-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 28

Jilid 28

"Untuk menyempurnakan ilmunya. Sejauh yang saya dengar, ilmu silat seperti yang terdapat dalam Bantala Parwa atau Jalan Budha juga ada di negeri Turkana.

"Ratu Ayu termasuk yang mempelajari secara mendalam." "Huh!"

"Menurut Kiai Sambartaka, sebenarnya itulah bagian yang diburu, yang dikejar oleh empu-empu di seluruh kolong langit. Barang siapa bisa mempelajari sampai habis, dialah yang menguasai semua ilmu silat di dunia."

"Aha, kalau begitu Kakang Upasara ini tanpa tanding." Upasara mengeluarkan suara perlahan.

"Saya telah membaca hingga habis. Telah berlatih hingga selesai. Seperti juga Halayudha, seperti juga Paman Sepuh dan Eyang Sepuh.

"Akan tetapi pencapaian kita masing-masing berbeda, tergantung bersih atau tidaknya hati kita.

"Walaupun saya telah mempelajari secara mendalam sampai halaman penghabisan, akan tetapi ternyata belum apa-apa.

"Kalau kita ingat, Eyang Sepuh masih menunjukkan adanya bait terakhir yang perlu dipelajari."

"Padahal Kakang sudah mempelajari!" "Semua sudah mempelajari, akan tetapi belum bisa menangkap intinya. Adik sendiri sudah membaca dan mempelajarinya. Juga Mbakyu Demang."

Nyai Demang memandang ke arah langit. Matanya berkejap-kejap.

"Sungguh aneh Bantala Parwa ini. Namanya sudah aneh sekali. Kitab Bumi, tapi isinya adalah Dua Belas Jurus Nujum Bintang, dan Delapan Jurus Penolak Bumi. Seperti dua bagian, akan tetapi kidungannya sama.

"Dua Belas Jurus Nujum Bintang berisi serangan-serangan yang ganas. Sedangkan Delapan Jurus Penolak Bumi justru berisi kebalikannya. Jumlahnya tidak sesuai. Dua belas dilawan dengan delapan.

"Ah, sudahlah, saya tak bisa memahami."

"Lalu, bagian mana yang dimaksud dengan 'bait terakhir' oleh Eyang Sepuh? "Jangan-jangan masih ada kitab lanjutannya?"

"Pasti tidak," Upasara memotong dengan mantap. "Justru Eyang Sepuh tidak menyebut kitab yang lain. Eyang Sepuh menyebut 'bait terakhir, tak terbaca di hati'.

"Paman Jaghana juga tidak mengatakan bahwa selama ini ada kitab lain yang setanding atau merupakan lanjutan."

"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Kalau Kakang tak mampu memecahkan, pasti orang lain juga tak bisa. Buat apa susah-susah. Biar saja kita bertiga menghadapi ketiga senopati Turkana itu. Rasanya kita tak bakal kalah.

"Soal Ratu Ayu, lebih gampang membereskannya. Kita lempari cacing pasti ia kelojotan dan melolong minta ampun."

Upasara melirik ke arah Nyai Demang. "Apa yang Mbakyu pikirkan?"

Gendhuk Tri jadi gondok lagi. Upasara lebih memperhatikan Nyai Demang.

"Saya justru kuatir kalau mempelajari sampai bait terakhir, jangan-jangan akan seperti Eyang Sepuh. Moksa, seluruh jiwa-raga lenyap bersama. "Rasa-rasanya ada kaitan dengan itu."

Dari suaranya, Upasara bisa menangkap bahwa Nyai Demang lebih menguatirkan kelanjutan mempelajari Kitab Bumi.

Dengan kata lain, bukan tidak mungkin Nyai Demang telah menemukan bait terakhir Kitab Bumi!

Tawaran Ratu Azeri Baijani DUGAAN Upasara beralasan.

Nyai Demang sangat peka dan bisa menyelami kemampuan bahasa. Daya tangkapnya sangat luar biasa. Dari rangkaian kidungan yang bisa dihafalkan luar kepala dengan baik, bukan tidak mungkin Nyai Demang telah menemukan kuncinya.

Mengetahui dengan tepat bagaimana mencari bait terakhir.

Barangkali belum pasti sekali, akan tetapi telah menemukan sesuatu yang bisa dipakai pegangan.

Kalau hal itu dihubungkan dengan keadaan Dewa Maut, lebih masuk akal lagi.

Dewa Maut yang terkurung di gua bawah Keraton mampu memecahkan rahasia jalan buntu, juga dari Kitab Bumi!

Dengan cara menangkap yang berbeda, memberikan hasil yang berbeda jauh. Namun Upasara tidak mendesak lebih jauh.

Gendhuk Tri yang makin penasaran karena menyadari bahwa Upasara maupun Nyai Demang tenggelam alam pikiran masing-masing.

Karena tak tahan akan kejengkelan sendiri, Gendhuk Tri melesat lebih dulu, dan segera bergegas menuju Keraton. Karena tidak dipanggil atau dilarang, Gendhuk Tri makin keras memacu tubuhnya.

Dalam sekejap ia telah meninggalkan Upasara dan Nyai Demang. Dan semakin jauh meninggalkan, Gendhuk Tri jadi makin kencang. Ilmu meringankan tubuh dikerahkan sepenuhnya. Selendangnya berkibaran menyentuh tanah hanya untuk mengambil tenaga, yang melontarkan tubuhnya jauh ke depan. Maka ketika matahari mulai bersinar, bayangan tubuh Gendhuk Tri sudah berada di tapal batas Keraton.

Dilihat dari usianya, Gendhuk Tri memang masih lebih suka menuruti suara hatinya secara seketika. Tidak memedulikan perhitungan yang lain.

Pertimbangan ini-itu tak didengarkan.

Yang paling mengetahui sifat-sifat Gendhuk Tri barangkali hanya Mpu Raganata maupun Jagaddhita. Namun keduanya sudah kembali ke alam baka.

Baru ketika tenggelam dalam suasana Keraton, Gendhuk Tri sadar bahwa kini Keraton dihiasi warna-warni. Hampir di setiap rumah dipasang janur kelapa dan bunga yang indah.

Bahkan di pasar atau perempatan jalan dipasang kembang telon, bunga tiga warna, sebagai tanda syukur.

"Apa sekarang ini panenan berhasil baik? Apakah kalian sudah bisa menanam padi di atas batu karang?"

Pertanyaan yang kurang ajar ini tak menemukan jawaban.

Baru setelah mendekati Keraton, Gendhuk Tri mengetahui bahwa di sitinggil- lah yang merupakan pusat kegiatan.

Tak bisa menahan dirinya, Gendhuk Tri bertanya kepada salah seorang prajurit yang tengah bertugas membersihkan ukiran kayu dan menambahi ukiran batu di pinggir sitinggil.

"Ke bagian bawah pohon sana."

Gendhuk Tri gregetan. Hampir saja selendangnya bergerak menampar. Akan tetapi perhatiannya tertuju ke bawah pohon beringin yang berada di tengah alun- alun.

Ia segera mendekat.

Dan langsung ditarik, dimasukkan ke dalam barisan. Berkumpul bersama para wanita, gadis-gadis yang lain. "Masih kurang... Masih kurang..."

Salah seorang prajurit menghitung kembali barisan.

"Hari ini kita akan mulai latihan. Akan tetapi jumlahnya masih kurang.

Baginda Raja berkenan bahwa tarian persembahan nanti ditarikan oleh 999 penari.

"Maka jika kalian masih mempunyai saudara perempuan, kakak, adik, embok, segera panggil kemari!"

Alis mata Gendhuk Tri terangkat.

Dalam hatinya merasa geli. Ia masuk dalam barisan penari yang dipersiapkan untuk mengadakan tarian di depan Ratu Ayu.

Namun Gendhuk Tri merasa senang juga. Ia adalah penari Keraton sejak masih bayi. Sebelum diculik oleh Mpu Raganata dan dididik Jagaddhita, ia adalah penari.

"Kalau masih kurang, kenapa jumlahnya tidak dikurangi saja. Seadanya saja.

Toh tak ada yang menghitung."

Suara Gendhuk Tri terdengar sangat lantang. Karena ia satu-satunya wanita yang berani bersuara.

"Tidak bisa. Tidak bisa. Baginda Raja menitahkan 999 penari."

"Saya tahu," jawab Gendhuk Tri tanpa peduli sorot mata tajam menyelidik ke arah dirinya. "Tapi sampai bayi dalam kandungan dihitung, tak akan pernah mencapai jumlah sekian itu."

Pemimpin prajurit melotot ke arahnya.

"Kenapa paman-paman prajurit ini tidak memakai kain saja? Pasti jumlahnya bisa mendekati."

Meskipun kedengarannya berolok-olok, apa yang dikatakan Gendhuk Tri masuk akal juga. Mengumpulkan wanita sejumlah 999 perlu mengerahkan seluruh penduduk wilayah Keraton hingga ke batas terakhir.

