-->

Senopati Pamungkas Buku - I Jilid 07

Jilid 07

Selesai Nyai Demang menerjemahkan, sekali lagi Kiai Sangga Langit memberi hormat dengan dua cara.

Ketika itu Bagus Respati mulai membuka matanya. Bersamaan dengan Galih Kaliki. Keduanya berdiri dan melihat Kiai Sangga Langit sedang memberi hormat kepada Upasara. Upasara membalas dengan menundukkan badannya.

"Kiai Sangga Langit mempunyai beberapa hadiah, kalau kau mau menerimanya. Sebuah kitab mengenai ajaran Budha yang bisa digunakan untuk mempertajam keluhuran budi, apakah kau mau menerima?"

"Terima kasih, Nyai Demang, apa gunanya kitab itu kalau saya tidak bisa membaca?"

"Aku akan membacakan untukmu." Kembali sinar mata yang genit mencubit perasaan Upasara.

"Kalau begitu biarlah Nyai Demang yang menerima. Dan mempelajari. Saya masih ada urusan di dusun, mohon pamit."

Upasara berbalik ke arah Galih Kaliki. "Paman Galih, maafkan semua kelancangan saya. Saya mohon pamit. Jangan lupa mengundang saya ke perkawinan nanti."

Galih Kaliki tertawa bergelak.

"Kau masih muda, gagah, dan sedikit congkak. Aku, Galih Kaliki, suka padamu. Selamat, anak muda."

Upasara berbalik ke arah Bagus Respati. "Kakang Raden Mas..."

"Terima kasih, Upa... Tak akan pernah kulupakan kebaikanmu. Datanglah ke dalem kepatihan."

Upasara menghaturkan sembah. Lalu perlahan berjalan turun dari panggung.

Nyai Demang meloncat maju.

"Apakah kamu juga akan berlalu kalau saya mengharap tinggal barang sebentar?"

Upasara menunduk. Tak berani menatap mata Nyai Demang.

"Buku silat yang dihadiahkan Kiai Sangga Langit adalah buku pilihan. Juga di negerinya sendiri. Sungguh kurang enak kalau kamu menolak begitu saja."

Upasara mengangguk.

"Kita mengadakan makan malam bersama, dan setelah itu kamu bisa pergi ke mana saja. Menjumpai kekasihmu. "

"Saya akan tinggal sebentar, Mbakyu. "

Malam itu juga diadakan perjamuan sederhana. Bagus Respati hanya menikmati sebentar, lalu berpamitan untuk pergi keesokan harinya. Ia akan segera berangkat bersama Dyah Muning dan mempersiapkan upacara.

Galih Kaliki menepuk-nepuk pundak Upasara.

"Pergilah bersama Nyai Demang. Ia akan membacakan isi kitab itu padamu." Upasara merasa kikuk.

"Di dunia ini semua lelaki pasti tertarik kepada Nyai Demang. Baik diam-diam atau terang-terangan. Akulah yang paling tergila-gila. Aku menyadari ini ketololan yang luar biasa. Tapi aku suka terseret arus perasaan seperti ini. Indah sekali. Anak muda, kamu beruntung malam ini."

"Paman Galih, karena Paman menganggap saya sebagai keluarga sendiri, kenapa kita tidak bersama-sama mendengarkan apa yang dikatakan Nyai Demang?"

Dalam suatu tenda, malam itu Kiai Sangga Langit menjelaskan beberapa bagian yang diterjemahkan oleh Nyai Demang. Upasara berusaha mendengarkan dengan segenap perhatian. Hanya saja beberapa kali perhatian tertuju pada gerak bibir Nyai Demang. Benar juga kalau semua lelaki tertarik kepada Nyai Demang. Cukup beralasan kalau Galih Kaliki, meskipun sudah menyadari ketololannya, masih tetap tergoda. Nyai Demang memang mempunyai daya tarik, dan bisa memanfaatkan kelebihan ini.

"Buku ini mengandung ajaran cara melatih pernapasan. Intinya lebih berguna untuk menjaga agar badan tetap sehat, panjang umur, dan memperoleh kebahagiaan. Kiai Sangga Langit mendapatkan dari orang-orang Cina. Agak bertentangan dengan ilmu Mongol yang mengandalkan kekerasan. Namun cara melatih pernapasan ini ternyata mempunyai manfaat besar. Terbukti dari jago-jago di daratan Cina yang makin tua justru makin perkasa."

Setelah larut, Upasara meminta diri. Sekaligus pamitan besok pagi akan menemui ayahnya, Pak Toikromo. Ia kembali ke tenda. Bagi Upasara yang penting bisa istirahat dan besok pagi melanjutkan perjalanan.

Maka setelah bersemadi, Upasara mulai berbaring.

Galih Kaliki yang berada di sampingnya sudah langsung mendengkur.

Mungkin karena capek, mungkin karena tadi minum tuak secara berlebihan.

Baru memejamkan mata sekejap, Upasara mendengar satu gerakan. Desir angin yang lain. Sebagai seorang yang terlatih, Upasara melihat ada sesuatu yang tidak beres. Gerakan mengentengkan tubuh dengan perlahan, mencurigakan di larut seperti ini. Apalagi bukan gerakan satu orang. Upasara bangkit. Lalu berjalan perlahan keluar dari tenda. Sesaat masih melihat dua bayangan berkejaran. Cepat sekali Upasara meloncat ke arah dua bayangan. Belum lama mengejar, dua bayangan itu sudah terlibat dalam pertempuran. Upasara tahu bahwa bayangan yang dikejar adalah Nyai Demang.

"Kalau berani kurang ajar padaku, ayo kita jajal di sini."

"Perempuan murahan, untuk apa kamu menolakku? Jangan paksa aku melakukan itu dengan kekasaran. Kita nikmati malam yang indah ini."

Suara yang satunya seperti dikenal oleh Upasara. Hanya saja tidak begitu jelas, karena memakai kain yang dikerudungkan menutup seluruh tubuh.

"Majulah kalau kamu memang ksatria."

"Aku juga laki-laki yang bisa menaklukkanmu. Malam ini. Dan aku ingin menjadi orang senewen seperti Galih Kaliki. Ayo, Nyai Demang, kita bermain-main sebentar."

Bayangan berkerudung itu langsung menyerang Nyai Demang. Nyai Demang menghindar. Dalam beberapa saat keduanya sudah terlibat dalam pertempuran. Meskipun Nyai Demang termasuk unggul, namun masih setingkat di bawah penyerangnya. Kelebihan Nyai Demang ternyata lebih bersifat teori. Gerak pukulannya tepat, bagus, dan mengena. Akan tetapi tenaga pendukungnya tidak cukup membantu. Sehingga dengan mudah ditangkis. Melewati sepuluh jurus, Nyai Demang sudah di bawah angin.

Lima jurus berikutnya, kaki Nyai Demang kena serampang, dan tubuhnya terbanting. Dengan satu tangan menotok ke arah pinggang, penyerang berkerudung itu berhasil memeluk Nyai Demang.

"Apa lagi?"

Nyai Demang menggigit bibirnya. Kakinya yang lepas berusaha menendang dari belakang. Sekali lagi, dengan mudah bisa disampok. Dan ketika pegangan dilepaskan, tubuh Nyai Demang terbanting ke tanah.

Upasara tidak merasa perlu turut campur, sebenarnya. Akan tetapi merasa kurang enak melihat Nyai Demang diperlakukan dengan kasar. Maka Upasara melompat ke tengah.

Bayangan berkerudung melihat Upasara. "Oh, kamu, Upasara." Upasara melengak.

Baru ia sadar siapa yang dihadapi.

"Kang Bagus Respati... maaf, mengganggu masalah pribadi... saya kira..." Upasara segera berbalik membuang wajah.

"Haha... di dunia ini masih ada lelaki sejujur kamu. Betul-betul luar biasa. "

Tanpa menoleh kiri-kanan Upasara terus kembali ke tenda. Melihat Galih Kaliki masih tidur mendengkur. Ah, apakah pikirannya akan berubah jika melihat apa yang dilakukan Nyai Demang? Entahlah. Upasara tidak mau berpikir lebih jauh. Hanya ia merasa bersalah mencampuri urusan Nyai Demang dengan Bagus Respati. Mereka berdua ternyata memang lagi "bermain-main".

Tokoh macam apakah Nyai Demang itu?

Tak bisa masuk di benak Upasara. Hanya saja sejak melihat kejadian itu, Upasara tidak begitu tertarik lagi dengan Nyai Demang. Hanya saja Upasara juga tidak mengerti bagaimana sikap Bagus Respati sebenarnya. Setelah memperoleh putri Cina dalam sayembara, kenapa masih mengejar Nyai Demang?

Upasara melanjutkan perjalanan, dengan beberapa pikiran yang masih mengganggu. Akan tetapi ia tidak memedulikan. Pikiran itu terbuang dengan sendirinya. Karena memang sejak masih bayi tak pernah terlibat dengan keusilan. Harapannya cuma satu: menyampaikan berita ke Keraton!

Selewat fajar, Upasara sampai di Keraton.

Ia merasa bingung karena tak tahu harus menghubungi siapa. Ngabehi Pandu tak ada di tempat. Senamata Karmuka juga tak bisa dihubungi.

Maka ketika ia mengatakan akan sowan kepada Baginda Raja, prajurit penjaga hanya melengak saja.

