Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 34

Jilid 34

Nyai Demang terus memperhatikan.

“Maaf, Kakek Berune, kami tak ingin mengganggu Kakek. Apa pun pengalaman masa lampau yang pahit, kami tak ingin menghadirkan kembali. Keinginan kami hanya ingin menjajal sesuatu yang barangkali bisa untuk menyembuhkan saya, atau Kakek sendiri.”

“Dengan kata lain, kalian masih lebih percaya Bejujag. “Mungkin harus begitu.

“Di antara kami berempat, Bejujag adalah yang paling tidak bisa apa-apa. Bintulu yang paling tampan, gagah perkasa tapi sekaligus lembut. Putri-putri Keraton akan merasa bahagia jika mimpi dilirik.

“Lebih dari ketampanannya, Bintulu paling tekun, paling baik budinya. Di antara kami bertiga, sama-sama mengakui bahwa Bintulu yang paling pantas menjadi pemimpin, yang paling pantas mendapatkan Pulangsih.

“Aku rela kalau Bintulu yang mendapatkan Pulangsih. Seperti juga Bejujag dan Raganata. “Tapi karena perhatian Bintulu yang luar biasa kepada ilmu kanuragan, dan jauh di dalam hatinya ia tak tega mengkhianati sahabat-sahabatnya, maka ia agak malu-malu mendekati Pulangsih.

“Calon berikutnya, pastilah aku. Saat itu akulah yang paling biru darahnya, paling mapan kehidupannya dengan kemampuan ilmu silat yang tak kalah dari yang lainnya. Akan tetapi Pulangsih kurang menyukai ketika aku memutuskan menjadi prajurit. Apalagi ketika akhirnya aku berangkat sebagai senopati utama yang diutus ke Keraton Berune. Dari semua prajurit muda, akulah yang paling muda dan paling berpengharapan.

“Kalau aku tak bisa, agaknya Raganata pantas menyanding. Dia termasuk tampan, mempunyai perhatian yang lebih kepada sesama, tutur katanya manis, dan sangat asih kepada wanita.

“Sebelum aku berangkat, kami berlima mengadakan pertemuan. Aku yang mengutarakan niat baik, kepada siapa Pulangsih akan menjatuhkan pilihannya. Siapa pun di antara kami berempat yang dipilih Pulangsih, kami akan menerima dengan hati terbuka.

“Inilah kelebihan kami sebagai ksatria muda.

“Upasara, Nyai Demang, kalian tahu siapa yang dipilih Pulangsih?” Nyai Demang menjawab perlahan,

“Eyang Sepuh.”

“Itulah gilanya. Pulangsih mengatakan pilihannya jatuh kepada Bejujag. Serta- merta kami bertiga bertanya: Kenapa memilih Bejujag?

“Jawaban Pulangsih membuat kami terkesima, seakan tak percaya: Dari hati wanita yang paling lembut dan jujur, dialah lelaki yang bisa membahagiakan wanita.

“O-ho!

“Sebodoh-bodohnya kura-kura masih lebih bodoh hati wanita!

“Akan tetapi karena kami berempat sudah sepakat apa pun pilihan Pulangsih, kami menerima. Aku yang berangkat lebih dulu. Dengan janji akan bertemu setiap lima puluh tahun. Mengundang seluruh ksatria di penjuru jagat. Untuk menguji siapa yang paling kuat menyerap ilmu.

“Agak kekanak-kanakan memang.

“Lima puluh tahun ternyata sangat lama. Bisa mengubah segalanya. Akan tetapi ternyata tak cukup dua tahun untuk mengetahui siapa sebenarnya Bejujag.

“Belum dua tahun, Bejujag sudah melemparkan Pulangsih. Menampik Pulangsih dengan cara yang paling menyakitkan. Ia bergendak dengan wanita-wanita yang lain.

“Rasanya aku ingin segera kembali dan menghajar Bejujag. Tak sepantasnya wanita setulus Pulangsih disia-siakan dengan cara begitu hina.

“Hanya karena mengemban tugas negara, aku tak kembali waktu itu. Aku kuras kemampuanku untuk memperdalam ilmuku, Pukulan Pu-Ni, yang kuyakin tak ada yang mampu menandingi. Sementara kiriman dari Raganata datang beraturan, dan aku ganti mengirimkan apa yang kuperoleh.

“Aku makin yakin bahwa aku siap melabrak Bejujag.” “Kakek juga menanyakan keadaan Putri Pulangsih?” Wajah Kakek Berune berubah.

Ah, masih tersimpan kenangan indah yang mendadak terbuka. “Ya.”

“Juga kabar yang diberikan Mpu Raganata?” “Ya.”

“Juga dari Paman Sepuh Bintulu?” “Ya.

“Kami bertiga ternyata masih menyimpan harapan yang sama. Hanya karena aku paling jauh, aku tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.” “Juga dari Eyang Sepuh?” “Ya.”

“Apakah…”

“Ia menerangkan kemudian, bahwa Pulangsih tak pantas dijadikan pendampingnya, karena Pulangsih mempelajari ilmu Pamiluta, ilmu pelet untuk merayu lelaki dengan bujukan manis.

“Demi Dewa segala Dewa!

“Pulangsih tak memerlukan apa-apa untuk membuat Dewa menciumi kakinya minta daya asmara.

“Bagaimana mungkin aku bisa percaya penjelasan busuk semacam itu?

“Tiap kali aku kirimkan utusan kembali ke tanah Jawa, hanya untuk mengetahui apa yang terjadi atas diri Pulangsih.”

“Ternyata Putri Pulangsih dilepas oleh Eyang Sepuh.” “Ya.”

“Ternyata Putri Pulangsih tidak mendendam pada Eyang Sepuh. Malah tetap memujanya?”

“Ya.

“Hei, dari mana kamu tahu itu, Nyai?”

“Saya dilahirkan sebagai wanita, dengan hati dan perasaan wanita sejati.” “Apa betul begitu?

“Setolol itukah semua wanita di jagat ini?” Nyai Demang mendesis.

“Selama lelaki masih menilai begitu kejam, jangan harap bisa memahami hati wanita. Itulah kelebihan Eyang Sepuh.” “Kelebihan?” “Ya.”

“Tunggu, jangan kaubikin aku mati penasaran. “Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, Nyai?” Kini berbalik.

Nyai Demang-lah yang ditanyai.

Upasara menunduk. Pikirannya sedang berkelebat antara bayangan Ratu Ayu dan Gayatri. Silih berganti saling menindih. Akan tetapi, setiap kali bayangan Gayatri yang muncul lebih jelas.

Ah, inikah daya asmara yang luar biasa itu?

Yang juga terjadi pada diri Eyang Sepuh, Paman Sepuh Dodot Bintulu, dan Mpu Raganata… serta Eyang Kebo Berune?

“Sederhana sekali, Kakek Berune.” “Sederhana?”

“Sangat sederhana. Dari penuturan Kakek, jelas sekali Putri Pulangsih- tentunya mempunyai nama yang lebih bagus dari julukan jorok seperti itu- sangat ayu dan menawan. Sehingga Kakek berempat tergila-gila padanya.”

“Semua bidadari dikumpulkan menjadi satu pun tak bisa menyamai saat Pulangsih cemberut.”

“Saya percaya itu.”

