Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 27

Jilid 27

Dua puluh kali bunyi trang yang makin pendek jaraknya tetapi makin mantap desakannya, Upasara membarengi tangkisannya dengan sabetan kaki. Tumpuan kaki Kama Kangkam yang menjadi sumber kekuatan berhasil dijegal.

Begitu tubuh Kama Kangkam terangkat karena kuda-kudanya jebol, Upasara ganti menebas.

Kama Kangkam mengeluarkan teriakan "ciaaaat" yang membelah telinga sewaktu tubuhnya melayang ke atas. Ini bahaya. Bahaya terbesar. Karena sewaktu tubuhnya melayang tegak lurus, samurai Kama Kangkam mengarah pada jidat Upasara.

Lurus, mantap, tepat! Untuk sepersekian kejap, Upasara merasa nyawanya telah lenyap. Ubun-ubunnya menjadi dingin seperti teriris es!

Rasanya tak bisa dibedakan apakah yang mengiris jidatnya persis di tengah pedang panjang ataukah hanya angin.

Upasara menjatuhkan tubuhnya ke atas, pedang hitamnya menebas ke arah samping.

Trang!

Dua pedang beradu keras. Seakan saling membelit. Tusukan Kama Kangkam tegak lurus, menjadi sedikit mencong karena tebasan Galih Kangkam. Sebaliknya tangan Upasara menjadi luar biasa ngilunya. Sehingga ketika punggungnya menjadi pengganjal kekuatan dengan gerakan uler kaget, masih belum sepenuhnya bisa menggenggam kencang.

Sebaliknya Kama Kangkam juga segera menjauhkan diri. Kini keduanya berdiri dalam jarak dua tombak.

Saling menatap, dengan angin mendidih berembus dari semua lubang tubuh.

Terutama memancar dari hidung!

Siap dengan gerakan penghabisan!

Bagi Upasara, cara bertarung seperti ini memang baru dikenalnya. Ketika memasuki jurus kesepuluh, Upasara tidak menduga dalam waktu seketika lawannya kemudian berganti. Dan Upasara yang merasa sedikit di atas angin sewaktu menggempur Kiai Sambartaka, seakan tidak siap menghadapi Kama Kangkam.

Sebaliknya justru Kama Kangkam nampak siap begitu mendengar Paman Sepuh meneriakkan jurus kesepuluh telah berlalu!

Ketidaksiapan Upasara bukannya karena tidak tahu bahwa setelah sepuluh jurus ia harus berganti lawan. Ketidaksiagaannya terutama karena dalam waktu yang bersamaan, yang merupakan sambungan jurus kesepuluh, datang lawan yang lain sama sekali. Pada jurus kesebelas yang dimainkannya! Ini pengalaman baru.

Karena berarti ia memainkan partai terusan yang tadi dimainkan Eyang Sepuh! Seperti juga Eyang Sepuh yang kini menghadapi Naga Nareswara, dan Kiai

Sambartaka yang menghadapi Paman Sepuh.

Ini juga berarti keadaan bisa berubah sama sekali!

Upasara Wulung merasa lolos dari lubang jarum. Nyawanya yang sudah berada di ujung bibir, kembali menyelinap sewaktu meloloskan diri dari gempuran Kama Kangkam yang menusuk dari atas.

Dalam keadaan berdiri, berhadapan, Upasara menjadi sadar apa yang sesungguhnya terjadi.

Pedang hitamnya ditarik ke dekat dada.

Kama Kangkam, kali ini tidak mencekal dengan kedua tangan. Tapi menggenggam erat pada tangan kanan, dengan posisi membuka. Pedang di arah samping, dadanya terbuka.

Yang sedikit menyelamatkan Upasara adalah bahwa tempo serangan ksatria Jepun ini mempunyai jeda sesaat sebelum jurus berikutnya.

Kalau gempuran itu bergelombang dan bersambungan seperti yang dilakukan Kiai Sambartaka, barangkali ia sudah tak mampu berdiri lagi!

Sepersekian kejap, pikiran Upasara berurut kembali. Pemusatan pikiran menyatu kembali.

Pertarungan kali ini ibarat permainan congklak atau catur bersamaan.

Ada tiga papan yang dimainkan, dengan enam pemain. Setelah memainkan sepuluh jurus, masing-masing pemain pindah papan lain, menghadapi lawan yang lain, dengan posisi memainkan apa yang ditinggalkan lawannya.

Ibarat kata, Upasara sekarang ini harus memainkan biji catur atau biji congklak pada papan yang tadi dimainkan Eyang Sepuh. Tidak berangkat dari awal, akan tetapi tinggal melanjutkan. Dengan susunan biji congklak atau biji catur yang sudah dimainkan oleh masing-masing, baik Eyang Sepuh maupun Kama Kangkam selama sepuluh jurus!

Ini yang baru saja dipahami! Pertarungan menyeluruh.

Sebelum terjun ke gelanggang, Upasara berpikir bahwa ia akan menghadapi Kiai Sambartaka yang langsung menyambarnya dalam sepuluh jurus. Lalu berhenti, dan berganti menghadapi entah siapa selama sepuluh jurus dari awal.

Itu yang berada dalam benaknya.

Maka sungguh tak menyangka kalau mendadak saja Kama Kangkam sudah menerkam ke arahnya. Keunggulan Kama Kangkam terutama karena kejelian melihat medan lain, sehingga bisa merangsek ke arah Upasara, yang dipaksa main "di papan catur atau papan congklak" di mana ia memainkan bersama Eyang Sepuh.

Dari segi pengenalan medan, jelas Kama Kangkam lebih unggul. Ini yang nyaris membuat ubun-ubunnya terbelah.

Begitu lolos dari lubang jarum, Upasara mengenali cara pertarungan secara menyeluruh seperti ini.

Berarti juga dalam bertarung, ia harus memperhatikan suasana sekitar dengan cepat, dan memaksa lawan bermain di "papan permainannya".

Atau setidaknya, ia tidak main pada papan di mana lawannya tinggal melanjutkan saja!

Upasara menarik udara sepenuhnya, memompa ke dadanya. Hingga menggelembung sempurna.

Pasrah. Sumarah. Menyerahkan diri secara total, mengikuti suara, mengikuti gerak yang muncul dari tenaganya.

Seperti ketika mendengar bisikan Eyang Sepuh dalam pembicaraan, yang menjadi petunjuk dari gerakannya menghadapi Kiai Sambartaka. Bait-bait kidungan tentang "kebenaran" dan "jalan" yang bertentangan. Kilatan pikiran itu membersit dengan sendirinya, dan bait-bait kidungan dalam Kitab Penolak Bumi menemukan maknanya. Bahwa kalau semua jalan adalah kebenaran, tak ada lagi kebenaran. Bahwa kalau semua kebenaran adalah jalan, sebenarnya bukan lagi kebenaran dan bukan lagi jalan.

Bersitan sesaat itu yang terwujud dalam gebrakan Upasara yang berani meninggalkan pengambilan pusat tenaga bumi!

Dan nyatanya berhasil.

Justru karena tidak mengambil kekuatan bumi, Upasara lepas dari pengaruh ilmu Kiai Sambartaka.

Kini menghadapi Kama Kangkam, Upasara memusatkan serangan berikut yang bakalan dahsyat, akan tetapi juga mulai memperhitungkan bahwa sepuluh jurus nanti, lawan yang dihadapi bisa siapa saja.

Bisa Kiai Sambartaka lagi, bisa Eyang Sepuh, Paman Sepuh, atau Naga Nareswara. Yang jelas bukan Kama Kangkam lagi.

Ini berarti dalam setiap sepuluh jurus, dari lima lawan dihadapi, empat adalah kemungkinan menjadi lawan, dan satu yang jelas tak terulang.

Mata Upasara menyempit.

Kama Kangkam masih menunggu.

