Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 17

Jilid 17

“Apa benar bahwa kunci untuk keluar dari lorong ini ada di dalam pembukaan Kitab Penolak Bumi?”

“Ya.”

“Di bagian mana?” “Pada pembukaan.”

“Aku tahu pada bagian pembukaan. Akan tetapi bagian yang mana?”

Nyai Demang yang memang belum mengetahui, hanya mengulang jawaban. “Dengar baik-baik. Saat ini aku bisa membunuhmu. Semudah menggaruk

lutut. Mengerti?”

“Mengerti.”

“Dan aku akan membunuhmu, karena kamu telah menjadi bahaya. Aku akan memusnahkan semua ilmu yang kamu miliki. Mengerti?”

“Mengerti.” “Harus mau.” “Ya.”

“Kidungkan bagian pembukaan secara lengkap.”

Nyai Demang duduk bersila. Suaranya mengalun merdu:

Tiada niat

tiada ambisi, tiada minat sebab itu tak ada jangan memakai akal pikiran itu menyesatkan

jangan memakai akal budi itu jalan buntu

kunci dari kunci adalah laku

laku itu buat niat

buat minat, bukan akal bukan pikiran

bukan kunci laku itu laku laku

laku adalah pembuka kitab penolak bumi

sebab laku yang membuat garuda kalah melawan prenjak, harimau kalah dengan menjangan, singa kalah melawan kancil, matahari kalah melawan rembulan’ kucing kalah melawan tikus, anjing kalah dengan kancil, ular kalah dengan kodok laku itu melawan, laku itu tiada dibuka dengan laku, itu kitab ini…

Halayudha menggelengkan kepalanya

“Bagaimana cara memahami lorong ini dengan kidungan macam itu?” “Garuda kalah melawan prenjak, harimau kalah.,.”

“Cukup,

“Nyai Demang, apa boleh buat. Kita berpisah sekarang. Kalau takdir menentukan lain, kita akan bertemu lagi. Karena saya akan sangat sibuk, saya tak bisa menengok kamu lagi

“Selamat tinggal, Nyai.”

Halayudha mengusap Nyai Demang, Bukan untuk membebaskan, akan tetapi untuk menambah pengaruh sirepnya. Kemudian dengan langkah pasti meninggalkan Nyai Demang,

Tinggal Nyai Demang bersila sendirian

Seluruh pikirannya kacau, Bolak-balik, antara mimpi dan mengigau, Antara sadar dan tidak, Nyai Demang melihat Dewa Maut muncul, mendekatinya,

Nyai Demang berusaha berteriak, akan tetapi Dewa Maut seperti tak bisa mendengar

“Kamu kenapa bersila di situ?

“Aku sudah ambilkan makanan Raja. Ini dia.” Nyai Demang hanya menatap kosong,

“Nyai, kamu ngambek? Marah padaku?” Dewa Maut menggelengkan kepalanya “Baiklah, aku katakan saja, Kamu toh sudah tahu bahwa garuda kalah melawan prenjak, adalah sepuluh langkah. Sedangkan macan dikalahkan menjangan adalah enam langkah, Lalu dua langkah, empat langkah, sebelas, tiga belas langkah, dan dua belas langkah, Lalu berulang dari awal lagi,

“Nah, apa lagi yang kau ingin saya ulangi?”

Perlahan Nyai Demang seperti tersadar Bahwa untuk menelusuri lorong- lorong itu dengan perhitungan berapa pecak atau berapa langkah sudah ada perhitungan sendiri jadi dalam melangkahi sama sekali tidak memedulikan lorong kiri atau kanan, maju atau mundur! 

Tetapi lebih kepada hitungan kidungan!

Nyai Demang menangkap sifat-sifat yang disebutkan Dewa Maut dan dengan mudah menghafalkan. Meskipun jumlah langkah itu tak ada dalam kidungan, akan tetapi mudah dimengerti Bahwa garuda dikalahkan prenjak adalah sepuluh langkah.

Nyai Demang berusaha bangkit, Namun malah kembali terguling

Ingin berteriak, akan tetapi tenggorokannya malah sakit, ingin membuka bibirnya, akan tetapi malah tertekan!

Dewa Maut memperhatikan Nyai Demang, Lama menunggu sebelum akhirnya mendudukkan

“Apa sebenarnya maumu?

“Kamu ingin aku membopongmu? Menyuapi?

“Nyai Demang, kamu harus tahu, Bahwa selama ini aku tak pernah memegang tubuh wanita, Aku justru merasa jijik, Kamu tahu kalau aku tak mau menolongmu,”

Dewa Maut segera pergi meninggalkan

Akan tetapi ketika kembali, posisi Nyai Demang sedikit pun tak berubah, “Hoho, apa sebenarnya maumu?

“Kenapa kamu begitu keras kepala seperti Tole?”

Pikiran waras Dewa Maut memang terganggu, Sejak sebelum ilmu racun dalam tubuhnya lenyap bersama tenaga dalamnya, Dewa Maut sudah dikenal paling aneh adatnya.

Namun meskipun demikian, Dewa Maut pada dasarnya manusia yang baik Apalagi saat-saat terakhir digembleng secara tidak langsung di Perguruan Awan, Selalu bersama-sama dengan Nyai Demang dan yang lainnya, Yang hidup saling menolong dan rukun.

Maka Dewa Maut mendudukkan Nyai Demang, Lalu berusaha menyuapi, Nyai Demang dipaksa membuka mulutnya, Akan tetapi makanan itu terhenti di bibir, “Kunyah.”

Pandangan Nyai Demang tetap kosong, “Kauminta aku yang mengunyahnya? “Nyai, aku tak bisa memegang tubuh wanita, Apalagi mengunyahkan

makanan,”

Dewa Maut segera pergi meninggalkan

Akan tetapi ketika kembali, Nyai Demang tetap di tempatnya.

Walaupun kurang waras, pikiran Dewa Maut masih bisa berjalan dengan normal kalau berhubungan dengan ilmu silat. Meskipun tenaga dalamnya sudah hilang, pengetahuannya tidak surut karenanya

“Jangan-jangan jalan darahmu kena totok,”

Dewa Maut membulatkan hatinya untuk meraba nadi Nyai Demang di kedua tangan dan kaki, Tentu saja aliran darah Nyai Demang tetap normal.

Laku, Bukan ilmu

Dewa Maut menggelengkan kepalanya “Kamu kena aji sirep?” Dewa Maut bisa mengerti tentang aji sirep justru karena Gendhuk Tri yang dianggap sebagai Tole-nya pernah terkena aji sirep Pu’un yang berasal dari Banten,

“Pasti, Tapi bagaimana caranya mengatasi?”

Selama Dewa Maut sibuk, Nyai Demang bisa melihat, bisa mengetahui Hanya saja reaksinya yang tak bisa dikuasai sepenuhnya. Justru di saat ingin menggerakkan tangan, Jadinya malah kaku.

“Wah, bagaimana obatnya, Nyai?

“Aku tak bisa. Kenapa kamu tak mencoba sendiri? Kamu kan hafal Kitab Penolak Bumi, Namanya saja sudah tumbal, berarti itu jurus yang serba penolakan, Apa saja ditolak lebih dulu. Termasuk… hehe, termasuk apa ya?

“Kamu mulai saja, Nyai “Mulai dengan tiada.,.”

Nyai Demang mulai memusatkan pikirannya Mengikuti petunjuk yang terdengar di telinga, Akan tetapi hasilnya sama lagi. Begitu mencoba memusatkan perhatian, Jadinya malah mengantuk Nyai Demang memaksakan dirinya.

“Lho, kok malah mendengkur?”

Dewa Maut menggaruk-garuk kepalanya. Sehingga rambutnya yang putih rontok. Beberapa kali menggoyangkan tubuh Nyai Demang, ternyata tak ada gunanya,

“Celaka kalau kamu mati di sini, aku bisa disalahkan Tole, Aku yang akan dituduh menjadi pembunuh, Ayo, sembuh… sembuh.,.”

Dalam bingungnya Dewa Maut menggoyangkan tubuh Nyai Demang, Merangkul, membuka mata Nyai Demang.

“Ya sudah, kalau kamu pilih mati! “Itu maumu sendiri.” Antara sadar dan samar, Nyai Demang mendengar suara Dewa Maut. Rasanya yang dikatakan Dewa Maut benar. Daripada menyusahkan diri, kenapa tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kantuk yang bergulung menyeretnya? Kenapa harus memikirkan garuda dikalahkan burung prenjak dalam sepuluh langkah?

Kenapa menyiksa diri?

Antara sadar dan tidak, Nyai Demang menyerahkan diri kepada seretan tenaga yang mengisapnya, Muncul dan lenyap bayangan Baginda Raja, Halayudha, Upasara, Gendhuk Tri, Jaghana, Dewa Maut, suaminya yang dulu, Upasara lagi, peperangan, Gayatri, Halayudha, dan kidungannya yang belum selesai

Nyai Demang melanjutkan dalam hati:

…laku itu bukan ilmu sebab ilmu itu keliru laku itu bukan rasa sebab rasa itu buta

pikiran tak menyelesaikan perasaan tak mendamaikan

laku itu

bukan ini bukan itu itulah laku…

Nyai Demang merasa makin dalam terseret ke pusaran yang tak dikuasai sedikit pun. Tak tahu bahwa Dewa Maut makin kencang memeluknya, makin Sering membuka matanya, dan makin kebingungan. “Celaka, kalau mati begini, bagaimana cara menguburnya? “Kenapa tidak di luar saja?

