-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 19

Jilid 19

“Kadang ini menyenangkan di satu pihak. Karena Baginda memberi kesempatan berkembang para pengikut Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Akan tetapi dari segi keamanan, saya ini yang paling kikuk.”

“Warisan Keraton Singasari akhir…” “Itu salah satu sebab.

“Sesungguhnya, di antara para raja gung binatara, raja yang besar dan berwibawa, Baginda Raja Sri Kertanegara satu-satunya raja yang mencoba menggabungkan kekuatan Dewa Syiwa dengan Jalan Budha. Baginda Raja meraih keduanya.

“Sampai ke dalam tata pemerintahan Keraton. “Ada pendeta Syiwa, selalu ada pendeta Budha.

“Kini ketika peranan Dewa Syiwa lebih diberi angin, penganut Jalan Budha sudah mulai memperlihatkan taringnya. Bahkan menurut dugaan saya, para ksatria Jepun muncul untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya Jalan Budha adalah jalan yang terbaik untuk dilalui.” “Sungguh tepat penilaian Mahapatih.

“Saya tak mampu sekuku hitam pun memperkirakan hal itu.” Mahapatih Nambi menggelengkan kepalanya.

Seakan menolak pujian Halayudha.

“Pertentangan pengikut Dewa Syiwa dengan penganut Jalan Budha akan berakibat panjang. Karena ini seperti juga mempertentangkan Keraton yang sekarang ini dengan sisa-sisa Keraton Singasari.”

“Sangat tepat, Mahapatih.”

“Ditambah munculnya ksatria dan pendeta pengikut Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, sempurnalah sudah kekacauan yang bakal terjadi.

“Jalan keluar terbaik barangkali…” “Sungguh tepat, Mahapatih!” Halayudha merasa terlalu cepat bicara.

Mahapatih belum mengeluarkan pendapatnya, ia sudah mengeluarkan pujian.

“Maaf, saya mengira Mahapatih akan menyempitkan persoalan ini menjadi persoalan pribadi antara Senopati Lawe dan Senopati Anabrang.

“Bukan antara prajurit Tuban dan Keraton. Bukan antara pengikut Dewa Syiwa dan pengikut Budha.”

“Kalau itu jalan yang kuambil, berarti juga membiarkan Lawe dan Anabrang berhadapan muka.”

“Sungguh besar jiwa Mahapatih.

“Tetap memperhatikan para senopati bawahannya.

“Akan tetapi ini lebih baik bagi Keraton dibandingkan dengan tumpahnya darah yang lebih banyak lagi.” “Bagaimana dengan Kakang Sora?

“Apakah ia tak tergerak jika melihat pertentangan ini?” Halayudha menghela napas.

Wajahnya menunjukkan rasa bingung.

“Dengan jujur saya haturkan, saya tak mengerti di mana Senopati Sora berdiri. Karena agaknya Senopati Sora masih mencoba bertahan di Keraton. Masih ingin dekat dengan pusat kekuasaan daripada menempati Dahanapura seperti yang telah diisyaratkan oleh Baginda Raja.”

“Dengan kata lain ia tidak segera menjalankan perintah. Apakah ia akan memata-matai diriku?”

“Saya tak mempunyai dugaan seburuk itu, Mahapatih. “Walau mungkin itulah kenyataannya.”

Halayudha makin merasa bahwa caranya mengutarakan “tidak mempunyai dugaan seburuk itu, walaupun itulah kenyataannya” termakan oleh Mahapatih.

Dengan berkata seperti itu Halayudha ingin menegaskan bahwa jalan pikiran Mpu Sora memang buruk, bahkan tak terbayangkan pikiran biasa.

“Kakang Sora. Aku tak menduga bisa sepicik itu pikirannya. Padahal aku termasuk yang hormat padanya.”

“Banyak yang terkelabui sikap Senopati Sora. “Kita semua tak mengetahui sifat aslinya.” “Agaknya teka-teki juga.

“Sewaktu mengawal Permaisuri Rajapatni, Kakang Sora juga justru menyembunyikan serangan ganas Jurus Lebah. Aku masih bertanya-tanya apakah ini disengaja sehingga Permaisuri Rajapatni dibiarkan terculik? Bahkan sampai sekarang aku tak mendengar lagi jejak Klikamuka.” “Segalanya akan menjadi terang, kalau pertarungan antara Lawe dan Anabrang terbuka. Pada saat itu, sifat yang disembunyikan akan luntur.

“Maaf, Mahapatih.

“Barangkali malah lebih baik kalau pertarungan Lawe-Anabrang dibiarkan.

Kita bisa melihat kekuatan-kekuatan yang tak tampak selama ini.” Enam Dharma Pendeta

MAHAPATIH NAMBI tak bisa menahan diri untuk memuji cara berpikir Halayudha.

Dengan mengorbankan kemungkinan ada yang kalah dan menang antara Adipati Lawe dan Senopati Anabrang, peristiwa ini bisa memancing kekuatan yang tersembunyi.

Kekuatan gelap yang selama ini kurang terbaca di mana berkiblat, akan dengan mudah diketahui!

Berarti Mahapatih bisa menemukan peta kekuatan golongan yang sekarang ini tersembunyi di bawah permukaan.

Memang patut disayangkan, karena ada kemungkinan terjadi pertumpahan darah. Salah satu, atau dua-duanya senopati Keraton!

Memang benar, ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan campur tangan para pengikutnya.

Kalau segera bisa diatasi sebelum menjalar, Mahapatih Nambi merasa menemukan banyak hal yang perlu diketahui.

Luar biasa, pikir Mahapatih. Senopati Halayudha selalu menunjukkan cara berpikir yang luar biasa hebat dan tepat. Ataukah barangkali karena ia tidak mempunyai beban pikiran seperti diriku? Ataukah justru baginya pengabdian kepada Keraton dan Raja adalah yang terutama dan satu-satunya?

Apa pun alasannya, Mahapatih seperti melihat suatu petunjuk.

Berdasarkan itu pula kemudian Mahapatih menyiapkan langkah-langkah penjagaan yang tidak dianggap mengagetkan masyarakat. Maka sewaktu diadakan upacara penyucian tirta di sumber air di desa Kudadu, Mahapatih datang. Sesuatu yang tak pernah terjadi. Seorang mahapatih bersedia menghadiri penyucian sumber air yang bukan merupakan upacara besar. Sangat berbeda dari upacara penyucian candi atau makam.

“Saya datang sebagai utusan resmi Baginda Raja,” demikian Mahapatih mulai memberikan kata pembuka.

“Ini untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Baginda Raja selalu menaruh perhatian utama pada setiap upacara keagamaan di wilayah kekuasaan Keraton Majapahit.

“Hanya karena kesibukan Baginda Raja, tak bisa hadir di desa Kudadu yang mempunyai riwayat panjang dalam mendirikan Keraton. Akan tetapi restu dan doa Baginda datang selalu.”

“Semoga Baginda Raja bersama para Dewa, selamanya,” terdengar jawaban serentak disertai sembah.

“Baginda mendengar doa yang tulus.

“Saya tak ingin menerangkan ulang mengenai kewajiban kita sebagai manusia yang memilih jalan hidup seperti yang kita jalani sekarang.

“Saya merasa sangat kagum kepada para pendeta. Dari kelompok Syiwa, Budha, Brahma, dan Wisnu. Sebab mereka inilah yang menjadi kekuatan batin, menjadi tiang utama kehidupan Keraton.

“Para pendeta sangat dimuliakan oleh Baginda Raja, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mulia hidupnya. Orang yang dalam setiap tarikan napasnya, dalam tidur dan terjaga, mendoakan kesempurnaan hidup dalam dunia yang sementara maupun dalam keabadian di kelak kemudian hari.

“Para pendeta lebih dari para ksatria, para waisya, terlebih lagi dari kasta sudra, adalah pilihan Dewa yang Mahabrahman.