“Ha-ha… bagaimana mungkin aku bisa bicara seperti ini? Rasanya mulut ini jadi enteng kalau bicara mengenai Pulangsih. Ia bintang pujaan kami, akan tetapi sekaligus sumber kebencian yang tiada habis-habisnya. “Justru di saat Pulangsih dicampakkan, dihina, ia menitipkan pesan agar jangan ada yang mengganggu Bejujag. Tak diperbolehkan untuk menantang atau menganiaya. Hanya diizinkan membantu, kalau-kalau Bejujag menemui kesulitan.

“Pulangsih sendiri yang meminta itu.

“Seumur hidup hanya sekali aku menerima tulisannya, dan itu pun memintaku agar tidak mengganggu Bejujag!

“Dewa pun tak bisa percaya.”

“Kakek tahu kenapa Putri Pulangsih justru sangat mencintai Eyang Sepuh?” “Karena tol…” Nadanya mendadak berubah, seperti teringat apa yang

dikatakan Nyai Demang. “Kenapa, Nyai?” “Karena mencintai.”

“Ya, kenapa?”

“Itulah jawaban, bukan pertanyaan.” “Dewa segala Dewa.

“Bagaimana bisa begitu?”

“Seharusnya begitu. Daya asmara bukanlah perhitungan bahwa dengan mengerahkan tenaga ke tangan, tangan akan lebih sakti dari kaki. Dengan menyimpan tenaga di pusar, akan bisa disalurkan ke arah mana saja.

“Itu perhitungan ilmu kanuragan. “Bukan daya asmara.”

Upasara bisa melihat bahwa di bagian tepi mata Eyang Kebo Berune terlihat titik air mata.

Lahirnya Bantala Parwa

“AKU tahu, bahwa selama ini aku tidak mengerti, Nyai. Dan akan tetap tidak bisa mengerti.” “Bukankah itu sendiri pengertian?” “Dewa segala Dewa.

“Kalau aku sudah bertemu denganmu sejak dulu, aku bisa memahami apa yang dilakukan Pulangsih.

“Hmmm, daya asmara…?” Hening sunyi.

Air mata itu seperti membeku. “Maaf…”

“Tak apa, Nyai. Justru sekarang ini baru terbuka mata batinku untuk memahami apa yang telah terjadi.”

“Saya tidak bermaksud mengajari Kakek.” “Kamu sangat baik budi, Nyai.

“Dewa akan melindungi siang dan malam.”

Nyai Demang mengalihkan ke arah pembicaraan yang lain. “Bagaimana kalau kita cari air kelapa untuk Kakek Berune, Adimas?” “Tidak perlu.

“Saat serangan mengancamku seperti ini, aku hanya bisa menggeletak seperti ini. Semua makanan atau minuman akan menjadi racun dahsyat yang merusak. Rasanya aku sudah empat puluh hari empat puluh malam tergeletak di sini. Hanya nyamuk yang kebetulan lewat di bibir bisa kumakan.

“Selebihnya menunggu kematian. “Tapi aku kini bisa mati dengan lega. “Mengagumkan. Ternyata Dewa masih mempunyai rasa welas asih padaku, sehingga ragaku tidak penasaran.

“Nyai tahu yang dikatakan Raganata mengenai permintaan Pulangsih? “Raganata mengatakan bahwa ini kesalahan kita bertiga. Ternyata memburu-

memuja-mengharap Pulangsih. Dan Pulangsih sudah muak dengan sikap pemujaan

seperti ini.

“Makanya justru kehadiran Bejujag yang biasa-biasa, menjadikan hatinya tergugah. Bejujag tak pernah memujinya secara terbuka. Bejujag tak memperlakukan Pulangsih secara istimewa.

“Yang biasa itu yang menarik.” “Bisa juga begitu.

“Meskipun sebenarnya setiap penjelasan, tak akan menjawab secara tuntas.

“Maaf, Adimas, kalau saya menyinggungmu… Adimas Upasara juga terpaut hatinya oleh seorang wanita. Dan tak akan pernah lekang sedikit pun, walau kini wanita yang dikasihi telah mempunyai dua putri.

“Begitu juga sebaliknya.” “Itu baik.

“Artinya Upasara dan kekasihnya menyimpan daya asmara. “Bejujag ini betul-betul kurang ajar!

“Ia sengaja menyakiti hati Pulangsih demi ilmu silatnya! Betapa konyol dan hinanya.”

“Demi ilmu silatnya?”

“Demi keunggulan pribadi Bejujag.

“Semua ini diceritakan oleh Bejujag dengan segala kemenangan. Dengan segala kebanggaan yang ada. “Nyai, kamu tahu apa yang dikatakan Bejujag padaku?” “Tunggu… Rasanya saya bisa menebak.”

“Apa?”

“Bukankah sikap Eyang Sepuh itu yang mengilhami ilmu silatnya yang kesohor, yang dikenal dengan Tepukan Satu Tangan?”

“Jangan-jangan kamu murid Pulangsih.”

“Kalau saya ada hubungan dengan Putri Pulangsih, saya sudah akan mengubur Kakek hidup-hidup.

“Tetapi saya kurang mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi.” “Aku sudah bercerita panjang.

“Bintulu yang menuliskan bagian pertama Kitab Bumi yang terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang. Suatu maha karya yang tiada taranya. Akan tetapi Bintulu merasa belum puas. Masih ingin menyelesaikan satu bagian lagi, yang akan terdiri atas delapan jurus.

“Itu sebabnya diberi nama Dwidasa Nujum Kartika, walau hanya terdiri atas dua belas jurus.

“Jalan pikiran Bintulu sangat cemerlang. Mengagumkan. Gagasan dasarnya ialah ingin menciptakan jurus-jurus dan atau latihan pernapasan yang bisa mementahkan semua jurus dan perkiraan, dan meminta pendapat dari kami bertiga.

“Pada saat seperti itulah, Raganata mengembangkan bagian yang disebut Weruh Sadurunging Winarah, atau Tahu Sebelum Terjadi. Inilah cara mementahkan semua Jurus Bintang.

“Dengan mengetahui apa yang menjadi sasaran serangan lawan, dengan sendirinya akan berhasil mengatasi.

“Raganata menempuh latihan pernapasan yang dalam, untuk mengetahui napas lawan. Karena sesungguhnya, di situlah sumber serangan. Bukan gerak kaki atau tangan. Bukan lirikan mata. Melainkan dengus dan tarikan napas. “Rumit dan berat, akan tetapi Raganata berhasil melatih dengan luar biasa.

“Aku tak mau kalah. Aku menunjukkan cara-cara memainkan Pukulan Pu-Ni. Satu pukulan yang bisa membereskan semua serangan. Dengan sekali serang, Pukulan Pu-Ni akan menghancurkan lawan. Dengan demikian serangan yang berikutnya, apa pun bentuknya, tak akan lahir.

“Sudah ditumpas sejak awal.

“Kalau Raganata lebih melatih napas dan rasa, aku memakai tenaga keras.” “Dan Paman Sepuh Dodot Bintulu?” Upasara tak bisa menahan diri ikut

bertanya.

“Bintulu?

“Lebih dekat dengan penyelesaian yang dipakai juga oleh Raganata, tetapi juga dekat dengan cara yang kupakai. Bintulu mengajukan pukulan yang dinamai sementara Banjir Bandang Segara Asat. Menciptakan banjir besar di darat dengan mengeringkan laut.

