-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 35

Jilid 35

Tapi waktu yang sejenak itu sudah cukup bagi Nyai Demang untuk bergerak. Semata-mata karena dorongan nuraninya. Tanpa perhitungan menolong atau justru menghancurkan Kakek Berune.

Tubuh Nyai Demang menggulung maju. “Awas, Kakek!”

Upasara mengeluarkan suara tertahan.

Sambaran pukulan berhawa dingin, membuat tubuh Nyai Demang terdorong bergulingan. Tapi Nyai Demang tak berpikir soal mati-hidupnya sendiri. Dengan nekat Nyai Demang justru menyongsong ke arah pukulan.

Tubuhnya terdorong ke arah Kakek Berune.

Ketika jatuh bergulingan, Nyai Demang langsung memeluk Kakek Berune!

Menggendongnya dan membawa minggir!

Sama juga bunuh diri!

Karena tenaga dalam yang bergolak dalam tubuh Kakek Berune kini mengalir sepenuhnya ke tubuh Nyai Demang. Yang menggeletar hebat dan membuat langkahnya terhuyung-huyung tak menentu.

Pada saat yang bersamaan, Upasara sudah menghadang dengan pukulan tangan kiri. Memapak dua tangan Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka!

Terdengar suara keras.

Gubuk itu sepenuhnya ambruk. Rata dengan tanah! Upasara masih berdiri gagah. Di seberang, Pendeta Sidateka masih bergandengan tangan dengan Kiai Sambartaka. Sementara tubuh Nyai Demang makin keras bergoyang-goyang bagai pemabuk berat.

“Mbakyu… bagaimana rasanya?”

Kekuatiran Upasara lebih tertuju ke arah Nyai Demang. Yang ternyata tak bisa menjawab dengan isyarat sekalipun.

Kesempatan itu digunakan oleh Pendeta Sidateka dan Kiai Sambartaka untuk menyambar. Kesiuran angin dingin yang membekukan udara sekitar mengurung Upasara.

Dengan menggeliatkan tubuhnya, Upasara mendesak maju. Memapak dengan satu tangan kiri.

Telapak tangan terbuka.

“Jemputan Dewa telah sampai. Sekaligus tiga nyawa. Sungguh tak nyana. Upasara, jangan berharap kami bisa menguburmu dengan baik. Biar cacing dan lalat yang menyantapmu.”

Upasara tak bisa melayani kata-kata Kiai Sambartaka yang meremehkan. Karena nyatanya tekanan udara dingin yang membekukan begitu kuat mempengaruhi. Sehingga seakan seluruh darahnya membeku. Udara yang dihirup membongkah di lubang hidung.

Dada menjadi panas. Sesak.

Dalam pertarungan kali ini, Upasara tak bisa berbuat banyak. Pemusatan kekuatan sepenuhnya hanya mampu mengimbangi tekanan lawan yang makin menggigilkan.

Bertarung melawan Kiai Sambartaka, Upasara memerlukan waktu yang lama dalam pertarungan yang sangat alot. Tak mudah memetik keunggulan.

Kini Kiai Sambartaka menyatu dengan Pendeta Sidateka. Jelas menjadi berlipat kemampuannya. Dalam situasi yang biasa, Upasara lebih memerlukan pemusatan kemampuan untuk bisa mengimbangi.

Celakanya, justru saat ini pikiran Upasara terpecah. Karena biar bagaimanapun tak bisa membebaskan rasa kuatir akan nasib Nyai Demang.

Yang secara langsung mengemban tubuh Eyang Berune.

Kalau tersentuh saja membuat Nyai Demang berkelojotan, bisa dibayangkan sekarang ini.

Kesempatan ini yang dipergunakan Kiai Sambartaka. Sehingga tidak terlalu berlebihan jika mengatakan bahwa ketiga nyawa kini sedang menunggu Dewa Pencabut Nyawa.

Lima jurus, Upasara makin terdesak.

Satu tangan tak bisa menandingi empat tangan yang merupakan satu rangkaian. Dengan dua tangan tetap saling melekat, Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka terus merangsek maju. Menggencet Upasara.

Satu tangan menyambar ke atas, satu tangan yang lain menyerang bagian tengah. Dan karena dua tubuh bergabung, seolah menjadi besar. Seolah menguasai seluruh medan pertarungan.

Ke arah mana pun Upasara menghindar, tangan lawan sudah menunggu. Yang lebih membuat Upasara terdesak adalah, setiap kali ia melangkah surut, ia tak bisa mendesak maju lagi. Karena udara di tempat semula sepenuhnya dikuasai oleh lawan.

Seakan di tempat itu udaranya sudah membeku.

Napas Upasara tersengal-sengal. Bahkan mulai batuk-batuk. “Serang kiri… kiri… kanan… ulang!”

Dengan memberi aba-aba Kiai Sambartaka makin merangsek maju, mengepung dari berbagai penjuru. Secara langsung Kiai Sambartaka pernah merasakan ilmu Upasara Wulung. Pernah bertarung antara hidup dan mati. Jadi cukup mengenali, dan bisa melihat titik-titik kelemahan di mana ia bisa menerobos.

Sesuatu yang sangat berharga. Justru karena Upasara memainkan jurus-jurus dari Kitab Bumi! Yang pernah dijajal Kiai Sambartaka dari sumber utamanya, baik Eyang Sepuh maupun Paman Sepuh!

Penundaan Kematian

DALAM pertarungan habis-habisan di Trowulan, Kiai Sambartaka merasakan betapa dahsyatnya jurus-jurus dari Kitab Bumi. Sebagai pentolan jagat yang sangat luas pengetahuannya, Kiai Sambartaka bisa memahami gerakan-gerakan tersebut.

Meskipun ada perbedaan antara yang diperlihatkan Paman Sepuh dan Eyang Sepuh, namun dasar-dasar bisa dengan mudah dicari persamaannya.

Juga yang dimainkan Upasara. Makanya kini bisa menekan. Setiap saat bisa mematikan.

Upasara bukannya tidak menyadari bahaya yang mengancam. Mata batinnya sudah memperingatkan sejak dini. Bahwa keunggulan utama Kitab Bumi, terutama sekali bukan pada gerakan atau jurus-jurusnya. Melainkan pada saat memainkan dengan tepat.

Pengaturan tenaga dalam lebih menentukan.

Dengan kata lain, kalaupun lawan sudah mengetahui arah pukulan, masih bisa tertipu dan tak menduga berat-ringannya tekanan yang datang.

Akan tetapi yang menjadi syarat utama adalah kekuatan yang terpusat. Yang justru saat ini tak mampu dilakukan oleh Upasara.

“Kena!” teriak Pendeta Sidateka.

Telapak tangannya menjotos ke arah pinggang Upasara.

Sekali sentuh, seluruh tubuh Upasara akan menggigil kedinginan hingga ke ulu hati. Pada saat itu Kiai Sambartaka bisa menghantam dengan Pukulan Beku, Pukulan Mandeg-Mangu.

Habislah Upasara!

Begitulah menurut perhitungan. Begitulah seharusnya.

Karena setelah berhasil mengurung lawan pada satu titik, Pendeta Sidateka tak melihat lagi bahwa Upasara mempunyai kemungkinan untuk meloloskan diri.

Satu tangan memapak pukulan Kiai Sambartaka yang dianggap lebih berbahaya, satu tangan yang lain terkulai saja. Arah mundur sudah dicegat.

Dan sewaktu mengangkat tangan, pinggangnya terbuka. Saat itu pukulan Pendeta Sidateka masuk!

Sap!

Upasara tak bisa menghindar.

Hanya saat telinganya mendengar gema teriakan “Kena!”, inti tenaga tumbal seperti terpanggil dengan sendirinya.

Inti tenaga berkorban. Inti penyerahan.

Pinggang Upasara tetap terbuka, pukulan Pendeta Sidateka masuk, hanya saja akibatnya berbeda.

Pukulan dingin itu justru seperti mengenai bongkah es yang lebih dingin. Yang menelan tenaga yang ada.

Pendeta Sidateka yang mengeluarkan jerit tertahan. Karena tangannya mendadak kaku. Dadanya sesak, dan tubuhnya menggigil. Hanya Kiai Sambartaka yang menangkap pengertian bahwa suasana bisa berbalik.