“Para pendeta yang menjaga roh Keraton dengan melakukan enam dharma

utama.

“Mengajar, dan belajar. “Melakukan persajian untuk dirinya dan untuk masyarakat. “Membagi dan menerima derma.

“Enam dharma. Ketiga yang pertama mengajar, melakukan persajian bagi masyarakat, membagi derma dari masyarakat yang halus budinya, merupakan sarana hidup di dunia ini.

“Pendeta, dengan segala hormatku pada penjaga batin kita, sangat mulia. Saya adalah Mahapatih Keraton Majapahit, tangan kanan Baginda Raja, akan tetapi untuk menyucikan sumber air ini, saya tak mempunyai wewenang. Untuk membina tanah- tanah perdikan, tanah-tanah untuk pendidikan, tempat-tempat suci, saya terlalu kotor untuk menangani.

“Saya dan para prajurit hanyalah kelompok ksatria. Kalau pendeta menjaga roh, para ksatria menjadi badan wadag. Tugas utama para ksatria ialah mengabdi kepada Raja, yang berarti juga mengabdi dunia, mengabdi tanah yang memberikan kehidupan. Pengabdian kepada Raja adalah mutlak, tak peduli apakah ia prajurit penjaga gerbang ataupun tingkat senopati. Karena tanpa pengabdian, yang ada adalah kekacauan.

“Baginda Raja telah menggariskan tingkat di mana kita berada. Baik bagi para pendeta, para ksatria, maupun para waisya.

“Golongan waisya adalah para pedagang dan petani. Mengerti tentang cara berdagang mutu manikam, buah-buahan, serta bisa menanamnya dengan baik.

“Golongan yang tidak mempunyai kemungkinan untuk dwija adalah golongan sudra. Mereka tak akan dilahirkan untuk kedua kalinya. Tugas golongan sudra yang terutama ialah mengabdi kepada para brahmana, para pendeta, agar menemukan kesempurnaan dunia dan nirwana. Para sudra yang mengabdi kepada ksatria dan waisya hanya akan menemukan ketenteraman dunia saja.”

Suara Mahapatih makin meninggi.

“Semua telah mempunyai tempat sendiri-sendiri. Sehingga tak terjadi kekisruhan. Sebab kalau kita semua bisa memahami kitab-kitab yang memuat aturan dan tata krama itu, tak ada golongan waisya atau ksatria yang mencampuradukkan dengan persoalan para pendeta. “Saya sebagai pelaksana takhta mengingatkan bahwa di saat-saat tertentu kita bisa lupa di mana kaki kita berdiri, dan terseret arus yang menyesatkan. “Saya tidak mengada-ada.

“Ketika kami semua membuka sawah di desa Tarik, di desa Kudadu ini, dan di tempat lain, kami sudah lahir sebagai ksatria, sebagai prajurit!

“Sekarang ini terasakan bahwa banyak tumbuh keinginan mengubah tata krama peraturan yang sudah jelas dan gamblang. Ada sebagian kecil yang ingin membuka perselisihan dengan menyeret golongan yang lebih sakti di atasnya.

“Saya akan mengambil tindakan tegas.”

Pandangan Mahapatih menyapu semua yang hadir.

“Dalam Kitab Kutara Manawa sudah jelas diuraikan. Itulah kitab yang mengatur tata krama kita semua, tanpa kecuali. Termasuk saya, termasuk para pendeta, para waisya yang sekarang ada di sini.

“Saya tahu, dari Perguruan Awan ditiupkan angin yang ingin mengubah tatanan ini semua. Perguruan Awan pun, saya tegaskan, tak akan memperoleh keistimewaan.

“Para pendeta lebih tahu, bahwa di Perguruan Awan tata krama itu sengaja ditiadakan. Tak ada perbedaan guru dan murid, tak ada perbedaan ksatria atau waisya atau sudra. Di sana ada ajaran bahwa sang guru juga belajar silat, berdoa, tetapi juga menanam pohon dan memetik buahnya.

“Saya tak peduli jika itu terjadi di dalam hutan.

“Akan tetapi saya tak akan membiarkan jika mau ditularkan kepada kehidupan di luar hutan.

“Saya dan seluruh senopati Keraton akan menghadapi.”

Kalimat Mahapatih meninggi dan menurun, akan tetapi dengan pandangan yang galak, berwibawa.

Tanpa peduli apakah pendengarnya menyadari apa yang dikatakan, Mahapatih melanjutkan, “Di antara golongan-golongan ini, golongan ksatria yang paling ruwet dan ribut selalu. Yang prajurit merasa dirinya senopati, yang senopati merasa bisa berbuat semaunya. Dengan mengagungkan sikap ksatria, merasa menjadi pendekar, menjadi jawara, menjadi yang tak perlu diatur.

“Kalau memang tak bisa diatur, jangan menganggap diri ksatria. Tempat yang paling tepat ialah menjadi kawula, menjadi hamba.

“Mereka bisa memilih menjadi kawula di bagian mana.

“Mau disebut grehaja, yang berarti memang lahir sudah dalam masa penghambaan. Mau disebut dwajaherta, kalau mereka menjadi tawanan perang. Seperti ksatria Jepun, atau seperti ksatria mana pun yang kalah!

“Apa mau disebut bhaktadasa yang menghamba karena untuk mengisi perutnya. Atau mau disebut dandadasa, menjadi hamba karena tak mampu membayar pajak Keraton.

“Apa pun sebutannya, mereka adalah kawula, hamba yang mempunyai tuan, dan tuannya inilah yang berkuasa.

“Ini peringatan pertama dan terakhir.”

Pidato Mahapatih pada upacara peresmian penyucian sumber air di Kudadu bergema luas.

Halayudha memakai kalimat-kalimat Mahapatih untuk membakar Senopati Anabrang.

“Jelas sekali, Mahapatih ingin menunjukkan kekuasaannya. Tak seharusnya Mahapatih mengatakan itu. Kesempatan itu tidak sesuai. Lagi pula kesannya justru menghalangi Senopati Mahisa Anabrang yang jelas-jelas mendapat restu dari Baginda untuk memberi peringatan Adipati Lawe.”

“Saya tak akan mundur karena ada peringatan atau tidak.” Jawaban Senopati Anabrang sama dengan Adipati Lawe.

“Aku tak pernah mencabut kata-kataku. Kalau Anabrang tak datang, aku yang datang menjelang. “Selama ini aku hanya merasa sungkan kepada Paman Sora yang kuhormati.

Bukan karena takut. Pun kalau Nambi berada di belakangnya.

“Paman Halayudha, sampaikan tantanganku. Aku menunggu di Brantas. Di sana akan dibuktikan darah siapa yang lebih merah.”

Gema di Perguruan Awan

KETIKA Halayudha sibuk mengatur angin yang membesarkan bara di mana bisa panas, saat itulah Nyai Demang dan Galih Kaliki kembali ke Perguruan Awan.

Jaghana yang menyambut mereka pertama.

“Angin gunung, betapapun jauhnya mengembara, pasti akan  kembali juga.

Selamat tiba, Nyai Demang dan Galih Kaliki.”

“Bagus, aku sudah lama tidak mendengar suara seperti ini.” Galih Kaliki segera mengambil tempat duduk di salah satu sudut, di atas rumput. Matanya mengawasi keliling.

Wilanda sedang duduk bersemadi. Upasara Wulung nampak duduk termenung, hanya memperlihatkan senyum tipis. Sementara Gendhuk Tri seperti tak mau peduli.

“Banyak hal telah terjadi di luar, Paman Jaghana.”

“Angin Keraton tak bertiup ke tempat sepi ini, sehingga saya tak mengetahui apa yang terjadi.”

