-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 09

Jilid 09

Baik Rawikara maupun Ugrawe tak berani mempersoalkan atau mengungkit masalah ini kepada Raja Jayakatwang. Karena ini merupakan hak pribadi seorang raja untuk memilih pembantu terdekatnya.

Bagi Rawikara, ketidaksukaan Ugrawe pernah tercetus walaupun tidak langsung. Namun kemudian, Rawikara menyadari bahwa Ugrawe mempunyai perhitungan sendiri. Bahwa pengaruh Waisesa Sagara tak akan menjadi besar, selama ia tidak diberi kekuasaan apa-apa. Selama Waisesa Sagara hanya berurusan dengan tasbihnya dan mulut yang terus-menerus berkomat-kamit.

Terdengar gong dipukul pelan.

Serta langkah kaki yang ringan sekali.

Ugrawe, Rawikara, Waisesa Sagara segera menghaturkan sembah dengan menunduk seakan ingin mencium lantai. Sampai Raja Jayakatwang duduk di singgasana dan mengeluarkan suara perlahan. Ketiganya mendongak. Sedikit sekali.

Sunyi di ruang pertemuan.

Hanya ada mereka berempat. Terasa betapa ruangan menjadi sangat luas dan diisi oleh angin yang diam tak bergerak.

"Hari ini aku memanggil Paman Ugrawe dan putraku, karena kalian berdualah yang menjalankan roda pemerintahan sehari-hari.

"Aku tak bisa menunggu sampai esok atau bahkan nanti. "

Suaranya menggantung, seperti tak menemukan lanjutan.

Ugrawe tetap menunduk, akan tetapi pikirannya bekerja keras. Raja Jayakatwang memanggil dirinya dan Pangeran Anom Rawikara. Sedangkan Waisesa Sagara tidak termasuk yang dipanggil. Ini berarti kehadirannya dalam pertemuan sudah otomatis.

Dari cara berbicara, Ugrawe merasa bahwa Raja Jayakatwang seperti benar-benar kehabisan semangat. "...Sebentar lagi aku berada di singgasana ini selama seratus hari. Masih saja belum hilang bayangan yang mengerikan. Mayat-mayat berjatuhan, banjir darah, erangan orang-orang yang kuhormati secara lahir-batin.

"Kadang aku berpikir sendiri, apakah tindakan yang kulakukan bukan suatu kekeliruan yang bakal dikutuk anak-cucuku besok? "

Tidak, seharusnya tidak.

"Aku mendengarkan apa yang dikatakan Paman Ugrawe, Pujangga Pamungkas, yang ahli dalam berbagai hal. Aku mendengarkan saran terbaik dari Paman Wiraraja di tanah Madura. Aku mendengarkan saran Patih Mandarang. Aku merasa di pihak yang benar. Meluruskan kembali sejarah raja-raja di tanah Jawa yang menguasai dunia. Mengembalikan ke jalan yang lurus, yang direstui dewa. Bahwa seorang raja yang menguasai jagat, menjadi panutan, menjadi contoh dalam kehidupan. Seorang raja adalah wakil Penguasa Jagat beserta isinya, seluruhnya. Dan seorang yang semacam ini tidak bisa kalau yang duduk adalah keturunan perampok, seorang pencuri, yang mengambil alih secara paksa.

"Aku mendapat wangsit, mendapat petunjuk dari Penguasa Jagat untuk meluruskan kembali keturunan raja-raja."

"Jalan inilah yang kutempuh.

"Dan hanya jalan ini yang kutempuh.

"Makanya, kepada Paman Ugrawe aku menganjurkan agar segala pertumpahan darah, segala balas dendam dihapuskan. Yang sudah ya sudah. Gelombang laut pun ada saatnya untuk surut kembali.

"Pertumpahan darah dan pembunuhan, balas dendam, bukan tujuanku. Bukan tujuan kita semua.

"Apakah aku bicara keliru?"

"Sama sekali tidak, Sinuwun. Segalanya benar adanya, seperti yang di-wangsit- kan Dewa Yang Mahatinggi," sembah Ugrawe.

"Tepat sekali, Sinuwun," sembah Waisesa Sagara. Rawikara memberi hormat yang dalam. Raja Jayakatwang mengambil napas lega.

"Hari ini aku akan memberikan pengampunan kepada semuanya. Untuk secara resmi, pihak Keraton tidak akan mengusut, menghukum, menindak kejadian masa lampau. Justru sebaliknya. Aku akan mengajak siapa saja yang mau bekerja, yang mau mengabdi kepada Keraton. Inilah saat membangun kembali masa kejayaan Keraton.

"Adalah mustahil. Kalau almarhum Baginda Raja Sri Kertanegara yang justru keturunan perampok bisa mengibarkan panji-panji kebesaran sampai ke tepi samudra jauh, aku justru tidak bisa berbuat apa-apa. Apakah yang berdarah biru kalah dengan darah perampok?

"Aku telah memutuskan ini. "Bagaimana pendapat Paman Ugrawe?" Ugrawe menghaturkan sembah.

"Keputusan Sinuwun adalah keputusan yang memberikan warna yang cemerlang, pijakan yang kukuh, gambaran nyata dari suatu jiwa yang amat besar. Dalam sejarah raja-raja yang hamba pelajari belum pernah ada penggambaran sikap begitu mulia. Semua ini demi keagungan Keraton.

"Dewa Maha tunggal mendengar maksud baik hati Sinuwun."

"Setelah basa-basi yang menyenangkan ini, apa yang akan Paman katakan?" Ugrawe menghaturkan sembah kedua kalinya.

"Baginda lebih arif dan bijak, mana hamba berani menyembunyikan kebodohan hamba.

"Tanpa mengurangi kebesaran jiwa Baginda, izinkanlah hamba menghaturkan apa yang hamba rasakan. Mohon seribu maaf jika kurang berkenan."

"Katakan, Paman."

"Maksud luhur Baginda bisa disalahgunakan, jika melihat situasi sekarang ini. Hamba kuatir jika sekarang ini Baginda mengatakan itu, para pembangkang dan mereka yang menginginkan kembalinya takhta Keraton ke tangan yang lain, akan merasa mendapat angin.

"Apakah Baginda tak ingin menunda barang satu purnama lagi?"

"Bulan depan atau sekarang apa bedanya? Makin cepat kita membangun kembali, rasanya makin baik. Kalau tidak, kita hanya berkubang sekitar masalah balas dendam. Seakan urusan kita hanyalah membunuh orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita.

"Berapa kuburan lagi yang diperlukan untuk itu?" Suara Raja Jayakatwang bergelombang.

Tapi diakhiri dengan suara yang lembut.

"Rawikara putraku... lebih baik pada kesempatan ini kamu berdiam diri saja.

Aku memanggilmu agar kamu mendengar lebih banyak.

"Putraku, sesungguhnya nasibmulah yang membuat aku banyak merenung mengenai apa yang seharusnya kulakukan sekarang ini.

"Kehidupan dari kematian, menjelaskan bahwa seharusnya ada kehidupan baru dalam alam pikiran.

"Putraku, kamu tahu maksudku?" "Sembah dalem... Rama. "

"Ketika kita menyerbu Keraton habis-habisan, ketika itulah kamu terluka parah dan kemudian dinyatakan meninggal dunia karena terkena racun Gendhuk Tri, siswi terakhir Mpu Raganata.

"Tubuhmu telah terbaring, membiru seluruhnya.

"Kamu sendiri tak ingat. Tak tahu. Bahwa aku menangis di sampingmu. Pada saat itu Mpu Raganata yang telah terbaring karena luka parah, karena seluruh tubuhnya penuh dengan luka, merangkak mendekatimu. Memeriksa nadimu, memeriksa pernapasanmu. Dan mengatakan bahwa untuk suatu ketika, nyawamu masih bisa diselamatkan. Tak ada yang percaya. Bahkan Paman Ugrawe yang sangat kukagumi juga menggelengkan kepalanya. Tetapi Mpu Raganata mengatakan, 'Kematian ialah sesuatu yang tak bisa diubah. Tapi sebelum mati, masih banyak kejadian yang bisa ditangani oleh manusia. Dalam diri anak muda ini, bertempur darah yang racunnya tak bisa dikuasai. Ia kalah. Tapi masih bisa diselamatkan. Seluruh darahnya dipompa ke luar, dan darahnya diganti dengan darah yang murni, darah yang diberikan secara suka rela.

"'Karena hanya racunnya yang mematikan darah, belum mematikan hidupnya. "'Beberapa bagian tubuhnya yang dalam, sudah terluka, akan tetapi bisa

disembuhkan dengan pengobatan biasa.'

"Dan Mpu Raganata menyalurkan darah ke dalam tubuhmu, putraku. Setelah menguras habis semua darah beracun dari tubuhmu.

"Betapa mulia seorang Mpu Raganata.

"Pujangga Ugrawe menyatakan bahwa hal itu dilakukan karena Mpu Raganata ingin menebus dosa. Racun itu berasal dari tangan siswinya, muridnya. Secara moral, Mpu Raganata berkewajiban untuk menyembuhkan, mencuci nama baiknya. Karena Mpu Raganata selama hidupnya tak pernah mempelajari ilmu racun.

