Senopati Pamungkas Buku - II Jilid 05

Jilid 05

Menyerang tanpa mengganggu yang mengikuti.

Tenaga kedutannya begitu keras, sehingga Barisan Padatala mengeluarkan seruan yang tak bisa dimengerti. Tubuhnya tertahan di angkasa, sementara prajurit lain yang ikut menyergap terpental jauh.

Upasara sedikit heran.

Karena Barisan Padatala yang diduga memberi perlawanan keras ternyata bisa ditahan begitu saja. Bahkan menunjukkan kemampuan mereka bertiga tak terlalu istimewa dari segi pengaturan tenaga dalam.

Keistimewaan sebagai barisan hanyalah arah serangan yang berbeda-beda, dan berbeda-beda pula daya gempurnya.

Akan tetapi Upasara justru lebih waspada.

Kalau tokoh yang diunggulkan di barisan terdepan kemampuannya tak lebih istimewa seperti yang sekarang terlihat, pasti masih ada yang disembunyikan.

Itu yang perlu diwaspadai. Maka Upasara bergerak cepat.

Lipatan setagen dirapatkan, sehingga Cebol Jinalaya dan Permaisuri Rajapatni seakan melengket di punggungnya.

Barisan Padatala turun dengan berjungkir-balik. Saling menjaga.

Mengepung.

Gelang di kakinya mengeluarkan suara berdering. “Pagebluk!”

Perintah Putra Mahkota membuat Halayudha mengerutkan keningnya. Bukan karena pagebluk berarti kematian serentak dan berturut-turut, akan tetapi dengan aba-aba seperti itu lawan sempat mempersiapkan diri. Kalau jurus kunci yang merupakan jurus maut dikeluarkan pada babak-babak awal, masih bukan hal yang luar biasa. Akan tetapi kalau orang luar ikutan memberi perintah, padahal tidak cukup menguasai, akibatnya bisa mengurangi daya serang.

Apalagi yang dihadapi adalah ksatria lelananging jagat! “Adik manis, awas…!”

Teriakan Upasara bagai guntur keras.

Tubuhnya tergulung bagai kitiran, bagai baling-baling yang pesat sekali.

Putaran Bumi

SlNGANADA mengeluarkan pujian kagum.

Akan tetapi segera merasakan tubuhnya sempoyongan. Hanya karena Gendhuk Tri mendampingi rapat, Singanada masih bisa bertahan. Akan tetapi perlahan pandangannya mengabur, kakinya lemas, dan kedua tangannya seperti melayang-layang.

Baginda menggaruk rambut kepalanya.

Sesuatu yang tak mungkin dilakukan di depan prajuritnya, di dekat abdinya. Ada sesuatu yang tak bisa dimengerti.

Sejak tadi bisa mengkuti jalannya pertarungan, dengan jelas. Sejak Upasara seolah rajawali terbang yang dengan gagah turun dan naik, menyambar dan menyapu kiri-kanan sampai ketika mendadak tubuhnya bergulung.

Baginda boleh dikata mengetahui ilmu dasar Upasara Wulung, yang bisa bergulung. Ditambah dengan latihan tenaga dalam dan pemecahan dari Kitab Bumi, pastilah kemampuannya luar biasa.

Namun bahwa dengan menggulung diri, semua prajurit dan senopati di sekitarnya jadi ambruk bersamaan, itu di luar dugaan sama sekali.

Bahkan dalam jarak yang cukup jauh, Mahapatih Nambi pun jatuh!

Juga tubuh Halayudha, karena penggendongnya telungkup tak bangun lagi. Barisan depan yang terdiri atas puluhan prajurit rebah ke tanah seketika!

Ilmu ajaib macam apa lagi yang dipamerkan Upasara?

Dari sekian banyak kidungan dalam Tumbal Bantala Parwa, boleh dikatakan hanya beberapa yang membuat Baginda seperti mengenali jurus-jurus baru, karena dasarnya cukup diketahui.

Jurus baru yang baru saja diperlihatkan Upasara adalah jurus Satebah Lemah, Sanyari Bumi, yang ternyata bisa mengecoh Halayudha.

Lalu gerakan yang baru saja dilakukan.

Dari sumbernya, Baginda bisa mengenali bahwa putaran tubuh Upasara adalah Putaran Bumi, atau dikenal dalam kidungan sebagai Putaran Dhomas Bumi. Yang mengambil kekuatan bumi, berputar seperti bumi dengan kecepatan delapan ratus kali, dhomas!

Itu memang luar biasa. Delapan ratus kali lebih cepat.

Akan tetapi Baginda juga menyadari bahwa sebutan dalam kidungan atau dalam ilmu silat tidak berlaku mutlak. Sebutan dhomas tidaklah bisa diartikan sebagai apa adanya kata tersebut. Meskipun memang luar biasa.

Hanya saja, kalaupun demikian hebat, bagaimana mungkin puluhan prajuritnya, senopati yang paling kuat, termasuk Mahapatih Nambi, terpengaruh dan jatuh?

Ilmu setan yang paling ganas pun rasanya belum pernah seperti yang disaksikan sekarang ini. Atau dirinya salah lihat?

Baginda merasa dirinya tercekam dengan kehebatan Upasara, sehingga jalan pikirannya terlalu mengagungkan setiap gerakan yang ada. Perasaan ini disadari ketika terdengar suara dingin Putra Mahkota.

“Perang telah selesai.” Suara penuh kebanggaan. Baginda menahan napas.

Putra Mahkota bersujud di kaki Baginda.

“Mohon ampun kalau jatuh korban begitu banyak. Hamba tak ingin lebih banyak lagi.” “Apa yang terjadi?” Putra Mahkota tersenyum bangga dalam hatinya ketika menyembah dan tetap menunduk.

“Para pendeta dari Syangka menggunakan bubuk pagebluk. Semacam racun dalam bubuk lembut. Siapa yang mengisap udara akan terpengaruh karenanya.

“Hamba telah melihat latihan mereka, Baginda. “Hasilnya tak mengecewakan.

“Memang ketiga Barisan Padatala ikut tumbang, akan tetapi mereka telah meminum penangkal sebelumnya. Sehingga sebentar lagi akan siuman kembali.”

Apa yang dikatakan Putra Mahkota terjadi.

Dari puluhan orang yang rebah tak bergerak, nampak ketiga orang yang kakinya bergelang bangkit perlahan. Jalannya masih bergoyang-goyang akan tetapi sudah bisa berdiri.

“Yang lainnya tak tertolong. “Mohon ampun, Baginda.”

