Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 13

Jilid 13

“Apa yang Pangeran rencanakan?”

“Menyampaikan bahwa keadaan ini sangat gawat. Kalau sampai pasar dan pelabuhan tak ada kegiatan, berarti habislah semuanya. Kalau sampai penduduk merasa tak tenteram berdiam di rumahnya sendiri, itu pertanda keruntuhan kepercayaan.”

“Lalu?”

“Saya tahu Adik akan menertawakan saya. Akan tetapi inilah kewajiban saya menyampaikan hal yang sebenarnya.”

“Itu baik, Pangeran.

“Akan tetapi Pangeran justru akan menemui bahaya. Senopati Agung Brahma akan diungkit-ungkit, demikian juga Ibu. Semua jadi berantakan.”

“Barangkali akan begitu. Namun saya tak bisa berdiam diri. Demi kebesaran Keraton, demi kebenaran…”

“Kalau Pangeran memang mantap, silakan.” Janaka Rajendra mengangguk.

“Selama ini saya ingin menemani Adik. Tetapi ternyata saya tak bisa memenuhi janji. Segera setelah semua urusan ini selesai, saya tetap akan mencari Adik.”

Gendhuk Tri seperti tertusuk sentuhan halus di relung hatinya.

Selama ini mereka selalu berduaan. Selama ini Gendhuk Tri menduga bahwa Pangeran Anom mati- matian ingin berdekatan dengannya. Sehingga melupakan segala urusan. Termasuk kembali ke tanah seberang.

Ternyata itu belum semuanya.

Ternyata di balik itu, masih ada nada ksatria yang tetap bisa berbicara.

Kalau selama ini Gendhuk Tri ingin melepaskan diri dari Pangeran Anom sekarang justru merasa berat. Akan tetapi, sebaliknya dari menahan, Gendhuk Tri malah mengangguk.

“Selama ini semua kebaikan Pangeran…”

“Saya tak ingin mendengar ucapan terima kasih dari Adik. Kita bukan orang lain yang perlu mengutarakan itu.”

“Baik kalau tak perlu ucapan seperti itu. “Pangeran… saya minta Pangeran berhati-hati.” “Demikian juga Adik.

“Kalau sempat bertemu Kakang Singanada, sampaikan permintaan maaf saya. Dan salam saya, serta rasa iri saya akan kebahagiaannya.”

Gendhuk Tri menjilat bibirnya.

“Juga kepada Upasara Wulung, ksatria yang saya kagumi.

“Kalau saya mau bicara jujur, saya rela kalau Adik hidup berdampingan dengan Upasara. Maaf, saya tak berhak berbicara seperti ini.

“Barangkali karena akan berpisah sebentar lagi, saya bicara secara ngawur. Tapi ini semua perasaan saya, yang menjadi lebih lega kalau saya katakan. Adik Tri mau mengerti?”

Tak ada cara lain selain mengangguk.

“Saya tak tahu nasib apa yang akan terjadi pada diri saya. Keraton telah berubah menjadi kuburan raksasa. Siapa yang masuk ke dalamnya tak bisa keluar lagi.

“Barangkali hal yang sama akan terjadi pada diri saya.

“Kalau semua itu terjadi, Adik Tri… biarlah saya alami sendiri. Saya sempat mempunyai kenangan kehidupan yang paling indah.

“Sewaktu bersama Adik.”

Wajah Gendhuk Tri berganti antara merah malu dan dingin kuatir.

“Kalau saya selamat, orang yang pertama saya cari adalah Adik Tri. Maukah Adik bertemu lagi dengan saya?”

“Dengan senang hati, Pangeran.” Janaka Rajendra tersenyum. Tangannya gemetar memegang bahu Gendhuk Tri. Tanpa suara.

Tanpa kata-kata.

Lalu bergegas berjalan menjauh. Melangkah ke arah pintu luar tanpa menoleh. Gendhuk Tri ingin meneriakkan sesuatu, akan tetapi mulutnya terkunci. Dan hati kecilnya merasa dingin.

Ada sesuatu yang turut hilang bersama langkah-langkah Pangeran Anom Seperti langit sekarang ini. Bersih dari mega. Tampak sedemikian luas tapi mengesankan kosong. Gendhuk Tri termangu.

Apa sesungguhnya yang telah terjadi dengan dirinya?

Hanya dalam waktu yang singkat, sangat singkat. Sewaktu dirinya kena racun pagebluk, diam-diam Pangeran Anom membantu. Lalu di tengah pertarungan di halaman Keraton, terang-terangan Pangeran Anom membantunya. Sampai ketika merawat dan mencoba mengobati Singanada, kemudian mempelajari Kitab Air bersama Kiai Sambartaka.

Sehingga akhirnya mengikuti perahu ke negeri seberang, dan lebih dulu ke pinggir. Ada sesuatu yang aneh, yang menggembirakan.

Tetapi juga memilukan.

Daya asmara yang tulus, yang rela, yang murni dari Pangeran Anom menggugah jiwanya. Menyentuh kedewasaannya. Membuka simpul yang talinya tak disadari.

Apakah selama ini Pangeran Anom kecewa kepada sikapnya yang tak memberi jaminan sesuatu di belakang hari? Ataukah sikapnya yang agak tiba-tiba ingin masuk ke Keraton lebih dikarenakan mendengar nama Upasara? Yang sangat dikagumi dan rela menyerah dalam persaingan asmara? Ternyata tidak gampang menerima kenyataan ini.

Jauh dalam hatinya, Gendhuk Tri tidak meremehkan Pangeran Anom. Tidak menganggap sebagaimana ia mengenal Galih Kaliki dulu, atau bahkan Dewa Maut. Bahkan diakui secara diam- diam, hatinya mulai tertarik dengan segala kebaikan dan kebajikan serta perhatiannya yang berlebih.

Semua dirasakannya sebagai daya tarik utama Pangeran Anom. Di samping wajahnya yang bercahaya.

Kalau ia tak bisa memberikan harapan atau janji tertentu, karena itulah kenyataan yang sesungguhnya. Gendhuk Tri tak tahu harus mengatakan apa, harus menjanjikan apa.

Ketulusannya tak menghendaki ia mengatakan sesuatu yang lebih banyak untuk menenteramkan hati atau menghibur.

Tidak. Selama ini hatinya sudah tercabut untuk Kakang Upasara Wulung. Tak ada orang lain yang bisa menggantikan kedudukan Upasara di dalam hatinya.

Tapi juga disadari bahwa itu semua tidak mungkin.

Saat kesadaran itu membayang, secara tidak langsung ia menjatuhkan pilihan kepada Singanada. Dan tekadnya sudah bulat. Ia tak bisa mempermainkan kepercayaan yang ditumpahkan kepadanya, dan telah disanggupi.

Itu sebabnya ia merasa sangat kikuk terhadap Pangeran Anom.

Di satu pihak daya asmara perlahan tumbuh, tapi di pihak lain dimatikan perlahan karena tak ingin membuat kekecewaan lebih besar di kelak kemudian hari.

Kalau ada sesuatu yang menghibur Gendhuk Tri ialah bahwa selama ini hubungannya dengan Pangeran Anom baik-baik saja. Tidak saling menyakiti, tidak mendustai dari lubuk hati masing- masing.

Gendhuk Tri tersadar dari lamunannya ketika meninggalkan kediaman kerabat Keraton, dan di sudut jalan ada papan pengumuman yang ditulis besar-besar.

Pemberitahuan bahwa barang siapa melihat orang atau menemukan senjata yang mencurigakan, diharapkan segera melaporkan kepada prajurit Keraton. Barang siapa melihat orang asing yang selama ini belum pernah dilihat ada di sekeliling Keraton, diharapkan melaporkan. Barang siapa merasa diajak membicarakan sesuatu mengenai tata kenegaraan, diharap melaporkan kepada prajurit Keraton.

