Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 11

Jilid 11

Tanpa terasa, malam hari mereka masuk ke dalam Keraton. Melewati gerbang. "Yayi Gay... malam ini saya akan menyelusup masuk. Sebaiknya Yayi

menunggu di luar."

"Kalau aku tak boleh masuk, untuk apa aku diajak kemari?"

"Saya tak mengharapkan rambut Yayi tercerabut karena bahaya yang mungkin datang. Saya mengusulkan mengajak Yayi karena saya ingin berdekatan. Karena Yayi bisa memberi nasihat kepada Paman Jaghana dan Wilanda. "

"Itu soal lain, Kakang. Aku hanya mengulangi kata-kata yang diucapkan di tepi telingaku."

"Siapa tokoh yang begitu sakti? Apa mungkin roh Eyang Raganata?"

"Aku mengenalnya, setidaknya sebutannya. Akan tetapi aku tak boleh mengatakan kepada siapa pun."

Upasara memberi salam hormat.

"Maafkan saya telah lancang. Saya tidak memaksa Yayi... Sekarang Yayi menunggu di dalam rumah itu. Kakang akan menemui Kiai Sangga Langit."

Belum selesai ucapannya, tubuh Upasara lenyap dari pandangan. Kadang Gayatri tak mengerti akan sikap Upasara. Ada dorongan begitu kuat dari Upasara untuk mendekatinya, akan tetapi juga ada keinginan untuk segera menghindari. Kadang bisa bicara urut, panjang, kadang berdiam diri saja. Hanya kalau dipancing- pancing baru keluar ucapannya.

Upasara memang merasa jengah. Ingin dekat, ingin menatap, tetapi hatinya selalu menjadi sangat gelisah. Pikirannya tak menentu. Upasara sering menyalahkan dirinya sendiri karena soal ini. Seperti ketika melewati dinding benteng bagian dalam yang terukir "di lautan asmara", Upasara merasa kata-kata itu secara khusus diciptakan untuknya. Untuk menggambarkan kerinduannya kepada Gayatri!

Upasara langsung menuju ke tempat tinggal Kiai Sangga Langit. Baru mau melangkah masuk ketika terdengar suara kasar. "Aha, aku menunggumu."

Upasara terkesiap. Baru terdengar helaan napasnya. Ternyata Galih Kaliki yang menyambutnya.

"Dewa mempertemukan kita, saudaraku," kata Galih Kaliki, seperti sedang mabuk.

"Terimalah sungkem dari keponakan atau adik atau saudara ini." "Aha, kau suka basa-basi. Ayo sini, menikmati indahnya surga."

Upasara baru sadar bahwa Galih Kaliki benar-benar dalam keadaan mabuk.

Mabuk berat.

Memang itulah cara yang dipakai Nyai Demang. Agar Galih Kaliki tidak berbuat kurang ajar, Nyai Demang memberinya arak terus-menerus. Selama beberapa hari Galih Kaliki berada dalam keadaan mabuk, pingsan, mabuk, tertidur, mabuk lagi. Upasara mengeryitkan keningnya. Ia tak menyangka sama sekali bahwa Nyai Demang yang tubuhnya montok dan suka main mata itu ternyata berhati keji.

"Untung kamu datang kemari. Majulah, Upa... apa pun yang akan kita lakukan, si tua bangka ini tak akan tahu."

"Mbakyu Demang..."

"Aku tahu, Upa. Kamu juga mengharapkan. "

"Saya. "

"Aku terlalu tahu tentang lelaki. Sorot mata lelaki yang bagaimanapun, aku bisa mengetahui. Aku hidup di antara sorot mata seperti itu. Kenapa? Kamu malu?

"Galih Kaliki tak akan mengetahui apa-apa."

"Benar, saudaraku. Aku tak tahu apa-apa. Apa yang kuketahui tak ada. Begitu,

Nyai?"

"Mbakyu Demang, saya datang untuk menemui Kiai Sangga Langit." "Ada urusan apa?"

"Ada sesuatu yang akan saya katakan."

"Dia akan kuberitahu kalau malam ini kamu menemaniku. Kenapa kamu begitu jual mahal, Upa? Di jagat ini semua lelaki mau menyembah, mau menjadi budak untuk bisa berdekatan denganku. Kenapa kamu sok gagah?"

"Bukan begitu, Mbakyu. Pada kesempatan lain, saya akan mengatakan semua.

Malam ini akan menemui Kiai Sangga Langit." Wajah Nyai Demang berubah merah.

"Seumur hidup, inilah pertama kalinya aku ditolak. Galih Kaliki, ambil tongkatmu. Ayam kampung ini perlu dihajar."

Galih Kaliki meraih tongkat hati pohon asam, langsung dipukulkan ke arah Upasara. Dalam keadaan mabuk dan limbung, pukulannya tetap keras dengan penuh tenaga. Upasara menggeser badannya. Dua tangan secara terkepal mencoba merebut. Mengenai angin kosong, tongkat Galih Kaliki berbalik. Tegak. Menghajar secara mendatar. Upasara justru menyongsong maju.

Nyai Demang tak percaya bahwa dalam satu gebrakan tongkat pusaka Galih Kaliki bisa dipegang Upasara. Walau dalam keadaan sangat mabuk, Galih Kaliki jelas bukan tokoh sembarangan! Ataukah dalam sekejap Upasara sudah meloncati tahapan yang luar biasa dalam ilmu silat?

"Kena!" Justru Galih Kaliki yang berteriak. "Kena, Nyai. Ayamnya kena."

"Kena gundulmu. Kamu memang lelaki tak berguna." Upasara melepaskan genggamannya.

Galih Kaliki menarik kepala tongkatnya. Jalannya sempoyongan. "Pukul sendiri kepala kamu. Itu ayamnya!" Galih Kaliki menghantam kepalanya sendiri! Upasara lebih dulu meloncat maju menahan arah pukulan ke kepala Galih Kaliki. Di luar dugaan, Galih Kaliki memutar tongkatnya menghindar, kini dipakai mengemplang kepalanya sendiri dari samping. Tak ayal lagi, Upasara meluncur ke atas. Tubuhnya terbang secara terbalik, dengan kaki di atas.

Dua tangan sekaligus menahan ayunan tongkat.

Galih Kaliki menggeser agak turun. Kini yang diarah jakunnya sendiri.

Terjadi pemandangan yang ganjil. Galih Kaliki yang bertubuh besar dengan gerakan aneh mencoba memukul kepalanya sendiri, sementara justru Upasara berusaha mencegah.

Tiga gerakan aneh Galih Kaliki berhasil digagalkan oleh Upasara. Bahkan seakan dengan mudah sekali Upasara menebak gerakan tongkat Galih Kaliki.

"Hah!"

Sekali renggut, tongkat hati pohon asam itu berpindah ke tangan Upasara. "Tak berguna!" teriak Nyai Demang.

"Tunggu," kata Upasara perlahan. "Ada sesuatu yang menarik. Coba kita ulangi lagi. Paman Galih mencoba memukul kepala seperti tadi, dan..."

"Oho, enak saja. Siapa kamu, berani memerintah aku untuk membunuh diri?" "Mbakyu Demang, bagaimana kalau saya meminta Mbakyu agar Paman Galih

Kaliki mengulangi perbuatannya tadi."

"Dengan syarat!"

"Saya akan terima, Mbakyu."

Nyai Demang tersenyum. Tubuhnya bergoyang.

"Galih... sekarang kemplang sendiri kepalamu seperti tadi. Pergunakan semua jurus dan ilmu yang kamu miliki. Upa, kamu sudah siap?" Upasara memusatkan perhatian setelah memberikan tongkat. Begitu Galih Kaliki mulai bergerak, ia pun bergerak mengimbangi. Kembali pemandangan aneh terlihat. Kali ini Galih Kaliki mengeluarkan semua ilmunya. Mendesak, berjumpalitan, dan Upasara terus-menerus mengimbangi. Sesekali terdengar seruan tertahan. Teriakan Nyai Demang, karena batok kepala Galih Kaliki seperti bakal menjadi bubur. Tapi toh pada saat terakhir bisa disentil kembali. Hingga arahnya melenceng.

Galih Kaliki mengempos seluruh tenaganya, hingga akhirnya berjalan sempoyongan.

Upasara sendiri berhenti karena keringatnya membanjir luar biasa. Diam-diam muncul keringat dinginnya. Permainan yang barusan dilakukan sungguh berbahaya. Meleset satu gerakan saja, nyawa taruhannya.

Upasara termenung. Ia seperti menemukan sesuatu yang belum jelas benar di kepalanya. Sesuatu yang seperti sangat dikenal, sangat mudah diketahui. Nyatanya, tadi dengan mudah bisa menghalau gerakan-gerakan Galih Kaliki yang selama ini paling aneh. Gerakan-gerakan itu sama sekali bukan asing baginya. Akan tetapi, di mana ia mempelajari gerakan Galih Kaliki?