"Tetapi ternyata tidak. Mpu Raganata tak tahu siapa yang dilukai, siapa yang melukai. Beliau yang sudah sangat sepuh, yang memerlukan tenaga untuk hidupnya sendiri, lebih suka menolong orang lain.

"Ketika aku bertanya sambil berlutut di depannya, Mpu Raganata tersenyum, 'Kalau kamu bisa berbuat baik bagi orang lain, apakah harus kautanyakan sesuatu? Kalau kamu bisa berbuat baik, lakukanlah. Itu wajar.'"

Raja Jayakatwang menutup matanya. Menahan guncangan yang menggemuruh dalam dada.

"Kenapa aku selalu mengulang cerita semacam ini?

"Karena aku bersyukur bahwa putraku lolos dari kematian. Namun lebih luhur dari semua itu, tindakan nyata Mpu Raganata. Kalimatnya begitu indah, begitu luhur, begitu suci: Kalau kamu bisa berbuat baik pada orang lain, lakukanlah. Itu wajar.

"Adakah kata keramat yang lebih hebat dari ini? "Aku bukan seorang resi. Aku bukan orang bijak. Aku tak tahu, apakah memberi ampunan ini suatu perbuatan baik atau sesuatu yang wajar, tetapi aku ingin melakukan. Paman Waisesa Sagara, bagaimana?"

Waisesa Sagara menyembah.

"Hari ini hari terbaik dalam tiga bulan mendatang." Raja Jayakatwang mengangguk.

"Hari ini akan kukatakan.

"Paman Ugrawe bisa mulai melaksanakan. Semua tahanan, tanpa kecuali, dibebaskan. Semua kecurigaan dihilangkan.

"Kita akan mulai membangun kejayaan Keraton yang sesungguhnya!" Ugrawe, Rawikara, menunduk, menghaturkan sembah.

"Perintah Raja kami junjung tinggi."

"Baik. Mudah-mudahan ini mencuci tangan kita yang terlalu berdarah."

Lama setelah Raja Jayakatwang meninggalkan tempat pertemuan, Ugrawe masih tetap berdiam diri. Demikian juga Rawikara.

Waisesa Sagara sudah pergi meninggalkan, mengikuti Raja.

"Aku telah mendengar laporan dari Patih Mandarang malam tadi," suara Ugrawe terpatah-patah. "Bahwa ada utusan dari tanah Madura diterima menghadap langsung. Patih Wiraraja mengajukan usul-usul mengenai kebijaksanaan yang baru.

"Pangeran Anom telah mendengar sendiri bahwa Raja berkenan menuruti nasihat Wiraraja."

"Bapa Guru, tak ada alasan lain, kita melaksanakan titah Raja."

"Ya, biarlah aku sendiri yang membebaskan para tahanan di Perguruan Awan!" Rawikara termenung. "Saya merasa bersalah. Andai Mpu Raganata tidak menolong saya, barangkali akan lain."

"Jangan kecil hati, Pangeran Anom. Ini semua bukan kesalahan Pangeran. Ini karena jiwa besar Raja, sesembahan kita. Menangkap peristiwa itu sebagai karunia dewa. Raja kita sangat menyayangimu, Pangeran. Baik-baiklah memberi laporan kepada Sinuwun, aku akan segera berangkat ke Perguruan Awan."

Rawikara menghaturkan sembah. "Ada apa lagi, Pangeran?"

"Tidak ada apa-apa, Bapa Guru. "

"Wajah Pangeran masih menyembunyikan sesuatu."

Rawikara mengatakan bahwa ia melihat Galih Kaliki ternyata bisa menunjukkan salah satu gerakan yang intinya sama dengan Sindhung Aliwawar. Jurus utama puting beliung dengan pembagian tenaga menolak dan mengisap itu ternyata bisa dimainkan.

"Galih Kaliki? Aku tak pernah mendengar nama itu. Dan aku tak yakin ada yang bisa mempelajari. Aku akan berangkat sekarang juga."

"Bapa Guru benar-benar akan membebaskan semua tawanan ?"

"Ya. Aku akan membebaskan, sesuai dawuh, sesuai perintah Raja. Yang tidak kujanjikan, yang tidak ada dalam perintah Raja, ialah aku membebaskan semua dalam keadaan sebagaimana adanya. Aku akan menjajal ilmuku untuk menghabiskan semua ilmu silat mereka. Jika pukulan Banjir Bandang Segara Asat berhasil, Kiai Sangga Langit akan menggigit jari. Pangeran Anom boleh mengikuti jika ingin menjajal juga."

Ini adalah kesempatan terbaik.

Selama ini sangat susah melatih pukulan Banjir Bandang Segara Asat, Banjir Bah Laut Kering. Ini merupakan jurus yang amat sulit untuk dilatih. Terutama sekali bukan karena sulit mempraktekkan gerak, akan tetapi sulit memilih siapa yang menjadi sasaran. Banjir Bandang Segara Asat mengisyaratkan adanya banjir besar yang menjadi bah, akan tetapi di saat yang sama laut menjadi kering. Jenis pukulan yang khas dari rangkaian Sindhung Aliwawar, yang serba bertentangan. Rangkaian yang bertentangan antara tenaga menolak dan mengisap.

Yang khas dari jurus Banjir Bandang Segara Asat ialah jurus ini merupakan jurus yang paling keras dari sifat menolak dan mengisap. Dalam jurus ini, pesilat akan mengirimkan pukulan ke arah lawan dengan tenaga penuh, dan sekaligus mengisap habis! Sehingga lawan yang terkena pukulan ini kehilangan kekuatan tenaga dalamnya. Seumpama laut, ia dikeringkan, dan tenaganya diisap menjadi banjir di daratan!

Pukulan Banjir Bandang Segara Asat tak menjadi masalah besar jika bisa dilatih sekenanya. Akan tetapi, pukulan ini tak bisa dipakai sembarangan. Kalau menghadapi lawan yang lebih kecil tenaga dalamnya, atau lebih lemah, bisa-bisa malah membahayakan diri. Soalnya tenaga gempuran begitu besar, sehingga hampir sepenuhnya tenaga dalam dikerahkan. Kalau yang ditarik hanya kecil sekali, tenaga sendiri bisa membalik dan melukai.

Akibatnya bisa fatal. Ibarat kata bunuh diri.

Itulah sebabnya, untuk melatih pukulan ini diperlukan lawan yang kira-kira setanding. Makin setakar kekuatan tenaganya, makin menguntungkan. Karena dalam sesaat tenaga dalam yang dimiliki bisa berlipat.

Selama ini Ugrawe dan Rawikara telah mempelajari secara teori. Dan memainkan tanpa tenaga dalam. Namun selalu masih ada dorongan untuk mengujinya. Dalam pertempuran yang sesungguhnya, Ugrawe sendiri belum pernah mempraktekkan. Karena masih merasa gamang.

Para tawanan di Perguruan Awan bisa dijadikan latihan yang menarik. Yang memenuhi syarat.

Mereka adalah ksatria-ksatria yang mempunyai nama besar. Yang terlatih dengan baik. Setidaknya ada nama-nama besar seperti Jaghana, si gundul yang mewarisi ilmu Perguruan Awan sendiri. Tenaga dalamnya boleh diandalkan. Kemampuannya sudah diakui. Juga masih ada Dewa Laut yang kurang-lebih memiliki jenis pukulan yang sama. Masih ada tiga Pengelana Gunung Semeru, tiga bersaudara yang bila digabung ilmunya cukup tinggi.

Menghadapi lawan seperti ini sangat membangkitkan gairah pertempuran. Karena ketika bertanding, dipaksa mengeluarkan semua simpanan yang ada. Tanpa disadari kedua pihak mengeluarkan ilmu yang sesungguhnya. Dan justru itulah yang diharapkan dari latihan semacam ini!

Mengisap laut sampai kering dan membuat banjir daratan!

Rawikara terkesima. Ia merasa dirinya cerdik, akan tetapi ternyata dalam masalah mempelajari ilmu silat serta menemukan cara berlatih, gurunya masih luar biasa. Dan ini semua dilakukan tanpa perlu harus melawan perintah Raja!

"Benar kata Waisesa Sagara... Hari ini hari terbaik. Kita tak harus menunda waktu. Pangeran Anom, hamba menunggu pertimbangan Pangeran."

"Sebaiknya saya menyertai Bapa Guru. "

"Atau soal Galih Kaliki masih menjadi ganjalan?"

"Untuk sementara tidak. Biarlah Keraton sepi barang sehari-dua hari."

Dengan diam-diam Ugrawe menyiapkan pasukannya. Maka iringan pun berjalan dengan diam-diam. Inilah perjalanan yang aneh. Menuju ke Perguruan Awan kembali. Pusat perguruan silat, sumber yang membuat barometer ilmu yang ada sekarang ini. Sejak Eyang Sepuh mendirikan perguruan, hingga namanya menyebar ke seluruh penjuru mata angin, Perguruan Awan menjadi sumber munculnya ksatria- ksatria baru, pendekar-pendekar yang mencapai tingkat yang patut diperhitungkan. Justru karena di perguruan itu tidak semua menyelesaikan hingga tamat serta menjadi penghuni di situ seumur hidup. Justru mereka yang putus di tengah jalan, karena tidak sesuai lagi, menjadi warna yang dominan dalam kehidupan masyarakat dunia silat.