Upasara bisa menjadi di atas angin. Walau tidak bisa melanjutkan serangan. “Tebas kiri… kiri… tebas kaki…”

Pendeta Sidateka tak menduga sama sekali bahwa pukulannya jusru berbalik mengenai tubuhnya. Membekukan tangannya. Merasa gagal, Sidateka menuruti apa yang dikatakan Kiai Sambartaka. Kaki kiri dan kanan bergerak maju, menebas kaki Upasara.

Keras lawan keras.

Dengan serangan yang mantap begini, Upasara tak mempunyai kesempatan untuk menyiapkan diri. Menghadapi keras lawan keras pertarungan kaki, atau menghindar.

Yang terakhir tak mungkin dilakukan. Karena Kiai Sambartaka telah mengincar.

Yang pertama juga mengundang bencana. Karena justru pada saat mempertahankan kuda-kuda, serangan Kiai Sambartaka tak terbentengi.

Pukulan Beku yang akan membekukan nyawa Upasara.

Kalau Nyai Demang masih normal, jalan pikirannya juga tak berbeda dari Pendeta Sidateka.

Demikian pula Upasara.

Maka Upasara mencoba mencuri keunggulan dengan putaran tangan, memperkuat kuda-kuda kaki. Putaran tangan yang mengeluarkan desis kuat untuk mengurangi tekanan gempuran Kiai Sambartaka, dan sekaligus mencuri kemenangan dari Pendeta Sidateka yang lebih lemah.

Kuda-kuda yang kuat untuk mengimbangi tebasan kaki akan membuatnya tetap bersiaga. Tidak demikian dengan Kiai Sambartaka.

Pikirannya menemukan sisi yang lain. Ia bisa memaksa Upasara mengarahkan pukulan ke arahnya. Ia bisa memaksa perhatian Upasara ke arahnya. Agar serangan tebasan kaki Pendeta Sidateka berhasil. Seperti yang diperintahkan.

Itu yang tidak dilakukan.

Apa yang dilakukan Kiai Sambartaka justru sebaliknya. Ia menarik tenaga dalam, menyimpan, dan dengan satu putaran tubuhnya melesat ke udara.

Tempelan tangannya terlepas dari Pendeta Sidateka.

Berarti membiarkan Pendeta Sidateka menghadapi bahaya sendirian. Pada saat satu tangan telah terluka. Pada saat seluruh pemusatan tenaga berada di kaki.

Tanpa bantuan tenaga dalam yang sudah menyatu, Pendeta Sidateka merasakan kekosongan dalam tubuhnya. Seolah sebagian besar tenaga dalamnya terhenti.

Sehingga gempurannya menjadi berkurang.

Dalam perhitungan Kiai Sambartaka, dalam tenaga penuh pun, kuda-kuda kaki Upasara tetap akan bergeming. Karena pengerahan tenaga di kedua kaki bukan sesuatu yang luar biasa bagi Upasara. Kiai Sambartaka tak mengetahui persis bahwa itu adalah jurus-jurus yang mendasar dari Banteng Ketaton, awal ilmu Upasara Wulung. Hanya sewaktu bertarung, Kiai Sambartaka bisa merasakan kehebatan daya tahan kuda-kuda ilmu Banteng Terluka.

Kini ditambah satu putaran tenaga dari tangan kiri Upasara. Pendeta Sidateka benar-benar berada dalam bahaya.

Ini yang justru dikehendaki Kiai Sambartaka!

Sesaat kaki Pendeta Sidateka seperti menebas tiang karang yang kukuh. Pada saat yang sama, pundaknya seperti kejatuhan bongkahan karang.

“Tobat!” Seruan tertahan dari bibir Pendeta Sidateka menunjukkan luka dalam.

Sekaligus kekalahan, dan juga minta ampun!

Tak biasanya tokoh sakti meminta ampun. Tapi memang tak ada pilihan lain.

Upasara hanya bisa memindahkan sebagian tenaga pukulan ke kaki. Namun selebihnya tetap membuat Pendeta Sidateka terbanting ke tanah.

Muntah darah beku.

Bagai gumpalan daging merah. Mentah.

“Baguslah itu,” suara Kiai Sambartaka terdengar dalam nada dingin. “Sebentar atau sebentar sekali, kamu akan lebih dulu mati. Penundaan kematian ini hanyalah karena Upasara berbaik hati sedikit padamu.

“Tetapi dengan begitu, ia sendiri akan mengalami kerepotan menyelesaikan pertarungan ini denganku.”

Tubuh Pendeta Sidateka menggelepar. “Bajingan kamu…”

“Puaskan memaki.

“Sebelum kamu tak bisa membuka bibirmu. O, betapa tololnya Pendeta Syangka, negeri bawahan yang berjiwa budak hina.

“Kamu kira kamu bisa berdiri sejajar denganku? “Kamu mimpi besar, Syangka jelek!”

Kiai Sambartaka tersenyum tipis. Lalu wajahnya berubah menjadi kaku lagi menghadapi Upasara.

“Anak muda, yang mengaku lelananging jagat, dengarlah.

“Pagi ini sebelum mentari sepenuhnya bersinar, gelar itu sudah berada dalam genggamanku. Dan tak akan ada lagi yang menghalangiku. “Tak ada yang menghalangiku.

“Sebentar ini kakimu sudah kedinginan, napasmu sesak. Aku hanya menunggu sampai di puncak penderitaan, dan menyelesaikan pertarungan.

“Siapa lagi yang menghalangiku? “Tak ada.

“Tak ada lagi.

“Tak ada lagi yang menghalangiku. Syangka jelek ini mendahuluimu, Kebo Bangkai itu tak ada gunanya. Eyang Sepuh sudah hilang!

“Oh, Dewa… akulah lelananging jagat yang sesungguhnya!”

Upasara tak pernah membayangkan bahwa Kiai Sambartaka mabuk kemenangan seperti sekarang. Menganggap menjadi ksatria sejati adalah tujuan utama.

Lebih tak memperhitungkan bahwa kakinya terasa dingin, ngilu, dan terganggu.

Pendeta Syangka berhasil melukai.

Karena rasa dingin menggigil itu mulai mengalir, mulai menyusup, sehingga Upasara perlu mengerahkan hawa perut melawannya. Tenaga yang masih diperlukan untuk bertarung.

Persembahan Kematian

DENGAN perhitungan yang penuh tipu tapi jitu, Kiai Sambartaka akan keluar sebagai pemenang.

Pendeta Sidateka yang di belakang hari bisa merusak nama baiknya telah dicelakakan.

Upasara yang disegani telah tercuri kekuatannya. Benar-benar tak akan ada lawan yang sanggup menghadapi ilmu Kiai Sambartaka.

“Manusia berhati lebih buruk dari binatang, sungguh percuma gelaran Kiai yang kamu sandang.”

Kiai Sambartaka tersenyum dingin. Lewat hidungnya.

“Katakan apa saja. Lebih buruk dari itu tak membuat aku sedih.

“Percuma saja kalian di tanah Jawa ini mengaku berilmu tinggi, ksatria sejati, memakai sebutan eyang atau kiai atau empu. Nyatanya kalian ini masih mementingkan gelar yang tak ada artinya.

“Hmmm, sungguh menjengkelkan.

“Bagaimana kalian bisa memperdalam ilmu yang begitu tinggi, tapi juga sekaligus menggali kepicikan?

“Upasara, kamu dari turunan kesekian, masih tercium bau pupuk di ubun- ubunmu. Akan tetapi kamu pun telah dicekoki bahwa ksatria harus begini-begitu. Bahwa kiai, empu, eyang harusnya tidak boleh begini-begitu.

“Siapa yang mengharuskan semua itu?

“Kepicikan sempit macam apa pula yang mendasari ini semua? Bukankah pengertian-pengertian derajat dan pangkat itu yang membuat kalian semua tersesat?

“Bukankah itu yang menghancurkan kalian?

“Sehingga aku yang mau tak mau disebut sebagai lelananging jagat, ksatria nomor satu.

“Aku tak mengerti ajaran kalian di tanah Jawa ini. “Tetapi aku tak peduli. “Bagiku, hanya ada satu gelar yang tak tertandingi. Menjadi ksatria nomor satu. Sekarang sudah di depan mata. Sebelum matahari bersinar sempurna, aku telah memiliki, menyandang. Dan seluruh jagat akan mendengar nama besarku.