Sejauh Baginda memandang, tak ada yang bergerak.

Benar luar biasa. Dalam jarak yang cukup jauh yang mengisap bubuk pagebluk seketika itu roboh dan tak bangun lagi. Bahkan tokoh yang cukup tangguh pun ikut terbantai.

Hanya Halayudha yang masih sepenuhnya sadar. Namun ia tak bisa bergerak.

Karena kebekuan kakinya yang dimatikan sarafnya, belum bisa dipulihkan. Akan tetapi bisa menyaksikan bahwa yang berada di sekitarnya ambruk tak bergerak. Termasuk Gendhuk Tri dan Maha Singanada, yang baru saja tampil sebagai pasangan pendekar yang gagah perkasa.

Bubuk pagebluk, bubuk yang paling menjijikkan!

Halayudha yang mengaku sering merencanakan tipu muslihat yang paling busuk pun tak menyangka bahwa Putra Mahkota akan memerintahkan pemakaian bubuk pagebluk.

Karena menghancurkan sekian puluh prajurit utama. Para senopati.

Termasuk dirinya dan Mahapatih Nambi. Betul-betul kelewat ganas.

Untuk pertama kalinya Halayudha bergidik. Kalau semasa masih menjadi putra mahkota sudah begini kejam dan memerintahkan pembantaian, bisa dibayangkan apa yang terjadi di kelak kemudian hari.

Halayudha bergidik, justru karena ia yang memerintah menyusun Barisan Saharsa Bala. Seribu prajurit yang siap mati dalam pertarungan.

Namun itu masih ada alasannya.

Mati karena menyerang musuh. Atau diserang.

Bukan mati dikorbankan sebagaimana terkena bubuk pagebluk.

Sementara Halayudha masih tertegun dan terguncang, Putra Mahkota segera memerintah agar diadakan pembersihan.

“Singkirkan mayat-mayat.

“Bersihkan halaman Keraton seperti semula.

“Para perusuh kumpulkan jadi satu. Para prajurit yang gugur akan mendapat anugerah dariku. “Cukup!”

Di akhir kalimatnya, terdengar bunyi genderang bertalu-talu dan trompet penghormatan dengan nada tinggi.

Halayudha tertunduk.

Makin jelas kini bahwa Putra Mahkota telah menyiapkan segala sesuatu dengan rinci. Termasuk upacara mengeluarkan sabda yang diakhiri dengan bunyi genderang dan terompet tanduk, yang biasanya hanya mengiringi raja.

Sempat terlintas dalam benak Halayudha, bahwa kini keadaannya pun bisa terancam. Bisa tiba-tiba terkena bubuk pagebluk atau yang sejenis dengan itu.

Dada Halayudha terasa sakit. Sakit sekali. Ia merasa dirinya tidak gentar dengan ilmu yang paling sakti. Ia maju dengan gagah menghadapi Upasara Wulung yang menyandang gelar ksatria lelananging jagat. Ia tak akan gentar menghadapi ilmu hitam atau ilmu sesat seperti yang terlihat pada diri Nyai Demang.

Tapi sungguh tak terbayangkan bahwa ia akan menghadapi bubuk pagebluk!

Sesuatu yang tak bisa dilawan dengan ilmu silat yang sakti sekalipun. Karena berbeda tata aturannya. Halayudha merasa pedih.

Pedih sekali.

Ia merasa dirinya orang yang paling tidak berbudi. Mencelakakan gurunya. Menyiasati semua orang tanpa pandang bulu, tanpa peduli.

Tapi dalam batas-batas tertentu, ia tak mungkin menggunakan racun bubuk pemusnah seperti yang digunakan Barisan Padatala.

Di bawah kelicikan, tersembunyi kelicikan yang lebih keji.

Tiba-tiba saja membersit perasaan eman, perasaan sayang akan nasib yang dialami oleh Upasara. Bukan karena apa, tapi semata-mata pertimbangan seorang ksatria yang begitu gagah perkasa, yang begitu tinggi ilmu silatnya, ambruk karena bubuk racun.

Betapa sia-sia.

Betapa tak adilnya dunia.

Kalau gugatan itu lebih bergema pada diri Halayudha, sebenarnya bisa dimengerti. Kekerasan hatinya, keculasan siasatnya selama ini, diakui sendiri tak mengenal perikemanusiaan. Halayudha mengakui, dan menjadi lebih sadar ketika mempelajari Kidungan Para Raja.

Tapi peristiwa sekejap yang baru saja dilihat, lebih menampar kesadarannya. Merobek dan menjungkirbalikkan pengertian-pengertian tentang kelicikan dan ketelengasan.

Bibir Halayudha tergetar.

Sanggar Pamujan

BAGINDA meninggalkan tempat.

Tanpa memberi tanda pada para prajurit kawal pribadi. Atau para senopati. Meskipun demikian langkahnya tidak kelihatan tergesa.

Melewati bagian dalam Keraton, Baginda tidak menuju kamar peraduan. Meneruskan langkah ke sisi kiri ruang utama, melewati samping luar.

Kakinya menginjak kerikil-kerikil kecil yang ditata apik, sehingga menimbulkan suara kerisik berirama. Para prajurit yang mengantar bersimpuh di kejauhan.

Baginda mencuci tangan, kaki, dan wajah dari air mancur kecil. Tanpa memperhatikan keadaan sekitar.

Sekilas wajahnya seperti tak mencerminkan apa-apa. Sunyi.

Para prajurit tak ada yang berani mendongak atau melirik.

Mereka hanya mendengar langkah kaki yang sangat ringan, perlahan, mendaki tangga kayu. Baginda sedang menuju sanggar pamujan.

Masuk ke dalam bangunan dari kayu yang dibuat sangat sederhana. Tanpa hiasan ukiran atau tanda- tanda kebesaran. Tak ada petunjuk sebagai tempat yang istimewa. Tak ada umbul-umbul, tak ada janur atau daun kelapa yang masih muda.

Tak ada apa-apa.

Selain bangunan sederhana. Juga di dalamnya.

Baginda terus mendaki. Melewati 55 anak tangga, lalu masuk ke bagian luar bilik. Di sini semua pakaian kebesaran yang masih melekat dilepaskan. Baik sumping di telinga, gelang di pergelangan tangan, cincin permata, cunduk kepala, bahkan rambutnya dibiarkan tergerai.

Semua tanda kehormatan dan kebesaran dibiarkan tergeletak begitu saja.