Perjalanan yang aneh. Kalau dulu Ugrawe dan rombongan datang untuk sekadar menghancurkan. Kini bukan hanya itu, akan tetapi untuk memindahkan tenaga dalam mereka. Kalau ini berhasil, Ugrawe benar-benar tiada tandingannya. Bahkan Eyang Sepuh pun takkan mampu mengimbangi. Barangkali hanya tokoh legendaris seperti Tamu dari Seberang yang bisa menandingi. Akan tetapi tokoh misterius itu saat ini belum pernah muncul. Belum ada yang mengaku pernah bertemu dengannya!

Kiai Sangga Langit masih memeriksa nadi Mo Ing, ketika mendengar suara yang melangkah tergesa.

Tangan Mo Ing tetap dipegang ketika berbicara ke arah Nyai Demang. "Nyai mendengar suara langkah tergesa?"

"Tidak... ya... tidak... tidak begitu jelas."

"Aku merasa ada sesuatu yang sangat penting dan mendadak. Sepertinya Ugrawe sendiri yang pergi.

"Kurasa ada sesuatu yang akan dilakukan. Kalaupun ada hubungannya dengan perintah Raja, ini tetap sesuatu yang rahasia.

"Nyai, aku minta pertolongan. Mo Ing harap dijaga baik-baik. Untuk sementara Galih Kaliki tak akan banyak mengganggumu. Aku akan mengikuti Ugrawe pergi. Usahakan seolah aku masih di sini."

Sebelum kalimat terakhir lenyap, tubuh Kiai Sangga Langit yang tinggi besar telah meninggalkan tempat. Dalam tarikan satu napas saja, tubuh yang tinggi besar dan kelihatan berat bisa pindah tanpa menimbulkan kesiuran angin keras.

Kiai Sangga Langit menunjukkan kelebihannya ketika mengikuti secara diam- diam. Perjalanan dari Keraton menuju Perguruan Awan bukan perjalanan yang gampang. Melalui jalan sepi, yang sedikit bunyi-bunyian saja terdengar. Tetapi ilmu mengentengkan tubuh dan membaca jejak Kiai Sangga Langit sangat tinggi. Sehingga dengan mudah bisa mengikuti tanpa diketahui.

Perguruan Awan sendiri masih seperti pertama kali diciptakan. Sebuah hutan yang lebat, lapangan di sana-sini, semak yang tinggi, rendah, gua-gua yang tersembunyi. Dari bentuk luarnya tak ada bedanya. Hanya saja, sebagian terbesar gua- gua itu dijadikan tempat penahanan para ksatria.

Sejak penyerbuan habis-habisan, para ksatria yang terkena racun sebagian besar bisa ditawan. Sementara dipindahkan ke berbagai tempat, sebelum akhirnya diangkut ke Perguruan Awan. Dimasukkan ke dalam gua di bawah tanah. Dikumpulkan menjadi satu. Dan setengah dibiarkan mati atau hidup.

Ujung terowongan dijaga sangat kuat, sementara batu-batu bongkahan ditumpuk bersama dengan ujung tombak dan anak panah beracun yang selalu dalam keadaan siap ditembakkan.

Berada di dalam gua, dalam keadaan nyaris tanpa sinar matahari, para ksatria mencoba bertahan. Yang paling menderita adalah Dewa Maut. Bukan karena luka dalam tubuhnya masih menggerogoti. Hal ini bisa dengan mudah diatasi karena cukup waktu untuk melatih tenaga dalam. Tapi jelas sekali manusia yang biasa hidup di atas air sepanjang sisa usianya, sejak mengasingkan diri, paling menderita. Karena Dewa Maut juga tak bisa melatih ilmu racunnya yang ganas. Di mana bisa mencari ikan yang beracun kalau berada dalam gua bawah tanah?

Tiga Pengelana Gunung Semeru, yang terdiri atas tiga bersaudara Pembarep, Panengah maupun Wuragil, meskipun biasa berdiam di atas gunung, masih bisa berlatih. Bahkan dalam bulan-bulan terakhir Barisan Trisula yang menjadi andalan mengalami kemajuan yang berarti. Seperti sudah diketahui unsur Barisan Trisula adalah menyatukan pikiran dari tiga orang. Dengan selalu berada dalam tempat yang sama.

Satu-satunya yang bertahan dalam keadaan yang sama ialah Jaghana. Bukan hanya karena tubuhnya tetap gemuk, atau kepalanya tetap pelontos. Sikapnya yang rendah hati, memberikan kekuatan batin dan menular kepada rekan-rekannya. Jaghana tetap menolak memakan binatang tanah. Ia mencari akar-akar tumbuhan yang sedang tumbuh. Mempertahankan hidup seperti itu.

Jaghana pula yang mulai usaha mencari makanan sendiri, ketika kiriman dari atas kadang datang kadang tidak. Jaghana membuka terowongan baru. Sering kali gagal karena kemudian tanahnya ambruk.

"Gua bawah tanah ini disebut Lawang Sewu, Pintu Seribu. Sudah direncanakan sedemikian rupa sehingga tanah yang lembek tidak dibuatkan terowongan. Sehingga kalau kita mencoba menerobos mencari jalan keluar selalu akan sia-sia. Kalau melalui jalan biasa, di depan sudah ditunggu kawanan musuh.

"Tetapi kita tak berhenti dengan berdiam diri. Inilah yang saya harus lakukan.

Maafkan kebodohan ini, akan tetapi biarkanlah saya selalu mencoba." Jaghana pula yang merawat Wilanda. "Kakang, saya telah berkhianat pada Perguruan Awan dengan meninggalkan kebahagiaan dan ketenteraman untuk mengabdi kepada nafsu. Saya sungguh tak pantas diperhatikan dengan cara seperti ini."

"Eyang Sepuh tak pernah membedakan anggota atau bukan anggota. Perguruan Awan yang dibangun Eyang Sepuh untuk menolong sesama, karena kita semua saudara dan anggota.

"Dalam keadaan sakit dan terluka, Adimas telah banyak menolong orang lain. Itulah tanda bahwa keinginan Eyang Sepuh masih tersimpan dalam diri Adimas. Jangan terlalu sungkan."

Begitulah, Jaghana melatih tenaga dalam Wilanda secara perlahan. Merawatnya seperti merawat bayi yang baru lahir. Kekerasan hati dan tekad Jaghana dalam mengobati Wilanda dan Dewa Maut, membuat Pembarep tergugah hatinya. Kalau tadinya mereka berhadapan sebagai musuh, dalam nasib yang sama, nyawa dan kesehatan masing-masing menjadi urusan bersama. Silih berganti Pembarep, Jaghana, Panengah, mengobati Wilanda dan Dewa Maut berganti-ganti.

Begitulah waktu terus berjalan.

Tak bisa dihitung berapa lama waktu sudah berlalu. Mereka tak pernah melihat sinar matahari dan bulan purnama. Tak tahu ada hujan atau banjir, atau musim kering yang panjang.

Sampai suatu ketika, entah pagi entah malam, sesosok bayangan masuk sambil menggendong karung.

"Makan yang banyak. Di situ ada daging, ada sayur yang segar. Ada jagung, ada tembakau. Ada bacaan yang bagus."

Pembarep lebih dulu maju ke depan, memberi hormat.

"Terima kasih. Akan tetapi sebelum kami bisa menerima kenikmatan ini, berilah kami kesempatan untuk mengenal Paduka yang baik hati."

"O, Pembarep," terdengar suara yang nyaring tinggi. "Aku sudah tahu cacing dalam perutmu memberontak keras sekali. Mana ada makanan seperti yang kubawa ini? Tetapi kamu masih basa-basi. Takut kuberi racun? Hehe, itu masih lebih baik. Bukankah lebih enak merasakan sesuatu yang nikmat sebelum mati, daripada tak pernah merasakan sekali juga?" "Siapa kamu yang berani omong besar?" Dewa Maut berdiri gagah. "Ugrawe sendiri tak berani turun kemari. Menyuruh anak ingusan seperti ini."

Bayangan yang ada di depan mereka menggerakkan kepalanya.

"Dewa Maut, adatmu masih seperti anak kecil saja. Pantas saja Padmamuka suka padamu. Kamu memang masih tetap kekanak-kanakan."

Disinggung mengenai hubungannya dengan Padmamuka, Dewa Maut langsung bereaksi cepat. Tubuhnya meluncur dengan kedua tangan terjulur ke depan. Gua ini terlalu sempit untuk menghindar. Tapi bayangan yang menutupi wajahnya dengan daun pisang itu tidak berkelit. Malah mengangkat kedua tangan untuk memapak, sambil meniup dengan keras.