“Aku bisa mempercepat dengan menggempurmu sekarang, tetapi aku masih ingin menikmati perlahan-lahan.”

Dalam benak Upasara, Kiai Sambartaka ini tak berbeda jauh dari Halayudha.

Mengejar sesuatu dan untuk mendapatkannya menempuh semua cara.

Bedanya, Kiai Sambartaka mabuk keunggulan sebagai pesilat, sementara Halayudha lebih kepada kekuasaan Keraton.

Mengingat Halayudha, rasa gusar Upasara seperti terpancing. Pergolakan darahnya menderas. Pada saat itu terasa darah dingin merayap ke atas.

Sehingga buru-buru ditenangkan kembali.

Bagi Kiai Sambartaka, cara mengatur napas Upasara membuktikan bahwa memang ada gangguan dalam tubuhnya.

Sesuai dengan perhitungannya.

“Sayang sekali. Kamu masih muda. Ilmumu begitu sempurna. Tapi di jagat ini hanya boleh ada satu lelananging jagat. Dan nasib tidak berpihak padamu.”

“Tak begitu mudah.” “Memang tidak.

“Tapi aku pasti bisa meraihnya.

“Kini saatnya kamu rasakan pukulan Mandeg-Mangu, inti utama dari yang kalian tiru sebagai Kitab Bumi.

“Aku paling segan berbicara. Akan tetapi pagi ini hatiku sangat gembira.” Kiai Sambartaka tertawa dingin.

Kedua tangannya terkembang. Wajahnya dingin. Matanya menyorot tajam. Upasara berdiri tegak. Sedikit memiringkan tubuh. Tangan kanan berada di bagian belakang. Bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Upasara, kuambil gelaran terhormat ini.”

Sebat Kiai Sambartaka menggertak maju. Menyambar dada dan perut, dengan menguasai serangan bagian tengah. Dengan sangat cerdik, Kiai Sambartaka berusaha menerobos kekuatan Upasara. Yang agaknya tepat diperhitungkan oleh Kiai Sambartaka. Pukulan dengan satu tangan masih dihindari.

Upasara menangkis dengan tangan kiri yang disampokkan ke bawah, dan dengan siku tertekuk menyodok ulu hati lawan.

Kiai Sambartaka menyedot udara dalam hidungnya dengan kuat-kuat. Jurus- jurus yang sangat dihafal di luar kepala. Maka dengan enteng, dada Kiai Sambartaka ditekuk. Kedua tangan tetap terkepal, siap membekukan darah di daerah yang tersentuh.

Upasara membarengi dengan sebat, meloncat maju.

Pada saat itulah terasakan bahwa tenaga kaki tak bisa sepenuhnya dikuasai.

Tenaganya seperti macet. Kakinya seperti kesemutan.

Inilah kehebatan pukulan Pendeta Sidateka.

Udara dingin yang diciptakan dari pukulan Pendeta Sidateka bukanlah jenis Pukulan Beku. Melainkan bekerja perlahan-lahan. Sekali lawan sudah terkena, hawa dingin itu akan menjalar dengan sendirinya. Tanpa perlu tenaga Pendeta Sidateka. Tenaga dalam lawan yang terkena yang akan menyebarluaskan hawa dingin menggigilkan itu.

Kini hal itu dialami oleh Upasara.

Bebannya menjadi berat. Menghadapi Kiai Sambartaka di satu pihak, dan menghadapi menjalarnya hawa dingin di lain pihak. Makin kencang ia mengerahkan tenaga dalam, makin kencang pula selusupan hawa dingin itu.

Sepuluh jurus kemudian Upasara merasa bahwa kakinya bukan tak leluasa digerakkan, akan tetapi beberapa kali seperti tak terasakan. Sudah bergerak atau belum. Rasanya sudah melangkah, tapi ternyata Kiai Sambartaka masih di luar jarak pukulan dan tendangan.

Kalau benar begini, sebelum matahari sempurna, Kiai Sambartaka sudah bisa merobohkannya.

Upasara benar-benar keteter. Pikirannya masih berbias akan nasib Nyai Demang dan Eyang Kebo Berune. Dan makin merasa terdesak karena untuk melangkah surut pun gerakan kakinya menjadi lamban.

“Aku hitung sampai tiga. “Satu…”

Kiai Sambartaka mencengkeram pundak. Upasara mengelak dengan mengegos, tapi saat itu kaki Kiai Sambartaka menerobos di antara kaki Upasara. Membedah dari dalam. “Dua…”

Upasara meloncat dengan gerakan tersendat.

Tangan Kiai Sambartaka menyambar ulu hati, dan tak diundurkan lagi.

Sampokan tangan kiri Upasara dihadapi dengan keras.

Mengejutkan. Tangan Kiai Sambartaka seperti terkedut keras. Tenaga dalam Pukulan Beku seperti diaduk dan dikocok. Tepukan Satu Tangan memang pengerahan tenaga luar biasa!

Tidak terduga.

Pada serangan berikut, Kiai Sambartaka tidak berani menghitung “tiga”, karena tidak yakin bisa memenangkan pada saat itu.

Namun ini tak mengubah akhir pertarungan.

Andai tidak terganggu hiruk-pikuk yang berkepanjangan. Suara kaki-kaki dan gemerincingnya senjata.

Dalam waktu sekejap, muncul beberapa puluh prajurit dengan senjata yang

siap. “Ini aku yang tua tak berguna, Sora yang hina. Tak perlu kalian berbasa-basi.

Aku sengaja datang, sengaja sowan ke Baginda sebagai tanda baktiku yang terakhir.

“Aku persembahkan kematian yang papa ini sebagai tanda kesetiaan kepada Keraton.”

Suaranya mengguntur, keras, menyakitkan telinga.

“Dulu nyawaku tertolong oleh ksatria sejati Upasara Wulung. Kini tak ada lagi yang menghalangi niat kalian semua. Mahapatih Nambi yang terhormat… apa lagi yang Mahapatih tunggu?”

“Tangkap pemberontak!”

Dalam sekejap terjadi kekalutan. Para prajurit Keraton bergerak secara serentak. Sementara para pengikut Senopati Sora pun mengangkat senjata.

Pertarungan tak bisa dihindarkan. Medan pertarungan juga meluas ke arah Upasara Wulung dan Kiai Sambartaka yang segera berada di tengah pergulatan.

Kiai Sambartaka menjadi geram. Ia main hantam kiri-kanan. Beberapa prajurit Keraton mati beku seketika. Akan tetapi dengan demikian prajurit yang lain mengurung dan menyerbu ke arahnya. Meskipun bukan tandingan Kiai Sambartaka, serangan itu merepotkan juga.

Sehingga ia tak bisa menyelesaikan serangan berikutnya kepada Upasara. Yang segera mengepung dan menyerangnya.

“Paman Sora… ini saya…”

Upasara mencoba melompat ke arah Senopati Sora yang menoleh ke arahnya. Akan tetapi karena gerakan kaki Upasara tidak sempurna, senjata Mahapatih Nambi lebih dulu amblas ke perut Senopati Sora.

Ketika senjata disentakkan, tubuh Senopati Sora terbanting. Seluruh tubuhnya seolah bermandikan darah.

Terang di Tanah, Tenang dalam Darah UPASARA menggertak maju. Tiga senjata diempaskan. Sabetan Mahapatih Nambi disodok dengan pukulan terarah.

Merasa terbebas dari kepungan, Upasara berlutut. Menunduk ke arah Senopati Sora.

“Paman…”

Wajah Senopati Sora pucat pasi. Hanya senyuman bahagia yang terkembang di sudut bibir, memberi warna lain dari darah dan usus yang terurai ke tanah.

“Anakmas Upasara…”

Suara Senopati Sora terdengar jelas.

“Dua kali Anakmas menyabung nyawa menyelamatkan Paman yang tak berharga ini…”

Upasara menggelengkan kepalanya. Banyak yang ingin dikatakan seketika. Banyak sekali.