"Siapa namamu? Kenapa kamu berani begitu lancang?" Gendhuk Tri menyembah.

"Ampun, Paman.

"Nama saya Gendhuk Tri, saya penari Keraton. Saat ini lima saudara saya sudah di sini, ibu saya, mertua saya, sudah berkumpul. Dan rasanya tidak ada tambahan lagi."

Gendhuk Tri memperlihatkan wajah ketakutan dan tubuhnya seolah menggigil.

"Sangat memalukan bagi prajurit kalau memakai kain dan selendang. Kamu bisa dihukum karena penghinaan ini."

"Maaf, Paman prajurit yang mulia.

"Sebenarnya hamba ingin mengusulkan, kenapa tidak putri-putri Keraton saja yang diajak? Namun hamba lebih takut dianggap menghina."

Gendhuk Tri makin keras tertawa dalam hati.

Ia sudah membayangkan bahwa jika putri-putri Keraton diajak berlatih menari, masalah yang timbul akan sangat menyulitkan. Tapi yang membuat Gendhuk Tri merasa sangat puas ialah bahwa ia bisa menyaksikan putri Keraton, yang bahkan terkena sinar matahari pun takut, akan dijemur di bawah terik matahari!

Mereka yang selalu melulur tubuhnya, kini disuruh berdiri di lapangan terbuka.

Usul Gendhuk Tri justru dianggap masuk akal. Prajurit yang agaknya memegang pimpinan itu segera melaporkan kepada pemimpin yang lebih tinggi.

"Gendhuk, kamu anak siapa?" Gendhuk Tri menoleh. Baru menangkap bahwa yang bertanya adalah wanita yang duduk di sebelahnya, yang tak berani menoleh atau memandang ke arahnya. Takut mendapat teguran dari prajurit yang mengawasi.

"Saya anak kedua Pak Toikromo." "O, kalau begitu kita masih saudara."

Gendhuk Tri manggut-manggut hormat.

"Saya tidak mimpi apa-apa bakal mendapat wahyu kehormatan diajak menari bagi Gusti Ratu Ayu Azeri Baijani."

Gendhuk Tri manggut-manggut. "Saya juga tidak menyangka, Ibu...

"Katanya Gusti Ayu sangat cantik jelita, mengalahkan kita semua yang dikumpulkan menjadi satu."

Yang diajak bicara memandang aneh pada Gendhuk Tri. "Saya kira kamu bukan saudara saya, Gendhuk." Gendhuk Tri meleletkan lidahnya.

Lalu pelan-pelan mundur, dan di luar pengetahuan para prajurit ia menuju ke arah samping sitinggil.

Dengan berendap-endap, Gendhuk Tri bisa melihat bahwa di tempat itu juga sedang ada persiapan luar biasa.

Kalau di bawah pohon di alun-alun yang dikumpulkan para gadis, di tempat ini adalah para perjaka.

"Siapa tahu sayalah yang dipilih."

"Kalau kamu yang terpilih, sebelum namamu disebut, kamu sudah mati karena

kaget!" "Jangan begitu. Nasib manusia kan ditentukan Dewa yang mengatur jagat ini.

Kita hanya menjalani saja."

Di tempat ini, Gendhuk Tri bisa mendengar lebih banyak. Bahwa karena Ratu Ayu Azeri Baijani sedang mencari jodoh, para pemuda semua dikumpulkan. Siapa tahu ada yang terpilih.

Sekilas saja Gendhuk Tri bisa mengetahui bahwa yang ikut berkumpul hampir semuanya sentana atau kerabat Keraton.

"Tapi bagaimana kita bisa meladeni. Untuk mandinya saja, Gusti Ayu perlu air sangat panas, lalu air dingin untuk merendam diri. Bisa-bisa sebelum menyiapkan air kita telah mati kelelahan."

Gendhuk Tri tertarik.

Biar bagaimanapun, ia adalah gadis yang sedang tumbuh. Meskipun penampilannya asal-asalan, akan tetapi mendengar pembicaraan mengenai perawatan tubuh, hati wanitanya tergerak juga.

"Kalau kita yang berhasil menerima tawaran Gusti Ratu Ayu, kan bukan kita yang menyediakan air. Sudah ada prajurit yang bertugas.

"Heh, selama ini sudah ada yang pernah mengintip Gusti mandi apa belum?

Jangan-jangan Bagin..." Suaranya terhenti. Wajah ketakutan terbayang jelas. Pertemuan Raja dengan Ratu

KETIKA Gendhuk Tri terlibat dalam berbagai kesibukan di luar Keraton, di dalam Keraton sebenarnya terjadi kesibukan yang lebih tinggi.

Lebih tinggi suasananya karena menyangkut tata krama di antara dua pemimpin tertinggi.

Antara Baginda Kertarajasa Jayawardhana dan Ratu Ayu Azeri Baijani.

Yang membuat Baginda sedikit masygul ialah bahwa Ratu Ayu, sejak kedatangannya di Keraton Majapahit dan ditempatkan dalam ruang utama Keraton, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menemui. Dalam tata krama tingkat bangsawan tinggi, hal itu sungguh tercela. Bisa diartikan bahwa Ratu Ayu segan datang menghadap dan tak mau mengakui keunggulan atau wibawa tuan rumah.

Ini berarti tidak menganggap Baginda adalah raja yang harus didatangi.

"Taruh kata ia ayu bagai sinar pelangi. Taruh kata keraton pemerintahannya mencakup beberapa tlatah yang luas, tidak seyogyanya sebagai tetamu ia bertindak begitu kurang ajar.

"Apakah ia merasa lebih tinggi derajatnya daripada aku?"

Halayudha nampak gemetar ketika menghaturkan sembah sambil menunduk rendah sekali.

"Seribu maaf, Baginda.

"Rasanya kurang pantas Baginda memperhatikan seorang perempuan. Hal ini tak perlu Baginda turun tangan sendiri. Cukup salah seorang senopati untuk memperingatkan.

"Baginda adalah raja yang mendapat wahyu dari Dewa Segala Dewa, memerintah secara resmi. Sedangkan Ratu Ayu hanyalah ratu dalam pelarian.

"Masih baik Baginda berkenan memberi tempat yang bagus dengan semua keperluannya."

"Bagaimana kalau Mahapatih yang memberi peringatan?" Mahapatih Nambi menghaturkan sembah.

"Sebelum Baginda menitahkan, hamba sudah bersiap menjalankan titah." Lagi-lagi Halayudha menghaturkan sembah.

"Mahapatih masih terlalu tinggi derajat dan pangkatnya, duhai, Baginda.

Cukup pesuruh, bawahan Baginda.

"Mohon ampun atas kelancangan hamba." "Menurut kamu, siapa yang pantas?" Halayudha menyembah lagi. Lebih dalam.

"Baginda adalah raja yang bijaksana yang terdengar sampai ke tlatah tapel wates jagat. Para senopati agung Keraton Majapahit, ibarat kata ikan di laut dan burung di hutan, mendengar nama besarnya.

"Hamba sama sekali tak dikenal. Hamba hanyalah gedibal, alas kaki, Baginda. Biarlah hamba yang menemui. Kalau hamba gagal tak bisa menemui, Keraton tak kehilangan muka. Kalau berhasil, berarti tingkat dan derajat Ratu Ayu jauh di bawah Baginda."

Baginda mengangguk.

"Sebelum matahari terbenam nanti, saya ingin mendengar bagaimana jawaban Ratu Ayu."

"Sendika dawuh, siap menjalankan perintah Baginda."

Begitu mendapat perintah, Halayudha segera bergegas menemui Ratu Ayu di tempat kediamannya.

Di pintu menuju ke kamar Ratu Ayu, Senopati Sariq mengangguk hormat. Kelihatan jelas bahwa di balik sikapnya yang ramah dan merendah, tersembunyi satu kekuatan yang besar. Di balik pakaiannya yang berseliweran, tersembunyi tubuh gagah yang gesit. Di balik terompah yang dikenakan, ada sepasang kaki yang cekatan bergerak.

"Maaf, Senopati Agung dari negeri yang tak mengenal batas langit, saya menyampaikan sesuatu bagi Ratu Ayu."

Sariq nampak bimbang sesaat.

Mendadak dari ruangan dalam terdengar suara yang merdu. "Katakanlah apa maumu."

Halayudha menunduk dan menyembah. Lalu duduk dan menyembah kembali. "Duh, Ratu Ayu, sungguh hamba tak berani mengatakan secara langsung. Akan tetapi sebagai abdi yang hanya menjalankan perintah, biarlah hamba membunuh diri karena telah berbuat kurang ajar."

"Kamu adalah senopati utama, kenapa perlu merendahkan diri semacam itu?"

Sariq tetap menunduk, bersila sebagaimana Halayudha. Hanya pendengaran dan sikapnya menunjukkan kesiapsiagaan.

"Ampun, Ratu Ayu Bawah Langit, hamba hanya sekadar menyampaikan apa yang diminta Baginda. Berat hamba mengatakan, seakan lidah hamba tak bisa bergerak. Rasa malu dan sungkan yang membuat berat untuk mengutarakan."