Aneh, mendadak Dewa Maut berhenti. Hidungnya kembang-kempis. Lebih aneh lagi, lalu menunduk dan menyembah.

"Tole... arwahmu datang, kangen padaku?"

Tole adalah sebutan Dewa Maut untuk Padmamuka, si cebol yang wajahnya seperti bayi. Teman berlatih seumur-umur dengan Dewa Maut, yang malah dikatakan hubungan mereka berdua bukan sekadar hubungan teman lagi. Tak ada yang membuktikan sendiri, akan tetapi kecurigaan semacam itu cukup beralasan, kalau mengingat dalam jarak waktu yang panjang keduanya hidup bersama di atas perahu.

"Tole apa?"

"Kamu Tole, kan?"

"Enak saja kamu ngomong. Tole-mu itu pendek, cebol, biarpun manis. Lihat, aku cukup tinggi."

"Sangat tidak mungkin kamu bukan Tole. Bau tubuhmu, bau mulutmu sama

persis."

"Padmamuka itu muridku. Tahu tidak? Maka kamu harus menghaturkan sembah padaku." Mata Dewa Maut membelalak. Rambutnya yang putih seluruhnya, beriapan, nampak menambah kesan lucu. Kocak sekali. Mulutnya melongo tak mengerti.

Kalau tahu persis mengenai Padmamuka, tak menjadi masalah. Akan tetapi bau tubuh bisa sama, itu baru luar biasa. Mungkinkah gurunya? Bisa jadi. Tapi sama sekali tak masuk akal. Karena guru Padmamuka adalah dirinya sendiri. Dewa Maut- lah yang mendidik sejak ditemukan.

"Kalau kamu gurunya, siapa aku?"

"Kamu juga muridku. Masa lupa. Hayo menyembah. Kalau tidak, aku tidak akan memberimu ikan sungai."

Dewa Maut serbasalah. Ia sebenarnya tokoh yang mempunyai gelar tinggi. Kedudukannya dalam dunia persilatan termasuk kelas atas. Puluhan tahun merajalela di Bengawan Solo hingga Brantas, tak ada yang mengusik. Tak ada yang berani. Gelar Dewa Maut menunjukkan bahwa ia tak pernah membiarkan lawan yang bertempur dengannya pergi dalam keadaan hidup.

Adalah di luar dugaan bahwa sekarang ini bisa dipecundangi dengan cara yang menggelikan.

Bahkan ketika bayangan itu mengikik geli, Dewa Maut belum sadar sepenuhnya bahwa dirinyalah yang ditertawakan.

Sebenarnya keadaan Dewa Maut sendiri sedang guncang. Kesadarannya sudah berubah banyak. Perpisahannya dengan Padmamuka sangat menghancurkan kekerasannya. Tak terlalu sulit dibayangkan. Padmamuka selalu bersamanya, lalu tiba-tiba meninggal di depan matanya. Tanpa bisa menolong. Justru karena ingin menyelamatkannya. Betapa menyesal, karena saat itu Dewa Maut sedang luka parah.

Dalam keadaan kurang seimbang kewarasannya harus terbenam di dalam gua bawah tanah selama beberapa bulan.

Segala impian, gagasan, dan pikirannya selalu ke Padmamuka. Kini tak disangka tak dinyana, ada bayangan yang mengaku guru Padmamuka. Keruan saja ia jadi blingsatan.

Dalam bingungnya Dewa Maut benar-benar menunduk, dan menghaturkan sembah. "Bagus, kumaafkan segala kesalahanmu.

"Nah, sekarang aku tak bisa lama-lama di sini. Aku sengaja masuk kemari untuk mengirimkan makanan, dan mungkin sedikit bacaan. Sekaligus memberitahukan bahwa ada kejadian penting. Dalam satu-dua hari ini Raja Jayakatwang akan membebaskan kalian semua.

"Tidak menjadi penting, karena hal ini ada embel-embelnya. Ugrawe yang busuk itu akan datang kemari. Itu berarti ia tak sekadar membebaskan kalian. Pasti ada apa-apanya.

"Sudah itu saja. Saya mau kembali lagi." Bayangan itu berbalik.

Jaghana menghela napas.

"Terima kasih, Gendhuk Tri... atas pemberian ini semua." Bayangan itu berhenti bergerak, dan membalik.

"Paman Jaghana kenal aku?"

Pembarep memandang lebih jelas. Tak salah lagi, itulah Gendhuk Tri. Jelas sekali sekarang ini. Meskipun pakaiannya awut-awutan dan rambutnya beberapa dibiarkan tergerai.

"Anak yang manis, anak yang baik budi, yang bersedia memberikan nyawanya untuk memberitahukan bahaya kepada orang lain, apakah bisa dilupakan?"

Dasar Gendhuk Tri, ia bukannya senang ketika dipuji secara tulus oleh tokoh seperti Jaghana, malah berteriak,

"Siapa sudi mengorbankan nyawa untuk kalian?" Jaghana menghela napas.

"Dewa Agung yang mengatur jagat seisinya memberimu anugerah hebat. Gendhuk Tri, hanya kamu dan Upasara yang bisa lolos dari Lawang Sewu. Tetapi ketika kamu lolos dulu, bukankah seluruh isi gua menutup, karena tanahnya longsor? "Kini kamu bisa masuk kembali. Bukankah itu pun berarti tanah yang kamu lewati longsor dan menutup jalan keluar? Bukankah itu berarti kamu mengorbankan nyawamu sendiri untuk kami?

"Dewa Yang Mahaagung, begitu besar dan mulia jiwamu, Gendhuk. "

Pembarep, Panengah, dan "Wuragil hampir bersamaan menghela napas kagum.

Wuragil dan Panengah boleh dikatakan pernah dilecekin oleh Gendhuk Tri. Pembarep juga kena sedikit. Memang, hampir semua tokoh di dunia persilatan yang bertemu dengan Gendhuk Tri pernah dipecundangi.

Sedikit-banyak mereka merasa keki. Kesal. Apalagi sikap Gendhuk Tri, anak gadis yang bau kencur ini, sleboran semacam itu. Ugal-ugalan seenaknya sendiri dalam mengolok-olok orang yang jauh lebih tua.

Akan tetapi mendengar penuturan Jaghana, semua yang mendengar sangat terharu. Tak pernah terpikirkan bahwa seorang anak kecil seperti Gendhuk Tri rela masuk ke dalam gua Lawang Sewu dengan kemungkinan tak bisa keluar lagi, hanya untuk memberitahukan kemungkinan bahaya!

Pembarep menekuk lututnya, diiringi Panengah dan Wuragil. Wilanda juga menekuk lututnya memberikan hormat.

"Hei, jangan tolol. Kalian sudah tua bangka begini melakukan apa?" Gendhuk Tri membuang penutup wajahnya dengan kesal. "Kalian kira kalau menghormat seperti itu, aku mau ganti menghormat. Jangan berharap tinggi. Ayo kalian makan semua makanan itu."

"Terimalah rasa hormatku," kata Wilanda perlahan. "Aku tak punya waktu. Aku mau pergi."

Jaghana menghela napas. "Pergi ke mana, anak manis. ?"

"Siapa bilang aku anak manis. Kamu yang gundul itu juga tak akan manis biarpun seluruhnya diberi manisan." Gendhuk Tri masih saja berteriak-teriak dengan gusar.

"Marilah duduk di sini, seadanya... kita makan bersama... sambil berbicara." Pembarep mengangsurkan tangan untuk membimbing.

"Adik manis..."

"Jangan panggil dengan cara itu. Aku punya nama sendiri." "Gendhuk Tri..."

"Dari dulu aku nggak suka dipanggil itu. Hanya Kakang Upasara yang boleh memanggil itu. Kalian hanya boleh menyebut Jagattri. Dari dulu sudah kuumumkan begitu. Dasar kalian bandel semua. Pantas saja Ugrawe yang sudah rongsokan bisa menjebak kalian.

"Begini masih mau bilang sebagai ksatria atau pendekar. Kucing pun tak mau menyebut kalian ini ksatria, meskipun dibayar dengan daging burung perkutut."

"Jagattri... apa sebenarnya maksud Ugrawe datang kemari?"

"Apa lagi kalau bukan mau menyiksamu? Menyiksa kalian semua?"

Dewa Maut   menatap   Gendhuk   Tri,   menggelengkan   kepalanya   sendiri.

Termenung lagi.

"Kamu bukan tole-ku?"

"Tole-mu sudah berada dalam tubuhku. Kalau kamu masih mencintainya, sekarang boleh mencintaiku."

Ngawur saja omongan Gendhuk Tri. Tanpa memedulikan perasaan Dewa Maut yang memang sedang terombang-ambing. Gendhuk Tri secara sengaja mempermainkan hubungan antara Dewa Maut dan Padmamuka. Dalam banyak hal memang sangat beralasan sekali kalau Gendhuk Tri mengaku Padmamuka masuk ke dalam tubuhnya. Secara tidak langsung memang begitulah adanya. Racun lama yang tersimpan dalam tubuh Padmamuka telah mengental semua sari patinya, dan terisap secara tak sengaja oleh Gendhuk Tri. Tidak pula berlebihan kalau dikatakan bahwa bau tubuh dan napas Gendhuk Tri terasa seperti bau Padmamuka. Dan Dewa Maut mendadak berjingkrakan gembira sekali. Menari-nari, menggerakkan kedua tangannya.

