-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 16

Jilid 16

"Nimas Ayu, kita ini putri Singasari dan juga permaisuri Majapahit. Ada jalan yang telah dibuat oleh Dewa yang Maha arif jauh sebelum kita dilahirkan. Kita tinggal menjalani dengan cara yang terbaik, sesuai dengan kodrat kita."

"Kangmas Upasara menolak menemuiku." "Itu yang paling luhur."

"Kangmas Upasara menolak berbicara." "Itu yang paling mulia."

"Kangmas Upasara menderita dan kini bukan apa-apa lagi." "Itu yang paling suci."

"Kangmas Upasara telah mati!" Suara Gayatri meninggi.

"Itu yang paling sakti.

"Karena itulah lelaki sejati. Lelananging jagat. Hanya lelaki sejati yang menganggap daya asmara adalah sesuatu yang suci, dan harus disucikan. Penderitaan dan kematian hanyalah salah satu bukti."

"Mbakyu Ayu, kalau Kangmas bisa membuktikan asmara suci dengan mengorbankan diri, menghancurkan semua ilmunya, dan mungkin sekarang sudah mati.

"Dan apa yang kulakukan sekarang ini? "Berseri bagai matahari, bercahaya bagai bulan purnama, duduk di sisi singgasana sebagai permaisuri Raja. Hidup enak tak kurang suatu apa.

"Apa kata sukma Kakang Upasara di alam sana? "Putri seperti apa diri ini?

"Putri Singasari yang mendustai asmaranya sendiri." "Nimas Ayu..."

"Gendhuk Tri masih lebih berharga dariku." "Nimas Ayu..."

"Nyai Demang yang sangat hina masih lebih bermakna." "Nimas Ayu...

"Dengarlah dan lihatlah. Berkacalah dari apa yang dilakukan Upasara Wulung. Ia mengorbankan segalanya bagimu. Ia bisa menjadi mahapatih yang bisa berdekatan denganmu. Tetapi batinnya tersiksa. Lebih dari itu ia tak ingin menyiksa batinmu, Nimas Ayu.

"Maka itu sebabnya ia menghancurkan dirinya. Dengan harapan kamu bisa lebih bahagia."

"Nyatanya tidak."

"Karena kamu tidak mau memenuhi keinginan Upasara." Gayatri tertegun.

"Keinginan Upasara ialah kamu menjadi bahagia. Tapi kamu menyia- nyiakannya. Sungguh sayang, Nimas Ayu."

Darma Bekti Permaisuri BATIN Gayatri tergetar.

Semua pembuluh tubuhnya gemetar. Apa yang dikatakan Tribhuana benar. Upasara mengorbankan semua ini agar tidak mengganggu kebahagiaannya! Gayatri ingin menjerit bahwa sebenarnya ia tidak seperti yang diduga Upasara.

"Nimas Ayu, apakah kalau kamu bertapa bisu seperti ini, Upasara akan sembuh kembali? Akan hidup kembali?

"Tidak, lelaki yang mengorbankan segalanya bagimu itu justru kecewa.

Menyesal dan nelangsa. Sukmanya tak tenang di alam sana." "Mbakyu Ayu, apakah yang Mbakyu katakan benar adanya?" "Apa yang kusembunyikan darimu?

"Di sini kita hanya berdua. Sejak kecil kita selalu bersama. Kita berempat, termasuk Mahadewi dan Jayendradewi. Kita berempat mendapat gemblengan yang sama dari Baginda Raja Singasari yang agung tiada tara.

"Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu?

"Kalau ada yang kuharapkan, hanyalah kita bisa berbakti sebagai permaisuri. Karena itulah kodrat kita yang sesungguhnya. "Nimas Ayu, banyak cobaan atas diri kita.

"Upasara hanyalah percikan buih dari gelombang yang mencoba kita, yang menguji darah Singasari yang menurunkan kita ini.

"Masih ada gelombang pasang yang lebih mengguncang.

"Nimas Ayu sudah tahu, bahwa kepulangan Senopati Anabrang sebagai utusan Baginda Raja Sri Kertanegara membawa dua putri ayu sebagai persembahan. Dara Jingga dan Dara Petak.

"Dyah Dara Jingga, yang tua, sejak semula tak membuat Baginda berkenan sehingga dinikahkan dengan Mauliwarma Dewa.

"Sedangkan Dyah Dara Petak yang berkulit putih bagai susu, diambil sebagai permaisuri oleh Baginda Raja. Diberi gelar Permaisuri Indreswari. Lebih dari semua itu, Indreswari mendapat anugerah sebagai stri tinuheng pura. Artinya menjadi permaisuri yang dipertua di Keraton!

"Menjadi permaisuri utama! "Duh, Dewa!

"Nimas Ayu, bagimu semua ini tak menjadi soal benar apa artinya.

"Tetapi sadarilah bahwa Dewa yang Maha Pencoba sedang mencoba umatnya! "Nimas Ayu, lihatlah mbakyumu ini.

"Putri Singasari yang cantik jelita, yang mengetahui tata cara Keraton, yang paling sulung. Nimas Ayu, apa kurangku? Kenapa Baginda Raja justru mempermaisurikan wanita yang berkulit seperti susu?

"Apa kurangnya sebagai putri Sri Baginda Kertanegara yang mewarisi takhta sebagai kehormatan paling tinggi kepada Raden Sanggrama Wijaya? Siapa yang memberi kehormatan tertinggi ini? Apakah Indreswari? Bukan.

"Tetapi aku, Tribhuana!

"Hatiku merintih. Batinku menggugat.

"Aku tidak menghalangi Baginda mengambil wanita mana pun. Karena raja adalah penguasa tunggal yang dikodratkan untuk memimpin dan menguasai. Akan tetapi menjadikan Indreswari sebagai stri tinuheng pura, itu sama dengan menamparku. Sama saja dengan mencampakkanku!

"Aku lebih menderita dari kamu, Nimas Ayu.

"Karena aku mengemban tugas suci sebagai putri tertua Singasari, yang berkewajiban meneruskan pemegang takhta dari darahku sendiri.

"Nimas Ayu, aku juga bisa berbuat seperti kamu!

"Tetapi apa jadinya kalau aku berbuat seperti itu. Di mana wajah dan kehormatanku bila bertemu Baginda Raja Singasari di alam baka nanti?

"Aku menyadari ini semua. "Aku adalah permaisuri. Dan tugas pertama permaisuri sebagai darma bekti utama adalah mengabdi kepada raja. Apa pun yang dikehendaki seorang raja, itulah yang terbaik baginya.

"Aku menerima Indreswari sebagai permaisuri utama. "Dengan senyum dan anggukan di kaki Baginda.

"Sebab inilah darma bekti yang bisa kupersembahkan. Sebab inilah yang terbaik harus kutunjukkan."

Suara Tribhuana merendah dan menghilang. Terdengar helaan napas panjang.

Berulang.

"Maafkan aku, Mbakyu Ayu." Tak segera terdengar jawaban. Udara bertiup lamban.

Helaan napas pun tertahan.

"Nimas Ayu, kita harus mengalahkan perasaan-perasaan seperti ini. Besar atau kecil, perasaan ini tak ada artinya bagi seorang raja. Seorang raja adalah seorang penguasa yang kiblatnya jagat. Apalah artinya perasaan-perasaan kita dibandingkan dengan perasaan Baginda yang mendapat panggilan Dewa untuk memerintah rakyatnya.

"Seorang raja bisa menjadi besar kalau ada yang bersedia berdarma bekti pada kebesarannya.

"Kita harus bahagia bisa menjalankan tugas luhur ini."

