat terhormat dalam tata masyarakat. Yang dianggap mempunyai darah pilihan ialah kaum ningrat, kaum pendeta, serta kaum ksatria. Derajat dan pangkat kaum sodagar dianggap sama dengan masyarakat biasa.

Yang sedikit membedakan hanyalah ketika Sri Baginda Raja memegang pemerintahan. Saat itu para saudagar mendapat tempat yang lebih terhormat. Karena Baginda Raja banyak membutuhkan bantuan untuk mengirimkan puluhan armadanya ke negeri seberang. Untuk pertama kalinya pula, Sri Baginda Raja mengizinkan saudagar hadir dalam pasewakan agung, pertemuan besar Keraton.

Menurut cerita, Sri Baginda Raja tidak segan-segan menanyakan pendapat secara terbuka, dan memperlakukan tak beda dengan para pendeta.

Salah satu yang sejak kanak-kanak sudah sering sowan ke Keraton adalah Galgendu, yang mengikuti ayahnya. Menurut cerita pula, nama itu pemberian langsung dari Sri Baginda Raja.

Semasa pemerintahan Baginda Kertarajasa, Galgendu dengan setia pula memberikan upeti, memberikan bantuan dalam melancarkan perdagangan. Baik dalam urusan di tanah Jawa maupun ke negeri seberang. Hanya saja yang terakhir ini sangat kecil kegiatannya. Kapal yang membawa Senopati Agung Brahma juga merupakan sumbangan Galgendu. Senopati Sariq telah menyaksikan sendiri dan berhasil menemui Galgendu untuk meyakinkan hatinya. Itu sebabnya berani mengajukan usul kepada Ratu Ayu.

Dalam pertemuan itu, Senopati Sariq yakin bahwa bukan tidak mungkin pencarian Upasara bisa lebih cepat. Karena semua pejabat Keraton dikenal dan sangat mengenal Galgendu.

Termasuk para permaisuri yang perhiasannya dibuat Galgendu.

Itu sebabnya kemudian, Ratu Ayu bisa berada dalam Keraton. Kali ini sepenuhnya atas jaminan Galgendu. Bulan demi bulan, Ratu Ayu menerima laporan di mana dan bagaimana keadaan Upasara. Tinggal mencari waktu yang tepat untuk menemui.

Akan tetapi sebelum saat yang tepat tiba, muncullah rombongan pendeta Syangka yang dipimpin oleh tetuanya sendiri, Pendeta Manmathaba. Penguasa yang naik ke permukaan satu ini, tak mempunyai ikatan dengan Galgendu Atas kemauannya sendiri, dengan diam-diam Ratu Ayu dikenai pengaruh racun bubuk pagebluk. Meskipun ramuannya sangat tipis, akan tetapi perlahan-lahan Ratu Ayu berada di bawah pengaruh bubuk beracun.

Sehingga bisa disembunyikan dari incaran dan pusat kegiatan. Kangkam Galih yang tak pernah lepas dari sisinya itu bahkan bisa diambil.

Pedang itulah yang dilihat Gendhuk Tri ketika ia juga jatuh ke tangan Manmathaba.

Betapa kemudian perjalanan hidup Ratu Ayu makin menyuruk ke dasar penderitaan. Antara sadar dan tidak ia mendengar bahwa Upasara Wulung raja Turkana, suaminya, sang pembebas, telah tiada. Justru di halaman Keraton, di mana dirinya berada! Tanpa sempat bisa berbuat suatu apa.

Dalam keadaan terombang-ambing jiwanya, sekali lagi Galgendu mengulurkan tangan, berusaha menolong. Memberi jaminan keamanan, dan menyediakan semua keperluan Ratu Ayu.

Itu sebabnya ketika keluar dari Keraton, Ratu Ayu mengajak Gendhuk Tri dan Nyai Demang untuk menuju Kedung Dawa. Mereka diterima dengan segala kebesaran dan kemewahan, tak ubahnya seperti ketiganya adalah ratu-ratu-ratu.

Memenuhi janjinya, Galgendu menceritakan apa yang bisa diketahui mengenai Upasara. Termasuk kabar yang merobek hati dan menyayat perasaan. Bahwa tubuh Upasara dipisah-pisahkan sebelum akhirnya dikubur di kebun Keraton.

Galgendu yang mempunyai kekuasaan atas gua emas, bisa memperoleh kabar yang barangkali tak pernah didengar oleh kalangan yang berdiam di Keraton sekalipun.