"Jagat raya, Dewa Yang Maha-Apa-Saja, ternyata kauhidupkan kembali tole- ku. Aku tak bersyukur, tak berterima kasih, karena memang itu sudah menjadi pekerjaanmu.

"Kalau bukan Kamu, siapa yang bisa?"

Saking gembiranya, Dewa Maut menubruk Pembarep, merangkul dan menciumi, juga Panengah dan Wuragil, serta Wilanda. Sampai giliran Jaghana, Dewa Maut berhenti.

"Kamu lain kali saja."

Pembarep menjadi sangat prihatin melihat perubahan sikap Dewa Maut. Wilanda berdehem kecil.

"Gendhuk Tri... kamu mengatakan mengenai Upasara Wulung. Apakah momonganku itu baik-baik saja?"

Wajah Gendhuk Tri berubah kusut.

"Ia tetap selamat dari penyerbuan di Perguruan Awan ini?"

Dari nada suaranya, kentara sekali bahwa Wilanda sangat memperhatikan Upasara Wulung.

"Kakang Upasara mau selamat atau tidak, kenapa ditanyakan padaku? Biar saja, itu urusannya sendiri. Mau selamat atau mau sekarat, itu urusannya. Kakang Upasara itu hatinya jahat. Sangat jahat."

Wilanda tersenyum bahagia. Ini berarti Upasara dalam keadaan selamat. Lolos dari penyerbuan massal. Sesuatu yang sangat menguatirkan hatinya, karena sejak berpisah, Wilanda tak mengetahui kabar beritanya, dan tak bersama-sama dalam tahanan.

"Kakang Upasara sangat jahat. Waktu sama-sama terkubur di dalam gua, ia melarikan diri sendirian. Meninggalkan aku. Untung aku bisa keluar. Mengajak bersama menyerbu Keraton untuk membebaskan Baginda Raja dan Rama Guru. Kami lari bersama, berkelana bersama, lalu tiba-tiba saja Kakang pergi!"

"Pergi?"

"Katanya mau kawin. Jahat banget!"

Gendhuk Tri menggedrukkan kakinya dengan sebal. Dewa Maut membelalak. Teriakannya nyaring, "Tole Gendhuk Tri, siapa berani kurang ajar padamu? Aku akan menghajarnya hingga habis, akan kukuliti tubuhnya hingga tinggal tulang- tulangnya."

Gendhuk Tri ganti membelalak.

"Siapa suruh kamu yang tua bangka itu menguliti? Sebelum kamu menyenggol tubuhnya, aku sudah akan menguliti bulu-bulu tubuhmu."

Memang aneh. Dalam gua bawah tanah yang tak mempunyai kemungkinan keluar, masing-masing masih ribut dengan persoalan sendiri. Dewa Maut menjadi dewa linglung dan Gendhuk Tri ternyata bukan sekadar mempermainkan, akan tetapi juga dipermainkan sendiri oleh perasaannya. Wilanda hanya terdiam karena belum sepenuhnya sembuh. Jalan pikirannya berjalan cepat: bahwa ada suatu peristiwa yang menyebabkan Upasara Wulung dan Gendhuk Tri berpisah. Kalau ditilik dari gusarnya Gendhuk Tri, ini ada hubungannya dengan soal asmara. Malah ada nada cemburu dari suaranya. Agak sulit masuk akal, akan tetapi itu bukannya tidak mungkin.

Tiga Pengelana Gunung Semeru hanya memandang semua yang terjadi dengan perhitungan sendiri. Sementara yang tetap paling tenang adalah Jaghana. Duduk bersila bagai sesosok patung Budha.

"Gendhuk Tri... lebih baik kamu sedikit bersembunyi. Ugrawe sebentar lagi akan datang kemari. Ia paling murka denganmu."

"Justru sekarang ini aku ingin menghadapi, kenapa harus sembunyi?"

"Betul, Tole, jangan sembunyi. Aku yang tua ini masih bisa membereskan siapa pun yang mengganggumu."

Pembarep maju sedikit. "Apa yang dikatakan Kangmas Jaghana ada benarnya. Ugrawe bukan hanya tinggi ilmu silatnya, akan tetapi sangat licik. Kita harus mengatur siasat. Kalau Ugrawe tidak pernah menduga Gendhuk Tri ada di sini, ia bisa tetap sembunyi. Dan, setidaknya, kita bisa melawan bersama-sama. Gendhuk Tri masih bisa meloloskan diri."

"Aku datang kemari dengan tekad mantap. Lebih baik aku mati daripada melihat Kakang Upasara kawin. Kenapa kalian menghalangi?

"Ugrawe, pujangga busuk, ayo masuk kemari. Ini aku sudah siap untuk mencopot telingamu yang sebelah."

Teriakan Gendhuk Tri keras sekali hingga gua menggelegar. Menggemakan suaranya dengan keras. Terdengar jawaban tertawa pendek dan dingin. Disusul dengan masuknya sinar matahari. Lubang yang ditutup batu dan senjata telah disingkirkan. Ugrawe sendiri melangkah masuk diiringi oleh Rawikara dan beberapa prajurit pilihan. Tegap dan lebar langkahnya. Berhenti pada jarak dua tombak, Ugrawe mengelus misainya.

"Pangeran Anom, itulah gadis nakal yang telah hampir membunuh Pangeran Anom."

Pandangan Rawikara bentrok dengan Gendhuk Tri.

Keduanya seperti kaget. Rawikara sama sekali tak menyangka akan bertemu begitu cepat dengan Gendhuk Tri, yang telah meracuni hingga hampir mati. Gendhuk Tri mengerutkan kening tak menduga bahwa Rawikara ternyata masih segar bugar.

"Hari ini Raja Jayakatwang berkenan mengampuni kalian semua di sini, kecuali satu orang itu. Gendhuk Tri. Ia tak dapat pengampunan karena tak bersalah. Hanya masih ada urusan dengan kami berdua.

"Silakan keluar dari gua, dan berterimakasihlah kepada raja kita yang welas

asih."

Ugrawe memberikan jalan. Rawikara juga minggir. Para prajurit yang berjaga menyingkir. Sehingga terbuka jalan yang luas, lebar. Menuju ke kebebasan. Tapi justru tak ada seorang pun yang bergerak.

"Jadi kalian menolak anugerah Raja? Bersiap-siap sajalah." Tiga Pengelana Gunung Semeru mengambil sikap bersiap.

"Kami telah bersama-sama di dalam gua, dalam gelap dan dingin. Kalau diberikan kesempatan menghirup udara bebas, biarlah semua keluar. Atau semuanya tidak keluar."

"Bagus, aku suka ketotolan semacam ini. Kalian pikir itu sikap patriot sejati. Mendasari jiwa setia kawan. Itulah ajaran terburuk dari ksatria yang tersesat. Dalam hidup ini, majulah kalau bisa maju. Jangan menunggu yang lain. Karena kalian sudah memutuskan untuk menolak perintah Raja, aku tak perlu sungkan lagi."

Ugrawe mengibaskan tangannya.

Tangan kanan terangkat ke udara, tangan kiri berputar di bagian dada.

"Biarlah aku Jaghana yang menerima kehormatan pertama," Jaghana menggelinding maju. Benar-benar seperti menggelinding karena bentuk tubuhnya yang bulat.

Jaghana menunjukkan sikap seorang ksatria sejati dalam tindakan. Tanpa banyak bicara ia langsung menghadang sendirian. Sebab, jika para ksatria main keroyok, mana ada keberanian untuk menatap matahari lagi?

Bahwa Ugrawe diakui sebagai jago nomor satu, Jaghana juga menyadari. Bahwa Ugrawe setingkat di atas Jaghana, bukan alasan untuk main keroyok. Soal kalah-menang atau bahkan mati-hidup adalah urusan nomor sekian. Seorang ksatria tak boleh melakukan perbuatan hina, yang lebih berat akibatnya dibandingkan suatu kekalahan dalam pertandingan.

Pembarep mengangguk hormat.

"Karena kalian juga datang bersamaan dengan sama-sama mengemban titah Raja Muda Gelang-Gelang, saya pun ingin menyambut satu per satu."

Pembarep tetap menyebut Raja Jayakatwang sebagai Raja Muda Gelang- Gelang. Seakan tidak mau mengakui kedudukannya yang paling terhormat saat ini. Itu cukup untuk membuat Rawikara menggebrak maju. Dengan posisi awal yang sama, Rawikara menggerakkan kedua tangan bersamaan. Satu tangan bergerak di tengah udara dan memukul, satu tangan di dada untuk menarik tubuh lawan. Pembarep menerobos maju, dengan tangan kosong. Tanpa memedulikan kesiuran angin, ia menjotos ke arah dagu lawan. Pembarep memang dalam keadaan yang lapar tanding. Selama dalam penahanan, ia hanya berdiam dan berlatih saja. Belum menemui lawan untuk benar-benar mempraktekkan. Maka serangan Rawikara langsung disambut dengan gairah besar.