“Paman Jaghana kenal dengan Kama Kangkam, dengan dua muridnya yang bernama Kama Kalandara dan Kama Kalacakra?” Jaghana menarik napas dalam.

Dadanya yang telanjang nampak penuh berisi angin.

“Pernah saya dengar, mereka datang bersama pasukan Tartar. Apakah sekarang sudah kelihatan, Nyai?”

“Sudah muncul untuk meminta Kitab Bumi di Keraton.” Gendhuk Tri mengeluarkan suara dingin. Lalu mempermainkan batang hidungnya. Seakan tak sengaja.

“Kitab itu lebih banyak diperebutkan daripada didalami isinya. Itulah takdir yang buruk.”

“Ah, segala apa dipikirkan.

“Biar saja mereka rebutan Kitab Bumi atau Kitab Langit. Selama mereka tidak mengganggu kita, biar saja jungkir-balik sendirian.”

Ucapan Gendhuk Tri membuat Nyai Demang tertawa. “Anak kecil, kamu tahu apa tentang dunia ini?

“Kamu tak mendengar Mahapatih Nambi sudah menyinggung bahwa Perguruan Awan adalah sarang para sudra yang membangkang?”

“Biar saja, ia punya mulut dan punya kuasa.” “Kita tak bisa membiarkan begitu saja.

“Aku kembali hanya untuk menyampaikan dan melihat apakah gema itu terdengar sampai di sini.

“Gendhuk, aku tak bisa seperti kamu yang bisanya hanya mengekor apa yang dilakukan Adimas Upasara!

“Aku berkepentingan dengan nama Perguruan Awan, dengan Permaisuri Rajapatni, dengan Kakang Dewa Maut!”

Upasara menahan gelora di dadanya. Gendhuk Tri langsung berdiri.

Wilanda menyelesaikan semadinya.

Hanya Jaghana yang tenang seperti semula.

“Aku tak peduli dengan Gayatri! Aku tak peduli apa yang mereka katakan tentang Perguruan Awan! “Aku cuma mau tahu di mana Dewa Maut!”

Di balik kata-katanya yang keras dan patah-patah, nyata bahwa Gendhuk Tri terusik hatinya. Terampas perhatiannya. Karena biar bagaimanapun juga Dewa Maut paling dekat dengannya. Walaupun Gendhuk Tri selalu menunjukkan sikap jengkel setiap kali bertemu, akan tetapi ini semua tak mengurangi perhatiannya.

“Sejak kapan kamu bisa memaksaku?

“Kalau aku mau cerita tentang Permaisuri Rajapatni lebih dulu, kamu bisa

apa?”

Gendhuk Tri menggerakkan selendangnya dengan kesal.

“Memangnya kalau kamu bercerita tentang Gayatri, apa kepentingannya?” “Permaisuri Rajapatni adalah wanita, seperti aku.

“Kalau kamu mempunyai hati wanita pasti bisa merasakan yang sebenarnya.” “Perasaan apa?”

Nyai Demang tertawa senang.

Bukan merasa menang. Melainkan merasa bisa mempermainkan Gendhuk Tri. Setelah mengalami berbagai pengalaman yang menegangkan, bercanda dengan Gendhuk Tri merupakan selingan yang menghibur.

“Sewaktu Permaisuri Rajapatni masih dipanggil Gayatri, ia pernah berkenalan dengan Upasara Wulung. Hubungan ini terputus karena Baginda Raja mengatakan bahwa Gayatri dan Sanggrama Wijaya diibaratkan Uma dengan Syiwa. Bahwa di kelak kemudian hari, sesuai ramalan para pendeta, turunan Dewi Uma dan Dewa Syiwa akan melahirkan raja yang meneruskan kebesaran Keraton.

“Akan tetapi nyatanya ini hanya siasat belaka.

“Nyatanya putri dari Permaisuri tak digubris. Malah putra dari seberang yang diresmikan sebagai putra mahkota.”

“Lalu apa hubungannya?” “Hati wanita mana yang tak tersentuh mendengar pengkhianatan ini?” Upasara menggeleng lemah.

“Rasanya masih saja begitu banyak yang memperhatikan saya. Mbakyu Demang, terima kasih atas pemberitahuan ini.

“Saya bisa mengerti kalau Tuanku Permaisuri bersedih. Akan tetapi sebenarnya tak ada gunanya. Perjalanan hidup ini panjang. Kalau bukan putrinya, bukankah masih ada cucunya? Kalau bukan cucunya, bukankah masih ada cicitnya? Kalau memang keinginannya adalah meneruskan takhta?

“Kehidupan sungguh panjang. “Kesedihan tak perlu ada.”

“Nah, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Adimas Upasara? Jadi untuk apa sedih kalau aku tidak bercerita mengenai Dewa Maut?”

“Baik, kalau tidak mau bicara. “Paman Galih, di mana Dewa Maut?” Galih Kaliki membelalak.

“Mana aku tahu?”

Gendhuk Tri mencibirkan bibirnya.

“Lelaki macam apa yang tak berani berada di luar bayangan wanita ini?” Gendhuk Tri menduga bahwa Galih Kaliki tak berani membocorkan rahasia.

Padahal sesungguhnya Galih Kaliki tak mengetahui Dewa Maut masih berada di kurungan bawah Keraton!

“Aku tak tahu.”

“Di mana dia, Nyai?” Suara Wilanda sangat rendah nadanya, akan tetapi kuat rasa ingin tahunya. Nyai Demang tak bisa memperlama menahan rahasia. Nyai Demang menceritakan apa adanya. Bahwa ia berhasil menyusup ke kamar peraduan Baginda, akan tetapi terkena Aji Sirep Laron Halayudha, dan akhirnya disekap dalam kurungan bawah Keraton. Dan di situ bertemu dengan Dewa Maut yang tak mau diajak pergi.

“Aneh sekali. Bagaimana ia bisa sampai di tempat itu?”

“Mana kamu tahu, Gendhuk. Untuk masuk ke situ jalannya hampir tak mungkin kecuali masuk ke dalam Keraton. Berarti ia ada hubungan dengan selir-selir Baginda.”

Wajah Gendhuk Tri menjadi merah.

“Heran, bibir selalu nista begitu masih awet melekat di situ.”

“Begini-begini banyak yang memperebutkan, Gendhuk. Rajamu sampai terpesona.”

“Siapa bilang rajaku?”

“Nyatanya ia menguasai kehidupan kita. Dan kita tak bisa apa-apa.”

“Omong kosong! Aku akan datang ke Keraton untuk menjemput Dewa Maut!” Wilanda memberi tanda agar tidak tergesa.

“Kita masih bisa memikirkan cara yang baik, anak manis.” Gendhuk Tri cemberut.

“Aku sudah tahu jalan pikiran Paman semua atau Kakang Upasara. Jalan terbaik adalah berada di sini, bersemadi, melihat matahari terbit dan tenggelam.”

“Baru saja kamu bilang sendiri Keraton mau jungkir-balik tak peduli, sekarang jadi sewot.”

Mendadak Nyai Demang berubah suaranya.

“Yang saya herankan, Dewa Maut bisa membaca lorong-lorong dalam tahanan bawah Keraton. Bahkan saya tertolong dan bisa lolos karena kidungan dalam Kitab Bumi. “Itulah sebabnya saya kembali.

“Barangkali selama ini kita salah membaca kidungan. Tak ada yang menunjukkan bahwa kita harus berdiam di dalam Perguruan Awan sampai jadi tanah.

“Barangkali menikmati matahari terbit bisa juga berarti memerangi ksatria yang nakal, membungkam mulut Mahapatih yang ngawur, atau menggempur Halayudha.

“Saya makin sadar ketika ketemu Kama Kangkam, guru dari Jepun, yang luar biasa tinggi ilmunya. Yang mengaku pemilik sah ilmu Jalan Budha.

“Jepun bukan Negeri Cina. “Jepun bukan Tartar. “Jepun bukan Hindia.