Ingin juga dikatakan bahwa sesungguhnya sekarang ini justru Senopati Sora yang menyelamatkan nyawanya. Ingin dikatakan betapa terima kasihnya yang tulus ingin disampaikan karena Senopati Sora telah sedemikian baiknya menyimpan cundhuk milik Gayatri. Ingin diceritakan panjang-lebar bahwa kekaguman tak pernah berkurang kepada Senopati yang begitu penuh pengabdian, begitu gagah, tapi juga begitu pedih penderitaannya. Ingin diceritakan bahwa ia mendengar semua dari Nyai Demang tentang siksaan batin itu. Ingin ditumpahkan semua unek-unek batinnya yang mengganjal.

Keinginan tinggal keinginan.

Saat ini justru Senopati Sora lebih perlu mengatakan, bukan mendengarkan. Suasana sekitar tempat Upasara menjadi hening sepi.

Meskipun di luar lingkaran yang mengepung, korban terus berjatuhan. Para prajurit dan senopati yang mengepung Upasara setengah merasa ngeri akan ketangguhan Upasara, setengahnya lagi merasa tergetar hatinya.

Pemandangan yang memilukan.

Saat matahari mulai terang, di medan peperangan yang ganas, seorang Upasara menunduk, memangku kepala Senopati Sora.

Tidak sedikit yang menyaksikan pemandangan yang sama, beberapa saat lalu.

Bedanya, saat itu Senopati Sora hanya terluka dan kemudian bisa sembuh dan melanjutkan pengabdian, sekarang ini tak ada kemungkinan lagi.

“Tanah sudah terang… darah sudah tenang.

“Jangan iring kepergian Paman dengan air mata, Anakmas Upasara. Jelek-jelek begini, Paman adalah prajurit, dan Anakmas Upasara juga prajurit.

“Sesama prajurit tak harus saling memamerkan air mata.

“Anakmas, sejujurnya inilah jalan paling terhormat bagi seorang prajurit.” Pundak Upasara terguncang.

Bahunya bergerak-gerak menahan kepedihan hatinya. Bayangan wajah Senopati Sora menghablur. Berubah menjadi wajah gurunya, ayah angkatnya yang membesarkannya, Ngabehi Pandu. Dulu juga seperti sekarang ini.

Di pangkuannya pada saat-saat terakhir.

Hanya saja saat itu Ngabehi baru saja menyelesaikan pertarungan yang paling ganas dengan lawan yang ingin menghancurkan Keraton.

Sekarang ini, berbeda. Berbeda?

Tidak. Bagi prajurit sejati, kematian selalu sama. Sebagai tanda pengabdian, sebagai persembahan utama. Senopati Sora sudah mempersiapkan diri sejak lama. Saat-saat terakhir sudah memakai pakaian serba putih, sudah keramas dan memotong semua kukunya.

Bersih.

Siap lahir-batin.

“Tanah sudah terang, Anakmas.” “Ya, Paman.”

“Darah sudah tenang.” “Ya, Paman.”

“Anakmas, Paman akan meminta sesuatu.

“Janganlah kepergian Paman menjadi penyebab huru-hara dan balas dendam. Paman tak akan bisa tenang kalau itu terjadi. Tolong sampaikan kepada semua pengikut Paman.  “Bersediakah Anakmas Upasara?”

Upasara mengangguk. Senopati Sora mangkat.

Matanya tertutup. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Tanah telah terang, darah telah tenang.

Selamat jalan, Paman Sora. Upasara bersujud, menyembah.

Lalu berdiri dengan gagah. Kakinya masih kaku. Tangan kanannya tetap terkulai. Tapi pandangan matanya keras membatu.

Mahapatih Nambi melangkah ke depan. Berhadapan.

“Upasara, kita bisa mengadakan perhitungan lain waktu.” Upasara menggeleng. “Tidak karena soal ini.” “Terima kasih.

“Kalau begitu, silakan datang ke Keraton.” Upasara menggeleng.

“Tidak sekarang. “Maaf, Mahapatih.”

Upasara melangkah seperti menyeret kakinya. Perlahan menjauh, ke arah matahari yang makin membesar cahayanya.

Terang di tanah, tenang di darah. Betapa indah kata-kata mulia itu.

Yang terucap dari seorang yang begitu pahit dan getir pengabdiannya. Batin Upasara terguncang.

Senopati Sora tak begitu dikenal secara pribadi. Tak berbeda dari para senopati Keraton yang lain. Pun saat-saat bertarung melawan pasukan Tartar. Kalau ada sedikit keistimewaan hanyalah kaitannya dengan Gayatri.

Akan tetapi, terutama sekali yang menggeletarkan sukma Upasara bukan itu. Senopati Sora bukan paman, bukan saudara, tidak bertalian darah dengannya. Namun Upasara seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang dimiliki. Jiwa pengabdian. Jiwa prajurit.

Jiwa yang mencintai tanah tumpah kelahirannya. Keraton yang menyemai kebanggaannya. Betapa mulia pengabdian Senopati Sora kepada Keraton. Seperti juga Gajah Biru dan Juru Demung serta pengikut-pengikutnya yang setia.

Yang datang ke Keraton untuk memberikan nyawa, sebagai bukti kesetiaan tanpa tanding.

Walau mungkin ditanggapi secara lain. Walau memang diartikan secara berbeda. Tak apa.

Tak membuat Senopati Sora dan pengikutnya benar-benar memberontak, benar-benar mbalela, melawan perintah Raja, tidak membuat kraman atau memberontak.

Sebab itu bukan jiwa prajurit sejati. Sebab itu bukan sukma ksatria sejati. Terang di tanah, tenang di darah.

Upasara terus menyeret langkahnya. Setiap langkah meninggalkan bekas di tanah. Seakan menggoreskan luka, membekaskan duka.

Ah, betapa banyak kesengsaraan dan penderitaan.

Sejak Dewa Maut yang masih terkurung di bawah Keraton, Upasara menyadari kegetiran hidup. Apa salahnya, sehingga Dewa Maut harus kehilangan semua ilmunya dan semasa jaya dikucilkan hanya karena hidup bersama dengan sesama pria?

Sejak menyadari bahwa pendekar dan prajurit pengabdi seperti Eyang Kebo Berune tersiksa oleh tenaga dalamnya.

Sejak menyadari bahwa seorang penduduk biasa tanpa dosa tanpa terlibat masalah Keraton dan dunia persilatan, seperti Pak Toikromo, yang hidupnya begitu jujur terbelah dadanya.

Pikiran Upasara berjalan bolak-balik tak menentu. Saat seperti itu, kakinya makin sukar digerakkan. Makin tidak mengikuti kemauannya.

Mengatur kembali pernapasan, melatih tenaga dalam, dan kemudian membalas dendam?

Melabrak Kiai Sambartaka? Menantang Halayudha?

Ah, betapa kecilnya. Betapa kerdilnya, dibandingkan jiwa besar Senopati Sora yang terang di tanah, tenang di darah.

Upasara membiarkan tubuhnya ambruk. Telentang di pinggir sawah.

Matahari makin panas. Gerah.

Helaan napas.

Lepas.

Tapi darahnya masih bergolak, pertanyaan silih berganti menggelegak, bertarung keras dalam benaknya.

Jalan Simpang

UPASARA makin terbaring. Tanah semakin kering.

Secara pribadi kesadarannya makin menurun. Hawa dingin mulai naik dari bawah kakinya. Kini sudah mencapai ke arah lutut. Merayap perlahan ke bagian paha.

Dengan kemampuan dan pengaturan tenaga dalam yang dimiliki, bagi Upasara tak terlalu sulit untuk menghentikan aliran hawa dingin. Akan tetapi, jalan pikiran Upasara masih bercabang, di mana setiap cabang pikiran mengembang ke cabang yang baru.

Kematian Senopati Sora mengguncang batinnya. Justru karena keikhlasan menerima dengan damai dan bahagia. Dengan pasrah, sumarah.

Inilah sesungguhnya bagian dasar Kitab Bumi yang dipelajari. Kemampuan dan kemauan yang tulus untuk menjadi tumbal, untuk mengorbankan diri.

Guncangan batin ini tak jauh berbeda dari apa yang dialami oleh Eyang Kebo Berune.

Inti Kitab  Bumi,  sesungguhnya  lebih  dalam  dari ketajaman daya  pikirnya.

Semakin dipelajari sesuai dengan perkembangan daya pikirnya, semakin menarik.