Sebelum ada kawan, jadilah lawan lawan membuat kita menang kawan membuat kita tak tenang hanya lawan yang bisa dikalahkan

hanya kawan yang jadi persahabatan sebelum ada kawan, jadilah lawan lawanlah kawan

ilmu tumbal ialah ilmu penolak kebenaran pun ditolak

sebab kebenaran adalah kawan kawan adalah kebenaran

setelah ada kawan, jadilah lawan sebab ilmu tumbal ialah ilmu penolak

menolak kawan, menolak lawan, menolak kebenaran menolak ialah tidak

tiada kawan, melainkan lawan!

Inilah kuncinya! Upasara menerjang maju!

Timinggila, Jurus Ikan Gajah

KALAU Upasara lebih dulu menerjang maju, berarti ia memapak apa yang menjadi keunggulan Kama Kangkam.

Ilmu Jepun adalah ilmu yang keras, tajam, dan mendahului. Dengan gerakan sangat cepat menyabet atau menyodet sekaligus. Saat berdiam diri adalah pemusatan pikiran sepenuhnya. Begitu bergerak dengan berlari kencang, sabetan samurai akan mengenai sasaran. Ataukah sabetannya yang lebih dulu, atau tusukan lawan. Dalam hal ini tak ada kemungkinan lain.

Berbeda dengan ilmu silat dari tanah Hindia maupun Tartar, gerakan-gerakan Jepun tidak mempunyai bunga-bunga. Permainan secara langsung.

Upasara mengenai dalam beberapa hal, justru karena mengenai permainan ilmu silat Galih Kaliki yang ternyata mempunyai sumber yang sama. Maka kini ia mendahului!

Jaghana yang berdiri di tepi, seperti mendengar kidungan lirih Upasara. Rasanya, seperti Upasara yang mengumumkan, akan tetapi nadanya seperti dikidungkan oleh Eyang Sepuh.

Bukan sesuatu yang luar biasa, mengingat kemampuan Eyang Sepuh yang luar

biasa.

Kalaupun benar Eyang Sepuh yang mengidungkan dalam hati dan mampu tertangkap oleh Upasara karena gelombang rasa pasrah yang sama, bukan berarti Eyang Sepuh memberi petunjuk perlawanan Upasara. Karena kidungan itu sudah dihafal dengan sendirinya, oleh siapa pun yang mempelajari Kitab Bumi.

Yang menjadi titik cerah sebagai pemecahan adalah bagaimana menerapkan lirik-lirik dalam kidungan itu menjadi gerakan yang mempunyai makna.

Sesungguhnya, inilah yang dipuji oleh Paman Sepuh Dodot Bintulu. Karena Eyang Sepuh mampu mengembangkan lirik-lirik dalam kidungan menjadi sesuatu yang bisa ditafsirkan secara luas dan mengena.

Saripati ilmu Bantala Parwa adalah ilmu yang dimulai dari penolakan. Ilmu yang mendasari kepada ada yang berasal dari ketiadaan. Dimulai dengan tiada... selain... Peniadaan inilah yang disebut sebagai tumbal, sesuatu yang harus dikorbankan.

Seperti lirik dalam kidungan yang baru saja menggema dalam hati. Dengan menolak arti persahabatan, arti persaudaraan, arti perkawanan, akan menemukan tenaga yang sesungguhnya. Dengan menganggap siapa saja sudah lawan, terbuka kesempatan untuk mengembangkan diri. Karena, hanya dengan adanya lawan, seseorang bisa muncul, bisa maju, bisa melawan.

Pengertian-pengertian ini mempunyai arti yang luas. Karena dengan demikian, Upasara akan menghadapi semua bayangan yang bergerak sebagai lawan. Siapa pun dan apa pun yang melintas harus dikalahkan, ditaklukkan. Apakah itu Kama Kangkam atau Eyang Sepuh, tak ada bedanya. Apakah itu gerakan berbahaya atau tidak, menjadi sama dalam pandangan Upasara.

Maka begitu Kama Kangkam mengumpulkan tenaga, Upasara menyerang lebih

dulu.

Sebelum ada kawan... Kama Kangkam berlari kencang sekali, memapak serangan Upasara. Sabetan keras merobek udara dan menoreh segalanya. Semua bagian tubuh Upasara diserang tajam. Galih Kangkam di tangan Upasara mengeluarkan desiran angin tajam, sebelum beradu keras lawan keras. Ketika dua tubuh seolah bertabrakan, terdengar beradunya pedang dengan sangat tajam menimbulkan suara yang memekakkan.

Kini bukan hanya Nyai Demang, Gendhuk Tri, dan Wilanda yang terpaksa menutup telinganya, kedua Kama pun menutup telinganya dan mundur sampai delapan langkah! Menjauh dari gelanggang.

Gempuran dan gelombang keras lawan keras makin lama makin mencapai puncaknya, setelah mendadak saja suasana berubah bersamaan dengan teriakan Paman Sepuh.

Sepuluh jurus kedua telah berlalu.

Caping dan tongkat kurus Paman Sepuh telah menutup pandangan Upasara, yang segera menyambut dengan loncatan ke atas. Melewati caping dan galah. Serta- merta dengan itu tangan kirinya menyabet ke bawah dari segala arah.

Menutup segala kemungkinan untuk meloloskan diri. Karena tiba-tiba saja pedang hitam Upasara menutup bagian bawah dengan hujan tusukan, pada kecepatan yang tinggi.

Siwamba Siwapatra, desisan Paman Sepuh antara terdengar dan tidak. Seakan mengenali apa yang dilakukan Upasara, tapi sekaligus juga mengagumi bahwa dari ilmu Penolak Bumi bisa dimainkan begitu sempurna!

Siwamba bisa diibaratkan Air Penghidupan. Dalam penguasaan Upasara, air penghidupan adalah air hujan. Tusukan pedangnya berubah menjadi air hujan yang tertumpah dari langit. Hanya saja yang jatuh menusuk bukan air penghidupan, melainkan tusukan pedang yang naik-turun dengan cepat.

Itu sebabnya bagian tersebut dirangkai dengan Siwapatra atau gerakan Teratai Merah. Tusukan air penghidupan, menyebabkan teratai merah berkembang, dan terkena!

Dalam keadaan seperti ini, Paman Sepuh yang menjadi teratai merah. Kekuatannya tak bisa dipencarkan, karena ia menjadi pusat serangan. Terdengar batuk-batuk kecil.

Serentak dengan itu, bagian tubuh Paman Sepuh mendadak berubah. Seolah menjadi gumpalan raksasa yang mengeluarkan gelombang besar, dengan kibasan angin yang terasakan sampai ke pinggir medan pertarungan.

Tubuh tua Paman Sepuh berubah menjadi naga yang mengeluarkan tenaga luar biasa besarnya, dan udara sekitarnya seperti ombak laut yang tersibak dalam gelombang besar. "Timinggila."

Upasara mendesis karena kagum.

Apa yang dipamerkan Paman Sepuh memang pameran kekuatan yang luar biasa. Dalam sekejap, kekuatan dan tubuhnya berubah seakan ikan gajah, atau ikan paus, atau timinggila. Kekuatan ikan gajah yang menyeruak dari dasar laut, dan menyebabkan gelombang sekitarnya terpecah.

Ketika ikan gajah menyeruak dari dasar samudra, titik-titik hujan tak menjadi bahaya!

Paman Sepuh bukan teratai merah yang diam, melainkan ikan gajah! Upasara terperangah.

Paman Sepuh yang berada di bawah menjadi gagah. Gelombang kekuatannya juga berpengaruh pada suasana sekitar yang mau tak mau kecipratan ulah sibakan tenaga ikan gajah.

"Timinggila Kurda."