Upasara masih termenung. Tak sadar bahwa Nyai Demang datang mendekat ke arahnya. Dan mengelap keringat Upasara dengan selendangnya.

Yang tak diketahui oleh Upasara ialah justru saat itu secara diam-diam Gayatri melihatnya!

Bagi Gayatri tak ada kesulitan apa-apa untuk masuk ke bagian dalam Keraton.

Sebagai putri Kertanegara, bagian dari Keraton sama dikenal dengan jarinya sendiri.

Adalah di luar perkiraannya bahwa ia melihat Upasara sedang dilap keringatnya oleh Nyai Demang. Dengan pandangan mata genit Nyai Demang! Sementara Upasara sendiri tertegun tak bergerak menghindar.

"Upa, kamu memang luar biasa. Mbakyumu senang sekali. Nah, sebelum mbakyumu ini mengajukan permintaan sesuai dengan syarat, apakah kamu mau mengajukan sesuatu? Kamu akan meminta sesuatu?

"Jangan malu, Upa, katakan saja."

Nyai Demang mengelus rambut Upasara. Mengelus dada Upasara yang bidang. "Aneh, rasanya saya telah mengenal. "

"Masa kamu lupa sama mbakyumu ini?"

"...telapak tangan keduanya terbuka, membentuk paruh itik. Kekuatan ada di sudut. "

"Aha, kalau yang begitu bisa kita lakukan, Upa. Mau sekarang? Di sini?" "...tenaga biji pisang. Terbungkus tapi ada. Tenaga utara-selatan. "

"Pisang? Tenaga pisang? Boleh saja." Nyai Demang makin genit.

Gayatri memalingkan wajahnya. Perlahan ia menjauh. Terdengar helaan napas yang panjang, dalam dan berat. "Kenapa aku harus mengharap dari seorang gelandangan seperti Kakang Upasara? Sekali gelandangan tetap gelandangan. Barangkali dewa di langit maha bijaksana. Sehingga di dunia ini ada yang dididik sebagai ksatria keraton dan gelandangan yang tak tahu adat sopan santun. Belum kering bibirnya mengatakan keinginan untuk mengambilku, di depan mataku sendiri melakukan tindakan yang begitu tak senonoh."

Gayatri berjalan ke pinggir.

Mendadak tubuhnya merapat ke dinding. Dalam waktu sekejap puluhan prajurit sudah mengepung rapat. Bersenjata lengkap. Bahkan di tengah melayang turun seakan dari langit.

Tak salah lagi itulah Ugrawe.

Kumisnya yang panjang melengkung, dagunya yang mendongak dengan kecongkakan, tak bisa ditebak orang lain.

"Upasara, Nyai Demang, dan pemabuk Galih Kaliki, ternyata kalian menantangku untuk mengambil tenaga kalian. Bersiaplah, satu lubang cukup untuk kalian bertiga."

Upasara masih berdiri tepekur. Tidak menyadari bahwa kepungan sudah rapat sekali. Dengan Ugrawe yang berdiri di tengah, dan Rawikara sebelah kanan. Di belakang sedikit Sagara Winotan serta Jangkung Angilo. Selebihnya adalah para senopati pilihan yang mengawal Keraton.

"Satu lubang untuk mengubur tiga bangkai ini sudah cukup. Upasara, beberapa kali kita bertemu. Ternyata nasibmu baik, karena kau ditemani setan cilik beracun. Hari ini, tak ada yang menghalangiku untuk menarik tenaga dalammu yang masih murni."

Ugrawe mendengus.

"Nyai Demang, kamu sungguh tak tahu diri. Diberi tempat, makan, bukannya menunjukkan rasa hormat malah main gendak-gendakan mengumpulkan lelaki di sini. Siapa menyuruh kalian berlatih silat di sini? Mana kiai yang berkhianat menurunkan ilmunya kepada Upasara itu?

"Hari ini aku, Ugrawe, Pujangga Pamungkas, pujangga terakhir yang terbesar, terpaksa menyalahi titah Raja dalam soal pengampunan."

Ugrawe menggebrakkan tangannya. Sepuluh prajurit terpilih maju secara serentak. Tiga orang malah meloncat lebih dulu. Nyai Demang menangkis sambil melayang ke atas. Galih Kaliki meraup tongkat dan menangkis sambil maju. Kepalanya masih tetap dikuasai arak secara penuh, akan tetapi begitu melihat bayangan Nyai Demang bergerak, ia pun mengikuti.

Rawikara menyambar dua pedang dan ikut menerjang ke tengah pertempuran.

Saat itu dari dalam ruangan Mo Ing yang masih terluka karena tusukannya sendiri beberapa waktu yang lalu berjalan terhuyung-huyung. Mendengar suara ribut, ia bangun. Tubuhnya masih lemah. Cara berjalannya masih gontai.

Sementara Rawikara sendiri, dengan pukulan andalan Banjir Bandang Segara Asat telah bisa mengembalikan tenaganya. Seperti yang diduga Jaghana, Rawikara memang mempergunakan tenaga-tenaga prajurit untuk diambil alih. Untuk dipindahkan ke dalam tubuhnya.

Mo Ing mengeluarkan seruan tertahan melihat bayangan Rawikara menebas ke arahnya. Secara spontan tangan terangkat untuk menangkis. Ternyata Rawikara tidak menarik pedangnya. Terdengar pekikan dan darah muncrat. Saat itulah Upasara tersadar dari lamunannya. Dengan cepat, tubuhnya bergerak. Tangannya menangkis tebasan pedang Rawikara. Caranya sama seperti Mo Ing menangkis. Hanya kini tenaga yang tersalur berbeda. Dan Rawikara melepaskan pedangnya untuk menyelamatkan diri. Satu pedang lagi dilemparkan bagai tombak. Bahwa Upasara bakal menghindar, Rawikara sudah mengetahui hal itu. Karena melepaskan kedua pedang termasuk dalam rencana untuk segera melancarkan pukulan andalan. Rawikara sangat mengincar tenaga dalam Upasara.

Aneh sekali. Upasara tidak berusaha menghindar dengan menjauhkan diri. Tidak juga melakukan pukulan. Ia justru seperti bergerak sendiri. Tubuhnya melenggok, dadanya menggelombang, dan kedua tangan membuka. Saat yang ditunggu oleh Rawikara untuk melancarkan serangan. Upasara tidak langsung menyerang dengan membalas, tetapi juga menunggu. Seperti bergerak sendiri, dengan berat tubuh ke arah selatan.

Plak. Duk.

Dua tangan bertemu. Tenaga terobosan yang menggempur dari Rawikara menerjang, mendesak. Sesaat Rawikara mengeluarkan sorot mata mengejek. Tangan kirinya menggunakan tenaga menarik. Menguras tenaga dalam Upasara.

Mendadak seperti terdengar bunyi "pletak" dan Rawikara terjungkal. Mulutnya mengeluarkan darah. Tangannya teracung ke atas. Sebelum sempurna teracung tubuhnya telah terbanting.

Ugrawe mengeluarkan teriakan mengguntur, kedua tangan menyapu bersamaan. Serentak dengan itu semua prajurit menerjang. Dalam sekejap keroyokan terjadi. Mo Ing menjadi korban, sementara Galih Kaliki juga terdorong oleh tenaga pukulan Ugrawe.

Dengan perkasa Ugrawe melayang di angkasa. Kedua tangan dan kakinya bergerak melebar. Sekali kena tendang, Galih Kaliki terpental. Dalam gerakan yang sama, masih satu gerakan, Nyai Demang juga tersapu kedua kakinya. Sempoyongan ketika menghindar dan langsung disibukkan oleh tusukan pedang para prajurit. Dalam putaran itu Ugrawe mencakar Upasara sekaligus.

Upasara masih bengong. Ketika cakaran itu mendekat dengan bau amis, baru sadar. Akan tetapi terlambat. Cakaran itu berubah menjadi pukulan dengan telapak tangan.

Bek. Enteng suaranya. Tapi Upasara terpental hingga ke tiang. Tiang yang kukuh menjadi bergetar.

Dahsyat sekali pukulan Ugrawe. Dalam satu gebrak, tiga lawan yang tangguh terpukul mundur. Galih Kaliki memang sedang mabuk, dan Upasara dalam keadaan kurang siap, akan tetapi ini jelas menunjukkan prestasinya. Penguasaan Sindhung Aliwawar yang luar biasa.

Kalau sesaat tadi dengan gemilang Upasara bisa memukul rubuh Rawikara, kini sebaliknya. Dalam satu jurus ia telah dibuat keok. Berbeda dengan Upasara, Ugrawe tidak terhenti di situ. Ia menerjang maju.

Upasara berdiri tegak. Ia maju memapak ketika serangan terarah kepada Nyai Demang yang terjatuh tanpa bisa bergerak.