Bahkan pakaiannya, kain kebesaran yang coraknya tak mungkin disamai oleh yang lain, dibiarkan tergeletak, nglumbruk di lantai kayu.

Baginda hanya mengenakan kerudung kain putih yang membalut sekenanya. Memasuki bilik kecil sempit.

Dalam keadaan seperti ini, Baginda merasa dirinya manusia kecil yang menghadapi alam semesta yang besar. Menjadi manusia biasa yang telanjang, juga dalam artian sebenarnya.

Bersila, dengan tangan menyembah ke arah depan. Memusatkan perhatian sepenuhnya.

Kalau kemudian membakar dupa, tangannya sendiri yang melakukan. Mengumpulkan dupa, menyalakan api, meniup agar dupa terbakar dan bau harum menyebar.

Sendiri. Sendirian.

Berhadapan dengan Dewa Yang Mahakuasa, Baginda menempatkan diri sebagaimana umat yang lain. Tak ada perbedaan derajat atau pangkat, tak ada perbedaan warna darah. Tak ada perbedaan seorang raja yang bayangan tubuhnya mampu menentukan nasib seseorang.

Adalah suatu tradisi utama bagi para raja untuk bersemadi di sanggar pamujan, sanggar tempat memuja.

Yang bangunannya dibuat demikian sederhana. Dari kayu, seluruhnya, tanpa pernik-pernik. Tanpa dihias, tanpa penutup pintu yang istimewa.

Sanggar pamujan adalah tempat yang istimewa bagi kehidupan seorang raja. Karena begitu melangkah masuk ke dalamnya, ia menjadi manusia biasa, menanggalkan semua tanda yang membedakannya dari manusia yang lain.

Sendiri. Sendirian.

Memusatkan perhatian sepenuhnya kepada suara-suara gaib, kepada suara hatinya yang bertanya, dan berusaha menangkap jawaban-jawaban. Baik berupa isyarat atau perlambang. Impian atau desir angin atau suara daun jatuh.

Para prajurit pengawal yang berada di kejauhan hanya bisa menunggu. Sambil melirik sesekali ke dupa yang asapnya meliuk dari dalam sanggar.

Jika asap itu lurus ke atas, tanda doa Baginda diterima.

Jika asapnya masih melenggok, tanda persembahan dan percakapan batin Baginda belum diterima. Sederhana.

Baginda sendiri tidak mengetahui bagaimana keadaan asap di luar sanggar pamujan. Karena seluruh kemampuan lahir dan batin sedang dipusatkan kepada satu hal.

Kekuasaan yang lebih tinggi. Dewa yang lebih menentukan.

Keinginan Baginda untuk masuk dan bersemadi di sanggar pamujan bukan muncul begitu saja. Sejak beberapa hari terakhir, ada semacam kegelisahan yang tak bisa diusir atau ditenggelamkan dalam perintah-perintah besar.

Sendiri. Sendirian.

Baginda menghadapi dirinya. Menatap apa yang selama ini dilakukan, melihat dirinya sebagai raja yang memerintah, yang memutuskan segala persoalan.

Menatap kembali apa yang diputuskan. Dan mempertanyakan.

Serta menunggu jawaban.

“Tunjukkan jalan yang seharusnya hamba tempuh, duh Dewa segala Dewa. “Di mana salah di mana keliru.

“Di mana doa, di mana dusta.

“Hamba menunggu dawuh, menunggu perintah.” Sunyi.

Sendiri.

Percakapan batin yang tak terdengar selain yang mengucapkan dan yang diajak bicara. Pada saat-saat yang khusyuk seperti sekarang ini, kepakan sayap burung bisa menjadi pertanda. Angin, ujung daun, atau seekor cicak menjadi perlambang.

Baginda menunggu. Bergeming.

Tak bergerak.

Bersila dengan kerudung kain putih. Sesekali tangannya menaburkan dupa. Sendiri.

Sanggar pamujan yang dibangun di tempat yang lebih tinggi, yang selalu kosong tanpa pernah ada yang menyentuh sejak selesai dibuat, memang diperuntukkan khusus bagi Baginda.

Kalau ada debu, Baginda yang membersihkan sendiri.

Kalau ada daun kering yang jatuh ke dalam, tangan Baginda sendiri yang membersihkan. Tak ada siapa-siapa.

Hanya percakapan batin.

Yang berlangsung dalam diam. Sendiri.

Sendirian.

Pertanyaan dan jawaban hanya bisa didengarkan sendiri.

Pada saat semacam itu Baginda melupakan semua kebesaran dan keleluasaan yang dimiliki. Menyisihkan Keraton yang gemerlap, melupakan para permaisuri, para gundik, dan abdi, menanggalkan masalah tentang peperangan, para senopati, tentang Putra Mahkota, atau bahkan dirinya sendiri.

Di sanggar pamujan semua lepas. Tanggal.

Di luar, para pengawal menunggu. Sampai kapan pun akan menunggu. Dengan menjaga sebaik mungkin, agar suasana sekitar sanggar pamujan ikut menjaga ketenangan.

Tak ada suara kaki berjalan.

Tak ada dengusan napas dalam jarak lima puluh tombak.

Bahkan semuanya, tanpa diperintah ikut bersemadi. Ikut membantu semadi Baginda. Juga di rumah kediaman para kerabat Keraton, para sentana. Baik di biliknya yang kosong, atau di tempat yang biasa digunakan untuk memuja.

Bagi para sentana dalem, kehadiran Baginda ke sanggar pamujan mempunyai nilai batin yang tinggi.

Sebelum memutuskan sesuatu yang penting, yang wigati, Baginda akan memasuki sanggar pamujan. Dan akan terus berada di dalamnya, sampai merasa mendapat jawaban.

Sunyi. Sendiri. Sendirian.

Hanya asap dupa yang menjadi pertanda dari kejauhan. Selebihnya tak ada apa-apa.

Bangunan kayu yang mati, yang tak menentukan apa-apa, tapi menjadi begitu penting. Karena justru dari bangunan kayu sederhana ini ditentukan nasib kelanjutan bangunan-bangunan utama yang megah dalam Keraton.

Tiang-tiang yang sepemeluk tiga orang, seakan ditentukan dari lantai kayu di sanggar pamujan. Juga gerbang utama yang perlu delapan orang untuk membuka dan menutup. Juga takhta.

Semuanya. Dari kesunyian. Kesendirian.

Bersih Desa

SEMENTARA itu di halaman Keraton, terjadi pembersihan.