Sewaktu mempelajari Kitab Bumi pada awalnya, Upasara seakan menemukan jalan buntu. Kagok. Pada saat ilmu dan tenaga dalam makin sempurna, pada saat yang sama Upasara merasa ada bagian yang keliru dari yang selama ini diperdalam. Ada arah yang salah, hanya dengan mempelajari ilmu silat.

Titik kritis yang tak bisa diatasi menyebabkan Upasara melepaskan semua ilmu yang dimiliki.

Bertekad menjadi manusia biasa. Tanpa beban pertarungan.

Namun ternyata Upasara tak bisa membebaskan diri dari pergulatan. Ia mengundurkan diri, akan tetapi dunia persilatan justru makin melibatkan diri.

Tak ada titik untuk melangkah surut. Tak ada titik untuk memalingkan wajah.

Pada pertemuan dengan Paman Sepuh Dodot Bintulu, Upasara mampu mengembalikan tenaga dalamnya dari tenaga cadangan. Ini semua menyebabkan terlibatnya kembali ia dalam dunia persilatan.

Yang mencapai puncaknya pada pertarungan habis-habisan di Trowulan. Semua jago jagat turun ke lapangan, dan meninggalkan korban-korban yang selama ini justru melatih diri dalam dunia persilatan. Mata Upasara pedih.

Sangat jelas dalam gambarannya, bahwa pertarungan ini juga dialami para empu-empu linuwih, empu-empu yang bijak bestari. Seperti halnya ketika Paman Sepuh Dodot Bintulu menuliskan gabungan ajaran-ajaran jurus silat, yang kemudian dinamai Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

Ajaran yang bersumber kepada sifat-sifat bumi yang perlu diteladani ini menjadikan suasana dunia persilatan semarak. Di zaman Baginda Raja Sri Kertanegara, dasar-dasar itu memperoleh tempat persemaian.

Dengan berhasilnya merumuskan Dua Belas Jurus Nujum Bintang, para ksatria sejati justru merasa lebih risau. Karena perkembangan ilmu silat tak bisa dikendalikan lagi. Menjamunya ajaran silat, membuka peluang besar adanya adu kesaktian yang terus-menerus.

Keinginan untuk menciptakan ksatria sejati yang kelak menjadi senopati utama, pada saat yang sama juga menciptakan petualang-petualang yang sekadar mencari kemenangan.

Gegeran berlangsung lama.

Sampai kepada satu titik, di mana para ksatria utama saat itu menciptakan kembali ilmu penangkal. Melalui pergulatan yang paling panjang, melalui semadi yang tanpa ujung, lahir dan terpilihlah ciptaan Eyang Sepuh, Delapan Jurus Penolak Bumi. Tumbal Bantala Parwa mengajarkan jurus-jurus untuk mengendalikan ketelengasan Dua Belas Jurus Nujum Bintang.

Lebih dari Dua Belas Jurus Nujum Bintang, dalam Kitab Penolak Bumi tidak semata-mata diajarkan cara mementahkan jurus lawan, cara mengatasi jurus-jurus serangan. Kitab Penolak Bumi lebih menitikberatkan kepada ajaran menghilangkan keinginan untuk menang, keinginan untuk unggul dengan menghancurkan lawan.

Kitab Penolak Bumi berisi kidungan-kidungan penyerahan. Sekaligus penolakan.

Inilah yang menyebabkan Upasara seperti menemukan jalan buntu. Dan sekarang ini guncangan itu terjadi lagi. Apa artinya semua ilmu yang dipelajari, kalau ternyata seorang Senopati Sora yang begitu penuh pengabdian, harus menerima kematian sebagai pemberontak?

Dasar dari meniada yang sangat gamblang disebutkan dalam kidungan Kitab Penolak Bumi, menemukan bentuk utamanya pada apa yang dialami Senopati Sora.

Bahwa sesungguhnya, semua yang ada harus ditolak. Karena yang ada itu tak pernah ada.

Karena daya asmara Putri Pulangsih tak pernah ada. Karena segala pangkat dan derajat hanyalah titipan. Karena segala gelar kiai, empu, eyang, tak membuat seseorang menjadi lebih bijak.

Dalam perjalanan hidup, apa yang dilakukan Eyang Sepuh adalah bagian dari sikap yang didasari cara mengatur napas Kitab Penolak Bumi. Yang akhirnya menempatkan langkah hidup Eyang Sepuh moksa.

Tak terlibat dalam percaturan ilmu silat.

Tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan Mpu Raganata ketika berada di dalam Keraton Singasari saat Raja Muda Jayakatwang menyerbu.

Mpu Raganata mampu melawan, mampu menyelamatkan diri. Akan tetapi justru memberikan tenaga dalamnya kepada lawan.

Tak jauh berbeda dari Dewa Maut yang merasa damai dengan kurungan bawah Keraton. Penjara seumur hidup itu justru diterimanya sebagai bagian dari kebahagiaannya. Sehingga mampu menangkap getaran alam.

Mendengar akar tumbuh.

Mengetahui daun akan berubah warna. Pokok pangkalnya sama.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan saat ini? Mengembalikan tenaga dalam, menyelesaikan dendam seperti semula, baru kemudian pergi bertapa di Perguruan Awan? Apakah dengan membalas dendam, dirinya menjadi lebih benar? Apakah justru tidak mengundang pertarungan yang lain lagi?

Berbeda dari Upasara, Kiai Sambartaka justru tengah berada dalam semangat untuk tampil. Kebimbangan seperti yang dirasakan Upasara tak berbicara dalam hatinya.

Sewaktu pertarungan pengikut Senopati Sora dengan prajurit Keraton makin menghebat, Kiai Sambartaka justru menyudutkan diri. Baginya, pertarungan ini tak ada hubungan sama sekali dengan dirinya.

Hanya akan merepotkan saja.

Maka ia segera menyingkir, menjauh dari pertarungan.

Apa yang diinginkan hanya satu. Mengungguli Upasara. Kemudian mengumumkan diri sebagai ksatria nomor satu di jagat! Pada saat itu, ia bisa malang melintang dan tercapailah semua yang diangan-angankan.

Maka satu-satunya halangan yang harus segera diselesaikan adalah melindas Upasara. Dengan cara apa saja.

Sekarang adalah kesempatan terbaik.

Kiai Sambartaka bisa memperhitungkan, bahwa bagaimanapun hebatnya Upasara, pukulan Pendeta Sidateka akan menjadi gangguan. Hawa dingin yang bersarang dalam pembuluh darah Upasara, ibarat anggur, yang secara perlahan akan mempengaruhi dalam jarak waktu lebih lama.

Upasara pasti tak bisa lari jauh.

Dengan kaki yang kaku, langkahnya tak akan sampai ke ujung pantai yang

lain.

Dengan jalan pikiran seperti itu, Kiai Sambartaka bergegas menyusul ke arah matahari terbit. Arah ke mana Upasara menghilang. Dengan harapan akan menemui Upasara yang sedang kesakitan, dan ia berhasil memanfaatkan kesempatan yang menguntungkan. Sewaktu Kiai Sambartaka meninggalkan medan pertempuran, peperangan antara pengikut Senopati Sora dan prajurit Keraton sudah berhenti. Semua senopati utama berhasil ditaklukkan, dan sebagian prajurit menyerahkan diri.

Mahapatih Nambi memerintahkan segera dilakukan pembersihan agar tidak meninggalkan bekas-bekas.

Medan pertarungan bisa segera dikembalikan ke suasana semula. Korban yang meninggal dikuburkan, yang sakit dirawat, yang menyerah diurus untuk tata peradilan yang berlaku.

Belum sepenanak nasi, suasana kembali seperti semula. Bagian pinggir dinding Keraton bersih seakan tak pernah terjadi sesuatu yang mengerikan.

Seakan tak pernah ada pertumpahan darah sesama saudara.

Akan tetapi, pertarungan dalam hati Mahapatih tak segampang itu dibersihkan. Hati yang jauh lebih kecil, yang tak lebih lebar dari telapak tangan, seperti tak bisa dibungkam sepenuhnya.

Telinga seperti mendengar rintihan. Rintihan sendiri.

Yang makin jelas ketika Mahapatih kembali ke dalem kepatihan. Sebelum akhirnya melapor kepada Baginda.