"Cari mati kamu!"

Siku Ugrawe masuk ke dada Upasara. Dua tangan Upasara yang terkepal dan menjaga, dengan mudah diterobos. Sebelum Upasara menguasai dirinya, kaki Ugrawe menjebol pertahanannya.

Sia-sia Upasara melayang, karena kali ini pinggangnya justru dicengkeram. Sekali sentak tubuh Upasara terlempar ke atas mengenai atap. Jebol sampai di atasnya.

Gayatri menjerit. Tapi jeritannya tertutup teriakan para prajurit yang kini meringkus Nyai Demang serta Galih Kaliki. Gayatri menjerit karena merasa bahwa keadaan Upasara menjadi sangat buruk karena berusaha membela Nyai Demang.

Ugrawe sendiri langsung menjejakkan kakinya dan tubuhnya melayang ke atas, melalui jebolan yang dilewati tubuh Upasara.

Dalam keadaan melayang jatuh di genteng kayu, Upasara merasa bahwa dadanya kelewat sakit dan pinggulnya sangat nyeri. Ugrawe bukan hanya sakti tetapi juga kasar sekali.

Pikirannya masih kacau. Masih terpusat kepada bagaimana secara agak aneh, ia bisa menebak jurus-jurus Galih Kaliki. Demikian juga jurus Rawikara. Padahal kalau dilihat, apa yang dilakukan Ugrawe tak berbeda jauh. Tetapi kenapa justru yang terakhir ini bisa dibuat keok? Kalau hanya soal perbedaan tenaga dalam, hanya juga tak secepat ini! Tidak dalam satu-dua gebrakan!

Agaknya ini pula yang membuat Ugrawe bertanya-tanya dalam hati. Makanya ia tak memulai menyerang dengan pukulan andalan, melainkan dari bagian tengah. Dan buktinya, Upasara yang dihadapi seperti Upasara yang ketika pertama ditemui. Tak begitu mengejutkan. Malah boleh dikata seperti banteng tanpa tanduk, karena kini tidak memainkan keris.

Muncul dari lubang atap, Ugrawe langsung menggeliat tubuhnya. Kakinya menendang ke arah dada Upasara. Dan tubuh Upasara terpental jatuh ke tanah.

Tanpa ampun lagi Upasara langsung bisa diringkus.

Dengan gagah, berwibawa, dan senyum kemenangan, Ugrawe melayang turun kembali.

"Sebelum kubunuh, katakan siapa yang mengajarimu jurus Sekar Sinom itu." Pikiran Upasara bagai disinari oleh kilat.

"Sekar Sinom tadi?"

Seketika Upasara menjadi ingat semuanya. Kini semua menjadi jelas. Apa yang dipraktekkan tadi adalah bagian yang dipelajari dari klika atau kulit kayu yang berjudul Tumbal Bantala Parwa. Atau Kitab Penolak Bumi! Itu adalah kitab yang dulu dibawa lari oleh Kawung Sen! Kitab yang dicuri dari perbendaharaan Ugrawe. Ataukah kitab yang dibacakan oleh Nyai Demang? Upasara tidak bisa mengingat jelas. Dulu kejadiannya hampir beruntun.

Sekarang jelas. Begitu tadi melihat Galih Kaliki menyerang dirinya sendiri, Upasara justru teringat jurus-jurus Tumbal. Jurus yang menjadi penangkis jurus tersebut! Selama ini Upasara telah melihat permainan silat Galih Kaliki, akan tetapi tak pernah mengetahui jurus apa sebenarnya. Hanya ketika Galih Kaliki menggunakan jurus itu untuk dirinya sendiri, Upasara seperti terbuka matanya. Dan itu pula sebabnya ia begitu mudah menebak arah serangan Rawikara. Bahkan rasanya ia tak usah melawan. Sekadar mengikuti gerakan tubuh yang terjadi dengan sendiri begitu lawan menyerang!

Yang pertama adalah jurus Manik Maya Sirna Lala. Yang membuka dua telapak tangan dengan kekuatan di sudut. Sedangkan yang disebut sebagai Sekar Sinom tadi adalah jurus ketiga. Pukulan dari Rawikara menghantam dirinya sendiri, karena dalam jurus Sekar Sinom, Upasara mempergunakan tenaga dalam biji asam. Biji asam akan membuka sendiri pada saat sudah tua. Kulitnya pecah, biji keluar. Tenaga itulah yang dipakai untuk melawan Rawikara, karena Rawikara-lah yang mematangkan!

"Tumbal Bantala adalah buku yang mudah diperoleh. Untuk apa hal itu ditanyakan?"

"Kamu tetap bermulut lebar. Bagaimana kamu bilang Tumbal Bantala Parwa buku yang mudah diperoleh? Buku itu merupakan lanjutan dari Bantala Parwa, atau buku silat berdasarkan kekuatan bumi. Seorang ksatria tak akan merendahkan diri untuk mempelajari ilmu perguruan lain. Kamu sungguh memalukan. Hina."

"Siapa yang mencuri apa? Apakah Paman Ugrawe merasa lebih berhak dari Kakang Galih Kaliki dalam soal Bantala Parwa?"

Ugrawe terkesiap.

Ia memang tak pernah menyangka bahwa dasar-dasar gerakan tongkat yang patah itu mempunyai kemiripan dengan gerak-gerak yang dilatih dalam Sindhung Aliwawar. Ugrawe sudah menduga akan hal ini. Akan tetapi masih sedikit bimbang. Sindhung Aliwawar menitikberatkan pada kekuatan memukul, sementara Galih Kaliki justru mempergunakan tongkat. Tetapi kalau dipikir-pikir memang mirip. Maka gerakan tongkat Galih Kaliki terasa aneh. Karena kurang mempergunakan pergelangan tangan, sebagaimana biasanya mereka yang berlatih menggunakan senjata.

"Pemabuk gila itu tak mengerti apa-apa mengenai Bantala Parwa." "Terserah mau mengakui atau tidak."

"Dari mana kamu mempelajari kitab utama itu? Serahkan klika itu padaku."

"Sayang yang menulis buku itu telah mengambilnya sendiri. Kalau berani mengambil, kenapa tidak minta kepada orang yang bersangkutan?"

Ugrawe menyipitkan matanya.

"Nyai Demang, di mana kiai cabul itu?" "Tanya pada anaknya." Ugrawe bergerak ke arah Mo Ing.

"Bangsat tanpa kelamin. Di mana bapak atau moyangmu itu? Dari mana kalian mencuri pusaka leluhurku?"

Mo Ing dalam keadaan sekarat. Bekas luka dari Rawikara beberapa waktu lalu belum hilang. Apalagi kini tangannya telah putus. Antara mati dan hidup ia dicaci seperti itu. Dengan mengeraskan hati, Mo Ing menguatkan tenaga untuk meludahi Ugrawe.

Ugrawe tak menduga bakal diludahi wajahnya. Tak sempat menghindar lagi.

Plak. Tangan Ugrawe bergerak cepat. Seketika tulang tengkorak Mo Ing retak. Darah menciprat ke seluruh tubuh Ugrawe. Lalu Ugrawe mengambil kain Mo Ing dan melap tubuhnya. Sekaligus melap wajahnya yang kena semburan ludah.

"Upasara, masihkah kamu bertahan untuk menyimpan rahasia buku itu?" "Tak ada untungnya saya menyimpan.

"Tetapi saya minta Empu tidak melakukan sesuatu kepada Nyai Demang dan Kakang Galih Kaliki. Mereka tak ada hubungannya dengan saya dan masalah ini."

Ugrawe mengibaskan tangannya.

"Itu soal kecil. Tetapi bahwa kamu mau menukar nyawamu untuk wanita genit ini, itu baru luar biasa."

Dengan satu kibasan lagi, Nyai Demang dan Galih Kaliki dibebaskan.

Di kegelapan, Gayatri tak bisa menahan jatuhnya air mata. Kini makin jelas bahwa Upasara lebih suka mengorbankan nyawanya sendiri untuk menolong Nyai Demang.

Gayatri tak pernah mengerti bahwa Upasara tidak terlalu memikirkan masalah tersebut. Jalan pikirannya sederhana. Bahwa mereka berdua terlibat dalam masalah ini gara-gara kehadirannya. Dan kini Upasara mau menanggung sendiri akibat perbuatannya. "Cukup puas?" "Terima kasih."

"Ada lagi yang ingin kamu bebaskan?"

Gayatri menunggu Upasara mengucapkan namanya. Tetapi ternyata Upasara menggelengkan kepalanya. "Serahkan kitab itu padaku."

"Sekarang ini masih dibawa oleh Kiai Sangga Langit."

Ugrawe menahan gejolak dalam dadanya. Upasara bukan orang yang suka berbohong. Itu Ugrawe tahu. Apalagi Upasara mengucapkan dengan biasa-biasa. Tanpa maksud menjelekkan atau mencari kambing hitam.