"Mbakyu Ayu, sungguh aku ini manusia yang paling tak berguna. Sampah yang dibuang pun tetap tak berarti apa-apa."

"Kebesaran Baginda adalah segalanya." "Ya."

"Kebesaran Baginda adalah kebesaran Keraton." "Ya."

"Kebesaran Keraton adalah kebesaran manusia." "Ya."

"Kebesaran manusia seluruh tanah ini ditentukan Baginda." "Ya."

"Nimas Ayu, apakah kita masih ragu mengorbankan sesuatu bagi kebesaran dan keharuman nama Keraton?"

Gayatri menggeleng lembut.

"Nimas Ayu, keramaslah yang baik. Mandilah dengan air suci. Kamulah Dewi Uma yang diramal para pendeta meneruskan pemegang takhta kebesaran di kelak kemudian hari.

"Kamulah yang bakal meneruskan darah Singasari. Darah biru Singasari yang akan menerangi jagat. Darah biru yang agung karena berani mengorbankan kepentingan pribadi."

"Aku mengerti, Mbakyu Ayu." "Siapkan tubuhmu, siagakan batinmu.

"Akan datang saat kemenangan, setelah kita mengalahkan keinginan kita yang remeh. Akan datang saat terang, setelah kita mengalahkan kegelapan.

"Kalau Dewa yang Maha asih akan mempertemukan kamu dengan Upasara suatu hari nanti, apa pun yang terjadi sekarang ini tak bisa mengubah takdir. Saat itu kamu telah siap. Akan tetapi sekarang ini tak ada yang lain yang bisa kamu pikirkan selain mengabdi, selain mempersembahkan darma bekti. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda?" Gayatri terhibur.

Merasa bisa memandang lebih terang dan tidak kabur. Melihat lebih jauh ke

depan.

Malam itu Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni kembali. Bersedia keramas, membersihkan badan hingga sangat bersih. Berdandan sebagaimana layaknya seorang permaisuri. Tegar bersama kakaknya Mahadewi, yang selama ini dikenal sebagai wanita sempurna dalam mengolah tubuh. Tegar bersama kakaknya Jayendradewi atau Permaisuri Pradnyaparamita yang memancarkan cahaya luhur dan agung seorang wanita.

Gayatri menjadi Permaisuri Rajapatni dan juga Dewi Uma yang siap menerima Baginda Raja yang akan menjadi Dewa Syiwa.

Petuah dari Tribhuana bagai membuka mata batin yang selama ini terkunci

rapat.

Daya asmara yang masih merupakan titik bara di hatinya tak akan berkurang maknanya kalau ia menjadi permaisuri yang tulus dan berbakti. Upasara Wulung telah tercatat dan tergores di hatinya. Tak akan pernah bisa dicuci bersih, tak akan pernah hilang, walau tidak terlihat di permukaan.

Apa yang dikatakan Tribhuana benar sekali.

Di antara putri-putri Singasari, hanya kepadanyalah Baginda menunjukkan kasih sayang secara lebih. Bahkan pasti dengan sangat berat hati melepaskan pergi ke Perguruan Awan.

Kalau mengikuti kehendak pribadi, Baginda tak akan melepaskan dirinya. Akan tetapi seperti dikatakan Tribhuana, seorang raja berpikir seribu kali lebih jauh, seribu kali lebih bijaksana. Bahkan permaisuri yang paling disayangi pun rela dilepaskan.

Sejak malam itu, bagi Permaisuri Rajapatni, Baginda Raja yang memegang kebenaran. Pikirannya menyatu, dan membuatnya bahagia.

Wajahnya bersinar kembali.

Itu yang terlihat ketika menjemput Baginda. Senopati Halayudha memberitahu bahwa Baginda minta dijemput. Maka Permaisuri Rajapatni datang ke kamar Baginda Raja dengan segala darma bekti yang dimiliki. Akan diserahkan seluruh hidupnya, seluruh jiwa raganya untuk kebesaran Baginda.

Sewaktu memasuki kamar pribadi yang luas, Permaisuri Rajapatni tetap bersinar wajahnya. Tak menunjukkan rasa herannya walau di tempat itu ada ketiga kakaknya, serta Permaisuri Indreswari. Biasanya, kalau Baginda Raja sedang sendirian. Atau kadang langsung mengunjungi ke kaputren.

Anak Kucing Tak Bakal Jadi Harimau

BAGINDA RAJA KERTARAJASA bangkit dari pelaminan.

Sejenak disapunya dengan pandangan ringan kelima permaisurinya yang bersila menunduk di lantai. Lalu berjalan mengitari ruangan.

Suaranya terdengar datar.

"Kalian semua pasti bertanya-tanya kenapa kukumpulkan secara bersama di ruang ini. Sementara para senopati yang justru sedang menunggu-nunggu kubiarkan di luar.

"Aku tahu semua yang kalian pikirkan.

"Aku tahu semua yang para senopati pikirkan.

"Aku ingin memperlihatkan diri bahwa akulah sesungguhnya raja yang paling berkuasa. Yang bisa membuat mereka semua menunggu sampai tua dan loyo. Akulah yang berkuasa, dan tunggal. Tak bisa dipaksa dan dipermainkan siapa pun.

"Termasuk kalian semua."

Kelima permaisuri makin menunduk.

"Tak akan ada lagi yang berani membantah perintahku. Tak akan ada lagi yang menyangsikan bahwa akulah raja yang sesungguhnya. Yang ditunjuk dan direstui Dewa yang Maha Berkuasa.

"Tak akan ada yang ragu. Karena yang ragu akan musnah jadi debu. Apakah itu Upasara atau bahkan permaisuriku sendiri." Gayatri menunduk. Telinganya seperti mendengar panah berdesing.

"Apa yang dibanggakan Upasara telah musnah. Apa yang dicari semua ksatria dan para pendeta ada di tanganku."

Baginda menunjukkan peti, dan membuka isinya.

"Inilah Kitab Bumi yang utuh. Berisi dua puluh kidungan yang selalu diperebutkan. Aku yang menguasai. Mulai hari ini secara resmi, semua sudah berada dalam genggamanku.

"Aku tahu selama ini terdengar banyak omongan yang tidak becus.

Yang sengaja untuk memancing kemarahanku. Salah satunya kenapa aku tidak segera mengangkat mahapatih, yang menjadi tangan kananku.

"Mereka semua, juga kalian, tak bisa memaksaku."

Permaisuri Tribhuana merasakan bahwa justru di balik kata-kata yang gagah itu, Baginda sedang menenggelamkan rasa gelisah.

"Aku bisa menentukan siapa saja menjadi mahapatih. Bahkan kalian permaisuriku, kalau aku berkenan, bisa terjadi. Siapa pun tak ada yang bisa menghalangi.

“Aku mendengar suara-suara bahwa disebut nama-nama Nambi, Sora, Lawe, Kuti, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, Yuyu, dan entah siapa lagi. Dengan mata tertutup pun aku bisa memilih salah seorang di antara mereka. Atau yang lain sama sekali.

“Mereka adalah rakyat jelata. Yang tadinya hanya bisa membalik tanah menjadi sawah. Akulah yang mengangkat mereka dengan derajat dan pangkat. Memberikan kehormatan yang seumur hidup mereka tak pernah diperoleh.

“Mereka hanyalah cemeng dan bukan gogor.

“Sejak lahir sebagai cemeng besarnya tetap akan menjadi kucing. Sakti seperti apa pun, tetap seekor kucing. Tak akan bisa menjadi harimau. Hanya gogor yang bisa menjadi harimau. “Akulah dulu gogor, anak harimau yang tetap tak bisa menjadi kucing. Inilah bedanya antara seorang raja dan bukan raja. Kelak kalian inilah yang akan melahirkan gogor, yang akan meneruskan takhta dan kebesaran Keraton ini. Bukan para senopati.”