"Kami mengetahui dirimu, anak muda. Kamu dari Ksatria Pingitan. Kamu membawa tanda untuk masuk ke Keraton. Akan tetapi untuk bisa melihat bayangan Baginda Raja, apakah kamu mempunyai alasan untuk itu?" "Dengan paksa atau baik-baik saya akan sowan kepada Kanjeng Sinuwun." Mendengar jawaban itu para prajurit bersiap dan mengurungnya.

Upasara mendongak.

"Kalau kalian memaksa terus, akan terjadi sesuatu yang tidak kalian inginkan." Upasara bertindak maju. Dengan membawa cincin Keraton, Upasara bisa terus melangkah maju ke dalam.

Para prajurit tak ada yang berani menyerang. Hanya sekadar berjaga. Sampai di balairung, tempat menghadap, Upasara duduk bersila.

Upasara tetap tidak bergeser. Ia terus bersila di balairung, tertunduk, sama sekali tak beringsut. Dari pagi hingga tengah hari sampai menjelang petang. Beberapa pengawal utama tak berani menegur atau mengusik, hanya mengawasi dari kejauhan.

Ketika penerangan Keraton dinyalakan, dan bayangan tubuh Upasara bergerak-gerak, ketika itulah terdengar langkah kaki memasuki balairung. Beberapa pengawal berjalan membentuk barisan di sebelah kiri dan kanan. Bersila di bawah. Beberapa saat kemudian sebuah langkah ringan menuju ke tengah. Semua yang hadir menghaturkan sembah.

Upasara tetap menunduk.

"Anak muda yang keras kepala, apakah kau Ksatria Pingitan?"

Barulah tangan Upasara bergerak, menghaturkan sembah yang khidmat. Sorot matanya tetap menunduk. Akan tetapi sempat menangkap sosok tubuh yang gagah perkasa, yang dadanya telanjang dan berbulu. Dengan kalung panjang berbentuk segi tiga. Melingkari leher secara terbuka, dan bertemu sedikit di atas pusar. Kain yang dikenakan sangat bagus, dan ujung keris menonjol dari belakang. Ditopang dengan sepasang kaki yang bersih kukuh, ditumbuhi bulu-bulu keriting. Rambutnya digelung di atas kepala, memberi kesan sangat gagah.

"Nun inggih... saya yang rendah bernama Upasara Wulung," suaranya penuh rasa hormat, "...saya menghaturkan sembah bekti, Mahapatih yang mulia."

Mahisa Anengah Panji Angragani seperti berdecak bibirnya. "Apa maksudmu memaksa diri bersila di sini?"

"Saya mohon izin Mahapatih yang mulia untuk sowan kepada Baginda Raja. Hanya dengan perkenan Mahapatih yang mulia, saya yang rendah bisa sowan di hadapan Baginda Raja, penguasa tunggal Keraton."

Kembali terdengar decakan suara di bibir.

"Sudah lama kudengar makin banyak pemuda yang berbuat kurang ajar dan ugal-ugalan. Hari ini aku menemukan sendiri. Upasara, apakah karena kau merasa bekas Ksatria Pingitan, sehingga bisa begitu mudah meminta izin untuk sowan Baginda Raja?

"Ksatria Pingitan sudah lama dibubarkan, karena hanya memboroskan keuangan Keraton. Sudah tidak ada artinya lagi. Pun andai masih ada, kau tak bisa leluasa mengajukan usul seperti itu.

"Apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga merasa perlu sowan Baginda

Raja?"

"Maafkan hamba, Mahapatih yang mulia. Maafkan kelancangan hamba, dan ketidaktahuan akan tata krama ini. Keberanian dan keinginan hamba hanya didasari bahwa ada sesuatu yang harus hamba sowan-kan kepada Baginda Raja.

"Maafkan, Mahapatih yang mulia."

"Sesuatu itu apa? Aku akan mempertimbangkan." Upasara menghaturkan sembah.

"Katakan."

Upasara menunduk.

Pundaknya merunduk menuju satu titik di tanah. Ludahnya seperti tak bisa ditelan.

Apakah ia harus memberi laporan kepada Mahapatih Panji Angragani mengenai kejadian di Perguruan Awan? Menurut pesan Jagaddhita, ia harus menyampaikan langsung kepada Baginda Raja. Akan tetapi, untuk bisa sowan, ia tak bisa menghindar dari Mahapatih.

Apakah ia harus memperlihatkan dua buah gigi emas Jagaddhita? Apakah ini cukup berarti bagi Mahapatih? Tetapi jika ia tidak mengatakan... Terlambat. Mahapatih sudah berdecak lebih keras.

"Upasara. Sungguh lancang! Bagaimana mungkin kau tidak menghormati dengan berdiam diri seperti itu? Bahkan Baginda Raja mempercayaiku untuk menjadi mahapatih. Untuk menjadi bahu kanan Baginda Raja. Apa yang kausembunyikan dariku, pasti akan kuketahui.

"Akan kulihat apakah kau masih berusaha duduk di situ, atau menunggu aku memerintahkan untuk menendangmu."

"Ampun, Mahapatih yang mulia. Sama sekali tak terpikir oleh hamba yang rendah ini untuk tak menghormati Paduka. Mahapatih yang mulia adalah sesembahan kawula, Mahapatih yang mulia adalah bahu kanan Baginda Raja yang terpercaya, akan tetapi saya ingin menyampaikan secara pribadi."

Terdengar decak kecil.

"Aku tak punya waktu banyak, Upasara. Kalau kau mau mengatakan, sekarang saatnya. Para pengawal ini adalah pengawal Keraton yang tak perlu diragukan lagi kesetiaannya."

"Maaf, Mahapatih. Masalah ini ada sangkut-pautnya dengan peristiwa di Perguruan Awan."

"Hmmmmm."

"Juga mengenai rombongan Raja Muda Gelang-Gelang, serta pasukan yang dipimpin langsung oleh Maharesi Ugrawe. Mohon Mahapatih yang mulia menyampaikan kepada Baginda Raja."

Terdengar tawa menggeledek. Para pengawal sempat kaget.

Darah Upasara berdesir sangat cepat. "Dewa Batara... kukira tentang gempa yang dahsyat atau matahari berbalik arahnya. Tak tahunya tentang urusan begitu sepele. Kalau urusan membunuh nyamuk saja harus di-sowan-kan kepada Baginda Raja, kapan Baginda Raja ada waktu untuk memuja Penguasa Tunggal di jagat ini?

"Ketahuilah, Ksatria Pingitan. Baginda Raja saat-saat ini sedang bersemadi. Tak bisa diganggu gugat, tak bisa di-sowan-i siapa saja. Dan mengenai kekuatiranmu, Baginda Raja sudah mengetahui jauh lebih dulu. Kuhargai sepenuhnya keberanianmu, tetapi itu tak ada gunanya.

"Nah, sekarang kembalilah. Mulai sekarang jangan menyebut-nyebut sebagai Ksatria Pingitan lagi, karena sebutan itu sudah dibubarkan. Kembalilah ke desamu, jadilah petani yang baik.

"Aku telah bermurah hati menemuimu." Mahapatih mengibaskan tangannya.

"Ampunilah saya yang cubluk, bodoh, ini. Peristiwa di Perguruan Awan sangat memilukan. Saya yang rendah ini berada di sana "

"Aku adalah mahapatih. Aku menjalankan roda pemerintahan sehari-hari. Aku telah mengetahui dari telik sandi, dari pasukan rahasia, bahwa beberapa pendekar akan mengadakan pertemuan untuk memberontak kepada Keraton. Itu sebabnya Baginda Raja menugaskan Raja Muda Gelang-Gelang untuk menumpas sampai habis. Sampai rata dengan tanah. Aku sendiri yang memerintahkan Senopati Suro, Joyo, Lebur, Pangastuti untuk memimpin pasukan Keraton. Di samping beberapa prajurit pilihan yang lain.

"Kau berada di sana dengan siapa?"

"Saya diajak Ngabehi Pandu dan Pamanda Wilanda. "

"Hmmmmm, sok tahu."

"Beberapa dari prajurit Keraton ditawan oleh Maharesi Ugrawe. Ngabehi Pandu masih belum ditemukan, demikian juga Senamata Karmuka.  "

Kembali terdengar tawa menggeledek. "Lancang sekali omonganmu. "Anak lancang. Ajaib sekali. Apa yang diajarkan Ngabehi lancang itu sehingga Ksatria Pingitan begitu kurang ajar dan ngawur?

"Bagaimana mungkin kaukatakan kalau Senamata Karmuka itu hilang? Selama ini Senamata Karmuka tak pernah meninggalkan Keraton!

"Omongan edan apa ini?"

"Seribu ampun, Mahapatih yang mulia, saya melihat sendiri. "

"Cukup! Aku tak pernah bicara ngawur. Semua prajurit di Keraton bisa menilai. Bisa mengatakan apakah aku berdusta. Selama ini Senamata Karmuka berada di Keraton. Ia tak ikut ke Perguruan Awan. Aku tidak memerintahkan ke sana. Juga ia hadir dalam pasowanan agung di Keraton. Seluruh pejabat di Keraton melihatnya. Bagaimana mungkin kau edan-edanan seperti itu?

"Bocah kecil, aku tak menyangka kalau kau berani berdusta di depanku. Ketika dalam Sayembara Mantu aku mendengar namamu disebut putraku, aku menyangka kau adalah ksatria yang hebat. Mewarisi keberanian Keraton. Tak tahunya cuma tukang dusta.