Sesungguhnya Upasara juga tidak merasa berbohong sepenuhnya! Apa yang dikatakan adalah mendekati kebenaran. Karena Upasara berpikir bahwa tokoh lain yang bisa dihubungkan dengan soal segala macam kitab hanyalah Kiai Sangga Langit. Imam dari negeri Tartar itu paling getol mempelajarinya. Dan memberikan ilmu kepada orang lain.

Kawung Sen dulu juga mencuri. Tetapi pada dasarnya karena ingin memperolok saja. Tidak punya niatan untuk mempelajari dan mencuri. Hanya karena kesal dengan ulah Ugrawe. Kawung Sen sendiri buta huruf.

Jadi kalau Ugrawe pernah merasa kehilangan, Kiai Sangga Langit-lah satu- satunya orang yang mempunyai kemungkinan untuk mengambil.

"Untuk sementara aku pegang omonganmu. Kalau sampai meleset, kamu tahu akibatnya."

"Sekarang pun saya siap untuk menerima akibatnya." Ugrawe tersenyum.

Sifat liciknya muncul. "Kenapa kamu mencari Kiai Sangga Langit?"

"Karena ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Selain Tumbal Bantala Parwa, Kiai Sangga Langit pernah menceritakan kitab silat yang berdasarkan bintang.

"Yaitu Dwidasa Nujum Kartika, atau Dua Belas jurus Bintang. Saya berusaha untuk menerangkan bagian yang tak diketahui untuk berlatih bersama."

Apa yang dikatakan oleh Upasara sangat tepat!

Ugrawe memang kehilangan kitab itu. Yang ketika itu dicuri oleh Kawung Sen! Dengan menyebutkan judulnya saja, Ugrawe teringat koleksinya yang hilang!

Ugrawe cerdik dan licik, akan tetapi tak mengira bahwa dulu Upasara-lah yang membacakan kitab itu bagi Kawung Sen.

"Aku percaya semua yang kaukatakan. Nah, karena kamu telah mempelajarinya, dan aku kehilangan kitab itu, sekarang kau ajari aku."

"Begitu gampang dan hina mempelajari ilmu silat orang lain?" Ugrawe memandang ke bulan.

"Kitab itu justru pusaka leluhur kami yang hilang dicuri. Bagaimana mungkin dituduh mencuri ilmu orang lain?"

"Bagaimana saya bisa mempercayai omongan ini?"

"Baik. Mulai sekarang kamu berada di sini. Aku akan mengatakan satu jurus ilmu yang ada dalam Dua Belas jurus Bintang. Kamu menyebutkan salah satu juga.

"Kalau aku bohong, pasti salah menyebutkan. "Begitu juga sebaliknya.

"Saat Kiai Sangga Langit datang, aku akan mengatakan bahwa ia imam busuk yang mencuri ilmu silat perguruanku.

"Bagaimana dengan tawaran ini?"

Ugrawe tersenyum dingin. Tawaran yang terlalu bagus. Sesaat melihat sorot mata Upasara, Ugrawe benar-benar merasa kecolongan. Mana mungkin ksatria seperti Upasara akan memberikan ilmu silat kepada dirinya? Taktiknya ini hanya sekadar untuk meloloskan Galih Kaliki dan Nyai Demang! Tak bisa lain.

Ugrawe merasa tertipu. Kesal. Ia selalu keliru, karena justru mengukur sifat- sifat Upasara sebagai manusia biasa.

"Aku tahu tipu muslihatmu, Upasara," kata Ugrawe dengan nada tinggi. "Tapi sengaja kuberikan kesempatan kepada Galih Kaliki dan Nyai Demang busuk itu pergi. Yang kuharapkan adalah menyobek-nyobek tubuhmu. Soal mereka berdua sangat mudah dihadapi."

Ugrawe langsung menggempur. Dengan penuh keyakinan diri, Upasara meloncat maju untuk menghadapi.

"Aku tak berdusta. Akan kuberikan Dwidasa Nujum Kartika. Kalau bisa menghadapi semuanya, berarti masih perlu belajar. Kalau bisa menghentikan pukulan sebelum dua belas jurus ini selesai, bisa menguasai ilmu itu."

Upasara langsung memapak dengan jurus Lintang Sapi Gumarang. Dengan mengisarkan kedua kaki, arah tenaga diambil dari utara-selatan. Upasara memapak maju dengan getaran tenaga musim Kasa, musim pertama. Gerakan dan dorongan tenaga yang sama dengan embun baru menetes, genjotan binatang yang meloncat dari sarangnya.

Ugrawe seperti didorong habis. Tersapu dan mendadak menjadi mundur.

Bagi Upasara, menghafalkan jurus-jurus yang sama sekali baru tak terlalu sulit. Modal utama yang dimiliki ialah kemampuan mengonsentrasikan pikiran. Dalam hal begini, barangkali Upasara tiada tandingannya. Memusatkan pikiran sudah dilatih sejak ia lahir.

Upasara tak mau memperhitungkan Ugrawe yang mundur, ia menerjang maju, bagai tenaga buah padi yang tumbuh. Lintang Tagih, tenaga luar yang panas mengancam, akan tetapi tetap dingin di dalam. Ugrawe berseru kaget. Ia bukannya tak bisa mengimbangi. Akan tetapi sangat terpesona. Di satu pihak ingin menjajal, tetapi di lain pihak ingin mengetahui ilmu yang dimainkan Upasara. Ugrawe menangkis serangan atas, dan mendadak tubuhnya terbanting.

Ini adalah jurus Lintang Lumbung, jurus ketiga. Kekuatan utama di kaki, seperti kekuatan akar yang baru tumbuh. Menusuk apa saja yang menghalangi.

Terbanting ke atas tanah, Ugrawe segera menggulung dirinya. Bagai putaran angin ribut. Melonjak tinggi ke angkasa. Dua tangannya berputar berusaha menggagalkan serangan berikut.

Tapi Upasara malah menarik diri.

"Tiga jurus saja sudah keok. Untuk apa diteruskan?"

Ugrawe melayang turun. Tangannya mengibas. Seluruh prajurit mengepung. "Upasara, aku datang," terdengar suara Kiai Sangga Langit. "Sungguh

berbahagia, aku bisa menemui seorang ksatria dalam jiwa dan tindakan. Karena mereka main keroyok, aku akan membelamu."

Dalam sekejap, pertempuran berubah menjadi keroyokan. Para senopati Keraton tak ragu lagi menyerang dari segala jurusan. Upasara merasa bahwa tubuhnya belum pulih akibat tendangan Ugrawe, merasa was was dengan tenaganya kalau dipakai terus-menerus.

"Kiai, saya masih ada urusan. "

Tubuhnya melayang ke arah luar. "Aku ikut!"

Dua tubuh terbang ke angkasa bagai dua ekor burung. Kiai Sangga Langit yang bertubuh gede bisa melayang dengan enteng, bagai burung gagak. Sedangkan Upasara bagai burung garuda. Perkasa, mengagumkan, dengan dua tangan terentang. Sebuah tombak yang diarahkan kepadanya diraup dengan lembut. Bahkan ketika hinggap di benteng sisi luar, langsung mengukir tulisan. Di bawah tulisan mengenai "lautan asmara". Gay, kutunggu Di pelabuhan di saat kapal

melabuhkan Kerinduan

Memang termasuk luar biasa. Dalam keadaan melayang, Upasara masih bisa mencoretkan kata-kata. Ingatannya kepada Gayatri membuatnya tak bisa meninggalkan begitu saja. Harapan Upasara, Gayatri akan membaca tulisan yang sengaja dibuat besar-besar, untuk segera kembali ke Kali Brantas.

Karena situasinya tidak memungkinkan bagi Upasara untuk mencari Gayatri. Kalau saja Upasara tahu bahwa Gayatri ikut masuk ke dalam Keraton dan melihat semuanya, hasilnya akan lain!

Turun di tanah, Upasara segera bergegas menjauh.

Di depan Kiai Sangga Langit, yang ternyata lebih unggul, sudah menunggu. "Banyak ksatria kujumpai dalam perjalanan ini, tetapi kamu tetap lain. Sejak

pertemuan pertama dulu aku sudah jatuh hati padamu. Kalau ada waktu baik, aku

akan memberikan seluruh ilmuku padamu."

Keduanya tetap berlari kencang. Jauh meninggalkan para pengejarnya.

"Aku menjelajah dunia karena mau menyebarkan ilmu yang kumiliki. Seperti ajaran yang kuperoleh selama ini. Aku bukan prajurit. Meskipun kesalahanku yang utama, aku mau diangkat menjadi imam negara.

"Sekarang aku menemukan bakat besar. Bagaimana, Upasara?"

"Tiada ucapan terima kasih yang bisa saya ucapkan. Akan tetapi sekarang saya masih ada tugas. Saya harus kembali ke desa Tarik. Kesempatan lain, Kiai."