"Katakan, Paman Halayudha."

"Baginda menghendaki Ratu Ayu menyerahkan rajutan bulu domba yang berwarna-warni sebagai tanda asok bulu bekti glondong pengareng-areng."

Sariq mengertakkan gerahamnya.

Tangannya bergeser ke arah pedang melengkung bagai bulan sabit di pinggangnya.

Permintaan Baginda tak bisa ditafsirkan lain.

Rajutan bulu domba sebagai babut pramudani, atau babut permadani, adalah karya budaya negeri Turkana. Untuk merajutnya diperlukan seni dan keahlian tertinggi. Dengan meminta itu sebagai glondong pengareng-areng, sebagai tanda upeti, sama juga mengatakan Ratu Ayu sebagai ratu yang di bawah kekuasaan Baginda!

Hanya bawahan yang memberikan glondong pengareng-areng kepada atasannya. Hanya raja bawahan yang mengakui kekuasaan raja yang lebih berkuasa melakukan hal itu.

Barangnya bisa jadi tak seberapa, meskipun tetap yang utama. Bahkan dalam istilah pun disebutkan sebagai kayu gelondongan untuk arang atau kayu bakar. Akan tetapi arti simbolis dari itu ialah pengakuan kekuatan yang lebih tinggi.

Dan sesungguhnya itu pula yang diinginkan oleh Raja Tartar, Khan, ketika mengutus para pendekarnya ke tanah Jawa. Agar raja di Jawa mengakui kebesaran negeri Tartar! Itu yang ditolak Baginda Raja Sri Kertanegara!

Bukan karena barang yang diminta, akan tetapi ini masalah kehormatan.

"Saya bisa mengerti," terdengar suara dari dalam kamar dengan nada yang tak berubah. "Baginda Kertarajasa telah membuktikan diri lebih perkasa.

"Di seluruh penjuru jagat ini aku sudah mengelilingi, sudah menginjak tanahnya, dan menyaksikan sendiri. Di mana pun aku berada, panji-panji kebesaran Tartar yang menguasai. Baik di negeri Cina sendiri, di Jepun, bahkan sampai ke Turkana.

"Tapi Baginda Jayawardhana mampu mengusirnya.

"Hanya di tanah Jawa yang sering becek karena hujan inilah prajurit utama Khan bisa dipukul mundur.

"Paman Sariq, sampaikan yang diminta Baginda."

Meskipun nampak tidak setuju, Sariq menunduk hormat sambil menyembah. "Apa lagi yang dikehendaki Baginda?"

"Hanya dua hal, Gusti Ratu Ayu yang jelita.

"Yang pertama telah hamba sampaikan. Yang kedua... yang kedua... ah, Baginda berkenan mengambil Gusti Ayu sebagai garwa ampil."

Kali ini Senopati Sariq tak bisa menahan diri.

Diambil sebagai garwa ampil, ialah sama juga dijadikan selir, dijadikan istri kesekian yang secara resmi tidak berhak atas kehormatan dan upacara-upacara penting Keraton. Tugas utamanya hanyalah mendampingi Baginda, sebatas kamar tidur!

Dalam upacara penting, tak berhak bersanding dengan Baginda! Ini penghinaan yang kelewat batas. Mengarungi hampir seluruh jagat raya, menginjak berbagai bumi di bawah langit, rasanya Senopati Sariq belum pernah mendengar penghinaan yang begitu menjijikkan.

"Gusti Ratu."

"Sariq... aku yang diminta, bukan kamu." "Maafkan kelancangan hamba.

"Namun rasanya hamba tak rela." "Cukup, Sariq!"

Senopati Sariq menyembah dengan hormat.

Halayudha tetap menunduk, meskipun memperhatikan reaksi yang kecil. "Beribu ampun dan maaf. Dalam pandangan hamba, pertemuan resmi nanti

adalah pertemuan dua raja yang sama derajatnya, sama-sama pilihan Dewa. Akan

tetapi... duh... Gusti Ratu..."

"Jangan merasa bersalah karena menyalahi titah Raja. "Sebagai senopati, itu pantangan utama."

"Maha terima kasih atas petunjuk Gusti Ratu." "Paman Halayudha, sampaikan kepada Baginda.

"Saya tidak berkeberatan diambil sebagai garwa ampil. Siapa saja bisa menjadi pendamping saya. Hanya saja sejak semula saya sudah berjanji. Barang siapa mampu mengungguliku, itu yang akan kuhormati sepanjang hidupku.

"Karena kudengar kalian mempunyai ilmu Tepukan Satu Tangan yang sejajar dengan Jalan Budha, aku ingin menjajalnya.

"Sampaikan sekarang juga.

"Sebelum matahari tenggelam, aku sudah mendengar kesediaan Baginda." 64 Langkah Jong

SENOPATI SARIQ menghirup napas lega.

Ternyata Ratu Ayu yang disembah dan diabdi selama ini tetap tak bergeser dari niatan semula.

Hanya yang mampu mengalahkan Ratu Ayu berhak menjadi suaminya. Berhak atas hidup dan matinya Ratu Ayu. Tak peduli ia raja atau rakyat biasa.

Sekaligus ini tantangan.

Apakah Baginda berani menerima tantangan terbuka ini?

Selama dalam penjelajahan, belum pernah ada yang mampu mematahkan keunggulan ilmu Ratu Ayu. Itu pula sebabnya Ratu Ayu terus-menerus berkelana dari satu negeri ke negeri yang lainnya. Hanya untuk mencari siapa yang bisa mengungguli ilmunya.

Satu hal yang tak diketahui oleh Halayudha ialah bahwa rombongan Ratu Ayu memang mencari pemecahan atas ilmu yang sekarang dikuasai.

Ada kepercayaan kuat, jika ada yang mampu mengalahkan, ilmu orang tersebut bakal bisa dipadu dengan ilmu yang dimiliki Ratu Ayu, dan akan merupakan ilmu yang paling dahsyat di jagat ini.

Dengan bekal itu, Ratu Ayu bermaksud mengusir senopati dari Tartar yang kini menduduki negerinya!

Dalam perjalanan berkelana, Ratu Ayu teringat gurunya pernah mengatakan bahwa di seantero jagat ini hanya ada beberapa negeri yang unggul ilmu silatnya. Yaitu tanah Jawa, tanah Jepun, Hindia, maupun Cina yang jelas sudah dikuasai bangsa Tartar.

Dari sekian banyak cabang dan aliran pada pohon utama aliran persilatan, ada garis persamaan sebagai sumber utama. Yaitu yang di tanah Jawa dikenal dengan sebutan ilmu Tepukan Satu Tangan, yang diciptakan oleh seorang empu yang namanya menggema ke seluruh penjuru jagat, yaitu Eyang Sepuh. Kebetulan sekali Eyang Sepuh pernah mengirimkan undangan untuk mengadakan pertemuan dan menentukan siapa sebenarnya yang paling menguasai ilmu tersebut.

Tertarik oleh kabar itu, Ratu Ayu datang ke tanah Jawa.

Senopati Sariq yang selalu mendampingi siang dan malam, meyakini apa yang menjadi keyakinan Ratu Ayu.

Hanya perpaduan antara ilmu Ratu Ayu dan ilmu yang bisa mengalahkan, menjadi senjata utama untuk membebaskan negerinya!

Diam-diam Senopati Sariq menunggu, apa yang akan dijawab oleh Baginda.

Halayudha sendiri segera menyampaikan secara langsung, dalam penuturannya sendiri.

Air matanya mengalir ketika melaporkan.

"Duh, Baginda... Ratu Ayu tidak ingin sowan, tidak ingin menghadap Paduka, sebelum Paduka yang mulia mampu memecahkan rahasia ilmu 64 Langkah Jong, yang menjadi kebanggaan Ratu Ayu dan para senopatinya."

Baginda menjadi merah wajahnya.

"Mahapatih, apakah kamu mendengar apa yang dikatakan Halayudha?" "Sembah bekti hamba, Baginda."

"Apa katamu?"

"Ratu Ayu sangat berlebihan.

"Tak bisa tidak, bilamana Baginda berkenan, biarlah hamba yang menyelesaikan."

"Aku tahu, kamu yang bakal menyelesaikan.

"Tapi apakah kamu pernah mendengar mengenai 64 Langkah Jong yang diunggulkan itu?" Bahwa jong bisa berarti payung, bisa pula berarti tertutup, semua mengetahui. Akan tetapi kaitannya dengan ilmu 64 Langkah Jong, itu yang masih merupakan tanda tanya.

"Pengetahuan hamba sangatlah dangkal, Baginda.

"Akan tetapi kalau tidak salah, ini ilmu silat yang jurus-jurusnya berdasarkan permainan di negeri Turkana."

Halayudha memuji kecerdasan Mahapatih Nambi.

Sungguh tak disangkanya bahwa Mahapatih bisa menerangkan dengan tepat.