Semua korban yang terkena bubuk pagebluk dikumpulkan. Dirawat dengan percikan bunga tujuh rupa. Darah dicuci hingga meninggalkan bau harum, senjata dibersihkan dan disarungkan kembali. Putra Mahkota Bagus Kala Gemet menyaksikan dari kejauhan, sebelum akhirnya masuk ke dalam. Menemui Permaisuri Indreswari yang berada dalam kamar peraduannya.

Menyembah dengan hormat. “Putramu lelaki sowan, Ibu….” “Duduklah yang tenang, anakku.

“Baginda sedang berada di sanggar pamujan.”

Putra Mahkota menyembah dan mengangguk hormat. “Semua berjalan sesuai dengan rencana.

“Berhati-hatilah, anakku. Kini saatnya dirimu memerintah. Tunjukkan bahwa dirimu pantas mengendalikan Keraton. Pantas duduk di singgasana.

“Semua keluarga prajurit yang menjadi korban, beri imbalan yang pantas. Beri hadiah yang menggembirakan.

“Rakyat kecil selalu mengharapkan.

“Kamu bisa memberikan tanpa pernah kehilangan apa-apa.” “Sudah diperintahkan, Ibu.”

“Mulai sekarang ini juga, kamu harus tampil.

“Kejadian di halaman Keraton harus menjadi titik tolak. Seumpama kata ini bersih desa, pembersihan segala benalu dan penghalang. Mencabut semua rumput dan tumbuhan yang mengganggu.

“Di saat Baginda berada di sanggar pamujan, kamu melanjutkan tata pemerintahan. “Jangan sia-siakan kesempatan yang baik ini.

“Jalan sudah rata di depanmu. “Restu Ibu akan selalu menyertaimu.

“Ibu hanya bisa berdoa memohon Dewa Yang Maha Mengetahui.” Putra Mahkota menghaturkan sembah.

“Yang sudah tunduk, tak boleh mendongak lagi.

“Pada saat kecemasan sedang mengembang, siapa yang berdiri paling tegak yang didengarkan.

“Sekarang ini, Mahapatih Nambi pun tak mempunyai kekuatan batin apa-apa. Halayudha juga tidak. Para sentana tak akan melihat Rajapatni sebagai putri utama.

“Anakku, jalan begitu rata. “Kakimu tak akan tersandung lagi.”

Putra Mahkota menyembah dan berjalan jongkok ketika keluar dari kamar peraduan. Merasa bahwa segalanya telah berada dalam genggaman kekuasaan tangannya.

Hanya saja hatinya sedikit tergetar ketika Wacak memberikan laporan yang mengejutkan. “Tak ada mayatnya?”

“Sampai sekarang belum ditemukan, Baginda Muda.” “Cari sampai ketemu!

“Bongkar semua tanah!”

Ini termasuk mengherankan. Dari sekian banyak prajurit yang meninggal atau terpengaruh bubuk pagebluk, ternyata tak ditemukan mayat Upasara Wulung. Juga Permaisuri Rajapatni. Yang jelas ditemukan dalam keadaan hancur adalah Cebol Jinalaya.

Sementara Gendhuk Tri dan Maha Singanada bisa ditawan.

Satu demi satu dari puluhan mayat diperiksa. Sebagian sudah hancur tubuhnya karena hujan senjata, sebagian masih dikenali. Akan tetapi, sepertinya tetap tak ada mayat yang bisa diduga sebagai Upasara atau Permaisuri Rajapatni.

“Rahasiakan hal ini.

“Usahakan menemukan mayatnya sampai dapat.”

Keheranan dan pertanyaan juga terbersit dalam diri Resres. Mereka bertiga boleh dikatakan melepaskan bubuk beracun secara bersamaan. Hanya karena telah menelan obat penangkal, mereka bertiga tidak ambruk untuk selamanya.

Hanya sementara. Maka akan sangat mengherankan sekali kalau Upasara Wulung bisa lolos.

Selama ini, belum pernah ada yang bisa luput dari serbuan bubuk beracun. Apalagi dalam pertarungan jarak pendek, di mana angin berkesiuran sehingga bubuk menyebar ke segala jurusan.

Ketiga pendeta Syangka yang khusus datang untuk memperlihatkan ramuan bubuk beracun, tak akan percaya kalau ada yang kebal.

Mereka yang menciptakan pun tak bisa sepenuhnya bebas dari pengaruh. Bagaimana mungkin manusia yang menghirup udara bisa terbebas?

Sedikit sekali yang mengetahui bahwa Upasara dan Permaisuri Rajapatni tak ditemukan mayatnya. Dalam pengumuman resmi Keraton, dinyatakan bahwa semua pemberontak telah berhasil diamankan.

Halayudha mengendus ada sesuatu yang tak beres. Namun tak bisa merasa yakin.

Apakah Upasara bisa lolos ataukah sekarang ini tertawan. Ia tak bisa bergerak secara leluasa. Karena kakinya tak bisa bergerak, dan sekarang seluruh keamanan Keraton di bawah pengawasan Barisan Padatala.

Perhitungan Halayudha lebih kepada ilmu silat Upasara Wulung.

Dalam tingkatnya sekarang ini, Upasara telah menguasai Kitab Bumi secara sempurna. Bahkan telah mampu mengembangkan secara luar biasa. Jurus Sanyari Bumi atau Sejari Bumi menjadi sangat luar biasa.

Ditambah dengan jurus terakhir yang dimainkan, di mana tubuhnya bergerak sangat cepat, lebih cepat dari putaran bumi, membuktikan kelebihan yang luar biasa.

Bukan tidak mungkin Upasara lolos dari kepungan. Bersama Permaisuri Rajapatni.

Kalau Cebol Jinalaya tak bisa ikut lenyap, karena dua kemungkinan. Tidak memegang setagen secara baik. Atau… secara sengaja melepaskan diri.

Selama ini Cebol Jinalaya selalu mencari jalan kematian yang terbaik. Agar bisa sowan dan melayani roh Sri Baginda Raja di alam abadi.

Sekarang, menurut perhitungan Halayudha, ke arah mana Upasara meloloskan diri? Dalam kemelut yang terjadi, segalanya serba samar.

Akan tetapi Halayudha berada di medan pertarungan. Bahkan bisa melihat lebih jelas karena posisi tubuhnya lebih tinggi dari yang lain. Di samping itu, ia sengaja lebih memperhatikan pertarungan Upasara, dibandingkan menggempur Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

Masih terbayang di saat terakhir, ketika Putra Mahkota memerintahkan penyebaran bubuk pagebluk. Ketika itu ada bubuk yang menyebar. Dan seketika semuanya menjadi lunglai.