"Untuk apa ke sana, sebentar lagi tempat itu rata dengan tanah." Upasara kaget.

Tanpa terasa tubuhnya jadi bergoyang.

"Para pembesar Tartar tak mau menunggu lebih lama. Saya tak bisa menyalahkan. Mereka diutus oleh Kaisar untuk membalas dendam. Dan itu dijalankan. Kita bisa lain, Upasara.

"Mari kita lepaskan segala urusan ini. Kita berlatih bersama, dan melanglang jagat. Mensyukuri hidup sebagai ksatria. Untuk apa kita meributkan diri soal takhta?"

"Saya tak bisa melepaskan masalah Keraton lebih dulu. Kiai, marilah kita memilih jalan sendiri-sendiri."

"Selama ini begitu banyak yang menyembah untuk berguru padaku. Tetapi kamu berani menolak."

Kiai Sangga Langit berhenti. Upasara juga berhenti.

"Tak ada yang bisa menolakku, Upasara."

"Saya tidak menolak. Akan tetapi kalau kita hanya memperhatikan masalah pribadi, apa jadinya kita ini?

"Kiai juga terpaksa berperang dengan Ngabehi Pandu, soal membela nama negara."

"Itu hanya alasan agar aku bisa menjajal kemampuannya."

"Kalau itu yang juga dipakai alasan untuk menjajal kemampuan saya, saya akan meladeni. Hanya bagi saya alasannya adalah karena Kiai menghalangi jalan saya pulang ke desa Tarik."

Kiai Sangga Langit menggeleng.

"Mari kuantar ke Tarik. Dari sana, setelah tanah itu rata, segala dendam ini tertumpahkan, kita berlatih silat." Aneh sekali perangai Kiai Sangga Langit ini, pikir Upasara. Ia untuk pertama kali mengetahui bahwa di jagat ini ada orang yang begitu kesengsem, begitu tergila- gila oleh ilmu silat. Dan semata-mata demi ilmu itu sendiri.

Tapi pikiran Upasara lebih terpusat mengenai rencana penghancuran tempat pertahanan di desa Tarik. Kalau pasukan Tartar menyerbu, benar seperti yang dikatakan Kiai Sangga Langit: bumi bakal rata.

Maka, Upasara memusatkan tenaga untuk berlari sekencang mungkin. Ia kemudian mengambil kuda. Membalap sepenuh tenaga.

Akan tetapi begitu masuk daerah Tarik, hati Upasara kecut juga. Seluruh daerah sudah dikepung rapat. Tak ada bagian yang tersisa.

Naga Wolak-Walik dengan perkasa berada di tengah lapangan. Dua tombak yang ujungnya mengibarkan bendera dipegang dengan teguh. Gagah. Nyaris sempurna. Naga Murka berada di dekatnya. Sementara Naga Kembar siap dengan aba- aba untuk menggempur.

Di bagian depan, Raden Sanggrama Wijaya serta seluruh pengikutnya sudah pula bersiap-siap untuk mati mempertahankan tanah negerinya.

Keduanya dalam keadaan siap tempur. Walau kekuatan kurang seimbang. Prajurit Tartar begitu sempurna mengepung, dengan persenjataan yang bukan alang- kepalang. Sementara Raden Sanggrama Wijaya seperti mengumpulkan prajurit dan pengikutnya seadanya. Bahkan Wilanda yang nampak masih sakit ikut duduk di tanah. Dari semangat bertempur, tak bisa diukur mana yang lebih luhur. Kedua pasukan siap untuk perang habis-habisan.

"Bagaimana? Kami tak mau menunggu lebih lama lagi. Siapkan pemimpin tertinggi kalian dan kami bawa sebagai tawanan kepada kaisar kami. Kalau tidak, semua yang menentang akan dikubur tanpa lubang," teriakan Naga Murka lantang sekali.

"Tunggu sebentar, ini utusanku datang," teriak Raden Wijaya mengguntur. "Tak ada lagi yang perlu ditunggu."

Naga Murka siap untuk memberi aba-aba. Akan tetapi pandangannya tertuju dengan masuknya Upasara serta Kiai Sangga Langit. Keduanya berjalan bersamaan, tidak menunjukkan tanda-tanda bermusuhan. Upasara maju menghaturkan sembah kepada Raden Wijaya. Mendadak telinga Upasara berdenging.

"Upasara, kalau sejak tadi kamu tidak berduaan, aku sudah ingin membisikimu. Kepungan ini tak bisa dilawan. Jangan ceroboh. Wijaya berusaha melawan sepenuhnya. Kalau kalian mendengar cerita Tamu dari Seberang, inilah tamu itu. Inilah yang akan membawa berdirinya Keraton yang lebih bersih, lebih berwibawa, di kelak kemudian hari."

Raden Wijaya memandang Upasara. "Bagaimana? Apakah Keraton Daha..."

"Baru saja saya mendengar bisikan Eyang Sepuh. Inilah Tamu dari Seberang yang akan..."

Raden Wijaya mengangguk. Bersitan satu kalimat saja sudah lebih dari cukup. Daya tangkap untuk menghubungkan berbagai persoalan hanya terjadi dalam waktu sepersekian detik.

Raden Wijaya maju ke tengah.

"Para Dewa Naga yang datang jauh-jauh. Kami adalah prajurit Keraton Singasari. Prajurit sejati yang lebih suka mati untuk membela kebenaran. Kalau kedatangan para Dewa Naga kemari untuk membalas dendam, sekarang kita bisa bekerja sama.

"Utusanku, Upasara Wulung, baru pulang dari bertarung di Keraton Daha. Di sanalah orang-orang yang menghina kaisar para Dewa Naga.

"Akan tetapi jika para Dewa Naga ingin melawan kami, kami semua siap melayani."

Naga Wolak-Walik memandang ke arah Kiai Sangga Langit. Mereka berbicara sekejap.

"Baik, kata-katamu bisa dipercaya. Kebetulan Bok Mo Jin, Kiai Sangga Langit, baru saja menyaksikan sendiri. "Kalau begitu, hari ini seluruh pimpinan penyerbuan Daha di bawah komando

kami."

Peperangan besar antara pasukan Tartar dan prajurit Wijaya berubah menjadi perundingan.

Baru kemudian para prajurit Tarik menjadi lebih heran lagi. Karena memang kekuatan pasukan Tartar bukan main-main. Mereka sengaja dikirim untuk menaklukkan sebuah kerajaan.

Naga Kembar langsung memberi komando. Ia membagi pasukan besar itu menjadi tiga. Ia sendiri akan memimpin gempuran dari arah timur. Naga Murka akan menggempur dari wilayah barat. Pasukan Raden Wijaya membantu dari arah belakang.

"Semua tanpa kecuali di bawah komando. Kita menyerang lewat Kali Brantas," teriak Naga Kembar lantang.

"Bagaimana dengan strategi jika pihak lawan juga melakukan serangan yang

sama?"

Naga Murka tertawa.

"Itu bagianku. Selama ini akulah jenderal perang yang tak bisa ditipu lawan. Dari peta yang ada, mereka hanya mungkin unggul di bagian tenggara dan barat. Dan di situlah aku berada akan melindas habis mereka.

"Siapa yang tidak mematuhi komandoku, akan kucincang sendiri."

Hari itu juga semua pasukan bergerak langsung. Tanpa menyembunyikan diri. Bendera ditarik tinggi-tinggi. Sementara laporan yang diterima oleh Ugrawe sedikit terlambat. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa prajurit Tartar menggempur langsung. Tanpa memedulikan ba dan bu. Ugrawe mengerahkan perlawanan yang gagah berani. Delapan hari delapan malam, ia terus memimpin di barisan terdepan.

Dalam pertempuran yang dahsyat, Ugrawe memperlihatkan dirinya sebagai panglima perang yang ulung. Hanya saja karena lawan lebih kompak, perlahan-lahan Ugrawe terdesak mundur juga. Di benteng Keraton, panglima yang gagah berani ini tak bisa menghadapi keroyokan Naga Wolak-Walik dan Naga Kembar serta Naga Murka sekaligus. Bertarung sejak dini hari, sebelum matahari sepenggalah, tubuh Ugrawe sudah berlumuran darah, terdesak mundur. Dua tangan, kaki, bagian telinga meneteskan darah.

Naga Kembar berteriak mengguntur dan menyapu dengan kedua tangan. Ugrawe berusaha menahan gempuran, akan tetapi tubuhnya terbetot dan terlontar ke bagian dalam. Begitu menghantam tanah, Gendhuk Tri berjingkrakan di sebelahnya. Sebelah kakinya menginjak Ugrawe.

Dewa Maut yang tertawa terbahak jadi ikutan. "Kita apakan, Tole?"

"Kita bikin panggang? Dagingnya kurang enak. Ikat saja."