"Tidak adil jika aku tidak menghukummu, walau kau telah menyelamatkan putraku.

Prajurit, tangkap dia."

Tiga prajurit memberi hormat, dan langsung menelikung Upasara. Upasara mendongak.

"Saya hanya menyampaikan pesan ini. Kalau saya sengaja berdusta, saya pastilah melakukan suatu kebodohan yang tiada taranya. Saya hanya memberi laporan seperti yang saya lihat.

"Sebelum Mahapatih menjatuhkan hukuman, perkenankanlah saya memohon sesuatu."

Terdengar decak lidah. "Di dalam lipatan kain, ada dua buah gigi emas. Bukan senjata rahasia, bukan barang penuh bisa atau ilmu gaib. Saya mohon Mahapatih yang mulia berkenan menghaturkan kepada Baginda Raja."

Seorang prajurit pengawal membuka lipatan kain dan memperlihatkan dua buah gigi emas.

"Untuk apa kaukatakan itu?"

"Ini permintaan Bibi Jagaddhita, bekas penari Keraton. Saya berjanji untuk menyampaikan, apa pun yang terjadi. Kalau besok saya tak sempat melihat matahari lagi, saya tidak mengecewakan arwah Bibi Jagaddhita.

"Untuk kemuliaan Mahapatih menghaturkan dua buah gigi emas ini, saya menghaturkan nyawa saya yang tak berharga ini."

"Masih ada juga jiwa ksatriamu. Memuliakan tugas. Memegang janji. Itulah sifat ksatria sejati. Itulah ciri utama ksatria Keraton Singasari yang besar. Kepandaianmu tidak rendah.

"Sayang kau banyak bermimpi. "Prajurit, penjarakan dia." Upasara diseret.

"Satu hal lagi, Mahapatih... yang mulia, Raja Muda Gelang-Gelang tidak memadamkan pemberontakan, malah sebaliknya. Maharesi Ugrawe mempunyai dua rencana lain untuk merebut takhta  "

Tapi tubuhnya telah terseret jauh. Dan Mahapatih telah meninggalkan balairung.

Tubuh Upasara seluruhnya diikat. Kaki dan tangan, serta badannya diikat erat pada sebuah tonggak, di ruang bawah tanah.

Dulu Upasara mengetahui ruangan itu digunakan untuk menawan para penjahat yang berbahaya. Hanya para penjahat yang bakal dihukum mati di tempat itu. Cara pelaksanaan hukuman mati juga tak jauh berbeda. Dibakar hidup-hidup atau diberikan kepada seekor harimau yang menjadi klangenan, atau kesayangan, Baginda Raja. Untuk itu semua hanya diperlukan waktu lima hari. Jika dalam waktu lima hari Mahapatih tidak berkenan membicarakan masalahnya, dengan sendirinya ia harus menjadi makanan seekor harimau! Dalam keadaan biasa, Upasara bisa melawan dan mempertahankan diri. Akan tetapi dalam keadaan terikat erat, seekor nyamuk yang hinggap di pipi pun tak bisa diusir. Apalagi selama lima hari itu, ia tak dibiarkan meneguk setetes air atau sesuap nasi, atau juga satu kalimat.

Para prajurit penjaga tak diperkenankan berkata. Ini semua untuk menghindarkan dari rencana para tersangka mempengaruhi atau mencoba melarikan diri.

Upasara Wulung mengetahui hal ini. Siapa sangka sekarang ini dirinya yang menjadi penghuni penjara? Siapa sangka ia begitu susah melarikan diri akan tetapi malah ditertawakan? Siapa sangka kalau pengorbanan Jagaddhita tak berarti apa-apa?

Upasara termasuk cerdas. Jalan pikirannya cemerlang untuk menangkap suatu masalah yang tak diperhitungkan. Namun kali ini benar-benar mati kutu. Tak bisa memperkirakan kejadian apa yang sebenarnya berlangsung. Baik di Keraton, di Perguruan Awan, atau juga di tempat lain.

Rasanya serba tak menentu dan tak jelas ujung-pangkalnya. Yang disangka terang-benderang di siang hari, ternyata gelap-pekat tak bisa dimengerti.

Upasara mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, sejak awal Sejak ia diperam selama dua puluh tahun sebagai Ksatria Pingitan. Suatu usaha untuk melahirkan para prajurit dan bangsawan teladan. Usaha ini agaknya menimbulkan pro dan kontra, sehingga resminya dibubarkan. Beberapa ksatria kembali kepada orangtuanya masing-masing, seperti juga Bagus Respati. Karena dirinya tak mengetahui harus kembali ke siapa, Upasara Wulung terus bersama Ngabehi Pandu. Sampai suatu ketika diajak serta ke Perguruan Awan.

Bertemu dengan para pendekar kelas satu. Terjadi perselisihan paham mengenai Eyang Sepuh serta Tamu dari Seberang. Sampai kemudian munculnya Maharesi Ugrawe dengan prajurit Gelang-Gelang. Dan terjadi petempuran habis- habisan.

Upasara melihat sendiri hadirnya Senamata Karmuka. Bahkan bercakap-cakap secara langsung. Tapi baru saja Mahapatih mengatakan bahwa Senamata Karmuka tak pernah menginjakkan kaki ke luar Keraton.

Ini aneh.

Lalu siapa yang diketahui? Jelas bukan orang lain. Tapi kalau begitu siapa yang di Keraton? Jelas juga bukan orang lain. Kalau iya, pasti Mahapatih mengenali. Jadi siapa sebenarnya Senamata Karmuka? Ataukah Senamata Karmuka mempunyai ilmu yang bisa hadir di dua tempat yang berbeda secara serentak? Upasara pernah mendengar ilmu semacam itu, namun belum pernah melihat secara langsung.

Yang juga aneh: Pasukan Gelang-Gelang yang secara langsung dipimpin oleh Raja Muda Jayakatwang. Benarkah pasukan ini mau memadamkan pemberontakan? Kalau tidak, memang agak mustahil bisa bergerak begitu leluasa. Akan tetapi bila mau memadamkan pemberontakan, kenapa Maharesi Ugrawe mencoba menyapu bersih semua yang hadir di situ? Taruhlah ada dendam pribadi antara Maharesi Ugrawe dan Senamata Karmuka atau Ngabehi Pandu, tak nanti mereka akan bertindak sembrono. Dan lagi secara jelas Ugrawe melontarkan kecamannya tentang Baginda Raja yang dikatakan sebagai turunan perampok, maka harus digulingkan dari takhtanya. Sangat gamblang bahwa Raja Muda Gelang-Gelang akan memberontak. Tetapi mengapa justru kenyataan malah berbalik? Kenapa malah disangka Raja Muda Gelang-Gelang yang menumpas pemberontakan para pendekar?

Strategi Ugrawe dengan melenyapkan jalan utama dan menggantikan dengan jalan palsu di Banyu Urip, jelas untuk memutuskan hubungan Perguruan Awan dengan Keraton. Bahwa prajurit Gelang-Gelang menghimpun banyak senjata secara rahasia, ini juga persiapan yang tidak ingin diketahui pihak Keraton.

Bagaimana mungkin yang begini ini malah dikatakan membantu Keraton?

Kalau ini semua merupakan bagian dari rencana Ugrawe, ia benar-benar luar biasa. Kepada pihak Keraton ia menyusun laporan seakan para pendekar mau memberontak, sehingga ia mendapat restu untuk menyikat habis. Padahal maksudnya melenyapkan mereka agar kelak di kemudian hari tidak membantu pihak Keraton. Karena, meskipun hidup bebas, para pendekar sangat hormat dan bekti kepada Baginda Raja serta kepada Keraton. Lalu kepada para pendekar, Ugrawe melemparkan isu bahwa Tamu dari Seberang akan muncul.

Para pendekar bisa dipancing karena Ugrawe dengan cerdiknya melemparkan berita akan datangnya Tamu dari Seberang. Semua berjalan sempurna. Karena pihak Keraton sendiri agaknya sama sekali tidak mencurigai. Utusan yang dipimpin oleh Senopati Suro lebih berfungsi sebagai saksi belaka. Sehingga kalaupun rombongan ini bisa disikat habis, tak bakal ada gunjingan.

Hanya saja masih ada yang tidak diduga oleh Ugrawe. Ngabehi Pandu serta Senamata Karmuka ikut hadir. Entah intrik apa yang sedang berkecamuk dalam Keraton, sehingga kedua saudara itu muncul di gelanggang, tanpa restu dari Keraton. Kalau kedua tokoh itu sempat meloloskan diri, pastilah akan lain hasil dari rencana busuk Ugrawe.

Ini berarti, masih ada tiga orang yang bisa lolos. Yaitu dirinya sendiri, Ngabehi Pandu, serta Senamata Karmuka. Ngabehi Pandu tidak ketahuan hutan rimbanya. Entah berhasil lolos atau tidak. Sementara Senamata Karmuka, bagi Upasara masih merupakan teka-teki. Tapi kini ia tak bisa berbuat banyak. Malah bisa jadi mati secara menyedihkan. Dibakar hidup-hidup atau jadi santapan harimau!

Kenyataan ini membuat Upasara merasa sangat nelangsa, sangat menderita dan kesal. Rangkaian kejadiannya begitu ganjil, tapi seperti terjalin menjadi satu. Pemunculan Kiai Sangga Langit dengan Sayembara Mantu, ternyata juga mendapat restu dari Mahapatih. Setidaknya Mahapatih membiarkan Kiai Sangga Langit unjuk gigi. Malah secara resmi melibatkan para pembesar Keraton.