Roboh.

Tetapi Upasara, beberapa kejap sebelumnya telah menggulung diri. Bisa jadi tidak terpengaruh langsung.

Masalahnya kalau kemudian bisa lolos, ke arah mana? Halayudha mendesis.

Terseret jalan pikirannya.

Kalau Upasara meleset ke luar, agak tidak mungkin tidak diketahui prajurit yang lain. Saat itu seluruh Keraton sampai alun-alun penuh dengan prajurit yang bersiaga. Bahkan ia sendiri yang memerintahkan untuk mengatur strategi begitu. Dengan harapan Upasara tidak bisa meloloskan diri ke luar.

Berarti kemungkinan utama ialah masuk ke dalam Keraton. Dengan kata lain, sekarang ini masih berada dalam Keraton. Berada di salah satu bagian Keraton.

Ini menarik.

Karena menegangkan.

Dengan berada di dalam Keraton, masalahnya bukan hanya belum selesai, akan tetapi justru seperti baru mulai.

Kalau berada di dalam Keraton, kira-kira bersembunyi di mana? Tak terlalu sulit bagi Halayudha untuk menebak.

Mereka berdua akan memilih kaputren. Atau lebih tepatnya di mana Tunggadewi dan Rajadewi berada.

Tak ada tempat lain yang ingin dilindungi oleh Upasara maupun Permaisuri Rajapatni selain dua putrinya.

Halayudha berusaha mencari sisik melik, mencari kabar dari kaputren. Akan tetapi tanpa hasil. Tak ada kesan bahwa Upasara berada di sekitar. Lagi pula tempat itu dijaga sangat ketat.

Ataukah Upasara sedang terluka parah?

Tak berbeda dari Gendhuk Tri dan Maha Singanada yang terkena pengaruh bubuk beracun? Kalaupun begitu, di mana kira-kira Upasara menyembunyikan diri?

Bagi Halayudha hal ini jauh lebih menarik ditelusuri. Keberadaan Upasara.

Mendadak Halayudha menggerung keras.

Hanya ada satu tempat di mana Upasara bisa bersembunyi tanpa diketahui, tanpa diusik oleh siapa pun.

Yaitu di sanggar pamujan!

Pustaka Asmara

PERHTTUNGAN-PERHITUNGAN Halayudha tak meleset sedikit pun. Kecuali perhitungan yang terakhir.

Sejak Barisan Padatala muncul, Upasara bersiaga penuh. Kewaspadaannya berlipat.

Sebelum perintah Putra Mahkota untuk menyebarkan bubuk pagebluk, Upasara telah menggulung diri dalam Putaran bumi. Sehingga praktis seluruh tubuhnya tertutup dari kemungkinan serangan dalam bentuk apa pun.

Akan tetapi dengan demikian, Upasara terpaksa melepaskan kain dan bajunya.

Hanya saja sewaktu merapatkan tubuh Permaisuri Rajapatni dan Cebol Jinalaya, yang terakhir ini menatap Upasara.

“Terima kasih, Ksatria….” Ucapan itu tak selesai.

Cebol Jinalaya melepaskan pegangannya. Seperti yang diperhitungkan Halayudha.

Sebenarnya bagi Upasara masih ada kesempatan untuk menyentakkan tenaga lewat setagen. Sehingga tubuh Cebol Jinalaya masuk ke dalam rangkulan. Lengket dengan tubuhnya. Itu yang akan dilakukan.

Ia sama sekali tidak mengenal si cebol hitam yang nampak aneh. Akan tetapi mengingat persahabatan yang begitu dekat dengan Gendhuk Tri dan melihat kegagahannya sewaktu menghadapi masa-masa kritis, hati Upasara tersentuh.

Kegagahan yang hanya dimiliki ksatria.

Akan tetapi sorot mata Cebol Jinalaya yang berharap dan berterima kasih sesaat melepaskan pegangan, menyebabkan Upasara ragu dengan niatnya.

Semuanya berjalan sangat cepat. Kelewat cepat.

Sebab tenaga Putaran Bumi adalah tenaga dhomas yang mampu melipat ganda sebanyak delapan ratus kali. Sehingga sebelum mata berkejap, tubuh Upasara sudah bergulung.

Bagai angin beliung melesat.

Perhitungan Halayudha bahwa Upasara tidak menuju ke bagian luar Keraton sejalan dengan jalan pikiran Upasara. Sewaktu meloncat ke atap Keraton, Upasara melihat bahwa lautan prajurit menyemut rapat sampai ke alun-alun.

Sehingga tak mungkin menerobos tanpa meninggalkan korban yang banyak sekali. Detik itu Upasara melesat ke arah dalam. Di tengah hiruk-pikuk dan tebaran bubuk, tubuhnya yang melesat dengan kecepatan tinggi memang tak bisa diikuti dengan pandangan mata biasa.

Maka sebelum semua yang mengepung sadar, Upasara sudah melewati dinding bagian dalam, melesat terus.

Perhitungan Halayudha yang keliru hanya di bagian akhir.

Upasara tidak menuju ke sanggar pamujan. Melainkan ke ruang pustaka raja. Tempat yang sama sunyinya, sama tak mungkin didatangi orang lain kecuali Baginda.

Bahkan penjaga yang termangu di depan pintu tertutup tak menyadari bahwa Upasara menerobos masuk dengan berputar. Menyebabkan pintu terbuka lebar dan kemudian tertutup kembali.

Sampai di dalam, Upasara mengembalikan tenaga Putaran Bumi menjadi sediakala. Tubuhnya berhenti berputar.

Berdiri gagah di antara kitab-kitab yang diasapi dengan dupa.

Upasara mencari tempat di sudut, di mana Baginda biasa duduk sambil membaca, atau menuliskan sesuatu.

Tubuh Permaisuri Rajapatni dibaringkan perlahan. Tak bergerak.

Cepat Upasara memeriksa nadinya.

Giginya gemeretak karena detak jantung dan jalan darah Permaisuri Rajapatni tak menentu. “Yayi…”

Suara Upasara benar-benar sarat dengan kecemasan.

Ksatria gagah yang sanggup melayang bagai rajawali sakti, mengaum bagai singa, mendadak berubah seperti orang bingung.

Tangan Permaisuri Rajapatni diurut. Pundaknya disentuh.

Juga diperiksa nadi di bagian punggung. “Yayi…”

Senyum Permaisuri Rajapatni terkembang. “Kakang…”

“Yayi tak apa-apa?”

