Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 14

Jilid 14

Upasara membuka buntalan yang dibawa Wilanda. "Sebagian berada dalam tubuh saya.

"Keduanya akan saya serahkan kepada para senopati yang lebih mengetahui tugas. Agar dengan demikian, di kelak kemudian hari tak ada lagi permasalahan yang mengganjal. Agar di kelak kemudian hari tak ada alasan untuk menyesali Perguruan Awan.

"Saya persilakan." Sirna, Sirna Sempurna UPASARA bersila.

Kedua kakinya ditekuk. Tubuhnya sedikit membungkuk.

Kedua tangan dirangkapkan, saling menindih, dengan telapak tangan menengadah.

Sunyi.

Angin tak bergerak. Dari kejauhan Klikamuka melihat pemandangan yang ganjil. Tubuhnya menggigil tanpa terasa.

Di suatu lapangan yang luas, deretan prajurit dalam keadaan siap tempur tengah mengepung seorang lelaki muda yang justru duduk bersila. Yang menyilakan untuk diapa-apakan.

Awan menyingkir sempurna. Langit bersih tanpa warna.

Upasara menunggu.

Wilanda tak berani memandang, tak berani melirik. Ia dibesarkan di Perguruan Awan. Ia salah seorang murid Perguruan Awan, sebelum akhirnya berbakti pada Keraton Singasari sebagai prajurit. Sewaktu berita ada Tamu dari Seberang, Wilanda-lah yang menjadi penunjuk jalan. Ia berangkat mengiringi Upasara Wulung yang untuk pertama kali meninggalkan ksatrian, bersama dengan Ngabehi Pandu, gurunya.

Di sinilah terjadi perang tanding habis-habisan antara tokoh-tokoh kelas satu. Berbagai peristiwa menyeret Wilanda hingga akhirnya diterima kembali sebagai warga Perguruan Awan. Sampai kemudian, Upasara Wulung memilih tempat tersebut dan dianggap sebagai pemimpin.

Sedih, pedih, dan batin Wilanda merintih.

Sejak mengasingkan diri ke dalam Perguruan Awan boleh dikatakan Wilanda selalu bersama-sama Upasara Wulung. Nyai Demang dan Galih Kaliki kadang datang dan pergi, begitu juga Gendhuk Tri dan Dewa Maut.

Hanya dirinya dan Jaghana yang paling sering bersama-sama. Wilanda jadi lebih mengerti segala perasaan Upasara Wulung yang mencoba hidup sebagaimana alam. Menanam buah-buahan, merawat tetumbuhan, menolong binatang yang terluka, dan hanya mengambil buah untuk makan, sejauh yang diperlukan. Sejak masuk hingga sekarang Upasara membiarkan rambut dan kukunya tumbuh, dan tak mengganti pakaiannya.

Pada saat-saat tertentu, Upasara mengajak Wilanda dan Jaghana melatih pernapasan bersama. Membaca Tumbal Bantala Parwa secara bersama, dan melatih pula secara bersama. Memang begitulah cara hidup dalam Perguruan Awan. Walau resminya Upasara Wulung adalah pemimpin, Jaghana dan Wilanda tidak menyediakan buah-buahan khusus untuk Upasara, tidak juga perlakuan khusus yang lain. Mereka bersama-sama seperti alam, tidak saling mengguru dan memurid.

Cara hidup seperti ini, dalam pandangan Wilanda, sama sekali tak menjadi gangguan bagi Upasara. Bahkan Upasara bisa menikmati. Ini yang membuat Wilanda dan Jaghana merasa tenteram. Hanya saja, kadang masih terlihat Upasara seperti termangu sendirian.

Kadang mendongak ke arah langit, seakan mencari sesuatu yang bisa menjawab kegelisahannya.

Selama itu, Upasara tidak pernah membuka percakapan ke arah zaman Singasari. Tidak juga ke arah Keraton Majapahit. Dua kali Nyai Demang datang dan bercerita bahwa Keraton Majapahit kini mulai dibangun. Banyak pesta, banyak cerita.

Upasara mendengarkan sambil tersenyum.

Hanya Nyai Demang dan Gendhuk Tri yang bisa menggoda dengan cerita mengenai Gayatri.

Tapi Upasara tak menunjukkan tanda-tanda tertarik mendengarkan. Waktunya, secara keseluruhan, digunakan untuk menikmati, untuk menyatu dengan alam. Melihat kupu-kupu, mengamati Cengkerik, menyatu dengan mata air, di sela- sela mencoba memahami Tumbal Bantala Parwa. Sesekali Upasara menyenandungkan kidung, dan membicarakan bersama.

Sebulan sebelum peristiwa ini, Upasara pergi sendirian. Hal yang bisa terjadi, karena masing-masing anggota bebas memilih tempat tinggal di sekitar Perguruan Awan. Mereka tak punya tempat resmi, tak punya tempat bertemu secara pasti.

Wilanda secara kebetulan bertemu kembali ketika Upasara menyaksikan matahari terbit.

"Indah sekali, Paman."

"Bagi yang bisa mengerti, Raden."

Wilanda masih memanggil seperti ketika berada di Ksatria Pingitan Singasari. "Ah, untuk menikmati karya Dewa Penguasa Jagat, tak diperlukan bisa mengerti atau tidak.

“Paman, rasanya saya ingin menikmati dan menyatu dengan sinar itu." Wilanda bertanya-tanya dalam hati apa maksud Upasara Wulung ketika itu. "Kita akan lebih menyatu jika kita tidak mempunyai beban. Selama ini kita

selalu merasa perlu mempelajari ilmu silat, ilmu surat. Kita tak bisa menikmati secara

tuntas, kita tak bisa hanyut. Kita hanya setengah-setengah merasakan saat kita tak berlatih.

"Barangkali satu-dua hari ini tiba saatnya untuk menyatu dengan sinar itu, sejak terbit sampai tenggelam, sampai tengah malam.

"Sinar itu selalu ada, juga di malam hari. "Sinar matahari itu juga indah di siang hari."

Ternyata inilah maksud Upasara yang sebenarnya.

Mau melepaskan kembali ilmunya. Mau menghancurkan tenaga dalam, kekuatan batin yang selama ini dilatih. Upasara adalah didikan Ksatria Pingitan, yang didirikan zaman Baginda Raja Sri Kertanegara yang sengaja mendidik sejak lahir. Mendidik ke arah olah keprajuritan. Dengan bibit sejak lahir, akan terciptalah suatu ketika nanti prajurit yang benar-benar tangguh. Dan Upasara tergembleng selama dua puluh tahun. Dalam perjalanannya kemudian, Upasara banyak menemukan ilmu lain. Di antaranya sempat mempelajari Tumbal Bantala Parwa yang menggegerkan, serta Dwidasa Nujum Kartika.

Akan tetapi justru ini yang akan dimusnahkan. Karena ternyata menjadi gangguan bagi Upasara.

Karena di luar kemauannya, intrik Keraton menyeret dan menyebut-nyebut namanya.

Dengan melepaskan semua ilmunya, Upasara tak ada bedanya dengan pemuda desa yang lainnya. Tak ada bedanya dengan Toikromo! Itulah yang dipilih. "Maaf, Senopati Anabrang," bisik Upasara lirih sambil mengulurkan telapak tangannya.

Senopati Anabrang yang masih dipapah Mpu Sora tak bisa mengelak. Seketika hawa panas menerobos masuk ke dalam tubuhnya.

Sungai mengalir, tak menahan air batuan hanya bersentuhan

tidak mendorong tidak menahan jadilah sungai

batuan hanya bersentuhan

tidak mendorong tidak menahan tidak hanyut, walau bisa berlumut jadilah batu

tidak mendorong tidak menahan tidak hanyut walau bisa berlumut lumut tak takut air

jadilah lumut!

Kidungan Upasara terdengar merdu. Enak, nyaman, menenteramkan. Senopati Anabrang mendekat seperti terpikat. Memusatkan pikiran dan menjadi sungai tak menahan gelombang panas yang masuk ke dalam tubuhnya, menjadi batu yang kukuh, menjadi lumut yang tak mencurigai kekuatan tenaga dalam Upasara.

Dalam waktu tak terlalu lama, luka yang tadinya berwarna hitam kebiruan mengering, dan berubah warnanya. Kini sudah mendekati warna cokelat tua.