“Bagaimana mungkin aku menggendongmu ke luar?”

Berjingkrakan ke sana kemari, akhirnya Dewa Maut jadi lelah sendiri Akhirnya ia menunggui di dekat Nyai Demang, Sampai beberapa saat ia mendengar suara lirih.

“Ha, kamu hidup lagi, Nyai?”

Karena dalam gua begitu gelap, Dewa Maut tak tahu apakah suara itu berasal dari Nyai Demang atau yang lainnya, Lagi pula Dewa Maut tak bisa melihat wajah Nyai Demang,

“Kamu atau sukmamu yang barusan bicara?

“Dulu aku dijuluki Dewa Maut karena suka mencabut nyawa, Dalam setiap pertempuran, aku selalu membunuh orang, jadi kalaupun kamu sukma atau setan, aku tak takut “Nyai.,.”

Dewa Maut kaget karena lengannya dicekal “Jadi kamu benar-benar hidup?”

Terdengar helaan napas.

Telapak tangan Dewa Maut dicekal kencang. “Hei, jangan pegang-pegang seperti ini.” Terdengar lagi tarikan napas.

“Tiada keinginan, itulah keinginan.” “Bagian dari kitab mana lagi itu?” “Ayolah, Dewa Maut, bantu aku bersemadi Agar tenagaku pulih kembali.” “Kamu ini bagaimana? He, di mana wajahmu? Jangan-jangan aku bicara sambil menghadap pantatmu.

“Kamu bilang tiada keinginan, sekarang suruh membantu memulihkan tenaga.

Apa sebenarnya yang kamu harapkan?”

Nyai Demang menggenggam kedua tangan Dewa Maut. Perlahan mulai mengatur napas,

Tak ada jalan lain bagi Dewa Maut selain duduk bersila dan mengikuti alunan napas Nyai Demang yang naik-turun dengan teratur

Memang Dewa Maut tak bisa memahami sepenuhnya apa yang terjadi Bahkan Nyai Demang pun belum mau percaya!

Sewaktu mengikuti kidungan dalam hati, ketika itu terasa segalanya menjadi enteng. Nyai Demang mengikuti lirik dalam kidungan dengan sepenuh hati

Tak mengetahui bagaimana proses berikutnya, tahu-tahu bibirnya bisa terbuka dan mengeluarkan suara, pikirannya mulai jernih.

Pengaruh sirep mulai berkurang, akan tetapi dirasakan tenaganya masih belum bisa dikerahkan

Apa yang terjadi dalam dirinya setengah disadari, dan setengah lagi tidak Nyai Demang hanya merasa bahwa justru ketika ia mengikuti bunyi kidungan dengan segenap hatinya, apa yang dikidungkan benar adanya. Pada saat ia mengerahkan ilmu, ia justru kalah. Pada saat perasaannya tak bisa mengadakan perlawanan

Laku, ternyata bukan itu.

Seiring dengan pengertian yang perlahan merayapi, Nyai Demang jadi bisa pulih kembali

Sewaktu sinar mentari mulai terbias ke dalam lorong yang didiami, Nyai Demang dan Dewa Maut sudah selesai bersemadi

Dewa Maut bisa melihat bahwa cahaya mata Nyai Demang bersinar, “Kakang Dewa Maut…” “Aku ini Kakang?”

“Kitab Penolak Bumi sungguh kitab yang luar biasa. Aku tak tahu harus mengatakan bagaimana. Sekian puluh kali aku menghafalkan di luar kepala, akan tetapi rasanya baru sekarang ini aku bisa sedikit merasakan.”

“Merasakan apa?”

“Laku, itulah kuncinya, Tetapi juga bukan kunci Pantas saja selama ini tak ada yang bisa menguasai sempurna, Bahkan Adimas Upasara selalu menemukan jalan buntu dan kebosanan. Makin dipaksa makin tak kena.”

“He, apa yang kamu bicarakan?”

“Kakang harus mendengarkan. Mau atau tidak, Kakang harus menjalankan bila ingin waras.”

Dewa Maut meloncat, menjauh,

“Jadi selama ini kamu menganggap aku tidak waras?”

Nyai Demang seperti tidak memperhatikan Dewa Maut

“Sesungguhnya laku itu cara, laku itu usaha. Tetapi dalam usaha memahami Kitab Penolak Bumi caranya ialah dengan menolak ilmu, menolak akal pikiran, menolak rasa,

Karena dengan ilmu, dengan akal pikiran, bahkan dengan rasa, kita akan menemukan jalan buntu,

“Laku dalam memahami ajaran Kitab Penolak Bumi adalah laku.

“Kakang, masih ada kesempatan bagi Kakang. Masih ada kesempatan bagi Adimas Upasara. Mari segera kita tinggalkan tempat ini.”

Nyai Demang berdiri Tenaganya memang belum pulih benar, Akan tetapi pikirannya telah jernih kembali

“Tidak, kamu pergi sendiri” Nyai Demang menghela napas, “Kakang mau tetap di sini?” Dewa Maut mengangguk, “Baiklah kalau begitu,

“Selama ini kita berdua selalu di sini Banyak hal kita lakukan bersama” sama, Secara langsung dan tidak langsung, saya, Nyai Demang, berutang budi kepada Kakang. Saya berjanji tak akan melupakan jasa baik ini

“Maaf, Kakang, saya akan melanjutkan perjalanan sendiri” Benih Matahari

NYAI DEMANG tak membuang waktu sedikit pun.

Begitu selesai memberi hormat, segera ia meninggalkan tempat itu. Dari mana pun ia mulai melangkah, ia mulai berhitung bahwa langkah pertama adalah sepuluh pecak, di mana ada tikungan, tanpa memedulikan kiri dan kanan, langsung berbelok Enam pecak berikutnya, mengubah lagi Kalau kebetulan lorongnya masih lurus, Nyai Demang melanjutkan dengan dua pecak berikutnya, disusul dengan empat pecak, dan seterusnya.

Memang dalam kidung pembuka, langkah-langkah itu tidak dituliskan. Akan tetapi bagi yang bisa menangkap, hal itu sudah jelas, Dewa Maut pun bisa menandai bahwa “garuda dikalahkan prenjak” berarti sepuluh, Sedangkan “harimau dikalahkan menjangan” berarti enam,

Inti untuk memahami pembukaan itu bukanlah dengan pendekatan ilmu, bukan dipecahkan dengan akal Walau mungkin bisa didekati bahwa “garuda dikalahkan prenjak” lebih lama waktunya dibandingkan dengan “harimau dikalahkan prenjak”, sedemikian juga seterusnya. Namun perhitungan akal semacam ini Sering membuat bingung. Karena justru “matahari dikalahkan bulan” hanya berarti empat, sementara “ular dikalahkan katak” bisa berarti dua belas. Namun kini Nyai Demang tak mau mempersoalkan itu.

Ia menerima saja, Sebab inilah laku, Tidak dengan ilmu, tidak dengan pikiran.

Tidak juga dengan perasaan,

Setiap tujuh kali, Nyai Demang mengulang dari awal lagi. Kalaupun perasaannya mengatakan ia seperti kembali ke tempatnya semula, tak terlalu dihiraukan.

Hasilnya memang mengejutkan,

Dengan mudah Nyai Demang bisa muncul dari sumur di bagian dapur Keraton. Pantas saja Dewa Maut bisa dengan tenang mencuri makanan,

Keluar dari sumur, Nyai Demang menyelinap ke arah luar, Tak terlalu menarik perhatian karena Nyai Demang hafal jalannya dan Penampilannya tak terlalu berbeda.

Melewati pelataran utama, Nyai Demang berada di bagian luar Keraton. Bebaslah sudah.

Akan tetapi Nyai Demang justru menuju ke sitinggil atau bagian tanah yang lebih tinggi yang terletak beberapa ratus tombak dari Keraton, Sitinggil Keraton adalah bagian yang biasanya digunakan untuk mengadakan pertemuan atau latihan perang kecuali kalau berada di alun-alun, Di tempat inilah biasanya lebih ramai daripada di bangsal utama, di mana Baginda Raja mengadakan musyawarah dan menitahkan segala sesuatu.

Apa yang menarik Nyai Demang adalah bahwa di sitinggil terjadi pertemuan yang menyebabkan semua senopati Majapahit berkumpul.

Sekilas saja nampak Mpu Nambi, Mpu Sora, Mpu Renteng, bahkan Mpu Kuti dan Semi.

Kalau semua tokoh Majapahit berkumpul pasti ada sesuatu yang penting.

Nyai Demang mencoba mendesak maju, Cepat-cepat ia memalingkan wajah ketika Senopati Anabrang menyeruak masuk. Di tengah ruang sitinggil, ada pemandangan yang ganjil Semua senopati duduk bersila membentuk lingkaran, Menghadapi dua orang lelaki gagah yang menunduk Dua lelaki gagah inilah yang menjadi pusat perhatian Bukan karena pakaian yang dikenakan nampaknya begitu tebal dan membungkus sehingga menimbulkan kesan gerak Akan tetapi terutama karena kedua lelaki itu menguncir rambutnya ke belakang. Dan dua-duanya botak di tengah Bukan kotak sembarang botak, kalau dilihat bahwa rambut di sisi masih kelihatan lebat.