“Apakah kita telah sampai ke surga, Kakang?” Upasara menghela napas.

Dadanya seakan mau meledak.

Dirasakan ketololannya karena menguatirkan detak nadi Permaisuri Rajapatni yang tak menentu. Padahal bukan karena apa. Ketidakaturan detak itu sama dengan yang dialaminya.

Sekarang ini.

Berada dalam ruang yang sunyi. Berdua.

Dan Upasara merangkul, dengan dada terbuka. Upasara memalingkan wajah ke arah lain. “Kenapa, Kakang?”

“Tak apa, Yayi?” “Kakang malu?

“Apakah di surga masih perlu sungkan?”

Upasara menggeleng lemah. Meletakkan kepala Permaisuri Rajapatni ke kayu kecil sebagai bantalan. “Kita berada dalam ruang pustaka Raja. Bukan di surga.

“Kita masih hidup, Yayi….”

Sekilas justru Permaisuri Rajapatni tampak kecewa. “Kenapa, Yayi?” 8

“Alangkah bahagianya, damainya, agungnya, jika inilah akhir segalanya. Di surga kita bisa bersama-sama.

“Apa yang terjadi, Kakang?”

“Tiga pendeta dari Syangka menebarkan bubuk racun yang sangat berbahaya. Aku segera meninggalkan gelanggang. Membawa Yayi….”

“Gendhuk Tri?” Upasara menggeleng.

“Bisa kutengok sebentar lagi.”

Permaisuri Rajapatni menggenggam tangan Upasara. “Tinggallah di tempat ini agak sekejap.

“Kepada Kakang aku tak ragu-ragu, tak sungkan-sungkan. Dewa telah mempertemukan kita. Aku keliru kalau masih malu-malu kepada Kakang.

“Kakang, kenapa tanganmu dingin? “Kakang terkena racun?”

Upasara menggeleng. “Tidak, Yayi.”

“Tanganmu dingin sekali, Kakang.” “Tangan Yayi juga sama dinginnya.”

Permaisuri Rajapatni bangun perlahan. Punggungnya menyandar di dinding. Bersila.

Upasara tepekur di dekatnya. “Pandanglah aku, Kakang!

“Pandanglah aku dan katakan bahwa Kakang juga kangen padaku.” Upasara tak bergerak.

Melirik pun tak berani.

“Sejak ada guritan di dinding Keraton, sejak sanjak itu terbaca, aku yakin sekali Kakang merindukanku. Kangen padaku. Seperti yang kurasakan selalu.

“Meskipun Kakang tak pernah mengucapkan….” “Yayi…”

“Aku tahu.

“Aku tahu apa yang akan Kakang katakan. Di luar masih ada pertarungan, masih banyak korban. Masih ada yang harus diselesaikan. Masih banyak tugas menunggu.

“Aku tahu, Kakang.

“Aku tahu panggilan seorang ksatria.

“Tetapi tidakkah kita mempunyai waktu, sejenak sekalipun, untuk diri kita sendiri? Berapa puluh tahun kita saling memendam kangen, saling mengalahkan keinginan sendiri, saling sungkan, dan saling tak mau mengganggu?

“Sejak semula aku memberanikan diri. Melangkah dengan langkah lebar. Mendatangi Kakang.

“Sejak ke Keraton Singasari yang dulu, aku sudah mengisyaratkan menerima Kakang. Tetapi Kakang tak mau menerima uluran tangan. Juga sewaktu aku datang ke Perguruan Awan sebagai utusan Baginda.

“Kakang sama sekali tak mau menemuiku.

“Sekarang Kakang datang. Menjemput dengan gagah. Sebagaimana sikap lelaki. “Apakah harus ditinggal pergi begitu saja?

“Apa yang sebenarnya Kakang cari?” Dada Upasara panas. Kalimat yang tenang, lembut, itu bagai membanting tubuhnya berkeping-keping. “Apa yang Kakang cari?”

Upasara menunduk.

Memegang tangan Permaisuri Rajapatni dengan gemetar. Mencium lembut.

Kidungan Asmara Sejati

ANGIN tak bergerak. Tak ada bau dupa. Tak ada siapa-siapa.

Selain dengus napas tertahan. Rintihan kerinduan.

Pertemuan rasa kangen yang panjang tak bertepi. Gulungan ombak dari tengah lautan bergolak yang akhirnya mencium pantai berlumut.

Permaisuri Rajapatni membiarkan tangannya tersentuh bibir hangat Upasara. Hangat oleh bibir dan air mata.

“Kakang menangis?” Upasara menggeleng.

Air matanya makin membasah. “Menangislah, Kakang!

“Aku pun akan menguras air mata, andai masih ada yang tersisa. Menangislah, Kakang, untuk pertemuan ini!”

Dua tangan Permaisuri Rajapatni mengelus lembut. Mengelap air mata Upasara. “Tak ada permaisuri. Tak ada putri Sri Baginda Raja.

“Yang ada di sini adalah Gayatri. Gayatri Kakang.” Upasara mengangguk-angguk.

“Katakanlah sesuatu, Kakang….” Upasara menatap Permaisuri Rajapatni.

“Yayi masih Gayatri yang pernah menjadi milik Kakang. “Hanya milik Kakang seorang.

“Kakang percaya?”

Mata Upasara memandang tak berkedip. “Lihatlah, Kakang!

“Rabalah! Peganglah! Temukan hati Gayatri yang kosong, yang telah diberikan kepada Kakang. “Kakang akan bisa merasakan semua.

“Membuktikan semua perasaanku.” “Aku percaya, Yayi.”

Permaisuri menghela napas. Berat.

Dalam.

“Aku bertanya-tanya, sejak perpisahan kita.

“Apa yang sebenarnya Kakang cari? Pertarungan demi pertarungan, ilmu demi ilmu, jurus demi jurus, sehingga Kakang seperti jatuh-bangun. Seperti mengisi kekosongan yang tak bisa diisi.

“Hatiku sedih.

“Kenapa Kakang tidak mau menyadari apa yang sebenarnya Kakang cari? Kenapa Kakang tak mau melihat, menatap, dan merenggut apa yang ada di hadapan Kakang sekarang ini?”

Upasara mendongak ke atas. Wajahnya mengeras.

“Yayi… “Kakang mau menyadari sekarang ini. Menghimpun tenaga dalam, memusnahkan, membiarkan keracunan, mempelajari lagi, sungsang-sumbel mencari mati, karena jiwa yang kosong.