Berarti racun yang berada di sekitar luka sudah terusir. "Gendhuk Tri, mari" sini. Kakang ingin melihatmu." Jaghana membawa Gendhuk Tri yang meronta sebisanya. Darah mengucur dari seluruh tubuhnya.

"Tidak, Kakang.

"Aku akan mendendammu seumur hidup ditambah tujuh turunan kalau Kakang lakukan itu padaku."

Gendhuk Tri memberontak. Pengerahan tenaga membuat lukanya robek dan tubuhnya ambruk.

Upasara berdiri. Kedua kakinya mengangkang sedikit, seperti menunggang kuda. Kedua tangannya ditekuk, dengan telapak menghadap ke atas, di depan dadanya. Perlahan turun bersamaan dengan tarikan napas yang makin lama makin dalam, makin dalam, seakan semua udara alam disedot ke dalam. Kedua tangan itu naik kembali ke atas.

"Kakang..."

Kedua tangan itu menempel di tubuh Gendhuk Tri, yang berkelojotan dan memuntahkan darah berwarna kebiru-biruan.

Sirna itu sempurna... Pada Awalnya Adalah Sirna Upasara kembali bersila.

Tak ada suara.

Klikamuka yang berada di tempat agak jauh melihat pemandangan yang sama. Semua prajurit berada dalam keadaan siap siaga. Mengepung seorang lelaki muda, yang bersila. Di tempat agak jauh Jaghana memangku Gendhuk Tri.

Terdengar kidungan lirih: Pada awalnya adalah sirna pada akhirnya juga sirna dari sirna kembali ke sirna sirna itu sempurna

sirna itu tak ada sempurna itu sirna tak ada itu sirna sirna itu kosong

pada awalnya adalah kosong menyongsong ke arah kosong berakhir pada sirna

sirna itu biasa biasa itu sempurna sirna itu sirna sirna...

Mpu Renteng merasakan getaran yang dahsyat menyayat. Seakan udara sekitar dipenuhi oleh tenaga menggelegar yang tak terlihat. Barangkali kawanan burung yang terbang di atas lapangan akan jatuh menggelepar.

Itu saat yang paling menentukan.

Upasara akan memusnahkan tenaga dalamnya!

Ilmu yang dimiliki akan dihancurkan. Kidungan itu mengantarkan kepada tahapan sirna.

sirna sirna sirna sempurna kosong biasa sirna sirna sirna

Galih Kaliki memandang ke arah lain. Ia tak tahu harus berbuat apa. Wilanda seperti lenyap. Tak terasa kehadirannya. Wilanda yang menyadari bahwa Upasara mulai menghimpun kekuatannya sejak lahir. Sejak hari pertama dilahirkan, Upasara sudah dimasukkan ke Ksatria Pingitan, suatu tempat di mana bayi-bayi dididik dalam kanuragan, dalam soal ilmu silat dan ilmu surat. Agar di kelak kemudian hari menjadi prajurit yang unggul. Baginda Raja Sri Kertanegara yang menancapkan tonggak keperkasaan untuk masa yang akan datang.

Selama dua puluh tahun Upasara boleh dikatakan tak mengenal hal lain selain ilmu silat dan ilmu surat. Tak mengenal kehidupan masyarakat biasa, tak mengenal kehidupan masyarakat Keraton. Apalagi ia kemudian ditangani langsung oleh Ngabehi Pandu, tokoh kampiun yang disegani.

Akan tetapi sekarang justru akan dilenyapkan.

Mpu Renteng sendiri sejak lama mendengar Kitab Penolak Bumi yang kesohor. Akan tetapi baru sekarang ini mendengar sebagian kidungannya yang isinya seperti tak lebih dari tembang yang nyaman dinyanyikan:

Sirna itu kembali ke tanah tanah itu lumpur

lumpur itu air

sirna itu kembali ke air air itu tanah tanah itu hidup air itu hidup hidup itu sirna

ke mana air mengalir jawabnya tepukan satu tangan ke mana angin bertiup jawabnya tepukan satu tangan

kalau hujan dari tanah ke langit tepukan satu tangan

kalau sirna

tepukan satu tangan....

Upasara mengangkat tangan kirinya, naik, bergetar, pergelangan tangannya berputar, telapak tangannya menghadap ke depan, bergerak lurus ke depan, menggeletar ketika makin lama makin lurus.

Uap putih berkumpul di sekitar tubuh Upasara. Udara tiba-tiba menjadi dingin. Tak ada awan yang menutupi sinar matahari, tetapi cahayanya serasa terang tanah.

Seiring dengan kata "tepukan satu tangan", tangan kiri Upasara lurus ke depan. Terdengar seruan tertahan.

Tubuh Upasara naik ke atas, berhenti di tengah udara, masih dalam keadaan bersila!

Begitu tangan ditarik kembali, tubuhnya ambruk. Sirna!

Mpu Sora, Mpu Renteng, dan Mpu Nambi tanpa terasa menyebut Gusti secara bersamaan.

Apa yang mereka saksikan adalah perjalanan yang luar biasa dari seorang ksatria yang paling disegani, yang paling diperhitungkan, menjadi manusia biasa.

Upasara tak lebih dari seorang Toikromo.

"Gusti Dewa segala Dewa, maha mengetahui apa yang terjadi pada diri hambanya."

Mpu Sora meraupkan kedua tangan ke wajahnya. Mendekat. Memandang Upasara secara lekat.

Biar bagaimana, Adipati Lawe dulu berada di ujung medan perang dengan panglima Tartar. Termasuk yang berada di atas benteng melakukan pertarungan mati- hidup bersama-sama.

"Adimas..."

Upasara membuka matanya.

Adipati Lawe merangkul. Akan tetapi karena tergetar oleh tenaga yang kuat, Upasara meringis.

"Maaf, Adimas. "

Adipati Lawe mengubah rangkulannya. "Adimas tetap lelaki jagat."

Kalimat berikutnya tak keluar, walaupun tersendat. Jaghana menunduk.

"Biarkanlah kami semua beristirahat."

Mpu Nambi memberi aba-aba agar para prajurit seluruhnya menyingkir. Siapa pun yang diutus ke Perguruan Awan boleh menarik napas lega. Setidaknya pertumpahan darah yang tidak dikehendaki tak terjadi. Dengan caranya sendiri Upasara Wulung mencari jalan keluar. Penolakan kepada tawaran Baginda Raja dengan cara menjadi manusia biasa.

Senopati Anabrang membungkuk hormat.

Ia paling merasa tertolong jiwanya. Di sat terakhir sebelum membuang tenaga, Upasara telah menyelamatkan. Entah, tanpa bantuan Upasara, racun dalam tubuhnya bisa terusir atau tidak.

Mpu Nambi juga maju membungkuk hormat dan menyalami. Dan merasa kaget sendiri karena ternyata tenaga dalam Upasara betul-betul telah musnah. Sekejap nuraninya seperti dipelintir. Akan tetapi dengan cepat Mpu Nambi mengalihkan pikirannya.

Jalan itu yang ditempuh Upasara! Dipilih sendiri tanpa dipaksa! Terdengar suara Klikamuka.

"Ambil Tumbal Bantala Parwa. Hanya seorang raja yang berhak memiliki. Aku tak butuh kidungan untuk bunuh diri."

Mpu Nambi menyembah kitab yang ditulis pada klika kayu, sebelum memasukkan ke dalam buntalan dan menyerahkan kepada Dyah Palasir.

"Kakang Sora, Kakang Renteng, kita bersama kembali ke Keraton. Rasanya terlalu jauh kita membuat Perguruan Awan terganggu."

"Silakan Kakang Nambi berangkat lebih dulu. Kami berdua masih perlu mencari Permaisuri."

Mpu Nambi mengerutkan keningnya. "Baginda bisa murka. "

"Kami berdua menanggung akibatnya," jawab Mpu Sora dan Mpu Renteng bersama-sama.

"Kakang jangan salah terima. Saya tak akan melaporkan hal itu. Bahkan saya akan ikut membantu." "Terima kasih, Kakang Nambi. "Tugas di Keraton masih banyak."

Mpu Nambi menghela napas, mengangguk, dan segera berlalu. Mendadak Mpu Nambi berbalik.

"Upasara, kembalikan Permaisuri."