Barang siapa…

Makin lama Gendhuk Tri makin menyadari bahwa suasana Keraton memang lebih mengerikan dari yang dibayangkan. Membersit rasa kuatir akan nasib yang menimpa Pangeran Anom.

Benarkah Keraton menjadi kuburan raksasa? Siapa yang masuk tak akan keluar lagi?

Gendhuk Tri menepi ketika terdengar langkah para prajurit. Di barisan depan terlihat enam belas prajurit berkuda yang mengibarkan panji. Diiringi barisan yang rapat. Agaknya mereka tengah mengawal seorang bangsawan, kalau dilihat cara pengawalannya. Agaknya sedang dalam keadaan tergesa.

Gendhuk Tri tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat selintas bahwa yang dikawal beramai-ramai itu adalah Ratu Ayu Azeri Baijani.

Atau matanya yang salah lihat?

Memasang dan Menelan Umpan

MESKIPUN jarak penglihatan cukup jauh, Gendhuk Tri bisa mengenali Ratu Ayu walau hanya sekelebatan. Baginya tokoh yang satu itu bisa menjadi jelas dalam angannya.

Pertanyaan pertama yang segera muncul ialah apa yang sesungguhnya direncanakan di balik penampilan Ratu Ayu. Karena agaknya arak-arakan yang sekarang terjadi seperti sengaja mempertontonkan hal ini. Semacam memasang umpan.

Kalau benar dugaannya, berarti memang ada yang diarah. Siapa lagi kalau bukan Upasara Wulung?

Gendhuk Tri bersorak dalam hati. Kalau ini benar, berarti Upasara bisa meloloskan diri. Rada mustahil, akan tetapi bukannya tidak mungkin. Dan karena masih berada di sekitar Keraton, atau diduga begitu, Upasara dipancing kembali pemunculannya dengan menampilkan Ratu Ayu.

Atau ada hal lain?

Gendhuk Tri tak bisa menebak dengan tepat, tak bisa mencari pegangan dugaannya, karena kemudian disusul barisan prajurit yang lain. Yang berjajar rapi, mendatangi penduduk sekitar.

“Aku, Senopati Jaran Pengasihan, yang berkuasa atas keamanan dan ketenteraman wilayah Keraton, dengan ini menyatakan bahwa para penduduk Majapahit tidak diperkenankan melakukan segala sesuatu yang tidak mendapat restu dariku.

“Segala hal yang bertentangan dengan ini dapat dikenai hukuman.”

Bahwa setiap penguasa baru memunculkan senopati baru, bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi bahwa penguasa yang baru kelihatan perlu turun tangan sendiri menerangkan kepada penduduk, di saat ada barisan lain yang secara sengaja mengarak Ratu Ayu ini membuatnya bertanya-tanya.

“Tak ada yang perlu ditonton, tak ada yang perlu dilihat. Semua penduduk dianjurkan kembali ke rumah masing-masing, dan hanya menerima komando dariku.”

Belum habis bicaranya, prajuritnya segera membubarkan kerumunan. Sesuatu yang agak sia-sia, karena iringan prajurit yang membawa Ratu Ayu bersorak riuh rendah.

Bahkan kemudian bernyanyi bersama:

Seekor kuda membawa beban masuk ke Keraton

ia merasa dirinya prajurit

yang dimakan tetaplah rumput seekor kuda tak pernah makan nasi apa pun yang digendongnya….

Menurut Gendhuk Tri ini agak keterlaluan. Jelas bahwa rombongan yang mengiringkan Ratu Ayu sengaja menyindir dengan tembang yang biasa dimainkan anak-anak. Dari liriknya, arahnya meledek Senopati Jaran Pengasihan. Karena kuda yang dimaksudkan dalam lirik itu artinya sama saja dengan jaran.

“Jangan terpancing emosi. Kita prajurit menjaga ketenteraman. Selama mereka hanya bersorak-sorai, biarkan saja. Akan tetapi jika mulai membuat keonaran, aku perintahkan untuk mengambil tindakan tegas dan keras.”

Gendhuk Tri makin melongo. Mana mungkin dalam wilayah dinding Keraton bisa muncul dua komando yang bertentangan? Agaknya juga, kedua kelompok ini saling menunggu, saling memasang umpan, agar kelompok lain bergerak lebih dulu, untuk kemudian bisa diamankan.

Persaingan bukan sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi kalau diperlihatkan secara terbuka, dalam wilayah dinding Keraton, kelihatannya sangat tidak menggembirakan.

Mau tak mau Gendhuk Tri bertambah gelisah. Berarti di Keraton sendiri masih berlangsung perebutan kekuasaan secara terang-terangan. Sehingga sampai tingkat para senopati berebut keunggulan. Kalau begini situasinya, Pangeran Anom akan sia-sia. Sebelum ia melangkah masuk, sudah disergap oleh kelompok yang berbeda dan akan saling memanfaatkan.

Gendhuk Tri tak habis mengerti. Dalam waktu yang sangat singkat, segala tata aturan bisa jungkir- balik tidak keruan. Kini bahkan pertengkaran pendapat itu mengakar sampai ke tingkat para prajurit.

“Penduduk tidak diperkenankan menyimpan senjata. Baik keris, tombak, pedang, cundrik, atau apa saja. Selain prajurit yang resmi, sama sekali tidak diperkenankan. Bagi yang lain, akan dikenai hukuman.”

Gendhuk Tri mendekat ke arah barisan prajurit yang mengawal Ratu Ayu. Kini dalam jarak yang lebih dekat, matanya bisa melihat bahwa Ratu Ayu memang masih seperti gelaran yang dipakai.

Wajahnya benar-benar mencerminkan ratu. Keayuannya segera bisa diakui.

Hanya sekarang tubuhnya kelihatan sangat kurus, wajahnya pucat, cara duduknya di atas joli terbuka seperti tak ada tenaga sama sekali.

Gendhuk Tri mencari-cari kalau-kalau melihat bayangan Senopati Sariq atau pengikut Ratu Ayu yang setia. Namun kelihatannya tak ada wajah yang asing.

Gendhuk Tri menyadari bahwa Ratu Ayu seperti terkena pengaruh kekuatan sihir, atau semacam bubuk pagebluk, sehingga hanya badaniahnya saja yang dihadirkan. Pandangan matanya kosong melompong.

“Ratu Ayu, di mana Adimas Upasara?”

Teriakan yang sangat akrab di telinga Gendhuk Tri. Itulah suara Nyai Demang!

Benar, bersamaan dengan itu muncul sosok bayangan yang menggendong mayat di punggungnya.

Dengan pemunculan Nyai Demang, para prajurit pengawal segera membuat barisan pertahanan. Akan tetapi dengan menepiskan kiri-kanan sambil terus melangkah mendekat, barisan para prajurit terdepak ke kanan dan kiri.

Bagai ditebas dengan kekuatan yang besar. “Ratu, di mana Upasara?”

Mendadak terdengar terompet dan genderang ditabuh bertalu-talu. Dari arah Keraton muncul barisan yang lain. Dipimpin senopati yang lain, yang segera menuju ke arah Nyai Demang.

“Aku, Senopati Kebo Pengasihan, memerintahkan agar semua prajurit mundur. Biarlah aku yang membereskan wanita tidak waras ini.”

Belum habis kata-katanya, Nyai Demang menyambar ke arahnya. Dengan sekali tekuk, Senopati Kebo Pengasihan berada dalam cengkeramannya. Tubuhnya diangkat ke atas.

Digoyangkan.

“Kamu mengerti apa urusan ini?”

Dengan sekali sentak, tubuh Senopati Kebo Pengasihan melayang dan ambruk ke tanah.