Kembali Upasara mendesiskan nama jurus, Ikan Gajah Murka, lebih untuk meyakinkan diri sendiri bahwa lawan di bawahnya memang menyapu apa saja yang ada di sekitarnya.

Sebenarnya bagi Upasara ini adalah pengalaman yang paling berharga dalam perjalanan hidupnya sebagai ksatria. Karena apa yang dialami secara langsung, merupakan bagian-bagian yang telah dipelajari!

Seperti diketahui, sumber ilmu silat Upasara yang kemudian berkembang pesat berasal dari Kitab Bumi. Menurut pengakuan yang didengar, Kitab Bumi yang sesungguhnya diciptakan kembali oleh Paman Sepuh, dan mendapat kesempurnaan di sana-sini oleh Eyang Sepuh.

Sampai di tangan Eyang Sepuh, tentu saja banyak perbedaan, baik penambahan maupun pengurangan pada bagian-bagian tertentu. Namun di atas semua itu, intisari tetap sama.

Maka, baik Paman Sepuh maupun Upasara saling mengenali dasar-dasar apa yang tengah dimainkannya sendiri maupun lawannya.

Bahwa Timinggila adalah raja segala ikan di laut, yang besar dan buas, Upasara bisa mengerti. Akan tetapi bahwa Paman Sepuh bisa mengubah dirinya menjadi kekuatan itu, sungguh membuatnya kagum dan tak habis pikir.

Ternyata nama-nama yang dipakai dan atau disebutkan dalam kidungan itu bukan sekadar nama. Bukan merupakan perumpamaan, akan tetapi betul-betul bisa diperhatikan secara jelas.

Kembali Upasara seperti menemukan jalan buntu. Hujan tusukan yang dimainkan seperti mandul dan percuma. Mentah oleh gelombang ombak munculnya Timinggila yang sedang murka.

Bahkan mau tidak mau, Upasara terdesak ke arah tempat yang agak jauh, karena tak mampu meniti gelombang untuk mendekat.

Tanpa terasa sepuluh jurus kembali berlalu. Mau tak mau lawan yang dihadapi berganti!

Di pinggir lapangan, Wilanda menyadari bahwa matahari sudah makin condong ke barat, dan kegelapan mulai menyelimuti. Akan tetapi tak ada tanda-tanda pertarungan dihentikan sejenak. Bayangan-bayangan yang tengah bertarung-Wilanda tak bisa memastikan apakah yang bergerak enam bayangan atau lima atau hanya empat-masih sama ketika mulai.

Wilanda tak bisa mengikuti kini, siapa melawan siapa. Siapa menghadapi siapa, dan siapa yang lebih unggul dari siapa.

Hal yang sama dihadapi Gendhuk Tri. Karena memaksakan diri untuk mengikuti dengan jelas, kepalanya mulai pusing, kesadarannya menurun. Beberapa kali tenaga dalamnya dikerahkan agar terjaga, namun makin lama makin sia-sia.

Malam, kini, sepenuhnya kelam.

Kemenangan yang Kalah

DALAM keadaan terang benderang pun susah mengikuti jalannya pertempuran, apalagi sekarang ini.

Tanpa cahaya bulan.

Bahkan rasanya tanpa desir angin.

Gendhuk Tri tertunduk lemas, sementara Nyai Demang beberapa kali menghela napas. Antara sadar dan tidak, Nyai Demang masih memaksa diri melihat kelebatan bayangan. Akan tetapi pandangannya makin kabur.

"Jangan memaksa diri," suara Jaghana terdengar mengalir perlahan. Baru sekarang terdengar suaranya, diawali dengan helaan napas dan batuk kecil.

Wajahnya seolah menggigil.

"Apa yang terjadi di medan pertarungan di luar kemampuan kita. Bahkan untuk menyaksikannya. Kita bukan apa-apa dibandingkan para sesepuh.

"Marilah kita memanjatkan doa dan pujian kepada Dewa yang Mahaagung, agar jalannya dan petunjukNya yang terjadi."

"Apa kita tak bisa berbuat sesuatu?"

"Gendhuk Tri, rasanya berat, akan tetapi saya hanya bisa membenarkan apa yang Gendhuk Tri kuatirkan."

"Paman Jaghana juga tak bisa berbuat apa-apa?" "Sama sekali."

Geraham Nyai Demang menggertak. "Paman Jaghana tak bisa mengetahui sekarang ini siapa melawan siapa dan bagaimana keadaannya?"

Jaghana menghela napas berat.

"Apa bedanya kalau saya katakan Adimas Upasara melawan Kiai Sambartaka atau Eyang Sepuh sekalipun?

"Pada setiap jurus terjadi pergantian pertarungan. Tak ada yang mampu memisahkan mereka. Hanya maut yang bisa menghentikan."

"Paman..." Suara Gendhuk Tri seakan memohon dengan sangat. "Apakah benar-benar Paman tak mengetahui siapa yang bakal keluar dari medan pertarungan dengan selamat?"

"Tidak."

"Tidak mampu memperkirakan siapa yang bakal keluar sebagai pemenang?" "Tidak ada yang keluar sebagai pemenang. Inilah kemenangan yang kalah.

Bahkan juga termasuk Eyang Sepuh. Saya sedih mengatakan ini. Akan tetapi batin

saya makin merintih, tertindih beban yang tak kuasa saya panggul kalau tidak mengatakan hal ini. Saya tak ingin membagi kecemasan, akan tetapi agaknya tak bisa lain.

"Pemunculan Eyang Sepuh dari kedamaian yang dicapainya adalah kegagalan.

Eyang Sepuh dipaksa turun ke gelanggang dan bertempur.

"Ah, betapa sesungguhnya ilmu silat itu jalan sesat yang maha jahat. Ketika kaki kita melangkah di jalan itu, tak ada langkah surut kembali. Di sana hanya ada lingkaran yang membelit tak keruan ujungnya.

"Semakin mempelajari ilmu silat, semakin jauh kita tersesat. Pertarungan ini hanya mempunyai makna dari segi ini. Bahwa pada akhirnya semua jago silat di jagat ini harus memamerkan keunggulannya. Secara rela maupun tidak sengaja.

"Betapa sesungguhnya, Eyang Sepuh lebih bahagia di kedamaian dan Upasara di kedamaian ketika melepaskan semua ilmunya."

"Paman..." Kali ini suara Wilanda yang memohon. "...Inilah titik akhir dan sekaligus awalnya." "Paman tidak akan..."

Jaghana membisu.

Sebentar.

"Saya tak cukup berarti. Memiliki atau tidak memiliki ilmu silat, saya tak akan mengubah apa-apa."

"Paman!" Kali ini Wilanda berseru, bersamaan dengan Gendhuk Tri dan Nyai Demang.

Badan Jaghana bergoyang-goyang.

Wilanda segera menunduk, bersila, dan menempelkan telapak tangannya ke tubuh Jaghana. Nyai Demang dan Gendhuk Tri juga melakukan hal yang sama. Serentak dengan itu terasakan udara dingin dan panas berganti-ganti bergolak dari tubuh Jaghana.

Kalau tadi Gendhuk Tri merasakan pusing, itu karena gangguan penglihatan. Sedangkan Jaghana, sebenarnya, lebih parah lagi! Peristiwa yang dilihatnya lebih melukai jiwanya! Sehingga terjadi keguncangan.

Sehingga Wilanda, Gendhuk Tri, dan Nyai Demang berusaha menenteramkan. Sewaktu usaha ketiganya mulai menyatu, mendadak terdengar teriakan keras.

Semacam jeritan yang menyayat.

Nyai Demang bergoyang tubuhnya. Napasnya menjadi kacau-balau. Di kejauhan nampak dua tubuh terbanting!

Tak bergerak lagi! "Duh, Dewa."