“Jepun akan menghancurkan pohon untuk membuat sawah. Jepun akan mencabut pedang panjang untuk menciptakan kebahagiaan. Kalau benar itu persamaannya dengan Kitab Bumi, saya percaya sepenuhnya Eyang Sepuh selama ini tidak pernah menyembunyikan diri! Tidak mengasingkan diri dan bunuh diri seperti Adimas Upasara yang pengecut!

“Saya datang untuk pamit dari kalian.” Tiga Langkah, Tiga Jagat

JAGHANA yang selama ini paling tenang, paling bisa menahan diri dari omongan yang tak keruan juntrungannya, jadi mendongak.

Nada ucapan Nyai Demang berbeda dari biasanya. Melengking dan sarat oleh kekesalan.

“Saya, Nyai Demang, mulai hari ini juga tak akan menginjak tanah Perguruan Awan untuk menyembunyikan diri. Hari ini saya telah puas bisa mengatakan isi hati saya. “Paman Jaghana, Paman Wilanda, Kakang Galih, Adimas Upasara, dan juga Gendhuk, kita tak mempunyai ikatan batin dengan Perguruan Awan. Kalau suatu hari kelak kita bertemu, tak usah mengikat dan mengingat bahwa kita pernah bersama- sama di tempat ini.”

Galih Kaliki meloncat bangun.

“Nyai, aku boleh ikut kamu atau tidak?” “Kakang Galih, di sinilah tempatmu.

“Sarang persembunyian yang empuk. Yang menganggap membunuh nyamuk adalah melakukan dosa, yang membiarkan dunia jungkir-balik, yang menganggap menikmati sinar matahari adalah jalan ke surga.”

“Tunggu.” Jaghana meloncat menghadang.

“Kalau Paman merintangi jalanku, jangan salahkan kalau aku main kasar.” “Nyai, aku hanya ingin mendengar kenapa Nyai tiba-tiba berkata seperti itu.” Nyai Demang menggeleng.

“Tak ada gunanya berteriak di depan orang tuli. Tak ada bedanya menembang kidungan atau merintih.”

Tangan Nyai Demang terulur cepat. Dada Jaghana terdorong.

Tenaga Nyai Demang seperti mengenai karung kosong. Tanpa peduli, Nyai Demang menyusuli dengan pukulan kedua. Jaghana menghindar dengan menjatuhkan diri secara berguling.

Di luar dugaan, Nyai Demang maju menerkam. Tubuhnya diayun, menjatuhi tubuh Jaghana dengan cengkeraman langsung ke arah jakun.

Gendhuk Tri berteriak keras. “Awas!” Wilanda pun tak menduga bahwa Nyai Demang menyerang secara ganas. Bahkan ketika tiba-tiba merentangkan tangan dan menghantam dada, Wilanda menduga ini hanya sekadar pelampiasan kejengkelan saja. Sungguh tak terduga bahwa Nyai Demang menyerang dengan jurus-jurus mematikan.

Jaghana bergulung bagai gasing. Kepalanya yang gundul pelontos seperti membenam ke dalam dada. Namun tak urung, pipinya terkena serempetan cengkeraman. Mengakibatkan luka panjang dan darah merah.

Sewaktu menubruk tadi, Nyai Demang menjatuhkan diri ke rumput. Namun dalam seketika tubuhnya terayun kembali dengan kekuatan tangan, dan kedua kakinya menggunting Jaghana yang mau tidak mau terpaksa menangkis.

Nyai Demang mendahului dengan tamparan telapak tangan terbuka, sehingga Jaghana memiliki jalan mundur. Begitu kakinya menginjak tanah, membuat gerakan cepat. Maju selangkah, mundur selangkah, dan maju lagi. Gerakan kaki yang demikian ini tidak pada satu titik sumbu, sehingga meskipun kelihatannya seperti maju-mundur di tempat, akan tetapi mengurung gerak Jaghana.

Dengan ilmu memutar tubuh bagai gasing, sebenarnya Jaghana tidak sekadar bertahan, akan tetapi juga memberikan perlawanan. Karena dalam memutar tubuh pada kecepatan tinggi, kemungkinan untuk mengatur tenaga serangan tak bisa dikendalikan mana keras mana lunak.

Jaghana menyadari bahwa serangan Nyai Demang bukan serangan main-main.

Kaki kiri Nyai Demang mengurung maju satu langkah, Jaghana terpaksa mundur, tetapi justru pada saat itu Nyai Demang mundur selangkah menjauh. Ketika Jaghana ragu, gerakan kaki Nyai Demang sudah maju selangkah!

Secepat kakinya mematok, secepat itu pula tangannya menggaplok.

Jaghana yang berputar, menangkis serangan tangan dan kaki, jadi mengeluarkan seruan tertahan. Kekuatan kaki Nyai Demang jadi luar biasa mengagetkan. Seperti sepuluh tenaga yang biasa dikenalnya.

Jaghana tak bisa menahan tubuhnya untuk tidak melorot turun. Saat itulah telapak tangan Nyai Demang mematok gundul Jaghana.

Galih Kaliki berteriak nyaring sambil mengangsurkan tongkatnya yang disentakkan ke atas menahan getokan Nyai Demang. Tapi Nyai Demang hanya mengeluarkan suara dingin. Tangannya berubah menjadi cengkeraman. Menggenggam tongkat, saling tarik dengan Galih Kaliki. Sekali membetot, merenggangkan, dan kemudian menyentak keras.

“Lepas!”

Gendhuk Tri masih menduga bahwa tongkat akan dilepaskan Galih Kaliki. Karena tak mungkin Galih Kaliki bertahan dengan tetap memegangi, sebab ini berarti adu tenaga dan akan membahayakan Nyai Demang. Dugaan Gendhuk Tri berdasarkan perhitungan bahwa Galih Kaliki terlalu menyayangi Nyai Demang.

Justru dugaannya meleset!

Galih Kaliki tidak ingin melukai Nyai Demang, memang. Akan tetapi ia tak melepaskan tongkatnya begitu saja, justru karena menyadari tenaga Nyai Demang sangat besar. Bisa-bisa tongkat itu mengemplang kepala Jaghana yang gundul pelontos.

Galih Kaliki lebih suka tetap menahan.

Dan hatinya mencelos, ketika terisap tenaga keras hingga tubuhnya terlontar ke angkasa. Dan masih ngotot memegangi tongkat. Nyai Demang menggenjot tubuhnya melayang. Satu pukulan tangan kanan dilemparkan, sebelum menyentuh lawan ditarik kembali dan diganti dengan pukulan tangan kiri.

Buk!

Tubuh Galih Kaliki berdebuk di tanah.

Jaghana yang kini bisa berdiri tegak, berusaha melindungi. Akan tetapi untuk kedua kalinya, dengan serangan yang sama, Jaghana kena tendang. Kali ini Gendhuk Tri yang menerjang.

“Hati-hati, Gendhuk. Ini jurus Tiga Langkah Kresna.” Suara peringatan Wilanda terlambat.

Siku Nyai Demang mengenai ulu hati Gendhuk Tri yang langsung membuatnya melorot!

Nyai Demang berdiri garang! “Dengan sepenuh hati kalian belum tentu menang. Apalagi kalau separuh- separuh seperti ini.”

Dengan kaki terpincang-pincang, Jaghana menggulung kembali tubuhnya dan maju menerjang.

Aba-aba peringatan dari Wilanda membuatnya berhati-hati menghadapi Nyai Demang yang menjadi galak.

Tiga Langkah Kresna atau lebih lengkap disebut Tiga Langkah Kresna Menguasai Tiga Jagat, juga disebut tiwikrama. Kata ini lebih dikenal dari sebutan aslinya yaitu triwikrama atau tiga langkah.