Tangannya bergerak, dan seketika seluruh prajurit menyerbu.

Kematian Kedua

Mpu Sora, Mpu Renteng, Senopati Anabrang melengak.

Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Mpu Nambi memberi aba-aba serangan menjapit seperti kepiting. Dari semula para prajurit dalam keadaan siap tempur. Maka begitu ada aba-aba langsung menggasak.

Situasi jadi berubah.

Dalam sekejap sabetan pedang, tusukan tombak, tukikan keris menghujani Upasara. Reaksi Upasara masih seperti ketika mempunyai ilmu silat. Kedua tangannya terangkat. Akan tetapi kecepatan dan kekuatan tenaganya sudah tak ada. Sehingga dadanya kena sodok tombak dan langsung terguling. Tangan yang menangkis terlalu lambat dibandingkan kecepatan para prajurit. Dyah Pamasi sendiri menendang keras, sehingga tubuh Upasara terlontar ke atas.

Jaghana sama sekali tak menduga serangan yang begitu keji. Dalam situasi di mana ia masih menggendong Gendhuk Tri yang dalam keadaan setengah hidup, setengah mati, ia tak bisa bergerak leluasa. Ini hanya akan membuat Gendhuk Tri menderita luka berat di dalam.

Karena dalam tubuh Gendhuk Tri masih bertarung tenaga dalam yang diberikan oleh Upasara dengan racun yang mengeram dalam tubuhnya!

Akan tetapi melihat Upasara yang terluka dilemparkan ke angkasa, Jaghana menjejakkan kakinya. Tubuhnya mental ke atas, satu tangan mengempit Gendhuk Tri dan menjaga agar tidak tergetar sedikit pun, sementara tangan lain menangkap tubuh Upasara.

Hanya saja Jaghana kewalahan. Karena tubuh Upasara yang jatuh ke tanah seperti karung mati. Tidak memberi reaksi seperti seorang jago silat!

Jaghana memang menyaksikan sendiri Upasara yang menghancurkan tenaga dalamnya. Akan tetapi ternyata tetap sulit menyadari bahwa kini benar-benar telah menjadi manusia biasa. Sehingga tangan yang untuk menyangga seperti diseret ke bawah. Jaghana tetap menyangga dan menjaga agar baik tubuh Gendhuk Tri maupun Upasara tidak tergetar.

Jaghana mengorbankan dirinya.

Punggungnya menghantam tanah, dengan semua getaran dipendam dalam dadanya! Menghancurkan tenaganya sendiri!

Akibatnya, begitu jatuh telentang tak bisa bergerak lagi.

Sementara Wilanda hanya bisa mengelak serbuan yang datang dengan meloncat ke sana-kemari, tanpa bisa memberi balasan yang berarti. Satu-satunya yang bisa bergerak bebas adalah Galih Kaliki. Hanya saja reaksinya tak bisa cepat menangkap situasi yang begitu kejam.

Tak masuk akal bagi Galih Kaliki, bahwa Upasara yang telah mengorbankan semua miliknya, masih diserang secara mendadak. Tak masuk akal bagi seorang yang begitu jujur hatinya dan lugas jalan pikirannya!

Ketika menyadari, sudah terlambat. Dan ia repot digempur oleh Dyah Pamasi dan Dyah Palasir secara bersamaan. Unggul atau tidak unggul tak bisa ditentukan dalam sesaat.

"Tongkring! "Hentikan semua ini!"

Adipati Lawe berteriak mengguntur. Rantai di tangannya bergerak bagai putaran angin yang menyingkirkan semua senjata yang mengarah kepada Upasara Wulung.

"Tongkring! "Ajaran setan belang mana bersikap begini hina?" Semua prajurit mundur dan menghentikan serangan.

Adipati Lawe menurunkan Upasara dan Gendhuk Tri di tanah. Untuk sementara Jaghana masih belum bisa bergerak. Tangannya masih lurus ke atas dengan tubuh telentang.

"Hari ini kita semua kembali!"

Pandangan mata Adipati Lawe menatap tajam ke arah Mpu Nambi. Mpu Nambi balas menatap.

Mpu Sora menyadari bahwa pertentangan telah terobek.

Adalah suatu peraturan tidak resmi dalam keprajuritan, bahwa yang berhak memberi komando adalah senopati yang pangkat dan derajatnya paling tinggi. Tak bisa dibantah. Hanya satu senopati yang berhak memerintah!

Dalam hal ini pangkat dan derajat Adipati Lawe tidak di bawah Mpu Nambi. Akan tetapi juga tidak di atasnya. Mereka sama-sama berpangkat patih. Adipati Lawe adalah patih amancanegara, sedangkan Mpu Nambi patih di dalam. Pangkat yang sama yang juga disandang oleh Mpu Sora, Mpu Renteng, atau Senopati Anabrang.

Mereka semua ini tanpa kecuali hanya tunduk kepada Baginda Raja, sebelum ada yang menjabat sebagai mahapatih, atau patih amangkubumi.

Adalah suatu peraturan yang tidak resmi dalam keprajuritan, bahwa yang berhak memberi komando pada derajat yang sama adalah yang mengambil prakarsa pertama. Dan patih yang sederajat tidak boleh memotong garis yang telah dibuat. Apalagi di depan para prajurit! Kalaupun mereka berselisih pendapat, Baginda Rajalah yang berhak memutuskan mana yang diturut.

Dalam hal ini, Adipati Lawe memotong perintah Mpu Nambi!

Dalam hal begini, Mpu Nambi bisa melaporkan kepada Baginda Raja, bahwa Adipati Lawe membangkang! Melanggar disiplin keprajuritan. Untuk ini sangsinya cukup berat! Nyatanya Adipati Lawe memilih cara dianggap sebagai pembangkang! Mpu Nambi menarik napas keras.

Kalau ia memberi aba-aba penyerangan, prajurit telik sandi yang dipimpinnya bisa bertarung dengan prajurit Kadipaten Tuban yang dipimpin Adipati Lawe.

Mpu Nambi tidak gentar.

Tetapi nalarnya mengatakan saat ini tak cukup menjamin perimbangan kekuatan. Dalam keadaan seperti sekarang, Mpu Sora bisa memihak Adipati Lawe— baik karena pertimbangan sebagai paman ataupun karena menganggap tindakan Adipati Lawe tepat. Dalam hal ini Mpu Renteng juga bisa memihak Mpu Sora, karena selama ini mereka berdua selalu bersatu pendapat.

Mpu Nambi tak merasa kehilangan muka mengalah. Karena kini sudah yakin bahwa Upasara Wulung benar-benar sudah sirna riwayatnya. Benar-benar sudah hancur.

Kematian pertama yang dilakukan dengan menghancurkan tenaganya, dan kini karena serangan keras. Lebih dari itu, tak ada jawara dari Perguruan Awan yang perlu diperhitungkan.

Gendhuk Tri yang menggetarkan dan ditakuti karena racun ganas dalam tubuhnya, kini sedang bertarung antara hidup dan mati. Kalau tenaga dalam Upasara Wulung berhasil mengusir racun, itu berarti Gendhuk Tri tak akan membahayakan lagi. Kalau tenaga dalam Upasara gagal mengusir sepenuhnya, berarti lebih bahaya lagi. Karena kini racun dalam tubuh Gendhuk Tri akan menggerogoti dirinya. Racun itu menjadi sesuatu yang menyusahkan, bukan sebagai senjata.

Jaghana yang sakti pun, kini telah terluka.

Diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikan kekuatannya agar pulih.

Diperlukan waktu lebih lama lagi, kalau misalnya ingin membalas dendam.

Tokoh lain dari Perguruan Awan yang masih gagah hanyalah Galih Kaliki. Tetapi Mpu Nambi tidak menganggap sebagai bencana di kemudian hari. Galih Kaliki bukan tokoh yang mampu menggerakkan para ksatria. Juga bukan tokoh yang cerdik. Ibarat kata Galih Kaliki hanyalah seorang diri. Penghuni lain, Dewa Maut, tidak menjadi soal benar. Keadaannya tak lebih dari Wilanda. Sedangkan Nyai Demang, wanita montok yang genit itu, rasanya lebih mudah dihadapi.

Dengan pertimbangan itu, Mpu Nambi menahan diri. Kalau maksudnya telah sampai, untuk apa menanggung risiko lagi?