Ketika dua prajurit pengawal bersiaga di samping Rawikara, Panengah

dan Wuragil punya alasan kuat buat bergabung. Dalam ruang yang sumpek, gerakan- gerakan pendek lebih tepat. Ini agak mengurangi kelebihan Tiga Pengelana, yang biasa bermain di udara terbuka. Apalagi ilmu silat mereka merupakan ciri khas ilmu pegunungan, yang lebih mengandalkan loncatan daripada serangan kaki. Meskipun demikian, Tiga Pengelana Gunung Semeru dengan mudah menekan Rawikara. Karena ilmu mereka bertiga merupakan gabungan yang mutlak diperlukan. Bukan sekadar tambahan tenaga seperti Rawikara dan prajuritnya.

"Tole, kita ikut main?"

"Tenang saja," jawab Gendhuk Tri tak peduli. "Aku masih ingin melihat pertempuran kampungan ini. Kalau aku turun tangan, sekali kena tanganku, mana ada yang bisa bernapas kembali?"

"Itu bagus, Tole... itu bagus... Kita tonton saja."

Meskipun diucapkan secara berkelakar, apa yang dikatakan Gendhuk Tri ada benarnya. Ugrawe, dan terutama Rawikara, sangat menyadari hal ini. Mereka akan dibuat repot menghadapi sumber racun ganas ini. Sekali saja kena cengkeram atau berhasil dilukai, tak ada lagi kesempatan untuk melawan. Dan dalam ruang yang begini pendek, hal itu sangat mungkin sekali terjadi. Apalagi Gendhuk Tri seperti tak memedulikan keselamatan dirinya.

Satu-satunya jalan ialah melukai dari jarak jauh. Tapi juga tak bisa sembarangan. Gendhuk Tri, meskipun dalam usia yang masih belasan dan nampak ingusan, adalah murid langsung Rama Guru alias Mpu Raganata. Ditambah adatnya yang liar, ia menjadi monster yang menakutkan.

Jaghana masih menunggu. Ia tak membuka serangan lebih dulu. Wilanda tetap duduk dengan sinar mata menyala. Ingin terjun dan melibatkan diri, apa daya tak mempunyai kemampuan.

"Baiklah. Hari ini kalian semua dapat pengampunan. Termasuk Gendhuk Tri. Hanya saja di belakang hari, jangan salahkan saya kalau kita bertemu lagi." Ugrawe mendongak ke atas. "Hanya dalam hati masih bertanya-tanya, bagaimana Gendhuk yang pintar ini bisa masuk kemari?"

"Tolol kamu ini," teriak Gendhuk Tri.

"Tolol kamu ini," kata Dewa Maut mengulangi.

"Aku masuk kemari dengan mudah, dan bisa keluar dengan mudah, karena akulah yang membuat Lawang Sewu ini. Masakan kamu tidak tahu."

"Benar. Tole yang membuat Lawang Sewu. Aku sendiri membuatnya... eh, aku sendiri melihatnya."

"Perjalananku kemari pun serba rahasia, bagaimana mungkin diketahui orang

lain?"

"Kamu lupa, Ugrawe yang bertelinga satu! Yang menyuruhku kemari adalah orang yang merindukanku. Yang menuliskan guritan katresnan, sajak cinta, itulah yang menyuruhku. Ia menulis guritan katresnan karena rindu padaku. Aku baru mau menemuinya jika ia sudah menuliskan di jidatmu itu."

Wajah Ugrawe berubah merah sepenuhnya. Tiba-tiba tubuhnya membalik, kedua tangan mendorong ke depan. Angin puyuh, panas, menyorong ke depan, menyesakkan napas.

Di saat yang hampir bersamaan, dorongan dari tangan kiri berubah menjadi putaran, dan menjadi tenaga yang mengisap. Dengan menurunkan tangan kiri ke bawah, tenaga mengisap ini menjadi daya serap yang hebat.

Kalau lawan memusatkan pikiran dan tenaga untuk mengadu tenaga di atas, dengan demikian bagian bawah menjadi kosong. Inilah yang termakan. Rangkaian dasar Sindhung Aliwawar ini mempunyai variasi yang banyak sekali. Dan bisa berubah dalam seketika. Jaghana tetap mempertahankan sikap berdiri, kedua tangan terangkap seolah menyembah, di depan dada. Hanya dengan cepat badannya berputar, mengikuti tenaga dorongan dan isapan sekaligus. Gendhuk Tri tertawa mengikik, ia biarkan tubuhnya terseret maju, seolah meluncur dengan kaki lebih dulu. Kedua tangan terulur ke depan, menjambret sekenanya. Dewa Maut juga langsung bereaksi. Ia menggempur tenaga di atas dengan cara meluncur. Melawan dorongan yang ada. Tanpa diisap pun ia akan maju ke depan. Karena ilmunya memang ilmu yang dikembangkan untuk melawan arus air sungai.

Yang terlontar ke belakang adalah Wilanda. Yang bertahan secara sia-sia.

Gempuran hawa panas membuatnya susah bernapas.

Dalam satu gebrakan, semua bereaksi dan pertempuran terjadi dalam ruang yang begitu sempit. Ugrawe mengegos tak berani menyambut sambaran Gendhuk Tri. Meloncat mundur untuk menangkis serangan Dewa Maut dan sekaligus menepiskan gulungan tubuh Jaghana.

Ugrawe memang tak mau berisiko sedikit pun. Ia lebih suka mengambil jalan yang menguntungkan. Menerobos ke belakang. Sambil menarik tubuh Rawikara ke arah luar gua.

Gendhuk Tri tertawa mengikik, dan meloncat ke atas dengan cara yang sama. Begitu tubuhnya keluar dari bawah tanah, dua tombak beruntun menyambar ke arahnya. Tanpa mengalami banyak kerepotan, Gendhuk Tri menangkap dua ujung tombak yang diarahkan kepadanya dan menyentakkan keras, sekaligus membalikkan arah tombak. Terdengar dua jeritan bersamaan. Gendhuk Tri turun dan berdiri di pinggir mulut lubang ke bawah tanah.

"Ayo semua naik."

Dewa Maut yang menyusul pertama kali. Sekali genjot, tubuhnya melayang tinggi di angkasa. Rawikara meloncat menyambut tubuh Dewa Maut. Sekali ini dengan mantap Rawikara menjajal jurus Banjir Bandang Segara Asat. Putaran tangan dan tubuhnya bagai awan panas yang keras. Dewa Maut masih tertawa ketika menyambut tangan Rawikara. Hanya saja kemudian terasa guncangan dalam ulu hatinya yang menyesakkan. Lalu seperti diaduk isi perutnya. Hanya beberapa kejap, tubuhnya lalu meluncur masuk kembali ke bawah tanah. Pada saat itu Jaghana telah mumbul ke atas, sehingga tubuh mereka bertubrukan. Jaghana membopong tubuh Dewa Maut dan tetap membawa ke atas. Jaghana sudah dua kali membawa tubuh jatuh dari atas. Dan dua-duanya membuatnya terkejut. Karena orang yang dibopong seperti tak mempunyai tenaga lagi. Bagai sebongkah daging saja.

Pembarep muncul dari permukaan sambil menggendong Wilanda, disusul Panengah dan Wuragil. Yang terakhir ini kembali menjadi sasaran Rawikara yang melakukan loncatan yang sama.

"Bagus," teriak Ugrawe gembira melihat Wuragil berusaha menangkis. Lekatnya dua tangan, disusul jeritan, dan tubuh Wuragil jatuh kembali ke bawah. Pembarep yang tengah melayang, melemparkan pelan tubuh Wilanda ke Panengah, dan ia sendiri meluncur turun kembali. Begitu kakinya menotol tanah di dasar gua, langsung mumbul kembali sambil membopong Wuragil. Yang terasakan hanyalah badan yang tak bereaksi, menggigil dengan gigi gemeretuk.

Belum hilang kagetnya, Pembarep melihat bahwa Ugrawe sudah meneriakkan kalimat keras sambil terbang ke arah Jaghana. Jurus yang sama, Banjir Bandang Segara Asat yang bergemuruh. Dua telapak tangan Jaghana membuka ke depan, menyambut pukulan Ugrawe. Tenaga Jaghana adalah tenaga lembek, tapi akan menjadi kuat jika lawan berkeras. Sepersekian detik Ugrawe kaget juga, akan tetapi dengan mengempos seluruh tenaga di pusat, dorongan tangan kanan menjadi golakan dahsyat, sementara tangan kirinya mengisap luar biasa. Jaghana membelalak, untuk pertama kalinya. Tanpa mengeluarkan jeritan, tubuhnya meluncur turun. Jatuh tak bergerak-gerak lagi.

Ugrawe mengibaskan tangannya untuk mengendalikan pergolakan dalam tubuhnya.

Angin panas bergolak bagai mendidih dalam tubuhnya.