Dalam pengertian dari kata-katanya memang bisa berarti tiga langkah. Langkah maju, mundur, dan maju lagi menggempur. Akan tetapi sesungguhnya artinya lebih besar dari itu. Tiwikrama bukan hanya berarti tiga langkah, akan tetapi tiga langkah Kresna. Tokoh pewayangan titisan Dewa Wisnu yang ketika tiwikrama tubuhnya berubah menjadi raksasa, yang kalau berbaring sanggup membendung Kali Brantas. Digambarkan mempunyai kepala sepuluh yang siap menerkam.

Tiwikrama sebenarnya tak bisa disebut jurus, karena ini hanya bertumpu kepada pengaturan tenaga dalam. Tiwikrama baru bisa memberikan tenaga bila digabungkan dengan jurus lain. Konon, jurus yang sering digabungkan adalah jurus garuda, sehingga menjadi Garuda Tiwikrama, yang pernah dipakai oleh Raja Airlangga dalam menaklukkan tokoh misteri Mbok Randa Dirah.

Akan tetapi selama ini Jaghana tak pernah mendengar lagi latihan pernapasan Tiwikrama. Hanya Eyang Sepuh pernah menyebut-nyebut sebagai cara berlatih napas yang unggul. Akan tetapi juga berbahaya, karena pengaturan napasnya bertentangan dengan irama yang wajar. Tidak dimulai dengan menarik napas, akan tetapi dengan mengembuskan napas lebih dulu.

Menurut penuturan Eyang Sepuh, latihan pernapasan Tiwikrama sudah lama ditinggalkan para ksatria karena banyak mengandung pertentangan di dalam otot dan urat tubuh.

Agak mencengangkan juga bahwa Nyai Demang secara tiba-tiba memakai pengerahan tenaga dalam Tiwikrama. Dan memainkan secara murni dengan tiga langkah serangan. Tanpa digabungkan dengan jurus yang lain. Hanya karena dasar-dasar tenaga dalam Nyai Demang tak terlalu istimewa, pelipatan tenaga dalam tidak menjadi serangan maut. Karena kalau benar begitu, Galih Kaliki maupun Gendhuk Tri pasti tak sempat merintih.

Peringatan Wilanda membuat Jaghana sangat berhati-hati.

“Aku mendengar suara-suara bahwa disebut nama-nama Nambi, Sora, Lawe, Kuti, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, Yuyu, dan entah siapa lagi. Dengan mata tertutup pun aku bisa memilih salah seorang di antara mereka. Atau yang lain sama sekali.

“Mereka adalah rakyat jelata. Yang tadinya hanya bisa membalik tanah menjadi sawah. Akulah yang mengangkat mereka dengan derajat dan pangkat. Memberikan kehormatan yang seumur hidup mereka tak pernah diperoleh.

“Mereka hanyalah cemeng dan bukan gogor.

“Sejak lahir sebagai cemeng besarnya tetap akan menjadi kucing. Sakti seperti apa pun, tetap seekor kucing. Tak akan bisa menjadi harimau. Hanya gogor yang bisa menjadi harimau.

“Akulah dulu gogor, anak harimau yang tetap tak bisa menjadi kucing. Inilah bedanya antara seorang raja dan bukan raja. Kelak kalian inilah yang akan melahirkan gogor, yang akan meneruskan takhta dan kebesaran Keraton ini. Bukan para senopati.”

Baginda menghela napas.

“Bagaimana pendapatmu, Tribhuana?”

“Segala apa yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Kamu yang mengerti tentang tata Keraton tentu lebih mengerti bahwa seorang raja tidak perlu menanyai permaisurinya untuk masalah seperti ini.

“Tetapi aku bisa melakukan. “Mahadewi, apa pendapatmu?”

“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.” “Seekor anak kucing tetap berbeda dan tak akan menjadi anak harimau. Takdir dari Dewa yang Maha Penentu sejak dulu sudah membedakan itu.

“Bagaimana pendapatmu, Jayendradewi?” “Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Siapa yang pantas menjadi mahapatih menurut pendapatmu, Gayatri?”

Gayatri menghaturkan sembah, seperti kakak-kakaknya, sebelum menjawab pertanyaan Baginda.

“Segala yang Baginda katakan, menjadi benar adanya.” Sejenak Baginda terdiam.

“Apa maksudmu?” Gayatri menyembah lagi.

“Seperti hamba haturkan, segala yang Baginda katakan atau isyaratkan, menjadi benar adanya.” Baginda tersenyum.

“Gayatri, kamu ini selalu menjadi lain. Putri Singasari yang paling jelita, tetapi juga paling keras kepala. Entah kenapa aku justru menyayangimu— seperti aku menyayangi yang lain.

“Aku sudah mendengar semua laporan perjalanan ke Perguruan Awan. Sampai ke hal yang sekecil-kecilnya.

“Kenapa kamu katakan segala apa yang aku katakan akan menjadi benar?

Kenapa tidak kaukatakan bahwa yang aku katakan memang benar adanya?” Gayatri menunduk.

Makin menunduk.

“Kalau Baginda sumber kebenaran, segala apa akan menjadi benar.” “Ah, kamu pun menyangsikan.” Gayatri menyembah.

“Sama sekali tidak mungkin, Baginda.” Baginda memandang Permaisuri Indreswari. “Apa yang akan kaukatakan, Indreswari?” “Baginda, hamba menunggu dawuh Baginda.”

“Kamu benar, Indreswari. Meskipun secara resmi kamu telah menjadi permaisuri utama, hari ini aku bersabda, bahwa putramu kelak yang menjadi putra mahkota. Putusan ini berlaku sampai aku mencabut kembali.

“Halayudha, catat semua ini.”

Senopati Halayudha, yang berada di luar ruangan, menyembah hormat.

Lalu Baginda Raja melambaikan tangannya. Kembali ke peraduannya. Kelima permaisuri melakukan sembah hormat, lalu berjongkok keluar dari ruangan. Tanpa suara, seakan kesepuluh kaki berkain itu tak menginjak lantai.

“Halayudha!”

Yang dipanggil segera menghadap dengan berjongkok, melakukan sembah, dan menunggu.

“Kamu selalu tahu apa yang terjadi di ruang ini. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Siapa di antara senopatiku yang pantas menduduki kursi mahapatih?”

Halayudha menyembah lagi. Tubuhnya makin dalam membungkuk.

“Kalau hamba seratus kali lebih pintar, tetap tak akan bisa menjawab pertanyaan Baginda. Anak kucing kecil tak akan bisa menilai anak kucing yang lain.”

“Bagaimana kalau Nambi?” Halayudha menyembah hormat.

“Tiada putusan yang lebih tepat dari yang Baginda katakan.” “Apa alasanmu?”

“Pertama, Mpu Nambi sangat setia kepada Baginda. Kedua, jasanya di saat peperangan tak diragukan lagi. Ketiga, Mpu Nambi adalah senopati yang juga memimpin prajurit telik sandi. Keempat, rasanya tidak ada yang bisa menandingi Mpu Nambi dalam melaksanakan kehendak Baginda. Kelima, Baginda telah mengatakan sendiri. Sabda seorang raja adalah rahmat dan anugerah. Keenam…”

“Jarang aku menemui seseorang yang begitu tulus memuji orang lain.” “Sesungguhnya hamba hanya mengatakan apa adanya, Baginda. Sama sekali

jauh dari keinginan memuji yang memang tidak hamba miliki.”

“Baik kalau begitu. Segera umumkan pasewakan agung. Aku tak ingin hal ini tertunda lebih lama.”

“Dua hari lagi adalah hari yang sangat baik, karena saat itu bulan purnama, saat Baginda dilahirkan untuk memimpin Keraton yang makin agung ini.”

“Baik kalau begitu.

“Ada yang mau kamu katakan?”

Halayudha seperti mau mencium lantai ketika menghaturkan sembah.