Karena pada pikirnya tadi, Baginda akan mendengar penjelasan darinya. "Permainan apa?"

"Duh, Baginda, mudah-mudahan dijauhkan dari bencana jika keterangan hamba keliru.

"Di negeri Turkana ada permainan di antara putra-putri raja. Permainan ini menggunakan sebuah papan, yang dibagi menjadi 64 kotak.

"Yang memainkan dalam peperangan dua orang.

"Masing-masing pemain mempunyai enam belas biji yang dilompatkan menuju baris terakhir lawannya. Caranya dengan melompati biji permainannya sendiri, atau melompat biji lawan. Setiap kali melompati biji lawan, berarti ia makan dan menang.

"Pemain yang masih menyisakan biji paling banyak di garis akhir lawan adalah yang menjadi pemenang."

''Hmmmmm, itu yang menjadi andalan ilmu silat mereka?" "Tepat apa yang disabdakan Baginda.

"Permainan ini kita sebut jong, sebab biji yang kita mainkan tertutup kemungkinannya untuk mundur. Tidak dibenarkan mundur. Jadi hanya bisa maju sepetak ke depan, atau ke samping kiri dan kanan, atau menyerong. Tapi tak pernah mundur."

"Itu yang akan kelihatan dalam permainan silat mereka? "Hmmmmm, menarik juga.

"Mahapatih, apakah menurut pendapatmu ilmu silat mereka cukup tangguh?" "Begitulah yang hamba dengar, Baginda."

Baginda menahan udara di dada. "Kamu sependapat, Halayudha?"

Diiringi sembah hormat, Halayudha berkata,

"Serumit dan setinggi apa pun, namanya permainan, tetap saja permainan. Di desa yang paling ujung, anak-anak telah memainkan. Maafkan kelancangan hamba, Baginda.

"Hamba tak pernah takut atau gentar dengan sesumbar mereka. Yang lebih membuat prihatin hamba, ialah kelancangan Ratu Ayu menilai Baginda."

Seluruh ruangan menjadi senyap. Halayudha sendiri seperti menahan dendam. "Apa katanya?"

Ruangan masih tetap senyap.

Semua pendengaran tertuju kepada Halayudha. Mendadak terdengar suara tepukan keras, nyaring.

Mahapatih dan semua senopati yang hadir terkejut. Halayudha menampar bibirnya hingga berdarah.

"Mulut hamba ini busuk kalau sampai menirukan apa yang dikatakan Ratu

Ayu."

Melihat dengan lirikan bahwa bibir Halayudha berdarah, tak urung Mahapatih tergetar juga. Dalam perkiraannya, Halayudha menghukum bibirnya yang akan mengucapkan sesuatu yang lancang.

"Katakan!"

Suara Baginda terdengar nyaring.

Halayudha menampar pipinya kembali. Kali ini lebih banyak darah mengalir. Halayudha mengambil gigi yang tanggal dan dengan hati-hati menyimpan di balik kainnya.

"Ratu Ayu mengatakan bahwa walaupun pasukan Tartar terusir karena serangan Baginda, akan tetapi sesungguhnya Baginda bukanlah raja yang besar. Masih jauh di bawah bayang-bayang kebesaran Baginda Raja Sri Kertanegara.

"Baginda Raja Singasari telah membuktikan kebesarannya dengan mengirimkan armada ke tlatah Siam, ke Tartar, sementara Baginda Raja junjungan kita yang mulia, dikatakan lebih banyak mengurusi wanita.  "

Tangan Baginda menepak paha. Dua tangan secara serentak.

Kemudian meninggalkan pertemuan.

Yang tertinggal hanya kesunyian. Tak ada yang mulai bergerak sedikit pun.

Mahapatih dan semua senopati utama mendengarkan sendiri apa yang diucapkan Halayudha dan mendidih darahnya. Ini penghinaan yang paling rendah. Mengungkit masalah lama.

Apalagi membandingkan dengan Baginda Raja Sri Kertanegara! Sesuatu yang tak boleh terdengar, walau secara samar.

Tapi justru kini diucapkan secara terbuka.

Bagi para senopati dan prajurit, membela Raja adalah tugas utama dan mulia. Bukan benar atau tidak yang diucapkan Ratu Ayu, akan tetapi kalimat itu merupakan penghinaan yang tidak ada ampunannya lagi. Halayudha memang tepat menusuk jantung perasaan. Mencerabut akar kepekaan budaya bangsanya.

Intrik mengenai Baginda Raja Sri Kertanegara dengan Baginda Jayawardhana merupakan pertentangan yang pelik dan rumit. Yang bergema karena pemilihan senopati. Lebih banyak pengikut Baginda yang sekarang menduduki jabatan dan kepangkatan tinggi. Dibandingkan dengan senopati yang dulu mengabdi Keraton Singasari.

Halayudha mampu meniupkan api permusuhan di kalangan prajurit, kemudian menjalar ke kalangan senopati.

Kini telah mencapai puncak kobaran. Baginda sendiri menjadi murka.

Berarti suatu perang terbuka. Pada saat itulah semua rencana yang selama ini tertunda-tunda akan bisa dilaksanakan.

Halayudha Menebus Dosa

MERASA bagian pertama rencananya berhasil, Halayudha melakukan langkah berikutnya.

Dengan menghela napas berat, Halayudha bersujud ke arah kursi yang tadi diduduki Baginda.

Selintas matanya yang jeli seperti menangkap bayangan salah seorang dayang- dayang Baginda ada yang nampak berbeda. Cara menunduknya terlalu dalam, melebihi yang lain.

Hanya Halayudha yang menangkap kelainan ini. Tidak senopati yang lain.

Bukan karena Halayudha lebih hafal satu per satu dayang-dayang yang biasa mengiringi Baginda, melainkan karena indra keenam yang dimiliki mengisyaratkan sesuatu.

Kelebihan Halayudha dalam soal kejelian dan mengatur strategi boleh dikatakan sulit ditandingi. Senopati lain pasti tak berpikir bahwa akan ada seorang wanita yang berani menyamar sebagai dayang-dayang. Karena risikonya terlalu tinggi. Lagi pula kalau berniat jahat juga susah melaksanakan.

Barisan dayang-dayang selalu mengiringkan Raja, akan tetapi tempatnya jauh di belakang. Dan bergerak sedikit saja, boleh dikatakan tidak mungkin.

Halayudha merasa bahwa salah seorang dayang-dayang itu sedang menyamar, akan tetapi sama sekali tak menyangka bahwa yang menyamar sebagai dayang itu adalah Nyai Demang.

Andai mengetahui, barangkali jalannya peristiwa akan lain.

Adalah keinginan Nyai Demang sendiri untuk menerobos masuk ke dalam Keraton karena ingin mengetahui dari dekat seperti apa keelokan Ratu Ayu. Jalan satu-satunya yang paling aman adalah menyamar sebagai dayang.

Bagi Nyai Demang hal ini tak terlalu merepotkan. Adat-istiadat Keraton sangat dikuasai. Seluk-beluk dan liku-liku Keraton bisa dihafal luar kepala, karena Nyai Demang bahkan pernah menyusup ke dalamnya.

Maka tak terlalu sulit menculik salah seorang dayang yang tubuhnya mirip dengannya. Dan ia mengganti pakaiannya lalu mengikuti iringan.

Tak ada yang mencurigai, karena dayang-dayang yang lain selalu menunduk dan boleh dikatakan tak pernah melirik ke arah yang lain.

"Duh, Baginda.

"Hamba abdi tak tahu diri dan membuat Baginda murka. Sungguh tidak pantas hamba berkata selancang ini. Mohon Baginda memberi ampunan, jalan yang lapang bagi arwah hamba..."

Halayudha cukup lama berbicara, cukup jelas kata-katanya, dan cukup perlahan mengambil keris dari salah seorang prajurit. Baru kemudian menghunus, mengangkat tinggi, dan menusuk ke arah perutnya.

"...Biarlah hamba, Halayudha yang tak berarti ini, menebus dosa."

Jarak waktunya cukup lama, agar ada seseorang yang menghalangi niatan Halayudha bunuh diri. Itu rencana Halayudha.

Agar semua yang hadir melihat penyesalan dirinya.

Tapi, di luar dugaannya, tak ada senopati yang bergerak. Bukan karena ingin membiarkan Halayudha membunuh diri, melainkan masih tercekam akan kemurkaan Baginda.

Ini yang membuat Halayudha mencelos.

Tapi jelas, ia tak bisa mengurungkan begitu saja. Bisa terbuka semua kedoknya.

Dalam saat kritis, Halayudha tetap menusuk ke arah perutnya, hanya arahnya sedikit dimiringkan.

Saat itulah Nyai Demang bergerak.

Kedua tangannya terangkat, disertai teriakan sedikit kaget. Saat itu tenaganya disalurkan sepenuhnya, membentur tangan Halayudha, dan arah yang miring itu menjadi lurus. Langsung menembus ke arah perut.