“Karena Kakang…” “…kesepian.” “Barangkali, Yayi.”

“Seperti yang kurasakan sepenuhnya, Kakang. “Karena aku masih selalu menunggu Kakang.

“Karena Dewa menunjukku memberi keturunan yang kelak akan menjadi raja terbesar di tanah Jawa yang belum pernah ada, aku jalani kewajibanku.

“Tapi jiwaku bersama Kakang.

“Bahkan aku berdoa siang dan malam, agar Kakang segera datang menjemput. Mengambilku. Karena tugas muliaku sudah selesai.

“Tapi Kakang tak pernah datang. “Sampai anak-anak besar.

“Kakang… katakan terus terang, apakah aku tak pantas menyanding Kakang?” Upasara menggeleng cepat.

“Kakang tak pernah mempunyai bayangan itu.”

“Kakang masih mau menerima pengabdian Yayi-mu ini?” Genggaman tangan Upasara mengeras.

Menggenggam kencang.

“Aneh sekali….” Permaisuri Rajapatni memandang Upasara lekat sekali. Seakan menghitung bulu alis dan bulu hidung satu demi satu secara perlahan.

“Aneh sekali.

“Kamu sama sekali tidak tampan, Kakang. Tidak bogus. Tidak gagah. Tak bisa disandingkan dengan Baginda, bahkan dengan kukunya yang terawat sempurna.

“Rambut Kakang kasar sekali…”

Upasara merasakan getaran tangan Permaisuri Rajapatni di rambutnya yang membuat tergetar. Membuat kulitnya merinding.

Peka.

“Hidungmu bagai arca bersila…

“Ah, Pak Toikromo pun menyesal mengambil menantu.”

“Yayi tahu tentang Pak Toikromo?” Cepat-cepat Upasara mengalihkan pembicaraan. “Aku tahu semua yang terjadi dengan Kakang.”

“Semua?

“Juga pernikahan Kakang dengan Ratu Ayu Bawah Langit?” Upasara menjilat bibirnya yang mendadak kering.

“Aneh.

“Kenapa aku bisa kangen pada Kakang? “Kenapa aku merindukan Kakang? “Jampi apa yang Kakang pakai?”

Wajah Upasara nampak lugu ketika menjawab bahwa ia tidak memakai jampi apa-apa, dan tak mengetahui hal semacam itu.

Permaisuri Rajapatni tersenyum lebar. “Aku tahu soal itu, Kakang.

“Kakang… Kakang!

“Jagat Dewa Batara, siapa yang dulu menciptakan daya asmara itu? “Alangkah indahnya. Alangkah agungnya.”

“Yayi…”

Tangan Permaisuri Rajapatni menutup bibir Upasara. Jemarinya menelusuri dari sudut ke sudut. “Bibirmu sangat lebar, Kakang….

“Jangan bicara yang lain. Jangan singgung Ratu Ayu Azeri Baijani, jangan singgung Baginda, atau membicarakan Tunggadewi.

“Atau apa saja.

“Kita bicara mengenai diri kita. Ruangan ini menjadi pustaka asmara, kidungan kerinduan yang akan terus menggeletar sepanjang jagat masih berputar.

“Bibirmu lebar.

“Tetapi aku mengagumi. “Aku merindukan.”

Upasara menangkap tangan Permaisuri Rajapatni. “Kenapa?

“Kakang tidak suka?” Upasara menggeleng. “Kakang malu?” “Mungkin.”

Tangan yang lembut itu mencowel pipi. “Kakang tak perlu malu.

“Inilah perasaan yang sesungguhnya.

“Tak ada siapa-siapa di sini. Dewa pun menyingkir memberi kesempatan kepada kita berdua. Jagat berhenti berputar sekarang ini.

“Katakan apa yang ingin Kakang katakan! “Teriakkan apa yang ingin Kakang teriakkan!

“Cekik leherku kalau Kakang menganggap jijik! Tampar bibirku kalau Kakang anggap lancang! “Rangkul tubuhku kalau Kakang mau!

“Jagat Dewa Batara, kenapa Kakang malah terdiam?” Upasara menutup matanya.

Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Yayi…”

Tak ada jawaban.

Hanya sorot mata saling pandang. “Yayi…”

Dagu Permaisuri Rajapatni bergerak turun sedikit. Mengangguk.

Menyilakan Upasara meneruskan kalimatnya. “Apakah yang kita lakukan ini benar?” “Maksud Kakang…?”

“Kita berdua di sini.

“Yayi adalah permaisuri Keraton. Aku sendiri…” “Benar atau tidak, apa bedanya?

“Kita saling menyimpan kerinduan. Kita saling menginginkan, mengharapkan, mendoakan pertemuan ini.

“Kakang takut berdosa?” “Mungkin tidak.

“Tapi apakah kita tidak berdosa berada berdua di sini?” Permaisuri Rajapatni menarik tangannya.

Duduk tepekur. Sejenak.

“Apa Kakang menghendaki saya pergi dari ruang ini?”

Guritan Katresnan UPASARA terperangah.

Ia tak menduga bahwa Permaisuri Rajapatni benar-benar berniat melangkah ke luar. “Yayi akan keluar?”

“Kalau Kakang tidak menghendaki ditemani.” “Tidak.”

Kaki Permaisuri Rajapatni turun ke lantai.

“Yayi Gayatri, maksudku, maksudku jangan pergi….”

Sehabis mengucapkan “Yayi Gayatri”, wajah Upasara bersemu merah. Diam-diam Gayatri geli sendiri.

Upasara yang ditemui sekarang ini sama sekali tak ada bedanya dengan belasan tahun yang lalu. Ketika masih muda. Mudah kikuk, tak menentu geraknya, canggung dan serbasalah.

Gayatri tahu, jika ia menanyakan kenapa Upasara memanggil dengan sebutan Yayi Gayatri, Upasara akan merasa salah dan minta maaf.

Dan serba keliru lagi sikapnya. “Kenapa Kakang memikirkan dosa?” “Entahlah, Yayi.”

“Kakang tidak merasa bahagia sekarang ini?” “Bahagia sekali.

“Tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Tapi kenapa kita bisa bersama-sama? Kenapa kita dibebani pertanyaan dan rasa bersalah?” Suara Upasara terdengar mengharukan di telinga Gayatri.

“Kakang, marilah kita mensyukuri pertemuan ini. “Tanpa beban pikiran yang merisaukan. “Bagaimana kalau Kakang menuliskan guritan….”