Baginda menghela napas.

“Bagaimana pendapatmu, Tribhuana?”

“Segala apa yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Kamu yang mengerti tentang tata Keraton tentu lebih mengerti bahwa seorang raja tidak perlu menanyai permaisurinya untuk masalah seperti ini.

“Tetapi aku bisa melakukan. “Mahadewi, apa pendapatmu?”

“Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Seekor anak kucing tetap berbeda dan tak akan menjadi anak harimau. Takdir dari Dewa yang Maha Penentu sejak dulu sudah membedakan itu.

“Bagaimana pendapatmu, Jayendradewi?” “Segala yang Baginda katakan, benar adanya.”

“Siapa yang pantas menjadi mahapatih menurut pendapatmu, Gayatri?”

Gayatri menghaturkan sembah, seperti kakak-kakaknya, sebelum menjawab pertanyaan Baginda.

“Segala yang Baginda katakan, menjadi benar adanya.” Sejenak Baginda terdiam.

“Apa maksudmu?” Gayatri menyembah lagi. “Seperti hamba haturkan, segala yang Baginda katakan atau isyaratkan, menjadi benar adanya.” Baginda tersenyum.

“Gayatri, kamu ini selalu menjadi lain. Putri Singasari yang paling jelita, tetapi juga paling keras kepala. Entah kenapa aku justru menyayangimu— seperti aku menyayangi yang lain.

“Aku sudah mendengar semua laporan perjalanan ke Perguruan Awan. Sampai ke hal yang sekecil-kecilnya.

“Kenapa kamu katakan segala apa yang aku katakan akan menjadi benar?

Kenapa tidak kaukatakan bahwa yang aku katakan memang benar adanya?” Gayatri menunduk.

Makin menunduk.

“Kalau Baginda sumber kebenaran, segala apa akan menjadi benar.” “Ah, kamu pun menyangsikan.”

Gayatri menyembah.

“Sama sekali tidak mungkin, Baginda.” Baginda memandang Permaisuri Indreswari. “Apa yang akan kaukatakan, Indreswari?” “Baginda, hamba menunggu dawuh Baginda.”

“Kamu benar, Indreswari. Meskipun secara resmi kamu telah menjadi permaisuri utama, hari ini aku bersabda, bahwa putramu kelak yang menjadi putra mahkota. Putusan ini berlaku sampai aku mencabut kembali.

“Halayudha, catat semua ini.”

Senopati Halayudha, yang berada di luar ruangan, menyembah hormat. Lalu Baginda Raja melambaikan tangannya. Kembali ke peraduannya. Kelima permaisuri melakukan sembah hormat, lalu berjongkok keluar dari ruangan. Tanpa suara, seakan kesepuluh kaki berkain itu tak menginjak lantai.

“Halayudha!”

Yang dipanggil segera menghadap dengan berjongkok, melakukan sembah, dan menunggu.

“Kamu selalu tahu apa yang terjadi di ruang ini. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Siapa di antara senopatiku yang pantas menduduki kursi mahapatih?”

Halayudha menyembah lagi. Tubuhnya makin dalam membungkuk.

“Kalau hamba seratus kali lebih pintar, tetap tak akan bisa menjawab pertanyaan Baginda. Anak kucing kecil tak akan bisa menilai anak kucing yang lain.”

“Bagaimana kalau Nambi?” Halayudha menyembah hormat.

“Tiada putusan yang lebih tepat dari yang Baginda katakan.” “Apa alasanmu?”

“Pertama, Mpu Nambi sangat setia kepada Baginda. Kedua, jasanya di saat peperangan tak diragukan lagi. Ketiga, Mpu Nambi adalah senopati yang juga memimpin prajurit telik sandi. Keempat, rasanya tidak ada yang bisa menandingi Mpu Nambi dalam melaksanakan kehendak Baginda. Kelima, Baginda telah mengatakan sendiri. Sabda seorang raja adalah rahmat dan anugerah. Keenam…”

“Jarang aku menemui seseorang yang begitu tulus memuji orang lain.” “Sesungguhnya hamba hanya mengatakan apa adanya, Baginda. Sama sekali

jauh dari keinginan memuji yang memang tidak hamba miliki.”

“Baik kalau begitu. Segera umumkan pasewakan agung. Aku tak ingin hal ini tertunda lebih lama.”

“Dua hari lagi adalah hari yang sangat baik, karena saat itu bulan purnama, saat Baginda dilahirkan untuk memimpin Keraton yang makin agung ini.” “Baik kalau begitu.

“Ada yang mau kamu katakan?”

Halayudha seperti mau mencium lantai ketika menghaturkan sembah.

“Duh, Baginda Raja sesembahan semua makhluk hidup di sepanjang lautan hingga ke puncak gunung, hamba hanya ingin menghaturkan bahwa Nyai Demang telah datang.”

Baginda Raja mengangguk pelan.

Itu merupakan isyarat bagi Halayudha untuk menyembah lagi, dan merasa kalimatnya berkenan.

“Nyai Demang bisa nembang kidungan dengan sangat baik, Baginda. Itu yang pertama. Yang kedua, Nyai Demang tak mungkin dipercaya jika mengatakan bahwa ia dipanggil menghadap Baginda.”

“Kamu pintar, Halayudha.”

“Mudah-mudahan pujian Baginda diperkenankan Dewa Agung sekuku hitamnya.”

Baginda menarik napas.

“Soal kidungan Kitab Bumi tak peduli. Tapi aku ingin tahu wanita seperti apa Nyai Demang itu. Apa benar seperti yang diceritakan orang selama ini.”

Nyai Demang di Kamar Peraduan

HALAYUDHA menyembah sekali lalu mundur dengan tetap jalan berjongkok. Tak lama kemudian pintu terbuka kembali.

Baginda Raja melihat sesosok bayangan yang masuk, diiringi oleh Halayudha. Dalam hati Baginda memuji cara kerja Halayudha yang sangat rapi. Ternyata

Nyai Demang telah berada di sekitar Keraton. Di depan pintu peraduan. Tanpa

menimbulkan kecurigaan, karena diberi pakaian seperti prajurit lelaki. Rambut Nyai Demang yang ikal dan lebat baru kelihatan ketika ikat kepala dibuka. Dadanya yang montok tertutup kemben yang padat, memperlihatkan kemontokan yang terjaga dan terawat.

Sekilas Baginda bisa mengetahui bahwa tubuh Nyai Demang memang sangat sempurna, dan sekaligus menggoda. Sebagai seorang yang banyak mengenal wanita, Baginda tak bisa menutupi kekagumannya. Bahkan sampai tidak tahu Halayudha sudah menyembah dan berlalu.

Nyai Demang menyembah sekali, lalu berdiri.

“Baginda tidak mengharapkan saya akan menunduk dan berlutut di kaki Baginda dan kemudian diperkenankan memijati kaki sambil membersihkan kuku. Atau wanita seperti itu yang Baginda harapkan?”

Baginda tersenyum lebar.

Setelah resmi menjadi raja, Baginda terpaksa muncul dalam berbagai penampilan yang resmi dan sangat ketat dengan tata upacara. Bahkan menghadapi permaisurinya sendiri, rasa hormat itu tak berkurang sedikit pun.

Sekali ini lain!

Sekali ini ada seorang wanita yang begitu menyembah, langsung berdiri menantang.

Bukan sembarang wanita. Tapi Nyai Demang.