Nyai Demang cukup luas pengalamannya,

Ia pernah mendengar bahwa ada ksatria yang berpakaian rapat dengan rambut dikucir dan sebagian kepalanya dibotaki. Menurut yang diketahui, para ksatria ini berasal dari tlatah Jepun, suatu kerajaan yang lebih dekat dengan orang-orang Tartar, Nama besar mereka terdengar ke seantero jagat, karena para ksatria ini mempunyai ilmu silat yang kelewat tinggi Kemampuan ksatria Jepun ini terutama sekali memainkan pedang panjang, yang digenggam dengan dua tangan sekaligus,

Nyai Demang hanya mendengar kisah-kisah mengenai ksatria Jepun berpedang panjang, Baru sekarang ini bisa menyaksikan!

Sewaktu memperhatikan lebih teliti, Nyai Demang lebih yakin bahwa mereka berdua pasti dari Jepun, Karena ada sarung pedang yang panjang diletakkan di depan, Sedangkan sarung pedang yang pendek, nampak bergantung di pinggang,

Barangkali karena Senopati Anabrang juga memainkan dua pedang, maka ia dipanggil

Yang membuat Nyai Demang sedikit bertanya-tanya ialah bahwa sekarang yang kelihatan menjadi pimpinan dari semua senopati yang ada adalah Mpu Nambi, Bisa jadi Baginda sudah mengangkat mahapatih! Dan yang dipilih adalah Mpu Nambi.

“Kisanak, datangmu mengejutkan, membuat kami tak bisa menyambut dengan baik, Perkenalkan, saya Senopati Nambi yang bertanggung jawab atas keamanan dan ketenteraman, Boleh saya tahu maksud kedatangan Kisanak berdua?”

Dua lelaki di depannya mengangguk dengan hormat sangat dalam Caranya menekuk tubuh menunjukkan penghormatan, akan tetapi kedua tangan tetap berada di lutut,

“Maafkan kami, Mahapatih yang perkasa, “Dibilang tamu jauh, memang kami dari negeri matahari bersinar ke bumi. Kamilah yang berasal dari kelahiran matahari Akan tetapi sudah sejak lama kami berada di tanah India, tanah kelahiran Rama Wijaya, sebelum menetap lama di sekitar tanah Keraton ini.

“Perkenalkan, Mahapatih, saya dipanggil Kama Kalacakra, dan saudara saya ini Kama Kalandara.”

Kama Kalandara yang diperkenalkan membungkuk dengan suara tertahan di

perut.

Bagi telinga Nyai Demang, kedua nama itu menunjukkan pengertian yang aneh. Kama, bisa berarti benih lelaki Sangat jarang dipakai sebagai nama. Meskipun jelas itu bukan nama asli, agaknya si pemilih sengaja mengambil nama itu. Tanpa merasa risi Sedangkan Kalacakra maupun Kalandara mempunyai arti yang sama, yaitu matahari.

Bahwa mereka memilih nama yang diartikan sebagai “benih matahari” tak begitu menjadi soal. Akan tetapi kedua nama yang artinya sama, memang mengundang tanda tanya.

Dilihat dari caranya berbicara, Nyai Demang yakin bahwa kedua “benih matahari” sudah sangat mengenal cara berbahasa setempat.

“Kami adalah gelandangan yang tidak mempunyai rumah dan tempat untuk berteduh. Kami datang kemari untuk melihat kebesaran Keraton Majapahit, sekaligus ingin melihat apakah benar di sini disimpan Tumbal Bantala Parwa.”

Senopati Anabrang mengertakkan giginya.

“Kalau benar tersimpan di sini, apa maksud kalian? Kalau tidak tersimpan di sini, mau apa?”

Kama Kalacakra mendongak

Garis-garis di wajahnya memperlihatkan keteguhan sikap dan sekaligus kejantanan yang luar biasa.

“Kalau ada di sini, kami mau melihat apakah itu kitab pusaka kami. Kalau benar ya, kami mau membawa kembali Kalau tak ada, kami akan mencari.” Jawaban dan sekaligus tantangan

“Tunggu sebentar, Kisanak ” Suara Mpu Nambi tetap merendah nadanya. “Dari mana Kisanak mendengar kabar kami menyimpan kitab itu, dan bagaimana mungkin itu kitab milik Kisanak?”

Kama Kalacakra menggenggam pedangnya. Suaranya menjadi lebih keras.

“Panjang sekali ceritanya, Kami tak tahu apakah para senopati yang sibuk mempunyai waktu untuk mendengarkan.

“Kitab pusaka milik leluhur kami aslinya berasal dari negeri di mana sekarang ini dikuasai oleh pendekar Tartar. Dari sanalah mengembara para pendeta ke seluruh jagat untuk mengandalkan budi luhur, Di antaranya ada yang datang ke negeri kami, tanah di mana matahari bersinar pertama kali Kitab pusaka itu menjadi bentuknya yang sekarang karena jasa para leluhur kami, dan hanya keturunan Dewa Matahari yang boleh membaca atau mempelajari Ketika kitab pusaka itu hilang, kami semua mencari ke seluruh penjuru, Kami berdua berada di tanah Rama Wijaya, Sewaktu pasukan Tartar datang ke tanah ini, kami mendengar bahwa di sini juga ada kitab pusaka yang mirip dengan kitab pusaka kami.

“Itulah sebabnya kami datang kemari Karena tidak tahu kepada siapa bertanya, kami telah lancang datang ke Keraton

“Sebelum ini kami telah menjelajah ke seluruh wilayah, dan datang ke Perguruan Awan Karena menurut cerita di sana ada seorang tokoh yang dipanggil sebagai Eyang Sepuh yang mengajarkan ilmu Tepukan Satu Tangan Dari namanya saja sudah jelas itulah ilmu utama kami, Menurut cerita juga, ilmu itu diperoleh dari Kitab Bumi, yang salah satu bagiannya bernama Kitab Penolak Bumi, Karena kitab itu berada di sini, kami ingin melihatnya.”

Mpu Nambi menganggukkan kepalanya,

“Tak salah Kisanak datang kemari Kalau mencari Kitab Bumi, memang ada di sini, Akan tetapi karena itu kitab pusaka kami, Kisanak tak bisa sembarangan melihatnya.”

“Kami telah siap menghadapi segala risiko yang menghalangi terwujudnya keinginan kami.” Di Mana Klikamuka SUASANA menjadi tegang.

Kama Kalacakra sudah mengeluarkan tantangan secara terbuka. Kama Kalandara yang sejak tadi berdiam diri, sudah mempersiapkan diri

Mpu Sora berdehem kecil

“Kisanak, segala apa yang masih bisa dibicarakan, sebaiknyalah kita rembuk bersama,

“Kami yang berada di sini, bukanlah pencuri yang menyimpan milik orang lain itu suatu kehinaan besar, Saya kira di mana pun, seorang ksatria adalah ksatria juga jiwanya, Tak peduli di tlatah yang mengaku terbitnya matahari, atau di tanah di mana matahari bersinar sempurna.”

Mpu Sora tak mau kalah gertak,

Juga dalam menyusun kalimat Dengan mengatakan negerinya adalah “negeri di mana matahari bersinar secara sempurna”, Mpu Sora meninggikan derajat tanah kelahirannya.

“Apa yang Kisanak katakan sangat tepat. Tetapi kami tak bakal mundur karena pembicaraan sepanjang hidup kami ini, kami berdua telah menjelajah ke seluruh wilayah yang bisa didatangi.”

“Maaf, kami tak meragukan hal itu.

“Tapi kami meragukan bahwa Kitab Bumi, milik leluhur kami, adalah kitab pusaka Kisanak, Kama Kalacakra!

“Dari segi bahasa dan kidungan jelas berbeda, Bagaimana mungkin Kisanak merasa lebih berhak?”

“Semua akan jelas, jika kami telah membaca.” Mpu Sora mengeluarkan suara dingin. “Saya mendengar nama besar ksatria Jepun. Tetapi agaknya itu hanya nama gertakan belaka.”

“Kita buktikan sekarang juga.”

“Saya tak mau mengambil keuntungan, karena Kisanak hanya datang berdua. Kami tidak mencari lawan, akan tetapi kalau Kisanak ingin mengganggu kehormatan kami, alun-alun itu tempat yang longgar.”

Kama Kalacakra membungkuk.

Sebat sekali bergerak Meraih pedang panjang dan berjalan sangat cepat namun enteng sekali Bersamaan dengan Kama Kalandara.

Bagi yang lainnya, tindakan Mpu Sora seperti gegabah, Akan tetapi Mpu Sora sebenarnya sedang menebak-nebak, apakah mereka berdua ini bukan Klikamuka?

Dilihat dari kesigapan sangat mungkin sekali Dan mereka datang berdua. Yang satu selalu diam, yang lain berbicara.

Mpu Sora memberi hormat kepada Mpu Nambi dan segera menuju alun-alun Senopati Anabrang segera menyusul Akan tetapi Mpu Semi lebih dulu berada di lapangan.