Satu-satunya harapan Upasara adalah dua buah gigi geraham Jagaddhita. Ia berharap Mahapatih menyampaikan gigi tersebut kepada Baginda Raja, dan Baginda Raja berkenan untuk mengetahui asal-usulnya. Saat itu ia bisa bercerita panjang- lebar. Kalau Baginda Raja sudah mendengar secara langsung, Upasara akan mati dengan tenang. Ia tidak penasaran lagi. Pun andai Baginda Raja hanya mendengar dan lebih mempercayai apa yang dikatakan Mahapatih!

Soal diikat berdiri dan tak bisa bergerak, bagi Upasara tidak menjadi soal benar. Jangan kata cuma lima hari. Empat puluh hari empat puluh malam secara terus-menerus Upasara sanggup. Berada dalam ruang gelap tanpa melihat seberkas sinar pun, tanpa menyentuh air dan atau makanan tak jadi soal benar. Akan tetapi jika berakhir lain—di perut seekor macan, sungguh tidak enak. Sungguh bukan cara mati seorang ksatria.

Mudah-mudahan Baginda Raja terbuka sedikit perhatiannya. Itulah harapan yang terakhir. Jika saja Upasara mengetahui bahwa Mahapatih Panji Angragani sama sekali tidak tertarik soal gigi, ia lebih menderita lagi. Mahapatih yang jijik melihat dua buah gigi segera menyingkirkan begitu saja tanpa peduli.

Setelah kembali ke kepatihan, ia sama sekali tidak mengingat soal gigi. Namun memang tergerak sedikit oleh kehadiran Upasara. Justru karena Upasara memberi laporan yang sangat tidak masuk akal: Senamata Karmuka terlibat dalam penyerbuan ke Perguruan Awan. 

"Banyak cara berdusta. Kenapa Upasara mengatakan secara tolol bahwa Karmuka datang ke Perguruan Awan? Kalau ia berdusta dengan cara lain, ada beberapa bagian yang bisa dipercaya.

"Entahlah, apakah di saat yang damai seperti ini akan muncul gelombang dan amukan badai?"

Tak urung malam itu juga Mahapatih memanggil Senamata Karmuka ke dalem kepatihan. Yang segera menghadap, menghaturkan sembah di ruang dalam.

"Karmuka, pasti engkau kaget kupanggil malam hari begini."

"Sebagai prajurit, sebagai bawahan, saya siap menerima hukuman atas setiap kesalahan yang saya lakukan, Mahapatih."

"Hmmmmm. Aku memanggil tidak untuk memberi hukuman atau menaikkan pangkatmu secara mendadak. Tidak juga aku menanyakan tugas pengamanan di Keraton. Untuk yang terakhir ini, aku percaya sepenuhnya kepadamu."

"Beribu terima kasih atas kepercayaan Mahapatih."

"Malam ini kau kupanggil kemari karena aku kangen padamu. Itu yang pertama. Yang kedua, rasanya kita sudah lama tidak berduaan sambil minum teh. Sedangkan hal yang ketiga, tidak penting benar. Aku ingin tahu, apa yang kau ketahui tentang Upasara Wulung."

"Upasara Wulung dulunya Ksatria Pingitan," jawab Senamata Karmuka cepat sekali. "Termasuk anak muda yang merupakan bibit unggul di antara 25 yang dikumpulkan dalam pendidikan Keraton Singasari. "Kebetulan saya diserahi memegang pimpinan pengelolaan itu oleh Baginda Raja sesembahan rakyat Jawa."

"Ya, tapi rencana itu bubar, kan?"

"Mahapatih, semua itu karena kesalahan saya yang tidak becus apa-apa."

"Itu susahnya, Karmuka. Baginda Raja berharap akan lahir ksatria yang bisa meneruskan kejayaan Keraton. Tapi nyatanya susah. Putraku sendiri, akhirnya kutarik dan kuserahkan kepada para empu yang lain.

"Sudahlah, kita lupakan itu. Tapi bagaimana dengan Upasara ini?"

"Bocah itu seterusnya di bawah pengawasan adik saya, Ngabehi Pandu, karena tak mempunyai keluarga lagi. Hatinya baik, kemauannya keras."

"Waras atau tidak?"

"Saya tak berani memastikan. Mahapatih yang bijak lebih tahu hal ini." "Memang. Memang aku lebih tahu, Karmuka. Dari putraku Bagus Respati aku

mendapat laporan bahwa Upasara menyelamatkan jiwanya dalam Sayembara Mantu. Aku hargai itu. Kalau perlu akan kuberi hadiah besar.

"Hanya saja ia membikin perbuatan onar. Kau sudah dengar bahwa katanya ia bertemu denganmu di Perguruan Awan?"

"Saya belum mendengar, Mahapatih." "Kau bertemu dengannya?"

"Tidak pernah, Mahapatih."

"Apakah Upasara mempunyai hubungan langsung dengan Baginda Raja? Ia membawa cincin Keraton."

"Saya tidak tahu, Mahapatih."

"Cincin yang dibawanya memang berasal dari Baginda Raja. Cincin pengenal di Keraton. Tidak palsu. Akan tetapi dari mana ia memperolehnya? "Kalau kau tidak tahu, berarti ia tidak menerima langsung dari Baginda Raja.

Kamu—dan adikmu—yang secara langsung mengawasi.

"Karena ia berbuat kurang ajar dan lancang, aku menghukumnya. Sekarang ia berada di gua bawah tanah.

"Apa pendapatmu, Karmuka?"

"Saya kurang tahu. Mahapatih lebih bijak dari saya."

"Karena aku tidak tahu asal-usulnya secara pasti, dan kau juga tidak, kita tak perlu menyayangkan. Lebih baik kehilangan daripada tidak yakin ia bakal setia kepada Keraton. Bagaimana pendapatmu?"

"Apa yang Mahapatih utarakan sangat tepat sekali." "Karmuka?"

"Siap menerima titah, Mahapatih."

"Aku berpikir lain. Ia masuk ke Keraton dengan membawa tanda pengenal cincin. Di dalam Keraton ini, bahkan putraku saja tidak memiliki. Pastilah ia mempunyai hubungan dengan orang dalam sini. Dan kehadirannya pasti diketahui. Aku ingin melihat apakah ada yang akan membebaskannya atau tidak.

"Pada saat itu aku akan menjebaknya. Apakah aku terlalu mengada-ada?" "Terima kasih atas kepercayaan Mahapatih saya diizinkan mendengarkan

rahasia ini."

"Kalau Baginda Raja mempercayaimu, mana mungkin aku berahasia denganmu? Baiklah, Karmuka, kembalilah beristirahat."

Senamata Karmuka memberi hormat, menundukkan kepalanya, dan berlalu.

Seorang prajurit mengawal keluar dari ruangan dalam.

Sejenak Mahapatih termenung di kursinya. Lalu menghela napas.

Sebelum tarikan napas dikeluarkan, dari balik senthong, atau kamar di belakang ranjang tidur, muncul seorang kakek tua. Tangannya memegang biji-bijian yang diuntai dengan rambut. Mahapatih berdecak.

"Karmuka itu masih kuat. Langkah-langkahnya, cara mengatur napas tetap unggul. Aku tak menyangka tenaga dalamnya masih begitu hebat, Mahisa. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, sama sekali tak ada perubahan.

Sungguh luar biasa."

Kakek tua itu menggelengkan kepalanya.

"Dilihat dari perhitungan kelahiran, Senamata Karmuka mempunyai ketenangan yang lebih. Ia mampu mengendalikan perasaan, menyimpan apa yang dipikirkan. Sulit ditentukan apakah Karmuka mempunyai hubungan langsung dengan Upasara atau tidak. Kalau dilihat sejarah dan awal berdirinya Ksatria Pingitan, tak mungkin Upasara anak turunan rakyat biasa. Hanya keluarga dekat, kerabat Keraton, yang diperkenankan dipilih. Namun ketika semua dikembalikan kepada masing- masing orang tua, Upasara tetap dilatih olehnya.

"Padahal kalau masih ada hubungannya dengan Upasara, Karmuka pasti tergetar mendengar rencanamu. Tapi nyatanya, suaranya datar saja. Tak dipengaruhi perasaan. Kini tinggal melaksanakan rencana kita selanjutnya."

"Itulah yang saya pikirkan, Paman Waisesa Sagara. Paman adalah penasihat utama saya, yang bisa melihat jarak jauh, yang bisa meramal kejadian yang akan datang. Dengan mengatakan apa yang akan kita lakukan, apakah Karmuka tidak berniat menolong Upasara?"

"Ia akan menolongnya. Pasti," Waisesa Sagara menganggukkan kepalanya. Biji- bijian di tangannya bergerak cepat. "Akan tetapi terlambat. Malam ini juga, Upasara harus dilenyapkan. Tak usah menunggu lima hari.

"Ketika Bagus Respati menceritakan tentang Upasara, aku sudah memperhitungkan. Ketika ia berada di balairung Keraton, aku sudah melihat sendiri. Berdasarkan perhitungan kedatangannya, arah datangnya, bentuk mukanya, potongan tubuhnya: baik telinga, hidung, mulut, rambut, dan terutama sekali matanya, aku memperhitungkan kelak di kemudian hari Upasara Wulung bakal menjadi saingan utama Bagus Respati. Malah kalau dilihat peruntungannya, nilai dasar Upasara Wulung lebih dua buah. Bagus Respati mempunyai nilai peruntungan sebelas, sedang Upasara Wulung tiga belas. "Rezekinya tidak sebaik Bagus Respati, akan tetapi perhitungan masa depannya sungguh luar biasa. Kelewat bagus. Soal jodoh agak ruwet."