Senopati Wide yang bereaksi pertama. Segera menyambar ke arah Halayudha. Perut itu tertancap keris.

Dengan segera Halayudha diamankan. Dibawa ke dalam. Dan pertemuan menjadi guncang.

Bahkan setelah Nyai Demang berteriak, tak ada yang curiga, hal ini bisa dimengerti. Karena teriakan itu lebih mirip sebagai kekagetan. Demikian juga dengan gerakan tangannya.

Tak banyak yang menduga bahwa saat itu Nyai Demang mengirimkan tenaga

dalam.

Jalan pintas inilah yang dipilih Nyai Demang. Sejak dalam perjalanan, ketika mendengar semua kebusukan Halayudha dari Upasara, Nyai Demang sudah menetapkan tekad. Bahwa Halayudha harus disingkirkan dengan cara yang licik pula.

Tak ada cara lain, untuk menghindarkan perang terbuka dengan Upasara. Sebab dalam perkiraan Nyai Demang, betapapun hebat ilmu yang dimiliki Upasara, hasil akhir yang akan keluar sebagai pemenang bisa sangat berbeda.

Ketangguhan tapi lugu diri Upasara adalah makanan empuk bagi Halayudha.

Sewaktu gegeran di dalam, segera Nyai Demang mengundurkan diri ke arah dalam. Hanya karena tidak sepenuhnya hafal dengan tempat persinggahan Ratu Ayu, ia telah memasuki pelataran di mana Ratu Ayu menginap.

Baru sadar sewaktu sesosok tubuh yang tinggi, kokoh, dengan jenggot lebat, menghadang jalannya.

"Maaf, kami mendengar jeritan di dalam Keraton, apa yang sesungguhnya terjadi?"

Hampir Nyai Demang mendongak dan menghardik, kalau tidak ingat bahwa dirinya berperan sebagai dayang.

"Senopati Halayudha membunuh diri."

"Apa benar yang dikatakan orang itu, Senopati Uighur?"

Suara lembut dari dalam ruangan, dan samar-samar Nyai Demang mencium bau harum.

Itulah suara Ratu Ayu.

Sungguh luar biasa. Pendengaran yang sempurna. Boleh dikatakan mereka berada dalam pelataran yang cukup jauh dari bangunan, akan tetapi Ratu Ayu bisa mendengarkan dengan jelas.

Padahal Nyai Demang merasa berbicara dengan nada rendah. "Begitulah, Ratu Ayu."

"Uighur, kalau masih bisa ditolong, kenapa kamu tidak segera ke sana?" "Siap menjalankan tugas, Gusti Ratu."

Senopati Uighur masih berdiri ragu. "Berjalanlah. Lakukan apa yang saya perintahkan. Tak perlu kuatir tak ada yang menjaga.

"Saya masih bisa menjaga diri. Kalau dayang itu begitu ringan langkahnya, pastilah di sini para senopati ilmunya sangat tinggi. Akan tetapi tak perlu kuatir. Saya bisa mengatasi."

Senopati Uighur menyembah dan segera berlalu dengan cepat. Nyai Demang berdiri di tengah pelataran untuk beberapa saat.

"Dayang yang montok, apa yang akan kaukatakan? Kenapa kamu termangu di

situ?"

"Ratu Ayu, pendengaranmu sungguh tajam luar biasa. Ilmu macam apa yang Ratu gunakan?"

Terdengar tawa kecil, lembut.

"Saya tak melihatmu, Dayang. Tetapi saya tahu bahwa tubuhmu sangat montok, gemuk berisi. Goyangan lebih berat ke belakang, berarti pantatmu sangat gede. Mendengar arus udara ketika kamu menarik napas, rasanya lebih pantas kamu menjadi prajurit daripada dayang. Nada bicaramu terlalu berani untuk hamba sahaya."

"Nama saya Nyai Demang."

"Karena kamu sudah berada di pelataran, kenapa tidak masuk ke dalam?"

"Saya akan dihukum mati. Tak pernah ada aturan seorang dayang menyambangi tetamu terhormat."

"Tata krama Keraton, di mana pun sama.

"Akan tetapi karena kamu bukan dayang, berarti peraturan itu tidak berlaku. Mendekatlah, rasanya saya bahagia melihat kaum wanita yang begitu berani dan mampu menerobos ke dalam Keraton."

Merasa telah diketahui mengenai penyamarannya, Nyai Demang mendekat ke arah bangunan. Sampai di dekat salah satu pintu, Nyai Demang bersila sambil menyembah.

"Tubuhmu pasti bagus sekali, Nyai Demang. Teramat sempurna. Angin di kanan dan kiri tubuhmu seimbang. Bagaimana kamu bisa merawat dengan baik?"

Nyai Demang tak bisa menentukan dengan pasti di arah mana Ratu Ayu berada. Ada beberapa pintu di depannya.

Pada salah satu pintu, nampak seorang berjaga. "Itu Senopati Sariq."

"Senopati Kuning, terimalah hormat Nyai Demang." Sariq ganti membalas dengan hormat.

"Ah, pengetahuanmu sangat luas, Nyai.

"Pasti sedikit-banyak kamu mengetahui asal-usul kami."

"Tata bicara Gusti Ratu Ayu sungguh menakjubkan. Begitu banyak tetamu dari seberang, akan tetapi rasanya tak ada yang sefasih Gusti Ratu."

Nyai Demang merasa akrab dan dekat dalam waktu sekejap.

Rerasan Hati Wanita

"TERIMA kasih atas pujian Nyai... Sungguh bahagia lelaki yang menjadi suami Nyai." "Ah, rasanya Gusti Ratu tak perlu berbasa-basi semacam itu. Betapa lebih getir

kalau dikenang. Betapa lebih mudah membayangkan lelaki yang menjadi suami Ratu Ayu akan merasa lebih bahagia."

Rasanya Nyai Demang mendengar helaan napas. Dan terdengar desahan dalam bahasa tertentu.

Nyai Demang mengikuti desahan itu. "Nyai, kamu mengerti bahasa Turkana?" "Tidak.

"Tak lebih dari beberapa patah kata. Barangkali kalau sempat belajar, hamba bisa mengerti beberapa. Karena dalam pengucapan dan pembentukan kata, rasanya sama dengan tata bicara di tanah Jawa."

"Ya, ya... Kamu betul sekali, Nyai.

"Sariq, kenapa tetamu kita yang terhormat semacam Nyai Demang tak disambut dengan baik?"

Senopati Sariq segera menghidangkan minuman, yang diberikan dalam kantong kulit.

Nyai Demang segera meneguk air susu itu. "Kamu tahu apa yang saya desahkan tadi?"

"Gusti Ratu mendesahkan kata ev? Yang berarti rumah?"

"Mahatinggi Yang Menguasai Alam Semesta... Kamu sungguh luar biasa, Nyai." "Tidak, hamba hanya mengetahui beberapa patah kata. Tapi rasanya hamba

mendengar desahan evlerim..." "Artinya rumahku."

"Apakah evlerime, berarti pergi ke rumahku?" "Nyai, masuklah!"

Senopati Sariq menunduk, mempersilakan Nyai Demang. Sekilas Nyai Demang masih melihat ada senopati lain yang berjaga.

Nyai Demang melangkah masuk ke dalam salah satu ruangan. Melewati pintu, Nyai Demang berjongkok.

Ruangan yang ditempati Ratu Ayu penuh dengan gumpalan asap yang berbau sangat harum, menusuk, tapi tidak mengganggu. Lantainya semua tertutup babut pramudani yang sangat elok. Hanya tak begitu jelas gambarnya, karena ruangan tak begitu terang.

"Silakan duduk di kursi, Nyai."

Suara itu muncul dari balik kabut asap tipis. Samar-samar Nyai Demang melihat bayangan Ratu Ayu Azeri Baijani.

Mata yang indah, cokelat, dan bersinar, di bawah sepasang alis mata yang lentik. Hidung mancung, lurus, tapi mengesankan kelembutan di atas bibir yang tipis.

Di bagian kepala seperti memakai tutup kain yang berjumbai-jumbai. Selebihnya adalah kulit yang elok.

Bahkan sebagai sesama wanita, Nyai Demang terkesima.

"Hampir sepuluh tahun aku tak dilihat orang. Tidak juga senopatiku yang paling setia. Sungguh tak menyesal hari ini bertemu dengan Nyai."

"Nyai Demang menghaturkan sembah bekti kepada Gusti Ratu."

Sekali lagi Ratu Ayu meminta Nyai Demang duduk di kursi atau balai-balai yang ada, akan tetapi Nyai Demang tetap tak bergerak.

"Nyai, dari mana kamu mempelajari bahasa saya?" "Hamba hanya mendengar sepotong.

"Hanya mengetahui bahwa ev adalah rumah. Evler adalah rumah-rumah. Sedangkan kuda adalah at, dan kuda-kuda menjadi atlar, sedangkan kudaku, atlarim!"

Ratu Ayu menggelengkan kepalanya.