“Duh, Baginda Raja sesembahan semua makhluk hidup di sepanjang lautan hingga ke puncak gunung, hamba hanya ingin menghaturkan bahwa Nyai Demang telah datang.”

Baginda Raja mengangguk pelan.

Itu merupakan isyarat bagi Halayudha untuk menyembah lagi, dan merasa kalimatnya berkenan.

“Nyai Demang bisa nembang kidungan dengan sangat baik, Baginda. Itu yang pertama. Yang kedua, Nyai Demang tak mungkin dipercaya jika mengatakan bahwa ia dipanggil menghadap Baginda.”

“Kamu pintar, Halayudha.” “Mudah-mudahan pujian Baginda diperkenankan Dewa Agung sekuku hitamnya.”

Baginda menarik napas.

“Soal kidungan Kitab Bumi tak peduli. Tapi aku ingin tahu wanita seperti apa Nyai Demang itu. Apa benar seperti yang diceritakan orang selama ini.”

Nyai Demang di Kamar Peraduan

HALAYUDHA menyembah sekali lalu mundur dengan tetap jalan berjongkok. Tak lama kemudian pintu terbuka kembali.

Baginda Raja melihat sesosok bayangan yang masuk, diiringi oleh Halayudha. Dalam hati Baginda memuji cara kerja Halayudha yang sangat rapi. Ternyata

Nyai Demang telah berada di sekitar Keraton. Di depan pintu peraduan. Tanpa

menimbulkan kecurigaan, karena diberi pakaian seperti prajurit lelaki. Rambut Nyai Demang yang ikal dan lebat baru kelihatan ketika ikat kepala dibuka. Dadanya yang montok tertutup kemben yang padat, memperlihatkan kemontokan yang terjaga dan terawat.

Sekilas Baginda bisa mengetahui bahwa tubuh Nyai Demang memang sangat sempurna, dan sekaligus menggoda. Sebagai seorang yang banyak mengenal wanita, Baginda tak bisa menutupi kekagumannya. Bahkan sampai tidak tahu Halayudha sudah menyembah dan berlalu.

Nyai Demang menyembah sekali, lalu berdiri.

“Baginda tidak mengharapkan saya akan menunduk dan berlutut di kaki Baginda dan kemudian diperkenankan memijati kaki sambil membersihkan kuku. Atau wanita seperti itu yang Baginda harapkan?”

Baginda tersenyum lebar.

Setelah resmi menjadi raja, Baginda terpaksa muncul dalam berbagai penampilan yang resmi dan sangat ketat dengan tata upacara. Bahkan menghadapi permaisurinya sendiri, rasa hormat itu tak berkurang sedikit pun.

Sekali ini lain! Sekali ini ada seorang wanita yang begitu menyembah, langsung berdiri menantang.

Bukan sembarang wanita. Tapi Nyai Demang.

Yang seluruh tubuhnya penuh, padat, dan berisi. Baru sekarang Baginda memperhatikan bahwa sesungguhnya Nyai Demang sangat menawan, kalau dihubungkan dengan asmara badani. Mulai dari bentuk alisnya yang lebat, matanya yang galak, hidung melengkung ke depan dan mendenguskan berahi, serta terutama sekali sunggingan bibirnya seakan menunjukkan bahwa bibir itu tahu segalanya.

Nyai Demang bukan hanya menyadari kelebihan tubuhnya, akan tetapi juga menunjukkan mengetahui bagaimana mempergunakan kelebihan ini!

Caranya berdiri menantang menunjukkan itu.

Walau tubuhnya tertutup rapat oleh kain, akan tetapi jelas menunjukkan apa di balik yang ditutupi.

“Tidak, Nyai. Aku menyukai caramu.”

“Pasti sudah lama Baginda tidak bertemu wanita seperti saya. Yang berani menantang sorot mata Paduka. Yang berdiri di depan Baginda dengan kedua tangan terkembang. Malam ini Baginda akan menemukan kenyataan dari segala impian yang paling liar sekalipun.”

“Oho, kamu tahu apa yang dikehendaki seorang lelaki.” “Saya dibesarkan dan mengenal dunia dengan cara itu.”

“Apa benar yang dikatakan orang selama ini, bahwa Nyai Demang mampu membuat surga di langit muncul di bumi?”

“Baginda akan segera membuktikan sendiri.

“Malam ini kamar terkunci, tak akan ada yang mengganggu. Tak ada yang mengusik. Baginda bisa memuaskan seluruh hasrat badani secara tuntas.

“Demikian juga saya.”

“Aha, kamu ingin mengelap keringat Raja junjunganmu?” “Di mana Baginda menghendaki? Di ranjang pelaminan, di lantai ini? Dengan cara apa Baginda minta dilayani? Apa yang ingin saya bersihkan? Keringat? Atau tulang sumsum?”

Baginda agak kaget mendengar ucapan Nyai Demang. Ini bukan liar. Ini kasar.

Nyai Demang tertawa.

“Baginda, malam ini saya ada alasan untuk membalas semua dendam yang ada.

Bersiaplah.”

Baginda meloncat dari ranjang.

“Ambil senjata trisula yang menjadi andalan. Akan saya buktikan apakah Baginda masih bisa bermain silat atau tenggelam dalam pelukan wanita dan makanan enak.”

“Nyai Demang, lancang mulutmu.” “Akan lebih lancang lagi tanganku ini.

“Ketahuilah, bahwa semua ini aku lakukan karena kamu terlalu menghina wanita. Baginda kira aku ini wanita macam apa sehingga bisa memerintahkan memanggil dan menyuruh melayani?

“Aku mengenal banyak lelaki, tetapi ini yang paling kasar. Yang tak punya perasaan sama sekali. Untuk ini aku akan mencekik batang leher Baginda di mana pun adanya!

“Yang kedua, pembalasan dendam karena Baginda telah menyebabkan Adimas Upasara Wulung, ksatria tulen yang berbakti pada Keraton, menjadi cacat seumur hidup. Untuk ini akan kubalas dengan membuat Baginda sama malu dan hinanya.

“Akan kuperlihatkan pada semua penduduk dengan menenteng Baginda dalam keadaan tanpa busana.

“Bersiaplah, Baginda. “Saya bisa melaksanakan lebih baik selama Baginda mencumbu. Akan tetapi saya tak ingin mengambil keuntungan dari cara seperti itu. Saya yang Baginda anggap wanita rendahan, masih mempunyai jiwa ksatria untuk menantang secara perwira.”

Baginda tak menduga, tak menyana.

“Kalaupun terjadi gedubrakan di ruangan ini, Halayudha tak akan masuk. Ia menduga kita berdua terlibat asmara badani.”

“Tunggu, aku belum lagi bicara.”

“Aku tak butuh kata-kata yang selalu dianggap benar.”

Nyai Demang meloncat tinggi, tangan kanan terjulur ke arah leher Baginda, yang segera menghindar. Meleset tangan kanan, tangan kiri ganti membetot ke arah bawah, disertai gerakan kedua seolah menyapit pinggang untuk dilipat habis.

Hebat gerakan Nyai Demang yang dibakar amarah.

Dengan membalikkan tubuh secara cepat, terlihat kegesitan yang masih unggul. Bahkan kain, yang kelihatan membelenggu, ternyata tidak menghalangi gerakannya.

Tak ada jalan lain bagi Baginda selain meloncat mundur. Meloncati ranjang. Justru itu yang diharapkan Nyai Demang. Begitu lawan bergerak mundur, Nyai Demang meloncat ke tengah ranjang, menotol kakinya untuk setengah terbang. Di angkasa, kedua kaki Nyai Demang menendang wajah Baginda!

Hanya Nyai Demang yang bisa melakukan itu.

Hanya Nyai Demang yang tega berbuat dengan gerakan tendangan ke wajah rajanya!