Nyai Demang maju ke arah joli. Kedua tangannya bergerak cepat dan para prajurit yang menjaga joli terlempar sambil mengeluarkan jeritan mengerikan.

“Ratu Ayu, kamu masih mengenaliku?” Suara Nyai Demang sangat jelas nadanya. Tidak seperti sebelumnya yang hanya bisa berhaha-hihi tak keruan.

Ratu Ayu mengangguk.

“Di mana Adimas Upasara? Apa benar mereka telah menguburkannya di perut binatang buas?” Gendhuk Tri tak bisa menahan diri. Tubuhnya melayang ke depan, dan hinggap di sisi Nyai Demang! “Ke mana kamu selama ini?”

“Nyai, kamu baik-baik saja?”

“Apa benar Upasara diumpankan ke binatang buas?” Gawat, pikir Gendhuk Tri.

Dalam keadaan seperti ini, ternyata Nyai Demang belum pulih kesadarannya. Dilihat dari pembicaraannya yang masih melantur, bisa dimengerti keadaannya. Meskipun sudah lebih baik, akan tetapi pengaruh kekuatan Eyang Kebo Berune yang menempel di punggungnya tidak hilang sepenuhnya.

Gawat juga karena ternyata Ratu Ayu, dalam pengertian yang berbeda, juga mengalami nasib yang sama.

“Nyai segalanya belum jelas. Mari kita sama-sama membuktikan di mana kebenaran yang sesungguhnya.

“Ratu Ayu, apakah kamu bisa berbicara?” Ratu Ayu mendongak sebentar.

Lalu menunduk lagi.

“Nyai, mari kita masuk ke Keraton. Kita jebol apa yang menghalangi.” “Untuk apa?”

“Untuk menjemput Kakang Upasara.” “Siapa?”

“Adimas Upasara!” teriak Gendhuk Tri kesal. “Baik. Mari…”

Nyai Demang segera membalikkan tubuh. Tidak lagi memedulikan Ratu Ayu.

Perhitungan Gendhuk Tri mengenai Nyai Demang tak meleset. Meskipun sudah lebih bisa diajak bicara, akan tetapi Nyai Demang yang sekarang ini hanya tubuhnya saja yang sehat. Pengaruh utama masih tetap kekuatan dalam dari Eyang Kebo Berune.

“Segala macam patung boneka kecil, menyingkirlah.”

Sekali menggebrak, Gendhuk Tri membuka jalan. Dengan Nyai Demang di sampingnya, lima jurus berikutnya mereka berdua telah sampai di depan pintu utama.

“Tak semudah itu masuk ke Keraton….”

Pendeta Manmathaba tersenyum dingin. Di tangannya, Bandring Cluring berayun-ayun.

Pukulan Lima Arah

GENDHUK TRI bersiul.

“Pendeta tua, kamu tak bisa main-main lagi dengan segala jenis ilmu kebal kulit kentang. Mari, aku jajal sedikit….”

Seperti watak yang sebenarnya, Gendhuk Tri benar-benar tak mau menunggu lawan atau kawan. Tidak menunggu reaksi Manmathaba ataupun persiapan Nyai Demang. Tidak menunggu apakah gertakannya berhasil mempengaruhi atau tidak.

Tangan kirinya menyabet ke kiri, ke arah yang kosong, sementara tubuhnya membalik. Dengan tendangan kaki kanan. Tanpa memedulikan bandring yang tengah diputar.

Nyai Demang dengan terhuyung-huyung ikut maju, ke arah tubuh Manmathaba bergerak.

Manmathaba justru menarik mundur bandringnya. Bunyi tok-pletok yang keras berurutan berganti deru angin. Agaknya Manmathaba jeri. Atau setidaknya memperhitungkan gerakan dan tenaga dalam Gendhuk Tri.

Pukulan tangan kiri Gendhuk Tri yang diarahkan ke tempat kosong, tenaganya jauh berbeda sifatnya dengan tenaga tendangan kaki kanan. Apa-lagi putaran tubuhnya mendesirkan tenaga yang berbeda lagi sifatnya. Dalam satu gerakan, Gendhuk Tri memperlihatkan pengaturan tenaga air, kayu, dan api. Yang sifatnya berbeda-beda. Manmathaba surut karena ingin mengetahui apakah rangkaian tenaga yang berikut tenaga bumi dan disusul dengan tenaga logam mulia.

Gebrakan semacam ini akan mudah dimengerti karena rangkaian yang agak urut ialah tenaga kayu, api, bumi, logam mulia, air, bisa diperkirakan. Dengan mengenali cara mengatur tenaga lawan, Manmathaba akan merasa lebih mudah menguasai. Karena hal semacam itu sudah dikenali.

Kalau ada yang membuat Manmathaba sedikit ngeri terhadap gadis yang suka nekat ini hanyalah karena mereka mempunyai dasar ilmu yang sama.

Apa yang dikatakan Gendhuk Tri bahwa ia mengetahui ilmu kebal, pastilah bukan omong kosong belaka. Manmathaba menangkis tendangan kaki dengan telapak tangan mendongak ke atas, seakan siap memelintir. Dugaannya tidak meleset. Gendhuk Tri tidak menarik mundur kakinya, malah memakai sebagai pijakan kuda-kuda. Karena kemudian meloncat ke atas seakan terbang.

Gendhuk Tri boleh bangga dengan gerakannya, akan tetapi bagi Manmathaba ini keberuntungan. Dengan loncatan ke atas, Manmathaba sudah memperkirakan dua kaki yang akan mencoba menjepit lehernya dalam gerakan memutar.

Manmathaba mengerahkan tenaga ke bahu. Dua bandringnya menghalau Nyai Demang, sementara lehernya dibiarkan dijepit.

Jika Gendhuk Tri memakai tenaga bumi yang tenang, dan tenaga logam mulia yang berat, dari kaki kiri maupun kanan, ia siap mengandaskan.

Dengan memakai tenaga sebaliknya!

Tenaga bumi akan dilawan dengan tenaga logam. Di sini, ia mengerti betul bahwa tenaga bumi menjadi kurang berarti dibandingkan tenaga logam mulia. Seakan bumi hanya berarti kalau menyimpan logam mulia. Demikian juga seterusnya. Tenaga kayu kalah oleh tenaga api, tenaga api kalah oleh tenaga air, tenaga air terserap oleh bumi.

Dalam pertarungan cepat seperti sekarang ini, bisa saja urutan itu dibalik. Bisa jadi jepitan kedua kaki Gendhuk Tri memakai tenaga air, atau gabungan antara air dan kayu.

Kembangan atau variasi serangan yang bagaimanapun dibolak-balik urutannya, tak membuat Manmathaba takut. Karena merasa menguasai rangkaian gerakan.

Dalam pertarungan semacam ini akan cepat diketahui siapa yang unggul dan siapa yang keteter atau terdesak.

Semakin orang mengetahui kembangan serangan lawan dari inti gerakannya, semakin besar kemungkinannya untuk mematikan. Itu sebabnya dalam suatu pertarungan, betapapun berbeda-beda jurusnya, bisa tetap digolongkan dalam inti yang sangat mendasar.

Perhitungan Gendhuk Tri lain lagi.

Bahwa Manmathaba tidak terlalu menggeser leher membuktikan bahwa ia siap menghadapi. Baik karena merasa menguasai, ataupun karena merasa tak terganggu.

Tapi Gendhuk Tri tetap Gendhuk Tri. Adu keras pun akan dilayani.

Menyadari lawan memberi umpan, tak disia-siakan. Disambut. Gerakan kakinya yang memuntir leher lawan malah diperkencang, dipercepat putarannya. Tubuhnya bagai gasing, sementara rambutnya yang tergerai menyapu angin.

Gerakan yang indah.