Mahapatih berdecak.

Ia bukannya tidak tahu bagaimana menghitung dan meramalkan nasib seseorang. Akan tetapi selama ini percaya penuh bahwa perhitungan Waisesa Sagara tidak pernah meleset sedikit pun.

Sejak ia mengabdi kepada Keraton, Mahapatih selalu mendengarkan nasihat Waisesa Sagara. Salah satu ramalannya yang paling menakjubkan ialah ketika Waisesa Sagara mengatakan bahwa, "Sebuah bulan buta bersinar keemasan jatuh ke pangkuanmu. Dalam waktu lima hari mulai hari ini, kau harus bersiap-siap menerima anugerah besar. Siapkan dirimu sebaik-baiknya. Keramas rambutmu sebersih- bersihnya, cuci badanmu paling bersih, jaga kulit tubuhmu, jangan lupa tersenyum."

Ajaib. Tiga hari kemudian Baginda Raja memanggilnya dan menganugerahi jabatan mahapatih. Sesuatu yang tak pernah berani diimpikannya! Bahkan dalam berdoa pun ia tak berani membayangkan jabatan yang mulia tersebut. Jabatan yang di tangan kanan dan kiri menentukan merah-hijaunya Keraton Singasari.

Akan tetapi siapa berani mengimpikan jabatan itu? Saat itu Mpu Raganata adalah tokoh besar yang tak diragukan lagi. Baik soal kanuragan atau ilmu silat, soal tata pemerintahan, maupun cara mengatur strategi. Bertahun-tahun Mpu Raganata membuktikan cara mengendalikan pemerintahan.

Hubungan Mpu Raganata dengan Baginda Raja sangat dekat sekali. Tak pernah beranjak dari sisi Baginda Raja.

Memang saat itu Baginda Raja mengadakan pergeseran besar-besaran. Sejumlah besar para bangsawan ditanggalkan pangkatnya. Kalau tidak diturunkan, juga dibuang ke daerah terpencil. Namun tak pernah terpikir bahwa Baginda Raja bakal menggeser Mpu Raganata. Dari seorang mahapatih yang berkuasa penuh, menjadi semacam penasihat Baginda Raja— yang tak mempunyai kekuasaan langsung ke bawah!

Waisesa Sagara telah meramalkan hari baiknya. Hari yang kelewat baik!

Sejak itu pula Waisesa Sagara diangkat menjadi penasihat pribadi dalam, hampir, segala hal. Tak pernah ada suatu tindakan yang dilakukan Mahapatih Angragani tanpa persetujuan Waisesa Sagara. Mengenakan motif kain batik, melangkah pertama ke luar rumah, makan, dan menemui seseorang, atau sowan ke Keraton, semuanya berdasarkan saran Waisesa Sagara.

Juga ketika Mahapatih Angragani membubarkan Ksatria Pingitan. Saat itu Waisesa Sagara melihat bahwa ada kemungkinan para ksatria yang dipingit kelak di kemudian hari akan menimbulkan malapetaka. Manakala mereka hanya mengenal satu tuan saja: Senamata Karmuka.

"Seekor anjing yang sejak kecil hanya mengenal satu tuan, kelak di kemudian hari bakal menyerang siapa saja atas perintahnya. Bubarkan saja."

"Bagaimana dengan Bagus Respati?"

"Cari guru yang lain. Dengan demikian apa yang diperoleh tidak sama dengan yang diperoleh yang lainnya. Bagus Respati akan memiliki kelebihan."

"Akan tetapi Baginda Raja menghendaki diadakannya Ksatria Pingitan."

"Apa susahnya? Laporkan pada hari Budha nanti, bahwa pengelolaannya mulai tidak terarah. Bahwa hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran kas Keraton. Bahwa sebenarnya ada yang lebih bagus. Yaitu dilatih secara langsung.

"Dengan demikian, mulai sekarang ini seluruh kekuasaan ada pada dirimu. Senamata Karmuka tidak mempunyai anak buah lagi, selain beberapa prajurit pengawal utama. Itu pun masih di bawah komandomu.

"Saat ini sebenarnya seluruh kekuasaan sudah berada di dalam genggamanmu. Kamu bisa mulai memperkuat diri. Melanjutkan tradisi Baginda Raja untuk menyingkirkan yang tak menyokong kekuasaanmu.

"Hanya sedikit ganjalannya. Karmuka, telanjur menjadi Senamata. Dan hubungannya dengan Baginda Raja sangat istimewa, sehingga agak susah digeser. Akan tetapi selama kau bisa terus mengawasi gerak-geriknya, selama kau selalu menyadarkan bahwa kau menjadi atasannya, Karmuka tak akan bisa berbuat banyak."

"Mengenai Mpu Raganata?"

"Praktis beliau tak memegang komando apa-apa. Kalau terjadi sesuatu, beliau tak bisa memerintahkan, tanpa menggunakan tanganmu atau tangan Baginda Raja. Lagi pula kini sudah lanjut usia. "Bagi Mpu Raganata, yang selama ini aktif bergerak dalam pemerintahan, hanya menunggu ajal saja kalau tidak lagi menjabat apa-apa. Kaulihat sendiri dalam beberapa kali pasowanan agung, beliau tidak muncul.

"Tak perlu disingkirkan. Beliau akan tersingkir sendiri. Kalau itu terjadi secara mutlak dan resmi, kaulah yang memegang kendali pemerintahan, atas tanganmu sendiri."

Mahapatih kembali berdecak.

"Pamanda Waisesa, bagaimana kalau ternyata Upasara adalah lembu peteng Baginda Raja?"

Lembu peteng adalah istilah untuk menyebut anak tidak resmi, atau anak gelap. Memang lembu peteng sangat banyak jumlahnya. Di antara mereka ini, banyak yang tidak diakui secara resmi, akan tetapi mendapatkan kehormatan dan jabatan, tetapi lebih banyak lagi yang kemudian dilupakan.

"Sangat tidak mungkin. Kalau benar, mana mungkin selama ini Baginda Raja tidak menanyakan? Selama ini nyatanya tak pernah terucapkan atau tertanyakan oleh Baginda Raja. Itulah tadi sebabnya aku menduga Upasara adalah anak gelap Karmuka. Hanya karena caranya bernapas tetap teratur ketika hal itu disinggung aku jadi ragu."

"Akan tetapi dari mana ia memperoleh cincin Keraton?"

"Ia menyebutkan dari Bibi Jagaddhita. Kamu sendiri tahu bahwa dulu banyak sekali selir Baginda Raja. Puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya. Salah satu bernama Jagaddhita. Dan kamu mendengar sendiri ceritanya.

"Taruh kata Jagaddhita dulu mempunyai hubungan yang sangat istimewa dengan Baginda Raja. Akan tetapi itu sudah lama berlalu. Jagaddhita telah lama meninggalkan Keraton. Tak nanti Baginda Raja masih akan mempertanyakan. Mana mungkin Baginda Raja mengingat salah satu selir yang telah pergi di antara puluhan yang lain? Prameswari utama saja bisa-bisa lupa.

"Hanya yang membuat sedikit ganjalan ialah bahwa beberapa ksatria telah mengenai Upasara. Ia sempat muncul dalam Sayembara Mantu. Sehingga hilangnya bisa menimbulkan pertanyaan."

"Itu tak menjadi soal, Paman Waisesa. Kalau saya mengatakan bahwa Upasara Wulung berbuat kurang ajar, menghina Baginda Raja, siapa yang berani mempersoalkan? Malaikat pun tak akan berani turun dari langit untuk menanyakan hal itu."

"Kau benar. Jadi apa masalahnya?"

"Tetapi tetap menjadi pertanyaan: Apakah Upasara Wulung harus dibunuh?" "Jawabannya tetap: Perlu dibunuh. Dilihat dari perhitungan hari dan saat ia

ditangkap serta tempatnya ditangkap, Upasara bisa meloloskan diri. Dengan mempersingkat waktu penahanan, nasibnya akan lain. Walau menurut perhitungan waktu ditangkap ia bisa lolos, kalau malam ini juga dihabisi, tak akan menjadi soal. Nasib yang ditetapkan oleh langit bisa kita ubah."

Mahapatih menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.

"Satu-dua nyawa, apa artinya? Sekarang ini kau harus yakin bahwa siapa pun yang berdiri di dekatmu bakal membantumu. Kalau ia meragukan sedikit saja, perlu disingkirkan. Ingatlah, jabatan mahapatih bukanlah jabatan sederhana. Dan di Keraton ini terlalu banyak pendapat. Sejak Baginda Raja mengadakan pergeseran, sejak kamu memegang kekuasaan, banyak yang berusaha menggugatmu. Setiap kesempatan akan mereka pergunakan, kamu lebih dulu bertindak. Jangan menunggu sampai mereka siap.

"Sebenarnya apa yang meragukanmu?" Mahapatih mengangguk. Menepuk tangannya.

Waisesa Sagara menyelinap ke balik tirai tempat tidur, kembali ke senthong. Arya Bangkong dan Arya Genggong masuk ke dalam dengan laku ndodok. Keduanya bersila dan menghaturkan sembah bersamaan.