“Ambil senjatamu, Senopati.” Mpu Sora menggeleng.

“Selama tangan masih bisa dipakai, untuk apa meminjam senjata?” Kama Kalacakra mengertakkan gerahamnya.

“Maaf, saya melawan satu orang atau sepuluh orang, melawan yang bersenjata atau tidak, sama saja, jadi jangan salahkan kalau saya tak bisa menghadapi dengan tangan kosong.”

“Silakan.”

Bagi Nyai Demang ini tontonan yang menarik Akan tetapi hati kecilnya merasa was-was juga, Bukan karena meragukan kemampuan Mpu Sora, akan tetapi ksatria Jepun ini memperlihatkan keteguhan yang luar biasa, Bahwa mereka hanya berdua berani menyatroni Keraton secara langsung, itu saja sudah menunjukkan kepercayaan diri yang besar. Yang secara perhitungan, dilandasi oleh kemampuan mengukur kekuatan

Sementara Senopati Semi meraih tombak untuk menghadapi Kama Kalandara. Mereka sudah berhadapan.

Kama Kalacakra nampak berdiri teguh. Dengan satu kali gerakan kilat, pedang panjangnya lepas dari sarungnya. Dipegang dengan tangan kanan, bagian yang tajam menghadap ke wajahnya sendiri Pandangannya lurus ke depan.

Mpu Sora seperti tak menyangka bahwa lawan sudah mengambil ancang- ancang menyerang pada jarak yang masih begitu jauh.

Namun Mpu Sora segera juga mengambil posisi Kedua kakinya menekuk, kedua tangannya bersiap dengan jari-jari mengembang.

Alun-alun menjadi sunyi Napas pun tertahan Agak lama,

Mendadak kemudian berubah, Didahului dengan teriakan keras, Kalacakra menerjang maju. Berlari cepat sekali, menyerbu secara lurus dan langsung ke arah Mpu Sora, Pedangnya yang panjang mendadak berkelebat, memotong tubuh Mpu Sora dalam beberapa bagian.

Sederhana gerakannya, Karena bisa dilihat dengan jelas arah dan sasarannya, Namun gerakan Kalacakra mengandung tenaga yang kental dan liat Sabetan pedang panjang seperti menutup ke seluruh bagian.

Kaki Mpu Sora menotol, tubuhnya dibuang ke samping. Tidak ke atas, karena pedang panjang berkilat itu seperti menguasai bagian atas. Dengan memutar ke arah samping, Mpu Sora mencoba masuk dari sela-sela sabetan pedang panjang. Berusaha menanamkan sengatan lebah berbisa.

Hatinya sempat berdesir merasakan kesiuran angin yang ganas. Lolos dari serangan pertama, Kalacakra berbalik dengan gerakan patah dan dengan segera menyabetkan pedangnya. Pedang itu menoreh langit ke kiri, ke kanan, ke kiri, ke kanan, dalam satu gerakan Seakan pedang yang panjang dan berat itu seperti ranting kecil yang bisa dimainkan secara leluasa, Pergelangan tangan Kalacakra sangat luwes dan sempurna.

Mpu Sora tak menahan rasa kagumnya,

Tapi ia bukan sembarang senopati Kali ini pun telah menyiapkan diri dengan sempurna, Dalam beberapa kejap, Mpu Sora mengeluarkan semua simpanannya. ilmu Bramana atau jurus-jurus Lebah mengalir dengan cepat. Diiringi suara berdesing, Mpu Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya, disusul dengan Bramara Bekasakan, lalu Bramara Braja,

Mengagumkan.

Mpu Renteng memuji kehebatan jurus Lebah yang kini dipertunjukkan lebih leluasa dan sempurna, Tidak seperti ketika menghadapi Klikamuka, Desingan suara dari bibir Mpu Sora, ditambah dengan gerakan menyengat yang datang dan pergi sangat berlawanan dengan gerakan Kalacakra yang serba patah,

Akan tetapi, Mpu Renteng menyadari bahwa perlahan tapi pasti, tekanan Kalacakra semakin berat Ruang gerak Mpu Sora semakin sempit Sementara kemungkinan sengatannya yang diandalkan makin tipis mengenai Kalacakra yang justru menjadi lebih ganas.

Apa yang dialami Senopati Semi kurang-lebih sama, walau cara perlawanannya berbeda.

Sewaktu Kalandara menyerang, Semi menghadapi langsung. Bahkan boleh dikatakan lebih dulu menggebrak Tombaknya menyodok, kena ditangkis pedang panjang, hingga berputar. Dengan jitu Semi memindah tempat pada pegangan tangan. Tombak tidak lepas, bisa dipergunakan dan tetap mengancam. Akan tetapi empat- lima kali benturan, Semi merasa tangannya tergetar, Dan makin lama makin terasa di pergelangan, merambat ke arah siku!

Hebat pengaruh tenaga Kalandara. Semi tidak lagi terus-menerus menggempur untuk adu tenaga. Akan tetapi justru dengan begitu, Kalandara seperti menemukan kesempatan untuk terus mendesak

Kalau Kalandara bermain dari jarak jauh masih bisa berloncatan menghindar, sebaliknya Semi dipaksa untuk adu tenaga, kalau tidak ingin dibelah tubuhnya.

Bahwa kedua Kama bisa segera menyenangkan pertarungan, itu sudah jelas.

Akan tetapi lama-kelamaan keunggulan mereka makin terasa.

Yang tidak diketahui oleh Sora dan Semi ialah bahwa sebenarnya kedua Kama ini pun merasa penasaran, Mereka berdua adalah unggulan utama yang sudah menjelajah jagat Selama ini boleh dikatakan tak pernah menemukan lawan yang berarti Dalam artian bertahan beberapa jurus, Karena ilmu silat mereka justru mengandalkan permainan cepat Satu-dua jurus saja.

Nyatanya, kini Kalacakra tak segera bisa memenangkan pertarungan melawan tangan kosong.

Benar-benar lawan yang luar biasa.

Kalau dua orang yang maju secara sembarangan sudah seperti ini, bisa diperhitungkan bahwa yang lainnya bisa lebih jago. Sungguh tanah Jawa ini penuh dengan ksatria yang tak terduga!

Sebaliknya, para senopati justru merasa cemas,

Biar bagaimanapun Sora dan Semi makin terdesak Kalau mereka nimbrung maju, kurang pada tempatnya, akan tetapi membiarkan begitu saja juga tak tega. Jadinya serbasalah.

Kesiuran angin dari kedua pedang panjang makin lama makin terasa merobek. “Lho, siapa berani mencari ilmu tongkatku? Hei, tunggu dulu. Kalian pencuri

dari mana?”

Nyai Demang sadar bahwa itu suara Galih Kaliki.

Dan hanya Galih Kaliki yang bisa langsung menerjang ke tengah pertarungan tanpa merasa risi atau kikuk. “Sejak kapan kalian mencuri cara menggebuk ini?”

Galih Kaliki maju ke tengah pertempuran dengan tongkat dan dengan sigap berlari kencang. Tak jauh berbeda dari gerakan kedua Kama.

Sumber itu Satu

SERBUAN Galih Kaliki mengejutkan.

Dengan memanggul tongkat galih asam, ia menyerbu begitu saja, Dan begitu berhadapan dengan Kalacakra, langsung menyabet, Persis gerakan lawan Dua benturan terdengar keras,

“Bagus!”

Galih Kaliki memutar tongkatnya, kali ini menggempur Kalandara. Lagi-lagi benturan keras. Pedang panjang melawan tongkat kayu. Hanya kali ini tidak satu benturan saja, melainkan tujuh kali benturan Sejak sabetan pertama ketika pedang mengarah ubun-ubun, mata, hidung, mulut, leher, ubun-ubun lagi, mata lagi

“Bagus, memang mestinya begini!” Senopati Anabrang terkesima,

Sama sekali tak menyangka bahwa Galih Kaliki bisa mengimbangi dua Kama yang telah menyudutkan Mpu Semi dan Mpu Sora!

Tak masuk akal sama sekali!

Senopati Anabrang terkesima justru karena tak menduga bahwa Galih Kaliki yang dianggap tak terlalu istimewa, bisa menjadi dewa penolong. Senopati Anabrang membandingkan dengan dirinya sendiri Ia bisa dan biasa memainkan pedang, Bahkan dua pedang sekaligus, Akan tetapi diakui bahwa keunggulan bermain pedang belum bisa mengatasi keunggulan tenaga Kalandara maupun Kalacakra.

Senopati Anabrang tak malu mengakui.

Mpu Nambi pun tak menduga bahwa justru Galih Kaliki yang bisa menyelamatkan kehormatan Keraton Hanya Nyai Demang yang melihat bahwa keunggulan Galih Kaliki dibandingkan dengan Mpu Sora dan Mpu Semi, terutama sekali karena didasarkan kepada jenis permainan silat. Bukan hanya keunggulan!

Ini rahasia kecil yang bisa ditangkap oleh Nyai Demang,

Bisa dimengerti karena secara teori Nyai Demang menguasai berbagai jenis dan aliran dalam dunia persilatan Tidak terbatas pada yang ada di tanah Jawa saja.