"Tadinya saya menyangka hanya sayalah wanita yang mampu menguasai tata bicara. Sungguh tak dikira, ada juga wanita yang perkasa. Sungguh murah hati Penguasa Jagat Raya ini.

"Nyai, tata bicara apa yang kamu bisa?" Dalam sekejap, Ratu Ayu dan Nyai Demang berbicara dalam tata bicara Cina, Hindia, sedikit Jepun, dan akhirnya kembali lagi.

"Nyai belum pernah sekali pun ke tanah Hindia, Cina, dan Jepun?" "Tanah Jawa ini pun baru seputar Keraton, Gusti."

"Jangan panggil Gusti. Saya tidak ingin mendengar dari Nyai. Kita sesama wanita yang tak perlu memanggil Gusti kepada sesama, juga tidak kepada kaum lelaki."

Suaranya tetap lembut, tapi terasakan gelora perasaan yang dalam.

"Kalau saja di negeri Turkana ada seorang seperti Nyai, pasukan Tartar yang busuk itu sudah lama terusir.

"Ah, begitu panjang dan jauh saya mencari sahabat.

"Nyai, salahkah jika kita kaum wanita menjadi prajurit? Menjadi penerus negeri? Salahkah, Nyai?"

"Tidak.

"Tetapi sangat jarang."

"Nyai tahu, negeri Turkana adalah negeri yang paling elok di dunia. Yang paling indah tak terkatakan. Yang membuat manusia-manusia lelaki berhati busuk ingin memperebutkan dan menghancurkan.

"Ratusan tahun silih berganti kaum lelaki yang menjadi raja menaklukkan dan menginjak-injak negeri kami. Dari negeri Siprus, dari negeri Sasanid, dari negeri padang pasir pimpinan Umayat, dan kini bangsa Tartar, yang dipimpin Khan.

"Apakah kami tak berhak merebut tanah tumpah darah kami sendiri? Kalau kaum lelaki lebih menerima, apakah hal itu bisa dibiarkan saja?

"Nyai, katakanlah. Apakah saya salah kalau saya menginginkan kembalinya takhta yang dikoyak oleh Khan?"

"Tidak, Ratu Azeri." "Saya tahu tanah ini tanah yang dikasihi Sang Maha Pencipta. Tanah yang mampu berdiri sendiri, yang mempunyai wanita seperti Nyai.

"Tetapi sesungguhnya Sang Mahakuasa tidak pilih kasih. Tidak hanya memilih tanah Jawa ini. Juga negeri saya, Turkana."

Lalu mendadak terdiam. Nyai Demang menunggu.

"Ada keributan di Keraton, Nyai."

Nyai Demang berusaha menangkap suara-suara yang samar dan tak jelas. "Uighur agaknya menemui kesulitan.

"Keinginannya untuk menolong tidak diterima."

"Saya tak mendengar apa-apa, selain suara yang tak jelas." Ratu Ayu kembali ke kursinya.

"Uighur akan bisa mengatasi.

"Nyai akan bisa mempelajari, kalau mau. Ilmu ini sangat biasa untuk dilatih.

Bagilah seluruh ruang ini menjadi 64 bagian. Setiap bagian, jaraknya sama.

"Kalau dari kamar ini ke Keraton ada sekian ratus langkah, bagilah menjadi 64 bagian yang sama. Delapan bagian ke samping kiri dan kanan.

"Sehingga jarak antara kamar dan Keraton menjadi delapan petak saja. Seperti dalam permainan Lompat Turkana, setiap jarak yang jauh bisa menjadi pendek dengan melompati bagian yang bisa dilompati.

"Kalau dari kamar ini ke Keraton ada pohon, ada tiang, kita bisa melompati jarak itu."

Nyai Demang menggelengkan kepalanya. "Hamba bisa menangkap sebagian." "Nyai akan mampu melatih dengan cepat.

"Barang siapa mampu mempelajari tata bicara dengan cepat, ia bisa mempelajari segalanya!"

Kembali suaranya menggeletar, walau tetap perlahan dan merdu.

"Banyak alasan saya datang ke tanah Jawa ini. Pertama, karena hanya inilah satu-satunya negeri yang mampu mematahkan Khan. Kekuasaan Khan tak berlaku di negeri ini.

"Yang kedua, karena di tempat ini ada seorang yang bernama Eyang Sepuh, yang telah menciptakan ilmu Tepukan Satu Tangan. Suatu penguasaan rasa yang luar biasa. Dengan satu tangan bisa mengeluarkan suara lebih nyaring dari tepukan dua tangan.

"Apa bedanya dengan Jalan Budha?

"Apa bedanya dengan Lompat Turkana, yang memperpendek jarak? Bukankah ilmu congklak yang luar biasa dari Tartar bisa dipecahkan dengan mudah oleh seorang yang tak bernama di tempat ini?"

Nyai Demang ingin mengatakan bahwa "seseorang yang tak bernama" itu adalah Upasara Wulung.

Dan itu bukan seseorang yang tak bernama. Akan tetapi Ratu Ayu masih melanjutkan,

"Agaknya tanah ini memang diciptakan secara lain. Saya iri dengan tanah luhur ini.

"Nyai, bahagialah kamu karenanya." Mendadak Ratu Ayu terdiam sesaat. "Sayang, sungguh sayang. Pertemuan kita agak terganggu. Hmm, akan segera

terjadi pertumpahan darah yang tak diinginkan.

"Uighur tak bisa dikeroyok dengan cara seperti itu. "Sariq!" Terdengar jawaban hormat.

"Mereka yang memaksa pertarungan sia-sia." Darah Nyai Demang menjadi beku seketika.

Ratu Ayu merangkapkan kedua telapak tangan. Matanya tertutup rapat.

Gegeran di Kamandungan

RATU AYU sedang memusatkan perhatiannya.

Bibirnya mengeluarkan bisikan tipis, seirama dengan gerak tangannya yang

halus.

Walau tidak tahu secara persis apa yang dibisikkan oleh Ratu Ayu, Nyai Demang yakin bahwa Ratu Ayu sedang memberi perintah kepada para senopatinya yang kini terkepung.

Mendengar arah kejadian, Nyai Demang memperkirakan gegeran yang terjadi berlangsung di Kamandungan. Suatu tempat di luar Keraton sebelum sitinggil. Di situ memang ada pelataran yang luas. Ini berarti para senopati Turkana cukup menaruh hormat, sehingga pertarungan tidak terjadi dalam wilayah di jantung Keraton. Padahal, seharusnya bisa terjadi di bagian dalam.

Nyai Demang memuji kerendahhatian senopati Turkana.

Pujian yang lebih merupakan kekaguman tertuju kepada Ratu Ayu. Yang bisa mengirimkan suara dari kamarnya ke arah Kamandungan.

Cukup jauh, karena melewati pekarangan, bagian Keraton, dengan segala dinding tebal dan pintu berlapis yang sama tebalnya.

Dan Ratu Ayu Bawah Langit ini cukup dengan berbisik.

Nyai Demang membandingkan dengan Eyang Sepuh. Karena selama ini yang mampu melakukan pengiriman suara jarak jauh secara sempurna hanyalah Eyang Sepuh.

Dengan tenaga dalam yang sudah mencapai puncaknya, Eyang Sepuh mampu berhubungan dengan orang lain tanpa perlu memperlihatkan diri. Eyang Sepuh pernah membuktikan di tengah kerumunan para prajurit Tarik sewaktu akan merebut Singasari dari tangan kekuasaan Raja Jayakatwang.

Di antara para prajurit dan ksatria yang cukup tinggi ilmunya, Eyang Sepuh mampu membisikkan sesuatu kepada Upasara.

Juga kepada Gayatri.

Tanpa bisa didengar oleh orang yang berada di sebelahnya. Benar-benar pengaturan tenaga dalam yang luar biasa.

Nyai Demang sedikit pun tidak menyangsikan keunggulan serta kekuatan tenaga dalam Ratu Ayu. Namun ia juga memperhitungkan, bahwa agaknya Ratu Ayu tidak hanya menyandarkan kepada kekuatan tenaga dalam semata. Melainkan juga semacam mantra yang memungkinkan bisa saling berbicara pada jarak jauh.

Karena para senopatinya sudah seperasaan dan sehati, hal semacam ini bisa dicapai. Meskipun jelas, bukannya tanpa latihan yang keras dan kemampuan yang mendukung.

Bagaimanapun caranya, nyatanya Ratu Ayu mampu melakukan.

Tidak percuma namanya disejajarkan dengan tamu-tamu seberang yang lain. Tak berbeda jauh tingkatnya dengan Naga Nareswara, Kiai Sambartaka, maupun Kama Kangkam.

Bedanya, kalau Kiai Sambartaka datang sendirian, dan Kama Kangkam disertai dua muridnya, serta Naga Nareswara dengan tiga muridnya, Ratu Ayu tidak kepalang tanggung. Delapan pengikutnya yang setia datang menyertai. Dan kalau dilihat selintasan, kemampuan kedelapan pengikutnya yang sekaligus menjadi senopatinya tak berbeda jauh darinya.