“Intinya pukulan keras.

“Mengadu tenaga dalam, pada saat yang bersamaan, menyedot tenaga dalam lawan untuk dijadikan tenaga dalamnya sendiri. Kalau kita yang memainkan lebih unggul, berarti tenaga dalam lawan terisap. Bahayanya ialah, jika kita kalah kuat, tenaga kita yang terisap.”

“Saya pernah menyaksikan dan merasakan kehebatan ilmu itu, Eyang.”

“Bagus. Kuakui, Bintulu memang cemerlang. Karena di samping tenaga keras, cara-cara mengisap tenaga lawan adalah memakai tenaga lembut, seperti yang pemikirannya dilontarkan oleh Raganata.”

“Eyang Sepuh memperlihatkan Tepukan Satu Tangan. Bukankah begitu, Kakek?”

“Ya, Bejujag mengajukan pemikiran bahwa satu tangan yang bertepuk menimbulkan suara lebih nyaring dari dua tangan. Inti mendasar dari ilmu ini ialah pengorbanan, menjadikan diri kita korban, diri kita tumbal. Maka niatan yang pertama lahir adalah penolakan. “Selama kita masih berpikir untuk meraih kemenangan, menginginkan keunggulan atau kepentingan pribadi, nafsu itu yang lebih menguasai. Kita tak mempunyai rasa pasrah. Kita yang akan kalah oleh daya nafsu kita sendiri.

“Pasrah total. Itulah inti pengorbanan diri.” “Saya tahu… saya tahu…”

“Kamu tahu bahwa inti ajarannya justru bersumber dari penolakannya kepada Pulangsih?

“Bejujag gila.

“Justru dengan menolak Pulangsih, Bejujag akan mendapatkan. Justru dengan mencampakkan Pulangsih, daya asmaranya akan berlipat ganda. Dengan bertepuk sebelah tangan, lebih nyaring gemanya daripada dua tangan bersambut. Dengan tidak memiliki Pulangsih, Bejujag justru mendapatkan seumur hidupnya. Bahkan sampai di alam lain.

“Nyatanya begitu. Karena justru Pulangsih yang meminta-minta agar ia tak diganggu menyelesaikan ilmunya.

“Aku paling membenci. Dan kuanggap ilmunya lebih berbahaya dari Banjir Bandang Segara Asat yang diciptakan Bintulu.

“Akan tetapi segalanya serba gila.

“Bintulu dan Raganata yang merundingkan, yang berpikir masak-masak, akhirnya memutuskan menerima ilmu Bejujag sebagai pelengkap utama Kitab Bumi.

“Kitab resmi, untuk diajukan kepada Baginda Raja.

“Dan Baginda Raja juga memilih serta menyetujui bahwa Kitab Bumi yang utuh terdiri atas Dua Belas Jurus Nujum Bintang dan Delapan Jurus Penolak Bumi!

“Itulah lahirnya Bantala Parwa.

“Yang diakui juga oleh Bintulu, Raganata, dan aku sendiri. Mengakui secara resmi, bahwa ajaran utama yang dituliskan adalah apa yang diajukan oleh Bejujag. “Ilmu yang didasarkan pada penolakannya kepada Pulangsih. Kemampuannya untuk meniadakan Pulangsih.

“Maka, sejak itu pula Bantala Parwa direstui menjadi pelengkap yang dipakai sebagai pegangan dan ajaran Keraton Singasari. Sampai jagat ini tamat.”

Wahyu Paminggir

“KALAUPUN Kitab Bumi yang direstui Baginda Raja, bukankah itu tidak berarti satu- satunya yang boleh dipelajari?”

“Tentu saja tidak, Nyai.

“Di jagat ini mana ada seorang yang bisa mengharuskan dan melarang hanya mempelajari jurus tertentu?

“Pukulan Pu-Ni belum tentu kalah dengan Bantala Parwa. Aku masih berniat menguji.”

Nyai Demang tersenyum dalam hati.

Kakek Kebo Berune yang napasnya tinggal satu-satu dan tak mampu bergerak, masih bisa menyombongkan diri.

“Kakek Berune, kenapa Baginda Raja Sri Kertanegara mempunyai maksud memakai pakem atau kitab pegangan?”

“Agar bisa dijadikan dasar untuk mengembangkan diri. “Ada yang tercatat, dan diakui tak akan membahayakan. “Masa soal semudah ini kamu tidak tahu, Nyai.”

“Itulah masalahnya,” tukas Nyai Demang cepat. “Dalam mempelajari ilmu silat, kita cenderung mengagungkan milik kita sendiri. Boleh dikatakan rahasia bagi perguruan lain. Akan tetapi kini malah disatukan. Dan disebarkan.

“Kakek sendiri juga menerima hasil rembugan para ksatria sejati, walau berada di seberang. Bukankah ini aneh dan bertentangan?”

“Di jagat ini, mana ada raja seperti Baginda Raja? “Lebih dari siapa pun. Dewa saja kalah jauh pemikirannya. Kita semua, para ksatria, pendekar, bahkan para durjana, mempunyai rasa hormat yang tinggi kepada Baginda Raja. Beliau raja yang dihormati bukan hanya karena kekuasaannya.

“Tapi karena kehebatannya.

“Baginda Raja mempunyai kehendak yang mulia. Keraton Singasari direncanakan akan mencapai seluruh ujung jagat. Itu hanya bisa dicapai jika kekuatan Keraton tak terkalahkan.

“Dengan membuat pakem dari Kitab Bumi, Baginda Raja ingin menyebarluaskan gagasan itu. Semua prajurit atau bukan prajurit akan dilatih. Sehingga kelak di kemudian hari, Keraton Singasari akan digdaya tanpa tanding.

“Bahkan Baginda Raja mendirikan Ksatria Pingitan.” Upasara menyembah.

“Saya didikan Ksatria Pingitan, Eyang.”

“Itulah.

“Di samping mengirimkan semua senopati ke negara seberang, seperti aku, Baginda Raja memperkuat di dalam. Pada suatu saat nanti, semua penduduk Singasari adalah prajurit sejati. Yang bisa menguasai kanuragan dan sekaligus mempunyai budi pekerti yang baik. 

“Bayangkan kalau itu terjadi!” “‘ “Lalu apa kesulitannya?”

“Tak ada.

“Tak ada, kan?” “Kelihatannya…”

“Kelihatannya Baginda Raja menginginkan dari penduduk yang biasa-biasa bisa mempelajari ilmu silat. Mereka akan menjadi bibit-bibit prajurit yang tangguh, yang di kelak kemudian hari menjadi senopati. Dan akan muncul senopati-senopati yang gagah perwira. “Tak ada apa-apanya kalau Bejujag tidak mengacaukan semua kehendak Baginda Raja.”

“Mengacaukan?”

“Dengan Kidung Paminggir.

“Yang meramalkan bahwa suatu hari akan lahir seorang senopati utama, yang lebih besar dari raja itu sendiri. Itu yang dikatakan sebagai Wahyu Paminggir.”

“Maaf, Kakek Berune, saya tak bisa menangkap.

“Kalau Baginda Raja begitu luas pandangannya, kenapa tak menyukai kemungkinan yang telah diletakkan dasar-dasarnya?”

“Karena Bejujag!