"Satu perintah dalam perang. "Kembali ke sarang."

Perintah Mpu Nambi memperlihatkan bahwa ia mengurungkan niatnya bukan karena gentar menghadapi Adipati Lawe. Akan tetapi lebih menunjukkan bahwa ia menjunjung tinggi persatuan para prajurit. Agar tidak muncul pertentangan di antara para senopati! Sungguh cerdik Mpu Nambi menyelamatkan diri.

Sebab kalau peristiwa ini dilaporkan ke hadapan Baginda Raja, ia memperoleh nama baik. Biar bagaimanapun, Adipati Lawe akan disalahkan. Biar bagaimanapun, Mpu Sora dan Mpu Renteng dianggap tidak bisa menjalankan tugas menjaga Permaisuri!

Para prajurit berkumpul ke barisannya sendiri-sendiri. Galih Kaliki maju ke tengah.

Tongkatnya digenggam erat.

"Jaghana, Wilanda, katakan apa yang harus kuperbuat. Apa saja yang kalian katakan, akan kulakukan.

"Aku tak tahu harus menggempur atau tidak." Wilanda meloncat mendekati Galih Kaliki. "Paman Jaghana, silakan memberi petunjuk."

Ini berarti Wilanda pun siap untuk bertarung sampai mati.

Jaghana berbaring di tanah. Kedua tangannya masih kaku. Akan tetapi suaranya terdengar lembut. "Anakmas Upasara tidak menghendaki pertempuran." Galih Kaliki tertawa bergelak.

"Tetapi kita yang digempur. Jadi bubur!" "Kita kembali."

"Lho, kalau begitu enak mereka. Main serang seenaknya, lalu ditinggalkan begitu saja. Itu tongkring!"

Adipati Lawe merasa tersulut. Apalagi ucapannya yang khas diambil alih begitu saja.

"Aku bersedia menghadapi seorang diri. Majulah, sobat." Taktik Sekul Seta

Galih Kaliki mengangkat tongkatnya.

"Karena menerima tantangan, Paman Jaghana tak bisa melarang." Mpu Nambi mendehem.

"Adipati Lawe adalah senopati Majapahit. Kenapa harus turun tangan sendiri untuk membersihkan kotoran? Bukankah ada anak-anak yang bisa melakukan?"

Dyah Pamasi dan Dyah Palasir langsung maju ke depan. "Tukang pukul ini biarlah kami yang menghadapi."

Dyah Pamasi bahkan sudah langsung mengayunkan kedua tombak. Dua- duanya mengarah ke arah lambung. Dyah Palasir mengambil gada pusaka andalannya. Langsung mengarah ke bagian dada. Sehingga kalau Galih Kaliki menghindar ke atas, ataupun ke samping, gada besi yang berat siap untuk merontokkannya.

Cara menggebrak kedua senopati muda ini benar-benar cara bergerak prajurit cepat. Begitu aba-aba Mpu Nambi terdengar, mereka tak menunggu persetujuan Adipati Lawe. Adipati Lawe sendiri menjadi dongkol. Namun ia tak bisa ikut maju. Tak masuk akalnya bahwa ia turut mengeroyok lawan.

Para prajurit yang lain berjaga-jaga sambil memperhatikan. Karena sesungguhnya ini pertarungan yang bisa disaksikan dengan saksama. Gerak-geraknya bisa menjadi contoh. Berbeda dengan serangan kilat antara Gendhuk Tri dan Senopati Anabrang. Juga berbeda dengan cara Upasara menghancurkan tenaga dalamnya. Kedua peristiwa itu, walau gawat, berlalu terlalu cepat.

Sebaliknya apa yang sekarang terjadi lebih merupakan tontonan.

Apalagi Galih Kaliki juga tidak menunjukkan berkelit. Memang Galih Kaliki lebih suka balas menyerang daripada berkelit. Tongkat galih asam diangkat tinggi. Menyerampang dua ujung tombak dan sekaligus gada yang terayun.

Adu tenaga keras.

Meskipun terbuat dari kayu, galih asam bukan sembarang kayu. Tongkat ini dibuat dari galih atau hati pohon asam yang sudah sangat tua, dan sudah barang tentu diramu lagi dengan beberapa jamu atau japa-mantra. Sehingga bisa mengimbangi kekerasan besi atau baja.

Ditambah lagi tenaga Galih Kaliki seperti terbongkar. Karena dendamnya kepada kedua penyerang yang tadi melukai Upasara.

"Anak kecil seperti ini mau mencoba-coba."

Gregetan Galih Kaliki memutar tongkatnya dan terus melabrak. Dyah Palasir sebaliknya juga tak mau mundur. Ayunan tongkat di atas ubun-ubunnya dilawan sama keras, sementara Dyah Pamasi ganti menyerang. Begitu juga sebaliknya. Saat Dyah Pamasi digertak, Dyah Palasir yang maju.

Hingga dalam sekejap lima jurus telah dilampaui.

Bagi Mpu Nambi ini bukan sekadar tontonan kalah-menang. Ada sesuatu yang ingin diketahui. Yaitu cara-cara Kaliki memainkan tongkatnya. Selama ini asal-usul ilmu silat Kaliki termasuk cabang yang sulit dikenali. Tidak mudah ditebak. Bahkan nama-nama jurusnya juga tak begitu dikenali, termasuk oleh Kaliki sendiri. Namun cerita yang terdengar adalah bahwa gebrakan-gebrakan menunjukkan persamaan yang berasal dari ilmu Dwidasa Nujum Kartika. Hanya kalau pada aliran lain, bisa teraba gerakan dasarnya, Galih Kaliki tidak memperlihatkan hal itu. Seperti diketahui, cara melatih jurus-jurus dalam Dwidasa Nujum Kartika tak terlalu asing bagi para ksatria. Puncak dari ilmu ini adalah yang pernah ditunjukkan oleh Ugrawe, salah seorang panglima terkemuka Raja Muda Jayakatwang. Mpu Ugrawe-lah yang mampu mengolah dan kemudian memberi nama jurusnya, Banjir Bandang Segara Asat, yang dahsyat.

Seperti namanya jurus yang berarti Banjir Bah Laut Kering ini berintikan membuyarkan tenaga lawan, dan menyedotnya menjadi tenaga yang dimiliki. Secara paksa membetot sukma lawan. Membuat banjir besar di daratan dengan mengeringkan laut. Selama lawan kalah tenaga dalam atau kalah mengatur penyalurannya, tenaganya bisa terisap. Akan tetapi jika lawan lebih menguasai, tenaga sendiri yang justru terisap.

Ugrawe, dalam puncak kejayaannya, mampu malang-melintang. Sebelum akhirnya bisa dikalahkan.

Meskipun demikian, tidak berarti gagal.

Justru apa yang diperlihatkan Mpu Ugrawe adalah terobosan yang berbeda dari yang selama ini ada.

Konon, apa yang dimainkan oleh Galih Kaliki mempunyai sumber yang dekat.

Maka sesungguhnya, bagi para senopati yang menyaksikan seperti mempelajari apa yang disembunyikan lawan.

Perhitungan Mpu Nambi boleh dikatakan tidak meleset sedikit pun, terutama karena Galih Kaliki membiarkan seluruh kemampuannya muncul semua. Dan dasar- dasar gerakan serangan Galih Kaliki terlihat sederhana. Tujuannya selalu sama: mengetok ubun-ubun lawan. Ke mana pun berputarnya tongkat, sasarannya tak pernah berubah.

Sehingga bagi lawan yang bisa membaca tipe permainan Galih Kaliki, tak terlalu sulit untuk memperdayai.

Dyah Pamasi maupun Dyah Palasir bukannya tidak melihat kekuatan dan sekaligus kelemahan Galih Kaliki. Akan tetapi juga tak gampang untuk ganti menindih. Justru karena meskipun begitu-begitu saja irama serangannya, tekanan yang menindih tak pernah kendor. Bahkan makin lama makin menyempitkan ruang gerak mereka berdua. Galih Kaliki terus menggenjot.

Gebukannya ditangkis atau dielakkan tak membuatnya mengganti gerakan. Bahkan beberapa ujung tombak nyaris merobek dadanya. Galih Kaliki lebih percaya bahwa andai dadanya teriris, tongkatnya sudah lebih dulu mengenai sasaran. Dengan batok kepala remuk, serangan lawan bisa terhenti atau buyar dengan sendirinya.