Simpang Kebimbangan

BAHWA dirinya akan menangkap dan mengadili Senopati Sora yang membangkang, itu sedikit pun tak membuatnya ragu.

Semua sudah terbayangkan secara rinci dalam benak Mahapatih.

Yang tetap membuatnya terenyak adalah kenyataan bahwa tubuh Senopati Sora menelentang di tanah dengan perut hancur, tetapi dengan sunggingan senyuman luhur.

Adegan itu membuat Mahapatih bimbang. Tanpa suara, tanpa menoleh kiri-kanan, Mahapatih segera masuk ke dalam senthong. Ke dalam bagian rumah yang selalu dibiarkan kosong.

Kamar yang biasanya selalu dipakai buat bersemadi, berdoa, memasrahkan diri kepada Yang Maha mutlak ini merupakan tempat yang teduh.

Semua senopati atau prajurit, selalu mempunyai senthong dalam rumahnya.

Ruangan yang selalu dibiarkan kosong melompong. Dengan jendela yang selalu tertutup.

Hanya ketika Mahapatih membuka pintu, terdengar suara perlahan.

“Kenapa tak kamu basuh kakimu sebelum masuk kemari, anakku? Kenapa tak kamu biarkan keringat menjadi kering lebih dulu?”

Mahapatih Nambi berlutut.

Bersila dan menghaturkan sembah.

Suara yang lembut, pelan menyentuh telinganya, adalah suara yang diakrabi sejak masih kecil.

Suara Ayahanda.

Lelaki perkasa yang seluruh rambutnya putih dengan badan yang kurus itu duduk di lantai dingin. Tanpa alas apa-apa.

Mahapatih menyembah lagi.

Jauh dalam hatinya, Mahapatih Nambi sangat menghormati ayahnya. Tokoh pujaan semasa kecil, sampai ketika ia masuk sebagai prajurit, dan pangkatnya terus naik, hingga ke puncak kekuasaan sebagai mahapatih.

Selama itu pula, Mahapatih Nambi merasa bahwa apa yang bisa dicapai adalah karena restu dari ayahnya. Yang memilih hidup di Lumajang, hidup dari sawah dan sungai. Yang tetap memilih cara hidup seperti ketika Mahapatih Nambi masih kecil.

Tak ada yang berubah. Tak ada yang bertambah. Beberapa kali Mahapatih Nambi mengirim utusan atau datang sendiri ke Lumajang, baik untuk mengirimkan sesuatu atau memohon ayahandanya pindah ke Keraton.

Akan tetapi ayahandanya selalu menolak.

Tak pernah bergerak lebih jauh dari tapal batas desa Gandhing.

Bahkan ketika Nambi dinobatkan sebagai mahapatih, ayahandanya tetap tak mau diundang.

Sekarang ini, justru datang.

“Biarkan keringatmu kering, anakku.

“Ruangan ini tak bisa mengeringkan keringat seorang lelaki.” Mahapatih menunduk.

“Sungguh bahagia, Bapak berkenan menengok anaknya yang berada di jalan persimpangan ini.

“Rasanya saya merasa bukan anak lola, yang tak mempunyai siapa-siapa dan apa-apa lagi.”

“Tata bicaramu bagus sekali, anakku.

“Kenapa harus   bimbang?   Bukankah   semua   jalan   adalah   persimpangan?

Bukankah semua jalan menuju ke arah yang kita mau? “Anakku, sebagai prajurit kamu tahu di mana jalanmu. “Sebagai orang dusun, aku tahu di mana jalanku.

“Kenapa merisaukan persimpangan, yang bukan jalan kita?” “Mohon petunjuk lebih jauh.”

“Anakku, siapa yang berani memberi petunjuk Mahapatih?” Suara itu justru menyayat Mahapatih yang makin menunduk. “Tapi kamu anakku.

“Kamu Nambi yang setia menunggu batang padi tumbuh. Setia menunggu air di sawah.

“Yang mendengarkan dongengan prajurit utama. “Nambi, anakku.”

Mahapatih terkejut. Hatinya sedikit kecut. Suara Ayahanda seperti mengisyaratkan sesuatu.

“Pandanglah bapakmu ini.” Mahapatih mendongak perlahan. Wajah yang dulu sangat dikenalnya.

Wajah yang sekarang selalu dibayangkan. “Aku masih bapakmu, Nambi.

“Kamu masih anakku.

“Tapi jalan yang kita tempuh jauh berbeda. Sewaktu aku datang, prajurit- prajurit mengelukan, menyambut dengan upacara besar-besaran. Pranajaya Mpu Sina, bapak agung Mahapatih, berkunjung.

“Ah, siapa yang menjadi empu?” “Maaf…”

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Nambi. “Tak apa.

“Semua harus begitu. “Kalau ada jalan simpang, itulah jalan simpang yang ada. Akan tetapi jangan membuatmu bimbang.

“Teruskan langkahmu. “Aku bangga padamu.

“Kamulah anak lelakiku, kamulah prajurit, mahapatih tempat rakyat mencari perlindungan.”

Mahapatih menunduk.

“Aku tak punya kata-kata. Tata kramaku sangat buruk, Nambi.

“Bahkan untuk menyembah seorang mahapatih pun tak mampu. Aku hanya ingin menengokmu. Menengok anakku, prajuritku.

“Sekaligus aku minta pamit.

“Kalau nanti aku berada di Gandhing, aku akan merasa bahagia karena telah melihatmu.

“Anakku, prajuritku.

“Teruskan langkahmu. Langkah prajurit yang gagah.” Mpu Sina mengangguk.

Perlahan berdiri.

Mahapatih masih menunduk. Tak bergerak.

Mpu Sina berjalan perlahan. Sampai di pintu senthong berhenti sebentar.

Tangannya yang lembut menyentuh pundak Mahapatih. “Teruskan langkahmu. Langkah prajurit yang gagah.

“Kalau kamu membelok ke Lumajang, itulah persimpangan yang salah. “Selamat, anakku.

“Dewa Yang Mahaagung akan selalu menyertaimu.”

Mpu Sina meneruskan langkahnya. Keluar dari senthong, melalui ruang utama, menuju pendapa, dan melalui halaman kepatihan, menuju pintu gerbang.

Dan lenyap.

Kembali ke desa Gandhing.

Mahapatih masih menunduk di depan pintu senthong. Tak berani bergerak. Inilah pengalaman yang sangat luar biasa.

Untuk pertama kalinya, ayahandanya bersedia datang ke Keraton. Untuk terakhir kalinya pula.

Betapa jauh perjalanan dari Lumajang, untuk seorang setua ayahandanya.

Apalagi ditempuh dengan jalan kaki, sebisanya, sekuatnya.

Tak ada gunanya mengirimkan kuda, joli, atau pengawalan. Seperti juga ketika kembali.

Satu langkah demi satu langkah. Dengan bantuan tongkat dan istirahat.

Itulah ayahandanya. Yang tetap merasa sungkan disebut empu. Yang merasa tak pantas dikawal.

Itulah lelaki yang menempa batinnya sehingga ia seperti sekarang ini.

Mahapatih bisa membayangkan bahwa jauh sebelumnya, ayahandanya sudah berangkat. Dan dengan perhitungan batin yang tak diketahui bagaimana caranya, datang pada saat yang tepat.

Saat Mahapatih gundah. Dan datang dengan petuah. Bahwa apa yang dilakukan sekarang ini adalah jalan yang tepat bagi seorang prajurit. Dirinya adalah prajurit.

Tak ada kelegaan yang bisa membuat Mahapatih bersyukur selain kalimat tersebut.

Tapi juga kekuatiran yang dalam.

Kenapa disebut-sebut jalan simpang itu justru kalau ia mengingat Lumajang? Kalau ia ke desa Gandhing? Kalau ia menempuh jalan yang diartikan sebagai “bukan jalan prajurit”?

Mahapatih merasa bahwa kata-kata ayahandanya mempunyai arti yang dalam.

Hanya ia tak bisa mengerti ke mana arahnya.

Dalam hal tata susastra, Mahapatih Nambi merasa dirinya sangat tumpul. Apa yang dilatih dan diketahui dengan baik adalah apa-apa yang bisa dilihat. Yang serba jelas.

Rangkaian indah di balik kidungan, tak bisa tertangkap dengan baik.