Sebenarnya justru ulah Gendhuk Tri ini yang menyelamatkan nyawa Ugrawe. Karena kehadirannya di medan pertempuran membuat orang jeri, takut terluka dan ketularan racun.

Dewa Maut sendiri sudah mulai pulih beberapa bagian tenaga dalamnya. Setelah Jaghana dan Wilanda bisa mengembalikan sebagian kekuatannya dengan wejangan yang disampaikan lewat Gayatri, mereka menemukan inti memulihkan tenaga dalam yang diambil.

Kini, tanpa kecuali, mereka ikut menggempur Keraton Daha.

Menurut penanggalan modern yang kita kenal sekarang ini, tanggal 20 Maret 1293, Keraton Daha jatuh. Naga Murka yang memimpin serbuan dengan serta-merta menduduki Keraton dan sekaligus menawan Raja Jayakatwang serta Rawikara.

Di tengah keributan pesta kemenangan, Raden Wijaya mengumpulkan semua pengikutnya.

"Upasara, kalau benar Eyang Sepuh yang membisikimu mengenai mitos Tamu dari Seberang, apa yang harus kita lakukan sekarang ini?"

"Hamba tak tahu, Raden. Eyang Sepuh tak muncul lagi. Hanya pada saat kritis beliau muncul. Ketika memberitahukan mengenai pukulan Banjir Bandang kepada Gusti Gayatri, dan kedua..." "Soal Gayatri, jangan terlalu diurusi. Sekarang masalahnya justru lebih besar. Cepat atau lambat para Dewa Naga akan memaksa kita sebagai tawanan untuk dibawa ke negeri Tartar.

"Soal Raja Daha, aku sendiri tak rela, apalagi kita sendiri. Tak bakal kita menyerah begitu saja.

"Baginda Raja Kertanegara saja mengangkat senjata. Masa kita anak-cucunya menyerah?

"Tapi untuk mulai penyerangan saat ini, kita agak sulit. Mungkin kalau pertempuran tidak di Keraton, bisa kita ambil alih. Pasukan Paman Wiraraja telah siap."

Sanggrama Wijaya segera memerintahkan para pengikutnya untuk berkumpul. Ia sendiri memimpin untuk menemui Naga Wolak-Walik dan Naga Kembar. Wijaya dengan cerdik menghindar dari Naga Murka. Satu-satunya panglima perang yang begitu penuh kecurigaan—yang sebenarnya memperlihatkan strategi yang ulung.

"Kami mengucapkan syukur dan rasa terima kasih yang dalam," kata Nyai Demang menerjemahkan kalimat Raden Wijaya. "Kebesaran pasukan Tartar memang pantas sekali memenangkan ini.

"Rasa syukur ini akan kami wujudkan, sesuai dengan janji kami, untuk mempersembahkan tanda kehormatan kepada Baginda Raja Kaisar. Kami minta izin untuk membuat persiapan di tanah Tarik, di Majapahit."

"Tidak usah terlalu sungkan," kata Naga Kembar. "Tanpa disebutkan, kami memang yang terbesar di jagat raya ini. Persiapkan persembahan tanda tunduk kepada kaisar kami."

Raden Wijaya tak menunggu lama. Hari itu juga memerintahkan untuk berangkat. Upasara menjadi kagok.

"Raden, saat ini Gusti Putri Gayatri masih berada dalam tawanan. Karena sejak semula Gusti Putri terjebak dalam Keraton. Apa tidak sebaiknya kita bebaskan lebih dulu?"

Raden Wijaya mengentakkan kakinya. "Upasara, kamu ksatria besar. Tapi itu sebabnya kamu tidak akan pernah menjadi pemimpin. Di saat situasi begini menentukan soal mati-hidup, kamu masih memikirkan seorang gadis. Di seluruh tanah Jawa ini, yang kecantikannya melebihi Gayatri tak bisa dihitung. Nah, apakah kamu masih mempertimbangkan itu dibandingkan keselamatan kita semua?"

"Hamba yang membawa dia, Raden."

"Kamu yang membawa. Akan tetapi itu semua atas perintahku. Selama kamu masih menjadi prajurit, kamu harus memenuhi perintahku. Perintahku sekarang ini, kita kembali ke desa Tarik, ke Majapahit."

Rombongan Raden Wijaya berangkat saat itu juga. Dengan pengawalan lebih dari dua ratus prajurit Tartar.

Naga Murka menunjukkan kemarahan yang luar biasa ketika mendengar lolosnya Raden Wijaya.

"Demi Kaisar yang menguasai langit. Bagaimana mungkin kalian berdua mengaku jenderal perang, kalau membiarkan musuh melarikan diri?

"Apakah seorang yang mempersiapkan persembahan dan upeti perlu membawa prajuritnya? Ini sama dengan persiapan perang."

Naga Wolak-Walik juga kaget.

"Rasanya tak mungkin. Di dalam tawanan ini masih ada Raja Daha dan putranya. Juga ada seorang putri bernama Gayatri. Mana mungkin mereka membiarkan tawanan di tangan kita kalau mereka mengangkat senjata?"

"Justru karena itu.

"Tak bisa dibiarkan. Siapkan pasukan. Kalau kalian mabuk kemenangan karena bisa membalas dendam, aku sendiri yang akan turun tangan mengejar. Jangan sampai mereka menjadi kuat.

"Di tanah Jawa ini semua serba aneh. Para jagoan dan ksatria begitu banyak. Kita tak menyangka bahwa seorang Ugrawe bisa menahan serbuan kita selama delapan hari! "Dan yang seperti Ugrawe mungkin banyak jumlahnya, kita sama sekali tak mengerti.

"Siapkan pasukan."

Kekuatiran Naga Murka tak meleset sedikit pun. Karena di tengah perjalanan, Raden Wijaya dengan mendadak menghentikan pasukannya.

Dengan satu kibasan tangan, pengikutnya menyingkir ke bagian lain.

"Saya, Naraya Sanggrama Wijaya, pemimpin prajurit Majapahit, dengan ini mengambil alih kepemimpinan seluruhnya. Kalian para prajurit Tartar, bisa memilih dua jalan.

"Yang pertama, kembali ke negeri asal. Yang kedua, kita menentukan, siapa yang lebih berhak memerintah di tanah leluhur kami."

Para pengikut Raden Wijaya memuji bahwa dalam saat terakhir, lawan masih diberi kesempatan untuk menentukan pilihan.

Pertempuran itu sendiri berlangsung singkat. Raden Wijaya ikut terjun langsung ke medan pertempuran. Dengan Jaghana, sebagian dari Pengelana Gunung Semeru, serta para senopatinya, dengan mudah mengalahkan pasukan Tartar yang melawan. Apalagi rombongan para prajurit Madura sudah ikut datang bergabung.

Sebelum senja tiba, seluruh prajurit Tartar bisa dikalahkan. Sebagian bisa dibekuk, ditawan, sebagian terbunuh, dan sebagian kecil lainnya melarikan diri.

Raden Wijaya mengesampingkan semua perhitungan lain. Kini seluruh prajurit diperintahkan untuk langsung kembali menggempur Keraton Daha.

"Kebangkitan Keraton di tangan kita semua. Para prajurit sekalian, inilah saatnya kita membaktikan diri pada tanah, pada bangsa, dan negara. Tak ada pilihan lain.

"Saya bukan tidak tahu saat ini Baginda Jayakatwang, Rawikara, Gayatri, Gendhuk Tri, serta Dewa Maut, dan sejumlah ksatria yang lain masih berada dalam tawanan. Akan tetapi, kalau kita tidak mau mengorbankan diri, siapa yang akan berkorban? "Kalau saat ini saya berada di Keraton sebagai tawanan, saya tetap memerintahkan untuk menyerbu.

"Sekarang, atau kesempatan itu tak pernah datang."

"Maaf," kata Jaghana sambil menyembah. "Apakah Raden tidak mempertimbangkan bahwa korban yang akan jatuh lebih banyak lagi?"

"Paman Jaghana. Hari ini saya bersabda untuk meneruskan pertempuran. Siapa yang takut berkorban lebih baik menyingkirkan tubuhnya dari sisiku. Saya sendiri bisa menjadi korban. Tetapi saya memilih jalan ini. Saya tak pernah ragu sedikit pun."

"Barangkali kita bisa menunggu..."

"Tidak, Paman Jaghana. Saya tahu bahwa barangkali Eyang Sepuh, tokoh pepunden, tokoh pujaan kita semua, akan memberikan bisikan. Tapi kalau beliau akan melakukan, pasti sudah dilakukan sekarang ini.

"Ini memang bukan tindakan yang harus diambil oleh seorang yang berbudi luhur seperti Eyang Sepuh. Ini tindakan yang harus diambil Raden Wijaya. Penyerangan kita kepada prajurit Tartar yang mengawal tak akan dibenarkan oleh Eyang Sepuh. Tetapi saya yang bertanggung jawab.