Ilmu tongkat Galih Kaliki adalah ilmu yang juga mengandalkan tenaga besar untuk memainkan Bahkan selama ini dikenal jurus-jurusnya tidak terlalu hebat, Bahkan terlalu sederhana karena tanpa kembangan, atau perubahan-perubahan yang berarti Galih Kaliki selalu mengincar batok kepala, Dan tak pernah lain!

Itu juga yang dimainkan kedua Kama.

Bedanya pedang panjang seperti membelah, sedangkan tongkat galih asam lebih mengemplang.

Sementara itu di medan pertarungan terjadi perubahan

Mpu Sora dan Mpu Semi bisa bernapas lega dan mengambil jarak Dan kedua Kama jadi memutar tubuh menghadapi Galih Kaliki

“Kalian orang berekor di kepala, sejak kapan kalian mempelajari ilmuku?” Sungguh pertanyaan yang angin-anginan dan kena sasaran!

Betapa tidak Kama Kalacakra dan Kama Kalandara datang untuk meminta kitab pusaka yang dikatakan dicuri ilmunya, Dan sekarang justru dituduh mencuri.

“Karena kamu masuk ke gelanggang, berarti siap bertempur.” “Lho, dari tadi saya ini disangka main-main?

“Saya datang ke sini untuk memaksa kalian mengatakan dari mana kalian curi ilmu tongkat saya. Dan kenapa bisa juga dimainkan dengan pedang yang tak keruan bentuknya itu.”

Jujur kata-kata Galih Kaliki.

Apa yang dirasakan, itulah yang dikatakan Galih Kaliki memang termasuk yang aneh dalam dunia persilatan Terutama karena asal-usul perguruan ilmu silatnya berbeda dari aliran yang ada. Bahkan sejak zaman pertarungan para ksatria dalam perebutan takhta Singasari, Galih Kaliki tak pernah diketahui asal-usulnya,

Siapa nyana justru sekarang agak tersingkap. “Ayo maju dulu,”

Galih Kaliki bukan menunggu, meskipun seolah mempersilakan lawan mana yang mulai Justru ia yang maju menggempur Berlari sangat kencang, menghantam ke depan Tongkatnya digerakkan seperti pedang panjang. Karena kali ini Galih Kaliki memegang tongkat dengan kedua tangan.

“Bagus. Kalian betul. Begini lebih bagus.”

Kalau Kalacakra begitu tegang, sebaliknya Galih Kaliki bertempur sambil terus berbicara.

Nyai Demang nggragap setelah beberapa jurus.

Walaupun dengan sangat perkasanya Galih Kaliki berhasil mengimbangi, akan tetapi terlihat bahwa penguasaannya kalah mahir, Ini bukan karena ilmu Galih Kaliki kalah dibandingkan Kalacakra, Akan tetapi karena Galih Kaliki mencoba dengan gerakan yang dimainkan Kalacakra. Dengan sendirinya ia menjadi kalah terlatih.

Kalau tadi Galih Kaliki unggul karena menyamai dasar-dasar gerakan, justru berakibat terbalik sewaktu mengikuti cara bergerak.

Nyai Demang tak bisa tinggal diam.

“Kakang… sudah jelas sumber air itu satu. Tetapi tidak semua sungai sama bentuknya. Jadi kenapa harus membuat sungai seperti sungai di Jepun?”

Galih Kaliki berjingkrakan saking gembiranya.

Dalam hidupnya yang luntang-lantung tidak keruan juntrungannya, Galih Kaliki baru merasa mempunyai arah ketika bertemu Nyai Demang. Galih Kaliki sudah langsung kesengsem, tergila-gila. Bahkan waktu ada sayembara memperebutkan putri ayu, Galih Kaliki maju ke depan. Tidak untuk memperebutkan putri ayu yang disayembarakan, melainkan mencari Nyai Demang.

Tak nyana tak disangka kalau sekarang ini bakal ditegur begitu ramah dan mesra oleh Nyai Demang!

Sewaktu meninggalkan Perguruan Awan, Galih Kaliki memang hanya mempunyai satu tujuan. Mencari Nyai Demang yang katanya mendapat undangan dari Keraton. Walau Nyai Demang tidak mengatakan begitu, Galih Kaliki diberitahu Wilanda.

Begitu mendengar penjelasan Wilanda, Galih Kaliki langsung berangkat.

Hanya saja setiba di Keraton, tak ada yang mendengar kabar Nyai Demang.

Galih Kaliki mencari ke mana pun kakinya bisa melangkah. Masuk ke tengah alun-alun karena melihat pertarungan. Dan karena merasa ada persamaan ilmu dengan miliknya, tanpa pikir panjang ia ikut terjun ke gelanggang.

Siapa sangka bakal bertemu dengan pujaannya! Galih Kaliki jadi bersinar-sinar wajahnya.

Tapi tetap saja sama.

“Nyai, aku tidak mengerti apa yang kaukatakan. Omong saja terus terang.” “Sumber ilmu tongkat kayu sama dengan ilmu pedang panjang. Akan tetapi

Kakang tak usah mengikuti gerak-gerik yang sama. Kakang bisa memainkan gerakan

sendiri.”

Kalacakra tertawa terbahak.

“Majapahit, keraton yang hina. Para ksatria di tanah ini hanya bisa main keroyokan.”

Menyakitkan kata-kata itu, walau diakui ada benarnya. Setelah Mpu Sora dan Mpu Semi keteter, muncul Galih Kaliki, dan sekarang Nyai Demang.

Tak salah kalau dikatakan main keroyok. Tapi dalam hal bersilat lidah, Nyai Demang bukan lawan yang bisa disudutkan begitu saja.

“Baru saja kalian sesumbar menghadapi secara bersama atau satu demi satu.

Belum kering bibir kalian, sudah merasa jagoan karena dikeroyok.

“Baru saja kalian sesumbar memiliki kitab pusaka yang paling ampuh di kolong langit, tidak tahunya justru sama saja dengan tongkat kayu yang dimainkan Kakang.”

Kalandara yang sejak tadi berdiam, nampak mengangguk. Agaknya ia sendiri merasa heran.

“Apanya yang mau kalian sombongkan?

“Kenapa kalian merasa satu-satunya yang memiliki ilmu silat model tongkat kayu? Dunia ini sungguh luas. Yang muncul di tanah Jepun turunan ilmu dari negeri Tartar, akan tetapi yang datang ke negeri Tartar juga berasal dari tanah Hindia.

“Untuk apa dipertengkarkan?

“Kitab Bumi jelas milik kami. Tetapi kalau kalian ingin mempelajari atau ingin mengembangkan, kami tak akan melarang. Kenapa harus dipertengkarkan? Apakah Jalan Budha, apakah bernama Tepukan Satu Tangan, apakah Kitab Penolak Bumi, atau Kitab Bumi, atau kitab pusaka kalian, bukannya berasal dari sumber yang sama? Bukankah kita tak pernah tahu siapa dan negeri mana sumber utamanya?

“Saya bernama Nyai Demang, sama sekali tidak ingin meributkan hal itu. Akan tetapi kalau kalian berdua ingin menjajal ilmu silat, akan saya layani.

“Pendeta-pendeta dari Jepun tak lebih hanyalah pendeta dengan kaki yang menginjak tanah, membenam di lumpur sawah, bukan mega-mega yang bergantungan di langit!

“Di tanah ini juga ada sawah, ada langit.

“Mari kita lihat, kaki siapa yang lebih berbau lumpur.”

Kalandara mendadak membungkukkan tubuhnya. Punggungnya rata dan merupakan garis patah dengan pinggang. Nyai Demang berhasil memperlihatkan cara membaca pikiran lawan secara sangat luar biasa. Nyai Demang tahu bahwa ksatria Jepun sangat memegang ajaran pendeta negeri Tartar menjadi lumpur di sawah, bukan menggantung di langit. Perbandingan ini tidak banyak yang mengetahui.

Pedang Matahari

MAHAPATIH Nambi tidak menyangka sama sekali bahwa kedua Kama itu memberi hormat yang dalam kepada Nyai Demang. Wanita yang selama ini tak pernah dianggap istimewa, apalagi terhormat.

Berbeda dari semua yang ada di lapangan, Nyai Demang pernah bergaul rapat dengan para Naga dari negeri Tartar. Dari sanalah Nyai Demang bisa mengetahui asal- usul ilmu silat.

Sejauh yang didengar, segala sumber ilmu silat berasal dari tlatah Hindia, yang dibawa mengembara oleh para pendeta. Yang sampai di tanah Cina adalah ajaran Imam Besar Tat Mo yang perkasa. Di sanalah berkembang sumber dari segala sumber yang disebut ilmu Jalan Budha. Dari tanah Cina sebelum dikuasai oleh bangsa Mongol atau Tartar, ilmu yang sama sampai ke tlatah Jepun.

Bangsa Jepun mengakui bahwa yang membawa ilmu itu ke tanah mereka adalah Mpu Bodidarma.

Di tanah Cina ilmu itu berkembang lebih termasuk ke dalam cara-cara pernapasan dari ajaran Tao, seorang mahaguru yang sakti mandraguna. Sedangkan di tanah Jepun ajaran tersebut mengalami perbedaan.