Dyah Palasir berseru keras sambil melabrak maju, "Serang!"

Dengan sepenuh tenaga Dyah Palasir mencoba menahan ayunan tongkat ke ubun-ubunnya, berusaha mematok. Dengan begitu dua tombak yang dipergunakan Dyah Pamasi bisa mencapai sasarannya.

Mpu Renteng memuji taktik Palasir yang jitu. Dengan begitu, Kaliki akan bisa ditundukkan.

Pamasi melihat bahwa kesempatan itu terbuka. Temannya menyediakan diri untuk menahan gempuran. Maka begitu ayunan tongkat hampir menyentuh gada, ia menyelusup maju. Dua tongkatnya sekaligus menggunting bagian dada. Sebelah kiri lebih panjang sedikit terulur, karena memperhitungkan cara menghindar Galih Kaliki. Yang berarti justru lehernya menjadi sasaran.

"Bagus!"

Bukannya kaget atau mengubah serangannya, Galih Kaliki alih-alih malah berteriak bagus. Tongkatnya tetap menghantam gada dengan keras, dan dengan cepatnya tongkat itu meluncur turun, masuk di antara dua tombak dan diputar kencang sekali.

Mpu Sora mengeluarkan suara tertahan.

Mpu Nambi juga tak mengira bahwa Galih Kaliki bisa bermain sangat cepat. Ketika berulang menggempur ke ubun-ubun tadi, Mpu Nambi bisa melihat persamaannya dengan jurus Lintang Tagih, yaitu sementara tenaga di dalam tetap dingin. Menurut perhitungan musim, Lintang Tagih terlihat di langit saat buah padi tumbuh. Di dalam kitab aslinya, jurus ini dimainkan setelah memainkan jurus Lintang Sapi Gumarang, atau Bintang Berbentuk Sapi, yaitu dengan menggeser kuda-kuda menyerupai posisi Bintang Sapi Gumarang di langit, bertumpu pada arah utara, atau bisa juga berarti saat embun menetes, saat binatang yang bisa terbang keluar dari sarangnya.

Tapi Galih Kaliki seperti langsung memainkan jurus kedua, dan langsung disambung dengan jurus ketiga yaitu Lintang Lumbung, dengan kekuatan utama di kaki. Kekuatan akar yang baru tumbuh. Menghunjam masuk ke dalam tanah. Dengan lihai Galih Kaliki memindahkan tenaga akar tumbuh itu ke tongkatnya. Sekaligus menangkis dan balas menyerang.

Bahwa Dua Belas Jurus Nujum Bintang ini tercipta karena berhubungan dengan alam, semua sudah maklum. Kunci untuk mengetahui dan mengatur gerakan serta tenaganya, seperti saat-saat mana bintang terlihat di langit. Kejadiannya berhubungan dengan apa, seperti itulah pengerahan tenaga yang dilakukan.

Seperti halnya Lintang Lumbung, bintang yang membentuk gubuk untuk menyimpan padi yang sudah kering. Bintang itu, bila nampak di langit, pertanda tanaman di sawah mulai mengeluarkan akarnya. Kekuatan akar menembus tanah, berbeda dari kekuatan burung meninggalkan sarang seperti jurus Lintang Sapi Gumarang, juga berbeda dari kekuatan biji-bijian yang sedang tumbuh. Hanya mereka yang mampu meresapi kejadian-kejadian dalam alam semesta bisa menguasai lebih mahir.

Yang tidak diketahui atau kurang diperhitungkan Mpu Nambi ialah bahwa Galih Kaliki melatih jurus-jurus tadi tanpa pengertian yang mendalam. Galih Kaliki boleh dikatakan belajar sendiri. Walau agak kagok, ilmu silat bukan semata-mata hafalan atau pengertian. Melainkan juga latihan. Di sinilah keunggulan utama Galih Kaliki.

Dalam keadaan terdesak, ilmu itu muncul dengan sendirinya.

Mpu Sora justru melihat bahwa Mpu Nambi agaknya sengaja menyuruh Dyah Palasir dan Dyah Pamasi untuk maju. Karena di samping menjajal Galih Kaliki, Mpu Nambi lebih merasa aman, andai Dyah Pamasi dan Palasir terluka atau binasa.

Ini taktik dalam telik sandi yang terkenal sebagai istilah Sekul Seta atau Nasi

Putih.

Permaisuri Rajapatni Muncul Dalam menangani masalah yang bersifat rahasia, prajurit telik sandi selalu berhadapan dengan taktik Sekul Seta atau Nasi Putih.

Istilah ini menunjukkan bahwa bagian telik sandi selalu diharuskan memberikan hasil yang sempurna. Umpama kata berhasil menghidangkan nasi putih secara utuh dalam piring. Ini berarti kalau di dalam piring itu masih terdapat nasi warna lain, atau bahkan masih ada kulit padi, nasi berwarna lain, atau bahkan gabah tadi, harus dibuang. Agar dengan demikian memberikan hasil yang sempurna.

Dalam arti lain, sewaktu menjalankan tugas rahasia, prajurit telik sandi akan selalu menemukan masalah yang membuat tidak sempurna, dan harus tegas serta tega membuang. Karena yang dibuang adalah nasi yang tidak putih, atau bahkan gabah, yang tidak berarti.

Mpu Nambi sedang melakukan upaya ini.

Karena, menurut perkiraan Mpu Sora yang kini tak bisa mengerem jalan pikirannya untuk mencurigai orang lain, Dyah Palasir dan Dyah Pamasi adalah bawahan Mpu Nambi. Yang mengetahui tugas-tugas rahasia. Yang diketahui situasi berubah, untuk menjaga "kesempurnaan nasi putih", mereka berdua harus dilenyapkan!

Dengan cara menghadapkan kepada Galih Kaliki!

Dugaan Mpu Sora ini berdasarkan perkiraan bahwa Mpu Nambi tidak memerlukan mereka. Dan atau mereka berdua bisa membocorkan rahasia. Mungkin saja mengenai tugas ini, atau mengenai hilangnya Permaisuri Gayatri. Sebab Mpu Sora masih menduga-duga ada hubungannya ketika ia menabrak salah seorang dari mereka ketika mengejar Klikamuka!

Di lapangan pertempuran, apa yang dikuatirkan terjadi.

Dua tombak Dyah Pamasi terbetot lepas dari tangan dan meluncur ke arah Dyah Palasir. Yang sama sekali tak mengira.

"Busuk!"

Palasir mengira bahwa Pamasi sengaja mencurangi. Mempergunakan kesempatan untuk melepaskan tombak. Maka kini justru gadanya terayun ke samping. Dyah Pamasi tak sempat menghindar ketika dadanya kena hantam. "Kamu... kamu!"

Palasir sendiri terjengkang dengan tombak menancap di dadanya. "Tongkring! Sungguh memalukan!"

Apa yang diteriakkan Adipati Lawe menampar Mpu Nambi.

Mereka berdua yang menjadi korban dari bagiannya. Bahwa mereka gugur dalam menjalankan tugas, sudah menjadi bagian dari jiwa keprajuritannya.

Hanya saja bahwa mereka terbunuh karena saling curiga, sungguh memalukan.

Agaknya, kehidupan dalam bagian telik sandi adalah kehidupan untuk saling mencurigai.

Setidaknya dari bukti yang bisa disaksikan.

Mpu Renteng sendiri memperhitungkan, walaupun kedua Dyah itu terdesak dan kalut, tidak perlu berakhir setragis ini. Karena luncuran tombak tak sengaja itu bisa tetap ditangkis oleh Palasir. Bahwa dengan kemudian posisinya agak goyah, dan Pamasi terguncang, itu memang tak bisa lain. Akan tetapi itu belum berarti kekalahan. Apalagi kematian.

Karena saat itu Galih Kaliki tidak segera melanjutkan serangan. Galih Kaliki kurang mampu membaca posisinya yang unggul.

Ia mengulang  menyerang dari awal lagi. Posisi itu yang diambil, sehingga justru Galih Kaliki menyiapkan kuda-kuda dari arah utara-selatan, kembali ke posisi seperti jurus Lintang Sapi Gumarang. Lebih ke arah berjaga daripada ke arah bertempur.