"Saya yang melakukan. Sebab saya tidak bisa mengasingkan diri dan memuja ilmu jati diri seperti Eyang Sepuh.

"Masing-masing mempunyai tugas sendiri.

"Saya tak bisa bersembunyi dan hanya berbisik saat-saat menentukan. Saya manusia biasa.

"Tanpa mengurangi rasa hormat, rasa terima kasih kepada Eyang Sepuh, kita berangkat sekarang. Mudah-mudahan beliau merestui keberangkatan kita."

Dengan genderang perang yang ditabuh bertalu-talu, prajurit berangkat dari tlatah Majapahit. Ribuan mengikuti dengan gagah perkasa. Kedua belas senopati utama Raden Wijaya memimpin di barisan depan. Mereka inilah yang sejak awal pertama turut berlari dari Keraton Singasari ketika digempur pasukan Jayakatwang. Mereka inilah yang mengadakan siasat penyerangan total di Canggu, tempat prajurit Naga Murka mengadakan pesta kemenangan. Bangkitnya keperkasaan, terlibatnya seluruh penduduk untuk memerangi prajurit Tartar, memberontak bagai air bah. Selama ini mereka agak segan bertempur di antara para prajurit sendiri, biar bagaimanapun Jayakatwang masih mempunyai hubungan saudara. Dengan prajurit Tartar, mereka lebih sigap dan lebih total.

Naga Kembar terlambat menyadari ketika seluruh pasukan praktis bisa dikalahkan. Ia menuju Keraton Daha, dan di sanalah terjadi pertempuran berikutnya. Tak ada sebulan prajurit Tartar dengan gagah menduduki Keraton, tapi kini harus mempertahankan.

Naga Murka memimpin sendiri pertempuran. Ia berdiri di tempat yang tinggi, diapit oleh Naga Wolak-Walik dan Naga Kembar. Di sampingnya, nampak Raja Jayakatwang dan Rawikara sebagai tawanan, serta Gayatri.

"Kalau kalian terus menyerang, orang-orang ini akan mati lebih dulu!" Teriakan mengguntur menghentikan semua gerakan prajurit.

"Tak ada yang menghentikan. Tetap serbu!" teriak Raden Wijaya mengguntur. Naga Murka kaget melihat bahwa ternyata pertempuran tak bisa dihentikan.

Dua tangannya bergerak, ke arah Jayakatwang dan Rawikara. Ketika tangan mau

bergerak kembali, sebuah bayangan meluncur dari tanah. Gesit, sangat cepat. Sungguh luar biasa. Bagai anak panah dilepaskan dari busurnya dengan kekuatan penuh.

Langsung berdiri dengan gagah, di bagian utama benteng.

Dengan dua keris di tangan kanan dan kiri, Upasara siap untuk bertempur antara mati dan hidup.

Satu bayangan lain melesat tinggi. Kiai Sangga Langit muncul. "Awas, jangan bunuh bocah itu. Itu calon murid yang akan kupersembahkan kepada Kaisar. Kaisar sangat menyukai pemuda seperti ini."

Belum selesai omongan Kiai Sangga Langit, bayangan lain melesat. Disusul bayangan kedua dan ketiga.

Ngabehi Pandu yang lebih dulu tiba, disusul oleh Jaghana serta Ranggalawe. Di atas benteng yang sempit, berdiri para ksatria utama. "Kiai, pertempuran kita belum selesai," kata Ngabehi Pandu mulai membuka mulut. "Kita tak ada urusan dengan pertempuran ini. Meskipun kehadiran kita tak bisa dibebaskan dari pertempuran ini."

Di bawah, Raden Wijaya sangat memuji Ngabehi Pandu. Yang memilih lawan tangguh. Apa pun alasan Ngabehi Pandu, dengan menyibukkan lawan tangguh, akan mengurangi pengaruh tekanan lawan.

Kiai Sangga Langit berteriak mengguntur, dan langsung menyerbu. Ngabehi Pandu mengeluarkan semua ilmunya. Menghadapi dengan kekerasan pula. Pukulan dibalas dengan pukulan. Seruan tertahan terdengar setiap kali keduanya bergulung. Ranggalawe sendiri langsung menyerbu ke arah Naga Wolak-Walik yang dengan cerdik mengincar Jaghana. Meskipun kelihatan luar biasa cara mengentengkan tubuh, akan tetapi mudah dikenali bahwa Jaghana belum sembuh benar. Naga Kembar yang menyambut serangan Ranggalawe.

Upasara pun terjun langsung ke arah pertempuran. Dua kerisnya bagai tanduk banteng yang terluka, menyodet ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah. Naga Murka, yang paling jagoan, hanya mengeluarkan suara meledek.

"Jangan salahkan aku kalau calon putra Kaisar mati di tanganku."

Dalam medan yang begitu sempit, agak susah mengembangkan permainan. Di satu pihak Kiai Sangga Langit dan Ngabehi Pandu bertarung mati-matian. Keduanya bergulung bagai satu tubuh. Tak bisa dipisahkan. Tak bisa diketahui siapa lebih menguasai siapa.

Sementara Jaghana seperti mudah ditebak mulai berada di bawah angin. Ranggalawe kelihatan lebih unggul. Namun dari semua ini, Upasara yang jelas paling menguatirkan. Karena ia paling muda dan justru menghadapi lawan yang paling tangguh.

Semua jurus Banteng Ketaton atau Banteng Terluka telah dikeluarkan dengan penuh tenaga, akan tetapi ujung kerisnya belum bisa menyerempet lawan. Malah dengan sapuan kaki, Naga Murka mampu membuat Upasara terlontar mundur. Dua gebrakan lagi, Upasara sudah tak bisa menginjak puncak dinding bagian atas. Tubuhnya melorot turun.

"Kena!" Di tengah angkasa, Upasara merasakan tendangan kaki yang mengarah ke wajahnya. Dengan nekat Upasara menggunakan tenaga lawan untuk meloncatkan tubuhnya ke atas. Ia memang berhasil. Akan tetapi dengan demikian Naga Murka bisa menyikat habis.

Karena kedudukan Naga Murka jauh lebih kuat untuk melancarkan serangan berikut. Sementara Upasara agak kedodoran karena tak mampu mengontrol tubuhnya secara utuh.

Saat itulah Gayatri menjerit. Menguatirkan Upasara. Mendadak Upasara melirik. Sekelebatan melihat sinar mata, bentrok, dan merasa bahagia. Inilah saat terakhir, usaha untuk menolong putri idamannya mendapat balasan.

Tapi ternyata belum berakhir. Karena mendadak Ugrawe menggerung keras dan maju ke tengah pertempuran.

Sebetulnya Ugrawe dan Gendhuk Tri serta Dewa Maut termasuk yang ditawan. Hanya saja karena Gendhuk Tri menyimpan racun dahsyat, tak ada yang berani menyentuh atau mencelakai. Selama ini pula Gendhuk Tri lebih mirip seorang penawan, karena ia yang menawan Ugrawe. Yang sejak dikalahkan para Dewa Naga tak bisa berkutik.

Melihat pertempuran yang sangat menguatirkan Upasara, perhatian Gendhuk Tri terpecah. Saat itulah digunakan oleh Ugrawe yang selalu bisa memanfaatkan situasi. Tubuhnya melayang, menyongsong ke arah Naga Murka. Dua tangan beradu keras. Tubuh Ugrawe terdesak mundur. Ia mengangkat tangan kanan, memutar tangan kiri. Sambil meneriakkan seruan mengguntur, maju menggempur. Banjir Bandang Segara Asat yang dahsyat dimuntahkan dengan sepenuh tenaga. Dalam kondisi yang prima, Ugrawe bisa berbuat banyak. Ia menguasai tenaga dalam secara sempurna. Tetapi dalam keadaan terluka, memang tak bisa menggunakan secara penuh. Namun bentrokan yang timbul cukup dahsyat dan menggelegar. Naga Murka terbanting ke samping benteng. Ugrawe sendiri jatuh dan muntah darah.

Upasara menyerbu ke arah Ugrawe, menyangga tubuh Ugrawe.

"Aku bukan pahlawan. Aku sekadar bergerak saja. Siapa pun bisa menjadi lawanku." Suaranya melemah. "Aku tahu kunci ilmu silat di dunia ini. Kuncinya ada pada Tumbal Bantala. Aku terlambat menyadari... Kamulah yang tahu kunci itu. "

Ugrawe masih berusaha bertahan, akan tetapi satu muntahan lagi tak bisa menahan keinginannya. Badannya masih hangat, akan tetapi nyawanya telah melayang! Upasara menggeram.

Jaghana telah dikalahkan. Bahkan kini Gendhuk Tri sedang berusaha menahan serbuan Naga Wolak-Walik. Ngabehi Pandu masih terus berkutat dengan Kiai Sangga Langit.