Rintihan suara Gendhuk Tri menyadarkan semuanya. Bahwa dua orang telah menjadi korban. Dua-duanya telah menjadi mayat. Gendhuk Tri menggigil. Di saat yang kritis, suara Wilanda terdengar tipis mengelus. "Kedua Kama, murid utama Kama Kangkam, telah menemukan jalan buruk menuju kepada kematian.

"Sebaiknya kita menyingkir dari tempat ini. "Sementara..."

Memang, dua tubuh yang terkapar tak berdaya adalah Kama Kalandara dan Kama Kalacakra. Mereka berdua mengalami proses keguncangan yang sama parahnya. Hanya karena latihan dasar ilmunya berbeda, lebih keras dari Jaghana, ketidakmampuan menahan diri itu berakibat fatal.

Keduanya mencabut pedang pendek dan menusuk perut sendiri!

Begitulah dua murid utama pendekar Jepun mengakhiri ketegangan dan guncangan dirinya.

Tradisi bunuh diri karena merasa tak mampu mengikuti jalannya pertempuran, menemukan bentuknya.

Itu pula sebabnya Wilanda mengusulkan untuk berpindah tempat. Yang segera dituruti, walau dengan berat hati.

Barulah mereka berempat sadar, bahwa di sekitar Trowulan banyak dijumpai mayat para prajurit Keraton. Yang agaknya secara sembunyi-sembunyi menyaksikan dan mengikuti pertarungan. Barangkali karena tenaga dalam mereka masih belum kuat, kesiuran angin atau pukulan tak langsung, membunuh tanpa sempat bereaksi.

"Pasrah kan kepada Dewa yang Maha Mengetahui..." Wilanda terus memimpin pemusatan pikiran ketiga kawan nya.

Sampai fajar menyingsing.

Berarti pertarungan dahsyat sudah berjalan sehari-semalam. Tanpa henti!

Tanpa mengendor.

Dalam kemelut pertarungan, Upasara sendiri tidak tahu apakah kini sudah fajar atau siang hari. Ia bagai tenggelam dalam gelombang yang makin lama makin menyeret dirinya. Membetot sukmanya. Gerakan-gerakan yang dimainkan telah membuat getaran yang menjalar di seluruh tubuhnya. Upasara tenggelam, larut, menyatu dengan ilmu silat yang dimainkan.

Tak bisa membedakan lagi siapa lawan yang dihadapi. Seolah segalanya berjalan berdasarkan naluri semata-mata. Tubuhnya kuyup oleh keringat dan mengering lagi.

Dahaga dan kesesakan datang dan hilang kembali.

Pedang hitam ratusan kali mengulang gerak yang sama, sedikit berbeda di bagian awal atau akhir. Kalau sebelumnya sempat mengingat kidungan dan melihat pemecahan, kini sepenuhnya larut. Menyatu.

Tak bisa menghentikan atau menunda. Semua mengalir begitu saja.

Sampai gelap seluruhnya, dan mendadak gerakannya terhenti begitu saja.

Terlintas dalam kejapan ingatannya bahwa tongkat emas Naga Nareswara seperti menari-nari di depannya, dan mendadak tongkat kurus Paman Sepuh berhasil mengenyahkan. Naga Nareswara berlutut, memegangi dadanya yang terbelah.

Torehan melenceng dari pundak kiri, ke arah pangkal paha di sebelah kanan. Luka menganga, hingga rasanya Upasara melihat tulang, otot, dan urat nadi

Naga Nareswara.

Dan melihat bahwa tongkat emas pusaka itu bergulir, menghantam wajah Paman Sepuh yang seketika seperti mengepulkan debu.

Pada saat yang sama, Upasara merasa ada angin berdesir di pundak kanannya, dan melihat Kama Kangkam tersungkur dengan pedang hitam amblas masuk ke tubuhnya!

Upasara berdiri dengan kaki limbung.

Ada semacam rasa mual dan mabuk yang menguasai diri sepenuhnya. Tak jelas sekali, apakah Paman Sepuh telah hancur kepalanya, dan Naga Nareswara telah terbelah, atau Kama Kangkam yang lebih dulu tertusuk Galih Kangkam hingga amblas.

"Aku, utusan dari Jepun, menyerah kalah!"

Tubuh Kama Kangkam masih berlutut, kaku seketika. Naga Nareswara mengeluarkan suara mengguntur.

"Hebat. Tikus-tikus ini bukan hanya lidahnya yang sakti. Aku puas. Terimalah hormatku."

Tangannya berusaha terangkat dan memberi hormat, sebagaimana kebiasaan ksatria Tartar.

Akan tetapi tangan itu telah terlepas, dan tubuhnya terempas!

Bait Terakhir yang Tersisa INI yang luar biasa!

Akhir yang tak terduga.

Naga Nareswara terbelah bagai disobek paksa. Terkelupas secara sempurna. Sementara Paman Sepuh hancur bagai debu, rontok seluruh isi kepalanya. Dan Kama Kangkam terpanggang pedang hitam hingga ke gagang.

Dalam tarikan napas terakhir, ketiga senopati utama dunia ini mengakui kekalahannya dan memberi penghormatan kepada pemenang.

Kalau dibuat perhitungan secara kasar, Upasara yang bisa muncul sebagai pemenang dengan bersih. Kama Kangkam, ksatria utama dari Jepun berhasil dirobohkan. Sedangkan Paman Sepuh yang lebih dulu unggul, dalam sekejap berikutnya menjadi tak bersisa.

Hanya satu perhitungan yang harusnya masih berjalan. Antara Eyang Sepuh melawan Kiai Sambartaka.

Yang pasti sudah mencapai titik akhir juga. Karena dalam pertarungan yang berlangsung tinggi dan penuh dengan ilmu- ilmu utama yang dilontarkan secara bersamaan, tak bisa berakhir sendirian.

Nyatanya memang begitu! Hanya saja hasilnya lain!

Antara sadar dan tidak, Upasara Wulung melihat bahwa pertarungan Eyang Sepuh dengan Kiai Sambartaka sampai ke bagian yang paling menentukan. Tak bisa dicegah tak bisa dipisah. Hanya akan menghasilkan satu pemenang!

Eyang Sepuh berhasil menguasai semua ilmu Kiai Sambartaka, dan berhasil mempengaruhi getaran udara. Akan tetapi agaknya Eyang Sepuh tidak ingin merebut kemenangan. Dengan penguasaan yang maha sempurna, Eyang Sepuh berhasil membebaskan dirinya, tanpa membunuh Kiai Sambartaka.

Pada tingkat yang serba sempurna ini, ternyata Eyang Sepuh tetap mendudukkan dirinya sebagai di atas yang paling atas.

Tubuh Kiai Sambartaka hanya bergulingan di tanah. Tapi akhirnya memang berbeda.

Begitu terbebas dari pengaruh ilmu Eyang Sepuh, Kiai Sambartaka bukannya mengucapkan terima kasih atau menerima kalah. Justru sebaliknya.

Teriakan mengguntur, mirip jeritan yang memilukan, terdengar menyayat, dan serentak dengan itu dua tangannya memukul Eyang Sepuh!

Pukulan terakhir yang menggemuruh!

Pekikannya serta-merta membuat semua binatang berbisa di sekitar Trowulan mendesis dan menyerbu dengan ganas siapa saja yang ada di dekatnya.

Kiai Sambartaka mengerahkan ilmunya yang terakhir.

Upasara tak menduga sama sekali. Hanya bisa memandang dengan kaki masih limbung. Melihat tanpa bereaksi munculnya ular berbisa, kalajengking yang secara mendadak menyerbu ke arahnya.

Juga ke arah Gendhuk Tri, Wilanda, Jaghana, maupun Nyai Demang. Sebagian binatang berbisa itu muncul dari tanah, sebagian muncul dari tubuh Kiai Sambartaka.