"Hamba menunggu titah, Mahapatih. "

"Bangkong, malam ini kauawasi Senamata Karmuka. Kerahkan prajuritmu yang terbaik. Mata-matai, apa pun yang ia lakukan. Kalau ia menemui seseorang, kalau ia melakukan sesuatu, segera laporkan padaku. Juga kalau ia berada dalam kamar, laporkan dengan siapa ia menghabiskan malam. Saat apa pun, kau melaporkan padaku. Semua kekuasaan untuk mengambil tindakan, kuserahkan sepenuhnya padamu."

"Hamba laksanakan perintah, Mahapatih." "Genggong, malam purnama nanti, kau ambil tawanan di penjara bawah tanah. Tak perlu dilepaskan dari ikatan. Bawa ke kandang Sardula. Adakan persembahan malam ini juga. Semua kekuasaan dan wewenang ada padamu jika ada yang menghalangi.

"Kalau sampai gagal, kepalamu menjadi ganti." "Hamba laksanakan perintah, Mahapatih."

"Jangan menunda waktu, berangkatlah sekarang ini."

Arya Bangkong dan Arya Genggong menghaturkan sembah secara bersamaan. Bersamaan dengan kibasan tangan Mahapatih, keduanya berjalan setengah merangkak ke luar setelah menghaturkan sembah. Di luar, sekali lagi menghaturkan sembah, baru berdiri.

Keduanya berpandangan. "Kakang Bangkong..."

"Adik Genggong, kita laksanakan perintah. Tak ada waktu buat berbicara." "Silakan, Kakang."

"Silakan, Adik."

Di regol, pintu depan, keduanya berpisah. Arya Bangkong segera memilih lima prajurit utama untuk memata-matai rumah Senamata Karmuka. Mereka dengan segera menuju rumah Senamata Karmuka, dan memerintahkan penjaga utama untuk beristirahat. Arya Bangkong sendiri yang menggantikan berjaga. Sampai melihat Senamata Karmuka masuk peraduan dan mendengar dengkur tidurnya. Meskipun demikian, Arya Bangkong tetap menunggui di depan pintu.

Sementara itu Arya Genggong menuju ruangan bawah tanah dengan empat prajurit utama. Dengan kampak sebagai senjatanya, ia segera mengayunkan untuk memutuskan tiang pengikat. Tubuh Upasara yang masih terikat jatuh ke tanah. Sekali lagi Arya Genggong meyakinkan ikatan tangan, kaki, badan. Kemudian memerintahkan untuk mengangkut. Dalam usungan, Upasara merasa bahwa usahanya sia-sia. Di luar perhitungannya bahwa malam ini ia akan diumpankan harimau. Berteriak atau mengoceh tak ada gunanya. Ia dibawa melalui lorong gelap, yang berakhir di ujung sebelah timur Keraton. Seluruh badannya dilumuri dengan boreh, atau bedak, yang baunya membangkitkan nafsu makan harimau.

Kandang harimau Keraton itu terletak di sebelah timur penjara bawah tanah. Di atas sebidang tanah yang dipagari besi. Letaknya sendiri jauh di bawah permukaan tanah. Ada dua cara memberi makan harimau kesayangan Baginda Raja. Dengan melemparkan dari atas sekali, dari Keraton, atau dari sebelah terowongan penjara bawah tanah.

"Anak muda, siapa pun namamu, apa pun pangkatmu, atas perintah Mahapatih kau akan dipersembahkan ke Sardula. Kalau masih ada kalimat terakhir, katakanlah."

Upasara merasa tawar hatinya.

Toh tak mungkin ia menjelaskan seluruh duduk perkaranya. Tak mungkin Arya Genggong mengubah putusan Mahapatih.

"Paman, lakukanlah tugasmu."

Arya Genggong sejenak terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kalimat itu yang akan keluar dari anak muda yang bakal mati. Bukan sekali-dua ia menjadi jagal utama. Bukan sekali-dua ia menggiring para penjahat untuk diumpankan ke harimau. Bukan sekali-dua kampaknya sendiri memutuskan leher penjahat. Akan tetapi baru sekarang ini, ada kalimat yang begitu bagus dan menyentuh.

Tetapi hanya sejenak.

Segera ia menjalankan tugasnya. Hatinya telah membatu. Hanya ada satu yang diketahui: Menjalankan tugas. Melakukan perintah. Tak peduli apakah perintah itu sesuai dengan jalan pikirannya atau bertentangan.

Segera ia memberi perintah.

Dua prajurit memukul pagar besi dengan keras. Bau boreh yang ditebarkan serta bunyi besi, membuat bayangan bergerak dari kegelapan. Mata Upasara melihat seekor harimau keluar dari semak kegelapan. Belum Upasara melihat jelas, ia merasa tubuhnya dilemparkan ke depan. Dan pintu kandang ditutup kembali.

Kandang tempat harimau Keraton itu cukup luas sebetulnya. Kalaupun mereka tak tergesa, tak nanti harimau itu bisa menyerbu ke arah pintu kandang. Akan tetapi demi amannya, mereka melontarkan begitu saja.

Di tengah udara, Upasara berusaha memindahkan berat tubuhnya agar tubuhnya tidak jatuh dengan menghadap ke bawah. Ia berhasil akan tetapi seluruh tangannya terasa sakit sekali. Dari jarak lima tombak, ia melihat harimau menggeram ke arahnya.

Kematian tak pernah ditakuti. Selama ini ia tak pernah memikirkannya. Namun sekali ini, Upasara tak menyerah begitu saja. Ia mengerahkan tenaganya. membalikkan tubuhnya, berikut tiang yang diikat bersama. Dengan bergulingan, ia bukan saja bisa menjauh, akan tetapi mulutnya bisa meraup kerikil kecil dengan giginya. Masih ada satu perhitungan. Dengan kerikil itu ia bisa membidik ke arah kepala harimau.

Inilah satu-satunya harapan untuk menunda kematian.

Dan itu yang dijalankan. Begitu harimau melompat mendekat, Upasara menembakkan kerikil. Karena tergesa, kerikil itu hanya menyerempet telinga harimau. Dan ini malah berakibat sebaliknya. Harimau menjadi buas, meraung. Kain di tubuh Upasara diseret oleh harimau. Diseret ke dalam gelap.

Arya Genggong mengawasi dengan obor di tangan. Tapi tak melihat apa-apa lagi. Hanya mendengar auman harimau yang menggerung.

"Kecuali badannya terbuat dari besi, bocah itu tak akan bisa melihat matahari esok pagi. Sudah agak lama Sardula tidak dapat makanan manusia. Sekarang ini saatnya.

"Anak muda, mudah-mudahan di alam baka kau mendapat pengampunan."

Arya Genggong menghela napas. Lalu memerintahkan prajurit-prajuritnya menunggu sampai fajar nanti. Ia sendiri mengawasi dari kejauhan. Keras hatinya mendengar jeritan, teriakan yang menyayat, serta auman harimau. Pastilah harimau itu melalap perut dan isinya lebih dulu. Kalau meremukkan kepala, pasti tak akan terdengar jeritan menyayat seperti itu. Malam itu bulan di langit pucat. Sangat pucat sekali.

Bau anyir darah tercium.

KEESOKAN harinya, setelah semalam melihat sendiri harimau Keraton berlumuran darah, Arya Genggong melaporkan kepada Mahapatih. Arya Genggong menceritakan secara lengkap seluruh urutan kejadian.

Mahapatih mendengarkan tanpa bereaksi.

Saat itu juga Arya Bangkong memberikan laporan bahwa Senamata Karmuka tidak beranjak dari kamarnya. Sampai pagi ini masih ada prajurit yang ditugaskan untuk mengamati.

"Lakukan terus, sampai aku memerintahkan mencabut perintah." "Sendika dawuh, Mahapatih."

"Genggong, kau temui anakku Bagus Respati. Katakan bahwa perkawinannya dengan Maduwani tak usah dirayakan besar-besaran di Keraton. Aku tidak setuju hal itu. Maduwani hanya salah satu selir baginya. Aku tak ingin punya menantu dia.

"Jangan coba mengemukakan hal itu padaku lagi." Mahapatih berdecak dan melambaikan tangannya, sebelum berlalu.

"Ini tugas yang berat," kata Arya Genggong perlahan setelah suasana sepi. "Bagaimana aku harus menyampaikannya. Raden Mas Bagus Respati sama kerasnya dengan ayahandanya."

"Adik Genggong, sebagai prajurit kita harus menjalankan perintah. Itulah yang menyelamatkan nyawa kita hingga hari ini. Kalaupun kita mati karenanya, kematian kita karena menjalankan perintah. Itulah harga terpenting dari diri kita sebagai prajurit.

"Dengan sikap seperti ini, apakah Adik Genggong masih ragu?"

"Kakang Bangkong, kenapa kita juga yang harus melakukan ini? Sebagai prajurit, dalam bayangan saya adalah berperang. Mengabdi kepada Keraton dengan darah. Memberikan nyawa dan kehidupan untuk kemuliaan Keraton. Bukan menjadi pesuruh urusan yang sama sekali tidak bersifat ksatria semacam ini."

"Prajurit tidak memilih tugas. Kalau sekarang ini saya ditugaskan menjaga kaputren atau memandikan harimau, akan saya lakukan juga."

"Terima kasih atas petunjuk Kakang."