Itu salah satu yang membuatnya dulu bimbang mendapat pangkat paling terhormat sebagai mahapatih.

Masih lama Mahapatih Nambi terus berlutut di depan pintu senthong yang menganga, seakan mengundang segera masuk.

Prawita Parwa

PERMAISURI INDRESWARI yang pertama kali mendengar secara lengkap. Wajahnya tetap dingin.

“Apa istimewanya, Halayudha?

“Bukankah itu seharusnya? Seorang pemberontak mati, hukuman yang terbaik.

“Apa istimewanya kamu laporkan kematian Sora?” Halayudha menyembah dengan hormat. “Maaf atas kelancangan hamba, Permaisuri Agung.

“Hamba selalu bersikap lancang dan kurang seronok dalam mengutarakan pendapat. Akan tetapi hamba berpendapat, akan lebih baik kalau Permaisuri memberi perhatian kepada Mahapatih.”

Alis Permaisuri Indreswari bergerak.

“Halayudha, benarkah kamu ini senopati yang paling dekat dengan Baginda? “Benarkah Baginda memilihmu karena kamu begitu dungu?

“Perhatian apa yang perlu aku berikan kepada Nambi? Hadiah?” “Begitulah, Permaisuri Agung.”

“Aku ingin menanggalkan derajat dan pangkatnya sekarang juga, kalau mungkin!

“Apa istimewanya?

“Dalam pandanganku, Nambi gagal menjalankan tugasnya. Kalau tidak, Pendeta Syangka, Kiai Sidateka, tak perlu menderita seperti sekarang ini.

“Sudah jelas semua mengetahui bahwa Pendeta Syangka pendamping Putra Mahkota, masih juga bisa terluka.”

“Begitulah, Permaisuri Agung.” “Begitulah?”

“Maaf, Permaisuri Agung.

“Dengan memberikan hadiah, Mahapatih Nambi tak merasa dimusuhi.

Sebaliknya akan merasa dekat dengan Permaisuri Agung. Pada saat seperti itu, rasanya lebih mudah mengawasi gerak-geriknya.

“Kalau Permaisuri Agung menunjukkan permusuhan, Mahapatih Nambi akan merasa perlu berhati-hati.” Kali ini alis Permaisuri Indreswari tergerak lagi. “Rasanya ada gunanya mendengarkan pendapatmu.” “Maaf, hamba hanya mengutarakan yang biasa-biasa.

“Karena Mahapatih Nambi sedang mabuk kemenangan saat ini.” “Halayudha…

“Kudengar ilmu silatmu juga cukup sakti. Apakah kamu tidak bisa mengusahakan penyembuhan Pendeta Syangka?”

Darah dalam nadi Halayudha bergolak.

Kemarahannya mencapai puncak. Kehadiran Pendeta Syangka justru sangat menyulitkan posisinya. Karena begitu Putra Mahkota naik takhta, pasti Pendeta Syangka yang akan menguasai segalanya.

Berarti tak ada tempat baginya.

Sudah bagus sekarang ini keadaannya setengah mati. Akan tetapi Halayudha memendam semua perasaannya. “Hamba hanya bisa mencoba.

“Kemurahan Dewa akan menyertai pendeta yang bijak dan mulia. Hanya karena dasar ilmu silat dari Syangka berbeda, hamba memerlukan waktu untuk mempelajari…”

Dengan pendekatan begini, Halayudha bisa menguasai secara resmi. Paling tidak ini memberi kesempatan buat mengulur waktu, kalau tak bisa segera disembuhkan.

Dan Halayudha bisa mempelajari ilmu Pendeta Sidateka. Selama ini, bagi Halayudha masih menimbulkan teka-teki. Karena luka di dalam tubuh Pendeta Syangka tidak mengalirkan darah segar, melainkan dalam bentuk gumpalan- gumpalan. Semacam kekuatan dingin yang dikuasai dengan baik, hingga ke susunan darahnya.

Kalau benar begitu, Halayudha yakin bisa mempelajari dan kemudian menguasai lebih baik daripada pemilik ilmu.

Sejak munculnya para tokoh sakti mandraguna sejagat, mata Halayudha terbuka makin lebar. Ia memerlukan waktu untuk mengenal berbagai kemungkinan.

Naga Nareswara saja sudah begitu hebat. Juga Kama Kangkam dari Jepun.

Beruntunglah ia berhasil mengecap sebagian ilmunya. Namun di saat merasa makin bertambah, muncul lagi Ratu Ayu Bawah Langit yang menggetarkan.

Yang mempunyai dasar yang berbeda.

Apa salahnya kini berusaha mengenal ilmu dari Syangka?

Dengan cara itulah Halayudha mendekati Pendeta Sidateka, dan merawat.

Berpura-pura menyalurkan tenaga dalam, mempelajari cara pernapasan.

Namun setiap kali akan berhasil, ia melepaskan kembali sambil menggelengkan kepalanya.

“Sulit… sulit sekali.”

Yang lebih menggembirakan bagi Halayudha ialah ia mendapat keleluasaan untuk menggeledah suasana dan kamar Pendeta Sidateka. Sehingga akhirnya bisa menemukan tulisan pada selembar kain sutra.

Pandangan Halayudha yang tajam dan menyelidik segera mengetahui bahwa tulisan itu pasti bukan sembarangan. Maka secara diam-diam ia menyalin dalam ingatannya, dan kemudian menuliskan untuk dipelajari secara perlahan-lahan.

Setiap kali mengobati, setiap kali pula mencuri pandang dan mengingat serta kemudian mencatat.

Adalah di luar dugaan Halayudha ketika rangkaian yang disalinnya memberi rangsangan untuk mempelajari lebih mendalam. Karena susunan kidungan yang ada sangat mirip sekali dengan Kitab Bumi.

Prawita Parwa, adalah kitab permulaan pada mulanya yang ada hanya air

air yang mengalir ke tempat rendah air di bumi

air di langit air di tubuh

di mana ada ruang di situ ada air pada awalnya air

pada akhirnya kembali ke air karena air mengalir….

Yang membuat Halayudha setengah gemetaran ialah kenyataan bahwa kidungan itu justru sangat mirip dengan apa yang diciptakan gurunya!

Sifat-sifat air itu pula yang mendasari lahirnya jurus Sindhung Aliwawar yang mencapai puncaknya dengan jurus Banjir Bandang Segara Asat.

Ini betul-betul luar biasa.

Halayudha tidak mengerti bagaimana mungkin Kitab Permulaan ini berada di tangan Pendeta Sidateka. Sungai juga air

setelah menyeberangi sungai, jangan terlalu dekat sebelum menyeberangi sungai, lihatlah riak sungai menciptakan laut

laut tak menciptakan sungai

sungai mengumpulkan mata air yang menetes, yang merembes tapi tidak menampung…

Halayudha makin yakin bahwa Prawita Parwa, atau bisa juga disebut Kitab Permulaan, kitab untuk berguru, kitab sebab-musabab, mempunyai kaitan langsung dengan Kitab Bumi yang didewa-dewakan.

Ketajaman pandang Halayudha dalam soal seperti ini tak perlu diragukan lagi. Yang sedikit menjadi tanda tanya dalam hatinya ialah kenapa sejak mula ia tak pernah mendengar adanya Prawita Parwa ini?

Padahal kalau diperhatikan, petunjuk yang ada dalam Prawita Parwa jelas menunjukkan cara-cara memainkan ilmu silat dan mengatur pernapasan. Dengan kidungan yang lebih jelas, tidak dengan balutan kalimat yang susah ditafsirkan.

Latihan pertama air selalu rata tenaga merata melalui lubang kulit panas tubuh keluar melalui lubang tubuh

dingin tubuh memancar

kerahkan tenaga seperti menunggang kuda ambil udara

dari dada, kanan dan kiri… Matirta Parwa

HALAYUDHA mengerahkan seluruh kemampuannya.

Sekali lagi ia menyelinap ke kamar Pendeta Sidateka. Kali ini dengan sepenuh hati ia menjajal mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa dingin yang masih tertahan pada beberapa bagian.

Pengerahan tenaga yang dilakukan tidak dengan mendorong ke luar, melainkan dengan latihan pernapasan yang dipelajari. Yaitu dengan menyelimutkan tenaga dalamnya ke bagian-bagian yang terganjal alirannya.