Sangat berbeda dari gerakan Nyai Demang yang serba tanggung karena menggendong mayat, yang bagai gerakan limbung, menyusup dari sisi kiri tahu-tahu muncul dari sisi kanan. Biasan tangannya mendorong bandul bandring menjauh.

Gendhuk Tri memperkeras jepitannya begitu menyentuh pundak lawan Terdengar teriakan keras. Tubuh Manmathaba terguling, mengerang, dan mendadak meloncat ke angkasa. Kali ini kedua tangannya mengembang dan mendorong tubuh Gendhuk Tri. Yang seketika terputar ke arah belakang!

“Wu….!”

Teriakan itu berasal dari Manmathaba yang alisnya sedikit berkerut. Ia bisa mengenali bahwa pengaturan tenaga dalam Gendhuk Tri seperti yang diduganya. Tak meleset sedikit pun.

Hanya saja, Gendhuk Tri mampu mengembangkan lebih jauh. Dalam memainkan urutan tenaga dasar dari semua tenaga, yaitu tenaga emas kayu, air, api dan bumi, bukan dimainkan secara berurutan atau berbalik-balik, melainkan dalam satu pengaturan! Bisa dilakukan secara serentak!

“Aha, kamu mengenali ilmu kanak-kanak itu?”

Teriakan Gendhuk Tri seakan menertawakan lawan. Walau jelas ia sendiri terdesak, akan tetapi dalam soal adu silat lidah, ia tak pernah mau kalah.

“Wu apa ini?”

Kembali Gendhuk Tri menyerang. Tangan kanan memukul ke depan, tangan kiri ke samping, demikian juga dengan gerakan kaki, seakan kaki kanan dan kaki kiri tidak satu sasaran.

Liukan tubuhnya juga dalam irama yang berbeda. Kali ini Manmathaba tak berani memandang enteng. Dengan menahan rasa herannya, ia terpaksa melangkah mundur hingga dekat pintu. Sehingga serangan lawan dari jurusan yang berbeda bisa terhalangi.

“Ilmu naga apa itu namanya?”

“Nyai akan segera tahu,” jawab Gendhuk Tri.

Jawaban Gendhuk Tri memperlihatkan bahwa ia menyadari pada saat seperti ini yang menguasai jalan pikiran Nyai Demang adalah Eyang Kebo Berune. Yang tidak mengenali jurus-jurus dan pengaturan tenaga yang dimainkan. Karena menurut dugaan Gendhuk Tri, gerakannya bukan sesuatu yang tak dimengerti Nyai Demang. Baik karena pengetahuannya yang luas, maupun karena secara langsung Nyai Demang bergaul dengan para ksatria dari Tartar.

Kalau Manmathaba saja bisa segera mengenali, pastilah Nyai Demang juga bisa. Hanya karena kini yang menguasai adalah Eyang Kebo Berune, jadinya lain.

“Rasanya iya….”

“Nyai sudah pernah tahu. Coba perhatikan baik-baik….”

Tubuh Gendhuk Tri menggeliat, menerobos masuk pintu. Begitu bandul Manmathaba bergerak, Gendhuk Tri bisa membelokkan tubuhnya dengan gerakan indah.

Sekarang, keterlindungan Manmathaba justru menjadi halangan! Dinding kiri-kanan menjadi penghalang.

Dalam hati Manmathaba tak habis mengerti. Bagaimana mungkin gadis seusia Gendhuk Tri mampu mempelajari dan langsung mempraktekkan dengan leluasa beberapa dasar ilmu kelas utama. Bagaimana mungkin dasar-dasar Kitab Air bisa dimainkan dengan dasar-dasar ilmu dari negeri Tartar.

Apa yang diperlihatkan Gendhuk Tri dan diteriaki Wu adalah pameran kemahiran itu.

Wu yang menekankan lima unsur tadi menjadi salah satu bagian saja. Yaitu yang biasa disebut Wuxing. Sedangkan serangan yang berbeda kanan dan kiri, kaki dan tangan, serta gerakan tubuh disebut Wufang-Pukulan Lima Arah. Utara, timur, selatan, barat, dan pusat.

Wuxing dan Wufang adalah bagian dari lima Wu yang secara lengkapnya mencakup juga Wucai-Lima Asmara, Wucai-Lima Warna, serta Wujing- Lima Logam.

Kalau tadinya Manmathaba hanya menduga lima kemungkinan, sekarang sedikitnya harus berjaga- jaga dari lima kali lima kemungkinan, yaitu 25 kemungkinan pengaturan tenaga dari satu gerakan.

Makin jelas bahwa Gendhuk Tri tak bisa dipandang enteng.

Ini yang mengherankan sejak menyuruk masuk di tengah pintu.

Dan akan tetap membuat Manmathaba heran jika dikatakan bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri berguru langsung dari sumber utama ilmu tersebut, yaitu dari Naga Nareswara, Raja Segala Naga!

Sesungguhnya, itu kelebihan yang tak disadari oleh lawan-lawan Gendhuk Tri. Karena mereka menduga bahwa keunggulan yang diperlihatkan Gendhuk Tri adalah keunggulan dari satu pendalaman akan suatu ilmu. Bukan rangkuman dari berbagai tradisi yang sumbernya berlainan.

Sesungguhnyalah, ini yang juga kurang disadari oleh Gendhuk Tri sendiri.

Kalau saja ia memahami kelebihannya, hasilnya akan lain. Gendhuk Tri bisa menghantam dan menyudutkan lawan dengan lebih terarah.

Pukulan Bertumbuh-Bertambah

PERJALANAN hidup Gendhuk Tri dalam dunia persilatan memang tidak biasa. Tidak seperti Upasara Wulung yang sejak lahir sudah dilatih secara tekun dan terarah oleh Ngabehi Pandu. Atau juga seperti Pangeran Anom yang mendapat didikan langsung dari ayahnya, Senopati Agung Brahma.

Gendhuk Tri, sejauh bisa mengenang dirinya, berasal dari penduduk biasa. Yang tumbuh tanpa darah bangsawan secara langsung dan jelas. Kulitnya hitam, raut wajah, bentuk hidung, bibir, mata, ataupun kening sama sekali tak menunjukkan dirinya keturunan bangsawan.

Ia begitu saja mengikuti apa yang biasa terjadi pada anak dusun. Belajar nembang, dan diajari untuk bisa menjadi sinden-penembang, dan menjadi penari untuk menghibur Baginda Raja.

Saat itulah Mpu Raganata merasa eman, sayang kalau anak gadis kecil yang lugu ini hanya mengakhiri hidupnya sebagai wanita penghibur. Tanpa setahu Baginda Raja, Mpu Raganata melarikan dan menyerahkannya ke dalam asuhan Jagaddhita, yang juga murid tidak langsung Mpu Raganata, yang bisa saja dijadikan murid karena alasan yang tak sepenuhnya diketahui. Perjalanan hidup ini membuat Gendhuk Tri tidak mempelajari ilmu silat dari tata aturan yang semestinya. Apalagi ia menerkam langsung berbagai pengalaman dalam berbagai medan pertarungan yang ganas.

Baru belakangan Gendhuk Tri menyadari bahwa sumber ilmu silatnya ialah Kitab Air. Sewaktu mempelajari kembali bersama Singanada ataupun Pangeran Anom, dan terlebih lagi bersama Kiai Sambartaka, segalanya menjadi terbuka.

Apa yang dipelajari selama ini mempunyai dasar pijakan yang jelas dan ke arah mana hubungannya. Dengan keterbukaan yang sering diartikan pencerahan itulah Gendhuk Tri bisa menggabungkan dengan apa yang dipelajari dari Naga Nareswara. Apa yang selama ini diketahui secara terpisah, sekarang bisa disatukan.