Inilah yang dibanggakan bangsa Jepun secara luar biasa. Ajaran Jalan Budha tidak diterima sebagai ajaran latihan pernapasan dan cara pengabdian semata-mata. Akan tetapi ditekankan kepada ilmu keras, di mana keunggulan dibuktikan dengan kemenangan. Di mana mengalahkan dan dikalahkan adalah hal yang biasa untuk menakar.

Menurut pandangan para empu dari Jepun, ilmu Jalan Budha para pendeta Cina dianggap terlalu mengawang. Tidak berpijak di bumi. Para jawara Jepun menganggap bahwa tujuan utama bukanlah hanya mencapai kebahagiaan abadi sesudah mati, akan tetapi juga kejayaan semasa hidup. Dengan istilah yang mereka pakai, “ilmu yang membenam dalam lumpur sawah, bukan yang tergantung di langit” sebagai ajaran kosong. Pertentangan tentang ajaran mana yang lebih unggul masih selalu terjadi. Dimana para jawara saling mengunjungi negeri masing-masing untuk mengukur siapa yang lebih mahir, siapa yang mumpuni, siapa yang lebih menguasai.

Di tanah Jawa, ajaran yang diterima bukan yang melalui negeri Cina ataupun Jepun. Mereka percaya bahwa seorang pendeta Hindia sendiri yang membawa ajaran ke tanah Jawa, dan tidak hanya sekali datang. Para ksatria menyebut mereka sebagai Tamu dari Seberang, seorang tokoh yang sakti mandraguna. Pada zaman awal keraton Singasari, konon Tamu dari Seberang itu menampakkan diri, juga sewaktu zaman akhir.

Menurut perhitungan, hanya Eyang Sepuh yang berhasil menemui mereka yang disebut Tamu dari Seberang. Eyang Sepuh-lah yang dikenal sebagai pendiri Perguruan Awan.

Kalau dicoba diambil perbandingan, sumber yang sama memperlihatkan perbedaan perkembangan di masing-masing negeri.

Dipadu dengan ajaran setempat di tanah Cina, norma-norma itu berkembang menjadi pengabdian kepada raja yang tiada habisnya. Sementara di tanah Jepun bahkan sebaliknya. Para pendekar berpedang panjang juga tumbuh di luar kalangan Keraton, sehingga mereka lebih merupakan lawan. Sedangkan di Perguruan Awan adalah campuran keduanya. Sebagian ada yang menjadi prajurit Keraton, atau bahkan senopati, sebagian memisahkan diri, tak mau tahu urusan Keraton.

Contoh utamanya ialah Eyang Sepuh yang tidak memperlihatkan diri sama

sekali!

Dan kemudian Upasara Wulung yang lebih suka menghancurkan ilmunya!

Pertentangan-pertentangan ajaran Jalan Budha tumbuh di mana-mana. Di tanah Cina, cara-cara membakar mayat dianggap bertentangan dengan ajaran setempat. Demikian juga ajaran kesetiaan di tanah Jepun, yang bisa diartikan kesetiaan kepada pedang, bukan kepada seorang raja.

Pertentangan demi pertentangan ini yang mengakibatkan tumbuhnya aliran- aliran dalam dunia persilatan. Di tangan masing-masing pimpinan aliran inilah gaya dan jurus-jurus mengalami perubahan dan kematangan yang berbeda.

Sehingga dari sumber mata air yang sama terbentuk sungai yang berbeda aliran

airnya. Akan tetapi kalau dilihat dari persamaannya, tetap mengingatkan kepada sumber yang sama.

Bisa dimengerti kalau kedua Kama ini sangat penasaran ingin mengetahui Kitab Bumi yang menjadi sumber ilmu Tepukan Satu Tangan. Karena intinya memang sejenis dengan “bertepuk dengan satu tangan bakal memberikan suara lebih nyaring, dibandingkan bertepuk dengan dua tangan.”

Dilihat dari sisi ini kecerdasan Nyai Demang memang mengagumkan.

Dalam dunia persilatan ia dipandang enteng. Karena memang tidak terlalu unggul. Akan tetapi pengetahuannya yang luas membuat dua jagoan dari tanah Jepun menunduk hormat dengan menekuk tubuh.

Sesungguhnya dari sedikit yang mengetahui Kitab Bumi, Nyai Demang termasuk yang membaca kidungan secara tuntas. Baik yang disebut Dua Belas Jurus Nujum Bintang, ataupun Kitab Penolak Bumi yang delapan jurus.

Bahwa penguasaan akan ilmu itu memang membuat Nyai Demang masih kalah dibandingkan Galih Kaliki yang bahkan mungkin tak pernah membaca sendiri. Namun dalam pembicaraan, jelas Nyai Demang jauh lebih unggul.

Mahapatih Nambi melihat dari sisi lain.

Keunggulan Nyai Demang bisa diartikan ancaman bagi dirinya. Karena sebagai pimpinan telik sandi dan kini diangkat resmi sebagai mahapatih, perhitungannya adalah demi keamanan dan ketenteraman Keraton sebagai yang utama. Kalau Nyai Demang bisa menguasai kedua Kama ini, bukan tidak mungkin akan dipakai untuk membalas dendam atas hancurnya Upasara.

Apalagi Nyai Demang secara mendadak muncul bersama Galih Kaliki! Mahapatih Nambi tak mau memberi kesempatan.

“Kisanak, sebelum kalian lebih dalam menghormati wanita itu, perkenankan saya menjajal sebentar. Hitung-hitung mencicipi kebodohan.”

Mahapatih Nambi meraih kelewang besar dan berat. Maju ke depan. Kama Kalandara mendengus. Tanpa ba atau bu, Kalandara menerjang maju. Kembali pedang panjangnya menggores langit, membersit di langit sebelum lurus menyabet lawan. Mahapatih Nambi menyambut dengan keras, hingga menimbulkan suara keras.

Kalandara ternyata menggempur. Tiga sabetan ditangkis, tanpa menggeser kakinya, tiga sabetan dilanjutkan lagi. Ditangkis secara beruntun.

Mahapatih Nambi mencoba mencari terobosan. Sebelum lawan menyabet, kelewang berat dan besar mendahului menyodet lambung lawan. Kalandara mengeluarkan suara dingin. Pedang panjangnya menukik ke bawah. Membentur keras disertai teriakan keras, dan kakinya menyabet keras.

“Bagus.”

Teriakan Galih Kaliki seakan menunjukan bahwa ia mengenal jurus itu. Mahapatih Nambi tak ambil peduli. Tendangan ia tangkis dengan tendangan.

Mendadak saja debaran jantungnya seolah bertambah cepat.

Kakinya seperti membentur besi baja. Yang terayun kedua, ketiga kalinya.

Sementara pedang panjang menyambar dari arah samping. Seakan memotong tubuh Mahapatih dari pinggang secara miring.

Dua gempuran bagai ombak laut. Beruntun dengan gelombang yang makin besar. Kalau Mahapatih mengerahkan tenaga ke kaki, berarti pedang Kalandara bisa menerobos masuk. Kalau mengerahkan tenaga di atas, kaki lawan bisa meremukkan tulang keringnya.

Mahapatih mengerahkan seluruh tenaganya. Ia memilih jalan keras. Tidak mau menggeser kakinya atau menghindar.

Mendahului benturan kaki yang keras, Mahapatih menyentakkan kelewangnya, sehingga membentur di tengah udara. Agaknya Kalandara tak menduga bahwa kelewang bisa dilepaskan. Sehingga agak kaget karena pedangnya bisa terdorong miring, sementara gempuran kaki lawan sama kerasnya.

Tapi justru dalam sekejap, posisinya menjadi unggul. Kalandara berputar, tangan kanan melepaskan pedang panjang yang segera ditangkap dengan tangan kiri, langsung memotong tubuh Mahapatih.

Kalau ingin menangkis dengan kelewang, jelas Mahapatih kalah waktu dengan pedang yang memotong tubuhnya. Terpaksa membuang tubuh ke samping, sambil menjentik kelewangnya. Dengan harapan bisa menyambar kembali. Akan tetapi Kalandara dengan keras menyabet kelewang hingga terbuang ke luar arena pertarungan.

Senopati Anabrang menangkap kelewang, dan dengan dingin melemparkan kembali ke Mahapatih Nambi. Ia sendiri mengeluarkan kedua pedangnya sekaligus.

Kalacakra sudah langsung menggempur.

“Pedang Matahari Menutup Awan,” Kalacakra berteriak mengguntur dan mendadak tubuhnya berputar kencang sekali sambil menubruk lawan. Kalandara memakai gerakan yang sama!

Dua tubuh mereka saling sabet, bergulung, dan meluncur.

Kalacakra jadinya berhadapan dengan Mahapatih, sementara Kalandara mencincang Anabrang.

Ini hebat!

Kama Kangkam, sang Guru

GALIH KALIKI belum sempat mengucapkan pujian “bagus”.

Segala perubahan terjadi sangat cepat.

Kalacakra dan Kalandara berjauhan tempatnya, tapi dengan satu serangan langsung bertukar tempat. Padahal ini semua dilakukan dengan menggulung tubuh dan tangan memainkan pedang panjang sambil bersinggungan.