Bahwa Kiai Sambartaka mampu menjinakkan dan menggunakan ular kobra sebagai senjata, hal itu bukan sesuatu yang luar biasa. Semua pendeta dari tlatah Hindia menguasai dengan sempurna. Dan Kiai Sambartaka lebih dari sekadar menguasai!

Yang tak terduga ialah bahwa Kiai Sambartaka menggunakan secara licik.

Sungguh tak masuk akal bahwa tokoh pujaan yang telah mencapai ilmu sedemikian tinggi masih bisa berbuat busuk!

Sungguh tak sepadan dengan sifat ksatria Kama Kangkam maupun Naga Nareswara serta Paman Sepuh.

Tapi itulah jalan yang ditempuh Kiai Sambartaka. Terlambat Upasara untuk menangkis.

Apalagi yang lain.

Dalam sepersekian kejap, segala binatang beracun akan memangsa! Memekik pun tak sempat.

Upasara berusaha berdiri dengan tegak. Akan tetapi puyeng di kepalanya makin berdenyut. Yang bisa dilakukan hanyalah menahan napas.

Pada saat itu terasa angin berdesir. Antara kelihatan dan tidak, bayangan putih Eyang Sepuh mendesir, mengibaskan pakaian putih, dan semua binatang berbisa, berikut pukulan Kiai Sambartaka, terarah padanya.

Pada Eyang Sepuh!

Yang mengambil alih semua bencana dan risiko.

Pujian dan segala kehormatan bagi Eyang Sepuh yang mulia!

Kiai Sambartaka terbanting, muntah darah kental, dan tubuhnya bergoyang-goyang sebelum akhirnya terbanting ke Kali Brantas dan lenyap! Kini Jaghana, Wilanda, Gendhuk Tri, dan Nyai Demang bisa melihat jelas.

Melihat bayangan tubuh Eyang Sepuh yang bergerak perlahan. Kalau tadinya antara kelihatan dan tidak, sekarang terlihat gerakannya.

Lembut.

Ringan.

Bahkan Jaghana bisa mengamati jubah yang dikenakan Eyang Sepuh ada tanda darah dan luka.

Bisa jadi cipratan darah segala binatang terluka. Bisa jadi Eyang Sepuh sendiri yang terluka!

"Eyang!"

Hampir bersamaan, kelima warga Perguruan Awan itu bersujud dan meneriakkan nama yang sama.

Terdengar suara batuk kecil.

Terdengar suara, antara terdengar dan tidak:

Kenapa menyesali yang pergi kalau rumput bisa bersemi berkorban itu melepas harapan pergi itu lahir kembali

dalam Kitab Bumi

Ada bait terakhir, tak terbaca hati! Suara batuk menghebat. Disusul batuk-batuk kecil. Bayangan tubuh Eyang Sepuh semakin menjauh, tapi perlahan. Menghilang di kesenyapan.

Lenyap. Senyap. Gelap.

Upasara Wulung tertekuk tubuhnya. Samar-samar masih terasa seperti terlibat dalam pertarungan, yang makin lama makin tak bisa dibedakan siapa yang dihadapi, dengan siapa ia bertarung, yang menyeretnya begitu saja, seolah ia dipaksa memainkan jurus-jurus tanpa bisa mengontrol.

Semua kemampuan silatnya mengalir begitu saja.

Tubuhnya seperti digerakkan oleh kekuatan lain. Gerakan silatnya menjadi, membentuk. Tubuhnya menyerang dan menekuk dengan sendirinya.

Lalu korban berjatuhan.

Dan Kiai Sambartaka yang berbuat sangat licik dan hina. Lalu pengorbanan Eyang Sepuh.

Sehari-semalam Upasara Wulung selalu terseret dalam lamunan dan lingkaran pikiran yang begitu berat serta meletihkan. Dan tak bisa ditanggalkan.

Baru kemudian tubuhnya seperti terseret arus gelap.

Malam hari Upasara sadar kembali. Menemukan dirinya dikelilingi Jaghana, Wilanda, Gendhuk Tri, serta Nyai Demang.

"Paman..."

"Tenangkan pikiran, Anakmas Upasara." Suara Jaghana terdengar parau, seperti memaksa dengan sebutan "Anakmas".

"Eyang Sepuh..." "Eyang sudah tindak." Suara Gendhuk Tri lebih mengesankan hati yang tersayat dibandingkan keharuan.

Upasara Wulung bersila. Menghaturkan sembah. "Sugeng tindak, Eyang."

Akhirnya, Upasara Wulung dengan ikhlas melepas kepergian Eyang Sepuh.

Ikhlas karena sadar bahwa barangkali ini kepergian Eyang Sepuh yang terakhir kali.

Pertemuan pertama dan juga pertemuan penghabisan.

Pertemuan dengan bayangan, karena Eyang Sepuh telah menguasai ilmu moksa, sehingga bahkan tubuhnya seperti tak terlihat, walau terasa keberadaannya.

Inilah akhir dari pertarungan penghabisan di Trowulan. Beberapa kuburan, dan sisa-sisa pertarungan.

"Tenangkan hati Kakang," kata Gendhuk Tri seperti suara nenek memberi nasihat. "Eyang Sepuh bangga dengan Kakang. Kakang telah menunaikan kewajiban sebagai pemimpin Perguruan Awan."

Dada Upasara membusung. "Sebagian telah selesai.

"Sebagian lagi harus segera diselesaikan. Kakang ingin mencari Halayudha sebagai perhitungan terakhir."

Suara Upasara terdengar getir. Masih diwarnai dendam yang mencakar batinnya.

Rata Ayu Bawah Langit

DALAM pendengaran Jaghana, kalimat terakhir yang diucapkan Upasara sangat ganjil.

Rasanya hal semacam itu tak mungkin keluar dari bibir Upasara! Wilanda bisa merasakan hal yang sama. Dari segi kemampuan penguasaan ilmu silat, Upasara sudah tingkat di atas rata-rata para kampiun. Kematangan penguasaan ilmu Kitab Bumi, boleh dikatakan belum menemukan tandingan. Akan tetapi dari sisi lain tetap menunjukkan usia yang masih muda. Yang masih dibakar oleh dendam.

Kalaupun Upasara menganggap Halayudha yang paling busuk, hal itu tak perlu dilontarkan.

Mengumbar perasaan hati adalah sesuatu yang pantang bagi seorang yang berhati bijak. Kawicaksanan, atau kebijaksanaan, justru diukur dari kemampuan mengendalikan amarah dan dendam.

Yang tak diperhitungkan oleh Jaghana maupun Wilanda-dua sesepuh Perguruan Awan dan sekaligus murid langsung Eyang Sepuh-adalah kenyataan bahwa Upasara melihat sisi busuk Halayudha.

Halayudha sumber dari segala keonaran.

Baik dalam mengacaubalaukan tata pemerintahan Keraton, maupun dalam dunia persilatan.

Yang lebih membuat Upasara meneriakkan dendam dengan suara perih ialah kenyataan bahwa yang selama ini membunuh Pak Toikromo, tak lain tak bukan adalah Halayudha. Yang membunuh semua penduduk desa tak berdosa juga Halayudha.

Halayudha-lah satu-satunya yang menguasai dan mampu memainkan sabetan tongkat secara miring sebagaimana gurunya. Yaitu Paman Sepuh Dodot Bintulu!

Halayudha sengaja memainkan ilmu itu, agar tuduhan utama jatuh ke Paman Sepuh. Agar Upasara melabrak Paman Sepuh. Dan itu sesungguhnya telah terjadi. Jebakan yang luar biasa licinnya telah menyebabkan Upasara menantang dan mendendam habis-habisan.

Yang barangkali tak diduga oleh Halayudha sendiri ialah kenyataan bahwa Upasara bisa membedakan sabetan tongkat kurus!