“Perhitungan atau ramalan atau nujuman Bejujag menegaskan hal itu. Kalian akan mengetahui betapa kurang ajarnya Bejujag jika mengetahui kidungan bagian itu. Akan kubacakan:

Ini pupuh kesekian, mengenai Wahyu Paminggir Wahyu ialah zat dari Dewa

Sukma kekuasaan tertinggi hanya ada pada tangan raja sebab raja adalah raja

raja adalah Dewa

Dewa berada dalam raja

Selain Wahyu Utama milik hanya para Dewa ada pula Wahyu Paminggir bagi yang berada dipinggir

tak punya nama besar, bukan keturunan raja tak punya darah biru, bukan keturunan selir Mereka ini memperoleh Wahyu Paminggir yang sinarnya bisa lebih terang

dari Wahyu Utama yang gemilang

Berbahagialah penerima Wahyu Paminggir Kidungan ini tertuju padanya

yang keringat dan kemauannya tak bisa berakhir

Berbahagialah raja yang membawahkan Kidungan itu tertuju hormat padanya yang kebesaran dan takdirnya

tiada terkalahkan

Antara Wahyu Utama dan Wahyu Paminggir seperti bibir atas dan bibir bawah

Dewa segala Dewa, raja segala raja

tak bisa menerka yang mana Paminggir atau utama…”

Nyai Demang bisa mengerti kalau Baginda Raja murka dengan kidungan yang diciptakan Eyang Sepuh. Dengan mengetengahkan gagasan adanya Wahyu Paminggir, secara jelas Eyang Sepuh mengatakan ada wahyu yang lain, di samping wahyu yang khusus untuk seorang raja! 

Itu tak boleh terjadi.

Tak akan ada raja, di mana pun, menerima kenyataan bahwa ada matahari lain. Kekuasaan mutlak ada padanya.

“Bejujag mau kraman, mau mengambil alih Wahyu Raja. Bukankah itu keterlaluan?

“Bukankah itu tak bisa diampuni?”

Apa yang dikatakan Eyang Kebo Berune mempunyai gema dalam hati Upasara Wulung. Karena setelah terkurung selama dua puluh tahun, untuk pertama kalinya ia muncul ke dunia persilatan, karena gema adanya Wahyu Paminggir!

Di mana Eyang Sepuh mengisyaratkan datangnya Tamu dari Seberang, yang akan menentukan siapa yang bakal menjadi raja. Eyang Sepuh memakai contoh lahirnya raja pertama yang mendirikan Keraton Singasari, yaitu Ken Arok.

Yang tidak berdarah biru.

Saat itu terjadi kegemparan yang luar biasa. Baginda Raja memerintahkan semua senopati untuk melabrak ke Perguruan Awan, untuk mengetahui hal yang sebenarnya.

Saat itu, Eyang Sepuh sudah menghilang. Yang ada para pendekar, para ksatria yang justru sedang akan ditumpas habis. Baru sekarang Upasara mendapat keterangan yang lengkap.

Namun tak bisa ditutupi, justru perhitungan Eyang Sepuh mendekati tepat. Saat itu Raja Muda Gelang-Gelang menghancurkan Keraton Singasari, menduduki takhta kehormatan.

Dan baru dengan munculnya pasukan Tartar, yang bisa disebut Tamu dari Seberang, bisa menggulingkan Raja Muda Jayakatwang. Dilihat dari sisi ini, segala perhitungan atau ramalan Eyang Sepuh tak bisa dikatakan sekadar lamunan kosong.

Nyatanya terbukti.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Upasara.

“Bejujag dianggap sangat tepat ramalannya. Mungkin begitu, mungkin kebetulan. Yang bisa saja terjadi. Tapi dalam hal ilmu silat, Bejujag tak ada apa- apanya. Tidak bila dibandingkan dengan aku.

“Bahkan ketika kamu mainkan jurus-jurus Penolak Bumi, aku bisa memecahkan dengan mudah. Juga Bintulu yang sanggup mematahkan satu tanganmu.”

Nyai Demang merintih.

Tubuhnya kembali bergoyang, sebelum akhirnya jatuh berkelojotan. Benturan tenaga yang terserap dari Pukulan Pu-Ni kembali muncul. Upasara menjajal kembali.

Satu tangan bergerak dari lambung ke arah atas beberapa jari di atas tubuh, dan mendadak terdorong ke depan. Menyentuh kaki Nyai Demang.

Sentakan tenaga bagai sabetan halilintar menyergap. Upasara mendesis.

Tubuhnya bagai kosong. Tenaga yang menyerbu masuk dibiarkan melalui semua tenaga penghalang. Ada dua kemungkinan: tenaga dalam Upasara bakal rontok, atau sengatan yang mengalir terhenti. Ternyata tidak dua-duanya!

Sifat Bumi

TENAGA itu tetap masuk menerobos tubuh Upasara. Tidak berhenti.

Tubuh Upasara bergeming. Tenaga dalamnya tidak rontok.

Karena sekejap kemudian, Upasara bisa melepaskan kembali tangannya tanpa merasa adanya gangguan yang berarti. Juga ketika menghela napas, dan mengatur pernapasan.

“Bisa. Bisa, Mbakyu. “Saya bisa.”

Kebo Berune berseru kaget, “Bisa apa?”

“Bisa menyalurkan tenaga bergolak dari dalam tubuh Nyai Demang.” “Mana mungkin?”

“Maaf, Eyang, saya baru menjajalnya. “Rasa-rasanya bisa tersalur.”

“Aku bisa mati membelalak. Selama ini aku mempelajari Pukulan Pu-Ni dengan sepenuh hati seumur hidupku. Dan Nyai Demang itu terkena pula. Bagaimana mungkin kamu bisa mementahkan begitu saja?

“Apakah kamu disuruh Bejujag memperolok aku?”

Tentu saja Upasara tak mempunyai pikiran untuk mempermainkan Eyang Kebo Berune. Jalan pikirannya sangat polos untuk permainan semacam itu.

Yang pertama dirasakan Upasara ialah bahwa tenaga dalam yang bergolak dalam tubuh Nyai Demang bisa diambil tanpa merusakkan tenaga dalamnya sendiri. Dengan cara membiarkan dirinya kosong, dan tenaga itu tersalur terus.

Hilang di dalam bumi. Upasara memang memakai jalan pernapasan bumi. Sesuai dengan sifat bumi yang menerima segala apa. Sambaran tenaga halilintar yang betapapun hebatnya, lenyap seketika kalau masuk ke perut bumi.

Sewaktu Upasara mengutarakan gagasan itu, Eyang Kebo Berune jadi terbengong-bengong.

“Sifat Bumi?” “Begitulah, Eyang.”

“Tunggu dulu, apakah itu ada di dalam Kitab Bumi? Apakah itu diajarkan dalam Kitab Bumi?”

“Ya, Eyang.”

“Di bagian mana?”

“Di bagian Penolak Bumi.

“Dalam Tumbal Bantala Parwa, diterangkan pada kidungan awal, bahwa gerakan-gerakan yang ada adalah dengan mempelajari unsur-unsur tanah, tata letak bumi. Dekat gunung, dekat mata air, dekat batu, dan lain sebagainya.

“Masing-masing kedudukan tanah yang demikian mempunyai kekuatan yang berbeda-beda.