Salah-salah bisa melukai teman sendiri! Akibatnya memang parah. Gempuran Kalacakra membuat Mahapatih merasa ubun-ubunnya didesiri angin dingin, Segenap tenaganya hanya bisa dipakai untuk menangkis, Kelewangnya tergetar, dan terlempar jauh. Dengan mengegos sedikit, Mahapatih merasa pundaknya perih. Irisan angin sanggup membuat luka yang langsung membuat pundaknya berwarna kemerah-merahan.

Hal yang sama dialami oleh Senopati Anabrang.

Begitu Kalandara menyerang dengan gerakan kilat, Senopati Anabrang mengangkat kedua pedangnya. Satu dipakai untuk menangkis keras, satunya dipakai untuk mencuri serangan,

Celakanya justru yang dipakai untuk menangkis terseret arus tenaga lawan dan terpental ke tengah udara, Persis seperti kelewang Mahapatih, Bedanya sekarang tak ada yang menyambar

Sementara tusukan ke dada lawan seperti mengenai karung berisi angin. Tanpa merasa sungkan lagi, Senopati Anabrang menjatuhkan diri dan melindungi seluruh tubuhnya dengan satu pedang.

Pada saat yang sama, Senopati Kuti sudah meloncat ke angkasa sambil melemparkan senjata andalannya, yaitu tameng, atau perisai, Berbentuk seperti ceping, perisai ini terlontar tiga buah berturut-turut mengeluarkan desingan suara.

Semua prajurit juga bersiap.

Tanpa memperlihatkan kecemasan dan juga rasa menang, Kalacakra dan Kalandara saling merapatkan punggung Dengan pedang panjang di tangan masing- masing, keduanya siap menghadapi keroyokan.

“Bagus ya, Kakang.”

“Bagus sekali, Nyai, Mereka bisa main bersama, Selama ini aku tak pernah menjajal Nyai mau melatihku?”

“Sekarang pun bisa.” “Betul? Nyai mau?”

Pertanyaan Galih Kaliki sebenarnya lebih merupakan keheranan karena selama ini Nyai Demang tak pernah mau bersamanya. Makanya ia mengeluarkan seruan heran. Sedangkan bagi Mpu Sora yang mendengarkan, menyadari bahwa keheranan Galih Kaliki disebabkan karena Nyai Demang mau terjun ke gelanggang pertempuran untuk membela Keraton.

Memang Nyai Demang mempunyai dendam kepada Keraton. Mpu Sora hanya mempunyai dugaan bahwa hancurnya Perguruan Awan dan cacatnya Upasara Wulung cepat atau lambat akan membangkitkan balas dendam. Makanya cukup mengherankan bahwa Nyai Demang sekarang ini mau membela.

Bagi Nyai Demang masalahnya sederhana. Ia menyimpan dendam yang membuat dadanya yang montok menjadi sesek. Akan tetapi karena kini ada ancaman dari luar, ia tak bisa berpangku tangan, Biar bagaimanapun, ini soal kehormatan dan keluhuran tanah air.

Maka Nyai Demang berniat maju.

Dendam urusan pribadi bisa dikesampingkan,

“Bagus, Nyai, Kita maju bersama. Kamu pilih yang mana dan aku yang mana?” “Kakang bisa menghadapi sendirian.”

“Aku?”

Nyai Demang berdesis.

Suaranya sengaja dikeraskan, agar bisa terdengar telinga lain selain Galih

Kaliki

“Kedua Kama ini hebat kelihatannya, akan tetapi sebenarnya biasa-biasa saja ilmunya.

“Kelihatan hebat karena dalam sekejap bisa membuat senopati agung Majapahit yang sombong jadi panas-dingin keringatan. Mahapatih Nambi, Mpu Sora, Senopati Anabrang, Senopati Semi, bahkan tameng Senopati Kuti tak berbuat banyak. Besar atau kecil perhitungannya, mereka bisa dikalahkan.

“Dan kalau sekarang akan diadakan pengeroyokan hebat, hanya akan memperbanyak korban berjatuhan.

“Padahal hanya kelihatannya saja hebat, Ilmu yang mereka mainkan biasa-biasa saja, Mereka mulai dengan kidungan Kitab Penolak Bumi yang kita miliki, Dalam kidungan itu selalu dimulai dengan penolakan, dengan pengingkaran. itu tadi yang dimainkan Kalacakra dan Kalandara, Sehingga lawan yang dihadapi bukanlah lawannya. Dengan cara begini saja, para senopati perkasa jadi kelabakan.

“Kakang, maju saja sendiri.” Galih Kaliki maju ke tengah.

“Dengan cara yang sama Kakang hadapi mereka. Yang menyerang berarti bertahan, yang bertahan berarti tidak menyerang. Gunakan satu tangan mengedepankan tongkat. Tak perlu diayun.”

Kalacakra dan Kalandara yang beradu punggung memutar begitu Galih Kaliki mendekat. Satu pedang terayun. Galih Kaliki mengedepankan tongkatnya. Kalacakra mendadak menghindar ke arah lain, sehingga Kalandara yang berhadapan.

Galih Kaliki tertawa.

“Bagus, Nyai. Mereka berputar bagai gasing.”

“Yang berputar itu ditentukan oleh yang diam. Gasing hanya berputar di bagian pinggir. Kakang jangan pedulikan. Jangan bicara. Gerakan tongkat untuk menjawab. Jangan pedulikan yang kiri atau yang kanan, yang bergerak atau yang diam, berarti ia sendiri tak bergerak. Sementara yang diam tidak diam, karena ia bisa bergerak bisa diam.”

Senopati Anabrang memuji keunggulan Nyai Demang. Ketika serangan datang, lagi-lagi Galih Kaliki mengedepankan tongkat. Sambil terus maju. Mengetok, menyodorkan, silih berganti.

Justru akibatnya kedua Kama jadi terdesak.

Senopati Anabrang melihat bahwa Galih Kaliki lebih banyak menunggu serangan. Dengan cara menggerakkan jurus yang sama dan berulang!

Senopati Anabrang jadi ingat ketika berhasil mematahkan barisan sembilan Gandring! Saat itu ia juga dalam keadaan sangat terdesak, dan mendadak tenaga dalam yang disalurkan oleh Upasara yang tersarang dalam tubuhnya bagai magma melonjak ke luar laksana lahar. Memancar begitu saja!

Sekarang ini kurang-lebih sama!

Meskipun kelihatan sekali perbedaan cara mengatur serangan. Kalau sembilan Gandring mempersatukan tenaga dan kekuatan yang ada, kedua Kama ini menyatukan diri tanpa masing-masing kehilangan kemampuannya. Seperti ditunjukkan dengan serangan berlainan arah tadi.

Mahapatih memandang dengan mata menyipit.

Kalau tadi ia merasa pamornya bakal hilang kalau Nyai Demang yang bisa menyelesaikan persoalan, sekarang pilihannya jadi lain. Ia tak merasa rendah kalau Nyai Demang dan Galih Kaliki yang bisa mengenyahkan atau membuyarkan kedua Kama itu. Setidaknya ini jauh lebih baik, daripada Keraton diobrak-abrik tanpa perlawanan berarti.

“Jangan mendahului, Kakang, tetapi jangan menunggu. Pedang panjang sebenarnya pendek seperti tangan. Pedang pendek tak pernah digunakan. Satukan pikiran, jangan melihat lawan. Dengarkan kata-kata saja. Karena lawan di depan atau di belakang, sebenarnya tak bisa menjauh.”

Galih Kaliki memapaki serangan, mengimbangi dengan kecepatan yang sama. Kalacakra dan Kalandara makin terdesak. Berputar-putar, dan menjauh dari

Galih Kaliki yang dengan sangat mudah menyatukan pemusatan pikiran. Tanpa diminta tanpa disuruh, Galih Kaliki sudah dengan sendirinya hanya memikirkan Nyai Demang.

Mendadak terdengar suara pelan, tidak terlalu berat nadanya, namun cukup jelas terdengar. Bukan semata-mata karena alun-alun sunyi dan hanya suara Nyai Demang yang terdengar, akan tetapi karena suara itu dikeluarkan dari tenaga dalam yang terlatih sempurna.

“Jangan bertanya kanan atau kiri, atas atau bawah, depan atau belakang, kalau jawabannya akan selalu sama.

“Jangan mendengarkan yang bicara, karena lawan yang tidak berbicara lebih berbahaya. Seekor burung bisa dilatih berbicara, akan tetapi tak bisa mengerti artinya. “Jangan memaksa diri. Kalau kalah, kenapa tak mau mengakui?

Kedua Kama mengeluarkan teriakan keras, lalu keduanya duduk bersila di tanah. Kedua pedang yang pendek yang tadi selalu tersembunyi, kami siap untuk melakukan bunuh diri.

“Guru, kalau Guru tak mau tangan Guru kotor, biarlah murid yang melakukan sendiri. Kami mohon petunjuk.”

Yang dipanggil Guru adalah seorang lelaki gagah, usianya lebih tua dan kedua Kama. Alisnya lebat dan bola matanya sangat galak. Dialah yang memerintah kedua Kama, yang membahasakan diri sebagai murid, untuk menyerah.

.       .

“Kalau hidup pantas dinikmati, untuk apa menuju nirwana? Belum tentu di sana ada pedang dan lumpur.”

Suara Nyai Demang membuat kedua Kama menunduk. Baru tegak setelah Guru juga memberi hormat kepada Nyai Demang.