Naga Nareswara, maha jago dari Tartar, terbelah sempurna oleh sabetan tongkat kurus. Lukanya juga menggores mencong. Upasara melihat sendiri.

Menyaksikan sobekan seluruh urat, daging, dan tulang Naga Nareswara, pada tempat-tempat yang mematikan. Ini berarti bukan hanya sekadar penguasaan ilmu yang luar biasa, akan tetapi Paman Sepuh mengenal rasa welas asih. Rasa kasihan, rasa kemanusiaan yang dalam.

Sabetan tongkat kurus Paman Sepuh adalah sabetan yang memutus kehidupan dalam seketika. Sehingga korbannya tak sempat merasakan rasa sakit.

Dalam sekejap, nyawanya telah melayang. Ini justru yang tak terlihat pada tubuh Pak Toikromo! Juga seluruh penduduk desa!

Pada kejap-kejap terakhir dalam hidupnya, Pak Toikromo masih merasakan ngilu yang luar biasa pedihnya. Karena disengaja oleh Halayudha, agar korbannya merasakan penderitaan yang luar biasa.

Sebagai jago silat, Upasara mengetahui perihal urat saraf, nadi, dan otot-otot dalam tubuh manusia.

Sehingga bisa lebih merasakan betapa sesungguhnya Halayudha adalah iblis di atas iblis yang tak mengenal perikemanusiaan sama sekali.

Sungguh aib kalau ada gelar senopati, apalagi ksatria, bagi manusia iblis semacam itu.

Inilah sesungguhnya yang membakar hati Upasara. Lebih dari dendamnya kepada Kiai Sambartaka yang culas di saat-saat terakhir. Yang membuat Eyang Sepuh melakukan ilmu terakhir yang dimiliki, yaitu moksa, lenyap bersama seluruh badan dan sukmanya.

Tindakan Kiai Sambartaka lebih dikarenakan terdesak, dan pada saat-saat terakhir mempertahankan hidupnya.

Sedangkan Halayudha berbuat kecurangan dan keculasan untuk keserakahannya.

Kalau Upasara, Jaghana, Wilanda tenggelam dalam pikirannya, tidak demikian dengan Nyai Demang. Tanpa lebih dulu menanggalkan pakaiannya, Nyai Demang meloncat ke dalam sungai, menyelam, seakan mengaduk-aduk perut sungai. Dari ujung ke ujung, hingga tiap kali mengambil udara, makin terlihat napasnya tak teratur.

"Apa yang dicari perempuan yang selalu minta diperhatikan itu?" Ucapan Gendhuk Tri yang lirih mendapat jawaban dari Nyai Demang yang muncul sebentar.

"Kamu yang tolol. Sudah jelas Kiai Sambartaka melesat ke dalam sungai, kenapa kalian biarkan saja?"

Gendhuk Tri melengak. "Memang kenapa?"

"Itu yang dinamakan ketololan."

"Aku memang tolol. Tapi katakan dulu, kenapa?"

Nyai Demang menghela napas sambil berenang ke pinggir.

"Kiai Sambartaka bukan kamu atau aku. Ia jago utama yang dikirim dari tlatah Hindia. Kemampuannya luar biasa dalam mengatur pernapasan. Rasanya tak mungkin begitu saja mati ketika kecebur ke sungai.

"Pun andai saat itu sudah terluka parah."

"Kalau begitu aku benar-benar sangat tolol dan dungu." Nyai Demang menghela napas.

"Sudahlah. Belum tentu aku bisa mencari, dan kalau bisa menemukan, belum tentu aku bisa menandingi. Kalau di belakang hari ia muncul lagi, harap kamu berhati-hati."

Biarpun menyadari ketololannya secara tulus, mana mungkin Gendhuk Tri mau dinasihati begitu saja.

"Tukang pelihara ular begitu saja ditakuti. Hati-hati atau tidak, itu urusanku." Gendhuk Tri meludah ke sungai. "Kiai culas, ayo keluar kalau berani. Sekarang tandingi aku. Kalau kamu tetap tak mau keluar, jangan salahkan aku kalau kukencingi wajahmu!"

Mendengar tantangan Gendhuk Tri, yang bisa benar-benar dilakukan, tak urung Upasara tersenyum kecil.

Kepada Jaghana dan Wilanda, Upasara menjelaskan maksud berikutnya.

"Saya menangkap kegelisahan Paman berdua mengenai rencana saya membalas dendam. Berarti ini tantangan terbuka buat Baginda Raja, berarti ini membusungkan dada kepada Keraton.

"Akan tetapi saya tidak melihat pilihan lain.

"Siapa pun yang melindungi atau campur tangan, saya tak segan-segan akan menghadapi."

Upasara menarik napas panjang.

"Sejak kekuatan saya kembali, ada tuntutan lain yang mendesak. Maaf, Paman, saya belum bisa meredakan keinginan ini.

"Maka, akan lebih baik lagi kalau urusan saya dengan Senopati Halayudha semata-mata adalah urusan pribadi antara Upasara dan Halayudha.

"Untuk sementara, urusan Perguruan Awan, Paman berdualah yang menangani."

Jaghana tersenyum arif.

"Apa kata Anakmas Upasara, pemimpin kami, tak berani Paman bantah. Hanya saja, kalau Paman boleh menitipkan pesan, bisalah Anakmas mencari waktu yang tepat."

Lembut, lirih, akan tetapi jitu kata-kata Jaghana. "Karena Baginda Raja sedang membutuhkan Halayudha.

"Paman mendengar bahwa di samping utusan-utusan dari mancanegara yang sudah berkumpul di Trowulan ini, masih ada yang lainnya. Bukan kebetulan kalau yang sekarang sedang berada di Keraton menjadi tamu kehormatan adalah Ratu Ayu Bawah Langit."

Gendhuk Tri jadi menoleh.

Nyai Demang yang tengah mengeringkan rambutnya memasang perhatiannya dengan baik-baik.

Jaghana tidak membuat Upasara bertanya-tanya, segera memberi penjelasan. "Sewaktu kita berangkat kemari, pendengaran Paman yang kurang bagus ini

menangkap kabar bahwa Ratu Ayu Bawah Langit datang ke Keraton dan menjadi

tamu kehormatan Baginda Raja.

"Barangkali Anakmas pernah mendengar cerita Ratu Ayu yang keayuannya melebihi 999 bidadari."

"Ini yang baru aku dengar, Naga Nareswara yang sudah mati itu menyebut- nyebut ada perempuan yang berani bergelar Ratu Ayu Bawah Langit.

"Apa hebatnya perempuan itu, sehingga berani memakai gelaran itu?"

"Ia putri raja, yang sekarang ini pun tengah menunggu pelantikan resmi sebagai ratu."

Penjelasan Nyai Demang membuat Gendhuk Tri lebih penasaran.

"Kalau ia cuma ratu, biar saja. Perlu apa saya peduli. Tapi berani mengaku paling ayu, saya mau lihat sendiri. Apakah hidungnya cuma punya satu lubang? Apa keringatnya bau minyak kesturi? Apa ludahnya wangi seperti kayu cendana?"

Meskipun diucapkan dengan hati yang dongkol, Gendhuk Tri menunjuk-kan bahwa sebenarnya ia mendengar puji-pujian bagi Ratu Ayu Bawah Langit. Pujian yang membuat perutnya merasa mual. Karena menyinggung harga dirinya sebagai wanita.

Ratu Turkana Mencari Jodoh

NYAI Demang merasa Gendhuk Tri mewakili suara hatinya. Barangkali juga suara hati semua wanita. Bahwa di dunia ini ada wanita yang cantik jelita lebih daripada bidadari, bukan sesuatu yang aneh. Akan tetapi bahwa ada sebutan Ratu Ayu Bawah Langit, menunjukkan kepongahan yang luar biasa.

Mana mungkin begitu mudah memastikan sebagai ratu ayu di bawah langit?