Dalam waktu sekejap saja, Dewa Maut, Wuragil, dan Jaghana telah dibuat tak berdaya.

Betul-betul ilmu yang luar biasa.

Pembarep meletakkan bopongannya. Bersiap. Kalau biasanya memakai senjata pedang, kini menghadapi dengan tangan kosong. Gendhuk Tri baru menyadari bahwa malapetaka itu sudah datang. Terlambat menolong!

Kini praktis tinggal dirinya, Pembarep, dan Panengah yang bertahan. Rawikara kembali bergulung, meloncat tinggi ke angkasa, menerjang ke arah Panengah. Gendhuk Tri tak membiarkan lawan bereaksi seenaknya, cepat meloncat tinggi ke udara, membarengi dengan gempuran. Ia ingin menjajal pukulan yang ajaib.

Rawikara tak mengira bahwa Gendhuk Tri yang akan menyongsongnya. Kalau tadinya takut kena racun, kini Gendhuk Tri menjawab dengan telapak membuka. Alias beradu tenaga dalam, bukan untuk melukai bagian kulit luar.

Namun dalam detik yang bersamaan Ugrawe menolak tubuh Rawikara hingga terlempar jauh. Ia sendiri berjumpalitan di angkasa, turun kembali dengan gagah.

"Berbahaya, Pangeran, tubuhnya penuh dengan racun."

Keringat dingin mengalir dari tubuh Rawikara. Ia masih bertanya-tanya, apakah benar racun dalam tubuh si bocah kecil itu demikian ganas tak terhalangi.

Panengah juga mengeluarkan keringat. Lebih dingin.

Bukan karena racun yang menakutkan. Tetapi setiap kali Rawikara atau Ugrawe menggebrak, dengan satu pukulan saja lawan langsung kehilangan segala tenaga. Bahkan untuk bergerak menghindari serangan berikutnya sudah tak mungkin.

Pembarep yang lebih waspada merasakan bahwa lawan menguasai ilmu iblis yang luar biasa ganasnya.

Semuanya serba sia-sia. Setelah bertahan dalam gua bawah tanah sekian lama, setelah Gendhuk Tri menerobos masuk untuk memberitahukan bahaya, ternyata tetap terlambat. Ternyata Ugrawe tetap bisa melaksanakan niatnya. Melumpuhkan semuanya.

Bagi Pembarep tidak ada pilihan lain untuk menghadapi. Ia bersiap. Berjaga agar tidak terjadi penyedotan tenaga dalam. Ini hanya bisa dilakukan jika kedua tangan tidak bentrok. Namun ini pun sangat sulit, untuk tidak disebutkan sebagai tidak mungkin.

"Adik Panengah, hati-hati." "Siap, Kakang."

"Gendhuk Tri, hari ini tugas kita bertiga untuk memberantas segala keganasan dan kelaliman." "Mereka tak akan berani maju."

Belum selesai kalimat Gendhuk Tri, Ugrawe menggulung tubuhnya. Berputar dengan dahsyat dan meluncur ke arah depan. Dua tangan terentang arah kiri dan kanan. Pembarep meloncat sangat tinggi, dengan kaki menendang ke arah tengkuk lawan. Panengah tak mau kalah cepat. Dengan sigap ia meloncat sambil merampas senjata para prajurit sekenanya untuk menusuk pinggang Ugrawe.

Ugrawe meraup tombak yang tertuju ke arah pinggangnya, dan dengan memakai kekuatan pelanting tubuhnya melayang ke atas. Sama tinggi, dan menggempur Pembarep. Di atas angin, Pembarep menekuk tangannya. Siku kanan dan kiri menghantam ke arah dada Ugrawe. Terdengar teriakan aduh yang keras.

Bukan Ugrawe yang mengaduh, akan tetapi Pembarep yang terjengkang. Siku tangannya seperti membentur karang baja yang melentingkan tenaga panas yang menerobos masuk ke dalam saraf tangannya.- Di lain pihak, Panengah pun terbetot tenaganya sehingga seperti terbanting. Baru ketika kedua kakinya menjejak dan memasang kuda-kuda lagi, ia bisa berdiri tegak.

Ugrawe meloncat maju. Kedua tangan berputar di atas kepala. Satu bergerak ke depan dengan berputar, satu lagi menarik ke belakang dengan berputar. Gendhuk Tri berteriak nyaring sambil maju bergulung. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari yang berkembang. Siap mencakar apa saja. Sedikit saja lawan bisa dilukai, racun dari sekujur tangannya akan merembes tak terbendung ke arah lawan. Masuk terseret darah yang mengalir.

Ugrawe tentu tak membiarkan kulit atau pakaiannya tersentuh Gendhuk Tri. Tenaga mengisap dan mendorong diubah menjadi tenaga mendorong sepenuhnya. Tubuh Gendhuk Tri yang meluncur ke arahnya ditolak dengan tenaga keras, panas, dan menyentak.

Untuk sementara serangan Ugrawe ke arah Pembarep dan Panengah gagal, akan tetapi Gendhuk Tri juga tak bisa mendesak maju. Malah beberapa kali arah pukulannya melenceng karena arus tenaga panas dari Ugrawe makin menyesakkan.

Bertarung dalam penjagaan jarak, Gendhuk Tri tak bisa berbuat banyak. Malah menjadi keteter karenanya. Ugrawe mempunyai peluang untuk melancarkan serangan satu-dua ke arah Panengah. Pukulan kosong jarak jauh membuat Panengah meloncat menghindar, dan pada saat yang bersamaan Rawikara meloncat ke atas. Masuk ke dalam pertempuran. Pembarep yang sudah terluka dalam, masih memiliki tenaga. Ia tak membiarkan adiknya begitu saja dihajar musuh. Dengan sisa tenaga yang ada, Pembarep ikut meloncat. Darah merah mengalir dari kedua tepi bibirnya. Kedua tangannya terentang. Rawikara justru dengan gagah menyambut dua pukulan sekaligus!

Akibatnya berat!

Pembarep langsung ambruk, muntah darah, dan pingsan seketika. Tenaga dalamnya yang sudah terluka, menganga lebih dahsyat.

Panengah justru habis tenaganya karena terisap! Rawikara berdiri dengan gagah.

"Hari ini Dewa Yang Agung menakdirkan seluruh ksatria menyerahkan tenaganya secara terhormat. Bapa Guru, racun ganas macam apa yang ada di tubuh gadis ingusan ini, biar saya mencicipi."

Dengan tenaga yang bergolak dahsyat, Rawikara seolah mabuk dengan gumpalan tenaga yang mendesak-desak. Maka tak bisa menahan diri untuk tidak menyalurkan dengan gempuran.

Dikeroyok dua jago utama, guru dan murid, Gendhuk Tri terdesak dalam waktu singkat. Jelas bahwa ilmu silat Gendhuk Tri bukan tandingan Ugrawe. Belum ada takaran untuk bisa diperbandingkan. Meskipun gaya dan jurus Gendhuk Tri aneh dan tidak wajar, akan tetapi variasi demi variasi bisa dibaca oleh Ugrawe dengan tepat. Keunggulannya hanyalah karena Ugrawe tak bisa melukai secara langsung.

Gendhuk Tri berlari, jungkir balik bagai penari yang kesetanan. Selendangnya sudah sobek di beberapa ujungnya. Rambutnya terurai lepas, kedua tangan dan kaki mencakar ke sana-kemari.

Dilihat selintasan justru Gendhuk Tri seperti bola mainan yang begitu lemah. "Tak ada aturan lagi. Mengaku sebagai panglima perang terbesar, mengangkat

diri sebagai pujangga pamungkas, tak tahunya hanya pengeroyok murahan. Ini baru namanya kabar yang perlu didengar oleh belalang dan angin. Guru yang nomor satu, yang lebih hebat dari sinar matahari, bersama dengan muridnya... main-main sepenuh tenaga dengan seorang anak perempuan yang bahkan belum disunat." Suara yang dikeluarkan oleh sosok tubuh yang tinggi, kurus, seperti melengkung.

"Tenang saja, Pakde. Saya bisa mengencingi mereka. Ini malah bagus," jawab Gendhuk Tri dengan suara keras.

Rawikara memutar tubuh, dengan satu jejakan tubuh langsung melayang ke angkasa. Kedua tangan berputar ke atas, tangan kiri turun di pusar. Banjir Bandang Segara Asat langsung dipakai dalam gebrakan pertama.

Tubuh yang diserang mengeluarkan teriakan keras. Sama-sama meloncat ke atas dan memapaki serangan Rawikara. Tak ada benturan tenaga yang keras. Tak ada tepukan yang mengeluarkan suara, ketika dua tangan beradu. Hanya tubuh keduanya melayang turun ke tanah. Kaki lelaki yang dipanggil Pakde itu masih bisa terangkat, menyepak Rawikara yang berusaha menangkis. Tubuhnya terpental jauh. Tubuh Pakde menyentuh tanah dan mumbul kembali ke atas. Sebelum tubuh Rawikara jatuh mengenai tanah, bisa diungkit dengan ujung kaki, Hingga membal ke atas dan disambut dengan pukulan mencengkeram ke arah pundaknya.