Kalau sekarang kedelapan senopati Turkana ini maju secara serentak, bisa membahayakan para senopati Majapahit.

Senopati Sariq, Uighur, Karaim, rata-rata setingkat lebih tinggi dari senopati Keraton. Atau bahkan lebih tinggi dari senopati Keraton. Atau bahkan malah setingkat dengan tiga Naga yang dipimpin Naga Nareswara maupun kedua murid Kama Kangkam. Pada tingkat ini, hanya Upasara yang mampu mengungguli. Meskipun juga tidak mudah untuk memperoleh kemenangan.

Pada tingkat-tingkat yang sudah mencapai tataran begitu tinggi, sedikit saja kealpaan bisa membuat fatal.

Ratu Ayu masih terus berbicara dengan senopatinya, dan sesekali melirik ke arah Nyai Demang.

"Aneh sekali, kenapa senopati Keraton begitu bernafsu melindas kami?

Bagaimana mungkin dalam sekejap terjadi perubahan sikap separah ini? "Nyai, bangsamu sungguh sangat perasa. Bahkan sangat keterlaluan." Darah Nyai Demang sempat bergolak.

Kalau tadi merasa dekat dan akrab karena dikagumi sebagai sesama wanita, kini Nyai Demang merasa bagian dari bangsa dan tanah airnya! Bukan sesama wanita.

"Pasti ada sebab yang sangat penting."

"Ya. Akan tetapi mereka tak akan mampu mengungguli delapan senopati Turkana. Hanya ada satu yang kelihatan agak kuat, yaitu Mahapatih.

"Kalau saya ikut terjun, apakah ada yang mampu menahan?" Nyai Demang tak mau kalah.

"Dari segi jumlah, senopati Keraton jauh lebih besar. Betapapun keunggulan kalian menjadi tak ada artinya."

"Apa artinya kemenangan kalau hanya mengandalkan jumlah yang besar?" "Tidak ada artinya jika itu terjadi pada pertarungan para ksatria, Ratu Ayu.

Akan tetapi sekarang ini bukan lagi pertarungan para ksatria. Ini pertarungan antara

hidup dan mati untuk membela negeri.

"Ratu Ayu telah membuat kami bangkit semua secara serentak. "Kali ini Ratu ayu menghadapi seluruh negeri." Ratu Ayu menghela napas.

"Barangkali ini kunci kemenangan kalian atas serangan pasukan Tartar. Sejengkal tanah kalian bela bersama sampai nyawa terakhir. Ini kekuatan yang luar biasa. Sementara di Turkana, justru sebaliknya yang terjadi.

"Kekuatan kami tercerai-berai.

"Padahal kalau satu lawan satu, Khan itu masih tetap bukan tandinganku. Juga rajamu, Nyai."

Nyai Demang mengeluarkan suara di hidung.

"Di negeri kami, seorang raja tidak selalu perlu turun tangan secara langsung. Seorang raja lebih mementingkan kebijaksanaan, dan bukan mencari pengesahan dalam pertarungan seperti ini."

"Dengan kata lain, Nyai mengatakan saya lebih sakti?" "Masih harus dibuktikan."

Mata Ratu Ayu yang cokelat seperti mengeluarkan sinar tajam. Menikam.

"Apakah di negerimu ini ada yang mampu mengirimkan suara dengan ilmu Lompat Turkana seperti yang kulakukan?"

"Lebih dari itu pun ada, Ratu Ayu." Sejenak Ratu Ayu menghela napas pendek.

"Kalau benar begitu, rasanya saya perlu turun tangan untuk menjajalnya.

Rasanya ia baru pantas menjadi tandinganku. "Nyai, siapa orang itu?"

Sejenak Nyai Demang merasa sangsi.

Akan tetapi, mengatakan atau tidak, bisa berarti banyak. Mengatakan karena memang kenyataannya begitu. Kalau tidak menyebutkan nama, bisa dianggap asal membual. "Ratu Ayu telah menyebutkan sendiri." "Eyang Sepuh?"

"Eyang Sepuh, guru kami."

"Saya mendengar nama besar dan harum Eyang Sepuh.

"Tolong katakan, dari segi mana Eyang Sepuh mampu mengungguli saya? "Pandanganmu sangat luas, dan saya patut mendengarkan."

Pujian Ratu Ayu terdengar sangat tulus. Dan memang diutarakan secara jujur.

Nyai Demang bisa merasakan. Bahwa di balik sikapnya yang serba tersembunyi, di balik dendam dan keinginannya merebut kembali takhta Turkana dari tangan bangsa Tartar, Ratu Ayu tetap mempunyai jiwa ksatria.

Bahkan di balik pertanyaan itu, Ratu Ayu menghormati bahwa Nyai Demang akan menjawab secara jujur pula. Bukan sekadar mengagungkan Eyang Sepuh karena kebetulan ia guru Nyai Demang.

"Bagaimana, Nyai? Apa hebatnya Tepukan Satu Tangan?" Nyai Demang menunduk.

"Ratu memang luar biasa. Mampu memperpendek jarak dengan Lompat Turkana. Sehingga jarak jauh menjadi pendek. Tapi ini hanya terbatas kepada suara.

"Eyang Sepuh telah mencapai sesuatu yang lebih dari itu. Beliau mampu memindahkan badannya dari suatu ruang ke ruang yang lain tanpa bergerak.

"Sehingga pada saat yang sama, seakan berada pada dua tempat atau lebih secara bersamaan."

"Apa itu?"

"Kami menyebutnya moksa." "O," suara Ratu Ayu seperti patah. "Saya mendengar ilmu semacam itu juga ada di tlatah Hindia, Jepun, dan di tanah Jawa ini. Di negeri kami, cara berlatih pernapasan untuk moksa juga bisa dipelajari.

"Saya telah mempelajari, Nyai." "Kenapa tidak dimunculkan?"

"Sulit. Moksa adalah tingkat di mana antara ada dan tiada tidak berbeda. Tingkat antara roh dan raga menyatu, tak bisa dipisahkan. Tingkat antara mati dan hidup susah dipisahkan.

"Kalau saya menjajal ilmu itu, saya kuatir tak ingin kembali ke Turkana dan menjalankan keinginan semula."

Nyai Demang mengangguk dan membenarkan.

Ini memang bagian yang paling menguatirkan, yang oleh Eyang Sepuh disebut sebagai ajaran "bait terakhir yang tak terbaca di hati".

Lompat Turkana

SEMENTARA itu, Gendhuk Tri yang sejak tadi masih berada di sekitar sitinggil, segera menyusup ke arah Kamandungan, melalui pintu benteng.

Suara hiruk-pikuk di dalam menyerap perhatiannya.

Dan begitu sampai di bagian dalam Keraton, lidahnya terjulur tanpa terasa.

Di depan Keraton, kedelapan senopati Turkana membentuk barisan dua lapis. Sekali bergerak, yang berada di belakang meloncati yang ada di depan, langsung melabrak musuh.

Sementara barisan yang di depan, yang diloncati, juga serentak meloncati dan menyerbu ke arah senopati Keraton.

Karena kedelapan senopati melompat dan menyerang dengan sangat cepat, barisan para senopati Keraton seperti kucar-kacir. Susunan pertahanan menjadi buyar.

Senopati Sariq berada paling depan. Kalau menemui lawan seimbang, hanya memutar ke arah samping. Tempatnya yang kosong segera diisi Senopati Uighur atau Karaim. Begitu juga yang lainnya.

Serangan mendadak yang sangat rapi dan kuat.

Setiap penghalang disikat dengan tebasan pedang melengkung. Juluran lidah Gendhuk Tri lebih menunjukkan kekaguman.

Matanya pernah menyaksikan barisan murid Kiai Sumelang Gandring yang merangsek maju secara bersamaan. Juga pernah menyaksikan dua murid Kama Kangkam yang menyatu. Dua bentuk barisan, yang kokoh bertahan, dan yang kuat melabrak.

Akan tetapi yang disaksikan sekarang, sungguh luar biasa.

Kedelapan senopati menggunakan Lompat Turkana seperti dalam permainan 64 petak. Masing-masing saling melompat ke depan, dan atau ke samping kiri maupun kanan. Tak pernah mundur.

Dalam sekejap saja, mereka telah masuk mendesak hingga pintu Keraton, sementara para senopati Majapahit tersisih di sebelah kiri dan kanan.

Hanya saja para senopati Turkana ini tidak melabrak terus dan masuk ke dalam, akan tetapi berbalik, siap menghadapi lawan yang bersiaga dari depan.

Dari sekian banyak senopati Keraton, hanya Mahapatih yang nampak bisa mengimbangi. Ia selalu berhasil memaksa lawan tidak melompati tubuhnya, akan tetapi memakai gerakan memiring.

Hanya saja karena ia seolah sendirian, dalam sekejap saja seperti mendapat keroyokan.

Terpaksa bertahan sambil minggir. "Kok bisa begini jadinya?