Upasara melihat ke bawah. Seluruh pertempuran terhenti. Mereka menyaksikan para pendekar di atas benteng yang bertarung mati-matian. Naga Murka sudah berdiri kembali.

Upasara melirik ke arah Gayatri, tersenyum, dan sambil menghela napas panjang menahan gejolak dalam hatinya. Apa yang bisa dilakukan? Ilmunya kalah jauh oleh Naga Murka. Maksud untuk menolong sia-sia. Malah melibatkan beberapa pendekar dan jatuh pula sebagai korban.

Bersiap pun terlambat.

Karena Naga Murka menyerbu ke arahnya.

Dalam sepersekian detik, dalam sepersekian kejap, Upasara jadi ingat Ngabehi Pandu yang mendidiknya sejak lahir, persahabatannya dengan Kawung Sen, dengan Galih Kaliki, rasa tertariknya pada Nyai Demang, lalu begitu merindukan Gayatri, Pak Toikromo yang ingin mengambilnya menantu, Gendhuk Tri yang begitu memperhatikan dirinya, bisikan Eyang Sepuh yang tak mau turun ke gelanggang.

Sementara itu pukulan Naga Murka sudah mendekat. Kesiuran angin sangat tajam membabat tubuhnya. Seperti mengiris lehernya, mematikan urat-urat tubuhnya.

Melihat untuk yang terakhir kalinya pun tak sempat!

Kosong. Sepersekian kejap yang tersisa adalah kekosongan. Hawa panas makin menekan, mendesak ke dalam tubuh, membuatnya beku, susah bernapas.

Dewa Yang Mahakuasa, saya kembali padaMu.

Teriakan batin Upasara bagai jeritan kesakitan tapi juga sekaligus rasa syukur, penyerahan total. Di bawah, Raden Wijaya dan seluruh pengikutnya mengikuti jalannya pertempuran dengan rasa was was. Kalau Ngabehi Pandu masih belum diketahui hasilnya, Jaghana jelas sudah dikalahkan. Gendhuk Tri mengambil alih. Walau kelihatan unggul, Ranggalawe belum diketahui, juga belum bisa memastikan kemenangan. Sementara, kini justru serangan maut Naga Murka sedang mengincar Upasara yang seperti tak bereaksi.

"Kakang..."

Yang terdengar keras adalah teriakan pahit Gendhuk Tri. Suaranya menyayat.

Gayatri juga mengucapkan kata itu, akan tetapi lebih lirih.

Upasara tak mendengar apa-apa. Hanya merasa getaran aneh yang membuatnya setengah sadar dan tidak. Ketika pukulan Naga Murka meremas ulu hati, Upasara justru tidak menghindar. Tubuhnya seperti melorot turun, seakan bagian pinggang ke bawah tak ada tulang penyangga.

Naga Murka kecele. Pukulannya seperti mengenai karung kosong, seperti mengenai gua melompong. Tak bisa ditarik mundur, tubuh Naga Murka tersedot ke depan. Upasara menghindar. Kedua tangannya yang bebas bisa mengetok batok kepala atau leher bagian belakang. Namun, sekali lagi, justru Upasara seperti tak berusaha menghajar. Malah kakinya surut ke arah samping. Naga Murka mencelos beberapa saat. Tapi ia adalah jagoan. Punya pengalaman segudang. Jenderal perang yang paling tangguh. Melihat bahwa lawan tak melanjutkan serangan, Naga Murka memutar tubuhnya, membalik. dan tendangan kaki kirinya mengarah lambung.

Saking cepatnya gerakan seketika ini tak sempat terdengar jeritan dari siapa

pun.

Keras lontaran hawa, mendekap panas. Upasara terkurung dalam tonjokan udara membara. Dengan wajah tetap kosong dan tatapan seperti tertuju ke titik yang maha jauh, Upasara tak menggeser tubuhnya. Hanya sikutnya tertekuk, tertarik ke bawah. Siku jelas tak akan unggul kena benturan kaki, yang ditendangkan sekuat tenaga.

"Celaka..."

Naga Murka merasa pahanya menjadi ngilu, kaku, tak bisa digerakkan. Kalau tadi tendangannya seperti yang pertama, mengenai ruang kosong, kini sentuhan siku Upasara tepat mengenai urat pahanya. Kaku seketika. Tenaganya tersumbat. Tak bisa digerakkan. Padahal saat itu Upasara terus bergerak, kedua tangannya terjulur. Naga Murka menyampingkan wajahnya. Dan terasa amis di bibirnya.

Separuh alisnya somplak, darah mengucur. Juga dari bagian hidung.

Naga Murka menjadi panas-dingin. Sungguh tak terduga. Upasara yang tadinya memperlihatkan kekuatan utama dengan memainkan sepasang keris, kini mempunyai gerak yang mengandalkan tenaga dalam yang nyaris sempurna.

Upasara melangkah menjauh, tubuhnya masih menggeliat seperti seorang penari. Dalam keadaan semacam itu, satu gerakan saja sudah cukup untuk menghabisi Naga Murka.

Akan tetapi Upasara Wulung berdiri kaku seperti menunggu. Mengetahui bahaya mengancam, Naga Kembar dan Naga Wolak-Walik berusaha membebaskan diri dari tekanan. Mereka berdua secara serentak melemparkan dua senjata andalan, memotong dari sisi kanan dan kiri.

Kembali terjadi pemandangan yang aneh.

Bagian pinggang ke bawah seperti tak bertenaga. Tubuh Upasara memendek, sangat pendek sekali. Dua senjata berbenturan, pada saat itu tubuh Upasara memanjang kembali. Kembali dengan gerakan limbung, tangan Upasara mengulurkan tinju. Gerakan pertama tidak tertuju ke arah Naga Kembar ataupun Naga Wolak- Walik. Seperti memukul udara kosong.

Naga Wolak-Walik justru meloncat mundur. Berdiri di ujung benteng yang lain. Salah setengah kaki saja, tubuhnya anjlok ke bawah.

Naga Murka menurunkan kakinya yang kejang. Ia tak tinggal diam, merangsek maju. Mencoba memeluk tubuh Upasara, dan siap untuk meremukkan seluruh tulangnya. Sebagai pegulat yang mampu mengerahkan tenaga dalamnya, Naga Murka yakin bisa menembus tenaga kosong yang didemonstrasikan Upasara.

Upasara Wulung ternyata tidak menghindar. Tidak juga memendekkan tubuh. Kedua tangannya terentang, dan kembali ke posisi semula, dalam sikap menyembah. Tetapi justru dengan gerakan ini, tolakan tenaganya begitu keras, sehingga Naga Murka terdorong. Hanya karena tubuhnya tertahan Gayatri yang diikat dan berdiri kaku, tak sampai terguling ke bawah.

"Bok Mo Jin, kamu pengkhianat! Sejak kapan kau ajari dia jurus Jalan Budha?" Teriakan Naga Murka menunjukkan kecemasan yang tinggi. Mendadak pertempuran di bagian lain terhenti.

Kini seluruhnya menjadi senyap.

Kiai Sangga Langit berdiri kukuh. Di sudut bibirnya mengalir darah. Ngabehi Pandu demikian juga. Malah kedua kakinya terhuyung-huyung. Naga Wolak-Walik bersiap, tapi pasti. Naga Kembar mengambil posisi bertahan. Sementara itu, Ranggalawe mengatur kuda-kuda, siap untuk melancarkan serangan. Jaghana berdiri, disangga oleh Gendhuk Tri.

Upasara Wulung berdiri kukuh. Tegak.

"Aku juga bisa. Aku juga bisa," teriak Galih Kaliki di bawah, sambil berputar menirukan gerak Upasara Wulung.

Bahwa Upasara bisa membalik situasi secara mendadak memang sangat mengejutkan. Tak terkecuali Ngabehi-Pandu yang menjadi gurunya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Upasara Wulung bisa memainkan secara nyaris sempurna, apa yang selama ini dikenal sebagai Tepukan Satu Tangan! Apa yang oleh Naga Murka disebut sebagai jurus Jalan Budha. Apa yang bisa ditirukan dengan baik oleh Galih Kaliki.

Tuduhan Naga Murka bukannya mengada-ada. Karena yang ditunjukkan Upasara Wulung barusan adalah gerakan yang sulit dipahami. Gerakan yang selama ini hanya dipelajari oleh Kiai Sangga Langit sebagai imam negara! Juga tidak terlalu meleset kalau Ngabehi Pandu seperti mengenali. Atau bahkan Galih Kaliki bisa menirukan geraknya dengan sempurna.

Apa yang sebenarnya terjadi, tak bisa diterangkan oleh Upasara sendiri. Semuanya berkecamuk menjadi satu. Bisikan Ugrawe mengenai Tumbal Bantala masih terngiang. Dan itulah gerakan yang muncul begitu saja.