Kepala Upasara tertarik ke belakang karena herannya. Seumur-umur rasanya Upasara tak pernah menuliskan sanjak.

Kecuali…

“Seperti yang terukir di dinding Keraton itu.” “Apa itu bisa disebut guritan?”

“Kenapa tidak?”

“Kakang asal mencoret saja. Tidak tahu bagaimana tata aturannya yang benar. “Yayi yang pintar tata aksara.

“Jangan membuat Kakang sungkan. Kalau sekarang Yayi minta Kakang maju ke medan pertarungan, Kakang akan berangkat. Tapi menulis guritan…”

“Tuliskan, Kakang!

“Apa Kakang menolak satu-satunya permintaanku?”

Upasara memandang kiri-kanan. Ke arah susunan kitab-kitab pusaka. “Di sini banyak kidungan yang luhur dan apik.

“Kita ambil salah satu pasti sudah bagus sekali. Diciptakan para empu yang sakti.” “Aku menginginkan ciptaan Kakang.

“Untuk diriku.” “Baik.

“Kapan-kapan, Yayi.” “Sekarang.” “Sekarang?” “Sekarang.

“Kapan lagi?”

Upasara menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. “Kakang Upasara Wulung.

“Selama menunggu Kakang, aku belajar menanak nasi, belajar membuat sajian makanan. Aku mencoba mengerti bagaimana menanam padi satu per satu, menanam bunga, memelihara ayam, ikan.

“Aku selalu membayangkan suatu ketika nanti kita akan hidup bersama-sama. Kakang pergi ke sawah, dan aku membantu sedikit-sedikit, lalu memasak buat Kakang.

“Di tengah malam, saat gerimis atau panas, saat ada rembulan atau gelap, Kakang bercerita tentang sawah, burung, dan menuliskan guritan katresnan.

“Hanya sesekali bercerita tentang ilmu silat. “Kalau kebetulan ada penjahat.

“Kakang menuliskan dan menembangkan keras-keras sehingga anak-anak kita terbangun, menertawakan ayahnya yang tersipu-sipu membacakan sanjak cinta.”

Mata Upasara berkejap-kejap.

Kata demi kata diucapkan Gayatri seperti hidup.

Membayang jelas. Di suatu desa, mirip desa yang didiami Pak Toikromo, dirinya berkeringat, dan Gayatri membuatkan sambal serta menyiapkan

nasi.

Mungkin ada ayam, tikus, burung yang lewat.

Tapi bayangan itu pupus tatkala teringat mengenai guritan katresnan. “Kakang tahu berapa jumlah anak kita?”

“Tidak.”

“Tebak.”

“Berapa?”

“Kakang yang menebak.” “Tujuh.”

“Kenapa tujuh?” “Mana aku tahu, Yayi. “Aku hanya menebak.” “Salah.”

“Tadinya aku mau menebak delapan.” “Salah.”

“Yang benar berapa?” “Satu.”

“Kenapa satu?” “Satu sudah cukup.

“Karena begitu lahir perangainya seperti Kakang. Mudah kikuk. Tak bisa mengutarakan perasaannya.” Upasara tertawa lebar.

“Dan suatu hari ketika kita sudah tua, kita saling bercerita. “Bahwa Kakang sebenarnya paling suka kerak nasi.” Upasara memandang heran.

“Begini ceritanya.

“Kakang mau mendengarkan?

“Ketika kita hidup di desa, aku yang menanak nasi. Karena tak becus menanak nasi, jadi yang tersisa lebih banyak kerak nasi. Karena takut mengecewakan Kakang, kerak nasi itu aku buang setiap kali.

“Yang selalu kuhidangkan adalah nasi putih yang bagus. “Begitu selalu setiap kali, sampai kita tua.

“Baru saat itu, kita saling mengetahui bahwa Kakang sebenarnya suka kerak nasi.

“Hanya karena kita saling coba memperhatikan, kita jadi kehilangan kesempatan yang baik. Karena Kakang terlalu sungkan mengatakan apa yang sebenarnya Kakang inginkan.”

Upasara tersenyum lebar. “Sekarang Kakang ganti cerita.” “Aku tak punya cerita.”

“Aku juga mendengarkan para emban yang menanak nasi.” “Lain kali aku akan mendengarkan.”

“Kalau begitu buatkan guritan katresnan? Upasara menunduk.

Jarinya tergetar.

Bangku kayu yang dipakai duduk tergetar, karena jari-jari Upasara menoreh tajam. Gayatri menunggu.

Guritan katresnan ini

bukan ditulis tangan tapi dengan hati guritan katresnan ini

hanya bisa dibaca oleh rasa

Dewa keliru

ketika memisahkan kita keliru

ketika menggambarkan Yayi, inilah guritan katresnan

dari Kakang yang menyukai kerak nasi Yayi, inilah kerinduan bumi…

Upasara menggelengkan kepalanya. “Rasanya malah tak bisa, Yayi.” Wajah Gayatri berubah.

“Yayi tak suka?”

Jawabannya hanya helaan napas. “Kalau begitu Kakang hapus saja.” Gayatri mengangguk.

“Hapus saja.

“Nadanya begitu sedih, begitu pasrah.”

Dengan sekali menggerakkan tangan, cukilan huruf lenyap seketika.

Angin Palguna GAYATRI terisak. “Kenapa, Yayi?”

“Tak apa-apa, Kakang.

“Tapi kenapa guritan Kakang begitu menyedihkan?” “Aku malah tak mengerti.

“Sudahlah, Yayi, aku memang tak bisa. Tak becus.” Keduanya terdiam.

Bungkam.

“Kakang, bagaimana kalau Kakang bercerita tentang istri Kakang? Ratu Ayu Azeri Baijani?” “Kakang tak tahu harus bercerita bagaimana….”

“Di mana ia berada?” “Kakang juga tidak tahu.” “Kakang mencintainya?”

Upasara memandang tajam ke arah Gayatri. Lalu mengangguk.

“Rasanya iya.

“Aku mengawininya.” “Syukur kepada Dewa.

“Kakang harus menyayanginya.” “Ya, aku akan mencarinya.

“Pasti terjadi sesuatu yang besar sehingga ia tidak muncul lagi.” “Gendhuk Tri?”

Upasara tak segera menangkap maksud Gayatri. “Bagaimana dengan Gendhuk Tri?”

“Ia baik-baik saja.

“Barangkali tertawan, atau… ah, rasanya tak mungkin terkena racun bubuk hingga meninggal.” “Kekasihnya mirip Kakang.”

“Ya.