"Memang memalukan prajurit Majapahit ini. Bukannya menyerang aku, malah saling bunuh.

"Bagaimanapun aku tak bisa dibilang menang." Galih Kaliki menggelengkan kepalanya. "Ayo, siapa lagi?"

Adipati Lawe mengertakkan giginya.

"Sobat Kaliki, kamu sungguh laki-laki perkasa.

"Suatu kali nanti, aku bersumpah akan menjajal kamu." "Untuk apa tunggu nanti?

"Sekarang atau nanti toh sama saja?"

"Aku tak mau mengambil keuntungan. Kamu baru saja bertempur, mana mungkin sebagai lelaki gagah aku mencurangi tenagamu?"

"Bagus, bagus. "Kuterima tantanganmu.

"Tapi aku masih belum puas membalaskan dendam adikku Upasara. Ayo, siapa lagi yang maju?"

Terdengar erangan.

Gendhuk Tri siuman sebentar, mengerang, dan lagi-lagi memuntahkan darah kebiru-biruan.

Galih Kaliki menjadi bingung.

"Lain kali semua utang akan kuselesaikan," jawab Mpu Nambi. "Kutunggu kapan saja."

"Bagus. Kamu harus ingat janji itu." Galih Kaliki mendekati Gendhuk Tri. "Apanya yang sakit?"

Gendhuk Tri tak bereaksi. "Wah, kalau soal racun atau sebangsa itu, mana aku tahu? "Paman Wilanda, bagaimana sebaiknya?"

Wilanda, yang sejak tadi berdiam diri, maju ke tengah.

"Senopati Agung Nambi, kami semua masih berada di sini. Kalau ingin membasmi Perguruan Awan, jangan tunda lain waktu."

Mpu Nambi mendongak.

"Aku kemari menjalankan tugas. Kalau ada yang tidak mengenakkan, sudah kukatakan aku yang bertanggung jawab. Kalau hari ini aku ingin membasmi Perguruan Awan, masih lebih banyak diperlukan tenaga untuk membalik telapak tangan.

"Wilanda, catatlah baik-baik. Aku akan tetap mempertanggungjawabkan semua perbuatanku.

"Hari ini aku tak mempunyai waktu lagi."

Mpu Nambi membalik, meloncat ke arah punggung kuda, dan segera diiringkan oleh para prajuritnya, sambil membawa mayat Dyah Pamasi, Dyah Palasir, serta klika yang berisi Tumbal Bantala Parwa.

Adipati Lawe memberi hormat kepada Jaghana yang berusaha duduk, lalu memberi hormat kepada Mpu Sora.

"Keponakan yang kasar, mohon pamit."

Tanpa memperpanjang kalimat, Adipati Lawe mencemplak kuda hitamnya.

Para prajurit Tuban segera mengiringkan.

Sejenak Mpu Renteng menduga bahwa Adipati Lawe akan menyertai Mpu Nambi ke Keraton. Agar Mpu Nambi tak mengarang cerita secara sepihak.

Wilanda memanggul Gendhuk Tri, sementara Galih Kaliki membopong Upasara, dan Jaghana berusaha berjalan dengan tongkat Galih Kaliki.

Mpu Sora, Mpu Renteng, serta Senopati Anabrang hanya bisa menyaksikan tanpa mengucapkan kata sepatah pun sampai rombongan lenyap di balik dedaunan. "Apakah benar Kakangmas telah meninggal?"

Mpu Sora segera menunduk bersila dan menghaturkan sembah. Demikian juga Mpu Renteng serta Senopati Anabrang.

"Apakah berita itu benar, Paman?"

Benar, yang didengar adalah suara Permaisuri Gayatri! Bagaimana mungkin bisa muncul secara tiba-tiba? "Benar, Permaisuri."

"Saya tidak percaya."

"Sesungguhnya hamba tidak berani berdusta. Saat ini Upasara Wulung sedang luka parah, tanpa tenaga dalam lagi."

Mpu Sora dan Mpu Renteng tidak berani mendongak atau menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. Karena tiba-tiba saja Permaisuri Gayatri sudah berada di lapangan, seakan baru bangun dari tidurnya.

"Siapa yang membunuh?"

Mpu Sora menghaturkan sembah.

"Keinginan Upasara sendiri untuk memusnahkan tenaga dalamnya." "Benar begitu?"

Sembah kedua senopati Majapahit lebih dari sekadar anggukan.

"Kalau begitu, memang Kakangmas tidak mau bertemu dengan saya lagi. "Untuk apa kita menunggu di sini?"

Mpu Renteng segera memerintahkan disediakan joli untuk membawa Permaisuri Gayatri. Yang sejak masuk di dalam, tak pernah mengucapkan sepatah kata. Bahkan sewaktu berhenti dalam perjalanan, tak mau menyentuh makanan, minuman. Tak mengajak bicara.

Biarpun terbakar rasa ingin tahu, akan tetapi sebagai seorang abdi, sebagai bawahan, Mpu Sora tak berani bertanya. Hanya menduga-duga sendiri.

Bahkan dengan rontoknya Perguruan Awan, pertikaian masih akan membuka lebih luas. Persoalan siapa yang akan diangkat menjadi mahapatih masih tetap merupakan teka-teki yang memprihatinkan. Di samping permusuhan antara Perguruan Awan dan Keraton meninggalkan bekas luka yang menganga.

Sementara teka-teki Keraton dan dugaan siapa yang memainkan peranan di samping Baginda masih merupakan pertanyaan, kemunculan Klikamuka juga belum terjawab. Dengan pemunculan mendadak, di mana sebenarnya posisi Klikamuka?

Kiai Sumelang Gandring

BELUM setengah hari perjalanan, rombongan Mpu Sora menemukan bekas-bekas pertempuran. Sehingga segera memerintahkan agar para prajuritnya siaga. Joli yang memuat Permaisuri Gayatri berada di tengah, sehingga lebih aman. Mpu Renteng sendiri mengawal dari kanan, sementara Mpu Sora dari sisi kiri joli.

Senopati Anabrang yang bergabung berada di bagian depan.

Sisa-sisa pertempuran bisa dilihat dari banyaknya bekas pohon dan ranting yang putus. Bahkan beberapa senjata tergeletak begitu saja.

Sewaktu rombongan terus berjalan, belum sampai beberapa lama, bekas-bekas pertempuran terlihat lagi. Kali ini lebih jelas lagi. Beberapa senjata, yang bisa dikenali sebagian milik prajurit Majapahit tertinggal.

Mpu Renteng mendehem kecil.

"Kakang Sora, agaknya kita sedang melewati tempat yang membuat sibuk Kakang Nambi."

"Agaknya ada tetamu yang menghadang."

Perhitungan mereka adalah bahwa belum lama berselang rombongan Mpu Nambi yang melewati jalan tersebut. Kemudian juga disusul oleh rombongan Adipati Lawe. Dengan mengatakan ada "tetamu yang menghadang" Mpu Sora ingin membuang gagasan bahwa terjadi perselisihan antara Adipati Lawe dan Mpu Nambi. Suatu hal yang selama ini mengganggu Mpu Sora. Mengingat bahwa adat Adipati Lawe sangat keras dan cepat bertindak, sementara Mpu Nambi juga tak pernah memberi kesan mau mengalah dalam menjalankan tugas yang dianggap tak boleh diganggu gugat. Hal yang paling sepele pun bisa membuat keduanya bentrok.

"Tetamu dari mana lagi?"

"Cepat atau lambat kita akan mengetahui."

Belum selesai kalimat Mpu Sora, di bagian depan barisan berhenti. Tanpa ayal lagi Mpu Renteng meloncat ke depan. Sementara Mpu Sora berjaga-jaga di sekitar joli yang minta diturunkan dan ditempatkan di dalam penjagaan ketat.

Sewaktu Mpu Renteng sampai di bagian depan, Senopati Anabrang sudah turun dari kudanya. Dengan gagah menghadapi sembilan lelaki yang berdiri menghadang. Mpu Renteng melihat bahwa kesembilan penghadang sudah mengambil sikap bersiap. Dan dilihat selintasan, mereka semua tanpa kecuali memperlihatkan kemampuan untuk bermain silat.

Mpu Renteng mengambil tempat di dekat Senopati Anabrang.

"Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa sobat-sobat berdiri menghadang?" "Berjalan, cepat atau lambat, akan sampai ke tujuan. Apa artinya sejenak untuk

menyerahkan kulit kayu yang bukan haknya?" Jawaban ini terdengar agak ketus.

Senopati Anabrang tetap dingin. "Maaf, ini pembicaraan model apa?

"Kalau mau mengatakan merampok, kenapa bilang panen? Saya harus mengatakan bahwa sobat-sobat salah alamat. Kami tidak membawa harta benda yang pantas untuk direbut. Kami membawa tombak dan keris."

Jawaban yang sekaligus berupa tantangan. Dengan mengatakan membawa tombak dan keris berarti siap menghadapi pertempuran.

"Aha, keris air laut apa yang mau dibanggakan?" Senopati Anabrang maju dua tindak.

Kedua tangannya bertolak pinggang.

Ada dua hal yang membuat Senopati Anabrang tersinggung. Yang pertama cukup beralasan. Yaitu sebutan "keris yang dibuat dari air laut". Memang selama ini semua senjata prajurit Majapahit dibuat oleh para empu dengan air yang ada di sekitarnya. Walau tidak betul-betul racikannya dari air laut, akan tetapi julukan bernada ejekan sudah memasyarakat di kalangan jago silat. Air laut, karena asin dan mengandung garam, bukan air yang bagus dipakai untuk mendinginkan baja atau besi. Berbeda dari air pucuk gunung atau daerah pedalaman.

Tetapi yang membuat gusar Senopati Anabrang, adalah bahwa penghadang ini meremehkan air laut. Sebagai senopati yang dalam perjalanannya hidup di laut, cara meremehkan ini membuat Senopati Anabrang bertolak pinggang.

"Laut terlalu luas membentang dibandingkan dengan selokan. Katakan nama dan maksud sobat semua, agar para ahli waris yang ingin memberi sesaji di belakang hari tidak keliru dengan kuburan binatang."

"Lancang ucapanmu, para perampok budiman.

"Kami datang dengan baik-baik untuk meminta Tumbal Bantala Parwa yang jelas-jelas kalian bawa, masih mau berlagak.

“Untuk menghadapi kalian semua, sejak berangkat kami telah mempersiapkan

diri."

Mpu Renteng maju sambil membetulkan letak kain putih yang tersampir di pundaknya.

"Siapa bilang kami bawa kitab tak berharga itu?"

"Kami telah menunggu lama. Beberapa kali ada rombongan lewat, dan kami memaksa untuk menyerahkan kitab milik leluhur kami, selalu dikatakan dibawa rombongan di belakang. Nah, apakah kini kalian mau mengatakan hal yang sama? "Apakah kami perlu menggeledah?"

Mpu Renteng menduga bahwa baik rombongan Mpu Nambi dan rombongan Adipati Lawe sudah disatroni sembilan penghadang ini. Barangkali saja mereka tak mau ambil peduli sehingga mengatakan dibawa rombongan di belakang. Dan mereka menduga kali inilah rombongan yang dicari. Karena membawa joli.

"Kalau bisa menggeledah, kenapa tidak dicoba?"

Sret. Dengan gerakan yang sama kesembilan penghadang mencabut kerisnya. Dengan gerakan yang sama pula mereka membentuk barisan. Satu di depan, dua di belakang, tiga di dua baris terakhir. Semacam barisan yang sudah lama dilatih.

Yang membuat Mpu Renteng sedikit terkesiap ialah kenyataan bahwa sembilan penghadang ini mempunyai gerak yang sama. Cara melangkah, cara meletakkan kaki, dilakukan secara bersama-sama. Sehingga seakan ada satu orang dengan delapan bayangan.

Bahkan bentuk keris yang diperlihatkan sama. Sama-sama memantulkan cahaya.

"Sobat-sobat datang dari jauh untuk memamerkan permainan anak-anak kecil seperti ini? Sungguh nama besar Kiai Sumelang Gandring sudah lama dipendam di lumpur."

"Kalau mengenal nama leluhur kami, kenapa tidak menyerah saja dengan baik-

baik?"

Mpu Renteng tertawa dingin.

Senopati Anabrang memuji pengamatan Mpu Renteng. Hanya dengan melihat tangguh, yaitu melihat perkiraan bahan serta ciri-ciri bentuk keris, bisa mengenali asal-usul kesembilan penghadang. Dari bentuk pamor atau ketajaman keris, bisa dilihat seberapa jauh kasar atau halusnya. Ketajaman keris bukan hanya di bagian ujung, melainkan juga di sisi kiri dan kanan, serta bilahnya. Pamor mengilat memang menunjukkan jenis keris yang berasal dari tlatah Pajajaran. Dengan bentuk keris yang lebih besar dari kebanyakan keris buatan Majapahit, serta lekuk yang tidak begitu berkelok, Mpu Renteng yakin bahwa ini semua dari seorang empu yang kesohor, Kiai Sumelang Gandring. Nama Kiai Sumelang Gandring bisa dihubungkan dengan Mpu Gandring karena konon memang mempunyai persamaan nama dan kemampuan yang sama dalam membuat keris.

Hanya saja Kiai Sumelang Gandring dikabarkan mengembara ke tlatah kulon atau wilayah barat untuk mencari tempat yang sesuai dengan pilihan hatinya. Selama itu pula hanya tinggal cerita-cerita bahwa Kiai Sumelang Gandring terus mengembangkan cara membuat keris pusaka serta ilmu silat. Dengan ciri utama semua keris dari tradisi ini lurus tidak memakai lekukan, dan imbang antara sebelah kiri dan kanan. Sogokan yang berada di tengah bagai urat nadi, kalau diukur dengan rambut sekalipun, akan persis berada di tengah.

Inilah ciri utama tradisi Kiai Sumelang Gandring, yang konon menolak sebutan empu.

"Sejak kapan kalian orang-orang gelandangan berani mengaku memiliki Kitab Penolak Bumi? Sampai kapan pun kalian tak pernah bisa membaca kidung dan menulis. Bagaimana leluhur kalian memiliki kitab?"

Sret-sret.

Sembilan keris bergerak bersamaan, mengiris angin.

Ini memang tak bisa main-main. Tak bisa dipandang enteng. Kalau sembilan ksatria mampu memadukan rasa, kekuatan mereka bisa berlipat ganda. Sementara Mpu Renteng menghitung bahwa dalam barisannya hanya ada tiga orang yang bisa diandalkan. Dirinya sendiri, Mpu Sora yang perkasa berjaga dekat joli, serta Senopati Anabrang.

Sret.

Kali ini malah hanya menimbulkan satu desisan angin. Kesembilan keris menuding ke depan, sementara tangan kiri tertekuk di atas kepala, dengan kedua kaki menekuk.

Secara bersamaan.

Mpu Renteng pernah melihat tiga bersaudara yang dikenal sebagai Tiga Pengelana Gunung Semeru. Namun jumlah mereka hanya bertiga. Bukan sembilan seperti sekarang ini. Senopati Anabrang meloloskan dua pedang. Dipegang di kedua tangan. Dengan satu tarikan, pedang sebelah kiri memberi aba-aba agar prajurit mengundurkan diri untuk menjauh.

Mpu Renteng melepaskan kain di pundaknya, begitu melihat kesembilan bayangan menyerbu bersamaan ke arahnya.

Nyai Demang

MPU RENTENG menggerung keras.

Ujung kainnya mengebas ke barisan terdepan dengan sabetan keras. Berusaha menggulung langsung dengan jurus-jurus Bujangga Andrawina.

Satu yang digempur, delapan yang lain tiba-tiba melesak ikut masuk ke dalam serangan. Dua barisan bagian belakang justru bisa lebih dulu maju mengepung. Berarti enam penyerang bergerak secara serentak dan bersamaan.

Senopati Anabrang meloncat ke tengah.

Dua pedang di tangan kanan dan kiri bergerak cepat sekali. Menebas kanan, menusuk kiri, mencungkil atas, menyabet ke bawah. Kesembilan penyerang nampak bagai luwes dalam mengubah barisan. Satu saat seperti mengepung Senopati Anabrang, akan tetapi pada saat berikutnya justru membuat repot Mpu Renteng.

Beberapa kali Senopati Anabrang bisa menerobos maju, akan tetapi bagai Jala yang mengembang dan mengempis, sembilan penghadang mengubah bentuk dengan gerak cepat dan bersamaan.