Yang seluruh tubuhnya penuh, padat, dan berisi. Baru sekarang Baginda memperhatikan bahwa sesungguhnya Nyai Demang sangat menawan, kalau dihubungkan dengan asmara badani. Mulai dari bentuk alisnya yang lebat, matanya yang galak, hidung melengkung ke depan dan mendenguskan berahi, serta terutama sekali sunggingan bibirnya seakan menunjukkan bahwa bibir itu tahu segalanya.

Nyai Demang bukan hanya menyadari kelebihan tubuhnya, akan tetapi juga menunjukkan mengetahui bagaimana mempergunakan kelebihan ini!

Caranya berdiri menantang menunjukkan itu.

Walau tubuhnya tertutup rapat oleh kain, akan tetapi jelas menunjukkan apa di balik yang ditutupi. “Tidak, Nyai. Aku menyukai caramu.”

“Pasti sudah lama Baginda tidak bertemu wanita seperti saya. Yang berani menantang sorot mata Paduka. Yang berdiri di depan Baginda dengan kedua tangan terkembang. Malam ini Baginda akan menemukan kenyataan dari segala impian yang paling liar sekalipun.”

“Oho, kamu tahu apa yang dikehendaki seorang lelaki.” “Saya dibesarkan dan mengenal dunia dengan cara itu.”

“Apa benar yang dikatakan orang selama ini, bahwa Nyai Demang mampu membuat surga di langit muncul di bumi?”

“Baginda akan segera membuktikan sendiri.

“Malam ini kamar terkunci, tak akan ada yang mengganggu. Tak ada yang mengusik. Baginda bisa memuaskan seluruh hasrat badani secara tuntas.

“Demikian juga saya.”

“Aha, kamu ingin mengelap keringat Raja junjunganmu?”

“Di mana Baginda menghendaki? Di ranjang pelaminan, di lantai ini? Dengan cara apa Baginda minta dilayani? Apa yang ingin saya bersihkan? Keringat? Atau tulang sumsum?”

Baginda agak kaget mendengar ucapan Nyai Demang. Ini bukan liar. Ini kasar.

Nyai Demang tertawa.

“Baginda, malam ini saya ada alasan untuk membalas semua dendam yang ada.

Bersiaplah.”

Baginda meloncat dari ranjang.

“Ambil senjata trisula yang menjadi andalan. Akan saya buktikan apakah Baginda masih bisa bermain silat atau tenggelam dalam pelukan wanita dan makanan enak.” “Nyai Demang, lancang mulutmu.” “Akan lebih lancang lagi tanganku ini.

“Ketahuilah, bahwa semua ini aku lakukan karena kamu terlalu menghina wanita. Baginda kira aku ini wanita macam apa sehingga bisa memerintahkan memanggil dan menyuruh melayani?

“Aku mengenal banyak lelaki, tetapi ini yang paling kasar. Yang tak punya perasaan sama sekali. Untuk ini aku akan mencekik batang leher Baginda di mana pun adanya!

“Yang kedua, pembalasan dendam karena Baginda telah menyebabkan Adimas Upasara Wulung, ksatria tulen yang berbakti pada Keraton, menjadi cacat seumur hidup. Untuk ini akan kubalas dengan membuat Baginda sama malu dan hinanya.

“Akan kuperlihatkan pada semua penduduk dengan menenteng Baginda dalam keadaan tanpa busana.

“Bersiaplah, Baginda.

“Saya bisa melaksanakan lebih baik selama Baginda mencumbu. Akan tetapi saya tak ingin mengambil keuntungan dari cara seperti itu. Saya yang Baginda anggap wanita rendahan, masih mempunyai jiwa ksatria untuk menantang secara perwira.”

Baginda tak menduga, tak menyana.

“Kalaupun terjadi gedubrakan di ruangan ini, Halayudha tak akan masuk. Ia menduga kita berdua terlibat asmara badani.”

“Tunggu, aku belum lagi bicara.”

“Aku tak butuh kata-kata yang selalu dianggap benar.”

Nyai Demang meloncat tinggi, tangan kanan terjulur ke arah leher Baginda, yang segera menghindar. Meleset tangan kanan, tangan kiri ganti membetot ke arah bawah, disertai gerakan kedua seolah menyapit pinggang untuk dilipat habis.

Hebat gerakan Nyai Demang yang dibakar amarah. Dengan membalikkan tubuh secara cepat, terlihat kegesitan yang masih unggul. Bahkan kain, yang kelihatan membelenggu, ternyata tidak menghalangi gerakannya.

Tak ada jalan lain bagi Baginda selain meloncat mundur. Meloncati ranjang. Justru itu yang diharapkan Nyai Demang. Begitu lawan bergerak mundur, Nyai Demang meloncat ke tengah ranjang, menotol kakinya untuk setengah terbang. Di angkasa, kedua kaki Nyai Demang menendang wajah Baginda!

Hanya Nyai Demang yang bisa melakukan itu.

Hanya Nyai Demang yang tega berbuat dengan gerakan tendangan ke wajah rajanya!

Kalau tadi Baginda mengagumi kaki dan betis Nyai Demang, kini merasa kehormatannya seperti dibedaki dengan lumpur. Baginda menggerung keras. Dua tangan melindungi kepala, dan sekaligus menangkap kaki Nyai Demang. Satu kaki terbetot dan bisa dipuntir, tapi kaki yang lain, persis bagian tungkai, mengancam bibir Baginda.

Tak ada cara lain, selain melepaskan cekalan dan mundur lagi.

Kesiuran kaki beberapa jari di depan wajah membuat Baginda jengah, marah, dan terhina!

“Inikah jurus Kemenangan Gemilang?”

Nyai Demang bukan saja berhasil memojokkan Baginda yang berdiri di lantai sementara Nyai Demang sendiri bertolak pinggang di atas ranjang. Tetapi juga memojokkan Baginda dengan kata-kata hinaan.

Apa yang dikatakan Nyai Demang tentang jurus Kemenangan Gemilang adalah unsur rajasa, yang artinya mengubah suasana gelap menjadi terang-benderang akibat kemenangan yang gemilang. Seperti diketahui unsur rajasa ini sekaligus menjadi nama gelar Baginda sewaktu dinobatkan menjadi raja.

“Mana lagi, ayo tunjukkan padaku Kemenangan Lahir-Batin yang kauandalkan.”

Nyai Demang memancing dengan gerakan menyerang bagian bawah tubuh Baginda. Karena ia berada di atas ranjang, gerakan ini dengan sendirinya dibarengi dengan menjatuhkan dirinya. Baginda tak bisa mundur lebih jauh, terpaksa menangkis dengan kedua tangannya. Kalau mungkin meloncati tubuh Nyai Demang untuk bisa menyelamatkan diri.

Nyai Demang sangat cerdik memaksa Baginda mengeluarkan unsur kerta, yang berarti memperbaiki kehidupan, mengubah kekacauan menjadi ketertiban, yang dikatakan oleh Nyai Demang dengan sebutan Kemenangan Lahir-Batin.

Kehebatan Nyai Demang terutama sekali karena dengan sangat ringan bisa memaksa lawan mengeluarkan jurus-jurus seperti yang dikatakan.

Hal ini sebenarnya bukan karena Nyai Demang menguasai dengan sempurna jurus-jurus andalan dalam ilmu Kerta Rajasa Jaya Wardhana. Nyai Demang sebenarnya lebih menguasai secara teori. Dan itu memang kelebihannya yang sulit ditandingi. Karena kemampuannya menangkap bahasa dan daya ingatnya memang luar biasa.