Lejitan pikiran dan rasa yang menyatu itulah yang membuat Gendhuk Tri bisa segera membaca rahasia ilmu kebal yang dimainkan Manmathaba!

Hal yang sama ketika menghadapi lawan, kekuatan jurus-jurus Wu bisa menyeruak dengan sendirinya.

Ada semacam naluri yang muncul dengan sendirinya, yang terangkai untuk menggabungkan semua kekuatan yang ada, yang selama ini tersimpan.

Sewaktu menyerang dengan tenaga air, kayu, api, bumi, dan logam mulia kombinasi dari rangkaian yang sama yang berasal dari tradisi lain bisa muncul dengan sendirinya.

Itulah yang terlihat ketika memainkan jurus Pukulan Lima Arah atau Wufang.

Kalau simpul mengenai hal ini terbuka, kemungkinan yang lain juga bisa terjadi dengan sendirinya. Selama Gendhuk Tri menguasai.

Ini sesungguhnya yang ditakuti atau setidaknya membuat Manmathaba menjadi sangat berhati-hati.

Pengetahuannya yang luas, secara tidak sengaja justru membuatnya waswas. Seperti juga ketika berlindung di tengah pintu. Dari terlindung, menjadi terhalang.

Pengetahuan Manmathaba yang luas, membuatnya bersiaga kalau-kalau Gendhuk Tri nanti memainkan tidak dengan pengerahan Tenaga Wu, melainkan dengan mengubah menjadi pengerahan Tenaga Jiu atau memainkan Tenaga Sembilan.

Seperti yang pernah ditunjukkan oleh Singanada, yang mampu melipat-gandakan tenaga dalam sembilan kali lebih besar.

Sebenarnya kalau itu yang terjadi, masih tidak membuat Manmathaba kuatir.

Yang dikuatirkan adalah bila Gendhuk Tri mahir memainkan gabungan dari Pukulan Lima, Pukulan Sembilan, dan jenis pukulan lain.

Sebab kembangan pukulan dari negeri Tartar sangat luas dan rangkaiannya tidak terduga. Pada seorang tokoh yang sudah menguasai, pengerahan tenaga itu bisa berarti memasuki tahap bertambah-bertumbuh. Tahap di mana ketika memainkan Tenaga Delapan Belas misalnya, berarti Tenaga Sembilan. Tenaga Tujuh Belas berarti Tenaga Delapan.

Rangkaian ini makin rumit, apabila rangkaian Tenaga Tiga dan Tenaga Delapan digabung. Hasilnya bukan Tenaga Sebelas atau Tenaga Dua. Melainkan tetap Tiga dan Delapan. Tenaga Tiga mirip dengan Tenaga Sheng yang berarti tenaga yang selalu bertambah saat mengenai sasaran. Sementara Tenaga Delapan mirip dengan Tenaga Fa, keamanan untuk bertahan, yang dilambangkan dengan kemakmuran.

Kalau keliru mengenali sebagai Pukulan Dua bisa mengira bahwa pukulan tersebut kosong dan sebagai pancingan, dan akibatnya terkena sasaran.

20

Sebenarnya Gendhuk Tri tidak mendalami seperti yang diperkirakan Manmathaba. Jurus-jurusnya meluncur begitu saja. Begitu menemukan reaksi, segera menjawab dengan sendirinya.

Dengan dasar-dasar ajaran Mpu Raganata, dimatangkan dengan tenaga Kitab Bumi dan menerima didikan tidak langsung dari Naga Nareswara Gendhuk Tri menjadi gadis yang sulit dikalahkan oleh mereka yang seusia dengannya.

Keluwesan itulah yang menyebabkan Gendhuk Tri mampu berpasangan dengan Singanada, ataupun dengan Pangeran Anom. Padahal jelas sumber tenaga dalam kedua tokoh itu sangat berbeda.

Sepuluh jurus telah berlalu. Perlahan tetapi pasti, Manmathaba mulai bisa membaca pengerahan tenaga yang belum sempurna. Maka memasuki jurus ketiga belas, Manmathaba memancing Gendhuk Tri merasuk masuk, dan dengan segera memapak maju.

Tangan kanan miring, lurus ke atas dengan jari yang lengket satu sama lain, sementara tangan kirinya memainkan dua bandring sekaligus.

Gendhuk Tri masuk perangkap. Nyai Demang berteriak keras. “Awas… Awas… Mundur…!”

Dalam kilatan pikiran, agaknya hubungan Nyai Demang dengan Gendhuk Tri muncul kembali. Pribadi Nyai Demang yang utuh menguasai pikiran dan perasaannya.

Itu sebabnya Nyai Demang tidak memedulikan keselamatan dirinya, menyerbu masuk. Manmathaba telah siap.

Kedua kakinya menyapu keras, dan tubuh Nyai Demang terungkit ke atas.

Gerakan Nyai Demang memang tidak sempurna. Baik karena beban mayat di punggungnya maupun karena tenaga dalamnya tak bisa sepenuhnya menyatu dengan tenaga dalam Eyang Kebo Berune.

Makanya bisa diungkit.

Hingga sempoyongan. Bahkan terjatuh.

Sementara pada saat yang sama dengan terungkitnya tubuh Nyai Demang, Gendhuk Tri tak bisa meloloskan diri. Ia telanjur masuk ke daerah serangan lawan. Mundur atau menjatuhkan diri sangat sulit. Kalaupun bisa, bandul Bandring Cluring siap menghancurleburkan.

Maju berarti dada atau wajahnya kena tebas tangan Manmathaba yang telah rapat oleh pengerahan tenaga.

“Ladlahom….”

Tak ada yang mendengar ucapan kaget Puspamurti. Karena ketiganya tengah bergulat dalam pertarungan yang tak memungkinkan pecahnya perhatian.

Manmathaba mengeraskan tenaganya. Kelima jari yang rapat, dalam Gerakan miring menebas dada Gendhuk Tri, yang tubuhnya sedang melaju ke arahnya. Kalaupun Gendhuk Tri mencoba mendahului atau menangkis, adu tenaga dalam yang terjadi. Ini berarti Gendhuk Tri akan terluka parah.

Manmathaba merasakan kemenangan.

Batas kelingking seakan memecahkan tubuh Gendhuk Tri!

Hanya anehnya, tubuh Gendhuk Tri justru melesat jauh! Menerobos ke dalam Keraton. Tanpa kurang suatu apa!

Berdiri tegar sambil mengumbar senyum. Manmathaba mengeluarkan seruan kagum.

Ia begitu yakin telah merebut kemenangan. Ia yakin bahwa tak ada orang lain yang secara diam-diam menolong Gendhuk Tri.

Tapi nyatanya Gendhuk Tri segar bugar. Bisa lolos.

Bahkan senyumannya berubah menjadi tawa yang meringkik, mendesis. “Wanara Seta…”

Gendhuk Tri meringis. Seakan malah gembira dan sekaligus bangga dikenali sebagai kera putih atau Wanara Seta.

“Lahir dari batu, akulah lawanmu sekarang ini…” Tubuh Manmathaba menggigil. Bandringnya terkulai.

Jurus yang baru saja dimainkan oleh Gendhuk Tri sangat dikenali oleh Manmathaba sebagai jurus yang mengambil pengerahan tenaga dari batu yang terbelah. Batu itu adalah tenaga dalam lawan yang mengurung secara sempurna.

Ini adalah ilmu dari Sembilan Jalan Buddha yang paling sulit dipelajari. Dasar jurus Wanara Seta adalah kisah mengenai kelahiran seekor kera dari kandungan batu. Yang menjadi kisah klasik, karena kera putih inilah yang kelak kemudian hari menuntun sang ksatria utama menuju Jalan Buddha yang sesungguhnya. Kalau benar Gendhuk Tri sampai di tingkat itu, berarti Manmathaba keliru menduga. Satu lagi kekeliruan yang bisa berarti kematian bagi Manmathaba. Karena jika saat itu Gendhuk Tri berbalik dan melancarkan serangan, Manmathaba tamat riyawatnya.