Hasilnya di luar dugaan Halayudha. Pendeta Sidateka mulai mengerang. Bahkan bibirnya bisa berkomat-kamit. “Terima kasih, Senopati Halayudha.”

“Di antara sesama saudara, rasanya ucapan itu berlebihan, Kisanak.” “Tenaga dalam Kisanak sungguh luar biasa. “Dari mana Kisanak mempelajari?”

Halayudha terlalu mudah menebak arah pertanyaan Pendeta Sidateka yang mulai mencurigainya.

“Sejak pertama kali saya hanya mempelajari ilmu semacam ini. Apa yang diketahui banyak orang yang lain.”

“Cara mengatur pernapasan dari Kitab Bumi?” “Kisanak lebih paham dari saya.”

Pendeta Sidateka menggelengkan kepalanya.

Walaupun suaranya lirih dan pengucapannya perlahan, Halayudha bisa mendengarkan dengan jelas.

“Rasanya aneh sekali. Saya mempelajari, akan tetapi tetap tak bisa memahami.

Begitu luar biasa luas dan dalamnya.”

“Ah, saya belum bisa menerima pujian seperti ini.”

“Rasanya saya mengenali cara mengatur napas Kisanak. Kalau benar begitu, saya bisa mempelajari juga.”

Halayudha menjajal lagi. Kali ini justru melakukan yang sebaliknya.

Tenaga dalamnya tidak untuk melindungi, melainkan mendorong seperti pada awalnya.

Sehingga wajah Pendeta Sidateka menjadi merah dan napasnya tersengal- sengal. Halayudha terus memaksa, sehingga Pendeta Sidateka mengeluarkan jeritan tertahan.

Tak sadarkan diri. Saat itu dengan cepat Halayudha membuka lembaran kain sutra dan membaca serta menyimpan dalam ingatannya dengan cepat. Setelah mengembalikan ke tempat semula, Halayudha segera meninggalkan kamar.

Kembali ke dalam kamarnya.

Sambil bersemadi, Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menuliskan dengan cepat apa yang diingatnya.

Kidungan pemula ini juga berarti kidungan tentang air, air suci maka kitab ini juga bisa disebut

Matirta Parwa, artinya kitab tentang mandi dengan air suci

Tirta itu air, Matirta mandi mandi itu membersihkan mandi menyucikan

hanya air yang bisa mencuci hanya air yang bisa dicuci

Kidungan pertama, di mana air di bumi

tanpa air, bumi bukan bumi di langit tanpa air, langit bukan langit di badan

tanpa air, badan bukan badan di jiwa,

tanpa air, jiwa bukan jiwa

Air adalah tenaga tenaga ada di mana saja

tarik napas, itulah tenaga biarkan di dada, gerakkan tangan

kiri atau kanan sama saja

selama tak dibendung air terus menggulung

Bumi lebih mudah dikenali karena bumi diinjak setiap kali air terlupakan

karena menyatu di badan Bumi ada pusatnya, di pusar air tanpa pusat tanpa pusar Bumi ada bentuknya, pukulan air membentuk rangkulan

Inilah kidungan pertama

sebagai puji syukur kepada Dewa yang dicipta dari air!

Bagi Halayudha kini segalanya menjadi lebih jelas. Bahwa kidungan utama Matirta Parwa ini mempunyai sangkut-paut secara langsung dengan Bantala Parwa. Karena secara gamblang pula dijelaskan perbedaannya dengan Kitab Bumi.

Bahkan kelihatannya seperti menerangkan ada sesuatu yang masih kosong dalam Kitab Bumi. Hal ini tak usah diragukan lagi. Kitab Bumi mengajarkan ajaran pernapasan yang berpusat pada satu tempat. Di pusar.

Semua udara yang diisap kuat disalurkan lewat hidung, ke atas melalui rongga kepala, ke bawah lewat tulang punggung, dan akhirnya terkumpul di perut, dan naik ke dada. Baru kemudian disalurkan lewat tenaga dorongan di tangan.

Sedangkan Matirta Parwa justru sebaliknya. Pengerahan tenaga itu bisa dari mana saja. Selama tenaga tak terbendung, bisa dialirkan. Bisa dikerahkan secara seketika, tanpa harus menghimpunnya lebih dulu.

Pada tingkat tertentu, kecepatan pengerahan dan perubahan tenaga menjadi kunci keunggulan dibandingkan dengan apa yang dituliskan dalam Kitab Bumi.

Itu pula sebabnya dengan sangat mudah sekali tenaga dalamnya bisa dikerahkan untuk menahan dan mengepung hawa dingin dalam tubuh Pendeta Sidateka. Serta membiarkan saja, dan menyebabkan hawa dingin mencair. Leleh, dan menjadi tenaga biasa.

Tidak mengganjal, tidak menghambat. Mempergunakan sifat air.

Bagai kerasukan Halayudha menjajal, melatih, dan mempelajari ulang. Setiap kali mencoba menyalin, Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga berkeringat dan sesudahnya menjadi keletihan.

Kenyataan ini justru membuat Putra Mahkota Kala Gemet sangat menghargai. Karena disangkanya Halayudha mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyembuhkan Pendeta Sidateka yang sangat dihormati.

“Sebentar Paman Sidateka akan sembuh kembali,” kata Putra Mahkota dengan wajah berseri.

“Rasanya begitu, duh sang Calon Raja.

“Hamba ingin segera sembuh, akan tetapi tujuh hari mulai hari ini, biarlah hamba sendiri yang menjajal. Hamba tak ingin merepotkan Senopati Halayudha.”

“Tak apa, Paman Sidateka.”

“Maaf, tetapi hamba tak bisa menerima kebaikan ini. Hamba mohon sudilah, duh Sang Calon Raja.”

“Kalau itu permintaan Paman, itu yang menjadi keputusan.” Halayudha menerima perintah dengan menyembah hormat.

Apa yang menjadi perasaan hatinya sama sekali tak tergambar dalam wajahnya, dan sikapnya. Kegalauan Halayudha terutama sekali karena munculnya perhitungan bahwa Pendeta Sidateka mulai mengendus ada sesuatu yang mencurigakan.

Dengan kata lain, Pendeta Sidateka mulai tahu bahwa sebagian ilmu yang disimpannya tercuri.

Halayudha tidak kuatir mengenai hal ini. Akan tetapi ia tak mau berhenti di tengah jalan. Apalagi ketika mulai bisa melatih, Halayudha menemukan perubahan dalam dirinya. Ada semacam keleluasaan dalam mengendalikan jurus-jurus yang dimainkan.

Bahkan ketika melatih jari-jarinya, Halayudha merasa bahwa keempat jari kanannya yang kutung seperti ada kembali!

Bisa menyalurkan tenaga. Bisa tergetar. Bisa digetarkan!

Bagi Halayudha itu hanya sedikit memutar akal untuk menemukan jalan, bagaimana merampas atau mengetahui isi Matirta Parwa.

Jalan yang paling sederhana adalah meminjam tangan Baginda.

Jamu Asmara

HANYA masalahnya sekarang ini, Keraton masih dilanda kemelut. Suasana kurang menyenangkan.

Ternyata kematian Senopati Sora dan seluruh pengikutnya sangat memukul perhatian Baginda. Sehingga resmi Baginda tidak mau ditemui siapa pun.

Baik oleh semua permaisuri, maupun Halayudha.

Bagi Halayudha ini sedikit aneh, karena selama ini tak pernah masuk dalam akalnya bahwa dirinya akan dijauhi. Selama ini Halayudha merasa bisa berada di dekat Baginda dalam keadaan apa pun.

“Semua kesalahan saya, Mahapatih,” kata Halayudha merendah ketika Mahapatih Nambi menghubungi. “Kesalahan saya yang utama, karena saya berlaku begitu kejam pada Senopati Sora.”

“Bukan Paman Halayudha yang berbuat itu, tetapi saya.” “Mahapatih, tangan kanan Baginda… “Bukan kesalahan Mahapatih. Inilah salah hamba, yang tak bisa menangkap maksud Baginda yang sesungguhnya. Baginda kurang berkenan pelenyapan Senopati Sora terjadi di samping Keraton.”

“Saya yang menyergapnya.”

“Betul, akan tetapi hambalah yang…”