Meleset dari cengkeraman, Nyai Demang malah tertawa gembira, tubuhnya bergulung di lantai, berputar, dan begitu kakinya menjejak dinding, tubuh itu meluncur di bawah ranjang, mencoba menangkap kaki Baginda.

“Mana Kemenangan Sempurna yang kamu andalkan?”

Sekali lagi Baginda dipaksa untuk mengeluarkan unsur jaya, atau kemenangan dalam pertempuran. Karena diserang dari bawah, sekali lagi tubuhnya terpaksa melayang ke atas. Ini berarti masuk perangkap Nyai Demang. Jurus berikutnya sudah didikte dan disiapkan! Bahaya.

Aji Sirep Laron

PERANGKAP Nyai Demang sungguh maut!

Baginda bukannya tak mengetahui, tetapi tak bisa berbuat banyak selain memang melayang ke atas. Hanya saja unsur jaya biasa dimainkan memakai senjata trisula muka, alias tombak berujung tiga. Berarti kekuatan untuk menopang loncatan ke atas bertumpu pada tombak. Baginda agak kikuk karena justru tak memegang senjata andalannya. Kaki kiri yang dipakai untuk menjejak, hanya seperempat tenaga! Karena tiga perempat kekuatan dipinjam dari entakan trisula muka!

Dengan demikian loncatannya tak bisa tinggi. Dengan begitu, Nyai Demang bisa memaksa jurus dari unsur wardhana, jurus yang paling lembut, karena berintikan kesejahteraan.

Saat itulah Nyai Demang siap untuk menghancurkan Baginda. Menangkap kaki, dan bisa menekuk. Dan selanjutnya, sejarah bisa menjadi lain sama sekali!

Seorang raja yang berkuasa dipecundangi Nyai Demang dalam kamar peraduan.

Nyai Demang sudah lama mempersiapkan balas dendam ini.

Ia tidak mengikuti secara urut kejadian di Perguruan Awan. Ia hanya mengetahui bahwa Upasara Wulung telah menjadi cacat seumur hidup. Apa pun alasan dan sebabnya, Nyai Demang hanya bisa menunjukkan siapa yang paling bertanggung jawab atas semua ini. Yaitu Baginda Raja!

Berbeda dengan Gendhuk Tri yang bisa mencetuskan isi hatinya, Nyai Demang lebih suka memendam semua persoalan dalam hati. Apa yang dirasakan tenggelam di balik senyuman yang genit dan sikapnya yang seronok. Tetapi di balik segala yang badani itu, Nyai Demang justru memendam keinginan yang rumit.

Kesempatan itu datang ketika utusan dari Majapahit yang bisa dipercaya menyampaikan undangan. Karena utusan itu memakai tanda pengenal Baginda dan memberikan, Nyai Demang percaya sepenuhnya. Lebih percaya lagi ketika ia menemui Halayudha yang juga mencarinya, mengatakan bahwa Baginda memang ingin bertemu dengan Nyai Demang secara pribadi.

“Barangkali Baginda ingin dikidungkan Kitab Bumi yang sekarang ada di Keraton, Nyai Demang yang rupawan.”

“Tanpa kamu katakan, aku tahu apa yang diinginkan lelaki yang ingin bertemu denganku.”

“Nyai Demang sangat benar. Baginda sangat mengagumi Nyai.” “Atur pertemuan itu.”

“Dengan segala senang hati, Nyai. Silakan beristirahat. Saya pribadi yang akan membawa berita dari Baginda.” Selama menunggu, Nyai Demang membulatkan tekad agar tidak terpengaruh oleh kebesaran Baginda. Tekadnya membalas penghinaan dan membalas dendam pada Baginda yang telah menghancurkan Upasara.

Sedikit yang bisa mengetahui sifat Nyai Demang.

Selama ini hampir semua jago silat menilai Nyai Demang dengan satu alis mata terangkat dan cibiran bibir. Nyai Demang tak lebih dari seorang wanita yang rendah budinya. Ini yang membuat Nyai Demang gusar dan terbakar kehormatannya.

Bayangan begitu malu atas dirinya sendiri. Tak ada yang menghargai sedikit pun, bahwa ia bisa juga disejajarkan sebagai jago silat. Bisa dianggap sejajar dengan ksatria.

Tapi semua orang hanya memperhatikan dan menilai dari bentuk tubuhnya yang memang dirawat dengan telaten. Apa salahnya ia mempunyai tubuh yang indah dan merawatnya? Mengapa semua lelaki menganggapku hanya sebagai pemuas nafsu berahi belaka? Pertanyaan-pertanyaan bernada dendam ini membara di lubuk hati Nyai Demang, sejak suaminya, seorang demang, meninggal dunia dan ia mengembara. Satu-satunya lelaki yang tidak memperlakukannya begitu, hanyalah Upasara Wulung!

Ksatria Pingitan itu mengagumi tubuh Nyai Demang, akan tetapi sifatnya sangat berbudi. Baik dalam tutur kata maupun perbuatannya. Bahkan Upasara-lah yang memanggil dengan sebutan hormat sebagai “Mbakyu Demang”.

Di sinilah harga diri Nyai Demang muncul kembali.

Maka, kalau satu-satunya lelaki yang berjiwa ksatria itu kemudian menjadi mayat hidup, dendamnya adalah dendam dari ujung rambut! Dan lelaki yang menjadi sasaran dendam itu adalah lelaki yang menghinanya dengan memanggil, seolah ia adalah wanita yang bisa diperlakukan seenaknya!

Bulat sudah keinginan Nyai Demang menggulung Baginda. Baginya tak peduli yang dihadapi adalah seorang raja!

Kini telah tiba saatnya. “Habis sekarang ini.”

Sebaliknya Baginda yang tengah melayang turun merasa bahwa kekuasaan dan kebesarannya tinggal beberapa kejap saja. Sungguh tak masuk akal, tapi inilah yang akan terjadi.

Dalam keadaan murka, Baginda masih menyimpan kelebatan pikiran bahwa sebenarnya Halayudha yang sengaja melakukan ini. Biar bagaimanapun, Baginda tak bisa mempercayai siapa pun dalam Keraton ini.

Kalau ia menunjuk Halayudha karena selama ini hala, atau tingkat patih ini, menunjukkan pengabdian yang sempurna. Tahu apa yang diinginkan rajanya, dan bisa memberikan. Segala keinginan yang paling rahasia. Dan bisa tutup mulut.

Baginda merasa kecolongan! Tapi tidak.

Justru di saat yang menentukan, tubuh Baginda seperti menginjak barang mati.

Nyai Demang ternyata hanya bisa melotot. Tangannya terulur, akan tetapi tak ada tenaga untuk menangkap.

Baginda menelan ludahnya.

Benar. Nyai Demang terbaring bagai sedang tidur. Hanya matanya yang terbuka. Ketika Baginda menutup mata itu, Nyai Demang benar-benar seperti tertidur.

Lelap. “Halayudha!”

Sebelum tarikan napas Baginda habis, Halayudha telah masuk, sigap, menyembah, dan menutup pintu peraduan.

“Hamba siap menerima hukuman, Baginda.”

“Bawa perempuan tak berharga ini. Mati dan hidupnya kuserahkan padamu.” “Sudilah Baginda memberi petunjuk.”

“Simpan di kamar tahanan. Bila tak ada yang mencari, kubur hidup-hidup.” Baginda masih terbakar oleh kemurkaan. “Perintah Baginda adalah kebenaran.” “Tunggu…”

Tangan Halayudha yang sedang menyembah turun lagi. “Aji sirep apa yang kamu gunakan?”

Halayudha menyembah dengan hormat.