“Masing-masing bisa membawa rezeki dan bahaya.

“Untuk yang mengandung bahaya, bisa diatasi dengan tumbal. Kalau kita mengenali sifat tanah, kita mengetahui kekuatannya.”

“Demi Dewa segala Dewa.

“Bukankah itu bagian yang dituliskan Bejujag?” “Maaf, saya tak begitu paham.”

“Jelas. Itu akal Bejujag. “Kalau benar begitu, ia sebenarnya telah mengalahkan Pukulan Pu-Ni yang kulatih seumur hidup, yang membuatku cacat seperti ini.”

Suaranya mengandung penyesalan yang dalam.

Upasara tak mau terganggu pikirannya. Dengan mengosongkan diri, tangannya terulur kembali. Kali ini dengan tenang, tenaga yang bergolak dalam tubuh Nyai Demang tersalur.

Amblas ke dalam bumi.

Tak sampai sepenanak nasi, tubuh Nyai Demang telah pulih kembali. Seperti sediakala.

“Luar biasa.”

“Maaf, kalau Eyang bersedia, saya ingin mencoba pada Eyang.” “Tak bisa. Tak bisa.

“Mana mungkin aku mau dihina begini rupa? Lebih baik aku mati seperti sekarang. Sebentar lagi toh akan mati juga. Buat apa kamu menyombongkan diri sebagai pemenang kepada orang yang sedang sekarat?”

Nyai Demang merasa jengkel juga.

“Adimas Upasara telah berbaik hati ingin membebaskan Kakek dari penderitaan yang berkepanjangan, tetapi masih ditolak. Dengan cara menyakitkan.

“Sudah saja.

“Mari kita tinggalkan.”

Suara Nyai Demang mengandung kemarahan besar.

Bisa dimengerti karena Nyai Demang merasakan siksaan tenaga Pukulan Pu-

Ni.

“Mari, Adimas, masih banyak yang harus kita lakukan. “Tak bisa menunggui di sini.” Upasara menggeleng.

Ia tak bisa meninggalkan begitu saja. Biar bagaimanapun, Eyang Kebo Berune adalah tokoh tua yang sezaman dengan Eyang Sepuh dan Mpu Raganata. Tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Dengan segala hormat, Upasara justru menyembah lagi. “Tak perlu, Adimas.

“Hanya akan membahayakan Adimas sendiri. Saat menyalurkan tenaga Kakek Berune, Adimas berada dalam keadaan kosong. Saat itu kalau saya berniat jahat, dengan mudah bisa membunuh Adimas.”

“Mbakyu tak akan melakukan itu.” “Jangan bodoh, Adimas.

“Saya tak akan melakukan itu. Tapi siapa saja bisa melakukan itu. Prajurit dari Keraton atau bahkan Halayudha bisa melakukan itu. Tempat ini tak jauh dari Keraton, di mana setiap saat bisa ada yang lewat.

“Saya tak bisa melindungi.”

Benar juga yang dikatakan Nyai Demang! “Aha, kalian bertengkar sendiri.

“Aku juga tidak sudi kalian tolong. Itu sama juga mengakui keunggulan Bejujag. Aku tak bisa menerima.”

Upasara jadi serbasalah. Menolong, jelas berbahaya.

Tidak menolong, hatinya tak tega. “Sudah pergi sana! “Aku masih bisa memanggil orang lain.” “Eyang…”

“Cukup. Bagiku sudah cukup. Kalian sengaja datang disuruh Bejujag untuk menunjukkan ketinggian ilmu kalian. Sampai di alam sana nanti, tetap akan kucari Bejujag.” Nyai Demang berdiri.

“Mari, Adimas.”

“Mbakyu berangkat saja sendiri.”

Bagi Nyai Demang sangat gampang berangkat sendiri. Tapi ia tak mau melakukan itu. Justru karena mengetahui bahwa Upasara pasti akan tetap menolong Kakek Berune, tanpa memedulikan keselamatannya sendiri.

Itu sifat Upasara.

Repotnya, Nyai Demang juga tak bisa memaksa Upasara pergi. Jadinya ia berdiri kaku.

“Kakek, lalu Kakek mau apa?” “Itu bukan urusanmu.”

Mendadak Nyai Demang mengerutkan keningnya. Lapat-lapat telinganya mendengar suara orang mendatangi. Dengan cepat Nyai Demang menuju ke bagian samping yang tak terlihat dari luar. Upasara mengikuti tindakan Nyai Demang.

Suara langkah yang mendekati kian jelas. Nada pembicaraan mulai terdengar jelas. “Mungkin sudah meninggal sekarang ini.” “Sayang kita belum bisa menyadap ilmunya.”

Dalam sekejap, dua bayangan muncul di pintu. Nyai Demang mengenali bahwa salah seorang dari yang datang ialah Pendeta Syangka. Pendeta Sidateka! Yang seorang lagi tak begitu jelas, karena Nyai Demang tak bisa melihat dengan jelas. Nyai Demang lebih berusaha menyembunyikan diri dengan mengatur jalan napas agar tak dirasakan kehadirannya.

“Berune, kamu belum mati?”

“Belum. Apa maumu, Pendeta Busuk?”

“Tak ada. Selain kami berdua akan menjajal ilmu. Siapa tahu tubuhmu masih bisa dipakai untuk latihan memukul.”

Upasara mengertakkan giginya.

Nyai Demang memegang tangan Upasara erat-erat. Terasa dingin.

“Coba saja. Mana ada Pendeta Busuk yang suka berbuat tak senonoh punya pukulan bagus? Pukulan dingin kamu tak lebih dari bau kentut.

“Lebih memuakkan daripada menakutkan.” Wajah Pendeta Sidateka berubah gusar.

“Kalau kamu tahu siapa yang datang bersamaku, kamu tak akan bermulut besar seperti itu.”

“Segala jenis ular busuk kamu bawa, apa kamu kira ada racun yang bisa melukaiku?”

Nyai Demang merinding.

Rasanya ia mengenali siapa yang datang bersama Pendeta Sidateka.

Sangat mengenali. Karena tokoh itu tak lain dan tak bukan adalah Kiai Sambartaka!

Rangkulan Dua Musuh Bebuyutan

NYAI DEMANG mengerahkan kemampuannya untuk mengatur jalan napasnya. Agar tidak terdengar oleh Pendeta Sidateka maupun Kiai Sambartaka. Getaran pikiran yang menyeruak membuat sedikit sakit di dada.

Cekalan tangan Upasara yang mengalirkan ketenteraman sedikit-banyak membantu penguasaan diri Nyai Demang.

Ini cekalan yang kedua, yang dilakukan secara sadar.

Yang pertama ketika Upasara membimbingnya keluar dari Keraton. Bahkan mencekal pinggangnya ketika meloncati tembok. Lalu sekarang ini.

Sungguh aneh.

Setelah sekian tahun bersama-sama, justru dalam satu malam saja, Upasara telah mencekal tangannya dan mengalirkan tenaga yang menenteramkan.

Kalau usaha penyembuhan juga dihitung, barangkali yang ketiga. Akan tetapi Nyai Demang tidak menghitung itu sebagai perlakuan yang istimewa. Karena untuk menyembuhkan luka.

Bagi Nyai Demang sikap Upasara menjadi jauh berbeda. Tadinya adalah perjaka yang serba kikuk, yang menjadi merah padam mukanya, walau hanya saling berbicara.