Namun yang membuat Nyai Demang merasa ngeri, bukan karena Ratu Ayu ini dianggap yang paling jelita di bawah langit, melainkan apa yang sempat diceritakan Kiai Sambartaka kepadanya. Bahwa utusan yang datang dari tlatah Turkana sungguh istimewa. Masih muda, jelita tak tertandingi, akan tetapi ilmunya setara dengan sekian banyak utusan yang datang.

Baik dari Tartar, Jepun, maupun Hindia sendiri.

Nyai Demang bisa memperkirakan betapa tangguh dan hebatnya Ratu Ayu Dan sesungguhnya, kalau dihitung-hitung sejak semula, jumlah utusan dari

berbagai penjuru jagat ini sudah diatur sedemikian rupa untuk pertempuran secara

langsung dan menyeluruh. Secara bersamaan.

Dalam perhitungan para ksatria tingkat jagat ini, nama Upasara tidak termasuk.

Tempat yang sesungguhnya ialah untuk Ratu Ayu!

Hanya karena satu dan lain hal, Ratu Ayu tak bisa datang tepat pada saat yang dijanjikan.

Sehingga Upasara bisa mengikuti pertarungan.

Nyai Demang masih ingat. Bahwa sebelum masuk ke gelanggang pertarungan, Upasara semacam diuji lebih dulu. Pantas atau tidak dalam perebutan gelar Lelananging jagat!

Hal itu tak terjadi andai Ratu Ayu yang masuk ke gelanggang. Keunggulan Ratu Ayu telah diakui oleh Kiai Sambartaka.

Juga Naga Nareswara.

Itu yang didengar oleh Gendhuk Tri. Tapi Gendhuk Tri sama sekali tak ambil peduli, dan menganggap Naga Nareswara sekadar membual. Ia dijuluki Raja Segala Naga, dan lalu asal menyebutkan nama Ratu Ayu Bawah Langit. Biar dianggap setanding.

Memang, dibandingkan dengan Nyai Demang maupun Jaghana, Gendhuk Tri paling kalah dalam pengalaman mengetahui apa yang terjadi di tlatah lain. Bahkan perihal tlatah Melayu saja, Gendhuk Tri baru mengetahui belakangan setelah kembalinya Senopati Anabrang.

Sebaliknya Nyai Demang boleh dikatakan sangat ingin mengetahui segala sesuatu yang terjadi di luar laut dan gunung yang pernah dilihatnya. Itu pula sebabnya sejak dini, Nyai Demang senang mempelajari berbagai bahasa manca.

Termasuk bahasa dari tlatah Tartar.

Sehingga boleh dikatakan, dirinya satu-satunya yang bisa berbicara secara langsung dan jelas.

Itu pula yang menyebabkan rasa ingin tahunya untuk mendekati Kiai Sambartaka.

Jaghana sedikit berbeda. Boleh dikatakan tak pernah mengenal dunia di luar batas hutan Perguruan Awan. Akan tetapi, ia adalah murid langsung Eyang Sepuh. Yang pernah berhubungan langsung sejak berguru.

Jaghana adalah murid kepercayaan.

Pada saat-saat tertentu Eyang Sepuh banyak berbicara mengenai segala kejadian di jagat. Termasuk saat bakal diadakan pertemuan untuk memperebutkan siapa yang sesungguhnya berhak atas Kitab Bumi, siapa yang paling murni menjalankan kitab yang banyak diperebutkan itu.

Secara jelas Eyang Sepuh mengatakan bahwa sebenarnya hal itu lebih menunjukkan sifat kekanak-kanakan yang tiada artinya lagi. Manusia menjadi tua oleh usia dan waktu, akan tetapi pikiran dan nafsu ternyata tetap tak bisa dikendalikan.

Dalam pertempuran terakhir sebelum meninggalkan Perguruan Awan, Eyang Sepuh menyebut-nyebut bahwa pada waktu yang telah ditentukan akan datang Tamu dari Seberang, tamu-tamu dari tlatah Tartar, Jepun, Hindia, Turkana. "Semua teman lama. Kecuali yang datang dari tlatah tapel wates. Saya dengar masih muda dan sedang mencari jodohnya."

Hanya itu yang disinggung oleh Eyang Sepuh.

Tapi bahwa Eyang Sepuh mengingatkan secara khusus, menandakan bahwa Ratu Ayu memang mempunyai kedudukan yang luar biasa.

Eyang Sepuh memang menyebut Turkana sebagai tlatah tapel wates, atau negeri perbatasan. Karena konon negeri itu merupakan perbatasan antara dunia yang masih setia dengan ajaran-ajaran serupa dalam Kitab Bumi, dan ajaran-ajaran lain yang sama sekali tak diketahuinya.

Itu pula yang membuat Jaghana secara khusus mengingatkan Upasara Wulung.

Bahwa kalau Ratu Ayu masih di Keraton, dan apalagi menjadi tamu kehormatan Baginda Raja, keinginan mencari Halayudha bisa berakibat lain.

Karena Halayudha dengan segala kelicikannya mampu memancing semua empu bertarung. Dan ia sendiri tinggal di Keraton untuk melihat hasil akhir, setelah tak bisa menguasai Naga Nareswara.

Jaghana juga tak bisa menganggap enteng Halayudha. Biar bagaimanapun, Halayudha adalah murid langsung Paman Sepuh Dodot Bintulu. Saudara seperguruan Ugrawe yang di saat kehancuran Keraton Singasari membuktikan diri sebagai yang sangat perkasa.

Halayudha yang sama ini pula sudah mempelajari secara tuntas segala isi Bantala Parwa. Masih harus ditambah mempelajari secara langsung dari Naga Nareswara. Terakhir sempat menawan Kama Guru dari Jepun.

Dengan segala akal yang dimiliki, sedikit-banyak Halayudha sekarang ini lawan yang setanding bagi Upasara Wulung.

Kalau ia berhasil menarik Ratu Ayu ke pihaknya, Upasara akan menghadapi lawan yang berat. Dalam soal pertarungan ilmu silat, Jaghana masih melihat ada kemungkinan untuk mengungguli lawannya satu demi satu. Namun dalam soal mengatur tipu muslihat, jelas Upasara Wulung bukan apa-apanya dibandingkan Halayudha.

"Kakang tak perlu takut segala kuntilanak atau tuyul perempuan. Walau rasanya juga perlu hati-hati."

Upasara mengangguk pelan kepada Gendhuk Tri, lalu memandang ke arah Nyai Demang.

"Nyai punya wawasan seluas samudra seluas langit. Apakah Nyai sependapat dengan kabar-kabar tentang kehebatan Ratu Ayu Bawah Langit?"

Nyai Demang melirik Gendhuk Tri, seakan memanfaatkan pujian Upasara sebagai kelebihannya atas Gendhuk Tri.

Gendhuk Tri pura-pura membersihkan telinga. Seakan tidak mendengar, walau hatinya panas.

Wilanda yang mencuri pandang, jadi menunduk malu. Menertawakan dirinya sendiri. Kenapa ia masih memperhatikan persaingan Gendhuk Tri dan Nyai Demang yang memperebutkan perhatian Upasara?

"Sesungguhnya saya tak mengetahui tentang Ratu Ayu. Di jagat hanya ada satu wanita yang paling ayu. Adimas Upasara pasti tahu siapa itu."

Tanpa menyebut nama Gayatri, Nyai Demang sudah membuat wajah Upasara berubah sedikit merah.

"Hanya memang Kiai Sambartaka menyebut-nyebut bahwa utusan dari Turkana ini perlu mendapat perhatian. Kiai sempat murka karena saya menjawab bahwa sesungguhnya saya tak pernah mendengar nama Ratu Ayu Bawah Langit atau Bawah Selokan.