"Saya selalu mengulang pengertian itu. Karena saya pun merasa kurang enak harus memata-matai Senamata Karmuka. Sesuatu yang menyakitkan hati saya sendiri. Tapi saya akan menjalankan perintah itu. Apa pun juga perintah Mahapatih. Hanya Baginda Raja yang berhak mengubah. Selama Baginda Raja tidak memerintahkan yang lain, tak menjadi soal.

"Adik, kita masih ingin menikmati kebahagiaan, pangkat, dan harta yang kita peroleh dari pekerjaan kita. Selama kita belum bosan hidup, kita masih akan terus menjalankan perintah."

"Terima kasih banyak, Kakang." "Silakan, Adik."

"Silakan, Kakang."

Arya Genggong menuju ke bagian samping dalem kepatihan. Jaraknya hanya beberapa ratus meter saja. Langsung ia menghadap Bagus Respati dan mengutarakan apa yang menjadi keputusan Mahapatih.

Bagi Arya Genggong, hubungannya dengan Bagus Respati boleh dikatakan sangat akrab. Hubungan antara seorang paman dan keponakannya. Bukan hanya dalam kata-kata. Sejak Respati belum lahir, Arya Genggong dan Arya Bangkong sudah mengabdi kepada Mahapatih. Sejak kecil Respati sudah diasuh oleh Arya Genggong. Hubungan mereka agak renggang sebentar ketika Respati masuk ke Ksatria Pingitan.

"Saya hanya menyampaikan dawuh Ramanda."

Respati menggebrak meja, hingga meja berukir dari kayu jati yang utuh itu somplak bagian pinggirnya.

"Aku tak tahu apa maksud Ayah. Dilarang atau tidak, direstui atau dikutuk, aku tetap akan mempersunting Miming Maduwani. Sampaikan ini kepada Ayah." "Anakmas..."

"Paman Genggong, aku sudah dewasa. Aku bisa menentukan sendiri apa yang seharusnya kulakukan. Dalam Sayembara Mantu, aku sama sekali tidak meminta bantuan Ayah. Bahkan kepada Paman Genggong dan Paman Bangkong, aku tidak minta bantuan. Dyah Muning Maduwani kurebut dengan tanganku sendiri.

"Sejak kecil aku tak pernah merepotkan Ayah. Aku hidup di sini dari hasil karyaku sendiri. Tidak mengemis pada Ayah."

"Anakmas... Ayahanda bukannya melarang. Hanya Ayahanda tidak berkenan bila Dyah Muning Maduwani dipermaisurikan."

"Omong kosong. Kalau yang ini hanya sebagai selir, kepada siapa lagi aku mencari yang lebih? Paman Genggong tahu sendiri bahwa ketika diadakan Sayembara Mantu, seluruh ksatria Keraton, para raden mas, para gusti mengadu nyawa. Dan aku, biar bagaimana juga, keluar sebagai pemenangnya. Katakan, Paman, apakah itu tidak pantas untuk dirayakan?

"Ini juga bukan sembarangan. Bukan asal perempuan. Dyah Muning Maduwani adalah putri Kiai Sangga Langit. Kalau aku memperlakukan putrinya dengan baik-baik, Kiai Sangga Langit tak akan curiga kepadaku. Justru sebaliknya. Kepercayaannya berlipat. Saat itu ada kemungkinan aku diangkat menjadi muridnya. Berhasil mempelajari ilmu silatnya.

"Dengan kemampuan ini saja, di seluruh Keraton ini siapa yang bisa menandingiku?

"Aku tidak sembarangan, Paman. Aku cukup bisa berpikir dewasa dan jauh ke depan, walau aku tidak memiliki penasihat Kakek Tua Waisesa Sagara. Aku tak perlu dukun semacam itu.

"Apakah hal yang begini saja Ayah tidak bisa mengerti?" "Anakmas..."

"Jangan mencoba menasihatiku, Paman. Sampaikan kepada Ayah. Katakan apa yang kukatakan. Bahwa aku, Bagus Respati, tetap akan mempersunting Dyah Muning Maduwani. Pesta tetap akan kurayakan di dalam ksatrianku sendiri. "Kalau Paman merasa berat, aku akan menghadap Ayah sendiri. Tanyakan kapan Ayah bersedia menerimaku.

"Paman bisa melihat sendiri. Sekarang ini rombongan Kiai Sangga Langit sudah berada di sini. Kalau ia mendengar hal ini, kalau ia mengetahui perlakuan Ayah kepadaku, di mana aku harus menegakkan kepala?

"Aku kan bukan anak kecil yang bisa diusir dan diperintahkan begitu saja. Tidak, Paman. Sebagai seorang ksatria, sebagai seorang lelaki, aku tak mau dipermalukan. Apa pun hukuman Ayah, aku akan menerima sebagai ksatria."

Tak urung berita mengenai pertentangan ayah dan anak ini menjalar. Dari sekitar dalem kepatihan, berita ini menjalar ke luar. Nyai Demang melepaskan burung merpati yang membawa rahasia ke markas Rawikara di Banyu Urip. Dari sana laporan yang sama diteruskan ke Gelang-Gelang.

Berita ini disampaikan kepada Maharesi Ugrawe, yang hari itu juga menghadap Raja Muda Gelang-Gelang.

"Susah. Susah. Saya tidak menghendaki perkembangan setajam ini. Meskipun ini baik, akan tetapi bisa merusak rencana Sinuwun.

"Semua sudah berjalan sesuai dengan rencana, kenapa tiba-tiba harus terjadi sifat keras kepala Respati? Susah, susah. Saya tidak memperhitungkan bahwa di Keraton masih ada anak berani kepada ayahnya."

"Bagaimana kalau pesta perkawinan Respati diadakan di sini saja?" Maharesi Ugrawe menghaturkan sembah.

"Sungguh Sinuwun sangat bijaksana. Dengan memindahkan perjamuan di sini, sebagian besar ksatria Keraton akan berada di sini. Dan Keraton akan kosong. Saat itulah kita melancarkan serangan terakhir. Kita bisa mengatur sedikit rencana, agar bisa memancing senopati lebih banyak."

"Semua saya serahkan kepada Paman Guru."

"Beribu terima kasih atas kepercayaan Sinuwun. Ketika saya menyerap para pendekar ke Perguruan Awan sebagai langkah pertama, ketika saya mengadakan Sayembara Mantu untuk menyerap para ksatria dan bangsawan sebagai langkah kedua, dan rencana terakhir menyerbu Keraton, saya sudah yakin bahwa Dewa Yang Maha Benar berada di pihak kita.

"Tindakan dan perjuangan kita untuk mengembalikan takhta kepada yang berhak direstui oleh Dewa Penguasa Jagat.

"Sinuwun, atas perkenan Paduka, saya akan mulai mengadakan persiapan. Sekarang ini para pendekar yang tersisa berada dalam tawanan kita. Sekarang ini para bangsawan dan ksatria sudah banyak yang terluka. Ketika sebagian terbesar datang kemari untuk mengadakan pesta, kita harus menyerbu ke Keraton. Saat itu, sejarah kembali kepada jalan yang sebenarnya.

"Masalah kecil hanyalah soal Kiai Sangga Langit."

"Menurut Paman Wiraraja, setelah peristiwa ini selesai, Kiai Sangga Langit baru diselesaikan. Ia sendirian dan Paman Guru bisa menghadapinya."

"Akan segera saya laksanakan, Sinuwun."

Maharesi Ugrawe segera mengirimkan berita ke desa Banyu Urip. Burung merpati yang sama terbang balik.

Hanya saja burung merpati ini sebelum sampai ke kandangnya di Banyu Urip terjerat oleh Kawung Sen ketika ia tengah berlatih jurus-jurus Kartika Parwa.

Ketika menebarkan Jala sambil berloncatan itulah Kawung Sen menangkap merpati.

"Kena!" teriaknya kegirangan. Sewaktu burung merpati itu diambil, perhatiannya tertuju pada sesobek kain kecil di kaki. Kawung Sen memaki panjang- pendek. Percuma juga. Ia tak bisa membaca.

Akan tetapi walau tidak bisa membaca, Kawung Sen bukannya tidak mengerti bahwa burung merpati itu pasti kiriman dari Maharesi Ugrawe. Dan ia teringat akan Upasara—kakangnya! Budi baiknya dan keinginannya mengetahui rahasia tiga gerakan yang dilancarkan Ugrawe. Kawung Sen menyalin sekenanya, sebisanya. Lalu melepaskan burung itu kembali. Ia sendiri, dengan salinan tulisan itu langsung berangkat ke Keraton Singasari, melewati hutan buatan.

Bagi Kawung Sen menuju ke Keraton tidak masalah. Perjalanan itu bisa ditempuh dengan nyaman dan lancar. Akan tetapi dari segi persoalan pribadi termasuk berat juga. Ia dikenal sebagai pemberontak Keraton. Pemberontak yang pernah menyelusup masuk Keraton. Pernah menyerbu Keraton hingga berada dalam dinding. Namanya sangat buruk di Keraton. Kini ia harus masuk ke sana kembali dengan risiko dikenali. Bisa-bisa sebelum masuk sudah harus ditelikung.