Kalau tadi Baginda mengagumi kaki dan betis Nyai Demang, kini merasa kehormatannya seperti dibedaki dengan lumpur. Baginda menggerung keras. Dua tangan melindungi kepala, dan sekaligus menangkap kaki Nyai Demang. Satu kaki terbetot dan bisa dipuntir, tapi kaki yang lain, persis bagian tungkai, mengancam bibir Baginda.

Tak ada cara lain, selain melepaskan cekalan dan mundur lagi. Kesiuran kaki beberapa jari di depan wajah membuat Baginda jengah, marah, dan terhina!

“Inikah jurus Kemenangan Gemilang?”

Nyai Demang bukan saja berhasil memojokkan Baginda yang berdiri di lantai sementara Nyai Demang sendiri bertolak pinggang di atas ranjang. Tetapi juga memojokkan Baginda dengan kata-kata hinaan.

Apa yang dikatakan Nyai Demang tentang jurus Kemenangan Gemilang adalah unsur rajasa, yang artinya mengubah suasana gelap menjadi terang-benderang akibat kemenangan yang gemilang. Seperti diketahui unsur rajasa ini sekaligus menjadi nama gelar Baginda sewaktu dinobatkan menjadi raja.

“Mana lagi, ayo tunjukkan padaku Kemenangan Lahir-Batin yang kauandalkan.”

Nyai Demang memancing dengan gerakan menyerang bagian bawah tubuh Baginda. Karena ia berada di atas ranjang, gerakan ini dengan sendirinya dibarengi dengan menjatuhkan dirinya. Baginda tak bisa mundur lebih jauh, terpaksa menangkis dengan kedua tangannya. Kalau mungkin meloncati tubuh Nyai Demang untuk bisa menyelamatkan diri.

Nyai Demang sangat cerdik memaksa Baginda mengeluarkan unsur kerta, yang berarti memperbaiki kehidupan, mengubah kekacauan menjadi ketertiban, yang dikatakan oleh Nyai Demang dengan sebutan Kemenangan Lahir-Batin.

Kehebatan Nyai Demang terutama sekali karena dengan sangat ringan bisa memaksa lawan mengeluarkan jurus-jurus seperti yang dikatakan.

Hal ini sebenarnya bukan karena Nyai Demang menguasai dengan sempurna jurus-jurus andalan dalam ilmu Kerta Rajasa Jaya Wardhana. Nyai Demang sebenarnya lebih menguasai secara teori. Dan itu memang kelebihannya yang sulit ditandingi. Karena kemampuannya menangkap bahasa dan daya ingatnya memang luar biasa.

Meleset dari cengkeraman, Nyai Demang malah tertawa gembira, tubuhnya bergulung di lantai, berputar, dan begitu kakinya menjejak dinding, tubuh itu meluncur di bawah ranjang, mencoba menangkap kaki Baginda.

“Mana Kemenangan Sempurna yang kamu andalkan?” Sekali lagi Baginda dipaksa untuk mengeluarkan unsur jaya, atau kemenangan dalam pertempuran. Karena diserang dari bawah, sekali lagi tubuhnya terpaksa melayang ke atas. Ini berarti masuk perangkap Nyai Demang. Jurus berikutnya sudah didikte dan disiapkan! Bahaya.

Aji Sirep Laron

PERANGKAP Nyai Demang sungguh maut!

Baginda bukannya tak mengetahui, tetapi tak bisa berbuat banyak selain memang melayang ke atas. Hanya saja unsur jaya biasa dimainkan memakai senjata trisula muka, alias tombak berujung tiga. Berarti kekuatan untuk menopang loncatan ke atas bertumpu pada tombak. Baginda agak kikuk karena justru tak memegang senjata andalannya. Kaki kiri yang dipakai untuk menjejak, hanya seperempat tenaga! Karena tiga perempat kekuatan dipinjam dari entakan trisula muka!

Dengan demikian loncatannya tak bisa tinggi.

Dengan begitu, Nyai Demang bisa memaksa jurus dari unsur wardhana, jurus yang paling lembut, karena berintikan kesejahteraan.

Saat itulah Nyai Demang siap untuk menghancurkan Baginda. Menangkap kaki, dan bisa menekuk. Dan selanjutnya, sejarah bisa menjadi lain sama sekali!

Seorang raja yang berkuasa dipecundangi Nyai Demang dalam kamar peraduan.

Nyai Demang sudah lama mempersiapkan balas dendam ini.

Ia tidak mengikuti secara urut kejadian di Perguruan Awan. Ia hanya mengetahui bahwa Upasara Wulung telah menjadi cacat seumur hidup. Apa pun alasan dan sebabnya, Nyai Demang hanya bisa menunjukkan siapa yang paling bertanggung jawab atas semua ini. Yaitu Baginda Raja!

Berbeda dengan Gendhuk Tri yang bisa mencetuskan isi hatinya, Nyai Demang lebih suka memendam semua persoalan dalam hati. Apa yang dirasakan tenggelam di balik senyuman yang genit dan sikapnya yang seronok. Tetapi di balik segala yang badani itu, Nyai Demang justru memendam keinginan yang rumit. Kesempatan itu datang ketika utusan dari Majapahit yang bisa dipercaya menyampaikan undangan. Karena utusan itu memakai tanda pengenal Baginda dan memberikan, Nyai Demang percaya sepenuhnya. Lebih percaya lagi ketika ia menemui Halayudha yang juga mencarinya, mengatakan bahwa Baginda memang ingin bertemu dengan Nyai Demang secara pribadi.

“Barangkali Baginda ingin dikidungkan Kitab Bumi yang sekarang ada di Keraton, Nyai Demang yang rupawan.”

“Tanpa kamu katakan, aku tahu apa yang diinginkan lelaki yang ingin bertemu denganku.”

“Nyai Demang sangat benar. Baginda sangat mengagumi Nyai.” “Atur pertemuan itu.”

“Dengan segala senang hati, Nyai. Silakan beristirahat. Saya pribadi yang akan membawa berita dari Baginda.”

Selama menunggu, Nyai Demang membulatkan tekad agar tidak terpengaruh oleh kebesaran Baginda. Tekadnya membalas penghinaan dan membalas dendam pada Baginda yang telah menghancurkan Upasara.

Sedikit yang bisa mengetahui sifat Nyai Demang.

Selama ini hampir semua jago silat menilai Nyai Demang dengan satu alis mata terangkat dan cibiran bibir. Nyai Demang tak lebih dari seorang wanita yang rendah budinya. Ini yang membuat Nyai Demang gusar dan terbakar kehormatannya.

Bayangan begitu malu atas dirinya sendiri. Tak ada yang menghargai sedikit pun, bahwa ia bisa juga disejajarkan sebagai jago silat. Bisa dianggap sejajar dengan ksatria.

Tapi semua orang hanya memperhatikan dan menilai dari bentuk tubuhnya yang memang dirawat dengan telaten. Apa salahnya ia mempunyai tubuh yang indah dan merawatnya? Mengapa semua lelaki menganggapku hanya sebagai pemuas nafsu berahi belaka? Pertanyaan-pertanyaan bernada dendam ini membara di lubuk hati Nyai Demang, sejak suaminya, seorang demang, meninggal dunia dan ia mengembara. Satu-satunya lelaki yang tidak memperlakukannya begitu, hanyalah Upasara Wulung! Ksatria Pingitan itu mengagumi tubuh Nyai Demang, akan tetapi sifatnya sangat berbudi. Baik dalam tutur kata maupun perbuatannya. Bahkan Upasara-lah yang memanggil dengan sebutan hormat sebagai “Mbakyu Demang”.

Di sinilah harga diri Nyai Demang muncul kembali.

Maka, kalau satu-satunya lelaki yang berjiwa ksatria itu kemudian menjadi mayat hidup, dendamnya adalah dendam dari ujung rambut! Dan lelaki yang menjadi sasaran dendam itu adalah lelaki yang menghinanya dengan memanggil, seolah ia adalah wanita yang bisa diperlakukan seenaknya!