Tapi kalau sekarang tubuhnya menggigil, itu karena sebab yang lain.

Pertemuan Mahamanusia

MANMATHABA menggigil karena tulang kakinya menjadi ngilu, sehingga tak kuat menahan tubuhnya.

Sesaat ketika mengungkit kaki Nyai Demang dan menggajul, menendang ke atas dengan keras, kelihatannya sepintas ia unggul. Tubuh lawan bisa terpental, terbanting jatuh karena beban di punggung.

Akan tetapi yang juga tak diduganya sama sekali ialah bahwa setelah itu Manmathaba merasa kakinya tak bisa digerakkan. Menjadi ngilu luar biasa, seakan semua tulangnya remuk, berkeping- keping, dan setiap serpihan menimbulkan rasa sakit yang menggigit sarafnya.

Manmathaba menggigil karena hatinya terguncang.

Selama ini dirinya tokoh kelas satu di negerinya. Pemimpin para pendeta sekaligus juga empu yang tidak mempunyai lawan. Sewaktu melihat peluang untuk menanamkan pengaruh di tanah Jawa yang telah dirintis oleh Pendeta Sidateka, ia berangkat disertai tiga pengikutnya.

Langkah-langkah pendahuluan menunjukkan siapa dirinya. Dengan bubuk pagebluk ia bisa menguasai semua bangsawan di Keraton tanpa kecuali. Termasuk Raja dan Permaisuri. Dengan ilmu silatnya dan senjata andalan Bandring Cluring ia merontokkan semua ksatria di tanah Jawa. Termasuk Upasara Wulung yang sudah menyandang gelar lelananging jagat. Gebrakan sapu bersih, tanpa ada yang mampu menghadang.

Siapa sangka belum sebulan ia telah terjungkal kembali di tempat di mana ia mampu mengalahkan semuanya?

Rasa-rasanya tak habis pikir.

Apalagi dikalahkan seorang gadis, dan seorang wanita yang menggendong mayat.

Betapa nanti semua tumbuhan dan batu di negerinya akan menertawakan kalau mengetahui hal ini.

Saat itu Manmathaba menyadari kesalahannya. Pertama ia tak menduga bahwa Gendhuk Tri ternyata bisa lolos dari kurungannya. Bisa jadi ini dikarenakan ia menganggap enteng lawan. Ini berdasarkan perhitungan bahwa yang paling perkasa seperti Upasara Wulung mampu ditekuk habis.

Kedua karena hal yang sama, tak menduga bahwa tenaga dalam Nyai Demang bisa menerobos masuk, dan menghancurkan.

Perhitungan Manmathaba yang paling jauh pun tak menemukan bahwa sesungguhnya Nyai Demang dialiri tenaga dalam yang dimiliki Eyang Kebo Berune. Tenaga dalam yang luar biasa, yang dihimpun dalam Pukulan Pu-Ni. Pukulan yang pada intinya bertenaga menghancurkan sekaligus.

Seperti diketahui jurus-jurus yang dahsyat itu diciptakan oleh tokoh-tokoh kelas utama sebagai penangkal Dua Belas Jurus Nujum Bintang yang telah diajarkan secara luas, dan diperdalam oleh hampir semua ksatria.

Ilmu-ilmu itu diciptakan karena kekuatiran bahwa kalau Dua Belas Jurus Nujum Bintang menjadi kekuatan yang disalahgunakan, tetap ada penangkalnya.

Walaupun yang kemudian sangat dikenal adalah Delapan Jurus Penolak Bumi akan tetapi ilmu-ilmu yang lain tak kalah saktinya. Baik ilmu Mpu Raganata, Paman Sepuh, maupun Kebo Berune sendiri, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Pada ajaran ilmu Mpu Raganata, jurus-jurus penangkal itu disebut sebagai Weruh Sadurunging Winarah, yang intinya Mengetahui Sebelum Terjadi. Sebelum lawan memainkan jurus tertentu, sudah bisa diketahui. Bahkan sebelum satu gerakan yang paling kecil sekalipun. Dengan kata lain mengembangkan kekuatan batin untuk menangkap apa yang dirasakan lawan.

Pada ajaran Eyang Sepuh, terciptalah jurus-jurus yang kemudian dikenal sebagai Tepukan Satu Tangan, yang intinya menjadikan dirinya tumbal, menjadikan dirinya sebagai korban. Semakin rela diri kita berkorban, menyerahkan diri, semakin mungkin untuk mementahkan serangan. Dengan kata lain, inti utamanya ialah pasrah.

Pada ajaran Paman Sepuh, lahirlah jurus-jurus yang terangkai dalam Banjir Bandang Segara Asat, yang intinya memindahkan tenaga serangan lawan untuk memerangi sendiri. Dengan kata lain, tenaga dalam lawan yang membanjir dipindahkan untuk menghantam balik, dengan perumpamaan terjadi banjir besar saat laut surut. Pada ajaran Kebo Berune, lahir jurus-jurus yang dikenal dengan sebutan Pukulan Pu-Ni, yang intinya menghancurleburkan tenaga lawan saat serangan lawan datang. Keras dilawan dengan lebih keras. Dengan kata lain, saling menghancurkan tenaga dalam.

Pada ajaran lain, yang sebenarnya bukan semata-mata diciptakan untuk menangkal, adalah Kitab Air. Eyang Putri Pulangsih mencari pengembangan tenaga dari sifat air, sebagai kemungkinan lain dari pengembangan tenaga dalam yang bersifat bumi.

Bahwa kemudian yang diakui secara resmi adalah Tumbal Bantala Parwa, itu semua merupakan kesepakatan para tokoh utama, yang direstui oleh Baginda Raja.

Besar sekali kemungkinannya karena inti ajaran Eyang Sepuh dalam Kitab Penolak Bumi adalah sikap pasrah, sumarah. Sikap menyerah secara tulus dalam artian yang luas, baik kepada sang Maha Pencipta ataupun kepada Raja, lebih sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh dalam masyarakat maupun Keraton.

Sekurangnya jika dibandingkan dengan ajaran Kebo Berune ataupun Paman Sepuh yang lebih mengandalkan kepada tenaga keras menghancurkan Atau dibandingkan ajaran Mpu Raganata yang mengacu kepada kebatinan yang terkuasai.

Manmathaba bukannya tidak mengetahui bahwa ada begitu banyak ilmu atau ajaran yang tangguh di jagat ini.

Yang tak diduganya, bahwa seorang Nyai Demang menyimpan tenaga merusak yang dahsyat. Itulah yang dirasakan kini.

Tulang-tulang kakinya seakan remuk jadi bubuk.

Dalam keadaan di mana dirinya menjadi pemenang satu-satunya, tiba-tiba harus menyadari kekalahan yang memalukan.

Manmathaba menghimpun kekuatannya yang terakhir. Bandul bandringnya memutar dengan keras, dan meluncur lepas ke arah Nyai Demang.

Yang tengah terduduk.

Yang tak sepenuhnya sadar bahaya mengancam.

Gendhuk Tri tak sempat memberi peringatan atau menolong.

Terdengar bunyi pletok keras. Kipas kayu besar Puspamurti yang dilemparkan untuk menghadang remuk menjadi bubuk. Seakan ditumbuk oleh palu godam yang besar.

“Ladlahom.

“Siapa suruh kamu membunuh?”

Satu tangan Puspamurti bergerak, dan tubuh Manmathaba terjatuh ke bawah. Tanpa tenaga dorongan keras pun, Manmathaba sudah akan ambruk!

“Siapa kamu?”