“Maaf, Baginda Raja. Ilmu hamba hanyalah pameran ketololan belaka. Sebenarnya hamba ingin menjajal Aji Sirep Laron. Namun hamba masih dalam taraf belajar dan otak hamba sesungguhnya tumpul.”

Baginda mengangguk.

Aji sirep adalah ilmu atau ajian yang membuat seseorang yang terkena ilmu tersebut menjadi sangat mengantuk dan kehilangan kesadaran. Ilmu ini dalam perkembangannya lebih digunakan para durjana atau penjahat kecil-kecilan jika ingin menggasak harta benda. Dengan menggunakan aji sirep, si pemilik rumah akan terlelap untuk sementara waktu, sementara penjahat menjalankan operasinya.

Tapi yang ditunjukkan Halayudha bukan sembarang aji sirep, melainkan Aji Sirep Laron. Atau Pelelap Laron. Yaitu aji sirep yang bisa dikendalikan seperti mengendalikan laron.

Laron adalah binatang malam yang selalu terbang mendekati sinar. Tak peduli cahaya itu api yang mematikan dirinya!

Nyatanya Halayudha sangat jitu memakai aji sirep tersebut pada Nyai Demang.

Yang berpengaruh pada saat yang menentukan!

Tidak mudah melatih dan menguasai Aji Sirep Laron. Akan tetapi ternyata bisa dipergunakan dengan sangat baik. Dan Halayudha tetap merendahkan diri sebagai “hamba tolol yang sedang belajar”.

Baginda Raja mengangguk.

“Aku berterima kasih. Kamu pantas mendapat hadiah.” “Segala kemurahan Baginda, mudah-mudahan menambah kebesaran Keraton yang sedang dibangun kejayaannya.”

Begitu Baginda mengibaskan tangan, Halayudha tahu itu saat untuk berlalu. Satu tangan mengempit Nyai Demang, Halayudha tetap bisa berjalan sambil jongkok meninggalkan kamar.

Baginda masih termenung sendirian.

Boleh juga abdiku yang satu ini, kata Baginda dalam hati. Kesetiaan dan pengabdiannya besar. Bisa dipercaya. Kalau tidak ada Aji Sirep Laron, entah apa jadinya negara ini.

Ilmunya juga cukup tinggi.

Hmmm, kenapa selama ini aku kurang memperhatikan dan hanya menganggap sebagai hala yang setia? Aku bisa memberikan sesuatu yang lebih dari yang diduduki sekarang.

Abdi semacam ini yang kuperlukan sekarang ini. Apalagi pada saat-saat ada pergolakan, di mana pembangkang dan bukan pembangkang bisa berpakaian sama.

Baginda menutup lamunannya.

Malam itu Baginda pergi tidur tanpa penerangan.

Kurungan di Bawah Keraton Nyai Demang tersadar.

Sadar bahwa ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Tak ada rantai yang mengikat, tak ada tali yang menjerat. Akan tetapi ia tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

Segera ingatannya kembali dengan cepat.

Nyai Demang mengerti bahwa Aji Sirep Laron yang mengenai tubuhnya telah berkurang pengaruhnya. Akan tetapi begitu ia mencoba menggerakkan diri, pengaruh itu muncul kembali. Apalagi kalau ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Apalagi setiap kali Halayudha menjenguk dan mengusap tubuhnya.

Memasukkan pengaruh aji sirep!

Itulah yang terjadi sebelum ia memasuki kamar peraduan Baginda. Hanya karena saat itu tenaganya masih banyak dan bisa diatur, tak sampai menimbulkan bencana di saat melangkah masuk.

Nyai Demang merasa menemukan lawan yang sangat licik, culas, yang terbalut dalam senyum pengabdian.

“Maafkan aku, Nyai Demang. Aku hanya menjalankan titah Baginda. Kalau nanti Baginda longgar hatinya, aku bisa membicarakan pengampunan bagimu.”

“Tutup mulutmu yang bau, manusia licik.” Halayudha menghela napas.

“Manusia seperti aku adalah manusia yang paling pantas dicaci maki. Paling masuk akal dituduh menjilat pantat Baginda, membasuh telapak kaki Baginda dan meminum airnya.

“Mungkin aku lebih hina dari itu, Nyai.

“Tetapi sesungguhnya aku juga memiliki nurani. Nurani untuk mengenai kebaikan budimu. Aku tak akan melupakannya, sampai tulang-tulangku jadi abu.”

“Siapa mau mendengarkan ocehanmu?”

“Cacilah apa saja. Mungkin belum menggambarkan kehinaanku yang sebenarnya.

“Nyai, mintalah apa saja. Asal jangan pergi dari kurungan bawah tanah ini, sebelum Baginda Raja memberi izin.”

Nyai Demang meludah.

“Bagaimana aku bisa meminta suatu apa, kalau kamu selalu datang untuk mempraktekkan ilmu sirep celaka ini?”

Halayudha menekur. Mulutnya berkomat-kamit, dan mendadak tangannya bergerak mengusap wajah Nyai Demang. Nyai Demang meloncat mundur. Dan bisa.

“Maaf, Nyai. Aku terpaksa menyirepmu, karena ini semua demi keselamatanmu sendiri. Kalau kamu ingin bebas, sekarang saatnya. Bahkan kalau kamu ingin mencelakaiku, sekarang pula bisa kaulakukan.”

Nyai Demang menegakkan punggungnya yang terasa kaku. “Omongan busuk apa lagi yang kamu pamerkan ini?”

“Aku mengatakan apa adanya.

“Selama kamu kena aji sirep, selama itu pula kamu akan selamat, Nyai. Karena tak bisa mencari jalan keluar dari kurungan bawah Keraton ini. Begitu tenaga dan kesadaranmu pulih, kamu berniat keluar. Padahal itu hampir mustahil sama sekali. Hanya akan diketahui senopati yang lain. Jika itu terjadi, berarti keselamatanmu terancam. Karena mereka berhak mencincang pelarian dari kurungan bawah tanah ini.”

“Huh, siapa bilang aku tak bisa keluar?” “Coba saja, Nyai.

“Setahuku, hanya aku seorang yang tahu jalan berputar di kurungan ini. Dan aku lebih suka mati jika dipaksa untuk mengeluarkanmu. Karena aku mengabdi kepada Baginda.”

“Kamu memang manusia hina.”

“Makilah dengan lebih buruk, tetap tepat untukku.” “Kenapa kamu tidak mau mengeluarkan aku?” Halayudha tersenyum tipis.

“Sebab Baginda akan membebaskanmu. Jalan yang aman bagimu dan bagiku.” “Kenapa Baginda membebaskanku?” “Kalau Upasara yang datang dan meminta, Baginda pasti akan meluluskan.” “Boleh juga pikiranmu.

“Tapi kalau Adimas Upasara tidak mau datang?”

“Itulah yang dinamakan nasib, yang ditulis dalam kitab sebagai nasib. Aku dan kamu tak bisa berbuat lain.

“Sekarang terserah padamu, Nyai. Aku akan menyediakan apa saja keperluanmu. Lebih dari berada dalam Keraton. Hanya satu permintaanku, janganlah nggege mangsa.

“Mempercepat musim atau nggege mangsa adalah bertentangan dengan hukum alam. Ada saatnya buah maja tumbuh, ada saatnya buah durian dan jambu tumbuh. Masing-masing menyimpan irama alam. Kita tak bisa mengubah dan mempercepat musim maja kalau durian yang sedang berbuah.

“Maafkan kalau aku bicara menggurui. Ini kebiasaan berbicara di Keraton.”

Dengan sangat halus Halayudha seakan mau mengatakan kebiasaan memberitahu Baginda adalah dengan cara menerangkan kepada anak kecil.