Sekarang berani menyentuh.

Nyai Demang membuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan.

Hatinya tergetar dan gusar karena mengetahui bahwa Sidateka datang bersama Kiai Sambartaka.

Gusar karena Kiai Sambartaka, Kiai Kiamat yang sakti dari tlatah Hindia itu, ternyata sangat culas hatinya. Tega mencurangi Eyang Sepuh yang telah menolong jiwanya. Pada pertarungan di Trowulan, Nyai Demang-lah yang berusaha terjun ke Brantas untuk mencari Kiai Sambartaka. Karena merasa dendam!

Bahwa sekarang Kiai Sambartaka bisa muncul lagi dalam keadaan segar bugar, itu tak terlalu mengherankan. Sebagai tokoh sakti tingkat Dewa, hal seperti itu bukan sesuatu yang istimewa. Akan tetapi bahwa kini bergandengan dengan Pendeta Sidateka, itu yang aneh sekali.

Tak masuk akal. Sejauh yang diketahui Nyai Demang, kedua negeri, yaitu tlatah Syangka dan tlatah Hindia, tak pernah akur. Dalam segala hal.

Permusuhan yang bebuyutan ini berkembang terus hingga ke anak keturunan yang kesekian. Dalam berbagai kitab yang dibaca oleh Nyai Demang atau siapa saja, sangat jelas terasakan. Bahkan dalam cerita-cerita yang paling kesohor, bisa dimengerti adanya permusuhan tanpa akhir itu.

Pendekar dan para ksatria dari tlatah Hindia menganggap tlatah Syangka adalah pusat segala kejahatan jagat, yang sama dengan Keraton Alengka.

Sementara tlatah Hindia adalah tanah yang dimiliki titisan Dewa Wisnu yang selalu menghancurkan angkara murka dan kejahatan. Setiap tindakan yang menghancurkan Syangka adalah tindakan sangat terhormat.

Permusuhan yang tak terjembatani lagi.

Dalam banyak hal, pendeta ataupun ksatria dari Syangka ingin mengibarkan panji-panji tersendiri. Tak mau berlindung dalam wilayah kekuasaan Hindia.

Hanya memang selama ini, para pendeta dan ksatria dari Syangka selalu keteter, selalu terdesak keberadaannya.

Maka sangat mengejutkan bahwa sekarang Kiai Sambartaka yang sakti mau bersahabat dengan Sidateka.

Apa pun alasannya, sulit diterima.

Sejahat-jahatnya Kiai Sambartaka dalam kelicikan, rasanya tak bisa dimengerti mau bersahabat dengan Sidateka. Lebih baik mati ngenas.

Karena kalau sampai terdengar ke tlatah Hindia, kabar itu tak bisa dicuci sampai tujuh puluh turunan.

Kekuatiran Nyai Demang dari segi yang lain ialah, bahwa bersatunya antara Sidateka dengan Kiai Sambartaka, bisa merupakan kekuatan yang tangguh dan sulit dicari tandingannya.

Kiai Sambartaka menguasai segala jenis racun yang berasal dari dunia binatang dan tumbuh-tumbuhan. Lebih dari itu, Kiai Sambartaka juga menguasai apa yang disebut Pukulan Beku, atau pukulan Mandeg-Mangu. Yang mampu menghentikan jalan darah atau napas, setiap kali bisa menyentuh bagian tubuh lawan.

Hal ini Nyai Demang sudah menyaksikan sendiri.

Sedangkan Pendeta Sidateka juga memiliki ilmu dingin yang luar biasa yang mampu bergerak cepat. Gabungan dari kedua ilmu ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Bukan tidak mungkin Upasara Wulung pun akan kecolongan. Satu pukulan saja, Upasara bisa beku selamanya.

“Kerbau Tua, lebih baik kita bicara baik-baik,” kata Pendeta Sidateka dengan nada tinggi. “Toh kamu sebentar lagi bakal mati juga.

“Akan lebih baik kalau kamu mengatakan sesuatu, dan saya berjanji akan mendoakan arwahmu, menguburmu baik-baik, dan mengabulkan apa permintaanmu.

“Bukankah ini jual-beli yang baik?” “Kalau aku tak mau?

“Apa yang bisa kamu lakukan?”

“Tak ada. Selain melihat seekor kerbau tua sekarat. Setiap kali akan mati, kami akan berusaha menolongmu.”

Nyai Demang mengetahui alasannya. Setidaknya bisa menebak bahwa ada yang dikehendaki dari Eyang Kebo Berune oleh Pendeta Sidateka maupun Kiai Sambartaka.

“Mana mungkin kalian bisa menolong atau tidak? Apa yang kalian ketahui selain bagaimana mencari racun cacing dan berkomat-kamit seperti demit?”

Kiai Sambartaka menyemburkan ludahnya ke tanah. “Mulut kerbau tua ini sangat busuk.

“Aku lebih suka melihatnya sekarat, dan kita menyembuhkan. Biar tambah lama tambah menderita.”

“Suara perut juga sama busuknya dengan bau kentut. “Dengan apa kamu berkaca? Kudengar kamu bisa datang ke Trowulan, dan bisa hidup, tapi bukan pemenang. Buat apa melihat matahari kalau tubuh dan jiwanya bau?”

Nyata-nyata Eyang Kebo Berune masih galak.

“Trowulan hanya tipuan anak-anak muda. Tak ada yang pantas dipakai sebagai ukuran.

“Kebo Bangkai, dengar baik-baik. Aku sudah tahu apa itu Kitab Bumi. Dan karena kamu juga mempelajari itu, rasanya aku bisa menyembuhkan dengan baik. Setidaknya menjaga agar kamu tidak segera mati.”

“Itu bagus. “Kalau bisa.”

“Apa susahnya mempelajari ilmu anak-anak bayi seperti itu? Dalam Kitab Bumi ada bagian cara mengatur pernapasan dengan memusatkan pikiran sehingga serasa kosong.

“Membuat tubuh menjadi kosong.

“Membuka gendang telinga kiri sama lebar dengan telinga kanan. Seolah tak mempunyai gendang telinga. Suara sekeras apa pun tak akan mengganggu.”

Darah di nadi Nyai Demang bergolak lagi.

Apa yang dikatakan Kiai Sambartaka adalah apa yang dipamerkan secara luar biasa oleh Upasara Wulung. Upasara berhasil memainkan dengan baik. Yang dikenal sebagai ilmu Memindahkan Tenaga Suara.

Ini memang ada dalam kidungan Kitab Bumi. Yang mencapai puncaknya pada penguasaan Eyang Sepuh dengan aji Manjing Ajur-Ajer, menyatu dengan alam.

Bisa bergerak tanpa suara. Bisa ada di mana-mana. Bisa antara kelihatan dan tidak. Yang akan sampai ke tingkat moksa. Seperti yang dicapai oleh Eyang Sepuh.

Ilmu ini pula yang dikatakan Nyai Demang lebih setingkat dari apa yang dipakai oleh Ratu Ayu Bawah Langit sebagai penguasaan langkah Tathagati!

Dari sekian cabang Jalan Budha yang ada, Eyang Sepuh telah mencapai tatanan yang tak terkalahkan.

Dan tadi dengan enteng saja Kiai Sambartaka mengatakan seolah ia yang menemukan.