Pertanyaan Nyai Demang dalam nada yang ganjil menandai bahwa Eyang Kebo Berune yang menguasai alam pikiran.

“Aku adalah aku.

“Sejak kapan kamu main-main di tubuh orang lain?” “Sejak aku mau.”

“Sejak kamu mau. Baik juga. Tak kuduga ada juga yang mau mempelajari Kitab Pamungkas” Nyai Demang berdiri dengan gagah. Gerakannya cepat dan agak patah.

“Ngawur. Aku adalah Kebo Berune, senopati ulung dan ksatria utama Keraton Singasari yang menguasai dan menaklukkan tlatah Berune. Mana mungkin aku mempelajari ilmu lain?

“Aku hanya mempelajari dari ajaranku sendiri.” “Ladlahom.

“Kok teganya kamu ini mengingkari harkatmu sebagai manusia. Apa kurangnya?” “Ngawur.”

“Memang. Itulah kita berdua. Manusia-manusia yang perkasa. Yang mementahkan soal dunia dan alam. Soal mati dan hidup tanpa jarak.

“Ladlahom.

“Baguslah itu. Kita sesama manusia.”

Nyai Demang meludah ke arah Puspamurti, yang justru bergelak. “Rasanya baru sekarang aku ketemu sesama manusia. Manusia yang tengik yang busuk, yang mahamanusia. Yang malu mengakui sebagai manusia. Yang tidak mau disebut penjilat, pencuri ajaran orang lain.

“Hei Kebo, siapa kamu ini? Semakin kamu menolak, semakin jelas bahwa kamu ini mengintip ajaran yang bukan milikmu. Tapi ya memang begitu.

“Itulah maha manusia.”

Kali ini Gendhuk Tri yang bengong.

Berbagai pengertian masuk ke dalam kesadarannya. Yang bukan tidak mungkin akan menyingkap apa yang terjadi selama lima puluh tahun lalu.

Puspamurti, tokoh yang aneh ini, selalu menyembunyikan diri dan mengaku sebagai penganut ajaran Kidung Pamungkas. Kitab yang dianggap paling sesat oleh Kiai Sambartaka, karena mengagungkan manusia.

Setelah sekian lama bersembunyi, kemudian muncul untuk lebih meyakini Kidung Pamungkas, Puspamurti merasa sekian banyak ksatria tak ada satu pun yang mempelajari.

Baru sekarang merasa bertemu dengan seorang yang menurut dugaannya, diam-diam mempelajari.

Tanpa pemberitahuan Kiai Sambartaka mengenai Kidung Pamungkas, Gendhuk Tri tak bisa mengerti arah pembicaraan Puspamurti dengan Kebo Berune.

Gelombang Tanpa Buih

DALAM kepala Gendhuk Tri terbentuk gambaran apa yang sedang terjadi.

Puspamurti menemukan “saudara seperguruan”, sementara Kebo Berune menolak dengan keras.

“Kebo tua, sekian lama aku mencari tahu bagaimana bentuk mahamanusia itu sebenarnya. Bagaimana mahamanusia itu bisa mengatasi soal hidup dan soal mati.

“Sekarang baru aku tahu. Ternyata seperti ini kelihatannya. Kamunya sudah mati, akan tetapi masih bisa berkuasa atas manusia lain, masih bisa bercakap, masih bisa menjawab.

“Ladlahom, inilah rupanya yang kupertanyakan.” “Kamu… kamu menuduhku…”

“Apa bedanya?

“Kamu merasa hina? Ladlahom. Apa artinya kehinaan dan tidak?

“Menjadi hina atau mulia, kamu kan tetap manusia. Dan akan selalu tetap manusia. Kalau kamu hina, kamu tidak berubah jadi cacing. Kalau kamu mulia, kamu tidak akan menjadi bunga.

“Ladlahom.

“Sayangnya kamu tidak mau mengakui sebagai manusia. Tapi tak apa. Tak mau mengakui sebagai manusia, karena ia mahamanusia, itu juga manusia dan sekaligus mahamanusia.

” Ladlahom.

“Dasar-dasar ilmu silat kamu boleh juga. Tak buruk. Tapi mengganggu. Begitu kamu mempelajari Kidung Pamungkas, semua itu tak ada gunanya. Malah merusakmu.

“Iya, kan?

“Lihat dan rasakan sendiri. Tenaga dalammu jadi ngawur dan saling berebut, sehingga tubuhmu jadi cacat. Lihat dan rasakan sendiri, bagaimana aku tetap tegak seperti layaknya manusia.”

Sekarang, sedikit-banyak Gendhuk Tri lebih memahami latar belakang Eyang Kebo Berune.

Tokoh yang satu ini di masa mudanya tak pernah diperhitungkan oleh Raganata, Eyang Sepuh, Paman Sepuh, maupun Putri Pulangsih. Bahkan dalam menyusun kitab kanuragan yang akan dijadikan babon, induk segala ilmu silat, pun tak diajak bicara.

Akan tetapi karena tekadnya yang besar, Kebo Berune terus mempelajari. Dari kemungkinan besar selalu gundah, karena merasa tak bisa mengungguli empat tokoh yang lain. Sampai kemudian merasa mendapat “pencerahan” dari Kidung Pamungkas. Itulah yang diperdalam.

Akan tetapi, sebagaimana dikatakan Puspamurti, kesadaran batin Kebo Berune tidak siap untuk menerima nilai-nilai menjadi mahamanusia. Ini menjadi sumber pertarungan batin, yang ternyata tak pernah selesai.

Akibatnya tubuhnya menjadi lumpuh. Lumpuh seluruhnya.

Gambaran ini tak seluruhnya bertentangan dengan apa yang pernah diperkirakan oleh Gendhuk Tri, bahwa gangguan dalam latihan tenaga dalam yang menyebabkan Kebo Berune menjadi cacat.

Mengikuti cara berpikir Puspamurti, soal mencuri ajaran ilmu lain, soal tidak mau mengakui adalah hal yang biasa. Hal yang biasa terjadi pada maha manusia.

Akan tetapi justru karena Kebo Berune belum bisa menerima ajaran dalam Kidung Pamungkas sepenuhnya, tuduhan itu membuatnya murka dan terhina.

Agaknya ini yang dilihat pula oleh Puspamurti. “Kebo manusia, lihat diriku.

“Aku adalah aku. Apakah aku lelaki atau perempuan, apa bedanya kalau aku manusia? Apakah aku bersuami atau beristri, apa salahku? Apakah aku mencuri ilmu silat atau mengajarkan, apa bedanya? Kalau aku mau pakai kipas, biar saja kipas ukuran seberapa pun.

“Aku adalah aku.

“Aku adalah manusia. Dan kamu juga manusia, Kebo. Ilmu curian atau bukan, apa bedanya? Ilmu ciptaan sendiri atau orang lain, apa membedakanmu sebagai manusia? Satu jurus atau seratus jurus, apa perlu dipertanyakan?”

“Tidak… aku bukan…”

“Ya, kamu bukan daun, bukan cacing, bukan Dewa. Kamu manusia. Sama dengan aku, sama dengan Upasara Wulung, sama dengan yang lainnya, hanya lebih mengerti….”

Puspamurti berbicara seolah membuka simpanan pembicaraan yang telah dipendam puluhan tahun. Nyatanya begitu.

Hingga tidak menyadari bahwa ketika mengucapkan nama Upasara Wulung, seketika itu pula Gendhuk Tri bereaksi. Tubuhnya meloncat ke atas, satu tangan meraup tubuh Manmathaba dan tangan yang lain segera menggampar pipi.

Plok-plok-plok!

Keras dan geram pukulan Gendhuk Tri, karena membekas di kedua pipi Manmathaba yang disusul cairan darah menetes dari sudut bibir.