"Jiwandana Jiwana."

Terdengar aba-aba nyaring dan genit.

Mendadak sembilan ujung keris bergerak cepat. Berpindah dari tangan kiri ke tangan kanan, berpindah lagi dari satu orang ke orang yang lain. Sehingga dalam serangan yang makin merangsek tak bisa ditebak mana yang menyerang dan mana yang memancing.

Berada di dua sisi yang berlainan tempatnya, Senopati Anabrang dan Mpu Renteng seperti keteter atau terdesak. Bukan hanya tak bisa menerobos masuk, untuk bisa bertahan saja sangat sulit. Bahkan dua pedang Senopati Anabrang beberapa kali menebas angin, sementara sembilan keris seperti datang dan pergi.

"Bagus, bagus. Teruskan, teruskan."

Suara aba-aba nyaring dan genit kembali terdengar, disertai dengan tawa cekikikan.

Mpu Sora bergerak agak maju ke depan.

Kini jelas bisa menyaksikan pertempuran, dan melihat bahwa yang memberi aba-aba penyerangan dari jauh adalah Nyai Demang. Nada suaranya yang renyah, gembira, dan sekaligus genit, cara mengucapkan kata "bagus" yang ditiru oleh Galih Kaliki memang tak bisa ditiru yang lain.

Jiwandana adalah nama siasat perang yang juga berarti tembang. Sedangkan Jiwana berarti hidup. Dengan aba-aba itu, Nyai Demang yang nampaknya menikmati pertempuran bisa menggerakkan sembilan penyerang dengan sangat tepat.

Melihat Senopati Anabrang dan Mpu Renteng tak bisa memberikan perlawanan berarti, Nyai Demang makin terkekeh.

"Bagus. Sekarang desak terus dengan Jiwandana Jiwagra."

Jiwagra bisa diartikan sebagai ujung lidah. Dan memang itu yang terjadi. Mendadak barisan terdepan menyatukan keris dan menggempur keras Senopati Anabrang yang terpaksa menggulung diri dalam dua pedang sebagai perisai. Terdengar bunyi keras benturan keris dan pedang.

Sebelum Senopati Anabrang sadar, keris sudah berpindah seluruhnya ke bagian lain, dan bret, giliran selendang Mpu Renteng tersobek.

Begitu Senopati Anabrang menyerang, sembilan keris telah terbagi rata kembali di tangan sembilan penyerang.

Betul-betul luar biasa.

"Bagus, kan? Jangan sobek kainnya kalau bisa ulu hatinya." Nyai Demang tertawa gembira. "Aha, kenapa terlalu memikirkan besi Sombra?" Nyai Demang melihat ke arah Mpu Sora.

"Hei, orang tua dari mana ikutan berteriak di sini?"

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa besi Sombra akan dingin dengan sendirinya. Apakah karena sesama wanita Nyai Demang merasa tersinggung?"

Mpu Sora sengaja keras-keras meneriakkan kalimatnya. Mpu Renteng dan Senopati Anabrang sadar.

Bahwa sebenarnya Mpu Sora sedang memperlihatkan jalan keluar dari serangan sembilan penghadang. Dengan meneriakkan Sombra, itu mengingatkan nama empu pembuat keris dari Pajajaran. Sekaligus menunjukkan bahwa Mpu Sombra adalah satu-satunya empu wanita yang mampu membuat keris pusaka. Tapi juga sekaligus memberikan jalan terang!

Menghadapi wanita, tidak harus dengan melawan sama kerasnya. Makin diperangi, makin terlibat ke dalam, dan tak bisa membedakan mana yang Serangan sebetulnya dan mana serangan yang berupa tipuan. Seperti menghadapi "ujung lidah" wanita.

Itulah yang dikatakan Mpu Sora.

Dan Nyai Demang juga bisa menangkap pesan di balik kata-kata Mpu Sora. Bahwa sebenarnya kalau sedikit bersabar, serangan sembilan keris ini akan lebih bisa diungguli.

Sebenarnya yang terakhir ini Senopati Anabrang maupun Mpu Renteng bisa mengetahui. Seperti juga semua jago silat. Karena sembilan penyerang ini bergerak bersamaan dan selalu berpindah tempat, berarti memerlukan tenaga yang lebih banyak. Dan dalam pertarungan yang terulur panjang, mereka lebih mudah dipukul. Apalagi, meskipun kelihatannya sekilas luar biasa geraknya, tenaga dalam mereka tak terlalu istimewa.

"Kalau memang merasa jagoan, ayo terjun ke gelanggang." "Nyai Demang, saya sudah tua. Sudah tidak kuat bertarung." Bagi Mpu Sora lebih menguntungkan berada di luar pertempuran. Selain bisa menjaga Permaisuri Gayatri, terutama juga bisa mengawasi jalannya pertempuran. Seperti juga Nyai Demang yang bisa membaca dan menunjukkan arah pertempuran. Karena sebelum dikomando langsung, kesembilan penyerang ini belum menunjukkan keunggulan.

"Mulutmu bau, Sora."

"Begitulah kata orang yang hidungnya busuk."

Mpu Sora sengaja terus menimpali semua kata-kata Nyai Demang yang terkenal pandai mengecoh.

"Jadi kamu sudah membauiku, ya? Kenapa kemarin-kemarin bilang harum dan sekarang ini bilang busuk?"

Inilah keunggulan Nyai Demang. Pandai bersilat lidah.

Bisa dimengerti kalau menghadapi Nyai Demang, Galih Kaliki menjadi pemuja yang tiada habisnya. Ibarat kata disuruh menari di jalanan pun akan dilakukan.

Mpu Sora juga mengakui bahwa Nyai Demang bukan hanya pandai bersilat lidah, akan tetapi mempunyai pengalaman yang sangat luas sekali. Nyatanya secara aneh sekali bisa mengerti jurus-jurus dari Pajajaran. Bahkan secara langsung bisa memberi komando.

Ini memang luar biasa.

Ditambah dengan kemontokan tubuhnya serta caranya menggoda lelaki, Nyai Demang sebenarnya bisa sangat membahayakan!

Ini yang kurang diperhitungkan.

Sewaktu penyerbuan ke Perguruan Awan, Nyai Demang sama sekali tidak kelihatan. Kini bisa tiba-tiba muncul dan memberi perintah jagoan dari tlatah kulon. Apa ini tidak hebat?

Mpu Sora tak habis pikir bagaimana semua hal ini bisa terjadi. Tetapi satu hal ia merasa yakin. Bahwa kesembilan penyerang ini sekadar diperalat saja oleh Nyai Demang yang susah ditebak maksudnya.

Susah ditebak, karena sebenarnya kalau ia ingin membalas dendam karena keadaan Upasara Wulung, ia bisa langsung menyerang secara membabi buta.

Ataukah sesungguhnya Nyai Demang belum tahu keadaan Upasara?

Mpu Sora bisa berpikiran lebih luas dibandingkan dengan Mpu Renteng. Ia bisa lebih jauh memikirkan taktik-taktik yang tak nampak.

"Nyai Demang, kenapa kamu permainkan ksatria yang datang dari jauh? Untuk apa Nyai Demang goda dengan mengatakan kami membawa Kitab Penolak Bumi?"

"Pak Tua, kamu ini cerdik. Masa kamu tidak tahu bahwa aku ingin memberi pelajaran kepada Gayatri yang tak bisa main silat tapi bisa menyebabkan Kakang Upasara membebaskannya. Biarlah sekali ini tubuhnya digeledah oleh sembilan orang yang tak dikenal. Biar tahu rasa. Ia bukan wanita paling suci di dunia ini.

"Masa begini saja kamu tanya." Mpu Sora benar-benar kaget.

Tak nyana sedikit pun bahwa sebenarnya sudah ada pertemuan antara Upasara Wulung dan Permaisuri. Pertemuan yang diketahui oleh Nyai Demang. Bahkan sebenarnya yang membebaskan Permaisuri Gayatri adalah Upasara Wulung! Ini berarti Upasara Wulung bisa mengungguli Klikamuka yang sanggup meremas ujung tombak, sanggup menarik kembali cundhuk tanpa menyentuh, mampu melemparkan potongan tombak amblas ke dalam pohon besar!