Sungguh licik!

Bagi Upasara, hal semacam ini bukan sesuatu yang mengganggu harga dirinya.

Tak ada rasa keakuan untuk bisa tersinggung karena kelicikan semacam itu.

Malah Upasara membenarkan dalam hati. Bahwa yang dikatakan Kiai Sambartaka sangat tepat. Ketika tadi menyembuhkan tenaga bergolak dalam tubuh Nyai Demang, Upasara juga memakai cara yang sama disebutkan Kiai Sambartaka. Bedanya, Upasara memakai tenaga bumi untuk menyerap golakan tenaga dalam.

Ibarat kata sambaran halilintar dimusnahkan dalam bumi. Dengan tubuh Upasara sebagai pengantar.

“Coba saja, kalau kamu bisa.”

“Kerbau Tua, kenapa kamu tak mau bekerja sama?” “Apa untungku?

“Selama hidup, aku selalu dianggap kalah oleh Bejujag, Bintulu, dan Raganata.

Kini di saat-saat terakhir, aku harus mengajarkan ilmu Bejujag?

“Siapa yang mau mengakui cara begitu? Ilmu Bejujag tak ada gunanya. Jangan terlalu berharap.”

Tengkorak Kekasih

UPASARA bisa memahami Eyang Kebo Berune yang menjadi gusar. Dari pengalamannya selama ini, Upasara menjumpai dua tokoh seangkatan yang begitu kesal pada polah Eyang Sepuh.

Yang pertama adalah Paman Sepuh Dodot Bintulu. Yang kedua adalah Eyang Kebo Berune.

Keduanya menyebut sebagai si nakal, berandal, tanpa menyebut nama yang sesungguhnya.

Bedanya ialah Paman Sepuh tidak menaruh dendam seperti Eyang Kebo Berune. Maka bisa dimengerti jika Eyang Berune menjadi murka justru karena dipaksa menyerahkan sesuatu yang agaknya bisa dikaitkan dengan Eyang Sepuh.

Nyai Demang yang lebih jitu menebak. Bahkan sesuatu itu adalah ilmu, atau kitab, yang menjadi ciptaan Eyang Sepuh. Apa lagi kalau bukan bagian “yang tak terbaca di hati” atau juga Kidung Paminggir atau Wahyu Paminggir?

Sesuatu yang tadi dikatakan oleh Eyang Kebo Berune kepada Upasara dan dirinya.

Ini berarti sebenarnya Kakek Kebo Berune lebih memilih mereka berdua, dibandingkan dengan Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka.

“Kalian mau memakai ilmu Memindahkan Tenaga Suara? Boleh saja dicoba.

Kalian pikir aku tak bisa mengubah tenaga dalam milikku sendiri? “Tak semudah itu Kitab Bumi mengungguliku.

“Sebelum kalian bisa makan dengan tangan, aku sudah membaca kitab itu dengan baik.”

Nyai Demang bersorak dalam hati.

Apa yang dikatakan Kakek Kebo Berune memang masuk akal. Dengan kemampuan yang begitu tinggi, tak mungkin bisa dikuasai begitu saja. Kalau tadi Upasara berhasil menyalurkan tenaga dalam dari tubuh Nyai Demang, itu juga belum sebagai jaminan utama. Karena tenaga utama Nyai Demang berbeda dari tenaga Kakek Kebo Berune yang menjadi sumber tenaga utama. Dalam sekejap, Nyai Demang juga bisa menilai bahwa sesungguhnya Kakek Kebo Berune ini mempunyai adat yang aneh. Keras, rada angkuh, dan dengan demikian mudah mengumbar kata-kata. Sesuatu yang seharusnya tak dilakukan. Karena dengan demikian seolah membiarkan dirinya terbuka untuk dibaca lawan- lawannya.

“Aku mau mencobanya, Kakek Bangkai.

“Tetapi aku punya sesuatu yang bagimu penting.”

Kiai Sambartaka mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Dilemparkan ke

atap.

Tepat di atas, dalam pandangan mata Kakek Kebo Berune. Napas Nyai Demang tertahan. ‘

Yang dilemparkan ternyata tengkorak yang telah kering. Entah dengan cara apa tengkorak itu bisa ditancapkan di situ.

“Kamu pasti mengenali, Kebo Bangkai.” “Permainan apa itu?”

“Lihatlah baik-baik. Wajahnya bisa kamu bayangkan. Kepala begitu kecil, dengan rambut, dengan bibir mungil.”

“Apa itu?”

“Masa kamu tak mengenali tengkorak kekasihmu?” Tarikan napas Kakek Berune terdengar jelas sekali. “Katakan kidungan itu dengan baik-baik.

“Atau kamu mau melihat tengkorak itu kuperkosa? Kakek Bangkai, aku tega memperkosa tengkorak itu di depan matamu.”

Tubuh Nyai Demang menggigil. Juga Upasara merasa bulunya merinding. Ini memang keterlaluan. Nyai Demang tak bisa menahan dirinya untuk segera bergerak.

Walau Nyai Demang tak kenal sama sekali dengan Putri Pulangsih, akan tetapi bisa mengerti perasaan kakek Berune. Perasaan yang dikuasai daya asmara.

Bagaimana tercabik-cabiknya perasaan Kakek Berune bisa dimengerti oleh siapa pun yang paling tumpul perasaannya.

Sesudah menjadi tengkorak pun masih akan diperkosa. Di depan mata seorang yang begitu mencintai.

Nyai Demang mengertakkan giginya. Ia melepaskan cekalan Upasara. Hanya saja ternyata ada tubuh lain yang bergerak.

Melayang ke atas.

Terbang dari tanah.

Ini bukan perumpamaan. Karena tubuh Kakek Berune yang terbang ke angkasa. Masih dalam keadaan terbaring, lurus tak bergerak, tapi bisa naik ke atas.

Tanpa gerak.

Hanya perutnya yang bergerak naik-turun. Seakan dari situlah diatur tenaga dalamnya!

Bahkan Pendeta Sidateka pun membuka matanya lebar-lebar sambil menahan napas. Kiai Sambartaka menyembunyikan kekagumannya dalam wajahnya yang membeku.

Dalam hatinya berkelebat pikiran-pikiran yang bertentangan. Antara mengakui apa yang dilihat, dan suara hatinya yang ingin memenangkan dirinya sendiri.

Dirinya adalah jago segala jago di tlatah Hindia. Sepenuh hidupnya diabdikan untuk mempelajari ilmu silat. Berlatih diri habis- habisan, menyiksa diri dengan ambisi yang tinggi. Segala daya dan kemampuan dikerahkan. Baik dengan jalan yang dipakai oleh para ksatria maupun yang ditolak.

Itulah kedudukan yang dicapai saat ini.

Dengan keyakinan akan menjadi lelananging jagat yang sanggup menundukkan siapa saja. Adalah di luar dugaannya bahwa lawan-lawan yang setara dan sulit dikalahkan begitu banyak bermunculan.

Salah satu dari lawan yang berat justru masih bau kencur di jidatnya.

Yang lebih menggetarkan hatinya lagi, ia dikalahkan oleh seorang tokoh dari tanah Jawa!

Tanah yang dianggap hanya menjadi gema dari apa yang terjadi di negerinya.