Rawikara mengeluarkan jeritan kesakitan. Tubuhnya terbanting ke tanah. Tak bangun lagi.

Dalam sekejap saja, pertempuran yang benar-benar maut terjadi. Banjir Bandang Segara Asat memang jurus maut yang paling ganas. Kali ini juga terbukti. Tenaga dalam Rawikara yang sudah berlipat tetap kalah oleh Pakde, hingga akibatnya sangat fatal. Cengkeramannya tetap menghancurkan tulang pundak, yang bagi seorang jago silat merupakan segala pusat gerakan di tangan.

"Ngabehi Pandu, jadi kamu masih hidup?"

Teriakan Ugrawe, membuat Pakde yang kurus tinggi itu tak bereaksi. "Sebelum kamu bisa membunuhku, apakah aku mau mati lebih awal?" "Pakde, jangan layani omongannya. "

"Gendhuk Tri aku segan mengeroyoknya. Biarlah kau beri aku kesempatan

untuk menyerap kembali tenaga para ksatria yang dirampok olehnya." Ugrawe bercekat juga. Meski tidak tahu-menahu tentang nama jurus, Ngabehi Pandu mengetahui prinsip-prinsip dasarnya. Ngabehi Pandu memang satu-satunya tokoh yang lolos dari serangan habis-habisan di Perguruan Awan. Yang menjadi guru Upasara Wulung.

"Sungguh bahagia hari ini aku bisa bertemu denganmu, Ngabehi Pandu.

Tak kunyana, bahwa kini kamu bisa banyak bicara. Kiranya kamu pula yang selama ini menyaru sebagai Senamata Karmuka. Pantas kamu bisa mengelabui semuanya.

"Perguruan Awan ini menjadi saksi, siapa di antara kita berdua yang lebih terang dari matahari. Di jagat ini hanya ada satu matahari, tak pernah ada matahari kembar. Bersiaplah, Pandu."

Suasana sunyi.

Ugrawe berhadapan dengan Ngabehi Pandu. Sementara korban yang lain tak bisa bergerak. Gendhuk Tri juga berdiri lurus, mengatur pernapasan.

Ini baru pertempuran tingkat di atas tinggi. Pertempuran yang sempurna.

Gendhuk Tri berharap saat ini ada Kakang Upasara.

Setidaknya akan mendengar sendiri teka-teki yang masih menghantui dirinya. Seperti diketahui, tahun yang lalu Upasara Wulung bersama dengan Ngabehi Pandu dan Wilanda datang ke Perguruan awan. Karena menurut berita di situ akan datang Tamu dari Seberang, seorang tokoh misterius yang konon membawa wangsit siapa yang bakal menjadi raja di tanah Jawa.

Mitos tentang Tamu dari Seberang memang sudah lama mengakar dalam masyarakat sejak Ken Arok naik takhta. Konon sebelum naik takhta, ada berita yang dikatakan oleh Tamu dari Seberang. Akan tetapi sekali ini adalah muslihat Ugrawe untuk menyikat semua ksatria Singasari yang dikuatirkan akan membantu Baginda Raja Sri Kertanegara.

Saat itu kemudian berhasil disergap oleh Ugrawe dan pasukan dari Gelang- Gelang yang dipimpin langsung oleh Raja Muda, saat itu, Jayakatwang. Dalam pertempuran itu terlihat munculnya Senamata Karmuka, senopati terpercaya Keraton Singasari. Hanya saja ketika Upasara kembali ke Keraton untuk mengabarkan hal ini, omongannya dibantah keras. Malah Upasara dianggap berdusta. Karena selama ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton. Tak pernah menjauh dari bayangan tubuh Baginda Raja.

Upasara tentu saja tidak mengerti. Bahwa saat itu Ngabehi Pandu, yang adalah saudara kandung Senamata Karmuka, menyamar sebagai Senamata Karmuka. Sebaliknya, Ugrawe bisa mengetahui cepat. Kalau saat itu Ugrawe bisa mengetahui cepat. Kalau saat itu Ugrawe bertempur dengan Senamata Karmuka, dan merasa bahwa ilmu andalan Senamata Karmuka yaitu dalam membidik dengan anak panah tak terlalu hebat.

Sekarang baru jelas bahwa itu semua dilakukan oleh Ngabehi Pandu!

Gara-gara inilah Upasara Wulung hampir saja meninggal dunia. Karena dianggap mendustai Panji Angragani, mahapatih Keraton Singasari. Upasara dihukum dengan cara tubuhnya diberikan sebagai santapan harimau kesayangan Baginda Raja. Untunglah saat itu ditolong secara diam-diam oleh Mpu Raganata!

"Ngabehi, aku menghormatimu sebagai ksatria sejati. Kamulah tulang punggung Keraton Singasari yang tak banyak bicara. Sebagai sesama pendekar, aku memberi kesempatan padamu meminta sesuatu padaku, kalau kamu tak bisa melihat matahari lagi."

Congkak dan tinggi nadanya, akan tetapi di balik itu Ugrawe juga memperlihatkan bahwa ia seorang ksatria. Setidaknya masih merasa sebagai pendekar yang menepati janji.

"Hmmmmm, aku tak berani meminta apa-apa."

"Ngabehi, aku tahu tak begitu mudah mengalahkanmu. Akan tetapi kamu harus sadar bahwa yang kamu hadapi sekarang ini adalah pujangga pamungkas. Orang bijak paling akhir. Cepat atau lambat kamu pasti kalah. Maka sebelum mati, katakan apa permintaanmu. Akan kubuktikan bahwa aku bisa tetap menyandang gelar pendekar sejati seperti kamu.

"Apakah kamu meminta aku membebaskan Gendhuk Tri?" "Enak saja kalau bicara. Dengar, Pendeta busuk bertelinga satu. Kalaupun aku bisa hidup dari belas kasihanmu, aku lebih suka jadi hantu penasaran seumur hidup. Tak nanti Pakde-ku yang gagah bakal mengemis sesuatu yang begitu hina.

"Lebih baik kamu sendiri yang berpesan. Apakah kamu ingin dikubur telanjang atau dikubur dengan tambahan satu telinga dari seekor anjing."

Ugrawe tertawa bergelak.

"Di jagat ini ternyata ada lidah yang begitu tajam dan ganas, sehingga semua senjata di dunia ingin memotongnya.

"Ngabehi, kalau merasa tak ada permintaan, ayolah kita mulai."

"Kapan saja bisa. Tetapi kenapa kamu selalu main curang? Kenapa teman dekatmu kamu sembunyikan?

"Aku jadi bertanya-tanya, apakah tanpa kebusukan kamu tidak pernah merasa menjadi manusia hina?"

Ugrawe merasa dikalahkan dalam satu langkah.

Pendengaran jarak jauh dan keahlian membaca dengus napas yang dimiliki Ngabehi Pandu memang luar biasa. Sedikit dengus yang berbeda pun bisa dirasakan. Selama ini memang dalam dunia persilatan lebih dikenal pamor Senamata Karmuka. Ngabehi Pandu hanya dikenal di kalangan terbatas. Akan tetapi para pendekar menyadari bahwa Ngabehi Pandu sebenarnya jauh lebih tangguh.

Sekarang ini baru bisa dibuktikan.

"Aha, aku memang dikenal sebagai ular busuk. Tapi dalam soal keroyokan, aku masih percaya kekuatanku sendiri. Justru tadinya kukira temanmu. Maka kubiarkan, karena aku tak gentar menghadapi keroyokan secara sembunyi-sembunyi.

"Sahabat licik, keluarlah."

Tangan Ugrawe menggebrak keras. Kesiuran angin panas menggetarkan dedaunan dan pepohonan yang jaraknya lima-enam tombak. Kesiuran angin itu mengenai tempat yang kosong.

Ngabehi Pandu tertawa pendek. "Bukan di situ, Ugrawe."

Kali ini Ugrawe benar-benar terkesiap. Hatinya kaget. Sangat jelas pendengarannya di tempat mana orang itu bersembunyi. Akan tetapi di luar dugaannya, bahwa ia tak ada di tempat itu.

Mana mungkin pendengarannya bisa salah?

"Pakde maklum saja. Ugrawe cuma punya satu daun telinga." Belum pernah Ugrawe dikalahkan begitu telak.

Ugrawe mengernyitkan keningnya. Mendadak tubuhnya berputar dan kedua tangannya terentang lebar. Tenaga hawa panas menyambar sekitar lapangan. Dengan cara seperti ini, siapa pun yang berada di balik pepohonan bakal kena sambar tenaganya. Beberapa batang pohon malah retak. Sebagian patah cabangnya, rontok daunnya, sebagian lagi tumbang.

Tapi tetap tak ada bayangan muncul.

Ugrawe lebih bercekat lagi. Jangan-jangan Ngabehi Pandu main gila. Sengaja mempermainkan karena memang tak ada orang yang bersembunyi.

Lama suasana masih sepi, sampai kemudian terdengar suara yang serak dan parau, bersamaan munculnya dua bayangan berpakaian serbahitam.