Gerakan Gendhuk Tri menyambar tubuh Manmathaba dan mengangkat serta menampar, merupakan rangkaian gerakan “menjadi gelombang tanpa menimbulkan buih”. Penamaan yang mulai dihayati Gendhuk Tri.

Dalam kaitan ini, sebenarnya buih dimaksudkan sebagai emosi, sebagai rasa kasar yang mencuat ke luar. Seharusnya Gendhuk Tri tidak mengikuti perasaan hatinya.

Akan tetapi hal ini memang sulit terkuasai.

Bukan karena Gendhuk Tri tidak memahami. Sebab utama ia “berbuih” yang membuatnya menggampar pipi, karena secara emosional kepekaannya terlukai oleh sikap Manmathaba pada Upasara Wulung.

Padahal itu yang menyebabkan ia datang dan menerjang ke Keraton. “Katakan di mana Kakang Upasara.

“Jawab atau…” Plak-plak… Plak.

Tamparan yang terakhir membuat kepala Manmathaba terkulai ke belakang. Sewaktu Gendhuk Tri melepaskan pegangannya, tubuh Manmathaba melongsor ke bawah. Yang segera disambut dengan tekukan lutut Gendhuk Tri, sehingga tubuhnya mental lagi ke atas.

Tangan kiri Gendhuk Tri kembali bergerak.

Seiring dengan suara plak, Manmathaba memuntahkan darah disertai beberapa buah gigi yang somplak sampai ke akar-akarnya.

“Akan kubikin ompong. Akan kutelanjangi di sini, dan kukencingi kalau kamu tetap kepala batu….” Puspamurti jadi menengok.

“Ladlahom.

“Manusia kok bisa kesetanan. Harusnya setan yang kemanusiaan. Gadis dusun, jangan ganggu omongan sesama manusia.”

Mana mungkin Gendhuk Tri memedulikan Puspamurti. Sekali tangannya bergerak, leher Manmathaba tercekik. “Satu tenaga kecil, kamu mati dengan mendelik. “Katakan di mana Kakang Upasara….”

“Ya, di mana Adimas….” Kali ini suara Nyai Demang nyaring sekali. Langkahnya perlahan mendekat. “Ladlahom.

“Kebo, kamu kalah dengan manusia yang kamu pakai, kan?” “Di mana?”

Suara Nyai Demang meninggi. Tangannya mengusap wajah Manmathaba yang sudah berubah bentuknya akibatnya tamparan berturut-turut dari Gendhuk Tri.

“Manmathaba, kamu pendeta tinggi. Tidak baik mati dengan cara seperti ini. Katakan di mana Adimas Upasara….”

“Di mana dia?”

Kali ini baik Gendhuk Tri maupun Nyai Demang terkesima. Suara kuatir yang menanyakan di mana Upasara terdengar sangat menggeletar. Seperti suara rintihan yang terendam luka lama.

Suara Ratu Ayu.

Suara seorang istri yang memprihatinkan suaminya!

Sepersekian kejap, Nyai Demang dan Gendhuk Tri saling pandang. Seolah dalam sepersekian kejap keduanya menyadari bahwa sebenarnya yang paling berhak kuatir adalah Ratu Ayu. Pada kejapan berikutnya sekaligus juga lucu. Mereka bertiga mempertanyakan orang yang sama.

Seorang gadis, seorang janda, dan seorang ratu!

“Kamu tak akan memperoleh jawaban,” jawab Manmathaba tenang sekali. “Kalian bisa mengalahkanku, akan tetapi kalian tak bisa memaksaku.” Nyai Demang terdiam.

Ratu Ayu melangkah mundur. Gendhuk Tri malah tersenyum.

“Kamu pikir, aku tak bisa memaksa kamu buka mulut?”

“Coba saja,” tantang Manmathaba. “Kalau kamu kencingi saya, siapa yang lebih malu?” Puspamurti tertawa lebar.

Kalimat-kalimat yang terdengar membuat perhatiannya teralihkan, untuk sesaat.

“Akan aku bawa tubuhmu ke Kiai Sambartaka. Biar ia bawa kamu ke negerimu sana….”

Gendhuk Tri asal mengancam saja. Karena mengetahui bahwa mereka berdua mempunyai dendam permusuhan yang mendarah daging sejak beberapa keturunan.

Di luar dugaannya, Manmathaba menutupkan matanya. “Bunuh aku.”

“Enak saja.”

“Akan kukatakan di mana Upasara. Setelah itu bunuh aku. Kamu harus berjanji. Atau beri kesempatan aku membunuh diri.

“Bagaimana?”

Duka yang Tertunda

“BOLEH juga permintaanmu. Aku tak mau membunuhmu karena akan mengotori tanganku. “Sekarang katakan di mana Kakang Upasara.”

Manmathaba mengerjapkan matanya. Menelan ludahnya dengan perasaan penuh. Seolah merasakan setiap getaran urat tubuhnya sebagai akhir semua gerakan.

Jauh dalam hati Manmathaba mengagumi bahwa jiwa ksatria sangat berharga. Kalau Gendhuk Tri sudah berjanji, biar bagaimanapun ia akan memenuhinya.

Itu seratus kali lebih baik baginya. Dibandingkan harus diserahkan hidup-hidup kepada Kiai Sambartaka. Manmathaba tak bisa membayangkan berapa puluh turunannya bakal menanggung kehinaan kalau hal itu sampai terjadi.

“Katakan…”

“Upasara telah lama mati.” Tangan Gendhuk Tri terangkat ke atas. Siap menampar keras. Kalau itu dilakukan, tulang pipi Manmathaba bakal hancur.

Nyai Demang menjerit keras. Tubuhnya bergoyang-goyang dan ambruk. Sementara Ratu Ayu merintih kecil sebelum akhirnya jatuh tak bergerak

Sekelebat, Gendhuk Tri menduga bahwa Manmathaba sengaja memainkan perasaannya. Akan tetapi dugaan itu melemah dengan sendirinya. Dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana kehormatan terakhir sangat tergantung pada Gendhuk Tri, sulit dibayangkan bahwa Manmathaba akan memainkan peranan mempermainkan perasaan. Kalau Halayudha, sangat boleh jadi.

Sepicik apa pun, agaknya Manmathaba tak perlu bersiasat lagi. Tak ada gunanya, di saat-saat yang terakhir.

Jalan pikiran Gendhuk Tri berbalik lagi.

Jangan-jangan memang sengaja begitu. Agar… Agar apa?

Agar ia membunuhnya!

“Kamu keliru, Manmathaba. Aku tak akan membunuhmu karena gusar berita yang kamu sampaikan. Akalmu bisa ketahuan. Dari mana kamu mengetahui Kakang Upasara telah…”

Manmathaba menghela napas.

“Upasara terluka dalam di pundak kirinya. Sumber kekuatannya selama ini. Dalam tawanan keadaannya memburuk, karena siksaan. Baik dari aku maupun dari Halayudha.

“Usahanya untuk mengembalikan kekuatan makin membuat parah lukanya. “Itulah sesungguhnya.”

“Dusta! Tak mungkin.”

“Di belakang Keraton, di bawah pohon sawo kecik yang membelukar ada gundukan tanah. Kenalilah sendiri. Barangkali bukan dia, tapi itulah yang kusaksikan.

“Aku sendiri tak begitu mudah percaya. Upasara Wulung tokoh yang sakti. Bahkan lebih dari siapa pun, ia bisa memulihkan tenaga dalamnya yang hilang. Mampu mengembangkan dan mengerahkan kembali tenaga cadangan yang, barangkali, hanya dia satu-satunya yang memiliki.”

“Baik, aku akan seret kamu ke sana. Kalau dusta, aku panggil Kiai Sambartaka….” Perlahan Manmathaba mengangguk.

“Ladlahom.