Bulat sudah keinginan Nyai Demang menggulung Baginda. Baginya tak peduli yang dihadapi adalah seorang raja!

Kini telah tiba saatnya. “Habis sekarang ini.”

Sebaliknya Baginda yang tengah melayang turun merasa bahwa kekuasaan dan kebesarannya tinggal beberapa kejap saja.

Sungguh tak masuk akal, tapi inilah yang akan terjadi.

Dalam keadaan murka, Baginda masih menyimpan kelebatan pikiran bahwa sebenarnya Halayudha yang sengaja melakukan ini. Biar bagaimanapun, Baginda tak bisa mempercayai siapa pun dalam Keraton ini.

Kalau ia menunjuk Halayudha karena selama ini hala, atau tingkat patih ini, menunjukkan pengabdian yang sempurna. Tahu apa yang diinginkan rajanya, dan bisa memberikan. Segala keinginan yang paling rahasia. Dan bisa tutup mulut.

Baginda merasa kecolongan! Tapi tidak.

Justru di saat yang menentukan, tubuh Baginda seperti menginjak barang mati.

Nyai Demang ternyata hanya bisa melotot. Tangannya terulur, akan tetapi tak ada tenaga untuk menangkap.

Baginda menelan ludahnya. Benar. Nyai Demang terbaring bagai sedang tidur. Hanya matanya yang terbuka. Ketika Baginda menutup mata itu, Nyai Demang benar-benar seperti tertidur.

Lelap. “Halayudha!”

Sebelum tarikan napas Baginda habis, Halayudha telah masuk, sigap, menyembah, dan menutup pintu peraduan.

“Hamba siap menerima hukuman, Baginda.”

“Bawa perempuan tak berharga ini. Mati dan hidupnya kuserahkan padamu.” “Sudilah Baginda memberi petunjuk.”

“Simpan di kamar tahanan. Bila tak ada yang mencari, kubur hidup-hidup.” Baginda masih terbakar oleh kemurkaan.

“Perintah Baginda adalah kebenaran.” “Tunggu…”

Tangan Halayudha yang sedang menyembah turun lagi. “Aji sirep apa yang kamu gunakan?”

Halayudha menyembah dengan hormat.

“Maaf, Baginda Raja. Ilmu hamba hanyalah pameran ketololan belaka. Sebenarnya hamba ingin menjajal Aji Sirep Laron. Namun hamba masih dalam taraf belajar dan otak hamba sesungguhnya tumpul.”

Baginda mengangguk.

Aji sirep adalah ilmu atau ajian yang membuat seseorang yang terkena ilmu tersebut menjadi sangat mengantuk dan kehilangan kesadaran. Ilmu ini dalam perkembangannya lebih digunakan para durjana atau penjahat kecil-kecilan jika ingin menggasak harta benda. Dengan menggunakan aji sirep, si pemilik rumah akan terlelap untuk sementara waktu, sementara penjahat menjalankan operasinya.

Tapi yang ditunjukkan Halayudha bukan sembarang aji sirep, melainkan Aji Sirep Laron. Atau Pelelap Laron. Yaitu aji sirep yang bisa dikendalikan seperti mengendalikan laron.

Laron adalah binatang malam yang selalu terbang mendekati sinar. Tak peduli cahaya itu api yang mematikan dirinya!

Nyatanya Halayudha sangat jitu memakai aji sirep tersebut pada Nyai Demang.

Yang berpengaruh pada saat yang menentukan!

Tidak mudah melatih dan menguasai Aji Sirep Laron. Akan tetapi ternyata bisa dipergunakan dengan sangat baik. Dan Halayudha tetap merendahkan diri sebagai “hamba tolol yang sedang belajar”.

Baginda Raja mengangguk.

“Aku berterima kasih. Kamu pantas mendapat hadiah.”

“Segala kemurahan Baginda, mudah-mudahan menambah kebesaran Keraton yang sedang dibangun kejayaannya.”

Begitu Baginda mengibaskan tangan, Halayudha tahu itu saat untuk berlalu. Satu tangan mengempit Nyai Demang, Halayudha tetap bisa berjalan sambil jongkok meninggalkan kamar.

Baginda masih termenung sendirian.

Boleh juga abdiku yang satu ini, kata Baginda dalam hati. Kesetiaan dan pengabdiannya besar. Bisa dipercaya. Kalau tidak ada Aji Sirep Laron, entah apa jadinya negara ini.

Ilmunya juga cukup tinggi.

Hmmm, kenapa selama ini aku kurang memperhatikan dan hanya menganggap sebagai hala yang setia? Aku bisa memberikan sesuatu yang lebih dari yang diduduki sekarang. Abdi semacam ini yang kuperlukan sekarang ini. Apalagi pada saat-saat ada pergolakan, di mana pembangkang dan bukan pembangkang bisa berpakaian sama.

Baginda menutup lamunannya.

Malam itu Baginda pergi tidur tanpa penerangan.

Kurungan di Bawah Keraton Nyai Demang tersadar.

Sadar bahwa ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Tak ada rantai yang mengikat, tak ada tali yang menjerat. Akan tetapi ia tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

Segera ingatannya kembali dengan cepat.

Nyai Demang mengerti bahwa Aji Sirep Laron yang mengenai tubuhnya telah berkurang pengaruhnya. Akan tetapi begitu ia mencoba menggerakkan diri, pengaruh itu muncul kembali. Apalagi kalau ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya.

Apalagi setiap kali Halayudha menjenguk dan mengusap tubuhnya.

Memasukkan pengaruh aji sirep!

Itulah yang terjadi sebelum ia memasuki kamar peraduan Baginda. Hanya karena saat itu tenaganya masih banyak dan bisa diatur, tak sampai menimbulkan bencana di saat melangkah masuk.

Nyai Demang merasa menemukan lawan yang sangat licik, culas, yang terbalut dalam senyum pengabdian.

“Maafkan aku, Nyai Demang. Aku hanya menjalankan titah Baginda. Kalau nanti Baginda longgar hatinya, aku bisa membicarakan pengampunan bagimu.”

“Tutup mulutmu yang bau, manusia licik.” Halayudha menghela napas.

“Manusia seperti aku adalah manusia yang paling pantas dicaci maki. Paling masuk akal dituduh menjilat pantat Baginda, membasuh telapak kaki Baginda dan meminum airnya. “Mungkin aku lebih hina dari itu, Nyai.

“Tetapi sesungguhnya aku juga memiliki nurani. Nurani untuk mengenai kebaikan budimu. Aku tak akan melupakannya, sampai tulang-tulangku jadi abu.”

“Siapa mau mendengarkan ocehanmu?”

“Cacilah apa saja. Mungkin belum menggambarkan kehinaanku yang sebenarnya.

“Nyai, mintalah apa saja. Asal jangan pergi dari kurungan bawah tanah ini, sebelum Baginda Raja memberi izin.”

Nyai Demang meludah.

“Bagaimana aku bisa meminta suatu apa, kalau kamu selalu datang untuk mempraktekkan ilmu sirep celaka ini?”

Halayudha menekur. Mulutnya berkomat-kamit, dan mendadak tangannya bergerak mengusap wajah Nyai Demang.

Nyai Demang meloncat mundur. Dan bisa.

“Maaf, Nyai. Aku terpaksa menyirepmu, karena ini semua demi keselamatanmu sendiri. Kalau kamu ingin bebas, sekarang saatnya. Bahkan kalau kamu ingin mencelakaiku, sekarang pula bisa kaulakukan.”

Nyai Demang menegakkan punggungnya yang terasa kaku. “Omongan busuk apa lagi yang kamu pamerkan ini?”

“Aku mengatakan apa adanya.