"Sungguh tidak lucu kalau Keraton bisa dicabik-cabik dengan cara murahan seperti ini." Suara Gendhuk Tri terdengar lantang. Akan tetapi tak ada yang memperhatikan.

Dari sitinggil terdengar keributan yang lain. Para calon penari menjadi bubar dengan sendirinya. Begitu pula para calon yang berharap dipilih sebagai suami oleh Ratu Ayu. Sementara para prajurit berkumpul dan masuk ke Kamandungan untuk melibatkan diri dalam pertempuran.

Namun mereka hanya menambah korban yang berjatuhan.

Pedang bagai bulan melengkung itu setiap kali berayun, seperti membuat lawan mundur atau terluka.

Di tengah ketakberdayaan karena serangan yang mengagetkan, dari arah sitinggil menerobos masuk seorang lelaki.

"Kakang, aku ikut."

Gendhuk Tri langsung terjun ke tengah gelanggang. "Kita jajal mereka. Aku jadi ingin tahu."

Gendhuk Tri segera melepaskan selendangnya.

"Senopati Majapahit, jangan berdiri terlalu dekat dengan lawan. Beri jarak.

Kosongkan di depan, atau merapat. Sehingga mereka tak mampu melompati. "Jangan takut bau kambala."

Gendhuk Tri rada terperangah.

Ia tak menyangka sama sekali bahwa lelaki yang masuk ke gelanggang bukan Upasara Wulung!

Bentuk tubuhnya sama, wajahnya mirip sekali, nada suaranya juga sama! Hanya rambutnya yang kemudian tergerai, membuat Gendhuk Tri yakin bahwa lelaki itu bukan Upasara Wulung.

Apalagi ketika menggertak maju sambil memainkan kantar dengan gerakan

cepat. "Mari aku cuci kalian. Katanya kambing takut sama air."

Dengan gesit, lelaki itu maju menerjang. Kantar, atau tombak pendek yang biasanya digunakan sebagai perisai, menyabet maju. Kebetulan yang dihadapi adalah Senopati Chagatai, yang mencongkel dengan pedang lengkungnya.

Lelaki itu terus menggebrak maju dengan desakan yang kuat, seolah menempel.

Senopati Kazakh yang berada di belakangnya, tak bisa melompati. Tetap menunggu di belakang!

Dalam saat yang bersamaan, Gendhuk Tri juga mendesak maju. Selendang warna-warni mengebut ke arah wajah lawan. Tidak seperti biasanya, Gendhuk Tri kali ini tidak membuat jarak. Ia mendesak maju. Sabetan pedang Senopati Karaim digulung dalam satu selendang, sementara tangannya yang bebas mengancam lawan.

Senopati Karaim mengegos ke samping.

Gendhuk Tri menyambar dengan kaki. Ke arah terompah lawan. "Kena kamu, kambing."

Tanpa sadar, Gendhuk Tri mengikuti apa yang dikatakan lelaki yang mirip Upasara Wulung. Dengan menyebutkan kata kambing, seperti tadi ia mendengar ucapan kambala, yang artinya pakaian bulu domba.

Bahwa yang dikenakan para senopati itu pakaian bulu domba tanpa lengan atau bukan, tak jadi soal.

Senopati Karaim tak menyangka bahwa terompahnya yang digasak. Sewaktu menarik mundur kakinya, Senopati Uighur yang di belakangnya berseru keras.

Hampir saja pedang melengkung mengenai kawan sendiri.

"Kanyasukla, sebagai anak kampung, ilmumu boleh juga. Mari kita ajar mereka main lompatan."

Hati Gendhuk Tri menjadi berbunga-bunga. Karena ia dipanggil dengan sebutan kanyasukla yang berarti perawan suci.

Rasanya, sepanjang hidupnya tak pernah ada lelaki yang memanggil begitu menyenangkan hatinya.

Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah Dewa Maut. Yang mau melakukan apa saja bagi Gendhuk Tri. Akan tetapi, Dewa Maut memanggilnya dengan sebutan tole, panggilan buat anak lelaki. Tak pernah terdengar panggilan yang menyejukkan hati kewanitaannya.

Tidak juga Upasara Wulung yang dikagumi. Paling jauh hanya menyebut adik manis.

Sekarang ada yang menyebut dengan manis, lembut, dan menganggapnya sebagai gadis.

Dan yang memanggil itu adalah seorang lelaki yang Hmmmmm, tak kalah dengan kakang pujaannya.

Mendapat hati, Gendhuk Tri tak berpikir panjang lagi. Kedua kakinya menjejak tanah, dan tubuhnya melayang ke atas, jungkir-balik ke arah belakang.

Apa yang dilakukan Gendhuk Tri memang tak terduga. Justru karena mengandung bahaya.

Meloncat ke udara sambil membalikkan tubuh untuk menghadapi barisan Lompat Turkana sama juga adu panas dengan sumber api.

Akan tetapi justru karena lawan tak menduga itulah pedang melengkung Senopati Uighur bisa tercabut.

"Bagus. Aku juga dapat satu!"

Lelaki itu berseru keras sambil merampas sebilah pedang. Ia berdiri berjajar dengan Gendhuk Tri.

Rambutnya yang panjang tergerai di belakang bahunya. Wajahnya gagah, dengan kedua tangan membuka. Salah satu tangannya memegang pedang melengkung. Serentak dengan itu delapan senopati Turkana membalikkan tubuhnya.

Menghadapi lelaki gagah dan Gendhuk Tri. Senopati Sariq meloncat ke depan. "Sungguh mengagumkan.

"Sepasang senopati yang bisa membaca barisan kami. Apakah Sariq kali ini berhadapan dengan ksatria dari Perguruan Awan yang bernama Upasara Wulung?"

"Hei, domba kuning! Tahu diri sedikit.

"Yang bisa merebut congkelan pintu bukan hanya dia, tapi aku juga merampas.

Bahkan lebih dulu. Bagaimana kamu seenaknya saja memujinya tanpa melirik aku? "Apa perlu kucabuti dulu bulu domba di tubuhmu itu?"

Lelaki itu tertawa bergelak.

Gendhuk Tri sadar bahwa cara tertawa yang kasar itu membuatnya sangat berbeda dari Upasara.

"Siapa suruh kamu menertawai aku? Apaku yang lucu?"

Lelaki itu menggaruk rambut di belakang telinga. Wajahnya jadi sedikit berubah.

"Kanyasukla, aku tertawa bukan karena kamu lucu. Karena Senopati Sariq ini kamu sebut domba kuning. Alangkah lucunya. Domba tak pernah bisa kuning walau makan emas sekalipun."

"Itu tidak lucu sama sekali." Maha Singanada

SELURUH Kamandungan jadi senyap.

Semua perhatian terserap ke pembicaraan antara Gendhuk Tri dan lelaki gagah yang rambutnya dibiarkan terurai. Merupakan perubahan yang ganjil.

Dalam beberapa saat sebelumnya, seakan seluruh senopati Keraton dibikin tak berdaya. Lalu mendadak muncul pasangan yang dalam satu gertakan mampu mematahkan Lompat Turkana.

Kini juga setelah bisa unggul, mereka seolah bertengkar sendiri. "Maaf, pertanyaan saya belum terjawab.

"Sebelum melanjutkan permainan, perkenankan saya mengetahui nama besar Ksatria."

"Bukankah tadi Sariq telah menyebutkan nama Upasara?" "Kalau begitu, terimalah hormat saya."

Sariq membungkuk memberikan hormat. Gendhuk Tri berteriak marah.

"Ngaco! Mulut bau, dandanan kamu seperti anak kampung, berani mengaku nama besar Kakang Upasara?

"Sehari mandi seratus kali, kamu tetap tak akan menyamai bayangan Kakang Upasara!"

Lelaki yang mengaku Upasara terkekeh.

Walau dalam gusar, sebenarnya Gendhuk Tri memuji. Karena menyebut- nyebut mandi seratus kali. Yang berarti juga mengakui bahwa kulit lelaki itu lebih putih dan lebih bersih daripada warna kulit Upasara.

"Senopati Sariq, begitu banyak orang menyebut katanya aku ini mirip Upasara Wulung. Bahkan kalian yang baru datang dari Turkana juga terkecoh.

"Terus terang aku tak tahu apakah Upasara cukup tampan hingga bisa disejajarkan dengan diriku."

"Ngaco belo. Kamu ini anak kadal." Lelaki itu mengangkat alisnya. Rambutnya bergerak-gerak.

"Hei, kupanggil kamu kanyasukla, karena kuanggap kamu masih suci pikirannya. Ternyata pikiran kamu sudah terjerumus kepada pemujaan lelaki."

"Siapa memuja lelaki.

"Jangan asal buka mulut. Upasara adalah kakangku."

"Nah, ketahuan sekali pikiranmu sudah ruwet. Aku hanya menyebut kamu memuja lelaki. Bukan menyebut memuja kekasih atau suamimu."

Gendhuk Tri menggertak.