Dari berbagai sumber yang bisa diperoleh kabar, hukum poteng yang dilaksanakan atas Upasara Wulung berasal dari perintah Permaisuri Rajapatni. Walau kabar itu pertama kali dari pengakuan Halayudha-yang nyatanya sangat mengindahkan Galgendu-tetapi sumber yang lain membenarkan.

Galgendu kemudian mengajukan usulan, agar sebaiknya Upasara Wulung dimakamkan sebagai layaknya ksatria, dengan segala kebesaran dan kegagahannya. Bahkan untuk itu akan didirikan Candi Senopaten Pamungkas. Bahwa selama ini hanya para raja yang dimuliakan pemakamannya dalam bentuk candi, tidak menghalangi sedikit pun niat Galgendu. Atas kekuasaannya, para pendeta dan para bangsawan di Keraton bisa menyetujui.

Termasuk Baginda.

Dalam perasaan tertindih dan hati yang dibalut derita, Ratu Ayu merasa bahwa pertolongan Galgendu sangat diharapkan. Bantuan Galgendu berarti banyak bagi dirinya.

Apalagi, Galgendu bahkan menyanggupi akan menyelesaikan semua mengenai pemindahan tubuh Upasara dari dalam Keraton hingga ke Kedung Dawa, atau bahkan sampai ke Negeri Turkana sekalipun!

Sewaktu Ratu Ayu mengisikkan bahwa ia ingin mendengar sendiri dari Permaisuri Rajapatni mengenai pelaksanaan hukum poteng, Galgendu pula menyanggupi mendatangkannya ke Kedung Dawa. Bahwa saat itu Permaisuri Rajapatni sedang mengikuti ke Simping, tetap tak mempengaruhi niatnya.

Sesuai dengan janjinya, Baginda memang benar-benar bisa dibelokkan arahnya.

“Galgendu, kamu begitu baik padaku. Sangat baik. Apa yang sebenarnya kamu harapkan dariku?”

Lelaki bertubuh gemuk, wajahnya tampak welas asih dengan gerakan lembut, menunduk

lama.

“Duh Ratu, sejak pertama melihat Ratu Ayu, saya tak bisa memejamkan mata barang sekejap

pun. Saya merasakan getaran daya asmara. Malu atau tidak, daripada saya membawa mati kerinduan asmara ini, lebih baik saya katakan kepada Ratu.”

“Galgendu yang budiman, selama ini aku hanya mengenal satu lelaki. Dan hanya Raja Turkana itulah tempatku mengabdi sepanjang hidupku ini. Tak akan pernah ada orang lain.

“Bukankah kamu bisa mencari yang lainnya?

“Di Keraton puluhan banyaknya wanita yang harum bau tubuhnya, yang mengalahkan para bidadari. Kekuasaanmu atas Gua Kencana akan membuka semua pintu kaputren.”

“Ratu, saya bukan anak muda lagi. Biarkanlah saya menyimpan perasaan hati: saya. Ratu tak perlu memberi nasihat seperti itu. Karena yang begitu, cacing dan burung di sini sudah lebih dulu mengetahui.”

Ki Dalang Memeling

RATU AYU meminta maaf dengan suara lembut.

“Ratu, kalaupun saya tak bisa bersanding dengan Ratu, rasanya lebih dari bahagia menerima kehadiran Ratu di tempat ini. Segalanya saya sediakan untuk Ratu, dan segalanya disediakan dengan rasa bahagia.

“Saya berharap, lamaran saya ini tidak menimbulkan rasa kurang enak atau kekikukan hati, sehingga Ratu tergesa meninggalkan tempat ini.”

“Aku bisa mengerti keinginanmu, sejak kamu berani menawarkan membuat Kangkam Kencana.

“Aku tak bisa merangkai kata-kata dengan baik, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat berterima kasih. Kamu sangat baik padaku, pada Negeri Turkana. Akan tetapi, mengenai satu hal itu, rasanya aku tak bisa mengatakan apa-apa.

“Setengah menjanjikan pun tak bisa. “Kamu bisa mengerti, Galgendu?” “Sebisanya, Ratu.”

“Kalau mau mengerti, aku akan berada di sini sampai segalanya jelas. Sampai aku membalaskan sakit hatiku, dan kemudian aku akan kembali ke Negeri Turkana.”

“Baik, Ratu.