Namun Kawung Sen sudah memperhitungkan hal ini. Hubungannya dengan Upasara akrab secara lahir dan batin. Entah mengapa ia merasa sangat hormat sekali. Selama ini yang mengasihi dan memperhatikan hanya dua saudara kandungnya— Kawung Benggol dan, terutama, Kawung Ketip. Mereka berdualah yang mengajari. Yang memberitahu soal kitab-kitab. Keduanya sudah meninggal. Dan kemudian Upasara-lah yang menggantikan peran itu. Lebih dari sekadar saudara, Upasara memberikan sesuatu yang sangat diperlukan tanpa merendahkan diri. Kawung Sen tidak merasa paling bodoh jika berhadapan dengan Upasara. Justru karena Upasara tidak pernah menyinggung soal tidak bisa membaca dan menulis. Bagi orang biasa, mungkin hal ini bukan sesuatu tindakan yang terlalu istimewa. Tapi bagi Kawung Sen pribadi seperti melindungi cacatnya. Apalagi sikap Upasara dinilai sangat ksatria oleh Kawung Sen. Upasara bisa menghina dengan mengencingi tapi toh tidak melakukannya. Upasara bisa membiarkan ia mati dikeroyok semut, tapi toh Upasara malah menolong. 

Maka putusan Kawung Sen untuk mencari Upasara ke Keraton mempunyai alasan yang kuat.

"Kalau aku harus mati karena menyampaikan hal ini, tak menjadi soal. Toh sebelum ini pun aku sudah mati kalau tidak ditolong Kakang Upasara. Kalau sebagai adik aku tak berbakti kepada kakaknya, bagaimana aku bisa merasa diriku lelaki?"

Mantap sekali Kawung Sen menuju pintu gerbang Keraton. Kepada prajurit yang menjaga, Kawung Sen bersikap hormat.

"Tolong sampaikan kepada Upasara Wulung bahwa adiknya ingin bertemu dengannya. Sangat penting sekali."

Tentu saja para prajurit yang menjaga gerbang jadi kaget. Mengira bahwa yang ditemui orang gila.

"Siapa itu Upasara Wulung?"

Pertanyaan ini tidak mengada-ada. Upasara Wulung bukan nama yang populer di dalam Keraton. Hanya beberapa nama tertentu yang mengetahui. Ganti Kawung Sen yang melengak. Kalau tidak mengingat bahwa ia tak ingin membuat gara-gara, pasti prajurit itu sudah dijerat dan dikencingi.

"Upasara adalah kakak saya." "Apakah ia seorang prajurit?" "Mana aku tahu?"

"Hei, jangan bicara sembarangan. Jangan mengganggu kami yang sedang menjalankan tugas. Hukumannya berat sekali.

"Kau bilang mau menemui Upasara, tapi ditanyai apakah Upasara prajurit atau bukan malah menjawab: Mana aku tahu. Di seluruh dunia ini yang bernama Upasara banyak sekali. Di semua hutan juga banyak yang disebut banteng hitam."

Upasara Wulung memang berarti banteng hitam.

"Astaga. Kalian prajurit biasa saja berani bertingkah. Upasara adalah utusan dari Keraton. Ia orang penting. Kalian bisa dipecat kalau tak mengetahui siapa dia."

"Kau boleh menggertak. Aku sudah bertugas di sini puluhan tahun. Tak pernah kudengar nama Upasara Wulung sebagai demang, lurah, akuwu, mantri praja, bupati, atau prajurit."

"Baiklah. Kau yang memaksa aku bertindak kasar."

Berhenti suaranya, Kawung Sen mengayunkan dua tangannya. Dua prajurit itu jelas bukan tandingannya. Dengan sekali gebrak saja dua bahu bisa dicengkeram. Ditambahi sedikit saja, dua prajurit itu menjerit kesakitan.

"Katakan atau kupatahkan tangan kalian."

Belum ada jawaban, Kawung Sen menggertak dan dua prajurit itu berteriak kesakitan. Masing-masing menjerit dan tangannya terkulai. Ini malah mengundang prajurit-prajurit yang lain serentak mengepung Kawung Sen. Dikepung belasan prajurit, Kawung Sen malah tertawa lebar.

"Kalian ini cicak-cicak yang tahu kucing. Aku tanya baik-baik malah kalian paksa menggunakan tenaga. Ayo, siapa yang ingin patah tulangnya, silakan maju. Ayo, maju, jangan menunggu." Sebat Kawung Sen menggebrak maju. Sekali loncat dua tangan bisa disentakkan. Sekejap saja prajurit yang mengepung menjerit kesakitan. Sebagian berlari melaporkan ke dalam.

Dengan gagah Kawung Sen melangkah ke dalam.

Mendengar kegaduhan, Arya Genggong menuju ke pelataran. Melihat seorang lelaki memanggul jala berjalan seenaknya, ia langsung menyongsong.

"Sebentar, Kisanak. Ada perselisihan bisa dilerai. Ada silang-sengketa bisa dibicarakan. Kenapa Kisanak berlaku kasar di Keraton?"

Kawung Sen terbahak.

"Keraton atau kuburan apa bedanya? Siapa yang berlaku kasar? Yang mulai atau yang mengikuti? Kalian para prajurit yang hidup untuk sesuap nasi mengerti apa tentang negara?

"Apa pangkatmu berani tanya segala macam?" Arya Genggong melengak.

"Kalau memang tak mau diatur jangan salahkan aku." Tapi belum sempat Arya Genggong bisa menyerang barang dua-tiga jurus, tubuhnya telah terdorong mundur. Bagai diempos angin dahsyat. Bagai disapu ombak.

Dengan sekali gebrak!

Apakah Kawung Sen dalam waktu sekejap saja telah menjadi sangat lihai?

Apakah Arya Genggong bisa disapu dengan sekali gebrak?

"Bisa... bisa... ilmu... ilmu ini bisa dipakai. Ayo maju lagi. Biar aku bisa latihan sepuasnya."

Kawung Sen mempraktekkan beberapa bagian dari Bantala Parwa. Dan ternyata sangat jitu! Kawung Sen sendiri tak tahu persis jurus mana yang digunakan, dan menjadi rada heran. Kok bisanya begitu cepat membuat lawan tercecer. Satu hal yang tak disadari baik oleh Kawung Sen dan Arya Genggong adalah kenyataan bahwa mukjizat ini terjadi secara kebetulan. Jurus-jurus dalam Bantala Parwa. memang untuk mematahkan perlawanan yang mengganas. Kalau dalam praktek dulu Kawung Sen tak merasa puas, bisa dimaklumi. Karena tak ada tenaga yang menyerang ke arahnya. Dan kini, Arya Genggong menyerang ke arahnya. Ada tenaga yang bisa dibalikkan. Tenaga Arya Genggong menghantam dirinya sendiri. Akibatnya memang telak, karena ditambah tenaga Kawung Sen!

"Ayo, maju lagi."

Kawung Sen berlagak sendirian. Tak ada yang berani menyerang. Bahkan mendekati pun tidak. Dengan gagah Kawung Sen melangkah ke dalam Keraton. Tanpa peduli.

Mendengar keributan yang tak terselesaikan, Patih Angragani melangkah ke luar. Begitu melihat Kawung Sen, Patih Angragani mendecakkan bibirnya. Dengan tiga kali gerakan tangan, semua prajurit pilihan telah mengepung.

"Bagus. Ini sambutan terhormat. Siapa kamu, orang gede?"

"Pangkat itu anugerah. Gede itu hanya perasaan. Siapa pun namamu, apa pangkatmu, untuk apa kamu mengacau kemari?"

"Namaku Kawung Sen. Aku datang kemari mau menemui kakakku, Kakang Upasara."

Patih Angragani merasa aneh. Bukan dari cara bersilatnya, tetapi mendadak Kawung Sen menanyakan Upasara Wulung.

"Upasara Wulung sudah tak ada di tempat ini. Tak ada gunanya kamu cari. Kalau ada persoalan, katakan segera. Kalau mau mengacau, aku akan menghadapimu."

"Bagaimana kamu yakin Upasara tak ada di tempat ini? Kakangku itu tak pernah bohong dalam hidupnya. Ia bilang ke Keraton. Dan di Jawa ini ada berapa Keraton?"

"Aku telah memerintahkan untuk membunuh mati Upasara Wulung."

Belum selesai perkataan Patih Angragani, Kawung Sen melontarkan jalanya. Bersamaan dengan geraknya, para prajurit pilihan dari sisi kiri-kanan, depan-belakang langsung menyerbu ke arahnya. Tusukan, sabetan, dan gempuran menjadi satu. Patih Angragani sendiri menggeser sedikit kedudukan kakinya, kedua tangannya bergerak cepat. Satu mencabut keris satu lagi mendorong ke depan. Jala Kawung Sen yang tertebar menyampok sekian banyak senjata yang tertuju ke arahnya. Tak bisa disendal dengan sekali betot. Jadinya malah terjadi tarik- menarik. Ketika itulah angin pukulan Patih Angragani menjotos ulu hatinya. Sebat Kawung Sen menyentak jalanya, tapi tetap tertahan. Tak ada jalan lain, jala dilepaskan dan dengan tangan kosong memapaki serangan. Satu lagi dari jurus Bantala Parwa muncul. Dua benturan tenaga keras. Patih Angragani tergusur mundur, tapi dengan cepat maju kembali. Kali ini gerakan tangannya lebih cepat, dan yang bergerak lebih dulu adalah prajurit pilihan. Langsung menghadang di depan Kawung Sen. Benturan tenaga begitu dahsyat tak terhindarkan. Dua prajurit pilihan langsung terjungkal. Sebelum menyentuh lantai pendopo, nyawa mereka sudah berpulang.

Kalau saja Kawung Sen sudah menguasai cara mengatur tenaga, dengan sekali gebrak lebih banyak lagi korban berjatuhan.