“Baik, senopati busuk, kuterima kata-katamu karena tak ada pilihan lain. Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Terserah padamu, Nyai.

“Melatih ilmu silat, Nyai bisa di ruangan sebelah. Merawat tubuh, akan segera kami kirimkan. Meminta kitab-kitab Keraton untuk dipelajari, sejauh saya bisa menyediakan akan saya berikan. Selebihnya menunggu.”

Halayudha mengangguk hormat, lalu berjalan meninggalkan.

Nyai Demang memperhatikan cara Halayudha berjalan. Dengan kecepatan berpikir, mencoba menghafal belokan-belokan di depannya yang ditempuh Halayudha.

Akan tetapi ketika kemudian ia mencoba, empat kali kembali ke tempatnya semula. Lorong-lorong dalam kurungan bawah tanah ini mengingatkan kepada Gua Lawang Sewu yang hanya mungkin dilewati mereka yang tahu caranya.

Di Keraton Singasari dulu juga ada gua tahanan semacam ini yang dijaga harimau. Akan tetapi agaknya yang sekarang ini jauh lebih aman dan sulit ditembus. Sehingga tak perlu dijaga!

Tidak oleh harimau maupun oleh penjaga!

Nyai Demang mengakui bahwa Halayudha mempunyai dan mengerti banyak hal yang tak diduga sementara orang. Siapa pun agaknya bisa terkecoh olehnya!

Termasuk dirinya sekarang ini!

Nyai Demang tak bisa memastikan apakah Halayudha berdusta padanya atau tidak. Namun apa yang dikatakan masuk akal.

Nyai Demang berusaha mengenal kurungan bawah tanah ini. Ia berada dalam ruangan yang ada ranjang kayunya. Tanpa pintu. Di depannya adalah berbagai lorong tak menentu. Penuh dengan belokan dan putaran. Setiap kali mencoba lolos, akan kembali ke tempatnya semula.

Paling jauh hanya sampai ke tanah lapang yang agak lega. Agak lega karena bisa melihat langit.

Namun Nyai Demang tak mempunyai bayangan bisa lolos dari tempat ini. Karena dindingnya sangat terjal dan sangat tinggi untuk mencapai permukaan. Bahkan burung pun tak ada yang tersesat ke dalam kurungan bawah tanah.

Tak ada yang mencoba membuat sarang di dinding yang terjal. Tak ada yang menyuruk ke dalam. Padahal di tanah lapang ini ada beberapa batang pohon!

Sekali lagi Nyai Demang memuji pemilihan tempat yang luar biasa. Menurut perhitungan Nyai Demang, kurungan bawah tanah ini dibangun di bagian yang permukaannya adalah sebuah gunung atau pegunungan. Bekas kawah suatu gunung yang tak bekerja lagi. Ini kalau dilihat dari adanya hawa hangat dalam ruang dan adanya lorong-lorong.

Satu-satunya jalan ialah melalui jalan berputar. Tapi hanya Halayudha yang mengetahui rahasianya!

Bolak-balik Nyai Demang berusaha lolos, akhirnya kembali kepada kesimpulan yang disarankan Halayudha. Menungggu!

Seumur hidup, Nyai Demang tak pernah sendirian seperti sekarang ini. Latihan berada di Perguruan Awan, sebenarnya juga tak terlalu sepi, karena di sana banyak teman seperguruan. Di samping ia bisa meninggalkan setiap saat.

Sekarang tak ada siapa-siapa.

Mendadak Nyai Demang bangkit. Ia seperti mendengar napas seseorang. Ya, sekarang makin yakin bahwa itu napas seseorang yang bisa dibedakan dari desiran angin.

Nyai Demang duduk bersila dan mulai membaca kidung:

Kalau terkurung, kamu lepas kalau lepas, kamu terkurung di mana-mana ada air

di mana-mana ada sumber kalau kamu terkurung air kamu lepas

kalau kamu lepas dari air kamu terkurung!

Sebelum kidungan Singa Meta—yang merupakan kidungan kedelapan dari Kitab Penolak Bumi—selesai, terdengar suara girang luar biasa. “Tole, aku tahu kamu akan datang padaku.” Tak salah lagi. Itu adalah suara Dewa Maut!

Bagaimana mungkin bisa berada di kurungan bawah Keraton ini?

Pertarungan Matahari dengan Rembulan Dewa Maut muncul dari salah satu lorong.

Bibirnya menyunggingkan senyum, lalu menjadi tawa yang mengekeh, sebelum akhirnya berubah menjadi kecut sewaktu melihat Nyai Demang.

“Hoho, kamu bukan Tole.”

Dewa Maut langsung memutar tubuh.

Nyai Demang meloncat tinggi dan menutup jalan di depan Dewa Maut. “Tunggu dulu. Masa begitu bertemu langsung pergi begitu saja?”

“Aku mau ketemu Tole. Kini aku tahu bahwa srengenge kalah dening rembulan. Seumur-umur kita mempelajari pembukaan kitab itu, baru hari ini aku tahu.

“Tapi aku tak mau memberitahu kamu. Aku hanya mau memberitahu Tole-ku seorang.”

Nyai Demang bercekat.

Sifat Dewa Maut tetap tidak berubah. Ingatannya yang menceng makin parah. “Aku tahu tentang Gendhuk Tri.”

“Aku tidak tanya Gendhuk. Aku mau Tole.”

“Baiklah, aku tahu tentang keponakanmu, tentang kekasihmu itu.” Dewa Maut menunduk malu-malu.

“Katakan lebih dulu, sejak kapan kamu berada di sini?” “Hoho, sejak aku tahu bahwa matahari bisa dikalahkan rembulan.” Nyai Demang jadi serbasalah.

Tadinya mengira bahwa dengan bertemu Dewa Maut, agaknya ia mempunyai harapan untuk lolos. Akan tetapi nyatanya malah membuat makin jengkel.

Namun Nyai Demang tidak cepat berputus asa. Biar bagaimanapun, kini ia mempunyai teman yang bisa diajak bicara. Kalau sampai Dewa Maut muncul dari lorong yang lain, berarti ada jalan lain! Tak mungkin Dewa Maut jatuh dari atas tanpa hancur tulangnya. Walau ilmunya menjadi seratus kali lebih tinggi, tak bakal ada yang selamat kalau dilemparkan ke bawah.

“Sejak kapan kamu meninggalkan Perguruan Awan?”

“Sejak aku tahu bahwa garuda bisa dikalahkan burung prenjak.” “Sejak kapan garuda dikalahkan burung kecil?”

“Sejak harimau kalah bertarung melawan menjangan.” “Aku tahu semua yang kamu katakan.

“Singa bisa kalah melawan kancil, kucing kalah melawan tikus, ular kalah melawan katak.

“Benar?”

“Ya, kamu mencuri ilmu itu dari mana?”

“Dewa Maut, dengar baik-baik. Kita mempelajari pembukaan Kitab Penolak Bumi itu secara bersama-sama. Ingat? Ada Adimas Upasara Wulung…”

“…Ya…”

“Ada Paman Jaghana…” “Hmm.”

“Ada Paman Wilanda, Galih Kaliki…” Dewa Maut menggelengkan kepalanya. “Ada Nyai Demang…”

“Hmm.” “Ada Tole…”

“Ya, mana dia?”

“Dia menunggu di luar. Kalau kita bisa keluar bersama, kita akan bisa menemuinya.”

Di luar dugaan Dewa Maut menggelengkan kepala.

“Tak ada gunanya. Tole akan menjemputku kemari. Sejak di hutan kami telah berjanji. Dan aku dibawa kemari oleh orang bertopeng kulit kayu.”