“Saya bisa memperpanjang waktu agar Ratu tetap berada di sini. Tetapi saya tidak akan melakukan itu. Saya sudah terhibur dan bahagia dengan kedatangan Ratu.”

“Galgendu, apa yang menyebabkan kamu menginginkan aku?

“Maaf kalau tata krama di sini tidak biasa dengan pertanyaan semacam itu. Aku dibesarkan dalam tradisi yang berbeda, dan bahkan di negeriku pun aku tidak sehalus mereka.” “Duh, Ratu, saya tak bisa menerangkan. Itu perasaan dan suara batin saya. “Selebihnya saya tak mengerti.

“Maaf, Ratu… Tadinya saya mengira bahwa saya menghendaki wanita paling ayu. Ada benarnya. Ratu adalah Ratu Ayu Bawah Langit. Akan tetapi tetap bukan yang satu-satunya.

“Tadinya saya mengira bahwa saya menghendaki derajat dan pangkat yang luhur. Dengan mempermaisurikan Ratu, saya dan seluruh keturunan saya akan terangkat.

“Benar, Ratu…

“Di negeri ini, atau di negeri mana pun, sodagar bukanlah kaum yang terpandang. Kami ini kaum yang wadag, yang raga, yang kasar, yang mencari sesuap nasi. Bukan yang menenteramkan jagat, bukan pahlawan, bukan ksatria.

“Saya memiliki segalanya, tetapi seperti tak memiliki apa-apa.

“Rama mendapat gelar kebangsawanan dari Sri Baginda Raja, akan tetapi tetap saja kami ini keturunan saudagar. Maka pernikahan dengan Ratu merupakan pembebasan yang sesungguhnya, sampai ke keturunan yang terakhir.

“Tadinya saya kira itu alasannya.

“Bukan tidak mungkin memang itu alasan yang ada.

“Akan tetapi jika hanya menghendaki wanita paling ayu, saya bisa menemukan yang lain. Jika hanya keselamatan dan derajat untuk anak-cucu, saya bisa mencari yang lain. Yang berasal dari keraton ini.

“Nyatanya selama ini hati dan batin saya tak pernah tergetar. Malah sebaliknya.” “Kata-katamu menggetarkan hati, Galgendu.”

“Saya tak pandai menyusun kata-kata. Saya bukan dari kaum susastra, bukan ksatria, bukan pendeta….”

Ratu Ayu menghela napas panjang. “Sudahilah perasaan kurang itu, Galgendu.

“Apa yang kamu lakukan lebih baik dan berguna bagi penduduk, daripada ksatria, pangeran, atau pendeta yang lain.”

“Sembah nuwun, Ratu, beribu terima kasih saya haturkan….

“Biarlah sekarang ini saya menyiapkan upacara untuk pencandian Senopaten Pamungkas….”

Apa yang dilakukan Galgendu memang luar biasa. Ia mengerahkan kemampuannya untuk mengadakan persiapan yang luar biasa besarnya. Agar upacara nanti dianggap sebagai upacara resmi. Para pendeta yang dipanggil adalah para pendeta yang biasa melayani di Keraton. Alun-alun dibuka, jalan yang besar diciptakan. Rasanya, kalau perlu memindahkan gunung dan membuat samudra, akan dilakukan juga.

Dari Senopati Sariq, Ratu Ayu mendapatkan laporan bahwa semua kegiatan yang dilakukan serba istimewa.

Kadang di tengah malam, Ratu Ayu merasakan getaran suara dan permintaan Galgendu.

Hanya satu yang diinginkan lelaki itu, memperistrinya! Tetapi justru itu yang ia tak bisa menerima.

Hanya satu keinginannya. Itu yang tak tercapai.

Dalam banyak hal, Ratu Ayu sering membandingkan dirinya dengan Galgendu. Ada persamaan dalam hal bisa melakukan semua-tapi justru yang diimpikan sekali tak terpegang.

Akan tetapi untuk perasaan semacam ini, Ratu Ayu tidak menceritakan kepada Galgendu. Hati kecilnya mengatakan justru sebaiknya ia membatasi diri, juga dalam percakapan, agar Galgendu tidak tenggelam dalam harapan yang makin melambung.

Tujuan hidup dan tekad utamanya ketika meninggalkan Turkana hanya satu. Menemukan sang pembebas.

Dan ia berhasil.

Walau tak mungkin membawa ke Negeri Turkana.