Akan tetapi justru Eyang Sepuh, antara kelihatan dan tidak, bisa menundukkan. Lebih dari itu semua, Eyang Sepuh tak mau menjatuhkan tangannya.

Bagi Kiai Sambartaka ini bukan kehinaan, akan tetapi kesempatan untuk meloloskan diri. Setidaknya dengan hancurnya sebagian jawara-jawara jagat, ia bisa malang melintang sendirian.

Tak tahunya, masih ada pendekar lain. Dari tanah Jawa pula!

Yang bisa terbang dalam keadaan tetap terbaring tanpa gerak. Yang mendekati ke arah tengkorak, dan hanya dengan sorot mata, tengkorak itu terlepas, jatuh tepat di atas perutnya.

Lalu perlahan-lahan, tubuh itu turun. Ke tanah.

Tempat ia berbaring.

Seperti tak terjadi sesuatu sebelumnya. Kenyataan ini sangat memukul Kiai Sambartaka. Dalam ilmu silat, jenis-jenis yang serba aneh dan muskil adalah bagian yang secara khusus diperdalam. Salah satu di antaranya adalah berbicara melalui perut, mengebalkan kulit yang tak bisa ditembus senjata apa pun.

Segala macam jenis ilmu hitam juga dipelajari dan dilatih secara terus- menerus.

Siapa nyana bahwa sekarang ini, seorang yang telah cacat total tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, mampu melayang ke angkasa?

Bukankah kalau Kebo Berune ini ikut muncul di Trowulan, kesempatannya untuk menjadi lelananging jagat makin kecil?

Suasana menjadi sunyi beberapa saat. Angin dingin mulai terasakan.

Suara kokok ayam mulai terdengar satu-satu di kejauhan. “Ambil tengkorak itu, Kebo Bangkai.

“Aku masih bisa memperkosa tulang-tulangnya yang lain.”

Napas Eyang Kebo Berune bergerak naik-turun sesaat, lalu tiba-tiba saja tengkorak itu melayang ke atas.

Kembali ke tempatnya semula.

“Kenapa kalian begitu ceroboh mempermainkan aku? Bahkan tengkoraknya pun aku bisa mengenali dengan baik.

“Sekarang pergilah! ‘

“Akan kutunggu siapa yang cocok untuk mendengar obrolanku. Sana pergi sana! Cari bubur buat makan, dan minta susu kambing. Ha… ha… bagaimana tengkorak jelek begitu bisa disamakan dengan Pulangsih?”

Pendeta Sidateka terbatuk keras. “Cepat pergi! “Masih mau bertingkah seperti apa lagi? Toh kalian tak akan mendapatkan apa-apa dariku. Belajar ilmu baik-baik. Nanti lima puluh tahun lagi kalian berdua kemari, untuk bertanding dengan anak bayi yang lahir sebelum itu.

“Pergi sana!” Luar biasa.

Tokoh utama seperti Pendeta Sidateka yang mampu menguasai Angin Dingin dan Kiai Sambartaka yang menguasai Pukulan Beku, diusir seperti binatang yang menjijikkan.

Rasanya Nyai Demang ingin tertawa sepuas hati.

Agar Kiai Sambartaka mengetahui ada saksi. Karena kalau hanya diceritakan rasanya sulit dipercayai.

Jemputan Dewa

NYAI DEMANG sudah hampir bergerak, sewaktu Upasara Wulung justru menahan napas. Semua tenaga tersalur ke ujung tangan kiri dan menggeletar.

Barulah Nyai Demang sadar sesuatu sedang terjadi.

Ternyata Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka tidak segera meninggalkan gubuk. Dua kali melangkah ke luar lalu berbalik!

Serentak dengan itu dua tangan terulur. Pukulan berganda!

Dua telapak tangan bersatu, saling menempel. Tangan kanan Pendeta Sidateka menempel pada telapak kiri Kiai Sambartaka. Sementara kedua tangan yang bebas itulah yang dipakai mengerahkan tenaga untuk memukul jarak jauh ke arah Kakek Kebo Berune!

Pukulan berganda! Yang kedahsyatannya pernah dibayangkan oleh Nyai Demang. Gabungan antara Pukulan Beku dan Angin Dingin. Tadinya hanya berada dalam lintasan pikiran.

Nyatanya bisa dilakukan.

Dan korbannya adalah seorang kakek tua yang hanya bisa berbaring. Sungguh kejam.

Bisa dimengerti kalau Upasara menyiapkan tenaga dalam untuk mengimbangi pertarungan.

Akan tetapi tangan Upasara bergetar tanpa mengeluarkan tenaga.

Pandangannya menyatu, tertuju ke satu arah.

Tubuh Kakek Berune bergoyang, seakan hampir terbalik. Guncangan terulang lagi.

Hanya dengan berdiam diri, Kakek Berune mencoba mementahkan daya pukul berganda.

“Tempelkan pantat kalian berdua, belum tentu bisa menyentuhku. Coba lagi!” Jumawa sekali kata-katanya.

Dalam keadaan tak bergerak pun, Kakek Berune masih bisa mempermainkan dua tokoh kaliber jagat!

Nyai Demang merasa rambut kepalanya menjadi gatal.

Ini hebat! Kakek Berune ternyata bisa menganggap serangan Kiai Sambartaka dan Pendeta Sidateka tak ada artinya. Bahkan menyindir, kalaupun mereka berdua saling menempelkan pantat, tetap tak akan menguasai.

Sindiran yang kelewat tajam. Dan kena sasaran. Beradu pantat bagi dua tokoh yang tadinya selalu bermusuhan saja sudah merupakan hinaan. Apalagi ini juga bisa berarti dua lelaki!

Sekilas Nyai Demang teringat kepada Dewa Maut.

Yang hidup berdua dengan sesama lelaki, yang dipanggil Tole, sebelum bertemu dengan Gendhuk Tri.

Ingat Dewa Maut, wajah Nyai Demang menjadi merah. Ada pengalaman menggetarkan yang terjadi yang tak bisa dimengerti sendiri. Ketika keduanya berada dalam gelap! Ketika saling menularkan tenaga dalam.

Mendadak terjadi perubahan lain.

Tubuh Kakek Berune menggeletar. Kejang-kejang terjadi lagi. Suaranya parau.

Wajahnya yang pucat menjadi lebih pucat lagi.

Pertarungan tenaga dalam yang saling menggempur, kumat lagi! Ini bahaya! “

Ajalmu kini sampai.

“Kami akan menahanmu, agar tetap menderita.” Suara Kiai Sambartaka sangat dingin.

Tangan terulur ke depan.

Tubuh Kakek Berune bergoyang, menjadi miring.

Kini Nyai Demang menjadi bingung. Pandangan matanya melirik ke arah Upasara. Ia berharap Upasara segera bertindak.

Upasara sendiri sebenarnya sedang bingung. Antara berbuat sesuatu dan tidak.

Tenaga telah tersalur sepenuhnya ke tangan kiri. Akan tetapi menjadi ragu, bagaimana harus bertindak. Membuyarkan pukulan Kiai Sambartaka dan pukulan Pendeta Sidateka, berarti mempercepat kematian Eyang Berune. Karena justru pukulan itu dimaksudkan untuk mencegah kematian.

Membiarkan saja, berarti menambah penderitaan Eyang Berune. Ragu!

Sejenak.