“Kamu mengenal Klikamuka?”

“Dia yang mengatakan aku harus berada di sini.” “Bagaimana kalau kita keluar bersama-sama?” “Tidak mau.”

Nyai Demang menyingkir.

“Baik kalau begitu. Aku akan keluar sendiri. Akan kutemui Tole dan akan kukatakan tak usah menemui Dewa Maut yang sudah tidak waras.”

Dewa Maut jadi ragu. “Baik, selamat tinggal.”

Nyai Demang masuk lewat lorong dari mana Dewa Maut muncul. Terus berjalan dengan memilih ancar-ancar kiri-kanan. Akan tetapi sampai berkeringat, akhirnya kembali ke tempatnya semula. Terpaksa keluar, meneliti jalan yang tadi menuju tanah lapang. Dewa Maut masih berada di tempatnya.

“Hoho, akhirnya kamu kembali lagi kemari. Sudah kukatakan di luar tidak menyenangkan.”

“Aku tak bisa keluar,” kata Nyai Demang lirih. “Dusta!

“Kamu tak bisa mendustaiku. Lebih mudah keluar daripada masuk. Hoho, aku tak bakal kena didustai.”

“Bagaimana mungkin begitu gampang keluar?”

“Ya, kamu sudah tahu pembukaan Kitab Penolak Bumi. Sebenarnya kurungan ini dibuat berdasarkan pembukaan kitab itu. Ketika aku mencobanya, memang gampang sekali. Tapi aku juga seperti kamu, aku lebih suka kembali ke sini.”

Nyai Demang memandang kecewa.

Kalau kembali lagi, itu sama juga tidak bisa keluar!

Tapi mana mungkin Dewa Maut mempermainkan? Mendadak Nyai Demang bergerak cepat. Jubah Dewa Maut kena dicekal. Sesuatu yang disembunyikan di balik jubah bisa diambil.

Nyai Demang tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dua buah gelang!

“Jangan ambil, itu buat Tole.”

Nyai Demang mengembalikan dengan baik. Kini ia yakin bahwa Dewa Maut benar-benar bisa keluar dan bisa masuk kembali. Gelang itu pasti tidak disembunyikan ketika ia ditawan. Lagi pula kalau sejak lama berada dalam tempat yang sama, mana mungkin ia tidak mengetahui sama sekali.

“Ambil kembali gelangmu. Tapi carikan buat aku.” “Aku takut.” “Bagus, kalau begitu aku akan mengiringkan di belakangmu. Nanti akan kuambil sendiri.”

“Hoho, hanya Tole yang bisa memerintah aku. Kenapa kamu tidak pergi sendiri?”

“Bagaimana caranya?”

“Dalam pengantar Kitab Penolak Bumi dikatakan bahwa burung garuda yang perkasa kalah dari burung prenjak, harimau kalah oleh menjangan, gajah kalah oleh macan, matahari kalah oleh rembulan, kucing kalah oleh tikus, anjing kalah oleh kancil, dan ular kalah oleh katak.”

“Lalu?”

“Kita ikuti saja kata-kata itu.” Nyai Demang tertunduk lemas.

Ia mencari akal lain. Dengan menyelinap di balik lorong yang ada, ia akan mengikuti Dewa Maut! Inilah salah satu cara terbaik. Pasti Dewa Maut akan keluar dari tempat ini.

Mendapat pikiran begitu, Nyai Demang agak tenang.

Apa yang diperkirakan ternyata benar. Tak sampai sore, Dewa Maut sudah berdiri sambil menghafalkan pembukaan Kitab Penolak Bumi. Nyai Demang mengikuti dari belakang. Sengaja mempergunakan cara meringankan tubuh agar tidak membuat Dewa Maut curiga.

Akan tetapi pada suatu tikungan, Dewa Maut lenyap dari pandangannya! Seperti ditelan bumi!

Dan begitu Nyai Demang mengejar sekenanya, akhirnya kembali ke tempatnya semula!

Ini benar-benar aneh dan tak bisa dimengerti.

Dewa Maut bisa memecahkan rahasia kurungan di bawah tanah ini dengan pembukaan dari Kitab Penolak Bumi. Ia bisa mengidungkan dengan baik, akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan-jangan aku sudah gila, pikir Nyai Demang. Tak ada Dewa Maut. Hanya karena selama ini aku tak berjumpa dengannya, aku merasa bertemu.

Namun esoknya, Nyai Demang menjumpai Dewa Maut duduk di lapangan sambil minum tuak, sejenis minuman keras yang dibuat dari buah aren.

Ini berarti bukti yang lain bahwa Dewa Maut bisa keluar-masuk Keraton.

Bahkan bisa mengambil makanan dan minuman.

Ini berarti tetap tak bisa diikuti. Karena justru ia yang waras dan memiliki ilmu lebih tinggi, tak bisa menguber Dewa Maut.

Benar-benar seperti garuda yang dikalahkan prenjak! Seperti matahari yang dikalahkan sinar rembulan. “Dewa Maut, kenapa kamu tidak mengajakku?” “Aku membawakan untukmu.”

Dewa Maut memberikan kendi yang berisi minuman keras. Nyai Demang mengembalikan.

“Aku ingin santapan Baginda.”

“Tidak, aku tidak mencuri. Aku hanya mengambil sisa-sisa yang ditinggalkan para prajurit.”

Nyai Demang menghela napas.

Inilah akhir dari perjalanan hidupnya. Terkurung dalam tahanan bawah tanah, ditemani seseorang yang bisa keluar-masuk, tapi ia tetap berada di dalam. Betapa menyakitkan!

Laku, Kunci Segala Kunci

SATU-SATUNYA harapan bagi Nyai Demang hanyalah menggertak Halayudha. Maka begitu Halayudha muncul lagi sambil membawa makanan serta pakaian ganti, Nyai Demang memperlihatkan gelang serta makanan dari Dewa Maut.

Halayudha mengerutkan kening.

“Apakah kamu merasa heran bahwa aku bisa keluar dan masuk dari tempat

ini?”

“Betul-betul menakjubkan. Akan tetapi bagaimana mungkin?” “Sangat sederhana.

“Lorong dalam tahanan bawah Keraton ini disusun sedemikian rupa sesuai dengan pembukaan Kitab Penolak Bumi.”

“Mustahil.”

“Apa lagi yang kaubanggakan?

“Aku hanya ingin menunjukkan bahwa seharusnya aku dibawa secara baik- baik dan dilepaskan secara baik-baik. Sebab aku akhirnya toh bisa keluar sendiri.”

Dengan taktik ini, Nyai Demang berharap bisa dibawa keluar dengan baik-

baik.

“Aku sudah membaca Kitab Bumi. Baik Dua Belas Jurus Nujum Bintang, maupun Kitab Penolak Bumi. Dari pembukaan sampai bagian akhir. Rasanya tak ada yang menjelaskan cara mengatur lorong-lorong di bawah ini.”

“Aha, mana mungkin kamu bisa membaca dengan baik? “Dengar baik-baik, kalau ingin kupecahkan rahasia itu.”

Halayudha bergerak. Tanpa menggeser kaki. Hanya telapak tangannya yang bergerak cepat. Mengusap wajah Nyai Demang yang mendadak merasa sangat mengantuk. Begitu mengerahkan tenaga melawan, keletihan malah membebani. Antara sadar dan tidak, Nyai Demang sadar bahwa ia terkena pengaruh Aji Sirep Laron.

“Nyai Demang, sekarang kamu hanya mendengar dan menuruti apa yang kukatakan. Mengerti?” “Mengerti.” Nyai Demang tak bisa menguasai bibirnya untuk tetap terkunci.