“Sungguh mulia hati wanita sejati. Aku Kama Kangkam atau disebut Benih Pedang, guru kedua murid yang tidak becus ini berutang budi pada wanita berhati mulia.”

Nyai Demang tergetar. Kalau muridnya saja begini hebat, apalagi gurunya.

Namanya saja sudah menggetarkan, Benih Pedang! Pertarungan Garingan

KAMA KANGKAM membungkukkan badannya sekali lagi.

Nyai Demang balas membungkuk sedikit, dengan tangan kanan tertekuk. “Kenapa begitu sungkan memberi gelaran wanita mulia segala? Di negeri ini

wanita tidak hanya bisa membasuh kaki seperti wanita Jepun.” “Bolehkah saya mengetahui nama besar Putri?”

“Nama saya tidak memiliki. Hanya sebutan saja, yaitu Nyai. Karena saya sudah mempunyai suami. Dan karena pangkat suami saya demang, maka saya terbiasa dipanggil Nyai Demang. “Kama Kangkam, bahasa yang kamu gunakan sangat bagus.”

“Agak lama berdiam di tanah Jawa, datang bersama pasukan Tartar. Akan tetapi kemampuan saya sangat terbatas, Nyai. Apalagi ada huruf-huruf yang tak bisa saya ucapkan dengan betul.

“Maaf, apakah Nyai masih ada hubungan dengan Perguruan Awan?”

“Ada atau tidak, tak ada gunanya ditanyakan. Karena kalaupun bukan dari Perguruan Awan, saya tak akan membiarkan Keraton diobrak-abrik secara begini.”

“Dua kali maaf, Nyai.

“Kami datang untuk melacak kitab pusaka negeri kami yang hilang musnah.” Nyai Demang mengibaskan tangannya.

“Kama Kangkam, kamu adalah seorang guru yang berilmu tinggi. Di negerimu sendiri tingkatanmu bukan hanya ksatria, akan tetapi sejajar dengan pendeta. Untuk apa berbasa-basi seperti itu?

“Aku tahu kamu datang ke tanah Jawa untuk menunjukkan bahwa kamulah satu-satunya ksatria tanpa tanding. Di setiap tempat, pedang matahari ingin kamu tegakkan. Kenapa beralasan Kitab Bumi segala macam?”

Kama Kangkam tegak berdiri.

“Kalau sudah tahu maksud kami sebenarnya, silakan bersiap. Kita akan berhadapan.

“Silakan siapa yang akan maju.”

Senopati Kuti memberi aba peringatan. Tiga perisainya meluncur dengan desingan tinggi, saling beruntun. Kama Kangkam mengeluarkan suara ejekan. Tanpa menggeser kaki dan tubuhnya, tangannya justru menangkap perisai berbentuk caping itu. Sedikit di bawah caping, dan dengan satu sentakan perisai itu terbang balik.

Tiga perisai terbang balik! Seperti membalik tangan saja. Yang luar biasa adalah perisai itu menghantam tiang sitinggil dan amblas ke dalam bangunan bata. Yang pertama masuk ke dalam tiang, disusul yang kedua dan ketiga. Semua masuk secara persis, berurutan, mengenai tempat yang sama. Akan tetapi caping itu tidak sampai jatuh ke luar tiang.

Senopati Kuti mengeluarkan suara kagum.

Mahapatih pun menduga bahwa yang dihadapi memang tidak sembarangan.

Setidaknya satu atau dua tingkat di atas rata-rata mereka. “Masih ada yang ingin menjajal?”

Galih Kaliki menjadi terbakar.

“Bagaimana, Nyai? Apakah saya maju sekarang ini?” Nyai Demang tersenyum.

“Dalam Kitab Jalan Budha milik bangsa Jepun, dibenarkan memotong pohon untuk membuat sawah. Dibenarkan menebas yang atas untuk membuktikan siapa yang unggul.

“Di negeri ini bisa kita pakai membuka sawah tanpa menebang pohon.” “Nyai Demang, katakan, aku Kama Kangkam ingin mengetahui.”

“Kita bisa bertanding garingan, tanpa ada yang perlu terluka atau mati. Sawah siapa yang subur bisa diketahui tanpa harus ada pohon yang rebah.”

“Pengetahuan Nyai mungkin disamai oleh yang luhur.

“Baik, baik. Baru saja Kalacakra dan Kalandara terdesak ayunan tongkat. Boleh saya tahu apa nama jurus itu dan bagaimana mungkin bisa terjadi?”

Nyai Demang memandang ke arah langit.

“Kama Kangkam, kenapa kamu begitu suka berpura-pura?

“Bukankah itu yang dikenal sebagai pengerahan tenaga ilmu Tepukan Satu Tangan yang ada dalam Kitab Penolak Bumi} Yang juga kamu kenali dengan baik? “Intinya adalah laku, pengertian bahwa tepukan satu tangan menjadi lebih nyaring dari dua tangan. Bagian itu ada dalam Kitab Penolak Bumi. Kidungan yang menceritakan itu adalah:

Ke mana air mengalir jawabnya: tepukan satu tangan ke mana angin bertiup jawabnya: tepukan satu tangan kalau hujan dari tanah ke langit tepukan satu tangan

kalau sirna, tepukan satu tangan ke depan…

“Galih Kaliki tak memedulikan apakah serangan itu dari Kalacakra atau Kalandara. Tak peduli ‘angin bertiup ke mana’, tak peduli ‘air mengalir ke mana’, karena jawabannya sama. Juga lawan tak mengubah ‘hujan dari tanah ke langit’, atau juga tak ada serangan.

“Kama Kangkam, dengan jitu kamu bisa membaca jurus itu dan segera menarik dua muridmu.

“Bukankah sebenarnya kamu yang unggul?” Kama Kangkam menggelengkan kepalanya. “Kami yang mundur, berarti kami yang kalah.

“Yang menjadi pertanyaan, kenapa Nyai gunakan jurus itu?” “Gerakan Kalacakra dan Kalandara mengingatkan saya akan jurus dalam kidungan yang bernama Sigar Penjalin.

“Sigar Penjalin adalah letak tanah yang dikepung dua air, baik keduanya mengalirkan air ataupun salah satu. Kelihatannya Kalandara dan Kalacakra menyerang bergantian, akan tetapi sebenarnya berarti menyerang keduanya. Dalam Kitab Penolak Bumi, jelas-jelas diberikan untuk tumbal itu, yaitu kekuatan diambil dari bumi, hanya dengan tenaga satu. Maka saya meminta Kakang Galih membuat gerakan dengan sebelah tangan. Dengan demikian satu tangan bisa menyedot tenaga dari dalam bumi. Sebenarnya kalau Kakang Galih menggunakan pedang, hasilnya akan lebih bagus lagi. Karena sifat yang lebih tepat adalah mempergunakan tenaga atau benda yang sifatnya tajam.”

Wajah Kama Kangkam sebentar-sebentar berubah antara putih dan pucat. “Ada benarnya yang Nyai katakan. Tapi kenapa kamu tak melihat jurus

Pedang Matahari Menutup Awan?”

“Saya tak berhak memberitahukan kepada para senopati yang lebih hebat daripada saya.”

Dengan kata-kata itu sekaligus Nyai Demang menampar para senopati yang

ada.

Kama Kangkam berteriak dalam bahasanya, dan dengan cepat Kalacakra dan Kalandara bergerak seperti tadi. Masing-masing bergulung dan berpindah tempat dengan sangat cekatan.

Nyai Demang mendehem.

Galih Kaliki berdiri di tempat yang agak jauh.

“Kakang, mainkan Sekar Sinom. Gabungkan dengan pembukaan yang serba menolak.”

Galih Kaliki bergerak lambat, tongkatnya tegak berdiri di tengah, sementara kedua tangannya membentuk seperti daun, dan mengarah ke selatan.

Kalau tongkatnya kukuh, tangannya membara!

“Hebat,” puji Kama Kangkam. “Apakah itu yang dinamakan Sekar Sinom?” “Itulah jurus ketiga dalam Kitab Penolak Bumi. Jurus-jurus yang ada diciptakan sedemikian rupa untuk memerintahkan, untuk menolak serangan, dengan kerelaan menjadi tumbal andai keliru.

“Kangkam, jurus Sekar Sinom adalah jurus yang seharusnya dimainkan dari awal, yaitu jurus-jurus sebelumnya. Sehingga kalau langsung dimainkan agak berkurang tenaganya.”

“Apa artinya Sekar Sinom?”

“Aha, hitung-hitung kamu belajar dariku.

“Semua nama jurus—atau lebih tepat kidungan—yang ada dalam Tumbal Bantala Parwa, sebenarnya menggambarkan keadaan tanah. Tanah yang kita injak ini mempunyai watak. Mempunyai tenaga, mempunyai perasaan memiliki kekuatan.

“Letak tanah yang berbeda memberikan kekuatan yang berbeda pula.

“Melihat jurus Pedang Matahari Menutup Awan, sebenarnya serangan dari dua arah yang berbeda. Lawan akan dijepit di tengah. Serangan ini sangat menguntungkan secara tak terduga, akan tetapi ada kekurangannya, yaitu bahwa pekerjaan yang dilakukan tak bisa sempurna.