"Waktu saya tanya kenapa perlu perhatian, Kiai Sambartaka menerangkan bahwa sesungguhnya banyak sekali dasar-dasar persamaan antara Bantala Parwa di tlatah Jawa ini dengan kitab-kitab di Jepun, Hindia, Tartar. Karena sumbernya sama.

"Kembangan yang ada, hanya pada pengolahan bagian tertentu. Tetapi ciri-ciri dasarnya masih sama. "Sementara yang berkembang di tlatah Turkana boleh dikatakan berbeda dasar-dasarnya. Tlatah Turkana merupakan tapal batas budaya yang memiliki dasar- dasar budaya Bantala Parwa, dengan tlatah budaya yang sama sekali berbeda.

"Betul atau tidak, saya sendiri belum mengetahui, Adimas.

"Bagi saya yang lebih menarik adalah bahwa ternyata Ratu Ayu ini sedang mencari jodohnya."

"Sungguh tak tahu malu.

"Bagaimana mungkin ia wanita baik-baik kalau mengaku anak ratu dan calon ratu tapi mengumbar kata-kata mencari jodoh? Seekor ular betina atau cacing tak setebal itu wajahnya."

"Itulah bedanya.

"Ratu Ayu mewakili suatu tlatah yang berbeda." "Ini bukan berbeda.

"Ini saru, memalukan, hina, menjijikkan." Nyai Demang tersenyum lebar.

"Paman Wilanda pernah mendengar kecemburuan?" "Siapa yang cemburu, jangan bicara seenaknya." Nyai Demang malah tertawa.

"Kok ada yang merasa? Saya kan tidak menyebut nama siapa-siapa. Betul tidak, Paman Wilanda? Jangan hanya mengangguk dalam hati. Nanti yang bersangkutan tidak tahu. Perasaannya sudah tumpul, sudah kebal."

Gendhuk Tri bukan tandingan Nyai Demang dalam sindir-menyindir.

Senopati Sariq

AKHIRNYA menjelang malam, Upasara memutuskan akan tetap menuju Keraton, ditemani oleh Gendhuk Tri. Sedangkan Nyai Demang akan menyusup lebih dulu. Jaghana serta Wilanda dengan berat hati melepaskan kepergian Upasara.

"Tempat kami di antara rumput dan kehijauan daun. Maafkan kami tak bisa menyertai Anakmas."

Sebaliknya, Upasara juga meminta maaf.

"Paman, sayalah yang bertanggung jawab dan diserahi tugas Eyang Sepuh untuk berdiam di Perguruan Awan. Namun saat ini rasanya saya masih perlu berkelana."

"Berangkatlah, Anakmas. Dengan iringan doa dan cahaya Dewa." Upasara menunduk hormat.

Jaghana membalas. Demikian juga Wilanda.

Walaupun dalam Perguruan Awan tidak ada tata tertib untuk saling menyembah, akan tetapi sikap penghormatan masih tetap dilakukan. Bagi Upasara Wulung, kebiasaan selama ini tak bisa berubah begitu saja.

Demikian juga sikap Wilanda kepada Upasara. Biar bagaimanapun, ia dulunya prajurit Keraton Singasari, di mana Upasara masih termasuk Ksatria Pingitan.

Menjelang munculnya rembulan, rombongan berpisah. Upasara melanjutkan perjalanan menuju ke Keraton. Gendhuk Tri merasa sangat girang karena kini bisa mendampingi Upasara terus-menerus. Beberapa langkah, Gendhuk Tri sudah memperingatkan agar sebaiknya Nyai Demang segera berangkat.

"Kalau kamu ingin segera bertemu Dewa Maut, kenapa tidak berangkat lebih

dulu?"

"Enak saja bicara. Bukankah kamu yang ingin segera bertemu dengan Senopati Turkana yang bernama Sariq? Jangan dikira saya tidak mengetahui."

"Atau justru Adimas yang ingin segera bertemu...?" Upasara menggelengkan wajahnya perlahan. "Mbakyu Demang, pikiranku sekarang ini dipenuhi keinginan untuk segera bertemu dengan Senopati Halayudha. Di saat Keraton sedang berada dalam kekacauan, di situ Senopati Halayudha makin mempertontonkan kemampuannya untuk memutarbalikkan kenyataan."

"Kakang takut menghadapi Halayudha yang sebelah kakinya sudah menginjak lubang kubur?"

"Takut, karena Senopati Halayudha katengen, dekat dengan Baginda Raja. Dengan kekuasaan seperti itu, Halayudha bisa berbuat apa saja yang membahayakan Keraton dan penduduk."

"Coba Kakang terima pengangkatan Baginda sebagai mahapatih. Tak akan begini jadinya."

Upasara menghela napas.

Bayangan tubuh ketiganya menggeliat dalam cahaya bulan. "Saya tak mampu. Darah Kakang terlalu kotor."

"U-uh. Apa Kakang pikir darah Halayudha tua itu lebih biru?"

Lalu, Gendhuk Tri beralih mengajak bicara Nyai Demang seakan tak ada ganjalan hati.

"Kalau di Keraton ada mahapatih, bukankah Halayudha itu tak bisa berbuat apa-apa?"

"Seharusnya begitu," jawab Nyai Demang dingin. "Akan tetapi masalahnya menjadi lain. Baginda Raja terlalu dekat dan percaya kepada Halayudha.

"Satu hal yang bisa membahayakan Baginda sendiri." "Kenapa begitu?"

"Baginda melupakan bahwa sewaktu merebut takhta, juga karena kepercayaan yang diberikan kepada beliau. Kebetulan saat itu hampir semua senopati perangnya bisa diandalkan. Akan tetapi, ada yang tidak. "Ini yang kurang disadari Baginda." "Kalau ia celaka, biar saja.

"Kenapa kita harus memikirkan nasibnya, kalau ia justru memerintahkan menggempur habis Perguruan Awan?"

Ganti Nyai Demang yang menghela napas.

"Mulutmu bisa bawel, karena kamu tak tahu ujung-pangkal persoalan." "Baik, aku bawel. Aku tak tahu ujung persoalan. Sekarang katakan, kenapa?"

"Saya sendiri tak memedulikan Baginda. Sengsara atau tidak, bagi saya tak ada bedanya.

"Akan tetapi Baginda adalah raja kita semua. Raja semua penduduk Majapahit. Baginda masuk angin, seluruh Keraton dan tata pemerintahan bisa berantakan. Sekali Baginda tidak berkenan sesuatu, ratusan prajurit yang merasakan akibatnya.

"Kini Baginda menghadapi tantangan yang agaknya tidak terlalu disadari. Pertama, dari dalam, yang bisa menjungkirbalikkan takhta. Kedua, utusan dari

Turkana. Kalau kedua kekuatan ini bergabung, semua akan terjadi. Entah malam ini atau esok pagi."

Upasara mengangguk membenarkan.

"Apa betul Ratu Turkana itu sedemikian saktinya?" "Naga Nareswara pasti pernah bercerita."

"Tidak. Naga Nareswara hanya menceritakan bahwa senopati yang mengiringi terdiri atas jago-jago utama. Di antaranya yang disebut Sariq."

Nyai Demang menghela napas. Agak berat. "Sariq dalam bahasa Turkana bisa berarti kuning. Ia memang senopati utama yang dibawa Ratu Ayu Bawah Langit. Dua senopati yang lainnya ialah Senopati Uighur dan Senopati Karaim.

"Ketiganya merupakan senopati pilihan. Sewaktu prajurit Tartar mampu menaklukkan seluruh jagat raya ini menyerbu masuk Keraton Turkana, ketiganya berhasil mempertahankan diri. Ketiganya bahkan bisa meloloskan diri bersama Ratu Ayu, dan kemudian berkelana ke seluruh jagat."

"Untuk apa melarikan diri kalau memang sakti?"